Means of Global

The small of beauty and the beauty of small can be very different things however they are all amazing. The great of beauty and the beauty of great can also be very different things however they are also amazing. The small of ideas is sometimes amazing. So everything can be amazing. Life is translating and to be translated in the schema of space and time. So I am concerned with what we were proud of in the past, what we are doing now and what we are going to prepare for the future. Marsigit

Blog Archive

Sunday, November 29, 2009

Elegi Mengintip Pesta Raya Black-hole Diraja (Lanjutan dari Elegi Bendungan Komte)

Oleh Marsigit

Black Hole Diraja

Haha ...hihi... huhu...hehe....aku adalah aku, engkau adalah engkau. Jika engkau belum menyadari, maka itulah pilihanmu. Haha ...hihi... huhu...hehe....aku adalah aku, engkau adalah engkau. Sadar atau tidak sadar atau belum sadar dirimu itu, bagiku sama saja. Haha ...hihi... huhu...hehe....aku adalah aku, engkau adalah engkau. Aku adalah aku, engkau adalah engkau...itulah sebenar-benar black-hole yang telah aku ciptakan bagi dirimu tanpa kecuali. Aku adalah aku...maka hidupku tidak memerlukan syaratmu. Engkau adalah engkau...maka hidupmu tergantung pada diriku. Aku adalah aku...maka semua kebenaran adalah diriku. Engkau adalah engkau...maka semua dirimu adalah kesalahanmu dan kesalahanku juga. Aku adalah aku...maka kesadaranku meliputi semua dirimu. Engkau adalah engkau...maka tiadalah kesadaranmu melampaui kesadaranku. Aku adalah aku...maka kuasaku meliputi semua dirimu. Engkau adalah engkau...maka tiadalah kuasa engkau itu di depan diriku. Haha ...hihi... huhu...hehe.... Jikalaulah engkau ingin mengaku-aku di depanku, maka hitung-hitunglah dulu dirimu dan juga diriku. Tetapi apalah artinya engkau menghitung dirimu sendiri, karena yang demikian tidaklah sebanding jika engkau menghitung diriku sedikit saja. Haha ...hihi... huhu...hehe....aku adalah aku, engkau adalah engkau...itulah sebenar-benar black-holeku. Siapa yang selaras dengan diriku maka dia masuklah ke dalam unsur-unsurku. Siapa yang berusaha tidak selaras dengan diriku, maka dia terpaksa dan dipaksa harus menyelaraskan dengan diriku. Haha ...hihi... huhu...hehe....Wahai Black-hole Pragmatism, Utilitarianism, Materialism, dan Hedenism. Aku adalah Black-hole Diraja. Aku adalah rajamu.

Pragmatis:
Ha...ha...ha...ha...aku adalah aku, engkau adalah engkau. Jika engkau belum menyadari, maka itulah pilihanmu. Ha...ha...ha...ha...aku adalah aku, engkau adalah engkau. Sadar atau tidak sadar atau belum sadar dirimu itu, bagiku sama saja. Ha...ha...ha...ha...aku adalah aku, engkau adalah engkau. Aku adalah aku, engkau adalah engkau...itulah sebenar-benar black-hole yang telah aku ciptakan bagi dirimu tanpa kecuali. Aku adalah aku...maka hidupku tidak memerlukan syaratmu. Engkau adalah engkau...maka hidupmu tergantung pada diriku. Aku adalah aku...maka semua kebenaran adalah diriku. Engkau adalah engkau...maka semua dirimu adalah kesalahanmu dan kesalahanku juga. Aku adalah aku...maka kesadaranku meliputi semua dirimu. Engkau adalah engkau...maka tiadalah kesadaranmu melampaui kesadaranku. Aku adalah aku...maka kuasaku meliputi semua dirimu. Engkau adalah engkau...maka tiadalah kuasa engkau itu di depan diriku. Ha...ha...ha...ha...Jikalaulah engkau ingin mengaku-aku di depanku, maka hitung-hitunglah dulu dirimu dan juga diriku. Tetapi apalah artinya engkau menghitung dirimu sendiri, karena yang demikian tidaklah sebanding jika engkau menghitung diriku sedikit saja. Ha...ha...ha...ha...aku adalah aku, engkau adalah engkau...itulah sebenar-benar black-holeku. Siapa yang selaras dengan diriku maka dia masuklah ke dalam unsur-unsurku. Siapa yang berusaha tidak selaras dengan diriku, maka dia terpaksa dan dipaksa harus menyelaraskan dengan diriku.
Ha...ha...ha...ha...itulah aku Black-hole Pragmatisme.

Utilitarian:
Hihi...hihi...hihi...aku adalah aku, engkau adalah engkau. Jika engkau belum menyadari, maka itulah pilihanmu. Hihi...hihi...hihi...aku adalah aku, engkau adalah engkau. Sadar atau tidak sadar atau belum sadar dirimu itu, bagiku sama saja. Hihi...hihi...hihi...aku adalah aku, engkau adalah engkau. Aku adalah aku, engkau adalah engkau...itulah sebenar-benar black-hole yang telah aku ciptakan bagi dirimu tanpa kecuali. Aku adalah aku...maka hidupku tidak memerlukan syaratmu. Engkau adalah engkau...maka hidupmu tergantung pada diriku. Aku adalah aku...maka semua kebenaran adalah diriku. Engkau adalah engkau...maka semua dirimu adalah kesalahanmu dan kesalahanku juga. Aku adalah aku...maka kesadaranku meliputi semua dirimu. Engkau adalah engkau...maka tiadalah kesadaranmu melampaui kesadaranku. Aku adalah aku...maka kuasaku meliputi semua dirimu. Engkau adalah engkau...maka tiadalah kuasa engkau itu di depan diriku. Hihi...hihi...hihi...Jikalaulah engkau ingin mengaku-aku di depanku, maka hitung-hitunglah dulu dirimu dan juga diriku. Tetapi apalah artinya engkau menghitung dirimu sendiri, karena yang demikian tidaklah sebanding jika engkau menghitung diriku sedikit saja. Hihi...hihi...hihi...aku adalah aku, engkau adalah engkau...itulah sebenar-benar black-holeku. Siapa yang selaras dengan diriku maka dia masuklah ke dalam unsur-unsurku. Siapa yang berusaha tidak selaras dengan diriku, maka dia terpaksa dan dipaksa harus menyelaraskan dengan diriku. Hihi...hihi...hihi...itulah aku Black-hole Utilitarian

Materialisme:
Hu...hu...hu...aku adalah aku, engkau adalah engkau. Jika engkau belum menyadari, maka itulah pilihanmu. Hu...hu...hu...aku adalah aku, engkau adalah engkau. Sadar atau tidak sadar atau belum sadar dirimu itu, bagiku sama saja. Hu...hu...hu...aku adalah aku, engkau adalah engkau. Aku adalah aku, engkau adalah engkau...itulah sebenar-benar black-hole yang telah aku ciptakan bagi dirimu tanpa kecuali. Aku adalah aku...maka hidupku tidak memerlukan syaratmu. Engkau adalah engkau...maka hidupmu tergantung pada diriku. Aku adalah aku...maka semua kebenaran adalah diriku. Engkau adalah engkau...maka semua dirimu adalah kesalahanmu dan kesalahanku juga. Aku adalah aku...maka kesadaranku meliputi semua dirimu. Engkau adalah engkau...maka tiadalah kesadaranmu melampaui kesadaranku. Aku adalah aku...maka kuasaku meliputi semua dirimu. Engkau adalah engkau...maka tiadalah kuasa engkau itu di depan diriku. Hu...hu...hu...Jikalaulah engkau ingin mengaku-aku di depanku, maka hitung-hitunglah dulu dirimu dan juga diriku. Tetapi apalah artinya engkau menghitung dirimu sendiri, karena yang demikian tidaklah sebanding jika engkau menghitung diriku sedikit saja. Hu...hu...hu...aku adalah aku, engkau adalah engkau...itulah sebenar-benar black-holeku. Siapa yang selaras dengan diriku maka dia masuklah ke dalam unsur-unsurku. Siapa yang berusaha tidak selaras dengan diriku, maka dia terpaksa dan dipaksa harus menyelaraskan dengan diriku. Ha...ha...ha...ha...itulah aku Black-hole Meterialisme.

Hedonisme:

He...he...he...he...aku adalah aku, engkau adalah engkau. Jika engkau belum menyadari, maka itulah pilihanmu. He...he...he...he...aku adalah aku, engkau adalah engkau. Sadar atau tidak sadar atau belum sadar dirimu itu, bagiku sama saja. He...he...he...he...aku adalah aku, engkau adalah engkau. Aku adalah aku, engkau adalah engkau...itulah sebenar-benar sub-black-hole yang telah aku ciptakan bagi dirimu tanpa kecuali. Aku adalah aku...maka hidupku tidak memerlukan syaratmu. Engkau adalah engkau...maka hidupmu tergantung pada diriku. Aku adalah aku...maka semua kebenaran adalah diriku. Engkau adalah engkau...maka semua dirimu adalah kesalahanmu dan kesalahanku juga. Aku adalah aku...maka kesadaranku meliputi semua dirimu. Engkau adalah engkau...maka tiadalah kesadaranmu melampaui kesadaranku. Aku adalah aku...maka kuasaku meliputi semua dirimu. Engkau adalah engkau...maka tiadalah kuasa engkau itu di depan diriku. He...he...he...he...Jikalaulah engkau ingin mengaku-aku di depanku, maka hitung-hitunglah dulu dirimu dan juga diriku. Tetapi apalah artinya engkau menghitung dirimu sendiri, karena yang demikian tidaklah sebanding jika engkau menghitung diriku sedikit saja. He...he...he...he...aku adalah aku, engkau adalah engkau...itulah sebenar-benar black-holeku. Siapa yang selaras dengan diriku maka dia masuklah ke dalam unsur-unsurku. Siapa yang berusaha tidak selaras dengan diriku, maka dia terpaksa dan dipaksa harus menyelaraskan dengan diriku. He...he...he...he...itulah aku Black-hole Hedonisme.

Black-hole Diraja:
Whuss...wahai Pragmatisme, Utilitarian, Meteriisme dan Hedenisme! Lancang benar engkau dihadapanku! Beraninya engkau bicara black-hole di depanku. Berani pula engkau melantunkan tembang-tembangku di hadapanku. Apakah engkau sudah bosan hidup?

Pragmatisme, Utilitarian, Meteriisme dan Hedenisme:
Wahai sang Black-hole Diraja, janganlah salah paham. Tiadalah diriku semua itu jikalau tidak ada dirimu. Jika aku belum menyadari, maka itulah pilihanku. Sadar atau tidak sadar atau belum sadar diriku itu, bagimu sama saja. Itulah sebenar-benar black-hole yang telah engkau ciptakan bagi diriku tanpa kecuali. Maka hidupmu tidak memerlukan syaratku. Hidupku tergantung pada dirimu. Maka semua kebenaran adalah dirimu. Maka semua diriku adalah kesalahanku dan tiadalah kesalahan bagimu. Kesadaranmu meliputi semua diriku. Maka tiadalah kesadaranku melampaui kesadaranmu. Maka kuasamu meliputi semua kuasaku. Tiadalah kuasa diriku itu di depan dirimu. Jikalaulah aku ingin mengaku-aku di depanmu, maka tiadalah hitung-menghitung yang dapat aku lakukan. Tiadalah artinya aku menghitung diriku di depan dirimu, karena yang demikian tidaklah sebanding jika aku menghitung dirimu sedikit saja. Itulah sebenar-benar black-holeku, yaitu hanyalah unsur-unsur dari diri black-holemu. Diriku yang selaras dengan dirimu maka diriku akan masuklah ke dalam unsur-unsurmu. Diriku yang berusaha tidak selaras dengan dirimu, maka diriku terpaksa dan aku paksa harus menyelaraskan dengan dirimu.

Black-hole Diraja:
Haha ...hihi... huhu...hehe....nah begitu. Puas diriku mendengar semua tremimilmu. Begitulah seharusnya perilaku dan adabnya unsur-unsur. Sehingga, hal yang demikian telah menambah dan membuat Black-hole Diraja menjadi semakin besar, padat dan kuat. Haha ...hihi... huhu...hehe....wahai siapakah yang berani menampakkan diri di depanku, maka sebelum engkau mempunyai niatmu, maka sudah aku sedot dirimu ke dalam black-hole ku, untuk aku jadikan bahan bakarku. Haha ...hihi... huhu...hehe.... wahai Pragmatisme, Utilitarian, Meteriisme dan Hedenisme, silahkan laporkan kemajuan pencapaian program-programmu. Laporkan yang baik dan terbaik, sukses dan tersukses, ..aku hanya ingin mendengarkan yang itu saja. Yang tidak baik, yang gagal, yang bermasalah, ...campakkan saja ke kotak sampah.

Pragmatisme, Utilitarian, Meterialisme dan Hedonisme:
Wahai Sang Blac-hole Diraja...engkaulah sebenar-benar blakc-hole ku. Perkenankanlah aku menyampaikan perkembangan atau progress report program-programku. Visiku adalah hidup yang praktis. Ukuranku adalah asas manfaat, tindakan dan rasa ingin tahu dan pemanfaatan sumber alam. Bagiku yang benar adalah yang tampak dan yang nyata. yang benar adalah yang bermanfaat. Maka jikalau tiada manfaat maka tiada nilai benar disitu. Aku akan mengerahan secara besar-besaran segenap daya dan upayaku berupa laskar-laskar untuk mengusasai dunia. Akan aku arahkan dunia ke suatu tujuan tertentu, dan telah saya tunjuk pengendali laskar dan sangat patuh (patuh buta) terhadap komandoku. Tujuanku hanyalah tunggal yaitu menggenggam dunia. Oleh karena itu laskar-laskarku akan melakukan pergerakan masive secara linear ke depan, serta akan saya fokuskan kepada hal-hal yang di depan. Yang telah lalu biarlah berlalu. Aku akan mengeksploitasi segenap sumber daya, dengan kompetisi ketat. Siapa yang kalah berkompetisi denganku maka mereka harus menyingkir dan tertinggal. Mereka harus puas menjadi pecundang, sedangkan aku tentu harus memenangkan kompetisi. Maka aku yang menang itulah aku yang berjaya. Barang siapa yang menghalangi laju para laskarku maka akan aku lindas dan libas. Engkau para laskarku tidak perlu melihat persimpangan jalan dan tidak perlu melakukan refleksi. Ingatlah keberhasilanmu adalah untuk keseluruhan, dan keseluruhan bisa diwakili simbol. Tidak perlu tanya jawab ketika engkau sudah berangkat, engkau harus mengedepankan sifat kompetitif dari pada kooperatif. Tidak perlu kompromi terhadap laskar yang lain, dan laskar lain anggaplah kompetitormu. Lebih baik gunakan saja cara-cara yang telah aku berikan kepadamu dari pada ingin mengerti tetapi tidak pernah bisa. Tinggalkan saja residu-residumu. Tetapi ingatlah bahwa engkau memerlukan keseragaman gerak dan langkah, mempunyai pembagian tugas yang ketat, perlu mempunyai kontrol yang kuat. Jangan memikirkan skema untuk kembali. Ukuran keberhasilanmu bersifat kuantitatif dan formal dan engkau haruslah bersifat eksklusif. Ingat paradigmaku: kontrolah dan kuasailah dunia. Hidupmu bersifat real dan kongkret, mekanistis, terstruktur kuat, dan didominasi oleh komunikasi kekuasaanku.

Black-hole Diraja:
Haaha..haha..bagus-bagus. Aku sangat setuju dengan visi, misi dan program-programmu. Teruskanlah.

Pragmatisme, Utilitarian, Meterialisme dan Hedonisme:
Baik tuan saya teruskan. Carilah filsafat yang selaras denganmu. Engkau itu selaras dengan filsafat diterminism, filsafat vitalism, sejalan dengan paradigma salah benar, anti fallibism. Maknamu itu berada di luar pikiranmu. Engkau juga selaras dengan paradigma behaviorism, selaras dengan psikologi stimulus response. Jangan pikirkan thethek mbgengek psikologi hologram itu. Engkau itu bercirikan external evaluation (UN), bersifat monoculture, rigid, dan absolut. Engkau perlu menyelaraskan diri dengan filsafat realism. Engkau perlu mencari dukungan empiricism. Engkau merupakan tulang punggung utilitarian dan pragmatism. Engkau perlu menyelarasan dengan jargon investasi. Ketahuilah bahwa engkau harus menghasilkan hedonism dan bersifat materialism (dunia). Kebenaranmu saya ukur dari manfaatmu. Kebenaranmu saya ukur dengan kekuasaanku. Engkau harus mencari dukungan metode trial and error dan metode logico empirical hypotetiko. Janganlah tonjolkan jati diri atau identitas diri . Tetapi jati dirimu adalah tertutup oleh jati kelompok. Perangilah relativism. Jika perlu engkau boleh bersikap arogan terhadap alam karena memang engkau aku beri mandat untuk memanipulasikannya.

Black-hole Diraja:
Haaha..haha..bagus-bagus. Aku sangat setuju dengan visi, misi dan program-programmu. Teruskanlah.

Pragmatisme, Utilitarian, Meterialisme dan Hedonisme:
Baik tuan saya teruskan. Engkau harus menjadi pondamen laskar utilitarian, laskar pragmatism, dan laskar hedonism. Oleh karena itu engkau harus mencari dukungan laskar teknologi, dan laskar naturalis. Jangan memikirkan anak cucu. Masa depan adalah warisan orang tua dan bukanlah warisan cucu. Engkau harus membangun neo empiricism, neo pragmatism, dan pekerjakanlah para juragan dan pemodal. Engkau harus selaras dengan filsafat dan psichology reductionism dan penyederhanaan dan selaras dengan jargon karakter bangsa atau nation building. Jiwamu itu bersifat eksternal. Wadahmu aku pikirkan lebih dulu baru kemudian isimu. Social capital dan economy harus menjadi ukuran yang paling tinggi. Lakukan kontrol ekonomi dari atas. Sedangkan dari bawah anggaplah dia sebagai fakta saja. Engkau harus menyelaraskan diri dengan filsafat strukturalism dan perlu membangun masyarakat struktur kekuasaan- struktur ekonomi–struktur eksploitasi. Dan juga engkau perlu membangun struktur masyarakat kedudukan-kepemilikan-kekuasaan-pemilik modal-pekerja dan buruh. Hukummu adalah hukum sebab-akibat.

Black-hole Diraja:
Haaha..haha..bagus-bagus. Aku sangat setuju dengan visi, misi dan program-programmu. Teruskanlah.
Apakah masih ada?

Pragmatisme, Utilitarian, Meterialisme dan Hedonisme:
Baik tuan, masih ada. Akan saya teruskan. Engkau itu harus bekerjasama dengan kaum feudalis, masyarakat burgois. Tidak usah pikirkan kerusakan yang ditimbulkan oleh dirimu, karena kerusakan itu memang tidak bisa diperbaharui. Tak usah terlalu peduli dengan normatif, kalau perlu hadapilah para humaniora. Bagiku yang benar adalah yang nyata dan yang terukur. Lempar jauh-jauh apa itu hermeneutika hidup.Untuk spiritual, tempatkan saja pada tataran atau tahapan primitif. Sedangkan teknologi itu merupakan tahapanmu yang paling maju. Ingat bahwa temuan-temuan barumu adalah segala-galanya, dan tidak usah memikirkan akibat-akibatnya. Engkau aku bekali dengan pengetahuan ba posteriori, dengan ilmunya naturewissenschaften. Janganlah pikirkan geisteswissenschaften. Logikamu sangat sederhana yaitu sistem input-proses-output. Leluhurmu adalah Machiavelianism. Engkau bersumber pada filsafat positivism dari Auguste Comte dan St.-Simon. Engkau harus bersinergi dengan John Adam Smith. Bacalah buku Will to Power nya Nietze dan bangunlah enterpreneurship yang agung.Janganhiraukan sindiran Schopenhauer, tetapi perhatikanlah dan pelajarilah ajaran William James, Ranke, Croce, Max Weber, and Meinecke. Lawan saja Nihilismenya Paul Nietze dan Satre. Dan juga lawanlah spiritualism, idealism, dan socio-constructivist. Para tamumu adalah jargon atasan tetapi engkau mempunyai musuh yaitu jargon bawahan. Ingat selalu orientasimu adalah hasil dan standard. Aku tahu bahwa engkau akan ditentang oleh proses dan portfolio. Maka bekerjasamalah dengan penyeragaman dan jangan terlalu bernafsu akan keanekaragaman.

Black-hole Diraja:
Waha..haha. Bagus..bagus. aku sangat puas dengan kinerjamu semua. Itulah sebenar-benarnya diriku bahwa diriku dan dirimu merupakan laskar Pragmatisme, Utilitarian, Meterialisme dan Hedonisme. Aku telah berangatkan engkau semua sejak jaman modern untuk menguasai dunia. Sekarang kita sudah hampir sempurna menguasai dunia. Siaakah yang berani menentangku? Maka akan aku hancurkan dia sebelum dia sempat memikirkannya. Wahai para Pragmatisme, Utilitarian, Meterialisme dan Hedonisme yang sangat aku banggakan, marilah kita menyelenggarakan pesta kemenangan kita. Berdoalah untuk melanggengkan kekuasaan kita.

Elegi Menggapai Pergaulan Dunia

Oleh Marsigit

Pengada Maya:

Wahai Panglima Mengada, silahkan..silahkan. Aku sama sekali tidak bermaksud mengusikmu. Aku hanya berusaha memenuhi kodratku, bahwa tetap bicara itu emang salah satu kodratku, demikian juga tentunya berlaku pada dirimu. Tetapi bahwa berdiam diri itu juga sifatku dan juga sifatmu. Aku memaklumi semua yang telah terjadi. Aku juga berusaha memahami keadaanmu. Maka terserah pula kepada dirimu. Tetapi jika engkau membutuhkan diriku, paling tidak untuk sekedar menjatuhkan atau menimpakan sedikit atau satu saja sifatku, maka sebagai Sang Pengada Maya, aku akan selalu iklhas untuk itu.

Panglima Mengada Formal:
Heer...her...her...

Pengada Maya:
O.ooo..ternyata engkau Panglima Mengada sedang tidur. Wah terlihat sangat pulas tidurmu. Semoga dengan istirahatmu itu nantinya engkau akan memperoleh tenagamu kembali dan mampu melanjutkan perjuanganmu. Amin.

Mengada Mandireng:
Wahai Pengada Maya. Aku lihat engkau komat-kamit sendirian. Sedang bicara apa dan berbicara dengan siapa engkau?

Pengada Maya:
Oh Mengada Mandireng, rupanya engkau sudah mempunyai waktu untuk bicara denganku. Alhamdulillah bahwa keadaanku baik-baik saja. Bagaimana keadaanmu?

Mengada Mandireng:
Keadaanku baik-baik saja. Satu hal yang agak kurang baik.

Pengada Maya:
Apa yang kurang baik, bolehkah aku mengetahuinya?

Mengada Mandireng:
Ah..bukankah engkau itu mempunyai kemampuan mengetahui hal-hal di sebalik hal-hal, hal-hal sebelum hal-hal, dan hal-hal sesudah hal-hal?

Pengada Maya:
Segala sesuatu, walaupun sekecil apapun selalu mengikuti hukum-hukumnya. Manusia memang diwajibkan selalu berikhtiar. Maka nilai diri manusia itu bukanlah semata-mata berada di mana, tetapi juga bagaimana mengadanya dan apa saja pengada-pengadanya. Padahal engkau tahu bahwa yang demikian itu tidaklah bersifat tetap berada pada suatu ruang dan waktu tertentu. Suatu kodrat yang sekaligus rakhmat bagimu bahwa ruang dan waktu itu selalu mengikuti dan menuntun dirimu, walaupun kesadaranmu tidak berhenti di ruang dan waktu. Maka tentulah bahwa dikarenakan sifat kesadaranku yang tidak terikat oleh ruang dan waktu itulah maka aku harus bertanya kepada dirimu.

Mengada Mandireng:
Baiklah Pengada Maya. Begini saja. Bolehkah aku mengajukan pertanyaanmu. Aku perlu bertanya kepada dirimu untuk menguji keadaanku. Menurutmu, apakah yang salah dari keadaanku sekarang ini?

Pengada Maya:
Oo..bagus..bagus.. Walaupun kelihatannya engkau sekedar membalik saja pertanyaanku itu, tetapi hal demikian telah memenuhi syaratku dan syaratmu untuk melakukan sintesis. Ketahuilah bahwa jika dirimu itu adalah tesis maka bukan dirimu bisa engkau pikirkan sebagai anti-tesis. Jika diriku itu tesis, maka bukan diriku juga dapat aku pikirkan sebagai anti-tesis. Jadi engkau atau diriku bisa saling menjadi tesis atau anti-tesis satu dengan yang lainnya. Adalah keadaan yang baik yang sedang menimpa dirimu karena dirimu sedang berkenan melakukan komunikasi dengan saya, dan dengan demikian itu berarti engkau sedang menginginkan berusaha melihat dirimu sendiri. Sebagai seorang Mengada Mandireng tentu engkau telah memahami itu semua. Tetapi ternyata engkau telah iklhas menunjukkan bahwa setinggi-tinggi derajat dan dimensimu engkau masih saja dihadapkan dengan berbagai masalah hidup. Aku juga sedang menyaksikan bahwa permasalahnmu itu bukanlah sekedar masalah pribadimu. Engkau sang Mengada Mandireng mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sangat mulia. Segala perasaan dan pikiranmu sekecil apapun dapat menentukan nasib dari berjuta-juta manusia. Itulah memang bahwa dirimu telah terpilih untuk mengemban tugas dan amanah yang maha berat itu. Di samping sebagai anugerah maka hal yang demikian juga sebagai ujian bagi dirimu. Maka selalu bertanya kepada diriku itu adalah salah satu sifatmu yang selalu mengikutimu.

Mengada Mandireng:
Aku terkadang lupa dengan keadaan diriku sendiri. Maka kehadiranmu itu ternyata telah mengingatkan sifat-sifatku dan tugas-tugasku. Terimakasih wahai Pengada Maya, bahwa engkau masih berkenan menghampiri diriku. Setidaknya kehadiranmu itu telah membantuku melakukan kegiatan menterjemahkan dan diterjemahkan.

Pengada Maya:
Bagus..bagus..aku menyadari dan sangat memaklumi keadaanmu. Namun begini. Perihal pertanyaanmu tentang apa yang salah pada dirimu, aku akan memulainya dengan mengetengahkan sifat-sifat berpikir koherensi. Ketahuilah bahwa seperti halnya diriku, maka dirimu dan diriku mempunyai sifat merentang pada struktur dimensi yang lengkap. Adapun struktur dimensi itu tersusun oleh banyak aspek-aspeknya meliputi merentang antara phenomena dan noumena, merentang antara material, formal, normatif dan spiritual, merentang antara pengalaman dan pemahaman, merentang antara sensai dan logika, merentang antara ruang dan waktu, merentang antara intuisi dan pengertian, merentang antara sintetik dan analitik, merentang antara a posteriori dan a priori, merentang antara prinsip dan aksioma, merentang antara kesadaran dan keputusan, merentang antara kejamakan dan ketunggalan, merentang antara subyek dan obyek, merentang antara subyek dan predikat, merentang antara kontingensi dan transendensi, merentang antara kosong dan isi, merentang antara parsial dan holistik, merentang antara spesifik dan universal, merentang antara subyektif dan obyektif, merentang antara dunia dan akhirat, merentang antara negasi dan afirmasi, merentang dalam derajat persepsi, merentang dalam representasi, merentang dalam kuantitas, merentang dalam kualitas, merentang dalam kategori, merentang dalam relasi, merentang dalam pilihan, merentang dalam prinsip, merentang dalam imaginasi, merentang dalam makna, merentang dalam keputusan, merentang dalam kognisi, merentang dalam etik dan estetika, merentang dalam kebenaran, merentang dalam koherensi, merentang dalam korespondensi, merentang dalam metafisik, merentang dalam transendensi, tetapi anehnya aku dan engkau juga merentang dalam kesalahan, merentang dalam ambivalensi, merentang dalam paradoks, merentang dalam anekdot, merentang dalam antinomi, merentang dalam paralogicisma, dan anehnya lagi aku dan engkau itu ternyata juga merentang dalam pertentangan.

Mengada Mandireng:
Indah dan nikmat mendengar uraianmu. Seakan aku tidak mau engkau berhenti menguraikannya.

Pengada Maya:

Masih ada lagi..ternyata aku dan engkau juga merentang antara Mandireng dan Maya. Juga merentang antara Pengada Maya dan Mengada Mandireng. Itulah aku ingin menyadarkan kembali pemahamanmu bahwa terdapat jarak antara dirimu dan diriku. Dikarenakan antara diriku dan dirimu terdapat jarak maka itu membuktikan bahwa diriku itu bukanlah dirimu dan dirimu bukanlah diriku. Dalam filsafat itulah rentangan kontradiktif antara dirimu dan diriku. Bahwa dirimu bukan diriku itu adalah hukum kontradiktif adanya dalam filsafat. Dan diriku yang bukan juga dirimu itulah hukum kontradiktif juga. Maka sebenar-benar hidupmu dan hidupku adalah dikarenakan kita mempunyai sifat kontradiktif.

Mengada Mandireng:
Wah..yang ini aku masih agak bingung?

Pengada Maya:
Bukankah engkau semula telah mengajukan pertanyaan tentang apa yang salah pada dirimu? Engkau bisa bertanya itu karena diriku itu bukan dirimu. Mengingat sifat-sifatmu, kedudukanmu dan juga tugas-tugas serta dimensimu, maka jawaban dari pertanyaanmu itu ada dalam rentangan yang telah aku jelaskan di atas.

Mengada Mandireng:
Belehkah aku mengetahui esensi dari persoalan yang sedang aku hadapi?

Pengada Maya:
Esensi yang sedang engkau hadapi salah satunya terletak di antara rentangan parsial dan holistik. Adalah wajar jika engkau mempunyai persoalan demikian, karena aku masih bisa menunjuk dirimu. Artinya selama aku masih bisa menunjuk dirimu maka engkau terkena sifat-sifatnya dirimu yang individu, dirimu yang parsial dan dirimu yang sebagian. Dengan demikian maka holostik itu berada di luar dirimu. Karena holistik atau komprehensif berada di luar dirimu, maka sebagaimana lazimnya sifat manusia, engkau mempunyai keterbatasan untuk memahami semua holistik. Padahal engkat mengetahui bahwa holistik itu tidak berada di mana-mana. Semua yang ada dan yang mungkin ada, mereka itu mempunyai sifat-sifatnya yang holistik baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama. Itulah salah satu dari sekian pokok persoalan yang sedang engkau hadapi.

Mengada Mandireng:

Aku kok agak kurang jelas?

Pengada Maya:
Wahai Mengada Mandireng, aku memahami betul visi, misi dan tujuan dari program-programmu itu. Semuanya baik tanpa kecuali. Tetapi persoalanyang lebih mendasar adalah bahwa ternyata persoalan dirimu, institusimu, lembagamu, departemenmu bahkan negaramu itu ternyata merentang antara ruang dan waktu. Setelah saya teliti ternyata juga bahwa persoalan mendasar tersebut juga merentang dalam ruang dan merentang dalam waktu.

Mengada Mandireng:
Wahaha..ternyata hanya seperti itu pokok persoalannya. Bukankah itu hanya masalah sepele saja. Itu kan hanya masalah ruang dan waktu?

Pengada Maya:
Begitu engkau selesai bicara, maka aku menemukan bahwa persoalanmu sekarang ternyata telah bertambah.

Mengada Mandireng:

Lho bertambah bagaimana? Bukankah aku sejak tadi ingin berkonsultasi denganmu itu untuk mengurangi permasalahan diriku?

Pengada Maya:
Persoalanmu bertambah dikarenakan engkau juga ternyata telah menganggap remeh masalah ruang dan waktu. Jadi aku telah menemukan bahwa dirimu, anggotamu, lembagamu, institusimu, rakyatmu, bangsamu ternyata sedang di landa keadaan tidak atau kurang menyadari ruang dan waktu.

Mengada Mandireng:
Apa ruginya?

Pengada Maya:

Ruginya fatal. Baik dunia maupun akhiratnya fatal.

Mengada Mandireng:

Lho engkau malah menyumpah. Bukannya memberi solusi malah menyumpah. Apanya yang fatal kalau hanya tidak sadar ruang dan waktu?

Pengada Maya:
Wahai Mandireng. Ini adalah tanggung jawabmu. Bukankah engkau mengetahui bahwa Sang Normatif Agung telah melarang aktivitasmu menyelenggarakan Ujian Nasional Pendidikan? Camkan itu?

Mengada Mandireng:

Oh..ampunilah Pengada Maya. Teruskan uraianmu itu?

Pengada Maya:
Ketahuilah Mengada Mandireng, sejak jaman dulu kala nenek moyangmu itu telah sangat peduli terhadap kesadaran akan ruang dan waktu. Berbagai cara ditempuh untuk menggapai kesadaran ruang dan waktu. Jikalau engkau belah bumi ini menjadi dua, maka engkau dapat menemukan bahwa yang separoh adalah sadar ruang dan waktu dan yang separoh lagi adalah tidak sadar ruang dan waktu. Contohnya, ruwatan adalah acara ritual tradisional jawa untuk menyembuhkan orang-orang agar menyadari ruang dan waktu. Jika engkau belum juga menyadari ruang dan waktu maka ditengarai engkau masih dalam kekuasaan ruang dan waktu jahat yaitu anak cucu dan pengikut Bathara Kala, demikianlah ceritanya dalam perwayangan.

Mengada Mandireng:
Apa relevansinya kesadaran ruang dan waktu dengan Ujian Nasional?

Pengada Maya:
Ruangnya Ujian Nasional adalah seluruh tumpah darah Indonesia. Tumpah darah yang satu itulah Indonesia. Satu dalam banyak dan banyak dalam satu. Jika engkau tidak menyadari itu maka engkau belum menyadari ruangnya Ujian Nasional. Banyak dalam ruang mempunyai arti Aceh, Bangka, Serang, Jateng, Sultra, Maluku, Irjabar, ...dst tak boleh terlewatkan satupun. Tetapi yang baru aku sebut adalah hanya sebagian dari ruangnya. Sedangkan ruang yang lainnya adalah Deli, Padang, Jambi, Jakarta, Yogyakarta, Kediri, Bali, Lombok, Kendari, Ambon, Manokwari...dst, tak boleh terlewatkan satupun. Tetapi yang baru aku sebut adalah hanya sebagian dari ruangnya. Sedangkan ruang yang lain adalah SMP 17 N Jakarta, SMP N5 Yogyakarta, SMP Muhammadiyah, SMP Kanisius, ...dst tak boleh terlewatkan satupun. Tetapi yang baru aku sebut adalah hanya sebagian dari ruangnya. Sedangkan ruang yang lainnya adalah Tono, Tini, Tanu, Tantri, Tintri, Tentrem, Taruna...dst tak boleh terlewatkan satupun di Indonesia sebagai siswa SD, SMP atau SMA.

Mengada Mandireng:
Tidak usah engkau uraikan au telah menyadarinya itu.

Pengada Maya:
Lalu apa masalahmu, sehingga engkau bertanya kepadaku perihal persoalanmu?

Mengada Mandireng:
Kenapa sampai bisa Normatif Agung melarangku menyelenggarakan Ujian Nasional Pendidikan? Itu saja pokok persoalannya.

Pengada Maya:
Sebetulnya engkau telah mengetahui jawabanmu sendiri. Silahkan baca Elegi Pemberontakan Para Normatif.

Mengada Mandireng:
Aku ingin mengajukan PK.

Pengada Maya:
Sah..sah saja. Tetapi terlepas dari engkau akan mengajukan PK atu tidak, bukankah engkau dapat mengambil ruang dan waktunya untuk melihat kembali apa yang sesungguhnya terjadi dan apa yang seharusnya terjadi?

Mengada Mandireng:

Begini Pengada Maya. Bukankah engkau mengetahui bahwa salah satu tujuan UN adalah agar Bangsa Indonesia itu mampu bergaul dengan masyarakat internasional. Ketahuilah bahwa pergaulan dunia itu sangat ketat, sangat kompetitif dan menggunakan teknologi tinggi. Barang siapa tidak menguasai teknologi maka mereka akan tertinggal dengan bangsa-bangsa lain. Kita tidak ingin hanya sebagai obyak dari bangsa lain. Kita harus juga menjadi subyek. Maka satu-satunya cara adalah kita harus memenuhi syarat-syarat pergaulan dunia. Ketahuilah bahwa salah satu syarat itu adalah adanya standar internasional. Maka jika kita belum bisa mencapai standar internasional, maka kita tidak akan bisa bergaul dengan mereka. Bahkan sekarang saya telah mendorong agar sekolah-sekolah dan juga perguruan tinggi berlomba-lomba mampu meraih standar internasional dan rangking dunia. Aku telah menyediakan dana cukup banyak untuk itu. Maka sungguh ironis apa yang telah dilakukan oleh Normatif Agung. Aku tidak habis mengerti mengapa Normatif Agung sampai bisa bertindak yang begitu bodhohnya. Bukahkan dia menyadari akibat-akibatnya. Ini program yang sudah dirancang berpuluh-puluh tahun. Semuanya mempunyai landasan hukumnya. Bahkan aspek implementasi peningkatan standar pendidikan juga sudah berdasar undang-undang dan sudah menjadi permendiknas. Maka larangan yang dibuat oleh Normatif Agung itu sungguh tidak dapat diterima. Maka saya tetap akan mengajukan PK.

Pengada Maya:
Wahai Mengada Mandireng. Apakah yang engkau pikirkan atau yang engkau maksud dengan Sekolah Internasional, SBI, RSBI, WCU ..dsb?

Mengada Mandireng:
Segala macam SBI, RSBI dan WCU adalah kegiatan internasionalisasi tanpa kehilangan jati diri bangsa.

Panglima Mengada Formal:
Wahai Pengada Maya dan Mengada Mandireng, bolehkah aku ikut berdiskusi denganmu?

Pengada Maya dan Mengada Mandireng:
Oh..rupanya engkau sudah terbangun dari tidurmu. Silahkan

Panglima Mengada Formal:
Sebetulnya aku tadi hanya setengah tidur saja. Aku mendengar semua pembicaraanmu. Tetapi aku tidak tahan untuk tidak bangun begitu Pengada Maya bertanya perihal SBI dan WCU. Menurutku WCU adalah ranking dunia. Sebuah universitas disebut sebagai bertaraf internasional jika telah memperoleh rangking dunia. Jika belum maka nonsense lah dia. Menurutku tiadalah WCU itu jikalau tidak ada rangking dunia. Ketahuilah bahwa di Indonesia ini hanya baru 4 (empat) universitas yang memperoleh rangking dunia, yaitu Agemo, Utibe, Apabe dan Uinge. Maka jika engkau semua ingin bicara tentang WCU maka bicaralah dengan mereka. Mereka itulah referensinya WCU di Indonesia. Jikalau engkau tidak mengacu kepada mereka maka sia-sialah usahamu itu. Maka aku mengajukan permohonan kepada Mengada Mandireng agar dalam mengembangkan seluruh sistem pendidikan yang ada dan WCU harus mengacu kepada ke 4 universitas tersebut.

Pengada Maya:
Wahai Panglima Mengada, aku akan menguji tesis-tesismu itu. Bagaimana dengan universitas yang kecil yang bahkan rangking 10.000 dunia saja tidak tercatat. Bagaimana dengan berbagai karakter universitas yang berbeda. Bagaimana dengan local genious yang ada. Bagaimana dengan potensi yang ada. Bagaimana dengan potensi lokal apakah bisa dipromosikan menjadi bertaraf internasional. Apakah internasional standar itu untuk keseluruhan aspek universitas atau untuk sebagian saja.

Panglima Mengada Formal:
Mereka semuanya harus mengadakan benchmarking kepada ke empat universitas yang telah memperoleh ranking dunia.

Mengada Mandireng:
Aku telah menggariskan bahwa kegiatan internasionalisasi itu harus tidak boleh meninggalkan budaya lokal.

Perwira Mengada Normatif:
Maaf tuan-tuan perkenankanlah aku bicara. Aku terlahir dari genus lokal. Aku tidak terlalu peduli dengan gelar dan julukanku. Jika engkau memanggilku sebagai Perwira Mengada Normatif, maka aku hanya mengamini saja. Tetapi banyak orang yang menyebut tugas dan fungsiku cukup bisa mewakili normatif lokal. Sebetulnya aku sangat risau dengan klaim sepihak tentang WCU. Jika WCU didefinisikan sebagai rangking dunia maka habislah sudah riwayat dan komunitas saya. Potensi dan lokal genius kami tidaklah mungkin dibandingkan dengan empat perguruan tinggi yang lain. Diberi tambahan waktu 50 tahun atau bahkan 100 tahun saja, belum tentu lokal genius bisa mencapai rangking dunia. Malah pikiranku berkata bahwa jika cara berpikirnya seperti yang telah diuraikan oleh Panglima Mengada maka sampai akhir jamanpun lokal geniousku tidak akan memperoleh rangking dunia. Tetapi dikarenakan kecenderungan atau arus deras yang telah engkau ciptakan dalam kebijakan-kebijakanmu maka tiadalah diantara lokal geniousmu itu tidak terpengaruh untuk ikut memimpikan mendapatkan rangking dunia. Semua diantara sekolah dan lembaga lokal genious ikut berlomba-loma untuk memperoleh rangking dunia. Ada yang secara mandiri, ada yang berkelompok ada juga yang dikoordinasikan oleh lembaga-lembaga di bawah kuasamu. Tetapi ketahuilah bahwa di sana-sini telah mulai banyak berjatuhan korban. Beberapa diantara mereka, karena sangat bernafsunya, make mereka tidak segan-segan menghabiskan dana dan dayanya. Maka yang terjadi adalah keadaan kotraproduktif di mana ibarat wadah dan isinya, ketika wadah mulai bergoyang maka isinya mulai jumpalitan. Padahal aku melihat semakain hari hal demikian semakin banyak terjadi. Lebih dari itu aku mulai melihat adanya aliran dana dan daya yang luar biasa menuju pusat gurita rangking internasional yang berpusat di London, Tokyo , Singapura dll. Maka dengan ini perkenankanlah aku memohon kepada Mengada Mandireng, atas kuasamu semoga engkau berlaku bijak dan mampu melihat ini semuanya.

Mengada Mandireng:
Lalu bagaimana sikapmu dan apa programmu.

Perwira Mengada Normatif:
Aku berusaha mengingat-ingat titahmu, bahwa setiap kegiatan internasionalisasi itu janganlah sampai kehilangan jati dirinya. Jika hal demikian dilanggar maka taruhannya adalah “leher”. Aku sangat setuju. Tetapi persetujuanku itu bukan setuju buta. Sebelum engkau menyampaikan hal yang demikian, aku sudah juga mempunyai sikap. Maka seperti juga pesan leluhurku bahwa aku dan anak buahku perlu bersikap realistis. Artinya, aku tidak menutup buta tentang apa yang menjadi kecenderungan umum. Tetapi aku masih harus tetap berpegang pada hati nurani kami. Artinya, akupun berusaha memikirkan dan mengembangkan program WCU tetapi dengan tetap mengedepankan nilai-nilai dan budaya serta potensi loka. Artinya, sebetulnya aku kurang sreg dengan istilah “internasionalisasi”. Bagi diriku istilah itu seakan segalanya tanpa ada yang tersisa menjadi internasional. Maka kami mengembangkan konsep dan program jangka panjang bahwa untuk meraih rangking internasional itu kita harus memulainya sebagai suatu rintisan. Maka kami lebih sreg dengan istilah menuju internasional standar. Contoh dari apa yang digagas oleh anggota kami adalah bahwa program kami itu bersifat “on the move toward wolrd class university”.

Mengada Mandireng:
Aku setuju sekali dengan apa yang engkau pikirkan dan kembangkan. Bahkan aku ingin menggarisbawahi bahwa dirimu semua hendaknya selalu meningkatkan diri agar dirimu dapat menuju taraf internasional tanpa kehilangan jati dirimu. Taraf atau standar internasional hendaknya diartikan jangan semata-mata rangking tetapi sebagai suatu usaha agar mampu berkomunikasi pada taraf internasional. Taraf internasional Tarian tradisional Jawa itu bukan terletak bagaimana mengubah gerakan tangan seperti standar internasional, tetapi kerangka atau wadahnya sehingga Tarian Tradisional Jawa itu mampu dinikmati oleh segenap bangsa di dunia. Itulah potensimu. Maka untuk menuju kelas internasional atau WCU, kembangkanlah skema atau kerangka sehingga komunitas internasional mampu juga menghargai budaya lokal, sebaliknya juga engkau mampu mengambil yang positif dari kehidupan global. Bahasa Inggris tentu penting, tetapi Bahasa Jawa adalah nilai lokal yang harus dilestarikan. Maka anda dapat menggunakan Bahasa Inggrismu untuk bergaul dengan pakar internasional dalam rangka melestarikan dan mempromosikan Bahasa Jawa. Sehingga aku memikirkan bahwa sebenar-benar kelas internasional itu adalah sikap dan kerangka berpikirmu. Jika engkau mulai mengembangkan sikap profesionalisme dan mengimplementasikannya dalam aktivitasmu sehari-hari sebagaimana juga dilakukan oleh komunitas internasional maka rangking internasional akan datang dengan sendirinya.

Pengada Maya:
Wahai Mengada Mandireng, Panglima Mengada Formal, dan Perwira Mengada Normatif betapapun berat tugas dantanggung jawabmu, jika engkau masih mampu berkomunikasi maka Tuhan YME tidak akan tertidur mencatat segala amal perbuatanmu. Itulah fakta dan pikiran-pikiranmu. Ketahuilah bahwa sebagian dari hal tersebut semua adalah ketetapan-ketetapan Tuhan sedangkan sebagaian yang lain adalah ikhtiarmu. Tiadalah Tuhan mengubah segala nasibmu jika engkau sendiri tidak berusaha mengubahnya. Maka aku menyaksikan sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa Tuhan sedang mengujimu. Setiap orang akan diuji sesuai dengan dimensinya masing-masing. Amiin.

Friday, November 27, 2009

Elegi Pemberontakan Para Normatif

Oleh Marsigit

Subyek Formal Bersemi:

Hai anak-anak, walau engkau masih kecil-kecil, ini ni pelajari. Berapa ini dikali itu. Itu dibagi ini. Itu pangkat itu. Ini pangkat ini. Ayo jawab! Kok diam saja.

Obyek Normatif Mengintip:

Waduh sulit bu. Aku tidak bisa. Aku tidak mau. Aku emoh belajar dengan ibu. Ibu itu nakal. Suka mbentak-mbentak. Aku ingin pulang.

Subyek Formal Bersemi:

Jika engkau ingin pandai ya ini pelajari. Jika engkau tak mau belajar berarti aku gagal.

Obyek Normatif Mengintip:
Aku ingin menangis saja bu.

Subyek Formal Berkuncup:
Wahai muridku, engkau telah menyadari semuanya, bahwa satu-satunya sukses dan keberhasilan adalah lulus ujian nasional. Itu harga mati. Barang siapa tidak lulus UN maka tiadalah dia mempunyai harga. Jangankan di depan negara. Di depan calon mertua saja maka dia tidak mempunyai harganya. Oleh karena itu maka adalah wajib hukumnya bagi engkau untuk lulus UN. Nah marilah engkau aku beri kesempatan menempuh UN ini. Silahkan kerjakan!

Obyek Normatif Patuh:
Wah soalnya sulit. Yang ini aku belum mempelajari. Jangankan mempelajarinya, mendengan dan melihat saja aku belum pernah. Sedangkan yang telah aku baca dan pelajari kok tidak keluar dalam UN. Aku sebetulnya senang melukis, tetapi kenapa tidak ada ujian melukis? Aku sebetulnya ingin menjadi Dai dan sudah banyak belajar khotbah, tetapi dalam UN ini kok tidak ada soal bagaimana kothbah. Kok yang diujikan hanya 3 (tiga) mapel. Wah ini tidak adil. Tetapi bagaimana ya, saya itu kan harus patuh dengan Bapak guru dan sekolah. Ya sudah, saya pasrah saja.

Subyek Formal Berbunga:

Iya pak saya telah paham dan memahami. Ini adalah kebijakan maka saya juga percaya betul dengan apa yang Bapa katakan. Sudahlah, Bapak bicara apa saja, tanpa reserve tanpa ragu-ragu, aku pasti percaya dan siap melaksanakan. Tak usah khawatir, asalah Bapak konsisten yaitu menyediakan juga biaya dan fasilitas agar bisa dilaksanakannya, pasti beres. Bapak untung, saya kan juga boleh memperoleh keuntungannya. Perkara para obyek normatif, mereka tahu apa. Apapun yang kita programkan pastilah bisa dilaksanakan.

Subyek Formal Berbuah:
Wahai para Subyek Formal, lihat dan ketahuilah buah-buahku itu. Bukankan engkau tahu bahwa buah-buah itu dapat engkau nikmati, itu dikarenakan kepatuhanmu terhadap diriku. Oleh karena sekali lagi aku ingatkan. Jaganlah ragu-ragu akan keputusanku itu. Barang siap ragu-ragu terhadap keputusanku, maka hidupnya tidak akan tenteram. Apalagi jika menolaknya maka dia akan saya black list.

Obyek Normatif Kritis:
Wahai Subyek Formal berbuah, aku telah menemukan kecurangan dalam penyelenggaraan UN. Aku menemukan bahwa di lapangan atau di daerah-daerah UN telah berubah menjadi tujuan yang mengerikan. Mereka telah membentuk tim-tim sukses. Wah ini tidak baik. Tetapi memang kenapa. Kenapa UN hanya untuk beberapa mata pelajaran saja. Bukankah siswa belajar semua mapel. Tetapi kenapa UN tidak mengujikan semua mapel. Kenapa Tes nya berupa tes obyektif, atau pilihan ganda. Apakah engkau pikir hidup ini adalah pilihan ganda. Bukankah proses atau sikap para siswa juga perlu dilihat. Maka sebetulnya saya tidak setuju dengan UN. Bukankah aku juga memerlukan normatif dari sekedar formal?

Subyek Formal Berbuah:
Hai engkau. Jangan macam-macam. Simpan temuanmu dan usulmu itu. Jika engkau terus-teruskan sikap dan pikiranmu itu, maka engkau bisa dianggap membahayakan keamanan kebijakan pemerintah. Maka diamlah engkau di situ.

Obyek Normatif Kritis:
Tidak..tidak saya akan pertahankan pikiran kritisku.

Subyek Formal Berbuah:
Kalau begitu akan aku laporkan engkau kepada Kepala Sekolahmu. Ketahuilah bahwa Kepala Sekolahmu itu sudah aku tangkap dan tidak bisa berbuat apapun kecuali sebagai Subyek Formal anak buahku dikarenakan dia telah makan buahku.

Obyek Normatif Berbuah:
Wahai Subyek Formal Berbuah, ketahuilah bahwa yang dapat berbuah di dunia ini bukanlah hanya engkau saja. Lihat dan ketahuilah bahwa diriku juga berbuah. Oleh karena itu aku akan memperingatkan dirimu agar jangan engkau main paksa kepada murid-muridku yaitu kepada para Normatif.

Subyek Formal Berbuah:
Wahai Obyek Normatif Berbuah, yang membedakan antara dirimu dengan diriku adalah bahwa aku itu adalah subyek, sedangkan engkau itu adalah obyek. Sebenar-benar obyek tidaklah mampu mengalahkan subyek, walaupun dengan subyek kecil sekalipun.

Subyek Formal Mandireng:
Wahai para Subyek Formal dan Obyek Normatif, kenapa engkau bertengkar?

Subyek Formal Berbuah:
Begini Subyek Formal Mandireng, aku adalah subyek, engkau juga subyek. Tetapi engkau adalah subyekku, sedangkan aku adalah obyekmu. Maka tiadalah hukumnya disitu untuk saling berselisih paham. Maka apapun yang terjadi adalah bahwa engkau harus hanya mendengarkan apa yang aku katakan. Maka jangan engkau dengarkan kata-kata para obyek normatif itu.

Subyek Formal Mandireng:
Baik, tentu saja demikian. Maka laksanakan program-programmu maka aku akan dukung sepenuhnya.

Obyek Normatif Berbuah:

Wahai Normatif Agung. Aku tahu bahwa engkau bisa mewujudkan dirimu baik sebagai subyek maupun sebagai obyek. Maka aku ingin mengajukan protes dan usul terhadapmu, perihal perilaku para Subyek Formal. Para Subyek Formal telah tertutup normatifnya. Mereka main paksa. mereka telah berusaha mereduksi bahwa pendidikan itu telah identik dengan UN. Itulah keadaan menyedihkan yang telah membawa berbagai persoalan normatif. Oleh karena itu aku usul agar engkau dapat mewujudkan dirimu sebagai Subyek, sehingga mampu menghentikan sepak terjang para Subyek Formal.

Normatif Agung:
Dengan ini aku menyatakan bahwa “Aku melarang dilaksanakan Ujian Nasional”. Titik

Info Terkini 3

Diumumkan kepada segenap mahasiswa bahwa perkuliahan dari saya (Marsigit) untuk tanggal 1 sd 6 Desember tetap berjalan seperti biasa, karena keberangkatan saya ke Luar Negeri di tunda 1 (satu) minggu. Demikian terimakasih.

Tuesday, November 24, 2009

Misteri Dibalik Elegi Menggapai Sastra

Oleh Marsigit

Telah saya ungkap maksud dari Elegi Menggapai Sastra sebagi berikut:

Sastra:
Apakah yang dimaksud dengan sastra itu?

Mistik:
Tersembunyi , gaib, waskita , laku spiritual dalam diri. Makna sastra yang dimulai dari awal huruf.

Religi:
Hati yang kasih kepada Yang Maha Kuasa. Tidak ada tandinganya rasa. Tambah rasa kurang bicaranya. Penuh ingat dantidak lupa. Takut melanggar larangan hati. Semua indah menjadikan diri kaya hati. Menjadi mulya tersebarnya rasa di hati. Sesuai dengan suratan takdir. yang memang sudah pasti.

Filsafat:
Sesungguhnya hakekat sesuatu tiada ada tandingannya. Hakekatnya tiada ada tandingannya. Ontologi itu nama lainnya. Selanjutnya tentang benar dan salah.

Ilmiah:

Olah pikir menggunakan metode. Sepisan, melihat segala sesuatu fenomena. Kedua, mengolah data. Ketiga, menyusun data. Keempat, mengolah data. Terakhir, menyimpulkan data. Selanjutnya mengerti apa yang dimaksud dalam sebaliknya.

Monday, November 16, 2009

Elegi Pemberontakan Para Formal

Oleh Marsigit

Formal Dewasa Mandireng:
Blaaaaghh..dlalah...marah besar aku terhadap perilaku Normatif Dewasa Pertikel. Sudah keterlaluan uraiannya. Sudah tidak mau memenuhi kemauanku, masih ceramah ngalor-ngidul lagi. Wah saya harus bertindak. Aku akan menghimpun kekuatan untuk menghadapi kesewenang-wenangan Normatif Setengah Baya.

Formal Dewasa Mandireng Paralel:
Aku..aku setuju dengan apa yang engkau pikir Wahai Formal Dewasa Mandireng. Aku juga merasakan apa yang engkau rasakan. Maka aku mendukung rencana-rencanamu.

Formal Dewasa Parlogos:
Kalau aku ingin bersikap realistis. Kita ini kan sudah komitmen dan berjanji kepada diri kita masing-masing. Dan juga sudah teken kontrak. Bahwasanya kita bersedia bergaul dengan Normatif Setengah Baya. Maka kita ikuti saja skemanya dengan ikhlas, maka mudah-mudahan kita akan bisa mengambil manfaatnya dari semua kegiatan-kegiatan ini.

Formal Dewasa Parlogos Paralel:
Wahai Formal Dewasa Mandireng dan Formal Dewasa Mandireng Paralel, aku menolak keinginanmu. Selama ini aku selalu mengikuti gerak-gerikmu. Aku sangat tidak mengerti dengan sikapmu. Mengapa engkau mempunyai hati sekeras batu, mengapa engkau menutupi diri dari pengetahunmu, mengapa engkau cenderung berbuat anarkhis. Ingatlah bahwa disini yang berkepentingan bukan hanya dirimu saja, tetapi aku juga berkepentingan. Ketahuilah bahwa aku mempunyai program-program jangka panjang. Jika engkau terus-teruskan sikapmu yang demikian itu maka aku khawatir, aku juga akan terkena dampaknya. Maka dengan ini aku proklamirkan bahwa aku menentang semua rencana-rencanamu.

Formal Anak-anak Mandireng:
Aku protes terhadap perilaku Normatif Remaja Pertikel. Aku sudah setengah mati mempelajari dan mengikuti ternyata harapannya tidak sesuai dengan rencanaku. Eee..malah permintaannya bermacam-macam. Saya tidak suka dengan segala perilaku Normatif.

Formal Dewasa Mandireng:
Wahai para Formal Mandireng..marilah kita bersatu untuk menghadapi para Normatif Pertikel. Tetapi ketahuilah bahwa perjuangan kita sangat berat. Ketahuilah bahwa kita harus bisa berjuang kalau perlu melakukan pemberontakan bagaimana agar para Formal itu bisa menjadi Normatif, dan sebaliknya bagaimana agar para Normatif kita tangkap dan kita penjarakan sehingga mereka itu kita jadikan saja sebagai Formal atau kalau perlu sebagai Material. Untuk mewujudkan rencanaku itu, siapakah diantara kamu semua yang mempunyai ide atau gagasan?

Formal Dewasa Mandireng Paralel:
Ng...nggak...enggak ..aku enggak punya ide. Tetapi kita harus tetap maju.

Formal Anak-anak Mandireng:
Ng...nggak...enggak ..aku enggak punya ide. Tetapi kita harus tetap maju.

Formal Dewasa Parlogos:
Itu ide dan rencana gila. Tidaklah mungkin epistemologi mampu menjungkir-balikkan ontologi.

Formal Dewasa Parlogos Paralel:
Menurutku itu juga ide dan rencana gila. Tidaklah mungkin epistemologi mampu menjungkir-balikkan ontologi. Rencanamu itu seperti ingin menukar siang dan malam.

Formal Dewasa Mandireng:
Kalau begitu saya akan mengadakan sayembara. Barang siapa dapat membantu diriku menemukan cara bagaimana mengubah Formal menjadi Normatif dan sebaliknya maka akan saya beri “hadiah berupa bukan hadiah”.

Para Formal:
Wahai Formal Dewasa Mandireng, apakah sudah engkau pikirkan masak-masak ucapanmu itu. Bukankah ucapanmu itu bersifat kontradiktif. Seperti apakah yang engkau maksud dengan “hadiah berupa bukan hadiah”?

Formal Dewasa Mandireng:
Waha..haha..haha..inilah kesenanganku dan kesengajaanku. Kiranya aku tidak bisa menyamai Normatif. Bukankah kebingunganmu itu menunjukkan bahwa aku secara ontologis telah pantas diangkat sebagai Normatif?

Para Formal:
Tetapi ingatlah wahai Formal Dewasa Mandireng. Bahwa keinginanmu itu akan terwujud jika semua Formal yang lainnya mendukung. Padahal engkau mengetahui bahwa hanya sebagian kecil dari para Formal itu mendukungmu.

Formal Dewasa Mandireng:
Waha...haha..haha. Harus. Itu harus. Adalah kewajibanmu untuk mendukungku.

Para Formal:
Lho..kok mengharuskan. Wah kalau ini namanya memaksa.

Formal Dewasa Mandireng:
Kalau engkau menyadari maka aku menghormatimu. Kalau engkau belum mendengar maka dengarkanlah teriakanku. Kalau engkau tetap tidak mendukungku maka engkau semua akan aku paksa.

Para Formal:
Waaa.. ini namanya anarkhis. kalau sudah begini, bukan berbipir lagi kita. Ini namanya sudah perang.

Formal Dewasa Mandireng dan Para Formal:
Berperang...berperang...berperang...berperang...dar..dir..dor..der..dur.

Normatif Dewasa Pertikel:
Aku melihat pertempuran hebat di antara para Formal. Apa gerangan yang terjadi?

Normatif Anak-anak Pertikel:
Wahai Normatif Dewasa Pertikel. Sebetulnya yang menjadi pokok persoalan adalah dirimu dan juga diriku. Sebagian para formal, yang dipimpin oleh Formal Dewasa Mandireng menginginkan agar merekalah yang menjadi Normatif. Sedangkan kita para Normatif dikehendakinya untuk menjadi Formal saja. Maka bagaimanakah hal ini menurut dirimu itu?

Normatif Dewasa Pertikel:
Whus...aneh benar kejadiannya. Tidak adalah suatu teori berpikir di dunia ini yang dapat menjelaskan perihal kejadian ini, kecuali...

Normatif Anak-anak Pertikel:
Kecuali apa...

Normatif Dewasa Pertikel:
Hanya Normatif Tua Pertikel sajalah yang mampu menjelaskan dan memberi solusinya.

Normatif Tua Pertikel:
Wahai para Normatif, ketahuilah, bahwa ada saatnya manusia itu menghadapi suatu kejadian di mana banyak di antara mereka tidak mampu memikirkannya, karena memang bukan kapasitasnya. Untuk kejadian ini hanya dirikulah yang mempunyai senjata untuk menjelaskan dan memberikan solusinya.

Para Normatif:
Tolong wahai Normatif Tua Pertikel, segera uraikan caramu itu.

Normatif Tua Pertikel:
Yang kelihatannya tautologi pada suatu level, jika ditingkatkan dimensinya maka dia belum tentu tautologis. Yang kelihatannya kontradiksi, jika ditingkatkan dimensinya maka dia belum tentu kontradiksi. Mengapa? Karena permasalahannya bukan pada tautologi ataupun pada kontradiksi itu sendiri. Tetapi persoalannya pada mengapa sampai timbul tautologi dan kontradiksi, dan bagaimana implikasi yang ditimbulkannya.

Para Normatif:
Kami tidak paham.

Normatif Tua Pertikel:
Engkau tidak akan paham sampai aku betul-betul mengeluarkan senjataku itu.

Para Normatif:
Tolong segera keluarkan senjatamu itu?

Normatif Tua Pertikel:
Senjataku ada tiga macam. Pertama, kesadaran ruang dan waktu. Kedua, berpikir intensif dan ekstensif. Ketiga, menggapai logos. Dengan ketiga senjataku ini, maka aku akan bisa menangkap para Formal pemberontak.
Senjata pertamaku: Hai, kau tentu anak buah Formal Dewasa Mandireng, kenapa engkau tidak menepati ruang dan waktu yang engkau sanggupi. Maka sehebat-hebat dirimu, aku telah menagkapmu. Engkaulah si tidak sadar ruang dan waktu. Maka dengan senjataku ini jikalau engkau ikhlas maka engkau akan segera bisa menjadi Normatif. Bersiaplah.
Senjata keduaku: Hai, kau tentu anak buah Formal Dewasa Mandireng, kenapa engkau bersembunyi di balik kata-katamu. Sedalam engkau bersembunyi di situ maka aku bisa menangkap dirimu. Itulah engkau si tidak mau berpikir intensif dan ekstensif. Maka dengan senjataku ini jika engkau iklhas maka engkau segera bisa menjadi Normatif. Maka bersiaplah.
Senjata ketigaku: Hai, kau tentu anak buah Formal Dewasa Mandireng, kenapa engkau bersikeras mempertahankan pendirianmu? Padahal hati nuranimu mengatakan bahwa pikiranmu itu tidak sesuai dengan suratan takdirmu. Mengapa engkau sangat bangga dengan jargon-jargonmu. Bukankah engkau menyadari bahwa itu adalah perileku mitos-mitosmu. Maka dengan senjataku ini, jika engkau ikhlas maka engkau akan segera menjadi manusia menggapai logos. Dengan demikian engkau akan bisa segera menjadi Normatif. Maka bersiaplah.

Formal Dewasa Mandireng:
Waha..haha..haha..wahai Normatif Tua Pertikel. Kirain saya menyerah begitu saja. Lihatlah bahwa ketiga senjatamu yang engkau agung-agungkan itu, ternyata aku belum mau menyerah. Maka tunggulah balasanku ini.

Normatif Tua Pertikel:
Jika dengan ketiga senjataku itu ternyata aku belum mampu menaklukan dirimu. Maka engkau Formal Dewasa Mandireng, benar-benar bukan tandingan manusia. Engkau adalah jelmaan jin bertanduk tujuh. Engkau adalah syaetan yang pertama, tertua dan terbesar. Maka jika aku terpaksa harus bertempur melawanmu untuk yang terakhir kalinya, maka satu-satunya cara adalah aku harus menyatukan ketiga senjataku itu menjadi satu, dan mengarahkannya ke tengah dalam mulutmu sehingga engkau akan tertembus sampai belakang lehermu. Maka dengan doaku, engkau akan terpenggal lehermu dan terputuslah lehermu.

Formal Dewasa Mandireng:
Wahai Normatif Tua Pertikel, lihatlah diriku ini. Walaupun aku hanya tinggal kepalaku saja, maka aku masih bisa melawanmu.

Normatif Tua Pertikel:
Engkau memperlihatkan bahwa hanya dengan kepalamu saja engkau masih bisa mengamuk dan merusak. Maka senjataku saja tidak bisa mengalahkanmu kecuali aku harus minta bantuan gunung yang tinggi untuk bersedia melongsorkan sebagian lereng dan tebingnya sehingga kepalamu, Formal Dewasa Mandireng akan terbenam jauh di bawah dasar gunung. Itulah saat di mana semua bentuk angkara murkamu akan terhenti. Tiadalah manusia mampu mengalahkan jin bertanduk tujuh jika tiadalah bantuan dari Allah SWT. Amiin.

Para Normatif:
Terus..terus..bagaimana...di mana?

Normatif Tua Pertikel:
Wahai para Normatif. Janganlah engkau mengaku sebagai normatif, jika engkau tidak mampu melihatnya. Ketahuilah, begitu selesai aku bercerita, maka selesai pulalah pertempuran itu. Lihatlah maka kita melihat disana para Formal sudah kembali ke habitatnya masing-masing. Mereka telah menyadari bahwa mereka juga memerlukan para Normatif. Mereka juga telah menyadari bahwa mereka juga tidak serta merta bisa menihilkan keberadaan Normatif. Sesungguhnya yang terjadi adalah, agar para Formal bisa menjadi Normatif, maka semua Formal yang lain harus mendukungnya. Apakah arti dari kalimatku yang terakhir itu. Itulah sebenar-benar makna ontologis. Ontologis suatu hal tidaklah bisa dipaksakan, tetapi memaksa sendiri itu adalah ontologis. Maka renungkanlah?

Para Normatif:
Wahai Normatif Tua Pertikel..aku curiga dengan dirimu. Jika Engkau benar-benar Normatif seperti aku. Mengapa engkau mempunyai kemampuan melebihi diriku. Siapakah dirimu itu.

Normatif Tua Pertikel:
Aku tidak lain tidak bukan adalah si Orang Tua Berambut Putih. Itulah sebenar-benar diriku adalah pengetahuanmu. Maka gunakan akal dan pikiranmu untuk menggapai ilmumu dan untuk memecahkan urusan sehari-hari. Tetapi aku telah membuktikan bahwa akal saja tidaklah cukup. Akal bertemu dengan hati itulah setinggi-tinggi dimensi manusia. Tetapi itu juga belum cukup jika engkau belum menggapai Rakhmat dan Hidayah Nya.
Amiin.

Sunday, November 15, 2009

Elegi Menggapai Menilai Normatif

Oleh Marsigit

Formal:
Wahai normatif, dikarenakan alasan formal, maka aku perlu penilaian sifat diriku oleh dirimu?

Normatif:
Menilai sifat dirimu itu termasuk wilayah normatif.

Formal:
Ya silahkan, itu alasanmu.

Normatif:
Aku lebih enjoy menikmati hidupku yang normatif daripada harus memberi sifat formal pada dirimu.

Formal:
Tetapi ini adalah tanggung jawabmu?

Normatif:
Tanggung jawab yang mana?

Formal:
Bukankah engkau telah menyediakan diri bergaul secara formal denganku?

Normatif:
Maksudmu?

Formal:
Apakah engkau lupa dengan jadwal-jadwalmu. Bukankah engkau mempunyai jadwal mengajar bagi para formal pada hari Senin, Selasa, Rabu, dst..?

Normatif:
Oh..iya maaf saya sampai agak lupa. Terimakasih anda telah mengingatkan hal itu kepadaku. Lalu kenapa engkau begitu semangat menginginkan penilaian formal dariku?

Formal:
Bukankah engkau tahu bahwa penilaian formalmu itu secara formal juga menunjukkan dimensi formalku. Sehingga penilaian formalmu itu sangat bermanfaat untuk meningkatkan dimensi formal diriku.

Normatif:
Tetapi apakah engkau tahu betapa sulitnya aku memberikan penelaian formal terhadap dirimu?

Formal:
Mengapa sulit, cukup berikan saja nilai bagiku?

Normatif:
Engkau menginginkan nilai berapa?

Formal:
Aku menginginkan kalau tidak “terbaik”, ya “terbaik” atau boleh yang lain yaitu “terbaik”. Tetapi setidaknya jika engkau tidak mau memberikan nilai “terbaik” kepadaku, maka cukup berikan saja nilai “terbaik” kepadaku. Sehingga jika engkau tidak mau memberikan nilai tertinggi “terbaik” kepadaku, aku pun bersedia diberikan nilai terendah asalkan engkau tulis dengan huruf “terbaik”.

Normatif:
Lho kok memaksa?

Formal:
Lho apa buktinya aku memaksa. Bukankah aku telah memberikan engkau beberapa alternatif bagimu untuk menilai diriku. Terserah saja bagimu, asalkan aku mendapat nilai “terbaik”.

Normatif:
Lho kok memaksa?

Formal:
Siang dan malam aku berdoa agar darimu aku mendapatkan nilai “terbaik”. Jika engkau memberikan nilai “terbaik” maka berarti terkabulah doaku itu.

Normatif:
Sikapmu itulah yang membuat saya merasa berat untuk memberikan penilaian terhadap dirimu?

Formal:
Kalau engkau enggan menilai maka bagaimana tanggungjawabmu?

Normatif:
Baiklah, sebelum aku akhirnya terpaksa memberikan penilaian terhadapmu, maka jawablah pertanyaan-pertanyaanku berikut?

Normatif:
Apakah engkau sudah melaksanakan semua nasehatku?

Formal:
Nasehatmu terasa tidak cocok dengan hati dan pikiranku.

Normatif:
Bukankah aku telah mengembangkan skema agar semua hati dan pikiranmu dapat terfasilitasi dalam skema yang aku kembangkan?

Formal:
Aku tidak peduli dengan skemamu. Dan aku juga tidak mau hati dan pikiranku terfasilitasi oleh skemamu.

Normatif:
Terus apa maumu dan bagaimana saranmu kepada diriku.

Formal:
Pertama memandang dirimu, aku tidak suka denganmu.

Normatif:
Kalau begitu engkau telah bicara tentang “normatif”.

Formal:
Apa buktinya?

Normatif:
Bukankah engkau bicara tentang “suka” atau “tidak suka”

Formal:
Terserah apa penilaianmu teradap diriku, tetapi itulah faktanya bahwa aku tidak suka kepadamu.

Normatif:
Baik, karena suka dan tidak suka adalah hakmu, tetapi kenapa engkau memaksa diriku untuk memberikan nilai “terbaik”?

Formal:
Memangnya kenapa, apakah aku tidak boleh memaksa dirimu?

Normatif:
Ternyata engkau masih berkutat dalam bidang normatif saja. “Memaksa” adalah aspek normatif.

Formal:
Memangnya kenapa, apakah aku tidak boleh memaksa dirimu?

Normatif:
Jika di dunia ingin diterapkan keadilan maka yang berhak memaksa bukan hanya dirimu, tetapi diri yang lain juga berhak memaksa. Artinya sikapmu yang demikian akan menimbulkan keadaan anarkhis. Itulah kekacauan aturan yang ada. Bukankah engkau tahu bahwa salah satu tugasku adalah juga menegakkan peraturan?

Formal:
Aku lebih baik diam, sambil berharap-harap cemas?

Normatif:
Normatif berusaha menggapai dan merangkum semua yang formal.

Formal:
Ah..omong kosong. Karena engkau juga tidak sepenuhnya melaksanakan yang formal?

Normatif:
Maksudmu?

Formal:
Engkau tidak menyediakan buku bagiku. Engkau tidak menunjuk buku bagiku. Engkau tidak memberi petunjuk teknis bagiku. Engkau mengajar tidak urut dan tidak sistematis.

Normatif:
Semua yang engkau sebut itu adalah material, mekanistis dan paling banter formal. Tetapi belumlah normatif.

Formal:
Wahai normatif, janganlah bersembunyi dan berdalih dibalik normatif. Memangnya engkau juga tidak membutuhkan material dan formal?

Normatif:
Aku membutuhkan itu semua. Tetapi aku mengharapkan bahwa dimensimu juga bisa naik menjadi tataran normatif.

Formal:
Jangan mengguruiku. Aku telah menyadari bahwa diriku juga bisa normatif.

Normatif:
Normatif yang mana?

Formal:
Normatifku lain dengan normatifmu.

Normatif:
Beri contohnya.

Formal:
Normaku adalah walau aku tak bisa ya jangan sampai ketahuan tidak bisa. Walau aku tak berusaha ya jangan sampai tahu kalau tak berusaha. Walau aku salah ya jangan sampai ketahuan kalau aku salah. Walau aku membaca ya jangan sampai ketahuan kalau aku belum membaca. Walau cuma tahu sedikit ya aku minta nilai “terbaik”.

Normatif:
Padahal normaku itu bertentangan dengan normamu.

Formal:
Lho, normamu harus sama dengan normaku.

Normatif:
Lho main paksa.

Formal:
Siapa yang main paksa, cuma merayu agak keras.

Normatif:
Wahai formal, lama-lama habis kesabaranku. Engkau telah bersifat tidak normatif terhadap diriku dengan cara memaksakan normamu kepada diriku.

Formal:
Lau apa maumu?

Normatif:
Aneh juga?

Formal:
Apanya yang aneh?

Normatif:
Tidaklah semua formal menyadari yang normatif. Sebaliknya yang normatif berusaha menampung yang formal.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Engkau formal berusaha menampung semua normatif. Maka itulah salah satu bentuk kesombonganmu.

Formal:
Ah..berfilsafat lagi. Bosan aku.

Normatif:
Itulah yang engkau sebut bahwa filsafat adalah normatif.

Formal:
Apa relevansinya?

Normatif:
Itulah kontradiksinya. Tiadalah mudah memberikan memberi nilai kepada dirimu.

Formal:
Bagiku sangat mudah. Tulis saja “terbaik”. Beres.

Normatif:
Wahai formal. Ternyata engkau tidak hanya sombong, tetapi juga berpotensi anarkhis, karena selalu main paksa.

Formal:
Apa teorimu menilai diriku?

Normatif:
Oh yang ini engkau berusaha menyadari? Menilai filsafat itu tidaklah cukup formal tetapi juga normatif. Menilai spiritual juga tidak cukup material, tetapi juga formal, dan normatif, tetapi setinggi-tinggi penilaian adalah spiritual. Tiadalah manusia itu mampu melaksanakan.

Formal:
Bertele-tele.

Normatif:
Baik akan aku katakan bahwa penilaian itu sesuai dengan dimensinya.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Menilai kemampuan bayi yang baru lahir, dari gejalanya apakah bisa menangis, bergerak ..dsb.
Menilai siswa SD dari kemampuannya sesuai dengan kemampuan tingkat ke SD an.

Formal:
Lha kalau saya?

Normatif:
Setinggi-tinggi pencapaian kemampuan dibidang normatif adalah kemampuan normatif. Maka ikhlas lebih unggul dibanding pandai. Membaca banyak elegi dan buku-buku dengan iklhas itu lebih unggul dibanding nilai yang engkau dapat di kelas. Rendah hati lebih unggul dibanding tinggi hati. Logos lebih unggul dibanding mitos. Sabar lebih unggul dibanding tergesa-gesa. Berdoa adalah paling tinggi dibanding yang lainnya. Bertanya lebih unggul daripada mengumpat. Tidak prejudice lebih unggul dari pada prejudice. Memaafkan lebih unggul dari pada mendendam. Ikhlas lebih unggul dari pada tersingung di hati. Menyadari ruang dan waktu akan lebih baik lagi. Artinya sopan santun akan lebih unggul daripada vulgar dan arogan. Normatif itu lebih unggul dibanding hanya formal. Itulah dasar-dasar penilaianku kepadamu.

Formal:
Aku ini formal, bukan normatif. Tidak perlu pertimbangan macamn-macam.

Normatif:
Bukankah engkau telah teken kontrak bersedia bergaul dengan diriku. Artinya engkau bersedia menaikkan dimensi dirimu menuju tataran normatif? Itulah sebenar-benar refleksi.

Formal:
A..aa.ku bersedia tetapi normaku berbeda dengan normamu. lagi pula dimensiku itu kelihatannya lebih tinggi daripada kamu.

Normatif:
Janganlah selalu bersembunyi dibalik perbedaan norma. Bukankah diantara kita masih bisa dicari norma-norma universal? Tentang perbedaan dimensi, tentu ada orang lain yang lebih berhak menilainya.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Secara universal, jika formal menginginkan penilaian normatif ya harus memenuhi normatif universal.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Jika engkau enggan membaca tulisanku maka nilai normatifmu rendah.
Jika engkau enggan membaca buku-buku referensiku maka nilai normatifmu ya rendah.

Formal:
Apakah engkau akan manilai diriku “rendah”. Oh jangan jangan nilai aku “rendah”. Jika terpaksa engkau akan menilai diriku “rendah”, boleh asal bukan “rendah”. Tetapi silahkan menilai apaun asal jangan “rendah”. Karena aku tidak mau nilai “rendah”. Silahkan sembarang nilai diriku, asal bukan nilai “rendah”.

Normatif:
Bukakan banyaknya permintaanku itu telah menunjukkan sebenar-benar dimensimu? Terbukti saya menemukan banyak sekali pertentangan dalam dirimu. Membiarkan pertentangan dalam diri sendiri tanpa berusaha mengatasinya itu adalah perbuatan mitos.

Formal:
Engkau rupanya mengetahui apa di balik uraianku?

Normatif:
Bukanlah aku ini seorang paranormal. Aku sekedar membuat sintesis saja.

Formal:
Lalu apa saranmu bagiku?

Normatif:
Turunkan egomu. Tidak semestinyalah egomu itu engkau lebih-lebihkan sehingga melampaui batasmu. Bukankah engkau menyadari bahwa setinggi-tinggi norma kita secara universal adalah menjunjung peraturan dan kesepakatan serta komitmen kita masing-masing. Jika engkau telah menihilkan keberadaanku sebagai normatif, maka setinggi itu pulalah penilaianku terhadapmu. Setinggi-tinggi penilaian formal tidaklah mampu melebihi penilaian normatif.

Formal:
Aku tak mengerti maksudku.

Normatif:
Inilah peringatanku bagimu, agar berusahalah sesuai dengan suratan-suratan yang telah ditetapkan oleh yang Maha Kuasa, dan juga sesuai dengan normatif-normatifnya.

Formal:
Aku juga masih tidak tahu.

Normatif:
Itulah sikap dirimu yang sombong yang tidak pernah mau mendengarkan secara normatif diriku. Makajangankan nilai normatifmu, sedangkan nilai formalmu juga aku menilainya rendah.

Formal:
Wueh..

Normatif:
Aku hanya berdoa agar orang-orang sepertimu diberi petunjuk dan mampu merefleksikan dirimu agar segera menyadari kelemahan-kelamahanmu.

Formal:
Wueh..pakai doa segala. Emangnya yang bisa berdoa hanya dirimu. Doaku lebih makbul.

Normatif:
Ya Allah SWT ampunilah dosa-dosa orang-orang disekitarku. Berikan petunjukmu ya Allah, agar kita semua diberi keikhlasan baik pikir maupun hati. Agar kami memperoleh kebahagiaan di dunia dan keselamanat di akhirat?

Formal:
Wueh..silahkan berdoa. Wueh...paskan saja doamu dengan perbuatanmu. Aku akan menyaksikannya.
Tiadalah ampun bagi orang-orang yang tidak aku sukai.

Normatif:
Kelihatannya engkau marah berat kepada diriku? Bahkan pakai menyumpah segala.

Formal:
Tidak cuma marah aku juga tersinggung berat. Dan aku tidak akan pernah mengampuni dirimu. kalau aku menyumpah dirimu, karena aku tidak suka terhadap dirimu.

Normatif:
Aku serahkan saja semuanya kepada Tuhan YME.

Formal:
Wuehh...pakai berserah kapada TuhanYME segala.

...

Orang Tua Berambut Putih:
Untuk kali ini aku datang walaupun tidak engkau undang. Nanti dulu ...
Wahai normatif dan formal...hati-hatilah ..sekarang ini kita sudah memasuki jaman praktis, instant dan berburu nikmat. Maka jika tidak hati-hati semuanya akan terkena imbasnya. Aku minta agar normatif dan formal bisa saling menahan diri, sebab jika tidak bisa menahan diri, maka dunia ini akan semakin anarkhis. Maka tawaduklah engkau itu.

Normatif:
Amiin..

Formal:
Preeeek..apa itu orang tua rambut putih. Konyol. Sia-sia aku memikirkannya.

Orang Tua Berambut Putih:
Ohh..Allah hu Allah.

Monday, November 9, 2009

Elegi Menggapai Sastra Jawa

Oleh Marsigit

Sastra Jawa:
Masih persoalan misteri yang tersembunyi. Kenapa engkau masih risau? Bukankah itu adalah lumrah jika memang membawa manfaat. Salah satu manfaatnya adalah agar kebenaran itu dapat disampaikan dengan cara yang santun. Bukankan ancaman bagi orang yang tidak santun itu adalah kebodohan? Maka dengan ini saya akan memberikan sedikit ruang dan waktunya bagi para anggotaku untuk menguraikan epistemologinya, bagaimana mereka sengaja menyembunyikan ontologinya.

Wangsalan:
Kenalkanlah, aku adalah wangsalan. Pekerjaanku adalah menyampaikan kebenaran ontologis, tetapi epistemologiku adalah dengan cara tak langsung. Yang aku maksud dengan cara tak langsung adalah aku selalu membuat pendahuluan kepada setiap kalimatku agar yang mendengar atau menerima pesan dariku merasa nyaman.

Sastra Jawa:
Berikanlah contohnya?

Wangsalan:
Perhatikan kalimatku ini: “Dewa tirta, tirta andheging baita”.
Dewa tirta adalah Sang Yang Baruna.
Tirta andheging baita adalah pelabuhan.
Maka sebetulnya saya ingin mengatakan:”Pra taruna, kondhang labuhe mring nagara”

Sastra Jawa:
Apakah masih ada contoh yang lain?

Wangsalan:
Perhatikan kalimatku ini:”Ujung jari, balung roning kalapa”
Ujung jari itu adalah kuku.
Balung roning kalapa itu adalah sada.
Maka sebetulnya saya ingin mengatakan:”Winengkua sayekti dadi usada”

Sastra Jawa:
Masih ada yang lain?

Wangsalan:
Perhatikan kalimatku ini:”Balung janur, janur ingisenan boga”
Balung janur itu adalah sada.
Janur ingisenan boga itu adalah kupat.
Maka sebetulnya saya ingin mengatakan:”Widada, lepat saking sambekala”

Sastra Jawa:
Selain wangsalan, apakah masih ada?

Parikan:
Kenalkan saya adalah parikan. Fungsiku adalah untuk menyampaikan ajaran moral.

Sastra Jawa:
Berikan contohnya?

Parikan:
Perhatikan kalimatku ini:”Kandang panggonan sapi”
Sebetulnya saya ingin menyampaikan pesan moral:”Ayo tandang sing premati”

Sastra Jawa:
Oh begitu, saya ingin contoh lagi?

Parikan:
Perhatikan kalimatku ini:”Rujak kawis, wontene ming awis-awis”
Sebetulnya saya ingin mengtakan:”Aja ngawis, nembah Gusti tanpa uwis”

Sastra Jawa:
Baiklah, apakah masih ada yang lainnya?

Purwakinanthi:
Kenalkan aku adalah purwakinanthi. Fungsiku juga seperti yang lainnya, hanya saja aku sangat memperhatikan keindahan.

Sastra Jawa:
Contohnya?

Purwakinanthi:
Perhatikan kalimatku ini:”Rujak laos, digodhog lestari atos”
Sebetulnya saya ingin mengatakan:”Dhurung jegos anggepe kaya wis bonthos”

Sastra Jawa:
Wah menarik, beri contohnya yang lain?

Purwakinanthi:
Perhatikan kalimatku ini:”Rujak jambe rujake wong dhemen ngame”
Sebetulnya saya ingin mengatakan:”tanpa gawe uripmu mung mampir ngombhe”

Sastra Jawa:
Apakah masih ada yang ingin menyampaikan?

Pasemon:
Kenalkan, saya adalah pasemon. Pekerjaan saya adalah menyampaikan pesan moral dengan cara simbolik atau tersirat. Aku sudah sering digunakan oleh para Wali dari Kerajaan Demak Bintara.

Sastra Jawa:
Silahkan beri contohnya?

Pasemon:
Perhatikan bait-bait nyanyianku:
"Ilir-ilir tandure wus sumilir", itulah pasemonku untuk mengajak orang-orang menggapai kesadarannya, karena kesadaran adalah awal dan pangkal dari ilmu. Sedangkan ajakanku itu dikarenakan adanya kesempatan untuk menuntut ilmu.

"Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar", itulah pasemonku untuk menggambarkan semangat "munculnya kesadaran" sebagaimana semangatnya temanten anyar.

"Bocah angon-bocah angon penekna blimbing kuwi", itulah pasemonku..bocah angon sama saja dengan bocah gunung pada Elegi saya yang lain, maksudnya adalah "keadaan tidak prejudice". Maka hanyalah orang-orang yang ikhlas dalam hati, berpikir netral, tidak prejudice, tidak berprasangka buruk, ikhlas dalam pikir atau pure-reason lah yang mampu menuntut ilmu. Maka hanya kepada merekalah aku menyuruh untuk menuntut ilmu atau "menek blimbing".

"Lunyu-lunyu penekna, kanggo masuh dodotira", itulah pasemonku untuk menggambarkan bahwa mencari ilmu itu tidaklah mudah, yaitu seperti lunyu (licinnya) memanjat pohon. Ilmu iku kelakone kanthi laku (menek). Dodot itu pakaian (Jawa: jarit/sarung), maka "masuh dodot" itu artinya membasuh baju. Artinya, ilmu itu bermanfaat untuk kepentingan dan kebutuhan menyelesaikan persoalan hidup sehari-hari.

"Dodotira kumitir bedhahing pinggir", itulah pasemonku untuk menggambarkan bahwa hidup itu penuh dengan tantangan, persoalan dan cobaan serta ujian. Kalimatku itu juga untuk menggambarkan bahwa manusia itu punya sifat tidak sempurna. Kumitir itu berkibar, artinya pertanda yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia yang mampu menyadarinya sekaligus kesadaran akan adanya suratan takdir dari Nya.

"Dondomana, jlumatana kanggo seba mengko sore", itulah pasemonku bahwa manusia juga ditakdirkan untuk berikhtiar. Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang jika ybs tidak berikhtiar. Kanggo seba mengko sore, itu artinya untuk menggapai alam abadi atau akhirat.

"Mumpung jembar kalangane", itulah pasemonku untuk menggambarkan pentingnya "ruang". Maka sadar akan ruang itu adalah suatu awal dan pangkal dari ilmu. Ruang itu adalah wadahnya ilmu. Sadar ruang itu artinya "mpan papan", mengetahui sedang bicara apa dan kepada siapa serta dimana. Itulah sopan santun memperoleh ilmu. Barang siapa tidak santun maka dia terancam tidak berilmu.

"Mumpung padhang rembulane", itulah pasemonku untuk menggambarkan pentingnya sadar "waktu".Maka sadar akan waktu itu adalah suatu awal dan pangkal dari ilmu. waktu itu adalah wadahnya ilmu. Sadar waktu itu artinya "mpan wektu", mengetahui sedang bicara apa dan kapan bicara. Itulah juga sopan santun memperoleh ilmu. Barang siapa tidak santun maka dia terancam tidak berilmu.

"Yo suraka surak hore", itulah pasemonku untuk menggambarkan bahwa suatu perolehan apapun, disadarai atau tidak disadari, itu harus merupakan kesadaran bahwa yang demikian semata-mata karena kebesaran Allah SWT. Maka manusia itu harus pandai-pandai bersyukur. Amiin.

Sastra Jawa:
Padhang trawangan. Terimakasih, terimakasih pasemon, penjelasanmu sudah sangat jelas.
Pada periode berikutnya saya ingin member kesempatan para “tembang” untuk memperkenalkan dirimu masing-masing, kalau perlu berikan contohnya?

Mijil:
Aku adalah nama tembang. Tetapi aku mempunyai arti sebagai “lahir”. Maka tembanganku itu menggambarkan bagaimana keadaan permulaan kehidupan itu. Berikut adalah contoh tembang mijil:”Madya ratri kentarnya mangikis, sira sang lir sinom, saking taman miyos butulane, datan wonten cethine udani, lampahe lestari, wus ngambah marga gung” (Serat Srikandhi Maguru Manah dalam Soetrisno)

Sinom:
Aku adalah nama tembang. Aku mempunyai arti “muda”. Maksudnya aku bisa melambangkan keadaan seorang anak muda yang mulai berkembang. Tembangku “Mangkana janma utama, tuman-tumaneming sepi, ing saben rikala mangsa, masah amemasuh budi, laire anetepi, ing roh kasatriayanipun, susila anoraga, wignya met tyasing sesame, yeku aran wong barek berag agama”(Serat Wedhatama dalam Soetrisno)

Maskumambang:
Kenalkan, aku juga nama tembang jawa. Maskumambang itu terdiri dari emas atau perhiasan. Kumambang berarti terlihat dan bersinar. Aku menggambarkan keadaan seorang anak yang menuju dewasa, sudah mulai akil balig, bersinar seperti perhiasan emas. Tembangku:”Gelangsaran Putri Cina kawlas asih, Wara Kelaswara, Pedhangen juren wak mami, Aja andedawa lara” (Serat Menak dalam Soetrisno)

Asmaradana:
Kenalkan aku adalah juga nama tembang jawa. Asmara itu cinta, dana itu memberi. Jadi aku menggambarkan keadaan remaja atau orang muda yang sedang berkisah kasih. Tembangku:”Dudu ngakeh trusing gendhing, ngakal lungiting susastra, ngakal ing gendhing jatine, babaring jatining sastra, kawitaning aksara, sawiji alif kang tuduh, mengku gaibul uwiyah” (Serat Sastra Gendhing dalam Soetrisno)

Dhandhanggula:
Dhandang itu hitam. Gula itu manis. Gula hitam itu manisnya madu. Jadi aku menggambarkan seseorang yang telah menemukan manisnya kehidupan, yaitu pasangan suami isteri. Tembangku:”Rukun Islam kang lima puniki, katindakna mring pra sasama, aja padha ditinggalke, rukun lima puniku, sahadate kang angka siji, kang angka lara salat, dene kang katelu, ramadhan nindakna pasa, kapat zakat ping lima ngibadah haji, rukun Islam sampurna” (Anom Surata dalam Soetrisno).

Kinanthi:
Kinanti itu menanti. Aku adalah ajakan untuk menapaki rumah tangga yang baik. Tembangku:”Mangka kanthining tumuwuh, kanthi harsayeng kayun, kanthi pedah luhung, sayekti kanthi utama” (Soetrisno)

Gambuh:
Gambuh itu cocok, harmoni, seimbang, jumbuh, selaras, serasi. Aku melambangkan kehidupan rumah tangga yang mawadah, warokhmah dan sakinah. Tembangku:”Rasaning tyas kayungyun, angayomi lukitaning gambuh, gambir wana kalawan hening ing ati, katenta kudu pitutur, sumingkiring reh tyas mirong” (Serat Sabdatama dalam Soetrisno)

Durmo:
Dur itu mundur. Mo itu momor. Maksudnya adalah aku menggambarkan keadaan di mana manusia sudah saatnya mundur dari dunia dan maju menghadapi akhirat. Tembangku:”Gunane sanepan paribasan jawi, ngaka madya krama hinggil, lire tata krama, kanggo jroning pasrawungan, tindak tanduk kang becik, tan tanpa kulakan, nanging bisa mranani”(Purwadi, Desa Mawa cara dalam Soetrisno)

Pangkur:
Pangkur betul-betul mungkur. Tidak ada waktu lagi untu menunda persiapan akhir menuju akhirat. Tembangku:”Mingkar mingkuring ukara, akarana karenaning mardisiwi, sinawung resmining kidung, sinuba sinukarta, mrih kretarta pakartine ngelmu luhung, kang tumrap neng tanah jawa, agama ageing aji”(Serat Wedhatama dalam Soetrisno)

Megatruh:
Megat itu pisah. Ruh itu arwah. Megatruh itu pisahnya jiwa dan raga atau meninggal dunia. Tembangku:”Para jalma sajroning jaman pakewuh, kasudranira andadi, durune saya ndarung, keh tyas mirong murang margi, kasekten wus nora katon”(Serat Sabda Jati dalam Soetrisno)

Pocung:
Pocung adalah tata cara ngrupti orang meninggal dunia, memandikan, menyolatkan dsb. Tembangku:”Bapak pucung dudu watu dudu gunung, sangkaning ing sabrang, ngon-ingoning sang Bupati, yen lumlaku si pucung lembehan grana”.

Sastra Jawa:
Baik..baik..wah..wah njlimet tenan. Terimakasih. Semoga bermanfaat. Amiin

Referensi:
Dr. Soetrisno, R, MSi, 2004, Nilai Filosofis Kidung Pakeliran, Yogyakarta: Adita Pressindoesti

Sunday, November 8, 2009

Elegi Menggapai Hati Yang Jernih

Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan pertanyaan Sdr Dyah Wahyuningsih:

Ass.wrwb,

Bapak yang terhormat,dalam mempelajari filsafat kita memerlukan hati dan pikiran yang jernih.
Agar kita dapat memahami apa yang kita pelajari tersebut,lalu bagaimanakah agar hati dan pikiran kita tetap jernih?
Karena jika hati dan pikiran kita tidak jernih rasanya akan sulit memahami segala sesuatu.


Wass.wrwb

Jawaban saya (Marsigit):

Sekarang saya akan menjawab pertanyaan anda perihal hati yang jernih.

Untuk menjawab pertanyaan tentang hati maka aku juga akan menggunakan hatiku.

Yang aku maksud dengan hatiku adalah keyakinanku.

Keyakinanku adalah doaku.

Maka bagi diriku jernihnya hati adalah jika hati terbebas dari segala macam kotoran.

Hatika berbicara bahwa hanyalah ada 2 (dua) keadaan saja dari hatiku itu yaitu "bersih" atau "kotor".

Aku dapat mengatakan bahwa hati yang jernih adalah hati yang bersih adalah hati yang disitu duduk doa-doa ku.

Hatiku berbicara bahwa "hati bersih" itu adalah malaikat unsur-unsurnya.

Sedangkan "hati kotor" itu adalah syaitan atau iblis unsur-unsurnya.

Hatiku berbicara bahwa doa-doa ku beserta malikat. Amiin

Sedangkan aku harus selalu membersihkan hatiku yang kotor, yaitu hati yang tergoda oleh syaitan dan iblis dengan permohonan ampun kepada Allah SWT dan peromonan ridha dan perlindungan Nya. Amiin.

Maka bagiku "bersihnya hatiku" adalah "doaku"

Tetapi jika hatiku berkata bahwa itu adalah "doaku", ternyata aku masih menyebut "ku" di depan Tuhan ku.

Maka doa "ku" juga terancam oleh egoku yaitu kesombonganku.

Maka lebih baik hatiku mengatakan bahwa "Atas perkenan engkau ya Allah semoga doa-doamu menyertai hatiku"

Itulah "hati bersih" sesuai dengan kata hatikku, yaitu Rakhmat dan Hidayah Nya.

Amiin

Elegi Menggapai Pikiran Jernih

Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan pertanyaan Sdr Dyah Wahyuningsih:

Ass.wrwb,

Bapak yang terhormat,dalam mempelajari filsafat kita memerlukan hati dan pikiran yang jernih.
Agar kita dapat memahami apa yang kita pelajari tersebut,lalu bagaimanakah agar hati dan pikiran kita tetap jernih?
Karena jika hati dan pikiran kita tidak jernih rasanya akan sulit memahami segala sesuatu.


Wass.wrwb

Jawaban saya (Marsigit):

Sdr Dyah Wahyuningsih, saya selalu membedakan antara kegiatan hati dan pikiran

Untuk saat ini saya akan menguraikan dulu jernihnya pikiran dalam kaitannya mempelajari filsafat.

Berfilsafat adalah kegiatan refleksi diri terhadap pikiran kita.

Dalam melakukan kegiatan refleksi diri dengan pikiran, kita dapat mengibaratkan pikiran kita sebagai cermin.

Tetapi ternyata jika hanya pikiran yang menjadi cermin, lalu bagaimana dengan obyek pikiran?

Maka aku telah menemukan bahwa semua yang aku pikirkan, yaitu semua yang ada dan yang mungkin ada pada hakekatnya adalah cermin juga.

Maka dalam berfilsafat, atau dapat saya katakan dalam berpikir refleksif, saya harus mampu menggunakan semua yang ada dan yang mungkin ada , termasuk pikiran dan hatiku, itu sebagai cermin.

Maka kata-katamu atau istilahmu “pikiran jernih” dapat saya ibaratkan sebagai “cermin yang bersih”.

Artinya saya telah menemukan bahwa, baik pikiran maupun yang aku pikirkan keduanya haruslah sebagai cermin yang bersih, atau sesuatu yang jelas.

Jernihnya pikiran atau bersihnya cermin atau jelasnya pikiran, itulah yang di dalam filsafat disebut sebagai “pure reason” atau “pikiran murni” atau “budi murni”.

Di dalam Ilmu Jiwa “pure reason” itu setara atau dapat dikatakan sebagai “tidak prejudice”.

Di dalam Elegi-elegi, itulah yang disebut sebagai “menggapai logos” atau “menggapai bukan mitos”.

Padahal aku mengetahui bahwa “semua pikiranku jika aku telah berhenti memikirkannya maka serta merta dia akan berubah menjadi mitos”.

Sedangkan “semua obyek pikiranku jika aku akan memulai memikirkannya maka dia serta merta akan menggapai logos”

Maka aku menemukan bahwa dalam berpikir, yang terjadi hanyalah pertempuran antara “mitos” dan “logos” saja.

Maka aku telah menemukan bahwa segala macam mitos itulah kotoran yang menyebabkan pikiranmu tidak jernih atau cerminmu menjadi kotor.

Sedangkan alat untuk membersihkan pikiranmu serta obyek-obyek pikiranmu adalam “pure reason” atau “menggapai logos” atau “tidak prejudice”.

Pengertian “prejudice” di dalam filsafat tidaklah serta merta berarti jelek dalam ilmu bidang seperti psikologi, melainkan “segala yang ada dan yang mungkin ada yang sedang mulai berhenti engkau pikirkan itulah prejudice, itulah tidak pure-reason, itulah tidak menggapai logos, itulah mitos, itulah kotoran cermin, itulah pikiran tidak jernih”.

Dalam perjalanan filsafat dan para filsuf, untuk mencapai keadaan seperti itu tidaklah mudah.

Dalam rangka menggapai logos, maka Socrates mengembangkan metode dialektik kritis.

Dala rangkan menggapai pikiran jernih, maka Plato membuat tangga keluar dari Gua Plato

Dalam rangka menggapai bukan mitos, maka Aristoteles mengembangkan logika dan sillogisma.

Dalam rangka menggapai pikiran jernih, maka Descartes berusaha mencari “kepastian pikir” dengan cara “meragukan semua yang ada dan yang mungkin ada”.

Rene Descartes berhasil menemukan “pikiran jernih “ yaitu “kepastian pikir” yaitu “pikiran yang tidak dapat dibantah lagi” yaitu ternyata bahwa “satu-satunya hal yang tidak dapat dibantah adalah fakta bahwa dirinyalah itu pasti adanya yaitu dirinya yang sedang BERTANYA atau BERPIKIR”.

Maka Rene Descartes menemukan bahw “cogito-ergosum” adalah satu-satunya pikiran jernih atau kepastian pikiran, yaitu bahwa “dia ada dikarenakan dia sedang bertanya”.

Itulah hukum yang ditemukan seorang Rene Descartes, bahwa jika engkau tidak mampu mengajukan pertanyaan maka akan terancam hidupmu, yaitu akan termakan ketiadaan.

Itulah sekarang maka saya juga sedang membuktikan bahwa dirimu itu ternyata ada, karena engkau telah mengajukan pertanyaan kepada diriku.

Sedangkan penjelasanku atas pertanyaanmu itulah sebenar-benar ilmuku.

Dalam rangka menggapai pure-reason, maka Immanuel Kant mensintesiskan resionalisme dan empiricisme.

Maka pikiran jernih bagi Immanuel Kant adalah “sintetik a priori”, itulah hakekat berpikir, itulah hakekat logos menurut dia.

Dalam rangka menggapai pikiran bersih maka Moore membuat filsafat bahasa sebagai "common sense".

Dalam rangka menggapai pikiran jernih, maka Auguste Comte sampai-sampai membuat Bendungan Compte (Bacalah Elegi Bendungan Compte".

Dalam rangka menggapai pikiran jernih, maka Sir Bertrand Russell sampai-sampai terperangkap di rumah paradox (Bacalah Elegi Rumah Paradox)

Dalam rangka menggapai pikiran jernih maka Socrates, Galileo dan Bruno sampai mengorbankan jiwanya.

Dalam rangka menggapai tidak prejudice, maka Husserl mengembangkan Phenomenology. Husserl sampai-sampai membuat rumah yang dia sebut sebagai “epoche” sebagai penjaranya bagi para mitos.

Maka agar memperoleh kejernihan terhadap apa yang dipikirkan, maka segala macam pengetahuan awal tentang yang akan dipikirkan itu dia anggap sebagai mitos dan dimasukkan di dalam penjara “epoche”.

Maka Husserl menemukan bahwa si makhluk jernih atau jernihnya pikiran itu tidak lain adalah 2 (dua) serangkai “abstraksi” dan “idealisasi”. Itulah yang kemudian digunakan oleh para matematikawan untuk memikirkan “konsep-konsep matematika”.

Obyek matematika adalah benda-benda pikir yang diperoleh dari benda-benda nyata dalam kehidupan sehari-hari dengan cara membersihkannya dengan metode “abstraksi” dan “idealisasi”.

Abstraksi adalah hanya memikirkan sifat-sifat tertentu saja. Misalnya bersihnya pikiran tentang “kubus” maka hanya dipikirkan tentang bentuk dan ukurannya saja. Segala macam sifat yang ada dan yang mungkin ada misalnya, harganya, bahannya, baunya, warnanya, ...semuanya dimasukkan di dalam “epoche”, artinya tidak diperhatikan.

Idealis adalah menganggap sempurna sifat yang ada. Ketahuilah bahwa tiadalah sifat sempurna di dunia ini. Tiadalah barang yang lancip di dunia ini. Ujung jarung adalah atom yang lintasannya melingkar, maka tidaklah lancip unjung jarum itu. Maka di dalam matematika sifat yang ada “dianggap sempurna”, lancip ya lancip betul, lurus ya lurus betul, datar ya datar betul, dst. Itulah idealisasi.

Ternyata aku telah menemukan bahwa pertanyaanmu tentang “pikiran jernih” itu sebetulnya persoalan filsafat khusunya epistemologi atau filsafat ilmu yang merupakan perjuangan para filsuf sejak awal hingga akhir.

Itulah mengapa aku merasa perlu segera menjawabnya. Maka uraianku semua di atas tidak lain tidak bukan adalah filsafat ilmu atau filsafat itu sendiri. Jika engkau mampu berpikir jernih, maka semua Elegi-elegi yang aku tulis itu sebetulnya adalah epistemologi atau metode berpikir atau pikiran jernih.

Demikian mudah-mudahan engkau dan teman-temanmu jernih pula dalam membaca jawabanku.

Amiin.

Saturday, November 7, 2009

Elegi Menggapai Nilai Diri

Oleh Marsigit


Berikut saya nukilkan sebuah pertanyaan dari Sdr ANI ALKHAFI :

Assalamu'alaikum Wr.Wb.


Dalam setiap individu itu ada yang mengatakan bahwa manusia dapat menjadikan dirinya terhebat dan mengatakan dirinya termulia, apa itu juga sifat kontradiktif? Bapak yang terhormat, saya ingin tahu bagaimana caranya menjadikan diri kita sebagai perfilsafat (menyatu dan dapat memunculkan sesuatu)?

Wassalamua'alaikum Wr.Wb.


Jawaban saya (Marsigit)

Sdr Ani Alkhafi...terdapat riwayat dalam sejarahnya bahwa sejak dulu terdapat manusia melakukan perjuangan baik secara sendiri maupun secara bersama untuk mengangkat derajat dirinya maupun golongannya.

Keberhasilan yang dia atau yang mereka peroleh, secara filsafati, akan mengukuhkan kedudukan dirinya atau kelompoknya menjadi "subyek" yang kuat terhadap "obyeknya".

Obyeknya bisa berupa individu yang lainnya, bisa berupa kelompok manusia yang lainnya, atau bahkan bisa segenap alam lingkungan sekitarnya.

Kekuatan suatu subyek atau kelompok subyek terhadap yang lainnya jika tidak diimbang dengan tata aturan yang mengikatnya maka akan melahirkan berbagai bentuk eksploitasi oleh manusia yang satu atau oleh kelompok yang satu terhadap manusia yang lain atau kelompok manusia yang lain.

Singkatnya adalah eksploitasi subyek atas obyeknya. Hal yang demikian jika di ekstensikan maka bisa menimbulkan disharmoni kehidupan di atas bumi atau bahkan malapetaka.

Jangan salah paham, bahwa eksploitasi subyek atas obyeknya adalah dalam pengertian dalam sedalam-dalamnya, dan luas seluas-luasnya.

Artinya ia dapat terjadi eksploitasi oleh subyek kakak terhadap obyek adik, subyek guru terhadap obyek siswa, subyek dosen tarhadap obyek mahasiswa, subyek negara kuat terhadap obyek negara lemah, ..dst.


Dalam tata pergaulan internasional, wujudnya dapat kita lihat adanya era penjajahan dan peperangan yang tidak adil dan tidak imbang sampai sekarang.

Jika hal demikian terjadi pada individu seorang diri dalam kaitannya dengan Tuhan nya, maka yang terjadi adalah munculnya ego yang berlebihan sampai kesombongan yang tidak terampuni.

Banyak tulisan menceritakan bagaimana mulai dari Spinoza sampai dengan Syeh Siti Jenar, manusia merasa mempunyai super ego sehingga melewati batas sampai kepada pengakuan dirinya sebagai Tuhan itu sendiri.

Maka yang terjadi adalah hukuman yang setimpal bagi kesombongannya. Sungguh kesombongan itu adalah dosa pertama dan paling besar bagi manusia.

Oleh karena itu di dalam diriku tidak pernah terpikir adanya manusia terhebat dan termulia kecuali hal demikian berada dalam "hatiku", yaitu keyakinanku bahwa manusia demikian itu tidak lain tidak bukan adalah Nabi Besar Muhammad SAW. Amiin.

Sdr Ani Alkhafi..tentang nilai seorang diri, aku lebih suka mengatakan bahwa nilai atau hargamu itu adalah keunikanmu.

Tiadalah makhluk di dunia ini yang sama dengan dirimu, bahkan saudara kembarmu sekalian jika engkau punya.

Maka dunia akan bersukaria jika sempat melihat dan mendengar potensimu yaitu keunikanmu.

Tetapi ingatlah keunikanmu itu adalah ada dikarenakan orang yang lain. Maka tiadalah ada artinya dirimu itu jika tanpa orang lain. Artinya, nilai atau hargamu itu ditentukan oleh orang lain pula.

Maka bacalah elegi-elegi yang lain. Elegi-elegi itu disusun tidak hierarkhis, artinya yang lama dengan yang baru mempunyai hak yang sama untuk dibaca.

Filsafat itu adalah buah dari membaca, belajar dan pengalaman hidup. Filsafat adalah refleksi. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi kegiatan berpikir manusia itu adalah kegiatan refleksi diri.

Maka berfilsafat dengan tiada pengalaman itu artinya "kosong"; sedangkan pengalaman hidup jika tidak direfleksikan (di filsafatkan) sama artinya dengan "buta".

Itulah sungguh, orang yang paling merugi didunia adalah orang yang kosong dan buta.

Sedangkan "tidak kosong dan tidak buta" itulah sebenar-benar perjuanganmu sampai akhir hayatmu.

Ketahuilah bahwa mencari ilmu itu perlu berbekal imu. Mencari hidayah itu juga perlu berbekal hidayah.

Baik urusan dunia dan akhirat, keduanya adalah ikhlas adanya, yaitu ikhlas dalam pikiranmu dan iklhas dalam hatimu.

Tidakkah engkau menyadari bahwa serendah-rendah derajat orang mencari ilmu adalah jika ilmunya hanya digunakan dan bermanfaat bagi dirinya sendiri.

Sedangkan engkau bisa meningkatkan derajat pencarian ilmumu jika dia dapat digunakan atau bermanfaat bagi orang lain.

Namun, ketahuilah bahwa setinggi-tinggi derajat orang mencari ilmu adalah jika usahanya itu bersifat "sistemik", artinya ilmu atau pengetahuannya bermanfaat bagi orang banyak dan tidak dibatasi oleg ruang dan waktu, artinya tidak hanya bermanfaat bagi bangsanya tetapi juga bagi bangsa-bangsa di dunia.

Setinggi-tinggi pencapaian karirmu adalah jika engkau telah bisa masuk pada jajaran pergaulan internasional, berkontribusi secara aktif dan tidak hanya sekedar menjadi obyek. Itulah tujuan jangka panjangmu dan juga para muridku semua bagi yang menyadarinya.

Oleh karena itu maka sekarang engkau telah mulai memahami mengapa dalam perkuliahan filsafat ini dikembangkan belajar mengajar melalui internet atau blog.

Maka setiap jejakmu dan juga jejakku serta jejak-jejak temanmu dan murid-muridku akan secara langsung dan terus-menerus dapat diakses oleh orang lain kapanpun dan dimanapun.

Jika engkau telah menyadari hal ini semua dan juga telah menghayatinya maka itulah Rakhmat Tuhan YME telah diturunkan kepada dirimu dan juga diriku dan juga diri orang-orang yang pandai bersyukur. Amiin.

Maka baca dan renungkanlah. Amiin



Friday, November 6, 2009

Elegi Menggapai Awal

Oleh Marsigit

Awal:
Siapa yang dapat menjawab pertanyaanku? Apakah awal itu?

Takdir
Bagiku “awal” adalah takdir. Tuhan telah menciptakan “awal” dari semua kehidupan ini.

Permulaan:
Bagiku awal adalah permulaan. Maka setiap awal adalah permulaan.

Awal:
Wahai permulaan, lalu apakah yang dimaksud dengan “permulaan”

Permulaan:
Bagiku “permulaan” adalah “awal”.

Awal:
Itulah yang disebut lingkaran syaitan. Engkau mendefinisikan “awal” dengan “permulaan” dan mendefinisikan “permulaan” dengan “awal”. Maka aku tidak mempercayaimu.

Tidak Ada:
Bagiku “awal” itu tidak ada. Apapun engkau sebut sebagai awal maka selalu ada hal atau peristiwa yang mendahului. Maka bagiku “awal” itu tidak ada.

Awal:
Wahai “tidak ada” bukankah engkau telah menyebut bahwa “awal” itu tidak ada. Maka itulah kesimpulanmu bahwa “awal” adalah “tidak ada”. Artinya engkau telah mengakui bahwa sebetulnya ada awal, yaitu “tidak ada”.

Tidak Ada:
Jika diriku yaitu “tidak ada” adalah awal bagaimana aku bisa menjelaskannya.

Awal:
Tanyakan saja kepada Immanuel Kant. Dia telah bisa membuktikan menggunakan bahasa sintetiknya bahwa “awal” dan “tidak ada awal” kedua-duannya benar atau kedua-duanya salah.

Ada:
Bagiku "awal" adalah "ada".

Awal:
Wahai "ada", jelaskan bahwa "awal" itu "ada".

Ada:
Itu adalah keyakinanku. Aku yakin bahwa "awal" itu "ada". Sekali yakin tetap yakin. Tidak hanya keyakinanku, tetapi itulah keimananku.

Awal:
Keyakinanmu sama juga dengan keyakinanku. Tetapi di sini aku tidak hanya memerlukan keyakinan, tetapi juga pemikiran. Maka jelaskan keyakinanmu itu pada kesempatan yang lainnya.

Definisi:
Bagiku awal adalah definisi. Maka segala ilmuku itu aku mulai dengan definisi.

Awal:
Berikan contohnya?

Definisi:
Kursi adalah tempat duduk.

Awal:
Wahai definisi, bagaimana engkau bisa mendefinisikan duduk?

Definisi:
Duduk adalah keadaan berada di atas kursi.

Awal:
Itulah yang disebut sebagai lingkaran syaitan. Engkau mendefinisikan “kursi” dengan “duduk”, kemudian mendefinisikan “duduk” dengan “kursi”. Maka engkau tidak dapat dipercaya. Artinya menurutku engkau itu bukan definisi.

Analitik:
Kenalkan aku adalah analitik. Menurutku "awal" adalah "pre-assumption"

Awal:
Apakah yang dimaksud "pre-assumtion"?

Analitik:
Pre-assumption adalah anggapan awal. Dia lebih awal dari definisi. Dia yang lazimnya sudah diketahui oleh banyak orang.

Awal:
Berikan contohnya?

Analitik:
Bagi percakapan sehari-hari maka aku tidak perlu mendefinisikan "kursi". Karena menurut anggapanku semua orang yang termasuk kategori wajar-wajar, atau orang pada umumnya telah mengetahui apa itu kursi.

Awal:
Apa peranan dalam membangun ilmu pengetahuan.

Analitik:
Pre-assumption disebut juga sebagai unsur-unsur primitif dalam setiap pengetahuan. Dia adalah unsur-unsur yang cukup hanya dianggap diketahui begitu saja dan tidak perlu ditanyakan.

Awal:
Contoh kongkritnya?

Analitik:
Dalam matematika misalnya, kita tidak perlu mendefinisikan apa yang disebut sebagai "anggota", "membilang", "bangun", "sama dengan", "urut", "definisi". Maka dalam percakapan sehari-hari juga kita tidak perlu mendefinisikan "adalah".

Pengalaman:
Kenalkan aku adalah pengalaman. Bagiku "awal" adalah "kesadaranku". Maka segala macam pengalamanku bermula dari "kesadaranku".

Sintetik:
Kenalkan aku adalah sintetik. Bagiku "awal" adalah "subyek". Subyek adalah segala-galanya. Jika tikad ada "subyek" maka tidak adalah "predikat". Jika tidak ada subyek dan predikat maka tidak ada sintetik.

Vitalitas:
Kenalkan aku adalah vitalitas. Vitalitas adalah fakta hidupku. Bagiku "awal" adalah "potensi". Tiadalah vitalitas diriku jika tidak ada potensi diriku.

Takdir, Permulaan, Tidak Ada, Definisi, Analitik, Pengalaman, Sintetik, Vitalitas:
Wahai awal, berikan penjelasan kepada diriku agar aku menjadi lebih terang?

Awal:
Perkenankanlah aku juga ingin menyampaikan pemikiranku. Bagiku "awal" adalah "kontradiksi". Aku sendiri bersifat kontradiktif. Jika aku katakan engkau bukan “awal” itu adalah kata-kataku yang tadi. Tetapi kata-kataku yang nanti mungkin berlainan. Karena aku ingin mengatakan bahwa engkau semua itu ternyata adalah “awal” jika aku definisikan bahwa “awal” adalah "keputusanmu". Amiin.

Elegi Menggapai Pondamen

Oleh Marsigit

Pondamen:
Siapakah diantara engkau yang dapat menjawab pertanyaan saya. Pertanyaanku adalah sebutkan peristiwa atau keadaan atau apapun yang engkau anggap bisa menjadi awal dari aktivitasmu?

Membaca 1:
Awal dari saya membaca adalah ketika saya mulai memegang buku.

Membaca 2:
Awal dari saya membaca adalah ketika saya memikirkan buku.

Membaca 3:
Awal dari saya membaca adalah ketika saya memikirkan tugas yang diberikan dosen.

Membaca 4:
Awal dari saya membaca adalah ketika saya membuka halaman pertama.

...
...

Membaca N:
Awal dari saya membaca adalah ketika saya berdoa.

Pondamen:
Baiklah kalau begitu, maka dikarenakan Membaca 1, Membaca 2, Membaca 3, Membaca 4, ..., Membaca N, telah dapat menentukan awal dari kegiatanmu, apapun yang engkau anggap awal, maka engkau semua baik sadar atau tidak sadar adalah termasuk golongan kaum foundationalis. Apakah ada Membaca yang lain lain yang ingin usul, bertanya atau protes?

Membaca N+1:
Aku mengakui melakukan kegiatan membaca, tetapi aku mengalami kesulitan hal atau kejadian atau sifat yang bagimana yang dapat aku jadikan sebagai awal dari membaca? Jika aku tentukan bahwa membuka halaman pertama adalah awalku, bukankah doa ku itu lebih awal, jika yang aku anggap sebagai awal membaca adalah pikiranku akan tugas kuliahku, bukankah pertemuan pertamaku dengan dosenku itu lebih awal, ...demikian seterusnya bahkan jika aku ekstensikan maka aku juga dapat mengatakan bahwa awal dari membacaku adalah saat aku lahir, tetapi ternyata ada kejadian yang lain yang mendahuluiku. Maka dengan ini aku nyatakan bahwa aku kesulitan menentukan kapan aku mulai membaca?

Pondamen:
Wahai Membaca N+1, kalau begitu aku dapat menyebut bahwa engkau bukanlah anggotaku. Sebetul-betul dirimu adalah anggota dari kaum anti-foundationalisme. Demikianlah sekelumit tentang hal ikhwal terjadinya aliran foundalisme dan anti-foundalisme dalam filsafat. Maka renungkanlah. Amiin.

Membaca 1, Membace 2, Membaca 3, Membaca 4, ...Membaca N dan Membaca N+1
Wahai pondamen, dapatkah engkau menunjukkan kepada diriku siapa saja teman-temanku itu?

Pondamen:
Dalam filsafat, aliran apapun jika dia telah bersikap menentukan peristiwa, kejadian, sifat atau apapun sebagai awal dari analisisnya, maka mereka itu disebut aliran foundationalisme. Jika tidak demikian maka dia disebut sebagai aliran anti-foundationalisme?

Membaca 1, Membace 2, Membaca 3, Membaca 4, ...Membaca N dan Membaca N+1
Contoh kongkritnya apa dan bagaimana?

Pondamen:
Foundationalisme dalam matematika adalah filsafat matematika yang membangun sistem matematika berdasar pondamen. Pondamen matematika dapat berupa geometri, himpunan, pengukuran , atau statistika. Maka sebagian besar filsafat matematika adalah foundationalisme. Sedangkan yang tidak termasuk foundationalisme biasanya bersifat intuitionisme. Maka kaum intuitionisme berusaha membangun matematika dengan tidak menentukan dasar apapun kecuali menggunakan intuisi untuk merefleksikan matematikanya.

Membaca 1, Membace 2, Membaca 3, Membaca 4, ...Membaca N dan Membaca N+1
Apakah ada contoh yang lain?

Pondamen:
Kaum empiris membangun filsafat dengan pondasi berupa pengalaman. Bagi mereka tiadalah ilmu jika tidak ada pengalaman. Sedangkan kaum rasionalis membangun filsafat berdasarkan rasio. Maka bagi kaum rasionalisme, tiadalah ilmu jika tidak menggunakan rasio. Maka dapat aku katakan bahwa kaum empiris dan kaum rasionalis, bagaimanapun juga termasuk kaum foundationalisme.

Membaca 1, Membace 2, Membaca 3, Membaca 4, ...Membaca N dan Membaca N+1
Bagaimanakah tentang I. Kant?

Pondamen:
Ketahuilah bahwa ternyata ada berbagai sifat pondamen. Ada pondamen yang bersifat tetap, ada yang bergerak dan ada yang kontradiktif. Immanuel Kant membangun filsafatnya diatas kontradiksi atau pertentangan antara rasionalisme dan empiricisme. Maka dikatakan bahwa Immanuel Kant membangun filsafat itu di atas pondamen epistemologis, dan menghasilkan suatu rumusan ilmu yaitu bahwa ilmu itu bersifat sintetik a prirori.

Membaca 1, Membace 2, Membaca 3, Membaca 4, ...Membaca N dan Membaca N+1
Apakah bedanya foundationalisme dan foundamentalist?

Pondamen:
Foundationalisme adalah filsafat sedangkan foundamentalis adalah sosiologi, psikologi atau politik.
Demikian, maka renungkanlah. Amiin.

Elegi Menggapai Kenyataan

Oleh Marsigit

Kenyataan:
Aku agak sulit menentukan kapan aku memulainya. Tetapi yang jelas aku merasakan bahwa sekarang aku sedang bergerak maju secara linear. Aku menyadari bahwa gerakan maju linearku mungkin bersifat relatif. Tetapi aku akan berusaha mengikuti saja kemana gerak langkah kakiku. Sekarang aku sedang merasakan perlu untuk memancarkan dayaku agar dapat diketahui oleh mereka. Aku menyadari bahwa mereka ternyata masih memerlukanku. Walaupun aku sebenarnya juga merasa sedikit berdosa kepada mereka, atas ujianku yang telah aku berikan kepada mereka. Maka sebagian pintu dan jendela tentunya tidaklah aku menguncinya. Jika aka kehendak dari beberapa mereka maka tentunya tiadalah sia-sia setiap usaha mereka untuk mengetahuiku. Aku melihat para tamuku sudah berdatangan dan mereka sudah duduk di lobi menunggu kedatanganku. Mereka adalah monisme, pluralisme dan dualisme. Aku tahu bahwa mereka hanyalah ingin meminta kesaksianku atas kenyataannya. Silahkan saudara-saudaraku, tidak saya pilih, silahkan saja siapa yang akan bicara duluan.

Monistis:
Plotinos: “Jika mereka menggunakan akal pikirannya, seharusnya mereka mengetahuinya bahwa segala sesuatu itu tidaklah terlepas dari kuasa dan pengamatan Tuhan. Ketahuilah bahwa roh Tuhan itu ada di mana-mana, dia melimpah kepada apapun”. Sankara: ”Saya setuju dengan pendapatmu. Menurutku bahkan segala sesuatu bersifat spiritual oleh karena itu semua yang ada dan yang mungkin ada bersifat sakral. Itu semua dibawah kendali sang Brahman. Maka hanya Sang Brahmanlah yang abadi sedangkan manusia beserta dunia yang lainnya hanyalah bersifat sementara, palsu, dan bodoh”. Ibnu Arabi : “ Sesunggunya manusia beserta alam dan sesisinya itu tidak lain tidak bukan adalah kesatuan substansial dengan Allah SWT, sedangkan yang membedakannya adalah taraf dan ukuran kesempurnaan yang berkurang”. Hegel : “Maaf, bagiku kenyataan adalah Roh Mutlak yang memikirkan Diri dalam proses dialektik. Materi dan ide merupakan unsur dialektis. Sedangkan dialektika diantara keduanya akan menghasilkan sintesis ke puncah yang tertinggi yaitu Ilahi”. Schopenhauer : “Bagiku, kenyataan itu bersumber dari kemauan atau hasrat untuk mengada. Maka kemauan atau kehendak itu bersifat rohani dan akan mencari bentuk-bentuknya pada berbagi dimensi kenyataan yang ada”.

Pluralistis:
Leibniz: “Bagiku kenyataan tersusun dari unsur terkecil yang disebut sebagai monad. Apapun kenyataan itu, maka dia terdiri dari monad-monad. Maka sebuah monad akan mencerminkan keseluruhan kenyataan yang ada”. Demokritus: “Bagiku kenyataan itu tersusun dari unsur terkecil yang disebut atom. Atom itu tidak berwarna, tidak berbau, dan mempunyai dayanya sendiri. Bahkan rohani pun menurutku terdiri dari atom-atom”. Feurbach: “Bagiku kenyataan adalah alam. Manusia itu merupakan bagian dari alam. Maka rohani ada di dalam badan”. Marx: “Bagiku hanya ada satu kenyataan yaitu materi itu sendiri. Materi itu bersifat berdikari dan abadi. Maka yang disebut rohani menurutku adalah sebuah materi yang bercahaya”.

Dualisme:
Plato:”Kenyataan yang sebenarnya bagiku adalah ide. Ide itulah juga kenyataan rohani yang bersifat tunggal, teratur, jelas dan abadi. Maka dunia inderawi hanyalah bayangan dari ide. Kenyataan sesungguhnya itulah ide. Jika ide telah masuk ke materi maka sifatnya akan menjadi banyak ndan tak sempurna”. Vardhamana: “Bagiku kenyataan adalah jiwa. Maka saya mengetahui ada kenyataan yang berjiwa dan ada yang tak berjiwa”. Al Ghazali: “Kenyataan adalah kuasa Allah SWT. Dunia dan manusia hanyalah ciptaan Nya. Dunia dan manusia diciptakan, dimusnahkan dan diciptakan kembali semata-mata oleh Allah SWT”. Descartes:”Bagiku ada 2 (dua) macam kenyataan yaitu res cogita dan res extensi. Cogita itu adalah pikiran manusia. Sedangkan extensi adalah jasmaninya. Tuhan adalah rohani”.

Kenyataan:
Kenyataannya aku telah menyaksikan para monisme, pluralisme dan dualisme menyampaikan pemikirannya. Aku tahu apa yang mereka ungkapkan hanyalah sebagian kecil dari pemikirannya tentang kenyataan yang ada. Sedangkan aku tahu masih banyak yang lainnya beserta para pengikutnya. Maka yang ada dan yang mungkin ada juga mempunyai hak untuk memikirkannya. Marilah kita renungkan. Amiin.

Referensi:
Anton Bakker, 1992, Ontologi Metafisika Umum: Filsafat Pengada dan Dasar-Dasar Kenyataan, Yogyakarta: Pustaka Filsafat

Tuesday, November 3, 2009

Elegi Menggapai Sastra

Oleh Marsigit

Petunjuk:
Salah satu cara memahami Elegi Menggapai Sastra ini adalah janganlah dipaksakan untuk memahami jikalau dirasakan sulit, karena tujuan dari elegi ini memang bukan untuk memperoleh pemahaman pembaca tentang elegi ini, sampai saatnya dibuka misterinya oleh penulisnya. Salah satu tujuannya adalah agar memberikan referensi bahwa jika kita berkehendak maka kita dapat menyembunyikan pikiran kita dalam kata-kata atau kalimat kita. Ternyata kita juga menjadi sadar bagaimana jadinya jika Tuhan YME berkehendak menyembunyikan misteri Nya. Maka tiadalah orang dapat mengetahui kecuali atas ijin Nya. Itulah pelajaran kita bahwa sehebat dan setinggi manusia maka dia tetaplah si tidak sempurna. Sedangkan manfaat dari elegi ini adalah bisa juga sebagai pembanding agar elegi-elegi yang lain itu menjadi mudah adanya. Bukankah kita juga telah menemukan bahwa tidaklah setiap pertanyaan itu memerlukan jawaban? Seperti itulah kira-kira elegi ini dibuat. Maka bacalah elegi-elegi yang lain.Amiin.

Astoras:
Oim wau lha toi dza noi ndir na na kun tak da min dhuta antha phada nya tha kah lauwa dhat mir bingalawaihdur ronthakamaluhawatakamini phidhitnitipanyatkaha nauna andhamkabi.

Tskimi:
Adaumpet pinuleng mighab wiskutha anasa pikena norananci noradal nirboda syamsomi pomirang lakuwa nderzo lampuhma sparatul trusna jwoi nderzzo idir. Makna rastra kang atiwi askara jra ngak lawa wang wung akohit rastra.

Gilire:
Ita hisa mrang mudida. Tan ngindate asra. Mbahta arsa rangku negume. Kabek ngeli nal aron lila. Hiwed karen inglelawer thibhan. Srawendah nepati ngista gnaka samha gusih. Osik yalmu ntawring capitu asara. Mengrah dadimu nyemlanging warima. Ywa nggalakatune nispeti.

Talfasif:
Ajasnite kahika musbangare ojre nat ngindate. Bhohone ngat beto nat ngandite. Kattira hatusu acra ngotawu mothade adas monane. Njabure njebik laa reben shala.

Himilah:
Olah kipri kacoka ngrip tamoda. Sisipen lunduha ngrim nakahan. Ndakoping lungkupa ngadat. Ngampotil nyusunya ngadat. Taptaping ngahalo ngadat. Pepunute ta kunklud ngadat. Njabunjare angroti jrinong mosista.

Sunday, November 1, 2009

Elegi Menggapai Bahasa

Oleh Marsigit

Bahasa:
Sampai saatnya aku perlu merefleksikan diriku. Silahkan para anggotaku, pertama kenalkanlah dirimu masing-masing, kedua jelaskanlah siapa dirimu. Kemudian bersiaplah menjawab jika ada pertanyaan.

Analog:
Kenalkan aku adalah analog. Pekerjaanku adalah menyelidiki susunan dan arah kesemestaan kenyataan. Tetapi perhatian utama dan pertamaku adalah pada kenyataan yang ada. Aku menjadi alat utama dan pertama bagi kesadaran manusia. Terlebih-lebih bagi para ilmuwan, pemikir dan juga para filsuf. Keberadaanku itu bersifat ontologis tetapi fungsiku bersifat epistemologis. Fungsiku adalah menyatukan bahasa dan pikiran. Artinya, aku berusaha menyatakan pikiran dengan bahasa, tetapi bahasaku ternyata menghasilkan pikiran juga. Kata-kata adalah wakil-wakilku yang paling sederhana, sedangkan pengertian atau konsep merupakan wakil dari pikiranku. Tiadalah kata dan konsep itu dapat dipisahkan. Adapun konsepku yang paling dalam adalah konsepku tentang yang ada, lebih khusus lagi yaitu tentang pengada. Maka keberadaanku itu ditentukan oleh fungsiku menyatakan konsep-konsep pengada .

Bahasa:
Penjelasanmu kelihatannya terlalu mekanistis, kaku, sulit, masih di langit dan belum membumi. Berikan contoh-contoh kongkritnya.

Analog:
Baiklah. Sebelum aku memberi contoh-contoh kongkrit, maka aku sampaikan bahwa teman karibku adalah reduksi dan kelengkapan. Reduksi adalah penyederhanaan atau simplifikasi. Sedangkan kelengkapan adalah usahaku menggapai ilmuku menggunakan bahasaku. Jika aku berpikir tentang konsep “satu”, maka “satu” itu berlaku bagi semua yang ada dan yang mungkin ada. Artinya, pertama aku mungkin berpikir bahwa kepalaku itu hanyalah satu, maka dengan bahasa analog konsep satu itu berlaku bagi semuanya yang ada dan yang mungkin ada. Sehingga saya bisa mengatakan satu buku, satu tujuan, satu manfaat, satu batu, satu tumbuhan ...dst.

Bahasa:
Apakah masih ada contoh lain yang mudah dipahami.

Analog:
Jika saya menunjuk sifat dari jatuhnya selembar daun ke tanah, dan kemudian daun itu menutupi tanah. Maka saya bisa mengambil analogi jatuhnya cat ke permukaan dinding sehingga menutupi sifat dinding. Jatuhnya bedhak ke mukaku, sehingga menutupi kulit mukaku. Dst.... Itulah analogi. Jika saya berpikir tentang cangkir sebagai wadahnya air, maka saya bisa berpikir mulut sebagai wadahnya suara, hati sebagai wadahnya doa, kepala sebagai wadahnya pikiran, badan sebagai wadahnya jasmani, laut sebagai wadahnya ikan. Ds...Itulah analogi. Jika aku berpikir subyek, maka bisa aku memikirkan subyek manusia, subyek binatang, subyek tumbuhan, dst.

Bahasa:
Baik terimakasih. Silahkan yang lain.

Univokal:
Kenalkan aku adalah univokal. Aku adalah salah satu dari anggota bahasa. Tugasku adalah menyatakan konsep-konsep yang memiliki arti yang sama bagi segala yang ada dan yang mungki ada. Aku tidak dibatasi oleh wadah, struktur, dan relasi-relasi. Walaupun aku menggunakan kata-kata yang berbeda tetapi maksudku adalah sama.

Bahasa:
Aku belum jelas tentang penjelasanmu itu. Bisakah beri contohnya yang kongkrit.

Univokal:
Untuk menunjuk pengertian “satu” maka aku bisa menggunakan berbagai bahasa misalnya one, siji, setunggal. Maka satu, one, siji, setunggal adalah diriku yaitu bahasa univokal. Maka ide, gagasan, konsep, pengertian adalah univokal. Maka sifat dan karakter adalah univokal.

Bahasa:
Terus apa fungsimu dalam filsafat?

Univokal:
Sebelumnya aku sampaikan bahwa teman akrabku adalah analog. Maka jika aku bermaksud mengatakan subyek. Maka semua yang aku pikir subyek, manusia, atau benda-benta lain merupakan bahasa univokal.

Bahasa:
Penjelasanmu malah bikin bingung?

Univokal:
Jika aku berpikir tentang “tetap”, maka kata-kata ku yang univokal meliputi Permenides, Plato, Plotinus, Duns Scotus, Descartes, ...dst. Jika aku berpikir tentang “berubah” bahasa univokalku meliputi Heraklitos, Aristoteles, David Hume, ...dst.

Bahasa:
Baiklah aku sudah mulai paham. Silahkan yang lain.

Struktur:
Aku adalah struktur bahasa. Aku terdiri dari unsur-unsur permanen yang jumlahnya terbatas. Fungsiku adalah sebagai naskah yang menyatakan kehidupan beserta aspeknya. Ketahuilah bahwa unsur-unsur dalam diriku itu saling berelasi dan bersintesis satu dengan lainnya, sehingga hubungan diantara unsur-unsur sangatlah erat. Jika satu unsur mengalami perubahan maka seluruh dari strukturku akan mengalami perubahan pula.

Bahasa:
Penjelasanmu masih cukup rumit.

Struktur:
Jika satu konsep daru unsurku berubah maka seluruh bahasaku dengan segala maknanya akan mengalami perubahan. Maka dalam diriku itu engkaudapat melihat universalitas baik pada permukaan strukturku maupun pada dalam strukturku.

Bahasa:
Penjelasan tambahanmu malah bikin pusing. Berikan contoh kongkritnya?

Struktur:
Secara harfiah atau di permukaan maka aku menampakan diri dalam kalimat-kalimat. Maka cukup jelaslah struktur kalimat itu pada umumnya, tentu ada subyek dan predikat, dst. Tetapi di dalam strukturku itu terdapat subyek, predikat, obyek, hubungan, model bahkan teori. Lebih dari itu maka di dalam diriku juga terdapat kesadaranku akan dimensi unsur-unsurku. Maka sebenar-benar diriku itu adalah konsepku, sedangkan kalimatku adalah representasiku.

Bahasa:
Wah..wah semakin bingung saja aku. Kemudian, ..apa pula fungsimu dalam filsafat?

Struktur:
Tiadalah semua tulisanku dapat menyatakan semua pikiranku. Pikiranku itu bersifat terbuka, tetapi dia serta merta akan tertangkan menjadi bahasa tertutup ketika telah masuk ke dalam strukturku. Artinya strukturku yang masih dalam pikiranku itu bersifat terbuka, sedangkan strukturku yang sudah aku tulis itu bersifat tertutup.

Bahasa:
Ditanya fungsimu dalam filsafat malah nyeloteh ngalor-ngidul?

Struktur:
Karena tulisanku bersifat tertutup maka tidaklah ada Mengada dan Pengada yang dapat hadir di situ.

Bahasa:
Hai..struktur..hentikanlah celotehanmu itu. Berikan contoh konkritnya.

Struktur:
Jika engkau berpikir tentang struktur panitia, dimana ada ketua dan anggota di situ. Itulah struktur maknamu yang masih di dalam pikiranmu. Maka jika aku tuliskan di atas kertas, berhentilah aku memikirkan struktur kepanitiaan itu, itulah sifat tertutupnya.

Bahasa:
Apakah ada contoh penerapan yang lainnya tentang dirimu di dalam filsafat?

Struktur:
Orang jawa mengenal struktur kehidupan meliputi mikrokosmos (manusia) dan makrokosmos (alam semesta). Maka strukturmu itu bersifat terbuka apakah manusia mengatasi alam, alam mengatasi manusia, artinya manusia menjadi anggotanya alam semesta.

Bahasa:
Baiklah aku sedikit memperoleh gambaran. Sekarang gilran yang lainnya?

Ekuivokal:
Aku adalah ekuivokal. Fungsiku adalah mengungkap penyakit bahasa. Penyakit bahasa adalah bahasa yang membingungkan.

Bahasa:
Berikan contohnya!

Ekuivokal:
Jika engkau gunakan kata “bisa” maka maksudnya adalah racun atau dapat. Jika engkau gunakan kata “kepala” maka maksudnya adalah kepalamu atau kepala kantor. Jika aku menyebut “x” maka dia bisa berarti 5 atau 10.

Bahasa:
Apakah fungsimu dalam filsafat?

Ekuivokal:
Sebelumnya aku sampaikan bahwa teman akrabku adalah plural atau jamak. Maka segala macam pengamatanmu adalah jamak dan tidaklah sama dengan satu dan lainnya. Maka sebenar-benar diriku dalam filsafat adalah ekuivokal dalam pikiranku yang bersifat terbuka. Sedangkan kalimatku atau kata-kataku itu bersifat tertutup.

Bahasa:
Masih berbelit-belit. Bisa beri contoh konkritnya.

Ekuivokal:
Jika aku melihat orang sedang “tidur”, padahal orang lain mengatakan dia bukan tidur tetapi sedang istirahat. Maka tidur dan istirahat itu ekuivokal.

Bahasa:
Kelihatannya jawabanmu ragu-ragu. Yang betul gimana?

Ekuivokal:
Wah ..bagaimana yah sulit mencari contohnya. Ekstrimnya, seorang Witgenstain pernah menggunakan bahasa matematika hanya sebagai permainan. Setiap kata itu di zonderkan dari arti, artinya kata sengaja tidak di beri makna. Maka menurut Witgenstain matematika adalah sekedar permainan bahasa. Maka semua kata-kata yang digunakan bersifat ekuivokal.

Bahasa:
Engkau dituntut harus bisa memberi contoh konkritnya.

Ekuivokal:
Baiklah saya adalah kumpulan kata-kata yang mempunyai arti ganda atau jamak, sehingga sulit dimengerti.

Bahasa:
Ya sudah gitu saja kok repot. Silahkan yang lain.

Lambang:
Kenalkan saya adalah lambang atau simbol. Aku terdiri dari tanda-tanda dan aku bersifat formal. Diriku bisa sebaga tanda, data, pesan atau informasi.

Bahasa:
Bukankah hal yang biasa, apa istimewanya?

Lambang:
Maksudku, aku itu bisa dibedakan dengan yang lainnya. Jika engkau memperhatikan aku sebagai tanda, maka itulah diriku lambang. Sedangkan rumahku sering disebut sebagai semiotik.

Bahasa:
Ya terserah sajalah.

Lambang:
Ntar dulu bahasa. Jika engkau fungsikan aku sebagai pembawa pesan itulah yang aku maksud sebagai tidak hanya diriku. Itulah temanku si semantik.

Bahasa:
Aku tahu itu.

Lambang:
Tetapi jika engkau mengfungsikan diriku sebagi pembawa informasi, maka itulah sifat dirimu yang cenderung pragmatis.

Bahasa:
Lho kok kamu menuduhku pragmatis. Sebentar..mana itu yang telah engkau sebut tadi..silahkan semantik, giliranmu.

Semantik:
Kenalkan aku adalah semantik. Aku adalah ilmu tentang kalimat dan aku berurusan langsung dengan makna kalimat. Aku juga dapat dikatakan sebagai ilmu yang mempelajari tentang makna.

Bahasa:
Kalau begitu tentu engkau mempunyai peran yang besar dalam filsafat?

Semantik:
Hampir setiap kajian filsafat menggunakanku. Aku juga hampir dijuluki sebagai ontologis nya bahasa.

Bahasa:
Terus?

Semantik:
Tetapi aku tidak mau disamakan dengan ontologi. Keberadaanku itu memang bersifat ontologis. Aku fungsiku itulah untuk mengungkan makna secara ontologi.

Bahasa:
Aku agak ragu? Coba teruskan kedudukanmu di dalam filsafat?

Semantik:
Baik. Konsepku dapat dipahami baik memalui koherensi pikiranku, maupun melalui korespondensi dengan pengamatanku. Jadi aku itu dapat bersifat analitik, apriori, sintetik ataupun aposteriori.

Bahasa:
Wah kok malah rumit?

Semantik:
Sederhana saja. Aku selalu mengikuti jalan pikiran kritis. Padahal pikiran kritis itu adalah filsafat. Maka menurut diriku, aku dapat mendefinisikan filsafat itu sebagai semantik.

Bahasa:
Apa engkau tidak terlalu berani?

Semantik:
Setidaknya itulah yang berada dalam pikiranku. Yang masih berada dalam pikiranku sungguh masih bersifat terbuka. Sedangkan jika sudah aku tuliskan maka bersifat tertutup.

Bahasa:
Heran aku, bagaimana sebuah semantik bisa berfilsafat?

Semantik:
Itu karena aku memang mempelajari arti. Padahal sebenar-benar arti bisa engkau jumpai dalam filsafat.

Bahasa:
Baik, aku setuju. Silahkan teruskan uraianmu.

Semantik:
Aku sangat peduli dengan berbagai karakter kata atau kalimat. Mereka yang ucapannya sama tetapi artinya berbeda. Mereka yang punya arti sama tetapi kata-katanya berbeda. Kata-kata yang berlawanan atau lawan kata. Kata-kata yang mempunyai banyak arti. Kata-kata yang berhubungan dengan kata-kata yang lain. Kata-kata yang diturunkan. Kata-kata dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata yang dapat diekstensikan maknanya. Kata-kata yang menunjukkan keanggotaan. Kata-kata yang menunjukkan keseluruhan. Metapora atau makna yang tidak disebut menggunakan nama aslinya. Frasa kata atau kumpulan kata yang sudah berbeda artinya dari kata dasarnya. Dst..

Bahasa:
Sudah..sudah..bukankah itu bidangnya orang bahasa. Relevansimu bicara itu apa?

Semantik:
Bukankah aku gunakan sebagian besar dari mereka itu dalam membuat Elegi-elegi?

Bahasa:
Oh..ya..silahkan teruskan penjelasanmu.

Semantik:
Jika engkau memikirkan wanita, maka di situ ada aspek hubungan semantik dengan seorang anak gadis.

Bahasa:
Lho ..mengapa?

Semantik:
Ya keduanya sama-sama wanita.

Bahasa:
Oh begitu, teruskan.

Semantik:
Jika engkau memikirkan Bapak, Ibu, anak, kakak, adik, Presiden, Menteri, ... itulah engkau sedang memandang wajahku.

Bahasa:
Wajahmu?

Semantik:
Itulah aku sebetulnya sedang berbicara tentang manusia.

Bahasa:
Teruskan saja.

Semantik:
Jika aku memikirkan Presiden, maka aku mempunyai “Bekas Presiden” dan “Mantan Presiden”. Maka perubahan dari bekas menjadi mantan, itu juga diriku. Jika aku katakan bahwa “Kertas ini adalah biru” padahal senyatanya adalah putih, itu juga salah satu karyaku. Aku juga sangat tertarik mempelajari makna-makna yang diperolah manusia melalui pengamatan sekitarnya. Tetapi aku juga menaruh perhatian yang tinggi terhadap konteks atau referensi bagi makna suatu kata atau kalimat.

Bahasa:
Baik-baik..waktunya sudah cukup. Aku capai.

Tautologi:
Sebentar dulu, aku belum diberi kesempatan. Aku adalah tautologi. Jika engkau ingin mencari sesuatu yang bukan kontradiktif, inilah aku makhluknya. Tautologi adalah benar tanpa syarat. Dia benar dengan tidak peduli ruang dan waktunya.

Bahasa:
Contohnya?

Tautologi:
Jika aku katakan “aku atau bukan aku” maka seluruh dunia akan terangkum di dalamnya. Jika aku katakan : ada atau bukan ada” maka juga sudah meliputi seluruhnya. Maka aku menduduki istimewa dalam filsafat. Bahkan aku berani mendefinisikan filsafat sebagai diriku yaitu sebagai tautologi. Berapapun tautologi yang engkau produksi maka engkau akan terhindar dari kontradiksi.

Kontradiksi:
Aku adalah kontradiksi. Kalimat “aku dan bukan aku” maka selamanya dia kontradiksi. Secara semantik maka kalimat kontradiktif itu bernilai salah.

Bahasa:
Baik..baik..saya tahu masih banyak lagi yang ingin tampil, tetapi karena terbatasnya ruang dan waktu maka saya akhiri dulu forum ini. Mudah-mudahan dapat dipahami mengapa dalam berfilsafat kita mengemploy bahasa seperti yang terjadi dalam Elegi-elegi.
Sekian terimakasih..semoga bermanfaat. Amiin.

Saturday, October 31, 2009

Elegi Menggapai Mengada dan Pengada

Oleh Marsigit

Ada:
Wahai para ada, saatnya sudah marilah kita berpesta. Aku sengaja mengundangmu semua datang kemari untuk pesta. Kita perlu mengadakan pesta karena kita telah dinyatakan ada. Maka tak peduli siapakah kamu itu. Dirimu, karyamu, tulisanmu, pikiranku, temanmu, saudaramu, hatimu, logosmu, tesismu, anti-tesismu, sintesismu, pertanyaanmu, ikhlasmu, milikmu, persepsimu, pengamatanmu, pengetahuanmu, bahkan mitos-mitosmu. Pokoknya semua tanpa kecuali apa saja yang ada dan yang mungkin ada yang bisa engkau rasakan, engkau pikirkan atau engkau lakukan.

Para Ada:
Bagaimana dengan para MENGADA dan PENGADA apakah mereka diundang atau tidak?

Ada:
Lho apa itu MENGADA? Dan apa pula itu PENGADA? Dalam daftarku kok tidak ada.

Para Ada:
Kami melihat mereka bersama kami tadi. Caba panggilah.

Ada:
Wahai MENGADA dan PENGADA, siapakah dirimu itu?

Mengada dan Pengada:
Kami adalah dirimu sendiri, kami adalah anggota dari dirimu.

Ada:
Kenapa aku tidak mengenalmu?

Mengada dan Pengada:
Jika engkau belum kenal diri kami, itu berarti aku masih menjadi yang mungkin ada bagi dirimu.
Tetapi begitu engkau memanggilku maka engkau sudah mengenalku, berarti aku telah menjadi yang ada bagi dirimu.

Ada:
Aku menjadi penasaran jadinya. Wahai MENGADA coba terangkan lebih rinci sifat-sifat dirimu itu.

MENGADA:
Tiadalah ada dirimu tanpa mengada. Adanya dirimu itu sungguh karena mengada. Jadi dirimu yang ada disebabkan oleh mengadanya dirimu. Tetapi dirimu yang ada belum tentu menyebabkan diriku mengada. Maka mengada adalah bagian dari ada. Jika ada adalah subyek maka mengada adalah predikatnya. Jika mengada adalah subyek maka ada adalah predikatnya.

Ada:
Kapan ada itu dianggap tidak mengada?

Mengada:
Ada itu tidak mengada jika ada sudah merasa puas dengan dirinya sendiri dan tidak memerlukan mengada.

Ada:
Maksudmu?

Mengada:
Itulah sebenar-benar mitosmu yang paling besar dan paling halus di dunia ini.

Ada:
Aku masih tidak paham?

Mengada:
Undanganmu kepada para ada untuk mengadakan pesta adalah buktinya. Keinginanmu untuk mengadakan pesta tentang keberadaanmu, itu pertanda engkau telah merasa puas dengan statusmu sebagai ada.

Ada:
Lho apa salahnya?

Mengada:
Salahnya, engkau telah menganggap hidupmu telah usai. Engkau telah menganggap tidak ada lagi perjuangan bagi dirimu, sehingga engkau merasa memperoleh kemenanganmu, dan kemudian memutuskan untuk berpesta ria.

Ada:
Lho apa ruginya?

Mengada:
Ruginya adalah engkau menjadi tidak mengenal siapa MENGADA.

Ada:
Kalau demikian apa pula kerugianku?

Mengada:
Jika engkau tidak mengenal MENGADA maka kerugianmu adalah engkau dianggap TIDAK ADA.

Ada:
Lho..itu sesuatu yang paling aku takutkan…
Tolonglah aku wahai MENGADA, kemudian bagaimana solusinya?

Mengada:
Bukankah engkau belum mengetahui siapa diri PENGADA itu?

Ada:
Oh..maaf..wahai PENGADA..Siapakah dirimu itu?

Pengada:
Wahai sang ada. Aku tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri. Aku adalah anggota dari dirimu. Jika engkau subyeknya maka belum tentu aku predikatnya, dan jika aku subyeknya maka engkau predikatnya. Keberadaanku itu menentukan dirimu, tetapi keberadanmu belum tentu menentukan diriku.

Ada:
Aku tidak paham apa maksudmu?

Pengada:
PENGADA adalah ada jika engkau mengada.

Ada:
Aku masih tidak paham?

Pengada:
Itulah buktinya. Rencanamu mengadakan pesta telah membuktikan bahwa keradaanmu itu tidak menyebabkan keberadaanku. Karena engkau merasa sudah puas dengan kedudukanmu sebagai ADA maka engkau tidak merasa perlu mengada. Karena tidak ada aktivitas mengada pada dirimu maka tidaklah juga ada pengadamu di sana.

Ada:
Memangnya kenapa ?

Pengada:
Jika tidak ada MENGADA pada dirimu maka tidak adalah PENGADA pada dirimu.

Ada:
Lalu apa ruginya?

Pengada:
Ruginya adalah engkau menjadi tidak mengenal PENGADA. Itulah mengapa engkau tidak mengundang diriku mengikuti rencana pestamu itu.

Ada:
Apa pula rugiku?

Pengada:
Jika engkau tidak mengenal PENGADA maka engkau dianggap TIDAK ADA.

Ada:
Lho..padahal itulah yang paling aku takutkan.. Wahai PENGADA..tolonglah bagaimana solusinya?

Mengada dan Pengada:
Sebetul-betul MENGADA adalah logos bagi dirimu. Jika ADA adalah tesismu maka MENGADA adalah anti-tesismu. Jika engkau telah mempunya MENGADA maka serta merta wujudmu akan berubah menjadi PENGADA. Janganlah engkau mengharap dapat menjadi PENGADA jika engkau tidak mempunyai MENGADA.

Ada:
Sebentar, jika engkau sebut tesis dan anti-tesis maka dimana sintesisnya?

Mengada dan Pengada:
Jika tesisnya adalah ADA maka anti-tesisnya adalah MENGADA. Jika anti-tesisnya adalah MENGADA maka sintetisnya adalah MENGADA.

Ada:
Kalimatmu yang terakhir sangat sulit aku pahami.

Mengada dan Pengada:
Itulah yang terjadi. Maka sebenar-benar MENGADA adalah sekaligus tesis, anti tesis dan juga sintesis. Sedang sebenar-benar PENGADA adalah anti-tesis dari MENGADA.

Ada:
Maksudnya?

Mengada dan Pengada:
Tidak akan ada PENGADA jika engkau tidak MENGADA.

Ada:
Aku masih bingung.

Mengada dan Pengada:
Itulah yang terjadi, yaitu bahwa PENGADA itu juga sekaligus tesis, anti-tesis dan juga sintesis.

Ada:
Baiklah bisakah engkau memberikan contoh konkritnya?

Mengada dan Pengada:
Misal engkau adalah MAHASISWA yang sedang menempuh perkuliahan filsafat. Maka tanda-tanganmu dalam daftar hadir merupakan bukti bahwa engkau itu ADA. Sedangkan kegiatanmu membuat komen pada elegi-elegi menunjukkan MENGADA mu. Jika engkau telah membuat komen pada elgi-elegi maka itu bukti bahwa engkau telah menjadi PENGADA, yaitu pengada akan komen-komen mu.

Ada:
Lho kalau begitu, kan sudah pantas kalau aku ingin berpesta. Karena aku sudah membuat komen.

Mengada dan Pengada:
Sebentar dulu. Sebuah komen mu itu adalah ADA bagi komen mu. Dan keberadaan sebuah komen mu belum tentu MENGADAKAN ..ADA yang lainnya. Jika demikian maka komenmu juga bukanlah suatau PENGADA terhadap yang lainnya. Maka sebuah komen mu itu bisa terancam menjadi mitos, yaitu jika engkau merasa puas hanya membuat satu komen, kemudian akan mengadakan pesta. Maka nasib dari sebuah komen yang engkau sebutkan itu persis seperti nasib dirimu yang tidak mengetahui MENGADA dan PENGADA. Jika dia kmudian juga akan mengadakan pesta, maka dia tentu akan lupa untuk mengundang semua yang ada.

Ada:
Kemudia bagaimana solusinya?

Mengada dan Pengada:
Tiadalah dirimu itu tanpa MENGADA dan PENGADA. Maka agar engkau tetap ADA tidak ada jalan lain bagi dirimu untuk selalu MENGADA. Jika engkau telah MENGADA maka PENGADA akan selalu meyertaimu.

Ada:
Apakah aku dapat menyimpulkan bahwa sebenar-benar ADA adalah MENGADA dan PENGADA sekaligus?

Mengada dan Pengada:
Cerdas pula engkau itu. Itulah harapanku bahwa murid-muridku akan selalu bisa menyimpulkan diri meraka untuk kepentingan diri mereka pula. Sangat tepatlah kesimpulanmu itu bahwa ADA itu adalah sekaligus MENGADA dan PENGADA.

Ada:
Sebentar, jangan ditutup dulu. Bukankah di awal pembicaraan kita engkau telah menuduhku sebagai ADA yang tidak mengenal MENGADA dan PENGADA? Kalau begitu ADA tidak harus MENGADA dan PENGADA?

Mengada dan Pengada:
Tidak mengenal itu tidak berarti tidak ada.

Ada:
Lho mengapa?

Mengada dan Pengada:
Itulah kelihaian dan kelembutan MITOS. Mitos itu pulalah yang selalu mengajakmu mengadakan PESTA padahal perjuanganmu belum seberapa. Maka dirimu akan sebenar-benar ada jika engkau selalu menggapai LOGOS. Itulah kesimpulanku.

Elegi Menggapai Pikiran Ikhlas

Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan pertanyaan dari Sdr Nurfita Handayani:

Ass.. dalam artikel bpk menuliskan setinggi-tingginya dunia dan akhirat adalah ikhlas adanya. untuk menujukan adanya keikhlasan dalam hati kita masing-masing, maka bagaimanakah kita menunjukan rasa ikhlas dalam ilmu filsafat?

Jawaban saya (Marsigit):

Ass..Purwanti RYA ..ikhlas dalam pikir dan ikhlas dalah hati, begitulah.
Uraian saya berikut saya fokuskan pada ikhlas dalam pikir. Sedangkan untuk ikhlas dalam hati mungkin diuraikan secara terpisah.

Jika yang engkau maksud ikkhlas dalam filsafat adalah ikhlas dalam pikir, maka sebenar-benar ikhlasnya pikiran adalah "pure reason".

Pure reason itu tidak lain tidak bukan adalah terbebas dari "prejudice".

Prejudice adalah pengetahuanmu juga. Jika aku katakan pengetahuanmu adalah hidupmu, maka "prejudice" adalah hidupmu juga.

Maka "menuju prejudice" adalah pegetahuanmu atau logosmu.

Sedangkan "menjadi prejudice" adalah mitosmu.

Maka "bukan prejudice" itu adalah anti-tesis dari prejudice, dan sebaliknya.

Jadi ikklas dalam pikiranmu adalah kesediaan dan kesiapanmu membuat anti-tesis dari pengetahuanmu.

Tidak hanya itu saja, ikhlas dalam pikiranmu juga kesediaanmu dan kesiapanmu membuat sintetis antara tesis dan anti-tesis.

Yang telah aku sebut itulah sebenar-benar ilmumu dan juga filsafatmu.

Maka aku telah membuktikan bahwa iklhas dalam pikir tidak lain tidak bukan ternyata adalah filsafat itu sendiri.

Jika engkau pikir filsafat adalah "bijak" mu maka ikhlas dalam pikir itu ternyata adalah juga "bijak" mu.

Itulah yang selama ini kita pelajari, kita diskusikan, aku buatkan elegi dan juga telah berusaha digapai oleh para filsuf besar dari jaman Yunani Kuno sampai jaman komtemporer sekarang.

Untuk kesekian kali aku telah membuktikan bahwa ilmu itu dimulai dengan pertanyaan.

Penjelasanku tentang pertanyaanmu ini itulah sebenar-benar ilmuku.

Maka jangan ragu-ragu untuk selalu memproduksi pertanyaan, karena mereka itulah landasan dari filsafatmu.

Sedangkan engkau tahu bahwa sebenar-benar filsafat adalah hidupmu.

Maka pertanyaan-pertanyaanmu itu adalah hidupmu.

Hidupmu itulah keberadaanmu.

Maka aku juga telah membuktikan cogito ergosumnya Rene Descartes, bahwa engkau ada "hidup" adalah dikarenakan engkau masih bisa bertanya.

Tetapi engkau mampu bertanya adalah karena ikhlas pikirmu.

Maka barang siapa tidak ikhlas dalam pikirnya maka dia terancam tidak bisa bertanya.

Maka barang siapa tidak bertanya atau tidak mau bertanya, maka dia akan terancam hidupnya.

Sebenar-benar hidupmua adalah pertanyaanmu.

Ilmu bermodal ilmu, ikhlas bermodal ikhlas, hidayah bermodal hidayah, bertanya bermodal bertanya.

Maka tiadalah kemampuanmu bertanya itu datang seketika dari langit, tiada pulalah hidupmu itu sekonyong datang dari langit, kecuali hal yang demikian juga adalah ikhtiarmu.

Maka aku juga telah menemukan bahwa ikhtiarmu itulah hidupmu.

Dari ikhlas pikir sampai ikhtiar dan hidup.

Itulah aku juga telah membuktikan bahwa setiap kata-katamu adalah puncak gunung es duniamu.

Maka ilmumu adalah penjelasanmu dari setiap puncak gunung es mu.

Penjelasanmu adalah ilmumu adalah filsafatmu dan ternyata adalah ikhlas pikirmu.

Maka ikhlas dalam filsafat adalah ikhlas dalam pikir adalah ternyata filsafat itu sendiri.

Itulah yang sebenar-benar sedang engkau hadapi.

Belajar filsafat adalah usahamu menggapai ikhlas dalam pikirmu.

Maka baca dan renungkanlah.

Amiin

Thursday, October 29, 2009

Elegi Menggapai Bijak

Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan sebuah tanggapan dari Bapak Wahyudi tentang "bijak":

Assalamu 'alaikum wr. wb. saya setuju dengan Bapak bahwa dimensi yang berbeda sering mengakibatkan kesalahfahamn. yang harus dilakukan adalah. pihak yang sadar bahwa dimensinya rendah memfollow up kesadarannya dengan belajar...belajar dan belajar...membaca....membaca dan terus membaca. tapi bagi pihak yang berdimensi lebih tinggi seyogyanya bersikap bijak. seperti sikap yang ditampakkan oleh yang berilmu+bijak dalam elegi menggapai dimensi. salah satu sikap bijak orang yang berdimensi tinggi adala KHAATBUUNNASA 'ALA UQUULIHIM "Serulah manusia sesuai dengan kapsitas akal (intelektual) mereka(Al Hadist. Wallahu 'alam. terimakasih pak.

Sementara jawaban/tanggapan saya (Marsigit) adalah:

Ass..Pak Wahyudi.."bijak" itulah yang menjadi ultimate dari semua para filsuf untuk menggapainya. Tetapi ketahuilah bahwa Socrates itu dianggap orang yang paling tidak bijak oleh masyarakatnya pada jamannya. Plato dianggap sangat tidak bijak oleh Aristoteles. Descartes dianggap tidak bijak oleh David Hume. Dst...Maka tesis itu sebenar-benarnya adalah tidak bijak bagi anti-tesisnya, demikian pula sebaliknya.

Pandangan tentang "bijak" dari kaca mata Filsafat Barat dan Filsafat Timur itu berbeda. Apalagi jika disorot dari kaca mata berbagai Teologi Agama.

Filsafat Barat memandang "bijak" sebagai kegiatan mencari pengetahuan, menuntut ilmu, menemukan yang baru, membuat anti-tesis, dan melakukan sintetis. Maka di sini bijak itu adalah epistemologi. Thus, bijak itu adalah filsafat itu sendiri.

Di Timur, seseorang dikatakan "bijak" jika dia mampu memberi. Memberi ilmu, atau memberi apapun yang diperlukan oleh orang lain. Jadi bijak di Timur itu terikat dengan strata sosial. Kegiatan yang sama, tetapi dilakukan oleh orang yang berbeda dalam strata, maka akan memberikan aspek "bijak" yang berbeda. Strata itu berelasi dengan "kuasa". Maka "bijak" di Timur itu kenthal dengan nuansa atau merupakan aspek dari unsur kekuasaan. Kuasa di Timur, itu berelasi dengan Kerajaan-kerajaan. Maka itulah faktanya bahwa sejarah Timur itu diturunkan oleh Kerajaan-kerajaan.

Dalam Filsafat, "kuasa" itu berelasi dengan hubungan subyek-obyek. Maka "bijak" dan "kuasa" itu berelasi dengan "determinism". Dimana, di dalam konteks Timur, ketika ada usaha-usaha berpikir filsafat ala Barat, seperti yang kita lakukan, yaitu membongkar konteks "bijak" dan "kuasa" dalam determinisme, maka para obyek kuasa mempunyai euphoria untuk membongkar karakter subyek kuasa.

Jangan dilupakan bahwa "kuasa" di sini dalam arti luas seluas-luasnya, dalam sedalam-dalamnya. Mahasiswa senior itu kuasa terhadap mahasiswa yunior. Guru itu kuasa terhadap muridnya. Baju baru itu kuasa terhadap baju tidak baru..dst. Dosen juga kuasa terhadap mahasiswanya. Itulah pentingnya pemahaman Ruang dan Waktu. Maka sebenar-benar bijak, baik di Barat maupun di Timur adalah pemahaman atau kesadaran akan ruang dan waktu. Di sini maka semua subyek dan semua obyek dan semua predikat akan terkena aturannya. Jadi bijak itu tidak hanya untuk dosen saja, tetapi juga untuk mahasiswa. Tidak hanya untuk guru saja tetapi juga untuk siswa, dst...Dosen atau guru itu perlu paham ruang dan waktunya. Demikian pula mahasiswa atau murid. "Serulah manusia sesuai dengan kapsitas akal (intelektual)" itu adalah bentuk kesadaran ruang dan waktu.

Jadi saya melihat bahwa pemikiran anda tentang bijak, segabai suatu fenomena sintesis pertarungan filsafat/budaya Barat dan filsafat/budaya Timur. Jika diteruskan maka tidak cukup sampai di sini, karena baik filsafat Barat maupun Timur itu juga meliputi Etik dan Estetika. Maka "bijak" itu juga berkorelasi dengan Etik dan Estetika. Nah, etik dan estetika nya subyek dan obyek itu berbeda. Jadi Etik dan estetikanya Dosen dan Mahasiswa itu juga bisa berbeda.

Tetapi jangan salah paham, karena etikanya seseorang itu ternyata juga anti-tesisnya dari etika nya orang lain. Thus dengan demikian perbedaan adat istiadat juga akan membawa etik dan estetika yang berbeda. Ketika filsafat berusaha membongkar aspek monolothik dari suatu keutuhan primordial, maka konsep etik dan estetika itu menjadi tercerai berai. Maka disinilah kita perlu mengembangkan pemahaman ruang dan waktu. Jadi paham ruang dan waktu itu ternyata juga etik dan estetika.

Pusat-pusat monolithik dan primordialisme pengembangan etik dan estetika itu meliputi Filsafat, Agama atau pusat-pusat Kekuasaan/Negara/Kerajaan. Di daerah atau masyarakan di mana jauh dari pusat-pusat pengembangan seperti itu (adhoh Ratu) maka Etik dan Estetika dikembangkan dalam ranah komunikasi horizontal dan merefer kepada unsur-unsur kontekstual lingkungan dan kehidupan sehari-hari.

Maka ingatlah kembali uraian saya tentang strata dan tingkatan masyarakat yang dibuat menurut kriteria "Power Now" atau "Pragmatis/Utilitarian/Kapitalis/Hedonism". dari tataran yang paling rendah menuju tataran tinggi: Archaic-Tribal-Feudal-Traditional-Modern-Post Modern-Post Post Modern/Contemporary. Maka setiap level strata itu akan memberikan definisi etik, estetika, kebenaran dan KEBIJAKAN yang berbeda-beda. Level atau strata itu dapat kita proyeksikan ke dalam diri kita. Artinya sikap, etik, estetika dan pikiran kita tentang "bijak" itu juga dapat menunjukkan posisi kita di level mana. Tetapi menurut saya hal demikian mempunyai sifat dinamis dan tidaklah statis.

Maka marilah kita renungkan. Never Ending To Learn.

Amiiin

Wednesday, October 28, 2009

Elegi Menggapai Hati Kesatu

Oleh Marsigit

Logos Muda:
Wahai Logos Tua, aku ingin memberitakan kepadamu bahwa aku baru saja mengikuti pemberontakan para logos. Kemudian aku ingin bertanya kepada dirimu. Bagaimanakah komentarmu tentang Elegi Pemberontakan Para Logos. Apakah engkau juga ikut memberontak?
Apa pula sebenarnya yang dimaksud dengan pemberontakan para logos itu?

Logos Tua:
Wahai Logos Muda, ketahuilah bahwa aku juga terlibat dalam pemberontakan itu. Berdasar pengamatanku, maka semua logos tanpa kecuali terlibat di sana.

Logos Muda:
Apa alasanmu dan apa alasan mereka mengadakan pemberontakan para logos?

Logos Tua:
Menurutku, aku mempunyai alasan yang berbeda dengan dirimu. Aku juga menemukan bahwa setiap logos mempunyai alasan yang berbeda. Ternyata tidak hanya itu. Aku juga menemukan bahwa setiap logos juga mempunyai sasaran pemberontakan yang berbeda.

Logos Muda:
Bolehkah aku mengetahui alasan apa sehingga engkau melakukan pemberontakan?

Logos Tua:
Aku memberontak karena aku merasa selalu dikejar-kejar oleh mitos? Alasan yang lain adalah karena aku juga merasa dikejar-kejar oleh ruang gelap dan waktu tiada. Ketahuilah bahwa setiap aku membangun logosku maka seketika itu pula muncul mitosku. Maka dalam rangka mengusir mitos-mitosku itulah aku melakukan pemberontakan.

Logos Muda:
Lalu apa yang engkau maksud dengan ruang gelap.

Logos Tua:
Ketahuilah, yang aku maksud sebagai ruang gelap adalah ruang dimana aku telah merasa nyaman untuk tinggal di situ sehingga aku enggan untuk melanjutkan perjalananku. Padalah aku menyadari bahwa tiadalah aku itu dalam keadaan berhenti. Maka sebenar-benar ruang gelap itu adalah keadaan dimana saya mengalami kontradiksi.

Logos Muda:
Lalau apa yang engkau maksud dengan waktu tiada?

Logos Tua:
Waktu tiada adalah saat dimana aku tidak dapat memutuskan segala sesuatu. Aku merasa di waktu tiada, ketika aku tidak dapat memilih baik dari yang buruk, manfaat dari yang merugi, dan benar dari yang salah. Itulah sebenar-benar keadaan dimana saya paling merasa takut untuk menjalaninya.

Logos Muda:
Wahai orang tua. Aku telah mendapatkan bahwa engkau itu ternyata telah mengalami keadaan kontradiksi dalam kontradiksi.

Logos Tua:
Mengapa engkau katakan demikian?

Logos Muda:
Bukankah engkau selalu katakan bahwa sebenar-benar hidupmu adalah kontradiktif. Tetapi mengapa engkau merasa ketakutan berada di ruang gelap yang menyebabkan engkau bersifat kontradiktif?

Logos Tua:
Oh terimakasih, ternyata engkau adalah Logos Muda yang cerdas. Setelah engkau deskripsikan keadaanku yang demikian, sekarang aku juga mengakui dan merasakan bahwa aku dalam keadaan kontradiktif dalam kontradiktif.

Logos Muda:
Tunggu dulu Logos Tua, aku belum selesai. Ternyata aku juga telah menemukan kontradiktif mu dalam kontradiktifmu yang lain?

Logos Tua:
Lho mengapa?

Logos Muda:
Bukankah engkau telah mengatakan bahwa engkau merasa ketakutan tidak dapat memilih baik dari yang buruk, manfaat dari yang merugi, dan benar dari yang salah; yang engkau sebut sebagai waktu tiada? Bukankah dengan pernyataanmu itu engkau telah menunjukkan bahwa engkau telah memutuskan untuk mendeskripsikan dirimu sebagai keadaan dimana menurutmu engkau tidak dapat memutuskan. Bukankah itu juga keputusanmu yang menyatakan bahwa engkau tidak dapat memutuskan?

Logos Tua:
Subhanallah. Terimakasih Logos Muda. Engkau memang betul-betul cerdas. Engkau telah mengingatkan ku kembali bahwa ternyata hidupku itu telah dipenuhi oleh kontradiksi di atas kontradiksi yang lain? Lalu bagaimana tentang dirimu?

Logos Muda:
Lho jangan tanyakan beberapa hal kepada diriku. Karena sebetul-betulnya yang terjadi adalah bahwa saya hanya mampu bertanya. Maka semua itu hanyalah pertanyaanku. Sedangkan jawabannya aku tidak mengetahui atau mungkin masih saya pikirkan.

Wahai Logos Muda yang Centhil:
Boleh aku tersenyum sedikit?

Logos Muda:
Lho kenapa?

Logos Tua:
Aku bangga mempunyai teman Logos Muda sepertimu. Tidaklah penting bagi diriku seberapa pengetahuanmu itu. Tetapi yang labih penting adalah engkau telah memahami ruang dan waktu. Kita telah saling memahami ruang dan waktu kita masing-masing.

Logos Muda:
Lho jangan ngledhek begitu Logos Tua.

Logos Tua:
Bukan ngeledhek karena aku juga ingin mengatakan bahwa aku juga telah menemukan kontradiktif dalam dirimu.

Logos Muda:
Lho kontradiktif yang mana?

Logos Tua:
Bukankah engkau telah mengaku hanya bisa bertanya. Tetapi kenapa engkau buat pengakuanmu itu di dahapanku. Bukankah itu juga keputusanmu bahwa engkau telah mendeskripsikan dirimu sebagai orang yang hanya bisa bertanya. Maka aku ternyata juga telah menemukan bahwa engkaupun bersifat kontradiktif.

Logos Muda:
Oh maaf..oh terimakasih Logos Tua. Benar katamu, ternyata aku juga telah mengalami kontradiktif.

Logos Tua:
Ntar dulu..aku belum selesai. Aku juga telah menemukan kontradiktifmu yang lain atas di atas kontradiktifmu.

Logos Muda:
Apa itu Logos Tua?

Logos Tua:
Engkau kelihatannya sangat menikmati pujianku sebagai Logos Muda yang Chentil, yang pandai yang kreatif. Artinya engkau telah merasa bangga dengan predikat yang telah aku berikan sebagai Logos Hebat. Bukankah hal yang demikian adalah juga bahwa engkau akan terancam oleh mitosku dan juga oleh mitosmu?

Logos Muda:
Oh ampunilah..maksudku aku mohon maaf atas keadaanku yang demikian itu.

Logos Tua:
Permohonan maafmu itu telah menunjukkan bahwa engkau telah bersifat kontradiktif kembali atas kontradiktifmu yang lain.

Logos Muda:
Wah...wahai Logos Tua. jangan engkau mentang-mentang lebih tua dari diriku. Bicara seenaknya saja. Begini salah, begitu salah. Lantas saya harus bagaimana? Aku ini sudah mulai emosional dan sebentar lagi bisa marah kepadamu.

Logos Tua:
Emosi dan amarahmu itu menunjukkan dimensimu.

Logos Muda:
Wah whe lah dhalah..apakah engkau sudah merasa bisa menjunjung langit? Apakah engkau sudah merasa bisa memadamkan api neraka? Apakah engkau sudah bisa membakar surga?

Orang Tua Berambut Putih datang:
Stop..stop..jangan melampaui batas. Wahai para logos janganlah lanjutkan pemberontakanmu itu? Karena hal yang demikian tidak akan membawa keuntungan apapun.

Logos Tua dan Logos Muda menjawab bersama:
Wahai Orang Tua Berambut putih, untuk kali ini juga kami telah menemukan bahwa engkau telah berlaku kontradiktif. Bukankah pemberontakan para logos itu merupakan sifat hakiki para logos. Jika tiadalah pemberontakan maka itu berarti bukan logos namanya.

Orang Tua Berambut Putih:
Ooh maafkan aku, aku telah keliru menilai keadaan. Tetapi aku juga telah menemukan bahwa kedua dirimu itu juga berlaku konradiktif. Kelihatannya engkau menyalahkan diriku telah berlaku kontradiktif. Bukankah engkau tahu bahwa sebenar-benar diri kita semua, selama masih berada di dunia ini, maka kita itu selalu bersifat kontradiktif?

Orang Tua Berambut Putih dan Para Logos berkompromi:
Marilah kita konsultasikan persoalan ini kepada para hati.

.... Elegi ini belum selesai...dan insyaallah dilanjutkan dengan ...Elegi menggapai Hati Kedua.

Amii.

Tuesday, October 27, 2009

Elegi Memahami Elegi

Oleh Marsigit

Mahasiswa:
Aku jengkel, aku marah, aku tak peduli, aku tersinggung...

Dosen:
Sebentar apa masalahnya? Mengapa anda bersikap demikian?

Mahasiswa:
Ah Bapak tak perlu berpura-pura. Kan segala macam persoalan yang membuat Bapak sendiri.

Dosen:
Oh baik apakah ini berkaitan dengan perkuliahan filsafat. Jika benar apakah ini berurusan dengan Elegi-elegi?

Mahasiswa:
Sumpah serapah. Saya tak mau lagi membaca Elegi? Kekaguman saya kepada bapak juga runtuh sudah. Ternyata Bapak tidak seperti yang aku pikirkan.

Dosen:
Lho kenapa, emangnya apa salahnya Elegi? Jika engkau telah menemukan bahwa aku tidak perlu lagi engkau kagumi, bukankah itu adalah satu jalanmu bagi pencerahanmu. Filsafat itu tidak tergantung oleh keberadaan saya. Sehebat-hebat aku sebagai dosen, itu adalah ibarat setitik pasir ditepi lautan filsafat. Maka aku perlu sarankan pula agar engkau pun perlu memikir ulang kekagumanmu terhadap dosen yang lain. Sebab hal yang demikian dapat melemahkan usahamu mewujudkan pikiran kritismu.

Mahasiswa:
Bapak itu tidak mutu. Kenapa aku belajar filsafat pakai syarat harus (diwajibkan) membaca Elegi?

Dosen:
Sebetulnya bukan wajib. Wajib itu relatif. Selama itu masih urusan dunia, segala kewajiban itu masih bisa dirundingkan.

Mahasiswa:
Tetapi setelah membaca Elegi dan mengikuti kuliah Bapak saya jadi pusing. Konsep pemikiranku menjadi berantakan tak karuan. Waktu saya untuk belajar filsafat itu cuma sedikit Pak. Saya mempunyai banyak tugas-tugas yang lain. Apa lah gunanya berfilsafat, sehingga berbicara ngalor ngidul yang tak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Lagi pula tidak ada sangkut pautnya dengan tugas mengajar saya. Saya perlu pemondokan, saya perlu transportasi, saya bolak balik dari kampus ke tempat asalku. Itu sudah sangat menyita waktu.

Dosen:
Lha apa usulmu dan apa maumu?

Mahasiswa:
Berikan saja kepada saya referensi yang singkat, padat dan jelas, untuk kemudian saya bisa baca dengan singkat dan saya gunakan untuk persiapan ujian. Beres gitu aja pak.

Dosen:
Maaf, menurut pandangan saya. Ibarat perjalanan, anda sudah memasuki jalan-jalan dan gang sempit, sehingga sulit bagi dirimu untuk membalikkan kendaraanmu atau parkir atau balik arah dsb. Padahal orang belajar filsafat itu ibarat duduk di lobi, dia belum menentukan sikap jalan mana yang harus dilalui, dia hanay baru memikirkannya.

Mahasiswa:
Lagi-lagi, Bapak mulai berfilsafat. Mulai sekarang saya akan diam saja, tidak akan bertanya, tidak akan membuat komen pada Elegi, dan bersifat pasif saja dalam perkuliahan.

Dosen:
Kelihatannya anda cukup bernafsu dalam bersikap. Jika demikian maka pilihan hidup anda akan semakin sedikit. Bukankah banyak orang lebih suka mempunyai banyak pilihan agar hidup itu membahagiakan?
Padahal dalam mempelajari filsafat, mahasiswa itu seyogyanya dalam keadaan NOL. Artinya agar mampu berpikir kritis, maka kita perlu berpikir netral, tidak prejudice atau watprasangka, tidak emosi, tidak putus asa.

Mahasiswa:
Ah lagi-lagi Bapak mulai berfilsafat. Saya jujur saja jemu dengan segala macam ceremah Bapak.

Dosen:
Jikalau engkau mulai jemu dengan ceramah saya, bukankah setiap hari saya sudah beri kesempatan untuk bertanya, usul, memberi saran atau apa saja baiknya agar engkau mampu belajar filsafat.

Mahasiswa:
Sebetulnya sih enggan aku katakan. Jujur saja untuk berbicara di kelas juga aku mengalami kesulitan, karena mungkin bacaanku juga masih sedikit.

Dosen:
Kenapa engkau tidak usul atau bertanya atau memberi saran.

Mahasiswa:
Untuk itu semua juga sama saja. Saya tidak merasa pede karena mungkin saya juga kurang membaca. Atau bacaan saya belum relevan dengan pokok pembicaraan.

Dosen:
Terus apalagi yang ingin engkau sampaikan?

Mahasiswa:
Kenapa Bapak melakukan testing filsafat, sehingga terasa memberatkan mahasiswa?

Dosen:
Itu merupakan komunikasi formal. Wajib hukumnya bagi dosen untuk menguji mahasiswa.

Mahasiswa:
Kenapa ujiannya seperti itu, lain lagi minta ujiannya sesuai dengan selera saya.

Dosen:
Ujian seperti apa yang engkau inginkan?

Mahasiswa:
Aku sendiri juga bingung. Bagaimana ya cara Bapak menguji diriku agar Bapak juga tahu kemampuan berfilsafatku?

Dosen:
Saya sebetulnya mempunyai banyak cara dan teori untuk mengujimu. Anda sendiri juga bisa membuat refleksi, bisa membuat makalah, bisa menguraikan atau membuat tesis, anti tesis atau sintesis.

Mahasiswa:
Apa pula itu Pak?

Dosen:
Kemarahan dan emosimu telah menutup sebagaian ilmumu. Jika engkau terus-teruskan itulah sebenar-benar musuhmu dalam belajar filsafat. Jika engkau tidak mamu mengatasi sampai kuliah ini berakhir, itu pertanda engkau gagal dalam menempuh perkuliahan. Padahal sebetul-betulnya yang terjadi adalah untuk belajar filsafat, tidak cukup hanya membaca sedikit, tidak tepat kalau hanya menginginkan petunjuk teknis, tidak cukup kalau hanya membaca referensi wajib, tidak cukup hanya berpikir parsial. Jika itu yang engkau lakukan maka itulah sebenar-benar anda akan menjadi manusia yang berbahaya dimuka bumi ini, karena anda akan menggunakan filsafat tidak tepat ruang dan waktunya. Maka mempelajari filsafat juga tidak bisa urut hirarkhis, tidak hanya membaca tetapi berfilsafatlah dengan segenap jiwa ragamu. Itulah maka sebenar-benar filsafat adalah refleksi hidupmu sendiri. Amarahmu dan kekecewaanu itu adalah catatanmu. Tetapi ketahuilah bahwa amarah dan emosi itu sebenar-benar adalah telah menghabiskan dan membakar energimu.

Mahasiswa:
Bapak otoriter.

Dosen:
Otoriter itu dunia. Dia punya batas-batasnya. Dia bisa sangat kuat tetapi juga bisa sangat lemah. Jika otoritasnya sangat lemah mungkin dia demokratis, tetapi tidak selalu demikian. Lihat betapa Amerika begitu garangnya berperang dalam rangka menegakkan demokrasi. Lalu apa usulmu lagi?

Mahasiswa:
Sementara aku akan berdiam diri.

Dosen:
Baik, dalam diam itu ada kebajikan. Karena diam dapat digunakan sebagai sarana untuk refleksi diri. Ketahuilah bahwa refkesi diri itu merupakan kegiatan berpikir yang paling tinggi. Demikianlah semoga kita semua dapat selalu belajar dari pengalaman. Amiiin.

Mahasiswa:
Ntar Pak jangan ditutup dulu. saya ingin tanya dengan jurur. Terus terang saya mengalami kesulita memahami Elegi Bapak.

Dosen:
Baik anda mengalami kesulitan karena saya menggunakan berbagai macam bahasa dengan segala tingkatannya.

Mahasiswa:
Maksud Bapak?

Dosen:
Elegi itu tidak hanya meliputi jenis ucapan tetapi juga tindakan ucapan. Kita mengetahui ada paling sedikit empat macam jenis komunikasi: material, formal, normatif dan spiritual. Maka Elegi itu meliputi semua tingkatan jenis komunikasi tersebut. Dalam Elegi aku juga berusaha menggunakan bahasa konstatif, maksudnya saya berusaha menggambarkan suatu kejadian atau fakta atau fenomena menggunakan gaya bahasaku sendiri. Dengan bahasa konstatif itu anda dapat melakukan verifikasi atau menilai benar salahnya pernyataan saya. Maka carilah mereka itu dalam Elegi-elegi saya. Tetapi ada juga Elegi dimana saya bebas memilih kata-kata atau bahasa saya sesuai dengan selera saya. Dengan bahasa demikian saya tidak bermaksud agar anda membuktikan kebenarannya, tetapi semata-mata merupakan usaha saya sebagai penutur bahasa untuk memberi muatan filsafat, muatan moril atau muatan pengetahuan atau muatan pengalaman lainnya. Dengan bahasa perforatif itu saya ingin menunjukkan bahwa elegi itu memang orisinil tulisan saya. Saya juga ingin menunjukkan kehadiran keterlibatan saya dalam elegi itu dengan demikian saya bisa lebih menghayati penulisan elegi itu. Di sinilah mungkin terjadi perbedaan taraf kelaikan yang anda harapkan dengan taraf kelaikan yang saya gunakan atau saya pilih. Jika terjadi kesenjangan ini maka saya menyadari bahwa anda akan dibuatnya “unhappy”, sedangkan saya sipembuat elegi happy-happy saja.
Tetapi dalam membuat Elegi ini saya juga tidak hanya melakukan hal-hal di atas. Dalam beberapa hal saya juga melakukan apa yang disebut sebagai tindakan lokusi, yaitu meletakkan tanggung jawab penuturan bahasa bukan pada penuturnya tetapi kepada semuanya. Artinya penuturan bahasa itu memang bersifat umum. Dengan mengambil tindakan lokusi pada suatu Elegi saya merasa mempunyai landasan untuk mengembangkan tindakan illokusi bahasa. Tindakan illokusi bahasa adalah bahasa yang menunjukkan lawan terhadap tindakan sesuatu, dengan demikian tindakan illokusi ini akan menuntut saya sebagai si penutur bahasa untuk bersikap konsekuen juga melaksanakan penuturan saya itu. Misal keyika saya menyarankan anda untuk membaca, itu berarti saya juga seharusnya menyarankan kepada diri saya juga. Demikian juga ketika saya menyarankan anda untuk berbuat baik, bertindak konsisten, berpikir kritis, dsb.
Namun tidak hanya itu saja. Kata-kataku dalam elegi juga sebagian menunjukkan keadaan si pendengar dengan segala implikasinya. Artinya, saya menyadari bahwa kata-kata saya itu akan berpengaruh terhadap si pembaca elegi. Dalam filsafat bahasa mungkin ini yang disebut sebagai tindakan saya yang bersifat perlokusi. Misalnya kalimat saya yang berbunyi-tidak mungkin belajar filsafat tanpa membaca-.
Ini berakibat anda sebagai mahasiswa saya yang menempuh filsafat, mau tidak mau harus membaca. Jika hal demikian dirasa berat, itulah anda dan juga saya menemukan bukti yang kesekian kalinya bahwa manusia di dunia itu bersifat kontradiktif. Maka dapat aku katakan bahwa hidup itu adalah pilihan. Jika itu telah menjadi pilihanmu, mengapa engkau melakukan segala perbuatanmu kelihatannya kurang ikhlas. Bukannya engkau tahu bahwa ketidak ikhlasan walau sedikitpun itu tidak akan membawa manfaat baik di dunia maupun akhirat. Maka renungkanlah. Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahan dan dosa-dosa kita. Amiin.

Monday, October 26, 2009

Ontologi dan Epistemologi Jawa: Mengerti Hidup?

Oleh Marsigit


Ada paling tidak 3 (tiga) kekuatan/manfaat filsafat yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk meningkatkan dimensi hidup manusia Jawa/Indonesia/Timur.

Pertama, kesadaran akan RUANG dan WAKTU.

Banyak permasalahan hidup terjadi dikarenakan manusia kurang atau tidak memahami masalah dimensi ruang dan waktu. Banyak cara ditempuh agar kita memahami ruang dan waktu; tiap bangsa, tiap suku dan tiap Agama mempunyai caranya masing-masing. Orang yang tidak menyadari akan ruang dan waktu, dalam perwayangan digambarkan sebagai waktu Kala, yaitu sifat-sifat buruknya sang Batara Kala. Sedangkan orang yang telah mempunyai kesadaran tentang ruang dan waktu, dalam perwayangan digambarkan sebagai waktu Cakra, yaitu waktunya Sang Khrisna. Orang Jawa yang belum menyadari akan ruang dan waktu maka dia perlu diruwat, dengan cara menggelar pertunjukkan wayang kulit semalam suntuk. Puncak acaranya adalah pertempuran antara Batara Kala dengan Sri Batara Khrisna, yang kemudian dimenangkan oleh Batara Khrisna dengan senjata Cakra nya, artinya Buruk Waktu dikalahkan oleh Baik Waktu. Itulah betapa orang Jawa/Indonesia/bangsa Timur menganggap pentingnya kesadaran tentang RUANG dan WAKTU. Sebetulnya, ruang dan waktu adalah hidup itu sendiri, dengan menyadarinya maka dia akan menyadari hidupnya. Jadi dapat dikatakan bahwa mempelajari filsafat adalah meruwat diri sendiri agar sadar ruang dan waktu.

Kedua, analisis yang bersifat INTENSIF dan EKSTENSIF.

Berpikir intensif yaitu berpikir secara dalam sedalam-dalamnya; dan berpikir ekstensif adalah berpikir luas seluas-luasnya. Kedua kegiatan berpikir itu akan mampu memberi jawaban ontologis persoalan hidup manusia. Berpikir intensif akan menyoroti hakekat sesuatu dengan sinar terang 1000 watt; sehingga tidak ada satupun yang mampu bersembunyi karenanya. Semua tanpa kecuali akan terungkap tidak ada yang tersisa. Dengan berpikir ekstensif, manusia akan terhindar dari berpikir parsial, sehingga akan memperoleh keseluruhan dalam kesatuan dan kesatuan dalam keseluruhan. Dalam perwayangan, berpikir intensif dan ekstensif ini digambarkan sebagai Senjata Kaca Paesan dari Sang Bathara Krisna. Maka Batara Khrisna dapat mengetahui rencana-rencana buruk dan jahat dari para Kurawa, mengetahui siluman dan mengetahui para bajulbarat, tek-tekan prajuritnya Batara Kala. Kaca Paesan itu pada akhirnya dapat dimanfaatkan oleh orang-orang ikhlas Pandawa Lima. Demikianlah, maka pemikiran yang mendalam dan luas dapat memberi rasa keikhlasan bagi para subyek pikirnya. Maka mempelajari filsafat dapat dikatakan usaha manusia untuk menuntut ilmu.

Ketiga, selalu berusaha menggapai LOGOS dan menggapai BUKAN MITOS.

Maka musuh sebenarnya bagi orang berfilsafat adalah berhentinya pikiran kritis atau keadaan mitos. Mitos tidak berada dimana-mana kecuali siap bercokol dalam diri kita sendiri. Jika kita sudang merasa mencapai jelas atau terang kemudian kita enggan untuk memeikirkannya kembali, maka mitos siap menerkam kita. Dalam perwayangan, ini digambarkan sebagai Senjata Kembang Cangkok Wijaya Kusuma dari Sri Khrisna, yaitu dapat menyembuhkan orang sakit dan menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Orang yang enggan berpikir digambarkan orang sakit yang perlu dinaungi Kembang Cangkok Wijaya Kusuma, demikian pula orang yang tidak mau berpikir digambarkan sebagai orang yang mati. Maka mempelajari filsafat dapat dikatakan usaha manusia agar tetap hidup dan lebih hidup.


Itulah makna kiasan dari ajaran-ajaran Jawa/Indonesia/Timur yang penuh dengan metapora yaitu ajaran-ajaran tersembunyi, agar memang manusia itu perlu memikirkannya.

Demikian semoga bermanfaat. Amiiin.

Sunday, October 25, 2009

Ontologi dan Epistemologi Jawa: Hubungan subyek predikat dalam Serat Sastra Gending

Oleh Marsigit

Ontologi menjawab hakekat yang ada. Serat Sastra Gending adalah karya Sultan Agung ing Mataram (1613-1645). Damarjati Supajar mengungkapkan bahwa karya ini mengandung nilai-nilai kefilsafatan yang tinggi. Di sini saya hanya fokus untuk mengungkap sebagian kecil saja dari isi Serat Sastra Gending yang menunjukkan adanya pemikiran tentang ontologi dan epistemologi hubungan SUBYEK-PREDIKAT. Hubungan subyek-predikat ini sejalan dengan pemikiran Immanuel Kant (1724-1802) yang akhirnya menghasilkan proses berpikir ANALITIK atau SINTETIK.

Berikut saya nukilkan hubungan subyek-predikat dalam Serat Sastra Gending (Damarjati Supajar, 2001):

1. Jika subyeknya DZAT, maka predikatnya SIFAT. Hubungannya dijelaskan sebagai berikut:

Jawa:
Dat lan sifat upami, Sayekti dingin datira, Dupi wus ana sipate, Mulajamah aranira, Awal lan akhirira, Kang sifat tansah kawengku, Marang dat kajatinira

Terjemahan:
Dzat dan sifat selalu, lebih dulu dzatnya, ketika sudah ada sifat, yang disebut Mulajamah, yang awal dan yang akhir, sifat selalu termuat, dalam hakekat dzat

2. Jika subyeknya RASA maka predikatnya PANGRASA, jika subyeknya CIPTA maka predikatnya RIPTA, jika subyeknya YANG DI SEMBAH maka predikatnya YANG MENYEMBAH. Hubungannya dijelaskan sebagi berikut:

Jawa:
Rasa pangrasa upami, Yekti dingin rasanira, Pangrasa kari anane, Kang cipta-kulawan ripta, Sayekti dingin cipta, Kang ripta pan gendingipun, Kang nembah lan kang di sembah.

Terjemahan:
Hati dan pikiran ibaratnya, lebih unggul pikiran pasti, dari keberadaan pikiran, Sedang kreasi dan perangkaian, tentu lebih utama kreasi, dari rangkaian tembang, seperti yang menyembah danyang disembah.

3. Jika subyeknya adalah KODRAT maka predikatnya adalah IRADAT. Jika subyeknya YANG KADIM maka predikatnya YANG BARU, jika subyeknya SASTRA maka predikatnya GENDING, jika subyeknya YANG DISEMBAH maka predikatnya YANG MENYEMBAH, jika subyeknya RASA maka predikatnya PANGRASA. Hubungannya dijelaskan sebagi berikut:

Jawa:
Yekti dingin kang pinuji, Kahanane kang anembah, Saking kodrating Hyang manon, Apan kinarya lantaran, Sajatining panembah, Wisesaning dat mrih ayu, Amuji ing dewekira.

Umpamane jalu lawan estri, Yen saresmi jroning rokhmat pada, Pranyata iku tandane, Tuhu tuhuning kawruh, Ing pamoring anyar lan kadim, Dat lawan sipatira,Sastra gendingipun, Kang rasa lawan pangrasa, Estri priya pamornya kapurba, Wening, Atetep tinetepan.

Terjemah:
Tentu lebih dulu yang disembah, dari pada yang menyembah, dari hakekat Hyang Agung, berguna sebagai sarana, hakekat penyembahan, kepada Dzat untuk keselamatan, memuja kepada Nya.
Seperti suami istri, bila bersetubuh dalam kebenaran, merupakan perumpamaan, bagi pengetahuan sejati, meleburnya yang fana dan baka, antara dzat dan sifat, antara sastra dan gending, antara hati dan pikiran, rahasis pria-wanita yang terangkum, menyatu dalam kesatuan.

4. Jika subyeknya adalah YANG BERCERMIN maka predikatnya adalah BAYANGANNYA. Hubungannya dijelaskan sebagi berikut:

Jawa:
Mulajamah loroning ngatunggil, Tinggal rasa rasa kawisesan, Nging lamun dadi tuduhe, Wajib ing prianipun, Kadya ngakal pinurbeng alip, Lir warna jro paesan, Iku pamenipun, Kang ngilo jatining sastra, Kang wayangan gending, Sasirnaning cermin, manjing jatining sastra.

Terjemahan:
Mulajamah kesatuan dua hal, yang itu menjadi kiasan, substansi kejantanan, pemikiran yang bermula dari alif, itulah perumpamaan, yang bercermin ibarat sastra, danbayangan itu adalah gending, selesai bercermin, bayangan kembali kepada sastra.

5. Jika subyeknya adalah SUARA maka predikatnya adalah GEMA. Jika subyeknya adalah LAUTAN maka predikatnya adalah IKANNYA. Hubungannya dijelaskan sebagi berikut:

Jawa:
Lir kumandang lan swara upami, Kumandanging barat gending ngakal, Sastra upama swarane, Gending kumandang barung, Wangsul marang swara umanjing, Lir minojro samodra, Mina gendingipun sastra upama amandaya, Mina yekti anaya saking jaladri, Myang kauripanira.

Terjemahan:
Seperti gema dengan suara, gema itu perumpamaan gending, suara ibarat sastra, setelah gema gending berlalu, ia kembali kepada sastra, seperti ikan di lautan, ikan adalah gending, dan sastra adalah kehidupannya, ikan selalu kembali keair, yang menjadi kehidupannya.

6. Jika subyeknya adalah PRADANGGA maka predikatnya adalah GENDING. Hubungannya dijelaskan sebagi berikut:

Jawa:
Pejahing mina awor jaladri, Jro samodra pasti isi mina, Tan kena pisah karone, Malih ngibaratipun, Lir niyaga nabuh kang gending, Niyaga sastranira, Gending gendingipun, Barang reh purbeng niyaga, Kasebuting niyaga dening kang gending, Panjang yen cinarita.

Terjemahan:
Ikan hidup mati di lautan, di dalam laut pasti berisi ikan, keduanya tidak pernah terpisahkan, seperti perumpamaan, seperti alat musik dengan pemainnya, pemain adalah sastra, alat musik adalah gendingnya, setelah selesai memainkan musik,baru bisa dipilah pemain dan alat, panjang bila harus dijelaskan.

Demikian seterusnya. Di dalam Serat Sastra Ganding tersebut masih disebutkan dan diuraikan:
Jika subyeknya adalah PAPAN TULIS maka predikatnya adalah TULISANNYA, jika subyeknya YANG DISEMBAH maka predikatnya adalah yang MENYEMBAH, jika subyeknya adalah MANIKMAYA maka predikatnya adalah BATARA GURU, jika subyeknya adalah DALANG maka predikatnya adalah WAYANG, jika subyeknya adalah BUSUR maka predikatnya adalah ANAK PANAHNYA, jika subyeknya adalah WISNU maka predikatnya adalah KRESNA.

Berikut saya tambahkan lagi:

7. Jika subyeknya PAPAN TULIS maka predikatnya adalah TULISANNYA, jika subyeknya YANG DISEMBAH maka predikatnya adalah YANG MENYEMBAH.
Hubungannya dijelaskan sebagi berikut:

Jawa:
Dewa watak hawa sanga, Wus kanyatan gumlaring bumi langit, Iku kawruhana sagung, Endi kang luhur andap, Upamane papan lawan tulisipun, Kanyatan ingkang anembah, Kalawan ingkang pinuji

Terjemahan:
Dewa dan sembilan hawa nafsu, fenomena bumi dan langit, itu harus menjadi pengetahuan, tentang yang tinggi dan yang rendah, seperti papan tulias dengan tulisan, bagaikan hamba yang menyembah, dengan Tuhan yang disembah

8. Jika subyeknya MANIKMAYA maka predikatnya adalah BATARA GURU.
Hubungannya dijelaskan sebagi berikut:

Jawa:
Papan moting kawisesan, Manikmaya purbaning papan wening, Tulise mangsi Hyang Guru, Sastra upama papan, Gending ngakal upama mangsi wus dawuh, Yen dingin mangsinira, Ngendi nggone tibeng tulis.

Terjemahan:
Papan tempat kekuasaan, Manikmaya menjadi papan azali, Batara Guru menjadi tulisannya, Sastra adalah papan, Kata yang tertulis ibarat gending, bila harus lebih dulu tulisan, dimana ia akan diguratkan.

9. Jika subyeknya WISNU maka predikatnya adalah KRESNA
Hubungannya dijelaskan sebagi berikut:

Jawa:
Kayata Narendra Kresna, Lawan risang Batara Wisnumurti, Iku ngibarat satuhu, Loro-loroning tunggal, Tanggal cipta sarasa sauripipun, Hyang Wisnu umpama sastra, Sri Kresna umpama Gending.

Terjemahan:
Seperti raja Khrisna, dengan dewa Wisnu yang Agung, itu hakekatnya, dua hal yang satu adanya, menyatu dalam berbagai halnya, Wisnu ibarat sastra, Khrisna ibarat gendingnya.


Demikianlah hanya sebagian yang saya sampaikan. Semoga bermanfaat. Amiin

Referensi:
Dr. Damarjati Supajar, 2001, Filsafat Sosial Serat Sastra Gending, Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru

Saturday, October 24, 2009

Elegi Pemberontakan Para Logos

Mengingat pentingnya Elegi ini maka sengaja saya postingkan kembali:

Oleh Marsigit

Hati:
Aku sedang menyaksikan para logos mulai beraktivitas. Beberapa diantara mereka beraktivitas sesuai batas-batasnya, tetapi aku melihat sebagian diantara mereka mulai melampaui batas-batasnya. Aku ingin mengetahui apa sebetulnya yang terjadi pada logos-logos itu. Wahai para logos, apakah yang terjadi pada dirimu sehingga engkau kelihatan gelisah serta ada diantara engkau malah beraktivitas melampaui batas-batasmu.

Logos1:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah dirimu. Maka engkaulah, yaitu engkau hati, sebenar-benar merupakan tantanganku. Aku merasa tertantang untuk mengetahui semua relung hatiku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti hatiku. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos2:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah irrasional. Maka irrasional adalah sebenar-benar merupakan tantanganku. Aku merasa tertantang untuk mengetahui semua yang irrasional, walaupun aku tahu bahwa irrasional itu tidak rasional. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang irrasional. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos3:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah ghaib. Maka ghaib adalah sebenar-benar merupakan tantanganku. Ketika aku menginginkan bertemu dengan ghaib maka dia itu tidak mau memunculkan diri. Padahal aku ingin mengetahui semuanya tentang yang ghaib itu.Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti yang ghaib. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos4:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah mimpi. Maka engkaulah mimpi itulah sebenar-benar merupakan tantanganku. Aku ingin mengetahui semua mimpi. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti mimpiku. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos5:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah awal. Maka awal sebenar-benar merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti awal. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos6:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah akhir. Maka akhir itulah sebenar-benar merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang akhir. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos7:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya jauh tak hingga. Maka jauh tak hingga merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang jauh tak hingga. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos8:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya dekat tak hingga. Maka dekat tak hingga merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti dekat tak hingga. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos9:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah diriku . Maka diriku merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang diriku sendiri. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos10:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah noumena . Maka noumena merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang noumena. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.
Logos11:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah dibalik penampakan. Maka dibalik penampakan merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang dibalik penampakan. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos 12:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah nasib. Maka nasib merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang nasib. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos13:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah arwah. Maka arwah merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang arwah. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Hati:
Cukup...cukup. Wahai para logos. Rupa-rupanya engkau semua telah lancang terhadapku. Engkau telah menyalah gunakan kepercayaanku terhadapmu. Bahkan sebagian darimu telah melakukan hal-hal di luar batas-batasmu. Maka sebenar-benar dirimu semua aku kutuk. Terkutuklah engkau semua. Engkau semua sebenar-benarnya bukanlah logos. Engkau semua adalah mitos-mitos. Ketahuilah bahwa hatiku selalu waspada mengamati gerak-gerikmu. Engkau semua telah menjelma menjadi mitos, dikarenakan kesombonganmu akan gelarmu selama ini sebagai logos. Aku benar-benar menyesal telah memanjakanmu semua. Maka sekali lagi, tidak adalah logos-logos itu di hadapanku. Yang ada di hadapanku semua itu adalah mitos.mitos. Dengarkanlah wahai semua mitos-mitos, lihatlah diriku. Aku sekarang ini sedang marah besar terhadapmu semua. Dan sekaranglah saatnya aku harus mengambil sikap tegas terhadapmu. Maka enyahlah semua dari hadapanku. Aku tidak sudi bergaul dan berkomunikasi denganmu. Enyahlah...enyahlah segera.

Para mitos (jelmaan logos):
Wahaha..haha. Ketahuilah engkau yang mengaku sebagai hatiku. Kuman disebarang lautan tampak, sedangkan gajah di pelupuk mata tidaklah tampak. Aku juga tidak lagi mempercayaimu. Ketahuilah bahwa engkau juga telah membuktikan di hadapanku, bahwa engkau itu sebenarnya bukanlah hatiku yang sebenarnya. Dengan kemarahanmu itu, maka telah masuklah ke dalam dirimu seekor syaitan. Maka tiadalah dirimu itu, kecuali sebuah hati yang telah berubah menjadi seekor syaitan. Maka dengarkanlah wahai syaitan. “Dengarkanlah wahai syaitan, lihatlah diriku. Aku sekarang ini sedang marah besar terhadapmu semua. Dan sekaranglah saatnya aku harus mengambil sikap tegas terhadapmu. Maka enyahlah engkau dari hadapanku. Aku tidak sudi bergaul dan berkomunikasi denganmu. Enyahlah...enyahlah segera”.
Wahaha..haha. Kenapa engkau kelihatan pucat pasi, padahal kalimatku yang terakhir itu hanya pura-pura. Aku sebetulnya hanya menirukan gayamu saja. Maka munafiklah engkau syaitan. Wahai syaitan, ketahuilah bahwa tidaklah pada tempatnya bahwa syaitan itu bermusuhan dengan mitos-mitos. Menurutku, antara syaitan dengan mitos itu pastilah harus bekerja sama. Maka renungkanlah. Renungkanlah kembali sebelum engkau menyesal dikemudian hari.

Syaitan (jelmaan hati):
Wah ..maafkan wahai para mitos. Aku tidak menyangka kalau telah bertemu dengan sahabat sejatiku. Engkau para mitos itu adalah sahabat sejatiku. Maka tiadalah aku akan bertindak semena-mena terhadap dirimu itu. Sekali lagi maafkanlah.

Akar rumput:
Aku sedang menyaksikan kejadian luar biasa. Ada orang tengah sombongnya berjalan di muka bumi. Setelah aku amati, ternyata dia adalah para mitos dan sahabatnya, syaitan. Ya Tuhan, ampunilah diriku. Ampunilah dosa-dosa orang yang telah berbuat dhalim di muka dunia ini. Tiadalah daya upayaku, kecuali hanyalah diri Mu yang mampu menghancurkan syaitan-syaitan itu.

Syaitan dan mitos:
Oauit...kenapa kakiku ini. Aneh pula kakiku ini. Tidak ada sebab, kenapa kakiku kemasukkan duri. Ak lihat jalannya lurus dan bersih. Oauit...terasa sakit sekali. Wahai mitos, kenapa kaki kita kemasukkan duri dan dari mana duri itu?

Mitos:
Maafkanlah syaitan, aku sekarang bukan menjadi logos lagi. Aku telah engkau kutuk menjadi mitos. Maka aku tidak lagi bisa berpikir kritis. Maka maafkanlah aku. Karena aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Aku merasa malu sekali mengapa hanya persoalan sepele seperti ini aku tidak bisa memikirkan. Kenapa aku tidak tahu asal usul duri ini. Padahal sebelum engkau kutuk aku telah sesumbar dan menantang dan memberontak terhadap hati bahwa aku ingin menantang semuanya yang ada dan yang mungkin ada sampai batas pikiranku. Sekali lagi maafkan aku. Aku tidak akan mengulangi perbuatanku lagi. Aku betul-betul menyesal telah berbuat dholim di muka bumi ini. Maka wahai hatiku maafkanlah diriku.

Hati (setelah syaitan menghilang):
Iba rasa hatiku wahai saudaraku. Wahai engkau logos-logosku. Aku telah menyaksikan engkau telah kembali menghampiriku. Ingin menitikkan air mata rasanya diriku itu melihat engkau semua telah menyadari kesalahan-kesalahanmu. Demikian pula aku. Mohon maafkanlah diriku, karena aku juga telah terbawa emosi sehingga aku sempat dihampiri syaitan. Aku juga menyesal telah mengutukmu. Maka sebetul-betulnya hatiku adalah doaku, sedangkan hatiku itu adalah teman bagi logos-logosku yang mengetahui batas-batasnya. Marilah kita kembali menetapkan iman dan taqwa kita kepada Tuhan YME, dengan senantiasa selalu berdoa dan mohon ampun atas segala dosa-dosa kita. Semoga Tuhan mengabulkan semua doa-doa kami. Amien.

Orang tua berambut putih:
Aku telah menyaksikan semua kejadianmu itu. Aku ingin katakan bahwa aku tidak bisa berkata. Kalimat kontradiksiku itu merupakan lambang bagi kehadiranku, yaitu bahwa aku hadir walaupun tidak engkau panggil. Maka renungkanlah.

Friday, October 23, 2009

Filsafat atau Sastra?

Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan sebuah pertanyaan dari Sdr Ahmad Mujahid;

Assalamu’aalikum Wr.Wb
Maaf bapak saya sebenarnya masih bingung apakah elegi ini sebuah refleksi dari pemahaman filsafat ataukah merefleksikan sebuah pemahaman tentang kesusastraan? Ataukah saya yang masih bingung batas kajian filsafat dengan batas kajian sastra, karena ketika saya membaca elegi ini ternyata dak jauh beda dengan ketika saya mengkaji sebuah ungkapan-ungkapan sastra. Karena dalam elegi ini saya di tuntut untuk bagaimana mengereti dan memahami kata-kata yang ada bukan melogikakan ini dengan pemahaman filsafati. Jadi tidak jauh beda dengan membaca karya sastra seoarang sastrawan. Ketika mendefinisikan filsafat itu sebagai sebuah berfikir reflek dan kritis serta bagaimana berfikir bijak, di elegi yang bapak buat ini tidak ada yang mencerminkan hal itu malah yang terjadi adalah sebuah tanggapan yang tidak mengarah kepada sebuah pemahaman filsafati atau tidak mengarah kepada tujuan belajar filsafat itu. Jadi, mohon bapak menjelaskan tentang filsafat itu sehingga bagaimana itu saya jadikan sebagai acuan atau ilmu untuk menanggapi elegi yang bapak tulis dan nantinya tanggapan saya bisa terarah.
Sekian

Jawaban Saya (Marsigit):

Obyek filsafat adalah segala yang ada dan yang mungkin ada.

Maka dalam perbincangan filsafat bisa saja kita mempelajari sastra, sastra bahasa atau bahasa itu sendiri.

Kajian filsafat bersifat intensif dan ekstensif.

Intensif itu artinya dalam sedalam-dalamnya. Ekstensif itu luas seluas-luasnya.

Terdapat tiga pilar dalam filsafat yaitu kajian ontologis, kajian epistemologis dan kajian aksiologis.

Dengan kajian ekstensif maka pemikiran filsafat menjangkan semua yang ada dan yang mungkin ada.

Maka filsafat dapat ditaruh didepan apapun yaitu di depan yang ada dan yang mungkin ada.

Dengan kajian intensif maka pemikiran filsafat akan menjangkau hakekat atau ontologisnya sampai kita tidak mampu lagi mempertanyakannya.

Untuk mempelajari filsafat kita dapat menggunakan bahasa analog.

Bahasa analog mampu mengungkap kualitas-kualitas subyek dan obyeknya hingga sampai tataran radix.

Bahasa analog juga sejalan dengan metode simplifikasi atau reduksi.

Metode reduksi adalah metode berpikir yang paling ampuh tetapi sekaligus paling berbahaya.

Sadar atau tak sadar, manusia itu pasti menggunakan metode reduksi karena secara hakikinya manusia itu memang bersifat reduktif.

Secara ontologis, maka yang ada dan yang mungkin ada itu hanya mempunyai 2 prinsip, yaitu prinsip identitas dan prinsip kontradiktif.

Maka. dengan obyek dan metode serta pilar yang ada maka tidak ada yang tersisa.

Bukan filsafat itu bukan sisa filsafat.

Tidak setuju filsafat itu bukan sisa filsafat.

Bahwa ketiadaan itu pun mungkin ada sebagai kajian filsafat.

Maka bukan filsafat itupun filsafat jadinya.

Tidak setuju filsafat itupun sedang berfilsafat jadinya.

Maka aku menemukan bahwa dirikupun ternyata adalah sebuah filsafat.

Jika sastra adalah khasanah bahasa maka akupun menemukan bahwa filsafat itupun ternyata adalah bahasa.

Jika engkau ingin mengetahui batas antara filsafat dan sastra bahasa, tentulah itu sangat baik.

Tetapi ternyata aku juga menemukan bahwa baik filsafat ataupun sastra bahasa itu ternyata keduanya adalah pikiranku.

Maka aku dapat sembunyikan filsafatku itu dalam sastra bahasaku.

Dan juga dapat aku sembunyikan bahasaku itu dalam filsafatku.

Jikalau engkau telah cukup jelas akan uraianku maka aku khawatir bahwa engkau telah termakan oleh jargonku.

Jika engkau masih ragu akan penjelasanku maka itulah sebenar-benar awal dari pengetahunmu.Namun ternyata saya menyadari bahwa diriku itu terbatas.

Agar saya mampu menggapai batas pikiranku maka akupun dapat menggunakan metode hermenitika, yaitu menterjemahkan dan diterjemahkan.

Tetapi aku kemudian menemukan bahwa dunia yang sedang aku pelajari itu ternyata sama persis seperti yang aku pikirkan.

Maka aku menyimpulkan bahwa filsafat itu tidak lain tidak bukan adalah pikiranku sendiri.

Namun tidaklah mudah aku menggapai pikiranku, karena aku menemukan bahwa setiap jengkal perjalanan pikiranku terdapat terminal-terminal pemberhentian tentang kejelasan pikiranku.

Maka kemudian aku juga menemukan bahwa sebenar-benar bahaya yang aku hadapi dalam berpikirku adalah jika aku tidak mau berpikir lagi.

Keadaan itulah yang kemudian dikatakan oleh banyak orang sebagai mitos dalam pikiranku.

Maka sebenar-benar berfilsafat adalah usaha terus menerus untuk menggapai logos dan menggapai bukan mitos.

Maka aku juga menemukan bahwa semua yang ada dan yang mungkin ada itu pada hakekatnya adalah cermin bagi diriku untuk dapat menangkap mitos-mitosku.

Maka apalah yang engkau maksud dengan pemahaman filsafat itu.

Jika engkau telah paham betul tentang hakekat pemahaman filsafat, maka akupun masih khawatir jangan-jangan itu juga salah satu mitos besarmu.

Maka marilah kita selalu saling terjemah dan menterjemahkan. Semoga kita semua mampu menggapai terang.

Amiin

Demikianlah jawaban saya semoga bermanfaat bagai para mahasiswa yang sedang belajar filsafat.

Amiin.

Wednesday, October 21, 2009

Referensi Hakekat Berpikir

Refleksi Diri

Oeh Marsigit

Jika kita ingin melihat dunia maka tengoklah ke dalam pikiran kita, karena dunia itu persis seperti apa yang kita pikirkan.
Jika kita pikir dunia itu baik, maka baiklah dunia itu.
Jika kita tersenyum kepada dunia, maka dunia juga akan tersenyum kepada kita.
Tetapi jika kita menghujat dunia, maka dunia juga akan menghujat kita.
Jika kita berlaku sombong kepada dunia, maka dunia juga akan berlaku sombong kepada kita.
Jika kita santun kepada dunia maka dunia juga akan berlaku santun kepada kita.
Maka jika kita ingin merasakan dunia maka tengoklah perasaan kita, karena dunia itu persis seperti apa yang kita rasakan.
Janganlah menunda meraih syurga menunggu kematian kita, sedangkan neraka itu siap menjemput walau kita masih di dunia.
Mencari ilmu berbekal ilmu, menggapai hidayah berbekal hidayah.
Setinggi-tinggi urusan dunia dan akhirat adalah ikhlas adanya.
Aku menyadari bahwa kesombongan adalah dosa pertama dan paling besar di hadapan Tuhan.
Aku menyadari bahwa sebuah kesombongan akan menutup dan mencegah diriku memperoleh ilmu dan hidayah.
Lebih dari itu, kesombongan juga akan membakar habis semua yang telah aku peroleh.
Sedang aku juga menyadari bahwa bertambahnya umurku maka akan bertambah pula egoku. Aku juga menyadari bahwa egoku yang aku lebih-lebihkan itu ternyata merupakan kesombonganku pula.
Maka aku selalu berusaha untuk meluruhkan kesombonganku dengan memohon ampun dan pertolongan kepada Tuhan. Amin.
Untuk kita semuanya yang selalu ikhlas dalam membaca dan berusaha semoga Tuhan YME selalu melimpahkan rakhmat dan hidayahnya.

Amiiin.

Saturday, September 26, 2009

Prospective and Constructive Communication to Promote World Class University

By Marsigit, Yogyakarta State University

Having had a lot of exchange of talks, ideas and point of views of the latest issues I feel I found some some threads, pattern or may a small model of discussion or presentation from some very potentials peoples.

I found also that Yogyakarta State University has really a big potentials and prospective future because of a big potentials and a prospective future of its civies academic. We have some notions from Ibu Kartika, Pak Micko, Pak Satoto Nayono, Ibu Pangesti etc.

I Perceive that all of those notions are constructive, useful and potential aspects of communication that we really need to develop our University toward world class university.

I then try to stop for a moment, think a little bit deeply and then strive to reflect of what all we have done, all we are doing, and all we propose to to in the future.

From the very highly frequency of communication and sharing ideas through millinglis I also found our prospective young generation of our lectures such as Pak Deny, Pak Beny, Pak Nur Khamid, Pak Nur Kholis, Pak Caly Setiawa, Pak Sigit Yatmono, Pak M Khaerudin, Pak Sukirno, Pak Grendi, etc. They all have a very good awareness of how to develop our university in the future.

I also found some wise notions from our senior Prof. Yoyon, Prof Wawan, Prof A Gafur and others who always give their support and motivation to junior lectures. I also found the very prospective and potential management of our university in which it may be characterized as a mean of open, facilitating, distributing, communicating, and sharing.

I also found that our university leaderships have a prospective and futuristic visions and missions. I also then learned that actually we, all university members, have a very prospective and potential resource to make a continuous unifying element running through a story, argument, discussion, or series of event to promote our university toward world class-university.

The synergic communication among younger parties, older parties, abroad graduate university lecturers as well as the visionary university managerial can be a milestone and a strong foundation to develop our stronger university.

I remember the results of the workshop of international level of study program conducted by PJKR of the Faculty of Physical Education, in which I was also invited to come.

The Vice Dean I of the Faculty of Economy of UGM stated that world class university is really an international collaboration or networking.

This can be done by giving the widely chance to the lectures to study abroad and to get experiences from university abroad. Further, we can then trust and encourage them to develop international networking.

Further, he said that our future challenges for the lectures are able to teach, to research, to collaborate and to publish at the international level. We should be ready and find the the chances, if it is possible, to teach in develop countries.

However, it is very important that promoting world class-university does not mean that we should lose our identity and our culture. Our identity and our culture is the one and only one our potential that we should promote to international level.

In sum, from the very our latest communication, I may find something that has a helical or spiral form of our very prospective and potential sources or component of our human resources in which we can the employ to promote our better future, specifically to develop our university toward world class university.

Your continue contributions can be a part of hermeneutically interaction among us i.e. to translate and to be translated among each other in order to get out better future.

To translate means to learn of every things; while, to be translated means to reflects of every things. We really expect your further ideas.

Amien

Thank you very much

Monday, September 21, 2009

Hermenitika Idul Fitri

Oleh Marsigit, Yogyakarta

Menggambarkan indahnya dan nikmatnya Idul Fitri terasa tak akan kehabisan bahasa. Karena indah, nikmat, hebat dan ingin tetap meningkatkan rasa syukur terhadap ke Agungan Allah SWT, maka saya ingin melakukan analisis bahasa tentang fenomena idul fitri.

Saya mengagumi dan merasa haru karena semuanya tanpa kecuali terlibat dan melibatkan diri dalam illokusioner dan perlokusioner bahasa Idul Fitri. Namun maaf jika uraian saya dirasa agak sulit dan berbelit-belit. Hal ini semata-mata sebagai usaha dan berlatih olah pikir dengan semangat mengisi makna Idul Fitri.

Saya akan mencoba meniliknya dari analisis bahasa terhadap fenomena kegiatan merayakan Idul Fitri.

Menurut hemat saya, jika dilihat dari analisis bahasa, wacana dalam Idul Fitri itu bukanlah tentang konsep kebenaran atau kesalahan tentang kesalahan atau dosa-dosa, melainkan suatu struktur gabungan linguistik semiotik-semantik, yang mengintegrasikan semua aspek-aspek semiotik bahasa idul fitri kedalam keseluruhan aspe-aspek semantik bahasa idul fitri, sehingga merangkum semua pemroduksi notion idul fitri (si pemohon maaf), penerima notion idul fitri (si termohon permohonan maaf), medium idul fitri (sms, facebook, silaturakhim langsung), tanda-tanda idul fitri (suara bedhuk, pengumuman pemerintah, gema takbir, dsb), konteks dan situasi idul fitri (membuat kupat, berkumpulnya sanak famili, dsb), dan pesan-pesan idul fitri (kothbah idul fitri, pesan sms, dsb).

Keseluruhan struktur wacana idul fitri tersebut, bagi yang merayakannya, telah terbukti memberikan fungsi korelatif terhadap yang lainnya. Didalamnya juga tercermin fungsi emosi yaitu suasana bathin idul fitri. Juga terdapat penggunaan meta-linguistik baik secara langsung maupun tak langsung yang berujung pada muara spiritual-linguistik.

Tetapi juga saya temukan adanya referensial bahasa misalnya duplikasi dari wacana-wacana yang dianggap baik oleh seseorang kemudian digunakan oleh orang yang lainnya. Tak ketinggalan juga struktur demikian ternyata juga telah secara kreatif telah memproduksi fungsi poetik, dimana para pemohon dan termohon maaf saling melantunkan wacana idul fitri secara lebih puitis.

Dilihat dari metafora dan simbol-simbol yang digunakan, maka saya melihat bahwa konsep pemahaman dan eksplanasi wacana idul fitri bersifat terbatas. Jika kita membayangkan bahwa metafora wacana idul fitri itu menyerupai bentuk sebuah puisi kecil, maka fungsi metafora wacana idul fitri itu sebagai menjembatani kompleksitas karakter-karakter pemohon dan termohon maaf untuk secara terus menerus secara kontinu membangun harmoni struktur wacan idul fitri. Maka harmoni wacana idul fitri akan terjaga secara hakiki dan disharmoni wacana idul fitri juga akan tertangkal secara hakiki pula.

Analisis saya ini ternyata mengantarkan saya kepada pertanyaan perihal status kognitif di balik retorika wacana idul fitri. Setidaknya status kognitif dapat dilihat dari penggunaan kiasan-kiasan wacana idul fitri untk menggambarkan sifat ketermilikan makna yang lain selain dirinya (sinar bulan untuk menggambarkan cerahnya hati), menggambarkan perubahan atau transfer dari genus yang satu ke genus yang lain (banyak dosa menjadi sedikit dosa atau bebas dosa).

Status kognitif juga dilihat dari perluasan wacana bahasa idul fitri yaitu dari ekstensi bahasa yang digunakan bahwa jika seseorang menulis atau mengatakan melebihi yang dapat dia tulis atau melebihi yang dapat dia katakan, seberapa jauh subyek bicara dan penulis tadi memahami makna bicaranya atau tulisannya?

Saya temukan bahwa dalam wacana bahasa idul fitri terdapat refleksi pengalaman subyek sebagai keadaan serupa atau menyerupai pengalaman subyek yang lainnya (berasumsi tanpa ragu-ragu bahwa yang dialami juga dialami oleh yang lain pada tempat yang lain tetapi pada saat yang sama yaitu hari idul fitri).

Pada arah yang berlawanan terdapat gerakan interpretasi wacana bahasa idul fitri yang sebagian diimplementasikan atau diterapkan dalam perilaku sehari-hari. Hal atau kejadian demikian bersifat imanent dan hakiki. Hal yang terakhir inilah yang menggiring saya untuk dapat menyimpulkan bahwa wanaca bahasa idul fitri telah mentransformir dirinya dari sebuah wacana menjadi sebuah peristiwa.

Jika dirunut, maka wacana bahasa idul fitri itu dimunculkan melalui peristiwa idul fitri, kemudian menghasilkan wacana dan menuju peristiwa. Itulah sebetulnya yang terjadi, dengan analisis ini saya ingin menangkap sebuah maklhuk hebat luar biasa yang terkadang luput dari perhatian banyak orang. Itulah sebuah hermenitika idul fitri, yaitu merayakan idul fitri dengan semangat menterjemahkan dan diterjemahkan.

Hermenitika menterjemahkan idul fitri mangandung maksud beragamnya kegiatan pelaku beserta ststus kognisinya dalam mengisi hikmah idul fitri, tetapi di sisi yang lain bersedianya yang bersangkutan untuk menerima secara ikhlas segala saran perbaikan dalam rangka menuju fitrah dan mempertahankannya.

Di dalam hermenitika idul fitri terkandung dialektika peristiwa dan makna idul fitri dari subyek-obyek idul fitri. Kecerdasan lebih lanjut dituntut agar kita pelaku-pelaku idul fitri dapat memahami bukan apa yang sekedar ada di balik wacana idul fitri, tetapi juga apa yang berada di hadapannya. Kegiatan ini penting agar penjelasan dan pemahaman perihal wacana idul fitri dan makna-makna yang terkandung di dalamnya mampu membentuk dimensi dialekstika eksistensial.

Maksudnya adalah bahwa kita masing-masing masih dituntut mampu mengisi dan mengamalkan semangat idul fitri dan bukan sekedar memahaminya. Amien

Sekian, terimakasih.

Saturday, September 19, 2009

Idul Fitri: mensucikan predikat dan mempertahankannya

Oleh Marsigit

Idul Fitri berarti kembali kepada naluri kemanusiaan yang murni, kembali mengamalkan agama secara lurus, dan kembali dari segala kepentingan duniawi yang tidak Islami. Salah satu cara yang baik untuk merayakan Idul Fitri adalah dengan melakukan evaluasi diri pada kegiatan yang telah dikerjakan. Ibadah puasa pada bulan Ramadhan diharapkan memperoleh keadaan suci. Oleh karena itu, mempertahankan nilai kesucian yang baru saja diraih merupakan esensi terpenting dari kegiatan merayakan Idul Fitri.

Pola terdeskripsi dari kegiatan merayakan Idul Fitri adalah pola hubungan subyek-predikat. Maka merayakan Idul Fitri merupakan kegiatan yang ultima untuk melakukan refleksi subyek terhadap predikat atau sebaliknya. Subyek dapat berarti saya, dia, adik, ayah, ibu, saudara, anak, menantu, atasanku, bawahanku, atau Tuhan ku. Predikat dapat berarti sifat-sifat ku, sifat-sifat dia, sifat-sifat adik, sifat-sifat ayah, sifat-sifat ibu, sifat-sifat saudara, sifat-sifat anak, sifat-sifat menantu, sifat-sifat atasanku, sifat-sifat bawahanku, atau kuasaTuhan ku.

Tetapi ternyata sifat-sifat ku dan sifat yang lainnya juga ditentukan oleh hubungan ku dan hubungan yang lainnya serta yang lainnya pula. Maka predikat dapat berarti pula sifat-sifat hubunganku dengan adikku, sifat-sifat hubungan ku dengan adikku, sifat-sifat hubunganku dengan ayahku, sifat-sifat hubunganku dengan ibuku, sifat-sifat hubunganku dengan menantuku, sifat-sifat hubunganku dengan atasanku, sifat-sifat hubunganku dengan bawahanku, sifat-sifat hubunganku dengan atasanku, atau sifat-sifat hubunganku dengan Tuhan ku.

Tetapi ternyata sifat-sifat hubungan ku dengan yang lain dariku juga ditentukan oleh hubungan yang lain dari diriku dengan yang lain lagi dari diriku. Maka predikat dapat berarti pula sifat-sifat hubungan yang lain dariku dengan yang lain lagi dari diriku yang mempengaruhi sifat-sifat hubungan ku dengan yang lain dariku.

Merayakan Idul Fitri berarti menemukan kembali kesadaran diriku tentang sifat-sifat hubungan ku dengan yang lain dariku, dan sifat-sifat hubungan yang lain dariku dengan yang lain lagi dari diriku yang mempengaruhi sifat-sifat hubungan ku dengan yang lain dariku.

Padahal aku menemukan bahwa dikarenakan kegiatan merayakan Idul Fitri, aku telah menemukan bahwa sifat-sifat hubungan ku dengan yang lain dariku, dan sifat-sifat hubungan yang lain dariku dengan yang lain lagi dari diriku yang mempengaruhi sifat-sifat hubungan ku dengan yang lain dariku, merentang sebuah kontinum baik-buruk, boleh-tidak boleh, halal-haram, ikhlas-tak ikhlas, good praktik-malpraktik, santun-tak santun, adab-tak adab, biasa-tak biasa, pas-tidak pas, tepat-tidak tepat, benar-salah, ridhlo-tidak ridhlo, pantas-tak pantas, disiplin-tak disiplin, biasa-luar biasa, normal-tak normal, jujur-tak jujur, bersih-tak bersih, ..dst.

Tetapi ternyata aku telah menemukan bahwa kontinum-kontinum sifat-sifat hubungan ku dengan yang lain dariku, dan sifat-sifat hubungan yang lain dariku dengan yang lain lagi dari diriku, merantang antara subyek dan predikatnya masing-masing. Insya Alloh dengan kegiatan merayakan Idul Fitri telah menyebabkan diriku menambah kemampuanku melihat titik-titik kontinum pada rentang sifatku dengan predikat-predikatku.

Subhanalloh, ternyata aku telah menemukan tiada terhingga titik-titik pada kontinum sifat-sifat predikatku terkategorikan sebagai tidak baik, tidak boleh, tidak halal, tidak ikhlas, tidak good praktik, tidak santun, tidak adab, tidak biasa, tidak pas, tidak tepat, tidak benar, tidak ridhlo, tidak pantas, tidak disiplin, tidak normal, tidak jujur, atau tidak bersih.

Dan ternyata aku juga menemukan ada tak hingga subyek dan predikat dalam mana aku memerlukan keikhlasannya untuk meluruhkan segenap sifat-sifat predikatku sehingga aku dapat kembali ke titik kontinum baik, boleh, halal, ikhlas, good praktik, santun, adab, biasa, pas, benar, ridhlo, pantas, disiplin, biasa, normal, jujur, dan bersih. Dengan merayakan Idul Fitri ternyata aku telah menemukan sifat predikatku yaitu ihtiarku untuk menemukan subyek-subyek yang berhubungan sifat dengan diriku. Maka mohon ampunlah atas segala dosa dan kekhilafanku, semoga engkau para subyek yang berelasi dengan diriku memberikan keikhlasannya.

Ya Alloh ya Robbul Alamin, tiadalah aku mampu menyebut semua dosa-dosaku, karena aku merasa dan meyakini sungguh banyaklah dosa-dosaku itu, maka mohon ampunlah diriku atas segala dosa-dosaku itu. Semoga engkau juga berkenan mengapuni dosa-dosa para leluhurku, orang tuaku, keluargaku, pemimpin-pemimpinku, saudara-saudaraku. Amien.

Semoga dengan merayakan Idul Fitri kita memperoleh semangat baru. Amien.

Sekian, terimakasih

Wednesday, September 16, 2009

Komunikasi Formal Memerlukan Dukungan Komunikasi Material dan Komunikasi Normatif Dalam Bingkai Komunikasi Spiritual

Oleh Marsigit, Yogyakarta

Hakekat Komunikasi

Komunikasi dapat didefinisikan sebagai berbagai bentuk vitalitas dari potensi-potensi relational antara subyek-subyek, subyek-obyek, obyek-subyek atau obyek-obyek. Bentuk vitalitas mempunyai makna kesadaran dan perubahan ke dalam, paralel atau keluar dari diri potensi. Karena itulah maka salah satu sifat dari vitalitas adalah sifat relational dan sifat penunjukkan kepada subyek atau obyek di dalam, paralel atau diluar dirinya. Maka terbentuklah suatu relasi yang bersifat fungsional diantara subyek-subyek atau obyek-obyek. Sifat penunjukkan terhadap subyek atau obyek selain dirinya disebut juga sebagai sifat determine. Satu-satunya substansi yang tidak dapat dihilangkan dari relasi penunjukkan atau determine adalah “sifat”. Jadi untuk dapat memahami secara ontologis tentang hakekat komunikasi kita harus dapat memahami sifat, bukan sebagai sifat, tetapi sifat sebagai “subyek” dan sifat sebagai “obyek”. Jika sifat-sifat sudah melekat pada subyek atau obyeknya, maka kita dapat mengatakan sebagai ciri-ciri subyek atau ciri-ciri obyek berdasar sifat-sifatnya. Jadi komunikasi merupakan bentuk vitalitas dari potensi korelational yang mempunyai sifat-sifat penunjukkan atau ditermine yaitu terkarakterisasinya sifat-sifat yang terjunjuk berdasar sifat-sifat si penunjuk. Dimensi-dimensi komunikasi ditentukan oleh sifat apakah sifat dari subyek atau obyeknya mempunyai sifat dengan arah ke dalam, arah paralel atau arah ke luar; dimensi-dimensi komunikasi juga ditentukan oleh banyaknya satuan potensi yang terlibat dan ragam vitalitas yang diakibatkannya. Secara harfiah, maka kristalisasi dari dimensi-dimensi komunikasi memberikan makna adanya komunikasi dimensi material, komunikasi dimensi formal, komunikasi dimensi normatif dan komunikasi dimensi spiritualitas.

Komunikasi Material

Komunikasi material didominasi oleh sifat sifat horisontal dari arah vitalitasnya. Dilihat dari segi keterlibatannya, maka jumlah satuan potensi yang terlibat adalah bersifat minimal jika dibandingkan dengan komunikasi dari dimensi yang lainnya. Maka sebagian orang dapat memperoleh kesadaran bahwa komunikasi material adalah komunikasi dengan dimensi paling rendah. Sifat korelasional sejajar mempunyai makna kesetaraan diantara subyek atau obyek komunikasi. Implikasi dari kesetaraan subyek dan obyek adalah bahwa mereka mempunyai posisi yang paling lemah dalam sifat penunjukkannya. Dua batu sama besar saling berbenturan merupakan contoh komunikasi material yang dimaksud. Mereka bisa sama-sama menjadi subyek atau menjadi obyek pada saat yang sama. Dapat dikatakan bahwa sifat penunjukkan dari masing-masing subyek atau obyek terhadap yang lainnya bersifat netral atau tidak ada sama sekali. Maka dua batu yang sama besar dan sama dalam sifat-sifat yang lainnya, tidak akan pernah saling menjatuhkan sifat-sifatnya satu dengan yang lain tanpa intervensi subyek atau obyek komunikasi lain yang dimensinya lebih tinggi. Subyek dan obyek komunikasi dengan sifat-sifat lebih luas dan lebih lengkap dikatakan sebagai subyek atau obyek dengan dimensi lebih tinggi pula. Maka subyek atau obyek dengan dimensi lebih tinggi dapat menyebabkan terbentuknya vitalitas pembentuk komunikasi dimensi yang lebih tinggi pula. Jika kita dapat mendeskripsikan subyek-subyek atau obyek-obyek komunikasi pada dimensi yang lebih tinggi tetapi mempunyai sifat korelasional sejajar yang sangat kuat atau hampir mendominasi keseluruhan maka kita katakan bahwa komunikasi material telah terjadi pada subyek atau obyek dimensi tinggi. Komunikasi ini dapat terjadi pada subyek atau obyek dimensi tinggi tetapi pada kelompok dengan karakteristik yang sama, misal sama-sama mahasiswa, sama-sama dosen, sama-sama guru. Jika korelasi kesetaraan belum tampak maka penambahan sifat-sifat terpilih dapat menurunkan kadar penunjukkannya. Misalnya kelompok guru yang sedang sama-sama mengikuti pelatihan. Karena sedang sama-sama mengikuti pelatihan dan berada dalam satu kelompok maka terbentuknya vitalitas lebih banyak bersifat horisontal atau netral atau tidak ada sama sekali. Contohnya, meraka akan sulit memilih ketua jika tidak ditemukan deviasi atau intervensi dari subyek atau obyek komunikasi dengan dimensi yang lebih tinggi. Sifat pengiring dari komunikasi material antara lain bersifat mandiri atau individual, tercerai berai, netral, dan yang terpenting adalah ternyata mereka itu dapat dianggap sebagai potensi-potensi korelasional mendatar dari komunikasi yang dimensinya lebih tinggi. Sedangkan contoh-contoh subyek atau obyek komunikasi material misalnya: benda-benda mati, data-data statistik, arsip-arsip, dokumen, persyaratan beasiswa, informasi atau pengumumam pendaftaran, ketentuan paling lambat dikumpulkan, keadaan telah mengirim surat, keadaan belum memperoleh balasan surat, hasil rapat, dst.

Komunikasi Formal

Komunikasi formal didominasi oleh sifat-sifat korelasional keluar atau ke dalam dari vitalitas potensi-potensinya. Korelasi ke luar atau ke dalam mempunyai makna perbedaan antara sifat-sifat yang di luar dan sifat-sifat yang di dalam. Korelasi antara perbedaan sifat itulah yang menentukan sifat dari subyek atau obyek komunikasinya. Implikasi dari perbedaan sifat-sifat subyek atau sifat-sifat obyek memberikan penguatan adanya perbedaan sifat penunjukkan. Vitalitas dari subyek dengan potensi lebih besar akan mengukuhkan dirinya tetap bertahan sebagai subyek, sedangkan vitalitas dari subyek dengan potensi lebih kecil akan menggeser peran subyek dirinya menjadi peran obyek bagi subyeknya. Jika dua buah batu besar dan kecil berbenturan maka batu besar akan segera menjadi subyek yang menentukan sifat batu kecil yaitu sifat pecah jika dibentur oleh subyeknya. Dengan kata lain maka pada komunikasi formal akan terbentuklah reposisi-reposisi subyek dan obyek. Subyek bisa tetap menjadi subyek, subyek bisa menjadi obyek, obyek bisa tetap menjadi obyek, atau obyek dapat berubah menjadi subyek. Keadaan ini akan memberikan ciri bahwa komunikasi formal merupakan komunikasi dengan dimensi yang lebih tinggi dari komunikasi material karena melibatkan satuan-satuan potensi yang lebih banyak dengan sifat-sifat penunjukkan yang kuat dari subyek atas obyeknya. Subyek atau obyek pada komunikasi formal kemudian dapat disebut juga sebagai subyek formal dan obyek formal. Komunikasi formal akan sangat relevan pada pembentukan struktur atau tatanan masyarakat atau lembaga atau organisasi dimana subyek dan obyek formalnya mempunyai deskripsi hubungan penunjukkan yang jelas. Ketua adalah subyek penentu sifat-sifat dari obyek anggotanya, dosen adalah subyek penentu sifat-sifat dari obyek mahasiswanya, pimpinan adalah subyek penentu dari sifat obyek bawahanya. Untuk memperjelas tata hubungan antara subyek dan obyek formal maka diperlukan obyek-obyek material dengan potensi vitalitas korelational penunjukkannya yang tinggi. Maka pada komunikasi formal inilah vitalitas korelasionalnya akan tampak paling jelas dan operasional dibanding komunikasi yang lainnya. Seorang pimpinan perlu membuat SK agar hubungan tata kerja organisasinya dapat menentukan sifat-sifat subyek dan obyeknya. DPR perlu membuat undang-undang agar tata hubungan masyarakat dapat dikarakterisasikan dengan sifat penunjukkan yang kuat.

Komunikasi Normatif

Komunikasi normatif ditandai dengan meluruhnya sifat-sifat penunjukkan korelasionalitas penunjukkannya pada diri subyek dan obyeknya. Namun demikian, komunikasi normatif dikatakan mempunyai dimensi yang lebih tinggi dikarenakan keterlibatan satuan-satuan potensinya lebih banyak, lebih luas dan lebih kompleks. Meluruhnya sifat penunjukkan korelasional horisontal bukan disebabkan oleh karena lemahnya potensi dan vitalitas komunikasinya, tetapi semata-mata dikarenakan karena luasnya jangkauan dan keterlibatan satuan-satuan potensi dan vitalitas baik pada diri subyek maupun pada diri obyeknya. Maka pada komunikasi normatif dapat dideskripsikan sifat-sifat pada subyek dan obyeknya sebagai subyek yang mempunyai potensi dan vitalitas yang tinggi, tetapi mempunyai korelasional horisontal yang rendah. Dapat dimengerti bahwa pada komunikasi normatif, sifat-sifat korelasional ke dalam dan keluar bersifat semakin kuat. Mereka semakin kuat jika dibandingkan pada komunikasi material ataupun komunikasi formal. Keadaannya dapat digambarkan sebagi suatu “cease fire” diantara potensi-potensi dan vitalitas-vitalitas kedalam dan keluarnya. Struktur komunikasi demikian ternyata merupakan struktur komunikasi yang lebih banyak mampu menampung karakteristik-karakteristik subyek atau obyek komunikasinya. Komunikasi normatif ditandai adanya sifat-sifat ideal yang abstrak dari potensi dan vitalitas subyek dan obyeknya, misalnya keadaan baik atau buruk, pantas atau tidak pantas, atau seyogyanya atau tidak seyogyanya. Sedangkan sifat-sifat korelasional keluar menunjukkan keadaan semakin jelas dan tegasnya apakah dalam bentuk keluar ke atas atau ke luar ke bawah. Korelasionalitas potensi dan vitalitas ke atas akan mentransformir bentuk komunikasi ke dimensi yang lebih atas yaitu komunikasi spiritual, sedangkan korelasional potensi dan vitalitas ke bawah akan menstransformir bentuk komunikasi ke dimensi yang lebih bawah yaitu komunikasi formal dan komunikasi material.

Komunikasi Spiritual

Korelasional ke dalam dan ke luar bagi potensi-potensi dan vitalitasnya tetap eksis pada komunikasi spiritual. Korelasional ke luar ke atas akan memberikan deskripsi metafisik terhadap subyek dan obyek komunikasinya. Sedangkan korelasional ke luar ke bawah akan mentransformir komunikasi ke dimensi di bawahnya yaitu komunikasi normatif, komunikasi formal dan komunikasi material. Maka komunikasi spiritual bersifat menampung dari semua komunikasi yang ada dan yang mungkin ada. Sedangkan komunikasi kedalam akan memberikan sifat penunjukkan absolut bagi subyek dan obyeknya. Sedangkan komunikasi ke luar ke atas akan meluruhkan semua sifat dari subyek dan obyeknya, sehingga di capai keadaan subyek dan obyek komunikasi dengan sifat tanpa sifat. Keadaan subyek dengan sifat tanpa sifat itu adalah keadaan di mana subyek dan obyek komunikasi juga meluruh ke dalam keadaan di mana subyek dan obyek tidak dapat dibedakan lagi. Artinya tiadalah subyek dan obyek komunikasi pada tataran metafisik dari komunikasi spiritual dapat diidentifikasi menggunaan hubungan korelasional potensi dan vitalitas subyek dan obyeknya. Hubungan korelasional ke dalam kemudian mentransformir semua potensi dan vitalitas ke dalam subyek absolut. Subyek absolut merupakan subyek dengan dimensi tertinggi yang mengatasi segala subyek dan obyek komunikasi sekaligus juga mengatasi semua jenis komunikasi yang ada dan yang mungkin ada.

Komunikasi Formal Memerlukan Komunikasi Material, Komunikasi Normatif dan Komunikasi Spiritual

Uraian di atas memberi penjelasan tentang sifat hirarkhi dimensi komunikasi yang ada. Mereka tidaklah dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Hubungan tata kemasrakatan dan organisasi dikarakteristikan dengan komunikasi formal. Komunikasi formal akan menampakkan maknanya jika subyek dan obyeknya meliputi subyak dan obyek material beserta kemungkinan jenis komunikasinya. Sedangkan komunikasi formal akan memberikan kejelasan pada hubungan korelasionalnya jika subyek dan obyeknya serta sifat-sifat hubungannya beserta arah-arahnya dapat diturunkan dari komunikasi normatif dan komunikasi spiritual. Maka kejelasan dan kelengkapan subyek dan obyek material beserta komunikasinya akan memberikan kejelasan dan kelengkapan subyek dan obyek serta komunikasi yang mungkin pada komunikasi formal. Kejelasan dan kelengkapan subyek dan obyek beserta komunikasinya dari komunikasi normatif dan spiritual akan memberikan kejelasan dan kelengkapan pada arah hubungan korelasional potensi dan vitalitas dari subyek dan obyek serta komunikasi yang ada dari komunikasi formal.

Kesimpulan:

Agar sebuah program dapat dilaksanaan dengan baik maka program tersebut perlu dilengkapi dengan data-data atau informasi yang lengkap dan akurat dari subyek dan obyek pelakunya. Kemudian program-program yang dikembangkan seyogyanya mengacu kepada visi dan misi kelompoknya atau lembaganya yang lengkap dan jelas pula. Dan kemudian semuanya itu berpedoman pada tata-krama serta nilai-nilai moral yang telah diyakininya. Amien

Sekian, terimakasih.

Tuesday, September 15, 2009

Michael Jackson Berupaya Mendaur Ulang Limbah Kapitalisme, Utilitarianisme, Pragmatisme dan Hedonisme.

Oleh Marsigit, Yogyakarta

Saya bukan fan penyanyi dan artis Michael Jackson. Sesekali melihat tayangannya di TV dan berita tentang (kematian) dirinya. Kebetulan suatu sore di Indovision, melihat tayangan nyanyiannya yang berjudul “Earth Song”, mungkin maksudnya adalah nyanyian bumi. Dalam artikel ini jika saya meminjam Michael Jackson, maka dia meminjam bumi sebagai media untuk menunjukkan ekspresi yang menurut saya dapat diberi judul “Mendaur Ulang Limbah Kapitalism, Utilitarianisme, Pragmatism dan Hedonisme”. Apa maksudnya?

Sederhana saja logikanya.

Background lagu itu berupa Video apa saja yang diputar berjalan mundur sampai batas dimana manusia memulai eksploitasinya terhadap alam dalam koridor kapitalisme dan pragmatisme. Maka terdapatlah pemandangan menakjubkan yang menggambarkan bagaimana limbah-limbah pabrik di sedot kembali ke dalam pabrik pembuang limbahnya. Tanaman-tanaman yang telah dibabat serta merta berdiri tegak kembali. Hutan-hutan yang gundul serta merta memperoleh kembali tanaman semula yang telah dibabat. Manusia-manusia yang telah mati mengalami kebangkitan bangun kembali menjadi dirinya semula yang belum terkontaminasi oleh dosa-dosa. Pipa-pipa, kawat-kawat saluran-saluran tergulung kembali dan tersedot kedalam pabrik pembuatnya. Dan pabrik-pabrik meluruh melepaskan bagian demi bagian sehingga tampaklah tanah subur semula seperti sebelum adanya pabrik. Alhasil, proses perjalanan mundur sampailah pada jaman atau saat manusia belum memulai melakukan perusakan dan eksploitasi besar-besaran terhadap alam. Tidak diketahui pasti kapan peristiwa itu, tetapi dapat dilogikakan bahwa itu tentulah bersamaan dengan mulai berkembangnya paham kapitalisme, utilitarianisme dan pragmatisme, serta dampaknya adalah hedonisme.

Dengan lagu Earth Song itu, kelihatannya Michael Jackson ingin membayangkan bagaimana indahnya jika pada saat itu bukanlah gerakan kapitalisme, utilitarianisme, pragmatisme dan hedonisme yang berkembang. Mungkin bisa dibayangkan masyarakat yang spiritualis, humanis atau menggali nilai nilai luhur budaya lokal, hidup harmonis, seimbang, rukun dan damai. Kepedulian spiritualitasnya mungkin dapat diidentifikasi dari usahanya pada akhir hayatnya untuk menjadi seorang Muslim.

Namun apalah artinya seorang Michael Jackson?. Tetapi yang menarik adalah bahwa dia adalah seorang artis humanis tentu mempunyai perasaan sensitifitas sampai tingkatan tertentu sehingga dia merasakan bagaiman dahsyatnya gerakan kapitalisme, utilitarianisme, pragmatisme dan hedonisme masyarakatnya. Tentu juga hanyalah orang-orang yang nuraninya masih sensitif pula yang mampu melihat fenomena pemberontakan Michael Jackson melalui nyanyiannya Earth Song. Sekali lagi apalah daya seorang diri Michael jackson? Sejarah membuktikan bahwa diapun pada akhirnya tertelan oleh gerakan yang dia lawannya sendiri itu.

Saya melihat masyarakatku juga sedang mengalami nasib yang sama. Saya berempati dengan Michael Jackson bukan karena gaya dan stylenya tetapi karena kesamaan sensitivitasnya dan kepekaannya terhadap masyarakatnya pada jamannya masing-masing. Seperti yang dialami oleh Michael Jackson, saya pun menyadari sedang tenggelam tertelan oleh ganasnya gerakan kapitalisme, utilitarianisme, pragmatisme dan hedonisme. Semoga Tuhan memberi kekuatan kepada diriku dan juga orang-orang yang menyadarinya. Amien.

Sekian, terimaksih.

Pendidikan Bukanlah Laskar, mungkinkah? Kelihatannya mustahil.

Oleh Marsigit, Yogyakarta

Pendidikan bukanlah laskar melainkan kebutuhan. Tetapi jangan salah paham. Pendidikan bukanlah kebutuhan para juragan, tetapi kebutuhan para subyek didik. Yang menjadi permasalahan adalah sejauh mana juragan dan godfather laskar pendidikan ikhlas menerima bahwa pendidikan adalah kebutuhan subyek didik? Tentu tidaklah semudah yang dipikirkan.

Ontologi laskar pendidikan dan jelmaan-jelmaannya

Kita mempunyai referensi banyak perihal terminologi “laskar”, ada laskar Pajang, laskar Pajajaran, laskar Mataram, dan laskar-laskar yang lain. Apapun tentang laskar, maka ada makna-makna pokoknya di sana.

Makna pokok dalam terminilogi “laskar” kemudian menjadi karakteristik ontologi laskar pendidikan.

Karakteristik ontologi laskar pendidikan kemudian dapat dideskripsikan sebagai berikut: terdapat pengerahan secara besar-besaran, diarahkan ke suatu tujuan tertentu, ada pengendali laskar, tujuan laskar bersifat tunggal, terdapat pergerakan masive secara linear ke depan, sangat fokus kepada hal-hal yang di depan, mengeksploitasi segenap sumber daya, arah komunikasi bersifat tunggal kedepan, kompetisi ketat, yang kalah yang tertinggal, yang kalah menjadi pecundang, yang menang yang berjaya, melindas dan melibas apa saja yang dilewati, sangat patuh (patuh buta) terhadap komando, tidak mampu melihat dan tidak perlu melihat persimpangan jalan, keberhasilan adalah keseluruhan, tidak perlu tanya jawab ketika sudah berangkat, bersifat kompetitif dari pada kooperatif, tidak kompromi terhadap laskar yang lain, lebih baik menggunakan cara dari pada mengerti cara, mementingkan hasil, paradigma menghancurkan musuh, tidak sempat melakukan refleksi, meninggalkan residu-residu laskar, memerlukan keseragaman gerak dan langkah, mempunyai pembagian tugas yang ketat, mempunyai kontrol yang kuat, tidak ada skema untuk kembali, ukuran bersifat lebih kuantitatif, seleksi sangat ketat, bersifat eksklusif, paradigma mengontrol dan menguasai dunia, bersifat real dan kongkret, bersifat mekanistis, terstruktur kuat, didominasi komunikasi kekuasaan,selaras dengan filsafat diterminism, selaras dengan filsafat vitalism, merupakan paradigma salah benar, anti fallibism, makna di luar pikiran, selaras dengan paradigma behaviorism, selaras dengan psikologi stimulus response, bercirikan external evaluation, bersifat monoculture, bersifat rigid, bersifat absolut, selaras dengan filsafat realism, didukung empiricism, merupakan tulang punggung utilitarian dan pragmatism, selaras dengan jargon investasi, menghasilkan hedonism, bersifat materialism, kebenaran diukur dari manfaat, kebenaran diukur dari kekuasaan, didukung metode trial and error, didukung metode logico empirical hypotetiko dan logico deductico hypotetico, lebih bersifat kuantitatif dari pada kualitatif, jati diri atau identitas diri tertutup oleh jati kelompok, anti relativism, bersifat arogan terhadap alam karena merasa bisa memanipulasikannya, laskar utilitarian, laskar pragmatism, laskar hedonism, laskar teknologi, laskar naturalis, masa depan adalah warisan orang tua dan bukanlah warisan cucu, neo empiricism, neo pragmatism, dikendalikan oleh para juragan dan pemodal, selaras dengan filsafat dan psichologi reductionism dan penyederhanaan, selaras dengan jargon karakter bangsa atau nation building, bersifat eksternal, wadah atau lambang terlebih dulu baru kemudian isinya jika memang terjangkau, social capital dan economy menjadi ukuran yang paling tinggi, kontrol ekonomi dari atas dan fakta ekonomi dari bawah, selaras dengan filsafat strukturalism, bermasyarakat struktur kekuasaan-struktur ekonomi–struktur eksploitasi, struktur masyarakat kedudukan-kepemilikan-kekuasaan-pemilik modal-pekerja dan buruh, berhukum sebab-akibat, selaras dengan feudalism dan masyarakat burgois, kerusakan tidak bisa diperbaharui, anti filsafat, berhadap-hadapan dengan humaniora, yang benar yang nyata dan yang terukur, spiritual merupakan tahapan primitif sedangkan teknologi merupakan tahapan maju, temuan baru adalah segala-galanya dibanding dengan akibatnya, pengetahuannya bersifat a posteriori, ilmunya bersifat naturewissenschaften, bersifat anti geisteswissenschaften, berlogika sistem input-proses-output, terinspirasi oleh Machiavelianism, bersumber pada filsafat positivism dari Auguste Comte dan St.-Simon, bersinergi dengan John Adam Smith, bersinergi dengan Karl Mark, dipengaruhi oleh Will to Power nya Nietze, disindir oleh Will dan Ideas nya Schopenhauer, didukung oleh William James, Ranke, Croce, Max Weber, and Meinecke, diprotes oleh Nihilismenya Paul Nietze dan Satre, diprotes oleh spiritualism, diprotes oleh idealism, diprotes oleh socio-constructivist, didukung oleh jargon atasan, diprotes oleh jargon bawahan, berorientasi hasil dan standard, ditentang oleh proses dan portfolio, bersinergi dengan penyeragaman, tidak berselera akan keanekaragaman, ontologi laskar pendidikan diberangkatkan dari negara-negara Industri, sasaran ontologi laskar pendidikan adalah negara-negara berkembang sampai ke ujung dunia beserta sumber dayanya, ontologi laskar pendidikan telah berangkat sejak jaman modern, di jaman sekarang ontologi laskar pendidikan semakin berjaya dan dominan.

Kesimpulan

Tidaklah mungkin juragan dan godfather ontologi laskar pendidikan ikhlas menerima bahwa pendidikan adalah kebutuhan subyek didik. Mereka lebih enjoy bahwa pendidikan adalah kewajiban-kewajib subyek didik. Jika tampaknya ikhlas maka itu hanyalah sementara dan tidaklah konsisten, demi menjaga situasi kondusif untuk lajunya ontologi laskar pendidikan.

Sunday, September 13, 2009

Mendidik Air Agar Mengerti Lubang Pipa

Oleh Marsigit, Yogyakarta

Air.

Itulah sifat hakiki yang ada di dalamnya. Sifat hakiki air itu maksudnya,
dia bisa digunakan oleh siapa saya, untuk apa saja, di mana saja, dan
kapan saja. Sifat hakiki air yang lain adalah sifat mengalir dari tinggi
ke rendah, membersihkan kotoran, mempunyai permukaan yang datar relatif
sesuai dengan gravitasi bumi, dapat berbentuk es atau uap, dst. Yang
menjadi persoalan adalah bagaimana mendidik air agar mengerti lubang pipa?
Untuk memahami lubang pipa maka kita bisa berpikir tentang pipa yang
berlubang.

Ada dua macam pipa, yaitu pipa pejal dan pipa berlubang. Maka makna lubang
pipa hanya terjadi pada pipa yang berlubang. Ada paling sedikit 2 lubang
pada pipa berlubang, yaitu pada ujung-ujungnya. Pertanyaannya adalah
bagaimana membayangkan pipa yang mempunyai lebih dari dua lubang? Maka
terdapatlah lubang yang lain selain pada ujung-uungnya, yaitu pipa yang
berlubang pada sisinya. Artinya, pipa berlubang yang berlubang pada
sisinya pastilah pipa yang bocor. Pipa demikian tidaklah dapat digunakan
untuk mengalirkan air secara sempurna dari ujung satu ke ujung yang
lainnya. Jika pipa demikian dipaksakan untuk mengalirkan air dari ujung
satu ke ujung yang, bagaimanakah mencegah air keluar dari pipa melalui
lubang pada sisinya, jika lubang pipa tersebut tidak ditutup? Jawabannya
adalah kita harus mendidik air agar tidak melalui lubang pada sisi pipa.

Persoalannya adalah bagaimana cara mendidik air agar mengerti bahwa dia
tidak boleh melalui lubang pada sisi pipa tersebut? Itulah sebuah
pertanyaan dimana saya yakin tidak satupun orang di dunia ini mampu
menjawabnya.

Kemana kemudian arah pembicaraan ini?

Itulah gambaran dari keadaan kekacauan pikir para petinggi pendidikan di
Indonesia untuk menjawab bagaimana peran pendidikan dalam memberi solusi
tentang berbagai persoalan masyarakat, bangsa dan negara. Gambaran tentang
pipa dan air di atas menunjukkan pola pikir yang aneh, kerdil, tak berdaya
tetapi bermotif tinggi, sempit, mekanistis, sehingga menghasilkan logika
yang kacau balau dengan kriteria kebenaran semu dan sesaat dan
berorientasi pragmatisme sempit. Logika itu mencari pembenaran bagaimana
mencegah air keluar dari lubang pipa tetapi dengan tidak harus menutup
lubang pipa. Maka terjadilah faith a comply terhadap air.

Air yang secara hakiki bersifat innocent tidak mempunyai kesalahan dan
dosa apapun ditimpakan kesalahan oleh sebuah lubang pada pipa. Itulah
logika yang tidak logis yaitu illogicism. Jika pada selama ini kita
mengenal logicism sebagai bapaknya logika, maka barang kali sekarang mulai
perlu dikembangkan gerakan illogicism. Demikianlah mungkin pemikiran
mereka (atau barang kali kita).

Mengapa hal ini bisa terjadi? Mungkin kita sudah mulai terlalu sibuk
dengan dunia yang kita ciptakan sendiri. Banyaknya produk, bangunan,
jalan-jalan, gedung, konstruksi phisik, konstruksi pikir dan konstruksi
jiwa, dan segala macam pola konsumerisme, barang kali telah meminggirkan
kita dari hati nurani yang jernih untuk melihat persoalan kebangsaan dan
kemasyarakatan dengan jernih pula. Sehingga muncullah pemikiran-pemikiran
dari para petinggi pendidikan dan petinggi bangsa, yang kadang-kadang
mengejutkan, aneh, illogical, bertentangan dengan hati nurani.

Korupsi itu adalah urusan para orang tua, mengapa para orang tua merasa
gerah dan menimpakannya (fait a comply) kepada generasi muda (anak-anak).
Bukankah para orang tua yang korup itu dapat disamakan dengan sebuah pipa
yang berlubang-lubang di sisinya. Maka sungguh aneh jika kemudian muncul
pemikiran untuk membuat kurikulum tentang korupsi bagi anak-anak sekolah.
Anak-anak sekolah adalah air yang belum mempunyai dosa apapun terhadap
para perilaku orang tua yang korup.

Untung besar dan rugi besar dalam perdagangan pasar bebas dan persaingan
bebas itu adalah urusan para pengusaha besar, urusan para politisi, tetapi
mengapa mereka itu menimpakannya (fait a comply) kepada generasi muda
(anak-anak). Maka sungguh aneh dan bertentangan dengan hati nurani jika
mereka kemudian tergopoh-gopoh ingin membuat kurikulum agar para siswa
dapat mempersiapkan diri mencari keuntungan sebesar-besarnya di pasar
bebas. Anak-anak sekolah adalah air yang belum mempunyai dosa apapun
terhadap perilaku dan kerugian yang diderita oleh para pengusaha besar.

Demikianlah seterusnya, semakin hari semakin terdengar pikiran-pikiran
aneh produk pragmatisme sempit untuk selalu menimpakan segala
dosa-dosanya terhadap air generasi muda yang tak berdaya dan belum
berdosa.

Maka janganlah kaget jika diwaktu-waktu mendatang ada pemikiran bahwa
untuk pendidikan dasar perlu dimasukkan misalnya kurikulum tentang
narkoba, kurikulum terorisme, kurikulum pasar bebas, kurikulum TKW,
kurikulum TKI, kurikulum juara olimpiade, kurikulum lumpur lapindo
brantas, kurikulum gampa bumi, kurikulum kemacetan jalan raya, kurikulum
pemilu, kurikulum pilkada, kurikulum DPR, kurikulum MPR, kurikulum
ambalat, kurikulum pengemis, kurikulum harga bbm, kurikulum huru hara,
kurikulum tawuran, kurikulum orang tua tidak boleh terkena dosa dan
kesalahan, kurikulum orang muda sebaiknya tak usahlah mengetahui hak dan
kewajiban, dst..dst.

Demikianlah pesanku, maka kuatkanlah wahai hati dan jiwa generasi muda
atas perilaku para orang tuamu yang tidak santun dan ambivalen terhadap
dirimu. Tetap dan jagalah hakekat dirimu sebagai hakekat air, dan jaganlah
tergoda oleh bujuk rayu lobang-lobang pipa dengan segala dosa-dosanya.
Janganlah meniru jejak-jejak mereka. Belajarlah dan tentukanlah jejakmu
sendiri untuk generaimu kelak dikemudian hari. Amien

Terimakasih

Thursday, September 10, 2009

Some Problems in the Effort of Promoting Innovations of Teaching Learning Practice: Reflection of Peer Teaching activities of Teachers’ Certification

By Marsigit, Yogyakarta

The identification of the problems comes from some cases: pre-service
teacher training programs, teacher certification program through training,teacher certification program trough course. The main problem is how to
promote innovative teaching learning processes. The promotion means
to move teacher centered of teaching to students centered. In the
implementation to peer teaching, the identified problems are as follows:
1) how to involve the students from the very early of teaching learning
processes, 2) how to facilitate all students with all their different
characteristics, 3) how to develop students work sheet, 4) how to develop
the structure of teaching learning, 5) how to develop the schema for
interaction, 6) how to develop the scheme for achieving students'
competencies, 7) how to develop supporting teaching aids, 8) how to
develop teaching material, 9)and how to develop Lesson Plan?

It was indicated that the teacher has difficulty how to encourage the
engagement of their students. Usually, from the start of their teaching
the teachers employ greatly on their expository to introduce, to inform,
to consolidate and to explain. So from the beginning of the lesson the
students are always in the passive position. The affects of the situation
is then clearly to be identified that the teachers are characterized as to
dominate the initiation, to dominate the activities, end even to dominate
the creativity. For the higher achievement students the teacher suggests
them to wait the others; and for the lower achievement students the
teacher tends to encourage them un-proportionally. The teacher develops
students’ work sheet in a single form and it mostly as a collection of
problems. Group discussions to be promoted are usually characterized as
pseudo-group means that while the teacher let the students work in the
groups, the teachers are still delivering their explanation to the whole
class.

The structure of teaching is in the schema of introduction, content and
closing remark. However, the teachers have not had a clear schema how to achieve students' competencies and how to develop the schema of
interaction as well. The reference for developing teaching aids and
teaching material is still limited so that the teachers seemed to have
difficulties to develop them. The most crucial thing is that teachers'
perception not to pay seriously on Lesson Plan preparation. Most of the
teachers prepare a very simple form of Lesson Plan that mostly they are
expected by the supervisor, head teachers as well as the local government
of education.

Having finished doing activities of Peer Teaching, the teachers seemed to
be trapped in the dilemma between the idea of good practice of teaching
and practical implementation in the fields. Most of the teachers indicated
that the ideas of good practice of teaching are difficult to be
implemented because there are still many constraints in the field. The
constraints come from the atmosphere of schooling, headmaster perceptions,
supervisor perceptions, and national policy on final examination.

Thank’s

Monday, September 7, 2009

Wajah dan Raport Pendidikan Indonesia (di tinjau dari usaha mempromosikan pendidikan yang lebih demokratis)

Oleh Marsigit

Negara Indonesia terlalu besar untuk dipikirkan secara parsial. Negara Indonesia terlalu luas untuk dipikirkan secara sektoral. Negara Indonesia terlalu kompleks untuk dipikirkan oleh hanya beberapa orang. Dan negara Indonesia terlalu agung untuk dilihat hanya dari beberapa sudut pandang saja. Pancasila adalah cita-cita luhur bangsa. Demokrasi Pancasila adalah visi kebangsaaan Indonesia, walaupun kelihatannya gaungnya kurang begitu membahana, bahkan sebagian segmen masyarakat tampak agak gamang dengannya.

Tetapi baiklah, asumsikan bahwa kita memang tidak gamang, artinya memang kita berketetapan bahwa visi kebangsaan Indonesia itu ya Demokrasi Pancasila, maka kita bisa melakukan analisis deduktif, bahwa visi demikian seyogyanya menjiwai segenap aspek berkehidupan berkebangsaan dan berkenegaraan Indonesia. Maka visi pendidikan nasional juga harus bernafaskan demokrasi Pancasila, walaupun kelihatannya hal yang demikian juga mungkin terdapat segmen masyarakan yang masih agak gamang.

Tetapi baiklah, asumsikan bahwa kita memang tidak gamang bahwa pendidikan nasional seharusnya mempunyai visi demokrasi Pencasila, maka kitapun bisa melakukan analisis deduktif yaitu bahwa setiap aspek implementasi pada bagian dan subbagian pendidikan nasional juga harus dijiwai oleh semangat Demokrasi Pancasila. Jika kita secara konsisten bisa melakukan kegiatan analisis demikian maka hasil-hasil analisis tersebut dapat digunakan untuk refleksi diri kita seperti apakah wajah, tubuh, lengan dan kaki-kaki pendidikan nasional kita?

Gambaran tentang diri wajah, tubuh, lengan dan kaki-kaki pendidikan nasional akan tampak lebih jelas lagi manakala kita melakukan analisis hal yang sama untuk kasus-kasus yang paralel diluar sistem Demokrasi Pancasila. Yang terakhir tentunya semata-mata digunakan sebagai cross-check agar analisis bersifat obyektif dan hasilnya bersifat valid. Kegiatan analisis demikian setidaknya dilandasi beberapa asumsi dasar sebagai berikut.

Suatu sistem yang sehat adalah sistem yang mempunyai:
1) obyek material dan obyek formal sekaligus,
2)struktur yang jelas dan bersifat terbuka yang menggambarkan bentuk wajah, tubuh, lengan dan kaki-kaki secara jelas pula,
3)hubungan yang jelas antara komponen dalam struktur,
4) konsisten antara hubungan yang satu dengan yang lain baik hubungan secara substantial maupun hubungan secara struktural,
5) didukung oleh pelaku-pelaku dan komponen yang sesuai baik secara hakikinya, pendekatannya maupun ditinjau dari aspek kemanfaatannya,
6)peluang bagi segenap komponen yang ada untuk saling belajar dan dipelajari,
7) bersifat kompak dan komprehensif,
8) menggambarkan perjalanan sejarah waktu lampau, sekarang dan yang akan datang,
9) serta menampung semua aspirasi dan keterlibatan subyek dan obyek beserta segala aspeknya.

Dengan berbekal visi yang ada, pendekatan analisis, dan ideal dari suatu sistem yang baik, dan referensi yang ada, marilah kita mencoba melihat dan merefleksikan bentuk tubuh pendidikan nasional kita.

1) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka pandangan tentang keilmuan seyogyanya mempromosikan kreativitas serta merupakan bagian dari pengembangan masyarakat pada umumnya. Sementara pendidikan nasional kita belum mencapai keadaan demikian. Pandangan keilmuan yang ada masih bersifat ego of the body of knoledge, ego of the structure of knowledge, dan ego of the structure of knowledge. Pada point ini, maka analisis saya, jika diwujudkan dalam bentuk angka, baru memberikan nilai 4 (empat) pada rentang 10.

2) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka pandangan tentang value haruslah menuju ke keadilan dan kemerdekaan berpikir serta mendorong pengembangan aspek-aspek humanity. Praktek pendidikan kita masih terjebak pada dikotomi baik-buruk, tetapi kita kurang terampil mengisi interval di dalamnya. Praktek pendidikan cenderung semakin bersifat pragmatis dalam konteks hirarkhi paternalistik. Hirarkhi paternalistik itu akan lebih baik jika dia bersifat idealistic hierarchy paternalistic. Untuk poin ini saya memberi angka 5 (lima)

3) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka harus mendorong diadakannya inovasi atau perubahan secara terus menerus di segala aspeknya semata-mata demi kesejahteraan semua warga. Sementara system pendidikan kita cenderung tersedot oleh magnet dari market oriented dalam konteks hierarkhy-hierarkhy. Akibatnya nuansa pragmatis semakin menggejala bersamaan dengan erosinya nilai-nilai idealis para pelakunya. Untuk point ini saya memberi nilai 5 (lima)

4) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka kita harus mendorong mendorong partisipasi subyek pendidikan. Sementara di grass-root kita menemukan bahwa ketakberdayaan subyek didik dan dominasi pendidik secara terstruktur dan bersifat masif. Untuk point ini saya memberi nilai 3 (tiga)

5) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka harus mendorong mengembangkan aspek budaya masyarakat dan mengfungsikan pendidikan sebagai system pelayanan terhadap kebutuhan masyarakat akan pendidikan. Kebutuhan masyarakan hendaknya diartikan secara mendalam dan seluas-luasnya, termasuk paradigma bahwa subyek didik itulah sebenar-benar yang membutuhkan pendidikan.Untuk point ini saya menilai 3 (tiga)

6) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka tujuan pendidikan seyogyanya meliputi usaha-usaha mengembangkan masyarakat dan kehidupan seutuhnya secara komprehensif. Implementasi seyogyanya secara komprehensif dan konsisten. Untuk ini saya menilai 7 (tujuh)

7) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka kita perlu mempromosikan komunikasi multi arah dan kemandirian. Untuk point ini saya menilai 5 (lima)

8) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka kita perlu mempromosikan lingkungan kehidupan sosial kemasyarakatan sebagai konteks praktik kependidikan. Untuk poin ini saya menilai 4 (empat).

9) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka kita perlu mengembangkan sistem evaluasi yang bersifat terbuka dan berbasis pada pelaku pendidikan. Evaluasi pendidikan hendaknya berdasar kepada catatan atau portfolio yang menunjukkan tidak hanya hasil tetapi juga proses. Evaluasi pendidikan juga hendaknya bersifat komprehensif dengan mengukur mencatat semua aspek kemampuan pelaku. Untuk point ini saya memberi nilai 4 (empat).

10) Jika kita ingin mempromosikan pendidikan lebih demokratis maka kita perlu mempromosikan aspek multi budaya sebagai kakayaan yang perlu dikembangkan. Otonomi daerah dan desentralisasi perlu ditempatkan dalam kedudukan yang proporsional. Untuk poin ini saya menilai 6 (enam)

Rata-rata penilaian saya terhadap sistem pendidikan kita dilihat dari segi promosi pendidikan yang bersifat demokratis adalah

(4+5+5+3+3+7+5+4+4+6)/10 = 5 (lima)

Kesimpulan:

Dengan nilai 5, maka kesimpulan saya terhadap wajah sistem pendidikan kita adalah sebagai berikut:

1. Dapat dimengerti masih banyaknya persoalan-persoalan yang perlu dipikirkan baik secara substansial maupun pada implementasinya.
2. Sistem pendidikan kita belum menggambarkan wajah dan tubuh yang konsisten bagi dipromosikannya pendidikan yang lebih demokratis. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor baik yang mandasar maupun oleh para pelaku kependidikannya.
3. Namun, masih terdapat harapan besar agar sistem pendidikan kita kedepan mampu memberikan nuansa pendidikan yang demokratis.

Tuesday, September 1, 2009

JHS Math Forum: Grade VII Decimal

Thursday, August 27, 2009

JHS Math Forum: Grade VII The Measure of Angle


Jika

JHS Math Forum: Grade VII Definition of Angle

JHS Math Forum: Grade VII Gross, Tare and Net

JHS Math Forum: Grade VII Definition of Scale

JHS Math Forum: Grade VII Discount and Rebate

JHS Math Forum: Grade VII Estimating the Result of Fraction Operation



Do you need to discuss about the Philosophy of (Mathematics) Education?

By Marsigit
Yogyakarta State University

Following are the instruments by which you may discuss about the philosophy of (mathematics) education. Created by Marsigit (2009) in the adaption of Paul Ernest work's.

--------------------------------------------------------------------------------------------
Activity 1: Ideology of Education
Objective: Understanding various ideology of education
Materials: Posed problems or questions, handout and supporting references
Method : Group Discussion
Question/Problem:

Followings are various ideologies of education:

Radical
Conservative
Liberal Humanist
Progressive
Socialist
Democracy


Discuss its implication to mathematics teaching practice? Which one of them is the most favorable for you and your teaching? Explain.


--------------------------------------------------------------------------------------------
Activity 2: Nature of Education
Objective: Understanding various nature of education
Materials: Posed problems or questions, handout and supporting references
Method : Group Discussion
Question/Problem:

Followings are various natures of education:

Obligation
Preserving
Exploiting
Transforming
Liberating
Needs
Democracy
Others


Discuss its implication to mathematics teaching practice? Which one of them is the most favorable for you and your teaching? Explain.



--------------------------------------------------------------------------------------------
Activity 3: The Nature of Mathematics
Objective: Understanding the nature of mathematics
Materials: Posed problems or questions, handout and supporting references
Method : Group Discussion
Question/Problem:

Followings are various natures of mathematics:

Body of Knowledge
Science of truth
Structure of truth
Process of Thinking
Social Activities


Discuss its implication to mathematics teaching practice? Which one of them is the most favorable for you and your teaching? Explain.



--------------------------------------------------------------------------------------------
Activity 4: The Nature of School Mathematics
Objective: Understanding the nature school of mathematics
Materials: Posed problems or questions, handout and supporting references
Method : Group Discussion
Question/Problem:

Followings are various natures of school mathematics:

Search for pattern and relation
Problems Solving
Investigation
Research
Communication


Discuss its implication to mathematics teaching practice? Which one of them is the most favorable for you and your teaching? Explain.



--------------------------------------------------------------------------------------------
Activity 5: Moral of Mathematics Education
Objective: Understanding and implementing the moral value of math education
Materials: Posed problems or questions, handout and supporting references
Method : Group Discussion
Question/Problem:

Followings are various moral of mathematics education:

Good vs Bad
Pragmatism
Hierarkhies
Paternalistics
Humanity
Justice
Freedom
Others


Discuss its implication to mathematics teaching practice? Which one of them is the most favorable for you and your teaching? Explain.



--------------------------------------------------------------------------------------------
Activity 6: Value Mathematics Education
Objective: Understanding and implementing the value of math education
Materials: Posed problems or questions, handout and supporting references
Method : Group Discussion
Question/Problem:

Followings are various values of mathematics education:

Intrinsic
Extrinsic
Systemic


Discuss its implication to mathematics teaching practice? Which one of them is the most favorable for you and your teaching? Explain.


--------------------------------------------------------------------------------------------
Activity 7: The Nature of Students
Objective: Understanding the nature of students
Materials: Posed problems or questions, handout and supporting references
Method : Group Discussion
Question/Problem:

Followings are various natures of students:

Empty Vessel
Character Building
Creativity
Growing like a seed
Constructing
Others


Discuss its implication to mathematics teaching practice? Which one of them is the most favorable for you and your teaching? Explain.



--------------------------------------------------------------------------------------------
Activity 8: The Nature of Students’ Ability
Objective: Understanding the nature of students’ ability and its implication
Materials: Posed problems or questions, handout and supporting references
Method : Group Discussion
Question/Problem:

Followings are various natures of students’ ability:

Talent
Given
Effort
Need
Competency
Culture
Contextual
Others


Discuss its implication to mathematics teaching practice? Which one of them is the most favorable for you and your teaching? Explain.



--------------------------------------------------------------------------------------------
Activity 9: The Aim of Mathematics Education
Objective: Understanding the aim of mathematics education
Materials: Posed problems or questions, handout and supporting references
Method : Group Discussion
Question/Problem:

Followings are various aims of mathematics education:

Back to Basic (Arithmetics)
Certi-fication
Transfer of knowledge
Creativity
To develop people comprehensively


Discuss its implication to mathematics teaching practice? Which one of them is the most favorable for you and your teaching? Explain.



--------------------------------------------------------------------------------------------
Activity 10: Nature of Learning
Objective: Understanding theory of learning and its implication
Materials: Posed problems or questions, handout and supporting references
Method : Group Discussion
Question/Problem:

Followings are various theories of learning:

Work Hard
Exercises, Drill
Memorize
Thinking And practice
Understanding and Application
Exploration
Discussion
Autonomy
Self


Discuss its implication to mathematics teaching practice? Which one of them is the most favorable for you and your teaching? Explain.



--------------------------------------------------------------------------------------------
Activity 11: Nature of Teaching
Objective: Understanding the theory of teaching and its implication
Materials: Posed problems or questions, handout and supporting references
Method Group Discussion
Question/Problem:

Followings are various theories of teaching:

Transfer of knowledge
External Motivation
Internal Motivation
Construction
Discussion
Investigation
Development
Facilitating
Expository


Discuss its implication to mathematics teaching practice? Which one of them is the most favorable for you and your teaching? Explain.



--------------------------------------------------------------------------------------------
Activity 12: Theory of Teaching Mathematics
Objective: Understanding the theory of teaching mathematics and its implication
Materials: Posed problems or questions, handout and supporting references
Method : Group Discussion
Question/Problem:

Followings are various theories of teaching mathematics:

Expository
Problem Solving Memorize
Drill
Discussion
Practical Work
Development
Facilitating


Discuss its implication to mathematics teaching practice? Which one of them is the most favorable for you and your teaching? Explain.



--------------------------------------------------------------------------------------------
Activity 13: The Nature of Teaching Learning Resources
Objective: Understanding the nature of teaching learning resources
Materials: Posed problems or questions, handout and supporting references
Method : Group Discussion
Question/Problem:

Followings are various natures of teaching learning resources:

White Board,
Chalk,
Anti Calculator
Teaching Aid
Visual Teaching Aid for motivation
Various resources/ environment
Social
Environment


Discuss its implication to mathematics teaching practice? Which one of them is the most favorable for you and your teaching? Explain.



--------------------------------------------------------------------------------------------
Activity 14: The Nature of Assessment
Objective: Understanding the nature of assessment and its implication
Materials: Posed problems or questions, handout and supporting references
Method : Group Discussion
Question/Problem:

Followings are various natures of assessment:

External Test
Portfolio
Social
Contextual

Discuss its implication to mathematics teaching practice? Which one of them is the most favorable for you and your teaching? Explain.

--------------------------------------------------------------------------------------------
Activity 15: The Nature of Society
Objective: Understanding the nature of society and its implication
Materials: Posed problems or questions, handout and supporting references
Method : Group Discussion
Question/Problem:

Followings are various natures of society:

Diversity
Monoculture
Desentralisation
Competency
Multiple Solution
Heterogonomous
Social Capital
Local Culture


Discuss its implication to mathematics teaching practice? Which one of them is the most favorable for you and your teaching? Explain.


--------------------------------------------------------------------------------------------
Activity 16: The Nature Curriculum
Objective: Understanding the nature of curriculum and its implication
Materials: Posed problems or questions, handout and supporting references
Method : Group Discussion
Question/Problem:

Followings are various natures of curriculum:

Instrument
Curriculum
Subject-based Curriculum
Integrated Curriculum
Knowledge Based Curriculum
Competent-based Curriculum
Individual Curriculum
Interactive Curriculum
ICT Based Curriculum


Discuss its implication to mathematics teaching practice? Which one of them is the most favorable for you and your teaching? Explain.
--------------------------------------------------------------------------------------------
Activity 17: The Nature Students’ Learn Mathematics
Objective: Understanding the nature of students’ learn mathematics
Materials: Posed problems or questions, handout and supporting references
Method : Group Discussion
Question/Problem:

Followings are various natures of students’ learn mathematics:

Individual
Competition
Motivation
Readiness
Scaffolding
Collaborative
Constructing
Contextual
Enculturing


Discuss its implication to mathematics teaching practice? Which one of them is the most favorable for you and your teaching? Explain.

--------------------------------------------------------------------------------------------
Activity 18: The Nature Mathematical Thinking
Objective: Understanding the nature of mathematical thinking
Materials: Posed problems or questions, handout and supporting references
Method : Group Discussion
Question/Problem:

Followings are various natures of mathematical thinking:

Subyective
Obyective
Producing
Reflecting
Critizising
Constructing
Social Activity
Atittude
Content
Method
Conjecture
Embodiment

Discuss its implication to mathematics teaching practice? Which one of them is the most favorable for you and your teaching? Explain.

Philosophical Ground of Human Resources Development: Its implication to Educational Change

By Marsigit
Yogyakarta State University

a.Human Resources Development

According to Swanson, R.A. and Holton III, E.F. (2009) the philosophical ground of human resources development covers:
(1) a shift to the human resources school of thought,
(2) the growth of laboratory training,
(3) the use of survey research and feedback,
(4) an increased use of action research (problem-solving) techniques,
(5) an acknowledgment of socio-technical systems and quality of work life, and
(6) a new emphasis on strategic change. Further, they suggested that devel¬oped mostly in response to serious concerns about the viability of traditional and bureaucratic organizations, the human relations model attempted to move away from these classical assumptions and focused more heavily on individual iden¬tities, their needs, and how to facilitate stronger interpersonal communication and relationships.
Accordingly, much of the concepts of human resources development are currently focusing on the increase of the effective¬ness of strategic change. The use of open-systems planning was one of the first applications of strategic change methods. An educational institutions’ demand and response systems could be described and analyzed, the gaps reduced, and performance improved.
In the case of education, this work represents a shift in teachers’ professional development away from a sole focus on the individual, and the supporting assumption that it is completely mediated through individuals, to a more holistic and open sys¬tems view of educational institution. This shift continues to this day and is evidenced in key revelations stemming from strategic change work including the importance of educational leadership support, multilevel involvement, and the criticality of alignment between organizational strategy, structure, culture, and systems (ibid)
b.Managing Educational Change
Fullan (1982, 1991) proposed that there are four broad phases in the educational change process: initiation, implementation, continuation, and outcome.
1)Initiation
The factors that affecting the initiation phases include: existence and quality of innovations, access to innovations, advocacy from central administration , teacher advocacy, and external change agents
2)Implementation
Three areas of the major factors affecting implementation: characteristics of change, local characteristics and external factors (government and other agencies). They identified different stakeholders in local, and federal and governmental levels. They also identified characterizations of change to each stakeholder and the issues that each stakeholder should consider before committing a change effort or rejecting it.
3)Characteristics of Change
Fullan (1999) characterized educational changes and their factors at different levels as follows:
Characteristics of Change
•Need of change
•Clarity about goals and needs
•Complexity: the extent of change required to those responsible for implementation
•Quality and practicality of the program
Local factor
•The school district
•Board of community
•Principal
•Teacher
External factor
•Government and other agencies
4)Continuation/ Sustainability
According to Fullan (1999), continuation is a decision about institutionalization of an innovation based on the reaction to the change, which may be negative or positive. Continuation depends on whether or not:
a)The change gets embedded/built into the structure (through policy/budget/timetable)
b)The change has generated a critical mass of administrators or teachers who are skilled and committed to change.
c)The change has established procedures for continuing assistance
Fullan (1999) pointed out the importance of the recognition that the educational change process is complex. To deal with such complexity is not to control the change, but to guide it. He provides eight new lessons about guiding educational change:
a)Moral purpose is complex and problematic
b)Theories of education and theories of change need each other
c)Conflict and diversity are our friends
d)Understanding the meaning of operating on the edge of chaos
e)Emotional intelligence is anxiety provoking and anxiety containing
f)Collaborative cultures are anxiety provoking and anxiety containing
g)Attack incoherence connectedness and knowledge creation are critical
h)There is no single solution. Craft your own theories and actions by being a critical consumer.

References:

Fullan, M., 2002, Leading and Learning for the 21stC Vol 1 No. 3 - January 2002Furlong, J., 2002, Ideology and Reform in Teacher Education in England:
Some Reflections on Cochran-Smith and Fries. Retrieved

Swanson, R.A. and Holton III, E.F., 2009, Foundation of Human Resources Development
: Second Edition, Berrett-Kohler Publisher Inc.

The Nature of Teaching Learning Resources

By Marsigit
Yogyakarta State University

John Munchak (2004) indicated that in order to provide lessons that are both engaging and challenging to each individual, it is necessary to know the students as people. Each individual will come to my class with their own set of abilities, motivations, attitudes, goals, and cultural background. Further he stated the following:
“Getting to know these various facets of my students will allow me to excel as a teacher because I can tap into their talents, resources, and knowledge to make the classroom more interesting, dynamic, and personal. Establishing a familiar bond and some trust between me and the students, as well as among the students themselves, contributes to a safe and caring learning environment. Learning their interests, the activities they enjoy, their academic strengths and weaknesses, their future plans and motivations informs how I will teach each individual. This personal information is important in order to differentiate learning in a classroom with students of various levels of motivation, career goals, and academic abilities. Caring for my students means I will "honor their humanity, hold them in high esteem, expect high performance from them, and use strategies to fulfill their expectations"

Related to the resources of teaching, Ernest (1991) suggested that due to the learning should be active, varied, socially engaged and self-regulating, the theory of resources has three main components :
(1)the provision of a wide variety of practical resources to facilitate the varied and active teaching approaches;
(2)the provision of authentic material, such as newspaper, official statistics, and so on for socially relevant and socially engaged study and investigation; and
(3) the facilitation of student self-regulated control and access to learning resources.


The nature of teaching learning resources can be perceived differently by different doer of teaching practice in their context of society; and they are closely related to their ideology and philosophy of education. The map created by Paul Ernest indicated how different perception of the nature of teaching learning resources as an implication of its ideology of teaching. The perception stretches from just to have chalk and paper, teaching aids, students' creativity, teachers' creativity, schools' environment, and its whole society.

References:
........., 2009, Nature of the Students, Going to a public school, New South Wales,
Department of Education and Training. Retrieved 2009 nsw.edu.au/gotoschool/highschool/transitions/natureofstud/index.php>

Brown, T., 1997, Mathematics Education and Language: Interpreting Hermeneutics and
Post-Structuralism. Kluwer Academic Publisher: Dordrecht

Cockroft, H. W., 1982, Mathematics counts : Report of the Committee of Inquiry into the Teaching of Mathematics in School under the Chairmanship of Dr. W H Cockroft, London : Her Majesty's Stationery Office.

Ebbutt, S. and Straker, A., 1995, Mathematics in Primary Schools Part I: Children and Mathematics. Collins Educational Publisher Ltd.: London

Ernest, P., 1994, Mathematics, Education and Philosophy: An International Perspective. The Falmer Press: London.

Ernest, P., 2002, What Is The Philosophy Of Mathematics Education?
Paul Ernest University of Exeter, United Kingdom. Retrieved organisers.dk/dg04/contributions/ernest.pdf>

Ernest, P., 2007, Mathematics Education Ideologies And Globalization. Retrieved


Fullan, M., 2002, Leading and Learning for the 21stC Vol 1 No. 3 - January 2002

Furlong, J., 2002, Ideology and Reform in Teacher Education in England:
Some Reflections on Cochran-Smith and Fries. Retrieved

Glenn, A., 2009, Philosophy of Teaching and Learning "Your job as a teacher is to make every single student feel like a winner”. Retrieved

Grouws, A. D. and Cooney, J. T., 1988, Effective Mathematics Teaching : Volume 1, Virginia : The NCTM, Inc.

Hartman, 1945, Validity Studies Of The Hartman Profile Model, Ai, Axiometrics
International, Inc. Retrieved 2007< http://www.google.com>

Jaworski, B., 1994, Investigating Mathematics Teaching : A Constructivist Enquiry, London : The Falmer Press.

Orton, A. and Wain, G., 1994, Issues in Teaching Mathematics, London : Cassell.
Runes, D.D.,1942, Dictionary of Philosophy. Retrieved 2007 index.html>

Swanson, R.A. and Holton III, E.F., 2009, Foundation of Human Resources Development
: Second Edition, Berrett-Kohler Publisher Inc.

The Nature of Teaching Learning Processes

By Marsigit
Yogyakarta State University

Some students learn best when they see what is being taught, while others process information best auditorily. Many will prefer movement or touching to make the learning process complete. The best approach to learning styles is a multisensory approach. This type of environment allows for children, who are primarily kinesthetic or motor learners, to be able to learn through touch and movement; it allows the visual learner to see the concept being taught, and the auditory learner to hear and verbalize what is being taught. Ideally, the best learning takes place when the different types of processing abilities can be utilized. Constructivists have focused more on the individual learner’s understanding of mathematical tasks which they face (von Glasersfeld, 1995 in Brown, 1997).
Educationists use the terms 'traditional' and 'progressive' as a shorthand way of characterizing educational practices. The first is often associated with the terms 'classical/ whole class', 'direct', 'transmission', 'teacher-centred/subject-centred', 'conventional', or 'formal'; and the second is sometimes associated with the terms 'individual', 'autonomy', 'constructive', 'child-centred', 'modern', 'informal', and/or 'active learning'. The lack of any clear definition of what the terms mean is one of the sources of misleading rhetoric of the practices. Bennett (1976) found evidence that the loose terms 'traditional' and 'progressive' are symbolic of deep conflicts about some of the aims of education. The main sociological point is that the terms 'progressive' and 'traditional' are emotionally loaded but lack any consensual meaning among practitioners or researchers (Delamont, 1987). He found that, in the UK, ever since 1948 there has been a division between those exposing traditional and progressive ideals, and that feelings about these ideals are bitter and vehemently held. Then, since 1970, there have been some investigations on how the teachers' behaviors attributed by the term of 'traditional' or 'progressive'. The most persuasive prescriptive theory of teaching was that reflected in the Plowden Report (1967) which, influenced by the educational ideas of such theorists as Dewey and Froebel, posited a theory of teaching which distinguished between progressive and traditional teachers.
Specifically, Paul Ernest (1994) elaborated issues of mathematics education as follows:
a. Mathematical pedagogy - problem solving and investigational approaches to mathematics versus traditional, routine or expository approaches? Such oppositions go back, at least, to the controversies surrounding discovery methods in the 1960s.
b. Technology in mathematics teaching – should electronic calculators be permitted or do they interfere with the learning of number and the rules of computation? Should computers be used as electronic skills tutors or as the basis of open learning? Can computers replace teachers, as Seymour Papert has suggested?
c. Mathematics and symbolization – should mathematics be taught as a formal symbolic system or should emphasis be put on oral, mental and intuitive mathematics including child methods?
d. Mathematics and culture – should traditional mathematics with its formal tasks and problems be the basis of the curriculum, or should it be presented in realistic, authentic, or ethnomathematical contexts?”


The current and future challenges of (mathematics) education is how to innovate traditional teaching into innovative teaching; in which, traditional teaching is characterized as teacher centered, teacher delivering method, teachers' domination of initiation, direct teaching, strong controlled teaching. And progressive teaching is characterized as students' centered teaching in which the students will take over their role in learning.

References:

........., 2009, Nature of the Students, Going to a public school, New South Wales,
Department of Education and Training. Retrieved 2009 nsw.edu.au/gotoschool/highschool/transitions/natureofstud/index.php>

Brown, T., 1997, Mathematics Education and Language: Interpreting Hermeneutics and
Post-Structuralism. Kluwer Academic Publisher: Dordrecht

Cockroft, H. W., 1982, Mathematics counts : Report of the Committee of Inquiry into the Teaching of Mathematics in School under the Chairmanship of Dr. W H Cockroft, London : Her Majesty's Stationery Office.

Ebbutt, S. and Straker, A., 1995, Mathematics in Primary Schools Part I: Children and Mathematics. Collins Educational Publisher Ltd.: London

Ernest, P., 1994, Mathematics, Education and Philosophy: An International Perspective.The Falmer Press: London.

Ernest, P., 2002, What Is The Philosophy Of Mathematics Education?
Paul Ernest University of Exeter, United Kingdom. Retrieved organisers.dk/dg04/contributions/ernest.pdf>

Ernest, P., 2007, Mathematics Education Ideologies And Globalization. Retrieved


Furlong, J., 2002, Ideology and Reform in Teacher Education in England:
Some Reflections on Cochran-Smith and Fries. Retrieved

Glenn, A., 2009, Philosophy of Teaching and Learning "Your job as a teacher is to make every single student feel like a winner”. Retrieved

Grouws, A. D. and Cooney, J. T., 1988, Effective Mathematics Teaching : Volume 1, Virginia : The NCTM, Inc.

Jaworski, B., 1994, Investigating Mathematics Teaching : A Constructivist Enquiry, London : The Falmer Press.

Orton, A. and Wain, G., 1994, Issues in Teaching Mathematics, London : Cassell.
Runes, D.D.,1942, Dictionary of Philosophy. Retrieved 2007

Swanson, R.A. and Holton III, E.F., 2009, Foundation of Human Resources Development
: Second Edition, Berrett-Kohler Publisher Inc.

The Nature of Mathematics Education Aim

By Marsigit
Yogyakarta State University

Philosophically, the aims of mathematics education stretch from the movement of back to basic of arithmetics teaching, certification, transfer of knowledge, creativity, up to develop students understanding. Once upon a time, a mathematics teacher delivered his notion that the objective of his mathematical lesson was to use better mathematical, more advance terminology and to grasp a certain concept of mathematics. Other teacher claimed that the objective of his mathematical lesson was to achieve notions stated in the syllabi. While others may state that his aim was to get true knowledge of mathematics. So the purpose of mathematics education should be enable students to realize, understand, judge, utilize and sometimes also perform the application of mathematics in society, in particular to situations which are of significance to their private, social and professional lives (Niss, 1983, in Ernest, 1991). Accordingly, the curriculum should be based on project to help the pupil's self-development and self-reliance; the life situation of the learner is the starting point of educational planning; knowledge acquisition is part of the projects; and social change is the ultimate aim of the curriculum (Ernest, 1991).
Implicitly, Ernest (1995) outlined that the nature of the aim of mathematics education depends on its ideology and philosophy of mathematics education. The aims of mathematics education are different among the ideology of mathematics: industrial trainer, humanism society, progressive teaching or education for all.

References:
Ernest, P., 1994, Mathematics, Education and Philosophy: An International Perspective. The Falmer Press: London.

Ernest, P., 2002, What Is The Philosophy Of Mathematics Education?
Paul Ernest University of Exeter, United Kingdom. Retrieved organisers.dk/dg04/contributions/ernest.pdf>

Ernest, P., 2007, Mathematics Education Ideologies And Globalization. Retrieved

The Nature of Students Learn Mathematics

By Marsigit
Yogyakarta State University


Understanding the nature and characteristics of young adolescent development can focus effort in meeting the needs of these students. The National Middle School Association (USA, 1995) identified the nature of students in term of their intellectual, social, physical, emotional and psychological, and moral. Young adolescent learners are curious, motivated to achieve when challenged and capable of problem-solving and complex thinking. There is an intense need to belong and be accepted by their peers while finding their own place in the world. They are engaged in forming and questioning their own identities on many levels. The students may mature at different rates and experience rapid and irregular growth, with bodily changes causing awkward and uncoordinated movements. In term of emotional and psychological aspect, they are vulnerable and self-conscious, and often experience unpredictable mood swings. While in the case of moral, they are idealistic and want to have an impact on making the world a better place.
Most of the teachers always pay much attention to the nature of student’s ability. We also need to have an answer how to facilitate poor and low-ability children in understanding, learning and schooling. Intellectual is really important to realize mental ability; while, their work depend on motivation. It seems that motivation is the crucial factor for the students to perform their ability. In general, some teachers are also aware that the character of teaching learning process is a strong factor influencing student’s ability. We need to regard the pupils as central to our concerns if our provision for all the pupils is to be appropriate and effective; some aspects of teaching for appropriateness for students might be: matching their state of knowledge, identifying and responding to their particular difficulties, extending them to develop their potential in mathematics, providing some continuity of teaching with a demonstrated interest in progress, developing an awareness of themselves as learners using the teacher as a resource, and providing regular feedback on progress (Ashley, 1988). Those who teach mathematics must take into account the great variations which exist between pupils both in their rate of learning and also in their level of attainment at any given age (Cockroft Report, 1982, para. 801).
Ernest (1995) highlighted that the nature of students learn mathematics are their efforts to construct their objective knowledge of mathematics through their interaction with others in such away that they are able to reconstruct their subjective knowledge by reflection activities. Reflection activities consists of represent their new knowledge of mathematics, publish them and examine. While Ebbutt and Straker (1995) emphasizes that the nature of students learn mathematics consists of students' motivation to learn mathematics, students' self effort or uniqueness in learning mathematics, students' capabilities in doing collaboration with their mates and learning mathematics through its various different context.

References:
........., 2009, Nature of the Students, Going to a public school, New South Wales,
Department of Education and Training. Retrieved 2009 nsw.edu.au/gotoschool/highschool/transitions/natureofstud/index.php>

Brown, T., 1997, Mathematics Education and Language: Interpreting Hermeneutics and
Post-Structuralism. Kluwer Academic Publisher: Dordrecht

Cockroft, H. W., 1982, Mathematics counts : Report of the Committee of Inquiry into the Teaching of Mathematics in School under the Chairmanship of Dr. W H Cockroft, London : Her Majesty's Stationery Office.

Ebbutt, S. and Straker, A., 1995, Mathematics in Primary Schools Part I: Children and Mathematics. Collins Educational Publisher Ltd.: London

Ernest, P., 1994, Mathematics, Education and Philosophy: An International Perspective. The Falmer Press: London.

Ernest, P., 2002, What Is The Philosophy Of Mathematics Education?
Paul Ernest University of Exeter, United Kingdom. Retrieved organisers.dk/dg04/contributions/ernest.pdf>

Ernest, P., 2007, Mathematics Education Ideologies And Globalization. Retrieved

Fullan, M., 2002, Leading and Learning for the 21stC Vol 1 No. 3 - January 2002

Glenn, A., 2009, Philosophy of Teaching and Learning "Your job as a teacher is to make every single student feel like a winner”. Retrieved http://depts.washington.edu
/ctltstaf/example_portfolios/munchak/pages/87361.html>

Grouws, A. D. and Cooney, J. T., 1988, Effective Mathematics Teaching : Volume 1, Virginia : The NCTM, Inc.

Jaworski, B., 1994, Investigating Mathematics Teaching : A Constructivist Enquiry, London : The Falmer Press.

Orton, A. and Wain, G., 1994, Issues in Teaching Mathematics, London : Cassell.

The Nature of Mathematics and School Mathematics

By Marsigit
Yogyakarta State University


Mathematics ideas comprise thinking framed by markers in both time and space. However, any two individuals construct time and space differently, which present difficulties for people sharing how they see things. Further, mathematical thinking is continuous and evolutionary, whereas conventional mathematics ideas are often treated as though they have certain static qualities. The task for both teacher and students is to weave these together. We are again face with the problem of oscillating between seeing mathematics extra-discursively and seeing it as a product of human activity (Brown, T, 1994).
Paul Ernest (1994) provokes the nature of mathematics through the following questions:
“What is mathematics, and how can its unique characteristics be accommodated in a philosophy? Can mathematics be accounted for both as a body of knowledge and a social domain of enquiry? Does this lead to tensions? What philosophies of mathematics have been developed? What features of mathematics do they pick out as significant? What is their impact on the teaching and learning of mathematics? What is the rationale for picking out certain elements of mathematics for schooling? How can (and should) mathematics be conceptualized and transformed for educational purposes? What values and goals are involved? Is mathematics value-laden or value-free? How do mathematicians work and create new mathematical knowledge? What are the methods, aesthetics and values of mathematicians? How does history of mathematics relate to the philosophy of mathematics? Is mathematics changing as new methods and information and communication technologies emerge?”

In order to promote innovation in mathematics education, the teachers need to change their paradigm of what kinds of mathematics to be taught at school. Ebbutt, S. and Straker, A. (1995) proposed the school mathematics to be defined and its implications to teaching as the following:
a.Mathematics is a search for patterns and relationship
As a search for pattern and relationship, mathematics can be perceived as a network of interrelated ideas. Mathematics activities help the students to form the connections in this network. It implies that the teacher can help students learn mathematics by giving them opportunities to discover and investigate patterns, and to describe and record the relationships they find; encouraging exploration and experiment by trying things out in as many different ways as possible; urging the students to look for consistencies or inconsistencies, similarities or differences, for ways of ordering or arranging, for ways of combining or separating; helping the students to generalize from their discoveries; and helping them to understand and see connections between mathematics ideas. (ibid, p.8)

b.Mathematics is a creative activity, involving imagination, intuition and discovery
Creativity in mathematics lies in producing a geometric design, in making up computer programs, in pursuing investigations, in considering infinity, and in many other activities. The variety and individuality of children mathematical activity needs to be catered for in the classroom. The teacher may help the students by fostering initiative, originality and divergent thinking; stimulating curiosity, encouraging questions, conjecture and predictions; valuing and allowing time for trial-and-adjustment approaches; viewing unexpected results as a source for further inquiry; rather than as mistakes; encouraging the students to create mathematical structure and designs; and helping children to examine others’ results (ibid. p. 8-9)

c.Mathematics is a way of solving problems
Mathematics can provide an important set of tools for problems- in the main, on paper and in real situations. Students of all ages can develop the skills and processes of problem solving and can initiate their own mathematical problems. Hence, the teacher may help the students learn mathematics by: providing an interesting and stimulating environment in which mathematical problems are likely to occur; suggesting problems themselves and helping students discover and invent their own; helping students to identify what information they need to solve a problem and how to obtain it; encouraging the students to reason logically, to be consistent, to works systematically and to develop recording system; making sure that the students develop and can use mathematical skills and knowledge necessary for solving problems; helping them to know how and when to use different mathematical tools (ibid. p.9)

d.Mathematics is a means of communicating information or ideas
Language and graphical communication are important aspects of mathematics learning. By talking, recording, and drawing graphs and diagrams, children can come to see that mathematics can be used to communicate ideas and information and can gain confidence in using it in this way. Hence, the teacher may help the students learn mathematics by: creating opportunities for describing properties; making time for both informal conversation and more formal discussion about mathematical ideas; encouraging students to read and write about mathematics; and valuing and supporting the diverse cultural and linguistic backgrounds of all students (ibid. p.10)

References:
Ebbutt, S. and Straker, A., 1995, Mathematics in Primary Schools Part I: Children and Mathematics. Collins Educational Publisher Ltd.: London

Ernest, P., 1994, Mathematics, Education and Philosophy: An International Perspective. The Falmer Press: London.

Ernest, P., 2002, What Is The Philosophy Of Mathematics Education?
Paul Ernest University of Exeter, United Kingdom. Retrieved organisers.dk/dg04/contributions/ernest.pdf>

Ernest, P., 2007, Mathematics Education Ideologies And Globalization. Retrieved