Feb 12, 2013

Forum Tanya Jawab 63: Bagaimana Siswa Bisa Menentukan Kurikulum?


Oleh Marsigit

Ass, bagaimana mungkin seorang siswa ikut menentukan Kurikulum? Ah suatu pertanyaan atau ide yang mengada-ada. Apakah ada seorang siswa yang mempunyai kemampuan membuat Kurikulum? Jika toh ada, apakah boleh? Dan bagaimana cara atau skemanya?

Saya ingin mengatakan bahwa kalimat "Siswa Menentukan Kurikulum" memang kalimat yang agak provokatif yang saya buat. Tetapi saya ingin menunjukkan bahwa dengan penyesuaian persepsi dan konteks tantang hakekat Kurikulum serta hakekat pembelajaran, maka substansi kalimat tersebut bukanlah sesuatu yang mengada-ada.

Marilah kita coba
Pertama, kita bongkar dulu persepsi dan pemahaman kita tentang apa itu yang disebut Kurikulum. Budaya dan kebiasaan kita bangsa Indonesia selama ini, memaknai Kurikulum sebagai suatu garis besar rencana implementasi pendidikan yang disusun oleh Pemerintah melalui para pakarnya. Barulah setelah sempurna, Kurikulum yang dihasilkan siap diimplementasikan dengan dukungan Peraturan Perundang-undangan. Itulah kebiasaan kita selama berpuluh-puluh tahun sejak jaman Belanda.

Hasil observasi dan wawancara terhadap beberapa Guru di Inggris beberapa tahun yang lalu menunjukkan bahwa mereka mempunyai persepsi dan pemahaman yang berbeda dengan kita. Bagi mereka pengertian dan makna Kurikulum hampir menyerupai RPP atau Kurikulum tingkat sekolah. Pada saat itu memang di Inggris menganut sistem desentralisasi pendidikan, yaitu bahwa Kurikulum itu adalah urusan sekolah masing-masing.

Karena memang saya membaca ada wacana bahwa siswa juga berperan dalam Kurikulum, saya kemudian mencari tahu di suatu sekolah SD di tenggara kota London. Guru kelas 2 (dua) yang mengajar matematika saya wawancara dan mengatakan bahwa siswa berperan dalam pengembangan kurikulum. Saya ingin tahu bagaimana bisa siswa berperan dalam pengembangan kurikulum? Ternyata hal itu sangat dimungkinkan karena Kurikulum yang mereka maknai adalah Kurikulum tingkat sekolah dan tingkat pembelajaran di kelas. Pada tingkat sekolah, sebelum dilakukan pengembangan kurikulum, maka ada pertemuan khusus atau semacam need assessment dengan para siswa, didukung dengan dokumen portfolio tentang aktivitas siswa. Hasil-hasil need assessment yang menggambarkan kebutuhan siswa kemudian digunakan untuk pengembangan kurikulum tingkat sekolah.

Kemudian saya berusaha memperdalam lagi, apakah ada aspek yang lain bagaimana siswa ikut menentukan kurikulum? Jawaban guru dan fakta yang saya temukan ternyata cukup sederhana tetapi diluar yang saya pikirkan. Kata guru "Setiap akhir pelajaran matematika, saya selalu mewawancarai para siswa untuk mengetahui Jenis Kegiatan apa saja yang mereka inginkan dari Pelajaran Matematika minggu depan yang akan saya selenggarakan. Jawaban siswa tentu beraneka ragam, maka saya mengelompokkannya kedalam kriteria yang mungkin saya persiapkan agar bisa saya laksanakan apa yang diminta oleh siswa"

Saya melanjutkan pertanyaan "Bagaimana mungkin anda bisa melaksanakan berbagai permintaan atau tuntutan siswa dalam pbm matematika?". Serta merta guru meminta saya agar minggu depan datang lagi ke sekolah untuk melihat bagaimana guru mampu melayani berbagai kebutuhan belajar para siswanya.

Hasil observasi saya minggu berikutnya, pada Kelas II, adalah sebagai berikut:

Pertama, guru secara klasikal menjelaskan tentang kompetensi apa saja yang akan siswa peroleh dalam pbm, kemudian guru memberi petunjuk bagaimana nantinya para siswa bekerja secara kelompok.

Kedua, darisejumlah 32 siswa yang ada, kemudian guru membagi kelas menjadi 2 Kelompok Besar, masing-masing terdiri dari 16 siswa. Dari 16 siswa kelompok kedua di bagi menjadi 4 kelompok. Satu dari empat kelompok di split lagi menjadi 2 kelompokmasing-masing berangotakan 2 siswa. Jadi secara keseluruhan terdapat 6 (enam) Kelompok. Kelompok Besar terdiri dari 16 siswa. Tiga Kelompok berangotakan 4 (empat) siswa. Dan Dua Kelompok beranggotakan masing-masing 2 siswa.

Ketiga, setelah saya cermati, ternyata yang terjadi adalah Satu kelompok pertama terdiri dari 2 (dua) siswa yang prestasinya the Best. Satu kelompok kedua terdiri dari 2 (dua) siswa yang prestasinya the Lowest. Tiga Kelompok masing-masing terdiri dari 4 (empat) siswa denganprestasi rata-rata. Sedangkan satu Kelompok Besar yang terdiri dari 16 siswa dengan kemampuan campuran.

Keempat, di tiap meja pada Kelompok Kecil terdiri dari 4 siswa atau 2 siswa, masing-masing sudah diletakan LKS yang berbeda dengan Warna Kertas yang berbeda. Dan mereka mulai berdiskusi di dalam kelompoknya. Sementara itu Guru bergabung dengan Kelompok Besar (16 siswa) untuk memulai aktivitasnya.

Kelima, pada Kelompok Besar (16 siswa) suasana belajar di setting dengan Duduk Melingkar di Lantai, kemudian dituangkan dari dalam Keranjang barbagai macam Bangun Datar Geometri terbuat dari kayu, bermacam-macam Segitiga, Persegi, Persegi Panjang, Lingkaran, Trapesium. Dengan variasi bermacam warna yang kontras.

Keenam, ternyata Kompetensi yang ingin dicapai pada masing-masing Kelompok berbeda-beda. Pada Kelompok besar kompetensinya adalah Pengenalan Bangun Geometri. Kelompok the Best kompetensi dan LKS nya berbeda dengan Kelompok the Lowest. Demikian sehingga pada saat yang sama guru menyediakan 5 (lima) macam LKS.

Ketujuh, ketika Guru sedang asyik beraktivitas di Kelompok Besar, datanglah seorang siswa dari Kelompok the Best melaporkan bahwa dia telah menyelesaikan LKS nya. Guru kemudian menyuruh untuk melanjutkan berdiskusi dan mengerjakan LKS yang lainnya (lanjutannya) yang khusus diperuntukan untuk Kelompok the Best,dengan warna Kertas yang sama tadi.

Kedelapan, Ternyata guru juga menyediakan stok/persediaan  LKS untuk tiap-tiap Kelompok Diskusi.
Pada Kelompok Besar, guru memulai membuat contoh aktivitas dengan kalimat "I spy the Red Small Circle". Artinya "Saya ingin mengambil Lingkaran Kecil berwarna Merah". Kemudian guru mengambilnya, kemudian menunjukkan kepada para siswa, dan menyuruhnya untuk mengamati bangun Lingkaran itu.  Kemudian  Guru melemparkan kembali benda itu ketumpukan di tengah kerumunan. Demikian seterusnya guru menyuruh secara bergantian agar siswa-siswa melakukan kegiatan yang sama, dengan cara siswa yang sudah melakukan kegiatan kemudian menunjuk siswa yang lain secara acak, sampai selesai.

Setelah kembali ke University of London, saya konsultasikan dan tanyakan kepada Pembimbing, mengapa guru bisa melakukan hal demikian, maka jawabnya adalah "Pbm matematika di sini, menganut paradigma : pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula". Saya lanjutkan pertanyaan saya "Lalu bagaimana mengorganisasikannya".Jawaban Pembimbing "Itulah pentingnya LKS dan Portfolio". LKS sangat penting untuk melayani kebutuhan siswa yang berbeda-beda. Sedangkan setiap siswa perlu dilengkapi dengan Dokumen yang disebut Portfolio Siswa atau Record Keeping. Record Keeping Siswa berisi segala Dokumen yang berkaitan dengan Aktivitas dan Prestasi Siswa mengalir dari tahun ke tahun.

Setelah kembali ke Indonesia, saya menemukan bahwa Pembelajaran Matematika di Indonesia bersifat "Untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya"

Demikianlah refleksi pengalaman saya di Inggris beberapa tahun yang lalu.

Semoga bermanfaat,dan ditunggu komen-komennya.

Amin

33 comments:

  1. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Pembahasan ini merupakan salah satu elegi yang sangat saya sukai, hal ini dikarena pemaparan tentang proses belajar mengajar di inggris diatas, menjadi wawasan baru bagi saya. Karena saat ini saya juga sedang tertarik untuk mengetahui sistem pembelajaran disalah satun negara yang lain, yaitu Firlandia, yang dicetuskan memiliki sistem pembelajaran yang sangat baik. Memang benar seperti hal yang telah disebutkan diatas, bahwa di negara kita ini pembelajaran matematika dari tahun ketahun memang dilakukan dengan tatnan yang sama, namun juga tidak dapt dipungkiri guru telah mencoba untuk mempelajari sistem pengajaran baru, guna menjadikan proses pembelajaran lebih menarik. Walaupun masih sangat sedikit yang melakukannya.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  2. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Menarik apa yang menjadi pengalaman Prof Marsigit ketika mengamati pembelajaran matematika SD di inggris. Hal yang membedakan tentu pada pola pendidikan yang ada di Inggris dengan yang ada di Indonesia. Bila di Inggris menganut pola desentralisasi, atau bisa disebut juga dengan istilah otonomi, maka di Indonesia pola yang dikembangkan adalah sentralisasi atau konsentrasi. Pola desentralisasi atau otonomi adalah pola dimana kebijakan seperti kebijakan pendidikan diserahkan kepada daerah atau sekolah, bukan pada pemerintah pusat. Sehingga kurikulum yang dikembangkan bisa disesuaikan dengan kebutuhan sekolah. Sedangkan pola sentralisasi adalah pola dimana kebijakan dibuat di pusat atau oleh pemerintah untuk kemudian diterapkan di seluruh daerah. Pola sentralisasi biasanya diambil dengan alasan untuk melakukan standarisasi, sehingga diharapkan terjadi pemerataan, di seluruh daerah mendapatkan hasil yang sama.

    ReplyDelete
  3. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Dari judul saja saya sudah ingin berkomentar. Tetapi saya mencoba unuk tidak sombong dengan membaca terlebih dulu isi dari postingan ini. Sungguh luar biasa kelas dua sudah bisa memiliki alur pemikiran mengenai apa yang diinginkan dalam pembelajaran matematika. Semoga hal ini juga bisa diterapkan di Indonesia. Karena dengan beraneka macam PBM matematika dan sesuai dengan permintaan siswa, akan lebih mempertinggi motivasi belajar siswa dengan menghasilkan hasil yang lebih bervariasi di setiap pertemuannya. Sehingga siswa juga tidak akan bosan dengan matematika. Maka benar kurikulum itu ditunjukkan kepada siswa, maka sumber kurikulum pun harusnya bersumber dari siswa. bukan kita yang harus mengikuti pemerintah, padahal belum tentu pemerintah itu mengetahui apa yang dibutuhkan siswa di setiap pemebelajaran denga mata pelajaran yang berbeda-beda.

    ReplyDelete
  4. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Artikel diatas tentunya dapat menjadi inspirasi bagi para guru , calon guru dan pengatur system pendidikan bahwa menyusun kurikulum pendidikan harus disesuaikan dengan subyek yang belajar. Memang tidak mudah untuk mengubah system pendidikan yang ada, Namun jika perubahan ini didukung oleh semua pihak yang terkait dan konsistensi maka tidak ada hal yang tidak mungkin, semua bisa terwujud dengan niat, ikhtiar doa dan kehendak Tuhan. Mari dukung Indonesia bisa menerapkan kurikulum dengan paradima “pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda“. Terima Kasih

    ReplyDelete
  5. Terimakasih bapak atas sharing pengalamannya dari Universitas London, sungguh sangat bermanfaat bagi kami kalangan pendidik dan para pengatur kebijakan, untuk mulai memperhatikan aspek dari karakteristik siswa yang berbeda, bagaimana mereka menerapkan kurikulum sekolah dan bukannya menaatati pada satu kurikulum saja yang sudah ditentukan dengan mengharapkan hasil yang memuaskan setiap siswa.


    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  6. Junianto
    PM C
    17709251065

    Saya sepakat dengan paparan pada artikel ini bahwa dalam pembelajaran pada waktu dan materi yang sama tidak harus menghasilkan output yang sama pula. Hal ini disebabkan oleh siswa yang bersifat unik dan memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Pikiran siswa tentu berbeda-beda satu dengan yang lainnya, sehingga sebagai guru janga sampai memaksa siswa untuk memiliki pikiran yang sama dengannya.

    ReplyDelete
  7. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Menjadi seorang guru memang tidaklah mudah. Guru harus dapat membuat siswanya menikmati pembelajaran matematika, memperoleh pengalaman dari aktivitas yang dilakukan siswa dalam pembelajaran sehingga mereka dapat membangun pengetahuannya sendiri. Salah satunya adalah terkait LKS. Guru harus dapat menyediakan LKS-LKS yang dapat memenuhi berbagai keinginan dan kebutuhan siswa. Terkadang ada siswa yang memiliki kemampuan lebih dan menyelesaikan LKS lebih cepat dari rekan-rekannya. Maka guru juga harus dapat menyiapkan LKS cadangan agar siswa yang memiliki kemampuan lebih tidak merasa terabaikan.

    ReplyDelete
  8. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Saya sangat setuju dengan uraian di atas bahwa siswa seharusnya turut andil dalam menentukan kurikulum. Kurikulum tidak semata-mata dibuat pemerintah saja tanpa melibatkan kebutuhan anak didik. Itulah pentingnya guru memberikan masukan pada pemerintah, karena gurulah yang berinteraksi langsung dengan siswanya setiap hari. Guru dianggap paling mengetahui karakteristik, beban, dan kebutuhan siswanya dalam pembelajaran. Saya juga sangat setuju dengan strategi mengkontruksi LKS dengan tingkat kompleksitas yang beragam untuk mengadopsi kemampuan siswa-siswa yang berbeda pula.

    ReplyDelete
  9. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Sebelumnya ijinkan saya untuk mengatakan bahwa pengalaman yang bapak ceritakan adalah pengalaman yang sangat menarik dan sangat menarik keinginan untuk bisa merasakannya.amin. Berbicara mengenai kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa adalah bukan berarti siswa memegang/ menentukan kurikulum secara teknis. Hal ini dimaksudkan bahwa alangkah baiknya jika kurikulum yang dibuat itu sesuai dengan apa yang diharapkan dan dibutuhkan oleh siswa. Dua paradigma yang sangat berbeda, saat di Iggris “Pbm matematika di sini, menganut paradigma : pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula". Namun berbeda dengan paradigma yang berkembang di Indonesia "Untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya", itulah yang sangat disayangkan, sehingga hanya terlaksana sebagai pembelajaran dengan doktrin yang diberikan oleh guru.

    ReplyDelete
  10. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Menurut saya, disini memang siswa seharusnya bisa ikut dalam menentukan kurikulum yang merkea inginkan secara pribadi, bukan karena dorongan dari luar diri siswa. Siswa akan memberikan kontribusi yang baik terhadap perkembangan kurikulum yang akan mereka terima. Hal ini bisa melalui evaluasi kegiatan pembelajaran yang mereka peroleh dengan yang mereka inginkan. Selagi itu bagus diterapkan pada kurikulum kenapa tidak. Toh juga kurikulum itu sebenarnya untuk siswa, maka seharusnya siswa juga ikut andil dalam membuat kurikulum yang akan mereka peroleh
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  11. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Kurikulum yang diterapkan disetiap negara pasti memiliki perbedaan. Misalnya saja kurikulum pendidikan di Inggris berbeda dengan di Indonesia. Kurikulum di Inggris adalah kurikulum yang dapat disesuaikan tiap sekolahnya. Siswa ikut berperan dalam menentukan kurikulum. Seorang guru di London memfasilitasi siswa dan memenuhi kebutuhan belajar siswa sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Hal yang menjadi pembeda adalah prinsip utama dalam pembelajaran di Inggris menganut paradigma bahwa waktu, siswa, mempelajari matematika, kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula. Sedangkan pembelajaran di Indonesia menganut paradigma bahwa waktu, dituntut mempelajari matematika yang sama, namun siswa berbeda-beda.

    ReplyDelete
  12. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Tujuan pendidikan/tujuan pembelajaran semata-mata diperuntukkan untuk peserta didik. Perubahan kurikulum tentunya mempertimbangkan hal tersebut. Hal-hal lain yang diperhatikan adalah kebutuhan peserta didik, kondisi peserta didik, inilah yang dimaksud dengan peserta didik(siswa) menentukan kurikulum. Selain itu, perkembangan kurikulum juga dipengaruhi oleh tuntutan perkembangan lingkungan (teknologi, ilmu pengetahuan, dll).
    Kesuksesan penerapan kurikulum bergantung pada bagaimana guru menjalankannya, dibutuhkan inovasi dan kekreatifan dari guru yang bersangkutan. Setelah dijalankannya pembelajaran berdasarkan kurikulum yang berlaku maka selanjutnya siswa, guru itu sendiri, kepala sekolah, dan berbagai pihak bersama-sama mengevaluasi penerapan kurikulum. Apa yang kurang, bagian mana yang harus ditambah/diperbaiki, sehingga dapat dilakukan perbaikan untuk kemajuan.

    ReplyDelete
  13. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Menurut saya, Siswa merupakan aspek penting dalam menentukan kurikulum. Mungkin memang pembuat kebijakan adalah pemerintah, namun disini dibutuhkan kolaborasi antara pendidik, peneliti dan pembuat kebijakan dalam menentukan sebuah kurikulum. Mereka tidak boleh hanya ingin menuntut siswa harus mampu ini itu dengan dibandingkan siswa diluar negeri, jelas kharakteristik siswa Indonesia berbeda, kita memiliki keunikan sendiri yang seharusnya pembuat kebijakan tau dan mengembangkan kurikulum sesuai dengan ciri siswa Indonesia. Bolehlah kita mengacu pada dunia internasional namun juga harus melihat kemampuan siswa Indonesia. “Perlahan tapi pasti”. Ingat bahwa tujuan pendidikan di Indonesia adalah ‘Mencerdaskan Kehidupan Bangsa’.

    ReplyDelete
  14. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Kurikulum digunakan untuk menentukan jumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai pendidikan. Kurikulum memiliki peran kreatif, konservatif, dan evaluatif. Setiap orang yang terlibat dalam dunia pendidikan berhak dalam mencetuskan ide dari kurikulum yang diinginkan, tidak terkecuali bagi seorang siswa selama ide itu tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan. Kurikulum yang memperhatikan kebutuhan siswa akan lebih dapat diterima siswa dari pada kurikulum yang dipaksakan kepada siswa.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  15. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Belum pernah terbayangkan sebelumnya bahwa di Inggris siswa ikut berperan dalam penyusunan kurikulum. Para guru yang dapat melakukan hal tersebut adalah para guru sejati yang selalu berupaya dengan maksimal untuk menjadi fasilitator siswa. Persiapan yang matang, kreatif, serta ikhlas merupakan kuncinya. Seandainya para guru di Indonesia dapat melakukan hal seperti itu, insyaallah pendidikan di Indonesia bisa menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  16. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  17. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  18. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Dari artikel diatas, saya menjadi semakin mengerti bahwa persepsi dan pemahaman tentang kurikulum yang berlaku di Negara kita berbeda dengan Negara lain, khususnya Inggris yang menjadi pembanding dalam artikel diatas. Sistem pendidikan yang ada di Inggris terdapat perbedaan persepsi dan konteks tantang hakekat kurikulum serta hakekat pembelajaran dengan Negara kita. Salah satu perbedaan tersebut terletak pada makna kurikulum yang hampir menyerupai RPP atau kurikulum tingkat sekolah dan menjadi urusan sekolah masing-masing. Untuk menentukan kurikulum, siswa ikut berperan dalam pengembangan hal itu. Dalam hal ini, siswa sebaiknya menemukan pola terhadap pembelajaran matematika, jadi siswa dapat memecahkan persoalan-persoalan dengan cara sendiri. Dari hal itu siswa benar-benar dapat menggali dan mengeksplor kemampuan yang ada pada diri individu masing-masing.

    ReplyDelete
  19. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Kurikulum disusun untuk merancang dalam pendidikan, saya setuju dengan kurikulum yang dilakukan di Uiversity of London yang menyatakan bahwa perbedaan merupakan hal yang wajar dalam kurikulum, karena hal tersbeut dipengaruhi oleh karakteristik siswa yang berbeda-beda pula. Apabila hal ini diterapkan di Indonesia saya rasa tidak masalah karena pada dasarnya dari segi kondisi lingkungan, fasilitas, kontur daerah di Indonesia juga berbeda-beda, sehingga apabila memaksakan untuk menyamaratakan hal yang tidak mudah. Saya analogikan dengan Ujian Nasional, hal yang wajar apabila nilai UN di sekolah dengan kualitas guru dan fasilitas pendidikan yang rendah. Sehingga apabila ingin menyamakan kurikulum, maka berbagai faktor lain juga harus disamakan. Namun apakah mungkin?

    ReplyDelete
  20. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Pembelajaran mateamatika di Inggris yang dipaparkan di atas sangat memanusiakan manusia, artinya sekolah dan guru melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa. Kurikulum yang digunakan secara nasioal belum tentu bisa mengakomodasi kebutuhan siswa secara nasional, karena siswa secara nasional kebutuhannya berbeda-beda. Berbeda jika kebutuhannya di kelompokkan dalam ranah yang lebih kecil dalam hal ini adalah sekolah. Sepertinya akan lebih fokus pada kebutuhan siswanya dan tujuan serta visi misi sekolah.

    ReplyDelete
  21. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Peserta didik yang memiliki tingkat pemahaman yang tinggi akan memiliki kebutuhan pendidikan dan cakupan pengetahuan yang berbeda dengan yang berpemahaman rata- rata. Hal ini bisa diketahui berdasarka kegiatan belajar di kelas. Guru lebih memahami kebutuhan siswanya karena guru yang mendampingi kegiatan belajar peserta didik ketika di sekolah. Melibatkan siswa dalam pembuatan kurikulum dengan memaksimalkan LKS dan lembar portofolio sangatlah bijak. Dengan begitu kurikulum akan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, bukan peserta didik yang menyesuaikan kurikulum. Bila peserta didik dituntut untuk menyesuaikan kurikulum, itu berarti peserta dipaksa untuk mempunyai kegiatan yang sama, pengetahuan yang sama, dan hasil yang sama. Dapatlah ini menjadi refleksi bagi kita bersama agar dapat memajukan dan mengembangkan pendidikan. Tentunya segala kebijakan yang telah dibuat berdasarkan berbagai macam pertimbangan dan itu adalah yang terbaik untuk kita. Semoga bermanfaat.

    ReplyDelete

  22. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Setelah membaca artikel di atas, saya sangat kagum dengan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru tersebut. Menurut saya beliau mengajar tidak sekedar menyalurkan ilmu pengetahuan, tetapi benar-benar memberi fasilitas dan kesempatan kepada siswa. Karena mengelompokkan siswa berdasarkan karakter masing-masing dan membuat beberapa LKS sesuai dengan kemampuan masing-masing bukan merupakan hal yang mudah, dibutuhkan kesungguhan dan telaten. Seandainya di Indonesia dilakukan pembelajaran seperti ini, tentunya setiap anak akan memasuki kelas matematika dengan antusias, karena dia kan menemukan hal yang sesuai dengna kemapuannya, sedangkan yang terjadi adalah beberapa anak dengan kemampuan matematika kurang akan meresa tertekan dan merasa bodoh karena kebiasaan orang Indonesia yang menilai tingkat kecerdasan dari nilai matematika. Padahal bisa jadi dia cerdas dibidang lain. Sebenarnya sistem di Indonesia tidak hanya membebani siswa, tetapi juga guru yang ingin memberi matematika sesuai dengan karakter siswa tetapi terhalang oleh jam pelajaran dan standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

    ReplyDelete
  23. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Setelah membaca penjelasan di atas, saya setuju dengan pernyataan Pak Marsigit yaitu ‘siswa menentukan kurikulum’. Kurikulum yang dipahami oleh bangsa Indonesia ialah suatu sistem atau aturan yang dibuat oleh pemerintah tentang pelaksanaan pendidikan serta tercantum di dalam undang-undang. Sedangkan makna sesungguhnya dari kurikulum tidaklah sedangkal itu. Para guru di Inggris mengartikan kurikulum sebagai kurikulum sekolah berupa RPP, silabus dan peraturan sekolah. Sehingga urusan membuat kurikulum itu merupakan urusan sekolah masing-masing. Namun, di Indonesia kurikulum dibuat secara nasional serta ‘dipaksakan’ untuk diterapkan merata ke seluruh siswa di seluruh sekolah di Indonesia. Padahal karakteristik setiap sekolah di Indonesia berbeda-beda. Cara siswa menentukan kurikulum di Inggris ialah dengan menentukan kurikulum sekolah berdasarkan karakteristik siswa di masing-masing sekolah. Sehingga dalam mengembangkan kurikulumnya mampu memenuhi kebutuhan siswa di masing-masing sekolah yang notabene memiliki karakteristik siswa yang berbeda antar sekolah.

    ReplyDelete
  24. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. Menurut saya mungkin saja siswa menentukan kurikulum. Karena fakta di lapanagan memang terdapat perbedaan kompetensi dan kecerdasan yang dimiliki siswa. Ada siswa yang cepat belajarnya, ada siswa yang lambat belajarnya. Jika kemampuan siswa disama ratakan maka tidak adil untuk siswa sendiri.

    ReplyDelete
  25. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Pemahaman akan kurikulum disetiap negara berbeda-beda. Pemahaman kurikulum yang mendarah daging pada sistem pendidikan bangsa kita adalah kebijakan yang disusun sedemikian rupa terhadap sistem pendidikan. Hal yang berbeda di negara luar, keleluasaan penyusunan kurikulum oleh pihak sekolah secara mandiri memberikan dampak positif terhadap sistem pendidikan yang ada. Pengembangan kurikulum yang ada didasarkan akan kebutuhan siswa. Selain itu kebijakan ini melahirkan kesadaran guru untuk melibatkan pandangan siswa terkait proses pembelajaran ke depannya. Hal ini secara tidak langsung mendukung terjadi refleksi pembelajaran secara berkelanjutan. Apabila budaya ini perlahan kita terapkan tentu secara tidak langsung akan memacu minat siswa dalam pembelajaran.

    ReplyDelete
  26. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Perbedaan kurikulum dalam negeri dan luar negeri membuat guru memiliki perbedaan proses belajar. Di Indonesia siswa dituntut untuk mencapai hasil yang sama walaupun prosesnya berbeda. Sedangkan di luar negeri, siswa menempuh proses beda dengan hasil yang berbeda pula. Sehingga kita perlu belajar dari negeri tersebut untuk melihat proses belajar.

    ReplyDelete
  27. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Berdasarkan hasil observasi terhadap pembelajaran di London di atas seakan menghapus pertanyaan terkait kenapa sistem pendidikan bangsa kita masih berada di bawah rata-rata dunia. Bagaimana guru mempersiapkan kelas dan bagaimana guru melaksanakan proses pembelajaran jelas jauh berbeda. Guru bangsa kita dominan menyukai pembelajaran yang tidak memiliki banyak persiapan. Jangankan untuk menyiapkan LKS dengan berbeda-beda sesuai kebutuhan siswa, satu LKS untuk semua siswa aja sudah hal yang dikeluhkan. Semoga melalui observasi-observasi terhadap pembelajaran negara lain menjadi bahan intropeksi dan inspirasi kita sebagai pendidik dan calon pendidik dalam membawa sistem pendidikan ke arah yang lebih baik.

    ReplyDelete
  28. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 2017

    Memang seharusnya kurikulum dibuat sesuai kebutuhan siswa. Namun, kebutuhan dan kondisi siswa di desa tentu berbeda dengan siswa yang tinggal di kota. Untuk itu, tugas pendidik, sebagai orang yang mengamati langsung kondisi dan kebutuhan siswa, untuk membuat atau menciptakan pembelajaran yang dapat memfasilitasi kondisi siswa yang berbeda-beda tersebut. Itulah pentingnya RPP maupun yang harus disusun sendiri oleh guru.

    ReplyDelete
  29. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Paradigma kurikulum yang sesuai bagi negara Demokrasi adalah kebutuhan siswa. Sehingga kurikulum harusnya dibuat berdasrkan hasil kajian terhadap siswa. Karena siswa adalah actor belajarnya dan yang merasakan pengalaman pbmnya. Oleh karena itu seharusnya kurikulumnya adalah kurikulum karena kebutuhan siswa, bukanlah karena keinginan sekelompok orang dewasa.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  30. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Terimakasih pak atas pengalaman bapak yang sudah dibagi dalam postingan kali ini. Pengalaman-pengalaman seperti ini dapat menjadi pelajaran bagi saya terutama sebagai seseorang yang ingin terjun ke dalam dunia pendidikan. Menyadari bahwa siswa itu berbeda, situasi belajar yang berbeda-pun, bahkan guru yang mengajar juga berbeda. Dengan perbedaan-perbedaan yang disadari tersebut merangsang kita untuk membuat sesuatu perbaikan dalam dunia pendidikan. Belajar dengan negara lain itu tidaklah salah, jika yang kita pelajari itu dapat memperbaiki apa yang kurang baik yang ada di bangsa ini. Tentunya yang sesuai dengan karakter bangsa. Sehingga, seharusnya pemerintah kita itu dapat belajar dengan pengalaman seperti ini sebelum mengeluarkan kebijakan pendidikan.

    ReplyDelete
  31. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Kurikulum dibentuk agar kegiatan pembelajaran menjadi terarah dan siswa dapat mencapai zona perkembangan yang maksimum. Kurikulum erat kaitannya dengan siswa, karena siswa adalah obyek pendidikan sekaligus sebagai subyek maka dalam penyusunan kurikulum siswa juga menjadi komponen penting yang turut menentukan. Misalkan menentukan materi pembelajaran tentu akan memperhatikan tingkat psikologi siswa yang akan diberikan materi. Pemilihan metode pembelajran juga sangat bergantung kepada karakteristik siswa. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  32. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Bagi siswa yang memiliki keterbatasan atau anak berkebutuhan khusus, kurikulum bagi mereka dirancang khusus pula betgantung dengan kemampuan siswanya. Sehingga bagi sekolah-sekolah luar biasa atau sekolah inklusi diberikan otoritas untuk mengembangkan SSP bagi siswanya, terutama siswa yag berkebutuhan khusus yang tidak dapat mengikuti kurikulum reguler yang telah ditetapkan oleh pemerintah, wallahu a'lam

    ReplyDelete
  33. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Betapa indahnya jika proses belajar mengajar di kelas dapat berlangsung seperti yang terjadi di sekolah di London. Kurikulum dapat secara fleksibel tanpa mengurangi esensi belajar secara efektif. Kurikulum tidak membebankan siswa, justru sangat membantu siswa dalam belajar dan yang lebih penting adalah memahami perbedaan setiap siswa. Namun, menurut saya akan sulit jika harus diterapkan di Indonesia. Mulai dari pemerintah yang terlalu ribet dan menuntut banyak hal, serta kompetensi guru yang belum sepenuhnya mampu membuat LKS terstruktur dan portfolio yang efektif seperti itu.

    ReplyDelete