Feb 12, 2013

Forum Tanya Jawab 63: Bagaimana Siswa Bisa Menentukan Kurikulum?


Oleh Marsigit

Ass, bagaimana mungkin seorang siswa ikut menentukan Kurikulum? Ah suatu pertanyaan atau ide yang mengada-ada. Apakah ada seorang siswa yang mempunyai kemampuan membuat Kurikulum? Jika toh ada, apakah boleh? Dan bagaimana cara atau skemanya?

Saya ingin mengatakan bahwa kalimat "Siswa Menentukan Kurikulum" memang kalimat yang agak provokatif yang saya buat. Tetapi saya ingin menunjukkan bahwa dengan penyesuaian persepsi dan konteks tantang hakekat Kurikulum serta hakekat pembelajaran, maka substansi kalimat tersebut bukanlah sesuatu yang mengada-ada.

Marilah kita coba
Pertama, kita bongkar dulu persepsi dan pemahaman kita tentang apa itu yang disebut Kurikulum. Budaya dan kebiasaan kita bangsa Indonesia selama ini, memaknai Kurikulum sebagai suatu garis besar rencana implementasi pendidikan yang disusun oleh Pemerintah melalui para pakarnya. Barulah setelah sempurna, Kurikulum yang dihasilkan siap diimplementasikan dengan dukungan Peraturan Perundang-undangan. Itulah kebiasaan kita selama berpuluh-puluh tahun sejak jaman Belanda.

Hasil observasi dan wawancara terhadap beberapa Guru di Inggris beberapa tahun yang lalu menunjukkan bahwa mereka mempunyai persepsi dan pemahaman yang berbeda dengan kita. Bagi mereka pengertian dan makna Kurikulum hampir menyerupai RPP atau Kurikulum tingkat sekolah. Pada saat itu memang di Inggris menganut sistem desentralisasi pendidikan, yaitu bahwa Kurikulum itu adalah urusan sekolah masing-masing.

Karena memang saya membaca ada wacana bahwa siswa juga berperan dalam Kurikulum, saya kemudian mencari tahu di suatu sekolah SD di tenggara kota London. Guru kelas 2 (dua) yang mengajar matematika saya wawancara dan mengatakan bahwa siswa berperan dalam pengembangan kurikulum. Saya ingin tahu bagaimana bisa siswa berperan dalam pengembangan kurikulum? Ternyata hal itu sangat dimungkinkan karena Kurikulum yang mereka maknai adalah Kurikulum tingkat sekolah dan tingkat pembelajaran di kelas. Pada tingkat sekolah, sebelum dilakukan pengembangan kurikulum, maka ada pertemuan khusus atau semacam need assessment dengan para siswa, didukung dengan dokumen portfolio tentang aktivitas siswa. Hasil-hasil need assessment yang menggambarkan kebutuhan siswa kemudian digunakan untuk pengembangan kurikulum tingkat sekolah.

Kemudian saya berusaha memperdalam lagi, apakah ada aspek yang lain bagaimana siswa ikut menentukan kurikulum? Jawaban guru dan fakta yang saya temukan ternyata cukup sederhana tetapi diluar yang saya pikirkan. Kata guru "Setiap akhir pelajaran matematika, saya selalu mewawancarai para siswa untuk mengetahui Jenis Kegiatan apa saja yang mereka inginkan dari Pelajaran Matematika minggu depan yang akan saya selenggarakan. Jawaban siswa tentu beraneka ragam, maka saya mengelompokkannya kedalam kriteria yang mungkin saya persiapkan agar bisa saya laksanakan apa yang diminta oleh siswa"

Saya melanjutkan pertanyaan "Bagaimana mungkin anda bisa melaksanakan berbagai permintaan atau tuntutan siswa dalam pbm matematika?". Serta merta guru meminta saya agar minggu depan datang lagi ke sekolah untuk melihat bagaimana guru mampu melayani berbagai kebutuhan belajar para siswanya.

Hasil observasi saya minggu berikutnya, pada Kelas II, adalah sebagai berikut:

Pertama, guru secara klasikal menjelaskan tentang kompetensi apa saja yang akan siswa peroleh dalam pbm, kemudian guru memberi petunjuk bagaimana nantinya para siswa bekerja secara kelompok.

Kedua, darisejumlah 32 siswa yang ada, kemudian guru membagi kelas menjadi 2 Kelompok Besar, masing-masing terdiri dari 16 siswa. Dari 16 siswa kelompok kedua di bagi menjadi 4 kelompok. Satu dari empat kelompok di split lagi menjadi 2 kelompokmasing-masing berangotakan 2 siswa. Jadi secara keseluruhan terdapat 6 (enam) Kelompok. Kelompok Besar terdiri dari 16 siswa. Tiga Kelompok berangotakan 4 (empat) siswa. Dan Dua Kelompok beranggotakan masing-masing 2 siswa.

Ketiga, setelah saya cermati, ternyata yang terjadi adalah Satu kelompok pertama terdiri dari 2 (dua) siswa yang prestasinya the Best. Satu kelompok kedua terdiri dari 2 (dua) siswa yang prestasinya the Lowest. Tiga Kelompok masing-masing terdiri dari 4 (empat) siswa denganprestasi rata-rata. Sedangkan satu Kelompok Besar yang terdiri dari 16 siswa dengan kemampuan campuran.

Keempat, di tiap meja pada Kelompok Kecil terdiri dari 4 siswa atau 2 siswa, masing-masing sudah diletakan LKS yang berbeda dengan Warna Kertas yang berbeda. Dan mereka mulai berdiskusi di dalam kelompoknya. Sementara itu Guru bergabung dengan Kelompok Besar (16 siswa) untuk memulai aktivitasnya.

Kelima, pada Kelompok Besar (16 siswa) suasana belajar di setting dengan Duduk Melingkar di Lantai, kemudian dituangkan dari dalam Keranjang barbagai macam Bangun Datar Geometri terbuat dari kayu, bermacam-macam Segitiga, Persegi, Persegi Panjang, Lingkaran, Trapesium. Dengan variasi bermacam warna yang kontras.

Keenam, ternyata Kompetensi yang ingin dicapai pada masing-masing Kelompok berbeda-beda. Pada Kelompok besar kompetensinya adalah Pengenalan Bangun Geometri. Kelompok the Best kompetensi dan LKS nya berbeda dengan Kelompok the Lowest. Demikian sehingga pada saat yang sama guru menyediakan 5 (lima) macam LKS.

Ketujuh, ketika Guru sedang asyik beraktivitas di Kelompok Besar, datanglah seorang siswa dari Kelompok the Best melaporkan bahwa dia telah menyelesaikan LKS nya. Guru kemudian menyuruh untuk melanjutkan berdiskusi dan mengerjakan LKS yang lainnya (lanjutannya) yang khusus diperuntukan untuk Kelompok the Best,dengan warna Kertas yang sama tadi.

Kedelapan, Ternyata guru juga menyediakan stok/persediaan  LKS untuk tiap-tiap Kelompok Diskusi.
Pada Kelompok Besar, guru memulai membuat contoh aktivitas dengan kalimat "I spy the Red Small Circle". Artinya "Saya ingin mengambil Lingkaran Kecil berwarna Merah". Kemudian guru mengambilnya, kemudian menunjukkan kepada para siswa, dan menyuruhnya untuk mengamati bangun Lingkaran itu.  Kemudian  Guru melemparkan kembali benda itu ketumpukan di tengah kerumunan. Demikian seterusnya guru menyuruh secara bergantian agar siswa-siswa melakukan kegiatan yang sama, dengan cara siswa yang sudah melakukan kegiatan kemudian menunjuk siswa yang lain secara acak, sampai selesai.

Setelah kembali ke University of London, saya konsultasikan dan tanyakan kepada Pembimbing, mengapa guru bisa melakukan hal demikian, maka jawabnya adalah "Pbm matematika di sini, menganut paradigma : pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula". Saya lanjutkan pertanyaan saya "Lalu bagaimana mengorganisasikannya".Jawaban Pembimbing "Itulah pentingnya LKS dan Portfolio". LKS sangat penting untuk melayani kebutuhan siswa yang berbeda-beda. Sedangkan setiap siswa perlu dilengkapi dengan Dokumen yang disebut Portfolio Siswa atau Record Keeping. Record Keeping Siswa berisi segala Dokumen yang berkaitan dengan Aktivitas dan Prestasi Siswa mengalir dari tahun ke tahun.

Setelah kembali ke Indonesia, saya menemukan bahwa Pembelajaran Matematika di Indonesia bersifat "Untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya"

Demikianlah refleksi pengalaman saya di Inggris beberapa tahun yang lalu.

Semoga bermanfaat,dan ditunggu komen-komennya.

Amin

11 comments:

  1. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Siswa SD juga dapat menentukan kurikulum yang cocok bagi mereka. Hal ini seharusnya menginspirasi pemerintah, ahli pendidikan, dan guru-guru di Indonesia. Guru harus menyadari bahwa terdapat siswa yang memiliki kepribadian yang berbeda dan unik, sehingga siswa juga harus diperlakukan dengan cara yang berbeda. Tidak menggunakan sifat pendidikan di Indonesia yang mengandung paradigma "untuk waktu yang sama, siswa yang berbeda wajib untuk mempelajari pelajaran yang sama, hasilnya harus sama, sama seperti yang dipikirkan oleh guru". Seorang guru tidak hanya memfasilitasi siswa tanpa mengetahui apa yang dibutuhkan oleh siswa. Seorang guru juga harus memahami keadaan dan kebutuhan siswa. Oleh karena itu, siswa tidak harus sama dengan yang dipikirkan oleh guru.

    ReplyDelete
  2. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari artikel ini, memberikan informasi bahwa terdapat perbedaan paradigma dalam pembelajaran matematika di Inggris dan di Indonesia. Di Inggris pembelajaran matematika menganut paradigma: Pada waktu yang berbeda-beda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, serta dengan hasil yang berbeda pula. Sehingga dalam suatu kelas dapat terjadi aktivitas yang berbeda sesuai dengan keinginan dan kemampuan siswa dalam mempelajari matematika. Sedangkan di Indonesia pembelajaran matematika menganut paradigma: Untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut untuk mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu harus sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya. Dengan demikian siswa mendapatkan banyak tekanan karena paksaan dan keharusan-keharusan tersebut. Siswa terlalu dikekang saat belajar matematika, karena guru tidak memerikan kebebasan siswa untuk berpikir dan berkegiatan dalam belajar matematika. Apalagi kita tahu bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang berbeda-beda dan mengakui akan adanya perbedaan. Akan tetapi dalam pembelajaran matematika perbedaan kemampuan, gagasan, potensi, dan ide yang siswa miliki tidak pernah diakui bahkan beberapa guru tidak menyadari perbedaan tersebut, semua siswa dianggap sama.

    ReplyDelete
  3. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Memang seperti wacana diataslah semestinya kurikulum, karena setiap siswa itu pasti berbeda, tidak akan ditemukan siswa yang sama. Maka kurikulum seharusnya disesuaikan dengan keadaan siswa, bagaimana psikologisnya, bagaimana tingkat pemikirannya dan lain-lain. Sehingga dengan adanya pemberian hal yang berbeda-beda kepada siswa sesuai dengan keadaannya maka saya yakin pendidikan akan bisa maju. Namun kalau pendidikan di Indonesia masih seperti ini dalam artian semua siswa diperlakukan sama dan menuju hal yang sama maka pendidikan tidak akan maju. Alangkah bagusnya kalau kurikulum itu sesuai dengan bakat dan minat siswa, biarlah perlakuan yang diberikan berbeda dan tujuan yang berbeda sehingga keilmuan akan berkembang, tidak hanya terfokus pada satu tujuan namun multi tujuan dan akan menjadikan siswa mempunyia keahlian yang berbeda-beda yang sesuai dengan keinginannya.

    ReplyDelete
  4. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi di atas memberikan perenungan bagi saya bahwa memang saat ini kurikulum di Indonesia sebagai suatu garis besar rencana implementasi pendidikan yang disusun oleh Pemerintah melalui para pakarnya. Barulah setelah sempurna, kurikulum yang dihasilkan siap diimplementasikan dengan dukungan Peraturan Perundang-undangan. Saya sangat tertarik tentang pengalaman Prof.Dr.Marsigit yang menceritakan sistematika pendidikan di London. Kurikulum di sana sangat berbeda dengan di Indonesia. Di London, pendidikan mengorelasikan semua komponen pendidikan untuk terlibat langsung. Bahkan siswa pun terlibat langsung saat menentukan kurikulum. Sehingga di sini saya mempunyai harapan semoga pendidikan di Indonesia pun mampu memfasilitasi siswa secara keseluruhan.

    ReplyDelete
  5. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pendidikan di London sungguh memberikan inspirasi. Cerita di atas menceritakan bahwa setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda dengan segala kemampuan, potensi, dan pengetahuan yang berbeda. Guru tidak bisa memaksakan untuk menyamakan hal tersebut. Guru hendaknya memberikan fasilitas dengan memberikan variatif LKS dan portofolio yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswanya. Sehingga dalam hal ini guru tidak mendzolimi siswanya. Semoga kelak pendidikan di Indonesia mampu mengarah pada paradigma "Pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula".

    ReplyDelete
  6. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Kurikulum sebagai sistem rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pembelajaran yang dipedomani dalam aktivitas belajar mengajar.Setiap Negara mempunyai kurikulum yang berbeda- beda. Dalam forum ini, menceritakan kurikulum Indonesia berbeda dengan kurikulum Inggris. Dimana pada kurikulum Inggris guru memberikan fasilitas dan membuat cara belajar sesuai dengan kemampuan siswa gara tercapainya tujuan pembelajaran. Hal ini berarti bahwa dengan beraneka ragam siswa akan diberikan bimbingan yang berbeda- beda. Ini menjadi kerja keras bagi guru untuk terus berusaha memahami muridnya yang tidaklah sama. Sehingga perbedaan kurikulum yang jauh pun, akan terlihat berbeda hasilnya.

    ReplyDelete
  7. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Pendidikan di Indonesia masih belum menemukan identitasnya yang jelas. Kurikulum yang berlaku saat ini di Indonesia hanya disusun oleh pemerintah melalui para pakarnya dimana mereka belum tentu mengetahui kemampuan siswa pada umumnya. Sehingga, dengan adanya sistem sentralisasi tersebut, pada umumnya guru hanya mengejar target atau berfokus pada penyelesaian materi yang telah ditentukan oleh kurikulum yang berlaku. Dalam artian, kurikulum yang sama untuk seluruh siswa se Indonesia. Berbeda dengan persepsi dan pemahaman guru di Inggris tentang kurikulum. Bagi mereka pengertian dan makna Kurikulum hampir menyerupai RPP atau Kurikulum tingkat sekolah. Kurikulum yang diberlakukan di Inggris bersifat desentralisasi dimana kurikulum itu adalah urusan sekolah masing-masing. Maksud dari pernyataan “siswa dapat menentukan kurikulum” adalah setiap akhir pelajaran matematika, guru selalu mewawancarai para siswa untuk mengetahui jenis kegiatan apa saja yang mereka inginkan dari pelajaran matematika minggu depan yang akan dipelajari. Dalam hal ini guru melibatkan siswa mengenai proses pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing siswa. Dari keanekaragaman kondisi siswa tersebut, guru pun menyiapkan beragam LKS untuk melayani kebutuhan siswa yang berbeda tersebut dan membuat portofolio untuk mengetahui jalannya pembelajaran. Sehingga, dengan keduanya diharapkan guru mampu memahami kemampuan masing-masing siswa dan dapat mengoreksi jalannya pembelajaran.

    ReplyDelete
  8. Kurikulum yang dipahami selama ini adalah seperangkat dokumen tentang struktur kompetensi yang harus dimiliki siswa selama belajar di sekolah. Struktur kompetensi tersebut dibuat oleh pemerintah kemudian diimplementasikan oleh sekolah dan guru. Dalam hal ini maka sekolah dan guru pasif menerima standar kompetensi yang harus dikuasai siswa. Sekolah dan guru dalam implementasinya kadang mengalami kesulitan karena karakter dari siswa yang berbeda. Permasalahan karakter siswa seharusnya menjadi inovasi dari guru untuk membuat kurikulum yang cocok dengan dengan siswa dan tidak menyimpang dari kurikulum pusat. Guru dan sekolah mempunyai kesadaran untuk membuat kurikulum yang sesuai dengan siswa. Dilain sisi guru karena sudah terbiasa menerima maka ketika melakukan inovasi maka akan merasa tidak percaya diri. Misal membuat materi yang berbeda denga yang ada di buku maka guru akan mengalami keraguan apakah yang dilakukannya sudah benar atau belum. Rasa percaya diri guru untuk melakukan inovasi masih rendah. Atau guru melakukan penelitian apakah penelitiannya sudah benar atau belum dapat dinilai atau tidak. Sehingga guru kembali lagi ke pembelajaran ceramah dan berpusat pada guru dengan mengandalkan materi dari buku cetak yang telah ada.

    ReplyDelete
  9. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Dari elegi ini kita harus tahu hakekatnya kurikulum itu kembali pada siswa. Jadi kurikulum sebaiknya dibuat sesuai dengan kebutuhan siswa. Bagaimana siswa bisa menentukan kurikulum? Siswa mengetahui apa yang mereka butuhkan namun mereka tidak bisa mengungkapkannya secara formal dengan bantuan gurulah siswa mengutarakan secara yang tidak lamgsung. maka dari itu peran seorang guru menjadi fasilitator diharapkan dan menunjaang kebutuhan siswa dalam pembelajaran.

    ReplyDelete

  10. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Berbicara tentang kurikulum menjadi sebuah aturan yang harus dipatuhi dan dijalankan, padahal kita tahu ada ungkapan aturan dibuat untuk dilanggar. Maka akan ada saja hal-hal yang dijalankan yang tidak sesuai dengan kurikulum di Indonesia. Kurikulum secara formal adalah kurikulum nasional yang diberlakukan secara universal di Indonesia. Tapi dalam kelaspun bisa ada kurikulum sendiri yang dapat ditentukan oleh siswa. Dengan guru menanyakan pendapat para siswa tentang apa saja yang siswa diinginkan dari Pelajaran Matematika minggu depan yang akan guru selenggarakan dan banyak Jawaban siswa yang beraneka ragam, maka guru dapat mengelompokkannya kedalam kriteria yang mungkin dapat guru persiapkan agar bisa guru laksanakan apa yang diminta oleh siswa. Ini saja sudah menunjukan bahwa kurikulum dalam kelaspun dapat ada ditentukan oleh siswa sendiri.

    ReplyDelete
  11. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    belum pernah terbayangkan sebelumnya bahwa di Inggris siswa ikut berperan dalam penyusunan kurikulum. Para guru yang dapat melakukan hal tersebut adalah para guru sejati yang selalu berupaya dengan maksimal untuk menjadi fasilitator siswa. Persiapan yang matang, kreatif, serta ikhlas merupakan kuncinya. Seandainya para guru di Indonesia dapat melakukan hal seperti itu, insyaallah pendidikan di Indonesia bisa menjadi lebih baik.

    ReplyDelete