Feb 12, 2013

Forum Tanya Jawab 63: Bagaimana Siswa Bisa Menentukan Kurikulum?


Oleh Marsigit

Ass, bagaimana mungkin seorang siswa ikut menentukan Kurikulum? Ah suatu pertanyaan atau ide yang mengada-ada. Apakah ada seorang siswa yang mempunyai kemampuan membuat Kurikulum? Jika toh ada, apakah boleh? Dan bagaimana cara atau skemanya?

Saya ingin mengatakan bahwa kalimat "Siswa Menentukan Kurikulum" memang kalimat yang agak provokatif yang saya buat. Tetapi saya ingin menunjukkan bahwa dengan penyesuaian persepsi dan konteks tantang hakekat Kurikulum serta hakekat pembelajaran, maka substansi kalimat tersebut bukanlah sesuatu yang mengada-ada.

Marilah kita coba
Pertama, kita bongkar dulu persepsi dan pemahaman kita tentang apa itu yang disebut Kurikulum. Budaya dan kebiasaan kita bangsa Indonesia selama ini, memaknai Kurikulum sebagai suatu garis besar rencana implementasi pendidikan yang disusun oleh Pemerintah melalui para pakarnya. Barulah setelah sempurna, Kurikulum yang dihasilkan siap diimplementasikan dengan dukungan Peraturan Perundang-undangan. Itulah kebiasaan kita selama berpuluh-puluh tahun sejak jaman Belanda.

Hasil observasi dan wawancara terhadap beberapa Guru di Inggris beberapa tahun yang lalu menunjukkan bahwa mereka mempunyai persepsi dan pemahaman yang berbeda dengan kita. Bagi mereka pengertian dan makna Kurikulum hampir menyerupai RPP atau Kurikulum tingkat sekolah. Pada saat itu memang di Inggris menganut sistem desentralisasi pendidikan, yaitu bahwa Kurikulum itu adalah urusan sekolah masing-masing.

Karena memang saya membaca ada wacana bahwa siswa juga berperan dalam Kurikulum, saya kemudian mencari tahu di suatu sekolah SD di tenggara kota London. Guru kelas 2 (dua) yang mengajar matematika saya wawancara dan mengatakan bahwa siswa berperan dalam pengembangan kurikulum. Saya ingin tahu bagaimana bisa siswa berperan dalam pengembangan kurikulum? Ternyata hal itu sangat dimungkinkan karena Kurikulum yang mereka maknai adalah Kurikulum tingkat sekolah dan tingkat pembelajaran di kelas. Pada tingkat sekolah, sebelum dilakukan pengembangan kurikulum, maka ada pertemuan khusus atau semacam need assessment dengan para siswa, didukung dengan dokumen portfolio tentang aktivitas siswa. Hasil-hasil need assessment yang menggambarkan kebutuhan siswa kemudian digunakan untuk pengembangan kurikulum tingkat sekolah.

Kemudian saya berusaha memperdalam lagi, apakah ada aspek yang lain bagaimana siswa ikut menentukan kurikulum? Jawaban guru dan fakta yang saya temukan ternyata cukup sederhana tetapi diluar yang saya pikirkan. Kata guru "Setiap akhir pelajaran matematika, saya selalu mewawancarai para siswa untuk mengetahui Jenis Kegiatan apa saja yang mereka inginkan dari Pelajaran Matematika minggu depan yang akan saya selenggarakan. Jawaban siswa tentu beraneka ragam, maka saya mengelompokkannya kedalam kriteria yang mungkin saya persiapkan agar bisa saya laksanakan apa yang diminta oleh siswa"

Saya melanjutkan pertanyaan "Bagaimana mungkin anda bisa melaksanakan berbagai permintaan atau tuntutan siswa dalam pbm matematika?". Serta merta guru meminta saya agar minggu depan datang lagi ke sekolah untuk melihat bagaimana guru mampu melayani berbagai kebutuhan belajar para siswanya.

Hasil observasi saya minggu berikutnya, pada Kelas II, adalah sebagai berikut:

Pertama, guru secara klasikal menjelaskan tentang kompetensi apa saja yang akan siswa peroleh dalam pbm, kemudian guru memberi petunjuk bagaimana nantinya para siswa bekerja secara kelompok.

Kedua, darisejumlah 32 siswa yang ada, kemudian guru membagi kelas menjadi 2 Kelompok Besar, masing-masing terdiri dari 16 siswa. Dari 16 siswa kelompok kedua di bagi menjadi 4 kelompok. Satu dari empat kelompok di split lagi menjadi 2 kelompokmasing-masing berangotakan 2 siswa. Jadi secara keseluruhan terdapat 6 (enam) Kelompok. Kelompok Besar terdiri dari 16 siswa. Tiga Kelompok berangotakan 4 (empat) siswa. Dan Dua Kelompok beranggotakan masing-masing 2 siswa.

Ketiga, setelah saya cermati, ternyata yang terjadi adalah Satu kelompok pertama terdiri dari 2 (dua) siswa yang prestasinya the Best. Satu kelompok kedua terdiri dari 2 (dua) siswa yang prestasinya the Lowest. Tiga Kelompok masing-masing terdiri dari 4 (empat) siswa denganprestasi rata-rata. Sedangkan satu Kelompok Besar yang terdiri dari 16 siswa dengan kemampuan campuran.

Keempat, di tiap meja pada Kelompok Kecil terdiri dari 4 siswa atau 2 siswa, masing-masing sudah diletakan LKS yang berbeda dengan Warna Kertas yang berbeda. Dan mereka mulai berdiskusi di dalam kelompoknya. Sementara itu Guru bergabung dengan Kelompok Besar (16 siswa) untuk memulai aktivitasnya.

Kelima, pada Kelompok Besar (16 siswa) suasana belajar di setting dengan Duduk Melingkar di Lantai, kemudian dituangkan dari dalam Keranjang barbagai macam Bangun Datar Geometri terbuat dari kayu, bermacam-macam Segitiga, Persegi, Persegi Panjang, Lingkaran, Trapesium. Dengan variasi bermacam warna yang kontras.

Keenam, ternyata Kompetensi yang ingin dicapai pada masing-masing Kelompok berbeda-beda. Pada Kelompok besar kompetensinya adalah Pengenalan Bangun Geometri. Kelompok the Best kompetensi dan LKS nya berbeda dengan Kelompok the Lowest. Demikian sehingga pada saat yang sama guru menyediakan 5 (lima) macam LKS.

Ketujuh, ketika Guru sedang asyik beraktivitas di Kelompok Besar, datanglah seorang siswa dari Kelompok the Best melaporkan bahwa dia telah menyelesaikan LKS nya. Guru kemudian menyuruh untuk melanjutkan berdiskusi dan mengerjakan LKS yang lainnya (lanjutannya) yang khusus diperuntukan untuk Kelompok the Best,dengan warna Kertas yang sama tadi.

Kedelapan, Ternyata guru juga menyediakan stok/persediaan  LKS untuk tiap-tiap Kelompok Diskusi.
Pada Kelompok Besar, guru memulai membuat contoh aktivitas dengan kalimat "I spy the Red Small Circle". Artinya "Saya ingin mengambil Lingkaran Kecil berwarna Merah". Kemudian guru mengambilnya, kemudian menunjukkan kepada para siswa, dan menyuruhnya untuk mengamati bangun Lingkaran itu.  Kemudian  Guru melemparkan kembali benda itu ketumpukan di tengah kerumunan. Demikian seterusnya guru menyuruh secara bergantian agar siswa-siswa melakukan kegiatan yang sama, dengan cara siswa yang sudah melakukan kegiatan kemudian menunjuk siswa yang lain secara acak, sampai selesai.

Setelah kembali ke University of London, saya konsultasikan dan tanyakan kepada Pembimbing, mengapa guru bisa melakukan hal demikian, maka jawabnya adalah "Pbm matematika di sini, menganut paradigma : pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula". Saya lanjutkan pertanyaan saya "Lalu bagaimana mengorganisasikannya".Jawaban Pembimbing "Itulah pentingnya LKS dan Portfolio". LKS sangat penting untuk melayani kebutuhan siswa yang berbeda-beda. Sedangkan setiap siswa perlu dilengkapi dengan Dokumen yang disebut Portfolio Siswa atau Record Keeping. Record Keeping Siswa berisi segala Dokumen yang berkaitan dengan Aktivitas dan Prestasi Siswa mengalir dari tahun ke tahun.

Setelah kembali ke Indonesia, saya menemukan bahwa Pembelajaran Matematika di Indonesia bersifat "Untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya"

Demikianlah refleksi pengalaman saya di Inggris beberapa tahun yang lalu.

Semoga bermanfaat,dan ditunggu komen-komennya.

Amin

79 comments:

  1. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Siswa SD juga dapat menentukan kurikulum yang cocok bagi mereka. Hal ini seharusnya menginspirasi pemerintah, ahli pendidikan, dan guru-guru di Indonesia. Guru harus menyadari bahwa terdapat siswa yang memiliki kepribadian yang berbeda dan unik, sehingga siswa juga harus diperlakukan dengan cara yang berbeda. Tidak menggunakan sifat pendidikan di Indonesia yang mengandung paradigma "untuk waktu yang sama, siswa yang berbeda wajib untuk mempelajari pelajaran yang sama, hasilnya harus sama, sama seperti yang dipikirkan oleh guru". Seorang guru tidak hanya memfasilitasi siswa tanpa mengetahui apa yang dibutuhkan oleh siswa. Seorang guru juga harus memahami keadaan dan kebutuhan siswa. Oleh karena itu, siswa tidak harus sama dengan yang dipikirkan oleh guru.

    ReplyDelete
  2. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari artikel ini, memberikan informasi bahwa terdapat perbedaan paradigma dalam pembelajaran matematika di Inggris dan di Indonesia. Di Inggris pembelajaran matematika menganut paradigma: Pada waktu yang berbeda-beda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, serta dengan hasil yang berbeda pula. Sehingga dalam suatu kelas dapat terjadi aktivitas yang berbeda sesuai dengan keinginan dan kemampuan siswa dalam mempelajari matematika. Sedangkan di Indonesia pembelajaran matematika menganut paradigma: Untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut untuk mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu harus sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya. Dengan demikian siswa mendapatkan banyak tekanan karena paksaan dan keharusan-keharusan tersebut. Siswa terlalu dikekang saat belajar matematika, karena guru tidak memerikan kebebasan siswa untuk berpikir dan berkegiatan dalam belajar matematika. Apalagi kita tahu bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang berbeda-beda dan mengakui akan adanya perbedaan. Akan tetapi dalam pembelajaran matematika perbedaan kemampuan, gagasan, potensi, dan ide yang siswa miliki tidak pernah diakui bahkan beberapa guru tidak menyadari perbedaan tersebut, semua siswa dianggap sama.

    ReplyDelete
  3. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Memang seperti wacana diataslah semestinya kurikulum, karena setiap siswa itu pasti berbeda, tidak akan ditemukan siswa yang sama. Maka kurikulum seharusnya disesuaikan dengan keadaan siswa, bagaimana psikologisnya, bagaimana tingkat pemikirannya dan lain-lain. Sehingga dengan adanya pemberian hal yang berbeda-beda kepada siswa sesuai dengan keadaannya maka saya yakin pendidikan akan bisa maju. Namun kalau pendidikan di Indonesia masih seperti ini dalam artian semua siswa diperlakukan sama dan menuju hal yang sama maka pendidikan tidak akan maju. Alangkah bagusnya kalau kurikulum itu sesuai dengan bakat dan minat siswa, biarlah perlakuan yang diberikan berbeda dan tujuan yang berbeda sehingga keilmuan akan berkembang, tidak hanya terfokus pada satu tujuan namun multi tujuan dan akan menjadikan siswa mempunyia keahlian yang berbeda-beda yang sesuai dengan keinginannya.

    ReplyDelete
  4. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi di atas memberikan perenungan bagi saya bahwa memang saat ini kurikulum di Indonesia sebagai suatu garis besar rencana implementasi pendidikan yang disusun oleh Pemerintah melalui para pakarnya. Barulah setelah sempurna, kurikulum yang dihasilkan siap diimplementasikan dengan dukungan Peraturan Perundang-undangan. Saya sangat tertarik tentang pengalaman Prof.Dr.Marsigit yang menceritakan sistematika pendidikan di London. Kurikulum di sana sangat berbeda dengan di Indonesia. Di London, pendidikan mengorelasikan semua komponen pendidikan untuk terlibat langsung. Bahkan siswa pun terlibat langsung saat menentukan kurikulum. Sehingga di sini saya mempunyai harapan semoga pendidikan di Indonesia pun mampu memfasilitasi siswa secara keseluruhan.

    ReplyDelete
  5. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pendidikan di London sungguh memberikan inspirasi. Cerita di atas menceritakan bahwa setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda dengan segala kemampuan, potensi, dan pengetahuan yang berbeda. Guru tidak bisa memaksakan untuk menyamakan hal tersebut. Guru hendaknya memberikan fasilitas dengan memberikan variatif LKS dan portofolio yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswanya. Sehingga dalam hal ini guru tidak mendzolimi siswanya. Semoga kelak pendidikan di Indonesia mampu mengarah pada paradigma "Pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula".

    ReplyDelete
  6. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Kurikulum sebagai sistem rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pembelajaran yang dipedomani dalam aktivitas belajar mengajar.Setiap Negara mempunyai kurikulum yang berbeda- beda. Dalam forum ini, menceritakan kurikulum Indonesia berbeda dengan kurikulum Inggris. Dimana pada kurikulum Inggris guru memberikan fasilitas dan membuat cara belajar sesuai dengan kemampuan siswa gara tercapainya tujuan pembelajaran. Hal ini berarti bahwa dengan beraneka ragam siswa akan diberikan bimbingan yang berbeda- beda. Ini menjadi kerja keras bagi guru untuk terus berusaha memahami muridnya yang tidaklah sama. Sehingga perbedaan kurikulum yang jauh pun, akan terlihat berbeda hasilnya.

    ReplyDelete
  7. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Pendidikan di Indonesia masih belum menemukan identitasnya yang jelas. Kurikulum yang berlaku saat ini di Indonesia hanya disusun oleh pemerintah melalui para pakarnya dimana mereka belum tentu mengetahui kemampuan siswa pada umumnya. Sehingga, dengan adanya sistem sentralisasi tersebut, pada umumnya guru hanya mengejar target atau berfokus pada penyelesaian materi yang telah ditentukan oleh kurikulum yang berlaku. Dalam artian, kurikulum yang sama untuk seluruh siswa se Indonesia. Berbeda dengan persepsi dan pemahaman guru di Inggris tentang kurikulum. Bagi mereka pengertian dan makna Kurikulum hampir menyerupai RPP atau Kurikulum tingkat sekolah. Kurikulum yang diberlakukan di Inggris bersifat desentralisasi dimana kurikulum itu adalah urusan sekolah masing-masing. Maksud dari pernyataan “siswa dapat menentukan kurikulum” adalah setiap akhir pelajaran matematika, guru selalu mewawancarai para siswa untuk mengetahui jenis kegiatan apa saja yang mereka inginkan dari pelajaran matematika minggu depan yang akan dipelajari. Dalam hal ini guru melibatkan siswa mengenai proses pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing siswa. Dari keanekaragaman kondisi siswa tersebut, guru pun menyiapkan beragam LKS untuk melayani kebutuhan siswa yang berbeda tersebut dan membuat portofolio untuk mengetahui jalannya pembelajaran. Sehingga, dengan keduanya diharapkan guru mampu memahami kemampuan masing-masing siswa dan dapat mengoreksi jalannya pembelajaran.

    ReplyDelete
  8. Kurikulum yang dipahami selama ini adalah seperangkat dokumen tentang struktur kompetensi yang harus dimiliki siswa selama belajar di sekolah. Struktur kompetensi tersebut dibuat oleh pemerintah kemudian diimplementasikan oleh sekolah dan guru. Dalam hal ini maka sekolah dan guru pasif menerima standar kompetensi yang harus dikuasai siswa. Sekolah dan guru dalam implementasinya kadang mengalami kesulitan karena karakter dari siswa yang berbeda. Permasalahan karakter siswa seharusnya menjadi inovasi dari guru untuk membuat kurikulum yang cocok dengan dengan siswa dan tidak menyimpang dari kurikulum pusat. Guru dan sekolah mempunyai kesadaran untuk membuat kurikulum yang sesuai dengan siswa. Dilain sisi guru karena sudah terbiasa menerima maka ketika melakukan inovasi maka akan merasa tidak percaya diri. Misal membuat materi yang berbeda denga yang ada di buku maka guru akan mengalami keraguan apakah yang dilakukannya sudah benar atau belum. Rasa percaya diri guru untuk melakukan inovasi masih rendah. Atau guru melakukan penelitian apakah penelitiannya sudah benar atau belum dapat dinilai atau tidak. Sehingga guru kembali lagi ke pembelajaran ceramah dan berpusat pada guru dengan mengandalkan materi dari buku cetak yang telah ada.

    ReplyDelete
  9. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Dari elegi ini kita harus tahu hakekatnya kurikulum itu kembali pada siswa. Jadi kurikulum sebaiknya dibuat sesuai dengan kebutuhan siswa. Bagaimana siswa bisa menentukan kurikulum? Siswa mengetahui apa yang mereka butuhkan namun mereka tidak bisa mengungkapkannya secara formal dengan bantuan gurulah siswa mengutarakan secara yang tidak lamgsung. maka dari itu peran seorang guru menjadi fasilitator diharapkan dan menunjaang kebutuhan siswa dalam pembelajaran.

    ReplyDelete

  10. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Berbicara tentang kurikulum menjadi sebuah aturan yang harus dipatuhi dan dijalankan, padahal kita tahu ada ungkapan aturan dibuat untuk dilanggar. Maka akan ada saja hal-hal yang dijalankan yang tidak sesuai dengan kurikulum di Indonesia. Kurikulum secara formal adalah kurikulum nasional yang diberlakukan secara universal di Indonesia. Tapi dalam kelaspun bisa ada kurikulum sendiri yang dapat ditentukan oleh siswa. Dengan guru menanyakan pendapat para siswa tentang apa saja yang siswa diinginkan dari Pelajaran Matematika minggu depan yang akan guru selenggarakan dan banyak Jawaban siswa yang beraneka ragam, maka guru dapat mengelompokkannya kedalam kriteria yang mungkin dapat guru persiapkan agar bisa guru laksanakan apa yang diminta oleh siswa. Ini saja sudah menunjukan bahwa kurikulum dalam kelaspun dapat ada ditentukan oleh siswa sendiri.

    ReplyDelete
  11. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    belum pernah terbayangkan sebelumnya bahwa di Inggris siswa ikut berperan dalam penyusunan kurikulum. Para guru yang dapat melakukan hal tersebut adalah para guru sejati yang selalu berupaya dengan maksimal untuk menjadi fasilitator siswa. Persiapan yang matang, kreatif, serta ikhlas merupakan kuncinya. Seandainya para guru di Indonesia dapat melakukan hal seperti itu, insyaallah pendidikan di Indonesia bisa menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  12. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    kurikulum kita masih memerlukan perbaikan yang banyak agar pendidikan indonesia memiliki kualitas yang bagu.
    LKS dan portofolio memang memiliki peran yang penting untuk siswa jika seandainya mereka belum paham dengan penjelasan guru, maka dia bisa belajar dari situ. LKS dan portofolio juga bisa menjadi media untuk berlatih kembali sehingga kuat ingatannya tentang pelajaran dan sebagai referensi lain selain gurunya.

    ReplyDelete
  13. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Pembelajaran matematika di London seperti yang Bapak paparkan dalam forum tanya jawab ini sungguh merupakan pembelajaran matematika yang sangat menyenangkan. Di mana guru memulai pembelajaran berdasarkan kemauan dan apa yang siswa harapkan. Pembelajaran dalam LKS dan pengelompokan siswa disesuaikan dengan kemampuan siswa dalam bermatematika. Hal ini dimaksudkan, agar siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda tidak mempelajari materi yang sama tetapi dapat mempelajari materi yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat kemampuan mereka yang tentunya berbeda pula. Sungguh berbeda dengan proses pembelajaran di Indonesia yang masih menerapkan model pembelajaran yang kebanyakan menggunakan metode ceramah dan siswa sepenuhnya menerima konsep yang sama semata-mata dari guru saja.

    ReplyDelete
  14. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Dari artikel ini saya mendapatkan beberapa informasi bahwa pembelajaran Matematika di Indonesia berbeda dengan di London. Mengapa demikian? Karena perbedaan paradigm tujuan dari proses belajar mengajar. Di Indonesia siswa dituntut untuk mendapatkan hasil akhir yang sama, berupa konsep apa yang ada di benak guru, dalam kurun waktu yang sama. Hal ini bertolak belakang dengan paradigm di London.

    ReplyDelete
  15. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Bagaimana siswa dapat menentukan kurikulum??? Nha, pertanyaan yang sangat menarik. Kurikulum yang dimaksud dalam hal ini adalah kurikulum tingkat sekolah atau tingkat pembelajaran di kelas. Tentu saja mereka sangat menentukan, mengapa tidak?? Dalam pendidikan maupun pembelajaran, siswa adalah pemeran untamanya, siswa adalah centernya. Kepala sekolah, guru, staf, dan lain sebagainya hanyalah fasilitator. Dan sebagai fasilitator, tentunya harus menyesuaikan kebutuhan siswanya. Bukan siswa yang harus menyesuaikan, tetapi merekalah yang seharusnya menyesuaikan kebutuhan siswa. dalam artian kebutuhan akan pendidikan siswa. hal ini memang tidak akan terlihat secara eksplisit. Karena bisa jadi akan menimbulkan sebuah guncangan untuk kalangan tertentu. Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal, maka dalam menyampaikan pembelajaran, guru hendaknya memahami betul karakteristik siswanya baik dalam segi psikologis maupun kognitifnya. Jika sudah memahami betul, maka guru dapat menentukan metode pembelajaran yang baik untuk diterapkan di dalam kelasnya.

    ReplyDelete
  16. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Terimakasih Prof karena telah membagikan kisah seputar pembelajaran matematika SD di London yang sungguh menarik dan menginspirasi ini. Saya melihat bahwa sekolah tersebut begitu memfasilitasi perbedaan yang dimiliki siswa. Peran siswa dianggap penting dalam menentukan bagaimana kegiatan pembelajaran akan dilaksanakan. Menurut saya, melibatkan siswa dalam perumusan agenda kegiatan pembelajaran adalah salah satu cara terbaik yang dapat dilakukan dalam mewujudkan pembelajaran matematika yang ideal. Perlu diingat pula bahwa siswa-lah yang akan menjalani serangkaian kegiatan pembelajaran itu sehingga akan lebih baik bila siswa turut berperan dalam merencanakannya.
    Meski saat ini pembelajaran matematika di Indonesia cenderung masih menganut paradigma: “Untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya", semoga suatu saat nanti pembelajaran matematika di Indonesia dapat menganut paradigma : "pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula.”

    ReplyDelete
  17. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Pendidikan yang diterapkan pada sekolah dasar kelas II di London tersebut begitu mengesankan, di mana para murid yang dapat menentukan sendiri bagaimana pendidikan dan proses pembelajaran matematika. Namun, pertanyaannya apakah sistem tersebut dapat diterapkan di Indonesia? Menurut saya untuk saat sekarang ini belum dapat diterapkan. Untuk menerapkan sistem demikian, yaitu siswa ikut andil dalam menentukan kurikulum dan pemerintah memberikan kebebasan kepada sekolah untuk menentukan kurikulumnya sendiri harus memenuhi beberapa kualifikasi dan persyaratan. Salah satunya adalah mengenai pemerataan pendidikan dan kualitas guru yang ada. Namun berkaca pada permasalahan pendidikan yang dialami Indonesia, salah satu yang memprihatinkan adalah mengenai pemerataan pendidikan dan kualitas guru. Terjadi kesenjangan antara pendidikan yang ada di kota dan yang ada di daerah-daerah khususnya yang terdepan.

    ReplyDelete
  18. Isna Nur Hasanah H
    14301244009
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Terimakasih bapak telah membagikan pengalamannya kepada kami mengenai kesenjangan kurikulum yang selama ini terjadi di dalam pemikiran kami. Tidak akan pernah ada hentinya dan tidak akan pernah ada ujungnya ketika kita membandingkan segala sesuatu yang ada di sekitar kita, dengan mereka yang ada di luar sana. Selagi hal tersebut adalah menuju paradigma yang lebih baik, mengubah dari yang kurang tepat menjadi lebih benar, itulah yang perlu kita benahi bersama. Saya pribadi yakin kalau kemampuan masyarakat yang kita miliki tidaklah kalah dengan mereka, mungkin cara untuk memaksimalkan potensi tersebutlah yang belum maksimal, atau dapat dikatakan masih salah. Siswa bukanlah objek yang diciptakan hanya untuk meniru apa yang dicontohkan oleh gurunya saja, melainkan diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk berkembang sesuai dengan kemampuan yang ada pada diri mereka masing-masing. Semoga suatu saat paradigma pembelajaran di Indonesia akan seperti paradigma pembelajaran di London, "pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula.”

    ReplyDelete
  19. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Penerapan pembelajaran yang sungguh menarik, dan dapat menjadi inspirasi bagi paradigma pembelajaran di indonesia. Siswa dilibatkan dalam menentukan kurikulum yang akan ditempuh di kelas. Tidak bisa dipungkiri, setiap siswa memiliki kelebihan (kemampuan) dan kekurangan pada bidang yang berbeda-beda. Pada pembelajaran tersebut, strategi yang diberikan tidak sama rata namun adil bagi setiap siswa, karena mereka belajar sesuai keinginan dan kemampuannya. Dengan penerapan paradigma seperti yang ada di london, dimana siswa dengan kemampuan berbeda, diberikan materi yang berbeda, boleh memberikan hasil akhir yang berbeda, secara tidak langsung akan mendukung siswa dalam penemuan kemampuannya yang sebenarnya, dan dapat mengarahkan mereka pada bidang yang akan digelutinya di masa depan.

    ReplyDelete
  20. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Dibutuhkan kreativitas guru yang tinggi agar pembelajaran yang telah direncanakan sebelumnya dapat tercapai secara optimal.Sistem belajar di Indoensia menurut saya masih merupakan praktek paham behavioristik, hal ini ditunjjukan dengan adanya kurikulum, waktu pembelajaran yang diatur dan tujuan pembelajaran minimal yang harus dicapai. Segala kegiatan pembelajaran secara tidak langsung dikendalikan oleh pemerintah pusat. Pemerintah berpikir bahwa dengan dikendalikannya segala sistem pembelajaran oleh pemerintah, pendidikan di indonesia bisa dikatakan berhasil. Padahal hal tersebut akan semakin memperburuk keadaan. Kurikulum yang disusun pemerintah seringkali tidak sesuai dengan potensi yang ada dalam anak didik. Padahal mereka mempunyai peranan untuk terlibat didalamnya.
    Artikel ini meberikan saya inspirasi untuk menjadi guru nantinya. Saya akan melibatkan siswa dalam menyusun kurikulm kelas saya nanti. Dengan menanyakan pendapat para siswa tentang apa saja yang siswa diinginkan dari Pelajaran Matematika minggu depan yang akan guru selenggarakan dan banyak Jawaban siswa yang beraneka ragam, maka guru dapat mengelompokkannya kedalam kriteria yang mungkin dapat guru persiapkan agar bisa guru laksanakan apa yang diminta oleh siswa. Ini saja sudah menunjukan bahwa kurikulum dalam kelaspun dapat ada ditentukan oleh siswa sendiri.

    ReplyDelete
  21. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Setelah membaca artikel di atas, saya sangat kagum dengan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru tersebut. Menurut saya beliau mengajar tidak sekedar menyalurkan ilmu pengetahuan, tetapi benar-benar memberi fasilitas dan kesempatan kepada siswa. Karena mengelompokkan siswa berdasarkan karakter masing-masing dan membuat beberapa LKS sesuai dengan kemampuan masing-masing bukan merupakan hal yang mudah, dibutuhkan kesungguhan dan telaten.

    ReplyDelete
  22. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Apakah siswa bisa menentukan kurikulum? Memang pertanyaan ini jika tidak dipikirkan lebih dalam, pasti terasa lucu. Namun memang sebenarnya yang menentukan kurikulum itu sendiri adalah siswa. Kurikulum itu melihat apa saja yang dibutuhkan oleh siswa, sehingga kurikulumlah yang mengikuti apa yang dikehendaki oleh siswa. Siswa berhak mendapatkan pembelajaran yang sesuai dengan apa yang mereka kehendaki, sebagai guru pun sudah sepantasnya memberikan apa yang siswanya butuhkan, karena memang guru memiliki peran sebagai fasilitator.

    ReplyDelete
  23. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Berbicara mengenai kurikulum adalah hal yang kompleks, namun tidak bisa dipungkiri bahwa dalam suatu pembelajaran memerlukan kurikulum. Kurikulum dapat berfungsi dengan baik apabila tepat sasaran dan pelaksanaannya sesuai. Tetapi pada kenyataannya setiap pergantian kurikulum selalu muncul banyak hal. Menurut saya, apapun itu kurikulumnya asalkan guru memahami intinya akan bisa diterapkan dengan cukup baik. Maka dari itu penting bagi guru untuk membuat LKS bagi siswa dan dokumen dari perkembangan belajar siswa agar perkembangan belajar siswa dapat dipantau di situasi kurikulum yang berbeda.

    ReplyDelete
  24. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Sebenar-benarnya guru adalah sebagai fasilitator bukan pemberi ilmu. Siswa dengan kemampuan yang tinggi dan kecepatan pemahaman tinggi diperlakukan berbeda dengan LKS berbeda. Sedang untuk kemampuan sedang diperlakukan dengan berbeda pula. Namun tidak terlihat suatu ketimpangan dimana setiap siswa masi bisa bertinteraksi. Dan sepertinya hakekat pembelajaran di dalam kelas tersebut tidak untuk mencapai satu tujuan akhir yang sama namun tujuan yang ingin dicapai adalah sama-sama belajar berdasar kebutuhan. Sungguh menginspirasi, guru membutuhkan kompetensi dan keikhlasan tinggi untuk mengajar.

    ReplyDelete
  25. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Pendidikan di Indonesia masih menggunakan sistem lama yaitu otoriter. Segala kegiatan pembelajaran secara tidak langsung dikendalikan oleh pemerintah pusat. Sayangnya kurikulum yang disusun pemerintah seringkali tidak sesuai dengan potensi yang ada dalam anak didik. Misalnya anak dengan kemampuan matematika kurang akan meresa tertekan dan merasa bodoh karena kebiasaan orang Indonesia yang menilai tingkat kecerdasan dari nilai matematika. Padahal bisa jadi dia cerdas dibidang lain.

    ReplyDelete
  26. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Segala sesuatu di dunia ini selalu berbeda satu sama lain. Dalam hal ini kemampuan siswa yang satu dengan siswa yang lain juga pasti memiliki perbedaan dan tidak bisa kita paksakan untuk setara, tak ada yang mempunyai kemampuan yang sama. Jadi ketika guru menuntut seorang siswa untuk menjadi seperti siswa yang lain atau guru menuntut siswa sama dengan apa yang diharapkannya, maka itu adalah kekejaman. Guru hendaknya mampu memahami dan menghargai berbedaan kemampuan siswa, karena sesungguhnya setiap diri siswa telah dianugerahkan oleh tuhan kelebihan dan kekurangan yang berbeda satu sama lain. Jika guru mengharapkan siswanya sama seperti yang dia harapkan maka sesungguhnya guru telah terancam oleh mitos-mitosnya. jika kita mengaku sebagai guru inovatif, mka hendaknya kita menerapkan prinsip "untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya". Sebaiknya, merupakan tanggung jawab gurulah yang harus bisa mengatur pembelajaran sebaik mungkin sehingga siswa yang memiliki kemampuan yang beragam ini memiliki kesempatan mendapatkan pengetahuan yang sama tanpa merasa tertekan.

    ReplyDelete
  27. 16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Kalau kita hanya sekilas pasti kita akan bertanaya-tanya emanag bisa siswa menentukan kurikulum. Maka dengan mebacanya sampai akhir kita akan tahu bahwa memang seharusnya siswa menentukan kurikulum karena siswa itu sendiri yang menjalani kurikulum itu kita guru sebagai fasilitatornya saja. Bagaimana pentingnya LKS dan Portfolio". LKS sangat penting untuk melayani kebutuhan siswa yang berbeda-beda. Sedangkan setiap siswa perlu dilengkapi dengan Dokumen yang disebut Portfolio Siswa atau Record Keeping

    ReplyDelete
  28. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Dalam pembelajaran matematika siswa berhak mendapatkan perhatian yang baik dari guru. Guru yang berperan sebagai fasilitator seharusnya menyediakan apa yang diperlukan siswa. Guru membantu siswa dalam memahami suatu konsep, seperti dengan menyediakan LKS yang dapat membangun konsep siswa.LKS yang diseiakan guru bukan hanya sekedar kumpulan soal soal tetapi juga dapat membantu siswa memahami suatu konsep.

    ReplyDelete
  29. Kusuma Wardani D.S
    14301241027
    Pendidikan Matematika A 2014

    Sesungguhnya pembelajaran adalah bagaimana memfasilitasi siswa untuk terlibat aktif dalam proses membangun pengetahuannya. Oleh karena itu dibutuhkan peran guru sebagai fasilitator salah satunya dengan menyiapkan LKS yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa-siswanya. Seperti yang telah disampaikan dalam tulisan Bapak Prof Marsigit M.A bahwa pembelajaran matematika di Inggris adalah dengan waktu yang berbeda, dengan siswa yang berbeda pula, dengan kemampuan siswa yang berbeda, serta dengan hasil yang berbeda pula karena disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa.

    ReplyDelete
  30. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Guru harus dapat menempatkan dirinya sesuai dengan kapasitasnya dimana guru harus lebih kreatif, inovatif, dan kritis agar pembelajaran lebih bermakna. Mengajar dan mendidik merupakan dua hal yang berbeda dimana mengajar hanya sebatas transfer ilmu, sedangkan mendidik lebih dari sekedar transfer ilmu. Dengan kritis, kreatif, dan inovatif guru mampu menciptakan suasana yang lebih bermakna karena di dalamnya dihasilkan ilmu-ilmu baru yang akan menambah pengetahuan siswa.

    ReplyDelete
  31. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Kegiatan pembelajaran matematika di salah satu SD di tenggara kota London tersebut sangat menginspirasi untuk diterapkan dalam kegiatan pembelajaran. Terlihat sekali bahwa guru benar-benar mampu memenuhi kebutuhan siswa yang berbeda-beda dalam satu kelas sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa. Guru berperan sebagai fasilitator. Guru juga menyediakan banyak LKS yang berbeda serta memantau perkembangan kemampuan siswa dengan portofolio siswa sehingga guru benar-benar memahami kemampuan siswa-siswanya. Semoga kegiatan pembelajaran yang inspiratif tersebut nantinya dapat diterapkan pada kegiatan pembelajaran di Indonesia.

    ReplyDelete
  32. Anisa Wahyu Nur Khasanah
    14301241010
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Di Indonesia, kurikulum diartikan sebagai suatu garis besar rencana implementasi pendidikan yang disusun oleh pemerintah. Sedangkan bagi guru di Inggris, mereka mengartikan kurikulum seperti hamper menyerupai RPP atau kurikulum tingkat sekolah. Pada tingkat sekolah, sebelum dilakukan pengembangan kurikulum, maka ada pertemuan khusus dengan siswa, didukung dengan dokumen portfolio tentang aktifitas siswa. Hasil pertemuan menggambarkan kebutuhan siswa yang akan digunakan untuk mengembangkan kurikulum tingkat sekolah. Serta pembelajaran matematika di Inggris menganut paradigm “pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda-beda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda-beda dengan hasil yang boleh berbeda pula". Dan LKS serta portfolio berguna untuk mengorganisasikannya.

    ReplyDelete
  33. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Kontras yang terjadi dalam implementasi pendidikan di Indonesia dan di Inggris (berdasarkan pengalaman Prof dalam elegi ini) memang sangat kentara. Yang menjadi maslalah utama kurikum di Indonesia adalah penyeragaman, baik penyeragaman waktu, penyeragaman kemampuan sisawa, penyeragaman tuntutan mempelajari matematika yang sama, dan penyeragaman hasil yang harus sama pula. Ini berarti kurikulum tidak didasarkan pada siswa, tetapi berdasarkan gurunya. Padahal, sebenar-benar kurikulum adalah yang ditentukan siswa, yaitu kurikulum "berbeda" untuk setiap sswa, sesuai dengan kemampuannya, kemampuan memahami konsep dan juga hasil yang diperolehnya (open).

    ReplyDelete
  34. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kurikulum yang berlaku saat ini di Indonesia hanya ditentukan atau disusun oleh pemerintah atau para pakarnya dimana mereka belum tentu mengetahui kemampuan siswa pada umumnya. Sehingga, dengan adanya sistem sentralisasi tersebut, pada umumnya guru hanya mengejar target atau berfokus pada penyelesaian materi yang telah ditentukan oleh kurikulum yang berlaku.

    ReplyDelete
  35. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Yang membuat saya tertarik dari hasil observasi di atas yaitu siswa di Inggris dapat menentukan kurikulum. Sempat terbesit dalam benak saya, bagaimana hal tersebut dapat terjadi? Karena sampai saat ini jika dibandingkan dengan praktik pendidikan di Indonesia masih menerapkan pembelajaran tradisional dimana keaktifan siswa minim dalam proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  36. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sesuai uraian di atas, kurikulum yang diberlakukan di Inggris bersifat desentralisasi dimana kurikulum itu adalah urusan sekolah masing-masing. Maksud dari pernyataan bahwa siswa dapat menentukan kurikulum adalah setiap akhir pelajaran matematika, guru selalu mewawancarai para siswa untuk mengetahui jenis kegiatan apa saja yang mereka inginkan dari pelajaran matematika minggu depan yang akan dipelajari. Dalam hal ini guru melibatkan siswa mengenai proses pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing siswa. Dari keanekaragaman kondisi siswa tersebut, guru pun menyiapkan beragam LKS untuk melayani kebutuhan siswa yang berbeda tersebut dan membuat portofolio untuk mengetahui jalannya pembelajaran. Sehingga, dengan keduanya diharapkan guru mampu memahami kemampuan masing-masing siswa dan dapat mengoreksi jalannya pembelajaran.

    ReplyDelete
  37. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Guru kebingungan dengan pernyataan bahwa siswa menentukan kurikulum. Teori ini diambil dari pembelajaran orang luar negeri. Mereka menganggap bahwa kurikulum sama dengan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Kemudian bagaimana siswa dalam menentukan kurikulum. Peran siswa di sana adalah aktivitas apa yang cocok bagi siswa. Guru yang terlebih dahulu mengetahui hal ini dengan cara membuat petemuan dengan siswa di mana guru memberika suatu portofolio yang dapat menjadi landasan bagi guru dalam mengetahui aktivitas yang dibutuhkan oleh siswa. Kemudian dikembangkanlah sebuah perencanaan pembelajaran yang akan dilakukan di kelas.

    ReplyDelete
  38. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. Menurut saya mungkin saja siswa menentukan kurikulum. Karena fakta di lapanagan memang terdapat perbedaan kompetensi dan kecerdasan yang dimiliki siswa. Ada siswa yang cepat belajarnya, ada siswa yang lambat belajarnya. Jika kemampuan siswa disama ratakan maka tidak adil untuk siswa sendiri.

    ReplyDelete
  39. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014



    Pemebelajaran di London tersebut sungguh sangat menginspirasi dimana pembelajaran berpusat pada siswa, guru memberikan variasi LKS karena sesungguhnya siswa memiliki kemampuan yang berbeda beda. ada siswa yang cenderung sulit memahami materi dan ada siswa yang cepat dalam memahami materi, maka dari itu guru membuat LKS yang bervariasi.

    ReplyDelete
  40. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika


    siswa merupakan pelaku pendidikan , tujuan pendidikan yaitu untuk perkemabangan siswa, sehingga pendidikan dibuat semaksimal mungkin untuk kemajuan siswa, siswa pembentuk kurikulum menurut saya adalah karean tujuan pendidikan itu untuk siswa jadi kita harus mengetahui apa kesulitan siswa, bagaimana pembelajaran yang siswa inginkan dll. hal itu penting agar kurikulum yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan siswa.

    ReplyDelete
  41. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Brainstorming dari siswa dapat menentukan kurikulum berdasarkan guru di Inggis yang menerapkan hal demikian, ini dikarenakan guru-guru disana memiliki persepsi dan pandangan yang berbeda dengan guru di Indonesia. Di Inggris, kurikulum menyerupai RPP atau kurikulum tingkat sekolah. Seandainya saja kurikulum di Indonesia diberlakukan sama dengan kurikulum di Inggris, maka pendidikan yang terjadi akan lebih maju. Karena menurut saya, peraturan pemerintah yang diterapkan mengenai KI dan KD yang ditentukan oleh Pemerintah tidak langsung melihat langsung ke lapangan. Seaindainya pemerintah tau apa kondisi dilapangan maka sejatinya kurikulum yang ditetapkan harus disesuaikan daerah dan ketersediaan guru yang memiliki kualifikasi pendidikan yang linear.

    ReplyDelete
  42. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPS P.Mat D

    Sebagai guru, tugasnya adalah melayani dan memfasilitasi peserta didik, kita harus mengikuti kemauan peserta didik. Sebagai guru juga harus pandai-pandai dalam memahami setiap karakter yang dimiliki setiap individu. Guru harus memiliki trik yang bagus dalam mengembangkan potensi siswa-siswanya. Dalam proses pembelajaran, hendaknya siswa punya hak untuk menentukan belajarnya itu mau dibuat seperti apa, dan dalam suasana yang bagaimana. Dengan demikian maka siswa akan merasa sangat rindu dengan belajar, dan kegiatan belajar pun akan menjadi hobby setiap siswa.

    ReplyDelete
  43. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Artikel di atas pernah disampaikan lebih jelas pada perkuliahan Etnomatematika di ruang D07.309, cerita di atas sangat menarik karena membuka wawasan baru para mahasiswa. Mahasiswa yang sebelumnya belum mengetahui bagaimana pendidikan di luar negeri menjadi mengetahuinya melalui Bapak Marsigit. Terima kasih atas artikel di atas yang dapat menambah wawasan kami dan menginspirasi kami yang ke depannya juga akan menjadi guru matematika.

    ReplyDelete
  44. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut saya, pembelajaran seperti cerita di atas sangat menarik bagi siswa, sehingga siswa tidak akan takut pada matematika karena mereka belajar dengan hati yang bahagia dan kondisi kelas yang kondusif. Akan tetapi, akan sangat susah diterapkan di Indonesia, karena di Indonesia masih UN-oriented, sehingga pembelajaran matematika di Indonesia haruslah untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya dan juga akhirnya dapat mengerjakan soal UN dengan baik.

    ReplyDelete
  45. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Untuk mengatasi paradigma “untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya” tetapi tetap menikuti aturan yan ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia, mungkin dapat dilakukan dengan sedikit mengadaptasi yang dilakukan di luar negeri yaitu mengubah aktivitas di kelas, dari yang semula “dituntut mempelajari matematika yang sama” menjadi “dapat mempelajari matematika yang berbeda-beda” yaitu dengan cara guru memfasilitasi siswa dengan berbagai LKS, LKS untuk siswa yang berkemampuan berbeda, haruslah berbeda.

    ReplyDelete
  46. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Kurikulum di Indonesia berbeda dengan kurikulum di Inggris. Kurikulum di Indonesia lebih menekankan bahwa kurikulum adalah patokan yang dibuat oleh pemerintah yang harus dicapai oleh semua siswa di Indonesia. Semua sekolah dianggap mempunyai kemampuan yang sama sehingga dibuat patokan yang sama antara sekolah satu dengan sekolah lain. Sedangkan di Inggris kurikulumnya dibuat oleh sekolah karena setiap sekolah mempunyai kemampuan yang berbeda, sehingga setiap sekolah mempunyai cara masing-masing untuk membuat siswanya mempelajari matematika.

    ReplyDelete
  47. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara sistem pendidikan di Indonesia dengan sistem pendidikan di Inggris. Sistem pendidikan di Indonesia terlalu otoriter karena kurikulum yang ada disusun oleh pemerintah dan harus dikuasai siswa tanpa adanya partisipasi siswa dalam penyusunannya, sedangkan di London Inggris, siswa dapat berpartisipasi dalam menyusun kurikulumnya sendiri dan dapat memilih materi apa yang ingin mereka pelajari dan apa yang benar benar ia butuhkan. Dengan sistem pendidikan seperti itu maka siswa london dapat belajar dengan lebih menyenangkan, demokratis dan partisipatif. Ilmu yang diperolehpun menjadi lebih mudah masuk dan dapat lebih awet. Siswa yang berbeda beda dapat belajar hal yang berbeda beda sesuai yang dengan apa yang ia butuhkan dan hasilnya berbeda beda. Sedangkan di indonesia siswa yang berbeda beda, kemampuannya berbeda dituntut belajar yang sama dan hasilnya harus sama yang dikendaki guru dan kurikulum, sehingga hal ini menyebabkan siswa tidak dapat memaksimalkan kemampuan yang ada pada dirinya dan kreatifitasnya kurang muncul karena ia dituntut untuk sama dengan orang lain.

    ReplyDelete
  48. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Guru zaman sekarang tidak lagi boleh menjadi guru otoriter seperti itu. Guru dapat menggunakan LKS agar dapat digunakan siswa untuk mengeksplor kemampuan dirinya. Gurupun perlu memfasilitasi siswa dengan cara penyelesaian yang beragam, karena kemampuan siswa yang beragam, cara fikir beragam , berhah menyelesaikan soal atau masalah dengan caranya sendiri, dan boleh menemukan hasil yang berbeda. Hal ini dikarenakan pada dasarnya matematika itu adalah diri siswa itu sendiri, dan kurikulumnya harus sesuai dengan siswa.

    ReplyDelete
  49. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Terimakasih pak Prof atas pengalaman yang dibagikan kepada kami, sehingga kami dapat mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran yang ada di Inggris dan dapat membuka pikiran bagaimana penerapan pembelajaran inovatif itu

    ReplyDelete
  50. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Hal yang dapat ditarik dari cerita di atas adalah bahwa kemampuan siswa yang berbeda-beda menghasilkan pencapaian yang berbeda, maka dari itu waktu dan materi yang diberikan haruslah dibuat berbeda sesuai kemampuan siswa tadi. Guru perlu dengan cermat menyusun pembelajaran yang memfasilitasi semua siswa dengan kemampuan yang berbeda tersebut. Caranya adalah dengan penggunaan LKS dan portfolio. LKS dapat dibuat sesuai kemampuan siswa, dan dengan portfolio, guru mampu menilai sejauh mana pencapaian dari masing-masing siswa

    ReplyDelete
  51. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam kesempatan kali ini saya sedikit tertegun dengan keadaan yang berbeda antara dua Negara tersebut. Memang dapat dikatakan pembelajaran yang diterapkan di Inggris tersebut bias saya katakana sangat bagus. Namun jika dibandingkan dengan Indonesia, berhenti terlebih dahulu. Manukin kebanyakan orang menganggap bahwa jika di Negara luar memakai objek ini maka penerapan di Indonesia akan baik pula. Janganlah seperti itu, karena sudah berbeda subjeknya dan karakteristiknya. Maka dalam penerapanya pun harus diperhatikan. Sehingga harus disediakan terlebih dahulu sarana dan prasarananya sudah siap atau belum. Kalau belum dilengkapi terlebih dahulu. Sehingga penerapnnya bukan setengah-setengah.

    ReplyDelete
  52. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sangat-sangat bagus jika kurikulum itu mementingkan kebutuhan siswa. Namun sayangnya di Indonesia sendiri masalah pendidikan terbentur dengan kepentingan politik. Mungkin dalam skala mikro bias dilakukan. Namun jika dilakukan seorang diri akan susah melakukannya. Sehingga mungkin UNY atau teman-teman yang mempunyai kelebiuhan membina satu sekolah saja dengan system tersebut maka ada kemungkinan dapat memperluas pemahaman tentang kurikulum seperti ini. Karena yang dibutuhkan itu terlebih dahulu objek nyatanya kalau ide mungkin akan terpangkas di meja para politik. Sehingga dalam penerapannya diperlukan bukan hanya kerja satu orangsaja namun banyak orang yang ikut ambil bagian.

    ReplyDelete
  53. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Pembelajaran dasar matematika di Inggris dan di Indonesia. Sebenarnya keduanya mempunyai sisi positif dan negatif. Sisi Positifnya pembelajaran matematika di inggris yakni siswa bisa mengembangkan kreatifitasnya sendiri, namun dalam hal ini mereka tidak mempunyai KKM sebagai suatu standar kelulusan. Menurut saya pembelajaran di Indonesia dimana siswa akan menghasilkan output dan hasil yang sama bukanlah merupakan suatu keburukan, karena dengan adanya hal yang sama yang ingin dicapai maka pembelajaran akan terarah dibawa kemana, tidak ngalor ngidul, meskipun tetap ada sisi negatifnya yakni siswa tidak dapat memilih materi pelajaran apa yang disukainya. Jadi keduanya mempunyai sisi positif dan negatifnya masing-masing.

    ReplyDelete
  54. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Paradigma pembelajaran matematika di Inggris dan Indonesia sungguh berbeda. Di Inggris, pada waktu yang berbeda-beda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dan hasil yang berbeda pula. Sementara itu di Indonesia, pada waktu yang sama, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang sama dengan hasil yang harus sama yaitu sama dengan pemikiran guru. Adanya pemberian LKS dan portofolio penting bagi siswa untuk memfasilitasi kebutuhan siswa yang berbeda-beda dan dengan tingkat kemampuan siswa yang berbeda-beda pula.

    ReplyDelete
  55. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Menurut saya need assesment memang sangat perlu dilakukan oleh pemerintah untuk pengembangan kurikulum. Sehingga kurikulum tidak hanya mengikuti nafsu politik dan kebutuhan industri saja. Namun juga kebutuhan siswa. Mungkin pemerintah saat ini sedang berusaha untuk mewujudkan desentralisasi pendidikan, namun menurut saya masih belum optimal. Hal ini, karena ada beberapa daerah yang menurut saya tertinggal secara fasilitas maupun aktivitas, dituntut untuk mempraktekan pendidikan yang serupa dengan daerah yang sudah mapan. Hal ini jika diselidiki lebih lanjut bisa menjadi bentuk ketidakadilan dalam pendidikan. Namun saya yakin pemerintah tidak bermaksud demikian, sehingga need assesment sangat diperlukan untuk memperbaiki masalah tersebut.

    ReplyDelete
  56. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Tulisan di atas bercerita bagaimana seorang guru memfasilitasi setiap siswa dengan karakteristik yang berbeda. Kita mampu mengambil pelajaran dari cerita di ats, bahwa guru yang baik adalah guru yang memberikan kesempatan yang sama pada setiap siswa nya. Maksud dari kesempatan yang sama ini adalah bahwa guru memberikan kesmepatan kepada siswa untuk mengembangkan dirinya sesuai dengan karakteristiknya, sehingga guru tidak egois memaksakan produk atau hasil yang sama bagi setiap muridnya. Mari menghargai setiap hasil yang diperoleh oleh siswa.

    ReplyDelete
  57. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Secara general Indonesia tidak dapat melakukannya dengan absolutely. Namun dengan metode pemeblajaran sekarang yang memusatkan siswa dan guru berperan sebagai fasilitator maka hal ini akan dapat dijalankan. Karena sebagai fasilitator guru menyiapkan kebutuhan siswa untuk nyaman dalam merekonstruksi pengetahuan matematika. Dengan cara itu maka guru menerapkan kurikulum yang menyesuaikan siswa. Dan dengan respon siswa tersebutlah yang memfeksibelitaskan kurikulum sehingga sesuai dengan kebutuhan siswa dengan tidak melupakan tujuan pembelajran yang ada.

    ReplyDelete
  58. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Berdasarkan forum diatas terlihat bahwa kemampuan guru di salah satu sekolah di London mampu menyediakan LKS berbeda bahkan LKS tambahan. Namun sayangnya di Indonesia sendiri masih banyak guru yang memakai metode yang tidak bervariasi. Untuk LKS yang beraneka ragam, tentu diperlukan pesiapan yang matang, apalagi jika LKS digunakan setiap minggu selama satu semester. Semoga hal ini bisa menjadi salah satu motivasi bagi guru-guru di Indonesia.

    ReplyDelete
  59. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Bagaimana siswa dapat menentukan kurikulum? Siswa dapat menentukan kurikulum melalui pengalaman belajar yang ia lakukan. Dengan pengalaman belajar yang ia dapat secara langsung ia akan mengerti kurikulum mana yang sesuai dengan dirinya dan mana yang tidak. Setiap siswa yang memiliki karakter yang berbeda pasti memiliki kurikulum yang berbeda pula. Pendidikan tidak bisa memaksakan satu sistem saja pada berbagai macam jenis siswa. Oleh karena itu lah peran guru sebagai fasilitator akan sangat berpengaruh, salah satunya adalah dalam pembuatan LKS yang sekiranya cocok dengan siswa yang dia ajar.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  60. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah membaca artikel di atas, saya menjadi terkesima dengan sistem pendidikan yang ada di London. Telah disebutkan dalam artikel di atas bahwa siswa di London turut serta membuat kurikulum di sekolah. Sebelum kurikulum dikembangkan maka diadakan suatu pertemuan khusus sehingga setelah pertemuan tersebut dapat diketahui apa saja yang siswa butuhkan yang kemudian dapat digunakan untuk mengembangkan kurikulum tingkat sekolah.

    ReplyDelete
  61. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Jika di Indonesia diterapkan sistem pengembangan kurikulum yang sama dengan di London, maka kegiatan pembelajaran di negara kita ini akan lebih mampu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan siswa. Siswa akan lebih terlayani karena kegiatan pembelajarannya sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Oleh karena itu, artikel di atas dapat dijadikan pertimbangan agar sistem pengembangan kurikulum di Indonesia bisa lebih memenuhi kebutuhan siswa.

    ReplyDelete
  62. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Kurikulum yang diterapkan disetiap negara pasti memiliki perbedaan. Elegi ini menceritakan bagaimana kurikulum pendidikan di Inggris berbeda dengan di Indonesia. Perbedaan tersebut ialah kurikulum di Inggris adalah kurikulum yang dapat disesuaikan tiap sekolahnya. Siswa ikut berperan dalam menentukan kurikulum. Namun, sebelum diadakan pengembangan kurikulum yang disertai dengan adanya peran siswa, dilakukan need assessment pada siswa yang menggambarkan kebutuhan siswa disekolah yang disertai dengan portofolio.

    ReplyDelete
  63. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Seorang guru di London memfasilitasi siswa dan memenuhi kebutuhan belajar siswa sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Hal yang menjadi pembeda adalah prinsip utama dalam pembelajaran di Inggris menganut paradigma bahwa waktu, siswa, mempelajari matematika, kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula. Sedangkan pembelajaran di Indonesia menganut paradigma bahwa waktu, dituntut mempelajari matematika yang sama, namun siswa berbeda-beda, dengan hasil sama seperti yang dipikirkan oleh gurunya.

    ReplyDelete
  64. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kita tahu sebelumnya bahwa pendidikan adalah kebutuhan bagi siswa. Bagaimana menyusun suatu pembelajaran yang memang dibutuhkan oleh siswa. Oleh karena itu perlulah untuk mengetahui karakteristik siswa serta apa yang dibutuhkan oleh siswa. Sesuai dengan cerita di atas, bahwa siswa menentuka pembelajaran apa yang sesuia dengan dia dan apa yang dia butuhkan. Sehingga siswa akan lebih senang melakukan proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  65. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kurikulum SD yang ada di London tersebut memang benar-benar implementasi dari pembelajaran yang inovatif, pembelajaran yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan siswa, sehingga untuk siswa yang high achievment dapat meningkatan kemampuannya lagi dengan fasilitas LKS yang berbeda dengan lower achievement yang diberikann guru. Sehingga siswa yang memiliki kemampuan tinggi akan terus mengeksplore pengetahuannya.

    ReplyDelete
  66. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berbeda dengan pembelajaran di Indonesia yang semuanya ingin sama rata, jadi pembelajarannya dilakukan satu untuk semua, satu LKS untuk semua jenis siswa, sehingga siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata tidak dapat memaksimalkan skill yang dia punya.

    ReplyDelete
  67. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Menurut saya bagaimana siswa menentukan kurikulum adalah benar. namun, bukan dalam arti siswa yang memilih kurikulum atau membuat kurikulum, tetapi yang dimaksud menentukan ini adalah siswa itu sangat berpengaruh terhadap perubahan kurikulum. Oleh karena itu, perubahan kurikulum itu salah satu faktor yang harus dilihat adalah kemampuan siswa tersebut.

    ReplyDelete
  68. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Pemaparan kurikulum seperti yang dijelaskan oleh Prof. Marsigit yang berdasarkan kurikulum di London memang sangat bagus jika di Indonesia dapat ditepakan. Kurikulum yang dilaksanakan memang akan baik hasilnya jika setiap sekolah memiliki dan membuat sendiri yang didasarkan oleh kebutuhan siswa.

    ReplyDelete
  69. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Sayangnya, di Indonesia kurikulum masih menjadi persoalan yang digarap pemerintah dan sekolah hanya menjadi pelaksana atas kurikulum tersebut. Padahal jika kita menengok sudut pandang di London, bahwa kemampuan murid yang berbeda-beda tentunya difasilitasi dengan berbeda-beda dan hasilnyapun akan berbeda. Dengan kata lain, kita tidak dapat menjadikan satu sumber belajar untuk semua siswa.

    ReplyDelete
  70. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Kebutuhan yang berbeda-beda setiap murid harusnya disikapi pul dengan perlakuan dan fasilitas yang berbeda yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Siswa dengan pencapaian tinggi akan merasa bosan dan tidak berkembang jika pembelajaran harus mengikuti pembelajaran siswa dengan pencapaian rendah.Begitupun siswa dengan pencapaian rendah akan sangat sulit mengikuti jika harus mengikuti pembelajaran siswa pencapaian tinggi.

    ReplyDelete
  71. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Dengan adanya kurikulum sekolah, diharapkan semua kebutuhan siswa dapat terfasilitasi, akan tetapi untuk merubah pandangan kurikulum di Indonesia tidak mudah, memerlukan integrasi antar pihak yang bersangkutan dan wawasan yang luas.

    ReplyDelete
  72. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Kurikulum yang berkembang di London dapat menjadi contoh pengembangan kurikulum di Indonesia agar ke depan pendidikan Indonesia akan mencapai hasil maksimal.

    ReplyDelete
  73. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Terimakasih Prof. Marsigit atas wawasan kurikulum yang diberikan.

    ReplyDelete
  74. Eka Novi Setiawan
    14301241044
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    guru telah memfasilitasi siswa dengan baik, kesimpulan tersebut saya dapat karena semua kemampuan siswa diperhatikan(rendah maupun tinggi) dilihat dari 5 macam LKS yang disediakan guru dengan isi LKS berbeda-beda sesuai kemampuan siswa dari mulai rendah ke tinggi.

    ReplyDelete
  75. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Di luar negeri, kurikulum tidak ditulis terperinci layaknya kurikulum di Indonesia. Sehingga, guru dapat bebas mengembangkan kurikulum di kelas, dan bisa juga berdiskusi dengan siswa untuk menentukan kurikulum. Jika siswa di kelas ternyata memiliki minat dan keinginan yang berbeda-beda, maka pembelajaran di kelas juga disesuaikan, dan tugas guru adalah memfasilitasi minat dan keinginan siswa, melalui kegiatan yang beragam dan LKS yang beragam.

    ReplyDelete
  76. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    siswa menentukan kurikulum memang benar. tetapi menentukan disini maksudnya siswa merupakan salah satu faktor utama yang dipertimangkan dalam perubahan maupun perbaikan kurikulum. karena sejatinya kurikulum itu dirubah atau diperbaiki nantinya akan dipraktekkan ke siswa oleh guru.

    ReplyDelete
  77. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Kurikulum yang sehat tidak mungkin direncanakan tanpa mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan anak. Anak-anak diikutsertakan dalam menentukan apa yang ingin mereka pelajari. Tujuan pendidikan dan tujuan kurikulum pada dasarnya untuk anak didik. Oleh karena itu memperhatikan kepentingan anak didik dalam merumuskan dan menetapkan tujuan pendidikan sangat diperlukan. Kemampuan, minat dan perhatian, sikap dan perilaku serta ciri kepribadian anak didik merupakan dimensi-dimensi untuk diperhatikan. Dalam meningkatkan kualitas siswa, para pembina kurikulum (guru) hendaknya tidak melepaskan diri dari tanggung jawabnya sebagai pendidik dan pembimbing, sehingga partisipasi siswa tersebut tidak lepas dari bimbingan guru, seperti pemberian motivasi belajar, dorongan untuk berpendapat, dan berpartisipasi dalam kegiatan – kegiatan lain yang bermanfaat.

    ReplyDelete
  78. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Untuk merencanakan suatu program dalam perencanaan kurikulum, harus disesuaikan dengan siswa. Rahasia pengambilan keputusan perencanaan kurikilum yang baik adalah dengan memperhatikan saran atau pendapat siswa untuk sekolahnya. .Beberapa sekolah mencari informasi tentang pendapat atau saran siswa untuk dapat melihat secara lebih luas tentang suatu program kurikulum. Keterlibatan siswa dalam perencanaan kurikulum menandakan perencanaan kurikulum yang professional. Sehingga mereka dapat merasakan bagaimana suatu program baru. Mereka dapat memberikan masukan sebagai penerima suatu program. Pemilihan siswa yang ikut ambil bagian dalam perencanaan kurikulum, berdasarkan pada sejumlah variabel seperti kecerdasan, motivasi, dan pengetahuannya. Suatu kontribusi yang berharga untuk peningkatan kurikulum yang dapat diberikan siswa adalah mengevaluasi pembelajaran yang diberikan oleh guru. Walaupun para siswa secara aktif masuk ke dalam proses pengembangan kurikulum dalam beberapa sistem persekolahan, keterlibatan mereka umumnya masih cenderung jarang.

    ReplyDelete
  79. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16


    LKS sangat penting untuk melayani kebutuhan siswa yang berbeda-beda. Tapi yang terjadi sekarang ini banyak guru yang tidak membuat LKS nya sendiri, apalagi lebih dari satu bentuk. LKS yang dipakai adalah LKS yang banyak beredar dimasyarakat. Alasannya menggunakan LKS tersebut selain murah, mudah didapat, guru pun tidak perlu repot-repot membuat LKS lagi. Inilah yang terjadi.

    ReplyDelete