Feb 12, 2013

Forum Tanya Jawab 63: Bagaimana Siswa Bisa Menentukan Kurikulum?


Oleh Marsigit

Ass, bagaimana mungkin seorang siswa ikut menentukan Kurikulum? Ah suatu pertanyaan atau ide yang mengada-ada. Apakah ada seorang siswa yang mempunyai kemampuan membuat Kurikulum? Jika toh ada, apakah boleh? Dan bagaimana cara atau skemanya?

Saya ingin mengatakan bahwa kalimat "Siswa Menentukan Kurikulum" memang kalimat yang agak provokatif yang saya buat. Tetapi saya ingin menunjukkan bahwa dengan penyesuaian persepsi dan konteks tantang hakekat Kurikulum serta hakekat pembelajaran, maka substansi kalimat tersebut bukanlah sesuatu yang mengada-ada.

Marilah kita coba
Pertama, kita bongkar dulu persepsi dan pemahaman kita tentang apa itu yang disebut Kurikulum. Budaya dan kebiasaan kita bangsa Indonesia selama ini, memaknai Kurikulum sebagai suatu garis besar rencana implementasi pendidikan yang disusun oleh Pemerintah melalui para pakarnya. Barulah setelah sempurna, Kurikulum yang dihasilkan siap diimplementasikan dengan dukungan Peraturan Perundang-undangan. Itulah kebiasaan kita selama berpuluh-puluh tahun sejak jaman Belanda.

Hasil observasi dan wawancara terhadap beberapa Guru di Inggris beberapa tahun yang lalu menunjukkan bahwa mereka mempunyai persepsi dan pemahaman yang berbeda dengan kita. Bagi mereka pengertian dan makna Kurikulum hampir menyerupai RPP atau Kurikulum tingkat sekolah. Pada saat itu memang di Inggris menganut sistem desentralisasi pendidikan, yaitu bahwa Kurikulum itu adalah urusan sekolah masing-masing.

Karena memang saya membaca ada wacana bahwa siswa juga berperan dalam Kurikulum, saya kemudian mencari tahu di suatu sekolah SD di tenggara kota London. Guru kelas 2 (dua) yang mengajar matematika saya wawancara dan mengatakan bahwa siswa berperan dalam pengembangan kurikulum. Saya ingin tahu bagaimana bisa siswa berperan dalam pengembangan kurikulum? Ternyata hal itu sangat dimungkinkan karena Kurikulum yang mereka maknai adalah Kurikulum tingkat sekolah dan tingkat pembelajaran di kelas. Pada tingkat sekolah, sebelum dilakukan pengembangan kurikulum, maka ada pertemuan khusus atau semacam need assessment dengan para siswa, didukung dengan dokumen portfolio tentang aktivitas siswa. Hasil-hasil need assessment yang menggambarkan kebutuhan siswa kemudian digunakan untuk pengembangan kurikulum tingkat sekolah.

Kemudian saya berusaha memperdalam lagi, apakah ada aspek yang lain bagaimana siswa ikut menentukan kurikulum? Jawaban guru dan fakta yang saya temukan ternyata cukup sederhana tetapi diluar yang saya pikirkan. Kata guru "Setiap akhir pelajaran matematika, saya selalu mewawancarai para siswa untuk mengetahui Jenis Kegiatan apa saja yang mereka inginkan dari Pelajaran Matematika minggu depan yang akan saya selenggarakan. Jawaban siswa tentu beraneka ragam, maka saya mengelompokkannya kedalam kriteria yang mungkin saya persiapkan agar bisa saya laksanakan apa yang diminta oleh siswa"

Saya melanjutkan pertanyaan "Bagaimana mungkin anda bisa melaksanakan berbagai permintaan atau tuntutan siswa dalam pbm matematika?". Serta merta guru meminta saya agar minggu depan datang lagi ke sekolah untuk melihat bagaimana guru mampu melayani berbagai kebutuhan belajar para siswanya.

Hasil observasi saya minggu berikutnya, pada Kelas II, adalah sebagai berikut:

Pertama, guru secara klasikal menjelaskan tentang kompetensi apa saja yang akan siswa peroleh dalam pbm, kemudian guru memberi petunjuk bagaimana nantinya para siswa bekerja secara kelompok.

Kedua, darisejumlah 32 siswa yang ada, kemudian guru membagi kelas menjadi 2 Kelompok Besar, masing-masing terdiri dari 16 siswa. Dari 16 siswa kelompok kedua di bagi menjadi 4 kelompok. Satu dari empat kelompok di split lagi menjadi 2 kelompokmasing-masing berangotakan 2 siswa. Jadi secara keseluruhan terdapat 6 (enam) Kelompok. Kelompok Besar terdiri dari 16 siswa. Tiga Kelompok berangotakan 4 (empat) siswa. Dan Dua Kelompok beranggotakan masing-masing 2 siswa.

Ketiga, setelah saya cermati, ternyata yang terjadi adalah Satu kelompok pertama terdiri dari 2 (dua) siswa yang prestasinya the Best. Satu kelompok kedua terdiri dari 2 (dua) siswa yang prestasinya the Lowest. Tiga Kelompok masing-masing terdiri dari 4 (empat) siswa denganprestasi rata-rata. Sedangkan satu Kelompok Besar yang terdiri dari 16 siswa dengan kemampuan campuran.

Keempat, di tiap meja pada Kelompok Kecil terdiri dari 4 siswa atau 2 siswa, masing-masing sudah diletakan LKS yang berbeda dengan Warna Kertas yang berbeda. Dan mereka mulai berdiskusi di dalam kelompoknya. Sementara itu Guru bergabung dengan Kelompok Besar (16 siswa) untuk memulai aktivitasnya.

Kelima, pada Kelompok Besar (16 siswa) suasana belajar di setting dengan Duduk Melingkar di Lantai, kemudian dituangkan dari dalam Keranjang barbagai macam Bangun Datar Geometri terbuat dari kayu, bermacam-macam Segitiga, Persegi, Persegi Panjang, Lingkaran, Trapesium. Dengan variasi bermacam warna yang kontras.

Keenam, ternyata Kompetensi yang ingin dicapai pada masing-masing Kelompok berbeda-beda. Pada Kelompok besar kompetensinya adalah Pengenalan Bangun Geometri. Kelompok the Best kompetensi dan LKS nya berbeda dengan Kelompok the Lowest. Demikian sehingga pada saat yang sama guru menyediakan 5 (lima) macam LKS.

Ketujuh, ketika Guru sedang asyik beraktivitas di Kelompok Besar, datanglah seorang siswa dari Kelompok the Best melaporkan bahwa dia telah menyelesaikan LKS nya. Guru kemudian menyuruh untuk melanjutkan berdiskusi dan mengerjakan LKS yang lainnya (lanjutannya) yang khusus diperuntukan untuk Kelompok the Best,dengan warna Kertas yang sama tadi.

Kedelapan, Ternyata guru juga menyediakan stok/persediaan  LKS untuk tiap-tiap Kelompok Diskusi.
Pada Kelompok Besar, guru memulai membuat contoh aktivitas dengan kalimat "I spy the Red Small Circle". Artinya "Saya ingin mengambil Lingkaran Kecil berwarna Merah". Kemudian guru mengambilnya, kemudian menunjukkan kepada para siswa, dan menyuruhnya untuk mengamati bangun Lingkaran itu.  Kemudian  Guru melemparkan kembali benda itu ketumpukan di tengah kerumunan. Demikian seterusnya guru menyuruh secara bergantian agar siswa-siswa melakukan kegiatan yang sama, dengan cara siswa yang sudah melakukan kegiatan kemudian menunjuk siswa yang lain secara acak, sampai selesai.

Setelah kembali ke University of London, saya konsultasikan dan tanyakan kepada Pembimbing, mengapa guru bisa melakukan hal demikian, maka jawabnya adalah "Pbm matematika di sini, menganut paradigma : pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula". Saya lanjutkan pertanyaan saya "Lalu bagaimana mengorganisasikannya".Jawaban Pembimbing "Itulah pentingnya LKS dan Portfolio". LKS sangat penting untuk melayani kebutuhan siswa yang berbeda-beda. Sedangkan setiap siswa perlu dilengkapi dengan Dokumen yang disebut Portfolio Siswa atau Record Keeping. Record Keeping Siswa berisi segala Dokumen yang berkaitan dengan Aktivitas dan Prestasi Siswa mengalir dari tahun ke tahun.

Setelah kembali ke Indonesia, saya menemukan bahwa Pembelajaran Matematika di Indonesia bersifat "Untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya"

Demikianlah refleksi pengalaman saya di Inggris beberapa tahun yang lalu.

Semoga bermanfaat,dan ditunggu komen-komennya.

Amin

79 comments:

  1. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. Menurut saya mungkin saja siswa menentukan kurikulum. Karena fakta di lapanagan memang terdapat perbedaan kompetensi dan kecerdasan yang dimiliki siswa. Ada siswa yang cepat belajarnya, ada siswa yang lambat belajarnya. Jika kemampuan siswa disama ratakan maka tidak adil untuk siswa sendiri.

    ReplyDelete
  2. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014



    Pemebelajaran di London tersebut sungguh sangat menginspirasi dimana pembelajaran berpusat pada siswa, guru memberikan variasi LKS karena sesungguhnya siswa memiliki kemampuan yang berbeda beda. ada siswa yang cenderung sulit memahami materi dan ada siswa yang cepat dalam memahami materi, maka dari itu guru membuat LKS yang bervariasi.

    ReplyDelete
  3. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika


    siswa merupakan pelaku pendidikan , tujuan pendidikan yaitu untuk perkemabangan siswa, sehingga pendidikan dibuat semaksimal mungkin untuk kemajuan siswa, siswa pembentuk kurikulum menurut saya adalah karean tujuan pendidikan itu untuk siswa jadi kita harus mengetahui apa kesulitan siswa, bagaimana pembelajaran yang siswa inginkan dll. hal itu penting agar kurikulum yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan siswa.

    ReplyDelete
  4. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Brainstorming dari siswa dapat menentukan kurikulum berdasarkan guru di Inggis yang menerapkan hal demikian, ini dikarenakan guru-guru disana memiliki persepsi dan pandangan yang berbeda dengan guru di Indonesia. Di Inggris, kurikulum menyerupai RPP atau kurikulum tingkat sekolah. Seandainya saja kurikulum di Indonesia diberlakukan sama dengan kurikulum di Inggris, maka pendidikan yang terjadi akan lebih maju. Karena menurut saya, peraturan pemerintah yang diterapkan mengenai KI dan KD yang ditentukan oleh Pemerintah tidak langsung melihat langsung ke lapangan. Seaindainya pemerintah tau apa kondisi dilapangan maka sejatinya kurikulum yang ditetapkan harus disesuaikan daerah dan ketersediaan guru yang memiliki kualifikasi pendidikan yang linear.

    ReplyDelete
  5. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPS P.Mat D

    Sebagai guru, tugasnya adalah melayani dan memfasilitasi peserta didik, kita harus mengikuti kemauan peserta didik. Sebagai guru juga harus pandai-pandai dalam memahami setiap karakter yang dimiliki setiap individu. Guru harus memiliki trik yang bagus dalam mengembangkan potensi siswa-siswanya. Dalam proses pembelajaran, hendaknya siswa punya hak untuk menentukan belajarnya itu mau dibuat seperti apa, dan dalam suasana yang bagaimana. Dengan demikian maka siswa akan merasa sangat rindu dengan belajar, dan kegiatan belajar pun akan menjadi hobby setiap siswa.

    ReplyDelete
  6. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Artikel di atas pernah disampaikan lebih jelas pada perkuliahan Etnomatematika di ruang D07.309, cerita di atas sangat menarik karena membuka wawasan baru para mahasiswa. Mahasiswa yang sebelumnya belum mengetahui bagaimana pendidikan di luar negeri menjadi mengetahuinya melalui Bapak Marsigit. Terima kasih atas artikel di atas yang dapat menambah wawasan kami dan menginspirasi kami yang ke depannya juga akan menjadi guru matematika.

    ReplyDelete
  7. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut saya, pembelajaran seperti cerita di atas sangat menarik bagi siswa, sehingga siswa tidak akan takut pada matematika karena mereka belajar dengan hati yang bahagia dan kondisi kelas yang kondusif. Akan tetapi, akan sangat susah diterapkan di Indonesia, karena di Indonesia masih UN-oriented, sehingga pembelajaran matematika di Indonesia haruslah untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya dan juga akhirnya dapat mengerjakan soal UN dengan baik.

    ReplyDelete
  8. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Untuk mengatasi paradigma “untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya” tetapi tetap menikuti aturan yan ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia, mungkin dapat dilakukan dengan sedikit mengadaptasi yang dilakukan di luar negeri yaitu mengubah aktivitas di kelas, dari yang semula “dituntut mempelajari matematika yang sama” menjadi “dapat mempelajari matematika yang berbeda-beda” yaitu dengan cara guru memfasilitasi siswa dengan berbagai LKS, LKS untuk siswa yang berkemampuan berbeda, haruslah berbeda.

    ReplyDelete
  9. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Kurikulum di Indonesia berbeda dengan kurikulum di Inggris. Kurikulum di Indonesia lebih menekankan bahwa kurikulum adalah patokan yang dibuat oleh pemerintah yang harus dicapai oleh semua siswa di Indonesia. Semua sekolah dianggap mempunyai kemampuan yang sama sehingga dibuat patokan yang sama antara sekolah satu dengan sekolah lain. Sedangkan di Inggris kurikulumnya dibuat oleh sekolah karena setiap sekolah mempunyai kemampuan yang berbeda, sehingga setiap sekolah mempunyai cara masing-masing untuk membuat siswanya mempelajari matematika.

    ReplyDelete
  10. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara sistem pendidikan di Indonesia dengan sistem pendidikan di Inggris. Sistem pendidikan di Indonesia terlalu otoriter karena kurikulum yang ada disusun oleh pemerintah dan harus dikuasai siswa tanpa adanya partisipasi siswa dalam penyusunannya, sedangkan di London Inggris, siswa dapat berpartisipasi dalam menyusun kurikulumnya sendiri dan dapat memilih materi apa yang ingin mereka pelajari dan apa yang benar benar ia butuhkan. Dengan sistem pendidikan seperti itu maka siswa london dapat belajar dengan lebih menyenangkan, demokratis dan partisipatif. Ilmu yang diperolehpun menjadi lebih mudah masuk dan dapat lebih awet. Siswa yang berbeda beda dapat belajar hal yang berbeda beda sesuai yang dengan apa yang ia butuhkan dan hasilnya berbeda beda. Sedangkan di indonesia siswa yang berbeda beda, kemampuannya berbeda dituntut belajar yang sama dan hasilnya harus sama yang dikendaki guru dan kurikulum, sehingga hal ini menyebabkan siswa tidak dapat memaksimalkan kemampuan yang ada pada dirinya dan kreatifitasnya kurang muncul karena ia dituntut untuk sama dengan orang lain.

    ReplyDelete
  11. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Guru zaman sekarang tidak lagi boleh menjadi guru otoriter seperti itu. Guru dapat menggunakan LKS agar dapat digunakan siswa untuk mengeksplor kemampuan dirinya. Gurupun perlu memfasilitasi siswa dengan cara penyelesaian yang beragam, karena kemampuan siswa yang beragam, cara fikir beragam , berhah menyelesaikan soal atau masalah dengan caranya sendiri, dan boleh menemukan hasil yang berbeda. Hal ini dikarenakan pada dasarnya matematika itu adalah diri siswa itu sendiri, dan kurikulumnya harus sesuai dengan siswa.

    ReplyDelete
  12. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Terimakasih pak Prof atas pengalaman yang dibagikan kepada kami, sehingga kami dapat mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran yang ada di Inggris dan dapat membuka pikiran bagaimana penerapan pembelajaran inovatif itu

    ReplyDelete
  13. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Hal yang dapat ditarik dari cerita di atas adalah bahwa kemampuan siswa yang berbeda-beda menghasilkan pencapaian yang berbeda, maka dari itu waktu dan materi yang diberikan haruslah dibuat berbeda sesuai kemampuan siswa tadi. Guru perlu dengan cermat menyusun pembelajaran yang memfasilitasi semua siswa dengan kemampuan yang berbeda tersebut. Caranya adalah dengan penggunaan LKS dan portfolio. LKS dapat dibuat sesuai kemampuan siswa, dan dengan portfolio, guru mampu menilai sejauh mana pencapaian dari masing-masing siswa

    ReplyDelete
  14. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam kesempatan kali ini saya sedikit tertegun dengan keadaan yang berbeda antara dua Negara tersebut. Memang dapat dikatakan pembelajaran yang diterapkan di Inggris tersebut bias saya katakana sangat bagus. Namun jika dibandingkan dengan Indonesia, berhenti terlebih dahulu. Manukin kebanyakan orang menganggap bahwa jika di Negara luar memakai objek ini maka penerapan di Indonesia akan baik pula. Janganlah seperti itu, karena sudah berbeda subjeknya dan karakteristiknya. Maka dalam penerapanya pun harus diperhatikan. Sehingga harus disediakan terlebih dahulu sarana dan prasarananya sudah siap atau belum. Kalau belum dilengkapi terlebih dahulu. Sehingga penerapnnya bukan setengah-setengah.

    ReplyDelete
  15. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sangat-sangat bagus jika kurikulum itu mementingkan kebutuhan siswa. Namun sayangnya di Indonesia sendiri masalah pendidikan terbentur dengan kepentingan politik. Mungkin dalam skala mikro bias dilakukan. Namun jika dilakukan seorang diri akan susah melakukannya. Sehingga mungkin UNY atau teman-teman yang mempunyai kelebiuhan membina satu sekolah saja dengan system tersebut maka ada kemungkinan dapat memperluas pemahaman tentang kurikulum seperti ini. Karena yang dibutuhkan itu terlebih dahulu objek nyatanya kalau ide mungkin akan terpangkas di meja para politik. Sehingga dalam penerapannya diperlukan bukan hanya kerja satu orangsaja namun banyak orang yang ikut ambil bagian.

    ReplyDelete
  16. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Pembelajaran dasar matematika di Inggris dan di Indonesia. Sebenarnya keduanya mempunyai sisi positif dan negatif. Sisi Positifnya pembelajaran matematika di inggris yakni siswa bisa mengembangkan kreatifitasnya sendiri, namun dalam hal ini mereka tidak mempunyai KKM sebagai suatu standar kelulusan. Menurut saya pembelajaran di Indonesia dimana siswa akan menghasilkan output dan hasil yang sama bukanlah merupakan suatu keburukan, karena dengan adanya hal yang sama yang ingin dicapai maka pembelajaran akan terarah dibawa kemana, tidak ngalor ngidul, meskipun tetap ada sisi negatifnya yakni siswa tidak dapat memilih materi pelajaran apa yang disukainya. Jadi keduanya mempunyai sisi positif dan negatifnya masing-masing.

    ReplyDelete
  17. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Paradigma pembelajaran matematika di Inggris dan Indonesia sungguh berbeda. Di Inggris, pada waktu yang berbeda-beda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dan hasil yang berbeda pula. Sementara itu di Indonesia, pada waktu yang sama, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang sama dengan hasil yang harus sama yaitu sama dengan pemikiran guru. Adanya pemberian LKS dan portofolio penting bagi siswa untuk memfasilitasi kebutuhan siswa yang berbeda-beda dan dengan tingkat kemampuan siswa yang berbeda-beda pula.

    ReplyDelete
  18. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Menurut saya need assesment memang sangat perlu dilakukan oleh pemerintah untuk pengembangan kurikulum. Sehingga kurikulum tidak hanya mengikuti nafsu politik dan kebutuhan industri saja. Namun juga kebutuhan siswa. Mungkin pemerintah saat ini sedang berusaha untuk mewujudkan desentralisasi pendidikan, namun menurut saya masih belum optimal. Hal ini, karena ada beberapa daerah yang menurut saya tertinggal secara fasilitas maupun aktivitas, dituntut untuk mempraktekan pendidikan yang serupa dengan daerah yang sudah mapan. Hal ini jika diselidiki lebih lanjut bisa menjadi bentuk ketidakadilan dalam pendidikan. Namun saya yakin pemerintah tidak bermaksud demikian, sehingga need assesment sangat diperlukan untuk memperbaiki masalah tersebut.

    ReplyDelete
  19. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Di luar negeri, kurikulum tidak ditulis terperinci layaknya kurikulum di Indonesia. Sehingga, guru dapat bebas mengembangkan kurikulum di kelas, dan bisa juga berdiskusi dengan siswa untuk menentukan kurikulum. Jika siswa di kelas ternyata memiliki minat dan keinginan yang berbeda-beda, maka pembelajaran di kelas juga disesuaikan, dan tugas guru adalah memfasilitasi minat dan keinginan siswa, melalui kegiatan yang beragam dan LKS yang beragam.

    ReplyDelete
  20. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    siswa menentukan kurikulum memang benar. tetapi menentukan disini maksudnya siswa merupakan salah satu faktor utama yang dipertimangkan dalam perubahan maupun perbaikan kurikulum. karena sejatinya kurikulum itu dirubah atau diperbaiki nantinya akan dipraktekkan ke siswa oleh guru.

    ReplyDelete
  21. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Kurikulum yang sehat tidak mungkin direncanakan tanpa mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan anak. Anak-anak diikutsertakan dalam menentukan apa yang ingin mereka pelajari. Tujuan pendidikan dan tujuan kurikulum pada dasarnya untuk anak didik. Oleh karena itu memperhatikan kepentingan anak didik dalam merumuskan dan menetapkan tujuan pendidikan sangat diperlukan. Kemampuan, minat dan perhatian, sikap dan perilaku serta ciri kepribadian anak didik merupakan dimensi-dimensi untuk diperhatikan. Dalam meningkatkan kualitas siswa, para pembina kurikulum (guru) hendaknya tidak melepaskan diri dari tanggung jawabnya sebagai pendidik dan pembimbing, sehingga partisipasi siswa tersebut tidak lepas dari bimbingan guru, seperti pemberian motivasi belajar, dorongan untuk berpendapat, dan berpartisipasi dalam kegiatan – kegiatan lain yang bermanfaat.

    ReplyDelete
  22. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Untuk merencanakan suatu program dalam perencanaan kurikulum, harus disesuaikan dengan siswa. Rahasia pengambilan keputusan perencanaan kurikilum yang baik adalah dengan memperhatikan saran atau pendapat siswa untuk sekolahnya. .Beberapa sekolah mencari informasi tentang pendapat atau saran siswa untuk dapat melihat secara lebih luas tentang suatu program kurikulum. Keterlibatan siswa dalam perencanaan kurikulum menandakan perencanaan kurikulum yang professional. Sehingga mereka dapat merasakan bagaimana suatu program baru. Mereka dapat memberikan masukan sebagai penerima suatu program. Pemilihan siswa yang ikut ambil bagian dalam perencanaan kurikulum, berdasarkan pada sejumlah variabel seperti kecerdasan, motivasi, dan pengetahuannya. Suatu kontribusi yang berharga untuk peningkatan kurikulum yang dapat diberikan siswa adalah mengevaluasi pembelajaran yang diberikan oleh guru. Walaupun para siswa secara aktif masuk ke dalam proses pengembangan kurikulum dalam beberapa sistem persekolahan, keterlibatan mereka umumnya masih cenderung jarang.

    ReplyDelete
  23. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16


    LKS sangat penting untuk melayani kebutuhan siswa yang berbeda-beda. Tapi yang terjadi sekarang ini banyak guru yang tidak membuat LKS nya sendiri, apalagi lebih dari satu bentuk. LKS yang dipakai adalah LKS yang banyak beredar dimasyarakat. Alasannya menggunakan LKS tersebut selain murah, mudah didapat, guru pun tidak perlu repot-repot membuat LKS lagi. Inilah yang terjadi.

    ReplyDelete
  24. Nama: Ilma Rizki Nur Afifah
    NIM: 17709251020
    Kelas: S2 Pendidikan Matematika A

    Saya sangat tertarik dengan Sistem Kurikulum di Inggris seperti yang Bapak utarakan bahwa sistem kurikulum di sana bersifat desentralisasi. Namun, saat ini, dengan kondisi pendidikan di Indonesia yang belum merata sistem tersebut sulit untuk diterapkan. Memang sistem kurikulumnya bagus, yaitu kurikulum lahir dari kebutuhan siswa dan dikelola sekolah secara langsung namun sulit diterapkan di Indonesia. Misal: kualitas guru di sekolah kota dan pinggiran sangatlah berbeda, itu menentukan kualitas kurikulumnya juga karena guru sebagai pemantik dan fasilitator siswa. dan banyak contoh yang lainnya.

    ReplyDelete
  25. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 Kelas B 2017

    "Bagaimana siswa bisa menentukan kurikulum?" postingan di atas sangat menarik untuk saya baca. Dengan membaca postingan di atas, secara tidak langsung saya ikut melakukan komparasi pendidikan di Inggris dan Indonesia. Selanjutnya, saya menangkap bahwa betapa pentingnya seorang guru untuk menganali dan memahami peserta didiknya. Hal ini dikarenakan akan berhubungan dengan metode belajar yang akan diberikan oleh guru. Variasi LKS, sangat menarik. Pada bagian betapa pentingnya portofolio siswa, saya melihat bahwa sejatinya hanyalah guru yang tepat dalam melakukan penilaian terhadap muridnya, lantas bagaimana dengan Unas? (Unas, saya pernah membaca tulisan Bapak Marsigit terkait Unas pada postingan berjudul "Elegi Ritual dan Serba-serbi Unas".

    Siswa bisa menentukan kurikulum pada tahap implementasi kurikulum, pada proses pembelajaran. Sangat setuju bahwa, "Pbm matematika di sini, menganut paradigma : pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula". Pertanyaan saya, apakah paradigma seperti ini bisa diiplementasikan di Indonesia? Terimakasih

    ReplyDelete
  26. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Ulasan kali ini sangat menarik karena saya jadi penasaran bagaimana kurikulum di Inggris. Namun sepertinya desentralisasi kurikulum tidak bisa diterapkan di Indonesia karena ada Ujian Nasional di akhir setiap tingkatan pendidikan. Namun ide untuk berdiskusi dengan siswa sebelum memulai semester mengenai What students need, adalah salah satu yang bisa kita terapkan agar guru dapat mengetahui pembelajaran dan pengugasan seperti apa yang disukai siswa, dan yang tidak disukai siswa. Guru dan siswa bersama-sama mengambil jalan tengah sehingga kedepannya PBM tidak hanya didominasi oleh setting by teacher.

    ReplyDelete
  27. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Saya membaca sambil berusaha membayangkan kegiatan pembelajaran matematika di Inggris yang Bapak ceritakan. Guru yang dapat memfasilitasi keinginan semua siswa dalam suatu kelas tanpa adanya kesulitan untuk mengorganisasikan. Betapa bahagianya saya ketika menjadi siswa yang dapat turut serta dalam menentukan metode pembelajaran sesuai dengan keinginan saya. Menurut saya, dengan ikut sertanya siswa dalam menentukan kurikulum dalam pembelajaran di kelasnya akan mempermudah siswa dengan berbagai karakter dan berbagai kemampuan untuk belajar. Mereka dapat belajar sesuai kemampuan dan porsinya masing-masing. Tidak ada siswa yang diabaikan dan tidak ada pula siswa yang bosan karena materinya diulang-ulang untuk memberi pemahaman siswa yang lain.

    ReplyDelete
  28. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Berdasarkan uraian Bapak di atas, keberadaan LKS itu ternyata sangatlah penting. Dengan LKS, siswa akan dapat mempelajari substansi materi secara mandiri. Hanya saja LKS yang disusun harus benar-benar dapat membimbing atau menuntun siswa untuk memahami suatu konsep. Siswa-siswa the best dan the lowest diberikan LKS dengan model pembimbingan yang tentu berbeda. Latihan soal-soal yang diberikan dalam LKS pun tingkat kesulitannya dibuat berdasarkan kemampuan siswa.

    ReplyDelete
  29. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Pembelajaran Matematika di Indonesia bersifat dalam waktu yang sama, berbeda-beda siswa dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya. Padahal kurikulum digunakan untuk menentukan jumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai pendidikan. Kurikulum memiliki peran kreatif, konservatif, dan evaluatif. Setiap orang yang terlibat dalam dunia pendidikan berhak dalam mencetuskan ide dari kurikulum yang diinginkan, tidak terkecuali bagi seorang siswa selama ide itu tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan. Kurikulum yang memperhatikan kebutuhan siswa akan lebih dapat diterima siswa dari pada kurikulum yang dipaksakan kepada siswa. Kebutuhan siswa dapat dilihat dari tingkat siswa dan usia siswa dimana proses berpikirnya berbeda pada setiap jenjang sekolah tersebut. Sedangkan apabila kurikulum dipaksakan maka kebutuhan siswa dalam pembelajaran tidak sesuai yang akan berakibat siswa tertekan dalam pembelajaran

    ReplyDelete
  30. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sebenarnya setiap orang memiliki cara dan pandangannya masing-masing dalam memahami sesuatu. Demikian halnya dengan siswa, sesungguhnya siswa berhak untu mendapatkan dan menuntut pembelajaran yang sesuai dengan keinginan, kemampuan serta pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya, dan tentu saja setiap siswa kondisinya berbeda-beda. Merupakan tanggung jawab guru sebagai pendidik untuk memberikan proses pembelajaran yang seadil mungkin bagis setiap siswanya (walaupun untuk adil sebenar-benar adil bisa dibilang tidak mungkin terjadi), sehingga dalam pembelajaran siswa dapat belajar dengan maksimal dan optimal.

    ReplyDelete
  31. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Kurikulum merupakan suatu komponen yang cukup krusial dalam proses belajar mengajar disekolah, dengan kurikulum suatu sekolah akan mempunyai acuan kemana arah pendidikan akan diberlangsungkan. Menurut saya Indonesia sebagai negera berkembang sudah memiliki SDM yang cukup baik. Namun karena memiliki konsep kurikulum yang terlalu cepat berubah sehingga menyebabkan disorientasi pada guru dalam melaksanakan pendidikan, apalagi saat ini dengan kurikulum 2013 dimana para guru masih bnyak yang belum tau bagaimana konsep penerapan kurikulum tersebut dilakukan. Hal ini mungkin berbeda dengan kurikulum diluar negeri dimana mereka dalam menerapkan suatu kurikulum benar-benar tuntas sehingga tidak terjadi pemikiran yang masih mengambang dalam penerapannya disekolah.

    ReplyDelete
  32. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Terimakasih banyak Pak telah membagikan pengalaman yang begitu berharganya kepada kami semua, sangat menginspirasi seklai bagi saya, mungkin juga sama dengan teman-teman yang lainnya juga. Sepertinya ini bisa dijadikan contoh sebagai gambaran bagaimana pembelajaran yang benar-benar membangun pengetahuan siswa dengan intuisi mereka. Pendidikan di Indonesia menggunakan sistem terpusat, jadi segala kebijakan diatur oleh pusat, termsuk kurikulumnya juga diatur oleh pusat. Menurut sepemahaman saya, jika kurikulum itu diatur oleh pusat sebenarnya sudah baik, tetapi karena dari pusat itu dibuat secara umum, memberikan anggapan guru-guru untuk mendapatkan hasil yang sama seperti yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, otomatis hal tersebut menyamaratakan kemampuan siswa dan juga kebutuhan siswa. Jadi bagaimana siswa bisa menentukan kurikulum? Sepertinya dengan memaksimalkaan adanya LKS dan fortofolio, kurikulum akan sesuai dengan kebutuhan siswa, bukan siswa yang akan menyesuaikan kurikulum. Jika siswa harus menyesuaikan kurikulum, maka disitulah adanya pemaksaan untuk memiliki pengetahuan, pemikiran, dan hasil yang sama.

    ReplyDelete
  33. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof
    Melihat bagaimana pengalamannya Bapak dalam melakukan observasi dan wawancara terhadap guru di London dan kreatifnya guru yang diceritakan pada elegi di atas akan menjadi bahan pembelajaran buat kami.Melihat bagaimana seorang guru memahami siswa ,sehingga mengetahui keadaan siswa mana yang perlu dibenahi untuk membentuk proses belajar mengajar yang diharapkan.Dipaparkan juga bahwa guru tersebut membagi kelompok berdasarkan kapasitas siswa dalam menyerap materi yang diajarkan.Hal demikian didasarkan karena waktu yang berbeda –beda, kecerdasan dan kemampuan siswa yang beragam.

    Dijelaskan juga pada elegi sebelunya bahwa LKS memimilik peran penting bagi pemenuhan kebutuhan siswa di dalm belajar.Oleh sebab itu,seorang guru diharapkan dapat mengembangkan LKS dari LKS sebelumnya demi mencapai indikator yang diharapkan di dalam kegiatan belajar mengajar.

    ReplyDelete
  34. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Terima kasih postingannya, Prof. Ketika melihat judulnya, saya juga bertanya-tanya, bisakah siswa menentukan kurikulum yang digunakan? Dan ternyata bisa. Dari ulasan bapak di atas, sangat sayang sekali apabila hal tersebut tidak bisa diterapkan di Indonesia. Kenapa kita tidak belajar dari sistem pendidikan Di London? Tetapi saya berharap bahwa dengan diterapkannya kurikulum 2013 ini yang dimana menggunakan pendekatan saintifik dengan siswa sebagai aktor utama yang berperan aktif dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

    ReplyDelete
  35. Dimas Candra SAputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    “Luar biasa prof”, itu yang terlintas dalam benak saya ketika membaca pengalaman Prof. Marsigit dalam bacaan di atas. Pembelajaran tersebut akan benar-benar dapat memfasilitasi kondisi siswa yang beragam. Pembelajaran dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan masing-masing siswa. Bahkan media pembelajaran dan portofolio pun dirancang sesuai dengan kompetensi masing-masing siswa. Sayangnya pembelajaran yang seperti ini belum bisa sepenuhnya dipraktikan dalam pembelajaran di Indonesia, karena kompetensi yang diharapkan pada tiap jenjang telah ditentukan oleh pemerintah yang memiliki kebijakan membuat kurikulum. Namun, setidaknya guru bisa mendapatkan inspirasi dari pengalaman tersebut untuk berusaha memfasilitasi kebutuhan individual siswa. Misalnya dengan merancang media pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa.

    ReplyDelete
  36. Assalamualaikum pak prof. Sangat inspiratif sekali, mungkin saya bisa mencoba di sekolah saya. Dan harus bekerja sama dengan stakeholder sekolah untuk hasil yang maksimal.
    Terima kasih pak prof

    ReplyDelete
  37. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.mat B 2017

    Assalamlu'alaikum wr.wb

    sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih atas refleksi pengalaman dari pak marsigit yang sangat menginspiraasi. jujur bahwa sebelum membaca tulisan ini, tidak pernah terlintas dalam benak saya bahwa siswa bisa saja berpartisipasi dalam menyusun RPP. dan membaca tentang parasigma pembelajaran matematika di inggris membuat saya mengakui sejujur-jujurnya bahwa memagn sebenarnya seperti inilah pembelajaran matematika yang efektif, dengan tidak memaksakan kepada siswa bahwa setiap siswa dituntut untuk memperoleh hasil dan sama dengan apayang dipikirkan gurunya.

    ReplyDelete
  38. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPs PM A

    “Siswa ikut membuat kurikulum” Membaca cerita Bapak ketika di Inggris membuat saya ingat elegi tentang orang yang paling berbahaya di dunia. Sebuah sistem yang sangat bagus ketika dalam setiap pembelajaran melibatkan siswa dalam perencanaan pembelajaran, dimana siswa bisa merequest jenis pembelajaran yang ingin mereka dapatkan. Hal ini tentu akan meningkatkan mutu pendidikan disuatu satuan pendidikan. Menurut saya, pembelajaran seperti yang di Inggris bisa juga dilaksanakan di Indonesia, walaupun saat ini kita mengalami sentralisasi pendidikan. Namun pada dasarnya perencanaan dan proses pembelajaran yang dilaksanakan dikelas akan kembali pada guru masing-masing. Kurikulum yang ada bersifat sebagai acuan dan standar minimal yang harus ada ketika guru mengajar. Ketika guru mampu mengembangkan pembelajaran maka pelaksanaan pembelajaran di kelas dapat mengakomodir semua siswa seperti pembelajaran di Inggris.

    ReplyDelete
  39. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Inilah permasalahn sistem pendidkan kita dari dudlu sampai sekarang yang belum bisa terpecahakan. Siswa di Indonesia dintuntut untu mempelajari banyak mata pelajaran tanpa mempertimbangkan minat dan keinginana mereka. Namun, saya percaya bahwa duni penididikan kita semakin berkembang dan semakin terbuka saat ini. Semoga kelak akan ditemukan solusi jitu agar kualitas pendidikan kita menjadi lebih maju.

    ReplyDelete
  40. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Wah menarik, ini adalah pertanyaan ketika diskusi di perkuliahan yang lain. Kurikulum itu memang harus disesuaikan dengan tujuan pendidikan. Jika tujuan pendidikan adalah untuk memfasilitasi kebutuhan belajar tiap siswa, maka seharusnya memang kurikulum disesuaikan dengan siswa. Sulit? Ya pintar-pintar bagaimana guri mengolahnya secara kreatif. Bukan membuat suatu kurikulum untuk tiap siswa secara berbeda, tetapi menyesuaikannya dengan tiap siswa. Memberikan siswa pendekatan yang berbeda yang sesuai dengan kebutuhan belajar mereka. Tiap siswa punya capaian berbeda yang harus dipahami oleh guru. Tak dipukul rata, karena tiap siswa pasti punya kemampuan berbeda.

    ReplyDelete
  41. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Saya sangat tertarik sekali membaca tulisan ini Prof, terimakasih banyak sudah menuliskannya di Blog sehingga kami dapat membacanya dan juga mendapatkan informasi bagaimana sekolah di Inggris melaksanakan proses pembelajarannya. Sungguh baik sekali melakukan proses pembelajaran dengan memperhatikan dan mempertimbangkan setiap kemampuan dan kebutuhan siswa. Dimana guru dengan telatennya meminta pendapat siswa tentang proses pembelajaran yang seperti apa dan kebutuhan bagaimana yang siswa inginkan. Sudah kita ketahui bersama bahwa dalam satu kelas tentu sifat dan kemampuan setiap anak berbeda. Sehingga proses pembelajaran dan treatment yang seragam yang kemudian diberikan siswa bisa jadi memaksimalkan potensi siswa yang satu tetapi malah meminimalkan potensi siswa yang lain. Harapannya, proses pembelajaran di Indonesia akan bisa memperhatikan perbedaan setiap siswa seperti ini guna memaksimalkan potensi setiap siswa.

    ReplyDelete
  42. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari bacaan diatas saya mendapatkan informasi jika yang dimaksud kurikulum disetiap negara itu berbeda. Dimana di London kurikulum seperti RPP yaitu rancangan yang disusun dengan melibatkan keinginan siswa. Jadi menurut saya ini juga dapat diterapkan langsung oleh guu-guru di Indonesia tanpa merubah paradigma besar kurikulum nasional. Karena pada saat di pembelajaran toh itu semua juga tertuang dalam RPP sehingga yang perlu dicoba sebagai inovasi yaitu melibatkan keinginan siswa. Apa yang siswa inginkan untuk pembelajaran berikutnya, kegiatan seperti apa yang kemudian guru merangkul itu semua untuk membuat pembelajaran yang benar-benar bermakna bagi siswa. Sungguh menginspirasi cara yang dilakukan oleh guru di London tersebut.

    ReplyDelete
  43. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Pembahasan ini merupakan salah satu elegi yang sangat saya sukai, hal ini dikarena pemaparan tentang proses belajar mengajar di inggris diatas, menjadi wawasan baru bagi saya. Karena saat ini saya juga sedang tertarik untuk mengetahui sistem pembelajaran disalah satun negara yang lain, yaitu Firlandia, yang dicetuskan memiliki sistem pembelajaran yang sangat baik. Memang benar seperti hal yang telah disebutkan diatas, bahwa di negara kita ini pembelajaran matematika dari tahun ketahun memang dilakukan dengan tatnan yang sama, namun juga tidak dapt dipungkiri guru telah mencoba untuk mempelajari sistem pengajaran baru, guna menjadikan proses pembelajaran lebih menarik. Walaupun masih sangat sedikit yang melakukannya.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  44. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Menarik apa yang menjadi pengalaman Prof Marsigit ketika mengamati pembelajaran matematika SD di inggris. Hal yang membedakan tentu pada pola pendidikan yang ada di Inggris dengan yang ada di Indonesia. Bila di Inggris menganut pola desentralisasi, atau bisa disebut juga dengan istilah otonomi, maka di Indonesia pola yang dikembangkan adalah sentralisasi atau konsentrasi. Pola desentralisasi atau otonomi adalah pola dimana kebijakan seperti kebijakan pendidikan diserahkan kepada daerah atau sekolah, bukan pada pemerintah pusat. Sehingga kurikulum yang dikembangkan bisa disesuaikan dengan kebutuhan sekolah. Sedangkan pola sentralisasi adalah pola dimana kebijakan dibuat di pusat atau oleh pemerintah untuk kemudian diterapkan di seluruh daerah. Pola sentralisasi biasanya diambil dengan alasan untuk melakukan standarisasi, sehingga diharapkan terjadi pemerataan, di seluruh daerah mendapatkan hasil yang sama.

    ReplyDelete
  45. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Dari judul saja saya sudah ingin berkomentar. Tetapi saya mencoba unuk tidak sombong dengan membaca terlebih dulu isi dari postingan ini. Sungguh luar biasa kelas dua sudah bisa memiliki alur pemikiran mengenai apa yang diinginkan dalam pembelajaran matematika. Semoga hal ini juga bisa diterapkan di Indonesia. Karena dengan beraneka macam PBM matematika dan sesuai dengan permintaan siswa, akan lebih mempertinggi motivasi belajar siswa dengan menghasilkan hasil yang lebih bervariasi di setiap pertemuannya. Sehingga siswa juga tidak akan bosan dengan matematika. Maka benar kurikulum itu ditunjukkan kepada siswa, maka sumber kurikulum pun harusnya bersumber dari siswa. bukan kita yang harus mengikuti pemerintah, padahal belum tentu pemerintah itu mengetahui apa yang dibutuhkan siswa di setiap pemebelajaran denga mata pelajaran yang berbeda-beda.

    ReplyDelete
  46. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Artikel diatas tentunya dapat menjadi inspirasi bagi para guru , calon guru dan pengatur system pendidikan bahwa menyusun kurikulum pendidikan harus disesuaikan dengan subyek yang belajar. Memang tidak mudah untuk mengubah system pendidikan yang ada, Namun jika perubahan ini didukung oleh semua pihak yang terkait dan konsistensi maka tidak ada hal yang tidak mungkin, semua bisa terwujud dengan niat, ikhtiar doa dan kehendak Tuhan. Mari dukung Indonesia bisa menerapkan kurikulum dengan paradima “pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda“. Terima Kasih

    ReplyDelete
  47. Terimakasih bapak atas sharing pengalamannya dari Universitas London, sungguh sangat bermanfaat bagi kami kalangan pendidik dan para pengatur kebijakan, untuk mulai memperhatikan aspek dari karakteristik siswa yang berbeda, bagaimana mereka menerapkan kurikulum sekolah dan bukannya menaatati pada satu kurikulum saja yang sudah ditentukan dengan mengharapkan hasil yang memuaskan setiap siswa.


    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  48. Junianto
    PM C
    17709251065

    Saya sepakat dengan paparan pada artikel ini bahwa dalam pembelajaran pada waktu dan materi yang sama tidak harus menghasilkan output yang sama pula. Hal ini disebabkan oleh siswa yang bersifat unik dan memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Pikiran siswa tentu berbeda-beda satu dengan yang lainnya, sehingga sebagai guru janga sampai memaksa siswa untuk memiliki pikiran yang sama dengannya.

    ReplyDelete
  49. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Menjadi seorang guru memang tidaklah mudah. Guru harus dapat membuat siswanya menikmati pembelajaran matematika, memperoleh pengalaman dari aktivitas yang dilakukan siswa dalam pembelajaran sehingga mereka dapat membangun pengetahuannya sendiri. Salah satunya adalah terkait LKS. Guru harus dapat menyediakan LKS-LKS yang dapat memenuhi berbagai keinginan dan kebutuhan siswa. Terkadang ada siswa yang memiliki kemampuan lebih dan menyelesaikan LKS lebih cepat dari rekan-rekannya. Maka guru juga harus dapat menyiapkan LKS cadangan agar siswa yang memiliki kemampuan lebih tidak merasa terabaikan.

    ReplyDelete
  50. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Saya sangat setuju dengan uraian di atas bahwa siswa seharusnya turut andil dalam menentukan kurikulum. Kurikulum tidak semata-mata dibuat pemerintah saja tanpa melibatkan kebutuhan anak didik. Itulah pentingnya guru memberikan masukan pada pemerintah, karena gurulah yang berinteraksi langsung dengan siswanya setiap hari. Guru dianggap paling mengetahui karakteristik, beban, dan kebutuhan siswanya dalam pembelajaran. Saya juga sangat setuju dengan strategi mengkontruksi LKS dengan tingkat kompleksitas yang beragam untuk mengadopsi kemampuan siswa-siswa yang berbeda pula.

    ReplyDelete
  51. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Sebelumnya ijinkan saya untuk mengatakan bahwa pengalaman yang bapak ceritakan adalah pengalaman yang sangat menarik dan sangat menarik keinginan untuk bisa merasakannya.amin. Berbicara mengenai kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa adalah bukan berarti siswa memegang/ menentukan kurikulum secara teknis. Hal ini dimaksudkan bahwa alangkah baiknya jika kurikulum yang dibuat itu sesuai dengan apa yang diharapkan dan dibutuhkan oleh siswa. Dua paradigma yang sangat berbeda, saat di Iggris “Pbm matematika di sini, menganut paradigma : pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula". Namun berbeda dengan paradigma yang berkembang di Indonesia "Untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya", itulah yang sangat disayangkan, sehingga hanya terlaksana sebagai pembelajaran dengan doktrin yang diberikan oleh guru.

    ReplyDelete
  52. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Menurut saya, disini memang siswa seharusnya bisa ikut dalam menentukan kurikulum yang merkea inginkan secara pribadi, bukan karena dorongan dari luar diri siswa. Siswa akan memberikan kontribusi yang baik terhadap perkembangan kurikulum yang akan mereka terima. Hal ini bisa melalui evaluasi kegiatan pembelajaran yang mereka peroleh dengan yang mereka inginkan. Selagi itu bagus diterapkan pada kurikulum kenapa tidak. Toh juga kurikulum itu sebenarnya untuk siswa, maka seharusnya siswa juga ikut andil dalam membuat kurikulum yang akan mereka peroleh
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  53. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Kurikulum yang diterapkan disetiap negara pasti memiliki perbedaan. Misalnya saja kurikulum pendidikan di Inggris berbeda dengan di Indonesia. Kurikulum di Inggris adalah kurikulum yang dapat disesuaikan tiap sekolahnya. Siswa ikut berperan dalam menentukan kurikulum. Seorang guru di London memfasilitasi siswa dan memenuhi kebutuhan belajar siswa sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Hal yang menjadi pembeda adalah prinsip utama dalam pembelajaran di Inggris menganut paradigma bahwa waktu, siswa, mempelajari matematika, kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula. Sedangkan pembelajaran di Indonesia menganut paradigma bahwa waktu, dituntut mempelajari matematika yang sama, namun siswa berbeda-beda.

    ReplyDelete
  54. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Tujuan pendidikan/tujuan pembelajaran semata-mata diperuntukkan untuk peserta didik. Perubahan kurikulum tentunya mempertimbangkan hal tersebut. Hal-hal lain yang diperhatikan adalah kebutuhan peserta didik, kondisi peserta didik, inilah yang dimaksud dengan peserta didik(siswa) menentukan kurikulum. Selain itu, perkembangan kurikulum juga dipengaruhi oleh tuntutan perkembangan lingkungan (teknologi, ilmu pengetahuan, dll).
    Kesuksesan penerapan kurikulum bergantung pada bagaimana guru menjalankannya, dibutuhkan inovasi dan kekreatifan dari guru yang bersangkutan. Setelah dijalankannya pembelajaran berdasarkan kurikulum yang berlaku maka selanjutnya siswa, guru itu sendiri, kepala sekolah, dan berbagai pihak bersama-sama mengevaluasi penerapan kurikulum. Apa yang kurang, bagian mana yang harus ditambah/diperbaiki, sehingga dapat dilakukan perbaikan untuk kemajuan.

    ReplyDelete
  55. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Menurut saya, Siswa merupakan aspek penting dalam menentukan kurikulum. Mungkin memang pembuat kebijakan adalah pemerintah, namun disini dibutuhkan kolaborasi antara pendidik, peneliti dan pembuat kebijakan dalam menentukan sebuah kurikulum. Mereka tidak boleh hanya ingin menuntut siswa harus mampu ini itu dengan dibandingkan siswa diluar negeri, jelas kharakteristik siswa Indonesia berbeda, kita memiliki keunikan sendiri yang seharusnya pembuat kebijakan tau dan mengembangkan kurikulum sesuai dengan ciri siswa Indonesia. Bolehlah kita mengacu pada dunia internasional namun juga harus melihat kemampuan siswa Indonesia. “Perlahan tapi pasti”. Ingat bahwa tujuan pendidikan di Indonesia adalah ‘Mencerdaskan Kehidupan Bangsa’.

    ReplyDelete
  56. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Kurikulum digunakan untuk menentukan jumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai pendidikan. Kurikulum memiliki peran kreatif, konservatif, dan evaluatif. Setiap orang yang terlibat dalam dunia pendidikan berhak dalam mencetuskan ide dari kurikulum yang diinginkan, tidak terkecuali bagi seorang siswa selama ide itu tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan. Kurikulum yang memperhatikan kebutuhan siswa akan lebih dapat diterima siswa dari pada kurikulum yang dipaksakan kepada siswa.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  57. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Belum pernah terbayangkan sebelumnya bahwa di Inggris siswa ikut berperan dalam penyusunan kurikulum. Para guru yang dapat melakukan hal tersebut adalah para guru sejati yang selalu berupaya dengan maksimal untuk menjadi fasilitator siswa. Persiapan yang matang, kreatif, serta ikhlas merupakan kuncinya. Seandainya para guru di Indonesia dapat melakukan hal seperti itu, insyaallah pendidikan di Indonesia bisa menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  58. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  59. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  60. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Dari artikel diatas, saya menjadi semakin mengerti bahwa persepsi dan pemahaman tentang kurikulum yang berlaku di Negara kita berbeda dengan Negara lain, khususnya Inggris yang menjadi pembanding dalam artikel diatas. Sistem pendidikan yang ada di Inggris terdapat perbedaan persepsi dan konteks tantang hakekat kurikulum serta hakekat pembelajaran dengan Negara kita. Salah satu perbedaan tersebut terletak pada makna kurikulum yang hampir menyerupai RPP atau kurikulum tingkat sekolah dan menjadi urusan sekolah masing-masing. Untuk menentukan kurikulum, siswa ikut berperan dalam pengembangan hal itu. Dalam hal ini, siswa sebaiknya menemukan pola terhadap pembelajaran matematika, jadi siswa dapat memecahkan persoalan-persoalan dengan cara sendiri. Dari hal itu siswa benar-benar dapat menggali dan mengeksplor kemampuan yang ada pada diri individu masing-masing.

    ReplyDelete
  61. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Kurikulum disusun untuk merancang dalam pendidikan, saya setuju dengan kurikulum yang dilakukan di Uiversity of London yang menyatakan bahwa perbedaan merupakan hal yang wajar dalam kurikulum, karena hal tersbeut dipengaruhi oleh karakteristik siswa yang berbeda-beda pula. Apabila hal ini diterapkan di Indonesia saya rasa tidak masalah karena pada dasarnya dari segi kondisi lingkungan, fasilitas, kontur daerah di Indonesia juga berbeda-beda, sehingga apabila memaksakan untuk menyamaratakan hal yang tidak mudah. Saya analogikan dengan Ujian Nasional, hal yang wajar apabila nilai UN di sekolah dengan kualitas guru dan fasilitas pendidikan yang rendah. Sehingga apabila ingin menyamakan kurikulum, maka berbagai faktor lain juga harus disamakan. Namun apakah mungkin?

    ReplyDelete
  62. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Pembelajaran mateamatika di Inggris yang dipaparkan di atas sangat memanusiakan manusia, artinya sekolah dan guru melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa. Kurikulum yang digunakan secara nasioal belum tentu bisa mengakomodasi kebutuhan siswa secara nasional, karena siswa secara nasional kebutuhannya berbeda-beda. Berbeda jika kebutuhannya di kelompokkan dalam ranah yang lebih kecil dalam hal ini adalah sekolah. Sepertinya akan lebih fokus pada kebutuhan siswanya dan tujuan serta visi misi sekolah.

    ReplyDelete
  63. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Peserta didik yang memiliki tingkat pemahaman yang tinggi akan memiliki kebutuhan pendidikan dan cakupan pengetahuan yang berbeda dengan yang berpemahaman rata- rata. Hal ini bisa diketahui berdasarka kegiatan belajar di kelas. Guru lebih memahami kebutuhan siswanya karena guru yang mendampingi kegiatan belajar peserta didik ketika di sekolah. Melibatkan siswa dalam pembuatan kurikulum dengan memaksimalkan LKS dan lembar portofolio sangatlah bijak. Dengan begitu kurikulum akan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, bukan peserta didik yang menyesuaikan kurikulum. Bila peserta didik dituntut untuk menyesuaikan kurikulum, itu berarti peserta dipaksa untuk mempunyai kegiatan yang sama, pengetahuan yang sama, dan hasil yang sama. Dapatlah ini menjadi refleksi bagi kita bersama agar dapat memajukan dan mengembangkan pendidikan. Tentunya segala kebijakan yang telah dibuat berdasarkan berbagai macam pertimbangan dan itu adalah yang terbaik untuk kita. Semoga bermanfaat.

    ReplyDelete

  64. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Setelah membaca artikel di atas, saya sangat kagum dengan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru tersebut. Menurut saya beliau mengajar tidak sekedar menyalurkan ilmu pengetahuan, tetapi benar-benar memberi fasilitas dan kesempatan kepada siswa. Karena mengelompokkan siswa berdasarkan karakter masing-masing dan membuat beberapa LKS sesuai dengan kemampuan masing-masing bukan merupakan hal yang mudah, dibutuhkan kesungguhan dan telaten. Seandainya di Indonesia dilakukan pembelajaran seperti ini, tentunya setiap anak akan memasuki kelas matematika dengan antusias, karena dia kan menemukan hal yang sesuai dengna kemapuannya, sedangkan yang terjadi adalah beberapa anak dengan kemampuan matematika kurang akan meresa tertekan dan merasa bodoh karena kebiasaan orang Indonesia yang menilai tingkat kecerdasan dari nilai matematika. Padahal bisa jadi dia cerdas dibidang lain. Sebenarnya sistem di Indonesia tidak hanya membebani siswa, tetapi juga guru yang ingin memberi matematika sesuai dengan karakter siswa tetapi terhalang oleh jam pelajaran dan standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

    ReplyDelete
  65. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Setelah membaca penjelasan di atas, saya setuju dengan pernyataan Pak Marsigit yaitu ‘siswa menentukan kurikulum’. Kurikulum yang dipahami oleh bangsa Indonesia ialah suatu sistem atau aturan yang dibuat oleh pemerintah tentang pelaksanaan pendidikan serta tercantum di dalam undang-undang. Sedangkan makna sesungguhnya dari kurikulum tidaklah sedangkal itu. Para guru di Inggris mengartikan kurikulum sebagai kurikulum sekolah berupa RPP, silabus dan peraturan sekolah. Sehingga urusan membuat kurikulum itu merupakan urusan sekolah masing-masing. Namun, di Indonesia kurikulum dibuat secara nasional serta ‘dipaksakan’ untuk diterapkan merata ke seluruh siswa di seluruh sekolah di Indonesia. Padahal karakteristik setiap sekolah di Indonesia berbeda-beda. Cara siswa menentukan kurikulum di Inggris ialah dengan menentukan kurikulum sekolah berdasarkan karakteristik siswa di masing-masing sekolah. Sehingga dalam mengembangkan kurikulumnya mampu memenuhi kebutuhan siswa di masing-masing sekolah yang notabene memiliki karakteristik siswa yang berbeda antar sekolah.

    ReplyDelete
  66. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. Menurut saya mungkin saja siswa menentukan kurikulum. Karena fakta di lapanagan memang terdapat perbedaan kompetensi dan kecerdasan yang dimiliki siswa. Ada siswa yang cepat belajarnya, ada siswa yang lambat belajarnya. Jika kemampuan siswa disama ratakan maka tidak adil untuk siswa sendiri.

    ReplyDelete
  67. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Pemahaman akan kurikulum disetiap negara berbeda-beda. Pemahaman kurikulum yang mendarah daging pada sistem pendidikan bangsa kita adalah kebijakan yang disusun sedemikian rupa terhadap sistem pendidikan. Hal yang berbeda di negara luar, keleluasaan penyusunan kurikulum oleh pihak sekolah secara mandiri memberikan dampak positif terhadap sistem pendidikan yang ada. Pengembangan kurikulum yang ada didasarkan akan kebutuhan siswa. Selain itu kebijakan ini melahirkan kesadaran guru untuk melibatkan pandangan siswa terkait proses pembelajaran ke depannya. Hal ini secara tidak langsung mendukung terjadi refleksi pembelajaran secara berkelanjutan. Apabila budaya ini perlahan kita terapkan tentu secara tidak langsung akan memacu minat siswa dalam pembelajaran.

    ReplyDelete
  68. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Perbedaan kurikulum dalam negeri dan luar negeri membuat guru memiliki perbedaan proses belajar. Di Indonesia siswa dituntut untuk mencapai hasil yang sama walaupun prosesnya berbeda. Sedangkan di luar negeri, siswa menempuh proses beda dengan hasil yang berbeda pula. Sehingga kita perlu belajar dari negeri tersebut untuk melihat proses belajar.

    ReplyDelete
  69. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Berdasarkan hasil observasi terhadap pembelajaran di London di atas seakan menghapus pertanyaan terkait kenapa sistem pendidikan bangsa kita masih berada di bawah rata-rata dunia. Bagaimana guru mempersiapkan kelas dan bagaimana guru melaksanakan proses pembelajaran jelas jauh berbeda. Guru bangsa kita dominan menyukai pembelajaran yang tidak memiliki banyak persiapan. Jangankan untuk menyiapkan LKS dengan berbeda-beda sesuai kebutuhan siswa, satu LKS untuk semua siswa aja sudah hal yang dikeluhkan. Semoga melalui observasi-observasi terhadap pembelajaran negara lain menjadi bahan intropeksi dan inspirasi kita sebagai pendidik dan calon pendidik dalam membawa sistem pendidikan ke arah yang lebih baik.

    ReplyDelete
  70. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 2017

    Memang seharusnya kurikulum dibuat sesuai kebutuhan siswa. Namun, kebutuhan dan kondisi siswa di desa tentu berbeda dengan siswa yang tinggal di kota. Untuk itu, tugas pendidik, sebagai orang yang mengamati langsung kondisi dan kebutuhan siswa, untuk membuat atau menciptakan pembelajaran yang dapat memfasilitasi kondisi siswa yang berbeda-beda tersebut. Itulah pentingnya RPP maupun yang harus disusun sendiri oleh guru.

    ReplyDelete
  71. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Paradigma kurikulum yang sesuai bagi negara Demokrasi adalah kebutuhan siswa. Sehingga kurikulum harusnya dibuat berdasrkan hasil kajian terhadap siswa. Karena siswa adalah actor belajarnya dan yang merasakan pengalaman pbmnya. Oleh karena itu seharusnya kurikulumnya adalah kurikulum karena kebutuhan siswa, bukanlah karena keinginan sekelompok orang dewasa.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  72. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Terimakasih pak atas pengalaman bapak yang sudah dibagi dalam postingan kali ini. Pengalaman-pengalaman seperti ini dapat menjadi pelajaran bagi saya terutama sebagai seseorang yang ingin terjun ke dalam dunia pendidikan. Menyadari bahwa siswa itu berbeda, situasi belajar yang berbeda-pun, bahkan guru yang mengajar juga berbeda. Dengan perbedaan-perbedaan yang disadari tersebut merangsang kita untuk membuat sesuatu perbaikan dalam dunia pendidikan. Belajar dengan negara lain itu tidaklah salah, jika yang kita pelajari itu dapat memperbaiki apa yang kurang baik yang ada di bangsa ini. Tentunya yang sesuai dengan karakter bangsa. Sehingga, seharusnya pemerintah kita itu dapat belajar dengan pengalaman seperti ini sebelum mengeluarkan kebijakan pendidikan.

    ReplyDelete
  73. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Kurikulum dibentuk agar kegiatan pembelajaran menjadi terarah dan siswa dapat mencapai zona perkembangan yang maksimum. Kurikulum erat kaitannya dengan siswa, karena siswa adalah obyek pendidikan sekaligus sebagai subyek maka dalam penyusunan kurikulum siswa juga menjadi komponen penting yang turut menentukan. Misalkan menentukan materi pembelajaran tentu akan memperhatikan tingkat psikologi siswa yang akan diberikan materi. Pemilihan metode pembelajran juga sangat bergantung kepada karakteristik siswa. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  74. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Bagi siswa yang memiliki keterbatasan atau anak berkebutuhan khusus, kurikulum bagi mereka dirancang khusus pula betgantung dengan kemampuan siswanya. Sehingga bagi sekolah-sekolah luar biasa atau sekolah inklusi diberikan otoritas untuk mengembangkan SSP bagi siswanya, terutama siswa yag berkebutuhan khusus yang tidak dapat mengikuti kurikulum reguler yang telah ditetapkan oleh pemerintah, wallahu a'lam

    ReplyDelete
  75. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Betapa indahnya jika proses belajar mengajar di kelas dapat berlangsung seperti yang terjadi di sekolah di London. Kurikulum dapat secara fleksibel tanpa mengurangi esensi belajar secara efektif. Kurikulum tidak membebankan siswa, justru sangat membantu siswa dalam belajar dan yang lebih penting adalah memahami perbedaan setiap siswa. Namun, menurut saya akan sulit jika harus diterapkan di Indonesia. Mulai dari pemerintah yang terlalu ribet dan menuntut banyak hal, serta kompetensi guru yang belum sepenuhnya mampu membuat LKS terstruktur dan portfolio yang efektif seperti itu.

    ReplyDelete
  76. Norma Galih Sumadi
    15301241038
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Menurut saya hasil pengamatan Bapak mengenai pembelajaran yang memfasilitasi siswa dengan berbagai kemampuan yang berbeda-beda di London tersebut sangat menarik. Hal tersebut menjadi suatu tantangan tersendiri bagi guru, mengingat pembelajaran yang serupa sangat jarang saya temui di Indonesia dan tentunya untuk menerapkan pembelajaran serupa guru juga harus melakukan usaha ekstra agar semua siswa dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda dapat terfasilitasi. Dengan penerapan pembelajaran yang demikian, diharapkan seluruh siswa dapat merasa nyaman dalam belajar matematika, siswa dengan kemampuan tinggi tidak harus menunggu temannya yang lain dan siswa dengan kemampuan rendah juga tidak merasa terbebani untuk menyamakan kemampuannya dengan siswa lain. Namun perlu diingat bahwa, pembelajaran tentu harus disesuaikan dengan karakter siswa, sehingga saya sangat setuju bahwa seharusnya perangkat pembelajaran harus disusun sendiri oleh guru, mengingat bahwa gurulah yang dianggap paling mengerti karakter siswanya serta metode pembelajaran yang seperti apa yang cocok bagi siswa-siswanya.

    ReplyDelete
  77. Tri Wahyu Nurjanah
    15301241010
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Pembahasan di atas memberikan pembelajaran baru bagi saya, apabila pembelajaran matematika dilakukan seperti di atas, peserta didik diberi kebebasan untuk membangun sendiri pengetahuannya dengan bantuan guru sehingga tercipta ide-ide baru yang dapat ditemukan pada saat pembelajaran matematika. Hal tersebut juga dapat membuat guru lebih aktif dan kreatif karena peserta didik memiliki kemampuan berpikir dan pengalaman yang berbeda. Semoga kelak kita bisa menjadi guru yang tidak biasa-biasa saja, guru yang kreatif dan yang selalu ditunggu-tunggu kedatangannya oleh peserta didik. Aamiin.

    ReplyDelete
  78. Okta Islamiati
    15301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Artikel yang sangat menarik dan menginspirasi. Artikel di atas menyebutkan bahwa metode mengajar dapat dibedakan sesuai dengan kemampuan siswa. Hal ini dapat membantu siswa untuk mengkonstruk kemampuan mereka tanpa paksaan sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Pendidik tidak membatasi kreativitas siswa, tapi mengeksplornya. Nah, peran pendidik sangat penting di sini karena mereka dituntut untuk menemukan berbagai metode kreatif untuk siswanya. Di sini pendidik di uji sejauh mana kreativitas yang mereka miliki dan pemahaman konsepnya.

    ReplyDelete
  79. Hanifah Prisma Sindarus
    15301244013
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Dari yang telah diuraikan oleh Prof. Marsigit mengenai pembelajaran matematika di Inggris dimana pembelajaran matematika disesuaikan dengan kemampuan dan kecepatan siswa saya rasa sangatlah inspiratif. Di Indonesia, pembelajaran masih terlalu bersifat klasikal. Sehingga, guru tidak terlalu dapat melihat dan mengetahui siswa mana saja yang sudah, kurang, maupun belum memahami kompetensi matematika yang diajarkan. Selain itu, dalam memafasilitasi dan mengkomodir kemampuan pemahaman siswa yang berbeda-beda diperlukan kemampuan yang baik bagi guru untuk menyusun LKS dan portofolio. Terimakasih.

    ReplyDelete