Feb 12, 2013

Forum Tanya Jawab 63: Bagaimana Siswa Bisa Menentukan Kurikulum?


Oleh Marsigit

Ass, bagaimana mungkin seorang siswa ikut menentukan Kurikulum? Ah suatu pertanyaan atau ide yang mengada-ada. Apakah ada seorang siswa yang mempunyai kemampuan membuat Kurikulum? Jika toh ada, apakah boleh? Dan bagaimana cara atau skemanya?

Saya ingin mengatakan bahwa kalimat "Siswa Menentukan Kurikulum" memang kalimat yang agak provokatif yang saya buat. Tetapi saya ingin menunjukkan bahwa dengan penyesuaian persepsi dan konteks tantang hakekat Kurikulum serta hakekat pembelajaran, maka substansi kalimat tersebut bukanlah sesuatu yang mengada-ada.

Marilah kita coba
Pertama, kita bongkar dulu persepsi dan pemahaman kita tentang apa itu yang disebut Kurikulum. Budaya dan kebiasaan kita bangsa Indonesia selama ini, memaknai Kurikulum sebagai suatu garis besar rencana implementasi pendidikan yang disusun oleh Pemerintah melalui para pakarnya. Barulah setelah sempurna, Kurikulum yang dihasilkan siap diimplementasikan dengan dukungan Peraturan Perundang-undangan. Itulah kebiasaan kita selama berpuluh-puluh tahun sejak jaman Belanda.

Hasil observasi dan wawancara terhadap beberapa Guru di Inggris beberapa tahun yang lalu menunjukkan bahwa mereka mempunyai persepsi dan pemahaman yang berbeda dengan kita. Bagi mereka pengertian dan makna Kurikulum hampir menyerupai RPP atau Kurikulum tingkat sekolah. Pada saat itu memang di Inggris menganut sistem desentralisasi pendidikan, yaitu bahwa Kurikulum itu adalah urusan sekolah masing-masing.

Karena memang saya membaca ada wacana bahwa siswa juga berperan dalam Kurikulum, saya kemudian mencari tahu di suatu sekolah SD di tenggara kota London. Guru kelas 2 (dua) yang mengajar matematika saya wawancara dan mengatakan bahwa siswa berperan dalam pengembangan kurikulum. Saya ingin tahu bagaimana bisa siswa berperan dalam pengembangan kurikulum? Ternyata hal itu sangat dimungkinkan karena Kurikulum yang mereka maknai adalah Kurikulum tingkat sekolah dan tingkat pembelajaran di kelas. Pada tingkat sekolah, sebelum dilakukan pengembangan kurikulum, maka ada pertemuan khusus atau semacam need assessment dengan para siswa, didukung dengan dokumen portfolio tentang aktivitas siswa. Hasil-hasil need assessment yang menggambarkan kebutuhan siswa kemudian digunakan untuk pengembangan kurikulum tingkat sekolah.

Kemudian saya berusaha memperdalam lagi, apakah ada aspek yang lain bagaimana siswa ikut menentukan kurikulum? Jawaban guru dan fakta yang saya temukan ternyata cukup sederhana tetapi diluar yang saya pikirkan. Kata guru "Setiap akhir pelajaran matematika, saya selalu mewawancarai para siswa untuk mengetahui Jenis Kegiatan apa saja yang mereka inginkan dari Pelajaran Matematika minggu depan yang akan saya selenggarakan. Jawaban siswa tentu beraneka ragam, maka saya mengelompokkannya kedalam kriteria yang mungkin saya persiapkan agar bisa saya laksanakan apa yang diminta oleh siswa"

Saya melanjutkan pertanyaan "Bagaimana mungkin anda bisa melaksanakan berbagai permintaan atau tuntutan siswa dalam pbm matematika?". Serta merta guru meminta saya agar minggu depan datang lagi ke sekolah untuk melihat bagaimana guru mampu melayani berbagai kebutuhan belajar para siswanya.

Hasil observasi saya minggu berikutnya, pada Kelas II, adalah sebagai berikut:

Pertama, guru secara klasikal menjelaskan tentang kompetensi apa saja yang akan siswa peroleh dalam pbm, kemudian guru memberi petunjuk bagaimana nantinya para siswa bekerja secara kelompok.

Kedua, darisejumlah 32 siswa yang ada, kemudian guru membagi kelas menjadi 2 Kelompok Besar, masing-masing terdiri dari 16 siswa. Dari 16 siswa kelompok kedua di bagi menjadi 4 kelompok. Satu dari empat kelompok di split lagi menjadi 2 kelompokmasing-masing berangotakan 2 siswa. Jadi secara keseluruhan terdapat 6 (enam) Kelompok. Kelompok Besar terdiri dari 16 siswa. Tiga Kelompok berangotakan 4 (empat) siswa. Dan Dua Kelompok beranggotakan masing-masing 2 siswa.

Ketiga, setelah saya cermati, ternyata yang terjadi adalah Satu kelompok pertama terdiri dari 2 (dua) siswa yang prestasinya the Best. Satu kelompok kedua terdiri dari 2 (dua) siswa yang prestasinya the Lowest. Tiga Kelompok masing-masing terdiri dari 4 (empat) siswa denganprestasi rata-rata. Sedangkan satu Kelompok Besar yang terdiri dari 16 siswa dengan kemampuan campuran.

Keempat, di tiap meja pada Kelompok Kecil terdiri dari 4 siswa atau 2 siswa, masing-masing sudah diletakan LKS yang berbeda dengan Warna Kertas yang berbeda. Dan mereka mulai berdiskusi di dalam kelompoknya. Sementara itu Guru bergabung dengan Kelompok Besar (16 siswa) untuk memulai aktivitasnya.

Kelima, pada Kelompok Besar (16 siswa) suasana belajar di setting dengan Duduk Melingkar di Lantai, kemudian dituangkan dari dalam Keranjang barbagai macam Bangun Datar Geometri terbuat dari kayu, bermacam-macam Segitiga, Persegi, Persegi Panjang, Lingkaran, Trapesium. Dengan variasi bermacam warna yang kontras.

Keenam, ternyata Kompetensi yang ingin dicapai pada masing-masing Kelompok berbeda-beda. Pada Kelompok besar kompetensinya adalah Pengenalan Bangun Geometri. Kelompok the Best kompetensi dan LKS nya berbeda dengan Kelompok the Lowest. Demikian sehingga pada saat yang sama guru menyediakan 5 (lima) macam LKS.

Ketujuh, ketika Guru sedang asyik beraktivitas di Kelompok Besar, datanglah seorang siswa dari Kelompok the Best melaporkan bahwa dia telah menyelesaikan LKS nya. Guru kemudian menyuruh untuk melanjutkan berdiskusi dan mengerjakan LKS yang lainnya (lanjutannya) yang khusus diperuntukan untuk Kelompok the Best,dengan warna Kertas yang sama tadi.

Kedelapan, Ternyata guru juga menyediakan stok/persediaan  LKS untuk tiap-tiap Kelompok Diskusi.
Pada Kelompok Besar, guru memulai membuat contoh aktivitas dengan kalimat "I spy the Red Small Circle". Artinya "Saya ingin mengambil Lingkaran Kecil berwarna Merah". Kemudian guru mengambilnya, kemudian menunjukkan kepada para siswa, dan menyuruhnya untuk mengamati bangun Lingkaran itu.  Kemudian  Guru melemparkan kembali benda itu ketumpukan di tengah kerumunan. Demikian seterusnya guru menyuruh secara bergantian agar siswa-siswa melakukan kegiatan yang sama, dengan cara siswa yang sudah melakukan kegiatan kemudian menunjuk siswa yang lain secara acak, sampai selesai.

Setelah kembali ke University of London, saya konsultasikan dan tanyakan kepada Pembimbing, mengapa guru bisa melakukan hal demikian, maka jawabnya adalah "Pbm matematika di sini, menganut paradigma : pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula". Saya lanjutkan pertanyaan saya "Lalu bagaimana mengorganisasikannya".Jawaban Pembimbing "Itulah pentingnya LKS dan Portfolio". LKS sangat penting untuk melayani kebutuhan siswa yang berbeda-beda. Sedangkan setiap siswa perlu dilengkapi dengan Dokumen yang disebut Portfolio Siswa atau Record Keeping. Record Keeping Siswa berisi segala Dokumen yang berkaitan dengan Aktivitas dan Prestasi Siswa mengalir dari tahun ke tahun.

Setelah kembali ke Indonesia, saya menemukan bahwa Pembelajaran Matematika di Indonesia bersifat "Untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya"

Demikianlah refleksi pengalaman saya di Inggris beberapa tahun yang lalu.

Semoga bermanfaat,dan ditunggu komen-komennya.

Amin

35 comments:

  1. Muh. Fachrullah Amal
    18709251036
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Merupakan suatu referensi baru dalam kegiatan pembelajaran matematika buat kita sebagai guru yang senantiasa berusaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas dalam mengajar. Dengan media pembelajaran LKS, guru dapat membuat pembelajaran menjadi lebih aktif dan membantu siswa yang memiliki kemampuan matematis yang rendah dengan pembagian kelompok yang heterogen dan memperhatikan kecerdasan masing-masing siswa. Kemudian guru juga dapat menambahkan kreativitas dalam pembuatan LKS seperti penggunaan kertas berwarna agar siswa lebih tertarik untuk mengerjakan dan mempelajarinya. Hal ini selaras dengan tuntutan dari kurikulum 2013 yang mana siswa diharapkan terlibat aktif dalam proses pembelajaran berlangsung.

    ReplyDelete
  2. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PM A PPs UNY 2018

    ketika saya membaca tulisan Bapak ini saya merasa bahwa seharusnya pembelajaran matematika itu seperti ini. Di mana guru memulai pembelajaran berdasarkan kemauan dan apa yang siswa harapkan. Ini berarti guru mewujudkan cita-cita siswa untuk belajar. Pembelajaran dalam LKS dan pengelompokan siswa disesuaikan dengan kemampuan siswa dalam bermatematika. Hal ini dimaksudkan, agar siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda tidak mempelajari materi yang sama tetapi dapat mempelajari materi yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat kemampuan mereka yang tentunya berbeda pula. Sungguh berbeda dengan proses pembelajaran di Indonesia yang masih menerapkan pembelajaran konvensional semua siswa sepenuhnya menerima konsep yang sama semata-mata dari guru saja. Semoga kedepan sebagai calon guru kita perlahan-perlahan mengubah paradigma yang ada.

    ReplyDelete
  3. Yoga Prasetya
    18709251011
    S2 Pendidikan Matematika UNY 2018 A
    Terimakasih Prof atas sharing pengalamanya mengamati kelas di inggris. Memang sebaiknya dalam goal pembelajaran matematika kita harus menerapkan seperti apa yang dilakukan di inggris bukan berarti kita meniru, kita sebagai seorang pendidik sebenarnya harus sadar bahwa setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda ketika dalam pembelajaran. Disinilah peran dan kesadaran seorang guru yang perlu ditingkatkan. Membuat dan menyiapkan LKS atau LKPD siswa yang beragam adalah hal yang harus dibiasakan oleh guru untuk mengkover semua kebutuhan siswa yang beragam.

    ReplyDelete
  4. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb
    Kurikulum merupakan suatu garis besar rencana implementasi pendidikan yang disusun oleh pemerintah melalui para pakarnya. Kurikulum di Indonesia dan di London sangat berbeda. Disana siswa berperan untuk mengembangkan kurikulum karena kurikulum yang mereka maknai adalah kurikulum tingkat sekolah dan tingkat pembelajaran di kelas. Di London sebelum melakukan pengembangan kurikulum, ada pertemuan khusus atau semacam need assesment dengan para siswa untuk mengetahui kebutuhan siswa dan selanjutnya digunakan untuk mengembangkan kurikulum tingkat sekolah. Hal ini dapat digunakan sebagai contoh bagi kita, bahwa dalam mengembangkan kurikulum jangan hanya sesuka hati tanpa mempertimbangkan bagaimana kemampuan guru dan keadaan siswa Indonesia pada umumnya. Apakah mereka mampu ataukah malah membuat mereka malah menjadi kesulitan.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  5. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb
    Kemampuan siswa dimanapun berada pasti berbeda-beda. Ada yang cerdas, biasa, atau bahkan ada juga yang sangat lambat, maka perlu adanya LKS yang digunakan untuk memfasilitasi kemampuan siswa. Pembelajaran dan pencapaian setiap negara berbeda-beda. Jika di Indonesia diharapkan atau ditekankan bahwa untuk waktu yang sama, walaupun siswanya berbeda-beda, harus mempelajarai matematika yang sama dan hasil yang sama dengan yang dipirkan guru. Hal ini berkebalikan dengan di London yang menyatakan bahwa dalam waktu yang berbeda, siswa berbeda-beda, pelajaran matematika yang berbeda, kemampua yang berbeda, bahkan hasilnya juga boleh berbeda. Disana tidak diharuskan mempunyai hal yang sama. yang penting semua terfasilitasi dengan baik karena tidak semua yang berbeda itu buruk.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  6. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Pengalaman yang sungguh sangat menarik dan berkesan, dengan membacanya saja saya sudah membayangkan ada di sana untuk memperhatikan ativitas mereka di kelas. Secara tidak disadari, siswa memang ada untuk mendongkrak kinerja guru tergantung bagaimana guru tersebut menemukan cara agar bisa menggunakan kinerja siswa untuk mengembangkan sayap pembelajaran ke depanya. Bahkan, dengan menggunakan kinerja siswa tersebut sudah termasuk membantu siswa menemukan cara mereka belajar sesuai dengan kemampuan, bakat, keminatan siswa itu sendiri sehingga mereka bisa betah dan nyaman berada dalam suasana kelas yang biasanya dianggap horor. Bila berbicara tentang hasil belajar siswa yang dituntut untuk sama rata sebenarnya kurang lebih kurang setuju karena sama saja memaksakan, memang katanya memaksa untuk kebaikan itu bagus tapi menyakitkan. Hasil belajar siswa dicoba untuk menyesuaikan dengan kemampuan mereka bukan menyesuaikan kemampuan teman mereka, dengan materi yang sama hanya berbeda di tipe soal dan cara mengajarkannya. Sehingga, bisa diambil inti bahwa tujuan guru ada untuk siswa sehingga agar lebih memperhatikan kebutuhan siswa dalam meraih apa yang mereka inginkan.

    ReplyDelete
  7. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B
    Assalamualaikum wr.wb.


    Proses pembelajaran di dalam kelas terjadi karena ada interaksi guru dan siswa. Guru membutuhkan siswa, siswa membutuhkan guru saling silogisme dalam arti siswa memang membutuhkan penambahan ilmu pengetahuan dari guru dan guru juga menambahkan ilmu pengathuan dalam hal mengajar dan hasil belajar siswa untuk pengembangan sistem pembelajaran guru selanjutnya. Bagaimana guru memahami setiap karakter siswa untuk diberikan penanganan yang pas sehingga memperlancar mereka dalam menerima, menyerap, dan menyalurkan ilmu mereka. Kadang karakter siswa terlalu banyak karena tergantung mood mereka dalam belajar, bagaimana cara guru menanganinya? Itu merupakan salah satu tantangan para guru untuk bisa mengembalikan mood siswa dengan memperhatikan perilaku siswa melalui evaluasi diri siswa setiap pertemuan. Tidak mudah karena akn menghabiskan banyak waktu bahkan memotong waktu belajar, disarankan setiap awal pelajaran untuk menanyakan kabar mereka dan memberikan game yang mereka sukai. Setuju dengan guru yang ada di daerah London bahwa untuk mengetahui apa yang siswa suka perlu dilakukan pendekatan melalui pertanyaan apa yang disukai siswa . secara tidak langsung, siswa akan merasa diayomi dan diperhatikan guru.

    ReplyDelete
  8. Luthfannisa Afif Nabila
    18709251031
    S2 Pendidikan Matematika B 2018
    Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.
    Kurikulum sendiri diimplementasikan kepada siswa dan siswa yang nyaman dengan kurikulum tersebut, maka pengembangan kurikulum bisa berjalan dengan lancar. Berbanding terbalik apabila siswa itu sendiri tidak nyaman dengan kurikulum tersebut bahkan mengalami kesulitan terhadap kurikulum maka pengembangan kurikulum bisa dikatakan tidak berjalan sesuai persepsi yang dirancang di awal.
    Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

    ReplyDelete
  9. Eka Puspita Sari
    18709251035
    S2 PM B 2018

    Jika dipikir kembali terlalu kejam memang, jika untuk waktu yang sama, dengan karakter siswa yang berbeda-beda, namun dituntut untuk mempelajari matematika yang sama, dan dengan hasil yang harus sama (yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya). Mungkin hal tersebut pula yang menyebabkan pembelajaran matematika kurang disukai oleh sebagian siswa. Pada dasarnya setiap manusia memiliki karakter yang berbeda-beda, begitu pula dengan siswa dikelas. Pernah terpikirkan bagaimana caranya mengelola kelas dengan berbagai macam karakter siswa agar apa yang kita sampaikan dapat diterima siswa secara adil sesuai porsi dan keinginannya masing-masing. Dan nampaknya observasi yang telah Bapak lakukan mengenai pembelajaran matematika di Inggris dapat menjawab kebingungan yang pernah saya pusingkan. Namun, nampaknya pula pbm tersebut tak dapat diterapkan, mengingat tuntutan kurikulum di Indonesia yang begitu saklek menyamaratakan seluruh kemampuan siswa padahal pada hakikatnya manusia diciptakan berbeda-beda. Dengan adanya pergantian kurikulum yang terus berubah-ubah merupakan salah satu wujud usaha pemerintah dalam upaya terus memperbaiki kualitas pendidikan bangsa. Semoga kedepannya pemerintah Indonesia mampu menemukan kurikulum yang cocok dan lebih manusiawi.

    ReplyDelete
  10. Nani Maryani
    18709251008
    S2 Pendidikan Matematika (A) 2018
    Assalamu'alaikum Wr.Wb

    Kurikulum merupakan garis besar rencana implementasikan yang disusun oleh pemerintah di bawah naungan menteri pendidikan. Setelah selesai, kurikulum tersebut kemudian diterapkan pada sistem pendidikan di Indonesia. Akan tetapi, di salah satu negara di Kota London ternyata ikut melibatkan siswa dalam penyusunan kurikulum. Hal tersebut dilakukan dengan cara sebelum dilakukan pengembangan kurikulum, diadakan pertemuan khusus atau semacam need assessment dengan para siswa yang berisi gambaran kebutuhan siswa yang nantinya akan digunakan untuk mengembangkan kurikulum tingkat sekolah. Hal tersebut dirasa efektif karena kurikulum disusun berdasarkan apa yang terjadi sebenarnya pada siswa.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb

    ReplyDelete
  11. Rindang Maaris Aadzaar
    18709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Lain tanah pasti lain langitnya juga. Hal tersebut yang terlihat pada postingan yang ada di atas dimana adanya pembelajaran mateamtika di London dengan yang ada di Indonesia. Pasti semuanya memiliki perbedaan. Terlebih lagi dari sisi kurikulumnya. Hal itu biasanya disebabkan karena perbedaan kemampuan siswa dan guru juga sebagai pelaku kurikulum. Kurikulum disusun berdasarkan kemampuan siswa dan guru dalam menjalannya. Sehingga yang perlu dilakukan adalah dengan menggunakan adaptasi dari pembelajaran diluar yang sekiranya cocok untuk siswa dan guru di Indonesia
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  12. Herlingga Putuwita Nanmumpuni
    18709251033
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Dari forum tanya jawab ini dapat disimpulkan bahwa :
    "Pbm matematika di London, menganut paradigma : pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula". Cara mengorganisasikannya melalui LKS dan Portfolio.

    LKS sangat penting untuk melayani kebutuhan siswa yang berbeda-beda. Sedangkan setiap siswa perlu dilengkapi dengan Dokumen yang disebut Portfolio Siswa atau Record Keeping. Record Keeping Siswa berisi segala Dokumen yang berkaitan dengan Aktivitas dan Prestasi Siswa mengalir dari tahun ke tahun. Sedangkan pembelajaran Matematika di Indonesia bersifat "Untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya". Itulah letak perbedaan yang ada pada pembelajaran matematika di London dan Indonesia.

    ReplyDelete
  13. Herlingga Putuwita Nanmumpuni
    18709251033
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Saya tertarik pada fakta dimana setiap siswa mendapat LKS yang berbeda sesuai dengan kecepatan dan kemampuan siswa masing-masing. Bagi saya ini sungguh mengagumkan. Untuk mempersiapkan LKS satu jenis saja untuk pembelajaran tidaklah dapat dikatakan mudah, apalagi mempersiapkan LKS yang berbeda sesuai dengan kecepatan dan kemampuan setiap siswa . Sungguh diperlukan usaha dan kreativitas guru yang besar untuk mewujudkannya.

    ReplyDelete
  14. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006
    PEP S3


    Kalimat berikut seharusnya dijadikan sebagai refleksi untuk kita "Untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya". Artinya, siswa di Indonesia "dipaksa" untuk mempelajari matematika yang sama tetapi dengan kemampuan yang berbeda, proses pembelajaran yang sama. Inilah yang harus kita selesaikan bersama bagaimana siswa ini menentukan perubahan kurikulum ke depannya.

    ReplyDelete
  15. Anggoro Yugo Pamungkas
    18709251026
    S2 Pend.Matematika B 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    Berdasarkan artikel diatas, terima kasih prof atas cerita dalam artikel ini. Dala artikel ini menunjukkan bahwa pada waktu yang berbeda, berbagai siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula. Untuk mengorganisasikannya menggunakannya dibutuhkan LKS dan Portfolio. LKS sangat penting untuk melayani kebutuhan siswa yang berbeda-beda. Sedangkan setiap siswa perlu dilengkapi dengan Dokumen yang disebut Portofolio Siswa. Penggunaan LKS dalam pembelajaran biasanya tidak berdiri sendiri atau tidak menjadi bahan ajar utama dan satu-satunya untuk pembelajaran sebuah materi. Guru biasanya mengkombinasikan dengan penggunaan buku paket atau buku teks pelajaran agar semakin sempurna.

    ReplyDelete
  16. Sintha Sih Dewanti
    18701261013
    PPs S3 PEP UNY

    Ketika membaca kalimat “bagaimana mungkin seorang siswa ikut menentukan Kurikulum?”. Rasanya agak aneh. Akan tetapi jika dipahami isinya, memang benar seharusnya untuk mengembangkan dan menentukan kurikulum juga harus melihat kompetensi yang dibutuhkan siswa untuk era sekarang dan masa depan. Berbagai permasalahan yang muncul sedetail apapun dari seorang siswa seharusnya dijadikan pertimbangan dalam menentukan kurikulum.

    ReplyDelete
  17. Septia Ayu Pratiwi
    18709251029
    S2 Pendidikan Matematika 2018

    Terdapat beberapa perbedaan kurikulum di Indonesia dan di Inggris. Meskipun terdapat kelebihannya masing-masing, terdapat pula kelemahannya masing-masing pula. Kurikulum di Indonesia cenderung menyamaratakan kemampuan anak yang sebenarnya berbeda. Pelajaran yang dapat diambil dari pemaparan diatas adalah bahwa LKS merupakan elemen penting bagi siswa untuk membantu siswa tersebut memahami konsep dan memecahkan masalah matematika. Di Inggris terutama di London siswa dapat menentukan sendiri kurikulum pembelajarannya. Kurikulum di ibartakan RPP yang harus disiapkan oleh guru, oleh sebab itu guru harus memenuhi tuntutan siswa dalam pembelajarannya. Cerita diatas sangat menarik sekali, dan selanjutnya saya berharap jika pendidikan di Indonesia dapat menemukan Ruhnya sehingga bisa menemukan kurikulum pendidikan yang tepat.

    ReplyDelete
  18. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Tugas guru memang tidak mudah. Guru adalah salah satu factor penentu keberhasilan proses pembelajaran. Yang perlu digarisbawahi adalah keberhasilan proses pembelajaran bukan diartikan sebagai semua siswa mencapai kompetensi yang sama, namun bagaimana siswa-siswa dapat memaksimalkan potensi yang ada pada diri mereka masing-masing. Siswa di dalam satu kelas tentu memiliki kemampuan yang beragam. Untuk itu, guru memang sebaiknya menyusun atau merancang kegiatan yang beragam pula bagi siswa. Sesuaikan dengan level kemampuan siswa dan pahami bahwa setiap siswa memiliki potensinya masing-masing. Jangan hancurkan potensi yang ada dalam diri siswa dengan cara memaksakan agar siswa menjadi seperti apa yang guru inginkan. Setting pembelajaran yang dilakukan di Inggris seperti dalam tulisan di atas dapat menjadi salah satu referensi dan suntikan semangat bagi guru-guru di Indonesia, termasuk diri saya sendiri agar terus senantiasa memberikan yang terbaik untuk memfasilitasi siswa-siswa dalam belajar matematika.

    ReplyDelete
  19. Deden Hidayat
    18709251032
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Seorang guru dituntut untuk selalu mampu mengembangkan bahan ajar yang mampu memfasilitasi kemampuan siswa di kelas. Namun kemampuan siswa di dalam kelas tidak hanya satu macam, melainkan ada yang siswa berkemampuan tinggi dan ada siswa yang berkemampuan rendah. Oleh karena itu bahan ajar yang dirancang oleh seorang guru harus mampu mewadahi seluruh kemampuan siswa yang berada di kelas. Hal ini bertujuan agar semua siswa dapat memahami mengenai materi dengan baik.

    ReplyDelete
  20. Deden Hidayat
    18709251032
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Siswa menentukan kurikulum, merupakan sebuah judul yang menarik menurut saya. Seperti yang kita tahu bahwa kurikulum merupakan sebuah perangkat pembelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga pendidikan yang berisi mengenai rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada siswa. Namun kurikulum yang ada dikita ini terasa masih belum memperhatikan kondisi siswa di lapangan. Padahal melihat kondisi atau keadaan dari siswa merupakan salah satu hal yang penting dalam penyusunan kurikulum. Hal tersebut bertujuan agar semua karakteristik siswa yang ada mampu terfasilitasi oleh kurikulum tersebut.

    ReplyDelete
  21. Amalia Nur Rachman
    18709251042
    S2 Pendidikan Matematika B UNY 2018

    Di Indonesia, kurikulum ditentukan oleh pemerintah dapat dikatakan belum sesuai dengan kebutuhan para siswa. Sementara di Inggris, kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan para siswa. Diperlukan usaha yang lebih dan profesionalisme yang luar biasa dari guru agar para siswanya dapat belajar berdasarkan kebutuhan. Semoga hal hal seperti ini dapat menginspirasi pendidikan di negara kita untuk menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  22. Rosi Anista
    18709251040
    S2 Pendidikan Matematika B

    Kurikulum adalah seperangkat atau sistem rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pembelajaran yang dipedomani dalam aktivitas belajar mengajar. Kurikulum merupakan suatu sistem pembelajaran yang digunakan untuk mencapai tujuan karna berhasil atau tidaknya sistem pembelajaran diukur dari banyaknya tujuan-tujuan yang tercapai.Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan siswa. Dengan program itu, para siswa melakukan berbagai kegiatan belajar sehingga terjadi perubahan dan perkembangan tingkah laku siswa, sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran.

    ReplyDelete
  23. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Sama halnya dengan perubahan guru yang bisa didasari oleh sikap siswa, berlanjut ke arah sistem pendidikannya. Maksudnya, bila telah diterapkan suatu pedoman mengajar tetapi tidak sesuai apa yang terjadi di lapangan dengan faktor siswa yang di luar ekspektasi pedoman maka itu merupakan salah satu faktor yang mendasari perubahannya suatu kurikulum karena memang dasarnya pedoman mengajar ini juga harus mempertimbangkan kondisi siswa di sekolah. Bila dipaksakan menggunakan pedoman itu maka tidak bisa menjamin proses pembelajaran akan berjalan lancar karena siswa serasa dipaksa yang tidak sesuai dengan yang seharusnya mereka terima. Sehingga secara logika memang siswa menjadi dasar pembentukan suatu pedoman menagjar guru.

    ReplyDelete
  24. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  25. Erma Zelfiana Surni
    18709251009
    S2. P.Matematika A 2018

    Assalamualaikum Wr. Wb
    Dari sini saya memahami bahwa pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang turut melibatkan siswa dalam penilaian, refleksi, evaluasi maupun perencanaan pembelajaran. Sudah sepatutnya hal itu dilakukan mengingat tujuan dari pembelajaran itu ialah untuk dan milik mereka, merekalah yang paling tahu sebarapa jauh kepuasan belajar itu terpenuhi. Pembelajaran hakikatnya adalah pemenuhan kebutuhan belajar bagi siswa sehingga siswa berhak dalam menentukan pembelajaran yang baik dan ideal. Inilah yang menjadi pelajaran bagi kita semua sebagai calon guru agar senantiasa menjadi guru yang terbuka terhadap saran & masukan terutama saran dari peserta didik.

    ReplyDelete
  26. Erma Zelfiana Surni
    18709251009
    S2. P.Matematika A 2018

    Assalamualaikum Wr. Wb
    Salah satu tantangan terbesar guru adalah memfasilitasi semua siswa dalam belajarnya sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Didalam kelas tentu ada beberapa siswa yang menonjol dari siswa yang lainnya, siswa inilah yang kemudian digelari sebagai siswa yang cerdas. Namun siswa yang tidak menonjol atau tidak terlibat aktif dalam pembelajaran itu tidak berarti tidak memiliki kecerdasan. Setiap anak sudah terlahir dengan kecerdasan dan potensinya masing-masing. Ragam Kecerdasan dan Potensi itulah yang harus dipahami, dikenali lalu kemudian digali oleh guru agar menjadi kompetensi. Hanya dari pemahaman dan pengenalan itulah guru bisa menjadi fasilitator untuk semua pemenuhan kebutuhan belajar siswa.

    Terima kasih kepada Prof. Marsigit telah berbagi dan memdeskripsikan metode pembelajaran diatas yang menurut saya pribadi sangat menarik jika diterapkan dan dikembangkan demi terlaksananya pembelajaran yang menyeluruh.

    ReplyDelete
  27. Fabri Hidayatullah
    18709251028
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    “Luar biasa prof”, itu yang terlintas dalam benak saya ketika membaca pengalaman Prof. Marsigit dalam bacaan di atas. Pembelajaran tersebut akan benar-benar dapat memfasilitasi kondisi siswa yang beragam. Pembelajaran dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan masing-masing siswa. Bahkan media pembelajaran dan portofolio pun dirancang sesuai dengan kompetensi masing-masing siswa. Sayangnya pembelajaran yang seperti ini belum bisa sepenuhnya dipraktikan dalam pembelajaran di Indonesia, karena kompetensi yang diharapkan pada tiap jenjang telah ditentukan oleh pemerintah yang memiliki kebijakan membuat kurikulum. Namun, setidaknya guru bisa mendapatkan inspirasi dari pengalaman tersebut untuk berusaha memfasilitasi kebutuhan individual siswa. Misalnya dengan merancang media pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa.

    ReplyDelete
  28. Atin Argianti
    18709251001
    PPs PM A 2018
    Dalam postingan tersebut, menurut saya pembelajaran matematika yang dilakukan di kelas yang paling utama adalah menanamkan kesenangan pada siswanya. Jika siswa senang, siswa akan mengikuti pembelajaran dengan sangat antusias. Siswa yang mempunyai perbedaan dalam kemampuan dapat difasilitasi guru dengan memberikan LKS yang berbeda sesuai dengan kemampuannya. Hal tersebut guru memberikan kebebasan dalam kelasnya yang didasarkan pada kemauan siswanya.

    ReplyDelete
  29. Atin Argianti
    18709251001
    PPs PM A 2018
    Berbeda dengan pembelajaran di Indonesia, kurikulum yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Harapannya kurikulum tersebut dapat diterapkan di sekolah dengan media guru. Guru yang hanya melakukan apa yang ditetapkan pemerintah untuk menjalankan kurikulum tersebut. Di Indonesia, guru dituntut untuk berinovasi dalam pembelajarannya dan kreatif dalam menggunakna media. Karena hal tersebut, guru yang hanya tahu kemampuan siswanya dengan kurikulum yang telah ditentukan sebelumnya. Siswa dan guru sebagai pelaku kurikulum hanya akan menuruti apa yang telah ditetapkan oleh pemerintah tanpa mengetahui bahwa siswa mempunyai kemampuan yang berbeda-benda.

    ReplyDelete
  30. Surya Shofiyana Sukarman
    18709251017
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Kurikulum merupakan tumpuan awal bagaimana sistem pendidikan di suatu negara dilaksanakan. kurikulum bisa berbeda-beda antara sekolah satu dengan sekolah lain tergantung kebutuhan siswa dalam sekolah tersebut. Oleh karena itu butuhnya peran siswa dalam menentukan kurikulum. Dalam hal ini, siswa hendaknya menemukan pola terhadap pembelajaran matematika, sehingga siswa dapat memecahkan persoalan-persoalan dengan caranya sendiri. Dengan menggali dan mengeksplor kemampuan yang ada pada diri masing-masing individu.

    ReplyDelete
  31. Surya Shofiyana Sukarman
    18709251017
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Dari elegy diatas, bisa kita lihat perbedaan guru yang ada di London dan di Indonesia. Dimana guru di London mampu memfasilitasi siswa yag memilki tingkat kemampuan yang berbeda, contohnya menyediakna LKS yang beragam sesuai dengan kemampuan siswanya. Di indoesia, walaupun telah dilakukan penelitian ataupun pengemabnagan bahan ajar di baik itu berupa LKS yang beragam, tapi dalam pengaplikasian dikelas masih banyak guru yang belum menerapkannya.

    ReplyDelete
  32. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A

    Terimakasih Pak Prof. atas pengalaman dalam observasi pembelajaran di London. Dari hasil observasi tersebut jelaslah berbeda dengan di Indonesia. Seperti yang telah disimpulkan dalam positingan ini bahwa di Indonesia pembelajaran matematika untuk siswa-siswa yang berbeda dituntut untuk mempelajari matematika yang sama dengan hasil yang sama. Oleh karena itu seperti hal yang tidak mungkin pembelajaran di London dapat dilaksanakan di Indonesia kecuali jika paradigma pendidikan di Indonesia diubah. Namun, yang dapat diadaptasi dari pembelajaran di London tersebut adalah penggunaan LKS yang bervariasi. Misalnya saja LKS dapat disusun berdasarkan kecerdasan majemuk yang dimiliki siswa. Sehingga pembelajaran matematika dapat menyesuaikan karakteristik siswa. Hal ini mungkin akan membantu mempermudah siswa dalam belajar matematika.

    ReplyDelete
  33. Kartianom
    18701261001
    S3 PEP 2018

    Melalui membaca artikel yang Bapak tulis di atas, dapat disadari bahwa perbedaan yang menonjol dari penerapan pembelajaran matematika di London dibandingkan dengan di Indonesia. Dalam hal definisi kurikulum pun telah berbeda. Di London kurikulum dapat disesuaikan oleh sekolah masing-masing, menyerupai RPP di Indonesia. Sedangkan di Indonesia kurikulum dibuat pemerintah, kurikulum yang dilaksanakan setiap daerah di Indonesia entah kota maupun desa terpencil yang tentunya memiliki kemampuan berbeda akan dituntut mencapai tujuan yang sama dalam matematika. Tujuan yang tercantum dalam kurikulum yang telah dibuat. Saya berpikir apakah bila Indonesia menerapkan sistem pembelajaran seperti di London, akan memberikan dampak berbeda dengan kondisi pendidikan Indonesia sekarang.

    ReplyDelete
  34. M. Ikhsan Ghozali
    19701261003
    PEP S3 2019

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Tulisan di atas menguak perbedaan paradigma pembelajaran matematika di Indonesia dan London. Di Indonesia, pembelajaran berpusat pada guru, sedangkan di Londonm pembelajaran berpusat pada siswa. Di London, hal semacam ini diterapkan karena kebutuhan siswa yang berbeda-beda. Untuk menunjang itu, digunakan LKS dan portofolio.
    Demikian yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf dan terima kasih.
    Wassalamu'alaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  35. Ngaenun Nangim
    19709251058
    S2 Pendidikan Matematika D 2019

    Pembelajaran yang dijelaskan tersebut dapat menjadi cermin bagi pendidikan Indonesia untuk lebih menghargai ruang dan waktu. Setiap pembelajaran ada dalam ruang dan waktu berbeda sehingga tidaklah mungkin yang terjadi di dalamnya disamakan. Pembelajaran memang seharusnya dikondisikan sesuai ruang dan waktunya, sehingga sangatlah perlu pendidik bersikap sopan dan santun terhadap ruang dan waktu.

    ReplyDelete