Feb 12, 2013

The Nature of Teaching Learning Processes


By Marsigit
Yogyakarta State University

Some students learn best when they see what is being taught, while others process information best auditorily. Many will prefer movement or touching to make the learning process complete. The best approach to learning styles is a multisensory approach. This type of environment allows for children, who are primarily kinesthetic or motor learners, to be able to learn through touch and movement; it allows the visual learner to see the concept being taught, and the auditory learner to hear and verbalize what is being taught. Ideally, the best learning takes place when the different types of processing abilities can be utilized. Constructivists have focused more on the individual learner’s understanding of mathematical tasks which they face (von Glasersfeld, 1995 in Brown, 1997).

Educationists use the terms 'traditional' and 'progressive' as a shorthand way of characterizing educational practices. The first is often associated with the terms 'classical/ whole class', 'direct', 'transmission', 'teacher-centred/subject-centred', 'conventional', or 'formal'; and the second is sometimes associated with the terms 'individual', 'autonomy', 'constructive', 'child-centred', 'modern', 'informal', and/or 'active learning'. The lack of any clear definition of what the terms mean is one of the sources of misleading rhetoric of the practices. Bennett (1976) found evidence that the loose terms 'traditional' and 'progressive' are symbolic of deep conflicts about some of the aims of education. The main sociological point is that the terms 'progressive' and 'traditional' are emotionally loaded but lack any consensual meaning among practitioners or researchers (Delamont, 1987). He found that, in the UK, ever since 1948 there has been a division between those exposing traditional and progressive ideals, and that feelings about these ideals are bitter and vehemently held. Then, since 1970, there have been some investigations on how the teachers' behaviors attributed by the term of 'traditional' or 'progressive'. The most persuasive prescriptive theory of teaching was that reflected in the Plowden Report (1967) which, influenced by the educational ideas of such theorists as Dewey and Froebel, posited a theory of teaching which distinguished between progressive and traditional teachers.
Specifically, Paul Ernest (1994) elaborated issues of mathematics education as follows:
a. Mathematical pedagogy - problem solving and investigational approaches to mathematics versus traditional, routine or expository approaches? Such oppositions go back, at least, to the controversies surrounding discovery methods in the 1960s.
b. Technology in mathematics teaching – should electronic calculators be permitted or do they interfere with the learning of number and the rules of computation? Should computers be used as electronic skills tutors or as the basis of open learning? Can computers replace teachers, as Seymour Papert has suggested?
c. Mathematics and symbolization – should mathematics be taught as a formal symbolic system or should emphasis be put on oral, mental and intuitive mathematics including child methods?
d. Mathematics and culture – should traditional mathematics with its formal tasks and problems be the basis of the curriculum, or should it be presented in realistic, authentic, or ethnomathematical contexts?”


The current and future challenges of (mathematics) education is how to innovate traditional teaching into innovative teaching; in which, traditional teaching is characterized as teacher centered, teacher delivering method, teachers' domination of initiation, direct teaching, strong controlled teaching. And progressive teaching is characterized as students' centered teaching in which the students will take over their role in learning.

References:

........., 2009, Nature of the Students, Going to a public school, New South Wales,
Department of Education and Training. Retrieved 2009

Brown, T., 1997, Mathematics Education and Language: Interpreting Hermeneutics and
Post-Structuralism. Kluwer Academic Publisher: Dordrecht

Cockroft, H. W., 1982, Mathematics counts : Report of the Committee of Inquiry into the Teaching of Mathematics in School under the Chairmanship of Dr. W H Cockroft, London : Her Majesty's Stationery Office.

Ebbutt, S. and Straker, A., 1995, Mathematics in Primary Schools Part I: Children and Mathematics. Collins Educational Publisher Ltd.: London

Ernest, P., 1994, Mathematics, Education and Philosophy: An International Perspective.The Falmer Press: London.

Ernest, P., 2002, What Is The Philosophy Of Mathematics Education?
Paul Ernest University of Exeter, United Kingdom. Retrieved

Ernest, P., 2007, Mathematics Education Ideologies And Globalization. Retrieved


Furlong, J., 2002, Ideology and Reform in Teacher Education in England:
Some Reflections on Cochran-Smith and Fries. Retrieved

Glenn, A., 2009, Philosophy of Teaching and Learning "Your job as a teacher is to make every single student feel like a winner”. Retrieved

Grouws, A. D. and Cooney, J. T., 1988, Effective Mathematics Teaching : Volume 1, Virginia : The NCTM, Inc.

Jaworski, B., 1994, Investigating Mathematics Teaching : A Constructivist Enquiry, London : The Falmer Press.

Orton, A. and Wain, G., 1994, Issues in Teaching Mathematics, London : Cassell.
Runes, D.D.,1942, Dictionary of Philosophy. Retrieved 2007

Swanson, R.A. and Holton III, E.F., 2009, Foundation of Human Resources Development
: Second Edition, Berrett-Kohler Publisher Inc.

45 comments:

  1. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari artikel ini saya memperoleh pemahaman bahwa setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Oleh karena itu pendekatan terbaik dalam model pembelajaran adalah melalui pendekatan multisensory. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang menggunakan berbagai kemampuan memproses masukan yang diberikan. Pada artikel ini juga dijelaskan bahwa terdapat dua macam praktik pendidikan yaitu tradisional dan progresif. Kedua jenis praktik pembelajaran tersebut saling bertolak belakang karena memiliki tujuan dan metode yang berbeda. Karakteristik pembelajaran tradisional adalah berpusat pada guru, guru mentrasfer ilmu, serta guru mendominasi dan mengkontrol pembelajaran secara penuh. Sedangkan karakteristik pembelajaran progresif adalah berpusat pada siswa, dimana siswa berperan banyak dalam pembelajaran. Tantangan dalam pembelajaran matematika adalah mengubah pembelajaran tradisional menjadi pembelajaran inovatif.

    ReplyDelete
  2. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Dari wacana diatas saya dapat mengambil kesimpulan bahwa gaya belajar siswa bermacam-macam. Ada siswa yang bisa paham hanya dengan mendengar, ada yang hanya melihat, ada juga yang melihat dan mendengar, bahkan ada juga yang tidak bisa mendengar dan melihat harus dilibatkan langsung. Maka disinilah peran seorang guru untuk mengetahui karakteristik dan psikologi seorang siswa. Karena tidak ada satupun gaya yang terbaik untuk diterapkan, maka kreatitivitas dan inovasi dari guru sangat diharapkan untuk mengkonstruk pemikiran siswa sehingga pendidikan dimasa yang akan datang akan semakin maju.

    ReplyDelete
  3. Proses pembelajaran di sekolah dapat dibedakan menjadi pembelajaran tradisonal dan pembelajaran progres. Pembelajaran tradisional berpusat pada guru sedangkan pembelajaran progres berpusat pada siswa. Siswa merupakan individu yang mempunyai potensi yang besar dan berbeda-beda. Masing-masing potensi tidak dapat disamakan. Pembelajaran seharusnya diberdayakan menggunakan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa sendiri yang membangun pengetahuannya.

    ReplyDelete
  4. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Assalamualaikum wr. . wb.
    Setiap siswa memiliki kemampuan karakteristik dan potensi yang berbeda-beda antara anak yang satu dengan yang lain sebagai seorang guru harus dapat menempatkan diri sesuai dengan kondisi dan kebutuhan siswanya tersebut melalui beberapa pendekatan dan cara mengajar yang biasa dipakai guru dalam proses pembelajaran ada 2 yaitu cara mengajar tradisional dan progresif. Dalam kegiatan mengajar yang berlangsung saat ini kebanyakan guru menggunakan cara mengajar tradisional hal inilah yang perlu segera diubah sehingga dalam proses pembelajaran guru kearah yang progresif, yaitu pembelajaran yang berorientasi pada siswa.

    ReplyDelete
  5. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Siswa dalam suatu kelas adalah individu yang berbeda. Mereka memiliki karakteristik, kemampuan, gaya belajar, minat, dan aspek lainnya yang berbeda-beda. Apabila dalam suatu kelas ada 30 siswa, maka juga ada 30 karakteristik dari siswa tersebut. Jika guru menerapkan satu metode yang sama bagi semua siswa, maka hal itu sangat kurang tepat. Mengapa demikian? Itu karena satu metode tertentu hanya dapat sesuai dengan karakteristik dua atau tiga siswa saja. Oleh karena itu, seorang guru dituntut untuk menggunakan metode, sumber, media dan interaksi pembelajaran yang bervariasi untuk memfasilitasi siswa belajar. Selain itu, guru sebaiknya mengelola pembelajaran yang berpusat pada siswa dan guru berperan sebagai fasilitator. Guru memfasilitasi siswa untuk belajar, membangun pengetahuannya sendiri dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bereksplorasi serta mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya.

    ReplyDelete
  6. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Artikel ini membahas tentang beragamnya gaya belajar yang dimiliki oleh masing-masing siswa. Terdapat gaya belajar visual, gaya belajar audio dan gaya belajar kinestetik. Beberapa siswa akan belajar dengan cepat dan baik dengan melihat apa yang diajarkan oleh guru. Beberapa siswa lain akan cepat mempelajari sesuatu melalui audio, dan beberapa siswa lainnya akan cepat mempelajari suatu pelajaran melalui sebuah gerakan atau sentuhan . Menurut Brown, Pendekatan terbaik untuk gaya belajar adalah pendekatan multisensor yang memungkinkan anak-anakuntuk dapat belajar melalui sentuhan dan gerakan; Hal ini memungkinkan pelajar visual untuk melihat konsep yang diajarkan, dan pendengaran pendengaran untuk mendengar dan mengungkapkan secara verbal apa yang diajarkan. Idealnya, pembelajaran terbaik terjadi ketika berbagai jenis kemampuan pengolahan dapat dimanfaatkan dan ini menjadi tantangan bagi guru untuk menghadapi karakteristik siswa dalam memiliki gaya belajar.

    ReplyDelete
  7. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    dalam kelas sering kita temui banyak perbedaan antara satu siswa dengan yang lainnya. kinestetik, audio dan visual merupakan gaya belajar siswa pada umumnya yang membutuhkan peran guru yang sesuai dengan gaya belajar mereka tersebut.
    dengan menggunakan multisensory approach tentu pembelajaran yang dilakukan lebih adil untuk setiap siswa. namun pendekatan ini perlu untuk dikembangkan lebih lagi untuk hasil yang optimal.

    ReplyDelete
  8. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Ernest menyinggung penggunaan teknologi dalam pembelajaran matematika. Apakah itu perlu? Apakah tidak akan membuat siswa malas menghitung secara tradisional? Apakah dampak positifnya lebih besar daripada negatifnya?
    Semua jawaban tersebut tergantung sudut pandang guru, mau dibawa kemana pembelajaran tersebut, apa tujuan pembelajaran yang akan dicapai dan bagaimana guru mengawasi penggunaan teknologi tersebut.

    ReplyDelete
  9. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Saya tertarik mengenai inovasi pembelajaran dengan menggunakan multi sensori. Ini merupakan inovasi yang langka karena jarang diungkapkan berbagai jurnal maupun teori pembelajaran. Guru dapat mengajar dengan mengandal berbagai media yang dapat di terima kelima panca indra siswa. Misal guru memadukan antara menjelaskan di kelas (suara:telinga), memperagakan yang melibatkan siswa (gerakan), memperlihatkan media (penglihatan), siswa mempresentasikan (suara:lidah), mencatat (tangan). Jika segala alat indra siswa terlibat maka kenangan akan pembelajaran tersebut lebih membekas, sehingga siswa terhindar dari metode menghafal. Hal ini merupakan pengalaman pribadi saya, karena saya memiliki ingatan yang kurang baik, ketika belajar sendiri selain mebaca tetapi saya juga menuliskan kembali di sertai dengan ucapan. Sehingga beberapa anggota tubuh saya ikut memahami, dan hal ini “work out”.

    ReplyDelete
  10. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Pembelajaran yang bermakna akan menjadikan siswa termotivasi dan bersemangat. Dan untuk menciptakan pembelajaran yg bermakna maka perlu adanya inovasi-inovasi dalam proses pembelajaran. Dan jika perhatikan pembelajaran inovatif saat sekarang menjadi tuntutan yang harus dijalankan oleh guru dalam mengadakan suatu proses pembelajaran. Dalam hal ini siswa diberi kesempatan untuk mengeksplore dan membangun pengetahuannya dengan bimbingan guru. Maka dalam pembelajaran guru tidak hanya sebagai one and the only one resources of knowledge, tetapi lebih jauh guru harus menyediakan sumber-sumber belajar yang bervariasi bagi siswa. Tidak hanya itu dalam proses belajar mengajar dibutuhkan juga adanya interaksi. Interaksi dalam proses belajar mengajar mempunyai arti yang sangat luas, tidak sekedar hubungan guru dengan siswa tetapi interaksi edukatif. Dalam hal ini bukan hanya menyampaikan pesan berupa materi pelajaran melainkan juga nilai dan sikap pada diri siswa yang sedang belajar.

    ReplyDelete
  11. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Saya tertarik dengan pernyataan ini
    “Some students learn best when they see what is being taught, while others process information best auditorily. Many will prefer movement or touching to make the learning process complete. The best approach to learning styles is a multisensory approach. This type of environment allows for children, who are primarily kinesthetic or motor learners, to be able to learn through touch and movement; it allows the visual learner to see the concept being taught, and the auditory learner to hear and verbalize what is being taught. Ideally, the best learning takes place when the different types of processing abilities can be utilized. Constructivists have focused more on the individual learner’s understanding of mathematical tasks which they face (von Glasersfeld, 1995 in Brown, 1997).”
    Salah satu hal yang mempengaruhi aktivitas belajar adalah gaya belajar. Menurut Santrock gaya belajar bukanlah kemampuan, tetapi gaya belajar merupakan pilihan cara yang disukai untuk menggunakan kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Selain itu gaya belajar adalah cara yang konsisten dilakukan oleh seorang siswa dalam menangkap stimulus atau informasi, cara mengingat, berpikir dan memecahkan soal. Berdasarkan penelitian pada tahun 2008 yang diakses melalui pepak pustaka, profil gaya belajar rata-rata siswa yang dikumpulkan oleh SDS (Spesific Diagnostic Studies), di Rockville, Maryland, dari 5.300 siswa, kelas 5 sampai 12, yang mengisi Daftar Uji Learning Channel Preference SDS, di Amerika Serikat, Hongkong dan Jepang menyebutkan bahwa 37% siswa mempunya gaya belajar Haptik/Kinestik (bergerak, menyentuh, melakukan); 34% siswa mempunyai gaya belajar Auditorial (suara, musik) dan 29% siswa mempunyai gaya belajar Visual (belajar melalui gambar). Bagi siwa yang memiliki gaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata / penglihatan ( visual ). Di dalam kelas, siswa visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi. Bagi siwa yang memiliki gaya belajar auditori, mereka mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga ( alat pendengarannya ). Siswa yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. Siswa auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Bagi siwa yang memiliki gaya belajar kinesttik, belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Siswa seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Siswa yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan.

    ReplyDelete
  12. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPS Pendidikan Matematika C 2016

    Salah satu kendala dalam pembelajaran matematika saat ini adalah Tantangan saat ini adalah mendekati guru tradisional agar bersedia menciptakan inovasi baru demi kemajuan pendidikan di Indonesia, khususnya dalam pembelajaran matematika. Salah satunya dengan adanya pelatihan sebenarnya mempunyai hubungan dengan inovasi. Namun pelatihan yang dilaksanakan merupakan pelatihan yang tidak bersifat menggurui guru. Dengan pelatihan tersebut maka diharapkan guru tradisonal dapat membuka hati dan pikirannya untuk meninggalkan cara lamanya dalam mengajar. Guru tak lagi otoriter terhadap siswa dalam proses pembelajaran dan dapat memanfaatkan teknologi yang ada untuk menciptakan media pembelajaran yang inovatif dalam rangka membantu siswa dalam proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  13. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Pendekatan diperlukan untuk mengatasi tipe belajar siswa yang berbeda – beda. Pendekatan yang tepat akan memudahkan siswa dalam belajar. Pada pembelajaran saat ini banyak pendekatan yang digunakan untuk dapat membantu siswa dalam memahami materi oleh karena itu perlu menggeser dari pembelajaran tradisional agar siswa memperoleh hal – hal baru dari pendekatan yang bermacam – macam. Guru juga harus dapat memanfaatkan berbagai macam kemajuan teknologi untuk kemajuan pembelajaran agar siswa termotivasi dalam belajar.

    ReplyDelete
  14. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Pada artikel disebutkan bahwa pembelajaran sering dikategorikan sebagai ‘tradisional’ dan ‘progresif’. Pembelajaran yang ideal adalah pembelajaran progresif, sehingga pembelajaran tradisional yang sering digunakan guru diharapkan dapat beralih ke pembelajaran progresif. Dalam pembelajaran matematika diupayakan bahwa antara guru dan siswa saling membutuhkan, sehingga terjadi interaksi saat belajar matematika dalam kelas. Suasana pembelajaran harus selalu diupayakan agar dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh masing-masing siswa.

    ReplyDelete
  15. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  16. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Siswa memiliki kemampuan pemahaman yang berbeda-beda, sehingga dalam proses pembelajaran di kelas pun guru tidak bisa menyama-ratakan begitu saja. Metode pembelajaran tradisional (konvensional) masih berpusat pada guru, dan siswa diharuskan untuk melakukan apa yang diinginkan oleh sang guru. Metode ini siswa tidak dapat mengekspresikan kreativitasnya dalam memecahkan masalah, karena langkah-langkah dalam menyelesaikan masalah telah ditentukan oleh guru. Hal ini dapat menyebabkan siswa merasa jenuh dalam belajar.

    ReplyDelete
  17. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Pembelajrana yang terbaik bagi siswa apabila pembelajaran itu bermakna bagisiswa itu sendiri. Dan juga pembelajaran tradisionalyang selalu kita terapkan itu pasti tidak akan terlepas dan tidak akan hilang begitu saja karena sudah menjadi dasar bagi kita apalagi angkatan agak tuaan. Dalam pendidikan sekarang kita stahu bahwa pembelajarn ada 2 katagori, yaitu student center dan teacher center. Yang mana dua hal itu memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Sebagaimana yang telah dijelaskana dibeberapa elegi-elegi diatas saya lebih cenderung menyarankan pemebalajaran matematika itu harus student center yanag mana opembelajaran berpusat pada siswa. sehinga dengan adanya student center maka siswa dapat membangun pengetahuan mereka dan pata berpikir kritis dan berpikir kritis yang mana duia skill itu sangat diperlukan dalam dunia sekaranag.

    ReplyDelete
  18. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Guru harus melakukan inovasi yaitu terus melakukan perubahan dalam pembelajarannya. Agar siswa menyenangi matematika maka menurut (Ebbut and Straker, 1995) guru tidak seyogyanya menggunakan definisi matematika aksiomatis, melainkan mendefinisikan matematika sebagai matematika sekolah. hakekat matematika sekolah menurutnya antara lain matematika merupakan kegiatan penelusuran pola dan hubungan, matematika adalah kreativitas yang memerlukan imajinasi, intuisi dan penemuan, matematika adalah kegiatan problemsolving dan matematika merupakan alat berkomunikasi

    ReplyDelete
  19. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Berbicara masalah masalah karakteristik siswa dalam belajar maka kita berbicara masalah (Identifikasi masalah psikologi mengajar matematika, psikologi belajar matematika dan psikologi pembelajaran matematika), outputnya adalah seorang guru dapat mendiagnosis apa karakteristik dan kesulitan siswa dalam belajar matematika. Menjadi guru matematika tidaklah mudah, menguasai materi merupakan hanya syarat cukup dalam mengajarkan matematika. Maka ada syarat perlu yang harus terpenuhi untuk bisa menanamkan konsep. Sayarat perlu disini adalah guru harus sepenuh hati dalam mengajarkan matematika. Sebelum memulai proses belajar, maka guru terlebih dahulu mendiagnosis kondisi dan kebutuhan masing-masing siswa. Karakteristik tiap siswa itu berbeda-beda. Ada anak yang dalam belajar harus dengan suasana yang tenang. Ada anak yang kalau belajar harus sambil mendengarkan musik. Ada pula anak yang hyperactive, kalau sedang belajar ia tidak bisa diam. Apabila dalam suatu kelas ada 30 sampai 40 siswa, maka juga ada 30 sampai 40 karakteristik dari siswa tersebut. Jika guru menerapkan satu metode yang sama bagi 30 sampai 40 siswa tersebut, maka hal itu sangat kurang tepat. Mengapa demikian? Itu karena satu metode tersebut hanya dapat sesuai dengan karakteristik dua atau tiga siswa saja. Oleh karena itu, guru harus menerapkan metode inovatif yang dapat digunakan untuk melayani ke-30 sampai 40 siswa tersebut. Metode inovatif dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran yang jumlah siswanya banyak karena metode inovatif sangat fleksibel, sehingga meskipun ada banyak siswa dengan banyak karakter, guru masih dapat melayani keseluruhan siswanya tersebut dengan baik.

    ReplyDelete
  20. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Saya sependapat bahwa tantangan sekarang ini adalah merubah pembelajaran dan pengajaran tradisional menuju pembelajaran inovatif. Pembelajaran yang berpusat pada guru atau teacher-centered memang harus dirubah menjadi student-centered. Dominasi guru dirubah menjadi dominasi dari siswa dalam pembelajaran berupa investigasi dan percobaan dalam menemukan konsep dan pengetahuannya.

    ReplyDelete
  21. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Gaya belajar seseorang berpengaruh terhadap hasil belajar, untuk itu diperlukan peran guru dalam mendiagnosis gaya belajar siswa sehingga nantinya bisa dilakukan tindak lanjut yang tepat. Dengan gaya belajar yang berbeda-beda maka perlunya inovasi pembelajaran dalam meningkatkan kreatifitas dan berpikir kritis siswa, sehingga guru juga dituntut untuk lebih kreatif dan kritis.

    ReplyDelete
  22. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Ada beberapa cara/gaya yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar. Pertama ada siswa yang bisa belajar dan mudah memahami konsep jika mereka melihat apa yang diajarkan. Hal ini membantu mereka dengan baik dan efektif dalam memproses informasi yang diberikan. Guru dapat menyediakan berbagai benda atau objek yang bisa diamati siswa untuk siswa yang demikian. Pendekatan terbaik untuk gaya belajar adalah pendekatan multisensor.
    Kedua, ada yang lebih memilih belajar dengan mendengarkan. Mereka merasa lebih mudah memahami konsep ketika mendengarkan penjelasan guru. Dalam hal ini memberikan penjelasan kepada siswa tentang apa yang dipelajari.

    ReplyDelete
  23. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Dalam proses pembelajaran kita mengenal adanya dua sistem, yaitu sistem tradisional dan progresif. Pada sistem tradisional ini, pada intinya guru berperan sebagai penguasa dalam pembelajaran yang mengatur, menjelaskan, menemukan, merumuskan, dan sebagai penceramah bagi siswanya. Sedangkan pada sistem progresif, siswa cenderung yang lebih aktif. Siswa dilatih untuk berkembang di mana mereka dapat mencari, menemukan, merumuskan, dan memiliki konsep sendiri.

    ReplyDelete
  24. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ketergantungan siswa kepada guru perlu diminimalisir. Penyajian materi pun tidak secara langsung dapat dinikmati oleh siswa, melainkan membutuhkan proses atau usaha dari siswa terlebih dahulu. Guru berperan sebagai peneliti jalannya pembelajaran yang dapat membantu siswa jika terdapat kesulitan atau kekeliruan dalam pemahaman konsep materi yang dipelajari.

    ReplyDelete
  25. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Dari artikel di atas, Paul Ernest (1994) menguraikan berbagai permasalahan dalam pendidikan matematika, yaitu pedagogi matematika, teknologi dalam pengajaran matematika, matematika dan simbolisasi, serta matematika dan budaya.
    Melihat praktik proses pembelajaran saat ini, kebanyakan guru masih menerapkan pembelajaran tradisional. Saya setuju bahwa pendidikan di Indonesia membutuhkan berbagai perubahan yang mengarah pada sistem progresif, yang diharapkan mampu mengembangkan pendidikan di Indonesia.

    ReplyDelete
  26. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. Pendekatan terbaik untuk gaya belajar adalah pendekatan multisensor. Proses pembelajaran terbaik terjadi ketika berbagai jenis kemampuan siswa dapat dimanfaatkan. Tantangan pendidikan saat ini ialah bagaimana merubah paradigma dari pendidikan tradisional ke pendidikan yang memfasilitasi siswa. Inivasi pendidikan harus terus dilakukan dengan memperhatikan kemampuan siswa.

    ReplyDelete
  27. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPS P.Mat D

    Karakteristik tiap siswa itu berbeda-beda. Ada anak yang dalam belajar harus dengan suasana yang tenang. Ada anak yang kalau belajar harus sambil mendengarkan musik. Ada pula anak yang hyperactive, kalau sedang belajar ia tidak bisa diam. Metode inovatif dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran yang jumlah siswanya banyak karena metode inovatif sangat fleksibel, sehingga meskipun ada banyak siswa dengan banyak karakter, guru masih dapat melayani keseluruhan siswanya tersebut dengan baik.

    ReplyDelete
  28. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Pada elegi ini Ernest menyinggung penggunaan teknologi dalam pembelajaran matematika. Apakah teknologi ini dibutuhkan dalam pembelajaran? Menurut pendapat saya teknologi dibutuhkan dalam setiap pembelajaran, akan kelak siswa tidak tertinggal dengan kemajuan teknologi saat ini. Kemajuan teknologi ini tidak selalu digunakan bisa jadi tergantung pada materi tertentu baru digunakan.

    ReplyDelete
  29. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Pendidikan di Indonesia membutuhkan berbagai macam perubahan yang mengarah pada sistem yang inovatif dan progresif, yang diharapkan mampu mengembangkan pendidikan di Indonesia dan memberikan inovasi-inovasi baru yang sangat bermanfaat dalam pembelajaran. Karena pada sistem ini siswa dituntut untuk lebih aktif. Siswa dilatih untuk berkembang di mana mereka dapat mencari, menemukan, merumuskan, menganalisis dan memiliki konsep mereka sendiri. Siswa diharapkan dapat membentuk pola pemikiran mereka dalam memahami suatu materi dengan kritis dan kreatif. Pengajaran dan pembelajaran matematika juga diharapkan memiliki karakteristik tersendiri dari setiap pembelajaran yang dihadirkan. Sehingga sifat pengajaran dan pembelajaran matematika dapat terlaksana dan tercapai dengan baik dan optimal.

    ReplyDelete
  30. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Siswa mempunyai cara belajar yang berbeda-beda. Oleh karena itu, guru harus mampu memfasilitasi cara belajar siswa yang berbeda-beda, mungkin dengan menggunakan berbagai variasi metode belajar sehingga semua siswa mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya. Guru dituntut kreatif dan inovaif. Guru seharusnya tidak melakukan transfer pengetahuan dari guru kepada siswa. Siswa harus dilibatkan dalam pembelajaran. Siswa harus mampu mengkonstruk pengetahuannya sendiri.

    ReplyDelete
  31. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Hakikat dari proses belajar mengajar matematika adalah dengan memahami karakteristik dan hakikat dari matematika dan matematika sekolah. Tantangan yang tengah dihadapi berhubungan dengan proses belajar mengajar matematika adalah mengubah paradigma atau cara mengajar dari pengajaran yang tradisional (teacher centered) menuju pengajaran yang inovatif (student centered).

    ReplyDelete
  32. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Proses alami belajar mengajar paling menonjol dari pendapat Ernest adalah pada bagian matematika dan budaya. Karena dari aspek ini sangat tampak kebebasan atau keterkekangan ekspresi dalam belajar mengajar. Jika pembelajaran sesuai dengan keadaan daerah tersebut, maka pembelajaran akan menjadi lebih menyenangkan karena siswa yang belajar merasakan matematika sangat dekat dengan mereka. Berbeda dengan apabila pembelajaran menggunakan pemikiran import dari daerah lain. Pembelajaran akan menjadi sangat menekan dan tidak kondusif. Sehingga yang disebut dengan proses alami belajar mengajar sulit akan terjadi.

    ReplyDelete
  33. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    The best approach to learning styles is a multisensory approach. Setiap siswa memiliki gaya belajarnya masing-masing, hal tersebut merupakan salah satu karakteristik siswa. Pendekatan yang paling baik untuk gaya belajar adalah pendekatan melalui panca indera. Oleh karena itu salah satu alternatif dalam proses embelajaran adalah penggunaan media pembelajaran yang dapat di indera oleh para siswa, sehingga siswa dapat menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  34. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Menurut Paul Ernest (1994) masalah pendidikan matematika adalah pertama, masalah pedagogic seperti pemecahan masalah,kedua masalah teknologi dalam pengajaran matematika, ketiga masalah matematika dan simbolisasi dan keempat masalah matematika dan budaya. Keempat masalah ini juga masih merupakan pekerjaan rumah yang masih harus dibenahi di Indonesia.

    ReplyDelete
  35. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut Solomon dkk mengklasifikasikan gaya belajar siswa dalam empat grup yaitu: gaya belajar aktif, visual, sensing dan sequensial. Semuanya memiliki kelebihannya masing masing. Maka tigas guru mengombinasikan berbagai metode pembelajaran agar siswa dengan baik memperoleh pengetahuan walau dengan berbeda-beda karakteristiknya. Maka tugas guru sebenarnya adalh seperti hal tersebut yaitu memvarisikan pembelajran agas siswa terfasilitasi untuk membangun pengetahuannya sendiri.

    ReplyDelete
  36. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Antara siswa datu dengan yang lain pasti memiliki cara belajar yang berbeda-beda. Akan ada siswa yang dapat belajar dengan baik ketika mereka melihat apa yang diajarkan dan juga ada siswa yang akan memproses informasi auditorily terbaik. Idealnya, pembelajaran terbaik terjadi ketika berbagai jenis pengolahan kemampuan dapat dimanfaatkan. Oleh karena itu peran guru yaitu dapat menyesuaikan bagaimana menempatkan diri dengan siswa. Peran lainnya adalah bagaimana untuk berinovasi dari pembelajaran tradisional menuju ke pembelajaran yang inovatif, dimana pembelajaran tradisional ialah teacher centered.

    ReplyDelete
  37. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Teacher centered ini merupakan metode penyampaian guru, dominasi inisiasi guru, pembelajaran langsung, pembelajaran dikendalikan kuat oleh guru. Dan pembelajaran inovatif ditandai sebagai pembelajaran berpusat kepada siswa, dimana siswa akan mengambil alih peran mereka dalam belajar. Diharapkan dalam proses pembelajaran matematika, guru tidak hanya menggunakan pembelajaran tradisional atau ceramah akan tetapi membiarkan siswanya mengeksplor sendiri cara dan guru hanya sebagai fasilitator.

    ReplyDelete
  38. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran yang baik yaitu pembelajaran dimana siswa mengkonstruk pengetahuannya secara mandiri, pembelajaran demikian disebut dengan pembelajaran progresif, sekarang ini sudah tidak dianjurkan pembelajaran yang tradisional dimana guru berperan aktif dalam menyampaikan materi kepada siswa.

    ReplyDelete
  39. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Beberapa penelitian menunjukkan bahwasannya seseorang akan lebih mengingat segala sesuatu yang tidak hanya audio saja tetapi kemampuan visualnya juga dipakai. Tantangan yang ada dalam dunia pendidikan khususnya matematika saat ini dan masa depan ialah bagaimana guru dapat berinovasi dari pengajaran tradisional menjadi pengajaran yang inovatif. Pengajaran tradisional lebih menekankan teacher center, didominasi oleh guru pengajaran langsung, pengajaran terkontrol dengan kuat. Pembelajaran seperti ini guru hanya mengkomunikasikan atau menyampaikan ke siswa mengenai suatu materi tanpa ada kesempatan siswa untuk dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya mengenai suatu permasalahan.

    ReplyDelete
  40. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Pembelajaran matematika yang baik adalah pembelajaran matematika yang dapat dirasakan oleh inderawi manusia atau utamanya oleh siswa yang akan belajar matematika. Idealnya, pembelajaran terbaik terjadi ketika berbagai jenis kemampuan pemrosesan dapat dimanfaatkan. Konstruktivis telah lebih terfokus pada pemahaman pelajar individu tugas matematika yang mereka hadapi. Tantangan saat ini dan masa depan pendidikan dalam dunia pendidikan khususnya dalam pembelajaran matematika adalah bagaimana berinovasi mengajar tradisional menjadi pengajaran yang inovatif.

    ReplyDelete
  41. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Setiap orang memiliki gaya belajar yang unik. Tidak ada suatu gaya belajar yang lebih baik atau lebih buruk daripada gaya belajar yang lain. Tidak ada individu yang berbakat atau tidak berbakat. Setiap individu secara potensial pasti berbakat—tetapi ia mewujud dengan cara yang berbeda-beda. Singkat kata, tidak ada individu yang bodoh (atau setiap individu adalah cerdas). Ada individu yang cerdas secara logika-matematika, namun ada juga individu yang cerdas di bidang kesenian. Pandangan-pandangan baru yang bertolak dari teori Howard Gardner mengenai intelligensi ini telah membangkitkan gerakan baru pembelajaran, antara lain dalam hal melayani keberbedaan gaya belajar pebelajar. Suatu cara pandang baru inilah yang mengakui keunikan setiap individu manusia.

    ReplyDelete
  42. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  43. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Dengan menerapkan strategi pembelajaran (matematika), maka guru harus mengetahui, bahwa akan ada beragam profil gaya belajar siswa, yaitu:
    Siswa yang belajar matematika dengan menggunakan kecerdasan Linguistik, Matematis, Visual-Spasial, Musikal, Kinestetis, Interpersonal, Intrapersonal, Eksistensial, Naturalis. Jika sembilan profil gaya belajar siswa dalam belajar matematika di atas benar-benar dapat didesain oleh guru dalam pelaksanaan kegiatan proses pembelajaran (Lesson Plan) dan benar-benar dilaksanakan, maka tidak akan ditemukan siswa yang benci terhadap matematika. Akibatnya, siswa menyenangi belajar matematika, siswa menjadi enjoy dan tidak takut ketika waktunya pelajaran matematika.

    ReplyDelete
  44. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Paul Ernest (1994) mengelaborasi masalah pendidikan matematika menjadi empat bagian, yaitu pada pedagogik matematika, teknologi pembelajaran matematika, matematika dan simbolisasi serta matematika dan budaya. Tantangan kedepannya bagi kita adalah bagaimana merubah pembelajaran matematika yang tradisional dimana pembelajaran berpusat pada guru kepada pembelajaran matematika yang inovativ dimana pembelajaran berpusat pada siswa.

    ReplyDelete
  45. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Paul Ernest (1994) mengelaborasi masalah pendidikan matematika menjadi empat bagian, yaitu pada pedagogik matematika, teknologi pembelajaran matematika, matematika dan simbolisasi serta matematika dan budaya. Tantangan kedepannya bagi kita adalah bagaimana merubah pembelajaran matematika yang tradisional dimana pembelajaran berpusat pada guru kepada pembelajaran matematika yang inovativ dimana pembelajaran berpusat pada siswa.

    ReplyDelete