Feb 12, 2013

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 20: Apkh Mat Kontradiktif? (Tanggapn utk Bu Kriswianti bgn kedua)




Oleh Marsigit

Dear Ibu Kriswanti,

Sungguh menurut saya Definisi Matematika yang dibuat oleh Prof Sudjadi sangatlah bersifat Logicist-Formalist-Foundationalist. Definisi matematika demikian TIDAK CUKUP RAMAH untuk bergaul dengan Siswa-Siswa SD dan SMP. Definisi Matematika demikian juga tidak mampu menyelesaikan problem pembelejaran matematika di sekolah.

Maka saya ingin sampaikan kembali Definisi Alternatif Matematika sebagai MATEMATIKA SEKOLAH yang kemudian disebut sebagai Matematika begitu saja.

Ebbutt and Straker (1995) mendefinisikan Matematika sebagai berikut:
1. Matematika adalah ILMU tentang penelusuran Pola dan Hubungan
2. Matematika adalah ILMU tentang Pemecahan Masalah (ProblemSolving)
3. Matematika adalah ILMU tentang Kegiatan Investigasi
4. Matematika adalah ILMU berkomunikasi.

Ibu Kriswianti danyang lainnya bisa membandingkan dan merasakan, kira-kira apakah definisi alternatif demikian lebih dekat dengan para siswa? Sebagai seorang Educationist tentu saya memilih definisi ini, karena definisi ini sangat kaya dengan aspek-aspek Psikologis, Social dan Constructivist.

Sedangkan Definisi matematika yang di buat atau dibangun oleh para Logicist-Formalist-Foundationalist (termasuk Prof Sudjadi) itu lebih cocok untuk pengembangan Pure Mathematics. Jika Pure Mathematics dipaksakan untuk di Introduce dan di develop di sekolah, itulah jadinya seperti sekarang ini, matematika tidak disukai generasi muda.

Demikian semoga bermanfaat. Amin

Marsigit, UNY

________________________________________
From: Theresia Kriswianti
To: indoms@yahoogroups.com
Sent: Sat, September 25, 2010 9:17:23 AM
Subject: Re: [indoms] Apakah Matematika Kontradiktif? (Bagian Ketujuh)


Urun rembug mengenai konsistensi dalam Matematika:Menurut Prof Sudjadi dalam bukunya Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia, Matematika mempunyai karakteristik sbb:
1. Memiliki obyek kajian abstrak
2. Bertumpu pada kesepakatan
3. Berpola pikir deduktif
4. Memiliki simbol yang kosong dari arti
5. Memperhatikan semesta dari pembicaraan
6. Konsisten pada sistemnya.
Jadi kalau yang dikemukakan pak Wono bahwa terjadi kontradiksi karena 3 + 4 = 7 saya kira tidak tepat. Dia tetap konsisten pada semestanya, yakni bilangan berbasis 8 ke atas.

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih.
Kriswianti

17 comments:

  1. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Terdapat beberapa definisi mengenai matematika menurut pandangan para ahli. Dalam elegi ini terdapat definisi matematika menurut para logicist, formalis dan faoundationalist, termasuk Prof Sudjadi dan juga definisi matematika dari Ebbutt dan Straker. Dalam memilih atau menggunakan definisi yang ada, hendaknya memperhatikan kemampuan berfikir siswa dan yang dijadikan tolak ukur adalah para siswa itu sendiri.

    ReplyDelete
  2. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Jika seorang guru menginginkan siswanya senang belajar matematika maka hendaknya dapat membuat matematika itu ramah dengan siswa. Maka saya setuju bahwa definisi matematika yang mengatakan bahwa matematika itu merupakan penelusuran pola dan hubungan, matematika merupakan pemecahan masalah, matematika merupakan kegiatan investigasi dan komunikasi. Jika definisi ini kita terapkan pada matematika sekolah maka diharapkan siswa akan senang belajar matematika.

    ReplyDelete
  3. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Matematika terbagi menjadi dua, yaitu matematika murni dan matematika sekolah. Kedua matematika tersebut memiliki karakteristik yang berbeda satu sama lain. Matematika itu akan terasa sekali manfaatnya jika diterapkan sesuai dengan jenisnya. Yang terjadi sekarang ini adalah kurikulum matematika sekolah dibuat oleh orang-orang matematika murni, sehingga terjadilah apa yang terjadi, matematika seolah-olah menjadi momok bagi para siswa.

    ReplyDelete
  4. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Matematika terbagi menjadi dua, yaitu matematika murni dan matematika sekolah. Kedua matematika tersebut memiliki karakteristik yang berbeda satu sama lain. Matematika itu akan terasa sekali manfaatnya jika diterapkan sesuai dengan jenisnya. Yang terjadi sekarang ini adalah kurikulum matematika sekolah dibuat oleh orang-orang matematika murni, sehingga terjadilah apa yang terjadi, matematika seolah-olah menjadi momok bagi para siswa.

    ReplyDelete
  5. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dalam elegi ini, terdapat defenisi matematika menurut para Logicist-Formalist-Foundationalist termasuk Prof Sudjadi dan juga defenisi matematika menurut Ebbut dan Straker. Defenisi matematika yang dibuat oleh para Logicist-Formalist-Foundationalist (termasuk Prof Sudjadi) itu lebih cocok untuk pengembangan Pure mathematics. Matematika murni dan matematika sekolah tentunya berbeda. Sesungguhnya matematika murni tidak dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika di kelas, karena anak-anak belum mampu untuk mempelajari matematika yang bersifat abstrak tersebut. Hal inilah yang membuat kebanyakan siswa tidak menyukai dengan matematika, karena matematika dianggap pelajaran yang paling sulit.

    ReplyDelete
  6. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas publikasi elegi ini
    Sesungguhnya saya selalu kagum dan terkesima pada elegi yang diposting sebagai jawaban suatu pertanyaan. Saya kagum, mengapa semua pertanyaan bisa terjawab oleh Prof Marsigit.
    Terkait dengan elegi ini, dimunculkan teori matematika menurut Ebbutt and Straker (1995). Artinya, ini adalah pengetahuan baru bagi saya. Artinya, saya sedang diberikan kesempatan kepada Alloh SWT untuk belajar dan belajar lagi.
    Saya tertarik pada salah satu statement pada elegi ini bahwa Pure Mathematics dipaksakan untuk di Introduce dan di develop di sekolah menyebabkan generasi muda tidak menyukai matematika. Pengalaman saya dari SD hingga SMA, banyak dari teman saya tidak menyukai matematika, bahkan ketika SMA rasa cinta saya pada matematika sedikit berkurang. Apakah saya generasi yang menerima dan menelan bulat-bulat pure mathematics? Sekali lagi terimakasih atas ilmu yang sangat bermanfaat ini.

    ReplyDelete
  7. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sepemahaman kami dalam pembelajaran materi belajar biasanya disesuaikan dengan umur serta ruang dan waktunya. Demikian halnya dengan matematika, tentulah materi yang diberikan akan berbeda di setiap tingkatan umur. Pada setiap tingkatan umur (TK, SD, maupun SMA/K), kemampuan anak/seseorang pastilah berbeda dalam kemampuannya untuk berabstraksi. Sebagai seorang guru harus memahami hal tersebut, guru harus mengenali dan memahami ditingkat mana siswanya mampu berabstraksi.

    ReplyDelete
  8. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Saya mencoba memahami elegi ini, tidak cukup sekali saya membacanya, mohon maaf jika pemahaman saya keliru Pak. Siapa saja boleh mendefinisikan matematika sesuai dengan pandangannya, tak terkecuali para logicist-formalist-foundationalist. Dan pada elegi ini juga dipaparkan definisi matematika menurut Ebbutt dan Straker. Menurut saya definisi dari Ebbutt dan Straker sangatlah tepat sesuai dengan kebutuhan siswa SD maupun SMP, terutama definisi yang pertama yaitu tentang penelusuran pola dan hubungan. Dalam proses belajar anak-anak dimulai dari menelusuri pola hal yang konkrit kemudian menarik hubungan antara satu unsur dengan unsur yang lainnya. Diistulah proses intuisi siswa dibangun.

    ReplyDelete
  9. Nama: Hendrawansyah
    NI M: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof

    Matematika yang dibangun berdasarkan prinsip logicist-formalist-foundationalist tidaklah cukup dalam mengembangkan dan menyelesaikan masalah terkait pembelajaran matematika. Kenyaataannya sekarang itulah yang terjadi di berbagai tingkatan sekolah. Setidaknya membutuhkan pasangan berupa pendekatan , metode atau penemuan baru untuk mengimbangi prinsip logicist-formalist-foundationalis tersebut .Gagasan yang di paparkan di dalam elegi tersebut terkait teori dari Ebbutt and Straker (1995) mengenai matematika adalah menjadi alternatif yang cocok untuk dikenalkan kepada generasi muda sehingga seorang siswa dengan mandirinya dapat mencari dan menemukan terkait masalah-masalah yang dihadapi di dalam matematika.

    ReplyDelete
  10. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Memang terdapat banyak sekali pendapat tentang matematika, sebanyak orang yang memikirkannya. Bahkan setiap pendapat tersebut seringkali saling berlainan. Jika dikelompokkan secara garis besar, terdapat dua macam pendapat, yaitu 1) matematika yang bersifat abstrak, konsisten, menggunakan pola pikir deduktif, dan semacamnya. Namun, matematika yang seperti ini tidak sesuai dengan dunia sekolah, terlebih lagi bagi anak-anak awal. Maka definisi matematika harus disesuaikan dengan ruang dan waktunya. Definisi matematika yang lebih cocok bagi anak-anak adalah matematika sekolah seperti yang diungkapkan oleh Ebbutt dan Straker, yaitu matematika sebagai sebagai kegiatan penelusuran pola atau hubungan, problem solving, investigasi, dan komunikasi.

    ReplyDelete
  11. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Menurut saya pendapat Ebbutt and Straker (1995) mengenai alternatif definisi matematika sangatlah tepat untuk disinergiskan pada tujuan pembelajaran matematika sekolah. Pola dan hubungan, problem solving, investigasi dan komunikasi adalah unsur penting pembentuk matematika dalam pikiran siswa. Tanpa komunikasi maka siswa akan menjadi insan individu dan egois dalam bermatematika serta tidak akan mendapatkan pembelajaran yang bermakna.

    ReplyDelete
  12. Kartika Pramudita
    17701251021
    PEP B (S2)

    Saya seringkali menjumpai anak-anak mengatakan bahwa matematika itu sulit, belajar matematika itu membosankan dan bahkan menakutkan. Hal tersebut menjadi miris. Anak-anak sudah membangun pikiran yang negatif tentang matematika. Hal itu terjadi mungkin karena penerapan matematika yang belum sesuai. Matematika yang dibelajarkan bukan matematika untuk anak yang berupa kegiatan, matematika yang masih abstrak. Berdasarkan realita tersebut semoga pihak-pihak yang terlibat dalam pendidikan saat ini dapat segera menemukan solusi atas permasalahan tersebut.

    ReplyDelete
  13. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Salah satu karakteristik matematika yang disebutkan dalam postingan di atas adalah bahwa matematika itu memperhatikan semesta pembicaraannya, bahwa segala sesuatu itu tergantung dari ruang dan waktunya. jika penggunaan matematika sesuai dengan Ruang dan Wktunya atau sesuai dengan keadaan untuk mengguanakan matematika, maka kesiapan pembelajaran matematika pun akan bisa dikondisikan.Kekonsistenan dalam matematika menandakan bahwa hal yang bersifat kontradiktif dalam matematika menandakan telah terjadi kekeliruan dalam suatu proses atau pernyataan matematika. pembelajaran matematika dalam kelas dibutuhkan suatu komunikasi yang aktif antara guru dan siswa agar penerimaan ilmu pengetahuan dapat diterima dengan mudah.

    ReplyDelete
  14. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Jawaban matematika disebut benar apabiala sudah sesuai dengan prosedur dan proses yang digunakan juga benar. Prosedur itu dimulai dengan memahami dan memodelkan maslaah tersbeut dalam model matematika. Namun akan bersifat kontradiktif jika terjadi kekeliruan dalam suatu proses atau pernyataan matematika atau model matematika yang dibuat. Sehingga dibutuhkan ketelitian dan kekonsistenan dalam matematika, agar tidak terjadi kesalahan dalam menyelesaikan masalah.

    ReplyDelete
  15. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.mat B 2017

    Assalamu'alaikkum wr.wb

    Definisi alternatif sebagai definisi dari matematika sekolah yang disampaikan oleh pak Marsigit disini telah disampaikan di bagian sebelumnya. dan saya setuju bahwa definisi tersebut lebih ramah bagi siswa sekolah, sehingga mereka tidak menganggap metematika sebagai momok yang mengerikan jika dipaksakan menggunakan definisi matematika murni yang ada di perguruan tinggi.

    ReplyDelete
  16. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPs P.Mat A

    Makanan seorang bayi adalah bubur atau asi, hak ini karena pertumbuhan pada bayi belum lengkap yaitu belum munculnya gigi. Baru setelah menginjak usia beberapa bulan bayi mulai diberikan makanan yang berserat hingga ketika mereka berusi 12 bulan mereka mampiu makan sepeti orang dewasa. Hal ini menunjukan asupan kepada seseorang itu disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangannya. Apa yang akan terjadi ketika seorang bayi diberi makan sepeti makanan orang dewasa? Sedikit uraian diatas saya analogikan sebagai kegundahan hati saya dimana pendidikan matematika sekarang mengajarkan hal-hal yang masih belum disesuaikan dengan perkembangan pemikiran anak-anak Indonesia. Matematika diajarkan dalam bentuk abstrak, siswa hanya diajarkan sebuah prosedur tanpa memaknai kandungan dari yang mereka kerjakan.

    ReplyDelete
  17. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Semua yang ada dan mungkin ada dalam kehidupan ini baiknya disesuaikan dengan ruang dan waktunya. Begitu juga dengan matematika. Matematika sebaiknya diajarkan dengan memperhatikan subyek yang belajar. Jika mahasiswa di peguruan tinggi maka kita bisa menggunakan prinsip matematika yang disebutkan oleh Prof. Sudjadi (yang bersifat Logicist-Formalist-Foundationalist). Akan tetapi, siswa di sekolah sebaiknya diajarkan matematika dengan menggunakan prinsip matematika sekolah oleh Ebbutt and Straker (1995) yangmana lebih dekat kepada siswa dan mendorong siswa untuk belajar secara konstruktivisme.

    ReplyDelete