Feb 12, 2013

Problematika Pembelajaran Matematika di SD

Identifikasi Problematika Pembelajaran Matematika di SD


1. Bagaimana pembelajaran matematika mempengaruhi kepribadian siswa di SD?
2. Bagaimana pandangan kita tentang prestasi belajar matematika di SD?
3. Apakah pembelajaran matematika mampu membawa nilai-nilai moral?
4. Bagaimana kita secara arif dan bijaksana menyikapi adanya sebagian guru atau siswa yang menghendaki cara-cara cepat atau trik dalam matematika?
5. Bagaimana mengimplementasikan metode penemuan secara baik pada pembelajaran matematika di SD?
6. Bagaimana guru mampu memfasilitasi agar siswa mampu belajar matematika dengan baik khususnya dalam mengembangkan kemampuan matematika (mathematical thinking)?
7. Apa sebetulnya hakekat matematika yang dipelajari di SD>
8. Bagaimana menfasilitasi adanya berbagai macam latar belakang dan kemampuan siswa dalam belajar matematika di SD?
9. Bagaimana menghilangkan persepsi bahwa matematika adalah sulit?
10. Bagaimana menerapkan pembelajaran PMRI di SD misalnya tentang Pembagian Pecahan?
11. Kreativitas apa saja yang diharapkan dari siswa SD dalam belajar matematika?
12. Apakah perbedaan mendasar antara matematika sekolah dan matematika murni?
13. Apakah yang disebut berpikir logis dan bagaimana membelajarkannya di SD>
14. Bagaimana perbandingan antara pembelajaran matematika SD di Luar Negeri dan di Indonesia?
15. Apakah benar bahwa matematika adalah seni dan bagaimana sikap guru dalam pembelajaran matematika di SD?
16. Apakah Taksonomi Bloom relevan dalam pembelajaran matematika di SD? Jika relevan maka jelaskanlah?

Di identifikasi oleh: Sabina Ndiung, Melly Andriani, Atiaturrahmaniah, Moh. Bisri, Kurnia Hidayati, Laelatul Badriah, Wahyudi, Syarifuddin. Pembimbing: Marsigit

34 comments:

  1. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Seperti yang telah uraikan pada artikel ini, banyak masalah dari pembelajaran matematika SD. Permasalahan-permasalahan tersebut menjadi renungan serta PR untuk calon guru SD yang kelak akan membimbing para siswa SD. Salah satu cara untuk mempersiapkan diri menjadi seorang guru yang profesional adalah mengidentifikasi masalah-masalah yang berkaitan dengan pembelajaran suatu mata pelajaran. Seorang guru harus selalu belajar untuk menjadi guru yang menyenangkan bagi siswa, sehingga apabila mereka senang dan nyaman maka pelajaran matematika akan mudah mereka terima dan pahami.

    ReplyDelete
  2. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Identifikasi persoalan pembelajaran matematika di sekolah dasar pada umumnya meliputi prestasi belajar matematika, pembelajaran matematika yang mampu membangun karakter siswa, mengajarkan konsep matematika dengan metode penemuan pada siswa sekolah dasar, persepsi siswa sekolah dasar terhadap matematika, membangun kreativitas siswa dalam belajar matematika, perbandingan pembelajaran matematika sekolah dasar di Indonesia dan di luar negeri.

    ReplyDelete
  3. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Hakekat matematika yang dipelajari di SD adalah untuk mengenalkan siswa SD kepada matematika sekaligus membuatnya tertarik dan memiliki persepsi bahwa matematika itu menarik, matematika itu mudah, matematika itu menyenangkan, matematika adalah mata pelajaran favorit, dan sebagainya. Untuk itu guru SD memiliki tugas yang berat dalam mengenalkan matematika pada siswa.

    ReplyDelete
  4. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Jika dari awal siswa sudah menganggap matematika sebagai "musuh", maka ke jenjang yang lebih tinggi SMP, SMA, tentu matematika akan selalu menjadi musuh bagi diri siswa tersebut, kecuali seiring berjalannya waktu, dalam diri siswa tersebut kemudian terbesit kesadaran akan kebutuhannya terhadap matematika sehingga menjadikannya menyukai matematika. Hal itu mungkin terjadi. Sehingga pembelajaran matematika di SD menjadi krusial karena menentukan pembelajaran matematika di jenjang selanjutnya.

    ReplyDelete
  5. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Pembelajaran matematika di SD haruslah menjadi pembelajaran yang menyenangkan bagi siswanya. Sehingga matematika tidak lagi dipandang sebagai momok yang menakutkan dan dihindari para siswanya. Pembelajaran Matematika di SD harus lebih menekankan kepada kegiatan dan partisipasi aktif siswa, buatlah situasai pembelajaran dimana siswa SD menjadi nyaman dalam belajarn matematika, lebih baik lagi apabila siswa SD tersebut tidak sadar kalau mereka sedang belajar matematika. Kegiatan-kegiatan menyenangkan yang dapat dilakukan bisa dalam bentuk permainan atau kegiatan lain yang dapat menstimulasi anak untuk menguasai pengetahuan matematika.

    ReplyDelete
  6. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Dari beberapa problematika pembelajaran matematika di SD, saya akan menjawab nomor 1 dan 3. Kedua pertanyaan tersebut hampir sama dan berhubungan. Matematika memiliki keterkaitan dengan pembentukan moral dan kepribadian siswa. Kita tahu bahwa pembelajaran matematika merupakan suatu aktifitas. Aktifitas mengenali masalah, menentukan cara menyelesaikan masalah dan menyelesaikan masalah. Dari aktifitas tersebut, siswa dapat belajar untuk peka terhadap masalah sekitar, sabar, teliti, pantang menyerah, mandiri, tanggung jawab, kerja sama, dan lain-lain.

    ReplyDelete
  7. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Saya tertarik pada poin ke-4 dari daftar problematika pembelajaran matematika SD yang dituliskan di atas. Poin ke-4 berbunyi "Bagaimana kita secara arif dan bijaksana menyikapi adanya sebagian guru atau siswa yang menghendaki cara-cara cepat atau trik dalam matematika?". Menurut saya, tidak masalah jika guru atau siswa menggunakan trik atau cara-cara cepat dalam menyelesaikan soal-soal matematika, tetapi dengan syarat guru harus menjelaskan terlebih dahulu kepada siswa dan siswa pun paham bagaimana cara semestinya yang harus ditempuh untuk menyelesaikan soal-soal tersebut. Menurut saya, cara-cara cepat atau trik dalam pelajaran matematika sebenarnya melatih kreatifitas seorang guru dalam mengolah rumus dasar yang ada. Selain itu, cara-cara cepat atau trik matematika ini mempunyai kesan tersendiri bagi anak terhadap pelajaran matematika. Mereka akan mempunyai kesan bahwa pelajaran matematika tidak sepenuhnya sulit, untuk kasus-kasus tertentu mereka dapat menggunakan trik atau cara-cara cepat dalam menyelesaikan soal matematika. Sehingga dengan trik tersebut mereka tidak memerlukan waktu yang lama untuk mengerjakan suatu soal. Jadi menurut saya, cara yang bijak dalam menyikapi trik atau cara-cara cepat dalam matematika adalah dengan menjelaskan terlebih dahulu bagaimana cara dasarnya kemudian baru menjelaskan dengan cara cepatnya.

    ReplyDelete
  8. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Matematika sekolah merupakan ranah yang sangat penting dalam perkembangan matematika anak kedepannya. Jika seorang anak matang dalam matematika sekolahnya maka kedepannya akan lebih mudah melenggang dalam mempelajari matematika tingkat lanjut. Oleh karena itu permasalahan-permasalahan yang terjadi pada matematika sekolah harus segera kita temukan jalan keluar atau solusi pemecahan masalahnya. Hal tersebut karena matematika merupakan suatu pelajaran yang sangat komprehensif terhadap kehidupan dan lifeskill yang akan menjadi modal anak di dalam menjalani kehidupan nantinya.

    ReplyDelete
  9. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Salah satu problematika terbesar pembelajaran matematika di SD yaitu reputasi pelajaran matematika yang selalu dianggap sebagai pelajaran yang sulit. Persepsi ini secara tidak langsung sudah tertanam dibenak masing-masing siswa bahwa matematika itu sulit bahkan sebelum mereka mengalami pembelajaraan tersebut. Anggapan bahwa matematika pelajaran yang sulit terkadang juga diperparah oleh beberapa kondisi seperti sikap guru selama pembelajaran berlangsung, sikap guru yang pemarah, tidak ramah, suka menghukum, ketika mengajar terlalu cepat dan monoton semakin meninggalkan kesan yang tidak menyenangkan bagi siswa. Untuk menghilangkan persepsi bahwa matematika adalah sulit, menurut saya guru harus berupaya membelajarkan matematika menjadi pembelajaran yang menyenangkan, misalkan dengan menerapkan inovasi-inovasi metode belajar yang berbeda yang disesuaikan dengan materi pelajaran, memanfaatkan penggunaan media pembelajaran, mengangkat dan memanfaatkan masalah menarik yang dekat dengan sehari-hari siswa dalam belajar matematika, menciptakan suasana belajar yang mendukung bagi siswa untuk aktif belajar serta aktif mengkonstruks pemahaman mereka, serta berusaha untuk ikhlas mengajar dan lebih sabar dalam menghadapi siswa dengan berbagai karakteristik.

    ReplyDelete
  10. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Saya akan menanggapi problematika pembelajran matematika di SD no.3 tentang apakah pembelajaran matematika mampu membawa nilai-nilai moral. Jawabannya adalah ya, pembelajran matematika di SD mampu membawa nilai-nilai moral. Contohnya pembelajaran operasi bilangan bulat positif khususnya pada bagian pembagian. Misal ada soal sebagai berikut: Budi memiliki 12 kelereng, ia akan membagikan kelereng tersebut kepada keempat temannya, berapakah kelereng yang diperoleh masing-masing teman Budi? Tentu saja jawabannya adalah tiga. Secara tidak langsung materi pembagian ini mengajarkan kepada anak bahwa dalam memberi atau berbagi kita harus adil. Kepada sesama teman tidak boleh ada yang dilebihkan atau dikurangi. Hal ini tercermin pada pembagian kelereng pada soal tersebut. Secara tidak langsung siswa berpikir bagaimana membagi 12 kelereng kepada 4 orang dengan maasing-masing mendapatkan jumah yang sama. Hal ini mengajarkan moral bahwa dalam berbuat baik kita dianjurkan untuk tidak pilih kasih atau membeda-bedakan antar teman.
    Selanjutnya saya akan menanggapi pertanyaan no.4 tentang bagaimana kita secara bijaksana menyikapi adanya sebagian guru atau siswa yang menghendaki cara-car cepat atau trik dalam matematika. Jawaban saya adalah tidak melarang tetapi tidak menganjurkan. Jika di dalam islam terdapat istilah makruh, maka trik cepat dalam pembelajaran matematika di SD adalah makruh hukumnya. Artinya boleh dikerjakan meskipun tidak dianjurkan, tetapi akan lebih baik jika tidak dilaksanakan. Hal ini karena hakekat pembelajaran matematika adalah proses siswa dalam membentuk ilmu pengetahuan matematikanya, bukan hanya bertumpu pada hasil. Sedangkan trik cepat hanyalah kegiatanyang bertujuan pada hasil saja tanpa melalui proses. Hal ini akan menyebabkan pembelajaran menjadi tidak bermakna.

    ReplyDelete
  11. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Saya tertarik dengan pertanyaan nomor 9: Bagaimana menfasilitasi adanya berbagai macam latar belakang dan kemampuan siswa dalam belajar matematika di SD? Keragaman kemampuan tidak hanya terjadi pada siswa-siswa SD, melainkan terjadi pula pada siswa SMP atau SMA. Untuk mengakomodasi perbedaan kemampuan tersebut, guru dapat membuat LKS yang bervariasi. Tingkat komprehensi masing-masing LKS dirancang berbeda. Selain itu guru dapat membuat kelompok-kelompok kecil saat pembelajaran, dimana kemampuan siswa-siswa dalam kelompok tersebut bervariasi. Siswa yang lebih pandai, akan menjadi tutor bagi sebayanya.

    ReplyDelete
  12. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Assalamu'alaikum wr wb
    Jika di bahas problematika pembelajaran matematika di SD taka kan pernah ada habis nya. Poin-poin yang bapak tuliskan telah menuliskan permasalahan secara umum di tingkat SD. Saya tertarik untuk membahas pertanyaan nomor 4. Menurut saya di Tingkat SD tidak perlu diajarkan trik-trik cepat, akan lebih baik jika pemahaman konsep lebih dalam diajarkan di tingkat SD. Tujuannya agar ingatan mereka akan konsep tersebut lebih melekat dan akan lama hilangnya.
    Dan saya juga tertarik untuk memberikan pendapat saya pada soal nomor 10, cara menerapkan PMRI pada materi pembagian, bisa digunakan dengan menggunakan permasalahan yang ada dikehidupan sehari-hari, misalnya saja dalam pembagian sebuah coklat atau kue, yang mana coklat atau kue tersebut akan dibagi menjadi beberapa bagian.

    ReplyDelete
  13. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami tertarik dengan pertanyaan bagaimana pandangan kita tentang prestasi belajar matematika di SD?
    Tentu saja hasil belajar siswa SD masih belum baik, masih banyak sekali anak yang merasakan kesulitan dalam belajar matematika karena pandangan siswa terhadap matematika masih merupakan “mata pelajaran sulit”. Hal yang menjadi kendala lagi adalah bahwa kurikulum sekarang pembelajaran SD yang tematik, terkadang guru kesulitan dalam memadukan materi matematika dengan materi tematik. Padahal dengan tematik harapannya adalah matematika dapat disampaikan dengan lebih menarik dan sangat dekat aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Siswa dapat beraktifitas matematis sesuai dengan tema, sehingga intuisi matematisnya bisa terbentuk sehingga mampu menyelesaikan masalah matematis dalam kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  14. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmu-ilmunya.
    Postingan ini telah membawa saya ke dalam ruangan di mana saya mulai mencocokan pertanyaan-pertanyaan pada postingan ini dengan kondisi senyatanya. Saya tertarik untuk menanggapi poin ke 4, yaitu “Bagaimana kita secara arif dan bijaksana menyikapi adanya sebagian guru atau siswa yang menghendaki cara-cara cepat atau trik dalam matematika?”
    Bukanlah ketertarikan yang muncul tiba-tiba. Entah mengapa, poin 3 ini membawa saya pada kondisi membingungkan kala SD dulu. Mohon ijin untuk sedikit bercerita. Kala itu hampir 50% teman-teman SD saya mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah dan mereka memperoleh bekal “trik cepat menjawab soal”. Jujur, kala itu saya menjadi benar-benar bingung. Saya ingin belajar seperti mereka tentang trik-trik cepat menjawab soal matematika. Tapi anehnya, penolakan juga muncul dari dalam diri saya. Beberapa saat saya masih terdiam untuk melihat lebih besar mana, apakah ketertarikanku apa penolakanku. Dan ternyata, hingga saat ini penolakanku lebih dominan. Dan jawaban akan kebingungan kala itu saya dapati belum lama ini, karena saya menjumpai beberapa anak-anak yang belajar matematika dengan trik cepat dan anak-anak yang belajar matematika menggunakan teknik biasanya. Saya melihat bahwa, anak-anak yang menggunakan trik cepat cenderung menjadi anak yang goal oriented tanpa memahami prosesnya. Walhasil, terkadang mereka kebingungan jika soal-soal yang dihadapi sedikit dimodifikasi. Bagi anak yang belajar telaten secara konvensional, mereka lebih paham. Paham prosesnya, tentu juga hasilnya, sehingga ketika dihadapkan pada soal-soal serupa yang mengalai sedikit modifikasi, kemungkinan besar mereka mampu melampauinya, karena mereka paham dengan konsepnya. Sekali lagi, ini hanyalah pengalaman pribadi saya. Terimakasih

    ReplyDelete
  15. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Saya akan mencoba memaparkan jawaban atas pertanyaan no. 9. Cara menghilangkan persepsi bahwa matematika adalah sulit. Awal persepsi bahwa matematika sulit adalah karena isu yang berkembang dimasyarakat seperti itu, jadi mindset siswa seperti sudah otomatis terprogram bahwa matematika adalah sulit. Untuk menghilangkan mindset tersebut, faktor utamanya dari guru yang mengajarakan matematika itu sendiri. Jadilah guru yang menyenangkan bagi siswa-siswanya dan berikan argumen yang positif bahwa tidak ada yang sulit dari matematika. Karena pengalaman saya sendiri seperti itu saat saya sedang PPL. Beberapa siswa mengatakan kepada saya bahwa jika belajar matematika dengan guru yang memberikan pemahaman bahwa matematika mudah dan gurunya menyenangkan (tidak bikin tegang), jadinya mudah, tetapi jika belajar matematikanya sama guru yang penyampaiannya kurang jelas dan membosankan, rasanya matematika sangat sulit. Selain itu jangan memberikan latihan soal terlalu banyak yang sekiranya dapat membebani siswa. Metode dan strategi yang digunakan hendaknya berfariasi sesuai dengan materi, fasilitas sekolah, dan keadaan kelas.

    ReplyDelete
  16. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Saya akan mencoba berpendapat tentang “Bagaimana menfasilitasi adanya berbagai macam latar belakang dan kemampuan siswa dalam belajar matematika di SD?”
    Tak bisa dipungkiri bahwa manusia diciptakan dengan segala macam perbedaan pada dirinya dengan orang lain. Begitu juga siswa SD di dalam kelas. Setiap siswa memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Ada siswa yang cepat dalam memahami matematika adapula yang kurang cepat. Untuk dapat memfasilitasinya guru hendaknya mempersiapkan lembar kerja siswa sendiri dan disesuaikan dengan kemampuan siswa. Misalnya siswa yang memiliki kemampuan lebih cepat untuk memahami materi dipersiapkan tambahan lembar kerja agar tidak merasa bosan ketika menunggu teman yang lain selesai. Selain itu, guru sekaligus memfasilitasi kelebihan siswa dalam rangka membantu mengembangkan bakatnya.
    Selain itu, pembelajaran yang dilakukan dengan melakukan kegiatan yang bervariasi agar siswa dapat bersemangat dalam belajar matematika sesuai keinginan mereka masing-masing.

    ReplyDelete
  17. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Satu pertanyaan yang menarik untuk saya adalah "Bagaimana menghilangkan persepsi bahwa matematika adalah sulit?"
    Dari zaman nenek moyang kita, matematika telah dianggap sangat sulit sehingga menjadi momok bagi banyak orang. Hal ini kemudian menjadi doktrin bagi banyak anak sehingga ketika ia menjadi siswa ia menemukan banyak kesulitan dalam pembelajaran matematika. Pada hakikatnya, belajar itu sulit. Sulit jika tidak menyenangkan. Sulit jika tidak difasilitasi dengan baik cara belajarnya. Sulit jika sudah dilabeli dengan kata "sulit" itu sendiri.
    Adalah tugas guru untuk menghilangkan semua doktrin itu. Matematika yang menyenangkan dapat dibangun guru di mulai dari SD, bahkan TK atau paud. Dimulai dari pengenalan angka hingga belajar perkalian dan pembagian akan terasa menyenangkan apabila guru membangun suasana kelas yang juga menyenangkan. Menyesuaikan metode mengajar dengan gaya belajar anak juga merupakan salah satu hal yang penting. Dunia anak adalah dunia bermain, maka akan baik jika guru mengajar matematika dengan permainan. Tentu guru perlu melakukan banyak usaha lebih untuk mempersiapkan pembelajaran, tetapi, semua usaha akan terbayar ketika siswa di kemudian hari berterimakasih pada guru karena telah membuat matematika menjadi menyenangkan sehingga mereka dapat belajar lebih baik di jenjang-jenjang pendidikan selanjutnya...

    ReplyDelete
  18. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof.

    Berdasarkan pengalaman saya, saya menjadi terfokus pada soal no.9.Bagaimana cara menghilangkan persepsi bahwa matematiak itu sulit?
    Betapa seringkali saya mendengar baik dari orang lain maupun teman saya sendiri yang memiliki persepsi yang negative terhadap matematika.Ada yang macam-macam.Ada yang mengatakan bahwa matematika itu momok yang menakutakan ,menyeramkan, menyulitkan dan lain sebagainya.Dan salah satu faktor in,i terjadi mungkin disebabkan karena mendengar dari persepsi umum dari orang-orang lain tanpa ingin mengenal lebih dalam lagi mengenai matematika.Untuk menghilang pendapat negatif tersebut, maka tugas kita perlu mengenalkan dan memberi pemahaman mengenai matematika.Belajar matematika tahap demi tahap dan harus sering-sering pembiasaan dan berlatih.Dari pembiasaan-pembiaasan tersebut lama-lama menjadi biasa.Karena kemistri itu hadri setelah kita terlibat di dalamnya.Makanya untuk mendapatkan kemistri itu libatkan diri kita di dalam matematika.

    ReplyDelete
  19. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Saya ingin memberikan tanggapan saya terhadap pertanyaan nomor 14, yaitu perbandingan antara pembelajaran matematika SD di luar negeri dan di Indonesia. Jika menoleh kebelakang, sebenarnya pembelajaran matematika di Indonesia banyak mengacu pada pembelajaran matematika yang telah berhasil di luar negeri. Seperti pendekatan kontekstual, problem based learning, discovery learning, ddl. Bahkan pendekatan saintifik yang diterapkan di dalam Kurikulum 2013 pun juga mengacu pada pembelajaran dari luar negeri. Namun dalam implementasinya, pembelajaran yang dianut dari luar tersebut belum disesuaikan secara penuh dengan karakteristik siswa di Indonesia. Selain itu, penerapannya juga cenderung setengah-setengah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Misalnya, pembelajaran kontekstual yang dilakukan di Amerika dilakukan secara berkelompok, di dalam kelas kecil, dan diampu lebih dari satu guru. Guru dapat benar-benar memfasilitasi kebutuhan belajar siswa dan juga mengamati kegiatan siswa. Perencanaan pembelajaran yang dilakukan pun tentu lebih matang. Sementara itu, yang terjadi di Indonesia ialah kelas merupakan kelas besar dengan satu guru. Guru kesulitan dalam memfasilitasi kebutuhan seluruh peserta didik di dalam kelas.

      Delete
  20. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan 4 yaitu “bagaimana kita secara arif dan bijaksana menyikapi adanya sebagian guru atau siswa yang mengehndaki cara-cara cepat atau trik dalam matematika?”. Menurut saya, saya setuju-setuju saja jika ada beberapa guru mengajarkan trik atau cara cepat dalam menyelesaikan soal. Tetapi perlu ada batasan mengenai penggunaanya. Saya sebagai guru sangat menjunjung tinggi bahwa guru harus mengajarkan konsep matematika kepada siswa dari yang dasar sampai yang tinggi, ketika siswa sudah dibekali dengan pemahaman konsep tersebut barulah guru bisa mengajarkan atau memberikan cara cepat dalam suatu penyelesaian soal. Batasan yang saya maksud sebelumnya adalah, misalkan ketika siswa mengikut ujian Nasional, dimana siswa hanya memiliki waktu yang terbatas untuk dapat menjawab soal yang banyak dengan benar. Pada saat seperti itulah cara cepat bisa digunakan. Mengapa demikian, karena dari pandangan saya Ujian Nasional hanya berfokus pada hasil/jawaban siswa bukan proses siswa dalam menemukan jawaban itu. Sampai saat ini itu menjadi hal yang dilematik dalam pendidikan kita.

    ReplyDelete
  21. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Selanjutnya saya akan menanggapi pertanyaan nomor 3, yaitu “apakah pembelajaran matematika mampu membawa nilai-nilai moral?”. Jawaban saya adalah mampu. Matematika memiliki keterkaitan dengan kehidupan kita sehari-hari. Sehingga matematika juga memiliki kandungan nilai-nilai moral. Guru dapat menyampaikan nilai-nilai miral yang ada pada materi mtematika memlalui pembeljaaran di kelas. Dengan nilai moral yaang ada dalam matematika, siswa dapat memahami bagaimana suatu hal berkaitan dengan perilaku benar dan yang salah. Dengan mempelajari matemtika, juga dapat dikembangkan sikap seperti, kejujuran, keadilan, kesabaran, pengendalian diri, dan kesederhanaan.

    ReplyDelete
  22. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Saya tertarik dengan pertanyaan nomor 11 tentang: Kreativitas apa saja yang diharapkan dari siswa SD dalam belajar matematika?. Dengan kerendahan hati izinkan saya untuk menanggapi pertanyaan tersebut. Menurut saya, hampir semua bentuk kreativitas memiliki unsur matematika yang dapat dibawa melalui pengalaman matematis anak. Saya jadi teringat dengan pandangan Kiran Bir Sethi terkait pendekatan Design for Change. Pendekatan Design for Change atau bepikir reka cipta memiliki empat langkah yaitu, merasakan-mengkhayalkan-mewujudkan-membagikan. Langkah-langkah tersebut dapat dikatakan sangat sederhana.

    Seperti salah satu contoh penerapan Design for Change adalah pada sekolah École Maternelle Saint Joseph Manyanet Yaoundé-Cameroun. Suatu hari di sekolah tersebut terdapat permasalahan bahwa anak-anak terbiasa bermain sepak bola menggunakan botol plastik. Semua merasakan bahaya akan permainan sepak bola menggunakan botol plastic tersebut karena akan berbahaya akan mengenakan mata anak-anak di sekitarnya. Setelah mendengar beberapa keluhan tersebut, kemudian guru mengumpulkan siswa dan berdiskusi mengenai solusi terhadap permasalahan tersebut. Setiap anak memiliki pendapatnya tersendiri untuk mencari solusi. Hingga pada akhirnya seluruhnya sepakat bahwa penggunaan botol untuk bermain bola disebabkan oleh tidak tersedianya bola di sekolahnya. Hingga pada akhirnya guru membimbing siswa untuk membuat bola yang didasari dengan rancangan penelitian tentang bahan apa yang sesuai digunakan untuk membuat bola. Setelah ditemukan bahan yang sesuai, yaitu plastik bekas dengan alasan dapat memantul dengan baik, akhirnya siswa dengan didampingi guru membuat bola yang akan digunakan untuk bermain bola sehingga tidak menggunakan botol lagi. Pengalaman tersebut dapat disimak dalam video pada youtube yang berjudul DFC2014 Cameroon: Having a BALL! https://www.youtube.com/watch?v=Rp4rKd3oc3s

    Bagi saya, segala bentuk kreativitas dapat dilandasi dengan berpikir matematis, hanya saja perlu didukung dengan konkretnya permasalahan dan pengalaman yang menjadi gerbong bagi pengalaman anak.

    ReplyDelete
  23. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.Mat B 2017

    Assalamu'alaikum wr.wb

    Disini saya ingin menjawab pertanyaan pada problematika no 4, yaitu bagaimana menyikapi guru/siswa yang menginginkan cara cepat dalam penyelesaian masalah matematika? saya setuju dengan cara cepat tersebut selama tidak menghilangkan atau mengaburkan konsep dari yang sedang di pelajari. tetapi jika cara cepat tersebut tidak berkaitan dengan konsep, maka saya kurang setuju, karena jika model soal diganti, maka siswa hanya akan menjadi kebingungan menerapkan rumus cepat tersebut dan juga tidak bisa mengerjakan nya secara manual.

    ReplyDelete
  24. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Prof. Saya pernah mengikuti kuliah umum tentang pendidikan matematika realistik dan salah satu hal yang dikatakan oleh pemateri bahwa sejak dini, seseorang harus dibiasakan menyelesaikan masalah karena salah satu tujuan matematika adalah mampu menggunakan aturan matematika dalam menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Berikan waktu sebesar-besarnya kepada anak untuk mengembangkan model mereka sendiri dalam menyelesaikan masalah. Masalahnya, kita masih sering dibatasi oleh waktu dengan target materi yang harus diselesaikan sehingga kita berusaha mencari cara cepat yang dapat berujung pada matinya kreativitas siswa.

    ReplyDelete
  25. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Hidup ini memang tidak terlepas dari masalah tergantung, sikap dan cara kita dalam menghadapi masalah tersebut. Problematika pembelajaran matematika di SD terjadi karena beberapa fakto bisa karena gurunya atau dari siswanya. Namun sebagai seorang pendidik lebih baik menginstrospeksi diri sendiri dari pada menyalahkan orang lain. Instrospeksinya dapat dengan guru untuk mempersiapkan pembelajaran dengan lebih baik lagi, mungkin saja pembelajaran kita belum sesuai dengan RPP yang telah disusun dengan baik, atau masih terdapat kekliruan dalam mengajar, atau kita belum mau mendiskusikan antar sesama guru SD.

    ReplyDelete
  26. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Dengan banyaknya problematika pembelajaran matematika di SD, hal ini tentu harus menjadi sebuah catatan bagi guru SD agar mempersiapkan pembelajaran dengan lebih baik lagi sehingga problematika-problematika ini dapat diatasi dalam proses pembelajaran. Pertanyaa-pertanyaan ini alangkah baiknya jika didiskusikan antar sesama guru SD dengan dosen agar pertanyaan-pertanyaan ini dapat terjawab dan pembelajaran menjadi lebih optimal. Dalam hal ini diperlukan lesoon study agar problematika ini tidak menjadi penghambat dalam kemajuan pendidikan pada anak sekolah dasar. pembelajaran matematika membentuk pribadi anak menurut saya berkaitan dengan matematika merupakan disiplin ilmu yang menggunakan pola pikir yang sistematis, sehingga dapat membentuk sikap disiplin siswa dan menanamkan cara menyelesaiakan masalah dengan pola pikir yang sistematis berkaiatan dengan analisis masalah. sehingga awal pembentukan jika dibiasakan akan menjadi karakter yang baik bagi anak. tidak hanya itu matematika juga mengajarkan siswa untuk kreatif dalam menyelesaikan masalah atau memecahkan maslah.

    ReplyDelete
  27. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    saya akan mencoba menjawab mengenai "Apakah perbedaan mendasar antara matematika sekolah dan matematika murni?". Dari apa yang sudah pernah saya baca, yang mebedakan antara keduanay adalah dari pola berpikirnya . Untuk pola berpikir matematika murni menggunakan pemikiran deduktif sedangakn matematika sekolah menggunakan pemikiran induktif, dimana pemikiran induktif ini digunakan pada saat proses pembelajaran didalam kelas. Dengan pemikiran induktif ini dapat menyesuaikan dengan tahap perkembangan intelektual siswa.

    ReplyDelete
  28. Pangestika Nur Afnia
    PEP B S2
    17701251037

    Saya akan mencoba menanggapi identifikasi problematika pembelajaran Matematika nomor 14 tentang bagaimana perbedaan matematika sekolah dasar di luar negeri dan di Indonesia. Dari apa yang saya ketahui, pembelajaran matematika sekolah dasar di Indonesia memaksa siswa-siswa yang berbeda potensi dan bakatnya untuk mempelajari hal yang sama dalam waktu yang sama dan harus memenuhi standar kompetensi nilai yang ditentukan. Sedangkan di London, misalnya, siswa-siswa yang berbeda potensi dan bakatnya di fasilitasi dan dibantu untuk mempelajarai matematika sesuai kemampuannya.

    ReplyDelete
  29. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Melihat pertanyaan-pertanyaan di atas memberikan gambaran bahwa ternyata tugas guru dalam mengajar matematika di SD tidaklah mudah, bahkan memberikan gambaran yang cukup sulit untuk diselesaikan. Namun disitulah seni keindahan menjadi seorang guru matematika khususnya di SD dimana sikaf, prilaku, dan cara berfikir mereka masih sangat perlu mendapat bimbingan yang cukup ekstra dari guru agar memiliki arah yang tepat di dalam mengembangkan kemampuan kognitif, atektif, dan psikomotornya.

    ReplyDelete
  30. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari beberapa problematika pembelajaran Matematika SD, pertama saya akan menanggapi pertanyaan nomor 1 dan 3, karena menurut saya kedua pertanyaan ini saling berkaitan. Pertanyaan nomor 1 adalah bagaimana pembelajaran matematika mempengaruhi kepribadian siswa di SD? Dan pertanyaan nomor 3 adalah apakah pembelajaran matematika mampu membawa nilai-nilai moral? Menurut saya pembelajaran Matematika di SD dapat membawa nilai-nilai moral sehingga akan membentuk kepribadian siswa. Seperti yang kita ketahui bahwa matematika SD merupakan pembelajaran yang berangkat dari kehidupan nyata yang melibatkan aktivitas-aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya pembelajaran yang demikian, maka guru dapat mengaitkan nilai-nilai moral kepada konteks pembelajaran matematika. Sehingga dengan tertanamnya nilai-nilai moral maka dapat membentuk kepribadian siswa.

    ReplyDelete
  31. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Selanjutnya, saya akan mencoba menanggapi pertanyaan nomor 4, yaitu bagaimana kita secara arif dan bijaksana menyikapi adanya sebagian guru atau siswa yang menghendaki cara-cara cepat atau trik dalam matematika? Menurut saya, boleh jika ada guru atau siswa yang menginginkan matematika diselesaikan dengan cara cepat atau dengan trik. Karena cara-cara cepat seperti ini terkadang dibutuhkan terutama dalam menyelesaikan soal-soal yang banyak dengan waktu yang sedikit seperti pada soal-soal UN atau SBMPTN. Dan juga penyelesaian soal-soal matematika dengan menggunakan trik justru menjadi suatu daya tarik tersendiri bagi siswa dalam mempelajari matematika, sehingga secara tidak langsung siswa menyenangi matematika dikarenakan trik ini.
    Namun, yang musti diingat terutama bagi guru adalah hendaknya siswa telebih dahulu diajarkan konsep dasar dari suatu materi. Dan jika siswa telah menduduki konsep tersebut, maka bukan menjadi suatu masalah jika siswa diajarkan cara cepat penyelesaian matematika.

    ReplyDelete