Feb 12, 2013

Problematika Pembelajaran Matematika di SD

Identifikasi Problematika Pembelajaran Matematika di SD


1. Bagaimana pembelajaran matematika mempengaruhi kepribadian siswa di SD?
2. Bagaimana pandangan kita tentang prestasi belajar matematika di SD?
3. Apakah pembelajaran matematika mampu membawa nilai-nilai moral?
4. Bagaimana kita secara arif dan bijaksana menyikapi adanya sebagian guru atau siswa yang menghendaki cara-cara cepat atau trik dalam matematika?
5. Bagaimana mengimplementasikan metode penemuan secara baik pada pembelajaran matematika di SD?
6. Bagaimana guru mampu memfasilitasi agar siswa mampu belajar matematika dengan baik khususnya dalam mengembangkan kemampuan matematika (mathematical thinking)?
7. Apa sebetulnya hakekat matematika yang dipelajari di SD>
8. Bagaimana menfasilitasi adanya berbagai macam latar belakang dan kemampuan siswa dalam belajar matematika di SD?
9. Bagaimana menghilangkan persepsi bahwa matematika adalah sulit?
10. Bagaimana menerapkan pembelajaran PMRI di SD misalnya tentang Pembagian Pecahan?
11. Kreativitas apa saja yang diharapkan dari siswa SD dalam belajar matematika?
12. Apakah perbedaan mendasar antara matematika sekolah dan matematika murni?
13. Apakah yang disebut berpikir logis dan bagaimana membelajarkannya di SD>
14. Bagaimana perbandingan antara pembelajaran matematika SD di Luar Negeri dan di Indonesia?
15. Apakah benar bahwa matematika adalah seni dan bagaimana sikap guru dalam pembelajaran matematika di SD?
16. Apakah Taksonomi Bloom relevan dalam pembelajaran matematika di SD? Jika relevan maka jelaskanlah?

Di identifikasi oleh: Sabina Ndiung, Melly Andriani, Atiaturrahmaniah, Moh. Bisri, Kurnia Hidayati, Laelatul Badriah, Wahyudi, Syarifuddin. Pembimbing: Marsigit

149 comments:

  1. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Apakah perbedaan mendasar antara matematika sekolah dan matematika murni?
    Tidak semua siswa, bahkan mungkin hanya sedikit siswa, yang belajar matematika akan menjadi matematikawan di kelak kemudian hari. Oleh karena alasan itulah pembelajaran matematika di sekolah harus memperhatikan kegunaannya bagi kehidupan insani siswa. Soedjadi (1999) mendefisikan matematika sekolah sebagai bagian-bagian dari matematika yang dipilih dengan orientasi kepada kepentingan kependidikan dan perkembangan IPTEK. Perbedaan matematika
    sekolah dan matematika sebagai ilmu terletak pada (1) penyajian, (2) pola pikir, (3) keterbatasan semesta, dan (4) tingkat keabstrakannya.

    ReplyDelete
  2. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Salah satu pertanyaan yang ada akan saya jawab, semoga apa yang saya jawab nanti bisa menjadi pengetahuan bagi yang lain. Bagaimana cara menerapkan PMRI misalnya pada materi pecahan,caranya adalah kita tahiu bahwa PMTI adalah suatu pendekatakan matematika realistik, yang mana jika guru menggunakan pendekatan ini maka kita sebagai guru matematika harus membelajarkan matematika dengan sesuatu yang real, artinya ada bendanya, misalnya pada materi pecahan kita bisa mengunakan sepotong kue atau apel atau benda apa saja. Misalkan akan mengajarkan pecahan ½ maka kita bsa mengatakan kepada siswa bahawa ½ itu jika sepotong kue di belah menjadi dua maka saya dape ½ dan kamu dapat ½. Dan seterusnya.

    ReplyDelete
  3. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Menjawab pertanyaan Apakah Taksonomi Bloom relevan dalam pembelajaran matematika di SD? Jika relevan maka jelaskanlah?, maka saya dapat katakan bahwa taksonomi bloom relavan di ajarkan pada matematika SD karena kita tahu bahwa taksonomi bloom mempunya 6 tingkatakan Pengetahuan (Knowledge), Pemahaman (Comprehension), Aplikasi (Application), Analisis (Analysis), Sintesis (Synthesis), Evaluasi (Evaluation). Dimana pada taksonomi bloom juga dapat kita bagi menjadi lower order thinking dan higher order thinkinng, yang mana pada bagian lower itu mempunya tingkatakn dari pengetahuan, pemahaman, aplikasi, sedangkan untuk higher adalah analisis, sintesism da evaluasi, yanag mana pada setiap bagian bloom itu sangat cocok diterapkan. Dengan adanya tingkatakn seperti itu kita bisa membagi pengethauan yang mana kita inginkan.

    ReplyDelete
  4. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Seperti yang kita ketahui bahwa cara berpikir anak berbeda dengan berpikir orang dewasa. Pada usia SD/MI daya pikir anak sudah berkembang ke arah berpikir konkrit dan rasional. Cara guru memfalisitasi siswa agar mampu belajar matematika dengan baik yaitu dengan menggunakan alat peraga atau benda konkrit yang dapat dipegang dan dilihat secara langsung bagi siswa sehingga siwa akan mengalami dan menemukan konsep secara langsung

    ReplyDelete
  5. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Dari sekian banyak list identifikasi problematika pembelajaran matematika di SD, masih banyak problem lain yang terjadi di lapangan. Memang masalah persepsi bahwa matematika adalah sulit seringkali terjadi pada siswa. Problem ini bisa muncul karena akibat dari guru, model pembelajaran, atau bahkan fasilitas pembelajaran dan bagaimana guru menyampaikan materi. Yang menjadi PR adalah bagaimana guru dapat membuat siswa ‘happy’ dengan belajar matematika, salah satunya adalah dengan menerapkan pembelajaran PMRI di SD tentang materi pembagian pecahan. Inovasi guru sangat dibutuhkan disini sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan menyenangkan.

    ReplyDelete
  6. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Permasalahan pembelajaran matematika sejatinya bukan disebabkan oleh siswa, namun disebabkan oleh orang dewasa selaku guru, orang tua, orang-orang yang mengambil kebijakan seperti kepala sekolah, dinas pendidikan, hingga menteri sekalipun. Karena mereka berpikiran bahwa matematika adalah ilmu yang disusun secara deduksi yang bersifat abstrak. Ini merupakan bencana bagi siswa. Kemudian tujuan pendidikan yang mengacu kepada “ujian nasional oriented” ini juga menambah beban siswa. Ketidakpekaan orang dewasa inilah yang telah terjadi pada pembelajaran matematika sekarang. Pendidikan kita sekarang telah kehilangan intuisi karena para pendidik hanya memberi definisi-definisi yang masih bersifat abstrak bagi siswa. misalnya matematika pada tingkat SD didefinisikan sebagai pengalaman, sebagai kegiatan dan dari pengalaman ini akan muncul intuisi siswa.

    ReplyDelete
  7. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menjawab pertanyaan nomor 12 yaitu “Apakah perbedaan mendasar antara matematika sekolah dan matematika murni?”
    Matematika yang dipelajari di sekolah selama ini bukanlah matematika murni, melainkan matematika sekolah. Matematika murni memiliki beberapa karakteristik seperti objek kajiannya yang abstrak serta memuat simbol-simbol yang tidak bermakna. Berbeda dari matematika murni, matematika sekolah adalah matematika murni yang telah disesuaikan dengan tahap perkembangan intelektual siswa dan digunakan sebagai sarana mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Pokok dari belajar matematika sekolah adalah untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  8. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menjawab pertanyaan nomor 13 yaitu “Apakah yang disebut berpikir logis dan bagaimana membelajarkannya di SD?”
    Berpikir logis merupakan kegiatan berpikir untuk memperoleh suatu pengetahuan menurut suatu pola atau logika tertentu. Kemampuan berpikir logis dapat dibelajarkan kepada anak usia Sekolah Dasar melalui pembelajaran matematika. Dalam hal ini, guru dituntut untuk memebrikan alasan-alasan yang logis ketika menjelaskan suatu konsep kepada siswa. Sebagai contoh, ketika menjelaskan bahwa penjumlahan bersifat komutatif, siswa diberi suatu contoh khusus, misalnya 2 + 3 = 5 dan 3 + 2 = 5. Melalui contoh tersebut, siswa difasilitasi untuk melihat pola sehingga menemukan bahwa ternyata susunan dari penjumlahan tidak mengubah hasil.

    ReplyDelete
  9. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menjawab pertanyaan nomor 14 yaitu “Bagaimana perbandingan antara pembelajaran matematika SD di Luar Negeri dan di Indonesia?”
    Pembelajaran matematika SD di luar negeri dan di Indonesia memiliki berbagai perbedaan, di antaranya dilihat dari materi yang dipelajari dan fasilitas penunjang pembelajaran. Dilihat dari segi materi yang dipelajari, materi Matematika SD di luar negeri tersusun lebih sistematis. Sebagai contoh, penjumlahan dalam matematika SD di Indonesia dianggap sebagai proses berhitung namun tidak dalam matematika SD di Jepang. Di Jepang, sebelum siswa masuk ke dalam materi penjumlahan, ada bab tersendiri yang dibahas, yaitu bab “How Many?”. Dalam bab tersebut, siswa diajarkan untuk melakukan partisi dari suatu bilangan, misalnya 12 adalah 6 dan 6 atau 2 dan 10. Kemudian, dilihat dari segi fasilitas penunjang pembelajaran, matematika SD di Indonesia masih kurang memadahi. Hal ini bisa dilihat dari pembelajaran di luar negeri yang menggunakan banyak papan tulis serta kondisi ruangan yang fleksibel mudah ditata sesuai kebutuhan pembelajaran.

    ReplyDelete
  10. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menjawab pertanyaan nomor 15 yaitu “Apakah benar bahwa matematika adalah seni dan bagaimana sikap guru dalam pembelajaran matematika di SD?”
    Menurut saya, benarlah bahwa matematika merupakan seni. Matematika merupakan mata pelajaran yang sulit diajarkan di sekolah karena karakteristiknya yang banyak memuat perhitungan-perhitungan dan rumus. Tidak sedikit siswa yang kurang tertarik dalam mempelajari mata pelajaran ini. Padahal, matematika menekankan pada kreativitas. Melalui matematika, siswa dilatih untuk dapat kreatif dalam menyelesaikan masalah. Dalam pembelajarannya pun dibutuhkan kreativitas guru untuk menggabungkan berbagai metode pembelajaran sehingga siswa dapat tertarik untuk belajar. Sebagai contoh, dalam pembelajaran matematika di SD, sebaiknya belajar didesain sebagai kegiatan aktif yang menarik misalnya menggunakan permainan sebagai media pembelajaran matematika.

    ReplyDelete
  11. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Dari sekian banyak problematika matematika SD yang dialami siswa, maka perlu penerapan PMRI dimana dengan realistik itu sendiri menjadikan pembelajaran matematika menjadi senang, inovatif, kreatif, dan bermakna.

    ReplyDelete
  12. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menjawab pertanyaan nomor 16 yaitu “Apakah Taksonomi Bloom relevan dalam pembelajaran matematika di SD? Jika relevan maka jelaskanlah?”
    Taksonomi Bloom yang meliputi perubahan tiga ranah belajar yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Ranah kognitif berkenaan dengan perilaku yang berhubungan dengan berfikir, mengetahui dan pemecahan masalah. Ranah ini mempunyai enam tingkatan, yaitu remember (mengingat pengetahuan), understanding (pemahaman), apply (penerapan), analize (analisis), evaluate (mengevaluasi), dan create (mencipta). Ranah afektif berkaitan dengan sikap, nilai, interes apresiasi dan penyesuaian perasaan sosial. Ranah ini mempunyai lima tingkatan, yaitu receiving (penerimaan), responding (menanggapi/partisipasi), valuing (berkeyakinan/penentuan), organization (penerapan karya), dan characterization (ketekunan/pembentukan pola). Ranah psikomotorik berkaitan dengan keterampilan yang bersifat manual atau motorik. Ranah ini memiliki tujuh tingkatan, yaitu perception (persepsi), set (kesiapan), mechanism (mekanisme), guided respon (respon terbimbing), complex over respons (kemahiran), adaptation (adaptasi), dan organization (organisasi). Menurut saya, taksonomi bloom relevan untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika di SD. Dalam hal ini, penerapannya disesuaikan dengan kemampuan berpikir siswa SD. Level “mencipta” untuk siswa SD akan berbeda dengan level “mencipta” pada siswa SMP dan SMA. Jika ketiga ranah ini dapat dikembangkan pada siswa sekolah dasar maka akan sangat membantu siswa dalam mempelajari matematika.

    ReplyDelete
  13. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. Pembelajaran matematika di SD menurut saya merupakan pembahasan yang menarik. Kebanyakan jika siswa SD ditanya mata pelajaran apa yang paling meresa senangi, maka akan dijawab matematika. namun jika siswa SMP atau SMA ditanya mata pelajaran yang disenangi rata-rata tidak menjawab matematika dan menggangap matematika sebagai pelajaran yang tidak disukai. Saya binggung dengan fenomena tersbut.
    Siswa SD masih menyukai bermain dan belum bisa berpikir secara abstrak, menurut saya untuk membantu siswa SD belajar matematika guru perlu memanfaatkan pangalaman sehari-hari siswa. Guru perlu memanfaatkan media permainan yang biasa dilakukan siswa dengan mengkombinasikannya dengan pembelajaran matematika.

    ReplyDelete
  14. Anis Kurnia Ramadhani
    14301241020
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Di dalam pembelajaran di kelas, tentunya terdapat berbagai macam halangan yang menghadang. Sehingga perlu bagi guru untuk mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan permasalahan yang dapat muncul, beserta merancang solusinya. Ini dapat membantu menghadapi permasalahan yang mungkin muncul di dalam kelas. Tidak hanya itu, identifikasi masalah juga dapat membuat guru menciptakan pembelajaran dan pemahaman konsep yang lebih mendalam bagi siswa.

    Di dalam pembelajarannya pun, siswa hendaknya tidak terlalu dikekang. Ini dikarenakan masa-masa sekolah dasar sebenarnya adalah masa dimana siswa masih bermain. Sehingga perlu diidentifikasi hal yang perlu dilakukan agar siswa dapat belajar dengan menyenangkan.

    ReplyDelete
  15. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Untuk menjawab pertanyaan no 10. Bagaimana menerapkan pembelajaran PMRI di SD misalnya tentang Pembagian Pecahan? Untuk masalah ini, guru SD hendaknya bisa menggunakan alat peraga dalam proses pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik. Alat peraga tidak hanya dibuat oleh guru saja tetapi dengan bantuan guru sebagai fasilitator siswa juga dapat mengambil bagian dalam membuat sendiri gambar-gambar sehingga konsep siswa tentang bilangan bisa terbentuk. Dengan alat peraga alat peraga siswa tentunya bisa lebih memahami tentang berbagai konsep matematika dengan mudah, karena dapat mengurangi keabstrakan dari matematika itu sendiri. Sebagaimana dalam tulisan ini yang menawarkan Matematika realistik sebagai titik tolak dalam menyampaikan pelajaran dikelas. Misalkan 2 dibagi ½ sama dengan 4. Seharusnya sesuatu yang dibagi mesti semakin kecil tetapi pembagian pecahan tidaklah berlaku. Maka ini dapat dijelaskan dengan real konteks yaitu misalkan 2 roti dibagi ½ , maka akan menghasilkan 4 roti dalam bentuk ½ an bukan 4 dalam bentuk satuan.

    ReplyDelete
  16. Zuharoh Yastara Anjani
    14301241025
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Pada tahap pembelajaran SD, pembelajaran yang efektif dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah suasana pembelajaran. Suasana pembelajaran matematika SD sebaiknya disusun agar menyenangkan dan kondusif bagi siswa. Menyusun suasana kelas yang menyenangkan bagi siswa dapat dilakukan mulai daro hal kecil seperti penataan meja dan kursi siswa. Jika kebanyak kelas disusun secara berbanjar, maka di SD dapat dilakukan dengan penataan melingkar, later U, dan sebagainya dengan tujuan agar siswa tidak mudah bosan. Selain itu, menciptkan suasana belajar yang menyenangkan di SD juga dapat dilakukan dengan memberi beberapa games sederhana saat siswa mulai jenuh dengan pembelajaran.

    ReplyDelete
  17. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari 16 problematika yang disajikan di atas dapat saya simpulkan bahwa problematika pembelajaran matematika di SD yaitu persepsi bahwa matematika sulit, bagaimana hakikat matematika yang dipelajari di SD dan apakah perbedaan matematika sekolah dan matematika murni serta bagaimana sebaiknya membelajarkan matematika di SD dengan baik agar kepribadian, nilai-nilai moral, dan kreativitas siswa dapat dikembangkan. Satu hal yang menjadi perhatian saya adalah persepsi bahwa matematika sulit, memang benar bahwa ketakutan anak akan pelajaran matematika biasanya dimulai dari tingkat sekolah dasar maka dari itu hal ini menjadi PR bagi guru untuk menghilangkan persepsi tersebut.

    ReplyDelete
  18. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Matematika mempunyai tingkatan, mulai dari konkret sampai dengan abstrak. Siswa SD belum bisa memahami matematika abstrak. Tidak mudah mengajarkan atau mengubah matematika abstrak menjadi matematika konkret yang dapat dipahami oleh siswa SD. Saat ini masih ada pembelajaran dimana guru mengawali pembelajaran dengan pemberian rumus cepat dan definisi. Padahal siswa tidak mudah menerima konsep matematika langsung melalui definisi dan rumus. Guru seharusnya memulai dengan memberikan contoh dan non contoh ke siswa, sehingga siswa mampu memberikan definisi sendiri mengenai konsep yang diajarkan, siswa mampu mengkonstruk sendiri pengetahuannya.

    ReplyDelete
  19. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari berbagai pertanyaan mengenai problematika pembelajaran Matematika di SD yang telah diuraikan di atas menjadi renungan dan motivasi kita untuk memperbaiki serta meningkatkan pembelajaran Matematika.
    Mengapa selama ini matematika identik sebagai pelajaran yang sulit bagi sebagian besar siswa? Anggapan ini tidak terlepas dari persepsi yang berkembang di masyarakat bahwa Matematika merupakan pelajaran yang sulit. Hal ini justru telah mensugesti pikiran siswa. Sebenarnya, kesulitan berawal dari siswa yang tidak suka dengan pelajaran Matematika. Tidak suka di sini disebabkan siswa merasa asing dan hanya menerima materi begitu saja. Ibaratnya, guru hanya menyuapi sekian banyak siswa dengan makanan pengetahuan yang telah diolah dan dimasak sendiri oleh guru. Sedangkan siswa tinggal menelannya saja tanpa mengetahui proses pembuatannya dan tanpa ada protes bahwa makanan tersebut pahit, manis, asam, asin, bahkan basi sekalipun. Akibatnya, Matematika terkesan sulit dan rumit serta siswa menjadi pasif.

    ReplyDelete
  20. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Untuk menghilangkan persepsi pada siswa bahwa Matematika sulit, harus dimulai dari diri guru. Salah satu caranya yaitu guru harus mengubah paradigma pembelajaran tradisional ke paradigma pembelajaran inovatif. Pada paradigma tradisional pembelajaran Matematika di sekolah cenderung ditekankan pada penyampaian pengetahuan dan materi yang banyak, serta terdapat tuntutan waktu untuk menyelesaikan materi pembelajaran tersebut dengan cepat. Guru tidak mempedulikan apakah siswa tersebut benar-benar mendalami atau paham terhadap materi yang dipelajari.

    ReplyDelete
  21. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ada bebarapa problematika lain dalam pembelajaran Matematika di SD diantaranya pengaruh pembelajaran Matematika terhadap kepribadian siswa, prestasi belajar siswa, nilai-nilai moral yang terkandung dalam pembelajaran, pengaruh cara-cara cepat atau trik dalam Matematika, kreativitas siswa, dan lain-lain. Oleh karena itulah, hal ini menjadi tugas kita bersama. Hendaknya kita siangi satu per satu problematika tersebut.

    ReplyDelete
  22. Woro Sophia Amirul Kusumawati
    14301241048
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Matematika dapat mempengaruhi kepribadian siswa SD karena Matematika melatih kemampuan menalar, kemampuan berpikir kritis, dan kemampuan berpikir kreatif. Dengan diajarkan Matematika sejak dini dapat meningkatkan kecerdasan siswa. Kegiatan-kegiatan siswa dalam bermatematika akan membentuk kepribadian siswa untuk selalu percaya diri terhadap kemampuannya, menjadi orang yang kreatif, menjadi orang yang selalu berpikir kritis.

    ReplyDelete
  23. Woro Sophia Amirul Kusumawati
    14301241048
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Prestasi belajar matematika SD masih perlu ditingkatkan. Matematika di SD masih menekankan bagaimana cara menghitung. Matematika di SD belum mengajarkan mengenai konsep-konsep dalam matematika. Pembelajaran yang hanya mempelajari operasi hitung akan menutupi kemampuan siswa untuk berpikir kritis, kemampuan menalar, dan kemampuan berpikir kreatif Karena siswa tidak diberi kesempatan untuk berpikir seluas-luasnya. Sehingga Pengetahuan dan Keterampilan siswa perlu diseimbangkan agar prestasi belajar siswa tinggi.

    ReplyDelete
  24. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPS P.Mat D

    Banyak permasalahan-permasalahan dalam pembelajaran matematika, tugas guru saat ini adalah bagaimana cara mengubah persepsi siswa terhadap salah satu permasalahan yaitu pelajaran matematika yang dianggap sulit itu menjadi pelajaran yang menyenangkan. Guru harus memahami dan mengetahui kesulitan-kesulitan serta hambatan-hambatan yang dialami siswanya selama proses pembelajaran terlebih dahulu. Dan menurut saya, identifikasi problematika pembelajaran matematika di SD tersebut dapat membantu para guru untuk lebih mengenal permasalahan-permasalahan kaitannya dengan pembelajaran matematika di SD agar tidak ada lagi anggapan bahwa matematika itu sulit dan agar ke depannya pembelajaran matematika di SD dapat berjalan dengan lancar.

    ReplyDelete
  25. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mencoba menjawab soal nomer 14, dari beberapa cerita yang saya dapatkan di perkuliahan, terlihat jelas perbedaan antara pembelajaran matematika SD di luar negeri dengan di Indonesia. Salah satunya adalah metode pembelajaran yang dilakukan. Di luar negeri, siswa diarahkan untuk menemukan, sedangkan di Indonesia terkesan memaksakan. Sehingga yang terjadi adalah, semakin bertambahnya kelas, mereka semakin ‘mati’’ intuisinya. Mereka beranggapan bahwa semakin lama mereka bersekolah, akan semakin sulit matematika yang mereka terima.

    ReplyDelete
  26. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mencoba menjawab pertanyaan nomer 12, matematika sekolah dengan matematika murni berbeda. Hal itu dilihat dari penggunaan simbol-simbol dan konsep yang diajarkan. Matematika sekolah bersifat kegiatan mencari pola, sedangkan matematika formal umumnya menemukan konsep atau definisi atau membuktikan teorema. Sehingga pembelajaran yang sesuai untuk SD adalah matematika sekolah, bukan matematika formal.

    ReplyDelete
  27. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mencoba menjawab pertanyaan nomer 7, hakekat pembelajaran SD adalah matematika yang membuat siswa mampu berfikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta memiliki melatih kerjasama. Dari hal tersebut tentunya peran guru sangat berpengaruh dalam penyelenggaraan pembelajarannya. Diharapkan guru mampu memfasilitasi siswa sehingga tercapai tujuan tersebut

    ReplyDelete
  28. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mencoba menjawab pertanyaan nomer 4, adanya cara cepat/trik dalam menyelesaikan soal atau masalah dalam matematika memang sering dijumpai, terutama di lembaga-lembaga bimbingan belajar. Namun perlu diperhatikan bahwa, cara cepat tersebut baru bisa digunakan setelah siswa paham dari manakah penyelesaian itu didapat. Sehingga siswa dapat menyelesaikan soal-soal lain yang berganti layout, tidak merasa kebingungan lagi menyelesaikan soal itu. Juga jangan sampai ada siswa yang hanya menggunakan cara cepat itu untuk sekedar menyelesaikan soal, tidak paham maksud dan makna dari solusi nya.

    ReplyDelete
  29. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mencoba menjawab pertanyaan nomer 5, Guru dapat mengimplementasikan metode penemuan secara baik pada pembelajaran matematika SD dengan menerapkan pendekatan RME, dengan bentuk kegiatan yang beragam. Kegiatannya diarahkan dalam menemukan pola dan hubungan, menyelesaikan masalah kontekstual, melakukan investigasi, dan mengkomunikasikan. Kuncinya adalah. guru memberikan masalah kontekstual yang benar-benar dipahami siswa

    ReplyDelete
  30. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mencoba menjawab pertanyaan nomer 9, guru dapat menggunakan kreatifitasnya untuk merancang pembelajaran yang inovatif, seperti penggunaan media, variasi metode, dan menciptakan kondisi di kelas sedemikian sehingga siswa merasa bahwa belajar matematika merupakan aktivitas yang menyenangkan, bukan malah menyulitkan. Dengan melibatkan semua siswa dalam pembelajaran, mereka dapat mengubah pandangannya tentang matematika.

    ReplyDelete
  31. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    3. Apakah pembelajaran matematika mampu membawa nilai-nilai moral?
    Hal ini tergantung dengan pelaksanaan di lapangannya. Apakah guru menyisipkan pendidikan moral di dalamnya? Apakah matematika diajarkan secara benar? Apakah siswa dibiasakan untuk bermoral saat belajar matematika? Apakah ada penekanan pesan moral sebelum, saat, dan setelah pembelajaran sesuai dengan konteks dan materi yang telah di ajarkan? Apakah guru mengingatkan siswa untuk menerapkan ilmu yang diperoleh kapanpun, di manapun dengan tetap dibatasi oleh koridor moral?
    Jika hal itu dilakukan,matematika bisa menjadi sarana penyampaian nilai-nilai moral. Terlebih untuk siswa SD yang sangat memerlukan penekanan karakter positif sebagai bekal untuk menentukan jati diri saat kelak sudah mencapai kedewasaan. Namun jika dalam pembelajaran yang diutamakan hanya mengejar materi dan nilai baik saat ujian, maka bisa terjadi bias nilai-nilai moral. Hal ini bisa mengakibatkan siswa berpikir untuk fokus pada hasil akhir dengan mengabaikan karakter kerja keras, jujur, percaya diri, dan karakter lain yang akan hilang tertutup oleh perilaku “mencontek”. Seyogyanya mampu atau tidaknya matematika membawa nilai-nilai moral, tergantung pada sikap dan perilaku yang dilakukan oleh orang perseorangan yang terlibat.

    ReplyDelete
  32. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Bagaimana pembelajaran matematika dapat mempengaruhi kepribadian siswa di SD?
    Matematika dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Saat siswa mengalami mathematics experience, siswa diajarkan untuk membangun strategi sendiri dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Dengan demikian, logika berpikir mulai ditanamkan. Jika pembelajaran matematika ditanamkan dengan baik dan guru tidak menuntut siswa untuk mengetahui matematika dengan melakukan lompatan kognitif, maka siswa akan merasa matematika menyenangkan dan hal ini akan mampu meningkatkan kepercayaan diri siswa. Douglas dan Sarama (2001) menjelaskan mengenai hal tersebut. Menurut hasil penelitian mereka, pembelajaran matematika yang tidak berhasil di usia dini hingga SD akan mempengaruhi kemampuan membaca dan menalar siswa dan kemudian mempengaruhi psikologis siswa di kemudian hari.

    ReplyDelete
  33. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Apakah pembelajaran matematika mampu membawa nilai-nilai moral?
    Pembelajaran matematika dapat membawa nilai-nilai moral. Pembelajaran matematika membentuk moral yang sesuai seperti tidak ada ruang untuk perasaan yang merugikan. Pandangan yang menyimpang, diskriminasi, dan berpikir tidak masuk akal. Matematika membantu siswa dalam analisis obyektif, memberikan alasan yang benar, kesimpulan yang valid (sah), dan pertimbangan yang tidak berat sebelah. Nilai-nilai moral ini tertanam dalam pikiran siswa karena perulangan dan membantu siswa menjadi anggota masyarakat yang berhasil. Dengan demikian, penting bagi guru SD untuk memperhatikan pembelajaran yang disampaikan di kelas.

    ReplyDelete
  34. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran matematika di SD diharapkan menggunakan media yang menarik, karena siswa SD lebih suka kepada pembelajaran yang menarik dan mengasyikan, banyak sugesti yang bilang bahwa matematika itu sulit, sehingga siswa terbawa sugesti tersebut menjadikan matematika momok bagi siswa SD, namun dengan pendekatan media yang menarik maka siswa akan lebih tahu bahwa matematika itu menyenangkan.

    ReplyDelete
  35. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mencoba menjawab nomor 13, berpikir logis adalah suatu kegiatan berpikir untuk memperoleh pengetahuan matematika yang diajarkan di sekolah (matematika sekolah) yang berdasarkan pola dan logika yang tepat. Sejak dini siswa dapat dilatihkan kemampuan berpikir logis. Oleh karenanya, guru perlu mengembangkan media dan kegiatan yang memfasilitasi siswa mengasah kemampuan berpikir kritisnya.

    ReplyDelete
  36. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mencoba menjawab pertanyaan nomer 15, matematika adalah seni, saat guru mampu mendesain pembelajaran yang akan dilaksanakan di kelas. Saat siswa menemukan pola dan hubungan, itulah seni. Maka guru disini perlu melatih kemampuan seni nya dalam mengajar matematika, dan juga melatih kreatifitasnya dalam merancang pembelajaran yang memfasilitasi seluruh siswa SD

    ReplyDelete
  37. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mencoba menjawab pertanyaan nomer 16, Taksonomi Bloom sangat relevan dalam pembelajaran matematika di SD. Guru mempertimbangkan kegiatan-kegiatan atau soal-soal manakah yang siswa mampu lakukan/pecahkan. Apakah itu C1, C2, atau bahkan sampai C6. Tentu setiap langkah diperlukan pertimbangan, apakah siswa cocok dengan kegiatan dan atau penyampaian materi dengan yang dipilih oleh guru

    ReplyDelete
  38. Eka Novi Setiawan
    14301241044
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Mencoba menjawab no 9, untuk menghilangkan persepsi matematika itu sulit pada benak siswa mungkin tidak mudah, akan tetapi masalah tersebut bisa dikurangi dengan pembelajaran yang inovatif dan tidak seperti diktator yaitu hanya transfer ilmu guru ke siswa. Dengan membuat suasana pembelajaran kondusif dan menyenangkan, saya rasa perasaan matematika itu sulit oleh siswa akan berkurang.

    ReplyDelete
  39. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah membaca identifikasi diatas saya menjadi teringat dengan pembelajaran matematika saat saya SD dulu. Dulu saat saya SD pelajaran matematika termasuk pelajaran yang sulit, terutama pada saat mempelajari bangun ruang di kelas tinggi. Banyak siswa di kelas yang dapat nilai yang jelek pada saat itu. Beberapa teman saya yang mengikuti Bimbingan Belajar dapat mengerjakan dengan mudah karena mereka menggunakan rumus singkat tetapi mereka tidak tau asal usulnya. Di sekolah guru mengajar dengan rumus rumus sesuai dengan buku paket yang panjang lebar, siswa tidak dilibat kan dalam pembentukan rumus tersebut dan tinggal menghafalkan rumus yang ada di buku paket.

    ReplyDelete
  40. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Guru berkewajiban untuk mengubah mindset matematika sulit menjadi matematika itu menyenangkan. Untuk itu guru harus tau permasalahan apa yang ada dalam pembelajaran matematika di SD yang telah diidentifikasi di blog ini. Pelajaran matematika terkesan sulit karena siswa dipaksa menguasai rumus yang asing bagi mereka, hal ini karena siswa tidak dilibatkan dalam pembentukan rumus. Sebaiknya Guru mengajak siswa berdiskusi cara memperoleh rumus, tidak hanya memberitahukan. Karena dengan menemukan sendiri ilmu pengetahuannya menjadi lebih familiar dan awet diingat.

    ReplyDelete
  41. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam pembelajaran matematika di SD seharusnya guru menerapkan strategi pembelajaran yang dapat menarik perhatian siswa dan bersifat nyata. Salah satu dapat menggunakan pendekatan kontekstual. Di usia anak SD, pemikirannya belum dituntut untuk berfikir abstrak. Pemberian contoh yang nyata justru akan memberikan makna bagi siswa itu sendiri. Terlebih lagi dengan konsep belajar yang mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata.

    ReplyDelete
  42. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Terimakasih pak Marsigit. Tulisan ini sangat membantu, terutama dalam menyusun latar belakang penelitian. Karena penelitian berangkat dari masalah. Saya sangat tertarik dengan masalah terkait kreativitas siswa SD setelah mempelajari matematika. Karena materi matematika SD memang seharusnya membuat siswa menjadi kreatif. Hal ini karena materi matematika SD masih sangat dekat dengan realita kehidupan sehari-harinya. Usia anak-anak juga merupakan usia kreatif. Kreativitas yang dapat dikembangkan dari matematika SD lebih kearah pemanfaatan matematika untuk kehidupan sehari-hari dan kesenian. Misalnya membuat kotak tempat tisu, membuat tempat pulpen, membuat celengan, membuat hiasan dan kerajinan tangan lainnya.

    ReplyDelete
  43. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menjawab pertanyaan: 1. Bagaimana pembelajaran matematika mempengaruhi kepribadian siswa di SD?

    Secara umum pemb elajran pastinya akan mempengaruhi berbagai aspek salah empatnya yaitu: spiritual, social, pengetahuan, dan ketrampilan. Dalam pembelajran matematika tersendiri juga mempengaruhi keempat aspek diatas. Sehingga dalam pembelajaran matematika akan membentuk kepribadian siswa. Jika dirujuk kedalam psikologis siswa SD akan mudah dibentuk kepribadiannya, sehingga pembelajaran matematika sangat mudah mempengaruhi kepribadian siswa. Jika diharapkan, pembelajaran matematika ingin membentuk kepribadian yang baik seperti hidup yang terstruktur dan terpola. Serta Berbagai sifat-sifat dalam matematika yang akan terserap kedalam siswa.

    ReplyDelete
  44. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Menjawab pertanyaan: 2. Bagaimana pandangan kita tentang prestasi belajar matematika di SD?

    Berdasarkan data yang saya dapatkan, prestasi belajar siswa sd pada mata pelajaran matematika di Indonesia berada di rata-rata bawah. Hal ini disebabkan karena kurangnya variasi dalam penggunaan metode, alat perag, media dan seterusnya. Serta guru yang mengguankan metode ceramah untuk siswa sd. Hal itu kurang disarankan karena matematika untuk siswa sd bukan berupa ilmu pengetahuan namun aktifitas matematika yang sedikit direduksi untuk pengetahuan siswa sd.

    ReplyDelete
  45. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Menjawab pertanyaan: 3. Apakah pembelajaran matematika mampu membawa nilai-nilai moral?

    Setiap pemebelajran yang dilakukan juga merupakan pembelajaran tentang moral baik itu secara instrinsik ataupun ekstrinsik. Matematika pun demikian dalam pembelajarannya juga membawa nilai moral. Seperti dapat dielegikan “kesamaan itu sebuah keadilan”. Dimatematika, kesamaan artinya ruas kana nilainya sama dengan ruas kiri. Lebih dalamnya walaupun dua subjek yang berbeda dapat memiliki kedudukan yang sama pula dimata Tuhan.

    ReplyDelete
  46. Taufan Adi Pradana
    13301241059
    Pendidikan Matematika A 2013

    Assalamualaikum.wr.wb
    Terimakasih kepada bapak marsigit yang telah memposting tulisan yang bermanfaat bagi guru maupun calon guru.
    Dengan banyaknya problematika pembelajaran matematika di SD, hal ini tentu harus menjadi sebuah catatan bagi guru SD agar mempersiapkan pembelajaran dengan lebih baik lagi sehingga problematika-problematika ini dapat diatasi dalam proses pembelajaran.
    Pertanyaa-pertanyaan ini alangkah baiknya jika didiskusikan antar sesama guru SD dengan dosen agar pertanyaan-pertanyaan ini dapat terjawab dan pembelajaran menjadi lebih optimal.
    Dalam hal ini diperlukan lesoon study agar problematika ini tidak menjadi penghambat dalam kemajuan pendidikan pada anak sekolah dasar. Dapatkah Bapak juga memposting tentang problematika pembelajaran matematika di SMP dan SMA?

    ReplyDelete
  47. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Dalam identifikasi masalah tersebut saya tertarik untuk menjawab nomer 15, yaitu “Apakah benar bahwa matematika adalah seni dan bagaimana sikap guru dalam pembelajaran matematika di SD?”
    Menurut saya matematika di SD memang lah sebuah seni. Seni adalah sebuah karya yang diciptakan manusia dan mewakili apa yang ada dalam dirinya. Matematika di tingkat SD adalah sesuatu yang dapat dipegang secara langsung oleh siswa. Sehingga dapat dikatakan bahwa matematika ditingkat SD adalah sebuah karya seni yang diciptakan oleh siswa secara langsung.
    Lalu bagaimana sikap guru dalam pembelajaran? Dalam pembelajaran guru harus mampu mematik kreatfitas siswa sehingga mampu menyalurkan kreatifitasnya dalam matematika. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi seorang guru.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  48. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Hakekat matematika ditingkat SD adalah beraktifitas. Sehingga siswa SD akan kesulitan jika dikenalkan dengan matematika formal, melainkan harus dikenalkan dengan matematika secara umum yang terdapat dalam kehidupannya secara langsung, yaitu dengan menggunakan pendekatan horizontal. Mereka tidak bisa dipaksa untuk mempelajari matematika secara formal, jika mereka dipaksa maka bisa saja siswa akan mendapat trauma dan untuk selanjutnya akan berpikir matematika itu sulit.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  49. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Untuk menghilangkan persepsi matematika yang susah pada anak SD maka perlu dilakukan pengenalan matematika yang baik. Siswa perlu dikenalkan dengan matematika melalui kegiatan yang menyenangkan bukan malah dengan matematika formal yang mereka anggap susah.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  50. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Postingan Prof. Marsigit ini menyadarkan pembaca bahwasanya masih ada banyak problematika dalam pembelajaran SD. Yang tercantum dalam postingan ini hanya beberapa diantaranya, namun seharusnya sudah cukup memmbuat pembaca baik guru maupun calob guru untuk memikirkan apa yang harus dilakukan, memikirkan solusi dari masalah masalah tersebut dan tentunya akan tidak menganggap mudah pelajaran SD dan menyepelekannya. Ada banyak PR, ada banyak pekerjaan, ada banyak tantangan. Dari sini kita menyadari banyaknya volume pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengoptimalkan pembelajaran di SD.

    ReplyDelete
  51. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Seperti yang telah uraikan pada artikel ini, banyak masalah dari pembelajaran matematika SD. Permasalahan-permasalahan tersebut menjadi renungan serta PR untuk calon guru SD yang kelak akan membimbing para siswa SD. Salah satu cara untuk mempersiapkan diri menjadi seorang guru yang profesional adalah mengidentifikasi masalah-masalah yang berkaitan dengan pembelajaran suatu mata pelajaran. Seorang guru harus selalu belajar untuk menjadi guru yang menyenangkan bagi siswa, sehingga apabila mereka senang dan nyaman maka pelajaran matematika akan mudah mereka terima dan pahami.

    ReplyDelete
  52. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Identifikasi persoalan pembelajaran matematika di sekolah dasar pada umumnya meliputi prestasi belajar matematika, pembelajaran matematika yang mampu membangun karakter siswa, mengajarkan konsep matematika dengan metode penemuan pada siswa sekolah dasar, persepsi siswa sekolah dasar terhadap matematika, membangun kreativitas siswa dalam belajar matematika, perbandingan pembelajaran matematika sekolah dasar di Indonesia dan di luar negeri.

    ReplyDelete
  53. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Hakekat matematika yang dipelajari di SD adalah untuk mengenalkan siswa SD kepada matematika sekaligus membuatnya tertarik dan memiliki persepsi bahwa matematika itu menarik, matematika itu mudah, matematika itu menyenangkan, matematika adalah mata pelajaran favorit, dan sebagainya. Untuk itu guru SD memiliki tugas yang berat dalam mengenalkan matematika pada siswa.

    ReplyDelete
  54. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Jika dari awal siswa sudah menganggap matematika sebagai "musuh", maka ke jenjang yang lebih tinggi SMP, SMA, tentu matematika akan selalu menjadi musuh bagi diri siswa tersebut, kecuali seiring berjalannya waktu, dalam diri siswa tersebut kemudian terbesit kesadaran akan kebutuhannya terhadap matematika sehingga menjadikannya menyukai matematika. Hal itu mungkin terjadi. Sehingga pembelajaran matematika di SD menjadi krusial karena menentukan pembelajaran matematika di jenjang selanjutnya.

    ReplyDelete
  55. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Pembelajaran matematika di SD haruslah menjadi pembelajaran yang menyenangkan bagi siswanya. Sehingga matematika tidak lagi dipandang sebagai momok yang menakutkan dan dihindari para siswanya. Pembelajaran Matematika di SD harus lebih menekankan kepada kegiatan dan partisipasi aktif siswa, buatlah situasai pembelajaran dimana siswa SD menjadi nyaman dalam belajarn matematika, lebih baik lagi apabila siswa SD tersebut tidak sadar kalau mereka sedang belajar matematika. Kegiatan-kegiatan menyenangkan yang dapat dilakukan bisa dalam bentuk permainan atau kegiatan lain yang dapat menstimulasi anak untuk menguasai pengetahuan matematika.

    ReplyDelete
  56. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Dari beberapa problematika pembelajaran matematika di SD, saya akan menjawab nomor 1 dan 3. Kedua pertanyaan tersebut hampir sama dan berhubungan. Matematika memiliki keterkaitan dengan pembentukan moral dan kepribadian siswa. Kita tahu bahwa pembelajaran matematika merupakan suatu aktifitas. Aktifitas mengenali masalah, menentukan cara menyelesaikan masalah dan menyelesaikan masalah. Dari aktifitas tersebut, siswa dapat belajar untuk peka terhadap masalah sekitar, sabar, teliti, pantang menyerah, mandiri, tanggung jawab, kerja sama, dan lain-lain.

    ReplyDelete
  57. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Saya tertarik pada poin ke-4 dari daftar problematika pembelajaran matematika SD yang dituliskan di atas. Poin ke-4 berbunyi "Bagaimana kita secara arif dan bijaksana menyikapi adanya sebagian guru atau siswa yang menghendaki cara-cara cepat atau trik dalam matematika?". Menurut saya, tidak masalah jika guru atau siswa menggunakan trik atau cara-cara cepat dalam menyelesaikan soal-soal matematika, tetapi dengan syarat guru harus menjelaskan terlebih dahulu kepada siswa dan siswa pun paham bagaimana cara semestinya yang harus ditempuh untuk menyelesaikan soal-soal tersebut. Menurut saya, cara-cara cepat atau trik dalam pelajaran matematika sebenarnya melatih kreatifitas seorang guru dalam mengolah rumus dasar yang ada. Selain itu, cara-cara cepat atau trik matematika ini mempunyai kesan tersendiri bagi anak terhadap pelajaran matematika. Mereka akan mempunyai kesan bahwa pelajaran matematika tidak sepenuhnya sulit, untuk kasus-kasus tertentu mereka dapat menggunakan trik atau cara-cara cepat dalam menyelesaikan soal matematika. Sehingga dengan trik tersebut mereka tidak memerlukan waktu yang lama untuk mengerjakan suatu soal. Jadi menurut saya, cara yang bijak dalam menyikapi trik atau cara-cara cepat dalam matematika adalah dengan menjelaskan terlebih dahulu bagaimana cara dasarnya kemudian baru menjelaskan dengan cara cepatnya.

    ReplyDelete
  58. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Matematika sekolah merupakan ranah yang sangat penting dalam perkembangan matematika anak kedepannya. Jika seorang anak matang dalam matematika sekolahnya maka kedepannya akan lebih mudah melenggang dalam mempelajari matematika tingkat lanjut. Oleh karena itu permasalahan-permasalahan yang terjadi pada matematika sekolah harus segera kita temukan jalan keluar atau solusi pemecahan masalahnya. Hal tersebut karena matematika merupakan suatu pelajaran yang sangat komprehensif terhadap kehidupan dan lifeskill yang akan menjadi modal anak di dalam menjalani kehidupan nantinya.

    ReplyDelete
  59. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Salah satu problematika terbesar pembelajaran matematika di SD yaitu reputasi pelajaran matematika yang selalu dianggap sebagai pelajaran yang sulit. Persepsi ini secara tidak langsung sudah tertanam dibenak masing-masing siswa bahwa matematika itu sulit bahkan sebelum mereka mengalami pembelajaraan tersebut. Anggapan bahwa matematika pelajaran yang sulit terkadang juga diperparah oleh beberapa kondisi seperti sikap guru selama pembelajaran berlangsung, sikap guru yang pemarah, tidak ramah, suka menghukum, ketika mengajar terlalu cepat dan monoton semakin meninggalkan kesan yang tidak menyenangkan bagi siswa. Untuk menghilangkan persepsi bahwa matematika adalah sulit, menurut saya guru harus berupaya membelajarkan matematika menjadi pembelajaran yang menyenangkan, misalkan dengan menerapkan inovasi-inovasi metode belajar yang berbeda yang disesuaikan dengan materi pelajaran, memanfaatkan penggunaan media pembelajaran, mengangkat dan memanfaatkan masalah menarik yang dekat dengan sehari-hari siswa dalam belajar matematika, menciptakan suasana belajar yang mendukung bagi siswa untuk aktif belajar serta aktif mengkonstruks pemahaman mereka, serta berusaha untuk ikhlas mengajar dan lebih sabar dalam menghadapi siswa dengan berbagai karakteristik.

    ReplyDelete
  60. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Saya akan menanggapi problematika pembelajran matematika di SD no.3 tentang apakah pembelajaran matematika mampu membawa nilai-nilai moral. Jawabannya adalah ya, pembelajran matematika di SD mampu membawa nilai-nilai moral. Contohnya pembelajaran operasi bilangan bulat positif khususnya pada bagian pembagian. Misal ada soal sebagai berikut: Budi memiliki 12 kelereng, ia akan membagikan kelereng tersebut kepada keempat temannya, berapakah kelereng yang diperoleh masing-masing teman Budi? Tentu saja jawabannya adalah tiga. Secara tidak langsung materi pembagian ini mengajarkan kepada anak bahwa dalam memberi atau berbagi kita harus adil. Kepada sesama teman tidak boleh ada yang dilebihkan atau dikurangi. Hal ini tercermin pada pembagian kelereng pada soal tersebut. Secara tidak langsung siswa berpikir bagaimana membagi 12 kelereng kepada 4 orang dengan maasing-masing mendapatkan jumah yang sama. Hal ini mengajarkan moral bahwa dalam berbuat baik kita dianjurkan untuk tidak pilih kasih atau membeda-bedakan antar teman.
    Selanjutnya saya akan menanggapi pertanyaan no.4 tentang bagaimana kita secara bijaksana menyikapi adanya sebagian guru atau siswa yang menghendaki cara-car cepat atau trik dalam matematika. Jawaban saya adalah tidak melarang tetapi tidak menganjurkan. Jika di dalam islam terdapat istilah makruh, maka trik cepat dalam pembelajaran matematika di SD adalah makruh hukumnya. Artinya boleh dikerjakan meskipun tidak dianjurkan, tetapi akan lebih baik jika tidak dilaksanakan. Hal ini karena hakekat pembelajaran matematika adalah proses siswa dalam membentuk ilmu pengetahuan matematikanya, bukan hanya bertumpu pada hasil. Sedangkan trik cepat hanyalah kegiatanyang bertujuan pada hasil saja tanpa melalui proses. Hal ini akan menyebabkan pembelajaran menjadi tidak bermakna.

    ReplyDelete
  61. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Saya tertarik dengan pertanyaan nomor 9: Bagaimana menfasilitasi adanya berbagai macam latar belakang dan kemampuan siswa dalam belajar matematika di SD? Keragaman kemampuan tidak hanya terjadi pada siswa-siswa SD, melainkan terjadi pula pada siswa SMP atau SMA. Untuk mengakomodasi perbedaan kemampuan tersebut, guru dapat membuat LKS yang bervariasi. Tingkat komprehensi masing-masing LKS dirancang berbeda. Selain itu guru dapat membuat kelompok-kelompok kecil saat pembelajaran, dimana kemampuan siswa-siswa dalam kelompok tersebut bervariasi. Siswa yang lebih pandai, akan menjadi tutor bagi sebayanya.

    ReplyDelete
  62. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Assalamu'alaikum wr wb
    Jika di bahas problematika pembelajaran matematika di SD taka kan pernah ada habis nya. Poin-poin yang bapak tuliskan telah menuliskan permasalahan secara umum di tingkat SD. Saya tertarik untuk membahas pertanyaan nomor 4. Menurut saya di Tingkat SD tidak perlu diajarkan trik-trik cepat, akan lebih baik jika pemahaman konsep lebih dalam diajarkan di tingkat SD. Tujuannya agar ingatan mereka akan konsep tersebut lebih melekat dan akan lama hilangnya.
    Dan saya juga tertarik untuk memberikan pendapat saya pada soal nomor 10, cara menerapkan PMRI pada materi pembagian, bisa digunakan dengan menggunakan permasalahan yang ada dikehidupan sehari-hari, misalnya saja dalam pembagian sebuah coklat atau kue, yang mana coklat atau kue tersebut akan dibagi menjadi beberapa bagian.

    ReplyDelete
  63. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami tertarik dengan pertanyaan bagaimana pandangan kita tentang prestasi belajar matematika di SD?
    Tentu saja hasil belajar siswa SD masih belum baik, masih banyak sekali anak yang merasakan kesulitan dalam belajar matematika karena pandangan siswa terhadap matematika masih merupakan “mata pelajaran sulit”. Hal yang menjadi kendala lagi adalah bahwa kurikulum sekarang pembelajaran SD yang tematik, terkadang guru kesulitan dalam memadukan materi matematika dengan materi tematik. Padahal dengan tematik harapannya adalah matematika dapat disampaikan dengan lebih menarik dan sangat dekat aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Siswa dapat beraktifitas matematis sesuai dengan tema, sehingga intuisi matematisnya bisa terbentuk sehingga mampu menyelesaikan masalah matematis dalam kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  64. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmu-ilmunya.
    Postingan ini telah membawa saya ke dalam ruangan di mana saya mulai mencocokan pertanyaan-pertanyaan pada postingan ini dengan kondisi senyatanya. Saya tertarik untuk menanggapi poin ke 4, yaitu “Bagaimana kita secara arif dan bijaksana menyikapi adanya sebagian guru atau siswa yang menghendaki cara-cara cepat atau trik dalam matematika?”
    Bukanlah ketertarikan yang muncul tiba-tiba. Entah mengapa, poin 3 ini membawa saya pada kondisi membingungkan kala SD dulu. Mohon ijin untuk sedikit bercerita. Kala itu hampir 50% teman-teman SD saya mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah dan mereka memperoleh bekal “trik cepat menjawab soal”. Jujur, kala itu saya menjadi benar-benar bingung. Saya ingin belajar seperti mereka tentang trik-trik cepat menjawab soal matematika. Tapi anehnya, penolakan juga muncul dari dalam diri saya. Beberapa saat saya masih terdiam untuk melihat lebih besar mana, apakah ketertarikanku apa penolakanku. Dan ternyata, hingga saat ini penolakanku lebih dominan. Dan jawaban akan kebingungan kala itu saya dapati belum lama ini, karena saya menjumpai beberapa anak-anak yang belajar matematika dengan trik cepat dan anak-anak yang belajar matematika menggunakan teknik biasanya. Saya melihat bahwa, anak-anak yang menggunakan trik cepat cenderung menjadi anak yang goal oriented tanpa memahami prosesnya. Walhasil, terkadang mereka kebingungan jika soal-soal yang dihadapi sedikit dimodifikasi. Bagi anak yang belajar telaten secara konvensional, mereka lebih paham. Paham prosesnya, tentu juga hasilnya, sehingga ketika dihadapkan pada soal-soal serupa yang mengalai sedikit modifikasi, kemungkinan besar mereka mampu melampauinya, karena mereka paham dengan konsepnya. Sekali lagi, ini hanyalah pengalaman pribadi saya. Terimakasih

    ReplyDelete
  65. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Saya akan mencoba memaparkan jawaban atas pertanyaan no. 9. Cara menghilangkan persepsi bahwa matematika adalah sulit. Awal persepsi bahwa matematika sulit adalah karena isu yang berkembang dimasyarakat seperti itu, jadi mindset siswa seperti sudah otomatis terprogram bahwa matematika adalah sulit. Untuk menghilangkan mindset tersebut, faktor utamanya dari guru yang mengajarakan matematika itu sendiri. Jadilah guru yang menyenangkan bagi siswa-siswanya dan berikan argumen yang positif bahwa tidak ada yang sulit dari matematika. Karena pengalaman saya sendiri seperti itu saat saya sedang PPL. Beberapa siswa mengatakan kepada saya bahwa jika belajar matematika dengan guru yang memberikan pemahaman bahwa matematika mudah dan gurunya menyenangkan (tidak bikin tegang), jadinya mudah, tetapi jika belajar matematikanya sama guru yang penyampaiannya kurang jelas dan membosankan, rasanya matematika sangat sulit. Selain itu jangan memberikan latihan soal terlalu banyak yang sekiranya dapat membebani siswa. Metode dan strategi yang digunakan hendaknya berfariasi sesuai dengan materi, fasilitas sekolah, dan keadaan kelas.

    ReplyDelete
  66. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Saya akan mencoba berpendapat tentang “Bagaimana menfasilitasi adanya berbagai macam latar belakang dan kemampuan siswa dalam belajar matematika di SD?”
    Tak bisa dipungkiri bahwa manusia diciptakan dengan segala macam perbedaan pada dirinya dengan orang lain. Begitu juga siswa SD di dalam kelas. Setiap siswa memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Ada siswa yang cepat dalam memahami matematika adapula yang kurang cepat. Untuk dapat memfasilitasinya guru hendaknya mempersiapkan lembar kerja siswa sendiri dan disesuaikan dengan kemampuan siswa. Misalnya siswa yang memiliki kemampuan lebih cepat untuk memahami materi dipersiapkan tambahan lembar kerja agar tidak merasa bosan ketika menunggu teman yang lain selesai. Selain itu, guru sekaligus memfasilitasi kelebihan siswa dalam rangka membantu mengembangkan bakatnya.
    Selain itu, pembelajaran yang dilakukan dengan melakukan kegiatan yang bervariasi agar siswa dapat bersemangat dalam belajar matematika sesuai keinginan mereka masing-masing.

    ReplyDelete
  67. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Satu pertanyaan yang menarik untuk saya adalah "Bagaimana menghilangkan persepsi bahwa matematika adalah sulit?"
    Dari zaman nenek moyang kita, matematika telah dianggap sangat sulit sehingga menjadi momok bagi banyak orang. Hal ini kemudian menjadi doktrin bagi banyak anak sehingga ketika ia menjadi siswa ia menemukan banyak kesulitan dalam pembelajaran matematika. Pada hakikatnya, belajar itu sulit. Sulit jika tidak menyenangkan. Sulit jika tidak difasilitasi dengan baik cara belajarnya. Sulit jika sudah dilabeli dengan kata "sulit" itu sendiri.
    Adalah tugas guru untuk menghilangkan semua doktrin itu. Matematika yang menyenangkan dapat dibangun guru di mulai dari SD, bahkan TK atau paud. Dimulai dari pengenalan angka hingga belajar perkalian dan pembagian akan terasa menyenangkan apabila guru membangun suasana kelas yang juga menyenangkan. Menyesuaikan metode mengajar dengan gaya belajar anak juga merupakan salah satu hal yang penting. Dunia anak adalah dunia bermain, maka akan baik jika guru mengajar matematika dengan permainan. Tentu guru perlu melakukan banyak usaha lebih untuk mempersiapkan pembelajaran, tetapi, semua usaha akan terbayar ketika siswa di kemudian hari berterimakasih pada guru karena telah membuat matematika menjadi menyenangkan sehingga mereka dapat belajar lebih baik di jenjang-jenjang pendidikan selanjutnya...

    ReplyDelete
  68. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof.

    Berdasarkan pengalaman saya, saya menjadi terfokus pada soal no.9.Bagaimana cara menghilangkan persepsi bahwa matematiak itu sulit?
    Betapa seringkali saya mendengar baik dari orang lain maupun teman saya sendiri yang memiliki persepsi yang negative terhadap matematika.Ada yang macam-macam.Ada yang mengatakan bahwa matematika itu momok yang menakutakan ,menyeramkan, menyulitkan dan lain sebagainya.Dan salah satu faktor in,i terjadi mungkin disebabkan karena mendengar dari persepsi umum dari orang-orang lain tanpa ingin mengenal lebih dalam lagi mengenai matematika.Untuk menghilang pendapat negatif tersebut, maka tugas kita perlu mengenalkan dan memberi pemahaman mengenai matematika.Belajar matematika tahap demi tahap dan harus sering-sering pembiasaan dan berlatih.Dari pembiasaan-pembiaasan tersebut lama-lama menjadi biasa.Karena kemistri itu hadri setelah kita terlibat di dalamnya.Makanya untuk mendapatkan kemistri itu libatkan diri kita di dalam matematika.

    ReplyDelete
  69. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Saya ingin memberikan tanggapan saya terhadap pertanyaan nomor 14, yaitu perbandingan antara pembelajaran matematika SD di luar negeri dan di Indonesia. Jika menoleh kebelakang, sebenarnya pembelajaran matematika di Indonesia banyak mengacu pada pembelajaran matematika yang telah berhasil di luar negeri. Seperti pendekatan kontekstual, problem based learning, discovery learning, ddl. Bahkan pendekatan saintifik yang diterapkan di dalam Kurikulum 2013 pun juga mengacu pada pembelajaran dari luar negeri. Namun dalam implementasinya, pembelajaran yang dianut dari luar tersebut belum disesuaikan secara penuh dengan karakteristik siswa di Indonesia. Selain itu, penerapannya juga cenderung setengah-setengah.

    ReplyDelete
  70. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan 4 yaitu “bagaimana kita secara arif dan bijaksana menyikapi adanya sebagian guru atau siswa yang mengehndaki cara-cara cepat atau trik dalam matematika?”. Menurut saya, saya setuju-setuju saja jika ada beberapa guru mengajarkan trik atau cara cepat dalam menyelesaikan soal. Tetapi perlu ada batasan mengenai penggunaanya. Saya sebagai guru sangat menjunjung tinggi bahwa guru harus mengajarkan konsep matematika kepada siswa dari yang dasar sampai yang tinggi, ketika siswa sudah dibekali dengan pemahaman konsep tersebut barulah guru bisa mengajarkan atau memberikan cara cepat dalam suatu penyelesaian soal. Batasan yang saya maksud sebelumnya adalah, misalkan ketika siswa mengikut ujian Nasional, dimana siswa hanya memiliki waktu yang terbatas untuk dapat menjawab soal yang banyak dengan benar. Pada saat seperti itulah cara cepat bisa digunakan. Mengapa demikian, karena dari pandangan saya Ujian Nasional hanya berfokus pada hasil/jawaban siswa bukan proses siswa dalam menemukan jawaban itu. Sampai saat ini itu menjadi hal yang dilematik dalam pendidikan kita.

    ReplyDelete
  71. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Selanjutnya saya akan menanggapi pertanyaan nomor 3, yaitu “apakah pembelajaran matematika mampu membawa nilai-nilai moral?”. Jawaban saya adalah mampu. Matematika memiliki keterkaitan dengan kehidupan kita sehari-hari. Sehingga matematika juga memiliki kandungan nilai-nilai moral. Guru dapat menyampaikan nilai-nilai miral yang ada pada materi mtematika memlalui pembeljaaran di kelas. Dengan nilai moral yaang ada dalam matematika, siswa dapat memahami bagaimana suatu hal berkaitan dengan perilaku benar dan yang salah. Dengan mempelajari matemtika, juga dapat dikembangkan sikap seperti, kejujuran, keadilan, kesabaran, pengendalian diri, dan kesederhanaan.

    ReplyDelete
  72. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Saya tertarik dengan pertanyaan nomor 11 tentang: Kreativitas apa saja yang diharapkan dari siswa SD dalam belajar matematika?. Dengan kerendahan hati izinkan saya untuk menanggapi pertanyaan tersebut. Menurut saya, hampir semua bentuk kreativitas memiliki unsur matematika yang dapat dibawa melalui pengalaman matematis anak. Saya jadi teringat dengan pandangan Kiran Bir Sethi terkait pendekatan Design for Change. Pendekatan Design for Change atau bepikir reka cipta memiliki empat langkah yaitu, merasakan-mengkhayalkan-mewujudkan-membagikan. Langkah-langkah tersebut dapat dikatakan sangat sederhana.

    Seperti salah satu contoh penerapan Design for Change adalah pada sekolah École Maternelle Saint Joseph Manyanet Yaoundé-Cameroun. Suatu hari di sekolah tersebut terdapat permasalahan bahwa anak-anak terbiasa bermain sepak bola menggunakan botol plastik. Semua merasakan bahaya akan permainan sepak bola menggunakan botol plastic tersebut karena akan berbahaya akan mengenakan mata anak-anak di sekitarnya. Setelah mendengar beberapa keluhan tersebut, kemudian guru mengumpulkan siswa dan berdiskusi mengenai solusi terhadap permasalahan tersebut. Setiap anak memiliki pendapatnya tersendiri untuk mencari solusi. Hingga pada akhirnya seluruhnya sepakat bahwa penggunaan botol untuk bermain bola disebabkan oleh tidak tersedianya bola di sekolahnya. Hingga pada akhirnya guru membimbing siswa untuk membuat bola yang didasari dengan rancangan penelitian tentang bahan apa yang sesuai digunakan untuk membuat bola. Setelah ditemukan bahan yang sesuai, yaitu plastik bekas dengan alasan dapat memantul dengan baik, akhirnya siswa dengan didampingi guru membuat bola yang akan digunakan untuk bermain bola sehingga tidak menggunakan botol lagi. Pengalaman tersebut dapat disimak dalam video pada youtube yang berjudul DFC2014 Cameroon: Having a BALL! https://www.youtube.com/watch?v=Rp4rKd3oc3s

    Bagi saya, segala bentuk kreativitas dapat dilandasi dengan berpikir matematis, hanya saja perlu didukung dengan konkretnya permasalahan dan pengalaman yang menjadi gerbong bagi pengalaman anak.

    ReplyDelete
  73. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.Mat B 2017

    Assalamu'alaikum wr.wb

    Disini saya ingin menjawab pertanyaan pada problematika no 4, yaitu bagaimana menyikapi guru/siswa yang menginginkan cara cepat dalam penyelesaian masalah matematika? saya setuju dengan cara cepat tersebut selama tidak menghilangkan atau mengaburkan konsep dari yang sedang di pelajari. tetapi jika cara cepat tersebut tidak berkaitan dengan konsep, maka saya kurang setuju, karena jika model soal diganti, maka siswa hanya akan menjadi kebingungan menerapkan rumus cepat tersebut dan juga tidak bisa mengerjakan nya secara manual.

    ReplyDelete
  74. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Prof. Saya pernah mengikuti kuliah umum tentang pendidikan matematika realistik dan salah satu hal yang dikatakan oleh pemateri bahwa sejak dini, seseorang harus dibiasakan menyelesaikan masalah karena salah satu tujuan matematika adalah mampu menggunakan aturan matematika dalam menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Berikan waktu sebesar-besarnya kepada anak untuk mengembangkan model mereka sendiri dalam menyelesaikan masalah. Masalahnya, kita masih sering dibatasi oleh waktu dengan target materi yang harus diselesaikan sehingga kita berusaha mencari cara cepat yang dapat berujung pada matinya kreativitas siswa.

    ReplyDelete
  75. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Hidup ini memang tidak terlepas dari masalah tergantung, sikap dan cara kita dalam menghadapi masalah tersebut. Problematika pembelajaran matematika di SD terjadi karena beberapa fakto bisa karena gurunya atau dari siswanya. Namun sebagai seorang pendidik lebih baik menginstrospeksi diri sendiri dari pada menyalahkan orang lain. Instrospeksinya dapat dengan guru untuk mempersiapkan pembelajaran dengan lebih baik lagi, mungkin saja pembelajaran kita belum sesuai dengan RPP yang telah disusun dengan baik, atau masih terdapat kekliruan dalam mengajar, atau kita belum mau mendiskusikan antar sesama guru SD.

    ReplyDelete
  76. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Dengan banyaknya problematika pembelajaran matematika di SD, hal ini tentu harus menjadi sebuah catatan bagi guru SD agar mempersiapkan pembelajaran dengan lebih baik lagi sehingga problematika-problematika ini dapat diatasi dalam proses pembelajaran. Pertanyaa-pertanyaan ini alangkah baiknya jika didiskusikan antar sesama guru SD dengan dosen agar pertanyaan-pertanyaan ini dapat terjawab dan pembelajaran menjadi lebih optimal. Dalam hal ini diperlukan lesoon study agar problematika ini tidak menjadi penghambat dalam kemajuan pendidikan pada anak sekolah dasar. pembelajaran matematika membentuk pribadi anak menurut saya berkaitan dengan matematika merupakan disiplin ilmu yang menggunakan pola pikir yang sistematis, sehingga dapat membentuk sikap disiplin siswa dan menanamkan cara menyelesaiakan masalah dengan pola pikir yang sistematis berkaiatan dengan analisis masalah. sehingga awal pembentukan jika dibiasakan akan menjadi karakter yang baik bagi anak. tidak hanya itu matematika juga mengajarkan siswa untuk kreatif dalam menyelesaikan masalah atau memecahkan maslah.

    ReplyDelete
  77. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    saya akan mencoba menjawab mengenai "Apakah perbedaan mendasar antara matematika sekolah dan matematika murni?". Dari apa yang sudah pernah saya baca, yang mebedakan antara keduanay adalah dari pola berpikirnya . Untuk pola berpikir matematika murni menggunakan pemikiran deduktif sedangakn matematika sekolah menggunakan pemikiran induktif, dimana pemikiran induktif ini digunakan pada saat proses pembelajaran didalam kelas. Dengan pemikiran induktif ini dapat menyesuaikan dengan tahap perkembangan intelektual siswa.

    ReplyDelete
  78. Pangestika Nur Afnia
    PEP B S2
    17701251037

    Saya akan mencoba menanggapi identifikasi problematika pembelajaran Matematika nomor 14 tentang bagaimana perbedaan matematika sekolah dasar di luar negeri dan di Indonesia. Dari apa yang saya ketahui, pembelajaran matematika sekolah dasar di Indonesia memaksa siswa-siswa yang berbeda potensi dan bakatnya untuk mempelajari hal yang sama dalam waktu yang sama dan harus memenuhi standar kompetensi nilai yang ditentukan. Sedangkan di London, misalnya, siswa-siswa yang berbeda potensi dan bakatnya di fasilitasi dan dibantu untuk mempelajarai matematika sesuai kemampuannya.

    ReplyDelete
  79. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Melihat pertanyaan-pertanyaan di atas memberikan gambaran bahwa ternyata tugas guru dalam mengajar matematika di SD tidaklah mudah, bahkan memberikan gambaran yang cukup sulit untuk diselesaikan. Namun disitulah seni keindahan menjadi seorang guru matematika khususnya di SD dimana sikaf, prilaku, dan cara berfikir mereka masih sangat perlu mendapat bimbingan yang cukup ekstra dari guru agar memiliki arah yang tepat di dalam mengembangkan kemampuan kognitif, atektif, dan psikomotornya.

    ReplyDelete
  80. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari beberapa problematika pembelajaran Matematika SD, pertama saya akan menanggapi pertanyaan nomor 1 dan 3, karena menurut saya kedua pertanyaan ini saling berkaitan. Pertanyaan nomor 1 adalah bagaimana pembelajaran matematika mempengaruhi kepribadian siswa di SD? Dan pertanyaan nomor 3 adalah apakah pembelajaran matematika mampu membawa nilai-nilai moral? Menurut saya pembelajaran Matematika di SD dapat membawa nilai-nilai moral sehingga akan membentuk kepribadian siswa. Seperti yang kita ketahui bahwa matematika SD merupakan pembelajaran yang berangkat dari kehidupan nyata yang melibatkan aktivitas-aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya pembelajaran yang demikian, maka guru dapat mengaitkan nilai-nilai moral kepada konteks pembelajaran matematika. Sehingga dengan tertanamnya nilai-nilai moral maka dapat membentuk kepribadian siswa.

    ReplyDelete
  81. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Selanjutnya, saya akan mencoba menanggapi pertanyaan nomor 4, yaitu bagaimana kita secara arif dan bijaksana menyikapi adanya sebagian guru atau siswa yang menghendaki cara-cara cepat atau trik dalam matematika? Menurut saya, boleh jika ada guru atau siswa yang menginginkan matematika diselesaikan dengan cara cepat atau dengan trik. Karena cara-cara cepat seperti ini terkadang dibutuhkan terutama dalam menyelesaikan soal-soal yang banyak dengan waktu yang sedikit seperti pada soal-soal UN atau SBMPTN. Dan juga penyelesaian soal-soal matematika dengan menggunakan trik justru menjadi suatu daya tarik tersendiri bagi siswa dalam mempelajari matematika, sehingga secara tidak langsung siswa menyenangi matematika dikarenakan trik ini.
    Namun, yang musti diingat terutama bagi guru adalah hendaknya siswa telebih dahulu diajarkan konsep dasar dari suatu materi. Dan jika siswa telah menduduki konsep tersebut, maka bukan menjadi suatu masalah jika siswa diajarkan cara cepat penyelesaian matematika.

    ReplyDelete
  82. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Saya penasaran ingin tau jawaban dari semua permasalahan Matematika SD tersebut. Matematika itu bukanlah Hal yang menakutkan jika pembelajarannya senantiasa berkaitan dengan keseharian. Sama halnya dengan filsafat. Pak Marsigit berhasil menghilangkan ketakutan Saya terhadap filsafat karena di sini Saya menemukan bahwa filsafat itu sangat berkaitan dgn kehidupan, keseharian. Bukan hanya ide ide semata, meski sampai saat ini pun masih banyak hal yang membingungkan.
    Sejak bangun tidur anak sudah Bermatematika... Jam berapa, masih punya waktu berapa menit untuk bersiap sampai waktu berangkat... Berapa banyak Kira Kira roti atau nasi yang mampu dihabiskan untuk sarapan.. berapa uang saku Hari ini, dst...
    Rasanya menyenangkan jika semua yang dipelajari itu ternyata bermanfaat dalam kehidupan.
    Tantangan masih besar untuk ini... Sebab masih banyak guru yg memberikan pelajaran Matematika orang dewasa dengan konsep konsep abstrak di dunia anak anak.

    ReplyDelete
  83. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Dalam pembelajaran hendaknya guru memberikan konsep dasar kepada siswa sehingga siswa paham dan bisa mengerjakan soal evaluasi. Adanya fenomena memberikan trik dan rumus cepat boleh-boleh saja, asal konsep dasar diberikan dulu sehingga pemahaman siswa kuat. Setelah siswa diberi konsep yang kuat sehingga siswa menjadi paham, mungkin siswa malah bisa diajak membuat sendiri rumus cepat. Karena dalam proses membuat rumus cepat dibutuhkan pemahaman secara mendalam terhadap materinya. Jadi bisa memicu kreativitas siswa.

    ReplyDelete
  84. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Saya ingin menambah satu pertanyaan tentang pembelajaran matematika di SD, yaitu terkait dengan bagaimana cara mengevaluasi atau mengukur keberhasilan pembelajaran di SD? Apakah sama dengan evaluasi pembelajaran matematika di jenjang yang lain? Atau adakah cara evaluasi lain yang lebih sesuai?

    ReplyDelete
  85. Junianto
    17709251065
    PM C

    Pembelajaran matematika sebenarnya bisa mempengaruhi kepribadian siswa itu sendiri. Ketika pembelajaran matematika dilakukan secara menyenangkan bagi siswa, maka siswa juga akan menyenangi matematika, begitu pula sebaliknya. Ketika guru mampu membawa siswa ke dalam dunianya maka siswa juga akan berpikir bahwa ternyata matematika itu bukanlah sesuatu yang asing bagi mereka.

    ReplyDelete
  86. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Berbicara mengenai problematika dirasa tidak akan pernah ada habisnya. Tidak hanya dalam tatanan sistem pendidikan, namun lebih dalam lagi pada matematika sekolah, yang pada postingan ini diulas mengenai matematika di tingkat SD. Beberapa permasalah sudah disampaikan di atas. Terkait dengan kepribadian dan moral siswa pada saat ini terjadi perbedaan yang signifikan dengan beberapa tahun yang lalu. Nilai-nilai moral siswa seyogyanya dapat diperbaiki tidak hanya melalui mata pelajaran matematika saja. Namun bisa juga melalui mata pelajaran lain yang bisa lebih dikaitkan antara materi dengan nilai moralnya. Prestasi belajar matematika siswa di SD sering dikaitkan dengan nilai ujian akhir atau nilai UN. Jika nilai UN mereka baik maka prestasi belajarnya baik. Padahal untuk mendapatkan nilai UN baik, terkadang guru memberikan cara cepat atau trik dalam menjawab soal sehingga untuk siswa yang belum memahami konsep materi dengan baik cenderung menghafal trik tersebut dan yang tertanam pada siswa tentu saja bukan konsep materi yang disampaikan ketika pembelajaran. Pentingnya pemahaman konsep inilah yang nantinya akan menjadikan bekal prior knowledge siswa untuk mempelajari materi selajutnya. Menurut saya, akan lebih baik jika metode penemuan diberikan pada siswa sejak SD karena dapat melatih siswa untuk lebih memahami konsep materi. Motode tersebut tentu saja dilakukan melalui aktivitas/ suatu kegiatan yang memusatkan pembelajaran pada siswa, karena matematika sekolah untuk anak SD merupakan suatu aktivitas yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari bukan pada matematika yang abstrak.

    ReplyDelete
  87. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan ke sembilan "Bagaimana menghilangkan persepsi bahwa matematika adalah sulit?" . Persepsi ini sangat sulit untuk dipecahkan sebab dari generasi ke generasi siswa selelu memiliki persepsi tersebut. Menurut saya persepsi tersebut muncul atau tidaknya tergantung pada sikap guru. Guru sangat berpengaruh didalam proses pembelajaran dan sangat berpengaruh terhadap minat dan motivasi belajar siswa. Padahal minat dan motivasi siswa dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Cara yang paling tepat adalah guru harus mempersiapkan sedemikian rupa sehingga pembelajaran menjadi menarik dan hal yang menurut siswa sulit dapat terpecahkan. Yang paling penting adalah rancangan pembelajaran yang dibuat dapat membentuk konsep matematika dan konsep dasar matematika dapat tertanam dibenak siswa. Sebab didalam matematika setiap konsep seling berhubungan dan berkesinambungan sehingga jika konsep dasar sudah tertanam untuk mencapai konsep-konsep selanjutnya akan lebih mudah. Selain itu, guru juga harus menfasilitasi yang menunjuang pembelajaran siswa dan harus menyadarkan siswa bahwa belajar matematika itu sangat penting serta menunjukkan bahwa dikehidupan kita sehari-hari pasti akan di hadapkan pada persoalan matematika.

    ReplyDelete
  88. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Problematika dalam pembelajaran memang tidak ada habisnya. Problem untuk mereka belum tentu problem untuk kami, problem untuk kami, belum tentu problem untuk mereka , oleh karean itu perlu diskusi untuk mencari solusi yang terbaik. Dari 16 problem yang di tulisankan dalam artikel diatas, kami mencoba menanggapi problem nomor 9 yakni bagaimana menghilangkan persepsi bahwa matematika sulit?. Hingga saat ini perseosi tentang matematika ajek dengan predikat “sulit”. Persepsi ini tidak boleh dibiarkan turun menurut sehingga menjadi mitos, Oleh karena itu untuk menghilangkan persepsi ini perlu bantuan dari guru untuk menerapkan pembelajaran matematika yang kontekstual yakni dalam proses pembelajaran siswa diajak untuk mengeksplore dan mengkomunikasikan materi pembelajaran matematika dengan pengetahuan yang telah dimiliki serta tujuan dari materi pelajaran matematika. Contohnya materi nilai uang kelas 2 SD pada kurikulum k13. Siswa akan lebih tertarik untuk belajar materi ini jika mereka diajak secara langsung untuk praktik seperti kegiatan jual beli sederhana di took ataupun pasar. Serta kekreatifan guru dalam menciptakan dan menggunakan alat peraga juga bisa menjadi salah satu solusi untuk mempermudah menyampaian materi. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  89. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Problematika pembelajaran matematika pada tingkat sekolah dasar sangatlah banyak dan kompleks. Pada artikel diatas diuraikan bebagai macam problematikan pembelajaran matematika pada tingkat sekolah dasar, akan saya coba menjawabnya secara subjektif menurut saya hasil dari sedikit pengalaman saya. Pembelajaran matematika khususnya pada sekolah dasar mempengaruhi hampir keseluruhan hidup siswanya kelak, khususnya cara berpikir, pola, logika, kreatifitas, dan sudut pandang. Saya kira prestasi belajar siswa sekolah dasar relatif hampir sama baik dari sekolah di desa hingga kota, yang membedakannya adalah budaya sosialnya, tetapi hal tersebut akan sangat mempengaruhi pendidikan dimasa depan.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  90. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Pembelajaran matematika di SD sering menjadi tolak ukur kedepannya. Karena ini merupakan ilmu dasar siswa yang akan sering digunakan untuk menerima ilmu pengetahuan dengan tingkatan yang lebih tinggi lagi. Problematika pun muncul seiring berkembangnya zaman. Kreativitas pembelajaran yang ditunut dalam pembelajra matematika di SD adalah bagaimana cara siswa itu belajar dengan mudah dan menyenangkan. Karena pada usia SD, siswa masih berfikir nyata dan belum bisa berimajinasi. Maka dari itu, guru dituntut untuk lebih berinovasi mewujudkan media pembelajaran yang akan mempermudah siswa memahami.

    ReplyDelete
  91. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Problematika yang saya cermati disini, saya fokuskan pada problematika nomor 1. Pembelajaran matematika dapat mempengaruhi kepribadian siswa SD. Jika kita sebagai guru SD hanya memberikan pelajaran matematika dengan penyelesaian yang singkat, maka akan mempengaruhi kepribadian siswa SD untuk selalu menyelesaikan sesuatu dengan singkat. Namun, jika dari kecil kita latih untuk tahap demi tahap menyelesaikan masalah yang ada, maka akan membuat kepribadian siswa untuk berlatih membuat sesuatu itu rapih dan tertata sesuai dengan aturan yang ada. Contoh sederhana adalah melatih kesabaran siswa untuk menyelesaikan permasalahan. Jika siswa dalam menyelesaikan permasalahan itu secara instan, maka ketika mendapatkan sesuatu yang kompleks, mereka akan cepat mudah menyerah dan tidak sabar menyelesaikannya. Namun, jika siswa dilatih dengan penyelesaian yang beruntut, maka mereka akan mencoba mencari tahu bagaimana menyelesaikannya dengan sabar. Hal ini akan melatih mereka untuk tidak mudah menyerah juga.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  92. Isoka Amanah Kurnia
    17709351051
    PPs Pend. Matematika C 2017

    Kreativitas yang diharapkan dari siswa dalam mempelajari matematika di tingkat SD dapat tertuang dalam kemampuan siswa memecahkan permasalahan dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk menyajikan hasil diskusi atau pikirannya ke dalam bentuk karya seni atau media kreativitas lainnya. Siswa SD lebih senang jika pembelajaran tidak berjalan dengan serius, melainkan dalam setting yang dapat dinikmati oleh siswa. Dengan memberikan permasalhaan yang open ended, siswa akan menuangkan kreativitasnya dalam mencari solusi permasalahan menurut pola pikir dan ide yang berbeda-beda.

    ReplyDelete
  93. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Problematika pembelajaran matematika di Sd adalah anak usia SD lebih membutuhkan permainan sambil belajar daripada sekadar untuk belajar karena tingkat stres yang dibebankan tidak boleh melebihi batas. Dan pembelajaran matematika harusnya lebih menyenangkan dan dikaitkan dengan dunia mereka, jangan dibebankan dengan hafalan-hafalan rumus, tetapi dihubungkan dengan kehidupan permainan anak usia SD.

    ReplyDelete
  94. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Ada beberapa perbedaan mendasar antara matematika dengan matematika sekolah mulai dari penyajiannya, pola pikirnya, keterbatasan semestanya hingga pada tingkat keabstrakannya. Materi-materi matematika yang disajikan di sekolah merupakan hasil pilihan materi yang diolah sedemikian rupa dan disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif siswa, serta diformulasikan sebagai salah satu sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikir (logis, kritis dan kreatif) bagi para siswa.

    ReplyDelete
  95. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Saya merasakan bahwa matematika sangat sulit dan kurang bermakna bagi kehidupan kecuali operasional dasar penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian yang sederhana. Pembelajarannya kurang menarik, dan menurut saya pelajaran matematika adalah pelajaran yang sulit. Seharusnya pembelajaran matematika di SD didesain sebagai pembelajaran yang mudah, menarik, berkaitan dengan kehidupan dan bermakna.
    Menurut saya perlu adanya diklat bagi guru-guru SD, karena SD adalah dasar dan melandasi anak untuk belajar di jenjang berikutnya.

    ReplyDelete
  96. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 7 Apa sebetulnya hakekat matematika yang dipelajari di SD? Menurut saya matematika yang dipelajari di Sekolah Dasar adalah matematika realistik, di mana siswa merasakan langsung matematika yang dapat mereka temukan dalam kehidupan nyata. Hal ini akan memberikan pengalaman tersendiri kepada siswa SD untuk memaknai matematika dan mengubah matematika yang empiris tersebut menjadi simbolisasi angka-angka dan simbol. Saat guru langsung memberikan simbol dan angka secara langsung tanpa memperlihatkan hal empiris terlebih dahulu, tentu saja hal tersebut akan membuat siswa langsung menganggap matematika susah, namun ketika diberikan contoh secara langsung maka siswa akan mengetahui dan memaknainya.

    ReplyDelete
  97. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Problematika pembelajaran di SD sangatlah beragam. Salah satu yang saya soroti adalah masalah nomor 3 yaitu bagaimana pembelajaran matematika membawa nilai moral. Nilai moral yang sangat banyak terkandung dalam matematika, adalah kejujuran. Penerapan konsep penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian seperti dalam soal cerita tentang memberi kelereng, menerima kue, membeli buku, dan sebagainya akan mengajarkan konsep kejujuran. Selain itu, konsep jual beli, untung rugi, diskon, gaji/upah, pajak, juga melibatkan matematika. Tidak dipungkiri matematika juga turut andil dalam mencegah budaya korupsi sejak dini.

    ReplyDelete
  98. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Apa sebetulnya hakekat matematika yang dipelajari di SD?
    Pembelajaran matematika di sekolah dasar adalah matematika sekolah bukan matematika abstrak. Oleh karena itu, diharapkan pembelajaran bersifat dekat dengan kenyataan di sekitar sehingga mereka mudah memahaminya. Keaktifan siswa diperlukan dalam pembelajaran ini, agar mereka menyukai pelajaran matematika. Selain itu, mereka juga akan bisa menemukan matematika dengan cara mereka sendiri, sehingga siswa bisa mengingatnya dalam jangka panjang.

    ReplyDelete
  99. Sebagai pendidik, bagaimana kita secara arif dan bijaksana menyikapi adanya sebagian guru atau siswa yang menghendaki cara-cara cepat atau trik dalam matematika? Kita harus luruskan kembali pemahaman mereka mengenai matematika, matematika bukanlah ilmu perdukunan. Akan tetapi, matematika melewati proses yang seharusnya dipahami sehingga dapat mengaplikasikannya untuk menyelesaikan masalah-masalah matematika.

    ReplyDelete
  100. Bagaimana menfasilitasi adanya berbagai macam latar belakang dan kemampuan siswa dalam belajar matematika di SD?
    Siswa pasti memiliki latar belakang pengetahuan yang berbeda-beda, hal ini dapat diketahui saat kita melakukan apersepsi. Nah, cara agar semua anak dapat mengikuti pembelajaran dengan baik adalah dengan menggunakan metode belajar berkelompok, misalnya saja TGT,STAD

    Bagaimana menerapkan pembelajaran PMRI di SD misalnya tentang Pembagian Pecahan?
    Pembelajaran di SD harus menggunakakan benda konkrit dan sesuai dengan masalah sehari-hari. Untuk pembelajaran materi pembagian pecahan bisa menggunakan pizza, roti ataupun coklat batang.

    ReplyDelete
  101. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    P Mat A

    Pembelajaran matematika di SD hakikatnya adalah kegiatan-kegiatan. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan Ebutt dan Straker yang menyatakan bahwa matematika sekolah merupakan kegiatan penelusuran pola dan hubungan, kegiatan problem solving, kegiatan mengkomunikasikan. Setiap kegiatan yang dilakukan siswa itulah dasar atau sumber utama pembentukan konsep matematika. Bahwa siswa SD akan lebih mudah memahami konsep matematika melalui pengalaman yang diperoleh dari kegiatan-kegiatan pembelajaran yang berlangsung.

    ReplyDelete
  102. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    P Mat A

    2. Pada kenyataannya hakikat matematika sekolah belum sepenuhnya dipahami untuk dilaksanakan. Bisa jadi beberapa guru sudah paham mengenai hakikat matematika sekolah, tetapi mereka terkendala dalam hal persiapan untuk melakukan aktivitas pembelajaran yang inovatif. Mengingat kegiatan inovatif ini memerlukan alat dan bahan juga tenaga dan pikiran yang tidak sedikit. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri tidak hanya bagi para guru matematika SD tetapi juga praktisi pendidikan secara umum. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama yang baik antara pemerintah, guru, kepala sekolah, orang tua, dan pemerhati pendidikan anak untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.

    ReplyDelete
  103. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Saya coba menanggapi problematika nomor 9. Bagaimana menghilangkan persepsi bahwa matematika adalah sulit?
    Sudah menjadi rahasia umum bahwasanya mateamtika itu “sulit” terkadang stigma di masyarakat tersebut menjadikan anak berpikiran negatif dengan matematika. Untuk itu, cara untuk menghilangkan persepsi tersebut adalah buatlah pembelajaran matematika menjadi menyenangkan dan lebih bermakna. Hal tersebut dapat diawali dengan membuat apersepsi yang dapat menarik perhatian siswa untuk belajar.

    ReplyDelete
  104. Junianto
    PM C

    Siswa akan berpikir bahwa matematika adalah dunia mereka. Sehingga, diharapkan siswa akan menyenangi matematika karena mereka sendiri mengalaminya. Kemudian guru juga harus bisa mengarahkan siswa tentang dunia mereka kaitannya dengan matematika. Jangan sampai keasyikan anak-anak dengan dunianya membuat mereka terlalu fokus sehingga melupakan materi matematika yang dipelajari. Disnilah pembelajaran bermakna terjadi. Harapnnya denga pembelajaran yang bermakna, pengetahuan yang dibangun sendiri oleh siswa akan melakat lebih lama dalam diri siswa.

    ReplyDelete
  105. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Para siswa memerlukan bimbingan guna mengembangkan kemampuan memahami pengetahuan baru. Bimbingan dapat dilakukan melalui instruksi lisan atau tulisan untuk memperlancar belajar suatu konsep atau hubungan-hubungan matematika agar pembelajaran penemuan terbimbing melibatkan aktivitas guru dan siswa secara maksimal. Siswa aktif melakukan penemuan dan guru aktif memberi bimbingan secara bertahap dan menciptakan lingkungan yang memungkinkan siswa melakukan proses penemuan. Pembelajaran penemuan mencakup penciptaan suasana lingkungan atau cara yang memungkinkan siswa melakukan penyelidikan dan menemukan sesuatu yang baru bagi mereka.

    ReplyDelete
  106. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Pertanyaan pertama yang saya soroti adalah no 4 tentang sebagian guru atau siswa yang menghendaki cara-cara cepat cepat atau trik dalam matematika. Menurut saya, ini tidaklah tepat diberikan kepada anak SD. Pembelajaran matematika di SD merupakan pembangunan pondamen atas matematika itu sendiri. Jika cara-cara cepat diberikan pada siswa SD maka akan terjadi keruntuhan pondamen saat pondamen itu sendiri belum berhasil dibangun. Terkadang guru memberikan cara-cara cepat kepada siswa dengan maksud agar matematika dipandang mudah sehingga siswa memiliki minat dan ketertarikan akan matematika, namun menurut saya ini bukanlah langkah bijak dalam menumbuh kembangkan minat siswa.

    ReplyDelete
  107. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Saya mencoba menangapi pertanyaan no.9 bagaimana menghilangkan persepsi bahwa matematika adalah sulit. Menurut saya, pondamen matematika baik itu pemahaman maupun persepsi terhadap matematika dibangun dari sekolah dasar. Maka pertanyaan yang tepat bukan tentang bagaimana menghilangkan persepsi bahwa matematika adalah sulit namun harus diganti menjadi ‘bagaimana membangun persepsi bahwa matematika itu mudah’. Menurut saya, tiadalah cara terbaik selain mengenalkan siswa dengan matematika itu sendiri. Siswa harus menyadari bahwa dalam kehidupan, mereka tidak akan pernah lepas dari matematika. maka pembelajaran matematika yang diberikan harus didukung dengan contoh real dalam kehidupan sehingga tumbuhnya student engagement terhadap matematika itu sendiri.

    ReplyDelete
  108. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan bagaimana menghilangkan persepsi pada siswa yang beranggapan bahwa matematika itu sulit. Pembelajaran matematika dianggap sulit oleh siswa SD karena pembelajaran matematika di sekolah yang kurang bermakna bagi siswa. Siswa belum terlibat aktif dalam rangkaian pembelajaran dalam menemukan konsep-konsep matematika. Padahal kemampuan matematika dasar yang diajarkan dalam tingkat SD menjadi dasar siswa untuk menguasai materi-materi berikutnya di jenjang yang lebih tinggi. Penggunaan media yang interaktif, penerapan model pembelajaran yang efektif, dan ketersediaan sumber-sumber belajar yang variatif adalah upaya untuk menghilangkan persepsi kurang baik siswa terhadap matematika.

    ReplyDelete
  109. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Pembelajaran matematika bagi siswa sekolah dasar ialah pembelajaran berbasis aktivitas. Maka untuk membawa nilai-nilai moral dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar, guru dapat menyisipkannya dalam aktivitas-aktivitas siwa. Misalnya ketika belajar tentang pengurangan guru dapat meminta siswa membawa permen sejumlah sekian kemudian siswa memberikan permen yang dimilikinya kepada temannya. Maka secara tidak langsung siswa akan belajar tentang saling berbagi dan memberi.

    ReplyDelete
  110. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Untuk menghilangkan persepsi pada siswa bahwa Matematika sulit, harus dimulai dari diri guru. Salah satu caranya yaitu guru harus mengubah paradigma pembelajaran tradisional ke paradigma pembelajaran inovatif. Pada paradigma tradisional pembelajaran Matematika di sekolah cenderung ditekankan pada penyampaian pengetahuan dan materi yang banyak, serta terdapat tuntutan waktu untuk menyelesaikan materi pembelajaran tersebut dengan cepat. Guru tidak mempedulikan apakah siswa tersebut benar-benar mendalami atau paham terhadap materi yang dipelajari.

    ReplyDelete

  111. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Salah satu indikator belajar yaitu munculnya pertanyaan lalu dilakukan kajian-kajian untuk menyelesaikan permasalahan. Adanya pertanyaan-pertanyaan tentang problematika yang dialami oleh pendidik pada jenjang SD ini akan memberikan kesempatan bagi peneliti untuk mengkaji lebih dalam dalam upaya menemukan solusi. Harapannya dengan adanya upaya ini, pendidikan dari mulai tingkatan paling dasar dapat memiliki kualitas yang lebih baik.

    ReplyDelete
  112. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. Pembelajaran matematika di SD menurut saya merupakan pembahasan yang menarik. Kebanyakan jika siswa SD ditanya mata pelajaran apa yang paling meresa senangi, maka akan dijawab matematika. namun jika siswa SMP atau SMA ditanya mata pelajaran yang disenangi rata-rata tidak menjawab matematika dan menggangap matematika sebagai pelajaran yang tidak disukai. Saya binggung dengan fenomena tersbut.
    Siswa SD masih menyukai bermain dan belum bisa berpikir secara abstrak, menurut saya untuk membantu siswa SD belajar matematika guru perlu memanfaatkan pangalaman sehari-hari siswa. Guru perlu memanfaatkan media permainan yang biasa dilakukan siswa dengan mengkombinasikannya dengan pembelajaran matematika.

    ReplyDelete
  113. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Banyak sekali problem pembelajran matematika yang terjadi di SD. Problem tersebut harus dipecahkan oleh kita semua, karena pembelajran matematika merupakan pembelajaran yang penting untuk siswa. Dengan adanya pengidentifikasian masalah tersebut, kita mnjadi aware akan masalah yang terjadi. Maka dari itu kita perlu menjadi bagian dari solusi pembelajaran matematika.

    ReplyDelete
  114. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Salah satu identifikasi problematika pembelajaran matematika di SD ada pada point ke 9 terkait pertanyaan bagaimana menghilangkan persepsi bahwa matematika itu sulit? Menurut saya saya persepsi matematika adalah sulit itu dikarenakan gurunya juga, anak mengatakan demikian karena dia tertekan, guru yang mengajar mungkin dirasa galak atau sadis atau menakutkan, sehingga dengan seperti itu anak akan takut dengan gurunya sehingga dia malas dengan matematika dan menyatakan matematika itu sulit. Agar persepsi sulit itu dapat dihilangkan, mulailah mengajar tanpa muka seram, buatlah siswa senyaman mungkin, sebahagia mungkin dengan belajar matematika, dengan demikian siswa akan menyukai gurunya dan bersemangat dengan matematika.

    ReplyDelete
  115. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Problematika pembelajaran di SD memang sangat beragam, dan apa yang bapak paparkan di atas mungkin menjadi gambaran umum dari identifikasi-identifikasi permasalahannya. Dari 16 identifikasi di atas, saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 11 terkait “Kreativitas apa saja yang diharapkan dari siswa SD dalam belajar matematika?”. Kreativitas yang diharapkan melalui pembelajaran matematika adalah kemampuan siswa dalam pemecahan masalah menjadi berkembang, mereka dapat memikirkan berbagai alternatif jawaban untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Dengan belajar matematika juga diharapkan siswa dapat berpikir “out of the box” dan dapat mengimplementasikannya bukan hanya dalam pembelajaran saja, melainkan dalam kehidupan sehari-hari juga.

    ReplyDelete
  116. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Untuk pertanyaan no 12 terkait “Apakah perbedaan mendasar antara matematika sekolah dan matematika murni?”, perbedaan mendasarnya ada pada materi matematikanya dan penyampaian materi. Matematika murni merupakan matematika formal yaitu matematika yang berisi definisi, teorema atau aksioma-aksioma harus dibuktikan kebenarannya. Sedangkan matematika sekolah adalah matematika informal yaitu matematika yang mengarah pada kejelasan materi atau matematika yang semudah mungkin dapat diterima oleh peserta didik. Penyampaian materi pada matematika sekolah dan matematika murni juga berbeda. Pada matematika sekolah, penyampaian materi tidak seabstrak dan tidak menggunakan bahasa matematis seperti di matematika murni. Terutama bagi anak-anak, matematikanya yang mengarah pada kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  117. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Untuk pertanyaan no 14 yaitu “Bagaimana perbandingan antara pembelajaran matematika SD di Luar Negeri dan di Indonesia?”, saya rasa pembelajaran matematika sd di Indonesia lebih menekankan pada keterampilan berhitung sedangkan di negara-negara seperti amerika, jerman atau finlandia lebih menekankan pada penalaran dan logika. Bahkan di Finlandia, anak-anak pada awal-awal tingkat sekolah lebih banyak dibebaskan daripada hanya duduk diam di kelas. Mereka lebih mementingkan kualitas pembelajaran daripada lamanya waktu pembelajaran. Berbeda dengan di Indonesia yang bahkan sempat marak akan diberlakukan full day school bagi siswa sekolah dasar. Di Finlandia pada tingkat awal, siswa benar-benar dibentuk mentalnya dengan pendidikan karakter bahkan ujian seperti UN di Indonesia tidak ada selama 9 tahun pembelajaran di sana.

    ReplyDelete
  118. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Saya ingin mencoba menanggapi pertanyaan yang berkaitan dengan “Bagaimana menfasilitasi adanya berbagai macam latar belakang dan kemampuan siswa dalam belajar matematika di SD?”. Dalam pembelajaran inovatif, guru hanya bertindak sebagai fasilitator, fasilitator yang menyediakan intrumen pembalajaran yang mampu memfasilitasi semua siswanya belajar tanpa terkecuali. Siswa sebagai kodratnya manusia pasti memiliki latar belakang dan kemampuan berpikir yang berbeda-beda, maka tugas gurulah untuk membuat pbm yang mampu semua siswa itu belajar namun sesuai dengan potensinya masing-masing. Seperti yang telah diungkapkan pada postingan-postingan sebelumnya, cara untuk mengatasinya adalah guru perlu menyediakan variasi, dan salah satu variasi yang dapat guru lakukan adalah membuat variasi LKS, guru membuat LKS sesuai dengan kemampuan siswanya sehingga siswa yang memiliki kemampuan tinggi dapat belajar sendiri tanpa harus menunggu siswa yang memiliki kemampuan rendah.
    Wassalamualaikum, wr.wb

    ReplyDelete
  119. Assalamualaikum, wr.wb.
    Perbedaan antara matematika sekolah dan matematika murni sudahlah cukup jelas yaitu matematika sekolah adalah matematika yang berdasarkan pada pengalaman/aktivitas siswa membangun pengetahuan dan belajar dari masalah nyata yang sesuai dengan dunia anak-anak. Sedangkan matematika murni adalah matematika yang berdasarkan definisi, teorema dan rumus, dan masalanya adalah masalah yang sudah abstrak. Oleh karena itu paradigma matematika murni tidak boleh dibawa oleh guru ke dalam matematika sekolah.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  120. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Saya mencoba menanggapi pertanyaan nomor 7 terkait tentang hakikat matematika yang dipelajari di SD. Pada hakikatnya, matematika yang dpelajari di SD adalah suatu aktivitas atau kegiatan. Matematika bukanlah mata pelajaran yang mudah bagi siswa. karena ia bersifat abstrak dan sessuatu yang abstrak bagi anak SD bukanlah hal mudah untuk bisa dipahami oleh siswa, seperti rumus-rumus yang ada dalam matematika. Oleh karena itu diperlukan suatu aktivitas yang sesuai dengan dunia mereka, yaitu dunia anak-anak untuk mmbangun pengetahuan dan menanamkan konsep bagi siswa.

    ReplyDelete
  121. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Selanjutnya, menanggapi pertanyaan nomor 12 terkait tentang perbedaan matematika sekolah dengan matematika murni. Perbedaan mendasar yang menjadi pembedanya adalah pola pikirnya. Pola pikir matematika murni adalah deduktif. Berpikir dari sesuatu yang umum ke yang khusus. Walaupun menemukan suatu teorema secara induktif, maka tetap harus kemudian dibuktikan kebenarannya secara deduktif sesuai dengan sistematikanya. Berbeda halnya dengan matematika sekolah, matematika bagi anak seharusnya menyesuaikan dengan perkembangan kognitifnya. Artinya materi matematika dipilih dan disesuaikan dengan kemampuan berpikir anak.

    ReplyDelete
  122. Pembelajaran matematika di SD sudah seharusnya mengangkat sesuatu hal yang kongkrit dalam kehidupan sehari-hari mereka, sehingga pengetahuan informal mereka itu akan lebih mudah membuat mereka mengerti bahwa dalam kehidupan mereka itulah matematika diangkat, menjadi sesuatu yang lebih abstrak dalam matematika.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  123. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Dari sekian banyak Problem Belajar Matematika di Sekolah Dasar diatas, ada beberapa yang menarik perhatian saya. yaitu masalah kedua dan kesembilan, "bagaimana pandangan kita tentang prestasi matematika di sekolah dasar?" dan "bagaimana menyingkirkan persepsi bahwa matematika itu sulit?"
    Masalah pertama (Opini saya terkait problem kedua)
    Menurut saya, prestasi matematika di sekolah dasar di Indonesia masih dalam 'tingkat rendah'. Ok, memang ada beberapa siswa Indonesia yang sukses di olimpiade Matematika, bahkan di tingkat Internasional. Tapi, apakah siswa di indonesia hanya mereka? hanya mereka? Tidak. Kita tidak bisa menutup mata dan telinga kita karena nyatanya banyak anak di Indonesia masih mengalami kesulitan dalam matematika, dan bahkan sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak anak yang tidak ingin belajar matematika.
    definisi prestasi belajar (prestasi belajar) adalah hasil usaha pembelajaran yang menunjukkan ukuran kemampuan berprestasi dalam bentuk nilai. Namun, jika nilai yang didapat dari hasil kecurangan, apakah masih bisa disebut prestasi belajar? saya tidak berpikir begitu. Saya lebih suka mengatakan bahwa prestasi belajar adalah keberhasilan proses belajar daripada nilai yang kita dapatkan dari proses belajar. Sebab bila kita memiliki yang baik / sukses dalam proses belajar, kita bisa mendapatkan hasil yang baik / nilai bagus juga. Tapi bila kita memiliki / mendapat nilai bagus, itu tidak harus menyebabkan kita memiliki proses belajar yang baik, itu juga bisa menyebabkan kecurangan (saya tidak bermaksud untuk berprasangka, tapi itu fakta yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari). Oleh karena itu, saya mengatakan bahwa prestasi belajar matematika di Indonesia masih dalam 'tingkat rendah'.

    ReplyDelete
  124. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017


    Masalah kedua (Opini saya terkait Problem ke 9)
    Berbeda dengan anak-anak sekolah dasar di negara lain, anak-anak sekolah dasar di Indonesia cenderung takut dan membenci matematika. Lantas, bagaimana cara menyingkirkan persepsi bahwa matematika itu sulit? Daripada meminta anak-anak untuk menghafal bahwa 1/2 lebih besar dari 1/4 dan 1/4 lebih besar dari 1/5, lebih baik jika kita mendemonstrasikannya dengan benda nyata. Seperti kita memotong pai, apel atau makanan lainnya menjadi dua bagian, empat, lima dan seterusnya, setelah itu kita bertanya "mana yang lebih besar? Yang mana yang terbesar?" Melalui pengalaman itu, anak akan lebih mudah memahami materi. Saya pikir mulai dengan menjelaskan matematika dengan cara mudah seperti itu bisa membantu siswa untuk menyukai matematika. Perlahan, perasaan bahwa matematika itu menakutkan dan sulit bisa lenyap dari pikiran anak-anak / pelajar.

    ReplyDelete
  125. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Menaggapi pertanyaan bagaimana pembelajaran matematika mempengaruhi kepribadian siswa di SD? saya ingin sekedar berbagi pengalaman yang saya dapatkan di asrama. siswa SD pada zaman sekarang telah jauh bergeser dibandingkan angkatan atasnya. Mereka telah mengenal media sosial yang bahkan merke belum bisa memanfaakannya dengan baik, mereka telah mengenal lawan jenis dan merasakan perasaan suka kepada lawan jenisnya. wallahu a'lam

    ReplyDelete
  126. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Problematika siswa SD saat ini dapat ditinjau dari segi materi, metode, siswanya sendiri, teman serta lingkungan pergaulan mereka. Kehidupan yang semain memberikan akses untuk berkembang dengan mudah justru disalahgunakan sehingga menjadi boomerang dan justru menjadian moral kita marut-marut. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  127. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Seperti yang kita ketahui, SD merupakan tempat melandasakan ilmu pengetahuan formal kepada anak. Pondasi awal ilmu dibangun dari sekolah Dasar. Menurut Mansur (2007), tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, penegtahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Salah satu komponen untuk mencapai tujuan tersebut adalah pembelajaran matematika tingkat sekolah dasar. Sehingga perang pendidik sangat penting dalam membelajarkan materi. Ia adalah penentu sukses kedepannya anak mengkonstruksi pengetahuannya, apakah sudah sesuai dengan konsep yang seharusnya atau belum. Hal itu juga merupakan salah satu problematika pembelajaran matematika di SD yang perlu dipikirkan.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  128. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Hakekat matematika di SD. Setiap individu memiliki keunikan masing-masing, sehingga pada dasarnya tidak ada individu yang sama. Keunikan tersebut di antaranya dapat dilihat dari bentuk fisik, minat, bakat, kepribadian, keinginan, tanggung jawab, kemampuan, pengalaman, kebiasaan, dan cara berpikir. Siswa Sekolah Dasar merupakan individu dengan segala keunikan yang dimilikinya. Seorang guru hendaknya juga senantiasa memperhatikan dan mempertimbangkan segala perbedaan karakteristik yang ada pada siswanya, karena hal tersebut merupakan faktor yang menentukan keberhasilan siswa dalam belajar, khususnya belajar matematika.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  129. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Matematika dapat membawa nilai-nilai moral dalam pendidikan sekolah dasar. Nilai-nilai moral dalam pendidikan matematika sekolah dasar itu dapat terlihat pada saat proses pembelajaran, pada proses penilaian atau bahkan dapat dilihat dari sikap siswa terhadap guru. dengan belajar matematika diharapkan siswa dapat memiliki sikap disiplin, telitih dan mampu memecahkan masalah sendiri dalam artian mandiri dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  130. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Problematika dalam pembelajaran selalu muncul di setiap jenjang, termasuk di Sekolah Dasar. Malahan menurut saya, problem yang muncul di SD sering kali menjadi dasar untuk menjadi problem di sekolah lanjutan. JIka dari dasarnya sudah muncul masalah, maka biasanya masalah akan terus berlanjut tanpa adanya penyelesaian. Di sinilah perlunya peran guru dan orang tua dalam memahami dan mangatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapai siswa SD. Dengan adanya pemahaman sejak awal, diharapkan nantinya siswa-siswa SD dapat lebih kuat pondasinya untuk lanjut pada pembelajaran matematika yang lebih tinggi lagi. Begitu juga dengan proses pembelajarannya sendiri, sedapat mungkin menggunakan metode dan pendekatan yang tepat agar terlaksananya sebuat pembelajaran yang menyenangkan namun efektif bagi siswa SD. Untuk para guru, saya rasa diperlukan ekstra kesabaran dalam menghadapi siswa SD yang sering kali masih bersifat kekanakan dalam pertingkah laku dan berprilaku.

    ReplyDelete
  131. Yolanda Lourenzia Tanikwele
    15301241033
    S1- Pendidikan matematika A 2015

    Problematika atau permasalahan pasti muncul dalam hal apapun. Begitu juga dalam pendidikan, pada setiap jenjang pendidikan pasti terdapat problematika yang ada. Menurut saya, problematika dalam pemebalajaran matematika di SD adalah bagaimana mengajarakan matematika kepada anak SD sesuai dengan tingkat berpikirnya sehingga pembelajaran menyenangkan dan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Pembelajaran yang membantu siswa untuk mempelajari matematika di SD adalah pembelajaran dengan menggunakan benda-benda konkrit dan permasalahn-permasalahan nya yang dekat dengan kehidupan anak-anak.

    ReplyDelete
  132. Siti Nur Fatimah
    15301241045
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Problematika dalam pembelajaran memang tidak ada habisnya, teutama dalam pembelajaran matematika. Dari berbagai problematika diatas, menurut saya poin yang paling penting poin 6 yaitu Bagaimana guru mampu memfasilitasi agar siswa mampu belajar matematika dengan baik khususnya dalam mengembangkan kemampuan matematika (mathematical thinking)?. Hal ini sangat krusial terkait bagaiaman guru mengajarkan matematika sesuai dengan kemampuan anak-anak sehingga mereka akan dengan mudah menerimanya sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai. Menurut saya salah satu cara mengajarkan matematika pada anak-anak adalah dengan cara mengaitkan pada hal-hal yang konkret yang dekat dengan kehidupan mereka.

    ReplyDelete
  133. Finda Ayu Annisa
    15301241024
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Problematika pembelajaran matematika pasti tidak akan ada habisnya. Terlebih lagi bagi anak SD. Namun problematika pembelajaran matematika di SD adalah bagaimana menghilangkan persepsi bahwa matematika adalah sulit. Tentu hal ini banyak ditanyakan oleh para guru SD. Mungkin menurut pendapat saya, cara menghilangkan persepsi bahwa matematika itu sulit bagi anak SD adalah dengan cara kegiatan pembelajaran dengan menggunakan benda-benda yang konkrit yang berada di sekitar kehidupan anak dan guru harus pandai berfikir kreatif dan inovatif agar anak SD tidak bosan dalam mengikuti pembelajaran matematika di kelas. Sehingga matematika sulit bagi anak SD dapat dihilangkan.
    Terimakasih

    ReplyDelete
  134. Raudhah Nur Pratiwi (15301244009)
    S1- Pend. Matematika A 2015

    Saya tertarik untuk menanggapi problematika nomor 9. “Bagaimana menghilangkan persepsi bahwa matematika adalah sulit?”
    Bukan hal baru lagi jika matematika dianggap sulit oleh semua kalangan, tak terkecuali oleh siswa SD. Menurut saya, anggapan tersebut disebabkan oleh pembelajaran matematika yang begitu-begitu saja alias tidak inovatif. Kebanyakan pembelajaran dilakukan dengan teacher centered dimana guru menjadi pusat pembelajaran. Siswa hanya memperhatikan penjelasan guru. Pembelajaran tersebut tentulah membosankan bagi siswa. Belum lagi jika gurunya bersifat otoriter, siswa akan semakin menganggao bahwa matematika itu sulit bahkan menakutkan.
    Oleh karena itu, dibutuhkan pembelajaran yang inovatif. Di mana pembelajaran menjadikan siswa sebagai pusat pembelajaran (student center), guru hanya memfasilitasi siswa dalam pembelajaran. Siswa membangun konsep matematika secara mandiri berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya, dan guru hanya memfasilitasi kegiatan siswa. Konsep juga disajikan berdasarkan pengalaman yang siswa temui dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga siswa dapat betul-betul merasakan makna dari konsep matematika.

    ReplyDelete
  135. Alfiani Indah P S
    15301241027
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Salah satu problematika belajar matematika yang tidak pernah ada habisnya dan terjadi pada semua jenjang pendidikan adalah "matematika itu sulit". Anggapan bahwa Matematika itu sulit akan berpengaruh pada motivasi, semangat belajar, rasa cemas, dan rasa percaya diri siswa dalam belajar matematika. Cara mengurangi problematika ini juga telah banyak diteliti. Meskipun tidak ada cara yang dapat menghilangkan persepsi ini dengan total, terdapat banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi problematika ini. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan masalah kontekstual, pendekatan saintifik, dan lain-lain. Guru juga lebih baik menggunakan alat peraga maupun media yang menarik untuk mendukung proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  136. Norma Galih Sumadi
    15301241038
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Jika membahas mengenai problematika pendidikan tentu tidak akan ada habisnya. Dari beberapa problematika yang terdapat pada artikel diatas, saya tertarik mengenai perbedaan mendasar antara matematika sekolah dan matematika murni. Dari pemahaman saya, perbedaan yang mendasari matematika sekolah dan matematika murni terletak pada pola pikirnya. Matematika murni mempelajari matematika secara konseptual sesuai dengan konsep nyatanya, sehingga pola pikirnya pun harus deduktif. Sedangkan matematika sekolah ditujukan bagi siswa-siswa yang masih menempuh pendidikan di sekolah, sehingga pelaksanaannya dilakukan secara bertahap sesuai dengan tahap perkembangan kognitif yang sedang dialami oleh siswa. Pada matematika sekolah, masih diperkenankan penggunaan pola pikir induktif (berdasarkan pengamatan).

    ReplyDelete
  137. Alman Kresna Aji
    15301241022
    S1 Pendidikan Matematika 2015
    Terima kasih prof, dengan adanya identifikasi permasalahan ini memberikan gambaran terkait permasalahan-permasalahan apa saja yang sekiranya muncul dalam pelaksanaan pembelajaran matematika SD. Dengan adanya identifikasi permasalahan tersebut, kami selaku calon pendidik mampu mempunyai gambaran pelaksanaan pendidikan serta mampu mempersiapkan suatu cara ketika permasalahan tersebut muncul. Akan tetapi, hal yang perlu diperhatikan bahwa matematika anak SD belum masuk pada matematika abstrak sehingga perlu adanya keterhubungan antara matematika dengan pengalaman anak.

    ReplyDelete
  138. Monica Ansella
    15301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Dari 16 pertanyaan yang dimunculkan dalam artikel di atas, saya ingin mengungkapkan gagasan saya mengenai pertanyaan nomor 3, yaitu “Apakah pembelajaran matematika mampu membawa nilai-nilai moral?”
    Jawaban saya untuk pertanyaan ini adalah ya. Pembelajaran matematika saya pandang mampu membawa nilai-nilai moral dengan proses pembelajaran itu sendiri. Saat mengawali pembelajaran, siswa diajak berdoa, itu sudah mengajarkan nilai keagamaan. Dalam pembelajaran, ketika ada kerja kelompok, siswa berarti harus berinteraksi dengan teman-temannya, itu sudah mengajarkan nilai sosial, yaitu kerja sama. Setelah berdiskusi, biasanya diadakan sharing mengenai hasil yang diperoleh, itu sudah mengajarkan nilai toleransi, tepatnya toleransi untuk menghargai pendapat orang lain. Di luar dari apa yang sudah saya ungkapkan, masih banyak lagi nilai-nilai moral yang dibawa dalam pembelajaran matematika, contohnya nilai kejujuran, nilai tanggung jawab, nilai kepercayaan diri, dsb.

    ReplyDelete
  139. Eka Susanti
    NIM. 15301241006
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Saya akan mengungkapkan pendapat saya untuk jawaban nomer 8 mengenai Bagaimana menfasilitasi adanya berbagai macam latar belakang dan kemampuan siswa dalam belajar matematika di SD? Prof Marsigit pernah mengatakan bahwa cara untuk memfasilitasinya adalah dengan menggunkana berbagai macam metode inovatif yang nantinya dapat memfasillitasi berbagai latar belakang. Metode yang inovatif mampu membuat anak tidak bosan dan sedikit demi sedikit mengubah persepsi siswa bahwa matematika itu menyenangkan

    ReplyDelete
  140. Okta Islamiati
    15301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2105

    PAda poin 6, tentang "Bagaimana guru mampu memfasilitasi agar siswa mampu belajar matematika dengan baik khususnya dalam mengembangkan kemampuan matematika (mathematical thinking)?" salah satunya dengan mempertajam kemampuan literasi siswa. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode dan strategi dalam mengajar. Pendidik dapat menggunakan lks yang yang bertujuan untuk meningkatkan komunikasi matematis siswa. Selain itu, memberikan soal-soal open ended juga sangat diperlukan.

    ReplyDelete
  141. Ibnu Rafi
    14301241053
    S1 Pendidikan Matematika Kelas I 2014

    Pembelajaran matematika di SD tentunya tidak bisa lepas dari segala permasalahan yang ada. Beberapa permasalah tersebut menyangkut bagaimana peran guru dalam memfasilitasi siswa untuk memiliki kepribadian dan moral yang baik ataupun peran guru dalam memfasilitasi siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir matematis siswa. Guru belum sepenuhnya memfasilitasi siswa untuk mengembangkan hal itu semua. Oleh karena, diperlukan kerjasama dan kesadaran dari semua pihak (baik guru, kepala sekolah, maupun pemerintah) untuk meminimalisir dan mengatasi problematika tersebut.

    ReplyDelete
  142. Ibnu Rafi
    14301241053
    S1 Pendidikan Matematika Kelas I 2014

    Saya ingin mencoba menjawab pertanyaan nomor 7, yaitu "Apa sebetulnya hakekat matematika yang dipelajari di SD". Seperti yang telah Bapak Prof. Marsigit tulis berulang-ulang dalam beberapa postingannya terkait dengan hakekat matematika sekolah, bahwa hakekat matematika sekolah adalah berupa kegiatan atau aktivitas yang mampu memfasilitasi siswa untuk menemukan suatu pola/keteraturan dan menemukan hubungan antara pola-pola tersebut; memecahkan masalah; melakukan penelitian atau penyelidikan terhadap fenomena matematika yang ada dalam kehidupan sehari-hari; dan kegiatan yang memfasilitasi siswa untuk mengomunikasikan hasil penyelidikan tersebut kepada guru atau siswa lainnya.

    ReplyDelete
  143. Ibnu Rafi
    14301241053
    S1 Pendidikan Matematika Kelas I 2014

    Selanjutnya, saya ingin mencoba menjawab pertanyaan nomor 6, yaitu "Bagaimana guru mampu memfasilitasi agar siswa mampu belajar matematika dengan baik khususnya dalam mengembangkan kemampuan matematika (mathematical thinking)?" Setelah membaca beberapa postingan Prof. Marsigit yang berhubungan dengan pembelajaran matematika, saya berpendapat bahwa salah satu cara yang dapat guru lakukan untuk memfasilitasi kemampuan matematika siswa adalah dengan membelajarkan matematika sekolah. Melalui matematika sekolah, siswa difasilitasi untuk menemukan pola-pola, memecahkan masalah, menyelidiki fenomena matematika, dan melakukan komunikasi. Apabila guru mampu memfasilitasi siswanya untuk melakukan keemapat kegiatan ini, diharapkan kemampuan matematika siswa dapat berkembang.

    ReplyDelete
  144. Ibnu Rafi
    14301241053
    S1 Pendidikan Matematika Kelas I 2014

    Lebih lanjut, saya ingin mencoba menjawab pertanyaan nomor 9, yaitu "Bagaimana menghilangkan persepsi bahwa matematika adalah sulit?" Setelah membaca beberapa postingan Prof. Marsigit, saya berpendapat bahwa cara untuk menghilangkan bahwa matematika adalah sulit adalah dengan membelajarkan matematika berdasarkan kehidupan sehari-hari mereka. Lebih lanjut, guru juga perlu untuk membelajarkan matematika berdasarkan karakteristik matematika sekolah itu sendiri (yang telah saya sebutkan di atas). Dengan menghadirkan fenomena matematika dalam kehidupan siswa sehari-hari, diharapkan menjadikan siswa lebih menyadari keberhargaan matematika sedemikian sehingga matematika tidak lagi menjadi hal yang sulit tetapi hal yang menyenangkan.

    ReplyDelete
  145. Ibnu Rafi
    14301241053
    S1 Pendidikan Matematika Kelas I 2014

    Terakhir, saya mencoba menjawab pertanyaan nomor 12, yaitu "Apakah perbedaan mendasar antara matematika sekolah dan matematika murni?" Berdasarkan pada beberapa postingan Prof. Marsigit di blog beliau, saya berpendapat bahwa perbedaan mendasar antara matematika sekolah dan matematika murni adalah objek kajiannya. Matematika sekolah lebih menekankan pada kajian objek konkret matematika, sedangkan matematika murni objek kajiannya berupa objek abstrak. Pun cara membelajarkan matematika sekolah dan matematika juga berbeda. Matematika sekolah dibelajarkan melalui kegiatan-kegiatan penelusuran pola-pola, pemecahan masalah, peneyelidikan fenomena matematika, dan komunikasi.

    ReplyDelete