Feb 12, 2013

Problematika Pembelajaran Matematika di SD

Identifikasi Problematika Pembelajaran Matematika di SD


1. Bagaimana pembelajaran matematika mempengaruhi kepribadian siswa di SD?
2. Bagaimana pandangan kita tentang prestasi belajar matematika di SD?
3. Apakah pembelajaran matematika mampu membawa nilai-nilai moral?
4. Bagaimana kita secara arif dan bijaksana menyikapi adanya sebagian guru atau siswa yang menghendaki cara-cara cepat atau trik dalam matematika?
5. Bagaimana mengimplementasikan metode penemuan secara baik pada pembelajaran matematika di SD?
6. Bagaimana guru mampu memfasilitasi agar siswa mampu belajar matematika dengan baik khususnya dalam mengembangkan kemampuan matematika (mathematical thinking)?
7. Apa sebetulnya hakekat matematika yang dipelajari di SD>
8. Bagaimana menfasilitasi adanya berbagai macam latar belakang dan kemampuan siswa dalam belajar matematika di SD?
9. Bagaimana menghilangkan persepsi bahwa matematika adalah sulit?
10. Bagaimana menerapkan pembelajaran PMRI di SD misalnya tentang Pembagian Pecahan?
11. Kreativitas apa saja yang diharapkan dari siswa SD dalam belajar matematika?
12. Apakah perbedaan mendasar antara matematika sekolah dan matematika murni?
13. Apakah yang disebut berpikir logis dan bagaimana membelajarkannya di SD>
14. Bagaimana perbandingan antara pembelajaran matematika SD di Luar Negeri dan di Indonesia?
15. Apakah benar bahwa matematika adalah seni dan bagaimana sikap guru dalam pembelajaran matematika di SD?
16. Apakah Taksonomi Bloom relevan dalam pembelajaran matematika di SD? Jika relevan maka jelaskanlah?

Di identifikasi oleh: Sabina Ndiung, Melly Andriani, Atiaturrahmaniah, Moh. Bisri, Kurnia Hidayati, Laelatul Badriah, Wahyudi, Syarifuddin. Pembimbing: Marsigit

24 comments:

  1. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Identifikasi masalah-masalah di atas terjadi saat pembelajaran matematika berlangsung di kelas untuk siswa SD. Jika masalah-masalah di atas diidentifikasi dengan benar dan diberikan solusi yang sesuai maka guru atau pendidik siswa SD akan dapat meningkatkan kemampuan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika. Salah satu masalah di atas yang menurut saya sering digunakan guru apalagi menjelang US ialah no. 4 bagaimana menyikapi guru atau siswa yang menghendaki cara-cara cepat? Menurut saya cara cepat boleh digunakan dalam pembelajaran tetapi setelah guru bersama-sama dengan siswa memperoleh konsep sebelum diajarkannya trik tersebut.

    ReplyDelete
  2. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Dunia SD masih identik dengan dunia bermain, maka menurut saya pembelajaran matematika SD harus bisa mengkondisikan psikologi anak yang masih identik dengan bermain, maka disini guru dituntut untuk lebih memahami psikologi anak, yakni dengan cara bermain sambil belajar. Guru jangan terlalu memaksakan agar siswa mengerti tentang pelajaran matematika, karena kalau dipaksakan maka akan berdampak buruk bagi siswa itu sendiri. Fasilitasilah siswa dengan materi-materi yang lebih kreatif dan bermakna sehingga siswa kan lebih tertarik untuk belajar matematika. karena menurut saya untuk level matematika tugas guru bukan bagaimana membuat siswa mengerti tapi tugas guru adalah bagaimana siswa tertarik untuk belajar matematika.

    ReplyDelete
  3. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menjawab pertanyaan nomor 1 yaitu “Bagaimana pembelajaran matematika mempengaruhi kepribadian siswa di SD?”
    Dalam pembelajaran matematika kita diajarkan banyak hal yang membentuk pribadi yang lebih baik. Misalnya, dalam menyelesaikan masalah open ended, kita bisa belajar untuk menghargai pendapat orang lain yang berbeda-beda. Ketika kita diajak untuk menjawab soal dengan runtut akan membentuk pribadi yang teliti dan telaten. Atau dalam menjawab soal harus menggunakan cara, akan membentuk pribadi yang sabar dan bertanggung jawab. Selain itu, dengan pembelajaran matematika bisa membuat kita lebih berani, kreatif, dan berpikir kritis.

    ReplyDelete
  4. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menjawab pertanyaan nomor 2 yaitu “Bagaimana pandangan kita tentang prestasi belajar matematika di SD?”
    Menurut saya, hasil prestasi belajar matematika di SD masih rendah, terutama dalam materi yang abstrak dan membutuhkan kreativitas dan logika dalam pemecahannya. Berdasarkan artikel yang say abaca, menurut Sudjiono, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang, hal ini disebabkan oleh guru yang dalam pembelajarannya belum menekankan pada pengembangan daya nalar (reasoning), logika, dan proses berpikir kreatif. Bahkan hampir 80 persen pembelajaran Matematika dan sains di Indonesia berlangsung dengan metode ceramah.

    ReplyDelete
  5. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menjawab pertanyaan nomor 3 yaitu “Apakah pembelajaran matematika mampu membawa nilai-nilai moral?”
    Menurut saya, pembelajaran matematika dapat membawa nilai-nilai moral. Nilai pendidikan dalam pembelajaran matematika tidak hanya mengandung nilai edukasi yang bersifat mencerdaskan peserta didik tetapi juga nilai edukasi yang membantu membentuk pribadi peserta didik. Dalam pendidikan karakter saat ini, guru perlu mengintegrasikan nilai-nilai moral ke dalam pembelajaran. Nilai-nilai moral dalam pembelajaran matematika sendiri dapat diwujudkan misalnya dalam soal cerita matematika. Dengan membuat alur cerita dalam soal yang menanamkan moral, maka diharapkan tujuan dari pendidikan karakter akan tercapai.

    ReplyDelete
  6. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menjawab pertanyaan nomor 4 yaitu “Bagaimana kita secara arif dan bijaksana menyikapi adanya sebagian guru atau siswa yang menghendaki cara-cara cepat atau trik dalam matematika?”
    Ada banyak cara-cara cepat atau trik dalam menyelesaikan permasalahan matematika. Cara-cara cepat atau trik ini seringkali diajarkan dalam sebuah lembaga bimbingan belajar. Namun, menurut saya, jika hal ini tidak disikapi dengan bijaksana, justru akan menjerumuskan siswa karena mereka tidak tahu dasar dari penyelesaian masalah tersebut. Sehingga, jika mereka menemukan bentuk permasalahan yang lain, mereka akan kesulitan dalam menyelesaikannya. Sedangkan jika mereka tahu secara benar dasar penyelesaiannya, maka apapun bentuk permasalahannya, mereka akan tetap bisa menyelesaikannya dengan benar. Akan tetapi, cara cepat tersebut terkadang memang diperlukan untuk mempersingkat waktu pengerjaan soal, misalnya ketika ujian nasional. Oleh karena itu, sebaiknya dalam pembelajaran matematika tetap menggunakan metode yang biasa untuk memperdalam materi, kemudian bisa ditambahkan menggunakan cara-cara cepat setelah siswanya sudah bisa dan memahami metode yang biasa.

    ReplyDelete
  7. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menjawab pertanyaan nomor 5 tentang “Bagaimana mengimplementasikan metode penemuan secara baik pada pembelajaran matematika di SD?”
    Menurut saya, siswa sekolah dasar belum memiliki kemampuan yang cukup untuk melaksanakan pembelajaran model penemuan. Hal ini dikarenakan metode penemuan memberikan tekanan bagi siswa untuk dapat aktif mengadakan percobaan atau penemuan sendiri sebelum membuat kesimpulan dari yang dipelajari. Hal ini dapat menyebabkan siswa frustasi dan banyak waktu terbuang untuk membimbing siswa dalam melakukan penemuan sehingga pembelajaran menjadi tidak efektif dan efisien. Namun, jika metode ini hendak diimplementasikan pada pembelajaran matematika di SD, sebaiknya topik penemuan yang dipilih jangan terlalu abstrak sehingga siswa masih bisa membayangkannya secara konkret.

    ReplyDelete
  8. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menjawab pertanyaan nomor 6 tentang “Bagaimana guru mampu memfasilitasi agar siswa mampu belajar matematika dengan baik khususnya dalam mengembangkan kemampuan matematika (mathematical thinking)?”
    Bukan hal yang mudah bagi guru untuk dapat mengembangkan kemampuan matematika (mathematical thinking) siswa. Kemampuan matematika tidak dapat ditingkatkan jika siswa sendiri belum memiliki kemauan untuk belajar matematika. Di sisi lain, guru juga perlu memberikan gambaran mengenai kegunaan matematika dalam kehidupan sehingga siswa benar-benar memehami bahwa matematika itu penting dan berkaitan erat dalam kehidupan. Hal ini akan memotivasi siswa untuk belajar matematika. Jika siswa sudah termotivasi dalam belajar matematika, maka akan lebih mudah bagi guru untuk mengembangkan kemampuan matematika mereka. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan latihan soal secara rutin sehingga siswa terbiasa menyelesaikan soal-soal matematika dan secara langsung akan meningkatkan kemampuan matematika mereka.

    ReplyDelete
  9. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menjawab pertanyaan nomor 7 tentang “Apa sebetulnya hakekat matematika yang dipelajari di SD?”
    Mata pelajaran matematika diberikan kepada siswa SD dengan tujuan agar siswa memiliki kemampuan berpikir logis, analisis, sistematis, kritis, dan kreatif serta kemampuan bekerjasama. Konsep-konsep pada kurikulum matematika SD meliputi penanaman konsep dasar, pemahaman konsep, dan pembinaan keterampilan. Tujuan akhir dari pembelajaran matematika SD adalag agar siswa terampil dalam menggunakan berbagai konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  10. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menjawab pertanyaan nomor 8 tentang “Bagaimana menfasilitasi adanya berbagai macam latar belakang dan kemampuan siswa dalam belajar matematika di SD?”
    Siswa satu dengan lainnya memiliki karakter yang berbeda-beda karena mereka berasal dari latar belakang (ras, suku, budaya, dll.) yang berbeda-beda pula. Selain itu, setiap siswa juga memiliki kemampuan belajar yang berbeda-beda. Ada siswa yang dapat dengan cepat memahami materi, ada siswa yang lambat serta ada pula yang sedang dalam memahami materi. Oleh karena itu, sudah menjadi keharusan bagi guru untuk bisa menghargai berbagai keberagaman tersebut dan berusaha mengakomodir setiap kebutuhan dan perbedaan siswa. Guru harus menjamin terciptanya keadilan dan saling menghargai keberagaman yang ada dalam pembelajaran di kelas. Hal ini dapat dilakukan dengan membentuk kelompok-kelompok kecil yang heterogen ketika pembelajaran sehingga dapat mengajarkan siswa untuk saling menghargai satu sama lain.

    ReplyDelete
  11. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menjawab pertanyaan nomor 9 tentang “Bagaimana menghilangkan persepsi bahwa matematika adalah sulit?”
    Sebenarnya tidak semua orang menganggap matematika sulit. Kecintaan matematika bisa muncul dikarenakan beberapa alasan, misalnya karena guru yang mengampu matematika mudah dimengerti saat menjelaskan permasalahan matematika, kesukaan terhadap matematika sebagai pelajaran favorit, dll. Sebagai seorang guru menghilangkan persepsi bahwa matematika sulit yaitu dengan memberi soal dari yang termudah terlebih dahulu, menciptakan suasana kelas matematika yang menyenangkan dan mengasyikan tidak terlalu tegang, serta tidak lupa untuk memotivasi siswa untuk mau belajar matematika.

    ReplyDelete
  12. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Menurut saya problematika pembelajaran di SD jika ditangani bisa menjadi problem berkelanjutan pada jenjang sekolah lanjutan baik SMP maupun SMA. Maka dari itu perlu adanya solusi dalam menangani problematika pembelajaran di SD. Misalnya saja siswa SD siswa dalam tahap membangun konsep, sebaiknya seorang guru membantu siswa dalam membangun konsep dengan pengajaran yang menyenangkan dan tidak rumit agar siswa tertarik pada pembelajaran matematika.

    ReplyDelete
  13. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Saya ingin menjawab pertanyaan nomor 6. Dalam pembelajaran matematika tingkat dasar, diharapkan terjadi reinvention (penemuan kembali). Penemuan kembali adalah menemukan suatu cara penyelesaian secara informal dalam pembelajaran di kelas. ‘Menemukan’ disini terutama adalah ‘menemukan lagi (discovery) atau dapat juga menemukan hal baru (invention). Oleh karena itu, kepada siswa materi disajikan bukan dalam bentuk akhir dan tidak diberitahukan cara penyelesaiannya. Selain itu dalam pembelajaran matematikia tingkat dasar, diharapkan terjadi proses belajar bermakna dimana siswa belajar memahami apa yang sudah diperolehnya dan dikaitkan dengan keadaan lain sehingga apa yang ia pelajari akan lebih mengerti. Siswa mencoba menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka dalam setiap penyelesaian masalah. Selain belajar penemuan dan belajar bermakna, pada pembelajaran matematika harus terjadi pula belajar secara “konstruktivisme”. Menurut Piaget, konstruksi pengetahuan dilakukan sendiri oleh siswa, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan menciptakan iklim yang kondusif.

    ReplyDelete
  14. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Saya juga ingin menjawab pertanyaan nomor 7 mengenai hakikat pembelajaran matematika di SD. Siswa Sekolah Dasar (SD) umumnya berkisar antara 6 atau 7 tahun, sampai 12 atau 13 tahun. Menurut Piaget, mereka berada pada fase operasional konkret. Kemampuan yang tampak pada fase ini adalah kemampuan dalam proses berpikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika,meskipun masih terikat dengan objek yang bersifat konkret. Konsep-konsep pada kurikulum matematika SD dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu
    1. Penanaman Konsep Dasar, yaitu pembelajaran suatu konsep baru matematika, ketika siswa belum pernah mempelajari konsep tersebut. Pembelajaran matematika penanaman konsep dasar merupakan jembatan yang harus dapat menghubungkan kemampuan kognitif siswa yang konkret dengan konsep baru matematika yang abstrak. Dalam pembelajaran matematika konsep dasar ini, media atau alat peraga diharapkan dapat digunakan untuk membantu kemampuan pola pikir siswa.
    2. Pemahaman Konsep, yaitu pembelajaran lanjutan dari penanaman konsep, yang bertujuan agar siswa lebih memahami suatu konsep matematika. Pemahaman konsep terdiri atas dua pengertian. Pertama, merupakan kelanjutan dari pembelajaran penanaman konsep dalam satu pertemuan. Kedua, pembelajaran pemahaman konsep dilakukan pada pertemuan yang berbeda, tetapi masih merupakan lanjutan penanaman konsep. Pada pertemuan tersebut, penanaman konsep dianggap sudah disampaikan pada pertemuan sebelumnya, di semester atau di kelas sebelumnya.
    3. Pembinaan Keterampilan, yaitu pembelajaran lanjutan dari penanaman konsep dan pemahaman konsep. Pembelajaraan pembinaan keterampilan bertujuan agar siswa lebih terampil dalam menggunakan berbagai konsep matematika. Seperti halnya pada pemahaman konsep, pembinaan keterampilan juga terdiri atas dua pengertian yaitu pertama, merupakan kelanjutan dari pembelajaran penanaman konsep. Kedua, pembelajaraan pembinaan keterampilan dilakukan pada pertemuan yang berbeda, tetapi masih merupakan lanjutan dari penanaman dan pemahaman konsep.

    ReplyDelete
  15. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016


    Saya akan mencoba menjawa pertanyaan nomor 10. Pecahan adalah salah satu materi pembelajaran yang cukup berat bagi siswa. Hasil dari tes NAEP secara konsisten telah menunjukan bahwa para siswa memiliki pemahaman yang sangat lemah terhadap konsep pecahan (Van de Wall,2008). Kekurangan dalam pemahaman tentang konsep pecahan akan mengakibatkan siswa kesulitan dalam hal perhitungan dengan pecahan, konsep desimal dan persen, penggunaan pecahan dalam pengukuran dan konsep rasio dan proporsi. Oleh karena itu, penulis berusaha untuk mengembangakan proses pengajaran materi pecahan berdasarkan tahap-tahap pada konsep-konsep kurikulum SD. Langkah pertama adalah siswa diharuskan dapat mengkonstruksikan bagian-bagian pecahan dari keseluruhan (utuh)-bagian-bagian yang terjadi jika satu unit telah dibagi menjadi bagian-bagian yang sama atau bagian-bagian yang lain. Para siswa memahami bahwa jika ingin membagi sesuatu kepada teman-temannya maka mereka akan membagi secara adil kepada temannya. Sehingga tugas-tugas membagi merupakan cara yang baik untuk memulai pengembangan konsep pecahan.

    ReplyDelete
  16. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama merupakan tujuan diberikannya mata pelajaran matematika di kelas. Dalam hal ini, siswa mampu berpikir logis, analitis, sistematis dan kritis jika mereka hanya menghafal bentuk dan rumus untuk setiap persoalan yang diberikan. Jika siswa telah memahami konsep maka ia akan tetap dapat menyelesaikannya. Menghadapi hal seperti ini, agar siswa tidak melulu melakukan penghafalan rumus, seorang guru hendaknya mengembangkan soal-soal problem solving yang dalam pengerjaannya memerlukan suatu prosedur yang tidak rutin. Artinya siswa menyelesaikan permasalahan dengan langkah-langkah yang tidak biasa ia lakukan.

    ReplyDelete
  17. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Terkait pembelajaran pada tingkat SD khususnya pada mata pelajaran matematika, Siswa sangat senang dengan belajar matematika karena mereka bisa merasakan manfaat belajara matematika dalam kehidupan mereka yang tentunya dengan matematika sederhana. Namun lambat laun kesenangan siswa dalam belajar matematika mulai pudar dan menjadikannya sebagai mata pelajara yang menakutkan, ini disebabkan karena objek kajian pada matematika semakin abstrak serta cara guru yang kurang tepat dalam menyajikan materi. Maka seyogyanya seorang guru harus terampil dalam menyajikan materi matematika. Meningkatkan keprofesionalan dalam mengajar, memberikan contoh yang bekaitan langsung dengan kehidupan siswa, penggunaan alat praga yang fleksibel dll.

    ReplyDelete
  18. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menjawab pertanyaan nomor 10 tentang “Bagaimana menerapkan pembelajaran PMRI di SD misalnya tentang Pembagian Pecahan?”
    PMRI bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran matematika dan mengembangkan daya nalar. Dalam menerapkan PMRI pada materi pecahan, guru dapat menyajikan masalah kontekstual, misalnya meminta siswa membagi roti. Kemudian, guru bisa menggunakan alat peraga untuk menyajikan bentuk pecahan, misalnya sebagai ganti roti disiapkan kertas warna-warni yang berbentuk persegi. Dengan begitu, diharapkan siswa bisa langsung melihat bagaimana konsep dari pecahan tersebut. Dengan pendekatan PMRI ini diharapkan siswa dapat memahami konsep pecahan.

    ReplyDelete
  19. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menjawab pertanyaan nomor 11 tentang “Kreativitas apa saja yang diharapkan dari siswa SD dalam belajar matematika?”
    Kreativitas merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa dalam pembelajaran matematika. Materi matematika di Sekolah Dasar sendiri secara garis besar menyangkut tentang masalah perhitungan. Oleh karena itu, siswa harus memiliki kemampuan berhitung untuk menunjang pemahaman terhadap materi-materi lain yang juga membutuhkan perhitungan. Jadi, salah satu kreativitas yang diperlukan oleh siswa Sekolah Dasar adalah perhitungan dengan menggunakan berbagai metode.

    ReplyDelete
  20. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Dunia anak SD identik dengan dunia bermain, maka pembelajaran matematika SD lebih cocok jika bermain sambil belajar dengan pengawasan dan pengelolaan pembelajaran yang baik dari guru. Siswa SD belajar matematika lebih cocok melalui aktivitas dan benda-benda konkret di sekitar mereka. Mereka berada dalam tahap membangun konsep, oleh karena itu jangan sampai guru salah pemahaman tentang bagaimana pembelajaran matematika untuk siswa SD. Tidak lah tepat jika guru langsung memberikan konsep matematika yang bersifat abstrak atau langsung memberikan definisi kepada mereka, jika hal itu dilakukan, maka sama saja dengan membunuh intuisi siswa.

    ReplyDelete
  21. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Untuk pertanyaan nomor 4. Saya pribadi tidak setuju jika ada sebagian guru atau siswa yang menghendaki cara-cara cepat atau trik dalam menyelesaikan masalah matematika. Karena menurut saya, siswa SD masih dalam tahap membangun dan memahami konsep dasar matematika. Cara-cara cepat atau trik hanya mengandalkan kemampuan menghafal tetapi tidak dapat mengembangkan intuisi dan kemampuan berpikir matematika siswa.

    ReplyDelete
  22. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Bagaimana pembelajaran matematika mempengaruhi kepribadian siswa di SD?
    Yang membedakan matematika dengan pelajaran lain adalah aspek menalar yang sangat ditekankan. Dengan menalar yang baik akan memutuskan langkah – langkah apa yang akan dilakukan. Matematikawan cenderung akan sistematis dalam mengambil langkah terbaik. Dengan cara menalar yang baik ia akan memandang masalah secara logika, jika A maka B dan seterusnya, dan memperhitungkan dampak negatifnya dengan peluang sekecil – kecilnya dari opsi yang akan diambil. Setelah opsi diambil akan ada langkah – langkah penyelesaian masalah tersebut, langkah – langkah tersebut dibuat secara terstruktur dan sistematis dengan penerapan yang tertib. Sehingga dengan matematika guru dapat mengubah pola pikir siswa dan secara tidak langsung dapat mengubah kepribadian siswa, namun ini hanya untuk siswa yang mempelajar matematika dengan baik.

    ReplyDelete
  23. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Bagaimana kita secara arif dan bijaksana menyikapi adanya sebagian guru atau siswa yang menghendaki cara-cara cepat atau trik dalam matematika?
    Siswa lebih menyenangi cara cepat, apalagi gurunya lebih senang menjelaskan cara tersebut. Mengapa? Karena siswa lebih cepat mencerna dengan penjelasan yang ringkas, dan guru tidak perlu berlama – lama menjelaskaan secara panjang lebar untuk menjelaskan cara panjangnya. Hal ini jelas tidak benar untuk dilakukan.
    Hal yang seharusnya dilakukan oleh guru mengajak siswa untuk menemukan, mengkonstruk dan memahami suatu konsep, hingga rincian – rinciannya. Namun jika siswa menemukan cara lain selain konsep tersebut dan menurutnya jauh lebih mudah, guru harus mempertimbangkan hal – hal berikut: (1) memastikan siswa memahami terlebih dahulu konsep dasarnya; (2) siswa mengetahui syarat – syarat kapan digunakan rumus cepat tersebut; (3) penggunaan cara cepat hanya digunakan untuk kondisi dengan waktu yang singkat dalam penyelesaian.

    ReplyDelete
  24. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Bagaimana menghilangkan persepsi bahwa matematika adalah sulit?
    Jika siswa diminta untuk mengerjakan soal matematika, pasti yang dikeluhkan oleh mereka adalah kesulitan, padahal materi tersebut telah dipelajari dan soal tersebut belum dilihat mereka sudah berteriak bahwa soal yang diberikan itu sulit. Hal tersebut menunjukkan mindset siswa bahwa matematika pelajaran yang sulit dan menakutkan.
    Cara menghilangkan persepsi tersebut secara bertahap. Diawali dengan membuat siswa tertarik dengan pengajar dari mata pelajaran matematika. Saya masih memegang pernyataan siswa menyenangi pelajaran karena ia menyenangi gurunya. Setelah kesan pertama yang positif diterima oleh siswa, barulah guru membuat pembelajaran semenarik mungkin, diselipi dengan permainan – permainan yang mengedukasi dan merefleksi pikiran yang telah terkuras selama proses pembelajaran berlangsung. Metode pembelajaran dari guru yang bervariasi dan sulit ditebak oleh siswa merupakan strategi yang secara perlahan mengubah persepsi awal siswa yang menyatakan bahwa matematika itu sulit.

    ReplyDelete