Feb 12, 2013

Sekolah Bertaraf Internasional : Sebuah Epistemology


Oleh : Marsigit

Ass Wr Wb

Berikut saya sampaikan jawaban saya dari beberapa pertanyaan pembaca tentang aspek pengembangan SBI.

Dalam konteks Filsafat, maka aspek pengembangan SBI dapat dimasukkan ke ranah Epistemologi yang meliputi Sumber-sumber pemahaman SBI, macam aspek-aspeknya, referensi pendukung, evidences, pembenaran, metode, arah dan tujuan.


Dalam persepsi saya Sekolah Bertaraf Internasional, atau Sekolah Berstandar Internasional, atau World Class University, atau apapun namanya, dalam konteks ke Indonesiaan adalah suatu PROSES INTERAKSI antara DUA hal :
-Global VS Indonesia,
-Maju VS Berkembang,
-Sophisticated VS Traditional,
-Teori VS Praktek,
-Produk VS Proses,
-Pemerintah VS Masyarakat,
-Undang-Undang VS Implementasinya,
-Standard VS Non-standard,
-the Winner VS the Looser,
-the Best VS the Least,
-the Fact VS the Potentiality,
-the Idealism VS the Pragmatism,
-the Obligatory VS the Need,
-the Long Term VS the Short Term,
-Centralized VS Decentralized,
-International Value VS Local Value,
-Logic VS Action,
-Knowledge VS Experience,
-Terminal Point VS Starting Point,
-Ego VS Iklhas,
-Moving VS Steadily,
-TESIS VS ANTI-TESIS, dst.


Dengan konsep tersebut di atas maka persoalan pengembangan sekolah menuju SBI adalah seberapa jauh Tata Ruang dan Segment Waktu yang ada, memberikan dan mampu dimanfaatkan oleh segenap unsur-unsur (tesis-tesis) tersebut di atas untuk melakukan interaksi secara sinergis, intensif dan ekstensif.

Unsur-unsur berkonotasi TERMINAL POINT sengaja saya letakkan dibagian kiri misalnya Internasional, Standard, the Winner, dst.

Sedangkan unsur-unsur berkonotasi STARTING POINT saya letakkan di bagian kanan, misalnya Tradisional, Local, the Loser..dst.

Kondisi psikologis unsur-unsur TERMINAL POINT tentunya berbeda dengan unsur-unsur STARTING POINT.

Dengan kata lain, tantangan pengembangan SBI ke depan adalah seberapa jauh dan bagaimana mampu segenap unsur-unsur (tesis-tesis) tersebut TERJEMAH dan DITERJEMAHKAN atau saling BERSINTESIS secara sinergis, ekstensif dan intensif.

Faktanya (bagian kanan), yang didukung EVIDENCES ternyata bahwa TIDAKLAH MUDAH melakukan hal tersebut di atas.

Kalau boleh dikatakan bahkan SANGAT SULIT DIWUJUDKAN disebabkan oleh adanya SIFAT EGO yang menonjol, menguasai dan membatasi ruang gerak unsur-unsur (tesis-tesis) tersebut.

Dalam jangka waktu pendek, hal demikian kelihatan bersifat KONTRA PRODUKTIF, tetapi dalam jangka panjang (setelah mungkin ganti generasi) akan memberi harapan.

Hypothetical analyses saya menyimpulkan bahwa dalam 100 tahun, bangsa kita masih kalah dengan bangsa Jepang, Cina dan Amerika; tetapi kita akan melihat kejayaan Indonesi setelah kurun lebih dari 100 tahun (alih beberapa generasi).

Maka tantangan pengembangan SBI secara konseptual atau secara hakikinya, tidak cukup hanya menemukan anti-tesis tetapi juga MENSINTESISKAN antara TESIS dan ANTI-TESIS.

Apa yang sedang saya lakukan ini adalah kegiatan SINTESIS atas tesis-tesis dan anti tesisnya.

Ruang dan Waktu akan menjadi saksi, kemana dan sampai kapan dan sampai dimana perjalanan bangsa ini khususnya nasib pengembangan SBI.

Demikian semoga memberi kontribusi. Mohon maaf atas kurangnya.

Marsigit
Yogyakarta, 25 Desember 2011

1 comment:

  1. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Terima kasih, Pak. Pada beberapa hal saya sangat sepakat dengan argumentasi bapak di atas. Kebijakan sekolah bertaraf international memang memisahkan tesis-tesis yang seharusnya bersintesa namun terdikotomi oleh standar-standar yang dipaksakan. Adanya RSBI secara tidak langsung, seperti apa yang bapak katakan, menciptakan dua kelas yang secara kualitas akan saling dipertentangkan. Saya lebih tertarik dengan pemisahan antara global (international) vs Indonesia (nasional). Pertanyaannya, apakah dengan pemisahan itu, sekolah-sekolah yang masih memegang status standar nasional akan menjadi sekolah yang subordinat (kurang diperhitungkan)? Jika demikian, bukankah hal tersebut mereduksi hakikat pendidikan tentang membawa nilai-nilai emansipatoris (kesetaraan)? Apakah dengan adanya standar international lalu kemudian hal-hal yang terkait dengan lokalitas (misal: local wisdom) dianggap sebagai entitas yang kolot? Saya sangat sepakat dengan bapak bahwa tesis-tesis yang diperlawankan sejatinya harus disintesakan menjadi suatu kesatuan utuh. Dengan catatan bahwa RSBI harus memiliki landasan filosofis yang utuh mulai dari ranah ontologi, epistemologi, sampai ke ranah aksiologinya. Wassalam!

    ReplyDelete