Feb 12, 2013

Artikel Populer: Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika




Berikut saya sampaikan artikel saya sebagai salah satu bahan yang akan digunakan untuk menyusun Buku Pedoman Pendidikan Karakter di Universitas Negeri Yogyakarta. Hak cipta dilindungi oleh UU. Pembaca dapat mengopi untuk kepentingan kajian akademik dan dapat menggunakannya sebagai referensi sepanjang tetap mencantumkan pengarangnya. Demikian selamat membaca.


Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika

Oleh Marsigit
Jurusan Pendidikan Matematika, FMIPA, UNY

A.Pendahuluan


Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika di sekolah memunyai aspek pemahaman tentang hakikat matematika, hakikat matematika sekolah, hakikat pendidikan matematika, hakikat nilai matematika, hakikat belajar matematika, hakikat proses belajar mengajar matematika, hakikat pembudayaan matematika sekolah.

Di sisi lain, secara umum, pendidikan karakter harus mampu menjelaskan hakikat karakter, implementasi dan contoh-contohnya, menjelaskan sumber-sumber pengetahuan dan nilai-nilai dan macam-macam karakter yang harus digali dan dikembangkan, ukuran atau pembenaran kelaziman karakter dalam lingkup pribadi, kelompok, berbangsa dan secara universal.

Jika karakter dipandang sebagai nilai yang perlu digali, dikembangkan dan diimplementasikan, maka konteks ruang dan waktu serta arah pengembangannya menjadi sangat penting.

Pendidikan matematika dapat dipandang sebagai suatu keadaan atau sifat atau bahkan nilai yang bersinergis dengan pendidikan karakter. Perpaduan atau sinergi antara pendidikan karakter dan pendidikan matematika merupakan keadaan unik sebagai suatu proses pembelajaran yang dinamis yang merentang dalam ruang dan waktunya pembelajaran matematika yang berkarakter konteks ekonomi, social, politik, dan budaya bangsa.

Dengan demikian, pendidikan karakter dalam pendidikan matematika merupakan potensi sekaligus fakta yang harus menjadi bagian tidak terpisahkan bagi setiap insan pengembang pendidikan, baik pendidik, tenaga pendidik maupun pengambil kebijakan pendidikan.

Secara umum, kiranya semua sependapat bahwa tidak mudah memahami kompleksitas karakter sebagai suatu nilai atau suatu objek. Jika kita memikirkan karakter sebagai suatu objek maka secara umum apapun yang kita bicarakan, selalu berkaitan dengan dua hal pertanyaan yaitu:
Apa objek dan apa metodenya?
Apakah objek formal dan objek material pendidikan karakter itu?
Apakah objek formal dan objek material pendidikan matematika itu?
Apakah objek formal dan objek material pendidikan karakter dalam pendidikan matematika itu?
Untuk dapat menjawab semua pertanyaan itulah, kita memerlukan kajian tentang hakikat dari semua aspek yang terkandung di dalam pendidikan karakter dan pendidikan matematika.

Prinsip-prinsip dasar pengembangan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika meliputi berbagai proses yang secara hirarkhis merentang mulai dari kesadaran diri dan lingkungan, perhatian, rasa senang dan rasa membutuhkan disertai dengan harapan ingin mengetahui, memiliki dan menerapkannya, merasa perlunya memunyai sikap yang selaras dan harmoni dengan keadaan di sekitarnya, baik dalam keadaan pasif maupun aktif, serta mengembangkannya dalam bentuk tindakan dan perilaku berkarakter; merasa perlunya disertai usaha untuk mencari informasi dan pengetahuan tentang karakter dan karakter dalam matematika, yang dianggap baik, mengembangkan keterampilan menunjukan sifat, sikap dan perilaku berkarakter dalam pendidikan matematika, serta keinginan dan terwujudnya pengalaman mengembangkan hidupnya dalam bentuk aktualisasi diri berkarakter dalam pendidikan matematika, baik secara sendiri, bersama atau pun dalam jejaring sistemik.

B.Matematika dan Pendidikan Karakter


Secara material objek matematika dapat berupa benda-benda konkret, gambar atau model kubus, berwarna-warni lambang bilangan besar atau kecil, kolam berbentuk persegi, atap rumah berbentuk limas, piramida-piramida di Mesir, kuda-kuda atap rumah berbentuk segitiga siku-siku, roda berbentuk lingkaran, dan seterusnya. Secara material objek matematika itu berada di lingkungan atau sekitar kita.

Secara formal objek matematika berupa benda-benda pikir. Benda-benda pikir diperoleh dari benda konkret dengan melakukan abstraksi dan idealisasi.

Abstraksi adalah kegiatan yang hanya mengambil sifat-sifat tertentu saja untuk dipikirkan atau dipelajari.

Idealisasi adalah kegiatan yang menganggap sempurna sifat-sifat yang ada. Dari model kubus yang terbuat dari kayu jati, dengan abstraksi kita hanya mempelajari bentuk dan ukuran saja.

Dengan idealisasi kita memperoleh informasi bahwa ruas-ruas kubus berupa garis lurus yang betul-betul lurus tanpa cacat.

Secara normatif, objek-objek matematika berupa makna yang terkandung di dalam objek-objek material dan formal.

Makna-makna yang terungkap dari matematika material dan matematika formal itulah kemudian yang menghasilkan value atau nilai matematika.

Misalnya, objek matematika material berupa “bilangan 2 yang terbuat dari papan triplek yang digergaji dan kemudian diberi warna yang indah”.

Di dalam khasanah matematika material, kita dapat memikirkan bilangan 2 yang lebih besar, bilangan 2 yang lebih kecil, bilangan 2 yang berwarna merah, bilangan 2 yang berwarna biru, dan seterusnya.

Pada dimensi formal terdapat pencampuradukan antara pengertian bilangan dan angka. Tetapi, begitu kita memasuki dimensi matematika formal, semua sifat dari bilangan 2 tadi kita singkirkan, dan yang kita pikirkan sifat nilai nya saja dari 2.

Kita tidak mampu memikirkan nilai bilangan 2 jika kita tidak memiliki bilangan-bilangan yang lain. Nilai bilangan 2 adalah lebih besar dari bilangan 1, tetapi lebih kecil dari bilangan 3.

Secara normatif, makna bilangan 2 mengalami ekstensi dan intensi.

Jika diintensifkan, bilangan 2 dapat bermakna “genap”, dapat bermakna “pasangan”, dapat bermakna “bukan ganjil”, dapat bermakna “ayah dan ibu”, atau dapat bermakna “bukan satu”. Secara metafisik, bilangan 2 dapat bermakna “jarak antara dua hal” misalnya jarak antara potensi dan vitalitas, jarak antara konkret dan abstrak, jarak antara subjek dan objek, dan seterusnya.

Jika diekstensifkan, maka makna bilangan 2 dapat berupa 2 teori, 2 teorema, 2 sistem matematika, 2 variabel, 2 sistem persamaan, dan seterusnya. Dengan cara yang sama kita dapat melakukan intensi dan ekstensi untuk semua objek matematika.

Uraian di atas barulah tentang dimensi matematika dari bilangan 2 dan objek-objek matematika yang lainnya.

Jika ingin menguraikan bagaimanakah implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika di sekolah, kita masih harus memikirkan pendidikan matematika, pembelajaran matematika, berpikir matematika, dan seterusnya.

Katagiri (2004) menguraikan bahwa berpikir matematika meliputi 3 aspek: pertama, sikap matematika, kedua, metode memikirkan matematika, dan ketiga, konten matematika.

Berpikir matematika juga merentang berpikir matematika pada dimensinya. Artinya, ada berpikir matematika di tingkat sekolah/material, atau perguruan tinggi/formal.

Secara umum, sikap matematika ditunjukkan oleh indikator adanya rasa senang dan ikhlas untuk mempelajari matematika, sikap yang mendukung untuk mempelajari matematika, pengetahuan yang cukup untuk mempelajari matematika, rasa ingin tahu, kemamuan untuk bertanya, untuk memperoleh keterampilan dan pengalaman matematika.

Secara pragmatis, kita dapat menyatakan bahwa matematika adalah himpunan dari nilai kebenaran yang terdiri dari teorema-teorema beserta bukti-buktinya.

Sementara itu, filsafat matematika muncul ketika kita meminta pertanggungjawaban akan kebenaran matematika. Oleh karena itu, filsafat matematika merupakan pandangan yang memberikan gambaran penting dan menerangkan secara tepat bagaimanakah seseorang dapat mengerjakan matematika.

Perbedaan filsafat matematika yang dianut akan menyebabkan perbedaan praktik dan hasil pendidikan matematika. Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika merupakan implikasi dari kesadaran akan pentingnya refleksi kegiatan matematika melalui kajian matematika dan pendidikan matematika pada berbagai dimensinya.

Dengan demikian implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika mengandung makna seberapa jauh kita mampu melakukan kegiatan dalam rentang niat, sikap, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman matematika, pendidikan matematika, dan pembelajaran matematika.

Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika dapat dicapai atas dasar pemahaman tentang pengetahuan matematika yang bersifat objektif dan pelaku matematika yang bersifat subjektif di dalam usahanya untuk memperoleh justifikasi tentang kebenaran matematika melalui kreasi, formulasi, representasi, publikasi dan interaksi.

Secara eksplisit implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika mendasarkan pada :
(1) pengetahuan matematika pada berbagai dimensinya, yang meliputi hakikat, pembenaran, dan kejadiannya,
(2) objek matematika pada berbagai dimensinya yang meliputi hakikat dan asal-usulnya,
(3) penggunaan matematika formal yang meliputi efektivitasnya dalam sains, teknologi, dan ilmu lainnya, serta
(4) praktik matematika pada berbagai dimensi secara lebih umum termasuk aktivitas para matematikawan atau aktivitas matematika para siswa SD.

C.Pendidikan Matematika dan Pendidikan Karakter

Secara umum diakui bahwa isi dan metode matematika formal, karena hakikatnya, membuat matematika menjadi abstrak, umum, formal, objektif, rasional, dan teoretis. Ini adalah hakikat ilmu pengetahuan dan matematika.

Dengan pendekatan ini kaum absolutis membangun matematika formal yang dianggapnya sebagai netral dan bebas nilai (Shirley, 1986). Hal-hal yang terikat dengan implikasi sosial dan nilai-nilai yang menyertainya, secara eksplisit, dihilangkannya.

Para absolutis teguh pendiriannya dalam memandang secara objektif kenetralan matematika formal. Tetapi dalam kenyataannya, nilai-nilai yang terkandung dalam hal-hal tersebut di atas, membuat masalah-masalah tidak dapat dipecahkan. Hal ini disebabkan karena mendasarkan hal-hal yang bersifat formal saja hanya dapat menjangkau pada pembahasan bagian luar dari matematika itu sendiri.

Matematika yang dipromosikan itu sendiri secara implisit sebetulnya mengandung nilai-nilai. Abstrak adalah suatu nilai terhadap konkret, formal suatu nilai terhadap informal, objektif terhadap subjektif, pembenaran terhadap penemuan, rasionalitas terhadap intuisi, penalaran terhadap emosi, hal-hal umum terhadap hal-hal khusus, teori terhadap praktik, kerja dengan pikiran terhadap kerja dengan tangan, dan seterusnya.

Jika berkehendak menerima kritik yang ada, sebetulnya pandangan mereka tentang matematika formal yang netral dan bebas nilai juga merupakan suatu nilai yang melekat pada diri mereka dan sulit untuk dilihat.

Kaum social constructivits memandang bahwa matematika merupakan karya cipta manusia melalui kurun waktu tertentu. Semua perbedaan pengetahuan yang dihasilkan merupakan kreativitas manusia yang saling terkait dengan hakikat dan sejarahnya.

Akibatnya, matematika dipandang sebagai suatu ilmu pengetahuan yang terikat dengan budaya dan nilai penciptanya dalam konteks budayanya.

Sejarah matematika adalah sejarah pembentukannya, tidak hanya yang berhubungan dengan pengungkapan kebenaran, tetapi meliputi permasalahan yang muncul, pengertian, pernyataan, bukti dan teori yang dicipta, yang terkomunikasikan dan mengalami reformulasi oleh individu-individu atau suatu kelompok dengan berbagai kepentingannya.

Pandangan demikian memberi konsekuensi bahwa sejarah matematika perlu direvisi. Dengan demikian, pemikiran kaum social constructivist mengarah kepada kebutuhan matematika material.

Kaum absolutis berpendapat bahwa suatu penemuan belumlah merupakan matematika dan matematika modern merupakan hasil yang tak terhindarkan.

Namun, bagi kaum ‘social constructivist’ matematika modern bukanlah suatu hasil yang tak terhindarkan, melainkan merupakan evolusi hasil budaya manusia.

Joseph (1987) menunjukkan betapa banyaknya tradisi dan penelitian pengembangan matematika berangkat dari pusat peradaban dan kebudayaan manusia.

Sejarah matematika perlu menunjuk matematika, filsafat, keadaan sosial dan politik yang bagaimanakah yang telah mendorong atau menghambat perkembangan matematika.

Sebagai contoh, Henry dalam Ernest (1991: 34) mengakui bahwa calculus dicipta pada masa Descartes, tetapi dia tidak suka menyebutkannya karena ketidaksetujuannya terhadap pendekatan infinitas.

Restivo, MacKenzie dan Richards dalam Ernest (1991 : 203) menunjukkan betapa kuatnya hubungan antara matematika dengan keadaan sosial; sejarah sosial matematika lebih tergantung kepada kedudukan sosial dan kepentingan pelaku dari pada kepada objektivitas dan kriteria rasionalitasnya.

Kaum social constructivist berangkat dari premis bahwa semua pengetahuan merupakan karya cipta. Kelompok ini juga memandang bahwa semua pengetahuan memiliki landasan yang sama, yaitu ‘kesepakatan’.

Baik dalam hal asal-usul maupun pembenaran landasannya, pengetahuan manusia memiliki landasan yang merupakan kesatuan, dan oleh karena itu semua bidang ilmu pengetahuan manusia saling terikat satu dengan yang lain.

Akibatnya, sesuai dengan pandangan kaum social constructivist, matematika tidak dapat dikembangkan jika tanpa terkait dengan pengetahuan lain, dan yang secara bersama-sama memunyai akarnya.

Dengan sendirinya matematika tidak terbebaskan dari nilai-nilai dari bidang pengetahuan yang diakui karena masing-masing terhubung olehnya.

Karena matematika terkait dengan semua pengetahuan diri manusia (subjektif), jelaslah bahwa matematika tidak bersifat netral dan bebas nilai.

Dengan demikian matematika memerlukan landasan sosial bagi perkembangannya (Davis dan Hers dalam Ernest 1991 : 277-279).

Dengan demikian hakikat mempelajari matematika adalah mempertemukan pengetahuan subjektif dan objektif matematika melalui interaksi sosial untuk menguji dan merepresentasikan pengetahuan-pengetahuan baru yang telah diperolehnya.

Di dalam usahanya untuk memperoleh atau mempelajari pengetahuan objektif matematika, siswa mungkin perlu mengembangkan prosedur, misalnya : mengikuti langkah yang dibuat orang lain, membuat langkah secara informal, menentukan langkah awal, menggunakan langkah yang telah dikembangkan, mendefinisikan langkah sehingga dapat dipahami orang lain, membandingkan berbagai langkah, dan menyesuaikan langkah.

Melalui langkah-langkah demikian, siswa akan memperoleh konsep matematika yang telah teraktualisasi dalam dirinya sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan matematikanya bersifat subjektif.

Namun, dalam beberapa hal, pengetahuan subjektif matematikanya belum tentu sesuai dengan pengetahuan objektifnya.

Untuk mengetahui apakah pengetahuan subjektif matematikanya telah sesuai dengan pengetahuan objektifnya, siswa perlu diberi kesempatan untuk melakukan kegiatan publikasi.

Kegiatan publikasi matematika dalam praktiknya dapat berupa tugas-tugas yang diberikan oleh guru, pekerjaan rumah, membuat makalah, atau pun mengikuti ujian.

Interaksi sosial di antara para siswa dan guru akan dapat memberikan kegiatan kritisisasi untuk pembetulan konsep-konsep sehingga siswa akan memperoleh perbaikan konsep, dan akhirnya pengetahuan subjektif matematikanya telah sama dengan pengetahuan objektifnya.

Hubungan antara pengetahuan objektif dan pengetahuan subjektif matematika dan langkah-langkah implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika dapat diturunkan dari konsep yang diadaptasi dari Ernest.P (1991) sebagai berikut.


D.Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika


Hartman (1942) menggariskan bahwa apa pun tentang objek pikir, termasuk matematika, selalu memunyai nilai meliputi empat hal: nilai dikarenakan maknanya, nilai dikarenakan tujuan atau manfaatnya, nilai dikarenakan fungsinya dan nilai dikarenakan keunikannya.

Agar dapat dilakukan usaha implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika di sekolah, seyogyanya kita menggunakan dimensi matematika material atau matematika pada dimensi transisi menuju matematika formal.

1.Pendidikan Karakter dan Hakikat Matematika Sekolah


Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika di sekolah dapat diawali dengan mendefinisikan hakikat matematika sekolah.

Ebbutt dan Straker (1995) mendefinisikan matematika sekolah sebagai:
(1) kegiatan matematika merupakan kegiatan penelusuran pola dan hubungan,
(2) kegiatan matematika memerlukan kreativitas, imajinasi, intuisi dan penemuan, (3) kegiatan dan hasil-hasil matematika perlu dikomunikasikan,
(4) kegiatan problem solving merupakan bagian dari kegiatan matematika,
(5) algoritma merupakan prosedur untuk memperoleh jawaban-jawaban persoalan matematika, dan
(6) interaksi sosial diperlukan dalam kegiatan matematika.

Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika di sekolah dapat menekankan kepada hubungan antarmanusia dan menghargai adanya perbedaan individu baik dalam kemampuan maupun pangalaman.

Matematika dipandang sebagai kebenaran absolut dan pasti, tetapi peran individu sangat menonjol dalam pencapaiannya.

Tetapi, siswa dapat dipandang sebagai makhluk yang berkembang (progress). Oleh karena itu matematika dipandang secara lebih manusiawi yang antara lain dapat dianggap sebagai bahasa, dan kreativitas manusia.

Pendapat pribadi dihargai dan ditekankan. Siswa memunyai hak individu untuk melindungi dan mengembangkan diri dan pengalamannya sesuai dengan potensinya.

Kemampuan mengerjakan soal-soal matematika adalah bersifat individu. Teori belajar berdasarkan anggapan bahwa setiap siswa berbeda antara satu dengan lain dalam penguasaan matematika.

Siswa dianggap memunyai kesiapan mental dan kemampuan yang berbeda-beda dalam mempelajari matematika. Oleh karena itu, setiap individu memerlukan kesempatan, perlakuan, dan fasilitas yang berbeda-beda dalam mempelajari matematika.

Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika dan pembelajaran matematika berimplikasi kepada fungsi guru sebagai fasilitator sebaik-baiknya agar siswa dapat mempelajari matematika secara optimal.

Matematika dipandang bukan untuk diajarkan oleh guru, tetapi untuk dipelajari oleh siswa. Siswa ditempatkan sebagai titik pusat pembelajaran matematika.

Guru bertugas menciptakan suasana, menyediakan fasilitas, dan lainnya, sedang peranan guru lebih bersifat sebagai manajer daripada pengajar.

Pembelajaran dilakukan dalam suasana yang kondusif, yaitu suasana yang tidak begitu formal.

Siswa mengerjakan kegiatan matematika yang berbeda-beda dengan target yang berbeda-beda.

Guru memunyai tiga fungsi utama yaitu: sebagai fasilitator, sumber ajar dan pemonitor kegiatan siswa.

Dengan demikian, guru dapat mengembangkan metode pembelajaran secara bervarisasi: ceramah, diskusi, pemberian tugas, seminar, dan sebagainya. Sumber belajar atau referensi merupakan titik sentral dalam pembelajaran matematika.

Variasi sumber belajar atau referensi diperlukan termasuk buku-buku, jurnal, dan akses ke internet. Penilaian dilakukan dengan pendekatan asesmen, portofolio, atau autenthic assessment.

2.Hermenitika Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika


Unsur dasar hermenitika implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika adalah kegiatan mengomunikasikan matematika pada berbagai dimensi.

Komunikasi dapat didefinisikan sebagai berbagai bentuk vitalitas potensi-potensi relational antara subjek-subjek, subjek-objek, objek-subjek atau objek-objek. Bentuk vitalitas memiliki makna kesadaran dan perubahan ke dalam, paralel atau keluar dari diri potensi.

Oleh karena itu salah satu sifat vitalitas adalah sifat relational dan sifat penunjukkan kepada subjek atau objek di dalam, paralel atau diluar dirinya.

Maka, terbentuklah suatu relasi yang bersifat fungsional diantara subjek-subjek atau objek-objek.

Sifat penunjukkan terhadap subjek atau objek selain dirinya disebut juga sebagai sifat determine.

Satu-satunya substansi yang tidak dapat dihilangkan dari relasi penunjukkan atau determine adalah “sifat”.

Jadi, untuk dapat memahami secara ontologis hakikat komunikasi matematika, kita harus dapat memahami sifat, bukan sebagai sifat, tetapi sifat sebagai subjek dan sifat sebagai objek.

Jika sifat-sifat sudah melekat pada subjek atau objeknya, maka kita dapat mengatakan sebagai ciri-ciri subjek atau ciri-ciri objek berdasar sifat-sifatnya.

Jadi komunikasi matematika merupakan bentuk vitalitas dari potensi korelational yang memunyai sifat-sifat penunjukkan atau determine, yaitu terkarakterisasikannya sifat-sifat yang terjunjuk berdasar sifat-sifat penunjuk.

Dimensi komunikasi ditentukan oleh sifat apakah sifat dari subjek atau objeknya memunyai sifat dengan arah ke dalam, arah paralel, atau arah ke luar.

Dimensi komunikasi juga ditentukan oleh banyaknya satuan potensi matematika yang terlibat dan ragam vitalitas yang diakibatkan.

Secara harfiah, kristalisasi dimensi komunikasi matematika memberikan makna adanya komunikasi material matematika, komunikasi formal matematika, dan komunikasi normatif matematika.

a.Pendidikan karakter melalui komunikasi material matematika


Komunikasi material matematika didominasi oleh sifat horisontal arah vitalitasnya.

Dilihat dari segi keterlibatannya, jumlah satuan potensi yang terlibat adalah bersifat minimal jika dibandingkan dengan komunikasi dari dimensi yang lainnya.

Maka, sebagian orang dapat memperoleh kesadaran bahwa komunikasi material matematika adalah komunikasi dengan dimensi paling rendah.

Sifat korelasional sejajar memiliki makna kesetaraan antara subjek atau objek komunikasi. Implikasi dari kesetaraan subjek dan objek adalah bahwa mereka memiliki posisi yang paling lemah dalam sifat penunjukannya.

b.Pendidikan Karakter melalui Komunikasi Formal Matematika

Komunikasi formal matematika didominasi oleh sifat-sifat korelasional ke luar atau ke dalam dari vitalitas potensinya.

Korelasi ke luar atau ke dalam memunyai makna perbedaan antara sifat-sifat yang di luar dan sifat-sifat yang di dalam.

Korelasi antara perbedaan sifat itulah yang menentukan sifat dari subjek atau objek komunikasinya.

Implikasi dari perbedaan sifat-sifat subjek atau sifat-sifat objek memberikan penguatan adanya perbedaan sifat penunjukan.

Vitalitas dari subjek matematika dengan potensi lebih besar akan mengukuhkan dirinya tetap bertahan sebagai subjek, sedangkan vitalitas dari subjek dengan potensi lebih kecil akan menggeser peran subjek dirinya menjadi peran objek bagi subjeknya.

Intuisi two-oneness akan membantu subjek matematika untuk memahami objek matematika.

c.Pendidikan Karakter melalui Komunikasi Normatif Matematika


Komunikasi normatif matematika ditandai dengan meluruhnya sifat-sifat penunjukan korelasionalitas penunjukannya pada diri subjek dan objeknya.

Namun demikian, komunikasi dikatakan memunyai dimensi yang lebih tinggi dikarenakan keterlibatan satuan-satuan potensinya lebih banyak, lebih luas, dan lebih kompleks.

Meluruhnya sifat penunjukan korelasional horisontal bukan disebabkan oleh lemahnya potensi dan vitalitas komunikasi, tetapi semata-mata dikarenakan luasnya jangkauan dan keterlibatan satuan-satuan potensi dan vitalitas baik pada diri subjek maupun objek.

Maka, pada komunikasi normatif dapat dideskripsikan sifat-sifat pada subjek dan objeknya sebagai subjek yang memunyai potensi dan vitalitas matematika yang tinggi, tetapi memunyai korelasional horisontal yang rendah.

Dapat dimengerti bahwa pada komunikasi normatif matematika, sifat-sifat korelasional ke dalam dan keluar bersifat semakin kuat. Mereka semakin kuat jika dibandingkan pada komunikasi material ataupun komunikasi formal.

Keadaannya dapat digambarkan sebagi suatu gencatan senjata atau cease fire di antara potensi dan vitalitas matematika ke dalam dan ke luarnya.

Struktur komunikasi demikian ternyata merupakan struktur komunikasi yang lebih banyak mampu menampung karakteristik subjek atau objek komunikasi matematika.

Komunikasi normatif matematika ditandai adanya sifat-sifat ideal yang abstrak dari potensi dan vitalitas subjek dan objek matematika, misalnya keadaan baik atau buruknya matematika, pantas atau tidak pantasnya matematika, seyogyanya atau tidak seyogyanya matematika, bermanfaat atau tidaknya konsep matematika, dan seterusnya.

d.Pendidikan Karakter melalui Komunikasi Spiritual Matematika


Sifat-sifat korelasional keluar dari konsep matematika menunjukkan keadaan semakin jelas dan tegasnya apakah dalam bentuk ke luar ke atas atau ke luar ke bawah.

Korelasionalitas potensi dan vitalitas matematika ke atas akan mentransformasikan bentuk komunikasi ke dimensi yang lebih atas yaitu komunikasi spiritual matematika.

Di pihak lain, korelasional potensi dan vitalitas ke bawah akan mentransformasikan bentuk komunikasi matematika ke dimensi yang lebih bawah, yaitu komunikasi formal matematika atau komunikasi material matematika.

Maka komunikasi spiritual matematika menampung semua komunikasi yang ada dan yang mungkin ada. Komunikasi ke dalam akan memberikan sifat penunjukan absolut bagi subjek dan objek matematika.

Komunikasi ke luar ke atas akan meluruhkan semua sifat subjek dan objek matematika sehingga dicapai keadaan subjek dan objek komunikasi dengan sifat tanpa sifat.

Keadaan subjek dengan sifat tanpa sifat itu adalah keadaan di mana subjek dan objek komunikasi juga meluruh ke dalam keadaan di mana subjek dan objek matematika yang tidak dapat dibedakan lagi.

Artinya, tiada subjek dan objek komunikasi matematika pada tataran metafisik dari komunikasi spiritual dapat diidentifikasi dengan menggunakan hubungan korelasional potensi dan vitalitas subjek dan objek.

Hubungan korelasional ke dalam kemudian mentransformaikans semua potensi dan vitalitas matematika ke dalam subjek absolut.

Subjek absolut merupakan subjek dengan dimensi tertinggi yang mengatasi segala subjek dan objek komunikasi sekaligus juga mengatasi semua jenis komunikasi yang ada dan yang mungkin ada.

E.Pendidikan Karakter di dalam Pengembangan dan Inovasi Pendidikan Matematika


Implementasi pendidikan karakter di dalam kaitannya dengan pengembangan dan inovasi pendidikan matematika dapat diperoleh melalui berbagai kegiatan yang mencakup semua aspek pembelajaran matematika.

Berbagai persoalan dan tantangan akan timbul sesuai dengan konteks ruang dan waktu dimana pembelajaran matematika itu diselenggarakan.

Berikut adalah butir-butir yang dapat digunakan sebagai bahan renungan dan kajian lebih lanjut:
1)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dalam pengembangan PBM matematika yang menekankan kepada proses?
2)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui pembelajaran matematika kooperatif learning?
3)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dalam belajar kelompok matematika?
4)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui belajar matematika di luar kelas?
5)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui permainan matematika?
6)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui variasi model pembelajaran matematika?
7)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui pemanfaatan benda-benda konkret dalam PBM matematika?
8)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dalam pembelajaran kontekstual matematika?
9)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui pemanfaatan alam sekitar dalam PBM matematika?
10)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui team teaching matematika?
11)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dengan cara mendorong inisiatif siswa dalam PBM matematika?
12)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dengan cara meningkatkan peran siswa dalam PBM matematika?
13)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui pengembangan variasi sumber belajar matematika?
14)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui pemanfaatan alat peraga matematika?
15)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter berbagai percobaan matematika?
16)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dalam perencanaan pembelajaran matematika yang inovatif?
17)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter pada diskusi matematika?
18)Bagaimanakah guru mampu memonitor aspek pendidikan karakter dalam PBM matematika?
19)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dalam lesson study pembelajaran matematika?
20)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui kegiatan presentasi siswa?
21)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui kemandirian belajar matematika?
22)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui peningkatan peran fasilitator guru?
23)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dalam kegiatan asesment matematika?
24)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui kegiatan remedial matematika?
25)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter pada kegiatan apersepsi siswa?
26)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan melalui variasi interaksi dan komunikasi matematika?
27)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui peningkatan kreativitas siswa?
28)Bagaimanakah mewujudkan portfolio pendidikan karakter dalam PBM matematika?
29)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui kegiatan konstruksi konsep-konsep matematika secara mandiri?
30)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui matematika realistik?
31)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dalam kegiatan refleksi siwa?
32)Bagaimanakah mengembangkan instrument observasi pendidikan karakter dalam PBM matematika?
33)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter yang selaras dengan konsep “Education is for All?”
34)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter sesuai dengan kebutuhan belajar matematika siswa?
35)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dalam pengembangkan LKS pembelajaran matematika?



E. Kesimpulan

Untuk dapat mengimplementasikan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika diperlukan pemahaman tentang makna karakter, karakter bangsa, matematika dan pendidikan matematika pada berbagai dimensi.

Dimensi makna karakter dalam pendidikan matematika dapat dilihat dari sisi dimensi karakter matematika, karakter pendidikan matematika yang meliputi karakter guru matematika dan karakter siswa belajar matematika, baik untuk contoh-contoh konkret maupun bentuk-bentuk idealnya.

Pengembangan karakter dalam pendidikan matematika dapat dilaksanakan dengan mengembangkan komunikasi material, komunikasi formal, komunikasi normative, dan komunikasi spiritual.

Dalam kaitannya dengan pengembangan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika, kita memerlukan pendekatan yang lebih cocok dengan dunia siswa belajar matematika.

Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika ditentukan seberapa jauh kita mampu mendefinisikan dan mengimplementasikan konsep dasar matematika sekolah.

Matematika sekolah yang cocok dengan pendidikan karakter antara lain menganggap matematika sebagai kegiatan menelusuri pola-pola, kegiatan penelitian atau investigasi, kegiatan pemecahan masalah, dan kegiatan komunikasi.

Pada akhirnya, implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika diharapkan dapat berkontribusi pada keunggulan bangsa melalui inovasi pembelajran matematika yang dilakukan secara terusmenerus baik secara instrinsik, ekstrinsik, atau sistemik.

DAFTAR PUSTAKA
Ebbutt, S dan Straker, A., 1995, Children and Mathematics: A Handbook for Teacher, London: Collins Educational.
Ernest, P., 1991, The Philosophy of Mathematics Education, London: The Falmer Press.
Kant, I., 1781, “The Critic Of Pure Reason: SECTION III. Systematic Representation of all Synthetical Principles of the Pure Understanding” Translated By J. M. D. Meiklejohn, Diunduh tahun 2003
Shirley, 1986, Mathematics Ideology, London : The Falmer Press

86 comments:

  1. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Mendefinisikan dan mengimplementasikan sebuah konsep dasar matematika sekolah bukanlah hal yang mudah, untuk mensukseskan pendidikan karakter didalam ranah pendidikan matematika. Hal tersbeut diakibatkan karena tidak semua guru bersinergi secara maksimal untuk menciptakan pendidikan matematikan yang dilandasi oleh pendidikan karakter. Matematika sekolah belum dianggap sebagai kegiatan untuk menelusuri pola-pola, kegiatan penelitian. Komunikasi dan pemecahan masalah.

    ReplyDelete
  2. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPS P.Mat D

    Pendidikan karakter penting diberikan tidak hanya pada mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan atau satu mata pelajaran yang lainnya saja, tapi pendidikan karakter diberikan pada setiap mata pelajaran termasuk mata pelajaran matematika. Pengembangan karakter dalam pendidikan matematika dapat dilaksanakan dengan mengembangkan komunikasi material, komunikasi formal, komunikasi normative, dan komunikasi spiritual. Dengan ditanamkannya pendidikan karakter maka anak akan terbiasa berlaku jujur, bertanggung jawab, mandiri, disiplin, dll.

    ReplyDelete
  3. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Bangsa yang kuat tidak hanya didukung oleh kemampuan kognitifnya, tetapi juga diimbangi dengan karakter yang kuat dalam diri warganya. Karena tanpa karakter yang baik, kepandaian seseorang sangat mungkin untuk disalahgunakan. Oleh karena itu, pendidikan karakter memiliki peran penting dalam dunia pendidikan termasuk dalam pendidikan matematika. Pendidikan karakter dalam pendidikan matematika harus dikembangkan dengan pendekatan yang sesuai dengan dunia siswa belajar matematika di sekolah. Matematika merupakan kegiatan menelusuri pola atau hubungan, kegiatan investigasi atau penelitian, kegiatan pemecahan masalah, dan kegiatan komunikasi. Dengan demikian, siswa selain dapat mempelajari matematika dengan baik, mereka juga dapat mengembangkan karakter yang mereka miliki. Pengembangan karakter dalam pendidikan matematika dapat dilaksanakan dengan mengembangkan komunikasi material, komunikasi formal, komunikasi normatif, dan komunikasi spiritual. Dengan ditanamnya pendidikan karakter dalam pendidikan matematika maka siswa dapat akan terbiasa dan terlatih untuk jujur, mandiri, kerja keras, teliti, kreatif, kerja sama, kritis, dsb.

    ReplyDelete
  4. Untuk dapat memahami pendidikan karakter dalam pendidikan matematika maka perlu untuk memahami karakter dari matematika. Ketika matematika merupakan kegiatan kreatif makan pendidikan karakter yang dapat diambil adalah kreativitasnya. Kemudian ketika matematika merupakan komunikasi ide maka pendidikan karakter yang dapat diambil adalah kerjasama. Dengan kerjasama maka terjadi komunikasi. Kerjasama dapat meringankan suatu masalah.

    ReplyDelete
  5. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Assalamualaikum wr. . wb.
    Pengembangan karakter seharusnya membawa anak ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata untuk sampai ke praksis ada satu peristiwa batin penting yang terjadi dalam diri anak yaitu munculnya keinginan yang sangat kuat (tekad) untuk mengamalkan nilai. Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan modern mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini. Karakter utama untuk pelajaran matematika meliputi berpikir logis, kritis, kerja keras, keingintahuan, kemandirian, dan percaya diri.

    ReplyDelete
  6. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Pendidikan karekater adalah program yang saat ini sedang sangat digencarkan. Pendidikan karakter bertujuan untun mnciptakan gerenasi penerus bangsa yang berilmu dan berakhlak mulia.Peran guru disini sangatlah penting untuk melaksanakan pendidikan karekater. Bukanlah hal yang mudah bagi guru untk menanamkan pendidikan karakter kepada anak didiknya. Banyak guru di inonesia yang karakternya sendiri saja masih dipertanyakan.

    ReplyDelete
  7. Isna Nur Hasanah H
    14301244009
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Pendidikan karakter sejak dini merupakan substansi yang penting dalam menjaga dan memperkokoh kepribadian bangsa dan negara. Pendidikan karakter tidak hanya dapat diaplikasikan ke dalam salah satu mata pelajaran tertentu saja, melainkan mampu diintegrasikan ke seluruh mata pelajaran yang ada di sekolah, demikian pula matematika. Pendidikan karakter yang diharapkan tertanam dalam diri siswa melalui matematika antara lain jujur, berani, tanggungjawab, disiplin, dan sebagainya. Sebelum membentuk dan menanamkan pendidikan karakter kepada siswa, seorang guru wajib untuk menjadi suri tauladan yang mencerminkan karakter yang akan dicapai dalam suatu proses belajar mengajar. Sebagai contoh, ketika hendak menanamkan karakter jujur dalam diri siswa, jangan sampai guru tersebut bertindak tidak jujur, tidak jujur dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran contohnya. Ketika hendak menanamkan karakter disiplin dalam diri siswa, jangan sampai seorang guru terlambat ketika masuk kelas atau mengakhiri pembelajaran lebih dini yang mencerminkan ketidakdisiplinan waktu dalam pembelajaran. Pada intinya, untuk menjadi seorang seorang pendidik atau calon pendidik yang akan menanamkan pendidikan karakter dalam diri siswanya, terlebih dahulu harus memiliki karakter yang sangat kuat dalam dirinya.

    ReplyDelete
  8. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    matematika merupakan suatu ilmu yang membutuhkan timgkat berpikir yang tinggi, tentu menuntut beberapa hal dalam mempelajarinya, seperti ketelitian., kesabaran, daya juang dan tingkat berpikir kretif serta rasa percaya diri siswa tumbuh seiring dengan pembelajaran matematika diberikan. Dengan demikian implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika mengandung makna seberapa jauh kita mampu melakukan kegiatan dalam rentang niat, sikap, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman matematika, pendidikan matematika, dan pembelajaran matematika. Matematika dipandang sebagai kebenaran absolut dan pasti, tetapi peran individu sangat menonjol dalam pencapaiannya. maka perlu adanya pesan moral disetiap aspek pembelajaran yang diberikan oleh guru dikelas.
    sebagaimana yang kita ketahui bahwa bangsa indonesia merupakan bangsa yang memiliki karakter seperti halnya budi pekertinya.

    ReplyDelete
  9. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Matematika itu sendiri sesungguhnya memiliki karakter yang khas. Karakter matematika yang ada yaitu jujur, kerja keras, kreatif, gigih pantang menyerah, dan sebagainya. Sehingga sesungghnya jika seseorang sungguh-sungguh mempelajari matematika maka dengan otomatis, segala apa yang kita alami bersama matematika niscaya sifatnya akan menular pada kita. Sehingga pendidikan karakter pun terwujud. Jika dilihat kurikulum 2013 itu semua merupakan implementasi KI.2. selanjutnya untuk mematangkan karakter berikutnya yaitu dengan menjalankan KI 1 dengan sungguh-sungguh.

    ReplyDelete
  10. Terimakasih setulusnya, Prof Marsigit, dengan tulisan Prof ini, selain menginspirasi saya dalam penyusunan naskah buku pengembangan kurikulum pendidikan matematika berbasis karakter, saya mendapat pencerahan tentang hakikat matematika dalam berbagai konteks, dalam berbagai perspketif. Sesungguhnya kebenaran itu relatif, pun sama dengan karakter. Dikatakan berkarakter juga relatif karena memandang ruang dan waktu. Matematika sendiri memiliki sifat, sebagai subjek dan objek. Sebagai objek dapat dipahami secara materiil dan formal. Mempelajari matematika, secara langsung maupun tidak langsung akan memeberikan pengaruh kepada learner matematika. Dampak langsung berupa mathematics knowledge, sedangkan dampak tidak langsung adalah karakter, sikap, value. Melalui knowledge dan Value, karakter yang berkaitan dengan matematika maka mendorong learner melakukan aktivitas matematika sebagai kecakapan atau ketrampilan/ skill. Artinya, melalui matematika sekolah (pendidikan) akan lebih jelas kontribusi matematika sebagai salah satu bidang studi pendukung character building. Melalui aktivitas matematika, seperti pemecahan masalah, berpikir kritis, berpikir kreatif, berkomunikasi, representasi, bernalar, berkolaborasi maka secara langsung dan tidak langsung akan menjadi pengalaman belajar yang berupa karakter yang menjadi salah satu capaian pembelajaran siswa. Tugas guru adalah bagaimana mengoptimalkan potensi kecerdasan majemuk siswa sehingga aspek karakter tersebut akan menjadi kekuatan siswa dalam memajukan hasil belajarnya (matematika),memajukan hasil belajar mapel lain serta akan mendorong prestasi non akademik lainnya. Bagaimanapun matematika sebagai ilmu dasar sangat penting dikembangkan guna membekali peserta didik menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, bermanfaat.

    ReplyDelete
  11. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Dimensi dalam matematika bagaimana kita melihat matematika berdasarkan ruang dan waktunya. Namun lain halnya dengan dimensi dari karakter dalam pendidikan matematika. Dimensi ini terbatas oleh ruang dan waktu alasannya karena karakter di sini merupakan karekater dari guru dan siswa serta materi yang diajarkan, baik itu berupa hal – hal konkrit maupun dalam bentuk idealnya.

    ReplyDelete
  12. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Matematika dan pengembangan karakter dapat juga dibaca melalui link https://www.academia.edu/2229723/Implementasi_Pendidikan_Karakter_dalam_Pendidikan_Matematika
    Yang ditulis oleh Pak Prof sendiri. Mengutip dari link ini, Pengembangan karakter dalam pendidikan matematika dapat dicapai atas dasar pemahaman tentang pengetahuan matematika yang bersifat objektif dan pelaku matematika yang bersifat subjektif di dalam usahanya untuk memperoleh justifikasi tentang kebenaran matematikamelalui kreasi, formulasi, representasi, publikasi dan interaksi. Secara eksplisit pengembangankarakter dalam pendidikan matematika mendasarkan pada : (1) pengetahuan matematika pada berbagai dimensinya, yang meliputi hakikat, pembenaran, dan kejadiannya, (2) objek matematika pada berbagai dimensinya yang meliputi hakikat dan asal-usulnya, (3) penggunaan matematikaformal yang meliputi efektivitasnya dalam sains, teknologi, dan ilmu lainnya, serta (4) praktik matematika pada berbagai dimensi secara lebih umum termasuk aktivitas para matematikawan atau aktivitas matematika para siswa SD.

    ReplyDelete
  13. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat. Pendidikan karakter juga berarti melakukan usaha sungguh-sungguh, sitematik dan berkelanjutan untuk membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan semua orang Indonesia bahwa tidak akan ada masa depan yang lebih baik tanpa membangun dan menguatkan karakter rakyat Indonesia. Dengan kata lain, tidak ada masa depan yang lebih baik yang bisa diwujudkan tanpa kejujuran, tanpa meningkatkan disiplin diri, tanpa kegigihan, tanpa semangat belajar yang tinggi, tanpa mengembangkan rasa tanggung jawab, tanpa memupuk persatuan di tengah-tengah kebinekaan, tanpa semangat berkontribusi bagi kemajuan bersama, serta tanpa rasa percaya diri dan optimis.

    ReplyDelete
  14. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Pendidikan karakter sekarang sedang banyak dibicarakan oleh masyarakat umum. Pendidikan karakter digalangkan dengan tujuan untuk menciptakan generasi bangsa yang berbudi pekerti luhur. Implementasi dari adanya pendidikan karakter dapat dilakukan dalam mata pelajaran matematika, yakni kegiatan dalam kaitannya dengan niat, sikap, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman matematika, pendidikan matematika, serta pembelajaran matematika. Rasa senang dan ikhlas untuk mempelajari matematika menunjukkan sikap matematika. Pemahaman tentang makna karakter, karakter bangsa, matematika dan pendidikan matematika pada berbagai dimensi diperlukan Karakter pendidikan matematika meliputi karakter guru matematika dan karakter siswa belajar matematika. Pendidikan karakter dalam matematika dapat dilakukan dengan menganggap matematika sebagai kegiatan menelusuri pola-pola, yang kemudian dilanjutkan kegiatan penelitian atau investigasi, kegiatan pemecahan masalah, dan kegiatan komunikasi. Perpaduan antara pendidikan karakter dengan pendidikan matematika merupakan suatu hal yang sangat unik sebagai suatu proses pembelajaran. Pendekatan yang cocok dengan dunia siswa ketika belajar matematika digunakan untuk dapat mengembangkan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika.

    ReplyDelete
  15. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Aspek utama dalam pendidikan yang perlu ditingkatkan dan dikembangkan yaitu aspek kognitif, psikomotorik dan afektif siswa. Maka dalam pendidikan matematika sebagai bagian dari pendidikan memiliki tanggung jawab yang sama dengan mata pelajaran lain untuk mengembangkan karakter siswa sebagai calon generasi masa depan. Cara yang utama adalah melalui pembelajaran di kelas yang secara konsisten menanamkan kebiasaan-kebiasaan dan perilaku yang berkarakter. Contoh karakter demokratis, teliti, tanggung jawab, patuh pada aturan sosial. Tujuan: Siswa dapat melukis segitiga dalam situasi yang demokratis secara teliti, tanggung jawab, dan patuh pada aturan sosial.Kegiatan belajar: Kegiatan diawali dengan penjelasan langkah melukis segitiga. Caranya bisa dilakukan langsung dijelaskan guru melalui contoh-contoh segitiga di papan, guru mendemonstrasikan keterampilannya atau bantuan media presentasi (powerpoint)atau siswa diminta membaca langkah-langkah melukis dalam buku sumber tertentu atau mencari sendiri. Alternatif lain cara menyampaikan informasi ini bervariasi, bisa juga mengkombinasikan satu dengan yang lain. Selain itu, secara tidak langsung dalam belajar matematika membentuk dan membangun sikap dan perilaku yang disiplin, jujur, terstruktur, berpikir logis dan solusif.

    ReplyDelete
  16. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPS Pendidikan Matematika C 2016

    Untuk dapat mengimplementasikan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika diperlukan pemahaman tentang makna karakter, karakter bangsa, matematika dan pendidikan matematika pada berbagai dimensi.
    Dimensi makna karakter dalam pendidikan matematika dapat dilihat dari sisi dimensi karakter matematika, karakter pendidikan matematika yang meliputi karakter guru matematika dan karakter siswa belajar matematika, baik untuk contoh-contoh konkret maupun bentuk-bentuk idealnya.

    ReplyDelete
  17. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Pendidikan karakter yang terdapat dalam kurikulum 2013 memang sebenarnya ingin menyentuh ranah afektif siswa. Memang hal seperti ini sangatlah penting untuk diajarkan kembali melewati kurikulum 2013, karena memang selama ini telah mengalami kemerosotan nilai moral yang sangat terlihat tidak jelas. Matematika memang sedikit banyak bisa membantu dalam usaha mengembangkan karakter para siswanya dalam bertingkah laku dengan sopan. Sehingga nantinya tidak hanya menciptakan siswa yang pandai saja, namun juga siswa yang memiliki karakter yang baik.

    ReplyDelete
  18. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Dalam pendidikan matematika, tidak hanya membutuhkan pembelajaran yang bermakna, tetapi juga membutuhkan pendidikan karakter. Pendidikan karakter diperlukan agar siswa memiliki pemahaman hakikat dari matematika agar siswa tahu apa yang ia pelajari dan memiliki sikap yang baik, bukan hanya dalam pelajaran matematika saja tetapi juga dalam aplikasi dalam kehidupan sehari – hari. Matematika juga merupakan suatu ilmu yang terkait dengan budaya maka diperlukan pendidikan karakter agar siswa mampu memahami konsep dari matematika itu dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari – hari.

    ReplyDelete
  19. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Matematika sekolah yang cocok dengan pendidikan karakter antara lain menganggap matematika sesuai hakikat matematika sekolah Ebutt and Straker, yaitu sebagai kegiatan menelusuri pola-pola, kegiatan penelitian atau investigasi, kegiatan pemecahan masalah, dan kegiatan komunikasi.”
    Jika pernyataan tersebut dikaitkan dengan Kurikulum 2013 (K13) menurut saya itu sejalan. Dalam K13 ditekankan pendidikan karakter melalui KD 1 dan KD 2. Sedangkan penanaman konsep matematika tetap dilakukan untuk siswa. Hal tersebut dilakukan melalui 5 langkah pembelajaran Saintifik yaitu mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi/menalar, dan mengkomunikasikan. Oleh sebab itu, meskipun masih ada pandangan kurang baik terhadap K13 tetapi hal ini sudah menjadi kebijakan pemerintah. Hal yang penting adalah memperhatikan kebutuhan siswa kita. Siswa bukan hanya membutuhkan ilmu matematika tetapi juga ilmu kehidupan melalui pendidikan karakter yang terintegrasi dalam pembelajaran matematika. Hal itu sebagai bekal nantinya dalam kehidupan bermasyarakat.

    ReplyDelete
  20. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Pendidikan karakter dalam pendidikan matematika menekankan pada hubungan antarmanusia dan menghargai adanya perbedaan antar individu. Selain itu untuk mengenali pendidikan karakter dalam matematika maka perlu memahami hakikat matematika, karakter bangsa, dan juga pendidikan matematika itu sendiri. Perwujudan karakter dapat dikembangkan dengan memilih tujuan karakter yang ingin dikembangkan, misalnya komunikasi. Untuk itu pembelajaran perlu dirancang dengan pendekatan yang paling cocok dengan dunia siswa belajar matematika seperti yang dijelaskan pada artikel di atas.

    ReplyDelete
  21. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Kalau berbicara masalah pendidikan karakter maka kita sering dan selalau mendengarkan kurikulum berbasis karakter atau kur 2013 dan kur seterusnya. Pendidikan karater disnsi akan didukung oleh kurikulum yang memaang dis esuiakn dengan tujuan paa yang hendak dicapai dari suatau kurikulum,a atau hasil dari kurikukum yang adkana akan memeiliki tujuan kearah mana.

    ReplyDelete
  22. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya terarik dengan bahasan pendidikan karakter ini, karna menurut saya pendidikan karakter ini penting bagi siswa sekolah, disamping tujuan peningkatan kognitif dalam pembelajaran, pendidikan karakter juga tidak boleh dikesampingkan, karena pendidikan karakter ini mendasari perilaku dari siswa, pendidikan karater baiknya dimulai sejak dini sehingga sudah menjadi terbiasa dan benteng untuk menjalani kehidupan mendatang, tanpa disadari pendidikan di indonesia sekarang ini sedang krisis pendidikan karakter, terlihat dari banyaknya penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh siswa siswa, seperti mencontek, tawuran, dll, hal ini perlu diperbaikai dan perlu ditekankan lagi pendidikan karakter di dalam proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  23. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    pendidikan karakter penting diera globalisasi ini, dimana era ini informasi posiif dan negatif sanagt mudah diakses, dan budaya barat sudah mulai masuk di Indonesia.Dan dalam inilah suatu karakter bangsa sangat diperlukan. Apabila suatu bangsa memiliki karakter yang kuat maka generasi muda tidak akan tertindas dan begitupula dengan tata nilai. Dimana jika suatu bangsa memiliki karakter yang kuat maka tata nilai yang sejak dulu telah ada tidak akan tergerser atau bahkan terhapuskan. Namun, jika karakter yang dimiliki suatu bangsa tidak kuat, maka generasi muda dan tata nilai yang ada akan dengan mudah tertindas oleh negara-negara lain, informasi, dan budaya asing yang masuk. sehingga pendidikan karakter penting diterapkan pada proses pembelajaran yang ada disekolah.

    ReplyDelete
  24. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Pendidikan karakter sebaiknya memang dikembangkan dalam lingkup sekolah, karena bagaimanapun karakter siswa tersebut penting. Dengan bersekolah di sebuah sekolah yang sangat menekankan pendidikan karakter maka diharapkan siswa siswa menjadi pribadi yang lebih baik dan memiliki karakter yang baik. Pembentukan karakter dalam diri siswa tentunya sangat penting karena karakter anak Bangsa dapat menentukan kemana arah tujaun Bangsa ini.

    ReplyDelete
  25. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai yanga da pada diri siswa terhadap diri sendiri, dan lingkungannya yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji serta menerapkan nilai-nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari. Dimana pendidikan karakter ini dapat terwujud jika kita integrasikan kedalam kegiatan pembelajaran pada setiap mata pelajaran.

    ReplyDelete
  26. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Pendidikan karakter di Indonesia bertujuan untuk membentuk karakter siswa menjadi lebih baik. Matematika tidak hanya dapat membentuk pengetahuan siswa, tetapi juga dapat membentuk karakter siswa. Pendidikan karakter dalam matematika dapat dilakukan melalui kegiatan menelusuri pola-pola, kegiatan penelitian atau investigasi, kegiatan pemecahan masalah, dan kegiatan komunikasi.

    ReplyDelete
  27. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Pendidikan karakter pada setiap mata pelajaran tentu nya berbeda. Jika pada matapelajaran PPKn pendidikan karakter tertuang dalam sikap disiplin, jujur, dan lain sebagainya, tetapi disiplin dan jujur dalam matematika tentunya berbeda. Saya sependapat bahwa pendidikan karakter yang ada dalam matematika sekolah antara lain menganggap matematika sebagai kegiatan menelusuri pola-pola, artinya sikap disiplin kita teruji dalam pembelajaran matematika, kemudian kegiatan penelitian atau investigasi yang memerlukan tanggungjawab dan kerja keras, serta kegiatan pemecahan masalah, dan kegiatan komunikasi.

    ReplyDelete
  28. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Pendidikan karakter sangat penting dalam membentuk karakter siswa agar tidak hanya intelektual saja, namun juga berkarakter. Dalam pendidikan khususnya pendidikan matematika, pendidikan karakter diterapkan agar siswa memiliki sikap kepribadian yang baik demi masa depan yang lebih baik. Mengajar itu mudah, namun mendidik itu tidaklah mudah dibutuhkan kesabaran dan istiqomah karena heterogen.

    ReplyDelete
  29. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Seperti pandangan sosial konstruktifis Matematika merupakan aktivitas sosial. Sehingga tidak lepas dari komunitas Matematika dalam kelasnya untuk berkomunikasi. Proses komunikasi ini dapat menjadi salah satu karakter yabg dikembangkan untuk menjadi generasi yang aktif. Sehingga dapat memberikan kontribusi untuk pendidikan karakter.

    ReplyDelete
  30. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  31. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Salah satu pendidikan karakter yang ada dalam pembelajaran matematika adalah saat diskusi. Pada waktu diskusi siswa menyampaikan pendapat dirinya mendengar pendapat orang lain serta menanggapi pendapat tersebut. Saat itu siswa belajar untuk menghargai perbedaan dalam diskusi. Sehingga siswa memiliki karakter positif yakni saling menghargai. Selain itu siswa juga belajar bahwa keberagaman itu ada dari variasi pendapat dalam diskusi.

    ReplyDelete
  32. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Banyak guru masih mengalami kesulitan dalam menerapkan Pendidikan Karakter dalam Pelajaran Matematika. Pendidikan karakter memang sudah tercantum dalam KI 1 dan KI 2 dalam kurikulum pendidikan kita. Pada hakekatnya, Pendidikan karakter hanya tercipta melalui keteladanan dan pembiasaan, termasuk keteladanan dalam keluarga maupun berbagai tokoh melalui berita di berbagai media. Pendidikan sekolah hanya sebagian kecil dari proses pendidikan karakter yg sesungguhnya.

    ReplyDelete
  33. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Fungsi pendidikan karakter karakter adalah untuk mengembangkan potensi dasar seorang anak agar berhati baik, berperilaku baik, serta berpikiran yang baik. Dengan fungsi besarnya untuk memperkuat serta membangun perilaku anak bangsa yang multikultur. Selain itu pendidikan karakter juga berfungsi meningkatkan peradaban manusia dan bangsa yang baik di dalam pergaulan dunia. Pendidikan karakter dapat dilakukan bukan hanya di bangku sekolah, melainkan juga dari bergai media yang meliputi keluarga, lingkungan, pemerintahan, dunia usaha, serta media teknologi. Tujuan pendidikan karakter adalah membentuk bangsa yang tangguh, berakhlak mulia, bermoral, bertoleransi, bekerja sama atau bergotong royong.

    ReplyDelete
  34. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Pendidikan karakter juga membentuk bangsa mempunyai jiwa patriotik atau suka menolong sesama, berkembang dengan dinamis, berorientasi pada ilmu pengetahuan serta teknologi, beriman dan bertakwa pada Tuhan yang Maha Esa. Secara umum untuk mewujudkan pendidikan karakter dapat dilakukan melalui pendidikan formal, non formal, dan informal. Saling melengkapi dan mempercayai dan diatur dalam peraturan dan undang-undang. Pendidikan formal dilaksanakan secara berjenjang dan pendidikan tersebut mencakup pada pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, evokasi keagamaan dan khusus. Dalam pelaksanaan pendidikan karakter dapat dilakukan melalui jenjang pendidikan yang diimplementasikan pada kurikulum di tingkat satuan pendidikan yang memuat pelajaran normatif, adaptif, produktif, muatan lokal, dan pengembangan diri.

    ReplyDelete
  35. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Istilah karakter dihubungkan dan dipertukarkan dengan istilah etika, ahlak, dan atau nilai dan berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi positif, bukan netral. Pendidikan karakter memiliki tujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.
    Kemudian bagaimana pendidikan karakter dalam pembelajaran matematika. Matematika merupakan pengetahuan yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi manusia sehari-hari. Sehingga matematka juga dapat diarahkan pada pendidikan karakter.

    ReplyDelete
  36. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Artikel di atas sangat bermanfaat khususnya bagi kita sebagai calon guru yang akan mendidik siswa. Penanaman pendidikan karakter bagi generasi bangsa khususnya siswa atau mahasiswa memang penting dilakukan. Karena melalui pendidikan karakter inilah diharapkan mampu memecahkan krisis moral yang melanda di negara kita. Krisis moral tersebut antara lain meningkatnya pergaulan bebas, kebiasaan menyontek, kejahatan terhadap teman, kekerasan anak-anak dan remaja, budaya korupsi, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan lain-lain.

    ReplyDelete
  37. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pendidikan karakter merupakan suatu usaha untuk menanamkan nilai-nilai atau sikap yang baik bagi peserta didik, sehingga diharapkan siswa dapat mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam tingkah laku sehari-hari. Nilai-nilai tersebut diantaranya nilai religius, jujur, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Guru hendaknya menanamkan pendidikan karakter ini dengan cara menerapkan nilai-nilai tersebut dalam sikap dan perilaku secara terus-menerus, sehingga membentuk suatu kebiasaan. Dari kebiasaan tersebut akan tertanam karakter khusus bagi setiap individu siswa.

    ReplyDelete
  38. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Apakah matematika juga terdapat penanaman pendidikan karakter? Pendidikan karakter biasanya identik dengan pelajaran pendidikan kewarganegaraan. Namun, sebenarnya pada seluruh mata pelajaran pasti terselip atau memiliki pendidikan karakter, termasuk pendidikan matematika. Sesuai artikel di atas, pengembangan karakter dalam pendidikan matematika dapat dilaksanakan dengan mengembangkan komunikasi material, formal, normatif, dan spiritual. Sebagai guru, hendaknya mampu melakukan pendekatan dengan dunia siswa belajar matematika. Semoga dengan pengembangan pendidikan karakter ini mampu mempersiapkan generasi yang berkualitas dan kaya akan nilai-nilai karakter. Amin.

    ReplyDelete
  39. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. terimakasih Prof. Marsigit atas artikel yang diberikan. Dari artikel tersebut saya merefleksi bahwa karakter merupakan hal yang penting dalam menentukan jati diri bangsa. Karakter perlu ditanamkan dalam peendidikan di sekolah dalam semua jenjang dan semua mata pelajaran termasuk matematika. Pendidikan karakter merupakah salah satu langkah untuk mejaga jati diri bangsa dari pengaruh modernisasi. Guru berperan penting dalam menanmkan karakter yang baik kepada siswa dengan inovasi-inovasi yang dikembangkannya.

    ReplyDelete
  40. Anisa Wahyu Nur Khasanah
    14301241010
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Pendidikan Matematika dapat dipandang sebagai nilai yang bersinergis dengan pendidikan karakter, jika pendidikan karakter dipandang sebagai nilai. Prinsip dasar pengembangan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika meliputi proses yang secara hirarkis dari kesadaran diri dan lingkungan, perhatian, rasa senang, dan rasa membutuhkan; perlunya mencari informasi tentang karakter dan karakter dalam matematika, mengembangkan keterampilan yang menunjukan sifat, sikap, dan perilaku berkarakter dalam pendidikan matematika.

    ReplyDelete
  41. Anisa Wahyu Nur Khasanah
    14301241010
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Secara formal, objek matematika berupa benda pikir yang diperoleh dari benda konkret dengan melakukan abstraksi (kegiatan mengambil sifat-sifat tertentu untuk dipelajari) dan idealisasi (kegiatan menganggap sempurna sifat sifat yang ada). Sedangkan secara normative, objek matematika berupa makna yang terkandung dalam objek formal dan material yang akan menghasilkan nilai matematika. Berpikir matematika meliputi 3 aspek yaitu sikap matematika, metode memikirkan matematika, dan konten matematika. Implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran matematika yaitu melakukan kegiatan dengan niat, sikap, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman matematika.

    ReplyDelete
  42. Anisa Wahyu Nur Khasanah
    14301241010
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Implementasi pendidikan karakter di sekolah menekankan kepada hubungan antar manusia dan menghargai adanya perbedaan setiap individu, sedangkan implementasi dalam pendidikan matematika dan pembelajaran matematika lebih ke fungsi guru sebagai fasilitator. Guru bertugas menciptakan suasana kelas yang menyenangkan, menyediakan fasilitas serta sumber ajar dan pemonitoran siswa.

    ReplyDelete
  43. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Pendidikan dalam awal jaman sampai kahir jaman agar dapat tersampaikan perlu adanya diterjemahkan dan menterjemahkan. Hermenitika inplementasi pendidikan karakter matematika adalah kegiatan komunikasi matematika di berbagai dimensi. Kemampuan komunikasi matematika sangat penting dalam proses pembelajaran, karena melalui komunikasi matematika ide dan gagasan yanga ada dibenak siswa dapat dituangkan dalam komunikasi baik berupa simbol maupun dalam soal kontekstual yang dapat memorganisasi dan memperkuat cara berpikir matematisasi siswa.

    ReplyDelete
  44. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam lingkup pembelajaran matematika, banyak nilai-nilai pendidikan karakter (mengacu pada 18 nilai karakter yang ditetapkan pemerintah) yang dapat diterapkan kepada peserta didik. Di dalam proses pembelajaran matematika, menerapkan nilai kedisiplinan, kejujuran, kreatifitas, rasa ingin tahu, kerja keras dan tanggung jawab. Dimana dengan penerapan pendidikan karakter tersebut diharapkan menjadi insan bertakwa, mandiri dan cendekia.

    ReplyDelete
  45. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014



    pendidikan karakter itu penting bagi generasi muda Indonesia, karena pengetahuan (kognitive) tidak akan bermanfaat jika karakternya belum baik, pembelajaran matematika dikelas juga memiliki isi tentang pendidikan karakter, misalnya dapat proses diskusi atau dalam proses pembalajaran siswa diajaran untuk berperilaku baik sesuai dengan aturanya, beberapa nilai pendidikan karakter adalah kejujuran , rasa ingin tahu, pantang menyerah, displin, dll.

    ReplyDelete
  46. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014



    pendidikan karakter mencakup 18 nilai nilai secara umum, contohnya mandiri, bertanggung jawab,jujur, dll. hal itu bisa dilatih disela sela proses pembelajaran matematika, seiring perkemabangan zaman dimana arus globalisasi mulai mengikis budaya bangsa, saat ini Indonesia sedanng mengalami krisis karakter bangsa, dimana mulai tergerus oleh budaya barat, sehingga tetap perlu adanya pendidikan karakter itu, walaupun tidak secara langsung dalam pembelajaran khusus namun dapat diselipkan dalam pembelajran umum lainnya.

    ReplyDelete
  47. Adelina Diah Rahmawati
    14301241029
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Pendidikan karakter atau pendidikan moral itu merupakan bagian terpenting dalam membangun jati diri sebuah bangsa. Permasalahan-permasalahan moral yang dihadapi bangsa ini masih sangat kompleks dimulai dari para pemimpin hingga masyarakat seluruhnya. Pendidikan karakter itu sendiri merupakan proses pembentukan karakter yang memberikan dampak positif terhadap perkembangan emosional, spiritualitas dan kepribadian seseorang. Oleh karena itu pendidikan karakter sangat sekarang ini diterapkan dalam proses pembelajaran salah satunya yaitu pmata pelajaran matematika. Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika di sekolah memunyai aspek pemahaman tentang hakikat matematika, hakikat matematika sekolah, hakikat pendidikan matematika, hakikat nilai matematika, hakikat belajar matematika, hakikat proses belajar mengajar matematika, hakikat pembudayaan matematika sekolah.

    ReplyDelete
  48. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Memang tidaklah mudah untuk memberikan siswa pendidikan karakter. Namun pendidikan karakter juga penting untuk pendidikan matematika. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada siswa. Lembaga pendidikan sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam pembentukan kepribadian atau karakter siswa. Dalam kurikulum 2013 pendidikan karakter sudah masuk dalam penilaian kompetensi inti, yaitu berada di KI 1 dan KI 2.

    ReplyDelete
  49. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan Marsigit (2013), secara material, objek matematika berupa benda konkret, seperti model kubus, atap rumah berbentuk limas, roda berbentuk lingkaran, dan seterusnya. Sedangkan secara formal, objek matematika berupa benda-benda pikir. Benda-benda pikir ini diperoleh dari benda konkret yang melalui abstraksi dan idealisasi. Abstraksi adalah kegiatan mengambil sifat-sifat tertentu untuk dipelajari, sedangkan idealisasi berarti kegiatan menganggap sempurna sifat-sifat yang ada. Sedangkan secara normatif, objek matematika berupa makna yang terkandung dalam objek material dan formal

    ReplyDelete
  50. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Seorang yang belajar matematika akan memiliki sikap matematika yang baik. Sikap ini ditunjukkan oleh indikator adanya rasa senang dan ikhlas dalam mempelajari matematika, mendukung pembelajaran matematika, memiliki pengetahuan yang cukup, rasa ingin tahu yang tinggi, dan kemauan untuk bertanya untuk memperoleh keterampilan dan pengalaman matematika

    ReplyDelete
  51. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada pembelajaran inovatif, siswa menjadi pusat pembelajaran. Guru menjadi fasilitator, sumber ajar, dan pemonitor kegiatan siswa. Sebagai fasilitator, guru memberikan kegiatan matematika yang berbeda dengan target yang berbeda-beda. Guru sebagai sumber ajar berarti guru mengembangkan metode pembelajaran yang bervariasi, dimana hal ini merupakan titik sentral dalam pembelajaran matematika. Guru sebagai pemonitor melaksanakan penilaian dengan pendekatan asesmen, portofolio, atau aunthetic assessment

    ReplyDelete
  52. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pengembangan karakter akan terjadi dengan mengembangkan komunikasi material, formal, normatif, dan spiritual. Dalam penerapannya di pendidikan matematika, diperlukan pendekatan yang cocok dengan siswa, yaitu penggunaan matematika sekolah yang hakikatnya adalah : matematika sebgaai kegiatan mencari pola, investigasi, pemecahan masalah, dan kegiatan komunikasi. Diharapkan, dengan implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika dapat berkontribusi dalam bentuk pembelajaran yang inovatif dan terus menerus

    ReplyDelete
  53. Taufan Adi Pradana
    13301241059
    Pendidikan Matematika A 2013

    Intuisi berperan penting dalam pendidikan matematika.
    Intuisi dapat memunculkan ide-ide atau konsep-konsep belajar matematika yang sesuai dengan pemahaman diri.
    Intuisi akan memunculkan ide-ide dan konsep-konsep dari apa yang mungkin ada dalam pembelajaran matematika

    ReplyDelete
  54. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Pendidikan karakter sangatlah diperlukan untuk pembentukan sikap dan mental anak. Efek dari pendidikan karakter tidaklah bisa dilihat secara instan, namun hal itu akan terlihat dalam beberapa tahun mendatang setelah siswa tersebut lulus dari jenjang pendidikan formal. Bangsa ini memang sebaiknya jangan hanya mencetak orang-orang yang unggul dalam bidang kognitif, tetapi juga harus mempunyai karakter yang kuat dalam membangun bangsa ini, bangsa ini tidak butuh orang yang pandai namun berkarakter bururk, misalnya orang yang pandai dalam bidang tertentu yang menggunakan kepandaiaannya untuk menguras habis kekayaan bangsa ini. Orang tersebut pandai secara kognitif namun tidaklah berkarakter.Karakter yang dimaksud disini adalah karakter yang bersifat positif dalam masyarakat. Oleh karena itu Pendidikan karakter harusnya selalu diaplikasikan dalam setiap kurikulum. Dengan adanya pendidikan karakter diharapkan pendidikan akan lebih membawa peserta didik yang memiliki karakter dan budi pekerti mulia bukan hanya kademik saja. Karena ralitasnya banyak anak pintar di negeri ini namun dengan kepintarannya membuatnya tidak berkarakter dalam besikap, sehingga cenderung memojokkan temannya bahkan guru pun dianggap remeh olehnya. Maka dengan adanya pendidikan karakter ini diharapkan siswa memilki keseimbangan antara kognitif kecerdasan yang dimilikinya serta sikap yang baik sesama.

    ReplyDelete
  55. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika agar dapat berjalan sukses perlu mematangkan makna dan konsep dasar matematika sekolah. Matematika sekolah memainkan peran penting pada hakikat dari pendidikan matematika itu sendiri. Dalam hal ini pula, adanya integrasi yang sinergis antara pendidikan karakter dengan tubuh filosofis pendidikan matematika bertujuan untuk mencapai perwujudan sumber daya manusia yang unggul secara material dan spiritual.

    ReplyDelete
  56. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Setelah membaca tulisan ini, saya mendapatkan bahwa untuk melakukan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika, maka yang menjadi fokus utama adalah proses pembelajarannya, kemudian baru materi pembelajarannya, baru kepada yang lainnya. Proses pembelajaran yang komunikatif, selain dapat membangun pengetahuan mengenai matematika, juga dapat membangun karakter. Karena dalam dimensi komunikasi, terdapat aspek-aspek nilai, norma, pikiran, dan pengetahuan. Aspek nilai dan norma inilah yang menjadi proses pembelajaran pendidikan karakter, sedangkan aspek pikiran dan pengetahuan meliputi pendidikan matematika itu sendiri.

    ReplyDelete
  57. ‘Aynun Fitri
    14301241016
    Pendidikan Matematika 2014 A

    Pendidikan karakter dapat dibentuk ketika dalam pembelajaran matematika. Tidak hanya matematika, di setiap bidang harapannya mampu menciptakan karakter yang baik, artinya terdapat pendidikan karakter di dalamnya.

    ReplyDelete
  58. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Tujuan pendidikan matematika bukanlah dalam aspek kognitif siswa saja, tetapi aspek afektif siswa juga menjadi perhatian penting. Salah satu aspek afetif yang ingin ditingkatkan adalah pendidikan karakter siswa melalui pembelajaran matematika. Pendidikan karakter menjadi suatu hal yang sangat diperhatikan mengingat pada saat ini karakter siswa suda mulai bergeser, apa yang baik dan buruk menjadi tidak terlihat perbedaanya. Oleh karena itu pendidikan karakter diperlukan dalam setiap pembelajaran.

    ReplyDelete
  59. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Dalam mempelajari matematika terdapat nilai nilai pendidkan karakter didalamnya. Seperti yang telah dijelaskan Pak Marsigit bahwa sikap matematika ditunjukkan dengan sikap senang dan ikhlas dalam memperlajarinya , sikap tersebut dapat membangkitkan rasa ingin tahu siswa, kemauan siswa dalam belajar, kejujuran siswa dalam bertanya dan tanggungjawab siswa dalam mengkonsep materinya, hal tersebut sesuai dengan 18 nilai pendidikan karakter secara umum.

    ReplyDelete
  60. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Pendidikan karakter sudah dimasukkan kedalam proses pembelajaran melalu RPP berkarakter sejak beberapa tahun yang lalu, sebagai wujud kepedulian bahwa betapa pentingnya karakter itu dibangun dan harus dimiliki oleh setiap manusia. juga sebagai bentuk kekhawatiran terhadap banyaknya insan berilmu tanpa karakter dalam dirinya sehingga dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Dalam pendidikan matematika disebutkan dlam artikel di atas bahwa pendidikan karakter itu diimplementasikan dengan mengembangkan komunikasi material, komunikasi formal, komunikasi normatif, dan komunikasi spiritual.

    ReplyDelete
  61. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Jika dalam artikel sebelumnya membicarakan tentang sekolah bertaraf internasiona. Maka dengan adanya pendidikan karakter akan memperkokoh keutuhan Indonesia dalam dunia internasional. Karena dengan pendidikan yang mengacu pada dunia internasional jangan meninggalkan karakter dari bangsa Indonesia. Salah satunya mengembangkan pendidikan karakter dalam pendidiakan matematika. Salah satunya yaitu dengan cara pembelajran berbasiskan etnomatematika atau matematika yang dibasiskan pada opbjek-objek kontekstual yang berasal dari kebudayan asli Indonesia sehingga memperkokoh pula karakter cinta tanah air.

    ReplyDelete
  62. Dwi Kawuryani
    S1 Pend.Mat I 2014
    14301241049
    Hakekat Matematika bagi anak sekolah adalah aktivitas,yang berarti mereka akan melakukan kegiatan dan aktivitas untuk mendapat pengetahuan Matematika. Aktivitas Matematika tersebut akan membentuk suatu budaya Matematika jika dilakukan secara kontinu. Budaya Matematika ini akan menjadi kebiasaan bagi siswa dan dari kebiasaan ini nanti nya akan tumbuh suatu sikap dalam diri siswa.

    ReplyDelete
  63. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai upaya merancang dan melaksanakan suatu strategi atau model-model pembelajaran yang bertujuan mengembangkan kemampuan akademik dan membangun karakter dalam lingkup pembelajaran di kelas. Karakter tersebut berupa nilai-nilai, kemampuan, keyakinan, moralitas, pengendalian emosi, dan perilaku yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan karakteristik dari pembelajaran matematika. Misalnya ketika belajar matematika, siswa diajarkan nilai-nilai yang berkaitan dengan penalaran.

    ReplyDelete
  64. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Dalam situasi pembelajaran di kelas, karakter yang baik juga dapat muncul karena strategi pembelajaran yang dipilih. Jadi, pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai usaha yang harus dilakukan oleh seorang untuk mengukir nilai-nilai kebaikan yang menyatu dalam kehidupan keseharian siswa.

    ReplyDelete
  65. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pendidikan karakter saat ini sangatlah penting untuk bisa diberikan kepada anak – anak. Karakter yang bisa diajarkan melalui pendidikan matematika adalah bagaimana memaksimalkan potensi dan kemampuan yang dimiliki siswa. Potensi dalam berpikir kritis terhadap suatu masalah, kemampuan bekerjasama dan masih banyak lagi karakter yang dapat dikembangkan melalui pendidikan matematika.

    ReplyDelete
  66. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pendidikan karakter merupakan suatu paket lengkap, karena dalam pendidikan karakter ditanamkan nilai-nilai yang mencakup semua kompetensi yang dicapai pada kurikulum 2013, yaitu sikap afektif, kognitif dan spiritual. Jadi tidak hanya pemenuhan pengetahuan dan peningkatan keterampilan saja, melainkan pemenuhan nurani siswa juga.

    ReplyDelete
  67. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    menarik setelah membaca bahasan pendidikan karakter ini, karna menurut saya pendidikan karakter ini penting bagi siswa sekolah, apalagi pada saat usia sekolah dasar. pada usia sekoah dasar maka yang seharusnya ditanamkan bukan hanya pendidikan ilmu atau pelajaran, tetapi juga pendidikan karakter.

    ReplyDelete
  68. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran dengan etnomatematika membidik inovasi dalam pengembangan pembelajaran matematika yang mengunggulkan sikap cinta tanah air untuk membangun karakter Indonesia. Sehingga dalam pembelajaran nya yang dikolabnorasikan dengan pembelajaan realistic mathematics education akan memberikan dampak yang cukup besar dalam membangun karakter generasi muda yang telah hilang sifat asli indonesianya.

    ReplyDelete
  69. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Karakter yang akan dikembangkan, digali, dan dibudayakan untuk peserta didik haruslah ada kejelasan sehingga pembelajaran dirancang akan relevan dengan karakter yang diinginkan.

    ReplyDelete
  70. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Pendidikan matematika dan pendidikan karakter menjadi perpaduan yang unik jika dikembangkan dengan selaras untuk mencapai hakekat belajar matematika dengan karakter.

    ReplyDelete
  71. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Pendidikan matematika dan pendidikan karakter yang akan dikembangkan harusnya menjadi bahasan dan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan oleh pemerintah dalam mengambil kebijakan terkait hal tersebut.

    ReplyDelete
  72. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Penggabungan pendidikan matemtiaka dengan pendidikan karakter harus memikirkan mengenai pendidikan matematika, pembelajaran matematika, dsb.

    ReplyDelete
  73. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Secara normatif, pendidikan matematika dibagi menjadi dua yakni sebgai objek materiil dan objek formal. Objek materiil berupa matematika di sekitar dan objek formal yakni matematika formal yang beruba bentuk umum.

    ReplyDelete
  74. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Matematika merupakan abstraksi dan idealisasi. Mengabstraksi benda-benda konkret ke dalam bentuk matematika formal dan idealisasi sifat-sifat non matematis dari benda-benda konkret.

    ReplyDelete
  75. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Implementasi pendidikan karakter ke dalam pendidikan matematika merupakan cara dan proses berpikir seseorang dalam mengenal dan memahami matematika serta proses mengaktualisasikan diri dengan matematika.

    ReplyDelete
  76. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Untuk menemukan solusi dari masalah-masalah matematikan digunakan algoritma, sehingga dalam hal ini karakter yang dibentuk adalah tersrtuktur.

    ReplyDelete
  77. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Inovasi pembelajaran marupakan cara yang tepat untuk menumbuh kembangkan karakter dengan pendidikan matemtika

    ReplyDelete
  78. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Terimakasih Prof. Marsigit atas tulisan yang diberikan. Menambah wawasan dan pengetahuan saya mengenai pendidikan karakter dalam pendidikan matematika.

    ReplyDelete
  79. Eka Novi Setiawan
    14301241044
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    implementasi pendidikan karakter pada pembelajaran diantaranya menghargai pendapat temannya atau toleransi terhadap gagasan yang disampaikan temannya dan tidak egois bertahan dengan pendapatnya pribadi.

    ReplyDelete
  80. Azizah Pusparini
    14301244012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Tujuan dari pembelajaran matematika mengembangkan tiga aspek. Aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Aspek afektif dan aspek psikomotorik ini erat kaitannya dengan karakter siswa. Di dalam pembelajaran matematika banyak karakter yang dapat dikembangkan antara lain, ulet, berpikir kritis, tekun dan sebagainya.

    ReplyDelete
  81. Azizah Pusparini
    14301244012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Pendidikan karakter ini perlu ditingkatkan, mengingat pada peradaban 21 ini, paradigma pendidikan sangat menekankan pada karakter bangsa yang baik. Seperti komunikasi, percaya diri, tanggung jawab, aktif.

    ReplyDelete
  82. Azizah Pusparini
    14301244012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Generasi penerus bangsa yang berkarakter maka menjadikan bangsa tersebut maju. Dan karakter dapat dibentuk melalui proses yang dinamakan pendidikan.

    ReplyDelete
  83. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    pendidikan karakter sangat penting ditanamkan kepada siswa apalagi saat siswa tersebut masih menginjak usia anak kecil atau se usia SD. pada usia tersebut penanaman pendidikan karakter sangat tepat dan bisa ditanamkan melalui pembelajaran matematika di kelas. ini menjadi catatan untuk guru agar tidak meremehkan ketika mengajar anak seusia SD.

    ReplyDelete
  84. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Pendidikan karakter itu sendiri merupakan proses pembentukan karakter yang memberikan dampak positif terhadap perkembangan emosional, spiritualitas, dan kepribadian seseorang. Oleh sebab itu, pendidikan karakter atau pendidikan moral itu merupakan bagian penting dalam membangun jati diri sebuah bangsa. Karena karakter adalah bagian dari proses mengambil keputusan, maka kemampuan anak untuk menalar permasalahan dan berpikir dengan logis ikut menentukan keputusan yang ia ambil. Memisahkan pendidikan karakter, atau menganggap pendidikan karakter lebih penting daripada pendidikan intelektual menjadi tidak tepat. Tokoh pendidikan nasional Indonesia, Ki Hajar Dewantara menekankan tentang pentingnya keseimbangan cipta, karsa dan karya dalam pendidikan. Jika salah satu diutamakan, sementara yang lain dikesampingkan, kita akan melihat orang-orang dewasa yang kehilangan kemanusiaannya.

    ReplyDelete
  85. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Pendidikan saat ini telah melupakan pentingnya watak, karakter, atau akhlak mulia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945 serta UU no.20 tahun 2003 yang menjadi dasar acuan pendidikan nasional. Suatu proses pendidikan dapat dikatakan berhasil apabila terdapat perubahan dalam perilaku, sebab terbangunnya sebuah perilaku merupakan cerminan dari keberhasilan pendidikan. Akibat dari lemahnya perhatian instansi pendidikan terhadap nilai moral, menjadikan peserta didik berperilaku diluar dari yang diharapkan. Sebagai contoh, meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kebiasaan menyontek, tawuran dan sebagainya. Pendidikan karekter ini berangkat dari kegelisahan yang dirasakan seluruh masyarakat Indonesia terhadap moral generasi penerus bangsa yang rusak. Output dari lembaga-lembaga pendidikan yang semakin parah. Sehingga pemerintah serta seluruh komponen masyarakat memiliki tanggung jawab besar terhadap kondisi ini. Dari sekian banyak opsi yang dinilai mampu untuk memperbaiki keadaan ini, ranah pendidikan adalah posisi yang paling strategis untuk melakukan perubahan dalam pembinaan karakter bangsa.

    ReplyDelete
  86. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Matematika merupakanilmu universal yang mendasari perkembangan modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.Karakter utama untuk pelajaran matematika meliputi berpikir logis, kritis, kerja keras, keingintahuan, kemandirian, percaya diri. Integrasi pendidikan karakter secara terintegrasididalamprosespembelajaran matematika dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran

    ReplyDelete