Feb 12, 2013

IDENTIFIKASI MASALAH PSIKOLOGI MENGAJAR MATEMATIKA, PSIKOLOGI BELAJAR MATEMATIKA DAN PSIKOLOGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA




IDENTIFIKASI MASALAH PSIKOLOGI MENGAJAR MATEMATIKA, PSIKOLOGI BELAJAR MATEMATIKA DAN PSIKOLOGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Oleh: Mahasiswa S1 Reguler Pendidikan Matematika Angkatan 2007, 2o Nopember 2008


1.Pengaruh banyaknya tugas sekolah terhadap kondisi psikologis siswa.
2.Bagimana menumbuhkan mental atau motivasi yang kuat agar siswa mampu mengerjakan matematika.
3.Bagaimana seorang guru muda (novice) mengatasi nervous ketika menyelenggarakan pembelajaran matematika?
4.Bagaimana melayani kebutuhan belajar matematika yang beraneka ragam termasuk kondisi dan latarbelakang siswa?
5.Bagaimana melayani kebutuhan belajar matematika dari siswa yang berprestasi tinggi?
6.Tanggung jawab guru adalah mendidik semuanya “Education for All”?
7.Sekitar polemik bentuk soal UAN dan pengaruhnya terhadap psikologis siswa?
8.Apa yang kita ketahui tentang “Transfer of Knowledge” dan “Transfer of Value”?
9.MUSUH UTAMA PENDIDIKAN ADALAH BUDAYA INSTANT? Jelaskan maknany?
10.Bagaimana mengembangkan matematika sebagai kegiatan problem solving di kelas?
11.Bagaimana mengatur keseimbangan antara belajar matematika sebagai proses atau sebagai hasil?
12.Bagaimana mengetahui tingkat kecerdasan dan kemampuan siswa belajar matematika?
13.Bagaimana mengembangkan aspek nilai budi pekerti dalam pembelajaran matematika?
14.Bagaimana melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran matematika?
15.Apakah terdapat “prejudice” dalam pembelaaran matematika dan bagaimana pengaruhnya terhadap kegiatan belajar matematika?
16.Bagaimana mengembangkan pembelajaran bermakna dalam pbm matematika?
17.Bagaimana mengembangkan pembelajaran kontekstual dalam pbm matematika?
18.Bagaimana kedudukan dan fungsi hukuman dan hadiah dalam pembelajaran matematika?
19.Bagaimana meningkatkan kemampuan matematika siswa?
20.Bagaimana mengembangkan pembelajaran matematika yang menarik dan menyenangkan serta siswa menghayati bahwa matematika adalah penting?
21.Bagaimana aspek kuantitatif dan pemanfaatannya dalam pembelajaran matematikia?
22.Apa yang dapat kita ketahui tentang “managemen emosi” dan penerapannya dalam pbm matematika?
23.Bagaimana mengembangkan metode pembelajaran matematika yang dinamis dan fleksibel?
24.Bagaimana mengembangkan skenario pembelajaran matematika?
25.Bagaimana memotivasi siswa belajar matematika?
26.Bagaimana menumbuhkan apersepsi siswa dan keterlibatan siswa dalam pbm matematika?
27.Apa yang kita ketahui tentang “metapora” dan bagaimana pengaruhnya dalam pbm matematika?

Kontributor: Ratna Indrayani, Sani Merdekawati, M. Abdul Rosid, Adi Rahman, Yayu Marissyafani, Fety Herira Amasari, Tri Wijayanti, Faizin, Ajeng Desi, Ervinta Astrining Dewi, Palupi Sri Wijayanti, Hutri Prastasiwi, Trisnawati, Uki Rahmawati, Fina Hanifa, Supriyanti, Anniy Susilowatiy, Rima Aksen, Artina Tarapti, Anisa Halimatus Sa’diyah, Noviana Anggraini, Nur Hera Utami, Indrati Setyarini, Isti Nur Chasanah.
Pembimbing: Dr. Marsigit

137 comments:

  1. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    .Bagimana menumbuhkan mental atau motivasi yang kuat agar siswa mampu mengerjakan matematika.? Motivasi belajar yang rendah dan keyakinan diri yang kurang dapat menjadi sumber masalah kognitif siswa, yaotu masalah dalam melibatkan diri secara aktif untuk memahami materi pembelajaran. Metode pembelajaran untuk meningkatkan motivasi dan keyakinan belajar siswa perlu dirancang melengkapi metode pembelajaran dari aspek kognitifnya. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa antara motivasi dan keyakinan diri pun dapat saling mempengaruhi dan bahkan sulit dipisahkan. Seperti diuraikan sebelumnya, pemikiran yang positif dapat meningkatkan motivasi dan keyakinan diri dengan efektif.
    Salah satu metode yang mendorong pemikiran yang positif adalah dengan menerapkan teori growth mind. Teori ini berlawanan dengan teori fixed mind, yang cenderung mengatakan bahwa kecerdasan di bidang tertentu adalah bakat bawaan lahir (Bruning, et al, 2011). Dalam growth mind, siswa dibiasakan dengan pemahaman bahwa belajar adalah sebuah proses. Sebagai contoh, seorang siswa yang pandai matematika bukanlah karena dia memiliki kecerdasan matematis bawaan dari lahir, tetapi karena dia berusaha untuk belajar matematika dengan baik. Pemahaman seperti ini tidaklah mudah dicapai. Metode yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan mengingatkan moto-moto hidup yang tepat, seperti “You can if you think you can”, “Confidence is created within yourself”; juga dapat dilakukan dengan memberikan contoh tokoh-tokoh inspiratif yang menjadi seorang ahli di bidang tertentu karena ketekunannya selama belajar. Guru juga dapat menggunakan metode memberikan pujian berdasarkan proses pembelajaran yang dialami, bukan hasil akhir belajar. Misalnya, guru memuji dengan mengatakan “Wah, kamu telah berusaha dengan keras, lanjutkan!” daripada mengatakan “Wah, kamu memang pandai”. Daripada mengatakan “Kamu bodoh”, lebih baik guru mengatakan “Coba lagi, kamu pasti bisa”. Pemikiran yang positif mengenai manfaat matematika dapat disampaikan dengan mengenalkan sejarah matematika dan hasil-hasil teknologi yang mendasarkan pada matematika.

    ReplyDelete
  2. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Menjawab pertanyaan Bagaimana meningkatkan kemampuan matematika siswa? adalah cara meningkatkanya adalah dengan adanya faktor latihan yang mana dengan latihan kita akan selalu mengasah otak kita untuk berpikir, apabila otak kita selalau di asah maka otak kita juga sangat bagus apalagi untuk meningkatkan matematika siswa, yang mana dengan adanya latihan soal-soal yang berbeda dapat memepertajam mereka dalam proses pemecahan maslaaha dan meningkatkan berpikir kritis mereka.

    ReplyDelete
  3. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Menjawab pertanya no 10 tentang Bagaimana mengembangkan matematika sebagai kegiatan problem solving di kelas? Kita tahun bahwa trategi pemecahan masalah adalah langkah-langkah yang akan digunakan seseorang untuk menemukan masalah yang ada di jalan menuju tujuan seseorang. Model Pemecahan Masalah Firend "PSM" praktis diterapkan dan menggabungkan pendekatan 5WH konvensional, dengan proses penyidikan, pelaksanaan dan penilaian yang sistematis ( Firend, 2014 ). Dengan adanya langkah sebagai berikut, kita dapat mengembangkan matematika dalam kegiatan problem solving Abstraksi : memecahkan masalah dalam model sistem sebelum menerapkannya pada sistem yang sebenarnya ,Analogi : menggunakan solusi yang memecahkan masalah yang serupa , Brainstorming : (terutama di antara kelompok orang) menunjukkan sejumlah besar solusi atau gagasan dan menggabungkan dan mengembangkannya sampai solusi optimal ditemukan. Bagilah dan menaklukkan : memecahkan masalah besar yang kompleks menjadi masalah yang lebih kecil dan dapat dipecahkan Uji hipotesis : mengasumsikan penjelasan yang mungkin untuk masalah dan mencoba untuk membuktikan (atau, dalam beberapa konteks, membantah) asumsi , Pemikiran lateral : mendekati solusi secara tidak langsung dan kreatif , Analisis maksud-akhir : memilih tindakan pada setiap langkah untuk bergerak mendekati tujuan , Metode objek fokus : mensintesis karakteristik yang tampaknya tidak cocok dari objek yang berbeda menjadi sesuatu yang baru , Analisis morfologi : menilai output dan interaksi keseluruhan sistem , Bukti : coba buktikan bahwa masalahnya tidak bisa dipecahkan. Titik di mana bukti gagal akan menjadi titik awal untuk memecahkannya , Pengurangan : mengubah masalah menjadi masalah lain yang solusinya ada , Penelitian: menggunakan gagasan yang ada atau mengadaptasi solusi yang ada untuk masalah serupa Analisis penyebab akar : identifikasi penyebab suatu masalah , Percobaan-dan- kesalahan: ujilah solusi yang mungkin sampai yang benar ditemukan.

    ReplyDelete
  4. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Setiap anak memiliki potensi di dalam dirinya. Bagaimana seseorang anak sukses salah satu faktornya adalah karena kemampuannya mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya sejak dini. Sehingga termasuk dalam cara penyampaian materi pembelajaran oleh guru sangat berpengaruh pada pola pikir anak. Menjadi guru janganlah selalu mengajar materi memulainya dengan definisi atau rumus langsung. Buatlah matematika itu sesuatu yang konkret pada anak, sehingga mereka dapat mengkonstruk pikiran mereka seperti mengelompokkan yang contoh dan bukan contoh dari yang diberikan.

    ReplyDelete
  5. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Hal terpenting dalam belajar adalah motivasi. Motivasi ini mempengaruhi bagaimana siswa belajar dan menumbuhkan semangat dalam belajar. Namun, dalam pembelajaran matematika kesulitan psikologisnya salah satunya adalah menumbuhkan motivasi siswa sebelum memulai pembelajaran. Misalnya dengan memotivasi manfaat apa yang diperoleh dari mempelajari konsep matematika. Kesulitan siswa dalam belajar matematika juga harus dihadapi dan dicari solusinya sehingga siswa lebih termotivasi dalam belajar untuk prestasi belajar optimal.

    ReplyDelete
  6. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Potensi dan kemampuan yang terpendam dalam diri siswa harus diexplore agar psikologi anak terbentuk. Selain itu, membelajarkan kepada anak terlebih dahulu dengan memberikan contoh dan non contoh dalam kehidupan sehari-hari. Jadi membelajarkan jangan dimulai dari definisi namun dari relaistik contoh dan non contoh agar tercipta pembelajaran yang bermakna.

    ReplyDelete
  7. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. paradigma pendidikan di Indonesia ingin diubah menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Adanya kurikulum 2013 juga mendukung perubahan paradigma tersebut. Efek dari perubahan tersebut salah satunya banyak tugas (berupa PR) yang dibebankan kepada siswa. Beberapa siswa memiliki mental instan dengan mengikuti privat agar ada seseorang yang dapat membantu mereka mengerjakan tugas. Siswa juga sering kali menanyakan cara singkat dalam mengerjakan soal-soal matematika. Menurut saya harus ada kontrol yang lebih ketat lagi mengenai tugas berupa PR yang diberikan kepada siswa. Juga selalu meminta siswa mengerjakan soal-soal matematika dengan menggunakan langkah-langkah pengerjaan agar budaya instan itu dapat sedikit demi sedikit berkurang.

    ReplyDelete
  8. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    berbicara masalah (Identifikasi masalah psikologi mengajar matematika, psikologi belajar matematika dan psikologi pembelajaran matematika), maka outputnya adalah seorang guru dapat mendiagnosis apa kebutuhan dan kesulitan siswa dalam belajar matematika. Menjadi guru matematika tidaklah mudah, menguasai materi merupakan hanya syarat cukup dalam mengajarkan matematika. Maka ada syarat perlu yang harus terpenuhi untuk bisa menanamkan konsep matematika kepada siswa. Saya ingin mencoba menjawab pertanyaan pada point no 4 yaitu:
    Bagaimana melayani kebutuhan belajar matematika yang beraneka ragam termasuk kondisi dan latarbelakang siswa?
    Untuk menjawab pertanyaan ini, maka guru harus sepenuh hati dalam mengajarkan matematika. Sebelum memulai proses belajar, maka guru terlebih dahulu mendiagnosis kondisi dan kebutuhan masing-masing siswa. Sehingga nantinya dari hasil tersebut guru dapat menentukan bagaimana langkah selanjutnya dalam mengajarkan ataupun menanamkan konsep matematika kepada siswa. Maka perlu tepat cara, tepat guna, tepat sasaran yang harus dilakukan guru dalam mengajarkan konsep matematika kepada siswa.

    ReplyDelete
  9. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Tanggung jawab guru adalah mendidik semuanya? Menurut saya jawabannya adalah iya. Guru memiliki kewajiban yaitu mendidik semua siswa-siswinya. Hak siswa adalah mendapatkan pembelajaran dari guru. Siswa memiliki hak yang sama untuk belajar. Siswa yang berkemampuan tinggi, sedang, ataupun rendah tetap harus memperoleh pengajaran dari guru. Guru tidak boleh membedakan mereka apalagi memberikan perlakuan yang menunjukkan bahwa guru membedakan mereka. Namun ketika pembelajaran berlangsung mungkin guru memberikan perlakuan yang berbeda. Seperti siswa berkemampuan tinggi dan sedang diberikan pengayaan. Sedangkan siswa yang berkemampuan rendah diberi perhatian lebih dan remidial.

    ReplyDelete
  10. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    9.MUSUH UTAMA PENDIDIKAN ADALAH BUDAYA INSTANT? Jelaskan maknany?
    Budaya instan dalam pendidikan yang dimaksud adalah ingin mendapatkan sesuatu secara cepat tanpa harus berusaha secara sungguh-sungguh, tetapi usahanya adalah dengan cara pintas. Cara pintas yang dimaksud dalam pendidikan ada beberapa macam, di antaranya dalam pembelajaran matematika adalah cara cepat atau trik dalam penyelesaian masalah matematika dan juga mencontek saat ujian. Namun ingat bahwa hal trik cepat hanya 'sekilas' sangat menarik, karena trik atau cara cepat hanya berlaku untuk soal-soal khusus saja bahkan hanya satu tipe saja untuk satu trik. Menurut Skemp, jika siswa dalam pembelajaran tidak berdasar pada pemahaman, atau materi-materi yang secara keseluruhan tidak dapat dipahami, tetapi hanya merupakan rangkaian aturan tanpa arti, hal tersebut disebut pencemoohan terhadap siswa atau penghinaan terhadap kecerdasan. Istilah "pencemoohan" berarti merugikan suatu organisme. Akan lebih bermakna jika kita memahami cara penyelesaian matematika (bukan cara singkat). Budaya instan kedua adalah mencontek, merupakan hal yang tidak dibenarkan dalam agama.

    ReplyDelete
  11. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Setiap siswa mempunyai cara sendiri dalam memahami matematika. Ada yang mempunyai intuisi ada yang tidak. Siswa yang mempunyai intuisi akan lebih cepat memecahkan masalah matematika. Guru harus memahami karakter yang dimiliki masing-masing siswanya sehingga guru harus menggunakan metode mengajar yang bervariasi agar pembelajaran tidak monoton dan semua siswa mempunyai kesempatan untuk menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah matematika.

    ReplyDelete
  12. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari berbagai pertanyaan dan pernyataan di atas, ternyata mengajar, belajar, dan pembelajaran Matematika itu mempengaruhi kondisi psikologi siswa dan guru. Dari segi siswa, tak jarang mereka mengalami kesulitan belajar. Kesulitan tersebut tidak selalu disebabkan oleh kecerdasan siswa yang rendah, namun dapat berasal dari faktor fisiologi, psikologi, maupun lingkungan belajar. Kesulitan atau hambatan yang dialami siswa akan mempengaruhi prestasi belajar.

    ReplyDelete
  13. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Oleh karena itu, guru sebagai pendidik dituntut untuk bertanggungjawab atas perkembangan peserta didik, termasuk dalam hal psikologi seluruh siswa. Sesuai dengan pernyataan nomor tujuh di atas, yaitu tanggung jawab guru adalah mendidik semuanya “Education for All”. Salah satu upaya yang bisa dilakukan dengan memberikan motivasi belajar. Bagi guru, mengetahui motivasi belajar dari siswa sangat diperlukan guna memelihara dan meningkatkan semangat belajar siswa. Bagi siswa, motivasi belajar dapat menumbuhkan semangat belajar sehingga siswa terdorong untuk melakukan perbuatan belajar. Siswa melakukan aktivitas belajar dengan senang sesuai dengan kesadaran dari dalam diri siswa itu sendiri. Jadi, pendekatan psikologi antara guru dengan siswa memang diperlukan.

    ReplyDelete
  14. Berbagai macam metode, pendekatan, model untuk pembelajaran matematika beserta teorinya. Satu diantaranya adalah pembelajaran matematika dapat dilakukan dengan pemberian masalah yang open ended. Dalam aktivitas pemecahan masalah (problem solving), kemampuan berpikir kreatif sangat berperan dalam mengidentifikasi masalah, mengeksplorasi berbagai metode, dan mengeksplorasi alternatif solusi. Berdasarkan beberapa referensi yang saya baca, aktivitas pemecahan masalah dengan pendekatan open ended dapat mengembangkan kreativitas siswa dalam matematika. Karena pemberian masalah yang open ended dapat memberikan siswa sumber pengalaman yang kaya dalam menafsirkan masalah dan mungkin menurunkan solusi berbeda yang diperoleh dengan penafsiran yang berbeda.

    ReplyDelete
  15. Woro Sophia Amirul Kusumawati
    14301241048
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Memberikan tugas memang bagus, namun memberikan tugas yang berlebihan akan membuat siswa tertekan. Karena Siswa juga memerlukan waktu istirahat dan siswa juga perlu mempersiapkan pelajaran berikutnya. Pemberian tugas yang berlebihan mungkin hanya sia-sia untuk siswa. Pemberian tugas yang baik adalah memberikan tugas yang sewajarnya namun sangat bermakna bagi siswa.

    ReplyDelete
  16. Woro Sophia Amirul Kusumawati
    14301241048
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Menumbuhkan mental atau motivasi yang kuat agar siswa mampu mengerjakan matematika sangat diperlukan saat ini. Rata-rata siswa sekarang mudah putus asa mengerjakan permasalah bertentang dengan matematika yang dinilai cukup sulit. Hal itu dikarenakan belum terlatihnya siswa untuk berpikir kritis, menalar, dan berpikir kreatif sejak dini. Pembelajaran yang menyulitkan siswa juga akan mempengaruhi motivasi siswa dalam mengerjakan matematika. Sehingga guru juga diharapkan mampu membuat inovasi pembelajaran yang sesuai, menyenangkan, kreatif, dan menantang untuk siswa.

    ReplyDelete
  17. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Pendidikan yang hakekatnya bukan untuk menekan siswa, sehingga dalam pembelajaran guru berusaha untuk mengemas pembelajaran dengan inovatif dan menyenangkan agar siswa tidak tertekan baik dari psikologis maupun fisiologi, sebagian siswa memiliki kesulitan dalam memperlajari matematika dalam hal ini peran guru sangat berpengaruh bagi siswa, sehingga sejatinya guru dapat membimbing dan menuntun siswa agar tidak merasa tertekan dengan pelajaran yang ada.

    ReplyDelete
  18. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    saya sependapat dengan no 9, bahwa musuh terbesar pendidikan adalah budaya instan, hal ini bisa terjadi pada proses pembelajaran, tolak ukur keberhailan pendidikan sebetulnya bukan dari nilai akhir nya saja , namun yang terpenting adalah prosesnya, jika guru memberikan rumus rumus secara instan memang itu membutuhkan waktu yang sangat cepat namun sesungguhnya itu membunuh kratifitas dan pemikiran siswa, seharusnya pemikiran siswa perlu dilatih bukan untuk diberi secara instan, jika hal itu terjadi maka ilmu yang dimiliki siswa juga hanya instan dna tidak bertahan lama, pemahaman siswa juga tidak maksimal, untuk mengatasi itu dibutuhkan konsep pembelajaran dimana siswa diberi kesempatan untuk mengkonstruk pengetahuannya sendiri, guru tidak boleh menjajah kemerdekaan dan kebebasan siswa dalam berpikir.

    ReplyDelete
  19. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    pembelajaran adalah proses dimana guru membantu siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri bukan guru mentransfer ilmu secara langsung. pembelajaran dikatakan bermakna adalah ketika siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, dalam memfasilitasi siswa dalam hal itu guru dapat memberikan permasalahan kontekstual, permasalahan kontekstual adalah permasalahan yang ada di kehidupan sehari hari, dengan kontekstual tersebut siswa akan lebih mudah memahami materi.

    ReplyDelete
  20. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPS P.Mat D

    identifikasi masalah psikologi di atas dalam pembelajaran matematika, sebenarnya dalam pembelajaran matematika terdapat memepengaruhi psikologis siswanya. Banyaknya tugas, kurangnya motivasi belajar, dan gugup ketika disuruh menyampaikan pendapat dapat menganggu konsentrasi siswa dalam belajar metematika. Oleh karena itu, guru harus mampu menciptakan kondisi belajar yang nyaman dan menyenangkan sebagai pendidik siswanya karena guru bertugas sebagai “education for all”.

    ReplyDelete
  21. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Siswanya sebagai empty vessel artinya mereka belum memiliki pengetahuan apapun, sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran guru melakukan transfer of knowledge saja, tidak disertai transfer of value. Siswa hanya mengerti hasil (output) bukan tanpa mengerti proses menemukan hasil tersebut. pembelajaran matematika adalah pertama, sampai sekarang pelajaran matematika di sekolah masih dianggap merupakan pelajaran yang menakutkan bagi banyak siswa karena bagi banyak siswa pelajaran matematika terasa sukar dan tidak menarik. Sekalipun dalam banyak kesempatan sering dikatakan bahwa matematika merupakan ilmu yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Ada beberapa cara menumbuhkan motivasi belajar siswa dalam mengerjakan matematika, yaitu: (1) Pernyataan penghargaaan secara verbal, (2) menimbulkan rasa ingin tahu, (3) memunculkan sesuatu yang tidak diduga oleh siswa, (4) menggunakan simulasi dan permainan, (5)mengurangi akibat yang tidak menyenangkan dan keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar.

    ReplyDelete
  22. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menanggapi pertanyaan bagaimana mengembangkan pembelajaran matematika yang menarik dan menyenangkan serta siswa menghayati bahwa matematika adalah penting, yaitu dengan menggunakan media pembelajaran yang menarik sesuai dengan materi yang diajarkan, kebanyakan guru jarang menggunakan media yang menarik bahkan jarang menggunakan media, guru langsung mengajarkan materi kepada siswa secara ekspositori tanpa media, sehingga siswa tidak mendapat kebermaknaan dari belajar matematika tersebut, psikologis siswa menjadi terbebani karena tanpa ada media konkrit untuk memahami materinya. Sehingga arti pentingnya matematika tidak sampai kepada siswa.

    ReplyDelete
  23. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Terkait dengan memotivasi belajar siswa, dilakukan dengan cara menyajikan permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari sehingga kebermaknaan dari pembelajaran matematika tersebut sampai kepada siswa, terlebih ketika pembelajaran tersebut disajikan dalam metode “metapora”, siswa akan lebih memaknai hakikat belajar, mengembangkan kesadaran siswa untuk mengerjakan tugas semaksimal mungkin dalam pembelajaran matematika.

    ReplyDelete
  24. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dengan menggunakan pendekatan saintifik, siswa aktif dalam membentuk pengetahuannya, karena dalam tahapan saintifk, seluruhnya merupakan eksplorasi siswa, guru hanya memfasilitasi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan guru. Psikologis siswa akan baik jika siswa ikut andil dalam menemukan suatu konsep, dengan pendekatan saintifik ini, saya rasa sangat baik bagi siswa dibandingkan dengan pembelajaran ynag konvensional, siswa terlalu pasif dalam pembelajaran.

    ReplyDelete
  25. Jeanete Nenabu
    PPS Pmat D (15709251004)

    Bagaimana mengembangkan matematika sebagai kegiatan problem solving di kelas?
    Problem solving dalam matematika adalah proses dimana seorang siswa atau kelompok siswa menerima tantangan yang berhubungan dengan persoalan matematika dimana penyelesaiannya dan caranya tidak langsung bisa ditentukan dengan mudah dan penyelesaiannya memerlukan ide matematika. permasalahan yang digunakan dapat diangkat dari permasalahan kehidupan nyata yang pemecahannya memerlukan ide matematika. Strategi problem solving tidak hanya mampu mengubah gaya belajar anak dari sebagai pelajar yang pasif menjadi pelajar yang aktif dalam mengkonstruksi konsep mereka, tetapi juga, membuat pembelajaran matematika lebih berarti, masuk akal, menantang dan menyenangkan, cocok buat siswa, dan memberikan cara berfikir yang fleksibel. Karenanya problem solving matematika dapat dipandang sebagai suatu pendekatan yang penting untuk meningkatkan pemahaman matematika anak.

    ReplyDelete
  26. Eka Novi Setiawan
    14301241044
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Mencoba menjawab no 9, menurut saya musuh utama adalah budaya instant yang dimaksud, misalkan dalam pembelajaran matematika adalah tidak adanya mengkonstruksi pengetahuan. Siswa langsung mendapat rumus yang diberikan langsung oleh guru, lalu rumus tersebut digunakan untuk mengerjakan LKS yang berupa kumpulan soal. Jadi, budaya instant nya yaitu siswa selalu menghafal rumus tanpa mengetahui darimana rumus tersebut didapatkan.

    ReplyDelete
  27. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mencoba menjawab pertanyaan no 17, pembelajaran kontekstual dapat diselenggarakan dengan beberapa metode dan pendekatan yang tepat. Kontekstual disini dapat berarti pembelajaran berbasis masalah kontekstual. Guru memberikan suatu pancingan masalah kepada siswa sebagai awalan kegiatan mereka menemukan suatu konsep atau ilmu

    ReplyDelete
  28. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mencoba menjawab pertanyaan nomor 10, model yang tepat untuk mengembangkan kegiatan problem solving di dalam kelas adalah saintifik. Guru sejak penyusunan RPP membuat kegiatan siswa sesuai dengan sintaks pendekatan saintifik. Disanalah kegiatan problem solving dapat terjadi

    ReplyDelete
  29. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mencoba menjawab pertanyaan nomor 16. Pembelajaran bermakna adalah ketika siswa mampu mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, dan pada pembelajarannya guru hanya sebagai fasilitator, dan siswa lah yang melaksanakan pembelajaran secara aktif dan mandiri. Pembelajaran bermakna juga berarti pembelajaran yang berulang, dan melekat pada diri seorang siswa

    ReplyDelete
  30. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mencoba menjawab pertanyaan nomor 14, siswa akan aktif dalam pembelajaran jika guru membuat pembelajaran yang kegiatannya dilakukan oleh siswa. Hal ini dapat disusun saat penyusunan RPP dan LKS sebelum pembelajaran. Dengan menggunakan metode dan model pembelajaran yang bertipe siswa aktif, guru dapat memberi fasilitas siswa agar mampu belajar aktif dan mandiri

    ReplyDelete
  31. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mencoba menjawab pertanyaan nomor 2, pembelajaran diawali dengan motivasi dari guru. Motivasi yang disampaikan dapat berupa tujuan mempelajari suatu matematika, bisa juga memberikan gambaran kepada siswa pentingnya mempelajari matematika tersebut dalam kehidupan sehari-harinya. Maka dari situlah siswa belajar dengan mengetahui untuk apa mereka belajar, dan mereka dapat bersungguh-sungguh dalam belajar. Paparan diatas juga dapat sekaligus menjawab pertanyaan 25. Guru dapat memberikan motivasinya di awal pembelajaran, juga menyemangati siswa di tengah-tengah pembelajaran.

    ReplyDelete
  32. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mencoba menjawab pertanyaan nomor 18, reward diberikan guru sesuai pencapaian siswa. Saat siswa mampu mengikuti pembelajaran dengan baik, guru dapat memberikan hadiah dengan tujuan agar siswa semakin terpacu untuk lebih baik. Sedangkan hukuman diberikan guru saat siswa memang benar-benar bermasalah. Namun bukan berarti hukuman yang membuat siswa tidak lagi bersemangat, namun pilih hukuman yang dapat memperbaiki siswa

    ReplyDelete
  33. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Dalam tulisan ini, saya tertarik dengan masalah psikologi yang pertama, yaitu “Pengaruh banyaknya tugas sekolah terhadap kondisi psikologis siswa”. Hal ini perlu untuk dilakukan peninjauan. Pemberian tugas ada porsinya sendiri, tidak terlalu banyak juga tidak terlalu sedikit. Sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna.

    ReplyDelete
  34. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Saya tertarik untuk mengomentari pertanyaan: 1. Pengaruh banyaknya tugas sekolah terhadap kondisi psikologis siswa.

    Dalam ilmu psikologi pendidikan, sesorang dalam belajar tidak akan menyerap seluruh materi dalam sekali waktu. M\Sehingga perlulah tugas untuk membantu hal tersebut. Namun dilain pihak pemberian tugas yang terlulu banyak akan membebani kerja otak siswa. Selai ini juga membebani kognitif siswa. Sehingga pikiran siswa akan terlalu banyak materi didalamnya atau over load. Sehingga dalam memberikan tugas kepada siswa maka harus disesuaikan dengan sisanya. Namun jangan berpikir karena hal itu guru membuat sedikit tugas, namun guru tetap harus menyediakan stok tegas yang bervariasi macamnya untuk memfasilitsi kebutuhan siswa dengan kemampuan berpikir diatas rata-rata.

    ReplyDelete
  35. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Saya tertarik untuk mengomentari pertanyaan: 2.Bagimana menumbuhkan mental atau motivasi yang kuat agar siswa mampu mengerjakan matematika.

    Salah satu tugas guru adalah memotivasi siswa untuk lebih siap dan memunculkan rasa ingin tahu siswa. Hal itu diperlukan, sehingga dalam mempelajari suatu materi siswa tidak terpaksa untuk mepelajarinya. Namun terdorong dari dirinya untuk mempelajari materi tersebut. Daklam menumbuhkan motivasi siswa ini salah satu caranya dengan meberikan sedikit cerita tentang materi yang akan dipelajari dan kegunaannya dikehidupan sehari-hari sehingga muncullah bibit-bibit motivasi muncul dalam diri siswa.

    ReplyDelete
  36. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Saya tertarik untuk mengomentari pertanyaan: 3. Bagaimana seorang guru muda (novice) mengatasi nervous ketika menyelenggarakan pembelajaran matematika?

    Rencana saya agar tidak gerogi dan sukses dalam praktik mengajar di Kelas adalah dengan mempersiapkan RPP dan bahan ajar yang matang serta mengevaluasi diri dari hasil praktik sebelumnya agar terjadi peningkatan lebih baik.Serta sebelum praktik tarik nafas dan mengucapkan basmallah.

    ReplyDelete
  37. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Saya tertarik untuk mengomentari pertanyaan : 4.Bagaimana melayani kebutuhan belajar matematika yang beraneka ragam termasuk kondisi dan latarbelakang siswa?

    Memang guru juga memilik batasannya sendiri sebagai manusia. Namun karena tugasnya sebagai guru tak boleh malas untuk memfasilitasi siswa. Untuk memfasilitasi siswa guru dituntut untuk berpikir membuat variasi dari metode, media, alat peraga yang cukup bervariasi sehingga kebutuhan siswa terpenuhi.

    ReplyDelete
  38. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Saya tertarik untuk mengomentari pertanyaan: 5.Bagaimana melayani kebutuhan belajar matematika dari siswa yang berprestasi tinggi?

    Untuk memfasilitasi siswa yang berprestasi tinggi sama halyang dengan memfasilitasi siswa yang secara umum dengan memberikan berbagai variasi metode, media, alat peraga dan lainnya. Namun dalam hal in guru lebih memfasilitasi agar siswa yang berprestasi tinggi in untuk merekonstruksi sendiri pengetahuannya. Sehingga secara mandiri belajar dan melakukan aktivitas yang telah disiapkan. Yang kemungkinan akan lebih banyak menghabiskan banyak aktivitas dari pada siswa lainya. Sehingga seperti yang telah saya jelaskan guru masih tetap harus menyediakan variasi-variasi yng bermacam-macam adanya.

    ReplyDelete
  39. Taufan Adi Pradana
    13301241059
    Pendidikan Matematika A 2013

    dalam dunia pendidikan, psikologi sangat berpengaruh dalam hasil pembelajaran.
    Jika siswa mengalami tekanan dalam pembelajaran, maka hasilnya tidak akan maksimal.
    Sebaliknya siswa membutuhkan motivasi dari orang-oranng terdekat agar hasilnya lebih optimal.
    Masalah psikologi juga dialami oleh guru, misalnya ketika mengalami nervous dalam mengajar.
    Masalah nervous ini harus segera diatasi agar guru dalam menyampaikan pembelajaran menjadi lebih tenang dan dapat menikmati proses mengajar.

    ReplyDelete
  40. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)

    Peran Guru sangatlah penting dalam berpartisipasi mengatasi masalah pada siswa. Seorang guru matematika juga harus mampu mengubah paradigma dan mindset siswa bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit, matematika adalah pelajaran yang mengerikan ditambah guru matematika banyak yang galak-galak. Guru matematika dituntut untuk dapat memfasilitasi siswa secara kreatif dan inovativ agar siswa dapat memahami pelajaran matematika tersebut, sehingga ketika siswa sudah memahami matematika dengan baik, maka sedikit demi sedikit mindset siswa mengenai matematika akan berubah. Dalam hal itu diperlukan berbagai macam metode pembelajaran diseesuaikan dengan materi yang akan diajarkan sehingga siswa dapat mengangkap dan memahami pelajaran matematika dengan mudah.

    ReplyDelete
  41. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Menurut saya mengenai identifikasi nomor 11 tentang bagaimana mengatur keseimbangan antara belajar matematika sebagai proses atau sebagai hasil adalah antara proses dan hasil sebagai seorang guru harus menyeimbangkan kedua hal tersebut. jangan sampai guru menilai siswa berat sebalah, hanya dari hasil atau hanya dari proses.

    ReplyDelete
  42. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari 25 identifikasi masalah tersebut salah satu yang menarik perhatian saya yaitu pengaruh banyaknya tugas sekolah terhadap kondisi psikologi siswa. Tidak dipungkiri bahwa tujuan guru memberikan tugas kepada siswa adalah supaya ketika siswa di rumah siswa akan belajar dengan mengerjakan tugas tersebut. Namun sering kali guru memberi tugas dengan porsi yang besar sehingga siswa merasa terbebani, atau mungkin walaupun tugas yang diberikan dalam jumlah kecil siswa tetap merasa terbebani. Siswa yang merasa terbebani akan tidak baik bagi kondisi psikologi siswa. Maka dari itu guru perlu cermat ketika memberikan siswa tugas.

    ReplyDelete
  43. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Identifikasi masalah nomor 20 tentang bagaimana mengembangkan pembelajaran matematika yang menarik dan menyenangkan serta siswa menghayati bahwa matematika adalah penting. Matematika sering dianggap sebagai momok bagi siswa, merupakan sebuah tantangan bagi guru untuk menyajikan kegiatan pembelajaran matematika yang menyenangkan dan menarik sehingga siswa lebih menghayati dalam pembelajaran dan menganggap bahwa matematika itu penting.

    ReplyDelete
  44. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Identifikasi masalah nomor 16 sangat menarik. Belajar bermakna akan lebih tertanam dalam benak siswa sebab siswa mengetahui betul keterkaitan antar kompetensi yang dipelajarinya dengan apa yang pernah dipelajarinya dahulu. Siswa menghubungkan antar kegiatan pembelajaran dan mengonstruk pengetahuannya sendiri. Belajar bermakna sangat perlu untuk dikembangkan.

    ReplyDelete
  45. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Siswa adalah manusia yang sedang mengembangkan diri secara utuh. Sebagai seorang guru perlu memiliki pengetahuan tentang psikologi pembelajaran atau pendidikan, guna untuk mengetahui kemampuan yang telah dimiliki peserta didik, bagai mana proses berpikirnya, dan mampu menciptakan proses pembelajaran sesuai dengan kondisi dan tujuan yang diharapkan.

    ReplyDelete
  46. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Pada pembicaraan mengenai pembelajaran matematika di sekolah, jika terlepas dari psikologi pembelajaran yang mendasarinya, maka bukan lagi disebut dengan pembelajaran. Hai ini dikarenakan, proses pembelajaran adalah pembentukan diri siswa untuk menuju pada pembangunan manusia seutuhnya.

    ReplyDelete
  47. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Berkenaan dengan bagaimana cara memotivasi siswa belajar matematika pada identifikasi masalah no. 25, tidaklah mudah untuk menumbuhkan motivasi dari luar dan dalam diri siswa. Terlebih jika mindset atau persepsi siswa terhadap matematika cenderung ke arah negatif seperti matematika itu sulit, abstrak, guru matematika itu killer, maka akan lebih berat tugas guru untuk mendorong motivasi siswa dalam belajar matematika. Oleh karena itu, sebelum memotivasi siswa alangkah baiknya untuk terlebih dahulu mengubah persepsi negatif siswa terhadap matematika, selanjutnya menekankan pentingnya peran matematika dalam kehidupan nyata.

    ReplyDelete
  48. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Menurut sumber yang saya baca, Transfer of knowledge adalah mentransfer ilmu pengetahuan dan pemahaman, sedangkan transfer of value adalah mentransfer nilai-nilai moral dan kebaikan. Setiap pengajar seharusnya mempunyai 2 tujuan ini didalam pembelajaran sehingga output yang dihasilkan tidak saja mencetak orang-orang yang pandai, tetapi juga mencetak orang-orang bermoral.

    ReplyDelete
  49. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Menurut sumber yang saya baca, Transfer of knowledge adalah mentransfer ilmu pengetahuan dan pemahaman, sedangkan transfer of value adalah mentransfer nilai-nilai moral dan kebaikan. Setiap pengajar seharusnya mempunyai 2 tujuan ini didalam pembelajaran sehingga output yang dihasilkan tidak saja mencetak orang-orang yang pandai, tetapi juga mencetak orang-orang bermoral.

    ReplyDelete
  50. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Salah satu persoalan yang diangkat dalam artikel ini adalah, musuh utama pendidikan adalah budaya instan, Apa itu budaya instan? Dalam hal pembelajaran matematika budaya instan dapat dilihat dari banyaknya siswa yang selalu ingin menggunakan rumus-rumus instan dalam mengerjakan permasalahan-permasalahan matematika. Para siswa tidak mempedulikan bagaimana makna yang sebenarnya yang terkandung dalam konsep mateamtika tersebut. Tak heran apabila ketika siswa dihadapkan kepada soal matematika yang berbeda, mereka tidak mampu untuk mengerjakannya. Siswa yang menggunakan rumus-rumus instan dalam menyelesaikan persoalan matematika akan cenderung menghafal rumus-rumus serta bentuk-bentuk soal yang dapat dikerjakan dengan rumus-rumus instan tersebut. Padahal tujuan yang diharapkan adalah siswa ddapat memahami konsep-konsep matematika tersebut serta memiliki kompetensi matematika yang baik yang dapat berguna baginya tidak hanya dalam perssoalan matematika tetapi juga dalam permasalahan kehidupan-sehari-hari yang mereka jumpai.

    ReplyDelete
  51. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Terima kasih Pak Prof. atas postingan artikel ini yaitu tentang identifikasi masalah matematika dan psikologinya. Melalui artikel ini saya mulai memahami bahwa masih banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan matematika dan psikologi yang terkait didalamnya seperti psikologi belajar, psikologi mengajar dan psikologi pembelajaran matematika yang perlu diperhatikan lebih mendalam lagi. Saya pribadi sangat tertarik untuk mempelajari dan memahami matematika dan psikologinya. Hal ini disebabkan karena, matematika dan psikologi memiliki hubungan yang erat dalam kegiatan pembelajaran matematika, baik itu bagi guru maupun bagi siswa.
    Keadaan psikologis siswa saat belajar matematika akan mempengaruhi bagaimana siswa menerima materi pelajaran hingga bagaimana motivasi dan semangat dalam belajar. Begitupun keadaan psikologis guru saat mengajar matematika, juga akan mempengaruhinya. Mulai dari bagaimana cara guru menguasai materi pelajaran sekaligus menguasai kelas dengan berbagai macam karakter siswa.
    Tentunya dengan mengidentifikasi masalah-masalah yang terdapat dalam matematika dan psikologinya, kita bisa mulai menemukan solusi dari permasalahan tersebut.

    ReplyDelete
  52. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Terimakasih Bapak atas postingannya. Menurut saya, masalah-masalah yang didaftarkan di atas memang masalah-masalah yang sering dihadapi dalam proses pembelajaran matematika. Bahkan masalah-masalah tersebut bisa menjadi inspirasi atau ide untuk melakukan penelitian pendidikan matematika. Dari semua masalah-masalah yang didaftarkan di atas, ada satu hal yang baru saya ketahui yakni tentang "metopora" dalam pembelajaran matematika. Ternyata, metapora adalah suatu kegiatan dimana siswa dapat merasakan kebermanfaatan dari belajar matematika. Jika demikian, metapora ini akan sangat baik jika bisa diterapkan dalam pembelajaran matematika. Dengan begitu, siswa akan merasa butuh belajar matematika dan dan berusaha untuk serius mempelajarinya.

    ReplyDelete
  53. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Pembelajaran matematika selalu menghadapi masalah dalam psikologis pada siswa, karena mindset awal pada diri siswa banyak yang menganggap bahwa matematika itu sulit. Mindset tersebut mungkin juga benar, karena tidak semua siswa pandai dalam kognitifnya, ada yang pandai kinestetiknya, ada pula yang pandai dalam linguistiknya. Jadi bagi siswa yang bertipe kinestetik dan linguistik bisa saja berpendapat bahwa matematika itu sulit. Mindset pemerintah kita juga hendaknya perlu dirubah, bahwa selama ini yang disebut anak yang pandai hanyalah anak yang matematikanya atau IPA nya bagus. Padahal sebenarnya tipe siswa berbeda-beda, siswa yang berbakat dalam kinestetik ataupun linguistiknya juga harus dibilang pandai. Jadi disinilah peran guru khususnya guru matematika dalam memberikan metode dalam pengajaran, harus mampu merangkul siswa yang pandai di dalam kinestetik maupun linguistiknya.

    ReplyDelete
  54. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah.
    Terimakasih prof. Marsigit atas problem-problem diatas yang selama ini menjadi beban yang belum maksimal dalam penyelesaianya. Selain perincian masalah psikologi dalam mengajar, belajar, dan pembelajaran matematika, tidak dapat dipungkiri juga bahwa setiap siswa terlahir dengan segala background hidup yang bermacam-macam. Adat, budaya, ras, suku, agama, kondisi mental, psikis, fisik, lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, latarbelakang orang tua, dan lain sebagainya, menjadi faktor-faktor mendasar yang berpengaruh terhadap terjadinya permasalahan psikologi matematika. Sehingga, pada dasarnya amatlah kompleks benang kusut permasalahan dalam mempelajari matematika siswa. Itulah PR bagi kita semua yang harusl kita selesaikan secara optimal satu persatu.

    ReplyDelete
  55. 17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami tertarik dengan pertanyaan “Bagaimana seorang guru muda (novice) mengatasi nervous ketika menyelenggarakan pembelajaran matematika?”
    Pertanyaan ini mengingatkan saya terhadap pengalaman pertama saya mengajar di suatu SMK di Sleman. Yang saya lakukan sebelum mengajar di kelas tersebut adalah saya mempersiapkan segala materi, lembar kerja, lembar studi kasus dan lain-lain. Juga tidak lupa saya mempelajari kembali substansi matematikanya untuk memastikan betul bahwa saya menguasai materi yang akan saya sampaikan. Dan ternyata persiapan itu belum cukup bahkan mungkin pada pertemuan pertama tersebut persiapan saya sepertinya tidak mempersiapkan diri saya. Karena ada aspek yang belum saya pikirkan, yaitu bagaimana situasi kelas sesungguhnya, bagaimana biasanya sikap anak SMK tersebut dalam belajar matematika, dan aspek-aspek afektif lainnya yang ternyata jauh di luar dugaan saya dan itu membuat kepercayaan diri saya turun. Belajar dari pengalaman bertama, saya mencoba untuk memperbaiki pembelajaran selanjutnya. Saya upayakan sesuaikan dengan kebiasaan mereka tentunta dengan lebih terarah. Untuk pertemuan selanjutnya alhamdulillah saya sudah bisa mulai mengerti dan sedikit demi sedikit mampu mengendalikan kelas dan kepercayaan diri saya juga semakin mambaik.

    ReplyDelete
  56. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Saya akan mencoba berpendapat tentang “MUSUH UTAMA PENDIDIKAN ADALAH BUDAYA INSTANT? Jelaskan maknany?”
    Saat ini kita hidup di zaman yang serba instan. Dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, segala kegiatan dapat dilakukan dengan instan. Ternyata semua itu telah membudaya karena telah menjalar ke berbagai aspek kehidupan. Salah satu aspek yang terkena imbas dari budaya instan adalah pendidikan. Sebenarnya dalam pendidikan sangat membutuhkan adanya “proses”, namun karena budaya instan sudah semakin marak, kini terkadang “proses” sudah terancam keberadaannya. Bahkan budaya instan telah merasuk ke dalam pembelajaran. Salah satu contohnya ketika guru memberikan cara-cara cepat agar siswa mampu mengerjakan soal dengan cepat tanpa sebelumnya memfasilitasi siswa untuk mengetahui dan menemukan konsep dari soal tersebut. Hal itu menyebabkan siswa hanya bisa mengerjakan soal tanpa memahami konsep-konsep yang ada di dalamnya.
    Jadi budaya instan merupakan keinginan untuk memperoleh hasil yang cepat/instan tanpa melalui proses dan prosedur yang sebenarnya. Padahal di dalam pendidikan, proses sangatlah diperlukan untuk memperkokoh bangunan pendidikan itu sendiri karena sesuatu yang dibangun secara instan akan lebih mudah roboh daripada ketika melalui proses yang semestinya. Sehingga budaya instan dianggap sebagai musuh utama pendidikan.

    ReplyDelete
  57. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmu yang bermanfaat ini
    Melalui postingan ini saya pun belajar. Mengikuti beberapa poin yang disebutkan. Sedikit bertanya pada diri sendiri terkait poin-poin yang dituliskan. Matematika dan psikologis, sungguh ternyata ada hubungan di antara keduanya. Saya selalu tertarik pada hal-hal “instan” di dunia matematika. Bagaimana tidak? Cara instan, tip cepat menjawab soal pernah membuat saya melawan arus kala sekolah dasar dahulu. Iya, dulu sewaktu SD sebagian besar kawan saya mengikuti bimbingan belajar mandiri di luar sekolah dan mereka dibekali tips cepat mengerjakan soal. Betapa bersyukurnya diri ini dahulu, meskipun tidak mengikuti bimbingan belajar, beberapa teman berbagi ilmu dengan saya tentang cara cepat mengerjakan soal. Namun sayang, apa yang ada dalam diri saya menolak. Menurut saya kala itu dan sekarang, tips cepat mengerjakan soal membuat saya tidak mengetahui konsep dan maksut soal yang sesungguhnya.

    ReplyDelete
  58. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Sangat diperlukan bagi setiap guru untuk memahami perkembangan psikologi anak dalam pembelajaran matematika, sehingga dapat meminimalisir masalah-masalah yang berkaitan dengan psikologi belajar siswa dan psikologi mengajar guru. Pengaruh banyaknya tugas sekolah dan kurangnya motivasi belajar siswa tentu mengganggu psikologi siswa. Pemberian tugas memang dianjurkan untuk melatih dan mengukur kemampuan berpikir matematika siswa, tetapi jika terlalu berlebihan akan menjadi masalah bagi psikologi anak, bisa menurunkan motivasi belajarnya, bisa juga enggan untuk mengerjakan soal-soal matematika selanjutnya. Sehingga disini perlu juga bagi guru untuk mengembangkan segala hal yang berkaitan dengan belajar matematika, untuk membangkitkan lagi semangat dan motivasi belajar siswa.

    ReplyDelete
  59. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof.
    Rasa nervous sepertnya pernah dialami oleh sebagian guru salah satunya diri saya.Ketika saya ada tugas kuliah dari kampus untuk turun langsung ke sekolah melaksanakan praktik mengajar atau yang biasa disebut PPL.Biasanya rasa nervous terjadi di hari pertama. Jantung bedegup kencang tak karuan seperti mau copot, gugup.Perasaan seolah-olah berbaur menjadi satu.Mungkin untuk mengatasinya menurut pengalaman saya,yang pertama butuh penyesuaian dan tetap confidence dengan diri sendiri.Kemudian melihat keadaan dan situasi kelas seperti apa.Dan yang lebih penting harus menguasai materi dan kelas.Sebab hal tersebut merupakan modal dasar untuk mengajar dan menghilangkan nervous.

    ReplyDelete
  60. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Saya tertarik untuk memberikan pendapat pada pertanyaan nomor 5. Jika dikaitkan dengan pembelajaran matematika, budaya instan pada diri siswa merupakan kebiasaan siswa untuk menggunakan cara-cara instan dibandingkan melalui proses yang semestinya ketika belajar matematika. Berdasarkan pengalaman saya sendiri selama mengajar, kebanyakan siswa lebih menyukai cara-cara instan dari pada memahami konsep matematika. Siswa cenderung enggan melalui proses belajar yang mereka anggap tidak praktis. Padahal kebiasaan tersebut sangat berbahaya bagi siswa. Jika siswa terbiasa menggunakan cara-cara instan, maka siswa akan kesulitan untuk mempelajari materi berikutnya yang membutuhkan pemahaman konsep pada materi yang bersangkutan. Hal ini akan terjadi demikian seterusnya. Terlebih lagi, dengan budaya instan ini, siswa tidak akan memperoleh cara-cara berfikir di dalam pembelajaran matematika, apalagi menerapkannya di dalam kehidupan. Padahal hal itu merupakan tujuan akhir dari pembalajaran matematika.

    ReplyDelete
  61. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017
    Assalamu'alaikum wr wb.

    saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 25, bagaimana memotivasi siswa dalam belajar matematika.
    ada banyak cara dalam memberi motivasi belajar matematika pada siswa.
    salah satunya adalah memberikan contoh nyata matematika itu yang ada didalam kehidupan siswa. Baik permasalahan matematika, ataupun manfaat dari materi yang akan diajarkan itu.
    Memang tidak semua materi matematika bisa dikaitkan dengan kehidupan atau lingkungan siswa, akan tetapi kita sebagai guru bisa menceritakan manfaat dari matematika itu sendiri.

    ReplyDelete
  62. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017
    Assalamu'alaikum wr wb.

    Pertanyaan nomor 24 juga membuat saya berpikir, bagaimana cara mengembangkan skenario pembelajaran di dalam kelas.
    menurut saya, skenario pembelajaran dikelas itu sama seperti RPP.
    Sehingga dalam penyusunannya, haruslah dipikirkan terlebih dahulu kegiatan-kegiatan belajar yang akan dilalui siswa. Dan semestinya kegiatan-kegiatan itu menuntut siswa harus terlibat aktif, serta sesuai dengan kemampuan dan karakter siswa di dalam kelas.
    jika ingin kegiatan pembelajaran di dalam kelas berjalan dengan baik, maka setiap kegiatan pembelajaran haruslah disusun dengan baik juga. Sehingga diharapkan akan mampu menghasilkan kegiatan belajar yang bermakna dan konsep (materi) yang diajarkan dalam kegiatan itu dapat diingat dengan baik oleh siswa.

    ReplyDelete
  63. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017
    Assalamu'alaikum wr wb.

    saya juga akan memberikan tanggapan untuk pertanyaan pertama, yaitu Pengaruh banyaknya tugas sekolah terhadap kondisi psikologis siswa.
    Sangatlah berpengaruh terhadap kondisi psikis siswa, karena beban pikiran yang dialami siswa akan bertambah, sehingga siswa akan tidak menyukai pelajaran yang terlalu banyak tugas atau beban. Akan lebih baik, jika memberikan tugas jangan sampai berlebihan, karena siswa juga punya tugas dari pelajaran yang lain. Akan dikhawatirkan, jika tugas yang diberikan terlalu banyak akan menurunkan minat siswa dalam belajar matematika. Diharapkan setiap guru memahami keadaann psikologi siswa sebelum belajar matematika.

    ReplyDelete
  64. Shelly LUbis
    17709251040
    S2 P.Mat B 2017

    Assalamu'alaikum wr.wb

    disini saya ingn menanggapi tentang pernyataan bahwa musuh utama pendidikan adalah budaya instan. mengapa? karena hal-hal yang instan dalam pembelajaran akan sulit menanamkan konsep pada benak siswa. jangankan yang instan, yang melalui penjelasan konsep saja siswa belum tentu semuanya paham, apalagi lewat cara instan yang tidak menanamkan konsep nya kepada siswa, bisa lebih fatal lagi. karena soal-soal yang diberikan akan sangat bervariasi untuk tiap topik.

    ReplyDelete
  65. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Memahami beragam psikologi siswa merupakan hal yang cukup penting di dalam proses belajar mengajar di kelas. Bagi seorang guru khususnya di dalam pembelajaran matematika karakter psikologi meliputi kemampuan komunikasi, koneksi dan kecemasan siswa terhadap mata pelajaran matetika. Ketiga aspek tersebut memerlukan perhatian yang cukup besar dari guru agar proses pembelajaran dapat berlangsung sesuai dengan yang diharapkan. Khususnya dari aspek kecemasan siswa, untuk mengatasi hal tersebut guru harus bisa membangun mood dan perasaan senang di dalam diri siswa untuk mengikuti pelajaran matematika, serta guru juga harus berusaha mencoba menggali kreativitas berfikir siswa dalam belajar.

    ReplyDelete
  66. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 25 yaitu Bagaimana memotivasi siswa belajar matematika?Psikologi merupakan salah satu ilmu yang harus dikuasai oleh seorang pendidik. Setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda, ketika guru mempelajari psikologi guru dapat mengatasi sikap dan perilaku siswa yang berbeda tersbeut, hal ini juga dapat membuat siswa merasa nyaman dalam proses pembelajaran karena guru memahami psikologi siswa tersebut dan mengakibatkan siswa termotivasi dalam mengikuti materi yang diajarkan. Sedangkan psikolog juga bermanfaat bagi seorang pendidik dalam mengatur ketegangan dalam menyampaikan pembelajaran, menguasai materi agar lebih tenang, dan dapat menikmati proses mengajar.

    ReplyDelete
  67. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Dalam dunia pendidikan, psikologi sangat berpengaruh dalam hasil pembelajaran. Jika siswa mengalami tekanan dalam pembelajaran, maka hasilnya tidak akan maksimal.Sebaliknya siswa membutuhkan motivasi dari orang-oranng terdekat agar hasilnya lebih optimal. Masalah psikologi juga dialami oleh guru, misalnya ketika mengalami nervous dalam mengajar. Masalah nervous ini harus segera diatasi agar guru dalam menyampaikan pembelajaran menjadi lebih tenang dan dapat menikmati proses mengajar. pun dengan anak mempunyai sifat yang berbeda satu dengan lainnya, tentu tidak bisa disamakan, sehingga disilah psikolpgiharus dipelajari sehingga guru mengerti dan memahami perilaku siswa tersebut dan tahu cara menanggapinya dengan baik. guru dan siswa yang sama-sama merasa nyaman dan senang satu sama lain akan jauh lebih optimal dalam pembelajran berlangsung. matematika ilmu yang disiplin dan pasti sehingga memotivasi siswapun tidak selalu menggunakan proses yang meatematis namun digunakan secara perseorangan dan menggunakan psikologi untuk mnegetahui perilaku siswa, sehingga memotivasi siswa pun akan lebih nyaman.

    ReplyDelete
  68. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alikum Wr. Wb.

    Psikologi siswa adalah hal yang harus diperhatikan oleh guru, karena hal ini sangat berpengaruh terhadap peroses belajar mengajar dan hasil belajar siswa. Sehingga guru harus memahami bagaimana psikologi anak saat proses belajar mengajar, bagaimana dengan pemberian pr dan tugas yang banyak apakah mempengaruhi psikologi pada siswa. Psikologi siswa yang baik akan berpengaruh kepada hasil pembelajaran yang baik, tetapi jika tidak maka akan berdampak kepada hasil belajar dan ke mata pelajaran yang lain juga. Maka dari itu guru tidak lah dituntut hanya untuk mengajar saja, tetapi belajar mengenai psilogi anak juga hal yang harus diperhatikan oleh guru sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik, tidak hanya sekedar tercapai dengan tidak memperhatikan faktor-faktor lainnya pada siswa.

    ReplyDelete
  69. Junianto
    17709251065
    PM C

    Saya mencoba memberi tanggapan untuk pertanyaan no 9. Memang tidak dipungkiri bahwa budaya instant masih menjadi masalah dalam dunia pendidikan. Budaya instant yang saya pahami adalah budaya dimana proses dalam pembelajaran tidak begitu diperhatikan namun orientasi utama adalah pada hasil belajar. Secara sederhana misal dalam pegerjaan soal adalah siswa lebih senang dengan menuliskan jawaban saja tanpa proses/ langkah-langkah. Dalam pengerjaan soal matematika, budaya instan juga bisa terjadi dimana siswa lebih suka menggunakan cara-cara cepat soal namun belum paham matematikanya. Kasus seperti ini memang perlu diminimalisir agar siswa bisa memahami lebih dalam tentang konsep matematika.

    ReplyDelete
  70. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Saya ingin berbagi pikiran mengenai persoalan no.9. musuh utama pendidikan adalah Budaya instant.
    Kita hidup di jaman yang mang memanjakan. Apa apa mudah, bisa dicapai dengan cepat Dan mudah. Kalau bisa mudah, mengapa mempersulit diri, mengapa memilih jalan yang sulit. Dunia menggiurkan ini, budaya instant ini, sebenarnya mencabut Kita dari akarnya. Yang mudah saja, mau makan nasi sudah tersedia di meja. Tidak habis lalu dibuang begitu saja. Belum tentu anak tahu,darimana asal nasi, bagaimana cerita nasi itu hingga sampai di piring makannya. Anak perlu tahu sejarah Dan asal usual segala sesuatu, Dan ini menjadi penting bagi anak Dan Kita semua yg hidup dalam Budaya instan ini
    . Jangan sampai tercabut dari akar, Tak punya orientasi diri...
    Inilah tantangan orangtua Dan guru masa kini... Anak Kita lahir dalam loncatan Budaya yang sangat cepat. Mari temani anak untuk memahami sejarah... Mung kin inilah Belajar filsafat sederhana untuk anak? Bertanya tentang asal mula segala sesuatu? Beri anak pengalaman dengan inderanya untuk mengalami Proses itu. Melihat tanaman padi, berjalan di pematang sawah, menanak nasi, sampai ke meja makan. Semoga anak bisa lebih mampu berjuang Dan menghargai jerih payah orang lain.

    ReplyDelete
  71. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Mengomentari pertanyaan no 3 tentang guru muda yang nervous saat mengajar. Bagi guru pemula, grogi itu wajar. Namun menurut saya ada hal yang membuat guru grogi, yaitu kurang menguasai materi. Menguasai materi sangat penting dibanding metode pengajaran, karena jika materi kita sudah kuat maka mau menerapkan metode pengajaran beranekaragampun akan enjoy. Namun jika jika tidak menguasai materi, saat kita menggunakan metode pembelajaran tertentu dan ada siswa bertanya namun kita tidak bisa menjawab, maka guru akan goyah dan metode pembelajarannya pun akan goyah.

    ReplyDelete
  72. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Dari sekian banyak permasalahan yang ada dalam dunia pendidikan yang sedikit telah disampaikan pada ulasan di atas, ada bebrapa hal yang ingin saya berikan saran terkait permasalahan tersebut. Pada permasalahan nomor 14 yaitu Bagaimana melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran matematika? Penting memang untuk melibatkan ssiswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Selain karena perubahan paradigma pembelajaran yang kini menjadi berpusat pada siswa, keaktifan siswa ini dapat mencerminkan bagaimana pemahaman siswa akan materi pembelajaran, sikap sosialnya, dan mengetahui pola pikir siswa. apa yang bisa dilakukan guru ialah memberikan aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan materi pembelajaran yang sedang dipelajari. Hal ini dapat dilakukan dengan bentuan bahan ajar atau LKS yang disusun oleh guru dan dilakukan secara individu maupun secara berkelompok (diskusi). Dengan memberikan kesibukan pada siswa, maka secara tidak langusng siswa akan aktif dalam kegiatan pembelajaran.

    ReplyDelete
  73. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan yang ke sembilan "MUSUH UTAMA PENDIDIKAN ADALAH BUDAYA INSTANT? Jelaskan maknany?"
    Memang benar untuk saat ini musih terbesar dalam dunia pendidikan adalah budaya instant. Budaya instan yang dimaksud dalam dunia pendidikan adalah dimana guru hanya memeberikan rumus-rumus tanpa memberikan penekanan terhadap konsep. Salah satu contohnya adalah mengajar matematika di SD dengan materi ajar perkalian. Guru langsung memberi tahu bahwa 2×3 adalah 6 tanpa mendefinisikam terlebih dahuli, sehingga siswa tidak paham dengan konsep perkalian itu sendiri. Selain itu, guru juga memperbolehkan siswa untuk membawa tabel perkalian dan itu secara tidak langsung sangat membodohi siswa. Sebab jika siswa diberikan soal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari akan sulit untuk memecahkannya karna tidak memiliki konsep dasar. Sebenarnya yang salah dari cara mengajar guru adalah berawal dari definisi. Padahal sebaiknya berawaldari contoh nyata baru di bawa ke definisi. Hal seperti ini sering dilakukam sebab guru juga dikejar oleh target setiap semesternya.

    ReplyDelete
  74. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Indentifikasi masalah diatas mungkin saja dapat betembah lagi, seiring perkembangan dunia yang menuju perubahan. Dari berbagai pertanyaan diatas kami mencoba menanggapi identifikasi masalah nomor 8 tantang Transfer of Knowledge dan transfer of value. Transfer of knowledge adalah proses alih budaya atau alih pengetahuan, sedangkan transfer of value adalah proses alih nilai. Pada zaman dahulu pendidikan dianggap sebagai transfer of knowledge saja, sehingga tidak ada tujuan untuk membentuk akhlak ataupun nilai-nilai kepribadian siswa. Padahal pada zaman dahulu KI Hajar Dewantara telah menyatakan bahwa pendidikan adalah upaya untuk memajukan bertumbuhnya budipekerti(kekuatan batin, karakter, pikiran (intellect) dan tubuh anak. Semakin berkembangkan zaman dan perubahan sosial, sehingga dipahami bahwa pendidikan karakter penting. Oleh karena itu system pendidikan Indonesia bertujuan tidak hanya Transfer of Knowledge tetapi lebih dari itu juga mengambangkan pendidikan karakter atau transfer of value. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi guru untuk merancang proses pembelajaran yang menausiakan manusia yakni tidak otoriter dengan memaksa siswa yang belum bisa, Namun guru sebagai fasilitor memberikan hal yang terbaik guna memberikan pengathaun materi belajar serta menanaman akhlak-akhlak karimah. Terima Kasih

    ReplyDelete
  75. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang telah dimiliki oleh struktur kognitif seseorang. Suatu pembelajaran dikatakan bermakna jika siswa mampu mengaitkan apa yang telah dipelajarinya dengan kehidupan sehari-hari. Maka berdasarkan hal tersebut, cara mengembangkan pembelajaran bermakna adalah dengan memberikan pemahaman konsep dan mengaitkan dengan permasalahan yang terjadi pada kehidupan nyata. Belajar matematika tidak semata-mata hanya sekedar menggunakan rumus, akan tetapi apa makna dari formula matematika tersebut.

    ReplyDelete
  76. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Pemberian tugas pada siswa sudah tidak berlaku di tahun ajaran ini. Karena benar, tugas sekolah juga dapat mempengaruhi psikologi siswa di satu sisi. Karena siswa akan merasa lebih terbebani akan hal ini. Mungkin hal ini digunakan guru sebagai sarana agar siswa lebih mengerti dengan materi yang sudah diajarkan atau sebagai hal karena pada waktu pembelajaran, waktunya tidak cukup sehingga guru akan memberikan tugas. Kalau setiap guru berpikir seperti itu, berapa banyak tugas yang akan diterima siswa? jelas ini akan menjadi beban di siswa, padahal waktu yang ia habiskan lebih banyak di sekolah daripada di rumah

    ReplyDelete
  77. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Pendidikan saat ini di Indonesia menurut pandangan saya sedang dalam keadaan tidak sehat, banyak penyakit-penyakit didalamnya. Ibaratkan tubuh yang membutuhkan obat, pembelajaran juga membutuhkan obat. Obat dalam pembelajaran yang sakit diharapkan adalah inovasi pembelajaran. Menurut saya pembelajaran yang sehat adalah pembelajaran yang bebas, tidak terkekang ataupun terpenjara. Yang saya maksudkan pembelajaran yang bebas adalah pembelajaran yang tanpa hambatan, tanpa tuntutan, tanpa kekawatiran, tetapi berasal dari dalam diri setiap manusia, pembelajaran yang mengembangkan diri seseorang bukan membentuk dengan kekangan. Namun saya rasa pembelajaran seperti itu sangat jauh dan mungkin hanya sekedar angan-angan.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  78. Terimakasih bapak atas sharing berbagai pertanyaan-pertanyaan yang muncul tentang identifikasi masalah psikologi mengajar matematika, psikologi belajar matematika dan psikologi pembelajaran matematika, semoga kami sebagai seorang pendidik nantinya mampu masih mengingat dari renungan jawaban dari berbagai pertanyaan-pertanyan tersebut.


    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  79. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Pada elegi ini saya terfokuskan pada pertanyaan nomor 3 yaitu bagaimana guru muda menanggulangi nervous. Disini, seorang guru muda yang baru pertama mengajar, untuk menghilangkan nervous, janganlah langsung pada materi yang akan di ajarkan. Namun mulailah dengan perkenalan dulu dan amati karakteristik kelas. Karena jika hal ini dilakukan akan membantu mereka untuk menyusun RPP yang sesuai dengan karakteristik siswa yang akan diajarnya.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  80. Isoka Amanah Kurnia
    17709351051
    PPs Pend. Matematika C 2017

    Hukuman dan hadiah di dalam pembelajaran seringkali hanya memunculkan efek sementara terhadap siswa. Memberi hukuman mungkin solusi instan yang kelihatannya memberikan dampak positif, namun secara psikologis siswa mungkin menjadi lebih tertekan dan semakin tidak menyukainya. Pemberian hadiah juga dapat membuat siswa berpotensi untuk memiliki performance-orientation goals, yaitu siswa cenderung ingin mendapatkan hasil yang baik demi pandangan dan pengakuan orang lain sehingga tidak terlalu peduli dengan pengetahuan yang diperolehnya. Performance goal orientation adalah tipe yang sangat dihindari dari segi psikologi belajar karena siswa tidak akan pernah mendapatkan meaningul learning jika siswa memiliki orientasi tersebut.

    ReplyDelete
  81. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Mengajar, belajar, dan pembelajaran matematika membutuhkan dan mempengaruhi psikologi seorang siswa maupun guru. Saat pembelajaran matematika tidak jarang siswa mengalami hambatan dan kesulitan dalam belajar. Hambatan-hambatan tersebut bisa disebabkan dari luar maupun dari dalam individu. Hambatan dari dalam seperti siswa kurang bisa memahami materi yang disampaikan oleh guru. Sedangkan hambatan dari luar misalnya siswa tertekan dengan sifat guru yang otoriter. Yang tidak memberikan kebebasan siswa untuk berekplorasi. Padahal jika keadaan ini tetap berlanjut akan mempengaruhi prestasi belajar siswa. Belajar matematika bukanlah suatu hasil akan tetapi suatu proses. Yang dimulai dari tingkat dasar hingga yang paling sulit.
    Oleh karena itu guru sebagai pendidik dituntut untuk bisa mengubah pradigma lama menjadi pradigma baru. Melakukan inovasi dalam berbagai segi komponen-komponen pembelajaran.

    ReplyDelete
  82. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Musuh Utama Pendidikan adalah Budaya Instan? Jelaskan Maknanya.
    Menurut KBBI(Kamus Besar Bahasa Indonesia) kata "budaya" berarti: Pikiran; akal budi, adat istiadat, sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah. Sedangkan kata "instan" berarti: Langsung(tanpa dimasak lama) dapat diminum atau dimakan. Secara Umum Budaya Instant merupakan sebuah tradisi pada masyarakat yang menginginkan sesuatu serba cepat dan langsung tanpa melalui proses dialektika dan mekanisme yang panjang dan mendewasakan sekaligus mematangkan.
    Budaya ini mempunyai konsekuensi negatif bagi tumbuh-kembangnya suatu komunitas -dalam perjalanannya- menuju masyarakat beradab, maju dan berbudaya tinggi. Dalam pendidikan, kebanyakan sudah kehilangan orientasi ideal. Pendidikan tidak berfungsi lagi sebagai suatu proses untuk menjadikan seseorang menemukan potensi dirinya, ia sudah berubah ke ranah pencapain hasil berupa ijazah. Akhirnya karena ingin instan banyak sekali yang membeli ijazah-ijazah palsu karena ingin cepat-cepat mendapat keuntungan kerja secara instan. Hasilnya, anak didik kita pun di tangani oleh orang tak professional berkat ijazah instan tersebut. Itulah mengapa budaya ini sangat berbahaya dalam dunia pendidikan

    ReplyDelete
  83. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Masalah-masalah yang terjadi dalam pembelajaran matematika sangatlah beragam. Beberapa masalah di atas pernah saya temui antara lain: 1) Pengaruh banyaknya tugas sekolah terhadap kondisi psikologis siswa. Saya pernah memberikan tugas kepada siswa. Beberapa siswa mengeluh bahkan protes karena tugas yang saya berikan terlalu banyak. Mereka juga beralasan kalau tugas-tugas pelajaran yang lain juga banyak, sehingga mereka tidak punya waktu untuk mengerjakannya. 2) Sekitar polemik bentuk soal UAN dan pengaruhnya terhadap psikologis siswa? Saya pernah menjelaskan suatu materi matematika di kelas. Namun beberapa siswa kelas 12 tersebut tidak antusias belajar karena mereka merasa apa yang disampaikan tidak ada pada kisi-kisi UN atau jarang keluar pada UN.

    ReplyDelete
  84. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Tugas sekolah merupakan salah satu teknik yang digunakan dalam proses belajar mengajar dengan tujuan yang mengharapkan siswa dapat merefleksikan pengetahuan yang diperoleh melalui pembelajaran tatap muka, siswa aktif dalam belajar, meningkatkan belajar yang lebih baik, memupuk inisiatif dan berani bertanggung jawab sendiri. Namun perlu diperhatikan porsinya, jangan terlalu banyak. Karena beban tugas yang terlalu banyak tentu akan mempengaruhi siswa secara psikologis misalkan kejenuhan dalam belajar sehingga menurunkan motivasi. Bila motivasi turun maka biasanya secara otomatis prestasi belajarpun akan turun. Hal ini tentu tidak berdampak positif terhadap tercapainya tujuan pembelajaran.

    ReplyDelete
  85. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Di Indonesia mata pelajaran yang diwajibkan di sekolah terlalu banyak. Jika semua mata pelajaran memberikan tugas untuk anak, maka anak akan kehilangan waktu untuk bersosialisasi ataupun hanya sekedar membantu orangtua di rumah. Anak akan merasa tertekan dengan tuntutan yang terlalu banyak itu, di sekolah sudah berpikir pulang masih harus berpikir lagi menyelesaikan tugas. Seharusnya di luar sekolah, anak-anak mengembangkan softskill mereka. Keadaan ini akan berpengaruh terhadap kondisi psikologi siswa.

    ReplyDelete
  86. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Saya akan mencoba menanggapai pertanyaan nomor 3. Bagaimana seorang guru muda (novice) mengatasi nervous ketika menyelenggarakan pembelajaran matematika?
    Menurut saya cara yang dapat digunakan untuk mengurangi rasa nervous guru muda kuncinya adalah menguasai materi pembelajaran. Itu adalah hal yang mutlak harus dikuasai agar pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang kita inginkan. Hal itu karena, saat seorang guru tidak menguasai materi maka akan membuat guru merasa ragu-ragu. Selain itu saat siswa mengetahui kekurangan guru dalam penguasaan materi, maka respect siswa kepada gurupun akan berkurang. Oleh karena itu, menguasai materi adalah syarat mutlak seorang guru. Namun, walaupun itu syarat mutlak guru juga harus meningkatkan kemampuan paedagogiknya. Kemampuan ini, akan semakin terasah seiring dengan banyaknya jam terbang guru/pengalaman mengajar. Terimakasih

    ReplyDelete
  87. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Saya akan mencoba menanggapai pertanyaan nomor 16 Bagaimana mengembangkan pembelajaran bermakna dalam pbm matematika?
    Menurut saya untuk menyampaikan materi yang bermakna bagi siswa dapat dilakukan dengan cara mengaitkan materi yang sedang dipelajari dengan pengetahuan awal yang sudah siswa miliki. Selain itu, siswa juga dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran. Misalnya dapat dilakukan dengan belajar penemuan yang terbimbing. Hal itu dapat dilakukan melalui diskusi kelompok dan bimbingan guru sehingga siswa mampu membangun konsep baru melalui pengetahuan awal yang telah dimiliki. Konsep yang dibangun sendiri oleh siswa akan lebih melekat pada ingatan siswa dibandingkan dengan hanya menghafalkan saja sebuah konsep. Selain dengan pembelajaran penemuan, pembelajaran dengan metode ceramah, juga dapat menjadi pembelajaran yang bermakna. Dengan syaratnya guru mampu mengaitkan apa yang disampaikan dengan pengetahuan awal yang dimiliki siswa. Terimaksih

    ReplyDelete
  88. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 14 yaitu Bagaimana melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran matematika? Menurut saya siswa yang aktif bukan hanya siswa yang sering maju ke depn untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh gurunya. Namun siswa yang dapat menyampaikan pemikirannya di depan kelas dan mau aktif membagikan ilmunya kepada siswa lainnya. Sehingga dalam memfasilitasi keaktiivan tersebut guru menyediakan kegiatan diskusi dan presentasi kelompok. Pada kegiatan ini siswa akan semakin aktif untuk menyuarakan pendaatnya kepada siswa lain, bahkan dalam diskusi akan muncul hasil pemikiran murni siswa. Dilanjutkan dengan resentasi di mana siswa mengkomunikasikan secara aktif, dan di tanggapi oleh kelompok lain.

    ReplyDelete
  89. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dalam postingan di atas disebutkan beberapa pertanyaan yang apa bila kita lihat realitasnya di lapangan akan menunjukkan adanya masalah berkenaan dengan psikologi mengajar matematika, psikologi belajar matematika dan psikologi pembelajaran matematika. Pada point 14 misalnya jika kita lihat dilapangan maka sangat terlihat jelas bahwa siswa ini masih bersikap pasif dalam pembelajaran. Sehingga solusinya yaitu guru menyediakan kegiatan penemuan dengan adanya LKS misalkan adar siswa benar-benar aktif dalam pembelajaran. Kemudian pada point 25. Di lapangan kita akan melihat bahwa siswa ini terlihat tidak termotivasi, hal ini bisa terlihat dengan sikap siswa yang tidak memeerhatikan pelajaran, asik bermain dll. Sehingga yang dapat dilakukan yaitu memberi motivasi dari kebermanfaatan materi dan pemberiam masalah diawal pembelajaran misalnya.

    ReplyDelete
  90. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Mencoba menanggapi poin1, pengaruh banyaknya tugas sekolah terhadap kondisi psikologis siswa. Pemberian tugas merupakan langkah efektif untuk mendukung siswa untuk belajar di rumah. Namun dalam memberikan tugas, guru harus mempertimbangkan kondisi siswa. Pemberian tugas dalam jumlah yang banyak malah akan menjadi beban bagi siswa. Sekolah luar negeri, seperti Singapura, penerapkan pembelajaran tanpa PR, jika pun ada itu hanya sesekali. Hal ini untuk memberikan kesempatan kepada siswa dalamberistirahat, menjalin komunikasi dengan keluarga, dan kesempatan untuk mengembangkan diri sesuai minat masing-masing. Namun tidaklah efektif jika hal serupa diterapkan di Indonesia karena kesadaran untuk belajar secara mandiri siswa Indonesia masih dalam kategori lemah. Untuk itu pemberian tugas tetap penting, namun jangan sampai membebani siswa.

    ReplyDelete
  91. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Saya juga ingin mencoba menanggapi pertanyaan terkait Transfer of Knowledge dan Transfer of Value. Pembelajaran tidak hanya diharapkan memberikan perubahan pengetahuan namun juga perubahan sikap dan karakter. Sebagaimana pendidikan Indonesia yang sedang menggalakkan pendidikan karakter pada tiap pembelajaran. Guru tidak hanya sebagai fasilitator namun juga sebagai suri tauladan bagi siswa-siswanya. Untuk itu, guru dituntut memiliki empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian. Dengan demikian proses yang terjadi dalam pembelajaran tidak sekedar Transfer of Knowledge melainkan juga Transfer of Value.

    ReplyDelete
  92. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Mencoba menanggapi pertanyaan budaya instant sebagai ancaman dalam pendidikan. Dunia kontemporer memberikan ancaman terhadap pendidikan kita. Kemajuan yang ada menawarkan budaya yang instant. Generasi muda yang belum memiliki pegangan yang kuat akan dengan mudah terpengaruh hingga melupakan jati diri. Penolakan terhadap globalisasi bukanlah pilihan yang tepat, karena itu berarti menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka kita harus mengarahkan generasi muda untuk bersikap cerdas yaitu dengan men-filter segala kemajuan yang ada. Bila dibawakan dalam pembelajaran matematika maka budaya instant adalah trik-trik cepat. Sikap cerdas kita adalah menggunakan trik-trik ini saat siswa sudah memiliki pondamen yang kuat akan konsep tersebut.

    ReplyDelete
  93. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Berkaitan dengan banyaknya tugas sekolah terhadap kondisi psikologis siswa, memang tugas yang terlalu banyak akan berpengaruh pada kondisi psikologis siswa, bisa saja siswa mengalami penurunan minat dan motivasi apabila tugas yang diberikan oelh guru terlalu banyak atau terlalu sulit sehingga siswa kesulitan untuk menyelesaikannya. Namun, tidak memberikan tugas sama sekali juga akan membuat siswa menjadi santai dan tidak termotivasi untuk belajar di rumah. Jadi, guru yang harus mengatur kadar dan frekuensi tugas yang diberikan karena guru yang mengetahui karakteristik siswanya.

    ReplyDelete
  94. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Sehubungan dengan tanggung jawab guru adalah mendidik semuanya “education for all” adalah karena guru memiliki tanggung jawab bukan hanya sebagai fasilitator pembelajaran, akan tetapi juga sebagai pendidik dan pembimbing akhlak/perilaku siswa agar siswa tidak hanya terbekali dengan pengetahuan tetapi juga memiliki perilaku yang baik saat terjun di lingkungan masyarakat. Guru di sekolah adalah sebagai pendidik kedua setelah keluarga.

    ReplyDelete
  95. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C


    Dari semua penyataan diatas dapat membantu kita untuk dapat mengetahui mengenai masalah umum yang timbul dalam proses belajar dan mengajar. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas dan menguraikan jawabannya, saya percaya kita dapat mengubah masalah diatas sebagai keuntungan progresif proses pembelajaran dan menempatkan siswa sebagai subjek bukan sebagai objek pengajaran.

    ReplyDelete
  96. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Menanggapi pertanyaan nomor 25 tentang bagaimana memotivasi siswa belajar matematika yaitu dengan menghadirkan contoh-contoh konkret dalam kehidupan kepada siswa. sehingga siswa lebih memahami apa yang mereka pelajari dan mengetahui tujuan mempelajari materi tersebut dan merasakan manfaatnya untuk kehidupannya. Dengan begitu, siswa akan merasa adanya kebutuhan untuk belajar dan akan timbulnya motivasi siswa untuk belajar.

    ReplyDelete
  97. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Saya mencoba menanggapi pertanyaan nomor 26 tentang bagaimana menumbuhkan apersepsi siswa dan keterlibatan siswa dalam pbm matematika. Apersepsi adalah kegiatan menyamakan persepsi yang berbeda-beda dan akan dilakukan oleh guru sebelum memulai materi pokok dalam proses belajar. Untuk menumbuhkan hal tersebut, akan lebih menarik bagi siswa untuk memberikan apersepsi yang dikaitkan dengan pengalaman mereka. Atau bisa juga dengan membawa media pembelajaran yang menarik, sehingga siswa merasa senang dan membangkitkan semangat siswa untuk terlibat dalam proses belajar mengajar.

    ReplyDelete
  98. Aristiawan
    17701251025
    PEP B 2017

    Mencoba menjawab pertanyaan pertama. Pengaruh banyaknya tugas sekolah terhadap kondisi psikologis siswa. Mau tak mau, harus diakui bahwa siswa masih menganggap tugas sebagai beban tambahan yang wajib ia kerjakan. Meskipun guru kadang tidak bermasud demikian. Persepsi siswa yang demikian tidak bisa disalahkan, karena kadang guru juga berperan dalam membentuk persepsi tersebut. peran guru dalam membentuk persepsi tersebut contohnya adalah dengan memberi tugas yang terlampau banyak sehingga mengurangi aktivitas siswa dalam bermain. Masa SD atau anak-anak adalah masa-masa bermain. Bermain bagi anak-anak tidak sekedar mencari hiburan, tapi juga mengembangkan kreatifitas, mengembangkan rasa social (jika bermain bersama teman), sehingga jika waktu bermain tersebut dirampas dan diganti dengan beban untuk mengerjakan tugas sekolah, maka kreatifitas, rasa social, empati, identitas siswa akan terganggu, sehingga perkembangan psikologis siswa juga akan terganggu.

    ReplyDelete
  99. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Berdasarkan beberapa identifikasi masalah di atas, saya tertarik untuk menjawab pertanyaan No.14 yaitu bagaimana melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran matematika. Menurut saya untuk melibatkan siswa secara aktif adalah dengan menerapkan strategi belajar atau model pembelajaran tertentu yang menuntut siswa untuk aktif, aktif dalam dalam kegiatan belajar dan aktif dalam membangun pengetahuan mereka. Dengan memfasilitasi siswa belajar, baik itu dengan menerapkan suatu strategi/ model belajar tertentu ataupun memfasilitasi siswa belajar dengan media atau LKS yang membantu membimbing siswa belajar dan memahami, dengan demikian siswa mau tidak mau akan terlibat langsung dalam pembelajaran yang berlangsung.

    ReplyDelete
  100. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Menanggapi pertanyaan nomor 6 yaitu tanggung jawab guru adalah mendidik semuannya “ Education for All”, menurut saya guru bertanggung jawab untuk mendidik semua siswanya. Semua siswa dalam konteks ini yaitu siswa dari berbagai karakter dan dari berbagai level kemampuan. Guru tidak boleh membeda-bedakan atau memeta-metakan siswanya atau dalam istilah yang sering digunakan siswa “pilih kasih” saat mengajar dalam artian guru sudah seharusnya berlaku adil terhadap semua siswanya. Adil, dimana pembelajarannya itu memperhatikan kebutuhan dan kemampuan siswanya.

    ReplyDelete
  101. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C


    Proses pendidikan itu adalah berlangsung seumur hidup. Sehingga pasti berdampak pada seluruh aspek kehidupan manusia Sehingga dapat menentukan karakter dan berbagai sikap, sifat, serta aksi reaksi seseorang. Di sisi lain, pembelajaran dalam lingkup pendidikan formal adalah juga merupakan salah satu subpendidikan pendidikan secara umum. Dengan kata lain, proses belajar dan mengajar di dalam kelas juga akan memunculkan berbagai reaksi dari dalam diri siswa bahkan bagi seorang guru, termasuk reaksi psikologis. Perlakuan guru terhadap siswa pada khususnya dan terhadap kelas pada umumnya akan memunculkan umpan balik baik secara nyata maupun tidak nyata dan secara langsung maupun tidak langsung dari diri para siswa. Untuk mengoptimalkan tujuan pembelajaran, maka diperlukan identifikasi masalah pembelajaran (dalam hal ini masalah psikologis pembelajaran matematika) dari sudut pandang siswa dan guru, seperti identifikasi masalah psikologis mengajar matematika, psikologi belajar matematika, dan psikologi pembelajaran matematika.

    ReplyDelete
  102. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Saya kaan mencoba menanggapai pertanyaan tentang bagaimana mengembangkan pembelajaran bermakna dalam pembelajaran matematika. Untuk mengembangkan pembelajaran matematika yang bermakan, tentunya harus dimulai dari niat ikhlas guru sendiri. Guru harus mampu menjadi guru yang tidak biasa-biasa saja. Maksudnya guru harus mampu beupaya keras untuk menyiapkan pembelajaran termasuk RPP, LKS, Media Pembelajaran dan alat evaluasi dengna semaksimal mungkin. Selain itu, dalam hal menyiapkan RPP, selain guru harus cermat menganalisis karakter siswa dan materi agar metode yang dipilih sesuai dan dapat memberikan hasil yang optimal. Dan dari aspek materi ajar, guru juga harus benar-benar memahami hakekat ilmu yang diajarkan, sehingga dia tidak hanya menyalurkan sebuah mitos.

    ReplyDelete
  103. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Saya akan mencoba menjawab masalah no 14 yaitu bagaimana melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran matematika. Untuk melibatkan siswa dalam pembelajaran maka pembelajaran haruslah berpusat pada siswa. Tugas guru bukan menyampaikan materi pembelajaran dengan ceramah tetapi bagaimana memfasilitasi siswa memperoleh pengetahuannya. Maka tugas guru adalah menyiapkan kegiatan-kegiatan bagi siswa. Dengan memberikan kegiatan bagi siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri siswa akan aktif dalam pembelajaran. Yang terpenting dalam memberikan kegiatan kepada siswa adalah jangan sampai guru terlalu banyak mengintervensi kegiatan atau jawaban siswa.

    ReplyDelete
  104. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. paradigma pendidikan di Indonesia ingin diubah menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Adanya kurikulum 2013 juga mendukung perubahan paradigma tersebut. Efek dari perubahan tersebut salah satunya banyak tugas (berupa PR) yang dibebankan kepada siswa. Beberapa siswa memiliki mental instan dengan mengikuti privat agar ada seseorang yang dapat membantu mereka mengerjakan tugas. Siswa juga sering kali menanyakan cara singkat dalam mengerjakan soal-soal matematika. Menurut saya harus ada kontrol yang lebih ketat lagi mengenai tugas berupa PR yang diberikan kepada siswa. Juga selalu meminta siswa mengerjakan soal-soal matematika dengan menggunakan langkah-langkah pengerjaan agar budaya instan itu dapat sedikit demi sedikit berkurang.

    ReplyDelete
  105. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Salah satu masalah psikologi mengajar matematika adalah bagamana memotivasi siswa dalam belajar matematika. motivasi belajar mampu dimunculkan guru dengan memberikan kisah kisah motivasi yang mampu menumbuhkan minat terhadap matematika. guru perlu menggunakan banyak referensi untuk menumbuhkan minat tersebut.

    ReplyDelete
  106. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Dalam pembelajaran matematika, psikologi belajar akan berpengaruh terhadap hasil pendidikannya. Siswa mempunyai beranekaragam kondisi psikologisnya, sehingga respon-respon tiap siswa berbeda-beda dalam pembelajaran. Berkaitan dengan hal itu, kompetensi guru akan dibutuhkan untuk memahami perkembangan psikologi siswa dalam kegiatan belajar. Setiap siswa mempunyai cara berbeda-beda dalam mempelajari matematika dan dengan pengalaman yang berbeda pula, sehingga perbedaan gejala jiwa inilah yang perlu untuk diidentifikasi dalam menunjang pembelajaran matematika. Identifikasi masalah psikologi yang telah diuraikan diatas, sangat penting bagi seorang guru untuk meningkatkan kualitas dalam pembelajaran matematika. Pentingnya identifikasi masalah tentang psikologi dalam pembelajaran matematika, supaya guru ataupun calon guru mampu mambangun psikologi pendidikan matematika dengan memahami karakteristik siswa dalam belajar matematika.

    ReplyDelete
  107. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Bagi siswa, pembelajaran matematika membutuhkan motivasi eksternal baik itu dari ligkungan, teman sebaya, maupun dari guru, dalam rangka mewujudkan pembelajaran matematika yang menyenangkan dan menarik. Perlu disadari bahwa pembelajaran matematika melibatkan pengalaman masing-masing siswa untuk dapat membangun konsep dan mengaplikasikannya dalam persoalan matematika. Dengan demikian, seorang guru harus mampu menguasai psikologi pembelajaran dalam mengetahui kemampuan yang dimiliki siswanya, sehingga menciptakan proses pembelajaran yang efektif dan berkualitas sesuai dengan kondisi siswa dan tujuan pembelajaran yang diharapkan.

    ReplyDelete
  108. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Oleh karena itu, guru sebagai pendidik dituntut untuk bertanggungjawab atas perkembangan peserta didik, termasuk dalam perkembangan psikologi siswa. Sesuai dengan pernyataan nomor tujuh di atas, yaitu tanggung jawab guru adalah mendidik semuanya “Education for All”. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan motivasi belajar. Bagi guru, mengetahui motivasi belajar dari siswa sangat diperlukan guna memelihara dan meningkatkan semangat belajar siswa. Bagi siswa, motivasi belajar dapat menumbuhkan semangat belajar sehingga siswa terdorong untuk melakukan perbuatan belajar. Siswa melakukan aktivitas belajar dengan senang sesuai dengan kesadaran dari dalam diri siswa itu sendiri. Jadi, pendekatan psikologi antara guru dengan siswa memang diperlukan.

    ReplyDelete
  109. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no.3 tentang bagaimana seorangguru muda (novice) mengatasi nervous ketika menyelenggarakan pembelajaran matematika. Sejujurnya saya perna mengalami hal demikian, yaitu nervous atau gugu saat masih awam atau baru dalam mengajar di kelas. Menurut saya, hal tersebut wajar terjadi pada guru muda yang belum mempunyai pengalaman mengajar. Karena ada beberapa faktor seperti belum terbiasa menghadapi siswa. Belum terbiasa menyampaikan materi pembelajaran. Bahkan belum matang dalam mempersiapkan kegiatan pembelajaran. Untuk masalah komunikasi baik itu menyampaikan materi maupun bergaul dengan siswa, saya rasa lambat laun ana terbiasa sehingga tidak gugup lagi. Tetapi, untuk masalah ketidakmatangan persiapan kegiatan pembelajaran dapat diatasi dengan cara mempersiapkannya sebelum mengajar. Beberapa yang bisa dipersiapkan terkait dnegan pelasanaan kegiatan pembelajaran ialah RPP, silabus, contoh-contoh soal, serta kemungkinan pertanyaan dari siswa.

    ReplyDelete
  110. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    menanggapi pertanyaan nomor 2, "Bagaimana menumbuhkan mental atau motivasi yang kuat agar siswa mampu mengerjakan matematika?"
    Salah satu cara agar siswa memiliki mental dan motivasi yang kuat agar siswa mampu mengerjakan matematika adalah dengan memberikan pengalaman sukses kepada siswa. misalnya, guru sudah tahu bahwa jawaban siswa benar, kemudian guru tersebut meminta siswa untuk menjelaskan di depan kelas. Ketika siswa berhasil melaksanakannya, maka kepercayaan diri, mental serta motivasi siswa dalam mengerjakan matematika akan meningkat.

    ReplyDelete
  111. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 1 tentang Pengaruh banyaknya tugas sekolah terhadap kondisi psikologis siswa. Apabila terlalu banyak diberikan tugas, siswa bisa merasa tertekan dan bisa mengganggu psikologis dan kesehatan siswa. Karena terlalu tertekan, bisa saja siswa menjadi depresi dan kondisi fisiknya bisa lemah. Terutama pada tingkat awal pendidikan seperti SD, anak-anak yang waktunya perlu untuk banyak bermain dan bersosialisasi apabila terus-terusan diberi tugas akan merasa tertekan. Pada tingkat awal, pendidikan yang lebih diutamakan mestinya adalah pendidikan karakter. Seperti pendidikan SD di Finlandia, dimana waktu belajarnya hanya sekitar 3-4 jam dan waktu istirahatnya bisa sampai 75 menit, bahkan guru-gurunya sangat jarang memberikan PR. Ini digunakan untuk menurunkan tekanan dan tingkat stres agar motivasi dan pengembangan belajarnya lebih meningkat.

    ReplyDelete
  112. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 10 yaitu bagaimana mengembangkan matematika sebagai kegiatan problem solving di kelas?. Problem solving perlu ditekankan dalam kegiatan pembelajaran di kelas, karena dengan problem solving siswa menjadi terlatih untuk menyelesaiakan berbagai permasalahan dan siswa dapat membangun pengetahuannya. Mengembangkan kegiatan problem solving di kelas dapat dilakukan dengan guru yang membawa murid pada suasana siap menerima tantangan atau permasalahan, sebab sebuah masalah bukanlah masalah sampai murid menyadari dan ingin memecahkannya. Dan juga guru mempersilahkan anak untuk mengikuti cara mereka dalam menemukan solusi dan membantu mereka ketika memerlukan, tanpa memberikan jawaban.

    ReplyDelete
  113. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Banyaknya tugas sekolah sangat mempengaruhi kondisi psikologi siswa. Cooper dan Kohn berpendapat bahwa tugas sekolah itu dapat menjadi beban bagi siswa, mengurangi waktu bersantai dan bermainnya, atau dengan kata lain mengurangi waktu siswa sebagai anak untuk menjadi anak-anak. Selain banyaknya tugas, adanya tuntuta dari orang dewasa untuk memperoleh nilai yang bagus dari tugas tersebut pun menjadi beban tersendiri bagi anak.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  114. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Selain banyaknya tugas, adanya UAN pun sangat mempengaruhi psikologis siswa. Semua kerja keras siswa belajar betahun-tahun hanya digantungkan kepada satu lembar kertas, dan adanya tuntutan dari orang dewasa agar lulus pun membuat siswa stress. Sehingga akhirnya segala cara pun dilakukan, mulai dari cara yang masuk akal hingga sampai cara yang tidak masuk akal sekalipun ditempuhnya. Sehingga dengan kata lain UAN adalah bentuk ambisi orang dewasa yang merusak mental anak-anaknya.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  115. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Psikologi merupakan salah satu ilmu yang harus dikuasai oleh seorang pendidik. Pendidik harus membuat siswa merasa nyaman dalam proses pembelajaran agar siswa termotivasi dalam mengikuti materi yang diajarkan. Maka ilmu tentang memahami bagaimana anak berfikir sangatlah dibutuhkan untuk memahami bagaimana cara memotivasi dan membimbing mereka untuk dapatr mengikuiti materi dengan baik.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  116. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Sedangkan psikologi bagi seorang pendidik adalah dapat mengatur ketegangan dalam menyampaikan pembelajaranya itu dengan menguasai materi agar lebih tenang, dan dapat menikmati proses mengajar. Karena psikologi yang dipelajari tidak hanya memberikan manfaat bagi peserta didik namun juga pendidiknya.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  117. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017
    Masalah pertama menarik perhatian saya. Pengaruh jumlah pekerjaan rumah pada kondisi psikologis siswa.
    Saat ini banyak anak yang tidak mau dan tidak memiliki keinginan untuk bersekolah. Bukan karena mereka malas tapi karena ada faktor pemicu yang menyebabkan mereka enggan bersekolah. Salah satu faktornya adalah karena guru suka memberi begitu banyak tugas.
    Saat guru memberi banyak tugas, anak-anak merasa mereka tidak memiliki ruang dan waktu untuk bermain dengan teman mereka. Mereka merasa bahwa para guru telah mengambil hak mereka untuk bermain. Tanpa sadar memberikan tugas terlalu banyak, telah mengganggu psikis anak-anak (atau sering disebut dengan memberikan kekerasan psikologis pada anak). Hal tersebut dapat menyebabkan anak cenderung membenci kegiatan belajar yang dilakukan di sekolah, kreativitas mereka menjadi terhambat, menurunnya motivasi belajar, dan tidak memiliki semangat untuk bersekolah.
    Karena dampak yang terkait dengan kondisi psikologis akan memakan waktu cukup lama. Oleh karena itu, kita sebagai guru sebaiknya tidak memberikan terlalu banyak tugas kepada siswa. Tapi bukan berarti kita tidak perlu memberi mereka tugas. Berikan tugas dengan tepat. Jangan terlalu sedikit, tapi jangan terlalu banyak. Dengan demikian kita tidak menekan psikologis siswa tapi kita tetap memberi tanggung jawab melalui tugas yang kita berikan.

    ReplyDelete
  118. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs PMAT C

    Budi pekerti merupakan hal penting yang harus disisipkan dalam semua mata pelajaran, termasuk matematika. Nilai budi pekerti yang secara tidak langsung diperoleh oleh siswa dalam pembelajaran matematika adalah kerja keras dan pantang menyerah. Dalam menyelesaikan sebuah permasalahan matematika kerja keras dan pantang menyerah ini sangat dibutuhkan oleh siswa, jika tidak memiliki budi pekerti ini maka permasalahan tersebut tidak akan terselesaikan. Selain itu guru dapat juga menyisipkan nilai budi pekerti seperti tolong menolong, saling berbagai, menghormati orang tua melalui soal-soal cerita yang diberikan.

    ReplyDelete
  119. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    menanggapi pertanyaan nomor 17.bagaimana mengembangkan pembelajaran kontekstual dalam pbm matematia?
    Pembelajaran kontekstual adalah suatu cara yang ditempuh guru dalam proses pembelajaran dengan menghubungkan materi pelajaran dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa, maka siswa akan mendapatkan makna dari belajarnya. Sehingga pembelajaran kontekstual dapat dikembangkan dengan menghubungkan materi yang dipelajari siswa dengan kehidupan sehari-hari siswa

    ReplyDelete
  120. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    menanggapi pertanyaan nomor 18. bagaimana kedudukan dan fungsi hukuman dan hadiah dalam pembelajaran matematika?
    Hukuman dapat digunakan untuk memberikan efek jera kepada siswa, sedangkan hadiah dapat digunakan sebagai bentuk apresiasi atas kesuksesan siswa. Namun, penggunaan hukuman dan hadiah ini tidak boleh berlebihan, terutama hukuman. Hukuman yang diberikan guru tidak boleh dalam bentuk kekerasan, hukuman yang diberikan bisa dilakukan dalam bentuk tugas atau pengurangan nilai sehingga memberikan efek yang positif kepada siswa.

    ReplyDelete
  121. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Pengaruh banyaknya tugas sekolah terhadap kondisi psikologis siswa antara lain akan mengurangi jatah istirahan dan bermain yang juga merupakan kebutuhan siswa yang harus dipenuhi. Pemberian tugsa yang berlebihans akan mengakibatkan memori siswa overload. MEmeori memiliki kapasitas penyimpanan dan memerlukan waktu untuk mengendapkan materi yang diperolhnya pada kegiatan pembelajaran sebelumnya.Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  122. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    MUSUH UTAMA PENDIDIKAN ADALAH BUDAYA INSTANT
    Budaya instan tidak memberikan ketrampilan berpikir logis dan berpikir kreatif kepada siswa. Sedangkan kegiatan pembelajaran dimaksudkan salah satunya agar dapat mewariskan kemampuan memecahkan masalah dan berpikir logis kepada siswa. Sedangkan budaya instan hanya memberikan pengaruh yang kurang baik kepada siswa dan dapat menyebabkan candau. Wallhu a'lam

    ReplyDelete
  123. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Masalah psikologi yang juga akan menjadi masalah kognitif siswa menurut saya yaitu beban belajar siswa. Dengan banyaknya beban belajar sudah barang tentu akan menimbulkan beban kognitif. Ketika beban kognitif siswa meningkat maka timbulah kecemasan yang akan menurunkan kemampuan kognitif maupun semangat siswa dalam belajar. Perasaan yang tidak nyaman tersebut mempengaruhi cara belajar dan tingkah laku siswa. Pada akhirnya siswa akan takut ketika memasuki kelas karena siswa memiliki kecemasan yang berlebih.

    ReplyDelete
  124. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Banyak pertanyaan yang meuncul mengenai identifikasi masalah psikologi mengajar matematika, psikologi belajar matematika dan psikologi pembelajaran matematika. Seperti yang telah kita ketahui, matematika memiliki hubungan yang saling terkait dengan psikologi. Sebelum mulai mengajar, seorang guru harus memiliki keadaan jiwa yang baik terlebih dahulu. Psikologi seorang guru dalam mengajar matematika akan sangat berpengaruh terhadap proses penyampaian materi kepada siswa. Sebaliknya, untuk menerima materi pelajaran matematika, seorang siswa juga harus dalam keadaan jiwa yang baik. Sengan demikian, guru harus cerdas dalam membuat suasana pembelajaran yang menyenangkan agar siswa pun merasa nyaman belajar matematika. Sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  125. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  126. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  127. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Berbicara mengenai psikologi mengajar, psikologi belajar, dan psikologi pembelajaran matematika tentu tidak akan ada habisnya. Psikologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang perilaku dan proses mental manusia, sehingga masalah psikologi pasti akan terus bergulir, bertambah dan terus bergulir seiring berjalannya waktu. Kegiatan pembelajaran merupakan tempat berkumpulnya pengajar dan pembelajar yang keduanya tentu memiliki karaktekristik tersendiri. Sehingga untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif secara psikologis, sebaiknya terlebih dahulu melihat bagaimana psikologi pengajar dan pembelajar. Menurut saya, cara untuk menciptakan suatu pembelajaran yang efektif dan kondusif adalah dengan menumbuhkan kesan bahwa "mengajar" dan "belajar" matematika adalah kegiatan yang menyenangkan, bukan hanya sebuah tugas atau kewajiban yang harus dilakukan. Guru dan siswa harus merasa terlibat dalam proses pembelajaran. Jika kedua aspek ini sudah berjalan dengan baik, maka kegiatan pembelajaran pun akan berjalan dengan baik pula, nantinya.

    ReplyDelete
  128. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Psikologi tentu tidak bisa dipisahkan dari manusia dan cabang ilmu lain. Psikologi mempengaruhi setiap apa yang dikerjakan oleh manusia begitu juga dengan pelaku dalam kegiatan belajar dan mengajar matematika. Saya rasa dengan memahami psikologi guru dan siswa, hal-hal yang menyebabkan kurang efektif dan maksimal dalam kegiatan belajar dan pembelajaran matematika dapat diminimalisir.

    ReplyDelete
  129. Yolanda Lourenzia Tanikwele
    15301241033
    S1- Pendidikan matematika A 2015

    26.Bagaimana menumbuhkan apersepsi siswa dan keterlibatan siswa dalam pbm matematika?
    Apersepsi bertujuan untuk mempersiapkan siswa untuk mengikuti pembelajaran, biasa juga untuk merecall kembali pengetahun sebelumnya yang berhubungan dengan materi yang akan diajarkan saat itu, salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan kuis kecil atau soal agar siswa dapat mengingat kembali pengtahuannya dan siap untuk belajar.

    ReplyDelete
  130. Siti Nur Fatimah
    15301241045
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Saya tertarik dengan pertanyaan point pertama yaitu banyaknya tugas sekolah terhadap kondisi psikologis. Memang pemberian tugas yang tidak sesuai porsinya justru akan membuat siswa merasa terbebani sehingga berdampak buruk bagi psikologi siswa.Sebenarnya pemberian tugas ini bertujuan baik untuk membuat siswa lebih mendalami lagi pelajaran yang sudah disampaikan di sekolah, bisa melatih kemampuan siswa, dengan syarat tugas-tugas yang diberikan itu tidak terlalu banyak dan bukan masalah kuantitatif atau banyak nya soal. Akan lebih efektif jika soal nya tidak banyak tapi berkualitas dalam artian membuat siswa ingin berusaha mengerjakannya.

    ReplyDelete
  131. Finda Ayu Annisa
    15301241024
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    16. Bagaimana mengembangkan pembelajaran bermakna dalam pbm matematika?
    Pembelajaran bermakna adalah pembelajaran yang tertanam di benak peserta didik melalui proses menemukan sendiri dengan guru menjadi fasilitator. Pembelajaran bermakna biasanya berpusat kepada peserta didik. Mengembangkan pembelajaran bermakna dalam pbm matematika dapat dilakukan dengan membuat media pembelajaran yang kreatif dan inovatif agar peserta didik tertarik dengan kegiatan pbm di kelas. Dengan ketertarikan peserta didik dalam pembelajaran maka tujuan pembelajaran dapat tercapai dan pembelajaran menjadi bermakna.
    Terimakasih

    ReplyDelete
  132. Raudhah Nur Pratiw (15301244009)
    S1- Pend. Matematika A 2015

    Saya tertarik untuk menanggapi pertanyaan nomor 1, yaitu “Pengaruh banyaknya tugas sekolah terhadap kondisi psikologis siswa”.
    Tugas sekolah yang banyak memang memberikan beban psikologis bagi siswa. Siswa telah lelah belajar di sekolah seharian dari pagi, terlebih jika sekolah tersebut menerapkan program full day. Siswa telah merasa lelah sepulang sekolah, dan masih dituntut untuk mengerjakan tugas yang banyak. Siswa menjadi kekurangan waktu istirahat dan refreshing. Padahal, agar psikologis seseorang sehat, seseorang perlu memiliki waktu istirahat dan refreshing yang cukup. Selain itu banyaknya tugas daat menyita waktu siswa untuk mengembangkan karakter maupun bakat non akademis nya. Menurut saya, tugas sekolah tidak mullak mnjdi beban psikologis siswa. Sebenarnya sah-sah saja memberikan tugas ke siswa asalkan tugas tersebut tidak membebankan siswa (baik dari segi kuantitas maupun kualitas) dan pemberian tugas dilakukan paa saat materi yang sedang diajarkan memang dirasa perlu untuk direview kembali oleh siswa. Namun, tidak semua mapel/materi perlu memberikan tugas. Apabila suatu mapel/materi memang dirasa tidak perlu memberikan tugas, yaa jangan. Sebab nanti bisa menyita waktu siswa untuk mengembangkan karakter atau bakatnya yang lain.

    ReplyDelete
  133. Alfiani Indah P S
    15301241027
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Dari sekian pertanyaan yang disebutkan di atas, saya akan mencoba menjawab masalah nomor 3 mengenai cara seorang guru muda mengatasi nervous ketika menyelenggarakan pembelajaran matematika.
    Saat kita berada di depan audience, merasa nervous adalah hal yang sangat wajar. Nervous tidak dapat dihilangkan, tetapi bisa dikurangi atau dikendalikan. Menurut saya, cara untuk mengurangi atau mengendalikan rasa nervous ini adalah dengan banyak berlatih. Seperti halnya dengan Microteaching sebelum praktik lapangan, persiapan atau latihan juga perlu dilakukan oleh guru sebelum melaksanakan pembelajaran. Selain itu, berbicara di depan umum juga perlu dibiasakan atau dilatih agar kita dapat mengurangi rasa nervous saat di depan siswa. Jangan sampai rasa nervous ini membuat kita merasa 'blank' dan menghambat pembelajaran di kelas.

    ReplyDelete
  134. Norma Galih Sumadi
    15301241038
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Saya tertarik untuk menanggapi permasalahan nomor satu mengenai pengaruh banyaknya tugas sekolah terhadap kondisi psikologis siswa. Seperti yang kita ketahui, pemberian tugas sekolah sendiri sebenarnya bertujuan untuk memastikan agar siswa dapat berlatih mengaplikasikan ilmu yang telah diperolehnya selama pembelajaran. Namun pemberian tugas sekolah yang terlalu banyak dan tidak sesuai porsi justru dapat mengurangi waktu siswa untuk beristirahat dan berinteraksi dengan keluarga, sekaligus membebani siswa secara psikologis. Tentunya pemberian tugas sekolah ini penting dilakukan, namun sekiranya guru dapat berlaku bijak dengan memberikan tugas sekolah yang tidak terlalu berat namun dapat mencakup semua kompetensi yang perlu dikuasai oleh siswa.

    ReplyDelete
  135. Alman Kresna Aji
    15301241022
    S1 Pendidikan Matematika 2015
    Terima kasih prof atas identifikasi permasalahan yang sudah dimunculkan dalam artikel diatas. Dengan adanya identifikasi permasalahan tersebut, kami selaku calon pendidik mampu memiliki pertimbangan-pertimbangan tertentu untuk digunakan dalam proses pembelajaran. hal tersebut juga menunjukan bahwa perlunya pendidik memperhatikan aspek-aspek psikologi siswa supaya dalam pembelajaran siswa tidak merasa memiliki tekanan dalam mempelajarinya sehingga muncullah kesenangan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran

    ReplyDelete
  136. Ibnu Rafi
    14301241053
    S1 Pendidikan Matematika Kelas I 2014

    Berdasarkan postingan di atas, suatu hal yang sangat penting bagi pendidik dan calon pendidik untuk memahami psikologi belajar, psikologi mengajar, dan psikologi pembelajaran matematika. Hal ini menjadi penting karena salah satu faktor yang mempengaruhi siswa dalam belajar adalah kondisi psikologisnya. Oleh karena itu, dengan mengidentifikasi dan mengetahui permasalahan tekait psikologi belajar, mengajar, dan pembelajaran matematika tersebut, pendidik dan calon pendidik dapat mencari alternatif solusi dari permasalahan tersebut sedemikian sehingga dapat memfasilitasi siswa untuk belajar secara maksimal.

    ReplyDelete
  137. Ibnu Rafi
    14301241053
    S1 Pendidikan Matematika Kelas I 2014

    Saya ingin mencoba menjawab pertanyaan nomor 11, yaitu "Bagaimana mengatur keseimbangan antara belajar matematika sebagai proses atau sebagai hasil?" Menurut saya, untuk mengatur keseimbangan antara belajar matematika sebagai proses atau sebagai hasil tersebut, guru dapat menerapkan penilaian autentik, penilaian kinerja, atau portofolio. Melalui penilaian ini, diharapkan guru dapat mencatat proses perkembangan belajar siswa serta hasil belajar siswa secara menyeluruh.

    ReplyDelete