Feb 12, 2013

IDENTIFIKASI MASALAH PSIKOLOGI MENGAJAR MATEMATIKA, PSIKOLOGI BELAJAR MATEMATIKA DAN PSIKOLOGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA




IDENTIFIKASI MASALAH PSIKOLOGI MENGAJAR MATEMATIKA, PSIKOLOGI BELAJAR MATEMATIKA DAN PSIKOLOGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Oleh: Mahasiswa S1 Reguler Pendidikan Matematika Angkatan 2007, 2o Nopember 2008


1.Pengaruh banyaknya tugas sekolah terhadap kondisi psikologis siswa.
2.Bagimana menumbuhkan mental atau motivasi yang kuat agar siswa mampu mengerjakan matematika.
3.Bagaimana seorang guru muda (novice) mengatasi nervous ketika menyelenggarakan pembelajaran matematika?
4.Bagaimana melayani kebutuhan belajar matematika yang beraneka ragam termasuk kondisi dan latarbelakang siswa?
5.Bagaimana melayani kebutuhan belajar matematika dari siswa yang berprestasi tinggi?
6.Tanggung jawab guru adalah mendidik semuanya “Education for All”?
7.Sekitar polemik bentuk soal UAN dan pengaruhnya terhadap psikologis siswa?
8.Apa yang kita ketahui tentang “Transfer of Knowledge” dan “Transfer of Value”?
9.MUSUH UTAMA PENDIDIKAN ADALAH BUDAYA INSTANT? Jelaskan maknany?
10.Bagaimana mengembangkan matematika sebagai kegiatan problem solving di kelas?
11.Bagaimana mengatur keseimbangan antara belajar matematika sebagai proses atau sebagai hasil?
12.Bagaimana mengetahui tingkat kecerdasan dan kemampuan siswa belajar matematika?
13.Bagaimana mengembangkan aspek nilai budi pekerti dalam pembelajaran matematika?
14.Bagaimana melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran matematika?
15.Apakah terdapat “prejudice” dalam pembelaaran matematika dan bagaimana pengaruhnya terhadap kegiatan belajar matematika?
16.Bagaimana mengembangkan pembelajaran bermakna dalam pbm matematika?
17.Bagaimana mengembangkan pembelajaran kontekstual dalam pbm matematika?
18.Bagaimana kedudukan dan fungsi hukuman dan hadiah dalam pembelajaran matematika?
19.Bagaimana meningkatkan kemampuan matematika siswa?
20.Bagaimana mengembangkan pembelajaran matematika yang menarik dan menyenangkan serta siswa menghayati bahwa matematika adalah penting?
21.Bagaimana aspek kuantitatif dan pemanfaatannya dalam pembelajaran matematikia?
22.Apa yang dapat kita ketahui tentang “managemen emosi” dan penerapannya dalam pbm matematika?
23.Bagaimana mengembangkan metode pembelajaran matematika yang dinamis dan fleksibel?
24.Bagaimana mengembangkan skenario pembelajaran matematika?
25.Bagaimana memotivasi siswa belajar matematika?
26.Bagaimana menumbuhkan apersepsi siswa dan keterlibatan siswa dalam pbm matematika?
27.Apa yang kita ketahui tentang “metapora” dan bagaimana pengaruhnya dalam pbm matematika?

Kontributor: Ratna Indrayani, Sani Merdekawati, M. Abdul Rosid, Adi Rahman, Yayu Marissyafani, Fety Herira Amasari, Tri Wijayanti, Faizin, Ajeng Desi, Ervinta Astrining Dewi, Palupi Sri Wijayanti, Hutri Prastasiwi, Trisnawati, Uki Rahmawati, Fina Hanifa, Supriyanti, Anniy Susilowatiy, Rima Aksen, Artina Tarapti, Anisa Halimatus Sa’diyah, Noviana Anggraini, Nur Hera Utami, Indrati Setyarini, Isti Nur Chasanah.
Pembimbing: Dr. Marsigit

56 comments:

  1. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan yang ke sembilan "MUSUH UTAMA PENDIDIKAN ADALAH BUDAYA INSTANT? Jelaskan maknany?"
    Memang benar untuk saat ini musih terbesar dalam dunia pendidikan adalah budaya instant. Budaya instan yang dimaksud dalam dunia pendidikan adalah dimana guru hanya memeberikan rumus-rumus tanpa memberikan penekanan terhadap konsep. Salah satu contohnya adalah mengajar matematika di SD dengan materi ajar perkalian. Guru langsung memberi tahu bahwa 2×3 adalah 6 tanpa mendefinisikam terlebih dahuli, sehingga siswa tidak paham dengan konsep perkalian itu sendiri. Selain itu, guru juga memperbolehkan siswa untuk membawa tabel perkalian dan itu secara tidak langsung sangat membodohi siswa. Sebab jika siswa diberikan soal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari akan sulit untuk memecahkannya karna tidak memiliki konsep dasar. Sebenarnya yang salah dari cara mengajar guru adalah berawal dari definisi. Padahal sebaiknya berawaldari contoh nyata baru di bawa ke definisi. Hal seperti ini sering dilakukam sebab guru juga dikejar oleh target setiap semesternya.

    ReplyDelete
  2. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Indentifikasi masalah diatas mungkin saja dapat betembah lagi, seiring perkembangan dunia yang menuju perubahan. Dari berbagai pertanyaan diatas kami mencoba menanggapi identifikasi masalah nomor 8 tantang Transfer of Knowledge dan transfer of value. Transfer of knowledge adalah proses alih budaya atau alih pengetahuan, sedangkan transfer of value adalah proses alih nilai. Pada zaman dahulu pendidikan dianggap sebagai transfer of knowledge saja, sehingga tidak ada tujuan untuk membentuk akhlak ataupun nilai-nilai kepribadian siswa. Padahal pada zaman dahulu KI Hajar Dewantara telah menyatakan bahwa pendidikan adalah upaya untuk memajukan bertumbuhnya budipekerti(kekuatan batin, karakter, pikiran (intellect) dan tubuh anak. Semakin berkembangkan zaman dan perubahan sosial, sehingga dipahami bahwa pendidikan karakter penting. Oleh karena itu system pendidikan Indonesia bertujuan tidak hanya Transfer of Knowledge tetapi lebih dari itu juga mengambangkan pendidikan karakter atau transfer of value. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi guru untuk merancang proses pembelajaran yang menausiakan manusia yakni tidak otoriter dengan memaksa siswa yang belum bisa, Namun guru sebagai fasilitor memberikan hal yang terbaik guna memberikan pengathaun materi belajar serta menanaman akhlak-akhlak karimah. Terima Kasih

    ReplyDelete
  3. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang telah dimiliki oleh struktur kognitif seseorang. Suatu pembelajaran dikatakan bermakna jika siswa mampu mengaitkan apa yang telah dipelajarinya dengan kehidupan sehari-hari. Maka berdasarkan hal tersebut, cara mengembangkan pembelajaran bermakna adalah dengan memberikan pemahaman konsep dan mengaitkan dengan permasalahan yang terjadi pada kehidupan nyata. Belajar matematika tidak semata-mata hanya sekedar menggunakan rumus, akan tetapi apa makna dari formula matematika tersebut.

    ReplyDelete
  4. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Pemberian tugas pada siswa sudah tidak berlaku di tahun ajaran ini. Karena benar, tugas sekolah juga dapat mempengaruhi psikologi siswa di satu sisi. Karena siswa akan merasa lebih terbebani akan hal ini. Mungkin hal ini digunakan guru sebagai sarana agar siswa lebih mengerti dengan materi yang sudah diajarkan atau sebagai hal karena pada waktu pembelajaran, waktunya tidak cukup sehingga guru akan memberikan tugas. Kalau setiap guru berpikir seperti itu, berapa banyak tugas yang akan diterima siswa? jelas ini akan menjadi beban di siswa, padahal waktu yang ia habiskan lebih banyak di sekolah daripada di rumah

    ReplyDelete
  5. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Pendidikan saat ini di Indonesia menurut pandangan saya sedang dalam keadaan tidak sehat, banyak penyakit-penyakit didalamnya. Ibaratkan tubuh yang membutuhkan obat, pembelajaran juga membutuhkan obat. Obat dalam pembelajaran yang sakit diharapkan adalah inovasi pembelajaran. Menurut saya pembelajaran yang sehat adalah pembelajaran yang bebas, tidak terkekang ataupun terpenjara. Yang saya maksudkan pembelajaran yang bebas adalah pembelajaran yang tanpa hambatan, tanpa tuntutan, tanpa kekawatiran, tetapi berasal dari dalam diri setiap manusia, pembelajaran yang mengembangkan diri seseorang bukan membentuk dengan kekangan. Namun saya rasa pembelajaran seperti itu sangat jauh dan mungkin hanya sekedar angan-angan.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  6. Terimakasih bapak atas sharing berbagai pertanyaan-pertanyaan yang muncul tentang identifikasi masalah psikologi mengajar matematika, psikologi belajar matematika dan psikologi pembelajaran matematika, semoga kami sebagai seorang pendidik nantinya mampu masih mengingat dari renungan jawaban dari berbagai pertanyaan-pertanyan tersebut.


    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  7. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Pada elegi ini saya terfokuskan pada pertanyaan nomor 3 yaitu bagaimana guru muda menanggulangi nervous. Disini, seorang guru muda yang baru pertama mengajar, untuk menghilangkan nervous, janganlah langsung pada materi yang akan di ajarkan. Namun mulailah dengan perkenalan dulu dan amati karakteristik kelas. Karena jika hal ini dilakukan akan membantu mereka untuk menyusun RPP yang sesuai dengan karakteristik siswa yang akan diajarnya.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  8. Isoka Amanah Kurnia
    17709351051
    PPs Pend. Matematika C 2017

    Hukuman dan hadiah di dalam pembelajaran seringkali hanya memunculkan efek sementara terhadap siswa. Memberi hukuman mungkin solusi instan yang kelihatannya memberikan dampak positif, namun secara psikologis siswa mungkin menjadi lebih tertekan dan semakin tidak menyukainya. Pemberian hadiah juga dapat membuat siswa berpotensi untuk memiliki performance-orientation goals, yaitu siswa cenderung ingin mendapatkan hasil yang baik demi pandangan dan pengakuan orang lain sehingga tidak terlalu peduli dengan pengetahuan yang diperolehnya. Performance goal orientation adalah tipe yang sangat dihindari dari segi psikologi belajar karena siswa tidak akan pernah mendapatkan meaningul learning jika siswa memiliki orientasi tersebut.

    ReplyDelete
  9. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Mengajar, belajar, dan pembelajaran matematika membutuhkan dan mempengaruhi psikologi seorang siswa maupun guru. Saat pembelajaran matematika tidak jarang siswa mengalami hambatan dan kesulitan dalam belajar. Hambatan-hambatan tersebut bisa disebabkan dari luar maupun dari dalam individu. Hambatan dari dalam seperti siswa kurang bisa memahami materi yang disampaikan oleh guru. Sedangkan hambatan dari luar misalnya siswa tertekan dengan sifat guru yang otoriter. Yang tidak memberikan kebebasan siswa untuk berekplorasi. Padahal jika keadaan ini tetap berlanjut akan mempengaruhi prestasi belajar siswa. Belajar matematika bukanlah suatu hasil akan tetapi suatu proses. Yang dimulai dari tingkat dasar hingga yang paling sulit.
    Oleh karena itu guru sebagai pendidik dituntut untuk bisa mengubah pradigma lama menjadi pradigma baru. Melakukan inovasi dalam berbagai segi komponen-komponen pembelajaran.

    ReplyDelete
  10. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Musuh Utama Pendidikan adalah Budaya Instan? Jelaskan Maknanya.
    Menurut KBBI(Kamus Besar Bahasa Indonesia) kata "budaya" berarti: Pikiran; akal budi, adat istiadat, sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah. Sedangkan kata "instan" berarti: Langsung(tanpa dimasak lama) dapat diminum atau dimakan. Secara Umum Budaya Instant merupakan sebuah tradisi pada masyarakat yang menginginkan sesuatu serba cepat dan langsung tanpa melalui proses dialektika dan mekanisme yang panjang dan mendewasakan sekaligus mematangkan.
    Budaya ini mempunyai konsekuensi negatif bagi tumbuh-kembangnya suatu komunitas -dalam perjalanannya- menuju masyarakat beradab, maju dan berbudaya tinggi. Dalam pendidikan, kebanyakan sudah kehilangan orientasi ideal. Pendidikan tidak berfungsi lagi sebagai suatu proses untuk menjadikan seseorang menemukan potensi dirinya, ia sudah berubah ke ranah pencapain hasil berupa ijazah. Akhirnya karena ingin instan banyak sekali yang membeli ijazah-ijazah palsu karena ingin cepat-cepat mendapat keuntungan kerja secara instan. Hasilnya, anak didik kita pun di tangani oleh orang tak professional berkat ijazah instan tersebut. Itulah mengapa budaya ini sangat berbahaya dalam dunia pendidikan

    ReplyDelete
  11. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Masalah-masalah yang terjadi dalam pembelajaran matematika sangatlah beragam. Beberapa masalah di atas pernah saya temui antara lain: 1) Pengaruh banyaknya tugas sekolah terhadap kondisi psikologis siswa. Saya pernah memberikan tugas kepada siswa. Beberapa siswa mengeluh bahkan protes karena tugas yang saya berikan terlalu banyak. Mereka juga beralasan kalau tugas-tugas pelajaran yang lain juga banyak, sehingga mereka tidak punya waktu untuk mengerjakannya. 2) Sekitar polemik bentuk soal UAN dan pengaruhnya terhadap psikologis siswa? Saya pernah menjelaskan suatu materi matematika di kelas. Namun beberapa siswa kelas 12 tersebut tidak antusias belajar karena mereka merasa apa yang disampaikan tidak ada pada kisi-kisi UN atau jarang keluar pada UN.

    ReplyDelete
  12. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Tugas sekolah merupakan salah satu teknik yang digunakan dalam proses belajar mengajar dengan tujuan yang mengharapkan siswa dapat merefleksikan pengetahuan yang diperoleh melalui pembelajaran tatap muka, siswa aktif dalam belajar, meningkatkan belajar yang lebih baik, memupuk inisiatif dan berani bertanggung jawab sendiri. Namun perlu diperhatikan porsinya, jangan terlalu banyak. Karena beban tugas yang terlalu banyak tentu akan mempengaruhi siswa secara psikologis misalkan kejenuhan dalam belajar sehingga menurunkan motivasi. Bila motivasi turun maka biasanya secara otomatis prestasi belajarpun akan turun. Hal ini tentu tidak berdampak positif terhadap tercapainya tujuan pembelajaran.

    ReplyDelete
  13. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Di Indonesia mata pelajaran yang diwajibkan di sekolah terlalu banyak. Jika semua mata pelajaran memberikan tugas untuk anak, maka anak akan kehilangan waktu untuk bersosialisasi ataupun hanya sekedar membantu orangtua di rumah. Anak akan merasa tertekan dengan tuntutan yang terlalu banyak itu, di sekolah sudah berpikir pulang masih harus berpikir lagi menyelesaikan tugas. Seharusnya di luar sekolah, anak-anak mengembangkan softskill mereka. Keadaan ini akan berpengaruh terhadap kondisi psikologi siswa.

    ReplyDelete
  14. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Saya akan mencoba menanggapai pertanyaan nomor 3. Bagaimana seorang guru muda (novice) mengatasi nervous ketika menyelenggarakan pembelajaran matematika?
    Menurut saya cara yang dapat digunakan untuk mengurangi rasa nervous guru muda kuncinya adalah menguasai materi pembelajaran. Itu adalah hal yang mutlak harus dikuasai agar pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang kita inginkan. Hal itu karena, saat seorang guru tidak menguasai materi maka akan membuat guru merasa ragu-ragu. Selain itu saat siswa mengetahui kekurangan guru dalam penguasaan materi, maka respect siswa kepada gurupun akan berkurang. Oleh karena itu, menguasai materi adalah syarat mutlak seorang guru. Namun, walaupun itu syarat mutlak guru juga harus meningkatkan kemampuan paedagogiknya. Kemampuan ini, akan semakin terasah seiring dengan banyaknya jam terbang guru/pengalaman mengajar. Terimakasih

    ReplyDelete
  15. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Saya akan mencoba menanggapai pertanyaan nomor 16 Bagaimana mengembangkan pembelajaran bermakna dalam pbm matematika?
    Menurut saya untuk menyampaikan materi yang bermakna bagi siswa dapat dilakukan dengan cara mengaitkan materi yang sedang dipelajari dengan pengetahuan awal yang sudah siswa miliki. Selain itu, siswa juga dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran. Misalnya dapat dilakukan dengan belajar penemuan yang terbimbing. Hal itu dapat dilakukan melalui diskusi kelompok dan bimbingan guru sehingga siswa mampu membangun konsep baru melalui pengetahuan awal yang telah dimiliki. Konsep yang dibangun sendiri oleh siswa akan lebih melekat pada ingatan siswa dibandingkan dengan hanya menghafalkan saja sebuah konsep. Selain dengan pembelajaran penemuan, pembelajaran dengan metode ceramah, juga dapat menjadi pembelajaran yang bermakna. Dengan syaratnya guru mampu mengaitkan apa yang disampaikan dengan pengetahuan awal yang dimiliki siswa. Terimaksih

    ReplyDelete
  16. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 14 yaitu Bagaimana melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran matematika? Menurut saya siswa yang aktif bukan hanya siswa yang sering maju ke depn untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh gurunya. Namun siswa yang dapat menyampaikan pemikirannya di depan kelas dan mau aktif membagikan ilmunya kepada siswa lainnya. Sehingga dalam memfasilitasi keaktiivan tersebut guru menyediakan kegiatan diskusi dan presentasi kelompok. Pada kegiatan ini siswa akan semakin aktif untuk menyuarakan pendaatnya kepada siswa lain, bahkan dalam diskusi akan muncul hasil pemikiran murni siswa. Dilanjutkan dengan resentasi di mana siswa mengkomunikasikan secara aktif, dan di tanggapi oleh kelompok lain.

    ReplyDelete
  17. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dalam postingan di atas disebutkan beberapa pertanyaan yang apa bila kita lihat realitasnya di lapangan akan menunjukkan adanya masalah berkenaan dengan psikologi mengajar matematika, psikologi belajar matematika dan psikologi pembelajaran matematika. Pada point 14 misalnya jika kita lihat dilapangan maka sangat terlihat jelas bahwa siswa ini masih bersikap pasif dalam pembelajaran. Sehingga solusinya yaitu guru menyediakan kegiatan penemuan dengan adanya LKS misalkan adar siswa benar-benar aktif dalam pembelajaran. Kemudian pada point 25. Di lapangan kita akan melihat bahwa siswa ini terlihat tidak termotivasi, hal ini bisa terlihat dengan sikap siswa yang tidak memeerhatikan pelajaran, asik bermain dll. Sehingga yang dapat dilakukan yaitu memberi motivasi dari kebermanfaatan materi dan pemberiam masalah diawal pembelajaran misalnya.

    ReplyDelete
  18. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Mencoba menanggapi poin1, pengaruh banyaknya tugas sekolah terhadap kondisi psikologis siswa. Pemberian tugas merupakan langkah efektif untuk mendukung siswa untuk belajar di rumah. Namun dalam memberikan tugas, guru harus mempertimbangkan kondisi siswa. Pemberian tugas dalam jumlah yang banyak malah akan menjadi beban bagi siswa. Sekolah luar negeri, seperti Singapura, penerapkan pembelajaran tanpa PR, jika pun ada itu hanya sesekali. Hal ini untuk memberikan kesempatan kepada siswa dalamberistirahat, menjalin komunikasi dengan keluarga, dan kesempatan untuk mengembangkan diri sesuai minat masing-masing. Namun tidaklah efektif jika hal serupa diterapkan di Indonesia karena kesadaran untuk belajar secara mandiri siswa Indonesia masih dalam kategori lemah. Untuk itu pemberian tugas tetap penting, namun jangan sampai membebani siswa.

    ReplyDelete
  19. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Saya juga ingin mencoba menanggapi pertanyaan terkait Transfer of Knowledge dan Transfer of Value. Pembelajaran tidak hanya diharapkan memberikan perubahan pengetahuan namun juga perubahan sikap dan karakter. Sebagaimana pendidikan Indonesia yang sedang menggalakkan pendidikan karakter pada tiap pembelajaran. Guru tidak hanya sebagai fasilitator namun juga sebagai suri tauladan bagi siswa-siswanya. Untuk itu, guru dituntut memiliki empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian. Dengan demikian proses yang terjadi dalam pembelajaran tidak sekedar Transfer of Knowledge melainkan juga Transfer of Value.

    ReplyDelete
  20. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Mencoba menanggapi pertanyaan budaya instant sebagai ancaman dalam pendidikan. Dunia kontemporer memberikan ancaman terhadap pendidikan kita. Kemajuan yang ada menawarkan budaya yang instant. Generasi muda yang belum memiliki pegangan yang kuat akan dengan mudah terpengaruh hingga melupakan jati diri. Penolakan terhadap globalisasi bukanlah pilihan yang tepat, karena itu berarti menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka kita harus mengarahkan generasi muda untuk bersikap cerdas yaitu dengan men-filter segala kemajuan yang ada. Bila dibawakan dalam pembelajaran matematika maka budaya instant adalah trik-trik cepat. Sikap cerdas kita adalah menggunakan trik-trik ini saat siswa sudah memiliki pondamen yang kuat akan konsep tersebut.

    ReplyDelete
  21. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Berkaitan dengan banyaknya tugas sekolah terhadap kondisi psikologis siswa, memang tugas yang terlalu banyak akan berpengaruh pada kondisi psikologis siswa, bisa saja siswa mengalami penurunan minat dan motivasi apabila tugas yang diberikan oelh guru terlalu banyak atau terlalu sulit sehingga siswa kesulitan untuk menyelesaikannya. Namun, tidak memberikan tugas sama sekali juga akan membuat siswa menjadi santai dan tidak termotivasi untuk belajar di rumah. Jadi, guru yang harus mengatur kadar dan frekuensi tugas yang diberikan karena guru yang mengetahui karakteristik siswanya.

    ReplyDelete
  22. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Sehubungan dengan tanggung jawab guru adalah mendidik semuanya “education for all” adalah karena guru memiliki tanggung jawab bukan hanya sebagai fasilitator pembelajaran, akan tetapi juga sebagai pendidik dan pembimbing akhlak/perilaku siswa agar siswa tidak hanya terbekali dengan pengetahuan tetapi juga memiliki perilaku yang baik saat terjun di lingkungan masyarakat. Guru di sekolah adalah sebagai pendidik kedua setelah keluarga.

    ReplyDelete
  23. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C


    Dari semua penyataan diatas dapat membantu kita untuk dapat mengetahui mengenai masalah umum yang timbul dalam proses belajar dan mengajar. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas dan menguraikan jawabannya, saya percaya kita dapat mengubah masalah diatas sebagai keuntungan progresif proses pembelajaran dan menempatkan siswa sebagai subjek bukan sebagai objek pengajaran.

    ReplyDelete
  24. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Menanggapi pertanyaan nomor 25 tentang bagaimana memotivasi siswa belajar matematika yaitu dengan menghadirkan contoh-contoh konkret dalam kehidupan kepada siswa. sehingga siswa lebih memahami apa yang mereka pelajari dan mengetahui tujuan mempelajari materi tersebut dan merasakan manfaatnya untuk kehidupannya. Dengan begitu, siswa akan merasa adanya kebutuhan untuk belajar dan akan timbulnya motivasi siswa untuk belajar.

    ReplyDelete
  25. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Saya mencoba menanggapi pertanyaan nomor 26 tentang bagaimana menumbuhkan apersepsi siswa dan keterlibatan siswa dalam pbm matematika. Apersepsi adalah kegiatan menyamakan persepsi yang berbeda-beda dan akan dilakukan oleh guru sebelum memulai materi pokok dalam proses belajar. Untuk menumbuhkan hal tersebut, akan lebih menarik bagi siswa untuk memberikan apersepsi yang dikaitkan dengan pengalaman mereka. Atau bisa juga dengan membawa media pembelajaran yang menarik, sehingga siswa merasa senang dan membangkitkan semangat siswa untuk terlibat dalam proses belajar mengajar.

    ReplyDelete
  26. Aristiawan
    17701251025
    PEP B 2017

    Mencoba menjawab pertanyaan pertama. Pengaruh banyaknya tugas sekolah terhadap kondisi psikologis siswa. Mau tak mau, harus diakui bahwa siswa masih menganggap tugas sebagai beban tambahan yang wajib ia kerjakan. Meskipun guru kadang tidak bermasud demikian. Persepsi siswa yang demikian tidak bisa disalahkan, karena kadang guru juga berperan dalam membentuk persepsi tersebut. peran guru dalam membentuk persepsi tersebut contohnya adalah dengan memberi tugas yang terlampau banyak sehingga mengurangi aktivitas siswa dalam bermain. Masa SD atau anak-anak adalah masa-masa bermain. Bermain bagi anak-anak tidak sekedar mencari hiburan, tapi juga mengembangkan kreatifitas, mengembangkan rasa social (jika bermain bersama teman), sehingga jika waktu bermain tersebut dirampas dan diganti dengan beban untuk mengerjakan tugas sekolah, maka kreatifitas, rasa social, empati, identitas siswa akan terganggu, sehingga perkembangan psikologis siswa juga akan terganggu.

    ReplyDelete
  27. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Berdasarkan beberapa identifikasi masalah di atas, saya tertarik untuk menjawab pertanyaan No.14 yaitu bagaimana melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran matematika. Menurut saya untuk melibatkan siswa secara aktif adalah dengan menerapkan strategi belajar atau model pembelajaran tertentu yang menuntut siswa untuk aktif, aktif dalam dalam kegiatan belajar dan aktif dalam membangun pengetahuan mereka. Dengan memfasilitasi siswa belajar, baik itu dengan menerapkan suatu strategi/ model belajar tertentu ataupun memfasilitasi siswa belajar dengan media atau LKS yang membantu membimbing siswa belajar dan memahami, dengan demikian siswa mau tidak mau akan terlibat langsung dalam pembelajaran yang berlangsung.

    ReplyDelete
  28. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Menanggapi pertanyaan nomor 6 yaitu tanggung jawab guru adalah mendidik semuannya “ Education for All”, menurut saya guru bertanggung jawab untuk mendidik semua siswanya. Semua siswa dalam konteks ini yaitu siswa dari berbagai karakter dan dari berbagai level kemampuan. Guru tidak boleh membeda-bedakan atau memeta-metakan siswanya atau dalam istilah yang sering digunakan siswa “pilih kasih” saat mengajar dalam artian guru sudah seharusnya berlaku adil terhadap semua siswanya. Adil, dimana pembelajarannya itu memperhatikan kebutuhan dan kemampuan siswanya.

    ReplyDelete
  29. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C


    Proses pendidikan itu adalah berlangsung seumur hidup. Sehingga pasti berdampak pada seluruh aspek kehidupan manusia Sehingga dapat menentukan karakter dan berbagai sikap, sifat, serta aksi reaksi seseorang. Di sisi lain, pembelajaran dalam lingkup pendidikan formal adalah juga merupakan salah satu subpendidikan pendidikan secara umum. Dengan kata lain, proses belajar dan mengajar di dalam kelas juga akan memunculkan berbagai reaksi dari dalam diri siswa bahkan bagi seorang guru, termasuk reaksi psikologis. Perlakuan guru terhadap siswa pada khususnya dan terhadap kelas pada umumnya akan memunculkan umpan balik baik secara nyata maupun tidak nyata dan secara langsung maupun tidak langsung dari diri para siswa. Untuk mengoptimalkan tujuan pembelajaran, maka diperlukan identifikasi masalah pembelajaran (dalam hal ini masalah psikologis pembelajaran matematika) dari sudut pandang siswa dan guru, seperti identifikasi masalah psikologis mengajar matematika, psikologi belajar matematika, dan psikologi pembelajaran matematika.

    ReplyDelete
  30. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Saya kaan mencoba menanggapai pertanyaan tentang bagaimana mengembangkan pembelajaran bermakna dalam pembelajaran matematika. Untuk mengembangkan pembelajaran matematika yang bermakan, tentunya harus dimulai dari niat ikhlas guru sendiri. Guru harus mampu menjadi guru yang tidak biasa-biasa saja. Maksudnya guru harus mampu beupaya keras untuk menyiapkan pembelajaran termasuk RPP, LKS, Media Pembelajaran dan alat evaluasi dengna semaksimal mungkin. Selain itu, dalam hal menyiapkan RPP, selain guru harus cermat menganalisis karakter siswa dan materi agar metode yang dipilih sesuai dan dapat memberikan hasil yang optimal. Dan dari aspek materi ajar, guru juga harus benar-benar memahami hakekat ilmu yang diajarkan, sehingga dia tidak hanya menyalurkan sebuah mitos.

    ReplyDelete
  31. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Saya akan mencoba menjawab masalah no 14 yaitu bagaimana melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran matematika. Untuk melibatkan siswa dalam pembelajaran maka pembelajaran haruslah berpusat pada siswa. Tugas guru bukan menyampaikan materi pembelajaran dengan ceramah tetapi bagaimana memfasilitasi siswa memperoleh pengetahuannya. Maka tugas guru adalah menyiapkan kegiatan-kegiatan bagi siswa. Dengan memberikan kegiatan bagi siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri siswa akan aktif dalam pembelajaran. Yang terpenting dalam memberikan kegiatan kepada siswa adalah jangan sampai guru terlalu banyak mengintervensi kegiatan atau jawaban siswa.

    ReplyDelete
  32. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. paradigma pendidikan di Indonesia ingin diubah menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Adanya kurikulum 2013 juga mendukung perubahan paradigma tersebut. Efek dari perubahan tersebut salah satunya banyak tugas (berupa PR) yang dibebankan kepada siswa. Beberapa siswa memiliki mental instan dengan mengikuti privat agar ada seseorang yang dapat membantu mereka mengerjakan tugas. Siswa juga sering kali menanyakan cara singkat dalam mengerjakan soal-soal matematika. Menurut saya harus ada kontrol yang lebih ketat lagi mengenai tugas berupa PR yang diberikan kepada siswa. Juga selalu meminta siswa mengerjakan soal-soal matematika dengan menggunakan langkah-langkah pengerjaan agar budaya instan itu dapat sedikit demi sedikit berkurang.

    ReplyDelete
  33. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Salah satu masalah psikologi mengajar matematika adalah bagamana memotivasi siswa dalam belajar matematika. motivasi belajar mampu dimunculkan guru dengan memberikan kisah kisah motivasi yang mampu menumbuhkan minat terhadap matematika. guru perlu menggunakan banyak referensi untuk menumbuhkan minat tersebut.

    ReplyDelete
  34. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Dalam pembelajaran matematika, psikologi belajar akan berpengaruh terhadap hasil pendidikannya. Siswa mempunyai beranekaragam kondisi psikologisnya, sehingga respon-respon tiap siswa berbeda-beda dalam pembelajaran. Berkaitan dengan hal itu, kompetensi guru akan dibutuhkan untuk memahami perkembangan psikologi siswa dalam kegiatan belajar. Setiap siswa mempunyai cara berbeda-beda dalam mempelajari matematika dan dengan pengalaman yang berbeda pula, sehingga perbedaan gejala jiwa inilah yang perlu untuk diidentifikasi dalam menunjang pembelajaran matematika. Identifikasi masalah psikologi yang telah diuraikan diatas, sangat penting bagi seorang guru untuk meningkatkan kualitas dalam pembelajaran matematika. Pentingnya identifikasi masalah tentang psikologi dalam pembelajaran matematika, supaya guru ataupun calon guru mampu mambangun psikologi pendidikan matematika dengan memahami karakteristik siswa dalam belajar matematika.

    ReplyDelete
  35. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Bagi siswa, pembelajaran matematika membutuhkan motivasi eksternal baik itu dari ligkungan, teman sebaya, maupun dari guru, dalam rangka mewujudkan pembelajaran matematika yang menyenangkan dan menarik. Perlu disadari bahwa pembelajaran matematika melibatkan pengalaman masing-masing siswa untuk dapat membangun konsep dan mengaplikasikannya dalam persoalan matematika. Dengan demikian, seorang guru harus mampu menguasai psikologi pembelajaran dalam mengetahui kemampuan yang dimiliki siswanya, sehingga menciptakan proses pembelajaran yang efektif dan berkualitas sesuai dengan kondisi siswa dan tujuan pembelajaran yang diharapkan.

    ReplyDelete
  36. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Oleh karena itu, guru sebagai pendidik dituntut untuk bertanggungjawab atas perkembangan peserta didik, termasuk dalam perkembangan psikologi siswa. Sesuai dengan pernyataan nomor tujuh di atas, yaitu tanggung jawab guru adalah mendidik semuanya “Education for All”. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan motivasi belajar. Bagi guru, mengetahui motivasi belajar dari siswa sangat diperlukan guna memelihara dan meningkatkan semangat belajar siswa. Bagi siswa, motivasi belajar dapat menumbuhkan semangat belajar sehingga siswa terdorong untuk melakukan perbuatan belajar. Siswa melakukan aktivitas belajar dengan senang sesuai dengan kesadaran dari dalam diri siswa itu sendiri. Jadi, pendekatan psikologi antara guru dengan siswa memang diperlukan.

    ReplyDelete
  37. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no.3 tentang bagaimana seorangguru muda (novice) mengatasi nervous ketika menyelenggarakan pembelajaran matematika. Sejujurnya saya perna mengalami hal demikian, yaitu nervous atau gugu saat masih awam atau baru dalam mengajar di kelas. Menurut saya, hal tersebut wajar terjadi pada guru muda yang belum mempunyai pengalaman mengajar. Karena ada beberapa faktor seperti belum terbiasa menghadapi siswa. Belum terbiasa menyampaikan materi pembelajaran. Bahkan belum matang dalam mempersiapkan kegiatan pembelajaran. Untuk masalah komunikasi baik itu menyampaikan materi maupun bergaul dengan siswa, saya rasa lambat laun ana terbiasa sehingga tidak gugup lagi. Tetapi, untuk masalah ketidakmatangan persiapan kegiatan pembelajaran dapat diatasi dengan cara mempersiapkannya sebelum mengajar. Beberapa yang bisa dipersiapkan terkait dnegan pelasanaan kegiatan pembelajaran ialah RPP, silabus, contoh-contoh soal, serta kemungkinan pertanyaan dari siswa.

    ReplyDelete
  38. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    menanggapi pertanyaan nomor 2, "Bagaimana menumbuhkan mental atau motivasi yang kuat agar siswa mampu mengerjakan matematika?"
    Salah satu cara agar siswa memiliki mental dan motivasi yang kuat agar siswa mampu mengerjakan matematika adalah dengan memberikan pengalaman sukses kepada siswa. misalnya, guru sudah tahu bahwa jawaban siswa benar, kemudian guru tersebut meminta siswa untuk menjelaskan di depan kelas. Ketika siswa berhasil melaksanakannya, maka kepercayaan diri, mental serta motivasi siswa dalam mengerjakan matematika akan meningkat.

    ReplyDelete
  39. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 1 tentang Pengaruh banyaknya tugas sekolah terhadap kondisi psikologis siswa. Apabila terlalu banyak diberikan tugas, siswa bisa merasa tertekan dan bisa mengganggu psikologis dan kesehatan siswa. Karena terlalu tertekan, bisa saja siswa menjadi depresi dan kondisi fisiknya bisa lemah. Terutama pada tingkat awal pendidikan seperti SD, anak-anak yang waktunya perlu untuk banyak bermain dan bersosialisasi apabila terus-terusan diberi tugas akan merasa tertekan. Pada tingkat awal, pendidikan yang lebih diutamakan mestinya adalah pendidikan karakter. Seperti pendidikan SD di Finlandia, dimana waktu belajarnya hanya sekitar 3-4 jam dan waktu istirahatnya bisa sampai 75 menit, bahkan guru-gurunya sangat jarang memberikan PR. Ini digunakan untuk menurunkan tekanan dan tingkat stres agar motivasi dan pengembangan belajarnya lebih meningkat.

    ReplyDelete
  40. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 10 yaitu bagaimana mengembangkan matematika sebagai kegiatan problem solving di kelas?. Problem solving perlu ditekankan dalam kegiatan pembelajaran di kelas, karena dengan problem solving siswa menjadi terlatih untuk menyelesaiakan berbagai permasalahan dan siswa dapat membangun pengetahuannya. Mengembangkan kegiatan problem solving di kelas dapat dilakukan dengan guru yang membawa murid pada suasana siap menerima tantangan atau permasalahan, sebab sebuah masalah bukanlah masalah sampai murid menyadari dan ingin memecahkannya. Dan juga guru mempersilahkan anak untuk mengikuti cara mereka dalam menemukan solusi dan membantu mereka ketika memerlukan, tanpa memberikan jawaban.

    ReplyDelete
  41. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Banyaknya tugas sekolah sangat mempengaruhi kondisi psikologi siswa. Cooper dan Kohn berpendapat bahwa tugas sekolah itu dapat menjadi beban bagi siswa, mengurangi waktu bersantai dan bermainnya, atau dengan kata lain mengurangi waktu siswa sebagai anak untuk menjadi anak-anak. Selain banyaknya tugas, adanya tuntuta dari orang dewasa untuk memperoleh nilai yang bagus dari tugas tersebut pun menjadi beban tersendiri bagi anak.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  42. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Selain banyaknya tugas, adanya UAN pun sangat mempengaruhi psikologis siswa. Semua kerja keras siswa belajar betahun-tahun hanya digantungkan kepada satu lembar kertas, dan adanya tuntutan dari orang dewasa agar lulus pun membuat siswa stress. Sehingga akhirnya segala cara pun dilakukan, mulai dari cara yang masuk akal hingga sampai cara yang tidak masuk akal sekalipun ditempuhnya. Sehingga dengan kata lain UAN adalah bentuk ambisi orang dewasa yang merusak mental anak-anaknya.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  43. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Psikologi merupakan salah satu ilmu yang harus dikuasai oleh seorang pendidik. Pendidik harus membuat siswa merasa nyaman dalam proses pembelajaran agar siswa termotivasi dalam mengikuti materi yang diajarkan. Maka ilmu tentang memahami bagaimana anak berfikir sangatlah dibutuhkan untuk memahami bagaimana cara memotivasi dan membimbing mereka untuk dapatr mengikuiti materi dengan baik.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  44. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Sedangkan psikologi bagi seorang pendidik adalah dapat mengatur ketegangan dalam menyampaikan pembelajaranya itu dengan menguasai materi agar lebih tenang, dan dapat menikmati proses mengajar. Karena psikologi yang dipelajari tidak hanya memberikan manfaat bagi peserta didik namun juga pendidiknya.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  45. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017
    Masalah pertama menarik perhatian saya. Pengaruh jumlah pekerjaan rumah pada kondisi psikologis siswa.
    Saat ini banyak anak yang tidak mau dan tidak memiliki keinginan untuk bersekolah. Bukan karena mereka malas tapi karena ada faktor pemicu yang menyebabkan mereka enggan bersekolah. Salah satu faktornya adalah karena guru suka memberi begitu banyak tugas.
    Saat guru memberi banyak tugas, anak-anak merasa mereka tidak memiliki ruang dan waktu untuk bermain dengan teman mereka. Mereka merasa bahwa para guru telah mengambil hak mereka untuk bermain. Tanpa sadar memberikan tugas terlalu banyak, telah mengganggu psikis anak-anak (atau sering disebut dengan memberikan kekerasan psikologis pada anak). Hal tersebut dapat menyebabkan anak cenderung membenci kegiatan belajar yang dilakukan di sekolah, kreativitas mereka menjadi terhambat, menurunnya motivasi belajar, dan tidak memiliki semangat untuk bersekolah.
    Karena dampak yang terkait dengan kondisi psikologis akan memakan waktu cukup lama. Oleh karena itu, kita sebagai guru sebaiknya tidak memberikan terlalu banyak tugas kepada siswa. Tapi bukan berarti kita tidak perlu memberi mereka tugas. Berikan tugas dengan tepat. Jangan terlalu sedikit, tapi jangan terlalu banyak. Dengan demikian kita tidak menekan psikologis siswa tapi kita tetap memberi tanggung jawab melalui tugas yang kita berikan.

    ReplyDelete
  46. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs PMAT C

    Budi pekerti merupakan hal penting yang harus disisipkan dalam semua mata pelajaran, termasuk matematika. Nilai budi pekerti yang secara tidak langsung diperoleh oleh siswa dalam pembelajaran matematika adalah kerja keras dan pantang menyerah. Dalam menyelesaikan sebuah permasalahan matematika kerja keras dan pantang menyerah ini sangat dibutuhkan oleh siswa, jika tidak memiliki budi pekerti ini maka permasalahan tersebut tidak akan terselesaikan. Selain itu guru dapat juga menyisipkan nilai budi pekerti seperti tolong menolong, saling berbagai, menghormati orang tua melalui soal-soal cerita yang diberikan.

    ReplyDelete
  47. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    menanggapi pertanyaan nomor 17.bagaimana mengembangkan pembelajaran kontekstual dalam pbm matematia?
    Pembelajaran kontekstual adalah suatu cara yang ditempuh guru dalam proses pembelajaran dengan menghubungkan materi pelajaran dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa, maka siswa akan mendapatkan makna dari belajarnya. Sehingga pembelajaran kontekstual dapat dikembangkan dengan menghubungkan materi yang dipelajari siswa dengan kehidupan sehari-hari siswa

    ReplyDelete
  48. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    menanggapi pertanyaan nomor 18. bagaimana kedudukan dan fungsi hukuman dan hadiah dalam pembelajaran matematika?
    Hukuman dapat digunakan untuk memberikan efek jera kepada siswa, sedangkan hadiah dapat digunakan sebagai bentuk apresiasi atas kesuksesan siswa. Namun, penggunaan hukuman dan hadiah ini tidak boleh berlebihan, terutama hukuman. Hukuman yang diberikan guru tidak boleh dalam bentuk kekerasan, hukuman yang diberikan bisa dilakukan dalam bentuk tugas atau pengurangan nilai sehingga memberikan efek yang positif kepada siswa.

    ReplyDelete
  49. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Pengaruh banyaknya tugas sekolah terhadap kondisi psikologis siswa antara lain akan mengurangi jatah istirahan dan bermain yang juga merupakan kebutuhan siswa yang harus dipenuhi. Pemberian tugsa yang berlebihans akan mengakibatkan memori siswa overload. MEmeori memiliki kapasitas penyimpanan dan memerlukan waktu untuk mengendapkan materi yang diperolhnya pada kegiatan pembelajaran sebelumnya.Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  50. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    MUSUH UTAMA PENDIDIKAN ADALAH BUDAYA INSTANT
    Budaya instan tidak memberikan ketrampilan berpikir logis dan berpikir kreatif kepada siswa. Sedangkan kegiatan pembelajaran dimaksudkan salah satunya agar dapat mewariskan kemampuan memecahkan masalah dan berpikir logis kepada siswa. Sedangkan budaya instan hanya memberikan pengaruh yang kurang baik kepada siswa dan dapat menyebabkan candau. Wallhu a'lam

    ReplyDelete
  51. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Masalah psikologi yang juga akan menjadi masalah kognitif siswa menurut saya yaitu beban belajar siswa. Dengan banyaknya beban belajar sudah barang tentu akan menimbulkan beban kognitif. Ketika beban kognitif siswa meningkat maka timbulah kecemasan yang akan menurunkan kemampuan kognitif maupun semangat siswa dalam belajar. Perasaan yang tidak nyaman tersebut mempengaruhi cara belajar dan tingkah laku siswa. Pada akhirnya siswa akan takut ketika memasuki kelas karena siswa memiliki kecemasan yang berlebih.

    ReplyDelete
  52. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Banyak pertanyaan yang meuncul mengenai identifikasi masalah psikologi mengajar matematika, psikologi belajar matematika dan psikologi pembelajaran matematika. Seperti yang telah kita ketahui, matematika memiliki hubungan yang saling terkait dengan psikologi. Sebelum mulai mengajar, seorang guru harus memiliki keadaan jiwa yang baik terlebih dahulu. Psikologi seorang guru dalam mengajar matematika akan sangat berpengaruh terhadap proses penyampaian materi kepada siswa. Sebaliknya, untuk menerima materi pelajaran matematika, seorang siswa juga harus dalam keadaan jiwa yang baik. Sengan demikian, guru harus cerdas dalam membuat suasana pembelajaran yang menyenangkan agar siswa pun merasa nyaman belajar matematika. Sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  53. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  54. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  55. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Berbicara mengenai psikologi mengajar, psikologi belajar, dan psikologi pembelajaran matematika tentu tidak akan ada habisnya. Psikologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang perilaku dan proses mental manusia, sehingga masalah psikologi pasti akan terus bergulir, bertambah dan terus bergulir seiring berjalannya waktu. Kegiatan pembelajaran merupakan tempat berkumpulnya pengajar dan pembelajar yang keduanya tentu memiliki karaktekristik tersendiri. Sehingga untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif secara psikologis, sebaiknya terlebih dahulu melihat bagaimana psikologi pengajar dan pembelajar. Menurut saya, cara untuk menciptakan suatu pembelajaran yang efektif dan kondusif adalah dengan menumbuhkan kesan bahwa "mengajar" dan "belajar" matematika adalah kegiatan yang menyenangkan, bukan hanya sebuah tugas atau kewajiban yang harus dilakukan. Guru dan siswa harus merasa terlibat dalam proses pembelajaran. Jika kedua aspek ini sudah berjalan dengan baik, maka kegiatan pembelajaran pun akan berjalan dengan baik pula, nantinya.

    ReplyDelete
  56. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Psikologi tentu tidak bisa dipisahkan dari manusia dan cabang ilmu lain. Psikologi mempengaruhi setiap apa yang dikerjakan oleh manusia begitu juga dengan pelaku dalam kegiatan belajar dan mengajar matematika. Saya rasa dengan memahami psikologi guru dan siswa, hal-hal yang menyebabkan kurang efektif dan maksimal dalam kegiatan belajar dan pembelajaran matematika dapat diminimalisir.

    ReplyDelete