Feb 12, 2013

IDENTIFIKASI MASALAH PSIKOLOGI MENGAJAR MATEMATIKA, PSIKOLOGI BELAJAR MATEMATIKA DAN PSIKOLOGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA




IDENTIFIKASI MASALAH PSIKOLOGI MENGAJAR MATEMATIKA, PSIKOLOGI BELAJAR MATEMATIKA DAN PSIKOLOGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Oleh: Mahasiswa S1 Reguler Pendidikan Matematika Angkatan 2007, 2o Nopember 2008


1.Pengaruh banyaknya tugas sekolah terhadap kondisi psikologis siswa.
2.Bagimana menumbuhkan mental atau motivasi yang kuat agar siswa mampu mengerjakan matematika.
3.Bagaimana seorang guru muda (novice) mengatasi nervous ketika menyelenggarakan pembelajaran matematika?
4.Bagaimana melayani kebutuhan belajar matematika yang beraneka ragam termasuk kondisi dan latarbelakang siswa?
5.Bagaimana melayani kebutuhan belajar matematika dari siswa yang berprestasi tinggi?
6.Tanggung jawab guru adalah mendidik semuanya “Education for All”?
7.Sekitar polemik bentuk soal UAN dan pengaruhnya terhadap psikologis siswa?
8.Apa yang kita ketahui tentang “Transfer of Knowledge” dan “Transfer of Value”?
9.MUSUH UTAMA PENDIDIKAN ADALAH BUDAYA INSTANT? Jelaskan maknany?
10.Bagaimana mengembangkan matematika sebagai kegiatan problem solving di kelas?
11.Bagaimana mengatur keseimbangan antara belajar matematika sebagai proses atau sebagai hasil?
12.Bagaimana mengetahui tingkat kecerdasan dan kemampuan siswa belajar matematika?
13.Bagaimana mengembangkan aspek nilai budi pekerti dalam pembelajaran matematika?
14.Bagaimana melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran matematika?
15.Apakah terdapat “prejudice” dalam pembelaaran matematika dan bagaimana pengaruhnya terhadap kegiatan belajar matematika?
16.Bagaimana mengembangkan pembelajaran bermakna dalam pbm matematika?
17.Bagaimana mengembangkan pembelajaran kontekstual dalam pbm matematika?
18.Bagaimana kedudukan dan fungsi hukuman dan hadiah dalam pembelajaran matematika?
19.Bagaimana meningkatkan kemampuan matematika siswa?
20.Bagaimana mengembangkan pembelajaran matematika yang menarik dan menyenangkan serta siswa menghayati bahwa matematika adalah penting?
21.Bagaimana aspek kuantitatif dan pemanfaatannya dalam pembelajaran matematikia?
22.Apa yang dapat kita ketahui tentang “managemen emosi” dan penerapannya dalam pbm matematika?
23.Bagaimana mengembangkan metode pembelajaran matematika yang dinamis dan fleksibel?
24.Bagaimana mengembangkan skenario pembelajaran matematika?
25.Bagaimana memotivasi siswa belajar matematika?
26.Bagaimana menumbuhkan apersepsi siswa dan keterlibatan siswa dalam pbm matematika?
27.Apa yang kita ketahui tentang “metapora” dan bagaimana pengaruhnya dalam pbm matematika?

Kontributor: Ratna Indrayani, Sani Merdekawati, M. Abdul Rosid, Adi Rahman, Yayu Marissyafani, Fety Herira Amasari, Tri Wijayanti, Faizin, Ajeng Desi, Ervinta Astrining Dewi, Palupi Sri Wijayanti, Hutri Prastasiwi, Trisnawati, Uki Rahmawati, Fina Hanifa, Supriyanti, Anniy Susilowatiy, Rima Aksen, Artina Tarapti, Anisa Halimatus Sa’diyah, Noviana Anggraini, Nur Hera Utami, Indrati Setyarini, Isti Nur Chasanah.
Pembimbing: Dr. Marsigit

28 comments:

  1. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Menurut saya mengenai identifikasi nomor 11 tentang bagaimana mengatur keseimbangan antara belajar matematika sebagai proses atau sebagai hasil adalah antara proses dan hasil sebagai seorang guru harus menyeimbangkan kedua hal tersebut. jangan sampai guru menilai siswa berat sebalah, hanya dari hasil atau hanya dari proses.

    ReplyDelete
  2. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari 25 identifikasi masalah tersebut salah satu yang menarik perhatian saya yaitu pengaruh banyaknya tugas sekolah terhadap kondisi psikologi siswa. Tidak dipungkiri bahwa tujuan guru memberikan tugas kepada siswa adalah supaya ketika siswa di rumah siswa akan belajar dengan mengerjakan tugas tersebut. Namun sering kali guru memberi tugas dengan porsi yang besar sehingga siswa merasa terbebani, atau mungkin walaupun tugas yang diberikan dalam jumlah kecil siswa tetap merasa terbebani. Siswa yang merasa terbebani akan tidak baik bagi kondisi psikologi siswa. Maka dari itu guru perlu cermat ketika memberikan siswa tugas.

    ReplyDelete
  3. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Identifikasi masalah nomor 20 tentang bagaimana mengembangkan pembelajaran matematika yang menarik dan menyenangkan serta siswa menghayati bahwa matematika adalah penting. Matematika sering dianggap sebagai momok bagi siswa, merupakan sebuah tantangan bagi guru untuk menyajikan kegiatan pembelajaran matematika yang menyenangkan dan menarik sehingga siswa lebih menghayati dalam pembelajaran dan menganggap bahwa matematika itu penting.

    ReplyDelete
  4. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Identifikasi masalah nomor 16 sangat menarik. Belajar bermakna akan lebih tertanam dalam benak siswa sebab siswa mengetahui betul keterkaitan antar kompetensi yang dipelajarinya dengan apa yang pernah dipelajarinya dahulu. Siswa menghubungkan antar kegiatan pembelajaran dan mengonstruk pengetahuannya sendiri. Belajar bermakna sangat perlu untuk dikembangkan.

    ReplyDelete
  5. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Siswa adalah manusia yang sedang mengembangkan diri secara utuh. Sebagai seorang guru perlu memiliki pengetahuan tentang psikologi pembelajaran atau pendidikan, guna untuk mengetahui kemampuan yang telah dimiliki peserta didik, bagai mana proses berpikirnya, dan mampu menciptakan proses pembelajaran sesuai dengan kondisi dan tujuan yang diharapkan.

    ReplyDelete
  6. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Pada pembicaraan mengenai pembelajaran matematika di sekolah, jika terlepas dari psikologi pembelajaran yang mendasarinya, maka bukan lagi disebut dengan pembelajaran. Hai ini dikarenakan, proses pembelajaran adalah pembentukan diri siswa untuk menuju pada pembangunan manusia seutuhnya.

    ReplyDelete
  7. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Berkenaan dengan bagaimana cara memotivasi siswa belajar matematika pada identifikasi masalah no. 25, tidaklah mudah untuk menumbuhkan motivasi dari luar dan dalam diri siswa. Terlebih jika mindset atau persepsi siswa terhadap matematika cenderung ke arah negatif seperti matematika itu sulit, abstrak, guru matematika itu killer, maka akan lebih berat tugas guru untuk mendorong motivasi siswa dalam belajar matematika. Oleh karena itu, sebelum memotivasi siswa alangkah baiknya untuk terlebih dahulu mengubah persepsi negatif siswa terhadap matematika, selanjutnya menekankan pentingnya peran matematika dalam kehidupan nyata.

    ReplyDelete
  8. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Menurut sumber yang saya baca, Transfer of knowledge adalah mentransfer ilmu pengetahuan dan pemahaman, sedangkan transfer of value adalah mentransfer nilai-nilai moral dan kebaikan. Setiap pengajar seharusnya mempunyai 2 tujuan ini didalam pembelajaran sehingga output yang dihasilkan tidak saja mencetak orang-orang yang pandai, tetapi juga mencetak orang-orang bermoral.

    ReplyDelete
  9. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Menurut sumber yang saya baca, Transfer of knowledge adalah mentransfer ilmu pengetahuan dan pemahaman, sedangkan transfer of value adalah mentransfer nilai-nilai moral dan kebaikan. Setiap pengajar seharusnya mempunyai 2 tujuan ini didalam pembelajaran sehingga output yang dihasilkan tidak saja mencetak orang-orang yang pandai, tetapi juga mencetak orang-orang bermoral.

    ReplyDelete
  10. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Salah satu persoalan yang diangkat dalam artikel ini adalah, musuh utama pendidikan adalah budaya instan, Apa itu budaya instan? Dalam hal pembelajaran matematika budaya instan dapat dilihat dari banyaknya siswa yang selalu ingin menggunakan rumus-rumus instan dalam mengerjakan permasalahan-permasalahan matematika. Para siswa tidak mempedulikan bagaimana makna yang sebenarnya yang terkandung dalam konsep mateamtika tersebut. Tak heran apabila ketika siswa dihadapkan kepada soal matematika yang berbeda, mereka tidak mampu untuk mengerjakannya. Siswa yang menggunakan rumus-rumus instan dalam menyelesaikan persoalan matematika akan cenderung menghafal rumus-rumus serta bentuk-bentuk soal yang dapat dikerjakan dengan rumus-rumus instan tersebut. Padahal tujuan yang diharapkan adalah siswa ddapat memahami konsep-konsep matematika tersebut serta memiliki kompetensi matematika yang baik yang dapat berguna baginya tidak hanya dalam perssoalan matematika tetapi juga dalam permasalahan kehidupan-sehari-hari yang mereka jumpai.

    ReplyDelete
  11. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Terima kasih Pak Prof. atas postingan artikel ini yaitu tentang identifikasi masalah matematika dan psikologinya. Melalui artikel ini saya mulai memahami bahwa masih banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan matematika dan psikologi yang terkait didalamnya seperti psikologi belajar, psikologi mengajar dan psikologi pembelajaran matematika yang perlu diperhatikan lebih mendalam lagi. Saya pribadi sangat tertarik untuk mempelajari dan memahami matematika dan psikologinya. Hal ini disebabkan karena, matematika dan psikologi memiliki hubungan yang erat dalam kegiatan pembelajaran matematika, baik itu bagi guru maupun bagi siswa.
    Keadaan psikologis siswa saat belajar matematika akan mempengaruhi bagaimana siswa menerima materi pelajaran hingga bagaimana motivasi dan semangat dalam belajar. Begitupun keadaan psikologis guru saat mengajar matematika, juga akan mempengaruhinya. Mulai dari bagaimana cara guru menguasai materi pelajaran sekaligus menguasai kelas dengan berbagai macam karakter siswa.
    Tentunya dengan mengidentifikasi masalah-masalah yang terdapat dalam matematika dan psikologinya, kita bisa mulai menemukan solusi dari permasalahan tersebut.

    ReplyDelete
  12. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Terimakasih Bapak atas postingannya. Menurut saya, masalah-masalah yang didaftarkan di atas memang masalah-masalah yang sering dihadapi dalam proses pembelajaran matematika. Bahkan masalah-masalah tersebut bisa menjadi inspirasi atau ide untuk melakukan penelitian pendidikan matematika. Dari semua masalah-masalah yang didaftarkan di atas, ada satu hal yang baru saya ketahui yakni tentang "metopora" dalam pembelajaran matematika. Ternyata, metapora adalah suatu kegiatan dimana siswa dapat merasakan kebermanfaatan dari belajar matematika. Jika demikian, metapora ini akan sangat baik jika bisa diterapkan dalam pembelajaran matematika. Dengan begitu, siswa akan merasa butuh belajar matematika dan dan berusaha untuk serius mempelajarinya.

    ReplyDelete
  13. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Pembelajaran matematika selalu menghadapi masalah dalam psikologis pada siswa, karena mindset awal pada diri siswa banyak yang menganggap bahwa matematika itu sulit. Mindset tersebut mungkin juga benar, karena tidak semua siswa pandai dalam kognitifnya, ada yang pandai kinestetiknya, ada pula yang pandai dalam linguistiknya. Jadi bagi siswa yang bertipe kinestetik dan linguistik bisa saja berpendapat bahwa matematika itu sulit. Mindset pemerintah kita juga hendaknya perlu dirubah, bahwa selama ini yang disebut anak yang pandai hanyalah anak yang matematikanya atau IPA nya bagus. Padahal sebenarnya tipe siswa berbeda-beda, siswa yang berbakat dalam kinestetik ataupun linguistiknya juga harus dibilang pandai. Jadi disinilah peran guru khususnya guru matematika dalam memberikan metode dalam pengajaran, harus mampu merangkul siswa yang pandai di dalam kinestetik maupun linguistiknya.

    ReplyDelete
  14. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah.
    Terimakasih prof. Marsigit atas problem-problem diatas yang selama ini menjadi beban yang belum maksimal dalam penyelesaianya. Selain perincian masalah psikologi dalam mengajar, belajar, dan pembelajaran matematika, tidak dapat dipungkiri juga bahwa setiap siswa terlahir dengan segala background hidup yang bermacam-macam. Adat, budaya, ras, suku, agama, kondisi mental, psikis, fisik, lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, latarbelakang orang tua, dan lain sebagainya, menjadi faktor-faktor mendasar yang berpengaruh terhadap terjadinya permasalahan psikologi matematika. Sehingga, pada dasarnya amatlah kompleks benang kusut permasalahan dalam mempelajari matematika siswa. Itulah PR bagi kita semua yang harusl kita selesaikan secara optimal satu persatu.

    ReplyDelete
  15. 17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami tertarik dengan pertanyaan “Bagaimana seorang guru muda (novice) mengatasi nervous ketika menyelenggarakan pembelajaran matematika?”
    Pertanyaan ini mengingatkan saya terhadap pengalaman pertama saya mengajar di suatu SMK di Sleman. Yang saya lakukan sebelum mengajar di kelas tersebut adalah saya mempersiapkan segala materi, lembar kerja, lembar studi kasus dan lain-lain. Juga tidak lupa saya mempelajari kembali substansi matematikanya untuk memastikan betul bahwa saya menguasai materi yang akan saya sampaikan. Dan ternyata persiapan itu belum cukup bahkan mungkin pada pertemuan pertama tersebut persiapan saya sepertinya tidak mempersiapkan diri saya. Karena ada aspek yang belum saya pikirkan, yaitu bagaimana situasi kelas sesungguhnya, bagaimana biasanya sikap anak SMK tersebut dalam belajar matematika, dan aspek-aspek afektif lainnya yang ternyata jauh di luar dugaan saya dan itu membuat kepercayaan diri saya turun. Belajar dari pengalaman bertama, saya mencoba untuk memperbaiki pembelajaran selanjutnya. Saya upayakan sesuaikan dengan kebiasaan mereka tentunta dengan lebih terarah. Untuk pertemuan selanjutnya alhamdulillah saya sudah bisa mulai mengerti dan sedikit demi sedikit mampu mengendalikan kelas dan kepercayaan diri saya juga semakin mambaik.

    ReplyDelete
  16. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Saya akan mencoba berpendapat tentang “MUSUH UTAMA PENDIDIKAN ADALAH BUDAYA INSTANT? Jelaskan maknany?”
    Saat ini kita hidup di zaman yang serba instan. Dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, segala kegiatan dapat dilakukan dengan instan. Ternyata semua itu telah membudaya karena telah menjalar ke berbagai aspek kehidupan. Salah satu aspek yang terkena imbas dari budaya instan adalah pendidikan. Sebenarnya dalam pendidikan sangat membutuhkan adanya “proses”, namun karena budaya instan sudah semakin marak, kini terkadang “proses” sudah terancam keberadaannya. Bahkan budaya instan telah merasuk ke dalam pembelajaran. Salah satu contohnya ketika guru memberikan cara-cara cepat agar siswa mampu mengerjakan soal dengan cepat tanpa sebelumnya memfasilitasi siswa untuk mengetahui dan menemukan konsep dari soal tersebut. Hal itu menyebabkan siswa hanya bisa mengerjakan soal tanpa memahami konsep-konsep yang ada di dalamnya.
    Jadi budaya instan merupakan keinginan untuk memperoleh hasil yang cepat/instan tanpa melalui proses dan prosedur yang sebenarnya. Padahal di dalam pendidikan, proses sangatlah diperlukan untuk memperkokoh bangunan pendidikan itu sendiri karena sesuatu yang dibangun secara instan akan lebih mudah roboh daripada ketika melalui proses yang semestinya. Sehingga budaya instan dianggap sebagai musuh utama pendidikan.

    ReplyDelete
  17. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmu yang bermanfaat ini
    Melalui postingan ini saya pun belajar. Mengikuti beberapa poin yang disebutkan. Sedikit bertanya pada diri sendiri terkait poin-poin yang dituliskan. Matematika dan psikologis, sungguh ternyata ada hubungan di antara keduanya. Saya selalu tertarik pada hal-hal “instan” di dunia matematika. Bagaimana tidak? Cara instan, tip cepat menjawab soal pernah membuat saya melawan arus kala sekolah dasar dahulu. Iya, dulu sewaktu SD sebagian besar kawan saya mengikuti bimbingan belajar mandiri di luar sekolah dan mereka dibekali tips cepat mengerjakan soal. Betapa bersyukurnya diri ini dahulu, meskipun tidak mengikuti bimbingan belajar, beberapa teman berbagi ilmu dengan saya tentang cara cepat mengerjakan soal. Namun sayang, apa yang ada dalam diri saya menolak. Menurut saya kala itu dan sekarang, tips cepat mengerjakan soal membuat saya tidak mengetahui konsep dan maksut soal yang sesungguhnya.

    ReplyDelete
  18. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Sangat diperlukan bagi setiap guru untuk memahami perkembangan psikologi anak dalam pembelajaran matematika, sehingga dapat meminimalisir masalah-masalah yang berkaitan dengan psikologi belajar siswa dan psikologi mengajar guru. Pengaruh banyaknya tugas sekolah dan kurangnya motivasi belajar siswa tentu mengganggu psikologi siswa. Pemberian tugas memang dianjurkan untuk melatih dan mengukur kemampuan berpikir matematika siswa, tetapi jika terlalu berlebihan akan menjadi masalah bagi psikologi anak, bisa menurunkan motivasi belajarnya, bisa juga enggan untuk mengerjakan soal-soal matematika selanjutnya. Sehingga disini perlu juga bagi guru untuk mengembangkan segala hal yang berkaitan dengan belajar matematika, untuk membangkitkan lagi semangat dan motivasi belajar siswa.

    ReplyDelete
  19. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof.
    Rasa nervous sepertnya pernah dialami oleh sebagian guru salah satunya diri saya.Ketika saya ada tugas kuliah dari kampus untuk turun langsung ke sekolah melaksanakan praktik mengajar atau yang biasa disebut PPL.Biasanya rasa nervous terjadi di hari pertama. Jantung bedegup kencang tak karuan seperti mau copot, gugup.Perasaan seolah-olah berbaur menjadi satu.Mungkin untuk mengatasinya menurut pengalaman saya,yang pertama butuh penyesuaian dan tetap confidence dengan diri sendiri.Kemudian melihat keadaan dan situasi kelas seperti apa.Dan yang lebih penting harus menguasai materi dan kelas.Sebab hal tersebut merupakan modal dasar untuk mengajar dan menghilangkan nervous.

    ReplyDelete
  20. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Saya tertarik untuk memberikan pendapat pada pertanyaan nomor 5. Jika dikaitkan dengan pembelajaran matematika, budaya instan pada diri siswa merupakan kebiasaan siswa untuk menggunakan cara-cara instan dibandingkan melalui proses yang semestinya ketika belajar matematika. Berdasarkan pengalaman saya sendiri selama mengajar, kebanyakan siswa lebih menyukai cara-cara instan dari pada memahami konsep matematika. Siswa cenderung enggan melalui proses belajar yang mereka anggap tidak praktis. Padahal kebiasaan tersebut sangat berbahaya bagi siswa. Jika siswa terbiasa menggunakan cara-cara instan, maka siswa akan kesulitan untuk mempelajari materi berikutnya yang membutuhkan pemahaman konsep pada materi yang bersangkutan. Hal ini akan terjadi demikian seterusnya. Terlebih lagi, dengan budaya instan ini, siswa tidak akan memperoleh cara-cara berfikir di dalam pembelajaran matematika, apalagi menerapkannya di dalam kehidupan. Padahal hal itu merupakan tujuan akhir dari pembalajaran matematika.

    ReplyDelete
  21. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017
    Assalamu'alaikum wr wb.

    saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 25, bagaimana memotivasi siswa dalam belajar matematika.
    ada banyak cara dalam memberi motivasi belajar matematika pada siswa.
    salah satunya adalah memberikan contoh nyata matematika itu yang ada didalam kehidupan siswa. Baik permasalahan matematika, ataupun manfaat dari materi yang akan diajarkan itu.
    Memang tidak semua materi matematika bisa dikaitkan dengan kehidupan atau lingkungan siswa, akan tetapi kita sebagai guru bisa menceritakan manfaat dari matematika itu sendiri.

    ReplyDelete
  22. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017
    Assalamu'alaikum wr wb.

    Pertanyaan nomor 24 juga membuat saya berpikir, bagaimana cara mengembangkan skenario pembelajaran di dalam kelas.
    menurut saya, skenario pembelajaran dikelas itu sama seperti RPP.
    Sehingga dalam penyusunannya, haruslah dipikirkan terlebih dahulu kegiatan-kegiatan belajar yang akan dilalui siswa. Dan semestinya kegiatan-kegiatan itu menuntut siswa harus terlibat aktif, serta sesuai dengan kemampuan dan karakter siswa di dalam kelas.
    jika ingin kegiatan pembelajaran di dalam kelas berjalan dengan baik, maka setiap kegiatan pembelajaran haruslah disusun dengan baik juga. Sehingga diharapkan akan mampu menghasilkan kegiatan belajar yang bermakna dan konsep (materi) yang diajarkan dalam kegiatan itu dapat diingat dengan baik oleh siswa.

    ReplyDelete
  23. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017
    Assalamu'alaikum wr wb.

    saya juga akan memberikan tanggapan untuk pertanyaan pertama, yaitu Pengaruh banyaknya tugas sekolah terhadap kondisi psikologis siswa.
    Sangatlah berpengaruh terhadap kondisi psikis siswa, karena beban pikiran yang dialami siswa akan bertambah, sehingga siswa akan tidak menyukai pelajaran yang terlalu banyak tugas atau beban. Akan lebih baik, jika memberikan tugas jangan sampai berlebihan, karena siswa juga punya tugas dari pelajaran yang lain. Akan dikhawatirkan, jika tugas yang diberikan terlalu banyak akan menurunkan minat siswa dalam belajar matematika. Diharapkan setiap guru memahami keadaann psikologi siswa sebelum belajar matematika.

    ReplyDelete
  24. Shelly LUbis
    17709251040
    S2 P.Mat B 2017

    Assalamu'alaikum wr.wb

    disini saya ingn menanggapi tentang pernyataan bahwa musuh utama pendidikan adalah budaya instan. mengapa? karena hal-hal yang instan dalam pembelajaran akan sulit menanamkan konsep pada benak siswa. jangankan yang instan, yang melalui penjelasan konsep saja siswa belum tentu semuanya paham, apalagi lewat cara instan yang tidak menanamkan konsep nya kepada siswa, bisa lebih fatal lagi. karena soal-soal yang diberikan akan sangat bervariasi untuk tiap topik.

    ReplyDelete
  25. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Memahami beragam psikologi siswa merupakan hal yang cukup penting di dalam proses belajar mengajar di kelas. Bagi seorang guru khususnya di dalam pembelajaran matematika karakter psikologi meliputi kemampuan komunikasi, koneksi dan kecemasan siswa terhadap mata pelajaran matetika. Ketiga aspek tersebut memerlukan perhatian yang cukup besar dari guru agar proses pembelajaran dapat berlangsung sesuai dengan yang diharapkan. Khususnya dari aspek kecemasan siswa, untuk mengatasi hal tersebut guru harus bisa membangun mood dan perasaan senang di dalam diri siswa untuk mengikuti pelajaran matematika, serta guru juga harus berusaha mencoba menggali kreativitas berfikir siswa dalam belajar.

    ReplyDelete
  26. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 25 yaitu Bagaimana memotivasi siswa belajar matematika?Psikologi merupakan salah satu ilmu yang harus dikuasai oleh seorang pendidik. Setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda, ketika guru mempelajari psikologi guru dapat mengatasi sikap dan perilaku siswa yang berbeda tersbeut, hal ini juga dapat membuat siswa merasa nyaman dalam proses pembelajaran karena guru memahami psikologi siswa tersebut dan mengakibatkan siswa termotivasi dalam mengikuti materi yang diajarkan. Sedangkan psikolog juga bermanfaat bagi seorang pendidik dalam mengatur ketegangan dalam menyampaikan pembelajaran, menguasai materi agar lebih tenang, dan dapat menikmati proses mengajar.

    ReplyDelete
  27. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Dalam dunia pendidikan, psikologi sangat berpengaruh dalam hasil pembelajaran. Jika siswa mengalami tekanan dalam pembelajaran, maka hasilnya tidak akan maksimal.Sebaliknya siswa membutuhkan motivasi dari orang-oranng terdekat agar hasilnya lebih optimal. Masalah psikologi juga dialami oleh guru, misalnya ketika mengalami nervous dalam mengajar. Masalah nervous ini harus segera diatasi agar guru dalam menyampaikan pembelajaran menjadi lebih tenang dan dapat menikmati proses mengajar. pun dengan anak mempunyai sifat yang berbeda satu dengan lainnya, tentu tidak bisa disamakan, sehingga disilah psikolpgiharus dipelajari sehingga guru mengerti dan memahami perilaku siswa tersebut dan tahu cara menanggapinya dengan baik. guru dan siswa yang sama-sama merasa nyaman dan senang satu sama lain akan jauh lebih optimal dalam pembelajran berlangsung. matematika ilmu yang disiplin dan pasti sehingga memotivasi siswapun tidak selalu menggunakan proses yang meatematis namun digunakan secara perseorangan dan menggunakan psikologi untuk mnegetahui perilaku siswa, sehingga memotivasi siswa pun akan lebih nyaman.

    ReplyDelete
  28. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alikum Wr. Wb.

    Psikologi siswa adalah hal yang harus diperhatikan oleh guru, karena hal ini sangat berpengaruh terhadap peroses belajar mengajar dan hasil belajar siswa. Sehingga guru harus memahami bagaimana psikologi anak saat proses belajar mengajar, bagaimana dengan pemberian pr dan tugas yang banyak apakah mempengaruhi psikologi pada siswa. Psikologi siswa yang baik akan berpengaruh kepada hasil pembelajaran yang baik, tetapi jika tidak maka akan berdampak kepada hasil belajar dan ke mata pelajaran yang lain juga. Maka dari itu guru tidak lah dituntut hanya untuk mengajar saja, tetapi belajar mengenai psilogi anak juga hal yang harus diperhatikan oleh guru sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik, tidak hanya sekedar tercapai dengan tidak memperhatikan faktor-faktor lainnya pada siswa.

    ReplyDelete