Feb 12, 2013

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 21: Mengapa 3+4=7 kontradiktif? (Bagian Kesatu)




Oleh Marsigit

Sudah saya buktikan bahwa 3+4=7 tidak berlaku untuk semua Ruang dan Waktu. Maka 3+4=7 adalah absolutely true hanya untuk Dunia yang terbebas oleh Ruang dan Waktu yaitu dunianya para Logicist-Formalist-Foundationalist.

Padahal kita mengetahui bahwa Dunia Anak-anak SD dan SMP itu adalah Dunia yang terikat dengan Ruang dan Waktu. Oleh karena itu jika kita mengatakan 3+4=7 sebagai benar begitu saja tanpa keterangan apapun, maka kita telah bersifat MANIPULATIF. Buktinya saya tidak dapat mengatakan bahwa 3pensil + 4buku = 7buku.

Persoalan pedagogiknya adalah bagaimana guru mampu menjelaskan kajadian ini menggunakan bahasa siswa. Inilah satu kejanggalan yang bisa menjadi awal untuk mempertanyakan Validitasnya karya Logicist-Formalist-Foundationalist dalam usahanya menangani problem-problem pembelajarann matematika di sekolah.

69 comments:

  1. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Tujuan seorang guru dalam suatu pembelajaran matematika ialah menjadikan siswa paham terhadap apa yang dipelajari. Selain itu juga bagaimana pembelajaran tersebut dapat bermakna dan dapat telaksana sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan. Dari elegi ini, dapat diketahui apa sebenarnya makna dari 3 + 4 dan mengapa hasilnya 7.

    ReplyDelete
  2. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Jika kita hanya mengatakan 3+4=7 sebagai benar begitu saja tanpa keterangan apapun, maka kita telah bersifat manipulatif maka terjadi reduksi makna. Karena 3 + 4 hasilnya belum tentu 7 jika dikaitkan dengan ruang dan waktu. Sehingga dalam pembelajaran matematika hendaknya seorang guru memperhatikan usia dan pola pikir siswa.

    ReplyDelete
  3. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Orang dewasa berpikir secara abstrak sedangkan anak-anak berpikir secara kontekstual. Untuk mengajarkan matematika kepada anak-anak, maka kita harus memahami pola pikir anak anak agar mereka memahami matematika. Jika anak-anak dipaksakan untuk belajar secara abstrak, maka pelajaran matematikanya menjadi tidak bermakna.

    ReplyDelete
  4. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Orang dewasa berpikir secara abstrak sedangkan anak-anak berpikir secara kontekstual. Untuk mengajarkan matematika kepada anak-anak, maka kita harus memahami pola pikir anak anak agar mereka memahami matematika. Jika anak-anak dipaksakan untuk belajar secara abstrak, maka pelajaran matematikanya menjadi tidak bermakna.

    ReplyDelete
  5. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dari elegi ini, diketahui bahwa matematika sekolah adalah matematika yang terikat oleh ruang dan waktu. Misalnya dengan contoh 4 + 3 = 7, ini dapat dikatakan benar jika terbebas dari ruang dan waktu. Akan tetapi untuk contoh 3 pensil + 4 buku = 7 buku, hal ini dikatakan salah dan kontradiksi dalam matematika. Oleh karena itu sebagai seorang guru, harus dapat menerangkan konsep yang benar kepada siswanya dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh siswa.

    ReplyDelete
  6. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Setiap orang memiliki pengertian yang berbeda-beda. Untuk mengajarkan matematika kepada siswa yang baru mempelajari konsep penjumlahan, tentunya contohnya harus memiliki unit yang sama. 3 + 4 = 7 memang tidaklah kontradiksi. Namun, jika menggunakan benda atau apapun, jika jenisnya tidak sama, tentunya hanya akan menimbulkan kontradiksi dan membuat siswa semakin sulit untuk mengerti. Seperti yang dikemukakan dalam elegy pemberontakan pendidikan matematika 20, matematika merupakan ilmu yang mempelajari tentang pola atau hubungan. Jika pola atau hubungan antara setiap simbol tidak ada, siswa hanya akan kesulitan. Tugas guru untuk membantu siswa “membumikan” matematika “dewa” sehingga dapat dipahami oleh siswa.

    ReplyDelete
  7. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Matematika merupakan kontradiktif. Hal ini dapat dilihat dalam perbedaannya yang terjadi akibat perbedaan ruang dan waktu. Bagi matematikawan 3+4=7 adalah mutlak benar hanya untuk dunia yang terbebas dari ruang dan waktu yaitu dunianya para logicist-formalist-foundationalist. Sedangkan pada dunia anak-anak 3+4=7 itu belum tentu benar. Contohnya ketika seorang anak akan menjumlahkan 3 pensil dan 4 penggaris sama dengan 7 penggaris maka hal ini adalah salah. Konsep 3+4=7 tidak berlaku dalam ruang dan waktu anak-anak.
    Meskipun kita tahu bahwa 3+4=7 belum tentu benar menurut ruang dan wakt anak-anak atau murid, sering guru melakukan kesalahan dengan mengatakan bahwa 3+4=7 itu benar begitu saja tanpa memberikan keterangan. Maka guru telah melakukan manipulatif pada pikiran anak. Seharusnya guru menjelaskan kejadian ini menggunakan bahasa siswa. Sehingga di kemudian hari siswa tidak mengalami salah konsep dalam matematika. Marilah kita sebagai guru dan calon guru memperbaiki perilaku iniagar tidak terjadi salah konsep pada siswa yang akan ditanggung siswa itu seumur hidup.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  8. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Berdasarkan uraian Bapak di atas, saya jadi teringat salah satu dosen saya pernah memberikan pertanyaan pada para mahasiswa. Kalau ada 10 burung hinggap di pohon, 3 diantaranya di tembak oleh pemburu. Tinggal berapa ekor burung yang hinggap di pohon? Mahasiswa matematika menjawab 7 ekor, karena 10-3 = 7. Namun dosen tersebut menjawab 0 alias habis, karena burung-burung yang lain melarikan diri karena kaget mendengar tembakan sang pemburu. Sontak mahasiswa tertawa terbahak-bahak. Begitulah Ruang dan waktu mempengaruhi kepastian ilmu matematika.

    ReplyDelete
  9. Tri wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmu postingan yang menarik dan bermanfaat ini
    Beberapa kali, saya menjumpai postingan blog ini yang membahas tentang matematika seperti itu. Maaf, saya kehilangan frasa untuk mengatakan. Maksutnya, beberapa kali saya menjumpai penyelesaian operasi hitung yang sebenarnya hasilnya terlepas dari ruang dan waktu, dan akhirnya jawaban yang dihasilkan bersifat mutlak. Tapi, pada elegi ini saya menjumpai hal baru. Hal baru tersebut membuat saya terkejut bukan main. Betapa tidak? Operasi hitung yang terlepas dari ruangdan waktu sifatnya manipulative. Lantas yang selama ini saya lakukan pada soal-soal matematika seperti itu adalah……? Apakah saya memanipulasi diri saya sendiri?

    Di akhir elegi ini, saya setuju bahwa permasalahannya adalah bagaimana guru memberikan pemahaman kepada siswa terkait kejadian ini.

    ReplyDelete
  10. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Pembelajaran akan dapat diterima apabila materi yang diberikan sesuai dengan subjek yang seharusnya mendapatkan materi tersebut. Dalam mengajarkan pembelajaran matematika kita harus memahami subjek yang akan diajarkan, apabila subjek tersebut adalah dunia anak-anak SD dan SMP itu adalah dunia yang terikat dengan ruang dan waktu. Sebagai seorang pendidik harus dapat menyesuaikan dengan ruang dan waktunya dalam menyampaikan materi matematika agar siswa tidak mengalami kebingungan dalam memahami materi yang diajarkan.Apabila materi yang diberikan telah disesuaikan dengan subjeknya maka pembelajaran tidak akan menjadi hal yang menjadi salah satu kewajiban tetapi hak seluruh siswa.

    ReplyDelete
  11. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak atas informasi yang sangat bermanfaat ini.
    Seingat saya, dahulu saya diajarkan bahwa 3+4=7 tanpa ada keterangan dan penjelasan yang lengkap tentang konsep penjumlahan yang sebenarnya. Tetapi ternyata, untuk mengajarkan anak perlu memperhatikan cara berpikir anak. Selain itu, perlu mengomunikasikan konsep-konsep tersebut pada hal-hal yang bersifat konkrit agar matematika untuk anak dapat bermakna dan berupa aktivitas anak untuk bisa lebih memahami konsep tersebut.

    ReplyDelete
  12. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sepemahaman kami objek dari matematika merupakan objek yang abstrak, demikian halnya dengan konsep 3+4=7, merupakan suatu hal yang abstrak. Dalam matematika sekolah terutama dalam jenjang dasar, siswa belum mampu berpikir secara murni abstrak, dengan kata lain kemampuan abstraksinya masih rendah. Pada kasus ini, dalam pembelajaran guru hendaknya memberikan penjelasan pada setiap materi yang diajarkan bahkan jika diperlukan guru perlu memanfaatkan benda-benda kongkrit untuk membelajarkan konsep matematika yang abstrak tersebut. Hal ini perlu dilakukan karena ruang waktu yag dimiliki siswa baru sampai tahap tersebut sehingga perlu bimbingan guru agar siswa mampu menembus ruang waktunya tersebut.

    ReplyDelete
  13. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Sebenarnya matematika tidaklah absolute benar. Dalam ruang dan waktu tertentu ada kalanya benar, namun dalam ruang dan waktu yang berbeda adakalanya salah. Untuk itu, perlu kiranya kita berpikir dalam sedalam-dalamnya dan luas seluas-luasnya. Terkait 3+4=7 apakah kontradikstif, saya jadi teringat dulu ketika pertama kali belajar matematika pertama kali di SD, guru saya memberikan contoh konkrit dari operasi penjumlahan, misalnya 2 buku ditambah 2 buku = 4 buku, tetapi jika 2 kapur ditambah 2 buku tidak bisa dijumlahkan menjadi 4 kapur ataupun 4 buku. Jadi penjumlahan akan bertambah jumlahnya jika obyeknya sejenis, jika berlainan jenis maka tidak dapat dijumlahkan. Seperti itu awal saya menyukai matematika, tetapi saya baru menyadari sekarang ternyata itulah sebenar-benar dunia anak, yaitu dunia yang terikat oleh ruang dan waktu. Dengan begitu guru saya yang dulu mengajarkan konsep matematika seperti itu tidaklah bersifat manipulatif.

    ReplyDelete
  14. Nama: Hendrawansyah
    NI M: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.
    Terimakasih banyak Pak prof
    Karena ruang dan waktu dapat dipilah menjadi dua sebagaimana yang telah disinggung di elegi sebelumnya yaitu dunia yang tebebas oleh ruang dan waktu dan dunia yang tidak terbebas oleh ruang dan waktu.Contoh yang dipaparkan dalam elegi tersebut 3+4= 7, inilah yang dikatakan matematika yang terbebas oleh ruang dan waktu menurut prinsip logicist-formalist-foundationalis yang dipahami oleh banyak orang sekarang.Sedangkan dunia yang tidak terbebas oleh ruang dan waktu 3+4 bisa sama dengan 8, atau 9 dan sebagainya atau yang disebut prinsip kontradiktif.
    Dari membaca elegi ini akhirnya saya mulai menyadari bahwa matematika yang saya pelajari selama ini dibangun berdasarkan prinsip logicist-formalist-foundationalis .Manurut saya inil belumlah cukup karena belum dikatakan ilmu.Karena sebagaimana yang telah diuraikan di elegi sebelumnya ilmu dibangun atas dua prinsip yait uprinsip identitas dan prinsip kontradiktif.

    ReplyDelete
  15. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika

    Terimakasih pak
    tulisan diatas sangat bermanfaat untuk saya.
    Karena ketika mengajar pada siswa, saya tidak pernah mengatakan bahwa 3+4=7 tergantung ruang dan watktu nya. sehingga saya berpikir jika yang selama ini, yang saya lakukan hanya memanipulatif siswa.
    Sehingga akan lebih baik pada saat mengajar siswa, kita sebaiknya memberikan contoh konkrit dalam lingkungannya. Semisal jika siswa diminta untuk membuktikan bagaimana membuktikan 3+4=7, siswa ada yang menggunakan jari nya, dan ada pula yang menggunakan pensil. Tetapi kita bisa memberikan pemisalan lagi pada siswa, bagaimana jika 3 pensil + 4 buku, lalu kita bisa tanyakan pada siswa, apakah ini hasilnya 7 juga?
    Pada pembelajaran itu akan sangat bermakna untuk materi persamaan linier 2 variabel atau 3 variabel. dengan melakukan kegiatan itu, diharapkan siswa akan mampu mengabstraksikan konsep matematika.

    ReplyDelete
  16. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Dunia Anak-anak sekolah adalah dunia yang terikat dengan ruang dan waktu. Sementara matematika murni pada prinsipnya ialah bersifat identitas, terbebas dari ruang dan waktu. Maka tidaklah tepat jika kita membelajarkan matematika murni tanpa memberikan bantuan jembatan bagi mereka agar dapat mencapai keabstrakan matematika. Selamanya siswa sekolah tidak akan mampu untuk langsung belajar matematika secara abstrak, dan ini telah menyalahi kodrat mereka. Maka inilah pentingnya guru memahami agar guru mampu menjelaskan hal tersebut dengan menggunakan bahasa yang bisa dipahami oleh siswa, atau bahasa siswa.

    ReplyDelete
  17. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B
    matematika pada anak adalah matematika yang berdasarkan pada kenyataan sehingga membrikan pembelajaran kepada anak juga harus sesuai dengan tingkat perkembangan anak. pemberian penjumlahan awala pada anak 3+4=7, jika tidak diberikan keterangan yangpasti dalam suatu benda maka itu bagi anak, guru memanipulatif. namu jika diberikan dengan benda yang dapat dijangkau siswa seperti 3permen+4permen=7 permen, sehingga penjumlahan yang sejenislah yang dapat dijumlahkan. guru dalam pembelejran dikelas harus paham juga berkaitan dengan perkembangan siswa sehingga penggunaan metode yang tepat akan menciptakan tujuan yang tepat pula.

    ReplyDelete
  18. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.mat B 2017

    Menurut pendapat saya, yang sebaiknya dilakukan oleh guru di sekolah dasar saat menjelaskan tentang penjumlahan, disini diambil contoh 3 + 4 = 7 sebaiknya disertai dengan penjelasan tentang kesamaan objek yang dibahas dalam operasi dasar tersebut. misalnya, guru menyebtkan bahwa hal tersebut benar jika 3 pensil + 4 pensil = 7 pensil. tetapi akan bersifat kontradiktif jika yang dijumlahkan adalah objek yang berbeda.

    ReplyDelete
  19. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Masalah terbesar yang dialami matematika sekolah adalah bagaimana cara guru membelajarkan matematika itu sendiri utaan di tingkat sekolah dasar. Persepsi anak-anak mengenai matematika sejatinya terbentuk sejak mereka menempuh pendidikan dasar maka guru yang mengajarkan matematika di tingkat dasar harus betul-betuk mampu untuk membentuk presepsi anak bahwa matematika bukanlah pelajaran yang sulit dan sangat abstrak.

    ReplyDelete
  20. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Berfikir matematis itu penting, namun tanpa disertai dengan logical maka cara berfikir yang digunakan tidak akan bersifat sistematis. Anak-anak dan orang dewasa mempunyai cara pandang dan berfikir yang sangat berbeda. Anak-anak berfikir matematis hanya bersifat fondamen sedangkan orang dewasa berfikir matematis bersifat abstrak dan kompleks. Anak-anak dalam berfikir harus bersifat kontruktif dan contekstual, maka dari itu seorang guru harus mampu membuat lingkungan belajar siswa yang bersifat interaktif dan kolaboratif dengan membimbing peta konsep siswa kearah yang bersifat realitas.

    ReplyDelete
  21. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalmualaikum wr.wb

    Dari ulasan bapak di atas, sistem penjumlahan memiliki makna yang berbeda tergantung ruang dan waktunya. Untuk membelajarkan hal tersebut di anak SD memang guru harus memiliki strategi yang khusus. Mengapa? Karena sebagian anak SD itu menggunakan Intuisi dalam mempelajari matematika, maka strategi yang harus digunakan guru juga haruslah sesuai dengan objek yang mereka ajar.

    ReplyDelete
  22. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Seperti yang telah disebutkan di atas, 3 + 4 = 7 adalah benar jika tidak memperhatikan ruang dan waktunya yakni dunianya para Logicist-Formalist-Foundationalist. Akan tetapi, 3 + 4 = 7 akan salah jika memperhatikan ruang dan waktu, seperti 3 dokter ditmbah 4 pesien tidak bisa kita katakan sebagai 7 dokter dan pasien. Matematika seperti inilah (di dunia nyata) yang disebut sebagai ilmu kontradiktif. Sedangkan anak-anak sekolah dasar, ia belum mampu untuk memahami ruang dan waktu serta semesta pembicaraan. Oleh karena itu, untuk penjumlahan speerti ini maka ajarkanlah siswa tanpa memperhatikan semesta pembicaraan, samakan saja misalnya 3 pensil ditambah 4 pensil sehingga menjadi 7 pensil, ini akan lebih mudah dipahami siswa untuk tahap belajar mereka yang masih kongkrit.

    ReplyDelete
  23. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Saya baru bisa memahami kenapa 3+4=7 dikatakan kontradiktif setelah membaca elegi ini. 3+4=7 dikatakan benar mutlak jika ia terbebas dari ruang dan waktunya. Namun jika dia terikat pada ruang dan waktu, 3+4=7 adalah belum tentu benar. Perlu dilihat dulu ruang dan waktu yang mengikat angka 3 maupun angka 4. Contoh sederhananya 3 pensil + 4 buku tidak bisa dikatakan menghasilkan 7 buku ataupun 7 pensil. Maka hal ini perlu dilihat terlebih dahulu ruang dan waktunya

    ReplyDelete
  24. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Mengajar SD terlebih untuk pelajaran matematika memang cukup sulit. Guru harus menjadi kritis dan kreatif karena kadang konten yang dimuat tak sesuai konteks. Mungkin 3 pensil + 4 buku = 7 buku adalah salah satunya. Bayangkan saja betapa ngerinya jika seorang guru menyetujui hal itu dan mengajarkannya pada anak-anak.. Apa tidak pusing anak-anak menerima perubahak pensil menjadi buku dalam proses penambahan? Itulah yang harus dikritisasi mengenai persiapan guru-guru Indonesia ketika mengajar. Apakah guru memahami betul konteksnya? Wah, sepertinya guru juga harus dibekali pemikiran filosofis tentang apa yang ia ajarkan, supaya tak mudah terbawa konten yang kurang sesuai..

    ReplyDelete
  25. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. Kembali lagi pada kemampuan guru untuk menciptakan atmosfir belajar matematika untuk siswa, khususnya di tingkat sekolah dasar di mana pemikiran siswa sekolah dasar belum abstrak sehingga guru harus mampu membahasakan definisi matematika dengan cara yang mudah dipahami siswa dan tanpa menghilangkan esesnsi dari konsep matematika yang dijelaskan.

    ReplyDelete
  26. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Terimakasih Prof. atas informasinya yang sangat bermanfaat. Komentar saya 3 + 4 = 7 benar ketika berada pada dunia logicist-formalist-foundationalist. Namun akan menjadi kontradiksi pada dunia yang terbatas ruang dan waktu. Mengenai cara pengajaran di sekolah atau pedagogik disini guru perlu memerhatikan dalam pembelajaran yaitu hubungan antar konsep-konsep matematika dan kemampuan berfikir yang siswa miliki. Pada tingkat awal 3+4=7 adalah benar tapi dalam pengembangan nya ketika dihubungkan dengan dunia waktu dan ruang 3+4=7 bisa menjadi kontradiksi. Guru dapat memberi bantuan jika yang berlaku pada kasus seperti ini khusus untuk objek yang sejenis.

    ReplyDelete
  27. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015

    Pada elegi ini 3+4=7 adalah benar jika masih ada di dalam pikiran. Karena di dalam pikiran matematika itu bersifat abstrak. Sedangkan ketika 3+4=7 diungkapkan ke dalam kenyataan atau kehidupan maka 3+4 tidak sama dengan 7 lagi, karena jika diluar pikiran, matematika suatu adalah kegiatan atau aktivitas bukan lagi bersifat abstrak. Oleh karena itu matematika itu kontradiksi karena terikat ruang dan waktu. Oleh karena itu kita harus bisa menempatkan matematika pada ruang dan waktu yang sesuai.

    ReplyDelete
  28. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Terima kasih Pak Prof. atas postingan ini. Dari elegi ini saya memahami kenapa 3+4=7 dikatakan kontradiktif. Seperti penjelasan diatas bahwa matematika bagi para Logist-Formalist-Foundationalist adalah dunia yang terbebas dari ruang dan waktu. Sedangkan jika kita mengajarkan matematika kepada anak-anak maka itu adalah dunia yang terikat dengan ruang dan waktu. Karena memang bagi anak-anak dalam mempelajari matematika dimulai dari hal yang bersifat konkrit atau nyata menuju ke pembelajaran matematika yang bersifat abstrak. Oleh karena itu, ajarkanlah matematika yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, dimana ia masih dalam konteks yang terikat dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  29. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Dalam menyampaikan matematika disekolah haruslah terikat dengan dunianya mereka. Karena untuk mengajarkan sesuatulah haruslah mampu untuk dicerna dan dipahami oleh siswa. Seperti penjelasan diatas bahwa untuk hasil apapun yang ditemukan dalam penyelesaian matematika, haruslah mampu dimengerti oleh siswa. Sehingga guru harus mampu menggunakan bahasa yang membuat siswa mudah mengerti dengan diikuti oleh perbedaaan beberapa contoh dan non contoh suatu konsep.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  30. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Saya kurang tahu apakah saya akan menyanggah atau setuju dengan elegi ini. Namun aneh saja rasanya jika kita mengatakan 3+4=7 sebagai benar begitu saja tanpa keterangan apapun, maka kita dianggap telah bersifat MANIPULATIF dengan bukti bahwa kita tidak dapat mengatakan bahwa 3pensil + 4buku = 7buku. Sepertinya itu bukan ruang dan waktu bagi dunia anak-anak. kita cukup mengenalkan angka saja kepada mereka dan pengoperasiannya tanpa melibatkan objek apakah yang ada di dalam pengoperasian tersebut. Saya sangat mengapresiasi usaha guru dalam mengajarkan dan membimbing pengetahuan dasar seperti ini. barulah ketika dewasa, mereka akan semakin tahu jikalau manfaat dan teorema matematika berlaku luas dan berbeda-beda sesuai ruang dan waktunya masing-masing. Wallahu’alam.

    ReplyDelete
  31. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Hukum kontradiksi dalam matematika harus di pelajari secara intensif dan ekstensif. Agar tidak terjadi kesalahpahaman dan perbedaan tafsir. Berdasarkan elegi diatas memberikan pelajaran bahwa 3+4=7 dianggap sebagai operasi sederhana, namun ternyata dibalik itu menyimpan makna yang belum diketahui termasuk kami. Terbebasnya ruang dan waktu dari operasi 3 + 4 =7 bukan berarti kebenarannya dapat di letakkan di berbagai ranah karena 3 buku + 4 pensil tidak sama dengan 7 buku. Oleh karena itu, hal ini merupakan tantangan bagi guru untuk menjabarkan dan menjelaskan kepada siswa tentang konsep operasi yang tepat dan benar tentunya menggunakan bahasa yang mudah di mengerti. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  32. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Ini merupakan tugas besar sebagai seorang pendidik maupun calon pendidik untuk menjelaskan kepada siswanya secara teori bukan dengan beberapa lompatan. Disini saya sudah mulai paham mengapa 3+4 = 7 disebut kontradiktif. Hal ini juga akan sesuai dengan hukum identitas jika lebih diberikan keterangan seperti 3 buku + 4 buku = 7 buku. Tetapi sungguh benar, akan menjadi kontradiktif apabila kita membebaskannya dalam waktu dan ruang secara absolut dan universal. Karena 3 buku + 4 pensil itu bukan 7 buku dan juga bukan 7 pensil. Hal ini sejalan dengan sifat aljabar jika dikaitkan dengan hukum identitas.

    ReplyDelete
  33. Indah Purnama Sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Ketika saya SD, saya diajarkan bahwa 3+4=7 dengan cara penjelasan menggunakan jari tanpa ada satupun penjelasan konsep, mengapa dan bagaimana bisa. Tetapi ternyata,sekarang saya sadar bahwasannya untuk mengajarkan anak perlu memperhatikan cara berpikir anak. Selain itu, perlu mengomunikasikan konsep-konsep tersebut pada hal-hal yang bersifat konkrit agar matematika untuk anak dapat bermakna. Dan anak juga lebih memahami konsep mengapa hasilnya bisa begitu.

    ReplyDelete
  34. Dalam menyampaikan suatu defenisi, seorang pendidik/guru haruslah melihat ruang dan waktunya dimana menyampaikan matematika. jika menyampaikannya di perguruan tinggi untuk orang dewasa maka 3+4=7 merupakan dunia yang terbebas dari ruang dan waktu maka sudah menjadi jangkaunnya bagi orang dewasa, namun jika hal ini kita sampaikan kepada anak-anak siswa sekolah yang terikat pada ruang dan waktunya yang terbatas pada hal kongkrit di dunia mereka, maka penjelasannya harus sesuai dengan dimensi pemikiran mereka.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  35. Junianto
    17709251065
    PM C

    Dari artikel singkat ini saya menjadi paham bahwa para Logicist-Formalist-Foundationalist menganggap matematika terbebas dengan ruang dan waktu. Hal ini menunjukkan bahwa hampir semua yang saya lakukan adalah hampir sama dengan paham ini. Menganggap matematika terbebas ruang dan waktu, meskpiun secara tidak langsung karena sudah menjadi kebiasaan. Maka dari itu, masih mejnadi PR bagaimana cara guru menjelaskan kepada siswa agar hal ini tidak bertentangan dan bisa diterima siswa, terutama kaitan antara matematika dan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  36. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Tahap berpikir anak-anak masih meliputi benda-benda atau hal-hal yang konkrit. Begitu pula dalam belajar matematika. Seperti contoh dalam elegi di atas, bisa saja terjadi di kehidupan nyata, memberikan contoh penjumlahan dengan benda-benda konkrit tetapi contoh yang diberikan kurang tepat 9misal menjumlahkan benda yang tidak sejenis). Maksud guru mungkin agar memudahkan siswa, namun jika tidak berhati-hati juga dapat mengacaukan konsep siswa nantinya. Karena bagaimanapun juga, tahap belajar matematika yang selanjutnya adalah matematika formal, dimana seseorang harus dapat mengabstraksi apa yang ia dapat dari pengalamannya ke dalam pikirannya. Konseptual saja tetapi tidak kontekstual akan menyulitkan anak, tetapi kontekstual saja tetapi tidak konseptual (tidak sesuai konsep) akan sama saja menyulitkan anak.

    ReplyDelete
  37. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Dunia yang dipahami oleh matematikawan murni kebanyakan hanyalah matematika yang berada di dunia atas atu di pikiran mereka. Sehingga kesaklekan mereka yang memiliki ilmu matematika murni sering sekali hanya memberikan materi berdasarkan apa yang diberikan atau dipahami dari sebuah matematika abstrak
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  38. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Kebenaran selalu akan dapat ditemukan dalam ruang dan waktunya sendiri karena tidak ada yang bersifat absolte. Jika sampai pada kebenaran yang absolute itulah wilayahnya keyakinan. Tapi sebelum sampai ke sana, manusia telah dibekali akal untuk menimbang. Keyakinan yang didasarkan akan kebenaran yang absolute - yang hanya domainnya Sang Khaliq, tidak akan kontradiksi jika dilakukan tepat sesuai dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  39. Pratama Wahyu Purnama
    17709251033

    nilai 2+5=7 akan bernilai benar mutlak hanya pada dunia yang terbebas oleh ruang dan waktu. Dunianya para Logicist, Formalist, dan Foundalist. Jika telah dibawa ke dunia yang terikat oleh ruang dan waktu maka nilai 2+5 belum tentu bernilai tujuh, tergantung dengan ruang dan waktunya. Semisal 2 kucing tambah 5 anjing tidak bisa dikatakan 7 kucing atau 7 anjing. Itulah kontradiksinya matematika kalau sudah terikat oleh ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  40. Dalam mengajarkan pembelajaran matematika kita harus memahami subjek yang akan diajarkan, apabila subjek tersebut adalah Dunia Anak-anak SD dan SMP itu adalah Dunia yang terikat dengan Ruang dan Waktu. Sebagai seorang pendidik harus dapat menyesuaikan dengan ruang dan waktunya dalam menyampaikan materi matematika agar siswa tidak mengalami kebingungan dalam memahami materi yang diajarkan.

    ReplyDelete
  41. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PMC

    Dunia matematika anak-anak (matematika sekolah) berbeda dengan matematika murni yang dibangun oleh para Logicist-Formalist-Foundationalist. Bagi matematika matematika murni, 3+4=7 adalah benar. Tetapi 3+4=7 adalah benar hanya untuk dunia yang terbebas oleh ruang dan waktu yaitu dunianya para Logicist-Formalist-Foundationalist. Padahal dunia anak- anak adalah dunia yang terikat dengan ruang dan waktu. Oleh karena itu kita tidak dapat begitu saja mengatakan kepada anak- anak bahwa 3+4=7 adalah benar tanpa penjelasan yang menyertainya. Sebagaimana kita tidak dapat mengatakan bahwa 3pensil + 4buku = 7buku. Karena itulah menjadi tugas seorang guru untuk membawa matematika yang terbebas dengan ruang dan waktu menjadi matematika yang terikat dengan ruang dan waktu sesuai dengan dunia anak. Maka guru harus dapat memfasilitasi anak-anak belajar matematika yang terikat ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  42. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Sebagai ilmu pasti, jawaban dari setiap pertanyaan Matematika tidaklah harus selalu mutlak hanya 1 jawaban. tetapi matematika juga haruslah dapat menyesuaikan diri, jawaban matematika tergantung ruang dan waktu. benar seperti yang dikatakan Prof.Marsigit. ketika kita membicarakan konsep penjumlahan, tentu 3+4=7 , tetapi hal ini tidak mutlak, karena kita berbicara konsep aljabar, misalnya 3x+4y, jawabannya tidak sama dengan 7.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  43. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Matematika itu bersifat manipulatif. Benar salahnya tergantung dari kita memanipulasinya. Semakin kita bekerja dalam kesederhanaan matematika, maka matematika juga akan menjadi semakin mudah dan menyenangkan.

    ReplyDelete
  44. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan dalam postingann ini yaitu bagaimana guru mampu menjelaskan kajadian ini menggunakan bahasa siswa? Menurut saya dalam pembentukan konsep matematika apalagi untuk anak SD dan SMP yang masih perlu diberikan kekonkritan maka dalam menjelaskan menggunakan bahasa siswa yaitu dengan membawakan contoh real kepada siswa bahwa 3+4 tidak selalu sama dengan 7, tergantung ruang dan waktu. Guru dapat memberikan contoh barang yang ada di kelas yaitu 3 pensil siswa ditambah dengan 4 penghapus siswa tidak mungkin hasilnya adalah 7 penghapus pensil, anmun akan tetap menjadi 3 pensil dan 4 penghapus. Dengan pemberian contoh langsun seperti ini diharapkan siswa menyadari bahwa masih ada faktor runag dan waktu dalam identitas matematika.

    ReplyDelete
  45. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    3+4=7 bersifat kontradiktif karena terbebas oleh ruang dan waktu. Akan bernilai salah jika itu dipandang terikat oleh ruang dan waktu, misalkan 3 pensil + 4 buku tidak sama dengan 7 buku. Contoh lain adalah 3x4=12, hal itu tidak untuk toko fotokopi dan digital bahwa 3x4=1000 yang artinya foto 1 lembar dengan ukuran 3x4 berharga 1000 rupiah.

    ReplyDelete
  46. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Dari elegi ini dapat saya simpulkan bahwa apabila kita menyatakan 3+4=7 benar tanpa menjelaskan apa alasannya maka kita sudah bersifat manipulatif. Semuanya harus jelas dan memiliki alasan serta keterangan ruang dan waktunya. Untuk itu sebagai guru harus senantiasa memperdalam ilmu pengetahuan yang dimilikinya dan menguasai matematika secara filsafatnya juga supaya tidak terjadi kesalahan atau miskonsepsi pada siswa. Guru bertanggung jawab untuk mengatasi miskonsepsi yang dialami siswa dan sebelum melakukan hal tersebut, guru harus mengatasi miskonsepsi yang dialaminya sendiri terlebih dahulu yaitu dengan cara memperdalam lagi pengetahuannya.

    ReplyDelete
  47. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    3+4 = 7 akan bernilai benar jika tanpa melibatkan ruang dan waktu. Jika 3+4=7 dianggap benar, hal itu sebenarnya merupakan reduksi dari suatu pengetahuan, yang sebenarnya bila dibiarkan akan berbahaya. Namun penyederhanaan 3+4=7 dianggap benar ketika menjelaskan proses penjumlahan untuk anak SD adalah suatu hal yang wajar, karena anak SD belum memahami apa itu kontradiksi. Hanya saja kita perlu memancing sesuatu pada siswa agar mereka berfikir kritis, bahwa 3 kambing ditambah 4 ayam tidak bisa dijumlahkan begitu saja menjadi 7 kambing atau 7 ayam.

    ReplyDelete
  48. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    "3+4=7" adalah pernyataan yang benar jika terbebas dari ruang dan waktu. Seperti kita ketahui bahwa para siswa di sekolah terikat oleh ruang dan waktu, penyataan ini mungkin memiliki makna lain. Hal ini adalah tantangan bagi para guru atau pendidik agar dapat menyampaikan fenomena ini kepada siswa dengan bahasa mereka sendiri agar dapat langsung dan mudah dipahami.

    ReplyDelete
  49. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  50. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Tugas utama seorang guru adalah bagaimana mampu menyampaikan matematika sebagai bahasa komunikasi yang dapat diterima oleh peserta didik.
    Pada usia siswa, mereka lebih mampu memahami sesuatu yang sifatnya riil dan bermanfaat bagi hidupnya, mereka akan lebih menikmati belajar matematika dengan pembelajaran bermakna.
    Dengan pembelajaran berbasis kontekstual dan realistik, siswa tidak merasa takut lagi untuk mempelajari matematika.
    Problem-problem yang ada dalam matematika harus mampu dibawa dalam dunia siswa sehingga siswa mampu menyelesaikan masalah tersebut dengan bahasa mereka dan kreativitas yang dimiliki.

    ReplyDelete
  51. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017
    Elegi ini membuat saya mengingat betapa cukup sulitnya mengenalkan konsep operasi aljabar kepada siswa dimana siswa harus memahami konsep variabel terlebih dahulu. Seperti yang bapak contohkan 3 pensil + 4 buku = 7 buku, atau bisa jadi dijawab siswa 7 pensil dan buku, padahal operasi tersebut tidak bisa dijumlahkan karena berbeda variabel. Jika hanya berfokus pada 3+4= 7 tidak melihat konteks penggunaannya maka sepeti itulah yang akan terjadi. Di sini guru sangat berperan penting dalam mengenalkan konsep matematika kepada siswa.

    ReplyDelete
  52. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Matematika murni itu terbatas oleh ruang dan waktu tertentu. Sedangkan dunia anak yang mempelajari matematika sekolah itu terkait oleh ruang dan waktu. Maka menjadi tugas bagi guru, bagaimanan cara menyampaiakn konsep matematika yang terbebas dari ikatan ruang dan waktu, menjadi bahasa matematika yang mudah dipahamai dan dimengerti oleh siswa yang notabene masih belajar melalui pengalaman yang mereka meliki. Terimakasih

    ReplyDelete
  53. Vidiya rachmawati
    17709251019
    PM A

    1. Daya tarik dan tantangan pelajaran matematika memang terletak pada konsep-konsep yang bersifat dinamis. sebagai pengajar matematika harus mampu menguasai konsep dasar dari matematika sebelum menjelaskan suatu materi ke peserta didik khususnya peserta didik SD dan SMP yang dunianya terikat dengan Ruang dan Waktu. dalam hal ini pembelajaran secara konstektual perlu diterapkan sehingga siswa dapat membedakan ketika diberi masalah tentang penjumlahan 3 apel + 4 apel akan berbeda hasilnya dengan 3 apel + 4 mangga. Dengan demikian siswa akan belajar lebih menyenangkan dan konsep dasar materi yang diajarkan dapat masuk ke jalan pemikiran siswa.

    ReplyDelete
  54. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    2. Sebaiknya setelah guru selesai mengajar anak – anaknya ilmu yang didapatkan langsung dapat dibawa ke dunianya sehingga tidak bertentangan dengan kehidupan nyata, sehingga ia tertarik untuk mempelajarinya, tetapi kalau hanya sekedar mengetahui dan mendapat nilai matematika yang tinggi, pada umumnya anak akan merasa bosan dan malas.

    ReplyDelete
  55. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    3. Tugas utama seorang guru adalah bagaimana mampu menyampaiakan matematika sebagai bahasa komunikasi yang dapat diterima oleh peserta didik. Pada usia siswa, mereka lebih mampu memahami sesuatu yang sifatnya riil dan bermanfaat bagi hidupnya, mereka akan lebih menikmati belajar matematika dengan pembelajaran bermakna. Dengan pembelajaran berbasis kontekstual dan realistik, siswa tidak merasa takut lagi untuk mempelajari matematika. Masalah-masalah yang ada dalam matematika harus mampu dibawa dalam dunia siswa sehingga siswa mampu menyelesaikan masalah tersebut dengan bahasa mereka dan kreativitas yang dimiliki.

    ReplyDelete
  56. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Dunia anak adalah dunia yang dibatasi atau terikat oleh ruang dan waktu. Karena hal itulah, jadi sebagai seorang guru, kita tidak boleh mengatakan 2+3 = 5 tanpa keterangan apapun. Apakah 2 buku + 3 pensil = 5 buku atau 5 pensil? Di sini jelas bahwa pengajaran di masa kecil juga terikat oleh ruang dan waktu. Oleh karena itu, matematika adalah kontradiksi atau tidak konsisten tergantung pada ruang dan waktu

    ReplyDelete
  57. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Dari elegi ini dapat kita ambil hikmah bahwa segala sesuatu tergantung konteksnya. Maka kebenaran akan semua yang ada dan yang mungkin ada terikat dengan ruang dan waktu. Ini sama hal nya bila kita menyebutkan saat ini adalah siang hari. Hal ini benar bagi kita namun bagi orang yang berada di luar negeri seperti di Amerika hal ini salah karena di sana malam. Jadi semuanya tergantung ruang dan waktu.
    Maka dalam pendidikan, diperlukan kreativitas guru dalam memberikan pemahaman kepada siswa sehingga terhindar hal yang manipulatif.

    ReplyDelete

  58. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Sampai disini saya malah menjadi bingung dengna ruang dan waktu matematika sekolah. Memang 3+4=7 adalah absolut pada dunianya para logicist-formalist-foundalist yaitu dunia yang terbebas ruang dan waktu. Tetapi sampai pada pernyataan 3 buku ditambah 4 pensil memang tidak bisa kita katakan sebagai 7 pensil. Hal seperti ini ketika dulu saya pelajari disekolah adalah karena memang kedua sesuatu yang berbeda. Sering terjadi kesalahan konsep bahwa perbedaan itulah yang disebut dengan variabel. Namun, sekarang saya jadi baru berpikir, jika konsep variabel yang benar misalnya adalah banyaknya pensil, lalu pensil itu sendiri dipandang sebagai apa di matemtika. Sampai di sini saya sudah sedikit paham dengan kontradiksi matemtika apabila dibawa pada dunia hakekat, namun saya masih sedikit bingung kontradiksi di dunia matematika sekolah, sepertinya semoga dapat saya pahami pada artikel selanjutnya.

    ReplyDelete
  59. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Memandang matematika dengan filsafat maka objeknya adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. Objek pikir tersebut kemudian tidak dapat menjadi mutlak ketika dia terikat dari ruang dan waktu. dari contoh yang 3+4=7 benar jika dia terbebas dari ruang dan waktu, namun 3+4≠7 jika terikat dalam ruang dan waktu. Itu dikatakan kontradiktif. Jika dilihat dari tahap berpikir, pikiran anak-anak tidak bisa disamakan dengan pikiran orang dewasa. Pikiran anak yang terikat pada ruang dan waktu tidak bisa begitu saja menerima bahwa 3+4=7. Sesuai dengan isi elegi diatas, bahwa 3+4=7 bisa saja menjadi kontradiktif jika dipikirkan oleh anak-anak.

    ReplyDelete
  60. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. matematika sekolah yang dipelajari siswa bergantung pada ruang dan waktu. Matematika yang bergantung pada ruang dan waktu merupakan matematika yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Matematika harus dapat dipahami siswa, harus dapat dirasakan keberadaannya oleh siswa. Sebab maematika merupakan ilmu tetang pemecahan masalah, yang tentu masalah itu harus dialami siswa.

    ReplyDelete
  61. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam elegi ini diceritakan bahwa 3 + 4 =7 yang masih dipelajari di sekolah SD dan SMP merupakan matematika yang masih terikat oleh ruang dan waktu. Karena dalam pembelajaran, 3 + 4 = 7 tidak sama dengan 7 ketika 3 dan 4 merupakan koefisin dari suatu variabel. Maka disinilah yang disebut sebagai kontradiktif.

    ReplyDelete
  62. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Guru yang baik harus dapat menjelaskan berbagai kejadian dalam matematika dalam bahasa siswa. Selain itu, matematika murni sangat sukar untuk diimplementasikan di pembelajaran matematika di sekolah. Karena dunia matematika murni adalah dunia yang terbebas dari ruang dan waktu, maka matematika murni akan benar selama tidak ada batas ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  63. Muhammad Sabri
    1770125034
    S2 PEP B

    Menjelaskan kajian secara Logicist-Formalist-Foundationalist menggunakan bahasa siswa menjadi tantangan terbesar yang sering dialami guru. oleh karena itu, mathematics Logicist-Formalist-Foundationalist masih sulit diterapkan dalam matematika sekolah.

    ReplyDelete
  64. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    sebagai seorang guru tidak boleh mengatakan 3pensil + 4buku = 7buku. Karena penjumlahan hanya dilakukan pada suku-suku yang sejenis saja. Sesuatu yang tidak sejenis itu tidak bisa dijumlahkan seperti ilustrasi tersebut Dengan begitu sebagai calon guru kita perlu berhati-hati dalam menjelaskan Matematika kepada para murid agar kita tidak menimbulkan suatu kesalahan.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  65. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Saya tertarik dengan kalimat "tanpa keterangan apapun". Matematika sekolah itu tidak dapat dijelaskan seperti matematika murni. Karena melihat contoh yang disampaikan pada postingan ini terlihat bahwa 3+4 belum tentu hasilnya 7 apabila tidak disertai dengan keterangan. 3+4 akan bernilai benar apabila diberi keterangan apa yang akan kita jumlahkan tersebut. Tantangan guru untuk dapat menjelaskan matematika agar siswa memahami apa yang dimaksud dengan matematika. Guru harus mampu masuk ke dunia siswa, sehingga apa yang disampaikan guru mengenai matematika terasa dekat dengan siswa.

    ReplyDelete
  66. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Konsepsi kesalahpahaman siswa mengenai penjumlahan "3 buku + 4 bolpen = 7 bolpen" memang rantan dilakukan oleh siswa, hal inisering kali disebabkan karena guru salah dalam memberikan appersepsi dalam pembelajaran aljabar atau guru memberikan konsepsi atau permisalah aljabar dengan tidak tepat sehingga mengundang terjadinya miskonsepsi siswa. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  67. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Dunia ini dipenuhi oleh hal-hal kontradiktif yang sering kali tidak terpikirkan oleh banyak orang termasuk saya. begitu juga dalam matematika. Misalnya seperti pengandaian 3+4=7 dan 3pinsil+4buku yang hasilnya bukan 7 buku atau 7 pinsil atau 7 buku pinsil. Keterikatan dalam ruang dan waktulah yang mempengaruhinya, hal yang sering kali dilupakan.

    ReplyDelete
  68. Tri Wahyu Nurjanah
    15301241010
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Dari elegi di atas, dapat kita pelajari maknanya yaitu sebagai seorang calon guru kita perlu berhati-hati dalam menjelaskan matematika kepada peserta didik agar tidak terjadi kesalahan konsep dan kita juga harus mampu mempelajari bahasa peserta didik. Sehingga setelah mengajarkan ilmu kepada peserta didik dapat di bawa ke dunianya sehingga tidak bertentangan dengan dunianya akibatnya peserta didik akan tertarik untuk mempelajarinya. Akan tetapi jika ilmu diajarkan hanya sekedar agar anak memperoleh nilai matematika yang tinggi, peserta didik akan cepat bosan dan malas. Misalnya dalam kasus di elegi ini, 3+4=7 akan benar jika tidak terikat dengan ruang dan waktu. Hal tersebut dapat bertentangan dengan kehidupan nyata, karena segala sesuatu apabila dijumlahkan 3 dan 4 hasilnya pasti sama dengan tujuh.

    ReplyDelete
  69. Siti Nur Fatimah
    15301241045
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Sebagai guru kita harus menanamkan konsep dengan baik dan benar disesuaiakan dengan kemampuan siswanya agar tidak terjadi miskonsepsi pada siswa.

    ReplyDelete