Feb 12, 2013

The Nature of Students Learn Mathematics

By Marsigit
Yogyakarta State University

Understanding the nature and characteristics of young adolescent development can focus effort in meeting the needs of these students.

The National Middle School Association (USA, 1995) identified the nature of students in term of their intellectual, social, physical, emotional and psychological, and moral. Young adolescent learners are curious, motivated to achieve when challenged and capable of problem-solving and complex thinking. There is an intense need to belong and be accepted by their peers while finding their own place in the world. They are engaged in forming and questioning their own identities on many levels. The students may mature at different rates and experience rapid and irregular growth, with bodily changes causing awkward and uncoordinated movements. In term of emotional and psychological aspect, they are vulnerable and self-conscious, and often experience unpredictable mood swings. While in the case of moral, they are idealistic and want to have an impact on making the world a better place.

Most of the teachers always pay much attention to the nature of student’s ability. We also need to have an answer how to facilitate poor and low-ability children in understanding, learning and schooling. Intellectual is really important to realize mental ability; while, their work depend on motivation. It seems that motivation is the crucial factor for the students to perform their ability. In general, some teachers are also aware that the character of teaching learning process is a strong factor influencing student’s ability. We need to regard the pupils as central to our concerns if our provision for all the pupils is to be appropriate and effective; some aspects of teaching for appropriateness for students might be: matching their state of knowledge, identifying and responding to their particular difficulties, extending them to develop their potential in mathematics, providing some continuity of teaching with a demonstrated interest in progress, developing an awareness of themselves as learners using the teacher as a resource, and providing regular feedback on progress (Ashley, 1988). Those who teach mathematics must take into account the great variations which exist between pupils both in their rate of learning and also in their level of attainment at any given age (Cockroft Report, 1982, para. 801).

Ernest (1995) highlighted that the nature of students learn mathematics are their efforts to construct their objective knowledge of mathematics through their interaction with others in such away that they are able to reconstruct their subjective knowledge by reflection activities. Reflection activities consists of represent their new knowledge of mathematics, publish them and examine. While Ebbutt and Straker (1995) emphasizes that the nature of students learn mathematics consists of students' motivation to learn mathematics, students' self effort or uniqueness in learning mathematics, students' capabilities in doing collaboration with their mates and learning mathematics through its various different context.

........., 2009, Nature of the Students, Going to a public school, New South Wales,
Department of Education and Training. Retrieved 2009

Brown, T., 1997, Mathematics Education and Language: Interpreting Hermeneutics and
Post-Structuralism. Kluwer Academic Publisher: Dordrecht

Cockroft, H. W., 1982, Mathematics counts : Report of the Committee of Inquiry into the Teaching of Mathematics in School under the Chairmanship of Dr. W H Cockroft, London : Her Majesty's Stationery Office.

Ebbutt, S. and Straker, A., 1995, Mathematics in Primary Schools Part I: Children and Mathematics. Collins Educational Publisher Ltd.: London

Ernest, P., 1994, Mathematics, Education and Philosophy: An International Perspective. The Falmer Press: London.

Ernest, P., 2002, What Is The Philosophy Of Mathematics Education?
Paul Ernest University of Exeter, United Kingdom. Retrieved

Ernest, P., 2007, Mathematics Education Ideologies And Globalization. Retrieved

Fullan, M., 2002, Leading and Learning for the 21stC Vol 1 No. 3 - January 2002

Glenn, A., 2009, Philosophy of Teaching and Learning "Your job as a teacher is to make every single student feel like a winner”. Retrieved http://depts.washington.edu

Grouws, A. D. and Cooney, J. T., 1988, Effective Mathematics Teaching : Volume 1, Virginia : The NCTM, Inc.

Jaworski, B., 1994, Investigating Mathematics Teaching : A Constructivist Enquiry, London : The Falmer Press.

Orton, A. and Wain, G., 1994, Issues in Teaching Mathematics, London : Cassell.


  1. Nani Maryani
    S2 Pendidikan Matematika (A) 2018
    Assalamu'alaikum Wr.Wb

    Salah satu pedapat mengenai dasar dari siswa belajar matematika adalah pendapat dari Ernest (1995) yang menyoroti bahwa saat siswa belajar matematika mereka berupaya untuk membangun pengetahuan obyektif mereka sendiri tentang matematika melalui interaksi mereka dengan orang lain sehingga mereka dapat mengkonstruksi pengetahuan subyektif mereka melalui kegiatan refleksi. Kegiatan refleksi itu sendiri terdiri dari mendapat pengetahuan baru tentang matematika, mempublikasikan kemudian memeriksanya.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb

  2. Rindang Maaris Aadzaar
    S2 Pendidikan Matematika 2018 (PM B 2018)

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Sebagai guru yang baik harus jeli untuk melihat kemampuan anak didiknya. Dengan begitu guru mampu menerapkan diri untuk memfasilitasi siswanya dengan baik pula. Dengan begitu siswa akan memahami pemebalajran dengan lebih mudah apabila mendapatkan perhatian akan kebutuhan belajarnya dari gurunya. Siswa akan memiliki sifat siswa belajar matematika yang baik. Sifat siswa tersebut adalah upaya siswa untuk membangun pengetahuan objektif tentang matematika melalui interaksi dengan orang lain sehingga mampu merekonstruksi pengetahuan subyektif siswa dengan kegiatan refleksi
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

  3. Dini Arrum Putri
    S2 P Math A 2018

    Pembelajaran dapat berlangsung secara optimal jika guru mampu mengenalkan konsep-konsep matematika kepada siswa bukan hanya sekadar siswa menghafal konsep namun mengerti dan paham agar kemampuan procedural juga baik jika pemahaman konsepnya juga baik. Dalam hal ini guru perlu memfasilitasi siswa untuk membangun sendiri pengrtahuannya, sendiri disini artinya siswa dibantu guru, guru hanya membimbing, siswa yang mencari sendiri lewat media atau pendekatan yang diterapkan oleh guru. Oleh karenanya, optimalnya kegiatan belajar mengajarnya dilihat dari bagaimana interaksi antara guru dan siswa dan interaksi antar siswanya.

  4. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    PEP S3

    What should be remembered by us as teacher is facilitating low students in understanding the material. Sometime, we forget to give them more attention in learning process.

  5. Anggoro Yugo Pamungkas
    S2 Pend.Matematika B 2018

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Berdasarkan artikel diatas, hakikat siswa belajar matematika merupakan suatu proses seorang siswa dalam memahami arti dan hubungan-hubungan serta simbol-simbol dan logika kemudian diterapkanya ke dalam yang nyata sehingga setiap individu siswa akan optimal dalam mencapai tingkat kedewasaan dan dapat hidup sebagai anggota masyarakat. Belajar matematika juga merupakan proses memperoleh pengetahuan baru yang dilakukan siswa dengan dibangun dari pengalaman/pengetahuan siswa, yang sehingga belajar menjadi lebih bermakna.

  6. Sintha Sih Dewanti
    PPs S3 PEP UNY

    Menanggapi kalimat pada artikel ini “In term of emotional and psychological aspect, they are vulnerable and self-conscious, and often experience unpredictable mood swings. While in the case of moral, they are idealistic and want to have an impact on making the world a better place”, pendidikan atau pembinaan moral sangatlah penting bagi siswa. Tidak dapat dipungkiri bahwa anak sejak dini membutuhkan pembinaan moral, sikap dan perilaku agar nantinya tidak terseret arus yang menyesatkan perbuatan anak. Dengan pembinaan moral diharapkan anak nantinya dapat bersikap dan berperilaku yang bermoral, tidak hanya mengetahui norma-norma yang ada dalam masyarakat, tetapi juga pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari.

  7. Septia Ayu Pratiwi
    S2 Pendidikan Matematika 2018

    “Those who teach mathematics must take into account the great variations which exist between pupils both in their rate of learning and also in their level of attainment at any given age (Cockroft Report, 1982, para. 801).”
    Saya setuju dengan statement diatas, bahwa membelajarkan matematika kepada siswa harus mempertimbangkan variasi kemampuan dan tingkat usia siswa. Secara psikologis usia siswa sangat mempengaruhi pemahaman anak terhadap tingkat belajar matematika. Pemahaman anak usia 2 tahun akan berbeda dengan anak usia 4 tahun. Pada usia 2 tahun anak baru mengerti konsep-konsep matematika tanpa memahaminya, sedangkan pada usia 4 tahun anak mulai memahami konsep-konsep dasar matematika. Di smaping itu kemampuan siswa juga mempengaruhi cara dan frekuensi belajar siswa. Siswa yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata akan lebih cepat memahami penjelasan guru dibandingkan anak dengan kemampuan rata-rata atau bahkan dibawah rata-rata. Kemurnian belajar matematika siswa dapat dilihat dari intelegensi dan usia mereka supaya pembelajaran dapat dilakukan secara optimal.

  8. Amalia Nur Rachman
    S2 Pendidikan Matematika B UNY 2018

    Dalam upaya mengembangkan kemampuan dan keterampilan siswa dalam matematika secara optimal Guru harus paham dan mengerti mengenai karakteristik siswanya. Yang perlu diperhatikan oleh guru yang pertama terkait motivasi. Guru perlu memotivasi siswa agar siswa tertarik untuk belajar matematika dan menciptakan joyfull learning. Yang kedua, guru juga harus memahami bahwa setiap siswa belajar matematika dgn caranya sendiri. Ketiga, siswa mempelajari matematika baik secara mandiri maupun kelompok sehingga guru perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari sesuatu secara individu, adakalanya pula secara kelompok. Dan yang terakhir yaitu guru perlu melakukan inovasi dan variasi dalam proses pembelajaran yang berlangsung di kelas.

  9. Agnes Teresa Panjaitan
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Sebagai fasilitator, guru sebaiknya menfasilitasi siswa dengan berbagai keberagaman yang dimiliki, salah satunya adalah keberagaman kemampuan siswa dalam memahami materi yang diberikan. Adalah penting untuk menilai aspek kognitif siswa, tetapi perlu untuk diingat bahwa aspek kognitif dipengaruhi oleh motivasi yang ada dalam diri siswa. Salah satu motivasi yang seharusnya dapat ditumbukan oleh guru dalam proses pembelajaran. Salah satu caranya seperti yang dikemukakan oleh Ernest dengan adanya interaksi yang dapat mendorong siswa mengkonstruksi pengetahuannya dan merefleksi aktivitas pembelajaran siswa.

  10. Rosi Anista
    S2 Pendidikan Matematika B

    Pembelajaran di sekolah saat ini memang mengedepankan pada student center, dimana siswa langsung yang terlibat dalam penanaman dan penemuan suatu konsep materi. Guru berperan sebagai fasilitator untuk memberikan pelayanan dan kemudahan bagi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Namun, hal ini justru menjadikan tantangan bagi guru karena harus sangat menyiapkan rencana pembelajaran yang memang mengacu pada student center tersebut.

  11. Fabri Hidayatullah
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Berdasarkan postingan tersebut, siswa dapat belajar matematika melibatkan motivasi, kemampuan, intelektual, usaha siswa, kolaborasi, aktivitas pembelajaran, dan kesadaran siswa. Motivasi dan kesadaran merupakan faktor penting bagi siswa untuk mau belajar matematika. Siswa akan termotivasi dan memiliki rasa ingin tahu ketika mereka dihadapkan dan mampu menyelesaikan masalah yang menantang serta melibatkan proses berpikir yang kompleks. Kemampuan dan intelaktual juga turut mempengaruhi proses belajar siswa, semakin baik kemampuan dasar dan intelektualnya, semakin baik proses belajar yang terjadi. Selain itu, kesadaran dan kolaborasi yang diciptakan di dalam pembelajarn juga akan mempengaruhi keberhasilan siswa.

  12. Herlingga Putuwita Nanmumpuni
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Menurut Ernest (1995) upaya siswa untuk membangun pengetahuan objektif mereka tentang matematika melalui interaksi dengan orang lain sedemikian rupa sehingga mampu merekonstruksi pengetahuan subjektif dengan kegiatan refleksi. Kegiatan refleksi terdiri dari mewakili pengetahuan baru siswa tentang matematika, mempublikasikannya dan memeriksa. Sedangkan Ebbutt dan Straker (1995) menekankan bahwa sifat siswa yang belajar matematika terdiri dari motivasi siswa untuk belajar matematika, usaha atau keunikan siswa dalam belajar matematika, kemampuan siswa dalam melakukan kolaborasi dengan teman mereka dan belajar matematika melalui berbagai perbedaan konteks.

  13. Nur Afni
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    Menurut Ashley (1988) Guru perlu menganggap siswa sebagai pusat perhatian jika ketentuan guru untuk semua siswa tepat dan efektif. beberapa aspek pengajaran untuk kesesuaian bagi siswa mungkin untuk mencocokkan keadaan pengetahuan siswa, mengidentifikasi dan menanggapi kesulitan khusus yang dialami siswa, memperluas mengembangkan potensi siswa dalam matematika, memberikan beberapa kontinuitas mengajar dengan minat yang ditunjukkan dalam kemajuan, mengembangkan kesadaran akan diri mereka sebagai pelajar menggunakan guru sebagai sumber daya, dan memberikan umpan balik secara teratur tentang kemajuan. terimakasih

  14. Yoga Prasetya
    S2 Pendidikan Matematika UNY 2018 A
    Siswa memiliki gaya belajar matematika yang berbeda-beda. Tidak semua siswa mampu menerima ilmu dengan hanya mendengarkan, namun ada juga yang bisa mengerti dengan visual dan auditorial. Sebagai seorang guru harus mengenali gaya belajar siswa dalam belajar matematika. sehingga akan mempermudah guru untuk menyampaikan ilmu dan teori yang dibutuhkan siswa.