Feb 12, 2013

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 22: Apakah Mat Kontradiktif (Jawaban utk Prof Sutarto Bgn Kesatu)




Oleh Marsigit

Pertanyaan Prof Sutarto:

Bisakah kita menyebut matematikawan sbg kaum logicist-formalist-foundationost?
Apakah memang harus dibedakan mathematian math dan students math? Bgm menjembataninya?

Tanggapan saya (Marsigit):

Terimakasih Prof Sutarto. Untuk menjawab pertanyaan Bapak saya mengemukakan Tiga Kutub besar yaitu Mathematician, Philosopher, dan Educationist.

Bagi Mathematicians, "3+4=7" is a true statement without requiring a human mind to state the problem. Sementara the Philosophers assuming it as transcending from the context of the human mind. Dan tidak semua mathematicians would strictly agree with this.

Jika the Mathematicians just try to research maka the Philosopher try to reflect. Maka the philosophy of mathematics contains several viewpoints on this case. Sementara para Educationists sangat menaruh perhatian kepada apa yang terjadi pada diri siswa.

Pandangan tentang matematika dapat dibelah menjadi 2 (dua) saja. Pertama, memandang obyek matematika sebagai IDE dalam pikirannya (Absolutism-Idealism-Platonism); kedua memandang obyek matematika di luar pikirannya (Intuitionism-Realism-Aristotelianism).

Absolutism-Idealism-Platonism kemudian melahirkan Logicist-Formalist-Foundationlist. Sedangkan Realism-Relativism-Aristotelianism kemudian melahirkan Empiricism-Fallibism-SocioConstructivism. Yang saya sebut semua itu adalah masih dalam kategori sebagai the Philosophy yang menaungi baik Philosopher maupun Mathematician.

Matematika di Perguruan Tinggi pada umumnya adalah Pure Mathematics yang merupakan karya Logicist-Formalist-Foundationalist, khususnya adalah karya-karya Formalist Hilbert. Jadi hampir semua Matematikawan sekarang ini sebetulnya adalah kaum Hilbertianism.

Walaupun karya-karya Hilbert telah mendapat kritik dari muridnya sendiri Godel, tetapi karena the Mathematical System yang berhasil dibangun dianggap sebagai monumental, maka the followernya sangat membanggakannya seakan tidak ada matematika yang lainnya.

The Mathematical System yang dibangun oleh Logicist-Formalist-Foundationalist mempunyai sifat-sifat seperti yang disampaikan oleh saudari Kriswianti al bersifat abstrak, konsisten, ...dst. Dalam mana hal demikian telah dikritik oleh Intuitionist-Fallibist-SocioConstructivist sebagai MITOS belaka.

Bersambung..

1 comment:

  1. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Terdapat tiga kutub beras dalam mengenali seorang matematikawan, yaitu mathematician, philosopher, dan educationist. Matematician adalah matematikawan murni, contohnya 3+4=7 adalah jawaban benar. Sementara irtu philosopher mengemukakan jawaban yang relatif, 3+4=7 itu dapat merupakan pernyataan benar atau salah tergantung dari konteksnya. Sedangkan educationist lebih mementingkan cara agar 3+4=7 itu mampu dipahami oleh siswa bagaimanapun kondisinya.
    Jika matematiciant hanya mencoba untuk malakukan penelitian, maka philosopher mencoba untuk merefleksikannya. Sehingga philosopher dapat menemukan beberapa kesimpulan dari penelitian tersebut, tergantung ruang dan waktunya. Sedangkan educationist sangat menaruh perhatian kepada apa yang terjadi pada siswanya. Apakah mampu atau tidak menarik kesimpulan dala proses belajar. Dari ketiga hal ini saja telah terlihat bahwa matematika itu kontradiksi. Tetapi yang paling penting dalam kekontradiksian tersebut adalah berperilaku konsisten di bidangnya masing-masing. Matematiciant yang bersikap matematiciant, philosopher yang bersikap philosopher, dan educationist yang bersikap educationist.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete