Feb 12, 2013

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 23: Logicist-Formalist-Foundationalist (Jawaban utk Prof Sutarto Bgn kedua)




Oleh Marsigit

Prof Sutarto, dan yang lain

Jelaslah bahwa para Matematikawan kita di Perguruan Tinggi adalah Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist. Hal ini bisa dilihat dari Kurikulumnya, riset dan hasil-hasilnya serta pandangan-pandangannya.

Kalau ditambah gelar untuk para matematikawan kita maka lengkapnya adalah para Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist.

Setiap gelar tersebut telah menggambarkan karakteristiknya, dan mereka hidup di Dunia yang terbebas dari Ruang dan Waktu, terbebas dari Kontradiksi, terjamin Konsistensinya, tetapi terancam kedudukannya bukan sebagai Ilmuwan.

Mereka gagal bergaul dengan generasi muda sibelajar matematika secara substansi, tetapi unggul dalam bentuk formalnya. Tetapi mereka adalah harapan bagi pengembangan pure-mathematics ke depan.

Sementara Dunianya Ruang dan Waktu dihuni oleh para Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist, yang bergandengan tangandengan kaum Fallibist-Socio-Constructivist.

Mereka penuh dengan Kontradiksi, tidak Konsisten, bersifat relatif, mengerjakan matematika yang belum benar dan subyektif, tetapi terjamin kedudukannya sebagai Ilmuwan Sejati.

Ketika bergaul dengan siswa sibelajar matematika mereka menjelma menjadi Para Educationist seperti Realistics Mathematicist, Contextualist, Psycho-mathematicist, Psycho-therapist.

Bersambung...

77 comments:

  1. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Matematika mempersilakan kita untuk berpendapat terhadapnya, untuk menjadikan ia seperti dalam pikiran kita. Saat ini pejabat dalam bidang pendidikanyang membuat aturan untuk pendidikan di sekolah adalah para formalist perguruan tinggi. Banyak di antara mereka yang tidak berlatar belakang pendidikan, sehingga sangat berbahaya jika mereka membuat peraturan untuk para peserta didik di sekolah. Seringkali pemerintah yang membuat peraturan sistem pendidikan sesuai pandangan mereka tanpa memikirkan dari sudut pandang pendidikan itu sendiri. Misalnya wacana mengenai full day school, hal tersebut dapat terlaksana bagi sekolah-sekolah di tempat maju, namun bagi sekolah di pedalaman belum tentu cocok, karena pada daerah tertinggal banyak siswa yang harus membantu orang tua mereka sepulang sekolah. Bahkan tidka menutup kemungkinan mereka memilih untuk tidak sekolah jika benar adanya full day school, karena sekolah justru menghambat pekerjaan mereka membantu orang tua. Oleh karena itu akan lebih baik jika pemilihan pemerintah yang menangani dunia pendidikan adalah orang yang berasal dari dunia pendidikan dengan memikirkan psikologi anak. Sehingga membuat sistem yang sesuai dan tidak membingungkan bagi guru sebagai pelaksana pendidikan.

    ReplyDelete
  2. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Memang benar bahwa gelar menggambarkan karakteristiknya. Tetapi jika berbicara mengenai realita, ada juga orang yang memperoleh gelar banyak tetapi karakteristik pribadinya bisa dikatakan kurang baik. Mungkin memang ahli pada ilmu yang ditekuninya tetapi pada bidang lain kurang berkompeten. Dalam dunia dan ruang dan waktu ini ada banyak hal yang terjadi mulai dari yang kontradiksi atau pun yang konsisten. Semuanya menurut saya tergantung pada pilihan masing – masing mengikuti kaum yang mana (absolutist – platonist-logicist-formalist-foundationalist atau yang lainnya).

    ReplyDelete
  3. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Memang sebaiknya sebagai mahasiswa pendidikan khususnya matematika haruslah bisa menempakan diri dengan bijak kita berada pada tingkat yang mana. Ada saat dimana kita pada bagian pure mathematic, matematika yang kontradiktif. Namun jika sebagai guru kita harus berkembang dua arah baik dengan pengembangan pure mathematics dan educationist. Sebagai pembantu siswa dalam menyusun pengetahuannya, maka kita memang bisa menempatkan diri seperti itu.

    ReplyDelete
  4. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Para matematikawan di Perguruan Tinggi jelas merupakan Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist, atau bahkan Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist. Mereka terbebas dari Kontradiksi, terjamin Konsistensinya. Mereka unggul dalam bentuk formalnya, mereka harapan bagi pengembangan pure-mathematics ke depan, namun mereka gagal bergaul dengan generasi muda sibelajar matematika secara substansi. Sedangkan dunia Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist, yang bergandengan tangandengan kaum Fallibist-Socio-Constructivist, penuh dengan kontradiksi dan inkonsisten.

    ReplyDelete
  5. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Dari sisi pandangan filsafat mengenai keberadaan ruang dan waktu, maka terdapat dua kaum, yaitu para absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist dan para intuitionist-realist-aristotelianist-empiricist-relativist. Kaum yang pertama adalah mereka yang hidup di dunia yang terbebas dari ruang dan waktu, terbebas dari kontradiksi, terjamin konsistensinya,tetapi terancam kedudukannya bukan sebagai ilmuwan. Mereka gagal bergaul dengan generasi muda yang tengah belajar matematika secara subtansi, tetapi unggul dalam bentuk formalnya. Tetapi mereka adalah harapan bagi pengembangan pure-mathematics ke depan. sementara itu kaum yang kedua adalah mereka yang hidupnya dibatasi oleh ruang dan waktu. mereka penuh dengan kontradiksi, tidak konsisten, bersifat relatif, mengerjakan matematika yang belum benar dan subyektif, tetapi terjamin kedudukannya sebagai ilmuwan sejati. Mereka telah berhasil bergaul dengan siswa yang tengah belajar matematika. Ketika bergaul dengan siswa sibelajar matematika mereka menjelma menjadi para educationist seperti realistics mathematicist,contectualist, psycho-mathematicist, psycho-therapist. jadi terlihat sekali bahwa sangat berpengaruhnya pandangan mengenai ruang dan waktu dalam hubungan dengan siswa, yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu adalah matematicians sedangkan yang terbatas oleh ruang dan waktu adalah educationalist

    ReplyDelete
  6. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Artikel diatas saya sangat setuju dengan pendapat pak prof bahwa
    Kalau ditambah gelar untuk para matematikawan kita maka lengkapnya adalah para Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist.

    Setiap gelar tersebut telah menggambarkan karakteristiknya, dan mereka hidup di Dunia yang terbebas dari Ruang dan Waktu, terbebas dari Kontradiksi, terjamin Konsistensinya, tetapi terancam kedudukannya bukan sebagai Ilmuwan. Karena kaum Logicist-Formalist-Foundationalist kurang mahir dalam membelajarkan matematika khususnya matematika di SD karena mereka lebih mahir dalam matematika murni bukan dalam matematika pendidikan.

    ReplyDelete
  7. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Matematikawan yang merupakan ahli dalam matematika sangat konsisten. Namun ketika sang matematikawan dihadapkan dengan siswa, terkadang terjadi kesulitan dalam hal penyampaian. Siswa bisa membangun dan mengembangkan apa yang ada dipikirannya sesuai dengan dunia mereka sehingga keterkaitan ruang dan waktu mengikuti perkembangan tersebut. Dan itulah sebenarnya yang menjadi momok dalam matematika, pure mathematics tidak dikomunikasikan ke dalam bahasa siswa yang mudah memahinya dan tidak disampaikan secara nyata dan bentuk konkret.

    ReplyDelete
  8. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Matematika anak dan dewasa jelas memiliki perbedaan diantaranya digolongkan ke dalam tingkatan berpikir mereka, dimana anak masih berpikir secara konkrit, sedangkan matematika dewasa sudah berpikir ke tingkatan yang lebih tinggi yaitu abstrak. Anak tidak akan mampu berpikir secara abstrak karena konsep dasar mereka belum terbangun atau masih dalam taraf proses berkembang.

    ReplyDelete
  9. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Pandangan seseorang tentang ilmu nya pun ternyata dapat dinilai dari gelar yang disandangnya. Hal ini bisa dilihat dari Kurikulumnya, riset dan hasil-hasilnya serta pandangan-pandangannya, sehingga jelas terlihat bahwa pemikiran atau pengetahuannya tersebut terbebas oleh ruang dan waktu. Dengan sifat kekonsistenannya, tak kontradiksi ini maka mereka juga terancam keilmuwannya. Namun, jika kita membuka pengetahuan (falibilist) dengan berpikir ekstensi dan intensi maka kita akan menemukan matematika yang bergantung dari ruang dan waktu, dan inilah yang semakin terjamin keilmuannya.

    ReplyDelete
  10. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Pandangan logicist dan formalism lebih mengarah pada matematika untuk mahasiswa. Karena seorang mahasiswa penalarannya telah dapat ia gunakan dengan optimal. Hal yang abstrak sekalipun dapat dimengerti oleh seorang mahasiswa. Mahasiswa juga dapat menemukan bukti tentang yang abstrak dengan cara yang abstrak juga.
    Tetapi tidak hanya sampai pada batas itu saja, dengan mahasiswa yang bisa memberikan bukti dan menggunakan penalarannya hingga ke hal yang lebih kompleks permasalahannya. Maka hal ini dapat memungkinkan mereka menemukan suatu kontradiksi. Sehingga tetap bahwa matematika ada dua jenis pandangan di dalamnya yaitu abstrak dan obyeknya yang di luar pikiran.

    ReplyDelete
  11. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa orang yang mempelajari matematika di perguruan tinggi merupakan Logicist-Formalist-Foundationlist, atau lebih jelasnya matematikawan merupakan para Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist. Para sarjana terbebas dari ruang dan waktu, sarjana tersebut merupakan masa depan pure mathematics. Sendangkan jika sarjana berinteraksi dengan para siswa pembelajar matematika maka ia berubah menjadi pendidik.

    ReplyDelete
  12. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Telah disebutkan pada elegi sebelumnya jika logicist-foemlist-foundalist merupakan karya Formalist Hilbert yang menerapkan matematika di perguruan tinggi yang disebut dengan pure mathematics yang mempunyai sifat abstrak, konsisten dan lain sebagainya. Sehingga matematika yang berlandaskan logicist-foemlist-foundalist berbeda dengan matematika sekolah yang dimulai dengan pemberian masalah yang berkaitan dengan masalah kontekstual.

    ReplyDelete
  13. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPS P.Mat D

    Karakteristik para Matematikawan di Perguruan Tinggi adalah Kaum Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist terbebas ruang dan waktu terbebas dari Kontradiksi, terjamin Konsistensinya, tetapi terancam kedudukannya bukan sebagai Ilmuwan.
    Sedangkan karakteristik para Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist, yang bergandengan tangan dengan kaum Fallibist-Socio-Constructivist mereka penuh dengan Kontradiksi, tidak Konsisten, bersifat relatif, mengerjakan matematika yang belum benar dan subyektif, tetapi terjamin kedudukannya sebagai Ilmuwan Sejati

    ReplyDelete
  14. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Matematikawan atau bisa disebut guru yaitu ahli dalam matematika murni. Setiap matematikawan atau guru mempunyai gelar yang menggambarkan karakteristiknya, terbebas dari ruang dan waktu, terbebas dari kontradiksi, terjamin konsistensinya, tetapi terancam kedudukannya bukan sebagai ilmuwan. Ketika mereka menyatu dengan pembelajar atau siswa, mereka menjadi pendidik yang mendidik pembelajar atau siswa yang menjadi harapan berkembangnya matematika murni di masa depan, terikat oleh ruang dan waktu, tidak terbebas dari kontradiksi, tidak terjamin kontradiksinya, bersifat relatif, mengerjakan matematika yang tidak benar dan subyektif, terjamin kedudukannya sebagai ilmuwan sejati.

    ReplyDelete
  15. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Para matematikawan pengembang pure-mathematics sangat unggul bentuk formalnya, namun mereka sulit untuk berinteraksi dengan kaum muda yang notabenya sedang belajar matematika sekolah. Matematika di perguruan tinggi ini sangat konsisten karena terbebas dari ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  16. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Matematika memiliki tingkat kesukaran yang berbeda-beda di setiap jenjangnya. Maketmatika di perguruan tinggi bersifat Logicist-Formalist-Foundationalist yang berarti mengikuti kurikulum yang berlaku di setiap perguruan tinggi tersebut dimana proses berfikirnya bersifat formal dan harus dipertanggungjawabkan setiap argumen tesis yang diajukannya. Dengan pembentukan pertanggungjawaban yang diterapkan di bangku kulih sebagai harapan kelak jika berteori harus jelas asalnya dimana, sumbernya apa dan tujuan, dan sebagainya mesti diperjlas agar tidak menyebabkan paham ambigu bagi masyarakat.

    ReplyDelete
  17. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Mahasiswa lebih cenderung ke arah ke Logicist-Formalist-Foundationalist, namun sebagai calon pendidik kita harus bisa menjelma menjadi Realistics Mathematicist, Contextualist, Psycho-mathematicist, Psycho-therapist. Karena mereka para guru maupun calon guru perlu menyesuaikan dengan kemampuan dan karakter siswa, bukan memaksakan para siswa untuk mengikuti cara berpikir guru. Pola pikkir siswa ialah masih dalam tahap matematika konkrit yang berkaitan erat dengan kehidupan dan pengalaman siswa. Sehingga guru perlu menyajikan materi yang berhubungan dengan hal tersebut.

    ReplyDelete
  18. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Mengajar termasuk ke dalam bingkai kehidupan sosial yang di dalamnya terdapat kompleksitas interaksi baik bahasa, pikiran, pandangan, dan perasaan. Sehingga memang seharusnya ketika terjun ke dalam dunia pendidikan kita memperhatikan setiap aspek kompleksitas tadi. Mengajarkan matematika dalam bingkai pendidikan dan sosial tentunya kita harus lebih memperhatikan bingkainya. Ibarat di dalam kandang harimau mengaum, dikandang kambing mengembek. Sehingga matematika yang dibawa memang harus menyesuaikan ke dalam bingkai ini. Namun tidak selamanya semua hal harus menyesuaikan.

    ReplyDelete
  19. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Matematikawan di perguruan tinggi dapat disebut sebagai Logicist-formalis-fondasionalis. Hal tersebut karena mereka merupakan ahli dalam matematika murni. Matematika di perguruan tinggi ini sangat konsisten karena terbebas dari ruang dan waktu. Namun mereka sulit untuk berinteraksi dengan anak-anak yang notabennya sedang belajar matematika sekolah.

    ReplyDelete
  20. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Sementara intuisionist-realis-aristotelianist-empiricist-relativist, mereka penuh dengan kontradiksi, tidak konsisten, bersifat relatif. Akan tetapi dapat mengajarkan matematika kepada siswa dengan mengkaitkan bentuk-bentuk konkrit dan real saat pembelajaran.

    ReplyDelete
  21. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16
    Inilah alasan mengapa yang mengajar matematika haruslah dari lulusan pendidikan matematika, bukan matematika murni. Kita tidak memandang sebelah mata matematika murni, matematika murni juga mempunyai andil yang besar bagi ilmu pengetahuan. Namun memang ini adalah bidangnya pendidikan matematika. Jadi teramat sangat disayangkan jika penentu kebijakan pendidikan dipegang oleh orang diluar “pendidikan”

    ReplyDelete
  22. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dari elegi ini diketahui bahwa Kaum Logicist-Formalist_Foundationalist gagal bergaul dengan generasi muda secara substansi, akan tetapi mereka unggul dalam bentuk formalnya, dan mereka adalah harapan untuk pengembangan pure mathematics kedepan. Untuk kaum Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist, ruang dan waktunya penuh dengan kontradiksi, tidak konsisten, bersifat relatif, mengerjakan matematika yang belum benar dan subyektif, tetap terjamin kedudukannya sebagai ilmuwan sejati. mereka menerapkan matematika realistik kepada siswa.

    ReplyDelete
  23. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Matematika di sekolah dan matematika di perguruan tinggi sangat berbeda. Perbedaan ini dapat dilihat dari orangnya atau matematikawannya. Para matematikawan di perguruan tinggi adalah kaum logicist-formalist-foundationalist atau matematika murni. Sedangkan para matematikawan di sekolah kaum intuitionist-fallibist-socio-constructivist atau matematika pendidikan. Dalam hal ini yang dibahas lebih rinci adalah matematikawan di perguruan tinggi. Matematikawan yang rentan posisinya antara matematika murni dan matematika pendidikan.
    Matematikawan di perguruan tinggi terancam kedudukannya bukan sebagai ilmuwan jika kita sebut sebagai matematika murni, tetapi gagal bergaul dengan generasi muda sibelajar mmatematika jika kita sebut sebagai matematika pendidikan. Matematikawan di perguruan tinggi perlu melakukan perbaikan sehingga tidak terancam lagi kedudukannya. Caranya dengan merangkul matematikawan murni dan matematikawan pendidikan agar mampu bergaul di kedua bidang yang ada. Mampu berbaur dengan generasi muda sibelajar matematika dan juga mampu menjadi ilmuwan sejati.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  24. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Matematikawan adalah ahli matematika. Setiap orang dapat menjadi ahli mateatika asalkan orang tersebut dapat dan mau memahami tentang matematika dan dapat mengamalkan sifat matematika. Matematikawan kita di Perguruan Tinggi adalah Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist, yaitu dunia yang terbebas dari ruang dan waktu, terbebas dari kontradiksi, terjamin konsistensinya. Kaum ini perlu tidak boleh hanya mengandalkan keabstrakannya saja dalam mengajarkan matematika. Sedangkan ruang dan waktu dihuni oleh para Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist penuh dengan Kontradiksi, tidak Konsisten, dan bersifat relatif yaitu kaum yang cocok dalam memberi pengetahuan sacara realistik kepada siswa.

    ReplyDelete
  25. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini kami memahami bahwa senada dengan elegi sebelumnya yaitu sebagai mahasiswa yang mempelajari matematika selama perkuliahan, maka kami harus memandang matematika sebagai matematika dewasa/pure mathematics. Akan tetapi kami harus bisa membedakan kapan kami sebagai mahasiswa orang dewasa dalam memandang matematika dan kapan kami sebagai seorang pendidik yang membantu siswa untuk membangun pemahamannya dalam mepelajari matematika. Tentunya matematika dewasa dan matematika siswa (sekolah) berbeda cara pandangnya. Sebagai seorang pendidik kita sebaiknya memfasilitasi siswa dengan berbagai materi, aktivitas dan kegiatan yang akan membantu siswa dalam membangun pemahamannya secara optimal.

    ReplyDelete
  26. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas jawaban bagian kedua ini, sungguh bermanfaat bagi saya
    Melalui elegi ini saya semakin memperoleh tambahan ilmu bahwa matematika yang berkembang di perguruan tinggi adalah Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist. Tetapi saya kembali dibingungkan dengan keberadaan kehidupan kaum Logicist-Formalist-Foundationalist yang terbebas dari ruang dan waktu, terbebas dari kontradiksi, dan terjamin konsistensinya. Saya bertanya-tanya, kok kehidupan kaum Logicist-Formalist-Foundationalist tidak sejalan dengan kehidupan yang sebenar-benarnya yang terikat oleh ruang dan waktu. Tetapi pada elegi sebelumnya, sepertinya saya juga pernah membaca jika matematika dan filsafat berbeda. Mohon maaf, jika saya keliru. Mohon arahan dan bimbingannya.

    ReplyDelete
  27. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Pada elegi ini dipaparkan bahwa “setiap gelar para kaum logicist-formalist-foundationalist terancam kedudukannya bukan sebagai ilmuawan, mereka juga gagal bergaul dengan generasi muda sibelajar matematika secara substansi....”. Hal itu sama saja dengan mereka belajar tetapi hanya untuk dirinya sendiri, sedangkan sebenar-benar hidup adalah terjemah dan menterjemahkan, harus bisa menjelaskan hal sesulit apapun menjadi hal yang mudah dipahami kepada siapa pun. Terjemah dan menterjemahkan berlaku juga kan Pak dalam belajar matematika?. Karena kaum logicist-formalist-foundationalist juga gagal bergaul dengan generasi muda sibelajar matematika maka, mereka tidak mempunyai kesempatan untuk dapat mengembangkan ilmu-ilmunya, karena dengan terbiasa dan sering mneyemapikan kepada siswa lah ilmu akan berkembang dan terus berkembang.

    ReplyDelete
  28. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof

    Elegi ini mengingatkan kepada kita dan terutama kepada diri saya pribadi untuk lebih memahami keberadaan matematika dengan tidak terpaku pada satu prinsip saja seperti yang saya pahami selama ini.Namun lebih dari pada itu ada prinsip lain yang semestinya dipahami yaitu prinsip matematika yang tidak terbebas oleh ruang dan waktu .
    Selama ini matematika yang diterapkan di perguruan tinggi adalah matematika yang terbebas oleh ruang dan waktu atau yang disebut matematika Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist seperti yang dipaparkan pada elegi di atas.Agar dapat dikatakan ilmu alangkah lebih baiknya lagi jika di dalam pembelajaran matematika menggabungkan kedua unsur sebagaimana yang diingatkan dalam elegi ini dan elegi –elegi sebelumnya.

    ReplyDelete
  29. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Matematika untuk perguruan tinggi dengan matematika untuk sekolah sangatlah berbeda. Sebagai seorang pendidik, kita harus dapat memahami perbedaan tersebut dan sopan terhadap ruang dan waktunya. Maksudnya ialah dapat menempatkan matematika sesuai dengan ruang dan waktunya. Untuk matematika perguruan tinggi, matematika ialah bersifat abstrak, formal, konsisten, dan berlaku hukum identitas. Sedangkan untuk matematika sekolah adalah sebaliknya, yaitu bersifat konkret, tidak konsisten, dan berlaku hukum kontradiksi. Inilah yang disebut sebagai guru bijak atau guru cerdas.

    ReplyDelete
  30. Kartika Pramudita
    17701251021
    PEP B (S2)

    Menjadi ilmuwan matematika ternyata dihadapkan pada dua pilihan. Pilihan pertama ilmuwan yang mempertahankan kekonsistenan matematika, menganggap matematika di dalam pikiran, terbebas dari kontradiksi tetapi ancamannya adalah ilmuwan tersebut terancam kedudukannya sebagai ilmuwan. Ilmuwan tersebut yang akan mengembangkan matematika murni di masa depan. Atau menjadi ilmuwan matematika yang dekat dengan siswa, penuh dengan kontradiksi, tidak konsisten tetapi terjamin kedudukannya sebagai ilmuwan.

    ReplyDelete
  31. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.mat B 2017

    Assalamu'alaikum wr.wb

    Menurut hemat saya, mungkn itulah sebabnya matematika di perguruan tinggi di pecah menjadi dua bagian, yaitu matematika murni, dan matematika pendidikan (matematika sekolah). keduanya mempunyai fungsi dan tujuan masing-masing, yang bisa berguna di masa depan. matematika pendidikan mengkhususkan pada matematika yang ramah bagi siswa, sedangkan matematika murni mengkhususkan lebih ke bagian abstraknya yang terbebas dari ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  32. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Siswa adalah agent utama pengembang ilmu matematika di waktu yang akan datang. Siswa memiliki kemampuan yang terkadang di luar dugaan kita sebagai seorang guru. dan kemampuan siswa tersebut terkadang tidak selalu sama dengan pikiran para matematikawan yang sudah dituliskan dalam buku-buku. Siswa bisa membangun dan mengembangkan apa yang ada dipikirannya sesuai dengan dunia mereka sehingga keterkaitan ruang dan waktu mengikuti perkembangan tersebut. Pengalaman belajar itulah yang akan membawa siswa menjadi agent ilmuwan sejati.

    ReplyDelete
  33. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPs PM A

    Logicist-formalist-foundationalist atau intuitionalist-realist-aristotelianist-empiric-relative. Dua penganut yang berbeda, dua hal yang tak bisa di samakan namun keduanya adalah kesatuan yang saling berherarki. Tanpa kaum intuisitionalist tak ada cikal bakal kaum logicist-formalist-foundationalist, tanpa logicist-formalist-foundationalist kemajuan ilmu matematika sekolah akan terhambat. Membicarakan kedua hal ini menurut saya sepeti membicarakan sebuah pohon beringin besar dimana akar akar gantung mereka sampai menyentuh tanah. Pohon beringin ketika kita melihat akar dan batangnya saja tak akan menjadi sebuah pohon yang rindang. Tapi ketika kita hanya memandang dedaunannya maka tak akan menjadi elok karena tanpa batang maka daunya tak ada artinya. Akar pohon beringin yang menyentuh tanah ibaratkan ilmu dari kaum Logicist-formalist-foundationalist dimana mereka tak bersentuhan langsung Batang mereka namun sebenarnya mereka langsung bersentuhan denagn tanah atau disini saya analogikan subjek pendidikan matematika. Namun mereka memegang peran penting menyeimbangkan pohon. Begitu juga kaum intuitionalist-realist-aristotelianist-empiric-relative mereka adalah batang yang membuat pohon akan berdiri tegak.

    ReplyDelete
  34. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Dari ulasan bapak di atas, terdapat dua kubu matematikawan yaitu matematikawan di perguruan tinggi yang disebut dengan Kaum Absolutist- platonist-Logistic-Formalist-Foundationalist. Sedangkan matematikawan dengan dunia ruang dan wakru disebut dengan Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist. Keduanya memiliki peran masing-masing yang berbeda di bidangnya.

    ReplyDelete
  35. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Sangat indah sekali, bahwa matematika terbagi menjadi dua yakni matematika dari kaum Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist yang konsisten, tidak kontradiktif, obyektif, tidak terikat dengan ruang dan waktu dan kaum Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist yang penuh dengan kontradiksi, tidak konsisten, realtif, obyektif, terikat ruang dan waktu. Ketika keduanya digabungkan maka terbentuklah yang namanya pendidikan matematika, jadi pendidikan matematika itu terdiri dari matematika murni(Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist) yangmana ketika sudah diajarkan kepada siswa menjadi matematika yang Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist.

    ReplyDelete
  36. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Matematikawan kita di Perguruan Tinggi adalah Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist, yaitu dunia yang terbebas dari ruang dan waktu, terbebas dari kontradiksi, terjamin konsistensinya. Kaum ini perlu tidak boleh hanya mengandalkan keabstrakannya saja dalam mengajarkan matematika. Sedangkan ruang dan waktu dihuni oleh para Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist penuh dengan Kontradiksi, tidak Konsisten, dan bersifat relatif yaitu kaum yang cocok dalam memberi pengetahuan sacara realistik kepada siswa. Dalam pembelajaran matematika disana butuh penggabungan dari kedua paham yang ada, karena ilmu murni (matematika murni) belum dikatakan ilmu yang lengkap jika belum mampu diajarkankepada yang lain. jadi untuk pembelajaran matematika butuh adanya pembuktian dan pembelajaran yang baik dalam suatu kelas.

    ReplyDelete
  37. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Ahli matematika yang hidup di dunia yang terbebas ruang dan waktunya, ia akan terbebas dari kontradiksi-kontradiksi sehingga ia akan mampu menjelajah ilmu matematika untuk melahirkan teori-teori baru dalam matematika di masa depan. Namun golongan ini tidak cocok bergaul dengan generasi muda, siswa siswi yang baru belajar matematika dimana dunia mereka adalah dunia yang terikat ruang dan waktu

    ReplyDelete
  38. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Saya kembali mendapat pelajaran berharga, bagaimana kedudukan seseorang itu ternyata belum menentukan esensi diri. Semua hal di dunia ini memang terikat ruang dan waktu, termasuk kedudukan. Menjadi sarjana belum tentu menjadikan esensi seorang sarjana itu melekat dalam diri. Menjadi ilmuwan belum tentu esensinya telah sesuai sebagai seorang ilmuwan. Oleh karena itulah tak boleh kita bersombong diri. Karena setinggi apapun kedudukan kita, gelar kita, tak ada apa-apanya dibanding Tuhan yang memberikan kita kesempatan untuk memperoleh kedudukan dan gelar tersebut.

    ReplyDelete
  39. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015

    Pada dasarnya matematika itu berstruktur, pengetahuan siswa itu juga struktur, maka perlu disamakan struktur di dalam matematika dan struktur pada siswanya. Harus sesuai ruang dan waktunya. Karena jika tidak sesuai, siswa akan merasa kesulitan jika matematikanya strukturnya terlalu rumit bagi siswa, jika sebaliknya apabila struktur terlalu mudah, maka siswa akan cenderung menyepelekan. Maka dari itu, struktur matematika dari anak kecil sampai dewasa itu semakin lama semakin kompleks, maka dalam mengajarkan matematika harus disesuaikan dengan tingkat pemikiran siswa. Harus sesuai dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  40. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi ini saya menemukan bahwa matematika terbagi kedalam dua bagian dengan peran dan fungsinyan masing-masing. Bagian pertama yaitu mereka yang terbebas dari ruang dan waktu, konsisten, dan terbebas dari kontradiksi. Mereka inilah yang disebut sebagai kaum Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist. Sementara itu bagian lainnya memandang matematika yang terikat dengan ruang dan waktu, penuh kontradiktif, bersifat relatif dan tidak konsisten. Kelompok ini disebut dengan kaum Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist.

    ReplyDelete
  41. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Cara memandang matematika dari logicist dan para intuitonist itu berbeda. Bahwa para logicits memandang matematika itu konsisten, dan terbebebas dari ruang dan waktu, serta terbebas dari kontradiksi. Sehingga matematika yang mereka yaitu itu konsisten. Sedangkan pihak yang lainnya bersifat relatif, kontradiktif dan tidak konsisten.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  42. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Memahami elegi ini dari elegi sebelumnya, merupakan hal yang berkesan bagi saya. Terlebih saya pernah menuntut ilmu s1 pendidikan matematika. Namun saya tidak cukup tau, yang dimaksud matematikawan di perguruan tinggi apakah para dosen matematika murni atau termasuk juga dosen pendidikan matematika. Apabila Matematikawan kita di Perguruan Tinggi adalah Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist, maka mereka hidup di Dunia yang terbebas dari Ruang dan Waktu, terbebas dari Kontradiksi, terjamin Konsistensinya, tetapi terancam kedudukannya bukan sebagai Ilmuwan. Apakah kami yang menajdi mahasiswa pun juga demikian karena terlalu ingin menjadi bayang-bayang mereka? Semoga bapak bisa lebih menjelaskannya di kelas. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  43. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Dari elegi ini, saya takut akan termakan paramitos. Karena, saya menganggap diri saya terbebas dalam dari ruang dan waktu sehingga saya hanya menganggap matematika itu selalu konsisten. Tetapi dengan membaca beberapa elegi mengenai kontradiktif, membuat saya sadar bahwa yang konsisten hanyalah Allah. dan matematika itu ada yang kontradiktif. Semoga saya tetap terjaga dari perasaan sombong agar bisa memperoleh ilmu dari elegi elegi selanjutnya.

    ReplyDelete
  44. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Ilmuwan (mathematican) dan siswa merupakan subyek yang berbeda. Namun keduanya sama-sama mempelajari matematika. Pandangan logicist-Formalist-Foundationalist menggambarkan matematika yang terbebas dari ruang dan waktu, terbebas dari kontradiksi, terjamin konsistensiya. Namun, tidak adanya perubahan dalam perkembangan matematika sehingga dapat terancam posisi sebagai ilmuwan. Sedangkan pndangan Fallibist-Socio-Constructivist yang terdiri dari oara educationist memiliki sifat kontradiksi dan selalu berubah, tidak konsisiten, relative. Oleh karana itu, Fallibist-Socio-Constructivist yang memiliki sifat berubah ini menyebabkan perkembangan dalam ilmunya sehingga malah dekat dengan ilmuwan. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  45. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Dalam elegi ini sepertinya terdapat dua sisi matematika yang berbeda. Ada matematikawan murni dan ada matematikanya educationist. Matematikawan murni lebih mengedepankan logis, formal, dan formalis, sedangkan educationist mengedepankan prinsik realistik, kontekstual. Prinsip-prinsip yang dipegang oleh keduanya tidak ada yang salah, karena keduanya memiliki kontribusi dalam pengembangan ilmu-ilmu matematika selanjutnya.

    ReplyDelete
  46. Terimakasih karena berbagi pejelasannya kepada Prof Sutarto kepada kami, seorang pendidik yang baik yang sering bergaul dengan siswa sekolah sudah seharusnya mengiktui alur pemikiran mereka, masuk ke dalam ruang dan waktu mereka, jika pendidik atau guru mampu untuk membangun hubungan dengan generasi muda, maka mereka akan dapat menjadi generasi matematikawan generasi penerus selanjutnya yang masuk menjadi limuwan kaum logic-formalis-fondationalis.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  47. Junianto
    17709251065
    PM C

    Salah satu ciri matematika kaum Logicist-Formalist-Foundationalist adalah bahwa matematika terbebas oelh ruang dan waktu. Di perguruan tinggi memang tidka bisa dipungkiri adanya hal ini, karena memang pure mathematics sebagian besar bersifat demikian. Maka dari itu, jika kaum ini terjun mengajar anak-anak sebagai educationist maka ditakutkan akan terjadi gap yang mengakibatkan siswa sekolah dasar dan menengah menjadi tidak paham karena mereka masih membawa pure mathematics. Maka dari itu, perlu adanya keseimbangan antara keduanya dan disesuaikan dengan peran masing-masing ilmuwan.

    ReplyDelete
  48. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Dalam dunia school math dibutuhkan matematika yang menjelma menjadi Para Educationist seperti Realistics Mathematicist, Contextualist, Psycho-mathematicist, Psycho-therapist. Yang kedepannya mampu membawa matematika dalam diri siswa, sehingga mampu mengembangkan intuisi dan gagasan/ide yang bagus untuk kemajuan ilmu ini. Berupaya menjadi yang demikian tidak ada salahnya juga.

    ReplyDelete
  49. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Pada elegi ini, saya lebih ingin memberikan jawaban yang saya pahami dari soal nomer dua dari prof sutarto yaitu apakah memang harus dibedakan matematsian math dan student math? Disini, menurut saya membedakan keduanya itu tidak harus, namun yang dibedakan disini hanyalah perlakuannya yang diberikan. Jika kita berbicara, nantinya murid yang belajar matematika juga bisa menjadi matematikawan murni yang bermadzhab Logicist-formalist-foundationalist. Jadi, perbedaan antar personal itu sesungguhnya tidaklah diperlukan, namun hanya perbedaan dalam memberikan perlakuan yang ada.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  50. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Kaum Logicist-Formalist-Foundationalis yang notabene para Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist.yang hidup di Dunia yang terbebas dari Ruang dan Waktu, terbebas dari Kontradiksi, terjamin Konsistensinya, harus tetap saling berkomunikasi dengan kaum Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist, dan kaum Fallibist-Socio-Constructivist yang penuh dengan Kontradiksi, tidak Konsisten, bersifat relatif, mengerjakan matematika yang belum benar dan subyektif. Semuanya itu agar matematika dapat terus berjalan dengan baik.

    ReplyDelete
  51. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Jadi menurut saya matematika sekolah yang dianut para edicationalist seperti Realistics Mathematicist, Contextualist, Psycho-mathematicist, Psycho-therapist berada di antara dua kelompok. Educationalist berada diantara kelompok 1 (Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist) dan Kelompok 2 (Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist). Educationalist menjadi jembatan antara matematika murni (abstrak) dan matematika kongkret (pengalaman).

    ReplyDelete
  52. Pratama Wahyu Purnama
    17709251033

    Dunia matematika para logicist, formalist, foundalist itu berbeda dengan dunia matematikanya para realist, intuist. Dunia matematika para logicist dan teman temannya merupakan dunia pure math dimana itu sangat berguna untuk masa depan matematika. Namun dunia tersebut tidak cocok untuk pembelajar matematika muda dimana mereka lebih membutuhkan dunia yang realist, serta tidak konsisten. Dunia yang disukai pembelajar muda adalah dunia yang terikat oleh ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  53. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PMC

    Matematika murni dan matematika sekolah merupakan dua hal yang sama-sama penting. Matematika murni yaitu matematika milik kaum Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist merupakan harapan untuk pengembangan pure- mathematics kedepannya. Sedangkan kaum Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist yang bergandengan tangan dengan kaum Fallibist-Socio-Constructivist merupakan harapan untuk membangun generasi yang dekat dengan matematika. Maka kita harus menyadari peran masing-masing agar jangan sampai terbalik dalam menggunakan matematika murni dan matematika sekolah.

    ReplyDelete
  54. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist lebih unggul dalam bentuk formal matematika tetapi gagal bergaul dengan generasi muda si belajar matematika secara substansi. Sedangkan Educationist lebih unggul dalam bergaul dengan generasi muda yang belajar matematika secara substansi tetapi gagal dalam bentuk formal matematika. Sebagai calon pendidik hendaknya memahami karakteristik dari peserta didik sehingga bisa menentukan model pembelajaran, strategi pembelajaran dan mengerti apa yang dibutuhkan perserta didik.

    ReplyDelete
  55. Pada pembelajaran di sekolah perlu kontradiktif untuk membuktikan suatu kebenaran akan suatu hal. Matematika sekolah yang didalamnya sangat diperhatikan mengenai proses dan prosedural pembelajaran untuk minat dan pemahaman siswa dengan melibatkan realis (nyata) atau pengalaman dalam pembelajaran.

    ReplyDelete
  56. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Dalam menerjemahkan matematika sebagai Logicist-Formalist-Foundationalist atau Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist disesuaikan dengan tingkatan pendidikannya. Saat ingin menjadi kawan dari siswa sebaiknya guru menggunakan Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist karena hal ini memang yang cocok dengan siswa. Namun saat siswa dihadapkan pada Logicist-Formalist-Foundationalist, mereka akan sulit untuk berkawn dengan gurunya apalagi dengan matematika. Mereka akan terus menganggap matematika pelajaran yang sulit, karena memang Logicist-Formalist-Foundationalist tidak sesuai dengan matematika sekolah.

    ReplyDelete
  57. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Elegi ini menggambarkan bahwa kaum Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist yang hidup di dunia yang terbebas dari Ruang dan Waktu, terbebas dari Kontradiksi, terjamin Konsistensinya, tetapi terancam kedudukannya bukan sebagai Ilmuwan. Mereka tidak setuju bahwa matematika juga terikat oleh ruang dan waktu. Matematika bukanlah ilmu yang mutlak atau pun idela seperti pandangan mereka.

    ReplyDelete
  58. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Ditingkat Universitas kami memberikan julukan sebagai Logicist-Formalist-Foundationalist. Meraka adalah para ahli dalam matematika murni. Mereka cenderung lebih bebas dengan hal yang berkaitan mengenai ruang dan waktu,konsisten,menghindari kontradiksi, tetapi mengancam posisi sebagai seorang ilmuwan. Sementara matematikawan Intuitionist-realis-Aristotelianist-empiricists-Relativist, mereka penuh dengan kontradiksi,inkosistensi namun mereka adalah ilmuwan yang sebenarnya.

    ReplyDelete
  59. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Dari elegi ini diketahui bahwa Kaum Logicist-Formalist_Foundationalist gagal bergaul dengan generasi muda secara substansi, akan tetapi mereka unggul dalam bentuk formalnya, dan mereka adalah harapan untuk pengembangan pure mathematics kedepan. Untuk kaum Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist, ruang dan waktunya penuh dengan kontradiksi, tidak konsisten, bersifat relatif, mengerjakan matematika yang belum benar dan subyektif, tetap terjamin kedudukannya sebagai ilmuwan sejati. mereka menerapkan matematika realistik kepada siswa

    ReplyDelete
  60. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017
    Dari pengalaman yang saya punya terkadang orang yang berasal dari jurusan ilmu murni menggampangkan ilmu pendidikan. Mereka berpikir bahwa mengajar itu mudah karena yang terpenting adalah menguasai materi. Sehingga ilmu pendidikan dianggap sebelah mata, padalah ini crucial. Seperti yang bapak gambarkan di elegi ini bahwasanya orang yang tidak paham seharusnya tidak ikut-ikutan mnegambil kebijakan. Allah telah menjelaskan di dalam Al-quran bahwa pekerjaan yang tidak dipegang oleh ahlinya akan menimbulkan kerusakan. Saya berdoa semoga pemimpin-pemimpin seperti itu cepat sadar diri.

    ReplyDelete
  61. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Peserta didik merupakan agen utama pengembang ilmu matematika di waktu yang akan datang. Peserta didik memiliki kemampuan yang terkadang di luar dugaan kita sebagai seorang guru dimana kemampuan tersebut terkadang tidak selalu sama dengan pikiran para matematikawan yang sudah dituliskan dalam buku-buku. Sebagai guru, kita bisa memfasilitasi peserta didik agar bisa membangun dan mengembangkan apa yang ada dipikirannya sesuai dengan dunia mereka sehingga keterkaitan ruang dan waktu mengikuti perkembangan tersebut.

    ReplyDelete
  62. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Pengalaman belajar matematika (Mathematics Experience) yang akan membawa pesera didik menjadi ilmuwan ataupun para pendidik matematika.
    Jika pure mathematics tidak dikomunikasikan ke dalam bahasa pesera didik dan tidak disampaikan secara riil dan kontekstual maka selamanya matematika akan dianggap sesuatu yang membebani oleh pesera didik. Matematika dalah bahasa, dimana setiap orang bisa mempelajarinya. Melalui komunikasi yang membangun, maka matematika akan menjadi pelajaran yang menyenangkan bagi pesera didik.

    ReplyDelete
  63. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Jika seorang matematikawan mempunyai gelar para Absolutis-Platonis-Logisis-Formalis-Foundationalis maka berarti seorang ilmuwan hanya cerdas bagi dirinya sendiri. Hal tersebut berarti tidaklah akan lebih seorang ilmuwan dalam memiliki ilmunya, padahal seharusnya amalkan ilmu sebanyak-banyaknya walaupun hanya seayat yang kau miliki". Hal demikian dikandung maksud setiap orang wajib memiliki peserta didik sebagai pengamal ilmu-ilmunya atau teman seperjuangan yang dapat saling mengisi atau membangun ilmu-ilmu tersebut serta para guru yang berfungsi untuk memfasilitasi ilmu dan pengetahuan.

    ReplyDelete
  64. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Meskipun siswa lebih cenderung ke arah ke Logicist-formalist-fondasionalist, tetapi sebagai calon pendidik kita harus merubahnya ke arah realistics Mathematics, kontekstualis, Psycho-mathematics, Psycho-therapist agar matematika yang dapat diterima dengan mudah oleh siswa. Itulah tantangan yang dapat dikatakan untuk berat seorang pendidik

    ReplyDelete
  65. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Melirik pendidikan Indonesia, banyak guru yang juga bagian dari Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist sehingga gagal bergaul dengan siswanya. Guru yang seperti ini tidak mempertimbangkan perbedaan pola pikir siswanya. Mereka mengajar seakan tingkat pemikiran siswa dan guru sama. Seakan hanya menggugurkan kewajiban, materi pembelajaran disampai secara sepihak tanpa adanya interaksi positif antara guru dan subyek didik. Maka tidak heran apabila siswa gagal memperoleh pemahaman.

    ReplyDelete

  66. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Pure mathematics adalah matematika formal yang dipelajari pada perguruan tinggi.Banyak ahal abstrak yang kita temui pada pure mathematics. Oleh karena itu pure mathematics tidak akan bisa bergaul dengan siswa yang memperlajari substansi dari matematika dan muncullah school mathematics yang yang disesuaikan dengan ruang dan waktu siswa. School mathematics sendiri seiring dengan perkembangan kognitif anak, maka akan menuju pure mathemtics yaitu pada tingkat perguruan tinggi. School mathematics membawa siswa melihat matematika yang kongkrit, kemudian secara perlahan diajarkan untuk mengenal matematika yang abstrak.

    ReplyDelete
  67. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas

    Dari elegi ini terlihat jarak besar yang muncul antara matematika murni dan pendidikan matematika. Bahkan ruang dan waktu antara keduanya jelas kontradiksi. Matematika murni menghuni dunia yang terbebas dari ruang dan waktu sedangkan pendidikan matematika menghuni dunia ruang dan waktu. Hal inilah yang menyebabkan tidak adanya titik temu antara keduanya, dikarenakan keduanya berjalan pada lintasan yang berbeda namun sama-sama berada pada lintasan matematika.

    ReplyDelete
  68. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa orang yang mempelajari matematika di perguruan tinggi merupakan Logicist-Formalist-Foundationlist, atau lebih jelasnya matematikawan merupakan para Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist. Para sarjana terbebas dari ruang dan waktu, sarjana tersebut merupakan masa depan pure mathematics. Sendangkan jika sarjana berinteraksi dengan para siswa pembelajar matematika maka ia berubah menjadi pendidik.

    ReplyDelete
  69. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Di perguruan tinggi mahasiswa pendidikan matematika dididik untuk menjadi calon guru yang baik namun di sisi lain, seorang calon guru matematika harus menguasai matematika juga, tidak hanya ilmu kependidikan sehingga selain belajar menjadi educationist juga belajar mengenai pure mathematics. yang terpenting baik pure mathematician maupun pendidik matematika terus mengembangkan kompetensinya sesuai dengan ranahnya masing-masing.

    ReplyDelete
  70. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Pada elegi ini ditegaskan bahwa para ilmuan merpuakan kaum logicist-Formalist-Foundationalist. Para ilmuan gagal bergaul dengan generasi muda karena mereka tidak menggunakan pendekatan yang seharusnya digunakan untuk generasi muda. Mereka terpaku dengan pendekatan yang dilakukan kepada sesama ilmuwan. Maka tak ayal banyak generasi muda yang tidak menyukai matematika karena ke abstrakannya.

    ReplyDelete
  71. Muhammad Sabri
    17701251
    S2 PEP B

    Matematika perguruan tinggi membentuk dua tipe sarjana matematika, ada yang menjadi pendidik matematika, yaitu lulusan dari perguruan tinggi keguruan dan ada yang menjadi matematikawan murni, yaitu lulusan perguruan tinggi non keguruan. namun kondisi perguruan tinggi di indonesia baik keguruan dan non keguruan, cendrung mengahsikan matematikawan Logicist-Formalist-Foundationalist. yang semestinya itu dihasilkan dari perguruan tinggi non keguruan atau matematika murni.

    ReplyDelete
  72. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Mathematicians in university can we give the title as Logicist-Formalist-Foundationalist. They are experts in pure mathematics. They tend to be free of space and time, consistent, avoid the contradiction, but threatened his position as a scientist. While Intuitionist-Realist-Aristotelianist-empiricists-Relativist mathematicians, they are full of contradictions, inconsistencies, but they are a true scientist. They are very concerned about how the students in learning.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  73. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    While Intuitionist-Realist-Aristotelianist-empiricists-Relativist mathematicians, they are full of contradictions, inconsistencies, but they are a true scientist. They are very concerned about how the students in learning. Because in their view it was students who learn mathematics and they are just as helpers, mentors, facilitators, and much more. Their success is their students who learn in meaningful learning.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  74. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Pendidik yang baik itu selain yang inovatif juga yang dekat dengan siswa. Memang dibenarkan pendidik yang baik itu pendidik yang memahami pengetahuan dengan baik, namun apabila teori mengenai materi baik namun tidak dekat dengan siswa maka ilmunya sia-sia saja, karena siswa tidak dapat menerima apa yang dijelaskan oleh gurunya.Guru yang dekat dengan siswa itu maksudnya adalah guru yang mengetahui kebutuhan belajar siswa itu apa.

    ReplyDelete
  75. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Membaca elegi ini memberikan tanda tanya besar dan mengisihkan rauang bagi kita untuk mempelajari lagi mengenai istiah-istilah dalam filsafat. Tanpa pemahaman bahasa kita tidak akan sampai pada pemahaman isi. Sehingga seorang guru harus mengusahakan penyampaian matematika dengan bahasa yang baik, yang mudah dipelajari dan mudah dipahami oleh siswa. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  76. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Pada postingan sebelumnya telah dibahas bahwa pure mathematics tidak bisa dijalankan di sekolah. Para pure mathematicians yang terbebas dari ruang dan waktu tentu berbeda dengan peran guru sebagai seorang mathematical educationist. Sehingga menurut saya tidak masalah jika tetap ada pure mathematicians selama tidak memasuki zona matematika sekolah.

    ReplyDelete
  77. Tri Wahyu Nurjanah
    15301241010
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    UU No. 20 tahun 2003 pasal 3 menyatakan bahwa sistem pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis, dan bertanggungjawab. Tujuan tersebut memberikan makna bahwa belajar adalah untuk menyejahterakan hidup manusia, jika yang sudah dipelajari di sekolah belum bisa dimanfaatkan, terkhusus dalam belajar matematika, berarti tujuan dengan proses belum sejalan. Hal tersebut mungkin terjadi diakibatkan cara pembelajaran yang salah karena menjadikan matematika konsistensi yang tidak terikat oleh ruang dan waktu.

    ReplyDelete