Feb 12, 2013

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 23: Logicist-Formalist-Foundationalist (Jawaban utk Prof Sutarto Bgn kedua)




Oleh Marsigit

Prof Sutarto, dan yang lain

Jelaslah bahwa para Matematikawan kita di Perguruan Tinggi adalah Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist. Hal ini bisa dilihat dari Kurikulumnya, riset dan hasil-hasilnya serta pandangan-pandangannya.

Kalau ditambah gelar untuk para matematikawan kita maka lengkapnya adalah para Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist.

Setiap gelar tersebut telah menggambarkan karakteristiknya, dan mereka hidup di Dunia yang terbebas dari Ruang dan Waktu, terbebas dari Kontradiksi, terjamin Konsistensinya, tetapi terancam kedudukannya bukan sebagai Ilmuwan.

Mereka gagal bergaul dengan generasi muda sibelajar matematika secara substansi, tetapi unggul dalam bentuk formalnya. Tetapi mereka adalah harapan bagi pengembangan pure-mathematics ke depan.

Sementara Dunianya Ruang dan Waktu dihuni oleh para Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist, yang bergandengan tangandengan kaum Fallibist-Socio-Constructivist.

Mereka penuh dengan Kontradiksi, tidak Konsisten, bersifat relatif, mengerjakan matematika yang belum benar dan subyektif, tetapi terjamin kedudukannya sebagai Ilmuwan Sejati.

Ketika bergaul dengan siswa sibelajar matematika mereka menjelma menjadi Para Educationist seperti Realistics Mathematicist, Contextualist, Psycho-mathematicist, Psycho-therapist.

Bersambung...

41 comments:

  1. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Pada Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 20: Apkh Mat Kontradiktif? Dibahas tentang pure mathematics dan matematika sekolah. Pure mathematics sendiri tidak dapat dijalankan disekolah. Para pure mathematicians yang terbebas dari ruang dan waktu berbeda dengan peran guru sebagai mathematical educationst yang tidak terbebas dari ruang dan waktu. Menurut saya tidak masalah jika ada pure mathematicians selama pure mathematicians tidak masuk kedalam matematika sekolah. Matematika sekolah menekankan pada psikologi siswa, karena siswa masih bisa berkembang lebih.

    ReplyDelete
  2. Matematika untuk siswa SD dan SMP yang diajar oleh guru-guru yang dihasilkan oleh logicism-formalist-foundationalist akan lebih mementingkan adalah materi matematika. Siswa yang harus mengikuti pemikiran gurunya. Siswa-siswa yang berbakat mungkin bisa bagaimana dengan siswa lainnya. Guru matematika harus menjadikan siswa sebagai subyek belajar bukan obyek belajar.

    ReplyDelete
  3. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Segala sesuatu pasti ada porsinya masing-masing. Tidaklah tepat jika pure mathematics merupakan matematika yang diberikan kepada siswa yang masih dalam tahap membangun dasar pengetahuan matematikanya. Matematika untuk siswa dapat berupa realistics mathematicist, contextualist, psycho-mathematicist, psycho-therapist. Matematika sekolah adalah milik anak-anak. Hal ini sesuai dengan yang didefinisikan oleh Ebbutt dan Straker, A. (1995) tentang matematika sekolah, yang kemudian dikenal sebagai hakekat matematika sekolah yaitu matematika sekolah adalah kegiatan penelusuran pola atau hubungan, kegiatan problem solving, kegiatan investigasi, kegiatan untuk berkreatifitas yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan, serta kegiatan untuk mengkomunikasikan informasi atau ide. Terutama matematika untuk siswa SD, mereka mengkonstruksi pengetahuannya berangsur-angsur dari konkrit hingga abstrak, serta menggunakan matematisasi vertikal dan matematisasi horizontal.

    ReplyDelete
  4. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Matematikawan di Perguruan Tinggi adalah Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist yang terbebas dari Ruang dan Waktu, terbebas dari Kontradiksi, terjamin Konsistensinya, tetapi terancam kedudukannya bukan sebagai Ilmuwan. Para Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist akan sulit bergaul dengan generasi muda sibelajar matematika secara substansi, tetapi unggul dalam bentuk formalnya. Sehingga dapat dikatakan kaum Logicist-Formalist-Foundationalist kurang mahir dalam membelajarkan matematika khususnya matematika di SD karena mereka lebih mahir dalam matematika murni bukan dalam matematika pendidikan.

    ReplyDelete
  5. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Matetikawan yang ada di perguruan tinggi adalah jelas kaum Logicist-Formalist-Foundationalist, karena Hal ini bisa dilihat dari Kurikulumnya, riset dan hasil-hasilnya serta pandangan-pandangannya. Matematika perguruan tinggi sudah mengarah pada keilmuan matematika itu sendiri dengan pengarahan dan analisis matematika. Maksudnya bahwa informasi matematika yang diberikan atau mengadakan informasi matematika yang mungkin ada pada mahasiswa melalui interaksi pemikiran dan diikat oleh bentuk formal dari pembelajar, dan hal ini dikatakan wajar dengan beranggapan bahwa mahasiswa sudah mampu memikirkan atau mengolah informasi yang bersifat abstrak dan kompleks. Beda halnya dengan matematika sekolah yang di dalamnya sangat diperhatikan mengenai proses dan prosedural pembelajaran untuk minat dan pemahaman siswa dengan melibatkan realis (nyata) atau pengalaman dalam pembelajaran.

    ReplyDelete
  6. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Pendapat mengenai matematika benar atau tidak tergantung dari sudut pandang masing-masing orang. Sedangkan sudut pandang tiap-tiap orang tergantung tempat mereka bergaul. Dan inilah yang disebut ground. Jika seseorang merupakan matematikawan murni yang terus melakukan penelitian matematika pada tingkat perguruan tinggi, mereka akan menganggap bahwa matematika memang hanya seputar sambil, bilangan dan sebagainya. Namun lain halnya misal praktisi pendidikan yang selalu berusaha memadukan antara matematika dan dunia anak. Sehingga mereka berpendapat bahwa matematika yang baik adalah matematika yang aplikatif dan dapat diperagakan atau membuat alat media dalam menyampaikannya.

    ReplyDelete
  7. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Pure mathematics adalah matematika formal yang dipelajari pada perguruan tinggi. Banyak ahal abstrak yang kita temui pada pure mathematics. Oleh karena itu pure mathematics tidak akan bisa bergaul dengan siswa yang memperlajari substansi dari matematika dan muncullah school mathematics yang yang disesuaikan dengan ruang dan waktu siswa.
    Ada beberapa hal yang menjadi dampak dari pendapat tentang Pure mathematics dalam sebuah praktek pembelajaran school mathematics. Pertama, matematika dipandang sebagai ilmu yang dinamis, karena matematika mengarahkan kepada penemuan manusia. Matematika bukan lah selesai pada hasil semata, tetapi dapat terbuka untuk direvisi (pandangan pemecahan berbasis masalah/Problem solving). Kedua, matematika dipandang sebagai suatu kesatuan yang satis dari sebuah pengetahuan, yang sudah memiliki struktur dan kebenaran. Matematika adalah monolit, prodauk dari statis, penemuan, bukan diciptakan (Pandangan Platonis). Ketiga, matematika dipandang sebagai kumpulan ilmu yang berguna terkait dengan akumulasi fakta, aturan dan keterampilan (Pandangan instrumentalis).
    Nantinya pandangan-pandangan inilah yang nantinya akan mempengaruhi guru dalam mengajarkan matematika didalam kelas. Sehingga makanya pendekatan pembelajaran yang digunakan masing-masing guru itu berbeda-beda, karena memang hal tersebut dipengeruhi oleh keyakinan tentang pandangan guru terhadap matematika.

    ReplyDelete
  8. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Jika seorang matematikawan mempunyai gelar para Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist maka berarti seorang ilmuwan yang hanya memiliki ilmu dan menggunakannya untuk dirinya sendiri saja. Hal seperti itu tidaklah dalat disebut seorang ilmuwan dalam memiliki ilmunya.

    ReplyDelete
  9. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    apa yang dipelajari oleh masing-masing kita sebenarnya kembali kepada matematika secara keseluruhan. tetapi apa yang kita pelajari membuat kita berbeda. karena ada karakteristik tertentu yang tidak dimiliki oleh bidang lain. peranan yang kita mainkan pun sesuai dengan kadar kemampuan kita. sebagaimana dosen, mahasiswa dan pelajar. mereka terbagai berdasarkan ruang dan waktu yang berbeda pula.

    ReplyDelete
  10. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Ilmuwan adalah orang yang mengembangkan ilmunya. Sehingga dalam hal ini selalu bergerak maju serta selalu mencari kebenaran-kebenaran. Logicist-Formalist-Foundationalist dengan matematikanya yang konsisten, abstrak dll serasa memiliki keajegan atau dlam hal ini tak ada yang berubah. Hal ini bisa menyebabkan tidak ada sifat-sifat yang ada untuk bisa disebut ilmuwan.

    ReplyDelete
  11. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  12. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Sementara para educionist mempunyai sifat yang kontradiksi, selalu berubah. Namun dari perubahan-perubahan menyebabkan tejadinya perkembangan dalam ilmunya. Sifat ini sangat dekat dengan ilmuwan.
    Namun ada pertanyaan besar yaitu untuk siapa kaum Logicit-Formalist-Foundationalis?dan untuk siapa para Educationist ?

    ReplyDelete
  13. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Dari elegi di atas yang dapat kita petik maknanya berupa kita sebagai calon pendidik pada tingkatan menengah ke bawah sudah seharusnya menjadi para Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist, yang bergandengan tangan dengan kaum Fallibist-Socio-Constructivist, sehingga Ketika bergaul dengan siswa sibelajar matematika kita menjelma menjadi apa yang siswa sibelajar butuhkan untuk belajar yaitu Para Educationist seperti Realistics Mathematicist, Contextualist, Psycho-mathematicist, Psycho-therapist. Dan hendaknya kita menghindari prilaku Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist karena dirasa tingkatan tersebut masih terlalu tinggi untuk diterapkan di dunia pendidikan menengah ke bawah.

    ReplyDelete
  14. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Siswa adalah agent utama pengembang ilmu matematika di waktu yang akan datang. Siswa memiliki kemampuan yang terkadang di luar dugaan kita sebagai seorang guru. dan kemampuan siswa tersebut terkadang tidak selalu sama dengan pikiran para matematikawan yang sudah dituliskan dalam buku-buku. Siswa bisa membangun dan mengembangkan apa yang ada dipikirannya sesuai dengan dunia mereka sehingga keterkaitan ruang dan waktu mengikuti perkembangan tersebut. Pengalaman belajar itulah yang akan membawa siswa menjadi agent ilmuwan sejati.
    Jika pure mathematics tidak dikomunikasikan ke dalam bahasa siswa dan tidak disampaikan secara riil dan kontekstual maka selamanya matematika akan dianggap sesuatu yang mengerikan oleh siswa.
    Matematika dalah bahasa, dimana setiap orang bisa mempelajarinya. Melalui komunikasi yang membangun, maka matematika akan menjadi pelajaran yang menyenangkan bagi para siswa

    ReplyDelete
  15. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari elegi pemberontakan pendidikan matematika kali ini saya mendapatkan pemahaman bahwa matematika pada jenjang perguruan tinggi sangat konsisten dikarenakan terbebas dari ruang dan waktu. Juga dapat dikatakan sangat unggul matematika dalam bentuk formalnya. Namun hal ini juga dapat menjadikan mereka sulit untuk berinteraksi dengan kaum muda yang yang sedang belajar matematika secara substansi.

    ReplyDelete
  16. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Matematika mempersilakan kita untuk berpendapat terhadapnya, untuk menjadikan ia seperti dalam pikiran kita. Saat ini pejabat dalam bidang pendidikanyang membuat aturan untuk pendidikan di sekolah adalah para formalist perguruan tinggi. Banyak di antara mereka yang tidak berlatar belakang pendidikan, sehingga sangat berbahaya jika mereka membuat peraturan untuk para peserta didik di sekolah. Seringkali pemerintah yang membuat peraturan sistem pendidikan sesuai pandangan mereka tanpa memikirkan dari sudut pandang pendidikan itu sendiri. Misalnya wacana mengenai full day school, hal tersebut dapat terlaksana bagi sekolah-sekolah di tempat maju, namun bagi sekolah di pedalaman belum tentu cocok, karena pada daerah tertinggal banyak siswa yang harus membantu orang tua mereka sepulang sekolah. Bahkan tidka menutup kemungkinan mereka memilih untuk tidak sekolah jika benar adanya full day school, karena sekolah justru menghambat pekerjaan mereka membantu orang tua. Oleh karena itu akan lebih baik jika pemilihan pemerintah yang menangani dunia pendidikan adalah orang yang berasal dari dunia pendidikan dengan memikirkan psikologi anak. Sehingga membuat sistem yang sesuai dan tidak membingungkan bagi guru sebagai pelaksana pendidikan.

    ReplyDelete
  17. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Memang benar bahwa gelar menggambarkan karakteristiknya. Tetapi jika berbicara mengenai realita, ada juga orang yang memperoleh gelar banyak tetapi karakteristik pribadinya bisa dikatakan kurang baik. Mungkin memang ahli pada ilmu yang ditekuninya tetapi pada bidang lain kurang berkompeten. Dalam dunia dan ruang dan waktu ini ada banyak hal yang terjadi mulai dari yang kontradiksi atau pun yang konsisten. Semuanya menurut saya tergantung pada pilihan masing – masing mengikuti kaum yang mana (absolutist – platonist-logicist-formalist-foundationalist atau yang lainnya).

    ReplyDelete
  18. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Memang sebaiknya sebagai mahasiswa pendidikan khususnya matematika haruslah bisa menempakan diri dengan bijak kita berada pada tingkat yang mana. Ada saat dimana kita pada bagian pure mathematic, matematika yang kontradiktif. Namun jika sebagai guru kita harus berkembang dua arah baik dengan pengembangan pure mathematics dan educationist. Sebagai pembantu siswa dalam menyusun pengetahuannya, maka kita memang bisa menempatkan diri seperti itu.

    ReplyDelete
  19. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Para matematikawan di Perguruan Tinggi jelas merupakan Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist, atau bahkan Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist. Mereka terbebas dari Kontradiksi, terjamin Konsistensinya. Mereka unggul dalam bentuk formalnya, mereka harapan bagi pengembangan pure-mathematics ke depan, namun mereka gagal bergaul dengan generasi muda sibelajar matematika secara substansi. Sedangkan dunia Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist, yang bergandengan tangandengan kaum Fallibist-Socio-Constructivist, penuh dengan kontradiksi dan inkonsisten.

    ReplyDelete
  20. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Dari sisi pandangan filsafat mengenai keberadaan ruang dan waktu, maka terdapat dua kaum, yaitu para absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist dan para intuitionist-realist-aristotelianist-empiricist-relativist. Kaum yang pertama adalah mereka yang hidup di dunia yang terbebas dari ruang dan waktu, terbebas dari kontradiksi, terjamin konsistensinya,tetapi terancam kedudukannya bukan sebagai ilmuwan. Mereka gagal bergaul dengan generasi muda yang tengah belajar matematika secara subtansi, tetapi unggul dalam bentuk formalnya. Tetapi mereka adalah harapan bagi pengembangan pure-mathematics ke depan. sementara itu kaum yang kedua adalah mereka yang hidupnya dibatasi oleh ruang dan waktu. mereka penuh dengan kontradiksi, tidak konsisten, bersifat relatif, mengerjakan matematika yang belum benar dan subyektif, tetapi terjamin kedudukannya sebagai ilmuwan sejati. Mereka telah berhasil bergaul dengan siswa yang tengah belajar matematika. Ketika bergaul dengan siswa sibelajar matematika mereka menjelma menjadi para educationist seperti realistics mathematicist,contectualist, psycho-mathematicist, psycho-therapist. jadi terlihat sekali bahwa sangat berpengaruhnya pandangan mengenai ruang dan waktu dalam hubungan dengan siswa, yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu adalah matematicians sedangkan yang terbatas oleh ruang dan waktu adalah educationalist

    ReplyDelete
  21. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Artikel diatas saya sangat setuju dengan pendapat pak prof bahwa
    Kalau ditambah gelar untuk para matematikawan kita maka lengkapnya adalah para Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist.

    Setiap gelar tersebut telah menggambarkan karakteristiknya, dan mereka hidup di Dunia yang terbebas dari Ruang dan Waktu, terbebas dari Kontradiksi, terjamin Konsistensinya, tetapi terancam kedudukannya bukan sebagai Ilmuwan. Karena kaum Logicist-Formalist-Foundationalist kurang mahir dalam membelajarkan matematika khususnya matematika di SD karena mereka lebih mahir dalam matematika murni bukan dalam matematika pendidikan.

    ReplyDelete
  22. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Matematikawan yang merupakan ahli dalam matematika sangat konsisten. Namun ketika sang matematikawan dihadapkan dengan siswa, terkadang terjadi kesulitan dalam hal penyampaian. Siswa bisa membangun dan mengembangkan apa yang ada dipikirannya sesuai dengan dunia mereka sehingga keterkaitan ruang dan waktu mengikuti perkembangan tersebut. Dan itulah sebenarnya yang menjadi momok dalam matematika, pure mathematics tidak dikomunikasikan ke dalam bahasa siswa yang mudah memahinya dan tidak disampaikan secara nyata dan bentuk konkret.

    ReplyDelete
  23. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Matematika anak dan dewasa jelas memiliki perbedaan diantaranya digolongkan ke dalam tingkatan berpikir mereka, dimana anak masih berpikir secara konkrit, sedangkan matematika dewasa sudah berpikir ke tingkatan yang lebih tinggi yaitu abstrak. Anak tidak akan mampu berpikir secara abstrak karena konsep dasar mereka belum terbangun atau masih dalam taraf proses berkembang.

    ReplyDelete
  24. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Pandangan seseorang tentang ilmu nya pun ternyata dapat dinilai dari gelar yang disandangnya. Hal ini bisa dilihat dari Kurikulumnya, riset dan hasil-hasilnya serta pandangan-pandangannya, sehingga jelas terlihat bahwa pemikiran atau pengetahuannya tersebut terbebas oleh ruang dan waktu. Dengan sifat kekonsistenannya, tak kontradiksi ini maka mereka juga terancam keilmuwannya. Namun, jika kita membuka pengetahuan (falibilist) dengan berpikir ekstensi dan intensi maka kita akan menemukan matematika yang bergantung dari ruang dan waktu, dan inilah yang semakin terjamin keilmuannya.

    ReplyDelete
  25. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Pandangan logicist dan formalism lebih mengarah pada matematika untuk mahasiswa. Karena seorang mahasiswa penalarannya telah dapat ia gunakan dengan optimal. Hal yang abstrak sekalipun dapat dimengerti oleh seorang mahasiswa. Mahasiswa juga dapat menemukan bukti tentang yang abstrak dengan cara yang abstrak juga.
    Tetapi tidak hanya sampai pada batas itu saja, dengan mahasiswa yang bisa memberikan bukti dan menggunakan penalarannya hingga ke hal yang lebih kompleks permasalahannya. Maka hal ini dapat memungkinkan mereka menemukan suatu kontradiksi. Sehingga tetap bahwa matematika ada dua jenis pandangan di dalamnya yaitu abstrak dan obyeknya yang di luar pikiran.

    ReplyDelete
  26. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa orang yang mempelajari matematika di perguruan tinggi merupakan Logicist-Formalist-Foundationlist, atau lebih jelasnya matematikawan merupakan para Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist. Para sarjana terbebas dari ruang dan waktu, sarjana tersebut merupakan masa depan pure mathematics. Sendangkan jika sarjana berinteraksi dengan para siswa pembelajar matematika maka ia berubah menjadi pendidik.

    ReplyDelete
  27. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Telah disebutkan pada elegi sebelumnya jika logicist-foemlist-foundalist merupakan karya Formalist Hilbert yang menerapkan matematika di perguruan tinggi yang disebut dengan pure mathematics yang mempunyai sifat abstrak, konsisten dan lain sebagainya. Sehingga matematika yang berlandaskan logicist-foemlist-foundalist berbeda dengan matematika sekolah yang dimulai dengan pemberian masalah yang berkaitan dengan masalah kontekstual.

    ReplyDelete
  28. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPS P.Mat D

    Karakteristik para Matematikawan di Perguruan Tinggi adalah Kaum Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist terbebas ruang dan waktu terbebas dari Kontradiksi, terjamin Konsistensinya, tetapi terancam kedudukannya bukan sebagai Ilmuwan.
    Sedangkan karakteristik para Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist, yang bergandengan tangan dengan kaum Fallibist-Socio-Constructivist mereka penuh dengan Kontradiksi, tidak Konsisten, bersifat relatif, mengerjakan matematika yang belum benar dan subyektif, tetapi terjamin kedudukannya sebagai Ilmuwan Sejati

    ReplyDelete
  29. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Matematikawan atau bisa disebut guru yaitu ahli dalam matematika murni. Setiap matematikawan atau guru mempunyai gelar yang menggambarkan karakteristiknya, terbebas dari ruang dan waktu, terbebas dari kontradiksi, terjamin konsistensinya, tetapi terancam kedudukannya bukan sebagai ilmuwan. Ketika mereka menyatu dengan pembelajar atau siswa, mereka menjadi pendidik yang mendidik pembelajar atau siswa yang menjadi harapan berkembangnya matematika murni di masa depan, terikat oleh ruang dan waktu, tidak terbebas dari kontradiksi, tidak terjamin kontradiksinya, bersifat relatif, mengerjakan matematika yang tidak benar dan subyektif, terjamin kedudukannya sebagai ilmuwan sejati.

    ReplyDelete
  30. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Para matematikawan pengembang pure-mathematics sangat unggul bentuk formalnya, namun mereka sulit untuk berinteraksi dengan kaum muda yang notabenya sedang belajar matematika sekolah. Matematika di perguruan tinggi ini sangat konsisten karena terbebas dari ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  31. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Matematika memiliki tingkat kesukaran yang berbeda-beda di setiap jenjangnya. Maketmatika di perguruan tinggi bersifat Logicist-Formalist-Foundationalist yang berarti mengikuti kurikulum yang berlaku di setiap perguruan tinggi tersebut dimana proses berfikirnya bersifat formal dan harus dipertanggungjawabkan setiap argumen tesis yang diajukannya. Dengan pembentukan pertanggungjawaban yang diterapkan di bangku kulih sebagai harapan kelak jika berteori harus jelas asalnya dimana, sumbernya apa dan tujuan, dan sebagainya mesti diperjlas agar tidak menyebabkan paham ambigu bagi masyarakat.

    ReplyDelete
  32. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Mahasiswa lebih cenderung ke arah ke Logicist-Formalist-Foundationalist, namun sebagai calon pendidik kita harus bisa menjelma menjadi Realistics Mathematicist, Contextualist, Psycho-mathematicist, Psycho-therapist. Karena mereka para guru maupun calon guru perlu menyesuaikan dengan kemampuan dan karakter siswa, bukan memaksakan para siswa untuk mengikuti cara berpikir guru. Pola pikkir siswa ialah masih dalam tahap matematika konkrit yang berkaitan erat dengan kehidupan dan pengalaman siswa. Sehingga guru perlu menyajikan materi yang berhubungan dengan hal tersebut.

    ReplyDelete
  33. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Mengajar termasuk ke dalam bingkai kehidupan sosial yang di dalamnya terdapat kompleksitas interaksi baik bahasa, pikiran, pandangan, dan perasaan. Sehingga memang seharusnya ketika terjun ke dalam dunia pendidikan kita memperhatikan setiap aspek kompleksitas tadi. Mengajarkan matematika dalam bingkai pendidikan dan sosial tentunya kita harus lebih memperhatikan bingkainya. Ibarat di dalam kandang harimau mengaum, dikandang kambing mengembek. Sehingga matematika yang dibawa memang harus menyesuaikan ke dalam bingkai ini. Namun tidak selamanya semua hal harus menyesuaikan.

    ReplyDelete
  34. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Di perguruan tinggi mahasiswa pendidikan matematika dididik untuk menjadi calon guru yang baik namun di sisi lain, seorang calon guru matematika harus menguasai matematika juga, tidak hanya ilmu kependidikan sehingga selain belajar menjadi educationist juga belajar mengenai pure mathematics. yang terpenting baik pure mathematician maupun pendidik matematika terus mengembangkan kompetensinya sesuai dengan ranahnya masing-masing.

    ReplyDelete
  35. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam artikel ini saya mendapatkan ide bahwa dengan cara mekontradiksikan ilmunya dengan cara siswa yang merekonstruksi pengetahuannya dengan berbagai cara seperti realistics matehemtics, contekstual mathematics, dan alin sebagainya untuk memperluas dan memperkokoh pure mathematics sehingga para matematikawan akan utuh sebagai ilmuan juga.

    ReplyDelete
  36. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Segala sesuatu pasti ada kelebihan dan ada kekurangan. Seperti hal nya di atas. Bagaimana kita atau mau menjadi apa kita adalah kita sendiri yang menentukannya. Apakah kita akan menjadi seorang matematikawan murni yang terbebas ruang dan waktu serta konsisten tetapi akan terancam kedudukan sebagai ilmuwan? ataukah kita akan lebih menjadi seorang educationist, yang penuh kontradiksi, tidak stabil atau relatif, tetapi mampu menjadikan kita sebagai ilmuwan sejati? Semua nya kembali kepada kita akan jadi apakah kita nanti?

    ReplyDelete
  37. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Matematika murni pada dasarnya lebih menekankan kepada pengembangan ilmu matematika itu sendiri terlepas dari apakah nantinya itu bermanfaat atau tidak dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, matematika murni tidak memikirkan tujuan praktisnya sama sekali sehingga matematika tidak dikenal dekat dengan kehidupan nyata. Pure Mathematician yang ingin mengenalkan matematika atau membelajarkan matematika kepada siswa harus mampu memahami psikologi belajar siswa dalam arti menjelma menjadi Mathematical Educationist.

    ReplyDelete
  38. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Matematikawan di perguruan tinggi dapat disebut sebagai Logicist-formalis-fondasionalis. Hal tersebut karena mereka merupakan ahli dalam matematika murni. Matematika di perguruan tinggi ini sangat konsisten karena terbebas dari ruang dan waktu. Namun mereka sulit untuk berinteraksi dengan anak-anak yang notabennya sedang belajar matematika sekolah.

    ReplyDelete
  39. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Sementara intuisionist-realis-aristotelianist-empiricist-relativist, mereka penuh dengan kontradiksi, tidak konsisten, bersifat relatif. Akan tetapi dapat mengajarkan matematika kepada siswa dengan mengkaitkan bentuk-bentuk konkrit dan real saat pembelajaran.

    ReplyDelete
  40. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16
    Inilah alasan mengapa yang mengajar matematika haruslah dari lulusan pendidikan matematika, bukan matematika murni. Kita tidak memandang sebelah mata matematika murni, matematika murni juga mempunyai andil yang besar bagi ilmu pengetahuan. Namun memang ini adalah bidangnya pendidikan matematika. Jadi teramat sangat disayangkan jika penentu kebijakan pendidikan dipegang oleh orang diluar “pendidikan”

    ReplyDelete
  41. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dari elegi ini diketahui bahwa Kaum Logicist-Formalist_Foundationalist gagal bergaul dengan generasi muda secara substansi, akan tetapi mereka unggul dalam bentuk formalnya, dan mereka adalah harapan untuk pengembangan pure mathematics kedepan. Untuk kaum Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist, ruang dan waktunya penuh dengan kontradiksi, tidak konsisten, bersifat relatif, mengerjakan matematika yang belum benar dan subyektif, tetap terjamin kedudukannya sebagai ilmuwan sejati. mereka menerapkan matematika realistik kepada siswa.

    ReplyDelete