Feb 12, 2013

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 23: Logicist-Formalist-Foundationalist (Jawaban utk Prof Sutarto Bgn kedua)




Oleh Marsigit

Prof Sutarto, dan yang lain

Jelaslah bahwa para Matematikawan kita di Perguruan Tinggi adalah Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist. Hal ini bisa dilihat dari Kurikulumnya, riset dan hasil-hasilnya serta pandangan-pandangannya.

Kalau ditambah gelar untuk para matematikawan kita maka lengkapnya adalah para Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist.

Setiap gelar tersebut telah menggambarkan karakteristiknya, dan mereka hidup di Dunia yang terbebas dari Ruang dan Waktu, terbebas dari Kontradiksi, terjamin Konsistensinya, tetapi terancam kedudukannya bukan sebagai Ilmuwan.

Mereka gagal bergaul dengan generasi muda sibelajar matematika secara substansi, tetapi unggul dalam bentuk formalnya. Tetapi mereka adalah harapan bagi pengembangan pure-mathematics ke depan.

Sementara Dunianya Ruang dan Waktu dihuni oleh para Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist, yang bergandengan tangandengan kaum Fallibist-Socio-Constructivist.

Mereka penuh dengan Kontradiksi, tidak Konsisten, bersifat relatif, mengerjakan matematika yang belum benar dan subyektif, tetapi terjamin kedudukannya sebagai Ilmuwan Sejati.

Ketika bergaul dengan siswa sibelajar matematika mereka menjelma menjadi Para Educationist seperti Realistics Mathematicist, Contextualist, Psycho-mathematicist, Psycho-therapist.

Bersambung...

18 comments:

  1. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Matematikawan di perguruan tinggi dapat disebut sebagai Logicist-formalis-fondasionalis. Hal tersebut karena mereka merupakan ahli dalam matematika murni. Matematika di perguruan tinggi ini sangat konsisten karena terbebas dari ruang dan waktu. Namun mereka sulit untuk berinteraksi dengan anak-anak yang notabennya sedang belajar matematika sekolah.

    ReplyDelete
  2. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Sementara intuisionist-realis-aristotelianist-empiricist-relativist, mereka penuh dengan kontradiksi, tidak konsisten, bersifat relatif. Akan tetapi dapat mengajarkan matematika kepada siswa dengan mengkaitkan bentuk-bentuk konkrit dan real saat pembelajaran.

    ReplyDelete
  3. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16
    Inilah alasan mengapa yang mengajar matematika haruslah dari lulusan pendidikan matematika, bukan matematika murni. Kita tidak memandang sebelah mata matematika murni, matematika murni juga mempunyai andil yang besar bagi ilmu pengetahuan. Namun memang ini adalah bidangnya pendidikan matematika. Jadi teramat sangat disayangkan jika penentu kebijakan pendidikan dipegang oleh orang diluar “pendidikan”

    ReplyDelete
  4. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dari elegi ini diketahui bahwa Kaum Logicist-Formalist_Foundationalist gagal bergaul dengan generasi muda secara substansi, akan tetapi mereka unggul dalam bentuk formalnya, dan mereka adalah harapan untuk pengembangan pure mathematics kedepan. Untuk kaum Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist, ruang dan waktunya penuh dengan kontradiksi, tidak konsisten, bersifat relatif, mengerjakan matematika yang belum benar dan subyektif, tetap terjamin kedudukannya sebagai ilmuwan sejati. mereka menerapkan matematika realistik kepada siswa.

    ReplyDelete
  5. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Matematika di sekolah dan matematika di perguruan tinggi sangat berbeda. Perbedaan ini dapat dilihat dari orangnya atau matematikawannya. Para matematikawan di perguruan tinggi adalah kaum logicist-formalist-foundationalist atau matematika murni. Sedangkan para matematikawan di sekolah kaum intuitionist-fallibist-socio-constructivist atau matematika pendidikan. Dalam hal ini yang dibahas lebih rinci adalah matematikawan di perguruan tinggi. Matematikawan yang rentan posisinya antara matematika murni dan matematika pendidikan.
    Matematikawan di perguruan tinggi terancam kedudukannya bukan sebagai ilmuwan jika kita sebut sebagai matematika murni, tetapi gagal bergaul dengan generasi muda sibelajar mmatematika jika kita sebut sebagai matematika pendidikan. Matematikawan di perguruan tinggi perlu melakukan perbaikan sehingga tidak terancam lagi kedudukannya. Caranya dengan merangkul matematikawan murni dan matematikawan pendidikan agar mampu bergaul di kedua bidang yang ada. Mampu berbaur dengan generasi muda sibelajar matematika dan juga mampu menjadi ilmuwan sejati.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  6. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Matematikawan adalah ahli matematika. Setiap orang dapat menjadi ahli mateatika asalkan orang tersebut dapat dan mau memahami tentang matematika dan dapat mengamalkan sifat matematika. Matematikawan kita di Perguruan Tinggi adalah Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist, yaitu dunia yang terbebas dari ruang dan waktu, terbebas dari kontradiksi, terjamin konsistensinya. Kaum ini perlu tidak boleh hanya mengandalkan keabstrakannya saja dalam mengajarkan matematika. Sedangkan ruang dan waktu dihuni oleh para Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist penuh dengan Kontradiksi, tidak Konsisten, dan bersifat relatif yaitu kaum yang cocok dalam memberi pengetahuan sacara realistik kepada siswa.

    ReplyDelete
  7. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini kami memahami bahwa senada dengan elegi sebelumnya yaitu sebagai mahasiswa yang mempelajari matematika selama perkuliahan, maka kami harus memandang matematika sebagai matematika dewasa/pure mathematics. Akan tetapi kami harus bisa membedakan kapan kami sebagai mahasiswa orang dewasa dalam memandang matematika dan kapan kami sebagai seorang pendidik yang membantu siswa untuk membangun pemahamannya dalam mepelajari matematika. Tentunya matematika dewasa dan matematika siswa (sekolah) berbeda cara pandangnya. Sebagai seorang pendidik kita sebaiknya memfasilitasi siswa dengan berbagai materi, aktivitas dan kegiatan yang akan membantu siswa dalam membangun pemahamannya secara optimal.

    ReplyDelete
  8. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas jawaban bagian kedua ini, sungguh bermanfaat bagi saya
    Melalui elegi ini saya semakin memperoleh tambahan ilmu bahwa matematika yang berkembang di perguruan tinggi adalah Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist. Tetapi saya kembali dibingungkan dengan keberadaan kehidupan kaum Logicist-Formalist-Foundationalist yang terbebas dari ruang dan waktu, terbebas dari kontradiksi, dan terjamin konsistensinya. Saya bertanya-tanya, kok kehidupan kaum Logicist-Formalist-Foundationalist tidak sejalan dengan kehidupan yang sebenar-benarnya yang terikat oleh ruang dan waktu. Tetapi pada elegi sebelumnya, sepertinya saya juga pernah membaca jika matematika dan filsafat berbeda. Mohon maaf, jika saya keliru. Mohon arahan dan bimbingannya.

    ReplyDelete
  9. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Pada elegi ini dipaparkan bahwa “setiap gelar para kaum logicist-formalist-foundationalist terancam kedudukannya bukan sebagai ilmuawan, mereka juga gagal bergaul dengan generasi muda sibelajar matematika secara substansi....”. Hal itu sama saja dengan mereka belajar tetapi hanya untuk dirinya sendiri, sedangkan sebenar-benar hidup adalah terjemah dan menterjemahkan, harus bisa menjelaskan hal sesulit apapun menjadi hal yang mudah dipahami kepada siapa pun. Terjemah dan menterjemahkan berlaku juga kan Pak dalam belajar matematika?. Karena kaum logicist-formalist-foundationalist juga gagal bergaul dengan generasi muda sibelajar matematika maka, mereka tidak mempunyai kesempatan untuk dapat mengembangkan ilmu-ilmunya, karena dengan terbiasa dan sering mneyemapikan kepada siswa lah ilmu akan berkembang dan terus berkembang.

    ReplyDelete
  10. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof

    Elegi ini mengingatkan kepada kita dan terutama kepada diri saya pribadi untuk lebih memahami keberadaan matematika dengan tidak terpaku pada satu prinsip saja seperti yang saya pahami selama ini.Namun lebih dari pada itu ada prinsip lain yang semestinya dipahami yaitu prinsip matematika yang tidak terbebas oleh ruang dan waktu .
    Selama ini matematika yang diterapkan di perguruan tinggi adalah matematika yang terbebas oleh ruang dan waktu atau yang disebut matematika Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist seperti yang dipaparkan pada elegi di atas.Agar dapat dikatakan ilmu alangkah lebih baiknya lagi jika di dalam pembelajaran matematika menggabungkan kedua unsur sebagaimana yang diingatkan dalam elegi ini dan elegi –elegi sebelumnya.

    ReplyDelete
  11. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Matematika untuk perguruan tinggi dengan matematika untuk sekolah sangatlah berbeda. Sebagai seorang pendidik, kita harus dapat memahami perbedaan tersebut dan sopan terhadap ruang dan waktunya. Maksudnya ialah dapat menempatkan matematika sesuai dengan ruang dan waktunya. Untuk matematika perguruan tinggi, matematika ialah bersifat abstrak, formal, konsisten, dan berlaku hukum identitas. Sedangkan untuk matematika sekolah adalah sebaliknya, yaitu bersifat konkret, tidak konsisten, dan berlaku hukum kontradiksi. Inilah yang disebut sebagai guru bijak atau guru cerdas.

    ReplyDelete
  12. Kartika Pramudita
    17701251021
    PEP B (S2)

    Menjadi ilmuwan matematika ternyata dihadapkan pada dua pilihan. Pilihan pertama ilmuwan yang mempertahankan kekonsistenan matematika, menganggap matematika di dalam pikiran, terbebas dari kontradiksi tetapi ancamannya adalah ilmuwan tersebut terancam kedudukannya sebagai ilmuwan. Ilmuwan tersebut yang akan mengembangkan matematika murni di masa depan. Atau menjadi ilmuwan matematika yang dekat dengan siswa, penuh dengan kontradiksi, tidak konsisten tetapi terjamin kedudukannya sebagai ilmuwan.

    ReplyDelete
  13. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.mat B 2017

    Assalamu'alaikum wr.wb

    Menurut hemat saya, mungkn itulah sebabnya matematika di perguruan tinggi di pecah menjadi dua bagian, yaitu matematika murni, dan matematika pendidikan (matematika sekolah). keduanya mempunyai fungsi dan tujuan masing-masing, yang bisa berguna di masa depan. matematika pendidikan mengkhususkan pada matematika yang ramah bagi siswa, sedangkan matematika murni mengkhususkan lebih ke bagian abstraknya yang terbebas dari ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  14. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Siswa adalah agent utama pengembang ilmu matematika di waktu yang akan datang. Siswa memiliki kemampuan yang terkadang di luar dugaan kita sebagai seorang guru. dan kemampuan siswa tersebut terkadang tidak selalu sama dengan pikiran para matematikawan yang sudah dituliskan dalam buku-buku. Siswa bisa membangun dan mengembangkan apa yang ada dipikirannya sesuai dengan dunia mereka sehingga keterkaitan ruang dan waktu mengikuti perkembangan tersebut. Pengalaman belajar itulah yang akan membawa siswa menjadi agent ilmuwan sejati.

    ReplyDelete
  15. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPs PM A

    Logicist-formalist-foundationalist atau intuitionalist-realist-aristotelianist-empiric-relative. Dua penganut yang berbeda, dua hal yang tak bisa di samakan namun keduanya adalah kesatuan yang saling berherarki. Tanpa kaum intuisitionalist tak ada cikal bakal kaum logicist-formalist-foundationalist, tanpa logicist-formalist-foundationalist kemajuan ilmu matematika sekolah akan terhambat. Membicarakan kedua hal ini menurut saya sepeti membicarakan sebuah pohon beringin besar dimana akar akar gantung mereka sampai menyentuh tanah. Pohon beringin ketika kita melihat akar dan batangnya saja tak akan menjadi sebuah pohon yang rindang. Tapi ketika kita hanya memandang dedaunannya maka tak akan menjadi elok karena tanpa batang maka daunya tak ada artinya. Akar pohon beringin yang menyentuh tanah ibaratkan ilmu dari kaum Logicist-formalist-foundationalist dimana mereka tak bersentuhan langsung Batang mereka namun sebenarnya mereka langsung bersentuhan denagn tanah atau disini saya analogikan subjek pendidikan matematika. Namun mereka memegang peran penting menyeimbangkan pohon. Begitu juga kaum intuitionalist-realist-aristotelianist-empiric-relative mereka adalah batang yang membuat pohon akan berdiri tegak.

    ReplyDelete
  16. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Dari ulasan bapak di atas, terdapat dua kubu matematikawan yaitu matematikawan di perguruan tinggi yang disebut dengan Kaum Absolutist- platonist-Logistic-Formalist-Foundationalist. Sedangkan matematikawan dengan dunia ruang dan wakru disebut dengan Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist. Keduanya memiliki peran masing-masing yang berbeda di bidangnya.

    ReplyDelete
  17. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Sangat indah sekali, bahwa matematika terbagi menjadi dua yakni matematika dari kaum Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist yang konsisten, tidak kontradiktif, obyektif, tidak terikat dengan ruang dan waktu dan kaum Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist yang penuh dengan kontradiksi, tidak konsisten, realtif, obyektif, terikat ruang dan waktu. Ketika keduanya digabungkan maka terbentuklah yang namanya pendidikan matematika, jadi pendidikan matematika itu terdiri dari matematika murni(Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist) yangmana ketika sudah diajarkan kepada siswa menjadi matematika yang Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist.

    ReplyDelete
  18. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Matematikawan kita di Perguruan Tinggi adalah Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist, yaitu dunia yang terbebas dari ruang dan waktu, terbebas dari kontradiksi, terjamin konsistensinya. Kaum ini perlu tidak boleh hanya mengandalkan keabstrakannya saja dalam mengajarkan matematika. Sedangkan ruang dan waktu dihuni oleh para Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist penuh dengan Kontradiksi, tidak Konsisten, dan bersifat relatif yaitu kaum yang cocok dalam memberi pengetahuan sacara realistik kepada siswa. Dalam pembelajaran matematika disana butuh penggabungan dari kedua paham yang ada, karena ilmu murni (matematika murni) belum dikatakan ilmu yang lengkap jika belum mampu diajarkankepada yang lain. jadi untuk pembelajaran matematika butuh adanya pembuktian dan pembelajaran yang baik dalam suatu kelas.

    ReplyDelete