Feb 12, 2013

Forum Tanya Jawab 64 : Burung di Pagi Hari, Jengkerik di Sore Hari


Ass, alhamdulillah...saya merasa terharu karena baru saya postingkan Judulnya, tetapi sudah mendapat tanggapan yang bersemangat dengan 7 (tujuh) komen. Semoga selalu tetap terjaga semangat. Amin.

Yang terjadi dengan awal posting ini adalah ketika saya membaca komen-komen Bapak/Ibu berkaitan Incommensurability dan Siswa Menentukan Kurikulum, saya menangkap ada nuansa kebingungan atau kepanikan (dalam tanda petik) dari para Guru, dikarenakan adanya kesadaran ontologis akan makna Dunia Lain dari Pendidikan yang saya Kenalkan dari Konteks Inggris. Jadi saya sedang melihat adanya gerakan sintesis  dari Tesis Dunia Sore Hari (mungkin, Pendidikan Tradisional Indonesia) terhadap Anti-tesis Dunia Pagi Hari (mungkin contohnya, Pendidikan Progressif Inggris). Dunia masing-masing dengan konteksnya itulah yang kemudian ingin saya tulis dan saya beri judul sebagai "Burung di Pagi Hari, Jengkerik di Sore Hari". Jika diperhalus maka judulnya menjadi "Kicauan Burung di Pagi Hari dan Engkerikan Jengkerik di Sore Hari". Judul yang setara dapat dibuat misalnya "Embun di Pagi Hari dan Hujan di Sore Hari". Agar tidak lupa menulisnya maka saya tuliskan judulnya dulu, kemudian akan saya lanjutkan jika sudah sampai waktunya.

Berikut sintesisnya:
Pagi dan Sore adalah Dunianya masing-masing lengkap dengan strukturnya, kontennya, aturannya, sifat-sifatnya. Bahwa Kicauan Burung itu dilazimkan terjadi di Dunianya Pagi hari, sedangkan Engkerikan Jengkerik dilazimkanterjadi pada Dunianya Sore hari. Bahwa Embun di lazimkan jatuh di Pagi Hari, sedangkan Hujan dilazimkan di sore hari. Itu semua adalah kewajaran dan hukumnya Sunatullah. Maka orang Jawa mengenal istilah "Ngebun-ngebun Enjang, jejawah Sonten" artinya adalah Lumrah bahwa Embun itu di Pagi hari dan Hujan di Sore hari, untuk melazimkan bahwa Meminang seorang Gadis itu juga merupakan suatu kelaziman, yang tidak perlu diper Herankan. Kemana arah pembicaraan saya?

Pagi Hari dan Sore Hari masing-masing adalah Dua Dunia dengan segala sifatnya dan kodratnya. Dia mempunyai Persoalannya masing-masing; dia mempunyai PERTANYAANNYA masing-masing. Jika kita kiaskan Dunia Pendidikan Tradisional Kita sebagai Dunia Sore, maka akan dijumpai segala Persoalan dan Pertanyaan dari para Penghuninya yang BERBEDA dengan segala Persoalan dan Pertanyaan dari para Penghuninya Dunia Progressif Inggris di Pagi Hari. Terkadang dijumpai bahwa Persoalan dan Pertanyaan tidak mampu melampaui Dunianya karena Kodratnya. Mereka terikat oleh Paradigmanya masing-masing; sedangkan Filsafat berupaya untuk melepas belenggunya.

Persoalan dan Pertanyaan dari Kita Guru-guru penghuni Dunia Sore Pendidikan Tradisional tidak mampu keluar dari pertanyaan: Bagaimana mengajar dengan baik?; Bagaimana menyampaikan materi dengan baik?, Bagaimana memberi bekal sebanyak-benyaknya?; Bagaimana menyelesaikan kurikulum?; Bagaimana membuat siswa merasa senang belajar?; Bagaimana mencapai kelulusan maksimal?; Bagaimana memotivasi siswa?; Bagimana memberi Appersepsi?; Bagaimana mengaktifkan siswa; Bagaimana menjelaskan materi dengan baik? Bagaimana mengajarkan materi yang sama, untuk siswa yang berbeda, dengan waktu yang sama, agar diperoleh hasil yang sama? Bagaimana agar siswa tertib mengikuti pelajaran?.....Maka semua Persoalan dan Pertanyaan yang muncul selalu berkaitan dengan Paradigma Dunia Sore Pendidikan Tradisional, yang secara Laten dan Immanent selalu ada sebagai Ruh dan Jiwanya Dunia Sore. Paradigma itu meliputi: Transfer of knowledge; Transfer of learning; Murid sebagai Empty Vessel; External Evaluation (UN); Test Objective; External Motivation; Homogenous (Penyeragaman); Pendidikan adalah Investasi; Ilmu sebagai Struktur; Content Based Curriculum; Separated BasedCurriculum; Pendidikan bersifat tertutup..dst.

Persoalan dan Pertanyaan Guru-guru Penghuni Dunia Pagi Pendidikan Innovatif berakar dan membudaya meliputi: Bagaimana melayani kebutuhan siswa belajar?; Bagaimana mengembangkan LKS?; Bagaimana mengetahui Perbedaan Kemampuan siswa? Bagaimana menindaklanjuti keinginan siswa? Bagaimana memfasilitas agar pada waktu yang berbeda, siswa yang berbeda, dapat mempelajari matematika atai sain yang berbeda, dengan hasil yang tentunya okelah berbeda; Bagaimana mengembangkan assessment?; Bagaimana mengembangkan Portfolio siswa?;  Bagaimana mengembangkan Variasi Media, Variasi Metoda, Variasi interaksi; Bagaimana mengembangkan metode diskusi....Maka semua Persoalan dan Pertanyaan yang muncul selalu berkaitan dengan Paradigma Dunia Pagi Pendidikan Inovatif yang secara Laten dan Immanent memang menjadi ciri khasnya Dunia Pagi.

Dengan susah payah saya berusaha menggambarkan bagaimana Sulitnya dan Pengorbanan memasuki dan berusaha beradaptasi dengan Dunia Baru yaitu dari Dunia Sore Tradisional menuju Dunia Pagi Inovatif. Diperlukan kondisi Ekstrinsik yang sangat kuat dari dalam diri berupa Niat, Semangat, Sikap, Pengetahuan, Ketrempilan dan Pengalaman agar perjalanan Hijrah dari Dunia Sore Pendidikan Tradisional menuju Dunia Pagi Pendidikan Inovatif. Jikalaupun hal demikian sudah terpenuhi maka masih mengalami persoalan-persoalan dari Luar dirinya baik yang bersifat Ekstrinsik maupun Sistemik. Maka Hermenitika yaitu terjemahan dan diterjemahkan menjadi sangat penting agar seorang Guru dari Penghuni Sore Pendidikan Tradisional mampu Hijrah dengan kesopan santunan terhadap Ruang danWaktunya Dunia Pagi Pendidikan Inovatif. Jikalau kita telah berusaha memasuki Dunia Pagi Pendidikan Inovatif, maka kita menjumpai bahwa ternyata Nyanyian, Kicauan dan Serangga-serangga pun berbeda.

Itulah sekali lagi, betapa tidak mudah melakukan Inovasi Pendidikan. Secara filsafati aku menemukan bahwa Inovasi itu ternyata tidak lain tidak bukan adalah Diriku sendiri. Diriku itulah Dunia Pagi Pendidikan Inovatif. Jikalau di Pagi hari masih terdengar suara Jengkerik, maka gejala aneh apa yang sedang aku alami. Jika di sore hari turunlah Embun, maka gejala aneh apa lagi pula yang sedang aku alami. Sadar, sopan, dan santun terhadap Ruang dan Waktunya Dunia Pagi Pendidikan Inovatif sangat perlu tetapi ternyata belum cukup. Keterampilan dan pengalaman sangat perlu tetapi ternyata belum cukup. Diperlukan diri, orang lain, ekstrinsik dan sistemik, yang merupakan kesadaran bersama dan gerakan tindakan bersama untuk sampai kesana. Aku tidak bisa membayangkan jika diriku tidak menyadarinya; maka semua yang berasal dari luar diriku akan terasa sebagai beban bahkan bencana bagiku. Aku menjadi ragu-ragu apakah aku perlu bertanya perlukah aku atau bisakah aku mencegah diriku berpindah atau hijrah dari Sore menuju Pagi? Kadang-kadang aku juga bingung saat ini masih Sore atau sudah Pagi? Suara apakah itu? Apakah itu suara Jengkerik? ataukah suara Burung? Aku agak sulit membedakan karena sumber suaranya terlalu jauh dan lemah. Tetapi suara yang dekat ini walaupun keras, tetapi polanya tidak karuan, sehingga akupun sulit membedakan apakah suara Jengkerik atau suara Burung. Aku heran temanku itu, kenapa dengan lihainya bisa menirukan Kicauan Burung Cocak Rawa di Pagi hari? Walaupun demikian, bagaimanapun akau masih tetap bersyukur, karena setidaknya aku mulai bisa membedakan bahwa saatnya kini sudah mendekati Waktu Pagi. Ah..aku jadi agak malu jika ketahuan temanku, jika aku tidak mampu membedakan Sore dan Pagi bukankah itu metaforanya aku tidak mempu membedakan Tradisional dan Inovatif?

Di tengah kegalauan pikirku, muncul terang Filsafatku yang menuntun diriku yang mengatakan bahwa "bukankah perpindahan Sore menuju Pagi itu juga sebuah Kelaziman yaitu Sunatullah?" Oh kalau begitu aku telah menemukan kembali simpanan Filsafatku bahwa untuk Hijrah dari Dunia Sore Pendidikan Tradisional menuju Dunia Pagi Pendidikan Inovatif, aku harus mengembangkan sopan santunku terhadap Ruang dan Waktunya. Di Pagi Hari nanti seakan aku tidak sabar ingin Berkicau layaknya Burung Cocak Rawa. Kicauanku akan aku selaraskan dengan Hakekat dan Sifat-sifat Dunianya Pagi. Itulah ikhtiarku. Itulah juga ketetapanku. Aku ingin mempelajari lebih lanjut Fenomena Incommensurability dan Fenomena Siswa Menentukan Kurikulum yang diberikan contoh oleh Dosenku. Aku tidak ingin hanya mengetahui, tetapi aku ingin menghayati dan mengimplementasikan, karena aku juga telah menemukan Ontologisnya bahwa Perbedaan Individu itu ternyata juga Sunatullah.

Di dalam jatuh bangunnya perjalananku ini, untuk mengisi sisa hidupku ini, agar konon mampu menjadi seorang Guru yang Inovatif, ternyata aku menemukan fakta baru lagi, karena semua yang baru aku ungkapkan itu hanyalah sebagian kecil dari aspek Hidupku, sedangkan dalam dan di luarnya, ini dan selebihnya ternyata aku harus memohon Pertolongan dan Memanjatkan Doa ke Hadlirat Allah SWT semoga apa yang aku sadari, aku cita-citakan di Ridai dan dikabulkan.

Amin.

22 comments:

  1. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (1570925005(

    Dunia burung di pagi hari dan dunia jengkrik di sore hari merupakan dua dunia yang berbeda. Kedua dunia tersebut memiliki kesenjangan yang tinggi karena terjadi dalam ruang dan waktu yang berbeda dan memiliki perbedaan dalam masalah yang dihadapi. Dibutuhkan banyak kerja keras untuk dapat berpindah dari dunia jangkrik di sore hari ke dunia burung di pagi hari. Meskipun demikian, hidup merupakan proses belajar dan belajar itu tidak akan berhenti hingga akhir hayat. Maka pembelajaran dikelas senantiasa dilihat sebagai sarana untuk mengembangkan diri lebih lagi sehingga dapat keluar dari dunia jangkrik di sore hari.

    ReplyDelete
  2. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Diperlukan adanya konsep, pelaksanaan, hasil dan evaluasi guna memenuhi target dalam dunia pendidikan, karena hal tersebut tidaklah mudah. Pembelajaran sangat ditentukan keberhasilannya oleh berbagai faktor salah satunya adalah kiat masing-masing pengajar (guru) di kelas dalam meciptakan proses pembelajaran. Dari model pembelajaran yang sudah umum atau konvensional banyak ditemukan beberapa kekurangan yang menyebabkan seorang guru harus menuju ke pembelajaran yang inovatif.

    ReplyDelete
  3. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Sekarang ini memang sudah keharusan bagi seorang guru untuk mampu menerapkan berbagai macam metode pembelajaran guna meciptakan pembelajaran inovatif. Dengan harapan proses belajar mengajar akan berjalan menyenangkan dan tidak membosankan. Akan tetapi perubahan itu tidak lah mudah, perlu penyesuaian dan butuh waktu.

    ReplyDelete
  4. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Semakin banyak waktu yang dimiliki oleh seorang guru, maka semakin banyak pula variasi pembelajaran yang akan diberikan kepada siswa, dan semakin terserap dengan sempurna materi yang diajarkan kepada siswa. Selain faktor panjang pendeknya waktu yang tersedia, pada jam-jam berapa pelajaran diberikan juga sangat berpengaruh terhadap cara mengajar guru. Tentu berbeda kondisi fisik saat pelajaran di pagi hari dan sore hari. Saat pagi hari, baik guru maupun siswa masih dalam kondisi segar. Sedangkan pada siang hari kondisi fisik mulai lelah, sehingga perlu strategi ekstra agar anak-anak tetap semangat untuk belajar dan tidak mengantuk.

    ReplyDelete
  5. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Beberapa siswa pada umumnya lebih konsentrasi dan fokus saat belajar di pagi hari dengan alasan masih segar sehingga mereka lebih berminat untuk belajar. Sedangkan belajar pada siang hari siswa sudah banyak yang lelah karena telah beraktifitas di pagi hari sehingga sudah kurang berminat lagi pada proses pembelajaran, bahkan ada yang cenderung mengantuk. Tapi tentunya itu tidak semua siswa, ada beberapa siswa yang tidak terpengaruh pada perbedaan waktu belajar ini. Siswa yang memiliki minat belajar rendah dibutuhkan peranan guru yang tinggi dalam menyemangati belajar Matematika. Proses pembelajaran Matematika dengan waktu belajar yang sesuai diduga tepat bagi siswa yang berminat belajar rendah. Hal tersebut, karena dalam pembelajaran Matematika dibutuhkan konsentrasi, karena itu dibutuhkan waktu yang sesuai agar proses belajar lebih bermakna.

    ReplyDelete
  6. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Bukan hal yang mudah untuk merubah dari Dunia Sore Pendidikan Tradisional menuju Dunia Pagi Pendidikan Inovatif. Butuh Niat, Semangat, Sikap yang kuat dan Pengetahuan, Keterampilan dan Pengalaman banyak untuk melakukan itu semua. Dan setiap perubahan tentu akan memerlukan proses yang cukup lama. Berdoa dan mintalah pertolongan kepada Allah agar memudahkan langkah kita untuk menjadi yang lebih baik lagi. Karena tanpa pertolongan dari Allah, maka kita bukan apa-apa.

    ReplyDelete
  7. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Bukan hal yang mudah untuk merubah dari Dunia Sore Pendidikan Tradisional menuju Dunia Pagi Pendidikan Inovatif. Butuh Niat, Semangat, Sikap yang kuat dan Pengetahuan, Keterampilan dan Pengalaman banyak untuk melakukan itu semua. Dan setiap perubahan tentu akan memerlukan proses yang cukup lama. Berdoa dan mintalah pertolongan kepada Allah agar memudahkan langkah kita untuk menjadi yang lebih baik lagi. Karena tanpa pertolongan dari Allah, maka kita bukan apa-apa.

    ReplyDelete
  8. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B/ 2017

    Terimakasih Bapak Marsigit. Postingan ini menurunkan keegoisan saya pada komentar saya sebelumnya (Terkait postingan "Bagaimana Siswa Bisa Menentukan Kurikulum". Hal ini dikarenakan saya telah menangkap bahwa semuanya adalah proses. Proses adalah proses, di mana terjadi peralihan, mungkin dari tradisional menuju inovatif. Pada proses itulah "mungkin lagi" akan ada sedikit konflik antara si"lama" dan si "baru" dalam mempertahankan keberadaannya. Di balik itu semua, saya melihat bahwa tidak ada proses yang selesai. Begitu juga dalam proses pendidikan. Pendidikan di Indonesia akan menuju pada keadaan yang lebih baik jika melalui proses yang sehat. Di mana semua pihak memahami keberadaannya, lantas masing-masing menghargai proses tersebut dengan slaing menurunkan idealisme masing-masing. Terimakasih

    ReplyDelete
  9. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Memang sulit mengubah paradigma pembelajaran di Indonesia. Mungkin amat sangat sulit untuk mengadaptasi gaya pendidikan di negara maju untuk diterapkan di Indonesia, karena paradigma itu sendiri terlalu mendarah daging. Jangankan mengubah kiblat pendidikan, mengubah kurikulum saja sulitnya minta ampun. Saya masih menemui 80% guru di lapangan masih menggunakan metode ekspositori, padahal sudah banyak inovasi dan strategi yang digalakkan oleh pemerintah. Alasannya karena metode itu 'lebih simpel, lebih gampang'. Jika tren baru tidak pernah dicoba maka mustahil kicauan burung di pagi hari akan bergema di Indonesia. Berapa dekade lagi kita akan terjebak di dunia jangkrik di sore hari?

    ReplyDelete
  10. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Salah satu yang menentukan majunya suatu bangsa adalah pendidikan dan kualitas SDM. Dalam rangka mencapai kemajuan Indonesia maka pendidikan yang ada juga harus terus berkembang. Beberapa faktor yang turut serta dalam pendidikan adalah kurikulum, guru,dan siswa. Masih banyak guru yang beranggapan bahwa pembelajaran merupakan kegiatan transfer pengetahuan, dari guru ke siswa. Seolah-olah guru adalah yang paling tahu, terkadang adapula yang justru menekan kreativitas siswa untuk memunculkan ide. Ketika siswa memiliki ide yang berbeda dengan guru maka guru memarahinya. Maka perlunya saling menyadarkan kepada pihak yang terlibat dalam pembelajaran untuk mengerti tentang hakikat pembelajaran. Selain itu, perlu memulai untuk berinovasi dalam pembelajaran. Meskipun sulit, harus selalu ikhtiar dan berdoa semoga Allah SWT selalu menyadarkan kita akan pemikiran dan perbuatan yang tidak tepat.

    ReplyDelete
  11. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Menjadi seorang guru yang inovatif dapat dilakukan dengan menemukan fakta baru, karena semua yang baru merupakan ungkapkan kecil dari aspek hidup, sedangkan dalam dan di luarnya, dan selebihnya harus memohon pertolongan Tuhan. Perubahan paradigma pendidikan disesuaikan dengan perkembangan jaman dan kurikulum yang sedang berlaku dalam proses pembelajaran. Pada Kurikulum 2013 ini tidak bisa guru mengandalkan teacher center dan proses pembelajaran yang tradisional. Tetapi sekarang lebih ke student center sedangkan guru hanya sebagai fasilitator, untuk mengembangkan inovasi, kreatif, dan sikap siswa. Pembelajaran yang student center akan membuat pembelajaran lebih bermakna bagi siswa. Siswa akan lebih memahami konsep dengan mudah karena konsep saling terkait yang dengan keterkaitan itu akan menjadukan konsep dapat digunakan untuk konsep lainnya.

    ReplyDelete
  12. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Pagi dan sore adalah suatu hal yang sangat berbeda akan tetapi senantiasa berdekatan. Pada pagi hari matahari ada di timur dan pada sore hari matahari ada di barat, akan tetapi tak akan ada sore jika tak ada pagi, dan tak akan ada pagi apabila tak ada sore. Dari forum tersebut tampak bahwa mengkorelasikan antara bagaimana guru berinovasi dalam pembelajaran, dan bagaimana setiap materi sudah terpenuhi dalam pembelajaran. Hal tersebut merupakan permasalahan kompleks yang harus diselesaikan oleh guru. Guru harus mampu memcahkan masalah tersebut dengan memikirkan bahwa langkah-langkah pembelajaran yang dilaksanakan harus berdampak positif pada siswa sehingga siswa mampu meningkatkan kompetensinya secara optimal.

    ReplyDelete
  13. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Berbicara bagaimana lazimnya sesuatu adalah sebuah tema yang bisa dijadikan sebuah penelitian, khususnya penelitian dalam bidang pendidikan. Yang tujuannya tidak lain dan tidak bukan tentu untuk memajukan dan mengembangkan pendidikan Indonesia lebih baik lagi. Pendidikan Inovatif diibaratkan kicauan burung di pagi hari, sedangkan pendidikan Tradisional diibaratkan jengkerikan di sore hari. Jika kita disuruh memilih diantara kicauan burung dan jengkerikan pasti lebih memilih kicauan burung di pagi hari yang suaranya lembut. Begitupun dengan pendidikan tradisional dan pendidikan inovatif, pasti setiap guru jika disuruh memilih akan memilih pendidikan yang inovatif. Dengan pendidikan inovatif, dapat memberikan kebebasan siswa dalam membangun pengetahuannya sehingga mereka dapat mengembangkan potensinya masing-masing. Untuk merubah dari pendidikan tradisional ke pendidikan inovatif tentu tidak lah mudah dan cepat, karena keduanya memiliki paradigmanya masing-masing. Tetpai jika bukan dari kita yang mau merubah, siapa lagi yang akan merubah? Ataukah kita ingin dirubah? Itulah sebenar-benar pilihan, “berubah” ataukah “diubah”.

    ReplyDelete
  14. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof
    Ungkapan perasaann seorang yang ingin hijrah dari dunia sore pendidikan tradisional menuju dunia pagi inovatif.Namun menimbulkan banyak persepsi dan pertanyaan-pertanyaan yang belum rampung untuk dapat diterima begitu saja.Pertentantangan yang diibaratkan dengan nyanyian-nyanyian dan kicauan burung. Maaf jikalau tidak salah,Itulah sekelumit kata yang bisa saya gambarkan dari elgi tersebut.
    Birbicara tentang pendidikan tidak terlepas dari ragam persolaan dan pertanyaan yang selalu melingkupi. Untuk mengatasi biduk persoalannya maka perlu adanya inovasi baru dari dunia pendidikan.Tertuju pada dunia pagi inovatif sebagaimana yang disebutkan .Ini akan menjadi pilihan yang terbaik buat guru karena melihat kemajuan zaman yang kian hari kian berkembang.

    ReplyDelete
  15. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017
    Assalmualalikum wr.wb
    Judulnya artikel ini sangat menarik, Prof. pendidikan kita masih terbelenggu dengan paradigma lamai, yaitu pembelajaran berpusat para guru. Sebagian besar guru-guru di indonesia menganggap bahwa pembelajaran dikatakan sukses jika dalam kelas anak-anak mengikuti pelajaran dengan tenang, tidak ribut, diam memperhatikan, dan lain-lain. Paradigma tersebut harus diubah dimana, pembelajaran harus berpusat pada siswa, dengan demikian diharapkan dapat mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam membangun pengetahuan, sikap dan perilaku sehingga mereka akan memperoleh pemahaman yang mendalam dan pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas belajar siswa.

    ReplyDelete
  16. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Pendidikan di Indonesia memanglah masih belum dikatakan pendidikan yang inovatif. Adanaya kendala-kendala yang dihadapi untuk mencapai pendidikan yang inovatif adalah inovasi dalam pembuatan kurikulum, terkadang adanya penolakan dari sekelompok tertentu atas hasil inovasi yang dihasilkan, kurang adanya hubungan sosial dan publikasi yang dilkukan. Untuk itu agar perubahan pendidikan dapat berubah dengan baik mungkin dapat melibatkan guru, siswa, orang tua siswa serta administrator agar perubahan dapat berhasil dengan baik. Akan tetapi, berdo'a dan berikhtiarlah ynag sangat penting dalam mendasari perubahan tersebut.

    ReplyDelete
  17. Dimas Candra SAputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    "Bukankah perpindahan Sore menuju Pagi itu juga sebuah Kelaziman yaitu Sunatullah?" Dari kalimat tersebut dapat dipahami bahwa perpindahan pendidikan yang tradisional menuju inovatif sebenarnya telah menjadi ketetapan dan tak bisa ditawar lagi. Namun, inovasi tidak cukup hanya dengan sadar, sopan dan santun terhadap ruang dan waktu serta pengalaman. Inovasi perlu dilakukan melalui kerjasama dengan guru-guru lain dan dalam jejaring sistemik. Maka diperlukan kesadaran bersama untuk melakukan inovasi pembelajaran demi meningkatkan kualitas pendidikan. Inovasi yang dimaksud ialah yang benar-benar inovasi sesuai dengan hakekat dan sifat-sifatnya. Maka yang pertama ialah memahami hakekat serta sifatnya, kemudian memahami hakekat-hakekat lain yang berkaitan dengan inovasi, kemudian mengimplementasikannya secara bersama-sama, dan juga merefleksikan secara bersama-sama.

    ReplyDelete
  18. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Dunia bersifat dinamis, begitu pula terhadap kurikulum yang merupakan bagian dari sistem pendidikan. Untuk menghadapi perubahan tersebut tidak lain dan tidak bukan hanya dapat dilakukan dengan belajar dari berbagai aspek pendukung proses belajar mengajar di sekolah. Belajar untuk memahami berbagai macam pendekatan, belajar dalam mengembangkan perangkat pembelajaran dan belajar dalam memberikan self assessment yang tepat. Selain itu juga harus aktif dalam mengikuti berbagai macam pelatihan kurikulum salah satu yang paling sering di adakan adalah MGMP, dengan begitu kita dapat menyongsong guru yang kreatif dan inovatif.

    ReplyDelete
  19. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.mat B 2017

    Assalamu'alaikum wr.wb

    sebelumnya saya ingin mengucapkan "aamiin ya rabbal 'alamin"
    Perjalanan hijrah dari dunia pendidikan tradisional ke dunia pendidikan innovatif memang tidaklah mudah. walaupun secara teori dan logika sudah di rumuskan, direncanakan, di praktekkan, tapi kenyataannya proses yang terjadi membutuhkan waktu yang tidak singkat. disinilah diperlukan peran dari setiap elemen. jika hanya kita sendirian yang berjuang, dan yang lain berpangku tangan menunggu hasilnya, maka perubahan tersebut hanya akan menjadi angan-angan. peran guru menjadi kunci disini karena mereka yang terjun langsung dan berhadapan langsung dengan siswa.

    ReplyDelete
  20. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPs PM A

    Suara burung pagi hari dan jengkerik sore hari. Kepekaan melihat keadaan maupun fenomena yang Bapak miliki sungguh membuat saya mulai berpikir. Dari tulisan ini pikiran saya semakin terbuka akan keadaan dunia pendidikan di Indonesia. Bahkan Bapak dengan berani menggambarkannya dengan judul pada tulisan ini, sungguh dapat mengusik tatanan yang ada. Suara burung di pagi hari menggambarkan pendidikan yang telah berinovasi dengan segala standar yang ada, hal ini saya analogikan jika suara burung di pagi hari merupakan suara yang indah, berirama, dan disukai banyak orang serta menandakan akan munculnya mentari yang akan membawa cahaya di dunia.
    Di sisi lain pendidikan yang yang masih bersifat transfer ilmu, teacher Center, orientasi UN, waktu dan kebutuhan yang berbeda-beda namun hasil harus sama digambarkan dengan suara jengkerik yaitu suara yang menandai akan hilangnya cahaya atau datangnya malam. Waktu yang akan membuat manusia mengalami kesulitan karena tanpa cahaya kita tak mampu menggunakan indera penglihatan kita.

    ReplyDelete
  21. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Jika keadaan dan kondisi pendidikan Indonesian disesuaikan dengan analogi tulisan diatas, Indonesia digolongkan dalam dunia sore pendidikan tradisional. Dunia sore yang identik dengan suara jangkrik, tetesan air hujan, dan terbenamnya matahari. Tetapi pergantian sore menjadi pagi merupakan sunatullah suatu proses yang terjadi. Jika dunia sore pendidikan tradisional Indonesia berbenah diri dan melakukan inovasi, maka dunia pagi pendidikan inovatif akan tercapai.

    ReplyDelete
  22. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Menyelaraskan antara bagaimana guru berinovasi dalam pembelajaran, dan bagaimana setiap materi dan tuntutan sudah terpenuhi dalam pembelajaran memang meruakan permasalahn yang banyak dijumpai oleh guru. Hampir disetiap seminar dan talkshow mengenai guru inovatif pertanyaan ini pasti selalu terdengar. Guru harus menemukan cara yang cerdasa dan efisien dalam memenuhi kedua tuntutan ini.

    ReplyDelete