Feb 12, 2013

Forum Tanya Jawab 64 : Burung di Pagi Hari, Jengkerik di Sore Hari


Ass, alhamdulillah...saya merasa terharu karena baru saya postingkan Judulnya, tetapi sudah mendapat tanggapan yang bersemangat dengan 7 (tujuh) komen. Semoga selalu tetap terjaga semangat. Amin.

Yang terjadi dengan awal posting ini adalah ketika saya membaca komen-komen Bapak/Ibu berkaitan Incommensurability dan Siswa Menentukan Kurikulum, saya menangkap ada nuansa kebingungan atau kepanikan (dalam tanda petik) dari para Guru, dikarenakan adanya kesadaran ontologis akan makna Dunia Lain dari Pendidikan yang saya Kenalkan dari Konteks Inggris. Jadi saya sedang melihat adanya gerakan sintesis  dari Tesis Dunia Sore Hari (mungkin, Pendidikan Tradisional Indonesia) terhadap Anti-tesis Dunia Pagi Hari (mungkin contohnya, Pendidikan Progressif Inggris). Dunia masing-masing dengan konteksnya itulah yang kemudian ingin saya tulis dan saya beri judul sebagai "Burung di Pagi Hari, Jengkerik di Sore Hari". Jika diperhalus maka judulnya menjadi "Kicauan Burung di Pagi Hari dan Engkerikan Jengkerik di Sore Hari". Judul yang setara dapat dibuat misalnya "Embun di Pagi Hari dan Hujan di Sore Hari". Agar tidak lupa menulisnya maka saya tuliskan judulnya dulu, kemudian akan saya lanjutkan jika sudah sampai waktunya.

Berikut sintesisnya:
Pagi dan Sore adalah Dunianya masing-masing lengkap dengan strukturnya, kontennya, aturannya, sifat-sifatnya. Bahwa Kicauan Burung itu dilazimkan terjadi di Dunianya Pagi hari, sedangkan Engkerikan Jengkerik dilazimkanterjadi pada Dunianya Sore hari. Bahwa Embun di lazimkan jatuh di Pagi Hari, sedangkan Hujan dilazimkan di sore hari. Itu semua adalah kewajaran dan hukumnya Sunatullah. Maka orang Jawa mengenal istilah "Ngebun-ngebun Enjang, jejawah Sonten" artinya adalah Lumrah bahwa Embun itu di Pagi hari dan Hujan di Sore hari, untuk melazimkan bahwa Meminang seorang Gadis itu juga merupakan suatu kelaziman, yang tidak perlu diper Herankan. Kemana arah pembicaraan saya?

Pagi Hari dan Sore Hari masing-masing adalah Dua Dunia dengan segala sifatnya dan kodratnya. Dia mempunyai Persoalannya masing-masing; dia mempunyai PERTANYAANNYA masing-masing. Jika kita kiaskan Dunia Pendidikan Tradisional Kita sebagai Dunia Sore, maka akan dijumpai segala Persoalan dan Pertanyaan dari para Penghuninya yang BERBEDA dengan segala Persoalan dan Pertanyaan dari para Penghuninya Dunia Progressif Inggris di Pagi Hari. Terkadang dijumpai bahwa Persoalan dan Pertanyaan tidak mampu melampaui Dunianya karena Kodratnya. Mereka terikat oleh Paradigmanya masing-masing; sedangkan Filsafat berupaya untuk melepas belenggunya.

Persoalan dan Pertanyaan dari Kita Guru-guru penghuni Dunia Sore Pendidikan Tradisional tidak mampu keluar dari pertanyaan: Bagaimana mengajar dengan baik?; Bagaimana menyampaikan materi dengan baik?, Bagaimana memberi bekal sebanyak-benyaknya?; Bagaimana menyelesaikan kurikulum?; Bagaimana membuat siswa merasa senang belajar?; Bagaimana mencapai kelulusan maksimal?; Bagaimana memotivasi siswa?; Bagimana memberi Appersepsi?; Bagaimana mengaktifkan siswa; Bagaimana menjelaskan materi dengan baik? Bagaimana mengajarkan materi yang sama, untuk siswa yang berbeda, dengan waktu yang sama, agar diperoleh hasil yang sama? Bagaimana agar siswa tertib mengikuti pelajaran?.....Maka semua Persoalan dan Pertanyaan yang muncul selalu berkaitan dengan Paradigma Dunia Sore Pendidikan Tradisional, yang secara Laten dan Immanent selalu ada sebagai Ruh dan Jiwanya Dunia Sore. Paradigma itu meliputi: Transfer of knowledge; Transfer of learning; Murid sebagai Empty Vessel; External Evaluation (UN); Test Objective; External Motivation; Homogenous (Penyeragaman); Pendidikan adalah Investasi; Ilmu sebagai Struktur; Content Based Curriculum; Separated BasedCurriculum; Pendidikan bersifat tertutup..dst.

Persoalan dan Pertanyaan Guru-guru Penghuni Dunia Pagi Pendidikan Innovatif berakar dan membudaya meliputi: Bagaimana melayani kebutuhan siswa belajar?; Bagaimana mengembangkan LKS?; Bagaimana mengetahui Perbedaan Kemampuan siswa? Bagaimana menindaklanjuti keinginan siswa? Bagaimana memfasilitas agar pada waktu yang berbeda, siswa yang berbeda, dapat mempelajari matematika atai sain yang berbeda, dengan hasil yang tentunya okelah berbeda; Bagaimana mengembangkan assessment?; Bagaimana mengembangkan Portfolio siswa?;  Bagaimana mengembangkan Variasi Media, Variasi Metoda, Variasi interaksi; Bagaimana mengembangkan metode diskusi....Maka semua Persoalan dan Pertanyaan yang muncul selalu berkaitan dengan Paradigma Dunia Pagi Pendidikan Inovatif yang secara Laten dan Immanent memang menjadi ciri khasnya Dunia Pagi.

Dengan susah payah saya berusaha menggambarkan bagaimana Sulitnya dan Pengorbanan memasuki dan berusaha beradaptasi dengan Dunia Baru yaitu dari Dunia Sore Tradisional menuju Dunia Pagi Inovatif. Diperlukan kondisi Ekstrinsik yang sangat kuat dari dalam diri berupa Niat, Semangat, Sikap, Pengetahuan, Ketrempilan dan Pengalaman agar perjalanan Hijrah dari Dunia Sore Pendidikan Tradisional menuju Dunia Pagi Pendidikan Inovatif. Jikalaupun hal demikian sudah terpenuhi maka masih mengalami persoalan-persoalan dari Luar dirinya baik yang bersifat Ekstrinsik maupun Sistemik. Maka Hermenitika yaitu terjemahan dan diterjemahkan menjadi sangat penting agar seorang Guru dari Penghuni Sore Pendidikan Tradisional mampu Hijrah dengan kesopan santunan terhadap Ruang danWaktunya Dunia Pagi Pendidikan Inovatif. Jikalau kita telah berusaha memasuki Dunia Pagi Pendidikan Inovatif, maka kita menjumpai bahwa ternyata Nyanyian, Kicauan dan Serangga-serangga pun berbeda.

Itulah sekali lagi, betapa tidak mudah melakukan Inovasi Pendidikan. Secara filsafati aku menemukan bahwa Inovasi itu ternyata tidak lain tidak bukan adalah Diriku sendiri. Diriku itulah Dunia Pagi Pendidikan Inovatif. Jikalau di Pagi hari masih terdengar suara Jengkerik, maka gejala aneh apa yang sedang aku alami. Jika di sore hari turunlah Embun, maka gejala aneh apa lagi pula yang sedang aku alami. Sadar, sopan, dan santun terhadap Ruang dan Waktunya Dunia Pagi Pendidikan Inovatif sangat perlu tetapi ternyata belum cukup. Keterampilan dan pengalaman sangat perlu tetapi ternyata belum cukup. Diperlukan diri, orang lain, ekstrinsik dan sistemik, yang merupakan kesadaran bersama dan gerakan tindakan bersama untuk sampai kesana. Aku tidak bisa membayangkan jika diriku tidak menyadarinya; maka semua yang berasal dari luar diriku akan terasa sebagai beban bahkan bencana bagiku. Aku menjadi ragu-ragu apakah aku perlu bertanya perlukah aku atau bisakah aku mencegah diriku berpindah atau hijrah dari Sore menuju Pagi? Kadang-kadang aku juga bingung saat ini masih Sore atau sudah Pagi? Suara apakah itu? Apakah itu suara Jengkerik? ataukah suara Burung? Aku agak sulit membedakan karena sumber suaranya terlalu jauh dan lemah. Tetapi suara yang dekat ini walaupun keras, tetapi polanya tidak karuan, sehingga akupun sulit membedakan apakah suara Jengkerik atau suara Burung. Aku heran temanku itu, kenapa dengan lihainya bisa menirukan Kicauan Burung Cocak Rawa di Pagi hari? Walaupun demikian, bagaimanapun akau masih tetap bersyukur, karena setidaknya aku mulai bisa membedakan bahwa saatnya kini sudah mendekati Waktu Pagi. Ah..aku jadi agak malu jika ketahuan temanku, jika aku tidak mampu membedakan Sore dan Pagi bukankah itu metaforanya aku tidak mempu membedakan Tradisional dan Inovatif?

Di tengah kegalauan pikirku, muncul terang Filsafatku yang menuntun diriku yang mengatakan bahwa "bukankah perpindahan Sore menuju Pagi itu juga sebuah Kelaziman yaitu Sunatullah?" Oh kalau begitu aku telah menemukan kembali simpanan Filsafatku bahwa untuk Hijrah dari Dunia Sore Pendidikan Tradisional menuju Dunia Pagi Pendidikan Inovatif, aku harus mengembangkan sopan santunku terhadap Ruang dan Waktunya. Di Pagi Hari nanti seakan aku tidak sabar ingin Berkicau layaknya Burung Cocak Rawa. Kicauanku akan aku selaraskan dengan Hakekat dan Sifat-sifat Dunianya Pagi. Itulah ikhtiarku. Itulah juga ketetapanku. Aku ingin mempelajari lebih lanjut Fenomena Incommensurability dan Fenomena Siswa Menentukan Kurikulum yang diberikan contoh oleh Dosenku. Aku tidak ingin hanya mengetahui, tetapi aku ingin menghayati dan mengimplementasikan, karena aku juga telah menemukan Ontologisnya bahwa Perbedaan Individu itu ternyata juga Sunatullah.

Di dalam jatuh bangunnya perjalananku ini, untuk mengisi sisa hidupku ini, agar konon mampu menjadi seorang Guru yang Inovatif, ternyata aku menemukan fakta baru lagi, karena semua yang baru aku ungkapkan itu hanyalah sebagian kecil dari aspek Hidupku, sedangkan dalam dan di luarnya, ini dan selebihnya ternyata aku harus memohon Pertolongan dan Memanjatkan Doa ke Hadlirat Allah SWT semoga apa yang aku sadari, aku cita-citakan di Ridai dan dikabulkan.

Amin.

11 comments:

  1. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Burung di pagi hari dan jangkrik di sore hari atau embun di pagi hari dan hujan di sore hari adalah filsafat yang unik. Pagi dan sore adalah dua hal yang berbeda. Mereka memiliki setiap masalah dan setiap pertanyaan. Dan filosofi ini menggambarkan sistem pendidikan saat ini. Pagi menjelaskan tentang Pendidikan Inovatif dan sore menjelaskan tentang Pendidikan Tradisional yang keduanya memiliki setiap masalah dan setiap pertanyaan juga. Pagi lebih membahas tentang keragaman dan sore lebih membahas tentang homogen. Jelas, pagi dan sore memang berbeda. Nyanyian, kicauan, dan serangga-serangga yang berbeda pula. Seorang guru bisa dan memiliki pilihan untuk move on dari sore ke pagi hari, dari tradisional ke pendidikan yang inovatif. Dan untuk mencapai itu, guru perlu kondisi ekstrinsik yang sangat kuat dari dalam berupa niat, semangat, sikap, pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman. Akan tetapi, semua itu juga tidak cukup. Guru pun harus mampu menerjemahkan dan diterjemahkan agar seorang guru dari Penghuni Sore Pendidikan Tradisional mampu hijrah dengan kesopan-santunan terhadap Ruang dan Waktunya Dunia Pagi Pendidikan Inovatif. Sekali lagi, betapa tidak mudah melakukan Inovasi Pendidikan. Secara filosofis, Bapak Marsigit menemukan bahwa inovasi adalah dirinya sendiri, inovasi adalah kita. Gerakan dari sore ke pagi hari adalah prevalensi yang disebut sunatullah. Perbedaan individu juga sunatullah. Jadi, gerakan dari Pendidikan Tradisional ke Pendidikan Inovatif juga sunatullah.

    ReplyDelete
  2. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Wacana yang sangat bagus dengan judul yang penuh dengan analogi, mempunyai makna yang dalam apabila direnungkan dan dihayati. Pagi hari identik dengan semangat dan sore hari identik dengan kelelahan yang telah bekerja seharian. Pagi identik juga dengan optimis dan sore identik juga dengan pesimis. Maka saya setuju dengan pemaparan dari Prof diatas yang mengidentikkan kecauan burung di pagi hari dengan pendidikan yang inovatif, dan engkerikan jengkrik disore hari mengidentikkan dengan pendidikan tradisional. Analogi yang sangat bagus ketika embun turun di sore hari dan engkerikan jengkrik di pagi hari tentu hal ini menjadi hal sangat aneh, namun hal yang demikian secara berangsur-angsur dan secara bijak akan dilakukan walaupun tidak semudah yang kita bayangkan. Namun selagi ada kemauan pasti ada jalan.

    ReplyDelete
  3. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setiap metamorfosis/perubahan/hijrah tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan beberapa proses. Elegi tersebut memberikan pembelajaran mengenai inovasi pendidikan. Inovasi tersebut dianalogikan dengan dunia sore tradisional menuju dunia pagi inovatif. Untuk mencapai perubahan diperlukan dukungan dari berbagai aspek baik intrinsik maupun ekstrinsik. Dalam hal ini diperlukan niat, semangat, sikap, pengetahuan, ketrempilan dan pengalaman agar perjalanan hijrah dari dunia sore pendidikan tradisional menuju dunia pagi pendidikan inovatif.

    ReplyDelete
  4. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Istilah dunia pagi jika dikaitkan dalam pendidikan ialah sebagau pendidikan yang inovatif, sedangkan yang dunia sore ialah sebagai pendidikan tradisional. Seperti halnya pada forum Tanya jawab 63 bahwa guru di Inggris ingin melakukan perubahan yaitu dengan mengetahui dahulu kemampuan masing- masing siswanya. Dalam hal ini, guru di Inggris berarti ingin berubah dari dunia sore hari menjadi pagi hari. Sebenarnya banyak guru yang sudah mencoba melakukan pendidikan yang inovatif, tetapi hanya sebatas strategi pembelajarannya. Atau dalam artian belum sampai ke memahami siswanya secara individu yang berbeda karakteristiknya. Semoga dengan adanya pandangan kurikulum di Inggriss akan membuat guru yang berada di Negara lainnya membuat inovasi yang lebih baik. Aamiin

    ReplyDelete
  5. Desy Dwi frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Mungkin akan sangat indah jik pembelajaran di kelas dapat terjadi seperti yang terjadi pada sekolah di London. Kurikulum dapat secara fleksibel tanpa mengurangi esensi belajar efektif. Kurikulum hakekatnya tidak memberatkan siswa namun membantu siswa dalam belajar dan memahami perbedaan karakter setiap siswa. Mungkin akan terlalu sulit jika harus diterapkan di negeri ini, mulai dari pemerintah yang ribet dan terlalu banyak tuntutan serta kompetensi guru yang sepenuhnya belum mampu membuat LKS terstruktur dan portofolio yang efektif.

    ReplyDelete
  6. Kicauan burung lebih banyak variasinya dan enak untuk didengarkan. Jangkrik yang berbunyi do sore hari mempunyau suara yang monoton. Pendidikan seharusnya penuh dengan variasi (baca inovasi), bukan pendidikan yang monoton. Pendidikan yang diisi dengan inovasi maka lebih menyenangkan untuk dinikmati seperti suara burung. Inovasi dapat membebaskan guru dan siswa untuk mengungkapkan pemikirannya. Inovasi merupakan keniscayaan dan memerlukan waktu. Guru harus sadar serta menumbuhkan sikap inovatif bagi dirinya dan siswa.

    ReplyDelete
  7. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Judul yang setara dapat saya buat dengan judul "Matahari di Pagi Hari dan Bulan di Malam Hari". Kita tahu bahwa matahari dan bulan adalah karya Tuhan yang sungguh agung. Ia menjadikan matahari dan bulan sebagai penerang pada cakrawala untuk memisahkan pagi dan malam dimana benda-benda ini (matahari dan bulan) menjadi tanda yang menunjukan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun. Tuhan menciptakan benda-benda ini yakni lebih besar (matahari) untuk menguasai pagi/siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam.

    ReplyDelete
  8. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Guru dunia sore terfokus pada cara mentransfer pengetahuan dengan baik dengan menganggap siswa sebagai empty vessel sedangkan guru dunia pagi terfokus pada cara memfasilitasi yang mempunyai kemampuan awal yang berbeda-beda agar dapat mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Perbedaan persepsi ini terlihat sangat jauh berbeda. Dunia berubah setiap detiknya. Oleh karena itu para guru di Indonesia juga harus mulai berubah ke arah yang lebih baik. Saat ini di Indonesia para guru sedang dipaksa untuk berpindah dari dunia sore menuju dunia yang mendekati pagi. Sedikit demi sedikit nantinya para guru di Indonesia akan menjadi guru dunia pagi yang inovatif. Perubahan ini bukanlah hal yang mudah namun insyaallah dapat berhasil jika para guru dan educationist di Indonesia berikhtiar dengan sungguh-sungguh.

    ReplyDelete
  9. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Dari elegi di atas dapat kita ketahui bahwa kicauan antara burung di pagi hari dan suara jangkrik di sore hari tentu berbeda. Jika kita disuruh memilih tentu kita akan memilih mendengarkan kicauan burung di pagi hari. Itu lebih menyenangkan. Seperti itukah gambaran pendidikan di Indonesia jika kita disuruh memilih kita tentu akan memilih pendidikan yang inovatif yang memberikan kebebasan siswa untuk mengembangkan segala potensi yang dimilikinya. Peran guru di sini adalah sebagai fasilitator dan teman belajar bagi siswa. Memang tidak mudah bagi para guru untuk mencapai pendidikan inovatif, tetapi jika guru dan segenap komponen yang terlibat dalam dunia pendidikan mau berusaha untuk mencapainya maka hal tersebut tercapai. Seringkali kita belum melakukannya baru melihat saja sudah beranggapan bahwa itu "sulit, aku tidak bisa melakukannya". Anggapan tersebutlah yang sebenarnya membatasi kita untuk menjadi inovatif. Dengan kata lain, kita ini seperti berada di dalam sangkar yang kita buat sendiri dan kita kesulitan keluar dari sangkar itu. Oleh karena itu, jika ada niat, usaha, kemauan dan diiringi dengan doa secara bersama-sama, dari semua komponen yang terlibat dalam pendidikan maka kita bisa mewujudkan Dunia Pendidikan yang Inovatif.

    ReplyDelete
  10. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Setelah membaca elegi diatas, yang saya fahami adalah bahwa elegi tersebut membicarakan tentang pembelajaran matemtika, dimana pembelajran dengan metode tradisional diumpamakan dengan dunia sore hari yang berarti hampir mencapai waktunya untuk segera berhenti. Sedangkan pembelajaran inovatif diumpamkan sebagai dunia pagi, yaitu pembelajaran yang masih sangat baru yang berusaha melalui harinya. Begitu jauh kesenjangan antara dunia burung di pagi hari yang mengibaratkan pendidikan dengan dunia jengkerik di sore yang mengibaratkan pendidikan tradisional Indonesia. Keduanya terjadi dalam ruang dan waktu yang berbeda dan memiliki perbedaaan dalam masalah yang dihadapi. Perlu usaha, semangat dan kerja keras untuk dapat menginovasi dunia jengkrik di sore hari menuju dunia burung di pagi hari. Memang tidak mudah menggapai pembelajaran yang ideal, dengan kreativitas siswa dan potensi guru yang mampu mengembangkan metode pembelajaran yang dapat membuat pembelajaran siswa menyenangkan. Namun, akankah kita selalu berada dalam pembelajaran tradisional yang beranggapan bahwa siswa adalah tong kosong yang harus diisi sampai penuh. Guru hendaknya tidak melihat pembelajaran sebagai suatu masalah yang akan dicari solusinya tetapi berniat dan berusaha untuk kreatif menginovasi proses pembelajaran yang ada.

    ReplyDelete
  11. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Berangkat dari Pendidikan tradiosional menuju kepada inovasi Pendidikan tidak dalam sekejap dapat dilakukan. Mengapa? Perlu proses, pengetahuan, berbagi informasi, pengalaman dan lain sebagainya yang menjadi faktor pendukungnya. Jadi perubahan tersebut memerlukan waktu yang tidak singkat. Jadi jelaslah perbedaan dunia sore dan dunia pagi, untuk menghubungkn keduanya diperlukan faktor eksternal dan internalnya secara spesifik.

    ReplyDelete