Feb 12, 2013

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 10: Architectonic Mathematics (2)




Oleh Marsigit

Architectonic Mathematics dapat dibayangkan sebagai seorang arsitek yang akan membangun gedung. Siswa-siswa adalah arsitek bagi dirinya sendiri dalam membangun bangunan matematika di dalam pikirannya.

Implikasi dari pandangan ini adalah bahwa MATEMATIKA ITU TIDAK LAIN TIDAK BUKAN KECUALI ADALAH PIKIRAN PARA SISWA ITU SENDIRI. Inilah asumsi dasar yang harus kita pegang sebagai pondamen bagi membangun Architectonic Mathematics.

Sedangkan pondamen bagi Architectonic Mathematics itu sendiri adalah ASUMSI DASAR TENTANG BAGAIMANA SISWA BISA MEMPEROLEH PEMAHAMAN DAN MAMPU MEMBANGUN KONSEP MATEMATIKA.

Setidaknya terdapat 2 (dua) asumsi dasar, pertama: siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui logika atau penalarannya; kedua, siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui pengamatannya terhadap fenomena matematika.

Logika atau penalaran bersifat "analitik a priori", sedangkan pengamatan fenomena matematika menghasilkan konsep matematika yang bersifat "sintetik a posteriori". Pilar bangunan Architektonic Mathematics adalah pertemuan atau perkawinan keduanya sehingga menghasilkan pemahaman dan bangunan matematika yang bersifat "sintetik apriori".

Itulah pendapat Immanuel Kant bahwa agar matematika bisa menjadi ilmu maka dia haruslah bersifat "sintetik a priori".

Architectonic Mathematics TIDAKLAH bersifat Singular; artinya kita tidak bisa memandang Architectonic Mathematics hanya dari subyek diri seorang siswa secara terisolasi, melainkan dia harus dipandang dalam konteks Architectonic-architectonic Mathematics dari siswa-siswa yang lain dan bahwkan Architectonic Mathematics dari seorang gurunya atau dari seorang dewasa yang konsep matematikanya bersifat "formal abstract".

Maka Architectonic Mathematics HARUSlah bersifat plural dan bertabiat sebagai suatu komunitas diantara subyek belajar matematika. Oleh karena itu maka akan diperoleh apa yang kita sebut sebagai "ISOMORPHISM AMONG THE ARCHITECTONIC OF MATHEMATICS". Isomorphisma diantara Architectonic-architectonic Mathematics subyek belajar matematika akan menghasilkan "OBJECTIVITY OF MATHEMATICS".

Jadi jelaslah bahwa Singular Architectonic Mathematics akan menghasilkan "SUBJECTIVITY OF MATHEMATICS". Interaksi antara SUBJECTIVITY OF MATHEMATICS dan OBJECTIVITY OF MATHEMATICS itulah yang kemudian disebut sebagai "THE NATURE OF STUDENT'S LEARN MATHEMATICS" atau "Hakekat Siswa Belajar Matematika".

Inilah hakekat belajar matematika yang ditemukan oleh Paul Ernest (2002) dalam Bukunya yang berjudul The Philosophy of Mathematics Education. Maka Architectonic Mathematics dapat dibangun di atas SUBJECTIVITY OF MATHEMATICS melalui kegiatan-kegiatan diskusi, menulis, mendengar, bertanya, praktek langsung, memproduksi, merevisi, memberi kritik atau masukkan agar diperoleh SUBJECTIVITY OF MATHEMATICS yang ter UPDATE.

Subjectivity of Mathematics yang ter UPDATE itulah yang kemudian disebut sebagai OBJECTIVITY OF MATHEMATICS. Objectivity of Mathematics inilah yang diburu dan dikejar-kejar oleh orang (termasuk guru atau sebagian para matematikawan dari perguruan tinggi) yang kurang mengerti tentang the Nature of Learning Mathematics for younger student.

Kurang beruntungnya jika yang memburu dan mengejar adalah Pengambil Keputusan atau Pejabat penentu kebijakan di bidang Pendidikan Matematika.

Dengan mengerti akan adanya Architectonic Mathematics diharapkan akan menyadarkan para pemburu-pemburu itu agar segera menyadari kesalahannya dan kalau perlu memohon pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang selama ini dilakukannya.

Amin.

41 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Berdasarkan elegi di atas, dikatakan bahwa siswa adalah arsitek bagi dirinya sendiri. Saya pribadi memaknai kalimat tersebut seperti kita mempunyai kewenangan atas diri kita sendiri. Begitupun ketika mempelajari matematika. Ingin diranvcang dan dibangun seperti apa pemahaman kita. Itu hak diri kita sendiri. Nah dalam proses membangun pemahaman bisa jadi siswa membangun konsep melalui logika dan pengalaman yang dimilikinya. Atau dapat pula dengan melakukan pengamatan terhadap suatu fenomena yang terjadi di dalam matematika

    ReplyDelete
  3. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb


    Berdasarkan Architectonic Mathematics, mempelajari ilmu matematika, diibaratkan seorang siswa sedang membangun sebuah bangunannya dimana setiap orang merupakan subyek ataupun pelaku dari pembangunan bangunan untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu, dalam pembangunan ini diperlukan pondasi dan bahan yang kokoh dan cukup agar bangunan dapat berdiri secara sempurna. Pondasi dan bahan yang kokoh ini dapat peroleh siswa dari guru sebagai fasilitator berupa ilmu dan pengetahuan yang mampu dipahami oleh siswa. Memahami materi matematika yang abstrak memang tidak mudah, maka alangkah baiknya proses pembelajaran matematika dirancang agar materi dapat dipahami dan mengubah mainset siswa dari matematika yang abstrak menjadi ilmu tentang kehidupan yang penting untuk dipelajari. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  4. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb


    Berdasarkan Architectonic Mathematics, mempelajari ilmu matematika, diibaratkan seorang siswa sedang membangun sebuah bangunannya dimana setiap orang merupakan subyek ataupun pelaku dari pembangunan bangunan untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu, dalam pembangunan ini diperlukan pondasi dan bahan yang kokoh dan cukup agar bangunan dapat berdiri secara sempurna. Pondasi dan bahan yang kokoh ini dapat peroleh siswa dari guru sebagai fasilitator berupa ilmu dan pengetahuan yang mampu dipahami oleh siswa. Memahami materi matematika yang abstrak memang tidak mudah, maka alangkah baiknya proses pembelajaran matematika dirancang agar materi dapat dipahami dan mengubah mainset siswa dari matematika yang abstrak menjadi ilmu tentang kehidupan yang penting untuk dipelajari. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  5. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Hakikat belajar Matematika yang dikemukakan Paul Ernest (2002) diatas bahwa belajar Matematika merupakan dialektika antara subjek Matematika dengan objek Matematika, sehingga membentuk sebuah construct Matematis yang kuat. Tanpa adanya dialektika antara subyek Matematika dengan obyek Matematika Maka seorang anak tidak akan mampu membangun pengetahuan Matematikanya.

    ReplyDelete
  6. Dalam pikiran manusia membangun berbagai macam-macam dimensi. Termasuk salah-satunya membangun dimensi pengetahuan matematika. pikiran manusia itu sendiri akan menjadi arsitek yang akan merencanaka rancangan dari bangunan pikiran tentang pengetahuan matematika. namun terkadang, seperti yang bapak istilahkan “sebagai pemburu” para penentu kebijakan yang terkadang tidak memperhatikan aspek psikologis dari siswa, semoga mereka membuat perubahan-perubahan terkait kebijakan dalam pendidikan.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  7. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Cara pemikiran ini sangat membantu dalam pembelajaran Matematika. Tugas guru adalah membuat siswa menjadi arsitek bagi dirinya sendiri. Dengan begitu siswa dapat menemukan konsep matematika. Ketika siswa sudah dapat menjadi arsitek untuk dirinya sendiri maka ia akan lebih mudah untuk menerima konsep-konsep baru dalam matematika, sebab konsep didalam matematika saling berkaitan satu sama lain.

    ReplyDelete
  8. Kartika Pramudita
    17701251021
    PEP S2 B

    Membaca elegi ini, yang saya tangkap adalah tentang rambu-rambu peringatan kepada guru dan pihak terkait tentang pendidikan. Peringatan untuk berhati-hati dalam bertindak. Sebenar-benar architectonic mathematics adalah membangun matematika dengan pikirannya sendiri. Jadi dalam pembelajaran matematika hendaknya siswa diberikan kebebasan untuk membangun pengetahuannya sendiri. Tugas guru adalah memberikan fasilitas kepada siswa agar dapat membangun. Dalam membangun pengetahuan modal yang utama adalah pikiran dan pengalaman. Dari pikiran dan pengalaman tersebut melebur jadi satu menjadi sintetik a priori menurut Imanuel Kant. Sehingga dalam membangun pengetahuan agar diperoleh pengetahuan maka harus dilakukan secara sintetik a priori.

    ReplyDelete
  9. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Architectonic Mathematics dapat dibayangkan sebagai seorang arsitek yang akan membangun gedung. Siswa-siswa adalah arsitek bagi dirinya sendiri dalam membangun bangunan matematika di dalam pikirannya. Siswa dapat membangun matematika di dalam pikirannya melalui dua hal. Pertama: siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui logika atau penalarannya; kedua, siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui pengamatannya terhadap fenomena matematika. Logika atau penalaran bersifat "analitik a priori", sedangkan pengamatan fenomena matematika menghasilkan konsep matematika yang bersifat "sintetik a posteriori". Dengan menghubungkan dua cara ini maka siswa akan dapat membangun pemahaman matematikanya yang bersifat sintetik a priori. Architectonic Mathematics inilah sebenarnya hakekat siswa belajar matematika. Pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa mampu mengkonstruksinya sendiri. Tentu tetap diperlukan peran guru di dalamnya untuk memfasilitasi siswa dalam membangun pengetahuannya, bisa juga dengan melibatkan sesama teman, atau orang dewasa yang sudah mencapai tahap matematika formal. Oleh karena itu Architectonic Mathematics ini bersifat plural. Perlu adanya kebijaksanaan semua pihak untuk menyadari adanya Architectonic Mathematics ini, sehingga pembangunan ilmu matematika bisa maksimal.

    ReplyDelete
  10. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Pada dasarnya, siswa tidak akan benar-benar memahamai apa itu matematika jika hanya diberikan pengetahuan oleh gurunya tanda ada dorongan dari dalam diri mereka. Siswa sebenarnya akan mendapatkan pemahaman yang hakiki jika mereka membangun pengetahuan itu sendiri. Disini, peran guru hanyalah memfasilitasi atau sebagai mandor mereka dalam membangun pengetahuan yang mereka inginkan. Mandor disini bukan mereka yang selalu memerintahkan, namun mereka yang memberikan tambahan jika ada aspek pengetahuan yang masih tergolong kurang.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  11. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Setiap siswa memiliki hak untuk menjadi arsitek bangunan pengetahuan matematikanya masing-masing. Karena dengan menjadi arsiteknya, siswa akan memiliki matematika tersebut. Siswa akan lebih memahami seluk beluk bangunan pengetahuannya sendiri. Siswa akan lebih memahami apa yang kuat dari bangunannya, apa yang masih rapuh dan perlu diperkuat. Maka tugas guru adalah memfasilitasi siswa agar mereka memiliki bahan yang cukup untuk membangun pengetahunnya sendiri. Guru juga harus menyadari bahwa bangunan satu orang siswa pastilah berbeda dengan bangunan siswa lain, masing- masing memiliki keunikannya sendiri- sendiri. Karena itulah guru tidak boleh memaksa agar bangunan siswa satu sama dengan siswa lainnya. Guru harus dapat memfasilitasi siswa dengan sistem penilaian yang menghargai setiap karya bangunan siswa-siswanya.

    ReplyDelete
  12. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Hendaklah seorang guru dalam mengajarkan matematika memberi kebebasan kepada setiap siswa untuk dapat menemukan sendiri pemahaman tentang matematika. guru memfasilitasi kegiatan-kegiatan diskusi, menulis, mendengar, bertanya, mencari informasi, mencari contoh di lingkungan sekitar, praktek langsung, dan harus memberi masukan serta penguatan.
    Ketika siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui logika atau penalarannya, dan pengamatannya terhadap fenomena matematika maka akan diperoleh pengetahuan matematika yang utuh. Sehingga pembelajaran matematika betul-betul menjadi bermakna bagi setiap siswa, tidak hanya sekedar hafalan saja.

    ReplyDelete
  13. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Architectonic Mathematics terkait dengan metode konstruktivisme dimana siswa membangun serndiri pengetahuannya. Guru tidak lagi sepenuhnya menjelaskan atau transfer of knowledge. Guru hanya sebatas fasilitator atau seseorang yang memandu jalannya pembelajaran. Selebihnya siswa secara mandiri menemukan, mengeksplorasi, berkreasi, dan membangun konsep bangunan pengetahuannya. Implikasi dari Architectonic Mathematics seperti apa yang Prof sebutkan diatas yaitu bahwa Matematika itu tidak lain tidak bukan adalah pikiran para siswa itu sendiri.

    ReplyDelete
  14. Pratama Wahyu Purnama
    17709251033
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Arsitek pada matematika tidak lain dan tidak bukan adalah siswa itu sendiri. Siswa yang dapat membangun pengetahuan tentang matematika melalui pikirannya, melalui logika dan penalarannya masing-masing. Dengan begitu siswa dapat lebih mudah dalam belajar matematika dan pembelajaran matematika akan lebih bermakna. Karena sejatinya pembelajaran matematika adalah aktivitas dari siswa itu sendiri dengan tujuan membangun pengetahuan.

    ReplyDelete
  15. Dalam mempelajari matematika, yan gperlu ditingkatkan adalah bagaimana mempertajam intuisi dan mengembangkan pola pikir kreatif siswa. Untuk itu diperlukan suasana pembelajaran yan gbermakna agar dapat meningkatkan kemampuan intuisi siswa. Proses pembelajaran seperti ini bukanlah proses pembelajaran yang menekankan sebera banyak soal yan gdapat dijawab oleh siswa, namun seberapa paham dan kreatif siswadalam memecahkan permasaalahan matematika.

    ReplyDelete
  16. Siapa itu Matematika? Matematika itu tidak lain tidak bukan adalah pikiran siswa itu sendiri. Hal ini diibaratkan seperti halnya seorang arsitek yang membangun. Jadi, sangat jelas sekali bahwa siswa-siswa adalah arsitek bagi dirinya sendiri dalam membangun bangunan matematika didalam pikirannya.

    ReplyDelete
  17. Siapa itu Matematika? Matematika itu tidak lain tidak bukan adalah pikiran siswa itu sendiri. Hal ini diibaratkan seperti halnya seorang arsitek yang membangun. Jadi, sangat jelas sekali bahwa siswa-siswa adalah arsitek bagi dirinya sendiri dalam membangun bangunan matematika didalam pikirannya.

    Pratama Wahyu Purnama
    17709251033
    PPS P. Matematika B 2017

    ReplyDelete
  18. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Jalan yang kita pilih akan menentukan kehidupan yang akan kita jalani. Sama halnya dengan pembelajaran. Di saat guru sudah melakukan kebaikan dan keikklasan dlam mengajar menggunakan stdent center. Namun siswa masih berfikir agar pengajaran lebih ke teacher center akan merasa kesulitan untuk membangun matematikanya sendiri atau Architectonic Mathematic. Saya masih sering menjumpai saat guru memberikan LKS atau modul yang benar-benar melibatkan siswa namun siswanya sendiri sangat mengandalakan gurunya, belum saja mereka diskusi mereka sudah bertanya kepada guru bagaiamana cara mengerjakan LKS tersbeut. Hal ini membutuhkan keteguhan guru untuk membiasakan pembelajran student center, mungkin saja disekolah sebelumnya belum melaksanakan sehingga siswa belum terbiasa membangun matematika atu Architectonic Mathematic nya sendiri.

    ReplyDelete
  19. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C


    Siswa membangun sendiri pemahamannya, merancang, menentukan pola, sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya merupakan artian dari Architectonic Mathematics. Siswa menggunakan logika dan pengalamannya sendiri sehingga dengan sendirinya pemahaman matematika terkonstruksi dalam dirinya. Architectonics mathematics tidak singular, akan tetapi plural. Terjadinya perbedaan berbagai pendapat antara satu guru dengan guru yang lain akibat Architectonic Mathematics pada pikirannya terurai berbeda-beda. Namun hendaknya janganlah mendahulukan ego tapi hendaknya dicari solusinya, karena hal itu bisa benar untuk pendapat semua atau ada yang keliru.

    ReplyDelete
  20. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Subyek arsitektonis adalah struktur dari semua pengetahuan manusia. Tujuan memberikan skema arsitektonis adalah untuk mengklasifikasikan berbagai jenis pengetahuan dan menjelaskan hubungan yang ada antara klasifikasi ini. Sistem arsitektonis dicetuskan oleh CS Peirce (1839-1914) dengan membagi pengetahuan sesuai dengan status sebagai "ilmu" dan kemudian menjelaskan keterkaitan disiplin ilmu yang berbeda.

    ReplyDelete
  21. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Peirce membagi matematika menjadi tiga bagian yakni matematika diskrit, matematika tak hingga, dan matematika formal logika. Kita menggunakan karya inovatif Peirce dalam logika matematika sebagai milik logika yang tepat daripada menjadi cabang matematika. meskipun, peran matematika lebih penting sebagai penyedia prinsip panduan untuk ilmu berikutnya, dan terutama filsafat. Karena ayahnya, Peirce menganggap matematika sebagai "ilmu yang menarik pentingnya kesimpulan".

    ReplyDelete
  22. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Menurut Pierce, matematika mengandung konstruksi hipotetis, yaitu, konstruksi yang abstrak dan belum tentu yang sebenarnya, dan kemudian berasal hubungan logis yang diperlukan antara hal terebut. "Pentingnya Kesimpulan" tentang konstruksi matematika memberikan hukum-hukum umum atau prinsip-prinsip untuk menurunkan koneksi logis yang diperlukan dan tentang semua konstruksi, khayalan atau aktual. Singkatnya, jenis penalaran yang digunakan dalam matematika memberikan aturan umum penalaran, dan berfungsi sebagai prinsip untuk membimbing penalaran kita dalam ilmu berikutnya, terutama filsafat.

    ReplyDelete
  23. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017
    Dari elegi ini dapat diketahui bahwa dalam membangun pengetahuan siswa diibaratkan sedang merancang sebuah bangunan layaknya seorang arsitek. Guru dapat membantu siswa dalam merancang dan mendirikan bangunan tersebut. bangunan yang kokoh tentu berasal dari pondasi yang kokoh. Pondasi ini dapat diibaratkan sebagai pemahaman konsep siswa terhadap suatu materi. Jika siswa mampu memahami konsep materi tersebut maka siswa akan mudah untuk belajar materi selanjutnya, karena belajar matematika ini saling terkait maka diperlukan dasar yang baik untuk mencapai puncak yang juga baik.

    ReplyDelete
  24. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Architectonic Mathematics, dalam hal ini siswa adalah bertindak sebagai arsitek dalam membangun mateamtika di pikirannya. Siswa dapat membangun pemahaman matematika dalam benaknya melalui pengalaman yang telah mereka miliki. Sehingga siswa itu membangun pengetahuan matematikanya bukan hanya melalui logika dan penalarannya namun juga dari pengalamannya. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran matematika guru jangan bertindak memaksakan kehendaknya dalam pembelajaran. Biarkanlah siswa mengekspresikan dan mengembarakan pikirannya untuk dapat membangun konsep matematika. Namun, bukan berarti guru membebaskan siswa yang sebebas bebasnya. Guru harus selalu mendampingi dan memfasilitasi siswa dalam membangun pemahaman matematika. Terimaksih

    ReplyDelete
  25. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Architectonic matematika diibaratkan diri siswa sendiri sebagai arsitek yang membangun matematika di dalam pikirannya. Konsep matematika dibangun sendiri oleh siswa melalui logika dan penalarannya selanjutnya pemahaman terhadap konsep matematika diperoleh siswa melalui pengamatannya terhadap fenomena matematika. Adapun architectonic matematika yang dibangun atas dasar subjectivity of mathematics melalui kegiatan belajar agar diperoleh objectivity of mathematics disebut dengan hakikat belajar matematika. Ini berarti hakikat belajar matematika pada dasarnya adalah pembelajaran yang bermakna dimana siswa membangun konsep matematika sendiri dengan atau tanpa bimbingan guru dan dituntut aktif terlibat dalam kegiatan belajar matematika.

    ReplyDelete
  26. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Matematika siswa seharusnya dibangun oleh siswa itu sendiri, sedangkan guru hanyalah sebagai fasilitator yang mendorong dan menjadi tempat mengadu jika ada sesuatu hal yang membuat siswa bingung. Namun, tentu saja dalam membangun matematika, siswa sendiri tak hanya asal menemukan saja namun disertai hal-hal yang mendukung. Selain itu, ketika setiap siswa membangun matematika agar lebih mendalam diperlukan interaksi antar siswa sehingga bangunan matematika siswa akan kian kokoh dan selalu ter update. Para guru harus senantiasa mendorong siswa untuk membangun matematika sendiri karena suatu hal akan lama diingat dan dimengerti jika ditemukan sendiri dari pada hanya diberi oleh orang lain

    ReplyDelete
  27. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Di samping penguasaan terhadap materi, seorang guru juga penting mempelajari psikologi belajar agar lebih memahami bagaimana siswa membangun konsep dalam benaknya. Ini akan sangat berguna dalam peran guru sebagai fasilitator yang membantu siswa dalam mencapai prestasi optimalnya. Guru yang memahami cara siswa membangun konsep akan mengerti architectonic Mathematics. Guru menyadari bahwa siswa adalah arstikek terhadap diri dan pengetahuannya sendiri.

    ReplyDelete
  28. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Asumsi yang digunakan adalah: siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui logika atau penalarannya; kedua, siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui pengamatannya terhadap fenomena matematika. Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut maka guru hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan pengamatan terhadap fenomena matematika antara lain dengan cara berdiskusi, melakukan eksplorasi, memberikan siswa kesempatan untuk mengemukaan argumen, membuat konjektur, dsb atau dengan kata lain pembalajaran tidak berpusat kepada guru namun berpusat kepada siswa dengan menekankan pendekatan konstruktivisme dimana siswa membangun pengetahuannya sendiri sedangkan guru bertindak sebagai fasilitator.

    ReplyDelete

  29. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Hakekat matemtika adalah pikiran siswa itu sendiri. Itulah yang disebut dengan subyektivitas matematika. Subyektivitas matemtika muncul berdasarkan pengalaman-pengalamannya dan karena intusi matemtika yang dimiliki. Kemudian subyektivitas matematika yang dimiliki siswa akan menjadi obyektivitas matematika setelah melalui kegiatan diskusi. Hal seperti itulah yang diharapkan dengan berkembangnya banyak inovasi pembelajaran dengan proses pembelajaran diskusi. Namun kegiatan ini membutuhkan waktu yang lumayan panjang sehingga banyak sekolah yang lebih senang menggunakan metode drill. Dengan metode drill mereka hanya akan mendapat obyektivitas dengan secara langsung tanpa melalui prosesnya. Dalam hal ini siswalah yang menjadi korban keputusan pemangku kebijakan.

    ReplyDelete
  30. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. Architectonic Mathematics memandang bahwa matematika itu merupakan pikiran siswa sendiri. Siswa membangun pemahaman dan pengalaman matematikanya sendiri. dalam mempelajari matematika siswa perlu melakukan berbagai kegiatan yang dapat mengasah intuisi matematikanya. Dengan begitu siswa dapat membangun matematikanya sendiri dan siswa dapat menyelesaikan masalah matematikanya secara mandiri.

    ReplyDelete
  31. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Anggapan bahwa siswa belajar itu sama dengan membangun sebuah konstruksi bangunan memang benar. Dalam membangun, diperlukan fondasi yang kuat agar bangunan tidak mudah runtuh jika di bangun ke atas. Siswa memerlukan dasar-dasar yang kuat sebagai landasan berpikirnya. Jika siswa tidak memiliki pegangan yang kuat,maka akan sulit bagi siswa untuk membangun pengetahuan selanjutnya. Siswa yang dilatih belajar penemuan dan dibimbing untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuannya biasanya akan lebih memaknai ilmu yang didapatkannya daripada siswa yang hanya terus diberi dan disuapi oleh guru. Sebagai guru, kreativitas dan pikiran ssiwa yang berbeda-beda harus diberi wadah untuk dikembangkan atau dibimbing agar mampu mengenai, mengarahkan, dan menggunakan potensinya sebaik mungkin.

    ReplyDelete
  32. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam elegi ini disebutkan bahwa architectonic mathematics merupakan pembelajaran matematika di tingkat sekolah. Pada architectonic memiliki pandangan bahwa siswalah yang membangun pemahama matematika sendiri sehingga siswalah yang bertanggung jawab atas pikirannya sendiri. yang menjadi sorotan utama adalah bagaimana siswa bisa memperoleh pemaham amtematika tersebut dan membangunnya sebagi suatu konsep yang msaling terakit satu dengan yang lainnya. Maka dari itu, diperlukan peran guru sebagai fasilitator unutk membantu siswanya membangun konsep tersebut.

    ReplyDelete
  33. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Kebiasaan guru hanya melatih siswanya untuk menghitung dengan memberikan rumus tertentu dapat membuat salah siswa dalam menerima konsep. Sebaiknya guru membimbing siswanya untuk membangun konsep matematikanya sendiri.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  34. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Proses belajar merupakan proses membangun bagi siswa. Dan yang dibangun adalah pengetahuan mereka. Begitupun pada mata pelajaran mathematika, proses membangun atau diibaratkan sebagai arsitektur-nya matematika, siswa harus memiliki pondasi yang kuat untuk membangun bangunan (pengetahuan) yang kokoh. Mencari bahan material yang berkualitas, agar pengetahuan tidak mudah roboh. Artinya siswa memerlukan konsep dasar yang kuat agar membangun pengetahuan baru (konsep-konsep lain) berikutnya bisa dilakukan dengan mudah oleh siswa. Untuk menanamkan konsep tersebut dapat dibiasakan dengan adanya pembelajaran penemuan

    ReplyDelete
  35. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Guru berperan sebagai pembimbing, fasilitator, dan memperkuat pondasi-pondasi matematika yang telah dibangun siswanya. Kemudian guru menyimpulkan hasil pengamatan yang telah diamati oleh siswa. Jadi semakin kuat pondasi-pondasi matematika yang telah dibangun oleh siswanya maka kemampuan logika dan penalaran siswa maka semakin bertahan pengetahuan itu dalam pikiran siswa.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  36. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Terimakasih pak atas pengetahuan yang disampaikan melalui postingan ini. Menurut saya siswa memang diharuskan untuk menjadi arsitek bagi dirinya sendiri dalam membangun pengetahuan mengenai matematika. Karena apabila pengetahuan itu dibangun oleh dirinya sendiri maka ilmu yang diperoleh itu akan melekat dalam diri siswa tersebut. Membangun disini artinya membentuk pengetahuan melalui pengalaman-pengalaman belajar.

    ReplyDelete
  37. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Pemahaman siswa mengenai apa itu matematika serta bagaimana siswa memperoleh pengetahuan matematikanya merupakan salah satu keprihatinan tersendiri. Siswa kebanyakan memahami matematika secara leksikal, sehingga siswa merasa jauh dengan matematika. Sebuah tantangan bagi guru agar dapat menyajikan matematika dengan mengaitkan konsep yang dipelajari dengan kehidupan siswa, shingga siswa akan merasa lebih dekat dengan matematika. WAllahu a'lam

    ReplyDelete
  38. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Kurikulum pendidikan di Indonesia disusun sedemikian sempurnanya, sehingga guru terasa ngoyo hanya untuk sekedar memenuhi tuntutannya. Jika berkaca pada negara dengan kemampuan matematika yang baik, konsepsi pembelajaran matematika yang mereka ambil ialah matematika kontekstual, sehingga siswa tidak diarahkan untuk memahami konsep secara leksikal melainkan siswa diarahkan untuk dapat memecahkan masalah keseharian yang berkaitan dengan apa yang sedang mereka pelajari. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  39. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Siswa adalah arsitek bangunan pengetahuannya sendiri. Saat ini sudah banyak yang mengetahui khususnya dunia pendidikan bahwa paradigma pendektan student center lebih efektif digunakan untuk mengkonstruksi pengetahuan siswa daripada pendekatan teacher center. Namun demikian, sebelum siswa dilepaskan dalam membangun pengetahuannya, ia harus dibekali pondasi dasar yang kuat agar konstruksi pengetahuan yang dibangunnya dapat berdiri kokoh.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  40. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Membangun sesuatu dalam pikiran seseorang tidaklah mudah. Apalagi membangun matematika dalam pikiran anak. Pemahaman konsep matematika perlu dilakukan agar kemampuan siswa semakin terasah yaitu dengan membiasakan siswa menalar dan mengamati fenomena yang ada. Namun bagi sebagian siswa, kegiatan mengamati dan menalar merupakan hal yang sulit dilakukan. Saya rasa, salah satu caranya membiasakan diri untuk mengamati dan menalar adalah dengan menyediakan suatu masalah atau menyajikan suatu gambar, video, grafik atau tulisan yang dapat diamati dan dianalisis siswa.

    ReplyDelete
  41. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Pembelajaran matematika pada hakekatnya adalah membangun konsep dan pemahaman matematika pada diri masing-masing siswa. membangun konsep bisa dengan melalui penalaran maupun melalui pengamatan terhadap fenomena matematika. Fenomena yang dimaksud disini adalah fenomena nyata yang berkaitan dengan matematika. Dengan mengaitkan dengan kehidupan nyata yang dekat dengan siswa, maka pembelajaran tentu akan lebih menarik dan akan lebih mudah digunakan untuk membangun konsep daripada jika siswa langsung diberikan definisi-definisi.

    ReplyDelete