Feb 12, 2013

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 10: Architectonic Mathematics (2)




Oleh Marsigit

Architectonic Mathematics dapat dibayangkan sebagai seorang arsitek yang akan membangun gedung. Siswa-siswa adalah arsitek bagi dirinya sendiri dalam membangun bangunan matematika di dalam pikirannya.

Implikasi dari pandangan ini adalah bahwa MATEMATIKA ITU TIDAK LAIN TIDAK BUKAN KECUALI ADALAH PIKIRAN PARA SISWA ITU SENDIRI. Inilah asumsi dasar yang harus kita pegang sebagai pondamen bagi membangun Architectonic Mathematics.

Sedangkan pondamen bagi Architectonic Mathematics itu sendiri adalah ASUMSI DASAR TENTANG BAGAIMANA SISWA BISA MEMPEROLEH PEMAHAMAN DAN MAMPU MEMBANGUN KONSEP MATEMATIKA.

Setidaknya terdapat 2 (dua) asumsi dasar, pertama: siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui logika atau penalarannya; kedua, siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui pengamatannya terhadap fenomena matematika.

Logika atau penalaran bersifat "analitik a priori", sedangkan pengamatan fenomena matematika menghasilkan konsep matematika yang bersifat "sintetik a posteriori". Pilar bangunan Architektonic Mathematics adalah pertemuan atau perkawinan keduanya sehingga menghasilkan pemahaman dan bangunan matematika yang bersifat "sintetik apriori".

Itulah pendapat Immanuel Kant bahwa agar matematika bisa menjadi ilmu maka dia haruslah bersifat "sintetik a priori".

Architectonic Mathematics TIDAKLAH bersifat Singular; artinya kita tidak bisa memandang Architectonic Mathematics hanya dari subyek diri seorang siswa secara terisolasi, melainkan dia harus dipandang dalam konteks Architectonic-architectonic Mathematics dari siswa-siswa yang lain dan bahwkan Architectonic Mathematics dari seorang gurunya atau dari seorang dewasa yang konsep matematikanya bersifat "formal abstract".

Maka Architectonic Mathematics HARUSlah bersifat plural dan bertabiat sebagai suatu komunitas diantara subyek belajar matematika. Oleh karena itu maka akan diperoleh apa yang kita sebut sebagai "ISOMORPHISM AMONG THE ARCHITECTONIC OF MATHEMATICS". Isomorphisma diantara Architectonic-architectonic Mathematics subyek belajar matematika akan menghasilkan "OBJECTIVITY OF MATHEMATICS".

Jadi jelaslah bahwa Singular Architectonic Mathematics akan menghasilkan "SUBJECTIVITY OF MATHEMATICS". Interaksi antara SUBJECTIVITY OF MATHEMATICS dan OBJECTIVITY OF MATHEMATICS itulah yang kemudian disebut sebagai "THE NATURE OF STUDENT'S LEARN MATHEMATICS" atau "Hakekat Siswa Belajar Matematika".

Inilah hakekat belajar matematika yang ditemukan oleh Paul Ernest (2002) dalam Bukunya yang berjudul The Philosophy of Mathematics Education. Maka Architectonic Mathematics dapat dibangun di atas SUBJECTIVITY OF MATHEMATICS melalui kegiatan-kegiatan diskusi, menulis, mendengar, bertanya, praktek langsung, memproduksi, merevisi, memberi kritik atau masukkan agar diperoleh SUBJECTIVITY OF MATHEMATICS yang ter UPDATE.

Subjectivity of Mathematics yang ter UPDATE itulah yang kemudian disebut sebagai OBJECTIVITY OF MATHEMATICS. Objectivity of Mathematics inilah yang diburu dan dikejar-kejar oleh orang (termasuk guru atau sebagian para matematikawan dari perguruan tinggi) yang kurang mengerti tentang the Nature of Learning Mathematics for younger student.

Kurang beruntungnya jika yang memburu dan mengejar adalah Pengambil Keputusan atau Pejabat penentu kebijakan di bidang Pendidikan Matematika.

Dengan mengerti akan adanya Architectonic Mathematics diharapkan akan menyadarkan para pemburu-pemburu itu agar segera menyadari kesalahannya dan kalau perlu memohon pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang selama ini dilakukannya.

Amin.

57 comments:

  1. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Matematika itu tidak lain tidak bukan adalah pikiran siswa itu sendiri. Hal ini diibaratkan seperti halnya seorang arsitek yang membangun gedung. Jadi, sangat jelas sekali bahwa siswa-siswa adalah arsitek bagi dirinya sendiri dalam membangun bangunan matematika di dalam pikirannya. Ada dua asumsi dasar agar siswa memperoleh pemahaman dan mampu membangun konsep matematika. Kedua konsep tersebut antara lain siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui logika atau penalarannya; dan siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui pengamatannya terhadap fenomena matematika.

    ReplyDelete
  2. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Menurut saya wacana diatas sangat bagus terutama dibaca oleh guru dan calon guru matematika sehingga dengan membaca ini nanti dalam pembelajaran di kelas guru tidak memaksakan kehendak agar sesuai dengan pemikirannya. Karena matematika itu berada dalam pikiran siswa, jadi tugas guru itu adalah bagaimana guru tersebut bisa mengkonstruk pemikiran siswa.

    ReplyDelete
  3. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    "MATEMATIKA ITU TIDAK LAIN TIDAK BUKAN KECUALI ADALAH PIKIRAN PARA SISWA ITU SENDIRI" dengan kalimat ini mungkin bisa dideskripsikan bahwa matematika itu adalah pikiran siswa, sebagai guru kita hanya membantu siswa untuk membangun konsep dalam pikiran siswa dan membantu siswa dalam penalarannya.

    ReplyDelete
  4. Siswa mempunyai pikirannya sendiri. Dalam memandang matematika pun siswa mempunyai pemikirannya tersendiri. Siswa harus membangun pengetahuan matematika berdasarkan pada pemikirannya. Karena pemikirannya sendiri maka pengetahuan bersifat subyektif sesuai dengan diri siswa itu sendiri. Interaksi siswa dengan siswa lainnya, dengan guru, dengan bahan ajar akar mengganggu subyektivitasnya dan memilih pengetahuan yang lebih obyektif. Guru membantu siswa dalam membangun pengetahuannya sendiri dengan memberikan bahan ajar atau metode pembelajaran yang sesuai.

    ReplyDelete
  5. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Untuk mewujudkan Arsitektonik matematika maka perlu menggunakan pikiran kita untuk memandang hal-hal abstrak dalam matematika. Dunia yang kita lihat saat ini tidak lain tidak bukan adalah dunia yang kita pikirkan, jika kita pikirkan baik maka dunia itu baik dan sebaliknya. Matematika tidak lain tidak bukan adalah pikiran kita sendiri. Ketika kita melihat simbol 2, maka intuisi penginderaan menangkap sinyal simbo itu kemudian intuisi akal melihat bahwa apa yang dilihat itu adalah bilangan dua. Jadi dua itu ada dalam pikiran kita, demikian juga dengan lingkaran, persegi, persegi panjang. Tapi agar matematika terstruktur dalam pikiran kita maka perlu sebuah pengalaman untuk mengkonstruk pengetahuan dalam pikiran.

    ReplyDelete
  6. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 10: arsitektonis Matematika (2), menceritakan tentang seorang arsitek yang akan membangun gedung. Siswa-siswa adalah arsitek bagi dirinya sendiri dalam membangun bangunan matematika di dalam pikirannya. Dengan mengerti akan adanya Architectonic Mathematics diharapkan bangunan yang akan dibuat dalam melakukan pendidikan matematika akan menjadi bagus dan kokoh dan tentunya dengan arsiteknya yang memiliki kemampuan yang baik.

    ReplyDelete
  7. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Berdasarkan elegi di atas dapat kita pahami bahwa Architectonic Mathematics menyatakan bahwa pengetahuan matematika dapat dibangun sendiri oleh siswa atau peserta didik dan siswa dapat memahami matematika dari konsep faktual matematika yang dialami oleh siswa itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa matematika akan lebih bermakna lebih mudah dipahami oleh siswa apabila ditopang oleh pengalaman siswa sendiri dalam bermatematika. Ketika siswa memiliki pengalaman dalam belajar, maka siswa dapat melakukan inisiasi untuk permasalahan matematika yang akan diselesaikan dengan berkaca pada pengalaman yang pernah diperolehnya. Maka dalam hal ini pengalaman belajar matematika tersebut setidaknya diperoleh dari kegiatan-kegiatan diskusi, menulis, mendengar, bertanya, praktek langsung, memproduksi, merevisi, memberi kritik atau masukkan agar diperoleh SUBJECTIVITY OF MATHEMATICS dan dibutuhkan juga peran guru sebagai fasilitator bagi siswa.

    ReplyDelete
  8. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Dalam elegi ini, kami dapat katakan bahwa matematika merupakan ilmu yang dipandang oleh kebanyakan orang yaitu ilmu yang pasti, sehingga jika ada pertanyaan seperti yang disampaikan oleh Bapak Prof. Marsigit, maka akan menimbulkan banyak jawaban yang berbeda sesuai dengan dimensi pikiran seseorang. Menurut dimensi pikiranku matematika kontradiktif karena suatu yang dihitung atau diperkirakan bisa mempunyai dua jawaban, ya atau tidak, bisa atau tidak bisa, atau lainnya. Hakekat matematika adalah pikiran siswa itu sendiri. Itulah yang disebut dengan subyektivitas matematika. Subyektivitas matematika muncul berdasarkan pengalaman-pengalamannya dan karena intusi matemtika yang dimiliki. Kemudian subyektivitas matematika yang dimiliki siswa akan menjadi obyektivitas matematika setelah melalui kegiatan diskusi.

    ReplyDelete
  9. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Architectonic mathematics, berarti kita membangung pengetahuan matematika kita sendiri. untuk membangung pengetahuan terdapat dua cara yaitu dengan logika atau penalarannya, atau dengan pengamatan. Sedangkan untuk dapat membangun pilar dari architectonic mathematics, maka matematika harus bersifat sintetik a priori sebagaimana yang dikemukakan oleh Immanuel Kant. Architectonic mathematics haruslah bersifat plural, karena anak-anak tidak akan mampu membangun pengetahuan mereka sendiri. selain menggunakan logika atau penalaran, mereka juga menggunakan pengamatan. Dan pengamatan tidak lah terbatas hanya pada diri sendiri, tetapi juga dari orang lain, teman, atau guru. Inilah hakikat dari matematika sekolah, matematika untuk anak-anak.

    ReplyDelete
  10. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Bacaan yang menarik dan penuh arti. Saya hanya dapat mengambil beberapa kata untuk dikomentari. Begitu banyak halaman jika saya mengomentari setiap kata dan kalimat untuk postingan ini. Karena makna yang tersirat sangat luas.
    Matematika merupakan pikiran siswa itu sendiri. Hal ini merujuk bahwa siswa harus mengkonstruk informasi yang diketahuinya sehingga menjadi suatu ilmu. Sebenar – benarnya suatu ilmu dapat disebut matematika disesuaikan dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  11. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Architectonic mathematics adalah asumsi dasar tentang bagaimana siswa bisa memperoleh pemahaman dan mampu membangun konsep matematika. Setidaknya terdapat 2 (dua) asumsi dasar, pertama: siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui logika atau penalarannya; kedua, siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui pengamatannya terhadap fenomena matematika. Architectonic Mathematics adalah pertemuan antara analitik a priori dan sintetik a posteriori sehingga menghasilkan konsep baru yang bersifat sintetik apriori. Guru berperan sebagai fasilitator yang memfasilitasi siswa membangun pengetahuannya dan fasilitator yang memperkuat pondasi-pondasi matematika yang telah dibangun siswanya.

    ReplyDelete
  12. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    Architectonic Mathematics menurut saya merupakan suatu proses dalam pembangunan suatu pengetahuan. Architectonic Mathematics tidak lah bersifat singular, dengan memandangnya dalam konteks Architectonic Mathematics dari siswa lain dan guru sebagai pelaku dewasa yang memiliki konsep matematika yang bersifat formal abstrak. maka Architectonic Mathematics bersifat plural sehingga menghasilkan "ISOMORPHISM AMONG THE ARCHITECTONIC OF MATHEMATICS". Isomorphisma diantara Architectonic-architectonic Mathematics subyek belajar matematika akan menghasilkan "OBJECTIVITY OF MATHEMATICS".

    ReplyDelete
  13. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Dalam mempelajari matematika, siswa diumpamakan sebagai seorang arsitek yang akan membangun gedung. Dari pernyataan diatas, banyak terdapat makna tersirat. Seperti halnya siswa siswa yang akan menggali, mengeksplor, dan mengembangkan kemampuan pola berpikirnya, kecerdasannya ataupun intelektual layaknya sebuah bangunan matematika di dalam pikirannya, sehingga terbentuklah suatu pengetahuan matematika oleh dirinya sendiri. Implementasi dari asumsi tersebut, tentunya ada harus dipegang dalam membangun bangunan matematika, yaitu matematika berasal dari pikiran siswa itu sendiri. Terkait dalam konteks itu, matematika itu adalah diri individu sendiri, rasa senang itu tidak boleh dipaksakan, kecuali dengan keikhlasan dirinya sendiri. Jadi biarlah siswa senang dengan matematika karena dirinya sendiri, bukan karena dipaksa untuk menyukai matematika.
    Seorang arsitek mempunyai rancangan berpikir untuk podasinya dalam membangun bangunan. Begitu juga dengan architectonic Mathematics, mempunyai pondamen dalam membentuk bangunan matematika. Namun dalam membangun bangunan matematika, architectonic Mathematics memiliki rancangan berpikir tentang bagaimana siswa dapat memperoleh pemahaman dan mampu membangun konsep matematika sendiri sesuai dengan tingkat kemampuan dasar dan keunikannya. Untuk mencapai bangunan matematika tersebut, tentunya melalui asumsi dasar terlebih dahulu. Pondamen architectonic mathematics mempunyai 2 asumsi dasar yang utama, yaitu siswa mampu membangun dan memahami konsep matematika melalui logika atau penalarannya dan melalui pengamatannya terhadap fenomena matematika.
    Menurut Immanuel Kant, matematika akan menjadi ilmu, maka dia harus bersifat sintetik apriori. Ilmu itu terdiri dari dua unsure, yaitu pikiran dan pengalaman. Apabila yang ada hanya logika saja maka disebut apriori, logika merupakan suatu pikiran yang belum terjadi. Sedangkan pengalaman saja disebut aposteriori/ sintetik. Sintetik adalah pengalaman-pengalaman. Supaya ilmu atau pengetahuan yang kita miliki kokoh, maka pengalaman dan logika harus dikombinasikan, yang sering disebut dengan sintetik apriori. Hal itu sesuai dengan pondamen architectonic mathematics yang mempunyai 2 asumsi dasar yang sudah mencakup dalam sifat sintetik apriori.

    ReplyDelete
  14. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Architectonic Mathematics merupakan transfer fenomena yang terjadi dalam proses belajar matematika. Dimana siswa membangun sendiri pemikirannya mengenai fenomena yang terjadi untuk dapat membangun dan memperoleh pemahaman konsep dengan cara pemikirannya sendiri. Inilah yang harus dilakukan oleh guru di dalam proses belajar mengajar, guru haruslah memberi kesempatan kepada siswanya agar dapat mengubah permasalahan dalam kehidupan sehari-hari ke dalam pembelajaran matematika. Sehingga siswa dapat mengungkapkan apa saja ide atau gagasannya mengenai suatu masalah dan guru hanya sebagai fasilitator.

    ReplyDelete
  15. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Architectonic Mathematics adalah peristiwa siswa membangun sendiri pemahamannya, merancang, menentukan pola, sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya selama ini. Siswa yang menggunakan logika pemikirannya sendiri serta pengalamannya sehingga dapat memahami matematika. Dengan seperti itu maka mereka bisa mengkontruksi pemikirannya sendiri dengan baik. Archotectonics matematika tidak bersfiat singular, melainkan prural. Hal ini sangat bermanfaat untuk banyak orang.

    ReplyDelete
  16. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Architectonic mathematics sangat penting bagi siswa dalam membangun pengetahuan matematikanya. Guru harus mampu mengajar dengan tepat agar siswa mampu memahami pelajaran yang diberikan dan mampu membangun konsep matematika dalam pikirannya. Guru juga harus mampu mengembangkan logika dan penalaran siswa melalui berbagai metode mengajar yang diberikan. Dengan begitu maka siswa akan mampu membangun matematika dalam dirinya dan matematika menjadi suatu hal melekat dalam diri siswa.

    ReplyDelete
  17. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Architectonic Mathematics dapat dibayangkan sebagai seorang arsitek yang akan membangun gedung. Dalam membangun bangunan matematika, architectonic Mathematics memiliki rancangan berpikir tentang bagaimana siswa dapat memperoleh pemahaman dan mampu membangun konsep matematika sendiri sesuai dengan tingkat kemampuan dasar dan keunikannya. Pondamen architectonic mathematics mempunyai 2 asumsi dasar yang utama, yaitu siswa mampu membangun dan memahami konsep matematika melalui logika atau penalarannya dan melalui pengamatannya terhadap fenomena matematika.

    ReplyDelete
  18. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    saya dapat mengambil kesimpulan bahwa dalam mempelajari matematika, siswa diumpamakan sebagai seorang arsitek yang akan membangun gedung. Dari pernyataan diatas, banyak terdapat makna tersirat. Seperti halnya siswa siswa yang akan menggali, mengeksplor, dan mengembangkan kemampuan pola berpikirnya, kecerdasannya ataupun intelektual layaknya sebuah bangunan matematika di dalam pikirannya, sehingga terbentuklah suatu pengetahuan matematika oleh dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  19. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Kalau berbicara tentang artitek matematika maka siswa adalah arsitek matematika kenapa . karena siswa itu membangun sendiri pengerathuan matematika mereka. Walaupun ada bantun dari guru sebagai fasilitator. Jadi yang dimaksud dari arsiteksm matematika adalah siswa itu sendiri yang membangun konsep ilmu pengetahuan mereka.

    ReplyDelete
  20. Anisa Wahyu Nur Khasanah
    14301241010
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Pondamen bagi membangun Architectonic Mathematics yaitu pandangan yang menyatakan “Matematika adalah pikiran siswa itu sendiri” dan asumsi dasar tentang bagaimana siswa bisa memperoleh pemahaman dan mampu membangun konsep matematika. Terdapa dua asumsi dasar, yang pertama adalah siswa mampu memahami dan membangun konsep logika melalui logika dan penalarannya, yang kedua melalui pengamatannya terhadap fenomena matematika. Logika atau penalaran bersifat “analitik a priori” sedangkan pengamatan fenomena matematika bersifat “sintetik a posteriori” serta architektonik mathematics merupakan gabungan keduanya sehingga bersifat “sintetik a priori”. Architectonic Mathematics dapat dibangun di atas subjectivity of mathematics melalui kegiatan-kegiatan diskusi, menulis, mendengar, bertanya, praktek langsung, memproduksi, merevisi, memberi kritik atau masukan agar diperoleh subjectivity mathematics yang terupdate.

    ReplyDelete
  21. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Berasal dari kata dasar arsitek yaitu ahli yang merancang sesuatu yaitu dirinya sendiri. Arsitektonik memiliki pengertian yaitu struktur logis yang diberikan oleh akal dimana siswa mampu membangun pengetahuan konsep dalam matematika melalui logika, pemahaman, pengamatan serta bantuan dari guru.

    ReplyDelete
  22. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Matematika adalah diri kita sendiri. Matematika ada dalam benak pikiran mereka. Khususnya siswa matematika dibangun oleh pengetahuan mereka sendiri, dimana guru membantu membangun konsep dasar yang kuat dalam benak pikiran mereka. Guru sebagai fasilitator dimana pembelajaran berpusat pada siswa dan bimbingan dari seorang guru bersifat sewajarnya yang berarti harus tepat waktu, tepat cara, tepat sasaran, dan tepat guna.

    ReplyDelete
  23. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas c 2016

    Saya sependapat bahwa matematika itu bergantung dari bagaimana siswa memikirkan matematika itu, sama halnya dengan siswa itu sendiri. Memang benar bahwa siswa belajar dengan membangun pengetahuan mereka sendiri, dimana pembelajaran adalah student'centered. Guru sebagai fasilitator tidak serta merta memaksakan konsep dan pemikirannya yang abstrak kepada siswa, namun tidak pula melepas siswa. Saya setuju bahwa isomorphisma diantara subyek belajar akan menghasilkan objectivity mathematics. Jadi, diperlukan interaksi yang tepat antara guru dengan siswa sebagai subyek belajar sehingga menghasilkan objek atau konsep matematika.

    ReplyDelete
  24. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Architectonic mathematics adalah aliran yang berpandangan bahwa objek matematika adalah pikiran. Dimana dibayangkan bahwa arsitek adalah orang yang membangun sebuah gedung. Arsitek di sini adalah siswa. Maka dengan begitu siswa sendirilah yang membangun pengetahuan matematika dengan pikiran siswa sendiri. Dasar dari aliran Architectonic mathematics ini adalah bagaimana membangun konsep pengetahuan tersebut. Ada dua jenis pengetahuan yaitu apriori dan apostriori. Pengetahuan apriori diperoleh dengan akal atau logika sedangkan apostriori diperoleh dengan pengalaman.

    ReplyDelete
  25. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. Architectonic Mathematics memandang bahwa matematika itu merupakan pikiran siswa sendiri. Siswa membangun pemahaman dan pengalaman matematikanya sendiri. dalam mempelajari matematika siswa perlu melakukan berbagai kegiatan yang dapat mengasah intuisi matematikanya. Dengan begitu siswa dapat membangun matematikanya sendiri dan siswa dapat menyelesaikan masalah matematikanya secara mandiri.

    ReplyDelete
  26. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Matematika tidak lain tidak bukan adalah pikiran siswa itu sendiri. Pembelajaran yang bagus ialah pembelajaran yang mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Seperti seorang arsitek. Seorang arsitek bekerja mengkonstruksi sebuah bangunan, begitu juga siswa yang belajar matematika menjadi seorang arsitek matematika yang mengkonstruksi konsep matematikanya sendiri.

    ReplyDelete
  27. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi di atas, Architectonic Mathematics itu menjelaskan bahwa siswa merupakan arsitek di mana mereka membangun bangunan matematika. Dalam membangun suatu bangunan diperlukan rancangan atau gambaran bangunan yang akan dibentuk atau dibangun. Rancangan tersebut otomatis dibuat oleh arsitek tersebut. Arsitek inilah yang menentukan bagaimana bentuk, ukuran, warna, dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  28. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam proses pembelajaran, hal ini dimaksudkan siswa berpikir atau membangun konsep materi yang sedang dipelajari. Konsep inilah yang menjadi pondasi bangunan tersebut. Setelah merencanakan, tentunya juga dibutuhkan alat dan bahan material lain, seperti pasir, semen, kayu, gergaji, paku, palu, dan lain-lain. Alat yang dimaksud dalam proses pembelajaran adalah media pembelajaran yang digunakan. Sedangkan bahan material merupakan sumber belajar dan kurikulum. Selain alat dan bahan, tentunya tak lupa membutuhkan peran tukang. Tukang di sini dipegang peranannya oleh guru sebagai fasilitator dan pembangun, namun yang lebih dominan peranannya tetap terdapat pada seorang arsitek itu sendiri (siswa). Dalam membangun bangunan, tukang juga harus mempunyai teknik-teknik tertentu agar tercapai kemudahan dalam membangun bangunan dan hasilnya memuaskan. Teknik ini merupakan metode pembelajaran yang digunakan guru. Jadi, saya setuju dengan artikel di atas bahwa sebenarnya siswa lah arsitek bagi dirinya sendiri dalam membangun bangunan matematika dalam pikirannya.

    ReplyDelete
  29. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Seperti yang telah diungkapkan oleh Immanuel Kant bahwa agar matematika bisa menjadi ilmu maka dia haruslah bersifat “sinteti a priori”. Maksudnya yaitu matematika sebagai ilmu tersebut merupakan gabungan antara pikiran (logika) yang disebut a priori dan pengalaman yang disebut a posteriori. Pikiran di sini bersifat analitik, sedangkan pengalaman bersifat sintetik. Jadi, gabungan antara keduanya itulah yang kemudian dinamakan sintetik a priori.

    ReplyDelete
  30. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPS P.Mat D

    Siswa dalam mencari informasi harus dapat membedakan informasi yang relevan dan yang tidak relevan terhadap masalah yang dihadapinya. Karena siswa masih sangat membutuhkan bimbingan dari gurunya, Guru tersebut haruslah kreatif dimana guru tersebut mampu melatih siswanya untuk mengkonstruksi pemahamannya sendiri, baik secara per¬sonal maupun secara berdiskusi dengan teman – temannya.

    ReplyDelete
  31. Taufan Adi Pradana
    13301241059
    Pendidikan Matematika A 2013

    Pemahaman tentang konsep matematika harus ditanamkan oleh pendidik sejak dini kepada siswa.
    Pembelajaran yang berlangsung saat ini kurang memperhatikan konsep yang ada.
    Kebanyakan guru hanya melatih siswanya untuk menghitung dengan memberikan rumus tertentu.
    Masih sangat jarang guru yang membimbing siswanya untuk membangun konsep matematikanya sendiri.
    Untuk itu, sebagai calon pendidik masa depan kita harus membiasakan dan mengubah mindset kita dari yang semula guru sebagai sumber belajar menjadi guru sebagai pembimbing dalam belajar.

    ReplyDelete
  32. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  33. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Jika diperhatikan secara sekilas pandangan arsitektonik itu seperti pandangan struktualis yang memandang matematika menjadi sebuah struktur bangunan dari dasar hingga puncak yang tak terbatas. Namun, jika dilihat kembali ada hal yang dipromosikan oleh arsitektonik yang tidak dipromosikan oleh strukturalis yaitu tentang seni. Karena arsitek itu selain berhubungan dengan struktur dan kerangka, ia juga memperhatikan fungsi dan keindahan yang tampak dari nya.

    ReplyDelete
  34. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Dalam proses pembelajaran seperti arsitek yang sedang membangun gedung, begitulah apa yang dilakukan siswa yaitu membangun konsep matematika didalam pikirannya. Karena matematika itu adalah yang ada dipikiran kita.. siswa mampu memahami konsep matematika melalui logika atau penalarannya, logika dan penalaran siswa ini perlu dilatih dengan cara guru memberikan activitas siswa dalam mengkonstruk pengetahuannya dan menyelesaikan masalah

    ReplyDelete
  35. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui pengamatannya terhadap fenomena matematika, matematika itu dapat didapat dari investigasi atau mengamati, dengan mengamati siswa akan lebih mudah memahami materi matematika, pembelajaran kontekstual sangat cocok untuk kegiatan mengamati karena kontekstual itu ada dalam kehidupan sehari hari atau research matemathics juga bias.

    ReplyDelete
  36. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sungguh menarik saat saya membaca paragraf pertama pada elegi ini, bahwa pada architectonic mathematics siswa diibaratkan sebagai arsitek bagi dirnya sendiri dalam membangun bangunan matematika di dalam pikirannya. Akan tetapi, fakta yang terjadi di lapangan ialah guru justru memburu siswa untuk dapat memahami matematika sesuai dengan pemikiran guru, atau standar kurikulum saja dan kurang memperhatikan sampai manakah pemikiran siswa saat ini. Matematika sebagai suatu ilmu haruslah mampu dibangun dengan “sintetik a priori”, sedangkan pengalam siswa menghasilkan konsep yang bersifat “sintetik a posteriori”. Karena itlah guru perlu memahami karakteristik siswa dalam kesehariannya. Sehingga mampu menyelsaikan pembelajara di kelas dengan pengalaman siswa, sehingga siswa dapat mengembangkan logika berpikir dan intuisi matematikanya

    ReplyDelete
  37. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Menanamkan konsep matematika haruslah dilakukan di sekolah, selanjutnya untuk pendalaman tentang soal abstraknya itulah diwujudkan dengan memberi PR (Pekerjaan Rumah). Misalnya dengan pembelajaran koseptual siswa ditanamkan konsep materi ajar yang langsung dikaji siswa ditemukan oleh siswam diolah oleh siswa bisa menggunakan alat peraga atau memanfaatkan lingkungan sekitar sehingga konsep itu tertanam. Dengan adanya konsep tertanam di benak siswa akan lebih mudah dalam mengerjakan soal-soal yang abstrak karena konsepnya telah diketahui dan ditemukan sendiri oleh siswa.

    ReplyDelete
  38. Adelina Diah Rahmawati
    14301241029
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Dalam upaya siswa untuk memahami onsep, hendaknya dalam proses pembelajaran guru memberikan siswa kesempatan dan kebebasan dalam membangun dan mengontruksi struktur-struktur matematikanya dengan bantuan kemampuan logika dan penalaran, serta pengalaman terhadap fenomena matematika.

    ReplyDelete
  39. Adelina Diah Rahmawati
    14301241029
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Matematika adalah hasil dari pemikiran siswa itu sendiri dalam hal penalaran dan kehendak siswa pada saat proses pembelajaran matematika. Jadi, siswa berhak untuk memilih bagaimana cara mempelajari matematika dengan mengeksplorasikan ide atau gagasan yang ada di dalam pikiran. Konsep dari Architectonic Mathematics berasumsi dasar tentang bagaimana seorang siswa memperoleh pemahaman dalam matematika serta mampu membangun konsep matematika baik melalui logika atau pemahaman serta pengamatan terhadap fenomena matematika. Architectonic Mathematics ini tidak berpaku pada diri dari seorang siswa saja melainkan dari siswa-siswa yang ada di dalam pembelajaran matematika bahkan guru yang mana architectonic mathematicsnya bersifat formal abstrak

    ReplyDelete
  40. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Pemahaman tentang konsep matematika harus ditanamkan oleh pendidik sejak dini kepada siswa. Kebanyakan guru hanya melatih siswanya untuk menghitung dengan memberikan rumus tertentu. Masih sangat jarang guru yang membimbing siswanya untuk membangun konsep matematikanya sendiri. Untuk itu, sebagai calon pendidik masa depan kita harus membiasakan dan mengubah mindset kita dari yang semula guru sebagai sumber belajar menjadi guru sebagai pembimbing dalam belajar.

    ReplyDelete
  41. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Jika seseorang tidak aktif membangun pengetahuannya, meskipun usianya tua tetap saja tidak akan berkembang pengetahuannya. Suatu pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan itu berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang sesuai. Pengetahuan tidak bisa ditransfer begitu saja, melainkan harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Pengetahuan juga bukan sesuatu yang sudah ada, melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Dalam proses ini keaktifan seseorang sangat menentukan perkembangan pengetahuannya. Guru atau pendidik berperan sebagai fasilitator artinya membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri dan proses pengkonstruksian pengetahuan agar berjalan lancar.

    ReplyDelete
  42. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Prinsip yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Guru tidak mentransferkan pengetahuan yang dimilikinya pada siswa tetapi guru dituntut untuk memahami jalan pikiran atau cara pandang setiap siswa dalam belajar. Siswa harus membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri. Seorang guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberikan tangga kepada siswa yang mana tangga itu nantinya dimaksudkan dapat membantu mereka mencapai tingkat penemuan.

    ReplyDelete
  43. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam elegi sebelumnya telah disinggung sedikit mengenai Architectonic Mathematics. Yaitu matematika dipandang sebagai ilmu jika besifat sintetik a prior. Dan matematika yang menjelma pada sekolah adalah Architectonic Mathematics. Diman sifat dari pandangan ini bahwa siswa membangun pengetahuannya ibarat seorang arsitek membangun rumah dalam hal ini rumah matematika yang berlandaskan intuisi matematika siswa. Sehingga hal ini merupakan gagasan yang sangat bagus dalam pembelajran pada jaman sekaran, yang lebih menaktifkan aktivitas siswa dalam memperoleh pengetahuannya.

    ReplyDelete
  44. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui pengamatannya terhadap fenomena matematika, matematika itu dapat didapat dari investigasi atau mengamati, dengan mengamati siswa akan lebih mudah memahami materi matematika, pembelajaran kontekstual sangat cocok untuk kegiatan mengamati karena kontekstual itu ada dalam kehidupan sehari hari atau research matemathics juga bias.

    ReplyDelete
  45. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Asumsi yang digunakan adalah: siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui logika atau penalarannya; kedua, siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui pengamatannya terhadap fenomena matematika. Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut maka guru hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan pengamatan terhadap fenomena matematika antara lain dengan cara berdiskusi, melakukan eksplorasi, memberikan siswa kesempatan untuk mengemukaan argumen, membuat konjektur, dsb atau dengan kata lain pembalajaran tidak berpusat kepada guru namun berpusat kepada siswa dengan menekankan pendekatan konstruktivisme dimana siswa membangun pengetahuannya sendiri sedangkan guru bertindak sebagai fasilitator.

    ReplyDelete
  46. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Dalam asumsi yang dijelaskan diatas bahwa pertama: siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui logika atau penalarannya; kedua, siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui pengamatannya terhadap fenomena matematika. Hal ini sejalan dengan kurikulum 2013 yang menggunakan pendekatan saintifik, yang mengacu pada proses belajar mengajar yang berpusat pada siswa.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  47. Fatmawati
    18709251071
    PM.D 2016
    Sebuah proses pembelajaran yang baik hendaklah dapat memberikan kesempatan yang sama kepada siswa untuk mengkonstruk pengetahuannya sendiri berdasarkan pengalaman yang telah dilaluinya. Jadi bukan memaksakan siswa harus seperti ini,siswa harus sesuai kurikulum, siswa harus bla bla bla. Setiap siswa memiliki karakteristik masing-masing, bagaimana guru mampu memfasilitasi karakteristik tersebut sebagai modal untuk mengkonstruk pengetahuan baru.

    ReplyDelete
  48. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Untuk membangun architectonic mathematics maka asumsi dasar yang harus kita pegang adalah bahwa matematika merupakan pikiran kita sendiri. Maksudnya, dalam mempelajari matematika tersebut kita memahami dan membangun sendiri pengertian-pengertian atau konsep-konsep matematika melalui penalaran dan pengamatan fenomena matematika. Dengan penalaran yang sifatnya analitik apriori dan pengamatan fenomena matematika yang menghasilkan konsep matematika yang bersifat sintetik a posteriori, maka akan diperoleh pemahaman atau konstruksi matematika yang sifatnya sintetik apriori.

    ReplyDelete
  49. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Matematika sebagai ilmu maka harus bersifat sintetik apriori karena dibangun dengan berlandaskan intuisi murni yang mana konsep-konsep matematikanya telah dikonstruksi. Begitu pula dengan architectonic mathematics yang juga memiliki sifat sintetik apriori

    ReplyDelete
  50. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Agar dalam kegiatan pembelajaran siswa dapat menjadi architectonic mathematics maka guru harus menerapkan metode pembelajaran yang mampu melayani kebutuhan semua siswanya. Maka dari itu, dalam kegiatan pembelajaran guru tidak hanya melihat Architectonic Mathematics hanya dari subyek diri seorang siswa saja, tetapi guru harus dapat melihat dalam konteks Architectonic-architectonic Mathematics dari siswa-siswa yang lain.

    ReplyDelete
  51. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi di atas menjelaskan pembelajaran di kelas yang student-centered. Untuk menemukan konsep matematika, siswa diharapkan mengkonstruk pengetahunnya sendiri, sedangkan guru memfasilitasi siswa melalui media, LKS, dan stimulus-stimulus jika siswa mengalami kesulitan dalam mengkonstruk pengetahuannya.

    ReplyDelete
  52. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Siswa harus mengetahui terlebih dahulu asumsi dasar tentang bagaimana siswa bisa memperoleh pemahaman dan mampu membangun konsep matematika. Kemudian barulah siswa membangun intuisi mereka berdasarkan pengalaman mereka. Untuk membangun intuisi mereka maka setidaknya terdapat dua asumsi dasar yaitu penalarannya dan pengalamannya yang disebut sebagai sintetik apriori. Namun guru sekarang lebih suka mengambil jalan pintas dengan asumsi bahwa “yang penting mereka bisa mengerjakan soal”. Berharap guru-guru mengerti akan adanya Architectonic Mathematics sehingga kejadian seperti itu tidak ada lagi kedepannya.

    ReplyDelete
  53. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Dalam pembelajaran matematika, matematika sendiri dapat diartikan sebagai pikiran siswa itu sendiri. Maka siswa memiliki hak untuk memilih bagaimana cara mempelajari matematika dengan mengeksplorasikan ide atau gagasan yang ada di dalam pikiran. Konsep dari Architectonic Mathematics berasumsi dasar tentang bagaimana seorang siswa memperoleh pemahaman dalam matematika serta mampu membangun konsep matematika baik melalui logika atau pemahaman serta pengamatan terhadap fenomena matematika.

    ReplyDelete
  54. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Logika atau penalaran bersifat analitik a priori. Sedangkan pengamatan fenomena matematika menghasilkan konsep matematika yang bersifat sintetik a posteriori. Pilar bangunan Architektonic Mathematics adalah pertemuan atau perkawinan keduanya sehingga menghasilkan pemahaman dan bangunan matematika yang bersifat sintetik apriori.

    ReplyDelete
  55. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Architectonic matematika diibaratkan diri siswa sendiri sebagai arsitek yang membangun matematika di dalam pikirannya. Konsep matematika dibangun sendiri oleh siswa melalui logika dan penalarannya selanjutnya pemahaman terhadap konsep matematika diperoleh siswa melalui pengamatannya terhadap fenomena matematika. Adapun architectonic matematika yang dibangun atas dasar subjectivity of mathematics melalui kegiatan belajar agar diperoleh objectivity of mathematics disebut dengan hakikat belajar matematika. Ini berarti hakikat belajar matematika pada dasarnya adalah pembelajaran yang bermakna dimana siswa membangun konsep matematika sendiri dengan atau tanpa bimbingan guru dan dituntut aktif terlibat dalam kegiatan belajar matematika.

    ReplyDelete
  56. Kant mengatakan bahwa "Matematika akan menjadi Ilmu jika dia bersifat SINTETIK A PRIORI". Sementara itu, matematika dikatakan bukan ilmu ketika matematika dibangun dengan Pure Logic. Karena Pure Logic dipandang sebagai A Priori saja dan bersifat Analitik. Dengan demikian menurut Kant, Pure Logic belumlah merupakan Ilmu. Matematika itu tidak lain tidak bukan kecuali adalah pikiran para siswa itu sendiri. Inilah asumsi dasar yang harus kita pegang sebagai pondamen bagi membangun Architectonic Mathematics. Architectonic Mathematics dapat dibangun di atas Subjectivity of Mathematics melalui kegiatan-kegiatan diskusi, menulis, mendengar, bertanya, praktek langsung, memproduksi, merevisi, memberi kritik atau masukkan agar diperoleh Subjectivity of Mathematics yang ter-update.

    ReplyDelete
  57. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)
    Pada elegy ini dibahas hakekat belajar matematika yang ditemukan oleh Paul Ernest. Ernest mengemukakan bahwa hakekat belajar matematika adalah interaksi atara subjectivity of mathematics dan objectivity of mathematics. Matematika subjektif merupakan matematika yang dibangun oleh para siswa mengenai pengalamannya sendiri sedangkan matematika objektif dibangun oleh siswa melalui interaksi dengan lingkungan di sekitarnya. Terkadang orang-orang hanya mengejar matematika objektif tanpa mengerti bahwa sebelum itu seorang siswa harus membangun matematika subjektif. Hal ini jelas mematikan kreativitas siswa.

    ReplyDelete