Feb 12, 2013

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 18: Apakah Mat Kontradiktif (Tanggapan utk Ibu Kriswianti)




Oleh Marsigit

Dear Ibu Kriswianti,

Terimakasih telah menanggapi tulisan saya. Saya membetulkan bu, yang mengatakan 3+4=7 itu kontradiksi itu saya, bukan Pak Wono. Tetapi klaim saya itu tidak bisa hanya dibaca sepotong-potong; itu harus dibaca secara menyeluruh dari Bagian Satu sd Bagian Tujuh.

Kelihatannya Ibu terpaku untuk memandang Makna Matematika hanya dari satu titik tertentu; padahal masih sangat banyak pandangan tentang matematika yang lain, yang bersifat lebih mendasar, lebih hakiki dan lebih luas.

Obyek Matematika bersifat abstrak untuk Logicist-Formalist-Foundationalist. Bertumpu pada kesepakatan itu untuk membangun definisinya atau sistemnya; tetapi tiadalah kesepakatan itu menjadi prioritas bagi Sistem Matematika yang satu dengan yang lainnya. Lebih luas, yang terjadi justeru lebih banyak perbedaan pendapat diantara para mathematical philosopher.

Berpikir pola deduktif itu juga untuk Logicist-Formalist-Foundationalist. Memiliki simbol yang kosong dari arti maksudnya adalah terbebas dari ruang dan waktu. Konsisten pada sistemnya itulah pikiran dan karya kaum Logicists.

Jika notions-notions itu datang begitu saja tanpa ada penjelasan maka itulah yang namanya MITOS dalam matematika.

Jika para mathematicians gagal menjelaskan maka semua karakteristik yang ibu sebutkan itu bisa dianggap hanya sebagai MITOS belaka. Oleh karena itu jika ibu bisa memberikan tanggapan atas tanggapan saya ini, itu sangat diharapkan sebagai usaha bersama kita untuk sama-sama memikirkan matematika tidak hanya sebagai MITOS tetapi sebagai LOGOS.

Bisa juga dibaca Elegi Pengakuan Para Matematika. Atau akses di http://powermathematics.blogspot.com

Demikian mohon maaf jika kurang berkenan.

Semoga bermanfaat. Amin

Marsigit
________________________________________
From: Theresia Kriswianti
To: indoms@yahoogroups.com
Sent: Sat, September 25, 2010 9:17:23 AM
Subject: Re: [indoms] Apakah Matematika Kontradiktif? (Bagian Ketujuh)

Urun rembug mengenai konsistensi dalam Matematika:Menurut Prof Sudjadi dalam bukunya Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia, Matematika mempunyai karakteristik sbb:
1. Memiliki obyek kajian abstrak
2. Bertumpu pada kesepakatan
3. Berpola pikir deduktif
4. Memiliki simbol yang kosong dari arti
5. Memperhatikan semesta dari pembicaraan
6. Konsisten pada sistemnya.
Jadi kalau yang dikemukakan pak Wono bahwa terjadi kontradiksi karena 3 + 4 = 7 saya kira tidak tepat. Dia tetap konsisten pada semestanya, yakni bilangan berbasis 8 ke atas.

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih.
Kriswianti

38 comments:

  1. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Terimaksih banyak atas informasi diskusi antara bapak dan ibu diatas. Hal ini semakin mengingatkan bagi saya sendiri khusunya bahwa dalam memanndang matematika tidak boleh hanya mengacu pada satu titik saja tapiu harus mengacu pada pandangna-pandangan dasar yang lebih luas dan mendalam lainnya, sehingga kita tidak menjadikan hal-hal matematika menjadi mitos, namun harus bersifat logos.

    Terimakasih, Demikian.

    ReplyDelete
  2. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda, dan memiliki alasa yang kuat terhadap pandangannya tersebut. Namun, berbicara mengenai unsur kekonsistenan dan kekontadiktifan matematika, kita tidak boleh terpaku pada satu unsur ilmu berkarakteristik paten dan tetap. Karena jika para mathematicians gagal menjelaskan maka semua karakteristik matematika adalah paten dan tidak dapat melebur dan dihubungkan dengan sifat-sifat yang lain, maka bisa dianggap hanya sebagai MITOS belaka. Oleh karena itu marilah kita bersama-sama memikirkan matematika tidak hanya sebagai MITOS tetapi sebagai LOGOS dan kita harus tetap berusaha untuk menggapai LOGOS matematika tersebut. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  3. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Setelah membaca pendahuluan dari elegi diatas memberi peringatan bagi kami bahwa dalam memahami sesuatu tidak boleh sepotong-potong atau terfokus, fanatic ataupun membenarkan dari satu sudut pandang. Subyek, obyek dari ilmu pengetahuan harus dikaji dari berbagai pandangan untuk memperoleh ilmu yang nyata. Membicarakan konsostensi dan kontradiksi matematika memang tiada habisnya. Meskipun di setenagh dunia lain dari matematika merupakan kontradiktif, Namun kontradiktif ini tetap konsisten dalam ruang dan waktunya. Oleh karena itu berpikir Intensif dan ekstensif harus tetap di kembangkan untuk membantu dalam memahami sebua bahasan tenatng ilmu matematika. Terima Kasih

    ReplyDelete
  4. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Setelah membaca pendahuluan dari elegi diatas memberi peringatan bagi kami bahwa dalam memahami sesuatu tidak boleh sepotong-potong atau terfokus, fanatic ataupun membenarkan dari satu sudut pandang. Subyek, obyek dari ilmu pengetahuan harus dikaji dari berbagai pandangan untuk memperoleh ilmu yang nyata. Membicarakan konsostensi dan kontradiksi matematika memang tiada habisnya. Meskipun di setenagh dunia lain dari matematika merupakan kontradiktif, Namun kontradiktif ini tetap konsisten dalam ruang dan waktunya. Oleh karena itu berpikir Intensif dan ekstensif harus tetap di kembangkan untuk membantu dalam memahami sebua bahasan tenatng ilmu matematika. Terima Kasih

    ReplyDelete
  5. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Pada saat pembelajaran filsafat di kelas, prof marsigit pun juga mengingatkan kepada mahasiswa untuk tidak mengambil pembelajaran ini sepotong-sepotong, karena dapat menyebabkan permasalahan di kemudian hari. Ya tentu kontradiktif matematika itu tentu unik, apalagi bagi saya yang baru mendengarkan istilah seperti ini. Sehingga perlu adanya rasa rendah hati dalam mencari ilmu sehingga dapat mencapai logos bukan termakan mitos.

    ReplyDelete
  6. Indah Purnama Sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Saya setuju Prof, bahwasannya belajar filsafat harus dilakukan secara continiu dan tidak bisa sepotong-sepotong. Dengan terus-menerus belajar maka akan tercipta la suatu pemahaman yang diinginkan dalam ilmu yang akan dicapai.

    ReplyDelete
  7. Terimakasih atas sharing hasil diskusi dengan ibu kriswianti tentang apakah matematika kontradiktif? Dari penjelasan diatas terlihat bahwa keluasan ilmu bapak lebih dari saya yang mungkin tidak mampu untuk menjelasknnnya. Seorang manusia matematika tidak lah sebaik-baiknya memandang hanya dari satu sudut pandang saja tetapi harus lebih luas lagi, hal ini dilakukan guna untuk menemukan kemungkinan-kemungkina lain yang akan terjadi dalam matematka sebagai ilmu pengetahuan itu sendiri.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  8. Junianto
    PM C
    17709251065

    Terimakasih Prof atas penjelasannya. Memang terkadang salah persepsi dalam memahami artikel adalah hal biasa. Penjelasan Prof ini juga menjadi salah satu sarana untuk meluruskan sesuatu yang seharusnya. Selai itu, saya menggaris bawahi apa yang dimaksud mitos dan logos. Maka dari itu, artikel-artikel ini sebagai salah satu upaya mengubah mitos menjadi logos dengan cara menemukan alasan-alasan logis untuk sebuah jawaban.

    ReplyDelete
  9. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Membawa matematika untuk menjadi logos merupakan hal yang harus dipikirkan dan diusahakan bersama. Hal ini dilakukan guna menjauhkan matematika sebagai mitos. Usaha yang dapat dilakukan untuk menolak matematika sebagai mitos kita harus bisa memberikan penjelasan yang jelas, terkait dengan segala sesuatu yang ada di matematika. Begitu juga saat membelajarkan matematika.

    ReplyDelete
  10. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Tanggapan yang diberikan oleh prof disini, saya mengambil kesimpulan bahwa banyak sekali guru yang masih berfikir bahwa matematika itu saklek berdasarkan logika namun tidak mereka pahami makna kontradisktif menurut dunia hakikat. Ini menururut saya suatu pemahaman yang perlu diluruskan agar mereka memahami makna kontradiksi yang sesungguhnya.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  11. Matematika selama ini dianggap sebagai ilmu yang paling konsisten memang benar. Namun kita harus sadar bahwa kebenaran di dalam matematika tidak bisa di pandang dari semua sisi. Seluruh simbol dan lambang yang ada di dalam matematika sesungguhnya kosong atau tanpa makna. Mereka menjadi bermakna setelah dilakukan kesepakatan-kesepakatan. Jadi kebenaran matematika bertumpu pada kesepakatan dan disesuaikan dengan semesta pembicarannya. Masalah A hanya bisa diselesaikan dengan hukum A dan hukum B hanya cocok untuk menyelesaikan masalah B.

    ReplyDelete
  12. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Dalam matematika, ketika notion-notion datang begitu saja, tanpa disertai penjelasan, berarti hal itu menjadi mitos. Begitu juga jika penjelasan yang ada hanya dipahami sepotong-sepotong, itu juga mitos. Simbol-simbol dalam matematika seperti simbol angka, operasi tambah, kurang, kali, bagi itu semua adalah kosong dari arti apabila terbebas dari ruang dan waktu. Maka dari itu penjelasan dalam matematika sangatlah penting untuk menghindari mitos dan menuju logos.

    ReplyDelete
  13. Pratama Wahyu Purnama
    17709251033

    Pesan yang saya dapatkan dari elegi ini adalah untuk menggapai pemahaman dari sesuatu itu janganlah mempelajari setengah setengah. Karena kalau hanya setengah itu bisa berkahir sebagai mitos. seharusnya kita harus mengubah hal tersebut menjadi logos. Jadi pelajarilah segalanya secara keseluruhan.

    ReplyDelete
  14. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PMC

    Dalam memahami suatu tulisan atau sesuatu, kita harus mencoba untuk memahaminya secara keseluruhan. Kita tidak bisa hanya memahami satu kalimat karena belum tentu satu kalimat itu mencerminkan keseluruhan si bacaan. Kita juga harus memahami dari sudut pandang mana kita melihatnya. "3+4=7" menjadi kontradiktif untuk bilangan berbasis 7 kebawah dan benar untuk bilangan berbasis 8 keatas. Maka dalam memahami sesuatu itu juga diperlukan pikiran- pikiran kritis dan tidak begitu saja menerima agar kita tidak terjebak dalam mitos. Kita juga harus banyak membaca dan bertanya agar pengetahuan kita semakin luar dan dapat lebih mudah memahami sesuatu.

    ReplyDelete
  15. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Untuk mencapai pemahaman/keberhasilan dari sesuatu yang kita pelajari, kita harus ikhlas dan secara totalitas benar-benar berusaha mempelajarinya.Memahamai sesuatu sepotong sepotong akan membuat kita menjadi seseorang yang nanggung. Pemahaman yang menyeluruh bisa menjadikan kita seseorang yang lebih bijak dalam menanggapinya.
    Begitu pula dalam hidup, untuk mampu memberikan penilaian terhadap orang lain perlulah banyak perspektif. Perspektif itu ibaratkan lampu untuk menyorot apa yang kita lihat. Semakin banyak yang digunakan, semakin paham secara menyeluruh dan tidak akan menyalahkan jika tidak benar-benar salah.

    ReplyDelete
  16. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Hasil diskusi di atas dapat saya refleksikan bahwa dalam mencari ilmu maka harus benar-benar ditelusuri dari akar sampai pucuk, jangan mengambil tangkainya saja. Karena hal tersbut dapat menyebabkan ilmu yang akan kita dapatkan menjadi tidak sempurna dana kan menimbulkan kekacauan dalam berpikir, apalagi pada postingan sebelumnya intusi seseorang dipengaruhi oleh pengalaman apabila pengalaman ilmunya yang dicari tidak lengkap maka akan menyebabkan keutuhan ilmu juga akan berkurang dan membuat intuisi kita menjadi terbatas.

    ReplyDelete
  17. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2

    Matematika itu sangat luas. Darielegi diatas kita menjadi tahu bahwa memandang matematika hendaknya tidaklah hanya dari satu pandangan. Banyak sudut pandang yang dapat kita gunakan untuk memperoleh kebenaran yang bersifat lebih mendasar, lebih hakiki dan lebih luas. Seperti yang dijelaskan pada elegi2 sebelumnya bahwa kaum Logicis dan Formalist hanya memandang matematika terbebas dari ruang adn waktu.

    ReplyDelete
  18. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Membaca elegi-elegi ini untuk menemukan jawaban apakah matematika kontradiktif hendaknya dilakukan secara keseluruhan dan berurutan. Matematika kita kenal sebagai ilmu deduktif yang mana suatu konsep matematika merupakan turunan dari konsep-konsep yang ada sebelumnya. Keseluruhan keterkaitan konsep harus memiliki alasan dan penjelasannya, karena jika tidak ada maka disebut dengan mitos.

    ReplyDelete
  19. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017
    Elegi ini harus dibaca secara menyeluruh untuk mengetahui detail pembahasannya. Kita juga perlu berpikiran terbuka (open minded) untuk memahaminya, jangan hanya melihat hanya dari satu sisi yang biasanya dilihat oleh orang awam.

    ReplyDelete
  20. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Dalam elegi pemberontakan matematika terdapat gagasan tentang kontradiksi matematika yang berkelanjutan dan tidak dapat difokuskan pada satu bagian saja. Sama halnya dengan matematika yang tidak bisa dipersepsikan dan dinterpretasikan dalam satu segi / sisi yang mutlak. Eksistensi sistem matematika membuat keberagaman kesepakatan antar pihak. Hal inilah yang memicu mitos dan logos.

    ReplyDelete
  21. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Memandang matematika janganlah dari satu sudut pandang saja. Terutama dalam memandang konsistensi dan kondradiksi dalam mateamtika. Hal itu karean, saat kita hanya fanatic dalam satu sudut pandang sehingga mendapatkan kejelasan maka hal itu akan menjadi mitos. Saat kita mengangap semua karakteristik mateamtikawan itu benar adanya, dan ketika mereka tidak dapat memberi penjelasan mengenai karakteristik yang telah dipaparkan maka mateamtika akan menjadi mitos belaka. Sehingga mari luaskan pandangan dan pikiran dalam memandang suatu hal agar kita tidak terjebak dalam mitos dan dapat menggapai logos. Terimakasih

    ReplyDelete
  22. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Mitos dalam matematika terjadi apabila munculnya kesepakatan yang tidak memiliki dasar (landasan) yang diikuti alasan tidak yang jelas dari pencetusnya. Mitos bisa berupa karakteristik yang dibuat para matematikawan atau para penggiat matematika. Sedangkan logos dalam matematika bisa terjadi apabila munculnya kesepakatan yang ada dasar (landasan) yang diikuti alasan yang jelas dari penggagasnya. Logos inilah yang dianggap kontradiksi ilmu dalam lingkungan ilmuan. Sementara itu, Objek Matematika bersifat abstrak bagi para Logisis-Formalis-Foundationalis. Dengan kata lain tidak ada kesepakatan (keseragaman) antara para matematikawan karena masing-masing pihak ada yang berdiri dengan mitos atau logosnya yang dianggap ideal, meskipun pada hakikatnya sistem matematika juga memiliki sisi kekonsistenannya.

    ReplyDelete
  23. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Dalam Logicist-Formalist-Foundationalist, obyek Matematika bersifat abstrak, bertumpu pada kesepakatan itu untuk membangun definisinya atau sistemnya. Logicist-Formalist-Foundationalist memiliki cara Berpikir pola deduktif, memiliki simbol yang kosong dari arti, maksudnya adalah terbebas dari ruang dan waktu. Dalam kaum Logicists, konsisten pada sistemnya itulah pikiran. Jika notions-notions itu datang begitu saja tanpa ada penjelasan maka itulah yang namanya MITOS dalam matematika. Jika para mathematicians yang gagal menjelaskan maka itu bisa dianggap hanya sebagai MITOS belaka. Oleh karena itu kita harus mampu menjelaskan sesuatu agar tidak dianggap mitos, namun logos.

    ReplyDelete
  24. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Belajar filsafat itu memang tidak mudah, tetapi filsafat akan menuntun kita untuk dapat melihat segala sesuatu itu tidak hanya setengah-setengah, karena filsafat akan membimbing kita untuk berfikir secara mendalam, menyeluruh dan sistematis. Banyak sudut pandang yang dapat kita gunakan untuk memperoleh kebenaran hakiki. Logicist-Formalist-Foundationalist biasanya berpikir pola deduktif. Memiliki simbol yang kosong dari arti, maksudnya adalah ia terbebas dari ruang dan waktu. Sementara jika pikiran dan karya tersebut tidak ada penjelasan, maka dapat dikatakan sebagai sebuah mitos dalam matematika. Namun jika kita mampu memberikan pembuktian dan penjelasan maka hal tersebut dapatlah kita sebut sebagai logos

    ReplyDelete
  25. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Dari elegi ini kita belajar bahwa dalam memaknai matematika harus melihat dari berbagai titik agar tidak terjadi kesalahpamahaman konsep. Pemahaman yang salah akan melahirkan mitos sehingga kita terperangkap dalam ruang dan waktu. Maka agar tidak terperangkap dalam mitos kita harus mengejar logos yaitu dengan terus membaca, memperdalam ilmu.

    ReplyDelete
  26. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Dari elegi yang pernah saya baca yaitu tentang pengakuan para matematikawan, definisi matematika memang berbeda-beda tergantung paham manakah yang kita ikuti, maka perbedaan pendapat itu adalah sesuatu yang lumrah. Jika dipandang dari segi matematika saja, maka benar bahwa semuanya itu konsisten pada semestanya. Namun pada konteks ini matematika dipandang pada dunia hakekat dengan

    ReplyDelete
  27. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Berdasarkan respon Ibu Kris dan jawaband dari Prof Marsigit saya dapat mengambil intisari bahwa sebaiknya kita tidak memandang mateamtika hanya dari satu sisi saja. Karena apabila tidak diperluas dan diperdalam maka kita hanya akan hidup dalam mitos, kita menganggap ilmu yang kita miliki sudah cukup. Apa yang menarik di sini adalah bersikap kritis itu perlu dan bertanya adalah kunci dari pengetahuan. Jika hanya menerima mentah-mentah atau tidak pernah mengungkapkan kesangsian maka hanya akan ada kebingugan sepanjang hidup.

    ReplyDelete
  28. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. Tidak mudah memang untuk memahami elegi yang ditulis oleh Prof. Marsigit. Perlu di baca beberapa kali dan diresapi makna tiap kalimatnya. Matematika itu dapat di lihat dari bebrbagai sudut pandang, dan untuk memahami matematika perlu melihat matematika dari semua sudut pandang yang ada

    ReplyDelete
  29. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Ibu Kriswianti ini awalnya seperti saya yang kirang memahami contoh 3 + 4 = 7 yang diberikan oleh Pak Marsigit. Karena mungkin penjelasannya kurang kontras. Seperti yang saya sampaikan pada postingan sebelumnya. Saya akan mencoba memberikan contoh lain ketidakkonsistenan dalam sistem matematika yang disebabkan bedanya semesta bilangan yang dibicarakan. Contohnya terdapat himpunan F beranggotakan x, dimana x merupakan bilangan kurang dari 7, dan x merupakan anggota bilangan asli. Sedangkan terdapat himpunan F lain yang juga beranggotakan x, yang juga mensyaratkan x merupakan bilangan kurang dari 7, namun semestanya berbeda yaitu x merupakan bilangan bulat. Maka anggota kedua F tersebut berbeda karena perbedaan ruang dan waktunya (semesta). Mohon maaf apabila contoh yang saya berikan kurang benar.

    ReplyDelete
  30. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Pada elegi ini memaparkan tentang tanggapan apakahmatematika kontradiktif,. Dari sini dikatakan bahwa matematika memiliki pandangan yang luas. Sehingga matematika tidak dapat dilihat dari satu sudut pandang saja. Harus secara mendasar hakiki dan meluas.

    ReplyDelete
  31. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Dari artikel di atas, saya mendapatkan informasi bahwa sesuatu yang tidak bisa dijelaskan asal mulanya dapat disebut sebagai sebuah mitos. Sama dengan itu, dalam matematika, jika matematikawan gagal dalam menjelaskan notion-notion yang ada, maka ini dapat disebut sebagai mitos dalam matematika. Dengan itu, kita harus dapat berpikir bahwa matematika bukanlah sebuah mitos, melainkan sebagai logos.

    ReplyDelete
  32. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Kontradiktif dalam matematika berbeda dengan kontradiktif dalam filsafat. Kontradiktif tidak dapat diartikan secara sepotong-sepotong, karena unsur-unsur matematika saling berhubungan dan terbebas dari ruang dan waktu.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  33. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Dalam filsafat segala sesuatu tergantung dari ruang dan waktu. Hal yang bersifat kontradiktif dalam matematika menandakan telah terjadi kekeliruan dalam suatu proses atau pernyataan matematika, yang ditandai dengan kekonsistenan dalam matematika.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  34. Muhammad sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    perbedaan pendapat memanglah suatu yang sangat lumrah terjadi, namun bagaimana sesorang menanggapi perbedaan pendapat menunjukkan profesionalismenya dalam keilmuan. termasuk perbedaan pendapat antara matematikawan dengan philosopher, namun jika dikaji lebih mendalam antara matematika dan filsafat ada hubungan atau keterkaitan yang cukup mendasar, yang tidak bisa dipisahkan satu dan lainnya.

    ReplyDelete
  35. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Berdasarkan elegi ini, kita dapat belajar bahwa dalam melihat suatu objek tidak bisa hanya memandang dari satu sudut pandang saja untuk membuktikan kebenarannya. Matematika tergantung dari ruang dan waktunya (yaitu semestanya). Seperti contoh yang diaebutkan 3+4=7, ini akan kontradiksi atau tidak, tergantung dari semesta pembicaranya. Dengan berpikir dan mengkaji lebih mendalam agar dapat menerima suatu kebenaran, bisa dilatih dengan menambah banyak wawasan dan pengetahuan

    ReplyDelete
  36. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Dari postongan tanggapan komentar di atas dapat dilihat bahwa pemikiran Prof sudah keluar dari apa yang selama ini tertanam pada pemikiran orang awam mengenai matematika. Seperti pada bagian komentar mengenai karakteristik matematika yang mengatakan memiliki simbol yang kosong. Prof memandang kekosongan itu sebagai kekosongan ruang dan waktu. Sudut pandang berbeda akan mengahasilkan diskusi yang bertujuan untuk membangun pengetahuan khususnya matematika lebih mendalam lagi.

    ReplyDelete
  37. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Banyak orang yang menilai berdasarkan apa yang mereka hayati, serta menila sekilas berdasarkan apa yang mereka lihat.Sedangkan kita tahu bahwa mata kita terbatas dalam memandang dan oleh sebab itu kita pun tidak bisa menilai hanya berdasarkan apa yang kita lihat saat itu. Kita butuh data pendukung dan kenyataan lain yang dapat menguatkan statement kita. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  38. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Adanya perbedaan dalam penafsiran merupakan hal yang biasa terjadi. Karena perbedaan sudut pandang dan tidak memandang secara menyeluruh (hanya dari satu sisi saja). Tidak bisa hanya memandang salah satu prinsip hakekat saja, namun selalu ada prinsip kontradiktif yang mengikutinya. Kebanyakan orang termasuk saya masih sering mangabaikan prinsip kontradiktif ini. Sehingga hakekat matematika sebagai ilmu masih belum seutuhnya.

    ReplyDelete