Feb 12, 2013

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 18: Apakah Mat Kontradiktif (Tanggapan utk Ibu Kriswianti)




Oleh Marsigit

Dear Ibu Kriswianti,

Terimakasih telah menanggapi tulisan saya. Saya membetulkan bu, yang mengatakan 3+4=7 itu kontradiksi itu saya, bukan Pak Wono. Tetapi klaim saya itu tidak bisa hanya dibaca sepotong-potong; itu harus dibaca secara menyeluruh dari Bagian Satu sd Bagian Tujuh.

Kelihatannya Ibu terpaku untuk memandang Makna Matematika hanya dari satu titik tertentu; padahal masih sangat banyak pandangan tentang matematika yang lain, yang bersifat lebih mendasar, lebih hakiki dan lebih luas.

Obyek Matematika bersifat abstrak untuk Logicist-Formalist-Foundationalist. Bertumpu pada kesepakatan itu untuk membangun definisinya atau sistemnya; tetapi tiadalah kesepakatan itu menjadi prioritas bagi Sistem Matematika yang satu dengan yang lainnya. Lebih luas, yang terjadi justeru lebih banyak perbedaan pendapat diantara para mathematical philosopher.

Berpikir pola deduktif itu juga untuk Logicist-Formalist-Foundationalist. Memiliki simbol yang kosong dari arti maksudnya adalah terbebas dari ruang dan waktu. Konsisten pada sistemnya itulah pikiran dan karya kaum Logicists.

Jika notions-notions itu datang begitu saja tanpa ada penjelasan maka itulah yang namanya MITOS dalam matematika.

Jika para mathematicians gagal menjelaskan maka semua karakteristik yang ibu sebutkan itu bisa dianggap hanya sebagai MITOS belaka. Oleh karena itu jika ibu bisa memberikan tanggapan atas tanggapan saya ini, itu sangat diharapkan sebagai usaha bersama kita untuk sama-sama memikirkan matematika tidak hanya sebagai MITOS tetapi sebagai LOGOS.

Bisa juga dibaca Elegi Pengakuan Para Matematika. Atau akses di http://powermathematics.blogspot.com

Demikian mohon maaf jika kurang berkenan.

Semoga bermanfaat. Amin

Marsigit
________________________________________
From: Theresia Kriswianti
To: indoms@yahoogroups.com
Sent: Sat, September 25, 2010 9:17:23 AM
Subject: Re: [indoms] Apakah Matematika Kontradiktif? (Bagian Ketujuh)

Urun rembug mengenai konsistensi dalam Matematika:Menurut Prof Sudjadi dalam bukunya Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia, Matematika mempunyai karakteristik sbb:
1. Memiliki obyek kajian abstrak
2. Bertumpu pada kesepakatan
3. Berpola pikir deduktif
4. Memiliki simbol yang kosong dari arti
5. Memperhatikan semesta dari pembicaraan
6. Konsisten pada sistemnya.
Jadi kalau yang dikemukakan pak Wono bahwa terjadi kontradiksi karena 3 + 4 = 7 saya kira tidak tepat. Dia tetap konsisten pada semestanya, yakni bilangan berbasis 8 ke atas.

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih.
Kriswianti

81 comments:

  1. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Filsafat memikirkan segala yang ada dan yang mungkin ada, filsafat mencakup yang ada di dalam pikiran dan di luar pikiran. Matematika yang ada selama ini menurut filsafat hanyalah mencakup yang ada di dalam pikiran saja, karena tidak terikat oleh ruang dan waktu sehingga bersifat konsisten. Ilmu matematika tidak sesempit yang ada dalam pikiran kita. Ketika kita menyatakan sesuatu, sesungguhnya itu hanya sebagian kecil saja. Para ilmuwan telah memiliki kesepakatan terhadap ilmu matematika, baik yang identitas maupun kontradiksi. Matematika yang ditemui pada kehidupan nyata akan dikonversi ke dalam pikiran sehingga pada pengerjaannya akan terbebas dari ruang dan waktu. Sesungguhnya kita harus memperhatikan sudut pandang yang kita gunakan, sudut pandang filsafat atau sudut pandang matematika.

    ReplyDelete
  2. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Dari elegi yang disampaikan di atas, saya dapat mengambil makna bahwa dalam menyimpulkan suatu hal hendaknya membaca secara keseluruhan agar dapat memahami secara menyeluruh dan tidak terpenggal. Membaca yang hanya sepotong akan mengakibatkan kurang lengkap informasi yang diterima. Begitupula dalam mempelajari matematika. membaca elegi yang Bapak Marsigit paparkan dari bagian pertama saya mendapat banyak ilmu bahwa dalam matematika juga terdapat kontradiksi. Hal ini mengubah pandangan saya tentang matematika sebagai suatu hal yang pasti kebenarannya. Ternyata ada banyak hal dan sudut pandang yang diungkap dalam elegi – elegi.

    ReplyDelete
  3. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Kontradiktif dalam matematika memang bukan semata-mata mengenai kesepakatan dalam matematika. Inilah perbedaan antara filsafat dengan dunia hakekatnya. Filsafat tak melulu membicarakan hal sudah sesuai dibicarakan. Bahkan sesuatu yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin dalam filsafat, bahkan sesuatu yang tidak ada bisa menjadi ada di dalam filsafat. Itulah warna dari filsafat, filsafat yang sesungguhnya mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  4. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Ketika kita sedang berusaha memahami sesuatu, kita harus membaca secara lengkap dan utuh. Sehingga tidak terjadi salah pemahaman yang disebabkan kita hanya mencermati sebagiannya saja. Pembahasan filsafat terkait pertanyaan "Apakah Matematika Kontradiktif?" ini jangan sampai membuat kita meragukan kebenaran matematika yang bersifat universal. Karena memang objek pikir filsafat dan matematika itu berbeda.

    ReplyDelete
  5. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Segala sesuatu termasuk matematika tidak boleh dipandang dari satu sisi saja karena hal itu akan merugikan diri kita. adanya keberagaman pandangan mengenai berbagai hal merupakan keindahan hal itu, yang jika dikembangkan akan memperkaya pengetahuan kita dan membuat kita semakin bijak dalam berpikir dan bertindak. selain itu jika kita sudah mampu untuk berpikir dari banyak pandangan, kita tidak akan menerima begitu saja mitos tetapi akan mencari logos.

    ReplyDelete
  6. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Setia orang pasti berbeda. Otak pun juga berbeda. Setiap orang pasti nya selalau ada yang berbeda pendapat. Perbedaan dalam mentafsirkan apa itu kontradiktif bisa menjadi suatu perbedaan yang akan selalau kita pikirkan. Ikhlas hati dan ikhlas pikiran dalam memahaminya.

    ReplyDelete
  7. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Sebagai manusia dengan segala keterbatasannya tentunya mempunyai sudut pandang yang berbeda beda termasuk dalam hal kontradiksi yang seperti apa. Maka ingat kembali apa yang paling utama dalam memahami sesuatu yaitu dengan ikhlas hati dan pikiran. Sehingga pada elegi ini dapat kita petik satu pelajaran yaitu bersungguh- sungguh dalam mempelajari sesuatu untuk meraih yang namanya logos.

    ReplyDelete
  8. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Pada dasarnya untuk bisa memaknai secara kaffah yang perlu dilakukan yaitu membaca secara kaffah juga, kalau yang dibaca hanyalah sepotong-sepotong maka tentunya memiliki makna yang berbeda pula. Membaca merupakan bagian dari logos agar dapat menjelaskan apa yang engkau pikirkan.

    ReplyDelete
  9. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Pada dasarnya, berpikir bahwa matematika itu terikat oleh ruang dan waktu adalah berpikir ekstensi. Ketika kita mengatakan bahwa 3+4=7 adalah kontradiksi, maka ini adalah kontradiksi yang muncul karena kita berpikir pada ruang dan waktu yang berbeda. Dari elegi ini kita dapat memetik suatu pelajaran bahwa untuk menggapai logos, maka kita harus menembus ruang dan waktu dalam memikirkannya.

    ReplyDelete
  10. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Bagi kaum logicist dan formalism, suatu objek matematika itu bersifat abstrak. Karena mereka memangdang bahwa matematika adalah struktur. Kemudian, berpikir pola deduktif juga merupakan ciri dari matematika. Selain itu, matematika juga memiliki simbol-simbol yang kosong arti. Atau dengan kata lain simbol-simbol tersebut tidak terikat oleh ruang dan waktu. Berbicara tentang kontradiksi di sini diberikan contoh bahwa 3+4=7 adalah kontradiksi. Namun, menurut Bu Kriswianti contoh itu tetap konsisten pada sementanya.

    ReplyDelete
  11. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. Tidak mudah memang untuk memahami elegi yang ditulis oleh Prof. Marsigit. Perlu di baca beberapa kali dan diresapi makna tiap kalimatnya. Matematika itu dapat di lihat dari bebrbagai sudut pandang, dan untuk memahami matematika perlu melihat matematika dari semua sudut pandang yang ada.

    ReplyDelete
  12. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPS P.Mat D

    Kita harus banyakin baca elegi sampai tuntas. operasi bilangan seperti "3+4=7" itu bersifat kontradiksi, ini dapat kita pandang tergantung pada ruang dan waktunya. Kenyataan ini membuktikan bahwa suatu ilmu haruslah bersifat kontradiktif terutama ilmu matematika. Jadi benar apa yang disampaikan oleh Immanuel Kant bahwa matematika itu kontradiktif.

    ReplyDelete
  13. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Sangat banyak pandangan tentang matematika, yang bersifat lebih mendasar, lebih hakiki dan lebih luas. Di dunia tidak ada 3+4=7, ini bernilai salah karena terikat ruang dan waktu. Ini hanya benar ketika di langit, di dalam pikiran masing-masing orang, dimana tidak terikat dengan ruang dan waktu. Matematika bernilai benar ketika dipikirkan, apabila sudah ditulis menjadi salah. Dalam hidup kita harus selalu ingat 3 hal yaitu ruang dan waktu, berpikir intensif dan ekstensif, menggapai logos. Dalam melakukan sesuatu, kita harus dapat mengacu pada ruang dan waktu agar kita bisa menempatkan diri dengan tepat, harus berpikir intensif yaitu sungguh-sungguh dan terus menerus sampai hasil yang dicapai bisa optimal dan ekstensif yaitu menjangkau secara luas, juga harus menggapai logos yaitu berpikir berdasarkan logika bukan mitos.

    ReplyDelete
  14. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Setiap unsur pembentuk system matematika ternyata bersifat kontradiktif karena dipengaruhi oleh ruang dan waktu. kaum Logicist-Formalist-Foundationalist menyatakan matematika itu konsisten dan sempurna, ini mungkin disebabkan skala ketelitian memandang dan menguji konsistensi dan Ketidak-kontrakdisian Sistem Matematika berkenaan dengan Awal-Akhirnya Sistem, Sub-sistem, atau Unsur-unsur atau Elemennya.

    ReplyDelete
  15. Taufan Adi Pradana
    13301241059
    Pendidikan Matematika A 2013

    Assalamualaiku.wr.wb
    Arti dari kata kontradiktif tidak bisa diartikan secara sepotong-sepotong.
    Pengertian kontradiktif dalam matematika sangat berbeda dengan pengertian kontradiktif dalam dunia filsafat.
    Seperti misalnya 3+4=7 tampak tidak kontradiktif dalam dunia matematika.
    Tetapi apabila pernyataan tersebut tidak terbebas dari ruang dan waktu, maka bisa saja pernyataan tersebut menjadi kontradiktif karena yang dimaksud adalah penjumlahan dengan basis 8.
    Maka dari itu, pengertian kontradiktif tidak dapat diartikan secara sepotong-sepotong.

    ReplyDelete
  16. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)

    Matematika bersifat relati tergantung pada ojek pebicaraannya. Jelas memang 3 + 7 = 10 namun jika objek pembicaraan dari angka 3 tersebut dimaksudkan adalah topi dan 7 dimaksudkan adalah baju maka tidaklah mungkin 3 + 7 adalah 10 baju atau 10 topi karena kedua unsurnya berbeda. Maka disinilah letak pentingnya sebuah definisi dalam matematika. Dengan adanya definisi yang ditetapkan di awal akan meminimalisir adanya kontradiksi karena definisi memberikan batasan atas objek pembicaraan yang akan diolah.

    ReplyDelete
  17. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Matematika memang penuh tantangan, karena itu kita perlu berjuang lebih keras lagii untuk menaklukannya. Salah satu tantangan masalah dalam matematika ialah kontradiksi, yang mungkin hampir tidak pernah didengar oleh para siswa. Hal ini terjadi karena guru cenderung mengajar dengan jalan pintas dengan memberikan rumus jadi, dan juga mengejar target kurikulum.

    ReplyDelete
  18. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Matematika sampai saat ini masih dikenal sebagai mitos oleh siswa, dikarenakan siswa yang terbatas mengetahui matematika. Layaknya gunung es. Para siswa hanya melihat puncak gung nya saja tanpa mengetahui dasar-dasarnya. Gurulah yang memegang peranan penting dalam proses belajar anak. Karena itulh perlu diberi pemahaman pada siswa, yang juga melibatkan pengalaman siswa agar matematika dapat menjadi sebuah logos, bukan lagi mitos bagi para siswa.

    ReplyDelete
  19. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Jika saya perhatikan, tidak ada yang kontradiksi antara pendapat Bu Kriswianti dan tulisan Pak Marsigit. Karena bu Kriswianti menyatakan bahwa matematika konsisten dalam sistemnya. Bu Kriswianti menyertakan batasan sistem. Sehingga ini benar. Sedangkan dalam tulisan Pak Marsigit sebelumnya juga menyebutkan bahwa 3+4=7 akan kontradiksi apabila tidak dijelaskan semestanya. Dengan demikian, pendapat Bu Kriswianti dan Pak Marsigit sebetulnya sejalan. Hanya berbeda dimensi dan sudut pandang saja.

    ReplyDelete
  20. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Belajar filsafat itu memang tidak mudah, namun filsafat akan menuntun kita untuk dapat melihat segala sesuatu itu tidak hanya setengah-setengah. Hal tersebut karena filsafat akan membimbing kita untuk berfikir secara mendalam sedalam-dalamnya, meluas seluas-luasnya. Dari elegi di atas kita menjadi tahu bahwa memandang matematika hendaknya tidak hanya dari satu titik saja namun harus dipandang dari berbagai titik yang lain.

    ReplyDelete
  21. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Mengenai apakah matematika kontradiktif yang disajikan dalam satu elegi tidaklah cukup menjelaskan bahwa matematika adalah kontradiktif. Semua elegi yang membahas apakah matematika kontradiktif harus dibaca secara menyeluruh dan tidak terpisah. Adanya berbagai pendapat ahli yang menyatakan definisi matematika secara berbeda-beda juga turut mempengaruhi apa sebenarnya hakikat dari matematika itu sendiri, apakah pada hakikatnya matematika itu kontradiktif.

    ReplyDelete
  22. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dalam Logicist-Formalist-Foundationalist, obyek Matematika bersifat abstrak, bertumpu pada kesepakatan itu untuk membangun definisinya atau sistemnya. Logicist-Formalist-Foundationalist memiliki cara Berpikir pola deduktif, memiliki simbol yang kosong dari arti, maksudnya adalah terbebas dari ruang dan waktu. Dalam kaum Logicists, konsisten pada sistemnya itulah pikiran. Jika notions-notions itu datang begitu saja tanpa ada penjelasan maka itulah yang namanya MITOS dalam matematika. Jika para mathematicians yang gagal menjelaskan maka itu bisa dianggap hanya sebagai MITOS belaka. Oleh karena itu kita harus mampu menjelaskan sesuatu agar tidak dianggap mitos, namun logos.

    ReplyDelete
  23. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Matematika tidak terbatas pada satu titik saja tertentu. Masih banyak pandangan tentang matematika yang lain, yang sifatnya lebih mendalam, lebih hakiki, dan lebih luas. Oleh sebab itu, pentingnya belajar filsafat sehingga kita memiliki sudut pandang yang beragam dalam melihat sesuatu benar atau salah. Tidak terpaku pada satu titik saja, sehingga yang benar terkadang terlihat salah, begitupun sebaliknya yang salah terkadang terlihat benar.

    ReplyDelete
  24. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih saya ucapkan kembali atas publikasi elegi-elegi yang sangat bermanfaat ini
    Melalui elegi ini, saya merefleksikan pada diri saya, bahwa kita benar-benar harus berpikir sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Terpaku pada satu sumber teori saja terkadang membuat kita menutup mata pada teori yang lainnya. Jadi, sesungguhnya meskipun kita sudah menemukan jawaban pada suatu permasalahan, alangkah lebih baik jika kita tetap mencari jawaban-jawaban lainnya, jangan berhenti. Terimaksih juga saya ucapkan kepada Ibu Kriswanti, melalui beliau, saya menjadi tahu karakteristik matematika menurut Prof. Sudjadi, sungguh ini juga menjadi tambahan pengetahuan bagi saya. Sungguh, nikmat yang diberikan Alloh adalah luar biasa, bertubi-tubi diri ini diberi-Nya jalan berjumpa dengan pengetahuan-pengetahuan yang luar biasa.

    ReplyDelete
  25. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Jika di hadapan kolega-kolega kami yang dari komunitas matematika dewasa/matematika murni, kami kurang berani untuk menyatakan bahwa 3+4=7 merupakan hal yang kontradiktif. Akan tetapi kami bisa menangkap bahwa 3 + 4 sebenarnya berbeda dengan 7 hal ini merupakan kontradiksi. Karena memang benar adanya bahwa 3 + 4 itu tidak lah sama dan bahkan jelas berbeda dengan 7. Karena tidak ada 7 dalam 3 + 4, dan di dalam 7 tidak tampak ada 3 maupun 4 dan + disana. Dalam artian 3+4=7 bukan merupakan kontradiksi itu tergantung pada ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  26. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Iya benar sekali apa yang disarankan Pak Masigit, membaca dan mempelajari filsafat itu tidak bisa sepotong-potong, tidak bisa hanya sebagian saja, harus menyeluruh dan terutama harus dilandasi oleh spiritual. Karena jika hanya membaca sebagian atau tidak tuntas, tidak akan bisa mendefinisakan filsafat secara dalam dan bahkan bisa bahaya karena bisa terjebak oleh mitos-mitos. Sejujurnya pada elegi ini dan sebelumnya saya mengalami kebingungan dan masih belum menemukan titik terangnya dari pernyataan “3+=7 hanya benar untuk bilang-bilang berbasis 8 ke atas”. Sekiranya Pak Marsigit berkenan untuk menjelaskan lebih dalam mengenai hal ini.

    ReplyDelete
  27. Nama: Hendrawansyah
    NI M: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof

    Mungkin yang dipahami oleh beliau (ibu) mengenai matematika sesuai dengan prinsip logicist-formalist-foundationalist.Matematika yang dipersepsikan oleh orang-orang pada umumnya.Sehingga bagi beliau kedengarannya agak rancu ketika diberikan contoh tentang bilangan.Baginya ini adalah suatu hal yang asing.Untuk meminimalisir kesalah pahaman tersebut alangkah baiknya elegi yang ada dibaca secara menyeluruh agar terstruktur karena elegi yang satu dengan yang lain memiliki hubungan yang berkelanjutan sebagaimana yang disarankan oleh Bapak prof dalam elegi tersebut.

    ReplyDelete
  28. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Setelah membaca ulasan di atas, sedikit telah menjawab kebingungan saya saat membaca elegi pemberontakan matematika 17. Saya menjadi memiliki pandangan baru terkait dengan konsistensi itu sendiri. Namun, saya belum dapat memahami yang dimaksud dengan konsisten pada sistemnya. seperti apakah yang dimaksud dengan konsisten pada sistemnya? Semoga saya menemukan jawabannya pada bahasan yang lain. Terima kasih Prof saya ucapkan sebelumnya.

    ReplyDelete
  29. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)


    Objek matematika yang bersifat abstrak hanya dipahami oleh kaum formalis, foundatalis dan kaum logic. Hal tersebut tidak cocok untuk kaum realis yang contohnya adalah anak sekolah dasar. Hal ini berelasi dengan pemahaman bahwa kontradiktif tidak dapat diartikan secara sepotong-sepotong, karena unsur-unsur matematika saling berhubungan dan terbebas dari ruang dan waktu. Sehingga sebagai pendidik hal ini dapat dijadikan acuan kita dalam memahami setiap karakter siswa tidak boleh sepotong-potong karena kita bisa menjadi penolong siswa dalam belajar matematika ketika kita mengetahui kesulitan dari siswa berdasarkan ruang dan waktu dari mereka.

    ReplyDelete
  30. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Dari komentar Ibu Kriswianti tersebut kita dapat mengambil hikmah bahwa dalam memandang suatu masalah atau apapun tidak cukup hanya dengan memandangnya secara parsial. Kita harus dapat memandangnya secara menyeluruh. Karena pandangan yang hanya sebagian saja akan memberikan makna yang berbeda dengan yang seharusnya. Bahkan terkadang memandang secara menyeluruh saja belum cukup bila kita tidak benar-benar memahaminya

    ReplyDelete
  31. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Prof
    Dalam hidup ini, belajar merupakan suatu kewajiban. Belajar adalah proses. Proses tidak bisa terjadi secara instan. Jadi dalam belajar pastilah membutuhkan waktu yang panjang bahkan belajar tidak boleh berhenti. Pada elegi ini hal yang dapat saya pelajari adalah bahwa penting untuk belajar agar dapat berpikir secara luas. Memandang suatu hal dari berbagai sisi karena setiap yang ada dan yang mungkin ada memiliki banyak tak hingga sifat. Selain itu dalam belajar apabila dilakukan sepotong-potong akan berbahaya. Dapat mengambil keputusan yang belum tepat sesuai ruang dan waktu, jadi dalam belajar juga harus menggapai tuntas. Tuntas dalam belajar hanya bisa terus menerus digapai, karena tidak ada yang sebenar-benar tuntas dalam belajarnya. Apabila sudah tuntas akan terancam untuk berhenti belajar.

    ReplyDelete
  32. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Untuk memahami filsafat kita tidak boleh tidak sepotong-potong harus banyak membaca elegi sampai tuntas. Seperti dalam elegi ini bahwa operasi bilangan seperti "3+4=7" itu bersifat kontradiksi, ini dapat kita pandang tergantung pada ruang dan waktunya. Ibu Kriswianti sudah menyebutkan karakteristik matematisnya. Menurut Pak Marsigit, jika karakteristik itu tidak bisa dicapai oleh matematikawan maka matematika sama seperti mitos.

    ReplyDelete
  33. Anisa SAfitri
    17701251038
    PEPB

    Arti dari kata kontradiktif tidak bisa diartikan secara sepotong-sepotong.
    Pengertian kontradiktif dalam matematika sangat berbeda dengan pengertian kontradiktif dalam dunia filsafat.Seperti misalnya 3+4=7 tampak tidak kontradiktif dalam dunia matematika.
    Tetapi apabila pernyataan tersebut tidak terbebas dari ruang dan waktu, maka bisa saja pernyataan tersebut menjadi kontradiktif karena yang dimaksud adalah penjumlahan dengan basis 8.
    Maka dari itu, pengertian kontradiktif tidak dapat diartikan secara sepotong-sepotong.ilmu dalam matematika seperti rantai yang saling berhubungan adanya jika memandang dengan satu rantai mungkin belum tentu dengan rantai yang lain, penguasaan konsep dan pengatahuan akan membantu dalam menjelaskan kepada yang lain, sebagai usaha menjadikan matematika itu logos bukan mitos. saya masih harus banyak membaca semoga dimudahkan dalam pemahaman dan ilmunya. aamin

    ReplyDelete
  34. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.Mat B 2017

    saya bisa memahami apa yang dimaksud bapak bahwa 3 + 7 = 4 bisa termasuk kontradiktif, jika tidak disepakati semesta pembicaraan nya. jika pembahasannya hanya diruang lingkup sekolah dasar dan menengah ataupun orang awam, tentu hal tersebut tidak kontradiktif. tetapi jika pembahasannya sudah setingkat lebih tinggi, maka perlu didefinisikan dengan jelas semesta pembicaraannya.

    ReplyDelete
  35. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Menurut saya, pesan yang ingin Bapak sampaikan pada elegi ini ialah ketika kita ingin memahamai atau mengetahui sesuatu hendaknya jangan membaca atau mencari tahu informasi tersebut setengah-setengah atau hanya sebagiannya saja. Pahamilah sesuatu tersebut secara menyeluruh agar tidak terjadi kesalahpahaman. Begitu juga dalam melakukan sesuatu, lakukanlah secara menyeluruh, jangan setengah-setengah, pun dalam menjalankan agama, masuklah (lakukanlah perintah) agama tersebut secara menyeluruh.

    ReplyDelete
  36. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Terima kasih atas postingannya, Prof. berdasarkan ulasan bapak di atas, dari sudut pandang saya apakah 3+4 =7 kontradiksi ataupun tidak itu bergantung pada semesta pembicaraannya. Sesungguhnya matematika adalah ilmu dedukti karena proses pencarian kebenaran ada didalamnya meggunakan metode dekduktif. Namun dalam pembelajaran matematika menggunakan metode induktif karena sesuai dengan tahap perkembangan siswa maka pada pembelajaran matematika di Sekolah Dasar mengggunakan pendekatan Induktif.

    ReplyDelete
  37. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Matematika selama ini diajarkan guru kepada murid-muridnya lebih sebagai mitos daripada logos. Siswa hanya menerima doktrin-doktrin ang diberikan guru. Maka diskusi, obrolan, saling memberikan pendapatnya merupakan jalan untuk menggapai logos.

    ReplyDelete
  38. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postigannya, Prof. Sekali lagi bahwa matematika itu terdapat kontradiksi di dalamnya jika tidak dikaitkan dengan ruang dan waktu. Jika sebelumnya telah diberikan definisi, batasan atau asumsi awal, dengan kata lain diberikan unsur ruang dan waktu, maka matematika itu akan bersifat konsisten dan tidak kontradiktif.

    ReplyDelete
  39. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    "Memiliki simbol yang kosong dari arti maksudnya adalah terbebas dari ruang dan waktu."
    Lagi-lagi saya pahami sebagai masalah konteks. Makna 3+4=7 itu tak hanya terpaku pada simbol saja. Angka kan hanya membantu, tapi makna 3+4=7 tetap ada pada konteks. Bukankah siswa akan lebih mudah memahami "3 pensil dibeli kemudian membeli 4 pensil kembali maka seluruh yang dipunyai menjadi 7" dibandingkan langsung pada konten 3+4=7? Hal ini yang patut disesuaikan ruang dan waktu. Untuk siswa, ruang dan waktunya mereka lebih sederhana. Makanua menjelaskan dengan hal sederhana akan lebih mereka pahami.

    ReplyDelete
  40. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas mengenai 3+4=7 sangat menarik sekali. Menurut pendapat saya ketika telah belajar filsafat maka kita harusnya bisa menempatkan diri sesuai dengan ruang dan waktu. Seperti pada elegi ini misalnya jawaban ini bisa benar dan salah tergantung pada semestanya. Sehingga memberi kita pandangan lagi bahwa dalam memandang sesuatu bisa dari banyak sisi, dari banyak sudut pandang. Ini mengartikan bahwa kita harus memiliki pandangan yang luas akan suatu hal.
    Berkaitan matematika itu kontradiktif atau tidak, seharusnya matematika tidak kontradiktif di dalam pikiran kita, tapi jika dilihat lagi sejatinya ada matematika yang kontradiktif misalnya saja yaitu himpunan x memuat x tidak sama dengan x. Sehingga kita tahu bahwa sebenarnya matematika itu juga meliputi apa yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  41. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015

    Banyak orang yang beranggapan matematika itu sebagai sesuatu yang abstrak, sehingga dalam pembelajarannya juga menggunakan dasar pemikiran itu. Padahal matematika dalam pembelajarannya tidak harus abstrak, objeknya itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Jika objek matematika hanya dipandang sebagai abstrak saja, berarti kita telah merugi. Menurut elegi ini, maka jika kita calon guru menjelaskan matematika hanya dengan abstrak saja bisa saja pada akhirnya malah matematika menjadi gagal untuk dijelaskan bahkan menjadi mitos

    ReplyDelete
  42. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Akhir dari elegi ini memberikan sedikit banyak pengetahuan baru bagi saya. Matematika sebagai suatu sistem. Matematika itu kontradiktif memang, namun sesuai dengan ruang dan waktunya. Matematika yang diajarkan di sekolah seyogyanta tidak diajarkan secara abstrak, namun bisa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, seperti dengan pendekatan realistik matematika. Dari elegi ini, dapat saya ambil pelajaran bahwa menjadi mitos ataupun logos merupakan pilihan bagi seorang guru matematika. Hal ini didasarkan pada penyampaian yang akan digunakan guru dalam pembelajaran. Dan yang seyogyanya dilakukan oleh guru adalah menyampaiakan materi matematika sesuai ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  43. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Terimaksih banyak atas informasi diskusi antara bapak dan ibu diatas. Hal ini semakin mengingatkan bagi saya sendiri khusunya bahwa dalam memanndang matematika tidak boleh hanya mengacu pada satu titik saja tapiu harus mengacu pada pandangna-pandangan dasar yang lebih luas dan mendalam lainnya, sehingga kita tidak menjadikan hal-hal matematika menjadi mitos, namun harus bersifat logos.

    Terimakasih, Demikian.

    ReplyDelete
  44. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda, dan memiliki alasa yang kuat terhadap pandangannya tersebut. Namun, berbicara mengenai unsur kekonsistenan dan kekontadiktifan matematika, kita tidak boleh terpaku pada satu unsur ilmu berkarakteristik paten dan tetap. Karena jika para mathematicians gagal menjelaskan maka semua karakteristik matematika adalah paten dan tidak dapat melebur dan dihubungkan dengan sifat-sifat yang lain, maka bisa dianggap hanya sebagai MITOS belaka. Oleh karena itu marilah kita bersama-sama memikirkan matematika tidak hanya sebagai MITOS tetapi sebagai LOGOS dan kita harus tetap berusaha untuk menggapai LOGOS matematika tersebut. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  45. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Setelah membaca pendahuluan dari elegi diatas memberi peringatan bagi kami bahwa dalam memahami sesuatu tidak boleh sepotong-potong atau terfokus, fanatic ataupun membenarkan dari satu sudut pandang. Subyek, obyek dari ilmu pengetahuan harus dikaji dari berbagai pandangan untuk memperoleh ilmu yang nyata. Membicarakan konsostensi dan kontradiksi matematika memang tiada habisnya. Meskipun di setenagh dunia lain dari matematika merupakan kontradiktif, Namun kontradiktif ini tetap konsisten dalam ruang dan waktunya. Oleh karena itu berpikir Intensif dan ekstensif harus tetap di kembangkan untuk membantu dalam memahami sebua bahasan tenatng ilmu matematika. Terima Kasih

    ReplyDelete
  46. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Setelah membaca pendahuluan dari elegi diatas memberi peringatan bagi kami bahwa dalam memahami sesuatu tidak boleh sepotong-potong atau terfokus, fanatic ataupun membenarkan dari satu sudut pandang. Subyek, obyek dari ilmu pengetahuan harus dikaji dari berbagai pandangan untuk memperoleh ilmu yang nyata. Membicarakan konsostensi dan kontradiksi matematika memang tiada habisnya. Meskipun di setenagh dunia lain dari matematika merupakan kontradiktif, Namun kontradiktif ini tetap konsisten dalam ruang dan waktunya. Oleh karena itu berpikir Intensif dan ekstensif harus tetap di kembangkan untuk membantu dalam memahami sebua bahasan tenatng ilmu matematika. Terima Kasih

    ReplyDelete
  47. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Pada saat pembelajaran filsafat di kelas, prof marsigit pun juga mengingatkan kepada mahasiswa untuk tidak mengambil pembelajaran ini sepotong-sepotong, karena dapat menyebabkan permasalahan di kemudian hari. Ya tentu kontradiktif matematika itu tentu unik, apalagi bagi saya yang baru mendengarkan istilah seperti ini. Sehingga perlu adanya rasa rendah hati dalam mencari ilmu sehingga dapat mencapai logos bukan termakan mitos.

    ReplyDelete
  48. Indah Purnama Sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Saya setuju Prof, bahwasannya belajar filsafat harus dilakukan secara continiu dan tidak bisa sepotong-sepotong. Dengan terus-menerus belajar maka akan tercipta la suatu pemahaman yang diinginkan dalam ilmu yang akan dicapai.

    ReplyDelete
  49. Terimakasih atas sharing hasil diskusi dengan ibu kriswianti tentang apakah matematika kontradiktif? Dari penjelasan diatas terlihat bahwa keluasan ilmu bapak lebih dari saya yang mungkin tidak mampu untuk menjelasknnnya. Seorang manusia matematika tidak lah sebaik-baiknya memandang hanya dari satu sudut pandang saja tetapi harus lebih luas lagi, hal ini dilakukan guna untuk menemukan kemungkinan-kemungkina lain yang akan terjadi dalam matematka sebagai ilmu pengetahuan itu sendiri.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  50. Junianto
    PM C
    17709251065

    Terimakasih Prof atas penjelasannya. Memang terkadang salah persepsi dalam memahami artikel adalah hal biasa. Penjelasan Prof ini juga menjadi salah satu sarana untuk meluruskan sesuatu yang seharusnya. Selai itu, saya menggaris bawahi apa yang dimaksud mitos dan logos. Maka dari itu, artikel-artikel ini sebagai salah satu upaya mengubah mitos menjadi logos dengan cara menemukan alasan-alasan logis untuk sebuah jawaban.

    ReplyDelete
  51. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Membawa matematika untuk menjadi logos merupakan hal yang harus dipikirkan dan diusahakan bersama. Hal ini dilakukan guna menjauhkan matematika sebagai mitos. Usaha yang dapat dilakukan untuk menolak matematika sebagai mitos kita harus bisa memberikan penjelasan yang jelas, terkait dengan segala sesuatu yang ada di matematika. Begitu juga saat membelajarkan matematika.

    ReplyDelete
  52. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Tanggapan yang diberikan oleh prof disini, saya mengambil kesimpulan bahwa banyak sekali guru yang masih berfikir bahwa matematika itu saklek berdasarkan logika namun tidak mereka pahami makna kontradisktif menurut dunia hakikat. Ini menururut saya suatu pemahaman yang perlu diluruskan agar mereka memahami makna kontradiksi yang sesungguhnya.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  53. Matematika selama ini dianggap sebagai ilmu yang paling konsisten memang benar. Namun kita harus sadar bahwa kebenaran di dalam matematika tidak bisa di pandang dari semua sisi. Seluruh simbol dan lambang yang ada di dalam matematika sesungguhnya kosong atau tanpa makna. Mereka menjadi bermakna setelah dilakukan kesepakatan-kesepakatan. Jadi kebenaran matematika bertumpu pada kesepakatan dan disesuaikan dengan semesta pembicarannya. Masalah A hanya bisa diselesaikan dengan hukum A dan hukum B hanya cocok untuk menyelesaikan masalah B.

    ReplyDelete
  54. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Dalam matematika, ketika notion-notion datang begitu saja, tanpa disertai penjelasan, berarti hal itu menjadi mitos. Begitu juga jika penjelasan yang ada hanya dipahami sepotong-sepotong, itu juga mitos. Simbol-simbol dalam matematika seperti simbol angka, operasi tambah, kurang, kali, bagi itu semua adalah kosong dari arti apabila terbebas dari ruang dan waktu. Maka dari itu penjelasan dalam matematika sangatlah penting untuk menghindari mitos dan menuju logos.

    ReplyDelete
  55. Pratama Wahyu Purnama
    17709251033

    Pesan yang saya dapatkan dari elegi ini adalah untuk menggapai pemahaman dari sesuatu itu janganlah mempelajari setengah setengah. Karena kalau hanya setengah itu bisa berkahir sebagai mitos. seharusnya kita harus mengubah hal tersebut menjadi logos. Jadi pelajarilah segalanya secara keseluruhan.

    ReplyDelete
  56. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PMC

    Dalam memahami suatu tulisan atau sesuatu, kita harus mencoba untuk memahaminya secara keseluruhan. Kita tidak bisa hanya memahami satu kalimat karena belum tentu satu kalimat itu mencerminkan keseluruhan si bacaan. Kita juga harus memahami dari sudut pandang mana kita melihatnya. "3+4=7" menjadi kontradiktif untuk bilangan berbasis 7 kebawah dan benar untuk bilangan berbasis 8 keatas. Maka dalam memahami sesuatu itu juga diperlukan pikiran- pikiran kritis dan tidak begitu saja menerima agar kita tidak terjebak dalam mitos. Kita juga harus banyak membaca dan bertanya agar pengetahuan kita semakin luar dan dapat lebih mudah memahami sesuatu.

    ReplyDelete
  57. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Untuk mencapai pemahaman/keberhasilan dari sesuatu yang kita pelajari, kita harus ikhlas dan secara totalitas benar-benar berusaha mempelajarinya.Memahamai sesuatu sepotong sepotong akan membuat kita menjadi seseorang yang nanggung. Pemahaman yang menyeluruh bisa menjadikan kita seseorang yang lebih bijak dalam menanggapinya.
    Begitu pula dalam hidup, untuk mampu memberikan penilaian terhadap orang lain perlulah banyak perspektif. Perspektif itu ibaratkan lampu untuk menyorot apa yang kita lihat. Semakin banyak yang digunakan, semakin paham secara menyeluruh dan tidak akan menyalahkan jika tidak benar-benar salah.

    ReplyDelete
  58. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Hasil diskusi di atas dapat saya refleksikan bahwa dalam mencari ilmu maka harus benar-benar ditelusuri dari akar sampai pucuk, jangan mengambil tangkainya saja. Karena hal tersbut dapat menyebabkan ilmu yang akan kita dapatkan menjadi tidak sempurna dana kan menimbulkan kekacauan dalam berpikir, apalagi pada postingan sebelumnya intusi seseorang dipengaruhi oleh pengalaman apabila pengalaman ilmunya yang dicari tidak lengkap maka akan menyebabkan keutuhan ilmu juga akan berkurang dan membuat intuisi kita menjadi terbatas.

    ReplyDelete
  59. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2

    Matematika itu sangat luas. Darielegi diatas kita menjadi tahu bahwa memandang matematika hendaknya tidaklah hanya dari satu pandangan. Banyak sudut pandang yang dapat kita gunakan untuk memperoleh kebenaran yang bersifat lebih mendasar, lebih hakiki dan lebih luas. Seperti yang dijelaskan pada elegi2 sebelumnya bahwa kaum Logicis dan Formalist hanya memandang matematika terbebas dari ruang adn waktu.

    ReplyDelete
  60. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Membaca elegi-elegi ini untuk menemukan jawaban apakah matematika kontradiktif hendaknya dilakukan secara keseluruhan dan berurutan. Matematika kita kenal sebagai ilmu deduktif yang mana suatu konsep matematika merupakan turunan dari konsep-konsep yang ada sebelumnya. Keseluruhan keterkaitan konsep harus memiliki alasan dan penjelasannya, karena jika tidak ada maka disebut dengan mitos.

    ReplyDelete
  61. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017
    Elegi ini harus dibaca secara menyeluruh untuk mengetahui detail pembahasannya. Kita juga perlu berpikiran terbuka (open minded) untuk memahaminya, jangan hanya melihat hanya dari satu sisi yang biasanya dilihat oleh orang awam.

    ReplyDelete
  62. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Dalam elegi pemberontakan matematika terdapat gagasan tentang kontradiksi matematika yang berkelanjutan dan tidak dapat difokuskan pada satu bagian saja. Sama halnya dengan matematika yang tidak bisa dipersepsikan dan dinterpretasikan dalam satu segi / sisi yang mutlak. Eksistensi sistem matematika membuat keberagaman kesepakatan antar pihak. Hal inilah yang memicu mitos dan logos.

    ReplyDelete
  63. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Memandang matematika janganlah dari satu sudut pandang saja. Terutama dalam memandang konsistensi dan kondradiksi dalam mateamtika. Hal itu karean, saat kita hanya fanatic dalam satu sudut pandang sehingga mendapatkan kejelasan maka hal itu akan menjadi mitos. Saat kita mengangap semua karakteristik mateamtikawan itu benar adanya, dan ketika mereka tidak dapat memberi penjelasan mengenai karakteristik yang telah dipaparkan maka mateamtika akan menjadi mitos belaka. Sehingga mari luaskan pandangan dan pikiran dalam memandang suatu hal agar kita tidak terjebak dalam mitos dan dapat menggapai logos. Terimakasih

    ReplyDelete
  64. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Mitos dalam matematika terjadi apabila munculnya kesepakatan yang tidak memiliki dasar (landasan) yang diikuti alasan tidak yang jelas dari pencetusnya. Mitos bisa berupa karakteristik yang dibuat para matematikawan atau para penggiat matematika. Sedangkan logos dalam matematika bisa terjadi apabila munculnya kesepakatan yang ada dasar (landasan) yang diikuti alasan yang jelas dari penggagasnya. Logos inilah yang dianggap kontradiksi ilmu dalam lingkungan ilmuan. Sementara itu, Objek Matematika bersifat abstrak bagi para Logisis-Formalis-Foundationalis. Dengan kata lain tidak ada kesepakatan (keseragaman) antara para matematikawan karena masing-masing pihak ada yang berdiri dengan mitos atau logosnya yang dianggap ideal, meskipun pada hakikatnya sistem matematika juga memiliki sisi kekonsistenannya.

    ReplyDelete
  65. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Dalam Logicist-Formalist-Foundationalist, obyek Matematika bersifat abstrak, bertumpu pada kesepakatan itu untuk membangun definisinya atau sistemnya. Logicist-Formalist-Foundationalist memiliki cara Berpikir pola deduktif, memiliki simbol yang kosong dari arti, maksudnya adalah terbebas dari ruang dan waktu. Dalam kaum Logicists, konsisten pada sistemnya itulah pikiran. Jika notions-notions itu datang begitu saja tanpa ada penjelasan maka itulah yang namanya MITOS dalam matematika. Jika para mathematicians yang gagal menjelaskan maka itu bisa dianggap hanya sebagai MITOS belaka. Oleh karena itu kita harus mampu menjelaskan sesuatu agar tidak dianggap mitos, namun logos.

    ReplyDelete
  66. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Belajar filsafat itu memang tidak mudah, tetapi filsafat akan menuntun kita untuk dapat melihat segala sesuatu itu tidak hanya setengah-setengah, karena filsafat akan membimbing kita untuk berfikir secara mendalam, menyeluruh dan sistematis. Banyak sudut pandang yang dapat kita gunakan untuk memperoleh kebenaran hakiki. Logicist-Formalist-Foundationalist biasanya berpikir pola deduktif. Memiliki simbol yang kosong dari arti, maksudnya adalah ia terbebas dari ruang dan waktu. Sementara jika pikiran dan karya tersebut tidak ada penjelasan, maka dapat dikatakan sebagai sebuah mitos dalam matematika. Namun jika kita mampu memberikan pembuktian dan penjelasan maka hal tersebut dapatlah kita sebut sebagai logos

    ReplyDelete
  67. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Dari elegi ini kita belajar bahwa dalam memaknai matematika harus melihat dari berbagai titik agar tidak terjadi kesalahpamahaman konsep. Pemahaman yang salah akan melahirkan mitos sehingga kita terperangkap dalam ruang dan waktu. Maka agar tidak terperangkap dalam mitos kita harus mengejar logos yaitu dengan terus membaca, memperdalam ilmu.

    ReplyDelete
  68. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Dari elegi yang pernah saya baca yaitu tentang pengakuan para matematikawan, definisi matematika memang berbeda-beda tergantung paham manakah yang kita ikuti, maka perbedaan pendapat itu adalah sesuatu yang lumrah. Jika dipandang dari segi matematika saja, maka benar bahwa semuanya itu konsisten pada semestanya. Namun pada konteks ini matematika dipandang pada dunia hakekat dengan

    ReplyDelete
  69. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Berdasarkan respon Ibu Kris dan jawaband dari Prof Marsigit saya dapat mengambil intisari bahwa sebaiknya kita tidak memandang mateamtika hanya dari satu sisi saja. Karena apabila tidak diperluas dan diperdalam maka kita hanya akan hidup dalam mitos, kita menganggap ilmu yang kita miliki sudah cukup. Apa yang menarik di sini adalah bersikap kritis itu perlu dan bertanya adalah kunci dari pengetahuan. Jika hanya menerima mentah-mentah atau tidak pernah mengungkapkan kesangsian maka hanya akan ada kebingugan sepanjang hidup.

    ReplyDelete
  70. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. Tidak mudah memang untuk memahami elegi yang ditulis oleh Prof. Marsigit. Perlu di baca beberapa kali dan diresapi makna tiap kalimatnya. Matematika itu dapat di lihat dari bebrbagai sudut pandang, dan untuk memahami matematika perlu melihat matematika dari semua sudut pandang yang ada

    ReplyDelete
  71. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Ibu Kriswianti ini awalnya seperti saya yang kirang memahami contoh 3 + 4 = 7 yang diberikan oleh Pak Marsigit. Karena mungkin penjelasannya kurang kontras. Seperti yang saya sampaikan pada postingan sebelumnya. Saya akan mencoba memberikan contoh lain ketidakkonsistenan dalam sistem matematika yang disebabkan bedanya semesta bilangan yang dibicarakan. Contohnya terdapat himpunan F beranggotakan x, dimana x merupakan bilangan kurang dari 7, dan x merupakan anggota bilangan asli. Sedangkan terdapat himpunan F lain yang juga beranggotakan x, yang juga mensyaratkan x merupakan bilangan kurang dari 7, namun semestanya berbeda yaitu x merupakan bilangan bulat. Maka anggota kedua F tersebut berbeda karena perbedaan ruang dan waktunya (semesta). Mohon maaf apabila contoh yang saya berikan kurang benar.

    ReplyDelete
  72. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Pada elegi ini memaparkan tentang tanggapan apakahmatematika kontradiktif,. Dari sini dikatakan bahwa matematika memiliki pandangan yang luas. Sehingga matematika tidak dapat dilihat dari satu sudut pandang saja. Harus secara mendasar hakiki dan meluas.

    ReplyDelete
  73. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Dari artikel di atas, saya mendapatkan informasi bahwa sesuatu yang tidak bisa dijelaskan asal mulanya dapat disebut sebagai sebuah mitos. Sama dengan itu, dalam matematika, jika matematikawan gagal dalam menjelaskan notion-notion yang ada, maka ini dapat disebut sebagai mitos dalam matematika. Dengan itu, kita harus dapat berpikir bahwa matematika bukanlah sebuah mitos, melainkan sebagai logos.

    ReplyDelete
  74. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Kontradiktif dalam matematika berbeda dengan kontradiktif dalam filsafat. Kontradiktif tidak dapat diartikan secara sepotong-sepotong, karena unsur-unsur matematika saling berhubungan dan terbebas dari ruang dan waktu.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  75. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Dalam filsafat segala sesuatu tergantung dari ruang dan waktu. Hal yang bersifat kontradiktif dalam matematika menandakan telah terjadi kekeliruan dalam suatu proses atau pernyataan matematika, yang ditandai dengan kekonsistenan dalam matematika.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  76. Muhammad sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    perbedaan pendapat memanglah suatu yang sangat lumrah terjadi, namun bagaimana sesorang menanggapi perbedaan pendapat menunjukkan profesionalismenya dalam keilmuan. termasuk perbedaan pendapat antara matematikawan dengan philosopher, namun jika dikaji lebih mendalam antara matematika dan filsafat ada hubungan atau keterkaitan yang cukup mendasar, yang tidak bisa dipisahkan satu dan lainnya.

    ReplyDelete
  77. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Berdasarkan elegi ini, kita dapat belajar bahwa dalam melihat suatu objek tidak bisa hanya memandang dari satu sudut pandang saja untuk membuktikan kebenarannya. Matematika tergantung dari ruang dan waktunya (yaitu semestanya). Seperti contoh yang diaebutkan 3+4=7, ini akan kontradiksi atau tidak, tergantung dari semesta pembicaranya. Dengan berpikir dan mengkaji lebih mendalam agar dapat menerima suatu kebenaran, bisa dilatih dengan menambah banyak wawasan dan pengetahuan

    ReplyDelete
  78. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Dari postongan tanggapan komentar di atas dapat dilihat bahwa pemikiran Prof sudah keluar dari apa yang selama ini tertanam pada pemikiran orang awam mengenai matematika. Seperti pada bagian komentar mengenai karakteristik matematika yang mengatakan memiliki simbol yang kosong. Prof memandang kekosongan itu sebagai kekosongan ruang dan waktu. Sudut pandang berbeda akan mengahasilkan diskusi yang bertujuan untuk membangun pengetahuan khususnya matematika lebih mendalam lagi.

    ReplyDelete
  79. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Banyak orang yang menilai berdasarkan apa yang mereka hayati, serta menila sekilas berdasarkan apa yang mereka lihat.Sedangkan kita tahu bahwa mata kita terbatas dalam memandang dan oleh sebab itu kita pun tidak bisa menilai hanya berdasarkan apa yang kita lihat saat itu. Kita butuh data pendukung dan kenyataan lain yang dapat menguatkan statement kita. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  80. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Adanya perbedaan dalam penafsiran merupakan hal yang biasa terjadi. Karena perbedaan sudut pandang dan tidak memandang secara menyeluruh (hanya dari satu sisi saja). Tidak bisa hanya memandang salah satu prinsip hakekat saja, namun selalu ada prinsip kontradiktif yang mengikutinya. Kebanyakan orang termasuk saya masih sering mangabaikan prinsip kontradiktif ini. Sehingga hakekat matematika sebagai ilmu masih belum seutuhnya.

    ReplyDelete