Sep 20, 2013

Jargon Para Subyek




Oleh Marsigit

Jargon:
Wahai para subyek, apa yang engkau ingin katakan kepadaku? Kenapa engkau datang berbondong-bondong kepadaku? Siapa sajakah engkau itu?

Para Subyek pembuat:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pembuat.
Aku itu meliputi para pembuat tugas, pembuat mandat, pembuat amanah, pembuat kewajiban, pembuat aturan, pembuat obyek, pembuat sifat, pembuat permulaan, pembuat inisiatif, pembuat kesimpulan, pembuat pertanyaan, pembuat jawaban, pembuat kesimpulan, pembuat benar, pembuat salah, pembuat suasana, pembuat akhiran, pembuat laporan, pembuat metode, pembuat alat, pembuat tulisan, pembuat bicara, pembuat proposal, pembuat baik, pembuat buruk, pembuat bergerak, pembuat diam, pembuat tidak jelas, pembuat kacau, pembuat tidak kacau, pembuat jargon, pembuat elegi, pembuat contoh, pembuat hubungan, pembuat sesuai, pembuat tidak sesuai, pembuat terang, pembuat gelap, pembuat mahal, pembuat murah, pembuat turun, pembuat naik, pambuat ramai, pembuat sepi, pembuat perang, pembuat kacau, pembuat adil, pembuat jabatan, pembuat PR, pembuat nilai, pembuat naik kelas, pembuat lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para pembuat. Para pembuat itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?

Para subyek penentu:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para penentu.
Aku itu meliputi para penentu tugas, penentu mandat, penentu amanah, penentu kewajiban, penentu aturan, penentu obyek, penentu sifat, penentu permulaan, penentu inisiatif, penentu kesimpulan, penentu pertanyaan, penentu jawaban, penentu kesimpulan, penentu benar, penentu salah, penentu suasana, penentu akhiran, penentu laporan, penentu metode, penentu alat, penentu tulisan, penentu bicara, penentu proposal, penentu baik, penentu buruk, penentu bergerak, penentu diam, penentu tidak jelas, penentu kacau, penentu tidak kacau, penentu jargon, penentu elegi, penentu contoh, penentu hubungan, penentu sesuai, penentu tidak sesuai, penentu terang, penentu gelap, penentu mahal, penentu murah, penentu turun, penentu naik, penentu ramai, penentu sepi, penentu perang, penentu kacau, pembuat adil, penentu jabatan, penentu PR, penentu nilai, penentu naik kelas, penentu lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek penentu. Para penentu itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?

Para subyek pengemban:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pengemban.
Aku itu meliputi para pengemban tugas, pengemban mandat, pengemban amanah, pengemban kewajiban, pengemban aturan, pengemban obyek, pengemban sifat, pengemban permulaan, pengemban inisiatif, pengemban kesimpulan, pengemban pertanyaan, pengemban jawaban, pengemban kesimpulan, pengemban benar, pengemban salah, pengemban suasana, pengemban akhiran, pengemban laporan, pengemban metode, pengemban alat, pengemban tulisan, pengemban bicara, pengemban proposal, pengemban baik, pengemban buruk, pengemban bergerak, pengemban diam, pengemban tidak jelas, pengemban kacau, pengemban tidak kacau, pengemban jargon, pengemban elegi, pengemban contoh, pengemban hubungan, pengemban sesuai, pengemban tidak sesuai, pengemban terang, pengemban gelap, pengemban mahal, pengemban murah, pengemban turun, pengemban naik, pengemban ramai, pengemban sepi, pengemban perang, pengemban kacau, pembuat adil, pengemban jabatan, pengemban PR, pengemban nilai, pengemban naik kelas, pengemban lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek pengemban. Para pengemban itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?

Para subyek pemangku:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pemangku.
Aku itu meliputi para pemangku tugas, pemangku mandat, pemangku amanah, pemangku kewajiban, pemangku aturan, pemangku obyek, pemangku sifat, pemangku permulaan, pemangku inisiatif, pemangku kesimpulan, pemangku pertanyaan, pemangku jawaban, pemangku kesimpulan, pemangku benar, pemangku salah, pemangku suasana, pemangku akhiran, pemangku laporan, pemangku metode, pemangku alat, pemangku tulisan, pemangku bicara, pemangku proposal, pemangku baik, pemangku buruk, pemangku bergerak, pemangku diam, pemangku tidak jelas, pemangku kacau, pemangku tidak kacau, pemangku jargon, pemangku elegi, pemangku contoh, pemangku hubungan, pemangku sesuai, pemangku tidak sesuai, pemangku terang, pemangku gelap, pemangku mahal, pemangku murah, pemangku turun, pemangku naik, pemangku ramai, pemangku sepi, pemangku perang, pemangku kacau, pembuat adil, pemangku jabatan, pemangku PR, pemangku nilai, pemangku naik kelas, pemangku lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek pemangku. Para pemangku itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?

Para subyek pelaksana:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pelaksana.
Aku itu meliputi para pelaksana tugas, pelaksana mandat, pelaksana amanah, pelaksana kewajiban, pelaksana aturan, pelaksana obyek, pelaksana sifat, pelaksana permulaan, pelaksana inisiatif, pelaksana kesimpulan, pelaksana pertanyaan, pelaksana jawaban, pelaksana kesimpulan, pelaksana benar, pelaksana salah, pelaksana suasana, pelaksana akhiran, pelaksana laporan, pelaksana metode, pelaksana alat, pelaksana tulisan, pelaksana bicara, pelaksana proposal, pelaksana baik, pelaksana buruk, pelaksana bergerak, pelaksana diam, pelaksana tidak jelas, pelaksana kacau, pelaksana tidak kacau, pelaksana jargon, pelaksana elegi, pelaksana contoh, pelaksana hubungan, pelaksana sesuai, pelaksana tidak sesuai, pelaksana terang, pelaksana gelap, pelaksana mahal, pelaksana murah, pelaksana turun, pelaksana naik, pelaksana ramai, pelaksana sepi, pelaksana perang, pelaksana kacau, pembuat adil, pelaksana jabatan, pelaksana PR, pelaksana nilai, pelaksana naik kelas, pelaksana lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek pelaksana. Para pelaksana itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?
Para subyek pemelihara:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pemelihara.
Aku itu meliputi para pemelihara tugas, pemelihara mandat, pemelihara amanah, pemelihara kewajiban, pemelihara aturan, pemelihara obyek, pemelihara sifat, pemelihara permulaan, pemelihara inisiatif, pemelihara kesimpulan, pemelihara pertanyaan, pemelihara jawaban, pemelihara kesimpulan, pemelihara benar, pemelihara salah, pemelihara suasana, pemelihara akhiran, pemelihara laporan, pemelihara metode, pemelihara alat, pemelihara tulisan, pemelihara bicara, pemelihara proposal, pemelihara baik, pemelihara buruk, pemelihara bergerak, pemelihara diam, pemelihara tidak jelas, pemelihara kacau, pemelihara tidak kacau, pemelihara jargon, pemelihara elegi, pemelihara contoh, pemelihara hubungan, pemelihara sesuai, pemelihara tidak sesuai, pemelihara terang, pemelihara gelap, pemelihara mahal, pemelihara murah, pemelihara turun, pemelihara naik, pemelihara ramai, pemelihara sepi, pemelihara perang, pemelihara kacau, pembuat adil, pemelihara jabatan, pemelihara PR, pemelihara nilai, pemelihara naik kelas, pemelihara lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek pemelihara. Para pemelihara itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?

Para subyek pengawas:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pengawas.
Aku itu meliputi para pengawas tugas, pengawas mandat, pengawas amanah, pengawas kewajiban, pengawas aturan, pengawas obyek, pengawas sifat, pengawas permulaan, pengawas inisiatif, pengawas kesimpulan, pengawas pertanyaan, pengawas jawaban, pengawas kesimpulan, pengawas benar, pengawas salah, pengawas suasana, pengawas akhiran, pengawas laporan, pengawas metode, pengawas alat, pengawas tulisan, pengawas bicara, pengawas proposal, pengawas baik, pengawas buruk, pengawas bergerak, pengawas diam, pengawas tidak jelas, pengawas kacau, pengawas tidak kacau, pengawas jargon, pengawas elegi, pengawas contoh, pengawas hubungan, pengawas sesuai, pengawas tidak sesuai, pengawas terang, pengawas gelap, pengawas mahal, pengawas murah, pengawas turun, pengawas naik, pengawas ramai, pengawas sepi, pengawas perang, pengawas kacau, pembuat adil, pengawas jabatan, pengawas PR, pengawas nilai, pengawas naik kelas, pengawas lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek pengawas. Para pengawas itu adalah para subyek.

...

Jargon:
Aku ternyata masih melihat para subyek yang lain. Sekarang aku tahu bahwa di situ juga terdapat subyek para penilai, para komentator, para pendoa, para pengacau, ...dst. Maka aku sedang menghadapi ada tak berhingga banyaknya para para subyek. Ternyata aku masih pula melihat para para para para para...subyek.

Para para para ...subyek:
Wahai jargon, apa yang sedang engkau pikirkan?

Jargon:
Aku sedang dalam kondisi di antara jelas dan tidak jelas. Mengapa? Karena aku ternyata mendapatkan para subyek itu banyak dan bermacam-macam. Aku agak sulit membedakan satu dengan yang lain, maka aku sedang mengalami kekacauan pikiran. Tetapi mengapa aku harus bingung, bukankah aku harus bisa bersikap. Ah untuk mengetahui sekedar subyek saja kok sulitnya bukan main. Tak peduli. Mereka ada atau tidak ada, bagiku tak masalah. Subyek itu toh tak ada artinya jika tidak ada obyek. Subyek itu juga tidak ada artinya jika tidak ada pembuat, penentu, pengemban, pemangku, penilai..dst. Tetapi mengapa aku juga ternyata menyebut mereka. Bukankah menyebut mereka itu sama artinya aku menganggap mereka itu penting. Wah kacau pikiranku. Bukankah aku ini adalah jargon. Bukankah jargon itu juga berhak berkuasa. Jika aku berkuasa maka aku dapat menentukan sifat-sifat sesuka hatiku sesuai dengan tujuanku dan kebisaanku, sesuai dengan sifatku, sesuai dengan kepentinganku, sesuai dengan tujuanku.

Para para para ...subyek:
Wahai jargon, aku telah menyaksikan pengakuanmu sebagai jargon. Itulah sebenar-benar jargon, si berpikir kacau dan pembuat kacau, penentu kacau, pengemban kacau, peneilai kacau, pemroduksi kacau, pemangku kaca, bahasa kacau, ....dst. Ternyata aku melihat bahwa banyak anggotamu itu adalah sebanyak diriku.

Jargon:
Wahai para subyek, janganlah bersifat munafik. Aku telah menyaksikan bahwa engkau semua itu sebenarnya para jargon itu. Para jargon adalah para subyek sengan pikiran kacau, bahasa kacau, pemangku kacau, penilai kacau, ...dst. Jadi engkau telah memahami bahwa engkau itu ternyata adalah anggota para para para ...jargon.

Para para para ...subyek:
Maafkanlah wahai para para para...jargon. Ternyata aku telah menyadari bahwa para jargon itu adalah bagian dari diriku. Tetapi aku ingin sampaikan bahwa aku tidak dapat melepaskan dirimu. Aku merasa selalu memerlukanmu untuk menjaga sifatku sebagai para subyek. Ternyata dalam rangka menegakkan diriku sebagai subyek, aku telah terbukti bahwa aku adalah engkau, yaitu para jargon. Aku memerlukan perundingan dan waktu berikutnya lebih jauh dengan dirimu untuk mengetahui lebih lanjut sifat-sifat diriku dan dirimu.

24 comments:

  1. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dalam elegi ini, diketahui bahwa subyek tidak dapat terlepas dari jargon. Ada berbagai macam subyek, dan dari sekian banyak subyek sangat membutuhkan jargon untuk mempertahankan sifatnya

    ReplyDelete
  2. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Kita harus lah sadar bahwa sesungguhnya jargon adalah bagian dari diri kita. Kita tak bisa melepaskan jargon dari diri kita, karena kita memerlukan jargon untuk menjaga sifat kita sebagai subyek. Namun kita tak boleh bertindak melebihi batas, karena sesungguhnya jargon kita itu akan lenyap diperbatasan pikiran kita masing-masing. Sesungguhnya tak ada manusia yang pernah menjadi subyek sejati karena sebenar-benar subyek absolut adalah Tuhan dan sesungguhnya sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan.

    ReplyDelete
  3. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Berdasarkan pemahaman saya, baik subjek pembuat, pengemban, penentu, penilai, pemangku, dan pelaksana tidak ada artinya tanpa kehadiran objek. Meski sudah ada objek, para subjek pembuat, pengemban, penentu, penilai, pemangku, dan pelaksana, masih belum bisa dikatakan subjek jika tidak bisa melakukan tugas sebaik-baiknya. Misal saja pada bidang kebijakan pendidikan, tentu ada istilah pembuat kebijakan pendidikan, pengemban kebijakan pendidikan, penentu kebijakan pendidikan, penilai kebijakan pendidikan, pemangku kebijakan pendidikan, dan pelaksana kebijakan pendidikan. Jika mereka tidak tahu ruang lingkup dan tanggungjawabnya masing-masing, justru akan timbul kekacauan di ranah pendidikan. Hal itu mengindikasikan bahwa para pembuat, pengemban, penentu, penilai, pemangku, dan pelaksana, tidak lebih dari jargon-jargon semata.

    ReplyDelete
  4. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Sebenarnya semua merupakan Jargon, kecuali Tuhan YME. Kita bisa menjadi suatu subyek ataupun obyek adalah tergantung keadaan dan kondisi yang sedang terjadi pada diri kita. Kita bisa saja berada pada kondisi keduanya, yakni sebagai obyek dan sebagai subjek, ketika kita melakukan sesuatu hal di dunia ini maka kita sedang menjadi subyek, namun di sisi lain kita sedang diamati dan dicatat amal perbuatan kita oleh para malaikat Allah SWT, maka kita menjadi obyek. Sehingga menjadi obyek atupun subyek tergantung dari cara kita memandang sesuatu.

    ReplyDelete
  5. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Setelah membaca ini, hal yang saya dapati adalah jargon sangat melekat pada subyeknya, sehingga subyek itu ya jargon dan jargon itu ya subyek. Dan untuk menjaga keberadaan subyek, subyek selalu menegakkan jargon.

    ReplyDelete
  6. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Saya mendapat sebuah pemahaman bahwa kita perlu mengenal orang lain lebih dalam melalui diri kita sendiri dan waktu akan memberikan ruang untuk itu. Diri kita sendiri tidak dianjurkan untuk memberikan penilaian atas tindakan orang lain apalagi menghakiminya. Introspeksi akan kelebihan dan kekurangan diri sendiri lebih baik. Hal ini akan membuat kita semakin kenal siapa diri kita yang sebenarnya.

    ReplyDelete
  7. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari jargon diatas dapat mengambil beberapa hikmah yaitu pentingnya subyek itu. diri kita sendiri adalah subyek, apapun itu bisa menjadi subyek. Dan subyek bisa berupa apapun, bisa dijelaskan dengan apapun. Namun hikmah yang indah yang lain yaitu sebaik-baik orang atau sebai-baik subyek yaitu yang dapat bermanfaat bagi orang lain. Jadilah subyek yang baik. Hikmah terakhir yaitu subyek bukanlah apa-apa jika tanpa obyek.

    ReplyDelete
  8. Junianto
    PM C
    17706251065

    Dari artikel tersebut, dapat saya pahami bahwa subjek atau pelaku suatu tindakan selalu mempunyai jargon. Dengan kata lain, bahwa para subjek juga memiliki kepentingan masing-masing yang tidak terlepas dari ego. Maka dari itu, perlu adanya tindakan bijak dan adil untuk mengelola jargon para subjek agar tindakan mengarah kepada hal-hal yang positif. Jika tidak, seeseorang akan mengutamakan jargon pribadinya yang tentu akan menguntungkan dirinya sendiri. Hal ini tentu sangat tidak baik karena akan memunculkan sifat sombong dan serakah.

    ReplyDelete
  9. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Jargon para subjek menjelaskan tentabg keanekaragaman subjek. Subjek dan objek saling berkaitan, disebut subjek karena dia memiliki objek. Tanpa objek maka tidak akan ada objek. Selain itu juga merupakan suatu bagian dari jargon, karena jargon berarti kacau, jadi jargon subjek adalah kekacauan dalam membuat, menentukan, mengembangkan, memelihara, mengawas dan sebagainya.

    ReplyDelete
  10. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Subyek biasanya identik dengan pelaku. Subyek ini dapat bermacam-macam. Ketika berbicara tentang pembelajaran di kelas, maka antara guru dan siswa yang sebenarnya menjadi subyek ialah siswa. Hal ini dikarenakan siswalah yang melakukan belajar. Maka guru harus memberikan kesempatan pada siswa sebagai subyek belajar untuk membangun pengetahuannya. Namun, ternyata peran guru sebagai pemberi kesempatan itu pun juga merupakan subyek

    ReplyDelete
  11. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb
    Jargon adalah diri kita.Diri kita adalah subyek dan obyek.Kita bisa berpotensi sebagai subyek dan sebagai obyek.Jika kita menilai sesuatu maka kita dikatakan sebagai subyek, namun jika kita dinilai oleh orang lain maka kita berpotensi sebaga obyek.

    ReplyDelete
  12. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Saya mencerna elegi ini sebagai cara ideal penguasaan di dalam diri. Sebagai manusia, bisa saja menonjolkan subjek sebagai kuasa atas dirinya, atau jargon sebagai kuasa atas dirinya. Tapi, hidup yang ideal tentunya antara subjek dan jargon harus dimaknai dengan setara, ia memiliki hubungan yang erat.

    ReplyDelete
  13. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Saya mengucapakan terimakasih sebesar-besarnya atas ilmu yang bapak berikan
    Hampir sama dengan pemahaman saya pada “Jargon Para Obyek”, yaitu dimulai dengan pertanyaan yang diajukan oleh diri saya, “apakah jargon pertanda seseorang sedang berpikir? Apakah jargon awal dari seseorang menggapai logosnya?”
    Lebih dala dari itu, setelah membaca “Jargon para obyek” dan “Jargon Para Subyek” saya menyadari bahwa pada kehidupan ini kita harus saling memahami, saling terjemah dan diterjemahkan.
    Terimakasih sekali lagi, benar-benar ini membawa manfaat bagi diri saya.

    ReplyDelete
  14. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Berdasarkan jargon para subyek ini saya memahami bahwa jargon adalah bagian dari subyek dan subyek juga adalah bagian dari jargon, sehingga antara jargon dan subyek tidak akan saling terlepas satu sama lain. Dari sini saya mengetahi subyek bisa dari apa saja dan darimana saja. Maka sebaik-baik subyek adalah yang bisa mendatang manfaat bagi orang lain.

    ReplyDelete
  15. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Terima kasih Prof Marsigit atas tulisannya yang berjudul Jargon Para Subjek.
    Sebagaimana pada tulisan Jargon Para Objek, disini kita disuguhkan bahwa subjek pun tidak bisa berdiri sendiri tanpa objek. Meskipun jumlah subjek sangat-sangat banyak bahkan tidak terbatas. Sehingga antara subjek dan objek pun mereka saling berkaitan dan saling membutuhkan untuk membentuk suatu makna

    ReplyDelete
  16. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillahirrohmanirrohim, terimakasih prof. Marsigit. Ketika para subjek berjargon, ternyata dia tidak sadar bahwa dia sedang berjargon. Dia sombong bak tidak membutuhkan jargon, padahal apa yang yang menjadi tindakan, perilaku, ucapan, dan pikirannya adalah bentuk jargon yang ia punya. Subjek pembuat, penentu, pemangku, penawas, dan lain sebagainya itu semua nya adalah bentuk jargonnya yang ia tunjukkan pada dunia. saya juga menangkap bahwa ternyata dalam rangka menegakkan diri sebagai subyek, sangat membutuhkan para jargon. Subjek pun sangat memerlukan perundingan dan waktu yang lebih lama agar lebih tau dan paham bagaimana kah sifat-sifat subjek dan sepenting apakah jargon bagi dirinya. Sudahlah, saya tidak berani meneruskan lorong yang saya buat ini, saya khawatir ini hanyalah mitor dan ternyata pikiran ku sedang dikuasai oleh mitos, Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  17. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    saya menagmbil pelajaran didalam elegi ini adalah seseorang tidak pantas untuk lagsumg menilai orang lain secara spontan tanpa melihat dan memikirkannya terlebih dahulu secara dalam, dan seseorang pada dasarnya tidak lah dapat bediri sendiri atau hidup sendiri karena pasti akan membetuhkan orang lain untuk saling melengkapi satu sama lain. Ibaratkan si subjek ternyata bagian dari jargon dan si subjek juga bukan apa-apa jika tidak ada objek, padahal subjek mempunyai pasukan yang sangat banyak.

    ReplyDelete
  18. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Dalam postingan tersebut, setiap subyek memiliki kuasa masing-masing sesuai ruang dan waktunya. Terlepas dari hal itu, subyek tidak dapat dikatakan subyek apabila tanpa obyek. Sebesar apapun amanah yang diemban oleh subyek tidak akan bisa terlepas dari obyek. Dan subyek juga tidak dapat terlepas dari jargon. Dengan kata lain subyek merupakan kumpulan jargon-jargon yang memiliki kuasa masing-masing sesuai amanahnya. Kesimpulannya adalah antara subyek, obyek, maupun jargon salinglah untuk menerjemahkan dan diterjemahkan agar tidak ada kesalahpahaman yang berarti.

    ReplyDelete
  19. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Subjek dan objek merupakan dua hal penting yang saling berkaitan. Subjek adalah pelaku yang akan melakukan suatu hal, sedangkan yang akan dikenai adalah objek. Subjek tidak akan ada artinya tanpa objek. Dalam pembelajaran guru dan siswa saling berkaitan, saat guru menjadi subjek siswa akan menjadi objek, begitu pula sebaliknya. Guru sebagi subjek ataupun objek harus selalu dapat memfasilitasi siswa untuk dapat aktif dan kreatif.

    ReplyDelete
  20. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Tidak ada subyek jika tidak ada obyek, begitu pula sebaliknya tidak ada obyek jika tidak ada subyek. Kehadiran dari masing-masing merupakan pelengkap dari kehadiran yang lain. Dalam mengenali dan memahami subyek diri kita, butuh waktu yang lama, karena diperlukan refleksi-refleksi yang konsisten dan berkesinambungan. Begitu juga dalam memahami sifat orang lain, dibutuhkan waktu yang lama, dan dibutuhkan kesabaran.

    ReplyDelete
  21. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Obyek, subyek, dan lainnya memerlukan jargon untuk menjaga eksistensi dan sifat masing-masing. Tiadalah sesuatu yang tidak memiliki makna. Jargon dan subyek memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Namun kekhawatiran keduanya adalah salah satunya akan mendominasi sehingga akan menghilangkan fungsi dari yang lainnya.

    ReplyDelete
  22. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Dalam melakukan penilaian terhadap subjek, kita tidak lepas dari pengaruh para subjek. Karena pada dasarnya subjek adalah diri kita yang pada waktu lain bukan merupakan diri kita. Dalam penilaian secara subjek disini, jargon subjek mengabaikan adanya jargon objek. Karena itu, penilaian subjektif tidak dapat diberlakukan secara umum karena subjektivitas masing-masing individu sifatnya berbeda.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  23. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Subjek ternyata merupakan para jargon. Dan subjek juga sama halnya dengan objek terdiri dari bermacam-macam subjek tergantung kedudukannya. Objek dan subjek juga saling terkait. Subjek juga menentukan objek dan objek juga menentukan subjek.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  24. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Subyek dan obyek diciptakan untuk saling melengkapi. Subyek yang menentukan arah obyek mau kemana dan obyek melengkapi keberadaan subyek. Subyek dan obyek memerlukan hemenitika untuk komunikasi yaitu terjemah dan menerjemahkan. Seperti kedudukan guru dan siswa yang merupakan subyek dan obyek pembelajaran dan memerlukan terjemah dan menerjemahkan agar siswa memahami materi.

    ReplyDelete