Sep 20, 2013

Jargon Para Subyek




Oleh Marsigit

Jargon:
Wahai para subyek, apa yang engkau ingin katakan kepadaku? Kenapa engkau datang berbondong-bondong kepadaku? Siapa sajakah engkau itu?

Para Subyek pembuat:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pembuat.
Aku itu meliputi para pembuat tugas, pembuat mandat, pembuat amanah, pembuat kewajiban, pembuat aturan, pembuat obyek, pembuat sifat, pembuat permulaan, pembuat inisiatif, pembuat kesimpulan, pembuat pertanyaan, pembuat jawaban, pembuat kesimpulan, pembuat benar, pembuat salah, pembuat suasana, pembuat akhiran, pembuat laporan, pembuat metode, pembuat alat, pembuat tulisan, pembuat bicara, pembuat proposal, pembuat baik, pembuat buruk, pembuat bergerak, pembuat diam, pembuat tidak jelas, pembuat kacau, pembuat tidak kacau, pembuat jargon, pembuat elegi, pembuat contoh, pembuat hubungan, pembuat sesuai, pembuat tidak sesuai, pembuat terang, pembuat gelap, pembuat mahal, pembuat murah, pembuat turun, pembuat naik, pambuat ramai, pembuat sepi, pembuat perang, pembuat kacau, pembuat adil, pembuat jabatan, pembuat PR, pembuat nilai, pembuat naik kelas, pembuat lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para pembuat. Para pembuat itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?

Para subyek penentu:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para penentu.
Aku itu meliputi para penentu tugas, penentu mandat, penentu amanah, penentu kewajiban, penentu aturan, penentu obyek, penentu sifat, penentu permulaan, penentu inisiatif, penentu kesimpulan, penentu pertanyaan, penentu jawaban, penentu kesimpulan, penentu benar, penentu salah, penentu suasana, penentu akhiran, penentu laporan, penentu metode, penentu alat, penentu tulisan, penentu bicara, penentu proposal, penentu baik, penentu buruk, penentu bergerak, penentu diam, penentu tidak jelas, penentu kacau, penentu tidak kacau, penentu jargon, penentu elegi, penentu contoh, penentu hubungan, penentu sesuai, penentu tidak sesuai, penentu terang, penentu gelap, penentu mahal, penentu murah, penentu turun, penentu naik, penentu ramai, penentu sepi, penentu perang, penentu kacau, pembuat adil, penentu jabatan, penentu PR, penentu nilai, penentu naik kelas, penentu lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek penentu. Para penentu itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?

Para subyek pengemban:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pengemban.
Aku itu meliputi para pengemban tugas, pengemban mandat, pengemban amanah, pengemban kewajiban, pengemban aturan, pengemban obyek, pengemban sifat, pengemban permulaan, pengemban inisiatif, pengemban kesimpulan, pengemban pertanyaan, pengemban jawaban, pengemban kesimpulan, pengemban benar, pengemban salah, pengemban suasana, pengemban akhiran, pengemban laporan, pengemban metode, pengemban alat, pengemban tulisan, pengemban bicara, pengemban proposal, pengemban baik, pengemban buruk, pengemban bergerak, pengemban diam, pengemban tidak jelas, pengemban kacau, pengemban tidak kacau, pengemban jargon, pengemban elegi, pengemban contoh, pengemban hubungan, pengemban sesuai, pengemban tidak sesuai, pengemban terang, pengemban gelap, pengemban mahal, pengemban murah, pengemban turun, pengemban naik, pengemban ramai, pengemban sepi, pengemban perang, pengemban kacau, pembuat adil, pengemban jabatan, pengemban PR, pengemban nilai, pengemban naik kelas, pengemban lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek pengemban. Para pengemban itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?

Para subyek pemangku:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pemangku.
Aku itu meliputi para pemangku tugas, pemangku mandat, pemangku amanah, pemangku kewajiban, pemangku aturan, pemangku obyek, pemangku sifat, pemangku permulaan, pemangku inisiatif, pemangku kesimpulan, pemangku pertanyaan, pemangku jawaban, pemangku kesimpulan, pemangku benar, pemangku salah, pemangku suasana, pemangku akhiran, pemangku laporan, pemangku metode, pemangku alat, pemangku tulisan, pemangku bicara, pemangku proposal, pemangku baik, pemangku buruk, pemangku bergerak, pemangku diam, pemangku tidak jelas, pemangku kacau, pemangku tidak kacau, pemangku jargon, pemangku elegi, pemangku contoh, pemangku hubungan, pemangku sesuai, pemangku tidak sesuai, pemangku terang, pemangku gelap, pemangku mahal, pemangku murah, pemangku turun, pemangku naik, pemangku ramai, pemangku sepi, pemangku perang, pemangku kacau, pembuat adil, pemangku jabatan, pemangku PR, pemangku nilai, pemangku naik kelas, pemangku lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek pemangku. Para pemangku itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?

Para subyek pelaksana:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pelaksana.
Aku itu meliputi para pelaksana tugas, pelaksana mandat, pelaksana amanah, pelaksana kewajiban, pelaksana aturan, pelaksana obyek, pelaksana sifat, pelaksana permulaan, pelaksana inisiatif, pelaksana kesimpulan, pelaksana pertanyaan, pelaksana jawaban, pelaksana kesimpulan, pelaksana benar, pelaksana salah, pelaksana suasana, pelaksana akhiran, pelaksana laporan, pelaksana metode, pelaksana alat, pelaksana tulisan, pelaksana bicara, pelaksana proposal, pelaksana baik, pelaksana buruk, pelaksana bergerak, pelaksana diam, pelaksana tidak jelas, pelaksana kacau, pelaksana tidak kacau, pelaksana jargon, pelaksana elegi, pelaksana contoh, pelaksana hubungan, pelaksana sesuai, pelaksana tidak sesuai, pelaksana terang, pelaksana gelap, pelaksana mahal, pelaksana murah, pelaksana turun, pelaksana naik, pelaksana ramai, pelaksana sepi, pelaksana perang, pelaksana kacau, pembuat adil, pelaksana jabatan, pelaksana PR, pelaksana nilai, pelaksana naik kelas, pelaksana lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek pelaksana. Para pelaksana itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?
Para subyek pemelihara:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pemelihara.
Aku itu meliputi para pemelihara tugas, pemelihara mandat, pemelihara amanah, pemelihara kewajiban, pemelihara aturan, pemelihara obyek, pemelihara sifat, pemelihara permulaan, pemelihara inisiatif, pemelihara kesimpulan, pemelihara pertanyaan, pemelihara jawaban, pemelihara kesimpulan, pemelihara benar, pemelihara salah, pemelihara suasana, pemelihara akhiran, pemelihara laporan, pemelihara metode, pemelihara alat, pemelihara tulisan, pemelihara bicara, pemelihara proposal, pemelihara baik, pemelihara buruk, pemelihara bergerak, pemelihara diam, pemelihara tidak jelas, pemelihara kacau, pemelihara tidak kacau, pemelihara jargon, pemelihara elegi, pemelihara contoh, pemelihara hubungan, pemelihara sesuai, pemelihara tidak sesuai, pemelihara terang, pemelihara gelap, pemelihara mahal, pemelihara murah, pemelihara turun, pemelihara naik, pemelihara ramai, pemelihara sepi, pemelihara perang, pemelihara kacau, pembuat adil, pemelihara jabatan, pemelihara PR, pemelihara nilai, pemelihara naik kelas, pemelihara lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek pemelihara. Para pemelihara itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?

Para subyek pengawas:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pengawas.
Aku itu meliputi para pengawas tugas, pengawas mandat, pengawas amanah, pengawas kewajiban, pengawas aturan, pengawas obyek, pengawas sifat, pengawas permulaan, pengawas inisiatif, pengawas kesimpulan, pengawas pertanyaan, pengawas jawaban, pengawas kesimpulan, pengawas benar, pengawas salah, pengawas suasana, pengawas akhiran, pengawas laporan, pengawas metode, pengawas alat, pengawas tulisan, pengawas bicara, pengawas proposal, pengawas baik, pengawas buruk, pengawas bergerak, pengawas diam, pengawas tidak jelas, pengawas kacau, pengawas tidak kacau, pengawas jargon, pengawas elegi, pengawas contoh, pengawas hubungan, pengawas sesuai, pengawas tidak sesuai, pengawas terang, pengawas gelap, pengawas mahal, pengawas murah, pengawas turun, pengawas naik, pengawas ramai, pengawas sepi, pengawas perang, pengawas kacau, pembuat adil, pengawas jabatan, pengawas PR, pengawas nilai, pengawas naik kelas, pengawas lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek pengawas. Para pengawas itu adalah para subyek.

...

Jargon:
Aku ternyata masih melihat para subyek yang lain. Sekarang aku tahu bahwa di situ juga terdapat subyek para penilai, para komentator, para pendoa, para pengacau, ...dst. Maka aku sedang menghadapi ada tak berhingga banyaknya para para subyek. Ternyata aku masih pula melihat para para para para para...subyek.

Para para para ...subyek:
Wahai jargon, apa yang sedang engkau pikirkan?

Jargon:
Aku sedang dalam kondisi di antara jelas dan tidak jelas. Mengapa? Karena aku ternyata mendapatkan para subyek itu banyak dan bermacam-macam. Aku agak sulit membedakan satu dengan yang lain, maka aku sedang mengalami kekacauan pikiran. Tetapi mengapa aku harus bingung, bukankah aku harus bisa bersikap. Ah untuk mengetahui sekedar subyek saja kok sulitnya bukan main. Tak peduli. Mereka ada atau tidak ada, bagiku tak masalah. Subyek itu toh tak ada artinya jika tidak ada obyek. Subyek itu juga tidak ada artinya jika tidak ada pembuat, penentu, pengemban, pemangku, penilai..dst. Tetapi mengapa aku juga ternyata menyebut mereka. Bukankah menyebut mereka itu sama artinya aku menganggap mereka itu penting. Wah kacau pikiranku. Bukankah aku ini adalah jargon. Bukankah jargon itu juga berhak berkuasa. Jika aku berkuasa maka aku dapat menentukan sifat-sifat sesuka hatiku sesuai dengan tujuanku dan kebisaanku, sesuai dengan sifatku, sesuai dengan kepentinganku, sesuai dengan tujuanku.

Para para para ...subyek:
Wahai jargon, aku telah menyaksikan pengakuanmu sebagai jargon. Itulah sebenar-benar jargon, si berpikir kacau dan pembuat kacau, penentu kacau, pengemban kacau, peneilai kacau, pemroduksi kacau, pemangku kaca, bahasa kacau, ....dst. Ternyata aku melihat bahwa banyak anggotamu itu adalah sebanyak diriku.

Jargon:
Wahai para subyek, janganlah bersifat munafik. Aku telah menyaksikan bahwa engkau semua itu sebenarnya para jargon itu. Para jargon adalah para subyek sengan pikiran kacau, bahasa kacau, pemangku kacau, penilai kacau, ...dst. Jadi engkau telah memahami bahwa engkau itu ternyata adalah anggota para para para ...jargon.

Para para para ...subyek:
Maafkanlah wahai para para para...jargon. Ternyata aku telah menyadari bahwa para jargon itu adalah bagian dari diriku. Tetapi aku ingin sampaikan bahwa aku tidak dapat melepaskan dirimu. Aku merasa selalu memerlukanmu untuk menjaga sifatku sebagai para subyek. Ternyata dalam rangka menegakkan diriku sebagai subyek, aku telah terbukti bahwa aku adalah engkau, yaitu para jargon. Aku memerlukan perundingan dan waktu berikutnya lebih jauh dengan dirimu untuk mengetahui lebih lanjut sifat-sifat diriku dan dirimu.

10 comments:

  1. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah.....
    Kalimat yang baik yaitu yang berpola SPOK (subjek-predikat-objek-keterangan). Subjek sangat penting kedudukannya di dalam sebuah kalimat, jika tidak ada subjek maka tidak akan menjadi sebuah kalimat. Subjek juga tidak akan bermakna tanpa predikat dan objek. Karena segala yang ada berkedudukan sebagai subjek atau objek, dan semua yang ada dan yang mungkin ada tersebut mempunyai sifat, dan sifat-sifat tersebut berkedudukan sebagai objek atau predikat. Dengan adanya objek, maka subjek akan menghasilkan sesuatu di dalam hidupnya. Tantangan kita yaitu bagaimana cara menjadi subjek yang baik sehingga objek yang digunakan benar-benar bermanfaat.

    ReplyDelete
  2. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Assalamualaikum wr. . wb.
    Telah banyak dicerminkan dari beragam elegi bahwa manusia sebagai subyek dianugerahkan potensi dari sang Maha Pencipta. Potensi – potensi yang ada pada subyek jika potensi diiringi dengan perilaku positif seperti rendah diri, mampu berbagi, dan menerima serta sikap positif lainnya maka potensi akan bermanfaat untuk dirinya dan sekitarnya. Manusia sebagai subyek dianugerahi berbagai kelimpahan sumber daya yang mendukung kehidupannya.

    ReplyDelete
  3. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Dari artikel jargon para subjek di atas yang dapat saya tangkap adalah subyek (pelaku yang mengenai tindakan) seluruhnya memiliki jargon. Jargon merupakan bagian dari subjek dan jargon dapat berperan positif dan negatif sehingga perlu dikelola dengan bijaksana. Subjek yang bekerja akan menentukan hasil karena mengenai objek, sehingga subjek harus mampu mengendalikan jargon yang dimiliki untuk mampu mengenai objek dengan tepat dan baik. Untuk memahami peran dari masing-masing subjek diperlukan pemikiran yang mendalam dan analisa terperinci untuk mendapatkan hasil informasi yang diinginkan.

    ReplyDelete
  4. Lana Sugiarti
    16709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Dari cerita di atas, saya memahami bahwa jargon adalah bagian dari subyek. Subyek tidak dapat melepaskan jargon dari dirinya. Subyek memerlukan peran serta jargon untuk lebih mengenal dirinya beserta dengan sifat – sifat dirinya dan jargon itu sendiri. Jargon dapat menjadi sumber positif dan bahkan negatif bila tidak dikelola dengan bijaksana. Dalam hal ini subyek adalah orang yang bergerak aktif, pelaksana, pemelihara, dan lain sebagainya. Oleh karena itu perlu mempositifkan peran dari jargon dan subyek yang saling berkaitan ini.

    ReplyDelete
  5. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Artikel ditas adlaah sebuh Jargon para nya yang subjek kita tahu bahwa banyak sekali ternyata tugas dari subjek. Subjek membuat suatu, menentukan sesuatu, mengemban sesuatu, memangku sesuatu, melaksanakan sesuatu, memelihara sesuatu, mengawasi sesuatu menilai sesuatu, dan seterusnya. Semua itu tergantung ruang dan waktunya. Dan jika semua subjek itu bisa menyatu dengan baik, maka saya yakin, subjek tersebut akan menjadi subjek yang sangat hebat. Karena bersatu kita teguh, dan bercerai kita runtuh. Dari pembicaraan antara subjek dengan jargon, saya mendapatkan sesuatu hal yang penting. Betapa pentingnya diri kita untuk tidak egois. Kita harus bisa mendukung kelebihan orang lain. Pengisi kekurangan dan kekosongan itu sangat bagus. Baik untuk diri kita, maupun orang lain.

    ReplyDelete
  6. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Subyek tiadalah memiliki arti tanpa adanya obyek. Demikian pula sebaliknya. Subyek dan obyek saling berhubungan. Sebenar-benar subyek ialah hermenitika, dan hermenitikanya subyek yaitu obyek itu sendiri.

    ReplyDelete
  7. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Jargon para subjek. Dari postingan yang bapak berikan tentang jargon para subjek, banyak sekali ternyata tugas dari subjek. Subjek membuat suatu, menentukan sesuatu, mengemban sesuatu, memangku sesuatu, melaksanakan sesuatu, memelihara sesuatu, mengawasi sesuatu menilai sesuatu, dan seterusnya. Semua itu tergantung ruang dan waktunya. Dan jika semua subjek itu bisa menyatu dengan baik, maka saya yakin, subjek tersebut akan menjadi subjek yang sangat hebat. Karena bersatu kita teguh, dan bercerai kita runtuh. Dari pembicaraan antara subjek dengan jargon, saya mendapatkan sesuatu hal yang penting. Betapa pentingnya diri kita untuk tidak egois. Kita harus bisa mendukung kelebihan orang lain. Pengisi kekurangan dan kekosongan itu sangat bagus. Baik untuk diri kita, maupun orang lain.

    ReplyDelete
  8. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    subjek memiliki batas yang tak terhingga banyaknya.karena tidak ada manusia yang hanya diam saja dibumi ini. maka selama manusia itu melakukan suatu tindakan, maka subjek pun akan terus bertambah. subjek yang dimaksud dalam artikel ini merupakan pelaku atau orang yang melakukan suatu tindakan. hal ini tentu tidak dapat dipisahkan dari si jargon, yang mana jargon sendiri adalah bagian dari subjek dan jargon dapat berperan positif dan negatif.

    ReplyDelete
  9. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Jargon dan subyek adalah dua hal yang saling membutuhkan. Semua subyek pasti memiliki jargon. Subyek pembuat, subyek penentu, subyek pengawas, subyek pemelihara, dan masih banyak lagi. Seringkali terjadi pertentangan antara jargon dengan subyeknya. Jika ini dibiarkan maka akan melemahkan subyeknya. Semoga kita dapat mengharmonikan antara jargon dan subjek.

    ReplyDelete
  10. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Berbeda dengan elegi sebelumnya tentang obyek, sekarang kita membicarakan tentang subyek. Ketika kita bicara tentang obyek atau subyek maka ini tergantung dengan luas dan sempitnya pembicaraan kita. Kali ini kita anggap seseuatu adalah subyek, namun setelah kita ambil suatu hal yang dimana subyek tadi merupakan bagian darinya atau dengan kata lain kita ambil sesuatu yang lebih luas dari suyek tdi maka sekarang ia telah berubah menjadi obyek. Sedangkan obyek dan subyek itu adalah jargon, namun dari itu kebanyakan subyek lebih ingin mempertahankan dirinya sebagai subyek dibandingkan menjadi obyek.

    ReplyDelete