Sep 20, 2013

Jargon Para Subyek




Oleh Marsigit

Jargon:
Wahai para subyek, apa yang engkau ingin katakan kepadaku? Kenapa engkau datang berbondong-bondong kepadaku? Siapa sajakah engkau itu?

Para Subyek pembuat:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pembuat.
Aku itu meliputi para pembuat tugas, pembuat mandat, pembuat amanah, pembuat kewajiban, pembuat aturan, pembuat obyek, pembuat sifat, pembuat permulaan, pembuat inisiatif, pembuat kesimpulan, pembuat pertanyaan, pembuat jawaban, pembuat kesimpulan, pembuat benar, pembuat salah, pembuat suasana, pembuat akhiran, pembuat laporan, pembuat metode, pembuat alat, pembuat tulisan, pembuat bicara, pembuat proposal, pembuat baik, pembuat buruk, pembuat bergerak, pembuat diam, pembuat tidak jelas, pembuat kacau, pembuat tidak kacau, pembuat jargon, pembuat elegi, pembuat contoh, pembuat hubungan, pembuat sesuai, pembuat tidak sesuai, pembuat terang, pembuat gelap, pembuat mahal, pembuat murah, pembuat turun, pembuat naik, pambuat ramai, pembuat sepi, pembuat perang, pembuat kacau, pembuat adil, pembuat jabatan, pembuat PR, pembuat nilai, pembuat naik kelas, pembuat lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para pembuat. Para pembuat itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?

Para subyek penentu:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para penentu.
Aku itu meliputi para penentu tugas, penentu mandat, penentu amanah, penentu kewajiban, penentu aturan, penentu obyek, penentu sifat, penentu permulaan, penentu inisiatif, penentu kesimpulan, penentu pertanyaan, penentu jawaban, penentu kesimpulan, penentu benar, penentu salah, penentu suasana, penentu akhiran, penentu laporan, penentu metode, penentu alat, penentu tulisan, penentu bicara, penentu proposal, penentu baik, penentu buruk, penentu bergerak, penentu diam, penentu tidak jelas, penentu kacau, penentu tidak kacau, penentu jargon, penentu elegi, penentu contoh, penentu hubungan, penentu sesuai, penentu tidak sesuai, penentu terang, penentu gelap, penentu mahal, penentu murah, penentu turun, penentu naik, penentu ramai, penentu sepi, penentu perang, penentu kacau, pembuat adil, penentu jabatan, penentu PR, penentu nilai, penentu naik kelas, penentu lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek penentu. Para penentu itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?

Para subyek pengemban:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pengemban.
Aku itu meliputi para pengemban tugas, pengemban mandat, pengemban amanah, pengemban kewajiban, pengemban aturan, pengemban obyek, pengemban sifat, pengemban permulaan, pengemban inisiatif, pengemban kesimpulan, pengemban pertanyaan, pengemban jawaban, pengemban kesimpulan, pengemban benar, pengemban salah, pengemban suasana, pengemban akhiran, pengemban laporan, pengemban metode, pengemban alat, pengemban tulisan, pengemban bicara, pengemban proposal, pengemban baik, pengemban buruk, pengemban bergerak, pengemban diam, pengemban tidak jelas, pengemban kacau, pengemban tidak kacau, pengemban jargon, pengemban elegi, pengemban contoh, pengemban hubungan, pengemban sesuai, pengemban tidak sesuai, pengemban terang, pengemban gelap, pengemban mahal, pengemban murah, pengemban turun, pengemban naik, pengemban ramai, pengemban sepi, pengemban perang, pengemban kacau, pembuat adil, pengemban jabatan, pengemban PR, pengemban nilai, pengemban naik kelas, pengemban lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek pengemban. Para pengemban itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?

Para subyek pemangku:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pemangku.
Aku itu meliputi para pemangku tugas, pemangku mandat, pemangku amanah, pemangku kewajiban, pemangku aturan, pemangku obyek, pemangku sifat, pemangku permulaan, pemangku inisiatif, pemangku kesimpulan, pemangku pertanyaan, pemangku jawaban, pemangku kesimpulan, pemangku benar, pemangku salah, pemangku suasana, pemangku akhiran, pemangku laporan, pemangku metode, pemangku alat, pemangku tulisan, pemangku bicara, pemangku proposal, pemangku baik, pemangku buruk, pemangku bergerak, pemangku diam, pemangku tidak jelas, pemangku kacau, pemangku tidak kacau, pemangku jargon, pemangku elegi, pemangku contoh, pemangku hubungan, pemangku sesuai, pemangku tidak sesuai, pemangku terang, pemangku gelap, pemangku mahal, pemangku murah, pemangku turun, pemangku naik, pemangku ramai, pemangku sepi, pemangku perang, pemangku kacau, pembuat adil, pemangku jabatan, pemangku PR, pemangku nilai, pemangku naik kelas, pemangku lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek pemangku. Para pemangku itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?

Para subyek pelaksana:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pelaksana.
Aku itu meliputi para pelaksana tugas, pelaksana mandat, pelaksana amanah, pelaksana kewajiban, pelaksana aturan, pelaksana obyek, pelaksana sifat, pelaksana permulaan, pelaksana inisiatif, pelaksana kesimpulan, pelaksana pertanyaan, pelaksana jawaban, pelaksana kesimpulan, pelaksana benar, pelaksana salah, pelaksana suasana, pelaksana akhiran, pelaksana laporan, pelaksana metode, pelaksana alat, pelaksana tulisan, pelaksana bicara, pelaksana proposal, pelaksana baik, pelaksana buruk, pelaksana bergerak, pelaksana diam, pelaksana tidak jelas, pelaksana kacau, pelaksana tidak kacau, pelaksana jargon, pelaksana elegi, pelaksana contoh, pelaksana hubungan, pelaksana sesuai, pelaksana tidak sesuai, pelaksana terang, pelaksana gelap, pelaksana mahal, pelaksana murah, pelaksana turun, pelaksana naik, pelaksana ramai, pelaksana sepi, pelaksana perang, pelaksana kacau, pembuat adil, pelaksana jabatan, pelaksana PR, pelaksana nilai, pelaksana naik kelas, pelaksana lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek pelaksana. Para pelaksana itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?
Para subyek pemelihara:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pemelihara.
Aku itu meliputi para pemelihara tugas, pemelihara mandat, pemelihara amanah, pemelihara kewajiban, pemelihara aturan, pemelihara obyek, pemelihara sifat, pemelihara permulaan, pemelihara inisiatif, pemelihara kesimpulan, pemelihara pertanyaan, pemelihara jawaban, pemelihara kesimpulan, pemelihara benar, pemelihara salah, pemelihara suasana, pemelihara akhiran, pemelihara laporan, pemelihara metode, pemelihara alat, pemelihara tulisan, pemelihara bicara, pemelihara proposal, pemelihara baik, pemelihara buruk, pemelihara bergerak, pemelihara diam, pemelihara tidak jelas, pemelihara kacau, pemelihara tidak kacau, pemelihara jargon, pemelihara elegi, pemelihara contoh, pemelihara hubungan, pemelihara sesuai, pemelihara tidak sesuai, pemelihara terang, pemelihara gelap, pemelihara mahal, pemelihara murah, pemelihara turun, pemelihara naik, pemelihara ramai, pemelihara sepi, pemelihara perang, pemelihara kacau, pembuat adil, pemelihara jabatan, pemelihara PR, pemelihara nilai, pemelihara naik kelas, pemelihara lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek pemelihara. Para pemelihara itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?

Para subyek pengawas:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pengawas.
Aku itu meliputi para pengawas tugas, pengawas mandat, pengawas amanah, pengawas kewajiban, pengawas aturan, pengawas obyek, pengawas sifat, pengawas permulaan, pengawas inisiatif, pengawas kesimpulan, pengawas pertanyaan, pengawas jawaban, pengawas kesimpulan, pengawas benar, pengawas salah, pengawas suasana, pengawas akhiran, pengawas laporan, pengawas metode, pengawas alat, pengawas tulisan, pengawas bicara, pengawas proposal, pengawas baik, pengawas buruk, pengawas bergerak, pengawas diam, pengawas tidak jelas, pengawas kacau, pengawas tidak kacau, pengawas jargon, pengawas elegi, pengawas contoh, pengawas hubungan, pengawas sesuai, pengawas tidak sesuai, pengawas terang, pengawas gelap, pengawas mahal, pengawas murah, pengawas turun, pengawas naik, pengawas ramai, pengawas sepi, pengawas perang, pengawas kacau, pembuat adil, pengawas jabatan, pengawas PR, pengawas nilai, pengawas naik kelas, pengawas lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek pengawas. Para pengawas itu adalah para subyek.

...

Jargon:
Aku ternyata masih melihat para subyek yang lain. Sekarang aku tahu bahwa di situ juga terdapat subyek para penilai, para komentator, para pendoa, para pengacau, ...dst. Maka aku sedang menghadapi ada tak berhingga banyaknya para para subyek. Ternyata aku masih pula melihat para para para para para...subyek.

Para para para ...subyek:
Wahai jargon, apa yang sedang engkau pikirkan?

Jargon:
Aku sedang dalam kondisi di antara jelas dan tidak jelas. Mengapa? Karena aku ternyata mendapatkan para subyek itu banyak dan bermacam-macam. Aku agak sulit membedakan satu dengan yang lain, maka aku sedang mengalami kekacauan pikiran. Tetapi mengapa aku harus bingung, bukankah aku harus bisa bersikap. Ah untuk mengetahui sekedar subyek saja kok sulitnya bukan main. Tak peduli. Mereka ada atau tidak ada, bagiku tak masalah. Subyek itu toh tak ada artinya jika tidak ada obyek. Subyek itu juga tidak ada artinya jika tidak ada pembuat, penentu, pengemban, pemangku, penilai..dst. Tetapi mengapa aku juga ternyata menyebut mereka. Bukankah menyebut mereka itu sama artinya aku menganggap mereka itu penting. Wah kacau pikiranku. Bukankah aku ini adalah jargon. Bukankah jargon itu juga berhak berkuasa. Jika aku berkuasa maka aku dapat menentukan sifat-sifat sesuka hatiku sesuai dengan tujuanku dan kebisaanku, sesuai dengan sifatku, sesuai dengan kepentinganku, sesuai dengan tujuanku.

Para para para ...subyek:
Wahai jargon, aku telah menyaksikan pengakuanmu sebagai jargon. Itulah sebenar-benar jargon, si berpikir kacau dan pembuat kacau, penentu kacau, pengemban kacau, peneilai kacau, pemroduksi kacau, pemangku kaca, bahasa kacau, ....dst. Ternyata aku melihat bahwa banyak anggotamu itu adalah sebanyak diriku.

Jargon:
Wahai para subyek, janganlah bersifat munafik. Aku telah menyaksikan bahwa engkau semua itu sebenarnya para jargon itu. Para jargon adalah para subyek sengan pikiran kacau, bahasa kacau, pemangku kacau, penilai kacau, ...dst. Jadi engkau telah memahami bahwa engkau itu ternyata adalah anggota para para para ...jargon.

Para para para ...subyek:
Maafkanlah wahai para para para...jargon. Ternyata aku telah menyadari bahwa para jargon itu adalah bagian dari diriku. Tetapi aku ingin sampaikan bahwa aku tidak dapat melepaskan dirimu. Aku merasa selalu memerlukanmu untuk menjaga sifatku sebagai para subyek. Ternyata dalam rangka menegakkan diriku sebagai subyek, aku telah terbukti bahwa aku adalah engkau, yaitu para jargon. Aku memerlukan perundingan dan waktu berikutnya lebih jauh dengan dirimu untuk mengetahui lebih lanjut sifat-sifat diriku dan dirimu.

27 comments:

  1. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Subyek meliputi segala yang ada dan mungkin ada. Subyek ialah ia yang melakukan sesuatu. Subyek menguasai obyek dan obyek dikuasai subyek. Subyek itu membuat, menilai, mengevaluasi, mencipta, mengemban, memangku, dan lain-lainnya. Subyek pun sebenarnya bergantung dengan obyek, tidak akan ada subyek jika tidak ada obyek. Subyek pun sama dengan obyek, memiliki jargonnya masing-masing. Oleh karena itu, jadilah sebaik-baik subyek yaitu subyek yang bermanfaat bagi obyek.

    ReplyDelete
  2. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPd Pendidikan Matematika C

    Sebagaimana objek, subjek juga membutuhkan jargon. Subjek tidak dapat melepaskan diri dari jargonnya. Subjek selalu memerlukan jargon untuk menjaga sifatnya sebagai para subjek. Dan dalam rangka menegakkan dirinya sebagai subyek, maka subjek tidak lain adalah para jargon.

    ReplyDelete
  3. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Sifat manusia yang terbatas sesuai kemampuannya. Pada suatu saat bisa dianggap menguntungkan subyek dan disisi lain merugikan subyek yang lain. Penilaian sesorang terhadap sesuatu itu bisa sama namun tak menutup kemungkinan juga berbeda tergantung dari keadaan, peran dan fungsi sesuatu tersebut terhadap orang yang menilainya.

    ReplyDelete
  4. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027
    Setiap manusia bisa menjadi subyek, baik untuk diri sendiri maupun orang lain, atau bahkan apapun yang ada disekitarnya. Subyek memiliki kuasa atas obyeknya, maka dari itu sebaik-baik subyek adalah yang memberikan kebaikan dan kebermanfaatan bagi obyek. Sebagai manusia yang diberi kelebihan dari makhluk lain, kita harus menyadari bahwa kita diciptakan untuk memberikan suatu manfaat yang baik bagi kehidupan yang kita jalani dan lingkungan.

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Setiap yang ada dan yang mungkin ada memerlukan jargon untuk mempertahankan kedudukannya. Maka jelas jargon adalah tak hingga banyaknya. Maka dibutuhkan sikap keterbukaan untuk dapat hidup saling berdampingan. Subyek tiadalah artinya tanpa adanya obyek begitu pula sebaliknya obyek tiadanya dapat berfungsi tanpa subyek. Maka kita harus saling menghargai kedudukan, dan kelebihan serta kekurangan orang lain.

    ReplyDelete
  7. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Berpikir keras dan kritis untuk lebih dapat memahami diri sendiri, dikarenakan banyaknya sifat dan potensi yang ada dalam diri kita. Janganlah kita terlalu sering mengkritik seseorang bahwa dia bersifat begini begitu padahal sebenarnya kita juga memiliki sifat dan potensi yang sama dengan orang tersebut.

    ReplyDelete
  8. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Subjek adalah sesuatu yang membuat, mengatur, menentukan, mengawasi, mengembang, mengevaluasi dsb. Keberadaan mereka di dunia bukan lah siapa-siapa, kecuali sebagai ciptaan Allah SWT yang berkewajiban menjalankannya perintahnya dan menjauhi larangannya. Seiring berlangsungnya peradaban muncullah jargon-jargon, sebagi bentuk metamorfosis suatu subjek. Suatu subjek tiba-tiba berubah menjadi subjek yang berbeda dengan sebelumnya ketika suatu jargon melekat pada dirinya. Bahkan terkadang gara-gara jargon yang melekat suatu subjek menjadi lupa akan hakikat dari jargon subjek yang ia sandang. Yang berbahaya subjek akan berubah menjadi jargon jargon subjek sesuai keadaan yang menguntungkannya. Inilah hal yang sangat tidak diharapkan terjadi.

    ReplyDelete
  9. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Sebagai ciptaan Allah SWT, subyek itu ada karena kehendak-Nya dan diciptakan dengan tujuan masing-masing. Subyek adalah yang melakukan tindakan, mereka mengatur, menentukan, mengawasi, mengembang, mengevaluasi dan seterusnya. Subjek memiliki jargon sebagai wujud eksistensinya. Subyek yang terlalu terlena dengan jargonnya akan sangat berbahaya karena akan membuatnya sombong dan lebih mementingkan hal-hal duniawi sehingga tidak bermanfaat bagi yang lainnya.

    ReplyDelete
  10. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Segala hal yang ada dan mungkin ada bisa menjadi subjek, baik sujek penentu, subjek pelaksana, subjek pengemban dan sebagainya. Dalam ranah pembelajaran, siswa adalah subjek belajar, karena dia melakukan aktivtas belajar. Guru sebagai fasilitator yang memfasilitasi subjek belajar.

    ReplyDelete
  11. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Subyek merupakan pelaku, jika saya reduksi boleh saya katakan sebagai manusia, manusia ini tentunya memiliki sifat ingin memiliki pelindung atas sifat-sifat buruknya maka muncullah jargon-jargon yang memungkinkan menutupi sifat buruk sekaligus dapat menjadi penguasa atas subyek yang lain atau berharap menjadi pemakluman oleh subyek lain. Semoga kita menjadi manusia yang tetap ikhlas dalam memenuhi tanggungjawab dan menajdi manusia yang amanah, aamiin.

    ReplyDelete
  12. Latifah Fitriasari
    PM C

    Subjek dan jargon ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Objek itu tidak ada artinya jika tidak ada subjek. Tetapi objek juga memandang jargon sebagai objek, dan objek pun akan memandang dirinya sebagai subjek. Jargon subjek meliputi yang ada pada subyek itu snediri, karena jaron itu adalah pengenal dan bisa juga tujuan subyek itu. Subjek adalah pelakunya dan jargon adalah bagian dari pelaksana itu sendiri. Subjek identik dengan pemegang kekuasaan, namun ternyata subjek pun banyak anggotanya sehinggga bagaimana kedudukan para subjek tergantung dengan tugasnya.

    ReplyDelete
  13. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Dari sudut pandang pendidikan, banyak sekali subyek dari kegiatan belajar mengajar yang ada. Beberapa di antaranya ialah pemerintah sebagai pembuat kurikulum atau peraturan pendidikan, kepala sekolah sebagai penentu kebijakan sekolah, guru sebagai pengemban pelaksanaan pembelajaran, pengawas sekolah yang bertugas mengawasi kinerja guru dan kepala sekolah, serta siswa yang menjalani kegiatan pembelajaran di sekolah. Sebagai civitas akademik tugas para subyek pendidikan ini sangat penting dalam pelaksaan pembelajaran pada siswa. Semuanya harus saling bekerjasama dan mendukung program-program yang mengembangkan dan meningkatkan mutu belajar.

    ReplyDelete
  14. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  15. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Subyek dapat melekat pada siapapun bahkan apapun. Elegi ini memberikan contoh rincian subyek yang melingkupi pembuat, pengemban, penentu, pemangku, oelaksanan, pemelihara, pengawas. Jika diterapkan dalam salah satu aspek kehidupan, ada orang yang mengemban amanah sebagai pembuat, kemudian misal proyek dari para subyek adalah suatu kebijakan, maka kebijakan tersebut berpindah tangan sesuai dengan subyek dari pengemban amanah, pembuat, pengemban, pelaksana, pengawas, pemangku, penentu dan sebagainya. Sedangkan adanya subyek tersebut ialag sesuatu yang memang harus ada demi harmoni kehidupan. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  16. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Para subyek membentuk sistem kehidupan yang kompleks.Sebagai suatu sistem, maka para subyek tersebut harus dapat bersinergi dan membawa aura positif sehingga kinerja sistem akan condong kearah positif juga.Jika ada salah satu subyek yang mengacaukan jargonnya sendiri, maka harmoni kehidupan akan rusak. Ambil contoh misalkan dalam suatu sistem pendidikan, subyek pembuat, subyek pelaksana, subyek pengemban telah melakukan job nya dengan baik dan benar, manun subyek pengawas lali dan kacau dalam tugasnya maka sistem tersebut tidak akan maksimal dalam mewujudkan cita-cita pendidikan. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  17. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Jargon ini memngingatkan kepada kita bahwa subjek memiliki banyak macamnya, terdapat subjek pengawas, pemangku, pelaksana, pengawas, dan para para para … subjek lainnya. Subjek – subjek ini memerlukan jargon untuk mempertahakan dirinya sebagai subjek. Unutk memeprlihatkan dirinya sebgai subjek, tak terlepas dari peran jargon.

    ReplyDelete
  18. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Objek dan subjek mempunyai suatu keterkaitan. Subjek sebagai pelaku, sedangkan objek sebagai sesuatu yang dikenai perbuatan atau tindakan. Objek dan subjek di dunia ini ada bermacam-macam. Mungkin kita tidak dapat menyebutkan semuanya satu per satu. Hal itu dapat terjadi karena pikiran kita juga terbatas

    ReplyDelete
  19. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Jika potensi diiringi dengan perilaku positif seperti rendah hati, mampu berbagi, dan menerima serta sikap positif lainnya, maka potensi akan bermanfaat untuk dirinya dan sekitarnya. Sebaliknya jika potensi diikuti sikap negatif maka potensi akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Seperti adanya Jargon si berpikir kacau dan pembuat kacau, penentu kacau, pengemban kacau, penilai kacau, pemroduksi kacau, pemangku kacau, bahasa kacau. Dalam tata penulisan kalimat subyek berarti yang bekerja. Maka semua tingkah laku yang positif dan negatif itu adalah subjek itu sendiri yang melakukannya.

    ReplyDelete
  20. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Begitu banyaknya macam-macam subyek, karena subyek adalah penentu terciptanya jargon pada dirinya sendiri. Jargon alias kekacauan adalah bagian dari diri subyek, hal itu tidak dapat dipungkiri karena setiap subyek adalah tempatnya berpikir, penentu hasil pikir, dan pemroduksi hasil pikir. Jika dalam proses berpikir tidak ikhlas dan tidak dibarengi dengan dzikir, bisa jadi jargon subyek akan menguasai dan mengendalikan dirinya dengan berbagai macam kekacauan-kekacaun yang dapat merugikan dirinya sendiri. Untuk itu, perlu kiranya bagi setiap subyek selalu berpikir ikhlas dan selalu bersyukur kepada Allah agar bisa mengontrol jargon yang ada pada dirinya menjadi suatu jargon yang bermanfaat.

    ReplyDelete
  21. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Kita harus lah sadar bahwa sesungguhnya jargon adalah bagian dari diri kita. Kita tak bisa melepaskan jargon dari diri kita, karena kita memerlukan jargon untuk menjaga sifat kita sebagai subyek. Namun kita tak boleh bertindak melebihi batas, karena sesungguhnya jargon kita itu akan lenyap di perbatasan pikiran kita masing-masing. Sesungguhnya tak ada manusia yang pernah menjadi subyek sejati karena sebenar-benar subyek absolut adalah Allah SWT dan sesungguhnya sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  22. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Setiap subyek mempunyai jargon masing-masing, sehingga jargon antara yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Sehingga tidak bisa menjudge bahwa setiap subyek mempunyai jargon yang sama. Perlu pemikiran yang kritis untuk dapat memahami jargon masing-masing para subyek.

    ReplyDelete
  23. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Diperlukan pemikiran kritis untuk lebih dapat memahami diri sendiri. Hal ini dikarenakan banyaknya sifat dan potensi yang ada dalam diri kita. Janganlah kita terlalu sering mengkritik seseorang bahwa dia bersifat begini begitu padahal sebenarnya kita juga memiliki sifat dan potensi yang sama dengan orang tersebut.

    ReplyDelete
  24. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Subjek adalah segala yang ada dan mungkin ada yang menjadi topik pembicaraan/pelaku. Akan tetapi sama halnya dengan objek, maka subjek pun tidak dapat berdiri sendiri, dia memerlukan sesuatu untuk mendampinginya, misalnya bisa saja predikat atau objek atau keduanya. Karena jika dia berdiri sendiri maka arti dibalik keberadaanya belum bisa dipahami. Adanya jargon subjek ini mengibaratkan pada kita untuk selalu rendah hati, karena sesungguhnya dalam kehidupan kita masih memerlukan orang lain. Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  25. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Dalam kehidupan ini, ada banyak sekali subjek. Antara subjek dan jargon saling berkaitan satu sama lain. Jargon dapat menjadi sumber keunikan atau sumber kekacauan bila tidak dikendalikan atau dikelola dengan bijaksana. Dalam tata penulisan kalimat subyek berarti yang bekerja. Sedangkan obyek berarti yang dikenai kerja. Oleh karenanya dalam hal ini subyek itu adalah orang yang bergerak aktif. Kinerja subyek pun akan ditentukan oleh kinerja obyek. Oleh karenanya otoriter sikap subyek terhadap obyek haruslah dihilangkan.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  26. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    subyek merupakan pelaku, aktor utama. subyek meliput hal yang ada dan yang mungkin ada. sama halnya dengan obyek, subyek juga memiliki jargonnya masing-masing. subyek dan obyek saling berhubungan.

    ReplyDelete
  27. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa subjek itu memiliki sifat-sifatnya sendiri. subjek itu memiliki jargon-jargon untuk membuktikan keberadaan dirinya sendiri. subjek itu harus memiliki pengaruh yang kuat terhadap objek sebab subjek itu akan menjelaskan sekaligus dijelaskan oleh objeknya.

    ReplyDelete