Sep 20, 2013

Jargon Para Subyek




Oleh Marsigit

Jargon:
Wahai para subyek, apa yang engkau ingin katakan kepadaku? Kenapa engkau datang berbondong-bondong kepadaku? Siapa sajakah engkau itu?

Para Subyek pembuat:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pembuat.
Aku itu meliputi para pembuat tugas, pembuat mandat, pembuat amanah, pembuat kewajiban, pembuat aturan, pembuat obyek, pembuat sifat, pembuat permulaan, pembuat inisiatif, pembuat kesimpulan, pembuat pertanyaan, pembuat jawaban, pembuat kesimpulan, pembuat benar, pembuat salah, pembuat suasana, pembuat akhiran, pembuat laporan, pembuat metode, pembuat alat, pembuat tulisan, pembuat bicara, pembuat proposal, pembuat baik, pembuat buruk, pembuat bergerak, pembuat diam, pembuat tidak jelas, pembuat kacau, pembuat tidak kacau, pembuat jargon, pembuat elegi, pembuat contoh, pembuat hubungan, pembuat sesuai, pembuat tidak sesuai, pembuat terang, pembuat gelap, pembuat mahal, pembuat murah, pembuat turun, pembuat naik, pambuat ramai, pembuat sepi, pembuat perang, pembuat kacau, pembuat adil, pembuat jabatan, pembuat PR, pembuat nilai, pembuat naik kelas, pembuat lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para pembuat. Para pembuat itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?

Para subyek penentu:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para penentu.
Aku itu meliputi para penentu tugas, penentu mandat, penentu amanah, penentu kewajiban, penentu aturan, penentu obyek, penentu sifat, penentu permulaan, penentu inisiatif, penentu kesimpulan, penentu pertanyaan, penentu jawaban, penentu kesimpulan, penentu benar, penentu salah, penentu suasana, penentu akhiran, penentu laporan, penentu metode, penentu alat, penentu tulisan, penentu bicara, penentu proposal, penentu baik, penentu buruk, penentu bergerak, penentu diam, penentu tidak jelas, penentu kacau, penentu tidak kacau, penentu jargon, penentu elegi, penentu contoh, penentu hubungan, penentu sesuai, penentu tidak sesuai, penentu terang, penentu gelap, penentu mahal, penentu murah, penentu turun, penentu naik, penentu ramai, penentu sepi, penentu perang, penentu kacau, pembuat adil, penentu jabatan, penentu PR, penentu nilai, penentu naik kelas, penentu lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek penentu. Para penentu itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?

Para subyek pengemban:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pengemban.
Aku itu meliputi para pengemban tugas, pengemban mandat, pengemban amanah, pengemban kewajiban, pengemban aturan, pengemban obyek, pengemban sifat, pengemban permulaan, pengemban inisiatif, pengemban kesimpulan, pengemban pertanyaan, pengemban jawaban, pengemban kesimpulan, pengemban benar, pengemban salah, pengemban suasana, pengemban akhiran, pengemban laporan, pengemban metode, pengemban alat, pengemban tulisan, pengemban bicara, pengemban proposal, pengemban baik, pengemban buruk, pengemban bergerak, pengemban diam, pengemban tidak jelas, pengemban kacau, pengemban tidak kacau, pengemban jargon, pengemban elegi, pengemban contoh, pengemban hubungan, pengemban sesuai, pengemban tidak sesuai, pengemban terang, pengemban gelap, pengemban mahal, pengemban murah, pengemban turun, pengemban naik, pengemban ramai, pengemban sepi, pengemban perang, pengemban kacau, pembuat adil, pengemban jabatan, pengemban PR, pengemban nilai, pengemban naik kelas, pengemban lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek pengemban. Para pengemban itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?

Para subyek pemangku:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pemangku.
Aku itu meliputi para pemangku tugas, pemangku mandat, pemangku amanah, pemangku kewajiban, pemangku aturan, pemangku obyek, pemangku sifat, pemangku permulaan, pemangku inisiatif, pemangku kesimpulan, pemangku pertanyaan, pemangku jawaban, pemangku kesimpulan, pemangku benar, pemangku salah, pemangku suasana, pemangku akhiran, pemangku laporan, pemangku metode, pemangku alat, pemangku tulisan, pemangku bicara, pemangku proposal, pemangku baik, pemangku buruk, pemangku bergerak, pemangku diam, pemangku tidak jelas, pemangku kacau, pemangku tidak kacau, pemangku jargon, pemangku elegi, pemangku contoh, pemangku hubungan, pemangku sesuai, pemangku tidak sesuai, pemangku terang, pemangku gelap, pemangku mahal, pemangku murah, pemangku turun, pemangku naik, pemangku ramai, pemangku sepi, pemangku perang, pemangku kacau, pembuat adil, pemangku jabatan, pemangku PR, pemangku nilai, pemangku naik kelas, pemangku lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek pemangku. Para pemangku itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?

Para subyek pelaksana:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pelaksana.
Aku itu meliputi para pelaksana tugas, pelaksana mandat, pelaksana amanah, pelaksana kewajiban, pelaksana aturan, pelaksana obyek, pelaksana sifat, pelaksana permulaan, pelaksana inisiatif, pelaksana kesimpulan, pelaksana pertanyaan, pelaksana jawaban, pelaksana kesimpulan, pelaksana benar, pelaksana salah, pelaksana suasana, pelaksana akhiran, pelaksana laporan, pelaksana metode, pelaksana alat, pelaksana tulisan, pelaksana bicara, pelaksana proposal, pelaksana baik, pelaksana buruk, pelaksana bergerak, pelaksana diam, pelaksana tidak jelas, pelaksana kacau, pelaksana tidak kacau, pelaksana jargon, pelaksana elegi, pelaksana contoh, pelaksana hubungan, pelaksana sesuai, pelaksana tidak sesuai, pelaksana terang, pelaksana gelap, pelaksana mahal, pelaksana murah, pelaksana turun, pelaksana naik, pelaksana ramai, pelaksana sepi, pelaksana perang, pelaksana kacau, pembuat adil, pelaksana jabatan, pelaksana PR, pelaksana nilai, pelaksana naik kelas, pelaksana lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek pelaksana. Para pelaksana itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?
Para subyek pemelihara:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pemelihara.
Aku itu meliputi para pemelihara tugas, pemelihara mandat, pemelihara amanah, pemelihara kewajiban, pemelihara aturan, pemelihara obyek, pemelihara sifat, pemelihara permulaan, pemelihara inisiatif, pemelihara kesimpulan, pemelihara pertanyaan, pemelihara jawaban, pemelihara kesimpulan, pemelihara benar, pemelihara salah, pemelihara suasana, pemelihara akhiran, pemelihara laporan, pemelihara metode, pemelihara alat, pemelihara tulisan, pemelihara bicara, pemelihara proposal, pemelihara baik, pemelihara buruk, pemelihara bergerak, pemelihara diam, pemelihara tidak jelas, pemelihara kacau, pemelihara tidak kacau, pemelihara jargon, pemelihara elegi, pemelihara contoh, pemelihara hubungan, pemelihara sesuai, pemelihara tidak sesuai, pemelihara terang, pemelihara gelap, pemelihara mahal, pemelihara murah, pemelihara turun, pemelihara naik, pemelihara ramai, pemelihara sepi, pemelihara perang, pemelihara kacau, pembuat adil, pemelihara jabatan, pemelihara PR, pemelihara nilai, pemelihara naik kelas, pemelihara lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek pemelihara. Para pemelihara itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?

Para subyek pengawas:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pengawas.
Aku itu meliputi para pengawas tugas, pengawas mandat, pengawas amanah, pengawas kewajiban, pengawas aturan, pengawas obyek, pengawas sifat, pengawas permulaan, pengawas inisiatif, pengawas kesimpulan, pengawas pertanyaan, pengawas jawaban, pengawas kesimpulan, pengawas benar, pengawas salah, pengawas suasana, pengawas akhiran, pengawas laporan, pengawas metode, pengawas alat, pengawas tulisan, pengawas bicara, pengawas proposal, pengawas baik, pengawas buruk, pengawas bergerak, pengawas diam, pengawas tidak jelas, pengawas kacau, pengawas tidak kacau, pengawas jargon, pengawas elegi, pengawas contoh, pengawas hubungan, pengawas sesuai, pengawas tidak sesuai, pengawas terang, pengawas gelap, pengawas mahal, pengawas murah, pengawas turun, pengawas naik, pengawas ramai, pengawas sepi, pengawas perang, pengawas kacau, pembuat adil, pengawas jabatan, pengawas PR, pengawas nilai, pengawas naik kelas, pengawas lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek pengawas. Para pengawas itu adalah para subyek.

...

Jargon:
Aku ternyata masih melihat para subyek yang lain. Sekarang aku tahu bahwa di situ juga terdapat subyek para penilai, para komentator, para pendoa, para pengacau, ...dst. Maka aku sedang menghadapi ada tak berhingga banyaknya para para subyek. Ternyata aku masih pula melihat para para para para para...subyek.

Para para para ...subyek:
Wahai jargon, apa yang sedang engkau pikirkan?

Jargon:
Aku sedang dalam kondisi di antara jelas dan tidak jelas. Mengapa? Karena aku ternyata mendapatkan para subyek itu banyak dan bermacam-macam. Aku agak sulit membedakan satu dengan yang lain, maka aku sedang mengalami kekacauan pikiran. Tetapi mengapa aku harus bingung, bukankah aku harus bisa bersikap. Ah untuk mengetahui sekedar subyek saja kok sulitnya bukan main. Tak peduli. Mereka ada atau tidak ada, bagiku tak masalah. Subyek itu toh tak ada artinya jika tidak ada obyek. Subyek itu juga tidak ada artinya jika tidak ada pembuat, penentu, pengemban, pemangku, penilai..dst. Tetapi mengapa aku juga ternyata menyebut mereka. Bukankah menyebut mereka itu sama artinya aku menganggap mereka itu penting. Wah kacau pikiranku. Bukankah aku ini adalah jargon. Bukankah jargon itu juga berhak berkuasa. Jika aku berkuasa maka aku dapat menentukan sifat-sifat sesuka hatiku sesuai dengan tujuanku dan kebisaanku, sesuai dengan sifatku, sesuai dengan kepentinganku, sesuai dengan tujuanku.

Para para para ...subyek:
Wahai jargon, aku telah menyaksikan pengakuanmu sebagai jargon. Itulah sebenar-benar jargon, si berpikir kacau dan pembuat kacau, penentu kacau, pengemban kacau, peneilai kacau, pemroduksi kacau, pemangku kaca, bahasa kacau, ....dst. Ternyata aku melihat bahwa banyak anggotamu itu adalah sebanyak diriku.

Jargon:
Wahai para subyek, janganlah bersifat munafik. Aku telah menyaksikan bahwa engkau semua itu sebenarnya para jargon itu. Para jargon adalah para subyek sengan pikiran kacau, bahasa kacau, pemangku kacau, penilai kacau, ...dst. Jadi engkau telah memahami bahwa engkau itu ternyata adalah anggota para para para ...jargon.

Para para para ...subyek:
Maafkanlah wahai para para para...jargon. Ternyata aku telah menyadari bahwa para jargon itu adalah bagian dari diriku. Tetapi aku ingin sampaikan bahwa aku tidak dapat melepaskan dirimu. Aku merasa selalu memerlukanmu untuk menjaga sifatku sebagai para subyek. Ternyata dalam rangka menegakkan diriku sebagai subyek, aku telah terbukti bahwa aku adalah engkau, yaitu para jargon. Aku memerlukan perundingan dan waktu berikutnya lebih jauh dengan dirimu untuk mengetahui lebih lanjut sifat-sifat diriku dan dirimu.

70 comments:

  1. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Subyek adalah pelaku yang menentukan sebuah kegiatan,mempunyai pengaruh . Perannya sangat penting disini, yaitu sebagai pembuat, penentu, pengemban, pemangku, pelaksana. Oleh karena itu sebagai subjek harus bertindak yang bijak, karena membawa tanggung jawab yang besar sehingga tidak merugikan objek.

    ReplyDelete
  2. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Subjek dan objek adalah dua hal yang saling berkaitan, saling mempengaruhi satu sama lain. Subjek tidak akan berarti jika tidak ada objek, begitu pula sebaliknya. Selin dengan objek, subjek juga berkaitan dengan jargon. Karena subjek adalah jargon itu sendiri.

    ReplyDelete
  3. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Belajar untuk memahami diri sendiri. Menurut filsafat, manusia adalah kesempurnaan dalam ketidaksempurnaan dan juga ketidaksempurnaan dalam kesempurnaan. Manusia adalah makhluk yang paling istimewa dengan kelebihan akal pikiran dan hati yang diberikan oleh Allah SWT. Manusia makhluk yang jauh dari kesempurnaan, kebaikan dan keburukan selalu mengikuti kita kapanpun dan dimanapun. Namun, dengan kelebihan akal pikiran dan hati yang kita miliki, kita dapat menentukan jalan yang kita tempuh kebaikan atau keburukan sebagai bagian dari hidup kita. Sebagai manusia yang diberi kelebihan dari makhluk lain, kita juga harus menyadari bahwa kita diciptakan untuk memberikan suatu manfaat yang baik bagi kehidupan yang kita jalani dan lingkungan.

    ReplyDelete
  4. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Jargon para subjek. Jargon adalah istilah khusus yang dipergunakan di bidang kehidupan (lingkungan) tertentu. Wikipedia mengartikan, Subjek atau subyek adalah bagian klausa yang menandai apa yang dibicarakan oleh pembicara. Bagian klausa yang lain selain subjek adalah predikat. Subjek tidak selalu sama dengan pelaku atau aktor, terutama dalam kalimat pasif. Seubyek berbeda dengan objek, bahkan istilah ini saling berlawanan satu-sama lain. Ada banyak sekali subjek dalam kehidupan ini. Antara subjek dan jargon saling berkaitan antara keduanya. Jargon dapat menjadi sumber keunikan atau sumber kekacauan bila tidak dikendalikan atau dikelola dengan bijaksana. Dalam tata penulisan kalimat subyek berarti yang bekerja. Sedangkan obyek berarti yang dikenai kerja. Oleh karenanya dalam hal ini subyek itu adalah orang yang bergerak aktif, misalnya seorang pembuat, penentu, pengemban, pemangku, pelaksana, pemelihara, pengawas, dan lain sebagainya. Kinerja subyek pun akan ditentukan oleh kinerja obyek. Oleh karenanya otoriter sikap subyek terhadap obyek haruslah dihilangkan. Jargon subyek terdapat pada subyek dan ada juga pada obyek begitu juga sebailiknya jargon obyek terdapat pada obyek dan ada juga pada subyek, hal ini karena obyek bisa menjadi sybyek dan subyek bisa menjadi obyek tergantung pada ruang danwaktunya.

    ReplyDelete
  5. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Subjek tak dapat dipisahkan dari jargon karena subjek merupakan jargon. Subjek tanpa objek maka dipertanyakan kedudukannya sebagai subjek. Subjek penentu butuh objek yang ditentukan agar keberadaannya sebagai subjek tetaplah ada. Oleh karena itu Subjek dan objek haruslah bekerja sama da saling menjaga kedudukan masing-masing.

    ReplyDelete
  6. Subyek merupakan pelaku. Subyek dapat melakukan apa saja. Subyek mempunyai kuasa terhadap apa yang dikuasainya. Dengan kuasa tersebut, dapat menjadikan sesuatu menjadi baik atau tidak baik. Subyek di dunia ini ada bermacam-macam. Subyek yang benar adalah subyek yang sadar dengan keadaan dirinya, subyek yang bertindak sesuai dengan kompetensinya dan berada pada sisi kebenaran.

    ReplyDelete
  7. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Obyek dan subyek tidak bisa dipisahkan. Subyek-subyek dibutuhkan untuk menjadikannya obyek. Terdapat banyak sekali subyek di dunia yang terdiri dari sesuatu hal yang ada dan yang mungkin ada. Subyek mempunyai banyak macam jenis. Jargon adalah bagian dari subyek dan subyek itu sendiri. Jargon berfungsi untuk menjaga sifat dari subyek.

    ReplyDelete
  8. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Jargon para subjek menggambarkan perbincangan para subjek yang mempunyai julukan seperti para objek. Kita perlu iman yang kuat agar dalam membandingkan atau membedakan sesuatu dengan pasti tidak ragu-ragu. Dengan demikian untuk dapat membedakan posisi dari setiap subjek yang ada maka kita harus memperbanyak membaca dan belajar dari pengalaman dan pengetahuan yang ada kita lebih dekat pada definisi subjek atau pelaku suatu tindakan.

    ReplyDelete
  9. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Subjek dan Objek saling terkait satu sama lain, banyak sekali subjek didunia ini yang terdiri dari berbagai macam jenis dan berbagai macam fungsi, untuk membedakan subjek dan objek perlu banyak referensi membaca agar tidak salah mendefinisikan.

    ReplyDelete
  10. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika

    Semua subyek adalah satu subyek. dimana satu subyek dengan subyek yang lain tidak dapat dipisahkan. karena semua subyek ada pada diri subyek itu sendiri dan mereka saling embutuhkan

    ReplyDelete
  11. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Subjek adalah yang mengerjai objek. Sehalu-halusnya subjek adalah jiwa yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti. Jika seseorang menyebut dirinya, sebetulnya dia menyebutkan dirinya yang halus yang bertanggungjawab diakhirat nanti. Sehingga, saya bisa menyebutkan diri saya yang sebenarnya. Diri saya itu terlepas dari ruang dan waktu. Namun saya tidak tahu diri saya yang paling halus itu berada dimana.

    ReplyDelete
  12. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa subjek itu memiliki sifat-sifatnya sendiri. subjek itu memiliki jargon-jargon untuk membuktikan keberadaan dirinya sendiri. subjek itu harus memiliki pengaruh yang kuat terhadap objek sebab subjek itu akan menjelaskan sekaligus dijelaskan oleh objeknya.

    ReplyDelete
  13. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi di atas, ada banyak yang termasuk para subyek. Mereka adalah Para Subyek pembuat, Para subyek penentu, Para subyek pengemban, Para subyek pemangku, Para subyek pelaksana, Para subyek pemelihara, Para subyek pengawas. Para jargon juga termasuk dalam para subyek.

    ReplyDelete
  14. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Subjek merupakan pelaku, di dalam pembelajaran subjek merupakan peserta didik, subjek akan saling berhubungan dengan objek, dimana suatu pendidikan atau pembelajaran bertujuan untuk menciptakan siswa atau generasi-generasi yang memiliki peran atau kedudukan yang baik di dalam lingkungan masyarakat.

    ReplyDelete
  15. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dalam elegi ini, diketahui bahwa subyek tidak dapat terlepas dari jargon. Ada berbagai macam subyek, dan dari sekian banyak subyek sangat membutuhkan jargon untuk mempertahankan sifatnya

    ReplyDelete
  16. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Kita harus lah sadar bahwa sesungguhnya jargon adalah bagian dari diri kita. Kita tak bisa melepaskan jargon dari diri kita, karena kita memerlukan jargon untuk menjaga sifat kita sebagai subyek. Namun kita tak boleh bertindak melebihi batas, karena sesungguhnya jargon kita itu akan lenyap diperbatasan pikiran kita masing-masing. Sesungguhnya tak ada manusia yang pernah menjadi subyek sejati karena sebenar-benar subyek absolut adalah Tuhan dan sesungguhnya sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan.

    ReplyDelete
  17. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Berdasarkan pemahaman saya, baik subjek pembuat, pengemban, penentu, penilai, pemangku, dan pelaksana tidak ada artinya tanpa kehadiran objek. Meski sudah ada objek, para subjek pembuat, pengemban, penentu, penilai, pemangku, dan pelaksana, masih belum bisa dikatakan subjek jika tidak bisa melakukan tugas sebaik-baiknya. Misal saja pada bidang kebijakan pendidikan, tentu ada istilah pembuat kebijakan pendidikan, pengemban kebijakan pendidikan, penentu kebijakan pendidikan, penilai kebijakan pendidikan, pemangku kebijakan pendidikan, dan pelaksana kebijakan pendidikan. Jika mereka tidak tahu ruang lingkup dan tanggungjawabnya masing-masing, justru akan timbul kekacauan di ranah pendidikan. Hal itu mengindikasikan bahwa para pembuat, pengemban, penentu, penilai, pemangku, dan pelaksana, tidak lebih dari jargon-jargon semata.

    ReplyDelete
  18. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Sebenarnya semua merupakan Jargon, kecuali Tuhan YME. Kita bisa menjadi suatu subyek ataupun obyek adalah tergantung keadaan dan kondisi yang sedang terjadi pada diri kita. Kita bisa saja berada pada kondisi keduanya, yakni sebagai obyek dan sebagai subjek, ketika kita melakukan sesuatu hal di dunia ini maka kita sedang menjadi subyek, namun di sisi lain kita sedang diamati dan dicatat amal perbuatan kita oleh para malaikat Allah SWT, maka kita menjadi obyek. Sehingga menjadi obyek atupun subyek tergantung dari cara kita memandang sesuatu.

    ReplyDelete
  19. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Setelah membaca ini, hal yang saya dapati adalah jargon sangat melekat pada subyeknya, sehingga subyek itu ya jargon dan jargon itu ya subyek. Dan untuk menjaga keberadaan subyek, subyek selalu menegakkan jargon.

    ReplyDelete
  20. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Saya mendapat sebuah pemahaman bahwa kita perlu mengenal orang lain lebih dalam melalui diri kita sendiri dan waktu akan memberikan ruang untuk itu. Diri kita sendiri tidak dianjurkan untuk memberikan penilaian atas tindakan orang lain apalagi menghakiminya. Introspeksi akan kelebihan dan kekurangan diri sendiri lebih baik. Hal ini akan membuat kita semakin kenal siapa diri kita yang sebenarnya.

    ReplyDelete
  21. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari jargon diatas dapat mengambil beberapa hikmah yaitu pentingnya subyek itu. diri kita sendiri adalah subyek, apapun itu bisa menjadi subyek. Dan subyek bisa berupa apapun, bisa dijelaskan dengan apapun. Namun hikmah yang indah yang lain yaitu sebaik-baik orang atau sebai-baik subyek yaitu yang dapat bermanfaat bagi orang lain. Jadilah subyek yang baik. Hikmah terakhir yaitu subyek bukanlah apa-apa jika tanpa obyek.

    ReplyDelete
  22. Junianto
    PM C
    17706251065

    Dari artikel tersebut, dapat saya pahami bahwa subjek atau pelaku suatu tindakan selalu mempunyai jargon. Dengan kata lain, bahwa para subjek juga memiliki kepentingan masing-masing yang tidak terlepas dari ego. Maka dari itu, perlu adanya tindakan bijak dan adil untuk mengelola jargon para subjek agar tindakan mengarah kepada hal-hal yang positif. Jika tidak, seeseorang akan mengutamakan jargon pribadinya yang tentu akan menguntungkan dirinya sendiri. Hal ini tentu sangat tidak baik karena akan memunculkan sifat sombong dan serakah.

    ReplyDelete
  23. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Jargon para subjek menjelaskan tentabg keanekaragaman subjek. Subjek dan objek saling berkaitan, disebut subjek karena dia memiliki objek. Tanpa objek maka tidak akan ada objek. Selain itu juga merupakan suatu bagian dari jargon, karena jargon berarti kacau, jadi jargon subjek adalah kekacauan dalam membuat, menentukan, mengembangkan, memelihara, mengawas dan sebagainya.

    ReplyDelete
  24. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Subyek biasanya identik dengan pelaku. Subyek ini dapat bermacam-macam. Ketika berbicara tentang pembelajaran di kelas, maka antara guru dan siswa yang sebenarnya menjadi subyek ialah siswa. Hal ini dikarenakan siswalah yang melakukan belajar. Maka guru harus memberikan kesempatan pada siswa sebagai subyek belajar untuk membangun pengetahuannya. Namun, ternyata peran guru sebagai pemberi kesempatan itu pun juga merupakan subyek

    ReplyDelete
  25. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb
    Jargon adalah diri kita.Diri kita adalah subyek dan obyek.Kita bisa berpotensi sebagai subyek dan sebagai obyek.Jika kita menilai sesuatu maka kita dikatakan sebagai subyek, namun jika kita dinilai oleh orang lain maka kita berpotensi sebaga obyek.

    ReplyDelete
  26. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Saya mencerna elegi ini sebagai cara ideal penguasaan di dalam diri. Sebagai manusia, bisa saja menonjolkan subjek sebagai kuasa atas dirinya, atau jargon sebagai kuasa atas dirinya. Tapi, hidup yang ideal tentunya antara subjek dan jargon harus dimaknai dengan setara, ia memiliki hubungan yang erat.

    ReplyDelete
  27. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Saya mengucapakan terimakasih sebesar-besarnya atas ilmu yang bapak berikan
    Hampir sama dengan pemahaman saya pada “Jargon Para Obyek”, yaitu dimulai dengan pertanyaan yang diajukan oleh diri saya, “apakah jargon pertanda seseorang sedang berpikir? Apakah jargon awal dari seseorang menggapai logosnya?”
    Lebih dala dari itu, setelah membaca “Jargon para obyek” dan “Jargon Para Subyek” saya menyadari bahwa pada kehidupan ini kita harus saling memahami, saling terjemah dan diterjemahkan.
    Terimakasih sekali lagi, benar-benar ini membawa manfaat bagi diri saya.

    ReplyDelete
  28. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Berdasarkan jargon para subyek ini saya memahami bahwa jargon adalah bagian dari subyek dan subyek juga adalah bagian dari jargon, sehingga antara jargon dan subyek tidak akan saling terlepas satu sama lain. Dari sini saya mengetahi subyek bisa dari apa saja dan darimana saja. Maka sebaik-baik subyek adalah yang bisa mendatang manfaat bagi orang lain.

    ReplyDelete
  29. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Terima kasih Prof Marsigit atas tulisannya yang berjudul Jargon Para Subjek.
    Sebagaimana pada tulisan Jargon Para Objek, disini kita disuguhkan bahwa subjek pun tidak bisa berdiri sendiri tanpa objek. Meskipun jumlah subjek sangat-sangat banyak bahkan tidak terbatas. Sehingga antara subjek dan objek pun mereka saling berkaitan dan saling membutuhkan untuk membentuk suatu makna

    ReplyDelete
  30. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillahirrohmanirrohim, terimakasih prof. Marsigit. Ketika para subjek berjargon, ternyata dia tidak sadar bahwa dia sedang berjargon. Dia sombong bak tidak membutuhkan jargon, padahal apa yang yang menjadi tindakan, perilaku, ucapan, dan pikirannya adalah bentuk jargon yang ia punya. Subjek pembuat, penentu, pemangku, penawas, dan lain sebagainya itu semua nya adalah bentuk jargonnya yang ia tunjukkan pada dunia. saya juga menangkap bahwa ternyata dalam rangka menegakkan diri sebagai subyek, sangat membutuhkan para jargon. Subjek pun sangat memerlukan perundingan dan waktu yang lebih lama agar lebih tau dan paham bagaimana kah sifat-sifat subjek dan sepenting apakah jargon bagi dirinya. Sudahlah, saya tidak berani meneruskan lorong yang saya buat ini, saya khawatir ini hanyalah mitor dan ternyata pikiran ku sedang dikuasai oleh mitos, Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  31. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    saya menagmbil pelajaran didalam elegi ini adalah seseorang tidak pantas untuk lagsumg menilai orang lain secara spontan tanpa melihat dan memikirkannya terlebih dahulu secara dalam, dan seseorang pada dasarnya tidak lah dapat bediri sendiri atau hidup sendiri karena pasti akan membetuhkan orang lain untuk saling melengkapi satu sama lain. Ibaratkan si subjek ternyata bagian dari jargon dan si subjek juga bukan apa-apa jika tidak ada objek, padahal subjek mempunyai pasukan yang sangat banyak.

    ReplyDelete
  32. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Dalam postingan tersebut, setiap subyek memiliki kuasa masing-masing sesuai ruang dan waktunya. Terlepas dari hal itu, subyek tidak dapat dikatakan subyek apabila tanpa obyek. Sebesar apapun amanah yang diemban oleh subyek tidak akan bisa terlepas dari obyek. Dan subyek juga tidak dapat terlepas dari jargon. Dengan kata lain subyek merupakan kumpulan jargon-jargon yang memiliki kuasa masing-masing sesuai amanahnya. Kesimpulannya adalah antara subyek, obyek, maupun jargon salinglah untuk menerjemahkan dan diterjemahkan agar tidak ada kesalahpahaman yang berarti.

    ReplyDelete
  33. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Subjek dan objek merupakan dua hal penting yang saling berkaitan. Subjek adalah pelaku yang akan melakukan suatu hal, sedangkan yang akan dikenai adalah objek. Subjek tidak akan ada artinya tanpa objek. Dalam pembelajaran guru dan siswa saling berkaitan, saat guru menjadi subjek siswa akan menjadi objek, begitu pula sebaliknya. Guru sebagi subjek ataupun objek harus selalu dapat memfasilitasi siswa untuk dapat aktif dan kreatif.

    ReplyDelete
  34. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Tidak ada subyek jika tidak ada obyek, begitu pula sebaliknya tidak ada obyek jika tidak ada subyek. Kehadiran dari masing-masing merupakan pelengkap dari kehadiran yang lain. Dalam mengenali dan memahami subyek diri kita, butuh waktu yang lama, karena diperlukan refleksi-refleksi yang konsisten dan berkesinambungan. Begitu juga dalam memahami sifat orang lain, dibutuhkan waktu yang lama, dan dibutuhkan kesabaran.

    ReplyDelete
  35. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Obyek, subyek, dan lainnya memerlukan jargon untuk menjaga eksistensi dan sifat masing-masing. Tiadalah sesuatu yang tidak memiliki makna. Jargon dan subyek memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Namun kekhawatiran keduanya adalah salah satunya akan mendominasi sehingga akan menghilangkan fungsi dari yang lainnya.

    ReplyDelete
  36. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Dalam melakukan penilaian terhadap subjek, kita tidak lepas dari pengaruh para subjek. Karena pada dasarnya subjek adalah diri kita yang pada waktu lain bukan merupakan diri kita. Dalam penilaian secara subjek disini, jargon subjek mengabaikan adanya jargon objek. Karena itu, penilaian subjektif tidak dapat diberlakukan secara umum karena subjektivitas masing-masing individu sifatnya berbeda.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  37. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Subjek ternyata merupakan para jargon. Dan subjek juga sama halnya dengan objek terdiri dari bermacam-macam subjek tergantung kedudukannya. Objek dan subjek juga saling terkait. Subjek juga menentukan objek dan objek juga menentukan subjek.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  38. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Subyek dan obyek diciptakan untuk saling melengkapi. Subyek yang menentukan arah obyek mau kemana dan obyek melengkapi keberadaan subyek. Subyek dan obyek memerlukan hemenitika untuk komunikasi yaitu terjemah dan menerjemahkan. Seperti kedudukan guru dan siswa yang merupakan subyek dan obyek pembelajaran dan memerlukan terjemah dan menerjemahkan agar siswa memahami materi.

    ReplyDelete
  39. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Jujur saya agak kebingungan mengartikan tulisan ini, mungkin saya bisa mengaitkannya dengan kehidupan kita yang saling membutuhkan satu sama lain.

    ReplyDelete
  40. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Subyek tidaklah ada artinya jika tidak ada obyek. Entah itu subyek sebagai penguasa, pemelihara, pengawas, penilai, pengemban, pembuat dan lain-lain. Subyek tersebut hanyanlah sebuah jargon-jargon, tanpa hadirnya sebuah obyek. Misalnya subyek sebagai pembuat. Subyek sebagai pembuat hanya semata sebagai sebuah jargon kacau, yang belum tentu arahnya. Subyek sebagai pembuat tersebut akan menjadi lebih terarah ketika disertai obyek. Terimakasih

    ReplyDelete
  41. Dalam kehidupan banyak sekali bentuk subyek, misalnya subyek pembuat, penentu, pengemban, pemangku, pelaksana, pemelihara. Pengawas,dan lain sebagainya. Yang mana setiap subyek tersebut memiliki anggota nya masing-masing yang jumlahnya tidak terbatas pula. Pada tulisan bapak saya dapat memahami bahwa sesungguhnya antara jargon dan subyek memiliki hubungan yang tak dapat terpisahkan. Keduanya merupakan bagian dari satu sama lain.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  42. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Subyek meliputi segala yang ada dan mungkin ada. Subyek ialah ia yang melakukan sesuatu. Subyek menguasai obyek dan obyek dikuasai subyek. Subyek itu membuat, menilai, mengevaluasi, mencipta, mengemban, memangku, dan lain-lainnya. Subyek pun sebenarnya bergantung dengan obyek, tidak akan ada subyek jika tidak ada obyek. Subyek pun sama dengan obyek, memiliki jargonnya masing-masing. Oleh karena itu, jadilah sebaik-baik subyek yaitu subyek yang bermanfaat bagi obyek.

    ReplyDelete
  43. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPd Pendidikan Matematika C

    Sebagaimana objek, subjek juga membutuhkan jargon. Subjek tidak dapat melepaskan diri dari jargonnya. Subjek selalu memerlukan jargon untuk menjaga sifatnya sebagai para subjek. Dan dalam rangka menegakkan dirinya sebagai subyek, maka subjek tidak lain adalah para jargon.

    ReplyDelete
  44. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Sifat manusia yang terbatas sesuai kemampuannya. Pada suatu saat bisa dianggap menguntungkan subyek dan disisi lain merugikan subyek yang lain. Penilaian sesorang terhadap sesuatu itu bisa sama namun tak menutup kemungkinan juga berbeda tergantung dari keadaan, peran dan fungsi sesuatu tersebut terhadap orang yang menilainya.

    ReplyDelete
  45. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027
    Setiap manusia bisa menjadi subyek, baik untuk diri sendiri maupun orang lain, atau bahkan apapun yang ada disekitarnya. Subyek memiliki kuasa atas obyeknya, maka dari itu sebaik-baik subyek adalah yang memberikan kebaikan dan kebermanfaatan bagi obyek. Sebagai manusia yang diberi kelebihan dari makhluk lain, kita harus menyadari bahwa kita diciptakan untuk memberikan suatu manfaat yang baik bagi kehidupan yang kita jalani dan lingkungan.

    ReplyDelete
  46. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  47. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Setiap yang ada dan yang mungkin ada memerlukan jargon untuk mempertahankan kedudukannya. Maka jelas jargon adalah tak hingga banyaknya. Maka dibutuhkan sikap keterbukaan untuk dapat hidup saling berdampingan. Subyek tiadalah artinya tanpa adanya obyek begitu pula sebaliknya obyek tiadanya dapat berfungsi tanpa subyek. Maka kita harus saling menghargai kedudukan, dan kelebihan serta kekurangan orang lain.

    ReplyDelete
  48. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Berpikir keras dan kritis untuk lebih dapat memahami diri sendiri, dikarenakan banyaknya sifat dan potensi yang ada dalam diri kita. Janganlah kita terlalu sering mengkritik seseorang bahwa dia bersifat begini begitu padahal sebenarnya kita juga memiliki sifat dan potensi yang sama dengan orang tersebut.

    ReplyDelete
  49. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Subjek adalah sesuatu yang membuat, mengatur, menentukan, mengawasi, mengembang, mengevaluasi dsb. Keberadaan mereka di dunia bukan lah siapa-siapa, kecuali sebagai ciptaan Allah SWT yang berkewajiban menjalankannya perintahnya dan menjauhi larangannya. Seiring berlangsungnya peradaban muncullah jargon-jargon, sebagi bentuk metamorfosis suatu subjek. Suatu subjek tiba-tiba berubah menjadi subjek yang berbeda dengan sebelumnya ketika suatu jargon melekat pada dirinya. Bahkan terkadang gara-gara jargon yang melekat suatu subjek menjadi lupa akan hakikat dari jargon subjek yang ia sandang. Yang berbahaya subjek akan berubah menjadi jargon jargon subjek sesuai keadaan yang menguntungkannya. Inilah hal yang sangat tidak diharapkan terjadi.

    ReplyDelete
  50. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Jargon dan subyek adalah dua hal yang saling membutuhkan. Semua subyek pasti memiliki jargon. Subyek pembuat, subyek penentu, subyek pengawas, subyek pemelihara, dan masih banyak lagi. Seringkali terjadi pertentangan antara jargon dengan subyeknya. Jika ini dibiarkan maka akan melemahkan subyeknya. Semoga kita dapat mengharmonikan antara jargon dan subjek.

    ReplyDelete
  51. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Sebagai ciptaan Allah SWT, subyek itu ada karena kehendak-Nya dan diciptakan dengan tujuan masing-masing. Subyek adalah yang melakukan tindakan, mereka mengatur, menentukan, mengawasi, mengembang, mengevaluasi dan seterusnya. Subjek memiliki jargon sebagai wujud eksistensinya. Subyek yang terlalu terlena dengan jargonnya akan sangat berbahaya karena akan membuatnya sombong dan lebih mementingkan hal-hal duniawi sehingga tidak bermanfaat bagi yang lainnya.

    ReplyDelete
  52. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Segala hal yang ada dan mungkin ada bisa menjadi subjek, baik sujek penentu, subjek pelaksana, subjek pengemban dan sebagainya. Dalam ranah pembelajaran, siswa adalah subjek belajar, karena dia melakukan aktivtas belajar. Guru sebagai fasilitator yang memfasilitasi subjek belajar.

    ReplyDelete
  53. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Subyek merupakan pelaku, jika saya reduksi boleh saya katakan sebagai manusia, manusia ini tentunya memiliki sifat ingin memiliki pelindung atas sifat-sifat buruknya maka muncullah jargon-jargon yang memungkinkan menutupi sifat buruk sekaligus dapat menjadi penguasa atas subyek yang lain atau berharap menjadi pemakluman oleh subyek lain. Semoga kita menjadi manusia yang tetap ikhlas dalam memenuhi tanggungjawab dan menajdi manusia yang amanah, aamiin.

    ReplyDelete
  54. Latifah Fitriasari
    PM C

    Subjek dan jargon ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Objek itu tidak ada artinya jika tidak ada subjek. Tetapi objek juga memandang jargon sebagai objek, dan objek pun akan memandang dirinya sebagai subjek. Jargon subjek meliputi yang ada pada subyek itu snediri, karena jaron itu adalah pengenal dan bisa juga tujuan subyek itu. Subjek adalah pelakunya dan jargon adalah bagian dari pelaksana itu sendiri. Subjek identik dengan pemegang kekuasaan, namun ternyata subjek pun banyak anggotanya sehinggga bagaimana kedudukan para subjek tergantung dengan tugasnya.

    ReplyDelete
  55. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Dari sudut pandang pendidikan, banyak sekali subyek dari kegiatan belajar mengajar yang ada. Beberapa di antaranya ialah pemerintah sebagai pembuat kurikulum atau peraturan pendidikan, kepala sekolah sebagai penentu kebijakan sekolah, guru sebagai pengemban pelaksanaan pembelajaran, pengawas sekolah yang bertugas mengawasi kinerja guru dan kepala sekolah, serta siswa yang menjalani kegiatan pembelajaran di sekolah. Sebagai civitas akademik tugas para subyek pendidikan ini sangat penting dalam pelaksaan pembelajaran pada siswa. Semuanya harus saling bekerjasama dan mendukung program-program yang mengembangkan dan meningkatkan mutu belajar.

    ReplyDelete
  56. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  57. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Subyek dapat melekat pada siapapun bahkan apapun. Elegi ini memberikan contoh rincian subyek yang melingkupi pembuat, pengemban, penentu, pemangku, oelaksanan, pemelihara, pengawas. Jika diterapkan dalam salah satu aspek kehidupan, ada orang yang mengemban amanah sebagai pembuat, kemudian misal proyek dari para subyek adalah suatu kebijakan, maka kebijakan tersebut berpindah tangan sesuai dengan subyek dari pengemban amanah, pembuat, pengemban, pelaksana, pengawas, pemangku, penentu dan sebagainya. Sedangkan adanya subyek tersebut ialag sesuatu yang memang harus ada demi harmoni kehidupan. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  58. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Para subyek membentuk sistem kehidupan yang kompleks.Sebagai suatu sistem, maka para subyek tersebut harus dapat bersinergi dan membawa aura positif sehingga kinerja sistem akan condong kearah positif juga.Jika ada salah satu subyek yang mengacaukan jargonnya sendiri, maka harmoni kehidupan akan rusak. Ambil contoh misalkan dalam suatu sistem pendidikan, subyek pembuat, subyek pelaksana, subyek pengemban telah melakukan job nya dengan baik dan benar, manun subyek pengawas lali dan kacau dalam tugasnya maka sistem tersebut tidak akan maksimal dalam mewujudkan cita-cita pendidikan. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  59. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Jargon ini memngingatkan kepada kita bahwa subjek memiliki banyak macamnya, terdapat subjek pengawas, pemangku, pelaksana, pengawas, dan para para para … subjek lainnya. Subjek – subjek ini memerlukan jargon untuk mempertahakan dirinya sebagai subjek. Unutk memeprlihatkan dirinya sebgai subjek, tak terlepas dari peran jargon.

    ReplyDelete
  60. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Objek dan subjek mempunyai suatu keterkaitan. Subjek sebagai pelaku, sedangkan objek sebagai sesuatu yang dikenai perbuatan atau tindakan. Objek dan subjek di dunia ini ada bermacam-macam. Mungkin kita tidak dapat menyebutkan semuanya satu per satu. Hal itu dapat terjadi karena pikiran kita juga terbatas

    ReplyDelete
  61. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Jika potensi diiringi dengan perilaku positif seperti rendah hati, mampu berbagi, dan menerima serta sikap positif lainnya, maka potensi akan bermanfaat untuk dirinya dan sekitarnya. Sebaliknya jika potensi diikuti sikap negatif maka potensi akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Seperti adanya Jargon si berpikir kacau dan pembuat kacau, penentu kacau, pengemban kacau, penilai kacau, pemroduksi kacau, pemangku kacau, bahasa kacau. Dalam tata penulisan kalimat subyek berarti yang bekerja. Maka semua tingkah laku yang positif dan negatif itu adalah subjek itu sendiri yang melakukannya.

    ReplyDelete
  62. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Begitu banyaknya macam-macam subyek, karena subyek adalah penentu terciptanya jargon pada dirinya sendiri. Jargon alias kekacauan adalah bagian dari diri subyek, hal itu tidak dapat dipungkiri karena setiap subyek adalah tempatnya berpikir, penentu hasil pikir, dan pemroduksi hasil pikir. Jika dalam proses berpikir tidak ikhlas dan tidak dibarengi dengan dzikir, bisa jadi jargon subyek akan menguasai dan mengendalikan dirinya dengan berbagai macam kekacauan-kekacaun yang dapat merugikan dirinya sendiri. Untuk itu, perlu kiranya bagi setiap subyek selalu berpikir ikhlas dan selalu bersyukur kepada Allah agar bisa mengontrol jargon yang ada pada dirinya menjadi suatu jargon yang bermanfaat.

    ReplyDelete
  63. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Kita harus lah sadar bahwa sesungguhnya jargon adalah bagian dari diri kita. Kita tak bisa melepaskan jargon dari diri kita, karena kita memerlukan jargon untuk menjaga sifat kita sebagai subyek. Namun kita tak boleh bertindak melebihi batas, karena sesungguhnya jargon kita itu akan lenyap di perbatasan pikiran kita masing-masing. Sesungguhnya tak ada manusia yang pernah menjadi subyek sejati karena sebenar-benar subyek absolut adalah Allah SWT dan sesungguhnya sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  64. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Setiap subyek mempunyai jargon masing-masing, sehingga jargon antara yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Sehingga tidak bisa menjudge bahwa setiap subyek mempunyai jargon yang sama. Perlu pemikiran yang kritis untuk dapat memahami jargon masing-masing para subyek.

    ReplyDelete
  65. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Diperlukan pemikiran kritis untuk lebih dapat memahami diri sendiri. Hal ini dikarenakan banyaknya sifat dan potensi yang ada dalam diri kita. Janganlah kita terlalu sering mengkritik seseorang bahwa dia bersifat begini begitu padahal sebenarnya kita juga memiliki sifat dan potensi yang sama dengan orang tersebut.

    ReplyDelete
  66. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Subjek adalah segala yang ada dan mungkin ada yang menjadi topik pembicaraan/pelaku. Akan tetapi sama halnya dengan objek, maka subjek pun tidak dapat berdiri sendiri, dia memerlukan sesuatu untuk mendampinginya, misalnya bisa saja predikat atau objek atau keduanya. Karena jika dia berdiri sendiri maka arti dibalik keberadaanya belum bisa dipahami. Adanya jargon subjek ini mengibaratkan pada kita untuk selalu rendah hati, karena sesungguhnya dalam kehidupan kita masih memerlukan orang lain. Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  67. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Dalam kehidupan ini, ada banyak sekali subjek. Antara subjek dan jargon saling berkaitan satu sama lain. Jargon dapat menjadi sumber keunikan atau sumber kekacauan bila tidak dikendalikan atau dikelola dengan bijaksana. Dalam tata penulisan kalimat subyek berarti yang bekerja. Sedangkan obyek berarti yang dikenai kerja. Oleh karenanya dalam hal ini subyek itu adalah orang yang bergerak aktif. Kinerja subyek pun akan ditentukan oleh kinerja obyek. Oleh karenanya otoriter sikap subyek terhadap obyek haruslah dihilangkan.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  68. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    subyek merupakan pelaku, aktor utama. subyek meliput hal yang ada dan yang mungkin ada. sama halnya dengan obyek, subyek juga memiliki jargonnya masing-masing. subyek dan obyek saling berhubungan.

    ReplyDelete
  69. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa subjek itu memiliki sifat-sifatnya sendiri. subjek itu memiliki jargon-jargon untuk membuktikan keberadaan dirinya sendiri. subjek itu harus memiliki pengaruh yang kuat terhadap objek sebab subjek itu akan menjelaskan sekaligus dijelaskan oleh objeknya.

    ReplyDelete
  70. Rina Musannadah
    15301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Dari elegi ini dapat diketaui bahwa sebuah subjek tak terlepas dari jargon. Perlu adanya tindakan yang bijaksana agar jargon dari sebuah subjek agar tindakan selalu mengarah kepada hal positif. Tindakan yang bijaksana juga diperlukan agar jargon dari sebuah tindakan mampu menurunkan egonya agar tidak menghalalkan berbagai cara demi mencapai tujuannya.

    ReplyDelete