Sep 20, 2013

Elegi Wawancara Orang Tua Berambut Putih




Oleh Marsigit

Wartawan:
Apa yang engkau maksud elegi?

Orang tua berambut putih:
Elegi itu adalah nyanyian susah

Wartawan:
Kenapa engkau gunakan elegi sebagai judul setiap karangan bebasmu?

Orang tua berambut putih:
Untuk menggambarkan betapa susahnya memahami isi karyaku itu.

Wartawan:
Kenapa engkau buat elegi-elegi?

Orang tua berambut putih:
Elegi adalah salah satu cara yang aku gunakan untuk mengkomunikasikan filsafat tanpa menyebut-sebut filsafat.

Wartawan:
Apa maksud tanpa menyebut-sebut filsafat?

Orang tua berambut putih:
Biasanya orang berpendapat filsafat itu sulit. Banyak juga orang yang berpendapat bahwa filsafat itu tak bermanfaat atau bahkan sesat.

Wartawan:
Lantas, kalau memang demikian, lalu kenapa?

Orang tua berambut putih:
Justeru itulah, melalui elegi-elegi aku ingin menunjukkan bahwa tidaklah demikian. Filsafat itu sangat dekat dan dekat sekali dengan kita. Bahkan aku dapat katakan bahwa filsafat itu adalah diri kita. melalui elegi itu aku juga berusaha menunjukkan bahwa kajian filsafat itu banyak manfaatnya dan langsung bersentuhan dengan kehidupan manusia.

Wartawan:
Lalu apa yang dimaksud dengan tanpa menyebut-sebut filsafat?

Orang tua berambut putih:
Tantangan bagi orang yang berfilsafat adalah bagaimana menjelaskan filsafat itu dengan bahasa yang paling mudah dipahami. Sedangkan kata filsafat itu sendiri merupakan istilah yang sulit dipahami.

Wartawan:
Bagaimana awalnya engkau membuat elegi.

Orang tua berambut putih:
Elegi itu muncul sebagai kebutuhan. Aku merasa perlu mengembangkan komunikasi filsafat dalam bentuk yang netral, tidak menyuruh, tidak memaksa, lebih bersifat empati tetapi tetap memuat tesis-tesis filsafat.

Wartawan:
Apa referensi yang engkau gunakan untuk membuat elegi?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa referensi itu ada banyak ragamnya. Sumber pertama yang langsung dari pelakunya, itu disebut sumber primer (pertama). Jika sumber itu merupakan penuturan dari orang lain, maka sumber tersebut disebut sumber seconder (kedua). Sedangkan elegi-elegi ini aku susun berdasarkan refleksi pengalamanku. Balam elegi-elegi ini, sumber pertama dan kedua adalah sebagai inspirasi saja. Sedangkan yang paling pokok dan paling banyak adalah refleksi
pengalaman saya setelah membaca filsafat dan mengalami kehidupan langsung.

Wartawan:
Metode apa yang anda gunakan untuk menyusun elegi?

Orang tua berambut putih:
Untuk menyususun elegi ini, aku menggunakan beberapa peralatan meliputi: bahasa analog, reduksi atau penyederhanaan, kelengkapan, pengandaian, personifikasi, pengembangan pola, korespondensi (isomorphisma), teleologi, phenomenologi, induksi, deduksi, berpikir kritis, membuat pertanyaan-pertanyaan, membuat figur orang tua berambut putih, komunikasi,
menterjemahkan dan diterjemahkan.

Wartawan:
Siapakah orang tua berambut putih.

Orang tua berambut putih:
Orang tua berambut putih adalah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu berasal dari pertanyaan-pertanyaan, jawaban-jawaban, sampai batas pikiranmu. Maka orang tua berambut putih itu dapat berupa pertanyaan-pertanyaan, tesis-tesis, anti-tesis, sintesis, dan semuanya yang tergolong olah pikir. Jadi orang tua berambut putih itu juga bisa berarti filsafat. Jika dia diartikan sebagai sipembawa pesan filsafat, bolehlah, khusus dalam elegi ini, jika engkau artikan bahwa elegi itu adalah dosen filsafat, setidak-tidaknya orang tua berambut putih itu adalah pikiranku, yaitu pikiran seorang Marsigit.

Wartawan:
Bagaimana seseuatu elegi itu muncul?

Orang tua berambut putih:
Sekali lagi aku katakan bahwa elegi itu muncul karena kebutuhan. Ketika aku melihat situasi lingkungan tertentu dimana saya merasa perlu mengungkapkannya maka aku buatlah elegi.

Wartawan:
Kenapa antara beberapa elegi ada yang terkesan kontradiksi?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa hidup itu kontradiksi. Hakekat berubah dan hakekat diam itu kelihatannya kontradiksi. Tetapi keduanya itu ada. Maka aku mengkhawatirkan jika ada seseorang hanya berhenti sampai hakekat perubahan saja, karena hal yang demikian berarti dia hanya berpikir parsial.

Wartawan:
Kenapa kuliah filsafat pendidikan matematika, kelihatannya lebih banyak filsafatnya, lalu apa hubungan antara filsafat dan filsafat matematika?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa filsafat itu dapat ditaruh di depan apapun. Maka kita punya filsafat matematika, filsafat pendidikan, filsafat seni, filsafat negara, filsafat umum, filsafat alam, ..dst. Apapun filsafatnya, maka filsafat itu selalu mempunyai 3 jalur utama yaitu ontologi (ilmu hakekat), epistemologi (ilmu cara), dan aksiologi (etik dan estetika). Hal yang paling berat bagi orang yang ingin mempelajari filsafat adalah pada bagian depan, yaitu ada filsafat umum. Jika ini sudah dipahami, maka untuk mempelajari filsafat-filsafat yang lain, misalnya filsafat pendidikan matematika, kita tinggal tarik analogi-analogi dan benang merahnya.

Wartawan:
Apakah akan ada elegi-elgi tentang matematika atau pendidikan matematika.

Orang tua berambut putih:
Tentu bisa saja hal demikian itu dibuat oleh para mahasiswa untuk latihan.

Wartawan:
Apa sebetulnya tujuan utama atau visi dibuatnya elegi.

Orang tua berambut putih:
Elegi dibuat sebagai sarana berlatih memberbincangkan semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka mahasiswa matematika itu perlu kemampuan memperbincangkan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada. Sebagai seorang guru, maka perlu mempunyai keterampilan memperbincangkan semua yang ada dan yang mungkin ada.

Wartawan:
Apa yang dimaksud sebagai memperbincangkan.

Orang tua berambut putih:
Bukan subyek yang bicara, bukan dosen yang bicara, bukan guru yang bicara. Jika mereka itu yang bicara, maka bicaranya bersifat otoriter, merayu, membujuk atau memaksa para siswa untuk percaya. Tetapi yang bicara adalah para obyek, para mahasiswa dan pada siswa serta semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka sebetulnya yang ada dan yang mungkin ada itu berhak bicara. Jika anda telah mampu memperbincangkan mereka maka kemampuanmu itu mempunyai dimensi setingkat lebih tinggi.

Wartawan:
Apa yang engkau maksud dengan yang ada dan yang mungkin ada?

Orang tua berambut putih:
Yang ada dan yang mungkin ada itu adalah obyek kajian filsafat.

Wartawan:
Apakah engkau akan terus membuat elegi?

Orang tua berambut putih:
Belum tahu, karena elegi merupakan kebutuhan.

Apa sisi kelemahan elegi:
Satu-satunya kelemahan atau sisi kekurangan elegi adalah jika dia digunakan tidak sesuai ruang dan waktunya.

Wartawan:
Apa yang dimaksud digunakan tidak sesuai ruang dan waktunya?

Orang tua berambut putih:
Elegi itu hanya untuk sarana berpikir filsafat. Itu saja hanya salah satu. Jadi porsinya memang perlu dibatasi. Dia juga bukan suatu topik pembelajaran. Jadi elegi itu tidak cocok untuk digunakan pada pembelajaran disekolah. Tetapi substansinya itulah yang di ambil.

Wartawan:
Apa yang dimaksud substansi?

Orang tua berambut putih:
Seorang guru matematika hendaknya tidak hanya hapal rumus. Jika seorang guru matematika mendidik siswa dengan hanya menghapal rumus, itu namanya mitos. Maka guru seharusnya mengetahui apa makna dibalik dalil Pythagoras. Maka guru juga berusaha agar siswanya mengetahui apa makna dibalik dalil Pythagoras. Begitu saja maksudnya.

Wartawan:
Apa beda mitos dan patung filsafat? Apa beda logos dan orang tua berambut putih?

Orang tua berambut putih:
Mitos adalah patung filsafat. Logos adalah orang tua berambut putih.

Wartawan:
Mengapa sering banyak cerita dalam elegi selalu berakhir kepada hati atau Tuhan?

Orang tua berambut putih:
Filsafat itu tergantung orangnya. Dia bisa berangkat dari mana saja, melalui mana saja, dan berhenti di mana saja dan tentu kapan saja. Elegi-elgi ini setidaknya menggambarkan keadaan diriku atau filsafatku.

Wartawan:
Bagaimana peran para filsof?

Orang tua berambut putih:
Filsafat adalah pikiran para filsuf. Jadi tiadalah artinya kita bicara filsafat jika kita tidak membicarakan pikiran para filsufnya.

Wartawan:
Tetapi kenapa dalam elegi ini jarang muncul pemikiran para filsuf?

Orang tua berambut putih:
Pemikiran mereka tersembunyi atau muncul secara implisit.

Wartawan:
Terimakasih

Orang tua berambut putih:
Terimakasih kembali.

40 comments:

  1. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Banyak yang berfikir bahwa filsafat itu sulit untuk dimengerti dan cenderung ke arah yang menyesatkan. Hal itu tidak benar adanya karena setelah mempelajari filsafat dalam perkuliahan ini. Filsafat tidak sesulit yang dibayangkan, namun untuk belajar filsafat diperlukan pikiran dan hati yang ikhlas dan mau menerima ilmu. Selain itu juga harus banyak membaca serta mebuat pertanyaan-pertanyaan. Karena sebenarnya dalam berfilsafat sangat erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  2. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi sangat erat kaitannya dengan filsafat. Elegi yang terbatas pada ruang dan waktu sebagai bentuk pikiran kita dalam memandang sesuatu hal menyebabkan elegi hanya dapat digunakan sebagai sarana berpikir filsafat. Kesulitan pemahaman mengenai filsafat sangat dirasakan hal ini karena elegi-elegi yang muncul dalam pikiran kita belum mampu menembus batas ruang dan waktu filsafat. Filsafat sebagai bentuk dari bahasa para filsuf yang sangat tinggi juga menyebabkan kita sulit menembus batas-batasnya.

    ReplyDelete
  3. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Filsafat itu sangat dekat dengan diri kita dan kehidupan kita, karena filsafat itu bersentuhan langsung dengan kehidupan kita. Akan tetapi tak dapat dipungkiri bahwa filsafat itu sulit untuk dipahami. Melalui elegi-elegi dalam postingan Bapak ini, begitu besar manfaatnya yang kita peroleh. Untuk dapat memahami lebih mendalam terkait dengan filsafat, haruslah dengan niat dan ikhlas hati maupun pikiran , membaca setiap elegi yang ada, dan kita dapat mengamalkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

    ReplyDelete
  4. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Kajian filsafat itu banyak manfaatnya dan langsung bersentuhan dengan kehidupan manusia. Namun elegi tidak lah cocok jika digunakan pada pembelajaran di sekolah. Tetapi substansi dari filsafat itulah yang harus diambil oleh seorang guru. Jadi seorang guru matematika hendaknya tidak hanya hafal rumus matematika. Jika guru matematika mendidik siswa dengan hanya menghafal rumus, itu adalah mitos. Oleh karena itu guru seharusnya mengetahui apa makna dibalik rumus, sehingga mampu mendidik siswa makna dari sebuah rumus, tidak hanya berpaku pada menghafal rumus saja.

    ReplyDelete
  5. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B 2017

    Postingan ini menjawab kebingungan saya ketika membaca postingan-postingan bapak yang diberikan judul dengan awalan "elegi". Pengembangan filsafat lewat komunikasi yang netral, melalui elegi. Pengembangan filsafat melalui bahasa yang mudah, melalui elegi (meskipun sejujurnya saya masih mengalami kegamangan dan kesulitan untuk mencerna sedikit demi sedikit ...filsafat ataupun filsafat.... yang saya baca. Kembali lagi, mungkin ini terjadi karena bacaan saya yang masih begitu sedikit. Saya akan semakin berusaha

    ReplyDelete
  6. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini saya menyimpulkan filsafat adalah sebuah ilmu yang dapat digunakan dan dipelajari oleh siapa saja. Bisa didapatkan dari sumber primer maupun sekunder. Filsafat mengajarkan nilai kehidupan, jadi ketika kita mempelajari filsafat ilmu atau filsafat matematika kita mendalami filsafat secara umum puntidak masalah. Melalui elegi-elegi yang dibaca bisa dijadikan referensi bagi pembaca dalam berfilsafat karena mungkin saja tidak semua orang dapat menemukan sumber dalam belajar filsafat

    ReplyDelete
  7. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A

    Dari penjelasan yang Bapak uraikan di dalam elegi di atas, saya berpendapat bahwa berfilsafat itu berada antara aturan manusia dan aturan Tuhan. Jika kita tidak sanggup lagi untuk menjangkau apa yang kita pikirkan, maka kembalikan ke dalam hati atau pada keyakinan kita. Karena sebelumnya saya sering mendengar bahwa filsafat itu sulit bahkan ada yang memandang jika tidak ada keyakinan yang kuat dalam diri maka dapat menyesatkan diri kita (akhir yang buruk adalah atheis). Oleh karena itu dengan elegi dapat dijadikan sebagai sarana mengembangkan kemampuan berfilsafat, memperbincangkan apa yang ada dan mungkin ada, sehingga mendorong kita sebagai calon pendidik belajar dan terus belajar, berlatih dalam meningkatkan kemampuan berkomunikasi.

    ReplyDelete
  8. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017
    Terima kasih banyak Pak Prof. Marsigit.
    Setelah membaca elegi di atas, ada beberapa keyakinan saya yang semakin kuat, diantaranya adalah kita (setidaknya saya) hidup diantara kontradiksi-kontradiksi, bahkan didalam diri saya pun ada kontradiksi. Bagaimana menghadapi kontradiksi-kontradiksi itu lah yang banyak saya pelajari dari elegi-elegi yang ada di blog ini.

    ReplyDelete
  9. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamulaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Laksana wadah dan isinya. Begitulah hubungan Elegi-elegi dengan filsafat. Setiap elegi yang dipaparkan di blog ini memuat nilai dan makna filsafat. Walaupun jujur butuh pemahaman yang mendalam, pelajaran filsafat dapat diperoleh dari setiap elegi yang memunculkan tokoh-tokoh yang juga menggunakan istilah filsafat. Kesemuanya diramu sebagai bentuk komunikasi dalam menyampaikan materi filsafat dengan tanpa menyebut-nyebut filsafat.
    Terimakasih Prof

    ReplyDelete
  10. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari Elegi diatas ada banyak hal yang saya pelejari yaitu diantaranya :
    Pertama, bahwa filsafat ini tidak melulu di sampaikan dengan kaku namun bisa dengan Elegi.
    Kedua, elegi adalah sebagai sarana umtuk membahasakan agar mudah dipahami.
    Ketiga, yang saya sangat setuju bahwa filsafat itu sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan.
    Keempat, elegi adalah refleksi dari pengalaman dan adanya tergantung kebutuhan.
    Sehingga menurut saya sebagai manusia yang bijak selayaknya kita tetap belajar filsafat, belajar dan mengambil hikmah dari elegi dan merefleksikan apa yang terjadi dalam hidup kita.

    ReplyDelete
  11. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Dari postingan tersebut, dapat saya tarik pernyataan bahwa filsafat itu dapat disandingkan atau ditaruh didepan ilmu-ilmu lain seperti filsafat matematika, filsafat sastra, filsafat seni, dan lain sebagainya. Apapun mengenai filsafat , pada intinyanya memiliki tiga pilar utama yaitu ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Salah satu cara untuk mengkomunikasikan filsafat adalah dengan membuat elegi-elegi. Elegi akan mengkomunikasikan filsafat tanpa menyebut-nyebut filsafat. Elegi-elegi tersebut muncul sebagai kebutuhan.

    ReplyDelete
  12. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Pak. Filsafat sejak dulu sangat tidak familiar bagi saya. Setiap mendengar kata filsafat, saya selalu membayangkan ilmu yang sangat berat dengan berbagai teori-teori filsuf yang harus dipahami. Tapi lewat blog Bapak, saya merasa terfasilitasi dalam belajar filsafat dan sadar kalau filsafat itu sangat dekat dengan kita dan tidak melulu harus tentang teori. Melainkan Bapak meramu teori-teori filsafat dalam elegi atau cerita-cerita yang lebih mudah dipahami oleh orang awam seperti saya.

    ReplyDelete
  13. Junianto
    17709251065
    PM C

    Dari percakapan di atas, saya dapat mengambil beberapa inti dari. Filsafat sebenarnya bukanlah sesuatu yang sulit jika kita mampu, mengenali diri kita sendiri. Walaupun berfilsafat itu vberbeda dengan berfikir seperti biasa. Filsafata berarti berfikir secara menyeluruh dan mencakup berbagai hal. Dan filsafat tidak lain tidak bukan adalah diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  14. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Membuat elegi-elegi adalah cara Prof Marsigit membagi ilmu filsafatnya kepada orang lain (pembaca) tanpa benar-benar menyebut “filsafat”. Jadi, segala elegi yang ada di blog ini adalah ilmu filsafat yang disajikan dengan cara berbeda oleh Prof Marsigit, yaitu dengan cara membuat cerita-cerita atau dialog-dialog. Dengan demikian diharapkan para pembeca tidak memiliki spekulasi bahwa filsafat itu sulit.
    Sebenar-benarnya orang tua berambut putih adalah ilmu yang ada dalam diri kita. Sedangkan ilmu pengetahuan berasal dari pertanyaan-pertanyaan. Sumber-sumber, jawaban-jawaban. Pertanyaan dalam hidup tidak akan berhenti ada sampai pikiran itu sendiri tidak ada. Maka selama seseorang memiliki kesadaran berpikir, maka akan ada pertanyaan yang muncul dalam dirinya dan ia akan berusaha mencari jawabannya.

    ReplyDelete
  15. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah.
    Terimakasih Prof. Marsigit atas artikel di atas. Memahami filsafat tidaklah semudah memahami mata pelajaran eksak di sekolah, seperti fisika, kimia, biologi, matematika yang merupakan ilmu pasti yang setiap jawaban dari soal eksak merupakan jawaban yang pasti. Karena begitu sulit, sebagai pembaca kami cukup terbantu untuk perlahan menangkap apa yang diinginkan filsafat melalui wawancara orang tua berambut putih tersebut. Apa yang menjadi bahan dialog di atas, memang menjadi keresahan kami selama ini. Karena seringnya kami menemui artikel bapak yang judulnya menggunakan kata elegi. Mengkomunikasikan filsafat dengan kata elegi awalnya membuat saya semakin bertanya lagi apa itu elegi. Namun saya mulai sedikit paham ketika membaca artikel di atas. Pemakaian kata elegi sebagai kata ganti untuk filsafat merupakan langkah yang baik agar orang tidak illfeel dan ragu dalam membaca suatu ulasan tentang filsafat. Benar kata orang tua berambut putih, sering sekali orang menganggap filsafat itu tidak bermanfaat bahkan sesat. Menurut saya, orang filsafat itu terlalu cerdas, ia tahu akan banyak hal di dunia ini, pandai mengatur setiap langkah dalam hidupnya dan memandang segala sesuatu nya secara objektif, walau subjektivitas diri pasti ada. Ketika filsafat dikatakan membuat kesesatan, hal itu tidak lain dan tidak bukan karena orang filsafat tersebut tidak memiliki spiritulisme yang kuat dalam hati nya. Kekuatan filsafat seseorang hendaklah berlandaskan dan berpegang teguh pada kekuatan spiritualitas di dalam hatinya, yakni hubungan dirinya dengan Sang Pencipta. Sehingga segala jalan pikirannya tetap teratur pada tata aturan yang dibuat oleh Yang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  16. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Melalui elegi-elegi yang saya baca dari blog ini, pemikiran saya terhadap filsafat menjadi lebih terbuka. Sebelumnya saya memikirkan apa kaitan filsafat dengan Pendidikan Matematika. Namun, setelah membaca elegi-elegi, tampak bahwa filsafat itu justru sangat dekat dan memberikan banyak manfaat bagi kehidupan. Objek yang dapat menjadi kajiannya sangat banyak, meliputi yang ada dan yang mungkin ada, tidak terkecuali dengan Pendidikan Matematika. Elegi-elegi disajikan dengan cara yang menarik dan bahasa yang menarik pula. Hebatnya lagi, elegi dapat memberikan nasihat tanpa terkesan menggurui.

    ReplyDelete
  17. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Orang tua berambut putih yang tidak lain tidak bukan adalah pemikiran dari Prof.Marsigit yang menginspirasi. Elegi-elegi yang dibuat merupakan torehan dari pikiran dan pengalaman yang selama ini dibangun berdasarkan pengalaman langsung maupun membaca pemikiran filsuf. Elegi-elegi ini cukup sulit dipahami, dan atau mungkin setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda. Memang, karena segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada itu berdimensi, termasuk sudut pandang kita terhadap elegi-elegi ini.

    ReplyDelete
  18. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    filsafat harus dipelajari oleh mahasiswa yang mengambil kuliah filsafat pendidikan matematika. Dan cara untuk mempelajarinya adalah dengan membaca elegi bapak. Apakah saya dapat menyimpulkan bahwa filsafat itu adalah membaca pak? Dengan demikian saya sedikit paham bahwa dengan banyak membaca mungkin kita akan menemukan pemikiran-pemikiran baru yang menjadi sumber dari kegelisahan-filsuf-filsuf yang ada di dunia ini.

    ReplyDelete
  19. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Dengan adanya elegi-elegi yang diciptakan, mengajarkan kepada kita bahwa belajar filsafat bukanlah hal yang terlalu rumit.Disamping,itu dapat merubah asumsi-asumsi buruk orang-orang terhadaf filsafat.Salah satunya yang menyebabkan hal tersebut mungkin karena ketidaktahuaanya tentang filsafat.Padahal filsafat adalah hasil menjadi sadarnya manusia mengenai dirinya sendiri dan menjadi kritisnya manusia terhadap dirinya sendiri sebagai pemikir di dalam dunia yang dipikirkannya.

    ReplyDelete
  20. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Terima kasih atas pencerahannya Pak Prof. Melalui tulisan di atas saya semakin mengerti bahwa filsafat itu tidaklah sesulit yang saya bayangkan. Pada saat pertama saya membaca elegi Bapak, saya berpikir bahwa filsafat itu sulit, sesulit seperti saat saya memahami elegi yang Bapak sampaikan. Namun, melalui tulisan di atas saya paham bahwa filsafat itu sangatlah dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Dan bahkan melalui elegi saya dapat mengambil pelajaran hidup dan hikmah yang dapat saya aplikasikan dalam kehidupan saya.
    Melalui elegi-elegi yang Bapak sampaikan juga saya menemukan kaitan pendidikan matematika dengan filsafat. Karena memang objek kajian filsafat itu sangat luas, meliputi yang ada dan yang mungkin ada, tidak terkecuali bahasan dalam pendidikan matematika.

    ReplyDelete
  21. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Elegi seolah-olah membongkar kesan filsafat yang cenderung rumit, Elegi memadamkan nafsu dogmatis para filsuf, elegi melebur filsafat menjadi pikiran universal, elegi menumbuhkan filsafat menjadi daun-daun hijau yang segar, elegi wujud keadilan dalam menggunakan hati dan pikiran. Terimakasih pak, untuk elegi-elegi yang sangat inspiratif ini.

    ReplyDelete
  22. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Akhirnya saya menemukan jawaban dari kebingungan tentang apa itu elegi, mengapa menggunakan istilah elegi, dan siapa itu orangtua berambut putih. Elegi sungguh cantik untuk menjadi sarana menyampaikan apa yang ada dan yang mungkin ada. Saya sedang mengagumi luar biasanya kekuatan bahasa analog. Namun benar bahwa bahasa ini sulit dipahami, sedemikian dekat pun obyek filsafat itu dengan kehidupan kita.
    Saya seorang guru, dan elegi wawancara orangtua berambut putih ini mengingatkan pada saya untuk selalu memandang ilmu dan apa yang ada di balik ilmu. Terutama dalam belajar matematika, guru seringkali tergoda untuk langsung saja memberikan rumus-rumus, menggunakan bahasa simbol, namun tidak sampai pada mengapa bisa terjadi demikian.
    Ini mengingatkan saya dan para guru untuk senantiasa belajar, tak henti-hentinya. Sebab melihat pengetahuan serta apa yang ada di baliknya, bagaimana pengetahuan tersebut ditemukan, bukan sesuatu yang mudah. Apalagi menyampaikannya kepada para siswa. Wah… ternyata guru pun harus belajar menggunakan bahasa analog. Membawa siswa pada pengalaman menggunakan ilmu tersebut.

    ReplyDelete
  23. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Pembelajaran filsafat menggunakan elegi memang merupakan pembelajaran yang bisa saya katakan aneh karen a baru kali ini saya menggunakan metode seperti ini. Namun tanpa didasari, karena memang elegi ini dibuat karena adanya kebutuhan, lama kelamaan akan membaca elegi ini merupakan suatu kebutuhan agar kita mengetahui filsafat itu seperti apa dan bagaimana kita brfilsafat. Walaupun memang dalam membaca elegi ada jebakan-jebakan yang sangatlah berat dan bermacam-macam, namun, jika kita enggan melewati jebakan-jebakan itu kita tidak akan bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Kita hanya selalu berada di tempat yang sama tanpa untuk mencoba hal yang baru untuk dijadikan pengalaman dimasa yang akan datang.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  24. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak dikarenakan sudah bersedia berbagi pengalaman hidup kepada saya dan teman-teman. Saya sendiri juga merasa kesulitan untuk memahami substansi dari elegi yang ada. Namun, ketika ada suatu pembahasan yang sudah saya alami sebelumnya membuat saya dapat dengan mudah merefleksikan pikiran dan perasaan pada masing-masing bahasan elegi. Saya menjadi sadar betapa pentingnya berbagi pengalaman hidup dengan orang lain. Saya juga baru tahu bahwa berbagi pengalaman hidup adalah salah satu refleksi dalam belajar filsafat.

    ReplyDelete
  25. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Setelah dijelaskan dalam elegi diatas, menjadikan saya lebih paham bahwa elegi-elegi yang dibuat merupakan suatu sarana pengajaran filsafat secara implisit, sehingga tidak langsung menganggap filsafat itu susah. Karena memang demikian adanya, memahami filsafat bukanlah hal yang mudah. Bahkan walaupun sudah disajikan dalam bentuk elegi-elegi tetap saja masih sulit dipahami. Namun demikian elegi-elegi yang dibuat berdasarkan fenomena yang ditemukan atau dalam arti kata lain sesuai dengan kebutuhan, memang sangat membantu dalam melihat kehidupan dari kacamata yang berbeda. Oleh karena itu saya ucapkan terimakasih banyak, kepada bapak atas ilmunya selama ini.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  26. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Terimakasih pak, melalui elegi ini, saya memahami alasan dibalik elegi-elegi yang bapak tulis. Melalui elegi bapak menyampaikan/mengomunikasikan dan memberikan penjelasan tentang filsafat secara lebih luas dan detail. Sehingga kami yang awalnya yang masih asing dengan istilah-istilah filsafat dan pemikiran yang masih sangat awam ini mampu memahami dan memaknai filsafat melalui belajar mandiri membaca berbagai elegi. Melalui elegi tersebut bapak mengenalkan kami berbagai sudut pandang terhadap “sesuatu”, sehingga pemikiran kami lebih terbuka dalam memandang “sesuatu”.

    ReplyDelete
  27. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Dalam isi percakapan tersebut, saya jadi paham mengapa banyak dari postingan yang ditulis berjudul elegi ...... dan saya menemukan alasan yang apik. Kendala yang masih saya temui adalah menterjemahkan dan diterjemahkan. Pengalaman dan pengetahuan itu diperlukan. Sumber ilmu berasal dari kata tanya. Ada masalah dan ada pertanyaan. Munculnya pertanyaan akan menciptakan sebuah ilmu. Elegi itu berasal dari kehidupan nyata. Manusia tercipta atas pengalaman yang muncul. Seperti elegi yang bapak buat, merupakan gambaran pengalaman yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memberikan arti elegi tanpa membawa kata filsafat, membuat kita lebih berusaha untuk menigkatkan dimensi kita. Selama kita masih berada pada ruang dan waktu, maka elgi itu tidak akan ada habisnya. Karena pengalaman itu masih akan ada dan berkembang selama Allah memberikan kita izin untuk berada disini.

    ReplyDelete
  28. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Berfilsafat mengajarkan berfikir secara intensif dan ekstensif dengan menggunakan berbagai sumber belajar. Belajar berfilsafat berangkat dari sumber belajar, dari orang lain, dari media, dari wawancara, dan yang paling sering adalah muncul dari pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran kita. Salah satu sumber belajar dalam berfilsafat adalah membaca, memahami, mempelajari elegi, memberikan pendapat. Karena sesungguhnya filsafat itu sendiri adalah diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  29. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  30. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Banyak orang yang cerdas dalam memahami suatu hal atau suatu ilmu namun memiliki kekurangan dalam menyampaikan, sehingga apa yang ia pahami tidak bisa dipahami oleh orang lain. Kemampuan membuat elegi atau menyampaikan sebuah makna yang rumit melalui Bahasa yang lebih sederhana adalah kemampuan yang sebenarnya wajib dimiliki oleh setiap orang. Bagi guru, ia tidak hanya wajib menguasai ilmunya tapi ia juga dituntut menyampaikan ilmu tersebut kepada siswwanya. Seorang Presiden wajib memiliki pandangan ke depan mengenai visi misinya namun ia juga dituntut mampu menterjemahkan visi misi tersebut sehingga juga dipahami oleh menteri-menterinya. Seorang ayah wajib pula mampu menyampaikan nilai-nilai kehidupan kepada istri maupun anak-anaknya.
    Terima kasih banyak Prof Marsigit atas elegi-elegi yang Bapak tulis sehingga memudahkan kami dalam memahami apa yang Bapak pahami meskipun tidak seratus persen kami tangkap maknanya

    ReplyDelete
  31. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum wr.wb

    Belajar filsafat atau hanya saja mendengar kata filsafat memang lah seperti sesuatu yang sulit untuk dipahami, tetapi dengan elegi-elegi yang prof. Marsigit berikan sedikit demi sedikit saya mulai untuk tidak berfikir bahwa filsat itu sulit, karena dengan apa yang Prof. Marsigit sampaikan, ilsafat memang lah sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari yang kita jalani jadi untuk memahami filsafat sangat lah lebih mudah. Definisi-definisi memanglah tidak dijumpai dalam belajar filsafat dengan bapak, tetapi definisi itu diganti dengn penjelasan yang lebih mudah dipahami yaitu dengan banyaknya penjelasan beserta contoh yang diberikan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sehingga semua apa yang disampaikan sangat mudah untuk dipahami bagi kami yang mungkin belum pernah dalam belajar filsafat.

    ReplyDelete
  32. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B


    Wawancara dengan orang tua berambut putih menjawab kebingungan apa itu elegi, kenapa elegi itu dibuat, dan bagaimana menyikapi elegi yang sudah dibaca. Wawancara diatas juga mengungkap siapa orang tua berambut putih dan peran filsafat dalam kehidupan kita sehari-hari. filsafat memiliki peran yang cukup penting dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam pendidikan, dalam kehidupan sosial, dan aspek kehidupan lainnya, karena filsafat bisa diletakkan didepan apapun, seperti filsafat alam, filsafat ilmu, filsafat pendidikan, filsafat sosial dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  33. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Semua percakapan yang ada dalam elegi ini pernah disampaikan oleh Bapak pada saat perkuliahan, ternyata saya lebih dulu mendengarkan penjelasan langsung dari Bapak daripada membacanya, tetapi disini ada hal yang masih saya belum memahaminya, yaitu pada penjelasan terakhir “pemikiran para filsuf tersembunyi atau muncul secara implisit”, mungkin nanti saya tanyakan langsung saja ketika perkuliahan berlangsung.
    Filsafat adalah diri kita sendiri, sehingga filsafat itu dekat dengan diri dan kehidupan kita. Dengan berfilsafat artinya kita membangun ilmu-ilmu yang ada dan yang mungkin ada dengan sesuai ruang dan waktunya. Dengan berfilsafat pula kita belajar berpikir dalam sedalam-dalamnya dan luas seluas-luasnya. Terutama dalam memahami berbagai macam elegi-elegi yang ada pada blog Pak Marsigit. Tidak lupa juga selalu melandasi hati dan pikiran dengan spiritual agar tidak mudah terperangkap oleh mitos-mitos.

    ReplyDelete
  34. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Dalam mempelajari filsafat dengan membaca elegi sangat menyenangkan, karena berbentuk cerita, bukan teori-teori semata. Setiap orang bisa berfilsafat, karena sebenar-benarnya filsafat adalah olah pikir. Jika setiap orang mampu berpikir, maka dia bisa berfilsafat. Sebenar-benarnya filsafat adalah refleksi diri, jadi jika bisa merefleksikan diri maka juga bisa berfilsafat. Itulah filsafat, yang sebenarnya sangat dekat dengan kita. Poin pentingnya adalah dengan berfilsafat maka seharusnya kita semakin bijaksana di dalam kehidupan ini sesuai ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  35. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Setelah membaca wawancara di atas saya menyadari bahwa Bapak berusaha keras untuk membuat filsafat menjadi lebih sederhana melalui elegi-elegi. Walaupun pada awal-awal membaca elegi, saya tidak paham akan kemana tujuannya, namun sekarang saya bersyukur bahwa Bapak telah membantu kami sbg mahasiswa untuk memahami filsafat melalui elegi-elegi yang menarik sehingga kami dapat merefleksikan diri. Dengan adanya refleksi diri, terbukti bahwa filsafat sangat erat kaitannya dengan kebutuhan sehari-hari. Setelah membaca elegi-elegi, saya dapat melihat bahwa untuk menulis sebuah elegi saja, tersirat beberapa pandangan filsuf terkenal yang menjadi dasar Bapak untuk mengembangkan elegi. Terima kasih untuk elegi-elegi nya, Pak. Semoga kedepannya kami diberi kemudahan untuk memahami filsafat dan meningkatkan notion sbg mahasiswa.

    ReplyDelete
  36. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Berdasarkan artikel di atas saya baru mengetahui bahwa elegi itu artinya nyayian susah, pantas saja cukup sulit untuk memahaminya. Elegi dalam filsafat perlu dibuat sebagai suatu kebutuhan atas aktualisasi atau penuangan hasil pemikiran agar dapat dipahami oleh orang lain. Banyak sekali wawasan yang saya dapatkan dari membaca elegi-elegi yang telah bapak tuliskan dengan konteks yang beraneka ragam.

    ReplyDelete
  37. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Elegi bukan seperti produk jadi yang langsung diterapkan pada kehidupan sehari-hari, tetapi substansi dari elegi itulah yang diambil manfaatnya sebagai pembentukkan suatu produk. Elegi bersumber dari pikiran, maka orang yang berpikir akan terus bisa membuat suatu elegi.

    ReplyDelete
  38. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Elegi digunakan untuk menyampaikan ilmu yang dapat di pahami oleh orang lain. Oleh karena itu, membuat elegi membutuhkan bahasa (komunikasi) yanh mudah dipahami orang lain, maka diperlukan referensi yang banyak di dalam menyusun elegi. Referensi didapatkan dari membaca dan pengalaman hidup. Terkadang orang berfikiran bahwa filsafat itu sulit dan tidak penting untuk dipelajari. Anggapan itu salah, sebab filsafat ada di kehidupan kita dan di dalam diri kita.

    ReplyDelete
  39. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Seorang guru perlu mengerti dan memahami cara membuat elegi terkhusus guru matematika. Hal ini disebabkan, matematika memiliki simbol-simbol dan rumus-rumus yang sangat banyak. Setiap simbol di dalam matematika memiliki makna yanh berbeda-beda. Tugas guru adalah membuat siswa memahami materi yang diberikan. Saya, sangat setuju dengan pendapat Bapak bahwa seorang guru matematika yang hanya memberikan rumus kepada siswanya adalah tindakan yanh salah. Seoranh guru harus bisa menuntun siswa memahami rumus dengan cara menuntun siswa di dalam menemukan suatu rumus. Seperti yang di ajarkam dalil phytagoras. Di dalam mendapatkan rumus perlu memperhatikan langkah-langkahnya. Oleh karena itu, guru matematika harus memetingksn prosesnya jangan hasilnya. Di dalam menentukan proses penemuan harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Oleh karena itu, penting bagi kita yang menjalani kuliah di pendidikan matematika belajar elegi dan filsafat. Filsafat mengajarkam kita bahwa obyek tidak akan menggapai subyek maka guru perlu memahami pemikiran siswa dan mengkomunikasikan dengan baik.

    ReplyDelete
  40. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    elegi-elegi yang bapak tuliskan disini terkadang dapat dengan mudah saya pahami dan terkadang juga kebalikannya, butuh berulang kali membaca baru paham. namun saya sangat mengapresiasi bapak dalam mengajarkan filsafat kepada kami yang memperlihatkan secara langsung kegunaan belajar filsafat yang dekat dengan kehidupan kita. saya menyukai analogi yang dmuat dalam percakapan antar beberapa tokoh. sebenar-benarnya guru yang baik adalah yang mampu membelajarkan siswanya pun pelajaran tersulit sekalipun. usaha bapak untuk mnegmas filsafat sebagai sesuatu hal yang mudah dipahami adalah hal yang patut ditiru bagi saya sebagai calon guru. terimakasih banyak pak.

    ReplyDelete