Sep 20, 2013

Elegi Wawancara Orang Tua Berambut Putih




Oleh Marsigit

Wartawan:
Apa yang engkau maksud elegi?

Orang tua berambut putih:
Elegi itu adalah nyanyian susah

Wartawan:
Kenapa engkau gunakan elegi sebagai judul setiap karangan bebasmu?

Orang tua berambut putih:
Untuk menggambarkan betapa susahnya memahami isi karyaku itu.

Wartawan:
Kenapa engkau buat elegi-elegi?

Orang tua berambut putih:
Elegi adalah salah satu cara yang aku gunakan untuk mengkomunikasikan filsafat tanpa menyebut-sebut filsafat.

Wartawan:
Apa maksud tanpa menyebut-sebut filsafat?

Orang tua berambut putih:
Biasanya orang berpendapat filsafat itu sulit. Banyak juga orang yang berpendapat bahwa filsafat itu tak bermanfaat atau bahkan sesat.

Wartawan:
Lantas, kalau memang demikian, lalu kenapa?

Orang tua berambut putih:
Justeru itulah, melalui elegi-elegi aku ingin menunjukkan bahwa tidaklah demikian. Filsafat itu sangat dekat dan dekat sekali dengan kita. Bahkan aku dapat katakan bahwa filsafat itu adalah diri kita. melalui elegi itu aku juga berusaha menunjukkan bahwa kajian filsafat itu banyak manfaatnya dan langsung bersentuhan dengan kehidupan manusia.

Wartawan:
Lalu apa yang dimaksud dengan tanpa menyebut-sebut filsafat?

Orang tua berambut putih:
Tantangan bagi orang yang berfilsafat adalah bagaimana menjelaskan filsafat itu dengan bahasa yang paling mudah dipahami. Sedangkan kata filsafat itu sendiri merupakan istilah yang sulit dipahami.

Wartawan:
Bagaimana awalnya engkau membuat elegi.

Orang tua berambut putih:
Elegi itu muncul sebagai kebutuhan. Aku merasa perlu mengembangkan komunikasi filsafat dalam bentuk yang netral, tidak menyuruh, tidak memaksa, lebih bersifat empati tetapi tetap memuat tesis-tesis filsafat.

Wartawan:
Apa referensi yang engkau gunakan untuk membuat elegi?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa referensi itu ada banyak ragamnya. Sumber pertama yang langsung dari pelakunya, itu disebut sumber primer (pertama). Jika sumber itu merupakan penuturan dari orang lain, maka sumber tersebut disebut sumber seconder (kedua). Sedangkan elegi-elegi ini aku susun berdasarkan refleksi pengalamanku. Balam elegi-elegi ini, sumber pertama dan kedua adalah sebagai inspirasi saja. Sedangkan yang paling pokok dan paling banyak adalah refleksi
pengalaman saya setelah membaca filsafat dan mengalami kehidupan langsung.

Wartawan:
Metode apa yang anda gunakan untuk menyusun elegi?

Orang tua berambut putih:
Untuk menyususun elegi ini, aku menggunakan beberapa peralatan meliputi: bahasa analog, reduksi atau penyederhanaan, kelengkapan, pengandaian, personifikasi, pengembangan pola, korespondensi (isomorphisma), teleologi, phenomenologi, induksi, deduksi, berpikir kritis, membuat pertanyaan-pertanyaan, membuat figur orang tua berambut putih, komunikasi,
menterjemahkan dan diterjemahkan.

Wartawan:
Siapakah orang tua berambut putih.

Orang tua berambut putih:
Orang tua berambut putih adalah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu berasal dari pertanyaan-pertanyaan, jawaban-jawaban, sampai batas pikiranmu. Maka orang tua berambut putih itu dapat berupa pertanyaan-pertanyaan, tesis-tesis, anti-tesis, sintesis, dan semuanya yang tergolong olah pikir. Jadi orang tua berambut putih itu juga bisa berarti filsafat. Jika dia diartikan sebagai sipembawa pesan filsafat, bolehlah, khusus dalam elegi ini, jika engkau artikan bahwa elegi itu adalah dosen filsafat, setidak-tidaknya orang tua berambut putih itu adalah pikiranku, yaitu pikiran seorang Marsigit.

Wartawan:
Bagaimana seseuatu elegi itu muncul?

Orang tua berambut putih:
Sekali lagi aku katakan bahwa elegi itu muncul karena kebutuhan. Ketika aku melihat situasi lingkungan tertentu dimana saya merasa perlu mengungkapkannya maka aku buatlah elegi.

Wartawan:
Kenapa antara beberapa elegi ada yang terkesan kontradiksi?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa hidup itu kontradiksi. Hakekat berubah dan hakekat diam itu kelihatannya kontradiksi. Tetapi keduanya itu ada. Maka aku mengkhawatirkan jika ada seseorang hanya berhenti sampai hakekat perubahan saja, karena hal yang demikian berarti dia hanya berpikir parsial.

Wartawan:
Kenapa kuliah filsafat pendidikan matematika, kelihatannya lebih banyak filsafatnya, lalu apa hubungan antara filsafat dan filsafat matematika?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa filsafat itu dapat ditaruh di depan apapun. Maka kita punya filsafat matematika, filsafat pendidikan, filsafat seni, filsafat negara, filsafat umum, filsafat alam, ..dst. Apapun filsafatnya, maka filsafat itu selalu mempunyai 3 jalur utama yaitu ontologi (ilmu hakekat), epistemologi (ilmu cara), dan aksiologi (etik dan estetika). Hal yang paling berat bagi orang yang ingin mempelajari filsafat adalah pada bagian depan, yaitu ada filsafat umum. Jika ini sudah dipahami, maka untuk mempelajari filsafat-filsafat yang lain, misalnya filsafat pendidikan matematika, kita tinggal tarik analogi-analogi dan benang merahnya.

Wartawan:
Apakah akan ada elegi-elgi tentang matematika atau pendidikan matematika.

Orang tua berambut putih:
Tentu bisa saja hal demikian itu dibuat oleh para mahasiswa untuk latihan.

Wartawan:
Apa sebetulnya tujuan utama atau visi dibuatnya elegi.

Orang tua berambut putih:
Elegi dibuat sebagai sarana berlatih memberbincangkan semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka mahasiswa matematika itu perlu kemampuan memperbincangkan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada. Sebagai seorang guru, maka perlu mempunyai keterampilan memperbincangkan semua yang ada dan yang mungkin ada.

Wartawan:
Apa yang dimaksud sebagai memperbincangkan.

Orang tua berambut putih:
Bukan subyek yang bicara, bukan dosen yang bicara, bukan guru yang bicara. Jika mereka itu yang bicara, maka bicaranya bersifat otoriter, merayu, membujuk atau memaksa para siswa untuk percaya. Tetapi yang bicara adalah para obyek, para mahasiswa dan pada siswa serta semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka sebetulnya yang ada dan yang mungkin ada itu berhak bicara. Jika anda telah mampu memperbincangkan mereka maka kemampuanmu itu mempunyai dimensi setingkat lebih tinggi.

Wartawan:
Apa yang engkau maksud dengan yang ada dan yang mungkin ada?

Orang tua berambut putih:
Yang ada dan yang mungkin ada itu adalah obyek kajian filsafat.

Wartawan:
Apakah engkau akan terus membuat elegi?

Orang tua berambut putih:
Belum tahu, karena elegi merupakan kebutuhan.

Apa sisi kelemahan elegi:
Satu-satunya kelemahan atau sisi kekurangan elegi adalah jika dia digunakan tidak sesuai ruang dan waktunya.

Wartawan:
Apa yang dimaksud digunakan tidak sesuai ruang dan waktunya?

Orang tua berambut putih:
Elegi itu hanya untuk sarana berpikir filsafat. Itu saja hanya salah satu. Jadi porsinya memang perlu dibatasi. Dia juga bukan suatu topik pembelajaran. Jadi elegi itu tidak cocok untuk digunakan pada pembelajaran disekolah. Tetapi substansinya itulah yang di ambil.

Wartawan:
Apa yang dimaksud substansi?

Orang tua berambut putih:
Seorang guru matematika hendaknya tidak hanya hapal rumus. Jika seorang guru matematika mendidik siswa dengan hanya menghapal rumus, itu namanya mitos. Maka guru seharusnya mengetahui apa makna dibalik dalil Pythagoras. Maka guru juga berusaha agar siswanya mengetahui apa makna dibalik dalil Pythagoras. Begitu saja maksudnya.

Wartawan:
Apa beda mitos dan patung filsafat? Apa beda logos dan orang tua berambut putih?

Orang tua berambut putih:
Mitos adalah patung filsafat. Logos adalah orang tua berambut putih.

Wartawan:
Mengapa sering banyak cerita dalam elegi selalu berakhir kepada hati atau Tuhan?

Orang tua berambut putih:
Filsafat itu tergantung orangnya. Dia bisa berangkat dari mana saja, melalui mana saja, dan berhenti di mana saja dan tentu kapan saja. Elegi-elgi ini setidaknya menggambarkan keadaan diriku atau filsafatku.

Wartawan:
Bagaimana peran para filsof?

Orang tua berambut putih:
Filsafat adalah pikiran para filsuf. Jadi tiadalah artinya kita bicara filsafat jika kita tidak membicarakan pikiran para filsufnya.

Wartawan:
Tetapi kenapa dalam elegi ini jarang muncul pemikiran para filsuf?

Orang tua berambut putih:
Pemikiran mereka tersembunyi atau muncul secara implisit.

Wartawan:
Terimakasih

Orang tua berambut putih:
Terimakasih kembali.

35 comments:

  1. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Objek kajian filsafat meliputi yang ada dan mungkin ada, berkaitan dengan olah pikir. Bagi sebagaian atau bahkan kebanyakan orang awam filsafat sulit untuk dipahami, rumit, membingungkan, atau bahkan menyesatkan. Elegi ini muncul sebagai sarana untuk meluruskan anggapan salah tersebut, bahwa sebenarnya filsafat itu sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan seseorang sebenarnya dapat berfilsafat kapan dan dimanapun. Elegi dibuat untuk menyederhanakan ilmu filsafat melalui bahasa analog, sehingga dapat lebih mudah diterima dan dipahami. Bagian paling penting dari elegi, sebenarnya bukan elegi itu sendiri, melainkan substansi di dalamnya. Elegi ini juga berfungsi sebagai sarana bagi siapa saja untuk dapat berbicara, mengemukakan pikiran kritis dan persepsinya terhadap kehidupan.

    ReplyDelete
  2. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi – elegi yang terdapat didalam blog ini merupakan cara yang dilakukan untuk memperkenalkan apa itu filsafat. Melalui membaca elegi ini kita akan mendapatkan banyak pengalaman tentang berbagai macam hal yang berhubungan dengan filsafat. Membaca elegi ini membantu menaikkan dimensi kita dalam berfilsafat. Mungkin tanpa disadari, seperti apa yang telah sering dikatakan oleh Prof Marsigit setelah membaca filsafat kita akan berpikir lebih cerdas

    ReplyDelete
  3. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B
    Elegi seolah-olah membongkar kesan filsafat yang cenderung rumit, Elegi memadamkan nafsu dogmatis para filsuf, elegi melebur filsafat menjadi pikiran universal, elegi menumbuhkan filsafat menjadi daun-daun hijau yang segar, elegi wujud keadilan dalam menggunakan hati dan pikiran. Terimakasih pak, untuk elegi-elegi yang sangat inspiratif ini.

    ReplyDelete
  4. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Terimakasih Prof. Marsigit telah membuat elegi-elegi dalam blog ini. Elegi-elegi yang dibuat Prof. Marsigit mempermudah saya untuk melihat kegunaan filsafat dalam kehidupan sehari-hari dan dalam pembelajaran matematika. Elegi-elegi yang dibuat Prof. Marsigit banyak menggambarkan kehidupan atau kenyataan yang ada meskipun saya belum dapat memahami elegi-elegi tersebut secara keseluruhan. Seperti elegi Elegi Permintaan si Murid Cerdas kepada Guru Matematika. Elegi tersebut banyak menyadarkan saya akan apa yang sebenarnya sebagai seorang murid saya rasakan tetapi ketika saya memposisikan diri menjadi guru sering terabaikan. Elegi tersebut hanya satu contoh dari banyak elegi yang saya rasakan manfaatnya.

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Banyak yang beranggapan bahwa filsafat itu sulit dan cenderung ke arah yang menyesatkan. Hal itu ternyata tidak benar karena setelah saya belajar filsafat diperkuliahan ini. Filsafat tidak sulit tapi untuk belajar filsafat diperlukan pikiran dan hati yang ikhlas dan mau menerima ilmu serta mau banyak membaca serta mebuat pertanyaan-pertanyaan. Saat pikiran kita tidak mampu lagi menjangkau apa yang akn kita pikirkan maka hal itu dikembalikan ke hati.

    ReplyDelete
  7. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B


    Filsafat dipandang sebagai ilmu yang sulit dipahami. Maka pembelajaran filsafat disampaikan dengan trik-trik yang membuat orang mudah memahami hal yang susah, atau mempermudah hal yang susah. Dengan demikian keberadaan filsafat dapat lebih diterima karena sejatinya filsafat itu sangat dekat dalam kehidupan, filsafat itu adalah dirimu sendiri. Melalui pembelajaran filsafat kita diarahkan untuk dapat merefleksikan diri dalam kehidupan sehingga kita semakin haus ilmu pengetahuan. Di samping itu, melalui filsafat kita sebagai calon pendidik dapat menghindari hal-hal yang menyebabkan siswa terjebak dalam mitos karena filsafat mengarahkan kita memahami semua yang ada yang mungkin ada pada ruang dan waktu yang tepat.

    ReplyDelete
  8. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Untuk memahami elegi maka landasan utamanya adalah spiritual, agar ketika kita ingin mereduksi ataupun mengembangkan elegi tetap mempunyai batasan-batasan dalam mentafsirkan elegi itu dan pemikiran kita tidak lari kemana-mana. Jangan sampai setelah kita memahami elegi secara brutal maka kita semakin jauh dari Allah SWT. Tetunya kita tidak ingin hal itu terjadi. Oleh Karena itu tetap harus dalam kerangka spiritual dalam memahami elegi. Sekian dan terima kasih.

    ReplyDelete
  9. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Filsafat dekat dengan diri dan kehidupan. Maka dari itu, berfilsafat ialah memikirkan dan memahami pikiran dalam diri dan kehidupan lingkungan yang ada dan mungkin ada dalam ruang dan waktu. Berfilsafat mengajarkan kita berfikir secara intensif dan ekstensif dengan menggunakan berbagai sumber belajar yang dalam konteks Filsafat ilmu pengetahuan baik dari buku, Jurnal, Teknologi maupun pembelajaran itu sendiri yang ada keterkaitan dengan pemikiran para filsuf. Salah satu sumber belajar dalam berfilsafat yaitu memahami, memberikan pendapat dan mempelajari elegi.

    ReplyDelete
  10. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Elegi-elegi yang telah kami baca semakin menyadarkan kami bahwa dengan filsafat akan menggiring seseorang yang menguasainya dengan baik menjadi sesorang yang bijaksana. Jika elegi ialah pengetahuan, maka secara filsafati Pembuat elegi ialah pengetahuan. Empirisme mengajarkan kepada kita untuk belajar berdasarkan kenyataan dan mengandalkan kebenaran yang telah teruji dengan kenyataan yang tidak mengandung kontradiksi. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  11. Seperti yang sering ditekanan oleh Prof. Marsigit, belajar filsafat diawali dengan mempelajari objeknya yakni segala yang ada dan yang mungkin ada, adapun cara memandangnya ialah dapat dipilih apakah akan dipandang dari segi material, normatif, formal, maupun spiritual. Adapun sebenar-benar filsafat ialah mencoba menghubungkannya dengan spiritualism. Dengan menyelami spiritualisme ini, seseorang akan belajar menjadi seorang yang bijaksana, matang dalam pikirnya serta dekat dengan pencipta. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  12. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A
    Dalam hidup, landasan atau pedomannya adalah ajaran-ajaran agama. Kita harus meletakkan spiritual di tempat paling tinggi. Dalam berfilsafat pun begitu, spiritual harus diletakkan di tempat yang paling tinggi. Elegi pada postingan kali ini mengajarkan bahwa ketika hendak memahami elegi-elegi dalam blog ini, kita harus membuka hati dan pikiran. Ikhlaslah dalam melakukannya agar kita dapat memahaminya dalam batas-batas yang seharusnya.

    ReplyDelete
  13. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Menarik memang elegi ini, menyampaikan filsafat dengan tidak menyebut filsafat, tetapi orang tua berambut putih. Hal ini bertujuan bahwa filsafat adalah cerita kehidupan sehari-hari, sehari-hari kita berfilsafat, filsafat bahasa, filsafat ekonomi, dsb. Dengan membumikan filsafat yang ada dilangit atau pikiran makan akan semakin memudahkan orang memahami filsafat.

    ReplyDelete
  14. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Jikalau menengok pada tingkatan hidup, di atas filsafat ini masih ada spiritual. Spiritual adalah tingkatan tinggi karena mengandalakan metakognisi, metaanalisis, metadimensi. Kenapa kita lebih tenang ketika berdoa, spiritual yang dapat menjelaskannya. Filsafat substansinya sebagai jalan untuk memahaminya, mencari pola, aturan, kemudian di sintesis menjadi tesis-tesis.

    ReplyDelete
  15. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Elegi-elegi yang di tuliskan prof Marsigit bertujuan menghubungkan filsafat dengan subjek yang sedang mempelajari filsafat. Seperti yang Prof. sampaikan bahwa filsafat itu adalah yang mungkin ada dan yang ada, bahkan Prof. mengatakan filsafat merupakan diri kita sendiri. Pengetahuan sendiri adalah filsafat, kita belajar pengetahuan bisa dari pengalaman, orang lain atau literatur. Pengetahuan yang kita peroleh bertujuan agar kita dalam berkehidupan mampu menerapkan nilai-nilai positif. Di sinilah sandaran kita nilai paling tinggi dan benar yaitu nilai spiritual atau Allah SWT. Hal ini bertujuan agar pengetahuan kita tidak melenceng dan dikuasai oleh syaitan yang akan membawa nilai-nilai negatif pada manusia.

    ReplyDelete
  16. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Dari dialog pada elegi di atas, saya berpikir bahwa yang disebut sebagai orangtua berambut putih di sini ialah Pak Marsigit. Yaitu yang menciptakan elegi-elegi di dalam artikel blog ini. Elegi tersebut sesungguhnya merupakan hasil pemikiran dan pengalaman Pak Marsigit untuk mengajarkan seperti apa dan bagaimana berfilsafat itu. Pada elegi filsafat dijelskan melalui cerita-cerita atau dialog sehari-hari dari tokoh yang diumpaman atau disamarkan namanya. Hal tersebut bertujuan agar pembaca dapat merasakan bahwa sesungguhnya filsafat itu ada di sekitar kita dan merupaan bagian dari diri dan pikiran kita sendiri. Menurut saya orangtua berambut putih memberikan nasehat atau kesimpulan dari setiap elegi yang ada di artikel blog ini.

    ReplyDelete
  17. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Membaca elegi-elegi ini kita akan tahu pemikiran dan pendapat para filosof. Selain itu juga dapat membantu kita dalam mempelajari filsafat yang mungkin dianggap sulit bagi sebagian orang elegi merupakan salah satu cara untuk mengkomunikasikan filsafat tanpa menyebut-sebut filsafat. Bahkan dapat kita katakan bahwasannya filsafat itu adalah diri kita. Elegi adalah lagu yang sulit. Elegi adalah salah satu cara yang digunakan untuk berkomunikasi filsafat tanpa mengatakan apa-apa kata filsafat karena ketika beberapa orang berpikir. Elegi yang ada mampu mmbuat kita berpikir dan secara mengalir itu juga membuat kita belajar berfilsafat yaitu dengan memikirkan yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  18. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Saat awal-awal membaca elegi, saya tidak mengerti kalau di dalam elegi terdapat pikiran para filsuf serta ilmu filsafat teoritis, karena membaca elegi seperti membaca suatu cerita tapi sulit sekali untuk memahaminya. Namun, suatu ketika saya membaca buku mengenai filsafat, dan sadarlah saya bahwa di dalam elegi ini banyak terdapat pikiran para filsuf dan teori filsafat. Sadarlah saya, bahwa saat membaca elegi saya sedang mempelajari teori filsafat. Saya menyadari bahwa selama ini tidak mengetahui apa yang saya ketahui. Dengan menggunakan elegi ini, kami mempelajari filsafat secara tidak langsung, membangun filsafat kami sendiri, bukan diberikan.

    ReplyDelete
  19. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dari elegi ini saya mengetahui bahwa filasafat merupakan pikiran para filsuh sehingga orang tua berambut putih ini ingin menyampaikan pikiran para filsuf tersebut dengan cara yang mudah dimengerti dan dipahami oleh yang lain. Elegi ini juga digunakan untuk menggambarkan beapa susahnya memahami filsafat yang telah disajika oleh orang tua berambut putih. Namun hal ini juga diperlukan untuk mengomunikasikan filsafat tanpa menyebunyebur filsafat.

    ReplyDelete
  20. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  21. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Filsafat itu dekat dan berinteraksi langsung dengan diri manusia, terjadi dimanapun dan kapanku, itu tergambar dari elegi-elegi yang Pak Marsigit tayangkan di blog ini. Melalui membaca elegi ini kita menjadi merefleksikan bagaimana diri kita selama ini sebenarnya, dan juga kita menjadi sadar terhadap fenomena sesungguhnya yang terjadi di kenyataan bukan hanya sebatas di pikiran saja, serta menjadikan orang yang rendah hati, tidak sombong akan keilmuannya. Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  22. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B 2017

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Wawancar yang ditunggu-tunggu, karena orang tua berambut putih biasanya hanya sering hadir di akhir percakapan. Pertanyaan saya akhirnya terjawab, mengapa pemikiran para filsuf jarang ditampakkan pada kumpulan artikel di blog ini, karena pemikirannya tersampaikan secara implisit. Terima kasih Pak, pembelajaran yang sangat bermakna dan baru ini saya temui. Semoga metode pembelajaran seperti ini dapat memotivasi pendidik generasi bangsa di negeri ini.

    ReplyDelete
  23. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Setelah membaca elegi ini, saya mulai mengerti bahwa elegi merupakan salah satu cara untuk mengkomunikasikan filsafat tanpa menyebut-sebut filsafat. Bahkan dapat kita katakan bahwasannya filsafat itu adalah diri kita sendiri. Dan sebagai seorang calon guru akan berusaha menunjukkan bahwa filsafat berkaitan langsung dengan kehidupan manusia.

    ReplyDelete
  24. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Memang kebanyakan orang menganggap bahwa filsafat itu sulit untuk dipelajari. Tak sedikit juga oarang yang menganggap bahwa filsafat itu ajaran yang menyesatkan. Akan tetapi, seperti yang dijelaskan oleh Bapak Marsigit bahwa pandangan terhadap filsafat itu tergantung dari orang yang mempelajarinya. Filsafat sebenarnya sangat dekat dengan diri kita. Kebanyakan orang yang salah menilai filsafat itu disebabkan oleh kurang mengertinya orang tersebut terhadap filsafat atau salah menempatkan filsafat dalam ruang dan waktunya

    ReplyDelete
  25. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Untuk mengkomunikasikan filsafat kepada kami para mahasiswa yang kebanyakan belum memahami filsafat atau menganggap filsafat itu sulit dan membingungkan, maka diperlukan bahasa yang mudah dipahami. Bahasa yang bisa dibayangkan oleh mahasiswa yang terlihat ringan namun berisi muatan filsafat. Seperti halnya mengajar matematika siswa primary school. Tidak perlu formal mathematics. yang diperlukan yaitu substansi dari matematika bisa sampai dan dipahami oleh para siswa.

    ReplyDelete
  26. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Banyak sekali makna yang terkandung dalam filsafat. Oleh karena itu kita dalam menafsirkannya pun berbeda-beda. Sehingga dalam berfilsafat tetaplah harus selalu disandarkan pada spiritual agar dalam menafsirkan filsafat kita tidak melenceng dari ketetapan-ketetapan-Nya.

    ReplyDelete
  27. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Menurut saya, untuk memahami elegi maka tetaplah landasan utamanya adalah spiritual agar ketika kita ingin mereduksi ataupun mengembangkan elegi tetap mempunyai batasan-batasan dalam mentafsirkan elegi itu dan pemikiran kita tidak lari kemana-mana. Jangan sampai setelah kita memahami elegi kita semakin jauh dari Tuhan. Tetunya kita tidak ingin hal itu terjadi. Oleh Karena itu tetap harus dalam kerangka spiritual dalam memahami elegi.

    ReplyDelete
  28. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi wawancara orang tua berambut putih menjelaskan tentang bagaimana kita mengenal elegi hingga kita mengenal apa itu filsafat. Dengan elegi maka kita akan belajar membaca suatu hal dengan kata-kata yang tidak sederhana, kita diputar-putar dengan kata-kata yang mengandung banyak makna konotasi, dan dalam elegi tersebut berisi pikiran para filsuf, sehingga dengan mempelajari pikiran para filsafat kita berarti sedang belajar filsafat.

    ReplyDelete
  29. Ilania Eka Andari
    17709251050
    s2 pmat c 2017

    Elegi adalah filsafat. Elegi merupakan kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. Manfaat elegi bagi seorang guru adalah untuk memberi makna pada pelajaran kepada siswa. Guru tidak hanya mendidik dan mengajar menggunakan hafalan rumus tetapi juga memberikan makna dibalik setiap rumus-rumus dan tulisan yang ada. Orang tua berambut putih merupakan ilmu pengetahuan yang akan terus muncul dan berkembang sesuai dengan kebutuhan. Maka elegi pun akan terus muncul dan dibuat sesuai kebutuhan.

    ReplyDelete
  30. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    berdasarkan elegi ini saya berpendapat bahwa filsafat adalah sebuah ilmu yang dapat digunakan dan dipelajari oleh siapa saja. Bisa didapat dari sumber primer maupun sekunder. Filsafat mengajarkan nilai kehidupan, jadi ketika kita mempelajari filsafat ilmu atau filsafat matematika kita mendalami filsafat secara umum pun tidak masalah.Karena suatu ilmu memiliki kaitan dengan ilmu yang lain. Melalui elegi-elegi yang dibaca bisa dijadikan sarana dalam berfilsafat karena mungkin saja tidak semua orang dapat menemukan sumber dalam belajar filsafat.

    ReplyDelete
  31. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Seorang guru dalam bidang atau mata pelajaran apapun, termasuk dosen jika hanya menyampaikan materi sesuai dengan yang ia ketahui, bukan yang ia pahami maka hanya akan menjadi mitos. Maka agar ia dapat menjadi logos, ia harus berusaha memahami materi yang akan disampaikan kepada para peserta didiknya. Termasuk bagaimana cara agar peserta didiknya paham dengan apa yang ia sampaikan. Dengan demikian pembelajaran bukan hanya sekedar transfer pengetahuan tetapi lebih mendalam yaitu pemahaman meskipun dalam pembelajaran istilah transfer seharusnya sudah dihapuskan. Melainkan peserta didik mengkonstruk sendiri pemahamannya.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  32. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    elegi merupakan penyampaian filsafat tanpa menyebutkan filsafat, ini merupakan alternatif yag sangat bagus untuk memperkenalkan dan mengajarkan filsafat, karena orang-orang berpendapat bahwa filsafat itu sulit. dengan membaca elegi-elegi di blog ini tanpa disadari secara tidak langsung telah mempelajari banyak sekali ilmu filsafat. filsafat sangat dekat dengan kita karena filsafaf itu sendiri terdapat dalam diri kita.

    ReplyDelete
  33. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Filsafat itu bukan merupakan sebuah bahasan yang akan selesai kita bahas setelah membaca satu atau dua referensi. Banyak referensi yang merupakan pemikiran-pemikiran dari para filsuf yang wajib kita baca dalam rangka menggapai filsafat. Ditambah juga pengalaman-pengalaman kita untuk bersinggungan langsung dengan objek filsafat. Elegi hadir dengan merangkum kesemuanya dengan bahasan yang mudah dipahami. Pemikiran dan pengalaman dari Prof.Marsigit yang dituangkan dalam elegi ini sedikit banyak bisa mendekatkan jarak antara kita dengan filsafat, meskipun kita belum bisa menggapainya.

    ReplyDelete
  34. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Elegi merupakan sebuah sarana untuk dapat belajar filsafat dengan menyenangkan karena dalam elegi, filsafat telah dipadukan dalam kehidupan sehari-hari. Filsafat mengajarkan kepada kita untuk peka terhadap segala sesuatu, sesuatu yang mungkin ada tau tidak ada. Sehingga filsafat menjadi hal yang penting dalam dunia pendidikan.

    ReplyDelete
  35. Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika

    Filsafat harus dipelajari oleh mahasiswa yang mengambil kuliah filsafat pendidikan matematika. Dan cara untuk mempelajarinya adalah dengan membaca elegi bapak. Apakah saya dapat menyimpulkan bahwa filsafat itu adalah membaca pak? Dengan demikian saya sedikit paham bahwa dengan banyak membaca mungkin kita akan menemukan pemikiran-pemikiran baru yang menjadi sumber dari kegelisahan-filsuf-filsuf yang ada di dunia ini.

    ReplyDelete