Sep 20, 2013

Elegi Wawancara Orang Tua Berambut Putih




Oleh Marsigit

Wartawan:
Apa yang engkau maksud elegi?

Orang tua berambut putih:
Elegi itu adalah nyanyian susah

Wartawan:
Kenapa engkau gunakan elegi sebagai judul setiap karangan bebasmu?

Orang tua berambut putih:
Untuk menggambarkan betapa susahnya memahami isi karyaku itu.

Wartawan:
Kenapa engkau buat elegi-elegi?

Orang tua berambut putih:
Elegi adalah salah satu cara yang aku gunakan untuk mengkomunikasikan filsafat tanpa menyebut-sebut filsafat.

Wartawan:
Apa maksud tanpa menyebut-sebut filsafat?

Orang tua berambut putih:
Biasanya orang berpendapat filsafat itu sulit. Banyak juga orang yang berpendapat bahwa filsafat itu tak bermanfaat atau bahkan sesat.

Wartawan:
Lantas, kalau memang demikian, lalu kenapa?

Orang tua berambut putih:
Justeru itulah, melalui elegi-elegi aku ingin menunjukkan bahwa tidaklah demikian. Filsafat itu sangat dekat dan dekat sekali dengan kita. Bahkan aku dapat katakan bahwa filsafat itu adalah diri kita. melalui elegi itu aku juga berusaha menunjukkan bahwa kajian filsafat itu banyak manfaatnya dan langsung bersentuhan dengan kehidupan manusia.

Wartawan:
Lalu apa yang dimaksud dengan tanpa menyebut-sebut filsafat?

Orang tua berambut putih:
Tantangan bagi orang yang berfilsafat adalah bagaimana menjelaskan filsafat itu dengan bahasa yang paling mudah dipahami. Sedangkan kata filsafat itu sendiri merupakan istilah yang sulit dipahami.

Wartawan:
Bagaimana awalnya engkau membuat elegi.

Orang tua berambut putih:
Elegi itu muncul sebagai kebutuhan. Aku merasa perlu mengembangkan komunikasi filsafat dalam bentuk yang netral, tidak menyuruh, tidak memaksa, lebih bersifat empati tetapi tetap memuat tesis-tesis filsafat.

Wartawan:
Apa referensi yang engkau gunakan untuk membuat elegi?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa referensi itu ada banyak ragamnya. Sumber pertama yang langsung dari pelakunya, itu disebut sumber primer (pertama). Jika sumber itu merupakan penuturan dari orang lain, maka sumber tersebut disebut sumber seconder (kedua). Sedangkan elegi-elegi ini aku susun berdasarkan refleksi pengalamanku. Balam elegi-elegi ini, sumber pertama dan kedua adalah sebagai inspirasi saja. Sedangkan yang paling pokok dan paling banyak adalah refleksi
pengalaman saya setelah membaca filsafat dan mengalami kehidupan langsung.

Wartawan:
Metode apa yang anda gunakan untuk menyusun elegi?

Orang tua berambut putih:
Untuk menyususun elegi ini, aku menggunakan beberapa peralatan meliputi: bahasa analog, reduksi atau penyederhanaan, kelengkapan, pengandaian, personifikasi, pengembangan pola, korespondensi (isomorphisma), teleologi, phenomenologi, induksi, deduksi, berpikir kritis, membuat pertanyaan-pertanyaan, membuat figur orang tua berambut putih, komunikasi,
menterjemahkan dan diterjemahkan.

Wartawan:
Siapakah orang tua berambut putih.

Orang tua berambut putih:
Orang tua berambut putih adalah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu berasal dari pertanyaan-pertanyaan, jawaban-jawaban, sampai batas pikiranmu. Maka orang tua berambut putih itu dapat berupa pertanyaan-pertanyaan, tesis-tesis, anti-tesis, sintesis, dan semuanya yang tergolong olah pikir. Jadi orang tua berambut putih itu juga bisa berarti filsafat. Jika dia diartikan sebagai sipembawa pesan filsafat, bolehlah, khusus dalam elegi ini, jika engkau artikan bahwa elegi itu adalah dosen filsafat, setidak-tidaknya orang tua berambut putih itu adalah pikiranku, yaitu pikiran seorang Marsigit.

Wartawan:
Bagaimana seseuatu elegi itu muncul?

Orang tua berambut putih:
Sekali lagi aku katakan bahwa elegi itu muncul karena kebutuhan. Ketika aku melihat situasi lingkungan tertentu dimana saya merasa perlu mengungkapkannya maka aku buatlah elegi.

Wartawan:
Kenapa antara beberapa elegi ada yang terkesan kontradiksi?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa hidup itu kontradiksi. Hakekat berubah dan hakekat diam itu kelihatannya kontradiksi. Tetapi keduanya itu ada. Maka aku mengkhawatirkan jika ada seseorang hanya berhenti sampai hakekat perubahan saja, karena hal yang demikian berarti dia hanya berpikir parsial.

Wartawan:
Kenapa kuliah filsafat pendidikan matematika, kelihatannya lebih banyak filsafatnya, lalu apa hubungan antara filsafat dan filsafat matematika?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa filsafat itu dapat ditaruh di depan apapun. Maka kita punya filsafat matematika, filsafat pendidikan, filsafat seni, filsafat negara, filsafat umum, filsafat alam, ..dst. Apapun filsafatnya, maka filsafat itu selalu mempunyai 3 jalur utama yaitu ontologi (ilmu hakekat), epistemologi (ilmu cara), dan aksiologi (etik dan estetika). Hal yang paling berat bagi orang yang ingin mempelajari filsafat adalah pada bagian depan, yaitu ada filsafat umum. Jika ini sudah dipahami, maka untuk mempelajari filsafat-filsafat yang lain, misalnya filsafat pendidikan matematika, kita tinggal tarik analogi-analogi dan benang merahnya.

Wartawan:
Apakah akan ada elegi-elgi tentang matematika atau pendidikan matematika.

Orang tua berambut putih:
Tentu bisa saja hal demikian itu dibuat oleh para mahasiswa untuk latihan.

Wartawan:
Apa sebetulnya tujuan utama atau visi dibuatnya elegi.

Orang tua berambut putih:
Elegi dibuat sebagai sarana berlatih memberbincangkan semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka mahasiswa matematika itu perlu kemampuan memperbincangkan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada. Sebagai seorang guru, maka perlu mempunyai keterampilan memperbincangkan semua yang ada dan yang mungkin ada.

Wartawan:
Apa yang dimaksud sebagai memperbincangkan.

Orang tua berambut putih:
Bukan subyek yang bicara, bukan dosen yang bicara, bukan guru yang bicara. Jika mereka itu yang bicara, maka bicaranya bersifat otoriter, merayu, membujuk atau memaksa para siswa untuk percaya. Tetapi yang bicara adalah para obyek, para mahasiswa dan pada siswa serta semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka sebetulnya yang ada dan yang mungkin ada itu berhak bicara. Jika anda telah mampu memperbincangkan mereka maka kemampuanmu itu mempunyai dimensi setingkat lebih tinggi.

Wartawan:
Apa yang engkau maksud dengan yang ada dan yang mungkin ada?

Orang tua berambut putih:
Yang ada dan yang mungkin ada itu adalah obyek kajian filsafat.

Wartawan:
Apakah engkau akan terus membuat elegi?

Orang tua berambut putih:
Belum tahu, karena elegi merupakan kebutuhan.

Apa sisi kelemahan elegi:
Satu-satunya kelemahan atau sisi kekurangan elegi adalah jika dia digunakan tidak sesuai ruang dan waktunya.

Wartawan:
Apa yang dimaksud digunakan tidak sesuai ruang dan waktunya?

Orang tua berambut putih:
Elegi itu hanya untuk sarana berpikir filsafat. Itu saja hanya salah satu. Jadi porsinya memang perlu dibatasi. Dia juga bukan suatu topik pembelajaran. Jadi elegi itu tidak cocok untuk digunakan pada pembelajaran disekolah. Tetapi substansinya itulah yang di ambil.

Wartawan:
Apa yang dimaksud substansi?

Orang tua berambut putih:
Seorang guru matematika hendaknya tidak hanya hapal rumus. Jika seorang guru matematika mendidik siswa dengan hanya menghapal rumus, itu namanya mitos. Maka guru seharusnya mengetahui apa makna dibalik dalil Pythagoras. Maka guru juga berusaha agar siswanya mengetahui apa makna dibalik dalil Pythagoras. Begitu saja maksudnya.

Wartawan:
Apa beda mitos dan patung filsafat? Apa beda logos dan orang tua berambut putih?

Orang tua berambut putih:
Mitos adalah patung filsafat. Logos adalah orang tua berambut putih.

Wartawan:
Mengapa sering banyak cerita dalam elegi selalu berakhir kepada hati atau Tuhan?

Orang tua berambut putih:
Filsafat itu tergantung orangnya. Dia bisa berangkat dari mana saja, melalui mana saja, dan berhenti di mana saja dan tentu kapan saja. Elegi-elgi ini setidaknya menggambarkan keadaan diriku atau filsafatku.

Wartawan:
Bagaimana peran para filsof?

Orang tua berambut putih:
Filsafat adalah pikiran para filsuf. Jadi tiadalah artinya kita bicara filsafat jika kita tidak membicarakan pikiran para filsufnya.

Wartawan:
Tetapi kenapa dalam elegi ini jarang muncul pemikiran para filsuf?

Orang tua berambut putih:
Pemikiran mereka tersembunyi atau muncul secara implisit.

Wartawan:
Terimakasih

Orang tua berambut putih:
Terimakasih kembali.

65 comments:

  1. Lana Sugiarti
    16709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Dari elegi ini, saya menjadi tahu tentang apa itu elegi, fungsinya, mengapa dibuat, dan untuk apa tujuannya. Elegi akan memudahkan kita untuk berpikir filsafat. Didalam elegi juga terdapat kisah – kisah dan berbagai perasaan yang muncul. Ada juga yang merupakan pemikiran para filsuf yang dibahasakan dalam kehidupan sehari – hari agar mudah dipahami. Melalui elegi, banyak sekali ilmu yang dapat diambil untuk pelajaran hidup.

    ReplyDelete
  2. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Setelah beberapa kali komen tentang elegi-elegi, ternyata baru sekarang saya menemukan apa itu elegi dan mengapa pada blog ini banyak menggunakan elegi-elegi untuk menjelaskan sesuatu. Dari sini saya mendapatkan pelajaran bahwa elegi merupakan cara yang pas untuk mewujudkan filsafat menjadi suatu hal yang ternyata dekat dengan kita. Elegy membentu kita untuk dapat berpikir secara filsafat. Elegi berusaha untuk menjelaskan filsafat yang sulit dipahami untuk menjadi suatu halyang lebih mudah untuk dipahami. Perlu banyak latihan membanca elegy untuk dapat memahami maksud dibali elegi-elegi yang dibuat oleh Prof. Marsigit ini. sejauh ini saya masih dalam tahap belajar untuk mencoba memahami maksud dari elegi-elegi tersebut.

    ReplyDelete
  3. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Terima kasih Bapak telah menulis cerita ini. Melalui cerita ini saya dapat mengetahui apa itu arti elegi. Sudah sejak awal saya bertanya-tanya ketika membaca blog Bapak. Saya bertanya-tanya mengenai apa itu elegi dan akhirnya terjawablah sudah rasa penasaran saya.

    ReplyDelete
  4. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Elegi ini mengemukakan bahwa ilmu pengetahuan itu berasal dari pertanyaan-pertanyaan, jawaban-jawaban, sampai batas pikiranmu. Maka pengetahuan itu dapat berupa pertanyaan-pertanyaan, tesis-tesis, anti-tesis, sintesis, dan semuanya yang tergolong olah pikir(filsafat). Filsafat ternyata adalah keseharian kita, segala aktivitas adalah berfilsafat. Kadangkala kita merasa filsafat menuju kearah kesesatan karena filsafat selain sebagai olah pikir juga reflektif. Bagi orang yang tidak memiliki landasan spritual yang tinggi maka ia akan tebawa kejurang kegelapan dari filsafat.

    ReplyDelete
  5. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Elegi adalah gambaran dari abstraksi diri kita dan filsafat itu adalah diri kita sendiri. meski filsafat itu sulit, akantetapi dalam hal ini dibuat elegi sebagai gambaran agar mudah dalam memahami filsafat. Alat yang sering dipakai dalam elegi yaitu bahasa analog, reduksi atau penyederhanaan, kelengkapan, pengandaian, personifikasi, pengembangan pola, korespondensi (isomorphisma), teleologi, phenomenologi, induksi, deduksi, berpikir kritis, membuat pertanyaan-pertanyaan, membuat figur orang tua berambut putih, komunikasi, menterjemahkan dan diterjemahkan. Sebagian besar dari elegi ini adalah adalah hasil pengalaman dan selebihnya dari sumber lainnya.

    ReplyDelete
  6. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    memang benar adanya bahwa terkadang filsafat itu susah untuk dipahami, karena mungkin filsafat itu juga termasuk pelajaran yang bersifat abstrak. filsafat juga menduduki tempat yang membutuhkan kemampuan bernalar tingkat tinggi. tapi disini bapak mencoba untuk menjelaskan filsafat yang sebenarnya tanpa harus menggunakan kata-kata filsafatnya. tujuannya tak lain hanyalah agar kita bisa untuk lebih mudah memahami filsafat tersebut.

    ReplyDelete
  7. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Filsafat memang cenderung dianggap sebagai ilmu yang sulit dan berat. Padahal, filsafat begitu dekat dengan kita. Bahkan filsafat dapat dikatakan sebagai gambaran dari diri kita sendiri. Melalui elegi-elegi yang Prof Marsigit tulis ini, saya jadi tahu bahwa kajian filsafat itu bersentuhan langsung dengan kehidupan manusia sehingga begitu banyak manfaat yang bisa dipetik jika kita mempelajarinya.

    ReplyDelete
  8. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Elegi ini menjelaskan makna, fungsi dan tujuan dari elegi-elegi yang sudah kita baca. Elegi dapat diartikan menggunakan tiga aspek dalam filasat yaitu: (1) Ontologi, bahwasanya hakekat dari elegi adalah suatu bentuk komunikasi filsafat tanpa menyebut langsung bahasan filsafatnya agar kita terus berpikir; (2) Epistemologi, bahwasanya elegi menggunakan bahasa analogi, pengandaian, korespondensi, berpikir kritis, membuat pertanyaan-pertanyaan, dialog, menggunakan tokoh-tokoh seperti orang tua bermbut putih dan yang lainnya; (3) Aksiologi, bahwasanya penggunaan elegi tersebut sesuai dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  9. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Elegi adalah nyanyian susah,atau bisa saya katakan adalah sepotong kalimat yang berada di elgi wawancara orang tua berambut putih, yang mana alasanan adanya elegi untuk berfilsafat akan tetapi tidak menyebeutkan filsafat itu sendiri. Karena jika sebut filsafat maka orang akan mengganggap susah. Padahal berfilsafat itu dapat memebuka pemikiran kita menjadi lebih luas lagi. Elegi juga bisa menyatakan sebagai curahan hati. Dengan elegi ini bertujuan untuk mebantu para yang menyembut bahwa filsafat itu susah mengatakan bahwa filsafat itu menyenangkan.

    ReplyDelete
  10. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Benar adanya bahwa filsafat dianggap sulit dalam memahaminya. Saya mengalami sendiri, ketika bercerita dengan teman yang mengenal filsafat lebih dulu, ia menyatakan bahwa filsafat sulit dipahami. Tapi bapak tidak menampakkan bahwa bacaan-bacaan ini sebagai filsafat. Sehingga munculah elegi-elegi dimana melalui elegi, filsafat direpresentasikan menjadi lebih dekat dengan kehidupan, bermakna, dan membuka kesempatan seluas-luasnya bagi setiap orang untuk mulai menerima, menghargai dan menyelami filsafat itu sendiri. Pengalaman adalah guru terbaik. Maka, diangakatnya elegi - elegi dalam blog ini dari pengalaman ialah bentuk pembelajaran bermakna. Awal, proses dan muara berfilsafat ialah para pembelajar sendiri yang menentukan. Dalam hal ini saya sangat setuju dengan muara setiap elegi yang berakhir pada nilai -nilai KeTuhanan.

    ReplyDelete
  11. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Elegi adalah salah satu jalan seseorang berfilsafat tanpa harus merasa kesusahan. Saya sangat setuju dengan muara setiap elegi berakhir pada nilai-nilai keTuhanan. Hal ini sebagaimana dimensi tertinggi dalam hidup manusia adalah spiritual. Elegi sendiri ternyata tercipta jika ada sesuatu yang harus dikomunikasikan melalui filsafat. Jika begitu banyak elegi yang ada, maka begitu banyak pula komunikasi filsafat yang kita butuhkan. Oleh karena itu, untuk memahami elegi tidak bisa instan dan tidak bisa sepotong-sepotong, engkau harus baca baca dan baca disertai ikhlas hati dan ikhlas pikir.

    ReplyDelete
  12. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam elegi ini, hal yang saya peroleh adalah belajar filsafat itu tidak mudah. Padahal filsafat itu berada disekitar kita, dekat dan sangat dekat dengan kita. Hal yang membuat belajar filsafat itu tidak mudah karena filsafat merupakan olah pikir refleksif yang artinya olah pikir dari dalam diri kita sendiri. Olah pikir secara refleksif itu membutuhkan ketenangan dan keikhlasan hati. Jika belajar filsafat dengan sungguh-sungguh akan banyak manfaat yang diperoleh untuk kehidupan sehari-hari kita.

    ReplyDelete
  13. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Blog Prof. Marsigit ini memberikan saya gambaran tentang bagaimana cara lain dalam memahami filsafat. Elegi-elegi yang menganalogikan tentang filsafat menjadi lebih mudah dipahami. Dalam elegi juga ada orang tua berambut putih yang merupakan pengetahuan, yaitu pengetahuan seorang Prof. Marsigit dan kita semua juga berusaha memahaminya. Menurut saya ini adalah cara komunikasi yang baik. Selain itu, puncak dari elegi-elegi ini mengarah ke kuasa Tuhan karena kita semua yakin semuanya adalah dari dan kepada-Nya.

    ReplyDelete
  14. Nurul Faizah
    14301241022
    Pendidikan Matematika A 2014 (S1)

    Setelah membaca elegi ini saya menjadi mengerti bahwa mengomunikasikan filsafat bisa dengan cara lain tanpa menyebut-nyebut filsafat yaitu salah satunya dengan menggunakan bahasan elegi. Karena jika menggunakan kata filsafat orang cenderung akan menganggap berat atau susah dipahami. Setelah menggunakan elegi orang akan lebih tertarik dan lebih mudah dalam memahami karena elegi itu dekat dengan kehidupan dan tentunya dibalik elegi tersebut pasti selalu ada makna atau pelajaran yang dapat kita ambil.

    ReplyDelete
  15. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Tidak semua orang dapat memahami filsafat, baik itu secara bahasanya, pemikirannya maupun ilmu yang terkandung di dalamnya. Begitu juga dengan saya. Butuh belajar dan mencoba berkomentar sebisa saya. Apabila terdapat kesalahan saya meminta masukan dan saran dari Prof dan dari teman – teman yang membaca.

    ReplyDelete
  16. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Dalam elegi ini, saya menemukan banyak hal dan pembenaran atas pertanyaan saya tentang makna sebenarnya dari orangtua berambut putih, logos, mitos, dan istilah-istilah lainnya dalam elegi-elegi yang lain. Ternyata elegi-elegi ini adalah salah satu cara untuk kami para mahasiswa mengontruksi apa itu sebenarnya filsafat. Sehingga Bapak Marsigit telah mempraktekkan apa itu pembelajaran inovatif yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa seperti yang sering disampaikan melalui elegi ataupun kegiatan perkuliahan. Elegi yang dibuat sebagai sarana berlatih memberbincangkan semua yang ada dan yang mungkin ada dan sebagai tempat untuk kita berfilsafat. Semoga kelak saya bisa lebih baik.

    ReplyDelete
  17. Viani kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam elegi ini disebutkan apa itu elegi. Ya, hal dasar yang sebelumnya juga belum saya ketahui. Dari elegi ini Prof Marsigit menyampaikan bahwasanya elegi ini merupakan sarana yang digunakan untuk menyampaikan filsafat dengan bahasa yang lebih mudah dan memperlihatkan betapa dekatnya filsafat dengan kehidupan kita. Benar adanya memang, saya juga salah satu yang berpikir bahwa filsafat itu sulit dipahami. Namun, setelah di semester ini saya membaca elegi elegi ini banyak hal yang saya dapat anbil sebagai pelajaran hidup, baik kehidupan spiritual, kehidupan pribadi, maupun kehidupan pendidikan jika saya menjadi guru kelak.

    ReplyDelete
  18. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Jujur, pada saat saya menemukan postingan ini, saya merasa lega. Akhirnya ada penjelasan tersendiri mengenai siapa itu orang tua berambut putih. Karena hampir setiap elegi yang diposting, pasti ada pendapat atau kesimpulan darinya. Dan ternyata orang tua berambut putih adalah ilmu pengetahuan yang disampaikan secara bijak dan merupakan pemikiran dari penulis. Dan dalam elegi ini juga dijelaskan maksud dari ‘elegi’ yaitu suatu tulisan yang berdasarkan pada apa-apa yang telah dilalui penulis, keadaan atau kondisi-kondisi yang telah diamati penulis, lengkap dengan permasalahannya. Elegi ditulis untuk mengungkapkan hal-hal tersebut dan dipandang melalui kaca mata filsafat. Namun elegi ditulis menggunakan bahasa sehari-hari, konteks dalam elegi juga lebih sering dibentuk sebagai percakapan, sehingga mudah untuk dipahami. Pada akhirnya elegi membantu para pembaca untuk memahami suatu masalah dari segi filsafat yang telah dibahasakan dengan ringan dan mudah dicerna oleh pikiran.

    ReplyDelete
  19. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  20. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Filsafat itu melingkupi hal yang ada dan mungkin ada. Untuk belajar filsafat, digunakan bahasa analog jadi penerimaan yang didapat antara yang satu dengan yang lainnya itu berbeda. Berfilsafat mengajarkan kita cara berfikir yang intensif dan ekstensif dengan menggunakan berbagai sumber belajar. Salah satunya melalui elegi. Jadi untuk belajar filsafat harus banyak membaca dan membaca, serta membuat sistesis dan anti tesisnya.

    ReplyDelete
  21. Elegi digunakan sebagai media untuk mengenalkan filsafat. Dengan elegi, pembaca dapat memahami dan memaknai filsafat tanpa merasa diajari filsafat. Elegi-elegi yang sesuai dengan konteks kehidupan sehari-hari dapat dengan mudah dipahami dan dimengerti. Elegi menjadi tempat menuangkan ide, pikiran, dan perasaan serta pertanyaan. Elegi mengungkapkan keresahan dalam pikiran dan hati.

    ReplyDelete
  22. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Elegi adalah cermin filsafat, dan ketika bercerita tentang filsafat maka kita juga akan bercerita tentang berfikir filosofis. Dan kemudian elegi dibuat tergantung kebutuhan. Dan itu bisa dari fenomena dan aktivitas yang mencerminkan dan mencerminkan, dan ada kutipan bagus. Jika kita lihat sekarang, seseorang juga mengatakan aktivitas mereka dan beberapa kutipan ke media sosial. Ini juga sama, tapi ada yang berbeda. Karena dalam filsafat ada pengetahuan, gunakan bahasa analog, disederhanakan, anggapan, personifikasi, buat pertanyaan, buat figur, dan komunikasi menterjemahkan dan diterjemahkan. Dalam elegi ini, filsafat itu dapat ditaruh di depan apapun. Maka kita punya filsafat matematika, filsafat pendidikan, filsafat seni, filsafat negara, filsafat umum, filsafat alam, ..dst. Apapun filsafatnya, maka filsafat itu selalu mempunyai 3 jalur utama yaitu ontologi (ilmu hakekat), epistemologi (ilmu cara), dan aksiologi (nilai etika dan estetika). Hal yang paling berat bagi orang yang ingin mempelajari filsafat adalah pada bagian depan, yaitu ada filsafat umum. Jika ini sudah dipahami, maka untuk mempelajari filsafat-filsafat yang lain, misalnya filsafat pendidikan matematika, kita tinggal tarik analogi-analogi dan benang merahnya.

    ReplyDelete
  23. Fina Fitri Nurjannah
    14301244005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Terima atas artikel yang bapak berikan mengenai "elegi". Saya berusaha memahami apa yang dimaksud dengan elegi. Dan alhamdulillah setelah membaca penjelasan yang bapak berikan dalam artikel ini saya menjadi sedikit tahu dan paham apa yang dimaksud dengan elegi, tujuan elegi, dan lain-lain yang berkaitan dengan elegi.

    ReplyDelete
  24. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Orang tua berambut putih tidak lain tidak bukan adalah ilmu pengetahuan yang kita miliki. Ilmu pengetahuan ini bisa berasal dari pemikiran kita, misalnya pemikiran yang kontradiktif, munculnya pertanyan, menemukan kebenaran, mengidentifikasi tesis dan anti tesisnya, mensintesiskan tesis dan anti tesisnya, dll. Ilmu pengetahuan tentang filsafat tidak bisa lepas dari pemikiran para filsuf.

    ReplyDelete
  25. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Dalam memperlajari filsafat memang tidak mudah. Maka dalam menyalurkan ilmu mengai filsafat dibutuhkan adanya komunikasi yang tidak kaku, tidak memaksa, tidak menyuruh, netral empati tetapi ada tesis-tesisnya agar filsafat dapat dipahami walaupun harus banyak-banyak membaca agar dapat memahaminya. Sumber referensi dalam memperoleh ilmu dalam filsafat ialah dengan melakukan refleksi terhadap semua pendapat para ahli dan berdasarkan pengalaman nyata yang terjadi. Elegi dibuat berdasarkan kebutuhan agar ilmu filsafat dapat dikembangkan dan diteruskan dengan baik dengan harapan dapat dipahami dengan komunikasi filsafat yang ada.

    ReplyDelete
  26. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Melalui elegi secara tak langsung sebenarnya kita diajak untuk mengenal filsafat secara lebih dalam. Elegi merupakan suatu sarana untuk mengkomunikasikan filsafat dengan cara sederhana agar orang lain jauh lebih mudah memahami. Kebanyakan orang malas atau enggan bila disuruh untuk belajar filsafat karena menganggap bahwa filsafat adalah suatu hal yang tidak penting. Tanpa disadari, filsafat itu sebenarnya sangat dekat dengan diri kita dan kehidupan kita, karena filsafat itu bersentuhan langsung dengan kehidupan. Dengan membaca dan terus membaca elegi semoga kita semua bisa lebih mengenal jauh apa itu filsafat dan mengkorelasikannya dengan kehidupan kita sehari-hari.

    ReplyDelete
  27. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi Wawancara Orang Tua Berambut Putih, ternyata berisi tentang penjelasan apa itu "elegi", yang menjadi pertanyaan sejak pertama kali membaca blog ini. Mengapa ditulis elegi? ternyata alasannya sangat menarik, yaitu untuk menyampaikan filsafat tanpa menyebut-sebut "filsafat". Dan saya setuju dengan yang disampaikan pada elegi di atas bahwa mungkin orang akan menghindari membaca hal-hal yang berbau filsafat, tetapi ketika membaca elegi, orang tidak menyadari bahwa telah membaca filsafat dan menjadi lebih tertarik.

    ReplyDelete
  28. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi Wawancara Orang Berambut Putih ini jelas merupakan percakapan dengan Orang Berambut Putih yang ternyata dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan atau buah pikir dari Prof. Marsigit. Sesuatu yang menarik juga karena dengan adanya subyek Orang Tua Berambut Putih, seperti mendapatkan petuah-petuah, yang sebenarnya adalah menambah ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  29. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Filsafat memang awalnya saya menganggapnya sulit, namun seiring berjalanya waktu dengan mengikuti perkulihan dan membaca beberapa elegi dalam blog pak Prof. Marsigit, anggapan bahwa filsafat itu sulit, sedikit terobati. bahwa filsafat itu ada di dalam lingkup kita. filsafat itu ada dalam diri kita sendiri. kseperti yang diakatk diatas yaitu "Biasanya orang berpendapat filsafat itu sulit. Banyak juga orang yang berpendapat bahwa filsafat itu tak bermanfaat atau bahkan sesat. inilah tujuan dari adanya elegi ini. yang menunjukkan bahwa filsafat itu ada dimana-mana. filsafat itu tidak hanya tentang teori-teori seorang filsuf, namun filsafat itu adalah lingkup hidup kita. kita pun sebagai manusia memiliki proses berpikir, itu juga kita sudah berfilsafat. menghargai ruang dan waktu itu juga sudah menadi bagian dari filsafat.

    ReplyDelete
  30. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidan Matematika I 2014


    menurut saya filsafat merupakan ilmu yang sulit dipelajari, namun sesungguhnya filsafat itu sangat dekat dengan kita, dengan penjelasan Pak marsigit yang secara tersirat itu dapat membuka pikiran saya bahwa sesungguhnya filsafat itu ada dikehidupan kita dan dekat dengan kita. sehingga pikiran saya yang merasa filsafat itu sangat sulit dapat berubah.

    ReplyDelete
  31. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Memang benar, filsafat sulit untuk dipahami jika dipelajari secara langsung. Karena sulitnya, saya sampai mencari buku “berlajar filsafat itu gampang” karya Dr. Fu’ad Farid. Setelah mengikuti elegi-elegi pak Marsigit, saya merasa seperti membaca cerita saja. Memang cara penyampaiannya dengan dialog-dialog. Namun, setelah membaca dialog-dialog tersebut, tanpa disadari kita seperti membaca diri sendiri. Mungkin oleh karena bentuk elegi yang telah disederhanakan oleh pak Marsigit. Sehingga elegi memiliki tafsir yang berbeda-beda jika dibaca oleh orang yang berbeda pula. Sehingga tafsir elegi tersebut adalah mencerminkan orang tersebut. Dengan demikian saya pun tidak dapat menyebut diri saya paham elegi bapak. Karena sebetulnya saya hanya menggapai elegi bapak, namun selalu terjebak dengan bayangan diri sendiri.

    ReplyDelete
  32. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Saat awal-awal membaca elegi, saya tidak mengerti kalau di dalam elegi terdapat pikiran para filsuf serta ilmu filsafat teoritis, karena membaca elegi seperti membaca suatu cerita tapi sulit sekali untuk memahaminya. Namun, suatu ketika saya membaca buku mengenai filsafat, dan sadarlah saya bahwa di dalam elegi ini banyak terdapat pikiran para filsuf dan teori filsafat. Sadarlah saya, bahwa saat membaca elegi saya sedang mempelajari teori filsafat. Saya menyadari bahwa selama ini tidak mengetahui apa yang saya ketahui. Dengan menggunakan elegi ini, kami mempelajari filsafat secara tidak langsung, membangun filsafat kami sendiri, bukan diberikan.

    ReplyDelete
  33. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Pada percakapan tersebut orang tua berambut putih menjelaskan banyak hal. Dengan penjelasan tersebut kita jadi tau makna dari elegi, tujuan dibuatnya elegi, hal-hal yang sering kita temui dalam elegi bahkan dijelaskan pula tentang orang tua berambut putih yang sering muncul dalam elegi. Mahasiswa hendaknya membaca elegi ini terlebih dahulu sebelum membaca elegi yang lain, karena dengan membaca elegi ini akan memudahkan mereka memahami elegi lain.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  34. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Dalam elegi-elegi yang ditulis dalam blog ini selalu berakhi atau bermuara kepada hati atau Tuhan. Saya sangat tertarik dengan hal itu karena bagi saya semua hal memang bermuara pada hal itu. Sejauh pengetahuan saya filsuf tidak banyak yang mengarahkan kearah hati dan Tuhan, tetapi pada tulisan-tulisan dari Prof. Dr. Marsigit, M.A. banyak sekali bahkan hampir semua tulisannya mengarah ke hati atau Tuhan.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  35. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Saya tertarik dengan kalimat dari orang tua berambut putih yang mengatakan bahwa elegi dapat dibuat oleh siapa saja, muncul dari mana saja. Hal itu membuat saya terpikirkan jika saja setiap orang akan membuat elegi dan saya dapat membaca elegi dari masing-masing orang tersebut pasti akan sangat menyenangkan. Dengan begitu saya bisa tau jalan pikiran dan kepribadian masing-masing orang yang membuat elegi tersebut.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  36. Tahtalia
    14301241031
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Kebanyakan orang menganggap bahwa hal-hal yang dibicarakan secara filsafat bukanlah hal yang penting dan hanya membuang waktu serta pikiran saja. Orang awam tidak akan mengerti jika mereka sendiri tidak mau mengerti. Oleh karena itu, disinilah elegi hadir sebagai penghubung dunia manusia awam dengan dunia filsafat.

    ReplyDelete
  37. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi tersebut saya benar-benar baru memahami makna dari elegi yang banyak diposting oleh Pak Marsigit di dalam blog ini. Dengan membaca elegi-elegi tersebut tanpa kita sadari bahwa kita telah belajar tentang filsafat. Filsafat yang tadinya terdengar sulit menjadi lebih menarik untuk pelajari dalam bentuk elegi wawancara.

    ReplyDelete
  38. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya juga tertarik mengenai kapan elegi dapat dibuat. Bahwa orang tua berambut putih yang dapat dianalogikan sebagai ilmu mengatakan bahwa elegi dibuat sesuai kebutuhan yang ada. Hal ini berarti saat suatu hal belum diketahui benar tidaknya, maka elegi dapat dibuat sebagai pencerahan dalam suatu hal yang ingin diketahui.

    ReplyDelete
  39. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Orang tua berambut putih mengatakan bahwa referensi-referensi yang didapat bisa dari mana saja, tetapi yang paling pokok adalah pengalaman diri sendiri. Ini menandakan bahwa pengalaman yang dilalui atau dialami oleh seorang manusia dalam menjalani kehidupan akan sangat berharga bagi keberlangsungan hidupnya secara langsung maupun tidak langsung.

    ReplyDelete
  40. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Percakapan di atas membahas apa itu elegi, dimana elegi ini sangat erat kaitannya dalam ranah filsafat, memang dalam memahami filsafat itu sangat sulit dan multi tafsir namun saya akan terus mencoba mengarahkan persepsi saya sesuai dengan gagasan penulis. dengan adanya elegi yang dishare oleh Pak Prof. Marsigit ini membuka mata saya maupun pandangan saya bahwa filsafat sangat menarik.

    ReplyDelete
  41. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Hakekatnya manusia itu harus mempunyai rasa ingin tahu yang besar sehingga manusia selalu bertanya-tanya atas segala sesuatu yang terjadi dan berpikir dengan sifat kritisnya itu. Sehingga dalam berfilsafatpun begitu, dengan memaknai sesuatu akan mendapatkan pemahaman yang lebih dalam. Memang tujuan berfilsafat adalah menuju pada dimensi yang lebih tinggi sehingga otak dapat menerjemakan dunia ini.

    ReplyDelete
  42. Sefti Lailatifah
    14301241040
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Elegi dibuat tidak semata-mata tanpa tujuan. Tetapi elegi dibuat dengan tujuan dan fungsi tertentu yaitu agar memudahkan kami dalam memahami apa itu filsafat.

    ReplyDelete
  43. Sefti Lailatifah
    14301241040
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Filsafat merupakan sesuatu yang sangat dekat dengan kita bahkan ada pada diri kita. Oleh karenanya elegi-elegi tersebut dibuat sedemikian rupa dengan perbincangan-perbincangan yang terkait dengan kehidupan kita sehari-hari yang melekat pada kita.

    ReplyDelete
  44. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Suatu hal yang berat dalam maksud sering dianggap sulit maka bisa disampaikan dengan cara tersirat, dan tidak harus secara tersurat yang dimaksud. Pengandaian sesuatu dengan tujuan menyampaika suatu pesan bisa membuat orang nyaman membacanya dan tidak merasa berat untuk membaca.

    ReplyDelete
  45. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Filsafat banyak yang mengatakan sulit dan sangat berat untuk dipahami. Kadang juga ada yang berpendapat bahma orang yang berfilsafat menjadi lebih abstrak pikirannya. Akan tetapi melalui penyampaian filsafat yang tidak disebut filsafat dalam elegi ini malah kita bisa mengetahui, memahaminya bahwa ternyata filsafat itu erat dengan yang ada di sekeliling kita, di kehidupan kita.

    ReplyDelete
  46. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya sendiri malah tertarik membaca-baca elegi yang disampaikan oleh Prof. Marsigit. Awalnya saya tidak sadar bahwa elegi ini merupakan filsafat yang tersembunyi. Saya mengira bahwa elegi-elegi ini adalah cerita keseharian kita akan tetapi dibuat dalam bentuk cerita fiktif. Ternyata setelah banyak membaca saya jadi paham banyak pesan tersembunyi di dalam setiap elegi.

    ReplyDelete
  47. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi adalah sarana seorang filsuf mengenalkan filsafat tanpa kata filsafat didalamnya, dengan kalimat yang mudah dipahami. Sehingga orang yang masih beranggapan bahwa filsafat adalah suatu hal yang abstrak dan tidak dapat diraih ternyata justru berada di sekitar kita. Dengan banyak membaca elegi hasil pemikiran pak Prof, kita akan semakin paham mengenai makna segala hal yang ada di sekitar kita

    ReplyDelete
  48. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Banyak elegi yang berisi hal yang perlu beberapa kali membacanya agar kita memahaminya. Ini adalah salah satu tingkatan berpikit kita agar lebih dan lebih dalam. Pembiasaan memahami bahasa yang lebih tinggi maka akan juga menaikkan level pengetahuan kita. Dengan berfilsafat kita bisa menaikkan dimensi kita dan memahami apa yang ada dalam tulisan-tulisan berdimensi tinggi.

    ReplyDelete
  49. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi adalah suatu kebutuhan, dapat diciptakan di suatu kondisi atau situasi yang sesuai. Untuk menyusun suatu elegi dibutuhkan banyak metode, yang mana seorang filsuf perlu menguasainya. Semakin elegi tersusun rapi, akan lebih mudah pula orang lain dalam memahami filsafat didalamnya.

    ReplyDelete
  50. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  51. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi diatas kita dapat mengetahui apa itu elegi, tujuan ditulisnya elegi, objek penulisan elegi, dan bagaimana elegi berperan dalam membuka pikiran orang yang membacanya, sehingga dibutuhkan kejernihan pikiran dalam memahami suatu elegi, tentu dalam konteks ruang dan waktu yang tepat

    ReplyDelete
  52. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari wawancara dengan orang tua berambut putih tentang elegi, elegi itu disusun karena kebutuhan. Dengan elegi, penulis berusaha untuk mengenalkan dengan bahasa yang lebih sederhana seputar filsafat. Untuk memberitahu pembaca bahwa filsafat itu dekat dengan kita, dan bermanfaat. Sumber yang digunakan penulis itu pun didominasi oleh pengalamannya berfilsafat. Elegi itu tempat memperbincangkan sesuatu yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  53. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Filsafat membicarakan yang ada dan yang mungkin ada. Mempelajari filsafat tidak mudah sehingga perlu sarana supaya mudah memahaminya, antara lain dengan adanya elegi-elegi. Elegi bukan merupakan topic pembelajaran, sehingga tidak cocok diterapkan di sekolah. Dan hanya substansinya yang diambil, misalkan seorang guru matematika tidak hanya mampu menghafal rumus tetapi harus tau maknanya dan mengajarkan kepada muridnya.

    ReplyDelete
  54. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Terimakasih Pak telah menjelaskan apa itu elegi, sebelumnya saya bertanya-tanya apakah elegi itu nyanyian atau apa.

    ReplyDelete
  55. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Dari elegi-elegi yang Bapak sampaikan, saya merasa sangat cocok dengan cara penyampaian yang Bapak berikan. Saya tertarik saat membaca dengan dialog.

    ReplyDelete
  56. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Setiap elegi yang Bapak berikan sangat mengandung makna yang dalam, dan seperti hanya menyampaikan tanpa mengatakan secara langsung bahwa sesuatu yang akan disampaikan itu harus dilakukan.

    ReplyDelete
  57. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Saya baru tahu siapa itu orang tua berambut putih, awalnya saya menduga bahwa itu semacam ilmu, ternyata merupakan pemikiran dari Pak Marsigit.

    ReplyDelete
  58. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Sangat menarik pemaparan filsafat Bapak dengan menggunakan Elegi. Dnegan menggunakan Elegi saya lebih mudah memahami apa yang Bapak sampaikan.

    ReplyDelete
  59. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Dalam kegiatan matematika perlu adanya interaksi dan sosialisasi sehingga perlu adanya kerjasama dan ketergantungan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

    ReplyDelete
  60. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Dengan memanfaatkan elegi adalah salah satu cara dalam mengenalkan filsafat kepada kita dengan menggunakan bahasa yang lebih sederhana. Dengan begitu diharapkan kita dapat mudah memahami filsafat tersebut dan mengetahui bahwa sesungguhnya filsafat itu dekat dengan kita.

    ReplyDelete
  61. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya selalu berfikiran bahwa mempelajari filsafat sangatlah sulit. Namun bapak memberikan sedikit pencerahan dengan elegi-elegi ini tanpa menekankan unsur filsafat secara gambling. Dengan memahami elegi yang ada, sama saja kita telah mempelajari beberapa bagian dari filsafat.

    ReplyDelete
  62. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Banyak yang berfikir bahwa filsafat itu sulit untuk dimengerti dan cenderung ke arah yang menyesatkan. Hal itu tidak benar adanya karena setelah mempelajari filsafat dalam perkuliahan ini. Filsafat tidak sesulit yang dibayangkan, namun untuk belajar filsafat diperlukan pikiran dan hati yang ikhlas dan mau menerima ilmu. Selain itu juga harus banyak membaca serta mebuat pertanyaan-pertanyaan. Karena sebenarnya dalam berfilsafat sangat erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  63. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi sangat erat kaitannya dengan filsafat. Elegi yang terbatas pada ruang dan waktu sebagai bentuk pikiran kita dalam memandang sesuatu hal menyebabkan elegi hanya dapat digunakan sebagai sarana berpikir filsafat. Kesulitan pemahaman mengenai filsafat sangat dirasakan hal ini karena elegi-elegi yang muncul dalam pikiran kita belum mampu menembus batas ruang dan waktu filsafat. Filsafat sebagai bentuk dari bahasa para filsuf yang sangat tinggi juga menyebabkan kita sulit menembus batas-batasnya.

    ReplyDelete
  64. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Filsafat itu sangat dekat dengan diri kita dan kehidupan kita, karena filsafat itu bersentuhan langsung dengan kehidupan kita. Akan tetapi tak dapat dipungkiri bahwa filsafat itu sulit untuk dipahami. Melalui elegi-elegi dalam postingan Bapak ini, begitu besar manfaatnya yang kita peroleh. Untuk dapat memahami lebih mendalam terkait dengan filsafat, haruslah dengan niat dan ikhlas hati maupun pikiran , membaca setiap elegi yang ada, dan kita dapat mengamalkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

    ReplyDelete
  65. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Kajian filsafat itu banyak manfaatnya dan langsung bersentuhan dengan kehidupan manusia. Namun elegi tidak lah cocok jika digunakan pada pembelajaran di sekolah. Tetapi substansi dari filsafat itulah yang harus diambil oleh seorang guru. Jadi seorang guru matematika hendaknya tidak hanya hafal rumus matematika. Jika guru matematika mendidik siswa dengan hanya menghafal rumus, itu adalah mitos. Oleh karena itu guru seharusnya mengetahui apa makna dibalik rumus, sehingga mampu mendidik siswa makna dari sebuah rumus, tidak hanya berpaku pada menghafal rumus saja.

    ReplyDelete