Sep 20, 2013

Elegi Wawancara Orang Tua Berambut Putih




Oleh Marsigit

Wartawan:
Apa yang engkau maksud elegi?

Orang tua berambut putih:
Elegi itu adalah nyanyian susah

Wartawan:
Kenapa engkau gunakan elegi sebagai judul setiap karangan bebasmu?

Orang tua berambut putih:
Untuk menggambarkan betapa susahnya memahami isi karyaku itu.

Wartawan:
Kenapa engkau buat elegi-elegi?

Orang tua berambut putih:
Elegi adalah salah satu cara yang aku gunakan untuk mengkomunikasikan filsafat tanpa menyebut-sebut filsafat.

Wartawan:
Apa maksud tanpa menyebut-sebut filsafat?

Orang tua berambut putih:
Biasanya orang berpendapat filsafat itu sulit. Banyak juga orang yang berpendapat bahwa filsafat itu tak bermanfaat atau bahkan sesat.

Wartawan:
Lantas, kalau memang demikian, lalu kenapa?

Orang tua berambut putih:
Justeru itulah, melalui elegi-elegi aku ingin menunjukkan bahwa tidaklah demikian. Filsafat itu sangat dekat dan dekat sekali dengan kita. Bahkan aku dapat katakan bahwa filsafat itu adalah diri kita. melalui elegi itu aku juga berusaha menunjukkan bahwa kajian filsafat itu banyak manfaatnya dan langsung bersentuhan dengan kehidupan manusia.

Wartawan:
Lalu apa yang dimaksud dengan tanpa menyebut-sebut filsafat?

Orang tua berambut putih:
Tantangan bagi orang yang berfilsafat adalah bagaimana menjelaskan filsafat itu dengan bahasa yang paling mudah dipahami. Sedangkan kata filsafat itu sendiri merupakan istilah yang sulit dipahami.

Wartawan:
Bagaimana awalnya engkau membuat elegi.

Orang tua berambut putih:
Elegi itu muncul sebagai kebutuhan. Aku merasa perlu mengembangkan komunikasi filsafat dalam bentuk yang netral, tidak menyuruh, tidak memaksa, lebih bersifat empati tetapi tetap memuat tesis-tesis filsafat.

Wartawan:
Apa referensi yang engkau gunakan untuk membuat elegi?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa referensi itu ada banyak ragamnya. Sumber pertama yang langsung dari pelakunya, itu disebut sumber primer (pertama). Jika sumber itu merupakan penuturan dari orang lain, maka sumber tersebut disebut sumber seconder (kedua). Sedangkan elegi-elegi ini aku susun berdasarkan refleksi pengalamanku. Balam elegi-elegi ini, sumber pertama dan kedua adalah sebagai inspirasi saja. Sedangkan yang paling pokok dan paling banyak adalah refleksi
pengalaman saya setelah membaca filsafat dan mengalami kehidupan langsung.

Wartawan:
Metode apa yang anda gunakan untuk menyusun elegi?

Orang tua berambut putih:
Untuk menyususun elegi ini, aku menggunakan beberapa peralatan meliputi: bahasa analog, reduksi atau penyederhanaan, kelengkapan, pengandaian, personifikasi, pengembangan pola, korespondensi (isomorphisma), teleologi, phenomenologi, induksi, deduksi, berpikir kritis, membuat pertanyaan-pertanyaan, membuat figur orang tua berambut putih, komunikasi,
menterjemahkan dan diterjemahkan.

Wartawan:
Siapakah orang tua berambut putih.

Orang tua berambut putih:
Orang tua berambut putih adalah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu berasal dari pertanyaan-pertanyaan, jawaban-jawaban, sampai batas pikiranmu. Maka orang tua berambut putih itu dapat berupa pertanyaan-pertanyaan, tesis-tesis, anti-tesis, sintesis, dan semuanya yang tergolong olah pikir. Jadi orang tua berambut putih itu juga bisa berarti filsafat. Jika dia diartikan sebagai sipembawa pesan filsafat, bolehlah, khusus dalam elegi ini, jika engkau artikan bahwa elegi itu adalah dosen filsafat, setidak-tidaknya orang tua berambut putih itu adalah pikiranku, yaitu pikiran seorang Marsigit.

Wartawan:
Bagaimana seseuatu elegi itu muncul?

Orang tua berambut putih:
Sekali lagi aku katakan bahwa elegi itu muncul karena kebutuhan. Ketika aku melihat situasi lingkungan tertentu dimana saya merasa perlu mengungkapkannya maka aku buatlah elegi.

Wartawan:
Kenapa antara beberapa elegi ada yang terkesan kontradiksi?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa hidup itu kontradiksi. Hakekat berubah dan hakekat diam itu kelihatannya kontradiksi. Tetapi keduanya itu ada. Maka aku mengkhawatirkan jika ada seseorang hanya berhenti sampai hakekat perubahan saja, karena hal yang demikian berarti dia hanya berpikir parsial.

Wartawan:
Kenapa kuliah filsafat pendidikan matematika, kelihatannya lebih banyak filsafatnya, lalu apa hubungan antara filsafat dan filsafat matematika?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa filsafat itu dapat ditaruh di depan apapun. Maka kita punya filsafat matematika, filsafat pendidikan, filsafat seni, filsafat negara, filsafat umum, filsafat alam, ..dst. Apapun filsafatnya, maka filsafat itu selalu mempunyai 3 jalur utama yaitu ontologi (ilmu hakekat), epistemologi (ilmu cara), dan aksiologi (etik dan estetika). Hal yang paling berat bagi orang yang ingin mempelajari filsafat adalah pada bagian depan, yaitu ada filsafat umum. Jika ini sudah dipahami, maka untuk mempelajari filsafat-filsafat yang lain, misalnya filsafat pendidikan matematika, kita tinggal tarik analogi-analogi dan benang merahnya.

Wartawan:
Apakah akan ada elegi-elgi tentang matematika atau pendidikan matematika.

Orang tua berambut putih:
Tentu bisa saja hal demikian itu dibuat oleh para mahasiswa untuk latihan.

Wartawan:
Apa sebetulnya tujuan utama atau visi dibuatnya elegi.

Orang tua berambut putih:
Elegi dibuat sebagai sarana berlatih memberbincangkan semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka mahasiswa matematika itu perlu kemampuan memperbincangkan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada. Sebagai seorang guru, maka perlu mempunyai keterampilan memperbincangkan semua yang ada dan yang mungkin ada.

Wartawan:
Apa yang dimaksud sebagai memperbincangkan.

Orang tua berambut putih:
Bukan subyek yang bicara, bukan dosen yang bicara, bukan guru yang bicara. Jika mereka itu yang bicara, maka bicaranya bersifat otoriter, merayu, membujuk atau memaksa para siswa untuk percaya. Tetapi yang bicara adalah para obyek, para mahasiswa dan pada siswa serta semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka sebetulnya yang ada dan yang mungkin ada itu berhak bicara. Jika anda telah mampu memperbincangkan mereka maka kemampuanmu itu mempunyai dimensi setingkat lebih tinggi.

Wartawan:
Apa yang engkau maksud dengan yang ada dan yang mungkin ada?

Orang tua berambut putih:
Yang ada dan yang mungkin ada itu adalah obyek kajian filsafat.

Wartawan:
Apakah engkau akan terus membuat elegi?

Orang tua berambut putih:
Belum tahu, karena elegi merupakan kebutuhan.

Apa sisi kelemahan elegi:
Satu-satunya kelemahan atau sisi kekurangan elegi adalah jika dia digunakan tidak sesuai ruang dan waktunya.

Wartawan:
Apa yang dimaksud digunakan tidak sesuai ruang dan waktunya?

Orang tua berambut putih:
Elegi itu hanya untuk sarana berpikir filsafat. Itu saja hanya salah satu. Jadi porsinya memang perlu dibatasi. Dia juga bukan suatu topik pembelajaran. Jadi elegi itu tidak cocok untuk digunakan pada pembelajaran disekolah. Tetapi substansinya itulah yang di ambil.

Wartawan:
Apa yang dimaksud substansi?

Orang tua berambut putih:
Seorang guru matematika hendaknya tidak hanya hapal rumus. Jika seorang guru matematika mendidik siswa dengan hanya menghapal rumus, itu namanya mitos. Maka guru seharusnya mengetahui apa makna dibalik dalil Pythagoras. Maka guru juga berusaha agar siswanya mengetahui apa makna dibalik dalil Pythagoras. Begitu saja maksudnya.

Wartawan:
Apa beda mitos dan patung filsafat? Apa beda logos dan orang tua berambut putih?

Orang tua berambut putih:
Mitos adalah patung filsafat. Logos adalah orang tua berambut putih.

Wartawan:
Mengapa sering banyak cerita dalam elegi selalu berakhir kepada hati atau Tuhan?

Orang tua berambut putih:
Filsafat itu tergantung orangnya. Dia bisa berangkat dari mana saja, melalui mana saja, dan berhenti di mana saja dan tentu kapan saja. Elegi-elgi ini setidaknya menggambarkan keadaan diriku atau filsafatku.

Wartawan:
Bagaimana peran para filsof?

Orang tua berambut putih:
Filsafat adalah pikiran para filsuf. Jadi tiadalah artinya kita bicara filsafat jika kita tidak membicarakan pikiran para filsufnya.

Wartawan:
Tetapi kenapa dalam elegi ini jarang muncul pemikiran para filsuf?

Orang tua berambut putih:
Pemikiran mereka tersembunyi atau muncul secara implisit.

Wartawan:
Terimakasih

Orang tua berambut putih:
Terimakasih kembali.

113 comments:

  1. Viani kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam elegi ini disebutkan apa itu elegi. Ya, hal dasar yang sebelumnya juga belum saya ketahui. Dari elegi ini Prof Marsigit menyampaikan bahwasanya elegi ini merupakan sarana yang digunakan untuk menyampaikan filsafat dengan bahasa yang lebih mudah dan memperlihatkan betapa dekatnya filsafat dengan kehidupan kita. Benar adanya memang, saya juga salah satu yang berpikir bahwa filsafat itu sulit dipahami. Namun, setelah di semester ini saya membaca elegi elegi ini banyak hal yang saya dapat anbil sebagai pelajaran hidup, baik kehidupan spiritual, kehidupan pribadi, maupun kehidupan pendidikan jika saya menjadi guru kelak.

    ReplyDelete
  2. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Jujur, pada saat saya menemukan postingan ini, saya merasa lega. Akhirnya ada penjelasan tersendiri mengenai siapa itu orang tua berambut putih. Karena hampir setiap elegi yang diposting, pasti ada pendapat atau kesimpulan darinya. Dan ternyata orang tua berambut putih adalah ilmu pengetahuan yang disampaikan secara bijak dan merupakan pemikiran dari penulis. Dan dalam elegi ini juga dijelaskan maksud dari ‘elegi’ yaitu suatu tulisan yang berdasarkan pada apa-apa yang telah dilalui penulis, keadaan atau kondisi-kondisi yang telah diamati penulis, lengkap dengan permasalahannya. Elegi ditulis untuk mengungkapkan hal-hal tersebut dan dipandang melalui kaca mata filsafat. Namun elegi ditulis menggunakan bahasa sehari-hari, konteks dalam elegi juga lebih sering dibentuk sebagai percakapan, sehingga mudah untuk dipahami. Pada akhirnya elegi membantu para pembaca untuk memahami suatu masalah dari segi filsafat yang telah dibahasakan dengan ringan dan mudah dicerna oleh pikiran.

    ReplyDelete
  3. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Filsafat itu melingkupi hal yang ada dan mungkin ada. Untuk belajar filsafat, digunakan bahasa analog jadi penerimaan yang didapat antara yang satu dengan yang lainnya itu berbeda. Berfilsafat mengajarkan kita cara berfikir yang intensif dan ekstensif dengan menggunakan berbagai sumber belajar. Salah satunya melalui elegi. Jadi untuk belajar filsafat harus banyak membaca dan membaca, serta membuat sistesis dan anti tesisnya.

    ReplyDelete
  4. Elegi digunakan sebagai media untuk mengenalkan filsafat. Dengan elegi, pembaca dapat memahami dan memaknai filsafat tanpa merasa diajari filsafat. Elegi-elegi yang sesuai dengan konteks kehidupan sehari-hari dapat dengan mudah dipahami dan dimengerti. Elegi menjadi tempat menuangkan ide, pikiran, dan perasaan serta pertanyaan. Elegi mengungkapkan keresahan dalam pikiran dan hati.

    ReplyDelete
  5. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Elegi adalah cermin filsafat, dan ketika bercerita tentang filsafat maka kita juga akan bercerita tentang berfikir filosofis. Dan kemudian elegi dibuat tergantung kebutuhan. Dan itu bisa dari fenomena dan aktivitas yang mencerminkan dan mencerminkan, dan ada kutipan bagus. Jika kita lihat sekarang, seseorang juga mengatakan aktivitas mereka dan beberapa kutipan ke media sosial. Ini juga sama, tapi ada yang berbeda. Karena dalam filsafat ada pengetahuan, gunakan bahasa analog, disederhanakan, anggapan, personifikasi, buat pertanyaan, buat figur, dan komunikasi menterjemahkan dan diterjemahkan. Dalam elegi ini, filsafat itu dapat ditaruh di depan apapun. Maka kita punya filsafat matematika, filsafat pendidikan, filsafat seni, filsafat negara, filsafat umum, filsafat alam, ..dst. Apapun filsafatnya, maka filsafat itu selalu mempunyai 3 jalur utama yaitu ontologi (ilmu hakekat), epistemologi (ilmu cara), dan aksiologi (nilai etika dan estetika). Hal yang paling berat bagi orang yang ingin mempelajari filsafat adalah pada bagian depan, yaitu ada filsafat umum. Jika ini sudah dipahami, maka untuk mempelajari filsafat-filsafat yang lain, misalnya filsafat pendidikan matematika, kita tinggal tarik analogi-analogi dan benang merahnya.

    ReplyDelete
  6. Fina Fitri Nurjannah
    14301244005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Terima atas artikel yang bapak berikan mengenai "elegi". Saya berusaha memahami apa yang dimaksud dengan elegi. Dan alhamdulillah setelah membaca penjelasan yang bapak berikan dalam artikel ini saya menjadi sedikit tahu dan paham apa yang dimaksud dengan elegi, tujuan elegi, dan lain-lain yang berkaitan dengan elegi.

    ReplyDelete
  7. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Orang tua berambut putih tidak lain tidak bukan adalah ilmu pengetahuan yang kita miliki. Ilmu pengetahuan ini bisa berasal dari pemikiran kita, misalnya pemikiran yang kontradiktif, munculnya pertanyan, menemukan kebenaran, mengidentifikasi tesis dan anti tesisnya, mensintesiskan tesis dan anti tesisnya, dll. Ilmu pengetahuan tentang filsafat tidak bisa lepas dari pemikiran para filsuf.

    ReplyDelete
  8. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Dalam memperlajari filsafat memang tidak mudah. Maka dalam menyalurkan ilmu mengai filsafat dibutuhkan adanya komunikasi yang tidak kaku, tidak memaksa, tidak menyuruh, netral empati tetapi ada tesis-tesisnya agar filsafat dapat dipahami walaupun harus banyak-banyak membaca agar dapat memahaminya. Sumber referensi dalam memperoleh ilmu dalam filsafat ialah dengan melakukan refleksi terhadap semua pendapat para ahli dan berdasarkan pengalaman nyata yang terjadi. Elegi dibuat berdasarkan kebutuhan agar ilmu filsafat dapat dikembangkan dan diteruskan dengan baik dengan harapan dapat dipahami dengan komunikasi filsafat yang ada.

    ReplyDelete
  9. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Melalui elegi secara tak langsung sebenarnya kita diajak untuk mengenal filsafat secara lebih dalam. Elegi merupakan suatu sarana untuk mengkomunikasikan filsafat dengan cara sederhana agar orang lain jauh lebih mudah memahami. Kebanyakan orang malas atau enggan bila disuruh untuk belajar filsafat karena menganggap bahwa filsafat adalah suatu hal yang tidak penting. Tanpa disadari, filsafat itu sebenarnya sangat dekat dengan diri kita dan kehidupan kita, karena filsafat itu bersentuhan langsung dengan kehidupan. Dengan membaca dan terus membaca elegi semoga kita semua bisa lebih mengenal jauh apa itu filsafat dan mengkorelasikannya dengan kehidupan kita sehari-hari.

    ReplyDelete
  10. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi Wawancara Orang Tua Berambut Putih, ternyata berisi tentang penjelasan apa itu "elegi", yang menjadi pertanyaan sejak pertama kali membaca blog ini. Mengapa ditulis elegi? ternyata alasannya sangat menarik, yaitu untuk menyampaikan filsafat tanpa menyebut-sebut "filsafat". Dan saya setuju dengan yang disampaikan pada elegi di atas bahwa mungkin orang akan menghindari membaca hal-hal yang berbau filsafat, tetapi ketika membaca elegi, orang tidak menyadari bahwa telah membaca filsafat dan menjadi lebih tertarik.

    ReplyDelete
  11. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi Wawancara Orang Berambut Putih ini jelas merupakan percakapan dengan Orang Berambut Putih yang ternyata dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan atau buah pikir dari Prof. Marsigit. Sesuatu yang menarik juga karena dengan adanya subyek Orang Tua Berambut Putih, seperti mendapatkan petuah-petuah, yang sebenarnya adalah menambah ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  12. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Filsafat memang awalnya saya menganggapnya sulit, namun seiring berjalanya waktu dengan mengikuti perkulihan dan membaca beberapa elegi dalam blog pak Prof. Marsigit, anggapan bahwa filsafat itu sulit, sedikit terobati. bahwa filsafat itu ada di dalam lingkup kita. filsafat itu ada dalam diri kita sendiri. kseperti yang diakatk diatas yaitu "Biasanya orang berpendapat filsafat itu sulit. Banyak juga orang yang berpendapat bahwa filsafat itu tak bermanfaat atau bahkan sesat. inilah tujuan dari adanya elegi ini. yang menunjukkan bahwa filsafat itu ada dimana-mana. filsafat itu tidak hanya tentang teori-teori seorang filsuf, namun filsafat itu adalah lingkup hidup kita. kita pun sebagai manusia memiliki proses berpikir, itu juga kita sudah berfilsafat. menghargai ruang dan waktu itu juga sudah menadi bagian dari filsafat.

    ReplyDelete
  13. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidan Matematika I 2014


    menurut saya filsafat merupakan ilmu yang sulit dipelajari, namun sesungguhnya filsafat itu sangat dekat dengan kita, dengan penjelasan Pak marsigit yang secara tersirat itu dapat membuka pikiran saya bahwa sesungguhnya filsafat itu ada dikehidupan kita dan dekat dengan kita. sehingga pikiran saya yang merasa filsafat itu sangat sulit dapat berubah.

    ReplyDelete
  14. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Memang benar, filsafat sulit untuk dipahami jika dipelajari secara langsung. Karena sulitnya, saya sampai mencari buku “berlajar filsafat itu gampang” karya Dr. Fu’ad Farid. Setelah mengikuti elegi-elegi pak Marsigit, saya merasa seperti membaca cerita saja. Memang cara penyampaiannya dengan dialog-dialog. Namun, setelah membaca dialog-dialog tersebut, tanpa disadari kita seperti membaca diri sendiri. Mungkin oleh karena bentuk elegi yang telah disederhanakan oleh pak Marsigit. Sehingga elegi memiliki tafsir yang berbeda-beda jika dibaca oleh orang yang berbeda pula. Sehingga tafsir elegi tersebut adalah mencerminkan orang tersebut. Dengan demikian saya pun tidak dapat menyebut diri saya paham elegi bapak. Karena sebetulnya saya hanya menggapai elegi bapak, namun selalu terjebak dengan bayangan diri sendiri.

    ReplyDelete
  15. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Saat awal-awal membaca elegi, saya tidak mengerti kalau di dalam elegi terdapat pikiran para filsuf serta ilmu filsafat teoritis, karena membaca elegi seperti membaca suatu cerita tapi sulit sekali untuk memahaminya. Namun, suatu ketika saya membaca buku mengenai filsafat, dan sadarlah saya bahwa di dalam elegi ini banyak terdapat pikiran para filsuf dan teori filsafat. Sadarlah saya, bahwa saat membaca elegi saya sedang mempelajari teori filsafat. Saya menyadari bahwa selama ini tidak mengetahui apa yang saya ketahui. Dengan menggunakan elegi ini, kami mempelajari filsafat secara tidak langsung, membangun filsafat kami sendiri, bukan diberikan.

    ReplyDelete
  16. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Pada percakapan tersebut orang tua berambut putih menjelaskan banyak hal. Dengan penjelasan tersebut kita jadi tau makna dari elegi, tujuan dibuatnya elegi, hal-hal yang sering kita temui dalam elegi bahkan dijelaskan pula tentang orang tua berambut putih yang sering muncul dalam elegi. Mahasiswa hendaknya membaca elegi ini terlebih dahulu sebelum membaca elegi yang lain, karena dengan membaca elegi ini akan memudahkan mereka memahami elegi lain.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  17. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Dalam elegi-elegi yang ditulis dalam blog ini selalu berakhi atau bermuara kepada hati atau Tuhan. Saya sangat tertarik dengan hal itu karena bagi saya semua hal memang bermuara pada hal itu. Sejauh pengetahuan saya filsuf tidak banyak yang mengarahkan kearah hati dan Tuhan, tetapi pada tulisan-tulisan dari Prof. Dr. Marsigit, M.A. banyak sekali bahkan hampir semua tulisannya mengarah ke hati atau Tuhan.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  18. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Saya tertarik dengan kalimat dari orang tua berambut putih yang mengatakan bahwa elegi dapat dibuat oleh siapa saja, muncul dari mana saja. Hal itu membuat saya terpikirkan jika saja setiap orang akan membuat elegi dan saya dapat membaca elegi dari masing-masing orang tersebut pasti akan sangat menyenangkan. Dengan begitu saya bisa tau jalan pikiran dan kepribadian masing-masing orang yang membuat elegi tersebut.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  19. Tahtalia
    14301241031
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Kebanyakan orang menganggap bahwa hal-hal yang dibicarakan secara filsafat bukanlah hal yang penting dan hanya membuang waktu serta pikiran saja. Orang awam tidak akan mengerti jika mereka sendiri tidak mau mengerti. Oleh karena itu, disinilah elegi hadir sebagai penghubung dunia manusia awam dengan dunia filsafat.

    ReplyDelete
  20. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi tersebut saya benar-benar baru memahami makna dari elegi yang banyak diposting oleh Pak Marsigit di dalam blog ini. Dengan membaca elegi-elegi tersebut tanpa kita sadari bahwa kita telah belajar tentang filsafat. Filsafat yang tadinya terdengar sulit menjadi lebih menarik untuk pelajari dalam bentuk elegi wawancara.

    ReplyDelete
  21. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya juga tertarik mengenai kapan elegi dapat dibuat. Bahwa orang tua berambut putih yang dapat dianalogikan sebagai ilmu mengatakan bahwa elegi dibuat sesuai kebutuhan yang ada. Hal ini berarti saat suatu hal belum diketahui benar tidaknya, maka elegi dapat dibuat sebagai pencerahan dalam suatu hal yang ingin diketahui.

    ReplyDelete
  22. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Orang tua berambut putih mengatakan bahwa referensi-referensi yang didapat bisa dari mana saja, tetapi yang paling pokok adalah pengalaman diri sendiri. Ini menandakan bahwa pengalaman yang dilalui atau dialami oleh seorang manusia dalam menjalani kehidupan akan sangat berharga bagi keberlangsungan hidupnya secara langsung maupun tidak langsung.

    ReplyDelete
  23. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Percakapan di atas membahas apa itu elegi, dimana elegi ini sangat erat kaitannya dalam ranah filsafat, memang dalam memahami filsafat itu sangat sulit dan multi tafsir namun saya akan terus mencoba mengarahkan persepsi saya sesuai dengan gagasan penulis. dengan adanya elegi yang dishare oleh Pak Prof. Marsigit ini membuka mata saya maupun pandangan saya bahwa filsafat sangat menarik.

    ReplyDelete
  24. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Banyak yang berfikir bahwa filsafat itu sulit untuk dimengerti dan cenderung ke arah yang menyesatkan. Hal itu tidak benar adanya karena setelah mempelajari filsafat dalam perkuliahan ini. Filsafat tidak sesulit yang dibayangkan, namun untuk belajar filsafat diperlukan pikiran dan hati yang ikhlas dan mau menerima ilmu. Selain itu juga harus banyak membaca serta mebuat pertanyaan-pertanyaan. Karena sebenarnya dalam berfilsafat sangat erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  25. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi sangat erat kaitannya dengan filsafat. Elegi yang terbatas pada ruang dan waktu sebagai bentuk pikiran kita dalam memandang sesuatu hal menyebabkan elegi hanya dapat digunakan sebagai sarana berpikir filsafat. Kesulitan pemahaman mengenai filsafat sangat dirasakan hal ini karena elegi-elegi yang muncul dalam pikiran kita belum mampu menembus batas ruang dan waktu filsafat. Filsafat sebagai bentuk dari bahasa para filsuf yang sangat tinggi juga menyebabkan kita sulit menembus batas-batasnya.

    ReplyDelete
  26. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Filsafat itu sangat dekat dengan diri kita dan kehidupan kita, karena filsafat itu bersentuhan langsung dengan kehidupan kita. Akan tetapi tak dapat dipungkiri bahwa filsafat itu sulit untuk dipahami. Melalui elegi-elegi dalam postingan Bapak ini, begitu besar manfaatnya yang kita peroleh. Untuk dapat memahami lebih mendalam terkait dengan filsafat, haruslah dengan niat dan ikhlas hati maupun pikiran , membaca setiap elegi yang ada, dan kita dapat mengamalkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

    ReplyDelete
  27. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Kajian filsafat itu banyak manfaatnya dan langsung bersentuhan dengan kehidupan manusia. Namun elegi tidak lah cocok jika digunakan pada pembelajaran di sekolah. Tetapi substansi dari filsafat itulah yang harus diambil oleh seorang guru. Jadi seorang guru matematika hendaknya tidak hanya hafal rumus matematika. Jika guru matematika mendidik siswa dengan hanya menghafal rumus, itu adalah mitos. Oleh karena itu guru seharusnya mengetahui apa makna dibalik rumus, sehingga mampu mendidik siswa makna dari sebuah rumus, tidak hanya berpaku pada menghafal rumus saja.

    ReplyDelete
  28. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B 2017

    Postingan ini menjawab kebingungan saya ketika membaca postingan-postingan bapak yang diberikan judul dengan awalan "elegi". Pengembangan filsafat lewat komunikasi yang netral, melalui elegi. Pengembangan filsafat melalui bahasa yang mudah, melalui elegi (meskipun sejujurnya saya masih mengalami kegamangan dan kesulitan untuk mencerna sedikit demi sedikit ...filsafat ataupun filsafat.... yang saya baca. Kembali lagi, mungkin ini terjadi karena bacaan saya yang masih begitu sedikit. Saya akan semakin berusaha

    ReplyDelete
  29. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini saya menyimpulkan filsafat adalah sebuah ilmu yang dapat digunakan dan dipelajari oleh siapa saja. Bisa didapatkan dari sumber primer maupun sekunder. Filsafat mengajarkan nilai kehidupan, jadi ketika kita mempelajari filsafat ilmu atau filsafat matematika kita mendalami filsafat secara umum puntidak masalah. Melalui elegi-elegi yang dibaca bisa dijadikan referensi bagi pembaca dalam berfilsafat karena mungkin saja tidak semua orang dapat menemukan sumber dalam belajar filsafat

    ReplyDelete
  30. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A

    Dari penjelasan yang Bapak uraikan di dalam elegi di atas, saya berpendapat bahwa berfilsafat itu berada antara aturan manusia dan aturan Tuhan. Jika kita tidak sanggup lagi untuk menjangkau apa yang kita pikirkan, maka kembalikan ke dalam hati atau pada keyakinan kita. Karena sebelumnya saya sering mendengar bahwa filsafat itu sulit bahkan ada yang memandang jika tidak ada keyakinan yang kuat dalam diri maka dapat menyesatkan diri kita (akhir yang buruk adalah atheis). Oleh karena itu dengan elegi dapat dijadikan sebagai sarana mengembangkan kemampuan berfilsafat, memperbincangkan apa yang ada dan mungkin ada, sehingga mendorong kita sebagai calon pendidik belajar dan terus belajar, berlatih dalam meningkatkan kemampuan berkomunikasi.

    ReplyDelete
  31. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017
    Terima kasih banyak Pak Prof. Marsigit.
    Setelah membaca elegi di atas, ada beberapa keyakinan saya yang semakin kuat, diantaranya adalah kita (setidaknya saya) hidup diantara kontradiksi-kontradiksi, bahkan didalam diri saya pun ada kontradiksi. Bagaimana menghadapi kontradiksi-kontradiksi itu lah yang banyak saya pelajari dari elegi-elegi yang ada di blog ini.

    ReplyDelete
  32. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamulaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Laksana wadah dan isinya. Begitulah hubungan Elegi-elegi dengan filsafat. Setiap elegi yang dipaparkan di blog ini memuat nilai dan makna filsafat. Walaupun jujur butuh pemahaman yang mendalam, pelajaran filsafat dapat diperoleh dari setiap elegi yang memunculkan tokoh-tokoh yang juga menggunakan istilah filsafat. Kesemuanya diramu sebagai bentuk komunikasi dalam menyampaikan materi filsafat dengan tanpa menyebut-nyebut filsafat.
    Terimakasih Prof

    ReplyDelete
  33. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari Elegi diatas ada banyak hal yang saya pelejari yaitu diantaranya :
    Pertama, bahwa filsafat ini tidak melulu di sampaikan dengan kaku namun bisa dengan Elegi.
    Kedua, elegi adalah sebagai sarana umtuk membahasakan agar mudah dipahami.
    Ketiga, yang saya sangat setuju bahwa filsafat itu sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan.
    Keempat, elegi adalah refleksi dari pengalaman dan adanya tergantung kebutuhan.
    Sehingga menurut saya sebagai manusia yang bijak selayaknya kita tetap belajar filsafat, belajar dan mengambil hikmah dari elegi dan merefleksikan apa yang terjadi dalam hidup kita.

    ReplyDelete
  34. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Dari postingan tersebut, dapat saya tarik pernyataan bahwa filsafat itu dapat disandingkan atau ditaruh didepan ilmu-ilmu lain seperti filsafat matematika, filsafat sastra, filsafat seni, dan lain sebagainya. Apapun mengenai filsafat , pada intinyanya memiliki tiga pilar utama yaitu ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Salah satu cara untuk mengkomunikasikan filsafat adalah dengan membuat elegi-elegi. Elegi akan mengkomunikasikan filsafat tanpa menyebut-nyebut filsafat. Elegi-elegi tersebut muncul sebagai kebutuhan.

    ReplyDelete
  35. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Pak. Filsafat sejak dulu sangat tidak familiar bagi saya. Setiap mendengar kata filsafat, saya selalu membayangkan ilmu yang sangat berat dengan berbagai teori-teori filsuf yang harus dipahami. Tapi lewat blog Bapak, saya merasa terfasilitasi dalam belajar filsafat dan sadar kalau filsafat itu sangat dekat dengan kita dan tidak melulu harus tentang teori. Melainkan Bapak meramu teori-teori filsafat dalam elegi atau cerita-cerita yang lebih mudah dipahami oleh orang awam seperti saya.

    ReplyDelete
  36. Junianto
    17709251065
    PM C

    Dari percakapan di atas, saya dapat mengambil beberapa inti dari. Filsafat sebenarnya bukanlah sesuatu yang sulit jika kita mampu, mengenali diri kita sendiri. Walaupun berfilsafat itu vberbeda dengan berfikir seperti biasa. Filsafata berarti berfikir secara menyeluruh dan mencakup berbagai hal. Dan filsafat tidak lain tidak bukan adalah diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  37. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Membuat elegi-elegi adalah cara Prof Marsigit membagi ilmu filsafatnya kepada orang lain (pembaca) tanpa benar-benar menyebut “filsafat”. Jadi, segala elegi yang ada di blog ini adalah ilmu filsafat yang disajikan dengan cara berbeda oleh Prof Marsigit, yaitu dengan cara membuat cerita-cerita atau dialog-dialog. Dengan demikian diharapkan para pembeca tidak memiliki spekulasi bahwa filsafat itu sulit.
    Sebenar-benarnya orang tua berambut putih adalah ilmu yang ada dalam diri kita. Sedangkan ilmu pengetahuan berasal dari pertanyaan-pertanyaan. Sumber-sumber, jawaban-jawaban. Pertanyaan dalam hidup tidak akan berhenti ada sampai pikiran itu sendiri tidak ada. Maka selama seseorang memiliki kesadaran berpikir, maka akan ada pertanyaan yang muncul dalam dirinya dan ia akan berusaha mencari jawabannya.

    ReplyDelete
  38. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah.
    Terimakasih Prof. Marsigit atas artikel di atas. Memahami filsafat tidaklah semudah memahami mata pelajaran eksak di sekolah, seperti fisika, kimia, biologi, matematika yang merupakan ilmu pasti yang setiap jawaban dari soal eksak merupakan jawaban yang pasti. Karena begitu sulit, sebagai pembaca kami cukup terbantu untuk perlahan menangkap apa yang diinginkan filsafat melalui wawancara orang tua berambut putih tersebut. Apa yang menjadi bahan dialog di atas, memang menjadi keresahan kami selama ini. Karena seringnya kami menemui artikel bapak yang judulnya menggunakan kata elegi. Mengkomunikasikan filsafat dengan kata elegi awalnya membuat saya semakin bertanya lagi apa itu elegi. Namun saya mulai sedikit paham ketika membaca artikel di atas. Pemakaian kata elegi sebagai kata ganti untuk filsafat merupakan langkah yang baik agar orang tidak illfeel dan ragu dalam membaca suatu ulasan tentang filsafat. Benar kata orang tua berambut putih, sering sekali orang menganggap filsafat itu tidak bermanfaat bahkan sesat. Menurut saya, orang filsafat itu terlalu cerdas, ia tahu akan banyak hal di dunia ini, pandai mengatur setiap langkah dalam hidupnya dan memandang segala sesuatu nya secara objektif, walau subjektivitas diri pasti ada. Ketika filsafat dikatakan membuat kesesatan, hal itu tidak lain dan tidak bukan karena orang filsafat tersebut tidak memiliki spiritulisme yang kuat dalam hati nya. Kekuatan filsafat seseorang hendaklah berlandaskan dan berpegang teguh pada kekuatan spiritualitas di dalam hatinya, yakni hubungan dirinya dengan Sang Pencipta. Sehingga segala jalan pikirannya tetap teratur pada tata aturan yang dibuat oleh Yang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  39. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Melalui elegi-elegi yang saya baca dari blog ini, pemikiran saya terhadap filsafat menjadi lebih terbuka. Sebelumnya saya memikirkan apa kaitan filsafat dengan Pendidikan Matematika. Namun, setelah membaca elegi-elegi, tampak bahwa filsafat itu justru sangat dekat dan memberikan banyak manfaat bagi kehidupan. Objek yang dapat menjadi kajiannya sangat banyak, meliputi yang ada dan yang mungkin ada, tidak terkecuali dengan Pendidikan Matematika. Elegi-elegi disajikan dengan cara yang menarik dan bahasa yang menarik pula. Hebatnya lagi, elegi dapat memberikan nasihat tanpa terkesan menggurui.

    ReplyDelete
  40. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Orang tua berambut putih yang tidak lain tidak bukan adalah pemikiran dari Prof.Marsigit yang menginspirasi. Elegi-elegi yang dibuat merupakan torehan dari pikiran dan pengalaman yang selama ini dibangun berdasarkan pengalaman langsung maupun membaca pemikiran filsuf. Elegi-elegi ini cukup sulit dipahami, dan atau mungkin setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda. Memang, karena segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada itu berdimensi, termasuk sudut pandang kita terhadap elegi-elegi ini.

    ReplyDelete
  41. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    filsafat harus dipelajari oleh mahasiswa yang mengambil kuliah filsafat pendidikan matematika. Dan cara untuk mempelajarinya adalah dengan membaca elegi bapak. Apakah saya dapat menyimpulkan bahwa filsafat itu adalah membaca pak? Dengan demikian saya sedikit paham bahwa dengan banyak membaca mungkin kita akan menemukan pemikiran-pemikiran baru yang menjadi sumber dari kegelisahan-filsuf-filsuf yang ada di dunia ini.

    ReplyDelete
  42. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Dengan adanya elegi-elegi yang diciptakan, mengajarkan kepada kita bahwa belajar filsafat bukanlah hal yang terlalu rumit.Disamping,itu dapat merubah asumsi-asumsi buruk orang-orang terhadaf filsafat.Salah satunya yang menyebabkan hal tersebut mungkin karena ketidaktahuaanya tentang filsafat.Padahal filsafat adalah hasil menjadi sadarnya manusia mengenai dirinya sendiri dan menjadi kritisnya manusia terhadap dirinya sendiri sebagai pemikir di dalam dunia yang dipikirkannya.

    ReplyDelete
  43. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Terima kasih atas pencerahannya Pak Prof. Melalui tulisan di atas saya semakin mengerti bahwa filsafat itu tidaklah sesulit yang saya bayangkan. Pada saat pertama saya membaca elegi Bapak, saya berpikir bahwa filsafat itu sulit, sesulit seperti saat saya memahami elegi yang Bapak sampaikan. Namun, melalui tulisan di atas saya paham bahwa filsafat itu sangatlah dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Dan bahkan melalui elegi saya dapat mengambil pelajaran hidup dan hikmah yang dapat saya aplikasikan dalam kehidupan saya.
    Melalui elegi-elegi yang Bapak sampaikan juga saya menemukan kaitan pendidikan matematika dengan filsafat. Karena memang objek kajian filsafat itu sangat luas, meliputi yang ada dan yang mungkin ada, tidak terkecuali bahasan dalam pendidikan matematika.

    ReplyDelete
  44. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Elegi seolah-olah membongkar kesan filsafat yang cenderung rumit, Elegi memadamkan nafsu dogmatis para filsuf, elegi melebur filsafat menjadi pikiran universal, elegi menumbuhkan filsafat menjadi daun-daun hijau yang segar, elegi wujud keadilan dalam menggunakan hati dan pikiran. Terimakasih pak, untuk elegi-elegi yang sangat inspiratif ini.

    ReplyDelete
  45. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Akhirnya saya menemukan jawaban dari kebingungan tentang apa itu elegi, mengapa menggunakan istilah elegi, dan siapa itu orangtua berambut putih. Elegi sungguh cantik untuk menjadi sarana menyampaikan apa yang ada dan yang mungkin ada. Saya sedang mengagumi luar biasanya kekuatan bahasa analog. Namun benar bahwa bahasa ini sulit dipahami, sedemikian dekat pun obyek filsafat itu dengan kehidupan kita.
    Saya seorang guru, dan elegi wawancara orangtua berambut putih ini mengingatkan pada saya untuk selalu memandang ilmu dan apa yang ada di balik ilmu. Terutama dalam belajar matematika, guru seringkali tergoda untuk langsung saja memberikan rumus-rumus, menggunakan bahasa simbol, namun tidak sampai pada mengapa bisa terjadi demikian.
    Ini mengingatkan saya dan para guru untuk senantiasa belajar, tak henti-hentinya. Sebab melihat pengetahuan serta apa yang ada di baliknya, bagaimana pengetahuan tersebut ditemukan, bukan sesuatu yang mudah. Apalagi menyampaikannya kepada para siswa. Wah… ternyata guru pun harus belajar menggunakan bahasa analog. Membawa siswa pada pengalaman menggunakan ilmu tersebut.

    ReplyDelete
  46. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Pembelajaran filsafat menggunakan elegi memang merupakan pembelajaran yang bisa saya katakan aneh karen a baru kali ini saya menggunakan metode seperti ini. Namun tanpa didasari, karena memang elegi ini dibuat karena adanya kebutuhan, lama kelamaan akan membaca elegi ini merupakan suatu kebutuhan agar kita mengetahui filsafat itu seperti apa dan bagaimana kita brfilsafat. Walaupun memang dalam membaca elegi ada jebakan-jebakan yang sangatlah berat dan bermacam-macam, namun, jika kita enggan melewati jebakan-jebakan itu kita tidak akan bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Kita hanya selalu berada di tempat yang sama tanpa untuk mencoba hal yang baru untuk dijadikan pengalaman dimasa yang akan datang.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  47. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak dikarenakan sudah bersedia berbagi pengalaman hidup kepada saya dan teman-teman. Saya sendiri juga merasa kesulitan untuk memahami substansi dari elegi yang ada. Namun, ketika ada suatu pembahasan yang sudah saya alami sebelumnya membuat saya dapat dengan mudah merefleksikan pikiran dan perasaan pada masing-masing bahasan elegi. Saya menjadi sadar betapa pentingnya berbagi pengalaman hidup dengan orang lain. Saya juga baru tahu bahwa berbagi pengalaman hidup adalah salah satu refleksi dalam belajar filsafat.

    ReplyDelete
  48. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Setelah dijelaskan dalam elegi diatas, menjadikan saya lebih paham bahwa elegi-elegi yang dibuat merupakan suatu sarana pengajaran filsafat secara implisit, sehingga tidak langsung menganggap filsafat itu susah. Karena memang demikian adanya, memahami filsafat bukanlah hal yang mudah. Bahkan walaupun sudah disajikan dalam bentuk elegi-elegi tetap saja masih sulit dipahami. Namun demikian elegi-elegi yang dibuat berdasarkan fenomena yang ditemukan atau dalam arti kata lain sesuai dengan kebutuhan, memang sangat membantu dalam melihat kehidupan dari kacamata yang berbeda. Oleh karena itu saya ucapkan terimakasih banyak, kepada bapak atas ilmunya selama ini.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  49. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Terimakasih pak, melalui elegi ini, saya memahami alasan dibalik elegi-elegi yang bapak tulis. Melalui elegi bapak menyampaikan/mengomunikasikan dan memberikan penjelasan tentang filsafat secara lebih luas dan detail. Sehingga kami yang awalnya yang masih asing dengan istilah-istilah filsafat dan pemikiran yang masih sangat awam ini mampu memahami dan memaknai filsafat melalui belajar mandiri membaca berbagai elegi. Melalui elegi tersebut bapak mengenalkan kami berbagai sudut pandang terhadap “sesuatu”, sehingga pemikiran kami lebih terbuka dalam memandang “sesuatu”.

    ReplyDelete
  50. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Dalam isi percakapan tersebut, saya jadi paham mengapa banyak dari postingan yang ditulis berjudul elegi ...... dan saya menemukan alasan yang apik. Kendala yang masih saya temui adalah menterjemahkan dan diterjemahkan. Pengalaman dan pengetahuan itu diperlukan. Sumber ilmu berasal dari kata tanya. Ada masalah dan ada pertanyaan. Munculnya pertanyaan akan menciptakan sebuah ilmu. Elegi itu berasal dari kehidupan nyata. Manusia tercipta atas pengalaman yang muncul. Seperti elegi yang bapak buat, merupakan gambaran pengalaman yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memberikan arti elegi tanpa membawa kata filsafat, membuat kita lebih berusaha untuk menigkatkan dimensi kita. Selama kita masih berada pada ruang dan waktu, maka elgi itu tidak akan ada habisnya. Karena pengalaman itu masih akan ada dan berkembang selama Allah memberikan kita izin untuk berada disini.

    ReplyDelete
  51. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Berfilsafat mengajarkan berfikir secara intensif dan ekstensif dengan menggunakan berbagai sumber belajar. Belajar berfilsafat berangkat dari sumber belajar, dari orang lain, dari media, dari wawancara, dan yang paling sering adalah muncul dari pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran kita. Salah satu sumber belajar dalam berfilsafat adalah membaca, memahami, mempelajari elegi, memberikan pendapat. Karena sesungguhnya filsafat itu sendiri adalah diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  52. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Banyak orang yang cerdas dalam memahami suatu hal atau suatu ilmu namun memiliki kekurangan dalam menyampaikan, sehingga apa yang ia pahami tidak bisa dipahami oleh orang lain. Kemampuan membuat elegi atau menyampaikan sebuah makna yang rumit melalui Bahasa yang lebih sederhana adalah kemampuan yang sebenarnya wajib dimiliki oleh setiap orang. Bagi guru, ia tidak hanya wajib menguasai ilmunya tapi ia juga dituntut menyampaikan ilmu tersebut kepada siswwanya. Seorang Presiden wajib memiliki pandangan ke depan mengenai visi misinya namun ia juga dituntut mampu menterjemahkan visi misi tersebut sehingga juga dipahami oleh menteri-menterinya. Seorang ayah wajib pula mampu menyampaikan nilai-nilai kehidupan kepada istri maupun anak-anaknya.
    Terima kasih banyak Prof Marsigit atas elegi-elegi yang Bapak tulis sehingga memudahkan kami dalam memahami apa yang Bapak pahami meskipun tidak seratus persen kami tangkap maknanya

    ReplyDelete
  53. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum wr.wb

    Belajar filsafat atau hanya saja mendengar kata filsafat memang lah seperti sesuatu yang sulit untuk dipahami, tetapi dengan elegi-elegi yang prof. Marsigit berikan sedikit demi sedikit saya mulai untuk tidak berfikir bahwa filsat itu sulit, karena dengan apa yang Prof. Marsigit sampaikan, ilsafat memang lah sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari yang kita jalani jadi untuk memahami filsafat sangat lah lebih mudah. Definisi-definisi memanglah tidak dijumpai dalam belajar filsafat dengan bapak, tetapi definisi itu diganti dengn penjelasan yang lebih mudah dipahami yaitu dengan banyaknya penjelasan beserta contoh yang diberikan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sehingga semua apa yang disampaikan sangat mudah untuk dipahami bagi kami yang mungkin belum pernah dalam belajar filsafat.

    ReplyDelete
  54. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B


    Wawancara dengan orang tua berambut putih menjawab kebingungan apa itu elegi, kenapa elegi itu dibuat, dan bagaimana menyikapi elegi yang sudah dibaca. Wawancara diatas juga mengungkap siapa orang tua berambut putih dan peran filsafat dalam kehidupan kita sehari-hari. filsafat memiliki peran yang cukup penting dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam pendidikan, dalam kehidupan sosial, dan aspek kehidupan lainnya, karena filsafat bisa diletakkan didepan apapun, seperti filsafat alam, filsafat ilmu, filsafat pendidikan, filsafat sosial dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  55. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Semua percakapan yang ada dalam elegi ini pernah disampaikan oleh Bapak pada saat perkuliahan, ternyata saya lebih dulu mendengarkan penjelasan langsung dari Bapak daripada membacanya, tetapi disini ada hal yang masih saya belum memahaminya, yaitu pada penjelasan terakhir “pemikiran para filsuf tersembunyi atau muncul secara implisit”, mungkin nanti saya tanyakan langsung saja ketika perkuliahan berlangsung.
    Filsafat adalah diri kita sendiri, sehingga filsafat itu dekat dengan diri dan kehidupan kita. Dengan berfilsafat artinya kita membangun ilmu-ilmu yang ada dan yang mungkin ada dengan sesuai ruang dan waktunya. Dengan berfilsafat pula kita belajar berpikir dalam sedalam-dalamnya dan luas seluas-luasnya. Terutama dalam memahami berbagai macam elegi-elegi yang ada pada blog Pak Marsigit. Tidak lupa juga selalu melandasi hati dan pikiran dengan spiritual agar tidak mudah terperangkap oleh mitos-mitos.

    ReplyDelete
  56. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Dalam mempelajari filsafat dengan membaca elegi sangat menyenangkan, karena berbentuk cerita, bukan teori-teori semata. Setiap orang bisa berfilsafat, karena sebenar-benarnya filsafat adalah olah pikir. Jika setiap orang mampu berpikir, maka dia bisa berfilsafat. Sebenar-benarnya filsafat adalah refleksi diri, jadi jika bisa merefleksikan diri maka juga bisa berfilsafat. Itulah filsafat, yang sebenarnya sangat dekat dengan kita. Poin pentingnya adalah dengan berfilsafat maka seharusnya kita semakin bijaksana di dalam kehidupan ini sesuai ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  57. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Setelah membaca wawancara di atas saya menyadari bahwa Bapak berusaha keras untuk membuat filsafat menjadi lebih sederhana melalui elegi-elegi. Walaupun pada awal-awal membaca elegi, saya tidak paham akan kemana tujuannya, namun sekarang saya bersyukur bahwa Bapak telah membantu kami sbg mahasiswa untuk memahami filsafat melalui elegi-elegi yang menarik sehingga kami dapat merefleksikan diri. Dengan adanya refleksi diri, terbukti bahwa filsafat sangat erat kaitannya dengan kebutuhan sehari-hari. Setelah membaca elegi-elegi, saya dapat melihat bahwa untuk menulis sebuah elegi saja, tersirat beberapa pandangan filsuf terkenal yang menjadi dasar Bapak untuk mengembangkan elegi. Terima kasih untuk elegi-elegi nya, Pak. Semoga kedepannya kami diberi kemudahan untuk memahami filsafat dan meningkatkan notion sbg mahasiswa.

    ReplyDelete
  58. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Berdasarkan artikel di atas saya baru mengetahui bahwa elegi itu artinya nyayian susah, pantas saja cukup sulit untuk memahaminya. Elegi dalam filsafat perlu dibuat sebagai suatu kebutuhan atas aktualisasi atau penuangan hasil pemikiran agar dapat dipahami oleh orang lain. Banyak sekali wawasan yang saya dapatkan dari membaca elegi-elegi yang telah bapak tuliskan dengan konteks yang beraneka ragam.

    ReplyDelete
  59. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Elegi bukan seperti produk jadi yang langsung diterapkan pada kehidupan sehari-hari, tetapi substansi dari elegi itulah yang diambil manfaatnya sebagai pembentukkan suatu produk. Elegi bersumber dari pikiran, maka orang yang berpikir akan terus bisa membuat suatu elegi.

    ReplyDelete
  60. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Elegi digunakan untuk menyampaikan ilmu yang dapat di pahami oleh orang lain. Oleh karena itu, membuat elegi membutuhkan bahasa (komunikasi) yanh mudah dipahami orang lain, maka diperlukan referensi yang banyak di dalam menyusun elegi. Referensi didapatkan dari membaca dan pengalaman hidup. Terkadang orang berfikiran bahwa filsafat itu sulit dan tidak penting untuk dipelajari. Anggapan itu salah, sebab filsafat ada di kehidupan kita dan di dalam diri kita.

    ReplyDelete
  61. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Seorang guru perlu mengerti dan memahami cara membuat elegi terkhusus guru matematika. Hal ini disebabkan, matematika memiliki simbol-simbol dan rumus-rumus yang sangat banyak. Setiap simbol di dalam matematika memiliki makna yanh berbeda-beda. Tugas guru adalah membuat siswa memahami materi yang diberikan. Saya, sangat setuju dengan pendapat Bapak bahwa seorang guru matematika yang hanya memberikan rumus kepada siswanya adalah tindakan yanh salah. Seoranh guru harus bisa menuntun siswa memahami rumus dengan cara menuntun siswa di dalam menemukan suatu rumus. Seperti yang di ajarkam dalil phytagoras. Di dalam mendapatkan rumus perlu memperhatikan langkah-langkahnya. Oleh karena itu, guru matematika harus memetingksn prosesnya jangan hasilnya. Di dalam menentukan proses penemuan harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Oleh karena itu, penting bagi kita yang menjalani kuliah di pendidikan matematika belajar elegi dan filsafat. Filsafat mengajarkam kita bahwa obyek tidak akan menggapai subyek maka guru perlu memahami pemikiran siswa dan mengkomunikasikan dengan baik.

    ReplyDelete
  62. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    elegi-elegi yang bapak tuliskan disini terkadang dapat dengan mudah saya pahami dan terkadang juga kebalikannya, butuh berulang kali membaca baru paham. namun saya sangat mengapresiasi bapak dalam mengajarkan filsafat kepada kami yang memperlihatkan secara langsung kegunaan belajar filsafat yang dekat dengan kehidupan kita. saya menyukai analogi yang dmuat dalam percakapan antar beberapa tokoh. sebenar-benarnya guru yang baik adalah yang mampu membelajarkan siswanya pun pelajaran tersulit sekalipun. usaha bapak untuk mnegmas filsafat sebagai sesuatu hal yang mudah dipahami adalah hal yang patut ditiru bagi saya sebagai calon guru. terimakasih banyak pak.

    ReplyDelete
  63. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Dalam postingan ini membahas mengenai pertanyaan-pertanyaan mengenai filsafat seperti cara memahami elegi, cara membuat elegi dan menerjemahkan elegi. Elegi ini sebenarnya menjawab pertanyaan saya selama ini karena Bapak dapat menulis elegi-elegi yang berbeda dan selalu saja idenya. Ternyata terjawab di bagian pertanyaan “Bagaimana seseuatu elegi itu muncul?”. Dari jawaban Bapak tersebut saya dapat menyimpulkan bahwa dalam membuat elegi ini muncul begitu saja sesuai kebutuhan. Saya sebenarnya tipe orang yang sedikit sulit untuk mencari ide, kadang tidak membutuhkan waktu sebentar dalam mencari ide, saya membutuhkan beberapa waktu dan mencari beberapa sumber untuk mendapatkan ide saja, sepertinya hal ini dipengaruhi oleh saya yang masih jarang untuk membaca. Karena saya pernah mendengar apabila banyak membaca maka kita akan banyak tahu,

    ReplyDelete
  64. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Membaca elegi ini saya menyimpulkan bahwasanya adanya elegi-elegi ini dimaksukan untuk mengungkapkan yang ada dan yang mungkin ada, agar lebih mudah dipahami oleh orang lain. Dengan membaca elegi ini, diharapkan kita dapat memahami filsafat lebih mudah. Stigma dimasyarak luas filsafat itu susah, tidak penting bahkan sesat. Melalui elegi ini, kita dapat memahami bahwa sesungguhnya filsafat itu dekat dengan segala hal. Filsafat sendiri adalah hasil olah pikir para filsuf. Dengan memahami elegi-elegi ini, kita akan semakin mudah memahami pemikiran para filsuf tersebut. Hal itu karena, dalam elegi ini didalamnya tercantum secara implisit. Namun hati-hatilah saat membaca elegi, selalu diawali dengan doa dan keihlasan agar senatiasa dilindungin oleh Allah agar elegi-elegi ini tidak mengacaukan hati, cukup mengacaukan pikiran saja. Selain itu semoga mendapat hikmah dan manfaat dari membaca elegi-elegi ini. Terimakasih

    ReplyDelete
  65. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015

    Elegi merupakan pemikiran atau aturan akan suatu hal yang dikaitkan dengan sesuatu, dikisahkan menjadi hal yang lainnya dengan makna yang tersirat pada kisah itu. Filsafat mengajarkan kita untuk lebih membuka pikiran seluas-luasnya supaya lebih sensitif pada semua hal yang ditangkap oleh indera, untuk menjadikannya sebagai persepsi dan kemudian dikaitkan dengan pemikiran kita. Hal itu tentu kemudian dapat menjadi bermanfaat pada kehidupan kita.

    ReplyDelete
  66. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Objek kajian filsafat meliputi yang ada dan mungkin ada, berkaitan dengan olah pikir. Bagi sebagaian atau bahkan kebanyakan orang awam filsafat sulit untuk dipahami, rumit, membingungkan, atau bahkan menyesatkan. Elegi ini muncul sebagai sarana untuk meluruskan anggapan salah tersebut, bahwa sebenarnya filsafat itu sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan seseorang sebenarnya dapat berfilsafat kapan dan dimanapun. Elegi dibuat untuk menyederhanakan ilmu filsafat melalui bahasa analog, sehingga dapat lebih mudah diterima dan dipahami. Bagian paling penting dari elegi, sebenarnya bukan elegi itu sendiri, melainkan substansi di dalamnya. Elegi ini juga berfungsi sebagai sarana bagi siapa saja untuk dapat berbicara, mengemukakan pikiran kritis dan persepsinya terhadap kehidupan.

    ReplyDelete
  67. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi – elegi yang terdapat didalam blog ini merupakan cara yang dilakukan untuk memperkenalkan apa itu filsafat. Melalui membaca elegi ini kita akan mendapatkan banyak pengalaman tentang berbagai macam hal yang berhubungan dengan filsafat. Membaca elegi ini membantu menaikkan dimensi kita dalam berfilsafat. Mungkin tanpa disadari, seperti apa yang telah sering dikatakan oleh Prof Marsigit setelah membaca filsafat kita akan berpikir lebih cerdas

    ReplyDelete
  68. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B
    Elegi seolah-olah membongkar kesan filsafat yang cenderung rumit, Elegi memadamkan nafsu dogmatis para filsuf, elegi melebur filsafat menjadi pikiran universal, elegi menumbuhkan filsafat menjadi daun-daun hijau yang segar, elegi wujud keadilan dalam menggunakan hati dan pikiran. Terimakasih pak, untuk elegi-elegi yang sangat inspiratif ini.

    ReplyDelete
  69. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Terimakasih Prof. Marsigit telah membuat elegi-elegi dalam blog ini. Elegi-elegi yang dibuat Prof. Marsigit mempermudah saya untuk melihat kegunaan filsafat dalam kehidupan sehari-hari dan dalam pembelajaran matematika. Elegi-elegi yang dibuat Prof. Marsigit banyak menggambarkan kehidupan atau kenyataan yang ada meskipun saya belum dapat memahami elegi-elegi tersebut secara keseluruhan. Seperti elegi Elegi Permintaan si Murid Cerdas kepada Guru Matematika. Elegi tersebut banyak menyadarkan saya akan apa yang sebenarnya sebagai seorang murid saya rasakan tetapi ketika saya memposisikan diri menjadi guru sering terabaikan. Elegi tersebut hanya satu contoh dari banyak elegi yang saya rasakan manfaatnya.

    ReplyDelete
  70. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  71. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Banyak yang beranggapan bahwa filsafat itu sulit dan cenderung ke arah yang menyesatkan. Hal itu ternyata tidak benar karena setelah saya belajar filsafat diperkuliahan ini. Filsafat tidak sulit tapi untuk belajar filsafat diperlukan pikiran dan hati yang ikhlas dan mau menerima ilmu serta mau banyak membaca serta mebuat pertanyaan-pertanyaan. Saat pikiran kita tidak mampu lagi menjangkau apa yang akn kita pikirkan maka hal itu dikembalikan ke hati.

    ReplyDelete
  72. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B


    Filsafat dipandang sebagai ilmu yang sulit dipahami. Maka pembelajaran filsafat disampaikan dengan trik-trik yang membuat orang mudah memahami hal yang susah, atau mempermudah hal yang susah. Dengan demikian keberadaan filsafat dapat lebih diterima karena sejatinya filsafat itu sangat dekat dalam kehidupan, filsafat itu adalah dirimu sendiri. Melalui pembelajaran filsafat kita diarahkan untuk dapat merefleksikan diri dalam kehidupan sehingga kita semakin haus ilmu pengetahuan. Di samping itu, melalui filsafat kita sebagai calon pendidik dapat menghindari hal-hal yang menyebabkan siswa terjebak dalam mitos karena filsafat mengarahkan kita memahami semua yang ada yang mungkin ada pada ruang dan waktu yang tepat.

    ReplyDelete
  73. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Untuk memahami elegi maka landasan utamanya adalah spiritual, agar ketika kita ingin mereduksi ataupun mengembangkan elegi tetap mempunyai batasan-batasan dalam mentafsirkan elegi itu dan pemikiran kita tidak lari kemana-mana. Jangan sampai setelah kita memahami elegi secara brutal maka kita semakin jauh dari Allah SWT. Tetunya kita tidak ingin hal itu terjadi. Oleh Karena itu tetap harus dalam kerangka spiritual dalam memahami elegi. Sekian dan terima kasih.

    ReplyDelete
  74. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Filsafat dekat dengan diri dan kehidupan. Maka dari itu, berfilsafat ialah memikirkan dan memahami pikiran dalam diri dan kehidupan lingkungan yang ada dan mungkin ada dalam ruang dan waktu. Berfilsafat mengajarkan kita berfikir secara intensif dan ekstensif dengan menggunakan berbagai sumber belajar yang dalam konteks Filsafat ilmu pengetahuan baik dari buku, Jurnal, Teknologi maupun pembelajaran itu sendiri yang ada keterkaitan dengan pemikiran para filsuf. Salah satu sumber belajar dalam berfilsafat yaitu memahami, memberikan pendapat dan mempelajari elegi.

    ReplyDelete
  75. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Elegi-elegi yang telah kami baca semakin menyadarkan kami bahwa dengan filsafat akan menggiring seseorang yang menguasainya dengan baik menjadi sesorang yang bijaksana. Jika elegi ialah pengetahuan, maka secara filsafati Pembuat elegi ialah pengetahuan. Empirisme mengajarkan kepada kita untuk belajar berdasarkan kenyataan dan mengandalkan kebenaran yang telah teruji dengan kenyataan yang tidak mengandung kontradiksi. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  76. Seperti yang sering ditekanan oleh Prof. Marsigit, belajar filsafat diawali dengan mempelajari objeknya yakni segala yang ada dan yang mungkin ada, adapun cara memandangnya ialah dapat dipilih apakah akan dipandang dari segi material, normatif, formal, maupun spiritual. Adapun sebenar-benar filsafat ialah mencoba menghubungkannya dengan spiritualism. Dengan menyelami spiritualisme ini, seseorang akan belajar menjadi seorang yang bijaksana, matang dalam pikirnya serta dekat dengan pencipta. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  77. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A
    Dalam hidup, landasan atau pedomannya adalah ajaran-ajaran agama. Kita harus meletakkan spiritual di tempat paling tinggi. Dalam berfilsafat pun begitu, spiritual harus diletakkan di tempat yang paling tinggi. Elegi pada postingan kali ini mengajarkan bahwa ketika hendak memahami elegi-elegi dalam blog ini, kita harus membuka hati dan pikiran. Ikhlaslah dalam melakukannya agar kita dapat memahaminya dalam batas-batas yang seharusnya.

    ReplyDelete
  78. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Menarik memang elegi ini, menyampaikan filsafat dengan tidak menyebut filsafat, tetapi orang tua berambut putih. Hal ini bertujuan bahwa filsafat adalah cerita kehidupan sehari-hari, sehari-hari kita berfilsafat, filsafat bahasa, filsafat ekonomi, dsb. Dengan membumikan filsafat yang ada dilangit atau pikiran makan akan semakin memudahkan orang memahami filsafat.

    ReplyDelete
  79. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Jikalau menengok pada tingkatan hidup, di atas filsafat ini masih ada spiritual. Spiritual adalah tingkatan tinggi karena mengandalakan metakognisi, metaanalisis, metadimensi. Kenapa kita lebih tenang ketika berdoa, spiritual yang dapat menjelaskannya. Filsafat substansinya sebagai jalan untuk memahaminya, mencari pola, aturan, kemudian di sintesis menjadi tesis-tesis.

    ReplyDelete
  80. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Elegi-elegi yang di tuliskan prof Marsigit bertujuan menghubungkan filsafat dengan subjek yang sedang mempelajari filsafat. Seperti yang Prof. sampaikan bahwa filsafat itu adalah yang mungkin ada dan yang ada, bahkan Prof. mengatakan filsafat merupakan diri kita sendiri. Pengetahuan sendiri adalah filsafat, kita belajar pengetahuan bisa dari pengalaman, orang lain atau literatur. Pengetahuan yang kita peroleh bertujuan agar kita dalam berkehidupan mampu menerapkan nilai-nilai positif. Di sinilah sandaran kita nilai paling tinggi dan benar yaitu nilai spiritual atau Allah SWT. Hal ini bertujuan agar pengetahuan kita tidak melenceng dan dikuasai oleh syaitan yang akan membawa nilai-nilai negatif pada manusia.

    ReplyDelete
  81. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Dari dialog pada elegi di atas, saya berpikir bahwa yang disebut sebagai orangtua berambut putih di sini ialah Pak Marsigit. Yaitu yang menciptakan elegi-elegi di dalam artikel blog ini. Elegi tersebut sesungguhnya merupakan hasil pemikiran dan pengalaman Pak Marsigit untuk mengajarkan seperti apa dan bagaimana berfilsafat itu. Pada elegi filsafat dijelskan melalui cerita-cerita atau dialog sehari-hari dari tokoh yang diumpaman atau disamarkan namanya. Hal tersebut bertujuan agar pembaca dapat merasakan bahwa sesungguhnya filsafat itu ada di sekitar kita dan merupaan bagian dari diri dan pikiran kita sendiri. Menurut saya orangtua berambut putih memberikan nasehat atau kesimpulan dari setiap elegi yang ada di artikel blog ini.

    ReplyDelete
  82. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Membaca elegi-elegi ini kita akan tahu pemikiran dan pendapat para filosof. Selain itu juga dapat membantu kita dalam mempelajari filsafat yang mungkin dianggap sulit bagi sebagian orang elegi merupakan salah satu cara untuk mengkomunikasikan filsafat tanpa menyebut-sebut filsafat. Bahkan dapat kita katakan bahwasannya filsafat itu adalah diri kita. Elegi adalah lagu yang sulit. Elegi adalah salah satu cara yang digunakan untuk berkomunikasi filsafat tanpa mengatakan apa-apa kata filsafat karena ketika beberapa orang berpikir. Elegi yang ada mampu mmbuat kita berpikir dan secara mengalir itu juga membuat kita belajar berfilsafat yaitu dengan memikirkan yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  83. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Saat awal-awal membaca elegi, saya tidak mengerti kalau di dalam elegi terdapat pikiran para filsuf serta ilmu filsafat teoritis, karena membaca elegi seperti membaca suatu cerita tapi sulit sekali untuk memahaminya. Namun, suatu ketika saya membaca buku mengenai filsafat, dan sadarlah saya bahwa di dalam elegi ini banyak terdapat pikiran para filsuf dan teori filsafat. Sadarlah saya, bahwa saat membaca elegi saya sedang mempelajari teori filsafat. Saya menyadari bahwa selama ini tidak mengetahui apa yang saya ketahui. Dengan menggunakan elegi ini, kami mempelajari filsafat secara tidak langsung, membangun filsafat kami sendiri, bukan diberikan.

    ReplyDelete
  84. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dari elegi ini saya mengetahui bahwa filasafat merupakan pikiran para filsuh sehingga orang tua berambut putih ini ingin menyampaikan pikiran para filsuf tersebut dengan cara yang mudah dimengerti dan dipahami oleh yang lain. Elegi ini juga digunakan untuk menggambarkan beapa susahnya memahami filsafat yang telah disajika oleh orang tua berambut putih. Namun hal ini juga diperlukan untuk mengomunikasikan filsafat tanpa menyebunyebur filsafat.

    ReplyDelete
  85. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  86. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Filsafat itu dekat dan berinteraksi langsung dengan diri manusia, terjadi dimanapun dan kapanku, itu tergambar dari elegi-elegi yang Pak Marsigit tayangkan di blog ini. Melalui membaca elegi ini kita menjadi merefleksikan bagaimana diri kita selama ini sebenarnya, dan juga kita menjadi sadar terhadap fenomena sesungguhnya yang terjadi di kenyataan bukan hanya sebatas di pikiran saja, serta menjadikan orang yang rendah hati, tidak sombong akan keilmuannya. Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  87. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B 2017

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Wawancar yang ditunggu-tunggu, karena orang tua berambut putih biasanya hanya sering hadir di akhir percakapan. Pertanyaan saya akhirnya terjawab, mengapa pemikiran para filsuf jarang ditampakkan pada kumpulan artikel di blog ini, karena pemikirannya tersampaikan secara implisit. Terima kasih Pak, pembelajaran yang sangat bermakna dan baru ini saya temui. Semoga metode pembelajaran seperti ini dapat memotivasi pendidik generasi bangsa di negeri ini.

    ReplyDelete
  88. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Setelah membaca elegi ini, saya mulai mengerti bahwa elegi merupakan salah satu cara untuk mengkomunikasikan filsafat tanpa menyebut-sebut filsafat. Bahkan dapat kita katakan bahwasannya filsafat itu adalah diri kita sendiri. Dan sebagai seorang calon guru akan berusaha menunjukkan bahwa filsafat berkaitan langsung dengan kehidupan manusia.

    ReplyDelete
  89. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Memang kebanyakan orang menganggap bahwa filsafat itu sulit untuk dipelajari. Tak sedikit juga oarang yang menganggap bahwa filsafat itu ajaran yang menyesatkan. Akan tetapi, seperti yang dijelaskan oleh Bapak Marsigit bahwa pandangan terhadap filsafat itu tergantung dari orang yang mempelajarinya. Filsafat sebenarnya sangat dekat dengan diri kita. Kebanyakan orang yang salah menilai filsafat itu disebabkan oleh kurang mengertinya orang tersebut terhadap filsafat atau salah menempatkan filsafat dalam ruang dan waktunya

    ReplyDelete
  90. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Untuk mengkomunikasikan filsafat kepada kami para mahasiswa yang kebanyakan belum memahami filsafat atau menganggap filsafat itu sulit dan membingungkan, maka diperlukan bahasa yang mudah dipahami. Bahasa yang bisa dibayangkan oleh mahasiswa yang terlihat ringan namun berisi muatan filsafat. Seperti halnya mengajar matematika siswa primary school. Tidak perlu formal mathematics. yang diperlukan yaitu substansi dari matematika bisa sampai dan dipahami oleh para siswa.

    ReplyDelete
  91. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Banyak sekali makna yang terkandung dalam filsafat. Oleh karena itu kita dalam menafsirkannya pun berbeda-beda. Sehingga dalam berfilsafat tetaplah harus selalu disandarkan pada spiritual agar dalam menafsirkan filsafat kita tidak melenceng dari ketetapan-ketetapan-Nya.

    ReplyDelete
  92. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Menurut saya, untuk memahami elegi maka tetaplah landasan utamanya adalah spiritual agar ketika kita ingin mereduksi ataupun mengembangkan elegi tetap mempunyai batasan-batasan dalam mentafsirkan elegi itu dan pemikiran kita tidak lari kemana-mana. Jangan sampai setelah kita memahami elegi kita semakin jauh dari Tuhan. Tetunya kita tidak ingin hal itu terjadi. Oleh Karena itu tetap harus dalam kerangka spiritual dalam memahami elegi.

    ReplyDelete
  93. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi wawancara orang tua berambut putih menjelaskan tentang bagaimana kita mengenal elegi hingga kita mengenal apa itu filsafat. Dengan elegi maka kita akan belajar membaca suatu hal dengan kata-kata yang tidak sederhana, kita diputar-putar dengan kata-kata yang mengandung banyak makna konotasi, dan dalam elegi tersebut berisi pikiran para filsuf, sehingga dengan mempelajari pikiran para filsafat kita berarti sedang belajar filsafat.

    ReplyDelete
  94. Ilania Eka Andari
    17709251050
    s2 pmat c 2017

    Elegi adalah filsafat. Elegi merupakan kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. Manfaat elegi bagi seorang guru adalah untuk memberi makna pada pelajaran kepada siswa. Guru tidak hanya mendidik dan mengajar menggunakan hafalan rumus tetapi juga memberikan makna dibalik setiap rumus-rumus dan tulisan yang ada. Orang tua berambut putih merupakan ilmu pengetahuan yang akan terus muncul dan berkembang sesuai dengan kebutuhan. Maka elegi pun akan terus muncul dan dibuat sesuai kebutuhan.

    ReplyDelete
  95. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    berdasarkan elegi ini saya berpendapat bahwa filsafat adalah sebuah ilmu yang dapat digunakan dan dipelajari oleh siapa saja. Bisa didapat dari sumber primer maupun sekunder. Filsafat mengajarkan nilai kehidupan, jadi ketika kita mempelajari filsafat ilmu atau filsafat matematika kita mendalami filsafat secara umum pun tidak masalah.Karena suatu ilmu memiliki kaitan dengan ilmu yang lain. Melalui elegi-elegi yang dibaca bisa dijadikan sarana dalam berfilsafat karena mungkin saja tidak semua orang dapat menemukan sumber dalam belajar filsafat.

    ReplyDelete
  96. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Seorang guru dalam bidang atau mata pelajaran apapun, termasuk dosen jika hanya menyampaikan materi sesuai dengan yang ia ketahui, bukan yang ia pahami maka hanya akan menjadi mitos. Maka agar ia dapat menjadi logos, ia harus berusaha memahami materi yang akan disampaikan kepada para peserta didiknya. Termasuk bagaimana cara agar peserta didiknya paham dengan apa yang ia sampaikan. Dengan demikian pembelajaran bukan hanya sekedar transfer pengetahuan tetapi lebih mendalam yaitu pemahaman meskipun dalam pembelajaran istilah transfer seharusnya sudah dihapuskan. Melainkan peserta didik mengkonstruk sendiri pemahamannya.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  97. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    elegi merupakan penyampaian filsafat tanpa menyebutkan filsafat, ini merupakan alternatif yag sangat bagus untuk memperkenalkan dan mengajarkan filsafat, karena orang-orang berpendapat bahwa filsafat itu sulit. dengan membaca elegi-elegi di blog ini tanpa disadari secara tidak langsung telah mempelajari banyak sekali ilmu filsafat. filsafat sangat dekat dengan kita karena filsafaf itu sendiri terdapat dalam diri kita.

    ReplyDelete
  98. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Filsafat itu bukan merupakan sebuah bahasan yang akan selesai kita bahas setelah membaca satu atau dua referensi. Banyak referensi yang merupakan pemikiran-pemikiran dari para filsuf yang wajib kita baca dalam rangka menggapai filsafat. Ditambah juga pengalaman-pengalaman kita untuk bersinggungan langsung dengan objek filsafat. Elegi hadir dengan merangkum kesemuanya dengan bahasan yang mudah dipahami. Pemikiran dan pengalaman dari Prof.Marsigit yang dituangkan dalam elegi ini sedikit banyak bisa mendekatkan jarak antara kita dengan filsafat, meskipun kita belum bisa menggapainya.

    ReplyDelete
  99. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Elegi merupakan sebuah sarana untuk dapat belajar filsafat dengan menyenangkan karena dalam elegi, filsafat telah dipadukan dalam kehidupan sehari-hari. Filsafat mengajarkan kepada kita untuk peka terhadap segala sesuatu, sesuatu yang mungkin ada tau tidak ada. Sehingga filsafat menjadi hal yang penting dalam dunia pendidikan.

    ReplyDelete
  100. Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika

    Filsafat harus dipelajari oleh mahasiswa yang mengambil kuliah filsafat pendidikan matematika. Dan cara untuk mempelajarinya adalah dengan membaca elegi bapak. Apakah saya dapat menyimpulkan bahwa filsafat itu adalah membaca pak? Dengan demikian saya sedikit paham bahwa dengan banyak membaca mungkin kita akan menemukan pemikiran-pemikiran baru yang menjadi sumber dari kegelisahan-filsuf-filsuf yang ada di dunia ini.

    ReplyDelete
  101. Siti Efiana
    15301241029
    S1- Pend.Mat I 2015

    Terima kasih, Prof. Dalam artikel disebutkan bahwa filsafat itu sangat dekat dan dekat sekali dengan kita. Bahkan aku dapat katakan bahwa filsafat itu adalah diri kita. melalui elegi itu aku juga berusaha menunjukkan bahwa kajian filsafat itu banyak manfaatnya dan langsung bersentuhan dengan kehidupan manusia. Kemudian, tantangan bagi orang yang berfilsafat adalah bagaimana menjelaskan filsafat itu dengan bahasa yang paling mudah dipahami. Sedangkan kata filsafat itu sendiri merupakan istilah yang sulit dipahami.
    .
    Bagi saya sendiri, setelah membaca blog Bapak dan elegi-elegi di dalamnya saya mendapatkan banyak pelajaran, mendapat banyak pemahaman baik yang insyaa Allah akan membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  102. Siti Nur Fatimah
    15301241045
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Banyak yang menganggap filsafat itu sulit untuk dipelajari, sulit untuk dipahami. Padahal seperti yang Prof katakan diatas bahwa filsafat itu dekat dengan kita. Nah, elegi itu merupakan suatu alternatif penyampaian filsafat yang bagus untuk memperkenalkan atau mempelajari filsafat. Dengan elegi tersebut dapat disadari bahwa ternyata filsafat sangat dekat dengan kehidupan kita, sehingga dapat lebih mudah dipahami.

    ReplyDelete
  103. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Dari elgi diatsa saya memahami bahwa filsafat selama ini dianggap suatu yang sulit untuk dipelajari. Dengan elegi-elegi ini akan memeudahkan dalam memepelajari filsafat karena elegi ini langsung bersentuhan denan kehidupan sehari-hari. Selain itu pula elegi ini memudahkan dalam mempelajari filsfata tanpa menyebutkan filsufnya.

    ReplyDelete
  104. Raudhah Nur Pratiwi (15301244009)
    S1- Pend. Matematika A 2015

    Bismillah,
    Tidak mudah untuk memahami isi karya Prof yang diawali dengan ‘Elegi’. Saya pribadi, perlu mengulang membaca kira-kira 3-4 kali untuk memahami isi elegi dalam blog ini.
    Dulu, ketika saya mendengar kata ‘filsafat’, yang terpikirkan oleh saya adalah filsafat otu sulit, rumit, saya tidak bisa memahaminya. Namun, ketika filsafat itu dikemas dalam bentuk elegi-elegi, saya jadi menyadari bahwa ternyata filsafat itu indah. Karena apa yang Prof sampaikan melalui elegi-elegi pada blog ini sebenarnya diangkat dari hal-hal yang sederhana, namun dapat membuka pola pikir saya menjadi jauh lebih luas.

    ReplyDelete
  105. Fitria Restu Astuti
    15301241040
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Dari elegi wawancara orang tua berambut putih saya memperoleh ilmu baru yaitu elegi dibuat sebagai sarana berlatih memberbincangkan semua yang ada dan yang mungkin ada. Elegi itu hanya untuk sarana berpikir filsafat. Porsi dari pembelajaran filsafat melalui elegi perlu dibatasi. Elegi bukan suatu topik pembelajaran. Jadi elegi itu tidak cocok untuk digunakan pada pembelajaran disekolah. Tetapi substansinya itulah yang di ambil. Substansi yang dimaksud yaitu maksud dari elegi itu sendiri.

    ReplyDelete
  106. Almaida Alvi Zahrotunnisa
    15301241046
    Pendidikan Matematika A 2015
    Dari elegi di atas bahwa elegi adalah cara Prof menyampaikan filsafat tanpa menyebutkan filsafat. benar adanya bahwa banyak yang menganggap filsafat itu sulit, sehingga belum mulai mempelajari sudah menyerah. Akan tetapi setelah membaca elegi-elegi dari Prof saya menyadari bahwa filsafat itu masih dapat dipahami. Bahkan sesungguhnya filsafat itu begitu indah dengan gambaran gambaran kehidupannya. Karena pada elegi ini, sesuatu yang sederhana dapat diubah untuk menjelaskan sesuatu yang penuh makna.

    ReplyDelete
  107. Isykarima Nur S
    15301241032
    S1 Pend. Matematika A 2015

    Makna yang terkandung dalam filsafat banyak sekali. Oleh karena itu dalam menafsirkan ilmu filsafat hendaknya kita tetap dibentengi atau tetap bersandar pada spiritual agar penafsiran filsafat tersebut tetap di jalan yang lurus atau tidak menyimpang dari ketetapanNya.

    ReplyDelete
  108. Woro Alma Manfaati
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241002

    Banyak orang yang beranggapan bahwa filsafat merupakan ilmu yang sulit untuk dipahami, namun kesulitan tersebut dapat teratasi dengan metode penyampaian yang menarik sehingga orang lebih mudah untuk memahaminya. Salah satu metode penyampaian yang menarik yaitu seperti elegi-elegi yang Prof tulis. Sejatinya filsafat sangat dekat dengan kehidupan, karena filsafat adalah diri kita sendiri. Dengan belajar filsafat nantinya sebagai calon pendidik dapat merefleksikan pembelajaran, sebab dengan filsafat itu dapat mengarahkan semua yang ada pada ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  109. Alman Kresna Aji
    15301241022
    S1 Pendidikan Matematika 2015
    Saya tertarik dengan perkataan bahwa elegi itu mengajarkan filsafat tanpa menyebutkan suatu filsafat. Ditekankan lagi bahwa filsafat adalah cerita atau perjalanan suatu kehiduapan dimana sesuatu itu ada dan mungkin ada yang ada dalam pikiran dan di luar pikiran. Dengan elegi-elegi yang diberikan oleh Bapak, saya menyadari bahwa didalamnya ada suatu ilmu yang ingin diajarkan oleh bapak tanpa menyebutkan suatu ilmu tersebut. Dengan hal ini saya sedikit memahami alur berpikir yang dijalankan oleh Bapak kepada kami. Terima kashi prof atas ilmu yang telah diberikan, hal ini bermanfaat bagi kami.

    ReplyDelete
  110. Rina Musannadah
    15301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Dalam elegi ini dijelaskan apa yang dimaksud elegi itu sendiri. Sesuatu yang awalnya juga saya pertanyakan sejak pertama kali membuka blog ini dan membaca elegi-elegi yang ada. Di sini dijelaskan bahwa elegi adalah suatu sarana untuk menjelaskan filsafat dengan bahasa yang mudah dipahami. Benar adanya, dengan membaca elegi-elegi banyak hal berbau filsafat yang dapat dipahami dan diambil pelajaran di baliknya.

    ReplyDelete
  111. Kristanti
    15301241041
    Pendidikan Matematika A 2015

    Terimakasi prof. dengan tulisan ini saya menjadi tahu bahwa elegi merupakan salah satu cara untuk menyampaiakn filsafat tanpa menyebut filsafat.. karena di benak kebanyakan orang filsafat merupakan sesuatu yang sulit dipahami, sehingga dengan adanya kata elegi, penyampaian filsafat menjadi lebih mudah diterima.

    ReplyDelete