Sep 20, 2013

Elegi Wawancara Orang Tua Berambut Putih




Oleh Marsigit

Wartawan:
Apa yang engkau maksud elegi?

Orang tua berambut putih:
Elegi itu adalah nyanyian susah

Wartawan:
Kenapa engkau gunakan elegi sebagai judul setiap karangan bebasmu?

Orang tua berambut putih:
Untuk menggambarkan betapa susahnya memahami isi karyaku itu.

Wartawan:
Kenapa engkau buat elegi-elegi?

Orang tua berambut putih:
Elegi adalah salah satu cara yang aku gunakan untuk mengkomunikasikan filsafat tanpa menyebut-sebut filsafat.

Wartawan:
Apa maksud tanpa menyebut-sebut filsafat?

Orang tua berambut putih:
Biasanya orang berpendapat filsafat itu sulit. Banyak juga orang yang berpendapat bahwa filsafat itu tak bermanfaat atau bahkan sesat.

Wartawan:
Lantas, kalau memang demikian, lalu kenapa?

Orang tua berambut putih:
Justeru itulah, melalui elegi-elegi aku ingin menunjukkan bahwa tidaklah demikian. Filsafat itu sangat dekat dan dekat sekali dengan kita. Bahkan aku dapat katakan bahwa filsafat itu adalah diri kita. melalui elegi itu aku juga berusaha menunjukkan bahwa kajian filsafat itu banyak manfaatnya dan langsung bersentuhan dengan kehidupan manusia.

Wartawan:
Lalu apa yang dimaksud dengan tanpa menyebut-sebut filsafat?

Orang tua berambut putih:
Tantangan bagi orang yang berfilsafat adalah bagaimana menjelaskan filsafat itu dengan bahasa yang paling mudah dipahami. Sedangkan kata filsafat itu sendiri merupakan istilah yang sulit dipahami.

Wartawan:
Bagaimana awalnya engkau membuat elegi.

Orang tua berambut putih:
Elegi itu muncul sebagai kebutuhan. Aku merasa perlu mengembangkan komunikasi filsafat dalam bentuk yang netral, tidak menyuruh, tidak memaksa, lebih bersifat empati tetapi tetap memuat tesis-tesis filsafat.

Wartawan:
Apa referensi yang engkau gunakan untuk membuat elegi?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa referensi itu ada banyak ragamnya. Sumber pertama yang langsung dari pelakunya, itu disebut sumber primer (pertama). Jika sumber itu merupakan penuturan dari orang lain, maka sumber tersebut disebut sumber seconder (kedua). Sedangkan elegi-elegi ini aku susun berdasarkan refleksi pengalamanku. Balam elegi-elegi ini, sumber pertama dan kedua adalah sebagai inspirasi saja. Sedangkan yang paling pokok dan paling banyak adalah refleksi
pengalaman saya setelah membaca filsafat dan mengalami kehidupan langsung.

Wartawan:
Metode apa yang anda gunakan untuk menyusun elegi?

Orang tua berambut putih:
Untuk menyususun elegi ini, aku menggunakan beberapa peralatan meliputi: bahasa analog, reduksi atau penyederhanaan, kelengkapan, pengandaian, personifikasi, pengembangan pola, korespondensi (isomorphisma), teleologi, phenomenologi, induksi, deduksi, berpikir kritis, membuat pertanyaan-pertanyaan, membuat figur orang tua berambut putih, komunikasi,
menterjemahkan dan diterjemahkan.

Wartawan:
Siapakah orang tua berambut putih.

Orang tua berambut putih:
Orang tua berambut putih adalah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu berasal dari pertanyaan-pertanyaan, jawaban-jawaban, sampai batas pikiranmu. Maka orang tua berambut putih itu dapat berupa pertanyaan-pertanyaan, tesis-tesis, anti-tesis, sintesis, dan semuanya yang tergolong olah pikir. Jadi orang tua berambut putih itu juga bisa berarti filsafat. Jika dia diartikan sebagai sipembawa pesan filsafat, bolehlah, khusus dalam elegi ini, jika engkau artikan bahwa elegi itu adalah dosen filsafat, setidak-tidaknya orang tua berambut putih itu adalah pikiranku, yaitu pikiran seorang Marsigit.

Wartawan:
Bagaimana seseuatu elegi itu muncul?

Orang tua berambut putih:
Sekali lagi aku katakan bahwa elegi itu muncul karena kebutuhan. Ketika aku melihat situasi lingkungan tertentu dimana saya merasa perlu mengungkapkannya maka aku buatlah elegi.

Wartawan:
Kenapa antara beberapa elegi ada yang terkesan kontradiksi?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa hidup itu kontradiksi. Hakekat berubah dan hakekat diam itu kelihatannya kontradiksi. Tetapi keduanya itu ada. Maka aku mengkhawatirkan jika ada seseorang hanya berhenti sampai hakekat perubahan saja, karena hal yang demikian berarti dia hanya berpikir parsial.

Wartawan:
Kenapa kuliah filsafat pendidikan matematika, kelihatannya lebih banyak filsafatnya, lalu apa hubungan antara filsafat dan filsafat matematika?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa filsafat itu dapat ditaruh di depan apapun. Maka kita punya filsafat matematika, filsafat pendidikan, filsafat seni, filsafat negara, filsafat umum, filsafat alam, ..dst. Apapun filsafatnya, maka filsafat itu selalu mempunyai 3 jalur utama yaitu ontologi (ilmu hakekat), epistemologi (ilmu cara), dan aksiologi (etik dan estetika). Hal yang paling berat bagi orang yang ingin mempelajari filsafat adalah pada bagian depan, yaitu ada filsafat umum. Jika ini sudah dipahami, maka untuk mempelajari filsafat-filsafat yang lain, misalnya filsafat pendidikan matematika, kita tinggal tarik analogi-analogi dan benang merahnya.

Wartawan:
Apakah akan ada elegi-elgi tentang matematika atau pendidikan matematika.

Orang tua berambut putih:
Tentu bisa saja hal demikian itu dibuat oleh para mahasiswa untuk latihan.

Wartawan:
Apa sebetulnya tujuan utama atau visi dibuatnya elegi.

Orang tua berambut putih:
Elegi dibuat sebagai sarana berlatih memberbincangkan semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka mahasiswa matematika itu perlu kemampuan memperbincangkan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada. Sebagai seorang guru, maka perlu mempunyai keterampilan memperbincangkan semua yang ada dan yang mungkin ada.

Wartawan:
Apa yang dimaksud sebagai memperbincangkan.

Orang tua berambut putih:
Bukan subyek yang bicara, bukan dosen yang bicara, bukan guru yang bicara. Jika mereka itu yang bicara, maka bicaranya bersifat otoriter, merayu, membujuk atau memaksa para siswa untuk percaya. Tetapi yang bicara adalah para obyek, para mahasiswa dan pada siswa serta semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka sebetulnya yang ada dan yang mungkin ada itu berhak bicara. Jika anda telah mampu memperbincangkan mereka maka kemampuanmu itu mempunyai dimensi setingkat lebih tinggi.

Wartawan:
Apa yang engkau maksud dengan yang ada dan yang mungkin ada?

Orang tua berambut putih:
Yang ada dan yang mungkin ada itu adalah obyek kajian filsafat.

Wartawan:
Apakah engkau akan terus membuat elegi?

Orang tua berambut putih:
Belum tahu, karena elegi merupakan kebutuhan.

Apa sisi kelemahan elegi:
Satu-satunya kelemahan atau sisi kekurangan elegi adalah jika dia digunakan tidak sesuai ruang dan waktunya.

Wartawan:
Apa yang dimaksud digunakan tidak sesuai ruang dan waktunya?

Orang tua berambut putih:
Elegi itu hanya untuk sarana berpikir filsafat. Itu saja hanya salah satu. Jadi porsinya memang perlu dibatasi. Dia juga bukan suatu topik pembelajaran. Jadi elegi itu tidak cocok untuk digunakan pada pembelajaran disekolah. Tetapi substansinya itulah yang di ambil.

Wartawan:
Apa yang dimaksud substansi?

Orang tua berambut putih:
Seorang guru matematika hendaknya tidak hanya hapal rumus. Jika seorang guru matematika mendidik siswa dengan hanya menghapal rumus, itu namanya mitos. Maka guru seharusnya mengetahui apa makna dibalik dalil Pythagoras. Maka guru juga berusaha agar siswanya mengetahui apa makna dibalik dalil Pythagoras. Begitu saja maksudnya.

Wartawan:
Apa beda mitos dan patung filsafat? Apa beda logos dan orang tua berambut putih?

Orang tua berambut putih:
Mitos adalah patung filsafat. Logos adalah orang tua berambut putih.

Wartawan:
Mengapa sering banyak cerita dalam elegi selalu berakhir kepada hati atau Tuhan?

Orang tua berambut putih:
Filsafat itu tergantung orangnya. Dia bisa berangkat dari mana saja, melalui mana saja, dan berhenti di mana saja dan tentu kapan saja. Elegi-elgi ini setidaknya menggambarkan keadaan diriku atau filsafatku.

Wartawan:
Bagaimana peran para filsof?

Orang tua berambut putih:
Filsafat adalah pikiran para filsuf. Jadi tiadalah artinya kita bicara filsafat jika kita tidak membicarakan pikiran para filsufnya.

Wartawan:
Tetapi kenapa dalam elegi ini jarang muncul pemikiran para filsuf?

Orang tua berambut putih:
Pemikiran mereka tersembunyi atau muncul secara implisit.

Wartawan:
Terimakasih

Orang tua berambut putih:
Terimakasih kembali.

11 comments:

  1. Lana Sugiarti
    16709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Dari elegi ini, saya menjadi tahu tentang apa itu elegi, fungsinya, mengapa dibuat, dan untuk apa tujuannya. Elegi akan memudahkan kita untuk berpikir filsafat. Didalam elegi juga terdapat kisah – kisah dan berbagai perasaan yang muncul. Ada juga yang merupakan pemikiran para filsuf yang dibahasakan dalam kehidupan sehari – hari agar mudah dipahami. Melalui elegi, banyak sekali ilmu yang dapat diambil untuk pelajaran hidup.

    ReplyDelete
  2. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Setelah beberapa kali komen tentang elegi-elegi, ternyata baru sekarang saya menemukan apa itu elegi dan mengapa pada blog ini banyak menggunakan elegi-elegi untuk menjelaskan sesuatu. Dari sini saya mendapatkan pelajaran bahwa elegi merupakan cara yang pas untuk mewujudkan filsafat menjadi suatu hal yang ternyata dekat dengan kita. Elegy membentu kita untuk dapat berpikir secara filsafat. Elegi berusaha untuk menjelaskan filsafat yang sulit dipahami untuk menjadi suatu halyang lebih mudah untuk dipahami. Perlu banyak latihan membanca elegy untuk dapat memahami maksud dibali elegi-elegi yang dibuat oleh Prof. Marsigit ini. sejauh ini saya masih dalam tahap belajar untuk mencoba memahami maksud dari elegi-elegi tersebut.

    ReplyDelete
  3. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Terima kasih Bapak telah menulis cerita ini. Melalui cerita ini saya dapat mengetahui apa itu arti elegi. Sudah sejak awal saya bertanya-tanya ketika membaca blog Bapak. Saya bertanya-tanya mengenai apa itu elegi dan akhirnya terjawablah sudah rasa penasaran saya.

    ReplyDelete
  4. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Elegi ini mengemukakan bahwa ilmu pengetahuan itu berasal dari pertanyaan-pertanyaan, jawaban-jawaban, sampai batas pikiranmu. Maka pengetahuan itu dapat berupa pertanyaan-pertanyaan, tesis-tesis, anti-tesis, sintesis, dan semuanya yang tergolong olah pikir(filsafat). Filsafat ternyata adalah keseharian kita, segala aktivitas adalah berfilsafat. Kadangkala kita merasa filsafat menuju kearah kesesatan karena filsafat selain sebagai olah pikir juga reflektif. Bagi orang yang tidak memiliki landasan spritual yang tinggi maka ia akan tebawa kejurang kegelapan dari filsafat.

    ReplyDelete
  5. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Elegi adalah gambaran dari abstraksi diri kita dan filsafat itu adalah diri kita sendiri. meski filsafat itu sulit, akantetapi dalam hal ini dibuat elegi sebagai gambaran agar mudah dalam memahami filsafat. Alat yang sering dipakai dalam elegi yaitu bahasa analog, reduksi atau penyederhanaan, kelengkapan, pengandaian, personifikasi, pengembangan pola, korespondensi (isomorphisma), teleologi, phenomenologi, induksi, deduksi, berpikir kritis, membuat pertanyaan-pertanyaan, membuat figur orang tua berambut putih, komunikasi, menterjemahkan dan diterjemahkan. Sebagian besar dari elegi ini adalah adalah hasil pengalaman dan selebihnya dari sumber lainnya.

    ReplyDelete
  6. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    memang benar adanya bahwa terkadang filsafat itu susah untuk dipahami, karena mungkin filsafat itu juga termasuk pelajaran yang bersifat abstrak. filsafat juga menduduki tempat yang membutuhkan kemampuan bernalar tingkat tinggi. tapi disini bapak mencoba untuk menjelaskan filsafat yang sebenarnya tanpa harus menggunakan kata-kata filsafatnya. tujuannya tak lain hanyalah agar kita bisa untuk lebih mudah memahami filsafat tersebut.

    ReplyDelete
  7. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Filsafat memang cenderung dianggap sebagai ilmu yang sulit dan berat. Padahal, filsafat begitu dekat dengan kita. Bahkan filsafat dapat dikatakan sebagai gambaran dari diri kita sendiri. Melalui elegi-elegi yang Prof Marsigit tulis ini, saya jadi tahu bahwa kajian filsafat itu bersentuhan langsung dengan kehidupan manusia sehingga begitu banyak manfaat yang bisa dipetik jika kita mempelajarinya.

    ReplyDelete
  8. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Elegi ini menjelaskan makna, fungsi dan tujuan dari elegi-elegi yang sudah kita baca. Elegi dapat diartikan menggunakan tiga aspek dalam filasat yaitu: (1) Ontologi, bahwasanya hakekat dari elegi adalah suatu bentuk komunikasi filsafat tanpa menyebut langsung bahasan filsafatnya agar kita terus berpikir; (2) Epistemologi, bahwasanya elegi menggunakan bahasa analogi, pengandaian, korespondensi, berpikir kritis, membuat pertanyaan-pertanyaan, dialog, menggunakan tokoh-tokoh seperti orang tua bermbut putih dan yang lainnya; (3) Aksiologi, bahwasanya penggunaan elegi tersebut sesuai dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  9. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Elegi adalah nyanyian susah,atau bisa saya katakan adalah sepotong kalimat yang berada di elgi wawancara orang tua berambut putih, yang mana alasanan adanya elegi untuk berfilsafat akan tetapi tidak menyebeutkan filsafat itu sendiri. Karena jika sebut filsafat maka orang akan mengganggap susah. Padahal berfilsafat itu dapat memebuka pemikiran kita menjadi lebih luas lagi. Elegi juga bisa menyatakan sebagai curahan hati. Dengan elegi ini bertujuan untuk mebantu para yang menyembut bahwa filsafat itu susah mengatakan bahwa filsafat itu menyenangkan.

    ReplyDelete
  10. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Benar adanya bahwa filsafat dianggap sulit dalam memahaminya. Saya mengalami sendiri, ketika bercerita dengan teman yang mengenal filsafat lebih dulu, ia menyatakan bahwa filsafat sulit dipahami. Tapi bapak tidak menampakkan bahwa bacaan-bacaan ini sebagai filsafat. Sehingga munculah elegi-elegi dimana melalui elegi, filsafat direpresentasikan menjadi lebih dekat dengan kehidupan, bermakna, dan membuka kesempatan seluas-luasnya bagi setiap orang untuk mulai menerima, menghargai dan menyelami filsafat itu sendiri. Pengalaman adalah guru terbaik. Maka, diangakatnya elegi - elegi dalam blog ini dari pengalaman ialah bentuk pembelajaran bermakna. Awal, proses dan muara berfilsafat ialah para pembelajar sendiri yang menentukan. Dalam hal ini saya sangat setuju dengan muara setiap elegi yang berakhir pada nilai -nilai KeTuhanan.

    ReplyDelete
  11. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Elegi adalah salah satu jalan seseorang berfilsafat tanpa harus merasa kesusahan. Saya sangat setuju dengan muara setiap elegi berakhir pada nilai-nilai keTuhanan. Hal ini sebagaimana dimensi tertinggi dalam hidup manusia adalah spiritual. Elegi sendiri ternyata tercipta jika ada sesuatu yang harus dikomunikasikan melalui filsafat. Jika begitu banyak elegi yang ada, maka begitu banyak pula komunikasi filsafat yang kita butuhkan. Oleh karena itu, untuk memahami elegi tidak bisa instan dan tidak bisa sepotong-sepotong, engkau harus baca baca dan baca disertai ikhlas hati dan ikhlas pikir.

    ReplyDelete