Sep 20, 2013

Elegi Seorang Hamba Menggapai Wajah




Oleh: Marsigit

Hamba menggapai wajah memulai perjalanannya:
Aku di sini akan dan sedang memulai perjalananku. Dalam mimpiku, perjalananku itu akan sangat jauh dan sangat melelahkan. Tetapi konon sangat menjanjikan dan berpengharapan. Walaupun sangat berbahaya dan menakutkan.

Konon dalam perjalananku aku harus berbekal jiwaku, berpegang pada jiwaku dan bertuju kepada jiwaku. Tidak hanya itu saja. Konon juga aku harus berteman jiwaku, bertanya kepada jiwaku. Aku dapat memilih sembarang kendaraanku, tetapi kendaraan utamaku adalah orang-orang bijak. Para nabi dan rosul adalah “pesawat” ku. Sedangkan tumpangan yang paling murah dan umum adalah pada guru. Konon aku bukan sekedar ilmu, tetapi ilmu adalah pelumasku. Agar aku bisa mencapai tujuan dengan berhasil, konon aku harus mencari teman-temanku, yaitu para siswa-siswa. Tetapi aku juga disarankan untuk bersilaturahim kepada negarawan, politisi dan ulama. Aku diperingatkan untuk waspada, karena godaan diperjalanan sangat banyak. Godaan itu ada yang besar seperti raksasa, ada yang tajam setajam pisau cukur, ada yang selembut salju, ada yang tampak jelas tetapi banyak yang tidak tampak jelas. Tetapi apapun yang terjadi aku dipesan agar bersikap sabar, tawakal dan tumakninah. Aku harus bersabar dan tawakal ketika aku tidak dapat menemukan kendaraan untuk bebergian, bahkan aku harus sabar ketiga aku ditinggalkan teman-temanku, bahkan aku harus sabar ketika aku ditinggalkan oleh semuanya. Tetapi aku juga harus sabar melihat segala macam kejadian, bencana alam, bencana kemanusiaan, perang bahkan kiamat sekalipun. Anehnya aku diberi tugas untuk mencatat dan menyaksikan semuanya yang terjadi itu. Aku juga sekaligus diangkat untuk menjadi saksi bagi semuanya, baik dalam ruang dan waktu. Tetapi aku harus mempersiapkan diri ketika konon aku harus ikut maju ke medan laga dan pertempuran. Tetapi beritanya, musuhku yang paling berat adalah diriku sendiri. Aku diberitahu bahwa aku ditakdirkan untuk tidak mudah mengenali diriku sendiri. Karena konon wajahku bisa menyerupai apa saja. Wajahku bisa menyerupai apa saja yang aku pikirkan. Wajahku bisa menyerupai orang bijak, bisa menyerupai orang jahat, bisa menyerupai pejabat negara, bisa menyerupai presiden, menteri. Wajahku juga bisa menyerupai uandang-uandang, peraturan, tata-tertib. Wajahku bisa menyerupai orang tua, bisa menyerupai anak kecil, bahkan bisa menyerupai seorang bayi yang belum lahir sekalipun. Tetapi perjalanan dan semua perjuanganku itu konon sebenarnya diperuntukkan untuk mencari tahu bagaimana wajahku itu. Jadi seberat inilah cobaan dan perjuangan hidupku, sekedar hanya untuk dapat mengetahui seperti apakah wajahku itu.

Hamba menggapai wajah berjumpa dengan hamba menggapai tinggi:
Wahai hamba menggapai tinggi, bolehkan aku bertanya.

Hamba menggapai tinggi:
Boleh-boleh saja. Silahkan jika engkau ingin bertanya.

Hamba menggapai wajah:
Dalam rangka mengetahui wajahku, maka aku melakukan perjalanan jauh ini. Tetapi sekarang saya bingung. Sampai di manakah dan berada dimanakah aku ini. Kemudian aku harus menuju kemanakah dan harus menemui siapakah. Kemudian aku harus melakukan apa sajakah?

Hamba menggapai tinggi:
Ketahuilah bahwa manusia diciptakan hanyalah untuk beribadah kepada sang Pencipta. Tetapi sekarang mulai banyak orang-orang sudah tidak tahu diri lagi. Maka seyogyanya, temuilah mereka dan beritahukanlah kepada mereka, walaupun hanya sekedar satu ayat sekalipun. Tegakkanlah kebenaran dan keadilan, agar mereka semua selamat di dunia maupun di akhirat.

Hamba menggapai wajah:
Terang dan jelas petunjukkmu itu. Tiadalah keraguan sekarang bagiku untuk melangkah. Doa restumu lah yang selalu aku mohon supaya aku berhasil mengemban tugas-tugasmu itu. Salam.

Hamba menggapai wajah menjumpai raksasa dan ksatria yang sedang berperang:

Hamba menggapai wajah:
Wahai raksasa dan ksatria, kenapa engka berdua lakukan peperangan ini? Bukankah berdialog itu lebih baik.

Raksasa:
Dasar orang tidak tahu diri. Engkau kusuruh membunuhnya malah pergi tak karuan juntrungnya. Hai orang yang mengakau sebagai hamba menggapai wajah. Sekarang kau pilih saja. Kau ingin ikut denganku atau ikut dengan musuhku itu.

Ksatria:
Wahai hamba menggapai wajah. Maafkanlah aku, karena aku telah berbuat tidak bijaksana, sehingga reputasimu telah tercemarkan oleh kejadian ini. Terserahlah engkau. Jika engkau ingin membantuku bolehlah, tetapi jika engkau tidak ingin membantuku ya tidak apa-apa. Aku serahkan sepenuhnya kepada yang Maha Kuasa, suratan takdir dan ikhtiarku.

Hamba menggapai wajah:
Wahai raksasa. Iba dan marah hatiku melihat dirimu. Mengapa engkau telah berperangai seburuk itu. Bukankah aku teringat bahwa ketika itu engkau menemuiku untuk meminjam wajahku. Maka aku pinjamkan wajahku kepadamu tetapi dengan pesan agar dijaga baik-baik. Mengapa engkau tidak bisa mengemban amanahku. Bahkan sekarang kondisinya sebegitu buruknya. Lebih dari itu. Engkau juga telah salah gunakan wajahku untuk kepentingan-kepentinganmu secara tidak bertanggung jawab. Bahkan engkau gunakan wajahku itu untuk menggapai ego dan kepentingan dirimu. Engkau telah bersembunyi di balik wajahku untuk melakukan kedholiman di muka bumi ini. Engka bahkan telah melakukan perusakan di muka bumi ini menggunakan wajahku. Dengan dalih-dalih kebaikan engkau ciptakan keburukan-keburukan. Dengan bersembunyi di balik wajahku, engkau telah salah gunakan kekusaaan untuk menguasai dan merampas hak-hak orang banyak. Kamu ciptakan sistem dan aturan-aturan yang mementingkan dirimu sendiri. Kamu telah merubah wajahku yang kau pinjam menjadi wajah yang rakus akan kekuasaan.

Hamba menggapai wajah:
Wahai ksatria. Iba dan menyesal hatiku melihat dirimu. Mengapa engkau telah aku biarkan dan aku tinggalkan begitu lama. Bukankah aku teringat bahwa ketika itu engkau menemuiku untuk mohon ijin melakukan perjalanan dan berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan. Tetapi aku telah melupakanmu. Maka maafkanlah diriku.

Raksasa:
Wahai orang yang mengaku-aku menggapai wajah. Sombong amat engkau itu. Emangnya gua pikirin. Memangnya siapakah dirimu itu. Dirimu itu bagiku, sebenar-benar tidak berharga. Kamu tidak mempunyai nilai bagiku. Tetapi jika kamu tetap ingin hidup maka boleh tetapi dengan saratnya. Saratnya adalah engkau cabut semua pernyataanmu itu tentang diriku. Kemudian kamu minta maaf dua ratus persen kepadaku. Setelah itu maka kamu harus tunduk tigaratus persen kepadaku. Jika tidak, maka enyahlah engkau itu dari depanku ini.

Ksatria:
Wahai orang menggapai wajah. Sungguh mulia budi dan ucapan-ucapanmu itu. Maafkanlah bahwa aku telah sekian lama tidak memberi khabar kepadamu. Aku hanya berserah diri kepada yang Maha Kuasa, suratan takdir dan ikhtiarku. Aku tidak berani menatap wajahmu seratus persen karena aku khawatir dengan caraku. Aku merasa perlu mengembangkan cara dan metode agar aku bisa menatap wajahmu. Sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku tidak mengetahui bagaimana wajahku itu.

Raksasa:
Ah dasar orang bodoh dan dungu. Melihat wajah sendiri saja tidak bisa. Ini, kalau engkau ingin melihat wajahku. Tentu wajahku adalah paling tampan di dunia ini, bukankah begitu?

Orang bijak datang menemui ketiga orang tersebut:
Wahai ketiga orang yang sedang bertengkar. Demikianlah kodratnya. Bahwa hamba menggapai wajah telah ditakdirkan mempunyai banyak rupa. Raksasa itu tidak lain tidak bukan adalah dirimu. Ksatria itu juga dirimu. Jadi sebenar-benar dirimu adalah multi rupa.

Hamba menggapai wajah:
Tetapi aku menjadi penasaran. Sebetulnya siapakah diriku itu wahai orang bijak.

Orang bijak:
Dirimu adalah diriku juga. Dirimu mendahului sekaligus mengakhiri mereka. Jiwamu adalah jiwa mereka, jiwa mereka adalah jiwamu. Tetapi wajahmu akan berbeda-beda pula. Wajahmu akan tergantung wadahmu. Wadahmu adalah mereka pula. Jika mereka baik maka baik pulalah wajahmu. Jika mereka buruk maka buruk pulalah wajahmu. Jika mereka raksasa maka menjadi raksasa pulalah dirimu. Dan jika mereka ksatria maka menjadi ksatria pulalah dirimu itu. Tiadalah arti bagimu tanpa mereka. Demikian juga tiadalah arti bagi mereka tanpa dirimu.

Hamba menggapai wajah:
Bagaimana dengan dirimu?

Orang bijak:
Kau ganti saja setiap kata “mereka” pada kalimat-kalimat ku di atas dengan kata “wajahmu”, “raksasa”, “ksatria”, atau “orang bijak”. Maka sebenar benar aku tiada lain tiada bukan adalah dirimu dan diri mereka pula.

Hamba menggapai wajah:
Jadi siapakah kita ini?

Orang bijak:
Boleh boleh saja. Tetapi jika kita sepakat mencarinya maka kita boleh juga.

Hamba menggapai wajah:
Jangan berputar-putar dan bertele-tele. Tolong sebutkan saja siapa kita?

Orang bijak:
Sebenar-benar dari kita tidak lain tidak bukan adalah “Belajar Mengerti Diri”

26 comments:

  1. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    Pendidikan Matematika 2013

    Upaya seorang dalam melawan kesombongan dirinya adalah tugas terbesar bagi seorang yangmenginginkan sukses. sombong dari ilmunya, sombong dari merasa cukup, sombong dari meremehkan orang lain, sombong dari menyandarkan kepada kemampuan berfikir. Bagaimana seorang dapat menjauhi hal itu adalah dengan mengerti diri sendiri, sadar akan kadar kemampuan serta terus berusaha memperbaiki kualitas diri.

    ReplyDelete
  2. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Wajah adalah salah satu penilaian orang terhadap diri kita. Maka kalau kita mau menilai orang lain, maka kita harus instrospeksi diri terlebih dahulu. Memahami diri sendiri memang tidak mudah. Tetapi itulah kunci kesuksesan kita. Karena sebenar-benarnya dari kita tidak lain dan tidak bukan adalah belajar mengerti diri.

    ReplyDelete
  3. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Wajah merupakan cerminan diri kita. Wajah kita tergantung dari sikap dan perbuatan kita. Baik dan buruknya wajah kita, tergantung dari baik dan buruknya sikap dan perbuatan kita. Kita diberikan berbagai rupa wajah, dan kita memilih wajah mana yang pantas dan layak kita miliki.

    ReplyDelete
  4. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Sesungguhnya sebenar-benar musuh yang paling berat bagi kita adalah diri kita sendiri. Maka lawanlah diri kita sendiri ketika sudah melenceng dari ketentuan-Nya. Kita ditakdirkan untuk tidak mudah mengenali diri kita sendiri. Wajah kita bisa menyerupai apa saja yang kita pikirkan. Wajah kita itu bisa menyerupai orang bijak, bisa menyerupai orang jahat. Maka berprasangka baik dan senantiasa memperbaiki diri. Sesungguhnya sebenar-benar dari kita tidak lain tidak bukan adalah belajar mengerti diri. Maka berikhtiar dan berdoalah, memohon pada-Nya agar dimudahkan dalam mengerti diri dan menjadi hamba yang bertakwa.

    ReplyDelete
  5. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dalam elegi ini disebutkan bahwa kehidupan ini yaitu untuk belajar memahami diri sendiri. Setiap orang memiliki bermacam-macam sifat kadang sesuai dengan yang di harapkan tuhan, kadang tidak. Dalam diri setiap orang akan memiliki musuh yaitu dirinya sendiri, atau yang sering di sebut nafsu. Sehingga, yang terpenting yaitu bagaimana untuk mengendalikan nafsu tersebut. Maka penting untuk menetapkan hati pada keimanan, lalu senantiasa berpikir dengan jernih.

    ReplyDelete
  6. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Sebenar-benarnya diri kita adalah tidak lain dan tidak bkan adalah belajar menggapai diri. Mengenali diri kita yang sebenar-benarnya. Benar bahwa hidup adalah perjalanan, perjalanan menemukan diri kita. manjalankan segala peran kita di muka bumi. Sementara peran pada setiap orang dapat berubah sesuai dengan ruang dan waktunya. Begitulah manusia yang bersifat dinamis dan dapat berubah-ubah sesuai dengan adaptasinya.

    ReplyDelete
  7. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas sharingnya, Pak. Hidup adalah tentang belajar memahami diri sendiri serta orang atau objek yang berada di sekitar kita. Seperti yang digambarkan di elegi di atas bahwa dalam diri setiap manusia terdapat 'ksatria' yang selalu mendorong mereka berbuat amal-amal kebaikan serta 'raksasa' yang membisikkan sebaliknya. Tinggal bagaimana manusia memilih untuk lebih mendengar dan mengikuti yang mana.

    ReplyDelete
  8. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini saya memahami bahwa tidak lah mudah menterjemahkan diri sendiri, sangatlah sulit memahami diri sendiri. Terkadang dengan mencoba mengenali diri sendiri bisa membuat kami takabur dengan sifat-sifat positif yang kami miliki dan seakan menutupi semua sifat-sifat negatif kami. Sungguh elegi ini membuat kami (saya) untuk intropeksi diri, dan berusaha untuk mengenali diri lebih baik.

    ReplyDelete
  9. Junianto
    PM C
    17706251065

    Orang yang paling bijak adalah mereka yang mampu memahami diri mereka sendiri. Maksus dari menggapai wajah pada elegi ini adalah sebuah analogi untuk memahami diri sendiri ataupun mencari jati diri. Terkadang proses ini membutuhkan waktu yang sangat panjang dan membutuhkan orang lain sebagai cermin untuk menilai diri kita. Namun, memang benar bahwa musuh terberat kita adalah diri kita sendiri. Malas, tidak jujur, tidak bertanggung jawab, serakah, dll adalah musuh kita yang ada pada diri kita sendiri. Maka dari itu, selalu berusaha dan berdoa kepada Tuhan adalah kunci agar kita bisa menghadapi diri sendiri.

    ReplyDelete
  10. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi seorang hamba menggapai wajah menjelaskan bagaimana kita mengenali diri sendiri. Mengenali diri sendiri tidaklah mudah, tidak seperti mengenali orang lain. Kita sebagai manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Terkadang kita tak mampu memahami kekurangan kita dan terkadang pula kita hanya berfokus pada kelebihan kita sehingga kita dibutakan oleh kesombongan. Hendaknya keduanya harus seimbang, ketika kita memiliki kekurangan, maka galilah kelebihan kita agar dapat menutupi kekurangan kita.

    ReplyDelete
  11. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Belajar mengerti diri. Saya sangat setuju dengan closing dan conclusion dari elegy ini, belajar mengerti diri. Manusia berada dalam perjalanan menggapai logosnya, manusia berada dala perjalanan menggapai wajah, maka sudah wajar jika pada perjalanan tersebut kita menemukan kebingungan-kebingungan, karena pada dasarnya sebelum kita sampai di akhir perjalanan, kita adalah multi rupa. Maka manusia sebagai makhluk yang memiliki pikir dan nurani sudah seharusnya berusaha dan berikhtiar sekuat tenaga untuk menggapai “wajah” sebaik-baiknya, yaitu menjadi manusia “baik” yang bermanfaat bagi lingkungan.

    ReplyDelete
  12. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Belajar mengerti diri. Mengenal Diri. Mengenali diri kita, bukan hanya melihat betapa tampan kita, betapa tinggi kita, betapa atletis kita. Akan tetapi lebih dari itu, kita harus melihat apa potensi yang kita miliki, entah itu potensi berbuat baik, buruk, potensi berprestasi dan segala macam potensi yang ada dan tersembunyi di dalam diri kita. Dengan begitu kita tidak merasa kebingungan dan mampu mengoptimalkan dan meningkatkan potensi yang kita miliki.

    ReplyDelete
  13. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Seorang hamba menggapai wajah merupakan analogi dari seorang yang berusaha mengenali diri. Seperti yang dikatakan dalam elegi ini bahwa setiap hamba dapat memiliki banyak rupa. Dapat dimaknai bahwa setiap diri berpotensi untuk menjadi baik dan juga menjadi buruk. Jika hatinya bersih, maka akan baik perangainya. Begitu sebaliknya, jika hatinya telah dipengaruhi oleh hal-hal yang buruk, maka akan buruk pula perangainya.

    ReplyDelete
  14. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Elegi yang sangat reflektif. Menjadi manusia berarti menjadi diri sendiri. Begitu pula ketika menjadi pendidik, saya harus mampu memahami bahwa siswa hendaknya menemukan dirinya sendiri dengan potensi mereka masing-masing. Memahami diri sendiri akan meredam pembrontakan di dalam diri menjadi dialektis. Setiap manusia memerluka sarana reflektif untuk menemukan dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  15. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Perjalanan mengagapai wajah bukanlah hal yang mudah.Banyak jalan terjang yang harus dilalui.Dan untuk memudahkan hal tersebut, kita butuh teladan yang di analogikan sebagai kendaraaan seperti orang-orang bijak,nabi dan rasul dan guru.Halangan,rintangan , gangguan dan dalam mengenal diri sejatinya selalu mengiringi perjalanan.Maka kata kuncinya adalah bersabar.

    ReplyDelete
  16. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Belajar mengerti diri menurut saya dilakukan oleh manusia sepanjang hayatnya. Saat seseorang memahami dirinya sendiri, ia akan mampu menempatkan dirinya pada posisi orang lain. Hal ini dapat pula disebut dengan empati. Saya belajar dari ulasan ini penting untuk melihat diri sendiri terlebih dahulu saat ingin mengalihkan tindakan terhadap orang lain. Selain itu, tidak dianjurkan pula untuk menyalahkan atau mencari-cari kesalahan orang lain.

    ReplyDelete
  17. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi ini saya memahami bahwa dalam hidup ini kita tidak lain dan tidak bukan adalah belajar memahami diri sendiri. Namun dalam perjalanan memahami diri sendiri, seringkali manusia dihadapkan dengan berbagai permasalahan. Disitulah sebenarnya letak memahami diri sendiri, bagaimana usahanya dalam menembus ruang dan waktu mengenali diri sesuai dengan peran yang dijalankan. Dan pada akhirnya, tergantung manusia itu sendiri apakah ia akan mengevaluasi terhadap apa yang telah ditemukan pada dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  18. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamualaikum wr.wb.
    Terimakasih banyak prof. Marsigit atas ulasan di atas. Dari postingan tersebut dapat kita ambil makna bahwa hamba menggapai wajah mengalami titik dilema, dia tidak mengerti siapa dirinya, yang ternyata dia adalah raksasa, ksatria dan orang bijak. Artinya, seseorang dengan hati yang baik tulus, ikhlas, jujur, rendah hati, dan tidak tinggi hatipun tidak menutup kemungkinan akan ada banyak pengaruh yang datang menghampiri dirinya. Sebab beragam pengaruh yang datang pada dirinya, akibatnya adalah ia akan pada berada pada titik dimana ia tidak mengerti seperti apakah jati diri nya yang sesungguhnya. Sebenar-benarnya orang berpikir adalah ketika ia memahami dirinya sendiri. Siapa kah dan seperti apakah dirinya selama ini. Iya, intinya adalah kita harus belajar mengerti tentang diri kita sendiri. Hal itu penting, agar kelak kita mampu melangsungkan kehidupan dengan menjadi diri sendiri dan menjaga jati diri kita sendiri karena kita telah memahaminya.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  19. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Bagi saya memahami sifat sendiri itu terkadang lebih membingungkan daripada melihat sifat seseorang. Ya karena kita memerlukan “benda” kedua untuk dapat meilihat diri kita. Mitos bisa saja menguasai kita untuk hanya dapat menilai apa yang baik dari kita. Tapi subyek kedua, belum tentu juga dapat melihat kita. Karena sifatnya sementara sesuai ruang dan waktu dan itu jelas relatif setiap subyeknya. Mungkin dia jujur dan mungkin saja tidak jujur. Yang tdiak ada bisa saja diada-adain. Jelas bukan jika musuh terbesar kita adalah diri sendiri? “wajah” dan “wadah” saling mengisi satu sama lain. Sekuat-kuat nya kita untuk mengerti dri kita, belum tentu itu diri kita. Mungkin itu diri kita yang tlah lalu. Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat di kehidupan sekitarnya.

    ReplyDelete
  20. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Salah satu kebahagiaan orang beriman yang tidak didapatkan oleh orang-orang yang tidak beriman adalah kesempatan untuk melihat wajah dari Rabb-nya. Tapi untuk mendapatkan kebahagiaan ini tentu bukan perkara yang mudah, karena begitu banyak godaan yang akan setia menggoda kita agar kita melenceng dari jalan yang Allah tunjukkan. Kita berdoa semoga kita senantiasa diberikan petunjuk, kekuatan dan keistiqomahan untuk meniti jalan yang lurus tersebut. aamiin

    ReplyDelete
  21. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Manusia selalu berusaha untuk mencari jati dirinya. Mengenali diri sendiri, mengenali potensi diri, berusaha mengembangkannya, itulah wujud manusia untuk mendekatkan diri pada Allah. Diperlukan kesungguhan dengan keikhlasan untuk menggapai semua itu, sehingga kita senantiasa berusaha mendekatkan diri pada Allah dengan mengerti potensi apa yang dimiliki, tentunya dengan selalu memanfaatkannya di jalan Allah.

    ReplyDelete
  22. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Ketika kita sibuk memikirkan pendapat orang lain tentang kita, kita tidak pernah menyadari pertempuran terhebat yang sebenarnya adalah memikirkan pendapat diri sendiri. Melawan diri sendiri sangat sulit hingga kita sering tidak meladeninya dan memakluminya saja. Kitalah yang harus mengenal diri kita sendiri dengan baik. Kita pula lah yang harus menegur diri kita sendiri dan berusaha memperbaikinya. Semoga Allah selalu melindungi diri kita dari sifat sombong dan takabur.

    ReplyDelete
  23. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Orang jawa sering sekali memberikan nasihat kepada para sanak saudaranya khususnya kepada keturunannya. Mekerea selalu menasihati untuk menadi orang yang rumongso. Bukan orang yang rumongso iso, namun menjadi orang yang iso rumongso. Dari didikan orang jawa tersebut, banyak sekali orang-orang terdahulu dimana mereka jarang sekali melakukan peperangan maupun perpecahan antar sesama. Jika kita tengok ke masa lalu, hidup orang jawa sebenarnya tentram sekali karena ajaran yang di anutnya. Namun, lama kelamaan karena sifat ketamakan dan egois, mereka saling berperang satu sama lain. jadi, identitas mereka lama kelamaan berubah. Ada pepatah yang mengatakan “seorang pencuri tidak akan bermimpi memiliki anak seorang pencuri” oleh karena itu, orang jawa juga mereka berusaha untuk mendidik anak mereka sebaik mungkin agar kehidupan mereka lebih baik dari orang tua mereka. Jadi, menjadi orang yang rumongso sangatlah diutamakan agar hidup kita tidak selalu menyalahkan orang lain dan selalu terhindar dari sifat sombong.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  24. Junianto
    17709251065
    PM C

    Saya sepakat dengan pernyataan Prof bahwa kita diciptakan untuk beribadah kepada Sang Pencipta, seperti dalam agama yang saya anut pun juga demikian. Ibadah yang dimaksud disini memiliki makna yang sangat luas yang menandakan juga bahwa Tuhan itu Maha Kuasa. Segala kebaikan yang kita lakukan jika diniatkan untuk beribadah maka bernilai ibadah, sehingga ibadah tidak hanya di tempat ibadah saja. Menyingkirkan batu/ kerikil/ paku di jalan agar tidak melukai orang lain adalah ibadah, bekerja siang malam untuk menghidupi keluarga adalah ibadah, membantu orang lain mengangkat barang adalah ibadah, bahkan senyum yang ikhlas kepada orang lain juga ibadah, dsb. Jadi, jika kita mau melakukan kegiatan dengan niat karena Tuhan YME, maka akan bernilai ibadah.

    ReplyDelete
  25. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Sebuah tujuan hidup akan membuat kita semangat dalam menjalani kehidupan. Perjalanan menggapai tujuan hidup tentu tidak selalu mulus, melainkan pasti ada rintangan dan cobaan baik di awal, di tengah, maupun di akhir hampir sampai tujuan. Rintangan dan cobaan jika diselesaikan dengan rasa ikhlas, maka malah akan membuat diri kita semakin kuat. Bahkan terkadang rintangan berasal dari diri kita sendiri. Kita harus memahami diri kita terlebih dahulu, karena sebenar-benar kita adalah mengerti diri sendiri.

    ReplyDelete
  26. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Musuh yang paling berat adalah diri kita sendiri. Kita harus bisa mengkontrol segala yang kita lakukan. Manusia hidup selalu kontradiktif sehingga hari ini tidak sama dengan hari kemarin ataupun hari esok. Tantangan dan rintangzn untuk hidup juga berbeda-beda. Cobaan hidup digunakan untuk menaikan derajad manusia. Orang yang bisa melewati cobaan itu pasti akan menjadi lebih tangguh dibandingkan sebelumnya. Namun, terkadang kita juga merasakan untuk menyerah, menyerah dalam ruang dan waktu serta memutuskam untum berhenti. Oleh karena itu, kita harus bisa melawan diri kira sendiri untuk kepentingan kita.

    ReplyDelete