Sep 20, 2013

Elegi Seorang Hamba Menggapai Wajah




Oleh: Marsigit

Hamba menggapai wajah memulai perjalanannya:
Aku di sini akan dan sedang memulai perjalananku. Dalam mimpiku, perjalananku itu akan sangat jauh dan sangat melelahkan. Tetapi konon sangat menjanjikan dan berpengharapan. Walaupun sangat berbahaya dan menakutkan.

Konon dalam perjalananku aku harus berbekal jiwaku, berpegang pada jiwaku dan bertuju kepada jiwaku. Tidak hanya itu saja. Konon juga aku harus berteman jiwaku, bertanya kepada jiwaku. Aku dapat memilih sembarang kendaraanku, tetapi kendaraan utamaku adalah orang-orang bijak. Para nabi dan rosul adalah “pesawat” ku. Sedangkan tumpangan yang paling murah dan umum adalah pada guru. Konon aku bukan sekedar ilmu, tetapi ilmu adalah pelumasku. Agar aku bisa mencapai tujuan dengan berhasil, konon aku harus mencari teman-temanku, yaitu para siswa-siswa. Tetapi aku juga disarankan untuk bersilaturahim kepada negarawan, politisi dan ulama. Aku diperingatkan untuk waspada, karena godaan diperjalanan sangat banyak. Godaan itu ada yang besar seperti raksasa, ada yang tajam setajam pisau cukur, ada yang selembut salju, ada yang tampak jelas tetapi banyak yang tidak tampak jelas. Tetapi apapun yang terjadi aku dipesan agar bersikap sabar, tawakal dan tumakninah. Aku harus bersabar dan tawakal ketika aku tidak dapat menemukan kendaraan untuk bebergian, bahkan aku harus sabar ketiga aku ditinggalkan teman-temanku, bahkan aku harus sabar ketika aku ditinggalkan oleh semuanya. Tetapi aku juga harus sabar melihat segala macam kejadian, bencana alam, bencana kemanusiaan, perang bahkan kiamat sekalipun. Anehnya aku diberi tugas untuk mencatat dan menyaksikan semuanya yang terjadi itu. Aku juga sekaligus diangkat untuk menjadi saksi bagi semuanya, baik dalam ruang dan waktu. Tetapi aku harus mempersiapkan diri ketika konon aku harus ikut maju ke medan laga dan pertempuran. Tetapi beritanya, musuhku yang paling berat adalah diriku sendiri. Aku diberitahu bahwa aku ditakdirkan untuk tidak mudah mengenali diriku sendiri. Karena konon wajahku bisa menyerupai apa saja. Wajahku bisa menyerupai apa saja yang aku pikirkan. Wajahku bisa menyerupai orang bijak, bisa menyerupai orang jahat, bisa menyerupai pejabat negara, bisa menyerupai presiden, menteri. Wajahku juga bisa menyerupai uandang-uandang, peraturan, tata-tertib. Wajahku bisa menyerupai orang tua, bisa menyerupai anak kecil, bahkan bisa menyerupai seorang bayi yang belum lahir sekalipun. Tetapi perjalanan dan semua perjuanganku itu konon sebenarnya diperuntukkan untuk mencari tahu bagaimana wajahku itu. Jadi seberat inilah cobaan dan perjuangan hidupku, sekedar hanya untuk dapat mengetahui seperti apakah wajahku itu.

Hamba menggapai wajah berjumpa dengan hamba menggapai tinggi:
Wahai hamba menggapai tinggi, bolehkan aku bertanya.

Hamba menggapai tinggi:
Boleh-boleh saja. Silahkan jika engkau ingin bertanya.

Hamba menggapai wajah:
Dalam rangka mengetahui wajahku, maka aku melakukan perjalanan jauh ini. Tetapi sekarang saya bingung. Sampai di manakah dan berada dimanakah aku ini. Kemudian aku harus menuju kemanakah dan harus menemui siapakah. Kemudian aku harus melakukan apa sajakah?

Hamba menggapai tinggi:
Ketahuilah bahwa manusia diciptakan hanyalah untuk beribadah kepada sang Pencipta. Tetapi sekarang mulai banyak orang-orang sudah tidak tahu diri lagi. Maka seyogyanya, temuilah mereka dan beritahukanlah kepada mereka, walaupun hanya sekedar satu ayat sekalipun. Tegakkanlah kebenaran dan keadilan, agar mereka semua selamat di dunia maupun di akhirat.

Hamba menggapai wajah:
Terang dan jelas petunjukkmu itu. Tiadalah keraguan sekarang bagiku untuk melangkah. Doa restumu lah yang selalu aku mohon supaya aku berhasil mengemban tugas-tugasmu itu. Salam.

Hamba menggapai wajah menjumpai raksasa dan ksatria yang sedang berperang:

Hamba menggapai wajah:
Wahai raksasa dan ksatria, kenapa engka berdua lakukan peperangan ini? Bukankah berdialog itu lebih baik.

Raksasa:
Dasar orang tidak tahu diri. Engkau kusuruh membunuhnya malah pergi tak karuan juntrungnya. Hai orang yang mengakau sebagai hamba menggapai wajah. Sekarang kau pilih saja. Kau ingin ikut denganku atau ikut dengan musuhku itu.

Ksatria:
Wahai hamba menggapai wajah. Maafkanlah aku, karena aku telah berbuat tidak bijaksana, sehingga reputasimu telah tercemarkan oleh kejadian ini. Terserahlah engkau. Jika engkau ingin membantuku bolehlah, tetapi jika engkau tidak ingin membantuku ya tidak apa-apa. Aku serahkan sepenuhnya kepada yang Maha Kuasa, suratan takdir dan ikhtiarku.

Hamba menggapai wajah:
Wahai raksasa. Iba dan marah hatiku melihat dirimu. Mengapa engkau telah berperangai seburuk itu. Bukankah aku teringat bahwa ketika itu engkau menemuiku untuk meminjam wajahku. Maka aku pinjamkan wajahku kepadamu tetapi dengan pesan agar dijaga baik-baik. Mengapa engkau tidak bisa mengemban amanahku. Bahkan sekarang kondisinya sebegitu buruknya. Lebih dari itu. Engkau juga telah salah gunakan wajahku untuk kepentingan-kepentinganmu secara tidak bertanggung jawab. Bahkan engkau gunakan wajahku itu untuk menggapai ego dan kepentingan dirimu. Engkau telah bersembunyi di balik wajahku untuk melakukan kedholiman di muka bumi ini. Engka bahkan telah melakukan perusakan di muka bumi ini menggunakan wajahku. Dengan dalih-dalih kebaikan engkau ciptakan keburukan-keburukan. Dengan bersembunyi di balik wajahku, engkau telah salah gunakan kekusaaan untuk menguasai dan merampas hak-hak orang banyak. Kamu ciptakan sistem dan aturan-aturan yang mementingkan dirimu sendiri. Kamu telah merubah wajahku yang kau pinjam menjadi wajah yang rakus akan kekuasaan.

Hamba menggapai wajah:
Wahai ksatria. Iba dan menyesal hatiku melihat dirimu. Mengapa engkau telah aku biarkan dan aku tinggalkan begitu lama. Bukankah aku teringat bahwa ketika itu engkau menemuiku untuk mohon ijin melakukan perjalanan dan berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan. Tetapi aku telah melupakanmu. Maka maafkanlah diriku.

Raksasa:
Wahai orang yang mengaku-aku menggapai wajah. Sombong amat engkau itu. Emangnya gua pikirin. Memangnya siapakah dirimu itu. Dirimu itu bagiku, sebenar-benar tidak berharga. Kamu tidak mempunyai nilai bagiku. Tetapi jika kamu tetap ingin hidup maka boleh tetapi dengan saratnya. Saratnya adalah engkau cabut semua pernyataanmu itu tentang diriku. Kemudian kamu minta maaf dua ratus persen kepadaku. Setelah itu maka kamu harus tunduk tigaratus persen kepadaku. Jika tidak, maka enyahlah engkau itu dari depanku ini.

Ksatria:
Wahai orang menggapai wajah. Sungguh mulia budi dan ucapan-ucapanmu itu. Maafkanlah bahwa aku telah sekian lama tidak memberi khabar kepadamu. Aku hanya berserah diri kepada yang Maha Kuasa, suratan takdir dan ikhtiarku. Aku tidak berani menatap wajahmu seratus persen karena aku khawatir dengan caraku. Aku merasa perlu mengembangkan cara dan metode agar aku bisa menatap wajahmu. Sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku tidak mengetahui bagaimana wajahku itu.

Raksasa:
Ah dasar orang bodoh dan dungu. Melihat wajah sendiri saja tidak bisa. Ini, kalau engkau ingin melihat wajahku. Tentu wajahku adalah paling tampan di dunia ini, bukankah begitu?

Orang bijak datang menemui ketiga orang tersebut:
Wahai ketiga orang yang sedang bertengkar. Demikianlah kodratnya. Bahwa hamba menggapai wajah telah ditakdirkan mempunyai banyak rupa. Raksasa itu tidak lain tidak bukan adalah dirimu. Ksatria itu juga dirimu. Jadi sebenar-benar dirimu adalah multi rupa.

Hamba menggapai wajah:
Tetapi aku menjadi penasaran. Sebetulnya siapakah diriku itu wahai orang bijak.

Orang bijak:
Dirimu adalah diriku juga. Dirimu mendahului sekaligus mengakhiri mereka. Jiwamu adalah jiwa mereka, jiwa mereka adalah jiwamu. Tetapi wajahmu akan berbeda-beda pula. Wajahmu akan tergantung wadahmu. Wadahmu adalah mereka pula. Jika mereka baik maka baik pulalah wajahmu. Jika mereka buruk maka buruk pulalah wajahmu. Jika mereka raksasa maka menjadi raksasa pulalah dirimu. Dan jika mereka ksatria maka menjadi ksatria pulalah dirimu itu. Tiadalah arti bagimu tanpa mereka. Demikian juga tiadalah arti bagi mereka tanpa dirimu.

Hamba menggapai wajah:
Bagaimana dengan dirimu?

Orang bijak:
Kau ganti saja setiap kata “mereka” pada kalimat-kalimat ku di atas dengan kata “wajahmu”, “raksasa”, “ksatria”, atau “orang bijak”. Maka sebenar benar aku tiada lain tiada bukan adalah dirimu dan diri mereka pula.

Hamba menggapai wajah:
Jadi siapakah kita ini?

Orang bijak:
Boleh boleh saja. Tetapi jika kita sepakat mencarinya maka kita boleh juga.

Hamba menggapai wajah:
Jangan berputar-putar dan bertele-tele. Tolong sebutkan saja siapa kita?

Orang bijak:
Sebenar-benar dari kita tidak lain tidak bukan adalah “Belajar Mengerti Diri”

42 comments:

  1. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Sungguh memahami diri sendiri itu memang sulit. Tetapi itulah kunci kesuksesan kita. Jika kita telah mengetahui sebenarnya diri kita, maka kita dapat menentukan kelak mau jadi apa diri kita. Ketahuilah pula bahwa di dalam diri kita itu tedapat segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka baiklah seluruh tubuh kita, tetapi jika segumpal daging itu buruk maka buruklah seluruh tubuh kita. Taukah kamu bahwa segumpal daging itu bernama HATI. Bagaimana wajah kita, sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Namun, di atas pikiran masih ada hati. Segala macam pikiran dan perbuatan kita juga dikendalikan oleh hati kita. Karenanya, mulailah segala perbuatan dengan niat yang ikhlas dari dalam hati. InsyaAllah semua yang kita lakukan mendapat ridho dari-Nya.

    ReplyDelete
  2. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Assalamualaikum wr. . wb.
    Wajah adalah salah satu penilaian terluar orang terhadap kita, maka dari itu dalam menilai orang lain hendaknya kita menilai diri kita terlebih dahulu. diri kita adalah jiwa kita wadah kita masing-masing. Sebenar-benar dari kita tidak lain tidak bukan adalah Belajar Mengerti Diri. Belajar mengerti diri itu adalah penting mengerti diri sendiri dan juga termasuk mengerti diri orang lain. Dalam menilai orang lain hendaknya kita menilai diri kita terlebih dahulu.

    ReplyDelete
  3. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Yang dapat saya pahami dari elegi seorang hamba menggapai wajah adalah mengenai mengenali, mengerti, dan memahami diri sendiri. Karena di dalam diri kita terdapat kebaikan dan keburukan. Setelah kita mengenali diri kita maka diharapkan kita mampu memilah-milah apa yang ada di dalam diri kita secara sebaik baiknya. Dari mengenali diri sendiri kita juga dapat lebih bersyukur kepada Tuhan, karena dengan mengenal diri sendiri kita akan lebih sadar bahwa begitu banyak nikmat yang telah dilimpahkan pada diri kita. Mengenali dir sendiri berarti mengenali alam semesta karena diri kita bagian dari semesta. Dan memahami diri sendiri merupakan cara berfilsafat.

    ReplyDelete
  4. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika Kelas D

    Bila kita menilai otang lain, sebaiknya kita telah menilai diri kita sendiri. Karena belajar mengerti diri itu sangat penting. Mengenal diri sendiri adalah sesuatu yang memerlukan perenungan untuk memahaminya, karena tidak mudah untuk mengetahui seperti apa diri mereka sendiri. Bila kita tak memahami diri kita, maka kita akan terbawa arus, tidak memiliki pendirian, dan tidak berkembang.

    ReplyDelete
  5. Lana Sugiarti
    16709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Menilai bukan merupakan sesuatu yang mudah, apalagi menilai diri sendiri. Ketika menilai orang lain mungkin akan lebih mudah, tetapi menilai diri sendiri tidaklah mudah. Oleh karena itu sebelum menilai orang lain hendaknya nilailah diri sendiri terlebih dahulu sehingga orang lain dapat menerima penilaian kita. Maka pentng mempelajari filsafat agar mampu memahami pemikiran orang lain dari sudut pandangnya dan tidak menilainya secara sembarangan.

    ReplyDelete
  6. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016 (S2)
    Kita adalah penilai diri kita sendiri, setiap hari setiap detik dan setiap saat kita menilai diri kita sendiri. Penilaian diri biasanya berkisar pada pertanyaan, “Saya dapat menjadi apa” yaitu pengharapan diri/ diri ideal, dan “Saya seharusnya menjadi apa?” tentang siapa dirinya, yaitu standar seseorang bagi dirinya sendiri. Penghargaan diri meliputi suatu penilaian, suatu perkiraan, mengenai kepantasan diri; misalnya saya peramah, saya sangat pandai, dan sebagainya. Harga diri bisa juga diartikan sebagai penerimaan seseorang terhadap dirinya sendiri. Jika seseorang menyukai dirinya sendiri, menerima diri sendiri, menghargai diri sendiri, dan menghormati diri sendiri, maka harga dirinya akan semakin tinggi. Harga diri akan menentukan seberapa jauh seseorang akan menyukai dirinya sendiri. Semakin jauh perbedaan antara gambaran tentang siapa dirinya (citra diri) dengan gambaran seseorang tentang seharusnya ia menjadi (diri ideal), maka akan menyebabkan harga diri yang rendah. Sebaliknya bila seseorang berada dalam standar dan harapan yang ditentukan bagi dirinya sendiri, yang menyukai siapa dirinya, apa yang dikerjakan dan tujuannya maka ia akan memiliki harga diri yang tinggi.

    ReplyDelete
  7. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Wajah setiap orang pastilah berbeda, wajah menentukan karakter dan sikap seseorang dalam hidup. Dengan adanya wajah dapat menjadi tameng garda terdepan dalam bertatap muka. Sebagai seseorang yang mempunyai sikat sopan dan santun sesuai normatif. Tidak layak bagi kita sombong dan menengadahkan muka dan kepala seeakan meremehkan orang lain. Sesunggguhnya musuh pertama kita adalah diri kita sendiri. Jikalau kita tidak mampu mengendalikannya akan fatal untuk ke depannya.

    ReplyDelete
  8. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Elegi menggapai wajah dalam artian seseorang mengenali dan memahami dirinya sendiri. Untuk menggapai “wajah” mendekatlah dengan Allah SWT, karena tugas manusia di dunia ini adalah untuk beribadah kepadaNya. Wajah kita akan terlihat baik atau buruk tercermin dari hati dan pikiran.. Hati yang baik adalah hati yang beribadah kepada Allah dengan taat. Sedangkan pikiran yang baik ialah pikiran yang jernih berdasarkan hati yang bersih. Dari hati yang bersih tercerminlah wajah yang menyejukkan ketika dilihat. Marilah untuk tidak berhenti beribadah, berdoa, berdzikir, mendekatkan diri kepada Allah SWT,karena sebenarnya kitalah yang menentukan wajah kita.

    ReplyDelete
  9. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Wajah adalah wadah dalam mengenali identitas. Akantetapi baik buruknya wajah bukanlah menjadi cerminan, karena sebenar-benar cerminan adalah isi. Isi itu ialah segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik maka baik pula lainnya, namun apabila segumpal daging itu buruk maka buruk pula lainnya, dan segumpal daging itu ialah hati. Jadi, untuk merepresentasikanwajah yang sebenarnya ialah hati (isi) bukan wajah (wadah).

    ReplyDelete
  10. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Elegi menggapai wajah. Yang saya tangkap dari judul postingan ini, adalah bagaimana kita mengetahui siapa diri kita. Tidaklah mudah untuk mengetahui siapa diri kita. Bagaimana diri kita. Apa yang telah kita lakukan. Benarkah atau salahkah dengan apa yang telah kita perbuat. Namun tak sebaliknya, sangat mudah bagi diri kita untuk menilai orang lain. Kita mudah menyimpulkan bahwa orang itu salah. Kita mudah menilai apa yang dilakukan oleh orang itu tidak benar. Padahal kita tidak tahu apa yang dilakukan itu sudah benar. Menggapai wajah, kita sebagai seorang hamba yang penuh dengan kelebihan dan kekurangan, sebaiknya kita bisa mengenali wajah kita, atau diri kita sendiri. Jadikanlah diri kita sempurna, jadikanlah diri kita menjadi yang terbaik. Maka jika semua itu sudah tercapai, wajah kita akan memancarkan cahaya yang menyinari hati setiap manusia.

    ReplyDelete
  11. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari kisah elegi ini kita diingatkan untuk belajar untuk mengerti diri. Tentunya kita sendirilah yang mengerti kita, bukan orang lain. Orang lain hanya bisa menilai kita sebagian saja, tidak menyeluruh. Namun yang jadi permasalahan adalah bagaimana kita dapat mengerti diri kita. karena kita tahu bahwa menilai diri kita pasti akan terjadi ketidak objektifan saat menilai. Karena dapat lebih condong ke arah kebaikan tanpa adanya keburukan.

    ReplyDelete
  12. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Berdasarkan lelegi diatas terikan sebuah potongan kalimat “kejarlah mimpi mu setinggi langi” dan sebuah judul lagu “khayalan tingkat tinggi”. Semua itu harus kita miliki karena dengan begitu kita bisa meraih sebuah kesempatan yang mana pada elegi sebelumnya gunakanlah kesempatan yanag ada untuk menjadi lebih baik lagi. Kita dalam mengarungi kehidupan boleh saja dan sangat disarankan untuk mencari segala ilmu akan tetapi kita juga harus berpenggang pada iman kita dimana dengan iman kita bisa dituntun kejalan yang baik. Pernah dengan “Tuntutlah ilmu sampai kenegri cina” sebuah hadits yang sering sekali kita temua dalam hal meraih pendidikan. Hadits tersebut dimaksudkan bahwa pada zaman dahulu negeri cina memang termasyur, dan memang dalam tingkat pendidikan nya sangat tinggi. Itu lah makna dari sebuah hadits itu bahwa kita harus menuntut ilmu sejauh mungkin, dimana sejauh ini bukan dimaksud adalaj jarak. Akan tetapi sejauh ini adalah sebnayak-banyak ilmu.

    ReplyDelete
  13. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Elegi ini menceritakan tentang seseorang yang bersembunyi dibalik kekuasaan orang lain. Hal ini sering terjadi saat ini, yang bersalah dianggap tidak bersalah karena sembunyi atau terselamatkan oleh saudaranya yang memiliki kepercayaan orang lain. Padahal, ia telah membohongi dirinya sendiri. Berlagak sebagai orang baik padahal di balik itu ada yang disembunyikan. Saya juga merasa iba akan keadaan ini. Selain itu, saya juga menangkap tentang sesorang itu bergantung pada lingkungannya, jika baik maka akan ikut baik, jika buruk maka akan ikut buruk. Sehingga kita harus menghindari itu dengan belajar mengerti diri kita. Sehingga kita akan bisa menjaga diri kita kepada yang baik bukan yang buruk.

    ReplyDelete
  14. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Untuk memahami diri sendiri merupakan sebuah perkara yang tidak mudah tetapi Allah SWT telah memberikan kita sebuah akal untuk berpikir agar menjadi khalifah yang bermanfaat bagi sesama bukan hanya untuk menciptakan kesengsaraan antar umat. Kita sudah diberikan pedoman untuk menjalani hidup di dunia ini sehingga lakukanlah hal sesuai dengan yang diperintahkan agar bisa dengan damai menjalani kehidupan dalam masyarakat sehingga bisa terhindar dari hal yang buruk yang bisa membuat masalah dalam hidup ini.

    ReplyDelete
  15. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Untuk menilai diri kita sendiri memang tidaklah semudah kita menilai orang lain. Maka artikel diatas mengingatkan kepada kita bahwasanya mengenali diri sendiri sangat perlu dilakukan. Hal itu bisa kita lakukan dengan proses pembentukan konsep diri, karena konsep diri adalah menilai diri sendiri. Maksudnya adalah konsep diri yang positif karena sesorang dengan konsep diri yang positif akan mampu menghargai dirinya dan melihat hal-hal yang positif yang dapat dilakukan demi keberhasilan di masa yang akan datang.

    ReplyDelete
  16. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Orang diluar sana hanya mengerti penampakan diri ini. Yang paling menonjol adalah penampakan wajah yang dirasa telah mencerminkan diri seseorang. Namun hal tersebut tidaklah sepenuhnya benar. Yang mengetahui seutuhnya diri ini adalah diri sendiri. Sebelum mengenal sepenuhnya setidaknya harus mengontrol semua yang ada pada diri ini baik itu hati dan pikiran yang akan tercerminkan melalui tindakan yang positif. Sehingga jika semua itu telah terlaksana maka telah dapat disebutkan bahwa telah belajar mengerti diri.

    ReplyDelete
  17. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Mengerti diri itu hal yang perlu dipelajari. Mengenal diri sendiri adalah sesuatu yang memerlukan perenungan untuk memahaminya. Bahkan terkadang banyak yang tidak tau sebenarnya sepereti apa diri mereka sendiri. Tidak mengenal potensi yang berkembang di dalamnya. Sehingga banyak yang sering terbawa arus, tidak memiliki pendirian, dan tidak berkembang. Orang yang tidak mampu mengenal diri tidak akan menjadi diri sendiri dalam setiap langkah hidupnya. Ia bagaikan kapal tanpa nahkoda yang terombang-ambing di lautan lepas.
    Ada kalanya di suatu tahap perkembangan seorang individu belum mampu menemukan jati dirinya, kemudian berusaha menemukan jati dirinya, dan akhirnya bertemulah ia kepada siapa dia sebenarnya. Dan proses perkembangan itu memerlukan waktu, tidak dapat berlangsung secara instant. Pengalaman dan pembelajaran sangat berkaitan dengan proses pencarian jati diri.

    ReplyDelete
  18. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Belajar mengenai diri sendiri memanglah bukan hal yang mudah. Hal tersebut adalah hal yang sangatlah sulit, ketika belajar mengenai diri sendiri bisa saja kita akan menjadi sombong terhadap hal yang telah kita miliki. Belum tentu hal yang kita miliki adalah hal yang lebih baik dari yang telah dimiliki oleh orang lain, selai itu hal yang kita miliki ini adalah hal yang bahkan sangatlah kecil di hadapan Tuhan, karena Tuhan yang telah memberikan semuanya pada kita.

    ReplyDelete
  19. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Elegi seorang hamba menggapai wajah ini mengajarkan bahwa sebagaimana hidup adalah perjalanan yang kita lakukan untuk mengerti diri. Dalam rangka mengerti diri kita yang sebenarnya kita terkadang bersifat baik buruk, salah benar, bijak sombong, dan lain sebagainya. Hal tersebut pasti pernah dialami setiap manusia sebelum mengerti dirinya sebenarnya, sebab manusia pada dasarnya memiliki banyak sifat yang berpotensi baik dan buruk. Tinggal bagaimana manusia memaknai hidup dengan rasa syukur agar tetap menjadi sosok yang baik dimata Tuhannya.

    ReplyDelete
  20. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    elegi ini menggambarkan seseorang yang telah berjalan jauh, namun tidak tau arah tujuannya dan perjalanan yang ia lakukan. sehingga di dalam perjalanannya dia bertanya kepada bijak dan yang lainnya. kalimat yang menjadi perhatian saya adalah Sebenar-benar dari kita tidak lain tidak bukan adalah “Belajar Mengerti Diri”. pada dasarnya, kehidupan ini adalah tentang memahami diri sendiri, dalam arti dapat memposisikan diri pada waktu dan tempat yang tepat, dapat mengatur kesemuanya sesuai dengan kemampuan.

    ReplyDelete
  21. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi seorang hamba menggapai wajah. Elegi ini menyampaikan kepada pembaca bahwa sejatinya perangai diri itu bermacam-macam banyaknya,dalam tulisan ini diumpamakan sebagai wajah. Terkadang banyak yang menggunakan wajah orang lain atau mungkin dapat diistilahkan topeng untuk menutupi wajahnya yang sebenarnya. Maksudnya seringkali keburukan berlindung di bawah wajah kebaikan. Atau terkadang tidak sadar melakukannnya Hal tersebut termasuk pada ranah kemunafikan. Sudah seharusnya kita "belajar mengerti diri" bagaimana sesungguhnya sifat kita, dan kemudian kita lakukan perbaikan untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi sebagai bekal perjalanan menuju kehidupan yang kekal. Maka mari kita kenali diri, kemudian perbaiki.

    ReplyDelete
  22. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Wajak adalah muka. Muka paling cepat dikenal oleh orang. Belajar mengerti diri itu adalah suatu hal yang sangat penting, mengerti diri sendiri dan juga termasuk mengerti diri orang lain. Apa yang nampak pada luar diri kita adalah cerminan dari sifat dan jati diri kita sebenarnya. Dalam menilai orang lain hendaknya kita menilai diri kita terlebih dahulu. Jangan sampai kita menyuruh orang lain berbuat suatu kebaikan tetapi kita sendiri malah tidak melakukannya. Maka closing statement elegi ini memang benar adanya yaitu “Sebenar-benar dari kita tidak lain tidak bukan adalah Belajar Mengerti Diri”.

    ReplyDelete
  23. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Wajah adalah bagian penting diri manusia. Ketika bercermin wajahlah yang ingin pertama kali dilihat untuk menilik keadaannya. Ketika seseorang berwajah ksatria maka itulah dirinya. Karena wajahnya merupakan cerminan atas dirinya. Kita dapat menilai sudahkan wajah kita seperti cerminan yang diharapkan.

    ReplyDelete
  24. Manusia harus belajar mencari dan mengerti tentang diri sendiri. Manusia yang sadar akan dirinya sendiri akan menjalani hidup dengan tenang dan tenteram. Untuk mengerti diri sendiri memerlukan proses. Menjadikan diri pribadi yang Tuhan kehendaki adalah proses yang harus kita usahakan. Wajah atau penampilan adalah kualitas pertama dari diri sendiri. Wajah hanyalah penampakan yang terlihat. Aka muncul kualitas-kualitas berikutnya dalam diri kita. Kualitas tersebut merupakan karakter selain yang kita perlihatkan dari wajah kita. Karakter-karakter tersebut perlu dibentuk dalam lahan yang bersih agar memberikan penampakan yang baik dan benar. Kita dapat berusaha menutupi segala kekurangan, keburukan kita pada orang lain, namun kita tak akan pernah bisa menutupinya dari Tuhan. Tunjukkanlah karakter-karakter yang baik yang sesuai dengan perintah Allah SWT

    ReplyDelete
  25. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Setiap manusia mempunya banyak sifat. Sifat di sini dapat diartikan juga sebagai wajah. Sangat sulit melihat, mengidentifikasi dan mendefinisikan wajah. Wajah akan tergantung pada wadah. Jika wadahnya baik maka baik pulalah wajahnya. Jika wajahnya buruk maka buruk pulalah wajahnya. Tanpa wajah diri kita tidak aka nada artinya. Begitu juga sebaliknya.

    ReplyDelete
  26. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Elegi menggapai wajah tidak lain ialah belajar mengerti diri. Untuk belajar mengerti diri dengan cara mengembangkan cara dan metode agar kemampuan kita benar-benar tahu seberapa kemampuan kita. Menilai segala sesuatu memang tidak semudah mengkritik, apalagi menilai diri sendiri sangatlah susah. Mulai menilai diri sendiri dengan tes yang ada nilainyapun kita belum seberapa dalam mengukur kemampuan dan potensi yang ada dalam diri.

    ReplyDelete
  27. Taufan Adi Pradana
    13301241059
    Pendidikan Matematika A 2013

    Tulisan tersebut menceritakan tentang pencapaian kita dalam menjalani hidup, bagaimana orang lain memandang kita, bagaimana penilaian kita terhadap diri kita sendiri akan tercermin dengan sendirinya. Wajah juga dapat diartikan sebagai jati diri atau perilaku atau tabiat atau karakter. Entah wajah itu sebagai kepribadian, jati diri, perilaku, tabiat, atau karakter dikatakan bahwa musuh yang paling berat adalah diri sendiri. Terkadang kalah oleh egonya sendiri, kalah oleh tabiat buruknya sendiri, kalah oleh fikiran dan kemauan negatifnya sendiri, kalah oleh kepribadian tidak baiknya, sehingga manusia terjerumus pada sifat-sifat yang tidak mulia. Sungguh orang yang kuat bukanlah orang yang dapat menjatuhkan musuhnya dengan sekali pukul, namun orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dan mengendalikan dirinya saat ia marah. Manusia diciptakan oleh Allah SWT mempunyai akal dan pikiran untuk selalu senantiasa berfikir sebelum melakukan segala sesuatu dalam bersikap karena setiap kali kita berperilaku ada Allah SWT yang senantiasa mengawasi dan ada jutaan pasang mata yang akan menilai.

    ReplyDelete
  28. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Elegi menggapai wajah ini adalah elegi yang menggambarkan pemahaman diri sendir, memahami siat dan karakter diri. karena musuh terbesar dalam hidup adalah diri sendiri, sehingga ketika kita tidak bisa memahami diri sendiri maka kita akan kalah oleh diri kita sendiri dengan sifat-sifat buruk seperti kesombongan dan keangkuhan.

    ReplyDelete
  29. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Untuk melihat wajah itu sangat mudah, tinggal pakai cermin saja. Namun melihat wajah menjadi sulit apabila wajah yang ada dicermin bukanlah wajah yang sebenarnya. Menggapai wajah, seperti menggapai konsep dan keyakinan diri sendiri. Jika dijadikan lengkap, maka menggapai wajah seperti upaya mengenali diri sendiri. Mengenali diri sendiri itu tidak semudah melihat kepada cermin. Karena diri tidak sekasar itu. Ia halus bahkan lebih halus dari pada ruh.

    ReplyDelete
  30. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Kita harus mengenali diri kita terlebih dahulu. Keindahan yang kita miliki adalah sikap dan perilaku kita. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku tetapi tergantung diri kita bagaimana menjalankannya, siapa kita adalah tergantung apa yang ada pada isi wadah kita. Ketika kita telah memahami diri, maka kita akan tau apa yang seharusnya kita perbuat, akibat-akibat apa yang akan didapat dari hal-hal yang telah diperbuat. Selain itu, juga kita akan tahu apa sebenarnya tujuan hidup kita. Dengan itu, kita akan lebih bersyukur dengan apa yang telah dimiliki dan akan selalu berusaha untuk mengoptimalkan dan mengembangkan potensi diri kita.

    ReplyDelete
  31. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa wajah tiap orang itu tentang bagaimana orang lain memandang dirinya. Jika menggunkan istilah sekarang maka wajah seseorang itu merupakan imange orang lain terhdap dirinya. Setiap orang memiliki wajah yang berbeda-beda. Yang menentukan wajah seseorang itu adalah perbuatan-perbuatan yang dilakukannya yang mencerminkan dirinya.

    ReplyDelete
  32. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi ini mengajarkan kita sebagai manusia untuk slalu mawas diri. Memahamai diri sendiri bukanlah perkara mudah. Sifat manusia sendiri lebih suka dan mudah dengan mengkomentari suatu hal dari pada mawas diri sendiri. Padahal pada kenyataannya, diri kita sendiri belum tentu lebih baik dari orang lain. Jangan sombong, bersikaplah lebih mawas diri.

    ReplyDelete
  33. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi menggapai wajah ini memiliki makna pentingnya intropeksi diri, kita tidak dapat menilai kejelakan orang lain sebelum kita menilai diri kita sendiri, ketika kita intropeksi diri maka diperlukan niat yang ikhlas dalam menilai diri, ketika kita tidak ikhlas dalam menilai diri kita sendiri bagaikan bercermin di air yang keruh.

    ReplyDelete
  34. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Seperti yag telah dijelaskan dalam perkuliahan Etnomatematika, bahwa sebernanya seseorang itu memiliki multi wajah atau dalam pewayangan sering disebut Dasamuka. Sesoerang akan berlaku dengan wajah tertentu dalam kondisi tertentu, misalkan seorang siswa dalam sekolah berlaku sebagai siswa, patuh terhadapt peraturan sekolah, ketika di rumah berlaku sebagai anak dari bapak – ibu dan lain – lain.

    ReplyDelete
  35. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut saya, apa yang manusia dilakukan di dunia ini adalah perjalanan untuk menggapai jati diri mereka atau dalam elegi di atsa diibaratkan menggapai jati diri mereka. Yang pada puncaknya adalah menggapai wajah di hadapat Tuhan YME di akhirat nanti untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah mereka lakukan. Untuk menggapai jati diri seperti yang telah disebutkan dalam elegi di atas, melalui perjalann yang sangat panjang serta banyak godaan yang harus dilewati

    ReplyDelete
  36. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Memanglah ntuk memahami diri sendiri itu sulit, sulitnya bukan main. Hanya oran lain yang dapat mengoreksi orang lain yang lain pula tidak pada dirinya sendiri. Karna sesuai dengan perumpamaan gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan nampak jelas. Begitulah dalam memahami diri sendiri pelulah cermin untuk merefleksikan diri sendiri aga tahu arti dirinya.

    ReplyDelete
  37. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Menilai merupakan sesuatu yang sulit, apalagi menilai diri sendiri, terkadang kita terlena dengan apa yang kita lakukan tanpa disadari kita terkadang terlewat batas yang ada, sehingga merefleksikan diri sendiri itu sangat penting untuk memperbaiki diri kita sendiri. Menilai orang lain mungkin lebih mudah dari pada menilai diri sendiri , bahkan terkadang kita memberi masukan kepada orang lain namun diri kita sendiri juga belum baik. Untuk itu merefleksikan diri itu penting sekalii.

    ReplyDelete
  38. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi ini saya menangkap pesan bahwa memahami diri sendiri itu amatlah sulit. Namun itulah kkunci keberhasilan seseorang. Jika seseirang memahami kemampuan dirinya sendiri, maka dia telah menemukan jati diri yang sebenarnya. Bagi yang belum menemukan kemampuannya, jangan pernah berhenti untuk mencoba sampai pada akhirnya bisa menemukan kemampuannya tersebut.

    ReplyDelete
  39. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    Pendidikan Matematika 2013

    Upaya seorang dalam melawan kesombongan dirinya adalah tugas terbesar bagi seorang yangmenginginkan sukses. sombong dari ilmunya, sombong dari merasa cukup, sombong dari meremehkan orang lain, sombong dari menyandarkan kepada kemampuan berfikir. Bagaimana seorang dapat menjauhi hal itu adalah dengan mengerti diri sendiri, sadar akan kadar kemampuan serta terus berusaha memperbaiki kualitas diri.

    ReplyDelete
  40. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Wajah adalah salah satu penilaian orang terhadap diri kita. Maka kalau kita mau menilai orang lain, maka kita harus instrospeksi diri terlebih dahulu. Memahami diri sendiri memang tidak mudah. Tetapi itulah kunci kesuksesan kita. Karena sebenar-benarnya dari kita tidak lain dan tidak bukan adalah belajar mengerti diri.

    ReplyDelete
  41. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Wajah merupakan cerminan diri kita. Wajah kita tergantung dari sikap dan perbuatan kita. Baik dan buruknya wajah kita, tergantung dari baik dan buruknya sikap dan perbuatan kita. Kita diberikan berbagai rupa wajah, dan kita memilih wajah mana yang pantas dan layak kita miliki.

    ReplyDelete
  42. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Sesungguhnya sebenar-benar musuh yang paling berat bagi kita adalah diri kita sendiri. Maka lawanlah diri kita sendiri ketika sudah melenceng dari ketentuan-Nya. Kita ditakdirkan untuk tidak mudah mengenali diri kita sendiri. Wajah kita bisa menyerupai apa saja yang kita pikirkan. Wajah kita itu bisa menyerupai orang bijak, bisa menyerupai orang jahat. Maka berprasangka baik dan senantiasa memperbaiki diri. Sesungguhnya sebenar-benar dari kita tidak lain tidak bukan adalah belajar mengerti diri. Maka berikhtiar dan berdoalah, memohon pada-Nya agar dimudahkan dalam mengerti diri dan menjadi hamba yang bertakwa.

    ReplyDelete