Sep 20, 2013

Elegi Seorang Hamba Menggapai Wajah




Oleh: Marsigit

Hamba menggapai wajah memulai perjalanannya:
Aku di sini akan dan sedang memulai perjalananku. Dalam mimpiku, perjalananku itu akan sangat jauh dan sangat melelahkan. Tetapi konon sangat menjanjikan dan berpengharapan. Walaupun sangat berbahaya dan menakutkan.

Konon dalam perjalananku aku harus berbekal jiwaku, berpegang pada jiwaku dan bertuju kepada jiwaku. Tidak hanya itu saja. Konon juga aku harus berteman jiwaku, bertanya kepada jiwaku. Aku dapat memilih sembarang kendaraanku, tetapi kendaraan utamaku adalah orang-orang bijak. Para nabi dan rosul adalah “pesawat” ku. Sedangkan tumpangan yang paling murah dan umum adalah pada guru. Konon aku bukan sekedar ilmu, tetapi ilmu adalah pelumasku. Agar aku bisa mencapai tujuan dengan berhasil, konon aku harus mencari teman-temanku, yaitu para siswa-siswa. Tetapi aku juga disarankan untuk bersilaturahim kepada negarawan, politisi dan ulama. Aku diperingatkan untuk waspada, karena godaan diperjalanan sangat banyak. Godaan itu ada yang besar seperti raksasa, ada yang tajam setajam pisau cukur, ada yang selembut salju, ada yang tampak jelas tetapi banyak yang tidak tampak jelas. Tetapi apapun yang terjadi aku dipesan agar bersikap sabar, tawakal dan tumakninah. Aku harus bersabar dan tawakal ketika aku tidak dapat menemukan kendaraan untuk bebergian, bahkan aku harus sabar ketiga aku ditinggalkan teman-temanku, bahkan aku harus sabar ketika aku ditinggalkan oleh semuanya. Tetapi aku juga harus sabar melihat segala macam kejadian, bencana alam, bencana kemanusiaan, perang bahkan kiamat sekalipun. Anehnya aku diberi tugas untuk mencatat dan menyaksikan semuanya yang terjadi itu. Aku juga sekaligus diangkat untuk menjadi saksi bagi semuanya, baik dalam ruang dan waktu. Tetapi aku harus mempersiapkan diri ketika konon aku harus ikut maju ke medan laga dan pertempuran. Tetapi beritanya, musuhku yang paling berat adalah diriku sendiri. Aku diberitahu bahwa aku ditakdirkan untuk tidak mudah mengenali diriku sendiri. Karena konon wajahku bisa menyerupai apa saja. Wajahku bisa menyerupai apa saja yang aku pikirkan. Wajahku bisa menyerupai orang bijak, bisa menyerupai orang jahat, bisa menyerupai pejabat negara, bisa menyerupai presiden, menteri. Wajahku juga bisa menyerupai uandang-uandang, peraturan, tata-tertib. Wajahku bisa menyerupai orang tua, bisa menyerupai anak kecil, bahkan bisa menyerupai seorang bayi yang belum lahir sekalipun. Tetapi perjalanan dan semua perjuanganku itu konon sebenarnya diperuntukkan untuk mencari tahu bagaimana wajahku itu. Jadi seberat inilah cobaan dan perjuangan hidupku, sekedar hanya untuk dapat mengetahui seperti apakah wajahku itu.

Hamba menggapai wajah berjumpa dengan hamba menggapai tinggi:
Wahai hamba menggapai tinggi, bolehkan aku bertanya.

Hamba menggapai tinggi:
Boleh-boleh saja. Silahkan jika engkau ingin bertanya.

Hamba menggapai wajah:
Dalam rangka mengetahui wajahku, maka aku melakukan perjalanan jauh ini. Tetapi sekarang saya bingung. Sampai di manakah dan berada dimanakah aku ini. Kemudian aku harus menuju kemanakah dan harus menemui siapakah. Kemudian aku harus melakukan apa sajakah?

Hamba menggapai tinggi:
Ketahuilah bahwa manusia diciptakan hanyalah untuk beribadah kepada sang Pencipta. Tetapi sekarang mulai banyak orang-orang sudah tidak tahu diri lagi. Maka seyogyanya, temuilah mereka dan beritahukanlah kepada mereka, walaupun hanya sekedar satu ayat sekalipun. Tegakkanlah kebenaran dan keadilan, agar mereka semua selamat di dunia maupun di akhirat.

Hamba menggapai wajah:
Terang dan jelas petunjukkmu itu. Tiadalah keraguan sekarang bagiku untuk melangkah. Doa restumu lah yang selalu aku mohon supaya aku berhasil mengemban tugas-tugasmu itu. Salam.

Hamba menggapai wajah menjumpai raksasa dan ksatria yang sedang berperang:

Hamba menggapai wajah:
Wahai raksasa dan ksatria, kenapa engka berdua lakukan peperangan ini? Bukankah berdialog itu lebih baik.

Raksasa:
Dasar orang tidak tahu diri. Engkau kusuruh membunuhnya malah pergi tak karuan juntrungnya. Hai orang yang mengakau sebagai hamba menggapai wajah. Sekarang kau pilih saja. Kau ingin ikut denganku atau ikut dengan musuhku itu.

Ksatria:
Wahai hamba menggapai wajah. Maafkanlah aku, karena aku telah berbuat tidak bijaksana, sehingga reputasimu telah tercemarkan oleh kejadian ini. Terserahlah engkau. Jika engkau ingin membantuku bolehlah, tetapi jika engkau tidak ingin membantuku ya tidak apa-apa. Aku serahkan sepenuhnya kepada yang Maha Kuasa, suratan takdir dan ikhtiarku.

Hamba menggapai wajah:
Wahai raksasa. Iba dan marah hatiku melihat dirimu. Mengapa engkau telah berperangai seburuk itu. Bukankah aku teringat bahwa ketika itu engkau menemuiku untuk meminjam wajahku. Maka aku pinjamkan wajahku kepadamu tetapi dengan pesan agar dijaga baik-baik. Mengapa engkau tidak bisa mengemban amanahku. Bahkan sekarang kondisinya sebegitu buruknya. Lebih dari itu. Engkau juga telah salah gunakan wajahku untuk kepentingan-kepentinganmu secara tidak bertanggung jawab. Bahkan engkau gunakan wajahku itu untuk menggapai ego dan kepentingan dirimu. Engkau telah bersembunyi di balik wajahku untuk melakukan kedholiman di muka bumi ini. Engka bahkan telah melakukan perusakan di muka bumi ini menggunakan wajahku. Dengan dalih-dalih kebaikan engkau ciptakan keburukan-keburukan. Dengan bersembunyi di balik wajahku, engkau telah salah gunakan kekusaaan untuk menguasai dan merampas hak-hak orang banyak. Kamu ciptakan sistem dan aturan-aturan yang mementingkan dirimu sendiri. Kamu telah merubah wajahku yang kau pinjam menjadi wajah yang rakus akan kekuasaan.

Hamba menggapai wajah:
Wahai ksatria. Iba dan menyesal hatiku melihat dirimu. Mengapa engkau telah aku biarkan dan aku tinggalkan begitu lama. Bukankah aku teringat bahwa ketika itu engkau menemuiku untuk mohon ijin melakukan perjalanan dan berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan. Tetapi aku telah melupakanmu. Maka maafkanlah diriku.

Raksasa:
Wahai orang yang mengaku-aku menggapai wajah. Sombong amat engkau itu. Emangnya gua pikirin. Memangnya siapakah dirimu itu. Dirimu itu bagiku, sebenar-benar tidak berharga. Kamu tidak mempunyai nilai bagiku. Tetapi jika kamu tetap ingin hidup maka boleh tetapi dengan saratnya. Saratnya adalah engkau cabut semua pernyataanmu itu tentang diriku. Kemudian kamu minta maaf dua ratus persen kepadaku. Setelah itu maka kamu harus tunduk tigaratus persen kepadaku. Jika tidak, maka enyahlah engkau itu dari depanku ini.

Ksatria:
Wahai orang menggapai wajah. Sungguh mulia budi dan ucapan-ucapanmu itu. Maafkanlah bahwa aku telah sekian lama tidak memberi khabar kepadamu. Aku hanya berserah diri kepada yang Maha Kuasa, suratan takdir dan ikhtiarku. Aku tidak berani menatap wajahmu seratus persen karena aku khawatir dengan caraku. Aku merasa perlu mengembangkan cara dan metode agar aku bisa menatap wajahmu. Sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku tidak mengetahui bagaimana wajahku itu.

Raksasa:
Ah dasar orang bodoh dan dungu. Melihat wajah sendiri saja tidak bisa. Ini, kalau engkau ingin melihat wajahku. Tentu wajahku adalah paling tampan di dunia ini, bukankah begitu?

Orang bijak datang menemui ketiga orang tersebut:
Wahai ketiga orang yang sedang bertengkar. Demikianlah kodratnya. Bahwa hamba menggapai wajah telah ditakdirkan mempunyai banyak rupa. Raksasa itu tidak lain tidak bukan adalah dirimu. Ksatria itu juga dirimu. Jadi sebenar-benar dirimu adalah multi rupa.

Hamba menggapai wajah:
Tetapi aku menjadi penasaran. Sebetulnya siapakah diriku itu wahai orang bijak.

Orang bijak:
Dirimu adalah diriku juga. Dirimu mendahului sekaligus mengakhiri mereka. Jiwamu adalah jiwa mereka, jiwa mereka adalah jiwamu. Tetapi wajahmu akan berbeda-beda pula. Wajahmu akan tergantung wadahmu. Wadahmu adalah mereka pula. Jika mereka baik maka baik pulalah wajahmu. Jika mereka buruk maka buruk pulalah wajahmu. Jika mereka raksasa maka menjadi raksasa pulalah dirimu. Dan jika mereka ksatria maka menjadi ksatria pulalah dirimu itu. Tiadalah arti bagimu tanpa mereka. Demikian juga tiadalah arti bagi mereka tanpa dirimu.

Hamba menggapai wajah:
Bagaimana dengan dirimu?

Orang bijak:
Kau ganti saja setiap kata “mereka” pada kalimat-kalimat ku di atas dengan kata “wajahmu”, “raksasa”, “ksatria”, atau “orang bijak”. Maka sebenar benar aku tiada lain tiada bukan adalah dirimu dan diri mereka pula.

Hamba menggapai wajah:
Jadi siapakah kita ini?

Orang bijak:
Boleh boleh saja. Tetapi jika kita sepakat mencarinya maka kita boleh juga.

Hamba menggapai wajah:
Jangan berputar-putar dan bertele-tele. Tolong sebutkan saja siapa kita?

Orang bijak:
Sebenar-benar dari kita tidak lain tidak bukan adalah “Belajar Mengerti Diri”

84 comments:

  1. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Elegi seorang hamba menggapai wajah ini mengajarkan bahwa sebagaimana hidup adalah perjalanan yang kita lakukan untuk mengerti diri. Dalam rangka mengerti diri kita yang sebenarnya kita terkadang bersifat baik buruk, salah benar, bijak sombong, dan lain sebagainya. Hal tersebut pasti pernah dialami setiap manusia sebelum mengerti dirinya sebenarnya, sebab manusia pada dasarnya memiliki banyak sifat yang berpotensi baik dan buruk. Tinggal bagaimana manusia memaknai hidup dengan rasa syukur agar tetap menjadi sosok yang baik dimata Tuhannya.

    ReplyDelete
  2. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    elegi ini menggambarkan seseorang yang telah berjalan jauh, namun tidak tau arah tujuannya dan perjalanan yang ia lakukan. sehingga di dalam perjalanannya dia bertanya kepada bijak dan yang lainnya. kalimat yang menjadi perhatian saya adalah Sebenar-benar dari kita tidak lain tidak bukan adalah “Belajar Mengerti Diri”. pada dasarnya, kehidupan ini adalah tentang memahami diri sendiri, dalam arti dapat memposisikan diri pada waktu dan tempat yang tepat, dapat mengatur kesemuanya sesuai dengan kemampuan.

    ReplyDelete
  3. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi seorang hamba menggapai wajah. Elegi ini menyampaikan kepada pembaca bahwa sejatinya perangai diri itu bermacam-macam banyaknya,dalam tulisan ini diumpamakan sebagai wajah. Terkadang banyak yang menggunakan wajah orang lain atau mungkin dapat diistilahkan topeng untuk menutupi wajahnya yang sebenarnya. Maksudnya seringkali keburukan berlindung di bawah wajah kebaikan. Atau terkadang tidak sadar melakukannnya Hal tersebut termasuk pada ranah kemunafikan. Sudah seharusnya kita "belajar mengerti diri" bagaimana sesungguhnya sifat kita, dan kemudian kita lakukan perbaikan untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi sebagai bekal perjalanan menuju kehidupan yang kekal. Maka mari kita kenali diri, kemudian perbaiki.

    ReplyDelete
  4. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Wajak adalah muka. Muka paling cepat dikenal oleh orang. Belajar mengerti diri itu adalah suatu hal yang sangat penting, mengerti diri sendiri dan juga termasuk mengerti diri orang lain. Apa yang nampak pada luar diri kita adalah cerminan dari sifat dan jati diri kita sebenarnya. Dalam menilai orang lain hendaknya kita menilai diri kita terlebih dahulu. Jangan sampai kita menyuruh orang lain berbuat suatu kebaikan tetapi kita sendiri malah tidak melakukannya. Maka closing statement elegi ini memang benar adanya yaitu “Sebenar-benar dari kita tidak lain tidak bukan adalah Belajar Mengerti Diri”.

    ReplyDelete
  5. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Wajah adalah bagian penting diri manusia. Ketika bercermin wajahlah yang ingin pertama kali dilihat untuk menilik keadaannya. Ketika seseorang berwajah ksatria maka itulah dirinya. Karena wajahnya merupakan cerminan atas dirinya. Kita dapat menilai sudahkan wajah kita seperti cerminan yang diharapkan.

    ReplyDelete
  6. Manusia harus belajar mencari dan mengerti tentang diri sendiri. Manusia yang sadar akan dirinya sendiri akan menjalani hidup dengan tenang dan tenteram. Untuk mengerti diri sendiri memerlukan proses. Menjadikan diri pribadi yang Tuhan kehendaki adalah proses yang harus kita usahakan. Wajah atau penampilan adalah kualitas pertama dari diri sendiri. Wajah hanyalah penampakan yang terlihat. Aka muncul kualitas-kualitas berikutnya dalam diri kita. Kualitas tersebut merupakan karakter selain yang kita perlihatkan dari wajah kita. Karakter-karakter tersebut perlu dibentuk dalam lahan yang bersih agar memberikan penampakan yang baik dan benar. Kita dapat berusaha menutupi segala kekurangan, keburukan kita pada orang lain, namun kita tak akan pernah bisa menutupinya dari Tuhan. Tunjukkanlah karakter-karakter yang baik yang sesuai dengan perintah Allah SWT

    ReplyDelete
  7. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Setiap manusia mempunya banyak sifat. Sifat di sini dapat diartikan juga sebagai wajah. Sangat sulit melihat, mengidentifikasi dan mendefinisikan wajah. Wajah akan tergantung pada wadah. Jika wadahnya baik maka baik pulalah wajahnya. Jika wajahnya buruk maka buruk pulalah wajahnya. Tanpa wajah diri kita tidak aka nada artinya. Begitu juga sebaliknya.

    ReplyDelete
  8. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Elegi menggapai wajah tidak lain ialah belajar mengerti diri. Untuk belajar mengerti diri dengan cara mengembangkan cara dan metode agar kemampuan kita benar-benar tahu seberapa kemampuan kita. Menilai segala sesuatu memang tidak semudah mengkritik, apalagi menilai diri sendiri sangatlah susah. Mulai menilai diri sendiri dengan tes yang ada nilainyapun kita belum seberapa dalam mengukur kemampuan dan potensi yang ada dalam diri.

    ReplyDelete
  9. Taufan Adi Pradana
    13301241059
    Pendidikan Matematika A 2013

    Tulisan tersebut menceritakan tentang pencapaian kita dalam menjalani hidup, bagaimana orang lain memandang kita, bagaimana penilaian kita terhadap diri kita sendiri akan tercermin dengan sendirinya. Wajah juga dapat diartikan sebagai jati diri atau perilaku atau tabiat atau karakter. Entah wajah itu sebagai kepribadian, jati diri, perilaku, tabiat, atau karakter dikatakan bahwa musuh yang paling berat adalah diri sendiri. Terkadang kalah oleh egonya sendiri, kalah oleh tabiat buruknya sendiri, kalah oleh fikiran dan kemauan negatifnya sendiri, kalah oleh kepribadian tidak baiknya, sehingga manusia terjerumus pada sifat-sifat yang tidak mulia. Sungguh orang yang kuat bukanlah orang yang dapat menjatuhkan musuhnya dengan sekali pukul, namun orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dan mengendalikan dirinya saat ia marah. Manusia diciptakan oleh Allah SWT mempunyai akal dan pikiran untuk selalu senantiasa berfikir sebelum melakukan segala sesuatu dalam bersikap karena setiap kali kita berperilaku ada Allah SWT yang senantiasa mengawasi dan ada jutaan pasang mata yang akan menilai.

    ReplyDelete
  10. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Elegi menggapai wajah ini adalah elegi yang menggambarkan pemahaman diri sendir, memahami siat dan karakter diri. karena musuh terbesar dalam hidup adalah diri sendiri, sehingga ketika kita tidak bisa memahami diri sendiri maka kita akan kalah oleh diri kita sendiri dengan sifat-sifat buruk seperti kesombongan dan keangkuhan.

    ReplyDelete
  11. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Untuk melihat wajah itu sangat mudah, tinggal pakai cermin saja. Namun melihat wajah menjadi sulit apabila wajah yang ada dicermin bukanlah wajah yang sebenarnya. Menggapai wajah, seperti menggapai konsep dan keyakinan diri sendiri. Jika dijadikan lengkap, maka menggapai wajah seperti upaya mengenali diri sendiri. Mengenali diri sendiri itu tidak semudah melihat kepada cermin. Karena diri tidak sekasar itu. Ia halus bahkan lebih halus dari pada ruh.

    ReplyDelete
  12. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Kita harus mengenali diri kita terlebih dahulu. Keindahan yang kita miliki adalah sikap dan perilaku kita. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku tetapi tergantung diri kita bagaimana menjalankannya, siapa kita adalah tergantung apa yang ada pada isi wadah kita. Ketika kita telah memahami diri, maka kita akan tau apa yang seharusnya kita perbuat, akibat-akibat apa yang akan didapat dari hal-hal yang telah diperbuat. Selain itu, juga kita akan tahu apa sebenarnya tujuan hidup kita. Dengan itu, kita akan lebih bersyukur dengan apa yang telah dimiliki dan akan selalu berusaha untuk mengoptimalkan dan mengembangkan potensi diri kita.

    ReplyDelete
  13. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa wajah tiap orang itu tentang bagaimana orang lain memandang dirinya. Jika menggunkan istilah sekarang maka wajah seseorang itu merupakan imange orang lain terhdap dirinya. Setiap orang memiliki wajah yang berbeda-beda. Yang menentukan wajah seseorang itu adalah perbuatan-perbuatan yang dilakukannya yang mencerminkan dirinya.

    ReplyDelete
  14. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi ini mengajarkan kita sebagai manusia untuk slalu mawas diri. Memahamai diri sendiri bukanlah perkara mudah. Sifat manusia sendiri lebih suka dan mudah dengan mengkomentari suatu hal dari pada mawas diri sendiri. Padahal pada kenyataannya, diri kita sendiri belum tentu lebih baik dari orang lain. Jangan sombong, bersikaplah lebih mawas diri.

    ReplyDelete
  15. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi menggapai wajah ini memiliki makna pentingnya intropeksi diri, kita tidak dapat menilai kejelakan orang lain sebelum kita menilai diri kita sendiri, ketika kita intropeksi diri maka diperlukan niat yang ikhlas dalam menilai diri, ketika kita tidak ikhlas dalam menilai diri kita sendiri bagaikan bercermin di air yang keruh.

    ReplyDelete
  16. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    Pendidikan Matematika 2013

    Upaya seorang dalam melawan kesombongan dirinya adalah tugas terbesar bagi seorang yangmenginginkan sukses. sombong dari ilmunya, sombong dari merasa cukup, sombong dari meremehkan orang lain, sombong dari menyandarkan kepada kemampuan berfikir. Bagaimana seorang dapat menjauhi hal itu adalah dengan mengerti diri sendiri, sadar akan kadar kemampuan serta terus berusaha memperbaiki kualitas diri.

    ReplyDelete
  17. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Wajah adalah salah satu penilaian orang terhadap diri kita. Maka kalau kita mau menilai orang lain, maka kita harus instrospeksi diri terlebih dahulu. Memahami diri sendiri memang tidak mudah. Tetapi itulah kunci kesuksesan kita. Karena sebenar-benarnya dari kita tidak lain dan tidak bukan adalah belajar mengerti diri.

    ReplyDelete
  18. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Wajah merupakan cerminan diri kita. Wajah kita tergantung dari sikap dan perbuatan kita. Baik dan buruknya wajah kita, tergantung dari baik dan buruknya sikap dan perbuatan kita. Kita diberikan berbagai rupa wajah, dan kita memilih wajah mana yang pantas dan layak kita miliki.

    ReplyDelete
  19. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Sesungguhnya sebenar-benar musuh yang paling berat bagi kita adalah diri kita sendiri. Maka lawanlah diri kita sendiri ketika sudah melenceng dari ketentuan-Nya. Kita ditakdirkan untuk tidak mudah mengenali diri kita sendiri. Wajah kita bisa menyerupai apa saja yang kita pikirkan. Wajah kita itu bisa menyerupai orang bijak, bisa menyerupai orang jahat. Maka berprasangka baik dan senantiasa memperbaiki diri. Sesungguhnya sebenar-benar dari kita tidak lain tidak bukan adalah belajar mengerti diri. Maka berikhtiar dan berdoalah, memohon pada-Nya agar dimudahkan dalam mengerti diri dan menjadi hamba yang bertakwa.

    ReplyDelete
  20. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dalam elegi ini disebutkan bahwa kehidupan ini yaitu untuk belajar memahami diri sendiri. Setiap orang memiliki bermacam-macam sifat kadang sesuai dengan yang di harapkan tuhan, kadang tidak. Dalam diri setiap orang akan memiliki musuh yaitu dirinya sendiri, atau yang sering di sebut nafsu. Sehingga, yang terpenting yaitu bagaimana untuk mengendalikan nafsu tersebut. Maka penting untuk menetapkan hati pada keimanan, lalu senantiasa berpikir dengan jernih.

    ReplyDelete
  21. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Sebenar-benarnya diri kita adalah tidak lain dan tidak bkan adalah belajar menggapai diri. Mengenali diri kita yang sebenar-benarnya. Benar bahwa hidup adalah perjalanan, perjalanan menemukan diri kita. manjalankan segala peran kita di muka bumi. Sementara peran pada setiap orang dapat berubah sesuai dengan ruang dan waktunya. Begitulah manusia yang bersifat dinamis dan dapat berubah-ubah sesuai dengan adaptasinya.

    ReplyDelete
  22. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas sharingnya, Pak. Hidup adalah tentang belajar memahami diri sendiri serta orang atau objek yang berada di sekitar kita. Seperti yang digambarkan di elegi di atas bahwa dalam diri setiap manusia terdapat 'ksatria' yang selalu mendorong mereka berbuat amal-amal kebaikan serta 'raksasa' yang membisikkan sebaliknya. Tinggal bagaimana manusia memilih untuk lebih mendengar dan mengikuti yang mana.

    ReplyDelete
  23. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini saya memahami bahwa tidak lah mudah menterjemahkan diri sendiri, sangatlah sulit memahami diri sendiri. Terkadang dengan mencoba mengenali diri sendiri bisa membuat kami takabur dengan sifat-sifat positif yang kami miliki dan seakan menutupi semua sifat-sifat negatif kami. Sungguh elegi ini membuat kami (saya) untuk intropeksi diri, dan berusaha untuk mengenali diri lebih baik.

    ReplyDelete
  24. Junianto
    PM C
    17706251065

    Orang yang paling bijak adalah mereka yang mampu memahami diri mereka sendiri. Maksus dari menggapai wajah pada elegi ini adalah sebuah analogi untuk memahami diri sendiri ataupun mencari jati diri. Terkadang proses ini membutuhkan waktu yang sangat panjang dan membutuhkan orang lain sebagai cermin untuk menilai diri kita. Namun, memang benar bahwa musuh terberat kita adalah diri kita sendiri. Malas, tidak jujur, tidak bertanggung jawab, serakah, dll adalah musuh kita yang ada pada diri kita sendiri. Maka dari itu, selalu berusaha dan berdoa kepada Tuhan adalah kunci agar kita bisa menghadapi diri sendiri.

    ReplyDelete
  25. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi seorang hamba menggapai wajah menjelaskan bagaimana kita mengenali diri sendiri. Mengenali diri sendiri tidaklah mudah, tidak seperti mengenali orang lain. Kita sebagai manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Terkadang kita tak mampu memahami kekurangan kita dan terkadang pula kita hanya berfokus pada kelebihan kita sehingga kita dibutakan oleh kesombongan. Hendaknya keduanya harus seimbang, ketika kita memiliki kekurangan, maka galilah kelebihan kita agar dapat menutupi kekurangan kita.

    ReplyDelete
  26. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Belajar mengerti diri. Saya sangat setuju dengan closing dan conclusion dari elegy ini, belajar mengerti diri. Manusia berada dalam perjalanan menggapai logosnya, manusia berada dala perjalanan menggapai wajah, maka sudah wajar jika pada perjalanan tersebut kita menemukan kebingungan-kebingungan, karena pada dasarnya sebelum kita sampai di akhir perjalanan, kita adalah multi rupa. Maka manusia sebagai makhluk yang memiliki pikir dan nurani sudah seharusnya berusaha dan berikhtiar sekuat tenaga untuk menggapai “wajah” sebaik-baiknya, yaitu menjadi manusia “baik” yang bermanfaat bagi lingkungan.

    ReplyDelete
  27. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Belajar mengerti diri. Mengenal Diri. Mengenali diri kita, bukan hanya melihat betapa tampan kita, betapa tinggi kita, betapa atletis kita. Akan tetapi lebih dari itu, kita harus melihat apa potensi yang kita miliki, entah itu potensi berbuat baik, buruk, potensi berprestasi dan segala macam potensi yang ada dan tersembunyi di dalam diri kita. Dengan begitu kita tidak merasa kebingungan dan mampu mengoptimalkan dan meningkatkan potensi yang kita miliki.

    ReplyDelete
  28. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Seorang hamba menggapai wajah merupakan analogi dari seorang yang berusaha mengenali diri. Seperti yang dikatakan dalam elegi ini bahwa setiap hamba dapat memiliki banyak rupa. Dapat dimaknai bahwa setiap diri berpotensi untuk menjadi baik dan juga menjadi buruk. Jika hatinya bersih, maka akan baik perangainya. Begitu sebaliknya, jika hatinya telah dipengaruhi oleh hal-hal yang buruk, maka akan buruk pula perangainya.

    ReplyDelete
  29. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Elegi yang sangat reflektif. Menjadi manusia berarti menjadi diri sendiri. Begitu pula ketika menjadi pendidik, saya harus mampu memahami bahwa siswa hendaknya menemukan dirinya sendiri dengan potensi mereka masing-masing. Memahami diri sendiri akan meredam pembrontakan di dalam diri menjadi dialektis. Setiap manusia memerluka sarana reflektif untuk menemukan dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  30. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Perjalanan mengagapai wajah bukanlah hal yang mudah.Banyak jalan terjang yang harus dilalui.Dan untuk memudahkan hal tersebut, kita butuh teladan yang di analogikan sebagai kendaraaan seperti orang-orang bijak,nabi dan rasul dan guru.Halangan,rintangan , gangguan dan dalam mengenal diri sejatinya selalu mengiringi perjalanan.Maka kata kuncinya adalah bersabar.

    ReplyDelete
  31. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Belajar mengerti diri menurut saya dilakukan oleh manusia sepanjang hayatnya. Saat seseorang memahami dirinya sendiri, ia akan mampu menempatkan dirinya pada posisi orang lain. Hal ini dapat pula disebut dengan empati. Saya belajar dari ulasan ini penting untuk melihat diri sendiri terlebih dahulu saat ingin mengalihkan tindakan terhadap orang lain. Selain itu, tidak dianjurkan pula untuk menyalahkan atau mencari-cari kesalahan orang lain.

    ReplyDelete
  32. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi ini saya memahami bahwa dalam hidup ini kita tidak lain dan tidak bukan adalah belajar memahami diri sendiri. Namun dalam perjalanan memahami diri sendiri, seringkali manusia dihadapkan dengan berbagai permasalahan. Disitulah sebenarnya letak memahami diri sendiri, bagaimana usahanya dalam menembus ruang dan waktu mengenali diri sesuai dengan peran yang dijalankan. Dan pada akhirnya, tergantung manusia itu sendiri apakah ia akan mengevaluasi terhadap apa yang telah ditemukan pada dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  33. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamualaikum wr.wb.
    Terimakasih banyak prof. Marsigit atas ulasan di atas. Dari postingan tersebut dapat kita ambil makna bahwa hamba menggapai wajah mengalami titik dilema, dia tidak mengerti siapa dirinya, yang ternyata dia adalah raksasa, ksatria dan orang bijak. Artinya, seseorang dengan hati yang baik tulus, ikhlas, jujur, rendah hati, dan tidak tinggi hatipun tidak menutup kemungkinan akan ada banyak pengaruh yang datang menghampiri dirinya. Sebab beragam pengaruh yang datang pada dirinya, akibatnya adalah ia akan pada berada pada titik dimana ia tidak mengerti seperti apakah jati diri nya yang sesungguhnya. Sebenar-benarnya orang berpikir adalah ketika ia memahami dirinya sendiri. Siapa kah dan seperti apakah dirinya selama ini. Iya, intinya adalah kita harus belajar mengerti tentang diri kita sendiri. Hal itu penting, agar kelak kita mampu melangsungkan kehidupan dengan menjadi diri sendiri dan menjaga jati diri kita sendiri karena kita telah memahaminya.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  34. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Bagi saya memahami sifat sendiri itu terkadang lebih membingungkan daripada melihat sifat seseorang. Ya karena kita memerlukan “benda” kedua untuk dapat meilihat diri kita. Mitos bisa saja menguasai kita untuk hanya dapat menilai apa yang baik dari kita. Tapi subyek kedua, belum tentu juga dapat melihat kita. Karena sifatnya sementara sesuai ruang dan waktu dan itu jelas relatif setiap subyeknya. Mungkin dia jujur dan mungkin saja tidak jujur. Yang tdiak ada bisa saja diada-adain. Jelas bukan jika musuh terbesar kita adalah diri sendiri? “wajah” dan “wadah” saling mengisi satu sama lain. Sekuat-kuat nya kita untuk mengerti dri kita, belum tentu itu diri kita. Mungkin itu diri kita yang tlah lalu. Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat di kehidupan sekitarnya.

    ReplyDelete
  35. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Salah satu kebahagiaan orang beriman yang tidak didapatkan oleh orang-orang yang tidak beriman adalah kesempatan untuk melihat wajah dari Rabb-nya. Tapi untuk mendapatkan kebahagiaan ini tentu bukan perkara yang mudah, karena begitu banyak godaan yang akan setia menggoda kita agar kita melenceng dari jalan yang Allah tunjukkan. Kita berdoa semoga kita senantiasa diberikan petunjuk, kekuatan dan keistiqomahan untuk meniti jalan yang lurus tersebut. aamiin

    ReplyDelete
  36. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Manusia selalu berusaha untuk mencari jati dirinya. Mengenali diri sendiri, mengenali potensi diri, berusaha mengembangkannya, itulah wujud manusia untuk mendekatkan diri pada Allah. Diperlukan kesungguhan dengan keikhlasan untuk menggapai semua itu, sehingga kita senantiasa berusaha mendekatkan diri pada Allah dengan mengerti potensi apa yang dimiliki, tentunya dengan selalu memanfaatkannya di jalan Allah.

    ReplyDelete
  37. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Ketika kita sibuk memikirkan pendapat orang lain tentang kita, kita tidak pernah menyadari pertempuran terhebat yang sebenarnya adalah memikirkan pendapat diri sendiri. Melawan diri sendiri sangat sulit hingga kita sering tidak meladeninya dan memakluminya saja. Kitalah yang harus mengenal diri kita sendiri dengan baik. Kita pula lah yang harus menegur diri kita sendiri dan berusaha memperbaikinya. Semoga Allah selalu melindungi diri kita dari sifat sombong dan takabur.

    ReplyDelete
  38. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Orang jawa sering sekali memberikan nasihat kepada para sanak saudaranya khususnya kepada keturunannya. Mekerea selalu menasihati untuk menadi orang yang rumongso. Bukan orang yang rumongso iso, namun menjadi orang yang iso rumongso. Dari didikan orang jawa tersebut, banyak sekali orang-orang terdahulu dimana mereka jarang sekali melakukan peperangan maupun perpecahan antar sesama. Jika kita tengok ke masa lalu, hidup orang jawa sebenarnya tentram sekali karena ajaran yang di anutnya. Namun, lama kelamaan karena sifat ketamakan dan egois, mereka saling berperang satu sama lain. jadi, identitas mereka lama kelamaan berubah. Ada pepatah yang mengatakan “seorang pencuri tidak akan bermimpi memiliki anak seorang pencuri” oleh karena itu, orang jawa juga mereka berusaha untuk mendidik anak mereka sebaik mungkin agar kehidupan mereka lebih baik dari orang tua mereka. Jadi, menjadi orang yang rumongso sangatlah diutamakan agar hidup kita tidak selalu menyalahkan orang lain dan selalu terhindar dari sifat sombong.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  39. Junianto
    17709251065
    PM C

    Saya sepakat dengan pernyataan Prof bahwa kita diciptakan untuk beribadah kepada Sang Pencipta, seperti dalam agama yang saya anut pun juga demikian. Ibadah yang dimaksud disini memiliki makna yang sangat luas yang menandakan juga bahwa Tuhan itu Maha Kuasa. Segala kebaikan yang kita lakukan jika diniatkan untuk beribadah maka bernilai ibadah, sehingga ibadah tidak hanya di tempat ibadah saja. Menyingkirkan batu/ kerikil/ paku di jalan agar tidak melukai orang lain adalah ibadah, bekerja siang malam untuk menghidupi keluarga adalah ibadah, membantu orang lain mengangkat barang adalah ibadah, bahkan senyum yang ikhlas kepada orang lain juga ibadah, dsb. Jadi, jika kita mau melakukan kegiatan dengan niat karena Tuhan YME, maka akan bernilai ibadah.

    ReplyDelete
  40. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Sebuah tujuan hidup akan membuat kita semangat dalam menjalani kehidupan. Perjalanan menggapai tujuan hidup tentu tidak selalu mulus, melainkan pasti ada rintangan dan cobaan baik di awal, di tengah, maupun di akhir hampir sampai tujuan. Rintangan dan cobaan jika diselesaikan dengan rasa ikhlas, maka malah akan membuat diri kita semakin kuat. Bahkan terkadang rintangan berasal dari diri kita sendiri. Kita harus memahami diri kita terlebih dahulu, karena sebenar-benar kita adalah mengerti diri sendiri.

    ReplyDelete
  41. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Musuh yang paling berat adalah diri kita sendiri. Kita harus bisa mengkontrol segala yang kita lakukan. Manusia hidup selalu kontradiktif sehingga hari ini tidak sama dengan hari kemarin ataupun hari esok. Tantangan dan rintangzn untuk hidup juga berbeda-beda. Cobaan hidup digunakan untuk menaikan derajad manusia. Orang yang bisa melewati cobaan itu pasti akan menjadi lebih tangguh dibandingkan sebelumnya. Namun, terkadang kita juga merasakan untuk menyerah, menyerah dalam ruang dan waktu serta memutuskam untum berhenti. Oleh karena itu, kita harus bisa melawan diri kira sendiri untuk kepentingan kita.

    ReplyDelete
  42. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    "Sebenar-benar dari kita tidak lain tidak bukan adalah “Belajar Mengerti Diri”"
    Saya sangat terkesan dengan kata-kata orang bijak diatas. benar bahwa belajar mengerti diri sendiri ialah jalan kita untuk melalkukan apapun didunia ini. jika kita bergerak dengan tak tahu apa yang kita inginkan, apa pasion yang ada dalam diri ita mustahil untuk menjadi orang yang benar-benar maju didalam kehidupan ini. maka pelajarilah diri mu sendiri dan mengertilah apa yang dirimu butuhkan.

    ReplyDelete
  43. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Perjalanan setiap manusia memang berbeda-beda, namun tujuan akhirnya adalah sang pencipta. Dalam melewati setiap perjalanan, berbagai perwujudan telah kita lakukan, kadang sengaja menjadi baik, baik berpura-pura baik, berkelakuan buruk, bahkan tak sengaja menjadi buruk. Semua perwujudan tersebut terlihat dari tingkah laku kita. Maka apalah wujud dari diri kita melainkan terlihat dari perbuatan kita.

    Demikian, terimakasih

    ReplyDelete
  44. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    "Karena konon wajahku bisa menyerupai apa saja. Wajahku bisa menyerupai apa saja yang aku pikirkan."
    Ya memang, apa yang ada di pikiran dan perasaan akan tercermin di wajah. Sepintar apapun orang berbohong atas pikirannya dan perasaannya, ada orang yang memiliki kemampuan untuk melihat celah itu pada wajahnya. Musuh terbesar tentu adalah diri sendiri. Karena terkadang yang terjadi adalah kita tak mampu mengendalikan diri kita yang memikirkan atau merasakan sesuatu hingga tercermin pada wajah kita.
    Percayakah jika wajah dapat membunuh? Saya percaya. Ketika kita langsung menilai seseorang buruk tanpa memperhatikan duduk perkaranya lalu menyalahkannya dengan tatapan penuh kebencian, maka kita telah mematikan kebaikan orang tersebut. Ketika kita memandang seseorang yang kita anggap lemah dengan sebelah mata sehingga tercermin lewat wajah kita yang tak memandangnya maka kita telah mematikan potensi dirinya untuk berkembang menjadi lebih kuat.
    Wajah adalah cerminan pikiran dan hati, maka kontrol diri dibutuhkan untuk mengontrol diri. Memang sulit,tetapi ketika hidup adalah proses,maka mari berjuang bersama menggapai wajah berseri yang selalu tersenyum dan bijak menilai wajah orang lain.

    ReplyDelete
  45. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Membaca elegi ini membuat saya untuk menginstropeksi diri sendiri. Sudahkah saya mengenal diri saya sepenuhnya?. Mengenal dan memahami diri bukanlah perkara yang mudah. Membutuhkan proses yang panjang agar kita mampu memahami diri kita. Kadang kala, karena subyektifitas dari dalam diri kita menganggap bahwa diri kita adalah yang paling baik dan paling benar. Hal itu merupakan sifat sombong yang dimiliki disetiap hati semua orang. Ketika kita mampu menekan sifat sombong tersebut, dan bersifat obyektif dalam menilai diri kita maka itulah termasuk kedalam orang yang bijak. Orang yang bijak itu, orang yang mampu menempatkan dan menilai dirinya seperti apa adanya. Terimakasih.

    ReplyDelete
  46. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Sangat menarik sekali tulisannya pak. Saya pernah mendengar quote "you are what you think you are" kamu adalah apa yang kamu pikirkan. Memang tugas kita di bumi ini adalah menjadi khalifah yang menjaga bumi dan selalu beribadah kepada Allah. Terkadang banyak godaan yang membuat kita bimbang akan jati diri kita, tentang baik dan buruk. Menurut saya, mengenali diri artinya mengenali Allah. Ketika kita selalu berorientasi bahwa hidup ini adalah mengharap Ridho-nya, maka sekecil apapun perbuatan kita insya allah menjadi berkah. Semoga kita selalu dikelilingi oleh orang-orang yang membantu kita untuk selalu mengingat Allah dan mengenal diri kita. Aamiin allahumma aamiin.

    ReplyDelete
  47. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Seperti yang telah dikatakan pada postingan ini bahwa sebenar-benar diri kita ialah belajar mengerti diri sendiri. Akan tetapi, tidak akan pernah selesai rasanya ketika kita ingin mengenali diri sendiri. Karena setiap diri kita diberi potensi untuk menjadi baik dan buruk, maka dari itu seyogyanyalah kita mengembangkan potensi baik yang ada di diri kita. Sehingga dengan begitu, yang kita kenali ialah diri kita yang baik yang dapat bermanfaat oleh sesama.

    ReplyDelete
  48. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Menggapai wajah, artinya menggapai segala yang ada dan yang mungkin ada dalam diri kita termasuk mengerti diri. Apa yang harus dimengerti dalam diri ini? Hal yang perlu kita mengerti mencakup jiwa, wadah dan isi yang ada dalam diri kita. Bagaimana diri kita adalah bagaimana kita mengisi wadah kita. Jika kita isi diri kita dengan hal-hal yang buruk, itulah sebenarnya diri kita diri yang buruk dan wajah yang buruk pula, tetapi jika kita mengisi diri kita dengan hal-hal yang baik, itulah sebenar-benar diri dan wajah kita yang baik. Tetapi tidaklah mudah untuk memahami diri, apalagi sejatinya yang membuat diri kita baik ataupun buruk adalah diri kita sendiri. Meskipun begitu, kita harus tetap berusaha untuk belajar mengenali diri, supaya tidak menjadi orang yang tidak mengenali diri sendiri, karena bahayanya orang yang seperti itu hidupnya tidak akan menjadi dirinya sendiri dan mudah terbawa arus karena tidak memiliki pendirian sehingga tidak berkembang hidupnya.

    ReplyDelete
  49. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Dalam hidup ini, kita harus berusaha untuk menggapai wajah, memahami diri kita sendiri. Karena siapalah yang akan mengerti diri kita kalau bukan kita sendiri. Karena itulah kita harus terus berusaha mengerti diri kita sendiri. Kita harus belajar mengeri mana yang menjadi hak kita mana yang menjadi kewajiban kita. Kita harus belajar mana yang menjadi kebutuhan kita mana yang menjadi nafsu kita. Kita harus memahami kedudukan kita saat ini, mengerti apa yang dapat diri ini lakukan untuk orang-orang disekitar kita. Kita harus belajar tentang potensi kita, menggalinya, mengembangkannya hingga potensi tersebut dapat bermanfaat bagi banyak orang. Karena hidup kita di dunia ini adalah sementara. Maka kita harus memahami diri kita dengan sebaik-baiknya dan menggunakannya untuk kebermanfaatan.

    ReplyDelete
  50. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Belajar mengerti diri itu adalah penting, mengerti diri sendiri dan juga termasuk mengerti diri orang lain.
    Dalam menilai orang lain hendaknya kita menilai diri kita terlebih dahulu.
    Jangan sampai kita menyuruh orang lain berbuat suatu kebaikan tetapi kita sendiri malah tidak melakukannya.

    ReplyDelete
  51. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Elegi ini mengingatkan kita tentang tugas utama kita dalam perjalanan kehidupan ini yaitu untuk beribadah kepada sang maha pencipta. Bagaimana kita memaknai perjalanan dalam kehidupan ini akan mempengaruhi rupa akan diri kita. Rupa (wajah) kita tergantung dengan pilihan kita dalam menjalani kehidupan apakah sesuai dengan ruang dan waktu yang tepat atau tidak dan semua itu tergantung pada keputusan kita. Maka diperlukan ilmu yang luas dan spiritual yang kokoh untuk dapat menentukan keputusan agar menggapai kebajikan.

    ReplyDelete
  52. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Seorang hamba mencari wajah disini merupakan sebuah kiasan untuk manusia yang berusaha menemukan kodratnya sebagai manusia. Sebaik-baik orang adalah mereka yang tahu diri. Tahu kemampuannya sehingga tidak menyombongkan diri. Sebenarnya orang sombong hanya orang yang tidak tahu wajahnya yang sebenarnya.

    ReplyDelete
  53. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Seseorang ketika menjalani kehidupan di dunia ini mempunyai beribu wajah sesuai dengan perlakuannya saat itu. Namun yang terpenting adalah kita harus berusaha untuk selalu berada di jalan-Nya.

    ReplyDelete
  54. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Sebelum mengenal orang lain, hendaklah kita berusaha terlebih dahulu untuk mengenal diri kita sendiri. Mengenal diri sendiri adalah sesuatu yang memerlukan perenungan untuk memahaminya. Belajar untuk mengenal dan mengerti diri itu penting, karena dengan begitu kita dapat mengetahui potensi yang dimiliki dan dapat menempatkan diri sesuai dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  55. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Melalui elegi ini memberikan hikmah bagi diri saya khususnya untuk “belajar mengerti diri”. Terkadang manusia memiliki keinginan yang besar. Namun terkadang pula ia tidak menyadari akan kemampuan dan kondisi dirinya. Wajah akan terlihat baik ketika perilaku manusia juga baik. Begitupun sebaliknya. Manusia lain akan menilai diri kita berdasarkan apa yang mereka lihat. Dan yang mereka lihat adalah tingkah laku dan perilaku manusia terhadap manusia lain.

    ReplyDelete
  56. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Setiap individu pasti pernah mengalami masa-masa pencarian jati diri. Sesungguhnya dalam diri kita ini tersimpan banyak sifat, baik sifat buruk maupun sofat baik. Dalam perjalanan kita mengenali diri, sifat mana yang akan menonjol tergantung dari diri kita sendiri, sifat manakah yang lebih kita beri peluang untuk selalu tumbuh. Sifat ini tergantung pada wadahnya, maka agar sifat baik ini dapat terpelihara dengan baik kita harus banyak-banyak melakukan refleksi diri, dan bersikap bijak.

    ReplyDelete
  57. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Elegi ini sebenarnya adalah suatu pikiran bagaimana manusia itu berpikir. Bagaimana manusia itu berpikir siapa dirinya, siapa aku, untuk apa aku diciptakan, untuk apa aku ada, untuk apa aku mengada. Mka si manusia berpikir dan mengenali bahwa tujuan tertinggi hidupnya dalah menggapai ridho ilahi, menjadi saksi setiap perjalanan ciptaannya

    ReplyDelete
  58. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Sangat jelas bahwa manusia yang sudah mengenalli diri sendiri, maka akan mempunyai batasan-batasan yang jelas dalam bertindak, berperilaku, dan berpikir. Dia memahami kelemahan dan kelebihannya, kesukaan dan ketidaksukaannya. Untuk itu sebagai manusia tentunya tidak boleh bersikap sombong dan semena-mena terhadap hal dluar dirinya, karena hanya akan mengahncurkan diri

    ReplyDelete
  59. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Seorang hamba menggapai wajah ialah seseorang yang sedang dalam proses mengenali dirinya sendiri. Mengenali diri sendiri artinya merefleksi diri atau bercermin dan melihat pribadi diri sendiri. Bercermin di sini bukan semata-mate melihat tampilan fisik, akan tetapi melihat pribadi diri sendiri. Oleh karena itu sangat sulit untuk mengenali pribadi diri sendiri. Diri kita dapat terlihat berbagai macam, bisa terlihat baik apabila kita berperilau baik, bisa terlihat buruk apabila kita berperilaku buruk. Maka seperti apa cerminan diri kita tergantung dari perbuatan kita selama ini. Sedangkan perbuatan kita sendiri yang menentukan aan berbuat baik atau berbuat buruk. Oleh karena itu hendaknya kita memikirkan terlebih dahulu apa yang hendak kita perbuat dan merenungkan atau memikirkan apa yang tela kita perbuat. Agar nantinya wajah yang nampak pada saat kita bercermin ialah wajah kebaikan.

    ReplyDelete
  60. Latifah Fitriasari
    PM C

    Belajar sesuatu tentang karakter diri sendiri selalu menyenangkan. Mengerti fakta psikologi soal perilaku dan kebiasaan kita, bisa menjadi hal yang menghibur dan mengedukasi. Pemahaman tentang siapa diri Anda yang sebenarnya akan menjadi sebuah pengalaman yang sangat berharga. Jika bisa memahami diri sendiri secara obyektif dan jujur, kita bisa belajar menerima diri sendiri. Namun, jika tahu bagaimana harus mencari, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang diri sendiri dan mengerti cara-cara untuk membuat diri agar lebih berkembang lagi dari hari ke hari.

    ReplyDelete
  61. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    elegi ini serupa dengan pengingat bahwa kita ialah ciptaan Tuhan YME yang diciptakan untuk menyembah dan beribadah kepada-Nya. Kita layaknya seorang pengembara yang tengah melakukan perjalanan untuk mencari muara, dalam perjalanan tersebut kita melewati rintangan atau bahkan kejutan-kejutan kehidupan yang dari kesemuanya kita harus dapat mengambil hikmahnya. Kita bisa saja menjumpai suatu fenomena yang menyedot persepsi dan jati diri kita hendak condong kemana, menjadi seorang raksasa (Buto) atau menajdi seorang ksatria, adapun sebenar-benar kita ialah agar dapat menjadi hamba yang taat pada Sang Pencipta. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  62. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Medan laga dimana Sang Ksatria dan Raksasa tengah bertempur tak lain ialah dunia atau kehidupan ini. Dalam menyelami kehiduapan sering kali bahkan dalam diri kita sendiri terjadi pertarungan antara kebaikan dan keburukan yang dapat dianalogkan dengan ksatria dan raksasa, mana yang akan kita bantu. apakah keburukan atau raksasa rakus yang akan kita ikuti atau Sang Ksatria lah yang akan kita pertahankan, kita bela dan kita hayati sampai akhir perjalanan kita. Biarpun demikian saat dalam perjalanan kita tersesat, Allah takkan melepaskan tangan hambaNya yang senantiasa terulur padaNya, memohon, menyembah dan memujiNya. Mari berlomba dalam kebaikan meuju Ridho Sang Pencipta sehingga kita takkan kehilangan arah atau kehabisan bekal dalam perjalanan yang panjang ini. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  63. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Wajah merupakan setetes nikmat yang mencerminkan jati diri kita, tapi wajah juga bisa sebagi topeng. Wajah merupakan salah satu penilaian terluar oarang terhadap kita, maka dari itu dalam menilai orang lain hendaknya kita menilai diri kita terlebih dahulu. Jangan sampai kita menyuruh orang lain berbuat suatu kebaikan tetapi kita sendiri malah tidak melakukannya.

    ReplyDelete
  64. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada postingan diatas mengajarkan kita untuk mengenali diri. Mengetahui kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Untuk bisa menggapai itu kita sebaiknya instropeksi diri. Tidak sepantasnya kita berbuat sombong atas apa yang kita miliki sekarang ini. Selain itu segala yang kita lakukan hendaknya ditujukan untuk mendapat ridho Tuhan. Dimulai dari mendasari hidup dengan hati yang ikhlas atas apapun yang terjadi, berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai apa yang diinginkan, kemudian setelah berusaha, menyerahkan usaha kita kepada Tuhan, karena Tuhan akan memberikan pilihan terbaik bagi kita.

    ReplyDelete
  65. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam elegi ini mengandung maksud bahwa wajah yang kita punya merupakan karakter kita sendiri, ceminan dari diri kita sendiri. bagaimana kita mengenalkan diri sendiri ke orang lain merupakan cara bagaiman wajah kita dikenal oelh orang lain. Maka sebaik baiknya mengalkan diri kita adalah dengan mengal siapakah diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  66. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi seorang hamba menggapai wajah sejatinya menjelaskan tentang bagaimana kita mengenali diri sendiri. Mengenali diri sendiri merupakan hal yang tidak mudah dan lebih sulit daripada mengenali orang lain. Kita sebagai manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Terkadang kita mampu memahami kekurangan kita, dan terkadangpula kita hanya fokus pada kelebihan kita hingga kita dibutakan oleh kesombongan. Hendaknya keduanya harus seimbang, ketika kita memiliki kekurangan maka galilah kelebihan kita untuk menutupi kekurangan tersebut.

    ReplyDelete
  67. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Semua isi tergantung dengan wadahnya. Begitu juga dengan manusia. Perilaku kita tergantung dengan lingkungan yang kita tinggali. Kita bisa menjadi baik atau buruk tergantung dari lingkungan. Karena sebenarnya orang-orang yang ada di sekitar kita adalah cerminan diri kita. Seperti kalimat yang menyatakan bahwa orang baik akan berkumpul dengan orang-orang baik pula, dan sebaliknya. Belajar mengerti diri dapat dilakukan pula dengan menyadari berada di lingkungan seperti apa kita saat ini.

    ReplyDelete
  68. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  69. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  70. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Dalam kehidupan, wajah kita akan bergantung bagaimana diri kita sendiri, bagaimana kehidupan yang kita pilih. Apabilia kita memilih untuk menjalani hidup dengan bertawakal kepadaNya maka kita akan menjadi manusia yang memiliki wajah yang baik, namun apabila kita memilih untuk menjalani hidup dengan penuh kesombongan, tidak menyadari keterbatasannya maka kita pun akan menjadi manusia yang memiliki wajah yang jelek, namun janganlah memakai topeng yaitu berpura-pura berwajah baik hanya jika dilihat oleh orang saja. Karena kita di dunia ini tidak hidup sendiri, semua yang ada dan mungkin ada dapat menjadi saksi bagaimana wajah kita, maka tidak perlu lah kita memakai topeng karena Tuhan YME mengetahui bagaimana wajah kita yang sebenarnya.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  71. Ilania EKa Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Elegi menggapai wajah ini menjelaskan kepada kita bahwa wajah seseorang itu akan berubah-ubah sesuai dengan perilakunya. jika kita berbuat baik, maka wajah kita juga akan terlihat baik, sebaliknya, jika kita berbuat jelek maka wajah kita juga akan terlihat jelek. Wajah merupakan cerminan dari perbuatan kita. Untuk menggapai wajah ini, kita terlebih dahulu perlu mengenali diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  72. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Dalam menjalani hidup, sangat perlu bagi kita untuk memahami atau mengerti diri sendiri. Ada beberapa pertanyaan yang dapat membantu dalam memahami atau menganali diri, contohnya adalah pertanyaan tentang siapakan sebenarnya diri kita ? Apa yang kita cari dalam kehidupan ? Apa yang telah di dapatkan ? dan sebagainya. Seseorang yang telah menemukan jati dirinya dapat dikategorikan sebagai orang yang dewasa atau matang. Maka dari itu, memahami diri juga sangat penting untuk pengembangan diri.

    ReplyDelete
  73. Ketika kita telah memahami diri, maka kita akan tau apa yang seharusnya kita perbuat, apa yang seharusnya di dapat, dan akibat-akibat dari hal-halyang telah diperbuat. Selain itu, juga kita akan tahu akan apa sebenarnya tujuan utama kita hidup. Dengan itu, kita akan lebih bersyukur dengan apa yang telah dimiliki dan akan selalu berusaha untuk mengoptimalkan potensi diri untuk mencapai tujuan utama kehidupan.

    ReplyDelete
  74. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Sebenar-benar dari kita tidak lain tidak bukan adalah belajar mengerti diri sendiri. Mungkin begitulah kira-kira yang saya pahami setelah membaca judul dari tulisan ini. Mengerti diri itu hal yang perlu dipelajari dan dipahami. Mengenal diri sendiri adalah sesuatu yang memerlukan perenungan untuk memahaminya. Bahkan terkadang banyak yang tidak tau sebenarnya seperti apa diri kita sendiri. Tidak mengenal potensi yang berkembang di dalamnya. Sehingga banyak yang sering terbawa arus, tidak memiliki pendirian, dan tidak berkembang. Orang yang tidak mampu mengenal diri tidak akan menjadi diri sendiri dalam setiap langkah hidupnya. Ia bagaikan kapal tanpa nahkoda yang terombang-ambing di lautan lepas. Menjadi seorang individu yang ababil.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  75. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Ababil merupakan salah satu ungkapan bagi anak remaja yang belum menemukan jati dirinya. Sehingga kebanyakan remaja sering atk punya arah dan hanya mengikuti trend yang ada. Bersikap berlebihan dan sebagainya merupakan salah satu wujud ketidakpahaman akan diri sendiri. Namun, ituleh proses pendewasaan. Ada kalanya di suatu tahap perkembangan seorang individu belum mampu menemukan jati dirinya, kemudian berusaha memperbaiki darinya, dan akhirnya bertemulah ia kepada siapa dia sebenarnya. Sehingga proses perkembangan itu memerlukan waktu, tidak dapat berlangsung secara instant. Pengalaman dan pembelajaran sangat berkaitan dengan proses pencarian jati diri. Maka dari itu janganlah berhenti belajar dan perbanyaklah pengalaman dari beragam proses pembelajaran.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  76. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    yang dimaksud dengan menggapai wajah adalah berusaha mengenali diri sendiri, seperti apa kita, apa yang kita butuhkan, potensi apa yang dapat kita maksimalkan dari dalam diri kita, apa hak dan kewajiban kita. mengenali diri sendiri merupakan cara untuk mengevaluasi diri kita dan memperbaiki diri untuk menjadi yang lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  77. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa wajah tiap orang itu tentang bagaimana orang lain memandang dirinya. Jika menggunkan istilah sekarang maka wajah seseorang itu merupakan imange orang lain terhdap dirinya. Setiap orang memiliki wajah yang berbeda-beda. Yang menentukan wajah seseorang itu adalah perbuatan-perbuatan yang dilakukannya yang mencerminkan dirinya.

    ReplyDelete
  78. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Hidup ini adalah tentang perjalanan mencari jati diri. Mencari tahu siapa diri kita sebenarnya. Mengeri untuk apa sejatinya kita menjalani kehidupan ini. Tujuan hidup kita adalah untuk menggapai keridhoan Tuhan dengan selalu melaksanakan setiap kewajiban. Dalam perjalanan hidup ini, akan begitu banyak sekali rintangan dan godaan yang akan kita jumpai. Karenanya, selalu perkuat iman kita dan perbanyak ilmu. Lengkapi dengan selalu berusaha berpikir kritis dan hati yang bersih.

    ReplyDelete
  79. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Menggapai wajah adalah metafora dalam memahami bahwa diri ini bukanlah apa-apa tanpa keridhoan Allah SWT. Hal tersebut berlawanan dengan sikap sombong sebagai representasi dari sikap syaitan ketika membangkang dari Allah SWT. Oleh karena itu, jauhilah sikap sombong untuk menggapai diri. Jauhilah sikap sombong untuk menggapai kerendahan hati. Menggapai wajah adalah kerendahan hati itu sendiri.

    ReplyDelete
  80. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Saya memaknai bacaan diatas adalah sebagai manusia kita memiliki banyak sifat dalam diri kita. Terkadang kita menjadi bijak, ksatria, raksasa karena pemarah, sabar, dan sebagainya. Sifat-sifat itu dapat muncul dalam diri kita jika kita telah dihadapkan pasa situasi yang berbeda-beda. Misalkan dalam situasi yang menegangkan bisa saja kita marah dan bisa saja kita sabar. Hal ini berkaitan dengan pengendalian diri dalam diri masing-masing. Sebagai manusia kita juga pasti memiliki banyak topeng untuk menutupi sifat-sifat dalam diri kita. Untuk itu daripada mengenakan topeng-topeng yang tidak sesuai dengan sifat kita yang sebenarnya, alangkah lebih baik apabila kita bersikap apa adanya. Dan untuk mengenal lebih jauh sifat dalam diri kita, pertama-tama kita harus mengenali diri sendiri. Setelah kita mengenali diri sendiri, kita dapat membentuk sifat kita. Dalam diri manusia akan ada banyak sifat karena manusia terbentuk atas sifat-sifat.

    ReplyDelete
  81. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Elegi seorang hamba menggapai wajah ini, jika saya dapat katakan secara sederhana adalah analogi seseorang dalam memahami diri. Memahami hakekat diri. Ada banyak wajah-wajah diluar sana tertutup topeng, artinya tidak sebenar-benar dirinya yang nampak. Ada sesuatu yang palsu yang menutupinya. Bahkan dalam diri kita sendiri, secara tidak sadar diri kita tertutupi oleh hal-hal yang tidak kita sadari sebenarnya itu bukanlah dirikita.Maka dari itu untuk memahami sebenar-benar diri kita adalah dengan menggunakan nurani dan pikiran yang jernih, menghilangkan setiap atribut yang melekat termasuk obsesi dan kesombongan.

    ReplyDelete
  82. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Dalam artikel ini saya memahhai bahwa hamba menggapai wajah artinya bahwa seseorang itu sedang berusaha untuk menemukan, mengenali dan juga memahami siapa dirinya sebenarnya. Ketika sesorang itu memahami apa yang ada pada dirinya maka orang itu akan paham tentang apa yang seharusnya, semestinya ia lakukan sesuai dengan apa yang dimilikinya. Saat hal itu sudah tercapai maka akan meningkatkan rasa syukur seseorang terhadap Allah dan akan senantiasa bermuhasabah memperbaiki diri.

    ReplyDelete
  83. Woro Alma Manfaati
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241002

    Elegi di atas menjelaskan bahwa sebelum kita mengenali orang lain, alangkah baiknya jika kita mengenali diri kita sendiri. Untuk mengenali diri sendiri itu tidaklah mudah, membutuhkan waktu untuk merenungnya. Terkadang apa yang muncul dalam diri kita seperti perilaku, ekspresi wajah itu bukan natural berasal dari diri kita yang sesungguhnya, bisa jadi kita meniru perilaku atau ekspresi orang lain karena ingin seperti dia. Oleh karena itu, untuk mengenal diri kita sendiri kita sangat perlu self-compassion.

    ReplyDelete
  84. Rina Musannadah
    15301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Hal yang dapat diambil dari elegi ini adalah belajar mengerti diri sendiri, bagaimana sesungguhnya sifat kita, agar kita dapat mengetahui bagaimana kita harus bersikap.

    ReplyDelete