Sep 20, 2013

Elegi Seorang Hamba Menggapai Wajah




Oleh: Marsigit

Hamba menggapai wajah memulai perjalanannya:
Aku di sini akan dan sedang memulai perjalananku. Dalam mimpiku, perjalananku itu akan sangat jauh dan sangat melelahkan. Tetapi konon sangat menjanjikan dan berpengharapan. Walaupun sangat berbahaya dan menakutkan.

Konon dalam perjalananku aku harus berbekal jiwaku, berpegang pada jiwaku dan bertuju kepada jiwaku. Tidak hanya itu saja. Konon juga aku harus berteman jiwaku, bertanya kepada jiwaku. Aku dapat memilih sembarang kendaraanku, tetapi kendaraan utamaku adalah orang-orang bijak. Para nabi dan rosul adalah “pesawat” ku. Sedangkan tumpangan yang paling murah dan umum adalah pada guru. Konon aku bukan sekedar ilmu, tetapi ilmu adalah pelumasku. Agar aku bisa mencapai tujuan dengan berhasil, konon aku harus mencari teman-temanku, yaitu para siswa-siswa. Tetapi aku juga disarankan untuk bersilaturahim kepada negarawan, politisi dan ulama. Aku diperingatkan untuk waspada, karena godaan diperjalanan sangat banyak. Godaan itu ada yang besar seperti raksasa, ada yang tajam setajam pisau cukur, ada yang selembut salju, ada yang tampak jelas tetapi banyak yang tidak tampak jelas. Tetapi apapun yang terjadi aku dipesan agar bersikap sabar, tawakal dan tumakninah. Aku harus bersabar dan tawakal ketika aku tidak dapat menemukan kendaraan untuk bebergian, bahkan aku harus sabar ketiga aku ditinggalkan teman-temanku, bahkan aku harus sabar ketika aku ditinggalkan oleh semuanya. Tetapi aku juga harus sabar melihat segala macam kejadian, bencana alam, bencana kemanusiaan, perang bahkan kiamat sekalipun. Anehnya aku diberi tugas untuk mencatat dan menyaksikan semuanya yang terjadi itu. Aku juga sekaligus diangkat untuk menjadi saksi bagi semuanya, baik dalam ruang dan waktu. Tetapi aku harus mempersiapkan diri ketika konon aku harus ikut maju ke medan laga dan pertempuran. Tetapi beritanya, musuhku yang paling berat adalah diriku sendiri. Aku diberitahu bahwa aku ditakdirkan untuk tidak mudah mengenali diriku sendiri. Karena konon wajahku bisa menyerupai apa saja. Wajahku bisa menyerupai apa saja yang aku pikirkan. Wajahku bisa menyerupai orang bijak, bisa menyerupai orang jahat, bisa menyerupai pejabat negara, bisa menyerupai presiden, menteri. Wajahku juga bisa menyerupai uandang-uandang, peraturan, tata-tertib. Wajahku bisa menyerupai orang tua, bisa menyerupai anak kecil, bahkan bisa menyerupai seorang bayi yang belum lahir sekalipun. Tetapi perjalanan dan semua perjuanganku itu konon sebenarnya diperuntukkan untuk mencari tahu bagaimana wajahku itu. Jadi seberat inilah cobaan dan perjuangan hidupku, sekedar hanya untuk dapat mengetahui seperti apakah wajahku itu.

Hamba menggapai wajah berjumpa dengan hamba menggapai tinggi:
Wahai hamba menggapai tinggi, bolehkan aku bertanya.

Hamba menggapai tinggi:
Boleh-boleh saja. Silahkan jika engkau ingin bertanya.

Hamba menggapai wajah:
Dalam rangka mengetahui wajahku, maka aku melakukan perjalanan jauh ini. Tetapi sekarang saya bingung. Sampai di manakah dan berada dimanakah aku ini. Kemudian aku harus menuju kemanakah dan harus menemui siapakah. Kemudian aku harus melakukan apa sajakah?

Hamba menggapai tinggi:
Ketahuilah bahwa manusia diciptakan hanyalah untuk beribadah kepada sang Pencipta. Tetapi sekarang mulai banyak orang-orang sudah tidak tahu diri lagi. Maka seyogyanya, temuilah mereka dan beritahukanlah kepada mereka, walaupun hanya sekedar satu ayat sekalipun. Tegakkanlah kebenaran dan keadilan, agar mereka semua selamat di dunia maupun di akhirat.

Hamba menggapai wajah:
Terang dan jelas petunjukkmu itu. Tiadalah keraguan sekarang bagiku untuk melangkah. Doa restumu lah yang selalu aku mohon supaya aku berhasil mengemban tugas-tugasmu itu. Salam.

Hamba menggapai wajah menjumpai raksasa dan ksatria yang sedang berperang:

Hamba menggapai wajah:
Wahai raksasa dan ksatria, kenapa engka berdua lakukan peperangan ini? Bukankah berdialog itu lebih baik.

Raksasa:
Dasar orang tidak tahu diri. Engkau kusuruh membunuhnya malah pergi tak karuan juntrungnya. Hai orang yang mengakau sebagai hamba menggapai wajah. Sekarang kau pilih saja. Kau ingin ikut denganku atau ikut dengan musuhku itu.

Ksatria:
Wahai hamba menggapai wajah. Maafkanlah aku, karena aku telah berbuat tidak bijaksana, sehingga reputasimu telah tercemarkan oleh kejadian ini. Terserahlah engkau. Jika engkau ingin membantuku bolehlah, tetapi jika engkau tidak ingin membantuku ya tidak apa-apa. Aku serahkan sepenuhnya kepada yang Maha Kuasa, suratan takdir dan ikhtiarku.

Hamba menggapai wajah:
Wahai raksasa. Iba dan marah hatiku melihat dirimu. Mengapa engkau telah berperangai seburuk itu. Bukankah aku teringat bahwa ketika itu engkau menemuiku untuk meminjam wajahku. Maka aku pinjamkan wajahku kepadamu tetapi dengan pesan agar dijaga baik-baik. Mengapa engkau tidak bisa mengemban amanahku. Bahkan sekarang kondisinya sebegitu buruknya. Lebih dari itu. Engkau juga telah salah gunakan wajahku untuk kepentingan-kepentinganmu secara tidak bertanggung jawab. Bahkan engkau gunakan wajahku itu untuk menggapai ego dan kepentingan dirimu. Engkau telah bersembunyi di balik wajahku untuk melakukan kedholiman di muka bumi ini. Engka bahkan telah melakukan perusakan di muka bumi ini menggunakan wajahku. Dengan dalih-dalih kebaikan engkau ciptakan keburukan-keburukan. Dengan bersembunyi di balik wajahku, engkau telah salah gunakan kekusaaan untuk menguasai dan merampas hak-hak orang banyak. Kamu ciptakan sistem dan aturan-aturan yang mementingkan dirimu sendiri. Kamu telah merubah wajahku yang kau pinjam menjadi wajah yang rakus akan kekuasaan.

Hamba menggapai wajah:
Wahai ksatria. Iba dan menyesal hatiku melihat dirimu. Mengapa engkau telah aku biarkan dan aku tinggalkan begitu lama. Bukankah aku teringat bahwa ketika itu engkau menemuiku untuk mohon ijin melakukan perjalanan dan berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan. Tetapi aku telah melupakanmu. Maka maafkanlah diriku.

Raksasa:
Wahai orang yang mengaku-aku menggapai wajah. Sombong amat engkau itu. Emangnya gua pikirin. Memangnya siapakah dirimu itu. Dirimu itu bagiku, sebenar-benar tidak berharga. Kamu tidak mempunyai nilai bagiku. Tetapi jika kamu tetap ingin hidup maka boleh tetapi dengan saratnya. Saratnya adalah engkau cabut semua pernyataanmu itu tentang diriku. Kemudian kamu minta maaf dua ratus persen kepadaku. Setelah itu maka kamu harus tunduk tigaratus persen kepadaku. Jika tidak, maka enyahlah engkau itu dari depanku ini.

Ksatria:
Wahai orang menggapai wajah. Sungguh mulia budi dan ucapan-ucapanmu itu. Maafkanlah bahwa aku telah sekian lama tidak memberi khabar kepadamu. Aku hanya berserah diri kepada yang Maha Kuasa, suratan takdir dan ikhtiarku. Aku tidak berani menatap wajahmu seratus persen karena aku khawatir dengan caraku. Aku merasa perlu mengembangkan cara dan metode agar aku bisa menatap wajahmu. Sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku tidak mengetahui bagaimana wajahku itu.

Raksasa:
Ah dasar orang bodoh dan dungu. Melihat wajah sendiri saja tidak bisa. Ini, kalau engkau ingin melihat wajahku. Tentu wajahku adalah paling tampan di dunia ini, bukankah begitu?

Orang bijak datang menemui ketiga orang tersebut:
Wahai ketiga orang yang sedang bertengkar. Demikianlah kodratnya. Bahwa hamba menggapai wajah telah ditakdirkan mempunyai banyak rupa. Raksasa itu tidak lain tidak bukan adalah dirimu. Ksatria itu juga dirimu. Jadi sebenar-benar dirimu adalah multi rupa.

Hamba menggapai wajah:
Tetapi aku menjadi penasaran. Sebetulnya siapakah diriku itu wahai orang bijak.

Orang bijak:
Dirimu adalah diriku juga. Dirimu mendahului sekaligus mengakhiri mereka. Jiwamu adalah jiwa mereka, jiwa mereka adalah jiwamu. Tetapi wajahmu akan berbeda-beda pula. Wajahmu akan tergantung wadahmu. Wadahmu adalah mereka pula. Jika mereka baik maka baik pulalah wajahmu. Jika mereka buruk maka buruk pulalah wajahmu. Jika mereka raksasa maka menjadi raksasa pulalah dirimu. Dan jika mereka ksatria maka menjadi ksatria pulalah dirimu itu. Tiadalah arti bagimu tanpa mereka. Demikian juga tiadalah arti bagi mereka tanpa dirimu.

Hamba menggapai wajah:
Bagaimana dengan dirimu?

Orang bijak:
Kau ganti saja setiap kata “mereka” pada kalimat-kalimat ku di atas dengan kata “wajahmu”, “raksasa”, “ksatria”, atau “orang bijak”. Maka sebenar benar aku tiada lain tiada bukan adalah dirimu dan diri mereka pula.

Hamba menggapai wajah:
Jadi siapakah kita ini?

Orang bijak:
Boleh boleh saja. Tetapi jika kita sepakat mencarinya maka kita boleh juga.

Hamba menggapai wajah:
Jangan berputar-putar dan bertele-tele. Tolong sebutkan saja siapa kita?

Orang bijak:
Sebenar-benar dari kita tidak lain tidak bukan adalah “Belajar Mengerti Diri”

34 comments:

  1. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Menggapai wajah, artinya menggapai segala yang ada dan yang mungkin ada dalam diri kita termasuk mengerti diri. Apa yang harus dimengerti dalam diri ini? Hal yang perlu kita mengerti mencakup jiwa, wadah dan isi yang ada dalam diri kita. Bagaimana diri kita adalah bagaimana kita mengisi wadah kita. Jika kita isi diri kita dengan hal-hal yang buruk, itulah sebenarnya diri kita diri yang buruk dan wajah yang buruk pula, tetapi jika kita mengisi diri kita dengan hal-hal yang baik, itulah sebenar-benar diri dan wajah kita yang baik. Tetapi tidaklah mudah untuk memahami diri, apalagi sejatinya yang membuat diri kita baik ataupun buruk adalah diri kita sendiri. Meskipun begitu, kita harus tetap berusaha untuk belajar mengenali diri, supaya tidak menjadi orang yang tidak mengenali diri sendiri, karena bahayanya orang yang seperti itu hidupnya tidak akan menjadi dirinya sendiri dan mudah terbawa arus karena tidak memiliki pendirian sehingga tidak berkembang hidupnya.

    ReplyDelete
  2. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Dalam hidup ini, kita harus berusaha untuk menggapai wajah, memahami diri kita sendiri. Karena siapalah yang akan mengerti diri kita kalau bukan kita sendiri. Karena itulah kita harus terus berusaha mengerti diri kita sendiri. Kita harus belajar mengeri mana yang menjadi hak kita mana yang menjadi kewajiban kita. Kita harus belajar mana yang menjadi kebutuhan kita mana yang menjadi nafsu kita. Kita harus memahami kedudukan kita saat ini, mengerti apa yang dapat diri ini lakukan untuk orang-orang disekitar kita. Kita harus belajar tentang potensi kita, menggalinya, mengembangkannya hingga potensi tersebut dapat bermanfaat bagi banyak orang. Karena hidup kita di dunia ini adalah sementara. Maka kita harus memahami diri kita dengan sebaik-baiknya dan menggunakannya untuk kebermanfaatan.

    ReplyDelete
  3. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Belajar mengerti diri itu adalah penting, mengerti diri sendiri dan juga termasuk mengerti diri orang lain.
    Dalam menilai orang lain hendaknya kita menilai diri kita terlebih dahulu.
    Jangan sampai kita menyuruh orang lain berbuat suatu kebaikan tetapi kita sendiri malah tidak melakukannya.

    ReplyDelete
  4. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Elegi ini mengingatkan kita tentang tugas utama kita dalam perjalanan kehidupan ini yaitu untuk beribadah kepada sang maha pencipta. Bagaimana kita memaknai perjalanan dalam kehidupan ini akan mempengaruhi rupa akan diri kita. Rupa (wajah) kita tergantung dengan pilihan kita dalam menjalani kehidupan apakah sesuai dengan ruang dan waktu yang tepat atau tidak dan semua itu tergantung pada keputusan kita. Maka diperlukan ilmu yang luas dan spiritual yang kokoh untuk dapat menentukan keputusan agar menggapai kebajikan.

    ReplyDelete
  5. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Seorang hamba mencari wajah disini merupakan sebuah kiasan untuk manusia yang berusaha menemukan kodratnya sebagai manusia. Sebaik-baik orang adalah mereka yang tahu diri. Tahu kemampuannya sehingga tidak menyombongkan diri. Sebenarnya orang sombong hanya orang yang tidak tahu wajahnya yang sebenarnya.

    ReplyDelete
  6. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Seseorang ketika menjalani kehidupan di dunia ini mempunyai beribu wajah sesuai dengan perlakuannya saat itu. Namun yang terpenting adalah kita harus berusaha untuk selalu berada di jalan-Nya.

    ReplyDelete
  7. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Sebelum mengenal orang lain, hendaklah kita berusaha terlebih dahulu untuk mengenal diri kita sendiri. Mengenal diri sendiri adalah sesuatu yang memerlukan perenungan untuk memahaminya. Belajar untuk mengenal dan mengerti diri itu penting, karena dengan begitu kita dapat mengetahui potensi yang dimiliki dan dapat menempatkan diri sesuai dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  8. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Melalui elegi ini memberikan hikmah bagi diri saya khususnya untuk “belajar mengerti diri”. Terkadang manusia memiliki keinginan yang besar. Namun terkadang pula ia tidak menyadari akan kemampuan dan kondisi dirinya. Wajah akan terlihat baik ketika perilaku manusia juga baik. Begitupun sebaliknya. Manusia lain akan menilai diri kita berdasarkan apa yang mereka lihat. Dan yang mereka lihat adalah tingkah laku dan perilaku manusia terhadap manusia lain.

    ReplyDelete
  9. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Setiap individu pasti pernah mengalami masa-masa pencarian jati diri. Sesungguhnya dalam diri kita ini tersimpan banyak sifat, baik sifat buruk maupun sofat baik. Dalam perjalanan kita mengenali diri, sifat mana yang akan menonjol tergantung dari diri kita sendiri, sifat manakah yang lebih kita beri peluang untuk selalu tumbuh. Sifat ini tergantung pada wadahnya, maka agar sifat baik ini dapat terpelihara dengan baik kita harus banyak-banyak melakukan refleksi diri, dan bersikap bijak.

    ReplyDelete
  10. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Elegi ini sebenarnya adalah suatu pikiran bagaimana manusia itu berpikir. Bagaimana manusia itu berpikir siapa dirinya, siapa aku, untuk apa aku diciptakan, untuk apa aku ada, untuk apa aku mengada. Mka si manusia berpikir dan mengenali bahwa tujuan tertinggi hidupnya dalah menggapai ridho ilahi, menjadi saksi setiap perjalanan ciptaannya

    ReplyDelete
  11. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Sangat jelas bahwa manusia yang sudah mengenalli diri sendiri, maka akan mempunyai batasan-batasan yang jelas dalam bertindak, berperilaku, dan berpikir. Dia memahami kelemahan dan kelebihannya, kesukaan dan ketidaksukaannya. Untuk itu sebagai manusia tentunya tidak boleh bersikap sombong dan semena-mena terhadap hal dluar dirinya, karena hanya akan mengahncurkan diri

    ReplyDelete
  12. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Seorang hamba menggapai wajah ialah seseorang yang sedang dalam proses mengenali dirinya sendiri. Mengenali diri sendiri artinya merefleksi diri atau bercermin dan melihat pribadi diri sendiri. Bercermin di sini bukan semata-mate melihat tampilan fisik, akan tetapi melihat pribadi diri sendiri. Oleh karena itu sangat sulit untuk mengenali pribadi diri sendiri. Diri kita dapat terlihat berbagai macam, bisa terlihat baik apabila kita berperilau baik, bisa terlihat buruk apabila kita berperilaku buruk. Maka seperti apa cerminan diri kita tergantung dari perbuatan kita selama ini. Sedangkan perbuatan kita sendiri yang menentukan aan berbuat baik atau berbuat buruk. Oleh karena itu hendaknya kita memikirkan terlebih dahulu apa yang hendak kita perbuat dan merenungkan atau memikirkan apa yang tela kita perbuat. Agar nantinya wajah yang nampak pada saat kita bercermin ialah wajah kebaikan.

    ReplyDelete
  13. Latifah Fitriasari
    PM C

    Belajar sesuatu tentang karakter diri sendiri selalu menyenangkan. Mengerti fakta psikologi soal perilaku dan kebiasaan kita, bisa menjadi hal yang menghibur dan mengedukasi. Pemahaman tentang siapa diri Anda yang sebenarnya akan menjadi sebuah pengalaman yang sangat berharga. Jika bisa memahami diri sendiri secara obyektif dan jujur, kita bisa belajar menerima diri sendiri. Namun, jika tahu bagaimana harus mencari, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang diri sendiri dan mengerti cara-cara untuk membuat diri agar lebih berkembang lagi dari hari ke hari.

    ReplyDelete
  14. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    elegi ini serupa dengan pengingat bahwa kita ialah ciptaan Tuhan YME yang diciptakan untuk menyembah dan beribadah kepada-Nya. Kita layaknya seorang pengembara yang tengah melakukan perjalanan untuk mencari muara, dalam perjalanan tersebut kita melewati rintangan atau bahkan kejutan-kejutan kehidupan yang dari kesemuanya kita harus dapat mengambil hikmahnya. Kita bisa saja menjumpai suatu fenomena yang menyedot persepsi dan jati diri kita hendak condong kemana, menjadi seorang raksasa (Buto) atau menajdi seorang ksatria, adapun sebenar-benar kita ialah agar dapat menjadi hamba yang taat pada Sang Pencipta. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  15. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Medan laga dimana Sang Ksatria dan Raksasa tengah bertempur tak lain ialah dunia atau kehidupan ini. Dalam menyelami kehiduapan sering kali bahkan dalam diri kita sendiri terjadi pertarungan antara kebaikan dan keburukan yang dapat dianalogkan dengan ksatria dan raksasa, mana yang akan kita bantu. apakah keburukan atau raksasa rakus yang akan kita ikuti atau Sang Ksatria lah yang akan kita pertahankan, kita bela dan kita hayati sampai akhir perjalanan kita. Biarpun demikian saat dalam perjalanan kita tersesat, Allah takkan melepaskan tangan hambaNya yang senantiasa terulur padaNya, memohon, menyembah dan memujiNya. Mari berlomba dalam kebaikan meuju Ridho Sang Pencipta sehingga kita takkan kehilangan arah atau kehabisan bekal dalam perjalanan yang panjang ini. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  16. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Wajah merupakan setetes nikmat yang mencerminkan jati diri kita, tapi wajah juga bisa sebagi topeng. Wajah merupakan salah satu penilaian terluar oarang terhadap kita, maka dari itu dalam menilai orang lain hendaknya kita menilai diri kita terlebih dahulu. Jangan sampai kita menyuruh orang lain berbuat suatu kebaikan tetapi kita sendiri malah tidak melakukannya.

    ReplyDelete
  17. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada postingan diatas mengajarkan kita untuk mengenali diri. Mengetahui kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Untuk bisa menggapai itu kita sebaiknya instropeksi diri. Tidak sepantasnya kita berbuat sombong atas apa yang kita miliki sekarang ini. Selain itu segala yang kita lakukan hendaknya ditujukan untuk mendapat ridho Tuhan. Dimulai dari mendasari hidup dengan hati yang ikhlas atas apapun yang terjadi, berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai apa yang diinginkan, kemudian setelah berusaha, menyerahkan usaha kita kepada Tuhan, karena Tuhan akan memberikan pilihan terbaik bagi kita.

    ReplyDelete
  18. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam elegi ini mengandung maksud bahwa wajah yang kita punya merupakan karakter kita sendiri, ceminan dari diri kita sendiri. bagaimana kita mengenalkan diri sendiri ke orang lain merupakan cara bagaiman wajah kita dikenal oelh orang lain. Maka sebaik baiknya mengalkan diri kita adalah dengan mengal siapakah diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  19. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi seorang hamba menggapai wajah sejatinya menjelaskan tentang bagaimana kita mengenali diri sendiri. Mengenali diri sendiri merupakan hal yang tidak mudah dan lebih sulit daripada mengenali orang lain. Kita sebagai manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Terkadang kita mampu memahami kekurangan kita, dan terkadangpula kita hanya fokus pada kelebihan kita hingga kita dibutakan oleh kesombongan. Hendaknya keduanya harus seimbang, ketika kita memiliki kekurangan maka galilah kelebihan kita untuk menutupi kekurangan tersebut.

    ReplyDelete
  20. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Semua isi tergantung dengan wadahnya. Begitu juga dengan manusia. Perilaku kita tergantung dengan lingkungan yang kita tinggali. Kita bisa menjadi baik atau buruk tergantung dari lingkungan. Karena sebenarnya orang-orang yang ada di sekitar kita adalah cerminan diri kita. Seperti kalimat yang menyatakan bahwa orang baik akan berkumpul dengan orang-orang baik pula, dan sebaliknya. Belajar mengerti diri dapat dilakukan pula dengan menyadari berada di lingkungan seperti apa kita saat ini.

    ReplyDelete
  21. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  22. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  23. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Dalam kehidupan, wajah kita akan bergantung bagaimana diri kita sendiri, bagaimana kehidupan yang kita pilih. Apabilia kita memilih untuk menjalani hidup dengan bertawakal kepadaNya maka kita akan menjadi manusia yang memiliki wajah yang baik, namun apabila kita memilih untuk menjalani hidup dengan penuh kesombongan, tidak menyadari keterbatasannya maka kita pun akan menjadi manusia yang memiliki wajah yang jelek, namun janganlah memakai topeng yaitu berpura-pura berwajah baik hanya jika dilihat oleh orang saja. Karena kita di dunia ini tidak hidup sendiri, semua yang ada dan mungkin ada dapat menjadi saksi bagaimana wajah kita, maka tidak perlu lah kita memakai topeng karena Tuhan YME mengetahui bagaimana wajah kita yang sebenarnya.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  24. Ilania EKa Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Elegi menggapai wajah ini menjelaskan kepada kita bahwa wajah seseorang itu akan berubah-ubah sesuai dengan perilakunya. jika kita berbuat baik, maka wajah kita juga akan terlihat baik, sebaliknya, jika kita berbuat jelek maka wajah kita juga akan terlihat jelek. Wajah merupakan cerminan dari perbuatan kita. Untuk menggapai wajah ini, kita terlebih dahulu perlu mengenali diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  25. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Dalam menjalani hidup, sangat perlu bagi kita untuk memahami atau mengerti diri sendiri. Ada beberapa pertanyaan yang dapat membantu dalam memahami atau menganali diri, contohnya adalah pertanyaan tentang siapakan sebenarnya diri kita ? Apa yang kita cari dalam kehidupan ? Apa yang telah di dapatkan ? dan sebagainya. Seseorang yang telah menemukan jati dirinya dapat dikategorikan sebagai orang yang dewasa atau matang. Maka dari itu, memahami diri juga sangat penting untuk pengembangan diri.

    ReplyDelete
  26. Ketika kita telah memahami diri, maka kita akan tau apa yang seharusnya kita perbuat, apa yang seharusnya di dapat, dan akibat-akibat dari hal-halyang telah diperbuat. Selain itu, juga kita akan tahu akan apa sebenarnya tujuan utama kita hidup. Dengan itu, kita akan lebih bersyukur dengan apa yang telah dimiliki dan akan selalu berusaha untuk mengoptimalkan potensi diri untuk mencapai tujuan utama kehidupan.

    ReplyDelete
  27. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Sebenar-benar dari kita tidak lain tidak bukan adalah belajar mengerti diri sendiri. Mungkin begitulah kira-kira yang saya pahami setelah membaca judul dari tulisan ini. Mengerti diri itu hal yang perlu dipelajari dan dipahami. Mengenal diri sendiri adalah sesuatu yang memerlukan perenungan untuk memahaminya. Bahkan terkadang banyak yang tidak tau sebenarnya seperti apa diri kita sendiri. Tidak mengenal potensi yang berkembang di dalamnya. Sehingga banyak yang sering terbawa arus, tidak memiliki pendirian, dan tidak berkembang. Orang yang tidak mampu mengenal diri tidak akan menjadi diri sendiri dalam setiap langkah hidupnya. Ia bagaikan kapal tanpa nahkoda yang terombang-ambing di lautan lepas. Menjadi seorang individu yang ababil.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  28. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Ababil merupakan salah satu ungkapan bagi anak remaja yang belum menemukan jati dirinya. Sehingga kebanyakan remaja sering atk punya arah dan hanya mengikuti trend yang ada. Bersikap berlebihan dan sebagainya merupakan salah satu wujud ketidakpahaman akan diri sendiri. Namun, ituleh proses pendewasaan. Ada kalanya di suatu tahap perkembangan seorang individu belum mampu menemukan jati dirinya, kemudian berusaha memperbaiki darinya, dan akhirnya bertemulah ia kepada siapa dia sebenarnya. Sehingga proses perkembangan itu memerlukan waktu, tidak dapat berlangsung secara instant. Pengalaman dan pembelajaran sangat berkaitan dengan proses pencarian jati diri. Maka dari itu janganlah berhenti belajar dan perbanyaklah pengalaman dari beragam proses pembelajaran.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  29. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    yang dimaksud dengan menggapai wajah adalah berusaha mengenali diri sendiri, seperti apa kita, apa yang kita butuhkan, potensi apa yang dapat kita maksimalkan dari dalam diri kita, apa hak dan kewajiban kita. mengenali diri sendiri merupakan cara untuk mengevaluasi diri kita dan memperbaiki diri untuk menjadi yang lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  30. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa wajah tiap orang itu tentang bagaimana orang lain memandang dirinya. Jika menggunkan istilah sekarang maka wajah seseorang itu merupakan imange orang lain terhdap dirinya. Setiap orang memiliki wajah yang berbeda-beda. Yang menentukan wajah seseorang itu adalah perbuatan-perbuatan yang dilakukannya yang mencerminkan dirinya.

    ReplyDelete
  31. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Hidup ini adalah tentang perjalanan mencari jati diri. Mencari tahu siapa diri kita sebenarnya. Mengeri untuk apa sejatinya kita menjalani kehidupan ini. Tujuan hidup kita adalah untuk menggapai keridhoan Tuhan dengan selalu melaksanakan setiap kewajiban. Dalam perjalanan hidup ini, akan begitu banyak sekali rintangan dan godaan yang akan kita jumpai. Karenanya, selalu perkuat iman kita dan perbanyak ilmu. Lengkapi dengan selalu berusaha berpikir kritis dan hati yang bersih.

    ReplyDelete
  32. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Menggapai wajah adalah metafora dalam memahami bahwa diri ini bukanlah apa-apa tanpa keridhoan Allah SWT. Hal tersebut berlawanan dengan sikap sombong sebagai representasi dari sikap syaitan ketika membangkang dari Allah SWT. Oleh karena itu, jauhilah sikap sombong untuk menggapai diri. Jauhilah sikap sombong untuk menggapai kerendahan hati. Menggapai wajah adalah kerendahan hati itu sendiri.

    ReplyDelete
  33. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Saya memaknai bacaan diatas adalah sebagai manusia kita memiliki banyak sifat dalam diri kita. Terkadang kita menjadi bijak, ksatria, raksasa karena pemarah, sabar, dan sebagainya. Sifat-sifat itu dapat muncul dalam diri kita jika kita telah dihadapkan pasa situasi yang berbeda-beda. Misalkan dalam situasi yang menegangkan bisa saja kita marah dan bisa saja kita sabar. Hal ini berkaitan dengan pengendalian diri dalam diri masing-masing. Sebagai manusia kita juga pasti memiliki banyak topeng untuk menutupi sifat-sifat dalam diri kita. Untuk itu daripada mengenakan topeng-topeng yang tidak sesuai dengan sifat kita yang sebenarnya, alangkah lebih baik apabila kita bersikap apa adanya. Dan untuk mengenal lebih jauh sifat dalam diri kita, pertama-tama kita harus mengenali diri sendiri. Setelah kita mengenali diri sendiri, kita dapat membentuk sifat kita. Dalam diri manusia akan ada banyak sifat karena manusia terbentuk atas sifat-sifat.

    ReplyDelete
  34. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Elegi seorang hamba menggapai wajah ini, jika saya dapat katakan secara sederhana adalah analogi seseorang dalam memahami diri. Memahami hakekat diri. Ada banyak wajah-wajah diluar sana tertutup topeng, artinya tidak sebenar-benar dirinya yang nampak. Ada sesuatu yang palsu yang menutupinya. Bahkan dalam diri kita sendiri, secara tidak sadar diri kita tertutupi oleh hal-hal yang tidak kita sadari sebenarnya itu bukanlah dirikita.Maka dari itu untuk memahami sebenar-benar diri kita adalah dengan menggunakan nurani dan pikiran yang jernih, menghilangkan setiap atribut yang melekat termasuk obsesi dan kesombongan.

    ReplyDelete