Sep 20, 2013

Elegi Seorang Hamba Menggapai Wajah




Oleh: Marsigit

Hamba menggapai wajah memulai perjalanannya:
Aku di sini akan dan sedang memulai perjalananku. Dalam mimpiku, perjalananku itu akan sangat jauh dan sangat melelahkan. Tetapi konon sangat menjanjikan dan berpengharapan. Walaupun sangat berbahaya dan menakutkan.

Konon dalam perjalananku aku harus berbekal jiwaku, berpegang pada jiwaku dan bertuju kepada jiwaku. Tidak hanya itu saja. Konon juga aku harus berteman jiwaku, bertanya kepada jiwaku. Aku dapat memilih sembarang kendaraanku, tetapi kendaraan utamaku adalah orang-orang bijak. Para nabi dan rosul adalah “pesawat” ku. Sedangkan tumpangan yang paling murah dan umum adalah pada guru. Konon aku bukan sekedar ilmu, tetapi ilmu adalah pelumasku. Agar aku bisa mencapai tujuan dengan berhasil, konon aku harus mencari teman-temanku, yaitu para siswa-siswa. Tetapi aku juga disarankan untuk bersilaturahim kepada negarawan, politisi dan ulama. Aku diperingatkan untuk waspada, karena godaan diperjalanan sangat banyak. Godaan itu ada yang besar seperti raksasa, ada yang tajam setajam pisau cukur, ada yang selembut salju, ada yang tampak jelas tetapi banyak yang tidak tampak jelas. Tetapi apapun yang terjadi aku dipesan agar bersikap sabar, tawakal dan tumakninah. Aku harus bersabar dan tawakal ketika aku tidak dapat menemukan kendaraan untuk bebergian, bahkan aku harus sabar ketiga aku ditinggalkan teman-temanku, bahkan aku harus sabar ketika aku ditinggalkan oleh semuanya. Tetapi aku juga harus sabar melihat segala macam kejadian, bencana alam, bencana kemanusiaan, perang bahkan kiamat sekalipun. Anehnya aku diberi tugas untuk mencatat dan menyaksikan semuanya yang terjadi itu. Aku juga sekaligus diangkat untuk menjadi saksi bagi semuanya, baik dalam ruang dan waktu. Tetapi aku harus mempersiapkan diri ketika konon aku harus ikut maju ke medan laga dan pertempuran. Tetapi beritanya, musuhku yang paling berat adalah diriku sendiri. Aku diberitahu bahwa aku ditakdirkan untuk tidak mudah mengenali diriku sendiri. Karena konon wajahku bisa menyerupai apa saja. Wajahku bisa menyerupai apa saja yang aku pikirkan. Wajahku bisa menyerupai orang bijak, bisa menyerupai orang jahat, bisa menyerupai pejabat negara, bisa menyerupai presiden, menteri. Wajahku juga bisa menyerupai uandang-uandang, peraturan, tata-tertib. Wajahku bisa menyerupai orang tua, bisa menyerupai anak kecil, bahkan bisa menyerupai seorang bayi yang belum lahir sekalipun. Tetapi perjalanan dan semua perjuanganku itu konon sebenarnya diperuntukkan untuk mencari tahu bagaimana wajahku itu. Jadi seberat inilah cobaan dan perjuangan hidupku, sekedar hanya untuk dapat mengetahui seperti apakah wajahku itu.

Hamba menggapai wajah berjumpa dengan hamba menggapai tinggi:
Wahai hamba menggapai tinggi, bolehkan aku bertanya.

Hamba menggapai tinggi:
Boleh-boleh saja. Silahkan jika engkau ingin bertanya.

Hamba menggapai wajah:
Dalam rangka mengetahui wajahku, maka aku melakukan perjalanan jauh ini. Tetapi sekarang saya bingung. Sampai di manakah dan berada dimanakah aku ini. Kemudian aku harus menuju kemanakah dan harus menemui siapakah. Kemudian aku harus melakukan apa sajakah?

Hamba menggapai tinggi:
Ketahuilah bahwa manusia diciptakan hanyalah untuk beribadah kepada sang Pencipta. Tetapi sekarang mulai banyak orang-orang sudah tidak tahu diri lagi. Maka seyogyanya, temuilah mereka dan beritahukanlah kepada mereka, walaupun hanya sekedar satu ayat sekalipun. Tegakkanlah kebenaran dan keadilan, agar mereka semua selamat di dunia maupun di akhirat.

Hamba menggapai wajah:
Terang dan jelas petunjukkmu itu. Tiadalah keraguan sekarang bagiku untuk melangkah. Doa restumu lah yang selalu aku mohon supaya aku berhasil mengemban tugas-tugasmu itu. Salam.

Hamba menggapai wajah menjumpai raksasa dan ksatria yang sedang berperang:

Hamba menggapai wajah:
Wahai raksasa dan ksatria, kenapa engka berdua lakukan peperangan ini? Bukankah berdialog itu lebih baik.

Raksasa:
Dasar orang tidak tahu diri. Engkau kusuruh membunuhnya malah pergi tak karuan juntrungnya. Hai orang yang mengakau sebagai hamba menggapai wajah. Sekarang kau pilih saja. Kau ingin ikut denganku atau ikut dengan musuhku itu.

Ksatria:
Wahai hamba menggapai wajah. Maafkanlah aku, karena aku telah berbuat tidak bijaksana, sehingga reputasimu telah tercemarkan oleh kejadian ini. Terserahlah engkau. Jika engkau ingin membantuku bolehlah, tetapi jika engkau tidak ingin membantuku ya tidak apa-apa. Aku serahkan sepenuhnya kepada yang Maha Kuasa, suratan takdir dan ikhtiarku.

Hamba menggapai wajah:
Wahai raksasa. Iba dan marah hatiku melihat dirimu. Mengapa engkau telah berperangai seburuk itu. Bukankah aku teringat bahwa ketika itu engkau menemuiku untuk meminjam wajahku. Maka aku pinjamkan wajahku kepadamu tetapi dengan pesan agar dijaga baik-baik. Mengapa engkau tidak bisa mengemban amanahku. Bahkan sekarang kondisinya sebegitu buruknya. Lebih dari itu. Engkau juga telah salah gunakan wajahku untuk kepentingan-kepentinganmu secara tidak bertanggung jawab. Bahkan engkau gunakan wajahku itu untuk menggapai ego dan kepentingan dirimu. Engkau telah bersembunyi di balik wajahku untuk melakukan kedholiman di muka bumi ini. Engka bahkan telah melakukan perusakan di muka bumi ini menggunakan wajahku. Dengan dalih-dalih kebaikan engkau ciptakan keburukan-keburukan. Dengan bersembunyi di balik wajahku, engkau telah salah gunakan kekusaaan untuk menguasai dan merampas hak-hak orang banyak. Kamu ciptakan sistem dan aturan-aturan yang mementingkan dirimu sendiri. Kamu telah merubah wajahku yang kau pinjam menjadi wajah yang rakus akan kekuasaan.

Hamba menggapai wajah:
Wahai ksatria. Iba dan menyesal hatiku melihat dirimu. Mengapa engkau telah aku biarkan dan aku tinggalkan begitu lama. Bukankah aku teringat bahwa ketika itu engkau menemuiku untuk mohon ijin melakukan perjalanan dan berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan. Tetapi aku telah melupakanmu. Maka maafkanlah diriku.

Raksasa:
Wahai orang yang mengaku-aku menggapai wajah. Sombong amat engkau itu. Emangnya gua pikirin. Memangnya siapakah dirimu itu. Dirimu itu bagiku, sebenar-benar tidak berharga. Kamu tidak mempunyai nilai bagiku. Tetapi jika kamu tetap ingin hidup maka boleh tetapi dengan saratnya. Saratnya adalah engkau cabut semua pernyataanmu itu tentang diriku. Kemudian kamu minta maaf dua ratus persen kepadaku. Setelah itu maka kamu harus tunduk tigaratus persen kepadaku. Jika tidak, maka enyahlah engkau itu dari depanku ini.

Ksatria:
Wahai orang menggapai wajah. Sungguh mulia budi dan ucapan-ucapanmu itu. Maafkanlah bahwa aku telah sekian lama tidak memberi khabar kepadamu. Aku hanya berserah diri kepada yang Maha Kuasa, suratan takdir dan ikhtiarku. Aku tidak berani menatap wajahmu seratus persen karena aku khawatir dengan caraku. Aku merasa perlu mengembangkan cara dan metode agar aku bisa menatap wajahmu. Sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku tidak mengetahui bagaimana wajahku itu.

Raksasa:
Ah dasar orang bodoh dan dungu. Melihat wajah sendiri saja tidak bisa. Ini, kalau engkau ingin melihat wajahku. Tentu wajahku adalah paling tampan di dunia ini, bukankah begitu?

Orang bijak datang menemui ketiga orang tersebut:
Wahai ketiga orang yang sedang bertengkar. Demikianlah kodratnya. Bahwa hamba menggapai wajah telah ditakdirkan mempunyai banyak rupa. Raksasa itu tidak lain tidak bukan adalah dirimu. Ksatria itu juga dirimu. Jadi sebenar-benar dirimu adalah multi rupa.

Hamba menggapai wajah:
Tetapi aku menjadi penasaran. Sebetulnya siapakah diriku itu wahai orang bijak.

Orang bijak:
Dirimu adalah diriku juga. Dirimu mendahului sekaligus mengakhiri mereka. Jiwamu adalah jiwa mereka, jiwa mereka adalah jiwamu. Tetapi wajahmu akan berbeda-beda pula. Wajahmu akan tergantung wadahmu. Wadahmu adalah mereka pula. Jika mereka baik maka baik pulalah wajahmu. Jika mereka buruk maka buruk pulalah wajahmu. Jika mereka raksasa maka menjadi raksasa pulalah dirimu. Dan jika mereka ksatria maka menjadi ksatria pulalah dirimu itu. Tiadalah arti bagimu tanpa mereka. Demikian juga tiadalah arti bagi mereka tanpa dirimu.

Hamba menggapai wajah:
Bagaimana dengan dirimu?

Orang bijak:
Kau ganti saja setiap kata “mereka” pada kalimat-kalimat ku di atas dengan kata “wajahmu”, “raksasa”, “ksatria”, atau “orang bijak”. Maka sebenar benar aku tiada lain tiada bukan adalah dirimu dan diri mereka pula.

Hamba menggapai wajah:
Jadi siapakah kita ini?

Orang bijak:
Boleh boleh saja. Tetapi jika kita sepakat mencarinya maka kita boleh juga.

Hamba menggapai wajah:
Jangan berputar-putar dan bertele-tele. Tolong sebutkan saja siapa kita?

Orang bijak:
Sebenar-benar dari kita tidak lain tidak bukan adalah “Belajar Mengerti Diri”

17 comments:

  1. Jefri Mailool
    18701261002
    PPs S3 PEP

    Dalam perjalanan manusia di dunia ini, manusia bagaikan musafir yang sedang mengembara menuju pada tujuan hidup menurut perpektifnya sendiri. Tujuan hidup ditentukan oleh pilihan-pilihannya sendiri. Dalam pengembaraannya, kerapkali menemui keadaan-keadaan yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan dan dikehendakinya/diharapkannya. Masa depannya, cita-citanya, dan jati dirinya tampak dari setiap pilihan yang ambilnya. Oleh karenanya, pilihan menjadi sangat penting dan menggambarkan wajahnya sendiri bahkan menentukan pencapaian hidupnya baik di dunia ini maupun di keadaan lain yang bukan di dunia ini. Mari kita membuat pilihan-pilihan hidup yang berkualitas baik untuk hidup sekarang di dunia ini maupun untuk hidup nanti, yang bukan di dunia ini dan untuk hal itu, orang-orang beriman kepada Tuhan yang memahaminya.

    ReplyDelete
  2. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A

    Tiadalah sebenar-benar manusia dapat mengenal dirinya. Hanya Alloh SWT yang dapat mengenal diri-Nya. Apa yang manusia lakukan untuk mengenal dirinya sebenar-benarnya adalah menggapai untuk mengenal dirinya. Manusia hanya berusaha untuk mengenal dirinya. Dalam elegi ini diilustrasikan bagaimana usaha manusia untuk mengenal dirinya akan bertemu dengan raksasa dan kesatria. Maksudnya adalah akan bertemu dengan kebaikan dan keburukan. Manusia akan diuji bagaimana manusia bisa menyadari mana yang baik dan yang buruk. Karena manusia itu berpotensi menjadi baik atau buruk. Itu tergantung pada hati dan pikirannya. Maka dari itu usaha dalam mengenal dirinya, manusia harus senantisa memiliki hati dan pikiran yang jernih agar tidak terjebak dalam keburukan.

    ReplyDelete
  3. Totok Victor Didik Saputro
    18709251002
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Selamat pagi Prof.
    Diriku adalah dirimu. Dirimu adalah diriku. Diriku memiliki arti yang sangat luas. Hal ini berarti banyak hal yang termuat dalam diriku. Aku bisa menjadi baik, bisa pula menjadi tidak baik. Artinya aku melakukan sesuatu hal sesuai atau tidak sesuai dengan ruang dan waktuku. Luasnya diriku berdampak pada banyak hal. Salah satunya adalah godaan. Sebenar-benarnya godaan adalah diriku sendiri. Oleh karena itu, aku berhadapan dengan diriku sendiri. Sebesar-besarnya godaan tidaklah besar dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Berserahlah pada-Nya dan mohon ampun atas kesalahan yang diperbuat. Berdoalah senantiasa maka terhindarlah kamu dari godaan yang muncul dari dirimu sendiri. Dekatlah dengan-Nya sehingga kamu selalu ingat dengan-Nya dan melupakan keburukan yang kamu miliki. Terima kasih.

    ReplyDelete
  4. Janu Arlinwibowo
    18701261012
    PEP 2018

    Hidup adalah perjalanan yang penuh dengan kejadian, yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Sebenar-benarnya hidup ini adalah perang, perang untuk selalu menjaga kebaikan dalam diri. Fitrahnya manusia memiliki hati, fitrahnya manusia memiliki nafsu, fitrahnya manusia memiliki ego, fitrahnya manusia memiliki pikiran, fitrahnya manusia tidak mudah puas, fitrahnya manusia memiliki kesombongan, dan lain sebagainya. Semua yang melekat pada diri manusia ada yang baik dan ada yang buruk. Maka kedewasaan berpikirlah yang akan membawa kebijakan pada tiap manusia untuk mengelola fitrah-fitrahnya. Hingga mendapatkan kebaikan-kebaikan dalam menjalani hidup.
    Tidak berlebihan jika dikatakan sebenar-benarnya perang adalah perang melawan diri sendiri. Seberat-beratnya perang adalah melawan diri sendiri. Semua manusia telah diingatkan oleh Rosululloh. Pasca perang besar yang hampir saja membuat kaum muslim kalah, Rosululloh mengingatkan bahwa masih ada perang yang lebih dahsyat dan berat, yaitu perang melawan diri sendiri.

    ReplyDelete
  5. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Wajah mempunyai banyak rupa sesuai dengan ruangnya. Orang yang baik akan memiliki wajah yang baik dan orang yang buruk juga memiliki wajah yang buruk. Semua orang memiliki wajah. Seseorang yang menggapai wajah sama halnya dengan seseorang yang belajar mengerti diri. Ia terus belajar mencari-cari jati dirinya. Sifat apa saja yang dimilikinya. Baik atau buruk dirinya. Orang yang satu dengan yang lainnya pasti berbeda-beda. Untuk itu, perlunya kesadaran akan diri sendiri untuk lebih mengenal apa yang yang sesungguhnya kita miliki. Apa yang bisa dilakukan dan apa yang seharusnya dilakukan. Dalam hidup ini kita akan menemui berbagai wajah. Oleh karena itu, kita harus waspada dan jeli dalam mengenali wajah-wajah seseorang. Karena bisa saja ruangnya baik tapi dirinya tidak baik. Jika ingin menggapai wajah yang baik maka memerlukan wadah yang baik. Maka senantiasalah mendekatkan diri pada Allah untuk mendapatkan kebaikannya.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  6. Erma Zelfiana Surni
    18709251009
    S2. P.Matematika A 2018

    Assalamualaikum Wr. Wb
    Hamba menggapai wajah disini saya asumsikan diri kita yang mencari hakikat ataupun jati diri. Dalam perjalanan mencari jati diri ada banyak cara yang bisa dilakukan yaitu belajar dari orang-orang yang lebih tahu, melihat dan memahami tanda-tanda kekuasaanNya, bergaul dalam kehidupan sosial, politik, keagamaan, dst. Namun cara yang paling baik adalah cara yang berpegang teguh pada ajaran yang dibawa oleh nabi dan rosul kita. Mengapa ? Karena dalam perjalanan mencari jati diri akan kita temui berbagai macam bentuk godaan yang justru menyesatkan. Godaan-godaan inilah yang menjadi musuh kita dalam berusaha mencapai jati diri yang sebenarnya dalam hal ini "hamba yang menggapai tinggi" . Musuh terbesar kita bukanlah godaan itu melainkan diri kita sendiri.
    Dalam perjalanan itu terkadang kita menemukan diri kita sebagai diri yang munafik dan sombong itulah raksasa yang ada didalam diri. Ketika diri kita menjadi raksasa maka diri kita yang kesatria akan lenyap. Kestria itu, itulah diri kita yang berusaha menjadi diri yang semestina, diri yang rendah hati, diri yang berusaha mengikuti jejak nabi dan rosul kita, dan diri yang berusaha menggapai tinggi.
    Kita juga bisa mendapati diri kita sebagai diri yang bijak. Bijak yang munafik dan sombong itulah raksasa, bijak yang betul-betul bijak baik wadah maupun isinya itulah kesatria.
    Maka sebenar benar diri kita ialah diri yang banyak rupa, diri yang masih berusaha menggapai wajah. Sebenar-benar diri kita pula adalah diri kita yang raksasa, kesatria, bijak, dan diri yang masih menuju atau berusaha menggapai tinggi.

    ReplyDelete
  7. Falenthino Sampouw
    18709251006
    S2 Pendidikan Matematika

    Selamat pagi, Prof.
    Wajah bisa berarti seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Wajah tidak hanya berarti tampang muka. Tetapi wajah lebih mendalam adalah apa yang ditampakkan. Yang ditampakkan bisa bermula dari perilaku, ataupun perkataan. Perilaku dan perkataan adalah buah dari berpikir dan berasa. Biasanya seseorang memberikan wajah yang bermacam-macam. Wajah pemberani, petarung, wajah dermawan, dan sebagainya. Lalu bagaimana seseorang mampu mengetahui seperti apa wajahnya? Hal ini dilakukan dengan pengenalan diri. Diri seseorang itu unik. Melalui pengenalan diri, seseorang mempu menemukan keunikan dan menunjukkan wajahnya.
    Terima kasih, Prof.

    ReplyDelete
  8. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Wajah yang merupakan hal pertama yang tampak oleh mata, wajah menjadi sumber akan kejujuran, emosi yang tersirat, perasaan, dan lain-lain. Wajah menjadi cerminan diri, bila wajah kita dilihat orang lain maka saat itu juga kita ketahui bagaimana rupa kita di mata orang-orang tersebut. Secara tidak langsung wajah menjadi identitas diri sendiri, menjadi objek yang vital untuk menjadi sasaran. Anggapan mengenal diri sendiri itu penting, karena bila ada miskomunikasi dengan orang yang menganggap kita salah bisa memberikan penjabaran atau hanya diam karena yang tahu diri kita ya diri sendiri.

    ReplyDelete
  9. Rindang Maaris Aadzaar
    18709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Untuk menggapai wajah, seseorang seharusnya tidak melupakan kodratnya hidup di dunia ini. Terlebih lagi karena manusia diciptakan di dunia ini dengan tujuan utama untuk menyembah Allah SWT. Tetapi banyak orang-orang yang mulai melalaikan hal tersebut dan cenderung untuk lebih fokus pada kehidupan duniawi. Maka dari itu untuk menggapai wajahmu, sebaiknya senantiasa berikhtiar di jalan Allah sembari menunaikan tugas di dunia.
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  10. Assalamu Alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
    Besse Rahmi Alimin
    18709251039
    s2 Pendidikan Matematika 2018

    Terkait topik bahasan mengenai Elegi Seorang Hamba Menggapai Wajah bahwa hakikat seorang hamba itu terletak pada hati dan ruhnya. Sementara hati dan ruh itu tidak akan baik kecuali dengan menghamba kepada Tuhannya yaitu Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya. Maka dia tidak akan merasakan ketenangan di dunia ini kecuali dengan berdzikir kepada-Nya. Jiwanya akan terus berusaha menggapai keridhoan-Nya dan ia pasti akan bertemu dengan-Nya. Perjumpaan dengan-Nya itu pasti. Dan tidak ada kebaikan baginya kecuali dengan bertemu dengan-Nya. Sehingga hamba yang baik akan mendapatkan posisinya di hadapan Allah Swt, begitupun hamba yang buruk akhlanya juga akan mendapatkan posisinya di hadapan Allah, namun dalam konteks yang berbeda. Inti dari semuanya adalah istiqomah di jalannya, amin ya Robbal Alamin.

    ReplyDelete
  11. Septia Ayu Pratiwi
    18709251029
    S2 Pendidikan Matematika B

    Sesungguhnya hidup manusia adalah sebuah perjalanan. Sampai semua manusia di matikan, hidup manusia adalah sebuah proses. Manusia selalu melalui proses yang sangat panjang sampai akhir hayatnya. Manusia akan terus mencari dan mencari tanpa henti sampai ia menemui ajalnya. Menggapai wajah saya artikan sebagai pencarian jati diri oleh manusia. Proses yang demikian itu dinamakan proses pembelajaran hidup manusia. Ia belajar dari seseorang yang lebih tahu dari dirinya tentang apapun yang dibutuhkan olehnya seperti sosial, politik, filsafat, dsb untuk mencapai tujuan hidupnya. Namun kebutuhan terbesar manusia adalah keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kare tanpa-Nya hidup akan terasa kosong dan hampa, segalanya serba gelap sehingga manusia tidak dapat menemukan jalan pulangnya. Elegi menggapai wajah adalah proses manusia untuk mengerti dirinya sendiri berdasarkan keyakinan yang bersemayam dalam hatinya.

    ReplyDelete
  12. Amalia Nur Rachman
    18709251042
    S2 Pendidikan Matematika B UNY 2018

    Dalam elegi di atas, elegi menggapai wajah dapat ditemukan dengan makna yang lebih luas mengenai diri sendiri. Sama halnya dengan diri kita, wajah dapat berubah ubah, sesuai dengan wadahnya. Jika ada wadah maka ada isi, jika wadahnya baik maka wajah kita yang mengisi pun akan menjadi baik pula begitu juga sebaliknya. Yang terpenting yaitu menjaga agar diri dan wajah kita tidak mengarah pada sesuatu yang negative. Dengan menuntut ilmu mengenai filsafat seperti pada blog ini kita dapat menjadikannya sebagai instrospeksi diri dan terus menerus melakukan kebaikan

    ReplyDelete
  13. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Hidup adalah perjalanan untuk memaknai dan mengenali diri sendiri. Ujian paling berat dalam perjalanan hidup adalah melawan diri sendiri. Manusia selalu mempunyai peluang untuk bertindak sepeti apa pun, punya peluang untuk menjadi bagaimana pun, punya peluang untuk menampakkan icon seperti apa dari dirinya sendiri. Sejatinya manusia hanya mampu berusaha untuk dapat menggapai wajah atau mengenali dirinya sendiri, karena sampai kapan pun manusia tidak akan pernah benar-benar mengerti siapa dirinya sendiri. Yang perlu diingat adalah suatu saat manusia akan kembali kepada Sang Pencipta, oleh karena itu manusia harus senantiasa berusaha untuk mempersiapkan diri agar kelak dapat benar-benar menampilkan wajah terbaik di hadapan Sang Pencipta.

    ReplyDelete
  14. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006
    PEP S3

    Sebenar-benar dari kita adalah belajar mengerti diri. Belajar mengerti diri sendiri lebih sulit memahg karena kita "dipaksa" untuk menjadi objektif terhadap diri sendiri. Ketika kita melakukan penilaian terhadap orang lain, kita bisa menjadi sangat objektif. Oleh karena itu, kita harus bisa mengerti diri sendiri.

    ReplyDelete
  15. Fabri Hidayatullah
    18709251028
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Seorang hamba menggapai wajah merupakan analogi dari seorang yang berusaha mengenali diri. Seperti yang dikatakan dalam elegi ini bahwa setiap hamba dapat memiliki banyak rupa. Dapat dimaknai bahwa setiap diri berpotensi untuk menjadi baik dan juga menjadi buruk. Jika hatinya bersih, maka akan baik perangainya. Begitu sebaliknya, jika hatinya telah dipengaruhi oleh hal-hal yang buruk, maka akan buruk pula perangainya.

    ReplyDelete
  16. Deden Hidayat
    18709251032
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Berdasarkan elegi tersebut bahwa sebenar-benarnya hidup kita tidak lain adalah belajar mengenai atau mengerti diri sendiri. Untuk dapat mengerti diri sendiri diperlukan suatu proses untuk memahaminya, karena terkadang kita lebih cepat mengetahui orang lain ketimbang diri kita sendiri. Padahal hal tersebut bisa berakibat kurang baik terhadap diri kita, karena jika kita tidak mengenal diri sendiri maka kita tidak mengetahui potensi yang dimiliki. Sehingga dalam menjalani kehidupan kita ini masih sering terbawa oleh lingkungan/ arus atau bisa disebut juga tidak memiliki sesuatu pendirian.

    ReplyDelete
  17. Rosi Anista
    18709251040
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr wb
    Elegi di atas menjelaskan bagaimana gambaran umum seseorang untuk menemukan jati dirinya. Tentu banyak sekali rintangan ataupun jalan yang bisa membingungkan kita untuk mengenali diri sendiri, namun sebaik-baik dan sebenar-benar mengenal diri adalah bagaimana kita mampu melakukan hal sesuai dengan hati nurani dari dalam diri kita namun tetap di jalan Allah SWT.

    ReplyDelete