Sep 20, 2013

Elegi Seorang Guru Menggapai Siswa




Oleh: Marsigit

BERANGKAT KE SEKOLAH

Guru menggapai siswa:

Ketika aku akan berangkat ke Sekolah, tidak seperti biasanya hari ini. Kenapa tiba-tiba di depan rumahku telah ada beberapa jalan baru, ada jalan yang lurus dan lebar, ada jalan yang sempit dan berkelok-kelok, ada jalan yang kelihatannya licin, ada jalan yang berbatu-batu.Halaman rumahku juga tidak seperti biasanya, dia menjadi luas dan banyak tanaman serta hiasan jalan. Aku kemudian tertegun memikirkan apa yang sedang terjadi. Apakah ini sebuah mimpi atau kenyataan. Betul-betul aku tidak dapat membedakan. Kalau sebuah mimpi, mengapa aku bisa melihat, berjalan, bercakap-cakap dan lain-lain. Kalau sebuah kenyataan, mengapa aku tidak mengerti mengapa semua ini mesti terjadi?. Kepada siapa mesti aku bertanya. Jika aku bertanya kepada dia si tua berambut putih, jawabnya pasti adalah bahwa sebenar-benar ilmuku adalah antara mimpi dan kenyataan ini. Ah bosan aku. Paling jawabnya ya gitu-gitu aja. Ah itu ada orang lewat. Rambutnya tidak putih. Yang ini aku agak semangat untuk bertanya.
Pertanyaanku:
“Hai saudaraku, aku lihat engkau begitu nyaman dan enaknya melewati jalan-jalan itu. Padahal jalan itu bagiku begitu rumitnya, disamping bercabang-cabang, semit, licin lagi. Tetapi engkau begitu mahirnya, masih pakai sepatu roda lagi. Seakan-akan engkau sedang mengejekku saja. Bolehkah aku bertanya kepadamu, hai saudaraku”
Orang berambut tidak putih:
“ Oh, alhamdullilah. Aku telah tidak sengaja telah diberi kenikmatan oleh Tuhan untuk bisa bersilaturahim kepadamu. Baik, ingin bertanya apakah saudaraku juga?”
Pertanyaanku:
”Aku sudah beberapa waktu tidak mengajar. Aku merindukan siswaku. Tetapi tiba-tiba banyak jalan di depan rumahku. Aku bingung jalan mana yang harus ku lalui? Dapatkah kau menunjukkan jalan mana yang menuju ke Sekolah ku?”
Orang berambut tidak putih:
“Ampun tuanku, mengapa engkau mesti bertanya seperti itu? Bukankah sangat jelas terlihat bahwa jalan manapun yang engkau lewati semuanya bisa menuju ke Sekolah mu?”
Pertanyaanku:
“Apakah jalan yang lebar itu?”
Orang berambut tidak putih:
“Jalan yang lebar itu bisa juga. Anda jalan lurus saja sampai pertigaan, belok kiri sampai perempatan, kemudian belok kanan sampai perlimaan. Kemudian ambil tikungan yang no 3 dari kiri, setelah itu ada jalan menurun dan jembatan kemudian jalan menaik serta menelusuri tebing , terus sampai ditanah datar dan terdapat bangunan-bangunan baru. Diantara bangunan-bangunan baru itulah Sekolahmu berada”
Pertanyaanku:
“Bagaimana dengan jalan yang sempit di sebelah kiri ini?”
Orang berambut tidak putih:
“Boleh juga. Walaupun kelihatannya sempit, tetapi nanti setelah tikungan pertama, jalan ini akan melebar bahkan bercabang. Ambil cabang kiri teruskan sampai perempatan. Kemudian beloklah ke kanan sampai pertigaan. Kemudian belok kanan lagi sampai jalan berlubang kemudian naik sedikit. Setelah itu terlihatlah dua buah jembatan, maka teruskan sehingga menelusuri tebing, kemudian melingkar, karena ada taman di situ. Diujung jalan yang melingkar, engkau akan menemukan tanah datar beserta banyak bangunan di situ. Diantara banyak bangunan itulah, Sekolah mu berada.
Pertanyaanku:
“Aku bingung, bisakah engkau menghantarkanku ke Sekolah”
Orang berambut tidak putih:
“Maaf, karena aku juga harus mengajar pada jam yang sama, padahal sekolah kita lokasinya berbeda. Untuk saat ini aku tidak bisa menghantarmu. Mungkin lain kali. Baiklah saudaraku selamat bekerja dan sampai di sekolah kita masing-masing”

DI TENGAH KEBINGUNGAN, ORANG TUA BERAMBUT PUTIH TERNYATA MENGHAMPIRINYA

Orang berambut putih:

Aku dengar tadi kau merindukan murid-muridmu, benarkah itu?
Guru menggapai siswa:
Oh guruku. Tidak kusangka engkau menghampiriku lagi.
Orang berambut putih:
Sudah kukatakan, bahwa setiap engkau bertanya maka hadirlah aku di situ. Karena aku adalah pengetahuanmu.
Guru menggapai siswa:
Tetapi guru, setiap aku melihatmu maka tubuhku terasa ringan seakan-akan terbang tinggi setinggi langit. Tetapi pikiranku terasa berat seakan tenggelam di dasar laut. Mataku melebar seakan seluas gurun pasir. Bagaimana ini guru. Dapatkah engkau menolongku.
Orang berambut putih:
Sebenar-benar pertolongan datangnya dari Allah SWT, maka mohonlah pertolongan pada Nya.
Guru menggapai siswa:
Ya Tuhan, ampunilah segala dosaku, ampunilah segala dosa orang tuaku, ampunilah segala dosa leluhurku. Berikan aku pertolongan Mu ya Allah. Kenapa ilmuku telah membuatku berat untuk melangkah, ragu-ragu untuk menentukan, tidak yakin untuk memilih, tidak jelas untuk memandang.
Orang berambut putih:
Amien. Amien ya Robbal alamin. Aku ikut berdoa semoga terkabul segala permohonanmu.
Guru menggapai siswa:
Bukankah guru belum menjawab pertanyaanku.
Orang berambut putih:
Hah, apa tidak terbalik. Kalau tidak salah yang bertanya bukankah aku? Kan aku yang bertanya kepadamu, benarkah kamu merindukan murid-muridmu? Dan engkau belum menjawabnya.
Guru menggapai siswa:
Aku sekarang telah tidak mempercayaimu. Karena kamu telah pelupa dan tidak mengetahui keadaanku yang sebenarnya.
Orang berambut putih:
Mengapa.
Guru menggapai siswa:
Kenapa engkau tidak pula mengetahui bahwa sebenarnya saya telah bertanya kepadamu. Tetapi pertanyaanku tidak aku ucapkan. Dan kenapa engkau tidak pula mengerti akan hal itu.
Orang tua berambut putih:
Baik. Kalau engkau tidak mempercayaiku, maka aku sebaliknya. Kepercayaanku kepadamu justru meningkat sekarang, karena engkau semakin mempedulikanku. Itu pertanda bahwa engkau semakin cerdas. Aku akan tingkatkan bicaraku kepadamu, karena kamu telah meningkat ilmumu. Engkau telah mengajakku bicara tentang hakekat bertanya. Apakah sebenarnya pertanyaan itu? Apakah selalu bahwa pertanyaan itu perlu diucapkan? Bolehkan aku bertanya dalam hati saja? Apakah selalu bahwa pertanyaan memerlukan jawabannya? Bolehkah kita menanyakan semuanya yang ada?
Guru menggapai siswa:
Tentu saja guru. itulah yang ku inginkan.
Orang berambut putih:
Jika engkau punya keinginan itu, tentu aku pun boleh punya keinginan.
Guru menggapai siswa:
Apa keinginanmu guru?
Orang berambut putih:
Jika memang itu yang kau kehendaki, maka keinginanku adalah mengajakmu bicara tentang tidak hanya hakekat pertanyaan. Tetapi hakekat rindu, hakekat siswa, hakekat merindukan siswa, hakekat jalan, hakekat jalan menuju ke sekolah, hakekat sekolah, hakekat mengajar, hakekat belajar, hakekat matematika, hakekat matematika sekolah, hakekat mengajar, hakekat tanya jawab, hakekat metode pembelajaran, hakekat penilaian, hakekat ujian, hakekat, menghukum, hakekat memberi bekal, hakekat, motivasi, hakekat appersepsi, hakekat diskusi, hakekat kelompok, hakekat diskusi kelompok, hakekat kkompetensi, hakekat standard, hakekat silabus, hakekat RPP, hakekat alat peraga, hakekat sumber belajar, hakekat tugas, hakekat PR, hakekat kewajiban, hakekat kebutuhan, hakekat investasi, hakekat constructivis, hakekat contextual, hakekat..., hakekat..., hakekat, ...
Guru menggapai siswa:
Ampun guruku. Ampunilah aku, karena aku telah berlaku sombong dan telah menghinamu. Ternyata pengetahuanmu sangat tinggi dan luas. Banyak sekali apa-apa yang ada dalam pikiranmu, bermacam-macam lagi. Menjawab satu pertanyaanmu saja aku merasa tidak mampu. Sekali lagi mohon ampun aku wahai guruku.
Orang berambut putih:
Wahai muridku. Perkenankanlah aku sekarang memanggil engkau, muridku. Iba rasa hatiku, haru rasa hatiku setelah mendengar engkau memohon ampun berkali-kali. Padahal ketahuilah, bahwa sebenar-benar aku adalah ilmumu, maka tetesan air mata ini sebagi pertanda bahwa kita saling memaafkan. Karena jika engkau peka dan sensitif, aku juga telah berlaku sombong. Dengan membuat begitu banyak pertanyaan tanpa sempat memberimu kesempatan bukankah itu kesombonganku. Maka maafkanlah juga aku wahai muridku.
Guru menggapai siswa:
Bolehkan engkau menerangkan satu persatu apa yang kau maksud dengan bermacam-macam hakekat itu?
Orang berambut putih:
Boleh, tetapi kita juga terikat oleh ruang dan waktu. Maka katakanlah sebenarnya, diantara sekian banyak yang telah aku sebut itu, engkau akan menanyakan yang mana?

BERTEMU DENGAN MURID

Guru menggapai siswa:

Aku ingin bertanya hakekat RINDU dan CINTA
Orang berambut putih:
Baik. Rindu adalah keinginan untuk mengulangi pengalaman masa lampau. Tetapi ketahuilah bahwa adalah engkaulah yang mempunyai keinginan itu. Dan engkau pulalah yang mempunyai pengalaman itu. Padahal kita tahu, banyak orang mempunyai keinginan dan pengalaman yang berbeda-beda. Keinginanku dan pengalamanku jelas lain dengan keinginanmu dan pengalamanmu. Keinginanmu dan pengalamanmu jelas lain dengan keinginan dan pengalaman muridmu. Jadi jika engkau merindukan muridmu, maka belum tentulah muridmu itu merindukanmu. Maka waspadalah jika engkau mempunyai perasaan rindu. Jangan-jangan itu tidak lain tidak bukan adalah egomu. Maka aku sangat khawatir, ketika engkau mengatakan bahwa engkau merindukan untuk bertemu murid-muridmu. Karena jika betul-betul itu adalah egomu, maka hanyalah menjadi korban darimu itulah murid-muridmu. Adalah sebaliknya yang kita harapkan, yaitu keadaan yang sangat berpengharapan bilamana murid-muridmu itulah yang sebenar-benar merindukan dirimu. Maka jangan sekali-kali engkau merasa rindu kepada muridmu manakala itu adalah egomu. Biarlah bahwa muridmu itulah yang merindukanmu. Maka sebenar-benar rindu adalah miliknya dan bukan milikmu.
Guru menggapai siswa:
Kemudian kalau begitu apa pula hakekat cinta?
Orang tua berambut putih:
Setali tiga uang. Dari uraianku di atas, maka setiap kata-kata ku tentang rindu bisa kamu substitusikan dengan kata cinta. Maka aku juga mengkhawartirkan perasaan cintamu itu. Jangan-jangan maksudmu mencintai sesuatu justru sebetulnya merusak apa yang kau cintai itu. Dengan demikian maka tiadalah cinta yang kau dapat, melainkan penderitaan adanya. Bukankah pengalaman menunjukkan bahwa tidaklah selalu bahwa cinta itu berkesampaian. Orang jawa bilang "welas tanpa asih" itu adalah cinta karena egomu tetapi tidak cinta karena asih. Maka sebenar-benar cinta adalah miliknya bukan milikmu.
Guru menggapai siswa:
Aku belum begitu paham guru. Mengapa aku tidak boleh merindukan muridku sementara membiarkan muridku merindukan akan diriku. Mengapa kau juga mengkhawatirkan perasaan cintaku. Bukankah hal yang demikian tidak adil.
Orang berambut putih:
Itulah hakekat rindu, itulah hakekat cinta, itulah hakekat guru, itulah hakekat siswa. Mengapa? Pada hakekatnya guru adalah berbeda dengan siswa. Sudah pernah saya katakan bahwa guru adalah subyek yang berkuasa terhadap obyek siswa yang dikuasai. Maka hakekat rindu akan berbeda pula manakala dia berdomisili pada guru ataupun berdomisili pada siswa. Rindunya orang yang berkuasa tentu akan berbeda dengan rindunya orang yang dikuasai. Cintanya orang yang menguasai tentulah berbeda dengan cintanya orang yang dikuasai. Jikalau ada orang yang dikuasai merindukan terhadap orang yang menguasai itu adalah luar biasa. Tetapi sulit ditemukan. Jika ternyata memang ada maka akal kita pun sulit menerimanya. Mungkin adalah muridnya yang luar biasa atau gurunya yang luar biasa. Tetapi jangan salah paham, bahwa yang dimaksud luar biasa adalah diluar kebiasaan, jadi bisa positif tetapi juga bisa negatif. Maka aku juga dapat katakan bahwa rindu tidak lain tidak bukan adalah sifat yang melekat pada obyek. Guru bisa menjadi subyek sekaligus obyek, demikian juga siswa bisa menjadi obyek sekaligus subyek. Maka sebenar-benar rindu dan cinta adalah rindu dan cinta kepada Nya. Untuk menggapainya, maka itu sebenar-benar jalan mana yang engkau lalui.
Guru menggapai siswa:
Kenapa guru singgung-singgung tentang jalan. Bukankah guru tahu bahwa itulah awal kebingungan saya. Lalu apa hubungan "jalan" dengan rindu? Apa pula hubungan "jalan" dengan cinta?
Orang berambut putih:
Wahai muridku yang semakin budiman saja. Ketahuilah bahwa berbagai macam jalan yang berada di depan dan samping rumahmu itu sebenar-benar adalah ciptaanku. Aku sengaja ciptakan jalan itu agar kamu mau belajar. Ketahuilah bahwa jalan-jalan di depan rumahmu itu tidak lain adalah jalan hidupmu. Jalan hidupmu adalah pilihanmu. Maka sebenar-benar hidupmu adalah pilihanmu. Jalan hidupmu yang akan kau lalui. Maka jalan hidupmu tergantung pula oleh pengetahuanmu. Jika pengetahuanmu hanya sebatas mengajar dengan metode ceramah, maka hanya jalan ceramah itulah yang selalu ada dalam pikiranmu. tetapi jika pengetahuanmu sampai jalan konstruktivis, maka kamu juga bisa melalui jalan konstruktivis yang ada di samping rumahmu itu. Apakah jalan rindumu dan cintamu adalah egomu? Mengapa aku ciptakan banyak jalan untukmu. Jika engkau akan berangkat menuju ke Sekolahmu maka itulah sebenar-benar jalan yang dapat engkau pilih. Jalan-jalan itulah sebenar-benarnya metode menggapai siswa dan metode mengajarmu. Menggapai siswa dan metode mengajar tidaklah cukup hanya dengan mengandalkan satu metode saja yang selama ini kamu yakini dan kamu jalani. Untuk menggapai, menghantar dan melayani siswa agar dapat belajar matematika dengan baik, maka guru memerlukan banyak cara dan banyak metode yang diterapkan secara dinamis dan kreative sesuai dengan konteks pembelajaram, tingkat kemampuan siswa serta kemampuan yang akan dicapai. Maka tiadalah jalan lain bagimu untuk selalu mencoba jalan-jalan itu, walau suatu saat kamu terjatuh sekalipun. Jikalau perlu maka kau sendiri pulalah dapat membuat jalan-jalanmu itu. Itulah hakekat dirimu mengkonstruksi jalanmu untuk menggapai rindu dan cintamu. Melalui jalan-jalan itu, maka sinergi-dan tali temalikanlah dirimu dengan diri siswa agar kamu bisa melayani dan memberi kesempatan bagi siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya. Ketahuilah bahwa konstruksimu adalah berbeda dengan konstruksi siswamu. Maka jangan sekali-kali kau paksakan siswamu mengikuti jalan konstruksi pengetahuanmu. Berilah kesempatan agar siswamu juga mencoba banyak jalan-jalan di depan rumahmu. Namun itu pun belum mencukupi. Karena sebenar-benar hakekat muridmu adalah dia yang bisa membuat jalannya sendiri. Itulah sebenar-benar konstruktivisme. Sehingga dia pun bisa dan berhak menggapai rindu dan cintanya. Amien ya Robbal Alamien.
Guru menggapai murid:
Bisakah aku bertemu dengan muridku?
Orang tua berambut putih:
Lagi-lagi kamu menanyakan hakekat. Sebelum kau bisa bertemu dengan muridmu maka kenalilah dirimu. Sebelum kau bertemu dengan muridmu maka kenalilah muridmu itu. Namun aku sangsi apakah kamu sebenar-benar mampu mengenal dirimu. Ketahuilah dirimu adalah kata-katamu. Dirimu adalah pertanyaanmu. Dirimu adalah pikiranmu. Dirimu adalah kuasamu. Dirimu adalah mimpimu. Dirimu adalah kuasamu. Dirimu adalah bahasamu. Dirimu adalah perbuatanmu. Dirimu adalah doamu. Dirimu adalah amal kebajikanmu. Demikan juga siapakah diri muridmu itu. Demikian kau dapat menyebutnya seperti aku telah baru saja sebut yang banyak tadi. Jadi dirimu yang mana dan diri muridmu yang mana yang kamu harapkan akan bertemu. Maka di sini lagi-lagi kamu bertanya tentang hakekat pertemuan. Maka dapat aku katakan bahwa tiadalah dapat sebenar-benar kau dapat menggapai muridmu itu, kecuali kalau kau anggap sekaligus dirimu dan diri muridmu adalah ilmuku, karena ilmuku tidak lain tidak bukan adalah pengetahuanmu sekaligus pengetahuan muridmu. Itulah sebenar-benar belajar, yaitu jika kamu dan muridmu dapat bertemu di dalam ilmu berlandaskan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Jadi dalam iman, ilmu dan taqwa itulah sebenar-benar kamu bisa menggapai muridmu dan sebenar-benar belajar bagi muridmu. Namun itupun belum cukup karena sebenar-benar rindu dan cintamu adalah jika siswamu dalam iman, ilmu dan taqwa mampu membuat jalannya untuk menemuimu. Itulah sebenar-benar guru menggapai siswa yaitu jika siswamu telah menggapaimu. Amien.

30 comments:

  1. Gina Sasmita Pratama
    1770925003
    S2 P.Mat A 2017

    Banyak yang harus dipersiapkan oleh seorang guru dalam menggapai siswanya. Seorang guru seyogyanya memiliki banyak variasi metode belajar demi menggapai siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Seorang guru seyogyanya juga memiliki metode pendekatan yang bervariasi agar mampu memahami siswa-siswanya. Jika seorang guru hanya memiliki dan menguasai satu metode saja baik dalam pembelajaran dan pendekatan dengan siswa, maka dapat diprediksi bahwa guru tersebut akan mengalami kesulitan dalam menggapai siswanya.Oleh karena itu, jadilah seorang guru yang mempunyai banyak variasi cara dalam menggapai siswanya sehingga menjadi seorang guru yang dirindukan dan dicintai oleh siswa-siswa.

    ReplyDelete
  2. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Sebenar-benar orang yang memiliki ilmu haruslah bersyukur dan selalu berdzikir menyebut asma Allah SWT yang maha pemberi segala hal terutama ilmu yang ada pada diri kita. Tanpa ada kuasa Nya apalah arti ilmu yang ada dalam diri, yang ada hanyalah rasa sombong dan beban bagi hidup kita. Seorang guru yang memiliki ilmu yang lebih daripada muridnya atau dikatakan bahwa guru adalah yang berkuasa dan murid adalah obyek yang dikuasai, maka untuk menguasai obyeknya, seorang guru harus memilih metode mana yang sesuai dengan keadaan dan kondisi siswa, tentunya metode pembelajaran yang dapat memfasilitasi belajar siswa. Sehingga apa yang disampaikan guru dan apa yang diperoleh oleh siswa adalah ilmu yang bermanfaat dengan berladaskan iman.

    ReplyDelete
  3. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Seorang guru memiliki kuasa akan siswa-siswanya. Sebagai seorang yang dikuasai, luar biasa jika seorang siswa merasa rindu kepada gurunya. Maka sebagai upaya membuat siswa rindu, banyak jalan yang dapat ditempuh guru. Karena itulah seorang guru harus menyiapkan berbagai metode, berbagai media, berbagai aktivitas. Dengan menggunakan berbagai macam metode, media, dan aktivitas, siswa akan menikmati pembelajaran dan tidak akan merasa jenuh. Siswa juga akan menantikan inovasi lain yang dibuat guru.

    ReplyDelete
  4. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Hidup adalah kesempatan. Selagi kita hidup maka kita masih mempunyai kesempatan. Selain mempunyai kesempatan kita juga dapat memberikan kesempatan bagi mereka yang lain yang hidup. Dalam hal ini misalkan menjadi seorang guru. Guru yang baik adalah guru yang percaya pada siswanya sehingga sang guru memberikan kesempatan bagi siswanya untuk mengeksplorasi diri. Guru yang baik adalah guru yang memberikan kesempatan bagi siswanya untuk menghubungkan pengetahuan yang didapatkannya dengan prior knowledgenya. Selain itu guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri. Jadi guru tidak otoriter dengan mengharuskan siswa agar mempunyai pola pikir yang sama dengan guru. Penyeragaman pola pikir dalam belajar membuat kreativitas siswa terkungkung. Maka sangat penting bagi guru untuk menghidupkan siswanya dengan memberikan kesempatan. Terimakasih.

    ReplyDelete
  5. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Menjadi guru adalah sebuah panggilan hati, maka disana kita harus meletakkan dan melakukan apa yang kita lakukan sepenuh hati. Untuk siapa? Untuk para siswa, pendidikan, dan juga tak bisa dipungkiri untuk diri sendiri. Namun sebagai manusia terkadang kita lalai akan hal itu, dan sering menempatkan ego diatas kepentingan yang lebih luas. Seorang guru sebaiknya mampu melihat dan memahami apa yang sebenar-benarnya dibutuhkan siswa untuk mencapai prestasi optimalnya. Seringkali apa yang dilakukan guru dan dianggapnya baik, justru tidak dirasa baik oleh siswa. Maka dari itu. Guru harus mampu dekat dengan siswa, dan memahami siswa sepenuhnya. Jangan hanya menjadi guru yang mencintai dan merindukan siswanya tetapi jadilah guru yang selalu dicintai, dirindukan, dan dinanti oleh siswanya. Sehingga kehadiran kita selalu ditunggu dengan kebaikan-kebaikan yang dirasakan siswa.

    ReplyDelete
  6. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Untuk mampu memahami orang lain maka kita harus mampu mengenali diri sendiri terlebih dahulu. Dan sebenar-benar diri kita adalah ilmu kita. Maka penting bagi guru sebagai aktor utama dalam pembelajaran untuk mengenali dan menguasai ilmu tentang bagaimana seorang siswa membangun konsep dalam benaknya. Di samping itu yang tidak kalah pentingnya adalah guru harus mengenali dan menguasai guru berbagai metode pembelajaran sehingga siswa tidak dihadapkan pada pembelajaran yang menonton. Namun itu semua belum ada artinya jika guru tidak mengenali siswa-siswanya. Maka penting bagi guru untuk memahami perbedaan karakter dan pola pikir siswanya. Dengan demikian, pembelajaran yang efektif dapat dibangun apabila adanya interaksi positif antara guru dan siswa.

    ReplyDelete
  7. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Guru haruslah bisa menjadi guru bagi siswanya. Guru bukan bermaksud sebagai pemberi ilmu seperti halnya orang yang mengisi tong kosong. Guru berperan sebagai fasilitator yang setia memfasilitasi siswa untuk menemukan pengetahuan. Ibarat kita menyirami tamaman, tanaman akan tumbuh ddengan sendirinya, kemudian berbuah

    ReplyDelete
  8. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Guru sesuai elegi sebulmnya yaitu “digugu lan ditiru” artinya adalah dipercaya dan dicontoh. Makna guru yang seperti itu sering saya dengar dari orang-orang tua saya jika guru merupakan insan yang memiliki akal, pikiran dan tindakan, serta tingkah laku mahmudah. Seiring berkembangnya zaman dan peradaban, perkembangan dunia pendidikan juga ikut terjadi seorang guru atau pendidik pada masa sekarang lebih dituntut membangun aspek kognitif pada siswa dengan standar-standar kemampuan yang harus dicapai. Pendidikan yang membangun karakter, kreatifitas, sosial, kepekaan, rasa ingin tahu yang tinggi, motivasi dan aspek afektif lain mulai sedikit luntur. Hal ini lah yang membuat adanya hubungan antara guru dan siswa hanya ibarat transaksi ilmu saja. Tidak adanya proses pengalaman yang dapat membuat siswa mampu terkesan dan melekat ilmunya yang disebabkan guru mereka.

    ReplyDelete
  9. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Menukil perkataan dari orang tua berambuit putih, bahwa guru akan mampu berhadapan dan bertemu dengan muridanya bilamana guru tersebut telah mampu mengenali dirinya dengan baik, mampu mengenali muridnya dengan baik, serta dapat menguasai metode atau jalan yang akan ditempuh bersama. Pada zaman sekarang banyakguru yang bersembunyi di balik gelarnya sebagi seorang guru yang seharusnya dapat digugu lan ditiru namun apa yang nampak pada guru tidaklah mencerminkan moral yang baik. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  10. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Menelaah kembali dari awal elegi ini banyak di antara para guru yang kehilangan jalan mereka menuju sekolah, sejatinya bukan jalan material yang kita tapaki saat berjalan dengan makna denotasi, melainkan guru kehilangan arah bagaimana harus berperan sebagai seorang guru, bagaimana membimbing siswa, bagaimana memberikan materi yang baik kepada siswa, bagaimana mengevaluasi siswa secara menyeluruh dan mencerminkan kemampuan siswa yang sebenarnya,. Hal tersebut dituturkan bahwa guru telah beberapa lama tidak mengajar, hal ini mengajarkan pada kita bahwa empirisme itu tidak dapat diawabika. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  11. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dari elegi ini, bisa diambil sebuah nasehat bagi guru, bahwasanya guru harus senantiasa menjadi siswa, artinya guru harus menjadi pembelajar. Mengembangkan potensi diri, pengetahuan, dan ilmu adalah hal mutlak untuk menjadi guru menggapai siswa. Senar-benar kedudukan guru dan siswa adalah saling terjemah menterjemahkan

    ReplyDelete
  12. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Sekali lagi, kesombongan akan membutakan pikiran dan hati. Jika sudah buta, maka logos berubah menjadi mitos, hati berubah menjadi syaiton. Maka tiadalah guna menyebut diri sebagai guru. Ilmu, pengalaman, pengetahuan yang diperoleh dari hasil belajar dengan paraguru harus membuat guru menjadi lebih rendah hati, dan selalu merasa ingin tahu. Maka dengan begitu guru akan menjadi siswa yang sukses, mampu memfasilitasi siswa nya untuk melaksanakan aktivtas belajar.

    ReplyDelete
  13. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Setelah membaca ini saya merasa harus banyak memohon ampun kepada Allah SWT atas semua kelalaian saya dalam berinteraksi dengan siswa-siswa. Banyak sifat-sifat ideal seorang guru yang luput dari ingatan saya. Sejatinya pembelajaran bukan sekedar acara trnasfer ilmu dari guru kepada murid, namun peran guru menciptakan kegiatan bagi siswa yang memfasilitasi pengalaman belajar siswa sendiri. Maka apabila guru yang rindu pada murid bisa jadi menjadi egonya yang ingin menguasai murid, namun apakah murid-murod kita benar-benar merundukan kehadiran kita dalam kegiatannya belajar?

    ReplyDelete
  14. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Apabila kita memang benar-benar ingin mengabdi sebagai guru dan ingin menjadi guru yang berkualitas, saya rasa yang pertama harus ditanamkan adalah ketulusan dan keikhlasan. Dengan ketulusan dan keikhlasan, kita akan menyenangi apa yang dilakukan sehingga kita akan selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik. Kita dapat melakukannya dengan cara terus berusaha untuk mengembangkan pembelajaran yang tepat, bermakna, dan variatif-inovatif. Pembelajaran variatif-inovatif dapat kita lakukan apabila kita dapat mengenali diri kita dan juga mengenali siswa kita. Dengan begitulah kita dapat menggapai siswa.

    ReplyDelete
  15. Latifah Fitriasari
    PM C

    Kunci kemajuan pendidikan sebuah bangsa ada pada guru. Hanya guru berkualitas yang mampu mencetak murid cerdas dan berakhlak mulia. Peran guru sangat penting dalam dunia pendidikan ini diantaranya adalah menjadi fasilitator dalam pembelajran yang melayani para siswa dalam proses pembelajaran untuk menuntut ilmu. Kualitas guru sampai saat ini tetap menjadi persoalan yang penting ( crucial ). Menjadi persoalan yang crucial oleh karena pada kenyataannya keberadaan guru di berbagai jenjang. Seorang guru yang baik menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi dengan mereka serta mempunyai kPemampuam mendengar dengan seksama dan dapat menetapkan tujuan pembelajaran.

    ReplyDelete
  16. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Guru sebagai subyek atas siswanya memiliki arti bahwa guru yang berkuasa atas kegiatan belajar mengajar siswa. Dalam mengajar, guru dapat memilih berbagai macam cara atau metode pembelajaran. Berbagai macam cara atau metode pembelajaran inilah yang disebut cabang-cabang jalan pada bacaan di atas. ada metode ceramah, ada metode konstruktivis, ada metode kooperatif dan lain sebagaima. Seorang guru harus mengetahui dan mampu menerapkan berbagai variansi metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang dibahas dan karekteristik siswanya. Sehingga cara guru mengajar tidak monoton dan membosankan. Dengan demikian, siswa akan lebih terfasilitasi dalam kegiatan belajarnya dan dalam membangun pengetahuannya.

    ReplyDelete
  17. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Guru mempu memahami siswa jigak guru terseut mampi memahami dirinya sendiri terlebih dahulu. Setelah mengetahui dirinya barulah guru akan mengenali siswa yang diajarnya. Dengan demikian, guru akan memeberikan apa yang diketahuinya, yang terbaik darinya untuk siswanya.

    ReplyDelete
  18. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Hakekat pertemuan adalah ketika guru mampu menganggap bahwa dia dan siswanya dalah ilmu, maksudnya adalah dia dan siswa adalah suatu objek yang dapt di ekplore kemampuannya. Karena belajar yang benar adalah belajar ilmu yang didasarkan kepada iman dan taqwa. Maka jangan pernah melepaskan iman dan taqwa untuuk menggapi ilmu tersebut.

    ReplyDelete
  19. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Elegi ini sangat menarik menurut saya. Seorang guru harus memiliki beberapa metode mengajar yang sesuai dengan karakteristik siswanya. Guru tidak boleh memaksakan kehendaknya, dan tidak boleh juga memaksakan siswa untuk memahami dengan cepat apa saja keinginan guru tersebut. Guru lah yang seharusnya mengetahui apa saja yang dibutuhkan oleh siswanya, karena posisi guru adalah sebagai fasilitator.

    ReplyDelete
  20. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Sebaik-baik guru adalah guru yang dicintai dan dirindukan siswanya, bukan guru yang mencintai dan merindukan siswanya. Jika guru rindu dan cinta kepada siswanya, belum tentu siswa rindu dan cinta kepada gurunya. Jika ini terjadi, berarti cinta dan rindu guru itu hanyalah sebuah ego dari sang guru.

    ReplyDelete
  21. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Memahami peserta didik merupakan sikap yang harus dimiliki dan dilakukan guru, agar guru dapat mengetahui aspirasi atau tuntutan peserta didik yang bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam penyusunan program yang tepat bagi peserta didik, sehingga kegiatan pembelajaran pun akan dapat memenuhi kebutuhan, minat mereka dan tepat berdasarkan dengan perkembangan mereka. Suatu kegiatan akan menarik dan berhasil apabila sesuai dengan minat, bakat, kemampuan, keinginan, dan tuntutan peserta didik.

    ReplyDelete
  22. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dalam hal menggapai siswa ini sangat erat kaitannya bagaimana seorang guru bisa mendapatkan kesan dari para siswa agar para siswa juga turut merindukan guru tersebut. Sehingga rasa rindu sang guru tersebut tidaklah bertepuk sebelah tangan. Pengalaman saya pribadi ketika menjadi siswa yaitu, jika saya senang terhadap sang guru, entah itu karena kepribadian sang guru, ataupun kecerdasan sang guru,atau metode belajar sang guru, maka ilmu pun akan cepat masuk ke dalam otak. Sehingga kehadiran guru tersebut di dalam pembelajaran sangat saya nanti-nantikan.

    ReplyDelete
  23. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Guru memang tidak boleh terlalu memaksakan kehendak agar siswanya dapat tumbuh seperti yang dia inginkan karena tentunya setiap siswa mempunyai karakter dan bakat yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya. Sehingga outputnya pun nantinya tidak akan sama semua. Ada yang berbakat di dalam bidang matematis, ada yang berbakat di kinestetik, ada yang berbakat di linguistik, dan sebagainya. Sehingga tidak bisa menghasilkan output yang sama.

    ReplyDelete
  24. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Elegi ini menambah pengetahuan kita mengenai seperti apa dan bagaiaman guru dalam pbm metematika. Hakekat siswa dan hakekat guru adalah dua hal yang berbeda. Sehingga, guru pun sebelum menyusum pbm harus mengenali dirinya sendiri, dan siswanya. Mengenali bagaimana paradigma pbm yang dia yakini, mungkin sadar atau tidak tidak disadari dia telah menggunakan paradigmanya sebagai orang dewasa. Guru pelu pula mengenali bagaimana karakteristik siswanya, agar guru dapat melepaskan jubah paradigma mtk orang dewasa tersebut dan masuk ke dalam pbmnya anak-anak. Sehingga akhirnya guru mampu menyusun variasi pbm yang mampu memfasilitasi siswa yang memiliki beragam karakteristik untuk belajar. Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  25. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Berdasarkan elegi Seorang Guru Menggapai Siswa di atas, dapat menjadikan semangat kita untuk senantiasa menjadi seorang guru yang berkualitas. Pendidikan yang berkualitas akan tercapai apabila guru juga berkualitas dalam melaksanakan pembelajaran. Guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Peran guru diantaranya adalah menjadi fasilitator dalam pembelajaran dan melayani siswa-siswanya dalam proses pembelajaran.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  26. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Terimakasih kepada Prof. Marsigit, M.A. yang telah membagikan elegi yang bermanfaat ini untuk kami. Karena dari elegi ini, dijelaskan bahwa untuk memahami siswa maka ada banyak hal yang perlu dipersiapkan, yakni belajar dan belajar. Belajar tentang hakikat siswa, hakikat sekolah, hakikat mengajar, hakikat belajar, hakikat matematika, dan sebagainya. Belajar hakikat-hakikat tersebut akan sangat membantu kita untuk mensukseskan pendidikan Indonesia di masa depan sesuai dengan apa yang dicita-citakan selama ini. Selain itu juga berkontribusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya anak bangsa.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  27. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.mat B

    Cerita tentang guru yang merindukan muridnya yang tiba-tiba saja menemukan banyak jalan untuk bisa bertemu murid-muridnya. begitulah yang seharusnya dilakukan oleh guru, agar tidak terjebak mitos, selalu melakukan inovasi dalam metode pembelajaran, selalu introspeksi, belajar dari bagaimana siswa belajar, dan melakukan persiapan sebelum mengajar, agar bisa menggapai siswanya.

    ReplyDelete
  28. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    tidak mudah bagi guru untuk dapat menggapai siswanya. seringkali siswa lupa terhadap guru yang pernah mengajar. agar seorang guru dapat menggapai siswa hendaknya memiliki ciri khas cara mengajar tersendiri yang meninjol, sehingga siswa akan selalu ingat dengan ciri khas yang dimiliki guru tersebut.

    ReplyDelete
  29. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa menjadi guru maka harus benar-benar memahami hakekat guru, perlu memahami ontologi, epistimologi, dan aksiologi seorang guru. Selain itu perlu juga memahahami hakikat murid dan semua hal yang terlibat dalam pembelajaran. Hal ini agar guru dapat benar-benar memhami profeisnya dan apa keinginan serta kebutuhan siswa dalam belajar.

    ReplyDelete
  30. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Untuk mampu menyelenggarakan pembelajaran yang baik, guru harus mengenali karakteristik siswa dengan baik. Guru juga selayaknya mengenal multiple intelligency (kecerdasan majemuk) mana yang dimiliki siswa. Misal. Guru dapat memfasilitasi dengan aneka alat peraga, video animasi, untuk anak-anak dengan kecerdasan visual spasial yang tinggi. Guru dapat sering menerapkan pembelajaran kooperatif untuk anak dengan kecerdasan interpersonal yang tinggi. Dan lain sebagainya. Guru juga harus bisa mengembangkan LKS konstruktif yang sesuai dengan karakteristik kemampuan siswa-siswanya.

    ReplyDelete