Sep 20, 2013

Elegi Seorang Guru Menggapai Siswa




Oleh: Marsigit

BERANGKAT KE SEKOLAH

Guru menggapai siswa:

Ketika aku akan berangkat ke Sekolah, tidak seperti biasanya hari ini. Kenapa tiba-tiba di depan rumahku telah ada beberapa jalan baru, ada jalan yang lurus dan lebar, ada jalan yang sempit dan berkelok-kelok, ada jalan yang kelihatannya licin, ada jalan yang berbatu-batu.Halaman rumahku juga tidak seperti biasanya, dia menjadi luas dan banyak tanaman serta hiasan jalan. Aku kemudian tertegun memikirkan apa yang sedang terjadi. Apakah ini sebuah mimpi atau kenyataan. Betul-betul aku tidak dapat membedakan. Kalau sebuah mimpi, mengapa aku bisa melihat, berjalan, bercakap-cakap dan lain-lain. Kalau sebuah kenyataan, mengapa aku tidak mengerti mengapa semua ini mesti terjadi?. Kepada siapa mesti aku bertanya. Jika aku bertanya kepada dia si tua berambut putih, jawabnya pasti adalah bahwa sebenar-benar ilmuku adalah antara mimpi dan kenyataan ini. Ah bosan aku. Paling jawabnya ya gitu-gitu aja. Ah itu ada orang lewat. Rambutnya tidak putih. Yang ini aku agak semangat untuk bertanya.
Pertanyaanku:
“Hai saudaraku, aku lihat engkau begitu nyaman dan enaknya melewati jalan-jalan itu. Padahal jalan itu bagiku begitu rumitnya, disamping bercabang-cabang, semit, licin lagi. Tetapi engkau begitu mahirnya, masih pakai sepatu roda lagi. Seakan-akan engkau sedang mengejekku saja. Bolehkah aku bertanya kepadamu, hai saudaraku”
Orang berambut tidak putih:
“ Oh, alhamdullilah. Aku telah tidak sengaja telah diberi kenikmatan oleh Tuhan untuk bisa bersilaturahim kepadamu. Baik, ingin bertanya apakah saudaraku juga?”
Pertanyaanku:
”Aku sudah beberapa waktu tidak mengajar. Aku merindukan siswaku. Tetapi tiba-tiba banyak jalan di depan rumahku. Aku bingung jalan mana yang harus ku lalui? Dapatkah kau menunjukkan jalan mana yang menuju ke Sekolah ku?”
Orang berambut tidak putih:
“Ampun tuanku, mengapa engkau mesti bertanya seperti itu? Bukankah sangat jelas terlihat bahwa jalan manapun yang engkau lewati semuanya bisa menuju ke Sekolah mu?”
Pertanyaanku:
“Apakah jalan yang lebar itu?”
Orang berambut tidak putih:
“Jalan yang lebar itu bisa juga. Anda jalan lurus saja sampai pertigaan, belok kiri sampai perempatan, kemudian belok kanan sampai perlimaan. Kemudian ambil tikungan yang no 3 dari kiri, setelah itu ada jalan menurun dan jembatan kemudian jalan menaik serta menelusuri tebing , terus sampai ditanah datar dan terdapat bangunan-bangunan baru. Diantara bangunan-bangunan baru itulah Sekolahmu berada”
Pertanyaanku:
“Bagaimana dengan jalan yang sempit di sebelah kiri ini?”
Orang berambut tidak putih:
“Boleh juga. Walaupun kelihatannya sempit, tetapi nanti setelah tikungan pertama, jalan ini akan melebar bahkan bercabang. Ambil cabang kiri teruskan sampai perempatan. Kemudian beloklah ke kanan sampai pertigaan. Kemudian belok kanan lagi sampai jalan berlubang kemudian naik sedikit. Setelah itu terlihatlah dua buah jembatan, maka teruskan sehingga menelusuri tebing, kemudian melingkar, karena ada taman di situ. Diujung jalan yang melingkar, engkau akan menemukan tanah datar beserta banyak bangunan di situ. Diantara banyak bangunan itulah, Sekolah mu berada.
Pertanyaanku:
“Aku bingung, bisakah engkau menghantarkanku ke Sekolah”
Orang berambut tidak putih:
“Maaf, karena aku juga harus mengajar pada jam yang sama, padahal sekolah kita lokasinya berbeda. Untuk saat ini aku tidak bisa menghantarmu. Mungkin lain kali. Baiklah saudaraku selamat bekerja dan sampai di sekolah kita masing-masing”

DI TENGAH KEBINGUNGAN, ORANG TUA BERAMBUT PUTIH TERNYATA MENGHAMPIRINYA

Orang berambut putih:

Aku dengar tadi kau merindukan murid-muridmu, benarkah itu?
Guru menggapai siswa:
Oh guruku. Tidak kusangka engkau menghampiriku lagi.
Orang berambut putih:
Sudah kukatakan, bahwa setiap engkau bertanya maka hadirlah aku di situ. Karena aku adalah pengetahuanmu.
Guru menggapai siswa:
Tetapi guru, setiap aku melihatmu maka tubuhku terasa ringan seakan-akan terbang tinggi setinggi langit. Tetapi pikiranku terasa berat seakan tenggelam di dasar laut. Mataku melebar seakan seluas gurun pasir. Bagaimana ini guru. Dapatkah engkau menolongku.
Orang berambut putih:
Sebenar-benar pertolongan datangnya dari Allah SWT, maka mohonlah pertolongan pada Nya.
Guru menggapai siswa:
Ya Tuhan, ampunilah segala dosaku, ampunilah segala dosa orang tuaku, ampunilah segala dosa leluhurku. Berikan aku pertolongan Mu ya Allah. Kenapa ilmuku telah membuatku berat untuk melangkah, ragu-ragu untuk menentukan, tidak yakin untuk memilih, tidak jelas untuk memandang.
Orang berambut putih:
Amien. Amien ya Robbal alamin. Aku ikut berdoa semoga terkabul segala permohonanmu.
Guru menggapai siswa:
Bukankah guru belum menjawab pertanyaanku.
Orang berambut putih:
Hah, apa tidak terbalik. Kalau tidak salah yang bertanya bukankah aku? Kan aku yang bertanya kepadamu, benarkah kamu merindukan murid-muridmu? Dan engkau belum menjawabnya.
Guru menggapai siswa:
Aku sekarang telah tidak mempercayaimu. Karena kamu telah pelupa dan tidak mengetahui keadaanku yang sebenarnya.
Orang berambut putih:
Mengapa.
Guru menggapai siswa:
Kenapa engkau tidak pula mengetahui bahwa sebenarnya saya telah bertanya kepadamu. Tetapi pertanyaanku tidak aku ucapkan. Dan kenapa engkau tidak pula mengerti akan hal itu.
Orang tua berambut putih:
Baik. Kalau engkau tidak mempercayaiku, maka aku sebaliknya. Kepercayaanku kepadamu justru meningkat sekarang, karena engkau semakin mempedulikanku. Itu pertanda bahwa engkau semakin cerdas. Aku akan tingkatkan bicaraku kepadamu, karena kamu telah meningkat ilmumu. Engkau telah mengajakku bicara tentang hakekat bertanya. Apakah sebenarnya pertanyaan itu? Apakah selalu bahwa pertanyaan itu perlu diucapkan? Bolehkan aku bertanya dalam hati saja? Apakah selalu bahwa pertanyaan memerlukan jawabannya? Bolehkah kita menanyakan semuanya yang ada?
Guru menggapai siswa:
Tentu saja guru. itulah yang ku inginkan.
Orang berambut putih:
Jika engkau punya keinginan itu, tentu aku pun boleh punya keinginan.
Guru menggapai siswa:
Apa keinginanmu guru?
Orang berambut putih:
Jika memang itu yang kau kehendaki, maka keinginanku adalah mengajakmu bicara tentang tidak hanya hakekat pertanyaan. Tetapi hakekat rindu, hakekat siswa, hakekat merindukan siswa, hakekat jalan, hakekat jalan menuju ke sekolah, hakekat sekolah, hakekat mengajar, hakekat belajar, hakekat matematika, hakekat matematika sekolah, hakekat mengajar, hakekat tanya jawab, hakekat metode pembelajaran, hakekat penilaian, hakekat ujian, hakekat, menghukum, hakekat memberi bekal, hakekat, motivasi, hakekat appersepsi, hakekat diskusi, hakekat kelompok, hakekat diskusi kelompok, hakekat kkompetensi, hakekat standard, hakekat silabus, hakekat RPP, hakekat alat peraga, hakekat sumber belajar, hakekat tugas, hakekat PR, hakekat kewajiban, hakekat kebutuhan, hakekat investasi, hakekat constructivis, hakekat contextual, hakekat..., hakekat..., hakekat, ...
Guru menggapai siswa:
Ampun guruku. Ampunilah aku, karena aku telah berlaku sombong dan telah menghinamu. Ternyata pengetahuanmu sangat tinggi dan luas. Banyak sekali apa-apa yang ada dalam pikiranmu, bermacam-macam lagi. Menjawab satu pertanyaanmu saja aku merasa tidak mampu. Sekali lagi mohon ampun aku wahai guruku.
Orang berambut putih:
Wahai muridku. Perkenankanlah aku sekarang memanggil engkau, muridku. Iba rasa hatiku, haru rasa hatiku setelah mendengar engkau memohon ampun berkali-kali. Padahal ketahuilah, bahwa sebenar-benar aku adalah ilmumu, maka tetesan air mata ini sebagi pertanda bahwa kita saling memaafkan. Karena jika engkau peka dan sensitif, aku juga telah berlaku sombong. Dengan membuat begitu banyak pertanyaan tanpa sempat memberimu kesempatan bukankah itu kesombonganku. Maka maafkanlah juga aku wahai muridku.
Guru menggapai siswa:
Bolehkan engkau menerangkan satu persatu apa yang kau maksud dengan bermacam-macam hakekat itu?
Orang berambut putih:
Boleh, tetapi kita juga terikat oleh ruang dan waktu. Maka katakanlah sebenarnya, diantara sekian banyak yang telah aku sebut itu, engkau akan menanyakan yang mana?

BERTEMU DENGAN MURID

Guru menggapai siswa:

Aku ingin bertanya hakekat RINDU dan CINTA
Orang berambut putih:
Baik. Rindu adalah keinginan untuk mengulangi pengalaman masa lampau. Tetapi ketahuilah bahwa adalah engkaulah yang mempunyai keinginan itu. Dan engkau pulalah yang mempunyai pengalaman itu. Padahal kita tahu, banyak orang mempunyai keinginan dan pengalaman yang berbeda-beda. Keinginanku dan pengalamanku jelas lain dengan keinginanmu dan pengalamanmu. Keinginanmu dan pengalamanmu jelas lain dengan keinginan dan pengalaman muridmu. Jadi jika engkau merindukan muridmu, maka belum tentulah muridmu itu merindukanmu. Maka waspadalah jika engkau mempunyai perasaan rindu. Jangan-jangan itu tidak lain tidak bukan adalah egomu. Maka aku sangat khawatir, ketika engkau mengatakan bahwa engkau merindukan untuk bertemu murid-muridmu. Karena jika betul-betul itu adalah egomu, maka hanyalah menjadi korban darimu itulah murid-muridmu. Adalah sebaliknya yang kita harapkan, yaitu keadaan yang sangat berpengharapan bilamana murid-muridmu itulah yang sebenar-benar merindukan dirimu. Maka jangan sekali-kali engkau merasa rindu kepada muridmu manakala itu adalah egomu. Biarlah bahwa muridmu itulah yang merindukanmu. Maka sebenar-benar rindu adalah miliknya dan bukan milikmu.
Guru menggapai siswa:
Kemudian kalau begitu apa pula hakekat cinta?
Orang tua berambut putih:
Setali tiga uang. Dari uraianku di atas, maka setiap kata-kata ku tentang rindu bisa kamu substitusikan dengan kata cinta. Maka aku juga mengkhawartirkan perasaan cintamu itu. Jangan-jangan maksudmu mencintai sesuatu justru sebetulnya merusak apa yang kau cintai itu. Dengan demikian maka tiadalah cinta yang kau dapat, melainkan penderitaan adanya. Bukankah pengalaman menunjukkan bahwa tidaklah selalu bahwa cinta itu berkesampaian. Orang jawa bilang "welas tanpa asih" itu adalah cinta karena egomu tetapi tidak cinta karena asih. Maka sebenar-benar cinta adalah miliknya bukan milikmu.
Guru menggapai siswa:
Aku belum begitu paham guru. Mengapa aku tidak boleh merindukan muridku sementara membiarkan muridku merindukan akan diriku. Mengapa kau juga mengkhawatirkan perasaan cintaku. Bukankah hal yang demikian tidak adil.
Orang berambut putih:
Itulah hakekat rindu, itulah hakekat cinta, itulah hakekat guru, itulah hakekat siswa. Mengapa? Pada hakekatnya guru adalah berbeda dengan siswa. Sudah pernah saya katakan bahwa guru adalah subyek yang berkuasa terhadap obyek siswa yang dikuasai. Maka hakekat rindu akan berbeda pula manakala dia berdomisili pada guru ataupun berdomisili pada siswa. Rindunya orang yang berkuasa tentu akan berbeda dengan rindunya orang yang dikuasai. Cintanya orang yang menguasai tentulah berbeda dengan cintanya orang yang dikuasai. Jikalau ada orang yang dikuasai merindukan terhadap orang yang menguasai itu adalah luar biasa. Tetapi sulit ditemukan. Jika ternyata memang ada maka akal kita pun sulit menerimanya. Mungkin adalah muridnya yang luar biasa atau gurunya yang luar biasa. Tetapi jangan salah paham, bahwa yang dimaksud luar biasa adalah diluar kebiasaan, jadi bisa positif tetapi juga bisa negatif. Maka aku juga dapat katakan bahwa rindu tidak lain tidak bukan adalah sifat yang melekat pada obyek. Guru bisa menjadi subyek sekaligus obyek, demikian juga siswa bisa menjadi obyek sekaligus subyek. Maka sebenar-benar rindu dan cinta adalah rindu dan cinta kepada Nya. Untuk menggapainya, maka itu sebenar-benar jalan mana yang engkau lalui.
Guru menggapai siswa:
Kenapa guru singgung-singgung tentang jalan. Bukankah guru tahu bahwa itulah awal kebingungan saya. Lalu apa hubungan "jalan" dengan rindu? Apa pula hubungan "jalan" dengan cinta?
Orang berambut putih:
Wahai muridku yang semakin budiman saja. Ketahuilah bahwa berbagai macam jalan yang berada di depan dan samping rumahmu itu sebenar-benar adalah ciptaanku. Aku sengaja ciptakan jalan itu agar kamu mau belajar. Ketahuilah bahwa jalan-jalan di depan rumahmu itu tidak lain adalah jalan hidupmu. Jalan hidupmu adalah pilihanmu. Maka sebenar-benar hidupmu adalah pilihanmu. Jalan hidupmu yang akan kau lalui. Maka jalan hidupmu tergantung pula oleh pengetahuanmu. Jika pengetahuanmu hanya sebatas mengajar dengan metode ceramah, maka hanya jalan ceramah itulah yang selalu ada dalam pikiranmu. tetapi jika pengetahuanmu sampai jalan konstruktivis, maka kamu juga bisa melalui jalan konstruktivis yang ada di samping rumahmu itu. Apakah jalan rindumu dan cintamu adalah egomu? Mengapa aku ciptakan banyak jalan untukmu. Jika engkau akan berangkat menuju ke Sekolahmu maka itulah sebenar-benar jalan yang dapat engkau pilih. Jalan-jalan itulah sebenar-benarnya metode menggapai siswa dan metode mengajarmu. Menggapai siswa dan metode mengajar tidaklah cukup hanya dengan mengandalkan satu metode saja yang selama ini kamu yakini dan kamu jalani. Untuk menggapai, menghantar dan melayani siswa agar dapat belajar matematika dengan baik, maka guru memerlukan banyak cara dan banyak metode yang diterapkan secara dinamis dan kreative sesuai dengan konteks pembelajaram, tingkat kemampuan siswa serta kemampuan yang akan dicapai. Maka tiadalah jalan lain bagimu untuk selalu mencoba jalan-jalan itu, walau suatu saat kamu terjatuh sekalipun. Jikalau perlu maka kau sendiri pulalah dapat membuat jalan-jalanmu itu. Itulah hakekat dirimu mengkonstruksi jalanmu untuk menggapai rindu dan cintamu. Melalui jalan-jalan itu, maka sinergi-dan tali temalikanlah dirimu dengan diri siswa agar kamu bisa melayani dan memberi kesempatan bagi siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya. Ketahuilah bahwa konstruksimu adalah berbeda dengan konstruksi siswamu. Maka jangan sekali-kali kau paksakan siswamu mengikuti jalan konstruksi pengetahuanmu. Berilah kesempatan agar siswamu juga mencoba banyak jalan-jalan di depan rumahmu. Namun itu pun belum mencukupi. Karena sebenar-benar hakekat muridmu adalah dia yang bisa membuat jalannya sendiri. Itulah sebenar-benar konstruktivisme. Sehingga dia pun bisa dan berhak menggapai rindu dan cintanya. Amien ya Robbal Alamien.
Guru menggapai murid:
Bisakah aku bertemu dengan muridku?
Orang tua berambut putih:
Lagi-lagi kamu menanyakan hakekat. Sebelum kau bisa bertemu dengan muridmu maka kenalilah dirimu. Sebelum kau bertemu dengan muridmu maka kenalilah muridmu itu. Namun aku sangsi apakah kamu sebenar-benar mampu mengenal dirimu. Ketahuilah dirimu adalah kata-katamu. Dirimu adalah pertanyaanmu. Dirimu adalah pikiranmu. Dirimu adalah kuasamu. Dirimu adalah mimpimu. Dirimu adalah kuasamu. Dirimu adalah bahasamu. Dirimu adalah perbuatanmu. Dirimu adalah doamu. Dirimu adalah amal kebajikanmu. Demikan juga siapakah diri muridmu itu. Demikian kau dapat menyebutnya seperti aku telah baru saja sebut yang banyak tadi. Jadi dirimu yang mana dan diri muridmu yang mana yang kamu harapkan akan bertemu. Maka di sini lagi-lagi kamu bertanya tentang hakekat pertemuan. Maka dapat aku katakan bahwa tiadalah dapat sebenar-benar kau dapat menggapai muridmu itu, kecuali kalau kau anggap sekaligus dirimu dan diri muridmu adalah ilmuku, karena ilmuku tidak lain tidak bukan adalah pengetahuanmu sekaligus pengetahuan muridmu. Itulah sebenar-benar belajar, yaitu jika kamu dan muridmu dapat bertemu di dalam ilmu berlandaskan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Jadi dalam iman, ilmu dan taqwa itulah sebenar-benar kamu bisa menggapai muridmu dan sebenar-benar belajar bagi muridmu. Namun itupun belum cukup karena sebenar-benar rindu dan cintamu adalah jika siswamu dalam iman, ilmu dan taqwa mampu membuat jalannya untuk menemuimu. Itulah sebenar-benar guru menggapai siswa yaitu jika siswamu telah menggapaimu. Amien.

15 comments:

  1. Totok Victor Didik Saputro
    18709251002
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Selamat pagi Prof.
    Manusia dianugerahkan rahmat yang berlimpah. Rahmat ini menuntun kita untuk dapat melakukan sesuatu hal dengan baik dan seturut dengan kehendak-Nya. Banyak hal yang bisa dilakukan dalam menjalani hidup. Artinya pilihan hadir ditengah-tengah kita. Pilihan yang diambil memiliki resiko. Resiko menuntut adanya tanggungjawab dalam menghadapinya. Tatkala rasa cemas akan muncul dengan sendirinya ketika kita sedang menjalani hidup ini. Seakan-akan tidak tahu arah dan langkah yang harus dituju. Artinya kita belum percaya dengan diri sendiri sehingga mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan. Serumit-rumitnya pilihan itu, ini adalah ciptaan Tuhan. Oleh karena itu, tentukanlah dengan segera pilihanmu dan percayalah Tuhan senantiasa mendampingi langkahmu dalam menjalani pilihan yang telah kamu tentukan. Terima kasih.

    ReplyDelete
  2. Janu Arlinwibowo
    18701261012
    PEP 2018

    Hidup merupakan pilihan, dimana setiap pilihan pasti memiliki alur yang berbeda walaupun pada dasarnya tujuannya sama, yaitu menuju kebaikan. Dari berbagai pilihan kita diminta untuk memilih satu diantaranya sebagai jalan hidup kita. Entah benar atau salah manusia harus terus berjalan, bahkan ketika berhenti pun kita dianggap telah memilih jalan karena waktu terus berputar, waktu tidak akan mau menunggu manusia. Fakta inilah yang mendasari seseorang harus memiliki bekal ilmu cukup, cukup untuk memilih jalan hidup. Jika tidak mau mencari ilmu, celakalah mereka karena tidak memiliki bekal, saat menemui kesulitan kemampuan menelesaikan masalah akan nampak jelas.

    ReplyDelete
  3. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Banyak jalan untuk menggapai sebuah tujuan. Banyaknya jalan yang ada menuntut kita untuk bisa memilih. Pada dasarnya hidup adalah pilihan. Jalan yang sudah kita pilih maka itulah yang harus kita hadapi dan kita pertanggungjawabkan. Sebagai seorang guru harus bisa menciptakan suasanya yang menyenangkan dan berkesan dalam proses pembelajaran bagi siswa. Suasana tersebut akan terus teringat dibenak siswa sampai kapanpun. guru yang selalu dinanti dan dirindukan oleh siswanya merupakan salah satu harapan dari setiap guru karena ini merupakan salah satu modal agar dapat memberikan pengetahuan kepada siswa dengan lebih mudah. Namun untuk mejadi guru yang terbaik tidak mudah, perlu adanya usaha yang keras dari guru. Mula-mula guru harus lebih memahami bagaimana tentang dirinya, apa kelemahan dan kekurangannya. Dengan memahami bagaimana dirinya maka ia bisa sadar apa yang harus dilakuakan dan bagaimana cara melakukannya. Hal ini berguna juga sebagai instropeksi diri dengan segala yang terjadi pada diri sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jadi, mempelajari tentang diri sendiri penting dilakukan diawal sebelum mempelajari tentang orang lain.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  4. Erma Zelfiana Surni
    18709251009
    S2. P.Matematika A 2018

    Assalamualaikum Wr. Wb
    Guru menggapai siswa ialah ketika rindu dan cinta yang ada pada guru, juga ada pada siswanya. Hal ini sangat sering kita jumpai dalam dunia mengajar rindu dan cinta guru yang bisa dikatakan bertepuk sebelah tangan. Anggapan rindu dan cinta guru yang dimaksud itu ternyata justru bukanlah rindu dan cinta, karena keduanya tidak berlandaskan pada pemahaman hakikat-hakikat yang ada dan mungkin ada dalam pembelajaran. Rindu guru bisa menjadi ego ketika guru hanya sebatas haus untuk terus mengajar tanpa mempertanyakan apakah siswanya sudah siap untuk pembelajaran-pembelajaran berikutnya. Cinta guru juga bisa menjadi ego ketika guru tidak memberikan kepercayaan kepada siswanya, sehingga melakukan metode pembelajaran satu arah dengan dalih atau mengatasnamakan cinta. Mengangap bahwa menjelaskan secara terus menerus adalah bukti cintanya untuk memahamkan siswa. Padahal diberi penjelasan secara terus menerus itu, justru membuat siswa jenuh, tertindas, terabaikan, membunuh potensi, dan kreativitasnya. Semua inilah yang membuat siswa tidak rindu dan cinta pada gurunya lebih-lebih mata pelajarannya.
    Tapi coba dibandingkan dengan guru yang selalu berusaha memahami kebutuhan para siswanya, memberikan kesempatan kepada siswanya untuk mengkonstruk pengetahuannya sendiri, mengembangkan potensi dan kreativitasnya, menggunakan metode bervariasi, memberikan kesempatan dan perhatian yang sama pada semua siswanya, dst. Namun Semua itu tidak akan bisa dimiliki guru tanpa adanya pengetahuan, refleksi dan pemahaman yang baik. Maka sudah menjadi jalannya untuk guru terus menerus belajar meningkatkan keterampilan dan kemampuan pedagogiknya. Sebenar-benar guru menggapai siswa adalah guru yang mampu menumbuhkan rindu dan rasa cinta dihati para siswanya. Sebenar-benar guru matematika menggapai siswa adalah guru yang mampu menumbuhkan rasa rindu dan cinta para siswanya untuk belajar matematika.

    ReplyDelete
  5. Falenthino Sampouw
    18709251006
    S2 Pendidikan Matematika

    Selamat siang, Prof.
    Sebenar-benarnya guru adalah siswa bagi dirinya sendiri. Ia siswa yang belajar dari seluruh pengalaman dan pengetahuannya baik tentang ilmu keguruannya maupun siswanya. Guru akan terus belajar bagaimana memahami siswanya, guru belajar untuk tahu kebutuhan siswanya. Sebenar-benarnya guru adalah siswa bagi seluruh aktivitas keguruannya. Menjadi guru juga sekaligus menjadi siswa. Guru yang terus-menerus mengajarkan siswa yang sulit dalam belajar, sebenarnya sedang belajar bagaimana harus mencapai kesuksesan dalam memberikan penjelasan itu, maka ia adalah siswa yang belajar.
    Belajar itu tidak enak begitu juga menjadi siswa. Bayangkan bagaimana seorang dengan profesi guru haruspun menjadi siswa bagi dirinya sendiri. Tentu sangat sulit. Namun demikian seorang guru terus mau menjalani itu. Bukankah itu bukti cinta yang luar biasa? Dan bukankah itu rasa rindu yang dipuaskan bagi dirinya sendiri?
    Terima kasih, Prof.

    ReplyDelete
  6. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Kenikmatan guru adalah bila melihat murid-muridnya tersenyum dan pastinya mempunyai akhlak plus ilmu yang tinggi dan bagus, sedangkan kenikmatan murid ialah memperoleh ilmu dari gurunya dan menerapakan dalam kehidupan sehari-hari. Sebenarnya guru dan siswa saling bersimbiosis mutualisme yang saling membutuhkan dan melengkapi, karena guru akan memperoleh ilmu baru di setiap bertemu siswa baik siswa asuhannya maupun siswa dari belahan bumi lainnnya dan siswa memperoleh ilmu dari guru di sekolah, di tempat les, di rumah, di mana saja yang mempunyai ilmu dan bisa mengajarkan hal baru pada siswa itu sudah termasuk hubungan simbiosis mutualisme.
    Termasuk kenikmatan untuk merindukan dan bersyukur oleh guru dan siswa maupun di luar guru dan siswa, bila membicarakan soal rindu ini tidak akan ada habisnya. Biasanya guru akan merindukan muridnya di hari libur sekolah, merindukan di sini dalam konteks merindukan mengajar siswa yang bermacam po;ah tingkahnya. Begitu pun juga dengan siswa yang merindukan sekolah bila hari libur sekolah telah tiba, mereka merindukan diajar oleh guru dan diberikan tugas. Tetapi, kebanyakan juga siswa merindukan teman-temannya karena tidak bertemu selama sekolah. Jadi, sebenar-benarnya guru menggapai siswa merupakan hal yang mustinya menjadi simbiosis mutualisme, tidak hanya guru tetapi siswa juga.

    ReplyDelete
  7. Rindang Maaris Aadzaar
    18709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Berdasarkan percakapan diatas, terdapat kalimat yang sangat saya sukai yaitu "sebenar-benar guru menggapai siswa yaitu jika siswamu telah menggapaimu". Hal ini bermakna jika sebagai seorang guru ingin menggapai muridnya dalam hal pembelajaran di kelas, maka pastikan juga jika murid telah menggapaimu sebagai gurunya. Guru dalam istilah jawa adalah digugu dan ditiru yang memiliki arti bahwa sesungguhnya menjadi seorang guru segala sesuatu yang dilakukan akan ditiru dan segala sesuatu yang diucapkan akan didengarkan oleh murid. Untuk menjadi guru yang baik harus bisa menjado guru yang mengisnpirasi muridnya sehingga muridnya menjadi tergerak hatinya untuk lebih serius lagi dalam pembelajaran di kelas. Hal ini tidak mudah karena diperlukan adanya ilmu yang cukup dan sikap taqwa yang tinggi sebagai seorang guru. Mengajar harus dilakukan dengan tulus ikhlas sehingga murid merasa menjadi bagian dari proses belajar mengajar yang penting sehingga dapat menggapai apa yang guru lakukan.
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  8. Assalamu Alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
    Besse Rahmi Alimin
    18709251039
    s2 Pendidikan Matematika 2018

    Terkait topik bahasan mengenai Elegi Seorang Guru Menggapai Siswa bahwa hal tersebut sangat erat kaitannya dengan Guru sebagai pengajar, pengajaran yang diberikan oleh seorang guru tidak dibatasi oleh apapun. Guru mengajarkan berbagai hal kepada siswanya, agar kelak siswanya bisa menghadapi hal-hal atau tantangan-tantangan zaman yang sudah berkembang.
    Guru sebagai pembimbing. Guru tidak hanya memberikan petunjuk kepada siswanya, tetapi guru juga harus bisa membimbing dan menemani siswanya dalam melangkah, menentukan kemana arah muridnya akan mengembangkan bakat-bakatnya. Guru juga harus bisa membimbing anak didiknya dalam membedakan mana yang baik dan mana yang buruk., agar kelak siswa tidak salah dalam menentukan jalan hidupnya.

    ReplyDelete
  9. Septia Ayu Pratiwi
    18709251029
    S2 Pendidikan Matematika B

    Banyak jalan menuju roma. Istilah ini dapat dikaitkan dengan pertanyaan guru tentang jalan mana yang seharusnya ia tempuh untuk bertemu dengan murid-muridnya. Maksud implisit dari kalimat tersebut yang dapat saya pahami adalah bahwa guru sebagai pendidik dan fasilitator bagi siswa mempunya berbagai jalan atau pilihan untuk memeberikan pembelajaran yang terbaik bagi siswa. Siswa adalah objek perlakuan dalam pembelajaran sehingga guru berhak memberikan treatment yang sesuai untuk siswa. Banyak metode dan pendekatan yang dapat dipilih oleh guru untuk diterapkan dalam pembelajaran. Seperti pendekatan kontruktivisme yaitu siswa menemukan dan mengkontruk sendiri ilmu pengetahuannya berdasarkan informasi yang ia peroleh dari sekitarnya. Tugas guru ialah mengarahkan dan memfasilitasi perkembangan siswa supaya lebih terarah. Guru dikatakan dapat menggapai siswanya jika apa yang telah ia ajarkan merasuk dan bermakna bagi siswa dengan memberikan output yang nyata.

    ReplyDelete
  10. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Hidup adalah pilihan. Manusia berhak memilih jalan hidup mana yang ia tempuh. Yang perlu diingat adalah dalam setiap pilihan tentu akan selalu ada konsekuensi yang harus ditanggung. Menjadi guru juga merupakan sebuah pilihan. Jikalau sudah menjadi guru, maka menjadi guru yang seperti apa juga merupakan suatu pilihan. Apakah sebatas guru yang ceramah dan berkuasa atas siswa saja sudah menjadi pilihan yang dirasa cukup, ataukan menjadi guru yang berusaha menggapai siswa? Semua tergantung pilihan masing-masing.
    Guru menggapai siswa adalah guru yang senantia berusaha mengenali siswanya. Mengenali siapa siswanya dan apa saja yang dibutuhkan oleh siswa. Guru menggapai siswa selalu berusaha untuk terus belajar memperbaiki diri dan memperbaiki segala hal yang menunjang proses belajar siswa. Karena sejatinya, dalam proses pembelajaran adalah tentang bagaimana memfasilitasi siswa untuk dapat menemukan jati diri, menggali, dan mengoptimalkan setiap potensi yang dimiliki oleh siswa.
    Kegiatan belajar mengajar adalah tentang siswa. Segala sesuatu harus didasarkan pada bagaimana siswa? Bahkan ikatan emosional tertinggi antara guru dan siswa adalah tentang bagaimana siswa dapat benar-benar mencintai dan merindukan gurunya. Karena di sana lah, hakekat sesungguhnya dari siswa yang menggapai gurunya.

    ReplyDelete
  11. Amalia Nur Rachman
    18709251042
    S2 Pendidikan Matematika B UNY 2018

    Kompetensi pedagogik merupakan kompetensi bagi seorang guru yang harus dikuasai dalam upayanya ‘menggapai’ siswa. Guru harus dapat mengenali karakteristik siswanya agar dapat mengoptimalkan pembelajaran. Apa yang dibutuhkan siswa, bagaimana keadaan siswa dan bagaimana cara yang sesuai untuk mengajarkan pada siswa harus dikuasai seorang guru. Guru berperan sebagai fasilitator pembelajaran agar dapat mendorong siswa dan memfasilitasi siswa untuk belajar. Dengan belajar, harapannya siswa akan mengamati dan mampu mengkomunikasikannya dengan orang atau siswa lain

    ReplyDelete
  12. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006
    PEP S3

    Dirimu adalah kata-katamu. Kata-kata yang kita ucapkan adalah cerminan diri kita. Oleh karena itu, ada pepatah berkata lah baik atau diam. Ketika kita berkata baik, maka, orang lain akan menganggap kita baik.

    ReplyDelete
  13. Fabri Hidayatullah
    18709251028
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Menjadi guru memang tidak mudah. Di samping harus bisa mengenali dirinya sendiri, guru juga harus bisa mengenali dan juga menyelami keinginan muridnya. Guru juga harus menyadari bahwa setiap siswa memiliki kemampuan, gaya belajar, dan karakter yang berbeda sehingga guru harus bisa mengembangkan pembelajaran, media, dan sumber yang bervariasi. Elegi ini telah mengingatkan guru bahwa sebaik-baik guru bukanlah yang merindukan muridnya, melainkan yang dirindukan oleh muridnya. Rasa rindu itu dapat dibangun dengan menciptakan pembelajaran yang sebaik-baiknya sehingga siswa tertarik untuk terus menerus belajar dan menemukan sendiri pengetahuannya.

    ReplyDelete
  14. Deden Hidayat
    18709251032
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Elegi seorang guru menggapai siswa di atas bahwa membuat kita lebih semangat lagi untuk menjadi seorang guru yang memiliki sebuah kualitas. Peran seorang guru dalam pembelajaran di kelas maupun diluar kelas merupakan sesuatu hal yang penting. Seorang guru berperan sebagai fasilitator siswa dalam proses pembelajaran yang terjadi, dimana guru membantu siswa dalam membentuk sebuah konsep dalam diri siswa. Hal tersebut akan terwujud tentunya jika seorang guru memiliki sebuah kualitas.

    ReplyDelete
  15. Rosi Anista
    18709251040
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr wb
    Dalam menjalani kehidupan tentunya kita menemui banyak pilihan/cara bagaimana kita menggapai suatu tujuan kehidupan. Seperti halnya dalam dunia pendidikan, seorang guru yang baik adalah guru yang memahami karakteristik dari peserta didiknya sehingga dapat menciptakan suatu pembelajaran yang baik dan menarik. Pembelajaran yang menarik akan meningkatkan ataupun memunculkan motivasi belajar dari dalam diri siswa. Sehingga siswa juga bisa lebih mudah dalam memahami materi pembelajaran.

    ReplyDelete