Sep 20, 2013

Elegi Seorang Guru Menggapai Siswa




Oleh: Marsigit

BERANGKAT KE SEKOLAH

Guru menggapai siswa:

Ketika aku akan berangkat ke Sekolah, tidak seperti biasanya hari ini. Kenapa tiba-tiba di depan rumahku telah ada beberapa jalan baru, ada jalan yang lurus dan lebar, ada jalan yang sempit dan berkelok-kelok, ada jalan yang kelihatannya licin, ada jalan yang berbatu-batu.Halaman rumahku juga tidak seperti biasanya, dia menjadi luas dan banyak tanaman serta hiasan jalan. Aku kemudian tertegun memikirkan apa yang sedang terjadi. Apakah ini sebuah mimpi atau kenyataan. Betul-betul aku tidak dapat membedakan. Kalau sebuah mimpi, mengapa aku bisa melihat, berjalan, bercakap-cakap dan lain-lain. Kalau sebuah kenyataan, mengapa aku tidak mengerti mengapa semua ini mesti terjadi?. Kepada siapa mesti aku bertanya. Jika aku bertanya kepada dia si tua berambut putih, jawabnya pasti adalah bahwa sebenar-benar ilmuku adalah antara mimpi dan kenyataan ini. Ah bosan aku. Paling jawabnya ya gitu-gitu aja. Ah itu ada orang lewat. Rambutnya tidak putih. Yang ini aku agak semangat untuk bertanya.
Pertanyaanku:
“Hai saudaraku, aku lihat engkau begitu nyaman dan enaknya melewati jalan-jalan itu. Padahal jalan itu bagiku begitu rumitnya, disamping bercabang-cabang, semit, licin lagi. Tetapi engkau begitu mahirnya, masih pakai sepatu roda lagi. Seakan-akan engkau sedang mengejekku saja. Bolehkah aku bertanya kepadamu, hai saudaraku”
Orang berambut tidak putih:
“ Oh, alhamdullilah. Aku telah tidak sengaja telah diberi kenikmatan oleh Tuhan untuk bisa bersilaturahim kepadamu. Baik, ingin bertanya apakah saudaraku juga?”
Pertanyaanku:
”Aku sudah beberapa waktu tidak mengajar. Aku merindukan siswaku. Tetapi tiba-tiba banyak jalan di depan rumahku. Aku bingung jalan mana yang harus ku lalui? Dapatkah kau menunjukkan jalan mana yang menuju ke Sekolah ku?”
Orang berambut tidak putih:
“Ampun tuanku, mengapa engkau mesti bertanya seperti itu? Bukankah sangat jelas terlihat bahwa jalan manapun yang engkau lewati semuanya bisa menuju ke Sekolah mu?”
Pertanyaanku:
“Apakah jalan yang lebar itu?”
Orang berambut tidak putih:
“Jalan yang lebar itu bisa juga. Anda jalan lurus saja sampai pertigaan, belok kiri sampai perempatan, kemudian belok kanan sampai perlimaan. Kemudian ambil tikungan yang no 3 dari kiri, setelah itu ada jalan menurun dan jembatan kemudian jalan menaik serta menelusuri tebing , terus sampai ditanah datar dan terdapat bangunan-bangunan baru. Diantara bangunan-bangunan baru itulah Sekolahmu berada”
Pertanyaanku:
“Bagaimana dengan jalan yang sempit di sebelah kiri ini?”
Orang berambut tidak putih:
“Boleh juga. Walaupun kelihatannya sempit, tetapi nanti setelah tikungan pertama, jalan ini akan melebar bahkan bercabang. Ambil cabang kiri teruskan sampai perempatan. Kemudian beloklah ke kanan sampai pertigaan. Kemudian belok kanan lagi sampai jalan berlubang kemudian naik sedikit. Setelah itu terlihatlah dua buah jembatan, maka teruskan sehingga menelusuri tebing, kemudian melingkar, karena ada taman di situ. Diujung jalan yang melingkar, engkau akan menemukan tanah datar beserta banyak bangunan di situ. Diantara banyak bangunan itulah, Sekolah mu berada.
Pertanyaanku:
“Aku bingung, bisakah engkau menghantarkanku ke Sekolah”
Orang berambut tidak putih:
“Maaf, karena aku juga harus mengajar pada jam yang sama, padahal sekolah kita lokasinya berbeda. Untuk saat ini aku tidak bisa menghantarmu. Mungkin lain kali. Baiklah saudaraku selamat bekerja dan sampai di sekolah kita masing-masing”

DI TENGAH KEBINGUNGAN, ORANG TUA BERAMBUT PUTIH TERNYATA MENGHAMPIRINYA

Orang berambut putih:

Aku dengar tadi kau merindukan murid-muridmu, benarkah itu?
Guru menggapai siswa:
Oh guruku. Tidak kusangka engkau menghampiriku lagi.
Orang berambut putih:
Sudah kukatakan, bahwa setiap engkau bertanya maka hadirlah aku di situ. Karena aku adalah pengetahuanmu.
Guru menggapai siswa:
Tetapi guru, setiap aku melihatmu maka tubuhku terasa ringan seakan-akan terbang tinggi setinggi langit. Tetapi pikiranku terasa berat seakan tenggelam di dasar laut. Mataku melebar seakan seluas gurun pasir. Bagaimana ini guru. Dapatkah engkau menolongku.
Orang berambut putih:
Sebenar-benar pertolongan datangnya dari Allah SWT, maka mohonlah pertolongan pada Nya.
Guru menggapai siswa:
Ya Tuhan, ampunilah segala dosaku, ampunilah segala dosa orang tuaku, ampunilah segala dosa leluhurku. Berikan aku pertolongan Mu ya Allah. Kenapa ilmuku telah membuatku berat untuk melangkah, ragu-ragu untuk menentukan, tidak yakin untuk memilih, tidak jelas untuk memandang.
Orang berambut putih:
Amien. Amien ya Robbal alamin. Aku ikut berdoa semoga terkabul segala permohonanmu.
Guru menggapai siswa:
Bukankah guru belum menjawab pertanyaanku.
Orang berambut putih:
Hah, apa tidak terbalik. Kalau tidak salah yang bertanya bukankah aku? Kan aku yang bertanya kepadamu, benarkah kamu merindukan murid-muridmu? Dan engkau belum menjawabnya.
Guru menggapai siswa:
Aku sekarang telah tidak mempercayaimu. Karena kamu telah pelupa dan tidak mengetahui keadaanku yang sebenarnya.
Orang berambut putih:
Mengapa.
Guru menggapai siswa:
Kenapa engkau tidak pula mengetahui bahwa sebenarnya saya telah bertanya kepadamu. Tetapi pertanyaanku tidak aku ucapkan. Dan kenapa engkau tidak pula mengerti akan hal itu.
Orang tua berambut putih:
Baik. Kalau engkau tidak mempercayaiku, maka aku sebaliknya. Kepercayaanku kepadamu justru meningkat sekarang, karena engkau semakin mempedulikanku. Itu pertanda bahwa engkau semakin cerdas. Aku akan tingkatkan bicaraku kepadamu, karena kamu telah meningkat ilmumu. Engkau telah mengajakku bicara tentang hakekat bertanya. Apakah sebenarnya pertanyaan itu? Apakah selalu bahwa pertanyaan itu perlu diucapkan? Bolehkan aku bertanya dalam hati saja? Apakah selalu bahwa pertanyaan memerlukan jawabannya? Bolehkah kita menanyakan semuanya yang ada?
Guru menggapai siswa:
Tentu saja guru. itulah yang ku inginkan.
Orang berambut putih:
Jika engkau punya keinginan itu, tentu aku pun boleh punya keinginan.
Guru menggapai siswa:
Apa keinginanmu guru?
Orang berambut putih:
Jika memang itu yang kau kehendaki, maka keinginanku adalah mengajakmu bicara tentang tidak hanya hakekat pertanyaan. Tetapi hakekat rindu, hakekat siswa, hakekat merindukan siswa, hakekat jalan, hakekat jalan menuju ke sekolah, hakekat sekolah, hakekat mengajar, hakekat belajar, hakekat matematika, hakekat matematika sekolah, hakekat mengajar, hakekat tanya jawab, hakekat metode pembelajaran, hakekat penilaian, hakekat ujian, hakekat, menghukum, hakekat memberi bekal, hakekat, motivasi, hakekat appersepsi, hakekat diskusi, hakekat kelompok, hakekat diskusi kelompok, hakekat kkompetensi, hakekat standard, hakekat silabus, hakekat RPP, hakekat alat peraga, hakekat sumber belajar, hakekat tugas, hakekat PR, hakekat kewajiban, hakekat kebutuhan, hakekat investasi, hakekat constructivis, hakekat contextual, hakekat..., hakekat..., hakekat, ...
Guru menggapai siswa:
Ampun guruku. Ampunilah aku, karena aku telah berlaku sombong dan telah menghinamu. Ternyata pengetahuanmu sangat tinggi dan luas. Banyak sekali apa-apa yang ada dalam pikiranmu, bermacam-macam lagi. Menjawab satu pertanyaanmu saja aku merasa tidak mampu. Sekali lagi mohon ampun aku wahai guruku.
Orang berambut putih:
Wahai muridku. Perkenankanlah aku sekarang memanggil engkau, muridku. Iba rasa hatiku, haru rasa hatiku setelah mendengar engkau memohon ampun berkali-kali. Padahal ketahuilah, bahwa sebenar-benar aku adalah ilmumu, maka tetesan air mata ini sebagi pertanda bahwa kita saling memaafkan. Karena jika engkau peka dan sensitif, aku juga telah berlaku sombong. Dengan membuat begitu banyak pertanyaan tanpa sempat memberimu kesempatan bukankah itu kesombonganku. Maka maafkanlah juga aku wahai muridku.
Guru menggapai siswa:
Bolehkan engkau menerangkan satu persatu apa yang kau maksud dengan bermacam-macam hakekat itu?
Orang berambut putih:
Boleh, tetapi kita juga terikat oleh ruang dan waktu. Maka katakanlah sebenarnya, diantara sekian banyak yang telah aku sebut itu, engkau akan menanyakan yang mana?

BERTEMU DENGAN MURID

Guru menggapai siswa:

Aku ingin bertanya hakekat RINDU dan CINTA
Orang berambut putih:
Baik. Rindu adalah keinginan untuk mengulangi pengalaman masa lampau. Tetapi ketahuilah bahwa adalah engkaulah yang mempunyai keinginan itu. Dan engkau pulalah yang mempunyai pengalaman itu. Padahal kita tahu, banyak orang mempunyai keinginan dan pengalaman yang berbeda-beda. Keinginanku dan pengalamanku jelas lain dengan keinginanmu dan pengalamanmu. Keinginanmu dan pengalamanmu jelas lain dengan keinginan dan pengalaman muridmu. Jadi jika engkau merindukan muridmu, maka belum tentulah muridmu itu merindukanmu. Maka waspadalah jika engkau mempunyai perasaan rindu. Jangan-jangan itu tidak lain tidak bukan adalah egomu. Maka aku sangat khawatir, ketika engkau mengatakan bahwa engkau merindukan untuk bertemu murid-muridmu. Karena jika betul-betul itu adalah egomu, maka hanyalah menjadi korban darimu itulah murid-muridmu. Adalah sebaliknya yang kita harapkan, yaitu keadaan yang sangat berpengharapan bilamana murid-muridmu itulah yang sebenar-benar merindukan dirimu. Maka jangan sekali-kali engkau merasa rindu kepada muridmu manakala itu adalah egomu. Biarlah bahwa muridmu itulah yang merindukanmu. Maka sebenar-benar rindu adalah miliknya dan bukan milikmu.
Guru menggapai siswa:
Kemudian kalau begitu apa pula hakekat cinta?
Orang tua berambut putih:
Setali tiga uang. Dari uraianku di atas, maka setiap kata-kata ku tentang rindu bisa kamu substitusikan dengan kata cinta. Maka aku juga mengkhawartirkan perasaan cintamu itu. Jangan-jangan maksudmu mencintai sesuatu justru sebetulnya merusak apa yang kau cintai itu. Dengan demikian maka tiadalah cinta yang kau dapat, melainkan penderitaan adanya. Bukankah pengalaman menunjukkan bahwa tidaklah selalu bahwa cinta itu berkesampaian. Orang jawa bilang "welas tanpa asih" itu adalah cinta karena egomu tetapi tidak cinta karena asih. Maka sebenar-benar cinta adalah miliknya bukan milikmu.
Guru menggapai siswa:
Aku belum begitu paham guru. Mengapa aku tidak boleh merindukan muridku sementara membiarkan muridku merindukan akan diriku. Mengapa kau juga mengkhawatirkan perasaan cintaku. Bukankah hal yang demikian tidak adil.
Orang berambut putih:
Itulah hakekat rindu, itulah hakekat cinta, itulah hakekat guru, itulah hakekat siswa. Mengapa? Pada hakekatnya guru adalah berbeda dengan siswa. Sudah pernah saya katakan bahwa guru adalah subyek yang berkuasa terhadap obyek siswa yang dikuasai. Maka hakekat rindu akan berbeda pula manakala dia berdomisili pada guru ataupun berdomisili pada siswa. Rindunya orang yang berkuasa tentu akan berbeda dengan rindunya orang yang dikuasai. Cintanya orang yang menguasai tentulah berbeda dengan cintanya orang yang dikuasai. Jikalau ada orang yang dikuasai merindukan terhadap orang yang menguasai itu adalah luar biasa. Tetapi sulit ditemukan. Jika ternyata memang ada maka akal kita pun sulit menerimanya. Mungkin adalah muridnya yang luar biasa atau gurunya yang luar biasa. Tetapi jangan salah paham, bahwa yang dimaksud luar biasa adalah diluar kebiasaan, jadi bisa positif tetapi juga bisa negatif. Maka aku juga dapat katakan bahwa rindu tidak lain tidak bukan adalah sifat yang melekat pada obyek. Guru bisa menjadi subyek sekaligus obyek, demikian juga siswa bisa menjadi obyek sekaligus subyek. Maka sebenar-benar rindu dan cinta adalah rindu dan cinta kepada Nya. Untuk menggapainya, maka itu sebenar-benar jalan mana yang engkau lalui.
Guru menggapai siswa:
Kenapa guru singgung-singgung tentang jalan. Bukankah guru tahu bahwa itulah awal kebingungan saya. Lalu apa hubungan "jalan" dengan rindu? Apa pula hubungan "jalan" dengan cinta?
Orang berambut putih:
Wahai muridku yang semakin budiman saja. Ketahuilah bahwa berbagai macam jalan yang berada di depan dan samping rumahmu itu sebenar-benar adalah ciptaanku. Aku sengaja ciptakan jalan itu agar kamu mau belajar. Ketahuilah bahwa jalan-jalan di depan rumahmu itu tidak lain adalah jalan hidupmu. Jalan hidupmu adalah pilihanmu. Maka sebenar-benar hidupmu adalah pilihanmu. Jalan hidupmu yang akan kau lalui. Maka jalan hidupmu tergantung pula oleh pengetahuanmu. Jika pengetahuanmu hanya sebatas mengajar dengan metode ceramah, maka hanya jalan ceramah itulah yang selalu ada dalam pikiranmu. tetapi jika pengetahuanmu sampai jalan konstruktivis, maka kamu juga bisa melalui jalan konstruktivis yang ada di samping rumahmu itu. Apakah jalan rindumu dan cintamu adalah egomu? Mengapa aku ciptakan banyak jalan untukmu. Jika engkau akan berangkat menuju ke Sekolahmu maka itulah sebenar-benar jalan yang dapat engkau pilih. Jalan-jalan itulah sebenar-benarnya metode menggapai siswa dan metode mengajarmu. Menggapai siswa dan metode mengajar tidaklah cukup hanya dengan mengandalkan satu metode saja yang selama ini kamu yakini dan kamu jalani. Untuk menggapai, menghantar dan melayani siswa agar dapat belajar matematika dengan baik, maka guru memerlukan banyak cara dan banyak metode yang diterapkan secara dinamis dan kreative sesuai dengan konteks pembelajaram, tingkat kemampuan siswa serta kemampuan yang akan dicapai. Maka tiadalah jalan lain bagimu untuk selalu mencoba jalan-jalan itu, walau suatu saat kamu terjatuh sekalipun. Jikalau perlu maka kau sendiri pulalah dapat membuat jalan-jalanmu itu. Itulah hakekat dirimu mengkonstruksi jalanmu untuk menggapai rindu dan cintamu. Melalui jalan-jalan itu, maka sinergi-dan tali temalikanlah dirimu dengan diri siswa agar kamu bisa melayani dan memberi kesempatan bagi siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya. Ketahuilah bahwa konstruksimu adalah berbeda dengan konstruksi siswamu. Maka jangan sekali-kali kau paksakan siswamu mengikuti jalan konstruksi pengetahuanmu. Berilah kesempatan agar siswamu juga mencoba banyak jalan-jalan di depan rumahmu. Namun itu pun belum mencukupi. Karena sebenar-benar hakekat muridmu adalah dia yang bisa membuat jalannya sendiri. Itulah sebenar-benar konstruktivisme. Sehingga dia pun bisa dan berhak menggapai rindu dan cintanya. Amien ya Robbal Alamien.
Guru menggapai murid:
Bisakah aku bertemu dengan muridku?
Orang tua berambut putih:
Lagi-lagi kamu menanyakan hakekat. Sebelum kau bisa bertemu dengan muridmu maka kenalilah dirimu. Sebelum kau bertemu dengan muridmu maka kenalilah muridmu itu. Namun aku sangsi apakah kamu sebenar-benar mampu mengenal dirimu. Ketahuilah dirimu adalah kata-katamu. Dirimu adalah pertanyaanmu. Dirimu adalah pikiranmu. Dirimu adalah kuasamu. Dirimu adalah mimpimu. Dirimu adalah kuasamu. Dirimu adalah bahasamu. Dirimu adalah perbuatanmu. Dirimu adalah doamu. Dirimu adalah amal kebajikanmu. Demikan juga siapakah diri muridmu itu. Demikian kau dapat menyebutnya seperti aku telah baru saja sebut yang banyak tadi. Jadi dirimu yang mana dan diri muridmu yang mana yang kamu harapkan akan bertemu. Maka di sini lagi-lagi kamu bertanya tentang hakekat pertemuan. Maka dapat aku katakan bahwa tiadalah dapat sebenar-benar kau dapat menggapai muridmu itu, kecuali kalau kau anggap sekaligus dirimu dan diri muridmu adalah ilmuku, karena ilmuku tidak lain tidak bukan adalah pengetahuanmu sekaligus pengetahuan muridmu. Itulah sebenar-benar belajar, yaitu jika kamu dan muridmu dapat bertemu di dalam ilmu berlandaskan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Jadi dalam iman, ilmu dan taqwa itulah sebenar-benar kamu bisa menggapai muridmu dan sebenar-benar belajar bagi muridmu. Namun itupun belum cukup karena sebenar-benar rindu dan cintamu adalah jika siswamu dalam iman, ilmu dan taqwa mampu membuat jalannya untuk menemuimu. Itulah sebenar-benar guru menggapai siswa yaitu jika siswamu telah menggapaimu. Amien.

35 comments:

  1. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Samgat banyak yang dijelaskan pada elegi di atas, salah satunya tentang rindu dan cinta. Rindu dan cinta sejatinya adalah sifat yang melekat pada benda, yang susah dijelaskan pada benda. Rindu dan cinta tergantung pada subyek yang merasakan, akan berbeda jika subyek yang berkuasa terhadap subyek lain yang merasakan rindu, misalnya guru merindukan siswa, sejatinya rindu itu tak lagi murni karena ada motif tertentu mengapa guru merindukan siswa.

    ReplyDelete
  2. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada elegi di atas terdapat bagian yang menggambarkan banyak jalan menuju ke sekolah, ada jalan yang lurus dan lebar, jalan yang sempit, jalan yang licin, jalan yang berbatu. Jalan-jalan tersebut menggambarkan metode yang digunakan oleh guru dalam mengajar. Jika guru menggunakan metode yang tepat diibaratkan jalan yang lebar dan lurus, maka siswa akan menerima ilmu dari guru dengan baik tanpa kesulitan.

    ReplyDelete
  3. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Jika kelak kita menjadi seorang guru, maka akan menemui berbagai macam karakter yang dimiliki siswanya. Ada yang pandai, dapat dengan mudah memahami apa yang dipelajari, ada yang harus dijelaskan baru bias memahami, tetapi ada yang sudah dijelaskan tetapi masih belum bias memahami. Tantangan bagi seorang guru menghadapi siswanya. Guru harus bias memahami karakter siswanya dan mengajar dengan sepenuh hati dan keikhlasan, dengan menerapkan metode pembelajaran yang tepat untuk diterapkan pada siswanya. Dan tentu saja selalu mendoakan untuk keberhasilan siswa-siswanya.

    ReplyDelete
  4. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)
    Guru memegang peranan penting dalam dunia pendidikan. Seorang guru diharapkan dapat berkomunikasi, pandai mengasuh dan menjadi teman belajar bagi siswa untuk tumbuh dan berkembang. Terjadinya komunikasi antar guru dan siswa, serta siswa dengan siswa, tidak bisa dilepaskan dari cara guru tersebut menciptakan suasana belajar mengajar yang efektif. Guru harus mampu membangun motivasi siswa, melibatkan siswa dalam proses belajar mengajar serta pandai menarik minat dan perhatian siswa.

    ReplyDelete
  5. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Hakekatnya, guru berbeda dengan siswa. Guru adalah subjek yang berkuasa, sedangkan siswa adalah objek yang dikuasai. Maka hakekat rindu akan berbeda pada siapa rindu itu hinggap, entah itu pada guru (sebagai subjek yang berkuasa) ataupun pada siswa (objek yang dikuasai). Rindu dan cintanya orang yang berkuasa tentu akan berbeda dengan rindu dan cintanya orang yang dikuasai. Jika ada orang yang dikuasai merindukan terhadap orang yang menguasai itu adalah luar biasa karena sungguh sulit ditemukan,kalau pun ada maka sulit kita meyakininya. Jika ada murid yang notabene bertindak sebagai objek merindukan gurunya maka hal tersebut sungguh lah luar biasa karena merupakan hal langka. Maka sebenar-benar rindu dan cinta adalah rindu dan cinta kepada Tuhan YME. Semoga cinta dan rindu perjumpaan dengan-Nya, membawa kita ke kebahagiaan yang abadi sisi-Nya.

    ReplyDelete
  6. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    S2 PM A

    Sebagai seorang guru sudah seyogyanya memiliki sikap memahami murid-muridnya. Untuk memahami murid-muridnya banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru, tergantung cara apa yang akan dipilih guru tersebut dan bagaimana menerapkannya secara optimal, dimulai dari ia harus melakukan pendekatan maupun interaksi kepada muridnya. Diiringi dengan memberikan ilmu yang yang didasari dengan iman dan taqwa maka akan mengantarkan guru menjadi lebih dekat dengan muridnya.

    ReplyDelete
  7. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dalam elegi ini dijelaskan bagaimana kehidupan seorang guru sebenarnya di hamparkan luas dengan pilihan metode apa yang akan digunakan. Namun begaimana menggunakan dan memilih metode ini yang dapat membuat siswa merasa rindu dan cinta pada ilmu. Guru yang dapat mengetahui apa yang diinginkan oleh siswanya, bukan guru yang otoriter merasa tahu segalanya.

    ReplyDelete
  8. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Setelah membaca ini, hal yang saya dapati adalah bagaimana guru memilih metode dalam mengajar di kelas. Karakter siswa sangat beraneka ragam, semuanya akan bermuara pada hal yang sama yaitu membangun pengetahuan dan pemahaman siswa. Setiap metode yang dilakukan pasti memiliki cara yang berbeda-beda, proses yang berbeda ketika dijalankan. Ketika kita mencoba berbagai proses itu maka kita akan menemukan keunggulan dan kelemahan masing-masing siswa. Ketika hanya menggunakan satu saja pasti ada siswa yang tidak paham. Oleh karena itu kita harus mencoba berbagai metode agar kita bisa mengenal siswa kita dan membantu mereka dalam membangun pengetahuan dan pemahaman mereka sendiri.

    ReplyDelete
  9. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Agar siswa tidak merasa bosan dan bersemangat dalam belajar, guru seharusnya mengajar dengan metode yang bervariasi atau tidak monoton. Atau memfasilitasi siswa supaya belajar dengan baik. Untuk itu diperlukan cara agar sebagian besar siswa dapat terfasilitasi dengan baik. Karena karakter siswa itu berbeda-beda, maka tidak ada cara terbaik dalam mengajar. Tetapi yang bisa dilakukan adalah dengan mengombinasi metodenya. Ketika semua siswa terfasilitasi dengan baik, maka akan tercipta pembelajaran yang baik sehingga hasilnya pun akan maksimal

    ReplyDelete
  10. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Bagaimana seorang guru membuat pilihan metode apa yang akan diterapkan ketika mengajar dengan tujuan membuat siswa menyukai ilmu yang dipelajari. Dalam hal ini pertimbangan utama bagi seorang guru dalam metode pembelajaran adalah karakteristik siswa. setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda beda sehingga menyebabkan pencapaian keberhasilan belajar siswa pun tentu berbeda antara satu dengan yang lainnya. Metode pelajaran yang dipilih guru hendaknya yang melibatkan siswa belajar secara aktif dan memberikan kesempatan pada siswa serta mampu memfasilitasi semua siswa baik itu yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah untuk mengkonstruk pemikirannya. Pemahaman yang berasal dari siswa itu sendiri akan terasa lebih berkesan bagi siswa, sehingga harapannya siswa lebih memahami dan tau apa yang dipelajari. Saya pribadi juga akan menyukai suatu pelajaran jika saya paham dan mengerti apa yang saya pelajari.

    ReplyDelete
  11. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postigannya, Pak. Dari elegi ini, saya bisa mengambil pelajaran bahwa peran guru sangatlah besar bagi perkembangan siswanya. Namun ini tidak berarti guru dapat memanfaatkan hak itu sewenang-wenang dengan mematikan kreativitas siswanya. Justru sebaliknya, peran guru adalah memfasilitasi siswa untuk dapat mengembangkan diri dan pengetahuan mereka seluas-luasnya.

    ReplyDelete
  12. Junianto
    PM C
    17706251065

    Menjadi seorang pendidik tentu bukanlah hal yang mudah. Saya sepakat dengan artikel Prof Marsigit bahwa sebelum menjadi pendidik kita harus mengenal diri kita sendiri. Mengenal secara mendalam sehingga tidak ada orang lain tahu tentang detailnya diri kita. Hal ini tentu tidaklah cukup, karena kita juga harus mengenal siswa. Dan sebaik-baik belajar adalah belajar yang dilandasi dengan iman dan taqwa kepada Tuhan YME yang dibarengi dengan keikhlasan hati. Dalam mengajar juga harus memahami kondisi psikologis siswa, sehingga dengan banyaknya metode pembelajaran bisa disesuaikan dengan kondisi siswa.

    ReplyDelete
  13. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Kehidupan seperti kita keluar dari sebuah ruangan, dan menghadapi berbagai macam jalan yang bercabang. Benar, sekali lagi kehidupan mengajarkan kita untuk menjadi insan yang BERANI untuk menentukan pilihan. Begitu pula ketika kita menjadi seorang guru, banyak pilihan yang bisa kita ambil. Kita bisa untuk menjadi guru yang arogan yang menganggap kita paling benar dan pintar sehingga kita menganggap siswa hanyalah tong kosong yang akan kita isi dengan ilmu kita.

    ReplyDelete
  14. Atau kita juga bisa menjadi guru yang baik dengan menganggap siswa sebagai pusat pembelajaran sehingga kita tidak seenaknya dalam kegiatan pembelajaran. anggap siswa sebagai sebuah benih yang akan kita pupuk untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki. Sekali lagi jangan pernah merasa puas, meskipun kita sudah merasa baik, tetapi tidak ada salahnya ketika kita berusaha memperbaiki diri agar menjadi lebih baik. Wallahualam

    ReplyDelete
  15. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Menjadi guru memang tidak mudah. Di samping harus bisa mengenali dirinya sendiri, guru juga harus bisa mengenali dan juga menyelami keinginan muridnya. Guru juga harus menyadari bahwa setiap siswa memiliki kemampuan, gaya belajar, dan karakter yang berbeda sehingga guru harus bisa mengembangkan pembelajaran, media, dan sumber yang bervariasi. Elegi ini telah mengingatkan guru bahwa sebaik-baik guru bukanlah yang merindukan muridnya, melainkan yang dirindukan oleh muridnya. Rasa rindu itu dapat dibangun dengan menciptakan pembelajaran yang sebaik-baiknya sehingga siswa tertarik untuk terus menerus belajar dan menemukan sendiri pengetahuannya.

    ReplyDelete
  16. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Sebagai seorang pendidik dan pengajar sudah seharusnya dapat memahami setiap watak, sikaf, dan karakter siswanya. Suatu pembelajaran dikelas akan lebih efektif dan efisien apabila guru dapat memfasilitasi muridnya sesuai dengan kemampuan dan karakter prilaku siswanya sehingga pembelajaran yang dilakukan dapat lebih terarah dengan begitu guru juga akan lebih mudah dalam menganalisa metode apa yang akan digunakan ketika akan mengajar di dalam kelas.

    ReplyDelete
  17. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Untuk menggapai satu tujuan kita dihadapkan pada banyak jalan, seperti guru yang dilukiskan pada elegi tersebut .ia dihadapkan pada keadaaan yang sangat sulit yaitu dengan banyaknya jalan untuk menuju pada satu titik.Ia diharuskan memilih satu pilihan dengan mengabaikan pilihan yang lain.Dan seperti itulah hidupJjika itu yang kita pilih maka itulah pilihan yang terbaik dari hidup kita.Di lain sisi,seorang guru diingatkan melalui eleg tersebut bahwa guru tidak harus tertuju pada satu cara menga di dalam mengajar masih banyak cara yang lain.Seorang guru juga diharapakan memberikan kesempatan kepada murid untuk memilih cara belajarnya dengan tidak memaksa apa yang kita inginkan terhadap murid.

    ReplyDelete
  18. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Sebagai seoorang guru, pengalaman merupakan hal yang sangat penting. Jalan lurus, jalan berliku atau memuncak sekalipun semestinya pernah dilakukan guru. Pengalaman tersebut bukan sekedar bertujuan untuk memiliki cakrawala dalam memahami siswa, tapi dimulai dari memahami diri sendiri.

    ReplyDelete
  19. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Kunci kesuksesan pembelajaran adalah kemampuan guru dalam memahami karakter siswa dalam belajar. Setiap manusia dilahirkan dengan karakter yang berbeda-beda, begitu pula dengan siswa. Terkadang kita berfikir bahwa siswa ini lambat dalam memahami pelajaran karena ketidakmampuan siswa dan melimpahkan kesalahan kepada siswa. Namun, sebagai guru saat siswa tidak mengerti dengan penjelasan kita seharusnya yang harus introkspeksi dalam adalah guru itu sendiri.

    ReplyDelete
  20. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Saya membaca ulasan di atas berkali-kali. Hal ini dikarenakan saya ingin melihat isi yang ada di dalamnya. Saat membacanya, ada perasaan senang, sedih dan jalan keluar dari apa yang selama ini saya ragukan. Sungguh, ini benar-benar ulasan yang membuat saya mampu merefleksikan secara asik dan membuat pikiran saya menjadi lebih tenang. Ini pula ada dalam pengalaman saya pada hari ini dan di masa lampau. Lagi lagi saya merasa senang ketika membaca ulasan demi ulasan. Satu hal yang saya cermati kebesaran hati untuk selalu memaafkan orang lain itu sangat penting.

    ReplyDelete
  21. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmu yang sangat menarik dan bermanfaat ini
    Mengikutinya dengan pelan-pelan. Sungguh, di sini, sekali lagi saya disadarkan akan diri saya yang penuh keterbatasan. Karena, setelah dua kali membaca elegi ini, belum juga daku berani berpendapat.
    Bukan untuk mengambil sepenggal-sepenggal, tapi saya benar-benar tertarik dengan statement pada elegi ini bahwa sebenar-benar guru menggapai siswa adalah jika siswamu telah menggapaimu (guru). Sontak saya langsung teringat dengan elegi yang pernah say abaca sebelumnya, yaitu tentang elegi guru menggapai kesempatan?
    Di luar pertanyaan saya tersebut, pendapat saya, saya melihat bahwa dalam elegi ini terdapat satu pesan moral yaitu guru yang berhasil adalah guru yang tidak menutup kesempatan siswanya. Terimakasih, mohon maaf atas pendapat saya jika tidak sesuai dengan yang dimaksudkan pada elegi ini.

    ReplyDelete
  22. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi ini saya memahami bahwa bagaimana langkah seorang guru dalam memilih metode pembelajaran di kelas. Dalam memilih metode pembelajaran, guru tidak dapat serta merta memilih metode yang sesuai dengan keinginannya sendiri, namun perlu diperhatikan bagaimana karakteristik siswanya. Selain itu guru juga harus mempertimbangkan metode pembelajaran yang akan digunakan apakah sesuai dengan materi pembelajaran, bagaimana kelemahan dan keunggulan dari metode tersebut. Banyak langkah yang sebenarnya dapat dilakukan guru dalam menginovasikan metode pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada, seperti yang digambarkan dalam elegi di atas sebagai jalan yang bercabang.
    Namun yang lebih penting dari itu semua adalah bagaimana cara guru mengajar agar siswanya rindu terhadap mereka dan juga rindu dengan ilmu. Dengan demikian proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik dan siswa mampu membangun pengetahuannya sendiri.

    ReplyDelete
  23. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Terimakasih prof. Marsigit atas artikel kali ini. Sungguh ulasan yang sangat banyak pesan dan pelajaran di dalamnya. Namun satu hal yang menarik bagi saya adalah sebelum mengenal orang lain, kenali dulu diri kita. Ini sangat penting sebagai bahan refleksi diri saya apakah saya sudah mengenal diri saya yang sebenarnya apa hanya mitos, kesombongan, dan nafsu yang menguasai dan menutup penglihatan dan kesadaran diri saya seperti apa sebenarnya. Menggapai siapa, bagaimana, kapan, dimana, mengapa, dan segala yang ada dan yang mungkin ada tentang siswa bukanlah hal yang mudah bagi guru. Sehingga instropeksi diri merupakan tahapan paling penting seorang guru sebelum ia membuat statement dan kesimpulan tentang siswa nya. Sungguh ini menyindir pengalaman saya yang telah lampau, namun saya menjadi tahu setiap sisi kekurangan dan kelemahan yang saya punya, dan ingin mencoba untuk memperbaiki dan menginstropeksikannya. Alhamdulillah, Wallahu'alam bishowab.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  24. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Benar, alur elegi ini apik. Setiap membaca kalimat dari elegi ini, saya terbawa oleh suasana dalam percakapan. Yang tanpa saya sadari, ini sering terjadi kepada saya sendiri. Seperti cerminan dalam kehidupan nyata bagi seorang pendidik. Makna dari kata “rindu” dan “cinta” akan pendidikan itu sangatlah dalam. Makna yang dijelaskan lebih dalam daripada bayangan say sebelumnya yang hanya mementingkan rasa rindu dan cinta akan sosok murid. Elegi ini memberi pelajaran bagaimana cara membalik itu semua, bagaimana mencipatakan rasa rindu dan cinta itu agar tertanam ke diri siswa? ya itu tugas kita sebagai pendidik untuk dapat membuat dan menghidupkan pengalaman yang baik dan indah untuk para siswanya. Karena mencari ilmu itu tidak bisa dipaksakan, perlu keikhlasan untuk terus menggali ilmu.

    ReplyDelete
  25. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Ada banyak pelajaran yang termuat dalam elegi ini. Namun ada satu pelajaran yang menurut saya sangat menarik dan baru bagi saya pribadi. Yaitu pelajaran bahwa sebenar-benar rindu ataupun cinta adalah yang melekat pada objek. Rindunya orang yang menguasai tentu berbeda dengan rindunya yang dikuasai, sebagaimana juga berlaku pada cinta. Dengan memahami ini kita perlu berhati-hati, jangan-jangan rindu dan cinta kita pada murid kita selama ini hanyalah ego kita, yang justru dapat merusak dan membuat murid kita menderita

    ReplyDelete
  26. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Modal guru mengajar adalah mencintai muridnya, meletakkan mereka di dalam hati, menghormati mereka sebagai pribadi.Saya punya kebiasaan mendoakan murid saya Sebelum mulai kelas pertama kali.saya minta daftar hadir, Dan menyebut nama mereka satu per satu dalam doa Saya. Dengan melakukan Hal itu, Saya meletakkan mereka dalam hati Saya Dan mulai mencintai mereka dalam hati Saya.
    Cinta itu dapat membuat kita Kreatif, Ada banyak cara Dan jalan akan ditempuh untuk perkembangan diri murid murid.
    Mari bersama, letakkan hati pada murid agar mereka mulai belajar Dan maju, mekar segala potensi nya.

    ReplyDelete
  27. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Diperlukan banyak hal untuk guru dapat menggapai siswa. Metode, model, dan pendekatan pembelajaran yang bervariasi sangat dibutuhkan. Penggunaan ketiga hal tersebut tentunya disesuaikan denga berbagai faktor yang ada seperti materi dan kondisi siswa. Pembelajaran dikatakan berhasil adalah ketika tujuan pembelajaran dapat tercapai, untuk mencapainya diperlukan interaksi positif antara guru dengan siswa, guru dan siswa saling mendukung satu sama lain.

    ReplyDelete
  28. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Sebenar-benar rindu adalah jika orang lain merindukanmu. Dalam pembelajaran di sekolah, ada guru yang selalu dirindukan siswa, dinanti-nantikan kehadirannya. Namun ada juga guru yang dihindari siswa, siswa berharap kalau guru tersebut tidak hadir. Pengalaman saya dalam mengajar, saya pernah mengajar kelas yang siswa-siswanya kangen diajar saya, misal saya tidak hadir mengajar, maka di pertemuan berikutnya siswa akan menanyakannya. Namun saya juga pernah mengajar kelas yang saat saya mau masuk kelasnya saja, saya sudah tidak semangat, dikarenakan mungkin cara mengajar saya tidak sesuai ruang dan waktu mereka.

    ReplyDelete
  29. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dalam hidup, kita tidak pernah tahu pasti apa yang akan terjadi. Kita hanya bisa berencana, dan setinggi-tingginya ilmu manusia hanya dapat memperkirakan atau memprediksi sesuai pengalaman dan teori yang ada. Menjadi guru adalah sebuah perjalanan dalam hidup yang dipenuhi oleh tantangan dan pilihan, yang terus berkembang dan berubah-ubah setiap waktu. Tuntutan kurikulum, tanggung jawab terhadap nilai siswa, ambisi untuk mencapai karir, hingga tekanan dari berbagai pihak merupakan beberapa komponen kehidupan seorang guru. Namun guru yang berhasil adalah guru yang membuat siswanya cinta dan rindu akan ilmu pengetahuan yang diberikan oleh guru. Membuat siswa menghargai setiap ilmu, membuat siswa merasakan perubahan sebelum dan sesudah bertemu dengan guru, itulah sebenarnya tugas murni dari guru.

    ReplyDelete
  30. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Ketika mengajar, usahakan memberikan chemistry dengan lingkungan pembelajaran khususnya dengan murid. Karena ketika chemistry sudah dibentuk dari awal, maka akan tercipta pembelajaran yang baik dan kondusif. Jika seorang guru tidak bisa membangun chemistry dengan murdinya, maka akan terjadi kontradiksi antara apa yang diapahami murid dengan apa yag dipahami guru. Chemistry dibangun untuk menciptakan saling membutuhkan satu sama lain. salah satu contoh chemistry yang telah terhubung adalah jarang bolosnya siswa maupun guru di dalam kelas. Selain itu, semangat untuk mengajar maupun belajar akan tinggi. Jadi, chemistry akan memberikan guru pengetahuan mengenai muridnya serta sebaliknya. Sehingga seorang guru akan mudah menggapai muridnya dan tercipta keharmonisan dalam pkegiatan pembelajaran.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  31. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Memahami karakter siswa merupakan hal yang penting di dalam pembelajaran matematika. Dengan mengetahui kondisi siswa kita mendapat sebuah gambaran, kearah mana pembelajaran yang akan dilakukan. Maka dari itu, seorang guru harus cepat tanggap dalam memobilisasi keadaan baik di dalam kelas ataupun di luar kelas agar dapat memperbaiki kualitas pembelajaran kearah yang lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  32. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Banyak jalan menuju Roma. Banyak jalan (metode pembelajaran) yang dapat guru pilih untuk mengajar siswa. Seperti perkataan orang tua berambut putih, guru dapat memilih jalan (metode) ceramah untuk mengajar, tetapi guru yang baik adalah guru yang menuntun siswa untuk menemukan jalannya sendiri atau bahkan membangun jalannya sendiri. Guru tidak boleh memaksakan jalannya untuk dilalui siswa, karena kemampuan guru berbeda dengan kemampuan siswa.

    ReplyDelete
  33. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Guru menggapai siswa tidak semudah yang tertulis. Di butuhkan ketrampian guru untuk mewujudkan hal tersebut. Seperti, kemampuan memahami siswa dan model pembelajaran. Di dalam proses menggapai siswa dihadapkan dengan berbagai jalan dan bervariasi jenis jalannya. Ada yang berliku, sempit, lebar, dll. Hal yang paling penting di pegang teguh oleh guru yaitu jangan sampai memaksakan jalan siswa dan kontruksi guru tidak sama dengan kontruksi siswa. Ketika guru memegang teguh hal tersebut maka tujuan pembelajaran akan tercapai.

    ReplyDelete
  34. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Peran guru sangat lah berpengaruh untuk menghasilkan siswa-siswa yang kreatif dan iovatif. Dimana guru haruslah mempunyai bekal ilmu pengethahuan yang baik. Tetapi bukan ilmu yang hanya mengenai materi pelajaran saja, guru juga harus mengetahui mengenai model pembelajaran yang baik seperti apa, metode seperti apa yang pantas diajarkan untuk materi-materi tertentu. Dan yang terpenting adalah guru yang didalam hatinya mempunyai iman dan taqwa, sehingga guru dapat menghasilkan siswa-siswa yang kreatif, inovatif serta siswa yang takut akan Tuhan dan mmepunyai hati yang bersih. Jadi, apa yang siswa dapatkan tidaklah ilmu yang bersifat duniawi saja, tetai diberengi dengan ilmu akhirat.

    ReplyDelete
  35. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Untuk dapat menyampaikan substansi materi dengan baik (transfer of knowledge) , seorang guru harus mampu mengenal karakteristik siswa-siswanya dengan baik. Dengan memahami karakter masing-masing siswa, guru dapat memilih metode mengajar yang cocok bagi mereka. Kalau metode mengajarnya sudah cocok, maka proses transfer of knowledge akan berjalan mulus bahkan menyenangkan. Tidak semua proses pembelajaran berjalan dengan baik bila diterapkan model pembelejaran kooperatif. Adakalanya ceramah klasikal lebih cocok diterapkan pada materi-materi dan siswa-siswa tertentu.

    ReplyDelete