Sep 20, 2013

Elegi Purusa Arkitektonia




Oleh Marsigit

Ampara:
Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa kini aku Ampara memperoleh mandat untuk berada dan mengada. Maka akulah setinggi-tinggi kuasa di Purusa Arkitektonia ini. Atau aku dapat mengatakan bahwa diriku itulah sebenar-benar subyek di sini. Tetapi keperluanku tidak hanya berada saja; aku juga perlu mengada. Agar aku bisa mengada maka aku akan melakukan pemetaan ke dalam diriku sendiri. Pemetaan ini aku sebut sebagai pemetaan isomorphisma. Daerah hasil aku sebut sebagai Dhampara. Aku tetapkan sifat-sifat Dhampara sesuai dengan kehendakku. Dia adalah reduksi dari diriku. Namun semua sifatku harus tetap terjaga padanya. Tiadalah ada sifat-sifatnya melebihi dari sifat-sifatku. Dhampara aku ciptakan semata-mata sesuai dengan peruntukanku. Wahai Dhampara kesinilah.
Apa rencanamu mengadamu setelah keberadaanmu aku jamin?

Dhampara:
Terimakasih atas perkenanmu, aku telah engkau beradakan. Mulanya aku merasakan kesepian karena saya pikir aku sendirian. Tetapi setelah aku menoleh kanan kiri ternyata aku menemukanmu sedang berada disitu dan sedang mengadakan diriku. Maka aku bisa mendengar, bertanya dan siap melaksanakan amanahmu.

Ampara:
Bagaimana perasaanmu setelah engkau mendengar pertanyaanku dan perintahku? Ceritakan ilmu dan pengalamanmu kepadaku.

Dhampara:
Pertama aku merasa heran. Ketika aku melihat keluar aku hanya melihat dirimu. Tetapi ketika aku berusaha melihat ke dalam diriku sendiri, aku menemukan banyak hal. Mulanya aku kira diriku itu satu, ternyata diriku itu beratus-ratus. Mulanya aku kira diriku itu sempit dan di sini saja, ternyata diriku itu luas dan di mana-mana. Aku tidak mampu melihat batas diriku, tetapi dikejauhan aku melihat bahwa batas diriku itu sama dengan batas dirimu. Tubuhku terdiri dari sepuluh bagian utama dimana setiap bagian mempunyai puluhan sub bagian-sub bagian yang lebih kecil. Sub bagian dari bagian dari diriku ternyata mempunyai puluhan hingga ratusan anggota. Setelah saya selidiki ternyata setiap anggota tubuhku itu mempunyai berjuta-juta anggota lagi. Wah sungguh dasyat dan mengerikan diriku itu jika aku melihat dari dalam diriku sendiri. Jika engkau berkenan, apa sebetulnya makna dibalik ini semua?

Ampara:
Itu hanyalah sebagian kecil dari apa yang aku sebut sebagai Purusa Arkitektonia. Ketahuilah bahwa aku dan engkau itu hanyalah sebagian kecil dari Purusa Arkitektonia. Tetapi diriku telah diberi mandat untuk menjaga agar Purusa Arkitektonia itu selalu berada dan mengada. Mengapa? Karena Purusa Arkitektonia itu merupakan tempat tinggal dari beratus-ratus juta angotanya yang juga memerlukan berada dan mengada. Itulah tugas yang maha berat yang di amanahkan kepada diriku dan diriku. Aku dan engkau tidak bisa melakukan tugas-tugas itu secara langsung, karena jika hal demikian aku lakukan maka itu tidak memenuhi syarat perlu dan cukup bagi kelangsungan berada dan mengaranya Purusa Arkitektonia.
Untung ada Parasda. Dia itu telah aku beri mandat untuk membuat program dan melakukan segala kegiatan agar dapat menjamin bahw Purusa Arkitektonia itu tetap berada dan mengada.

Parasda:
Wahai Ampara dan Dhampara, atas perkenanmu aku telah membentuk tim yang mewakili semua anggota Purusa Arkitektonia. Atas petunjukmu aku siap melaksanakan tugas-tugas dan melaporkan hasil-hasil yang aku capai sehingga Purusa Arkitektonia tetap berada dan mengada lengkap beserta para anggota-anggotanya.

Ampara dan Dhampara:
Baiklah kalau begitu, aku beri engkau waktu dan ruang secukupnya untuk melaksanakan tugas-tugasmu, dan engkau bertanggung jawab langsung kepada diriku. Jika engkau mengalami masalah atau kesulitan-kesulitan, engkau bisa berkonsultasi kepada Dhampara. Wahai Dhampara, silahkan bekerja sama yang baik dengan Parasda agar dia mampu melaksanakan tugas sebaik-baiknya.

15 comments:

  1. Ady Ferdian Noor
    DikDas S3 / 18706261004

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Purusa Arkitektonia merupakan sesuatu yang menyebabkan berada dan mengada. Di dunia kita menjalankan tugas sesuai dengan takdir yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Setiap purusa memiliki yang ada. Mahasiswa ada, berada diantara tugas-tugas yang dikerjakannya dan mengada hasil yang dikerjakannya berupa paper, refleksi, powerpoint presentasi. Mahasiswa harus mampu belajar dari sang pengampu belajar, maka dirinya harus berada pada titik nol sehingga mampu menyerap value pembelajaran yang dibelajarkan. Value itu akan menghasilkan kerjasama dengan diri sendiri dari mulai otak, pikiran, dan perasaan kita untuk menghasilkan sesuatu yang diharapkan sesuai perintah dari sang pengampu. dari hal tersebut mahasiswa menginginkan kompetensi terjadi dari berada dan mengada disertai do'a sesuai ruang dan waktunya. terima kasih.

    ReplyDelete
  2. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A

    Purusa adalah sang penyebab adanya sesuatu, yang menghapus kekosongan, mewujudkan sesuatu, atau menghapus ketidaktahuan (wikipedia). Setiap subjek di bumi itu ada. Untuk mengakui keberadaannya maka harus mengada dan menjadi pengada. Dari elegi ini, dalam suatu komunitas untuk mengada dan menjadi pengada tidaklah bisa melakukannya sendiri. Ampara dalam elegi ini adalah subjek yang berkuasa. Subjek yang berkuasa saja masih dan sangat perlu bantuan subjek lain untuk mengada dan menjadi pengada. Karena sudah kodrat manusia adalah mahluk sosial yang hidup tanpa bisa bantuan orang lain. Begitu juga dengan diri manusia sendiri, dalam melakukan kegiatan untuk dirinya sendiri harus mengkoordinasikan seluruh bagian-bagian dalam dirinya. Contohnya ketika makan tidak hanya mulut yang bekerja, tetapi tangan untuk menyuap ke mulut, gigi untuk mengunyah, lidah untuk menelan, enzim-enzim untuk proses pengolahan secara kimiawi dan seterusnya hingga akhirnya makanan tersebut akan terserap pada tubuh manusia. Demikia lah bagaimana mengada dan menjadi pengada.

    ReplyDelete
  3. Janu Arlinwibowo
    18701261012
    PEP 2018

    Kehidupan adalah gugusan luas tanpa batas. Dimulai dari luasnya pandangan manusia ke luar dirinya hingga launya jika kita dalami diri kita masing-masing. Di kehidupan tiap hal berjalan sesuai porsinya, walaupun kadang memang tidak menimbulkan nada yang harmonis. Beberapa benda bersususnan secara hirarkis. Satu benda bergantung dengan benda yang lain, dan didasari dengan suatu olah pikir yang dicampuri dengan tendensi.

    ReplyDelete
  4. Falenthino Sampouw
    18709251006
    S2 Pendidikan Matematika

    Selamat pagi, Prof.
    Berdasarkan elegi diatas, dalam Purusa Arkitektonia, Ampara merupakan penerima mandat untuk menjadi pengada. Manusia bisa menjadi Ampara dalam kehidupan di bumi. Manusia mengada dengan sifat-sifatnya sebagai manusia. Untuk menjadi pengada, manusia tak mampu menjalankannya sendiri. Manusia membutuhkan hal lain diluarnya untuk menggapai pengada. Hal lain tersebut juga bisa berarti manusia lain.
    Terima kasih, Prof.

    ReplyDelete
  5. Dini Arrum Putri
    18709251003
    S2 P Math A 2018

    Purusa sebagai salah satu yang membuat ada dan pengada. Objek filsafat membahas tentang sesuatu yang ada dan yang mungkin ada, filsafat juga membahas tentang sesuatu yang membuat itu ada atau pengada. Apa yang ada dan apa yang mungkin ada ? Kita hidup di dunia merupakan ada, kita ada, siapa pengadanya? yaitu Tuhan yang menciptakan kita. Ada dan yang mungkin ada semuanya berawal dari Tuhan yang membuat segala sesuatunya menjadi ada dan tidak ada yang tidak mungkin bagiNYA karena itulah manusia diciptakan dengan segala sifatnya untuk tidak berlaku sombong, salah satu sifat manusia adalah saling bergantung pada orang lain artinya membutuhkan bantuan orang lain, karena manusia merupakan mahluk yang paling baik namun tidak sempurna.

    ReplyDelete
  6. Rindang Maaris Aadzaar
    18709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Dari bacaan diatas, dapat saya ketahui dengan apa yang dimaksud dengan Purusa Arkitektonia. Semuanya hanyalah sebagian kecil dari Purusa Arkitektonia yang selalu berada dan mengada tersebut. Hal ini dikarenakan Purusa Arkitektonia merupakan tempat tinggal segala sesuatu yang membutuhkan berada dan mengada. Hal itulah yang berusaha dilakukan oleh Ampara.
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  7. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PPs UNY PM A 2018

    Elegi ini menjelaskan tentang Purusa Arkitektonia yang berarti bahwa diri kita terdiri dari beratur-ratus dari yang ada dan mengada. Setiap orang adalah bagian kecil dari purusa arkitektonia itu sendiri. hal ini seperti kita yang sedang dalam proses belajar selalu mendapatka tugas untuk belajar, mengerjakan tugas, ujian dan sebagainya dan mendapat penilaian dari dosen. Sebagai mahasiswa maupun dosen harus menjalankan amanah ini dengan baik. Karena semua amanah dipertanggungjawabkan kepada Allah. Untuk melakasanakan semua amanah yang ada kita harus dapat bekerja sama dengan orang lain agar dapat melaksanakan amanah dengan baik dan mengurangi beban pada diri kita.

    ReplyDelete
  8. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Manusia adalah salah satu dari tak hingga banyaknya ciptaan Allah SWT. Manusia tersusun atas sifat-sifat yang tak hingga banyaknya pula. Bahkan manusia sendiri tak akan pernah mampu benar-benar memahami dirinya sendiri. inilah salah satu bukti bahwa manusia memang makhluk yang tidak sempurna.
    Setiap hal di dunia ini diciptakan untuk tujuan-tujuan tertentu. Dengan berfilsafat, manusia belajar tentang segala yang ada dan yang mungkin ada. Manusia juga harus terus berikhtiyar agar dapat mengada dan menjadi pengada. Itulah sebenar-benar manusia, yaitu makhluk ciptaan Tuhan yang senantiasa berproses.

    ReplyDelete
  9. Amalia Nur Rachman
    18709251042
    S2 Pendidikan Matematika B UNY 2018

    Dalam elegi di atas, menjaga keselarasan hati dan pikiran kita seperti menjaga Ampara yang selaras dengan Dhampara. Diri kita dapat menunjukkan yang ada dan mengada melalui hati dan pikiran tersebut yang akan menghasilkan parasda. Dalam prosesnya menyelaraskan hati dan pikiran serta perbuatan akan berbeda bagi setiap individu. hal ini dikarenakan setiap manusia mempunyai tujuan hidup yang relative berbeda, maka prosesnya pun akan berbeda pula dalam mencapai tujuan tersebut

    ReplyDelete
  10. Deden Hidayat
    18709251032
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Purusa Arkitektonia merupakan sebuah kata yang berarti kehidupan yang sedalam-dalamnya. Kehidupan seperti demikian memberikan kita sebuah informasi bahwa apa yang kita lakukan saat ini maupun masa yang akan datang memiliki sebuah rencana dan tujuan yang hendak dicapai. Misalnya sebagai calon guru, kita harus menjadi seorang pengada. Bukan hanya sebagai pendidik dan pengajar pembelajaran di kelas, melainkan kita juga harus mengadakan sebuah penelitian untuk mengembangkan proses pembelajaran. Hal tersebut bertujuan untuk memfasilitasi siswa dalam mengembangkan potensi yang dimiliki.

    ReplyDelete
  11. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006
    PEP S3


    Bisakah saya menganggap bahwa itu adalah percakapan guru? Seorang guru melaksanakan program supaya tetap menjadi pengada?

    ReplyDelete
  12. Fabri Hidayatullah
    18709251028
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Elegi Purusa Arkitektonia ini bagi saya sangat sulit untuk dipahami. Menurut apa yang saya pahami, purusa Arkitektonia dapat dianalogikan sebagai ruang atau wadah, sedangkan ampara ialah subyek atau isinya. Agar Purusa Arkitektonia tetap ada, maka setiap subyek memiliki tugas untuk mengada. Kalau direfleksikan dalam pendidikan, Purusa Arkitektonia merupakan sistemnya. Sementara guru dapat dianalogikan sebagai salah satu ampara. Agar guru benar-benar ada di dalam sistem, guru harus senantiasa mengada, dengan demikian guru akan menjadi pengada. Mengada bagi guru dapat dilakukan dengan melakukan penelitian dan menghasilkan karya-karya yang dapat menghasilkan inovasi pembelajaran.

    ReplyDelete
  13. Aji Joko Budi Pramono
    PEP-S3-2018
    18701261003

    Seperti yang diketahui, objek filsafat berupa yang ada dan yang mungkin ada. Di dalam filsafat sebuah eksistensi terikat ruang dan waktu. Seperti misalnya Apakah yang dimaksud ‘ada’? Mengapa yang ‘tidak ada’ itu ‘ada’? Dalam pemikiran pada umumnya, jika suatu objek dianggap ada maka objek tersebut eksis secara nyata. Artinya objek tersebut dapat dilihat, disentuh maupun dirasakan keberadaannya. Sedangkan yang tidak ada berarti nihil, atau tidak nampak, tidak dapat disentuh dan dirasakan keberadaannya. Dalam filsafat, keberadaan suatu objek dikaitkan dengan ruang dan waktu. ‘Tidak ada’ tidak berarti tidak eksis, sedangkan yang ‘ada’ tidak berarti objek tersebut selalu ada. ‘Tidak ada’ bisa juga disebut ‘ada’. Mengapa bisa demikian? Seperti yang sudah disebutkan, jika kita memandang keberadaan suatu objek dalam dimensi ruang dan waktu, ‘ada’ dalam suatu ruang dan waktu dapat juga dikatakan ‘tidak ada’ dalam ruang dan waktu yang lain. Jika sebuah objek berada di tempat tertentu, berarti objek tersebut tidak ada di tempat lainnya, begitu pula jika objek itu ada di suatu waktu tertentu, bisa juga objek itu tidak ada di waktu lain

    ReplyDelete
  14. Rosi Anista
    18709251040
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr wb
    Setiap subjek di bumi itu ada. Manusia mengada dengan sifat-sifatnya sebagai manusia. Mengadanya manusia bisa berasal dari yang benar-benar ada atau dari yang tidak ada kemudian diadakan. Sehingga disinilah Allah bisa menilai letak kejujuran dari setiap umat-Nya. Semoga kita selalu dilimpahi ke jalan yang mengada sesuatu yang memang benar adanya sesuai realita.

    ReplyDelete
  15. Totok Victor Didik Saputro
    18709251002
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Selamat malam Prof.
    Purusa Arkitektonia adalah tempat dimana lahirnya berada dan mengada. Tempat artinya naungan. Berada dan mengada dapat didapat pada Purusan Arkitektonia. Untuk menuju tempat ini diperlukan sebuah proses. Proses ini berupa pengalaman itu sendiri. Pengalaman ini berarti berfilsafat. Jadi, Purusa Arkitektonia dapat diartikan sebagai tempat berfilsafat. Terima kasih.

    ReplyDelete