Sep 20, 2013

Elegi Pemberontakan Para Mitos





Elegi ini  saya buat sebagai Anti-Tesis dari Elegi Mengubah Mitos menjadi Logos
 

Elegi Pemberontakan Para Mitos



Oleh Marsigit



Bagawat:
Wahai Mitos, kelihatannya engkau sedih?

Mitos:
Bagawat sudah tahu?

Bagawat:
Ya, saya tahu paling tidak dari gejala fisikmu. Lalu kenapa engkau sedih?

Mitos:
Bukankah Bagawat lebih tahu dari saya perihal keadaanku itu?

Bagawat:
Ada syarat perlu dan cukupnya agar segala sesuatu itu berjalan secara alami dan kodrati.

Mitos:
Aku sedih karena Bagawat bersifat determinist kepadaku. Jikalau Bagawat sendiri bersifat determinist, bukankah Bagawat sendiri terancam Mitos.

Bagawat:
Lho, kapan, dimana, dan tentang apa aku bersifat determinist kepadamu?

Mitos:
Apakah Bagawat lupa telah mengatakan bahwa Mitos adalah Syaitan?

Bagawat:
Oooo ..jangan salah paham..maksud saya…


Mitos:
Maksud saya bagaimana? Sudah jelas kan duduk persoalannya?

Bagawat:
Maksud saya begini? …..

Mitos:
Begini bagaimana. Ntar saya ingin tunjukkan pembelaan saya…..

Bagawat:
Wah kelihatannya marah betul ni sang Mitos. Silahkan apa pembelaanmu? Walau aku nanti juga akan memberikan klarifikasi.


Mitos:
Pembelaanku aku ambilkan dari sebuah Comment dari Sdri Raden Roro Yayuk Srirahayu sebagai berikut:
Raden Roro Yayuk SrirahayuDecember 31, 2012 at 11:49 PM, Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Mitologi (http://en.wikipedia.org/wiki/Mythology) merujuk istilah untuk mempelajari mitos atau kumpulan mitos. Dalam folkloristics, mitos adalah narasi sakral, biasanya menjelaskan
b
agaimana dunia atau manusia datang untuk menjadi bentuk yang sekarang, dalam arti yang sangat luas dapat merujuk ke cerita tradisional . Bruce Lincoln mendefinisikan mitos sebagai "ideologi dalam bentuk narasi". Karakter utama dalam mitos biasanya dewa, pahlawan supranatural dan manusia. Sebagai cerita suci, mitos sering didukung oleh penguasa dan imam, dan berhubungan erat dengan agama atau spiritualitas. Terkait erat dengan mitos yaitu legenda dan cerita rakyat. Cerita rakyat diatur dalam setiap waktu dan setiap tempat, dan tidak dianggap benar atau keramat oleh masyarakat mereka. Seperti mitos, legenda adalah cerita yang secara tradisional dianggap benar, tetapi diatur dalam waktu yang lebih baru. Legenda umumnya fitur manusia sebagai karakter utama mereka, sementara mitos umumnya berfokus pada karakter manusia super. Perbedaan antara mitos, legenda, cerita rakyat dimaksudkan hanya sebagai alat yang berguna untuk mengelompokkan cerita tradisional. Dalam banyak budaya, sulit untuk menarik garis tajam antara mitos dan legenda. Alih-alih membagi cerita tradisional mereka dalam mitos, legenda, cerita rakyat dan, beberapa budaya membagi mereka ke dalam dua kategori, yang cerita rakyat, dan gabungan mitos dan legenda. Beberapa pemikir percaya bahwa mitos dihasilkan dari personifikasi dan kekuatan benda mati. Menurut para pemikir, orang dahulu menyembah fenomena alam seperti api dan udara, secara bertahap datang untuk menggambarkan mereka sebagai dewa. Misalnya, menurut teori pemikiran mythopoeic, orang dahulu cenderung untuk melihat hal-hal sebagai pribadi, bukan sebagai sekedar benda, mereka menggambarkan peristiwa alam sebagai tindakan dewa pribadi, sehingga menimbulkan mitos Menurut teori mitos-ritual, keberadaan mitos terkait dengan ritual. Dalam bentuk yang paling ekstrim, teori ini mengklaim bahwa mitos muncul untuk menjelaskan suatu ritual. Mircea Eliade mengatakan bahwa salah satu fungsi utama mitos adalah untuk membangun model untuk perilaku dan memberikan pengalaman religius. Dengan mengatakan atau menghidupkan kembali mitos, anggota masyarakat tradisional melepaskan diri dari masa sekarang dan kembali ke zaman mitos, sehingga membawa mereka lebih dekat dengan ilahi. Joseph Campbell mendefinisikan mitos memiliki empat fungsi dasar: 1. Fungsi Mistik : mengungkap kekaguman alam semesta, 2. Fungsiv Cosmological : menjelaskan bentuk alam semesta, 3. Fungsi Sosiologis: mendukung dan memvalidasi suatu tatanan sosial tertentu, 4. Fungsi Pedagogical: mengungkap bagaimana untuk hidup seumur hidup manusia dalam keadaan apapun. Comparative mythology adalah perbandingan sistematis mitos dari budaya yang berbeda, dan berusaha untuk menemukan tema umum yang mendasari mitos-mitos beberapa budaya. Dalam beberapa kasus, mythologists komparatif menggunakan kesamaan antara mitologi yang berbeda untuk menyatakan bahwa mitologi memiliki sumber yang sama dan menjadi sumber inspirasi umum. Dalam masyarakat modern, mitos sering dianggap sebagai sejarah atau usang. Banyak sarjana di bidang studi budaya kini mulai meneliti gagasan bahwa mitos telah bekerja menjadi wacana modern. Format komunikasi modern memungkinkan untuk komunikasi tersebar luas di seluruh dunia, sehingga memungkinkan wacana mitologis dan pertukaran antara penonton yang lebih besar daripada sebelumnya. Berbagai elemen dari mitos sekarang dapat ditemukan di televisi , bioskop , dan video game . Oleh Raden Roro Yayuk Srirahayu, PPs PSn Kelas D/ 12708251070

Bagawat:
Iya..iya Mitos…saya telah mengerti bahwa seburuk-buruk dirimu sebenarnya enkau ingin mengatakan bahwa dirimu masih banyak manfaatnya. Begitukan?

Mitos:
Mbok yang agak sopan sedikit. Pakai memburuk-burukkan rupa segala.

Bagawat:
Baik jika engkau masih marah teruskan saja. Tetapi sesuai dengan janji saya bahwa saya juga minta waktu untu mengklarifikasi.

Mitos:
Silahkan.

Bagawat:
Dalam bagian akhir perkuliahan saya, justru saya selalu mengatakan bahwa separo dari ilmu kita adalah Mitos. Jika aku definisikan Mitos sebagai Tidak Memahami Makna di Balik yang ada dan yang mungkin ada.

Mitos:
Truss..apa relevansinya?

Bagawat:
Maka anak kecil atau bayi melakukan aktivitas bukan karena memahami terlebih dulu, melainkan sebaliknya. Maka dapat aku katakana bahwa Bayi atau anak kecil itu belajarnya menggunakan Mitos, percaya saja ucapan Ibunya kemudian dilaksanakan. Kalau kita tarik dimensi vertikalnya, maka banyak sekali pemikiranmu tidak dilandasi pemahamanmu. Namum jangan salah paham bahwa keyakinan beragama itu bukanlah Mitos. Segala pengetahuan kita akan menjadi Mitos jika sekiranya dan sebetulnya kita mampu untuk berikhtiar memahaminya, namun kita enggan berikhtiar.


Bagawat:
Jadi aku sangat mengerti bahwa dirimu merasa sebagai tertuduh. Ya saya mengakui betapa tidak mudah mendeskripsikan Mitos, karena sebenar-benar yang terjadi adalah Mitos situ berdimensi.
Itulah Kuasa yang Maha Kuasa. Ilmu manusia tidak seberapa. Kemampuan manusia sangat terbatas. Itulah bahayanya kita berfilsafat jika tidak komprehensif.

Mitos:
Lalu kenapa engkau katakana Mitos sebagai Syaitan.

Bagawat:
Begini….ini pula sulitnya dan bahayanya melakukan reduksi dalam filsafat. Sederhananya (reduksi) aku ingin mengatakan bahwa secara umum bahwa Mitos, itu tidak baik atau kurang baik atau belum baik, walau terkadang sangat bermanfaat. Terutama, Mitos tidak baik jika kita hanya berhenti di situ. Dan..bukankah engkau mengerti bahwa segala macam ketidak baikkan itu kan berelasi dengan sifat-sifat Syaitoniah. Sedangkan segala kebaikan itu berelasi dengan unsurnya Malaikat.

Mitos:
Bagaimana halnya dengan seorang anak kecil yang memang mempelajari segala sesuatu berdasarkan Mitos.

Bagawat:
Itulah peran Logos, bahwa sebenar-benarnya Logos adalah tidak berhenti. Orang tua mestinya tidak berhenti membelajarkan anak-anaknya hingga pada saatnya anak-anak mereka mengerti segala sesuatu di balik yang ada dan yang mungkin ada. Itu pulalah hakekat Mitos, jika kita berhenti berikhtiar. Maka bagi siapa yang berhenti berikhtiar maka dia itulah kamu sendiri yaitu sebuah Mitos.

Mitos:
Cukup-cukup…Jika engkau sudah memanggil-manggil Logos, jadi panas badanku. Sudah cukup sekian saja terima kasih.


Bagawat:
Sampai akhir hayatku aku selalu berhadapan dengan Mitos, dikarenakan kodrat kemampuanku yang terbatas. Sampai akhir hayatku pula aku harus menggapai Logos, dikarenakan kodratku pula sebagai makhluk berikhtiar. Amin.

5 comments:

  1. Calva Ananta Dominikus Matutina
    13301241061
    Pendidikan Matematika I 2013

    Mitos dianggap menjadi tidak baik jika kita melihatnya demikian. Mitos memang berbahaya karena dapat menyebabkan manusia menjadi malas dan bertindak tanpa berpikir lebih dahulu. Namun memang diperlukan bagi anak-anak yang belum mengerti benar apa yang sesuai dengan ruang dan waktunya mereka.

    ReplyDelete
  2. Calva Ananta Dominikus Matutina
    13301241061
    Pendidikan Matematika I 2013

    Saya memandang mitos juga menjadi penanda bagi manusia, alat untuk menyadarkan manusia bahwa manusia mempunyai batas pikiran. Dengan begitu, manusia perlu belajar untuk mengembangkan rasa ikhlas.

    ReplyDelete
  3. Calva Ananta Dominikus Matutina
    13301241061
    Pendidikan Matematika I 2013

    Manusia memang tidak dapat terlepas dari mitos karena keterbatasan yang dimiliki oleh masing-masing manusia. Usaha yang diperlukan untuk menghindari mitos memang harus muncul dari dalam diri sendiri, sehingga ketika kita berhenti berusaha, mitos itu adalah diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  4. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Mitos Mitos dan Mitos. Kehidupan kita memang tidak bisa dilepaskan dari mitos-mitos yang menggelayuti. Akan tetapi, kita tidak boleh untuk menutup dari dari mitos tersebut. ketika kita bisa mengambil banyak pelajaran dari mitos tersebut kita akan menjadi manusia yang beruntung dan manusia yang mampu senantiasa memperbaiki diri. Oleh karena itu janganlah takut kepada mitos-mitos yang menggelayuti pikiran kita.

    ReplyDelete
  5. Johanis Risambessy
    16701251029
    PPs PEP B 2016

    Mitos adalah apa yang kau pikirkan. Kadang kita terpaku pada mitos-mitos yang ada dalam kehidupan masyarakat dan membuat kita takut pada apa yang diceritakan. Padahal belum tentu semunya benar. Biasanya digunakan untuk menakut-nakuti. Jika ditanyakan asal mula mitos, maka tidak ada yang bisa menjelaskan. Begitu pula dengan ilmu, jika tidak dapat dijelaskan dan dibuktikan, maka akan disebut sebagai mitos. Nah, pemberontakan seperti ini sering terjadi dalam pikiran kita, sehingga kita selalu berusaha untuk menjelaskan secara mendetail tentang ilmu yang sedang kita pelajari. Hal ini penting dilakukan supaya orang lain memahami apa yang kita pikirkan.

    ReplyDelete


Note: Only a member of this blog may post a comment.