Sep 20, 2013

Elegi Pemberontakan Patung Filsafat




Oleh Marsigit

Pengikut Patung Filsafat:
Wahai logos, ketahuilah bahwa kami semua adalah pengikut Patung Filsafat.

 Kami itu meliputi pengikut contoh, pengikut tokoh, pengikut ide, pengikut slogan,pengikut nasehat, pengikut bijaksana, pengikut disiplin, pengikut pembimbing, pengikut pemimpin, pengikut informasi, pengikut dermawan, pengikut kebaikkan, pengikut keamanan, pengikut koordinator, pengikut administrator, pengikut ketua, pengikut sekretaris, pengikut peraturan, pengikut sahabat, pengikut editor, pengikut fasilitator, pengikut guru, pengikut dosen, pengikut mahasiswa, pengikut jabatan, pengikut profesi, pengikut dedikasi, pengikut senior, pengikut pakar, pengikut pengalaman, pengikut orang tua, pengikut piagam, pengikut sertifikat, pengikut suami, pengikut lurah, pengikut ganteng, pengikut polisi, pengikut moral, pengikut etika, pengikut semua yang ada dan yang mungkin ada.
Ketahuilah bahwa kami semua merasa sangat terganggu dan tersinggung oleh ucapan dan tuduhanmu mengenai patung-patung filsafat. Tuduhanmu bahwa kami adalah patung-patung filsafat, sungguh sangat aneh dan asing bagi kami. Maka kami semua akan menuntut kepada engkau. Kami menyatakan dengan ini pemberontakan terhadap dirimu. Hanya ada satu hal saja yang dapat membatalkan rencana kami itu, yaitu bahwa engkau harus dapat menjelaskan mengapa kami itu engkau sebut sebagai patung filsafat?

Logos:
Wahai semua pengikut patung filsafat, kami hanya berusaha mengungkap fakta yang sebenarnya. Aku menyadari tiadalah mudah bagi engkau semua untuk menerima fakta tentang dirimu masing-masing. Tetapi jikalau engkau semua mendesak diriku untuk menjelaskan mengapa engkau semua aku sebut sebagai patung filsafat, maka ada 2 (dua) macam cara. Pertama, penjelasan khusus. Kedua, penjelasan umum.

Pengikut Patung Filsafat:
Apakah yang engkau maksud dengan penjelasan khusus?

Logos:
Karena penjelasan khusus, maka hanya bisa diambil kasus per kasus. Maka kemarilah diantara engkau itu, agar aku bisa menjelaskan satu per satu secara terbatas.

Patung Guru:
Wahai logos, mengapa engkau menyebut aku sebagai patung filsafat. Padahal aku adalah guru. Ketahuilah bahwa guru adalah digugu dan ditiru. Aku punya tugas mulia yaitu mendidik dan mencerdaskan siswa?

Logos:
Baiklah, wahai patung guru. Apakah engkau pernah melihat seorang guru yang tidak dapat digugu dan ditiru? Apakah engkau pernah melihat seorang guru melakukan tindakan tidak terpuji. Maka mereka itu sebenarnya bukanlah seorang guru, tetapi berlindung di balik nama guru. Mereka itulah sebenar-benar patung guru. Tetapi ketika engkau menggunakan pikiranmu dan datang kepadaku, maka aku telah menyaksikan bahwa engkau telah berubah dari patung guru, menjadi logos guru.

Patung Sertifikat:
Wahai logos, mengapa engkau menyebut aku sebagai patung filsafat. Padahal sertifikat ini aku peroleh dengan susah payah. Ketahuilah bahwa aku telah mempertaruhkan segenap jiwa dan ragaku untuk memperoleh sertifikat ini.

Logos:
Baiklah, wahai patung sertifikat. Apakah engkau pernah melihat seseorang menyalah gunakan sertifikat? Apakah engkau pernah melihat seseorang bersikap tidak sesuai dengan sertifikat yang diperolehnya? Apakah engkau pernah melihat seseorang mencari sertifikat dengan menggunakan cara yang tidak benar? Mereka itulah sebenar-benar patung sertifikat. Tetapi ketika engkau menggunakan pikiranmu dan menunjukkan penyesalanmu serta datang untuk protes kepadaku, maka aku telah menyaksikan bahwa engkau telah berubah dari patung sertifikat menjadi logos sertifikat.

Pengikut Patung Filsafat:
Cukup, lalu apakah yang engkau maksud dengan penjelasan umum?

Logos:
Penjelasan umum dari diriku menyatakan bahwa tidaklah hanya dirimu semua, tetapi adalah bagi semua yang ada dan yang mungkin ada, itu bisa terkena hukumnya menjadi patung filsafat. Sebenar-benar patung filsafat adalah keadaan berhenti dari satu , atau beberapa, atau semua sifat-sifatmu. Maka ketika engkau semua datang berbondong-bondong mendatangiku, itu suatu bukti bahwa engkau tidak dalam keadaan berhenti. Pada mulanya aku melihat dirimu semua nun jauh di sana dalam keadaan berhenti. Engkau semua kelihatan sangat menikmati keadaanmu dalam keadaan berhenti itu. Itulah sebenar-benar patung-patung filsafat yang aku saksikan. Tetapi ketika engkau mendengar pernyataanku tentang dirimu sebagai patung filsafat, aku kemudian melihat bahwa dirimu semua menggeliat bergerak menuju ke mari mendatangi diriku untuk melakukan protes dan pemberontakan. Maka seketika itulah aku melihat bahwa semua patung-patung filsafatmu itu telah lenyap. Aku telah menyaksikan dirimu semua telah berubah menjadi diriku, yaitu menjadi logos. Ketika engkau sedang menempuh perjalananmu menuju ke mari itulah engkau semua dalam keadaan bergerak. Itulah sebenar-benar logos, yaitu keadaan bergerak.
Dengan rasa haru dan iba, aku menyambut kedatanganmu semua. Aku ucapkan selamat wahai para logos: logos contoh, logos tokoh, logos ide, logos slogan,logos nasehat, logos bijaksana, logos disiplin, logos pembimbing, logos pemimpin, logos informasi, logos dermawan, logos kebaikkan, logos keamanan, logos koordinator, logos administrator, logos ketua, logos sekretaris, logos peraturan, logos sahabat, logos editor, logos fasilitator, logos guru, logos dosen, logos mahasiswa, logos jabatan, logos profesi, logos dedikasi, logos senior, logos pakar, logos pengalaman, logos orang tua, logos piagam, logos sertifikat, logos suami, logos lurah, logos ganteng, logos polisi, logos moral, logos etika, logos semua yang ada dan yang mungkin ada.

Orang tua berambut putih:
Berusaha dan ikhtiar adalah cara untuk terhindar bagi dirimu sebagai patung filsafat. Itulah sebenar-benar pikiranmu yaitu logos bagi semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka tetapkanlah hatimu sebagai komandan bagi setiap sifatmu. Dengan rasa haru dan iba, aku menyambut kedatanganmu semua sebagai logos yang bernurani. Aku ucapkan selamat wahai para : logos contoh yang bernurani, logos tokoh yang bernurani, logos ide yang bernurani, logos slogan yang bernurani, logos nasehat yang bernurani, logos bijaksana yang bernurani, logos disiplin yang bernurani, logos pembimbing yang bernurani, logos pemimpin yang bernurani, logos informasi yang bernurani, logos dermawan yang bernurani, logos kebaikkan yang bernurani, logos keamanan yang bernurani, logos koordinator yang bernurani, logos administrator yang bernurani, logos ketua yang bernurani, logos sekretaris yang bernurani, logos peraturan yang bernurani, logos sahabat yang bernurani, logos editor yang bernurani, logos fasilitator yang bernurani, logos guru yang bernurani, logos dosen yang bernurani, logos mahasiswa yang bernurani, logos jabatan yang bernurani, logos profesi yang bernurani, logos dedikasi yang bernurani, logos senior yang bernurani, logos pakar yang bernurani, logos pengalaman yang bernurani, logos orang tua yang bernurani, logos piagam yang bernurani, logos sertifikat yang bernurani, logos suami yang bernurani, logos lurah yang bernurani, logos ganteng yang bernurani, logos polisi yang bernurani, logos moral yang bernurani, logos etika yang bernurani, logos semua yang ada dan yang mungkin ada yang bernurani.

19 comments:

  1. Jefri Mailool
    18701261002
    PPs S3 PEP

    Terus berusaha mengembangkan pikiran dalam karya-karya nyata positif dan bermanfaat serta dibarengi dengan moral dan etika, akan menghindarkan kita dari keadaan "lumpuh karya, lumpuh kreativitas, lumpuh sosial, lumpuh politik, lumpuh ekonomi, lumpuh pendidikan, dan segala macam penyakit kelumpuhan dalam kehidupan manusia.

    ReplyDelete
  2. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A

    Patung adalah replika, duplikat, sesuatu yang tidak sebenarnya, sesuatu yang menyerupai tapi tidak sebenarnya, sesuatu kepalsuan. Dalam elegi tersebut dijelaskan mengenai beberapa patung filsafat yaitu patung guru dan patung sertifikat. Istilah patung filsafat dalam elegi ini adalah ditujukan kepada sesuatu yang palsu, sesuatu yang diperoleh melalui cara-cara yang tidak halal. Telah dijelaskan bahwa sebenar-benar patung filsafat adalah keadaan berhenti dari satu, atau beberapa, atau semua sifat-sifat dari subjek. Namun ketika para patung filsafat ini menyadari dan protes tidak terima dikatakan sebagai patung maka mereka sebenar-benarnya telah berubah menjadi logos yaitu yang mau bergerak dan keluar dari zona nyaman patung. Maka seperti itu lah sebaik-baiknya dalam menggapai sesuatu tanpa kepalsuan dan tidak akan pernah menjadi patung.

    ReplyDelete
  3. Elegi Pemberontakan Patung Filsafat
    Totok Victor Didik Saputro
    18709251002
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Selamat pagi Prof.
    Filsafat ada dimana saja dan terjadi dalam bentuk apa saja. Artinya filsafat memiliki jangkauan yang sangatlah luas. Patung filsafat adalah bagian dari filsafat itu sendiri. Patung filsafat dihasilkan oleh filsafat itu sendiri. Patung filsafat akan berubah menjadi logos ketika sesuai dengan ruang dan waktunya. Ketika kondisi ini diperoleh tidak menutup kemungkinan logos akan berubah menjadi patung filsafat kembali. Berusaha dan ikhtiar adalah cara untuk mencegah hal ini dapat terjadi. Oleh karena itu, bersihkanlah pikiranmu, perkataanmu, dan tindakanmu sehingga kamu mengerti akan dirimu dan filsafat yang ada dan mungkin ada dalam dipikiranmu. Terima kasih.

    ReplyDelete
  4. Janu Arlinwibowo
    18701261012
    PEP 2018

    Berhenti merupakan suatu tindakan yang membuat kita menjadi pasif. Ketika inilah pikiran kita tidak produktif dan bertindak dengan sekedar membeo. Seolah menjadi suatu patung, yang berdiri dibelakang sifatnya. Sesungguhnya semua yang ada dan yang mungkin ada memiliki peluang, bahkan peluang besar untuk menjadi patung filsafat. Bijaklah dalam berjalan, ubahlah diri dari patung filsafat menjadi logos dengan cara selalu berpikir, berproses untuk menerjemahkan dan ikhlas diterjemahkan. Untuk menjaga perilaku, tempatkanlah hati sebagai komandan sifatmu. Yang akan mengarahkan kita pada setiap tindakan.

    ReplyDelete
  5. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Jika tidak ingin dibilang patung maka bergeraklah. Jika tidak ingin dibilang patung, maka bertindaklah. Jika ingin dibilang patu, maka lakukanlah dengan baik dan benar. Patung disini tidak hanya sebagai seseorang yang hanya diam saja, tetapi juga seseorang yang telah melakukan sesuatu tetapi tidak sesuai dengan aturannya. Misalnya saja seorang hakim yang tidak adil. Hakim bertugas untuk memutuskan mana yang baik dan mana yang salah, mana yang harus dihukum dan mana yang tidak harus dihukum. Namun hakim seolah sudah menjadi patung ketika ia berat sebelah yang dikarenakan sudah termakan oleh suap. Hakim menjadi tidak adil dan berbuat tidak sesuai dengan tugasnya.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  6. Erma Zelfiana Surni
    18709251009
    S2. P.Matematika A 2018

    Assalamualaikum Wr. Wb
    Patung disini berarti dalam keadaan diam hanya bisa digerakkan ketika ada yang menggerakkan. Orang yang menjadi pengikut patung adalah orang yang bertindak tanpa ada ikhtiar didalam pikirannya, orang yang bertindak menggunakan pikirannya yang berhenti, pikirannya yang instant, pikirannya yang menjadi budak atas mitos-mitosnya, dst. Ketika kita menjadi pengikut patung maka kitapun akan menjadi patung. Patung suami yaitu mengikuti segala perintah suami meskipun perintah itu adalah perintah yang sudah keluar dari ajaran agama. Patung ganteng mencintai dia yang ganteng karena gantengnya bukan karena Agama, akhlak, dan tanggung jawabnya. Patung sahabat yaitu bertindak mengatasnamakan persahabatan dan solidaritas, rela ikut sahabat yang bolos karena mengatasnamakan solidaritas, rela menunda tesis karena menunggu sahabat yang masih tidak kelar kelar tesisnya.

    Pikiran yang berikhtiar itulah logos, logos yang berkomandan pada hati itulah logos yang hidup, logos yang bernurani. Maka agar tidak menjadi patung dari segala yang ada dan yang mungkin ada maka perlu dimiliki logos yang bernurani.

    ReplyDelete
  7. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PPs UNY PM A 2018

    Patung diidentikkan dengan benda diam. Diam berarti keadaan dimana tidak ada perubahan pergerakan, aktivitas dilaksananakan seperti itu terus berulang dari waktu ke waktu. Tidak ada unsur kebaruan, tidak ada perubahan, tidak ada daya tarik, tidak ada minat dan motivasi. Menjadi jelasa bahwa patung filsafat adalah keadaan dimana seseorang berhenti untuk mengasah kemampuannya karena merasa sudah berada di dalam zona aman. Langkah-langkah untuk menghindari agar tidak menjadi patung filsafat adalah dengan berusaha dan berikhtiar, menggunakan pikiran kita agar dapat berinovasi dan mengembangkan kemampuan yang kita miliki.

    ReplyDelete
  8. Falenthino Sampouw
    18709251006
    S2 Pendidikan Matematika

    Selamat pagi, Prof.
    Menjadi patung filsafat adalah ketika seseorang berhenti dari satu, beberapa atau keseluruhan sifat-sifat saya. Misalnya seperti contoh yang diberikan oleh Prof di atas bahwa saat guru berhenti dari sifat-sifatnya yaitu diguguh dan ditiru dalam melakukan hal yang baik, maka sebenarnya guru itu telah menjadi patung filsafat. Status gurunya tetap seperti patung, namun sifat gurunya telah berubah.
    Menghindari semua itu, seseorang perlu kembali merefleksikan dirinya. Sejauh mana kedudukannya saat ini. Ia mampu bertanya pada logosnya demi membangun kesadaran dan perubahan dalam hidupnya.
    Terima kasih, Prof.

    ReplyDelete
  9. Diana Prastiwi
    PPs P.Mat A 2018
    18709251004

    Manusia diberikan akal, pikiran dan hati nurani. Patung adalah benda mati. Maka matinya akal, pikiran dan hati adalah matinya hidup seseorang. Hati akan menjadikan manusia yang sempurna jika di kelola dengan baik menjadikan hati bersih dan tenang.tetapi ketika manusia hanya untuk menguntungkan diri sendiri dan mencari jalan yang tidak benar dalam penggunaan nya maka sebenar-benarnya itu adalah patung yaitu benda mati. Hidup dengan berjuang dan berusaha disertai dengan berdoa kepada Allah adalah hal yang membantu menjadikan hati-hati manusia bersih. Semoga hati kita termasuk hati yang bersih.

    ReplyDelete
  10. Diana Prastiwi
    PPs P.Mat A 2018
    18709251004

    Ada satu hal yang menarik bagi saya. Bagaimana jadinya jika kita menghancurkan patung filsafat. Bukankah itu sama saja dengan menghancurkan apa yang selama ini saya punya? Hahaha. Kemudian saya berfikir untuk mehancurkan patung filsafat dan patung logos adalah dengan kita dapat memahami diri kita yang sebenarnya. Ketika melakukan kesalaha, kita mampu memperbaiki dan menyadari kesalahan yang kita lakukan. Memberonta merupakan bentuk ketidaksetujuan diri dengan apa yang dihadapi. Apabila melakukan kesalahan cukup mencari apa yang kurang dari diri kita, tidakmencari kesalahan dari sudut yang lain. Kebijaksanaan dalam mengendalikan diri.

    ReplyDelete
  11. Rindang Maaris Aadzaar
    18709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    kata patung disini seperti analogi dalam kehidupan diamna seseorang bisa menjadi patung karena perannya yang tidka maksimal. Seperti contoh guru diatas yang dikatakan sebagai patung guru karena banyak orang-orang yang berlindung di balik nama guru. Walaupun sesungguhnya dia tidak mendalami perannya sebagai guru dengan sepenuh hati. Masih ada guru yang mengajar tidak dengan sepenuh hati dan ada juga perilaku-perilakunya yang tidak pantas ditiru oleh murid-muridnya seperti datang ke sekolah dengan terlambat.
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  12. Assalamu Alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
    Besse Rahmi Alimin
    18709251039
    s2 Pendidikan Matematika 2018

    Terkait Topik bahasan mengenai Elegi Pemberontakan Patung Filsafat bahwa secara fisiologi sangat erat kaitannya dengan benda tiga dimensi karya manusia yang diakui secara khusus sebagai suatu karya seni. Akan tetapi, Berusaha dan ikhtiar adalah cara untuk terhindar bagi dirimu sebagai patung filsafat. Itulah sebenar-benar pikiranmu yaitu logos bagi semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka tetapkanlah hatimu sebagai komandan bagi setiap sifatmu, maksudnya adalah sebai-baiknya manusia adalah yang punya prinsip yang dilandasi dengan kpercayaan dan keyakinan terhadap Tuhan YME.

    ReplyDelete
  13. Septia Ayu Pratiwi
    18709251029
    S2 Pendidikan Matematika B

    Patung merupakan benda yang tidak bergerak. Penjelasan umum dan penjelasan khusus diatas dimaksudkan untuk orang yang berhenti bergerak dan berpikir yang mana mereka dapat dikatakan sebagai sebuah patung. Manusia jika tidak beraktivitas sebagaimana mestinya dapat dikatan sebagai benda mati atau tidak hidup. Tidak hidup disini bukan berarti mati secara jasmaniah dan rohaniah, namun adanya disfungsi dari bagian-bagian tubuh. Orang yang tidak menggunakan otaknyauntuk berpikir maka ia dikatakan telah mati, karena dia telah memberhentikan fungsi dari otak tersebut. Seperti dikatakan diatas bahwa guru yang tidak dapat ditiru merupakan sebuah patung, yaitu guru tersebut tidak dapat memberikan contoh dan mencerdaskan siswanya. Guru tersebut berlaku tidak benar atau negative sehingga menimbulkan berbagai permasalahan yang tidak semestinya dilakukan oleh guru. Misalnya guru memukul siswa tanpa suatu alasan sehingga menimbulkan trauma mendalam bagi seorang siswa sehingga siswa tersebut harus tidak mau lagi dating ke sekolah untuk belajar. Contoh yang lain yaitu, guru menyalahgunakan sertifikat yang diperoleh untuk kepentingan di luar profesi. Guru-guru tersebut dapat dikatakan sebagai patung yaitu hidup tetapi tidak berarti apa-apa. Semoga kita dapat berktivitas sebagaimana mestinya dan dijauhkan dari hal-hal yang buruk. Amiin…

    ReplyDelete
  14. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Keadaan berhenti, berada dalam zona nyaman, dan menikmati posisi yang telah di duduki saat ini menandakan bahwa manusia sedang dalam keadaan bahaya. Manusia sedang berada dalam keadaan terancam, terancam mitos, dan terancam menjadi patung filsafat. Maka sebaik-baik manusia adalah manusia yang terus belajar, terus bergerak, terus berusaha untuk memahami sesuatu. Itulah sebaik-baik cara agar terhindar dari patung filsafat.

    ReplyDelete
  15. Dini Arrum Putri
    18709251003
    S2 P Math A 2018

    Patung artinya suatu benda yang diam, tidak bergerak, menatap dan diibaratkan sebagai benda mati. Dari elegi di atas disimpulkan bahwa seseorang yang sudah terjebak oleh mitos, seseorang yang sudah jauh dari kata logos sehingga terjebak dan tidak dapat melakukan apa-apa lagi. Dalam filsafat kita mengenal cakupan yang begitu luas sehingga jika sudah dikatakan patung filsafat maka sudah tidak dapat berpikir, sudah tidak dapat berfilsafat lagi lagi atau sudah tekena mitos.

    ReplyDelete
  16. Amalia Nur Rachman
    18709251042
    S2 Pendidikan Matematika B UNY 2018

    Dalam elegi di atas, patung patung filsafat dianalogikan sebagai karakteristik manusia yang negative. Karakteristik yang negative tersebut lebih mengarah pada sifat keserakahan manusia. Maka dari itu, sudah sepatutnya kita memperkuat iman kita agar tidak mengarah pada karakteristik yang negative seperti pada patung filsafat tersebut. Dalam implementasi diri kita sebagai calon pendidik yaitu mampu menjalankan amanah secara professional dan mendorong siswa untuk menjadi lebih baik. Begitu juga dari segi kepribadian pendidik yang sebaiknya dapat menjadi tauladan bagi peserta didik

    ReplyDelete
  17. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006
    PEP S3

    Banyak guru yang masih menjadi patung guru saat ini, Guru adalah digugu blan ditiru. Digugu lan ditiru memiliki arti bahwa perkataan dan perilaku guru tersebut harus bisa ditiru. Jika kita hanya mengajar saja, maka, kita tidak bisa dikatakan sebagai guru.

    ReplyDelete
  18. Fabri Hidayatullah
    18709251028
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Dalam kehidupan, patung adalah suatu objek yang memiliki wujud tetapi selalu dalam keadaan diam. Bahkan kebanyakan wujudnya hanya merupakan tiruan dari objek hidup. Patung filsafat di dalam elegi ini dianalogikan sebagai objek yang dalam keadaan berhenti berusaha, melakukan penyalahgunaan, tidak melaksanakan kewajiban, dan melakukan tindakan tercela lainnya. Setiap manusia terancam melakukan perbuatan seperti itu. Hal ini disebabkan oleh keterbatasn masnusia itu sendiri. Tetapi apabila manusia tetap berikhtiar, melakukan usaha terbaiknya secara secara terus-menerus, maka akan menggapai logos.

    ReplyDelete
  19. Rosi Anista
    18709251040
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr wb
    Berdasarkan elegi di atas, kesimpulan yang dapat saya ambil adalah bahwa setiap manusia itu adalah sama, yang bisa membedakan setiap manusia bukanlah seperti jabatan ataupun title yang diraihnya, namun kualitas diri yang baik, bagaimana cara kita menjalani kehidupan sesuai dengan hak dan kewajiban dan tetap berada di jalan yang di Ridha'i Allah SWT.

    ReplyDelete