Sep 20, 2013

Elegi Pemberontakan Patung Filsafat




Oleh Marsigit

Pengikut Patung Filsafat:
Wahai logos, ketahuilah bahwa kami semua adalah pengikut Patung Filsafat.

 Kami itu meliputi pengikut contoh, pengikut tokoh, pengikut ide, pengikut slogan,pengikut nasehat, pengikut bijaksana, pengikut disiplin, pengikut pembimbing, pengikut pemimpin, pengikut informasi, pengikut dermawan, pengikut kebaikkan, pengikut keamanan, pengikut koordinator, pengikut administrator, pengikut ketua, pengikut sekretaris, pengikut peraturan, pengikut sahabat, pengikut editor, pengikut fasilitator, pengikut guru, pengikut dosen, pengikut mahasiswa, pengikut jabatan, pengikut profesi, pengikut dedikasi, pengikut senior, pengikut pakar, pengikut pengalaman, pengikut orang tua, pengikut piagam, pengikut sertifikat, pengikut suami, pengikut lurah, pengikut ganteng, pengikut polisi, pengikut moral, pengikut etika, pengikut semua yang ada dan yang mungkin ada.
Ketahuilah bahwa kami semua merasa sangat terganggu dan tersinggung oleh ucapan dan tuduhanmu mengenai patung-patung filsafat. Tuduhanmu bahwa kami adalah patung-patung filsafat, sungguh sangat aneh dan asing bagi kami. Maka kami semua akan menuntut kepada engkau. Kami menyatakan dengan ini pemberontakan terhadap dirimu. Hanya ada satu hal saja yang dapat membatalkan rencana kami itu, yaitu bahwa engkau harus dapat menjelaskan mengapa kami itu engkau sebut sebagai patung filsafat?

Logos:
Wahai semua pengikut patung filsafat, kami hanya berusaha mengungkap fakta yang sebenarnya. Aku menyadari tiadalah mudah bagi engkau semua untuk menerima fakta tentang dirimu masing-masing. Tetapi jikalau engkau semua mendesak diriku untuk menjelaskan mengapa engkau semua aku sebut sebagai patung filsafat, maka ada 2 (dua) macam cara. Pertama, penjelasan khusus. Kedua, penjelasan umum.

Pengikut Patung Filsafat:
Apakah yang engkau maksud dengan penjelasan khusus?

Logos:
Karena penjelasan khusus, maka hanya bisa diambil kasus per kasus. Maka kemarilah diantara engkau itu, agar aku bisa menjelaskan satu per satu secara terbatas.

Patung Guru:
Wahai logos, mengapa engkau menyebut aku sebagai patung filsafat. Padahal aku adalah guru. Ketahuilah bahwa guru adalah digugu dan ditiru. Aku punya tugas mulia yaitu mendidik dan mencerdaskan siswa?

Logos:
Baiklah, wahai patung guru. Apakah engkau pernah melihat seorang guru yang tidak dapat digugu dan ditiru? Apakah engkau pernah melihat seorang guru melakukan tindakan tidak terpuji. Maka mereka itu sebenarnya bukanlah seorang guru, tetapi berlindung di balik nama guru. Mereka itulah sebenar-benar patung guru. Tetapi ketika engkau menggunakan pikiranmu dan datang kepadaku, maka aku telah menyaksikan bahwa engkau telah berubah dari patung guru, menjadi logos guru.

Patung Sertifikat:
Wahai logos, mengapa engkau menyebut aku sebagai patung filsafat. Padahal sertifikat ini aku peroleh dengan susah payah. Ketahuilah bahwa aku telah mempertaruhkan segenap jiwa dan ragaku untuk memperoleh sertifikat ini.

Logos:
Baiklah, wahai patung sertifikat. Apakah engkau pernah melihat seseorang menyalah gunakan sertifikat? Apakah engkau pernah melihat seseorang bersikap tidak sesuai dengan sertifikat yang diperolehnya? Apakah engkau pernah melihat seseorang mencari sertifikat dengan menggunakan cara yang tidak benar? Mereka itulah sebenar-benar patung sertifikat. Tetapi ketika engkau menggunakan pikiranmu dan menunjukkan penyesalanmu serta datang untuk protes kepadaku, maka aku telah menyaksikan bahwa engkau telah berubah dari patung sertifikat menjadi logos sertifikat.

Pengikut Patung Filsafat:
Cukup, lalu apakah yang engkau maksud dengan penjelasan umum?

Logos:
Penjelasan umum dari diriku menyatakan bahwa tidaklah hanya dirimu semua, tetapi adalah bagi semua yang ada dan yang mungkin ada, itu bisa terkena hukumnya menjadi patung filsafat. Sebenar-benar patung filsafat adalah keadaan berhenti dari satu , atau beberapa, atau semua sifat-sifatmu. Maka ketika engkau semua datang berbondong-bondong mendatangiku, itu suatu bukti bahwa engkau tidak dalam keadaan berhenti. Pada mulanya aku melihat dirimu semua nun jauh di sana dalam keadaan berhenti. Engkau semua kelihatan sangat menikmati keadaanmu dalam keadaan berhenti itu. Itulah sebenar-benar patung-patung filsafat yang aku saksikan. Tetapi ketika engkau mendengar pernyataanku tentang dirimu sebagai patung filsafat, aku kemudian melihat bahwa dirimu semua menggeliat bergerak menuju ke mari mendatangi diriku untuk melakukan protes dan pemberontakan. Maka seketika itulah aku melihat bahwa semua patung-patung filsafatmu itu telah lenyap. Aku telah menyaksikan dirimu semua telah berubah menjadi diriku, yaitu menjadi logos. Ketika engkau sedang menempuh perjalananmu menuju ke mari itulah engkau semua dalam keadaan bergerak. Itulah sebenar-benar logos, yaitu keadaan bergerak.
Dengan rasa haru dan iba, aku menyambut kedatanganmu semua. Aku ucapkan selamat wahai para logos: logos contoh, logos tokoh, logos ide, logos slogan,logos nasehat, logos bijaksana, logos disiplin, logos pembimbing, logos pemimpin, logos informasi, logos dermawan, logos kebaikkan, logos keamanan, logos koordinator, logos administrator, logos ketua, logos sekretaris, logos peraturan, logos sahabat, logos editor, logos fasilitator, logos guru, logos dosen, logos mahasiswa, logos jabatan, logos profesi, logos dedikasi, logos senior, logos pakar, logos pengalaman, logos orang tua, logos piagam, logos sertifikat, logos suami, logos lurah, logos ganteng, logos polisi, logos moral, logos etika, logos semua yang ada dan yang mungkin ada.

Orang tua berambut putih:
Berusaha dan ikhtiar adalah cara untuk terhindar bagi dirimu sebagai patung filsafat. Itulah sebenar-benar pikiranmu yaitu logos bagi semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka tetapkanlah hatimu sebagai komandan bagi setiap sifatmu. Dengan rasa haru dan iba, aku menyambut kedatanganmu semua sebagai logos yang bernurani. Aku ucapkan selamat wahai para : logos contoh yang bernurani, logos tokoh yang bernurani, logos ide yang bernurani, logos slogan yang bernurani, logos nasehat yang bernurani, logos bijaksana yang bernurani, logos disiplin yang bernurani, logos pembimbing yang bernurani, logos pemimpin yang bernurani, logos informasi yang bernurani, logos dermawan yang bernurani, logos kebaikkan yang bernurani, logos keamanan yang bernurani, logos koordinator yang bernurani, logos administrator yang bernurani, logos ketua yang bernurani, logos sekretaris yang bernurani, logos peraturan yang bernurani, logos sahabat yang bernurani, logos editor yang bernurani, logos fasilitator yang bernurani, logos guru yang bernurani, logos dosen yang bernurani, logos mahasiswa yang bernurani, logos jabatan yang bernurani, logos profesi yang bernurani, logos dedikasi yang bernurani, logos senior yang bernurani, logos pakar yang bernurani, logos pengalaman yang bernurani, logos orang tua yang bernurani, logos piagam yang bernurani, logos sertifikat yang bernurani, logos suami yang bernurani, logos lurah yang bernurani, logos ganteng yang bernurani, logos polisi yang bernurani, logos moral yang bernurani, logos etika yang bernurani, logos semua yang ada dan yang mungkin ada yang bernurani.

66 comments:

  1. Anisa Safitri
    PEP B
    17701251038

    dari cerita diatas dapat diambil inti yang dapat saya ambil adlah sebagai manusia yang diberikan akal pikiran dan perasaan hati nurani yang awalnya bersih menjadikan seseorang menjadi diri sendiri bukan untuk mencari keadaan yang menguntungkan seorang dengan perjuangan dalam hidup yang dicapai tetapi dengan kejujuran dalam bersikap dan bertindak adalah salah satu hal penting dalam kehidupan. Hati akan menjadikan manusia yang sempurna jika di kelola dengan baik menjadikan hati bersih dan tenang.tetapi ketika manusia hanya untuk menguntungkan diri sendiri dan mencari jalan yang tidak benar dalam penggunaan nya maka sebenar-benarnya itu adalah patung yaitu benda mati. Hidup dengan berjuang dan berusaha disertai dengan berdoa kepada Allah adalah hal yang membantu menjadikan hati-hati manusia bersih.

    ReplyDelete
  2. anisa safitri
    PEP B
    17701251038

    Pada elegi ini, saya mendapatkan beberapa hal yang masih saya bingungkan. Bagaimana jika kita menghancurkan patung filsafat itu? Bukankah itu sama saja dengan menghancurkan apa yang selama ini saya punya. kemudian saya berfikir untuk mehancurkan patung filsafat dan patung logos adalah dengan kita dapat memahamidiri kita yang sebenarnya. ketikasalah dari keadaan kita sebaiknya dikoreksi oleh diri sendiri, tidak malah memberontak dan menyalahkan orang lain.berusaha dan senantiasa berdoa kepada Allah menjadikan kita belajar bagaimana menjadi seorang yang hidup.

    ReplyDelete
  3. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasi atas postingannya, Pak. Dari tulisan Bapak di atas, saya belajar bahwa jangan sampai kita dibutakan oleh prestise, harta, kedudukan atau kenikmatan dunia lainnya sehingga logika dan nurani tidak lagi kita perdulikan. Karena manusia yang paling baik adalah manusia yang berotak cerdas dibarengi dengan hati nurani yang mulia dan menggunakan potensi dirinya untuk kepentingan bersama.

    ReplyDelete
  4. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini saya memahami bahwa menjadi patung filsafat adalah dimana pikiran hanya diam menerima tanpa ada upaya untuk memikirkan pikiran itu. Dengan kita berpikir mencari kebenaran mencari suatu alasan, mencari suatu tujuan dan mencari makna itulah logos dalam pikiran mulai bergerak. Akan tetapi jika sepenuhnya pikiran dikuasai oleh logos akan kurang bijaksana karena Rene Descartes pernah juga mengatakan bahwa “Rene Descartes mengatakan bahwa “Pikiran-pikiran yang agung mampu melakukan baik kesesatan-kesesatan agung maupun kebajikan-kebajikan agung”, maka logos juga perlu dikendalikan oleh nurani dan iman kepada Tuhan YME.

    ReplyDelete
  5. Junianto
    PM C
    17706251065

    Senantiasa berikhtiar dalam hidup merupakan suatu keharusan bagi setiap manusia. Orang-orang yang disebut patung filsafat adalah mereka yang selalu terjebak dalam suatu kebimbangan, kebingungan, sehingga mereka layaknya patung fuilsafat yang tidak mampu berfikir secara logis dan kritis. Perlua adanya ikhtiar untuk senantiasa belajar dan menggunakan pikiran secara kritis sehingga bisa menggapai logos dan terhindar dari patung filsafat. Maka dari itu, yang harus kita perhatikan adalah bagaimana melaksanakan tugas dan amanah kita sesuai dengan koridor dan tupoksi, sehingga kita bisa berubah dari patung filsafat menjadi logos.

    ReplyDelete
  6. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Ternyata manusia terkadang bisa menjadi patung filsafat dan tidak menyadarinya. Sifat seseorang justru sering menjadi pemicu orang untuk menjadi patung filsafat. Keinginan dan hasrat seseorang apabila tidak dikontrol dapat mengakibatkan diri menjadi patung filsafat. Maka dari itu, perlu terus menerus melakukan refleksi diri agar dapat selalu memperbaiki diri dan bangkit untuk menjadi logos filsafat.

    ReplyDelete
  7. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Pikiran itu selalu berkembang, seperti dunia ini yang selalu berkembang. Bahkan ketika kita tidurpun kita tetap berada dalam dunia yang pada hakikatnya berotasi dan berevolusi. Artinya alam dimana kita berpijakpun mengajarkan kepada kita untuk senantiasa bergerak dan berkembang. Oleh karena itu dalam mempelajari filsafat kita jangan berorientasi pada menyelesaikan suatu buku, suatu nilai, atau suatu ujian. Akan tetapi marilah kita senantiasa belajar menggunakan pikiran dan pengalaman kita, karena membangun filsafat berarti membangun dunia dan jangan hanya seperti patung yang tidak mau bergerak untuk belajar.

    ReplyDelete
  8. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi pemberontakan patung filsafat menjelaskan tentang sebenar-benarnya patung filsafat adalah keadaan berhenti dari satu atau beberapa atau semua sifat-sifat kita. Agar kita senantiasa terhindar sebagai patung filsafat maka kita hendaknya selalu berusaha dan berikhtiar. Kemudian juga menetapkan hati sebagai komandan bagi setiap sifat kita, artinya bahwa sifat kita akan dipimpin oleh hati kita, maka apabila hati kita bersih dan ikhlas maka sifat kita akan mengikutinya.

    ReplyDelete
  9. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmunya. Sebelum saya berkomentar, ijinkan saya untuk mengajukan pertanyaan atas dasar kebingungan saya. Apakah terdapat persamaan antara patung filsafat dan keadaan diri kita yang sedang termakan mitos?

    Pendapat saya atas elegi di atas: saya setuju bahwa berusaha dan berikhtiar adalah cara kita untuk menggapai logos kita. Tapi lebih dalam dari itu, saya juga setuju bahwa jalan kita menggapai logos harus senantiasa dikendalikan oleh hati kita sebagai kontrol utama. Maka mohon ijin untuk bertanya kembali, apakah cara untuk menghancurkan patung filsafat sama dengan cara kita menggapai logos?

    ReplyDelete
  10. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Dalam kehidupan, patung adalah suatu objek yang memiliki wujud tetapi selalu dalam keadaan diam. Bahkan kebanyakan wujudnya hanya merupakan tiruan dari objek hidup. Patung filsafat di dalam elegi ini dianalogikan sebagai objek yang dalam keadaan berhenti berusaha, melakukan penyalahgunaan, tidak melaksanakan kewajiban, dan melakukan tindakan tercela lainnya. Setiap manusia terancam melakukan perbuatan seperti itu. Hal ini disebabkan oleh keterbatasn masnusia itu sendiri. Tetapi apabila manusia tetap berikhtiar, melakukan usaha terbaiknya secara secara terus-menerus, maka akan menggapai logos.

    ReplyDelete

  11. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.
    Dari uraian di atas. maaf mungkin kalau tidak salah, patung filsafat itu digambarkan sebagai orang yang tak berpikir.Maka cara terbaik untuk terhindar dari patung filasafat adalah dengan berikhtiar dan berdoa kepadaTuhan.Semoga Tuhan selalu menuntun kita dimanapun kita melangkah.Amiinn

    ReplyDelete
  12. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Saya jadi teringat oleh kata-kata yang berulang-ulang kali diucapkan oleh Pak Marsigit bahwa “Bangunlah filsafatmu sendiri”. Kata-kata tersebut bagi saya memiliki kandungan filosofis yang tinggi, karena musuh dari filsafat adalah mitos yang dibentuk oleh dogma. Saya menyukai aktivitas filsafat yang berdiskusi dengan konsep, bukan sekedar mengutip istilah para filsup. Karena pada hakikatnya filsafat adalah aktivitas pikiran.

    ReplyDelete
  13. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Berdasarkan elegi ini saya memahami bahwa yang dinamakan patung filsafat adalah seseorang yang berada dalam posisi berhenti, pikirannya hanya diam tanpa memikirkan apa yang dipikirkannya. Ia sangat menikmati dan nyaman dengan keadaan yang demikian. Dan agar terhindar dari patung filsafat tersebut, seseorang hendaklah senantiasa berikhtiar, berusaha,dan berpikir untuk mencari makna logos. Kemudian tetapkanlah hati sebagai komando agar tidak berpikir melampaui batas.

    ReplyDelete
  14. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Membaca elegi ini membuat saya merasa termotivasi untuk terus belajar seumur hidup. Hal ini dikarenakan saya menginginkan sampai akhir hayat terus bergerak baik itu dalam olah pikir maupun olah hati. Meski terkadang terancam menjadi patung namun saya ingin berada dalam keadaan berpikir meskipun melalui berdiam diri. Berdiam diri yang dilakukan diharapkan dapat dijadikan sebagai proses mengevaluasi apa yang sudah dilakukan dan men-charge semangat dalam beribadah kepada Allah. Terima kasih Prof, saya sangat terinspirasi membaca ulasan ini.

    ReplyDelete
  15. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Mengapa harus menggunakan kata “patung” bukankah patung itu dibuat secara sengaja? Ya mungkinkah kita sengaja dalam melakukan hal yang buruk demi menggapai sebuah logos? Dimana kita berada di setiap ruang dan waktu yang kita punya jelas kita memiliki godaan terbesar kita yaitu nafsu. Nafsu untuk menggapai logos hingga kita termakan oleh sebuah mitos. Takut akan kehilangan suatu hal yang sudah kita miliki memiliki faktor terbesar dari diri kita. Kembali ke jalan yang benar. Karena Allah Maha Tahu apa yang kita lakukan di dunia ini

    ReplyDelete
  16. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Membaca tulisan ini membuat saya merasa malu. Masih lebih banyak yang belum saya lakukan daripada yang sudah saya lakukan. Bahkan yang saya lakukan bisa jadi tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan apa yang belum saya lakukan. Maka tulisan ini menjadi pengingat dan semoga bisa menjadi titik loncat agar saya pribadi lebih giat, berusaha lebih keras dan berikhtiar semaksimal mungkin agar tidak menjadi patung filsafat

    ReplyDelete
  17. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Elegi ini mengingatkan saya, betapa mudahnya jatuh dalam keadaan menjadi patung. Ketika sudah merasa aman Dan nyaman dengan kondisinya saat ini, godaan untuk berhenti sangat besar.
    Sebagai guru, Saya diingatkan until senantiasa belajar. Ilmu pengetahuan berkembang, zaman berubah, Dan di tengah perkembangan serta perubahan itu, haruslah guru juga berdinamika. Jika tidak, guru akan mati Dan hanya menjadi patung. Apatah yang dapat diharapkan dari sebuah patung selain sekedar hiasan yang tak jarang ditinggal orang.
    Mari bergerak bersama,Tak hanya puas menjadi patung saja.

    ReplyDelete
  18. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Berfilsafat harus sesuai dengan ruang dan waktunya. Jangan sampai kita terjebak dalam ruang dan waktu, menjadi patung filsafat. Setiap langkah pastilah akan ada rintangannya, tinggal bagaimana kita bersikap untuk melewatinya dan berusaha keluar dari zona aman, perlu selalu berpikir dan terus belajar dari pengalaman, tidak hanya terpaku pada apa yang telah ada, agar tidak menjadi patung filsafat.

    ReplyDelete
  19. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Elegi ini menggambarkan betapa seseorang sangat mudah diperdaya dengan kedudukan dan jabatan, serta pujian-pujian dari penjilat. Begitu banyaknya sosok rapuh yang bersembunyi dibalik patung. Semua hanya terfokus untuk mendapatkan sertifikan, diakui oleh atasan, mendapat gaji yang tinggi, serta karir yang cemerlang. Esensi dari semua profesi di dunia mulai luntur karena terjebak di dalam mitos dan patung. Dunia pendidikan tak luput dari sasaran bombardir pengrajin patung-patung ini, dengan memanfaatkan kekuasaan tanpa memikirkan bagaimana sistem menjadi kacau di bawahnya. Kita harus menjadi subyek yang mengada, jangan hanya menjadi patung.

    ReplyDelete
  20. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Barang siapa yang memang selalu stuck di dalam satu tempat dan dalam satu keadaan serta tak mau merubah diri mereka, maka hal tersebut lah yang saya fahami sebagai patung filsafat. Kita akan berhenti menjadi patung filsafat jika memang kita mulai menggerakkan diri kita untuk mencari apa yang ingin kita ketahui. Sadarilah, bahwa sebenar-benarnya ilmu itu diperoleh dengan mencari, bukan hanya berdiam diri menunggu ilmu itu datang kepada diri kita. Bukankan kita dituntut untuk mencari ilmu? Bukankan menuntut ilmu diperintahkan walaupun hingga ke tempat yang jauh? Hal terebutlah yang menjadikan ilmu itu sangat penting untuk dicari. Maka, mari mulailah bergerak dan berubah menjadi logos filsafat yang akan selalu bertanya dan bertanya untuk menggapai ilmu yang hakiki.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  21. Junianto
    PM C
    17709251065

    Saya menggaris bawahi pernyataan Prof yang menyatakan bahwa banyak orang yang menjadi patung filsafat, yaitu mereka yang berlindung dibalik kekuasaan, kedudukan, profesi, materi, dll. Secara fisik banyak sebagai pejabat, guru, dll tetapi ada yang memanfaatkan itu untuk kepentingan yang lain dan tentunya untuk menguntungkan dirinya. Bahkan ada yang menyalahgunakan kekuasaan dibalik pangkatnya sehingga merugikan orang lain, bahkan merugikan bangsa dan negara. Maka apapun posisi dan pangkat seseorang sebaiknya digunakan dengan penuh tanggungjawab.

    ReplyDelete
  22. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Patung filsafat yang saya pahami adalah keadaan berhenti sebagian atau berhenti seluruhnya terhadap suatu keadaan yang ada dan yang mungkin ada. Patung filsafat juga bisa dimaknai sebagai tidak berjalannya fungsi jabatan, gelar, predikat seseorang sehingga secara langsung maupun tidak langsung bisa merugikan diri sendiri dan atau orang lain. Untuk menghindari agar tidak menjadi patung filsafat yaitu dengan berusaha sungguh-sungguh menjalankan amanah, jabatan, gelar, predikat dengan hati dan pikiran.

    ReplyDelete
  23. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Patung filsafat diartikan sebagai keadaan berhenti. Keadaam berhenti yanh di maksud adalah keadaan di mana seseorang berlindung di bawah sesuatu yanh didewakan oleh mereka. Seperti contoh nyatanya pada zaman sekarang orang ingin memiliki gelar dan dia menghalalkam segala cara agar memiliki gelar tinggi, salah satuny adalah membeli ijazah. Tingkat kejujuran seseorang akan dipertaruhkan dan dia akan merasakan ketakutan untuk melindungi jati dirinya. Izajah digunakan semata-mata untuk mendapatkan jabatan. Oleh karena itu kita harus selalu mendekatkan diri kepada Tuhan agar terhindar dari patung-patunh filsafat.

    ReplyDelete
  24. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Elegi pemberontakan patung filsafat menjelaskan tentang sebenar-benarnya patung filsafat yaitu terancamnya manusia menjadi patung ketika kita tidak bisa mengendalikan emosi dan berhenti untuk berusaha dan berikhtiar dalam mencari ilmu dan menjalani kehidupan. cara agar terhindar agar tidak menjadi patung filsafat ialah kita hendaknya selalu berusaha dan berikhtiar. Kemudian juga menata hati kita dan tidak selalu mengutamakan hawa nafsu.

    ReplyDelete
  25. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017


    Menarik sekali sebutan patung filsafat diatas. Sebagai manusia yang dibekali akal pikiran tidak semestinya menjadi patung. Namun menjadi patung juga hal yang mungkin jika akal pikiran yang telah diberikan tidak digunakan dengan baik. Atau bahkan dengan akal pikiran yang dimiliki digunakan untuk melakukan hal-hal yang menyalangi kodratnya sebagai hamba. Oleh karena itu marilah menggunakan akal pikiran dengan baik, sehingga kita tidak menjadi patung filsafat.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  26. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Hidup itu terus bergulir, berputar seperti lingkaran, berjalan kedepan bagaikan garis lurus. Hidup itu proses berkembang (progress). Maka jika kita berhenti berprogress kita sedang berhenti dan mematung. Menjadi patung dan tidak berkembang terkadang menjadi pilihan kita sendiri. Menjadi guru yang seperti itu-itu saja, tak mengembangkan pengetahuan lebih lagi, bahkan tak menunaikan tugas dan kewajiban sebagai guru dengan baik maka kita telah mematung. Nyaman menjadi patung yang tak bergerak. Tak berubah. Itukah esensi kehidupan? Sesungguhnya ketika menjadi patung akan capek juga. Sama seperti menjadi guru yang tak ikhlas maka akan capek juga. Sudah-sudah, kalau tak ikhlas lebih baik tak usah jadi guru, daripada mematung?

    ReplyDelete
  27. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Kita harus berhati-hati jangan sampai menjadi patung filsafat. Jadilah sebaik-baik manusia yang menjaga hati dan pikiran untuk berbuat sesuatu yang ikhlas karena Allah bukan mengharap penilaian manusia yang sifatnya duniawi, apalagi sampai menghalalkan segala cara. Terima kasih pak untuk tulisannya :)

    ReplyDelete
  28. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Setelah membaca elegi di atas, saya jadi memahami bahwa yang dimaksud dengan patung filsafat itu adalah berhenti memikirkan atau menerima begitu saja suatu pemikiran dari orang lain tanpa ada keinginan mencari/memikirkan lebih lanjut tentang pemikiran tersebut, atau bisa dikatakan kondisi dimana seseorang merasa jelas dan tidak lagi berfikir, senang berada di zona nyaman (menerima dan menikmati berada dikeadaan berhenti) tersebut. Dengan begitu, sebagaimana yang disampaikan pula pada elegi tersebut, cara agar tidak menjadi patung filsafat adalah dengan berusaha dan berikhtiar untuk selalu belajar, meliputi semua yang ada dan yang mungkin ada untuk menggapai logos.

    ReplyDelete
  29. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Patung dalam kehidupan sehari-hari merupakan suatu objek benda mati. Patung tidak bergerak, acuh terhadap lingkungan sekitar, hanya bisa diam mendapat perlakuan apapun dari orang lain. Jika patung tersebut merupakan patung-patung dari tokoh terkenal, maka patung tersebut dielu-elukan. Padahal, sebagus-bagusnya patung ia tetaplah benda mati yang hanya bisa diam dan tidak bisa berbuat apa-apa. Begitu juga dengan patung filsafat yang dimaksud dalam elegi ini. Seseorang akan menjadi patung jika ia hanya berdiam diri terhadap keadaan sekitarnya dan berhenti dalam menembus ruang dan waktu (seperti belajar dan menuntut ilmu). Akan tetapi, seseorang dapat memperbaiki keadaanya agar tidak menjadi patung lagi dengan ikhtiar dan doanya. Oleh karena itu, berikhtiar dan berdoalah dalam hidup ini agar terhindar dari sifat layaknya seperti patung.

    ReplyDelete
  30. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Segala yang semestinya menempatkan dan ditempatkan pada ruang dan waktunya, pada wadah dan isinya, tetapi tidak ditempatkan dan tidak menempatkannya dengan tepat, maka itulah sebenar-benar patung. Hanya sebagai kedok saja, padahal kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang diembannya. Penyebab dari itu semua karena dalam pencapainnya tidak ikhlas, hanya mengharapkan hasil akhir saja, tidak menikmati dan menjiwai segala proses yang dijalaninya. Jika ikhlas dalam hati dan dipikir dengan logos tidaklah akan menjadi patung, melainkan akan menjadi ilmu yang bermanfaat, dan benar-benar digunakan sesuai dengan manfaat dan kebutuhannya.

    ReplyDelete
  31. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Patung filsafat dapat diartikan sebagai keadaan berhenti dari satu, beberapa, atau bahkan semua sifat-sifat. Maka setiap manusia sebenarnya dapat menjadi patun filsafat. Seorang pemimpin seharusnya memiliki sifat membela rakyatnya. Maka ketika seorang pemimpin melakukan korupsi yang jelas-jelas merugikan rakyatnya maka ia telah menjadi patung filsafat. Seorang guru seharusnya memiliki sifat menjadi panutan bagi siswa-siswanya. Maka jika guru tidak dapat menjadi contoh dan panutan bagi siswa- siswanya berarti guru ersebut telah menjadi patung filsafat. Karena itulah agar tidak menjadi patung filsafat kita harus senantiasa mengingat sifat- sifat dari kedudukan kita agar tidak terlepas dari sifat- sifat itu.

    ReplyDelete
  32. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Patung filsafat menggambarkan posisi yang negatif. Semua yang ada dan yang mungkin ada memiliki kemungkinan untuk menjadi patung filsafat manakala telah berubah menjadi negatif, disalahgunakan, mengalami kemandekan. Sehingga, untuk tetap menjadi logos, semua yang ada dan yang mungkin ada harus terus berusaha untuk menjadi hal yang baik.

    ReplyDelete
  33. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Patung filsafat menggambarkan posisi yang negatif. Semua yang ada dan yang mungkin ada memiliki kemungkinan untuk menjadi patung filsafat manakala telah berubah menjadi negatif, disalahgunakan, mengalami kemandekan. Sehingga, untuk tetap menjadi logos, semua yang ada dan yang mungkin ada harus terus berusaha untuk menjadi hal yang baik.

    ReplyDelete
  34. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Sebagaimana patung yang hanya dijadikan simbol dan gambaran sesuatu maka semua yang ada terancam menjadi patung jika tidak melakukan pergerakan namun hanya menikmati apa saja yang telah dicapainya. Diamnya seseorang juga membuatnya dikejar-kejar untuk menjadi stigma dan berakhir menjadi mitos. Maka agar tidak menjadi patung filsafat, kita harus senantiasa berpikir dan tidak pernah lelah mencari logos serta senantisa melakukan refleksi diri.

    ReplyDelete
  35. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Sebenar-benarnya manusia adalah patung jika tidak berguna bagi sesamanya. Jika dalam artikel diatas diberikan contoh patung guru sebagai guru yang tidakbekerja secara semestinya sebagai seorang guru yang harusnya digugu dan ditiru. Patung guru yang menyadari kesalahannya dan selalu berusaha untuk memperbaikinya , maka patung tersebut akan berubah menjadi logos yaitu logos guru.

    ReplyDelete
  36. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Kita mengenal patung yaitu benda tiruan yang biasa terbuat dari batu, kayu, dan sebagainya. Patung biasanya merupakan tiruan dari benda hidup, misalnya patung manusia, patung hewan. Patung tidak bergerak, tidak dapat berpikir, tidak produktif, tidak mampu berkarya, dan masih banyak lagi. Sebagai manusia, hendaknya kita janganlah seperti patung. Kita harus menggali potensi-potensi yang ada pada diri kita untuk menghasilkan karya, untuk selalu produktif, untuk selalu menggunakan pikiran kita, dsb. Hal-hal tersebut tentunya kita lakukan tanpa meninggalkan ikhtiar dan doa.

    ReplyDelete
  37. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Patung melambangkan suatu bentuk yang mungkin memiliki makna dan kekuatan tersendiri bagi si pembuatnya. Patung filsafat dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana manusia menggunakan suatu simbol untuk mengganti identitas dirinya. Sementara terkadang identitas yang kita sedang gunakan tidak lah sesuai dengan keadaan patung tertentu. Pada dasarnya manusia memiliki segala potensi untuk menjadi sesuatu. Ketika kita sudah membatasi diri kita dengan suatu keadaan patung tertentu maka kita telah menjadi mitos.

    ReplyDelete
  38. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Patung di sini tak ubahnya seperti kanopi, hanya saja kanopi terbentang berdasarkan sudut pandang penerimanya, sedangkan patung di sini lebih cenderung mengemukakan kesan negatif terhadap subyek yang berteduh di dalamnya. Segala yang ada dan yang mungkin ada memiliki dan dapat menjadi kanopi bagi fenomena yang lain, begitu pul dengan patung pada elegi ini, maka semua subyek dalam setiap semesta pembicaraan memiliki patung atau memiliki kemungkinan patung yang dapat dipilih untuk berlindung dan melindungi predikat yang melekat pada subyek tersebut. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  39. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    jika dikontekstualkan, patunglebih dekat kepada "kedok", berdasarkan elegi di atas, ada banyak atung yang ada di semesta ini, antara lain patung guru yang di dalamnya terdapat pembentengan subyek guru terhadap formal dan normatif yang sebenarnya harus ada dan diadakan. Guru banyak dijabarkan sebagai seorang yang digugu lan ditiru, namun tak sedikit guru yang tidak memiliki nilai moral yang dapat dicontoh oelh siswanya. Keadaaan ini tentu membahayakan generasi muda. Teiring doa semoga ada nabi Ibrahim yang dengan berani merobohkan semua patung-patung tersebut. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  40. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Sungguh dari elegi ini memberikan pelajaran bagi saya pribadi, bahwa jika kita tidak kembali kepada berpikir dan hanya mengutamakan napsu serta keinginan, maka kita sudah menjadi patung filsafat. Menyalahgunakan hasil berpikir, hasil pengethuan, hasil membangun juga akan menjadikan kita sebagai patung filsafat. Maka tiadalah patung-patung filsafat tersebut dapat menjadi filsafa jika melakukan olah piker dengan benar sesuai jalan yang benar.

    ReplyDelete
  41. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Jika hal ini ditarik dalam dunia pendidikan, khususnya pembeljaran matematika, maka akan didapatkan praktek guru yang hanya membentuk siswa menjadi patung-patung yang tidak bergerak, kurang mendapatkan nilai, dan terlena dengan apa yang dinamakan angka rapot atau sertifikat atau ijazah. Tanpa memahami apa yang sudah dipelajarinya, sungguh siswa hanya mengekor saja apa yang dikatakn guru, menjadi patung contoh.

    ReplyDelete

  42. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Patung fisafat adalah keadaan berhenti dari semua obyek filsafat yaitu yang ada dan yang mungkin ada. Keadaan berhenti ini seperti halnya terjebak dalam mitos atau berhenti untuk bertanya, berhenti untuk berpikir kritis dan berhenti untuk belajar. Maka jika patung-patung ini telah menyadari keadaannya dan kembali melakukan kegiatan berpikir kritis dan belajar, dia akan menggapai logosnya yaitu ilmu pengetahuan dan bukan lagi menjadi patung.

    ReplyDelete
  43. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Patung filsafat dalam elegi ini tak ubahnya mitos. Ini perumpamaan bagi orang yang telah berhenti berpikir dan merasa cukup pikirannya dengan apa yang sudah dipikirkan. Apabila pada suatu bangsa rakyat-rakyatnya bertransformasi layaknya patung maka bangsa tersebut tak akan maju dan justru akan tergerus oleh perkembangan jaman yang selalu berkembang dan berubah-ubah. Berpikirlah kritis dan logis serta berusahalah untuk terus melakukan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat.

    ReplyDelete
  44. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Terimakasih prof. Marsigit atas ulasan di atas. Pelajaran yang saya tangkap dari elegi kali ini mulai dapat saya pahami ketika logos mengatakan bahwa sebenar-benar patung filsafat adalah keadaan berhenti dari satu , atau beberapa, atau semua sifat-sifatnya.Patung guru dan patung sertifikat disebut patung karena secara tersirat mengartikan bahwa tiadalah guna menjadi seorang guru atau berijazah sekalipun kalau ia tidak mampu mengaplikasikan dan memanfaatkan gelar/ jabatannya untuk diri sendiri dan orang lain. Ia tidak mau dan tidak mampu terbuka dan mengembangkan diri dan hanya mengikuti alur formal saja tanpa berguna sam sekali, maka itulah mengapa ia disebut dengan patung filsafat karena ia hanya berlindung dan berdiri dibalik nama jabatan atau gelarnya tersebut. Sehingga ia menjadi berhenti berpiki dan itulah gejala-gejala ia seang terjebak oleh mitos. Maka dari itu marilah kita sadar akan peran serta kontribusi apakah yang mampu kita berikan, jangan hanya cukup ilmu dan pengetahuannya untuk diri sendiri, merasa cukup terhadap pengetahuan yang kita punya, berhenti berpikir kritis maupun belajar, janganlah seperti itu. Jangan lah kita mau menjadi patung-patung jangan yang hanya mampu mengeroposkan pikiran dan budaya kita sehingga kita menjadi terbawa oleh arus mereka, oleh karenanya tetap berusahalah untuk menggapai logos dan melakukan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat untuk semua orang, Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  45. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Patung dalam arti yang sesungguhnya ialah benda mati yang meyerupai benda tiruannya namun tida dapat berpikir dan berberak, hanya diam saja. Patung dalam arti filsafat ialah seseorang atau seperangkat benda yang tidak memberikan manfaat yang seharusnya diberikan kepada orang atau masyarakat. Salah satu contohnya ialah patung guru, yaitu seorang guru yang tidak menggunakan ilmunya dengan baik untuk mengembangkan strategi pembelajaran sehingga siswa tidak merasakan manfaat dari kehadiran guru dalam kegiatan belajarnya.

    Contoh yang lain ialah patung sertifikat, yaitu sertifikat yang disalah gunakan untuk memperoleh keuntungan pribadi. Ada pula orang yang menceri sertifikat palsu atau mencari sertifikat asli namun dengan cara yang salah. Misalnya seorang calon mahasiswa keguruan yang tidak jujur dalam melaksanakan tugas akhirnya hanya demi memperoleh ijazah atau akta mengajar. Ada juga guru yang memalsukan sertifikat tertentu demi naik pangkat menjadi kepala sekolah. Semoga kita terhindar dari perbuatan menjadi patung atau menjadikan hal atau orang lain menjadi patung. Apabila patung tidak memberi manfaat bai orang lain, maka janganlah jadi patung. Jadilah manusia yang selalu memberi manfaat bagi orang lain dan lingkungan di sekitarnya.

    ReplyDelete
  46. Latifah Fitriasari
    PM C

    Berfilsafat merupakan berpikir kritis dan logis. Jika dilihat, banyak sekali patung-patung ditengah-tengah hidup kita.Fikiran terhadap sebuah patung misalnya patung akan tetap menjadi patung, ia hanya diam membisu diam seribu bahasa. Patung selamanya tetaplah patung tak akan berubah. Itulah sebabnya patung menjadi mitos dikarenakan dipercaya padahal sifatnya selalu tetap. Ini perumpamaan bagi orang yang telah berhenti berpikir lagi dan merasa cukup pikirannya dengan apa yang sudah dipikirkan.

    ReplyDelete
  47. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Dari elegi ini dapat diambil sebuah pelajaran, dalam hidup ini kita harus berusaha sekuat tenaga untuk tidak menjelma menjadi sebuah patung, yang selalu berusaha memaksakan kehendak sesuai dengan kemauannya. Dengan ilmu manusia beramal, dengan ilmu manusia mampu berkarya, dengan ilmu manusia menyampaikan kenenaran. Manusia yang berilmu akan lebih bijaksana dalam berbuat, bertingkah, berfikir maupun berbicara.

    ReplyDelete
  48. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi ini dijelaskan mengenai patung filsafat dengan menggunakan 2 cara yaitu penjelasan khusus dan penjelasan umum. Contoh dari penjelasan khusus yaitu dengan menyebutkan seseuatu yang segsungguhnya jelas telah memiliki tugasnya dengan khusus namun ia tak sesuai dengan tujuannya. Sedangkan penjelasan umumnya yaitu jika sesuatu semua yang ada dan yang mungkin ada bisa jadi patung filsafat jika keadaan berhenti dari satu , atau beberapa, atau semua sifat-sifatnya. Dalam kata lain ia bisa menjadi patung filsafat jika ia merupakan mitos pula. Sehingga nasihat dari elegi diatas yaitu kita agar tidak menjadi patung filsafat, atau orang yang berhenti maka kita senantiasa bergerak dan berubah agar senantiasa memenuhi sifat-sifat kita selayaknya, memenuhi tugas tugas kita maka kita bisa terbebas dari patung filsafat tersebut. Kemudian tak lupa pula untuk memohon perlindungan dan kekuatan agar tidak menjadi yang berhenti itu.

    ReplyDelete
  49. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Dari elegi ini, patung filsafat adalah sebuah konotasi yang bermakna negatif. Patung filsafat diibaratkan seorang guru yang tidak bisa dijadikan sebagai teladan bagi siswa-siswanya karena memiliki perilaku yang buruk. Dan juga mengejar sertifikat dengan cara-cara yang menyalahi aturan dan digunakan untuk kepentingan pribadi. Sudah sepantasnya seorang guru tidak berperilaku seperti itu. Bagaiamanapun juga perilaku guru menjadi contoh bagi siswanya. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memiliki kepribadian yang baik.

    ReplyDelete
  50. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam elegi ini dicertakan bahwa seseorang akan berubah menjadi patung filsafat ketika orang tersbut berhenti unutk berubah, berhenti unutk berkaya, berhenti unutk berinovasi. Maka hal ini disamakan dengan patung yang tidak dapat berubah bentuk. Unutk terbebas dari patung tersebu diperlukan bergerak menuju sumber ilmu yang ada. Sehingga akan terjadi pergerakan.

    ReplyDelete
  51. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Patung dan logos. Dua hal yang berkebalikan. Sebagai contoh patung guru adalah seorang guru yang bersembunyi di balik logos guru. Begitu juga dengan jenis patung-patung yang lain. Patung filsafat adalah keadaan berhenti dari satu atau beberapa atau semua sifat yang dimiliki patung itu. Namun, ketika semua berada dalam keadaan bergerak, berubahlah patung-patung itu menjadi logos. Maka bentuk usaha dan ikhtiar adalah cara agar terhindar dari patung filsafat.

    ReplyDelete
  52. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Sebaiknya tidak ada kata puas dalam menuntut ilmu karena jika kita telah merasa puas dalam menuntut ilmu maka kita akan berhenti dalam menuntut ilmu dan hal itu lama-kelamaan akan menjerumuskan kita masuk kedalam kategori patung filssafat. Jadi jangan mentang-mentang sudah mendapatkan ijazah atau setifikat maka kita berhenti belajar. Padahal perkembangan dunia ini selalu dinamis. Bahkan penemuan baru didapatkan setiap satu menit. Jadi tidak boleh ada kata berhenti dalam menuntut ilmu.

    ReplyDelete
  53. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Sebagai tambahan, Tuhan berfirman bahwa “Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya”. Artinya yakni, bahwa dalam hidup ini kita diajarkan untuk berikhtiar dan berusaha untuk merubah nasib kita sendiri. Nasib kita tidak akan berubah ketika kita hanya berdiam diri pada posisi nyaman sebagai sebuah patung filsafat.

    ReplyDelete
  54. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  55. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Manusia secara sadar atau tidak disadari bisa menjadi patung filsafat, yaitu ketika manusia berhenti berpikir, terjebak di dalam ruang dan waktu, terlena akan pengetahuan atau ilmu yang serba terbatas yang dimilikinya. Sehingga membuatnya lupa akan hal yang lain, padahal manusia adalah yang terbatas maka sesungguhnya kita perlu terus berpikir, berusaha dan berikthiar memperoleh ilmu dan membangun kehidupan yang sesuai dengan kuasa Tuhan. Sekian dan Terima Kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  56. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Setelah membaca elegi ini, dapat saya simpulkan bahwa yang dimaksud dengan patung filsafat adalah seseorang yang sedang dalam keadaan diam dan berada di zona nyaman. Mereka tidak bergerak untuk mencari ilmu yang baru dan tidak bergerak menuju ke arah yang lebih baik. Maka orang yang seperti inilah yang akan merasakan kerugian yang sangat besar. Mereka hidup tidak secara dinamis, tetapi hanya monoton

    ReplyDelete
  57. Kita tidak boleh berlindung dibalik status atau identitas kita. Misalnya saja, kita sebagai guru, kemudian kita berbuat tercela. Jika ada yang menegur kesalahan kita, lalu kita menjawab "Loh, saya kan guru, jadi saya berbuat apa saja pasti benar". Maka hal ini akan merusak citra seorang guru. Guru yang seharusnya bisa digugu dan ditiru akan menjadi tidak dipercaya akibat perbuatan tercela yang dilakukan oleh salah seorang yang mengaku sebagai guru. Sesuai dengan pepatah "karena nila setitik, rusak susu sebelanga". Maksudnya adalah karena perbuatan tercela satu orang guru, membuat orang lain sulit percaya kepada semua guru, walaupun semua guru belum tentu melakukan tindakan tercela tersebut.

    ReplyDelete
  58. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    manusia sama saja seperti patung jika dia tidak dapat memberikan manfaat bagi orang lain, jika hanya terdiam, tidak berfikir dan tidak berusaha untuk maju. padahal manusia diwajibkan untuk selalu mencari ilmu tidak terkecuali. sesungguhnya manusia akan merugi jika ia hanya terdiam menerima keadaan dan tidak mau berusaha untuk maju.

    ReplyDelete
  59. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa pada sebuah gelar yang melekat pada seseorang maka akan terdapat wajah atau image dari gelar itu yang melekat ke orang tersebut. Di elegi diatas diberikan contoh tetang guru. Guru itu memiliki image yang bijaksana dan pantas untuk ditiru. Tapi sebenarnya tak semua guru benar-benar memiliki watak seperti image yang melekat padanya. Bisa jadi watak sebenarnya bertolak belakang dari imagenya

    ReplyDelete
  60. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Segala masukan keburukan apalagi diproses dengan keburukan akan menghasilkan suatu keburukan yang tinggi kualitasnya. Pencapaian kesuksesan melalui cara yang tidak terpuji dengan tujuan perolehan nama besar atau jabatan merupakan salah satu wujud implementasi korupsi, kolusi, dan nepotisme.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  61. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Menempatkan udang di balik batu dan menjalankan amanah tanpa keikhlasan dengan berharap beragam bentuk imbalan merupakan golongan orang-orang yang tersesat dan sungguh menyesatkan bagi sesamanya. Masih banyak lagi tindakan-tindakan yang berlandaskan keburukan sesungguhnya sangat merugikan diri sendiri dan sesamanya. Karena segala masukan keburukan apalagi diproses dengan keburukan akan menghasilkan suatu keburukan yang tinggi kualitasnya.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  62. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Zona nyaman memang menjebak dan lama kelamaan berbahaya. Elegi diatas menggambarkan kondisi kita terjebak dalam zona nyaman dan tidakmau berkembang alias pasif. Agar terhindar dari zona nyaman kita harus sadar, bahwa kita selalu bersentuhan dengan dimensi ruang dan waktu, kita harus berubah, bergerak, selalu belajar dan belajar. Bergerak dan selau aktif dalam kegiatan posistif merupakan salah satu contoh untuk melawan dan menghindari zona nyaman datang pada seseorang, karena senantiasa bergerak dalam kebaikan akan membantu kita untuk tidak berada di zona nyaman. belajar dan belajar juga dapat menjadikan kita untuk aktif bergerak dan berfikir.

    ReplyDelete
  63. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Manusia ditakdirkan untuk selalu berubah dan menerima perubahan. Tidak ada yang tetap di dunia ini, semua berubah sesuai dengan ruang dan waktunya. Untuk terus dapat mengikuti perubahan ini, manusia tidak boleh diam dan terjebak dalam zona nyaman. Jika kita hanya diam dalam zona nyaman, itulah sebenarnya kita telah terjebak patung filsafat. Maka dari itu, manusia harus selalu bergerak, berpikir, dan berusaha menjadi lebih baik dan lebih baik. Manusia perlu selalu belajar. Semoga kita tersadar dan dapat selalu bergerak dan juga menggerakkan sehingga dapat memberikan manfaat dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  64. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Stigma itu ada pada diri sesorang. Stigma ini ada yang positif maupun negatif. Jika stigma itu positif maka akan mengantarkan kearah yang lebih baik dan jika hal itu negatif maka mengantarkan kearah yang kurang baik. Jadi stigma itu sebagai alat untuk merefleksikan , mengubah dan introspeksi pada diri sendiri.

    ReplyDelete
  65. Woro Alma Manfaati
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241002

    Eligi di atas dapat dijadikan pembelajaran bahwa sebagai manusia yang memiliki akal dan pikiran hendaknya jangan berhenti berfikir karena telah merasa puas dengan hasil pemikirannya. Manfaatkanlah akal dan pikiran kita dengan baik dengan selalu berfikir kritis , logis dan terus belajar untuk mencari ilmu baik dunia maupun akhirat. Namun perlu diingat, akal dan pikiran manusia itu tentu ada batasnya. Oleh karena itu, gunakanlah sesuai ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  66. Rina Musannadah
    15301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Sebagai manusia, berikhtiar merupakan suatu keharusan. Patung filsafat di sini diartikan sebagai orang yang terbelenggu sehingga tidak dapat berpikir kritis dan logis. Oleh karena itu, dalam belajar filsafat diperlukan niat tulus dan ikhlas untuk terus belajar agar bisa menggapai logos dan terhindar dari patung filsafat.

    ReplyDelete