Sep 20, 2013

Elegi Pemberontakan Patung Filsafat




Oleh Marsigit

Pengikut Patung Filsafat:
Wahai logos, ketahuilah bahwa kami semua adalah pengikut Patung Filsafat.

 Kami itu meliputi pengikut contoh, pengikut tokoh, pengikut ide, pengikut slogan,pengikut nasehat, pengikut bijaksana, pengikut disiplin, pengikut pembimbing, pengikut pemimpin, pengikut informasi, pengikut dermawan, pengikut kebaikkan, pengikut keamanan, pengikut koordinator, pengikut administrator, pengikut ketua, pengikut sekretaris, pengikut peraturan, pengikut sahabat, pengikut editor, pengikut fasilitator, pengikut guru, pengikut dosen, pengikut mahasiswa, pengikut jabatan, pengikut profesi, pengikut dedikasi, pengikut senior, pengikut pakar, pengikut pengalaman, pengikut orang tua, pengikut piagam, pengikut sertifikat, pengikut suami, pengikut lurah, pengikut ganteng, pengikut polisi, pengikut moral, pengikut etika, pengikut semua yang ada dan yang mungkin ada.
Ketahuilah bahwa kami semua merasa sangat terganggu dan tersinggung oleh ucapan dan tuduhanmu mengenai patung-patung filsafat. Tuduhanmu bahwa kami adalah patung-patung filsafat, sungguh sangat aneh dan asing bagi kami. Maka kami semua akan menuntut kepada engkau. Kami menyatakan dengan ini pemberontakan terhadap dirimu. Hanya ada satu hal saja yang dapat membatalkan rencana kami itu, yaitu bahwa engkau harus dapat menjelaskan mengapa kami itu engkau sebut sebagai patung filsafat?

Logos:
Wahai semua pengikut patung filsafat, kami hanya berusaha mengungkap fakta yang sebenarnya. Aku menyadari tiadalah mudah bagi engkau semua untuk menerima fakta tentang dirimu masing-masing. Tetapi jikalau engkau semua mendesak diriku untuk menjelaskan mengapa engkau semua aku sebut sebagai patung filsafat, maka ada 2 (dua) macam cara. Pertama, penjelasan khusus. Kedua, penjelasan umum.

Pengikut Patung Filsafat:
Apakah yang engkau maksud dengan penjelasan khusus?

Logos:
Karena penjelasan khusus, maka hanya bisa diambil kasus per kasus. Maka kemarilah diantara engkau itu, agar aku bisa menjelaskan satu per satu secara terbatas.

Patung Guru:
Wahai logos, mengapa engkau menyebut aku sebagai patung filsafat. Padahal aku adalah guru. Ketahuilah bahwa guru adalah digugu dan ditiru. Aku punya tugas mulia yaitu mendidik dan mencerdaskan siswa?

Logos:
Baiklah, wahai patung guru. Apakah engkau pernah melihat seorang guru yang tidak dapat digugu dan ditiru? Apakah engkau pernah melihat seorang guru melakukan tindakan tidak terpuji. Maka mereka itu sebenarnya bukanlah seorang guru, tetapi berlindung di balik nama guru. Mereka itulah sebenar-benar patung guru. Tetapi ketika engkau menggunakan pikiranmu dan datang kepadaku, maka aku telah menyaksikan bahwa engkau telah berubah dari patung guru, menjadi logos guru.

Patung Sertifikat:
Wahai logos, mengapa engkau menyebut aku sebagai patung filsafat. Padahal sertifikat ini aku peroleh dengan susah payah. Ketahuilah bahwa aku telah mempertaruhkan segenap jiwa dan ragaku untuk memperoleh sertifikat ini.

Logos:
Baiklah, wahai patung sertifikat. Apakah engkau pernah melihat seseorang menyalah gunakan sertifikat? Apakah engkau pernah melihat seseorang bersikap tidak sesuai dengan sertifikat yang diperolehnya? Apakah engkau pernah melihat seseorang mencari sertifikat dengan menggunakan cara yang tidak benar? Mereka itulah sebenar-benar patung sertifikat. Tetapi ketika engkau menggunakan pikiranmu dan menunjukkan penyesalanmu serta datang untuk protes kepadaku, maka aku telah menyaksikan bahwa engkau telah berubah dari patung sertifikat menjadi logos sertifikat.

Pengikut Patung Filsafat:
Cukup, lalu apakah yang engkau maksud dengan penjelasan umum?

Logos:
Penjelasan umum dari diriku menyatakan bahwa tidaklah hanya dirimu semua, tetapi adalah bagi semua yang ada dan yang mungkin ada, itu bisa terkena hukumnya menjadi patung filsafat. Sebenar-benar patung filsafat adalah keadaan berhenti dari satu , atau beberapa, atau semua sifat-sifatmu. Maka ketika engkau semua datang berbondong-bondong mendatangiku, itu suatu bukti bahwa engkau tidak dalam keadaan berhenti. Pada mulanya aku melihat dirimu semua nun jauh di sana dalam keadaan berhenti. Engkau semua kelihatan sangat menikmati keadaanmu dalam keadaan berhenti itu. Itulah sebenar-benar patung-patung filsafat yang aku saksikan. Tetapi ketika engkau mendengar pernyataanku tentang dirimu sebagai patung filsafat, aku kemudian melihat bahwa dirimu semua menggeliat bergerak menuju ke mari mendatangi diriku untuk melakukan protes dan pemberontakan. Maka seketika itulah aku melihat bahwa semua patung-patung filsafatmu itu telah lenyap. Aku telah menyaksikan dirimu semua telah berubah menjadi diriku, yaitu menjadi logos. Ketika engkau sedang menempuh perjalananmu menuju ke mari itulah engkau semua dalam keadaan bergerak. Itulah sebenar-benar logos, yaitu keadaan bergerak.
Dengan rasa haru dan iba, aku menyambut kedatanganmu semua. Aku ucapkan selamat wahai para logos: logos contoh, logos tokoh, logos ide, logos slogan,logos nasehat, logos bijaksana, logos disiplin, logos pembimbing, logos pemimpin, logos informasi, logos dermawan, logos kebaikkan, logos keamanan, logos koordinator, logos administrator, logos ketua, logos sekretaris, logos peraturan, logos sahabat, logos editor, logos fasilitator, logos guru, logos dosen, logos mahasiswa, logos jabatan, logos profesi, logos dedikasi, logos senior, logos pakar, logos pengalaman, logos orang tua, logos piagam, logos sertifikat, logos suami, logos lurah, logos ganteng, logos polisi, logos moral, logos etika, logos semua yang ada dan yang mungkin ada.

Orang tua berambut putih:
Berusaha dan ikhtiar adalah cara untuk terhindar bagi dirimu sebagai patung filsafat. Itulah sebenar-benar pikiranmu yaitu logos bagi semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka tetapkanlah hatimu sebagai komandan bagi setiap sifatmu. Dengan rasa haru dan iba, aku menyambut kedatanganmu semua sebagai logos yang bernurani. Aku ucapkan selamat wahai para : logos contoh yang bernurani, logos tokoh yang bernurani, logos ide yang bernurani, logos slogan yang bernurani, logos nasehat yang bernurani, logos bijaksana yang bernurani, logos disiplin yang bernurani, logos pembimbing yang bernurani, logos pemimpin yang bernurani, logos informasi yang bernurani, logos dermawan yang bernurani, logos kebaikkan yang bernurani, logos keamanan yang bernurani, logos koordinator yang bernurani, logos administrator yang bernurani, logos ketua yang bernurani, logos sekretaris yang bernurani, logos peraturan yang bernurani, logos sahabat yang bernurani, logos editor yang bernurani, logos fasilitator yang bernurani, logos guru yang bernurani, logos dosen yang bernurani, logos mahasiswa yang bernurani, logos jabatan yang bernurani, logos profesi yang bernurani, logos dedikasi yang bernurani, logos senior yang bernurani, logos pakar yang bernurani, logos pengalaman yang bernurani, logos orang tua yang bernurani, logos piagam yang bernurani, logos sertifikat yang bernurani, logos suami yang bernurani, logos lurah yang bernurani, logos ganteng yang bernurani, logos polisi yang bernurani, logos moral yang bernurani, logos etika yang bernurani, logos semua yang ada dan yang mungkin ada yang bernurani.

25 comments:

  1. Anisa Safitri
    PEP B
    17701251038

    dari cerita diatas dapat diambil inti yang dapat saya ambil adlah sebagai manusia yang diberikan akal pikiran dan perasaan hati nurani yang awalnya bersih menjadikan seseorang menjadi diri sendiri bukan untuk mencari keadaan yang menguntungkan seorang dengan perjuangan dalam hidup yang dicapai tetapi dengan kejujuran dalam bersikap dan bertindak adalah salah satu hal penting dalam kehidupan. Hati akan menjadikan manusia yang sempurna jika di kelola dengan baik menjadikan hati bersih dan tenang.tetapi ketika manusia hanya untuk menguntungkan diri sendiri dan mencari jalan yang tidak benar dalam penggunaan nya maka sebenar-benarnya itu adalah patung yaitu benda mati. Hidup dengan berjuang dan berusaha disertai dengan berdoa kepada Allah adalah hal yang membantu menjadikan hati-hati manusia bersih.

    ReplyDelete
  2. anisa safitri
    PEP B
    17701251038

    Pada elegi ini, saya mendapatkan beberapa hal yang masih saya bingungkan. Bagaimana jika kita menghancurkan patung filsafat itu? Bukankah itu sama saja dengan menghancurkan apa yang selama ini saya punya. kemudian saya berfikir untuk mehancurkan patung filsafat dan patung logos adalah dengan kita dapat memahamidiri kita yang sebenarnya. ketikasalah dari keadaan kita sebaiknya dikoreksi oleh diri sendiri, tidak malah memberontak dan menyalahkan orang lain.berusaha dan senantiasa berdoa kepada Allah menjadikan kita belajar bagaimana menjadi seorang yang hidup.

    ReplyDelete
  3. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasi atas postingannya, Pak. Dari tulisan Bapak di atas, saya belajar bahwa jangan sampai kita dibutakan oleh prestise, harta, kedudukan atau kenikmatan dunia lainnya sehingga logika dan nurani tidak lagi kita perdulikan. Karena manusia yang paling baik adalah manusia yang berotak cerdas dibarengi dengan hati nurani yang mulia dan menggunakan potensi dirinya untuk kepentingan bersama.

    ReplyDelete
  4. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini saya memahami bahwa menjadi patung filsafat adalah dimana pikiran hanya diam menerima tanpa ada upaya untuk memikirkan pikiran itu. Dengan kita berpikir mencari kebenaran mencari suatu alasan, mencari suatu tujuan dan mencari makna itulah logos dalam pikiran mulai bergerak. Akan tetapi jika sepenuhnya pikiran dikuasai oleh logos akan kurang bijaksana karena Rene Descartes pernah juga mengatakan bahwa “Rene Descartes mengatakan bahwa “Pikiran-pikiran yang agung mampu melakukan baik kesesatan-kesesatan agung maupun kebajikan-kebajikan agung”, maka logos juga perlu dikendalikan oleh nurani dan iman kepada Tuhan YME.

    ReplyDelete
  5. Junianto
    PM C
    17706251065

    Senantiasa berikhtiar dalam hidup merupakan suatu keharusan bagi setiap manusia. Orang-orang yang disebut patung filsafat adalah mereka yang selalu terjebak dalam suatu kebimbangan, kebingungan, sehingga mereka layaknya patung fuilsafat yang tidak mampu berfikir secara logis dan kritis. Perlua adanya ikhtiar untuk senantiasa belajar dan menggunakan pikiran secara kritis sehingga bisa menggapai logos dan terhindar dari patung filsafat. Maka dari itu, yang harus kita perhatikan adalah bagaimana melaksanakan tugas dan amanah kita sesuai dengan koridor dan tupoksi, sehingga kita bisa berubah dari patung filsafat menjadi logos.

    ReplyDelete
  6. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Ternyata manusia terkadang bisa menjadi patung filsafat dan tidak menyadarinya. Sifat seseorang justru sering menjadi pemicu orang untuk menjadi patung filsafat. Keinginan dan hasrat seseorang apabila tidak dikontrol dapat mengakibatkan diri menjadi patung filsafat. Maka dari itu, perlu terus menerus melakukan refleksi diri agar dapat selalu memperbaiki diri dan bangkit untuk menjadi logos filsafat.

    ReplyDelete
  7. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Pikiran itu selalu berkembang, seperti dunia ini yang selalu berkembang. Bahkan ketika kita tidurpun kita tetap berada dalam dunia yang pada hakikatnya berotasi dan berevolusi. Artinya alam dimana kita berpijakpun mengajarkan kepada kita untuk senantiasa bergerak dan berkembang. Oleh karena itu dalam mempelajari filsafat kita jangan berorientasi pada menyelesaikan suatu buku, suatu nilai, atau suatu ujian. Akan tetapi marilah kita senantiasa belajar menggunakan pikiran dan pengalaman kita, karena membangun filsafat berarti membangun dunia dan jangan hanya seperti patung yang tidak mau bergerak untuk belajar.

    ReplyDelete
  8. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi pemberontakan patung filsafat menjelaskan tentang sebenar-benarnya patung filsafat adalah keadaan berhenti dari satu atau beberapa atau semua sifat-sifat kita. Agar kita senantiasa terhindar sebagai patung filsafat maka kita hendaknya selalu berusaha dan berikhtiar. Kemudian juga menetapkan hati sebagai komandan bagi setiap sifat kita, artinya bahwa sifat kita akan dipimpin oleh hati kita, maka apabila hati kita bersih dan ikhlas maka sifat kita akan mengikutinya.

    ReplyDelete
  9. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmunya. Sebelum saya berkomentar, ijinkan saya untuk mengajukan pertanyaan atas dasar kebingungan saya. Apakah terdapat persamaan antara patung filsafat dan keadaan diri kita yang sedang termakan mitos?

    Pendapat saya atas elegi di atas: saya setuju bahwa berusaha dan berikhtiar adalah cara kita untuk menggapai logos kita. Tapi lebih dalam dari itu, saya juga setuju bahwa jalan kita menggapai logos harus senantiasa dikendalikan oleh hati kita sebagai kontrol utama. Maka mohon ijin untuk bertanya kembali, apakah cara untuk menghancurkan patung filsafat sama dengan cara kita menggapai logos?

    ReplyDelete
  10. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Dalam kehidupan, patung adalah suatu objek yang memiliki wujud tetapi selalu dalam keadaan diam. Bahkan kebanyakan wujudnya hanya merupakan tiruan dari objek hidup. Patung filsafat di dalam elegi ini dianalogikan sebagai objek yang dalam keadaan berhenti berusaha, melakukan penyalahgunaan, tidak melaksanakan kewajiban, dan melakukan tindakan tercela lainnya. Setiap manusia terancam melakukan perbuatan seperti itu. Hal ini disebabkan oleh keterbatasn masnusia itu sendiri. Tetapi apabila manusia tetap berikhtiar, melakukan usaha terbaiknya secara secara terus-menerus, maka akan menggapai logos.

    ReplyDelete

  11. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.
    Dari uraian di atas. maaf mungkin kalau tidak salah, patung filsafat itu digambarkan sebagai orang yang tak berpikir.Maka cara terbaik untuk terhindar dari patung filasafat adalah dengan berikhtiar dan berdoa kepadaTuhan.Semoga Tuhan selalu menuntun kita dimanapun kita melangkah.Amiinn

    ReplyDelete
  12. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Saya jadi teringat oleh kata-kata yang berulang-ulang kali diucapkan oleh Pak Marsigit bahwa “Bangunlah filsafatmu sendiri”. Kata-kata tersebut bagi saya memiliki kandungan filosofis yang tinggi, karena musuh dari filsafat adalah mitos yang dibentuk oleh dogma. Saya menyukai aktivitas filsafat yang berdiskusi dengan konsep, bukan sekedar mengutip istilah para filsup. Karena pada hakikatnya filsafat adalah aktivitas pikiran.

    ReplyDelete
  13. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Berdasarkan elegi ini saya memahami bahwa yang dinamakan patung filsafat adalah seseorang yang berada dalam posisi berhenti, pikirannya hanya diam tanpa memikirkan apa yang dipikirkannya. Ia sangat menikmati dan nyaman dengan keadaan yang demikian. Dan agar terhindar dari patung filsafat tersebut, seseorang hendaklah senantiasa berikhtiar, berusaha,dan berpikir untuk mencari makna logos. Kemudian tetapkanlah hati sebagai komando agar tidak berpikir melampaui batas.

    ReplyDelete
  14. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Membaca elegi ini membuat saya merasa termotivasi untuk terus belajar seumur hidup. Hal ini dikarenakan saya menginginkan sampai akhir hayat terus bergerak baik itu dalam olah pikir maupun olah hati. Meski terkadang terancam menjadi patung namun saya ingin berada dalam keadaan berpikir meskipun melalui berdiam diri. Berdiam diri yang dilakukan diharapkan dapat dijadikan sebagai proses mengevaluasi apa yang sudah dilakukan dan men-charge semangat dalam beribadah kepada Allah. Terima kasih Prof, saya sangat terinspirasi membaca ulasan ini.

    ReplyDelete
  15. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Mengapa harus menggunakan kata “patung” bukankah patung itu dibuat secara sengaja? Ya mungkinkah kita sengaja dalam melakukan hal yang buruk demi menggapai sebuah logos? Dimana kita berada di setiap ruang dan waktu yang kita punya jelas kita memiliki godaan terbesar kita yaitu nafsu. Nafsu untuk menggapai logos hingga kita termakan oleh sebuah mitos. Takut akan kehilangan suatu hal yang sudah kita miliki memiliki faktor terbesar dari diri kita. Kembali ke jalan yang benar. Karena Allah Maha Tahu apa yang kita lakukan di dunia ini

    ReplyDelete
  16. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Membaca tulisan ini membuat saya merasa malu. Masih lebih banyak yang belum saya lakukan daripada yang sudah saya lakukan. Bahkan yang saya lakukan bisa jadi tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan apa yang belum saya lakukan. Maka tulisan ini menjadi pengingat dan semoga bisa menjadi titik loncat agar saya pribadi lebih giat, berusaha lebih keras dan berikhtiar semaksimal mungkin agar tidak menjadi patung filsafat

    ReplyDelete
  17. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Elegi ini mengingatkan saya, betapa mudahnya jatuh dalam keadaan menjadi patung. Ketika sudah merasa aman Dan nyaman dengan kondisinya saat ini, godaan untuk berhenti sangat besar.
    Sebagai guru, Saya diingatkan until senantiasa belajar. Ilmu pengetahuan berkembang, zaman berubah, Dan di tengah perkembangan serta perubahan itu, haruslah guru juga berdinamika. Jika tidak, guru akan mati Dan hanya menjadi patung. Apatah yang dapat diharapkan dari sebuah patung selain sekedar hiasan yang tak jarang ditinggal orang.
    Mari bergerak bersama,Tak hanya puas menjadi patung saja.

    ReplyDelete
  18. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Berfilsafat harus sesuai dengan ruang dan waktunya. Jangan sampai kita terjebak dalam ruang dan waktu, menjadi patung filsafat. Setiap langkah pastilah akan ada rintangannya, tinggal bagaimana kita bersikap untuk melewatinya dan berusaha keluar dari zona aman, perlu selalu berpikir dan terus belajar dari pengalaman, tidak hanya terpaku pada apa yang telah ada, agar tidak menjadi patung filsafat.

    ReplyDelete
  19. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Elegi ini menggambarkan betapa seseorang sangat mudah diperdaya dengan kedudukan dan jabatan, serta pujian-pujian dari penjilat. Begitu banyaknya sosok rapuh yang bersembunyi dibalik patung. Semua hanya terfokus untuk mendapatkan sertifikan, diakui oleh atasan, mendapat gaji yang tinggi, serta karir yang cemerlang. Esensi dari semua profesi di dunia mulai luntur karena terjebak di dalam mitos dan patung. Dunia pendidikan tak luput dari sasaran bombardir pengrajin patung-patung ini, dengan memanfaatkan kekuasaan tanpa memikirkan bagaimana sistem menjadi kacau di bawahnya. Kita harus menjadi subyek yang mengada, jangan hanya menjadi patung.

    ReplyDelete
  20. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Barang siapa yang memang selalu stuck di dalam satu tempat dan dalam satu keadaan serta tak mau merubah diri mereka, maka hal tersebut lah yang saya fahami sebagai patung filsafat. Kita akan berhenti menjadi patung filsafat jika memang kita mulai menggerakkan diri kita untuk mencari apa yang ingin kita ketahui. Sadarilah, bahwa sebenar-benarnya ilmu itu diperoleh dengan mencari, bukan hanya berdiam diri menunggu ilmu itu datang kepada diri kita. Bukankan kita dituntut untuk mencari ilmu? Bukankan menuntut ilmu diperintahkan walaupun hingga ke tempat yang jauh? Hal terebutlah yang menjadikan ilmu itu sangat penting untuk dicari. Maka, mari mulailah bergerak dan berubah menjadi logos filsafat yang akan selalu bertanya dan bertanya untuk menggapai ilmu yang hakiki.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  21. Junianto
    PM C
    17709251065

    Saya menggaris bawahi pernyataan Prof yang menyatakan bahwa banyak orang yang menjadi patung filsafat, yaitu mereka yang berlindung dibalik kekuasaan, kedudukan, profesi, materi, dll. Secara fisik banyak sebagai pejabat, guru, dll tetapi ada yang memanfaatkan itu untuk kepentingan yang lain dan tentunya untuk menguntungkan dirinya. Bahkan ada yang menyalahgunakan kekuasaan dibalik pangkatnya sehingga merugikan orang lain, bahkan merugikan bangsa dan negara. Maka apapun posisi dan pangkat seseorang sebaiknya digunakan dengan penuh tanggungjawab.

    ReplyDelete
  22. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Patung filsafat yang saya pahami adalah keadaan berhenti sebagian atau berhenti seluruhnya terhadap suatu keadaan yang ada dan yang mungkin ada. Patung filsafat juga bisa dimaknai sebagai tidak berjalannya fungsi jabatan, gelar, predikat seseorang sehingga secara langsung maupun tidak langsung bisa merugikan diri sendiri dan atau orang lain. Untuk menghindari agar tidak menjadi patung filsafat yaitu dengan berusaha sungguh-sungguh menjalankan amanah, jabatan, gelar, predikat dengan hati dan pikiran.

    ReplyDelete
  23. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Patung filsafat diartikan sebagai keadaan berhenti. Keadaam berhenti yanh di maksud adalah keadaan di mana seseorang berlindung di bawah sesuatu yanh didewakan oleh mereka. Seperti contoh nyatanya pada zaman sekarang orang ingin memiliki gelar dan dia menghalalkam segala cara agar memiliki gelar tinggi, salah satuny adalah membeli ijazah. Tingkat kejujuran seseorang akan dipertaruhkan dan dia akan merasakan ketakutan untuk melindungi jati dirinya. Izajah digunakan semata-mata untuk mendapatkan jabatan. Oleh karena itu kita harus selalu mendekatkan diri kepada Tuhan agar terhindar dari patung-patunh filsafat.

    ReplyDelete
  24. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Elegi pemberontakan patung filsafat menjelaskan tentang sebenar-benarnya patung filsafat yaitu terancamnya manusia menjadi patung ketika kita tidak bisa mengendalikan emosi dan berhenti untuk berusaha dan berikhtiar dalam mencari ilmu dan menjalani kehidupan. cara agar terhindar agar tidak menjadi patung filsafat ialah kita hendaknya selalu berusaha dan berikhtiar. Kemudian juga menata hati kita dan tidak selalu mengutamakan hawa nafsu.

    ReplyDelete
  25. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017


    Menarik sekali sebutan patung filsafat diatas. Sebagai manusia yang dibekali akal pikiran tidak semestinya menjadi patung. Namun menjadi patung juga hal yang mungkin jika akal pikiran yang telah diberikan tidak digunakan dengan baik. Atau bahkan dengan akal pikiran yang dimiliki digunakan untuk melakukan hal-hal yang menyalangi kodratnya sebagai hamba. Oleh karena itu marilah menggunakan akal pikiran dengan baik, sehingga kita tidak menjadi patung filsafat.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete