Sep 20, 2013

Elegi Menggapai Dasar Gunung Es




Oleh: Marsigit

Pelaut:
Dengan perahuku ini, aku sedang mengarungi laut. Anehnya, laut serasa tidak bertepi. Aku juga tidak melihat cakrawala. Aku tidak melihat pulau-pulau. Aku juga tidak melihat perahu lainnya. Tetapi di sana-sini aku melihat banyak puncak gunung es. Semakin aku cermati, semakin tampak banyak gunung-gunung es itu di laut. Aku penasaran. Maka aku ambil kaca pembesar. Subhanallah, ternyata di luar kesadaranku. Aku telah dikepung oleh gunung-gunung es tersebut, yang banyaknya tidak dapat aku hitung. Apa maknanya ini semua?

Orang tua berambut putih datang:
Maknanya adalah, kenalilah mereka satu persatu.

Pelaut:
Bagaimana aku bisa mengenalinya? Sedangkan aku hanya mengetahui puncaknya saja.

Orang tua berambut putih:
Tetap kenalilah mereka satu persatu puncaknya terlebih dulu, sebelum engkau mengenal yang lainnya. Untuk itu coba engkau sebutkan dari yang paling dekat dulu.

Pelaut:
Baiklah. Itu ada komunikasi. Itu ada malas. Itu ada bodoh. Itu ada rajin. Itu ada sukses. Itu ada kejam. Itu ada cantik. Itu ada tampan. Itu ada kaya. Itu ada miskin. Itu ada dosen. Itu ada guru. Itu ada mahasiswa. Itu ada siswa. itu ada lurah. Itu ada carik. Itu ada ilmu. Itu ada metode. Itu ada kualitatif. Itu ada hasil. Itu ada definisi. Itu ada matematika. Itu ada filsafat. Itu ada pendidikan. Itu ada kuliah. Itu ada makanan. Itu ada toko. Itu ada sosial. Itu ada budaya. Itu ada ontologi. Itu ada epistemologi. Itu ada tanggung jawab. Itu ada baik. Itu ada buruk. Itu ada benar. Itu ada salah. Itu ada hakekat. Itu ada spiritual. Itu ada materi. Itu ada hidup. Itu ada mati. Itu ada potensi. Itu ada fakta. Itu ada wadah. Itu ada isi. Itu ada harmoni. Itu ada doa. Itu ada iklhas. Itu ada kosong. Itu ada keputusan. Itu ada berpikir. Itu ada ruang. Itu ada waktu. Itu ada intuisi. Itu ada transenden. Itu ada rasional. Itu ada pengalaman. Wah...masih banyak lagi. Apakah aku masih perlu menyebutkannya? Apakah yang baru saja aku sebut semuanya itu adalah puncak-puncak gunung es?

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar ilmumu, yaitu kemampuan untuk menyebutkannya. Dan betul itulah sebenar-benar puncak gunung es.

Pelaut:
Kemudian, apakah sebetulnya yang disebut puncak gunung es?

Orang tua berambut putih:
Setiap kata-katamu itulah sebenar-benar puncak gunung es.

Pelaut:
Kalau setiap kata-kataku adalah puncak gunung es, maka dimanakah ngarai-ngarai?. Dimanakah lembah-lembahnya? Dimanakah sungai-sungainya? Dimanakah tanaman-tanamannya? Dimanakah kampung-kampungnya? Dimanakah penghuninya? Dan, dimanakah magmanya?

Orang tua berambut putih:
Semua yang engkau tanyakan itu sebenar-benarnya adalah tersembunyi di bawah permukaan laut.

Pelaut:
Bagaimanakah aku bisa mengenali mereka semuanya.

Orang tua berambut putih:
Caranya adalah dengan menyelam ke bawah permukaan laut.

Pelaut:
Bagaimana aku bisa menyelam ke bawah permukaan laut?

Orang tua berambut putih:
Gunakan akal sehatmu. Gunakan pikiran kritismu. Gunakan pertanyaanmu. Gunakan pengetahunmu. Gunakan cerminmu. Kenalilah setiap wadah dan isinya. Kembangkan metode yang dinamis. Lihatlah dengan multi perspektif. Lakukan perbandingan-perbandingan. Temukan tesisnya. Produksilah anti-tesisnya. Lakukan sintesis. Buatlah hipotesis. Temukan kontradiksinya. Temukan penjelasannya. Temukan contohnya. Temukan deskripsinya. Temukan cabangnya. Temukan tokohnya. Temukan referensinya. Lakukan crosschek. Dengarkan kata-katanya. Temukan sumber-sumbernya. Temukan konsistensinya. Ujilah nilai kebenarannya. Temukan a priorinya. Temukan a posteriorinya. Temukan hakekatnya. Dan tetapkanlah hatimu sebagai kompasmu.

Pelaut:
Wahai orang tua berambut putih. Bukankah apa yang engkau sebutkan itu adalah puncak-puncak gunung. Karena itu semua adalah kata-katamu. Maka semua kata-katamu itulah sebenar-benar puncak gunung.

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa jika engkau dekati suatu gunung itu, maka tiadalah suatu gunung yang hanya mempunyai satu puncak. Di lembah gunung terdapatlah puncak-puncaknya yang lebih kecil, demikian seterusnya.

Pelaut:
Jika aku ingin mengetahui tentang komunikasi, maka bagaimanakah caranya?

Orang tua berambut putih:
Gunakan akal sehatmu. Gunakan pikiran kritismu. Gunakan pertanyaanmu. Gunakan pengetahunmu. Gunakan cerminmu. Kenalilah setiap wadah dan isinya. Kembangkan metode yang dinamis. Lihatlah dengan multi perspektif. Lakukan perbandingan-perbandingan. Temukan tesisnya. Produksilah anti-tesisnya. Lakukan sintesis. Buatlah hipotesis. Temukan kontradiksinya. Temukan penjelasannya. Temukan contohnya. Temukan deskripsinya. Temukan cabangnya. Temukan tokohnya. Temukan referensinya. Lakukan crosschek. Dengarkan kata-katanya. Temukan sumber-sumbernya. Temukan konsistensinya. Ujilah nilai kebenarannya. Temukan a priorinya. Temukan a posteriorinya. Temukan hakekatnya. Dan tetapkanlah hatimu sebagai kompasmu.

Pelaut:
Jika aku ingin mengetahui apa yang ada di bawah puncak gunung kosong, bagaimanakah caranya?

Orang tua berambut putih:
Gunakan akal sehatmu. Gunakan pikiran kritismu. Gunakan pertanyaanmu. Gunakan pengetahunmu. Gunakan cerminmu. Kenalilah setiap wadah dan isinya. Kembangkan metode yang dinamis. Lihatlah dengan multi perspektif. Lakukan perbandingan-perbandingan. Temukan tesisnya. Produksilah anti-tesisnya. Lakukan sintesis. Buatlah hipotesis. Temukan kontradiksinya. Temukan penjelasannya. Temukan contohnya. Temukan deskripsinya. Temukan cabangnya. Temukan tokohnya. Temukan referensinya. Lakukan crosschek. Dengarkan kata-katanya. Temukan sumber-sumbernya. Temukan konsistensinya. Ujilah nilai kebenarannya. Temukan a priorinya. Temukan a posteriorinya. Temukan hakekatnya. Dan tetapkanlah hatimu sebagai kompasmu.

Pelaut:
Kenapa engkau ulang-ulang saja jawabanmu?

Orang tua berambut putih:
Inilah sebenar-benar kesaksianku. Bahwa sebenar-benar yang sedang engkau lakukan adalah sedang menggapai filsafat.

10 comments:

  1. Faqih Mu'tashimbillah
    1231324030
    Pendidikan Matematika Internasional

    Semua perkataan yang kita ucapkan merupakan puncak gunung es karena kita hanya menyimpulkannya saja. Misal yang kita lihat dari orang lain adalah jahat nya saja namun kita tidak mengetahui niat dia yang sesungguhnya. Oleh karena itu, untuk mengetahui yang sebenarnya kita harus menyelam dan lebih mendalami gunung es tersebut.

    ReplyDelete
  2. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    jangan menilai orang dari penampilannya, itu bisa menggambarkan tentang puncak gunung es diatas. untuk menilai sesuatu, jangan lihat dari yang terlihat saja, tapi harus mendalami untuk mengetahui secara keseluruhan

    ReplyDelete
  3. Dengan berfilsafat maka orang akan bisa menempuh jalan menuju dasar gunung es, karena kita hanya bisa menggapai dasar melalui olah pikir. Menggapai dasar itu dalam masalah pendidikan misalnya, berarti memahami seluk beluk pendidikan, landasan filosofisnya, dan juga berbagai problematika yang ada dalam kondisi keinian.

    Dwi Margo Yuwono
    S3 PEP A

    ReplyDelete
  4. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Ilmu itu begitu luas, seluas ciptaanNya. Masih banyak misteri-misteri alam dalam AlQur’an yang belum dapat kita ungkapan. Sudah selayaknya sebagai makhluk yang diberi akal piliran kita terus mencari dan menggali semua misteri alam. Janganlah kesombongan menjadi penghalang kita untuk maju. Diatas langit, masih ada langit, dibalik gunung masih ada gunung lain.

    ReplyDelete
  5. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A


    Elegi menggapai dasar gunung es yang disampaikan Prof. Marsigit menyadarkan kita bahwa ilmu yang kita anggap sudah tinggi sebenarnya hanya puncak gunung es, belum menyentuh dasarnya. Masih perlu digali dan dieksplor. Masih banyak yang harus dipelajari, jangan terlalu puas dengan apa yang kita tahu saat ini. Semakin kita mempelajari sesuatu, maka kita akan sadar semakin banyak yang belum kita tahu. Jadikanlah diri seperti ilmu padi, yang makin berisi maka akan makin menunduk.

    ReplyDelete
  6. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Ilmu pengetahuan adalah cahaya akal dan dan hati. Jika tidak ada ilmu niscaya akal dan hati akan terombang-ambing dalam kegelapan dan kesesatan. Dalam menunut ilmu sudah seharusnya tetap berpegang pada hati nurani dan tuntunan agama. Tidak sedikit orang yang tersesat dalam menuntu ilmu dan menjalani kehidupan, hanya karena ingin mengambil jalan pintas untuk meraih apa yang diinginkan.

    ReplyDelete
  7. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Melalui elegi ini, saya memperoleh pesan bahwa dalam kondisi terjepit seperti apapun, gunakan akal dan pikiran kita untuk mengenali kondisi tersebut. Dengan mengenali kondisi diharapkan dalam mengatasi kondisi seperti apapun

    ReplyDelete
  8. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Puncak Gunung-gunung es itulah yang harus diruntuhkan oleh setiap manusia. Gunung es itu akan menghalangi pandangan, pendengaran, dan pemikiran manusia untuk maju (berjalan dari mitor ke logos). Sebenar-benar usaha manusia adalah meruntuhkan gunung-gunung es yang memakan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  9. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY


    “Gunakan akal sehatmu. Gunakan pikiran kritismu. Gunakan pertanyaanmu. Gunakan pengetahunmu. Gunakan cerminmu. Kenalilah setiap wadah dan isinya. Kembangkan metode yang dinamis. Lihatlah dengan multi perspektif. Lakukan perbandingan-perbandingan. Temukan tesisnya. Produksilah anti-tesisnya. Lakukan sintesis. Buatlah hipotesis. Temukan kontradiksinya. Temukan penjelasannya. Temukan contohnya. Temukan deskripsinya. Temukan cabangnya. Temukan tokohnya. Temukan referensinya. Lakukan crosschek. Dengarkan kata-katanya. Temukan sumber-sumbernya. Temukan konsistensinya. Ujilah nilai kebenarannya. Temukan a priorinya. Temukan a posteriorinya. Temukan hakekatnya. Dan tetapkanlah hatimu sebagai kompasmu.” Trimakasih Prof.Marsigit, selalu mengingatkan kami.

    ReplyDelete
  10. Terkadang ada orang yang ilmunya belum seberapa tapi sudah menyombongkan diri. Dalam kasus ini bisa dikatakan bahwa orang tersebut baru mencapai puncak gunung es tapi dia sudah terjebak dalam kesadaran bahwa dia sudah mencapai dasar gunung es itu sendiri. Ada kekeliruan dia melihat fenomena, sehingga hal itu bisa membawa akibat buruk pula pada dirinya sendiri dan juga orang lain.

    Dwi Margo Yuwono
    S3 PEP A

    ReplyDelete


Note: Only a member of this blog may post a comment.