Sep 20, 2013

Elegi Menggapai Dasar Gunung Es




Oleh: Marsigit

Pelaut:
Dengan perahuku ini, aku sedang mengarungi laut. Anehnya, laut serasa tidak bertepi. Aku juga tidak melihat cakrawala. Aku tidak melihat pulau-pulau. Aku juga tidak melihat perahu lainnya. Tetapi di sana-sini aku melihat banyak puncak gunung es. Semakin aku cermati, semakin tampak banyak gunung-gunung es itu di laut. Aku penasaran. Maka aku ambil kaca pembesar. Subhanallah, ternyata di luar kesadaranku. Aku telah dikepung oleh gunung-gunung es tersebut, yang banyaknya tidak dapat aku hitung. Apa maknanya ini semua?

Orang tua berambut putih datang:
Maknanya adalah, kenalilah mereka satu persatu.

Pelaut:
Bagaimana aku bisa mengenalinya? Sedangkan aku hanya mengetahui puncaknya saja.

Orang tua berambut putih:
Tetap kenalilah mereka satu persatu puncaknya terlebih dulu, sebelum engkau mengenal yang lainnya. Untuk itu coba engkau sebutkan dari yang paling dekat dulu.

Pelaut:
Baiklah. Itu ada komunikasi. Itu ada malas. Itu ada bodoh. Itu ada rajin. Itu ada sukses. Itu ada kejam. Itu ada cantik. Itu ada tampan. Itu ada kaya. Itu ada miskin. Itu ada dosen. Itu ada guru. Itu ada mahasiswa. Itu ada siswa. itu ada lurah. Itu ada carik. Itu ada ilmu. Itu ada metode. Itu ada kualitatif. Itu ada hasil. Itu ada definisi. Itu ada matematika. Itu ada filsafat. Itu ada pendidikan. Itu ada kuliah. Itu ada makanan. Itu ada toko. Itu ada sosial. Itu ada budaya. Itu ada ontologi. Itu ada epistemologi. Itu ada tanggung jawab. Itu ada baik. Itu ada buruk. Itu ada benar. Itu ada salah. Itu ada hakekat. Itu ada spiritual. Itu ada materi. Itu ada hidup. Itu ada mati. Itu ada potensi. Itu ada fakta. Itu ada wadah. Itu ada isi. Itu ada harmoni. Itu ada doa. Itu ada iklhas. Itu ada kosong. Itu ada keputusan. Itu ada berpikir. Itu ada ruang. Itu ada waktu. Itu ada intuisi. Itu ada transenden. Itu ada rasional. Itu ada pengalaman. Wah...masih banyak lagi. Apakah aku masih perlu menyebutkannya? Apakah yang baru saja aku sebut semuanya itu adalah puncak-puncak gunung es?

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar ilmumu, yaitu kemampuan untuk menyebutkannya. Dan betul itulah sebenar-benar puncak gunung es.

Pelaut:
Kemudian, apakah sebetulnya yang disebut puncak gunung es?

Orang tua berambut putih:
Setiap kata-katamu itulah sebenar-benar puncak gunung es.

Pelaut:
Kalau setiap kata-kataku adalah puncak gunung es, maka dimanakah ngarai-ngarai?. Dimanakah lembah-lembahnya? Dimanakah sungai-sungainya? Dimanakah tanaman-tanamannya? Dimanakah kampung-kampungnya? Dimanakah penghuninya? Dan, dimanakah magmanya?

Orang tua berambut putih:
Semua yang engkau tanyakan itu sebenar-benarnya adalah tersembunyi di bawah permukaan laut.

Pelaut:
Bagaimanakah aku bisa mengenali mereka semuanya.

Orang tua berambut putih:
Caranya adalah dengan menyelam ke bawah permukaan laut.

Pelaut:
Bagaimana aku bisa menyelam ke bawah permukaan laut?

Orang tua berambut putih:
Gunakan akal sehatmu. Gunakan pikiran kritismu. Gunakan pertanyaanmu. Gunakan pengetahunmu. Gunakan cerminmu. Kenalilah setiap wadah dan isinya. Kembangkan metode yang dinamis. Lihatlah dengan multi perspektif. Lakukan perbandingan-perbandingan. Temukan tesisnya. Produksilah anti-tesisnya. Lakukan sintesis. Buatlah hipotesis. Temukan kontradiksinya. Temukan penjelasannya. Temukan contohnya. Temukan deskripsinya. Temukan cabangnya. Temukan tokohnya. Temukan referensinya. Lakukan crosschek. Dengarkan kata-katanya. Temukan sumber-sumbernya. Temukan konsistensinya. Ujilah nilai kebenarannya. Temukan a priorinya. Temukan a posteriorinya. Temukan hakekatnya. Dan tetapkanlah hatimu sebagai kompasmu.

Pelaut:
Wahai orang tua berambut putih. Bukankah apa yang engkau sebutkan itu adalah puncak-puncak gunung. Karena itu semua adalah kata-katamu. Maka semua kata-katamu itulah sebenar-benar puncak gunung.

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa jika engkau dekati suatu gunung itu, maka tiadalah suatu gunung yang hanya mempunyai satu puncak. Di lembah gunung terdapatlah puncak-puncaknya yang lebih kecil, demikian seterusnya.

Pelaut:
Jika aku ingin mengetahui tentang komunikasi, maka bagaimanakah caranya?

Orang tua berambut putih:
Gunakan akal sehatmu. Gunakan pikiran kritismu. Gunakan pertanyaanmu. Gunakan pengetahunmu. Gunakan cerminmu. Kenalilah setiap wadah dan isinya. Kembangkan metode yang dinamis. Lihatlah dengan multi perspektif. Lakukan perbandingan-perbandingan. Temukan tesisnya. Produksilah anti-tesisnya. Lakukan sintesis. Buatlah hipotesis. Temukan kontradiksinya. Temukan penjelasannya. Temukan contohnya. Temukan deskripsinya. Temukan cabangnya. Temukan tokohnya. Temukan referensinya. Lakukan crosschek. Dengarkan kata-katanya. Temukan sumber-sumbernya. Temukan konsistensinya. Ujilah nilai kebenarannya. Temukan a priorinya. Temukan a posteriorinya. Temukan hakekatnya. Dan tetapkanlah hatimu sebagai kompasmu.

Pelaut:
Jika aku ingin mengetahui apa yang ada di bawah puncak gunung kosong, bagaimanakah caranya?

Orang tua berambut putih:
Gunakan akal sehatmu. Gunakan pikiran kritismu. Gunakan pertanyaanmu. Gunakan pengetahunmu. Gunakan cerminmu. Kenalilah setiap wadah dan isinya. Kembangkan metode yang dinamis. Lihatlah dengan multi perspektif. Lakukan perbandingan-perbandingan. Temukan tesisnya. Produksilah anti-tesisnya. Lakukan sintesis. Buatlah hipotesis. Temukan kontradiksinya. Temukan penjelasannya. Temukan contohnya. Temukan deskripsinya. Temukan cabangnya. Temukan tokohnya. Temukan referensinya. Lakukan crosschek. Dengarkan kata-katanya. Temukan sumber-sumbernya. Temukan konsistensinya. Ujilah nilai kebenarannya. Temukan a priorinya. Temukan a posteriorinya. Temukan hakekatnya. Dan tetapkanlah hatimu sebagai kompasmu.

Pelaut:
Kenapa engkau ulang-ulang saja jawabanmu?

Orang tua berambut putih:
Inilah sebenar-benar kesaksianku. Bahwa sebenar-benar yang sedang engkau lakukan adalah sedang menggapai filsafat.

53 comments:

  1. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Biasanya yang harus dicapai itu puncak, tetapi pada elegi ini justru menggapai dasar gunung es. Dari yang telah saya pelajari, dasar gunung es menggambarkan matematika untuk anak dan puncaknya adalah matematika untuk dewasa. Dasar gunung es yang ukurannya lebih besar dari puncak karena untuk mencapai suatu rumus matematika, maka diperlukan berbagai macam aktivitas yang harus dilakukan oleh siswa, itulah sebenar-benar matematika untuk anak. Elegi menggapai dasar gunung es ini diperuntukkan untuk guru terlebih guru yang mengampu di sekolah dasar, karena dia harus mampu menggapai dasar gunung es, dan menerapkannya di sekolah, yaitu mengajarkan matematika untuk anak dengan kegiatan.

    ReplyDelete
  2. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Gunung es menggambarkan ilmu yang dipelajari. Untuk mencapai gunung es, tentu akan melewati samudra yang dingin, dalam, dan jauh. Untuk memperoleh ilmu perlu suatu usaha yang keras. Meskipun sudah banyak sumber ilmu di sekitar kita, yakni buku, internet, dan lain sebagainya, tetap perlu usaha untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, melawan rasa malas, untuk mendapatkan ilmu secara maksimal.

    ReplyDelete
  3. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Besarnya suatu gunung es tidak susah ditebak dalam lautan karena memang tidak terlihat. Ilmu pun begitu, ketika kita sudah mempelajari suatu ilmu maka masih ada ilmu yang belum dipelajari. Sesuai kalimat yang terkenal “Semakin banyak ilmu yang kita pelajari, semakin kita mengetahui bahwa ilmu kita masih sedikit”. Semakn kita menyadari bahwa ilmu yang belum kita pelajari banyak.

    ReplyDelete
  4. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Hakikat gunung es sebagai ilmu, gunung es yang tampak dari atas permukaan tentu tidak sebanyak yang di bawah permukaan. Kita mengetahui suatu ilmu, maka akan ada ilmu yang belum kita pelajari. Meskipun ilmu itu tak ada habisnya, terus mempelajari ilmu untuk kebermanfaatan ilmu adalah hal yang bijak. Terus berusaha menggapai dasar dari gunung es.

    ReplyDelete
  5. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan elegi yang dijelaskan diatas, untuk dapat memahami sesuatu diperlukan berbagai hal. Untuk dapat memahami sesuatu yang bersifat pengetahuan atau apapun itu diperlukan adanya pemikiran yang kritis, pengelolaan kemampuan memahami, referensi terkait pengetahuan yang ingin dipahami kemudian carilah perbandingan-perbandingan dari masing referensi atau sumber yang telah diperoleh yang kemudian dapat dijadikan analisis data tentang kevalidan dan kebenarana suatu sumber. Dengan melakukan hal tersebut proses memahami sesuatu hal dapat dilakukan.

    ReplyDelete
  6. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dari elegi ini, saya menyimpulkan bahwa puncak itu merupakan tujuan. Banyak puncak gunung es itu menunjukan banyak tujuan yang bisa kita gapai dalam hidup di dunia ini. Dan hal-hal yang harus dilakukan agar bisa menggapai tujuan tersebut, adalah dengan berproses. Salah satunya adalah belajar, karena belajar merupakan proses yang dapat kita lakukan untuk menujunya. Hendaknya kita terus belajar, karena dengan belajar tentunya puncak-puncak itu dapat kita gapai.

    ReplyDelete
  7. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Ketika kita hendak menggapai filsafat, maka gunakan akal sehat, pikiran kritis, pertanyaan, pengetahun, dan cerman yang kita miliki. Kita perlu mengenali setiap wadah dan isinya, mengembangkan metode yang dinamis, melihat dengan multi perspektif, dan melakukan perbandingan-perbandingan. Kita pun perlu memukan tesis, memproduksi anti-tesis, dan melakukan sintesis. Kemudian kita perlu membuat hipotesis, menemukan kontradiksinya, menemukan penjelasan, menemukan contoh, menemukan deskripsi, menemukan cabang, menemukan tokoh, menemukan referensinya, melakukan crosscheck, memukan sumber-sumber, memukan konsistensi, menguji nilai kebenaran, menemukan a priori, dan menemukan a posteriorinya. Lalu kita menemukan hakekatnya dan menetapkan hati sebagai kompas kita. Sesungguhnya filsafat adalah olah pikir, maka jangan sampai hati kita yang digunakan sebagai kompas ternyata salah arah. Oleh karena itu jangan lah lupa berdoa untuk tetap menjaga hati kita agar tidak salah arah dan menjauh dari radar-Nya.

    ReplyDelete
  8. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    yang dapat saya pahami dari elegi tersebut adalah bahwa dalam mencari ilmu, semua yang ingin kita ketahui barulah puncak dari gunung es. Sedangkan apa yang belum kita ketahui, harus kita cari yaitu dengan cara menyelam untuk dapat melihat lebih dalam terhadap apa yang kita tanyakan. Menyelam dalam konteks yang nyata artinya kita harus mencari ilmu itu, yaitu dapat dengan melakukan percobaan, membaca dan lain sebagainya sebagai usaha untuk mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang belum kita ketahui.

    ReplyDelete
  9. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    jika dihubungkan dengan profesi kita sebagai guru, maka puncak gunung es adalah siswa-siswi kita yang perlu kita ketahui karakteristiknya. Sehingga, untuk mengetahui karakteristik siswa-siswi kita, kita perlu untuk mendalami satu-persatu dari mereka. karena sesungguhnya tiap siswa itu memiliki karakteristik yang unik.
    dengan memahami karakteristik mereka, maka kita dapat menentukan metode yang tepat digunakan di dalam kelas agar sesuai dengan karakteristik yang ada.

    ReplyDelete
  10. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 Pend. Mtk A 2017

    Elegi menggapai dasar gunung es ini sejalan dengan filosofi gunung es. Kebanyakan dari kita pernah mendengar filosofi gunung es. Bagian atas dari gunung es yang terlihat dari permukaan laut diibaratkan sebagai perilaku, tindakan, dan keputusan. Sedangkan bagian bawah dari gunung es yang besar dan tidak terlihat diibaratkan sebagai apa yang kita yakini dalam hidup kita, apa yang kita anggap penting, bagaimana kita memandang diri kita (identitas kita), dan apa yang kita kuasai untuk mendukung identitas kita tersebut. Keempat hal yang diibaratkan sebagai bagian bawah dari gunung es atau dasar gunung es inilah yang menentukan hasil yang kita peroleh dalam hidup kita. Oleh karena itu, untuk mencapai kehidupan yang lebih baik kita harus memperbaiki dulu apa yang ada di dalam diri kita, jika yang di dalam sudah baik, maka outputnya pun akan baik pula.

    ReplyDelete
  11. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dalam elegi ini tersirat bahwa ilmu tidak akan ada habisnya jika kita mendalaminya bahkan sampai kita tiada. yang kita lihat di sekitar kita selama ini hanyalah sebagian kecil dari apa yang sebenarnya tersembunyi di lapisan-lapisan dalamnya. Bagaimana cara menggapainya? Sama halnya dengan menggapai dasar laut, kita harus terus menyelami lautan. Dasar yang seperti apa persisnya yang akan kita temui? Tak ada yang tau persis, seperti itulah filsafat menurut saya. Terus dikaji, dipahami, diperdebatkan.

    ReplyDelete
  12. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak.
    Dengan membaca postingan ini, saya belajar tentang cara belajar filsafat. Menurut pemahaman saya setelah membaca, belajar filsafat dimulai dari mengenal yang paling dekat kemudian memunculkan pertanyaan-pertanyaan. Setelah itu berusaha menjawab pertanyaan tersebut dengan akal dan segala sesuatu yang dimiliki. Dalam proses berpikir dan menemukan jawaban tersebut harus dilandasi dengan keteguhan hati karena hati merupakan porosnya.

    ReplyDelete
  13. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini saya berpendapat bahwa ketika kita mengetahui sesuatu, maka akan banyak hal yang tidak kita ketahui. Semakin banyak yang tidak kita ketahui semakin belajarlah kita akan sesuatu. Untuk itu belajar sampai tidak terbatas, karena pengetahuan tidak terbatas, meski kemampuan kita terbatas.

    ReplyDelete
  14. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Menurut saya dalam hal ini berkaitan tentang belajar filsafat. Filsafat dari segala hal yang ada di sekitar kita adapun cara- cara yang digunakan untuk belajar filsafat itu dengan mengunakan akal sehat, pikiran kritis, pertanyaan, pengetahun, dan cerminmu. Mengenali setiap wadah dan isinya. Mengembangkan metode yang dinamis. Melihat dengan multi perspektif. Melakukan perbandingan-perbandingan. menemukan tesisnya. Membuat anti-tesisnya. Melakukan sintesis. Membuat hipotesis. Menemukan kontradiksinya. Menemukan penjelasannya. Menemukan contohnya. Menemukan deskripsinya. Menemukan cabangnya. Menemukan tokohnya. Menemukan referensinya. Melakukan crosschek. Temukan konsistensinya. Ujilah nilai kebenarannya. Temukan a priorinya. Temukan a posteriorinya. Temukan hakekatnya.
    Dan terakhir gunakan hati sebagai kompas atau pengatur diri untuk memahami filsafat.

    ReplyDelete
  15. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Setelah membaca ini, hal yang saya pahami di sini adalah dalam mempelajari segala sesuatu kita harus berpikir kritis dengan menggunakan berbagai macam sudut pandang. Untuk mendapatkan berbagai macam sudut pandang kita harus memperluas wawasan kita. Untuk memperluas wawasan kita kita harus banyak mencari tahu dan mempelajari sesuatu. Immanuel Kant memiliki tiga pertanyaan dasar dalam filsafatnya yaitu: 1) apa yang dapat saya ketahui (Kritik der reinen Vernunft); 2) Apa yang seharusnya saya lakukan (Kritik der praktischen Vernunft); dan 3) Apa yang bisa saya harapkan (Kritik der Urteilkraft). (Hardiman, 2007:132)

    ReplyDelete
  16. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada postingan bapak ini menjelaskan gunung es yang tampak itu hanya sebagian kecil dari gunung es seutuhnya. Jika kita lihat kebawahnya itu jauh lebih besar. Seperti dalam berpikir pun juga begitu, jangan hanya berpikir secara dangkal saja, tetapi coba pahami seutuhnya. Karena jika kita berpikir secara dangkal kita tidak tahu apa inti dari yang kita pikirkan itu, dan tidak tahu makna mendalam dari itu. Seperti dalam menjawab suatu soal matematika, jika kita hanya menghafal rumusnya saja kita tidak akan mengetahui konsep dari materi. Karena apabila kita hanya menghafal dan terpaku saja pada rumus kemudian dihadapkan soal dengan materi yang sama dengan model berbeda, akan merasa kesulitan apabila tidak ada di dalam rumus tersebut

    ReplyDelete
  17. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Pak. Dari tulisan di atas tersirat pesan bahwa manusia tidak boleh sombong akan pengetahuannya. Karena bisa jadi yang dia ketahui itu hanyalah sekecil puncak gunung es saja. Jika manusia terus berusaha mengkaji ilmu pengetahuannya, semakin ia akan sadar betapa dangkalnya pengetahuannya selama ini. Sehingga sebaik-baik manusia adalah manusia yang terus belajar (long-life learning)

    ReplyDelete
  18. Junianto
    PM C
    17709251065

    Elegi ini adalah sebuah analogi yang bisa saya kaitkan dengan sebuah pembelajaran. Dalam matematika itu sudah ada tingkatannya sesuai jenjang pendidikan. Dalam menyampaikan materi matematika kita harus tahu dulu bagaimana karakteristik siswa sepertihalnya kita harus mengetahui gunung es. Jika kita sudah memahami siswa dengna menggunakan akal, hati, pikiran kritis, dll, kita baru bisa menyampaikan matematika dengan tepat.

    ReplyDelete
  19. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Yang saya pahami dari postingan ini adalah segala hal yang ada di dunia ini ibarat gunung es. Jika melihat diri kita sebagai pusatnya, maka kita adalah seorang pelaut di tengah lautan yang dikelilingi gunung es. Ada gunung es dosen, mahasiswa, matematika, integral, fungsi, dan sebagainya. Gunung es yang terlihat oleh pelaut itu hanyalah puncaknya, yaitu bagian paing sederhana dari hal tersebut: kata-kata/kalimat.
    Namun sebenar-benar wujud gunung es tersebut ada di bawah permukaan laut, yang mana untuk melihatnya, pelaut harus menyelam dan turun dari perahunya. Ini berarti si pelaut harus mau untuk keluar dari zona nyaman demi memahami gunung-gunung es tersebut. Dalam proses tersebut, si pelaut bolehlah dikatakan sedang menggapai fungsi, menggapai dosen, menggapai mahasiswa, menggapai matematika, menggapai integral, dsb.

    ReplyDelete
  20. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Berdasarkan uraian Bapak di atas, filsafat dapat saya artikan sebagai ilmu mengkaji dan terus mengkaji. Apa yang sudah kita pahami mungkin masih sebagian kecil seperti kecilnya puncak gunung es. Kadang kita perlu untuk menyelam sedalam-dalamnya untuk menggapai dasar gunung es. Dan untuk menyelam tersebut butuh suatu kerja keras. Semakin ke dasar laut akan dijumpai banyak predator, ikan-ikan raksasa, serta pusaran air yang begitu keras. Terkadang untuk mengkaji kebenaran suatu ilmu, didapati berbagai tantangan, bantahan, perdebatan, adu argumen, bahkan hinaan atau olokan.

    ReplyDelete
  21. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Mempelajari filsafat itu tidak semudah menegakkan benang yang basah. Ibarat gunung es, mungkin yang kita kenal saat ini hanyalah puncaknya saja. Sedangkan lembah-lembah, sungai, dan bagian lain dari gunung tersebut sesungguhnya masih berada di dalam permukaan air laut. Begitu pula dengan filsafat, untuk mempelajarinya dengan instan itu hanyalah akan mendapatkan bagian kecil dari filsafat. Ketika kita ingin mempelajari filsafat secara keseluruhan, membutuhkan usaha yang besar.

    ReplyDelete
  22. Seperti yang dikatakan orang tua, kita harus menggunakan akal sehat, menggunakan pikiran kritis, bertanya, menggunakan pengetahuan, menggunakan cermin. Kita juga harus mengenali wadah dan isinya, mengembangkan metode, melihat dengan beberapa perspektif dan melakukan perbandingan. Kemudian baru kita bisa menemukan tesis, memproduksi lah anti-tesis, membuat hipotesis, menemukan kontradiksinya, menemukan penjelasannya, menemukan contohnya., menemukan deskripsinya, menemukan cabangnya, menemukan tokohnya, menemukan referensinya, melakukan crosschek, mendengarkan kata-katanya, menemukan sumber-sumbernya, menemukan konsistensinya, menguji nilai kebenarannya. menemukan a priorinya, menemukan a posteriorinya, menemukan hakekatnya, dan menetapkan hati sebagai kompasnya. Dengan serangkaian itu barulah kita akan tau makna dan hakikat filsafat yang sesungguhnya.

    ReplyDelete
  23. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "Elegi Menggapai Dasar Gunung Es". Saya melihat seperti ada pesan. Ya seperti elegi-elegi sebelumnya yang pernah saya baca, terdapat pesan yang menasihati diri ini. Pendapat saya, melalui elegi ini saya melihat bahwa sesungguhnya ilmu, pengetahuan, dan peradaban harus senantiasa kita bangun. Oleh karenanya kita harus menjadi seorang yang aktif. Pertama kalinya, kita harus kritis.....seperti halnya kutipan dari elegi di atas:

    "Gunakan akal sehatmu. Gunakan pikiran kritismu. Gunakan pertanyaanmu. Gunakan pengetahunmu. Gunakan cerminmu. Kenalilah setiap wadah dan isinya. Kembangkan metode yang dinamis. Lihatlah dengan multi perspektif. Lakukan perbandingan-perbandingan. Temukan tesisnya. Produksilah anti-tesisnya. Lakukan sintesis. Buatlah hipotesis. Temukan kontradiksinya. Temukan penjelasannya. Temukan contohnya. Temukan deskripsinya. Temukan cabangnya. Temukan tokohnya. Temukan referensinya. Lakukan crosschek. Dengarkan kata-katanya. Temukan sumber-sumbernya. Temukan konsistensinya. Ujilah nilai kebenarannya. Temukan a priorinya. Temukan a posteriorinya. Temukan hakekatnya. Dan tetapkanlah hatimu sebagai kompasmu"

    Tertulis jelas bukan? Kita benar-benar harus kritis dan aktif tetapi juga tetap berpegang teguh dengan sang "hati". Karena pada perjalanan kita nantinya akan berjumpa dengan kontradiksi yang terkadang membuat kita terjebak dalam kebingungan.Terlepas dari itu, perjalanan kita juga mengharuskan kita menciptakan tesis dan anti tesisnya. Tidak sampai di situ, ciptakan pula sintesis dan hipotesis, Dan ternyata yang seperti ini tidak akan ada berhentinya.

    ReplyDelete
  24. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Belajar menggapai filsafat ibarat kita belajar menggapai dasar gunung es. Gunung es yang kita ketahui hanya sebatas puncaknya saja namun di bagian bawahnya belum kita telusuri. Untuk bisa menelusuri bagian dasar gunung es tersebut maka yang harus kita lakukan adalah menggunakan akal, pikiran, dan juga hati kita. Agar dapat menggapai filsafat hingga sampai pada hal-hal yang detail dan lebih mendalam, maka yang harus kita lakukan adalah dengan menggunakan akal sehat, berpikir kritis, menggunakan pengetahuan, menemukan penjelasandan juga contoh hingga sampai menemukan hakekat dan menetapkan hati sebagai kompas kita.

    ReplyDelete
  25. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof
    Dari tulisan ini, saya memaknai bahwa jika ilmu diibaratkan sebagai gunung es, puncak-puncak gunung es yang dapat kita lihat merupakan ilmu yang kita miliki. Apabila kita mau menyelaminya lebih dalam, kita akan menemukan hal-hal lain yang tersembunyi di dasar gunung. Bahkan hal-hal yang berada di dasar gunung lebih besar dari sekedar apa yang kita ketahui dipuncaknya. Untuk mendalami ilmu-ilmu tersebut, kita dapat memulainya dengan mengenali satu-persatu dari apa yang kita ketahui, kemudian memahaminya lebih dalam dengan menggunakan akal untuk berfikir, melihat dari berbagai sudut pandang, menemukan hakikatnya, dan menggunakan hati sebagai petunjuk

    ReplyDelete
  26. Indah Purnama Sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Tadinya saya pikir ini adalah cerita tentang pelaut yang ingin mencari ilmu kebenaran. lama kelamaan saya mengikuti alur cerita masyaallah diluar perkiraan saya ini adalah sebuah nasehat bagi pembaca. di dalam elegi ini dikatakan jika kita melihat sesuatu dalam kehidupan lihatlah dan kenalinal karna itu sebenar-benarnya pemikiran. ketika kita terus mencari tahu lalu terus menerus memperdalam ilmu itu lah yang disebut sedalam dalamnya ilmu. ilmu itu luas serta beragam dan kita jangan sebagai manusia jangan pernah puas dalam menggali atau mencarinya. karna dengan ilmu itu sendiri hidup kita menjadi lebih bermakna.

    ReplyDelete
  27. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Prof. Marsigit seringkali menyampaikan dalam beberapa kesempatan perkuliahan, bahwa seseorang memiliki lebih dari semilyar pangkat semilyar sifat, mengetahui salah satunya saja telah membuatnya ada dalam pikiran kita. Dikaitkan dengan elegi ini, bahwa apa yang kita lihat pada kebanyakan orang hanyalah sifat - sifat yang nampak saja, belum semua sifatnya. Kita seringkali tidak mengetahui sebenar - benar sifat yang ia miliki. Bagaikan gunung es yang nampak hanyalah bagian atasnya yang menonjol, padahal justru bagian dasar gunung es itulah sebenarnya yang lebih besar dari pada yang nampak. Elegi ini juga mengajarkan kepada kita tentang bagaimana kita dapat mencoba mengetahui dan memahami sifat atau karakter tersembunyi seseorang, yakni dengan menggunakan akal sehat, berpikir kritis, bertanya, melakukan crossceck, dsb.

    ReplyDelete
  28. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Tulisan ini dirangkaikan dengan kiasan yang indah.Maka untuk memahaminya kita harus menyelam lebih dalam.Ada banyak nasehat-nasehat yang tersirat dibalik kata.Setelah membacanya,saya mendapatkan gambaran bagaimana menggapai sesuatu seperti yang dilukiskan berupa gunung es.Gunung es itu mungkin dianalogikan seperti puncaknya filsafat.Untuk menatap ke atas tentu kita perlu menatapnya ke bawah .Dan untuk mebangun relasi antara diri kita dengan filsafat perlu pemahaman.Dengan cara, meluangkan waktu bersamanya, membacanya, mendekatinya.Sehingga kita akan merasa dekat dengannya.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  29. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  30. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi menggapai dasar gunung es ini, saya memahami bahwa ilmu itu sangat luas dan besar yang diibaratkan sebagai gunung es. Ketika seseorang mulai mengenali ilmu, maka ia diibaratkan seperti melihat puncak gunung es. Hanya sedikit yang ia ketahui. Namun, semakin dalam ia menyusuri gunung es tersebut, hingga ke lembahnya, ke ngarainya, hingga ke puncak yang kecil, maka yang ia temukan akan jauh lebih besar dari puncaknya. Begitulah ilmu. Ketika seseorang hanya sekedar mengenali ilmu, maka yang ia ketahui hanya sedikit. Namun semakin jauh ia mendalami ilmu tersebut, maka ia akan menemukan bahwa dirinya sangat kecil dibanding ilmu yang sangat luas. Tetapi yang musti diingat adalah dalam perjalanan mencari dan mendalami ilmu, selalu gunakan hati sebagai petunjuk agar selalu berada pada jalur yang benar.

    ReplyDelete
  31. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Elegi yang sangat menarik, saya menanggapi bahwa berfilsafat diawali dengan bertanya. Sekalipun Pelaut tidak tidak mengerti banyak tentang gunung es, namun ia tetap bertanya, berpikir dan mencoba mendekripsikan segala hal yang dilihat olehnya. Sekalipun gunung-gunung es tersebut adalah benda mati, namun dengan berfilsafat segala benda mati tersebut seolah-olah dapat hidup dikarenakan pikiran yang hidup.

    ReplyDelete
  32. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Untuk memahami secara jelas tentang suatu hal, kita harus melihat hal tersebut secara dekat dan dengan kacamata yang berbeda. Kenalilah hal tersebut dimulai dengan hal yang sudah terlihat dengan jelas oleh pancaindra,. Kemudian perlahan-lahan terus menerus masuk kedalam bagian terdalam yang bahkan tidak mamupu lagi dilihat pancaindra, namun mampu dirasakan oleh raga. Hal ini bertujuan agar kita mampu menggapai dasar dari gunung es, bukan hanya puncak gunung es. Karena didalam dasar gunung es masih banyak terdapat hal-hal luar biasa yang belum kita ketahui.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  33. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  34. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Terima kasih Prof, dari artikel diatas, yang dapat saya pahami bahwa dalam mempelajari dan menghadapi berbagai macam hal kita harus berfikir kritis dan tidak hanya menerima segala macam informasi dengan serta merta. Fenomena di dunia saat ini pun menunjukkan bahwa semakin maraknya berita hoax tersebar di kalangan masyarakat. Hal ini tentu saja menuntut masyarakat untuk menjadi masyarakat yang cerdas dan kritis dalam menerima informasi.

    ReplyDelete
  35. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Hati merupakan alat utama yang akan mengarahkan kita kemana kita menginginkan. Hati yang bersih selalu mengarahkan sesuatu yang baik. Walaupun otak kita mengatakan untuk melakukan hal yang tidak baik, namun hati yang bersih akan mencairkan fikiran itu sehingga perbuatan baik senantiasa kita lakukan. Namun, jika hati sudah mulai tidak baik, maka fikiranlah yang akan mengarahkan kita semua dalam melakukan seuatu. Melakukan seuatu hanya berdasarkan pada apa yang kita fikirkan akan membuat kita besar kepala dan mengganggap segala sesuatu yang telah kita capai itu karena pikiran kita. Dalam menggunakan pikiran, harus diimbangi dengan hati yang bersih, karena jika berduanya beriringan akan menghasilkan pengetahuan yang baik bagi diri sendiri maupun orang lain. maka selalu berdoalah agar tetap dijaga memiliki hati yang bersih dan jernih agar senantiasa dapat mencairkan fikiran yang tidak baik menurut hati.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  36. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Dalam percakapan elegi tersebut, saya menangkap bahwa dalam mencapai ilmu jangan lah berhenti pada satu titik saja. Karena setiap ilmu yang dipelajari memiliki dasar-dasar pengetahuan yang lebih besar. Sama seperti puncak gunung, ukurannya lebih kecil dari dasar gunung nya. Sebagai dasar ia menopang puncaknya. Setiap ilmu perlu dibuktikan asala usulnya. Membuat suatu hipotesis yang berakhir dengan suatu kesimpulan. Maka sebenar-benarnya orang mencari ilmu, tidak akan ada habisnya hingga ia berhenti pada suatu ruang dan waktu yang gelap.

    ReplyDelete
  37. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Dari elegi menggapai dasar gunung es ini kita belajar bahwa apa yang kita lihat sebenarnya hanyalah puncak dari sebuah gunung es yang besar. Kita tidak benar-benar mengenali gunung es jika kita hanya melihat puncaknya, kita namun kita perlu juga untuk melihat dasarnya. Bagaimana cara melihat dasar gunung es? Caranya adalah dengan menyelaminya. Yaitu dengan menggunakan akal sehat, menggunakan kekritisan kita, mengenalinya dengan pertanyaan kita, mengenalinya dengan membuat hipotesis, tesis dan antitesisnya, sintesisnya dan seterusnya.

    ReplyDelete
  38. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Betapa luas Dan dalamnya filsafat itu. Sedemikian Dan serasa Tak habis habisnya until digali terus. Dan setiap orang Alan membangun sendiri pengertiannya Dan hakekat hakekatnya, filsafatnya. Saya pin sedang dalam kekacauan pikiran, bertanya, bosan Dan kadang lelah karena Tak mudah mencari jawabannya. Namun, demikianlah seharusnya karena Kita ini hidup Dan hendak memaknai hidup.

    ReplyDelete
  39. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan MAtematika Kelas B

    Objek filsafat adalah segala yang ada dan yang mungkin ada. Banyak hal-hal di sekitar kita yang kita tidak tahu, kita harus selalu berusaha belajar, mengenal hal-hal yang mungkin ada. Atau dalam filsafat kita harus berusaha untuk mengadakan semua yang mungkin ada. semakin banyak belajar semakin banyak pula ilmu yang kita dapatkan (tentunya dengan keikhlasan).

    ReplyDelete
  40. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamualaikum wr.wb.
    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas postingan di atas, secara tersirat saya menangkap hikmah dan makna disebalik elegi kali ini. Setiap yang ada dan yang mungkin hingga kita tidak mampu menyebutnya sekalipun adalah ilmu. Semakin banyak ilmu yang kita tahu, semakin banyak pula lah sebenarnya ilmu yang kita tidak tahu. Itulah Filsafat, belajar dan mempelajarinya pun harus kita bangun sendiri dengan aktif karena seperti puncak gunung es yang tampak, dibawah hingga dasarnya-dasanya yang tidak tampak pun sangat lebih banyak lagi. Untuk menggapainya, maka seyogyanyalah kita menggunakan akal sehat, menggunakan kekritisan kita, mengenalinya dengan pertanyaan yang ada dibenak kita, mengenalinya dengan membuat hipotesis, tesis dan antitesisnya, sintesisnya, membuat multiperspektif darinya dan seterusnya agar ilmu yang kita gali mampu semakin dalam dan kita mampu memahami fisik dan metafisiknya, Wallahu'alam bishowab.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  41. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Elegi diatas mengajarkan pada saya untuk tidak hanya mempelajari apa yang tampak diatas permukaan laut atau dalam hal ini puncak gunung es, melainkan pelajarilah lebih mendalam hingga menggapai dasar gunung es. Dan untuk menggapai dasar gunung kita harus menggunakan apa yang disarankan oleh orang tua berambut putih yaitu : "Gunakan akal sehatmu. Gunakan pikiran kritismu. Gunakan pertanyaanmu. Gunakan pengetahunmu. Gunakan cerminmu. Kenalilah setiap wadah dan isinya. Kembangkan metode yang dinamis. Lihatlah dengan multi perspektif. Lakukan perbandingan-perbandingan. Temukan tesisnya. Produksilah anti-tesisnya. Lakukan sintesis. Buatlah hipotesis. Temukan kontradiksinya. Temukan penjelasannya. Temukan contohnya. Temukan deskripsinya. Temukan cabangnya. Temukan tokohnya. Temukan referensinya. Lakukan crosschek. Dengarkan kata-katanya. Temukan sumber-sumbernya. Temukan konsistensinya. Ujilah nilai kebenarannya. Temukan a priorinya. Temukan a posteriorinya. Temukan hakekatnya. Dan tetapkanlah hatimu sebagai kompasmu"

    ReplyDelete
  42. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Saya sangat suka dengan ulasan ini. Ulasan yang mengingatkan saya pada pembelajaran psikologi terkait dengan fenomena gunung es yang dipelopori oleh Sigmund Freud. Freud mengemukakan struktur kesadaran pada manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu sadar, pra-sadar dan tidak sadar. Ketiga struktur tersebut diibaratkan dengan fenemonena gunung es. Yang sadar hanyalah permukaannya saja. Bagian tidak sadar sangat berperan dalam perilaku manusia. Inilah bagian yang sebenarnya perlu digali dan dapat memperlihatkan gejala-gejalanya di permukaan.

    Sangat unik sekali dalam filsafat saya temukan fenomena gunung es. Fenomena gunung es dalam filsafat membuat saya menjadi tahu terkait bagaimana menyelami hal-hal yang ada di bawah permukaannya. Saya senang dapat melihat dari dua sudut pandang ilmu yang berbeda dalam melihat satu fenomena gunung es ini. Terima kasih sekali saya ucapkan kepada Bapak yang telah memberikan ilmu melalui postingan ini.

    ReplyDelete
  43. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Inilah keunikan dari belajar filsafat, dari yang tadinya mengerti menjadi tidak mengerti. Sedangkan belajar yang lainnya dari yang tidak mengerti menjadi mengerti. Maka dalam belajar filsafat itu diibaratkan dari puncak gunung es, barulah menyelami bagian bawah-bawahnya. Ini artinya kita harus terus membaca membaca dan membaca, membaca berarti kita menyelamai bagian-bagian filsafat, juga harus siap-siap didalam kebingungan dalam proses menyelam. Walaupun dalam menggapai filsafat ini pikiran kita bingung, jangan sekali-kali hati kita ikut bingung juga. Supaya hati kita tidak bingung khususnya dalam menggapai filsafat, setiap saat kita harus terus berdoa atau berdzikir.

    ReplyDelete
  44. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Untuk meraih sebuah ilmu maka kira perlu menggunakam akal pikiran kita dan harus berfikir kritis. Jika kita ingin mengetahui sesuatu jangan melihat dipermukaan saja, tetapi harus mendalaminya. Cara mendalami ilmu adalah dengan belajar. Sebab didalamnya masih terdapat cabang ilmu lagi (puncak es). Oleh karena itu, belajar tidak ada habisnya, tergantung diri kita mau untuk mencari atau tidak. Jika kita tidak memiliki kemauan untuk mencari ilmu, maka kita akan tenggala, di ruang gelap dan waktu yang terhenti.

    ReplyDelete
  45. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Setiap kita mendekati puncak gunung es maka kita akan menemukan puncak-puncak gunung es yang lain. Dapat diartikan bahwa jika kita memperoleh pengetahuan tentang sesuatu, maka akan ada pengetahuan-pengetahuan lain yang ada disekitarnya. Kemudian jika kita mendekati dan berusaha menggapai pengetahuan-pengetahuan lain itu, maka kita akan menemukan puncak-puncak gunung es lagi dan lagi, begitu seterusnya. Maksudnya adalah bahwa ilmu pengetahuan itu luasnya tak terbatas, maka kita tidak boleh sombong dan merasa paling berilmu.

    ReplyDelete
  46. Junianto
    17709251065
    PM C

    Seperti kita ketahui bahwa gunung es bisa kita lihat adalah puncaknya tanpa melihat bagian bawah yang tenggelam di air. Hal ini bisa diumpamakan seorang yang berilmu dimana orang lain hanya bisa melihat puncaknya saja dan tidak bsa melihat bagian dasarnya. Padahal di bagian dasar, es yang tenggelam di air lebih besar daripada yang nampak dari luar. Ini menandakan bahwa seorang yang berilmu itu memiliki usaha dan dasar yang lebih besar daripada apa yang terlihat dari luar/ terlihat orang lain.

    ReplyDelete
  47. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Puncak gunung es seperti sifat manusia yang nampak dan bisa dilihat oleh mata, sedangkan dasarnya berisi segalanya yang tidak nampak. Manusia hanya bisa menilai dari apa yang nampak saja apabila ia tidak berpikir lebih dalam dan membuka wawasan secara lebih luas.

    ReplyDelete
  48. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Satu gunung es bisa terdiri dari beberapa puncak, tidak hanya satu, bisa saja ada puncak yang sebenarnya tidak nampak di permukaaan. Itulah luasnya pikiran manusia. Kata-kata hanyalah sebagai puncaknya saja, sedangkan intuisi dan pemikiran terletak di dasar. Butuh persepsi yang multiperspektif untuk bisa mengetahuinya.

    ReplyDelete
  49. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)


    Puncak berarti yang paling tinggi, utnuk menggapai suatu puncak maka dibutuhkan usaha menggapainya. Segala terjalan, belokan, mungkin liku-liku serta berpeluang sesat akan terjadi dalam menggapai puncak. Tergantung perbekalan yang kita miliki. Maksudnya saat kita ingin mencapai suatu pengetahuan dan ingin mengenalinya tidak mungkin hanya mengenal dari satu sisi saja namun dari sisi yang lain dimulai dari dasar, dasar saja masih terdapat daerah sekitar dan juga mengenal hal-hal kecil di sekitarnya, setelah mengetahui segala sekitarnya maka dapat menaiki ke tingkatan selanjutnya, sampai menuju puncak.

    ReplyDelete
  50. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Segala sesuatu yang ada itu ibarat puncak gunung es. Kita hanya bisa melihat puncaknya saja jika tidak berusaha menyelam ke dasar laut. Terkadang yang berada di dalam laut itu malah lebih besar dari yang terlihat di atas laut (puncak gunung es tersebut). Maka sebagai manusia yang mau berpikir, jangan melihat sesuatu hal dari luarnya saja, jika ingin mendapatkan kebenaran yang sebenar-benarnya, kenali hal tersebut, cari dasarnya, landasannya, dan nantinya kita akan menemukan banyak sekali hal yang tidak ditemukan dengan hanya melihat dari bagian atas (air) nya saja.

    ReplyDelete
  51. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Gunung es dalam elegi ini saya mengartikannya sebagai ilmu. Ilmu jika kita hanya mempelajari permukaannya saja atau puncaknya itu hanyalan sebagian kecil dari permukaan ilmu. Ketika kita masuk lebih dalam, maka ilmu itu sangat luas dan dalam lingkupnya. Semakin dalam dan luas kita menggapai ilmu maka itu akan menaikkan dimensi kita. Oleh karena itu, marilah menggapai ilmu sedalam dan seluas mungkin. Terimakasih.

    ReplyDelete
  52. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Puncak gunung es hanyalah bagian kecil yang terlihari dari gunung es. jika kita amati lebih dalam ternyata bagian besar gunung es itu ada di dasar laut dan kita perlu menyelam untuk mengeksplorasinya. gunung es ini dapat dikaitkan dengan pemebelajaran matematika yang diberikan oleh guru di kelas. jika guru hanya memberikan rumus dan mengharapkan siswanya mampu menggunakan rumus tersebut itulah sebenar-benarnya hanya melihat puncak gunung es. guru tersebut tidak melihat hal yang lebih penting dari matematika itu adalah aktivitas, penemuan, pemodelan yang dilakukan oleh siswa yang dapat dianalogikan sebagai dasar dari gunung es.jika dikaitkan dengan ilmu pengetahuan, semakin kita mengeksplorasi dengan membaca, banyak bertanya, berpikir kritis maka semakin banyak pula ilmu yang akan kita dapat, kita harus memaknai prosesnya bukan langsung ke hasil.

    ReplyDelete
  53. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Didalam elegi ini menambah wawasan saya kembali bahwa masih banyak hal-hal lain yang seharusnya kita gunakan selain pemikiran krititis untuk mengetahui segala sesuatunya, yaitu kita juga harus menngunkan akal sehat, pertanyaan, pengetahun, mengenali setiap wadah dan isi, mengembangkan metode yang dinamis, dapat melihat dengan multi perspektif, dan lain sebaginya seperti yang disebutkan pada elegi ini. Sungguh sangat luas menjangkau apa yang dipelajari dalam filsafat, tetapi itu lah mulai dari perubahan hidup yang lebih baik, karena segala sesuatu yang didapat memanglah dari usaha dan do'a yang kita lakukan. Sehingga dengan tujuan kita dapat menjadi individu yang lebih kritis

    ReplyDelete