Sep 20, 2013

Elegi Menggapai Dasar Gunung Es




Oleh: Marsigit

Pelaut:
Dengan perahuku ini, aku sedang mengarungi laut. Anehnya, laut serasa tidak bertepi. Aku juga tidak melihat cakrawala. Aku tidak melihat pulau-pulau. Aku juga tidak melihat perahu lainnya. Tetapi di sana-sini aku melihat banyak puncak gunung es. Semakin aku cermati, semakin tampak banyak gunung-gunung es itu di laut. Aku penasaran. Maka aku ambil kaca pembesar. Subhanallah, ternyata di luar kesadaranku. Aku telah dikepung oleh gunung-gunung es tersebut, yang banyaknya tidak dapat aku hitung. Apa maknanya ini semua?

Orang tua berambut putih datang:
Maknanya adalah, kenalilah mereka satu persatu.

Pelaut:
Bagaimana aku bisa mengenalinya? Sedangkan aku hanya mengetahui puncaknya saja.

Orang tua berambut putih:
Tetap kenalilah mereka satu persatu puncaknya terlebih dulu, sebelum engkau mengenal yang lainnya. Untuk itu coba engkau sebutkan dari yang paling dekat dulu.

Pelaut:
Baiklah. Itu ada komunikasi. Itu ada malas. Itu ada bodoh. Itu ada rajin. Itu ada sukses. Itu ada kejam. Itu ada cantik. Itu ada tampan. Itu ada kaya. Itu ada miskin. Itu ada dosen. Itu ada guru. Itu ada mahasiswa. Itu ada siswa. itu ada lurah. Itu ada carik. Itu ada ilmu. Itu ada metode. Itu ada kualitatif. Itu ada hasil. Itu ada definisi. Itu ada matematika. Itu ada filsafat. Itu ada pendidikan. Itu ada kuliah. Itu ada makanan. Itu ada toko. Itu ada sosial. Itu ada budaya. Itu ada ontologi. Itu ada epistemologi. Itu ada tanggung jawab. Itu ada baik. Itu ada buruk. Itu ada benar. Itu ada salah. Itu ada hakekat. Itu ada spiritual. Itu ada materi. Itu ada hidup. Itu ada mati. Itu ada potensi. Itu ada fakta. Itu ada wadah. Itu ada isi. Itu ada harmoni. Itu ada doa. Itu ada iklhas. Itu ada kosong. Itu ada keputusan. Itu ada berpikir. Itu ada ruang. Itu ada waktu. Itu ada intuisi. Itu ada transenden. Itu ada rasional. Itu ada pengalaman. Wah...masih banyak lagi. Apakah aku masih perlu menyebutkannya? Apakah yang baru saja aku sebut semuanya itu adalah puncak-puncak gunung es?

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar ilmumu, yaitu kemampuan untuk menyebutkannya. Dan betul itulah sebenar-benar puncak gunung es.

Pelaut:
Kemudian, apakah sebetulnya yang disebut puncak gunung es?

Orang tua berambut putih:
Setiap kata-katamu itulah sebenar-benar puncak gunung es.

Pelaut:
Kalau setiap kata-kataku adalah puncak gunung es, maka dimanakah ngarai-ngarai?. Dimanakah lembah-lembahnya? Dimanakah sungai-sungainya? Dimanakah tanaman-tanamannya? Dimanakah kampung-kampungnya? Dimanakah penghuninya? Dan, dimanakah magmanya?

Orang tua berambut putih:
Semua yang engkau tanyakan itu sebenar-benarnya adalah tersembunyi di bawah permukaan laut.

Pelaut:
Bagaimanakah aku bisa mengenali mereka semuanya.

Orang tua berambut putih:
Caranya adalah dengan menyelam ke bawah permukaan laut.

Pelaut:
Bagaimana aku bisa menyelam ke bawah permukaan laut?

Orang tua berambut putih:
Gunakan akal sehatmu. Gunakan pikiran kritismu. Gunakan pertanyaanmu. Gunakan pengetahunmu. Gunakan cerminmu. Kenalilah setiap wadah dan isinya. Kembangkan metode yang dinamis. Lihatlah dengan multi perspektif. Lakukan perbandingan-perbandingan. Temukan tesisnya. Produksilah anti-tesisnya. Lakukan sintesis. Buatlah hipotesis. Temukan kontradiksinya. Temukan penjelasannya. Temukan contohnya. Temukan deskripsinya. Temukan cabangnya. Temukan tokohnya. Temukan referensinya. Lakukan crosschek. Dengarkan kata-katanya. Temukan sumber-sumbernya. Temukan konsistensinya. Ujilah nilai kebenarannya. Temukan a priorinya. Temukan a posteriorinya. Temukan hakekatnya. Dan tetapkanlah hatimu sebagai kompasmu.

Pelaut:
Wahai orang tua berambut putih. Bukankah apa yang engkau sebutkan itu adalah puncak-puncak gunung. Karena itu semua adalah kata-katamu. Maka semua kata-katamu itulah sebenar-benar puncak gunung.

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa jika engkau dekati suatu gunung itu, maka tiadalah suatu gunung yang hanya mempunyai satu puncak. Di lembah gunung terdapatlah puncak-puncaknya yang lebih kecil, demikian seterusnya.

Pelaut:
Jika aku ingin mengetahui tentang komunikasi, maka bagaimanakah caranya?

Orang tua berambut putih:
Gunakan akal sehatmu. Gunakan pikiran kritismu. Gunakan pertanyaanmu. Gunakan pengetahunmu. Gunakan cerminmu. Kenalilah setiap wadah dan isinya. Kembangkan metode yang dinamis. Lihatlah dengan multi perspektif. Lakukan perbandingan-perbandingan. Temukan tesisnya. Produksilah anti-tesisnya. Lakukan sintesis. Buatlah hipotesis. Temukan kontradiksinya. Temukan penjelasannya. Temukan contohnya. Temukan deskripsinya. Temukan cabangnya. Temukan tokohnya. Temukan referensinya. Lakukan crosschek. Dengarkan kata-katanya. Temukan sumber-sumbernya. Temukan konsistensinya. Ujilah nilai kebenarannya. Temukan a priorinya. Temukan a posteriorinya. Temukan hakekatnya. Dan tetapkanlah hatimu sebagai kompasmu.

Pelaut:
Jika aku ingin mengetahui apa yang ada di bawah puncak gunung kosong, bagaimanakah caranya?

Orang tua berambut putih:
Gunakan akal sehatmu. Gunakan pikiran kritismu. Gunakan pertanyaanmu. Gunakan pengetahunmu. Gunakan cerminmu. Kenalilah setiap wadah dan isinya. Kembangkan metode yang dinamis. Lihatlah dengan multi perspektif. Lakukan perbandingan-perbandingan. Temukan tesisnya. Produksilah anti-tesisnya. Lakukan sintesis. Buatlah hipotesis. Temukan kontradiksinya. Temukan penjelasannya. Temukan contohnya. Temukan deskripsinya. Temukan cabangnya. Temukan tokohnya. Temukan referensinya. Lakukan crosschek. Dengarkan kata-katanya. Temukan sumber-sumbernya. Temukan konsistensinya. Ujilah nilai kebenarannya. Temukan a priorinya. Temukan a posteriorinya. Temukan hakekatnya. Dan tetapkanlah hatimu sebagai kompasmu.

Pelaut:
Kenapa engkau ulang-ulang saja jawabanmu?

Orang tua berambut putih:
Inilah sebenar-benar kesaksianku. Bahwa sebenar-benar yang sedang engkau lakukan adalah sedang menggapai filsafat.

73 comments:

  1. Lana Sugiarti
    16709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Terimakasih untuk eleginya Bapak, sangat menarik bahwa ternyata setiap kata – kata itulah sebenar – benar puncak gunung es. Maka apa pun yang masing – masing orang katakan itulah gunung es nya. Menggunakan akal sehat dan pengetahuan akan membantu menemukan hal yang ingin diketahui. Gunung es juga menggambarkan tentang ilmu yang harus dipelajari. Kita tidak bisa menakhlukkan gunung es, menaiki sampai puncak ataupun menyelami hingga ke dasarnya. Ini merupakan gambaran bahwa kita tidak akan bisa menguasai semuanya, namun dapat menguasai sampai ke batas pikiran kita. Dalam kondisi seperti ini maka bisa menggunakan akal sehat dan pikiran kritis untuk dapat menemukan hakikat ilmu itu, cara memperoleh, dan manfaatnya.

    ReplyDelete
  2. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Pada kisah elegi kali ini saya memperoleh pelajaran bahwa untuk dapat memahami atau mendalami tentang suatu hal yang baru kita kenal hanya sebatas dalam bentuk kata-katanya saja, banyak hal yang dapat kita lakukan, seperti Gunakan akal sehatmu. Gunakan pikiran kritismu. Gunakan pertanyaanmu. Gunakan pengetahunmu, dll. Seperti ketika kita melihat puncak gunung es dan ingin mengetahui dasarnya. Hal tersebut adalah apa yang disebut sebagai menggapai filsafat.

    ReplyDelete
  3. Hendra Erik Rudyanto
    S3 dikdas

    Terima kasih Prof. Marsigit, sangat bermanfaat. Allah menciptakan kita dengan akal dan pikiran untuk menggapai itu semua sampai pada bagaimana memanfaatkannya. Itulah hakikat ilmu yang sesungguhnya. Kita tidak akan bisa menakhlukkan gunung es tanpa Mengenalinya dengan menyelami dari dasar.

    ReplyDelete
  4. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Jika kita melihat sesuatu dengan cara-cara biasa, maka yang tampak hanya bagian luarnya saja. Akan tetapi, lain halnya jika kita melihat denga rasa penasaran, ingin tahu yang tinggi, dan dengan cara berpikir, maka banyak hal-hal yang akan kita ketahui di luar batasan pandangan mata kita. Kedua, dalam postingan ini mustahil kita dapat menggapai dasar gunung es tanpa berpikir, berpikir, dan berpikir. Hanya dengan berpikir dengan akal sehat kita bisa menggapai dasar gunung es. Berpikir dengan akal sehat secara mendalam dan meluas kita dapat sampai kepada dasar gunung es yang letaknya dibawah dasar laut. Sesungguhnya jika kita mampu menggapai dasar gunung es, maka itu sama halnya dengan kita sedang menggapai filsafat.Ketika kita merasa sudah mengenal “sesuatu” secara utuh, sebenarnya masih ada bagian-bagian kecil dari “sesuatu” itu yang belum dapat kita kenali. Demikian pula dengan ilmu. Untuk mempelajari ilmu, diperlukan akal sehat dan pikiran kritis. Dengan bekal akal dan pikiran, kita bisa berpikir tentang “sesuatu” sehingga timbul pertanyaan-pertanyaan. Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita bisa sampai pada suatu kesimpulan tentang “sesuatu” dengan proses yang sangat panjang. Pada akhirnya kita dapat menemukan hakekat tentang “sesuatu” itu.

    ReplyDelete
  5. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Karena rasa ingin tahu yang tinggi, manusia terus berpikir dan berpikir atas apa yang dialaminya agar segala sesuatunya menjadi logos. Oleh karenanya apa yang kita lihat, kita gali apa yang nampak, kita ucapkan hanyalah sebatas bagian terkecil dari filsafat dan bagian terbesar ialah yang tersembunyi. Tiadalah yang nampak itu besar, melainkan yang tersembunyi itu ialah yang terbesar. Gunakan akal sehatmu. Gunakan pikiran kritismu. Gunakan pertanyaanmu. Gunakan pengetahunmu, dll untuk menggali itu semua. Seperti ketika kita melihat puncak gunung es dan ingin mengetahui dasarnya. Hal tersebut adalah apa yang disebut sebagai menggapai filsafat.

    ReplyDelete
  6. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Elegi ini menggaambarkan bahwa segala sesuatu yang bersifat logos adalah layaknya puncak gunung es, seperti komunikasi,malas, bodoh, rajin, sukses,kejam, cantik,tampan, kaya, miskin, dll. Selayaknya es puncak es bisa seketika mencair menjadi air ketika hal tersebut tidak dibalut dengan spritual yang baik dan perlu suatu reflektif diri agar kita dapat menyalami gunung es sehingga apa yang kita inginkan dapat tercapai.

    ReplyDelete
  7. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    dalam elegi ini dapat kita simpulkan bahwa apa yang sebenarnya kita pertanyakan, itu bisa saja terjawab hanya dengan melihat kembali darimana pertanyaan tersebut datang. pada hakikatnya dalam elegi ini kita disuruh untuk melihat lebih ddekat dan lebih dalam lagi tentang seuatu hal. jangan hanya melihat dari segi permukaannya saja. memang diperlukan sebuah resolusi agar melihat suatu permasalahan yang ada dari berbagai sisi. agar kita lebih objektif dalam menilai.

    ReplyDelete
  8. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Di dunia ini terdapat banyak ilmu yang dapat kita pelajari. Untuk menggapai ilmu tersebut kita harus menemukan tesis, antitesis, melakukan hipotesis, menemukan kontradiksi, deskripsi, penjelasan, membaca referensi, dan sebagainya. Namun yang harus selalu diingat dalam upaya mencari ilmu adalah untuk selalu menempatkan hati dan agama kita sebagai kompas sehingga kita tidak tersesat. Semakin banyak kita mempelajari ilmu-ilmu maka kita akan semakin sadar bahwa di luar sana masih banyak sekali hal yang tidak kita ketahui. Sesungguhnya hanya Allah yang maha mengetahui segala sesuatu.

    ReplyDelete
  9. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Elegi ini mengibaratkan menggapai gunung es sebagai memahami suatu ilmu. Ilmu sangatlah dalam lebih dalam dari dalamnya lautan, hingga kita tak mampu meraih keseluruhannya. Jangankan meraihnya, sekedar membayangkannya saja kita tidak akan bisa. Ilmu sangatlah luas lebih luas dari luasnya lautan, hingga kita tak mampu meraih keseluruhannya. Jangankan meraihnya, sekedar membayangkannya saja kita tidak akan bisa kita. Maka jika kita analogikan ilmu sebagai gunung es, maka jika kita belum banyak melakukan usaha dalam menggapai ilmu, itu bagaikan kita baru bisa melihat puncak-puncak gunung es. Pelajaran yang dapat kita ambil ialah, jadilah seorang yang tawadhu dalam menuntut ilmu yakni semakin menuntut ilmu kita merasa semakin merasa bahwa ilmu yang kita miliki masih sangt sedikit sehingga kita berniat untuk terus menambahnya.

    ReplyDelete
  10. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Gunung es merupakan analogi dari objek-objek dari ilmu pengetahuan yang ada disekitar kita. Bagaimana kita dapat menggapainya dan menemukan hakekat sebenarnya, tentu dengan berproses karena tidak ada yang instan atau langsung jadi dalam menggapainya. Maka dengan berpikir kritis, keikhlasan dan kesabaran juga merupakan kunci sukses dalam menggapai ilmu.

    ReplyDelete
  11. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Elegi ini mengibaratkan bagaimana menggapai filsafat. Filsafat itu sangatlah luas cakupannya meliputi segala yang ada dan yang mungkin ada. Sehingga kita tidaklah mampu meraih keseluruhan filsafat, kita hanya bisa berusaha menggapai filsafat. Maka jika kita analogikan filsafat sebagai gunung es, maka jika kita belum banyak melakukan usaha dalam menggapai filsafat, itu bagaikan kita baru bisa melihat puncak gunung-gunung es. Apalagi jika dalam belajar filsafat, dirimu hanya belajar sepotong-sepotong, maka engkau dapat tersesat, engkau malah dapat menggapai mitos. Itulah sebenar-benar pantangan belajar filsafat. Sehingga tidak ada yang instan dalam belajar dan menggapai filsafat. Salah satunya dengan baca baca dan baca, berpikir kritis, berpikir jernih, berlandaskan hati yang bersih, ikhlas hati dan ikhlas pikir.

    ReplyDelete
  12. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Jelas bahwa jika kita ingin mencapai puncak, memang membutuhkan perjuangan. Analogi dalam elegi ini menggambarkan perjuangan dalam memperoleh pengetahuan yang diibaratkan sebagai puncak gunung es. Lembah-lembah, ngarai dan tanaman itu letaknya di dasar laut. Maksudnya adalah jika kita hendak mendaki, maka kita harus melewatinya sehingga kita harus menyelam sedalam-dalamnya. Ini menyiratkan bahwa dalam menggapai pengetahuan kita harus berpikir intensif sehingga pengetahuan lebih mendalam nantinya.

    ReplyDelete

  13. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Berdasarkan elegi diatas bahwa ilmu itu didibaratkan seperti gunung es, yang gunung es itu mempunyai puncak tertinggi. Sehingga satu gunung es itu mewakili ilmu-ilmu itu sendiri. ada komunikasi. ada malas. ada bodoh. ada rajin. ada sukses. ada kejam. ada cantik. ada tampan. ada kaya. ada miskin. ada dosen. ada guru. ada mahasiswa. ada siswa. ada lurah. ada carik. ada ilmu. ada metode. ada kualitatif. ada hasil, dan lain sebagainya. Sehingga untuk mencapai puncak gunung es itu kita harus ada usaha dalam menaikinya. Seperti itu lah ilmu, ilmu yang kita dapatkan itu hasil ari belajar dan pemikiran kita sehingga kita mendapat ilmu yang kita miliki. Dengan menggunakan akal, dan pikiran kita sehingga kita bisa mencapai ilmu itu.

    ReplyDelete
  14. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Inilah cita-cita dan itulah ilmu. Dalam menggapai ilmu kita memang sudah seharusnya mengenali dan berusaha menggali selangkah demi selangkah. Kita gunakan semua source dan resource dalam upaya memperdalam dan semakin memperdalam ilmu itu. Ya disinilah proses yang bisa kita anggap kita sedang berfilsafat. yaitu berpikir sedalam -dalamnya dan seluas-luasnya.
    Namun tentu saja dalam mencari dan mendalami ilmu haruslah kita selalu berpedoman kepada hati. Karena hati akan mampu menunjukkan mana dan cara yang baik dalam mendalami ilmu.

    ReplyDelete
  15. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Ilmu itu sangatlah luas jika kita dapat mengupasnya hingga lapisan terdalam. Namun jika kita menyentuh dan tidak ingin mengetahui suatu ilmu maka akan terlihat sempit. Sebanyak – banyaknya suatu ilmu jika proses dalam mendapatkannya tiada berarti maka ilmu tersebut tiadalah berarti juga. Oleh karena itu diperlukan kegiatan belajar dengan penuh ikhlas hati dan ikhlas pikiran.

    ReplyDelete
  16. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Elegi menggapai gunung es bisa diartikan dengan bagaimana kita mau mendapatkan banyak ilmu. Semua ilmu sebenarnya berada di sekitar kita, di dekat kita, di depan mata kita. Tinggal bagaimana kita menggunakan kemampuan yang kita miliki untuk mendapatkan semua ilmu yang ada di sekitar kita itu, dan yang paling penting adalah kemauan kita, dengan kemauan kita pasti akan bergerak untuk mendapatkan ilmu-ilmu itu. Hal lain yang kita lakukan dalam usaha mendapatkan ilmu itu kita harus menggunakan akal sehat, pikiran yang kritis, dan selalu terbuka, dan yang paling penting adalah tidak menelan mentah-mentah informasi yang didapatkan.

    ReplyDelete
  17. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi menggapai dasar gunung es ini menyampaikan bahwa apa yang kita "lihat" hanyalah permukaannya saja. Misalnya saja perihal ilmu. Ilmu yg kita dapat dari kelas masih seperti permukaan gunung es, masihlah dalam dan luas ilmu yang belum kita ketahui. Padahal kita perlu memahami hakekat dan menyadari segala tentanf ilmu tersebut. Maka, perlulah bagi kita menemukan tesis, antitesis, hipotesis, kontradiksi,membaca banyak buku dan lain sebagainya.
    Perlu usaha yang lebih dan tidak biasa biasa saja untuk menggapai dasar gunung es atau mengenal sesuatu secara lebih menyeluruh.

    ReplyDelete
  18. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016

    jika dianalogikan maka pelaut adalah sesorang individu dalam kehidupannya (yaitu lautan lepas). tidak ada ada sangkut pautnya dengan perahu dan pelaut lain (individu lain). dan dalam mengarungi lautan (kehidupan) tidak ada batas hal-hal yang akan bersankutan dalam hidup ini. puncak gunung es dianalogikan sebagai sifat, kegiatan, perbuatan, perkataan, dsb yang mungkin akan menjadi penghambat atau malah menjadi jalan bagi lancarnya menjalani kehidupan. maka dari itu hendaknya pelaut (individu) harus mengenali sacara mendalam puncak-puncak es tersebut. sesuai dengan pesan orang tua berambut putih, mengenali puncak es menggunakan akal sehat, mengidentifikasi, menjelaskan secara runtut, benar, dan kritis. sehingga pelaut (individu) mengenali betul setiap puncak es. akhirnya pelaut (individu) dapat memilah-milah mana puncak es yang bermanfaat dan tidak dalam mengarungi lautan (kehidupan)

    ReplyDelete
  19. Gunung es yang mengapung di laut sukar untuk menebak seberapa besarnya. Demikian pula manusia, kita tidak tidak mengetahui isi hati dan pemeikiran serta pengetahuan yang dimiliki oleh manusia dari sisi penampakannya/luarnya saja. Apa yang ditampakkan manusia terlihat baik kadang hatinya tidak baik, tetapi mungkin juga benar-benar baik. Apa yang ditampilkan manusia tampak buruk kadang hatinya baik. Apa yang bisa diambil hikmahnya adalah Janganlah berlaku sombong dan meremehkan atau merendahkan manusia lain.

    ReplyDelete
  20. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari Elegi menggapai dasar gunung es tersebut saya menyimpulkan bahwa seorang guru perlu mengenali siswanya yang berbeda-beda dan beragam. Guru perlu mengenali siswanya satu persatu dengan mengenali yang paling dekat terlebih dahulu. Pelaut pada elegi tersebut digambarkan sebagai seorang guru yang kebingungan dengan kondisi yang dihadapi dan baru menyadari kondisinya saat melihat dengan kaca pembesar atau dilihat dari dekat. Cara guru untuk dapat memahami siswa adalah dengan menggunakan akal sehat dan pikiran dengan mengenali siswa baik dari luar maupun dalam.

    ReplyDelete
  21. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Dalam elegi menggapai gunung es ini, pelaut diibaratkan sebagai manusia yang sedang dalam perjalanan kehidupan. Dalam perjalanan pelaut banyak menemui gunung es yang diibaratkan sebagai pengetahuan-pengetahuan. Gunung-gunung e situ menutupi penglihatannya, untuk itu selalu diperlukan upaya agar terus belajar, belajar dan belajar agar dapat membuka pikiran dan wawasan kita agar senantiasa mampu melihat dunia seutuhnya agar mampu meruntuhkan gunung es tersebut.

    ReplyDelete
  22. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Elegy ini sungguh bermakna, tapi saya tidak begitu mengerti isi artikelnya. Menurut faham saya, sains seperti laut yang tidak terpangkas dikelilingi komunikasi, malas, guru, pelajar, dan apapun yang tidak bisa disebutkan semuanya digambarkan sebagai gunung es. Dalam belajar, kita harus mengenal dan bersikap sopan terhadap sains ini. Serta gunung es, sains juga memiliki tingkat yang juga harus kita ketahui melalui akal sehat, pemikiran kritis, penyelidikan, dan pengetahuan yang kita miliki. Pendekatan Iceberg dapat diterapkan pada metode pembelajaran matematika, dimana tahap pembelajarannya berangsur-angsur dengan metode pembelajaran konkret dan sederhana sampai ke puncak gunung atau tingkat yang lebih tinggi dengan metode yang lebih kompleks. Terkadang orang lebih fokus pada apa yang ada di puncak gunung daripada apa yang ada di lembah, namun lembah merupakan basis puncak gunung, di mana untuk mencapai puncak membutuhkan usaha dan pengorbanan yang tidak mudah.

    ReplyDelete
  23. Woro Sophia Amirul Kusumawati
    14301241048
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Bepikirlah keras untuk mengetahui dasar gunung es. Apa yang kita lihat dengan mata hanyalah bagian luarnya saja(puncak gunung es). Akan berbeda lagi jika kita mengkritisi lebih dalam akan suatu hal itu maka kita akan melihat lebih banyak hal lagi dari suatu hal. Jika kita kritisi lebih dalam lagi maka kita aka melihat banyak hal lagi dari berbagai hal dari suatu hal dan seterusnya. Apa yang kita lakukan untuk mengetahui sampai ke dasar gunung es sama halnya kita sedang menggapai filsafat.
    Dalam proses pembelajaran, guru adalah pelaut dan siswa adalah gunung es. Apa yang dilihat guru hanyalah sifat-sifat yang menonjol dari siswa. Guru perlu mengkritisi kembali karakter karakter yang dimiliki siswa. Kemudian guru perlu melakukan inovasi pembelajaran agar mendapatkan hasil yang memuaskan dalam proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  24. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Seperti fenomena gunung es biasanya, bahwa puncak gunung es hanya sebagian kecil, dan yang berada di dasar laut sebenarnya besar tak terkira. Seperti layaknya ilmu pengetahuan, yang terlihat hanyalah kecil, tapi jika terus dipelajari hingga ke akar-akarnya, ke dasar-dasarnya, sebenarnya ilmu pengetahuan itu sangat besar tak terkira.

    ReplyDelete
  25. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah membaca elegi di atas, pesan untuk saya pribadi (self reminder) adalah janganlah cepat merasa puas dengan ilmu yang telah kita peroleh, karena sebenarnya ilmu itu barulah puncak gunung es, ketika terus mencoba memahami sampai ke dasarnya dengan berpikir kritis dan sebagainya, masih akan menemukan ilmu pengetahuan yang amat sangat banyak, tak terhingga, tetapi akan terus merasa kurang dan kurang, sehingga terus menggali pengetahuan.

    ReplyDelete
  26. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Untuk menggapai filsafat haruslah belajar secara mendalam, dari berbagai sudut pandang, dan bersumber referensi. Diawali dengan mengenal dari jauh menggunakan teropong kemudian dekatilah bila jauh dan selamilah bila dalam, sintesiskan tesis dan antitesis maka itulah usaha untuk berfilsafat.

    ReplyDelete
  27. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Gunung es yang tertutup air memang puncaknya terlihat kecil, namun jika dilihat ke dasar gunungnya bagian dasarnya akan terlihat besar dan kuat. Untuk menggapai dasar gunung es kita harus berpikir menggunakan akal yang sehat dan kritis, memanfaat kan pertanyaan dan pengetahuan yang kita miliki, mengidentifikasi tesis dan anti tesisnya lalu mensintesiskannya, menguji kebenarannya, menemukan hakekatnya.

    ReplyDelete
  28. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Elegi menggapai gunung es, dimana gunung es merupakan kata-kata untuk dapat mengetahui seberapa ukuran dari kata-kata gunakan pikiran kritis, pertanyaan, dan pengetahuan yang dimiliki. Dengan memahami wadah dan isi dari kata-kata kita, maka kita akan mengetahui tesis dan anti-tesisnya yang kemudian kita akan memperoleh kontradiksinya berdasarkan beberapa sumber referensi. Sama halnya ketika dalam proses pembelajaran, siswa dapat memiliki kemampuan komunikasi yang baik jika ia memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman. Jika ia tidak mempunyai keduanya maka ia tidak dapat menyampaikan ide gagasannya.

    ReplyDelete
  29. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ilmu itu banyak. Untuk belajar tentang setiap ilmu itu tidak mudah. Banyak yang harus diketahui terlebih dahulu. Prosesnya tidak sebentar. Seperti gunung es. Sebenarnya yang palin penting dan membuat gunung es berdiri adalah apa yang ada dibawah permukaan laut. Sehingga jika ilmu itu ada puncak gunung es, maka kita harus memelajari apa saja yang ada di bawah permukaan laut. Seperti yan telah dijabarkan dalam elegi di atas.

    ReplyDelete
  30. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Karena ketika belajar itu butuh proses, niat yang ikhlas. Maka jangan putus asa untuk menggapai ilmu itu. Dan selalu berusaha untuk mendapatkan ilmu itu. Walauapun banyak hal sebelumnya, tetapi itulah proses yang harus dilalui agar mendapatkan sebenar-benarnya ilmu itu

    ReplyDelete
  31. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    seperti halnya gunung es, yang terlihat hanya sebagian puncaknya, dibawah masih ada bagian gunung es tersebut, seperti menimba ilmu itu yang terekspose atau yang dipelajari baru depannya, padahal didalamnya masih sangat luas lagi ilmu itu, reminder buat saya dan teman teman untuk tidak mudah puas dengan ilmu yang didapat, karena sesngguhnya ilmu itu sangat luas tetaplah haus akan ilmu.

    ReplyDelete
  32. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    dalam menimba ilmu harus dengan niat yang tulus dan ikhlas agar ilmu nya benar benar bermanfaat. janganlah cepat puas dengan apa yang sudah dicapai dan dimiliki namun tetap rendah hati dan berusaha terus menimba ilmu, ilmu yang sebenar benar nya itu tak terbatas.

    ReplyDelete
  33. Indriyani Fatmi
    13301244031
    S1 Pendidikan Matematika 2013

    Mencapai suatu tujuan itu seperti mendaki gunung. Untuk mencapai puncaknya, diawali dengan melangkahkan kaki di dasar gunung. Dalam pendakian pasti terdapat rintangan-rintangan yang harus dihadapi.

    ReplyDelete
  34. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Dari elegi ini saya mendapatkan bahwa dalam mempelajari ilmu seringkali kita tidak tahu mau belajar apa, sedang berada dimana. Hal ini karena kita tidak mendekati sumber ilmu tersebut. Setelah mendekati sumber ilmu, masalah yang muncul kemudian adalah bingung mau memulai dari mana. Maka mulailah dari yang paling dekat. Artinya belajar lah dari sumber yang sudah ada didepan mata atau yang sudah ditunjukkan. Ilmu dalam elegi ini disimbolkan dengan gunung es. Hal ini karena ilmu yang dapat kita lihat secara indrawi hanyalah atasnya saja. Sedangkan gunung es sebetulnya lebih luas dan lebih dalam di bawah permukaan laut. Oleh karena itu, tidak cukup dengan hanya membaca dari apa yang tampak saja. Kita juga harus mencari dan menyelam ke dalam ilmu tersebut.

    ReplyDelete
  35. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Hasil dari saya membaca elegi menggapai dasar gunung es ini adalah dilihatnya banyak sekali gunung-gunung es yang banyaknya tidak dapat dihitung dan bagaimana mengenali satu persatu gunung es itu. Jika digambarkan pada diri kita saat ini adalah sebagai seorang ilmuan yang belajar dari guru-guru besar yang sangat paham mengenai ilmu. Ketika kita ingin melakukan sebuah penelitian banyak sekali masalah yang ada dilapangan. Maka dari banyak masalah itu kita harus dapat menyelidiki satu persatu masalah. Sehingga akan menemukan masalah yang paling pokok atau penting. Dari satu masalah itu kita gunakan akal sehat apakah masalah yang akan diteliti itu benar-benar dapat menghasilkan sesuatu penemuan yang baru. Dengan cara berpikir kritis tentang masalah itu gunakan pertanyaan-pertanyaan yang menguatkan. Gunakan cerminmu untuk mengetahui permasalahan lebih detail. Kemudian kenali lingkup masalahnya itu tentang apa, misalnya pendidikan.

    ReplyDelete
  36. Fina Fitri Nurjannah
    14301244005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Terimakasih Prof.Marsigit atas artikel yang berjudu Elegi Menggapai Dasar Gunung Es. Setelah membaca artikel diatas, terdapat beberapa hal yang saya pahami. Yang pertama, bertanya adalah modal utama untuk mengetahui banyak ilmu yang ada di dunia ini. Kedua, selain bertanya kita juga harus menggunakan ilmu kita dan berpikir kritis dalam rangka menambah pengetahuan dan memperlajari ilmu lain.

    ReplyDelete
  37. Eka Novi Setiawan
    14301241044
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi Menggapai Dasar Gunung Es ini mengajarkan pada saya untuk mengetahui lebih mendalam tentang hakikat sesuatu atau pribadi seseorang tidak hanya berdasarkan apa yang nampak, akan tetapi harus memahaminya. Karena saya pernah mendengar "Don't judge by it's cover" artinya jangan menilai sesuatu hanya berdasarkan apa yang dilihat dari luarnya.

    ReplyDelete
  38. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah membaca “Elegi Menggapai Dasar Gunung Es”, pelajaran yang saya peroleh yaitu ketika kita menjadi seorang guru, kita harus mengenali semua siswa dan menggali setiap potensi yang mereka miliki. Puncak gunung es diumpamakan dengan ilmu yang tampak, sedangkan potensi/ bakat/ dan ilmu yang lainnya diibaratkan dengan dasar gunung es.

    ReplyDelete
  39. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049
    Pada elegi tersebut dapat dilihat bahwa seseorang selalu mempunyai rasa ingin tahun dalam dirinya. Namun setiap orang memiliki tindakan yang berbeda dalam menanggapi rasa ingin tahunya tersebut. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk memenuhi rasa ingin tahunya adalah dengan bertanya kepada orang lain.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  40. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049
    Dalam elegi tersebut saya tertarik dengan pernyataan bahwa pada sebuah gunung besar memiliki satu puncak besar dan banyak puncak kecil lain. Hal itu menunjukan sebuah hal besar selalu dibarengi dengan hal-hal kecil yang terjadi disekitarnya. Oleh karena itu kita tidak bisa mengabaikan hal kecil yang terjadi pada kehidupan kita.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  41. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049
    Pada percakapan diatas terdapat himbauan dari orang berambut putih untuk mencari ilmu dengan berusaha, mencari sumber-sumber yang dapat digunakan dan mengasosiasi informasi-informasi yang didapat untuk menjawab pertanyaan yang timbul atau hipotesis yang didapat dari mengamati.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  42. Tahtalia
    14301241031
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Seperti gunung es, ilmu tidak hanya yang terlihat di permukaan. Untuk benar-benar memahami suatu ilmu, kita harus berjuang dan berusaha lebih keras. Tanpa usaha dan kesungguhan maka kita tidak akan pernah mengetahui dasar gunung es yang sebenarnya yang lebih besar dan lebih luas dari puncak yang terlihat.

    ReplyDelete
  43. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Gunung es atau iceberg, jikalau dilihat dari permukaan air laut hanya muncul sebagai puncak kecil saja. Namun bila ditelusuri hingga jauh ke dalam, ada banyak bagian dari gunung es yang teramat besar. Hal ini berlaku ketika kita memandang segala hal. Bila kita melihat suatu hal dengan sekilas, maka yang tampak bagi kita pun hanyalah sekilas dan sebagian kecilnya. Berbeda jika kita melihat hal itu dengan menyeluruh dan mendalam, tentu kita akan mengenalnya sebagai satu kesatuan yang utuh. Ini berlaku juga ketika kita mencari ilmu. Ketika kita belajar, kita harus memiliki rasa ingin tahu, rasa ingin belajar, serta rasa ingin mengenal yang tinggi. Dengan demikian, ilmu dan pengetahuan yang kita peroleh pun bisa utuh dan maksimal.

    ReplyDelete
  44. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    Pendidikan Matematika A 2014

    Cara menggapai filsafat untuk apapun yang ingin kita ketahui membutuhkan tesis, antititesis, sintesis. Ketiga hal ini penting mengingat dalam menggapai filsafat membutuhkan pikiran yang kritis. Selain kritis haruslah dari berbagai perspekif agar dapat memandang segala yang kita cari secara menyeluruh. Dengan begitu gunung es tidak nampak dari permukaannya saja tapi dapat menyelam hingga dasarnya.

    ReplyDelete
  45. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari Elegi yang saya baca di atas, saya menemukan bahwa suatu ilmu dapat diibaratkan sebagai sebuah gunung es. Dimana untuk memahami ilmu tersebut, perlu menggunakan cara dan metode yang bervariasi untuk mendalami ilmu tersebut.

    ReplyDelete
  46. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pelaut dalam elegi tersebut dapat dianalogikan sebagai seorang manusia. Dimana manusia tersebut melihat ada banyak sekali ilmu yang dapat dipelajari di dunia ini layaknya sebanyak gunung es yang pelaut tersebut lihat. Namun, ilmu-ilmu tersebut masih hanya terlihat puncaknya saja atau luarnya saja, sebelum manusia mendalaminya lebih lanjut lagi.

    ReplyDelete
  47. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Salah satu hal yang menarik adalah setiap puncak gunung yang besar memiliki puncak-puncak gunung yang lebih kecil, dimana saya mengartikannya sebagai ilmu yang kita pelajari masih dalam lingkup yang luas, ilmu tersebut masih bisa bercabang dan lebih rinci bila dipelajari lebih lanjut.

    ReplyDelete
  48. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. gunung es itu hanya terlihat bagian pucuk yang ada di atas permukaan air laut saja. Jika diperhatikan maka di bawah permukaan laut terdapat sebagia besar badan dari gunung es yang tak terlihat. Sama halnya dalam belajar. jangan mempelajari apa yang terlihat diluar saja, tapi pahami juga setiap makna dari yang terlihat. Misalnya mempelajari perkalian, jangan hanya menghafal tabel perkalian saja. Tapi pelajari juga apa makna perkalian, kenapa bisa didapat hasil yang seperti itu, apa aplikasi perkalian dalam kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  49. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ilmu yang didapat dari pembelajaran di kelas itu ibarat dengan gunung es yang mana hanya terlihat kecil, namun jika dilihat di bawah permukaan air laut, bongkahan gunung es tersebut sangatlah besar, maka hendaknya kita mencari dan mendalami ilmu yang telah didapat di sekolah atau formal dengan kesabaran, keingin tahuan, dan keikhlasan yang tinggi.

    ReplyDelete
  50. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Ilmu itu selalu ada, mereka tersebar begitu banyaknya, kita dapat melihatnya dengan jelas, akan tetapi kita tidak bisa melihatnya secara menyeluruh hanya dengan memandangnya dari kejauhan saja. Untuk memahaminya, kita perlu mendalami, perlu memperjuangkan. Ibarat gunung es tersebut yang kita lihat hanya sebatas puncaknya saja, kita perlu menyelam ke dasar laut untuk mengetahuinya secara menyeluruh. Manusia dikaruniai akal sehat yang dapat digunakan untuk senantiasa menuntut banyak ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  51. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Apa yang di ucapkan, apa yang di atakana sebenarnya cerminan dari diri kita. Bahkan pepatah mengatakan mulutmu harimau mu, tanganmu adalah cakarmu, lidah tak bertulang, dan lainnya. Karena satu kata terucap dan tertancap di hati yang akan sakit jika seseorang tidak menerima apa yang kita katakan. Dalam menjaga lisan kita, harusnya tahu dengan siapa kita berbicara, apa yang kita bicarakan itu lebih penting.

    ReplyDelete
  52. Elli susilawati
    16709251073
    Pmat d

    Dari elegi di atas yang saya tangkap adalah bahwa penilaian kita terhadap sesuatu adalah apa yang kita ucapkan. Terkadang yang kita ucapkan itu adalah penilaian secara dangkal saya melihat sepintas atau mengenal sepintas. Ada baiknya dalam menilai sesuatu kita tidak hanya dengan melihat sepintas saja tetapi mengenal lebih dalam dengan menggunakan pengetahuan dan ilmu, sehingga banyak hal yang bisa didapatkan.

    ReplyDelete
  53. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam memakanai gunung es itu seperti dalam memaknai ice berg dalam pembelajaran. Yang terlihat memanglah sepucuk kecil. Namun yang tersimpan didalamnya/dibawahnya masih lebih besar dari yang dilihat. Karena itu dalam kehidupan maknai sesuatu bukan karena tampilannya karena dalamnya terdapat hal yang lebih berharga sehingga galilah lebih dalam mungkin engkau dapatkan harta yang lebih indah.

    ReplyDelete
  54. Sefti Lailatifah
    14301241040
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Elegi diatas menyadarkan saya bahwasanya memang yang selama ini lihat dan pahami hanyalah bagian luarnya saja. Padahal apabila kita ingin mempelajari sesuatu haruslah kita belajar secara mendalam tentang apa saja yang terkait dengannya dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  55. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Jika usaha kita biasa-biasa saja maka yang akan kita lihat hasilnya juga biasa-biasa saja. Akan tetapi kika kita berupaya lebih dan berpikir lebih maka apa yang kita lihat akan luar biasa dan bisa mungkin lebih dari ekspektasi kita. Sesuatu yang nampak dapat diperoleh dengan mudah, sedangkan sesuatu yang besar tersembunyi di dalamnya.

    ReplyDelete
  56. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pelaut melihat banyak gunung es di lautan. Tetapi ia hanya melihat secara sekilas. Ternyata dari setiap gunung es menyimpan keunikan berbeda-beda. Hal ini mengartikan bahwa seorang guru melihat siswa-siswanya mempunyai karakter-karakter yang berbeda-beda. Guru perlu memahami mereka satu per satu agar mereka bisa mengeluarkan kemampuan terbesar mereka.

    ReplyDelete
  57. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ibarat pelaut yang ingin mengetahui bawah puncak gunung es, maka guru yang ingin memahami karakter siswanya dan ingin mengetahui cara agar mereka senang dengan pembelajaran matematika maka guru harus banyak-banyak mempunyai pengetahuan. Pengetahuan dapat dicari dengan banyak membaca referensi yang berkaitan dengan teori belajar matematika.

    ReplyDelete
  58. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam menerjemahkan gunung es, seperti yang bisa kita bayangkan adalah, puncak gunung es yang hanya kecil rupanya disangga oleh es yang jauh lebih besar. Maka dari itulah, mudah membaca puncak es nya daripada es yang berada dibawah permukaan laut. Seperti disebutkan dalam elegi diatas, untuk dapat memahami hal-hal tak nampak yang berada dalam proses pembelajaran membutuhkan cara-cara yang sangat kompleks dan rumit, tidak bisa hanya dengan sekali cara hal itu dapat dipahami

    ReplyDelete
  59. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam kaitannya dengan pembelajaran, siswa memiliki sifat nampak yang bisa diamati. Namun dari sifat itu, ternyata ada banyak aspek yang kita perlu pahami dalam mendukung siswa berkegiatan di dalam kelas. Sehingga harapannya guru dengan tepat merancang pembelajarannya sesuai dengan kondisi dan kemampuan siswa itu sendiri

    ReplyDelete
  60. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi menggapai gunung es menggambarkan bahwa untuk dapat memahami atau mendalami tentang suatu hal yang baru kita kenal hanya bias kita lihat dalam sebatas kata-katanya saja. Maka kita harus menggunakan akal sehat, pikiran kritis, gunakan pengetahuan, dll untuk dapat memahaminya.

    ReplyDelete
  61. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sebanyak-banyak pernyataan yang disebutkan itu adalah sebuah puncak gunung es, dan puncak itu tidak hanya satu. Banyak hal-hal kecil yang melengkapi di sekitarnya. Ketika hendak mengenali sesuatu kita tidak hanya bisa mengenal dari satu titik saja, tetapi dari dasar dan juga mengenal hal-hal kecil di sekitarnya. Begitulah sejatinya makna belajar

    ReplyDelete
  62. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Ketika kita melihat gunung es, mungkin Nampak besar namun tahukan kamu bahwa dibawahnya itu lebih besar dan lebih luas lagi. Hal itu menujukkan bahwa ilmu itu sangat luas. Maematika yang kita kenal itu adalah sebagai gunung yang Nampak, namun dibawahnya terdapat banyak sekali ilmu matematika lain yang menjadi dasar ilmu matematika yang kita kenal sekarang. Jadi jangan pernah merasa puas dengan ilmu yang kita dapatkan sekarang, karan sejatinya disana ada lebih banyak ilmu lagi.

    ReplyDelete
  63. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Menurut saya, pernyataan-pernyataan yang disampaikan diapat dianggap sebagai puncak gunung es dan puncak atau titik tersebut tidak hanya satu. Ketika kita hendak mengenali sesuatu kita tidak hanya bisa mengenalinya hanya dari satu titik saja, tetapi dari dasar dan juga mengenal hal-hal kecil yang ada di sekitarnya.

    ReplyDelete
  64. Ika Agsutina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi ini menyadarkan kita bahwa ilmu pengetahuan bukan saja tentang apa yang kita lihat saat ini. Melainkan tentang apa yang belum kita ketahui dan belum kita lihat. Ibarat gunung es, pengetahuan kekuatan yang sesungguhnya terletak didasar gunung es, bukan di puncak yang bisa kita lihat secara langsung.

    ReplyDelete
  65. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Biasanya yang harus dicapai itu puncak, tetapi pada elegi ini justru menggapai dasar gunung es. Dari yang telah saya pelajari, dasar gunung es menggambarkan matematika untuk anak dan puncaknya adalah matematika untuk dewasa. Dasar gunung es yang ukurannya lebih besar dari puncak karena untuk mencapai suatu rumus matematika, maka diperlukan berbagai macam aktivitas yang harus dilakukan oleh siswa, itulah sebenar-benar matematika untuk anak. Elegi menggapai dasar gunung es ini diperuntukkan untuk guru terlebih guru yang mengampu di sekolah dasar, karena dia harus mampu menggapai dasar gunung es, dan menerapkannya di sekolah, yaitu mengajarkan matematika untuk anak dengan kegiatan.

    ReplyDelete
  66. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Gunung es menggambarkan ilmu yang dipelajari. Untuk mencapai gunung es, tentu akan melewati samudra yang dingin, dalam, dan jauh. Untuk memperoleh ilmu perlu suatu usaha yang keras. Meskipun sudah banyak sumber ilmu di sekitar kita, yakni buku, internet, dan lain sebagainya, tetap perlu usaha untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, melawan rasa malas, untuk mendapatkan ilmu secara maksimal.

    ReplyDelete
  67. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Besarnya suatu gunung es tidak susah ditebak dalam lautan karena memang tidak terlihat. Ilmu pun begitu, ketika kita sudah mempelajari suatu ilmu maka masih ada ilmu yang belum dipelajari. Sesuai kalimat yang terkenal “Semakin banyak ilmu yang kita pelajari, semakin kita mengetahui bahwa ilmu kita masih sedikit”. Semakn kita menyadari bahwa ilmu yang belum kita pelajari banyak.

    ReplyDelete
  68. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Hakikat gunung es sebagai ilmu, gunung es yang tampak dari atas permukaan tentu tidak sebanyak yang di bawah permukaan. Kita mengetahui suatu ilmu, maka akan ada ilmu yang belum kita pelajari. Meskipun ilmu itu tak ada habisnya, terus mempelajari ilmu untuk kebermanfaatan ilmu adalah hal yang bijak. Terus berusaha menggapai dasar dari gunung es.

    ReplyDelete
  69. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan elegi yang dijelaskan diatas, untuk dapat memahami sesuatu diperlukan berbagai hal. Untuk dapat memahami sesuatu yang bersifat pengetahuan atau apapun itu diperlukan adanya pemikiran yang kritis, pengelolaan kemampuan memahami, referensi terkait pengetahuan yang ingin dipahami kemudian carilah perbandingan-perbandingan dari masing referensi atau sumber yang telah diperoleh yang kemudian dapat dijadikan analisis data tentang kevalidan dan kebenarana suatu sumber. Dengan melakukan hal tersebut proses memahami sesuatu hal dapat dilakukan.

    ReplyDelete
  70. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dari elegi ini, saya menyimpulkan bahwa puncak itu merupakan tujuan. Banyak puncak gunung es itu menunjukan banyak tujuan yang bisa kita gapai dalam hidup di dunia ini. Dan hal-hal yang harus dilakukan agar bisa menggapai tujuan tersebut, adalah dengan berproses. Salah satunya adalah belajar, karena belajar merupakan proses yang dapat kita lakukan untuk menujunya. Hendaknya kita terus belajar, karena dengan belajar tentunya puncak-puncak itu dapat kita gapai.

    ReplyDelete
  71. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Ketika kita hendak menggapai filsafat, maka gunakan akal sehat, pikiran kritis, pertanyaan, pengetahun, dan cerman yang kita miliki. Kita perlu mengenali setiap wadah dan isinya, mengembangkan metode yang dinamis, melihat dengan multi perspektif, dan melakukan perbandingan-perbandingan. Kita pun perlu memukan tesis, memproduksi anti-tesis, dan melakukan sintesis. Kemudian kita perlu membuat hipotesis, menemukan kontradiksinya, menemukan penjelasan, menemukan contoh, menemukan deskripsi, menemukan cabang, menemukan tokoh, menemukan referensinya, melakukan crosscheck, memukan sumber-sumber, memukan konsistensi, menguji nilai kebenaran, menemukan a priori, dan menemukan a posteriorinya. Lalu kita menemukan hakekatnya dan menetapkan hati sebagai kompas kita. Sesungguhnya filsafat adalah olah pikir, maka jangan sampai hati kita yang digunakan sebagai kompas ternyata salah arah. Oleh karena itu jangan lah lupa berdoa untuk tetap menjaga hati kita agar tidak salah arah dan menjauh dari radar-Nya.

    ReplyDelete
  72. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    yang dapat saya pahami dari elegi tersebut adalah bahwa dalam mencari ilmu, semua yang ingin kita ketahui barulah puncak dari gunung es. Sedangkan apa yang belum kita ketahui, harus kita cari yaitu dengan cara menyelam untuk dapat melihat lebih dalam terhadap apa yang kita tanyakan. Menyelam dalam konteks yang nyata artinya kita harus mencari ilmu itu, yaitu dapat dengan melakukan percobaan, membaca dan lain sebagainya sebagai usaha untuk mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang belum kita ketahui.

    ReplyDelete
  73. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    jika dihubungkan dengan profesi kita sebagai guru, maka puncak gunung es adalah siswa-siswi kita yang perlu kita ketahui karakteristiknya. Sehingga, untuk mengetahui karakteristik siswa-siswi kita, kita perlu untuk mendalami satu-persatu dari mereka. karena sesungguhnya tiap siswa itu memiliki karakteristik yang unik.
    dengan memahami karakteristik mereka, maka kita dapat menentukan metode yang tepat digunakan di dalam kelas agar sesuai dengan karakteristik yang ada.

    ReplyDelete