Sep 20, 2013

Elegi Pemberontakan Para Sombong





Elegi ini merupakan sintesis yang lain dari 3 (tesis) terdahulu.


Elegi Pemberontakan Para Sombong


Oleh Marsigit

Cantraka:
Wahai Sombong aku sedang melihat Kontradiksi dalam dirimu.


Sombong:
Kontradiksi apa?


Cantraka:
Tidak biasanya ke Sombong an berlaku diam saja menghadapi begitu banyaknya Hujatan.

Sombong:
Hanya belum saja. Aku sedang memikirkan Strategi untuk melawan Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih.


Cantraka:
Bagaimana Strateginya?

Sombong:
Perlu engkau ketahui, bahwa diriku itu berdimensi Ekstensif dan Intensif.

Cantraka:
Maksudnya?

Sombong:
Dimensi Intensif adalah Kadar ke Sombonan ku, mulai dari ke Sombong an Material, Formal, Normatif dan Spiritual. Dimensi Ekstensif adalah bahwa aku mempunyai banyak anggota.

Cantraka:
Bisakah aku mengetahui siapa saja anggotamu itu?

Sombong:
Angotaku bisa Rasa Percaya Diri (Confident) yang berlebihan, Pembangkangan (Defiant), Takabur (dalam Islam), dan Perasaan Bangga Diri (Pride) yang berlebihan, dst.  Kenapa engkau mengusik diriku. Anggota diriku yang mana yang engkau anggap Kontradiksi?

Cantraka:
Mungkin engkau perlu menyimak referensi berikut, yaitu sebuah Comment dari Sdr Dessy KristiantoJanuary 22, 2013 at 6:28 AM, sbb: Pada Elegi Mengubah Mitos menjadi Logos sebelumnya dijelaskan bahwa mitos berarti sombong dan sombong berarti syaitan. Setelah saya pikir-pikir mitos juga tidak selamanya buruk seperti yang kita sangka sebelumnya. Apabila kita balikkan mitos tersebut kepada syaitan kembali maka mitos akan menjadi baik dan berguna. Kenapa demikian? Contohnya: Bila ada seseorang lelaki yang sedang berjalan sendirian, tiba-tiba bertemu dengan teman-temannya yang sedangt mabuk-mabukan dipinggir jalan. Setelah itu kita di ajak untuk minum bersama mereka. Disini kita harus bersikap sombong, yaitu dengan menolak mereka secara halus. Maka sombong disini menjadi bermanfaat. Bukan syaitan malah justru meniolak syaitan. Bila kita artikan bahwa elegi ini untuk menerang kan bahwa mitos itu juga bermanfaat dan bisa jadi bukan syaitan itu semua tergantung penggunaannya dimana dan dalam situasi apa. Bila kita sombong didalam kelas dengan tidak mau menerima pengetahuan dari luar, maka sombong kita menjadi syaitan. Bila sombong ini telah mewabah dan menjangkit manusia, maka tidak ada lagi penghormatan dan sopan santun, kebenaran menjadi barang mainan. Lebih jauh, penyakit ini akan memunculkan sikap kezaliman, kemarahan, terorisme, permusuhan dan pelanggaran hak. Semoga kita bisa menempatkan sombong kita, amin!

Sombong:
Maaf saya belum begitu dapat melihat point yang mana yang engkau maksud?

Cantraka:
Itu yang saya cetak Tebal, perhatikanlah kalimatnya.

Sombong:
Wuoh…. Ternyata….ternyata aku bisa bermanfaat ta? Lho kalau begitu kenapa selama ini aku selalu menjadi yang tertuduh. Tidak adil. Ini betul-betul tidak adil. Mana Bagawat? Mana Orang Tua Berambut Putih?

Orang Tua Berambut Putih:
Saya di sini. Ada apa “Sombong”?

Sombong:
Aku tidak terima, selama ini aku dijadikan bulan-bulannan. Bagawat telah berlaku tidak adil dan parsial terhadap diriku. Bagawat juga telah bersikap determinist terhadap diriku.

Orang Tua Berambut Putih:
Lho memangnya kenapa?

Sombong:
Pada setiap kesempatan Ruang dan Waktu, Bagawat selalu mendengung-dengungkan bahwa saya 100% jelek; bahwa Sombong adalah Syaitan, bahwa Sombong adalah Neraka..dst..dst. Bukankah engkau telah mendengar sendiri dan dapat membaca bahwa Sombongpun bisa bermanfaat. Sombongpun bisa dipelihara.

Orang Tua Berambut Putih:
Wahai Bagawat, kemana saja engkau selama ini. Ada kisruh di sini yang disebabkan oleh ulahmu, malah engkau pergi tak karuan ke mana.

Bagawat:
Maaf Orang Tua Berambut Putih. Saya agak terlambat.

Orang Tua Berambut Putih:
Kenapa terlambat.

Bagawat:
Setelah terjadi Pemberontaan di mana-mana saya terpaksa tidak bisa tinggal diam. Saya telah melakukan Perjalanan panjang menjelajahi negeri-negeri Barat dan Timur dan juga Dunia Islam.


Orang Tua Berambut Putih:
Apa yang engkau dapatkan dari perjalananmu itu?

Bagawat:
Saya memperoleh referensi yang lumayan banyak perihal deskripsi tentang “Sombong” dan para anggotanya. Saking banyaknya referensi, saya tidak dapat menyebutkan satu persatu.

Orang Tua Berambut Putih:
Apakah engkau bisa kalau hanya sekedar menyebutkan tempat atau lokasi atau aksesnya saja.

Bagawat:
Baiklah. Betul apa yang disampaikan oleh “Sombong” bahwa dia mempunyai anggota-anggota misalnya:
Rasa Percaya Diri (Confident) yang berlebihan, Pembangkangan (Defiant), Takabur (dalam Islam), dan Perasaan Bangga Diri (Pride) yang berlebihan, dst.

Orang Tua Berambut Putih:
Lantas..di mana mereka berada?

Bagawat:
Mereka antara lain dapat di akses pada lokasi-lokasi sebagai berikut:

Confidence:

Defiant:

Arrogance:

Pride:

Orang Tua Berambut Putih:
Baiklah Bagawat, Sombong dan engkau Cantraka, semoga dengan adanya ontran-ontran ini kita mampu menggapai Logos.  Apa yang sedang terjadi pada lokasi-lokasi tersebut di atas adalah Pertengkaran Para Orang Berambut Putih. Maka bacalah sekali lagi Pertengkaran Para Orang Tua Berambut Putih. Hanya melalui pertengkaran-pertengkaran tersebutlah maka sebenar-benar engkau semua mampu menggapai Logosmu masing-masing. Amin

3 comments:

  1. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Sombong itu bukan sifat manusia. Hanya Tuhan-lah yang pantas untuk bersifat sombong. Memang sifat sombong itu dapat menghacurkan akhlak manusia. Namun, dalam elegi ini, dijelaskan bahwa sombong ada sisi baiknya yaitu sombong untuk meninggalkan keburukan. Menurut saya, itu bukan dinamakan sombong, itu tekad. Jadi sombong itu tak ada baiknya, kecuali menyombongkan diri kepada orang yang sombong dengan maksud agar ia sadar.

    ReplyDelete
  2. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Perilaku sombong adalah salah satu penyakit hati, seperti halnya perilaku-perilaku iri, dengki, dan sebagainya. Menurut saya, bangga untuk diri kita sendiri tidak apa-apa, namun bukan untuk ditunjukkkan pada orang lain. Merasa bangga untuk diri sendiri misalnya merasa bangga ketika mendapat nilai tinggi Ujian Nasional atau merasa bangga ketika lulus sarjana. Kebanggaan lulus sarjana tentu akan memotivasi kita untuk mencari pekerjaan yang bergengsi atau memotivasi kita untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Ketika hidup bermasyarakat, saat berinteraksi dengan orang lain, alangkah baiknya sembunyikan ‘sombong’, sembunyikan ‘kebanggaan-kebanggan’ itu. Menjadi rendah hati berarti melepas semua beban untuk menuju ketenangan hidup. Tetapi jangan sampai merasa ‘lebih’ atau ‘paling’ rendah hati diantara yang lain, karena sesungguhnya perilaku itu juga tergolong kesombongan.

    ReplyDelete
  3. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Sombong merupakan sifat dari syeitan. Dahulu, ketika nabi Adam baru sudah diciptakan, Allah menyuruh syeitan untuk sujud kepada Adam, tetapi syeitan tidak mau karena menganggap dirinya lebih baik dari nabi Adam. Hal ini membuat Allah marah sehingga mengusir syeitan dari syurga. Syeitan pun berjanji untuk menyesatkan manusia agar bersama mereka masuk neraka, dan salah satunya dengan membisikan sifat sombong kepada manusia. Menolak untuk tidak ikut minum-minuman bukanlah sifat sombong, menolak untuk tidak ikut minum-minuman berarti menerima kebenaran, maka ini bukanlah sifat sombong, karena sifat sombong akan menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Oleh karena itu, kita sebagai manusia harus menjauhi sifat sombong ini.

    ReplyDelete