Sep 20, 2013

Elegi Menggapai Penampakkan




Oleh Marsigit

Penampakkan benda-benda:
Besar, kecil, panjang, pendek, ......
...... indah, buram, hijau, jauh, dekat, terang, gelap, lembut, kasar, solid, terpecah, tetap, berubah, terus, terputus, berputar, bergoyang, tertutup, terbuka, terkunci, rapat, jarang, cepat, lambat, licin, tenggelam, terapung, tertumpuk, tergeletak, kuat, lemah, panas, dingin, baru, lama, modern, klasik, teratur, acak, tersedia, kosong, penuh, disiplin, malas, istirahat, hilang, muncul, capai, kusut, segar, semangat, loyo, subur, nyaman, kejam, empati, ide, pikiran, kata, kalimat, buku, dan semua benda-benda. Itulah penampakkanku. Penampakkanku kadang-kadang mandiri, kadang-kadang berkolaborasi. Penampakkanku kadang tetap kadang tidak tetap. Penampakkanku bisa sederhana, bisa sangat rumit. Bisa sedikit di balik penampakkanku, tetapi bisa banyak di balik penampakkanku. Tetapi sebenar-benar penampakkanku adalah untuk diriku sendiri. Itulah kekuatanku sekaligus kelemahanku. Kemandirian penampakkanku adalah identitasku. Ketidakmandirian penampakkanku adalah manfaat mereka. Maka sebenar-benar penampakkanku adalah terbuka sekaligus tertutup. Penampakkanku tertutup jika telah engkau ucapkan. Penampakkanku terbuka jika masih engkau pikirkan. Penampakkanku bisa engkau pikirkan sebagai apa saja. Aku bisa engkau pikirkan sebagi cahaya, sebagai gelombang, atau sebagai keduanya. Aku bisa engkau anggap sebagai nyata, tidak nyata atau khayal belaka. Aku bisa banyak dalam dirimu yang satu, dan aku bisa satu dalam dirimu yang banyak. Rumahku sembarang, tetapi tugasku sebagai saksi bagimu. Engkau bisa datang kapanpun, bisa juga pergi kapanpun, bisa juga tinggal sampai kapanpun. Tetapi aku tidak tahu kapan aku mulai dan kapan aku berakhir. Tetapi janganlah salah paham, karena sebenar-benar dirimu adalah diriku pula. Itulah sebenar-benar engkau, yaitu penampakkanmu pula. Maka sebenar-benar kita adalah satu, yaitu penampakkan.



Penampakkan 1:
Wahai penampakkan 2, siapakah sebenar-benar dirimu. Mengapa engkau menampakkan diri di depanku?

Penampakkan 2:
Sebenar-benar diriku adalah penglihatanmu. Apalah artinya pengakuanku, jika itu tidak sesuai dengan penglihatanmu. Aku menampakkan diriku tidaklah semata-mata karena diriku. Tetapi perkenankanlah aku juga ingin bertanya. Siapakah sebenar-benar dirimu. Mengapa engkau menampakkan diri di depanku?

Penampakkan 1:
Sebenar-benar diriku adalah pikiranmu. Apalah artinya penglihatanmu, jika itu tidak sesuai dengan pikiranmu. Aku hadir dalam pikiranmu tidaklah semata-mata karena diriku.

Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, kedengarannya engkau agak sombong. Siapakah yang berada di belakang dirimu itu?

Penampakkan 1:
Wahai penampakan 2, aku adalah pikiranmu. Jika engkau menuduhku bahwa aku berlaku sombong, bukankah itu menepuk air menimpa wajahmu sendiri. Yang berada dibelakang diriku adalah ilmumu.
Namun aku juga ingin bertanya, siapakah yang berada dibelakangmu itu?

Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, kelihatannya engkau ingin mengujiku. Engkau telah katakan bahwa yang berada di belakang dirimu adalah ilmuku. Mengapa engkau tanyakan siapa yang berada di belakang diriku? Bukankah menurutmu, yang berada di belakang diriku juga ilmumu?

Penampakkan 1:
Wahai penampakkan 2, kalau boleh aku akan sebut engkau bukan lagi penampakkan. Tetapi engkau akan sebut sebagai hakekat dirimu, atau hakekat 2 begitulah. Mengapa? Agar aku dapat sederhanakan saja penampakkan mu dengan yang berada di belakangmu sebagai hakekat mu begitulah.

Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, engkau belum menjawab siapa yang berada di belakangku, tetapi engkau sebut aku sebagai hakekat 2. Kalau begitu agar perbincangan kita lancar, engkau akan ku sebut pula hakekat 1.

Hakekat 1:
Wahai hakekat 2, cerdas pula ternyata engkau itu.

Hakekat 2:
Wahai hakekat 1, cerdas pula ternyata engkau itu.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Kita puas karena ternyata kita telah menemukan hakekat. Tetapi siapakah diri kita berdua ini?

Orang tua berambut putih datang:
Salam, hakekat 1 dan hakekat 2. Pertanyaanmu yang terakhir telah mengundangku untuk hadir di hadapanmu berdua. Ketahuilah bahwa sebenar-benar perbincanganmu berdua, aku telah mengetahuinya. Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa sebenar-benar pengakuanmu menemukan hakekat adalah fatamorgana, karena dibelakang hakekat dirimu berdua, masihlah terdapat hakekat pula, yaitu hakekat 3.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Salam juga, wahai orang tua berambut putih. Terimakasih engkau telah mengingatkanku. Karena dirimulah kita berdua dapat menemukan hakekat 3 dibalik hakekat 2 dan dibalik hakekat 1. Bolehlah aku bertanya kepadamu, apakah sebenar-benar hakekat 3 itu?

Orang tua berambut putih:
Sebenar-benar hakekat 3 adalah akal dan pikiran hakekat 2 dan hakekat 1. Tetapi bukanlah engkau maklum, bahwa dibalik hakekat 3 itulah berada hakekat 4. Dibalik hakekat 4 itulah berada hakekat 5. Dibalik hakekat 5 itulah hakekat 6, ....., dibalik hakekat n itulah hakekat n + 1.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Lalu apakah hakekat dari hakekat itu?

Orang tua berambut putih:
Dibalik hakekat adalah hakekat. Hakekat-hakekat itu adalah akal dan pikiranmu. Maka di balik akal dan pikiranmu itu adalah akal dan pikiranmu juga. Demikian seterusnya..sampai engkau menggapai batas pikranmu.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Lalu, di manakah batas hakekat atau batas akal dan pikiranku itu?

Orang tua berambut putih:
Tiadalah orang lain mengetahuinya, kecuali dirimu sendiri. Itulah sebenar-benar hakekatmu, yaitu batas oengetahuanmu sendiri.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Batas pikiranku itu terbatas atau tidak terbatas?

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar infinite regress. Tidak terbatas bisa berarti tidak mempunyai batas. Tidak mempunyai batas bisa berarti berputar-putar melampaui batasnya.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Aku bingung mengikuti uraianmu.

Orang tua berambut putih:
Bisakah engkau berdua mendefinisikan adalah ?

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah ...adalah ...

Orang tua berambut putih:
Menemukan hakekat adalah saja engkau tidak bisa, apalagi menemukan hakekat-hakekat yang lain. Itulah sebenar-benar dirimu. Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun.

9 comments:

  1. Lana Sugiarti
    16709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Hakekat yang dimiliki sendiri yaitu batas pengetahuan diri sendiri. Tidak ada yang mengetahuinya keculai diri sendiri. Oleh karena itu seperti apa hakekat kita tergantung dari pengetahuan kita dan hanya kita yang tahu. Memperdalam ilmu sampai kebatas pikiran bahkan terus sampai ke batas – batas pikiran yang lebih dalam lagi akan membuat hakekat juga semakin dikenali oleh diri sendiri. Dibelakang hakekat masih ada hakekat lagi, oleh karena itu hakekat adalah fatamorgana.

    ReplyDelete
  2. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari kisah elegi ini, saya memperoleh pengetahuan bahwa penampakan atau wujud hal sesuai dengan pikiran atau penglihatan kita. Seperti Penampakan 2 hadir melalui penglihatan kita kemudian dicerna oleh ilmu yang telah kita miliki. penampakan 1 hadir melalui pikiran kita kemudian dicerna oleh ilmu yang telah kita miliki. hakekat bisa muncul dari penampakan tersebut, tetapi kita tidak akan bisa benar-benar mengerti atau memahami hakekat dari apapun.

    ReplyDelete
  3. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D

    Dalam dunia ini ada yang tampak dan ada yang tidak tampak, yanag mana tampak itu kita dapat melihatnya dengan mata kita sendiri, sedangkan tidka tampak itu kita hanyanbisa merasakan. Hal-hal yang kita pikirkan itu adalah penampakan kita, wujud tampak yang kita lihat oitu adlaah hasil penglihatan kita sendiri, hasil pemikiran kita sendiri.

    ReplyDelete
  4. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Sebenar-benarnya penampakan adalah satu yaitu kita, penampakan bisa berarati penglihatan kita, bisa menjadi pikiran kita, penampakan juga hakikat akal dan pikiran kita. Hingga penampakan itu kita katakan sebagai batas pikiran kita. Namun untuk menggapai hakikat ini sangat susah karena hakikat mencerminkan apa sebenarnya kita. Ketika kita merasa bisa menggapai hakikat maka itu tidak berarti apa-apa.

    ReplyDelete
  5. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Sebenar-benar diriku adalah penglihatanmu. Apalah artinya pengakuanku, jika itu tidak sesuai dengan penglihatanmu. Dalam kalimat ini saya pahami bahwa orang lain tidak menilai apa yang ada didalam pikiran, apa yang ada didalam hati, tetapi apa tindakan kita. Orang lain tidak menilai niat kita tetapi kenyataan perbuatan kita. Apakah ini berarti bahwa niat baik akan sia – sia jika dimata orang lain hasilnya tidak baik?

    ReplyDelete
  6. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Point penting dari elegi ini bahwa sebenar-benar penampakkanku adalah terbuka sekaligus tertutup. Penampakkanku tertutup jika telah engkau ucapkan. Penampakkanku terbuka jika masih engkau pikirkan. Itulah sebenar-benar engkau, yaitu penampakkanmu pula. Maka sebenar-benar kita adalah satu, yaitu penampakkan. Dibalik hakekat adalah hakekat. Hakekat-hakekat itu adalah akal dan pikiranmu. Maka di balik akal dan pikiranmu itu adalah akal dan pikiranmu juga. Demikian seterusnya..sampai engkau menggapai batas pikranmu. Tiadalah orang lain mengetahuinya, kecuali dirimu sendiri. Itulah sebenar-benar hakekatmu, yaitu batas pengetahuanmu sendiri. Itulah sebenar-benar infinite regress. Tidak terbatas bisa berarti tidak mempunyai batas. Tidak mempunyai batas bisa berarti berputar-putar melampaui batasnya. Jadi, Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun. Demikianlah sebenar-benar diriku adalah terbatas. Terbatas oleh ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  7. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    penampakan adalah cara pandang kita dalam melihat sesuatu. dan itu tidak akan ada yang sama antara penampakan seseorang dengan yang lain.
    pada hakikatnya ika ingin diperdebatkan, maka tidak akan ada yang salah dan kebenaran terkadang lebih fleksibel. maka dari itu jika ada perbedaan pandangan, baiknya kita berdiskusi terlebih dahulu dibandingan berdebat.

    ReplyDelete
  8. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Makna penampakan disini bagi kita adalah kita tidak perlu menampakkan kita orang yang paling berilmu walaupun kita adalah orang berilmu, kita tidak perlu menampakkan kita orang yang kaya walaupun kita adalah orang yang kaya. Kita berilmu dengan berjalannya waktu akan ada penampakan dari itu dan orang lain akan melihatnya dengan jelas dari tingkah laku kita, gaya bicara dan lainnya. Maka dapat saya katakan bahwa semakin buram pandangan kita atas apa yang kita miliki dalam arti kita merasa diri kita belum ada apa-apanya, maka itulah sebenar-benarnya kita menggapai penampakan. Semakin jelas pandangan kita atas apa yang kita miliki dalam arti kita merasa diri kita telah tahu segalanya, maka itulah sebenar-benarnya kita gagal menggapai penampakan. Pada elegi ini penampakan mewakili hakekat. Hakekat merupakan sesuatu yang sangat mendalam, dimana berkali-kali kita mencoba untuk menerjemahkannya, maka kita tak akan mampu meraihnya.

    ReplyDelete