Sep 20, 2013

Elegi Menggapai Penampakkan




Oleh Marsigit

Penampakkan benda-benda:
Besar, kecil, panjang, pendek, ......
...... indah, buram, hijau, jauh, dekat, terang, gelap, lembut, kasar, solid, terpecah, tetap, berubah, terus, terputus, berputar, bergoyang, tertutup, terbuka, terkunci, rapat, jarang, cepat, lambat, licin, tenggelam, terapung, tertumpuk, tergeletak, kuat, lemah, panas, dingin, baru, lama, modern, klasik, teratur, acak, tersedia, kosong, penuh, disiplin, malas, istirahat, hilang, muncul, capai, kusut, segar, semangat, loyo, subur, nyaman, kejam, empati, ide, pikiran, kata, kalimat, buku, dan semua benda-benda. Itulah penampakkanku. Penampakkanku kadang-kadang mandiri, kadang-kadang berkolaborasi. Penampakkanku kadang tetap kadang tidak tetap. Penampakkanku bisa sederhana, bisa sangat rumit. Bisa sedikit di balik penampakkanku, tetapi bisa banyak di balik penampakkanku. Tetapi sebenar-benar penampakkanku adalah untuk diriku sendiri. Itulah kekuatanku sekaligus kelemahanku. Kemandirian penampakkanku adalah identitasku. Ketidakmandirian penampakkanku adalah manfaat mereka. Maka sebenar-benar penampakkanku adalah terbuka sekaligus tertutup. Penampakkanku tertutup jika telah engkau ucapkan. Penampakkanku terbuka jika masih engkau pikirkan. Penampakkanku bisa engkau pikirkan sebagai apa saja. Aku bisa engkau pikirkan sebagi cahaya, sebagai gelombang, atau sebagai keduanya. Aku bisa engkau anggap sebagai nyata, tidak nyata atau khayal belaka. Aku bisa banyak dalam dirimu yang satu, dan aku bisa satu dalam dirimu yang banyak. Rumahku sembarang, tetapi tugasku sebagai saksi bagimu. Engkau bisa datang kapanpun, bisa juga pergi kapanpun, bisa juga tinggal sampai kapanpun. Tetapi aku tidak tahu kapan aku mulai dan kapan aku berakhir. Tetapi janganlah salah paham, karena sebenar-benar dirimu adalah diriku pula. Itulah sebenar-benar engkau, yaitu penampakkanmu pula. Maka sebenar-benar kita adalah satu, yaitu penampakkan.



Penampakkan 1:
Wahai penampakkan 2, siapakah sebenar-benar dirimu. Mengapa engkau menampakkan diri di depanku?

Penampakkan 2:
Sebenar-benar diriku adalah penglihatanmu. Apalah artinya pengakuanku, jika itu tidak sesuai dengan penglihatanmu. Aku menampakkan diriku tidaklah semata-mata karena diriku. Tetapi perkenankanlah aku juga ingin bertanya. Siapakah sebenar-benar dirimu. Mengapa engkau menampakkan diri di depanku?

Penampakkan 1:
Sebenar-benar diriku adalah pikiranmu. Apalah artinya penglihatanmu, jika itu tidak sesuai dengan pikiranmu. Aku hadir dalam pikiranmu tidaklah semata-mata karena diriku.

Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, kedengarannya engkau agak sombong. Siapakah yang berada di belakang dirimu itu?

Penampakkan 1:
Wahai penampakan 2, aku adalah pikiranmu. Jika engkau menuduhku bahwa aku berlaku sombong, bukankah itu menepuk air menimpa wajahmu sendiri. Yang berada dibelakang diriku adalah ilmumu.
Namun aku juga ingin bertanya, siapakah yang berada dibelakangmu itu?

Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, kelihatannya engkau ingin mengujiku. Engkau telah katakan bahwa yang berada di belakang dirimu adalah ilmuku. Mengapa engkau tanyakan siapa yang berada di belakang diriku? Bukankah menurutmu, yang berada di belakang diriku juga ilmumu?

Penampakkan 1:
Wahai penampakkan 2, kalau boleh aku akan sebut engkau bukan lagi penampakkan. Tetapi engkau akan sebut sebagai hakekat dirimu, atau hakekat 2 begitulah. Mengapa? Agar aku dapat sederhanakan saja penampakkan mu dengan yang berada di belakangmu sebagai hakekat mu begitulah.

Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, engkau belum menjawab siapa yang berada di belakangku, tetapi engkau sebut aku sebagai hakekat 2. Kalau begitu agar perbincangan kita lancar, engkau akan ku sebut pula hakekat 1.

Hakekat 1:
Wahai hakekat 2, cerdas pula ternyata engkau itu.

Hakekat 2:
Wahai hakekat 1, cerdas pula ternyata engkau itu.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Kita puas karena ternyata kita telah menemukan hakekat. Tetapi siapakah diri kita berdua ini?

Orang tua berambut putih datang:
Salam, hakekat 1 dan hakekat 2. Pertanyaanmu yang terakhir telah mengundangku untuk hadir di hadapanmu berdua. Ketahuilah bahwa sebenar-benar perbincanganmu berdua, aku telah mengetahuinya. Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa sebenar-benar pengakuanmu menemukan hakekat adalah fatamorgana, karena dibelakang hakekat dirimu berdua, masihlah terdapat hakekat pula, yaitu hakekat 3.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Salam juga, wahai orang tua berambut putih. Terimakasih engkau telah mengingatkanku. Karena dirimulah kita berdua dapat menemukan hakekat 3 dibalik hakekat 2 dan dibalik hakekat 1. Bolehlah aku bertanya kepadamu, apakah sebenar-benar hakekat 3 itu?

Orang tua berambut putih:
Sebenar-benar hakekat 3 adalah akal dan pikiran hakekat 2 dan hakekat 1. Tetapi bukanlah engkau maklum, bahwa dibalik hakekat 3 itulah berada hakekat 4. Dibalik hakekat 4 itulah berada hakekat 5. Dibalik hakekat 5 itulah hakekat 6, ....., dibalik hakekat n itulah hakekat n + 1.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Lalu apakah hakekat dari hakekat itu?

Orang tua berambut putih:
Dibalik hakekat adalah hakekat. Hakekat-hakekat itu adalah akal dan pikiranmu. Maka di balik akal dan pikiranmu itu adalah akal dan pikiranmu juga. Demikian seterusnya..sampai engkau menggapai batas pikranmu.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Lalu, di manakah batas hakekat atau batas akal dan pikiranku itu?

Orang tua berambut putih:
Tiadalah orang lain mengetahuinya, kecuali dirimu sendiri. Itulah sebenar-benar hakekatmu, yaitu batas oengetahuanmu sendiri.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Batas pikiranku itu terbatas atau tidak terbatas?

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar infinite regress. Tidak terbatas bisa berarti tidak mempunyai batas. Tidak mempunyai batas bisa berarti berputar-putar melampaui batasnya.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Aku bingung mengikuti uraianmu.

Orang tua berambut putih:
Bisakah engkau berdua mendefinisikan adalah ?

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah ...adalah ...

Orang tua berambut putih:
Menemukan hakekat adalah saja engkau tidak bisa, apalagi menemukan hakekat-hakekat yang lain. Itulah sebenar-benar dirimu. Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun.

55 comments:

  1. Lana Sugiarti
    16709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Hakekat yang dimiliki sendiri yaitu batas pengetahuan diri sendiri. Tidak ada yang mengetahuinya keculai diri sendiri. Oleh karena itu seperti apa hakekat kita tergantung dari pengetahuan kita dan hanya kita yang tahu. Memperdalam ilmu sampai kebatas pikiran bahkan terus sampai ke batas – batas pikiran yang lebih dalam lagi akan membuat hakekat juga semakin dikenali oleh diri sendiri. Dibelakang hakekat masih ada hakekat lagi, oleh karena itu hakekat adalah fatamorgana.

    ReplyDelete
  2. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari kisah elegi ini, saya memperoleh pengetahuan bahwa penampakan atau wujud hal sesuai dengan pikiran atau penglihatan kita. Seperti Penampakan 2 hadir melalui penglihatan kita kemudian dicerna oleh ilmu yang telah kita miliki. penampakan 1 hadir melalui pikiran kita kemudian dicerna oleh ilmu yang telah kita miliki. hakekat bisa muncul dari penampakan tersebut, tetapi kita tidak akan bisa benar-benar mengerti atau memahami hakekat dari apapun.

    ReplyDelete
  3. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D

    Dalam dunia ini ada yang tampak dan ada yang tidak tampak, yanag mana tampak itu kita dapat melihatnya dengan mata kita sendiri, sedangkan tidka tampak itu kita hanyanbisa merasakan. Hal-hal yang kita pikirkan itu adalah penampakan kita, wujud tampak yang kita lihat oitu adlaah hasil penglihatan kita sendiri, hasil pemikiran kita sendiri.

    ReplyDelete
  4. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Sebenar-benarnya penampakan adalah satu yaitu kita, penampakan bisa berarati penglihatan kita, bisa menjadi pikiran kita, penampakan juga hakikat akal dan pikiran kita. Hingga penampakan itu kita katakan sebagai batas pikiran kita. Namun untuk menggapai hakikat ini sangat susah karena hakikat mencerminkan apa sebenarnya kita. Ketika kita merasa bisa menggapai hakikat maka itu tidak berarti apa-apa.

    ReplyDelete
  5. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Sebenar-benar diriku adalah penglihatanmu. Apalah artinya pengakuanku, jika itu tidak sesuai dengan penglihatanmu. Dalam kalimat ini saya pahami bahwa orang lain tidak menilai apa yang ada didalam pikiran, apa yang ada didalam hati, tetapi apa tindakan kita. Orang lain tidak menilai niat kita tetapi kenyataan perbuatan kita. Apakah ini berarti bahwa niat baik akan sia – sia jika dimata orang lain hasilnya tidak baik?

    ReplyDelete
  6. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Point penting dari elegi ini bahwa sebenar-benar penampakkanku adalah terbuka sekaligus tertutup. Penampakkanku tertutup jika telah engkau ucapkan. Penampakkanku terbuka jika masih engkau pikirkan. Itulah sebenar-benar engkau, yaitu penampakkanmu pula. Maka sebenar-benar kita adalah satu, yaitu penampakkan. Dibalik hakekat adalah hakekat. Hakekat-hakekat itu adalah akal dan pikiranmu. Maka di balik akal dan pikiranmu itu adalah akal dan pikiranmu juga. Demikian seterusnya..sampai engkau menggapai batas pikranmu. Tiadalah orang lain mengetahuinya, kecuali dirimu sendiri. Itulah sebenar-benar hakekatmu, yaitu batas pengetahuanmu sendiri. Itulah sebenar-benar infinite regress. Tidak terbatas bisa berarti tidak mempunyai batas. Tidak mempunyai batas bisa berarti berputar-putar melampaui batasnya. Jadi, Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun. Demikianlah sebenar-benar diriku adalah terbatas. Terbatas oleh ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  7. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    penampakan adalah cara pandang kita dalam melihat sesuatu. dan itu tidak akan ada yang sama antara penampakan seseorang dengan yang lain.
    pada hakikatnya ika ingin diperdebatkan, maka tidak akan ada yang salah dan kebenaran terkadang lebih fleksibel. maka dari itu jika ada perbedaan pandangan, baiknya kita berdiskusi terlebih dahulu dibandingan berdebat.

    ReplyDelete
  8. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Makna penampakan disini bagi kita adalah kita tidak perlu menampakkan kita orang yang paling berilmu walaupun kita adalah orang berilmu, kita tidak perlu menampakkan kita orang yang kaya walaupun kita adalah orang yang kaya. Kita berilmu dengan berjalannya waktu akan ada penampakan dari itu dan orang lain akan melihatnya dengan jelas dari tingkah laku kita, gaya bicara dan lainnya. Maka dapat saya katakan bahwa semakin buram pandangan kita atas apa yang kita miliki dalam arti kita merasa diri kita belum ada apa-apanya, maka itulah sebenar-benarnya kita menggapai penampakan. Semakin jelas pandangan kita atas apa yang kita miliki dalam arti kita merasa diri kita telah tahu segalanya, maka itulah sebenar-benarnya kita gagal menggapai penampakan. Pada elegi ini penampakan mewakili hakekat. Hakekat merupakan sesuatu yang sangat mendalam, dimana berkali-kali kita mencoba untuk menerjemahkannya, maka kita tak akan mampu meraihnya.

    ReplyDelete
  9. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Sebenar-benar penampakan adalah penglihatan dan pikiran seseorang terhadap sesuatu. Setiap orang memiliki penglihatan dan pemikiran yang berbeda-beda terhadap suatu hal. Oleh karena itu, dalam hidup ini selalu terdapat kontradiksi. Apa yang kita pikirkan tentang penampakan suatu hal, belum tentu sama dengan kenyataannya. Sehingga, kita harus berhati-hati dalam mengartikan suatu penampakan. Kita harus menggunakan pikiran yang jernih dan menggunakan hati sebagai komandan.

    ReplyDelete
  10. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Yang saya pahami dari elegi ini adalah penampakkan adalah sesuatu yang terlihat oleh diri sendiri. Jika menurutku penampakkan batu ini kecil, menurut orang lain bisa jadi batu yang sama itu besar. Oleh karena nya..hakekat yang didapatkan dari penampakkan oleh diri sendiri itupun bukanlah hakekat yang sesungguhnya, karena merupakan hakekat dari diri sendiri. Oleh karena nya, kita harus mampu menerjemahkan hakekat menurut kita dan juga menurut orang lain dengan akal sehat dan hati nurani.

    ReplyDelete
  11. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari elegi ini saya yang saya peroleh adalah penampakan memiliki arti cara pandang seseorang terhadap suatu hal. Cara pandang setiap manusia itu berbeda-beda terkait dengan akal dan pikiran yang dimiliki serta batas ruang dan waktu untuk menafsirkan. Menafsirkan hal sederhana dan slalu digunakan setiap hari saja susah, hal tersebut mengajarkan bahwa sebanyak-banyaknya ilmu yang dimiliki janganlah berperilaku sombong terhadap ilmu, yang nantinya hanya akan menjauhkanmu terhadap Tuhanmu.

    ReplyDelete
  12. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillah...
    Sesungguhnya apa yang kita lihat merupakan penampakan dari apa yang kita pikirkan dan apa yang kita pikirkan belum tentu ada penampakan. Berarti penglihatan belum tentu melihat yang ada dan yang mungkin ada dalam pikiran. Oleh karena itu, penglihatan mampu memikirkan penampakan. Hakekat akal pikiran manusia adalah kesadaran diri manusia. Pikiran manusia yang terbatas itulah hakekat dari segala hakekat yang ada dalam penampakan yang ada dan mungkin ada. Maka sebenar-benar hakekat adalah diri kita.

    ReplyDelete
  13. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Penampakan tidak selalu terlihat dengan indra penglihatan yaitu mata. Namun penampakan juga terdapat di dalam pikiran. Yang mana dapat ditampakkan dan tak ditampakkan jika pemiliknya tidak berkehendak. Akan terlihat sangat bijak apabila penampakan yang terlihat tersebut telah dipikirkan dengan bijak.

    ReplyDelete
  14. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Penampakan adalah bayangan dari apa yang ada di dalam pikiran seseorang. Sedangan hakekatnya adalah apa yang ada di dalam pikiran manusia. Manusia dengan hakekat yang dimilikinya tidak dengan mudah dapat mendefinisikan sesuatu. Namun dalam mendefinisikan sesuatu itulah yang sangatlah sulit, karena keterbatasan pikiran kita sebagai manusia mengenai hal itu. Karena penampakkan itu berasal dari apa yang kita pikirkan.

    ReplyDelete
  15. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    setelah membaca uraian "Elegi Menggapai Penampakan" menurut saya,dari sini dapat diketahui bahwa sebenarnya ketika kita sudah merasa bahwa diri kita hebat dan mengerti tentang banyak hal, maka itu adalah ilmu terendah yang kita miliki karena dibalik pengetahuan tentang sesuatu maka masih banyak sekali hal2 lain atau seperti yang disebutkan dalam elegi ini yaitu hakekat.hakekat itu tidak terbatas, dan berarti betapa bodoh orang yang merasa bahwa dirinya sudah paham akan sesuatu hal.itu merupakan kesombongan.karena sebenar - benar ilmunya hanyalah sedikit sekali dibandingkan dengan seluruh ilmu yang terdapat di alam jagad raya ini.

    ReplyDelete
  16. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam elegi menggapai penampakan ini, ada kalimat yang menarik dan menjadi favorit saya, yaitu "Sebenar-benar diriku adalah penglihatanmu. Apalah artinya pengakuanku, jika itu tidak sesuai dengan penglihatanmu". Dari kalimat tersebut saya memahami bahwa manusia menilai dengan bukti. Orang menilai apa yang terlihat, bukan apa yang ada dalam hati maupun pikiran. Seberapapun kita mendeskripsikan diri kita, oranf tetap hanya akan menilai apa yang mereka lihat, apa yang kita lakukan.
    Namun, jangan lah kita merasa sudah memahami sesuatu, karena pada dasarnya yang kita ketahui barulah permukaannya saja. Jadi janganlah kuta bersikap sombong, masih ada hakikat dibalik hakikat. Seperti itu juga penilaian kita, belum dapat menilai segalanya tentang sesuatu. Karena sebenar-benarnya penilaian yang sesungguhnya adalah penilaian Allah SWT.

    ReplyDelete
  17. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016

    penampakan merupakan apa yang diindra dan disadari orang lain dari diri kita. sehingga penampakan kita sendiri pasti berbeda dari orang satu ke orang lainnya. namun jika kita ingin melihat penampakan diri kita sendiri, pastilah kita ingin tahu keseluruhan dari penampakan kita. sehingga itu bisa disebut dengan kita ingin mengetahui hakekat dari diri kita sendiri. sejauh mana pengetahuan (pemahaman, pemaknaan, dst) kita dapat merepresentasikan diri kita. dan seperti kesimpulan yang diberikan oleh orang tua berambut putih, bahwa 'Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun'. sehingga hendaknya kita tidak bersifat dan bersikap sombong, mengaku telah mengetahui dan mengenali penampakan sesuatu, padahal sebenarnya kita tidak mengetahui semuanya.

    ReplyDelete
  18. Apa yang tampak apakah ada? Bagaimana dengan fatamorgana, dia tampak tetapi tidak ada. Yang tampak adalah fatamorgana itu sendiri. Apa yang tidak tampak apakah tidak ada? Bagaimana dengan angin, dia tidak terlihat tetapi dapat dirasakan. Apakah tampak itu dapat dilihat atau dapat diindra?. Semakin banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiran tentang apa artinya tampak, maka di dunia ini sangat banyak ilmu yang dapat ditemukan dan nilai kebenaran yang harus diungkap. Cara pandang seseorang dapat berbeda-beda. Suatu sudut pandang dapat memunculkan pengetahuan baru. Ruang dan waktu yang tidak terbatas untuk diisi. Akal dan pikiran yang tak terbatas untuk digunakan mengungkap apa yang ada.

    ReplyDelete
  19. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Sesuatu yang tersirat dari elegi menggapai penampakkan ini adalah penafsiran tentang hal apa yang tampak adalah tentang apa yang ada dipikiran manusia tentang hal tersebut, dan sejauh mana pikiran menafsirkan sesuatu berdasarkan pada ilmu yang dimiliki. Karena sejauh mana pengetahuan pikiran turut mendorong bagaimana pemikiran tersebut bisa terbentuk hingga demikian. Latar belakang memandang sebuat permasalahan dan sudut pandang juga turut mempengaruhi apa yang tampak dalam suatu pemikiran.

    ReplyDelete
  20. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Penampakkan benda-benda:
    Besar, kecil, panjang, pendek, ............ indah, buram, hijau, jauh, dekat, terang, gelap, lembut, kasar, solid, terpecah, tetap, berubah, terus, terputus, berputar, bergoyang, tertutup, terbuka, terkunci, rapat, jarang, cepat, lambat, licin, tenggelam, terapung, tertumpuk, tergeletak, kuat, lemah, panas, dingin, baru, lama, modern, klasik, teratur.
    Saya masih belum sepenuhnya menangkap esensi esensi dalam tulisan ini dan dibaliknya, tapi saya mencoba untuk memahaminya, bahwa sebenarnya ketika pikiran kita berupaya memikirkan sesuatu, kita memerlukan alasan dan pemikiran lain untuk memikirkannya, lalu kita Butuh alasan dan pikiran untuk memikirkan akal dan pikiran memikirkan hal-hal yang kita pikirkan, dan seterusnya. Dengan demikian kita bisa memahami kemunculan hal-hal yang kita lihat dengan pikiran dan pikiran kita sendiri. Bila kita melihat sesuatu dalam keadaan sadar (tidak bermimpi) maka terlintas dalam pikiran pikiran kita sendiri.

    ReplyDelete
  21. Woro Sophia Amirul Kusumawati
    14301241048
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Apa yang kita lihat dari diri kita adalah penampakkan kita. Apa yang kita miliki adalah penampakkan kita. Segala tindakan kita adalah penampakkan kita. Sebenar-benarnya kita adalah penampakkan kita. Sehingga kita sebagai manusia, lakukan dan carilah hal-hal yang terbaik agar kita menjadi manusia yang lebih baik.

    ReplyDelete
  22. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Penampakan atau wujud dari sesuatu hal bisa berasal dari penglihatan yaitu saat kita melihat sesuatu benda yang nyata maupun dari pemikiran yaitu saat kita memikirkan sesuatu benda di dalam pikiran kita. Dari penampakan tersebut dapat terlihat hakekat dari diri kita berupa akal dan pikiran kita. Penampakan tersebut merupakan batas dari akal dan pikiran kita, sehingga akan sangat sulit menemukan hakekat dari diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  23. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Penampakan suatu benda dapat dilihat dari strukturnya, warnanya, dan kegunaannya. Penampakan berasal dari penglihatan dan pengakuan seseorang dengan kata lain penampakan dapat dirasakan oleh indra manusia, bagaimana bentuknya, bagaimana baunya, bagaimana bunyinya, bagaimana rasanya, bagaimana teksturnya. Dengan demikian untuk dapat menggapai penampakan dibutuhkan pengetahuan yang luas mengenai segala sesuatu. Pengetahuan yang luas dapat memberikan deskripsi mengenai suatu penampakan yang lebih spesifik.

    ReplyDelete
  24. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Elegi menggapai penampakan menyampaikan pesan akan makna kerendahan hati. Kerendahan hati terhadap ilmu yang kita peroleh. Semakin seseorang itu berilmu, hendaklah ia bersikap seperti ilmu padi, semakin lama semakin merunduk. Hendaklah jangan menjadi pribadi yang merasa pintar, namun jadilah pribadi yang pintar merasa. Merasa bahwa apa yang telah dimiliki bukanlah apa-apa, hanya titipan Illahi dan masih banyak orang di luar sana yang lebih segala-galanya dari kita. Dan sebaik-baiknya manusia adalah ia yang bisa membagikan apa yang diketahuinya kepada orang lain. Karen apa yang mereka bagi maka berlipat-lipat ganda yang akan mereka peroleh.

    ReplyDelete
  25. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Setinggi apapun ilmu yang digapai tak akan ada gunanya jika hanya akan menyombongkan diri. Dengan ilmu manusia janganlah menyombongkan diri tentang berapa tingginya ilmu mereka. Karena di balik kesombongan mereka itu tidak ada satu pun manfaat yang mereka peroleh. Sehingga dalam elegi ini kita diajarkan untuk rendah hati karena dibalik akal dan pikiran masih ada akal dan pikiran lagi sampai seterusnya karena ilmu itu tidak terbatas. Sebagai contoh kita dapat mengerti apa itu adalah tapi kita tidak dapat mendefinisikan apa itu adalah. Contoh lain besar, kecil, tinggi, luas, buram, kuning, jauh, dekat, terang, gelap, lembut, kasar, solid dan lain sebagainya. Apakah kita bisa menyadari bahwa kita sebenarnya tidak mampu untuk mendefinisikan kata-kata tersebut tetapi kita hanya dapat mengerti. Itulah ilmu jangan pernah menyombongkan diri dan lebih rendah hati.

    ReplyDelete
  26. Indriyani Fatmi
    13301244031
    S1 Pendidikan Matematika 2013

    Ada ungkapan "Everything is never as it seems", segala hal tidak terlihat seperti apa adanya. Tampak luar tidak seperti tampak dalamnya, begitu pula sebaliknya. Manusia memiliki gengsi, kadang karena gengsi itulah kita mempermak luaran kita agar terlihat luar biasa di mata orang lain. Memiliki gengsi boleh, tapi jangan lupa untuk bergasa sesuai dengan isi dompet kita.

    ReplyDelete
  27. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Perbincangan ini merupakan ontologi menggunakan metode dialog dengan diri sendiri untuk mengenali hakikat diri. Jika boleh saya artikan, penampakan 1 adalah pikiran, penampakan 2 adalah apa yang penampakan 1 pikirkan. Dibalik pikiran adalah ilmu. Pantaslah ada ungkapan bahwa, perhatikanlah yang engkau baca (ilmu yang dipelajari), karena ia akan jadi pikiranmu, perhatikanlah pikiranmu, karena ia akan menjadi ucapanmu, perhatikanlah ucapanmu, karena ia akan menjadi dirimu.

    ReplyDelete
  28. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Elegimenggapai penampakan sama halnya kita mendefinisikan suatu hakekat diri yang dimana kita tidak mampu untuk mendefinisikan diri sendiri. Penampakan yang ada dipikiran kadang juga sulit untuk diungkapakan. Hakekat pikiran kadang sulit untuk di definisikan.

    ReplyDelete
  29. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    “Sebenar-benar diriku adalah penglihatanmu. Apalah artinya pengakuanku, jika itu tidak sesuai dengan penglihatanmu.”
    Dari kalimat tersebut, yang berhasil saya tangkap adalah apalah arti mulut kita yang terus ‘memamerkan’ betapa baiknya diri kita jikalau tindakan dan tingkah laku yang kita perbuat justru menunjukkan hal sebaliknya. Misalnya, kita sudah sekeras hati mengatakan bila kita adalah orang yang rajin dan tahu banyak hal, namun jika tindakan kita justru memperlihatkan bila kita tidak rajin dan tidak tahu apa-apa.. akan menjadi percuma saja pengakuan itu.

    ReplyDelete
  30. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    “Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun.”
    Saya suka dengan kalimat yang Anda tulis, Prof. Kalimat itu mengingatkan kembali pada diri saya bahwa ketika kita menganggap diri kita ini begitu megah dan tinggi, justru saat itu pula sesungguhnya kita begitu usang dan rendah. Oleh sebab itu, kita harus senantiasa rendah hati dan menjauhi perilaku dan pikiran yang sombong.

    ReplyDelete
  31. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sebenar-benar penampakan adalah jika itu ada dalam penglihatan dan juga dalam pikiran kita, sesuai yang saya pahami dari elegi di atas. Dan dibalik itu semua, sampai akhirnya kita dapat mengetahui ada penampakan tersebut, terdapat akal pikiran kita.

    ReplyDelete
  32. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Hal menarik bagi saya dalam elegi di atas adalah pada dialog terakhir, "Menemukan hakekat adalah saja engkau tidak bisa, apalagi menemukan hakekat-hakekat yang lain. Itulah sebenar-benar dirimu. Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun." Ini berarti seperti pepatah semakin berisi semakin merunduk, jika ilmu telah tinggi justru akan terus merasa kurang dalam menuntut ilmu bukan kemudian sombong, tidak boleh sombong karena itu akan menunjukkan bahwa kita rendah.

    ReplyDelete
  33. Tahtalia
    14301241031
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Yang kita pikirkan tentang penampakan adalah sesuatu yang bisa kita lihat, padahal penampakan tidak sebatas itu. Akan menjadi sombong seseorang yang mengaku bahwa ia paham dan mengerti suatu penampakan secara keseluruhan. Karena pada hakekatnya, disetiap hakekat ada hakekat.

    ReplyDelete
  34. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Yang saya pahami dari postingan Pak Prof. Marsigit yang berjudu Elegi menggapai penampakkan tersebut adalah bahwa sesungguhnya arti dari penampakkan bukan hanya dari apa yang terlihat, tapi juga dari apa yang dirasakan.

    ReplyDelete
  35. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari postingan Elegi menggapai penampakkan di atas juga bermakna bahwa seorang manusia alangkah baiknya bersifat rendah hati. Tidak menyombongkan ilmu yang dimilikinya. Sehingga orang tersebut akan terus berusaha mencari ilmu karena merasa ilmu yang dimilikinya masih kurang, sedangkan orang yang sombong akan selalu merasa berpuas diri atas ilmu yang sudah ia dapatkan. Sehingga orang tersebut tidak akan berkembang.

    ReplyDelete
  36. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa penampakan itu merupakan hakekat. Apa yang bisa dilihat itu adalah penampakan. Dari penampakan itu maka akan dapat disebutkan hakekat-hakelat dari yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  37. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menggapai penampakan disini berupa sesuatu apa yang telah kita lihat dan kita rasakan, jika kita telah mempelajari sesuatu hal maka itulah ilmu yang akan masuk ke otak kita,maka janganlah berpuas diri terhadap apa yang telah dipelajari, ilmu itu luas, terus pelajari secara detail, jangan bersombong diri karena ketika kita sombong dan cepat puas akan ilmu yang telah kita punya kita akan hanya mendapat ilmu seadanya padahal perkembangan zaman semakin maju otomatis pendidikan akan terus berkembang.

    ReplyDelete
  38. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setiap orang dapat mengartikan sesuatu dengan beragam sudut pandang. Dalam menapakkan pengartian itu maka manusia memandang hakekat dari sesuatu itu. Sedalam-dalamnya hakekat adalah memaknai dengan dalam sesuatu itu. Maka lebih tinggi lagi jika hakekat adalah tidak tahu bahwa sesuatu itu apa. Dan sebaliknya seperti yang dijelaskan dalam elegi dalam tulisan yang bagus ini.

    ReplyDelete
  39. Sefti Lailatifah
    14301241040
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Penampakan adalah suatu pemikiran dan pemikiran adalah suatu penampakan. Mereka berdua saling terkait satu sama lain.

    ReplyDelete
  40. Sefti Lailatifah
    14301241040
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Dalam mempelajari sesuatu tidaklah kita hanya melihat dengan indra penglihatan kita lalu akan mengerti. Tetapi kita juga harus selalu berpikir agar memperoleh hakekat dari apa yang ingin kita pelajari. Untuk mendapatkan hakekat dari sesuatu itu pun caranya tidak mudah.

    ReplyDelete
  41. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Penambakan merupakan cara pandang kita dalam melihat sesuatu. Hakekatnya adalah apa yang ada dalam pikiran manusia. Manusia tidak mudah mendefisinikan sesuatu karena penampakan berasal dari apa yang ada dalam pikiran karena keterbatasan manusia.

    ReplyDelete
  42. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan elegi menggapai penampakan, dapat diketahui bahwa apabila kita sudah merasa bahwa diri kita paling tinggi dan hebat maka itu merupakan ilmu terendah yang kita miliki karena masih banyak hal lain yang masih tidak kita ketahui . Perasaan tersebut merupakan kesombongan karena itu hanyalah bagian kecil dari ilmu-ilmu yang ada di jagad raya ini. Maka janganlah pernah merasa bahwa ilmu kita sudah cukup.

    ReplyDelete
  43. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Hakekat kita tergantung dari pengetahuan yang kita miliki dan hanya kita yang tahu. Memperdalam ilmu sampai ke batas-batas pikiran akan membuat hakekat juga dikenali diri sendiri. Di balik hakekat masih ada hakekat lagi.

    ReplyDelete
  44. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Diri kita dapat berupa banyak penampakan bagi orang lain. Oarang lain dapat melihat banyak penampakan yang tampak dari kita. Penampakan itu tertutup jika telah diucapkan dan akan terbuka jika masih dipikirkan oleh orang lain. Pemikiran itu dapat berupa apa saja yang dipikirkan. Sungguh rumit makna penampakan ini

    ReplyDelete
  45. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Dalam percakapan diatas yang dapat saya ambil adalah bahwa penampakan itu adalah cerminan dari diri kita sendiri, jika penampakan nya buruk maka diri kita sebernanya perlu ada yang dibenahi, namun jika penampakannya baik, maka didalam diri kita memiliki hati yang baik pula. Namun sebenarnya kita sulit mengerti hakekat dari apapun itu karna memang bersifat abstrak dan terkadang bersifkat subjektif.

    ReplyDelete
  46. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah membaca Elegi Menggapai Penampakkan, saya memperoleh pelajaran bahwa dimanapun kita berada, kita tidak boleh sombong. Kesombongan tak pantas kita lakukan karena apa yang kita miliki sekarang nantinya akan kembali kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  47. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Penampakan tidak selalu apa yang terlihat atau tampak, tapi penampakan dapat memiliki arti cara pandang seseorang terhadap sesuatu hal. Cara pandang setiap orang berbeda-beda, bergantung pada akal dan pikiran yang dimilikinya dan dibatasi oleh ruang dan waktu. Diajarkan pula bahwa sebanyak-banyaknya ilmu yang dimilikinya, maka janganlah sombong, karena dapat menjauhkan diri dari Allah SWT.

    ReplyDelete
  48. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Pemikiran setiap orang itu berbeda-beda tergantung sudut pandangnya. Akan ada banyak penampakan diri kita yang ada dalam pikiran orang lain. Pemikiran iu dapat berupa apa saja yang dipikirkan mereka terhadap penampakan diri kita.

    ReplyDelete
  49. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Penampakan dalam elegi ini adalah seala sesuatu yang mampu kita lihat dengan alat indera kita (mata). Artinya, kita memiliki sebuah alat yang mampu mengamati benda-benda yang berada disekitar kita, yang kemudian kita analisis menjadi ilmu pengetahuan baru.

    ReplyDelete
  50. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    Pendidikan Matematika 2013

    Hal yang nampak tak selamanya menggambarkan hakikatnya, terkadanmg seorang terkecoh dengan suatu yang dzohir "nampak mata" saja, padahala da yang lebih penting untuk diperhatikan pula. bukan berarti yang nampak tak penting, penting. Bahkan menjadi identitas hakikat secara cepat. Namun menelisik lebih dalam membuat semakin tawadhu, mengetahui ilmu semakin dalam semakin dalam seorang akan semakin tahu kemiskinan hidupnya terhadap ilmu. Tepatlah penjabaran tadi di ejawantahkan dengan Semakin merasa berilmu maka dia yang paling miskin terhadap ilmu. Seorang ulama mengatakan "Kalau seorang mengatakan bahwa dia telah ikhlas sejatinya dialah orang yang paling butuh untuk ikhlas".

    ReplyDelete
  51. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Penampakan dalam kehidupan sehari-hari kita di dunia ini bukanlah sesuatu hal yang asing. Penampakan dari apa yang ada dan mungkin ada sebagai bentuk hasil pola pikir kita selalu menjadi sesuatu yang menarik untuk dibahas. Penampakan yang terus muncul dalam pandangan kita, dimulai dari apa yang kita lihat kemudian dicerna dan diolah dalam akal pikiran kita dan dikelola bersama ilmu pengetahuan yang selama ini kita miliki. Pengetahuan disini snagat berperan sebagai alat penerjemah dari apa yang kita lihat dan apa yang kita amati.

    ReplyDelete
  52. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Penampakan adalah sebuah pengalaman yang dialami seseorang berupa mengindera (bisa melihat, mendengar, merasakan, atau membaui) kehadiran sesuatu yang berada di luar nalar sensorik manusia. Penampakan setiap orang berbeda-beda. Dan hal yang tampakpun belum tentu menggambarkan hal tersebut secara keseluruhan.

    ReplyDelete
  53. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Sebenar-benar penampakkan kita adalah untuk diri kita sendiri. Maka sungguh hanya Tuhan yang mampu melihat peampakkan kita dari berbagai macam ragam. Hanya Tuhan yang Mengetahui sebenar-benar penampakkan dari diri kita. Kita takkan mampu menemukan hakekat, apalagi menemukan hakekat-hakekat yang lain. Itulah sebenar-benar manusia. Sesungguhnya ilmu yang tertinggi adalah pengakuan kita bahwa kita tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmu kita adalah pengakuan kita bahwa kita merasa bisa mengerti hakekat apapun. Sesungguhnya manusia dengan segala keterbatasannya tak akan mampu mengerti hakekat apapun, dan bukan pada tempatnya manusia menyombongkan diri dengan merasa bisa mengerti hakekat tersebut. Sesungguhnya hanya Tuhan yang mengerti hakekat yang sesungguhnya.

    ReplyDelete
  54. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    yang dapat saya pahami dari elegi di atas bahwa dalam melihat suatu penampakan, kita akan selalu menafsirkan hal yang berbeda dari orang lain. karena dalam melihat suatu penampakan, kita menggunakan mata yang berbeda dan dalam sudut pandang yang berbeda, serta kita memiliki ilmu yang berbeda dengan orang lain sehingga akan berbeda pula penafsiran yang kita buat. namun, dalam memahami suatu ilmu, kita tidak boleh sombong. karena ketika kita sombong akan ilmu yang kita miliki maka saat itulah sebenar-benar kita tidak berilmu.

    ReplyDelete