Sep 20, 2013

Elegi Menggapai Penampakkan




Oleh Marsigit

Penampakkan benda-benda:
Besar, kecil, panjang, pendek, ......
...... indah, buram, hijau, jauh, dekat, terang, gelap, lembut, kasar, solid, terpecah, tetap, berubah, terus, terputus, berputar, bergoyang, tertutup, terbuka, terkunci, rapat, jarang, cepat, lambat, licin, tenggelam, terapung, tertumpuk, tergeletak, kuat, lemah, panas, dingin, baru, lama, modern, klasik, teratur, acak, tersedia, kosong, penuh, disiplin, malas, istirahat, hilang, muncul, capai, kusut, segar, semangat, loyo, subur, nyaman, kejam, empati, ide, pikiran, kata, kalimat, buku, dan semua benda-benda. Itulah penampakkanku. Penampakkanku kadang-kadang mandiri, kadang-kadang berkolaborasi. Penampakkanku kadang tetap kadang tidak tetap. Penampakkanku bisa sederhana, bisa sangat rumit. Bisa sedikit di balik penampakkanku, tetapi bisa banyak di balik penampakkanku. Tetapi sebenar-benar penampakkanku adalah untuk diriku sendiri. Itulah kekuatanku sekaligus kelemahanku. Kemandirian penampakkanku adalah identitasku. Ketidakmandirian penampakkanku adalah manfaat mereka. Maka sebenar-benar penampakkanku adalah terbuka sekaligus tertutup. Penampakkanku tertutup jika telah engkau ucapkan. Penampakkanku terbuka jika masih engkau pikirkan. Penampakkanku bisa engkau pikirkan sebagai apa saja. Aku bisa engkau pikirkan sebagi cahaya, sebagai gelombang, atau sebagai keduanya. Aku bisa engkau anggap sebagai nyata, tidak nyata atau khayal belaka. Aku bisa banyak dalam dirimu yang satu, dan aku bisa satu dalam dirimu yang banyak. Rumahku sembarang, tetapi tugasku sebagai saksi bagimu. Engkau bisa datang kapanpun, bisa juga pergi kapanpun, bisa juga tinggal sampai kapanpun. Tetapi aku tidak tahu kapan aku mulai dan kapan aku berakhir. Tetapi janganlah salah paham, karena sebenar-benar dirimu adalah diriku pula. Itulah sebenar-benar engkau, yaitu penampakkanmu pula. Maka sebenar-benar kita adalah satu, yaitu penampakkan.



Penampakkan 1:
Wahai penampakkan 2, siapakah sebenar-benar dirimu. Mengapa engkau menampakkan diri di depanku?

Penampakkan 2:
Sebenar-benar diriku adalah penglihatanmu. Apalah artinya pengakuanku, jika itu tidak sesuai dengan penglihatanmu. Aku menampakkan diriku tidaklah semata-mata karena diriku. Tetapi perkenankanlah aku juga ingin bertanya. Siapakah sebenar-benar dirimu. Mengapa engkau menampakkan diri di depanku?

Penampakkan 1:
Sebenar-benar diriku adalah pikiranmu. Apalah artinya penglihatanmu, jika itu tidak sesuai dengan pikiranmu. Aku hadir dalam pikiranmu tidaklah semata-mata karena diriku.

Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, kedengarannya engkau agak sombong. Siapakah yang berada di belakang dirimu itu?

Penampakkan 1:
Wahai penampakan 2, aku adalah pikiranmu. Jika engkau menuduhku bahwa aku berlaku sombong, bukankah itu menepuk air menimpa wajahmu sendiri. Yang berada dibelakang diriku adalah ilmumu.
Namun aku juga ingin bertanya, siapakah yang berada dibelakangmu itu?

Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, kelihatannya engkau ingin mengujiku. Engkau telah katakan bahwa yang berada di belakang dirimu adalah ilmuku. Mengapa engkau tanyakan siapa yang berada di belakang diriku? Bukankah menurutmu, yang berada di belakang diriku juga ilmumu?

Penampakkan 1:
Wahai penampakkan 2, kalau boleh aku akan sebut engkau bukan lagi penampakkan. Tetapi engkau akan sebut sebagai hakekat dirimu, atau hakekat 2 begitulah. Mengapa? Agar aku dapat sederhanakan saja penampakkan mu dengan yang berada di belakangmu sebagai hakekat mu begitulah.

Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, engkau belum menjawab siapa yang berada di belakangku, tetapi engkau sebut aku sebagai hakekat 2. Kalau begitu agar perbincangan kita lancar, engkau akan ku sebut pula hakekat 1.

Hakekat 1:
Wahai hakekat 2, cerdas pula ternyata engkau itu.

Hakekat 2:
Wahai hakekat 1, cerdas pula ternyata engkau itu.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Kita puas karena ternyata kita telah menemukan hakekat. Tetapi siapakah diri kita berdua ini?

Orang tua berambut putih datang:
Salam, hakekat 1 dan hakekat 2. Pertanyaanmu yang terakhir telah mengundangku untuk hadir di hadapanmu berdua. Ketahuilah bahwa sebenar-benar perbincanganmu berdua, aku telah mengetahuinya. Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa sebenar-benar pengakuanmu menemukan hakekat adalah fatamorgana, karena dibelakang hakekat dirimu berdua, masihlah terdapat hakekat pula, yaitu hakekat 3.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Salam juga, wahai orang tua berambut putih. Terimakasih engkau telah mengingatkanku. Karena dirimulah kita berdua dapat menemukan hakekat 3 dibalik hakekat 2 dan dibalik hakekat 1. Bolehlah aku bertanya kepadamu, apakah sebenar-benar hakekat 3 itu?

Orang tua berambut putih:
Sebenar-benar hakekat 3 adalah akal dan pikiran hakekat 2 dan hakekat 1. Tetapi bukanlah engkau maklum, bahwa dibalik hakekat 3 itulah berada hakekat 4. Dibalik hakekat 4 itulah berada hakekat 5. Dibalik hakekat 5 itulah hakekat 6, ....., dibalik hakekat n itulah hakekat n + 1.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Lalu apakah hakekat dari hakekat itu?

Orang tua berambut putih:
Dibalik hakekat adalah hakekat. Hakekat-hakekat itu adalah akal dan pikiranmu. Maka di balik akal dan pikiranmu itu adalah akal dan pikiranmu juga. Demikian seterusnya..sampai engkau menggapai batas pikranmu.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Lalu, di manakah batas hakekat atau batas akal dan pikiranku itu?

Orang tua berambut putih:
Tiadalah orang lain mengetahuinya, kecuali dirimu sendiri. Itulah sebenar-benar hakekatmu, yaitu batas oengetahuanmu sendiri.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Batas pikiranku itu terbatas atau tidak terbatas?

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar infinite regress. Tidak terbatas bisa berarti tidak mempunyai batas. Tidak mempunyai batas bisa berarti berputar-putar melampaui batasnya.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Aku bingung mengikuti uraianmu.

Orang tua berambut putih:
Bisakah engkau berdua mendefinisikan adalah ?

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah ...adalah ...

Orang tua berambut putih:
Menemukan hakekat adalah saja engkau tidak bisa, apalagi menemukan hakekat-hakekat yang lain. Itulah sebenar-benar dirimu. Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun.

107 comments:

  1. Apa yang tampak apakah ada? Bagaimana dengan fatamorgana, dia tampak tetapi tidak ada. Yang tampak adalah fatamorgana itu sendiri. Apa yang tidak tampak apakah tidak ada? Bagaimana dengan angin, dia tidak terlihat tetapi dapat dirasakan. Apakah tampak itu dapat dilihat atau dapat diindra?. Semakin banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiran tentang apa artinya tampak, maka di dunia ini sangat banyak ilmu yang dapat ditemukan dan nilai kebenaran yang harus diungkap. Cara pandang seseorang dapat berbeda-beda. Suatu sudut pandang dapat memunculkan pengetahuan baru. Ruang dan waktu yang tidak terbatas untuk diisi. Akal dan pikiran yang tak terbatas untuk digunakan mengungkap apa yang ada.

    ReplyDelete
  2. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Sesuatu yang tersirat dari elegi menggapai penampakkan ini adalah penafsiran tentang hal apa yang tampak adalah tentang apa yang ada dipikiran manusia tentang hal tersebut, dan sejauh mana pikiran menafsirkan sesuatu berdasarkan pada ilmu yang dimiliki. Karena sejauh mana pengetahuan pikiran turut mendorong bagaimana pemikiran tersebut bisa terbentuk hingga demikian. Latar belakang memandang sebuat permasalahan dan sudut pandang juga turut mempengaruhi apa yang tampak dalam suatu pemikiran.

    ReplyDelete
  3. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Penampakkan benda-benda:
    Besar, kecil, panjang, pendek, ............ indah, buram, hijau, jauh, dekat, terang, gelap, lembut, kasar, solid, terpecah, tetap, berubah, terus, terputus, berputar, bergoyang, tertutup, terbuka, terkunci, rapat, jarang, cepat, lambat, licin, tenggelam, terapung, tertumpuk, tergeletak, kuat, lemah, panas, dingin, baru, lama, modern, klasik, teratur.
    Saya masih belum sepenuhnya menangkap esensi esensi dalam tulisan ini dan dibaliknya, tapi saya mencoba untuk memahaminya, bahwa sebenarnya ketika pikiran kita berupaya memikirkan sesuatu, kita memerlukan alasan dan pemikiran lain untuk memikirkannya, lalu kita Butuh alasan dan pikiran untuk memikirkan akal dan pikiran memikirkan hal-hal yang kita pikirkan, dan seterusnya. Dengan demikian kita bisa memahami kemunculan hal-hal yang kita lihat dengan pikiran dan pikiran kita sendiri. Bila kita melihat sesuatu dalam keadaan sadar (tidak bermimpi) maka terlintas dalam pikiran pikiran kita sendiri.

    ReplyDelete
  4. Woro Sophia Amirul Kusumawati
    14301241048
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Apa yang kita lihat dari diri kita adalah penampakkan kita. Apa yang kita miliki adalah penampakkan kita. Segala tindakan kita adalah penampakkan kita. Sebenar-benarnya kita adalah penampakkan kita. Sehingga kita sebagai manusia, lakukan dan carilah hal-hal yang terbaik agar kita menjadi manusia yang lebih baik.

    ReplyDelete
  5. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Penampakan atau wujud dari sesuatu hal bisa berasal dari penglihatan yaitu saat kita melihat sesuatu benda yang nyata maupun dari pemikiran yaitu saat kita memikirkan sesuatu benda di dalam pikiran kita. Dari penampakan tersebut dapat terlihat hakekat dari diri kita berupa akal dan pikiran kita. Penampakan tersebut merupakan batas dari akal dan pikiran kita, sehingga akan sangat sulit menemukan hakekat dari diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  6. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Penampakan suatu benda dapat dilihat dari strukturnya, warnanya, dan kegunaannya. Penampakan berasal dari penglihatan dan pengakuan seseorang dengan kata lain penampakan dapat dirasakan oleh indra manusia, bagaimana bentuknya, bagaimana baunya, bagaimana bunyinya, bagaimana rasanya, bagaimana teksturnya. Dengan demikian untuk dapat menggapai penampakan dibutuhkan pengetahuan yang luas mengenai segala sesuatu. Pengetahuan yang luas dapat memberikan deskripsi mengenai suatu penampakan yang lebih spesifik.

    ReplyDelete
  7. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Elegi menggapai penampakan menyampaikan pesan akan makna kerendahan hati. Kerendahan hati terhadap ilmu yang kita peroleh. Semakin seseorang itu berilmu, hendaklah ia bersikap seperti ilmu padi, semakin lama semakin merunduk. Hendaklah jangan menjadi pribadi yang merasa pintar, namun jadilah pribadi yang pintar merasa. Merasa bahwa apa yang telah dimiliki bukanlah apa-apa, hanya titipan Illahi dan masih banyak orang di luar sana yang lebih segala-galanya dari kita. Dan sebaik-baiknya manusia adalah ia yang bisa membagikan apa yang diketahuinya kepada orang lain. Karen apa yang mereka bagi maka berlipat-lipat ganda yang akan mereka peroleh.

    ReplyDelete
  8. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Setinggi apapun ilmu yang digapai tak akan ada gunanya jika hanya akan menyombongkan diri. Dengan ilmu manusia janganlah menyombongkan diri tentang berapa tingginya ilmu mereka. Karena di balik kesombongan mereka itu tidak ada satu pun manfaat yang mereka peroleh. Sehingga dalam elegi ini kita diajarkan untuk rendah hati karena dibalik akal dan pikiran masih ada akal dan pikiran lagi sampai seterusnya karena ilmu itu tidak terbatas. Sebagai contoh kita dapat mengerti apa itu adalah tapi kita tidak dapat mendefinisikan apa itu adalah. Contoh lain besar, kecil, tinggi, luas, buram, kuning, jauh, dekat, terang, gelap, lembut, kasar, solid dan lain sebagainya. Apakah kita bisa menyadari bahwa kita sebenarnya tidak mampu untuk mendefinisikan kata-kata tersebut tetapi kita hanya dapat mengerti. Itulah ilmu jangan pernah menyombongkan diri dan lebih rendah hati.

    ReplyDelete
  9. Indriyani Fatmi
    13301244031
    S1 Pendidikan Matematika 2013

    Ada ungkapan "Everything is never as it seems", segala hal tidak terlihat seperti apa adanya. Tampak luar tidak seperti tampak dalamnya, begitu pula sebaliknya. Manusia memiliki gengsi, kadang karena gengsi itulah kita mempermak luaran kita agar terlihat luar biasa di mata orang lain. Memiliki gengsi boleh, tapi jangan lupa untuk bergasa sesuai dengan isi dompet kita.

    ReplyDelete
  10. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Perbincangan ini merupakan ontologi menggunakan metode dialog dengan diri sendiri untuk mengenali hakikat diri. Jika boleh saya artikan, penampakan 1 adalah pikiran, penampakan 2 adalah apa yang penampakan 1 pikirkan. Dibalik pikiran adalah ilmu. Pantaslah ada ungkapan bahwa, perhatikanlah yang engkau baca (ilmu yang dipelajari), karena ia akan jadi pikiranmu, perhatikanlah pikiranmu, karena ia akan menjadi ucapanmu, perhatikanlah ucapanmu, karena ia akan menjadi dirimu.

    ReplyDelete
  11. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Elegimenggapai penampakan sama halnya kita mendefinisikan suatu hakekat diri yang dimana kita tidak mampu untuk mendefinisikan diri sendiri. Penampakan yang ada dipikiran kadang juga sulit untuk diungkapakan. Hakekat pikiran kadang sulit untuk di definisikan.

    ReplyDelete
  12. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    “Sebenar-benar diriku adalah penglihatanmu. Apalah artinya pengakuanku, jika itu tidak sesuai dengan penglihatanmu.”
    Dari kalimat tersebut, yang berhasil saya tangkap adalah apalah arti mulut kita yang terus ‘memamerkan’ betapa baiknya diri kita jikalau tindakan dan tingkah laku yang kita perbuat justru menunjukkan hal sebaliknya. Misalnya, kita sudah sekeras hati mengatakan bila kita adalah orang yang rajin dan tahu banyak hal, namun jika tindakan kita justru memperlihatkan bila kita tidak rajin dan tidak tahu apa-apa.. akan menjadi percuma saja pengakuan itu.

    ReplyDelete
  13. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    “Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun.”
    Saya suka dengan kalimat yang Anda tulis, Prof. Kalimat itu mengingatkan kembali pada diri saya bahwa ketika kita menganggap diri kita ini begitu megah dan tinggi, justru saat itu pula sesungguhnya kita begitu usang dan rendah. Oleh sebab itu, kita harus senantiasa rendah hati dan menjauhi perilaku dan pikiran yang sombong.

    ReplyDelete
  14. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sebenar-benar penampakan adalah jika itu ada dalam penglihatan dan juga dalam pikiran kita, sesuai yang saya pahami dari elegi di atas. Dan dibalik itu semua, sampai akhirnya kita dapat mengetahui ada penampakan tersebut, terdapat akal pikiran kita.

    ReplyDelete
  15. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Hal menarik bagi saya dalam elegi di atas adalah pada dialog terakhir, "Menemukan hakekat adalah saja engkau tidak bisa, apalagi menemukan hakekat-hakekat yang lain. Itulah sebenar-benar dirimu. Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun." Ini berarti seperti pepatah semakin berisi semakin merunduk, jika ilmu telah tinggi justru akan terus merasa kurang dalam menuntut ilmu bukan kemudian sombong, tidak boleh sombong karena itu akan menunjukkan bahwa kita rendah.

    ReplyDelete
  16. Tahtalia
    14301241031
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Yang kita pikirkan tentang penampakan adalah sesuatu yang bisa kita lihat, padahal penampakan tidak sebatas itu. Akan menjadi sombong seseorang yang mengaku bahwa ia paham dan mengerti suatu penampakan secara keseluruhan. Karena pada hakekatnya, disetiap hakekat ada hakekat.

    ReplyDelete
  17. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Yang saya pahami dari postingan Pak Prof. Marsigit yang berjudu Elegi menggapai penampakkan tersebut adalah bahwa sesungguhnya arti dari penampakkan bukan hanya dari apa yang terlihat, tapi juga dari apa yang dirasakan.

    ReplyDelete
  18. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari postingan Elegi menggapai penampakkan di atas juga bermakna bahwa seorang manusia alangkah baiknya bersifat rendah hati. Tidak menyombongkan ilmu yang dimilikinya. Sehingga orang tersebut akan terus berusaha mencari ilmu karena merasa ilmu yang dimilikinya masih kurang, sedangkan orang yang sombong akan selalu merasa berpuas diri atas ilmu yang sudah ia dapatkan. Sehingga orang tersebut tidak akan berkembang.

    ReplyDelete
  19. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa penampakan itu merupakan hakekat. Apa yang bisa dilihat itu adalah penampakan. Dari penampakan itu maka akan dapat disebutkan hakekat-hakelat dari yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  20. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menggapai penampakan disini berupa sesuatu apa yang telah kita lihat dan kita rasakan, jika kita telah mempelajari sesuatu hal maka itulah ilmu yang akan masuk ke otak kita,maka janganlah berpuas diri terhadap apa yang telah dipelajari, ilmu itu luas, terus pelajari secara detail, jangan bersombong diri karena ketika kita sombong dan cepat puas akan ilmu yang telah kita punya kita akan hanya mendapat ilmu seadanya padahal perkembangan zaman semakin maju otomatis pendidikan akan terus berkembang.

    ReplyDelete
  21. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    Pendidikan Matematika 2013

    Hal yang nampak tak selamanya menggambarkan hakikatnya, terkadanmg seorang terkecoh dengan suatu yang dzohir "nampak mata" saja, padahala da yang lebih penting untuk diperhatikan pula. bukan berarti yang nampak tak penting, penting. Bahkan menjadi identitas hakikat secara cepat. Namun menelisik lebih dalam membuat semakin tawadhu, mengetahui ilmu semakin dalam semakin dalam seorang akan semakin tahu kemiskinan hidupnya terhadap ilmu. Tepatlah penjabaran tadi di ejawantahkan dengan Semakin merasa berilmu maka dia yang paling miskin terhadap ilmu. Seorang ulama mengatakan "Kalau seorang mengatakan bahwa dia telah ikhlas sejatinya dialah orang yang paling butuh untuk ikhlas".

    ReplyDelete
  22. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Penampakan dalam kehidupan sehari-hari kita di dunia ini bukanlah sesuatu hal yang asing. Penampakan dari apa yang ada dan mungkin ada sebagai bentuk hasil pola pikir kita selalu menjadi sesuatu yang menarik untuk dibahas. Penampakan yang terus muncul dalam pandangan kita, dimulai dari apa yang kita lihat kemudian dicerna dan diolah dalam akal pikiran kita dan dikelola bersama ilmu pengetahuan yang selama ini kita miliki. Pengetahuan disini snagat berperan sebagai alat penerjemah dari apa yang kita lihat dan apa yang kita amati.

    ReplyDelete
  23. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Penampakan adalah sebuah pengalaman yang dialami seseorang berupa mengindera (bisa melihat, mendengar, merasakan, atau membaui) kehadiran sesuatu yang berada di luar nalar sensorik manusia. Penampakan setiap orang berbeda-beda. Dan hal yang tampakpun belum tentu menggambarkan hal tersebut secara keseluruhan.

    ReplyDelete
  24. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Sebenar-benar penampakkan kita adalah untuk diri kita sendiri. Maka sungguh hanya Tuhan yang mampu melihat peampakkan kita dari berbagai macam ragam. Hanya Tuhan yang Mengetahui sebenar-benar penampakkan dari diri kita. Kita takkan mampu menemukan hakekat, apalagi menemukan hakekat-hakekat yang lain. Itulah sebenar-benar manusia. Sesungguhnya ilmu yang tertinggi adalah pengakuan kita bahwa kita tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmu kita adalah pengakuan kita bahwa kita merasa bisa mengerti hakekat apapun. Sesungguhnya manusia dengan segala keterbatasannya tak akan mampu mengerti hakekat apapun, dan bukan pada tempatnya manusia menyombongkan diri dengan merasa bisa mengerti hakekat tersebut. Sesungguhnya hanya Tuhan yang mengerti hakekat yang sesungguhnya.

    ReplyDelete
  25. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    yang dapat saya pahami dari elegi di atas bahwa dalam melihat suatu penampakan, kita akan selalu menafsirkan hal yang berbeda dari orang lain. karena dalam melihat suatu penampakan, kita menggunakan mata yang berbeda dan dalam sudut pandang yang berbeda, serta kita memiliki ilmu yang berbeda dengan orang lain sehingga akan berbeda pula penafsiran yang kita buat. namun, dalam memahami suatu ilmu, kita tidak boleh sombong. karena ketika kita sombong akan ilmu yang kita miliki maka saat itulah sebenar-benar kita tidak berilmu.

    ReplyDelete
  26. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini saya mengambil sebuah pelajaran, bahwa penilaian suatu hal adalah berdasarkan persepsi kita sendiri, pemikiran kita akan hal tersebut. ketika kita berusaha objektif menilai sesuatu maka kita akan belajar banyak hal. Dalam permbelajaran ini kita akan menemukan jawaban dari beberapa hal dan menemukan pertanyaan tentang hal-hal yang tidak ketahui. Terus merasa tidak tahu sehingga terus belajar adalah makna belajar sepanjang hidup.

    ReplyDelete
  27. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Setelah membaca ini, hal yang saya dapati adalah untuk mengapai hakekat suatu penampakan kami (saya) harus melakukan refleksi terhadap diri, sehingga apa yang tampak oleh saya, bisa saya persepsikan dengan pikiran saya, seperti yang diungkapkan oleh George Berkeley “esse est percipi”, yaitu sesuatu ada jika bisa dipersepsikan. Dalam merefleksi saya harus merenungi “saya sedang merenungi sesuatu, saya sedang merenungi saya yang sedang merenungi sesuatu, saya sedang merenungi saya yang sedang merenungi saya yang sedang berenungi sesuatu” seperti yang diajarkan oleh J.G.Fichte terhadap muridnya untuk menggapai yang namanya “Aku Absolut”.

    ReplyDelete
  28. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Pak. Sangat setuju dengan pesan Orang tua berambut putih. Bahwa Orang yang cerdas adalah orang terus merasa dirinya kurang ilmu sehingga ia terus menggali pengetahuannya dan belajar tanpa henti. Sedangkan orang yang berilmu rendah adalah orang yang merasa cukup pintar untuk tidak lagi belajar, untuk tidak lagi menimba ilmu, sehingga ilmunya hanya statis sampai di situ saja.

    ReplyDelete
  29. Junianto
    PM C
    17709251065

    Penampakan merupakan perwujudan dari ilmu yang kita miliki. Kita mempunyai akal pikiran yang bisa digunakan untuk mewujudkan segala sesuatu jika kita punya ilmunya. Jadi, ilmu adalah salah satu kunci agar dapat mewujudkan sesuatu dengan akal pikiran kita.

    ReplyDelete
  30. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Penampakan adalah sekadar apa yang kita lihat secara fisik dengan indera penglihatan. Namun sebenar-benarnya penampakan bukanlah penampakan itu sendiri. Penampakan dari suatu hal adalah refleksi hal tersebut oleh pengamat. Refleksi yang saya maksudkan dipengaruhi oleh pikiran, ilmu, dan persepsi obyek pengamat. Sebagai contoh, terdapat sebuah Guci antik. Bagi seorang awam seperti saya, penampakan dari guci tersebut adalah besar dan berat. Tetapi bagi seorang kolektor barang antik, penampakan guci tersebut adalah barang mewah. Karena kami memiliki refleksi yang berbeda terhadap guci tersebut, jadi meskipun yang kami amati guci yang sama tetap saja penampakannya berbeda di mata kami.

    ReplyDelete
  31. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Dari kekuatan penampakan, kita dapat menemukan identitas terbuka sekaligus tertutup. Penampakan yang ada dan mungkin ada. Dibelakang penglihatan ada penampakan. Dibelakang penampakan ada penampakan sedikit maupun penampakan banyak. Dibelakang penampakan sedikit maupun banyak ada penampakan terbuka dan tertutup. Dibelakang penampakan terbuka dan tertutup ada pikiran. Dibelakang pikiran ada ilmu. Dibelakang ilmu ada hakekat. Dibelakang hakekat ada hakekat-hakekat lainnya. Dan dibalik hakekat itu adalah akal dan pikiran dari hakekat itu sendiri. Sebenar-benar hakekat kita adalah pengetahuan kita.

    ReplyDelete
  32. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Setelah membaca, saya sadar bahwa manusia harus terus menerus belajar dan mencari pengetahuan. Namun, jangan sampai merasa puas dan bangga akan kemampuan diri karena dibalik ilmu pengetahuan yang diketahui masih banyak sekali ilmu pengetahuan yang belum diketahui. Jadi harus selalu belajar dan terus merasa bahwa ilmu harus selalu dicari terus menerus. Selain itu untuk mempermudah langkah juga harus selalu mengharap ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  33. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Cantik. Dialog yang cantik. Membuatku merasa menjadi bagian dari ereka yang berdialog. Oh tidak, sepertinya aku hanya duduk memperhatikan mereka. Oh tidak, ternyata yang kuperhatikan, yang kulihat, tidaklah cukup. Di sinilah keberadaan kita, mengembarakan pikiran kita hingga pada batas pengetahuan. Di sini pula, ku menemukan arti berilmu yang sederhana; ilmu yang dicari dengan tiada kesombongan. Karena sesungguhnya ilmu tidak akan berada pada titik finish, bukan? Jadi di antara kita tiadalah sang jawara. Hanya saja si konsisten dan bukan.

    "Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun"

    ReplyDelete
  34. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Penjelasan dari apa yang nampak di depan kita berarti merupakan penjabaran dari sesuatu yang berada di dalam pikiran kita. Kita tidak akan pernah bisa mendefinisikan sesuatu yang tidak berada di dalam pikiran kita. Kadang kala kita merasa bahwa pikiran kita sudah paling hebat dan kita mengetahui segalanya. Tetapi sesuai dengan hakikat pikiran yang terbatas, sejatinya setiap manusia memiliki batasan-batasan terkait dengan pengetahuan dan penampakan yang bisa mereka maknai atau mereka artikan. Jangan pernah merasa sombong atas apa yang mampu kita miliki. Bisalah merasa jangan merasa bisa. ^^

    ReplyDelete
  35. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Saya terkesan dengan pernyataan, “Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun.” Tidak sepantasnya kita merasa puas dan mengaku telah memahami suatu hakekat karena dibalik hakekat selalu ada hakekat lain, begitu seterusnya. Maka sebenar-benarnya yang terjadi ialah kita hanya berusaha menggapai hakikat.

    ReplyDelete
  36. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada elegi ini segala yang tampak kadang belum bisa menggambarkan apa yang sebenarnya. Yang tampak itu adalah yang dapat dirasakan oleh indera. Hal itu belum cukup untuk menggambarkan semuanya. Harus dikaitkan dengan pengetahuan lain yang sudah ada supaya dapat menggali secara mendalam dari penampakan yang ada. Perlu dikaitkan dengan pemikiran yang mendalam supaya mendapatkan apa yang tersirat. Tetapi itu pun belum cukup, karena hanya tergantung pada pengetahuan kita, maka pada intinya adalah kita harus banyak baca-baca dan baca.

    ReplyDelete
  37. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Hakikat penampakan yaitu penggambaran jati diri dan identitas diri, penampakan bukan berarti harus selalu berorientasi kepada bentuk fisik melainkan juga bentuk ilmu yang bisa dilihat dari cara bicara, apakah bicaranya mengandung makna ilmu atau hanya sekedar bicara kosong. Maka dari itu marilah kita berbenah diri dan selalu memperbaiki identitas diri agar apa yang yang terlihat pada diri kita secara utuh itulah yang menggambarkan cara berfikir kita.

    ReplyDelete
  38. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Terkait materi sebelumnya yang pernah saya baca.Saya menemukan istilah tentang bayangan di dalam filsafat.Saya ingin mengutarakan sebuah pertanyaan,apakah perbedaan antara penampakan dan bayangan menurut pandangan filsafat?Mohon pencerahannya Pak prof.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  39. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi menggapai penampakan ini saya memahami bahwa penampakan merupakan perwujudan dari refkleksi atau cerminan dari diri seseorang. Seberapa jauh ia memahami dirinya sendiri, memahami ilmu yang ia miliki. Karena sebenarnya apa yang terlihat dari luar belumlah merepresentasikan hal yang sebenarnya. Untuk itu galilah diri sendiri, pahami potensi dan kaitkan dengan pengetahuan. Tetapi musti diingat janganlah merasa bangga terhadap ilmu yang telah dimiliki, merasa mengerti semuanya, karena itulah serendah-rendahnya ilmu. Seperti yang Bapak tulis pada artikel diatas bahwa ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun, sedangkan serendah-rendah ilmu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun.

    ReplyDelete
  40. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Membaca elegi ini saya membayangkan hakikat saya sangat dalam untuk dicerna manusia. Salah satu jalan untuk mencapai hakikat adalah dengan ilmu. Sedangkan ilmupun tak memiliki batas. Pertanyaan saya apakah tujuan kita mencari hakikat jika hakikat tidak berbatas?

    ReplyDelete
  41. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Saya terdiam dalam kebingungan saya, memikirkan apakah hakekat itu. Yang saya baca adalah: "Hakekat-hakekat itu adalah akal dan pikiranmu... Sebenar-benar hakekatmu, yaitu batas pengetahuanmu sendiri."
    tak akan kita menemukan hakekat kita jika kita berhenti mencari pengetahuan kita. Tak pernah cukup dan tak seharusnya berhenti. Itulah hakekat kita.

    ReplyDelete
  42. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Penampakan dari dirikita adalah dirikita sendiri, yang tercermin dalam akal dan pikiran kita. Untuk mencapai hakekat bukanlah hal yang mudah. Karena dari hakekat terdapat pula hakekat lainnya. Hakekat dibalik kala pikiran kita adalah akal pikiran kita itu sendiri. Akal pikiran mempunyai batasan yang bersifat infinite regress. Oleh karena keterbatasan akal pikiran manusia, maka kemampuan untuk memahami hakekat-hakekat yang ada bukanlah hal yang mudah.

    Demikian, terimakasih.



    ReplyDelete
  43. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    terimakasih pak... ilmu yang saya tangkap dari elegi penampakan ini adalah sesungguhnya ilmu itu semakin didapat maka akan semakin haus. maka dari itu tiada kata akhir dalam mencari ilmu. dibelakang hakikat ada hakikat terus begitu. sama dengan halnya mencari ilmu terus menerus secara continu.. tidak terputus hingga Allah mencabut nyawa si pencari ilmu tersebut.

    ReplyDelete
  44. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Elegi menggapai penampakan mengajarkan bahwa apa yang kita lihat tidak sepenuhnya sama dengan apa yang kita pikirkan, begitu pula dengan ilmu yang kita miliki, apa yang kita rasa ketahui belum tentu seperti apa yang kita ketahui. Sebagaimana yang disampaikan pada elegi tersebut yaitu setinggi-tingginya ilmu adalah tidak dapat mengerti apapun, sedangkan serendah-rendahnya ilmu adalah merasa bisa mengerti apapun. Pada dasarnya, elegi ini memberi pesan agar kita tidak menjadi pribadi yang sombong dan mudah puas dengan ilmu yang kita miliki sebab dalam hidup ini ada banyak hal yang nyatanya tidak kita ketahui.

    ReplyDelete
  45. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Dari elegi diatas kita dapat memahami bahwa dalam menggapai penampakan kita harus mereflesikannya terhadap diri sendiri. Kita juga memahami bahwa sebenar-benar orang yang berilmu adalah orang yang merasa bahwa ilmu nya masih sedikit.

    ReplyDelete
  46. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Untuk mengetahui siapa sebenarnya diri kita bukan dilihat dari pengakuan diri kita sendiri. Karena pada dasarnya diri kita bukanlah diri kita. Karena pada kejadian yang nyata, sebenarnya aku adalah bukan aku. Jadi tidak ada sifat identitas dalam dunia kenyataan. Dalam diriku masik ada diriku yang lain. dalam fikiranku masih ada fikiranku yang lain, di dalam akal ku masih ada akal yang lain. jadi, kita merupakan susunan dari berbagai macam yang menjadi bayangan satu sama laiinya. Jadi, ketidaktahuan tentang hakikat diri kita sendiri itulah yang akan membuat kita akan terus berfikir dan berfikir. Pengetahuan bisa dikatakan sebagai asimtot yang tida memiliki unung pangkalnya, selalu saja akan berdekatan dengan nilai 0 namun tida berada pada nilai 0.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  47. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamualaikum wr.wb.
    Terimakasih banyak prof. Marsigit atas postingan di atas. Menggapai penampakan diri yang hakiki tentu bukanlah mudah. Apa yang orang lain tampakkan dihadapanku belum tentu penampakan dirinya. Apa yang aku tampakkan untuk orang lain, belum tentu penampakan diriku yang sebenarnya. Benar sekali bahwa penampakan ku dan orang lain kadang-kadang bersifat tunggal namun juga jamak. Artinya, kita dapat menampakkan sesuatu yang konsisten namun bisa juga labil. Sebagai makhluk Allah swt, tidak ada yang dapat sempurna karena hakikatnya kesempurnaan penampakan sifat, kekuasaan, kebijakan, dan kekuatan hanya milik Allah swt. Kita sebagai hambaNya hanya mampu menampakkan apa adanya dari diri kita, meski harus berubah-rubah setidaknya kita berani menjadi diri sendiri. Itulah hakikat yang dimiliki manusia. Pandai-pandailah kita menemukan hakikat diri kita, dan kalaupun bisa hakikat pada diri orang lain juga meskipun kita tidak pernah sampai untuk mengerti hakikat kita dan orang lain, namun setidaknya kita telah mencoba dan berusaha menampakkan apa yang ada dalam diri kita tanpa pengaruh penampakan orang lain.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  48. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi menggapai penampakan menjelaskan tentang bagaimana kita menggapai diri kita dan juga hakekat itu sendiri, artinya bahwa sebenar-benarnya hakekat kita adalah batas pengetahuan kita. Pikiran kita itu tidak terbatas, dan tidak terbatas berarti tidak memiliki batas, dan tidak memiliki batas dapat berarti berputar-putar melampaui batasnya. Dan sebenar-benarnya hakekat adalah pikiran dan hati dari pikiran dan hati kita sendiri.

    ReplyDelete
  49. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Tampak jelas tercermin sifat manusia yang sebenar-benarnya sifat. Merasa paham tapi sebenarnya tidak paham, merasa paham tetapi berbicara paham. Tidaklah seseorang itu berkata jujur tentang ilmunya. Berifat rendah diri juga perlu. Selama kita mempunyai ilmu yang lebih tinggi dan banyak, janganlah berlaku sombong. Karena benar sifat kita itu terikat ruang dan waktu. Sombong dapat menutupi ilmu itu sendiri. Nyataya, ilmu itu bersifat luas. Perlu kekonsistenan untuk menimba ilmu.

    ReplyDelete
  50. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Dari elegi menggapai penampakan ini kita belajar bahwa dibalik suatu penampakan yang jumlahnya sangat banyak dan beragam ada hakekat yang beridiri disana. Dibelakang hakekat itupun masih ada hakekat kedua, hakekat ketiga dan seterusnya. Dibalik hakekat selalu ada hakekat ke n+1 hingga kita sampai pada batas pikiran kita.

    ReplyDelete
  51. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Penampakan merupakan apa yang kita rasakan ataupun kita pikirkan. Terkadang kita merasa bahwa kita sudah banyak mengetahui segala sesuatu sehingga merasa hebat dalam segala hal. Padahal dalam berbagai hal manusia sebaiknya tidak memiliki kesombongan. Padahal dengan sombong, maka ilmu yang akan didapat lebih sedikit, karena seseorang yang sombong akan merasa dirinya sudah bisa dan enggan untuk belajar lagi dan lagi.

    ReplyDelete
  52. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Dalam elegi ini saya menangkap bahwa yang tampak bukanlah satu-satunya sifat yang dimiliki sebuah obyek, melainkan banyak sifat yang tidak tampak dan dibalik yang tampak terhadapat hakikat dibalik hakikat 2 dan seterusnya sampai hakikat ke-n+1. Maka tidaklah bijak jika kita menilai sifat suatu obyek hanya dari yang tampak dari obyek yang kita nilai, karena itu bukanlah hakikat dari obyek tersebut.

    ReplyDelete
  53. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof untuk ilmu yang sudah diberikan.
    Setelah membaca ulasan di atas, saya menyadari bahwa mengetahui satu hakekat saja sangat sulit. Namun, ini tentunya diimbangi dengan kemauan untuk mencari dan membaca. Kemudian, saya menyadari bahwa pengakuan tidak dapat mengetahui segala hakekat yang ada adalah hal yang sangat diperlukan. Jika hanya mempertanyakan semua yang ada juga tidaklah mampu untuk dijawab semuanya. Menyadari, mencari, menemukan dan memaknai menurut saya dapat dijadikan sebagai bentuk ikhtiar dalam hidup.

    ReplyDelete
  54. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Terkadang kita menganggap perbuatan kita benar, padahal mungkin orang lain menganggap kita salah. Jadi sering-seringlah meminta nasihat orang lain, sehingga kita mendapat refleksi diri kita dari berbagai macam sudut pandang. Kemudian orang yang mengaku berilmu bisa dikatakan sombong, karena hakekat berilmu itu kita sedang akan menggapai ilmu.

    ReplyDelete
  55. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Filsafat meliputi apa yang ada dan mungkin ada. Jika kita memandang sesuatu dan mengetahui itu apa, maka apa yang kita lihat berkesinambungan dengan apa yang kita pikirkan. Namun belum tentu sama dengan apa yang dilihat orang. Di zaman sekarang, apabila kita melihat suatu kejadian lalu dipengaruhi oleh pendapat-pendapat orang, dan kita secara sepihak langsung memutuskan untuk mempercayainya tanpa menyelidiki terlebih dahulu, maka kita telah menjadi korban keserakahan diri sendiri. Itulah yang disebut hoax pada zaman sekarang. Banyak pihak yang menginginkan kita berpikir dan mempercayai apa yang mereka percayai, padahal belum tentu kita sanggup memikirkannya. Lihat lagi ke dalam diri kita sendiri, apakah kita sudah benar-benar tahu, atau hanya sok tahu. Sesungguhnya hal yang lebih buruk daripada tidak tahu apa-apa adalah berpikir bahwa dirinya tahu segalanya.

    ReplyDelete
  56. Riandika Ratnasari
    17709252043
    PPs PM B

    Terkadang kita terlalu sombong dengan ilmu yang kita miliki. Kita menganggap diri kita yang paling pintar. Hingga tak mau mendengarkan pemikiran dan omongan orang lain. Padahal sebenar-benarnya orang hidup tidak ada yang paling pintar selain Tuhan dan tidak ada yang memiliki kekuasaan yang paling tinggi selain Tuhan. Tuhan yang maha tau saja mau mendengarksn setiap keluh kesah umatnya. Oleh karena itu, kita sebagai manusia ciptaanNya juga haru selalu mau mendengarkan oranglain, entah itu perkataan, nasihat, ilmu, dll.

    ReplyDelete
  57. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    dari tulisan tersebut hal yang dapat saya ambil adalah bahwasanya apa yang terlihat di mata kita, apa yang kita pikirkan dan ilmu yang kita punya memiliki keterbatasan. kita sebagai manusia harus selalu rendah hati, menyadari bahwa apa yang kita miliki hanyalah sebagian kecil dari kekuasaan Allah.

    ReplyDelete
  58. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Untuk dapat menemuakan hakekat kita harus mempunyai ilmu, dimana ilmu itu terus berkembag dan tidak ada batasnya. Maka dari itu kita harus terus belajar dan belajar agar kita dapat menjadi orang yang selalu memperoleh ilmu. Semakin tinggi ilmu seesorang maka akan semakin banyak ilmu yang akan terus dicari sehingga mereka selalu merasa mereka belum menjadi orang yang berilmu. Akan tetapi orang yang mempunyai ilmu sedikit, mereka akan mengatakn merekalah orang berilmu, itulah semakin menandakan jika mereka orang yang tidak berilmu.

    ReplyDelete
  59. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Postingan ini membahas mengenai penampakan, yang dirasakan, dilihat, dan didengar. Hal yang mau saya bahas adalah mengenai pertanyaan “Batas pikiranku itu terbatas atau tidak terbatas?”. Jawabannya dari pertanyaan ini berkesan untuk saaya, yaitu infinite regress, karena memang manusia diciptakan dengan bermilyar-milyar sel otak yang dapat diisi dengan pengetahuan-pengetahuan. Oleh karena itu masih banyak pengetahuan yang dapat kita isi dalam pikiran kita, hanya sifat manusialah seperti sombong (merasa ilmunya sudah banyk sehingga tidak perlu mencari ilmu lagi), merasa tidak mampu untuk menggapai pengetahuan itu, padahal saat seseorang membatasi tidak mampu menggapai penampakan pengetahuan tersebut tentu saja dia tidak akan menggapai pengetahuan tersebut. Sehingga pembatasan berasal dari batas yang kita gunakan bukan karena penampakan pikiran kita.

    ReplyDelete
  60. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Penampakan adalah hasil dari apa yang kita lihat, kita dengar, kita rasakan, dan kemudian kita pikirkan. Persepsi setiap orang terhadap penampakan dari suatu hal bisa jadi berbeda-beda. Hal ini dikarenakan cara pandang terhadap penempakan tersebut didasari oleh ilmu yang dimiliki. Beda tingkatan ilmu tentu beda cara cara pandang terhadap suatu penampakan. Itulah pentingnya ilmu. Namun sebenar-benar ilmu adalah yang mampu membuat kita sadar dan paham bahwa kita hanyalah memiliki sebagian kecil dari ilmu itu, bukan yang meninggikan ilmu yang kita miliki dengan kesombongan.

    ReplyDelete
  61. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  62. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Apa yang Nampak dari diri kita adalah pikiran kita. Akal dan pikiran adalah hakekat. Tetapi dibalik hakekat ada hakekat, maka dibalik pikiran ada pikiran lainnya, dibalik pikiran lainnya ada pikiran lainnya lainnya, terus hingga menggapai batas pikiran. Padahal sebagai seorang manusia kita tidak pernah tahu batas pikiran kita, maka kita tidak akan pernah tahu hakekat diri kita. Maka kita tidak dapat menampik bahwa kita sebenarnya tidak memahami hakekat apapun, karena bagaimanalah kita akan mengetahui hakekat hal lain jika hakekat diri kita saja kita tidak tahu. Dengan kesadaran bahwa kita tidak mengetahui hakekat apapun seharusnya menyadarkan kita untuk terus belajar dan belajar, mencari ilmu dan terus mencari ilmu.

    ReplyDelete
  63. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    “Di balik hakekat 1, terdapat hakekat 2. Di balik hakekat 2, terdapat hakekat 3, demikian seterusnya”. Oleh karena itu hendaknya kita tidak sombong dengan ilmu yang kita miliki, karena ilmu kita ternyata masih terbatas. Semakin kita memperoleh ilmu semakin kita tahu bahwa masih banyak yang belum kita ketahui, karena ilmu itu sangat luas.

    ReplyDelete
  64. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B


    Jadilah seperti padi, semakin berisi semakin menunduk. Orang yang berilmu semakin tinggi keilmuannya semakin ia pandai merendahkan hatinya namun sebaliknya orang yang tidak berilmu tidak memiliki kesadaran untuk merendah. Pandangannya seolah tertutup dengan rasa kecukupan dan ketidakkurangan dirinya sehingga ia tidak mampu melihat kekurangan dirinya dan enggan mengakui kelebihan orang lain seta merasa pantas untuk menyombongkan diri. Maka galilah terus ilmu di atas kesadaranmu agar kamu memahami hakekat sesuatu dan memahami cara merendahkan hati.

    ReplyDelete
  65. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Penampakan pada dasarnya adalah hakekat. Untuk menemukan suatu hakekat butuh pemikiran yang tidaklah mudah. Saya sangat tertarik dengan pernyataan bahwa ilmu kita yang tertinggi adalah pengakuan bahwa kita tidak dapat menemukan hakekat, dan ilmu kita yang paling rendah adalah kita merasa mudah untuk menemukan hakekat.

    ReplyDelete
  66. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Sebenar-benar diriku adalah penglihatanmu. Apalah artinya pengakuanku, jika itu tidak sesuai dengan penglihatanmu. Dalam kalimat ini saya pahami bahwa orang lain tidak menilai apa yang ada didalam pikiran, apa yang ada didalam hati, tetapi apa tindakan kita. Orang lain tidak menilai niat kita tetapi kenyataan perbuatan kita. Apakah ini berarti bahwa niat baik akan sia – sia jika dimata orang lain hasilnya tidak baik?

    ReplyDelete
  67. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Sebenarnya apa yang dapat kita lihat merupakan penampakan dari apa yang kita pikirkan dan juga sebaliknya, apa yang dipikirkan belum tentu akan ada penampakan. Berarti penglihatan belum tentu melihat apa yang ada dan mungkin ada sesuatu hal dalam pikiran. Oleh karena itu, dapat diartikan penglihatan mampu memikirkan penampakan. Pada hakekat akal pikiran manusia adalah kesadaran diri manusia. Pikiran manusia yang terbatas itulah hakekat dari segala hakekat yang ada dalam penampakan yang ada dan mungkin ada.

    ReplyDelete
  68. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  69. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Penampakan itu meliputi segala yang ada dan yang mungkin ada. Penampakan merupakan proyeksi dari pikiran kita, apa yang kita lihat, apa yang kita pikirkan, untuk kemudian kita interpretasikan ke dalam berbagai bentuk. penampakan yang kita lakukan sesungguhnya adalah ilmu yang kita miliki. Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun.

    ReplyDelete
  70. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Penampakan di sini saya artikan sebagai refleksi atau bayangan seseorang, namun jika dipahami lagi semakin lama semakin kabur antara penampakan 1, penampaka 2 dan dirinya sendiri. Mungkin arti penampakan 1 maupun penampakan 2 bahkan penampakan yang lkain ialah dimensi yang berbeda dari seseorang. Pada awal elegi dibahaslah penampakan 1 dan penampakan 2, lantas selanjutnya dibahas hakikat 1, hakikat 2, dan seterusnya. Sedangkan hakikat pada elegi sebelumnya sangatloah dalam dan tidak dapat menemukannya kecuali seseorang tersebut mampu menyelami hatinya sendiri. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  71. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Menukil pendapat dari orang tua berambut putih yang mengatakan bahwa hakikat ialah batas pengetahuan seseorang, serta seseorang tidak akan menemukan hakikatnya sendiri jika ia tidak memiliki ilmu. Dari sua penyataan tersebut dapat ditarik benang merahnya bahwa seseorang yang tidak berilmu mustahil dapat melampaui hakikatnya atau bahkan tidak dapat mengetahui hakikatnya sendiri, jika dikaitkan dengan spiritual, maka belajar ialah kewajiabn seseorang hari buaian ibunya sampai diturunkannya ke liang lahat. adapun belajar ialah perintah tuhan, maka seorang yang mengabaikan belajar maka ia takkan dapat mengenal tuhannya dengan baik. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  72. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Penampakan segala sesuatu yang terlihat, Nampak. Seseeorang mampu melihat penampakkan karena dia punya penglihatan, seseorang punya penglihatan karena dia punya pikiran, seseorang punya pikiran karena dia memikirkan, maka dia berilmu. Sebenar-benar ilmu adalah tidakmengetahui hakekat penampakan. Jika mengetahui maka ilmu mu adalah kesombongan.

    ReplyDelete
  73. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Penampakan merupakan refleksi dari penglihatan manusia. Yang diteruskan ke pikiran sehingga dicerna dan diidentifikasi sesuai dengan pengalaman yang dimiliki. Maka, sebenar-benar pengelihatan ialah akal dan pikiran kita. Artinya akal bertugas menentukan bagaimana kita mengidentifikasi yang kita lihat sesuai dengan pikiran kita. Oleh sebab itu dapat pula disebut dengan hakekat. Hakekat ialah pengertian dari suatu hal yang dikemukakan seseorang berdasarkan aka dan pikirannya. Bahkan aka dan pikiran pun memiliki hakekat dan dapat dicari pengertiannya serta dapat dipikirkan. Maka sesungguhnya kita tidak mengetahui apa-apa tentang pikiran kita, apalagi yang tidak kita pikirkan.

    ReplyDelete
  74. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Pengetahuan objektif adalah pengetahuan yang benar menurut kita, dan juga benar menurut orang lain, cara menjadikan pengetahuan yang kita miliki bisa menjadi pengetahuan objektif yaitu kita persentasikan atau seminarkan sehingga orang lain dapat melihat dan memberikan saran atau masukan. Sesungguhnya apa yang dilihat merupakan penampakan dari apa yang dipikirkan dan sebaliknya, apa yang dipikirkan belum tentu ada penampakan. Berarti penglihatan belum tentu melihat ada dan mungkin ada sesuatu hal dalam pikiran. Jadi dalam menggapai penampakan, maka harus sadar akan hakekat yang dimiliki dari suatu penampakan tersebut. Semakin dalam menggapai hakekat akan semakin dalam menggapai penampakan.

    ReplyDelete
  75. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Terima kasih Prof. atas elegi nya. Dari elegi ini dapat dilihat perbincangan antara penampakan 1 dan penampakan 2 yang berujung pada pengakuan mereka bahwa mereka adalah hakikat 1 dan hakikat 2. Tetapi mengutip perkataan orang tua berambut putih bahwa sebenar-benar pengakuan menemukan hakikat adalah fatamorgana. Hal ini berarti sosok penampakan 1 dan penampakan 2 telah melakukan hal yang dapat disebut sebagai kesombongan karena mengaku sebagai hakikat padahal ilmu mu yang tinggi adalah pengakuan dirimu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakikat apapun.

    ReplyDelete
  76. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam elegi ini diceritakan tentang bagaimana menggapi penampakan. Penampakan yang dimaksud disini adalah hakekat yang ingin dicapai. Seseorang dikatakan berilmu ketika dia tidak dapat mengerti apa yang telah dia mengerti, namun seseorang yang belum berilmu terkadang akan dengan lantangnya mengatakan bahwa dai mengetahui akan sesuatu hal tersebut.

    ReplyDelete
  77. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dalam elegi ini terlihat bahwa untuk melihat hakikat tentu hal itu bisa yang tampak atau dapat dilihat namun juga bisa yang tak terlihat. Antara yang ada dalam pikiran dan antara yang terlihat. Dikatakan juga bahwa hakekat itu pikiran kita, pengetahuan. Kemudian untuk mengetahui hakekat kita perlu menggunakan pikiran kita, namun ini dapat bersifat terbatas dan tak terbatas. Seperti yang telah di contohkan dalam elegi diatas. Dan ketika membahas tentang tampak tidak tampak ini ada kaitannya juga dengan fenomena. Fenomena adalah sesuatu yang tampak, adapun noumena adalah yang tak nampak.

    ReplyDelete
  78. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Secara filsafat manusia adalah hakekat, di dalam diri manusia ada hakekat yang tidak terbatas, maka penampakan kita pun akan bergantung pada hakekat dirinya masing-masing, menyadari bagaimana dirinya yang sebenarnya, menyadari sebatas/sejauh apa pengetahuan/ akal dan pikirannya sendiri. Sekian dan Terima kasih
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  79. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B 2017

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Penampakkan adalah segala sesuatu yang tampak dan bisa dilihat, ada wujudnya. Diri kita merupakan hakekat dari pikiran kita. Jadi, diri kita itu merupakan wujud dari pikiran kita. Jika demikian, saya ingin bertanya Prof, apakah kita boleh menilai sesorang itu dari luarnya saja? karena kita tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya, sedangkan menurut elegi ini, diri kita merupakan wujud dari pikiran. Terima kasih sebelumnya Prof.

    ReplyDelete
  80. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Penampakan adalah sesuatu yang kita lihat atau kita pikirkan. Dia bisa mencakup semua yang ada (untuk dilihat) dan yang mungkin ada (untuk dipikirkan). Dia bersifat terbuka sekaligus tertutup. Dia terbuka apabila hanya kita lihat atau pikirkan saja tanpa diucapkan. Sebaliknya dia akan menjadi tertutup apabila kita tidak hanya melihat atau memikirkan, tetapi juga mengucapkannya.
    Sebenar-benar penampakan diri kita adalah diri kita sendiri pada batas penglihatan dan pikiran kita. Itulah sebenar-benar pengetahuan (ilmu) kita yang sangat terbatas. Tiadalah kita dapat melihat semua yang ada dan memikirkan semua yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  81. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi menggapai penampakan ini menjelaskan tentang bagaimana kita menggapai diri kita dan juga hakekat itu sendiri, artinya bahwa sebenar-benar hakekat kita adalah batas pengetahuan kita. Pikiran kita itu tidak terbatas dan tidak terbatas berarti tidak memiliki batas, dan tidak memiliki batas bisa berarti berputar-putar melampaui batasnya. Sebenar-benarnya hakekat adalah pikiran dan hati dari pikiran dan hati kita sendiri.

    ReplyDelete
  82. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Penampakan adalah segala yang tampak dan dapat dilihat dengan penglihatan. Dalam hal ini seala penampakan itu adalah hakikat. Hakikat dari hakikat adalah hakikat. Maka tiada habis perkara untuk mendefinsikannya. Sebenar-benar hakikat adalah apa dan bagaimana kita melihat penampakan di depan dan disebaliknya. Artinya menggapai hakikat itu akan memiliki batas sesuai batas pemikiran kita.

    ReplyDelete
  83. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Sesungguhnya masalah mengenai penampakan itu hanya berbeda dari cara pandang kita akan suatu obyek yang sedang diamati. Pesawat yang besar akan terlihat hanya sebagai sebuah titik bila dipandang dari kejauhan. Begitu pula dengan bumi kita yang hanya akan terlihat sebagai sebuah titik jika dipandang dari planet mars. Padahal kita tahu sendiri bahwa permukaan bumi itu sangat kompleks bentuknya. Semutpun yang terlihat sebagai sebuah titik akan terlihat menyeramkan bentuknya jika dilihat dari mikroskop. Jadi perbedaan cara pandang yang menyebabkan perbedaan penampakan.

    ReplyDelete
  84. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Dalam elegi kali ini pun pelajaran yang dapat saya ambil adalah untuk tidak merasa sombong dengan ilmu yang dimiliki. Ilmu yang tertinggi adalah pengakuan bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Karena pada setiap penampakan yang terlihat terdapat suatu hakekat dan dibalik hakekat itu terdapat hakekat-hakekat lainnya.

    ReplyDelete
  85. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Berdasarkan elegi ini saya mengambil pelajaran bahwa penilaian terhadap suatu hal adalah berdasarkan persepsi kita sendiri, pemikiran kita akan hal tersebut. Ketika kita berusaha objektif menilai sesuatu maka kita akan belajar banyak hal. Dalam permbelajaran ini kita akan menemukan pertanyaan dan jawaban dari banyak hal. Senantiasa merasa tidak tahu sehingga terus belajar adalah makna belajar sepanjang hidup

    ReplyDelete
  86. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Memiliki pemahaman bahwa seseorang merasa bisa melakukan segalanya merupakan serendah-rendahnya tingkat orang yang berilmu. Itu artinya ia sombong, padahal tak ada yang bisa ia sombongkan karena semua yang ia miliki hanyalah titipan Tuhan. Jika tidak bisa menjaganya dengan baik maka Tuhan dapat kapan saja mengambil apa yang telah ia miliki selama ini. Maka bertaubatlah dan mohon ampun kepadaNya agar apa yang kita miliki saat ini tidak segera diambil. Bersyukr agar nikma yang kita miliki semakin ditambah.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  87. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Melanjutkan koentar saya yang sebelumnya, jika kita merasa tidak memiliki apa-apa, merasa ilmu yang kita miliki sangat sedikit, maka itulah setinggi-tingginya tingkatan orang yang berilmu. Dalam setiap langkah hidupnya, ia akan terus dan terus menuntut ilmu dan merasa haus akan ilmu. Allah menjanjikan derajat yang lebih tinggi untuk orang-oang yang berilmu. Bahkan bagi mereka yang meninggal saat sedang mencari ilmu, mati sahid lah pahalanya dan surga siap membukakan pintu untuknya. Karena ia meninggal dalam keadaan sedang berperang di jalan Allah. Semoga kita termasuk orang-orang yang meras kurang akan ilmu yang telah kita miliki dan mendapatkan surganya.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  88. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 2017

    Hakikat dapat diartikan sebagai inti dari sesuatu atau sifat-sifat umum dari sesuatu. Hakikat-hakikat dapat kita gapai apabila kita telah mendalami dan berpikir secara dalam dan luas. Namun, kita akan selalu menemukan bahwa kita sebenarnya belum mengetahui hakikat dari sesuatu.
    Sungguh pelajaran terbesar yang dapat saya pelajari adalah bahwa saya harus masih banyak belajar.

    ReplyDelete
  89. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    penampakan merupakan ada, dan pikiran merupakan yang mungkin ada. tidak selalu apa yang kita pikirkan akan sama atau sesuai dengan penampakannya. contohnya dalam pikiran yang sombong, dalam pikiran kita berpikir bahwa kita yang terbaik, namun pada penampakan atau kenyaannya ada yang lebih baik dari kita. maka lagi-lagi kita juga diajarkan agar tidak sombong.

    ReplyDelete
  90. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Diri kita semua sebenarnya merupakan penampakan dari apa yang kita lakukan. Apa yang kita lakukan merupakan penampakan dari apa yang kita rasakan di dalam hati. Jadi intinya adalah hati yang baik akan memberikan penampakan yang baik pula bagi diri sendiri maupun orang lain. karena sebenar-benarnya diri kita adalah anggapan orang lain secara objektif terhadap diri kita.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  91. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Setinggi-tingginya ilmu adalah keadaan dimana kita merasa masih banyak hal belum kita pahami, sehingga akan memacu kita untuk terus dan terus berusaha, belajar untuk mencari dan memahami ilmu. Sedangkan serendah-rendahnya ilmu adalah orang yang menggap bahwa dia sudah mengerti dan memahami segalanya. Dengan demikian dia sendirilah yang membatasi ilmu, sedangkan kita tahu bahwa ilmu sangatlah tidak terbatas. Dengan memiliki perasaan bahwa dirinya telah memahami ilmu, maka tidak akan ada lagi keinginan untuk mencari ilmu lagi. Dan pengetahuannya akan berhenti. Ilmu bisa berasal dari penampakan yang terlihat. Yang mengendalikan batasan hakekat, ilmu, pengetahuan adalah akal dan pikiran kita sendiri.

    ReplyDelete
  92. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Asslamilaikum Wr. Wb. Yang tidak tampak bukan berarti taka da. Yang tidak tampak adalah entitas dengan cirinya tersendiri, sehingga untuk menggapai wujudnya, terlebih dahulu kita harus mempelajari pengetahuan tentang yang tidak tampak itu. Itulah fungsi filsafat yaitu untuk mengenali apa yang tak tampak maupun yang mungkin/tidak tampak. Lebih sering kita temui kebenaran tidak tampak di permukaan, sehingga untuk mengungkap kebenaran itu dibutuhkan pengetahuan yang luas analisa kritis yang baik.

    ReplyDelete
  93. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa penampakan itu merupakan hakekat. Apa yang bisa dilihat itu adalah penampakan. Dari penampakan itu maka akan dapat disebutkan hakekat-hakelat dari yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  94. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Penampakkan merupakan suatu objek atau benda yang dapat ditangkap oleh panca indra kita. Penampakan merupakan bagian dari suatu fenomena, dengan adanya penampakkan membantu kita dalam merencanakan suatu tindakan yang akan dilakukan sebagai contoh penampakkan siswa dikelas yang tidak paham, bisa dilihat dari gesture atau nilai latihan serta nilai ulangan. Dengan fenomena-fenomena tersebut kita dapat merancang suatu pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam menuntaskan pengetahuannya.

    ReplyDelete
  95. Siti Efiana
    15301241029
    S1- Pend.Mat I 2015

    Terima kasih atas artikelnya, Prof. Saya menjadi semakin menyadari bahwa antra pikiran, tindakan, dan hati harus selaras seperti yang dijelaskan oleh penampakan 1. Selain itu, dalam memandang suatu hal kita tidak boleh hanya melihat tampang luar (penampakannya) saja, namun cobalah untuk melihat dari berbagai sudut pandang karena panca indera terkadang menipu.

    ReplyDelete
  96. Febriana Putri Hutami
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241007

    Dari elegi menggapai penampakkan diketahui bahwa penampakkan di sini sebenarnya adalah cerminan dari diri kita sendiri. Penampakkan mencerminkan hakekat diri kita sendiri. Penampakkan mencerminkan pikiran dan ilmu yang kita miliki. Ilmu dianggap tinggi jika kita menyadari bahwa kita tidak mengetahui apa pun tentang hakekat, sedangkan ilmu kita rendah jika kita merasa kita mengetahui hakekat apa pun.

    ReplyDelete
  97. Siti Nur Fatimah
    15301241045
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Penampakan adalah sesuatu yang terlihat, sesuatu yang bisa ditangkap oleh panca indra. Yang tidak tampak bukan berarti tak ada. Jangan melihat hanya dari satu sudut pandang. Penampakkan ini mencerminkan hakekat diri sendiri, mencerminkan pikiran dan ilmu yangkita miliki.

    ReplyDelete
  98. Woro Alma Manfaati
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241002

    Sebetulnya yang tampak pada diri kita dalah pikiran kita sendiri dan dibalik pikiran kita terdapat pikiran-pikiran lainnya yang berlanjut hingga mencapai batas pikiran. Begitu juga ilmu, orang yang berilmu tinggi tidak akan cepat puas terhadap apa yang dia pelajari dan akan terus memahami ilmu. Sedangkan orang yang rendah ilmunya mereka akan merasa sudah memahami segalanya. Dengan demikian hanya diri sendirilah yang membatasi ilmu.

    ReplyDelete
  99. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Hakekat meiliki arti yang yang mendalam dan juga memiliki arti yang luas. Untuk memahami hakekat dibutuhkan pengetahuan, kesadaran dan juga mpengalaman agar seseorang itu mampu mendefinisikan haekat dengan benar. Hakekat ini setipa orang memiliki arti yang berbeda-beda tergantung dari pengalaman dan juga tingkat kesadaran seseorang yang mendefinisikan hakekat.

    ReplyDelete
  100. Raudhah Nur Pratiwi (15301244009)
    S1- Pend. Matematika A 2015

    Bismillah,
    Apa yang dapat ditangkap oleh panca indra merupakan penampakan. Penampakan merupakan proyeksi dari apa yang kita pikirkan. Penampakan merupakan hakekat. Untuk memahami suatu hakekat tidaklah mudah. Oleh karena itu, hendaklah kita tidak sombong terhadap ilmu yang kita miliki, karena ilmu yang kita miliki sesungguhnya masih sangatlah terbatas.

    ReplyDelete
  101. Fitria Restu Astuti
    15301241040
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Sebenar-penar penampakan adalah apa yang terlihat oleh kita. melihat tidak hanya pada benda-benda yang nyata namun melihat dapat diartikan pula dengan melihat situasi di lingkungan sekitar kita. jika kita mampu memahami hakekat penampakan maka kita seharusnya mampu mendeskripsikan hal-hal yang kita lihat baik itu hal-hal yang sifatnya onkret ataupun hal-hal yang bersifat abstrak. Ketika kita mampu melihat hal-hal yang tidak tampak oleh mata berarti kita memiliki kepekaan yang cukup tinggi.

    ReplyDelete
  102. Almaida Alvi Zahrotunnisa
    15301241046
    Pendidikan Matematika A 2015
    "Sebenar-benar hakekat 3 adalah akal dan pikiran hakekat 2 dan hakekat 1. Tetapi bukanlah engkau maklum, bahwa dibalik hakekat 3 itulah berada hakekat 4. Dibalik hakekat 4 itulah berada hakekat 5. Dibalik hakekat 5 itulah hakekat 6, ....., dibalik hakekat n itulah hakekat n + 1."
    Hakekatnya jangan sombong dengan apa yang telah dimiliki. Diatas langit tentu masih ada langit. Masih banyak orang lain yang memiliki banyak hal lebih dari kita, pun masih banyak orang lain yang memiliki hal kurang dari kita.

    ReplyDelete
  103. Isykarima Nur S
    15301241032
    S1 Pend. Matematika A 2015

    Pertama saya melihat judulnya saya piker akan menjadi penampakan makhluk gaib hehe
    Setelah saya baca ternyata penampakan adalah apapun yang tampak, yang dapat di lihat oleh mata, maupun dirasakan atau di tangkap oleh indera lain.

    ReplyDelete
  104. Alman Kresna Aji
    15301241022
    S1 Pendidikan Matematika 2015
    Saya tertarik dengan tanggapan penampakan 2 terhadap pertanyaan penampakan 1 “mengapa engkau menampakan diri di hadapanku?”, dan ditanggapi “sebenar-benarnya diriku adalah pengelihatanmu, apalah artinya pengakuanku”. Banyak sekali hal tersirat di kalimat tersebut. Dari pandangan saya secara singkat, hal ini menunjukan dan memberikan pembelajaran bahwa suatu ilmu tersebut hanya dapat didapatkan secara komprehensif apabila peserta didik mau untuk memaknai pengetahuan tersebut. Apalah guna ilmu tersebut apabila dari diri peserta didik tidak memaknainya. Karena pada daarnya untuk mendapatkan kesejatian dari ilmu tersebut tidak harus dijelaskan oleh pendidik melainkan bisa dari usaha dari peserta didik untuk memaknai ilmu tersebut

    ReplyDelete
  105. Norma Galih Sumadi
    15301241038
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    “Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun”. Kalimat tersebut menurut saya sangat menarik. Hal tersebut sejalan dengan fakta bahwa seseorang yang senantiasa belajar dan menggali ilmu pengetahuan akan sampai pada kesimpulan bahwa dirinya hanya mengerti secuil dari seluruh ilmu pengetahuan yang ada. Sebaliknya ketika seseorang merasa ilmu yang dimilikinya sudah sangat luas justru menandakan bahwa ia telah berhenti belajar dan menutup kemauannya untuk menerima pengetahuan lain.

    ReplyDelete
  106. Rina Musannadah
    15301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Seseorang yang berilmu biasanya selalu merasa banyak tidak tahu, sehingga mereka haus ilmu. Sedangkan orang yang sedikit ilmunya biasanya merasa telah mengetahui berbagai hal. Sebagaimana yang dikatakan oleh orang tua berambut putih, bahwa setinggi-tingginya ilmu mu adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak mengerti hakekat apapun, dan serendah-rendahnya ilmu mu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun.

    ReplyDelete
  107. Kristanti
    15301241041
    Pendidikan Matematika A 2015

    Memang benar bahwa sebenar benarnya ilmu yang tertinggi adalah ketika kita tau bahwa banyak hal tentang hakekat yang kita tidak tau. Sedangkan sebenar benar ilmu yang terendah adalah saat kita merasa bahwa kita sudah tau segala galanya tentang hakekat. Oleh karena itu, jangan pernah sombong dengan ilmu yang sudah kita dapatkan.

    ReplyDelete