Sep 20, 2013

Elegi Menggapai Penampakkan




Oleh Marsigit

Penampakkan benda-benda:
Besar, kecil, panjang, pendek, ......
...... indah, buram, hijau, jauh, dekat, terang, gelap, lembut, kasar, solid, terpecah, tetap, berubah, terus, terputus, berputar, bergoyang, tertutup, terbuka, terkunci, rapat, jarang, cepat, lambat, licin, tenggelam, terapung, tertumpuk, tergeletak, kuat, lemah, panas, dingin, baru, lama, modern, klasik, teratur, acak, tersedia, kosong, penuh, disiplin, malas, istirahat, hilang, muncul, capai, kusut, segar, semangat, loyo, subur, nyaman, kejam, empati, ide, pikiran, kata, kalimat, buku, dan semua benda-benda. Itulah penampakkanku. Penampakkanku kadang-kadang mandiri, kadang-kadang berkolaborasi. Penampakkanku kadang tetap kadang tidak tetap. Penampakkanku bisa sederhana, bisa sangat rumit. Bisa sedikit di balik penampakkanku, tetapi bisa banyak di balik penampakkanku. Tetapi sebenar-benar penampakkanku adalah untuk diriku sendiri. Itulah kekuatanku sekaligus kelemahanku. Kemandirian penampakkanku adalah identitasku. Ketidakmandirian penampakkanku adalah manfaat mereka. Maka sebenar-benar penampakkanku adalah terbuka sekaligus tertutup. Penampakkanku tertutup jika telah engkau ucapkan. Penampakkanku terbuka jika masih engkau pikirkan. Penampakkanku bisa engkau pikirkan sebagai apa saja. Aku bisa engkau pikirkan sebagi cahaya, sebagai gelombang, atau sebagai keduanya. Aku bisa engkau anggap sebagai nyata, tidak nyata atau khayal belaka. Aku bisa banyak dalam dirimu yang satu, dan aku bisa satu dalam dirimu yang banyak. Rumahku sembarang, tetapi tugasku sebagai saksi bagimu. Engkau bisa datang kapanpun, bisa juga pergi kapanpun, bisa juga tinggal sampai kapanpun. Tetapi aku tidak tahu kapan aku mulai dan kapan aku berakhir. Tetapi janganlah salah paham, karena sebenar-benar dirimu adalah diriku pula. Itulah sebenar-benar engkau, yaitu penampakkanmu pula. Maka sebenar-benar kita adalah satu, yaitu penampakkan.



Penampakkan 1:
Wahai penampakkan 2, siapakah sebenar-benar dirimu. Mengapa engkau menampakkan diri di depanku?

Penampakkan 2:
Sebenar-benar diriku adalah penglihatanmu. Apalah artinya pengakuanku, jika itu tidak sesuai dengan penglihatanmu. Aku menampakkan diriku tidaklah semata-mata karena diriku. Tetapi perkenankanlah aku juga ingin bertanya. Siapakah sebenar-benar dirimu. Mengapa engkau menampakkan diri di depanku?

Penampakkan 1:
Sebenar-benar diriku adalah pikiranmu. Apalah artinya penglihatanmu, jika itu tidak sesuai dengan pikiranmu. Aku hadir dalam pikiranmu tidaklah semata-mata karena diriku.

Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, kedengarannya engkau agak sombong. Siapakah yang berada di belakang dirimu itu?

Penampakkan 1:
Wahai penampakan 2, aku adalah pikiranmu. Jika engkau menuduhku bahwa aku berlaku sombong, bukankah itu menepuk air menimpa wajahmu sendiri. Yang berada dibelakang diriku adalah ilmumu.
Namun aku juga ingin bertanya, siapakah yang berada dibelakangmu itu?

Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, kelihatannya engkau ingin mengujiku. Engkau telah katakan bahwa yang berada di belakang dirimu adalah ilmuku. Mengapa engkau tanyakan siapa yang berada di belakang diriku? Bukankah menurutmu, yang berada di belakang diriku juga ilmumu?

Penampakkan 1:
Wahai penampakkan 2, kalau boleh aku akan sebut engkau bukan lagi penampakkan. Tetapi engkau akan sebut sebagai hakekat dirimu, atau hakekat 2 begitulah. Mengapa? Agar aku dapat sederhanakan saja penampakkan mu dengan yang berada di belakangmu sebagai hakekat mu begitulah.

Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, engkau belum menjawab siapa yang berada di belakangku, tetapi engkau sebut aku sebagai hakekat 2. Kalau begitu agar perbincangan kita lancar, engkau akan ku sebut pula hakekat 1.

Hakekat 1:
Wahai hakekat 2, cerdas pula ternyata engkau itu.

Hakekat 2:
Wahai hakekat 1, cerdas pula ternyata engkau itu.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Kita puas karena ternyata kita telah menemukan hakekat. Tetapi siapakah diri kita berdua ini?

Orang tua berambut putih datang:
Salam, hakekat 1 dan hakekat 2. Pertanyaanmu yang terakhir telah mengundangku untuk hadir di hadapanmu berdua. Ketahuilah bahwa sebenar-benar perbincanganmu berdua, aku telah mengetahuinya. Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa sebenar-benar pengakuanmu menemukan hakekat adalah fatamorgana, karena dibelakang hakekat dirimu berdua, masihlah terdapat hakekat pula, yaitu hakekat 3.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Salam juga, wahai orang tua berambut putih. Terimakasih engkau telah mengingatkanku. Karena dirimulah kita berdua dapat menemukan hakekat 3 dibalik hakekat 2 dan dibalik hakekat 1. Bolehlah aku bertanya kepadamu, apakah sebenar-benar hakekat 3 itu?

Orang tua berambut putih:
Sebenar-benar hakekat 3 adalah akal dan pikiran hakekat 2 dan hakekat 1. Tetapi bukanlah engkau maklum, bahwa dibalik hakekat 3 itulah berada hakekat 4. Dibalik hakekat 4 itulah berada hakekat 5. Dibalik hakekat 5 itulah hakekat 6, ....., dibalik hakekat n itulah hakekat n + 1.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Lalu apakah hakekat dari hakekat itu?

Orang tua berambut putih:
Dibalik hakekat adalah hakekat. Hakekat-hakekat itu adalah akal dan pikiranmu. Maka di balik akal dan pikiranmu itu adalah akal dan pikiranmu juga. Demikian seterusnya..sampai engkau menggapai batas pikranmu.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Lalu, di manakah batas hakekat atau batas akal dan pikiranku itu?

Orang tua berambut putih:
Tiadalah orang lain mengetahuinya, kecuali dirimu sendiri. Itulah sebenar-benar hakekatmu, yaitu batas oengetahuanmu sendiri.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Batas pikiranku itu terbatas atau tidak terbatas?

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar infinite regress. Tidak terbatas bisa berarti tidak mempunyai batas. Tidak mempunyai batas bisa berarti berputar-putar melampaui batasnya.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Aku bingung mengikuti uraianmu.

Orang tua berambut putih:
Bisakah engkau berdua mendefinisikan adalah ?

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah ...adalah ...

Orang tua berambut putih:
Menemukan hakekat adalah saja engkau tidak bisa, apalagi menemukan hakekat-hakekat yang lain. Itulah sebenar-benar dirimu. Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun.

35 comments:

  1. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Penampakan adalah hasil dari apa yang kita lihat, kita dengar, kita rasakan, dan kemudian kita pikirkan. Persepsi setiap orang terhadap penampakan dari suatu hal bisa jadi berbeda-beda. Hal ini dikarenakan cara pandang terhadap penempakan tersebut didasari oleh ilmu yang dimiliki. Beda tingkatan ilmu tentu beda cara cara pandang terhadap suatu penampakan. Itulah pentingnya ilmu. Namun sebenar-benar ilmu adalah yang mampu membuat kita sadar dan paham bahwa kita hanyalah memiliki sebagian kecil dari ilmu itu, bukan yang meninggikan ilmu yang kita miliki dengan kesombongan.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Apa yang Nampak dari diri kita adalah pikiran kita. Akal dan pikiran adalah hakekat. Tetapi dibalik hakekat ada hakekat, maka dibalik pikiran ada pikiran lainnya, dibalik pikiran lainnya ada pikiran lainnya lainnya, terus hingga menggapai batas pikiran. Padahal sebagai seorang manusia kita tidak pernah tahu batas pikiran kita, maka kita tidak akan pernah tahu hakekat diri kita. Maka kita tidak dapat menampik bahwa kita sebenarnya tidak memahami hakekat apapun, karena bagaimanalah kita akan mengetahui hakekat hal lain jika hakekat diri kita saja kita tidak tahu. Dengan kesadaran bahwa kita tidak mengetahui hakekat apapun seharusnya menyadarkan kita untuk terus belajar dan belajar, mencari ilmu dan terus mencari ilmu.

    ReplyDelete
  4. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    “Di balik hakekat 1, terdapat hakekat 2. Di balik hakekat 2, terdapat hakekat 3, demikian seterusnya”. Oleh karena itu hendaknya kita tidak sombong dengan ilmu yang kita miliki, karena ilmu kita ternyata masih terbatas. Semakin kita memperoleh ilmu semakin kita tahu bahwa masih banyak yang belum kita ketahui, karena ilmu itu sangat luas.

    ReplyDelete
  5. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B


    Jadilah seperti padi, semakin berisi semakin menunduk. Orang yang berilmu semakin tinggi keilmuannya semakin ia pandai merendahkan hatinya namun sebaliknya orang yang tidak berilmu tidak memiliki kesadaran untuk merendah. Pandangannya seolah tertutup dengan rasa kecukupan dan ketidakkurangan dirinya sehingga ia tidak mampu melihat kekurangan dirinya dan enggan mengakui kelebihan orang lain seta merasa pantas untuk menyombongkan diri. Maka galilah terus ilmu di atas kesadaranmu agar kamu memahami hakekat sesuatu dan memahami cara merendahkan hati.

    ReplyDelete
  6. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Penampakan pada dasarnya adalah hakekat. Untuk menemukan suatu hakekat butuh pemikiran yang tidaklah mudah. Saya sangat tertarik dengan pernyataan bahwa ilmu kita yang tertinggi adalah pengakuan bahwa kita tidak dapat menemukan hakekat, dan ilmu kita yang paling rendah adalah kita merasa mudah untuk menemukan hakekat.

    ReplyDelete
  7. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Sebenar-benar diriku adalah penglihatanmu. Apalah artinya pengakuanku, jika itu tidak sesuai dengan penglihatanmu. Dalam kalimat ini saya pahami bahwa orang lain tidak menilai apa yang ada didalam pikiran, apa yang ada didalam hati, tetapi apa tindakan kita. Orang lain tidak menilai niat kita tetapi kenyataan perbuatan kita. Apakah ini berarti bahwa niat baik akan sia – sia jika dimata orang lain hasilnya tidak baik?

    ReplyDelete
  8. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Sebenarnya apa yang dapat kita lihat merupakan penampakan dari apa yang kita pikirkan dan juga sebaliknya, apa yang dipikirkan belum tentu akan ada penampakan. Berarti penglihatan belum tentu melihat apa yang ada dan mungkin ada sesuatu hal dalam pikiran. Oleh karena itu, dapat diartikan penglihatan mampu memikirkan penampakan. Pada hakekat akal pikiran manusia adalah kesadaran diri manusia. Pikiran manusia yang terbatas itulah hakekat dari segala hakekat yang ada dalam penampakan yang ada dan mungkin ada.

    ReplyDelete
  9. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  10. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Penampakan itu meliputi segala yang ada dan yang mungkin ada. Penampakan merupakan proyeksi dari pikiran kita, apa yang kita lihat, apa yang kita pikirkan, untuk kemudian kita interpretasikan ke dalam berbagai bentuk. penampakan yang kita lakukan sesungguhnya adalah ilmu yang kita miliki. Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun.

    ReplyDelete
  11. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Penampakan di sini saya artikan sebagai refleksi atau bayangan seseorang, namun jika dipahami lagi semakin lama semakin kabur antara penampakan 1, penampaka 2 dan dirinya sendiri. Mungkin arti penampakan 1 maupun penampakan 2 bahkan penampakan yang lkain ialah dimensi yang berbeda dari seseorang. Pada awal elegi dibahaslah penampakan 1 dan penampakan 2, lantas selanjutnya dibahas hakikat 1, hakikat 2, dan seterusnya. Sedangkan hakikat pada elegi sebelumnya sangatloah dalam dan tidak dapat menemukannya kecuali seseorang tersebut mampu menyelami hatinya sendiri. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  12. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Menukil pendapat dari orang tua berambut putih yang mengatakan bahwa hakikat ialah batas pengetahuan seseorang, serta seseorang tidak akan menemukan hakikatnya sendiri jika ia tidak memiliki ilmu. Dari sua penyataan tersebut dapat ditarik benang merahnya bahwa seseorang yang tidak berilmu mustahil dapat melampaui hakikatnya atau bahkan tidak dapat mengetahui hakikatnya sendiri, jika dikaitkan dengan spiritual, maka belajar ialah kewajiabn seseorang hari buaian ibunya sampai diturunkannya ke liang lahat. adapun belajar ialah perintah tuhan, maka seorang yang mengabaikan belajar maka ia takkan dapat mengenal tuhannya dengan baik. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  13. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Penampakan segala sesuatu yang terlihat, Nampak. Seseeorang mampu melihat penampakkan karena dia punya penglihatan, seseorang punya penglihatan karena dia punya pikiran, seseorang punya pikiran karena dia memikirkan, maka dia berilmu. Sebenar-benar ilmu adalah tidakmengetahui hakekat penampakan. Jika mengetahui maka ilmu mu adalah kesombongan.

    ReplyDelete
  14. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Penampakan merupakan refleksi dari penglihatan manusia. Yang diteruskan ke pikiran sehingga dicerna dan diidentifikasi sesuai dengan pengalaman yang dimiliki. Maka, sebenar-benar pengelihatan ialah akal dan pikiran kita. Artinya akal bertugas menentukan bagaimana kita mengidentifikasi yang kita lihat sesuai dengan pikiran kita. Oleh sebab itu dapat pula disebut dengan hakekat. Hakekat ialah pengertian dari suatu hal yang dikemukakan seseorang berdasarkan aka dan pikirannya. Bahkan aka dan pikiran pun memiliki hakekat dan dapat dicari pengertiannya serta dapat dipikirkan. Maka sesungguhnya kita tidak mengetahui apa-apa tentang pikiran kita, apalagi yang tidak kita pikirkan.

    ReplyDelete
  15. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Pengetahuan objektif adalah pengetahuan yang benar menurut kita, dan juga benar menurut orang lain, cara menjadikan pengetahuan yang kita miliki bisa menjadi pengetahuan objektif yaitu kita persentasikan atau seminarkan sehingga orang lain dapat melihat dan memberikan saran atau masukan. Sesungguhnya apa yang dilihat merupakan penampakan dari apa yang dipikirkan dan sebaliknya, apa yang dipikirkan belum tentu ada penampakan. Berarti penglihatan belum tentu melihat ada dan mungkin ada sesuatu hal dalam pikiran. Jadi dalam menggapai penampakan, maka harus sadar akan hakekat yang dimiliki dari suatu penampakan tersebut. Semakin dalam menggapai hakekat akan semakin dalam menggapai penampakan.

    ReplyDelete
  16. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Terima kasih Prof. atas elegi nya. Dari elegi ini dapat dilihat perbincangan antara penampakan 1 dan penampakan 2 yang berujung pada pengakuan mereka bahwa mereka adalah hakikat 1 dan hakikat 2. Tetapi mengutip perkataan orang tua berambut putih bahwa sebenar-benar pengakuan menemukan hakikat adalah fatamorgana. Hal ini berarti sosok penampakan 1 dan penampakan 2 telah melakukan hal yang dapat disebut sebagai kesombongan karena mengaku sebagai hakikat padahal ilmu mu yang tinggi adalah pengakuan dirimu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakikat apapun.

    ReplyDelete
  17. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam elegi ini diceritakan tentang bagaimana menggapi penampakan. Penampakan yang dimaksud disini adalah hakekat yang ingin dicapai. Seseorang dikatakan berilmu ketika dia tidak dapat mengerti apa yang telah dia mengerti, namun seseorang yang belum berilmu terkadang akan dengan lantangnya mengatakan bahwa dai mengetahui akan sesuatu hal tersebut.

    ReplyDelete
  18. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dalam elegi ini terlihat bahwa untuk melihat hakikat tentu hal itu bisa yang tampak atau dapat dilihat namun juga bisa yang tak terlihat. Antara yang ada dalam pikiran dan antara yang terlihat. Dikatakan juga bahwa hakekat itu pikiran kita, pengetahuan. Kemudian untuk mengetahui hakekat kita perlu menggunakan pikiran kita, namun ini dapat bersifat terbatas dan tak terbatas. Seperti yang telah di contohkan dalam elegi diatas. Dan ketika membahas tentang tampak tidak tampak ini ada kaitannya juga dengan fenomena. Fenomena adalah sesuatu yang tampak, adapun noumena adalah yang tak nampak.

    ReplyDelete
  19. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Secara filsafat manusia adalah hakekat, di dalam diri manusia ada hakekat yang tidak terbatas, maka penampakan kita pun akan bergantung pada hakekat dirinya masing-masing, menyadari bagaimana dirinya yang sebenarnya, menyadari sebatas/sejauh apa pengetahuan/ akal dan pikirannya sendiri. Sekian dan Terima kasih
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  20. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B 2017

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Penampakkan adalah segala sesuatu yang tampak dan bisa dilihat, ada wujudnya. Diri kita merupakan hakekat dari pikiran kita. Jadi, diri kita itu merupakan wujud dari pikiran kita. Jika demikian, saya ingin bertanya Prof, apakah kita boleh menilai sesorang itu dari luarnya saja? karena kita tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya, sedangkan menurut elegi ini, diri kita merupakan wujud dari pikiran. Terima kasih sebelumnya Prof.

    ReplyDelete
  21. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Penampakan adalah sesuatu yang kita lihat atau kita pikirkan. Dia bisa mencakup semua yang ada (untuk dilihat) dan yang mungkin ada (untuk dipikirkan). Dia bersifat terbuka sekaligus tertutup. Dia terbuka apabila hanya kita lihat atau pikirkan saja tanpa diucapkan. Sebaliknya dia akan menjadi tertutup apabila kita tidak hanya melihat atau memikirkan, tetapi juga mengucapkannya.
    Sebenar-benar penampakan diri kita adalah diri kita sendiri pada batas penglihatan dan pikiran kita. Itulah sebenar-benar pengetahuan (ilmu) kita yang sangat terbatas. Tiadalah kita dapat melihat semua yang ada dan memikirkan semua yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  22. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi menggapai penampakan ini menjelaskan tentang bagaimana kita menggapai diri kita dan juga hakekat itu sendiri, artinya bahwa sebenar-benar hakekat kita adalah batas pengetahuan kita. Pikiran kita itu tidak terbatas dan tidak terbatas berarti tidak memiliki batas, dan tidak memiliki batas bisa berarti berputar-putar melampaui batasnya. Sebenar-benarnya hakekat adalah pikiran dan hati dari pikiran dan hati kita sendiri.

    ReplyDelete
  23. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Penampakan adalah segala yang tampak dan dapat dilihat dengan penglihatan. Dalam hal ini seala penampakan itu adalah hakikat. Hakikat dari hakikat adalah hakikat. Maka tiada habis perkara untuk mendefinsikannya. Sebenar-benar hakikat adalah apa dan bagaimana kita melihat penampakan di depan dan disebaliknya. Artinya menggapai hakikat itu akan memiliki batas sesuai batas pemikiran kita.

    ReplyDelete
  24. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Sesungguhnya masalah mengenai penampakan itu hanya berbeda dari cara pandang kita akan suatu obyek yang sedang diamati. Pesawat yang besar akan terlihat hanya sebagai sebuah titik bila dipandang dari kejauhan. Begitu pula dengan bumi kita yang hanya akan terlihat sebagai sebuah titik jika dipandang dari planet mars. Padahal kita tahu sendiri bahwa permukaan bumi itu sangat kompleks bentuknya. Semutpun yang terlihat sebagai sebuah titik akan terlihat menyeramkan bentuknya jika dilihat dari mikroskop. Jadi perbedaan cara pandang yang menyebabkan perbedaan penampakan.

    ReplyDelete
  25. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Dalam elegi kali ini pun pelajaran yang dapat saya ambil adalah untuk tidak merasa sombong dengan ilmu yang dimiliki. Ilmu yang tertinggi adalah pengakuan bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Karena pada setiap penampakan yang terlihat terdapat suatu hakekat dan dibalik hakekat itu terdapat hakekat-hakekat lainnya.

    ReplyDelete
  26. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Berdasarkan elegi ini saya mengambil pelajaran bahwa penilaian terhadap suatu hal adalah berdasarkan persepsi kita sendiri, pemikiran kita akan hal tersebut. Ketika kita berusaha objektif menilai sesuatu maka kita akan belajar banyak hal. Dalam permbelajaran ini kita akan menemukan pertanyaan dan jawaban dari banyak hal. Senantiasa merasa tidak tahu sehingga terus belajar adalah makna belajar sepanjang hidup

    ReplyDelete
  27. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Memiliki pemahaman bahwa seseorang merasa bisa melakukan segalanya merupakan serendah-rendahnya tingkat orang yang berilmu. Itu artinya ia sombong, padahal tak ada yang bisa ia sombongkan karena semua yang ia miliki hanyalah titipan Tuhan. Jika tidak bisa menjaganya dengan baik maka Tuhan dapat kapan saja mengambil apa yang telah ia miliki selama ini. Maka bertaubatlah dan mohon ampun kepadaNya agar apa yang kita miliki saat ini tidak segera diambil. Bersyukr agar nikma yang kita miliki semakin ditambah.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  28. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Melanjutkan koentar saya yang sebelumnya, jika kita merasa tidak memiliki apa-apa, merasa ilmu yang kita miliki sangat sedikit, maka itulah setinggi-tingginya tingkatan orang yang berilmu. Dalam setiap langkah hidupnya, ia akan terus dan terus menuntut ilmu dan merasa haus akan ilmu. Allah menjanjikan derajat yang lebih tinggi untuk orang-oang yang berilmu. Bahkan bagi mereka yang meninggal saat sedang mencari ilmu, mati sahid lah pahalanya dan surga siap membukakan pintu untuknya. Karena ia meninggal dalam keadaan sedang berperang di jalan Allah. Semoga kita termasuk orang-orang yang meras kurang akan ilmu yang telah kita miliki dan mendapatkan surganya.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  29. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 2017

    Hakikat dapat diartikan sebagai inti dari sesuatu atau sifat-sifat umum dari sesuatu. Hakikat-hakikat dapat kita gapai apabila kita telah mendalami dan berpikir secara dalam dan luas. Namun, kita akan selalu menemukan bahwa kita sebenarnya belum mengetahui hakikat dari sesuatu.
    Sungguh pelajaran terbesar yang dapat saya pelajari adalah bahwa saya harus masih banyak belajar.

    ReplyDelete
  30. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    penampakan merupakan ada, dan pikiran merupakan yang mungkin ada. tidak selalu apa yang kita pikirkan akan sama atau sesuai dengan penampakannya. contohnya dalam pikiran yang sombong, dalam pikiran kita berpikir bahwa kita yang terbaik, namun pada penampakan atau kenyaannya ada yang lebih baik dari kita. maka lagi-lagi kita juga diajarkan agar tidak sombong.

    ReplyDelete
  31. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Diri kita semua sebenarnya merupakan penampakan dari apa yang kita lakukan. Apa yang kita lakukan merupakan penampakan dari apa yang kita rasakan di dalam hati. Jadi intinya adalah hati yang baik akan memberikan penampakan yang baik pula bagi diri sendiri maupun orang lain. karena sebenar-benarnya diri kita adalah anggapan orang lain secara objektif terhadap diri kita.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  32. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Setinggi-tingginya ilmu adalah keadaan dimana kita merasa masih banyak hal belum kita pahami, sehingga akan memacu kita untuk terus dan terus berusaha, belajar untuk mencari dan memahami ilmu. Sedangkan serendah-rendahnya ilmu adalah orang yang menggap bahwa dia sudah mengerti dan memahami segalanya. Dengan demikian dia sendirilah yang membatasi ilmu, sedangkan kita tahu bahwa ilmu sangatlah tidak terbatas. Dengan memiliki perasaan bahwa dirinya telah memahami ilmu, maka tidak akan ada lagi keinginan untuk mencari ilmu lagi. Dan pengetahuannya akan berhenti. Ilmu bisa berasal dari penampakan yang terlihat. Yang mengendalikan batasan hakekat, ilmu, pengetahuan adalah akal dan pikiran kita sendiri.

    ReplyDelete
  33. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Asslamilaikum Wr. Wb. Yang tidak tampak bukan berarti taka da. Yang tidak tampak adalah entitas dengan cirinya tersendiri, sehingga untuk menggapai wujudnya, terlebih dahulu kita harus mempelajari pengetahuan tentang yang tidak tampak itu. Itulah fungsi filsafat yaitu untuk mengenali apa yang tak tampak maupun yang mungkin/tidak tampak. Lebih sering kita temui kebenaran tidak tampak di permukaan, sehingga untuk mengungkap kebenaran itu dibutuhkan pengetahuan yang luas analisa kritis yang baik.

    ReplyDelete
  34. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa penampakan itu merupakan hakekat. Apa yang bisa dilihat itu adalah penampakan. Dari penampakan itu maka akan dapat disebutkan hakekat-hakelat dari yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  35. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Penampakkan merupakan suatu objek atau benda yang dapat ditangkap oleh panca indra kita. Penampakan merupakan bagian dari suatu fenomena, dengan adanya penampakkan membantu kita dalam merencanakan suatu tindakan yang akan dilakukan sebagai contoh penampakkan siswa dikelas yang tidak paham, bisa dilihat dari gesture atau nilai latihan serta nilai ulangan. Dengan fenomena-fenomena tersebut kita dapat merancang suatu pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam menuntaskan pengetahuannya.

    ReplyDelete