Sep 20, 2013

Elegi Menggapai Penampakkan




Oleh Marsigit

Penampakkan benda-benda:
Besar, kecil, panjang, pendek, ......
...... indah, buram, hijau, jauh, dekat, terang, gelap, lembut, kasar, solid, terpecah, tetap, berubah, terus, terputus, berputar, bergoyang, tertutup, terbuka, terkunci, rapat, jarang, cepat, lambat, licin, tenggelam, terapung, tertumpuk, tergeletak, kuat, lemah, panas, dingin, baru, lama, modern, klasik, teratur, acak, tersedia, kosong, penuh, disiplin, malas, istirahat, hilang, muncul, capai, kusut, segar, semangat, loyo, subur, nyaman, kejam, empati, ide, pikiran, kata, kalimat, buku, dan semua benda-benda. Itulah penampakkanku. Penampakkanku kadang-kadang mandiri, kadang-kadang berkolaborasi. Penampakkanku kadang tetap kadang tidak tetap. Penampakkanku bisa sederhana, bisa sangat rumit. Bisa sedikit di balik penampakkanku, tetapi bisa banyak di balik penampakkanku. Tetapi sebenar-benar penampakkanku adalah untuk diriku sendiri. Itulah kekuatanku sekaligus kelemahanku. Kemandirian penampakkanku adalah identitasku. Ketidakmandirian penampakkanku adalah manfaat mereka. Maka sebenar-benar penampakkanku adalah terbuka sekaligus tertutup. Penampakkanku tertutup jika telah engkau ucapkan. Penampakkanku terbuka jika masih engkau pikirkan. Penampakkanku bisa engkau pikirkan sebagai apa saja. Aku bisa engkau pikirkan sebagi cahaya, sebagai gelombang, atau sebagai keduanya. Aku bisa engkau anggap sebagai nyata, tidak nyata atau khayal belaka. Aku bisa banyak dalam dirimu yang satu, dan aku bisa satu dalam dirimu yang banyak. Rumahku sembarang, tetapi tugasku sebagai saksi bagimu. Engkau bisa datang kapanpun, bisa juga pergi kapanpun, bisa juga tinggal sampai kapanpun. Tetapi aku tidak tahu kapan aku mulai dan kapan aku berakhir. Tetapi janganlah salah paham, karena sebenar-benar dirimu adalah diriku pula. Itulah sebenar-benar engkau, yaitu penampakkanmu pula. Maka sebenar-benar kita adalah satu, yaitu penampakkan.



Penampakkan 1:
Wahai penampakkan 2, siapakah sebenar-benar dirimu. Mengapa engkau menampakkan diri di depanku?

Penampakkan 2:
Sebenar-benar diriku adalah penglihatanmu. Apalah artinya pengakuanku, jika itu tidak sesuai dengan penglihatanmu. Aku menampakkan diriku tidaklah semata-mata karena diriku. Tetapi perkenankanlah aku juga ingin bertanya. Siapakah sebenar-benar dirimu. Mengapa engkau menampakkan diri di depanku?

Penampakkan 1:
Sebenar-benar diriku adalah pikiranmu. Apalah artinya penglihatanmu, jika itu tidak sesuai dengan pikiranmu. Aku hadir dalam pikiranmu tidaklah semata-mata karena diriku.

Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, kedengarannya engkau agak sombong. Siapakah yang berada di belakang dirimu itu?

Penampakkan 1:
Wahai penampakan 2, aku adalah pikiranmu. Jika engkau menuduhku bahwa aku berlaku sombong, bukankah itu menepuk air menimpa wajahmu sendiri. Yang berada dibelakang diriku adalah ilmumu.
Namun aku juga ingin bertanya, siapakah yang berada dibelakangmu itu?

Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, kelihatannya engkau ingin mengujiku. Engkau telah katakan bahwa yang berada di belakang dirimu adalah ilmuku. Mengapa engkau tanyakan siapa yang berada di belakang diriku? Bukankah menurutmu, yang berada di belakang diriku juga ilmumu?

Penampakkan 1:
Wahai penampakkan 2, kalau boleh aku akan sebut engkau bukan lagi penampakkan. Tetapi engkau akan sebut sebagai hakekat dirimu, atau hakekat 2 begitulah. Mengapa? Agar aku dapat sederhanakan saja penampakkan mu dengan yang berada di belakangmu sebagai hakekat mu begitulah.

Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, engkau belum menjawab siapa yang berada di belakangku, tetapi engkau sebut aku sebagai hakekat 2. Kalau begitu agar perbincangan kita lancar, engkau akan ku sebut pula hakekat 1.

Hakekat 1:
Wahai hakekat 2, cerdas pula ternyata engkau itu.

Hakekat 2:
Wahai hakekat 1, cerdas pula ternyata engkau itu.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Kita puas karena ternyata kita telah menemukan hakekat. Tetapi siapakah diri kita berdua ini?

Orang tua berambut putih datang:
Salam, hakekat 1 dan hakekat 2. Pertanyaanmu yang terakhir telah mengundangku untuk hadir di hadapanmu berdua. Ketahuilah bahwa sebenar-benar perbincanganmu berdua, aku telah mengetahuinya. Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa sebenar-benar pengakuanmu menemukan hakekat adalah fatamorgana, karena dibelakang hakekat dirimu berdua, masihlah terdapat hakekat pula, yaitu hakekat 3.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Salam juga, wahai orang tua berambut putih. Terimakasih engkau telah mengingatkanku. Karena dirimulah kita berdua dapat menemukan hakekat 3 dibalik hakekat 2 dan dibalik hakekat 1. Bolehlah aku bertanya kepadamu, apakah sebenar-benar hakekat 3 itu?

Orang tua berambut putih:
Sebenar-benar hakekat 3 adalah akal dan pikiran hakekat 2 dan hakekat 1. Tetapi bukanlah engkau maklum, bahwa dibalik hakekat 3 itulah berada hakekat 4. Dibalik hakekat 4 itulah berada hakekat 5. Dibalik hakekat 5 itulah hakekat 6, ....., dibalik hakekat n itulah hakekat n + 1.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Lalu apakah hakekat dari hakekat itu?

Orang tua berambut putih:
Dibalik hakekat adalah hakekat. Hakekat-hakekat itu adalah akal dan pikiranmu. Maka di balik akal dan pikiranmu itu adalah akal dan pikiranmu juga. Demikian seterusnya..sampai engkau menggapai batas pikranmu.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Lalu, di manakah batas hakekat atau batas akal dan pikiranku itu?

Orang tua berambut putih:
Tiadalah orang lain mengetahuinya, kecuali dirimu sendiri. Itulah sebenar-benar hakekatmu, yaitu batas oengetahuanmu sendiri.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Batas pikiranku itu terbatas atau tidak terbatas?

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar infinite regress. Tidak terbatas bisa berarti tidak mempunyai batas. Tidak mempunyai batas bisa berarti berputar-putar melampaui batasnya.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Aku bingung mengikuti uraianmu.

Orang tua berambut putih:
Bisakah engkau berdua mendefinisikan adalah ?

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah ...adalah ...

Orang tua berambut putih:
Menemukan hakekat adalah saja engkau tidak bisa, apalagi menemukan hakekat-hakekat yang lain. Itulah sebenar-benar dirimu. Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun.

38 comments:

  1. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    Pendidikan Matematika 2013

    Hal yang nampak tak selamanya menggambarkan hakikatnya, terkadanmg seorang terkecoh dengan suatu yang dzohir "nampak mata" saja, padahala da yang lebih penting untuk diperhatikan pula. bukan berarti yang nampak tak penting, penting. Bahkan menjadi identitas hakikat secara cepat. Namun menelisik lebih dalam membuat semakin tawadhu, mengetahui ilmu semakin dalam semakin dalam seorang akan semakin tahu kemiskinan hidupnya terhadap ilmu. Tepatlah penjabaran tadi di ejawantahkan dengan Semakin merasa berilmu maka dia yang paling miskin terhadap ilmu. Seorang ulama mengatakan "Kalau seorang mengatakan bahwa dia telah ikhlas sejatinya dialah orang yang paling butuh untuk ikhlas".

    ReplyDelete
  2. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Penampakan dalam kehidupan sehari-hari kita di dunia ini bukanlah sesuatu hal yang asing. Penampakan dari apa yang ada dan mungkin ada sebagai bentuk hasil pola pikir kita selalu menjadi sesuatu yang menarik untuk dibahas. Penampakan yang terus muncul dalam pandangan kita, dimulai dari apa yang kita lihat kemudian dicerna dan diolah dalam akal pikiran kita dan dikelola bersama ilmu pengetahuan yang selama ini kita miliki. Pengetahuan disini snagat berperan sebagai alat penerjemah dari apa yang kita lihat dan apa yang kita amati.

    ReplyDelete
  3. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Penampakan adalah sebuah pengalaman yang dialami seseorang berupa mengindera (bisa melihat, mendengar, merasakan, atau membaui) kehadiran sesuatu yang berada di luar nalar sensorik manusia. Penampakan setiap orang berbeda-beda. Dan hal yang tampakpun belum tentu menggambarkan hal tersebut secara keseluruhan.

    ReplyDelete
  4. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Sebenar-benar penampakkan kita adalah untuk diri kita sendiri. Maka sungguh hanya Tuhan yang mampu melihat peampakkan kita dari berbagai macam ragam. Hanya Tuhan yang Mengetahui sebenar-benar penampakkan dari diri kita. Kita takkan mampu menemukan hakekat, apalagi menemukan hakekat-hakekat yang lain. Itulah sebenar-benar manusia. Sesungguhnya ilmu yang tertinggi adalah pengakuan kita bahwa kita tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmu kita adalah pengakuan kita bahwa kita merasa bisa mengerti hakekat apapun. Sesungguhnya manusia dengan segala keterbatasannya tak akan mampu mengerti hakekat apapun, dan bukan pada tempatnya manusia menyombongkan diri dengan merasa bisa mengerti hakekat tersebut. Sesungguhnya hanya Tuhan yang mengerti hakekat yang sesungguhnya.

    ReplyDelete
  5. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    yang dapat saya pahami dari elegi di atas bahwa dalam melihat suatu penampakan, kita akan selalu menafsirkan hal yang berbeda dari orang lain. karena dalam melihat suatu penampakan, kita menggunakan mata yang berbeda dan dalam sudut pandang yang berbeda, serta kita memiliki ilmu yang berbeda dengan orang lain sehingga akan berbeda pula penafsiran yang kita buat. namun, dalam memahami suatu ilmu, kita tidak boleh sombong. karena ketika kita sombong akan ilmu yang kita miliki maka saat itulah sebenar-benar kita tidak berilmu.

    ReplyDelete
  6. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini saya mengambil sebuah pelajaran, bahwa penilaian suatu hal adalah berdasarkan persepsi kita sendiri, pemikiran kita akan hal tersebut. ketika kita berusaha objektif menilai sesuatu maka kita akan belajar banyak hal. Dalam permbelajaran ini kita akan menemukan jawaban dari beberapa hal dan menemukan pertanyaan tentang hal-hal yang tidak ketahui. Terus merasa tidak tahu sehingga terus belajar adalah makna belajar sepanjang hidup.

    ReplyDelete
  7. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Setelah membaca ini, hal yang saya dapati adalah untuk mengapai hakekat suatu penampakan kami (saya) harus melakukan refleksi terhadap diri, sehingga apa yang tampak oleh saya, bisa saya persepsikan dengan pikiran saya, seperti yang diungkapkan oleh George Berkeley “esse est percipi”, yaitu sesuatu ada jika bisa dipersepsikan. Dalam merefleksi saya harus merenungi “saya sedang merenungi sesuatu, saya sedang merenungi saya yang sedang merenungi sesuatu, saya sedang merenungi saya yang sedang merenungi saya yang sedang berenungi sesuatu” seperti yang diajarkan oleh J.G.Fichte terhadap muridnya untuk menggapai yang namanya “Aku Absolut”.

    ReplyDelete
  8. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Pak. Sangat setuju dengan pesan Orang tua berambut putih. Bahwa Orang yang cerdas adalah orang terus merasa dirinya kurang ilmu sehingga ia terus menggali pengetahuannya dan belajar tanpa henti. Sedangkan orang yang berilmu rendah adalah orang yang merasa cukup pintar untuk tidak lagi belajar, untuk tidak lagi menimba ilmu, sehingga ilmunya hanya statis sampai di situ saja.

    ReplyDelete
  9. Junianto
    PM C
    17709251065

    Penampakan merupakan perwujudan dari ilmu yang kita miliki. Kita mempunyai akal pikiran yang bisa digunakan untuk mewujudkan segala sesuatu jika kita punya ilmunya. Jadi, ilmu adalah salah satu kunci agar dapat mewujudkan sesuatu dengan akal pikiran kita.

    ReplyDelete
  10. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Penampakan adalah sekadar apa yang kita lihat secara fisik dengan indera penglihatan. Namun sebenar-benarnya penampakan bukanlah penampakan itu sendiri. Penampakan dari suatu hal adalah refleksi hal tersebut oleh pengamat. Refleksi yang saya maksudkan dipengaruhi oleh pikiran, ilmu, dan persepsi obyek pengamat. Sebagai contoh, terdapat sebuah Guci antik. Bagi seorang awam seperti saya, penampakan dari guci tersebut adalah besar dan berat. Tetapi bagi seorang kolektor barang antik, penampakan guci tersebut adalah barang mewah. Karena kami memiliki refleksi yang berbeda terhadap guci tersebut, jadi meskipun yang kami amati guci yang sama tetap saja penampakannya berbeda di mata kami.

    ReplyDelete
  11. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Dari kekuatan penampakan, kita dapat menemukan identitas terbuka sekaligus tertutup. Penampakan yang ada dan mungkin ada. Dibelakang penglihatan ada penampakan. Dibelakang penampakan ada penampakan sedikit maupun penampakan banyak. Dibelakang penampakan sedikit maupun banyak ada penampakan terbuka dan tertutup. Dibelakang penampakan terbuka dan tertutup ada pikiran. Dibelakang pikiran ada ilmu. Dibelakang ilmu ada hakekat. Dibelakang hakekat ada hakekat-hakekat lainnya. Dan dibalik hakekat itu adalah akal dan pikiran dari hakekat itu sendiri. Sebenar-benar hakekat kita adalah pengetahuan kita.

    ReplyDelete
  12. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Setelah membaca, saya sadar bahwa manusia harus terus menerus belajar dan mencari pengetahuan. Namun, jangan sampai merasa puas dan bangga akan kemampuan diri karena dibalik ilmu pengetahuan yang diketahui masih banyak sekali ilmu pengetahuan yang belum diketahui. Jadi harus selalu belajar dan terus merasa bahwa ilmu harus selalu dicari terus menerus. Selain itu untuk mempermudah langkah juga harus selalu mengharap ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  13. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Cantik. Dialog yang cantik. Membuatku merasa menjadi bagian dari ereka yang berdialog. Oh tidak, sepertinya aku hanya duduk memperhatikan mereka. Oh tidak, ternyata yang kuperhatikan, yang kulihat, tidaklah cukup. Di sinilah keberadaan kita, mengembarakan pikiran kita hingga pada batas pengetahuan. Di sini pula, ku menemukan arti berilmu yang sederhana; ilmu yang dicari dengan tiada kesombongan. Karena sesungguhnya ilmu tidak akan berada pada titik finish, bukan? Jadi di antara kita tiadalah sang jawara. Hanya saja si konsisten dan bukan.

    "Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun"

    ReplyDelete
  14. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Penjelasan dari apa yang nampak di depan kita berarti merupakan penjabaran dari sesuatu yang berada di dalam pikiran kita. Kita tidak akan pernah bisa mendefinisikan sesuatu yang tidak berada di dalam pikiran kita. Kadang kala kita merasa bahwa pikiran kita sudah paling hebat dan kita mengetahui segalanya. Tetapi sesuai dengan hakikat pikiran yang terbatas, sejatinya setiap manusia memiliki batasan-batasan terkait dengan pengetahuan dan penampakan yang bisa mereka maknai atau mereka artikan. Jangan pernah merasa sombong atas apa yang mampu kita miliki. Bisalah merasa jangan merasa bisa. ^^

    ReplyDelete
  15. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Saya terkesan dengan pernyataan, “Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun.” Tidak sepantasnya kita merasa puas dan mengaku telah memahami suatu hakekat karena dibalik hakekat selalu ada hakekat lain, begitu seterusnya. Maka sebenar-benarnya yang terjadi ialah kita hanya berusaha menggapai hakikat.

    ReplyDelete
  16. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada elegi ini segala yang tampak kadang belum bisa menggambarkan apa yang sebenarnya. Yang tampak itu adalah yang dapat dirasakan oleh indera. Hal itu belum cukup untuk menggambarkan semuanya. Harus dikaitkan dengan pengetahuan lain yang sudah ada supaya dapat menggali secara mendalam dari penampakan yang ada. Perlu dikaitkan dengan pemikiran yang mendalam supaya mendapatkan apa yang tersirat. Tetapi itu pun belum cukup, karena hanya tergantung pada pengetahuan kita, maka pada intinya adalah kita harus banyak baca-baca dan baca.

    ReplyDelete
  17. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Hakikat penampakan yaitu penggambaran jati diri dan identitas diri, penampakan bukan berarti harus selalu berorientasi kepada bentuk fisik melainkan juga bentuk ilmu yang bisa dilihat dari cara bicara, apakah bicaranya mengandung makna ilmu atau hanya sekedar bicara kosong. Maka dari itu marilah kita berbenah diri dan selalu memperbaiki identitas diri agar apa yang yang terlihat pada diri kita secara utuh itulah yang menggambarkan cara berfikir kita.

    ReplyDelete
  18. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Terkait materi sebelumnya yang pernah saya baca.Saya menemukan istilah tentang bayangan di dalam filsafat.Saya ingin mengutarakan sebuah pertanyaan,apakah perbedaan antara penampakan dan bayangan menurut pandangan filsafat?Mohon pencerahannya Pak prof.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  19. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi menggapai penampakan ini saya memahami bahwa penampakan merupakan perwujudan dari refkleksi atau cerminan dari diri seseorang. Seberapa jauh ia memahami dirinya sendiri, memahami ilmu yang ia miliki. Karena sebenarnya apa yang terlihat dari luar belumlah merepresentasikan hal yang sebenarnya. Untuk itu galilah diri sendiri, pahami potensi dan kaitkan dengan pengetahuan. Tetapi musti diingat janganlah merasa bangga terhadap ilmu yang telah dimiliki, merasa mengerti semuanya, karena itulah serendah-rendahnya ilmu. Seperti yang Bapak tulis pada artikel diatas bahwa ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun, sedangkan serendah-rendah ilmu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun.

    ReplyDelete
  20. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Membaca elegi ini saya membayangkan hakikat saya sangat dalam untuk dicerna manusia. Salah satu jalan untuk mencapai hakikat adalah dengan ilmu. Sedangkan ilmupun tak memiliki batas. Pertanyaan saya apakah tujuan kita mencari hakikat jika hakikat tidak berbatas?

    ReplyDelete
  21. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Saya terdiam dalam kebingungan saya, memikirkan apakah hakekat itu. Yang saya baca adalah: "Hakekat-hakekat itu adalah akal dan pikiranmu... Sebenar-benar hakekatmu, yaitu batas pengetahuanmu sendiri."
    tak akan kita menemukan hakekat kita jika kita berhenti mencari pengetahuan kita. Tak pernah cukup dan tak seharusnya berhenti. Itulah hakekat kita.

    ReplyDelete
  22. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Penampakan dari dirikita adalah dirikita sendiri, yang tercermin dalam akal dan pikiran kita. Untuk mencapai hakekat bukanlah hal yang mudah. Karena dari hakekat terdapat pula hakekat lainnya. Hakekat dibalik kala pikiran kita adalah akal pikiran kita itu sendiri. Akal pikiran mempunyai batasan yang bersifat infinite regress. Oleh karena keterbatasan akal pikiran manusia, maka kemampuan untuk memahami hakekat-hakekat yang ada bukanlah hal yang mudah.

    Demikian, terimakasih.



    ReplyDelete
  23. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    terimakasih pak... ilmu yang saya tangkap dari elegi penampakan ini adalah sesungguhnya ilmu itu semakin didapat maka akan semakin haus. maka dari itu tiada kata akhir dalam mencari ilmu. dibelakang hakikat ada hakikat terus begitu. sama dengan halnya mencari ilmu terus menerus secara continu.. tidak terputus hingga Allah mencabut nyawa si pencari ilmu tersebut.

    ReplyDelete
  24. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Elegi menggapai penampakan mengajarkan bahwa apa yang kita lihat tidak sepenuhnya sama dengan apa yang kita pikirkan, begitu pula dengan ilmu yang kita miliki, apa yang kita rasa ketahui belum tentu seperti apa yang kita ketahui. Sebagaimana yang disampaikan pada elegi tersebut yaitu setinggi-tingginya ilmu adalah tidak dapat mengerti apapun, sedangkan serendah-rendahnya ilmu adalah merasa bisa mengerti apapun. Pada dasarnya, elegi ini memberi pesan agar kita tidak menjadi pribadi yang sombong dan mudah puas dengan ilmu yang kita miliki sebab dalam hidup ini ada banyak hal yang nyatanya tidak kita ketahui.

    ReplyDelete
  25. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Dari elegi diatas kita dapat memahami bahwa dalam menggapai penampakan kita harus mereflesikannya terhadap diri sendiri. Kita juga memahami bahwa sebenar-benar orang yang berilmu adalah orang yang merasa bahwa ilmu nya masih sedikit.

    ReplyDelete
  26. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Untuk mengetahui siapa sebenarnya diri kita bukan dilihat dari pengakuan diri kita sendiri. Karena pada dasarnya diri kita bukanlah diri kita. Karena pada kejadian yang nyata, sebenarnya aku adalah bukan aku. Jadi tidak ada sifat identitas dalam dunia kenyataan. Dalam diriku masik ada diriku yang lain. dalam fikiranku masih ada fikiranku yang lain, di dalam akal ku masih ada akal yang lain. jadi, kita merupakan susunan dari berbagai macam yang menjadi bayangan satu sama laiinya. Jadi, ketidaktahuan tentang hakikat diri kita sendiri itulah yang akan membuat kita akan terus berfikir dan berfikir. Pengetahuan bisa dikatakan sebagai asimtot yang tida memiliki unung pangkalnya, selalu saja akan berdekatan dengan nilai 0 namun tida berada pada nilai 0.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  27. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamualaikum wr.wb.
    Terimakasih banyak prof. Marsigit atas postingan di atas. Menggapai penampakan diri yang hakiki tentu bukanlah mudah. Apa yang orang lain tampakkan dihadapanku belum tentu penampakan dirinya. Apa yang aku tampakkan untuk orang lain, belum tentu penampakan diriku yang sebenarnya. Benar sekali bahwa penampakan ku dan orang lain kadang-kadang bersifat tunggal namun juga jamak. Artinya, kita dapat menampakkan sesuatu yang konsisten namun bisa juga labil. Sebagai makhluk Allah swt, tidak ada yang dapat sempurna karena hakikatnya kesempurnaan penampakan sifat, kekuasaan, kebijakan, dan kekuatan hanya milik Allah swt. Kita sebagai hambaNya hanya mampu menampakkan apa adanya dari diri kita, meski harus berubah-rubah setidaknya kita berani menjadi diri sendiri. Itulah hakikat yang dimiliki manusia. Pandai-pandailah kita menemukan hakikat diri kita, dan kalaupun bisa hakikat pada diri orang lain juga meskipun kita tidak pernah sampai untuk mengerti hakikat kita dan orang lain, namun setidaknya kita telah mencoba dan berusaha menampakkan apa yang ada dalam diri kita tanpa pengaruh penampakan orang lain.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  28. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi menggapai penampakan menjelaskan tentang bagaimana kita menggapai diri kita dan juga hakekat itu sendiri, artinya bahwa sebenar-benarnya hakekat kita adalah batas pengetahuan kita. Pikiran kita itu tidak terbatas, dan tidak terbatas berarti tidak memiliki batas, dan tidak memiliki batas dapat berarti berputar-putar melampaui batasnya. Dan sebenar-benarnya hakekat adalah pikiran dan hati dari pikiran dan hati kita sendiri.

    ReplyDelete
  29. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Tampak jelas tercermin sifat manusia yang sebenar-benarnya sifat. Merasa paham tapi sebenarnya tidak paham, merasa paham tetapi berbicara paham. Tidaklah seseorang itu berkata jujur tentang ilmunya. Berifat rendah diri juga perlu. Selama kita mempunyai ilmu yang lebih tinggi dan banyak, janganlah berlaku sombong. Karena benar sifat kita itu terikat ruang dan waktu. Sombong dapat menutupi ilmu itu sendiri. Nyataya, ilmu itu bersifat luas. Perlu kekonsistenan untuk menimba ilmu.

    ReplyDelete
  30. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Dari elegi menggapai penampakan ini kita belajar bahwa dibalik suatu penampakan yang jumlahnya sangat banyak dan beragam ada hakekat yang beridiri disana. Dibelakang hakekat itupun masih ada hakekat kedua, hakekat ketiga dan seterusnya. Dibalik hakekat selalu ada hakekat ke n+1 hingga kita sampai pada batas pikiran kita.

    ReplyDelete
  31. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Penampakan merupakan apa yang kita rasakan ataupun kita pikirkan. Terkadang kita merasa bahwa kita sudah banyak mengetahui segala sesuatu sehingga merasa hebat dalam segala hal. Padahal dalam berbagai hal manusia sebaiknya tidak memiliki kesombongan. Padahal dengan sombong, maka ilmu yang akan didapat lebih sedikit, karena seseorang yang sombong akan merasa dirinya sudah bisa dan enggan untuk belajar lagi dan lagi.

    ReplyDelete
  32. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Dalam elegi ini saya menangkap bahwa yang tampak bukanlah satu-satunya sifat yang dimiliki sebuah obyek, melainkan banyak sifat yang tidak tampak dan dibalik yang tampak terhadapat hakikat dibalik hakikat 2 dan seterusnya sampai hakikat ke-n+1. Maka tidaklah bijak jika kita menilai sifat suatu obyek hanya dari yang tampak dari obyek yang kita nilai, karena itu bukanlah hakikat dari obyek tersebut.

    ReplyDelete
  33. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof untuk ilmu yang sudah diberikan.
    Setelah membaca ulasan di atas, saya menyadari bahwa mengetahui satu hakekat saja sangat sulit. Namun, ini tentunya diimbangi dengan kemauan untuk mencari dan membaca. Kemudian, saya menyadari bahwa pengakuan tidak dapat mengetahui segala hakekat yang ada adalah hal yang sangat diperlukan. Jika hanya mempertanyakan semua yang ada juga tidaklah mampu untuk dijawab semuanya. Menyadari, mencari, menemukan dan memaknai menurut saya dapat dijadikan sebagai bentuk ikhtiar dalam hidup.

    ReplyDelete
  34. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Terkadang kita menganggap perbuatan kita benar, padahal mungkin orang lain menganggap kita salah. Jadi sering-seringlah meminta nasihat orang lain, sehingga kita mendapat refleksi diri kita dari berbagai macam sudut pandang. Kemudian orang yang mengaku berilmu bisa dikatakan sombong, karena hakekat berilmu itu kita sedang akan menggapai ilmu.

    ReplyDelete
  35. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Filsafat meliputi apa yang ada dan mungkin ada. Jika kita memandang sesuatu dan mengetahui itu apa, maka apa yang kita lihat berkesinambungan dengan apa yang kita pikirkan. Namun belum tentu sama dengan apa yang dilihat orang. Di zaman sekarang, apabila kita melihat suatu kejadian lalu dipengaruhi oleh pendapat-pendapat orang, dan kita secara sepihak langsung memutuskan untuk mempercayainya tanpa menyelidiki terlebih dahulu, maka kita telah menjadi korban keserakahan diri sendiri. Itulah yang disebut hoax pada zaman sekarang. Banyak pihak yang menginginkan kita berpikir dan mempercayai apa yang mereka percayai, padahal belum tentu kita sanggup memikirkannya. Lihat lagi ke dalam diri kita sendiri, apakah kita sudah benar-benar tahu, atau hanya sok tahu. Sesungguhnya hal yang lebih buruk daripada tidak tahu apa-apa adalah berpikir bahwa dirinya tahu segalanya.

    ReplyDelete
  36. Riandika Ratnasari
    17709252043
    PPs PM B

    Terkadang kita terlalu sombong dengan ilmu yang kita miliki. Kita menganggap diri kita yang paling pintar. Hingga tak mau mendengarkan pemikiran dan omongan orang lain. Padahal sebenar-benarnya orang hidup tidak ada yang paling pintar selain Tuhan dan tidak ada yang memiliki kekuasaan yang paling tinggi selain Tuhan. Tuhan yang maha tau saja mau mendengarksn setiap keluh kesah umatnya. Oleh karena itu, kita sebagai manusia ciptaanNya juga haru selalu mau mendengarkan oranglain, entah itu perkataan, nasihat, ilmu, dll.

    ReplyDelete
  37. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    dari tulisan tersebut hal yang dapat saya ambil adalah bahwasanya apa yang terlihat di mata kita, apa yang kita pikirkan dan ilmu yang kita punya memiliki keterbatasan. kita sebagai manusia harus selalu rendah hati, menyadari bahwa apa yang kita miliki hanyalah sebagian kecil dari kekuasaan Allah.

    ReplyDelete
  38. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Untuk dapat menemuakan hakekat kita harus mempunyai ilmu, dimana ilmu itu terus berkembag dan tidak ada batasnya. Maka dari itu kita harus terus belajar dan belajar agar kita dapat menjadi orang yang selalu memperoleh ilmu. Semakin tinggi ilmu seesorang maka akan semakin banyak ilmu yang akan terus dicari sehingga mereka selalu merasa mereka belum menjadi orang yang berilmu. Akan tetapi orang yang mempunyai ilmu sedikit, mereka akan mengatakn merekalah orang berilmu, itulah semakin menandakan jika mereka orang yang tidak berilmu.

    ReplyDelete