Sep 20, 2013

Elegi Kerajaan Stigma




Oleh Marsigit

Stigmaraja:
We ha ha he he... aku adalah si raja stigma. Hemmm...aku telah menyebar prajurit-prajurit stigma untuk mengembara ke seluruh dunia. Hanya satu tujuanku yaitu menguasai dunia ini. Siapapun yang menjadi penghalang diriku maka dia aku anggap musuh. Maka dengan segenap cara, cara baik, cara buruk, cara licik, adu domba, peperangan, fitnah, apapun akan aku tempuh demi mewujudkan cita-citaku. Tidaklah boleh ada yang lain yang lebih dari diriku. Maka siang maupun malam, prajurit-prajuriku yang terpilih akan aku utus membujuk, merayu kalau perlu menghancurkan kerajaan-kerajaan lain yang tidak mendukung dan menjadi pesaingku.

Stigmakayat:
Wahai baginda sang raja, setelah mendengar titahmu aku merasa bangga mempunyai raja seperti dirimu. Raja seperti dirimu itulah yang selalu aku dambakan. Engkau adalah seorang raja yang kuat, berwibawa dan mempunyai cita-cita tinggi serta dapat menghidupi segenap rakyatmu. Tetapi bolehkah aku bertanya perihal satu perkara kepadamu. Kenapa engkau masih saja tampak menyembunyikan kesedihanmu? Jika engkau berkenan bolehkah aku mengetahuinya.

Stigmaraja:
Wahai stigmakayat, engkau adalah pembantuku yang sangat cerdas. Engkau selalu saja mengetahui relung hati dan pikiranku. Ketahuilah apa yang menyebabkan aku masih merasa belum tenteram? Itu tu..di kejauhan sana aku mendengar ada percabaan Kutarunggu. Sungguh percabaan itu telah menggangguku siang maupun malam. Konon dalam percabaan itu, semakin banyakk saja para cantriknya. Semakain banyak orang datang ke Kutarunggu berarti kedudukanku semakin terancam. Maka ketahuilah, dengan ini aku proklamirkan dan aku menyatakan perang terhadap percabaan Kutarunggu. Dikarenakan ulah orang-orang dari Kutarunggu itulah, aku mengalami kesulitan melaksanakan semua rencana-rencanaku. Untuk itu maka aku akan memanggil panglima-panglimaku untuk menyampaikan perihal tugas-tugasnya.

Stigmapangla:
Wahai sang baginda raja, perkenankanlah aku melapor perihal tugas-tugasku. Aku adalah panglima stigma. Tugasku adalah menyebar prajurit stigma. Prajurit-prajuritku selalu cerdik dan pandai mencari mangsa. Mangsa dari stigmaprajurit adalah para cantraman. Cantraman adalah orang baik-baik tetapi mereka belum mengakui kerajaan stigma. Cara memangsa para cantraman adalah dengan menyebar fitnah, isu dan gosip. Maka semua fitnah, isu dan gosip itu pada hakekatnya adalah prajurit stigma yang terdepan. Begitu para cantraman termakan oleh fitnah, isu dan gosip, maka berubahlah mereka menjadi stigma-stigma.

Stigmaraja:
Hus..aku ingin berita keberhasilanmu, bukan tentang definisimu. Itu semua aku sudah tahu, tidaklah engkau perlu menceramahiku. Maka selama ini apa keberhasilanmu?

Stigmapangla:
Para stigmakomandan telah menemukan subyek pada percabaan Kutarunggu. Namanya adalah Ahilu. Kelihatannya Ahilu itu mempunyai kedudukan tinggi di percabaan tersebut. Disamping sebagai panglima dia juga sebagai Cantralma. Ketahuilah bahwa seorang Cantralma itu mempunyai kedudukan strategis pada percabaan Kutarunggu. Sang Bagawat sering menggunakan pemikiran-pemikirannya untuk mempertimbangkan aspek kehidupan di Kutarunggu. Tetapi stigmakomandan telah berhasil merayunya untuk menjadikan dia sebagai subyek stigma.

Stigmaraja:
Apa dampaknya bagi kita dengan engkau mengangkat Ahilu sebagai subyek stigma?

Stigmapangla:
Wah dampaknya luar biasa. Ternyata mulai terjadi kekacauan di Kutarunggu. Semua orang di Kutarunggu mengarahan pendengaran dan penglihatannya kepada perkataan dan perbuatan Ahilu. Padahal perkataan dan perbuatan Ahilu telah aku kendalikan, artinya perkataan dan perbuatannya adalah perkataan dan perbuatan para stigma. Itulah keberhasilanku. Maka atas doa restumu perkenankanlah aku memohon bantuan tambahan prajurit untuk segera meruntuhkan percabaan Kutarunggu.

Stigmaraja:
Wa ha ha ha..we he he he.... Tidak percuma aku membayarmu dengan gaji yang tinggi. Demikianlah selayaknya engkau harus berbakti kepadaku. Maka dalam rangka menyelesaikan tugas-tugasmu, aku akan turuti semua permintaanmu.

39 comments:

  1. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Dari elegi diatas saya merasa kesulitan untuk memahaminya. Sepemahaman saya kerajaan stigma ini merupakan keegoisan, kesombongan dan keserakahan dari diri manusia, dimana untuk mencapai yang diinginkan rela melakukan apa saja baik dengan cara baik-baik pun cara yang tidak baik. Mereka akan selalu menggap dirinya benar dan baik. Tanpa kecacatan ataupun keburukkan.

    ReplyDelete
  2. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam kehidupan kita sehari-hari sering kita temui tentang stigmaraja dimana seseorang yang memiliki ambisi besar akan kekuasaan dan akan melakukan dan menghalalkan segala cara agar dapat memperoleh kekuasaan yang diinginkannya. Bahkan mereka tidak segan segan untuk merugikan orang lain disekitarnya dan membawa bahaya besar bagi lingkungan di sekitarnya. Hal ini bukanlah sesuatu yang baik dan bukanlah sesuatu yang bisa kita teladani. Oleh karena itu sebagai manusia yang penuh dengan kekhilfan dan kesalahan maka hendaknya kita memohon ampun dan terus menerus berusaha menebar kebaikan kepada lingkungan di sekitar kita.

    ReplyDelete
  3. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D(15709251004)

    Kebanyakan orang yang memiliki kekuasaan selalu haus akan pujian, gila hormat. Mereka bisa melakukan cara apapun asalkan mereka tetap di hormati, entah itu cara baik maupun cara buruk. Mereka ingin agar mereka satu-satunya orang yang berkuasa. Bahkan mereka tega menjatuhkan orang lain agar ke konsistenan mereka tetap ada. Itu semua terjadi karena adanya hawa nafsu yang terlalu kuat/tinggi dan hati yang tidak tertuju kepada Allah.

    ReplyDelete
  4. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D(15709251004)

    Stigma akan datang tanpa mau mengetahui fakta dibaliknya, sehingga semua fitnah, isu dan gosip itu pada hakekatnya adalah prajurit stigma yang terdepan. Ketika kita termakan oleh fitnah, isu dan gosip, maka sesungguhnya kita telah berubah menjadi stigma-stigma. Sebaik-baik stigma maka hukumnya akan tetap buruk juga. Sesungguhnya stigma adalah pikiran tidak kritis dan hati tidak bersih atau tidak ikhlas. Oleh karena itu kita harus berusaha dan bekerja menjalankan kekuasaan kita dengan sebaik-baiknya menggunakan kecerdasan pikiran dan menggunakan hati nurani yang ikhlas sembari berdoa agar terbebas dari stigma. Semoga kita terhindar dari stigma-stigma tersebut

    ReplyDelete
  5. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D(15709251004)
    Elegi ini mengajarkan kepada kita bahwa kita harus melakukan dengan cara yang baik dalam memperoleh sesuatu yang kita inginkan. Janganlah kita menggunakan akal yang tidak sehat, pikiran kotor dan licik dalam memperoleh keinginan kita. Hal seperti ini adalah stigma-stigma yang dapat menghancurkan diri kita. Berdoalah kepada Tuhan YME agar selalu dilindungi dan dijauhi dari stigma-stigma seperti itu.

    ReplyDelete
  6. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B 2017

    Mohon maaf jika saya salah mengartikan... saya menangkap bahwa sebenar-benarnya ancaman adalam dalam diri kita sendiri. Isu, adu domba dan apapun itu akan semakin memporakporandakan keadaan yang stabil ketika sudah menguasai diri kita.

    ReplyDelete
  7. Nama :Mariana Ramelan
    NIM :17709251056
    Kelas :S2 PMC 2017

    Hakikat manusia tidak pernah bisa merasakan puas. Apa yang dimilikinya selama ini masih merasa kurang dan kurang. Merasa dirinya sebagai seorang yang paling hebat. Karena hakikat manusia yang seperti itu kadangkala manusia menghalalkan segala cara untuk memperoleh kekuasaan yang dimiliknya. Baik dengan cara yang baik maupun dengan menggunakan cara yang keji sekalipun.

    ReplyDelete
  8. Seseorang yang menghalalkan segala cara mungkin mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan, tetapi yakinlah ketika mereka memeperoleh suatu kekuasaan dengan cara yang tidak benar, pasti kekuasaan tersebut tidak akan berjalan dengan dengan baik dan akan kembali dengan cara yang buruk juga. Na’udzubilah,, semoga kita tidak seperti itu. Sebaiknya kita selalu bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita.

    ReplyDelete
  9. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamulaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Stigma tidak selalu negatif, kita juga bisa menjadikan stigma ini sesuatu yang positif di kehidupan kira sehari-hari. Jika kita memahami arti hidup maka stigma sebenarnya bisa menjadi percikan semangat hidup. Meskipun, kebanyakan kita memang menjadikan sebagai penghambat hidup kita, sehingga hidup selalu dalam bayang-bayang stigma, merasa terkekang bagai dalam penjara. Ada dua pilihan dalam menjalaninya. Mengikuti stigma atau melawannya. Untuk melawan stigma pertama kita harus bedamai dengan stigma itu sendiri dengan tidak memikirkannya. Lalu kita harus menunjukkan bagaimana diri kita yang sebenarnya kepada ornag-orang yang memiliki stigma terhadap kita. Kita harus membiarkan semua stigma yang ada untuk diri kita dengan tujuan bahwa apa yang kita lakukan pasti akan membuahkan hasil dan dari hasil itu bisa menjadi senjata kita untuk melawan stigma sehingga orang yang memiliki stigma kepada kita tahu yang sebenarnya dan dengan sendirinya memuja diri kita.

    ReplyDelete
  10. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini saya mendapatkan sebuah pelajaran, tentang bagaimana menghadapi isu, gosip fitnah. Seharusnya ketika terdapat isu, gosip dsb, kita haus lebih selektif memilah infonya, tidak secara gegabah bertindak dan main hakim sendiri karena merasa benar. Seperti masyarakat Indonesia yang mudah sekali tercemar oleh virus hoax, membroadcast hoax padahal tidak meneliti kebenarannya. Hal ini yng membuat perpecahan dan konflik dimana-mana.

    ReplyDelete
  11. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini saya mendapatkan renungan, bahwa “stigma” seseorang dalam hal ini menurut KBBI adalah “ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya” dapat ditimbulkan karena tingkah laku dari seseorang tersebut. Akan tetapi pada elegi ini ternyata stigma juga bisa muncul karena tuduhan, fitnah dan lain-lain. Maka kita dalam menerima informasi selayaknya harus cek dan ricek, tidak hanya sekedar jika diyakini/dipercayai/disampaikan oleh banyak orang maka kita anggap sebagai suatu kebenaran. Gottfried Wilhelm Von Leibniz menyatakan bahwa “Barangsiapa mencari kebenaran, janganlah menghitung suara”

    ReplyDelete
  12. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Dari elegi ini, saya mengetahui bahwa stigma sebenarnya banyak di sekeliling kita. Terutama stigma keburukan atau kejahatan. Saya ambil satu contoh. Seorang guru hendaknya menghindari stigma negatif terhadap para murid. Karena jika guru melakukan hal tersebut, pengetahuan yang disampaikan guru juga akan sulit sampai pada siswa. Sebaiknya guru ikhlas hati dan pikir dalam pembelajaran sehingga tidak ada lagi stigma-stigma negatif yang muncul.

    ReplyDelete
  13. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas sharingnya Prof. Stigma atau ciri negatif yang menempel pada sesorang karena lingkungannya ternyata dapat ditimbulkan dari fitnah dan adu domba pihak-pihak tak bertanggung jawab. Oleh karena itu kita tidak boleh berburuk sangka dulu terhadap sesorang sebelum mengenalnya lebih dalam.

    ReplyDelete
  14. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Apa itu stigma? Stigma merupakan ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Kekuasaaan, ketenaran, kekayaan, dan kewibawaan seseorang dapat diruntuhkan dengan stigma-stigma dari orang lain atau pun dirinya sendiri. Sebenarnya semua orang bisa menghindari stigma yaitu dengan mengetahui bahwa stigma pada diri sendiri adalah hal yang tidak baik, maka landasilah hati dan fikiran dengan spiritual. Kekacauan-kekacauan yang terjadi untuk menghancurkan sekaligus menguasai kerajaan/sebuah negara demi merebut kekuasaan terjadi karena akibat stigma itu sendiri. Untuk itu, kita harus membentengi diri kita dengan spiritual supaya tidak dihancurhan dan dikuasai oleh bangsa lain yang memiliki misi untuk memberikan stigma kepada kita.

    ReplyDelete
  15. Junianto
    PM C
    17706251065

    Seperti halnya insting dan akal, setiap orang pasti memiliki stigma. Tinggal bagaimana manusia mengarahkan stigma tersebut, diarahkan kepada hal positif atau kepada hal yang negatif. Stigma yang selalu menuruti hawa nafsu, tentu akan terarah pada hal negatif, begitupun sebaliknya. Sebagaimana dalam kehidupan yang fana ini, seringkali kita temukan orang-orang yang dengan segala macam cara ingin menguasai sesuatu. Banyak yang dibutakan dengan harta, kedudukan, dsb. Postingan Prof ini juga sebagai pengingat kepada saya bahwa kita sebagai manusia tidak boleh sombong, serakah, apalagi untuk mendapatkan berbagai hal menggunakan cara-cara yang merugikan orang lain.

    ReplyDelete
  16. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Setelah saya membaca, hal yang saya pahami adalah terkadang seseorang tidak menyadari bahwa dirinya telah dipengaruhi oleh orang lain. Pengaruh itu terkadang membawa orang dalam kesesatan. Selain itu, terkadang seseorang menggunakan kekuasaannya untuk berbuat sombong dan melakukan kejahatan. Maka dari itu, dalam hidup ini senantiasa berhati-hati. Cara agar terhindar dari pengaruh buruk dan dari perbuatan-perbuatan buruk adalah dengan belajar, menambah pengalaman dan yang paling penting adalah berdoa.

    ReplyDelete
  17. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PM A 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Stigma disini berkaitan dengan perangai yang menuju keburukan. Seperti upaya mencapai tujuan yang diharapkan dengan cara-cara yang tidak baik, seperti menyebar fitnah, membuat isu dan juga gosip. Sesungguhnya fitnah dan gosip itu sangatlah keji. Stigma ini cenderung memberikan pengaruh yang buruk. Bahkan orang yang mulanya berperilaku baik sekalipun akan mudah terjebak stigma jika tidak memiliki prinsip yang kuat. Maka sebagai manusia yang beragama, kita harus senantiasa berdoa dan memohon pertolongan Allah SWT agar terhindar dari hal-hal yang negatif.

    ReplyDelete
  18. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Elegi ini memberikan pesan kepada kita bahwa ancaman-ancaman yang bersifat negatif akan selalu menghampiri kita. Agar kita senantiasa terlindungi dari stigma-stigma ini, kita harus selalu berdoa dan mempertebal iman kita agar kita tidak mudah terhasut oleh stigma.
    Kejadian seperti halnya yang diceritakan melalui elegi ini, sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dan juga terjadi dalam diri kita. Contohnya ketika kita menginginkan suatu hal, kita berusaha sekuat tenaga untuk dapat mencapainya. Antara cara mana yang benar dan cara yang kurang benar tergantung dari individu masing-masing.

    ReplyDelete
  19. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Setiap manusia harus menjaga bahasa dan prakata dalam berbicara, karena dalam berbicara kita harus mengntrol diri, karena salah satu cara untuk menilai keburukan dan etika seseorang adalah melalui cara bicara dan kata bahasa yang digunakannya agar tidak timbulnya sebuah stigma di kemudian hari. Karena salah satu arti dari stigma yaitu tanda bahwa seseorang dianggap ternoda salah satunya yaitu melalui perkataan.

    ReplyDelete
  20. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Elegi di atas memberikan gambaran bahwa betapa mudahnya menghancurkan kerajaan lain bukan dengan senjata perang atau bom nuklir melainkan dengan cara yang sederhana namun licik yaitu dengan menebarkan fitnah dan isu serta mengadu domba.Sama persis dengan apa yang terjadi pada negeri kita saat ini.

    ReplyDelete
  21. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Menurut KBBI online, stigma adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Dari elegi diatas dan kaitannya dengan perngertian stigma dapat dipahami bahwa stigma yang menempel pada diri seseorang akan semakin buruk jika diikuti oleh fitnah, gosip, isue, dan adu domba sehingga akan menghancurkan perdamaian. Untuk itu, dalam menerima suatu informasi, jauhkanlah prasangka buruk terhadap informasi itu. Bebaskan diri dari stigma dan isue yang bertebaran agar informasi yang diterima murni tanpa adanya tambahan “bumbu negatif” didalamnya.

    ReplyDelete
  22. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Bagi saya stigma adalah musuh dari pemikiran, karena ia tidak bisa memandang masalah secara jernih. Stigma hadir tanpa perlu mengetahui makna, niat untuk mengetahui maknapun akan dibatalkan oleh stigma. Stigmaraja Stigmakayat dan Stigmapangla adalah orang yang terpenjara ke dalam stigma itu sendiri.

    ReplyDelete
  23. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Menurut klasikal, stigma memiliki makna “ciri negatif yang menempel pada seseorang karena pengaruh lingkungannya”. Jadi, dari sini, saya menyimpulkan bahwa stigma merupakan sesuatu yang tidak baik diberikan oleh seseorang walaupun memang dia pernah melakukan sesuatu yang buruk. Contohnya adalah jika seseorang telah menjadi narapidana karena mencuri, kita lantas jangan langsung menyimpulkan bahwa dia adalah pencuri untuk waktu yang lama sehingga kita tidak akan pernah percaya lagi kepada dia. Seseorang mungkin memang pernah melakukan kesalahan, namun, apakah kita tahu apa isi hati mereka yang sebenarnya? Banyak sekali orang yang mengambil hikmah dari apa yang telah diperbuatnya sehingga membuat dia sadar akan apa yang dilakukan. Kita sebagai lingkungan porang tersebut janganlah tidak percaya kepada mereka. Munculkan sifat kepercayaan namun tetap waspada. Waspada bukan berarti kita tidak percaya, namun waspada itu dilakukan sebagai hati-hati. Kewaspadaan tidak hanya diberikan kepada mereka yang pernah melakukan hal buruk, namun juga mereka yang belum pernah melakukannya.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  24. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Elegi ini cerminan kehidupan nyata. Seperti tamparan pagi kita semua bukan? Dengan mudahnya kita termakan isu yang jelas bukannya kita belum tahu dan hanya termakan begitu saja. Teknologi pun banyak yang disalahkan dengan mudahnya digunakan sebagai prajurit penyebar HOAX. Ya memang kita manusia sebagi si tidak tidak sempurna dengan mudahnya terhasut. Dan benar ini adalah musuh terbesar kita. Baca baca dan baca untuk menambah ilmu dan tidak mudah menjudge si subyek yang dijadikan stigma seperti misalnya Ahilu. Oknum memanglah oknum yang memang tujuannya agar kita termakan oleh stigma. Maka waspadalah.

    ReplyDelete
  25. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Stigma sama halnya dengan hawa nafsu. Hawa nafsu ada yang baik dan ada yang buruk, tergantung dari masing-masing individu dalam mengendalikannya. Sebagai contoh, seorang guru haruslah punya keinginan, punya hawa nafsu untuk selalu menjadi baik dan memberikan fasilitas yang diperlukan siswanya dalam kegiatan belajar mengajar, namun guru harus dapat mengendalikan emosi dan dapat bersikap lemah lembut.

    ReplyDelete
  26. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Elegi kerajaan stigma ini menceritakan ambisi seorang raja stigma yang ingin menguasai dunia. Untuk mencapai tujuannya tersebut, sang raja stigma menyebar prajurit-prajuritnya ke seluruh penjuru dunia untuk melakukan segenap cara yang baik maupun yang buruk bahkan dengan melakukan adu domba, fitnah maupun peperangan sekalipun. Dari cerita ini kita belajar agar berhati-hati dalam memberikan penilaian, atau stigma kepada orang lain. Jangan sampai secara tidak sadar kita telah terperangkap dalam praktik-praktik yang dilakukan prajurit stigma

    ReplyDelete
  27. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Saya merasa takut membaca tulisan ini. Saya terlarut dalam cerita Dan merasa seperti mengalaminya, menjadi bagian dari Kutarunggu. Y Saya terlarut karena pernah mengalami dalam situasi semacam itu. Betapa mengerikannya situasi hati yang kacau namun pikiran jernih. Betapa mengerikannya ketika sudah terjebak pada nafsu kuasa Dan harta. Segala cara ditempuh, termasuk dengan fitnah, hasutan, menjatuhkan stigma negatif...
    Menyakitkan, namun itu nyata. Dari lingkup kecil, keluarga, tempat kerja, hingga Negara.
    Semoga saya dapat tetap pada kesadaran yang benar, Dan hati tetap terjaga dalam situasi semacam ini.

    ReplyDelete
  28. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Ketika saya membaca keserakahan dari stigmaraja entah kenapa saya langsung terbayang PowerNow yang ingin menguasai dunia dengan segala cara. Sedangkan ketika mengetahui kuturangu yang membuat stigmaraja bersedih entah kenapa saya langsung terbayang Makkah Al-Mukarromah yang setiap tahun semakin banyak orang berlomba-lomba untuk mendatanginya, itulah yang menimbulkan kesedihan dan kekhawatiran stigmaraja (powernow). Sedangkan stigmapangla adalah negara-negara yang menjadi kaki tangan dari Powernow (yang duadu domba melawan musuh powernow). Dan stigmarakyat adalah negara-negara yang terpengaruh atau dikuasai oleh Powernow.

    ReplyDelete
  29. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Pelajaran yang dapat diambil bahwa semua informasi yang kita peroleh jangan langsung diterima begitu saja, tetapi ditelaah dulu kebenarannya. Hal ini dilakukan agar apa yang kita sampaikan tidak melenceng dari kebenarannya. Apalagi bagi seorang pemimpin janganlah mudah termakan dengan berita-berita yang belum tentu benar, karena apa yang disampaikan oleh pemimpin terkadang langsung didengar oleh rakyatnya. Maka sebagai rakyat biasa kita juga harus cerdas menerima berita ataupun informasi apapun.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  30. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Setiap orang adalah raja bagi dirinya sendiri. Setiap orang memiliki pilihan untuk menjadi raja yang seperti apa. Misalnya, ingin menjadi raja yang mementingkan dirinya sendiri, raja yang bertindak sebagai provokator bagi pihak lain atau ingin menjadi raja yang santun. Inilah situasi yang ada. Layaknya manusia yang diberi akal pikiran sebaiknya dapat bijak dalam menyikapi segala sesuatu yang ada. Tentunya ini bukanlah hal yang mudah. Baiklah, saya menyadari sudah saatnya bagi saya menunjuk pada diri sendiri. Dengan begitu, saya akan mudah mengintervensi pada tindakan yang saya perbuat. Terima kasih Pak atas ilmu yang diberikan melalui postingan ini.

    ReplyDelete
  31. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Untuk menguasai musuh ada banyak cara, yaitu dengan fisik maupun tipudaya. Pada jaman kontemporer ini cara kedua yang lebih banyak dipakai. Istilahnya adalah musuh dalam selimut, yaitu musuh yang berasal dari orang terdekat. Dalam kaitannya dengan pembelajaran adalah bahwa motivasi belajar yang paling kuat adalah dari dalam diri sendiri, bukan malah dari luar. Sehingga mengenali diri sendiri adalah langkah tepat untuk meraih kesuksesan.

    ReplyDelete
  32. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Stigma adalah pandangan negatif. Namun pendapat lain menyatakan stigma pada dasarnya merupakan sesuatu yang tidak negatif, namun pikiran sekelompok orang yang menganggapnya buruk itulah sehingga stigma selalu menjadi hal yang negatif. Di zaman sekarang, stigma sangat erat kaitannya dengan kehidupan politik terutama di Indonesia. Banyak sekali pihak yang berusaha menjatuhkan lawan dengan memperburuk citranya di mata masyarakat. Persaingan tidak sehat membuat stigma mudah merasuki pikiran masrayakar Indonesia. Sejatinya stigma adalah pikiran kolektif dari sekumpulan orang, yang artinya sudah dipercayai oleh orang tersebut. Dalam dunia pendidikan, matematika itu sulit dapat menjadi suatu stigma yang populer di kalangan siswa. Karena orang-orang sudah bergidik dan memberikan sugesti bahwa matematika itu sulit.

    ReplyDelete
  33. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Stigma kadang bisa hadir sebagai sesuatu yang positif kadang bisa pula hadir sebagai sesuatu yang negatif. Namun lebih baik kita menghindar dari stigma, karena yang terpenting adalah pikiran kita selalu berada pada kebenaran. Stigma hanyalah semacam pandangan yang bisa saja justru mengacaukan pikiran.

    ReplyDelete
  34. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Mengabaikan stigma kadang perlu dilakukan karena untuk menjadi lebih berkembang harusnya tetap pada pemikiran positif, sedangkan stigma bisa saja sewaktu-waktu mengarah ke negatif. Tujuan awal bisa kacau jika terlalu memikirkan stigma negatif yang terkadang belum tentu benar.

    ReplyDelete
  35. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Ulasan mengenai kerjaanstigma, sepemahaman saya membahas mengenai seorang penguasa yang ingin menjadi satu-satunya penguasan tanpa ada yang menandingi. Kemudian seorang penguasa itu mampu melakukan segalannya agar dia tetap menjadi penguasa tertinggi. Dia mampu memegang posisi tersebut karena dialah pemegang kendali suatu stigma yang ada dalam masyarakt. Sebegitu besarkah efek dari sebuah stigma. Stigma bahkan dapat menjadikan rusaknya sebuah persatuan, karena dengan menyebarnya stigma negat\if sehingga berujung pada gosip dan fitnah akan menjadi awal mula timbulnya ketidakpercayaan dan akhirnya menjadi sebuah perpecahan. Terimakasih.

    ReplyDelete
  36. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Pada zaman sekarang manusia yang hidup dibumi hanya memikirkan tujuan hidupnya. Tujuan hidup untuk duniawai. Mereka hanya memikirkan bagaimana diakui di tengah-tengah masyarakat dan menjadi sosok yang terpandang. Kesuksesan hidup diukur dari jabatan yanh dimiliki. Di dalam proses ,emggapai tujuan hidupnya, mereka rela melakukam segala hal. Walaupun tindakan yang dilakukam menyimpang dari norma dan ajaran agama. Seperti, menyebarkan fitnah untuk menjatuhkan orang lain dan menghancurkan persatuan. Oleh karena itu, kita sebagai generasi muda haruslah segera sadar dan selalu berserah kepada Sang Pencipta.

    ReplyDelete
  37. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Menurut KBBI, definisi stigma adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Dari tulisan bapak ini, hal yang dapat saya pahami adalah bahwa dalam hidup ini terdapat banyak sekali stigma yang bisa menjerumuskan kita. Orang luar yang menginginkan bangsa kita hancur, melakukan berbagai cara agar kita terjerat dengan stigma. Mereka memfitnah, mengadu domba, menyebar isu dan sebagainya. Kita dijajah secara halus. Hanya berdoa dan memohon petunjuk dari yang maha kuasa agar kita diselamatkan dari stigma-stigma tersebut. Semoga kita semua dalam lindungan Allah SWT..aamiin allahumma aamiin.

    ReplyDelete
  38. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Dari elegi kerajaan stigma, dapat dipahami bahwa diluar sana ada golongan yang dengan segala cara, tidak peduli cara itu licik dan merugikan golongan lain, hanya untuk mencapai keinginnanya. Diantaranya adalah dengan menyebarkan isu negatif, berita hoax, fitnah, dan gosip tak berdasar. Hal ini semata-mata untuk menjatuhkan orang lain yang dianggap musuh, yakni yang tidak sejalan dengan pandangan dan tujuannya. Maka dari itu, sudah menjadi keharusan bagi kita untuk lebih berhati-hati dan lebih selektif dalam menerima informasi. Jangan sampai kita termakan dan terjebak dalam kelicikan tersebut. Berpikir kritis dan logislah dalam menerima segala informasi. Selain itu, dekatkanlah diri dengan Tuhan dengan banyak berdoa agar kita senantiasa ditunjukkan ke jalan yang benar.

    ReplyDelete