Sep 20, 2013

Elegi Kerajaan Stigma




Oleh Marsigit

Stigmaraja:
We ha ha he he... aku adalah si raja stigma. Hemmm...aku telah menyebar prajurit-prajurit stigma untuk mengembara ke seluruh dunia. Hanya satu tujuanku yaitu menguasai dunia ini. Siapapun yang menjadi penghalang diriku maka dia aku anggap musuh. Maka dengan segenap cara, cara baik, cara buruk, cara licik, adu domba, peperangan, fitnah, apapun akan aku tempuh demi mewujudkan cita-citaku. Tidaklah boleh ada yang lain yang lebih dari diriku. Maka siang maupun malam, prajurit-prajuriku yang terpilih akan aku utus membujuk, merayu kalau perlu menghancurkan kerajaan-kerajaan lain yang tidak mendukung dan menjadi pesaingku.

Stigmakayat:
Wahai baginda sang raja, setelah mendengar titahmu aku merasa bangga mempunyai raja seperti dirimu. Raja seperti dirimu itulah yang selalu aku dambakan. Engkau adalah seorang raja yang kuat, berwibawa dan mempunyai cita-cita tinggi serta dapat menghidupi segenap rakyatmu. Tetapi bolehkah aku bertanya perihal satu perkara kepadamu. Kenapa engkau masih saja tampak menyembunyikan kesedihanmu? Jika engkau berkenan bolehkah aku mengetahuinya.

Stigmaraja:
Wahai stigmakayat, engkau adalah pembantuku yang sangat cerdas. Engkau selalu saja mengetahui relung hati dan pikiranku. Ketahuilah apa yang menyebabkan aku masih merasa belum tenteram? Itu tu..di kejauhan sana aku mendengar ada percabaan Kutarunggu. Sungguh percabaan itu telah menggangguku siang maupun malam. Konon dalam percabaan itu, semakin banyakk saja para cantriknya. Semakain banyak orang datang ke Kutarunggu berarti kedudukanku semakin terancam. Maka ketahuilah, dengan ini aku proklamirkan dan aku menyatakan perang terhadap percabaan Kutarunggu. Dikarenakan ulah orang-orang dari Kutarunggu itulah, aku mengalami kesulitan melaksanakan semua rencana-rencanaku. Untuk itu maka aku akan memanggil panglima-panglimaku untuk menyampaikan perihal tugas-tugasnya.

Stigmapangla:
Wahai sang baginda raja, perkenankanlah aku melapor perihal tugas-tugasku. Aku adalah panglima stigma. Tugasku adalah menyebar prajurit stigma. Prajurit-prajuritku selalu cerdik dan pandai mencari mangsa. Mangsa dari stigmaprajurit adalah para cantraman. Cantraman adalah orang baik-baik tetapi mereka belum mengakui kerajaan stigma. Cara memangsa para cantraman adalah dengan menyebar fitnah, isu dan gosip. Maka semua fitnah, isu dan gosip itu pada hakekatnya adalah prajurit stigma yang terdepan. Begitu para cantraman termakan oleh fitnah, isu dan gosip, maka berubahlah mereka menjadi stigma-stigma.

Stigmaraja:
Hus..aku ingin berita keberhasilanmu, bukan tentang definisimu. Itu semua aku sudah tahu, tidaklah engkau perlu menceramahiku. Maka selama ini apa keberhasilanmu?

Stigmapangla:
Para stigmakomandan telah menemukan subyek pada percabaan Kutarunggu. Namanya adalah Ahilu. Kelihatannya Ahilu itu mempunyai kedudukan tinggi di percabaan tersebut. Disamping sebagai panglima dia juga sebagai Cantralma. Ketahuilah bahwa seorang Cantralma itu mempunyai kedudukan strategis pada percabaan Kutarunggu. Sang Bagawat sering menggunakan pemikiran-pemikirannya untuk mempertimbangkan aspek kehidupan di Kutarunggu. Tetapi stigmakomandan telah berhasil merayunya untuk menjadikan dia sebagai subyek stigma.

Stigmaraja:
Apa dampaknya bagi kita dengan engkau mengangkat Ahilu sebagai subyek stigma?

Stigmapangla:
Wah dampaknya luar biasa. Ternyata mulai terjadi kekacauan di Kutarunggu. Semua orang di Kutarunggu mengarahan pendengaran dan penglihatannya kepada perkataan dan perbuatan Ahilu. Padahal perkataan dan perbuatan Ahilu telah aku kendalikan, artinya perkataan dan perbuatannya adalah perkataan dan perbuatan para stigma. Itulah keberhasilanku. Maka atas doa restumu perkenankanlah aku memohon bantuan tambahan prajurit untuk segera meruntuhkan percabaan Kutarunggu.

Stigmaraja:
Wa ha ha ha..we he he he.... Tidak percuma aku membayarmu dengan gaji yang tinggi. Demikianlah selayaknya engkau harus berbakti kepadaku. Maka dalam rangka menyelesaikan tugas-tugasmu, aku akan turuti semua permintaanmu.

7 comments:

  1. Nama :Mariana Ramelan
    NIM :17709251056
    Kelas :S2 PMC 2017

    Hakikat manusia tidak pernah bisa merasakan puas. Apa yang dimilikinya selama ini masih merasa kurang dan kurang. Merasa dirinya sebagai seorang yang paling hebat. Karena hakikat manusia yang seperti itu kadangkala manusia menghalalkan segala cara untuk memperoleh kekuasaan yang dimiliknya. Baik dengan cara yang baik maupun dengan menggunakan cara yang keji sekalipun.

    ReplyDelete
  2. Seseorang yang menghalalkan segala cara mungkin mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan, tetapi yakinlah ketika mereka memeperoleh suatu kekuasaan dengan cara yang tidak benar, pasti kekuasaan tersebut tidak akan berjalan dengan dengan baik dan akan kembali dengan cara yang buruk juga. Na’udzubilah,, semoga kita tidak seperti itu. Sebaiknya kita selalu bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita.

    ReplyDelete
  3. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamulaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Stigma tidak selalu negatif, kita juga bisa menjadikan stigma ini sesuatu yang positif di kehidupan kira sehari-hari. Jika kita memahami arti hidup maka stigma sebenarnya bisa menjadi percikan semangat hidup. Meskipun, kebanyakan kita memang menjadikan sebagai penghambat hidup kita, sehingga hidup selalu dalam bayang-bayang stigma, merasa terkekang bagai dalam penjara. Ada dua pilihan dalam menjalaninya. Mengikuti stigma atau melawannya. Untuk melawan stigma pertama kita harus bedamai dengan stigma itu sendiri dengan tidak memikirkannya. Lalu kita harus menunjukkan bagaimana diri kita yang sebenarnya kepada ornag-orang yang memiliki stigma terhadap kita. Kita harus membiarkan semua stigma yang ada untuk diri kita dengan tujuan bahwa apa yang kita lakukan pasti akan membuahkan hasil dan dari hasil itu bisa menjadi senjata kita untuk melawan stigma sehingga orang yang memiliki stigma kepada kita tahu yang sebenarnya dan dengan sendirinya memuja diri kita.

    ReplyDelete
  4. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini saya mendapatkan sebuah pelajaran, tentang bagaimana menghadapi isu, gosip fitnah. Seharusnya ketika terdapat isu, gosip dsb, kita haus lebih selektif memilah infonya, tidak secara gegabah bertindak dan main hakim sendiri karena merasa benar. Seperti masyarakat Indonesia yang mudah sekali tercemar oleh virus hoax, membroadcast hoax padahal tidak meneliti kebenarannya. Hal ini yng membuat perpecahan dan konflik dimana-mana.

    ReplyDelete
  5. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini saya mendapatkan renungan, bahwa “stigma” seseorang dalam hal ini menurut KBBI adalah “ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya” dapat ditimbulkan karena tingkah laku dari seseorang tersebut. Akan tetapi pada elegi ini ternyata stigma juga bisa muncul karena tuduhan, fitnah dan lain-lain. Maka kita dalam menerima informasi selayaknya harus cek dan ricek, tidak hanya sekedar jika diyakini/dipercayai/disampaikan oleh banyak orang maka kita anggap sebagai suatu kebenaran. Gottfried Wilhelm Von Leibniz menyatakan bahwa “Barangsiapa mencari kebenaran, janganlah menghitung suara”

    ReplyDelete
  6. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Dari elegi ini, saya mengetahui bahwa stigma sebenarnya banyak di sekeliling kita. Terutama stigma keburukan atau kejahatan. Saya ambil satu contoh. Seorang guru hendaknya menghindari stigma negatif terhadap para murid. Karena jika guru melakukan hal tersebut, pengetahuan yang disampaikan guru juga akan sulit sampai pada siswa. Sebaiknya guru ikhlas hati dan pikir dalam pembelajaran sehingga tidak ada lagi stigma-stigma negatif yang muncul.

    ReplyDelete
  7. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas sharingnya Prof. Stigma atau ciri negatif yang menempel pada sesorang karena lingkungannya ternyata dapat ditimbulkan dari fitnah dan adu domba pihak-pihak tak bertanggung jawab. Oleh karena itu kita tidak boleh berburuk sangka dulu terhadap sesorang sebelum mengenalnya lebih dalam.

    ReplyDelete