Sep 20, 2013

Elegi Meratapi Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK




Oleh Marsigit

Paralogos:
Heem...tertegun aku menyaksikan kelakuan sang Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih. Dia tidak menyadari bahwa Paramitos selalu berusaha mencelakakannya. Apa haknya Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih sok mengatur dunia dan pemberi ilmu. Inilah buktinya sekarang telah tertangkap ada seorang Ilmuwan Plagiat dan tertangkap banyak Guru Pemalsu PAK. Pilu hatiku menyaksikan kejadian-kejadian itu. Saking pilunya hatiku maka hampir-hampir aku tak kuasa bicara apalagi menulis komen-komen pada Elegi-elegi. Pikiranku belum bisa menggapai batas hatiku, bagaimana seorang Ilmuwan tega melakukan plagiat dan seorang guru bisa memalsukan PAK untuk naik jabatan atau memperoleh sertifikasi guru. Wahai Antinomi, coba ceritakan apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan gonjang-ganjing ini?

Antinomi:
Wahai Paralogos, pengetahuanku itu setali tiga uang dengan pengetahuanmu. Selama ini memang kita telah memberikan keluluasaan dan kemerdekaan yang seluas-luasnya kepada sang Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih. Kiprah mereka yang terakhir di mulai dari Perlombaan Menjunjung Langit sampai kegiatan mengungkap Misteri Sang Konveyor dan Misteri sang Kanopi. Dalam hal tertentu aku sempat mengkhawatirkan sepak terjangnya, tetapi karena itu adalah hakekatnya maka Ruang dan Waktu sajalah yang akan memberi catatan dan penilaian.

Paralogos:
Bukannya dengan tertangkapnya Sang Ilmuwan Plagiat dan Para Guru Pemalsu PAK itu telah membuktikan bahwa Ruang dan Waktu telah memberikan catatan dan penilaiannya?

Antinomi:
Betul apa katamu wahai Paralogos. Tetapi aku juga ingin menyampaikan bahwa peristiwa tertangkapnya Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK itu sebenar-benarnya adalah puncak gunung es dari fenomena yang sudah sejak lama melanda masyarakat dan bangsa ini. Itulah yang terjadi bahwa Ruang dan Waktu sebetul-betulnya tidak pernah tidur. Ruang dan Waktu itu sebetulnya selalu memberikan catatan dan penilaian terhadap apapun, kapanpun dan dimanapun. Hanya bagi orang-orang yang ikhlas dan berpikir kritislah yang mampu membaca catatan dan penilaian yang dilakukan oleh Ruang dan Waktu.

Paralogos:
Waha..kalau begitu apa sebetulnya fenomena yang selama ini terjadi?

Antinomi:
Itulah fenomenanya...yaitu pergulatan antara ADA, MENGADA DAN PENGADA. Peristiwa tertangkapnya Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK itu adalah puncak gunung es dari pergulatan antara Ilmuwan Ada, Ilmuwan Mengada, dan Ilmuwan Pengada; serta Guru ADA, Guru Mengada dan Guru Pengada.

Paralogos:
Waha...apakah fenomenanya bersifat tunggal atau plural?

Antinomi:
Fenomenanya bersifat plural, yaitu bahwa yang terjadi adalah pergulatan antara ADA, MENGADA DAN PENGADA itu bersifat plural. Maka dibawah gunung es itu ada pergulatan-pergulatan yang lain: pergulatan antara Doktor Ada, Doktor Mengada dan Doktor Pengada; pergulatan antara Dosen Ada, Dosen Mengada dan Dosen Pengada; pergulatan antara Lurah Ada, Lurah Mengada dan Lurah Pengada; pergulatan antara Guru Ada, Guru Mengada dan Guru Pengada; pergulatan antara Pejabat Ada, Pejabat Mengada dan Pejabat Pengada; pergulatan antara Presiden Ada, Presiden Mengada dan Presiden Pengada, pergulatan antara Mahasiswa Ada, Mahasiswa Mengada dan Mahasiswa Pengada; pergulatan antara Suami Ada, Suami Mengada dan Suami Pengada; pergulatan antara semua Ada, semua Mengada dan semua Pengada; dan pergulatan antara setiap Ada, setiap Mengada dan setiap Pengada.

Paralogos:
Heemmm...luar biasa kejadiannya. Aku sebagai Paralogos Sang Diraja nya para Logos saja sempat terlena tidak menyadari fenomena ini, apalagi para logos, apalagi para Bagawat, apalagi para Orang Tua Berambut Putih...Wahai para Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih..kesinilah..sudah saatnya engkau itu melakukan instrospeksi dan memperoleh input yang bermanfaat. Maka marilah kita dengarkan penuturan lebih lanjut dari Sang Antinomi ini. Wahai Sang Antinomi, coba terangkanlah apa sebetulnya yang dimaksud dengan ADA, MENGADA dan PENGADA itu?

Antinomi:
Sebetul-betul MENGADA adalah logos bagi dirimu. Jika ADA adalah tesismu maka MENGADA adalah anti-tesismu. Jika engkau telah mempunya MENGADA maka serta merta wujudmu akan berubah menjadi PENGADA. Janganlah engkau mengharap dapat menjadi PENGADA jika engkau tidak mempunyai MENGADA.

Paralogos:
Sebentar, jika engkau sebut tesis dan anti-tesis maka dimana sintesisnya?

Antinomi:
Jika tesisnya adalah ADA maka anti-tesisnya adalah MENGADA. Jika anti-tesisnya adalah MENGADA maka sintetisnya adalah MENGADA.

Paralogos:
Kalimatmu yang terakhir sangat sulit aku pahami.

Antinomi:
Itulah yang terjadi. Maka sebenar-benar MENGADA adalah sekaligus tesis, anti tesis dan juga sintesis. Sedang sebenar-benar PENGADA adalah anti-tesis dari MENGADA.

Paralogos:
Maksudnya?

Antinomi:
Tidak akan ada PENGADA jika engkau tidak MENGADA.

Paralogos:
Aku masih bingung.

Antinomi:
Itulah yang terjadi, yaitu bahwa PENGADA itu juga sekaligus tesis, anti-tesis dan juga sintesis.

Paralogos:
Baiklah bisakah engkau memberikan contoh konkritnya?

Antinomi:
Misal engkau adalah MAHASISWA yang sedang menempuh perkuliahan. Maka tanda-tanganmu dalam daftar hadir merupakan bukti bahwa engkau itu ADA. Sedangkan kegiatanmu mengerjakan tugas-tugas dari dosenmu itu menunjukkan MENGADA mu. Jika engkau telah membuat tugas-tugas maka itu bukti bahwa engkau telah menjadi PENGADA, yaitu pengada akan tugas-tugasmu.

Paralogos:
Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:
Misal engkau adalah seorang Guru, maka Ijazahmu dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Guru ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu mengajar, menulis dan melakukan Penelitian Tindakan Kelas itu menunjukkan dirimu sebagai Guru MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Guru PENGADA.

Paralogos:
Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:
Misal engkau adalah seorang Doktor, maka Ijazahmu dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Doktor ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu menulis itu menunjukkan dirimu sebagai Doktor MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Doktor PENGADA.

Paralogos:
Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:
Misal engkau adalah seorang Professor, maka SK Presiden dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Ilmuwan ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu menulis itu menunjukkan bahwa engkau Ilmuwan MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Ilmuwan PENGADA.

Paralogos:
Hemmm..kamudian apa masalahnya..bukankah kita sudah cukup bangga karena kita telah mempunyai ADA nya banyak Guru Profesional, ADA nya banyak Doktor, dan ADA nya banyak Ilmuwan?

Antinomi:
Sebentar dulu. Sebuah karya mu itu adalah ADA bagi karya mu. Dan keberadaan sebuah karyamu itu belum tentu MENGADAKAN ..ADA Dirimu dan ADA diri yang lainnya. Jika karyamu itu adalah PLAGIAT atau PALSU maka karyamu itu bukanlah suatau PENGADA mu. Maka sebuah karya mu itu bisa terancam menjadi mitos dan MENIADAKAN dirimu, yaitu jika engkau merasa puas hanya membuat karya-karya PLAGIAT dan memalsukan PAK. Maka nasib dari sebuah karyamu itu persis seperti nasib dirimu yang tidak mengetahui ADA, MENGADA dan PENGADA. Itulah bahwa PLAGIAT itu adalah perilaku sang Paramitos yang mengancam keber ADA mu sebagai Ilmuwan. Itulah bahwa kegiatan memalsukan PAK adalah perilaku sang Paramitos yang mengancam keber ADA mu sebagai Guru. Jika keber ADA mu terancam maka terancam pula MENGADA mu dan PENGADA mu.

Paralogos:
Kemudia bagaimana solusinya?

Antinomi:
Tiadalah ADA dirimu itu tanpa MENGADA dan PENGADA. Maka agar engkau tetap ADA tidak ada jalan lain bagi dirimu untuk selalu MENGADA. Jika engkau telah MENGADA maka PENGADA akan selalu meyertaimu. Tiadalah Ilmuwan ADA tanpa Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA. Maka jika ingin tetap menjadi Ilmuwan ADA, tidak ada jalan lain kecuali harus tetap menjadi Ilmuwan MENGADA. Jika engkau telah menjadi Ilmuwan MENGADA maka Ilmuwan PENGADA akan dengan sendirinya menyertaimu. Tiadalah Guru ADA tanpa Guru MENGADA dan Guru PENGADA. Maka jika ingin tetap menjadi Guru ADA, tidak ada jalan lain kecuali harus tetap menjadi Guru MENGADA. Jika engkau telah menjadi Guru MENGADA maka Guru PENGADA akan dengan sendirinya menyertaimu.

Paralogos:
Apakah aku dapat menyimpulkan bahwa sebenar-benar Ilmuwan ADA adalah Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA sekaligus? Dan sebenar-benar Guru ADA adalah Guru MENGADA dan Guru PENGADA sekaligus?

Antinomi:
Cerdas pula engkau itu. Itulah harapanku bahwa engkau sebagai partnerku akan selalu bisa memahami dan menyimpulkan fenomena yang ada. Sangat tepatlah kesimpulanmu itu bahwa Ilmuwan ADA itu adalah sekaligus Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA. Dan Guru ADA itu adalah sekaligus Guru MENGADA dan Guru PENGADA.

Paralogos:
Sebentar, jangan ditutup dulu. Bukankah di awal pembicaraan kita engkau telah menyebut Ilmuwan PLAGIAT dan Guru Pemalsu PAK? Lalu apa maknanya?

Antinomi:
Ilmuwan PLAGIAT adalah Ilmuwan yang tidak mengenal dirinya sebagai Ilmuwan ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA? Guru yang memalsukan PAK adalah guru yang tidak mampu mengenal dirinya sebagai Guru ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal dirinya sebagai Guru MENGADA dan Guru PENGADA. Kegiatan memalsukan karya tulis apakah itu oleh seorang Ilmuwan Plagiat dan memalsukan PAK oleh seorang guru adalah kegiatan memalsukan dirinya sebagai MENGADA. Itulah peran dan jasa Ruang dan Waktu yang tidak akan pernah lalai mencatat segala perbuatan manusia, bahwa sebenar-benar keber ADA annya adalah SAKSI bagi MENGADA nya. Tidak hanya itu, maka segala YANG ADA dan YANG MUNGKIN ADA juga menjadi SAKSI bagi keber ADA annya dan ke MENGADA nya.

Paralogos:
Kalau begitu apakah Ilmuwan ADA tidak harus menjadi Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA? Dan Guru ADA tidak harus menjadi Guru MENGADA dan Guru PENGADA?

Antinomi:
Tidak mengenal itu tidak berarti tidak ada.

Paralogos:
Lho mengapa?

Antinomi:
Itulah kelihaian dan kelembutan Paramitos. Paramitos itu pulalah yang selalu mengajakmu menyesatkan mereka untuk berhenti hanya sebagai Ilmuwan ADA dan Guru ADA saja. Padahal jika hanya sebagai Ilmuwan ADA atau Guru ADA saja, maka akan terancam sebagai Ilmuwan TIDAK ADA dan Guru TIDAK ADA. Jika telah muncul Hukuman ADA atau Pemecatan ADA, maka Hukuman dan Pemecatan MENGADA akan segera MENIADAKAN Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK. Maka akan terasa pedih dan perih hukumannya bagi orang-orang yang di anggap TIDAK ADA. Padahal perjuangan mereka masih sangat banyak dan sangat panjang. Maka mereka akan sebenar-benar menjadi Ilmuwan ADA jika mereka selalu berjuang untuk menjadi Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA, yaitu dengan memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA. Mereka juga akan benar-benar menjadi Guru ADA jika mereka selalu berjuang untuk menjadi Guru MENGADA dan Guru PENGADA dengan cara memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA di dunia Pendidikan.

32 comments:

  1. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Kita akan menjadi ada jika kita selalu berjuang untuk menjadi mengada dan pengada. Tetapi kita harus berhati-hati agar tidak terepengaruh oleh paramitos yang menyesatkan kita sehingga mengancam kita menjadi tidak ada. Seorang guru dan ilmuwan akan menjadi mengada dan pengada jika mereka berkarya. Tetapi dalam berkarya tersebut harus berhati-hati agar tidak menjadi plagiat karena hal tersebut dapat mengancam guru dan ilmuwan yang ada sehingga menjadi tidak ada. Sebagai seorang mahasiswa saya juga harus berhati-hati agar tidak melakukan plagiat yang dapat mengancam keberadaan saya sebagai mahasiswa.

    ReplyDelete
  2. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Yang saya garis bawahi dari elegi ini adalah ada, mengada, dan pengada. Pada dasarnya kita ada, hanya terkadang kita tidak menyadari keberadaan kita sehingga kita belum dapat menjadi pengada. Dikatakan ilmuan plagiat dan guru pemalsu PAK adalah ketika kita tidak menyadari keberadaan kita atau dengan kata lain kita tidak berkarya, tidak berusaha mengadakan sesuatu yang menjadikan kita pengada. Oleh karena itu alangkah baiknya jika kita terus belajar dan memperkaya diri agar bisa menjadi guru mengada dan pengada.

    ReplyDelete
  3. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Untuk menggapai status ada, seseorang dituntut untuk mengada sehingga menghasilkan pengada. Begitu pula dengan ilmuwan dan guru sebagai aktor dalam pekembangan ilmu dan pendidikan. Ilmuwan diakui ada apabila ia melakukan penelitian dan eksperimen dalam mengembangkan ilmu maka itulah bentuk ilmuan mengada sedangkan hasil temuan dari penelitian dan eksperimennya itu ditulis dan dipublikasikan itulah bukti ia pengada. Begitu pula dengan guru. Untuk menunjukkan ia ada tidak hanya cukup dengan mengajar namun juga perlu melakukan perkembangan melalui PTK karena sesungguhnya teacher is researcher. Maka sebagai subyek yang berpengaruh terhadap generasi bangsa hendaklah para ilmuwan dan guru melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya pada ruang dan waktu yang tepat agar menjadi teladan bagi para siswa.

    ReplyDelete
  4. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Untuk memahami elegi maka landasan utamanya adalah spiritual, agar ketika kita ingin mereduksi ataupun mengembangkan elegi tetap mempunyai batasan-batasan dalam mentafsirkan elegi itu dan pemikiran kita tidak lari kemana-mana. Jangan sampai setelah kita memahami elegi secara brutal maka kita semakin jauh dari Allah SWT. Tetunya kita tidak ingin hal itu terjadi. Oleh Karena itu tetap harus dalam kerangka spiritual dalam memahami elegi. Sekian dan terima kasih.

    ReplyDelete
  5. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Perlu usaha yang keras agar kita bisa menjadi ada, mengada, dan pengada. Hal ini memang tidak mudah, namun kita dapat mengusahakannya. Untuk mencapai hasil yang maksimal maka kita harus melakukan tiga hal tersebut karena memang itu adalah syarat untuk mencapai hasil yang maksimal. Mari berusaha untuk menjadi ada, mengada, dan pengada.

    ReplyDelete
  6. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Ketika sesorang ingin dianggap ada, maka tidak akan terlepas dari mengada dan pengada. Namun, ketika mereka ingin dianggap pengada dan tidak mempedulikan mengada, mereka akan cenderung melakukan kecurangan, seperti plagiarisme. Sebagai seorang akademisi atau seseorang yang berilmu, hendaknya kita tidak melakukan plagiarisme, karena itu merupakan tindak kecurangan. Untuk mencapai tujuan tertentu, sebagian orang mengambil jalan pintas untuk mencapainya. Sesungguhnya, ketika seseorang melakukan plagiarisme, ia telah menghilangkan keberadaan dirinya sendiri. Oleh karena itu, hendaknya seseorang tidak melakukan plagiarisme dan menghasilkan suatu karya berdasarkan kemampuan dan hasil kerja keras sendiri.

    ReplyDelete
  7. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Menjadi ada, pengada dari yang mungkin ada, memberikan kesempatan kepada para imuwan untuk berkarya. Setiap guru dan ilmuwan punya potensi dan kesempatan itu, karena mereka logos yang sudah teruji dengan lulus dari pendidikan akademik. Sifat plagiat bahkan sampai memalsukan adalah karena hati sudah menjelma menjadi syaiton, logos sudah menjelma menjadi mitos. Penjelmaan yang sebenarnya terjadi karena sifat sombong, sombong sudah memiliki kedudukan seolah olah segala hal yang dilakukan menjadi benar.

    ReplyDelete
  8. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dari elegi di atas, menajdi seorang pengada memang bukanlah perkara yang mudah. Seseorang walaupun statusnya ilmuwan atau gurupun harus selalu banyak membaca dan berpikir untuk menjadi seorang pengada. Jikalau dia sudah terjebak dalam jebakan kemalasan, maka perilaku plagiat menjadi jalan utama, karena kemalasan identic dengan pragmatism tanpa susah payah.

    ReplyDelete
  9. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Plagiat dan pemalsuan yang dilakukan dengan alasan apapun itu merupakan sebuah kesalahan dan dosa yang tidak boleh dilakukan. Plagiat dan pemalsuan tidak menghargai apa yang telah dilakukan orang lain dan termasuk pembohongan publik. Plagiat dan pemalsuan tentu merugikan orang lain dan diri sendiri, serta meruapak suatu kebiasaan yang hendaknya dihilangkan sebab sama aja melakukan pencurian terhadap pemikiran orang lain.

    ReplyDelete
  10. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Menimbang dari sisi filsafat, guru maupun praktisi pendidikan yang ada mharus berperan sebagai pengada untuk terus mengada sehinggamereka masih dapat survive dan menunjukkan eksistensi mereka pada dunia. Sedangkan mengada dan pengada merupakan sifat yang sama-sama harus ada dan identitas dalam semua dimensi mengada, baik tesis, anti-tesis maupun sintesis. Dan sebenar-benar mengada ialah tidak memunculkan apa yang sebenranya telah ada, melinkan mengadakan sesuatu yang orisinil dari pemikirannya sendiri untuk kebijaksanaannya dan untuk perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  11. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Sedangkan jika dirunut dari sisi sosial, etik amupun estetika yang beredar di semesta ini, maka tindakan pemalsauan atau plagiasi aialah tindakan yang melanggar norma sosial yang telah dihayati oleh bangsa Indonesia jauh sebelumnya. Sebagai insan yang berkewarganegaraan Indonesia, maka kita wajib utnuk menjunjung tinggi nilai-nilai yang berlaku di Indonesia dan norma-norma yang melekat pada bangsa Indonesia. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  12. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Plagiat dan pemalsuan suatu karya merupakan suatu tindakan yang melanggar nilai-nilai positif. Suatu kanopipun tak akan bisa membenarkan sudut pandang mana suatu plagiat dan pemalsuan itu dianggap benar. Seorang guru atau bahkan seorang ilmuan tentu telah teruji secara akademis keilmuannya. Sehingga sangatlah tidak elok ketika kita mendengar adanya plagiatisme atau pemalsuan suatu karya. Secara keilmuan, ilmuan dan guru tentu memiliki taraf ilmu yang cukup untuk menyusun suatu karya, karena status ada mereka. Tinggal kesadaran dan kemauan seseorang untuk mau mengada atau tidak. Ketika kita berbuat plagiatisme maka sesungguhnya kita telah berubah menjadi mitos karena fungsi kita untuk mengada dan menjadi penguasa telah mati.

    ReplyDelete
  13. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Seorang ilmuwan yang melakukan plagiat tidak bisa disebut sebagai ilmuwan sesungguhkan, dengan kata lain sesungguhnya ia bukanlah seorang ilmuwan. Mudahnya mengakses informasi, termasuk hasil penelitian dari orang lain, dapat menjadi kemudahan dalam mencari sumber referensi, tetapi juga dapat disalahgunakan sebagai sarana dalam plagiatism atau menjiplak karya orang lain. Selain melanggar kode etik dan dapat dikenai sanksi, perilau plagiatism juga telah menghancurkan moral seseorang. Sehingga hancur nama ilmuwan tersebut apabila diperoleh melalui hasil menjipla karya orang.

    Seorang guru yang naik pangkat karena PAK tida bisa disebut sebagai guru sesungguhnya, dengan kata lain ia bukanlah seorang guru. Naiknya pangkat seorang guru ditentukan oleh kinerjanya selama menjalankan segala tugas yang menjadi tanggungjawabnya. Tingginya keinginan kenaikan pangkat tanpa diimbangi oleh kerja keras menimbulkan niatan buruk yaitu melakukan penipuan atau pemalsuan angka kredit atau poin agar dapat naik jabatan tanpa perlu bekerja keras. Kedua kgiatan instan tersebut merupakan penyakit masa kini yang dapat menjangkit siapa saja. Menipu menjadi jalan pintas agar seseorang dapat memperoleh tujuan yang diinginkan dengan cepat dan mudah. Tentu saja hal ini sangat tida baik dan semoga kita selalu terhindar dari perilaku seperti itu.

    ReplyDelete
  14. Latifah Fitriasari
    PM C

    Dalam dunia pendidikan penulisan karya ilmiah adalah suatu hal yang mutlak ada sebagai bukti keilmuan seseorang. Dan kegiatan plagiarisme ini telah membudaya di Indonesia dalam dunia pendidikan bagi kalangan pelajar, mahasiswa ataupun dosen. Mereka menganggap kegiatan mengcopy pendapat atau tulisan orang lain tanpa disertakan sumber untuk dimasukkan dalam tugas, penelitian, dan karya ilmiah itu hal yang wajar. Salah satu usaha yang harus dilakukan adalah membangun sinergitas antara Perguruan tinggi dan Kemenristekdikti dalam mencegah mewabahnya budaya plagiat. Hal ini pun menjadi tanggung jawab pemerintah untuk membantu memperbaiki mutu dalam pendidikan tinggi sehingga tidak akan terjadi krisis dalam penulisan karya ilmiah.

    ReplyDelete
  15. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Plagit dan pemalsu adalah bentuk paramitos dari pengada. Jika pengada melalkukan hal tersebut maka akan menjadi tiada. Sebagai seorang pengada maka sudah seharusnya kita selalui mengadakan objek ada yaitu berupa karya. Tanpa adanya karya pengada menjadi tiada.

    ReplyDelete
  16. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Keberadaan manusia belum berarti jika hanya berdasarkan bukti fisiknya saja atau makna “ada” nya saja. Akan tetapi keberadaan manusia baru benar-benar berarti ketika manusia itu memiliki ada, mengada, pengada. Ada secara fisik, mengadakan sebuah karya, kemudian dia pun menjadi pengada, maka selanjutnya baru bisa diakuilah keberadaanya secara seutuhnya. Ketika dia hanya bisa sampai pada tahap ada saja, maka itu berarti dirinya sendiri pun masih meragukan keberadaanya. Ilmupun tidak akan ada guna bagi kita jika hanya sampai tahap ada saja, tanpa diterapkan atau dilaksanakan sesuai dengan konteknya. Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  17. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Kegiatan mengada akan menunjukkan bahwa seseorang itu ada dan hasil dari mengada itulah yang menunjukkan bahwa seseorang tersebut sebagai pengada. Seorang plagiator adalah seseorang yang memalsukan keberadaannya, sehingga ada nya dia tidak sebenar-benar ada dalam ruang dan waktunya. sebagai contoh, seorang mahasiswa yang ingin menunjukkan keberadaannya dengan cara plagiat maka sebenarnya ia tidak menunjukkan bahwa dia ada sebagai mahasiswa, namun dia menunjukkan bahwa dirinya ada sebagai plagiator.

    ReplyDelete
  18. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Seorang ilmuwan maupun guru sama-sama adalah researcher. Bukan hanya ilmuwan yang melakukan penelitian terkain dengan bidangnya, namun guru juga demikian. Karena sebagai bukti ia ‘pengada’ maka ‘mengada’lah ia. Karena tidak cukup hanya sekedar ‘ada’. Maknanya guru tidak hanya sekedar mengajar di kelas (ada), namun ia juga bisa melakukan penelitian tindakan kelas untuk mengidentifikasi permasalahan apa yang sering muncul di kelas dan memperbaikinya (mengada). Maka sebagai bukti tentang keberadaannya, hasil dari penelitian tersebut dipublikasikan (pengada). Dan dalam pengada janganlah sampai terjerumus ke dalam plagiasi.

    ReplyDelete
  19. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Kegiatan plagiat dan pemalsuan merupakan hal yang sangat merugikan baik bagi pera pelaku plagiat maupun yang mempunyai karya yang diplagiati. Plagiarisme memang sangat rentan untuk dilakukan. Namun kadangkala kita tidak menyadarinya. Sebagai contoh, apabila kita akan melakukan penelitian hendaknya kita mencari terlebih dahulu apakah penelitian yang akan kita lakukan sudah ada orang yang meneliti atau belum.

    ReplyDelete
  20. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Sebagai tambahan, dampak negatif dari plagiarisme ini bisa berdampak pada kualitas pendidikan, moral, dan masa depan bangsa kita. Tindakan plagiarisme seharusnya tidak menjadi bagian dari kebiasaan kita atau lebih buruk lagi menjadi budaya kita. Plagiarisme dapat dihindari dengan melakukan kejujuran.

    ReplyDelete
  21. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Ilmuan plagiat adalah ilmuan yang tidak dirinya sebagai ilmuan yang mempunyai sifat ada menurut filsafat. Maka imbas dari itu adalah dengan sendirinya dia juga tidak mengenal ilmuan yang mampu mengada atau mampu menjadi pengada. Begitupun dengan guru pemalsu PAK adalah guru yang tidak mampu mengenal dirinya sebagai guru yang mempunyai sifat ada. Jadi bahwa sebenar-benarnya keber-ada-annya adalah saksi bagi mengadanya. Jika mereka menyadari bahwa mereka adalah ada dan mampu mengada maka saya rasa tidak akan terjadi akan terjadi kegiatan plagiat maupun pemalsuan PAK.

    ReplyDelete
  22. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Masalah plagiarisme saat ini malah hampir menjadi budaya di lingkungan kita. Plaiarisme menjadi hal yang biasa dan lumrah untuk dilakukan. Terlalu banyaknya hal ini dilakukan terhadap karya asli orang, sehingga sekarang menjadi susah untuk mencarii siapa atau darimana suatu karya tersebut berasal. NAmun, plagiarisme dapar dihindari, mulai dari diri sendiri, kita dapat memotovasi diri agar selalu bertindak jujur dan selalu menambah pengetahuan dan keterampilan agar dapat menciptakan karya baru yang unik.

    ReplyDelete
  23. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    sepemahaman saya membaca elegi ini, plagiat dan pemalsuan disebabkan kurangnya kesadaran ilmuwan dan guru akan keberadaan dan tanggung jawab mereka sebagai ilmuwan dan guru. Peningkatan kesadaran ini diharapkan dapat mengurangi pemalsuan dan plagiat karena hal itu menyimpang dari hakikat mereka sebagai ilmuwan dan guru, yang seharusnya memberi dedikasi terhadap profesi, menyalurkan ilmu dan memberi contoh perilaku yang baik.

    ReplyDelete
  24. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Memang, agar seorang ilmuwan maupun guru diakui keberadaannya maka ia harus mengadakan atau membuat karya ilmiah maupun PAK agar mereka dapat menjadi pengada. Namun mengutip karya orang lain tanpa mencantumkan sumber bukan perbuatan yang layak untuk dilakukan. Apalagi eksistensinya ia sebagai dosen. Begitu juga dengan guru yang memalsukan PAK. Pendidik, dalam hal ini dosen dan guru merupakan orang-orang panutan bagi peserta didik. Jika yang menjadi panutan saja tidak layak untk dijadikan sebagai contoh, lalu siapa yang bisa menjadi panutannya lagi?
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  25. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    seseorang yang melakukan plagiarisme adalah seseorang yang mau berusaha dan tidak percaya pada kemampuan yang ia miliki. namun tidak semua plagiarisme dilakukan secara sengaja. untuk itu guna menghindari plagiarisme sekarang banyak pelatihan-pelatihan cara menghindari plagiarisme, selain itu juga seiring berkembangnya zaman terdapat aplikasi-aplikasi yang dapat digunakan untuk mengecek kadar plagiarisme. semoga aplikasi tersebut dapat membantu kita untuk terhindar dari plagiarisme.

    ReplyDelete
  26. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    Seorang ilmuwan dituntut untuk menemukan sesuatu temuan atau karya yang baru, untuk itu sebelum mempublikasikan penemuannya hendaknya terlebih dahulu ia mengecek kadar plagiatnya

    ReplyDelete
  27. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    dari elegi merapati sang ilmuwan plagiat dapat diambil kesimpulan bahwa didunia ini banyak kegiatan plagiat, salah satunya didunia pendidikan. plagiat adalah mengambil apa yang dimiliki orang lain, orang yang melakukan kegiatan plagiat seharusnya dihukum karena mengambil / mengutip yang bukan dari hasil usahanya sendiri.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  28. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. apapun itu bentuknya plagiarisme dan pemalsuan merupakan hal tercela yang dapat merusak diri sendiri dan orang lain. Pemalsuan dan plagiarisme merupakan tindakan pencurian terhadap pemikiran orang lain. Tidak mudah menjadi yang ada, pengada dan mengada. Perlu proses untuk mencapainya. Jangan menjadi pencuri, hargai kerja keras orang lain.

    ReplyDelete
  29. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Profesor dan guru merupakan orang-orang yang dihormati. Apa yang mereka katakan dan lakukan akan mempengaruhi masyarakat karena mereka adalah teladan sehingga apa yang mereka lakukan akan ditiru oleh masyarakat. Gelar profesor bukanlah gelar yang mudah untuk didapatkan, harus melalui proses yang panjang dan sulit, sungguh memprihatinkan bila gelar yang sangat terhormat itu harus dicemari dengan perilaku plagiarisme.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  30. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Bagaimanapun dan apapun alasannya, prilaku pemalsu/plagiat adalah dosa terbesar dalam dunia akademik. Meskipun termaafkan namun konsekuensi sosialnya sangat besar. Kepercayaan orang-orang kepada mereka akan hilang seketika dan sangat sulit untuk dibangun kembali. Secara psikis, prilaku plagiat adalah manifestasi dari pengetahuan yang impoten. Ia tidak mampu meberikan reaksi terhadap realitas. Ia adalah symbol ketidakpercayaan diri. Semoga kita dijauhkan dari prilaku tidak terpuji itu. Aamiin!!

    ReplyDelete
  31. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Tidak dipungkiri, semakin maju suatu zaman, kegiatan plagiasi akan semakin marak. Kegiatan plagiasi biasanya dilakukan oleh orang yang malas dan tidak bertanggungjawab. Plagiasi adalah aktivitas pelanggaran hukum dan dapat dikenai sanksi. Yang diperbolehkan yaitu kita melakukan rujukan dari karya seseorang, namun harus mengikuti standar cara merujuk/mengkutip yang benar. Kemudian kita menuliskannya di referensi atau daftar pustaka.

    ReplyDelete
  32. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Elegi meratapi sang ilmuwan plagiat ini menunjukkan pengertian tentang Ada, Mengada dan Pengada yang selalu bapak sebutkan di kelas. Ketika kita manusia kurang yakin terhadap apa janji dari yang kuasa, kita teradang mencoba berbagai hal dan memaksakan jalan yang seharusnya tidak kita lakukan. kita manusia diberikan bekal akal untuk mengolah rasa dan pemikiran. kenapa kita harus memaksakan terhadap sesuatu hal ?

    ReplyDelete