Sep 20, 2013

Elegi Meratapi Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK




Oleh Marsigit

Paralogos:
Heem...tertegun aku menyaksikan kelakuan sang Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih. Dia tidak menyadari bahwa Paramitos selalu berusaha mencelakakannya. Apa haknya Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih sok mengatur dunia dan pemberi ilmu. Inilah buktinya sekarang telah tertangkap ada seorang Ilmuwan Plagiat dan tertangkap banyak Guru Pemalsu PAK. Pilu hatiku menyaksikan kejadian-kejadian itu. Saking pilunya hatiku maka hampir-hampir aku tak kuasa bicara apalagi menulis komen-komen pada Elegi-elegi. Pikiranku belum bisa menggapai batas hatiku, bagaimana seorang Ilmuwan tega melakukan plagiat dan seorang guru bisa memalsukan PAK untuk naik jabatan atau memperoleh sertifikasi guru. Wahai Antinomi, coba ceritakan apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan gonjang-ganjing ini?

Antinomi:
Wahai Paralogos, pengetahuanku itu setali tiga uang dengan pengetahuanmu. Selama ini memang kita telah memberikan keluluasaan dan kemerdekaan yang seluas-luasnya kepada sang Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih. Kiprah mereka yang terakhir di mulai dari Perlombaan Menjunjung Langit sampai kegiatan mengungkap Misteri Sang Konveyor dan Misteri sang Kanopi. Dalam hal tertentu aku sempat mengkhawatirkan sepak terjangnya, tetapi karena itu adalah hakekatnya maka Ruang dan Waktu sajalah yang akan memberi catatan dan penilaian.

Paralogos:
Bukannya dengan tertangkapnya Sang Ilmuwan Plagiat dan Para Guru Pemalsu PAK itu telah membuktikan bahwa Ruang dan Waktu telah memberikan catatan dan penilaiannya?

Antinomi:
Betul apa katamu wahai Paralogos. Tetapi aku juga ingin menyampaikan bahwa peristiwa tertangkapnya Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK itu sebenar-benarnya adalah puncak gunung es dari fenomena yang sudah sejak lama melanda masyarakat dan bangsa ini. Itulah yang terjadi bahwa Ruang dan Waktu sebetul-betulnya tidak pernah tidur. Ruang dan Waktu itu sebetulnya selalu memberikan catatan dan penilaian terhadap apapun, kapanpun dan dimanapun. Hanya bagi orang-orang yang ikhlas dan berpikir kritislah yang mampu membaca catatan dan penilaian yang dilakukan oleh Ruang dan Waktu.

Paralogos:
Waha..kalau begitu apa sebetulnya fenomena yang selama ini terjadi?

Antinomi:
Itulah fenomenanya...yaitu pergulatan antara ADA, MENGADA DAN PENGADA. Peristiwa tertangkapnya Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK itu adalah puncak gunung es dari pergulatan antara Ilmuwan Ada, Ilmuwan Mengada, dan Ilmuwan Pengada; serta Guru ADA, Guru Mengada dan Guru Pengada.

Paralogos:
Waha...apakah fenomenanya bersifat tunggal atau plural?

Antinomi:
Fenomenanya bersifat plural, yaitu bahwa yang terjadi adalah pergulatan antara ADA, MENGADA DAN PENGADA itu bersifat plural. Maka dibawah gunung es itu ada pergulatan-pergulatan yang lain: pergulatan antara Doktor Ada, Doktor Mengada dan Doktor Pengada; pergulatan antara Dosen Ada, Dosen Mengada dan Dosen Pengada; pergulatan antara Lurah Ada, Lurah Mengada dan Lurah Pengada; pergulatan antara Guru Ada, Guru Mengada dan Guru Pengada; pergulatan antara Pejabat Ada, Pejabat Mengada dan Pejabat Pengada; pergulatan antara Presiden Ada, Presiden Mengada dan Presiden Pengada, pergulatan antara Mahasiswa Ada, Mahasiswa Mengada dan Mahasiswa Pengada; pergulatan antara Suami Ada, Suami Mengada dan Suami Pengada; pergulatan antara semua Ada, semua Mengada dan semua Pengada; dan pergulatan antara setiap Ada, setiap Mengada dan setiap Pengada.

Paralogos:
Heemmm...luar biasa kejadiannya. Aku sebagai Paralogos Sang Diraja nya para Logos saja sempat terlena tidak menyadari fenomena ini, apalagi para logos, apalagi para Bagawat, apalagi para Orang Tua Berambut Putih...Wahai para Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih..kesinilah..sudah saatnya engkau itu melakukan instrospeksi dan memperoleh input yang bermanfaat. Maka marilah kita dengarkan penuturan lebih lanjut dari Sang Antinomi ini. Wahai Sang Antinomi, coba terangkanlah apa sebetulnya yang dimaksud dengan ADA, MENGADA dan PENGADA itu?

Antinomi:
Sebetul-betul MENGADA adalah logos bagi dirimu. Jika ADA adalah tesismu maka MENGADA adalah anti-tesismu. Jika engkau telah mempunya MENGADA maka serta merta wujudmu akan berubah menjadi PENGADA. Janganlah engkau mengharap dapat menjadi PENGADA jika engkau tidak mempunyai MENGADA.

Paralogos:
Sebentar, jika engkau sebut tesis dan anti-tesis maka dimana sintesisnya?

Antinomi:
Jika tesisnya adalah ADA maka anti-tesisnya adalah MENGADA. Jika anti-tesisnya adalah MENGADA maka sintetisnya adalah MENGADA.

Paralogos:
Kalimatmu yang terakhir sangat sulit aku pahami.

Antinomi:
Itulah yang terjadi. Maka sebenar-benar MENGADA adalah sekaligus tesis, anti tesis dan juga sintesis. Sedang sebenar-benar PENGADA adalah anti-tesis dari MENGADA.

Paralogos:
Maksudnya?

Antinomi:
Tidak akan ada PENGADA jika engkau tidak MENGADA.

Paralogos:
Aku masih bingung.

Antinomi:
Itulah yang terjadi, yaitu bahwa PENGADA itu juga sekaligus tesis, anti-tesis dan juga sintesis.

Paralogos:
Baiklah bisakah engkau memberikan contoh konkritnya?

Antinomi:
Misal engkau adalah MAHASISWA yang sedang menempuh perkuliahan. Maka tanda-tanganmu dalam daftar hadir merupakan bukti bahwa engkau itu ADA. Sedangkan kegiatanmu mengerjakan tugas-tugas dari dosenmu itu menunjukkan MENGADA mu. Jika engkau telah membuat tugas-tugas maka itu bukti bahwa engkau telah menjadi PENGADA, yaitu pengada akan tugas-tugasmu.

Paralogos:
Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:
Misal engkau adalah seorang Guru, maka Ijazahmu dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Guru ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu mengajar, menulis dan melakukan Penelitian Tindakan Kelas itu menunjukkan dirimu sebagai Guru MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Guru PENGADA.

Paralogos:
Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:
Misal engkau adalah seorang Doktor, maka Ijazahmu dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Doktor ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu menulis itu menunjukkan dirimu sebagai Doktor MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Doktor PENGADA.

Paralogos:
Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:
Misal engkau adalah seorang Professor, maka SK Presiden dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Ilmuwan ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu menulis itu menunjukkan bahwa engkau Ilmuwan MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Ilmuwan PENGADA.

Paralogos:
Hemmm..kamudian apa masalahnya..bukankah kita sudah cukup bangga karena kita telah mempunyai ADA nya banyak Guru Profesional, ADA nya banyak Doktor, dan ADA nya banyak Ilmuwan?

Antinomi:
Sebentar dulu. Sebuah karya mu itu adalah ADA bagi karya mu. Dan keberadaan sebuah karyamu itu belum tentu MENGADAKAN ..ADA Dirimu dan ADA diri yang lainnya. Jika karyamu itu adalah PLAGIAT atau PALSU maka karyamu itu bukanlah suatau PENGADA mu. Maka sebuah karya mu itu bisa terancam menjadi mitos dan MENIADAKAN dirimu, yaitu jika engkau merasa puas hanya membuat karya-karya PLAGIAT dan memalsukan PAK. Maka nasib dari sebuah karyamu itu persis seperti nasib dirimu yang tidak mengetahui ADA, MENGADA dan PENGADA. Itulah bahwa PLAGIAT itu adalah perilaku sang Paramitos yang mengancam keber ADA mu sebagai Ilmuwan. Itulah bahwa kegiatan memalsukan PAK adalah perilaku sang Paramitos yang mengancam keber ADA mu sebagai Guru. Jika keber ADA mu terancam maka terancam pula MENGADA mu dan PENGADA mu.

Paralogos:
Kemudia bagaimana solusinya?

Antinomi:
Tiadalah ADA dirimu itu tanpa MENGADA dan PENGADA. Maka agar engkau tetap ADA tidak ada jalan lain bagi dirimu untuk selalu MENGADA. Jika engkau telah MENGADA maka PENGADA akan selalu meyertaimu. Tiadalah Ilmuwan ADA tanpa Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA. Maka jika ingin tetap menjadi Ilmuwan ADA, tidak ada jalan lain kecuali harus tetap menjadi Ilmuwan MENGADA. Jika engkau telah menjadi Ilmuwan MENGADA maka Ilmuwan PENGADA akan dengan sendirinya menyertaimu. Tiadalah Guru ADA tanpa Guru MENGADA dan Guru PENGADA. Maka jika ingin tetap menjadi Guru ADA, tidak ada jalan lain kecuali harus tetap menjadi Guru MENGADA. Jika engkau telah menjadi Guru MENGADA maka Guru PENGADA akan dengan sendirinya menyertaimu.

Paralogos:
Apakah aku dapat menyimpulkan bahwa sebenar-benar Ilmuwan ADA adalah Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA sekaligus? Dan sebenar-benar Guru ADA adalah Guru MENGADA dan Guru PENGADA sekaligus?

Antinomi:
Cerdas pula engkau itu. Itulah harapanku bahwa engkau sebagai partnerku akan selalu bisa memahami dan menyimpulkan fenomena yang ada. Sangat tepatlah kesimpulanmu itu bahwa Ilmuwan ADA itu adalah sekaligus Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA. Dan Guru ADA itu adalah sekaligus Guru MENGADA dan Guru PENGADA.

Paralogos:
Sebentar, jangan ditutup dulu. Bukankah di awal pembicaraan kita engkau telah menyebut Ilmuwan PLAGIAT dan Guru Pemalsu PAK? Lalu apa maknanya?

Antinomi:
Ilmuwan PLAGIAT adalah Ilmuwan yang tidak mengenal dirinya sebagai Ilmuwan ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA? Guru yang memalsukan PAK adalah guru yang tidak mampu mengenal dirinya sebagai Guru ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal dirinya sebagai Guru MENGADA dan Guru PENGADA. Kegiatan memalsukan karya tulis apakah itu oleh seorang Ilmuwan Plagiat dan memalsukan PAK oleh seorang guru adalah kegiatan memalsukan dirinya sebagai MENGADA. Itulah peran dan jasa Ruang dan Waktu yang tidak akan pernah lalai mencatat segala perbuatan manusia, bahwa sebenar-benar keber ADA annya adalah SAKSI bagi MENGADA nya. Tidak hanya itu, maka segala YANG ADA dan YANG MUNGKIN ADA juga menjadi SAKSI bagi keber ADA annya dan ke MENGADA nya.

Paralogos:
Kalau begitu apakah Ilmuwan ADA tidak harus menjadi Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA? Dan Guru ADA tidak harus menjadi Guru MENGADA dan Guru PENGADA?

Antinomi:
Tidak mengenal itu tidak berarti tidak ada.

Paralogos:
Lho mengapa?

Antinomi:
Itulah kelihaian dan kelembutan Paramitos. Paramitos itu pulalah yang selalu mengajakmu menyesatkan mereka untuk berhenti hanya sebagai Ilmuwan ADA dan Guru ADA saja. Padahal jika hanya sebagai Ilmuwan ADA atau Guru ADA saja, maka akan terancam sebagai Ilmuwan TIDAK ADA dan Guru TIDAK ADA. Jika telah muncul Hukuman ADA atau Pemecatan ADA, maka Hukuman dan Pemecatan MENGADA akan segera MENIADAKAN Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK. Maka akan terasa pedih dan perih hukumannya bagi orang-orang yang di anggap TIDAK ADA. Padahal perjuangan mereka masih sangat banyak dan sangat panjang. Maka mereka akan sebenar-benar menjadi Ilmuwan ADA jika mereka selalu berjuang untuk menjadi Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA, yaitu dengan memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA. Mereka juga akan benar-benar menjadi Guru ADA jika mereka selalu berjuang untuk menjadi Guru MENGADA dan Guru PENGADA dengan cara memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA di dunia Pendidikan.

88 comments:

  1. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Dalam masyarakat saat ini, plagiat seakan disamakan dengan copy paste atau meniru. Plagiat sebetulnya adalah copy paste yang pelakunya mengaku membuat dan menemukan sendiri. Copy paste dalam kehidupan kita banyak sekali. Ilmu yang saya miliki juga banyak yang merupakan copy paste. Namun, ilmu tersebut tidak menjadi suatu plagiat karena saya tercatat sebagai murid tempat saya belajar. Jadi saya bukan ilmuan plagiat, karena memang ada gurunya dan saya mengakui guru-guru saya. Dalam tulisan ini, plagiat disoroti dari sisi memalsukan. Ilmuan plagiat yaitu seorang yang mendapatkan gelar ilmuan, namun temuannya itu diakuinya ia temukan sendiri. Sedangkan jika ditelurusi dengan alat anti-plagiat, ternyata didapatnya dari wikipedia. Tidak mengapa bila copy paste, namun sertakan juga pikiran kita, dan sertakan identitas atau dari mana tempat kita mengambilnya.

    ReplyDelete
  2. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Dalam elegi meratapi sang ilmuwan plagiat dan guru pemalsu PAK ini dijelaskan mengenai seorang plagiat atau plagiarisme yang merupakan penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri yang dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Apapun profesi seseorang, plagiarisme tidaklah diperbolehkan sebab ini merupakan suatu bentuk ketidakjujuran. Hal-hal yang dimulai dengan ketidakjujuran tidak akan memberi keberkahan,termasuk untuk para ilmuwan. Seorang pemalsu pun tidak dibenarkan dalam bidang apapun apalagi dibidang pendidikan. Sebab bagaimana seorang pendidik mampu dijadikan pedoman, sementara dirinya tidak amanah agar dapat dipercaya.

    ReplyDelete
  3. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. apapun itu bentuknya plagiarisme dan pemalsuan merupakan hal tercela yang dapat merusak diri sendiri dan orang lain. Pemalsuan dan plagiarisme merupakan tindakan pencurian terhadap pemikiran orang lain. Tidak mudah menjadi yang ada, pengada dan mengada. Perlu proses untuk mencapainya. Jangan menjadi pencuri, hargai kerja keras orang lain.

    ReplyDelete
  4. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Suatu karya tentu dibuat dengan perjuangan dan kerja keras. Sungguh suatu perbuatan yang tercela jika kita menodai perjuangan dan kerja keras orang lain dengan mencuri idenya dan melakukan plagiasi. Apabila kita melakukan plagiasi, kita tidak hanya bersalah karena mencuri ide orang lain, tetapi kita juga telah berbuat dosa. Kita harus selalu mengingat bahwa Tuhan selalu mengawasi perbuatan kita di setiap ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  5. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Daripada mencuri ide orang lain, lebih baik kita berkarya sesuai dengan kemampuan dan kreativitas yang kita miliki. Dan bila kita hendak memasukkan ide orang lain, jangan pernah lupa untuk mencantumkan sumbernya. Jangan sampai kita menjadi generasi copy paste. Jangan sampai pula kita menjadi generasi plagiasi. 

    ReplyDelete
  6. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Berdasarkan pada elegi di atas bahwa Ilmuan dan guru adalah salah satu pekerjaan yang paling mulia di dunia ini. Keduanya tidak hanya dipandang sebagai profesi saja, lebih sekedar itu ilmuan dan guru dipandang juga sebagai suatu aktivitas sosial, aktivitas kemanusian. Keduanya tidak terlepas dari ADA, MENGADA, dan PENGADA. Kedua nya ada karena serangkaian proses yang telah dilalui untuk menjadi seorang ilmuan dan seorang guru, sehingga dengan tersebut keduanya meraih gelar yang mempertegas kedudukannya. Mengada karena karena dengan keahliannya mereka melakukan serangkaian kegiatan seperti penelitian, mengajar, inovasi hal-hal baru sehingga memberikan konstribusi dalam bidang masing-masing. Pengada karena dengan ilmunya menghasilkan tulisan-tulisan yang berkualitas yang jauh dari kecurangan. Namun demikian yang sekarang menjadi momok bagi peneliti dan guru dalam menghasilkan tulisan adalah plagiasi. Plagiasi ini adalah suatu bentuk kecurangan yang dapat menyebabkan eksistensi seorang peneliti maupun guru menjadi tidak ada tidak dipandang, sehingga menjadikan apa yang telah dia lakukan selam ini menjadi sia-sia. Oleh karena itu dalam mengemban profesi masing-masing harus penuh rasa tanggung jawab sehingga dengan profesi tersebut kita mulia di hadapan orang banyak terlebih-lebih mulia di hadapan sang pencipta, yaitu Allah SWT.

    ReplyDelete
  7. Muhammad Nur Fariza
    143401241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Plagiat adalah hal yang tidak boleh dilakukan oleh seorang ilmuan. Hal ini dikarenakan setiap orang memiliki hak kekayaan intelektual. Kalau memang seorang ilmuan ingin mengangkat pembahasan yang telah diangkat orang lain maka wajib hukumnya menghargainya dengan mencantumkan namanya yang terkorespondensi satu-satu dengan apa yang dikutip. Bahkan untuk apa yang telah ia tulis sendiri pun ia harus mengutipnya jika hendak memanggilnya pada tulisan yang berbeda. karena jika tidak maka yang terjadi adalah self plagiarism. Untuk itu para ilmuan diharuskan berhati-hati agar hal itu tak terjadi

    ReplyDelete
  8. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pendidik akan menjadi panutan siswa, setiap langkah-langkah atau aktivitas guru selalu menjadi patokan siswa.seorang pendidik diharuskan untuk tidak plagiarisme karena hal tersebut merupakan perbuatan yang tidak mengapresiasi usaha orang lain. karena begitu penting peran seorang guru bagi siswa, maka kegiatan plagiarisme ini sangat ditindak tegas untuk tidak dilakukan.

    ReplyDelete
  9. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari elegi tersebut, plagiat itu sendiri merupakan menjiplak karya orang lain atau menggandakan karya orang lain. Ketika seseorang menjadi plagiat maka itu sama saja seseorang tersebut mengubur karya-karya aslinya.

    ReplyDelete
  10. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Profesi apapun yang dijalankan seseorang harus ADA, MENGADA, dan PENGADA. Untuk menjadi seorang yang ADA, MENGADA, dan PENGADA dibutuhkan kerja yang ekstra keras. Seorang guru yang memalsukan PAK bisa menyebabkan seorang guru menjadi seorang yang bukan PENGADA walaupun dia ADA dengan ijazahnya sebagai seorang guru dan MENGADA dengan tetap mengajar, mendidik muridnya dikelas, menulis dan melakukan Penelitian Tindakan Kelas. Hal inilah yang menjadi tantangan sebagai calon guru dimasa depan agar tetap bisa menjadi guru yang ADA, MENGADA, DAN PENGADA.

    ReplyDelete
  11. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan elegi di atas, kita tahu bahwa mengenai mewabahnya budaya plagiat dalam dunia pendidikan. Sebagai seorang guru atau yang berprofesi apa saja kita tidak boleh melakukan plagiat. Plagiatisme merupakan salah satu tindak kecurangan. Dalam mencapai tujuan, tak jarang sebagian orang mengambil jalan pintas untuk mencapainya. Hal ini karena adanya rasa kemalasan tetapi ingin meraih hasil maksimal.

    ReplyDelete
  12. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Di berbagai bidang, kita temukan budaya copy paste, tak terkecuali pada bidang pendidikan. Mereka memanfaatkan karya-karya orang lain untuk dijadikan karyanya tanpa menuliskan referensi yang asli. Hal tersebut sungguh mencerminkan moral yang buruk.

    ReplyDelete
  13. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sejatinya perbuatan plagiarisme akan menghilangkan keberadaaannya. Yang ada malah jadi semakin tiada. Jadi dengan perilaku plagiarisme sebenarnya akan membuat seseorang itu kehilangan dirinya dalam karya-karyanya. Perlu adanya suatu kesadaran dari masing-masing komponen pendidikan untuk selalu berkarya menggunakan ikhtiarnya sendiri-sendiri.

    ReplyDelete
  14. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan elegi yang dipaparkan diatas, ilmwuan plagiat dan guru pemalsu PAK bukanlah sesuatu hal yang patut untuk dibanggakan. Seorang ilmuwan yang memiliki berates-ratus karya atau bahkan segudang karya maka apabila ilmuwan tersebut melakukan plagiat sekali saja dalam karyanya, maka runtuh dan hancur semua karya-karya yang lain. Meskipun karya yang lain dibuat dengan usaha sendiri, akan tetapi jika tercoreng dengan adanya plagiat maka semua karya tersebut tidak akan diakui dan akan berakhir sia sia serta keeksitensian dari ilmuwan tersebut akan menurun bahkan menghilang dari dunia keilmuanan.

    ReplyDelete
  15. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Keberadaan guru pemalsu PAK telah menghilangkan kesan guru sebagai sosok teladan dalam dunia pendidikan dan sebagai agen-agen pencetus generasi emas penerus bangsa. Guru pemalsu PAK dapat memberikan pembelajaran secara tidak langsung kepada siswa mengenai berlaku curang. Oleh karena itu, dengan munculnya guru pemalsu PAK ini jangan heran jika siswa-siswa sebagai generasi emas penerus bangsa ini menjadi kebiasaan berlaku curang, contohnya mencontek dalam ujian.

    ReplyDelete
  16. Jeanete Nenabu
    PPS PMAT D (15709251004)

    Mitos selalu berusaha mencelakakan logos, berbuat curang agar logos musnah. Dengan adanya Profesor Plagiat dan banyak Guru Pemalsu PAK. Adanya hal ini merupakan puncak gunung es dari fenomena yang sudah sejak lama melanda di Negara ini. Kecurangan sekecil apapun akan ditampakkan melalui Ruang dan Waktu yang sebetul-betulnya tidak pernah tidur. Ruang dan Waktu itu sebetulnya selalu memberikan catatan dan penilaian terhadap apapun, kapanpun dan dimanapun. Hanya bagi orang-orang yang ikhlas dan berpikir kritislah yang mampu membaca catatan dan penilaian yang dilakukan oleh Ruang dan Waktu. Maka biasakan isi hidup kita dengan melakukan kegiatan yang berfaedah. Biasakan berikhtiar dalam rangka menggapai sesuatu dengan disertai berdoa. Bersikap jujur dan tak pernah lupa untuk selalu beribah kepada Tuhan YME. Karena sesungguhnya ruang dan waktu akan memberikan catatan dan penilaian terhadap apapun yang kita lakukan, dan ingatlah bahwa kita semua kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

    ReplyDelete
  17. Jeanete Nenabu
    PPS PMAT D (15709251004)

    Dalam elegi ini, ditekankan mengenai ada, mengada, dan pengada. Pada dasarnya, kita ada, hanya terkadang kita tidak sadar akan keberadaan kita sehingga kita belum dapat menjadi pengada. Dikalatakan ilmu plagiat dan guru pemalsu PAK adalah ketika kita tidak menyadari keberadaan kita, kita tidak berkarya, kita tidak mengadakan sesuatu yang menjadikan kita pengada.

    ReplyDelete
  18. Jeanete Nenabu
    PPS PMAT D (15709251004)

    Mitos selalu berusaha mencelakakan logos, berbuat curang agar logos musnah. Dengan adanya Profesor Plagiat dan banyak Guru Pemalsu PAK. Adanya hal ini merupakan puncak gunung es dari fenomena yang sudah sejak lama melanda di Negara ini. Kecurangan sekecil apapun akan ditampakkan melalui Ruang dan Waktu yang sebetul-betulnya tidak pernah tidur. Ruang dan Waktu itu sebetulnya selalu memberikan catatan dan penilaian terhadap apapun, kapanpun dan dimanapun. Hanya bagi orang-orang yang ikhlas dan berpikir kritislah yang mampu membaca catatan dan penilaian yang dilakukan oleh Ruang dan Waktu. Maka biasakan isi hidup kita dengan melakukan kegiatan yang berfaedah. Biasakan berikhtiar dalam rangka menggapai sesuatu dengan disertai berdoa. Bersikap jujur dan tak pernah lupa untuk selalu beribah kepada Tuhan YME. Karena sesungguhnya ruang dan waktu akan memberikan catatan dan penilaian terhadap apapun yang kita lakukan, dan ingatlah bahwa kita semua kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

    ReplyDelete
  19. Jeanete Nenabu
    PPS PMAT D (15709251004)

    Dalam elegi ini, ditekankan mengenai ada, mengada, dan pengada. Pada dasarnya, kita ada, hanya terkadang kita tidak sadar akan keberadaan kita sehingga kita belum dapat menjadi pengada. Dikalatakan ilmu plagiat dan guru pemalsu PAK adalah ketika kita tidak menyadari keberadaan kita, kita tidak berkarya, kita tidak mengadakan sesuatu yang menjadikan kita pengada.

    ReplyDelete
  20. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimkasih Prof, berdasarkan postingan ini saya menyimpulkan mengenai plagiat dan pemalsuan, hal ini disebabkan kurangnya kesadaran ilmuwan dan guru akan keberadaan dan tanggung jawab merek sebagai ilmuwan dan guru. Perlunya peningkatan kesadaran ini diharapkan dapat mengurangi pemalsuan dan plagiat karena hal itu menyimpang dari status mereka sebagai ilmuwan dan guru.

    ReplyDelete
  21. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.
    Seperti yang kita ketahui bersama bahwa kegiatan plagiat atau plagiarisme merupakan suatu bentuk kejahatan yang termasuk hukum pidana karena termasuk sebuah tindakan pencurian berupa hak cipta milik orang lain. Kegiatan penjiplakan ini semakin hari bahkan telah menjadi sebuah trend atau budaya di indonesia, miris memang namun begitu adanya. Sekali lagi elegi ini mengingatkan kita untuk terus berhati-hati dan menjauhkan diri dari segala bentuk plagiarisme. Bukan hanya karena takut pada hukum yang berlaku namun juga karena kesadaran diri untuk berbuat jauh lebih baik dan ikhlas di setiap proses yang dijalani.

    ReplyDelete
  22. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari Elegi ini hal yang bisa saya pahami adalah, keberadaan seseorang adalah hasil dari dirinya sendiri dalam mengadakan bukti bahwa dirinya ada sesuai dengan hakekat ada. Sedangkan pemalsu dan pemlagiat tidaklah membuktikan keberadaan dia, memanupulasi bukti keberadaan orang lain agar tampak bahwa itu adalah bukti keberadaannya

    ReplyDelete
  23. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Maraknya aksi plagiat di dunia ini, karena manusia banyak terjebak dalam budaya instan. Misal, seseorang ingin cepat menyelesaikan pembuatan karya ilmiah, maka iapun meniru bahkan menjiplak sama persis dengan karya-karya ilmiah orang-orang yang terdahulu. Hal itu tentu sangat tidak diperbolehkan, karena akan merugikan pihak yang diplagiat. Jika ingin mengkutip pendapat seseorang, para ahli, atau kutipan dari buku, hendaknya mengikuti aturan-aturan yang pakem dalam hal pengkutipan dan kemudian menuliskannya dalam daftar pustaka.

    ReplyDelete
  24. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas sharingnya, Pak. Sangat disayangkan memang budaya plagiat dan pemalsuan yang marak terjadi sekarang. Para plagiaris dan pemalsu tersebut tidak lagi peduli dengan konsekuensi perbuatan mereka. Mereka hanya ingin dikenali sebagai orang terpandang dengan gelar yang bergengsi atau temuan yang mutakhir. Mereka hanya ingin dieluh-eluhkan oleh manusia lain tanpa memikirkan ganjaran yang akan mereka terima dari Yang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  25. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Berdasarkan “Elegi Meratapi Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK” bahwa yang dimaksud dengan Profesor PLAGIAT adalah Profesor yang tidak mengenal dirinya sebagai Profesor ADA dan Guru yang memalsukan PAK adalah guru yang tidak mampu mengenal dirinya sebagai Guru ADA.
    Di jaman pos pos modern ini maraknya budaya plagiat dan memalsukan PAK dengan mengaku karya-karya orang lain untuk naik jabatan atau memperoleh sertifikasi guru. Jika suatu karya itu PALSU maka karya itu bukanlah suatau PENGADA akan diri kita dan bisa MENIADAKAN jati diri kita. Oleh karena itu, diperlukan instrospeksi dengan mendekatkan diri kepanda-nya dan adanya sikap saling menghargai terhadap karya orang lain.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  26. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak.
    Sebagai ilmuwan dan guru hendaknya menghindari adanya plagiat. Plagiat merupakan perilaku yang tidak bertanggungjawab. Melakukan plagiat berarti menginginkan hak tetapi tidak melakukan kewajiban.

    ReplyDelete
  27. Junianto
    PM C
    17706251065

    Fenomena Plagiarisme sudah menjadi hal yang tidak asing lagi di telinga kita. Plagiat dalam dunia pendidikan pun sudah menjadi rahasia umum. Padahal kita tahu bahwa pendidikan adalah pencetak generasi penerus bangsa. Bagaimana mungkin generasi penerus akan baik jika sistem pencetaknya dipenuhi dengan kebohongan? Maka dari itu, plagiarisme dalam dunia pendidikan harus segera di tindak. Namun, plagiarism juga terjadi karena kurangnya wawasan seseorang dalam bagaimana mengambil kutipan, menyalin tulisan orang lain, dll. Terkadang plagiarism hanya dimaknai sebagai mengadakan lagi sesuatu yang sudah ada, mengutip pendapat ahli, dll. Padahal hal itu diperbolehkan untuk memperkuat pendapat/ penelitian seseorang asalkan mencantumkan sumbernya. Inilah yang sering dilupakan sebagian orang, mereka mengutip tetapi tidak mencantumkan sumber.

    ReplyDelete
  28. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Allah memberikan anugerah pikiran kepada manusia dengan tujuan supaya manusia dapat berpikir dengan baik. Kasus plagiarisme sudah sangat marak sekali di Indonesia. Dan yang lebih mirisnya lagi para pelaku plagiat adalah mereka yang jelas-jelas berpendidikan tinggi dan sebenarnya mampu untuk tidak melakukan hal itu. Sungguh merugi dan tercela perbuatan plagiat yang saat ini marak terjadi dalam pendidikan di Indonesia. Para plagiator dengan gampang berbuat semaunya tanpa memikirkan akibatnya. Mereka tidak memikirkan akibat dibalik perbuatannya tersebut. Mereka sama saja dengan tidak menghargai ruang dan waktu. Plagiator tak menghargai hasil karya orang lain dan itu sama saja dengan perbuatan mematikan karya orang lain. Manusia diberi akal untuk berpikir dan memanfaatkan ruang dan waktunya semaksimal mungkin. Semoga kita terhindar dari sifat plagiarisme sehingga kita dapat memaksimalkan kinerja pikiran dan otak kita.

    ReplyDelete
  29. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Sebagai seorang manusia yang hidup di dunia ini, kita harus menjalani sesuatu sesuai dengan dimensi dimana kita berada. Kita tidak bisa hanya sekedar ADA tanpa MENGADA dan menjadi PENGADA. Sebagai calon guru kita juga harus mengetahui bagaimana seharusnya menjadi seorang guru yang baik yang tidak hanya mementingkan sertifikasi saja, tetapi juga mementingkan pembelajaran dan siswa yang menjadi pusat pembelajaran. kita juga tidak boleh plagiat dan korupsi dalam melaksanakan tugas kita sebagai seorang guru, seorang pendidik.

    ReplyDelete
  30. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Elegi ini mengingatkan kita untuk mempertahankan keberadaan dengan menghasilkan karya-karya yang sesuai dengan hakekat ADA, MENGADA dan PENGADA. Bukan dengan melakukan pemalsuan dan plagiat. Tindakan pemalsuan dan plagiat yang disengaja merupakan akibat dari lebih mementingkan hasil daripada proses. Padahal hasil yang dibuat tanpa adanya proses yang baik tidaklah ada artinya. Berbeda jika prosesnya baik, maka apapun hasilnya pasti akan membawa manfaat.

    ReplyDelete
  31. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Budaya plagiarism atau menjadikan ada dalam waktu singkat adalah budaya yang berbahaya dan mendarah daging. Kita sering kali lalai, tergoda setan, sombong dan tak sopan dengan dimensi ruang dan waktu yang terus bergerak. Hanya mereka yang serius, menikmati proses dan mengerjakkan dengan ikhlas lah yang akan bertahan lama. Sedangkan mereka yang melakukan plagiat, hanya aman sementara/semu selebihnya justru membahayakan jiwa mereka sendiri. Maka, ikhlaskanlah diri kita untuk berproses, menjadikan sesuatu ada dengan melewati proses yang tidak sebentar, instan begitu saja. Proses yang berkelanjutan atau secara terus menerus dan proses kesabaran dalam melakukan sesuatu adalah yang harus dilalui seseorang untuk mencapai keberhasilan, karena pembentukan kebiasaan yang baik pun butuh proses yang panjang dan dilakukan secara kontinue.

    ReplyDelete
  32. Elegi Meratapi Plagiat
    Charina Ulfa
    17709251039
    PPs P.Mat B 2017

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Berdasarkan elegi yang telah bapak posting,itu mengatakan bahwa Plagiat dan pemalsuan itu terjadi akibat dari kesempatan yang diberikan oleh si penerima pemalsuan. Plagiat berarti pencuri atau penyontek hak cipta orang lain dan merupak sebuah tindak kejahatan, sehingga seseorang penulis yang melakukan plagiat maka ia telah melakukan tindak kecurangan dan kejahatan yang sudah semestinya mendapatkan sanksi. Sehingga sudah seharusnya seorang dosen atau mahasiswa sangat tidak pantas melakukan plagiat. Dan kalaupun ada siswa atau dosen yang melakukan plagiat terhadap tugas yang diberikan sudah semestinya pembimbing menegur atau memberi sanksi atau mengganti karya tulis nya itu. Guru juga sama, melakukan pemalsuan PAK, karena ada kesempatan atau paling tidak karena adanya kerja sama dengan petinggi lain baik di sekolah maupun pemerintahan agar dana sertifikasinya cair.

    ReplyDelete
  33. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Terimakasih pak prof telah memberikan nasehat, terutama buat diri pribadi saya.Melihat fenomena yang ada sangat menyayat hati.Seperti Plagiat adalah salah satu tindakan yang dapat membunuh karakter seesorang.Fonema yang terjadi di berbagai media bukan hal baru mengenai pemalsuan dan menduplikat terkait masalah karya dan ciptaan.Hal yang perlu dikembangkan di dalam ada, mengada, dan pengada adalah dengan membudayakan sifat jujur dan ikhlas.

    ReplyDelete
  34. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elgi ini saya memahami bahwa seorang ilmuan dalam menghasilkan karyanya hendaklah sesuai dengan hakekat ada, mengada dan pengada. Maka sebenar-benar ilmuwan tersebut akan menjadi ilmuwan ada jika selalu berjuang untuk menjadi ilmuan mengada dan ilmuwan pengada. Janganlah menjadi peneliti yang tidak mengenal dirinya sebagai ilmuwan ada, karena sebenar-benar ilmuwan tersebut cenderung melakukan pemalsuan atau plagiat. Untuk itu, diperlukan kesadaran yang tingggi agar para ilmuwan dalam menghasilkan sebuah karya tidak melakukan plagiat atau memalsukan dokumen.

    ReplyDelete
  35. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Ruang dan waktu akan memberi penilaian dan catatan dari beberapa kejadian yang ada. Menunjukkan bukti. Ruang dan waktu adalah suatu hal yang ada dan tak pernah tidur, memberikan penilaian dan catatan. Dan yang bisa membacanya adalah orang yang ikhlas. Dalam hal ini kita bisa memahami orang yang ikhlas serta yang dapat mengambil hikmah dari segala peristiwa yang ada.
    Fenomena yang sedang terjadi yaitu fenomena ada, mengada dan pengada. Dalam hal ini bersifat plural atau umum. Ada yaitu yang benar-benar on the track. Atau tujuannya. Sehingga dibutuhkan suatu usaha yang dinamakan mengada yang ketika kita telah melakukan proses tersebut maka kita menjadi pengada. Dalam hal lain bisa diartikan dengan jika kita ngun menggapai cita-cita atau tujuan maka perlu namanya usaha agar menjadi orang penyandang cita-cita dan tujuan itu. ini inti sejatinya dari ADA, MENGADA, dan PENGADA.
    Sedangkan fenomena plagiat dan pemalsu adalah suatu fenomena yang meniadakan diri. Yang artinya tidak benar-benar memahami sejatinya ADA, MENGADA dan PENGADA.

    ReplyDelete
  36. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Apapun profesi kita, untuk menjadi Ada tidaklah cukup—dan bukan itu pula yang menjadi tujuan—namun perlu juga menjadi MENGADA dan PENGADA agar terhindar dari mitos. Orang-orang yang terjebak dalam plagiarisme merupakan orang-orang yang terjebak ke dalam mitos. Mitos akan Ada dirinya.

    ReplyDelete
  37. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    sia-sialah memiliki gelar pendidikan yang tinggi jika tak mampu memberikan kontribusi pengetahuannya bagi dunia. Menjadi ADA dengan segala gelar yang terpampang tak cukup jika tidak MENGADA lewat pemikiran yang disampaikan lewat tulisan dan menjadi PENGADA yang terbukti lewat tulisan-tulisan tersebut.

    ReplyDelete
  38. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Meratapi Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK. Setalah membaca elegi ini saya belajar bahwa untuk mencapai sebuah impian kita haruslah terus berusaha dan berkarya. Seperti dalam elegi ini, jika seorang peofesor mengada melalui plagiasi maka sebenarnya itu hanyalah mitos, yang dapat menjadikan profesor itu tidak ada. Oleh karena itu, agar kita ini ada maka kita harus mengada dengan selalu bekarya sehingga kita menjadi pengada dari karya-karya yang kita buat. Dengan begitu, kita baru dapat dianggap ada. Terimakasih

    ReplyDelete
  39. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Hakikat seseorang yang menjalankan suatu profesi seperti ilmuwan dan guru adalah ada, dan yang dilakukan untuk memperoleh/menunjukkan keberadaannya itu adalah dengan mengada, dan sebagai hasil dari mengada itu sendiri adalah pengada. Kegiatan menulis (membuat suatu karya) sebagai kegiatan mengada dan hasil tulisan sebagai wujud dari pengada, apalah artinya mengada dan pengada bila itu merupakan hasil dari plagiasi atau plagiat karya orang lain. Hal ini tentu bertentangan dengan tujuan dari kegiatan mengada dan sebagai pengada itu sendiri. semoga kita bukan termasuk dari golongan orang yang seperti pada fenomena tersebut dan tidak tergoda untuk perbuatan/perilaku instan yang mementingkan hasil daripada proses.

    ReplyDelete
  40. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Terimakasih atas ilmu yang bapak berikan melalui elegi meratapi sang ilmuwan plagiat dan guru pemalsu PAK. dari postingan bapak saya bisa melihat bahwa plagiatrisme ialah suatu fenomena yang berujung tidak boleh di budidayakan diindonesia. karna sebenar-benarnya guru ada jika mereka sendiri mebuat karya (pengada) yang sesuai dengan hakekat karya tersebut tidak mencontek atau menirukan.
    semoga kita menjadi fasilitator yang sebenar-benarnya Ada dan tidak menjadi plagiarisme.

    ReplyDelete
  41. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Tidak ada yang menyangka jika seorang guru yang merupakan contoh dan teladan bagi para muridnya juga bisa melakukan sesuatu hal yang tidak terpuji. Paramitos telah membawa mereka untuk mengada sesuatu yang memang seharusnya tidak ada dalam diri mereka. Jika kita lihat, memang hal tersebut merupakan hal yang sepele. Namun, jika kita tahu apa akbiat dari mengadakan sesuatu yang seharusnya tidak ada akan berdampak besar pertama bagi sang guru secara khususnya serta kedua bagi semua yang berada di lingkungannya secara umumnya. Oleh karena itu, sebagai seorang guru hendaknya mengadakan seuatu yang mungkin ada dan memang seharusnya ada. Jika seorang guru ingin membuktikan diri mereka ada, maka mengadakan sesuatu yang baik merupakan solusi utama. Menjadi seorang guru memang bukanlah pekerjaan yang gampang, karena banyak sekali godaan yang akan diterima. Namun, sebenar-benarnya guru adalah mereka yang selalu bersyukur atas apa yang diberikan dan selalu berusaha keras untuk menjadi guru yang baik bagi lingkungannya. Semoga kita senantiasa akan menajdi seorang guru yang tidak menuntut sesuatu karena profesi kita, dan selalu dilindungi untuk melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan oleh guru. Aaamiin.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  42. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Walaupun postingan ini ditulis pada tahun 2013, saya teringat ada berita muncul di TV di tahun 2017 ini. Ada salah satu oknum yang menggunakan surat berharga seperti surat sertifikasi untuk meminjam uang atau untuk digadaikan. Sampai hal ini merugikan berbagai pihak. Hingga pada akhirnya oknum pemalsu dokumen pun ditangkap. Entah bagaimana cara berpikir mereka hingga melakukan sesuatu seperti itu. Cukup apik memaknai ada, mengada, dan pengada. Seperti halnya melakukan plagiat seperti mengada ngadakan apa yang tidak ada. Semua akan hanya menjadi sebuah mitos belaka yang akan terus membayangi kita. Untuk menjadi seorang ilmuwan, cukup dengan menulis hasil karyanya untuk mengada sesuatu yang ada dan jadilah pengada yang benar

    ReplyDelete
  43. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Ilmuan plagiat dan guru pemalsu PAK akan terbongkar oleh ruang dan waktu. Dalam setiap perjalanan ruang dan waktu selalu saja rentan dengan plagiat, tinggal bagaimana setiap individu dalam kelompok saling mendukung untuk saling mengingatkan akan dampak negatif plagiat, dengan begitu maka terciptalah hal-hal baik yang pada akhirnya akan berdampak baik seperti majunya dunia pendidikan.

    ReplyDelete
  44. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Elegi meratapi sang ilmuwan plagiat dan guru pemalsu PAK ini mengajakan pada kita beberapa hal. Pertama, tiadalah ada diri kita tanpa kita mengada dan pengada. Maknanya adalah jika kita ingin diri kita ada, maka kita harus senantiasa mengada. Bila kita senantiasa mengada maka disaat itu pula pengada akan selalu menyertai kita. sebagai guru atau dosen, wawasan ini akan memotivasi kita agar kita senantiasa berkarya, mengajar, menulis, meneliti dan sejumlah aktivitas mengada yang lain. Pelajaran kedua yang kita dapat dari elegi ini adalah bahwa aktivitas plagiat atau pemalsuan menandakan ketiadaan diri. Bila ilmuwan melakukan aktivitas plagiat maka ia telah memalsukan dirinya mengada, yang nantinya akan berujung ketiadaan dirinya

    ReplyDelete
  45. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Manusia dikatakan ada, jika ia mengada serta pengada. Jika tidak ada ketiganya maka dia dianggap tidak ada. Karena tidak ada satupun yang menunjukkan eksistensinya di dunia ini, baik itu berkaitan dengan hal yang besar maupun hal yang kecil. Namun untuk tetap berada dalam ketika posisi tersebut jangan menggunakan cara-cara yang tidak baik. Misalnya dengan melakukan plagiat dan pemalsuan. Karena jika hal tersebut dilakukan semua nilai kebaikan akan hilang, serta kesalahan yang telah kita lakukan tidak hanya berdampak pada diri kita sendiri namun juga pada orang lain. Maka mari terus tetap istiqamah berada pada jalan kebaikan.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  46. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Dalam berkarya kita harus memperhatikan aspek ada, mengada, dan pengada sehingga kita tidak terjebak pada plagiat. Plagiat merupakan suatu kepura-puraan yang tidak sesuai ruang dan waktu. Seorang plagiat hanya memenuhi aspek ada atau mengada, mereka tidak menjadi pengada. Maka jika hanya ada dan mengada, maka ada kemungkinan tidak ada dan tidak mengada. Artinya ketiga aspek tersebut harus selalu lengkap sebagai panduan untuk berkarya dan supaya tidak plagiat.

    ReplyDelete
  47. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Kasus plagiasi di dunia pendidikan saat ini sudah merajalela. Bahkan banyak sekali orang yang tidak menyadari bahwa dirinya melakukan plagiasi. Plagiat adalah suatu pilihan yang muncul pada saat kita tidak percara diri. Jika kita mampu, mengapa harus melakukan plagiat? Orang yang hanya menghargai hasil tanpa mempertimbangkan proses adalah salah satu kelemahan dalam dunia pendidikan. Jika guru melakukan pemalsuan PAK, maka secara omotasi tingkat akuntabilitas dunia pendidikan Indonesia akan tercoreng. Oknum tersebut membuat guru-guru yang jujur menjadi hidden.

    ReplyDelete
  48. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Orang yang melakukan plagiat adalah orang yang gagal menjadi pengada yang sesungguhnya. Mengadanya hanya palsu dan keberadaannya perlu dipertanyakan.

    ReplyDelete
  49. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Ilmuan plagiat dan guru pemalsu sejatinya adalah orang-orang yang mengkhianati kemanusiaan. Mereka lepas dari kepercayaan bahwa manusia-manusia adalah makhluk dengan kosmosnya masing-masing. Manusia adalah entitas yang unik yang memiliki beragam potensi-potensi yang bisa dikembangkan melalui proses pendidikan. Dalam dunia akademik, tindakan plagiat dan pemalsu adalah tindakan yang paling diharamkan dan memiliki konsekuensi moril yang besar. Guru sebagai salah-satu profesi yang mulia harus berdiri di atas kemampuan yang mapan.

    ReplyDelete
  50. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027
    Seorang guru hendaknya tidak hanya piawai dalam menyampaikan materi atau ilmu kepada peserta didik, namun juga dituntut untuk dapat mengembangkan sendiri sebuah karya yang dapat memfasilitasi peserta didik dalam melakukan kegiatan pembelajaran yang bermakna. Karya yang dibuatpun harus disusun dengan kaidah penyusunan karya yang baik dan benar, menggunakan pengalaman dan referensi yang baik, serta tidak melakukan tindak plagiat. Hal seperti ini tentu sangat penting untuk diperhatikan, apalagi sosok guru seringkali menjadi panutan para siswa, sehingga harus memberikan teladan yang baik.

    ReplyDelete
  51. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Dari tulisan tersebut pelajaran yang dapat saya ambil adalah bahwa apapu profesi kita saat ini jadilah seseorang yang profesional, berkarya yang merupakah hasil karya kita sendiri (bukan hasil plagiasme), dengan begitu kita akan menjadi sosok yang sebenar-benarnya memegang teguh profesi kita. Orang yang melakukan kecurangan, lambat laun akan terbongkar juga. Seperti kata pepatah "sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga"

    ReplyDelete
  52. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Dari elegi tersebut dapat saya simpulkan bahwa menjadi guru, ilmuwan, profesor, dosen dan lain sebagainya, tidak cukup hanya menjadi ada. Menjadi guru ada, ilmuwan ada, dan profesor ada yaitu hanya berbekal ijazah dan SK. Menjadi ada dapat menjadi tiada apabila guru, ilmuwan, profesor tidak mengada dan menjadi pengada. Mengada dan pengada itulah bukti keberadaan profesionalisme guru, ilmuwan, dan profesor.

    ReplyDelete
  53. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Kita akan menjadi ada jika kita selalu berjuang untuk menjadi mengada dan pengada. Tetapi kita harus berhati-hati agar tidak terepengaruh oleh paramitos yang menyesatkan kita sehingga mengancam kita menjadi tidak ada. Seorang guru dan ilmuwan akan menjadi mengada dan pengada jika mereka berkarya. Tetapi dalam berkarya tersebut harus berhati-hati agar tidak menjadi plagiat karena hal tersebut dapat mengancam guru dan ilmuwan yang ada sehingga menjadi tidak ada. Sebagai seorang mahasiswa saya juga harus berhati-hati agar tidak melakukan plagiat yang dapat mengancam keberadaan saya sebagai mahasiswa.

    ReplyDelete
  54. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Yang saya garis bawahi dari elegi ini adalah ada, mengada, dan pengada. Pada dasarnya kita ada, hanya terkadang kita tidak menyadari keberadaan kita sehingga kita belum dapat menjadi pengada. Dikatakan ilmuan plagiat dan guru pemalsu PAK adalah ketika kita tidak menyadari keberadaan kita atau dengan kata lain kita tidak berkarya, tidak berusaha mengadakan sesuatu yang menjadikan kita pengada. Oleh karena itu alangkah baiknya jika kita terus belajar dan memperkaya diri agar bisa menjadi guru mengada dan pengada.

    ReplyDelete
  55. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Untuk menggapai status ada, seseorang dituntut untuk mengada sehingga menghasilkan pengada. Begitu pula dengan ilmuwan dan guru sebagai aktor dalam pekembangan ilmu dan pendidikan. Ilmuwan diakui ada apabila ia melakukan penelitian dan eksperimen dalam mengembangkan ilmu maka itulah bentuk ilmuan mengada sedangkan hasil temuan dari penelitian dan eksperimennya itu ditulis dan dipublikasikan itulah bukti ia pengada. Begitu pula dengan guru. Untuk menunjukkan ia ada tidak hanya cukup dengan mengajar namun juga perlu melakukan perkembangan melalui PTK karena sesungguhnya teacher is researcher. Maka sebagai subyek yang berpengaruh terhadap generasi bangsa hendaklah para ilmuwan dan guru melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya pada ruang dan waktu yang tepat agar menjadi teladan bagi para siswa.

    ReplyDelete
  56. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Untuk memahami elegi maka landasan utamanya adalah spiritual, agar ketika kita ingin mereduksi ataupun mengembangkan elegi tetap mempunyai batasan-batasan dalam mentafsirkan elegi itu dan pemikiran kita tidak lari kemana-mana. Jangan sampai setelah kita memahami elegi secara brutal maka kita semakin jauh dari Allah SWT. Tetunya kita tidak ingin hal itu terjadi. Oleh Karena itu tetap harus dalam kerangka spiritual dalam memahami elegi. Sekian dan terima kasih.

    ReplyDelete
  57. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Perlu usaha yang keras agar kita bisa menjadi ada, mengada, dan pengada. Hal ini memang tidak mudah, namun kita dapat mengusahakannya. Untuk mencapai hasil yang maksimal maka kita harus melakukan tiga hal tersebut karena memang itu adalah syarat untuk mencapai hasil yang maksimal. Mari berusaha untuk menjadi ada, mengada, dan pengada.

    ReplyDelete
  58. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Ketika sesorang ingin dianggap ada, maka tidak akan terlepas dari mengada dan pengada. Namun, ketika mereka ingin dianggap pengada dan tidak mempedulikan mengada, mereka akan cenderung melakukan kecurangan, seperti plagiarisme. Sebagai seorang akademisi atau seseorang yang berilmu, hendaknya kita tidak melakukan plagiarisme, karena itu merupakan tindak kecurangan. Untuk mencapai tujuan tertentu, sebagian orang mengambil jalan pintas untuk mencapainya. Sesungguhnya, ketika seseorang melakukan plagiarisme, ia telah menghilangkan keberadaan dirinya sendiri. Oleh karena itu, hendaknya seseorang tidak melakukan plagiarisme dan menghasilkan suatu karya berdasarkan kemampuan dan hasil kerja keras sendiri.

    ReplyDelete
  59. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Menjadi ada, pengada dari yang mungkin ada, memberikan kesempatan kepada para imuwan untuk berkarya. Setiap guru dan ilmuwan punya potensi dan kesempatan itu, karena mereka logos yang sudah teruji dengan lulus dari pendidikan akademik. Sifat plagiat bahkan sampai memalsukan adalah karena hati sudah menjelma menjadi syaiton, logos sudah menjelma menjadi mitos. Penjelmaan yang sebenarnya terjadi karena sifat sombong, sombong sudah memiliki kedudukan seolah olah segala hal yang dilakukan menjadi benar.

    ReplyDelete
  60. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dari elegi di atas, menajdi seorang pengada memang bukanlah perkara yang mudah. Seseorang walaupun statusnya ilmuwan atau gurupun harus selalu banyak membaca dan berpikir untuk menjadi seorang pengada. Jikalau dia sudah terjebak dalam jebakan kemalasan, maka perilaku plagiat menjadi jalan utama, karena kemalasan identic dengan pragmatism tanpa susah payah.

    ReplyDelete
  61. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Plagiat dan pemalsuan yang dilakukan dengan alasan apapun itu merupakan sebuah kesalahan dan dosa yang tidak boleh dilakukan. Plagiat dan pemalsuan tidak menghargai apa yang telah dilakukan orang lain dan termasuk pembohongan publik. Plagiat dan pemalsuan tentu merugikan orang lain dan diri sendiri, serta meruapak suatu kebiasaan yang hendaknya dihilangkan sebab sama aja melakukan pencurian terhadap pemikiran orang lain.

    ReplyDelete
  62. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Menimbang dari sisi filsafat, guru maupun praktisi pendidikan yang ada mharus berperan sebagai pengada untuk terus mengada sehinggamereka masih dapat survive dan menunjukkan eksistensi mereka pada dunia. Sedangkan mengada dan pengada merupakan sifat yang sama-sama harus ada dan identitas dalam semua dimensi mengada, baik tesis, anti-tesis maupun sintesis. Dan sebenar-benar mengada ialah tidak memunculkan apa yang sebenranya telah ada, melinkan mengadakan sesuatu yang orisinil dari pemikirannya sendiri untuk kebijaksanaannya dan untuk perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  63. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Sedangkan jika dirunut dari sisi sosial, etik amupun estetika yang beredar di semesta ini, maka tindakan pemalsauan atau plagiasi aialah tindakan yang melanggar norma sosial yang telah dihayati oleh bangsa Indonesia jauh sebelumnya. Sebagai insan yang berkewarganegaraan Indonesia, maka kita wajib utnuk menjunjung tinggi nilai-nilai yang berlaku di Indonesia dan norma-norma yang melekat pada bangsa Indonesia. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  64. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Plagiat dan pemalsuan suatu karya merupakan suatu tindakan yang melanggar nilai-nilai positif. Suatu kanopipun tak akan bisa membenarkan sudut pandang mana suatu plagiat dan pemalsuan itu dianggap benar. Seorang guru atau bahkan seorang ilmuan tentu telah teruji secara akademis keilmuannya. Sehingga sangatlah tidak elok ketika kita mendengar adanya plagiatisme atau pemalsuan suatu karya. Secara keilmuan, ilmuan dan guru tentu memiliki taraf ilmu yang cukup untuk menyusun suatu karya, karena status ada mereka. Tinggal kesadaran dan kemauan seseorang untuk mau mengada atau tidak. Ketika kita berbuat plagiatisme maka sesungguhnya kita telah berubah menjadi mitos karena fungsi kita untuk mengada dan menjadi penguasa telah mati.

    ReplyDelete
  65. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Seorang ilmuwan yang melakukan plagiat tidak bisa disebut sebagai ilmuwan sesungguhkan, dengan kata lain sesungguhnya ia bukanlah seorang ilmuwan. Mudahnya mengakses informasi, termasuk hasil penelitian dari orang lain, dapat menjadi kemudahan dalam mencari sumber referensi, tetapi juga dapat disalahgunakan sebagai sarana dalam plagiatism atau menjiplak karya orang lain. Selain melanggar kode etik dan dapat dikenai sanksi, perilau plagiatism juga telah menghancurkan moral seseorang. Sehingga hancur nama ilmuwan tersebut apabila diperoleh melalui hasil menjipla karya orang.

    Seorang guru yang naik pangkat karena PAK tida bisa disebut sebagai guru sesungguhnya, dengan kata lain ia bukanlah seorang guru. Naiknya pangkat seorang guru ditentukan oleh kinerjanya selama menjalankan segala tugas yang menjadi tanggungjawabnya. Tingginya keinginan kenaikan pangkat tanpa diimbangi oleh kerja keras menimbulkan niatan buruk yaitu melakukan penipuan atau pemalsuan angka kredit atau poin agar dapat naik jabatan tanpa perlu bekerja keras. Kedua kgiatan instan tersebut merupakan penyakit masa kini yang dapat menjangkit siapa saja. Menipu menjadi jalan pintas agar seseorang dapat memperoleh tujuan yang diinginkan dengan cepat dan mudah. Tentu saja hal ini sangat tida baik dan semoga kita selalu terhindar dari perilaku seperti itu.

    ReplyDelete
  66. Latifah Fitriasari
    PM C

    Dalam dunia pendidikan penulisan karya ilmiah adalah suatu hal yang mutlak ada sebagai bukti keilmuan seseorang. Dan kegiatan plagiarisme ini telah membudaya di Indonesia dalam dunia pendidikan bagi kalangan pelajar, mahasiswa ataupun dosen. Mereka menganggap kegiatan mengcopy pendapat atau tulisan orang lain tanpa disertakan sumber untuk dimasukkan dalam tugas, penelitian, dan karya ilmiah itu hal yang wajar. Salah satu usaha yang harus dilakukan adalah membangun sinergitas antara Perguruan tinggi dan Kemenristekdikti dalam mencegah mewabahnya budaya plagiat. Hal ini pun menjadi tanggung jawab pemerintah untuk membantu memperbaiki mutu dalam pendidikan tinggi sehingga tidak akan terjadi krisis dalam penulisan karya ilmiah.

    ReplyDelete
  67. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Plagit dan pemalsu adalah bentuk paramitos dari pengada. Jika pengada melalkukan hal tersebut maka akan menjadi tiada. Sebagai seorang pengada maka sudah seharusnya kita selalui mengadakan objek ada yaitu berupa karya. Tanpa adanya karya pengada menjadi tiada.

    ReplyDelete
  68. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Keberadaan manusia belum berarti jika hanya berdasarkan bukti fisiknya saja atau makna “ada” nya saja. Akan tetapi keberadaan manusia baru benar-benar berarti ketika manusia itu memiliki ada, mengada, pengada. Ada secara fisik, mengadakan sebuah karya, kemudian dia pun menjadi pengada, maka selanjutnya baru bisa diakuilah keberadaanya secara seutuhnya. Ketika dia hanya bisa sampai pada tahap ada saja, maka itu berarti dirinya sendiri pun masih meragukan keberadaanya. Ilmupun tidak akan ada guna bagi kita jika hanya sampai tahap ada saja, tanpa diterapkan atau dilaksanakan sesuai dengan konteknya. Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  69. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Kegiatan mengada akan menunjukkan bahwa seseorang itu ada dan hasil dari mengada itulah yang menunjukkan bahwa seseorang tersebut sebagai pengada. Seorang plagiator adalah seseorang yang memalsukan keberadaannya, sehingga ada nya dia tidak sebenar-benar ada dalam ruang dan waktunya. sebagai contoh, seorang mahasiswa yang ingin menunjukkan keberadaannya dengan cara plagiat maka sebenarnya ia tidak menunjukkan bahwa dia ada sebagai mahasiswa, namun dia menunjukkan bahwa dirinya ada sebagai plagiator.

    ReplyDelete
  70. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Seorang ilmuwan maupun guru sama-sama adalah researcher. Bukan hanya ilmuwan yang melakukan penelitian terkain dengan bidangnya, namun guru juga demikian. Karena sebagai bukti ia ‘pengada’ maka ‘mengada’lah ia. Karena tidak cukup hanya sekedar ‘ada’. Maknanya guru tidak hanya sekedar mengajar di kelas (ada), namun ia juga bisa melakukan penelitian tindakan kelas untuk mengidentifikasi permasalahan apa yang sering muncul di kelas dan memperbaikinya (mengada). Maka sebagai bukti tentang keberadaannya, hasil dari penelitian tersebut dipublikasikan (pengada). Dan dalam pengada janganlah sampai terjerumus ke dalam plagiasi.

    ReplyDelete
  71. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Kegiatan plagiat dan pemalsuan merupakan hal yang sangat merugikan baik bagi pera pelaku plagiat maupun yang mempunyai karya yang diplagiati. Plagiarisme memang sangat rentan untuk dilakukan. Namun kadangkala kita tidak menyadarinya. Sebagai contoh, apabila kita akan melakukan penelitian hendaknya kita mencari terlebih dahulu apakah penelitian yang akan kita lakukan sudah ada orang yang meneliti atau belum.

    ReplyDelete
  72. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Sebagai tambahan, dampak negatif dari plagiarisme ini bisa berdampak pada kualitas pendidikan, moral, dan masa depan bangsa kita. Tindakan plagiarisme seharusnya tidak menjadi bagian dari kebiasaan kita atau lebih buruk lagi menjadi budaya kita. Plagiarisme dapat dihindari dengan melakukan kejujuran.

    ReplyDelete
  73. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Ilmuan plagiat adalah ilmuan yang tidak dirinya sebagai ilmuan yang mempunyai sifat ada menurut filsafat. Maka imbas dari itu adalah dengan sendirinya dia juga tidak mengenal ilmuan yang mampu mengada atau mampu menjadi pengada. Begitupun dengan guru pemalsu PAK adalah guru yang tidak mampu mengenal dirinya sebagai guru yang mempunyai sifat ada. Jadi bahwa sebenar-benarnya keber-ada-annya adalah saksi bagi mengadanya. Jika mereka menyadari bahwa mereka adalah ada dan mampu mengada maka saya rasa tidak akan terjadi akan terjadi kegiatan plagiat maupun pemalsuan PAK.

    ReplyDelete
  74. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Masalah plagiarisme saat ini malah hampir menjadi budaya di lingkungan kita. Plaiarisme menjadi hal yang biasa dan lumrah untuk dilakukan. Terlalu banyaknya hal ini dilakukan terhadap karya asli orang, sehingga sekarang menjadi susah untuk mencarii siapa atau darimana suatu karya tersebut berasal. NAmun, plagiarisme dapar dihindari, mulai dari diri sendiri, kita dapat memotovasi diri agar selalu bertindak jujur dan selalu menambah pengetahuan dan keterampilan agar dapat menciptakan karya baru yang unik.

    ReplyDelete
  75. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    sepemahaman saya membaca elegi ini, plagiat dan pemalsuan disebabkan kurangnya kesadaran ilmuwan dan guru akan keberadaan dan tanggung jawab mereka sebagai ilmuwan dan guru. Peningkatan kesadaran ini diharapkan dapat mengurangi pemalsuan dan plagiat karena hal itu menyimpang dari hakikat mereka sebagai ilmuwan dan guru, yang seharusnya memberi dedikasi terhadap profesi, menyalurkan ilmu dan memberi contoh perilaku yang baik.

    ReplyDelete
  76. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Memang, agar seorang ilmuwan maupun guru diakui keberadaannya maka ia harus mengadakan atau membuat karya ilmiah maupun PAK agar mereka dapat menjadi pengada. Namun mengutip karya orang lain tanpa mencantumkan sumber bukan perbuatan yang layak untuk dilakukan. Apalagi eksistensinya ia sebagai dosen. Begitu juga dengan guru yang memalsukan PAK. Pendidik, dalam hal ini dosen dan guru merupakan orang-orang panutan bagi peserta didik. Jika yang menjadi panutan saja tidak layak untk dijadikan sebagai contoh, lalu siapa yang bisa menjadi panutannya lagi?
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  77. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    seseorang yang melakukan plagiarisme adalah seseorang yang mau berusaha dan tidak percaya pada kemampuan yang ia miliki. namun tidak semua plagiarisme dilakukan secara sengaja. untuk itu guna menghindari plagiarisme sekarang banyak pelatihan-pelatihan cara menghindari plagiarisme, selain itu juga seiring berkembangnya zaman terdapat aplikasi-aplikasi yang dapat digunakan untuk mengecek kadar plagiarisme. semoga aplikasi tersebut dapat membantu kita untuk terhindar dari plagiarisme.

    ReplyDelete
  78. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    Seorang ilmuwan dituntut untuk menemukan sesuatu temuan atau karya yang baru, untuk itu sebelum mempublikasikan penemuannya hendaknya terlebih dahulu ia mengecek kadar plagiatnya

    ReplyDelete
  79. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    dari elegi merapati sang ilmuwan plagiat dapat diambil kesimpulan bahwa didunia ini banyak kegiatan plagiat, salah satunya didunia pendidikan. plagiat adalah mengambil apa yang dimiliki orang lain, orang yang melakukan kegiatan plagiat seharusnya dihukum karena mengambil / mengutip yang bukan dari hasil usahanya sendiri.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  80. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. apapun itu bentuknya plagiarisme dan pemalsuan merupakan hal tercela yang dapat merusak diri sendiri dan orang lain. Pemalsuan dan plagiarisme merupakan tindakan pencurian terhadap pemikiran orang lain. Tidak mudah menjadi yang ada, pengada dan mengada. Perlu proses untuk mencapainya. Jangan menjadi pencuri, hargai kerja keras orang lain.

    ReplyDelete
  81. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Profesor dan guru merupakan orang-orang yang dihormati. Apa yang mereka katakan dan lakukan akan mempengaruhi masyarakat karena mereka adalah teladan sehingga apa yang mereka lakukan akan ditiru oleh masyarakat. Gelar profesor bukanlah gelar yang mudah untuk didapatkan, harus melalui proses yang panjang dan sulit, sungguh memprihatinkan bila gelar yang sangat terhormat itu harus dicemari dengan perilaku plagiarisme.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  82. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Bagaimanapun dan apapun alasannya, prilaku pemalsu/plagiat adalah dosa terbesar dalam dunia akademik. Meskipun termaafkan namun konsekuensi sosialnya sangat besar. Kepercayaan orang-orang kepada mereka akan hilang seketika dan sangat sulit untuk dibangun kembali. Secara psikis, prilaku plagiat adalah manifestasi dari pengetahuan yang impoten. Ia tidak mampu meberikan reaksi terhadap realitas. Ia adalah symbol ketidakpercayaan diri. Semoga kita dijauhkan dari prilaku tidak terpuji itu. Aamiin!!

    ReplyDelete
  83. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Tidak dipungkiri, semakin maju suatu zaman, kegiatan plagiasi akan semakin marak. Kegiatan plagiasi biasanya dilakukan oleh orang yang malas dan tidak bertanggungjawab. Plagiasi adalah aktivitas pelanggaran hukum dan dapat dikenai sanksi. Yang diperbolehkan yaitu kita melakukan rujukan dari karya seseorang, namun harus mengikuti standar cara merujuk/mengkutip yang benar. Kemudian kita menuliskannya di referensi atau daftar pustaka.

    ReplyDelete
  84. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Elegi meratapi sang ilmuwan plagiat ini menunjukkan pengertian tentang Ada, Mengada dan Pengada yang selalu bapak sebutkan di kelas. Ketika kita manusia kurang yakin terhadap apa janji dari yang kuasa, kita teradang mencoba berbagai hal dan memaksakan jalan yang seharusnya tidak kita lakukan. kita manusia diberikan bekal akal untuk mengolah rasa dan pemikiran. kenapa kita harus memaksakan terhadap sesuatu hal ?

    ReplyDelete
  85. Isykarima Nur S
    15301241032
    S1 Pend. Matematika A 2015

    Plagiarism dan pemalsu adalah bentuk paramitos dari pengada. Sebagai seorang pengada maka sudah seharusnya kita selalui mengadakan objek ada yaitu berupa karya. Tanpa adanya karya pengada menjadi tiada.
    Dampak negative dari plagiarism ini tentu akan berdampak pada kualitas pendidikan, moral, dan masa depan Indonesia.

    ReplyDelete
  86. Woro Alma Manfaati
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241002

    Dalam kehidupan ini, pastilah setiap orang ingin dianggap ada. Untuk dianggap ada pastilah tidak lepas dari mengada dan pengada. Ilmuwan dan guru dapat dikatakan sebagai narasumber ilmu. Ilmuwan dapat diakui ada jika ia memiliki penelitian dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Begitu juga dengan guru, dianggap ada jika tidak hanya berperan menyampaikan pembelajaran namun juga dapat berperan sebagai peneliti khususnya penelitian untuk yang tertuju pada pembelajaran siswa di kelas. Oleh karena itu, sangatlah tidak pantas untuk melakukan plagiarisme karena sebenarnya orang yang melakukan plagiarisme ia telah menghilangkan dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  87. Alman Kresna Aji
    15301241022
    S1 Pendidikan Matematika 2015
    Dari elegi di atas saya menitik beratkan pada kata ada, mengada dan pengada. Saya memahami jika kita tidak bisa menyadari keberadaan dari diri kita, kita tidak akan bisa untuk menjadi pengada. Dalam artian, jika kita menjadi ilmuwan plagiat maka kita tidak menjadi seorang ilmuwan pengada, atau yang berarti kita menjadi seorang ilmuwan yang tidak berkarya, tidak menciptakan sesuatu. Oleh karena itu, apabila kita ingin menjadi ilmuwan yang terhindar dari plagiarisme, maka kita harus memperhatikan ketiga aspek tersebut.

    ReplyDelete