Sep 20, 2013

Elegi Meratapi Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK




Oleh Marsigit

Paralogos:
Heem...tertegun aku menyaksikan kelakuan sang Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih. Dia tidak menyadari bahwa Paramitos selalu berusaha mencelakakannya. Apa haknya Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih sok mengatur dunia dan pemberi ilmu. Inilah buktinya sekarang telah tertangkap ada seorang Ilmuwan Plagiat dan tertangkap banyak Guru Pemalsu PAK. Pilu hatiku menyaksikan kejadian-kejadian itu. Saking pilunya hatiku maka hampir-hampir aku tak kuasa bicara apalagi menulis komen-komen pada Elegi-elegi. Pikiranku belum bisa menggapai batas hatiku, bagaimana seorang Ilmuwan tega melakukan plagiat dan seorang guru bisa memalsukan PAK untuk naik jabatan atau memperoleh sertifikasi guru. Wahai Antinomi, coba ceritakan apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan gonjang-ganjing ini?

Antinomi:
Wahai Paralogos, pengetahuanku itu setali tiga uang dengan pengetahuanmu. Selama ini memang kita telah memberikan keluluasaan dan kemerdekaan yang seluas-luasnya kepada sang Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih. Kiprah mereka yang terakhir di mulai dari Perlombaan Menjunjung Langit sampai kegiatan mengungkap Misteri Sang Konveyor dan Misteri sang Kanopi. Dalam hal tertentu aku sempat mengkhawatirkan sepak terjangnya, tetapi karena itu adalah hakekatnya maka Ruang dan Waktu sajalah yang akan memberi catatan dan penilaian.

Paralogos:
Bukannya dengan tertangkapnya Sang Ilmuwan Plagiat dan Para Guru Pemalsu PAK itu telah membuktikan bahwa Ruang dan Waktu telah memberikan catatan dan penilaiannya?

Antinomi:
Betul apa katamu wahai Paralogos. Tetapi aku juga ingin menyampaikan bahwa peristiwa tertangkapnya Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK itu sebenar-benarnya adalah puncak gunung es dari fenomena yang sudah sejak lama melanda masyarakat dan bangsa ini. Itulah yang terjadi bahwa Ruang dan Waktu sebetul-betulnya tidak pernah tidur. Ruang dan Waktu itu sebetulnya selalu memberikan catatan dan penilaian terhadap apapun, kapanpun dan dimanapun. Hanya bagi orang-orang yang ikhlas dan berpikir kritislah yang mampu membaca catatan dan penilaian yang dilakukan oleh Ruang dan Waktu.

Paralogos:
Waha..kalau begitu apa sebetulnya fenomena yang selama ini terjadi?

Antinomi:
Itulah fenomenanya...yaitu pergulatan antara ADA, MENGADA DAN PENGADA. Peristiwa tertangkapnya Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK itu adalah puncak gunung es dari pergulatan antara Ilmuwan Ada, Ilmuwan Mengada, dan Ilmuwan Pengada; serta Guru ADA, Guru Mengada dan Guru Pengada.

Paralogos:
Waha...apakah fenomenanya bersifat tunggal atau plural?

Antinomi:
Fenomenanya bersifat plural, yaitu bahwa yang terjadi adalah pergulatan antara ADA, MENGADA DAN PENGADA itu bersifat plural. Maka dibawah gunung es itu ada pergulatan-pergulatan yang lain: pergulatan antara Doktor Ada, Doktor Mengada dan Doktor Pengada; pergulatan antara Dosen Ada, Dosen Mengada dan Dosen Pengada; pergulatan antara Lurah Ada, Lurah Mengada dan Lurah Pengada; pergulatan antara Guru Ada, Guru Mengada dan Guru Pengada; pergulatan antara Pejabat Ada, Pejabat Mengada dan Pejabat Pengada; pergulatan antara Presiden Ada, Presiden Mengada dan Presiden Pengada, pergulatan antara Mahasiswa Ada, Mahasiswa Mengada dan Mahasiswa Pengada; pergulatan antara Suami Ada, Suami Mengada dan Suami Pengada; pergulatan antara semua Ada, semua Mengada dan semua Pengada; dan pergulatan antara setiap Ada, setiap Mengada dan setiap Pengada.

Paralogos:
Heemmm...luar biasa kejadiannya. Aku sebagai Paralogos Sang Diraja nya para Logos saja sempat terlena tidak menyadari fenomena ini, apalagi para logos, apalagi para Bagawat, apalagi para Orang Tua Berambut Putih...Wahai para Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih..kesinilah..sudah saatnya engkau itu melakukan instrospeksi dan memperoleh input yang bermanfaat. Maka marilah kita dengarkan penuturan lebih lanjut dari Sang Antinomi ini. Wahai Sang Antinomi, coba terangkanlah apa sebetulnya yang dimaksud dengan ADA, MENGADA dan PENGADA itu?

Antinomi:
Sebetul-betul MENGADA adalah logos bagi dirimu. Jika ADA adalah tesismu maka MENGADA adalah anti-tesismu. Jika engkau telah mempunya MENGADA maka serta merta wujudmu akan berubah menjadi PENGADA. Janganlah engkau mengharap dapat menjadi PENGADA jika engkau tidak mempunyai MENGADA.

Paralogos:
Sebentar, jika engkau sebut tesis dan anti-tesis maka dimana sintesisnya?

Antinomi:
Jika tesisnya adalah ADA maka anti-tesisnya adalah MENGADA. Jika anti-tesisnya adalah MENGADA maka sintetisnya adalah MENGADA.

Paralogos:
Kalimatmu yang terakhir sangat sulit aku pahami.

Antinomi:
Itulah yang terjadi. Maka sebenar-benar MENGADA adalah sekaligus tesis, anti tesis dan juga sintesis. Sedang sebenar-benar PENGADA adalah anti-tesis dari MENGADA.

Paralogos:
Maksudnya?

Antinomi:
Tidak akan ada PENGADA jika engkau tidak MENGADA.

Paralogos:
Aku masih bingung.

Antinomi:
Itulah yang terjadi, yaitu bahwa PENGADA itu juga sekaligus tesis, anti-tesis dan juga sintesis.

Paralogos:
Baiklah bisakah engkau memberikan contoh konkritnya?

Antinomi:
Misal engkau adalah MAHASISWA yang sedang menempuh perkuliahan. Maka tanda-tanganmu dalam daftar hadir merupakan bukti bahwa engkau itu ADA. Sedangkan kegiatanmu mengerjakan tugas-tugas dari dosenmu itu menunjukkan MENGADA mu. Jika engkau telah membuat tugas-tugas maka itu bukti bahwa engkau telah menjadi PENGADA, yaitu pengada akan tugas-tugasmu.

Paralogos:
Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:
Misal engkau adalah seorang Guru, maka Ijazahmu dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Guru ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu mengajar, menulis dan melakukan Penelitian Tindakan Kelas itu menunjukkan dirimu sebagai Guru MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Guru PENGADA.

Paralogos:
Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:
Misal engkau adalah seorang Doktor, maka Ijazahmu dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Doktor ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu menulis itu menunjukkan dirimu sebagai Doktor MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Doktor PENGADA.

Paralogos:
Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:
Misal engkau adalah seorang Professor, maka SK Presiden dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Ilmuwan ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu menulis itu menunjukkan bahwa engkau Ilmuwan MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Ilmuwan PENGADA.

Paralogos:
Hemmm..kamudian apa masalahnya..bukankah kita sudah cukup bangga karena kita telah mempunyai ADA nya banyak Guru Profesional, ADA nya banyak Doktor, dan ADA nya banyak Ilmuwan?

Antinomi:
Sebentar dulu. Sebuah karya mu itu adalah ADA bagi karya mu. Dan keberadaan sebuah karyamu itu belum tentu MENGADAKAN ..ADA Dirimu dan ADA diri yang lainnya. Jika karyamu itu adalah PLAGIAT atau PALSU maka karyamu itu bukanlah suatau PENGADA mu. Maka sebuah karya mu itu bisa terancam menjadi mitos dan MENIADAKAN dirimu, yaitu jika engkau merasa puas hanya membuat karya-karya PLAGIAT dan memalsukan PAK. Maka nasib dari sebuah karyamu itu persis seperti nasib dirimu yang tidak mengetahui ADA, MENGADA dan PENGADA. Itulah bahwa PLAGIAT itu adalah perilaku sang Paramitos yang mengancam keber ADA mu sebagai Ilmuwan. Itulah bahwa kegiatan memalsukan PAK adalah perilaku sang Paramitos yang mengancam keber ADA mu sebagai Guru. Jika keber ADA mu terancam maka terancam pula MENGADA mu dan PENGADA mu.

Paralogos:
Kemudia bagaimana solusinya?

Antinomi:
Tiadalah ADA dirimu itu tanpa MENGADA dan PENGADA. Maka agar engkau tetap ADA tidak ada jalan lain bagi dirimu untuk selalu MENGADA. Jika engkau telah MENGADA maka PENGADA akan selalu meyertaimu. Tiadalah Ilmuwan ADA tanpa Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA. Maka jika ingin tetap menjadi Ilmuwan ADA, tidak ada jalan lain kecuali harus tetap menjadi Ilmuwan MENGADA. Jika engkau telah menjadi Ilmuwan MENGADA maka Ilmuwan PENGADA akan dengan sendirinya menyertaimu. Tiadalah Guru ADA tanpa Guru MENGADA dan Guru PENGADA. Maka jika ingin tetap menjadi Guru ADA, tidak ada jalan lain kecuali harus tetap menjadi Guru MENGADA. Jika engkau telah menjadi Guru MENGADA maka Guru PENGADA akan dengan sendirinya menyertaimu.

Paralogos:
Apakah aku dapat menyimpulkan bahwa sebenar-benar Ilmuwan ADA adalah Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA sekaligus? Dan sebenar-benar Guru ADA adalah Guru MENGADA dan Guru PENGADA sekaligus?

Antinomi:
Cerdas pula engkau itu. Itulah harapanku bahwa engkau sebagai partnerku akan selalu bisa memahami dan menyimpulkan fenomena yang ada. Sangat tepatlah kesimpulanmu itu bahwa Ilmuwan ADA itu adalah sekaligus Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA. Dan Guru ADA itu adalah sekaligus Guru MENGADA dan Guru PENGADA.

Paralogos:
Sebentar, jangan ditutup dulu. Bukankah di awal pembicaraan kita engkau telah menyebut Ilmuwan PLAGIAT dan Guru Pemalsu PAK? Lalu apa maknanya?

Antinomi:
Ilmuwan PLAGIAT adalah Ilmuwan yang tidak mengenal dirinya sebagai Ilmuwan ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA? Guru yang memalsukan PAK adalah guru yang tidak mampu mengenal dirinya sebagai Guru ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal dirinya sebagai Guru MENGADA dan Guru PENGADA. Kegiatan memalsukan karya tulis apakah itu oleh seorang Ilmuwan Plagiat dan memalsukan PAK oleh seorang guru adalah kegiatan memalsukan dirinya sebagai MENGADA. Itulah peran dan jasa Ruang dan Waktu yang tidak akan pernah lalai mencatat segala perbuatan manusia, bahwa sebenar-benar keber ADA annya adalah SAKSI bagi MENGADA nya. Tidak hanya itu, maka segala YANG ADA dan YANG MUNGKIN ADA juga menjadi SAKSI bagi keber ADA annya dan ke MENGADA nya.

Paralogos:
Kalau begitu apakah Ilmuwan ADA tidak harus menjadi Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA? Dan Guru ADA tidak harus menjadi Guru MENGADA dan Guru PENGADA?

Antinomi:
Tidak mengenal itu tidak berarti tidak ada.

Paralogos:
Lho mengapa?

Antinomi:
Itulah kelihaian dan kelembutan Paramitos. Paramitos itu pulalah yang selalu mengajakmu menyesatkan mereka untuk berhenti hanya sebagai Ilmuwan ADA dan Guru ADA saja. Padahal jika hanya sebagai Ilmuwan ADA atau Guru ADA saja, maka akan terancam sebagai Ilmuwan TIDAK ADA dan Guru TIDAK ADA. Jika telah muncul Hukuman ADA atau Pemecatan ADA, maka Hukuman dan Pemecatan MENGADA akan segera MENIADAKAN Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK. Maka akan terasa pedih dan perih hukumannya bagi orang-orang yang di anggap TIDAK ADA. Padahal perjuangan mereka masih sangat banyak dan sangat panjang. Maka mereka akan sebenar-benar menjadi Ilmuwan ADA jika mereka selalu berjuang untuk menjadi Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA, yaitu dengan memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA. Mereka juga akan benar-benar menjadi Guru ADA jika mereka selalu berjuang untuk menjadi Guru MENGADA dan Guru PENGADA dengan cara memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA di dunia Pendidikan.

16 comments:

  1. Ady Ferdian Noor
    DikDas S3 / 18706261004

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.
    Ilmuwan dan guru adalah seorang manusia. Manusia pasti mempunyai keinginan untuk mencapai puncak gunung es sesuai ruang dan waktu. Pencapaian manusia ruang dan waktu yaitu ilmuwan dan guru. Pencapaian menuju hal itu dengan ada, mengada, dan pengada. Kita ingin ada tetapi dengan menggunakan cara yang kurang baik plagiat dan palsu. Mengada menjadi pengada mencapai puncak gunung es melalui olah pikir atau pola pikir dari ahli-ahli filsafat, maka ada dicapai melalui mengada, dan pengada dengan dido'akan. Do'a akan membentengi palgiat dan palsu yang ingin dilakukan paralogos. terima kasih.

    ReplyDelete
  2. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Fenomena yang selama ini terjadi yaitu mengenai pergulatan antara ada, mengada, dan pengada. Ilmuan dan guru yang melakukan plagiat dan pemalsu PAK berarti mereka hanya pada sebatas ilmuan ada dan guru ada. Mereka melakukan kesalahan yang menyebabkan mereka tidak akan bisa pada tahap mengada. Ilmuan yang melakukan plagiat menunjukkan bahwa hasil yang diperolehnya merupakan hasil karya orang lain. Hal ini bisa menyebabkan ilmuan tidak ada karena tidak ada bukti tulisan hasil penelitiannya, namun yang ada hanya tulisan dari orang lain. Sedangkan guru pemalsu PAK juga akan terancam tidak ada karena sudah berusaha melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh guru. Hal ini dapat membuat citra guru menjadi buruk dan terancam tidak ada. Oleh karena itu, agar benar-benar menjadi ilmuan atau guru ada, ilmuan atau guru mengada, dan ilmuan atau guru pengada lakukanlah dengan cara memproduksi karya-karyanya sendiri dengan jujur dan amanah.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  3. Janu Arlinwibowo
    18701261012
    PEP 2018

    Keberadaan sesuatu tidak dapat berdiri sendiri. Dalam proses kehidupan manusia membutuhkan tesis, anti-tesis dan sistesis. Elegi ini mebahasakanny menjadi ada, mengada, dan pengada. Suatu logos akan tercipta jika ketiga aspek tersebut telah terpenuhi. Jika salah satu saja hilang maka akan mempengaruhi yang lain sehingga mitoslah yang tercipta.
    Keberadaan logos sangat dipengaruhi oleh proses yang sebenarnya, atau dalam arti lain kejujuran meraupakan faktor penting dalam pembentukan logos. Jika dalam suatu proses manusia melakukan plagiat, maka hasil yang tercipta adalah cerminan dari korban plagiat. Karena korban plagiatlah yang mengada dan menjadi pengada. Maka sesungguhnya ketika seseorang melakukan plagiat maka dia telah menutupi dirinya sendiri. Dengan arti lain, pelaku plagiat telah meremehkan dirinya sendiri, tidak percaya pada dirinya sendiri, tidak bangga dengan dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  4. Septia Ayu Pratiwi
    18709251029
    S2 Pendidikan Matematika B

    Fenomena yang sering terjadi pada saat ini yaitu adanya pengada, mengada, dan Ada. Banyak tuntutuan yang ada saat ini menciptakan seseorang mengadakan hal yang tidak ada, atau bahkan meniru yang sudah ada. Selain itu faktor pemicunya adalah mereka yang engga berpikir dan meciptakan inovasi-inovasi baru. Di sisi lain, guru pengada itu ada dikarenakan kurangnya pengetahuan dan training terhadap tuntutan yang diberikan oleh guru. Adanya karya menandakan bahwa seseorang itu ada, adanya objek yang membuat karya menandakan bahwa ada pengada, dan orang yang tidak menciptakan karya namun mengakui karya orang lain menandakan bahwa ia adalah mengada. Seorang guru dan ilmuan dituntut untuk menjaga profesionaltias dengan menghindari melakukan plagiat dan pemalsuan.

    ReplyDelete
  5. Falenthino Sampouw
    18709251006
    S2 Pendidikan Matematika

    Selamat malam, Prof.
    Seorang ilmuan dan guru, menjadi ADA dengan adanya status melalui ijazah ataupun surat yang menyatakan bahwa mereka adalah ilmuan atau guru. Saat ilmuan mengerjakan berbagai macam riset dalam bidangnya dan guru melakukan pengajaran serta melengkapi berbagai administrasi keprofesiannya maka meraka sedang MENGADA. wujud hasil penelitian yang berupa paper oleh ilmuan dan juga wujud hasil administrasi profesi oleh guru, menjadikan mereka sebagai PENGADA.
    Pergulatan akan selalu terjadi untuk menghubungkan ADA, MENGADA, dan PENGADA. Ruang dan waktu akan selalu mencatat setiap pergulatan yang ada, dan bisa jadi ruang dan waktu juga yang memberikan punishment terhadap perilaku ADA, MENGADA dan PENGADA. Sama halnya dengan ilmuan plagiat dan guru pemalsu PAK. Demi mengejar status ADA, ia bisa melakukan kesalahan dalam MENGADA dan PENGADA yang terus direkam oleh oleh ruang dan waktu. Dan ruang dan waktu akan menunjukkan hal itu pada ruang dan waktu yang tepat.
    Terima kasih, Prof.

    ReplyDelete
  6. Rindang Maaris Aadzaar
    18709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Dari percakapan diatas, dapat saya simpulkan dan saya pahami jika terdapat beberapa bukti yang bisa menyatakan bahwa seseorang ada, tetapi ada juga yang tidak bisa berbuat dengan bukti tersebut karena bisa menjadi tidak ada. Hal tersebut berkaitan dengan adanya mengada dan pengada. Seseorang dapat mengada dan menjadi pengada dengan jalan yang baik tapi karena adanya plagiarisme yang dilakukan sehingga mengada dan menjadi pengada tersebut membuatnya tidak ada seperti dicopotnya dari jabatan tertentu.
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  7. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PPs UNY PM A 2018

    Berdasarkan elegi ini ada hal penting yang ditekankan tentang ada, mengada, dan pengada. Pada dasarnya, kita ada, ditunjukkan dengan keberadaan kita dan bukti fisik bahwa kita ada, namun terkadang kita tidak sadar akan keberadaan kita sehingga kita belum dapat menjadi pengada. Dikalatakan ilmu plagiat dan guru pemalsu PAK adalah ketika kita tidak menyadari keberadaan kita, kita tidak berkarya, kita tidak mengadakan sesuatu yang menjadikan kita pengada.

    ReplyDelete
  8. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PPs UNY PM A 2018

    Berdasarkan elegi ini ada hal penting yang ditekankan tentang ada, mengada, dan pengada. Pada dasarnya, kita ada, ditunjukkan dengan keberadaan kita dan bukti fisik bahwa kita ada, namun terkadang kita tidak sadar akan keberadaan kita sehingga kita belum dapat menjadi pengada. Dikalatakan ilmu plagiat dan guru pemalsu PAK adalah ketika kita tidak menyadari keberadaan kita, kita tidak berkarya, kita tidak mengadakan sesuatu yang menjadikan kita pengada.

    ReplyDelete
  9. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Ada mengada dan pengada merupakan satu kesatuan. Elegi ini mengingatkan kita kembali agar selalu menghargai proses. Suatu pencapaian tertentu harus melalui proses. Adanya kita diwujudkan dengan proses yang kita lalui. Hasil dari proses tersebutlah yang menunjukkan diri kita sebagai pengada. Jalan pintas memang ada di mana-mana, karena sejatinya setan memang merupakan musuh manusia yang nyata.

    ReplyDelete
  10. Rosi anista
    18709251040
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr wb
    Jika berbicara tentang ada, pengada dan mengada maka sangat erat kaitannya dengan perbedaan pendapat. Sesuatu yang memang ada dan benar-benar terjadi merupakan suatu realita, yang kemudian anggapan dari setiap manusia yang berbeda-beda dari suatu realita yang terjadi tersebut dan anggapannya tidak sesuai adalah mengada. Manusia-manusia yang memiliki anggapan disebut pengada. Sehingga antara ada, mengada dan pengada haruslah selaras atau sama agar pertentangan di kehidupan sekarang ini dapat diminimalisir.

    ReplyDelete
  11. Amalia Nur Rachman
    18709251042
    S2 Pendidikan Matematika B UNY 2018
    Seorang guru bisa menjadi ada, pengada bahkan menjadi tidak ada. Ketika guru ada menghasilkan sebuah karya yang bermanfaat bagi pendidikan maka guru sebagai pengada yang mengada. Namun apabila guru tidak menghasilkan suatu karya apapun tanpa keikhlasan maka dapat dikatakan bahwa guru menjadi tidak ada. Dalam prosesnya, mengada bukanlah perkara yang mudah, karena memerlukan kreatifitas, ilmu yang mumpuni dan bahan inspirasi untuk mengada tersebut. Tidak dapat kita pungkiri, bahwa sebuah karya dapat dibentuk ketika ada karya lain sebelumnya. Disini kita sebagai pengada yang baik dapat memprosesnya dengan proses kita masing masing yang menjadikan karya kita berbeda, baru dan orisinil, tidak sepenuhnya hanya meniru sebuah inspirasi

    ReplyDelete
  12. Deden Hidayat
    18709251032
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Seorang ilmuan atau guru untuk dapat menjadi seorang pengada diharuskan untuk mengadakan sesuatu. Mengadakan sesuatu yang mungkin ada menjadi ada dibutuhkan olah pikiran yang baik. Namun tidak cukup dengan mengolah pikiran saja, kita juga harus membentengi diri kita dengan hati dan pikiran yang jernih. Hal tersebut bertujuan agar kita terhindar dari cara-cara yang tidak baik seperti menjadi seorang pemalsu atau plagiat.

    ReplyDelete
  13. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006
    PEP S3

    Artikel di atas menjelaskan tugas kita sebagai seorang guru. Seorang guru diwajibkan untuk memiliki gelar dan ijazah. Selain itu, ada tugas mengajar dan juga mempublikasikan tulisan dalam karya ilmiah. Itu lah yang disebut sebagai guru ada, mengada, dan pengada. Saat ini banyak dari kita yang hanya menjadi guru ada. Refleksi diri, kemudia temukan kesalahan kita sebagai seorang guru sehingga kita dapat mengetahui apa yang perlu diperbaiki sehingga kita tidak hanya menjadi guru ada.

    ReplyDelete
  14. Fabri Hidayatullah
    18709251028
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Elegi ini mengingatkan kita untuk mempertahankan keberadaan dengan menghasilkan karya-karya yang sesuai dengan hakekat ADA, MENGADA dan PENGADA. Bukan dengan melakukan pemalsuan dan plagiat. Tindakan pemalsuan dan plagiat yang disengaja merupakan akibat dari lebih mementingkan hasil daripada proses. Padahal hasil yang dibuat tanpa adanya proses yang baik tidaklah ada artinya. Berbeda jika prosesnya baik, maka apapun hasilnya pasti akan membawa manfaat.

    ReplyDelete
  15. Diana Prastiwi
    18709251004
    S2 P. Mat A 2018

    Budaya plagiarism harus kita hindari. Kita sering kali lalai, tergoda setan, sombong dan tak sopan dengan dimensi ruang dan waktu yang terus bergerak. Hanya mereka yang serius, menikmati proses dan mengerjakkan dengan ikhlas lah yang akan bertahan lama. Sedangkan mereka yang melakukan plagiat, hanya aman sementara/semu selebihnya justru membahayakan jiwa mereka sendiri. Maka, ikhlaskanlah diri kita untuk berproses, menjadikan sesuatu ada dengan melewati proses yang tidak sebentar, instan begitu saja. Proses yang berkelanjutan atau secara terus menerus dan proses kesabaran dalam melakukan sesuatu adalah yang harus dilalui seseorang untuk mencapai keberhasilan, karena pembentukan kebiasaan yang baik pun butuh proses yang panjang dan dilakukan secara kontinue.

    ReplyDelete
  16. Totok Victor Didik Saputro
    18709251002
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Selamat malam Prof.
    Manusia adalah makhluk yang istimewa. Walaupun demikian, manusia juga mempunyai kekurangan. Kekurangan ini terkadang menjerumuskan diri menciptakan kebiasaan buruk. Plagiat adalah salah satu contoh kebiasaan buruk tersebut. Ilmuan dikatakan sebagai ilmuan karena melahirkan pandangan mengenai rukun ilmu yang sukainya. Tidak dapat dipungkiri seiring berjalannya waktu selama proses mencari jati diri ilmuan tersebut dapat berujung pada tindakan plagiatrisme. Hal yang sama juga dapat ditemukan dengan kondisi guru. Guru yang diduga memalsukan PAK adalah guru yang belum mampu bertanggungjawab dan menggapai keikhlasan menjadi seorang guru. Artinya Ia sungguh belum memahami hakekat dalam menjadi seorang pendidik. Refleksi adalah salah satu cara yang dapat digunakan dalam mengatasi permasalahan ini. Refleksi yang berasal dari diri sendiri tetapi didorong pula dengan bantuan orang lain sehingga saling mengingatkan satu sama lainnya. Terima kasih.

    ReplyDelete