Sep 20, 2013

Elegi Meratapi Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK




Oleh Marsigit

Paralogos:
Heem...tertegun aku menyaksikan kelakuan sang Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih. Dia tidak menyadari bahwa Paramitos selalu berusaha mencelakakannya. Apa haknya Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih sok mengatur dunia dan pemberi ilmu. Inilah buktinya sekarang telah tertangkap ada seorang Ilmuwan Plagiat dan tertangkap banyak Guru Pemalsu PAK. Pilu hatiku menyaksikan kejadian-kejadian itu. Saking pilunya hatiku maka hampir-hampir aku tak kuasa bicara apalagi menulis komen-komen pada Elegi-elegi. Pikiranku belum bisa menggapai batas hatiku, bagaimana seorang Ilmuwan tega melakukan plagiat dan seorang guru bisa memalsukan PAK untuk naik jabatan atau memperoleh sertifikasi guru. Wahai Antinomi, coba ceritakan apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan gonjang-ganjing ini?

Antinomi:
Wahai Paralogos, pengetahuanku itu setali tiga uang dengan pengetahuanmu. Selama ini memang kita telah memberikan keluluasaan dan kemerdekaan yang seluas-luasnya kepada sang Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih. Kiprah mereka yang terakhir di mulai dari Perlombaan Menjunjung Langit sampai kegiatan mengungkap Misteri Sang Konveyor dan Misteri sang Kanopi. Dalam hal tertentu aku sempat mengkhawatirkan sepak terjangnya, tetapi karena itu adalah hakekatnya maka Ruang dan Waktu sajalah yang akan memberi catatan dan penilaian.

Paralogos:
Bukannya dengan tertangkapnya Sang Ilmuwan Plagiat dan Para Guru Pemalsu PAK itu telah membuktikan bahwa Ruang dan Waktu telah memberikan catatan dan penilaiannya?

Antinomi:
Betul apa katamu wahai Paralogos. Tetapi aku juga ingin menyampaikan bahwa peristiwa tertangkapnya Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK itu sebenar-benarnya adalah puncak gunung es dari fenomena yang sudah sejak lama melanda masyarakat dan bangsa ini. Itulah yang terjadi bahwa Ruang dan Waktu sebetul-betulnya tidak pernah tidur. Ruang dan Waktu itu sebetulnya selalu memberikan catatan dan penilaian terhadap apapun, kapanpun dan dimanapun. Hanya bagi orang-orang yang ikhlas dan berpikir kritislah yang mampu membaca catatan dan penilaian yang dilakukan oleh Ruang dan Waktu.

Paralogos:
Waha..kalau begitu apa sebetulnya fenomena yang selama ini terjadi?

Antinomi:
Itulah fenomenanya...yaitu pergulatan antara ADA, MENGADA DAN PENGADA. Peristiwa tertangkapnya Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK itu adalah puncak gunung es dari pergulatan antara Ilmuwan Ada, Ilmuwan Mengada, dan Ilmuwan Pengada; serta Guru ADA, Guru Mengada dan Guru Pengada.

Paralogos:
Waha...apakah fenomenanya bersifat tunggal atau plural?

Antinomi:
Fenomenanya bersifat plural, yaitu bahwa yang terjadi adalah pergulatan antara ADA, MENGADA DAN PENGADA itu bersifat plural. Maka dibawah gunung es itu ada pergulatan-pergulatan yang lain: pergulatan antara Doktor Ada, Doktor Mengada dan Doktor Pengada; pergulatan antara Dosen Ada, Dosen Mengada dan Dosen Pengada; pergulatan antara Lurah Ada, Lurah Mengada dan Lurah Pengada; pergulatan antara Guru Ada, Guru Mengada dan Guru Pengada; pergulatan antara Pejabat Ada, Pejabat Mengada dan Pejabat Pengada; pergulatan antara Presiden Ada, Presiden Mengada dan Presiden Pengada, pergulatan antara Mahasiswa Ada, Mahasiswa Mengada dan Mahasiswa Pengada; pergulatan antara Suami Ada, Suami Mengada dan Suami Pengada; pergulatan antara semua Ada, semua Mengada dan semua Pengada; dan pergulatan antara setiap Ada, setiap Mengada dan setiap Pengada.

Paralogos:
Heemmm...luar biasa kejadiannya. Aku sebagai Paralogos Sang Diraja nya para Logos saja sempat terlena tidak menyadari fenomena ini, apalagi para logos, apalagi para Bagawat, apalagi para Orang Tua Berambut Putih...Wahai para Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih..kesinilah..sudah saatnya engkau itu melakukan instrospeksi dan memperoleh input yang bermanfaat. Maka marilah kita dengarkan penuturan lebih lanjut dari Sang Antinomi ini. Wahai Sang Antinomi, coba terangkanlah apa sebetulnya yang dimaksud dengan ADA, MENGADA dan PENGADA itu?

Antinomi:
Sebetul-betul MENGADA adalah logos bagi dirimu. Jika ADA adalah tesismu maka MENGADA adalah anti-tesismu. Jika engkau telah mempunya MENGADA maka serta merta wujudmu akan berubah menjadi PENGADA. Janganlah engkau mengharap dapat menjadi PENGADA jika engkau tidak mempunyai MENGADA.

Paralogos:
Sebentar, jika engkau sebut tesis dan anti-tesis maka dimana sintesisnya?

Antinomi:
Jika tesisnya adalah ADA maka anti-tesisnya adalah MENGADA. Jika anti-tesisnya adalah MENGADA maka sintetisnya adalah MENGADA.

Paralogos:
Kalimatmu yang terakhir sangat sulit aku pahami.

Antinomi:
Itulah yang terjadi. Maka sebenar-benar MENGADA adalah sekaligus tesis, anti tesis dan juga sintesis. Sedang sebenar-benar PENGADA adalah anti-tesis dari MENGADA.

Paralogos:
Maksudnya?

Antinomi:
Tidak akan ada PENGADA jika engkau tidak MENGADA.

Paralogos:
Aku masih bingung.

Antinomi:
Itulah yang terjadi, yaitu bahwa PENGADA itu juga sekaligus tesis, anti-tesis dan juga sintesis.

Paralogos:
Baiklah bisakah engkau memberikan contoh konkritnya?

Antinomi:
Misal engkau adalah MAHASISWA yang sedang menempuh perkuliahan. Maka tanda-tanganmu dalam daftar hadir merupakan bukti bahwa engkau itu ADA. Sedangkan kegiatanmu mengerjakan tugas-tugas dari dosenmu itu menunjukkan MENGADA mu. Jika engkau telah membuat tugas-tugas maka itu bukti bahwa engkau telah menjadi PENGADA, yaitu pengada akan tugas-tugasmu.

Paralogos:
Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:
Misal engkau adalah seorang Guru, maka Ijazahmu dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Guru ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu mengajar, menulis dan melakukan Penelitian Tindakan Kelas itu menunjukkan dirimu sebagai Guru MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Guru PENGADA.

Paralogos:
Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:
Misal engkau adalah seorang Doktor, maka Ijazahmu dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Doktor ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu menulis itu menunjukkan dirimu sebagai Doktor MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Doktor PENGADA.

Paralogos:
Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:
Misal engkau adalah seorang Professor, maka SK Presiden dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Ilmuwan ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu menulis itu menunjukkan bahwa engkau Ilmuwan MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Ilmuwan PENGADA.

Paralogos:
Hemmm..kamudian apa masalahnya..bukankah kita sudah cukup bangga karena kita telah mempunyai ADA nya banyak Guru Profesional, ADA nya banyak Doktor, dan ADA nya banyak Ilmuwan?

Antinomi:
Sebentar dulu. Sebuah karya mu itu adalah ADA bagi karya mu. Dan keberadaan sebuah karyamu itu belum tentu MENGADAKAN ..ADA Dirimu dan ADA diri yang lainnya. Jika karyamu itu adalah PLAGIAT atau PALSU maka karyamu itu bukanlah suatau PENGADA mu. Maka sebuah karya mu itu bisa terancam menjadi mitos dan MENIADAKAN dirimu, yaitu jika engkau merasa puas hanya membuat karya-karya PLAGIAT dan memalsukan PAK. Maka nasib dari sebuah karyamu itu persis seperti nasib dirimu yang tidak mengetahui ADA, MENGADA dan PENGADA. Itulah bahwa PLAGIAT itu adalah perilaku sang Paramitos yang mengancam keber ADA mu sebagai Ilmuwan. Itulah bahwa kegiatan memalsukan PAK adalah perilaku sang Paramitos yang mengancam keber ADA mu sebagai Guru. Jika keber ADA mu terancam maka terancam pula MENGADA mu dan PENGADA mu.

Paralogos:
Kemudia bagaimana solusinya?

Antinomi:
Tiadalah ADA dirimu itu tanpa MENGADA dan PENGADA. Maka agar engkau tetap ADA tidak ada jalan lain bagi dirimu untuk selalu MENGADA. Jika engkau telah MENGADA maka PENGADA akan selalu meyertaimu. Tiadalah Ilmuwan ADA tanpa Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA. Maka jika ingin tetap menjadi Ilmuwan ADA, tidak ada jalan lain kecuali harus tetap menjadi Ilmuwan MENGADA. Jika engkau telah menjadi Ilmuwan MENGADA maka Ilmuwan PENGADA akan dengan sendirinya menyertaimu. Tiadalah Guru ADA tanpa Guru MENGADA dan Guru PENGADA. Maka jika ingin tetap menjadi Guru ADA, tidak ada jalan lain kecuali harus tetap menjadi Guru MENGADA. Jika engkau telah menjadi Guru MENGADA maka Guru PENGADA akan dengan sendirinya menyertaimu.

Paralogos:
Apakah aku dapat menyimpulkan bahwa sebenar-benar Ilmuwan ADA adalah Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA sekaligus? Dan sebenar-benar Guru ADA adalah Guru MENGADA dan Guru PENGADA sekaligus?

Antinomi:
Cerdas pula engkau itu. Itulah harapanku bahwa engkau sebagai partnerku akan selalu bisa memahami dan menyimpulkan fenomena yang ada. Sangat tepatlah kesimpulanmu itu bahwa Ilmuwan ADA itu adalah sekaligus Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA. Dan Guru ADA itu adalah sekaligus Guru MENGADA dan Guru PENGADA.

Paralogos:
Sebentar, jangan ditutup dulu. Bukankah di awal pembicaraan kita engkau telah menyebut Ilmuwan PLAGIAT dan Guru Pemalsu PAK? Lalu apa maknanya?

Antinomi:
Ilmuwan PLAGIAT adalah Ilmuwan yang tidak mengenal dirinya sebagai Ilmuwan ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA? Guru yang memalsukan PAK adalah guru yang tidak mampu mengenal dirinya sebagai Guru ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal dirinya sebagai Guru MENGADA dan Guru PENGADA. Kegiatan memalsukan karya tulis apakah itu oleh seorang Ilmuwan Plagiat dan memalsukan PAK oleh seorang guru adalah kegiatan memalsukan dirinya sebagai MENGADA. Itulah peran dan jasa Ruang dan Waktu yang tidak akan pernah lalai mencatat segala perbuatan manusia, bahwa sebenar-benar keber ADA annya adalah SAKSI bagi MENGADA nya. Tidak hanya itu, maka segala YANG ADA dan YANG MUNGKIN ADA juga menjadi SAKSI bagi keber ADA annya dan ke MENGADA nya.

Paralogos:
Kalau begitu apakah Ilmuwan ADA tidak harus menjadi Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA? Dan Guru ADA tidak harus menjadi Guru MENGADA dan Guru PENGADA?

Antinomi:
Tidak mengenal itu tidak berarti tidak ada.

Paralogos:
Lho mengapa?

Antinomi:
Itulah kelihaian dan kelembutan Paramitos. Paramitos itu pulalah yang selalu mengajakmu menyesatkan mereka untuk berhenti hanya sebagai Ilmuwan ADA dan Guru ADA saja. Padahal jika hanya sebagai Ilmuwan ADA atau Guru ADA saja, maka akan terancam sebagai Ilmuwan TIDAK ADA dan Guru TIDAK ADA. Jika telah muncul Hukuman ADA atau Pemecatan ADA, maka Hukuman dan Pemecatan MENGADA akan segera MENIADAKAN Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK. Maka akan terasa pedih dan perih hukumannya bagi orang-orang yang di anggap TIDAK ADA. Padahal perjuangan mereka masih sangat banyak dan sangat panjang. Maka mereka akan sebenar-benar menjadi Ilmuwan ADA jika mereka selalu berjuang untuk menjadi Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA, yaitu dengan memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA. Mereka juga akan benar-benar menjadi Guru ADA jika mereka selalu berjuang untuk menjadi Guru MENGADA dan Guru PENGADA dengan cara memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA di dunia Pendidikan.

43 comments:

  1. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Profesi apapun yang dijalankan seseorang harus ADA, MENGADA, dan PENGADA. Untuk menjadi seorang yang ADA, MENGADA, dan PENGADA dibutuhkan kerja yang ekstra keras. Seorang guru yang memalsukan PAK bisa menyebabkan seorang guru menjadi seorang yang bukan PENGADA walaupun dia ADA dengan ijazahnya sebagai seorang guru dan MENGADA dengan tetap mengajar, mendidik muridnya dikelas, menulis dan melakukan Penelitian Tindakan Kelas. Hal inilah yang menjadi tantangan sebagai calon guru dimasa depan agar tetap bisa menjadi guru yang ADA, MENGADA, DAN PENGADA.

    ReplyDelete
  2. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan elegi di atas, kita tahu bahwa mengenai mewabahnya budaya plagiat dalam dunia pendidikan. Sebagai seorang guru atau yang berprofesi apa saja kita tidak boleh melakukan plagiat. Plagiatisme merupakan salah satu tindak kecurangan. Dalam mencapai tujuan, tak jarang sebagian orang mengambil jalan pintas untuk mencapainya. Hal ini karena adanya rasa kemalasan tetapi ingin meraih hasil maksimal.

    ReplyDelete
  3. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Di berbagai bidang, kita temukan budaya copy paste, tak terkecuali pada bidang pendidikan. Mereka memanfaatkan karya-karya orang lain untuk dijadikan karyanya tanpa menuliskan referensi yang asli. Hal tersebut sungguh mencerminkan moral yang buruk.

    ReplyDelete
  4. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sejatinya perbuatan plagiarisme akan menghilangkan keberadaaannya. Yang ada malah jadi semakin tiada. Jadi dengan perilaku plagiarisme sebenarnya akan membuat seseorang itu kehilangan dirinya dalam karya-karyanya. Perlu adanya suatu kesadaran dari masing-masing komponen pendidikan untuk selalu berkarya menggunakan ikhtiarnya sendiri-sendiri.

    ReplyDelete
  5. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan elegi yang dipaparkan diatas, ilmwuan plagiat dan guru pemalsu PAK bukanlah sesuatu hal yang patut untuk dibanggakan. Seorang ilmuwan yang memiliki berates-ratus karya atau bahkan segudang karya maka apabila ilmuwan tersebut melakukan plagiat sekali saja dalam karyanya, maka runtuh dan hancur semua karya-karya yang lain. Meskipun karya yang lain dibuat dengan usaha sendiri, akan tetapi jika tercoreng dengan adanya plagiat maka semua karya tersebut tidak akan diakui dan akan berakhir sia sia serta keeksitensian dari ilmuwan tersebut akan menurun bahkan menghilang dari dunia keilmuanan.

    ReplyDelete
  6. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Keberadaan guru pemalsu PAK telah menghilangkan kesan guru sebagai sosok teladan dalam dunia pendidikan dan sebagai agen-agen pencetus generasi emas penerus bangsa. Guru pemalsu PAK dapat memberikan pembelajaran secara tidak langsung kepada siswa mengenai berlaku curang. Oleh karena itu, dengan munculnya guru pemalsu PAK ini jangan heran jika siswa-siswa sebagai generasi emas penerus bangsa ini menjadi kebiasaan berlaku curang, contohnya mencontek dalam ujian.

    ReplyDelete
  7. Jeanete Nenabu
    PPS PMAT D (15709251004)

    Mitos selalu berusaha mencelakakan logos, berbuat curang agar logos musnah. Dengan adanya Profesor Plagiat dan banyak Guru Pemalsu PAK. Adanya hal ini merupakan puncak gunung es dari fenomena yang sudah sejak lama melanda di Negara ini. Kecurangan sekecil apapun akan ditampakkan melalui Ruang dan Waktu yang sebetul-betulnya tidak pernah tidur. Ruang dan Waktu itu sebetulnya selalu memberikan catatan dan penilaian terhadap apapun, kapanpun dan dimanapun. Hanya bagi orang-orang yang ikhlas dan berpikir kritislah yang mampu membaca catatan dan penilaian yang dilakukan oleh Ruang dan Waktu. Maka biasakan isi hidup kita dengan melakukan kegiatan yang berfaedah. Biasakan berikhtiar dalam rangka menggapai sesuatu dengan disertai berdoa. Bersikap jujur dan tak pernah lupa untuk selalu beribah kepada Tuhan YME. Karena sesungguhnya ruang dan waktu akan memberikan catatan dan penilaian terhadap apapun yang kita lakukan, dan ingatlah bahwa kita semua kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

    ReplyDelete
  8. Jeanete Nenabu
    PPS PMAT D (15709251004)

    Dalam elegi ini, ditekankan mengenai ada, mengada, dan pengada. Pada dasarnya, kita ada, hanya terkadang kita tidak sadar akan keberadaan kita sehingga kita belum dapat menjadi pengada. Dikalatakan ilmu plagiat dan guru pemalsu PAK adalah ketika kita tidak menyadari keberadaan kita, kita tidak berkarya, kita tidak mengadakan sesuatu yang menjadikan kita pengada.

    ReplyDelete
  9. Jeanete Nenabu
    PPS PMAT D (15709251004)

    Mitos selalu berusaha mencelakakan logos, berbuat curang agar logos musnah. Dengan adanya Profesor Plagiat dan banyak Guru Pemalsu PAK. Adanya hal ini merupakan puncak gunung es dari fenomena yang sudah sejak lama melanda di Negara ini. Kecurangan sekecil apapun akan ditampakkan melalui Ruang dan Waktu yang sebetul-betulnya tidak pernah tidur. Ruang dan Waktu itu sebetulnya selalu memberikan catatan dan penilaian terhadap apapun, kapanpun dan dimanapun. Hanya bagi orang-orang yang ikhlas dan berpikir kritislah yang mampu membaca catatan dan penilaian yang dilakukan oleh Ruang dan Waktu. Maka biasakan isi hidup kita dengan melakukan kegiatan yang berfaedah. Biasakan berikhtiar dalam rangka menggapai sesuatu dengan disertai berdoa. Bersikap jujur dan tak pernah lupa untuk selalu beribah kepada Tuhan YME. Karena sesungguhnya ruang dan waktu akan memberikan catatan dan penilaian terhadap apapun yang kita lakukan, dan ingatlah bahwa kita semua kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

    ReplyDelete
  10. Jeanete Nenabu
    PPS PMAT D (15709251004)

    Dalam elegi ini, ditekankan mengenai ada, mengada, dan pengada. Pada dasarnya, kita ada, hanya terkadang kita tidak sadar akan keberadaan kita sehingga kita belum dapat menjadi pengada. Dikalatakan ilmu plagiat dan guru pemalsu PAK adalah ketika kita tidak menyadari keberadaan kita, kita tidak berkarya, kita tidak mengadakan sesuatu yang menjadikan kita pengada.

    ReplyDelete
  11. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimkasih Prof, berdasarkan postingan ini saya menyimpulkan mengenai plagiat dan pemalsuan, hal ini disebabkan kurangnya kesadaran ilmuwan dan guru akan keberadaan dan tanggung jawab merek sebagai ilmuwan dan guru. Perlunya peningkatan kesadaran ini diharapkan dapat mengurangi pemalsuan dan plagiat karena hal itu menyimpang dari status mereka sebagai ilmuwan dan guru.

    ReplyDelete
  12. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.
    Seperti yang kita ketahui bersama bahwa kegiatan plagiat atau plagiarisme merupakan suatu bentuk kejahatan yang termasuk hukum pidana karena termasuk sebuah tindakan pencurian berupa hak cipta milik orang lain. Kegiatan penjiplakan ini semakin hari bahkan telah menjadi sebuah trend atau budaya di indonesia, miris memang namun begitu adanya. Sekali lagi elegi ini mengingatkan kita untuk terus berhati-hati dan menjauhkan diri dari segala bentuk plagiarisme. Bukan hanya karena takut pada hukum yang berlaku namun juga karena kesadaran diri untuk berbuat jauh lebih baik dan ikhlas di setiap proses yang dijalani.

    ReplyDelete
  13. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari Elegi ini hal yang bisa saya pahami adalah, keberadaan seseorang adalah hasil dari dirinya sendiri dalam mengadakan bukti bahwa dirinya ada sesuai dengan hakekat ada. Sedangkan pemalsu dan pemlagiat tidaklah membuktikan keberadaan dia, memanupulasi bukti keberadaan orang lain agar tampak bahwa itu adalah bukti keberadaannya

    ReplyDelete
  14. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Maraknya aksi plagiat di dunia ini, karena manusia banyak terjebak dalam budaya instan. Misal, seseorang ingin cepat menyelesaikan pembuatan karya ilmiah, maka iapun meniru bahkan menjiplak sama persis dengan karya-karya ilmiah orang-orang yang terdahulu. Hal itu tentu sangat tidak diperbolehkan, karena akan merugikan pihak yang diplagiat. Jika ingin mengkutip pendapat seseorang, para ahli, atau kutipan dari buku, hendaknya mengikuti aturan-aturan yang pakem dalam hal pengkutipan dan kemudian menuliskannya dalam daftar pustaka.

    ReplyDelete
  15. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas sharingnya, Pak. Sangat disayangkan memang budaya plagiat dan pemalsuan yang marak terjadi sekarang. Para plagiaris dan pemalsu tersebut tidak lagi peduli dengan konsekuensi perbuatan mereka. Mereka hanya ingin dikenali sebagai orang terpandang dengan gelar yang bergengsi atau temuan yang mutakhir. Mereka hanya ingin dieluh-eluhkan oleh manusia lain tanpa memikirkan ganjaran yang akan mereka terima dari Yang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  16. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Berdasarkan “Elegi Meratapi Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK” bahwa yang dimaksud dengan Profesor PLAGIAT adalah Profesor yang tidak mengenal dirinya sebagai Profesor ADA dan Guru yang memalsukan PAK adalah guru yang tidak mampu mengenal dirinya sebagai Guru ADA.
    Di jaman pos pos modern ini maraknya budaya plagiat dan memalsukan PAK dengan mengaku karya-karya orang lain untuk naik jabatan atau memperoleh sertifikasi guru. Jika suatu karya itu PALSU maka karya itu bukanlah suatau PENGADA akan diri kita dan bisa MENIADAKAN jati diri kita. Oleh karena itu, diperlukan instrospeksi dengan mendekatkan diri kepanda-nya dan adanya sikap saling menghargai terhadap karya orang lain.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  17. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak.
    Sebagai ilmuwan dan guru hendaknya menghindari adanya plagiat. Plagiat merupakan perilaku yang tidak bertanggungjawab. Melakukan plagiat berarti menginginkan hak tetapi tidak melakukan kewajiban.

    ReplyDelete
  18. Junianto
    PM C
    17706251065

    Fenomena Plagiarisme sudah menjadi hal yang tidak asing lagi di telinga kita. Plagiat dalam dunia pendidikan pun sudah menjadi rahasia umum. Padahal kita tahu bahwa pendidikan adalah pencetak generasi penerus bangsa. Bagaimana mungkin generasi penerus akan baik jika sistem pencetaknya dipenuhi dengan kebohongan? Maka dari itu, plagiarisme dalam dunia pendidikan harus segera di tindak. Namun, plagiarism juga terjadi karena kurangnya wawasan seseorang dalam bagaimana mengambil kutipan, menyalin tulisan orang lain, dll. Terkadang plagiarism hanya dimaknai sebagai mengadakan lagi sesuatu yang sudah ada, mengutip pendapat ahli, dll. Padahal hal itu diperbolehkan untuk memperkuat pendapat/ penelitian seseorang asalkan mencantumkan sumbernya. Inilah yang sering dilupakan sebagian orang, mereka mengutip tetapi tidak mencantumkan sumber.

    ReplyDelete
  19. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Allah memberikan anugerah pikiran kepada manusia dengan tujuan supaya manusia dapat berpikir dengan baik. Kasus plagiarisme sudah sangat marak sekali di Indonesia. Dan yang lebih mirisnya lagi para pelaku plagiat adalah mereka yang jelas-jelas berpendidikan tinggi dan sebenarnya mampu untuk tidak melakukan hal itu. Sungguh merugi dan tercela perbuatan plagiat yang saat ini marak terjadi dalam pendidikan di Indonesia. Para plagiator dengan gampang berbuat semaunya tanpa memikirkan akibatnya. Mereka tidak memikirkan akibat dibalik perbuatannya tersebut. Mereka sama saja dengan tidak menghargai ruang dan waktu. Plagiator tak menghargai hasil karya orang lain dan itu sama saja dengan perbuatan mematikan karya orang lain. Manusia diberi akal untuk berpikir dan memanfaatkan ruang dan waktunya semaksimal mungkin. Semoga kita terhindar dari sifat plagiarisme sehingga kita dapat memaksimalkan kinerja pikiran dan otak kita.

    ReplyDelete
  20. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Sebagai seorang manusia yang hidup di dunia ini, kita harus menjalani sesuatu sesuai dengan dimensi dimana kita berada. Kita tidak bisa hanya sekedar ADA tanpa MENGADA dan menjadi PENGADA. Sebagai calon guru kita juga harus mengetahui bagaimana seharusnya menjadi seorang guru yang baik yang tidak hanya mementingkan sertifikasi saja, tetapi juga mementingkan pembelajaran dan siswa yang menjadi pusat pembelajaran. kita juga tidak boleh plagiat dan korupsi dalam melaksanakan tugas kita sebagai seorang guru, seorang pendidik.

    ReplyDelete
  21. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Elegi ini mengingatkan kita untuk mempertahankan keberadaan dengan menghasilkan karya-karya yang sesuai dengan hakekat ADA, MENGADA dan PENGADA. Bukan dengan melakukan pemalsuan dan plagiat. Tindakan pemalsuan dan plagiat yang disengaja merupakan akibat dari lebih mementingkan hasil daripada proses. Padahal hasil yang dibuat tanpa adanya proses yang baik tidaklah ada artinya. Berbeda jika prosesnya baik, maka apapun hasilnya pasti akan membawa manfaat.

    ReplyDelete
  22. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Budaya plagiarism atau menjadikan ada dalam waktu singkat adalah budaya yang berbahaya dan mendarah daging. Kita sering kali lalai, tergoda setan, sombong dan tak sopan dengan dimensi ruang dan waktu yang terus bergerak. Hanya mereka yang serius, menikmati proses dan mengerjakkan dengan ikhlas lah yang akan bertahan lama. Sedangkan mereka yang melakukan plagiat, hanya aman sementara/semu selebihnya justru membahayakan jiwa mereka sendiri. Maka, ikhlaskanlah diri kita untuk berproses, menjadikan sesuatu ada dengan melewati proses yang tidak sebentar, instan begitu saja. Proses yang berkelanjutan atau secara terus menerus dan proses kesabaran dalam melakukan sesuatu adalah yang harus dilalui seseorang untuk mencapai keberhasilan, karena pembentukan kebiasaan yang baik pun butuh proses yang panjang dan dilakukan secara kontinue.

    ReplyDelete
  23. Elegi Meratapi Plagiat
    Charina Ulfa
    17709251039
    PPs P.Mat B 2017

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Berdasarkan elegi yang telah bapak posting,itu mengatakan bahwa Plagiat dan pemalsuan itu terjadi akibat dari kesempatan yang diberikan oleh si penerima pemalsuan. Plagiat berarti pencuri atau penyontek hak cipta orang lain dan merupak sebuah tindak kejahatan, sehingga seseorang penulis yang melakukan plagiat maka ia telah melakukan tindak kecurangan dan kejahatan yang sudah semestinya mendapatkan sanksi. Sehingga sudah seharusnya seorang dosen atau mahasiswa sangat tidak pantas melakukan plagiat. Dan kalaupun ada siswa atau dosen yang melakukan plagiat terhadap tugas yang diberikan sudah semestinya pembimbing menegur atau memberi sanksi atau mengganti karya tulis nya itu. Guru juga sama, melakukan pemalsuan PAK, karena ada kesempatan atau paling tidak karena adanya kerja sama dengan petinggi lain baik di sekolah maupun pemerintahan agar dana sertifikasinya cair.

    ReplyDelete
  24. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Terimakasih pak prof telah memberikan nasehat, terutama buat diri pribadi saya.Melihat fenomena yang ada sangat menyayat hati.Seperti Plagiat adalah salah satu tindakan yang dapat membunuh karakter seesorang.Fonema yang terjadi di berbagai media bukan hal baru mengenai pemalsuan dan menduplikat terkait masalah karya dan ciptaan.Hal yang perlu dikembangkan di dalam ada, mengada, dan pengada adalah dengan membudayakan sifat jujur dan ikhlas.

    ReplyDelete
  25. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elgi ini saya memahami bahwa seorang ilmuan dalam menghasilkan karyanya hendaklah sesuai dengan hakekat ada, mengada dan pengada. Maka sebenar-benar ilmuwan tersebut akan menjadi ilmuwan ada jika selalu berjuang untuk menjadi ilmuan mengada dan ilmuwan pengada. Janganlah menjadi peneliti yang tidak mengenal dirinya sebagai ilmuwan ada, karena sebenar-benar ilmuwan tersebut cenderung melakukan pemalsuan atau plagiat. Untuk itu, diperlukan kesadaran yang tingggi agar para ilmuwan dalam menghasilkan sebuah karya tidak melakukan plagiat atau memalsukan dokumen.

    ReplyDelete
  26. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Ruang dan waktu akan memberi penilaian dan catatan dari beberapa kejadian yang ada. Menunjukkan bukti. Ruang dan waktu adalah suatu hal yang ada dan tak pernah tidur, memberikan penilaian dan catatan. Dan yang bisa membacanya adalah orang yang ikhlas. Dalam hal ini kita bisa memahami orang yang ikhlas serta yang dapat mengambil hikmah dari segala peristiwa yang ada.
    Fenomena yang sedang terjadi yaitu fenomena ada, mengada dan pengada. Dalam hal ini bersifat plural atau umum. Ada yaitu yang benar-benar on the track. Atau tujuannya. Sehingga dibutuhkan suatu usaha yang dinamakan mengada yang ketika kita telah melakukan proses tersebut maka kita menjadi pengada. Dalam hal lain bisa diartikan dengan jika kita ngun menggapai cita-cita atau tujuan maka perlu namanya usaha agar menjadi orang penyandang cita-cita dan tujuan itu. ini inti sejatinya dari ADA, MENGADA, dan PENGADA.
    Sedangkan fenomena plagiat dan pemalsu adalah suatu fenomena yang meniadakan diri. Yang artinya tidak benar-benar memahami sejatinya ADA, MENGADA dan PENGADA.

    ReplyDelete
  27. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Apapun profesi kita, untuk menjadi Ada tidaklah cukup—dan bukan itu pula yang menjadi tujuan—namun perlu juga menjadi MENGADA dan PENGADA agar terhindar dari mitos. Orang-orang yang terjebak dalam plagiarisme merupakan orang-orang yang terjebak ke dalam mitos. Mitos akan Ada dirinya.

    ReplyDelete
  28. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    sia-sialah memiliki gelar pendidikan yang tinggi jika tak mampu memberikan kontribusi pengetahuannya bagi dunia. Menjadi ADA dengan segala gelar yang terpampang tak cukup jika tidak MENGADA lewat pemikiran yang disampaikan lewat tulisan dan menjadi PENGADA yang terbukti lewat tulisan-tulisan tersebut.

    ReplyDelete
  29. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Meratapi Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK. Setalah membaca elegi ini saya belajar bahwa untuk mencapai sebuah impian kita haruslah terus berusaha dan berkarya. Seperti dalam elegi ini, jika seorang peofesor mengada melalui plagiasi maka sebenarnya itu hanyalah mitos, yang dapat menjadikan profesor itu tidak ada. Oleh karena itu, agar kita ini ada maka kita harus mengada dengan selalu bekarya sehingga kita menjadi pengada dari karya-karya yang kita buat. Dengan begitu, kita baru dapat dianggap ada. Terimakasih

    ReplyDelete
  30. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Hakikat seseorang yang menjalankan suatu profesi seperti ilmuwan dan guru adalah ada, dan yang dilakukan untuk memperoleh/menunjukkan keberadaannya itu adalah dengan mengada, dan sebagai hasil dari mengada itu sendiri adalah pengada. Kegiatan menulis (membuat suatu karya) sebagai kegiatan mengada dan hasil tulisan sebagai wujud dari pengada, apalah artinya mengada dan pengada bila itu merupakan hasil dari plagiasi atau plagiat karya orang lain. Hal ini tentu bertentangan dengan tujuan dari kegiatan mengada dan sebagai pengada itu sendiri. semoga kita bukan termasuk dari golongan orang yang seperti pada fenomena tersebut dan tidak tergoda untuk perbuatan/perilaku instan yang mementingkan hasil daripada proses.

    ReplyDelete
  31. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Terimakasih atas ilmu yang bapak berikan melalui elegi meratapi sang ilmuwan plagiat dan guru pemalsu PAK. dari postingan bapak saya bisa melihat bahwa plagiatrisme ialah suatu fenomena yang berujung tidak boleh di budidayakan diindonesia. karna sebenar-benarnya guru ada jika mereka sendiri mebuat karya (pengada) yang sesuai dengan hakekat karya tersebut tidak mencontek atau menirukan.
    semoga kita menjadi fasilitator yang sebenar-benarnya Ada dan tidak menjadi plagiarisme.

    ReplyDelete
  32. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Tidak ada yang menyangka jika seorang guru yang merupakan contoh dan teladan bagi para muridnya juga bisa melakukan sesuatu hal yang tidak terpuji. Paramitos telah membawa mereka untuk mengada sesuatu yang memang seharusnya tidak ada dalam diri mereka. Jika kita lihat, memang hal tersebut merupakan hal yang sepele. Namun, jika kita tahu apa akbiat dari mengadakan sesuatu yang seharusnya tidak ada akan berdampak besar pertama bagi sang guru secara khususnya serta kedua bagi semua yang berada di lingkungannya secara umumnya. Oleh karena itu, sebagai seorang guru hendaknya mengadakan seuatu yang mungkin ada dan memang seharusnya ada. Jika seorang guru ingin membuktikan diri mereka ada, maka mengadakan sesuatu yang baik merupakan solusi utama. Menjadi seorang guru memang bukanlah pekerjaan yang gampang, karena banyak sekali godaan yang akan diterima. Namun, sebenar-benarnya guru adalah mereka yang selalu bersyukur atas apa yang diberikan dan selalu berusaha keras untuk menjadi guru yang baik bagi lingkungannya. Semoga kita senantiasa akan menajdi seorang guru yang tidak menuntut sesuatu karena profesi kita, dan selalu dilindungi untuk melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan oleh guru. Aaamiin.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  33. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Walaupun postingan ini ditulis pada tahun 2013, saya teringat ada berita muncul di TV di tahun 2017 ini. Ada salah satu oknum yang menggunakan surat berharga seperti surat sertifikasi untuk meminjam uang atau untuk digadaikan. Sampai hal ini merugikan berbagai pihak. Hingga pada akhirnya oknum pemalsu dokumen pun ditangkap. Entah bagaimana cara berpikir mereka hingga melakukan sesuatu seperti itu. Cukup apik memaknai ada, mengada, dan pengada. Seperti halnya melakukan plagiat seperti mengada ngadakan apa yang tidak ada. Semua akan hanya menjadi sebuah mitos belaka yang akan terus membayangi kita. Untuk menjadi seorang ilmuwan, cukup dengan menulis hasil karyanya untuk mengada sesuatu yang ada dan jadilah pengada yang benar

    ReplyDelete
  34. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Ilmuan plagiat dan guru pemalsu PAK akan terbongkar oleh ruang dan waktu. Dalam setiap perjalanan ruang dan waktu selalu saja rentan dengan plagiat, tinggal bagaimana setiap individu dalam kelompok saling mendukung untuk saling mengingatkan akan dampak negatif plagiat, dengan begitu maka terciptalah hal-hal baik yang pada akhirnya akan berdampak baik seperti majunya dunia pendidikan.

    ReplyDelete
  35. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Elegi meratapi sang ilmuwan plagiat dan guru pemalsu PAK ini mengajakan pada kita beberapa hal. Pertama, tiadalah ada diri kita tanpa kita mengada dan pengada. Maknanya adalah jika kita ingin diri kita ada, maka kita harus senantiasa mengada. Bila kita senantiasa mengada maka disaat itu pula pengada akan selalu menyertai kita. sebagai guru atau dosen, wawasan ini akan memotivasi kita agar kita senantiasa berkarya, mengajar, menulis, meneliti dan sejumlah aktivitas mengada yang lain. Pelajaran kedua yang kita dapat dari elegi ini adalah bahwa aktivitas plagiat atau pemalsuan menandakan ketiadaan diri. Bila ilmuwan melakukan aktivitas plagiat maka ia telah memalsukan dirinya mengada, yang nantinya akan berujung ketiadaan dirinya

    ReplyDelete
  36. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  37. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Manusia dikatakan ada, jika ia mengada serta pengada. Jika tidak ada ketiganya maka dia dianggap tidak ada. Karena tidak ada satupun yang menunjukkan eksistensinya di dunia ini, baik itu berkaitan dengan hal yang besar maupun hal yang kecil. Namun untuk tetap berada dalam ketika posisi tersebut jangan menggunakan cara-cara yang tidak baik. Misalnya dengan melakukan plagiat dan pemalsuan. Karena jika hal tersebut dilakukan semua nilai kebaikan akan hilang, serta kesalahan yang telah kita lakukan tidak hanya berdampak pada diri kita sendiri namun juga pada orang lain. Maka mari terus tetap istiqamah berada pada jalan kebaikan.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  38. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Dalam berkarya kita harus memperhatikan aspek ada, mengada, dan pengada sehingga kita tidak terjebak pada plagiat. Plagiat merupakan suatu kepura-puraan yang tidak sesuai ruang dan waktu. Seorang plagiat hanya memenuhi aspek ada atau mengada, mereka tidak menjadi pengada. Maka jika hanya ada dan mengada, maka ada kemungkinan tidak ada dan tidak mengada. Artinya ketiga aspek tersebut harus selalu lengkap sebagai panduan untuk berkarya dan supaya tidak plagiat.

    ReplyDelete
  39. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Kasus plagiasi di dunia pendidikan saat ini sudah merajalela. Bahkan banyak sekali orang yang tidak menyadari bahwa dirinya melakukan plagiasi. Plagiat adalah suatu pilihan yang muncul pada saat kita tidak percara diri. Jika kita mampu, mengapa harus melakukan plagiat? Orang yang hanya menghargai hasil tanpa mempertimbangkan proses adalah salah satu kelemahan dalam dunia pendidikan. Jika guru melakukan pemalsuan PAK, maka secara omotasi tingkat akuntabilitas dunia pendidikan Indonesia akan tercoreng. Oknum tersebut membuat guru-guru yang jujur menjadi hidden.

    ReplyDelete
  40. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Orang yang melakukan plagiat adalah orang yang gagal menjadi pengada yang sesungguhnya. Mengadanya hanya palsu dan keberadaannya perlu dipertanyakan.

    ReplyDelete
  41. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Ilmuan plagiat dan guru pemalsu sejatinya adalah orang-orang yang mengkhianati kemanusiaan. Mereka lepas dari kepercayaan bahwa manusia-manusia adalah makhluk dengan kosmosnya masing-masing. Manusia adalah entitas yang unik yang memiliki beragam potensi-potensi yang bisa dikembangkan melalui proses pendidikan. Dalam dunia akademik, tindakan plagiat dan pemalsu adalah tindakan yang paling diharamkan dan memiliki konsekuensi moril yang besar. Guru sebagai salah-satu profesi yang mulia harus berdiri di atas kemampuan yang mapan.

    ReplyDelete
  42. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027
    Seorang guru hendaknya tidak hanya piawai dalam menyampaikan materi atau ilmu kepada peserta didik, namun juga dituntut untuk dapat mengembangkan sendiri sebuah karya yang dapat memfasilitasi peserta didik dalam melakukan kegiatan pembelajaran yang bermakna. Karya yang dibuatpun harus disusun dengan kaidah penyusunan karya yang baik dan benar, menggunakan pengalaman dan referensi yang baik, serta tidak melakukan tindak plagiat. Hal seperti ini tentu sangat penting untuk diperhatikan, apalagi sosok guru seringkali menjadi panutan para siswa, sehingga harus memberikan teladan yang baik.

    ReplyDelete
  43. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Dari tulisan tersebut pelajaran yang dapat saya ambil adalah bahwa apapu profesi kita saat ini jadilah seseorang yang profesional, berkarya yang merupakah hasil karya kita sendiri (bukan hasil plagiasme), dengan begitu kita akan menjadi sosok yang sebenar-benarnya memegang teguh profesi kita. Orang yang melakukan kecurangan, lambat laun akan terbongkar juga. Seperti kata pepatah "sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga"

    ReplyDelete