Sep 20, 2013

Elegi Menggapai Sastra




Oleh Marsigit

Petunjuk:
Salah satu cara memahami Elegi Menggapai Sastra ini adalah janganlah dipaksakan untuk memahami jikalau dirasakan sulit, karena tujuan dari elegi ini memang bukan untuk memperoleh pemahaman pembaca tentang elegi ini, sampai saatnya dibuka misterinya oleh penulisnya. Salah satu tujuannya adalah agar memberikan referensi bahwa jika kita berkehendak maka kita dapat menyembunyikan pikiran kita dalam kata-kata atau kalimat kita. Ternyata kita juga menjadi sadar bagaimana jadinya jika Tuhan YME berkehendak menyembunyikan misteri Nya. Maka tiadalah orang dapat mengetahui kecuali atas ijin Nya. Itulah pelajaran kita bahwa sehebat dan setinggi manusia maka dia tetaplah si tidak sempurna. Sedangkan manfaat dari elegi ini adalah bisa juga sebagai pembanding agar elegi-elegi yang lain itu menjadi mudah adanya. Bukankah kita juga telah menemukan bahwa tidaklah setiap pertanyaan itu memerlukan jawaban? Seperti itulah kira-kira elegi ini dibuat. Maka bacalah elegi-elegi yang lain.Amiin.



Astoras:
Oim wau lha toi dza noi ndir na na kun tak da min dhuta antha phada nya tha kah lauwa dhat mir bingalawaihdur ronthakamaluhawatakamini phidhitnitipanyatkaha nauna andhamkabi.

Tskimi:
Adaumpet pinuleng mighab wiskutha anasa pikena norananci noradal nirboda syamsomi pomirang lakuwa nderzo lampuhma sparatul trusna jwoi nderzzo idir. Makna rastra kang atiwi askara jra ngak lawa wang wung akohit rastra.

Gilire:
Ita hisa mrang mudida. Tan ngindate asra. Mbahta arsa rangku negume. Kabek ngeli nal aron lila. Hiwed karen inglelawer thibhan. Srawendah nepati ngista gnaka samha gusih. Osik yalmu ntawring capitu asara. Mengrah dadimu nyemlanging warima. Ywa nggalakatune nispeti.

Talfasif:
Ajasnite kahika musbangare ojre nat ngindate. Bhohone ngat beto nat ngandite. Kattira hatusu acra ngotawu mothade adas monane. Njabure njebik laa reben shala.

Himilah:
Olah kipri kacoka ngrip tamoda. Sisipen lunduha ngrim nakahan. Ndakoping lungkupa ngadat. Ngampotil nyusunya ngadat. Taptaping ngahalo ngadat. Pepunute ta kunklud ngadat. Njabunjare angroti jrinong mosista.

102 comments:

  1. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    sastra, yang terlintas dalam bayangan saya adalah karya sastra seperti puisi, pantun, cerita fiksi, dsb. memang apa-apa yang disampaikan dengan sastra lebih sering mempunyai arti yang banyak atau multi tafsir. sehingga sastra kadang sulit dipahami secara langsung. seperti elegi ini, untuk memahami elegi ini hendaknya membaca elegi-elegi yang lain sebagai referensi. mungkin disini juga tersirat makna bahwa suatu pemahaman tidak bisa ditempuh secara instan, melaikan perlu adanya proses yang dilalui untuk mendapatkan pemahaman tersebut.

    ReplyDelete
  2. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Sastra itu memiliki makna dan tujuan maksud yang berbeda. Sastra diciptakan bisa saja memiliki arti dari segi mistik, religi, filsafat, ilmiah, dst. Kita sering mendengar satra tapi kita hanya mengetahui yang terbatas atau belum semuanya. Karena belajar tentang sastra tidaklah mudah, terutama untuk seseorang yang terbiasa dengan hal-hal yang bersifat eksak.

    ReplyDelete
  3. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    elegi menggapai sastra ini, menunjukkan bahwa ada banyak hal yang belum kita ketahui atau tidak bisa kita pahami. Seperti yang tertulis pada petunjuk yang tertulis dalam tulisan di atas, jika kita berkehendak, kita dapat menyembunyikan pikiran-pikiran kita dalam kalimat-kalimat kita. pun ketika Tuhan berkehendak menyembunyikan misteri-Nya tiada lah yang bisa mengetahui kecuali atas izin-Nya. Setinggi dan sehebat apapun ilmu pengetahuan kita, tak akan dapat disebut sempurna. Ilmu disampaikan menggunakan sastra, sedang sastra itu tak terbatas adanya.

    ReplyDelete
  4. Manusia memang jauh dari sempurna tetapi manusia mempunyai bentuk yang sempurna. Seperti limit x mendekati c maka manusia hanya mempunyai keinginan untuk mendekati sempurna tetapi tidak dapat sempurna. Bahwa pengetahuan yang saya miliki barulah sedikit dari banyak pengetahuan yang ada. Bahwa saya manusia yang penuh keterbatasan. Yang perlu manusia lakukan agar dapat mendekati kesempurnaan adalah banyak-banyak bersyukur atas apa yang telah Allah karuniakan padanya. Bukan melihat kekurangan dan berusaha untuk menutup-nutupinya.

    ReplyDelete
  5. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Alhamdulillahirobbil alamiinn.... puji syukur ke pada Allah SWt Than yang maha kuasa yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya. Kami ingin mengatakan bahwa, sehebat hebatnya manusia pasti dia tetap tidak sempurna karena kesempurnaan itu hanya milik Allah. begitu pula pengetahuan merupakan milik Allah. Manusia tidak akan mengetahui apapun tanpa adanya izin dari Allah, walau sekuat apapun seorang berusaha namun bila tidak diizinkan Allah maka tidak akan ada hasilnya. Maka dari itu, mari kita selalu berdo’a berserah diri mengharap ridhonya agar selalu diberikan kelancaran dalam segala hal dan mendapat ridhonya. Amiiiiinnnn..

    ReplyDelete
  6. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Perbedaan tentang pemahaman suatu fenomena di masyarakat sudah menjadi hal yang lumrah. Tak ada satu orangpun yang sama di dunia ini. Setiap dari kita adalah individu yang unik yang senantiasa memiliki persepsi, pemikiran dan pendapat berbeda dalam memandang satu hal yang sama. Bila hidup adalah sebuah seni persepsi (memandang), maka persepsi masing-masing orang memiliki andil dalam menangkap dan menafsirkan suatu fenomena, demikian juga dengan perbedaan pendapat. Berbeda pendapat normalnya tidak selalu berujung pada perpecahan. Mungkin argumen dari lawan bicara justru dapat dipandang sebagai tambahan khasanah informasi bagi kita.

    ReplyDelete
  7. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Munculnya perbedaan pendapat dalam setiap interaksi sosial dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain sifat dasar manusia sebagai individu yang unik yang tidak pernah sama dengan individu lainnya. Pengalaman masing-masing manusia dalam kehidupan akan membentuk suatu karakter pribadi yang kemudian menjadi penegas perbedaan antar individu. Di samping itu, terdapat pula beberapa spektrum perbedaan yang sifatnya sekunder seperti keyakinan, pendidikan, pendapatan/pekerjaan, hingga asal daerah. Luasnya spektrum perbedaan ini akan membuat perbedaan pendapat bisa saja terjadi antara kawan kerabat dan handaitaulan, antara atasan dan bawahan, antar pasangan, bahkan antar anggota dalam suatu organisasi, dengan kata lain perbedaan menjadi dimensi yang senantiasa hadir dalam keseharian kita, perbedaan menjadi tidak bisa dilepaskan dari peri kehidupan manusia.

    ReplyDelete
  8. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    Pendidikan Matematika C 2013

    Ranah 'Orang Seni' tidak selalu menyajikan yang terlihat instan wah dan indah, terkadang mempunyai titik yang menambah rasa indah itu sendiri, dan itulah konsep yang dibuat untuk memunculkan dan memungkinkan seorang terus menggali dan menemukan hal baru dari hal yang biasa. Terkadang orang menganggap biasa, namun ia akan menemukan titik titik yang tak dilihat sebelumnya.
    Kami jadi teringat dalam masalah sastra, kitab-kitab para ulama titis namun terus bernilai meski terus digali orang setelahnya. Bahkan datang dengan berjilid-jilid penjelasannya.

    ReplyDelete
  9. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sama seperti rekan-rekan yang lain sayapun tak memahami dan tak saya paksakan untuk memahaminya. Biarkan suatu saat misteri ini akan terungkap. Mungkin begitulah sastra tak harus secara huruf per huruf kita tahu terjemahannya. Seperti dalam Al-Quran Allah SWT merahasiakan makna alif lam mim, yasin, shad, nun, dan beberapa mafatihussuwar yang lain. Wallahu a'lam bishawwab

    ReplyDelete
  10. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Manusia memanglah makhluk yang paling sempurna, namun bukan berarti dia sempurna. Sehebat dan setinggi manusia maka dia tetaplah tidak sempurna. Tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban, itulah kemampuan manusia, selalu ada batasnya, oleh karena itu dia dianggap tidak sempurna.

    ReplyDelete
  11. Woro Sophia Amirul Kusumawati
    14301241048
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam 'Elegi Menggapai Sastra' ini saya memahami bahwa kita sebagai manusia tidak perlu memksakan diri untuk memahami apa yang benar-benar sulit untuk dipahami. Manusia hanyalah manusia. Manusia memiliki keterbatasan. Apabila kita sudah diambang keterbatasan, yang perlu dilakukan adalah berserah diri kepada Yang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  12. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mungkin benar, jangan dipahami jika dirasa sulit. Selain bahasa indonesia yang digunakan Bapak untuk menulis elegi ini saya tidak dapat memahami apa yang ada didalam elegi ini. Hanya pelajaran yang saya dapatkan adalah selalu percaya kepada Tuhan YME bahwa apa yang telah direncanakan-Nya adalah yang terbaik. Karena satu tahun kemudian, satu bulan kemudian, satu minggu kemudian, satu hari kemudian, satu jam kemudian, satu menita kemudian, satu detik kemudian, bahkan sepersekian detik kemudian kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi.

    ReplyDelete
  13. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Diungkapkan sebelum dimulainya diskusi diatas, bahwa elegi ini penuh dengan misteri. Maka kita harus banyak-banyak berdo’a dan belajar agar misteri dalam elegi ini cepat terbuka. Pasti didalamnya terdapat ilmu yang dapat kita ambil. Elegi ini digunakan sebagai pembanding elegi-elegi yang lain agar elegi-elegi yang lain menjadi mudah untuk dipahami. Seperti dalam kehidupan kita, kita melakukan hal-hal yang tidak mudah agar kelak jika kita mendapati hal-hal yang lebih mudah kita dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

    ReplyDelete
  14. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    memahami elegi ini cukup sulit bagi saya, namun saya percaya pada Alla SWT yang maha kuasa, semoga misteri yang ada dalam elegi ini bisa terbuka karena kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi didepan.

    ReplyDelete
  15. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Dari sekian elegi, elegi ini lah yang paling mudah. Karena saya tidak diberikan kewajiban memahaminya. Namun, namanya juga manusia yang punya rasa penasaran. Tetap saja ingin tahu apa maksud tulisan ini. Meskipun google juga tidak dapat menemukan tulisan lain yang isinya serupa dengan yang ada dalam tulisan ini. Jika diperhatikan dari bunyinya jika tulisan ini dibunyikan, seperti bahasa sastra Hindu. Namun itu hanya dugaan saya saja. Saya juga tidak tahu bahasa Hindu.

    ReplyDelete
  16. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. sastra merupakan bahasa yang indah. Untuk memahami sastra tidak dapat hanya dilihat kata per kata. Memahmi sastra harus dipahami makna di setiap kata. Jika tidak mampu melihat makna di balik kata yang ditulis, jangan coba-coba memahami sastra. Sebab jika diartikan oleh yang tidak mampu memahaminya akan menimbulkan kekeliruan yang bisa merusak sastra itu sendiri.

    ReplyDelete
  17. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Saat ini saya belum bisa memahami makna elegi menggapai sastra ini. Saya pun tidak akan memaksakan diri saya untuk memahaminya. Semoga suatu saat nanti, kita semua bisa memperoleh pemahaman atas elegi ini.

    ReplyDelete
  18. Muhammad Nur Fariza
    143401241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Tak semua hal dapat diterjemahkan dengan tepat oleh seseorang. Ketidak tepatan itu memunculkan misteri. Dari misteri itu muncul kesadaran akan keterbatasannya. Semoga suatu saat di waktu yang tepat hal yang berupa misteri itu menghadirkan jawabnya saat sudah mencukupi.

    ReplyDelete
  19. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sehebat hebat apapun manusia pasti dia tetap memiliki ketidaksempurnaan karena kesempurnaan itu hanya milik Allah. Begitu pula pengetahuan sejaitnya merupakan milik Allah. Manusia tidak akan mengetahui apapun tanpa adanya izin dari Allah. Walau sekuat apapun seorang berusaha namun bila tidak diizinkan Allah maka tidak akan ada hasilnya.

    ReplyDelete
  20. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Suatu usaha yang dipaksakan hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, saya menunggu tabir di balik elegi ini, karena sejujurnya saya belum bisa memahami makna dari elegi di atas.

    ReplyDelete
  21. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Filsafat dan sastra, tidak akan terlihat hubungannya bila yang dicermati hanyalah masing-masing. Filsafat dan sastra adalah dua wilayah keilmuan yang dalam sejarah telah bergelut satu sama lain. Akan tetapi banyak hal yang belum dapat dipahami dengan baik oleh mahasiswa atau pemerhati bahasa dan sastra dalam ranah-ranah tersebut. Harus banyak membaca dan membaca agar bisa memahami.

    ReplyDelete
  22. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan elegi diatas yang membicarakan mengenai sastra saya belum dapat memahami apa isi yang dimaksud dan apa makna yang terkandung di dalamnya. Saya menjadi menyadari keterbatasan saya bahwa mempelajari elegi yang membicarakan mengenai sastra bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk dipelajari. Akan tetapi, meskipun saya belum dapat memahami makna yang terkandung di dalamnya, saya mendapatkan pengetahuan baru serta referensi baru mengenai sastra dalam dunia filsafat.

    ReplyDelete
  23. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)
    Benar-benar sulit untuk memahami elegi ini. Ketika berbicara mengenai sastra mungkin yang terlintas dalam benak kita adalah keindahan bahasa. Berbicara tentang sastra berarti kita mencoba untuk menggali nilai-nilai keindahan yang terkandung dalam bahasa.

    ReplyDelete
  24. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dari elegi ini saya kembali merefleksikan diri. Benar bahwa dunia ini memiliki banyak misteri, dan segala sesuatu di dunia tidak dapat kita pahami jika Tuhan, Sang Pencipta tidak mau membuka misterinya bagi kita. Sebagai seorang yang ada, mengada dan sekaligus pengada pun dapat menyembunyikan pikiran kita melalui kata-kata, apalagi Tuhan yang adalah pencipta manusia. Sebaik apapaun kita, tetaplah tidak sempurna. Maka bersyukurlah senantiasa

    ReplyDelete
  25. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dari elegi ini saya kembali merefleksikan diri. Benar bahwa dunia ini memiliki banyak misteri, dan segala sesuatu di dunia tidak dapat kita pahami jika Tuhan, Sang Pencipta tidak mau membuka misterinya bagi kita. Sebagai seorang yang ada, mengada dan sekaligus pengada pun dapat menyembunyikan pikiran kita melalui kata-kata, apalagi Tuhan yang adalah pencipta manusia. Sebaik apapaun kita, tetaplah tidak sempurna. Maka bersyukurlah senantiasa

    ReplyDelete
  26. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Sesungguhnya baik filsafat maupun sastra bahasa itu adalah pikiran kita. Jika kita berkehendak maka kita dapat menyembunyikan pikiran kita dalam kata-kata atau kalimat kita.Jika kita saja mampu menyembunyika pikiran kita, maka bukan hal mustahil jika Tuhan berkehendak menyembunyikan misteri Nya. Maka sesungguhnya tak ada orang yang dapat mengetahui dan memahami sesuatu tanpa ijin dari-Nya. Jika Tuhan tak menghendaki kita tahu, maka dengan usaha sebesar apapun tak akan pernah kita mampu mengetahuinya. Maka sungguh hanya Tuhan Sang Maha Mengetahui, dan manusia tetap lah makhluk dengan berbagai ketidaksempurnaan. Maka sungguh tak pada tempatnya, seorang hamba menyombongkan diri di muka bumi ini.

    ReplyDelete
  27. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B 2017

    Terimakasih pak. Sungguh saya tidak paham sama sekali dengan maksut postingan ini. Saya berjanji, akan mencoba membacanya lagi. Saya juga akan menanyakan bagian ini ketika perkuliahan dengan bapak minggu depan.

    ReplyDelete
  28. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, sejujurnya saya merasa tidak cukup mampu untuk memahami makna postingan ini. Menurut saya sastra, mempunyai artian tersirat, dimana tidak semua bisa memahami artinya. Seperti membaca postingan ini, saya merasa tidak mampu memahami makna tersirat, maupun tersuratnya. Semoga senantasa mau belajar dan terus merasa tidak tahu agar tetap termotivasi untuk belajar, terimakasih.

    ReplyDelete
  29. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Walaupun kami (saya) tidak bisa memahami isi dari elegi ini, akan tetapi tetap ada pelajaran yang bisa saya ambil, yaitu dengan pengetahuan yang sekarang saya tidak bisa memahami elegi ini. Dan elegi ini saya mendapatkan referensi bahwa jika seseorang berkehendak maka dia dapat menyembunyikan pikirannya dalam kalimat dan ucapannya.

    ReplyDelete
  30. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Dalam uraian Bapak di atas, terdapat penggunaan 5 bahasa yang berbeda. Begitulah keanekaragaman bahasa. Di Indonesia sendiri terdapat seribuan lebih bahasa daerah. Belum lagi jumlah bahasa di seluruh dunia yang tentu jumlahnya sangat banyak. Sebagai orang Jawa, saya tentu paham dan dapat menggunakan Bahasa Jawa, tetapi saya tidak paham Bahasa Papua, kecuali jika saya mempelajarinya. Begitu juga dengan lima bahasa di atas, saya tidak dapat memahaminya, karena memang sama sekali belum mempelajarinya.

    ReplyDelete
  31. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Elegi itu tergantung oleh penulisnya. Itu merupakan hak bagi yang menulis elegi. Di sisi lain, Tuhan juga berhak untuk menyembunyikan pikiran seseorang melalui kata-kata. Intinya, pengetahuan kita sesungguhnya atas izin Allah.

    ReplyDelete
  32. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Saya tidak yakin seberapapun saya membaca elegi ini, saya tidak akan mengerti akan elegi ini. Ini menyadarkan saya bahwa elegi yang lain masih mungkin dan sangat mungkin di pahami. Karena begini lah sastra tak ada paksaan di dalamnya. Tetapi sesungguhnya elegi ini memiliki pesan yang sangat indah sebagaimana yang telah diberitahukan dalam petunjuknya. Elegi ini memang akan sulit dipahami karena bukan itu tujuannya, yang tau hanyalah sang pembuat dan Allah saja. Ini secara analogi berkaitan dengan Ilmu Allah. Jika Allah telah berkehendak akan ilmunya untuk tidak dipahami manusia maka mudah baginya merahasiakannya. Disinilah tugas kita sebagai manusia hanya bisa bertawakal.

    ReplyDelete
  33. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingan elegi yang lumayan membuat pusing ini, Pak. Seperti yang bapak kemukakan di atas bahwa manusia mengetahui sesuatu itu adalah atas kehendak Tuhan YME. Pengetahuan manusia itu terbatas sedangkan pengetahuan dan kuasa Tuhan itu tidak terbatas.

    ReplyDelete
  34. Junianto
    PM C
    17706251065

    Dalam elegi ini, tentu memuat misteri. Namun, begitulah sastra. Terkadang yang mengerti makna didalamnya hanyalah penciptanya saja. Jadi, setiap orang bebas bersastra dan mengungkapkan pemikirannya. Jika kita kaitkan dengan kehidupan manusia, maka sehebat dan setinggi apapun pangkat manusia, mereka tidak akan pernah tahu misteri dan rahasia yang diciptakan Tuhan sebelum Tuhan menunjukkan kepada manusia tersebut.

    ReplyDelete
  35. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Elegi menggapai sastra, sebuah elegi yang unik untuk kita baca. Membaca, membaca, dan membaca. Proses menerjemahkan dari sebuah tulisan menuju suatu pemahaman. Membutuhkan keselarasan antara apa yang kita baca dengan apa yang ada di dalam pikiran kita. Akan menjadi suatu masalah ketika apa yang kita baca tidak kita miliki dalam pikiran kita. Dan itu merupakan sebuah tanda bagi kita untuk senantiasa merasa tidak sempurna dan merasa kecil kepada Tuhan yang Maha Besar dan Sempurna.

    ReplyDelete
  36. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PM A 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Dibandingkan dengan elegi-elegi yang lain, elegi ini memang sangat sulit untuk dimengerti. Bahkan untuk memahami makna dari setiap kata saja saya tidak mampu. Apalagi untuk memaknainya, membacanya saja sangat sulit. Mungkin elegi ini mengajak kita untuk merefleksikan diri bahwa kita sebagai manusia hanyalah mahkluk yang memiliki banyak keterbatasan, maka tidak semua yang ada dapat kita ketahui. Seperti halnya ketetapan dan rencana Tuhan serta berbagai misteri-misteri lainnya akanlah tetap menjadi misteri. Pikiran kita tidak akan mampu memikirkannya, kecuali atas kehendak-Nya.

    ReplyDelete
  37. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Sehebat-hebatnya dan setinggi-tingginya manusia maka dia tetap tidak sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata. Sungguh saya sangat tidak memahami tentang Elegi menggapai sastraini. Yang saya bisa pahami adalah elegi ini menggunakan bahasa yang berbeda dengan elegi-elegi sebelumnya, jadi dapat diartikan elegi merupakan suatu pengantar filsafat yang menggunakan bahasa dan bahasa erat kaitannya dengan sastra. Sastra merupakan seni dalam bahasa, didalam sastra banyak mengandung arti-arti yang tersembunyi. Jika kita berkehendak maka kita dapat menyembunyikan pikiran kita dalam kata-kata atau kalimat kita. Ternyata saya jadi sadar memahami sesuatu itu perlu kehendak dari Tuhan Yang Maha Esa. Saya sadar bagaimana jadinya jika Tuhan Yang Maha Esa berkehendak menyembunyika misteriNya

    ReplyDelete
  38. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, Terimakasih prof. Marsigit atas postingan yang sama sekali yang tidak saya mengerti. Saya yakin ini filsafat yang bapak bangun dalam diri bapak. Sungguh, saya penasaran dengan arti dan makna dari postingan kali ini. Mungkin tulisan diatas hanya bapak dan Tuhan yang tahu. Atau mungkin para filsuf dan sastrawan juga mengetahui dan memahaminya. Yang jelas, ilmu saya belum sampai pada tahap seperti tulisan di atas. Saya semakin sadar, bahwa ilmu saya sangatlah sedikit dan perlu dipupuk dengan membaca dan membaca. Tetapi saya juga harus pandai-pandai dalam membatasi dan membedakan sikap antara rendah diri dan rendah hati. Yang jelas, setiap kita belajar perlulah ridho dan kehendak dari Allah swt. Semoga kita termasuk orang yang beruntung mendapatkan keberkahan di setiap langkah kita belajar. Amin.

    ReplyDelete
  39. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Terimakasih Pak prof,karena telah mengingatkan kami untuk tidak terlalu memaksakan diri untuk memamahami bahasa tersebut.Saya juga mengalami hal yang sama dengan teman-teman mahasiswa yang lain.Bahasanya sangat sulit dan susah dimengerti.

    ReplyDelete
  40. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dibanding dengan elegi-elegi yang Bapak tulis dalam blog ini, elegi inilah yang paling sulit untuk dipahami. Hal ini mengingatkan saya bahwa manusia mempunyai keterbatasan, apapun itu termasuk dalam memahami elegi ini. Dan sebagai penulis elegi, ia berhak menyembunyikan makna dari eleginya tersebut. Begitu juga dalam kehidupan ini. Pengetahuan manusia sangat terbatas sekali jika dibandingkan dengan ilmu Allah. Jika Allah berkehendak untuk memberi keterbatasan manusia dalam memahami ilmu, maka akan sangat mudah bagi Allah untuk melakukannya. Untuk itu yang dapat dilakukan manusia hanyalah ikhtiar, memohon kepada-Nya agar selalu dibukakan kemauan untuk selalu belajar dan belajar.

    ReplyDelete
  41. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Sejujurnya saya tidak paham dengan elegi di atas. Namun, saya tertarik dengan petunjuk di atas yang mengungkapkan bahwa jika kita berkehendak maka kita dapat menyembunyikan pikiran kita dalam kata-kata atau kalimat kita. Bagi saya kata-kata tersebut memiliki makna yang sangat mendalam tentang wujud dari pemahaman. Terkadang, demi mencapai pemahaman kata-kata kerap mendahului pikiran, artinya kata-kata yang keluar bukan hasil pemahaman pikiran dan wujudnya dangkal.

    ReplyDelete
  42. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    ketika saya membaca elegi di atas, saya merenungkan kalimat yang terdapat pada petunjuk: "tidaklah setiap pertanyaan itu memerlukan jawaban"
    Terkadang banyak hal di dunia ini juga menimbulkan pertanyaan yang ketika kita mencari rasanya tak ada jawabannya. Tuhan menyembunyikan jawaban dari pertanyaan tersebut sebagai Misteri yang tak dapat dijangkau oleh manusia. Mengingatkan kita bahwa kita hanyalah manusia, yang masih memiliki Tuhan, memiliki banyak keterbatasan yang harus kita sadari. Pemahaman kita hanyalah pemberian Tuhan yang harus terus kita syukuri, kita kembangkan sebagai bagian dari rasa syukur tersebut. Saya memang tak mengerti menngenai elegi ini, tapi saya mendapatkan refleksi mendalam yang membuat saya sadar diri dan bersyukur.

    ReplyDelete
  43. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Saya sendiri tidak paham dengan makna dalam elegi ini. Saya menjadi tahu bahwa sastra dalam filsafat begitu unik. Ketidakpahaman saya dengan sastra di atas juga menjadikan saya sadar bahwa mempelajari sesuatu tidak dapat dipaksa. Saat tidak paham dengan sesuatu, seseorang dapat menyembunyikan pikirannya. Saat berada pada kondisi tersebut, maka bertanya adalah jalan keluar yang dapat ditempuh.

    ReplyDelete
  44. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Terimakasih pak, selain dari petunjuk yang bapak berikan di awal (pembuka) elegi ini, sejujurnya saya sama sekali tidak bisa memahami satu kata maupun kalimat dalam elegi ini. Saya setuju dengan yang bapak sampaikan pada petunjuk bahwa salah satu cara memahami elegi menggapai sastra adalah jangan dipaksa memahami jikalau dirasakan sulit, sebab pemahaman tentang elegi ini hanya bisa dijelaskan oleh penulisnya.

    ReplyDelete
  45. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Setelah membaca elegi ini, saya teringat kembali dengan hal sederhana yang bapak lakukan di kelas yaitu meminta kami secara bergiliran untuk membaca tulisan bapak tentang materi perkuliahan di absensi kelas. Sebelum ini, saya tidak terpikirkan sama sekali bahwa hal sederhana yang bapak lakukan itu ternyata merupakan salah satu bagian dari pembelajaran filsafat yaitu Elegi Menggapai Bahasa, saya tidak menyangka sama sekali sampai saya membaca elegi ini, ternyata dibalik semua itu selalu ada pelajaran yang bapak berikan pada kami, terimakasih pak.

    ReplyDelete
  46. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Mohon maaf Prof, tapi saya belum bisa memahami elegi diatas. Saya menyadari akan keterbatasan dan ketidaktahuan saya mengenai sastra diatas namun saya akan berusaha belajar dan tetap membaca elegi-elegi selanjutnya.

    ReplyDelete
  47. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Memahami petunjuk yang diberikan oleh prof awalnya saya mengira bahwa elegi ini akan membahas dimana otak kita akan sulit mencerna jika tanpa bacaan. Namun, ternyata elegi inni lebih sulit dipahami dari yang saya perkirakan. Semoga suatu saat akan dibuka rahasia dari apa yang ditulis pada elegi ini. Karena memang tidak dapat dipahami jika memang bukan penulis maupun yang Maha Kuasa yang memberikan petunjuk dalam memahami elegi ini.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  48. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Sungguh, saya belum bisa memahami makna dari elegi ini. Bahkan saya hanya dapat membaca ada nama Filsafat sebagai salah satu nama dalam percakapan tersebut. Tapi ragu apakah itu benar sesuai dengan pikiran bapak atau tesis saya yang salah. Karena elegi ini merupakan misteri yang ada pada pikiran dan kata-kata yang bapak buat sendiri. Benar, sesempurna apapun manusia, tetaplah tidak sempurna di mata Allah. Saya menunggu misteri dibalik elegi yang telah bapak tulis. Terimakasih sebelumnya pak.

    ReplyDelete
  49. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Manusia adalah sebaik-baiknya makhluk Allah, manusia diberi akal, pikiran dan nafsu oleh Allah. Dengan semuanya itu manusia haruslah sadar, senantiasa berdoa kepada Allah, dan menghindari sombong. Itulah yang saya dapat dari membaca elegi ini, setinggi-tingginya manusia, Allah maha segalaNya.

    ReplyDelete
  50. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Seperti yang Prof Marsigit tulis dalam petunjuknya bahwa elegi ini menyimpan rahasia yang sulit untuk dipahami. Elegi ini baru akan bisa dipahami jika sang pembuat elegi membuka rahasianya di kemudian hari. Sebagaimana kita hidup, terkadang banyak misteri, rahasia yang Tuhan rahasiakan. Kita baru akan mengetahuinya setelah Tuhan sendiri yang membuka rahasia tersebut. tanpa kuasa Tuhan untuk membuka rahasia tersebut niscaya kita tidak akan bisa mengetahuinya.

    ReplyDelete
  51. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Membaca elegi ini mengingatkan saya akan sebuah dongeng tua, 'the new emperor's cloth'. Dongeng ini menceritakan tentang seorang kaisar yang sangat suka berdandan, berpakaian bagus. Suatu ketika datang seorang penjahit yang mengatakan, bisa membuatkan pakaian yang hanya dapat dilihat oleh orang yang bijaksana. Sang kaisar bersemangat Dan menerima tawaran tersebut. Sang kaisar sendiri Tak dapat melihat apa pun, tapi gengsinya mengalahkan pikirannya. Dia seakan memakai pakaian barunya Dan memamerkan pada rakyatnya. Rakyatnya tdk berani berkomentar karena mereka Tak melihat pakaian baru kaisar. Yang mereka lihat adalah kaisar yang telanjang. Tiba tiba seorang anak kecil muncul Dan tertawa melihat kaisar tak berpakaian. Barulah sang kaisar menyadari bahwa ia tertipu oleh si penjahit. Kesombongannya sudah menelanjangi dirinya, mengaburkan logika, pikiran sehatnya.
    Saya merasa seperti sang kaisar yang tidak paham apa apa mengenai isi elegi ini. Saya diingatkan untuk selalu mencari metafisik dari segala sesuatu, jangan sampai menjadi sombong dan mudah menilai orang lain. Saya tak pernah dapat memahami hati orang lain. Semoga saya bisa belajar untuk menerima segala yang harus Saya terima Dan jalani dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  52. Dewi saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Setelah membaca elegi ini saya benar-benar tidak mengerti makna dibalik tulisan apa yang saya baca, sungguh sebuah keterbatasan ilmu yang saya miliki. Dari Elegi ini saya mendapatkan satu pengetahuan baru mengenai filsafat sastra, yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan mengenai filsafat tersebut.

    ReplyDelete
  53. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Menurut elegi ini, sastra ada hubungannya dengan filsafat karena pada dasarnya semua yang ada di dunia itu saling terkait atau saling terhubung. Pertama adalah ada yang dipikiran, kedua adalah sastra merupakan media komunikasi, karena meliputi bahasa. Filsafat itu ilmu pikiran, bagaimana berpikir tentang objek-objek filsafat dan bagaimana objek-objek tersebut nantinya dapat dipelajari oranglain. Maka perlu adanya media yang bisa mewakili pikiran itu. Sehingga sastra digunakan sebagai media yang mewakili agar bisa menggambarkan apa yang ada dipikiran.

    ReplyDelete
  54. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Ketika membaca judulnya saya bersemangat sekali membaca elegi diatas, kemudian saya baca petunjuknya dengan teliti, agar dapat memahami eleginya dengan baik pikir saya, namun setelah mulai membaca eleginya tidak ada satu katapun yang dapat saya pahami, disitu saya mulai memahami pesan yang disampaikan dalam petunjuknya yaitu "Itulah pelajaran kita bahwa sehebat dan setinggi manusia maka dia tetaplah si tidak sempurna."

    ReplyDelete
  55. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Elegi ini sangat menarik, karena petunjuknya berisi tidak perlu dipaksa memahami. Walaupun tidak paham akan elegi memang sering terjadi. Namun yang paling menarik bagi saya adalah “menyembunyikan pikiran kita melalui kata-kata atau kalimat kita?”. Bagaimanakah cara melakukan hal itu pak, serasa sangat menarik jika bisa dilakukan, tanpa ada yang mampu menebak isi pikiran dan arah obrolan kita.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  56. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Terimakasih Pak atas eleginya, sungguh benar-benar tidak bisa saya pahami saat ini. Mungkin suatu saat nanti Allah memberikan ijin lewat siapapun ada orang yang memberikan penjelasan elegi ini. Berkali-kali membaca tetap saja tidak paham, saya menyadari atas segala keterbatasan atau ketidak sempurnaan saya. Apakah ini artinya saya saya belum bisa menggapai sastra?

    ReplyDelete
  57. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Dalam berkomunikasi kadang seseorang menyembunyikan maksud utamanya kepada pendengar. Sebagai contoh agen rahasia ketika tertangkap musuh maka akan di interograsi, dibutuhkan seni untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya bukan jawaban yang sebenarnya yang dimaksud. Contoh tersebut merupakan contoh menyembunyikan maksud utama dalam rangka mempertahankan diri dan negaranya. Menarik disini adalah bahwa Tuhan YME juga menyembunyikan misteri-misteri di dunia ini, manusia tentu punya keterbatasan dalam memahaminya, dibutuhkan keyakinan yang kuat untuk percaya kepadaNya, dan kepercayaan itu bukanlah dianggap suatu mitos.

    ReplyDelete
  58. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Baik filsafat ataupun sastra menjadi dua bagian dari dunia yang jika beriringan akan menjadi sebuah komponen yang menakjubkan. Hubungan keduanya dapat disebut komplementer, yaitu saling melengkapi. Dengan adanya elegi misteri ini, kita menyadari bahwa filsafat memandang sastra sebagai suatu bentuk gagasan yang dapat diungkapkan atau diekspresikan dalam bentuk dan bahasa yang berbeda-beda pula. Semakin tinggi karya sastra, maka semakin dalam pula kajian filsafatnya.

    ReplyDelete
  59. Riandika Ratnasari
    17709252043
    PPs PM B

    Jangankan memahami, membacanya saja saya sudah bingung. Saya tidak mengerti dengan bahasa tersebut. Elegi sastra berhubungan dengan bahasa. Di Negara Indonesia ini, kita menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Mungkin dibalik tulisan di atas terkandung suatu makna. Namun saya belum bisa memecahkan isi dari elegi ini. Bahasa berhubungan dengan komunikasi. Oleh karena itu, sastra sangat berpengaruh pada komunikasi. Salah satu menyembunyikan pikiran kita yaitu dengan sastra yang hanya kita tau maka orang lain tidak akan paham dengan pikiran kita.

    ReplyDelete
  60. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Saya hanya paham isi petunjuknya saja pak. Pelajaran yang selalu saya ingat dari bapak adalah kita tidak boleh sombong, pun mendapat pujian, pun ilmu yang kita miliki nampak lebih tinggi dari yang lain, ingatlah bahwa manusia itu memiliki keterbatasan, hanya Allah SWT lah yang maha sempurna. Ketika kita berlaku sombong, maka kita termasuk orang yang merugi.

    ReplyDelete
  61. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi menggapai sastra, saya tidak dapat memahami elegi ini. Elegi ini seperti sebuah misteri. Mungkin saya baru dapat memahami apa arti dari elegi ini ketika, penulis mengungkapkan arti dibalik tulisannya ini. Itulah sastra, dalam suatu sastra seseorang bebas berekspresi melalui pemikirannya. Jika orang tersebut berkehendak untuk menyembunyikan suatu makna dibalik tulisannya itu sah-sah saja. Makna tersebut tidak akan terungkap, sebelum penulis itu mengungkapkannya.Terimakasih

    ReplyDelete
  62. Muhammad Kamaluddin
    17709251027
    PMB PPs UNY 2017

    Saya benar-benar tidak mampu memahami apa yang disampaikan oleh Tskimi, Gilire, Talfasif, dan Himilah dalam elegi ini. Namun saya mendapat pelajaran penting dan berharga dari petunjuk yang disampaikan. Perihal sastra, sebagai penikmat dan pengamat karya sastra, setiap orang tentu dapat memiliki penafsiran yang beragam mengenai karya tersebut. Namun sebenar-benar arti dibaliknya hanya sang pembuat yang mengetahuinya dan kita akan benar-benar mengerti maksuknya hanya ketika yang membuat memberitahu atau menjelaskannya kepada kita. Pelajaran ini bisa kita kaitkan dengan kegiatan belajar dan menuntut ilmu. Seberapa besar usaha kita untuk belajar dan mendapatkan ilmu jika tanpa seijin yang memiliki ilmu, yakni Allah, maka kita tidak akan bisa menjadi sebenar-benarnya paham ilmu. Maka dari itu dalam menuntut ilmu kita harus selalu menselaraskan antara ikhtiar dan do'a. Ikhtiar dengan terus belajar dan bersungguh-sungguh, dibarengi dengan berdoa dan memohon agar diberikan pemahaman.

    ReplyDelete
  63. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017

    Ketika kita sedang mempelajari sesuatu ada beberapa proses yang harus dilalui untuk bisa memahami apa yang sedang kita pelajari. Proses-proses ini saling berkaitan, membutuhkan peran serta hati dan pikiran kita dalam memberikan keputusan atas apa yang harus kita lakukan. Dari berbagai proses yang dilakukan oleh diri kita, kita mampu membangun pengetahuan baru tersebut dengan sendirinya.

    ReplyDelete
  64. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Membaca elegi ini menjadikan elegi lain lebih mudah dipahami karena Bahasa pada elegi ini sama sekali tidak saya pahami. Selain itu, elegi ini juga menyadarkan bahwa manusia itu terbatas dan tidaklah mampu memahami semuanya. Karena itulah kita tidak boleh sombong atas ilmu yang kita miliki karena bahkan dengan ilmu itu kita tidak mampu memahami semua hal.

    ReplyDelete
  65. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Dari bacaan inilah saya kembali menyadari bahwasannya manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan YME dengan segala keterbatasan atau dapat dikatakan sebagai mahluk yang tidak sempurna. Sekuat apapun saya mencoba untuk memahami bacaan ini, namun karena keterbatasan saya, saya pun harus mengakui saya belum mengerti tentang substansi dialog yang ada pada bacaan ini. Meski demikan saya tetap merasa penasaran dengan hal ini. Ini hanya salah satu keterbatasan yang ada, di luar sana masih banyak keterbatasan yang tentunya perlu kita ketahui. Dan Akhirnya untuk menyiasati keterbatasan ini,marilah kita terus belajar tanpa mengenal putus asa, dan kembali mengakui kesempurnaan hanya milik-Nya.

    ReplyDelete
  66. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Sastra merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta ‘Sastra’, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar ‘Sas’ yang berarti “instruksi” atau “ajaran” dan ‘Tra’ yang berarti “alat” atau “sarana”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.Uniknya sastra, tergantung pembuatnya. Pembuatnya mau berbuai ini itu, menggunakan bahasa ini it, tergantung dari ingin sastrawannya. Begitu juga dengan filsafat, kita berfilsafat pun tergantung orang yang berfilsafat. Dia mau mikir ini itu juga tergantung dari filsufnya. Tetapi, pada dasarnya, dalam berfilsafat harus selalu menempatkan spiritualitas di atas segalanya.

    ReplyDelete
  67. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Setiap manusia mempunyai tingkat pemahaman yang berbeda – beda. Satu hal bisa di interpretasikan secara berbeda – beda. Tergantung dari ilmu dan pengalaman yang telah di milikinya. Pun jika Tuhan berkehendak dalam menciptakan takdir, manusia bisa saja mempunyai pemahaman yang berbeda – beda. Satu kejadian yang sama terjadi pada dua manusia, bisa saja yang satu sangat bersyukur dan bisa saja yang satu berkeluh kesah

    ReplyDelete
  68. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Pada elegi Menggapai Sastra dapat diketahui bahwa sastra memiliki berbagai maksud dan makna dari berbagai sudut pandang. Arti sastra dapat dipandang dari segi mistik, religi, filsafat, dan ilmiah. Dan keempat sudut pandang tersebut dapat menjelaskan makna sastra dengan caranya sendiri-sendiri. Padahal,pada umumnya orang awam paham makna sastra hanya terbatas pada sastra adalah bagian dari ilmu bahasa yang mempelajari tentang beragam karangan, meliputi essay, cerpen, novel, cerbung, atau karangan-karangan lain yang itu merupakan narasi dari penulisnya. Dengan adanya elegi ini maka dapat menyadarkan kami jika ternyata ilmu kami itu belum ada apa-apanya. Oleh karenanya diperlukan upaya belajar yang lebih keras melalui penggalian ilmu dari berbagai sumber atau referensi yang ada.

    ReplyDelete
  69. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Sastra ialah salah satu karya seni tulis yang kebanyakan orang sudah mengenalnya. Setiap karya sastra mempunyai nilai seninya masing-masing. Setiap karya sastra juga mempunyai maknanya sendiri-sendiri sesuai yang membuatnya. Orang-orang tertentu terkadang juga menyembunyikan perasannya melalui sastra sehingga orang lain tidak mengetahui maknanya. Akan tetapi, sepandai-pandai orang menyimpan suatu rahasia dari karyanya, Tuhan YME tetaplah tahu maknanya. Karena Dia lah dzat yang maha mengetahui segala-galanya.

    ReplyDelete
  70. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Elegi menggapai sastra ini memang sangatlah membingungkan. Saya tidak mengerti apa maksud dari Astoras, Tskimi, Gilire, Talfasif, dan Himilah. Tapi, dari petunjuk yang bapak tuliskan di awal, saya dapat memahami bahwa it's okay bila kita tidak paham. Kita tidak perlu memaksa untuk memahami sesuatu yang berada di luar batasan kita, yang justru akan membuat pusing dan semakin bingung. Sastra merupakan seni yang terkadang sulit untuk dipahami dan terdapat berbagai macam interpretasi yang dapat dilakukan terkait maknanya bagi orang-orang. Makna sesungguhnya hanyalah sang pembuat sastra dan Tuhan yang tahu. Sebagai penikmat, kita hanya bisa menikmati dan memaknainya sesuai dengan dimensi kita sendiri.

    ReplyDelete
  71. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Dengan membaca ini, sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan, kita menjadi dapat melakukan refleksi bahwa sebanyak apapun kita belajar, sebanyak apapun elegi yang telah kita baca, maka setiap manusia pasti akan memiliki batasannya, seperti elegi ini yang tidak akan pernah saya pahami maksud dari penulisnya. Semoga dengan pengalaman seperti ini dapat menjadi bahan renungan untuk kita dalam berproses memperbaiki diri dan menjadi hamba yang baik.

    ReplyDelete
  72. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Elegi ini menyisakan banyak tanda tanya. Mulai dari pertanyaan apakah semua yang dikatakan di elegi ini ialah suatu pepatah yang di translate ke dalam bahasa yang berbeda, atau bahasa tersebut sebenarnya bahasa yang kita gunakan, hanya saja ditambah aksen yang berbeda, ataukah kesemuanya merupakan kalimat bersambung dengan bahasa yang berbeda, atau entahlah, wallahu a'lam

    ReplyDelete
  73. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Dalam elegi di atas disebutkan bahwa tujuan dibuatnya elegi ini ialah memudahkan untuk memahami elegi yang lain. Telah menjadi hukum alam bahwa saat kita memeiliki permata yang bersinar, jika suatu saat kita melihat permata yang lebih bersinar maka permata milik kita tak lagi indah sinarnya. Dapat dianalogikan bahwa elegi yang banyak menyisakan tanda tanya ini tentu akan mengurangi elegei lain yang menyisakan tanda tanya lebih sedikit. Hal lain yang menarik ialah kita harus menyadari bahwa dengan menyelami elegi sastra inii salah satunya dapat mengantarkan kita untuk meningkatkan kemampuan sastra kita. Sedangkan segala sesuatu itu berasal dari Sang Pencipta. Oleh karena itu, dengan membaca elegi ini mengandung tujuan pula agar kita dapat mendekatkan diri dengan tuhan. Subhanallah, wallahu a'lam

    ReplyDelete
  74. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Sastra adalah ungkapan rasa yang dikomunikasikan melalui kata-kata, kalimat, dan bahasa yang memiliki susunan teratur, berpola, dan berdimensi sehingga menimbulkan kesan estetik, indah, enak, walaupun sastra memang tidak mudah dipahami oleh pembacanya, kecuali dijelaskan oleh sang penulis sastra. Hidup kita juga ibarat sastra, setiap keajdian ada msiteri yang hanya Tuhan mampu membukakan misteri serta memberikan penjelasannya, tentunya melalui kita berpikir dan ikhtiar mencari

    ReplyDelete
  75. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Sesungguhnya manusia mudah dirasuki rasa sombong pada dirinya. Naudzubillah. Pada elegi ini Prof. Marsigit telah memberi petunjuk bahwa jangan memaksa untuk memahami elegi ini apa bila belum bisa paham. Namun ambisi saya menantang untuk berusaha memahami elegi ini. Bahkan sampai saya baca beberapa kali elegi ini untuk memahaminya. Sampai saya menulis komentar inipun saya masih belum mampu memahami pesan yang terkandung. Dari pengalaman ini saya menyadari bahwa tidak semua hal yang ingin kita capai dapat sesuai dengan keinginan kita. Kesemuanya tersebut pasti memiliki batas. Karna sesungguhnya Yang Maha Segalanya hanyalah Allah SWT.

    ReplyDelete
  76. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Filsafat dan sastra saling ada keterkaitan. Ilmu filsafat dijabarkan dengan kesastraan sehingga dapat dipahami oleh orang lain, karena jika filsafat hanya dipikirkan oleh seseorang yang sedang berpikir filsafat maka tidak akan bisa dipahami oleh orang lain. Jadi menurut saya sastra sebagai suatu media untuk mentransfer pemahaman filsafat kepada orang lain.

    ReplyDelete
  77. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Hehehe. Saya benar-benar bingung membaca elegi yang satu ini. Tapi untungnya saya sudah membaca petunjuk sebelumnya bahwa elegi ini memang hanya untunk refresing saja. Kalau pada elegi-elegi yang lain saya dapat berkomentar tentang isis dari elegi tersebut, untuk elegi yang satu ini saya benar-benar tida bisa memahami apa-apa melainkan apa yang ditulis pada petunjuknya. Terimakasih Pak Marsigit atas penjelasannya yang ditulis di awal. Dapat menjadi hikmah dan masukan bagi saya.

    ReplyDelete
  78. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Orang bijak sangat berhati – hati dalam segala hal, supaya tidak terjerumus pada hal yang sia – sia. Demikian halnya dengan sastra jawa, bisa dijadikan salah satu sarana untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Sastra dan filsafat merupakan sesuatu yang berdampingan dan saling melengkapi. Dimana sastra sama-sama mebicarakan dunia manusia. Demikian juga filsafat menekankan pada usaha untuk mempertanyakan dan hakikat keberadaan manusia.

    ReplyDelete
  79. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Sebagai seseorang yang mempelajari filsafat, saya sering mengalami kebingungan pada bahasa yang digunakan dalam jabaran ilmu filsafat karena bahasa yang digunakan agak sedikit berbeda dengan bahasa yang saya pahami di kehidupan sehari-hari. Tapi itulah uniknya ilmu, semakin mempelajari maka akan semakin sadar bahwa semakin banyak yang belum diketahui.

    ReplyDelete
  80. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Sastra memiliki bentuk yang abstrak. Maka sastra jika tidak bisa dipahami maka alangkah baiknya jika hanya dirasakan nilai estetiknya. Hal ini juga memberikan pelajaran bahwa nilai seni dapat disembunyikan melalui kata maupun kalimat.

    ReplyDelete
  81. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Saya setuju dengan pendapat Bapak bahwa tiadalah orang dapat mengetahui kecuali atas ijin Nya. Itulah pelajaran kita bahwa sehebat dan setinggi manusia maka dia tetaplah si tidak sempurna.
    Elegi yang sulit ditambah sastra yang rumit. Penuh makna-makna kiasan dan tersirat. Filsafat memanglah topik yang berat. Sulit untuk kita memahami bila hanya sebatas membaca tanpa mengkajinya lebih dalam

    ReplyDelete
  82. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Manusia adalah makhluk ciptaan manusia yang tidak sempurna, sehebat-hebatnya, setinggi-tinggi ilmunya menjelaskan sifat yang ada dan mungkin ada, pasti ada saja sifat dari yang ada dan mungkin ada yang tidak dapat dijelaskannya. Hal ini yang juga berlaku dalam bahasa, manusia adalah memiliki keterbatasan bahasa, begitu banyak bahasa yang dia ketahui tpi pasti ada saja bahasa yang tidak diketahuinya. Seperti halnya bahasa yang ada dalam elegi ini, saya menyadari bahwa saya memiliki keterbatasan bahasa sehingga saya tidak menngetahui, mengerti, apalagi memahami kata-kata yang terdapat dalam elegi ini. Mohon maafkan karena keterbatasan saya ini, sekian dan Terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  83. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B 2017

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Elegi kali ini sungguh membingungkan, saya belum bisa memahaminya, karena keterbatasan bahasa sepertinya hehe. Meski sudah membaca petunjuk sebelumnya, tetapi elegi ini sepertinya menarik jika terdapat terjemahan dalam bahasa Indonesia.

    ReplyDelete
  84. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Sehebat dan setinggi-tingginya manusia maka tetaplah tidak sempurna. Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT semata. Elegi menggapai sastra menjelaskan bahwa elegi merupakan suatu pengantar filsafat yang menggunakan bahasa, dan bahasa erat kaitannya dengan sastra. Sastra merupakan seni dalam bahasa, didalam sastra banyak mengandung arti-arti yang tersembunyi. Jika kita berkehendak maka kita dapat menyembunyikan pikiran kita dalam kata-kata atau kalimat kita. Ternyata kita juga menjadi sadar bagaimana jika Tuhan YME berkehendak menyembunyikan misteri-Nya

    ReplyDelete
  85. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Sesungguhnya sastra memiliki berbagai maksud dan makna dari berbagai sudut pandang. Arti sastra dapat dipandang dari segi mistik, religi, filsafat, dan ilmiah. Dan keempat sudut pandang tersebut dapat menjelaskan makna sastra dengan caranya sendiri-sendiri. Padahal, sebelumnya pada umumnya orang awam paham makna sastra hanya terbatas pada sastra adalah bagian dari ilmu bahasa yang mempelajari tentang beragam karangan, meliputi esai, cerpen, novel, cerbung, atau karangan-karangan lain yang itu merupakan narasi dari penulisnya. Dengan adanya elegi ini maka menyadarkan kami bahwasanya ternyata ilmu kami itu belum ada apa-apanya. Oleh karenanya diperlukan upaya belajar yang lebih keras melalui penggalian ilmu dari berbagai sumber atau referensi yang ada.

    ReplyDelete
  86. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Sastra merupakan sarana dalam mengekspresikan sesuatu tergantung dari siapa dan bagaimana orang yang menggunakannya. Dengan membaca elegi ini, saya yakin bahwa semakin dibaca semakin tidak paham. Artinya tidak semua hal bisa kita ketahui walaupun sekeras dan sekuat apapun kita berusaha. Karena akan ada pada satu titik tertentu manusia memiliki titik batas yang menjadi keterbatasan bagi dirinya.

    ReplyDelete
  87. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Dibandingkan elegi lain, elegi menggapai sastra sama sekali tidak dapat saya pahami. Tidak satupun kata dari Tskimi, Gilire, Talfasif, dan Himilah yang dapat saya pahami maksudnya. Memang benar, saya manusia yang mempunyai sifat keterbatasan, sekeras apapun berusaha saya masih belum paham. Hanya Tuhan lah yang Maha Sempurna dan Maha Mengetahui segala sesuatu. Tiadalah ilmu yang mampu saya dapatkan melainkan dengan izinNya.

    ReplyDelete
  88. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Berdasarkan tingkat pemahaman saya membaca elegi ini, menurut saya sastra mempunyai artian tersirat dimana tidak semua bisa memahami artinya. Seperti membaca postingan ini, saya merasa tidak mampu memahami makna tersirat, maupun tersuratnya. Semoga senantiasa mau belajar dan terus merasa tidak tahu agar tetap termotivasi untuk belajar, terimakasih.

    ReplyDelete
  89. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Sastra merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti "teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman", dari kata dasar śās- yang berarti "instruksi" atau "ajaran". Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Yang agak bias adalah pemakaian istilah sastra dan sastrawi. Segmentasi sastra lebih mengacu sesuai defenisinya sebagai sekedar teks.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  90. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Elegi di atas memiliki makna bahwa tak semua harus bisa dipahami. Kita bisa menyembunyikan apa yang ingin kita sembunyikan akan orang lain tidak mengetahui. Itu bukan berarti kita berbohong, tetapi kita juga memiliki hak untuk privasi. Ada misteri yang cukup kita sendiri yang tahu bersama Tuhan, ada yang hanya Tuhan sendiri yang tahu, dan bahkan ada pula misteri yang perlu dipecahkan bersama-sama. Begitu pula sastra, ia juga memiliki misteri yang tidak semua orang bisa memahaminya.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  91. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    satra merupakan pengungkapan sesuatu dengan menggunakan bahasa, bahasa yang biasanya susah untuk dipahami orang lain. saya tidak paham dengan bahasa yang digunakan dalam postingan ini. jadi muncul pertanyaan dalam benak saya "jika seseorang itu ingin menyembunyikan maksud dari bahasanya, untuk apa dia membagikannya?".

    ReplyDelete
  92. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Sastra, selalu mengandung beribu makna dibalik tulisan dan goresannya. Begitu pula dengan ketentuan Tuhan, selalu mengandung berjuta makna. Ketetapan Tuhan atas kejadian yang menimpa kepada kita, bisa merupakan sebuah anugerah, ujian, nikmat atau teguran. Hanya manusia yang bijak dan selalu berpikir positiflah yang mampu menyadari dan mengambil hikmah dari setiap kejadian.

    ReplyDelete
  93. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. sastra merupakan bahasa yang indah. Untuk memahami sastra tidak dapat hanya dilihat kata per kata. Memahmi sastra harus dipahami makna di setiap kata. Jika tidak mampu melihat makna di balik kata yang ditulis, jangan coba-coba memahami sastra. Sebab jika diartikan oleh yang tidak mampu memahaminya akan menimbulkan kekeliruan yang bisa merusak sastra itu sendiri.

    ReplyDelete
  94. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Dari elegi diatas bahwa sesungguhnya sangat membingungkan bagi yang membaca. Karena apa memang dari elegi menggapai sastra tidak hanya dipahami tetapi tujuan utama membaca referensi-referensi lain. Saya hanya bisa menebak kata yang di balik-balik bapak. Seperti: sastra, mistik, religi,filsafat,ilmiah. Jika Sang Pencipta mengizinkan untuk membukakan misterinya maka kita akan tahu jawabannya.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  95. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Saya pernah mengikuti diskusi online yang melibatkan para kritikus sastra kenamaan. Sebagian dari mereka menyepakati bahwa sangat tidak mungkin menciptakan suatu karya sastra tanpa memiliki pemahaman sejarah dan filsafat yang mapan. Menurut mereka, sastra bukan suatu hal yang dapat tercipta secara spontan. Menurut mereka sastra adalah ilmu pengetahuan yang bisa dibuktikan dengan adanya jurusan sasra di berbagai universitas. Pertanyaan saya, apakah bapak Marsigit sepakat dengan pendapat mereka? Jika tidak, mengapa? Jika iya, mengapa? Terima kasih

    ReplyDelete
  96. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Bahasa Sastra lebih banyak mengandung makna secara implisit / terisirat dibanding eksplisit/tersurat. Mengungkap makna dibalik yang tersurat memang sangat sulit dilakukan. Terlebih saya tidak memiliki banyak pengalaman dalam membaca karya-karya sastra. Filsafat di atas juga terkait dengan filsafat bahasa, dimana bahasa erat kaitannya dengan komunikasi. Jika bahasa secara tersuratnya saja sudah sulit dimengerti, tentu pemaknaanya juga akan lebih sulit untuk dilakukan.

    ReplyDelete
  97. Febriana Putri Hutami
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241007

    Saya setuju Prof, memang sulit dalam memahami sastra. Kadang bahasa yang digunakan penulis tidak dapat dipahami pembaca. Bahkan yang paham dengan maksud penulis adalah penulis itu sendiri. Dalam karya sastra, sebuah tulisan dapat memberikan makna tersirat dan makna tersurat. Maka dari itu ketika kesulitan memahami sastra maka sebaiknya jangan terlalu dipikirkn agar kita tidak pusing sendiri ketika membaca sastra.

    ReplyDelete
  98. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Sastra memiliki arti yang tersirat dai apa yang disusun dalam elegi ini saya kurang memahami isinya dan juga dari elegi ini saya tahu bahwa satra memiliki arti yang tidak semua orang mampu untuk memahaminya.

    ReplyDelete
  99. Isykarima Nur S
    15301241032
    S1 Pend. Matematika A 2015

    Arti dari sebuah sastra tidak serta merta terlilhat. Perlu pendalaman lebih, dan saya kurang memahami elegi di atas. Karena kemampuan sastra saya memang kurang

    ReplyDelete
  100. Woro Alma Manfaati
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241002

    Elegi menggapai sastra ini menurut saya sedikit membingungkan. Sastra memang sulit dipahami, karena arti makna yang dimaksud oleh penulis berbeda dengan apa yang diartikan pembaca. Contohnya seperti puisi yang diciptakan oleh Ibu Sukmawati yang sempat viral karena para pembaca salah memaknai sastra trsebut.

    ReplyDelete
  101. Alman Kresna Aji
    15301241022
    S1 Pendidikan Matematika 2015
    Saya benar-benar tidak mengerti terkait paa yang mejadi inti dari dialog diatas, akan tetapi saya mendapatkan suatu pelajaran berharga bahwa saya masih banyak memiliki kekurangan, masih belum mengerti terkait semua ilmu sehingga membuat saya pribadi sadar bahwa setiap individu tidak akan mempunyai sutu kesempurnaan akan segalanya.

    ReplyDelete
  102. Rina Musannadah
    15301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Elegi ini mengingatkan bahwa sangat banyak hal yang belum kita ketahui. Seperti yang telah diberikan oleh petunjuk yang tertulis di atas, jika kita berkehendak maka kita dapat menyembunyikan pikiran kita dalam kata-kata atau kalimat kita. Pun jika Tuhan ingin menyembunyikan misteri-Nya, maka tidak ada yang dapat mengetahuinya tanpa ijin-Nya.

    ReplyDelete