Sep 20, 2013

Elegi Menggapai Sastra




Oleh Marsigit

Petunjuk:
Salah satu cara memahami Elegi Menggapai Sastra ini adalah janganlah dipaksakan untuk memahami jikalau dirasakan sulit, karena tujuan dari elegi ini memang bukan untuk memperoleh pemahaman pembaca tentang elegi ini, sampai saatnya dibuka misterinya oleh penulisnya. Salah satu tujuannya adalah agar memberikan referensi bahwa jika kita berkehendak maka kita dapat menyembunyikan pikiran kita dalam kata-kata atau kalimat kita. Ternyata kita juga menjadi sadar bagaimana jadinya jika Tuhan YME berkehendak menyembunyikan misteri Nya. Maka tiadalah orang dapat mengetahui kecuali atas ijin Nya. Itulah pelajaran kita bahwa sehebat dan setinggi manusia maka dia tetaplah si tidak sempurna. Sedangkan manfaat dari elegi ini adalah bisa juga sebagai pembanding agar elegi-elegi yang lain itu menjadi mudah adanya. Bukankah kita juga telah menemukan bahwa tidaklah setiap pertanyaan itu memerlukan jawaban? Seperti itulah kira-kira elegi ini dibuat. Maka bacalah elegi-elegi yang lain.Amiin.



Astoras:
Oim wau lha toi dza noi ndir na na kun tak da min dhuta antha phada nya tha kah lauwa dhat mir bingalawaihdur ronthakamaluhawatakamini phidhitnitipanyatkaha nauna andhamkabi.

Tskimi:
Adaumpet pinuleng mighab wiskutha anasa pikena norananci noradal nirboda syamsomi pomirang lakuwa nderzo lampuhma sparatul trusna jwoi nderzzo idir. Makna rastra kang atiwi askara jra ngak lawa wang wung akohit rastra.

Gilire:
Ita hisa mrang mudida. Tan ngindate asra. Mbahta arsa rangku negume. Kabek ngeli nal aron lila. Hiwed karen inglelawer thibhan. Srawendah nepati ngista gnaka samha gusih. Osik yalmu ntawring capitu asara. Mengrah dadimu nyemlanging warima. Ywa nggalakatune nispeti.

Talfasif:
Ajasnite kahika musbangare ojre nat ngindate. Bhohone ngat beto nat ngandite. Kattira hatusu acra ngotawu mothade adas monane. Njabure njebik laa reben shala.

Himilah:
Olah kipri kacoka ngrip tamoda. Sisipen lunduha ngrim nakahan. Ndakoping lungkupa ngadat. Ngampotil nyusunya ngadat. Taptaping ngahalo ngadat. Pepunute ta kunklud ngadat. Njabunjare angroti jrinong mosista.

7 comments:

  1. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B 2017

    Terimakasih pak. Sungguh saya tidak paham sama sekali dengan maksut postingan ini. Saya berjanji, akan mencoba membacanya lagi. Saya juga akan menanyakan bagian ini ketika perkuliahan dengan bapak minggu depan.

    ReplyDelete
  2. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, sejujurnya saya merasa tidak cukup mampu untuk memahami makna postingan ini. Menurut saya sastra, mempunyai artian tersirat, dimana tidak semua bisa memahami artinya. Seperti membaca postingan ini, saya merasa tidak mampu memahami makna tersirat, maupun tersuratnya. Semoga senantasa mau belajar dan terus merasa tidak tahu agar tetap termotivasi untuk belajar, terimakasih.

    ReplyDelete
  3. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Walaupun kami (saya) tidak bisa memahami isi dari elegi ini, akan tetapi tetap ada pelajaran yang bisa saya ambil, yaitu dengan pengetahuan yang sekarang saya tidak bisa memahami elegi ini. Dan elegi ini saya mendapatkan referensi bahwa jika seseorang berkehendak maka dia dapat menyembunyikan pikirannya dalam kalimat dan ucapannya.

    ReplyDelete
  4. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Dalam uraian Bapak di atas, terdapat penggunaan 5 bahasa yang berbeda. Begitulah keanekaragaman bahasa. Di Indonesia sendiri terdapat seribuan lebih bahasa daerah. Belum lagi jumlah bahasa di seluruh dunia yang tentu jumlahnya sangat banyak. Sebagai orang Jawa, saya tentu paham dan dapat menggunakan Bahasa Jawa, tetapi saya tidak paham Bahasa Papua, kecuali jika saya mempelajarinya. Begitu juga dengan lima bahasa di atas, saya tidak dapat memahaminya, karena memang sama sekali belum mempelajarinya.

    ReplyDelete
  5. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Elegi itu tergantung oleh penulisnya. Itu merupakan hak bagi yang menulis elegi. Di sisi lain, Tuhan juga berhak untuk menyembunyikan pikiran seseorang melalui kata-kata. Intinya, pengetahuan kita sesungguhnya atas izin Allah.

    ReplyDelete
  6. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Saya tidak yakin seberapapun saya membaca elegi ini, saya tidak akan mengerti akan elegi ini. Ini menyadarkan saya bahwa elegi yang lain masih mungkin dan sangat mungkin di pahami. Karena begini lah sastra tak ada paksaan di dalamnya. Tetapi sesungguhnya elegi ini memiliki pesan yang sangat indah sebagaimana yang telah diberitahukan dalam petunjuknya. Elegi ini memang akan sulit dipahami karena bukan itu tujuannya, yang tau hanyalah sang pembuat dan Allah saja. Ini secara analogi berkaitan dengan Ilmu Allah. Jika Allah telah berkehendak akan ilmunya untuk tidak dipahami manusia maka mudah baginya merahasiakannya. Disinilah tugas kita sebagai manusia hanya bisa bertawakal.

    ReplyDelete
  7. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingan elegi yang lumayan membuat pusing ini, Pak. Seperti yang bapak kemukakan di atas bahwa manusia mengetahui sesuatu itu adalah atas kehendak Tuhan YME. Pengetahuan manusia itu terbatas sedangkan pengetahuan dan kuasa Tuhan itu tidak terbatas.

    ReplyDelete