Sep 20, 2013

Elegi Menggapai Sastra




Oleh Marsigit

Petunjuk:
Salah satu cara memahami Elegi Menggapai Sastra ini adalah janganlah dipaksakan untuk memahami jikalau dirasakan sulit, karena tujuan dari elegi ini memang bukan untuk memperoleh pemahaman pembaca tentang elegi ini, sampai saatnya dibuka misterinya oleh penulisnya. Salah satu tujuannya adalah agar memberikan referensi bahwa jika kita berkehendak maka kita dapat menyembunyikan pikiran kita dalam kata-kata atau kalimat kita. Ternyata kita juga menjadi sadar bagaimana jadinya jika Tuhan YME berkehendak menyembunyikan misteri Nya. Maka tiadalah orang dapat mengetahui kecuali atas ijin Nya. Itulah pelajaran kita bahwa sehebat dan setinggi manusia maka dia tetaplah si tidak sempurna. Sedangkan manfaat dari elegi ini adalah bisa juga sebagai pembanding agar elegi-elegi yang lain itu menjadi mudah adanya. Bukankah kita juga telah menemukan bahwa tidaklah setiap pertanyaan itu memerlukan jawaban? Seperti itulah kira-kira elegi ini dibuat. Maka bacalah elegi-elegi yang lain.Amiin.



Astoras:
Oim wau lha toi dza noi ndir na na kun tak da min dhuta antha phada nya tha kah lauwa dhat mir bingalawaihdur ronthakamaluhawatakamini phidhitnitipanyatkaha nauna andhamkabi.

Tskimi:
Adaumpet pinuleng mighab wiskutha anasa pikena norananci noradal nirboda syamsomi pomirang lakuwa nderzo lampuhma sparatul trusna jwoi nderzzo idir. Makna rastra kang atiwi askara jra ngak lawa wang wung akohit rastra.

Gilire:
Ita hisa mrang mudida. Tan ngindate asra. Mbahta arsa rangku negume. Kabek ngeli nal aron lila. Hiwed karen inglelawer thibhan. Srawendah nepati ngista gnaka samha gusih. Osik yalmu ntawring capitu asara. Mengrah dadimu nyemlanging warima. Ywa nggalakatune nispeti.

Talfasif:
Ajasnite kahika musbangare ojre nat ngindate. Bhohone ngat beto nat ngandite. Kattira hatusu acra ngotawu mothade adas monane. Njabure njebik laa reben shala.

Himilah:
Olah kipri kacoka ngrip tamoda. Sisipen lunduha ngrim nakahan. Ndakoping lungkupa ngadat. Ngampotil nyusunya ngadat. Taptaping ngahalo ngadat. Pepunute ta kunklud ngadat. Njabunjare angroti jrinong mosista.

38 comments:

  1. Bismillah.. Prof, saya akan sedikit berbagi elegi sastra dalam diri saya.
    Semoga berkenan.


    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  2. Ia potong para jalan-jalan raya dan menyumbatnya! Ia tebalkan dinding-dinding jalan nadi sampai jantung tak bisa berkutik-menyerah-dan menghilangkan rasa yang kemarin lusa sempat ada.

    “Kemana?”
    Jika tanya ini sempat disampaikan di rotasi setir ke arah 60 derajat, maka otot pergelangan tangan setidaknya mampu memberi sinyal kepada otak untuk bertahan lebih lama. Mengecap rindu di persimpangan jalan, bukan memilih jalan pulang. Karena pada masa yang sama ilustrasi lampu-lampu belakang mobil membentuk kedip yang disengaja sebagai pengakuan. Peluang tanya adalah refleksi dari pengada yang kucipta oleh izinmu.

    Lusa, beberapa angsa menghampiri pucuk beringin rindang menganyam kenyamanan. Hinggap dan menangkap makna dalam haluan irama pada daun yang jatuh dan kekuningan. Beberapa dekade terakhir, daun yang jatuh bertumpuk di satu himpunan yang sama. Mereka menyudahkan riwayat dan narasi bersambung.

    Para batu mengidentifikasi flakon. Sesekali mengernyitkan dahi, sembari mengumbar cerita lama, dan akhirnya kembali tertawa. Di akhir tawa pertama, cerita kembali dimulai dengan gertakkan yang lebih tinggi pada akhir cerita. Ini sebuah kisah baru.

    Memet Sudaryanto
    http://coklat-lilin-gelap-romantis.blogspot.co.id/2016/09/flakon-dan-pohon-sepah-pun-menyimpan.html

    ReplyDelete
  3. Jogja, malam minggu, hujan, dan radio prambors. Lampu kamar mandi nyala temaram kekuningan. Jendela dibiarkan terbuka bercelah agak lebar. Minggu lalu, kecoa varian terbang bercangkang emas lolos masuk kamar melaluinya. Butuh nyali untuk membuatnya binasa!

    Di seberang kamar, ada yang kebingungan hendak menunaikan tugas penting sebagai diri dan pembawaan kekeluargaan. Hujan yang ia prediksi bakal menentukkan arah dan tujuan. Motor masih terparkir di luar pintu keluar. Sudah bentuk petanda, ia akan keluar lagi meski belum pasti. Biasanya ia tidur dan pada tengah malam kubangunkan demi memasukkannya.

    Memet Sudaryanto
    http://coklat-lilin-gelap-romantis.blogspot.co.id/2016/09/korban-imajiku-tentang-adamu.html

    ReplyDelete
  4. Beranjak pada inti masalah,
    tentang dakwaanmu mengenai perasaanku! Kau berkata kosong seputar dilematis yang kau buat. Kau berbohong dan mengaduh-peluh seakan-akan aku yang mengarang perasaan ini! Kau susun cerita di muka publik mengenai betapa sakitnya aku dan perasaan yang kuurutkan sendiri. Sedangkan kau tahu! Kau duduk di sampingku menyaksikan tiap jengkal tawa hati terpaut.
    Saat ini, kau telah tiada! Kau seakan-akan dibumikan dalam abjad-abjad terukir di sebuah kijing berwarna gelap pualam. Aku menyaksikan ragamu dalam sebuah untaian upacara pemakaman liar! Aku menderita dalam tangis, Kau tahu? Aku mulai menyesali perkenalan kita, ketika deru sebuah rasa menjadi satu kesatuan utuh dan dihempaskan di sebuah daun-daun nyinyir! Tubuhku memar dicambuk para ujung daun itu.

    Sakit!

    Aku mohon, sungguhpun kau ada di sini bantu aku merasakannya. Merasakan sakit yang ku unduh dari perasaan kita yang terlanjur terpaut dalam diorama. Kau tahu mengenai hati? Mengenai hati yang tertinggal dalam hati yang lain? Semua sudah kusebutkan lengkap di sepucuk cerita ini.
    Kapan kau akan membaca sepucuk surat ini, jika di akherat tidak ada lagi alfabet.

    Memet Sudaryanto
    http://coklat-lilin-gelap-romantis.blogspot.co.id/2016/08/opini-para-pena.html

    ReplyDelete
  5. Angin menusuk bagian tengkuk, merinding.
    Kaki-kaki kaku meringkuk dan masuk ke dalam selimut. Beberapa cahaya menembus bagian depan rumah melalui celah lubang kunci lawas. Di beberapa sudut ruang, menggelambirkan gorden-gorden yang senteng, kurang panjang sedikit. Topi bulat sirkus dan mantel-mantel tebal juga menggelantung mantab di rak kayu pelitur tua.

    Musim tropis!
    Saraf-saraf penyambung para sel tubuh mulai kendur di angka-angka seperti ini. Jari-jemariku mulai pegal karena dingin yang menusuk tidak karuan mainnya. Bahkan ujung para jari sampai tidak terasa utuh. Begitu pula dengan punggung yang kelelahan menenteng tas ransel seharian. Ransel warna biru kadar pekat dengan bordir merek internasional di bagian tengahnya. Ransel itu mematung di ujung ruang tanpa alas.

    Ransel biru, oh!
    Tiba-tiba semua pilu dingin terkalahkan dengan hawa pada andrenalin yang membuncah tak masuk akal. Teringat pada secarik kertas di sisi sebelah kanan ransel yang belum sempat kubuka! Kertas berwarna cokelat amplop. Seseorang memberikannya dengan sedikit paksa di akhir pertemuan satu malam yang lalu. Malam yang jauh lebih dingin daripada malam-malam yang seperti ini.

    Meraba malam, mata sedikit lengket. Kuraih kembali selimut biru agak tipis itu. Kukaitkan ke leher, dan kembali meraba ransel biru. Masih mencari secarik kertas titipan. Kembali meramal ingatan mengenai tata rupa dan bilik-bilik ruang di ransel itu. Bahkan butuh beberapa sekon, untuk akhirnya mengubah mimik muka panik ke arah sedikit lega. Tikungan berhasil, dan memang lega.

    Memet Sudaryanto
    http://coklat-lilin-gelap-romantis.blogspot.co.id/2016/08/malam-pertaruhan-janji-tua-di-lorong.html

    ReplyDelete
  6. Aku ngilu ketika pertama kali akan menulis tentang perjalanan pulangku dari hutan pohon jati. Tapi keadaanku makin parah jika aku harus tetap tinggal. Maafkan aku jika memang hatiku bukan pelabuhan yang tepat untuk perahu yang ingin kau sandarkan. Maafkan atas ketidaknyamananmu saat memutuskan untuk tinggal.

    Gubuk tua ini ada di dekat sungai besar dan di altitud luas pohon pinus. Sungai itu mengalirkan air yang hijau kadang keruh. Di sisi sebelah barat ada sekumpul pohon bambu yang saling melenggok kanan kiri jika terkena angin sepoi. Di sebelahnya lagi kuburan sepi di antara bunga kamboja. Tidak jauh dari gubuk ini sering kudengar kepak sayap burung-burung besar dan diikuti cicitan tikus persawahan liar.


    Jika kau ingin mencariku, aku disini. Dan aku yakin keberadaanku adalah tempat dimana kenangan kita pernah bertaut lama. Aku tidak akan membiarkanmu mencariku sendiri, biar beberapa sisa hatiku yang mengantarkanmu. Terimakasih untuk malam yang panjang, pagi yang menyambut.

    http://coklat-lilin-gelap-romantis.blogspot.co.id/2016/07/di-sebuah-altitud-dan-gubuk-tua.html
    Memet Sudaryanto

    ReplyDelete
  7. Kita akan kembali berimaji.
    Pada kemarau malam di hutan pohon jati, tiba-tiba kau mendengar suara dari sosok yang tak kau tahu. Anggap saja, kau menerima telepon dari nomor yang belum kau simpan. Lantas, suara ini kau kenal dengan baik, suara pelan yang menenangkan. Meski suara ini pelan, kau tetap akan terhenyak kaget. Kaget ini bukan kaget ketakutan, tapi kaget excited karena munculnya seseorang di tengah hutan yang kau tak bisa bayangkan sebelumnya. Kau mencari suara ini datangnya darimana! Bayangkan jika di hutan itu, dia hanya punya waktu 2 menit untuk menyapamu.

    Apa yang ingin kau katakan? Selain seribu kata yang semuanya gugup dan berestafet minta segera dilafalkan. Yang pada akhirnya semua berantakan, tak ada yang keluar bahkan sepatah pun. Kemudian, aku memandangi sepi di ujung hutan.

    Beberapa saat 2 menit dari suaramu tadi muncul, aku sempat berpikir bahwa ini imajinasiku semata. Suara ini hanya lamunan yang sengaja aku ciptakan untuk menemaniku. Suara yang hanya ingin kudengar meski bukan fenomena realita. Tapi setidaknya, 2 menit itu bisa menginspirasiku untuk lebih kuat menghadapi malam kemarau di hutan pohon jati.

    Memet Sudaryanto
    http://coklat-lilin-gelap-romantis.blogspot.co.id/2016/07/malam-kemarau-di-hutan-pohon-jati.html

    ReplyDelete
  8. Aku tidak tahu, kapan kau akan kembali muncul dan menghiasi sisi lamunanku. Kau menggantung dalam diamku, diammu. Yang pasti angin tahu semua itu. Aku iri pada angin yang membelai wajahmu erat, ia menyentuhmu bak seorang paling mesra denganmu. Aku cemburu pada angin, ia tak hanya memperhatikanmu, ia diam-diam memelukmu dari belakang. Bahkan, aku pernah mendengar kata-kata cinta darinya untukmu. Kau kira aku tidak tahu?

    Aku masih membenci angin sejak kau nyaman dalam perjalanan dan dalam kesendirianmu. Kau melampiaskan semuanya pada angin, ketika aku tak bisa bersamamu. Kau katakan pada angin tentang semua cerita sendu, bahagia, dan malumu.

    Memet Sudaryanto

    http://coklat-lilin-gelap-romantis.blogspot.co.id/2016/07/angin-membawamu-dan-meninggalkanku.html

    ReplyDelete
  9. Embun pagi kali ini lebih lebat. Pekatnya menutupi pandangan di antara tinggi dataran di atas gedung-gedung menjulang rendah. Beberapa erat masuk ke sela lubang hidung yang tergenang air mata semalam. Kemudian, ada isak tangis yang masih terasa. Di luar, sedikit demi sedikit semburat kuning menelusuri celah pohon-pohon lebat berkayu sisik.

    Pandanganku masih lurus ke depan, sesekali menengok ke arah spion dan membuang ke kanan-kiri semaunya. Bodo amat pada rasa dingin yang menusuk-nusuk setiap pori yang menganga. Kemudian mengusap kaca samping, demi memperjelas pandangan.

    Pixel pada tipologi jalanan ibu kota menunjukkan kerekatan ganda. Masing-masing terlihat jernih dan makin ketara dengan jelas. Begitu pula bayangan dirimu di antara warna cat kuning tembok pada emper toko yang jaraknya sekitar tiga blok dari area utama.


    Memet Sudaryanto
    coklat-lilin-gelap-romantis.blogspot.co.id/2016/07/aku-dan-para-penjaga-bersedia.html

    ReplyDelete

  10. Pujangga menuliskan lirik di baris bait terakhir untuk menggambarkan sebuah kemesraan. Setiap suku kata seperti menari di kening manis yang kau sibak perlahan. Tidak kau kecup meski aku merasa ingin, tidak kau belai meski aku menaruh mau. Tapi kau jentikkan perlahan tanganmu di jidatku, aku merintih pura-pura kesakitan. Kita menahan tawa bersama.

    Kapan terakhir kau melafalkan janji cinta setelah tiap pagi? Tentu pagi selanjutnya. Kau tidak bosan menyatakan kerinduan meski itu bukan hal baru. Di satu kalimat terakhir, kau menatapku dalam dan kita berlabuh dalam bisu. Kita pun menyelesaikan tiap pagi dengan cara yang sama. Apakah cinta yang menjadikannya satu, ataukah satu yang membuat cinta makin erat? Jawabnya adalah kita.

    Kau pasti ingat oleh-oleh darimu kemarin sore. Sebuah boks berisi kelombeng (sejenis roti) dengan vla yang dibuat dari susu, kuning telur, gula dan cokelat serta aroma lainnya. Kau perlu tahu, aku suka rasanya, gurih dan empuk. Aku tidak yakin ini kau beli di toko roti salemba yang selalu ku suka. Kau memang penuh kejutan. Masih kusisakan di bagian bawah kulkas sebelah kiri untukmu jika kau mau. Inginku, agar kau bisa ikut merasakannya.


    Memet Sudaryanto
    http://coklat-lilin-gelap-romantis.blogspot.co.id/2016/07/pembuka-cerita-pagi.html

    ReplyDelete
  11. Ia mampu menjadi tombak perang ketika bahasa menunjukkan kekuatannya dalam membentuk pasukan berbaju sondanco pada zaman itu, komandan peleton ketentaraan Jepang. Kokoh, gagah, dan memiliki kekuatan yang tidak terkalahkan pada zamannya. Aku menunggu rangkai katamu terurai dalam satu bait lurus. Begitu perang dimulai, maka kata-kata hrus ditutup dengan daftar pustaka yang menunjukkan epilog dan pertanggungjawaban.

    Perang pun harus dipertanggungjawabkan!

    Strategem disusun dalam setiap perkamen (seorang sahabat mengatakan mengenai repetisinya) digulung dan ditumpuk dalam lemari yang kesemuanya berisi kertas cokelat tanah itu. Begitu pula dengan kata, ia disusun menjadi strategi unik yang dinikmati setiap penikmatnya. Ia akan menjadi kekuatan besar jika sintaksis tiap rangkai disusun dengan teori milik linguis tua. Beberapa fungsi semantis di akhir turut dipertimbangkan untuk menyatakan makna sejujurnya maupun sekenanya. Ialah sebuah kata yang menjadikannya tabu jika ditulis menjadi sebuah strategi.

    Memet Sudaryanto
    http://coklat-lilin-gelap-romantis.blogspot.co.id/2016/07/perang-di-akhir-baris-para-sondanco.html

    ReplyDelete
  12. Pada suatu ketika, kau bercerita tentangmu, tentang dirimu, tentang masa indahmu, dan burukmu. Aku paham betul, saat itu suasana tengah canggung dalam kebuntuan percakapan. Kau memulai cerita tentang hadirmu pada tiap awal cerita kehidupan. Kau membubuhkan cerita haru yang realistis untuk kusimak. Pada pucuk cerita, ternyata kau pangkalkan lagi pada hadirku.

    Kau melanjutkan cerita tentang pekerjaanmu, kau mengutuk seorang lakon. Kau gembar-gemborkan ia dengan semua keinginannya yang tak bisa kau penuhi. Kau sampaikan mengenai peluh yang aku sendiri masih takjim tentangnya, di epilognya kau berikan aku nasihat agar ku tak sama denganmu. Sambil sesekali kau melihatku cepat.

    Di akhir cerita, kau berbicara tentangku. Aku sebagai sosok yang tak kau mengerti, yang kau kenal lewat viral cerita manusia-manusia yang kita sama-sama tidak tahu. Kau tertawa geli bahkan kadang kala menatapku takjub. Sedangkan aku hanya bertugas untuk menyangkal setiap ceritamu. Aku mengangguk-angguk pelan seakan setuju, bahwa ternyata kau lah pemilik wajah sendu yang kukenal dalam mimpi baru-baru ini.

    Memet Sudaryanto
    http://coklat-lilin-gelap-romantis.blogspot.co.id/2016/07/perjalanan-malam.html

    ReplyDelete
  13. Hujan menyapu rindu, di semak-semak, di teras keramik licin, bahkan di benakmu yang penakut. Aku datang dengan angka nol sedangkan aku pulang membawa gumpalan perasaan yang kutak mampu bendung. Jika saja, dan jika saja.

    Pertanyaan jika saja menjadi viral sementara hatiku terpaut jauh dari benak tentangmu. Kedatanganku, mendekatimu, menyapu kesendirianku sendiri.
    Berlalu dari rasa kehilangan yang menggelayut di mimpiku, kenapa aku merelakan pintu ini diketuk olehmu.

    Dulu kau sempat hadir menyapa, dan kita berlalu dengan sendiri-sendiri. Ketika rindu ini merekah sendiri, aku rasa ini lebih nyata dari hadirmu. Ku buka catatan lama kita, aku tersedu. Ngilu rasanya membaca teks yang kau kirim sewaktu kau kenalku tuk yang pertama kali. Aku nyaman dengan segala utuhmu.

    http://coklat-lilin-gelap-romantis.blogspot.co.id/2016/07/malam-ini-dia-menggangguku.html
    Memet Sudaryanto

    ReplyDelete
  14. Jan van Luxemburg, “sastra merupakan sebuah ciptaan, sebuah kreasi, seniman menciptakan sebuah dunia baru”.

    apa yang disampaikan Luxemburg benar jika dikaitkan dengan apa yang ditulis oleh Prof. Igit di atas. Bahwa segala ciptaan Prof. igit adalah bentul sastra. Maka manusia kembali memiliki kebebasan untuk menceritakan dirinya sendiri.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  15. Informasi penting 1

    "tidak ada kriteria yang jelas yang dapat diambil dari perbedaan pemakaian bahasa lisan dan bahasa tulis untuk membatasi sastra sebagai gejala khas. Ada pemakaian bahasa lisan dan tulis yang sastra dan sebaliknya ada sastra tulis dan ada sastra lisan."

    Seperti mengenal diri sendiri, dan mengenal manusia lain. Bahwa setiap manuasia membetnuk pribadinya masing-masing dalam elegi yang sedang ia bangun.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  16. Informasi penting 2

    "Konflik, kesegaran dan atmosfer, kesatuan, logika, pengalaman keseluruhan, gerakan dan kelajuan dapat dikelompokkan menjadi satu unsur dari plot atau kerangka cerita. Sedangkan pola dan perencanaan, seleksi dan sugesti, jarak, pelukisan tokoh, dan skala dapat dimasukkan dalam unsur gaya atau style"

    Kajian sastra itu sangat luas dan paling penting adalah keabriteran.
    Jadilah abriter maka kamu sastrawan!

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  17. Informasi penting 3

    Demi menjadi filsafat atas diri sendiri, manusia perlu memandang dan dipandang dan diperlakukan sebagai sebuah sosok yang berdiri sendiri, yang mempunyai dunianya sendiri, mempunyai rangka dan bentuknya sendiri; pun dalam diri manusia ia harus mampu memberi penilaian terhadap keserasian atau keharmonisan semua komponen membentuk keseluruhan struktur.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  18. Setiap kemampuan diri sendiri, selalu ditentukan oleh kemampuannya dalam menjalin hubungan antarstruktur dalam dirinya sehingga menjadi suatu keseluruhan yang bermakna dan bernilai estetik yang mampu menghargai ruang dan waktu. Di sisi lain, manusia harus sadar dan mampu memberikan penilaian terhadap keberhasilan mengorelasikan hubungan harmonis antara isi dan bentuk, karena jalinan isi dan bentuk merupakan hal yang amat penting subtantif dan dormatif.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  19. Informasi Penting 5

    Makna sebuah teks adalah hubungannya dengan konteksnya. Strukturalisme memberikan suatu cara berdisiplin untuk memulai dengan konteks dalam suatu karya sastra sebagai langkah pertama, dan hanya sesudah analisis struktural itu kita bisa melangkah keluar dari teks ke dunia alamiah atau dunia sosial budaya yang merupakan konteks yang lebih luas.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  20. Jika manusia belum ikhlas maka manusia dalam dirinya selalu dipenuhi kebimbangan, nilai bukanlah sesuatu yang dicari untuk ditemukan. Nilai bukanlah suatu kata benda atau kata sifat. Masalah nilai berpusat pada perbuatan memberi nilai

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  21. Faqih Mu'tashimbillah
    12313244030
    Pendidikan Matematika Internasional

    Jika berkehendak kita dapat menyembunyikan pikiran kita dalam kalimat atau kata-kata kita. Tanpa kita sadari bagaimana jadinya Tuhan YME berkehendak menyembunyikan misteri Nya. Maka tiadalah orang dapat mengetahui kecuali atas izin Nya. Itulah pelajaran kita bahwa sehebat dan setinggi manusia maka dia tetaplah tidak sempurna.

    ReplyDelete
  22. Sastra adalah sastra.
    Tiap elegi punya cara untuk ditampilkan dalam wujud kesastraannya. Manusia tinggal membaca sastra dalam kesendirian dan kemandirian.


    Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    ReplyDelete
  23. Sejak zaman dahulu, karya sastra tidak pernah pudar dan mati.
    Bahkan seorang filosof pun bersastra,
    Prof. elegi ini mengajari kami, bahwa matematika pun bisa dipandang dalam kacamata filsafat.

    Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    ReplyDelete
  24. Karena cinta kemalangan menjelma keberuntungan
    Karena cinta rumah penjara tampak bagaikan kedai mawar
    Karena cinta tumpukan debu kelihatan sebagai taman
    Karena cinta api yang berkobar-kobar jadi cahaya yang menyenangkan
    Karena ikhlas manusia merasakan cinta

    Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    ReplyDelete
  25. Pernah pada suatu hari, dalam pembelajaran matematika yang saya ampu di kampus saya, saya mengajak mahasiswa saya untuk bersastra. Karena belajar sastra bisa dijadikan pijakan untuk mengkaji kehidupan, Di dalamnya termuat nilai-nilai akhlak, moral, filsafat, budaya, politik, sosial dan pendidikan.

    Manusia dan sastra adalah erat.

    Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    ReplyDelete
  26. Karena kekuatan sastra, tidak mengherankan di awal-awal kemerdekaan, negeri pancasila ini melahirkan penulis-penulis, sartawan produktif dan imajinatif.

    Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    ReplyDelete
  27. Sayangnya, kadang kala tidaklah lazim memasukkan esai ke dalam genre sastra di Indonesia dan sampai sekarang pun tidak jelas bahwa esai bisa masuk ke dalam bagian sastra atau tidak. Manusia kadang kala terjebak pada ruangnya masing-masing dan susah memuatkan sastra pada bidang penulisan yang bersifat profesional.

    Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    ReplyDelete
  28. Imajinasi adalah sastra kjuga (disini saya mengimajinasikan karya Prof Marsigit di atas sebagai sastra) yang berupaya untuk menerangkan, menjelaskan, memahami, membuka pandangan baru, dan memberikan makna realitas kehidupan agar manusia lebih mengerti dan bersikap yang semestinya terhadap realitas kehidupan. Dengan kata lain, imajinasi berupaya menyempurnakan realitas kehidupan walaupun sebenarnya fakta atau realitas kehidupan sehari-hari tidak begitu penting untuk kehidupan manusia.

    Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    ReplyDelete
  29. Belajar kehidupan seperti belajar sastra, agar tiap manusia bisa memahami isi filsafat atas dirinya diawali dengan menelaah dan melakukan kajian terhadap gaya maupun bentuk kehidupan yang sedang didalami, dan yang bersama-sama membentuk suatu keutuhan isi puisi. Perhatikan jika terdapat hal-hal yang menarik perhatian


    Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    ReplyDelete
  30. Secara kausal munculnya kecenderungan sastra mampu membekali sisi kehidupan manusia dalam berperspektif baru, tentu saja bukanlah suatu kebetulan, melainkan berjalan seiring dengan perkembangan filsafat dan sastra Indonesia terkini dalam lingkup nasional. Hal ini bisa dipahami karena sastra Indonesia pada dasarnya merupakan subtradisi dari satu tradisi besar bernama sastra Indonesia

    Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    ReplyDelete
  31. Penting untuk diketahui,
    ihwal pertautan dialektis antara realitas imajinatif (dalam kajian sastra dan perkembangannya) dengan realitas faktual (di masyarakat) ini tampaknya akan lebih menarik lagi kalau kita cermati dari aspek latar sosial-budaya atau sosiokulturalnya (termasuk segi-segi sosioreligiusnya).

    Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    ReplyDelete
  32. dalam eligi ini sy berpikiran bahwa sastra merupakan sebuah unggkapan perasaan sang penulis. yang mana pada setiap kata dan kalimat mengandung makna yang bisa dipahami namun ada juga kata-kata yang tidak bisa kita pahami. Sampai sang penulis menguak misteri dari kata tersebut, bahkan sebuah tanda titik pun bisa mempunyai makna yang sangat besar bagi penulisnya. sy sebagai pembaca tidak akan bisa memahami apa yang dia sembunyikan di sebuah sastra yang dibuat oleh nya sampai sebelum dia sendiri yang menguak misteri yang terkandung didalamnya. namun sebaliknya jika sy yang bersembunyi dibalik sebuah tulisannya, orang lainpun mungkin tidak akan dapat memahaminya seperti perasan yang sy sembunyikan dibalik tulisan tersebut. bahkan seperti pernyataan di elegi ini “tidaklah setiap pertanyaan itu memerlukan jawaban” maka biarlah itu menjadi misteri yang disembunyikan penulisnya. dan tidaklah semua pertanyaan bisa kita temukan jawabnya di diri kita sendiri.


    M Saufi Rahman
    PEP Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  33. Ada hal menarik yang pernah saya simak, Aprinus Salam (seorang peneliti dan pengamat sastra dari FIB UGM Yogyakarta) melihat bahwa sang pengarang lewat novel Rumah Debu-nya ini sebenarnya sedang mendedahkan tiga elemen kekuasaan sekaligus, tentu dengan karakteristik dan wilayah kekuasaannya masing-masing. Ketiga elemen tersebut adalah kekuasaan agama (diwakili oleh Guru Zaman), kekuasaan uang (diwakili oleh Pak Ismail dan Ibu Diyang), dan kekuasaan fisik (diwakili oleh kelompok Pak Sawang dan Udin Tungkih).

    Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    ReplyDelete
  34. Kajian dan berbicara tentang sastra mengandung aspek kreativitas dan imajinasi yang dituangkan dalam bahasa yang di dalamnya mengandung kualitas, kuantitas dan dinamika makna.

    Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    ReplyDelete
  35. Khayalan dalam imajinasi pun selalu didasarkan atas kenyataan sebagai interpretasi kenyataan yang sesungguhnya yang dijadikan estetika dalam memberikan keseimbangan terhadap perkembangan aspek-aspek rohaniah dan jasmaniah.

    Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    ReplyDelete
  36. Sastra sebagai bagian ilmu pengetahuan karena telah memiliki metode, teori dan objek sebagai ciri suatu ilmu. Sastra dapat berfungsi sebagai tolak ukur mengenai kemajuan sekaligus kemunduran sehingga dapat diketahui seberapa jauh peranannya dalam perkembangannya di masyarakat.

    Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    ReplyDelete
  37. Peranan sastra selalu saja menarik untuk dikaitkan dengan kehidupan manusia. Untuk mengetahui penemuan baru baik dalam ilmu kealaman maupun humaniora sehingga ilmu sastra harus dipelajari secara baik dan diimplementasikan dalam kehidupan manusia yang sejujurnya.

    Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    ReplyDelete
  38. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Setiap diri kita memiliki kebebasan untuk mengekspesikan apa yang kita pikirkan dengan cara kita sendiri melalui sastra. Bahasa yang digunakan berdimensi yaitu dari yang mudah dipahami sampai yang sulit dipahami sesuai dengan dimensi penulisnya.Sebab seringkali tulisan-tulisan mengandung makna yang implisit atau tersirat hal ini disebabkan karena perbedaan dimensi pikiran sebab semakin tinggi dimensi seseorang maka akan semakin tinggi pula pengetahuan dan dimensi bahasa yang dimiliki.Misalnya ketika saya membaca postingan-postingan dari Pak Marsigit, seringkali saya mengalami kesulitan dalam memahami dan memaknai suatu postingan, hal ini dikarenakan terdapat perbedaan dimensi antara saya sebagai mahasiswa dan Pak Marsigit sebagai seorang guru besar. Karena itu adalah sudah menjadi tugas kita semua untuk selalu memperbanyak membaca dan mengembangkan potensi yang kita miliki agar dapat meningkatkan dimensi berpikir kita

    ReplyDelete


Note: Only a member of this blog may post a comment.