Sep 20, 2013

Elegi Menggapai Sastra




Oleh Marsigit

Petunjuk:
Salah satu cara memahami Elegi Menggapai Sastra ini adalah janganlah dipaksakan untuk memahami jikalau dirasakan sulit, karena tujuan dari elegi ini memang bukan untuk memperoleh pemahaman pembaca tentang elegi ini, sampai saatnya dibuka misterinya oleh penulisnya. Salah satu tujuannya adalah agar memberikan referensi bahwa jika kita berkehendak maka kita dapat menyembunyikan pikiran kita dalam kata-kata atau kalimat kita. Ternyata kita juga menjadi sadar bagaimana jadinya jika Tuhan YME berkehendak menyembunyikan misteri Nya. Maka tiadalah orang dapat mengetahui kecuali atas ijin Nya. Itulah pelajaran kita bahwa sehebat dan setinggi manusia maka dia tetaplah si tidak sempurna. Sedangkan manfaat dari elegi ini adalah bisa juga sebagai pembanding agar elegi-elegi yang lain itu menjadi mudah adanya. Bukankah kita juga telah menemukan bahwa tidaklah setiap pertanyaan itu memerlukan jawaban? Seperti itulah kira-kira elegi ini dibuat. Maka bacalah elegi-elegi yang lain.Amiin.



Astoras:
Oim wau lha toi dza noi ndir na na kun tak da min dhuta antha phada nya tha kah lauwa dhat mir bingalawaihdur ronthakamaluhawatakamini phidhitnitipanyatkaha nauna andhamkabi.

Tskimi:
Adaumpet pinuleng mighab wiskutha anasa pikena norananci noradal nirboda syamsomi pomirang lakuwa nderzo lampuhma sparatul trusna jwoi nderzzo idir. Makna rastra kang atiwi askara jra ngak lawa wang wung akohit rastra.

Gilire:
Ita hisa mrang mudida. Tan ngindate asra. Mbahta arsa rangku negume. Kabek ngeli nal aron lila. Hiwed karen inglelawer thibhan. Srawendah nepati ngista gnaka samha gusih. Osik yalmu ntawring capitu asara. Mengrah dadimu nyemlanging warima. Ywa nggalakatune nispeti.

Talfasif:
Ajasnite kahika musbangare ojre nat ngindate. Bhohone ngat beto nat ngandite. Kattira hatusu acra ngotawu mothade adas monane. Njabure njebik laa reben shala.

Himilah:
Olah kipri kacoka ngrip tamoda. Sisipen lunduha ngrim nakahan. Ndakoping lungkupa ngadat. Ngampotil nyusunya ngadat. Taptaping ngahalo ngadat. Pepunute ta kunklud ngadat. Njabunjare angroti jrinong mosista.

40 comments:

  1. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Filsafat dan sastra, tidak akan terlihat hubungannya bila yang dicermati hanyalah masing-masing. Filsafat dan sastra adalah dua wilayah keilmuan yang dalam sejarah telah bergelut satu sama lain. Akan tetapi banyak hal yang belum dapat dipahami dengan baik oleh mahasiswa atau pemerhati bahasa dan sastra dalam ranah-ranah tersebut. Harus banyak membaca dan membaca agar bisa memahami.

    ReplyDelete
  2. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan elegi diatas yang membicarakan mengenai sastra saya belum dapat memahami apa isi yang dimaksud dan apa makna yang terkandung di dalamnya. Saya menjadi menyadari keterbatasan saya bahwa mempelajari elegi yang membicarakan mengenai sastra bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk dipelajari. Akan tetapi, meskipun saya belum dapat memahami makna yang terkandung di dalamnya, saya mendapatkan pengetahuan baru serta referensi baru mengenai sastra dalam dunia filsafat.

    ReplyDelete
  3. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)
    Benar-benar sulit untuk memahami elegi ini. Ketika berbicara mengenai sastra mungkin yang terlintas dalam benak kita adalah keindahan bahasa. Berbicara tentang sastra berarti kita mencoba untuk menggali nilai-nilai keindahan yang terkandung dalam bahasa.

    ReplyDelete
  4. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dari elegi ini saya kembali merefleksikan diri. Benar bahwa dunia ini memiliki banyak misteri, dan segala sesuatu di dunia tidak dapat kita pahami jika Tuhan, Sang Pencipta tidak mau membuka misterinya bagi kita. Sebagai seorang yang ada, mengada dan sekaligus pengada pun dapat menyembunyikan pikiran kita melalui kata-kata, apalagi Tuhan yang adalah pencipta manusia. Sebaik apapaun kita, tetaplah tidak sempurna. Maka bersyukurlah senantiasa

    ReplyDelete
  5. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dari elegi ini saya kembali merefleksikan diri. Benar bahwa dunia ini memiliki banyak misteri, dan segala sesuatu di dunia tidak dapat kita pahami jika Tuhan, Sang Pencipta tidak mau membuka misterinya bagi kita. Sebagai seorang yang ada, mengada dan sekaligus pengada pun dapat menyembunyikan pikiran kita melalui kata-kata, apalagi Tuhan yang adalah pencipta manusia. Sebaik apapaun kita, tetaplah tidak sempurna. Maka bersyukurlah senantiasa

    ReplyDelete
  6. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Sesungguhnya baik filsafat maupun sastra bahasa itu adalah pikiran kita. Jika kita berkehendak maka kita dapat menyembunyikan pikiran kita dalam kata-kata atau kalimat kita.Jika kita saja mampu menyembunyika pikiran kita, maka bukan hal mustahil jika Tuhan berkehendak menyembunyikan misteri Nya. Maka sesungguhnya tak ada orang yang dapat mengetahui dan memahami sesuatu tanpa ijin dari-Nya. Jika Tuhan tak menghendaki kita tahu, maka dengan usaha sebesar apapun tak akan pernah kita mampu mengetahuinya. Maka sungguh hanya Tuhan Sang Maha Mengetahui, dan manusia tetap lah makhluk dengan berbagai ketidaksempurnaan. Maka sungguh tak pada tempatnya, seorang hamba menyombongkan diri di muka bumi ini.

    ReplyDelete
  7. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B 2017

    Terimakasih pak. Sungguh saya tidak paham sama sekali dengan maksut postingan ini. Saya berjanji, akan mencoba membacanya lagi. Saya juga akan menanyakan bagian ini ketika perkuliahan dengan bapak minggu depan.

    ReplyDelete
  8. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, sejujurnya saya merasa tidak cukup mampu untuk memahami makna postingan ini. Menurut saya sastra, mempunyai artian tersirat, dimana tidak semua bisa memahami artinya. Seperti membaca postingan ini, saya merasa tidak mampu memahami makna tersirat, maupun tersuratnya. Semoga senantasa mau belajar dan terus merasa tidak tahu agar tetap termotivasi untuk belajar, terimakasih.

    ReplyDelete
  9. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Walaupun kami (saya) tidak bisa memahami isi dari elegi ini, akan tetapi tetap ada pelajaran yang bisa saya ambil, yaitu dengan pengetahuan yang sekarang saya tidak bisa memahami elegi ini. Dan elegi ini saya mendapatkan referensi bahwa jika seseorang berkehendak maka dia dapat menyembunyikan pikirannya dalam kalimat dan ucapannya.

    ReplyDelete
  10. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Dalam uraian Bapak di atas, terdapat penggunaan 5 bahasa yang berbeda. Begitulah keanekaragaman bahasa. Di Indonesia sendiri terdapat seribuan lebih bahasa daerah. Belum lagi jumlah bahasa di seluruh dunia yang tentu jumlahnya sangat banyak. Sebagai orang Jawa, saya tentu paham dan dapat menggunakan Bahasa Jawa, tetapi saya tidak paham Bahasa Papua, kecuali jika saya mempelajarinya. Begitu juga dengan lima bahasa di atas, saya tidak dapat memahaminya, karena memang sama sekali belum mempelajarinya.

    ReplyDelete
  11. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Elegi itu tergantung oleh penulisnya. Itu merupakan hak bagi yang menulis elegi. Di sisi lain, Tuhan juga berhak untuk menyembunyikan pikiran seseorang melalui kata-kata. Intinya, pengetahuan kita sesungguhnya atas izin Allah.

    ReplyDelete
  12. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Saya tidak yakin seberapapun saya membaca elegi ini, saya tidak akan mengerti akan elegi ini. Ini menyadarkan saya bahwa elegi yang lain masih mungkin dan sangat mungkin di pahami. Karena begini lah sastra tak ada paksaan di dalamnya. Tetapi sesungguhnya elegi ini memiliki pesan yang sangat indah sebagaimana yang telah diberitahukan dalam petunjuknya. Elegi ini memang akan sulit dipahami karena bukan itu tujuannya, yang tau hanyalah sang pembuat dan Allah saja. Ini secara analogi berkaitan dengan Ilmu Allah. Jika Allah telah berkehendak akan ilmunya untuk tidak dipahami manusia maka mudah baginya merahasiakannya. Disinilah tugas kita sebagai manusia hanya bisa bertawakal.

    ReplyDelete
  13. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingan elegi yang lumayan membuat pusing ini, Pak. Seperti yang bapak kemukakan di atas bahwa manusia mengetahui sesuatu itu adalah atas kehendak Tuhan YME. Pengetahuan manusia itu terbatas sedangkan pengetahuan dan kuasa Tuhan itu tidak terbatas.

    ReplyDelete
  14. Junianto
    PM C
    17706251065

    Dalam elegi ini, tentu memuat misteri. Namun, begitulah sastra. Terkadang yang mengerti makna didalamnya hanyalah penciptanya saja. Jadi, setiap orang bebas bersastra dan mengungkapkan pemikirannya. Jika kita kaitkan dengan kehidupan manusia, maka sehebat dan setinggi apapun pangkat manusia, mereka tidak akan pernah tahu misteri dan rahasia yang diciptakan Tuhan sebelum Tuhan menunjukkan kepada manusia tersebut.

    ReplyDelete
  15. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Elegi menggapai sastra, sebuah elegi yang unik untuk kita baca. Membaca, membaca, dan membaca. Proses menerjemahkan dari sebuah tulisan menuju suatu pemahaman. Membutuhkan keselarasan antara apa yang kita baca dengan apa yang ada di dalam pikiran kita. Akan menjadi suatu masalah ketika apa yang kita baca tidak kita miliki dalam pikiran kita. Dan itu merupakan sebuah tanda bagi kita untuk senantiasa merasa tidak sempurna dan merasa kecil kepada Tuhan yang Maha Besar dan Sempurna.

    ReplyDelete
  16. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PM A 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Dibandingkan dengan elegi-elegi yang lain, elegi ini memang sangat sulit untuk dimengerti. Bahkan untuk memahami makna dari setiap kata saja saya tidak mampu. Apalagi untuk memaknainya, membacanya saja sangat sulit. Mungkin elegi ini mengajak kita untuk merefleksikan diri bahwa kita sebagai manusia hanyalah mahkluk yang memiliki banyak keterbatasan, maka tidak semua yang ada dapat kita ketahui. Seperti halnya ketetapan dan rencana Tuhan serta berbagai misteri-misteri lainnya akanlah tetap menjadi misteri. Pikiran kita tidak akan mampu memikirkannya, kecuali atas kehendak-Nya.

    ReplyDelete
  17. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Sehebat-hebatnya dan setinggi-tingginya manusia maka dia tetap tidak sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata. Sungguh saya sangat tidak memahami tentang Elegi menggapai sastraini. Yang saya bisa pahami adalah elegi ini menggunakan bahasa yang berbeda dengan elegi-elegi sebelumnya, jadi dapat diartikan elegi merupakan suatu pengantar filsafat yang menggunakan bahasa dan bahasa erat kaitannya dengan sastra. Sastra merupakan seni dalam bahasa, didalam sastra banyak mengandung arti-arti yang tersembunyi. Jika kita berkehendak maka kita dapat menyembunyikan pikiran kita dalam kata-kata atau kalimat kita. Ternyata saya jadi sadar memahami sesuatu itu perlu kehendak dari Tuhan Yang Maha Esa. Saya sadar bagaimana jadinya jika Tuhan Yang Maha Esa berkehendak menyembunyika misteriNya

    ReplyDelete
  18. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, Terimakasih prof. Marsigit atas postingan yang sama sekali yang tidak saya mengerti. Saya yakin ini filsafat yang bapak bangun dalam diri bapak. Sungguh, saya penasaran dengan arti dan makna dari postingan kali ini. Mungkin tulisan diatas hanya bapak dan Tuhan yang tahu. Atau mungkin para filsuf dan sastrawan juga mengetahui dan memahaminya. Yang jelas, ilmu saya belum sampai pada tahap seperti tulisan di atas. Saya semakin sadar, bahwa ilmu saya sangatlah sedikit dan perlu dipupuk dengan membaca dan membaca. Tetapi saya juga harus pandai-pandai dalam membatasi dan membedakan sikap antara rendah diri dan rendah hati. Yang jelas, setiap kita belajar perlulah ridho dan kehendak dari Allah swt. Semoga kita termasuk orang yang beruntung mendapatkan keberkahan di setiap langkah kita belajar. Amin.

    ReplyDelete
  19. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Terimakasih Pak prof,karena telah mengingatkan kami untuk tidak terlalu memaksakan diri untuk memamahami bahasa tersebut.Saya juga mengalami hal yang sama dengan teman-teman mahasiswa yang lain.Bahasanya sangat sulit dan susah dimengerti.

    ReplyDelete
  20. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dibanding dengan elegi-elegi yang Bapak tulis dalam blog ini, elegi inilah yang paling sulit untuk dipahami. Hal ini mengingatkan saya bahwa manusia mempunyai keterbatasan, apapun itu termasuk dalam memahami elegi ini. Dan sebagai penulis elegi, ia berhak menyembunyikan makna dari eleginya tersebut. Begitu juga dalam kehidupan ini. Pengetahuan manusia sangat terbatas sekali jika dibandingkan dengan ilmu Allah. Jika Allah berkehendak untuk memberi keterbatasan manusia dalam memahami ilmu, maka akan sangat mudah bagi Allah untuk melakukannya. Untuk itu yang dapat dilakukan manusia hanyalah ikhtiar, memohon kepada-Nya agar selalu dibukakan kemauan untuk selalu belajar dan belajar.

    ReplyDelete
  21. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Sejujurnya saya tidak paham dengan elegi di atas. Namun, saya tertarik dengan petunjuk di atas yang mengungkapkan bahwa jika kita berkehendak maka kita dapat menyembunyikan pikiran kita dalam kata-kata atau kalimat kita. Bagi saya kata-kata tersebut memiliki makna yang sangat mendalam tentang wujud dari pemahaman. Terkadang, demi mencapai pemahaman kata-kata kerap mendahului pikiran, artinya kata-kata yang keluar bukan hasil pemahaman pikiran dan wujudnya dangkal.

    ReplyDelete
  22. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    ketika saya membaca elegi di atas, saya merenungkan kalimat yang terdapat pada petunjuk: "tidaklah setiap pertanyaan itu memerlukan jawaban"
    Terkadang banyak hal di dunia ini juga menimbulkan pertanyaan yang ketika kita mencari rasanya tak ada jawabannya. Tuhan menyembunyikan jawaban dari pertanyaan tersebut sebagai Misteri yang tak dapat dijangkau oleh manusia. Mengingatkan kita bahwa kita hanyalah manusia, yang masih memiliki Tuhan, memiliki banyak keterbatasan yang harus kita sadari. Pemahaman kita hanyalah pemberian Tuhan yang harus terus kita syukuri, kita kembangkan sebagai bagian dari rasa syukur tersebut. Saya memang tak mengerti menngenai elegi ini, tapi saya mendapatkan refleksi mendalam yang membuat saya sadar diri dan bersyukur.

    ReplyDelete
  23. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Saya sendiri tidak paham dengan makna dalam elegi ini. Saya menjadi tahu bahwa sastra dalam filsafat begitu unik. Ketidakpahaman saya dengan sastra di atas juga menjadikan saya sadar bahwa mempelajari sesuatu tidak dapat dipaksa. Saat tidak paham dengan sesuatu, seseorang dapat menyembunyikan pikirannya. Saat berada pada kondisi tersebut, maka bertanya adalah jalan keluar yang dapat ditempuh.

    ReplyDelete
  24. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Terimakasih pak, selain dari petunjuk yang bapak berikan di awal (pembuka) elegi ini, sejujurnya saya sama sekali tidak bisa memahami satu kata maupun kalimat dalam elegi ini. Saya setuju dengan yang bapak sampaikan pada petunjuk bahwa salah satu cara memahami elegi menggapai sastra adalah jangan dipaksa memahami jikalau dirasakan sulit, sebab pemahaman tentang elegi ini hanya bisa dijelaskan oleh penulisnya.

    ReplyDelete
  25. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Setelah membaca elegi ini, saya teringat kembali dengan hal sederhana yang bapak lakukan di kelas yaitu meminta kami secara bergiliran untuk membaca tulisan bapak tentang materi perkuliahan di absensi kelas. Sebelum ini, saya tidak terpikirkan sama sekali bahwa hal sederhana yang bapak lakukan itu ternyata merupakan salah satu bagian dari pembelajaran filsafat yaitu Elegi Menggapai Bahasa, saya tidak menyangka sama sekali sampai saya membaca elegi ini, ternyata dibalik semua itu selalu ada pelajaran yang bapak berikan pada kami, terimakasih pak.

    ReplyDelete
  26. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Mohon maaf Prof, tapi saya belum bisa memahami elegi diatas. Saya menyadari akan keterbatasan dan ketidaktahuan saya mengenai sastra diatas namun saya akan berusaha belajar dan tetap membaca elegi-elegi selanjutnya.

    ReplyDelete
  27. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Memahami petunjuk yang diberikan oleh prof awalnya saya mengira bahwa elegi ini akan membahas dimana otak kita akan sulit mencerna jika tanpa bacaan. Namun, ternyata elegi inni lebih sulit dipahami dari yang saya perkirakan. Semoga suatu saat akan dibuka rahasia dari apa yang ditulis pada elegi ini. Karena memang tidak dapat dipahami jika memang bukan penulis maupun yang Maha Kuasa yang memberikan petunjuk dalam memahami elegi ini.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  28. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Sungguh, saya belum bisa memahami makna dari elegi ini. Bahkan saya hanya dapat membaca ada nama Filsafat sebagai salah satu nama dalam percakapan tersebut. Tapi ragu apakah itu benar sesuai dengan pikiran bapak atau tesis saya yang salah. Karena elegi ini merupakan misteri yang ada pada pikiran dan kata-kata yang bapak buat sendiri. Benar, sesempurna apapun manusia, tetaplah tidak sempurna di mata Allah. Saya menunggu misteri dibalik elegi yang telah bapak tulis. Terimakasih sebelumnya pak.

    ReplyDelete
  29. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Manusia adalah sebaik-baiknya makhluk Allah, manusia diberi akal, pikiran dan nafsu oleh Allah. Dengan semuanya itu manusia haruslah sadar, senantiasa berdoa kepada Allah, dan menghindari sombong. Itulah yang saya dapat dari membaca elegi ini, setinggi-tingginya manusia, Allah maha segalaNya.

    ReplyDelete
  30. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Seperti yang Prof Marsigit tulis dalam petunjuknya bahwa elegi ini menyimpan rahasia yang sulit untuk dipahami. Elegi ini baru akan bisa dipahami jika sang pembuat elegi membuka rahasianya di kemudian hari. Sebagaimana kita hidup, terkadang banyak misteri, rahasia yang Tuhan rahasiakan. Kita baru akan mengetahuinya setelah Tuhan sendiri yang membuka rahasia tersebut. tanpa kuasa Tuhan untuk membuka rahasia tersebut niscaya kita tidak akan bisa mengetahuinya.

    ReplyDelete
  31. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Membaca elegi ini mengingatkan saya akan sebuah dongeng tua, 'the new emperor's cloth'. Dongeng ini menceritakan tentang seorang kaisar yang sangat suka berdandan, berpakaian bagus. Suatu ketika datang seorang penjahit yang mengatakan, bisa membuatkan pakaian yang hanya dapat dilihat oleh orang yang bijaksana. Sang kaisar bersemangat Dan menerima tawaran tersebut. Sang kaisar sendiri Tak dapat melihat apa pun, tapi gengsinya mengalahkan pikirannya. Dia seakan memakai pakaian barunya Dan memamerkan pada rakyatnya. Rakyatnya tdk berani berkomentar karena mereka Tak melihat pakaian baru kaisar. Yang mereka lihat adalah kaisar yang telanjang. Tiba tiba seorang anak kecil muncul Dan tertawa melihat kaisar tak berpakaian. Barulah sang kaisar menyadari bahwa ia tertipu oleh si penjahit. Kesombongannya sudah menelanjangi dirinya, mengaburkan logika, pikiran sehatnya.
    Saya merasa seperti sang kaisar yang tidak paham apa apa mengenai isi elegi ini. Saya diingatkan untuk selalu mencari metafisik dari segala sesuatu, jangan sampai menjadi sombong dan mudah menilai orang lain. Saya tak pernah dapat memahami hati orang lain. Semoga saya bisa belajar untuk menerima segala yang harus Saya terima Dan jalani dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  32. Dewi saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Setelah membaca elegi ini saya benar-benar tidak mengerti makna dibalik tulisan apa yang saya baca, sungguh sebuah keterbatasan ilmu yang saya miliki. Dari Elegi ini saya mendapatkan satu pengetahuan baru mengenai filsafat sastra, yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan mengenai filsafat tersebut.

    ReplyDelete
  33. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Menurut elegi ini, sastra ada hubungannya dengan filsafat karena pada dasarnya semua yang ada di dunia itu saling terkait atau saling terhubung. Pertama adalah ada yang dipikiran, kedua adalah sastra merupakan media komunikasi, karena meliputi bahasa. Filsafat itu ilmu pikiran, bagaimana berpikir tentang objek-objek filsafat dan bagaimana objek-objek tersebut nantinya dapat dipelajari oranglain. Maka perlu adanya media yang bisa mewakili pikiran itu. Sehingga sastra digunakan sebagai media yang mewakili agar bisa menggambarkan apa yang ada dipikiran.

    ReplyDelete
  34. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Ketika membaca judulnya saya bersemangat sekali membaca elegi diatas, kemudian saya baca petunjuknya dengan teliti, agar dapat memahami eleginya dengan baik pikir saya, namun setelah mulai membaca eleginya tidak ada satu katapun yang dapat saya pahami, disitu saya mulai memahami pesan yang disampaikan dalam petunjuknya yaitu "Itulah pelajaran kita bahwa sehebat dan setinggi manusia maka dia tetaplah si tidak sempurna."

    ReplyDelete
  35. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Elegi ini sangat menarik, karena petunjuknya berisi tidak perlu dipaksa memahami. Walaupun tidak paham akan elegi memang sering terjadi. Namun yang paling menarik bagi saya adalah “menyembunyikan pikiran kita melalui kata-kata atau kalimat kita?”. Bagaimanakah cara melakukan hal itu pak, serasa sangat menarik jika bisa dilakukan, tanpa ada yang mampu menebak isi pikiran dan arah obrolan kita.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  36. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Terimakasih Pak atas eleginya, sungguh benar-benar tidak bisa saya pahami saat ini. Mungkin suatu saat nanti Allah memberikan ijin lewat siapapun ada orang yang memberikan penjelasan elegi ini. Berkali-kali membaca tetap saja tidak paham, saya menyadari atas segala keterbatasan atau ketidak sempurnaan saya. Apakah ini artinya saya saya belum bisa menggapai sastra?

    ReplyDelete
  37. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Dalam berkomunikasi kadang seseorang menyembunyikan maksud utamanya kepada pendengar. Sebagai contoh agen rahasia ketika tertangkap musuh maka akan di interograsi, dibutuhkan seni untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya bukan jawaban yang sebenarnya yang dimaksud. Contoh tersebut merupakan contoh menyembunyikan maksud utama dalam rangka mempertahankan diri dan negaranya. Menarik disini adalah bahwa Tuhan YME juga menyembunyikan misteri-misteri di dunia ini, manusia tentu punya keterbatasan dalam memahaminya, dibutuhkan keyakinan yang kuat untuk percaya kepadaNya, dan kepercayaan itu bukanlah dianggap suatu mitos.

    ReplyDelete
  38. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Baik filsafat ataupun sastra menjadi dua bagian dari dunia yang jika beriringan akan menjadi sebuah komponen yang menakjubkan. Hubungan keduanya dapat disebut komplementer, yaitu saling melengkapi. Dengan adanya elegi misteri ini, kita menyadari bahwa filsafat memandang sastra sebagai suatu bentuk gagasan yang dapat diungkapkan atau diekspresikan dalam bentuk dan bahasa yang berbeda-beda pula. Semakin tinggi karya sastra, maka semakin dalam pula kajian filsafatnya.

    ReplyDelete
  39. Riandika Ratnasari
    17709252043
    PPs PM B

    Jangankan memahami, membacanya saja saya sudah bingung. Saya tidak mengerti dengan bahasa tersebut. Elegi sastra berhubungan dengan bahasa. Di Negara Indonesia ini, kita menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Mungkin dibalik tulisan di atas terkandung suatu makna. Namun saya belum bisa memecahkan isi dari elegi ini. Bahasa berhubungan dengan komunikasi. Oleh karena itu, sastra sangat berpengaruh pada komunikasi. Salah satu menyembunyikan pikiran kita yaitu dengan sastra yang hanya kita tau maka orang lain tidak akan paham dengan pikiran kita.

    ReplyDelete
  40. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Saya hanya paham isi petunjuknya saja pak. Pelajaran yang selalu saya ingat dari bapak adalah kita tidak boleh sombong, pun mendapat pujian, pun ilmu yang kita miliki nampak lebih tinggi dari yang lain, ingatlah bahwa manusia itu memiliki keterbatasan, hanya Allah SWT lah yang maha sempurna. Ketika kita berlaku sombong, maka kita termasuk orang yang merugi.

    ReplyDelete