Sep 20, 2013

Elegi Memahami Elegi




Oleh Marsigit

Mahasiswa:
Aku jengkel, aku marah, aku tak peduli, aku tersinggung...

Dosen:
Sebentar apa masalahnya? Mengapa anda bersikap demikian?

Mahasiswa:
Ah Bapak tak perlu berpura-pura. Kan segala macam persoalan yang membuat Bapak sendiri.

Dosen:
Lho kenapa, emangnya apa salahnya Elegi?

Mahasiswa:
Setelah membaca Elegi dan mengikuti kuliah Bapak saya jadi pusing. Konsep pemikiranku menjadi berantakan tak karuan. Waktu saya untuk belajar filsafat itu cuma sedikit Pak. Saya mempunyai banyak tugas-tugas yang lain. Apa lah gunanya berfilsafat, sehingga berbicara ngalor ngidul yang tak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Lagi pula tidak ada sangkut pautnya dengan tugas mengajar saya. Saya perlu pemondokan, saya perlu transportasi, saya bolak balik dari kampus ke tempat asalku. Itu sudah sangat menyita waktu.

Dosen:
Lha apa usul anda?

Mahasiswa:
Berikan saja kepada saya referensi yang singkat, padat dan jelas, untuk kemudian saya bisa baca dengan singkat dan saya gunakan untuk persiapan ujian. Beres gitu aja pak.

Dosen:
Maaf, menurut pandangan saya. Ibarat perjalanan, anda sudah memasuki jalan-jalan dan gang sempit, sehingga sulit bagi dirimu untuk membalikkan kendaraanmu atau parkir atau balik arah dsb. Padahal orang belajar filsafat itu ibarat duduk di lobi, dia belum menentukan sikap jalan mana yang harus dilalui, dia hanya baru memikirkannya.

Mahasiswa:
Tetapi sebagian Elegio itu betul-betul mengganggu pikiran saya. Saya kadang-kadang tidak merasa nyaman di hati, bahkan ingin marah.

Dosen:
Kelihatannya anda cukup bernafsu dalam bersikap. Jika demikian maka pilihan hidup anda akan semakin sedikit. Bukankah banyak orang lebih suka mempunyai banyak pilihan agar hidup itu membahagiakan? Padahal dalam mempelajari filsafat, mahasiswa itu seyogyanya dalam keadaan NOL. Artinya agar mampu berpikir kritis, maka kita perlu berpikir netral, tidak prejudice atau watprasangka, tidak emosi, tidak putus asa.


Mahasiswa:
Jujur saja untuk berbicara di kelas juga aku mengalami kesulitan, karena mungkin bacaanku juga masih sedikit.

Dosen:
Kenapa engkau tidak usul atau bertanya atau memberi saran.

Mahasiswa:
Untuk itu semua juga sama saja. Saya tidak merasa pede karena mungkin saya juga kurang membaca. Atau bacaan saya belum relevan dengan pokok pembicaraan.

Dosen:
Terus apalagi yang ingin engkau sampaikan?

Mahasiswa:
Kenapa Bapak melakukan testing filsafat, sehingga terasa memberatkan mahasiswa?

Dosen:
Itu merupakan komunikasi formal. Wajib hukumnya bagi dosen untuk menguji mahasiswa.

Mahasiswa:
Kenapa ujiannya seperti itu, lain lagi minta ujiannya sesuai dengan selera saya.

Dosen:
Ujian seperti apa yang engkau inginkan?

Mahasiswa:
Aku sendiri juga bingung. Bagaimana ya cara Bapak menguji diriku agar Bapak juga tahu kemampuan berfilsafatku?

Dosen:
Saya sebetulnya mempunyai banyak cara dan teori untuk mengujimu. Anda sendiri juga bisa membuat refleksi, bisa membuat makalah, bisa menguraikan atau membuat tesis, anti tesis atau sintesis.

Mahasiswa:
Apa pula itu Pak?

Dosen:
Kemarahan dan emosimu telah menutup sebagaian ilmumu. Jika engkau terus-teruskan itulah sebenar-benar musuhmu dalam belajar filsafat. Jika engkau tidak mamu mengatasi sampai kuliah ini berakhir, itu pertanda engkau gagal dalam menempuh perkuliahan. Padahal sebetul-betulnya yang terjadi adalah untuk belajar filsafat, tidak cukup hanya membaca sedikit, tidak tepat kalau hanya menginginkan petunjuk teknis, tidak cukup kalau hanya membaca referensi wajib, tidak cukup hanya berpikir parsial. Jika itu yang engkau lakukan maka itulah sebenar-benar anda akan menjadi manusia yang berbahaya dimuka bumi ini, karena anda akan menggunakan filsafat tidak tepat ruang dan waktunya. Maka mempelajari filsafat juga tidak bisa urut hirarkhis, tidak hanya membaca tetapi berfilsafatlah dengan segenap jiwa ragamu. Itulah maka sebenar-benar filsafat adalah refleksi hidupmu sendiri. Amarahmu dan kekecewaanu itu adalah catatanmu. Tetapi ketahuilah bahwa amarah dan emosi itu sebenar-benar adalah telah menghabiskan dan membakar energimu.

Mahasiswa:
Pak, untuk sementara aku akan berdiam diri, untuk memperoleh ketenangan.

Dosen:
Baik, dalam diam itu ada kebajikan. Karena diam dapat digunakan sebagai sarana untuk refleksi diri. Ketahuilah bahwa refkesi diri itu merupakan kegiatan berpikir yang paling tinggi. Demikianlah semoga kita semua dapat selalu belajar dari pengalaman. Amiiin.

Mahasiswa:
Ntar Pak jangan ditutup dulu. saya ingin tanya dengan jurur. Terus terang saya mengalami kesulitan memahami Elegi Bapak. Bahasa apa yang Bapak gunakan?

Dosen:
Baik anda mengalami kesulitan karena saya menggunakan berbagai macam bahasa dengan segala tingkatannya.

Mahasiswa:
Maksud Bapak?

Dosen:
Elegi itu tidak hanya meliputi jenis ucapan tetapi juga tindakan ucapan. Kita mengetahui ada paling sedikit empat macam jenis komunikasi: material, formal, normatif dan spiritual. Maka Elegi itu meliputi semua tingkatan jenis komunikasi tersebut.

Dalam Elegi aku juga berusaha menggunakan bahasa konstatif, maksudnya saya berusaha menggambarkan suatu kejadian atau fakta atau fenomena menggunakan gaya bahasaku sendiri. Dengan bahasa konstatif itu anda dapat melakukan verifikasi atau menilai benar salahnya pernyataan saya. Maka carilah mereka itu dalam Elegi-elegi saya. Tetapi ada juga Elegi dimana saya bebas memilih kata-kata atau bahasa saya sesuai dengan selera saya.

Dengan bahasa demikian saya tidak bermaksud agar anda membuktikan kebenarannya, tetapi semata-mata merupakan usaha saya sebagai penutur bahasa untuk memberi muatan filsafat, muatan moril atau muatan pengetahuan atau muatan pengalaman lainnya. Dengan bahasa perforatif itu saya ingin menunjukkan bahwa elegi itu memang orisinil tulisan saya.

Saya juga ingin menunjukkan kehadiran keterlibatan saya dalam elegi itu dengan demikian saya bisa lebih menghayati penulisan elegi itu. Di sinilah mungkin terjadi perbedaan taraf kelaikan yang anda harapkan dengan taraf kelaikan yang saya gunakan atau saya pilih. Jika terjadi kesenjangan ini maka saya menyadari bahwa anda akan dibuatnya “unhappy”, sedangkan saya sipembuat elegi happy-happy saja.

Tetapi dalam membuat Elegi ini saya juga tidak hanya melakukan hal-hal di atas. Dalam beberapa hal saya juga melakukan apa yang disebut sebagai tindakan lokusi, yaitu meletakkan tanggung jawab penuturan bahasa bukan pada penuturnya tetapi kepada semuanya. Artinya penuturan bahasa itu memang bersifat umum. Dengan mengambil tindakan lokusi pada suatu Elegi saya merasa mempunyai landasan untuk mengembangkan tindakan illokusi bahasa.

Tindakan illokusi bahasa adalah bahasa yang menunjukkan lawan terhadap tindakan sesuatu, dengan demikian tindakan illokusi ini akan menuntut saya sebagai si penutur bahasa untuk bersikap konsekuen juga melaksanakan penuturan saya itu. Misal keyika saya menyarankan anda untuk membaca, itu berarti saya juga seharusnya menyarankan kepada diri saya juga. Demikian juga ketika saya menyarankan anda untuk berbuat baik, bertindak konsisten, berpikir kritis, dsb.

Namun tidak hanya itu saja. Kata-kataku dalam elegi juga sebagian menunjukkan keadaan si pendengar dengan segala implikasinya. Artinya, saya menyadari bahwa kata-kata saya itu akan berpengaruh terhadap si pembaca elegi. Dalam filsafat bahasa mungkin ini yang disebut sebagai tindakan saya yang bersifat perlokusi.

Misalnya kalimat saya yang berbunyi-tidak mungkin belajar filsafat tanpa membaca-.
Ini berakibat anda sebagai mahasiswa saya yang menempuh filsafat, mau tidak mau harus membaca. Jika hal demikian dirasa berat, itulah anda dan juga saya menemukan bukti yang kesekian kalinya bahwa manusia di dunia itu bersifat kontradiktif.

Maka dapat aku katakan bahwa hidup itu adalah pilihan. Jika itu telah menjadi pilihanmu, mengapa engkau melakukan segala perbuatanmu kelihatannya kurang ikhlas. Bukannya engkau tahu bahwa ketidak ikhlasan walau sedikitpun itu tidak akan membawa manfaat baik di dunia maupun akhirat.

Maka renungkanlah. Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahan dan dosa-dosa kita. Amiin.

10 comments:

  1. Lana Sugiarti
    16709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Belajar tentang filsafat mempunyai banyak manfaat. Salah satunya yaitu mengajarkan untuk mengerti tentang diri sendiri dan dunia. Oleh karena itu dalam belajar filsafat harus dengan pikiran yang jernih, mengendalikan emosi dan berfilsafat dengan segenap jiwa dan raga. Elegi dalam filsafat akan membantu untuk memahami dan menilai segala sesuatu tidak hanya dari permukaan saja atau dari yang terlihat saja, tetapi dari jauh lebih dalam dan lebih luas.

    ReplyDelete
  2. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari kisah elegi ini saya mendapatkan pelajaran bahwa kunci penting dalam memahami elegi adalah keikhlasan dalam hati. Hal ini seperti apa yang telah Prof Marsigit sampaikan setiap waktu kuliah bahwa dalam mempelajari filsafat dalam membaca artikel-artikel dalam blog harus ikhlas dalam pikir dan ikhlas dalam hati. Dengan demikian, kita dapat memperoleh makna yang terkandung dalam artikel atau elegi tersebut seklaigus belajar bagaimana cara untuk berfilsafat.

    ReplyDelete
  3. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Setelah saya membaca elegi di atas, saya menyadari bahwa kita harus banyak membaca. Kita harus memahami bahwa kita adalah makhluk Allah yang dibatasi oleh ruang dan waktu dalam rangka meningkatkan pengetahuan kita, sehingga kita dapat memahami apa arti dari elegi. Kita juga harus bersabar dan ikhlas dalam penelitian, dalam mencapai mimpi kita. InsyaaAllah kesabaran dan keikhlasan kita dapat membawa manfaat di dunia dan akhirat. Untuk memahami apa itu elegi, untuk memahami apa itu filsafat memanglah tidak mudah. Hal tersebut karena filsafat dapat mencakup semua hal. Semua hal memiliki filsafatnya sendiri. Dan untuk mengetahui filsafat itu sendiri perlu ketangguhan, kegigihan, kesabaran, dan keikhlasan. Kita harus semangat dan ikhlas dalam mempelajari filsafat. Kita harus rajin membaca, membaca, dan membaca. Karena dengan membaca, kita akan membuka jendela dunia ini.

    ReplyDelete
  4. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D

    Untuk memahami elegi kita harus ikhlas hati dan ilkhlas pikiran. Denga eligi kita bisa membuat dunia tahu bahwa kita ada, dan dengan eligi kita bisa mencurahkan apa yang ada di dalam pikiran kita . apa yang ingin kita gambarkan kita lukiskan, elegi juga sebagai bentuk dari refleksi kita dalam menjalani setiap kehidupan yang kita jalani sekarang. Akan tetapi bahasa juga harus di pertimbangkan dalam membuta suatu eliga karena kita bukan hanya membuta eligi buat kita sendiri akan tetapi membuat orang lain bisa belajar karena yang pasti akan membaca adalah orang lain selain kita sendiri. Dengan elegi kita bisa mengintropeksi firi kita snediri, apa kekurangan kita sendiri, sehingga kita memperbaiki kedepannya.

    ReplyDelete
  5. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Elegi memahami elegi, dari pembicaraan antara dosen dan mahasiswa, dapat ditarik kesimpulan, bahwa dalam belajar filsafat itu harus bisa sabar. Harus bisa membuka hati kita untuk belajar menerima apa yang diajarkan. Untuk berfilsafat, kita tidak hanya saja membaca elegi, tapi harus bisa berfilsafat dalam kehidupan kita di sehari-hari. Dan dalam hidup itu adalah pilihan kita. Kita yang menentukan kehidupan kita. Apakah kita ikhlas atau tidak dalam menjalani semuanya, jika kita sudah ikhlas, maka apa yang diajarkan oleh seorang guru, maka kita akan bisa menerimanya.

    ReplyDelete
  6. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Dalam setiap melakukan kegiatan hendaknya didasari dengan niat. Innamaa a’malu binniyat. Artinya, sesungguhnya amal itu dengan niat. Dengan segala yang kita lakukan didasari dengan niat maka akan berujung kepada amal ma’ruf. Niat ikhlas dalam hati, pikiran dan segenap jiwa secara kaffah.

    ReplyDelete
  7. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Ikhlas hati dan ikhlas pikiran memang menjadi hal yang sangat penting dalam melakukan setiap hal termasuk dalam memahami elegi. Elegi sendiri merupakan model yang merefleksi pikiran kita, pengalaman apa saja yang sudah kita lewati dalam hidup ini dan apa yang kita pikirkan dapat kita tuangkan dalam bentuk elegi. Maka dari itu keikhlasan sangat penting dalam melakukan segala hal. Berfilsafat merupakan cara untuk mencari kebenaran, untuk memperolehnya kita perlu pemikiran yang kritis dan tidak mudah menyerah.

    ReplyDelete
  8. Syahlan romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Segala sesuatu memang butuh perjuangan begitu juga untuk memahami elegi-elegi, harus sering sering membaca agar dapat memahami elegi tersebut. Sering membacapun belum cukup, tetapi harus dengan dilandasi dengan membaca ikhlas untuk menambah ilmu pengetahuan. Semoga kita selalu diberikan semangat untuk memperluas pengetahuan ini.

    ReplyDelete
  9. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Elegi merupakan bacaan yang ditulis dengan bahasa analog. Bapak dengan keahliannya telah menulis ratusan elegi untuk dibaca mahasiswa-mahasiswanya. Elegi sangat membantu kami mahasiswa untuk belajar berfilsafat atau berpikir kritis. Dimana dengan bahasa analognya menuntut mahasiswa untuk berpikir kritis, yang mana hal tersebut merupakan aktivitas berfilasafat itu sendiri. Dalam menjalankan setiap hal kita dituntut ikhlas, termasuk dalam membaca elegi. Dengan keikhlasan maka kita akan melihat sisi positif yang kita dapatkan dari membaca elegi tersebut. Saya selalu teringat ketika akan memulai membaca dan membuat komen akan pesan bapak lakukan dengan ikhlas dan pikiran yang jernih. Memang benar bahwa supaya mudah memahami elegi kita perlu melenyapkan pikiran yang lain dan pikiran yang tenang.

    ReplyDelete
  10. Mumammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Seperti yang sudah Bapak Marsigit persyaratkan dalam membaca dan mengomentari blog ini, kami mahasiswa harus ikhlas hati dan ikhlas pikir. Ikhlas hati dibuktkan dengan memberikan komentar yang orisinal. Ikhlas pikir adalah memahami isi elegi-elegi yang ada. Memang untuk memahaminya tidaklah mudah dan benar saya sadari kesulitan untuk memahaminya karena saya kurang membaca.

    ReplyDelete