Sep 20, 2013

Elegi Memahami Elegi




Oleh Marsigit

Mahasiswa:
Aku jengkel, aku marah, aku tak peduli, aku tersinggung...

Dosen:
Sebentar apa masalahnya? Mengapa anda bersikap demikian?

Mahasiswa:
Ah Bapak tak perlu berpura-pura. Kan segala macam persoalan yang membuat Bapak sendiri.

Dosen:
Lho kenapa, emangnya apa salahnya Elegi?

Mahasiswa:
Setelah membaca Elegi dan mengikuti kuliah Bapak saya jadi pusing. Konsep pemikiranku menjadi berantakan tak karuan. Waktu saya untuk belajar filsafat itu cuma sedikit Pak. Saya mempunyai banyak tugas-tugas yang lain. Apa lah gunanya berfilsafat, sehingga berbicara ngalor ngidul yang tak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Lagi pula tidak ada sangkut pautnya dengan tugas mengajar saya. Saya perlu pemondokan, saya perlu transportasi, saya bolak balik dari kampus ke tempat asalku. Itu sudah sangat menyita waktu.

Dosen:
Lha apa usul anda?

Mahasiswa:
Berikan saja kepada saya referensi yang singkat, padat dan jelas, untuk kemudian saya bisa baca dengan singkat dan saya gunakan untuk persiapan ujian. Beres gitu aja pak.

Dosen:
Maaf, menurut pandangan saya. Ibarat perjalanan, anda sudah memasuki jalan-jalan dan gang sempit, sehingga sulit bagi dirimu untuk membalikkan kendaraanmu atau parkir atau balik arah dsb. Padahal orang belajar filsafat itu ibarat duduk di lobi, dia belum menentukan sikap jalan mana yang harus dilalui, dia hanya baru memikirkannya.

Mahasiswa:
Tetapi sebagian Elegio itu betul-betul mengganggu pikiran saya. Saya kadang-kadang tidak merasa nyaman di hati, bahkan ingin marah.

Dosen:
Kelihatannya anda cukup bernafsu dalam bersikap. Jika demikian maka pilihan hidup anda akan semakin sedikit. Bukankah banyak orang lebih suka mempunyai banyak pilihan agar hidup itu membahagiakan? Padahal dalam mempelajari filsafat, mahasiswa itu seyogyanya dalam keadaan NOL. Artinya agar mampu berpikir kritis, maka kita perlu berpikir netral, tidak prejudice atau watprasangka, tidak emosi, tidak putus asa.


Mahasiswa:
Jujur saja untuk berbicara di kelas juga aku mengalami kesulitan, karena mungkin bacaanku juga masih sedikit.

Dosen:
Kenapa engkau tidak usul atau bertanya atau memberi saran.

Mahasiswa:
Untuk itu semua juga sama saja. Saya tidak merasa pede karena mungkin saya juga kurang membaca. Atau bacaan saya belum relevan dengan pokok pembicaraan.

Dosen:
Terus apalagi yang ingin engkau sampaikan?

Mahasiswa:
Kenapa Bapak melakukan testing filsafat, sehingga terasa memberatkan mahasiswa?

Dosen:
Itu merupakan komunikasi formal. Wajib hukumnya bagi dosen untuk menguji mahasiswa.

Mahasiswa:
Kenapa ujiannya seperti itu, lain lagi minta ujiannya sesuai dengan selera saya.

Dosen:
Ujian seperti apa yang engkau inginkan?

Mahasiswa:
Aku sendiri juga bingung. Bagaimana ya cara Bapak menguji diriku agar Bapak juga tahu kemampuan berfilsafatku?

Dosen:
Saya sebetulnya mempunyai banyak cara dan teori untuk mengujimu. Anda sendiri juga bisa membuat refleksi, bisa membuat makalah, bisa menguraikan atau membuat tesis, anti tesis atau sintesis.

Mahasiswa:
Apa pula itu Pak?

Dosen:
Kemarahan dan emosimu telah menutup sebagaian ilmumu. Jika engkau terus-teruskan itulah sebenar-benar musuhmu dalam belajar filsafat. Jika engkau tidak mamu mengatasi sampai kuliah ini berakhir, itu pertanda engkau gagal dalam menempuh perkuliahan. Padahal sebetul-betulnya yang terjadi adalah untuk belajar filsafat, tidak cukup hanya membaca sedikit, tidak tepat kalau hanya menginginkan petunjuk teknis, tidak cukup kalau hanya membaca referensi wajib, tidak cukup hanya berpikir parsial. Jika itu yang engkau lakukan maka itulah sebenar-benar anda akan menjadi manusia yang berbahaya dimuka bumi ini, karena anda akan menggunakan filsafat tidak tepat ruang dan waktunya. Maka mempelajari filsafat juga tidak bisa urut hirarkhis, tidak hanya membaca tetapi berfilsafatlah dengan segenap jiwa ragamu. Itulah maka sebenar-benar filsafat adalah refleksi hidupmu sendiri. Amarahmu dan kekecewaanu itu adalah catatanmu. Tetapi ketahuilah bahwa amarah dan emosi itu sebenar-benar adalah telah menghabiskan dan membakar energimu.

Mahasiswa:
Pak, untuk sementara aku akan berdiam diri, untuk memperoleh ketenangan.

Dosen:
Baik, dalam diam itu ada kebajikan. Karena diam dapat digunakan sebagai sarana untuk refleksi diri. Ketahuilah bahwa refkesi diri itu merupakan kegiatan berpikir yang paling tinggi. Demikianlah semoga kita semua dapat selalu belajar dari pengalaman. Amiiin.

Mahasiswa:
Ntar Pak jangan ditutup dulu. saya ingin tanya dengan jurur. Terus terang saya mengalami kesulitan memahami Elegi Bapak. Bahasa apa yang Bapak gunakan?

Dosen:
Baik anda mengalami kesulitan karena saya menggunakan berbagai macam bahasa dengan segala tingkatannya.

Mahasiswa:
Maksud Bapak?

Dosen:
Elegi itu tidak hanya meliputi jenis ucapan tetapi juga tindakan ucapan. Kita mengetahui ada paling sedikit empat macam jenis komunikasi: material, formal, normatif dan spiritual. Maka Elegi itu meliputi semua tingkatan jenis komunikasi tersebut.

Dalam Elegi aku juga berusaha menggunakan bahasa konstatif, maksudnya saya berusaha menggambarkan suatu kejadian atau fakta atau fenomena menggunakan gaya bahasaku sendiri. Dengan bahasa konstatif itu anda dapat melakukan verifikasi atau menilai benar salahnya pernyataan saya. Maka carilah mereka itu dalam Elegi-elegi saya. Tetapi ada juga Elegi dimana saya bebas memilih kata-kata atau bahasa saya sesuai dengan selera saya.

Dengan bahasa demikian saya tidak bermaksud agar anda membuktikan kebenarannya, tetapi semata-mata merupakan usaha saya sebagai penutur bahasa untuk memberi muatan filsafat, muatan moril atau muatan pengetahuan atau muatan pengalaman lainnya. Dengan bahasa perforatif itu saya ingin menunjukkan bahwa elegi itu memang orisinil tulisan saya.

Saya juga ingin menunjukkan kehadiran keterlibatan saya dalam elegi itu dengan demikian saya bisa lebih menghayati penulisan elegi itu. Di sinilah mungkin terjadi perbedaan taraf kelaikan yang anda harapkan dengan taraf kelaikan yang saya gunakan atau saya pilih. Jika terjadi kesenjangan ini maka saya menyadari bahwa anda akan dibuatnya “unhappy”, sedangkan saya sipembuat elegi happy-happy saja.

Tetapi dalam membuat Elegi ini saya juga tidak hanya melakukan hal-hal di atas. Dalam beberapa hal saya juga melakukan apa yang disebut sebagai tindakan lokusi, yaitu meletakkan tanggung jawab penuturan bahasa bukan pada penuturnya tetapi kepada semuanya. Artinya penuturan bahasa itu memang bersifat umum. Dengan mengambil tindakan lokusi pada suatu Elegi saya merasa mempunyai landasan untuk mengembangkan tindakan illokusi bahasa.

Tindakan illokusi bahasa adalah bahasa yang menunjukkan lawan terhadap tindakan sesuatu, dengan demikian tindakan illokusi ini akan menuntut saya sebagai si penutur bahasa untuk bersikap konsekuen juga melaksanakan penuturan saya itu. Misal keyika saya menyarankan anda untuk membaca, itu berarti saya juga seharusnya menyarankan kepada diri saya juga. Demikian juga ketika saya menyarankan anda untuk berbuat baik, bertindak konsisten, berpikir kritis, dsb.

Namun tidak hanya itu saja. Kata-kataku dalam elegi juga sebagian menunjukkan keadaan si pendengar dengan segala implikasinya. Artinya, saya menyadari bahwa kata-kata saya itu akan berpengaruh terhadap si pembaca elegi. Dalam filsafat bahasa mungkin ini yang disebut sebagai tindakan saya yang bersifat perlokusi.

Misalnya kalimat saya yang berbunyi-tidak mungkin belajar filsafat tanpa membaca-.
Ini berakibat anda sebagai mahasiswa saya yang menempuh filsafat, mau tidak mau harus membaca. Jika hal demikian dirasa berat, itulah anda dan juga saya menemukan bukti yang kesekian kalinya bahwa manusia di dunia itu bersifat kontradiktif.

Maka dapat aku katakan bahwa hidup itu adalah pilihan. Jika itu telah menjadi pilihanmu, mengapa engkau melakukan segala perbuatanmu kelihatannya kurang ikhlas. Bukannya engkau tahu bahwa ketidak ikhlasan walau sedikitpun itu tidak akan membawa manfaat baik di dunia maupun akhirat.

Maka renungkanlah. Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahan dan dosa-dosa kita. Amiin.

55 comments:

  1. Lana Sugiarti
    16709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Belajar tentang filsafat mempunyai banyak manfaat. Salah satunya yaitu mengajarkan untuk mengerti tentang diri sendiri dan dunia. Oleh karena itu dalam belajar filsafat harus dengan pikiran yang jernih, mengendalikan emosi dan berfilsafat dengan segenap jiwa dan raga. Elegi dalam filsafat akan membantu untuk memahami dan menilai segala sesuatu tidak hanya dari permukaan saja atau dari yang terlihat saja, tetapi dari jauh lebih dalam dan lebih luas.

    ReplyDelete
  2. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari kisah elegi ini saya mendapatkan pelajaran bahwa kunci penting dalam memahami elegi adalah keikhlasan dalam hati. Hal ini seperti apa yang telah Prof Marsigit sampaikan setiap waktu kuliah bahwa dalam mempelajari filsafat dalam membaca artikel-artikel dalam blog harus ikhlas dalam pikir dan ikhlas dalam hati. Dengan demikian, kita dapat memperoleh makna yang terkandung dalam artikel atau elegi tersebut seklaigus belajar bagaimana cara untuk berfilsafat.

    ReplyDelete
  3. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Setelah saya membaca elegi di atas, saya menyadari bahwa kita harus banyak membaca. Kita harus memahami bahwa kita adalah makhluk Allah yang dibatasi oleh ruang dan waktu dalam rangka meningkatkan pengetahuan kita, sehingga kita dapat memahami apa arti dari elegi. Kita juga harus bersabar dan ikhlas dalam penelitian, dalam mencapai mimpi kita. InsyaaAllah kesabaran dan keikhlasan kita dapat membawa manfaat di dunia dan akhirat. Untuk memahami apa itu elegi, untuk memahami apa itu filsafat memanglah tidak mudah. Hal tersebut karena filsafat dapat mencakup semua hal. Semua hal memiliki filsafatnya sendiri. Dan untuk mengetahui filsafat itu sendiri perlu ketangguhan, kegigihan, kesabaran, dan keikhlasan. Kita harus semangat dan ikhlas dalam mempelajari filsafat. Kita harus rajin membaca, membaca, dan membaca. Karena dengan membaca, kita akan membuka jendela dunia ini.

    ReplyDelete
  4. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D

    Untuk memahami elegi kita harus ikhlas hati dan ilkhlas pikiran. Denga eligi kita bisa membuat dunia tahu bahwa kita ada, dan dengan eligi kita bisa mencurahkan apa yang ada di dalam pikiran kita . apa yang ingin kita gambarkan kita lukiskan, elegi juga sebagai bentuk dari refleksi kita dalam menjalani setiap kehidupan yang kita jalani sekarang. Akan tetapi bahasa juga harus di pertimbangkan dalam membuta suatu eliga karena kita bukan hanya membuta eligi buat kita sendiri akan tetapi membuat orang lain bisa belajar karena yang pasti akan membaca adalah orang lain selain kita sendiri. Dengan elegi kita bisa mengintropeksi firi kita snediri, apa kekurangan kita sendiri, sehingga kita memperbaiki kedepannya.

    ReplyDelete
  5. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Elegi memahami elegi, dari pembicaraan antara dosen dan mahasiswa, dapat ditarik kesimpulan, bahwa dalam belajar filsafat itu harus bisa sabar. Harus bisa membuka hati kita untuk belajar menerima apa yang diajarkan. Untuk berfilsafat, kita tidak hanya saja membaca elegi, tapi harus bisa berfilsafat dalam kehidupan kita di sehari-hari. Dan dalam hidup itu adalah pilihan kita. Kita yang menentukan kehidupan kita. Apakah kita ikhlas atau tidak dalam menjalani semuanya, jika kita sudah ikhlas, maka apa yang diajarkan oleh seorang guru, maka kita akan bisa menerimanya.

    ReplyDelete
  6. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Dalam setiap melakukan kegiatan hendaknya didasari dengan niat. Innamaa a’malu binniyat. Artinya, sesungguhnya amal itu dengan niat. Dengan segala yang kita lakukan didasari dengan niat maka akan berujung kepada amal ma’ruf. Niat ikhlas dalam hati, pikiran dan segenap jiwa secara kaffah.

    ReplyDelete
  7. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Ikhlas hati dan ikhlas pikiran memang menjadi hal yang sangat penting dalam melakukan setiap hal termasuk dalam memahami elegi. Elegi sendiri merupakan model yang merefleksi pikiran kita, pengalaman apa saja yang sudah kita lewati dalam hidup ini dan apa yang kita pikirkan dapat kita tuangkan dalam bentuk elegi. Maka dari itu keikhlasan sangat penting dalam melakukan segala hal. Berfilsafat merupakan cara untuk mencari kebenaran, untuk memperolehnya kita perlu pemikiran yang kritis dan tidak mudah menyerah.

    ReplyDelete
  8. Syahlan romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Segala sesuatu memang butuh perjuangan begitu juga untuk memahami elegi-elegi, harus sering sering membaca agar dapat memahami elegi tersebut. Sering membacapun belum cukup, tetapi harus dengan dilandasi dengan membaca ikhlas untuk menambah ilmu pengetahuan. Semoga kita selalu diberikan semangat untuk memperluas pengetahuan ini.

    ReplyDelete
  9. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Elegi merupakan bacaan yang ditulis dengan bahasa analog. Bapak dengan keahliannya telah menulis ratusan elegi untuk dibaca mahasiswa-mahasiswanya. Elegi sangat membantu kami mahasiswa untuk belajar berfilsafat atau berpikir kritis. Dimana dengan bahasa analognya menuntut mahasiswa untuk berpikir kritis, yang mana hal tersebut merupakan aktivitas berfilasafat itu sendiri. Dalam menjalankan setiap hal kita dituntut ikhlas, termasuk dalam membaca elegi. Dengan keikhlasan maka kita akan melihat sisi positif yang kita dapatkan dari membaca elegi tersebut. Saya selalu teringat ketika akan memulai membaca dan membuat komen akan pesan bapak lakukan dengan ikhlas dan pikiran yang jernih. Memang benar bahwa supaya mudah memahami elegi kita perlu melenyapkan pikiran yang lain dan pikiran yang tenang.

    ReplyDelete
  10. Mumammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Seperti yang sudah Bapak Marsigit persyaratkan dalam membaca dan mengomentari blog ini, kami mahasiswa harus ikhlas hati dan ikhlas pikir. Ikhlas hati dibuktkan dengan memberikan komentar yang orisinal. Ikhlas pikir adalah memahami isi elegi-elegi yang ada. Memang untuk memahaminya tidaklah mudah dan benar saya sadari kesulitan untuk memahaminya karena saya kurang membaca.

    ReplyDelete
  11. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Elegi menggapai elegi ini mengingatkan kita semua tentang arti keihlasan. Jika kita sudah meniatkan sesuatu maka haruslah dijalani dengan ikhlas agar bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Seperti halnya kita meniatkan untuk belajar filsafat, maka ikhlaskanlah hati untuk me "nol" kan pengetahuan kita agar tidak timbul salah penafsiran dan judgement. Ketidakikhlasan dalam membaca elegi ini pun pada akhirnya tidak akan memberi manfaat, malah akan membuat kebingungan-kebingungan seperti yang dikisahkan dalam elegi ini. Terimakasih Prof. sudah memberikan elegi-elegi yangs sangat menambah wawasan saya mengenai filsafat, terutama filsafat matematika.

    ReplyDelete
  12. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016
    Sebaik – baiknya energi dapat terlampiaskan ke hal yang bermanfaat. Setidaknya untuk belajar tanpa henti. Daripada energi tersebut terlampiaskan ke emosi yang negative, yang nantinya menjadi tiada terkontrol dan menimbulkan dampak yang tidak semestinya akan terjadi.

    ReplyDelete
  13. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih atas postingan elegi tersebut. Jujur sebagian dari elegi tersebut adalah yang saya rasakan. Setelah membaca elegi ini saya cukup terbuka bahwa initinya kita melakukan proses berpikir. Dari elegi ini yang bisa saya tangkap adalah tentang kejujuran dan tidak malu.
    Dalam berfikir salah satu yang penting adalah jujur. Jujur pada hati kita dan jujur pada diri kita. Karena dengan jujur kita mampu mengetahui mana yang belum kita tahu dan mana yang sudah tahu. Namun jujur saja belumlah cukup. Kita dalam menggapai ilmu sedalam-dalamnya harus punya sifat jangan malu. Jangan malu disini berarti dalam konteks kebaikan. Misal jangan malu mengakui kalau memang belum paham dan jangan malu untuk bertanya hal yang belum paham tersebut.
    Kedua hal tersebut jika bisa mengaplikasikannya dalam usaha mencari dan menggapai ilmu maka akan menghasilkan individu yang terbuka dan menjadi individu yang selalu terus dan terus maju.

    ReplyDelete
  14. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Setelah membaca elegi memahami elegi ini saya mengetahui bahwa memang untuk memahami elegi, kita harus banyak membaca. Tidak mudah memang, namun kita harus berusaha. Untuk memahami filsafat dimulai dengan membaca elegi elegi dan membaca banyak referensi. Tidak mudah memang, namun kita harus berusaha. Karena hidup adalah pilihan, jika kita mudah menyerah dan tidak memilih berusaha maka, kegagalan lah yang akan menghampiri kita. Namun, jika kita memilih untuk terus tekun, istiqomah dalam berusaha, inshaAllah kita dapat memahami yang ingin kita pahami dan mendapatkan yang terbaik yang kita harapkan.

    ReplyDelete
  15. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016

    belajar filsafat memang tidak sederhana. karena filsafat adalah akarnya ilmu pengetahuan, asal muasal dan inti dari ilmu pengetahuan. jadi benar apa yang disebutkan di atas, belajar filsafat harus layaknya kita duduk di lobi, tidak terkekang, terbuka luas, dan bebas melihat lalu lalang yang ada. tidak bisa belajar filsafat secara terkotak-kotak, sebagian saja, atau malah ringkasannya saja. dan yang paling penting, belajar filsafat harus diiringi dengan keikhlasan. karena mengingat keluasan dan kedalaman filsafat yang tak terhingga, maka keikhlasan harus selalu menyertai dalam perjalanan memeperalajarinya. agar kita mendapatkan apa yang memang seharusnya didapat, tidak hanya mendapatkan hal-hal yang sia-sia.
    alangkah lebih baiknya keikhlasan dalam belajar diteapkan pada setip kegiatan belajar apapun, tidak hanya terpaku pada filsafat saja.

    ReplyDelete
  16. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Kita dapat memahami suatu pelajaran di dalam elegi. Karena di dalam elegi berisi kata – kata yang di dalamnya terdapat makna filosofis. Kata – kata tersebut terbungkus dalam suatu dialog, puisi, syair yang mengekpresikan kegelisahan, permasalahan, pembaharuan dan perkembangan yang ada, solusi dan lain sebagainya yang bermanfaat bagi pembacanya.

    ReplyDelete
  17. Elegi yang dibuat kadang tidak dapat dipahami oleh mahasiswa. Mahasiswa harus menyadari bahwa dalam kehidupan lebih banyak hal yang tidak dipahami. Dengan adanya elegi maka mahasiswa belajar untuk membangun kesadaran untuk memahami suatu hal dengan banyak membaca elegi. Dengan demikian diharapkan siswa dapat menggunakan kemampuannya dalam memahami elegi untuk dapat memahami kehidupan.

    ReplyDelete
  18. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Setelah saya baca artikel di atas, sekarang saya tahu apa arti elegi. Saya pikir membaca elegi tidak mudah seperti membaca novel. Elegi dalam berfilsafat adalah ungkapan hati, puisi, dan banyak lagi makna yang terkandung di dalamnya. Elegi bukan hanya kata-kata tapi juga termasuk jenis pidato dan lainnya. Sebagai manusia kita pasti pernah memikirkan apa yang kita dapatkan setelah mempelajari filsafat dengan elegan, elegi yang terkadang membuat kita bingung untuk mengerti maknanya. Pada dasarnya studi filsafat adalah cerminan hidup kita sendiri. Dengan mempelajari filsafat kita bisa berpikir kritis, berfikir rasional, dll. Filsafat belajar harus dipelajari secara keseluruhan, karena kalau tidak, bisa jadi seseorang akan menggunakan filosofi yang tidak sesuai dengan ruang dan waktu dan tidak akan bermanfaat. Dari bacaan ini saya tahu bahwa puncak gunung disebut setiap kata yang berbicara dari diri kita. Dan lembah itu adalah anggota dan masyarakat dan lainnya. Tapi saya tidak mengerti artinya. Dan apa nilai ini untuk kehidupan sehari-hari. Dan yang terakhir mengatakan bahwa itu akan menangkap Filsafat. Jadi ini tentang Filsafat.

    ReplyDelete
  19. Woro Sophia Amirul Kusumawati
    14301241048
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Untuk mamhami Elegi dalam Elegi kita perlu kesadaran membaca. Keikhlasan dalam membaca juga penting, agar apa yang kita baca dapat bermakna. Memahami Elegi tidaklah mudah, sehingga kita perlu berpikir kritis untuk mengetahui dasar gunung es kemudian diperlukan kesabaran yang cukup kuat agar apa yang kita baca tidak sia-sia. Semakin banyaknya elegi yang kita pahami maka semakin mudah pula kita menahami elegi yang lain. Dan semakin mengenal pula apa itu elegi.

    ReplyDelete
  20. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya termasuk ke dalam mahasiswa yang mengikuti perkuliahan etnomatematika, tetapi bacaan dalam blog ini yang berkaitan dengan etnomatematika terkadang juga berupa elegi seperti elegi permintaan si murid cerdas, sehingga terkadang susah untuk memahaminya seperti yang dituliskan dalam tulisan elegi memahami elegi ini. Setelah membaca tulisan ini, saya menjadi mengetahui bahwa cara untuk memahami elegi adalah dengan membuat diri kita dalam keadaan nol yang berarti harus bersikap dan berpikir netral, agar setelah itu dapat menerima ilmu dengan baik melalui elegi.

    ReplyDelete
  21. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tulisan elegi memahami elegi ini seperti curahan hati mahasiswa termasuk saya yang terkadang kesulitan untuk memahami bacaan di blog ini. Akan tetapi tulisan di atas membuat saya sadar bahwa saya harus terus berusaha untuk memahami bacaan dengan cara ikhlas pikir dan ikhlas hati ketika membacanya. Selain itu juga bacaan ini dapat menjadi refleksi untuk diri saya agar tidak mudah emosi ketika mengerjakan sesuatu agar hasilnya lebih baik dan dapat dipahami manfaatnya untuk kehidupan.

    ReplyDelete
  22. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Untuk dapat memahami elegi dibutuhkan hati yang ikhlas dan banyak membaca elegi. Jika belum memiliki sifat ikhlas dan banyak memabaca maka kita perlu refleksi diri untuk dapat mengevaluasi pengalaman apa saja yang telah kita lakukan dan dapat meningkatkan kemampuan berpikir tinggi. Elegi meliputi ucapan dan tindakan dalam ucapan yang menggambarkan suatu fenomena yang disampaikan dengan bahasa penulis sehingga kita yang membacanya berasa berada dalam situasi yang dideskripsikan dalam elegi-elegi. Dengan demikian banyak-banyak membaca elegi dengan hati yang ikhlas dapat memahami makna dari elegi tersebut.

    ReplyDelete
  23. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dengan membaca elegi ini, saya mulai paham apa sebenarnya yang ada di dalam elegi dan apa yang ingin disampaiakan oleh penulis. Karena pada awalnya saya sangat sulit memahami apa yang ada di dalam elegi tersebut. Bukan hanya karena bahasa yang digunakan tidak terbiasa dengan bahasa sehari – hari yang saya digunakan, tetapi juga tokoh – tokoh yang ada, situasi yang ditimbulkan sulit untuk dibayangkan dan dipahami. Namun, dengan membca elegi ini dapat dijadikan modal untuk memahami elegi yang lain

    ReplyDelete
  24. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut saya, saya setuju dengan isi elegi di atas. Elegi di atas membantu saya untuk memahami elegi – elegi yang lain. Ketika membaca elegi harus memiliki pikiran yang kosong, sehingga dapat berpikir secara netral. Selain itu juga, setelah membaca setiap elegi akan memberikan ilmu baru, pandangan dari sudut pandang yang baru pula.

    ReplyDelete
  25. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Sebetulnya ilmu dapat disampaikan dalam bentuk apa saja. Apakah melalui cerita, melalui gambar, atau melalui pembicaraan secara langsung. Memahami elegi merupakan salah satu kesulitan saya juga. Namun, hal ini merupakan tantangan sekaligus hal yang baru bagi saya. Sehingga, saya berharap apabila saya lulus dari rintangan ini, saya mendapatkan banyak pengalaman dan kemampuan baru. Sebetulnya elegi-elegi yang bapak buat mudah dibaca, terkadang lucu, sedih, dan emosional. Membaca elegi juga harus menggunakan hati dan pikiran yang bersih. Karena tanpa disadari, menterjemahkan elegi seperti menjadi menterjemahkan diri sendiri. Sehingga membaca elegi, seperti membaca diri sendiri. Jika dihubungkan dengan perkataan bapak, “filsafat adalah dirimu sendiri”, maka elegi menjadi sangat relevan untuk menjadi sarana belajar filsafat. Terlepas dari pro dan kontra elegi, saya memilih untuk mengikuti elegi, karena saya menyadari bahwa pasti tidak mudah untuk mentransformasi ilmu menjadi sebuah elegi.

    ReplyDelete
  26. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah membaca “Elegi Memahami Elegi”, saya mendapatkan pelajaran bahwa hidup itu adalah pilihan. Setelah kita memilih untuk hidup maka kita harus dengan ikhlas melakukan hal-hal yang bermanfaat sehingga kita tidak termasuk dalam orang yang merugi di dunia maupun di akhirat. Salah satu hal bermanfaat yang dapat kita lakukan sebagai mahasiswa adalah dengan belajar dan membaca.

    ReplyDelete
  27. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Elegi memang terkadang membuat bingung ketika kita tidak bisa dengan tenang memahaminya atau membacanya dengan terburu-buru. Membaca elegi merupakan hal yang baru bagi saya. Namun hal itu menjadi salah satu cara bagi saya untuk belajar. Salah satu elegi yang berkesan adalah elegi pengakuan para matematika, pada elegi tersebut saya menemukan banyak definisi matematika menurut para ahli yang mengembangkannya.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  28. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Selama membaca elegi saya menemukan banyak hal baru. Membaca elegi tidak bisa hanya membaca tanpa makna. Sebelum membaca elegi terlebih dahulu harus menenangkan pikiran dan hati sehingga elegi dapat dipahami dengan baik dan tenang, maka tak ada salah memaknai elegi.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  29. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Belajar filsafat memiliki banyak manfaat bagi kehidupan. Salah satunya dengan belajar filsafat kita data tau posisi kita di kehidupan sehingga kita dapat menentukan tentang bagaimana kita bertindak agar tidak membuat tatanan kehidupan menjadi berubah. Untuk itu kita perlu tau dimana kita tinggal, bagaimana sistem yang berjalan disekitar kita dan apa yang bisa dan tidak bisa kita lakukan.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  30. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam elegi ini mengajarkan bahwa kita sebagai manusia harus bersabar dengan apa yang dihadapi, serta menunjukkan keikhlasan ketika melakukan sesuatu. Dengan keikhlasan tersebut,Insya Allah apa yang dilakukan akan membawa kebaikan bagi diri kita sendiri dan orang lain. Jangan pernah bosan berbuat baik dengan siapa pun.

    ReplyDelete
  31. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  32. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari membaca beberapa elegi yang lain, hal penting yang harus kita miliki sebagai modal dalam belajar memahami elegi adalah kerendahan hati, keikhlasan hati, dan tetap menjauhkan diri kita dari perilaku serta pikiran yang sombong. Tanpa itu semua, segala yang sudah kita lakukan menjadi percuma dan sia-sia.

    ReplyDelete
  33. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Apa yang diungkapkan oleh mahasiswa pada kisah elegi ini sungguh mewakili diri saya. Pada awal kuliah, Prof Marsigit menyatakan bahwa kami harus banyak membaca blog ini sebagai salah satu sumber belajar. Jujur, awalnya saya sering merasa bingung dan kesal karena tidak kunjung memahami maksud dari membaca elegi-elegi di blog ini. Namun seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai memahami manfaat membaca blog ini serta manfaat belajar filsafat. Salah satu manfaat dari belajar filsafat adalah agar kita dapat selalu belajar dari pengalaman untuk menjadikan diri kita lebih bijaksana. Berfilsafat juga akan membantu kita untuk melhat banyak hal dari banyak sudut pandang sehingga makna yang kita peroleh akan lebih luas dan dalam.

    ReplyDelete
  34. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Dalam membelajarkan filsafat, tidak lah mudah seperti apa yang dibayangkan karena dalam filsafat kita bisa jadi menemukan kawan dan bisa juga malah kita menemukan musuh dari filsafat itu sendiri. Sedangkan musuh filsafat itu sendiri adalah yang tidak ikhlas dalam hati dan pikiran dalam berfilsafat sehingga memunculkan kesombongan dalam dirinya. Perlu kita ingat bahwa dalam berfilsafat tidak ada satu orang pun yang telah lulus atau mencapai kebenaran yang sebenar-benarnya, bahkan pada dasarnya para filsuf pun tidak pernah lulus dalam berfilsafat.

    ReplyDelete
  35. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. mempelajari filsafat itu memang membutuhkan tenaga yang ekstra. Mempelajari filsafat itu harus menggunakan hati dan pikiran yang ikhlas. Pada perkuliahan Prof. Marsigit media pembelajaran yang digunakan salah satunya ialah blog yang berisi pemikiran dan elegi beliau. Perlu dipahami dan diresapi setiap kata-kata yang terdapat dalam elegi untuk dapat memahami keseluruhan elegi.

    ReplyDelete
  36. Elli susilawati
    16709251073
    Pmat D

    Yang paling sulit adalah menahan ego kita sendiri. Padahal yang paling baik dan berhasil adalah yang mampu menahan ego. Dengan ego dan kemarahan ilmu/pengetahuan akan sulit masuk ke dalam pikiran.

    ReplyDelete
  37. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam satu elegi menyimpan beribu-ribu makna. Setiap orang dapat memaknainya berbeda itu lah manusia yang hakekatnya beda. Sehingga dalam membaca elegi perlu memahami pola pikir dari sang penulis, boleh kita berpikir beda itu tidak salah, namun alangkah lebih baik kita dapat membuka berbagai sudut pandang agar kita paham pola pikir orang lain.

    ReplyDelete
  38. Sefti Lailatifah
    14301241040
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Dalam mempelajari sesuatu memanglah dibutuhkan pengorbanan, keikhlasan, dan tidak boleh berpikir sombong bahwasannya kita telah memiliki banyak kemampuan dan pengetahuan.

    ReplyDelete
  39. Sefti Lailatifah
    14301241040
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Setelah membaca postingan ini saya menyadari bahwa memang diri saya memiliki banyak kekurangan. Kemampuan saya dalam memahami suatu hal memang kurang. Karena dalam memahami elegi-elegi tersebut haruslah mempunyai kemampuan berpikir yang baik. Oleh karenanya sangat penting untuk memperbanyak membaca agar pimikiran kita terasah dengan baik.

    ReplyDelete
  40. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Memahami alegi sangat dibutuhkan hati yang ikhlas dan banyak membaca elegi agar dapat mengevaluasi pengalaman-pengalaman yang telah kita lakukan dan meningkatkan kemamapuan berfikir tinggi. Elegi merupakan bentuk refleksi kita dalam menjalani kehidupan, sehingga bisa membuat

    ReplyDelete
  41. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Terdapat banyak makna dalam elegi, setiap orang berbeda-beda dalam memaknainya maka perlu pemahaman pola pikir dari sang penulis agar dapat memahami elegi, karena elegi menggambarkan ucapan dan tindakan suatu fenomena yang disampaikan dengan bahasa penulis. Meningkatkan dimensi adalah cara agar bisa memahami pola pikir dari pembuat elegi.

    ReplyDelete
  42. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam alegi berisi kata-kata yang di dalamnya terdapat makna-makna tersembunyi dalam setiap dialog yang mengisyaratkan tentang ekspresi kehidupan yang sangt kompleks. Dari permasalahan kehidupan, maka dengan ilmu pengetahuan yang sudah dimiliki maka bisa mengambil solusi yang ada di setiap dialog tersebut.

    ReplyDelete
  43. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Mempelajari filsafat memang tidak mudah, sehingga perlu banyak membaca dan membaca untuk dapat memahami, juga dibutuhkan keikhlasan diri. Jika tidak mau membaca atau ikhlas maka tidak dapat memahami tentang filsafat dengan mudah dan itu merupakan pilihan yang akan dihadapi. Maka hidup adalah suatu pilihan.

    ReplyDelete
  44. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Memahami elegi itu membutuhkan ilmu. Meskipun memahami elegi itu tidak mudah, tapi ketika kita mencoba, kita akan sering berfilsafat dengan banyak pertanyaan karena ketidaktahuan kita. Dari situ akan muncul banyak ilmu yang dapat kalian ambil. Kita juga butuh yang namanya merefleksi diri, agar kita tahu apa yang sudah kita lakukakan dan apa yang sudah kita dapatkan. Dari tulisan ini menyadarkan kita untuk terus baca, baca, baca dan baca

    ReplyDelete
  45. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Untuk memahami apa itu elegi memang tidak mudah, namun setidaknya dengan mencoba dan membaca tulisan elegi-elegi yang lainnya akan memungkinkan kita untuk sedikit demi sedikit memahami elegi tersebut. Tak lupa juga kita perlu melakukan refleksi diri agar kita mengetahui segala yang telah dilakukan dan yang telah diperoleh.

    ReplyDelete
  46. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dosen memberikan banyak pilihan referensi artinya hal itu sebenarnya adalah sebuah kebahagiaan. Dengan dapat leluasa memilih maka dapat lebih bahagia dalam hidup daripada hanya mempunyai pilihan yang sedikit. Mahasiswa dimulai dari NOL dan secara hal tersebut akan diisi dengan banyak referensi maka mahasiswa akan bisa lebih kritis dalam berpikit jika banyak membaca.

    ReplyDelete
  47. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Dalam mempelajari elegi-elegi diperlukan hati yang Ikhlas, sehingga ilmu yang akan dipelajari dapat merasuk dalam diri dan dipahami secara mendalam. Dengan hati yang ikhlas diharapkan ilmu yang didapat bermanfaat bagi kehidupan dan berkah.

    ReplyDelete
  48. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Ilmu itu sangat luas, sehingga diperlukan rasa keingin-tahuan yang tinggi, kritis, dan banyak membaca. Tentu ambisi dan semangat mendapatkan ilmu juga diperlukan, semangat bertekad untuk selalu ingin tahu, ingin bisa, bukan karena untuk mendapatkan peringkat atau pujian. Yakin apa yang akan dipelajari bermanfaat tidak hanya bagi kita tapi juga sekeliling kita.

    ReplyDelete
  49. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Dalam elegi tersebut saya dapat mengerti apa itu elegi, yang selama ini say abaca dan yang saya berusaha pahami. Dengan memahami definisi elegi saya bisa lebih mengerti bagaimana saya harus memahami elegi. Elegi adalah sebuah tulisan yang menggambarkan pikiran penulisnya, juga elegi berusaha menyampaikan suatu pembelajaran bagi para pembaca.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  50. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Filsafat merupakan ilmu yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Elegi sebagai bagian dari filsafatpun menjadi bagian ilmu yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa kita sadari banyak elegi-elegi yang menucul dalam pikiran kita sebagai akibat pola berpikir dan keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Elegi-elegi yang muncul sebagi bentuk kontradiktif antara apa yang dipikirkan dan apa yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari, menyebabkan banyaknya kelabilan dan ketidaklogisan serta pertanyaan-pertanyaan mengenai apa yang ada dan yang mungkin ada bermunculan. Oleh karena itu lah dalam mempelajari elegi yang tanpa kita sadari muncul dalam pikiran kita, kita harus ikhlas dan menerimanya dengan lapang dada.

    ReplyDelete
  51. Muh ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Sabar merupakan kunci dari keberhasilan. Dalam menyelesaikan tugas bila dilandasi dengan kesabaran maka tidak akan mengecewakan. Kita sebagai mahasiswa tentunya tak luput dari banyak tugas yang datang. Namun sebaiknya kita jangan terlalu banyak mengeluh. Bila kita yakin dapat menyelesaikannya, maka pasti akan dapat selesai dengan cepat waktu. Percayalah bahwa tugas yang kita peroleh pasti memiliki manfaat yang besar, baik dalam akademik maupun untuk kehidupan bermasyarakat.

    ReplyDelete
  52. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Berfilsafat itu sangat penting dan tidak akan ada yang sulit selama kita mau berusaha dengan niat dan tulus hati. Dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan baru dan menambah wawasan membutuhkan proses, kita harus bisa melalui proses itu, dan ketika kita sudah melewati proses tersebut, kita akan menikmati hasil dari usaha kita. Filsafat bukan untuk dibaca saja namun untuk dipahami sebagai tuntunan dalam hidup.

    ReplyDelete
  53. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Berfilsafat adalah membaca, tiadalah filsafat tanpa membaca. Barangsiapa enggan membaca, maka janganlah belajar filsafat. Oleh karena itu, hendaklah kita membaca, namun tidak cukup hanya membaca sedikit, tidak cukup kalau hanya membaca referensi wajib dan hanya berpikir parsial. Karena jika kita hanya puas membaca sedikit maka sebenar-benar kita akan menjadi manusia yang berbahaya di muka bumi ini, sebab kita akan menggunakan filsafat tidak tepat ruang dan waktunya. Maka mempelajari filsafat juga tidak hanya membaca tetapi berfilsafatlah dengan segenap jiwa raga kita. Sesungguhnya setinggi-tinggi kegiatan berpikir manusia adalah refleksi diri. Kita belajar filsafat dengan tiada pengalaman hidup itu artinya "kosong"; sedangkan pengalaman hidup jika tidak direfleksikan (difilsafatkan) berarti "buta". Maka untuk menggapai diri dalam hidup, hendaknya kita mampu merefleksikan pengalaman hidup kita dan berusaha menjalani hidup dengan ikhlas. Karena sesungguhnya dengan keikhlasan tersebut kita dapat mengharap rakhmat-Nya dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

    ReplyDelete
  54. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    elegi memahami elegi, untuk dapat paham suatu elegi kita perlu memperbanyak perbendaharaan kosakata kita. dan untuk memperbanyak perbendaharaan kosakata kita, kita perlu banyak membaca. karena dengan membaca kita akan membuka banyak pintu ketidaktahuan menuju suatu pengetahuan yang akan berguna untuk memahami suatu elegi.

    ReplyDelete
  55. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Dalam mempelajari ilmu apapun, sebaiknya kita tidak prejudice. Seperti dalam belajar filsafat ini, pikiran kita harus netral. Agar kita dapat berfilsafat dengan segenap jiwa dan raga kita harus melakukan segala sesuatunya dengan ikhlas. Dengan ikhlas itulah kita dapat menyadari betapa banyaknya manfaat filsafat dalam kehidupan kita. Filsafat berangkat dari bertanya. Ketika pikiran kita kacau, maka pada saat itulah sebenar-benarnya kita sedang mulai berfilsafat. Namun ketika hati kita mulai kacau ketika berfilsafat, kita harus menghentikannya sejenak dan memohon perlindungan Allah. Menurut saya, elegi yang dibuat oleh Prof Marsigit memang tidak bisa hanya dibaca satu kali untuk dapat memahaminya. Saya harus membaca berkali-kali dan berpikir sedalam-dalamnya mengenai isi dari elegi. Tapi disitulah menariknya. Kita bisa menggali pikiran dan ilmu kita lebih dalam lagi. Berusaha memahami dengan berbaglain sudut pandang baru. Selain itu, bukankah kita memang harus berikhtiar untuk mendapatkan apa yang kita inginkan? Sehingga membaca elegi ini dapat kita kategorikan sebagai ikhtiar kita.

    ReplyDelete