Sep 20, 2013

Elegi Memahami Elegi




Oleh Marsigit

Mahasiswa:
Aku jengkel, aku marah, aku tak peduli, aku tersinggung...

Dosen:
Sebentar apa masalahnya? Mengapa anda bersikap demikian?

Mahasiswa:
Ah Bapak tak perlu berpura-pura. Kan segala macam persoalan yang membuat Bapak sendiri.

Dosen:
Lho kenapa, emangnya apa salahnya Elegi?

Mahasiswa:
Setelah membaca Elegi dan mengikuti kuliah Bapak saya jadi pusing. Konsep pemikiranku menjadi berantakan tak karuan. Waktu saya untuk belajar filsafat itu cuma sedikit Pak. Saya mempunyai banyak tugas-tugas yang lain. Apa lah gunanya berfilsafat, sehingga berbicara ngalor ngidul yang tak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Lagi pula tidak ada sangkut pautnya dengan tugas mengajar saya. Saya perlu pemondokan, saya perlu transportasi, saya bolak balik dari kampus ke tempat asalku. Itu sudah sangat menyita waktu.

Dosen:
Lha apa usul anda?

Mahasiswa:
Berikan saja kepada saya referensi yang singkat, padat dan jelas, untuk kemudian saya bisa baca dengan singkat dan saya gunakan untuk persiapan ujian. Beres gitu aja pak.

Dosen:
Maaf, menurut pandangan saya. Ibarat perjalanan, anda sudah memasuki jalan-jalan dan gang sempit, sehingga sulit bagi dirimu untuk membalikkan kendaraanmu atau parkir atau balik arah dsb. Padahal orang belajar filsafat itu ibarat duduk di lobi, dia belum menentukan sikap jalan mana yang harus dilalui, dia hanya baru memikirkannya.

Mahasiswa:
Tetapi sebagian Elegio itu betul-betul mengganggu pikiran saya. Saya kadang-kadang tidak merasa nyaman di hati, bahkan ingin marah.

Dosen:
Kelihatannya anda cukup bernafsu dalam bersikap. Jika demikian maka pilihan hidup anda akan semakin sedikit. Bukankah banyak orang lebih suka mempunyai banyak pilihan agar hidup itu membahagiakan? Padahal dalam mempelajari filsafat, mahasiswa itu seyogyanya dalam keadaan NOL. Artinya agar mampu berpikir kritis, maka kita perlu berpikir netral, tidak prejudice atau watprasangka, tidak emosi, tidak putus asa.


Mahasiswa:
Jujur saja untuk berbicara di kelas juga aku mengalami kesulitan, karena mungkin bacaanku juga masih sedikit.

Dosen:
Kenapa engkau tidak usul atau bertanya atau memberi saran.

Mahasiswa:
Untuk itu semua juga sama saja. Saya tidak merasa pede karena mungkin saya juga kurang membaca. Atau bacaan saya belum relevan dengan pokok pembicaraan.

Dosen:
Terus apalagi yang ingin engkau sampaikan?

Mahasiswa:
Kenapa Bapak melakukan testing filsafat, sehingga terasa memberatkan mahasiswa?

Dosen:
Itu merupakan komunikasi formal. Wajib hukumnya bagi dosen untuk menguji mahasiswa.

Mahasiswa:
Kenapa ujiannya seperti itu, lain lagi minta ujiannya sesuai dengan selera saya.

Dosen:
Ujian seperti apa yang engkau inginkan?

Mahasiswa:
Aku sendiri juga bingung. Bagaimana ya cara Bapak menguji diriku agar Bapak juga tahu kemampuan berfilsafatku?

Dosen:
Saya sebetulnya mempunyai banyak cara dan teori untuk mengujimu. Anda sendiri juga bisa membuat refleksi, bisa membuat makalah, bisa menguraikan atau membuat tesis, anti tesis atau sintesis.

Mahasiswa:
Apa pula itu Pak?

Dosen:
Kemarahan dan emosimu telah menutup sebagaian ilmumu. Jika engkau terus-teruskan itulah sebenar-benar musuhmu dalam belajar filsafat. Jika engkau tidak mamu mengatasi sampai kuliah ini berakhir, itu pertanda engkau gagal dalam menempuh perkuliahan. Padahal sebetul-betulnya yang terjadi adalah untuk belajar filsafat, tidak cukup hanya membaca sedikit, tidak tepat kalau hanya menginginkan petunjuk teknis, tidak cukup kalau hanya membaca referensi wajib, tidak cukup hanya berpikir parsial. Jika itu yang engkau lakukan maka itulah sebenar-benar anda akan menjadi manusia yang berbahaya dimuka bumi ini, karena anda akan menggunakan filsafat tidak tepat ruang dan waktunya. Maka mempelajari filsafat juga tidak bisa urut hirarkhis, tidak hanya membaca tetapi berfilsafatlah dengan segenap jiwa ragamu. Itulah maka sebenar-benar filsafat adalah refleksi hidupmu sendiri. Amarahmu dan kekecewaanu itu adalah catatanmu. Tetapi ketahuilah bahwa amarah dan emosi itu sebenar-benar adalah telah menghabiskan dan membakar energimu.

Mahasiswa:
Pak, untuk sementara aku akan berdiam diri, untuk memperoleh ketenangan.

Dosen:
Baik, dalam diam itu ada kebajikan. Karena diam dapat digunakan sebagai sarana untuk refleksi diri. Ketahuilah bahwa refkesi diri itu merupakan kegiatan berpikir yang paling tinggi. Demikianlah semoga kita semua dapat selalu belajar dari pengalaman. Amiiin.

Mahasiswa:
Ntar Pak jangan ditutup dulu. saya ingin tanya dengan jurur. Terus terang saya mengalami kesulitan memahami Elegi Bapak. Bahasa apa yang Bapak gunakan?

Dosen:
Baik anda mengalami kesulitan karena saya menggunakan berbagai macam bahasa dengan segala tingkatannya.

Mahasiswa:
Maksud Bapak?

Dosen:
Elegi itu tidak hanya meliputi jenis ucapan tetapi juga tindakan ucapan. Kita mengetahui ada paling sedikit empat macam jenis komunikasi: material, formal, normatif dan spiritual. Maka Elegi itu meliputi semua tingkatan jenis komunikasi tersebut.

Dalam Elegi aku juga berusaha menggunakan bahasa konstatif, maksudnya saya berusaha menggambarkan suatu kejadian atau fakta atau fenomena menggunakan gaya bahasaku sendiri. Dengan bahasa konstatif itu anda dapat melakukan verifikasi atau menilai benar salahnya pernyataan saya. Maka carilah mereka itu dalam Elegi-elegi saya. Tetapi ada juga Elegi dimana saya bebas memilih kata-kata atau bahasa saya sesuai dengan selera saya.

Dengan bahasa demikian saya tidak bermaksud agar anda membuktikan kebenarannya, tetapi semata-mata merupakan usaha saya sebagai penutur bahasa untuk memberi muatan filsafat, muatan moril atau muatan pengetahuan atau muatan pengalaman lainnya. Dengan bahasa perforatif itu saya ingin menunjukkan bahwa elegi itu memang orisinil tulisan saya.

Saya juga ingin menunjukkan kehadiran keterlibatan saya dalam elegi itu dengan demikian saya bisa lebih menghayati penulisan elegi itu. Di sinilah mungkin terjadi perbedaan taraf kelaikan yang anda harapkan dengan taraf kelaikan yang saya gunakan atau saya pilih. Jika terjadi kesenjangan ini maka saya menyadari bahwa anda akan dibuatnya “unhappy”, sedangkan saya sipembuat elegi happy-happy saja.

Tetapi dalam membuat Elegi ini saya juga tidak hanya melakukan hal-hal di atas. Dalam beberapa hal saya juga melakukan apa yang disebut sebagai tindakan lokusi, yaitu meletakkan tanggung jawab penuturan bahasa bukan pada penuturnya tetapi kepada semuanya. Artinya penuturan bahasa itu memang bersifat umum. Dengan mengambil tindakan lokusi pada suatu Elegi saya merasa mempunyai landasan untuk mengembangkan tindakan illokusi bahasa.

Tindakan illokusi bahasa adalah bahasa yang menunjukkan lawan terhadap tindakan sesuatu, dengan demikian tindakan illokusi ini akan menuntut saya sebagai si penutur bahasa untuk bersikap konsekuen juga melaksanakan penuturan saya itu. Misal keyika saya menyarankan anda untuk membaca, itu berarti saya juga seharusnya menyarankan kepada diri saya juga. Demikian juga ketika saya menyarankan anda untuk berbuat baik, bertindak konsisten, berpikir kritis, dsb.

Namun tidak hanya itu saja. Kata-kataku dalam elegi juga sebagian menunjukkan keadaan si pendengar dengan segala implikasinya. Artinya, saya menyadari bahwa kata-kata saya itu akan berpengaruh terhadap si pembaca elegi. Dalam filsafat bahasa mungkin ini yang disebut sebagai tindakan saya yang bersifat perlokusi.

Misalnya kalimat saya yang berbunyi-tidak mungkin belajar filsafat tanpa membaca-.
Ini berakibat anda sebagai mahasiswa saya yang menempuh filsafat, mau tidak mau harus membaca. Jika hal demikian dirasa berat, itulah anda dan juga saya menemukan bukti yang kesekian kalinya bahwa manusia di dunia itu bersifat kontradiktif.

Maka dapat aku katakan bahwa hidup itu adalah pilihan. Jika itu telah menjadi pilihanmu, mengapa engkau melakukan segala perbuatanmu kelihatannya kurang ikhlas. Bukannya engkau tahu bahwa ketidak ikhlasan walau sedikitpun itu tidak akan membawa manfaat baik di dunia maupun akhirat.

Maka renungkanlah. Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahan dan dosa-dosa kita. Amiin.

27 comments:

  1. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Menurut saya, memahami elegi filsafat Prof. Marsigit dalam blog ini sedikit berbeda dengan memahami bacaan pada umumnya. Pasalnya dalam elegi ini digunakan banyak ragam bahasa, mulai dari formal, spiritual, hingga bahasa analogi. Penggunaan bahasa yang beragam ini sebenarnya menarik karena membuat pembaca harus lebih kritis dan meningkatkan level kemampuan, namun disisi lain juga sering membingungkan. Oleh sebab itu, dalam memahami elegi ini dibutuhkan kesiapan lahir batin oleh pembaca. Pikiran harus berada pada level netral, sehingga mampu berpikir kritis. Hati harus ikhlas, sehingga apa yang dibaca dapat diresapi. Selain itu, pembaca juga harus mampu mengendalikan emosi dan menjauhkan diri dari kesombongan, misalnya kesombongan dengan menganggap apa yang terkandung dalam elegi ini tidak akan berguna atau tidak dibutuhkan. Segala sesuatu yang dilakukan dengan emosi dan tanpa keikhlasan hati dan pikiran hanya akan merugikan diri.

    ReplyDelete
  2. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Dalam menuntut ilmu, ilmu apapun itu diperlukan keikhlasan dan kesungguhan. Tidak hanya dalam belajar filsafat, dalam belajar ilmu-ilmu lain pun jika hati dan pikiran dipenuhi kemarahan dan rasa malas maka tidak akan ada ilmu yang diperoleh. Karena itulah penting untuk memiliki motivasi dalam diri untuk belajar dan mengembangkan diri.
    Terkait elegi-elegi yang ada pada blog ini, jika dibaca sekali dan secara parsial memang akan terasa sulit. Tetapi setelah membaca beberapa elegi yang saling terkait, ditambah dengan penjelasan Prof. Marsigit yang diberikan di kelas membuat elegi-elegi yang saya baca lebih terasa mudah meskipun saya belum dapat memahami semua elegi secara mendalam. Semoga saya dan para pembaca dapat diberi keikhlasan dan kemudahan dalam membaca, memahami, dan mengambil manfaat elegi-elegi ini. Amin.

    ReplyDelete
  3. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Di awal perkuliahan filsafat memang agak kesulitan untuk memahami elegi-elegi yang ada di blog ini. Saya rasa hal ini terjadi karena belum adanya pembiasaan. Namun ketika dibaca pelan-pelan dan berulang, sedikit demi sedikit kami dapat memahaminya, meskipun mungkin terkadang masih terjadi salah tafsir. Bukankah itu proses belajar? Saya rasa point utamanya adalah bagaimana usaha kita untuk tetap mau belajar dan tidak putus asa. Belajar merupakan proses pendewasaan. Dan untuk mendapatkan ilmu yang lebih butuh proses, tidak didapat dengan instan. Maka menurut saya yang kita butuhkan adalah keikhlasan. Semoga kita membaca elegi dan memberikan komentar pada setiap elegi bukan hanya berorientasi pada nilai semata, namun juga mengharap untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang nantinya akan membawa kita pada keberkahan.

    ReplyDelete
  4. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Filsafat adalah terkait olah pikir. Maka membaca elegi-elegi dalam filsafat tidak semata untuk menggugurkan tanggung jawab dalam perkuliahan. Namun sadar atau tidak sadar dengan membaca elegi ini pemikiran kita terus berkembang. Awal mengenal elegi kita mungkin bak anak-anak yang belajar matematika. Hanya dapat memahami sesuatu yang mudah dan konkrit. Namun seiring berjalannya waktu dengan terus membaca elegi, sesuatu yang mungkin ada dalam pemikiran semakin berkembang menjadi ada karena pemikiran kita semakin luas. Meskipun tingkat keleluasannya mungkin masih sangat minim. Namun seyogyanya sesuatu yang dijalankan dengan ikhlas hati dan ikhlas pikir akan membawa kita pada pemahaman yang lebih baik.

    ReplyDelete
  5. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Dalam berfikir salah satu yang penting adalah jujur. Seperti jujur pada hati kita dan jujur pada diri kita. Karena dengan jujur kita mampu mengetahui mana yang belum kita tahu dan mana yang sudah tahu, dalam menggapai ilmu sedalam-dalamnya kita harus punya sifat jangan malu. Yang dimakasud dengan jangan malu pada konteks ini adalah dalam hal kebaikan. Sebagai contoh jangan malu mengakui kalau memang belum paham dan jangan malu untuk bertanya hal yang belum paham tersebut. Kedua hal tersebut jika bisa mengaplikasikannya dalam usaha mencari dan menggapai ilmu maka akan menghasilkan individu yang terbuka dan menjadi individu yang selalu terus dan terus maju.

    ReplyDelete
  6. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Segala sesuatu memang butuh perjuangan begitu juga untuk memahami elegi-elegi, harus sering sering membaca agar dapat memahami elegi tersebut. Sering membacapun belum cukup, tetapi harus dengan dilandasi dengan membaca ikhlas untuk menambah ilmu pengetahuan. Sebelum membaca elegi-elegi dari blog pro Marsigit hendaklah kita menjernihkan pikiran dan hati kita. Seperti yang dikatakan petugas dari SPBU “dimulai dari Nol ya” agar kita lebih dapat memahami elegi seutuhnya tanpa mencari pembanding dari ilmu yang lain. Semoga kita selalu diberikan semangat untuk memperluas pengetahuan ini.

    ReplyDelete
  7. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Kesan seseorang terhadap sesuatu tentu dipengaruhi oleh perspektif yang tengah dianutnya. Ada positif-negatif, pro-kontra, afirmatif-negatif, dan sebagainya. Adapun sudut pandang mahasiswa mengenai elegi-elegi yang ada di blog ini bergantung dari minat, motivasi, serta kesan terhadap filsafat itu sendiri.

    ReplyDelete
  8. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    "Ushinii nafsii wa iyyakum", kabanyakan para muballigh menggunakan kata-kata itu di akhir ceram,ahnya yang intinya ialah bahwa apa yang disampaikan tak lain ialah untuk menasehati dan mengingatkan diri sendiri, adapun untuk nasehat bagi orang lain ialah tujuan yang kedua.Sama seperti yang diutarakan oleh Prof. Marsigit mengenai tindakan ilokusi, hal ini jika dibawa ke ranah spiritual tak ubahnya seperti yang sering diucapkan oleh muballigh, terima kasihatas ilmunya, Prof. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  9. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Membaca elegi-elegi dalam blog milik Prof. ini merupakan salah satu bentuk penyaluran olah pikir yang kami lakukan. Untuk memahaminya memang membutuhkan waktu dan pembiasaan. Dengan bahasa yang memiliki makna-makna tersirat dan tersurat serta bahasannya yang perlu untuk benar-benar dipahami. Satu hal lagi yang sangat penting dalam memahami elegi adalah ikhlas. Ikhlas dalam hati dan pikiran, ikhlas dalam membaca dan terus membaca elegi-elegi yang ada di blog ini.

    ReplyDelete
  10. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Aktivitas berfilsafat, berfikir memang aktivitas yang berat, membuat pusing, dan menguras emosi serta hati. Hal ini terjadi jika tidak disertai keikhlasan hati, ikhlas piker. Filsafat bukan berarti menjadikan seseorang ateis karena mencari jalan kebenaran dengan berfikir. Elegi ini memberi gambaran bagaimana kita berfilsafat, memahami elegi sama saja kita sedang berfilsafat, melakukan aktivitas berfikir

    ReplyDelete
  11. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Saya sebagai mahasiswa , manusia biasa tentu mempunyai kecenderungan sendiri sebelum mempelajari hal baru. Membuka pikiran dan tidak negative tendensius adalah jalan dalam memperoleh ilmu. Dengan banyak membaca, bertanya, menyampaikan, berkomunikasi, itu artinya kita sudah melakukan aktivitas mencari ilmu. Sifat diri kita yang sudah prejudge akan membatasi diri kita, tidak bergerak kemana-mana. Maka untuk membuat banyak pilihan hidup kita jangan prejudge terlebih dahulu. Tentu enak memiliki banyak pilihan

    ReplyDelete
  12. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Menurut saya, elegi itu ibarat perkataan orangtua zaman dulu. Intinya berupa nasehat kehidupan, tetapi disampaikan dengancerita atau dengan perumpamaan. Tujuannya agar apabila ada nasiat yang beresiko menyakiti perasaan orang lain maa tida terlalu frontal alias tersampaikan secara tersirat. Memahami elegi sama seperti memahami nasehat, kita perlu kepekaan dan berpikir jernih untuk mengetahui makna dibalik cerita atau kaimatnya. Selain itu juga perlu ikhlas dalam hati dan pikir agar kita mampu mencerna elegi serta menarik hikmah di dalamnya.

    ReplyDelete
  13. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Membutuhkan waktu untuk merenungkan makna setiap katamu. Memerlukan kesabaran, kejernihan pikiran, kebeningan hati dan keikhlasan dalam menangkap inti sari pesan yang kau sampaikan hingga tumbuhlah kemampuan untuk merefleksikan hidup. Dalam elegi ada tindakan lokusi yaitu meletakkan tanggung jawab penuturan bahasa bukan pada penuturanya tetapi kepada semuanya. Dalam elegi ada tindakan ilokusi bahasa yaitu bahasa yang menunjukkan lawan terhadap tindakan sesuatu.
    Maka dari itu belajar membutuhkan ketekunan, keberanian dan keikhlasan. Sama halnya dengan belajar filsafat yang butuh ketekunan mempelajarai pemikiran-pemikiran para filsuf. Keberanian dalam berpikir secara luas yaitu intensif dan ekstensif serta keikhlasan mengikuti dan memahami.

    ReplyDelete
  14. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam elegi ini diceritakan bahwa ego mampu membunuh ilmu secara perlahan maupun secara cepat. Dengan ego yaitu kemarahan dan emosi akan menutui sebagain ilmu. Ilmu jika dicari menggunakan ego akan tertutup sebagian. Karena kemarahan dan emosi tersebuh hanya akan membung buang energy, energy yang bisa digunaka unutk belajar jadi terbuang sia sia tak berguna.

    ReplyDelete
  15. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Mengutip perkataan dosen bahwa ketika kita belajar filsafat kita diibaratkan sedang duduk di lobi dan belum menentukan pilihan. Dari kalimat ini saya maknai bahwa ketika kita bertemu dengan sesuatu yang baru maka hendaklah jangan dulu melakukan penilaian karena suatu yang baru itu ibarat kan ruang lobi yang luas. Tidak cukup kita menilai nya hanya dalam satu pandangan saja. Ketika kita telah memberikan suatu penilaian terhadap suatu yang baru maka kemungkinan besar kita telah diselimuti dengan stigma-stigma. Hal ini seperti belajar filsafat, suatu yang baru bagi saya. Pada awalnya, saya memiliki penilaian tertentu, namun karena keadaan maka saya harus melawan keadaan itu dan harus terus belajar, membaca, dan membaca agar penilaian ku selanjutnya lebih baik.

    ReplyDelete
  16. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Filsafat adalah olah pikir dan berate untuk mempelajarinya adalah melalui olah pikir itu sendiri. Elegi-elegi yang ada di blog ini menjadi sarana bagi kita untuk berpikir, merefleksikan bagaimana diri kita, menyadari apa yang sudah dan bekum diketahui. Setelah membaca elegi-elegi ini saya menjadi menyadari bagaimana/hanya sebatas apa pengetahuan saya, sudah sesuai konteksnya apa belum pengetahuan saya itu. Sekian dan Terima Kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  17. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PMA

    Berfilsafat sejatinya merupakan kegiatan olah fikir. Berpikir dapat berlangsung apabila ada masukan atau informasi yang diproses. Membaca adalah salah satu sarana mendapatkan suatu informasi, kalau dalam filsafat membaca merupakan proses mengadakan yang mungkin ada. Dalam pembelajaran filsafat ilmu ini, kami difasilitasi berbagai tulisan-tulisan Prof Marsigit yang disediakan dalam blog untuk dibaca dan direfleksikan, salah satunya elegi. Dalam beberapa kesempatan Prof menyampaikan cara memahami elegi adalah dengan cara ikhlas hati dan ikhlas pikir. Tiadalah kita dapat berpikir dengan jernih apabila ada paksaan atau ganjalan dalam hati. Hal inu lah yang mungkin menghambat aktivitas olah pikir sehingga kita merasa bahwa filsafat itu sulit dipahami.

    ReplyDelete
  18. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Sebagai mahasiswa yang belajar filsafat ilmu dengan Prof Marsigit saya memahami membaca elegi-elegi yang ada di blog ini merupakan sebuah kebutuhan. Memang tidak mudah untuk memahami isi elegi dalam blog ini. oleh karena itu diperlukan keikhlasan, yaitu ikhlas pikir dan ikhlas hati. Semakin banyak yang dibaca tentunya akan semakin banyak hal yang tidak dipahami. Karena banyak yang tidak paham maka akan muncul pertanyaan dan di situlah awal mulanya ilmu. Untuk menunjukkan bahwa saya ada (mebaca elegi) adalah dengan adanya komentar.

    ReplyDelete
  19. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Dalam mempelajari sesuatu itu harus ikhlas, jujur dan penuh dengan ketekunan. Kejujuran dalam mempelajari sesuatu dapat menjadikan kita mampu berpikir secara mendalam dan seluas-luasnya. Sehingga menjadi sosok yang jujur. Dalam mempelajari sesuatu hal kita tidak akan pernah merasa malu bertanya tentang sesuatu yang belum kita ketahui. Maka sejatinya belajar adalah agar kita tidak menjadi orang yang mengada-ngada dan tersesat. Ada pepatah yang mengatakan malu bertanya sesat di jalan. Inilah nasehat yang tepat menggambarkan mengenai jujur dan tak pernah malu.

    ReplyDelete
  20. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Nasihat Sang Dosen dalam elegi tersebut sungguh bermakna dalam. Ketidakikhlasan tidak membawa manfaat di dunia maupun di akhirat. Di dunia, ketika mengerjakan sesuatu dengan perasaan tidak ikhlas dan terpaksa maka hasilnya akan tidak maksimal. Selain itu rasa tidak ikhlas dan terpaksa membuat hati tidak bahagia. Sedangkan di akhirat, ketidakikhlasan dalam perbuatan tidak akan memperoleh pahala. Maka sungguh merugi orang yang menuntut ilmu dengan rasa tidak ikhlas.

    ReplyDelete
  21. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Berdasarkan elegi ini saya dapat mengambil pelajaran bahwa keikhlasan ketika akan menuntut ilmu sangat penting. Ikhlas pikiran, dan ikhlas hati. Sebagaimana kita harus menerima pengetahuan baru, berpikir kritis, dan terus berkembang. Ikhlas tanpa prasangka-prasangka pada orang atau ilmu yang bersangkutan dengan ilmu pengetahuan yang sedang kita pelajari.

    ReplyDelete
  22. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Elegi ini memperjelas kembali apa yang disebut elegi. Selama ini yang saya pahami hanyalah ucapan, tetapi juga tindakan ucapan. Bahkan bisa pula dikatakan bahwa elegi ini merupakan segala yang ada dan yang mungkin ada. Elegi juga memiliki ruang dan waktunya sendiri. Setiap orang memiliki elegi yang berbeda-beda. Elegi mereka sesuai dengan uang dan waktu mereka sehingga elegi orang yang satu belum tentu cocok untuk elegi orang yang lainnya.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  23. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Saat memahami elegi kita akan sering berfilsafat dengan banyak pertanyaan karena ketidaktahuan kita. Memahami elegi itu membutuhkan ilmu dengan usaha sendiri. Setelah mendapat ilmu dilanjutkan dengan merefleksi diri untuk mengetahui apa yang sudah kita lakukakan dan apa yang sudah didapatkan.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  24. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Keikhlasan dalam membaca elegi memang sangat diperlukan. Namun pada dasarnya keihlasan ini bukan keikhlasan dalam mulut saja melainkan juga keihlasan dalam hati. Karena keihklasan dalam membaca elegi ini akan memberikan dampak pada pengetahuan yang kita peroleh itu akan lebih maksimal dibandingkan dengan membaca elegi tanpa didasari ikhlas. Cara kita menggapai elegi yang maksimal disini berbeda-beda antar satu dengan yang lainnya. Oleh karenanya tidak akan mungkin antar satu dengan yang lainnya memiliki kemampuan pemahaman yang sama dalam memahami berbagai macam elegi yang diberikan. Oleh karenanya, diperlukan banyak sekali ilmu agar pemahaman dari apa yang ditulis selaras dengan apa yang kita pahami ketika membaca.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  25. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb. elegi memahami elegi mengajarkan kita bahwa elegi tidak hanya meliputi ucapan tapi juga perbuatan. elegi mengajarkan kita untuk menggambarkan sesuatu menggunakan bahasa kita sendiri. Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  26. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Untuk memahami setiap elegi yang bapak posting memang tidak mudah. banyak istilah-istilah baru yang muncul sehingga memunculkan keingintahuan yang tinggi untuk mengetahuinya. memahami elegi ini akan menjadi sis-sia manakala kita tidak melaksanakannya dengan ikhlas untuk menuntut ilmu dan belajar untuk selalu menjadi baik

    ReplyDelete
  27. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Setiap upaya untuk memahami dan mempelajari seseatu memang tidak selalu mudah. Itulah tantangannya. Namun apabila kita memiliki pikiran yang positif, dengan adanya kesulitan dalam belajar, maka kita akan mampu memaknai setiap proses yang dilalui dengan baik dan mengambil setiap hikmah dari setiap kesulitan tersebut.

    ReplyDelete