Sep 20, 2013

Elegi Memahami Elegi




Oleh Marsigit

Mahasiswa:
Aku jengkel, aku marah, aku tak peduli, aku tersinggung...

Dosen:
Sebentar apa masalahnya? Mengapa anda bersikap demikian?

Mahasiswa:
Ah Bapak tak perlu berpura-pura. Kan segala macam persoalan yang membuat Bapak sendiri.

Dosen:
Lho kenapa, emangnya apa salahnya Elegi?

Mahasiswa:
Setelah membaca Elegi dan mengikuti kuliah Bapak saya jadi pusing. Konsep pemikiranku menjadi berantakan tak karuan. Waktu saya untuk belajar filsafat itu cuma sedikit Pak. Saya mempunyai banyak tugas-tugas yang lain. Apa lah gunanya berfilsafat, sehingga berbicara ngalor ngidul yang tak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Lagi pula tidak ada sangkut pautnya dengan tugas mengajar saya. Saya perlu pemondokan, saya perlu transportasi, saya bolak balik dari kampus ke tempat asalku. Itu sudah sangat menyita waktu.

Dosen:
Lha apa usul anda?

Mahasiswa:
Berikan saja kepada saya referensi yang singkat, padat dan jelas, untuk kemudian saya bisa baca dengan singkat dan saya gunakan untuk persiapan ujian. Beres gitu aja pak.

Dosen:
Maaf, menurut pandangan saya. Ibarat perjalanan, anda sudah memasuki jalan-jalan dan gang sempit, sehingga sulit bagi dirimu untuk membalikkan kendaraanmu atau parkir atau balik arah dsb. Padahal orang belajar filsafat itu ibarat duduk di lobi, dia belum menentukan sikap jalan mana yang harus dilalui, dia hanya baru memikirkannya.

Mahasiswa:
Tetapi sebagian Elegio itu betul-betul mengganggu pikiran saya. Saya kadang-kadang tidak merasa nyaman di hati, bahkan ingin marah.

Dosen:
Kelihatannya anda cukup bernafsu dalam bersikap. Jika demikian maka pilihan hidup anda akan semakin sedikit. Bukankah banyak orang lebih suka mempunyai banyak pilihan agar hidup itu membahagiakan? Padahal dalam mempelajari filsafat, mahasiswa itu seyogyanya dalam keadaan NOL. Artinya agar mampu berpikir kritis, maka kita perlu berpikir netral, tidak prejudice atau watprasangka, tidak emosi, tidak putus asa.


Mahasiswa:
Jujur saja untuk berbicara di kelas juga aku mengalami kesulitan, karena mungkin bacaanku juga masih sedikit.

Dosen:
Kenapa engkau tidak usul atau bertanya atau memberi saran.

Mahasiswa:
Untuk itu semua juga sama saja. Saya tidak merasa pede karena mungkin saya juga kurang membaca. Atau bacaan saya belum relevan dengan pokok pembicaraan.

Dosen:
Terus apalagi yang ingin engkau sampaikan?

Mahasiswa:
Kenapa Bapak melakukan testing filsafat, sehingga terasa memberatkan mahasiswa?

Dosen:
Itu merupakan komunikasi formal. Wajib hukumnya bagi dosen untuk menguji mahasiswa.

Mahasiswa:
Kenapa ujiannya seperti itu, lain lagi minta ujiannya sesuai dengan selera saya.

Dosen:
Ujian seperti apa yang engkau inginkan?

Mahasiswa:
Aku sendiri juga bingung. Bagaimana ya cara Bapak menguji diriku agar Bapak juga tahu kemampuan berfilsafatku?

Dosen:
Saya sebetulnya mempunyai banyak cara dan teori untuk mengujimu. Anda sendiri juga bisa membuat refleksi, bisa membuat makalah, bisa menguraikan atau membuat tesis, anti tesis atau sintesis.

Mahasiswa:
Apa pula itu Pak?

Dosen:
Kemarahan dan emosimu telah menutup sebagaian ilmumu. Jika engkau terus-teruskan itulah sebenar-benar musuhmu dalam belajar filsafat. Jika engkau tidak mamu mengatasi sampai kuliah ini berakhir, itu pertanda engkau gagal dalam menempuh perkuliahan. Padahal sebetul-betulnya yang terjadi adalah untuk belajar filsafat, tidak cukup hanya membaca sedikit, tidak tepat kalau hanya menginginkan petunjuk teknis, tidak cukup kalau hanya membaca referensi wajib, tidak cukup hanya berpikir parsial. Jika itu yang engkau lakukan maka itulah sebenar-benar anda akan menjadi manusia yang berbahaya dimuka bumi ini, karena anda akan menggunakan filsafat tidak tepat ruang dan waktunya. Maka mempelajari filsafat juga tidak bisa urut hirarkhis, tidak hanya membaca tetapi berfilsafatlah dengan segenap jiwa ragamu. Itulah maka sebenar-benar filsafat adalah refleksi hidupmu sendiri. Amarahmu dan kekecewaanu itu adalah catatanmu. Tetapi ketahuilah bahwa amarah dan emosi itu sebenar-benar adalah telah menghabiskan dan membakar energimu.

Mahasiswa:
Pak, untuk sementara aku akan berdiam diri, untuk memperoleh ketenangan.

Dosen:
Baik, dalam diam itu ada kebajikan. Karena diam dapat digunakan sebagai sarana untuk refleksi diri. Ketahuilah bahwa refkesi diri itu merupakan kegiatan berpikir yang paling tinggi. Demikianlah semoga kita semua dapat selalu belajar dari pengalaman. Amiiin.

Mahasiswa:
Ntar Pak jangan ditutup dulu. saya ingin tanya dengan jurur. Terus terang saya mengalami kesulitan memahami Elegi Bapak. Bahasa apa yang Bapak gunakan?

Dosen:
Baik anda mengalami kesulitan karena saya menggunakan berbagai macam bahasa dengan segala tingkatannya.

Mahasiswa:
Maksud Bapak?

Dosen:
Elegi itu tidak hanya meliputi jenis ucapan tetapi juga tindakan ucapan. Kita mengetahui ada paling sedikit empat macam jenis komunikasi: material, formal, normatif dan spiritual. Maka Elegi itu meliputi semua tingkatan jenis komunikasi tersebut.

Dalam Elegi aku juga berusaha menggunakan bahasa konstatif, maksudnya saya berusaha menggambarkan suatu kejadian atau fakta atau fenomena menggunakan gaya bahasaku sendiri. Dengan bahasa konstatif itu anda dapat melakukan verifikasi atau menilai benar salahnya pernyataan saya. Maka carilah mereka itu dalam Elegi-elegi saya. Tetapi ada juga Elegi dimana saya bebas memilih kata-kata atau bahasa saya sesuai dengan selera saya.

Dengan bahasa demikian saya tidak bermaksud agar anda membuktikan kebenarannya, tetapi semata-mata merupakan usaha saya sebagai penutur bahasa untuk memberi muatan filsafat, muatan moril atau muatan pengetahuan atau muatan pengalaman lainnya. Dengan bahasa perforatif itu saya ingin menunjukkan bahwa elegi itu memang orisinil tulisan saya.

Saya juga ingin menunjukkan kehadiran keterlibatan saya dalam elegi itu dengan demikian saya bisa lebih menghayati penulisan elegi itu. Di sinilah mungkin terjadi perbedaan taraf kelaikan yang anda harapkan dengan taraf kelaikan yang saya gunakan atau saya pilih. Jika terjadi kesenjangan ini maka saya menyadari bahwa anda akan dibuatnya “unhappy”, sedangkan saya sipembuat elegi happy-happy saja.

Tetapi dalam membuat Elegi ini saya juga tidak hanya melakukan hal-hal di atas. Dalam beberapa hal saya juga melakukan apa yang disebut sebagai tindakan lokusi, yaitu meletakkan tanggung jawab penuturan bahasa bukan pada penuturnya tetapi kepada semuanya. Artinya penuturan bahasa itu memang bersifat umum. Dengan mengambil tindakan lokusi pada suatu Elegi saya merasa mempunyai landasan untuk mengembangkan tindakan illokusi bahasa.

Tindakan illokusi bahasa adalah bahasa yang menunjukkan lawan terhadap tindakan sesuatu, dengan demikian tindakan illokusi ini akan menuntut saya sebagai si penutur bahasa untuk bersikap konsekuen juga melaksanakan penuturan saya itu. Misal keyika saya menyarankan anda untuk membaca, itu berarti saya juga seharusnya menyarankan kepada diri saya juga. Demikian juga ketika saya menyarankan anda untuk berbuat baik, bertindak konsisten, berpikir kritis, dsb.

Namun tidak hanya itu saja. Kata-kataku dalam elegi juga sebagian menunjukkan keadaan si pendengar dengan segala implikasinya. Artinya, saya menyadari bahwa kata-kata saya itu akan berpengaruh terhadap si pembaca elegi. Dalam filsafat bahasa mungkin ini yang disebut sebagai tindakan saya yang bersifat perlokusi.

Misalnya kalimat saya yang berbunyi-tidak mungkin belajar filsafat tanpa membaca-.
Ini berakibat anda sebagai mahasiswa saya yang menempuh filsafat, mau tidak mau harus membaca. Jika hal demikian dirasa berat, itulah anda dan juga saya menemukan bukti yang kesekian kalinya bahwa manusia di dunia itu bersifat kontradiktif.

Maka dapat aku katakan bahwa hidup itu adalah pilihan. Jika itu telah menjadi pilihanmu, mengapa engkau melakukan segala perbuatanmu kelihatannya kurang ikhlas. Bukannya engkau tahu bahwa ketidak ikhlasan walau sedikitpun itu tidak akan membawa manfaat baik di dunia maupun akhirat.

Maka renungkanlah. Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahan dan dosa-dosa kita. Amiin.

42 comments:

  1. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dosen memberikan banyak pilihan referensi artinya hal itu sebenarnya adalah sebuah kebahagiaan. Dengan dapat leluasa memilih maka dapat lebih bahagia dalam hidup daripada hanya mempunyai pilihan yang sedikit. Mahasiswa dimulai dari NOL dan secara hal tersebut akan diisi dengan banyak referensi maka mahasiswa akan bisa lebih kritis dalam berpikit jika banyak membaca.

    ReplyDelete
  2. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Dalam mempelajari elegi-elegi diperlukan hati yang Ikhlas, sehingga ilmu yang akan dipelajari dapat merasuk dalam diri dan dipahami secara mendalam. Dengan hati yang ikhlas diharapkan ilmu yang didapat bermanfaat bagi kehidupan dan berkah.

    ReplyDelete
  3. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Ilmu itu sangat luas, sehingga diperlukan rasa keingin-tahuan yang tinggi, kritis, dan banyak membaca. Tentu ambisi dan semangat mendapatkan ilmu juga diperlukan, semangat bertekad untuk selalu ingin tahu, ingin bisa, bukan karena untuk mendapatkan peringkat atau pujian. Yakin apa yang akan dipelajari bermanfaat tidak hanya bagi kita tapi juga sekeliling kita.

    ReplyDelete
  4. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Dalam elegi tersebut saya dapat mengerti apa itu elegi, yang selama ini say abaca dan yang saya berusaha pahami. Dengan memahami definisi elegi saya bisa lebih mengerti bagaimana saya harus memahami elegi. Elegi adalah sebuah tulisan yang menggambarkan pikiran penulisnya, juga elegi berusaha menyampaikan suatu pembelajaran bagi para pembaca.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  5. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Filsafat merupakan ilmu yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Elegi sebagai bagian dari filsafatpun menjadi bagian ilmu yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa kita sadari banyak elegi-elegi yang menucul dalam pikiran kita sebagai akibat pola berpikir dan keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Elegi-elegi yang muncul sebagi bentuk kontradiktif antara apa yang dipikirkan dan apa yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari, menyebabkan banyaknya kelabilan dan ketidaklogisan serta pertanyaan-pertanyaan mengenai apa yang ada dan yang mungkin ada bermunculan. Oleh karena itu lah dalam mempelajari elegi yang tanpa kita sadari muncul dalam pikiran kita, kita harus ikhlas dan menerimanya dengan lapang dada.

    ReplyDelete
  6. Muh ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Sabar merupakan kunci dari keberhasilan. Dalam menyelesaikan tugas bila dilandasi dengan kesabaran maka tidak akan mengecewakan. Kita sebagai mahasiswa tentunya tak luput dari banyak tugas yang datang. Namun sebaiknya kita jangan terlalu banyak mengeluh. Bila kita yakin dapat menyelesaikannya, maka pasti akan dapat selesai dengan cepat waktu. Percayalah bahwa tugas yang kita peroleh pasti memiliki manfaat yang besar, baik dalam akademik maupun untuk kehidupan bermasyarakat.

    ReplyDelete
  7. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Berfilsafat itu sangat penting dan tidak akan ada yang sulit selama kita mau berusaha dengan niat dan tulus hati. Dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan baru dan menambah wawasan membutuhkan proses, kita harus bisa melalui proses itu, dan ketika kita sudah melewati proses tersebut, kita akan menikmati hasil dari usaha kita. Filsafat bukan untuk dibaca saja namun untuk dipahami sebagai tuntunan dalam hidup.

    ReplyDelete
  8. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Berfilsafat adalah membaca, tiadalah filsafat tanpa membaca. Barangsiapa enggan membaca, maka janganlah belajar filsafat. Oleh karena itu, hendaklah kita membaca, namun tidak cukup hanya membaca sedikit, tidak cukup kalau hanya membaca referensi wajib dan hanya berpikir parsial. Karena jika kita hanya puas membaca sedikit maka sebenar-benar kita akan menjadi manusia yang berbahaya di muka bumi ini, sebab kita akan menggunakan filsafat tidak tepat ruang dan waktunya. Maka mempelajari filsafat juga tidak hanya membaca tetapi berfilsafatlah dengan segenap jiwa raga kita. Sesungguhnya setinggi-tinggi kegiatan berpikir manusia adalah refleksi diri. Kita belajar filsafat dengan tiada pengalaman hidup itu artinya "kosong"; sedangkan pengalaman hidup jika tidak direfleksikan (difilsafatkan) berarti "buta". Maka untuk menggapai diri dalam hidup, hendaknya kita mampu merefleksikan pengalaman hidup kita dan berusaha menjalani hidup dengan ikhlas. Karena sesungguhnya dengan keikhlasan tersebut kita dapat mengharap rakhmat-Nya dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

    ReplyDelete
  9. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    elegi memahami elegi, untuk dapat paham suatu elegi kita perlu memperbanyak perbendaharaan kosakata kita. dan untuk memperbanyak perbendaharaan kosakata kita, kita perlu banyak membaca. karena dengan membaca kita akan membuka banyak pintu ketidaktahuan menuju suatu pengetahuan yang akan berguna untuk memahami suatu elegi.

    ReplyDelete
  10. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Dalam mempelajari ilmu apapun, sebaiknya kita tidak prejudice. Seperti dalam belajar filsafat ini, pikiran kita harus netral. Agar kita dapat berfilsafat dengan segenap jiwa dan raga kita harus melakukan segala sesuatunya dengan ikhlas. Dengan ikhlas itulah kita dapat menyadari betapa banyaknya manfaat filsafat dalam kehidupan kita. Filsafat berangkat dari bertanya. Ketika pikiran kita kacau, maka pada saat itulah sebenar-benarnya kita sedang mulai berfilsafat. Namun ketika hati kita mulai kacau ketika berfilsafat, kita harus menghentikannya sejenak dan memohon perlindungan Allah. Menurut saya, elegi yang dibuat oleh Prof Marsigit memang tidak bisa hanya dibaca satu kali untuk dapat memahaminya. Saya harus membaca berkali-kali dan berpikir sedalam-dalamnya mengenai isi dari elegi. Tapi disitulah menariknya. Kita bisa menggali pikiran dan ilmu kita lebih dalam lagi. Berusaha memahami dengan berbaglain sudut pandang baru. Selain itu, bukankah kita memang harus berikhtiar untuk mendapatkan apa yang kita inginkan? Sehingga membaca elegi ini dapat kita kategorikan sebagai ikhtiar kita.

    ReplyDelete
  11. Nama: Tri Wulaningru
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B 2017

    Sesungguhnnya saya pernah mengomentari postingan bapak dengan judul ini. Saya hanya ingin menambahkan pendapat saya kala itu. Saya membaca pada postingan sebelumnya, bahwa elegi muncul karena kebutuhan. Lantas kenapa kemarin saya pernah jengkel dengan sesuatu yang muncul karena saya butuhkan?

    ReplyDelete
  12. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Saya sedikit tercolek dengan elegi ini, karena saya juga merasa ingin memahami elegi dari elegi itu sendiri. Saya sudah membaca kurang lebih 10 elegi dan jujur saya sering dibikin pusing, namun Alhamdulillah belum sampai marah dan meradang seperti mahasiswa pada elegi di atas. Jawaban sang Dosen dalam elegi ini, bahwa memahami filsafat tidak bisa hanya dengan membaca, melainkan dengan sepenuh jiwa, saya mulai memahami mengapa saya masih bingung, mungkin karena saya memandang filsafat sebagai suatu 'mata kuliah' saja, bukan sebagai refleksi hidup sendiri.

    ReplyDelete
  13. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak atas penjelasan tentang pentingnya belajar filsafat.
    Sebenarnya saya juga merasa sulit belajar filsafat. Saya menyadari bahwa rasa sulit itu muncul karena saya kurang belajar, kurang membaca, dan belum bisa berpikir luas.

    ReplyDelete
  14. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini saya dapat mengambil pelajaran, khlaslah ketika akan menuntut ilmu. Ikhlas pikiran, dan ikhlas hati. Sebagaimana kita harus menerima pengetahuan baru, berpikir kritis, dan terus berkembang. Ikhlas tanpa prasangka-prasangka pada orang atau ilmu yang bersangkutan dengan ilmu pengetahuan yang sedang kita pelajari.

    ReplyDelete
  15. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Setiap kali membaca elegi yang terjadi pada diri saya adalah melihat diri saya sendiri. Setiap elegi yang Bapak berikan, selalu ada pesan/peringatan/saran yang bisa saya tangkap dan merupakan bahan bacaan reflektif yang cukup efektif bagi saya. Yang masih menjadi pertanyaan bagi saya adalah kenapa judulnya adalah “Elegi”?, karena pemahaman saya “elegi” adalah “istilah umum dalam kesusastraan yang merujuk kepada syair atau nyanyian yang mengandung ratapan dan ungkapan dukacita, khususnya pada peristiwa kehilangan atau bahkan kematian”. Jawaban yang coba saya bangun saat ini adalah kami/saya merasa ada sesuatu/aspek yang hilang dalam berpikir, elegi yang disampaikan dimaksudkan untuk mengungkapkan kesedihan atas hilangnya aspek itu, dan tanggung jawab kami (saya) untuk menemukan dan mengembalikan aspek yang hilang tersebut.

    ReplyDelete
  16. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Elegi di atas menjelaskan dengan detail mengapa kita harus belajar filsafat. Ya, pada awalnya saya juga merasa kebingungan dengan bahasa yang digunakan dalam elegi yang bapak sampaikan. Namu, lambat laun dengan pelan-pelan ternyata elegi ini menggambarkan persis seperti kehidupan kita sehari-hari, nasehatnya pun erat kaitannya dengan kehidupan kita. Maka benar kiranya jika untuk belajar filsafat haruslah menggunakan pikiran dan hati yang ikhlas. Tips selanjutnya untuk belajar filsafat yaitu dengan membaca, merefleksikan, dan harapannya membaca dan merefleksikan ini tidak hanya mandek pada perkuliaahan tapi dalam kehidupan juga. Semoga ilmu yang bapak sampaikan membawa keberkahan dan kebermanfaatan untuk kita semua, terima kasih banyak kepada Bapak Prof.

    ReplyDelete
  17. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya prof. Jujur elegi ini jadi semacam cermin bagi saya, seakan mahasiswa di atas mewakili saya dan mungkin beberapa teman yang terbilang baru dalam berfilsafat. Seperti yang pernah Bapak katakan bahwa 'bingung' adalah tanda adanya usaha dan proses belajar untuk memahami sesuatu, sehingga merasa bingung pada saat belajar filsafat adalah sangat wajar. Di sinilah di uji keikhlasan dan determinasi kita dalam menuntut ilmu.

    ReplyDelete
  18. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Saya menjadi lebih tahu apa itu makna dari elegi. Saya sangat setuju dengan pendapat yang Bapak kemukakan terkait hidup adalah pilihan. Setiap orang berhak untuk menentukan pilihannya masing-masing. Setelah dipilih maka sebaiknya bertanggungjawab atas pilihan tersebut. Untuk melaksanakannya juga disertai dengan sikap yang ikhlas. Ketika individu tersebut telah memilih dengan sendirinya maka cenderung mudah untuk melakukan dan menjalani setiap fase yang menyertainya.

    ReplyDelete
  19. Junianto
    PM C
    17709251065

    Dalam menuntut ilmu tentu harus didasari dengan niat tulus dan penuh kesadaran. Jika menuntut ilmu dengan didasari rasa marah penuh ambisi maka bukan ilmu yang di dapat tetapi hanyalah kekesalan dan ketidakmanfaatan. Maka dari itu, selalu belaja dan ikhlas adalah kunci menggapai ilmu. Dengan hal tersebut, kita pun bisa bisa memperoleh ilmu dengan manfaat dan keberkahan.

    ReplyDelete
  20. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Terimakasih pak, memang benar seperti apa yang bapak katakan, bahwa kata-kata yang bapak tuangkan kedalam elegi ini memberikan pengaruh terhadap pembaca. Awalnya, saya juga mengalami kesulitan memahami satu bacaan hingga saya membaca berulang-ulang untuk memahami dan memaknai pesan dan maksud yang tersirat dari setiap elegi, bahkan masih saya alami sampai saat ini. Filsafat merupakan hal baru bagi saya, namun kembali lagi saya setuju dengan pernyataan bapak bahwa “ tidak mungkin belajar filsafat tanpa membaca” ini menjadi pelajaran bagi saya bahwa saya harus lebih banyak lagi membaca dan mencari tau.

    ReplyDelete
  21. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof
    Mengenai elegi yang bersifat perlokusi, saya sendiri juga merasakan bahwa elegi-elegi yang saya baca dari blog ini telah memberikan pengaruh pada saya. Meskipun seringkali saya mengalami kesulitan dan membutuhkan waktu yang lama dalam memahami maksud dari elegi yang saya baca, saya merasakan banyak sekali manfaat yang bisa saya ambil. Misalnya elegi mengingatkan saya untuk terus menerus belajar, mengembangkan pengetahuan, lebih sensitif terhadap ruang dan waktu, melihat dari berbagai sudut pandang, tidak berperilaku sombong, bersabar, dan yang paling penting adalah untuk senantiasa berusaha ikhlas dan selalu menjadikan agama sebagai pegangan dalam mengembarakan pikiran.

    ReplyDelete
  22. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Saya sangat bersyukur karena diberikan ksemapan untuk belajar filsafat .Dulu ketikasaya menduduki bangku kuliah waktu S1 saya mendapatkan sedikit pelajaran dari kakak senior lewat kajian dan sebagainya.Memang ada sedikit kebingungan dalam berpikir dan itu terjadi pada diri saya.Apalagi dengan penggunaan kata yang konstatif.Tapi justru disitulah saya banyak belajar, bagaimana caranya mngasah pikiran sehingga dapat berpikir yang mandiri dan kritis.Dan perkataan bapak yang masih terlukis dalam hati saya, tak mengapa pikirannya bingung yang penting hati kita teduh ,tenang dalam belajar filsafat.Dan Untuk membuka ruang untuk menerima segala sesuatu dibutuhkan rasa keikhlasan.Sehingga yang yang dijalani akan terasa adem tanpa beban.Jika dihadapkan pada amarah dan emosi,maka banyak-banyak berzikir dan berdoa mengingat Tuhan.Semoga Allah SWT selalu menuntun kita.Aminn.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  23. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Terima kasih Pak Prof. atas tulisan elegi memahami elegi ini. Dari tulisan Bapak di atas, saya memahami betapa pentingnya untuk mempelajari dan memahami filsafat. Pada awalnya memang saya kesulitan dalam memahami tulisan Bapak dalam elegi-elegi ini, karena bahasa yang dipakai bukanlah bahasa yang digunakan sehari-hari. Namun semakin ke sini, saya mulai menyadari bahwa elegi yang Bapak tulis menggambarkan kehidupan manusia. Terkadang bahkan saya sendiri merasa seperti mendapat cambukan setelah membaca elegi-elegi yang Bapak tulis.
    Melalui elegi ini, saya memahami bahwa dalam memahami elegi hendaklah dengan ikhlas, baik itu ikhlas hati maupun ikhlas pikiran. Sehingga kita dapat memetik hikmah dan pelajaran dari elegi tersebut.

    ReplyDelete
  24. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Bagi saya godaan untuk berfilsafat di era yang bapak sering sebut sebagai Power Now ini sungguh banyak. Manusia saat ini cenderung pragmatis dalam segala hal. Saya menyadari bahwa pertanyaan mahasiswa pada elegi ini pernah merasuk ke pikiran saya. Hanya saja saya merefleksikan kembali, bahwa berfilsafat tetaplah penting untuk dapat mencari hakikat. Saya tidak bisa bayangkan apa yang terjadi jika semua manusia terperangkap ke dalam ilusi Kalpitalis, Pragmatis dan Hedonis, pasti peradaban akan jauh dari hakikat-hakikat itu sendiri.

    ReplyDelete
  25. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Memahami Elegi. Setelah membaca elegi ini saya dapat belajar bahwa a) Kita hidup dihadapkan dengan banyak pilihan; b) Kita harus bertanggungjawab dengan pilihan yang telah kita ambil; c) Kita harus ikhlas dalam mengadapi konsekuensi dari pilahan yang kita ambil, agar mendapatkan manfaat dunia dan akhirat; d) Kita tidak boleh mudah menyerah, karena ketika kita menyerah hanya penyesalan yang kita dapat. Semua hikmah tersebut dapat kita terapkan saat kita mencari ilmu. Dalam mencari ilmu tentunya akan banyak rintangan yang menghadang, kuncinya untuk menghadapi rintangan tersebut adalah tanggungjawab, ikhlas dan jangan menyerah. Dengan begitu kita akan mendapkan hasil yang sesuai dengan apa yang kita inginkan. Terimakasih.

    ReplyDelete
  26. Bulan nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Elegi antara mahasiswa dan dosen itu, merupakan cerminan jelas yang dirasakan mahasiswa saat ini, memang masih sangat sulit untuk memahami berbagai macam bacaan yang ada dalam elgi. Namun disitulah letak ilmunya, bahwa untuk mempermudah membaca elegi-elegi yang ada dibutuhkan keteram[pilan serta keikhlasan dalam membaca. Karena semakin banyaknya kita membaca semakin mudah dan mampu kita memahami elegi dan tulisan-tulisan filsafat yang lainnya, karena hal itu bukan menjadi wacana asing lagi, tetapi wacana yang sejalur.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  27. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    sejujurnya saya sendiri mempunyai pertanyaan yang sama dengan mahasiswa tersebut pak. namun saya terlalu takut untuk bertanya di kelas, karna saya sadar saya belum terlalu banyak membaca. dengan membaca elegi dalam elegi ini saya jadi sadar. mempelajari filsafat juga sangat penting bagi kehidupan manusia, mahasiswa terutama saya. setidak-tidaknya dengan mempelajari filsafat dengan membaca postingan bapak elegi-elegi yang sudah bapak dituliskan saya tau kemana harus mencari jati diri, dan sepenuhnya saya sadar memanglah manusia itu sendiri tergerak sesuai ruang dan waktu. semakin ia banyak belajar membaca maka pandangan dia terhadap satu hal yang sama pun bakal berubah.
    sekali lagi saya ucapkan terimakasih pak ilmunya.

    ReplyDelete
  28. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Jujur saja, saya pun masih mengalami kesulitan dan kebingungan dalam memperlajari filsafat. Tapi, insya Allah saya tidak akan berputus ada dan terus belajar. Terima kasih Prof.

    ReplyDelete
  29. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  30. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Membaca elegi ini membuat saya merasa sedikit tersindir karena ada beberapa fakta yang memang hampir seluruh mahasiswa alami. Kata-kata yang di dalam elegi ini memang pada dasarnya dibuat untuk membuat mahasiswa memahami beberapa makna dalam filsafat. Filsafat memang merupakan salah satu ilmu yang bisa dikatakan banyak orang menghindarinya karena merasakan kesulitan dalam mempelajarinya. Belajar filsafat pada saat S2 ini memberikan arti yang penting bahwa kita belajar tidak hanya menggunakan buku-buku formal yang tercetak dan tersusun di perpustakaan, namun juga bisa menggunakan teknologi yang memang pada saat ini sudah sangat menyebar luas. Ini adalah kuliah filsafat pertama saya yang membuat banyak sekali pengetahuan yang belum saya fahami. Ini merupakan cara yang memang akan sedikit saya contoh pada pembelajaran saya kelak. Dengan ini kami dituntut untuk komen tidak sekedar komen namun sesuai dengan apa yang ditulis. Sehingga jika tidak membaca secara keseluruhna, ada beberaoa hal yang akan tertinggal sehingga terkadang komentarnya tidak terlalu sinkron dengan apa yang ditulis. Namun, saya mengucapkan terimakasih banyak untuk inspirasi metode pembelajaran yang sepeerti ini. Selain ini tuntutan, namun juga melatih kita untuk gemar membaca. Semoga Alloh meridhoi apa yang Prof. Berikan kepada kita sehingga akan bermanfaat bagi kita kelas.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  31. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Semua yang tertuang pada elegi tersebut merupakan suatu hal yang benar adanya yang dirasakan oleh mahasiswa. Tetapi pada kesimpulan dari elegi ini menjadikan kita sadar. Tentu bayangan kesombongan akan ilmu yang sudah dimiliki itu ada. Padahal belum tentu ilmu itu sudah cukup sesuai kebutuhan kita. Tetapi dengan terus membaca dan menurunkan ego serta ikhlas menjalani, pastilah manfaat yang besar itu datang kepada kita. Dalam menuntut ilmu itu perlu usaha dan kerja keras. Lewat jalan pintas berarti memotong sumber ilmu. Sehingga pangkal dari ilmu itu sendiri menjadi hilang makna.

    ReplyDelete
  32. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Sekali lagi elegi yang Prof Marsigit bagaikan menjadi oase atau jawaban atas beberapa hal yang kami (atau mungkin saya rasakan). Dari elegi ini saya memahami bahwa saya telah terjebak pada jalan-jalan atau gang-gang sempit, yang membuat saya tidak bisa berbalik arah. Padahal yang disampaikan dosen dalam elegi tersebut adalah bahwa orang yang belajar filsafat ibarat sedang duduk di lobi sambil memikirkan jalan mana yang akan ia lewati. Maka sebagaimana yang dilakukan oleh mahasiswa, kita perlu diam sejenak untuk merenung, menata hati dan merefleksi agar mendapatkan ketenangan.

    ReplyDelete
  33. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Belajar dapat dimana saja, dengan siapa saja, dan dengan media apa saja. Semakin berkembangnya zaman semakin beragam pula media pembelajaran yang aja. Untuk dapat memahami suatu ilmu diperlukan waktu dan usaha yang sungguh-sungguh. Selain itu dalam memahami elegi ini juga diperlukan keikhlasan. Keikhlas disini berarti melakukannya secara jujur tanpa ada manipulasi dan mau memikirkan dan memahami pokok persoalannya.

    ReplyDelete
  34. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr.Wb

    Elegi yang bapak sampaikan selau dekat dengan kehidupan sehari-sehari termasuk Elegi Memahmi Elegi ini dan lagi-lagi elegi yang disampaikan selau ada pesan yang tersampaikan. saya dapat mengambil pesan dari apa yang ada pada Elegi ini yaitu mengenai pilihan dan keikhlasan. Ketika kita sudah memilih suatu pilihan maka kerjakan lah pilihan itu dengan sungguh-sunguh dan didasari oleh keihlasan. Jika kita sudah ikhlas melakukan suatu pilihan maka apa yang kita lakukan akan sangat bermanfaat untuk kehidupan kita baik di dunia maupun dikahirat kelak, seblaiknya jika tidak ikhlas terhadap apa yang kita pilih maka pilihan tersebut sangat tidak lah bermanfaat karena semuanya akan berakhir sia-sia.

    ReplyDelete
  35. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Elegi diatas menggambarkan perasaan sebagian besar mahasiswa yang menempuh kuliah Bp. Kesulitan dalam memahami yang digunakan dalam elegi-elegi menurut saya adalah suatu kewajaran, karena tingkat pemahaman kita masih lemah, hal ini sesuai dengan jumlah bacaan kita yang masih sangat kurang untuk bisa memahami elegi-elegi dalam blog ini, oleh karena itu yang harus kita lakukan adalah terus berusaha (baca dan terus membaca) dan berdoa agar dapat memahami elegi-elegi yang kita baca. Terkait Kejengkelan, kemarahan dan keberatan untuk membaca elegi-elegi adalah tanda belum hadir keikhlasan dalam diri untuk belajar. Oleh karena itu mari kita tingkatkan keikhlasan kita dalam menuntut ilmu.

    ReplyDelete
  36. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Pada elegi diatas ada beberapa pesan moral. Dalam menuntut ilmu, kita harus sabar akan ketidakpahama kita juga harus sabar kepada guru. Sebagai guru pun besok kita juga harus sabar terhadap kesabaran maupun ketidaksabaran murid. Sebagai guru kita juga harus berbahasa ilokusi, artinya apa yang kita ucapkan pada orang lain, maka kita juga harus melakukan hal itu.

    ReplyDelete
  37. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Belajar adalah suatu tindakan untuk memperoleh ilmu. Belajar bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun. Kita harus selalu mempunyai inisiatif sendiri untuk mendapatkan ilmu. Belajar bertujuan menembus ruang dan waktu. Belajar juga merupakan pilihan, pilihan untuk berada dalam ruang gelap atau menembus ruang. Kita harus bisa mempertanggungjawab pilihan kita dengan cari ikhlas menjalaninya. Jadi ketika belajar, kita harus ikhlas hati dan ikhlas pikir. Terimakasih Bapak Marsigit atas ilmunya.n

    ReplyDelete
  38. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Menarik sekali bacaan di atas, mahasiswa merasa seperti itu karena pada dasarnya karena kesulitan untuk berfilsafat. Dengan terus belajar dan banyak membaca maka akan semakin mudah memahami filsafat. Ilmu filsafat diajarkan di perkuliahan bukan karena tidak ada tujuannya. Melainkan ada tujuannya agar mahasiswa mengasah kemampuan berpikirnya. Dengan berpikir maka kita ada. Insya Allah setiap ilmu kebaikan yang kita pelajari memiliki manfaat.

    ReplyDelete
  39. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Mempelajari suatu ilmu akan lebih mudah apabila disertai dengan keikhlasan dan pemikiran yang terbuka. Pemikiran untuk selalu optimis bahwa dia akan bisa. Jika selalu berpikir tidak bisa maka akan selalu tidak bisa. Memang filsafat ini cakupannya sangat luas sekali dan bahasanya menggunakan bahasa yang sangat beragam tergantung dari apa yang menjadi konteksnya.

    ReplyDelete
  40. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Memahami merupakan salah satu cara untuk mengenal sesuatu. Memahami memiliki tingkatan lebih tinggi dari mengetahui, berarti saat kita ingin memahami sesuatu kita harus memiliki keinginan untuk mengetahuinya terlebih dahulu. Sama halnya dalam memahami elegi, untuk memahami elegi harus memiliki keinginanan untuk mengetahui isi elegi tersebut karena mungkin saja dalam memahaminya membutuhkan ilmu dengan usaha sendiri, selanjutnya merefleksi diri untuk mengetahui apa yang sudah kita lakukakan dan apa yang sudah didapatkan. Semakin mendapatkan dan memahami ilmu akan semakin sadar banyak hal yang masih belum diketahui.

    ReplyDelete

  41. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Mencintai proses menuju kebijaksanaan adalah manifesatasi dalam mencintai ilmu pengetahuan. Mencapai kebijaksanaan tentunya harus dibarengi dengan kesabaran, keikhlasan, dan ketekunan dalam belajar. Percakapan di atas menunjukkan seorang mahasiswa yang kurang sabar dalam menerima cara berfikir dosen yang mengajarnya. Ada protes atas kerumitan-kerumitan yang ia dapatkan. Ada ego yang bersarang di kepalanya yang mencoba menghancurkan relasi intelektual antara dirinya dengan dosennya. Meskipun mengeluh adalah manusiawi, namun berontak dari keluhan memiliki derajat yang lebih tinggi dari hanya sekedar mengeluh.

    ReplyDelete
  42. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    jujur saja membaca tulisan ini membuat saya sebagai mahasiswa merasa agak tersindir. awalnya saya tidak mengerti dengan metode pembelajaran yang bapak gunakan, harus mengoment blog, mengkuti tes mingguan yang selalu dapat nol kemudian membuat review. namun lambat laun saya menyadari bahwa inilah caranya belajar filsafat dengan bapak. di dalam blog ini terdapat banyak ilmu yang bisa saya pelajari, dari pemikiran dan pengelaman bapak. ini metode pembelajaran yang unik mneurut saya tapi melatih saya untuk giat berusaha dan banyak membaca. memang yang namanya belajar itu butuh keikhlasan, dengan ikhlas segalanya menjadi lebih mudah dan berkah.

    ReplyDelete