Sep 20, 2013

Elegi Memahami Elegi




Oleh Marsigit

Mahasiswa:
Aku jengkel, aku marah, aku tak peduli, aku tersinggung...

Dosen:
Sebentar apa masalahnya? Mengapa anda bersikap demikian?

Mahasiswa:
Ah Bapak tak perlu berpura-pura. Kan segala macam persoalan yang membuat Bapak sendiri.

Dosen:
Lho kenapa, emangnya apa salahnya Elegi?

Mahasiswa:
Setelah membaca Elegi dan mengikuti kuliah Bapak saya jadi pusing. Konsep pemikiranku menjadi berantakan tak karuan. Waktu saya untuk belajar filsafat itu cuma sedikit Pak. Saya mempunyai banyak tugas-tugas yang lain. Apa lah gunanya berfilsafat, sehingga berbicara ngalor ngidul yang tak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Lagi pula tidak ada sangkut pautnya dengan tugas mengajar saya. Saya perlu pemondokan, saya perlu transportasi, saya bolak balik dari kampus ke tempat asalku. Itu sudah sangat menyita waktu.

Dosen:
Lha apa usul anda?

Mahasiswa:
Berikan saja kepada saya referensi yang singkat, padat dan jelas, untuk kemudian saya bisa baca dengan singkat dan saya gunakan untuk persiapan ujian. Beres gitu aja pak.

Dosen:
Maaf, menurut pandangan saya. Ibarat perjalanan, anda sudah memasuki jalan-jalan dan gang sempit, sehingga sulit bagi dirimu untuk membalikkan kendaraanmu atau parkir atau balik arah dsb. Padahal orang belajar filsafat itu ibarat duduk di lobi, dia belum menentukan sikap jalan mana yang harus dilalui, dia hanya baru memikirkannya.

Mahasiswa:
Tetapi sebagian Elegio itu betul-betul mengganggu pikiran saya. Saya kadang-kadang tidak merasa nyaman di hati, bahkan ingin marah.

Dosen:
Kelihatannya anda cukup bernafsu dalam bersikap. Jika demikian maka pilihan hidup anda akan semakin sedikit. Bukankah banyak orang lebih suka mempunyai banyak pilihan agar hidup itu membahagiakan? Padahal dalam mempelajari filsafat, mahasiswa itu seyogyanya dalam keadaan NOL. Artinya agar mampu berpikir kritis, maka kita perlu berpikir netral, tidak prejudice atau watprasangka, tidak emosi, tidak putus asa.


Mahasiswa:
Jujur saja untuk berbicara di kelas juga aku mengalami kesulitan, karena mungkin bacaanku juga masih sedikit.

Dosen:
Kenapa engkau tidak usul atau bertanya atau memberi saran.

Mahasiswa:
Untuk itu semua juga sama saja. Saya tidak merasa pede karena mungkin saya juga kurang membaca. Atau bacaan saya belum relevan dengan pokok pembicaraan.

Dosen:
Terus apalagi yang ingin engkau sampaikan?

Mahasiswa:
Kenapa Bapak melakukan testing filsafat, sehingga terasa memberatkan mahasiswa?

Dosen:
Itu merupakan komunikasi formal. Wajib hukumnya bagi dosen untuk menguji mahasiswa.

Mahasiswa:
Kenapa ujiannya seperti itu, lain lagi minta ujiannya sesuai dengan selera saya.

Dosen:
Ujian seperti apa yang engkau inginkan?

Mahasiswa:
Aku sendiri juga bingung. Bagaimana ya cara Bapak menguji diriku agar Bapak juga tahu kemampuan berfilsafatku?

Dosen:
Saya sebetulnya mempunyai banyak cara dan teori untuk mengujimu. Anda sendiri juga bisa membuat refleksi, bisa membuat makalah, bisa menguraikan atau membuat tesis, anti tesis atau sintesis.

Mahasiswa:
Apa pula itu Pak?

Dosen:
Kemarahan dan emosimu telah menutup sebagaian ilmumu. Jika engkau terus-teruskan itulah sebenar-benar musuhmu dalam belajar filsafat. Jika engkau tidak mamu mengatasi sampai kuliah ini berakhir, itu pertanda engkau gagal dalam menempuh perkuliahan. Padahal sebetul-betulnya yang terjadi adalah untuk belajar filsafat, tidak cukup hanya membaca sedikit, tidak tepat kalau hanya menginginkan petunjuk teknis, tidak cukup kalau hanya membaca referensi wajib, tidak cukup hanya berpikir parsial. Jika itu yang engkau lakukan maka itulah sebenar-benar anda akan menjadi manusia yang berbahaya dimuka bumi ini, karena anda akan menggunakan filsafat tidak tepat ruang dan waktunya. Maka mempelajari filsafat juga tidak bisa urut hirarkhis, tidak hanya membaca tetapi berfilsafatlah dengan segenap jiwa ragamu. Itulah maka sebenar-benar filsafat adalah refleksi hidupmu sendiri. Amarahmu dan kekecewaanu itu adalah catatanmu. Tetapi ketahuilah bahwa amarah dan emosi itu sebenar-benar adalah telah menghabiskan dan membakar energimu.

Mahasiswa:
Pak, untuk sementara aku akan berdiam diri, untuk memperoleh ketenangan.

Dosen:
Baik, dalam diam itu ada kebajikan. Karena diam dapat digunakan sebagai sarana untuk refleksi diri. Ketahuilah bahwa refkesi diri itu merupakan kegiatan berpikir yang paling tinggi. Demikianlah semoga kita semua dapat selalu belajar dari pengalaman. Amiiin.

Mahasiswa:
Ntar Pak jangan ditutup dulu. saya ingin tanya dengan jurur. Terus terang saya mengalami kesulitan memahami Elegi Bapak. Bahasa apa yang Bapak gunakan?

Dosen:
Baik anda mengalami kesulitan karena saya menggunakan berbagai macam bahasa dengan segala tingkatannya.

Mahasiswa:
Maksud Bapak?

Dosen:
Elegi itu tidak hanya meliputi jenis ucapan tetapi juga tindakan ucapan. Kita mengetahui ada paling sedikit empat macam jenis komunikasi: material, formal, normatif dan spiritual. Maka Elegi itu meliputi semua tingkatan jenis komunikasi tersebut.

Dalam Elegi aku juga berusaha menggunakan bahasa konstatif, maksudnya saya berusaha menggambarkan suatu kejadian atau fakta atau fenomena menggunakan gaya bahasaku sendiri. Dengan bahasa konstatif itu anda dapat melakukan verifikasi atau menilai benar salahnya pernyataan saya. Maka carilah mereka itu dalam Elegi-elegi saya. Tetapi ada juga Elegi dimana saya bebas memilih kata-kata atau bahasa saya sesuai dengan selera saya.

Dengan bahasa demikian saya tidak bermaksud agar anda membuktikan kebenarannya, tetapi semata-mata merupakan usaha saya sebagai penutur bahasa untuk memberi muatan filsafat, muatan moril atau muatan pengetahuan atau muatan pengalaman lainnya. Dengan bahasa perforatif itu saya ingin menunjukkan bahwa elegi itu memang orisinil tulisan saya.

Saya juga ingin menunjukkan kehadiran keterlibatan saya dalam elegi itu dengan demikian saya bisa lebih menghayati penulisan elegi itu. Di sinilah mungkin terjadi perbedaan taraf kelaikan yang anda harapkan dengan taraf kelaikan yang saya gunakan atau saya pilih. Jika terjadi kesenjangan ini maka saya menyadari bahwa anda akan dibuatnya “unhappy”, sedangkan saya sipembuat elegi happy-happy saja.

Tetapi dalam membuat Elegi ini saya juga tidak hanya melakukan hal-hal di atas. Dalam beberapa hal saya juga melakukan apa yang disebut sebagai tindakan lokusi, yaitu meletakkan tanggung jawab penuturan bahasa bukan pada penuturnya tetapi kepada semuanya. Artinya penuturan bahasa itu memang bersifat umum. Dengan mengambil tindakan lokusi pada suatu Elegi saya merasa mempunyai landasan untuk mengembangkan tindakan illokusi bahasa.

Tindakan illokusi bahasa adalah bahasa yang menunjukkan lawan terhadap tindakan sesuatu, dengan demikian tindakan illokusi ini akan menuntut saya sebagai si penutur bahasa untuk bersikap konsekuen juga melaksanakan penuturan saya itu. Misal keyika saya menyarankan anda untuk membaca, itu berarti saya juga seharusnya menyarankan kepada diri saya juga. Demikian juga ketika saya menyarankan anda untuk berbuat baik, bertindak konsisten, berpikir kritis, dsb.

Namun tidak hanya itu saja. Kata-kataku dalam elegi juga sebagian menunjukkan keadaan si pendengar dengan segala implikasinya. Artinya, saya menyadari bahwa kata-kata saya itu akan berpengaruh terhadap si pembaca elegi. Dalam filsafat bahasa mungkin ini yang disebut sebagai tindakan saya yang bersifat perlokusi.

Misalnya kalimat saya yang berbunyi-tidak mungkin belajar filsafat tanpa membaca-.
Ini berakibat anda sebagai mahasiswa saya yang menempuh filsafat, mau tidak mau harus membaca. Jika hal demikian dirasa berat, itulah anda dan juga saya menemukan bukti yang kesekian kalinya bahwa manusia di dunia itu bersifat kontradiktif.

Maka dapat aku katakan bahwa hidup itu adalah pilihan. Jika itu telah menjadi pilihanmu, mengapa engkau melakukan segala perbuatanmu kelihatannya kurang ikhlas. Bukannya engkau tahu bahwa ketidak ikhlasan walau sedikitpun itu tidak akan membawa manfaat baik di dunia maupun akhirat.

Maka renungkanlah. Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahan dan dosa-dosa kita. Amiin.

101 comments:

  1. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Kita dapat memahami suatu pelajaran di dalam elegi. Karena di dalam elegi berisi kata – kata yang di dalamnya terdapat makna filosofis. Kata – kata tersebut terbungkus dalam suatu dialog, puisi, syair yang mengekpresikan kegelisahan, permasalahan, pembaharuan dan perkembangan yang ada, solusi dan lain sebagainya yang bermanfaat bagi pembacanya.

    ReplyDelete
  2. Elegi yang dibuat kadang tidak dapat dipahami oleh mahasiswa. Mahasiswa harus menyadari bahwa dalam kehidupan lebih banyak hal yang tidak dipahami. Dengan adanya elegi maka mahasiswa belajar untuk membangun kesadaran untuk memahami suatu hal dengan banyak membaca elegi. Dengan demikian diharapkan siswa dapat menggunakan kemampuannya dalam memahami elegi untuk dapat memahami kehidupan.

    ReplyDelete
  3. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Setelah saya baca artikel di atas, sekarang saya tahu apa arti elegi. Saya pikir membaca elegi tidak mudah seperti membaca novel. Elegi dalam berfilsafat adalah ungkapan hati, puisi, dan banyak lagi makna yang terkandung di dalamnya. Elegi bukan hanya kata-kata tapi juga termasuk jenis pidato dan lainnya. Sebagai manusia kita pasti pernah memikirkan apa yang kita dapatkan setelah mempelajari filsafat dengan elegan, elegi yang terkadang membuat kita bingung untuk mengerti maknanya. Pada dasarnya studi filsafat adalah cerminan hidup kita sendiri. Dengan mempelajari filsafat kita bisa berpikir kritis, berfikir rasional, dll. Filsafat belajar harus dipelajari secara keseluruhan, karena kalau tidak, bisa jadi seseorang akan menggunakan filosofi yang tidak sesuai dengan ruang dan waktu dan tidak akan bermanfaat. Dari bacaan ini saya tahu bahwa puncak gunung disebut setiap kata yang berbicara dari diri kita. Dan lembah itu adalah anggota dan masyarakat dan lainnya. Tapi saya tidak mengerti artinya. Dan apa nilai ini untuk kehidupan sehari-hari. Dan yang terakhir mengatakan bahwa itu akan menangkap Filsafat. Jadi ini tentang Filsafat.

    ReplyDelete
  4. Woro Sophia Amirul Kusumawati
    14301241048
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Untuk mamhami Elegi dalam Elegi kita perlu kesadaran membaca. Keikhlasan dalam membaca juga penting, agar apa yang kita baca dapat bermakna. Memahami Elegi tidaklah mudah, sehingga kita perlu berpikir kritis untuk mengetahui dasar gunung es kemudian diperlukan kesabaran yang cukup kuat agar apa yang kita baca tidak sia-sia. Semakin banyaknya elegi yang kita pahami maka semakin mudah pula kita menahami elegi yang lain. Dan semakin mengenal pula apa itu elegi.

    ReplyDelete
  5. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya termasuk ke dalam mahasiswa yang mengikuti perkuliahan etnomatematika, tetapi bacaan dalam blog ini yang berkaitan dengan etnomatematika terkadang juga berupa elegi seperti elegi permintaan si murid cerdas, sehingga terkadang susah untuk memahaminya seperti yang dituliskan dalam tulisan elegi memahami elegi ini. Setelah membaca tulisan ini, saya menjadi mengetahui bahwa cara untuk memahami elegi adalah dengan membuat diri kita dalam keadaan nol yang berarti harus bersikap dan berpikir netral, agar setelah itu dapat menerima ilmu dengan baik melalui elegi.

    ReplyDelete
  6. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tulisan elegi memahami elegi ini seperti curahan hati mahasiswa termasuk saya yang terkadang kesulitan untuk memahami bacaan di blog ini. Akan tetapi tulisan di atas membuat saya sadar bahwa saya harus terus berusaha untuk memahami bacaan dengan cara ikhlas pikir dan ikhlas hati ketika membacanya. Selain itu juga bacaan ini dapat menjadi refleksi untuk diri saya agar tidak mudah emosi ketika mengerjakan sesuatu agar hasilnya lebih baik dan dapat dipahami manfaatnya untuk kehidupan.

    ReplyDelete
  7. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Untuk dapat memahami elegi dibutuhkan hati yang ikhlas dan banyak membaca elegi. Jika belum memiliki sifat ikhlas dan banyak memabaca maka kita perlu refleksi diri untuk dapat mengevaluasi pengalaman apa saja yang telah kita lakukan dan dapat meningkatkan kemampuan berpikir tinggi. Elegi meliputi ucapan dan tindakan dalam ucapan yang menggambarkan suatu fenomena yang disampaikan dengan bahasa penulis sehingga kita yang membacanya berasa berada dalam situasi yang dideskripsikan dalam elegi-elegi. Dengan demikian banyak-banyak membaca elegi dengan hati yang ikhlas dapat memahami makna dari elegi tersebut.

    ReplyDelete
  8. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dengan membaca elegi ini, saya mulai paham apa sebenarnya yang ada di dalam elegi dan apa yang ingin disampaiakan oleh penulis. Karena pada awalnya saya sangat sulit memahami apa yang ada di dalam elegi tersebut. Bukan hanya karena bahasa yang digunakan tidak terbiasa dengan bahasa sehari – hari yang saya digunakan, tetapi juga tokoh – tokoh yang ada, situasi yang ditimbulkan sulit untuk dibayangkan dan dipahami. Namun, dengan membca elegi ini dapat dijadikan modal untuk memahami elegi yang lain

    ReplyDelete
  9. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut saya, saya setuju dengan isi elegi di atas. Elegi di atas membantu saya untuk memahami elegi – elegi yang lain. Ketika membaca elegi harus memiliki pikiran yang kosong, sehingga dapat berpikir secara netral. Selain itu juga, setelah membaca setiap elegi akan memberikan ilmu baru, pandangan dari sudut pandang yang baru pula.

    ReplyDelete
  10. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Sebetulnya ilmu dapat disampaikan dalam bentuk apa saja. Apakah melalui cerita, melalui gambar, atau melalui pembicaraan secara langsung. Memahami elegi merupakan salah satu kesulitan saya juga. Namun, hal ini merupakan tantangan sekaligus hal yang baru bagi saya. Sehingga, saya berharap apabila saya lulus dari rintangan ini, saya mendapatkan banyak pengalaman dan kemampuan baru. Sebetulnya elegi-elegi yang bapak buat mudah dibaca, terkadang lucu, sedih, dan emosional. Membaca elegi juga harus menggunakan hati dan pikiran yang bersih. Karena tanpa disadari, menterjemahkan elegi seperti menjadi menterjemahkan diri sendiri. Sehingga membaca elegi, seperti membaca diri sendiri. Jika dihubungkan dengan perkataan bapak, “filsafat adalah dirimu sendiri”, maka elegi menjadi sangat relevan untuk menjadi sarana belajar filsafat. Terlepas dari pro dan kontra elegi, saya memilih untuk mengikuti elegi, karena saya menyadari bahwa pasti tidak mudah untuk mentransformasi ilmu menjadi sebuah elegi.

    ReplyDelete
  11. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah membaca “Elegi Memahami Elegi”, saya mendapatkan pelajaran bahwa hidup itu adalah pilihan. Setelah kita memilih untuk hidup maka kita harus dengan ikhlas melakukan hal-hal yang bermanfaat sehingga kita tidak termasuk dalam orang yang merugi di dunia maupun di akhirat. Salah satu hal bermanfaat yang dapat kita lakukan sebagai mahasiswa adalah dengan belajar dan membaca.

    ReplyDelete
  12. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Elegi memang terkadang membuat bingung ketika kita tidak bisa dengan tenang memahaminya atau membacanya dengan terburu-buru. Membaca elegi merupakan hal yang baru bagi saya. Namun hal itu menjadi salah satu cara bagi saya untuk belajar. Salah satu elegi yang berkesan adalah elegi pengakuan para matematika, pada elegi tersebut saya menemukan banyak definisi matematika menurut para ahli yang mengembangkannya.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  13. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Selama membaca elegi saya menemukan banyak hal baru. Membaca elegi tidak bisa hanya membaca tanpa makna. Sebelum membaca elegi terlebih dahulu harus menenangkan pikiran dan hati sehingga elegi dapat dipahami dengan baik dan tenang, maka tak ada salah memaknai elegi.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  14. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Belajar filsafat memiliki banyak manfaat bagi kehidupan. Salah satunya dengan belajar filsafat kita data tau posisi kita di kehidupan sehingga kita dapat menentukan tentang bagaimana kita bertindak agar tidak membuat tatanan kehidupan menjadi berubah. Untuk itu kita perlu tau dimana kita tinggal, bagaimana sistem yang berjalan disekitar kita dan apa yang bisa dan tidak bisa kita lakukan.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  15. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam elegi ini mengajarkan bahwa kita sebagai manusia harus bersabar dengan apa yang dihadapi, serta menunjukkan keikhlasan ketika melakukan sesuatu. Dengan keikhlasan tersebut,Insya Allah apa yang dilakukan akan membawa kebaikan bagi diri kita sendiri dan orang lain. Jangan pernah bosan berbuat baik dengan siapa pun.

    ReplyDelete
  16. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari membaca beberapa elegi yang lain, hal penting yang harus kita miliki sebagai modal dalam belajar memahami elegi adalah kerendahan hati, keikhlasan hati, dan tetap menjauhkan diri kita dari perilaku serta pikiran yang sombong. Tanpa itu semua, segala yang sudah kita lakukan menjadi percuma dan sia-sia.

    ReplyDelete
  17. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Apa yang diungkapkan oleh mahasiswa pada kisah elegi ini sungguh mewakili diri saya. Pada awal kuliah, Prof Marsigit menyatakan bahwa kami harus banyak membaca blog ini sebagai salah satu sumber belajar. Jujur, awalnya saya sering merasa bingung dan kesal karena tidak kunjung memahami maksud dari membaca elegi-elegi di blog ini. Namun seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai memahami manfaat membaca blog ini serta manfaat belajar filsafat. Salah satu manfaat dari belajar filsafat adalah agar kita dapat selalu belajar dari pengalaman untuk menjadikan diri kita lebih bijaksana. Berfilsafat juga akan membantu kita untuk melhat banyak hal dari banyak sudut pandang sehingga makna yang kita peroleh akan lebih luas dan dalam.

    ReplyDelete
  18. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Dalam membelajarkan filsafat, tidak lah mudah seperti apa yang dibayangkan karena dalam filsafat kita bisa jadi menemukan kawan dan bisa juga malah kita menemukan musuh dari filsafat itu sendiri. Sedangkan musuh filsafat itu sendiri adalah yang tidak ikhlas dalam hati dan pikiran dalam berfilsafat sehingga memunculkan kesombongan dalam dirinya. Perlu kita ingat bahwa dalam berfilsafat tidak ada satu orang pun yang telah lulus atau mencapai kebenaran yang sebenar-benarnya, bahkan pada dasarnya para filsuf pun tidak pernah lulus dalam berfilsafat.

    ReplyDelete
  19. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. mempelajari filsafat itu memang membutuhkan tenaga yang ekstra. Mempelajari filsafat itu harus menggunakan hati dan pikiran yang ikhlas. Pada perkuliahan Prof. Marsigit media pembelajaran yang digunakan salah satunya ialah blog yang berisi pemikiran dan elegi beliau. Perlu dipahami dan diresapi setiap kata-kata yang terdapat dalam elegi untuk dapat memahami keseluruhan elegi.

    ReplyDelete
  20. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dosen memberikan banyak pilihan referensi artinya hal itu sebenarnya adalah sebuah kebahagiaan. Dengan dapat leluasa memilih maka dapat lebih bahagia dalam hidup daripada hanya mempunyai pilihan yang sedikit. Mahasiswa dimulai dari NOL dan secara hal tersebut akan diisi dengan banyak referensi maka mahasiswa akan bisa lebih kritis dalam berpikit jika banyak membaca.

    ReplyDelete
  21. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Dalam mempelajari elegi-elegi diperlukan hati yang Ikhlas, sehingga ilmu yang akan dipelajari dapat merasuk dalam diri dan dipahami secara mendalam. Dengan hati yang ikhlas diharapkan ilmu yang didapat bermanfaat bagi kehidupan dan berkah.

    ReplyDelete
  22. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Ilmu itu sangat luas, sehingga diperlukan rasa keingin-tahuan yang tinggi, kritis, dan banyak membaca. Tentu ambisi dan semangat mendapatkan ilmu juga diperlukan, semangat bertekad untuk selalu ingin tahu, ingin bisa, bukan karena untuk mendapatkan peringkat atau pujian. Yakin apa yang akan dipelajari bermanfaat tidak hanya bagi kita tapi juga sekeliling kita.

    ReplyDelete
  23. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Dalam elegi tersebut saya dapat mengerti apa itu elegi, yang selama ini say abaca dan yang saya berusaha pahami. Dengan memahami definisi elegi saya bisa lebih mengerti bagaimana saya harus memahami elegi. Elegi adalah sebuah tulisan yang menggambarkan pikiran penulisnya, juga elegi berusaha menyampaikan suatu pembelajaran bagi para pembaca.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  24. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Filsafat merupakan ilmu yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Elegi sebagai bagian dari filsafatpun menjadi bagian ilmu yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa kita sadari banyak elegi-elegi yang menucul dalam pikiran kita sebagai akibat pola berpikir dan keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Elegi-elegi yang muncul sebagi bentuk kontradiktif antara apa yang dipikirkan dan apa yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari, menyebabkan banyaknya kelabilan dan ketidaklogisan serta pertanyaan-pertanyaan mengenai apa yang ada dan yang mungkin ada bermunculan. Oleh karena itu lah dalam mempelajari elegi yang tanpa kita sadari muncul dalam pikiran kita, kita harus ikhlas dan menerimanya dengan lapang dada.

    ReplyDelete
  25. Muh ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Sabar merupakan kunci dari keberhasilan. Dalam menyelesaikan tugas bila dilandasi dengan kesabaran maka tidak akan mengecewakan. Kita sebagai mahasiswa tentunya tak luput dari banyak tugas yang datang. Namun sebaiknya kita jangan terlalu banyak mengeluh. Bila kita yakin dapat menyelesaikannya, maka pasti akan dapat selesai dengan cepat waktu. Percayalah bahwa tugas yang kita peroleh pasti memiliki manfaat yang besar, baik dalam akademik maupun untuk kehidupan bermasyarakat.

    ReplyDelete
  26. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Berfilsafat itu sangat penting dan tidak akan ada yang sulit selama kita mau berusaha dengan niat dan tulus hati. Dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan baru dan menambah wawasan membutuhkan proses, kita harus bisa melalui proses itu, dan ketika kita sudah melewati proses tersebut, kita akan menikmati hasil dari usaha kita. Filsafat bukan untuk dibaca saja namun untuk dipahami sebagai tuntunan dalam hidup.

    ReplyDelete
  27. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Berfilsafat adalah membaca, tiadalah filsafat tanpa membaca. Barangsiapa enggan membaca, maka janganlah belajar filsafat. Oleh karena itu, hendaklah kita membaca, namun tidak cukup hanya membaca sedikit, tidak cukup kalau hanya membaca referensi wajib dan hanya berpikir parsial. Karena jika kita hanya puas membaca sedikit maka sebenar-benar kita akan menjadi manusia yang berbahaya di muka bumi ini, sebab kita akan menggunakan filsafat tidak tepat ruang dan waktunya. Maka mempelajari filsafat juga tidak hanya membaca tetapi berfilsafatlah dengan segenap jiwa raga kita. Sesungguhnya setinggi-tinggi kegiatan berpikir manusia adalah refleksi diri. Kita belajar filsafat dengan tiada pengalaman hidup itu artinya "kosong"; sedangkan pengalaman hidup jika tidak direfleksikan (difilsafatkan) berarti "buta". Maka untuk menggapai diri dalam hidup, hendaknya kita mampu merefleksikan pengalaman hidup kita dan berusaha menjalani hidup dengan ikhlas. Karena sesungguhnya dengan keikhlasan tersebut kita dapat mengharap rakhmat-Nya dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

    ReplyDelete
  28. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    elegi memahami elegi, untuk dapat paham suatu elegi kita perlu memperbanyak perbendaharaan kosakata kita. dan untuk memperbanyak perbendaharaan kosakata kita, kita perlu banyak membaca. karena dengan membaca kita akan membuka banyak pintu ketidaktahuan menuju suatu pengetahuan yang akan berguna untuk memahami suatu elegi.

    ReplyDelete
  29. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Dalam mempelajari ilmu apapun, sebaiknya kita tidak prejudice. Seperti dalam belajar filsafat ini, pikiran kita harus netral. Agar kita dapat berfilsafat dengan segenap jiwa dan raga kita harus melakukan segala sesuatunya dengan ikhlas. Dengan ikhlas itulah kita dapat menyadari betapa banyaknya manfaat filsafat dalam kehidupan kita. Filsafat berangkat dari bertanya. Ketika pikiran kita kacau, maka pada saat itulah sebenar-benarnya kita sedang mulai berfilsafat. Namun ketika hati kita mulai kacau ketika berfilsafat, kita harus menghentikannya sejenak dan memohon perlindungan Allah. Menurut saya, elegi yang dibuat oleh Prof Marsigit memang tidak bisa hanya dibaca satu kali untuk dapat memahaminya. Saya harus membaca berkali-kali dan berpikir sedalam-dalamnya mengenai isi dari elegi. Tapi disitulah menariknya. Kita bisa menggali pikiran dan ilmu kita lebih dalam lagi. Berusaha memahami dengan berbaglain sudut pandang baru. Selain itu, bukankah kita memang harus berikhtiar untuk mendapatkan apa yang kita inginkan? Sehingga membaca elegi ini dapat kita kategorikan sebagai ikhtiar kita.

    ReplyDelete
  30. Nama: Tri Wulaningru
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B 2017

    Sesungguhnnya saya pernah mengomentari postingan bapak dengan judul ini. Saya hanya ingin menambahkan pendapat saya kala itu. Saya membaca pada postingan sebelumnya, bahwa elegi muncul karena kebutuhan. Lantas kenapa kemarin saya pernah jengkel dengan sesuatu yang muncul karena saya butuhkan?

    ReplyDelete
  31. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Saya sedikit tercolek dengan elegi ini, karena saya juga merasa ingin memahami elegi dari elegi itu sendiri. Saya sudah membaca kurang lebih 10 elegi dan jujur saya sering dibikin pusing, namun Alhamdulillah belum sampai marah dan meradang seperti mahasiswa pada elegi di atas. Jawaban sang Dosen dalam elegi ini, bahwa memahami filsafat tidak bisa hanya dengan membaca, melainkan dengan sepenuh jiwa, saya mulai memahami mengapa saya masih bingung, mungkin karena saya memandang filsafat sebagai suatu 'mata kuliah' saja, bukan sebagai refleksi hidup sendiri.

    ReplyDelete
  32. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak atas penjelasan tentang pentingnya belajar filsafat.
    Sebenarnya saya juga merasa sulit belajar filsafat. Saya menyadari bahwa rasa sulit itu muncul karena saya kurang belajar, kurang membaca, dan belum bisa berpikir luas.

    ReplyDelete
  33. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini saya dapat mengambil pelajaran, khlaslah ketika akan menuntut ilmu. Ikhlas pikiran, dan ikhlas hati. Sebagaimana kita harus menerima pengetahuan baru, berpikir kritis, dan terus berkembang. Ikhlas tanpa prasangka-prasangka pada orang atau ilmu yang bersangkutan dengan ilmu pengetahuan yang sedang kita pelajari.

    ReplyDelete
  34. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Setiap kali membaca elegi yang terjadi pada diri saya adalah melihat diri saya sendiri. Setiap elegi yang Bapak berikan, selalu ada pesan/peringatan/saran yang bisa saya tangkap dan merupakan bahan bacaan reflektif yang cukup efektif bagi saya. Yang masih menjadi pertanyaan bagi saya adalah kenapa judulnya adalah “Elegi”?, karena pemahaman saya “elegi” adalah “istilah umum dalam kesusastraan yang merujuk kepada syair atau nyanyian yang mengandung ratapan dan ungkapan dukacita, khususnya pada peristiwa kehilangan atau bahkan kematian”. Jawaban yang coba saya bangun saat ini adalah kami/saya merasa ada sesuatu/aspek yang hilang dalam berpikir, elegi yang disampaikan dimaksudkan untuk mengungkapkan kesedihan atas hilangnya aspek itu, dan tanggung jawab kami (saya) untuk menemukan dan mengembalikan aspek yang hilang tersebut.

    ReplyDelete
  35. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Elegi di atas menjelaskan dengan detail mengapa kita harus belajar filsafat. Ya, pada awalnya saya juga merasa kebingungan dengan bahasa yang digunakan dalam elegi yang bapak sampaikan. Namu, lambat laun dengan pelan-pelan ternyata elegi ini menggambarkan persis seperti kehidupan kita sehari-hari, nasehatnya pun erat kaitannya dengan kehidupan kita. Maka benar kiranya jika untuk belajar filsafat haruslah menggunakan pikiran dan hati yang ikhlas. Tips selanjutnya untuk belajar filsafat yaitu dengan membaca, merefleksikan, dan harapannya membaca dan merefleksikan ini tidak hanya mandek pada perkuliaahan tapi dalam kehidupan juga. Semoga ilmu yang bapak sampaikan membawa keberkahan dan kebermanfaatan untuk kita semua, terima kasih banyak kepada Bapak Prof.

    ReplyDelete
  36. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya prof. Jujur elegi ini jadi semacam cermin bagi saya, seakan mahasiswa di atas mewakili saya dan mungkin beberapa teman yang terbilang baru dalam berfilsafat. Seperti yang pernah Bapak katakan bahwa 'bingung' adalah tanda adanya usaha dan proses belajar untuk memahami sesuatu, sehingga merasa bingung pada saat belajar filsafat adalah sangat wajar. Di sinilah di uji keikhlasan dan determinasi kita dalam menuntut ilmu.

    ReplyDelete
  37. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Saya menjadi lebih tahu apa itu makna dari elegi. Saya sangat setuju dengan pendapat yang Bapak kemukakan terkait hidup adalah pilihan. Setiap orang berhak untuk menentukan pilihannya masing-masing. Setelah dipilih maka sebaiknya bertanggungjawab atas pilihan tersebut. Untuk melaksanakannya juga disertai dengan sikap yang ikhlas. Ketika individu tersebut telah memilih dengan sendirinya maka cenderung mudah untuk melakukan dan menjalani setiap fase yang menyertainya.

    ReplyDelete
  38. Junianto
    PM C
    17709251065

    Dalam menuntut ilmu tentu harus didasari dengan niat tulus dan penuh kesadaran. Jika menuntut ilmu dengan didasari rasa marah penuh ambisi maka bukan ilmu yang di dapat tetapi hanyalah kekesalan dan ketidakmanfaatan. Maka dari itu, selalu belaja dan ikhlas adalah kunci menggapai ilmu. Dengan hal tersebut, kita pun bisa bisa memperoleh ilmu dengan manfaat dan keberkahan.

    ReplyDelete
  39. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Terimakasih pak, memang benar seperti apa yang bapak katakan, bahwa kata-kata yang bapak tuangkan kedalam elegi ini memberikan pengaruh terhadap pembaca. Awalnya, saya juga mengalami kesulitan memahami satu bacaan hingga saya membaca berulang-ulang untuk memahami dan memaknai pesan dan maksud yang tersirat dari setiap elegi, bahkan masih saya alami sampai saat ini. Filsafat merupakan hal baru bagi saya, namun kembali lagi saya setuju dengan pernyataan bapak bahwa “ tidak mungkin belajar filsafat tanpa membaca” ini menjadi pelajaran bagi saya bahwa saya harus lebih banyak lagi membaca dan mencari tau.

    ReplyDelete
  40. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof
    Mengenai elegi yang bersifat perlokusi, saya sendiri juga merasakan bahwa elegi-elegi yang saya baca dari blog ini telah memberikan pengaruh pada saya. Meskipun seringkali saya mengalami kesulitan dan membutuhkan waktu yang lama dalam memahami maksud dari elegi yang saya baca, saya merasakan banyak sekali manfaat yang bisa saya ambil. Misalnya elegi mengingatkan saya untuk terus menerus belajar, mengembangkan pengetahuan, lebih sensitif terhadap ruang dan waktu, melihat dari berbagai sudut pandang, tidak berperilaku sombong, bersabar, dan yang paling penting adalah untuk senantiasa berusaha ikhlas dan selalu menjadikan agama sebagai pegangan dalam mengembarakan pikiran.

    ReplyDelete
  41. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Saya sangat bersyukur karena diberikan ksemapan untuk belajar filsafat .Dulu ketikasaya menduduki bangku kuliah waktu S1 saya mendapatkan sedikit pelajaran dari kakak senior lewat kajian dan sebagainya.Memang ada sedikit kebingungan dalam berpikir dan itu terjadi pada diri saya.Apalagi dengan penggunaan kata yang konstatif.Tapi justru disitulah saya banyak belajar, bagaimana caranya mngasah pikiran sehingga dapat berpikir yang mandiri dan kritis.Dan perkataan bapak yang masih terlukis dalam hati saya, tak mengapa pikirannya bingung yang penting hati kita teduh ,tenang dalam belajar filsafat.Dan Untuk membuka ruang untuk menerima segala sesuatu dibutuhkan rasa keikhlasan.Sehingga yang yang dijalani akan terasa adem tanpa beban.Jika dihadapkan pada amarah dan emosi,maka banyak-banyak berzikir dan berdoa mengingat Tuhan.Semoga Allah SWT selalu menuntun kita.Aminn.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  42. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Terima kasih Pak Prof. atas tulisan elegi memahami elegi ini. Dari tulisan Bapak di atas, saya memahami betapa pentingnya untuk mempelajari dan memahami filsafat. Pada awalnya memang saya kesulitan dalam memahami tulisan Bapak dalam elegi-elegi ini, karena bahasa yang dipakai bukanlah bahasa yang digunakan sehari-hari. Namun semakin ke sini, saya mulai menyadari bahwa elegi yang Bapak tulis menggambarkan kehidupan manusia. Terkadang bahkan saya sendiri merasa seperti mendapat cambukan setelah membaca elegi-elegi yang Bapak tulis.
    Melalui elegi ini, saya memahami bahwa dalam memahami elegi hendaklah dengan ikhlas, baik itu ikhlas hati maupun ikhlas pikiran. Sehingga kita dapat memetik hikmah dan pelajaran dari elegi tersebut.

    ReplyDelete
  43. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Bagi saya godaan untuk berfilsafat di era yang bapak sering sebut sebagai Power Now ini sungguh banyak. Manusia saat ini cenderung pragmatis dalam segala hal. Saya menyadari bahwa pertanyaan mahasiswa pada elegi ini pernah merasuk ke pikiran saya. Hanya saja saya merefleksikan kembali, bahwa berfilsafat tetaplah penting untuk dapat mencari hakikat. Saya tidak bisa bayangkan apa yang terjadi jika semua manusia terperangkap ke dalam ilusi Kalpitalis, Pragmatis dan Hedonis, pasti peradaban akan jauh dari hakikat-hakikat itu sendiri.

    ReplyDelete
  44. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Memahami Elegi. Setelah membaca elegi ini saya dapat belajar bahwa a) Kita hidup dihadapkan dengan banyak pilihan; b) Kita harus bertanggungjawab dengan pilihan yang telah kita ambil; c) Kita harus ikhlas dalam mengadapi konsekuensi dari pilahan yang kita ambil, agar mendapatkan manfaat dunia dan akhirat; d) Kita tidak boleh mudah menyerah, karena ketika kita menyerah hanya penyesalan yang kita dapat. Semua hikmah tersebut dapat kita terapkan saat kita mencari ilmu. Dalam mencari ilmu tentunya akan banyak rintangan yang menghadang, kuncinya untuk menghadapi rintangan tersebut adalah tanggungjawab, ikhlas dan jangan menyerah. Dengan begitu kita akan mendapkan hasil yang sesuai dengan apa yang kita inginkan. Terimakasih.

    ReplyDelete
  45. Bulan nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Elegi antara mahasiswa dan dosen itu, merupakan cerminan jelas yang dirasakan mahasiswa saat ini, memang masih sangat sulit untuk memahami berbagai macam bacaan yang ada dalam elgi. Namun disitulah letak ilmunya, bahwa untuk mempermudah membaca elegi-elegi yang ada dibutuhkan keteram[pilan serta keikhlasan dalam membaca. Karena semakin banyaknya kita membaca semakin mudah dan mampu kita memahami elegi dan tulisan-tulisan filsafat yang lainnya, karena hal itu bukan menjadi wacana asing lagi, tetapi wacana yang sejalur.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  46. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    sejujurnya saya sendiri mempunyai pertanyaan yang sama dengan mahasiswa tersebut pak. namun saya terlalu takut untuk bertanya di kelas, karna saya sadar saya belum terlalu banyak membaca. dengan membaca elegi dalam elegi ini saya jadi sadar. mempelajari filsafat juga sangat penting bagi kehidupan manusia, mahasiswa terutama saya. setidak-tidaknya dengan mempelajari filsafat dengan membaca postingan bapak elegi-elegi yang sudah bapak dituliskan saya tau kemana harus mencari jati diri, dan sepenuhnya saya sadar memanglah manusia itu sendiri tergerak sesuai ruang dan waktu. semakin ia banyak belajar membaca maka pandangan dia terhadap satu hal yang sama pun bakal berubah.
    sekali lagi saya ucapkan terimakasih pak ilmunya.

    ReplyDelete
  47. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Jujur saja, saya pun masih mengalami kesulitan dan kebingungan dalam memperlajari filsafat. Tapi, insya Allah saya tidak akan berputus ada dan terus belajar. Terima kasih Prof.

    ReplyDelete
  48. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Membaca elegi ini membuat saya merasa sedikit tersindir karena ada beberapa fakta yang memang hampir seluruh mahasiswa alami. Kata-kata yang di dalam elegi ini memang pada dasarnya dibuat untuk membuat mahasiswa memahami beberapa makna dalam filsafat. Filsafat memang merupakan salah satu ilmu yang bisa dikatakan banyak orang menghindarinya karena merasakan kesulitan dalam mempelajarinya. Belajar filsafat pada saat S2 ini memberikan arti yang penting bahwa kita belajar tidak hanya menggunakan buku-buku formal yang tercetak dan tersusun di perpustakaan, namun juga bisa menggunakan teknologi yang memang pada saat ini sudah sangat menyebar luas. Ini adalah kuliah filsafat pertama saya yang membuat banyak sekali pengetahuan yang belum saya fahami. Ini merupakan cara yang memang akan sedikit saya contoh pada pembelajaran saya kelak. Dengan ini kami dituntut untuk komen tidak sekedar komen namun sesuai dengan apa yang ditulis. Sehingga jika tidak membaca secara keseluruhna, ada beberaoa hal yang akan tertinggal sehingga terkadang komentarnya tidak terlalu sinkron dengan apa yang ditulis. Namun, saya mengucapkan terimakasih banyak untuk inspirasi metode pembelajaran yang sepeerti ini. Selain ini tuntutan, namun juga melatih kita untuk gemar membaca. Semoga Alloh meridhoi apa yang Prof. Berikan kepada kita sehingga akan bermanfaat bagi kita kelas.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  49. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Semua yang tertuang pada elegi tersebut merupakan suatu hal yang benar adanya yang dirasakan oleh mahasiswa. Tetapi pada kesimpulan dari elegi ini menjadikan kita sadar. Tentu bayangan kesombongan akan ilmu yang sudah dimiliki itu ada. Padahal belum tentu ilmu itu sudah cukup sesuai kebutuhan kita. Tetapi dengan terus membaca dan menurunkan ego serta ikhlas menjalani, pastilah manfaat yang besar itu datang kepada kita. Dalam menuntut ilmu itu perlu usaha dan kerja keras. Lewat jalan pintas berarti memotong sumber ilmu. Sehingga pangkal dari ilmu itu sendiri menjadi hilang makna.

    ReplyDelete
  50. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Sekali lagi elegi yang Prof Marsigit bagaikan menjadi oase atau jawaban atas beberapa hal yang kami (atau mungkin saya rasakan). Dari elegi ini saya memahami bahwa saya telah terjebak pada jalan-jalan atau gang-gang sempit, yang membuat saya tidak bisa berbalik arah. Padahal yang disampaikan dosen dalam elegi tersebut adalah bahwa orang yang belajar filsafat ibarat sedang duduk di lobi sambil memikirkan jalan mana yang akan ia lewati. Maka sebagaimana yang dilakukan oleh mahasiswa, kita perlu diam sejenak untuk merenung, menata hati dan merefleksi agar mendapatkan ketenangan.

    ReplyDelete
  51. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Belajar dapat dimana saja, dengan siapa saja, dan dengan media apa saja. Semakin berkembangnya zaman semakin beragam pula media pembelajaran yang aja. Untuk dapat memahami suatu ilmu diperlukan waktu dan usaha yang sungguh-sungguh. Selain itu dalam memahami elegi ini juga diperlukan keikhlasan. Keikhlas disini berarti melakukannya secara jujur tanpa ada manipulasi dan mau memikirkan dan memahami pokok persoalannya.

    ReplyDelete
  52. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr.Wb

    Elegi yang bapak sampaikan selau dekat dengan kehidupan sehari-sehari termasuk Elegi Memahmi Elegi ini dan lagi-lagi elegi yang disampaikan selau ada pesan yang tersampaikan. saya dapat mengambil pesan dari apa yang ada pada Elegi ini yaitu mengenai pilihan dan keikhlasan. Ketika kita sudah memilih suatu pilihan maka kerjakan lah pilihan itu dengan sungguh-sunguh dan didasari oleh keihlasan. Jika kita sudah ikhlas melakukan suatu pilihan maka apa yang kita lakukan akan sangat bermanfaat untuk kehidupan kita baik di dunia maupun dikahirat kelak, seblaiknya jika tidak ikhlas terhadap apa yang kita pilih maka pilihan tersebut sangat tidak lah bermanfaat karena semuanya akan berakhir sia-sia.

    ReplyDelete
  53. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Elegi diatas menggambarkan perasaan sebagian besar mahasiswa yang menempuh kuliah Bp. Kesulitan dalam memahami yang digunakan dalam elegi-elegi menurut saya adalah suatu kewajaran, karena tingkat pemahaman kita masih lemah, hal ini sesuai dengan jumlah bacaan kita yang masih sangat kurang untuk bisa memahami elegi-elegi dalam blog ini, oleh karena itu yang harus kita lakukan adalah terus berusaha (baca dan terus membaca) dan berdoa agar dapat memahami elegi-elegi yang kita baca. Terkait Kejengkelan, kemarahan dan keberatan untuk membaca elegi-elegi adalah tanda belum hadir keikhlasan dalam diri untuk belajar. Oleh karena itu mari kita tingkatkan keikhlasan kita dalam menuntut ilmu.

    ReplyDelete
  54. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Pada elegi diatas ada beberapa pesan moral. Dalam menuntut ilmu, kita harus sabar akan ketidakpahama kita juga harus sabar kepada guru. Sebagai guru pun besok kita juga harus sabar terhadap kesabaran maupun ketidaksabaran murid. Sebagai guru kita juga harus berbahasa ilokusi, artinya apa yang kita ucapkan pada orang lain, maka kita juga harus melakukan hal itu.

    ReplyDelete
  55. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Belajar adalah suatu tindakan untuk memperoleh ilmu. Belajar bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun. Kita harus selalu mempunyai inisiatif sendiri untuk mendapatkan ilmu. Belajar bertujuan menembus ruang dan waktu. Belajar juga merupakan pilihan, pilihan untuk berada dalam ruang gelap atau menembus ruang. Kita harus bisa mempertanggungjawab pilihan kita dengan cari ikhlas menjalaninya. Jadi ketika belajar, kita harus ikhlas hati dan ikhlas pikir. Terimakasih Bapak Marsigit atas ilmunya.n

    ReplyDelete
  56. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Menarik sekali bacaan di atas, mahasiswa merasa seperti itu karena pada dasarnya karena kesulitan untuk berfilsafat. Dengan terus belajar dan banyak membaca maka akan semakin mudah memahami filsafat. Ilmu filsafat diajarkan di perkuliahan bukan karena tidak ada tujuannya. Melainkan ada tujuannya agar mahasiswa mengasah kemampuan berpikirnya. Dengan berpikir maka kita ada. Insya Allah setiap ilmu kebaikan yang kita pelajari memiliki manfaat.

    ReplyDelete
  57. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Mempelajari suatu ilmu akan lebih mudah apabila disertai dengan keikhlasan dan pemikiran yang terbuka. Pemikiran untuk selalu optimis bahwa dia akan bisa. Jika selalu berpikir tidak bisa maka akan selalu tidak bisa. Memang filsafat ini cakupannya sangat luas sekali dan bahasanya menggunakan bahasa yang sangat beragam tergantung dari apa yang menjadi konteksnya.

    ReplyDelete
  58. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Memahami merupakan salah satu cara untuk mengenal sesuatu. Memahami memiliki tingkatan lebih tinggi dari mengetahui, berarti saat kita ingin memahami sesuatu kita harus memiliki keinginan untuk mengetahuinya terlebih dahulu. Sama halnya dalam memahami elegi, untuk memahami elegi harus memiliki keinginanan untuk mengetahui isi elegi tersebut karena mungkin saja dalam memahaminya membutuhkan ilmu dengan usaha sendiri, selanjutnya merefleksi diri untuk mengetahui apa yang sudah kita lakukakan dan apa yang sudah didapatkan. Semakin mendapatkan dan memahami ilmu akan semakin sadar banyak hal yang masih belum diketahui.

    ReplyDelete

  59. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Mencintai proses menuju kebijaksanaan adalah manifesatasi dalam mencintai ilmu pengetahuan. Mencapai kebijaksanaan tentunya harus dibarengi dengan kesabaran, keikhlasan, dan ketekunan dalam belajar. Percakapan di atas menunjukkan seorang mahasiswa yang kurang sabar dalam menerima cara berfikir dosen yang mengajarnya. Ada protes atas kerumitan-kerumitan yang ia dapatkan. Ada ego yang bersarang di kepalanya yang mencoba menghancurkan relasi intelektual antara dirinya dengan dosennya. Meskipun mengeluh adalah manusiawi, namun berontak dari keluhan memiliki derajat yang lebih tinggi dari hanya sekedar mengeluh.

    ReplyDelete
  60. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    jujur saja membaca tulisan ini membuat saya sebagai mahasiswa merasa agak tersindir. awalnya saya tidak mengerti dengan metode pembelajaran yang bapak gunakan, harus mengoment blog, mengkuti tes mingguan yang selalu dapat nol kemudian membuat review. namun lambat laun saya menyadari bahwa inilah caranya belajar filsafat dengan bapak. di dalam blog ini terdapat banyak ilmu yang bisa saya pelajari, dari pemikiran dan pengelaman bapak. ini metode pembelajaran yang unik mneurut saya tapi melatih saya untuk giat berusaha dan banyak membaca. memang yang namanya belajar itu butuh keikhlasan, dengan ikhlas segalanya menjadi lebih mudah dan berkah.

    ReplyDelete
  61. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Menurut saya, memahami elegi filsafat Prof. Marsigit dalam blog ini sedikit berbeda dengan memahami bacaan pada umumnya. Pasalnya dalam elegi ini digunakan banyak ragam bahasa, mulai dari formal, spiritual, hingga bahasa analogi. Penggunaan bahasa yang beragam ini sebenarnya menarik karena membuat pembaca harus lebih kritis dan meningkatkan level kemampuan, namun disisi lain juga sering membingungkan. Oleh sebab itu, dalam memahami elegi ini dibutuhkan kesiapan lahir batin oleh pembaca. Pikiran harus berada pada level netral, sehingga mampu berpikir kritis. Hati harus ikhlas, sehingga apa yang dibaca dapat diresapi. Selain itu, pembaca juga harus mampu mengendalikan emosi dan menjauhkan diri dari kesombongan, misalnya kesombongan dengan menganggap apa yang terkandung dalam elegi ini tidak akan berguna atau tidak dibutuhkan. Segala sesuatu yang dilakukan dengan emosi dan tanpa keikhlasan hati dan pikiran hanya akan merugikan diri.

    ReplyDelete
  62. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Dalam menuntut ilmu, ilmu apapun itu diperlukan keikhlasan dan kesungguhan. Tidak hanya dalam belajar filsafat, dalam belajar ilmu-ilmu lain pun jika hati dan pikiran dipenuhi kemarahan dan rasa malas maka tidak akan ada ilmu yang diperoleh. Karena itulah penting untuk memiliki motivasi dalam diri untuk belajar dan mengembangkan diri.
    Terkait elegi-elegi yang ada pada blog ini, jika dibaca sekali dan secara parsial memang akan terasa sulit. Tetapi setelah membaca beberapa elegi yang saling terkait, ditambah dengan penjelasan Prof. Marsigit yang diberikan di kelas membuat elegi-elegi yang saya baca lebih terasa mudah meskipun saya belum dapat memahami semua elegi secara mendalam. Semoga saya dan para pembaca dapat diberi keikhlasan dan kemudahan dalam membaca, memahami, dan mengambil manfaat elegi-elegi ini. Amin.

    ReplyDelete
  63. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Di awal perkuliahan filsafat memang agak kesulitan untuk memahami elegi-elegi yang ada di blog ini. Saya rasa hal ini terjadi karena belum adanya pembiasaan. Namun ketika dibaca pelan-pelan dan berulang, sedikit demi sedikit kami dapat memahaminya, meskipun mungkin terkadang masih terjadi salah tafsir. Bukankah itu proses belajar? Saya rasa point utamanya adalah bagaimana usaha kita untuk tetap mau belajar dan tidak putus asa. Belajar merupakan proses pendewasaan. Dan untuk mendapatkan ilmu yang lebih butuh proses, tidak didapat dengan instan. Maka menurut saya yang kita butuhkan adalah keikhlasan. Semoga kita membaca elegi dan memberikan komentar pada setiap elegi bukan hanya berorientasi pada nilai semata, namun juga mengharap untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang nantinya akan membawa kita pada keberkahan.

    ReplyDelete
  64. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Filsafat adalah terkait olah pikir. Maka membaca elegi-elegi dalam filsafat tidak semata untuk menggugurkan tanggung jawab dalam perkuliahan. Namun sadar atau tidak sadar dengan membaca elegi ini pemikiran kita terus berkembang. Awal mengenal elegi kita mungkin bak anak-anak yang belajar matematika. Hanya dapat memahami sesuatu yang mudah dan konkrit. Namun seiring berjalannya waktu dengan terus membaca elegi, sesuatu yang mungkin ada dalam pemikiran semakin berkembang menjadi ada karena pemikiran kita semakin luas. Meskipun tingkat keleluasannya mungkin masih sangat minim. Namun seyogyanya sesuatu yang dijalankan dengan ikhlas hati dan ikhlas pikir akan membawa kita pada pemahaman yang lebih baik.

    ReplyDelete
  65. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Dalam berfikir salah satu yang penting adalah jujur. Seperti jujur pada hati kita dan jujur pada diri kita. Karena dengan jujur kita mampu mengetahui mana yang belum kita tahu dan mana yang sudah tahu, dalam menggapai ilmu sedalam-dalamnya kita harus punya sifat jangan malu. Yang dimakasud dengan jangan malu pada konteks ini adalah dalam hal kebaikan. Sebagai contoh jangan malu mengakui kalau memang belum paham dan jangan malu untuk bertanya hal yang belum paham tersebut. Kedua hal tersebut jika bisa mengaplikasikannya dalam usaha mencari dan menggapai ilmu maka akan menghasilkan individu yang terbuka dan menjadi individu yang selalu terus dan terus maju.

    ReplyDelete
  66. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Segala sesuatu memang butuh perjuangan begitu juga untuk memahami elegi-elegi, harus sering sering membaca agar dapat memahami elegi tersebut. Sering membacapun belum cukup, tetapi harus dengan dilandasi dengan membaca ikhlas untuk menambah ilmu pengetahuan. Sebelum membaca elegi-elegi dari blog pro Marsigit hendaklah kita menjernihkan pikiran dan hati kita. Seperti yang dikatakan petugas dari SPBU “dimulai dari Nol ya” agar kita lebih dapat memahami elegi seutuhnya tanpa mencari pembanding dari ilmu yang lain. Semoga kita selalu diberikan semangat untuk memperluas pengetahuan ini.

    ReplyDelete
  67. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Kesan seseorang terhadap sesuatu tentu dipengaruhi oleh perspektif yang tengah dianutnya. Ada positif-negatif, pro-kontra, afirmatif-negatif, dan sebagainya. Adapun sudut pandang mahasiswa mengenai elegi-elegi yang ada di blog ini bergantung dari minat, motivasi, serta kesan terhadap filsafat itu sendiri.

    ReplyDelete
  68. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    "Ushinii nafsii wa iyyakum", kabanyakan para muballigh menggunakan kata-kata itu di akhir ceram,ahnya yang intinya ialah bahwa apa yang disampaikan tak lain ialah untuk menasehati dan mengingatkan diri sendiri, adapun untuk nasehat bagi orang lain ialah tujuan yang kedua.Sama seperti yang diutarakan oleh Prof. Marsigit mengenai tindakan ilokusi, hal ini jika dibawa ke ranah spiritual tak ubahnya seperti yang sering diucapkan oleh muballigh, terima kasihatas ilmunya, Prof. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  69. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Membaca elegi-elegi dalam blog milik Prof. ini merupakan salah satu bentuk penyaluran olah pikir yang kami lakukan. Untuk memahaminya memang membutuhkan waktu dan pembiasaan. Dengan bahasa yang memiliki makna-makna tersirat dan tersurat serta bahasannya yang perlu untuk benar-benar dipahami. Satu hal lagi yang sangat penting dalam memahami elegi adalah ikhlas. Ikhlas dalam hati dan pikiran, ikhlas dalam membaca dan terus membaca elegi-elegi yang ada di blog ini.

    ReplyDelete
  70. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Aktivitas berfilsafat, berfikir memang aktivitas yang berat, membuat pusing, dan menguras emosi serta hati. Hal ini terjadi jika tidak disertai keikhlasan hati, ikhlas piker. Filsafat bukan berarti menjadikan seseorang ateis karena mencari jalan kebenaran dengan berfikir. Elegi ini memberi gambaran bagaimana kita berfilsafat, memahami elegi sama saja kita sedang berfilsafat, melakukan aktivitas berfikir

    ReplyDelete
  71. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Saya sebagai mahasiswa , manusia biasa tentu mempunyai kecenderungan sendiri sebelum mempelajari hal baru. Membuka pikiran dan tidak negative tendensius adalah jalan dalam memperoleh ilmu. Dengan banyak membaca, bertanya, menyampaikan, berkomunikasi, itu artinya kita sudah melakukan aktivitas mencari ilmu. Sifat diri kita yang sudah prejudge akan membatasi diri kita, tidak bergerak kemana-mana. Maka untuk membuat banyak pilihan hidup kita jangan prejudge terlebih dahulu. Tentu enak memiliki banyak pilihan

    ReplyDelete
  72. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Menurut saya, elegi itu ibarat perkataan orangtua zaman dulu. Intinya berupa nasehat kehidupan, tetapi disampaikan dengancerita atau dengan perumpamaan. Tujuannya agar apabila ada nasiat yang beresiko menyakiti perasaan orang lain maa tida terlalu frontal alias tersampaikan secara tersirat. Memahami elegi sama seperti memahami nasehat, kita perlu kepekaan dan berpikir jernih untuk mengetahui makna dibalik cerita atau kaimatnya. Selain itu juga perlu ikhlas dalam hati dan pikir agar kita mampu mencerna elegi serta menarik hikmah di dalamnya.

    ReplyDelete
  73. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Membutuhkan waktu untuk merenungkan makna setiap katamu. Memerlukan kesabaran, kejernihan pikiran, kebeningan hati dan keikhlasan dalam menangkap inti sari pesan yang kau sampaikan hingga tumbuhlah kemampuan untuk merefleksikan hidup. Dalam elegi ada tindakan lokusi yaitu meletakkan tanggung jawab penuturan bahasa bukan pada penuturanya tetapi kepada semuanya. Dalam elegi ada tindakan ilokusi bahasa yaitu bahasa yang menunjukkan lawan terhadap tindakan sesuatu.
    Maka dari itu belajar membutuhkan ketekunan, keberanian dan keikhlasan. Sama halnya dengan belajar filsafat yang butuh ketekunan mempelajarai pemikiran-pemikiran para filsuf. Keberanian dalam berpikir secara luas yaitu intensif dan ekstensif serta keikhlasan mengikuti dan memahami.

    ReplyDelete
  74. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam elegi ini diceritakan bahwa ego mampu membunuh ilmu secara perlahan maupun secara cepat. Dengan ego yaitu kemarahan dan emosi akan menutui sebagain ilmu. Ilmu jika dicari menggunakan ego akan tertutup sebagian. Karena kemarahan dan emosi tersebuh hanya akan membung buang energy, energy yang bisa digunaka unutk belajar jadi terbuang sia sia tak berguna.

    ReplyDelete
  75. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Mengutip perkataan dosen bahwa ketika kita belajar filsafat kita diibaratkan sedang duduk di lobi dan belum menentukan pilihan. Dari kalimat ini saya maknai bahwa ketika kita bertemu dengan sesuatu yang baru maka hendaklah jangan dulu melakukan penilaian karena suatu yang baru itu ibarat kan ruang lobi yang luas. Tidak cukup kita menilai nya hanya dalam satu pandangan saja. Ketika kita telah memberikan suatu penilaian terhadap suatu yang baru maka kemungkinan besar kita telah diselimuti dengan stigma-stigma. Hal ini seperti belajar filsafat, suatu yang baru bagi saya. Pada awalnya, saya memiliki penilaian tertentu, namun karena keadaan maka saya harus melawan keadaan itu dan harus terus belajar, membaca, dan membaca agar penilaian ku selanjutnya lebih baik.

    ReplyDelete
  76. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Filsafat adalah olah pikir dan berate untuk mempelajarinya adalah melalui olah pikir itu sendiri. Elegi-elegi yang ada di blog ini menjadi sarana bagi kita untuk berpikir, merefleksikan bagaimana diri kita, menyadari apa yang sudah dan bekum diketahui. Setelah membaca elegi-elegi ini saya menjadi menyadari bagaimana/hanya sebatas apa pengetahuan saya, sudah sesuai konteksnya apa belum pengetahuan saya itu. Sekian dan Terima Kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  77. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PMA

    Berfilsafat sejatinya merupakan kegiatan olah fikir. Berpikir dapat berlangsung apabila ada masukan atau informasi yang diproses. Membaca adalah salah satu sarana mendapatkan suatu informasi, kalau dalam filsafat membaca merupakan proses mengadakan yang mungkin ada. Dalam pembelajaran filsafat ilmu ini, kami difasilitasi berbagai tulisan-tulisan Prof Marsigit yang disediakan dalam blog untuk dibaca dan direfleksikan, salah satunya elegi. Dalam beberapa kesempatan Prof menyampaikan cara memahami elegi adalah dengan cara ikhlas hati dan ikhlas pikir. Tiadalah kita dapat berpikir dengan jernih apabila ada paksaan atau ganjalan dalam hati. Hal inu lah yang mungkin menghambat aktivitas olah pikir sehingga kita merasa bahwa filsafat itu sulit dipahami.

    ReplyDelete
  78. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Sebagai mahasiswa yang belajar filsafat ilmu dengan Prof Marsigit saya memahami membaca elegi-elegi yang ada di blog ini merupakan sebuah kebutuhan. Memang tidak mudah untuk memahami isi elegi dalam blog ini. oleh karena itu diperlukan keikhlasan, yaitu ikhlas pikir dan ikhlas hati. Semakin banyak yang dibaca tentunya akan semakin banyak hal yang tidak dipahami. Karena banyak yang tidak paham maka akan muncul pertanyaan dan di situlah awal mulanya ilmu. Untuk menunjukkan bahwa saya ada (mebaca elegi) adalah dengan adanya komentar.

    ReplyDelete
  79. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Dalam mempelajari sesuatu itu harus ikhlas, jujur dan penuh dengan ketekunan. Kejujuran dalam mempelajari sesuatu dapat menjadikan kita mampu berpikir secara mendalam dan seluas-luasnya. Sehingga menjadi sosok yang jujur. Dalam mempelajari sesuatu hal kita tidak akan pernah merasa malu bertanya tentang sesuatu yang belum kita ketahui. Maka sejatinya belajar adalah agar kita tidak menjadi orang yang mengada-ngada dan tersesat. Ada pepatah yang mengatakan malu bertanya sesat di jalan. Inilah nasehat yang tepat menggambarkan mengenai jujur dan tak pernah malu.

    ReplyDelete
  80. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Nasihat Sang Dosen dalam elegi tersebut sungguh bermakna dalam. Ketidakikhlasan tidak membawa manfaat di dunia maupun di akhirat. Di dunia, ketika mengerjakan sesuatu dengan perasaan tidak ikhlas dan terpaksa maka hasilnya akan tidak maksimal. Selain itu rasa tidak ikhlas dan terpaksa membuat hati tidak bahagia. Sedangkan di akhirat, ketidakikhlasan dalam perbuatan tidak akan memperoleh pahala. Maka sungguh merugi orang yang menuntut ilmu dengan rasa tidak ikhlas.

    ReplyDelete
  81. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Berdasarkan elegi ini saya dapat mengambil pelajaran bahwa keikhlasan ketika akan menuntut ilmu sangat penting. Ikhlas pikiran, dan ikhlas hati. Sebagaimana kita harus menerima pengetahuan baru, berpikir kritis, dan terus berkembang. Ikhlas tanpa prasangka-prasangka pada orang atau ilmu yang bersangkutan dengan ilmu pengetahuan yang sedang kita pelajari.

    ReplyDelete
  82. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Elegi ini memperjelas kembali apa yang disebut elegi. Selama ini yang saya pahami hanyalah ucapan, tetapi juga tindakan ucapan. Bahkan bisa pula dikatakan bahwa elegi ini merupakan segala yang ada dan yang mungkin ada. Elegi juga memiliki ruang dan waktunya sendiri. Setiap orang memiliki elegi yang berbeda-beda. Elegi mereka sesuai dengan uang dan waktu mereka sehingga elegi orang yang satu belum tentu cocok untuk elegi orang yang lainnya.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  83. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Saat memahami elegi kita akan sering berfilsafat dengan banyak pertanyaan karena ketidaktahuan kita. Memahami elegi itu membutuhkan ilmu dengan usaha sendiri. Setelah mendapat ilmu dilanjutkan dengan merefleksi diri untuk mengetahui apa yang sudah kita lakukakan dan apa yang sudah didapatkan.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  84. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Keikhlasan dalam membaca elegi memang sangat diperlukan. Namun pada dasarnya keihlasan ini bukan keikhlasan dalam mulut saja melainkan juga keihlasan dalam hati. Karena keihklasan dalam membaca elegi ini akan memberikan dampak pada pengetahuan yang kita peroleh itu akan lebih maksimal dibandingkan dengan membaca elegi tanpa didasari ikhlas. Cara kita menggapai elegi yang maksimal disini berbeda-beda antar satu dengan yang lainnya. Oleh karenanya tidak akan mungkin antar satu dengan yang lainnya memiliki kemampuan pemahaman yang sama dalam memahami berbagai macam elegi yang diberikan. Oleh karenanya, diperlukan banyak sekali ilmu agar pemahaman dari apa yang ditulis selaras dengan apa yang kita pahami ketika membaca.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  85. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb. elegi memahami elegi mengajarkan kita bahwa elegi tidak hanya meliputi ucapan tapi juga perbuatan. elegi mengajarkan kita untuk menggambarkan sesuatu menggunakan bahasa kita sendiri. Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  86. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Untuk memahami setiap elegi yang bapak posting memang tidak mudah. banyak istilah-istilah baru yang muncul sehingga memunculkan keingintahuan yang tinggi untuk mengetahuinya. memahami elegi ini akan menjadi sis-sia manakala kita tidak melaksanakannya dengan ikhlas untuk menuntut ilmu dan belajar untuk selalu menjadi baik

    ReplyDelete
  87. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Setiap upaya untuk memahami dan mempelajari seseatu memang tidak selalu mudah. Itulah tantangannya. Namun apabila kita memiliki pikiran yang positif, dengan adanya kesulitan dalam belajar, maka kita akan mampu memaknai setiap proses yang dilalui dengan baik dan mengambil setiap hikmah dari setiap kesulitan tersebut.

    ReplyDelete
  88. Siti Efiana
    15301241029
    S1- Pend.Mat I 2015

    Dalam mempelajari apapun, memang membutuhkan waktu dan mungkin saja tidak mudah. Memang benar, saya terkadang tidak langsung mengerti saat membaca blog Bapak, bahkan sampai mengulang-ulang membaca agar bisa memahaminya. Akan tetapi, dari membaca blog Bapak, saya mendapatkan banyak pelajaran, mendapat banyak pemahaman baik yang insyaa Allah akan membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Terima kasih banyak, Pak.

    ReplyDelete
  89. Febriana Putri Hutami
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241007

    Saya adalah mahasiswa S-1 yang belum mendapatkan matu kuliah filsafat. Bahkan pertama kali membaca artikel yang Prof tulis, saya merasa kualahan dalam memahaminya, butuh berkali-kali membacanya agar paham akan apa yang dimaksud. Karena menurut saya, agar paham dengan apa yang dibaca, perlu memahami bahasa penuturnya, bahkan terkadang dari bahasa yang ditulis dapat menimbulka makna yang tersirat dan makna yang tersurat, begitu juga dengan elegi. Memang benar belajar filsafat perlu membaca, membaca, dan membaca. Namun demikian, dengan membaca elegi dapat membuka wawasan saya lebih luas.

    ReplyDelete
  90. Woro Alma Manfaati
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241002

    Menurut saya, untuk memahami elgi-elegi pada blog ini sangat membutuhkan waktu, karena tidak cukup membaca sekilas namun berkali-kali agar tahu apa makna dari elegi tersebut. Inilah gambaran dalam menuntut ilmu diperlukan keikhlasan dan kesungguhan agar ilmu yang dipeoleh dapat bermakna dan bermanfaat

    ReplyDelete
  91. Raudhah Nur Pratiwi (15301244009)
    S1- Pend. Matematika A 2015

    Bismillah,
    Saat membaca elegi-elegi yang Prof tulis, jujur saya tidak langsung memahaminya. Untuk memahami elegi-elegi memang membutuhkan waktu. Bahkan, sering kali saya mengulang-ulang membaca (sekitar 3-5 kali) agar bisa memahaminya. Selain itu, dalam elegi-elegi yang Prof tulis, terdapat banyak istilah baru yang sama sekali belum saya dengar. Namun, ketika saya sudat dapat mengambil inti dari elegi yang Prof tulis, saya merasakan wawasan saya semakin luas serta sudut pandang saya dalam melihat suatu hal menjadi berbeda (melihat suatu hal dari berbagai sudut pandang).

    ReplyDelete
  92. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Dari elegi diatas saya tertarik dengan merupakan refkesi diri. Dari istilh ini saya memehami bahwa dengan diam sesorang mampu berpikir dengan tenang dan juga kembali menyusun kembali alur berpikir. Selain itu pula dijelaskan bahwa refleksi diri merupakan kegiatan berpikir tingkat tinggi. Dari ini saya memehami bahwa sesorang perlu merefleksikan dirinya dan juga menggunkna penglaman yang dimilikinya untuk bberbenah, memperbaiki diri dan juga untuk menjalani kedidupan didepannya menjadi lebih baik dari pengalaman yang sudah dimilikinya.

    ReplyDelete
  93. Isykarima Nur S
    15301241032
    S1 Pend. Matematika A 2015

    Mempelajari sesuatu hal memang tidak slalu mudah karena kemampuan yang dimiliki setiap orang berbeda-beda. Namun apabila kita menjadikan hal tersebut sebagai tantangan yang harus ditaklukan dan menjalaninya dengan ikhlas insyaAllah semua akan terasa mudah.

    ReplyDelete
  94. Alfiani Indah P S
    15301241027
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Memahami elegi memang tidak semudah membaca suatu berita atau cerpen. Banyak sekali makna yang tersembunyi di dalamnya. Untuk memahami elegi-elegi ini, memang dibutuhkan waktu yang lebih dan kesabaran karena artikel disajikan dalam bahasa yang bermacam-macam. Apalagi untuk pembaca yang belum pernah mempelajari Filsafat sama sekali seperti saya.

    ReplyDelete
  95. Alman Kresna Aji
    15301241022
    S1 Pendidikan Matematika 2015
    Pada dasarnya pengetahuan atau pandangan terkait sesuatu itu berdasarkan perspektif dari setiap orang. Suatu hal yang baik kadang di nilai tidak sesuai oleh orang lain, serta suatu yang buruk belum tentu dinilai buruk oleh orang lain. Oleh karena itu, pentingnya kita memahami secara mendalam terkait pengetahuan apapun yanf didapatkan, supaya aspek-aspek yang tersirat maupun tersurat dapat diperoleh.

    ReplyDelete
  96. Norma Galih Sumadi
    15301241038
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Jujur saja bagi saya untuk memahami elegi-elegi yang bapak tulis membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Seringkali saya harus mengulang membaca beberapa kali untuk memahami maksud dari elegi tersebut. Namun ketika sudah menangkap maksud dari tulisan bapak, saya merasa terjadi perubahan yang cukup besar terutama dalam sudut pandang saya. Seringkali kita hanya menilai sesuatu dari apa yang tampak saja. Namun dengan membaca elegi-elegi yang bapak tulis telah membuka sudut pandang saya agar dapat melihat makna-makna yang tersembunyi dari suatu hal.

    ReplyDelete
  97. Rina Musannadah
    15301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Pada dasarnya, memahami elegi yang ada dalam blog ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Perlu pikiran yang benar-benar terfokus untuk dapat memahami makna apa yang tersembunyi dalam setiap elegi yang ada.

    ReplyDelete
  98. Kristanti
    15301241041
    Pendidikan Matematika A 2015

    Terimakasih prof untuk tulisannya yang bermanfaat. Saya sependapat dengan dosen yang menyebutkan bahwa kemarahan dan emosi akan menutup sebagian ilmu yang sudah dimiliki. Sehingga justru kemarahan dan emosi itulah musuh dalam belajar filsafat. Karena sesungguhnya dalam berfilsafat, kita harus banyak banyak membaca, banyak banyak referensi, dan terus berpikir kritis.

    ReplyDelete
  99. Gandes Sih Mustika
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241015

    Terimakasih prof atas artikelnya. Pada awalnya saya memang merasa kesulitan untuk memahami elegi dalam blog ini, namun dengan memabacanya berulang-ulang saya menjadi paham akan maknanya.
    Pada dasarnya belajar itu memang harus dengan hati yang tulus ikhlas, karena dengan ikhlas semua yang dilakukan akan terasa ringan dan mudah. Belajar juga tidak cukup hanya dilakukan sekali, untuk memahami suatu hal kita harus berulang kali belajar dari berbagai sumber yang ada.

    ReplyDelete