Sep 20, 2013

Jargon Para Obyek




Oleh Marsigit

Jargon:
Wahai para obyek, apa yang engkau ingin katakan kepadaku? Kenapa engkau datang berbondong-bondong kepadaku? Siapa sajakah engkau itu?

Para obyek pembuat:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pembuat. Aku itu meliputi para obyek pembuat tugas, obyek pembuat mandat, obyek pembuat amanah, obyek pembuat kewajiban, obyek pembuat aturan, obyek pembuat obyek, obyek pembuat sifat, obyek pembuat permulaan, obyek pembuat inisiatif, obyek pembuat kesimpulan, obyek pembuat pertanyaan, obyek pembuat jawaban, obyek pembuat kesimpulan, obyek pembuat benar, obyek pembuat salah, obyek pembuat suasana, obyek pembuat akhiran, obyek pembuat laporan, obyek pembuat metode, obyek pembuat alat, obyek pembuat tulisan, obyek pembuat bicara, obyek pembuat proposal, obyek pembuat baik, obyek pembuat buruk, obyek pembuat bergerak, obyek pembuat diam, obyek pembuat tidak jelas, obyek pembuat kacau, obyek pembuat tidak kacau, obyek pembuat jargon, obyek pembuat elegi, obyek pembuat contoh, obyek pembuat hubungan, obyek pembuat sesuai, obyek pembuat tidak sesuai, obyek pembuat terang, obyek pembuat gelap, obyek pembuat mahal, obyek pembuat murah, obyek pembuat turun, obyek pembuat naik, pambuat ramai, obyek pembuat sepi, obyek pembuat perang, obyek pembuat kacau, obyek pembuat adil, obyek pembuat jabatan, obyek pembuat PR, obyek pembuat nilai, obyek pembuat naik kelas, obyek pembuat lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek pembuat. Para obyek pembuat itu adalah para obyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?

Para obyek penentu:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek penentu.
Aku itu meliputi para obyek penentu tugas, obyek penentu mandat, obyek penentu amanah, obyek penentu kewajiban, obyek penentu aturan, obyek penentu obyek, obyek penentu sifat, obyek penentu permulaan, obyek penentu inisiatif, obyek penentu kesimpulan, obyek penentu pertanyaan, obyek penentu jawaban, obyek penentu kesimpulan, obyek penentu benar, obyek penentu salah, obyek penentu suasana, obyek penentu akhiran, obyek penentu laporan, obyek penentu metode, obyek penentu alat, obyek penentu tulisan, obyek penentu bicara, obyek penentu proposal, obyek penentu baik, obyek penentu buruk, obyek penentu bergerak, obyek penentu diam, obyek penentu tidak jelas, obyek penentu kacau, obyek penentu tidak kacau, obyek penentu jargon, obyek penentu elegi, obyek penentu contoh, obyek penentu hubungan, obyek penentu sesuai, obyek penentu tidak sesuai, obyek penentu terang, obyek penentu gelap, obyek penentu mahal, obyek penentu murah, obyek penentu turun, obyek penentu naik, obyek penentu ramai, obyek penentu sepi, obyek penentu perang, obyek penentu kacau, obyek pembuat adil, obyek penentu jabatan, obyek penentu PR, obyek penentu nilai, obyek penentu naik kelas, obyek penentu lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek penentu. Para obyek penentu itu adalah para obyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?

Para obyek pengemban:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pengemban.
Aku itu meliputi para obyek pengemban tugas, obyek pengemban mandat, obyek pengemban amanah, obyek pengemban kewajiban, obyek pengemban aturan, obyek pengemban obyek, obyek pengemban sifat, obyek pengemban permulaan, obyek pengemban inisiatif, obyek pengemban kesimpulan, obyek pengemban pertanyaan, obyek pengemban jawaban, obyek pengemban kesimpulan, obyek pengemban benar, obyek pengemban salah, obyek pengemban suasana, obyek pengemban akhiran, obyek pengemban laporan, obyek pengemban metode, obyek pengemban alat, obyek pengemban tulisan, obyek pengemban bicara, obyek pengemban proposal, obyek pengemban baik, obyek pengemban buruk, obyek pengemban bergerak, obyek pengemban diam, obyek pengemban tidak jelas, obyek pengemban kacau, obyek pengemban tidak kacau, obyek pengemban jargon, obyek pengemban elegi, obyek pengemban contoh, obyek pengemban hubungan, obyek pengemban sesuai, obyek pengemban tidak sesuai, obyek pengemban terang, obyek pengemban gelap, obyek pengemban mahal, obyek pengemban murah, obyek pengemban turun, obyek pengemban naik, obyek pengemban ramai, obyek pengemban sepi, obyek pengemban perang, obyek pengemban kacau, obyek pembuat adil, obyek pengemban jabatan, obyek pengemban PR, obyek pengemban nilai, obyek pengemban naik kelas, obyek pengemban lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pengemban. Para obyek pengemban itu adalah para obyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?

Para obyek pemangku:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pemangku.
Aku itu meliputi para obyek pemangku tugas, obyek pemangku mandat, obyek pemangku amanah, obyek pemangku kewajiban, obyek pemangku aturan, obyek pemangku obyek, obyek pemangku sifat, obyek pemangku permulaan, obyek pemangku inisiatif, obyek pemangku kesimpulan, obyek pemangku pertanyaan, obyek pemangku jawaban, obyek pemangku kesimpulan, obyek pemangku benar, obyek pemangku salah, obyek pemangku suasana, obyek pemangku akhiran, obyek pemangku laporan, obyek pemangku metode, obyek pemangku alat, obyek pemangku tulisan, obyek pemangku bicara, obyek pemangku proposal, obyek pemangku baik, obyek pemangku buruk, obyek pemangku bergerak, obyek pemangku diam, obyek pemangku tidak jelas, obyek pemangku kacau, obyek pemangku tidak kacau, obyek pemangku jargon, obyek pemangku elegi, obyek pemangku contoh, obyek pemangku hubungan, obyek pemangku sesuai, obyek pemangku tidak sesuai, obyek pemangku terang, obyek pemangku gelap, obyek pemangku mahal, obyek pemangku murah, obyek pemangku turun, obyek pemangku naik, obyek pemangku ramai, obyek pemangku sepi, obyek pemangku perang, obyek pemangku kacau, obyek pembuat adil, obyek pemangku jabatan, obyek pemangku PR, obyek pemangku nilai, obyek pemangku naik kelas, obyek pemangku lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pemangku. Para obyek pemangku itu adalah para obyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?

Para obyek pelaksana:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pelaksana.
Aku itu meliputi para obyek pelaksana tugas, obyek pelaksana mandat, obyek pelaksana amanah, obyek pelaksana kewajiban, obyek pelaksana aturan, obyek pelaksana obyek, obyek pelaksana sifat, obyek pelaksana permulaan, obyek pelaksana inisiatif, obyek pelaksana kesimpulan, obyek pelaksana pertanyaan, obyek pelaksana jawaban, obyek pelaksana kesimpulan, obyek pelaksana benar, obyek pelaksana salah, obyek pelaksana suasana, obyek pelaksana akhiran, obyek pelaksana laporan, obyek pelaksana metode, obyek pelaksana alat, obyek pelaksana tulisan, obyek pelaksana bicara, obyek pelaksana proposal, obyek pelaksana baik, obyek pelaksana buruk, obyek pelaksana bergerak, obyek pelaksana diam, obyek pelaksana tidak jelas, obyek pelaksana kacau, obyek pelaksana tidak kacau, obyek pelaksana jargon, obyek pelaksana elegi, obyek pelaksana contoh, obyek pelaksana hubungan, obyek pelaksana sesuai, obyek pelaksana tidak sesuai, obyek pelaksana terang, obyek pelaksana gelap, obyek pelaksana mahal, obyek pelaksana murah, obyek pelaksana turun, obyek pelaksana naik, obyek pelaksana ramai, obyek pelaksana sepi, obyek pelaksana perang, obyek pelaksana kacau, obyek pembuat adil, obyek pelaksana jabatan, obyek pelaksana PR, obyek pelaksana nilai, obyek pelaksana naik kelas, obyek pelaksana lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pelaksana. Para obyek pelaksana itu adalah para obyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?

Para obyek pemelihara:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pemelihara.
Aku itu meliputi para obyek pemelihara tugas, obyek pemelihara mandat, obyek pemelihara amanah, obyek pemelihara kewajiban, obyek pemelihara aturan, obyek pemelihara obyek, obyek pemelihara sifat, obyek pemelihara permulaan, obyek pemelihara inisiatif, obyek pemelihara kesimpulan, obyek pemelihara pertanyaan, obyek pemelihara jawaban, obyek pemelihara kesimpulan, obyek pemelihara benar, obyek pemelihara salah, obyek pemelihara suasana, obyek pemelihara akhiran, obyek pemelihara laporan, obyek pemelihara metode, obyek pemelihara alat, obyek pemelihara tulisan, obyek pemelihara bicara, obyek pemelihara proposal, obyek pemelihara baik, obyek pemelihara buruk, obyek pemelihara bergerak, obyek pemelihara diam, obyek pemelihara tidak jelas, obyek pemelihara kacau, obyek pemelihara tidak kacau, obyek pemelihara jargon, obyek pemelihara elegi, obyek pemelihara contoh, obyek pemelihara hubungan, obyek pemelihara sesuai, obyek pemelihara tidak sesuai, obyek pemelihara terang, obyek pemelihara gelap, obyek pemelihara mahal, obyek pemelihara murah, obyek pemelihara turun, obyek pemelihara naik, obyek pemelihara ramai, obyek pemelihara sepi, obyek pemelihara perang, obyek pemelihara kacau, obyek pembuat adil, obyek pemelihara jabatan, obyek pemelihara PR, obyek pemelihara nilai, obyek pemelihara naik kelas, obyek pemelihara lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pemelihara. Para obyek pemelihara itu adalah para obyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?

Para obyek pengawas:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pengawas.
Aku itu meliputi para obyek pengawas tugas, obyek pengawas mandat, obyek pengawas amanah, obyek pengawas kewajiban, obyek pengawas aturan, obyek pengawas obyek, obyek pengawas sifat, obyek pengawas permulaan, obyek pengawas inisiatif, obyek pengawas kesimpulan, obyek pengawas pertanyaan, obyek pengawas jawaban, obyek pengawas kesimpulan, obyek pengawas benar, obyek pengawas salah, obyek pengawas suasana, obyek pengawas akhiran, obyek pengawas laporan, obyek pengawas metode, obyek pengawas alat, obyek pengawas tulisan, obyek pengawas bicara, obyek pengawas proposal, obyek pengawas baik, obyek pengawas buruk, obyek pengawas bergerak, obyek pengawas diam, obyek pengawas tidak jelas, obyek pengawas kacau, obyek pengawas tidak kacau, obyek pengawas jargon, obyek pengawas elegi, obyek pengawas contoh, obyek pengawas hubungan, obyek pengawas sesuai, obyek pengawas tidak sesuai, obyek pengawas terang, obyek pengawas gelap, obyek pengawas mahal, obyek pengawas murah, obyek pengawas turun, obyek pengawas naik, obyek pengawas ramai, obyek pengawas sepi, obyek pengawas perang, obyek pengawas kacau, obyek pembuat adil, obyek pengawas jabatan, obyek pengawas PR, obyek pengawas nilai, obyek pengawas naik kelas, obyek pengawas lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pengawas. Para obyek pengawas itu adalah para obyek.

...

Jargon:
Aku ternyata masih melihat para obyek yang lain. Sekarang aku tahu bahwa di situ juga terdapat obyek para penilai, obyek para komentator, obyek para pendoa, obyek para pengacau, ...dst. Maka aku sedang menghadapi ada tak berhingga banyaknya para para obyek. Ternyata aku masih pula melihat para para para para para...obyek.

Para para para ...obyek:
Wahai jargon, apa yang sedang engkau pikirkan?

Jargon:
Aku sedang dalam kondisi di antara jelas dan tidak jelas. Mengapa? Karena aku ternyata mendapatkan para obyek itu banyak dan bermacam-macam. Aku agak sulit membedakan satu dengan yang lain, maka aku sedang mengalami kekacauan pikiran. Tetapi mengapa aku harus bingung, bukankah aku harus bisa bersikap. Ah untuk mengetahui sekedar obyek saja kok sulitnya bukan main. Tak peduli. Mereka ada atau tidak ada, bagiku tak masalah. Obyek itu toh tak ada artinya jika tidak ada subyek. Obyek itu juga tidak ada artinya jika tidak ada subyek pembuat, subyek penentu, subyek pengemban, subyek pemangku, subyek penilai..dst. Tetapi mengapa aku juga ternyata menyebut mereka. Bukankah menyebut mereka itu sama artinya aku menganggap mereka itu penting. Wah kacau pikiranku. Bukankah aku ini adalah jargon. Bukankah jargon itu juga berhak berkuasa. Jika aku berkuasa maka aku dapat menentukan sifat-sifat sesuka hatiku sesuai dengan tujuanku dan kebisaanku, sesuai dengan sifatku, sesuai dengan kepentinganku, sesuai dengan tujuanku.

Para para para ...obyek:
Wahai jargon, aku telah menyaksikan pengakuanmu sebagai jargon. Itulah sebenar-benar jargon, si berpikir kacau dan obyek pembuat kacau, obyek penentu kacau, obyek pengemban kacau, peneilai kacau, pemroduksi kacau, obyek pemangku kaca, bahasa kacau, ....dst. Ternyata aku melihat bahwa banyak anggotamu itu adalah sebanyak diriku.

Jargon:
Wahai para obyek, janganlah bersifat munafik. Aku telah menyaksikan bahwa engkau semua itu sebenarnya para jargon itu. Para jargon adalah para obyek dengan pikiran kacau, bahasa kacau, obyek pemangku kacau, penilai kacau, ...dst. Jadi engkau telah memahami bahwa engkau itu ternyata adalah anggota para para para ...jargon.

Para para para ...obyek:
Maafkanlah wahai para para para...jargon. Ternyata aku telah menyadari bahwa para jargon itu adalah bagian dari diriku. Tetapi aku ingin sampaikan bahwa aku tidak dapat melepaskan dirimu. Aku merasa selalu memerlukanmu untuk menjaga sifatku sebagai para obyek. Ternyata dalam rangka menegakkan diriku sebagai obyek, aku telah terbukti bahwa aku adalah engkau, yaitu para jargon. Aku memerlukan perundingan dan waktu berikutnya lebih jauh dengan dirimu untuk mengetahui lebih lanjut sifat-sifat diriku dan dirimu. Dan ternyata aku menemukan bahwa ketika aku memikirkanku maka aku obyek telah berubah menjadi aku subyek, yaitu jargon. Maka dapat aku katakan bahwa para obyek itu ternyata juga para jargon. Para subyek itu juga para jargon. Lebih lanjut dapat aku katakan bahwa semuanya itu jargon. Jadi ternyata dunia itu jargon. Sebenar-benar bukan jargon adalah hanya kuasa dan milik Tuhan YME.

26 comments:

  1. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Jargon adalah bagian dari para obyek. Para obyek tidak bisa melepaskan jargon karena sangat memerlukannya untuk menjaga sifat para obyek. Obyek juga tidak bisa terpisah dari subyek, karena keduanya saling membutuhkan dan melengkapi. Baik obyek maupun subyek, keduanya sama-sama membutuhkan jargon.

    ReplyDelete
  2. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Kita harus lah sadar bahwa sesungguhnya jargon adalah bagian dari diri kita.Kita tak bisa melepaskan jargon dari diri kita, karena kita memerlukan jargon untuk menjaga sifat kita sebagai obyek. Ketika memikirkan diri kita maka sesungguhnya kita sebagai obyek telah berubah menjadi subyek, yaitu jargon. Maka sesungguhnya subyek dan obyek adalah jargon dan sebenar-benar bukan jargon adalah hanya kekuasaan dan milik Tuhan YME.

    ReplyDelete
  3. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, sejujurnya saya masih mengalami kebingungan ketika membaca elegi ini, sepenangkapan saya adalah janganlah selalu menjadi sosok yang pasif, sosok obyek yang hanya dikenakan sebuah pekerjaan. jadilah sosok yang aktif menjadi sosok subyek yang melakukan, berinisiatif, serta mempelopori sebuah pekerjaan.

    ReplyDelete
  4. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Jargon adalah predikat yang melekat pada diri subyek, sehingga apa yang menjadi andalan subyek maka itulah yang menjadi jargonnya. Sehingga dalam hal ini jargon tidak akan pernah sama dengan subyeknya sebagaimana subyek tidak akan pernah sama dengan obyeknya. Oleh karena itu jargon hanyalah milik Allah SWT karena yang dapat sama antara subjek dan predikatnya atau antara subjek sama dengan jargonnya hanyalah Allah SWT.

    ReplyDelete
  5. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Setelah membaca ini, hal yang saya dapati adalah subyek, jargon, dan obyek itu tidak lepas antara satu yang lain. Tanpa ada subyek jargon tak ada artinya, tanpa ada obyek jargon juga tidak ada artinya, tanpa ada subyek jargon dan obyek bagaimana bisa terhubung?, subyek dan jargon tanpa obyek, maka tak ada sasaran dan tujuannya. Semuanya saling melengkapi dan memiliki peran masing-masing. Satu-satunya yang terlepas dan menguasai segalanya adalah kuasa Tuhan Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  6. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dalam elegi ini menjelaskan bahwa obyek ini bagian dari jargon. Dan jika berbicara tentang obyek maka tidak tertinggal pula subyek. Dimana subyek dan obyek ini termasuk dan merupakan jargon. Bahkan segala hal yang ada dalam dunia ini adalah jargon kecuali Tuhan Yang Maha Esa yang bukan merupakan Jargon. Dalam elegi ini saya juga mengetahui dan semakin yakin bahwa ada banyak hal yang kita ketahui seberapapun yang kita sebutkan maka itu tidak akan cukup untuk menyebutkan hal yang ada. Contohnya saja obyek meliputi banyak obyek lainnya. Banyak cabangnya.

    ReplyDelete
  7. Junianto
    PM C
    17706251065
    Manusia yang hidup di dunia tidak pernah terlepas dari kesalahan. Manusia yang mengatakan bahwa dirinya selalu berfikir dan menilai sesuatu secara objektif atau sesuai dengan fakta, ternyata dibarengi dengan jargonnya (subjektivitas) sendiri. Manusia yang mengaku dirinya benar dan menganggap orang lain salah terkadang mengindikasikan kesombongan, padahal sebenar-benar kebaikan dan kebenaran hanyalah milik Tuhan YME. Sebagai manusia wajib berusaha berpikir, bertindak, mengambil keputusan, dll secara objektif mekipun tidak bisa 100%. Namun hal ini tetap harus dilakukan untuk meminimalisir subjektivitas.

    ReplyDelete
  8. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Jargon para objek menjelaskan tentang keanekaragaman objek, dan ternyata objek adalah jargon. Objek itu banyak dan bermacam-macam ada objek pembuat, penentu, pengemban, pemangku, pelaksana, pemelihara, dan lain sebagainya. Objek tidak akan ada artinya jika tidak ada subjek. Sebenar-benarnya jargon adalah para objek yang pikirannya kacau, bahasanya kacau dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  9. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Pemaparan jargon para obyek di atas, saya dapat memahami bahwa melalui obyek seseorang dapat memiliki eksistensi. Namun, perlu disadari bahwa bukti eksistensi yang ada pada diri manusia hanyalah sebagai bukti dari adanya Sang Maha Kuasa yang telah menciptakannya. Saya menjadi teringat statement ini "Barang siapa yang mengenal dirinya sendiri maka ia akan mengenal Tuhannya". Menurut saya, apa yang ada di dalam dan di luar diri manusia dapat dijadikan sebagai sarana pembelajaran untuk mengenal Sang Maha Kuasa dan pengembangan diri manusia itu sendiri.

    ReplyDelete
  10. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Obyek bisa bermacam-macam. Biasanya obyek merupakan yang dikenai. Maka adanya obyek dikarenakan adanya subyek atau dapat dikatakan bahwa obyek melekat pada subyek. Bahkan, obyek dapat sekaligus menjadi subyek karena suatu obyek dapat mengenai obyek yang lainnya. Setiap obyek yang bermacam-macam ini memiliki jargon untuk menunjukkan keberadaanya.

    ReplyDelete
  11. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada menjadi obyek ternyata memiliki jargon. Karena sifat ketidaksempurnaanya, kita bisa mengatakan itu merupakan sebuah jargon. Sebagai seorang yang senantiasa belajar dari pengalaman, kita jangan sampai termakan jargon dengan senantiasa menjadikan hati sebagai komandan dalam bertindak dan juga senantiasa mendekatkan diri kepada yang bukan jargon, Allah SWT.

    ReplyDelete

  12. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamaualaikum wr wb.
    Saya mengalami kesulitan dalam memaknai elgei ini.Tapi setelah berusaha memahami walau tetap saja terasa sulit Adanya banyak objek tersebut tergantung sejauh mana jargon memandang objek tersebut.Sehingga objek terbagi menjadi beberapa bagian.Ketika jargon berpikir tentang obyek maka jargon bisa merubah diri menjadi subyek.

    ReplyDelete
  13. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Terima kasih elegi yang sangat dalam, namun sejujurnya saya tidak terlalu paham dengan elegi ini. Namun dengan pemahaman yang terbatas saya mencoba berpikir bahwa yang saya tangkap adalah Objek memiliki banyak jenis dan membuat kacau pikiran bagi jargon. Begitu juga jargon, ia dapat menyesuaikan dengan objek sesuai ruang dan waktu. Jadi, tidak ada kekuasaan tunggal antara objek dan jargon, ia adalah saling berhubungan, saling membutuhkan dan saling melengkapi.

    ReplyDelete
  14. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmu yang bermanfaat ini
    Jargon para obyek. Sesungguhnya saya sudah berjumpa dengan beberapa elegy tentang “jargon”. Akan tetapi hingga saat ini saya masih meraba-raba apa makna “jargon” itu sendiri. Kemudian ditambah dengan statement bahwa jargon para obyek sebenarnya adalah para obyek dengan pikiran kacau. Apakah jargon merupakan gerbang seseorang dapat meraih ilmu ilmu dan pengetahuaannya? Jika si pemilik jargon puas dengan jargonnya, apakah jargon bisa membawa si pemilik jargon pada kesombongan? Mohon pencerahannya. Terimakasih, elegi ini benar-benar sangat menarik

    ReplyDelete
  15. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih banyak prof. Marsigit atas artikel kali ini. Sejujurnya saya cukup prihatin pada diri saya, karena topik pembicaraan kali ini saya sulit menangkap apa yang dimaksud. Sebenarnya saya takut menyederhanakan pengibaratan di atas. Apalagi kalau perbincangan di atas bukanlah suatu pengibaratan namun bahasa analog yang berada pada konteks subjek, objek, dan jargon. Jika saya berani mengutarakan, kurang lebih seperti ini yang saya tangkap dari dialog si objek, para para objek, para para para objek dan jargon di atas. Jika kita membayangkan kita adalah subjek. Setiap subjek adalah potensi, salah satunya potensi nya adalah memikirkan suatu objek. Objek dapat berupa benda, atau aktivitas. Objek yang ditangkap oleh pikiran si subjek, memerlukan penafsiran dan pengolahan data yang nantinya akan membuahkan sebuah jargon. Jargon yang dimiliki setiap subjek berbeda-beda akan suatu objek, tergantung cara pandang dan perspektif masing-masing. Stop. Saya tidak berani meneruskan lorong yang saya buat ini. Khawatirnya ini hanyalah mitos, dan pikiranku saat ini dikuasai oleh mitos. Wallahualam bishowab, semoga artikel ini bisa dijelaskan lagi oleh bapak. Terimakasih.

    ReplyDelete
  16. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Berdasarkan jargon para obyek ini saya memahami bahwa jargon adalah bagian dari obyek dan obyek juga bagian dari jargon. Dan jika membicarakan mengenai obyek maka tidak akan terlepas dari subyeknya. Sehingga yang didapati disini adalah para obyek dan para subyek itu adalah juga para jargon. Maka semua yang ada di dunia ini adalah para jargon. Masing-masing antara obyek dan subyek mempunyai perannya tersendiri. Namun, hanya satu yang terlepas dari dari jargon yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  17. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Dari yang disampaikan pada elegi ini yang mengambil kesimpulan bahwa sebenar-benarnya objek adalah mereka yang tidak mengabaikan para objek. Karena pada hakikatnya mereka itu satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Jika objek dan para objek terpisahkan maka tidak akan terjadi keselarasan mengenai objek itu sendiri.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  18. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Saya masih berada pada kebingungan untuk memaknai elegi ini. Apa yang dimaksudkan dengan jargon disini? Saya masih bertanya-tanya. Pendapat saya mengenai elegi ini setelah membacanya, jargon itu seperti suatu hal yang sulit untuk dilepaskan di kehidupan nyata. Seperti halnya logos dan mitos. Jargon ternyata juga diri si obyek yang mungkin ia tidak sadari. Ya subyek itu sendiri adalah jargon. Dan jargon adalah obyek. Maka subyek dan obyek memiliki hubungan yang erat dan saling mempengaruhi. Hanya kuasa dan milik Tuhan yang bukan jargon, demikian kalimat terakhir dari elegi ini. Kembali lagi, baca baca dan baca untuk bsa lebih memahami isi elegi ini.

    ReplyDelete
  19. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Terima kasih Prof Marsigit atas tulisannya. Hanya saja, secara pribadi saya masih belum bisa benar-benar memahami makna jargon, meskipun di beberapa tulisan Prof Marsigit seringkali mengangkat kata jargon. Namun begitu, dalam tulisan ini saya menangkap bahwa sebanyak apapun objek dia tidak bisa berdiri sendiri, melainkan membutuhkan subjek agar objek tersebut lebih bermakna.

    ReplyDelete
  20. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Subjek sebagai pelaku, sedangkan objek sebagai sesuatu yang dikenai perbuatan atau tindakan. Objek dan subjek saling berkaitan, objek banyak sekali jumlahnya. pemikiran manusia tentang objek sangat terbatas, sehingga tidaklah pantas jika manusia masih mempertahankan sombong. Sama halnya dengan subjek, objek juga memiliki jargon yang berfungsi untuk mempertahankan sifatnya.

    ReplyDelete
  21. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Subjek dan Objek dua hal yang saling berkaitan dan saling berhubungan satu sama lain. Tiadalah Objek tanpa Subjek dan tiadalah subjek tanpa objek. Saya dapat mengambil pelajaran dari sini bahwa kita manusia tiadalah bisa hidup tanpa bantuan orang lain, setinggi-tinggi jabatan yang didapatkan, kita masih butuh orang lain untuk bertahan hidup. Sepertinya hal nya objek, sebanyak-banyaknya objek juga tidak dapat dikatakan objek tanpa ada nya subjek.

    ReplyDelete
  22. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Obyek bisa dimaknai hawa nafsu, sedangkan subyek bisa dimaknai pengendalian diri. Jdi jika obyek berkuasa atas subyek, maka hawa nafsulah yang menjadi motor utama dalam beraktifitas. Namun jika subyek berkuasa atas obyek maka diri bisa dikendalikan dan malahan mengendalikan hawa nafsu. Karena musuh terbesar bukan musuh yang nampak wjudnya, melainkan musuh yang ada dalam diri setiap manusia yaitu hawa nafsu.

    ReplyDelete
  23. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Objek dan jargon sama-sama tidak menyadari bahwa keduanya saling membutuhkan. Untuk mengakui suatu keberadaan objek, objek membutuhkan jargon untuk menetapkan sifat-sifatnya. Jargon juga memerlukan objek-objek untuk dapat eksis dan melakukan tugasnya. Keduanya bekerja dalam satu sistem. Jargon dapat dikatakan pengontrol objek sehingga objek tidak keluar dari sistemnya masing-masing. Seerti halnya manusia, dalam berbagai objek pada ruang dan waktu, kita dibatasi oleh aturan-aturan sehingga kita tidak dapat berlaku seenaknya dan menghilangkan sifat-sifat tertentu.

    ReplyDelete
  24. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Terimakasih atas postingannya pak, antara subyek dan obyek adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, karena keduanya saling melengkapi satu sama lain, tidak akan ada subyek jika tidak ada obyek dan begitupun sebaliknya tidak akan ada obyek tanpa adanya subyek. Sebagaimana yang tertulis diatas "Tak peduli. Mereka ada atau tidak ada, bagiku tak masalah. Obyek itu toh tak ada artinya jika tidak ada subyek".

    ReplyDelete
  25. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Objek tidak hanya terdiri dari satu macam saja. Ternyata objek terdiri dari bermacam-macam sesuai dengan posisi, manfaat serta tugasnya masing. Kesemuanya menempati posisi sesuai dengan kedudukannya. Objek dan subjek merupakan hal yang saling membutuhkan. Dan ternyata objek itu adalah dirikita sendiri.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  26. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Subyek dan obyek merupakan tingkatan di dalam kehidupan. Subyek lebih berkuasa daripada obyek karna subyek yang mengatur obyek. Obyek tidak dapat menggapai subyek. Oleh karena itu, mereka di ada kan untuk saling melengkapi satu sama lain. Subyek tidak dapat berdiri sendiri begitu juga obyek.

    ReplyDelete