Sep 20, 2013

Jargon Para Obyek




Oleh Marsigit

Jargon:
Wahai para obyek, apa yang engkau ingin katakan kepadaku? Kenapa engkau datang berbondong-bondong kepadaku? Siapa sajakah engkau itu?

Para obyek pembuat:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pembuat. Aku itu meliputi para obyek pembuat tugas, obyek pembuat mandat, obyek pembuat amanah, obyek pembuat kewajiban, obyek pembuat aturan, obyek pembuat obyek, obyek pembuat sifat, obyek pembuat permulaan, obyek pembuat inisiatif, obyek pembuat kesimpulan, obyek pembuat pertanyaan, obyek pembuat jawaban, obyek pembuat kesimpulan, obyek pembuat benar, obyek pembuat salah, obyek pembuat suasana, obyek pembuat akhiran, obyek pembuat laporan, obyek pembuat metode, obyek pembuat alat, obyek pembuat tulisan, obyek pembuat bicara, obyek pembuat proposal, obyek pembuat baik, obyek pembuat buruk, obyek pembuat bergerak, obyek pembuat diam, obyek pembuat tidak jelas, obyek pembuat kacau, obyek pembuat tidak kacau, obyek pembuat jargon, obyek pembuat elegi, obyek pembuat contoh, obyek pembuat hubungan, obyek pembuat sesuai, obyek pembuat tidak sesuai, obyek pembuat terang, obyek pembuat gelap, obyek pembuat mahal, obyek pembuat murah, obyek pembuat turun, obyek pembuat naik, pambuat ramai, obyek pembuat sepi, obyek pembuat perang, obyek pembuat kacau, obyek pembuat adil, obyek pembuat jabatan, obyek pembuat PR, obyek pembuat nilai, obyek pembuat naik kelas, obyek pembuat lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek pembuat. Para obyek pembuat itu adalah para obyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?

Para obyek penentu:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek penentu.
Aku itu meliputi para obyek penentu tugas, obyek penentu mandat, obyek penentu amanah, obyek penentu kewajiban, obyek penentu aturan, obyek penentu obyek, obyek penentu sifat, obyek penentu permulaan, obyek penentu inisiatif, obyek penentu kesimpulan, obyek penentu pertanyaan, obyek penentu jawaban, obyek penentu kesimpulan, obyek penentu benar, obyek penentu salah, obyek penentu suasana, obyek penentu akhiran, obyek penentu laporan, obyek penentu metode, obyek penentu alat, obyek penentu tulisan, obyek penentu bicara, obyek penentu proposal, obyek penentu baik, obyek penentu buruk, obyek penentu bergerak, obyek penentu diam, obyek penentu tidak jelas, obyek penentu kacau, obyek penentu tidak kacau, obyek penentu jargon, obyek penentu elegi, obyek penentu contoh, obyek penentu hubungan, obyek penentu sesuai, obyek penentu tidak sesuai, obyek penentu terang, obyek penentu gelap, obyek penentu mahal, obyek penentu murah, obyek penentu turun, obyek penentu naik, obyek penentu ramai, obyek penentu sepi, obyek penentu perang, obyek penentu kacau, obyek pembuat adil, obyek penentu jabatan, obyek penentu PR, obyek penentu nilai, obyek penentu naik kelas, obyek penentu lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek penentu. Para obyek penentu itu adalah para obyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?

Para obyek pengemban:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pengemban.
Aku itu meliputi para obyek pengemban tugas, obyek pengemban mandat, obyek pengemban amanah, obyek pengemban kewajiban, obyek pengemban aturan, obyek pengemban obyek, obyek pengemban sifat, obyek pengemban permulaan, obyek pengemban inisiatif, obyek pengemban kesimpulan, obyek pengemban pertanyaan, obyek pengemban jawaban, obyek pengemban kesimpulan, obyek pengemban benar, obyek pengemban salah, obyek pengemban suasana, obyek pengemban akhiran, obyek pengemban laporan, obyek pengemban metode, obyek pengemban alat, obyek pengemban tulisan, obyek pengemban bicara, obyek pengemban proposal, obyek pengemban baik, obyek pengemban buruk, obyek pengemban bergerak, obyek pengemban diam, obyek pengemban tidak jelas, obyek pengemban kacau, obyek pengemban tidak kacau, obyek pengemban jargon, obyek pengemban elegi, obyek pengemban contoh, obyek pengemban hubungan, obyek pengemban sesuai, obyek pengemban tidak sesuai, obyek pengemban terang, obyek pengemban gelap, obyek pengemban mahal, obyek pengemban murah, obyek pengemban turun, obyek pengemban naik, obyek pengemban ramai, obyek pengemban sepi, obyek pengemban perang, obyek pengemban kacau, obyek pembuat adil, obyek pengemban jabatan, obyek pengemban PR, obyek pengemban nilai, obyek pengemban naik kelas, obyek pengemban lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pengemban. Para obyek pengemban itu adalah para obyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?

Para obyek pemangku:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pemangku.
Aku itu meliputi para obyek pemangku tugas, obyek pemangku mandat, obyek pemangku amanah, obyek pemangku kewajiban, obyek pemangku aturan, obyek pemangku obyek, obyek pemangku sifat, obyek pemangku permulaan, obyek pemangku inisiatif, obyek pemangku kesimpulan, obyek pemangku pertanyaan, obyek pemangku jawaban, obyek pemangku kesimpulan, obyek pemangku benar, obyek pemangku salah, obyek pemangku suasana, obyek pemangku akhiran, obyek pemangku laporan, obyek pemangku metode, obyek pemangku alat, obyek pemangku tulisan, obyek pemangku bicara, obyek pemangku proposal, obyek pemangku baik, obyek pemangku buruk, obyek pemangku bergerak, obyek pemangku diam, obyek pemangku tidak jelas, obyek pemangku kacau, obyek pemangku tidak kacau, obyek pemangku jargon, obyek pemangku elegi, obyek pemangku contoh, obyek pemangku hubungan, obyek pemangku sesuai, obyek pemangku tidak sesuai, obyek pemangku terang, obyek pemangku gelap, obyek pemangku mahal, obyek pemangku murah, obyek pemangku turun, obyek pemangku naik, obyek pemangku ramai, obyek pemangku sepi, obyek pemangku perang, obyek pemangku kacau, obyek pembuat adil, obyek pemangku jabatan, obyek pemangku PR, obyek pemangku nilai, obyek pemangku naik kelas, obyek pemangku lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pemangku. Para obyek pemangku itu adalah para obyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?

Para obyek pelaksana:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pelaksana.
Aku itu meliputi para obyek pelaksana tugas, obyek pelaksana mandat, obyek pelaksana amanah, obyek pelaksana kewajiban, obyek pelaksana aturan, obyek pelaksana obyek, obyek pelaksana sifat, obyek pelaksana permulaan, obyek pelaksana inisiatif, obyek pelaksana kesimpulan, obyek pelaksana pertanyaan, obyek pelaksana jawaban, obyek pelaksana kesimpulan, obyek pelaksana benar, obyek pelaksana salah, obyek pelaksana suasana, obyek pelaksana akhiran, obyek pelaksana laporan, obyek pelaksana metode, obyek pelaksana alat, obyek pelaksana tulisan, obyek pelaksana bicara, obyek pelaksana proposal, obyek pelaksana baik, obyek pelaksana buruk, obyek pelaksana bergerak, obyek pelaksana diam, obyek pelaksana tidak jelas, obyek pelaksana kacau, obyek pelaksana tidak kacau, obyek pelaksana jargon, obyek pelaksana elegi, obyek pelaksana contoh, obyek pelaksana hubungan, obyek pelaksana sesuai, obyek pelaksana tidak sesuai, obyek pelaksana terang, obyek pelaksana gelap, obyek pelaksana mahal, obyek pelaksana murah, obyek pelaksana turun, obyek pelaksana naik, obyek pelaksana ramai, obyek pelaksana sepi, obyek pelaksana perang, obyek pelaksana kacau, obyek pembuat adil, obyek pelaksana jabatan, obyek pelaksana PR, obyek pelaksana nilai, obyek pelaksana naik kelas, obyek pelaksana lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pelaksana. Para obyek pelaksana itu adalah para obyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?

Para obyek pemelihara:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pemelihara.
Aku itu meliputi para obyek pemelihara tugas, obyek pemelihara mandat, obyek pemelihara amanah, obyek pemelihara kewajiban, obyek pemelihara aturan, obyek pemelihara obyek, obyek pemelihara sifat, obyek pemelihara permulaan, obyek pemelihara inisiatif, obyek pemelihara kesimpulan, obyek pemelihara pertanyaan, obyek pemelihara jawaban, obyek pemelihara kesimpulan, obyek pemelihara benar, obyek pemelihara salah, obyek pemelihara suasana, obyek pemelihara akhiran, obyek pemelihara laporan, obyek pemelihara metode, obyek pemelihara alat, obyek pemelihara tulisan, obyek pemelihara bicara, obyek pemelihara proposal, obyek pemelihara baik, obyek pemelihara buruk, obyek pemelihara bergerak, obyek pemelihara diam, obyek pemelihara tidak jelas, obyek pemelihara kacau, obyek pemelihara tidak kacau, obyek pemelihara jargon, obyek pemelihara elegi, obyek pemelihara contoh, obyek pemelihara hubungan, obyek pemelihara sesuai, obyek pemelihara tidak sesuai, obyek pemelihara terang, obyek pemelihara gelap, obyek pemelihara mahal, obyek pemelihara murah, obyek pemelihara turun, obyek pemelihara naik, obyek pemelihara ramai, obyek pemelihara sepi, obyek pemelihara perang, obyek pemelihara kacau, obyek pembuat adil, obyek pemelihara jabatan, obyek pemelihara PR, obyek pemelihara nilai, obyek pemelihara naik kelas, obyek pemelihara lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pemelihara. Para obyek pemelihara itu adalah para obyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?

Para obyek pengawas:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pengawas.
Aku itu meliputi para obyek pengawas tugas, obyek pengawas mandat, obyek pengawas amanah, obyek pengawas kewajiban, obyek pengawas aturan, obyek pengawas obyek, obyek pengawas sifat, obyek pengawas permulaan, obyek pengawas inisiatif, obyek pengawas kesimpulan, obyek pengawas pertanyaan, obyek pengawas jawaban, obyek pengawas kesimpulan, obyek pengawas benar, obyek pengawas salah, obyek pengawas suasana, obyek pengawas akhiran, obyek pengawas laporan, obyek pengawas metode, obyek pengawas alat, obyek pengawas tulisan, obyek pengawas bicara, obyek pengawas proposal, obyek pengawas baik, obyek pengawas buruk, obyek pengawas bergerak, obyek pengawas diam, obyek pengawas tidak jelas, obyek pengawas kacau, obyek pengawas tidak kacau, obyek pengawas jargon, obyek pengawas elegi, obyek pengawas contoh, obyek pengawas hubungan, obyek pengawas sesuai, obyek pengawas tidak sesuai, obyek pengawas terang, obyek pengawas gelap, obyek pengawas mahal, obyek pengawas murah, obyek pengawas turun, obyek pengawas naik, obyek pengawas ramai, obyek pengawas sepi, obyek pengawas perang, obyek pengawas kacau, obyek pembuat adil, obyek pengawas jabatan, obyek pengawas PR, obyek pengawas nilai, obyek pengawas naik kelas, obyek pengawas lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pengawas. Para obyek pengawas itu adalah para obyek.

...

Jargon:
Aku ternyata masih melihat para obyek yang lain. Sekarang aku tahu bahwa di situ juga terdapat obyek para penilai, obyek para komentator, obyek para pendoa, obyek para pengacau, ...dst. Maka aku sedang menghadapi ada tak berhingga banyaknya para para obyek. Ternyata aku masih pula melihat para para para para para...obyek.

Para para para ...obyek:
Wahai jargon, apa yang sedang engkau pikirkan?

Jargon:
Aku sedang dalam kondisi di antara jelas dan tidak jelas. Mengapa? Karena aku ternyata mendapatkan para obyek itu banyak dan bermacam-macam. Aku agak sulit membedakan satu dengan yang lain, maka aku sedang mengalami kekacauan pikiran. Tetapi mengapa aku harus bingung, bukankah aku harus bisa bersikap. Ah untuk mengetahui sekedar obyek saja kok sulitnya bukan main. Tak peduli. Mereka ada atau tidak ada, bagiku tak masalah. Obyek itu toh tak ada artinya jika tidak ada subyek. Obyek itu juga tidak ada artinya jika tidak ada subyek pembuat, subyek penentu, subyek pengemban, subyek pemangku, subyek penilai..dst. Tetapi mengapa aku juga ternyata menyebut mereka. Bukankah menyebut mereka itu sama artinya aku menganggap mereka itu penting. Wah kacau pikiranku. Bukankah aku ini adalah jargon. Bukankah jargon itu juga berhak berkuasa. Jika aku berkuasa maka aku dapat menentukan sifat-sifat sesuka hatiku sesuai dengan tujuanku dan kebisaanku, sesuai dengan sifatku, sesuai dengan kepentinganku, sesuai dengan tujuanku.

Para para para ...obyek:
Wahai jargon, aku telah menyaksikan pengakuanmu sebagai jargon. Itulah sebenar-benar jargon, si berpikir kacau dan obyek pembuat kacau, obyek penentu kacau, obyek pengemban kacau, peneilai kacau, pemroduksi kacau, obyek pemangku kaca, bahasa kacau, ....dst. Ternyata aku melihat bahwa banyak anggotamu itu adalah sebanyak diriku.

Jargon:
Wahai para obyek, janganlah bersifat munafik. Aku telah menyaksikan bahwa engkau semua itu sebenarnya para jargon itu. Para jargon adalah para obyek dengan pikiran kacau, bahasa kacau, obyek pemangku kacau, penilai kacau, ...dst. Jadi engkau telah memahami bahwa engkau itu ternyata adalah anggota para para para ...jargon.

Para para para ...obyek:
Maafkanlah wahai para para para...jargon. Ternyata aku telah menyadari bahwa para jargon itu adalah bagian dari diriku. Tetapi aku ingin sampaikan bahwa aku tidak dapat melepaskan dirimu. Aku merasa selalu memerlukanmu untuk menjaga sifatku sebagai para obyek. Ternyata dalam rangka menegakkan diriku sebagai obyek, aku telah terbukti bahwa aku adalah engkau, yaitu para jargon. Aku memerlukan perundingan dan waktu berikutnya lebih jauh dengan dirimu untuk mengetahui lebih lanjut sifat-sifat diriku dan dirimu. Dan ternyata aku menemukan bahwa ketika aku memikirkanku maka aku obyek telah berubah menjadi aku subyek, yaitu jargon. Maka dapat aku katakan bahwa para obyek itu ternyata juga para jargon. Para subyek itu juga para jargon. Lebih lanjut dapat aku katakan bahwa semuanya itu jargon. Jadi ternyata dunia itu jargon. Sebenar-benar bukan jargon adalah hanya kuasa dan milik Tuhan YME.

78 comments:

  1. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Obyek memang tergantung pada subyeknya. Tetapi tanpa obyek, subyek tidak memiliki arti. Objek adalah peranan yang kita lakukan dalam menjalani hidup yang hanya sementara ini. Objek yang ada mempunyai banyak variasi.

    ReplyDelete
  2. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Objek dapat diartikan sebagai sesuatu yang dikenai pekerjaan. Akan ada objek jika ada subjek, akan tetapi objek juga bisa berlaku sebagai subjek. Yaitu ketika para objek sedang berpikir. Terdapat banyak sekali objek, dan pasti berhubungan dengan subjek. Jadi antara subjek dan objek itu saling bergantian, sesuai ruang dan waktu masing-masing.

    ReplyDelete
  3. Terdapat bermacam-macam obyek di dunia ini. Untuk menjadi berarti obyek memerlukan subyek. Obyek dapat menjadi jargon ketika ia mulai menyadari bahwa jargon adalah bagian dari dirinya dan obyek memerlukan jargon untuk menjaga sifatnya. Jargon obyek adalah tidak punya kebebasan, tidak dapat menentukan arahnya sendiri karena obyek tergantung kepada subyek. Obyek akan mengikuti subyek. Dan jika obyek ingin lepas dari keadaan ini dan menjadi subyek maka hal tersebut tidak mungkin. Obyek tetap obyek, subyek tetap subyek. Hanya manusia yang mempunyai pilihan apakah akan menjadi obyek atau subyek.

    ReplyDelete
  4. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Setiap hal yang dilakukan pasti ada asal muasalnya dan ada alasannya. Sejatinya apa yang ada dunia ini itu ada untuk saling melengkapi. Seperti halnya obyek, obyek tidak akan ada artinya apabila tidak ada subyek. Apabila dilihat lebih jauh, obyek itu merupakan bagian dari suatu hal dan tak akan lepas dari suatu hal. Jadi, obyek apa pun yang ada dunia mereka memiliki kepentingan dan manfaat tersendiri bagi kita. Obyek itu ada bermacam-macam. Oleh karena itu, dengan memahami diri sendiri, semoga dapat memanfaatkan potensi diri untuk kebaikan.

    ReplyDelete
  5. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Jargon adalah istilah khusus yang dipergunakan di bidang kehidupan (lingkungan) tertentu. Jargon biasanya tidak dipahami oleh orang dari bidang kehidupan yang lain. Dalam hal ini adalah kita berbicara jargon para objek. objek atau Objek bisa dikatakan adalah penderita/yang mengalami. Obyek bisa dibagi menjadi dua macam yaitu objek final (dativus) dan objek penderita (akusativus). Objek berbeda dengan subyek. Obyek tidak dikatakan obyek jika tidak memiliki subyek, namun pada ruang dan waktu berbeda obyek bisa menjadi subyek. Begitu pula dengan subyek, pada ruang dan waktu yang lain bisa menjadi obyek. Kelakuan obyek tergantung pada subyeknya, jika obyek diakatakan kekacauan maka subyeknya juga mengalami kekacauan. Jadi obyek dan subyek saling terikat satu sama lain, itulah jargonnya.

    ReplyDelete
  6. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    objek sebagai sesuatu yang dikenai tindakan tentu akan terus memiliki turunannya oleh si jargon. Kerana semakin si subjek melakukan suatu aksi tentu akan menghasilkan suatu objek. Jadi dapat kita katakan bahwa objek akan terus bertambah banyak.

    ReplyDelete
  7. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Objek tidaklah dapat lepas dai jargon. Apakah sesuatu itu berkedudukan sebagai objek ataupun subjek itu tergant-sifatnyaung berhadapan dengan sesuatu yang lain. A dapat menjadi objek bagi B namun A adalah juga subjek bagi C yang merupakan sifat. Begitulah yang saya dapatkan dari jargon para objek ini. Tidaklah ada yang bukan jargon kecuali Tuhan Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  8. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Obyek dan subyek tidak bisa dipisahkan. Obyek akan mempunyai arti jika ada subyek. Jika ada obyek pastilah ada subyek. Terdapat banyak sekali obyek di dunia yang terdiri dari sesuatu hal yang ada dan yang mungkin ada. Obyek mempunyai banyak macam jenis. Ketika diri kita memikirkan diri kita sendiri maka obyek telah berubah menjadi subyek, yaitu jargon. Maka dapat dikatakan bahwa para obyek itu ternyata juga para jargon.

    ReplyDelete
  9. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Jargon di atas merupakan perbincangan antara para objek, para objek pembuat, para objek penentu, para objek pengemban, para objek pemangku, pelaksana, pemelihara, dan pengawas. Objek memerlukan jargon agar sifatnya tetap terjaga. Objek selalu beriringan dengan subjek. Objek dalam filsafat ialah yang ada dan yang mungkin ada yang dilalui oleh subjek. Akan tetapi objek dan subjek selalu saling bergantung satu sama lainnya.

    ReplyDelete
  10. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014



    didunia ini ada objek dan subjek, keduanya saling melengkapi, ojek terbagi menjadi beberapan bagian yang memiliki tugas nya masing masing . didunia ini banyak sekali objek yang dapat bermanfaat bagi kita semua.

    ReplyDelete
  11. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika


    Obyek memiliki banyak jargon. sama halnya subyek, semua obyek adalah obyek yang saling keterkaitan dan tidak bisa saling lepas.

    ReplyDelete
  12. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Objek adalah semua hal yang ada maupun yang mungkin ada yang dapat kita indera maupun yang dapat kita pikirkan. Sehingga objek bisa berada di luar kita, bisa pula di dalam kita.

    ReplyDelete
  13. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa objek itu memiliki sifat-sifatnya sendiri. Objek itu tidak akan bisa berdiri sendiri tanpa jargon. Subjek dan objek itu saling berhubungan, mereka saling menjelsakan dan dijelaskan. Objek dapat berubah menjadi subjek dan subjek juga dapat berubah menjadi objek.

    ReplyDelete
  14. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Objek tidak akan ada jika tidak ada subjek, objek merupakan penjelas atau kedudukan suatu subjek. kedua hal tersebut memiliki peran masing-maisng dan saling berhubungan satu sama lain.

    ReplyDelete
  15. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Sebenarnya semua merupakan Jargon, kecuali Tuhan YME. Kita bisa menjadi suatu subyek ataupun obyek adalah tergantung keadaan dan kondisi yang sedang terjadi pada diri kita. Kita bisa saja berada pada kondisi keduanya, yakni sebagai obyek dan sebagai subjek, ketika kita melakukan sesuatu hal di dunia ini maka kita sedang menjadi subyek, namun di sisi lain kita sedang diamati dan dicatat amal perbuatan kita , maka kita menjadi obyek. Sehingga menjadi obyek atupun subyek tergantung dari cara kita memandang sesuatu.

    ReplyDelete
  16. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Jargon adalah bagian dari para obyek. Para obyek tidak bisa melepaskan jargon karena sangat memerlukannya untuk menjaga sifat para obyek. Obyek juga tidak bisa terpisah dari subyek, karena keduanya saling membutuhkan dan melengkapi. Baik obyek maupun subyek, keduanya sama-sama membutuhkan jargon.

    ReplyDelete
  17. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Kita harus lah sadar bahwa sesungguhnya jargon adalah bagian dari diri kita.Kita tak bisa melepaskan jargon dari diri kita, karena kita memerlukan jargon untuk menjaga sifat kita sebagai obyek. Ketika memikirkan diri kita maka sesungguhnya kita sebagai obyek telah berubah menjadi subyek, yaitu jargon. Maka sesungguhnya subyek dan obyek adalah jargon dan sebenar-benar bukan jargon adalah hanya kekuasaan dan milik Tuhan YME.

    ReplyDelete
  18. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, sejujurnya saya masih mengalami kebingungan ketika membaca elegi ini, sepenangkapan saya adalah janganlah selalu menjadi sosok yang pasif, sosok obyek yang hanya dikenakan sebuah pekerjaan. jadilah sosok yang aktif menjadi sosok subyek yang melakukan, berinisiatif, serta mempelopori sebuah pekerjaan.

    ReplyDelete
  19. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Jargon adalah predikat yang melekat pada diri subyek, sehingga apa yang menjadi andalan subyek maka itulah yang menjadi jargonnya. Sehingga dalam hal ini jargon tidak akan pernah sama dengan subyeknya sebagaimana subyek tidak akan pernah sama dengan obyeknya. Oleh karena itu jargon hanyalah milik Allah SWT karena yang dapat sama antara subjek dan predikatnya atau antara subjek sama dengan jargonnya hanyalah Allah SWT.

    ReplyDelete
  20. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Setelah membaca ini, hal yang saya dapati adalah subyek, jargon, dan obyek itu tidak lepas antara satu yang lain. Tanpa ada subyek jargon tak ada artinya, tanpa ada obyek jargon juga tidak ada artinya, tanpa ada subyek jargon dan obyek bagaimana bisa terhubung?, subyek dan jargon tanpa obyek, maka tak ada sasaran dan tujuannya. Semuanya saling melengkapi dan memiliki peran masing-masing. Satu-satunya yang terlepas dan menguasai segalanya adalah kuasa Tuhan Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  21. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dalam elegi ini menjelaskan bahwa obyek ini bagian dari jargon. Dan jika berbicara tentang obyek maka tidak tertinggal pula subyek. Dimana subyek dan obyek ini termasuk dan merupakan jargon. Bahkan segala hal yang ada dalam dunia ini adalah jargon kecuali Tuhan Yang Maha Esa yang bukan merupakan Jargon. Dalam elegi ini saya juga mengetahui dan semakin yakin bahwa ada banyak hal yang kita ketahui seberapapun yang kita sebutkan maka itu tidak akan cukup untuk menyebutkan hal yang ada. Contohnya saja obyek meliputi banyak obyek lainnya. Banyak cabangnya.

    ReplyDelete
  22. Junianto
    PM C
    17706251065
    Manusia yang hidup di dunia tidak pernah terlepas dari kesalahan. Manusia yang mengatakan bahwa dirinya selalu berfikir dan menilai sesuatu secara objektif atau sesuai dengan fakta, ternyata dibarengi dengan jargonnya (subjektivitas) sendiri. Manusia yang mengaku dirinya benar dan menganggap orang lain salah terkadang mengindikasikan kesombongan, padahal sebenar-benar kebaikan dan kebenaran hanyalah milik Tuhan YME. Sebagai manusia wajib berusaha berpikir, bertindak, mengambil keputusan, dll secara objektif mekipun tidak bisa 100%. Namun hal ini tetap harus dilakukan untuk meminimalisir subjektivitas.

    ReplyDelete
  23. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Jargon para objek menjelaskan tentang keanekaragaman objek, dan ternyata objek adalah jargon. Objek itu banyak dan bermacam-macam ada objek pembuat, penentu, pengemban, pemangku, pelaksana, pemelihara, dan lain sebagainya. Objek tidak akan ada artinya jika tidak ada subjek. Sebenar-benarnya jargon adalah para objek yang pikirannya kacau, bahasanya kacau dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  24. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Pemaparan jargon para obyek di atas, saya dapat memahami bahwa melalui obyek seseorang dapat memiliki eksistensi. Namun, perlu disadari bahwa bukti eksistensi yang ada pada diri manusia hanyalah sebagai bukti dari adanya Sang Maha Kuasa yang telah menciptakannya. Saya menjadi teringat statement ini "Barang siapa yang mengenal dirinya sendiri maka ia akan mengenal Tuhannya". Menurut saya, apa yang ada di dalam dan di luar diri manusia dapat dijadikan sebagai sarana pembelajaran untuk mengenal Sang Maha Kuasa dan pengembangan diri manusia itu sendiri.

    ReplyDelete
  25. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Obyek bisa bermacam-macam. Biasanya obyek merupakan yang dikenai. Maka adanya obyek dikarenakan adanya subyek atau dapat dikatakan bahwa obyek melekat pada subyek. Bahkan, obyek dapat sekaligus menjadi subyek karena suatu obyek dapat mengenai obyek yang lainnya. Setiap obyek yang bermacam-macam ini memiliki jargon untuk menunjukkan keberadaanya.

    ReplyDelete
  26. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada menjadi obyek ternyata memiliki jargon. Karena sifat ketidaksempurnaanya, kita bisa mengatakan itu merupakan sebuah jargon. Sebagai seorang yang senantiasa belajar dari pengalaman, kita jangan sampai termakan jargon dengan senantiasa menjadikan hati sebagai komandan dalam bertindak dan juga senantiasa mendekatkan diri kepada yang bukan jargon, Allah SWT.

    ReplyDelete

  27. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamaualaikum wr wb.
    Saya mengalami kesulitan dalam memaknai elgei ini.Tapi setelah berusaha memahami walau tetap saja terasa sulit Adanya banyak objek tersebut tergantung sejauh mana jargon memandang objek tersebut.Sehingga objek terbagi menjadi beberapa bagian.Ketika jargon berpikir tentang obyek maka jargon bisa merubah diri menjadi subyek.

    ReplyDelete
  28. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Terima kasih elegi yang sangat dalam, namun sejujurnya saya tidak terlalu paham dengan elegi ini. Namun dengan pemahaman yang terbatas saya mencoba berpikir bahwa yang saya tangkap adalah Objek memiliki banyak jenis dan membuat kacau pikiran bagi jargon. Begitu juga jargon, ia dapat menyesuaikan dengan objek sesuai ruang dan waktu. Jadi, tidak ada kekuasaan tunggal antara objek dan jargon, ia adalah saling berhubungan, saling membutuhkan dan saling melengkapi.

    ReplyDelete
  29. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmu yang bermanfaat ini
    Jargon para obyek. Sesungguhnya saya sudah berjumpa dengan beberapa elegy tentang “jargon”. Akan tetapi hingga saat ini saya masih meraba-raba apa makna “jargon” itu sendiri. Kemudian ditambah dengan statement bahwa jargon para obyek sebenarnya adalah para obyek dengan pikiran kacau. Apakah jargon merupakan gerbang seseorang dapat meraih ilmu ilmu dan pengetahuaannya? Jika si pemilik jargon puas dengan jargonnya, apakah jargon bisa membawa si pemilik jargon pada kesombongan? Mohon pencerahannya. Terimakasih, elegi ini benar-benar sangat menarik

    ReplyDelete
  30. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih banyak prof. Marsigit atas artikel kali ini. Sejujurnya saya cukup prihatin pada diri saya, karena topik pembicaraan kali ini saya sulit menangkap apa yang dimaksud. Sebenarnya saya takut menyederhanakan pengibaratan di atas. Apalagi kalau perbincangan di atas bukanlah suatu pengibaratan namun bahasa analog yang berada pada konteks subjek, objek, dan jargon. Jika saya berani mengutarakan, kurang lebih seperti ini yang saya tangkap dari dialog si objek, para para objek, para para para objek dan jargon di atas. Jika kita membayangkan kita adalah subjek. Setiap subjek adalah potensi, salah satunya potensi nya adalah memikirkan suatu objek. Objek dapat berupa benda, atau aktivitas. Objek yang ditangkap oleh pikiran si subjek, memerlukan penafsiran dan pengolahan data yang nantinya akan membuahkan sebuah jargon. Jargon yang dimiliki setiap subjek berbeda-beda akan suatu objek, tergantung cara pandang dan perspektif masing-masing. Stop. Saya tidak berani meneruskan lorong yang saya buat ini. Khawatirnya ini hanyalah mitos, dan pikiranku saat ini dikuasai oleh mitos. Wallahualam bishowab, semoga artikel ini bisa dijelaskan lagi oleh bapak. Terimakasih.

    ReplyDelete
  31. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Berdasarkan jargon para obyek ini saya memahami bahwa jargon adalah bagian dari obyek dan obyek juga bagian dari jargon. Dan jika membicarakan mengenai obyek maka tidak akan terlepas dari subyeknya. Sehingga yang didapati disini adalah para obyek dan para subyek itu adalah juga para jargon. Maka semua yang ada di dunia ini adalah para jargon. Masing-masing antara obyek dan subyek mempunyai perannya tersendiri. Namun, hanya satu yang terlepas dari dari jargon yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  32. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Dari yang disampaikan pada elegi ini yang mengambil kesimpulan bahwa sebenar-benarnya objek adalah mereka yang tidak mengabaikan para objek. Karena pada hakikatnya mereka itu satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Jika objek dan para objek terpisahkan maka tidak akan terjadi keselarasan mengenai objek itu sendiri.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  33. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Saya masih berada pada kebingungan untuk memaknai elegi ini. Apa yang dimaksudkan dengan jargon disini? Saya masih bertanya-tanya. Pendapat saya mengenai elegi ini setelah membacanya, jargon itu seperti suatu hal yang sulit untuk dilepaskan di kehidupan nyata. Seperti halnya logos dan mitos. Jargon ternyata juga diri si obyek yang mungkin ia tidak sadari. Ya subyek itu sendiri adalah jargon. Dan jargon adalah obyek. Maka subyek dan obyek memiliki hubungan yang erat dan saling mempengaruhi. Hanya kuasa dan milik Tuhan yang bukan jargon, demikian kalimat terakhir dari elegi ini. Kembali lagi, baca baca dan baca untuk bsa lebih memahami isi elegi ini.

    ReplyDelete
  34. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Terima kasih Prof Marsigit atas tulisannya. Hanya saja, secara pribadi saya masih belum bisa benar-benar memahami makna jargon, meskipun di beberapa tulisan Prof Marsigit seringkali mengangkat kata jargon. Namun begitu, dalam tulisan ini saya menangkap bahwa sebanyak apapun objek dia tidak bisa berdiri sendiri, melainkan membutuhkan subjek agar objek tersebut lebih bermakna.

    ReplyDelete
  35. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Subjek sebagai pelaku, sedangkan objek sebagai sesuatu yang dikenai perbuatan atau tindakan. Objek dan subjek saling berkaitan, objek banyak sekali jumlahnya. pemikiran manusia tentang objek sangat terbatas, sehingga tidaklah pantas jika manusia masih mempertahankan sombong. Sama halnya dengan subjek, objek juga memiliki jargon yang berfungsi untuk mempertahankan sifatnya.

    ReplyDelete
  36. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Subjek dan Objek dua hal yang saling berkaitan dan saling berhubungan satu sama lain. Tiadalah Objek tanpa Subjek dan tiadalah subjek tanpa objek. Saya dapat mengambil pelajaran dari sini bahwa kita manusia tiadalah bisa hidup tanpa bantuan orang lain, setinggi-tinggi jabatan yang didapatkan, kita masih butuh orang lain untuk bertahan hidup. Sepertinya hal nya objek, sebanyak-banyaknya objek juga tidak dapat dikatakan objek tanpa ada nya subjek.

    ReplyDelete
  37. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Obyek bisa dimaknai hawa nafsu, sedangkan subyek bisa dimaknai pengendalian diri. Jdi jika obyek berkuasa atas subyek, maka hawa nafsulah yang menjadi motor utama dalam beraktifitas. Namun jika subyek berkuasa atas obyek maka diri bisa dikendalikan dan malahan mengendalikan hawa nafsu. Karena musuh terbesar bukan musuh yang nampak wjudnya, melainkan musuh yang ada dalam diri setiap manusia yaitu hawa nafsu.

    ReplyDelete
  38. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Objek dan jargon sama-sama tidak menyadari bahwa keduanya saling membutuhkan. Untuk mengakui suatu keberadaan objek, objek membutuhkan jargon untuk menetapkan sifat-sifatnya. Jargon juga memerlukan objek-objek untuk dapat eksis dan melakukan tugasnya. Keduanya bekerja dalam satu sistem. Jargon dapat dikatakan pengontrol objek sehingga objek tidak keluar dari sistemnya masing-masing. Seerti halnya manusia, dalam berbagai objek pada ruang dan waktu, kita dibatasi oleh aturan-aturan sehingga kita tidak dapat berlaku seenaknya dan menghilangkan sifat-sifat tertentu.

    ReplyDelete
  39. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Terimakasih atas postingannya pak, antara subyek dan obyek adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, karena keduanya saling melengkapi satu sama lain, tidak akan ada subyek jika tidak ada obyek dan begitupun sebaliknya tidak akan ada obyek tanpa adanya subyek. Sebagaimana yang tertulis diatas "Tak peduli. Mereka ada atau tidak ada, bagiku tak masalah. Obyek itu toh tak ada artinya jika tidak ada subyek".

    ReplyDelete
  40. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Objek tidak hanya terdiri dari satu macam saja. Ternyata objek terdiri dari bermacam-macam sesuai dengan posisi, manfaat serta tugasnya masing. Kesemuanya menempati posisi sesuai dengan kedudukannya. Objek dan subjek merupakan hal yang saling membutuhkan. Dan ternyata objek itu adalah dirikita sendiri.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  41. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Subyek dan obyek merupakan tingkatan di dalam kehidupan. Subyek lebih berkuasa daripada obyek karna subyek yang mengatur obyek. Obyek tidak dapat menggapai subyek. Oleh karena itu, mereka di ada kan untuk saling melengkapi satu sama lain. Subyek tidak dapat berdiri sendiri begitu juga obyek.

    ReplyDelete
  42. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Jujur saya agak kebingungan mengartikan tulisan ini, mungkin saya bisa mengaitkannya dengan kehidupan kita yang saling membutuhkan satu sama lain.

    ReplyDelete
  43. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Obyek tidaklah ada artinya jika tidak ada subyek. obyek tersebut hanyanlah sebuah jargon-jargon, tanpa hadirnya sebuah subyek. Sehingga subyek dan obyek itu harus saling bersinergi jika tidak ingin hanya menjadi sebatas jargon. Teimakasih

    ReplyDelete
  44. Terima kasih bapak telah memberitahukan kami mengenai obyek. Sesungguhnya obyek pembuat, penentu, pengemban, pemangku, pelaksana, pemelihara, pengawas yang tidak terbatas banyaknya anggota dari obye tersebut. Obyek selalu berpasangan dengan subyek-nya, agar obyek itu sendiri memiliki arti/makna. Antara obyek dan subyek sebenarnya satu, tergantung dari sisi mana manusia itu memandang. Obyek dan subyek bisa menjadi jargon itu sendiri. Setiap unsur obyek-subyek ada dan mungkin ada dalam kehidupan manusia. Seperti kata bapak yang bukan jargon hanyalah kuasa dan milik Allah SWT.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  45. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Obyek meliputi segala yang ada dan mungkin ada. Obyek ialah dia yang dikenai suatu tindakan. Obyek dikuasai oleh subyek dan subyek menguasai obyek. Obyek memiliki jargonnya masing-masing untuk dikenali, begitu juga denga subyek. Dikarenakan obyek dan subyek meliputi segala yang ada dan mungkin ada, maka semua yang ada dan mungkin ada tidak terlepas dari jargon. Hanya satu yang terlepas dari jargo, dialah kuasa Tuhan YME.

    ReplyDelete
  46. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pemdidikan Matematika C

    Objek membutuhkan jargon agar dapat menjaga sifatnya sebagai para objek. Maka sebenarnya segala sesuatu membutuhkan jargon untuk memperkuat kedudukannya. Ketika objek memikirkan dirinya maka dirinya juga merupakan subjek, yaitu jargon. Maka jargon juga merupakan objek. Maka yang bukan jargon hanyalah kuasa Allah SWT yang tidak membutuhkan jargon.

    ReplyDelete
  47. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Setiap yang tercipta di dunia ini, berpasang-pasangan. Setiap hal tercipta, ada untuk saling melengkapi. Seperti halnya obyek, obyek tidak akan ada artinya apabila tidak ada subyek. Apabila dilihat lebih jauh, obyek itu merupakan bagian dari suatu hal dan tak akan lepas dari suatu hal. Jadi, obyek apa pun yang ada dunia mereka memiliki kepentingan dan manfaat tersendiri bagi kita. Obyek itu ada bermacam-macam. Oleh karena itu, dengan memahami diri sendiri, semoga dapat memanfaatkan potensi diri untuk kebaikan.

    ReplyDelete
  48. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  49. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Senada dengan subyek. Masing-masing obyek juga mempunyai jargon, maka jargon adalah bagian dari obyeknya dan obyek adalah bagian dari jargonnya. Kedudukan obyek sejalan dengan subyek. Setiap ada obyeks selalu ada subyek. Maka keduanya adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Dan keduanya memiliki fungsi masing-masing yang saling berkaitan satu sama lain. Maka kedamaian antara subyek dan obyek adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar.

    ReplyDelete
  50. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Manusia sebagai obyek merupakan pelaksana dari sang subyek. Manusia yang dipandang sebagai obyek lebih banyak menerima daripada memberikan sesuatu. Meskipun ia sebagai obyek, ia tetap membutuhkan jargon untuk dapat memahami siapa sebenarnya dirinya hingga ia berperan sebagai obyek bukan subyek.

    ReplyDelete
  51. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Sebenarnya semua merupakan Jargon, kecuali Tuhan YME. Kita bisa menjadi suatu subyek ataupun obyek adalah tergantung keadaan dan kondisi yang sedang terjadi pada diri kita. Kita bisa saja berada pada kondisi keduanya, yakni sebagai obyek dan sebagai subjek, ketika kita melakukan sesuatu hal di dunia ini maka kita sedang menjadi subyek, namun di sisi lain kita sedang diamati dan dicatat amal perbuatan kita oleh para malaikat Allah SWT, maka kita menjadi obyek. Sehingga menjadi obyek atupun subyek tergantung dari cara kita memandang sesuatu.

    ReplyDelete
  52. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  53. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Ada berbagai macam objek, Para obyek pembuat, Para obyek penentu, Para obyek pengemban, Para obyek pemangku, Para obyek pelaksana, Para obyek pemelihara, Para obyek pengawas. Semuanya memilki jargon masing – masing. Maka tetap lah terjemah dan menterjemahkan.Ada berbagai macam objek, Para obyek pembuat, Para obyek penentu, Para obyek pengemban, Para obyek pemangku, Para obyek pelaksana, Para obyek pemelihara, Para obyek pengawas. Semuanya memilki jargon masing – masing. Maka tetap lah terjemah dan menterjemahkan

    ReplyDelete
  54. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Objek merupakan sesuatu yang dikenai subjek. Tanpa sebuah subjek, objek hanya akan menjadi kata benda. Hakikat sebuah objek adalah sebagai unsur pelengkap yang akan membantu subjek guna membangun sebuah kalimat ber makna(hidup). Namun walau sebagai unsur pelengkap peran objek juga dapat dikatakan sangat penting. Karena dalam unsur kalimat bermakna hubungan antara subjek dan objek tidak dapat dipisahkan. Objek pula lah yang membuat subjek menjadi memiliki kedudukan.

    ReplyDelete
  55. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Objek yang ada itu bermacam-macam, meliputi segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Tiap-tiap objek akan menjadi lebih bermakna apabila memiliki subjek, keduanya saling melengkapi. Objek dan subjek ini tentulah dapat dilengkapi dengan jargon. Jargon yang ada sangat bermacam-macam dan tergantung masing-masing orang dalam menginterpretasikannya. Jargon sebagai komplemen memang dibutuhkan, namun kita harus ingat dari segala sesuatu yang memiliki jargon, hanya ada satu yang tidak memilikinya, yaitu Allah SWT.

    ReplyDelete
  56. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Sangat banyak dan bahkan berdimensi jika membahas masalah objek ini, tidak aka nada habisnya. Oleh karena itu, sebenar-benar jargon adalah objek itu sendiri. Guru sebagai pelaksana memiliki jargon, siswa memiliki jargon, pengawas memiliki jargon, sekolah memiliki jargon, pemerintah juga begitu. Untuk mencipatakn iklim yangkondusif, sudah seharusnya jargon-jargon saling terjemah menterjemahkan.

    ReplyDelete
  57. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Para para objek dan jargonnya akan membentuk system yang baik, satu dengan yang lain dengan meminimalkan stigma antar objek. Stigma sudah jelas akan menghancurkan tatanan dan jargon. Guru tidak seharusnya memiliki stigma terhadap pemerintah, juga tidak boleh memiliki stigma kepada siswa, siswa bodoh dsb. Saling memahami, adab, dan mengertii adalah kunciinya.

    ReplyDelete
  58. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Semua obyek meliputi yang ada yang yang mungkin ada, semua obyek tentunya memiliki sifatnya masing-masing. Dalam sifat-sifat tersebut ada yang dikategorikan menjadi sifat baik dan buruk. Sejatinya setiap obyek ingin memiliki pelindung. Maka obyek yang kacau akan membuat jargon-jargon yang dapat menutupi sifat buruk mereka dan menjadi pelindung mereka. Semoga kita dapat bersikap bijaksana dan menyerahkan segalanya Kepada Allah sehingga kita terhindar dari sikap menzalimi antar sesama denga jargon-jargon kita

    ReplyDelete
  59. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Dari sudut pandang pendidikan, banyak sekali obyek dari kegiatan belajar mengajar yang ada. Beberapa di antaranya ialah kurikulum atau peraturan pendidikan yang menjadi pedoman pelaksanaan pendidikan, kebijakan atau peraturan sekolah sebagai landasar kegiatan pembelajaran di tiap-tiap sekolah, metode pembelajaran yang diberikan oleh guru serta media dan fasilitas sekolah, assessment atau penilaian seperti raport dan portifolio, dan sebagainya. Siswa menjadi obyek gurunya, guru menjadi obyek kepala sekolah, kepala sekolah menjadi obyek pengawas sekolah, dan pengawas sekolah menjadi onyek dari pemerintah Semua obyek tersebut saling berkaitan dan menjadi sarana pelaksanaan kegiatan pembelajaran di sekolah. Semuanya penting untuk saling bekerjasama dalam dan melaksanakan pendidikan dengan baik.

    ReplyDelete
  60. Latifah Fitriasari
    PM C

    Subjek merupakan segala sesuatu yang dapat mempunyai hak dan kewajiban untuk bertindak. Sedangkan Objek adalah segala sesuatu yang bermanfaat bagi subjek dan dapat menjadi objek dalam suatu hubungan. Kelakuakan obyek tergantung pada subyeknya, jika obyek diakatakan kekacauan maka subyeknya juga mengalami kekacauan. Akan sangat sulit untuk kita memahami objek jika tidak ada subjek, Obyek itu juga tidak ada artinya jika tidak ada subyek.

    ReplyDelete
  61. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Selayaknya ada hitam dan ada putih maka jika ada obyek, tentu harus disempurnakan dengan adanya subyek. Kealpaan salah satu diantaranya akan menjadikan mereka kehilangan identitasnya sendiri. Suatu kata tak akan dapat kita ketahui ia berperan sebagai obyek atau bukan jika kita tidak melihat adanya subyek di dalamnya. Selayaknya para subyek, maka obyek pun harus dapat bersinergi sehingga sistem kehidupan yang kita jalani menjadi kehidupan yang barakah dan harmonis. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  62. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Obyek pada kenyataannya acap kali dikenai perlakuaan yang tidak seharusnya dimiliki subyek yang berbaikan. Sinergi selayaknya diciptakan tidak hanya antarsubyek ataupun antarobyek, namun antara subyek dan obyek dalam suatu kondisi atau suasana yang berkaitan hendaklah memiliki sinergi yang positif pula, misalkan seorang pelajar dipatok sebagai seorang subyek, maka obyek yang tepat untuk seorang pelajar ialah belajar ilmu-ilmu yang bermanfaat. Namun saat subyek pelajar mendapatkan obyek dengan kesan yang negatuf seperti mencuri ayam, merampok bank, dan sebagainya, maka makna jargon kebaikan yang melekan menjadi kabur dan didominasi oleh keburukan, maka sebaik-baim manusia ialah yang selalu berproses menuju kebaikan. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  63. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam elegi ini diketahui bahwa terdapat banyaksehali macam objek hingga peyebutan objek tersebut menjadi para para para .. objek saking banyaknya objek tersebu. Objek tersebut perlu sautu jargon untuk tetap membuatnya menjadi objek. Ketika objek memikirkan dirinya sendiri maka objek tersebtu telah berubah wujud menjadi subjek. Dan subjek tersebut adalah jargon.

    ReplyDelete
  64. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Objek dan subjek mempunyai suatu keterkaitan. Subjek sebagai pelaku, sedangkan objek sebagai sesuatu yang dikenai perbuatan atau tindakan. Objek dan subjek di dunia ini ada bermacam-macam. Mungkin kita tidak dapat menyebutkan semuanya satu per satu. Hal itu dapat terjadi karena pikiran kita juga terbatas

    ReplyDelete
  65. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Tanpa adanya subyek, obyek tidak akan ada. Karena obyek adalah hasil mengada dari subyek. Bagaimana pun jargon dari obyek bergantung pada subyeknya, jika subyeknya mencipatakan suatu kebaikan, maka obyek itu pun akan mengikutinya menjadi baik. Begitupun jika subyeknya hanya membuat kekacauan, maka obyeknya tidak sekedar membuat kekacauan, tetapi bisa menjadi pemroduksi, pemangku, pengemban kekacauan. Oleh sebab itu, sebenar-benar setiap obyek maupun subyek adalah memiliki jargon, tergantung bagaimana subyek dan obyek itu mampu mengelola jargonnya, jika jargon mampu dikendalikan dengan pikiran dan hati berlandaskan spiritual, insya Allah jargon tidak akan membuat kekacauan.

    ReplyDelete
  66. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Jargon dan objek adalah dua hal yang tidak dapat saling terlepas. Jargon merupakan bagian dari objek sedangkan objek sendiri juga merupakan jargon ketika dirinya sendiri berpikir tentang objek. Seperti jargon dan objek mereka tercipta secara berpasangan, demikian pula dengan hal lain di dunia ini yang diciptakan secara berpasang-pasangan seperti siang dan malam, benar dan salah, murid dan guru, besar dan kecil dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  67. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Jargon adalah predikat yang melekat pada diri subyek sehingga apa yang menjadi andalan subyek maka itulah yang menjadi jargonnya. Dalam hal ini jargon tidak akan pernah sama dengan subyeknya sebagaimana subyek tidak akan pernah sama dengan obyeknya.

    ReplyDelete
  68. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Objek adalah segala yang ada dan mungkin ada yang menjadi sasaran untuk dikaji, diteliti dan diperhatikan. Akan tetapi objek pun tidak dapat berdiri sendiri, dia memerlukan subjek untuk mendampinginya. Jika hanya objek saja maka makna yang ada dibalik objek tersebut belum bisa dipahami, karena tidak ada subjek yang memahaminya. Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  69. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Berdasarkan jargon para obyek yang saya baca, obyek tidak dikatakan obyek jika tidak memiliki subyek, namun pada ruang dan waktu berbeda obyek bisa menjadi subyek. Begitu pula dengan subyek, pada ruang dan waktu yang lain bisa menjadi obyek. Kekacauan obyek tergantung pada subyeknya, jika obyek diakatakan kekacauan maka subyeknya juga mengalami kekacauan. Jadi obyek dan subyek saling terikat satu sama lain, itulah jargonnya. Jargon subyek terdapat pada subyek dan ada juga pada obyek begitu juga sebailiknya. Jargon obyek terdapat pada obyek dan ada juga pada subyek, hal ini karena obyek bisa menjadi subyek dan subyek bisa menjadi obyek tergantung pada ruang dan waktu.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  70. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    objek merupakan sesuatu yang dikenai obyek, terdapat macam-macam obyek sesuai dengan jargonnya, antara lain: obyek pelaksana, obyek pengawas, obyek pengampu. jadi berdasarkan macam-macam jargon tersebut dapat saya simpulkan bahwa jargon merupakan predikat.

    ReplyDelete
  71. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa objek itu memiliki sifat-sifatnya sendiri. Objek itu tidak akan bisa berdiri sendiri tanpa jargon. Subjek dan objek itu saling berhubungan, mereka saling menjelsakan dan dijelaskan. Objek dapat berubah menjadi subjek dan subjek juga dapat berubah menjadi objek.

    ReplyDelete
  72. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Tidak ada yang mampu berdiri sendiri. Begitupun dengan obyek, tidak akan memiliki makna tanpa adanya subyek. Keduanya merupakan dua hal yang saling membutuhkan untuk memantapkan kedudukannya masing-masing.

    ReplyDelete
  73. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Dari elegi diatas saya memahami tentang macam-macam obyek dan juga perbedaannya. Obyek-obyek tersebut memiliki jargon masing-masing dan setiap objek membutuhkan subjek untuk melengkapinya.

    ReplyDelete
  74. Alman Kresna Aji
    15301241022
    S1 Pendidikan Matematika 2015
    objek tidak bisa kuat berdiri sendiri. Objek memerlukan jargon karena jargon sebenarnya ada di dalam objek. Jargon tersebut berfungsi untuk meyakinkan sifat-sifat objek tersebut dalam kedudukannya menjadi objek. Pada dasarnya, objek maupun subjek memiliki kedudukannya, kepentingan maupun kebermanfaatan bagi suatu hal serta mereka mempunyai fungsi yang berbeda-beda yang fungsi dari masing-masng mereka saling berkaitan. Sehingga, kedudukan dari objek dan subjek adalah suatu hal yang harus ada demi memantapkan kedudukan diantara mereka.

    ReplyDelete
  75. Rina Musannadah
    15301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Objek merupakan suatu hal yang tak dapat berdiri sendiri. Objek memerlukan jargon untuk meyakinkan sifat-sifat yang ada dalam objek. Objek memiliki kedudukannya sendiri.

    ReplyDelete
  76. Agnes Teresa Panjaitan
    s2 pendidikan matematika A 2018
    18709251013

    saya sebenarnya masih kurang memahami perbedaan objek pengemban, pemangku ataupun pelakasana. kalau dilihat dari fungsinya apakah ogjek-objek tersebut memiliki perbedaan ataukah yang menjadi pembedannya adalah jargonnya? Namun, saya dapat memahami apa yang menjadi kesimpulan dari tulisan Bapak yaitu dunia ini adalah jargon, dan sebenar-benarnya bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.

    ReplyDelete
  77. Dini Arrum Putri
    18709251003
    S2 P Math 2018 A

    Jika ada subjek pasti ada objek begitu juga sebaliknya. Keduanya adalah hal yang saling mempunyai kaitan dan korelasi. Sungguh menarik membaca tulisan di atas. Subjek dan objek mempunyai kedudukannya nya masing-masing.

    ReplyDelete