Sep 20, 2013

Jargon Para Obyek




Oleh Marsigit

Jargon:
Wahai para obyek, apa yang engkau ingin katakan kepadaku? Kenapa engkau datang berbondong-bondong kepadaku? Siapa sajakah engkau itu?

Para obyek pembuat:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pembuat. Aku itu meliputi para obyek pembuat tugas, obyek pembuat mandat, obyek pembuat amanah, obyek pembuat kewajiban, obyek pembuat aturan, obyek pembuat obyek, obyek pembuat sifat, obyek pembuat permulaan, obyek pembuat inisiatif, obyek pembuat kesimpulan, obyek pembuat pertanyaan, obyek pembuat jawaban, obyek pembuat kesimpulan, obyek pembuat benar, obyek pembuat salah, obyek pembuat suasana, obyek pembuat akhiran, obyek pembuat laporan, obyek pembuat metode, obyek pembuat alat, obyek pembuat tulisan, obyek pembuat bicara, obyek pembuat proposal, obyek pembuat baik, obyek pembuat buruk, obyek pembuat bergerak, obyek pembuat diam, obyek pembuat tidak jelas, obyek pembuat kacau, obyek pembuat tidak kacau, obyek pembuat jargon, obyek pembuat elegi, obyek pembuat contoh, obyek pembuat hubungan, obyek pembuat sesuai, obyek pembuat tidak sesuai, obyek pembuat terang, obyek pembuat gelap, obyek pembuat mahal, obyek pembuat murah, obyek pembuat turun, obyek pembuat naik, pambuat ramai, obyek pembuat sepi, obyek pembuat perang, obyek pembuat kacau, obyek pembuat adil, obyek pembuat jabatan, obyek pembuat PR, obyek pembuat nilai, obyek pembuat naik kelas, obyek pembuat lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek pembuat. Para obyek pembuat itu adalah para obyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?

Para obyek penentu:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek penentu.
Aku itu meliputi para obyek penentu tugas, obyek penentu mandat, obyek penentu amanah, obyek penentu kewajiban, obyek penentu aturan, obyek penentu obyek, obyek penentu sifat, obyek penentu permulaan, obyek penentu inisiatif, obyek penentu kesimpulan, obyek penentu pertanyaan, obyek penentu jawaban, obyek penentu kesimpulan, obyek penentu benar, obyek penentu salah, obyek penentu suasana, obyek penentu akhiran, obyek penentu laporan, obyek penentu metode, obyek penentu alat, obyek penentu tulisan, obyek penentu bicara, obyek penentu proposal, obyek penentu baik, obyek penentu buruk, obyek penentu bergerak, obyek penentu diam, obyek penentu tidak jelas, obyek penentu kacau, obyek penentu tidak kacau, obyek penentu jargon, obyek penentu elegi, obyek penentu contoh, obyek penentu hubungan, obyek penentu sesuai, obyek penentu tidak sesuai, obyek penentu terang, obyek penentu gelap, obyek penentu mahal, obyek penentu murah, obyek penentu turun, obyek penentu naik, obyek penentu ramai, obyek penentu sepi, obyek penentu perang, obyek penentu kacau, obyek pembuat adil, obyek penentu jabatan, obyek penentu PR, obyek penentu nilai, obyek penentu naik kelas, obyek penentu lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek penentu. Para obyek penentu itu adalah para obyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?

Para obyek pengemban:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pengemban.
Aku itu meliputi para obyek pengemban tugas, obyek pengemban mandat, obyek pengemban amanah, obyek pengemban kewajiban, obyek pengemban aturan, obyek pengemban obyek, obyek pengemban sifat, obyek pengemban permulaan, obyek pengemban inisiatif, obyek pengemban kesimpulan, obyek pengemban pertanyaan, obyek pengemban jawaban, obyek pengemban kesimpulan, obyek pengemban benar, obyek pengemban salah, obyek pengemban suasana, obyek pengemban akhiran, obyek pengemban laporan, obyek pengemban metode, obyek pengemban alat, obyek pengemban tulisan, obyek pengemban bicara, obyek pengemban proposal, obyek pengemban baik, obyek pengemban buruk, obyek pengemban bergerak, obyek pengemban diam, obyek pengemban tidak jelas, obyek pengemban kacau, obyek pengemban tidak kacau, obyek pengemban jargon, obyek pengemban elegi, obyek pengemban contoh, obyek pengemban hubungan, obyek pengemban sesuai, obyek pengemban tidak sesuai, obyek pengemban terang, obyek pengemban gelap, obyek pengemban mahal, obyek pengemban murah, obyek pengemban turun, obyek pengemban naik, obyek pengemban ramai, obyek pengemban sepi, obyek pengemban perang, obyek pengemban kacau, obyek pembuat adil, obyek pengemban jabatan, obyek pengemban PR, obyek pengemban nilai, obyek pengemban naik kelas, obyek pengemban lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pengemban. Para obyek pengemban itu adalah para obyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?

Para obyek pemangku:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pemangku.
Aku itu meliputi para obyek pemangku tugas, obyek pemangku mandat, obyek pemangku amanah, obyek pemangku kewajiban, obyek pemangku aturan, obyek pemangku obyek, obyek pemangku sifat, obyek pemangku permulaan, obyek pemangku inisiatif, obyek pemangku kesimpulan, obyek pemangku pertanyaan, obyek pemangku jawaban, obyek pemangku kesimpulan, obyek pemangku benar, obyek pemangku salah, obyek pemangku suasana, obyek pemangku akhiran, obyek pemangku laporan, obyek pemangku metode, obyek pemangku alat, obyek pemangku tulisan, obyek pemangku bicara, obyek pemangku proposal, obyek pemangku baik, obyek pemangku buruk, obyek pemangku bergerak, obyek pemangku diam, obyek pemangku tidak jelas, obyek pemangku kacau, obyek pemangku tidak kacau, obyek pemangku jargon, obyek pemangku elegi, obyek pemangku contoh, obyek pemangku hubungan, obyek pemangku sesuai, obyek pemangku tidak sesuai, obyek pemangku terang, obyek pemangku gelap, obyek pemangku mahal, obyek pemangku murah, obyek pemangku turun, obyek pemangku naik, obyek pemangku ramai, obyek pemangku sepi, obyek pemangku perang, obyek pemangku kacau, obyek pembuat adil, obyek pemangku jabatan, obyek pemangku PR, obyek pemangku nilai, obyek pemangku naik kelas, obyek pemangku lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pemangku. Para obyek pemangku itu adalah para obyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?

Para obyek pelaksana:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pelaksana.
Aku itu meliputi para obyek pelaksana tugas, obyek pelaksana mandat, obyek pelaksana amanah, obyek pelaksana kewajiban, obyek pelaksana aturan, obyek pelaksana obyek, obyek pelaksana sifat, obyek pelaksana permulaan, obyek pelaksana inisiatif, obyek pelaksana kesimpulan, obyek pelaksana pertanyaan, obyek pelaksana jawaban, obyek pelaksana kesimpulan, obyek pelaksana benar, obyek pelaksana salah, obyek pelaksana suasana, obyek pelaksana akhiran, obyek pelaksana laporan, obyek pelaksana metode, obyek pelaksana alat, obyek pelaksana tulisan, obyek pelaksana bicara, obyek pelaksana proposal, obyek pelaksana baik, obyek pelaksana buruk, obyek pelaksana bergerak, obyek pelaksana diam, obyek pelaksana tidak jelas, obyek pelaksana kacau, obyek pelaksana tidak kacau, obyek pelaksana jargon, obyek pelaksana elegi, obyek pelaksana contoh, obyek pelaksana hubungan, obyek pelaksana sesuai, obyek pelaksana tidak sesuai, obyek pelaksana terang, obyek pelaksana gelap, obyek pelaksana mahal, obyek pelaksana murah, obyek pelaksana turun, obyek pelaksana naik, obyek pelaksana ramai, obyek pelaksana sepi, obyek pelaksana perang, obyek pelaksana kacau, obyek pembuat adil, obyek pelaksana jabatan, obyek pelaksana PR, obyek pelaksana nilai, obyek pelaksana naik kelas, obyek pelaksana lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pelaksana. Para obyek pelaksana itu adalah para obyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?

Para obyek pemelihara:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pemelihara.
Aku itu meliputi para obyek pemelihara tugas, obyek pemelihara mandat, obyek pemelihara amanah, obyek pemelihara kewajiban, obyek pemelihara aturan, obyek pemelihara obyek, obyek pemelihara sifat, obyek pemelihara permulaan, obyek pemelihara inisiatif, obyek pemelihara kesimpulan, obyek pemelihara pertanyaan, obyek pemelihara jawaban, obyek pemelihara kesimpulan, obyek pemelihara benar, obyek pemelihara salah, obyek pemelihara suasana, obyek pemelihara akhiran, obyek pemelihara laporan, obyek pemelihara metode, obyek pemelihara alat, obyek pemelihara tulisan, obyek pemelihara bicara, obyek pemelihara proposal, obyek pemelihara baik, obyek pemelihara buruk, obyek pemelihara bergerak, obyek pemelihara diam, obyek pemelihara tidak jelas, obyek pemelihara kacau, obyek pemelihara tidak kacau, obyek pemelihara jargon, obyek pemelihara elegi, obyek pemelihara contoh, obyek pemelihara hubungan, obyek pemelihara sesuai, obyek pemelihara tidak sesuai, obyek pemelihara terang, obyek pemelihara gelap, obyek pemelihara mahal, obyek pemelihara murah, obyek pemelihara turun, obyek pemelihara naik, obyek pemelihara ramai, obyek pemelihara sepi, obyek pemelihara perang, obyek pemelihara kacau, obyek pembuat adil, obyek pemelihara jabatan, obyek pemelihara PR, obyek pemelihara nilai, obyek pemelihara naik kelas, obyek pemelihara lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pemelihara. Para obyek pemelihara itu adalah para obyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?

Para obyek pengawas:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pengawas.
Aku itu meliputi para obyek pengawas tugas, obyek pengawas mandat, obyek pengawas amanah, obyek pengawas kewajiban, obyek pengawas aturan, obyek pengawas obyek, obyek pengawas sifat, obyek pengawas permulaan, obyek pengawas inisiatif, obyek pengawas kesimpulan, obyek pengawas pertanyaan, obyek pengawas jawaban, obyek pengawas kesimpulan, obyek pengawas benar, obyek pengawas salah, obyek pengawas suasana, obyek pengawas akhiran, obyek pengawas laporan, obyek pengawas metode, obyek pengawas alat, obyek pengawas tulisan, obyek pengawas bicara, obyek pengawas proposal, obyek pengawas baik, obyek pengawas buruk, obyek pengawas bergerak, obyek pengawas diam, obyek pengawas tidak jelas, obyek pengawas kacau, obyek pengawas tidak kacau, obyek pengawas jargon, obyek pengawas elegi, obyek pengawas contoh, obyek pengawas hubungan, obyek pengawas sesuai, obyek pengawas tidak sesuai, obyek pengawas terang, obyek pengawas gelap, obyek pengawas mahal, obyek pengawas murah, obyek pengawas turun, obyek pengawas naik, obyek pengawas ramai, obyek pengawas sepi, obyek pengawas perang, obyek pengawas kacau, obyek pembuat adil, obyek pengawas jabatan, obyek pengawas PR, obyek pengawas nilai, obyek pengawas naik kelas, obyek pengawas lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pengawas. Para obyek pengawas itu adalah para obyek.

...

Jargon:
Aku ternyata masih melihat para obyek yang lain. Sekarang aku tahu bahwa di situ juga terdapat obyek para penilai, obyek para komentator, obyek para pendoa, obyek para pengacau, ...dst. Maka aku sedang menghadapi ada tak berhingga banyaknya para para obyek. Ternyata aku masih pula melihat para para para para para...obyek.

Para para para ...obyek:
Wahai jargon, apa yang sedang engkau pikirkan?

Jargon:
Aku sedang dalam kondisi di antara jelas dan tidak jelas. Mengapa? Karena aku ternyata mendapatkan para obyek itu banyak dan bermacam-macam. Aku agak sulit membedakan satu dengan yang lain, maka aku sedang mengalami kekacauan pikiran. Tetapi mengapa aku harus bingung, bukankah aku harus bisa bersikap. Ah untuk mengetahui sekedar obyek saja kok sulitnya bukan main. Tak peduli. Mereka ada atau tidak ada, bagiku tak masalah. Obyek itu toh tak ada artinya jika tidak ada subyek. Obyek itu juga tidak ada artinya jika tidak ada subyek pembuat, subyek penentu, subyek pengemban, subyek pemangku, subyek penilai..dst. Tetapi mengapa aku juga ternyata menyebut mereka. Bukankah menyebut mereka itu sama artinya aku menganggap mereka itu penting. Wah kacau pikiranku. Bukankah aku ini adalah jargon. Bukankah jargon itu juga berhak berkuasa. Jika aku berkuasa maka aku dapat menentukan sifat-sifat sesuka hatiku sesuai dengan tujuanku dan kebisaanku, sesuai dengan sifatku, sesuai dengan kepentinganku, sesuai dengan tujuanku.

Para para para ...obyek:
Wahai jargon, aku telah menyaksikan pengakuanmu sebagai jargon. Itulah sebenar-benar jargon, si berpikir kacau dan obyek pembuat kacau, obyek penentu kacau, obyek pengemban kacau, peneilai kacau, pemroduksi kacau, obyek pemangku kaca, bahasa kacau, ....dst. Ternyata aku melihat bahwa banyak anggotamu itu adalah sebanyak diriku.

Jargon:
Wahai para obyek, janganlah bersifat munafik. Aku telah menyaksikan bahwa engkau semua itu sebenarnya para jargon itu. Para jargon adalah para obyek dengan pikiran kacau, bahasa kacau, obyek pemangku kacau, penilai kacau, ...dst. Jadi engkau telah memahami bahwa engkau itu ternyata adalah anggota para para para ...jargon.

Para para para ...obyek:
Maafkanlah wahai para para para...jargon. Ternyata aku telah menyadari bahwa para jargon itu adalah bagian dari diriku. Tetapi aku ingin sampaikan bahwa aku tidak dapat melepaskan dirimu. Aku merasa selalu memerlukanmu untuk menjaga sifatku sebagai para obyek. Ternyata dalam rangka menegakkan diriku sebagai obyek, aku telah terbukti bahwa aku adalah engkau, yaitu para jargon. Aku memerlukan perundingan dan waktu berikutnya lebih jauh dengan dirimu untuk mengetahui lebih lanjut sifat-sifat diriku dan dirimu. Dan ternyata aku menemukan bahwa ketika aku memikirkanku maka aku obyek telah berubah menjadi aku subyek, yaitu jargon. Maka dapat aku katakan bahwa para obyek itu ternyata juga para jargon. Para subyek itu juga para jargon. Lebih lanjut dapat aku katakan bahwa semuanya itu jargon. Jadi ternyata dunia itu jargon. Sebenar-benar bukan jargon adalah hanya kuasa dan milik Tuhan YME.

28 comments:

  1. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Obyek meliputi segala yang ada dan mungkin ada. Obyek ialah dia yang dikenai suatu tindakan. Obyek dikuasai oleh subyek dan subyek menguasai obyek. Obyek memiliki jargonnya masing-masing untuk dikenali, begitu juga denga subyek. Dikarenakan obyek dan subyek meliputi segala yang ada dan mungkin ada, maka semua yang ada dan mungkin ada tidak terlepas dari jargon. Hanya satu yang terlepas dari jargo, dialah kuasa Tuhan YME.

    ReplyDelete
  2. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pemdidikan Matematika C

    Objek membutuhkan jargon agar dapat menjaga sifatnya sebagai para objek. Maka sebenarnya segala sesuatu membutuhkan jargon untuk memperkuat kedudukannya. Ketika objek memikirkan dirinya maka dirinya juga merupakan subjek, yaitu jargon. Maka jargon juga merupakan objek. Maka yang bukan jargon hanyalah kuasa Allah SWT yang tidak membutuhkan jargon.

    ReplyDelete
  3. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Setiap yang tercipta di dunia ini, berpasang-pasangan. Setiap hal tercipta, ada untuk saling melengkapi. Seperti halnya obyek, obyek tidak akan ada artinya apabila tidak ada subyek. Apabila dilihat lebih jauh, obyek itu merupakan bagian dari suatu hal dan tak akan lepas dari suatu hal. Jadi, obyek apa pun yang ada dunia mereka memiliki kepentingan dan manfaat tersendiri bagi kita. Obyek itu ada bermacam-macam. Oleh karena itu, dengan memahami diri sendiri, semoga dapat memanfaatkan potensi diri untuk kebaikan.

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Senada dengan subyek. Masing-masing obyek juga mempunyai jargon, maka jargon adalah bagian dari obyeknya dan obyek adalah bagian dari jargonnya. Kedudukan obyek sejalan dengan subyek. Setiap ada obyeks selalu ada subyek. Maka keduanya adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Dan keduanya memiliki fungsi masing-masing yang saling berkaitan satu sama lain. Maka kedamaian antara subyek dan obyek adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar.

    ReplyDelete
  6. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Manusia sebagai obyek merupakan pelaksana dari sang subyek. Manusia yang dipandang sebagai obyek lebih banyak menerima daripada memberikan sesuatu. Meskipun ia sebagai obyek, ia tetap membutuhkan jargon untuk dapat memahami siapa sebenarnya dirinya hingga ia berperan sebagai obyek bukan subyek.

    ReplyDelete
  7. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Sebenarnya semua merupakan Jargon, kecuali Tuhan YME. Kita bisa menjadi suatu subyek ataupun obyek adalah tergantung keadaan dan kondisi yang sedang terjadi pada diri kita. Kita bisa saja berada pada kondisi keduanya, yakni sebagai obyek dan sebagai subjek, ketika kita melakukan sesuatu hal di dunia ini maka kita sedang menjadi subyek, namun di sisi lain kita sedang diamati dan dicatat amal perbuatan kita oleh para malaikat Allah SWT, maka kita menjadi obyek. Sehingga menjadi obyek atupun subyek tergantung dari cara kita memandang sesuatu.

    ReplyDelete
  8. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  9. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Ada berbagai macam objek, Para obyek pembuat, Para obyek penentu, Para obyek pengemban, Para obyek pemangku, Para obyek pelaksana, Para obyek pemelihara, Para obyek pengawas. Semuanya memilki jargon masing – masing. Maka tetap lah terjemah dan menterjemahkan.Ada berbagai macam objek, Para obyek pembuat, Para obyek penentu, Para obyek pengemban, Para obyek pemangku, Para obyek pelaksana, Para obyek pemelihara, Para obyek pengawas. Semuanya memilki jargon masing – masing. Maka tetap lah terjemah dan menterjemahkan

    ReplyDelete
  10. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Objek merupakan sesuatu yang dikenai subjek. Tanpa sebuah subjek, objek hanya akan menjadi kata benda. Hakikat sebuah objek adalah sebagai unsur pelengkap yang akan membantu subjek guna membangun sebuah kalimat ber makna(hidup). Namun walau sebagai unsur pelengkap peran objek juga dapat dikatakan sangat penting. Karena dalam unsur kalimat bermakna hubungan antara subjek dan objek tidak dapat dipisahkan. Objek pula lah yang membuat subjek menjadi memiliki kedudukan.

    ReplyDelete
  11. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Objek yang ada itu bermacam-macam, meliputi segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Tiap-tiap objek akan menjadi lebih bermakna apabila memiliki subjek, keduanya saling melengkapi. Objek dan subjek ini tentulah dapat dilengkapi dengan jargon. Jargon yang ada sangat bermacam-macam dan tergantung masing-masing orang dalam menginterpretasikannya. Jargon sebagai komplemen memang dibutuhkan, namun kita harus ingat dari segala sesuatu yang memiliki jargon, hanya ada satu yang tidak memilikinya, yaitu Allah SWT.

    ReplyDelete
  12. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Sangat banyak dan bahkan berdimensi jika membahas masalah objek ini, tidak aka nada habisnya. Oleh karena itu, sebenar-benar jargon adalah objek itu sendiri. Guru sebagai pelaksana memiliki jargon, siswa memiliki jargon, pengawas memiliki jargon, sekolah memiliki jargon, pemerintah juga begitu. Untuk mencipatakn iklim yangkondusif, sudah seharusnya jargon-jargon saling terjemah menterjemahkan.

    ReplyDelete
  13. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Para para objek dan jargonnya akan membentuk system yang baik, satu dengan yang lain dengan meminimalkan stigma antar objek. Stigma sudah jelas akan menghancurkan tatanan dan jargon. Guru tidak seharusnya memiliki stigma terhadap pemerintah, juga tidak boleh memiliki stigma kepada siswa, siswa bodoh dsb. Saling memahami, adab, dan mengertii adalah kunciinya.

    ReplyDelete
  14. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Semua obyek meliputi yang ada yang yang mungkin ada, semua obyek tentunya memiliki sifatnya masing-masing. Dalam sifat-sifat tersebut ada yang dikategorikan menjadi sifat baik dan buruk. Sejatinya setiap obyek ingin memiliki pelindung. Maka obyek yang kacau akan membuat jargon-jargon yang dapat menutupi sifat buruk mereka dan menjadi pelindung mereka. Semoga kita dapat bersikap bijaksana dan menyerahkan segalanya Kepada Allah sehingga kita terhindar dari sikap menzalimi antar sesama denga jargon-jargon kita

    ReplyDelete
  15. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Dari sudut pandang pendidikan, banyak sekali obyek dari kegiatan belajar mengajar yang ada. Beberapa di antaranya ialah kurikulum atau peraturan pendidikan yang menjadi pedoman pelaksanaan pendidikan, kebijakan atau peraturan sekolah sebagai landasar kegiatan pembelajaran di tiap-tiap sekolah, metode pembelajaran yang diberikan oleh guru serta media dan fasilitas sekolah, assessment atau penilaian seperti raport dan portifolio, dan sebagainya. Siswa menjadi obyek gurunya, guru menjadi obyek kepala sekolah, kepala sekolah menjadi obyek pengawas sekolah, dan pengawas sekolah menjadi onyek dari pemerintah Semua obyek tersebut saling berkaitan dan menjadi sarana pelaksanaan kegiatan pembelajaran di sekolah. Semuanya penting untuk saling bekerjasama dalam dan melaksanakan pendidikan dengan baik.

    ReplyDelete
  16. Latifah Fitriasari
    PM C

    Subjek merupakan segala sesuatu yang dapat mempunyai hak dan kewajiban untuk bertindak. Sedangkan Objek adalah segala sesuatu yang bermanfaat bagi subjek dan dapat menjadi objek dalam suatu hubungan. Kelakuakan obyek tergantung pada subyeknya, jika obyek diakatakan kekacauan maka subyeknya juga mengalami kekacauan. Akan sangat sulit untuk kita memahami objek jika tidak ada subjek, Obyek itu juga tidak ada artinya jika tidak ada subyek.

    ReplyDelete
  17. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Selayaknya ada hitam dan ada putih maka jika ada obyek, tentu harus disempurnakan dengan adanya subyek. Kealpaan salah satu diantaranya akan menjadikan mereka kehilangan identitasnya sendiri. Suatu kata tak akan dapat kita ketahui ia berperan sebagai obyek atau bukan jika kita tidak melihat adanya subyek di dalamnya. Selayaknya para subyek, maka obyek pun harus dapat bersinergi sehingga sistem kehidupan yang kita jalani menjadi kehidupan yang barakah dan harmonis. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  18. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Obyek pada kenyataannya acap kali dikenai perlakuaan yang tidak seharusnya dimiliki subyek yang berbaikan. Sinergi selayaknya diciptakan tidak hanya antarsubyek ataupun antarobyek, namun antara subyek dan obyek dalam suatu kondisi atau suasana yang berkaitan hendaklah memiliki sinergi yang positif pula, misalkan seorang pelajar dipatok sebagai seorang subyek, maka obyek yang tepat untuk seorang pelajar ialah belajar ilmu-ilmu yang bermanfaat. Namun saat subyek pelajar mendapatkan obyek dengan kesan yang negatuf seperti mencuri ayam, merampok bank, dan sebagainya, maka makna jargon kebaikan yang melekan menjadi kabur dan didominasi oleh keburukan, maka sebaik-baim manusia ialah yang selalu berproses menuju kebaikan. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  19. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam elegi ini diketahui bahwa terdapat banyaksehali macam objek hingga peyebutan objek tersebut menjadi para para para .. objek saking banyaknya objek tersebu. Objek tersebut perlu sautu jargon untuk tetap membuatnya menjadi objek. Ketika objek memikirkan dirinya sendiri maka objek tersebtu telah berubah wujud menjadi subjek. Dan subjek tersebut adalah jargon.

    ReplyDelete
  20. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Objek dan subjek mempunyai suatu keterkaitan. Subjek sebagai pelaku, sedangkan objek sebagai sesuatu yang dikenai perbuatan atau tindakan. Objek dan subjek di dunia ini ada bermacam-macam. Mungkin kita tidak dapat menyebutkan semuanya satu per satu. Hal itu dapat terjadi karena pikiran kita juga terbatas

    ReplyDelete
  21. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Tanpa adanya subyek, obyek tidak akan ada. Karena obyek adalah hasil mengada dari subyek. Bagaimana pun jargon dari obyek bergantung pada subyeknya, jika subyeknya mencipatakan suatu kebaikan, maka obyek itu pun akan mengikutinya menjadi baik. Begitupun jika subyeknya hanya membuat kekacauan, maka obyeknya tidak sekedar membuat kekacauan, tetapi bisa menjadi pemroduksi, pemangku, pengemban kekacauan. Oleh sebab itu, sebenar-benar setiap obyek maupun subyek adalah memiliki jargon, tergantung bagaimana subyek dan obyek itu mampu mengelola jargonnya, jika jargon mampu dikendalikan dengan pikiran dan hati berlandaskan spiritual, insya Allah jargon tidak akan membuat kekacauan.

    ReplyDelete
  22. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Jargon dan objek adalah dua hal yang tidak dapat saling terlepas. Jargon merupakan bagian dari objek sedangkan objek sendiri juga merupakan jargon ketika dirinya sendiri berpikir tentang objek. Seperti jargon dan objek mereka tercipta secara berpasangan, demikian pula dengan hal lain di dunia ini yang diciptakan secara berpasang-pasangan seperti siang dan malam, benar dan salah, murid dan guru, besar dan kecil dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  23. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Jargon adalah predikat yang melekat pada diri subyek sehingga apa yang menjadi andalan subyek maka itulah yang menjadi jargonnya. Dalam hal ini jargon tidak akan pernah sama dengan subyeknya sebagaimana subyek tidak akan pernah sama dengan obyeknya.

    ReplyDelete
  24. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Objek adalah segala yang ada dan mungkin ada yang menjadi sasaran untuk dikaji, diteliti dan diperhatikan. Akan tetapi objek pun tidak dapat berdiri sendiri, dia memerlukan subjek untuk mendampinginya. Jika hanya objek saja maka makna yang ada dibalik objek tersebut belum bisa dipahami, karena tidak ada subjek yang memahaminya. Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  25. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Berdasarkan jargon para obyek yang saya baca, obyek tidak dikatakan obyek jika tidak memiliki subyek, namun pada ruang dan waktu berbeda obyek bisa menjadi subyek. Begitu pula dengan subyek, pada ruang dan waktu yang lain bisa menjadi obyek. Kekacauan obyek tergantung pada subyeknya, jika obyek diakatakan kekacauan maka subyeknya juga mengalami kekacauan. Jadi obyek dan subyek saling terikat satu sama lain, itulah jargonnya. Jargon subyek terdapat pada subyek dan ada juga pada obyek begitu juga sebailiknya. Jargon obyek terdapat pada obyek dan ada juga pada subyek, hal ini karena obyek bisa menjadi subyek dan subyek bisa menjadi obyek tergantung pada ruang dan waktu.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  26. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    objek merupakan sesuatu yang dikenai obyek, terdapat macam-macam obyek sesuai dengan jargonnya, antara lain: obyek pelaksana, obyek pengawas, obyek pengampu. jadi berdasarkan macam-macam jargon tersebut dapat saya simpulkan bahwa jargon merupakan predikat.

    ReplyDelete
  27. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa objek itu memiliki sifat-sifatnya sendiri. Objek itu tidak akan bisa berdiri sendiri tanpa jargon. Subjek dan objek itu saling berhubungan, mereka saling menjelsakan dan dijelaskan. Objek dapat berubah menjadi subjek dan subjek juga dapat berubah menjadi objek.

    ReplyDelete
  28. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Tidak ada yang mampu berdiri sendiri. Begitupun dengan obyek, tidak akan memiliki makna tanpa adanya subyek. Keduanya merupakan dua hal yang saling membutuhkan untuk memantapkan kedudukannya masing-masing.

    ReplyDelete