Sep 20, 2013

Filsafat atau Sastra?




Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan sebuah pertanyaan dari Sdr Ahmad Mujahid;

Assalamu’aalikum Wr.Wb
Maaf bapak saya sebenarnya masih bingung apakah elegi ini sebuah refleksi dari pemahaman filsafat ataukah merefleksikan sebuah pemahaman tentang kesusastraan? Ataukah saya yang masih bingung batas kajian filsafat dengan batas kajian sastra, karena ketika saya membaca elegi ini ternyata dak jauh beda dengan ketika saya mengkaji sebuah ungkapan-ungkapan sastra. Karena dalam elegi ini saya di tuntut untuk bagaimana mengereti dan memahami kata-kata yang ada bukan melogikakan ini dengan pemahaman filsafati. Jadi tidak jauh beda dengan membaca karya sastra seoarang sastrawan. Ketika mendefinisikan filsafat itu sebagai sebuah berfikir reflek dan kritis serta bagaimana berfikir bijak, di elegi yang bapak buat ini tidak ada yang mencerminkan hal itu malah yang terjadi adalah sebuah tanggapan yang tidak mengarah kepada sebuah pemahaman filsafati atau tidak mengarah kepada tujuan belajar filsafat itu. Jadi, mohon bapak menjelaskan tentang filsafat itu sehingga bagaimana itu saya jadikan sebagai acuan atau ilmu untuk menanggapi elegi yang bapak tulis dan nantinya tanggapan saya bisa terarah.
Sekian

Jawaban Saya (Marsigit):

Obyek filsafat adalah segala yang ada dan yang mungkin ada.

Maka dalam perbincangan filsafat bisa saja kita mempelajari sastra, sastra bahasa atau bahasa itu sendiri.

Kajian filsafat bersifat intensif dan ekstensif.

Intensif itu artinya dalam sedalam-dalamnya. Ekstensif itu luas seluas-luasnya.

Terdapat tiga pilar dalam filsafat yaitu kajian ontologis, kajian epistemologis dan kajian aksiologis.

Dengan kajian ekstensif maka pemikiran filsafat menjangkan semua yang ada dan yang mungkin ada.

Maka filsafat dapat ditaruh didepan apapun yaitu di depan yang ada dan yang mungkin ada.

Dengan kajian intensif maka pemikiran filsafat akan menjangkau hakekat atau ontologisnya sampai kita tidak mampu lagi mempertanyakannya.

Untuk mempelajari filsafat kita dapat menggunakan bahasa analog.

Bahasa analog mampu mengungkap kualitas-kualitas subyek dan obyeknya hingga sampai tataran radix.

Bahasa analog juga sejalan dengan metode simplifikasi atau reduksi.

Metode reduksi adalah metode berpikir yang paling ampuh tetapi sekaligus paling berbahaya.

Sadar atau tak sadar, manusia itu pasti menggunakan metode reduksi karena secara hakikinya manusia itu memang bersifat reduktif.

Secara ontologis, maka yang ada dan yang mungkin ada itu hanya mempunyai 2 prinsip, yaitu prinsip identitas dan prinsip kontradiktif.

Maka. dengan obyek dan metode serta pilar yang ada maka tidak ada yang tersisa.

Bukan filsafat itu bukan sisa filsafat.

Tidak setuju filsafat itu bukan sisa filsafat.

Bahwa ketiadaan itu pun mungkin ada sebagai kajian filsafat.

Maka bukan filsafat itupun filsafat jadinya.

Tidak setuju filsafat itupun sedang berfilsafat jadinya.

Maka aku menemukan bahwa dirikupun ternyata adalah sebuah filsafat.

Jika sastra adalah khasanah bahasa maka akupun menemukan bahwa filsafat itupun ternyata adalah bahasa.

Jika engkau ingin mengetahui batas antara filsafat dan sastra bahasa, tentulah itu sangat baik.

Tetapi ternyata aku juga menemukan bahwa baik filsafat ataupun sastra bahasa itu ternyata keduanya adalah pikiranku.

Maka aku dapat sembunyikan filsafatku itu dalam sastra bahasaku.

Dan juga dapat aku sembunyikan bahasaku itu dalam filsafatku.

Jikalau engkau telah cukup jelas akan uraianku maka aku khawatir bahwa engkau telah termakan oleh jargonku.

Jika engkau masih ragu akan penjelasanku maka itulah sebenar-benar awal dari pengetahunmu.Namun ternyata saya menyadari bahwa diriku itu terbatas.

Agar saya mampu menggapai batas pikiranku maka akupun dapat menggunakan metode hermenitika, yaitu menterjemahkan dan diterjemahkan.

Tetapi aku kemudian menemukan bahwa dunia yang sedang aku pelajari itu ternyata sama persis seperti yang aku pikirkan.

Maka aku menyimpulkan bahwa filsafat itu tidak lain tidak bukan adalah pikiranku sendiri.

Namun tidaklah mudah aku menggapai pikiranku, karena aku menemukan bahwa setiap jengkal perjalanan pikiranku terdapat terminal-terminal pemberhentian tentang kejelasan pikiranku.

Maka kemudian aku juga menemukan bahwa sebenar-benar bahaya yang aku hadapi dalam berpikirku adalah jika aku tidak mau berpikir lagi.

Keadaan itulah yang kemudian dikatakan oleh banyak orang sebagai mitos dalam pikiranku.

Maka sebenar-benar berfilsafat adalah usaha terus menerus untuk menggapai logos dan menggapai bukan mitos.

Maka aku juga menemukan bahwa semua yang ada dan yang mungkin ada itu pada hakekatnya adalah cermin bagi diriku untuk dapat menangkap mitos-mitosku.

Maka apalah yang engkau maksud dengan pemahaman filsafat itu.

Jika engkau telah paham betul tentang hakekat pemahaman filsafat, maka akupun masih khawatir jangan-jangan itu juga salah satu mitos besarmu.

Maka marilah kita selalu saling terjemah dan menterjemahkan. Semoga kita semua mampu menggapai terang.

Amiin

Demikianlah jawaban saya semoga bermanfaat bagai para mahasiswa yang sedang belajar filsafat.

Amiin.

36 comments:

  1. Calva Ananta Dominikus Matutina
    13301241061
    Pendidikan Matematika I 2013

    Jika sastra dan filsafat 'bekerja sama', maka keduanya akan mendapatkan keuntungan. Sehingga sastra tidak akan kering dari nilai-nilai kehidupan. Dan filsafat pun dapat disampaikan dengan bahasa yang lebih ringan dan segar.

    ReplyDelete
  2. Calva Ananta Dominikus Matutina
    13301241061
    Pendidikan Matematika I 2013

    “Dengan kajian intensif maka pemikiran filsafat akan menjangkau hakekat atau ontologisnya sampai kita tidak mampu lagi mempertanyakannya”. Dari pernyataan tersebut dapat dilihat bahwa filsafat secara dalam menjangkau kehidupan manusia di dunia, namun memang masih kurang bisa dipahami oleh setiap manusia, kkhususnya yang belum belajar filsafat. Maka, saya memandang bahwa sastra dapat menjadi media untuk menyampaikan pemahaman-pemahaman filsafat tersebut dan lebih mudah dipahami oleh kaum awam.

    ReplyDelete
  3. Calva Ananta Dominikus Matutina
    13301241061
    Pendidikan Matematika I 2013

    Menurut saya, bahasa analog membantu kita memahami filsafat secara lebih intensif. Karena olah pikir setiap manusi itu berbeda, sehingga diperlukan media yaitu bahasa analog untuk dapat memahami filsafat secara lebih universal.

    ReplyDelete
  4. Calva Ananta Dominikus Matutina
    13301241061
    Pendidikan Matematika I 2013

    Melalui bahasa sastra yang lebih komunikatif, segar, dan hidup, filsafat dapat dibantu mengekspresikan atau menyampaikan refleksinya atas pengalaman menghayati hidup dalam makna dan nilainya. Salah satu contoh hasilnya adalah buku karangan Jostein Gaarder yang berjudul “Dunia Sophie”.

    ReplyDelete
  5. Calva Ananta Dominikus Matutina
    13301241061
    Pendidikan Matematika I 2013

    Aktivitas terjemah menterjemahkan membantu kita untuk tidak terjebak pada mitos mitos dalam diri kita. Sikap tidak puas dan memandang dari berbagai sudut pandang membantu kita untuk menghapus mitos dan mencapai logos.

    ReplyDelete
  6. Filsafat merupakan ilmu sendiri, bukan sastra. Seolah-olah sebuah sastra bisa menjadi filsafat. Sastra yang terlalu erat hubungannya dengan filsafat akan bias, begitu pula sebaliknya.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  7. Karya sastra pun bukan catatan sejarah, namun karya sastra adalah gambran dari sebuah kehidupan. Kenyataan dalam karya sastra tidak dapat dibantah. Sejarah kebenarannya bisa dibantah.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  8. Masyrakat jaman dulu komunal (sastra menjadi milik bersama) cerita rakyat muncul dalam banyak versi, semisal kisah Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji sama dengan kisah ande-ande lumut, versi Ken Tambuwan dan raden menteri pujangga jaman dlu menjadi tangan kanan raja.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  9. Seiring berjalannya globalisasi dan modernisasi, perubahan sastra dan filsafat juga mulai terasa. Beberapa aspek filsafat seakan-akan mendukung oleh industrialisasi, maka berbagai peninggalan itu harus dibudayakan dan dilestarikan kembali sebagai budaya asli Indonesia serta kekayaan non-material yang dimiliki oleh Indonesia. Terlebih apabila budaya itu adalah budaya lisan (tidak tertulis) dan diajarkan turun temurun tanpa adanya dokumentasi yang jelas

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP
    16701261005

    ReplyDelete
  10. Sastra maupun filsafat adalah sebuah susunan huruf, bunyi, kata atau kalimat yang dilafalkan dengan pengucapan dengan cara tertentu dan untuk tujuan tertentu pula, namun diyakini bahwa keduanya adalah pengucapan baik itu dilafalkan atau dibaca di dalam hati yang memiliki kekuatan

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  11. Sastra Indonesia telah memberikan sumbangan penting dalam persatuan dan kesatuan bangsa, ia mampu memperkenalkan budaya,masyarakat, dan adapt istiadat etnis, agama, suku, atau budayanya, sastrawan mengungkapnya dengan penuh kejujuran yang memungkinkan di satu pihak hal-hal yang negative dari etnisnya sendiri disikapi secara objektif, di pihak lain, etnis lainnya berusaha memahami, mengerti, dan menghargai hal yang berbeda dari etnis lain

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  12. Sastra memiliki kekuatan pemersatu, yakni mampu memberikan penggambaran secara jujur adapt istiadat dan budaya etnis tertentu oleh para pengarang akan menciptakan saling pengertian budaya denganpembacanya di seluruh Indonesia.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  13. Johanis Risambessy
    16701251029
    PPs PEP B 2016

    Kedua hal ini memiliki dimensi yang berbeda-beda. Filsafat itu adalah diri kita sendiri. apa yang kita pikirkan. Apa yang dapat kita jelaskan berdasarkan logika. Sedangkan sastra itu sesuatu yang dilihat kemudian dijelaskan sehingga menjadi rangkaian kata-kata yang indah dan dapat dirasakan oleh orang lain. Oleh karena itu, baik filsafat maupun sastra saling berhubungan satu sama lain tergantung dimensi ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  14. Sastra memuat ungkapan serta gambaran kehidupan manusia pada suatu zaman yang dihadapkan pada berbagai permasalahan hidup. Permasalahan hidup manusia yang kompleks dapat melahirkan suatu konflik dan pertikaian. Sedangkan filsafat berlaku sebaliknya.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP
    16701261005

    ReplyDelete
  15. Bagaimana bisa memilih, padahal sastra merupakan aspek utama yang sejajar dengan makna dalam kehidupan manusia, sesuatu yang menarik dan memberikan kesan tersendiri dalam pengalaman hidup begitu mudah diingat. Sedangkan filsafat memeluk erat manusia dan sastra dalam sebuah pemikirannya.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  16. Filsafat secara tidak langsung mampu mengatur bagaimana tindakan-tindakan harus bertalian satu sama lain, bagaimana peristiwa satu mempunyai hubungan dengan peristiwa lain, dan bagaimana gambaran tokoh yang berperan dalam peristiwa.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  17. Filsafat seperti tidak melakukan apapun secara serta merta, lewat siratan dan terserah si pembelajar dalam menafsirkannya. Pembaca dapat merenungkannya dan menghayatinya secara intensif.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  18. Secara otodidak, filsafat bisa berkembang dengan cara paling sederhana sampai kompleks, seperti sastra yang merupakan hasil perenungan dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupannya.Perenungan tersebut bukanlah suatu lamunan, melainkan berupa hasil pengalaman jiwa yang telah dipertimbangkan baik-baik. Perenungan yang telah dilakukan dengan penuh kesadaran dan bertanggung jawab tersebut menawarkan gambaran kehidupan


    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  19. Lahirnya sebuah filsafah berasal dari realitas yang tinggi dan psikologi yang lebih mendalam, tetapi pada dasarnya kelahirannya merupakan gambaran terhadap suatu keadaan manusia dan lingkungan masyarakat yang ada disekelilingnya. Keadaan psikologi pengarang dan lingkungan tempat tinggal pengarang menjadi hal yang paling utama.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  20. Konstruk pembangun filsafah dan sastra sama-sama memiliki unsur yang secara totalitas di samping unsur formal , masih banyak lagi macamnya. Namun keduanya saling membentuk.


    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  21. Sebuah kehidupan manusia yang disampaikan secara panjang lebar dapat terangkum dalam sebuah filsafat yang disebut awal dan akhir zaman yang singkat dan bisa mewakili eksistensi sastra sebagau sebuah cerita maupoun filsafat itu sendiri.

    Memet Sudaryanto
    s3 PEP

    ReplyDelete
  22. Filsafat maupun sastra secara estetis yang memiliki fungsi untuk menghibur dari kegelapan, memberi kenikmatan emosional dan intelektual pada individu penikmatnya. Oleh karenanya sastra dan filsafat harus memiliki kepaduan yang utuh pada semua unsurnya, pun keduanya perlu berkombinasi untuk meraih keutuhan tersebut.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  23. Pada kenyataannya, masyarakat dapat menikmati sebuah kehidupan yang paling hakiki melalui pemahaman terhadap dirinya sndiri setelah memahami dan mampu membuat filsafat dirinya.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  24. Manusia dalam filsafat mampu mempelajari hubungan keadaan dan kondisi manusia dengan sikap atau tingkah laku yang tercermin dalam kehidupan yang disusunnya.Keberadaan sikap dan kejiwaan seseorang dapat dideteksi melalui filsafatnya, sedangkan sikap dan perilaku tokoh biasanya erat kaitannya dengan kehidupan.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  25. Filsafat membentuk sebuah analogi, analogi produk dari suatu kehidupan nyata dalam kondisi kejiwaan dan pemikiran seseorang yang berada dalam situasi setengah sadar (subconcius) setelah mendapat bentuk yang jelas dituangkan ke dalam bentuk tertentu secara sadar (conscious). Kenapa manusia harus berfilsafat? Jadi proses terbentuknya kehidupan manusia terjadi dari dua tahap, yaitu pertama dalam bentuk meramu ruang dalam situasi imajinatif dan abstrak, kemudian dipindahkan ke dalam tahap kedua, yaitu memanajemen waktu yang sifatnya mengkonkretkan apa yang sebelumnya dalam bentuk abstrak.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  26. Pada akhirnya, reduksi adalah metode berpikir yang paling ampuh tetapi sekaligus paling berbahaya. Saya setuju pada pernyataan ini, karena pada akhirnya manusia akan membentuk filsafatnya sendiri. BUkan untuk membentuk dunia atas dunia orang lain..


    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  27. Filsafat dan sastra adalah dua hal yang memang akrab. Beberapa filsuf juga menampakkan keakraban dengan sastra. Yang paling klasik misalnya Aristoteles yang bahkan mengarang Poetics, kritik sastra yang tertua, belum lagi jika melihat aforisme-aforisme Nietzsche yang menggunakan banyak teknik sastrawi dalam mengemukakan konsep-konsep filsafatnya.

    Dwi Margo Yuwono
    S3 PEP A

    ReplyDelete
  28. Ada kemiripan juga antara kebenaran dalam sastra dengan kebenaran dalam filsafat. Karena sastra membicarakan yang mungkin, bukan yang real,maka kebenaran yang bisa dicapai oleh sastra pun merupakan kebenaran relatif. Mirip dengan konsep kebenaran dalam filsafat, yakni kecocokan dengan ruang dan waktu.

    Dwi Margo Yuwono
    S3 PEP A

    ReplyDelete
  29. Faqih MU'tashimbillah
    12313244030
    Pendidikan Matematika Internasional

    Objek Filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Salah satu cara memahami filsafat agar lebih mudah maka filsafat tersebut dituangkan dalam sastra. Karena Filsafat sendiri merupakan kata yang berat sedangkan jikalau sudah disisipkan dalam sastra akan lebih mudah untuk dipahami.

    ReplyDelete
  30. Kita perlu menggunakan berbagai sudut pandang dalam mempelajari Filsafat. Segala sesuatunya jika kita memandangnya dari sisi yang tepat maka kita akan memamhaminya dengan benar dan maksud yang sampaikan tertuju tepat pada kita.

    ReplyDelete
  31. Manusia tidak diperkanankan untuk memisahkan sastra dan filsafat, seperti nadi dan darah yang mengalir di dalamnya. Manusia membagi filsafat dalam keindahan sastra, dan begitu pula sebaliknya.

    Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    ReplyDelete
  32. "Jika engkau telah paham betul tentang hakekat pemahaman filsafat, maka akupun masih khawatir jangan-jangan itu juga salah satu mitos besarmu." Manusia kadang perlu berpikir tentang mitos besar.
    Manusia perlu berpikir tentang dirinya dan mitos terbesar dalam dirinya untuk membangun tiap perspektif yang susah dipahami.

    Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    ReplyDelete
  33. Manusia perlu memahami, bahwa makin ia ragu maka sebenarnya makin tahu, ketika masih ragu akan penjelasan pada tiap siklik kehidupan, maka itulah sebenar-benar awal dari pengetahunnya.Namun ternyata saya menyadari bahwa diriku itu terbatas. Penjelasan tersebut sudah sangat gamblang dan mudah dipahami untuk selalu diterapkan dalam berkehidupan manusia. Seperti mempelajari ilmu.

    Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    ReplyDelete
  34. Bersarang dari apa yang akhir-akhir ini terjadi pada mahasiswa yang melakukan kecurangan, saya rasa kutipan jika manusia terlalu telah paham tentang hakekat pemahaman dirinya, maka sebenarnya masih menjadi satu mitos besar bagi orang tersebut.

    Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    ReplyDelete
  35. Memisahkan filsafat dengan diri sebuah sastra adalah memecah dua hal besar dalam diri manusia dan memisahkannya dalam hakikatnya masing-masing.
    Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    ReplyDelete
  36. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Objek kajian filsafat mencakup segala yang ada dan yang mungkin ada, maka sastra pun termasuk dalam kajian filsafat. Filsafat itu merupakan penjelasan kita dan penjelasan kita menggunakan bahasa yang adalah merupakan bagian dari sastra. Keduanya menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan sulit untuk dibedakan secara tegas dan jelas. Karena itu dapat dikatakan bahwa filsafat ada dalam sastra dan sastra juga berada dalam filsafat.

    ReplyDelete


Note: Only a member of this blog may post a comment.