Sep 20, 2013

Filsafat atau Sastra?




Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan sebuah pertanyaan dari Sdr Ahmad Mujahid;

Assalamu’aalikum Wr.Wb
Maaf bapak saya sebenarnya masih bingung apakah elegi ini sebuah refleksi dari pemahaman filsafat ataukah merefleksikan sebuah pemahaman tentang kesusastraan? Ataukah saya yang masih bingung batas kajian filsafat dengan batas kajian sastra, karena ketika saya membaca elegi ini ternyata dak jauh beda dengan ketika saya mengkaji sebuah ungkapan-ungkapan sastra. Karena dalam elegi ini saya di tuntut untuk bagaimana mengereti dan memahami kata-kata yang ada bukan melogikakan ini dengan pemahaman filsafati. Jadi tidak jauh beda dengan membaca karya sastra seoarang sastrawan. Ketika mendefinisikan filsafat itu sebagai sebuah berfikir reflek dan kritis serta bagaimana berfikir bijak, di elegi yang bapak buat ini tidak ada yang mencerminkan hal itu malah yang terjadi adalah sebuah tanggapan yang tidak mengarah kepada sebuah pemahaman filsafati atau tidak mengarah kepada tujuan belajar filsafat itu. Jadi, mohon bapak menjelaskan tentang filsafat itu sehingga bagaimana itu saya jadikan sebagai acuan atau ilmu untuk menanggapi elegi yang bapak tulis dan nantinya tanggapan saya bisa terarah.
Sekian

Jawaban Saya (Marsigit):

Obyek filsafat adalah segala yang ada dan yang mungkin ada.

Maka dalam perbincangan filsafat bisa saja kita mempelajari sastra, sastra bahasa atau bahasa itu sendiri.

Kajian filsafat bersifat intensif dan ekstensif.

Intensif itu artinya dalam sedalam-dalamnya. Ekstensif itu luas seluas-luasnya.

Terdapat tiga pilar dalam filsafat yaitu kajian ontologis, kajian epistemologis dan kajian aksiologis.

Dengan kajian ekstensif maka pemikiran filsafat menjangkan semua yang ada dan yang mungkin ada.

Maka filsafat dapat ditaruh didepan apapun yaitu di depan yang ada dan yang mungkin ada.

Dengan kajian intensif maka pemikiran filsafat akan menjangkau hakekat atau ontologisnya sampai kita tidak mampu lagi mempertanyakannya.

Untuk mempelajari filsafat kita dapat menggunakan bahasa analog.

Bahasa analog mampu mengungkap kualitas-kualitas subyek dan obyeknya hingga sampai tataran radix.

Bahasa analog juga sejalan dengan metode simplifikasi atau reduksi.

Metode reduksi adalah metode berpikir yang paling ampuh tetapi sekaligus paling berbahaya.

Sadar atau tak sadar, manusia itu pasti menggunakan metode reduksi karena secara hakikinya manusia itu memang bersifat reduktif.

Secara ontologis, maka yang ada dan yang mungkin ada itu hanya mempunyai 2 prinsip, yaitu prinsip identitas dan prinsip kontradiktif.

Maka. dengan obyek dan metode serta pilar yang ada maka tidak ada yang tersisa.

Bukan filsafat itu bukan sisa filsafat.

Tidak setuju filsafat itu bukan sisa filsafat.

Bahwa ketiadaan itu pun mungkin ada sebagai kajian filsafat.

Maka bukan filsafat itupun filsafat jadinya.

Tidak setuju filsafat itupun sedang berfilsafat jadinya.

Maka aku menemukan bahwa dirikupun ternyata adalah sebuah filsafat.

Jika sastra adalah khasanah bahasa maka akupun menemukan bahwa filsafat itupun ternyata adalah bahasa.

Jika engkau ingin mengetahui batas antara filsafat dan sastra bahasa, tentulah itu sangat baik.

Tetapi ternyata aku juga menemukan bahwa baik filsafat ataupun sastra bahasa itu ternyata keduanya adalah pikiranku.

Maka aku dapat sembunyikan filsafatku itu dalam sastra bahasaku.

Dan juga dapat aku sembunyikan bahasaku itu dalam filsafatku.

Jikalau engkau telah cukup jelas akan uraianku maka aku khawatir bahwa engkau telah termakan oleh jargonku.

Jika engkau masih ragu akan penjelasanku maka itulah sebenar-benar awal dari pengetahunmu.Namun ternyata saya menyadari bahwa diriku itu terbatas.

Agar saya mampu menggapai batas pikiranku maka akupun dapat menggunakan metode hermenitika, yaitu menterjemahkan dan diterjemahkan.

Tetapi aku kemudian menemukan bahwa dunia yang sedang aku pelajari itu ternyata sama persis seperti yang aku pikirkan.

Maka aku menyimpulkan bahwa filsafat itu tidak lain tidak bukan adalah pikiranku sendiri.

Namun tidaklah mudah aku menggapai pikiranku, karena aku menemukan bahwa setiap jengkal perjalanan pikiranku terdapat terminal-terminal pemberhentian tentang kejelasan pikiranku.

Maka kemudian aku juga menemukan bahwa sebenar-benar bahaya yang aku hadapi dalam berpikirku adalah jika aku tidak mau berpikir lagi.

Keadaan itulah yang kemudian dikatakan oleh banyak orang sebagai mitos dalam pikiranku.

Maka sebenar-benar berfilsafat adalah usaha terus menerus untuk menggapai logos dan menggapai bukan mitos.

Maka aku juga menemukan bahwa semua yang ada dan yang mungkin ada itu pada hakekatnya adalah cermin bagi diriku untuk dapat menangkap mitos-mitosku.

Maka apalah yang engkau maksud dengan pemahaman filsafat itu.

Jika engkau telah paham betul tentang hakekat pemahaman filsafat, maka akupun masih khawatir jangan-jangan itu juga salah satu mitos besarmu.

Maka marilah kita selalu saling terjemah dan menterjemahkan. Semoga kita semua mampu menggapai terang.

Amiin

Demikianlah jawaban saya semoga bermanfaat bagai para mahasiswa yang sedang belajar filsafat.

Amiin.

46 comments:

  1. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Memang ketika kita membaca elegi-elegi ini, semua terbungkus cantik sebagai sebuah karya sastra yang unik. Terkadang kita tertawa dibuatnya, terharu, termotivasi, tertegun, terheran-heran, terkagum-kagum, dan banyak sekali rasa yang hinggap ketika kita membaca elegi-elegi ini. Dan tentunya banyak sekali manfaat yang tersirat di dalamnya. semua hal yang dekat dengan kita, dan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari kita. Filsafat tidaklah terbatas, namun manusialah yang kemampuannya terbatas. Segala yang ada dan yang mungkin ada dapat digali sifat-sifatnya secara ekstensif maupun intensif. Namun, seberapa dalam kita menggali, dan seberapa luas kita mencari, itulah batasan kita.

    ReplyDelete
  2. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Assalamualaikum wr. . wb.
    Muhammad Iqbal (1877-1938), filsuf Muslim Modern berkebangsaan India pernah berkata dalam sebuah bukunya: “Filsafat penjelasan hidup, kesusastraan nyanyian hidup, kesenian perhiasan hidup, tasawuf intisari hidup, dan ibadah pegangan hidup!”, Pandangan bahwa ilmu yang satu dengan yang lain terpisah-pisah terkotak-kotak atau tak berhubungan sudah menjadi kuno, diganti dengan pandangan baru yang cenderung menggabungkan dan mengaitkan satu sama lain. Demikian pula halnya dengan filsafat dan sastra tidak akan terlihat hubungannya bila yang dicermati hanyalah masing-masing. Filsafat dan sastra adalah dua wilayah keilmuan yang dalam sejarah telah bergelut satu sama lain

    ReplyDelete
  3. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Objek filsafat itu sendiri adalah yang ada dan yang mungkin ada, salah satunya adalah sastra bahasa. Untuk mempelajari atau memahami filsafat digunakan bahasa analog. Filsafat menggunakan bahasa analog untuk menyampaikan gagasannya sehingga mudah diterjemahkan dan dipahami dasar dari pemikiran para filsuf. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa dalam konteks tersebut, sastra atau bahasa merupakan media filsafat dalam menyentuh masyarakat.

    ReplyDelete
  4. Lana Sugiarti
    16709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Memang benar yang dikatakan Bapak bahwa untuk mempelajari filsafat dapat menggunakan bahasa analog. Karena saya sendiri merasa kesulitan dalam mempelajari filsafat. Untuk menemukan sebenar – benarnya tentang filsafat membutuhkan usaha terus – menerus. Ketika membaca elegi – elegi banyak nilai – nilai hidup yang dapat diambil. Itu adalah salah satu cara untuk memahami filsafat. Elegi akan mempermudah memahami filsafat. Pemahaman untuk mencapai logos dan bukan mitos sangat diperlukan dalam mempelajari filsafat. Dengan demikian sastra adalah salah satu sarana untuk memahami filsafat.

    ReplyDelete
  5. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Obyek filsafat adalah segala yang ada dan yang mungkin ada. Maka dalam perbincangan filsafat bisa saja kita mempelajari sastra, sastra bahasa atau bahasa itu sendiri. Untuk mempelajari filsafat kita dapat menggunakan bahasa analog. Bahasa analog mampu mengungkap kualitas-kualitas subyek dan obyeknya hingga sampai tataran radix. Filsafat itu menggunakan bahasa analog yang lebih tinggi dari kiasan dan memiliki makna lebih luas. Dengan penggunaan bahasa analog itulah kita akan berpikir intensif dan ekstensif untuk memahami filsafat, untuk memahami elegi-elegi.

    ReplyDelete
  6. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    dalam memahami filsafat, yang membutuhkan pemahaman dan penalaran yang tinggi, kita memang dituntut untuk lebih banyak bahasa. sebenarnya bapak sudah menjelaskan apa-apa tentang filsafat itu. hanya saja bahasa yang digunakan memang lebih menggunakan bahasa yang ada pada sastra. tapi memang itulah keunikan dari bapak. bapak menjelaskan filsafat tanpa harus menggunakan kata-kata filsafat itu sendiri.

    ReplyDelete
  7. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Objek filsafat meliputi segala yang ada dan yang mungkin ada. Dalam berkomunikasi, filsafat memiliki ragam bahasa. Dari beragam bahasa, ada yang sebagian bisa kita pahami, namun ada juga yang meninggalkan misteri. Demikianlah sebenar-benarnya manusia itu terbatas, yaitu terbatas oleh ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  8. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Filsafat atau sastra? Keduanya itu adalah hal penting yang ada di dunia kehidupan untuk menggapai hidup yang harmoni. Karya sastra memiliki keakraban dengan filsafat. Sama-sama memungut realitas sebagai sumber inspirasi, serta memahami tulisan-tulisan, kata-kata, dan kalimat yang mungkin harus benar-benar kita pahami. Karena filsafat dan sastra bahasanya sangat tinggi.

    ReplyDelete
  9. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Dalam memahami filsafat kita dituntut untuk berpikir secara luas dan mendalam. Dimana filsafat itu adalah luas dan mencakup semuanya. Filsafat sejatinya adalah ilmu berpikir tentang fenomena kehidupan yang artinya tak lepas dari segala yang ada dan mungkin ada, sehingga segala yang ada dan yang mungkin ada itu sendiri adalah obyeknya. Ketika membaca elegi ini mungkin kita merasakan diri kita masuk kedalam dunia filsafat, mungkin itu dipengaruhi oleh bahasa analog yang menjadi bahasa filsafat. Namun yang harus kita pahami bahwa bukan itu yang menjadi fokus kita, melainkan apa esensi dari bacaan berbahasa analog itu. Barulah kita bisa dikatakan menelaah secara intensif, walaupun intensif yang kita maksud belum tentu benar-benar intensif seperti para filsuf.

    ReplyDelete
  10. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Pertanyaan dari saudara Ahmad Mujahid yang menyatakan tentang pemahaman filsafat pun sebenarnya masih diragukan. Pemahaman tentang filsafat merupakan pemahaman seseorang tentang pikirannya sendiri. Jadi ketika dipertanyakan perbedaan antara pemahaman filsafat dengan sastra dalam elegi-elegi ini itu beda konteksnya. Memang elegi-elegi disini menggunakan karya sastra yang dibangun berdasarkan pemahaman filsafat, yang dapat menambah wawasan dan gambaran serta analogi tentang filsafat. Analogi digunakan dalam elegi ini untuk memudahkan kita memahami elegi dengan mengilustrasikannya dengan hal yang mudah kita pahami. Begitu menurut hemat saya.

    ReplyDelete
  11. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D

    Kita tahu bahwa objek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada, sehingga berawal dari ragam eksestensi dan itensi yang merupakan ragam, yang menyusun struktur hirarki yang mana struktur itu terdiri material sampai spitual sehinggaberawal dari sinilah adanay bahasa, dimana bahasa erat kaitannya dengan satra yang mana sastra itu adalah bahasa itu sendiri. Dalam berfilsafat juga mempunya kajian yaitu ontologi, epistimologi dan aksiologi yang mana ontologi itu adalah hakikat sedangkan epistimologi itu adalah cara emndapatkan hakikat dan aksiologi adalah nilai dari suatu hakikat itu sendiri.

    ReplyDelete
  12. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Filsafat atau Sastra?
    Sebelum kesana kita lihat dulu apa sebagai objek kajian dalam filsafat dan sastra itu?. Ternyata yang dijadikan sebagai objek adalah sama yaitu semua yang ada dan yang mungkin ada. Filsafat menjelaskan eksistensi objeknya dengan menggunakan bahas analog dan sastra berfungsi mengkomunikasikan nilai-nilai tersebut sedemikian rupa berdasarkan karaker sastra. Baik filsafat maupun sastra, sebenarnya merupakan refleksi pengarang atas keberadaan objeknya. Hanya, jika sastra merupakan refleksi evaluatif, maka filsafat merupakan refleksi kritis. Apa yang diungkapkan filsafat adalah catatan kritis yang awal dan akhirnya ditandai dengan pertanyaan radikal yang menyangkut hakikat dan keberadaan objek kajiannya. Itulah, di antaranya yang membedakan karya sastra dan filsafat. Namun dalam sebuah pribahasa mengatakan, hubungan sastra dan filsafat laksana dua sisi mata uang, permukaan yang satu tidak dapat dipisahkan dari permukaan yang lainnya, bersifat komplementer, saling melengkapi. Sebab keduanya memiliki kajian objek yang sama.

    ReplyDelete
  13. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Saya berpandangan bahwa filsafat terdapat sastra. Mengapa? Karena filsafat akan tertulis lebih jelas dan indah dengan sastra yang berkelok – kelok. Dengan bentuk yang demikian akan semakin menarik dan menimbulkan rasa penasaran, ada apa dibalik tulisan tersebut? Apa makna yang terkandung di dalam tulisan tersebut?

    ReplyDelete
  14. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Filsafat dan sastra pada dasarnya berbeda, namun mereka berjalan bersama-sama dalam kehidupan manusia. Ketika manusia berfilosofi, maka energy nya akan terkuras, dan dengan bersastra energy mereka akan terisi kembali. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa filsafat dan sastra tak bisa dipisahkan, karena mereka berada dalam lingkup kebersamaan yang erat dan penting.

    ReplyDelete
  15. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Elegi-elegi ini ditulis dengan bahasa analog sehingga memang membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk memahaminya. Menurut pendapat saya penyampaian filsafat dengan menggunakan elegi malah lebih menarik dari pada menjelaskan teori-teori filsafat menurut para filsuf secara gamblang. Elegi memang cukup sulit dipahami namun isinya mencakup teori filsafat, sejarah filsafat, maupun berfilsafat secara langsung,sehingga tanpa kita sadari, kita telah berfilsafat dan mengethaui teori-teori filsafat. Menurut saya elegi lebih efektif daripada pengajaran biasa dengan banyaknya teori yang ada.

    ReplyDelete
  16. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    terkadang saya berpikiran hampir sama dengan si penanya. apakah dengan saya membaca elegi-elegi ini berarti saya belajar filsafat? padahal yang saya baca adalah elegi yang berisi cerita-cerita bermakna. dan akhirnya saya menemukan elegi ini sebagai jawaban. terima kasih, Pak. seperti yang telah dituliskan, bapak dapat menyembunyikan sastra dalam filsafat, dan filsafat dalam sastra. sehingga keduanya saling menterjemahkan dan diterjemahkan. janganlah condong pada salah satu filsafat atau sastra saja, karena keduanya saling menyeimbangkan. semoaga kita selalu dapat berpikir jernih dan benar dalam segala perkataan perbuatan dan tindakan.

    ReplyDelete
  17. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Ketika kita membaca elegy, kadang kita berfikir bahwa kita sedang membaca karya sastra. Filsafat itu membuat kita berfikir secara intensif dan ekstensif. Belajar filsafat menggunakan bahasa analog, seperti pada elegi-elegi. Bahasa analog ini tingkatannya di atas bahasa sastra. Bahasa analog mampu mengungkap kualitas-kualitas subyek dan obyeknya hingga sampai tataran radix. Bahasa analog juga sejalan dengan metode simplifikasi atau reduksi. Misalnya ketika menyebutkan tentang hati, kadang bisa berarti perasaan, ataupun hati ini dianalogikan dengan spiritual.

    ReplyDelete
  18. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Dalam elegi-elegi memang ditulis menggunakan bahasa yang sekiranya seperti membaca sastra, namun juga sebagai bahasa analog yang dapat memudahkan kita menghubungkan dengan makna yang sesungguhnya. Memang tidak mudah untuk mendapatkan makna yang sebenarnya olehnya itu agar mendapatkan makna dari elegi kita tidak bisa hanya membaca saja tetapi dengan mendayakan olah pikir kita. karena olah pikir adalah berfilsafat dan tulisan-tulisan dalam elegi bersifat sastra maka dalam membaca elegi itu sebenarnya kita telah berfilsafat. Untuk itu dalam berfilsafat pun dimungkinkan sastra yang terkandung di dalamnya.

    ReplyDelete
  19. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Filsafat bersifat keragu-raguan dan samar. Pemaknaannya sangat luas dan susah untuk mencapai kebenarannya. Filsafat adalah minos, mintos adalah fisafat. Awalnya saya juga berpikir hal yang sama dengan pertanyaan pada artikel di atas, apakah filsafat itu hanya bermain kata-kata. Untuk menjawabnya, mungkin saya masih kurang paham dan ragu-ragu tetapi sedikit saya mencoba memahami dan memikirkan setiap elegi yang saya baca, bahwa filsafat itu adalah olah pikir untuk berpikir kritis, maka kegiatan yang saya lakukan ini adalah saya sedang berfilsafat dan sampai sejauh mana fisafat saya adalah sejauh bagaimana saya mampu menggunakan ilmu yang saya peroleh untuk refleksi diri. Sastra mengandung banyak aspek filsafat, begitu juga sebaliknya. Sastra dan filsafat bagaikan sisi mata uang, permukaan yang satu tidak bisa dipisahkan dengan permukaan lainnya. Sastra maupun filsafat merupakan suatu hasil refleksi penulis atas keberadaan manusia. Hanya saja, jika sastra merupakan refleksi evaluatif, filasafat merupakan refleksi kritis. Itulah salah satu perbedaan antara satra dan filsafat

    ReplyDelete
  20. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Filsafat bersifat keragu-raguan dan samar. Pemaknaannya sangat luas dan susah untuk mencapai kebenarannya. Filsafat adalah minos, mintos adalah fisafat. Awalnya saya juga berpikir hal yang sama dengan pertanyaan pada artikel di atas, apakah filsafat itu hanya bermain kata-kata. Untuk menjawabnya, mungkin saya masih kurang paham dan ragu-ragu tetapi sedikit saya mencoba memahami dan memikirkan setiap elegi yang saya baca, bahwa filsafat itu adalah olah pikir untuk berpikir kritis, maka kegiatan yang saya lakukan ini adalah saya sedang berfilsafat dan sampai sejauh mana fisafat saya adalah sejauh bagaimana saya mampu menggunakan ilmu yang saya peroleh untuk refleksi diri. Sastra mengandung banyak aspek filsafat, begitu juga sebaliknya. Sastra dan filsafat bagaikan sisi mata uang, permukaan yang satu tidak bisa dipisahkan dengan permukaan lainnya. Sastra maupun filsafat merupakan suatu hasil refleksi penulis atas keberadaan manusia. Hanya saja, jika sastra merupakan refleksi evaluatif, filasafat merupakan refleksi kritis. Itulah salah satu perbedaan antara satra dan filsafat

    ReplyDelete
  21. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Agar tak terjebak dalam mitos manusia harus senantiasa terjemah dan menerjemahkan. Hal ini merupakan cara untuk bersyukur yaitu dengan mendayagunakan pikiran. Dalam berpikir manusia harus secara terus-menerus. Karena terhenti nya pikiran karena malas adalah bagian dari mitos. Oleh karena itu penting untuk menjaga kelangsungan berpikir dan menerjemahkan.

    ReplyDelete
  22. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Filsafat mencakup hal apa saja di dunia ini, mencakup yang ada dan yang mungkin ada, termasuk sastra, bahasa, atau sastra bahasa. Filsafat adalah urusan menerjemahkan dan diterjemahkan. Manusia memiliki kemampuan yang terbatas. Oleh karenanya, manusia hanya bisa berikhtiar untuk menerjemahkan dan diterjemahkan, berikhtiar untuk mengintensifkan dan mengekstensifkan.

    ReplyDelete
  23. Woro Sophia Amirul Kusumawati
    14301241048
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Filsafat merupakan mencakup segala yang ada dan yang mungkin ada. Sedangkan sastra itu sendiri bagian dari Filsafat untuk memahami Filsafat. Sehingga Filsafat dan Sastra sama-sama penting. Apa yang kita utarakan mengenai filsafat sebenar-benarnya adalah sedang menggapai Filsafat. Untuk memahami apa itu Filsafat kita perlu saling terjemah dan menerjemah, agar tidak terjebak oleh mitos.

    ReplyDelete
  24. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Yang menghubungkan antara filsafat dan sastra ialah bahasa. Filsafat itu tidak lain dan tidak bukan adalah pikiranku sendiri sehingga batasan antara filsafat dan sastra mengenai objek yang ada dan yang mungkin ada terbatas dalam ruang dan waktu seseorang memperoleh ilmu pengetahuan. Dengan menggunakan metode hermenitika atau menterjemahkan dan diterjemahkan seseorang dapat menggapai batas pikiran. Dengan bahasa kita dapat saling berkomunikasi menyampaikan ide yang kita punyai sehingga tidak hanya dalam filsafat maupun sastra dalam kehidupanpun bahasa sangat penting.

    ReplyDelete
  25. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  26. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Menanggapi artikel di atas, saya berusaha mencari referensi mengenai flsafat dan menemukan sebagai berikut.
    Sejarah lahirnya filsafat adalah karena:
    1. Ketakjuban manusia
    2. Ketidakpuasan manusia
    3. Hasrat ingin bertanya
    4. Keingintahuan
    Faktor-faktor di atas merupakan sifat dasar manusia. Jadi, ketika kita berfilsafat, kita berpikir mengenai segala sesuatu, berbagai bidang. Filsafat tidak terbatas pada hal-hal yang ada, namun juga pada hal-hal yang mungkin ada. Ketidakpuasan dan hasrat ingin tahu manusia membuat manusia selalu mencari tahu tentang apa yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  27. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Belajar sebetulnya adalah proses menerjemahkan dan diterjemahkan. Belajar filsafat pak Marsigit, berarti selain belajar filsafat, juga belajar menterjemahkan elegi-eleginya. Elegi-elegi ini didesain dan dibentuk oleh pak Marsigit melalu hasil reduksi pengalaman-pengalaman dan pengetahuannya. Sehingga apa saja, entah spiritual, matematika, pendidikan matematika, lesson study, kurikulum, Immanuel Kant, dan sebagainya, bisa masuk dalam elegi-elegi pak Marsigit. Sedangkan filsafat adalah ilmu yang mempelajari semua yang ada maupun yang mungkin ada. Akhirnya elegi menjadi relevan juga dengan filsafat. Namun keterbatasan kita sebagai murid yang tidak dapat menterjemahkan semua maksud penyampaian elegi-elegi ini. Maka solusinya, jangan hanya berguru kepada pak Marsigit saja.

    ReplyDelete
  28. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Obyek filsafat adalah segala yang ada dan yang mungkin ada. Maka filsafat dapat ditaruh didepan apapun yaitu di depan yang ada dan yang mungkin ada. Maka dalam perbincangan filsafat bisa saja kita mempelajari sastra, sastra bahasa atau bahasa itu sendiri. Jika sastra adalah khasanah bahasa maka filsafat itupun ternyata adalah bahasa karena kajian filsafat bersifat intensif dan ekstensif.

    ReplyDelete
  29. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. filsafat memiliki tiga pilar utama yaitu ontologi, epistimologi dan aksiologi. Dalam aksiologi dibahas nilai-nilai estetika filsafat, yang termasuk didalamnya terdapat nilai estetika dalam sastra. Menurut saya Prof. Marsigit menggunkan media sastra untuk membuat kita, mahasiswa beliau, lebih mudah memahami filsafat.

    ReplyDelete
  30. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi-elegi yang ada dikemas dengan sastra, sehingga unsur estetika dan makna yang ada dalam elegi tersebut mudah dipahami, namun tentunya elegi tersebut dibuat berdasarkan filsafat.

    ReplyDelete
  31. Elli susilawati
    16709251073
    Pmat D pps 16
    Filsafat adalah apa yang ada di dalam pikiran kita. Filsafat apa yang mungkin ada. Yang paling berbahaya adalah ketika kita berhenti berfikir. Obyeknfilsafat tidak terbatas dan tergantung apa yang ada dalam pikiran kita.

    ReplyDelete
  32. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pokok bahasan yang menurut saya sangat berbeda karna filsafat itu dari pola pikir yang kriti. Sedangkan sastra itu objek yang secara setetika sangat indah yang menyimpan beribu-ribu misteri didalamnya. Sehingga jika dihubungkan antara filsafat dan sastra itu. Bagai berpikir kritis untuk mempelajari objek yang sangat misterius. Sehingga dalam filsafat sendiri objek sastra itu seperti transcendental yang ada diluar pemikiran, atau mungkin masih dalam pemikiran namun cukup sulit unutk dipahami.

    ReplyDelete
  33. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tulisan di atas berisi pertanyaan yang menarik beserta jawabannya yaitu perbedaaan antara filsafat dan sastra, karena ketika membaca elegi seperti membaca karya sastra. Saya pernah membaca bahwa elegi ini dibuat agar pembaca dengan senang hati membaca atau belajar filsafat tetapi secara tersirat yaitu melalui elegi. Sehingga, bisa jadi dalam elegi memanglah mengandung unsur sastra yaitu dengan menggunakan bahasa-bahasa analog, tetapi sebenarnya isi dari elegi tersebut tetaplah filsafat.

    ReplyDelete
  34. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam filsafat dan sastra banyak hal yang belum dapat dipahami dengan baik oleh mahasiswa atau pemerhati bahasa dan sastra dalam ranah-ranah tersebut. Oleh sebab itu lingkaran pendidikan bahasa dan sastra terputus. Mahasiswa perlu meningkatkan bacaannya sehingga mampu memahami apa yang ada dalam karya para filsuf dan sastrawan.

    ReplyDelete
  35. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ibarat dua sisi mata uang, itulah Filsafat dan sastra. Sisi yang satu tidak dapat dipisahkan dengan sisi yang lain. Hubungannya saling mengisi dan melengkapi. Untuk mempelajari suatu karya yang besar maka harus banyak membaca referensi yang ringan-ringan dahulu.

    ReplyDelete
  36. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Hubungan filsafat dan sastra tidak bisa dipisahkan. Banyak filsafat-filsafat yang dituangkan dalam bentuk sastra. Hal ini merupakan salah satu cara filsafat menyentuh masyarakat dengan segala pencerahan kehidupan yang kandungnya. Sastra merupakan alat filsafat dalam menyentuh masyarakat dan dapat diterima dalam kehidupan mereka.

    ReplyDelete
  37. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi yang sangat menarik karena menyajikan pertanyaan diantara dua pilihan. Secara tidak langsung, elegi ini mengaja pembacanya untuk tertarik dan mencari tahu makna filsafat maupun sastra. Bagi orang awam seperti saya tentang filsafat, justru kedua hal ini sangat susah untuk dimengerti. Akan tetapi, dengan banyak membaca akan menambah wawasan pengetahuan saya.

    ReplyDelete
  38. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Filsafat membutuhkan sastra sebagai jembatan dalam menyentuh masyarakat. Demikian pula sebaliknya. Sedangkan Sastra membutuhkan filsafat agar nilai-nilai luhurnya ada dalam perkembangan zaman.

    ReplyDelete
  39. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Filsafat dan sastra sama-sama sulit untuk dipahami. Karena keterbatasan yang saya miliki sehingga saya belum benar-benar memahami penjelasan dalam tulisan di atas. Namun yang saya tangkap dari tulisan tersebut adalah filsafat dan sastra itu sesungguhnya adalah pikiran kita sendiri.

    ReplyDelete
  40. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Filsafat mempelajari segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Jadi filsafat mempelajari sastra, sastra bahasa, atau bahasa itu sendiri. Sedangkan kajian filsafat bersifat intensif (dalam sedalam-dalamnya) dan ekstensif (luas seluas-luasnya)

    ReplyDelete
  41. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Objek filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada, maka bisa saja dipelajari pula mengenai sastra, sastra bahasa atau bahasa itu sendiri. Mempelajari filsafat dapat menggunakan bahasa analog, dengan bahasa analog dapat diungkap kualitas-kualitas subjek dan objek sampai tatanan radix.

    ReplyDelete
  42. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Filsafat mencakup segala sesuaty yang ada dimuka bumi ini, termasuk di dalamnya sastra. Filsafat penuh dengan keindahan-keindahan bahasa didalamnya. Filsafat dipenuhi dengan sastra dan sastra memuat filsafat.

    ReplyDelete
  43. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan elegi diatas saya mendapatkan pengetahuan baru bahwa filsafat dan sastra memiliki keterkaitan. Jika sastra diartikan sebagai bahasa maka filsafat juga merupakan bahasa. Bahasa dalam filsafat berarti bahasa pemikiran, bahasa pengetahuan seseorang. Ketidaktahuan seseorang mengenai filsafat dan juga sastra dapat dijadikan sebagai pengetahuan baru bagi seseorang. Rasa kepercayaan diri seseorang mengenai rasa tahu tentang filsafat dan sastra perlu ditelusuri lebih lanjut apakah benar itu adalah rasa tahu ataupuan hanya sekedar mitos belaka.

    ReplyDelete
  44. Febrian Luthfi
    13301241062
    Pendidikan Matemarika 2013

    Sebenar-benarnya filsafat adalah apa yang kamu pikirkan. Saat memikirkan filsafat sebagai sastra, maka filsafat itu sastra.

    ReplyDelete
  45. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Jika sastra adalah khasanah bahasa maka kita akan menemukan bahwa filsafat itupun ternyata adalah bahasa. Kita mungkin tak mampu mengetahui batas antara filsafat dan sastra bahasa. Namun sesungguhnya baik filsafat maupun sastra bahasa itu adalah pikiran kita. Maka aku dapat sembunyikan filsafat kita dalam sastra bahasa dan kita juga dapat menyembunyikan bahasa dalam filsafat kita. Sesungguhnya tidaklah mudah bagi kita menggapai pikiran, karena pikiran kita membutuhkan kejelasan. Kita belajar filsafat atau belajar sastra bahasa tanpa pengalaman hidup itu artinya "kosong"; sedangkan pengalaman hidup jika tidak difilsafatkan atau disastrakan berarti "buta" atau “bisu”.

    ReplyDelete
  46. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)
    Filsafat adalah olah pikir. kita berpikir mengenai sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Ketika kita sedang berpikir, sebenarnya saat itulah kita sedang berfilsafat. Filsafat memang hal yang sangat sulit untuk dipahami. Dan tentunya sudut pandang kitapun berpengaruh dalam memahami filsafat. Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda, sehingga setiap orangpun akan berbeda persepsi dalam memaknai filsafat dalam kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete