Sep 20, 2013

Filsafat atau Sastra?




Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan sebuah pertanyaan dari Sdr Ahmad Mujahid;

Assalamu’aalikum Wr.Wb
Maaf bapak saya sebenarnya masih bingung apakah elegi ini sebuah refleksi dari pemahaman filsafat ataukah merefleksikan sebuah pemahaman tentang kesusastraan? Ataukah saya yang masih bingung batas kajian filsafat dengan batas kajian sastra, karena ketika saya membaca elegi ini ternyata dak jauh beda dengan ketika saya mengkaji sebuah ungkapan-ungkapan sastra. Karena dalam elegi ini saya di tuntut untuk bagaimana mengereti dan memahami kata-kata yang ada bukan melogikakan ini dengan pemahaman filsafati. Jadi tidak jauh beda dengan membaca karya sastra seoarang sastrawan. Ketika mendefinisikan filsafat itu sebagai sebuah berfikir reflek dan kritis serta bagaimana berfikir bijak, di elegi yang bapak buat ini tidak ada yang mencerminkan hal itu malah yang terjadi adalah sebuah tanggapan yang tidak mengarah kepada sebuah pemahaman filsafati atau tidak mengarah kepada tujuan belajar filsafat itu. Jadi, mohon bapak menjelaskan tentang filsafat itu sehingga bagaimana itu saya jadikan sebagai acuan atau ilmu untuk menanggapi elegi yang bapak tulis dan nantinya tanggapan saya bisa terarah.
Sekian

Jawaban Saya (Marsigit):

Obyek filsafat adalah segala yang ada dan yang mungkin ada.

Maka dalam perbincangan filsafat bisa saja kita mempelajari sastra, sastra bahasa atau bahasa itu sendiri.

Kajian filsafat bersifat intensif dan ekstensif.

Intensif itu artinya dalam sedalam-dalamnya. Ekstensif itu luas seluas-luasnya.

Terdapat tiga pilar dalam filsafat yaitu kajian ontologis, kajian epistemologis dan kajian aksiologis.

Dengan kajian ekstensif maka pemikiran filsafat menjangkan semua yang ada dan yang mungkin ada.

Maka filsafat dapat ditaruh didepan apapun yaitu di depan yang ada dan yang mungkin ada.

Dengan kajian intensif maka pemikiran filsafat akan menjangkau hakekat atau ontologisnya sampai kita tidak mampu lagi mempertanyakannya.

Untuk mempelajari filsafat kita dapat menggunakan bahasa analog.

Bahasa analog mampu mengungkap kualitas-kualitas subyek dan obyeknya hingga sampai tataran radix.

Bahasa analog juga sejalan dengan metode simplifikasi atau reduksi.

Metode reduksi adalah metode berpikir yang paling ampuh tetapi sekaligus paling berbahaya.

Sadar atau tak sadar, manusia itu pasti menggunakan metode reduksi karena secara hakikinya manusia itu memang bersifat reduktif.

Secara ontologis, maka yang ada dan yang mungkin ada itu hanya mempunyai 2 prinsip, yaitu prinsip identitas dan prinsip kontradiktif.

Maka. dengan obyek dan metode serta pilar yang ada maka tidak ada yang tersisa.

Bukan filsafat itu bukan sisa filsafat.

Tidak setuju filsafat itu bukan sisa filsafat.

Bahwa ketiadaan itu pun mungkin ada sebagai kajian filsafat.

Maka bukan filsafat itupun filsafat jadinya.

Tidak setuju filsafat itupun sedang berfilsafat jadinya.

Maka aku menemukan bahwa dirikupun ternyata adalah sebuah filsafat.

Jika sastra adalah khasanah bahasa maka akupun menemukan bahwa filsafat itupun ternyata adalah bahasa.

Jika engkau ingin mengetahui batas antara filsafat dan sastra bahasa, tentulah itu sangat baik.

Tetapi ternyata aku juga menemukan bahwa baik filsafat ataupun sastra bahasa itu ternyata keduanya adalah pikiranku.

Maka aku dapat sembunyikan filsafatku itu dalam sastra bahasaku.

Dan juga dapat aku sembunyikan bahasaku itu dalam filsafatku.

Jikalau engkau telah cukup jelas akan uraianku maka aku khawatir bahwa engkau telah termakan oleh jargonku.

Jika engkau masih ragu akan penjelasanku maka itulah sebenar-benar awal dari pengetahunmu.Namun ternyata saya menyadari bahwa diriku itu terbatas.

Agar saya mampu menggapai batas pikiranku maka akupun dapat menggunakan metode hermenitika, yaitu menterjemahkan dan diterjemahkan.

Tetapi aku kemudian menemukan bahwa dunia yang sedang aku pelajari itu ternyata sama persis seperti yang aku pikirkan.

Maka aku menyimpulkan bahwa filsafat itu tidak lain tidak bukan adalah pikiranku sendiri.

Namun tidaklah mudah aku menggapai pikiranku, karena aku menemukan bahwa setiap jengkal perjalanan pikiranku terdapat terminal-terminal pemberhentian tentang kejelasan pikiranku.

Maka kemudian aku juga menemukan bahwa sebenar-benar bahaya yang aku hadapi dalam berpikirku adalah jika aku tidak mau berpikir lagi.

Keadaan itulah yang kemudian dikatakan oleh banyak orang sebagai mitos dalam pikiranku.

Maka sebenar-benar berfilsafat adalah usaha terus menerus untuk menggapai logos dan menggapai bukan mitos.

Maka aku juga menemukan bahwa semua yang ada dan yang mungkin ada itu pada hakekatnya adalah cermin bagi diriku untuk dapat menangkap mitos-mitosku.

Maka apalah yang engkau maksud dengan pemahaman filsafat itu.

Jika engkau telah paham betul tentang hakekat pemahaman filsafat, maka akupun masih khawatir jangan-jangan itu juga salah satu mitos besarmu.

Maka marilah kita selalu saling terjemah dan menterjemahkan. Semoga kita semua mampu menggapai terang.

Amiin

Demikianlah jawaban saya semoga bermanfaat bagai para mahasiswa yang sedang belajar filsafat.

Amiin.

29 comments:

  1. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Sebenar-benar manusia itu tidak akan benar-benar memahami hakekat sesuatu, termasuk filsafat. Karena manusia itu bersifat terbatas. Jika seseorang mengatakan ia telah memahami maka bisa jadi ia telah terjabak dalam mitos dan kesombongan. Maka yang dapat dilakukan manusia adalah berusaha dan terus mencoba untuk memahami. Maka upaya untuk memahami adalah dengan membaca, berpikir kritis, dan bertanya. Semoga kita senantiasa dilindungi dari mitos dan kesombongan. Amin.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Jelas dalam hal ini filsafat lebih dipilih karena tidak hanya sebatas kata kata namun memiliki kedalam makna disetiap bahasnya itulah filsafat.

    ReplyDelete
  5. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Kajian filsafat dan sastra memiliki perbedaan. Filsafat mempelajari pemikiran para filsuf namun hal ini berbeda dengan sastra. Namun perbedaan kajian tersebut bukan berarti memisahkan keduanya. Karena sebenar-benar filsafat adalah bahasa sastra. Filsafat berusaha memudahkan hal yang susah. Maka untuk memahami keduanya lebih baik kita harus terus belajar agat tidak termakan oleh mitos. Dan dengan terus belajar, pola pikir kita akan berkembangkan. Dan disanalah filsafat, yaitu tentang pemikiranmu.

    ReplyDelete
  6. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Sejauh ini saya memandang gaya pembelajaran yang bapak Marsigit terapkan sebagai sebuah terobosan dalam proses transfer ilmu dari dosen ke mahasiswa. Memahami filsafat dengan gaya sastra melalui elegi-elegi yang didalamnya dimunculkan berbagai tokoh dengan karakter dan sifat yang akan mendekatkan kita pada sebuah pemahaman yang interprtasinya akan sangat beragam, semuanya bergantung pada refleksi masing-masing kita. Sebagaimana membaca sebuah novel, penulis bisa saja menuliskan “Ani sedang berada di sebuah pulau yang indah.” Interpretasi dari kalimat pulau yang indah bagi pembaca sangat beragam bergantung pada imaji masing-masing.

    ReplyDelete
  7. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Seperti yang kita tahu bahwa filsafat ialah memikirkan hal sedalam mungkin, bahkan yang tidak pernah dipikirkan oleh orang pada umumnya sekalipun dan objeknya adalah yang ada dan mungkin ada. Untuk mengungkapkan hasil olah fikir tersebut tentu kita membutuhkan bahasa (sastra) agar apa yang difikirkan dapat disampaikan dan diketahui oleh orang lain. Dengan demikian, filsafat dan sastra(bahasa) tidak dapat dipisahkan. Filsafat memerlukan sastra untuk mengungkapkan hasil olah fikir dan sastra membutuhkan filsafat untuk menghasilkan olah fikir yang nanti akan menjadi sebuah karya.

    ReplyDelete
  8. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Filsafat dan sastra merupakan dua hal yang berbeda namun tetap berkaitan. Keduanya berada dalam ruang lingkup dunia manusia meskipun objek-objek kajiannya mungkin berbeda. Filsafat merupakan olah pikir, begitu pula sastra yang merupakan hasil dari pemikiran. Kita dapat berfilsafat dalam sastra seperti beberapa contoh artikel yang bapak muat dalam blog ini. Kita dapat menyampaikan filsafat melalui sastra atau kita dapat bersastra dalam berfilsafat karena keduanya dapat saling berhubungan.

    ReplyDelete
  9. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Sesungguhnya artikel ini menjelaskan tentang apa itu filsafat dan bagaimana kita memperlajari tentang filsafat. Saya sendiri sejujurnya baru sebatas memahmai dari kata-kata dan belum benar paham. Obyek filsafat adalah semua yang ada dan mungkin ada yang dikaji secara meluas dan mendalam oleh karena itu semua yang ada dan yang mungkin ada bisa ditambahi predikat filsafat di depannya. Namun yang membuat saya bingun adalah jika saya paham maka saya telah terjebak mitos, namun apakah pemahaman itu sebenarnya bisa dicapai, lalu sampai dimana kita akan terus mencoba memahami dan belajar, yang dapat saya simpulkan dari semua pertanyaan saya adalah bahwa belajar harusnya menjadi kegiatan sepanjang hayat maka belajar tiada hentinya dan dengan belajar kita akan memperoleh oengetahuan baru dan juga pertanyaan baru

    ReplyDelete
  10. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Menanggapi hal ini, filsafat dan sastra bisa dianggap sebagai sebagai suatu kesatuan yang bersatu maupun kesatuan yang terpisah, hal ini ditinjau dari sudut pandang mana yang digunakan. Kita kenal istilah filsafat sastra yakni filsafatnya sastra atau definisi sastra dari segi filsafat, sedangkan dalam berfilsafat kita memerlukan bahasa sebagai lantaran, sedangkan bahasa dan sastra ialah dua hal yang terintegrasi, sehingga sudut pandang mana yang kita gunakan harus dijelaskan terlebih dahulu sebelum kita menjudge sesuatu. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  11. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Terimakasih prof, semakin tercerahkan, bahwa filsafat memang bersifat intensif dan ektensif. Menjangkau seluruh disiplin ilmu, bahkan sastra ataupun bahasa. Melebihi itu memang fisafat bersifat ontologis, epistomologis, filsafat bisa didepan sastra sebagai kajian. Bahasa sastra jugamerupakan kajian filsafat.

    ReplyDelete
  12. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Saya pernah membaca elegi Prof. Marsigit. Suatu kaum tak akan berkembang jika bahasa mereka tidak berkembang. Dari situ saya maknai bahwa peran bahasa sangatlah penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Lalu apa hubungannya dengan sastra? Sastra merupakan bagian dari bahasa. Prof. Marsigit melalui elegi nya menawarkan metode baru agar mahasiswa lebih mudah memahami filsafat, bahkan beliau selalu menugaskan mahasiswa nya untuk memberi komentar pada elegi yang beliau tulis, tidak lain agar mahasiswa belajar akan filsafat. Jika dilihat secara bahasa maka elegi Prof. termasuk kedalam kategori sastra karena didalamnya terdapat instruksi, pedoman, dan bahasa. Tapi lebih mendalam dalam elegi tersebut tersurat dan tersirat akan makna filsafat.

    ReplyDelete
  13. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Elegi-elegi ini ditulis dengan bahasa analog sehingga memang membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk memahaminya. Menurut pendapat saya penyampaian filsafat dengan menggunakan elegi malah lebih menarik dari pada menjelaskan teori-teori filsafat menurut para filsuf secara gamblang. Elegi memang cukup sulit dipahami namun isinya mencakup teori filsafat, sejarah filsafat, maupun berfilsafat secara langsung,sehingga tanpa kita sadari, kita telah berfilsafat dan mengethaui teori-teori filsafat. Menurut saya elegi lebih efektif daripada pengajaran biasa dengan banyaknya teori yang ada

    ReplyDelete
  14. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Di awal-awal membaca elegi saya juga merasa bahwa elegi itu seperti cerita atau cerpen dalam bentuk dialog, sehingga saya juga merasa bahwa elegi itu lebuh seperti sastra daripada filsafat. Namun seperti yang telah diungkapkan pada portingan-postingan lainnya bahwa filsafat itu iala bahasamu, sedangkan sastra juga bahasa seseorang untuk mengungkapkan keindahan kata-katanya.

    Menurut saya filsafat di dalam elegi atau artikel blog Pak Marsigit ini sengaja dibungkus dengan sastra agar siapapun yang membaca tidak merasa kontennya terlau tinggi. Hal tersebut agar filsafat yang disampaikan lebih muda untuk dipahami. Namun sesungguhnya paham yang dimaksud di sini belum sepenuhnya paham. Justru berbahaya apabila kita merasa telah benar-benar paham dengan filsafat. Karena akan mengakibatkan kita enggan membaca filsafat lagi. Maka dari itu fungsinya bungkus atau wadah sasrta dalam setiap elegi dalam blog ini iala sebagai hiburan agar kita tida bosan membacanya.

    ReplyDelete
  15. Latifah Fitriasari
    PM C

    Filsafat dan sastra adalah salah satu mata rantai dalam lingkaran pendidikan bahasa dan sastra. Akan tetapi banyak hal yang belum dapat dipahami dengan baik oleh mahasiswa atau pemerhati bahasa dan sastra dalam ranah-ranah tersebut. Hubungan sastra dan filsafat laksana dua sisi mata uang; permukaan yang satu tidak dapat dipisahkan dari permukaan yang lainnya; bersifat komplementer, saling melengkapi. Hal semacam ini muncul karena beberapa sebab, tentu saja. Pertama, karena gagal melihat hubungan antara sastra dengan filsafat. Kedua, karena dalam benak penanya masih terdapat pengotak-kotakan ilmu, seolah satu ilmu dengan ilmu lain tidak ada hubungan apapun.

    ReplyDelete
  16. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam mempelajari filsafat sama dengan memperlajari objek yang ada dan yang mungkin ada. Sehingga jika kita mempelajari filsafat maka sama hal nya kita memperlajari objek apapun yang melingkupi ada dan yang mungkin ada. Termasuk dengan sastra, objek sastra pun juga termasuk kedalam objek dan yang mungkin ada. Sehingga sastra tidak luput dipelajari dalam filsafat.

    ReplyDelete
  17. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Objek dari filsafat adalah yang ada dan mungkin ada dan kajian dari filsafat itu sendiri mulai material, formal, normatif hingga spiritual. Sehingga bahasa atau sastra yang ada di ranah formal pun menjadi bagian dari kajian filsafat. Bahkan dalam penjelasan Bapak pada materi narasi besar dunia, filsafat saat ini adalah filsafat bahasa Sebenar-benarnya hidupku adalah bahasa, dan diriku adalah bahasa itu sendiri, karena segala objek filsafat dapat dijelaskan melalui bahasa, dan dengan bahasa pun sifat plural, sifat kontradiksi dari objek filsafat di dunia nyata pun mampu disebutkan. Sekian dan terima kasih
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  18. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Objek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada, hal ini menyatakan bahwa filsafat begitu luas. Filsafat adalah pikiran para filsuf, memahami filsafat sama dengan memahami pikiran para filsuf, dan pikiran-pikiran itu tertuang ke dalam suatu tulisan dan tulisan itu memiliki bahasa. Bahasa erat kaitannya dengan sastra. Agar kita mampu menggapai batas pikiran kita, maka dapat kita gunakan metode hermenitika yaitu menterjemahkan dan diterjemahkan

    ReplyDelete
  19. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Sastra dan filsafat adalah dua hal yang merupakan refleksi seseorang atas keberadaan manusia. Menurut referensi lain yang saya baca, bedanya jika sastra merupakan refleksi evaluatif, maka filsafat merupakan refleksi kritis. Apa yang diungkapkan filsafat adalah catatan kritis yang diawali dan diakhiri dengan pertanyaan radikal yang menyangkut hakikat.

    ReplyDelete
  20. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Dari elegi ini, maka jelas bahwa antara filsafat dan sastra ada hubungannya. Di dalam filsafat terdapat sastra. Karena dalam menjelaskan segala objek pikir yang ada dan yang mungkin ada dibutuhkan bahasa. Dengan gaya bahasa yang berbeda-beda dan digunakan oleh orang yang berbeda-beda akan menghasilkan penafsiran yang berbeda-beda pula. Maka hidup adalah hermeneutika, yaitu terjemah dan menerjemahkan guna memperoleh penafsiran dan penerangan tadi.

    ReplyDelete
  21. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Salut untuk Prof dalam merefleksikan pemikirannya yang tertuang dalam tulisan-tulisan filsafat ini dimana segala macam ilmu berkumpul menjadi satu untuk menyiratkan dan menyuratkan suatu makna melalui pendekatan berbagai macam bahasa hermeneutika, penganalogian, identitas dan kontradiksi serta masih banyak lagi. Mudah-mudahan dikemudian hari akan ada mahasiswa yang dapat mengikuti dan meneruskan jejak kefilsafatan Bapak.

    ReplyDelete
  22. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Untuk dapat memahami objek filsafat, maka kita dapat melakukan suatu reduksi pandangan, misalnya untuk memandang seorang guru, kita tidak perlu melihatnya ia seorang laki-laki atau perempuan. Namun kita melihatnya sebagai seorang pendidik dan bagaimana cara ia mengajarkan dengan metode yang bervariasi.

    ReplyDelete
  23. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Baik filsafat maupun sastra semuanya memiliki peranan yang sanagat penting dalam kehidupan. Bahkan keduanya juga saling memiliki keterkaitan satu sama lain. Filsafat mencakup semua yang ada dan yang mungkin ada. Filsafat merupakan bahasa atau sastra dan bahasa juga merupakan obyek dari filsafat. namun yang terpenting, jangan sampai kita salah dalam memperlakukan keduanya. Salah menempatkan pada ruang dan waktunya, sehingga hanya mitos yang akan terjadi.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  24. Eka Luthfiana Lathhifah
    17709251062
    PPs PMat C

    hidup adalah bahasa. filsafat adalah pikiran, filsafat adalah bahasa. filsafat dan sastra itu mirip, smama namun beda, sama-sama diutarakan dengan bahasa, dalam memahaminya pun sulit, kita harus mampu menembus ruang dan waktu bahasa yang digunakan.

    ReplyDelete
  25. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Apa itu filsafat dan apa itu sastra, tetapi ternyata menurut elegi ini filsafat dan satra adalah pikiran kita, filsafat adalah bahasa kita, filsafat dan sastra adalah diri kita. untuk dapat memahaminya maka kita harus dapat memahami diri kita. Simple Logic.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  26. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. filsafat memiliki tiga pilar utama yaitu ontologi, epistimologi dan aksiologi. Dalam aksiologi dibahas nilai-nilai estetika filsafat, yang termasuk didalamnya terdapat nilai estetika dalam sastra. Menurut saya Prof. Marsigit menggunkan media sastra untuk membuat kita, mahasiswa beliau, lebih mudah memahami filsafat.

    ReplyDelete
  27. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Filsafat atau sastra? Pertanyaan tersebut membuat saya bingung dan ingin bertanya “apakah filsafat dan sastra berbeda?” karena seingatku (ingatanku ini bias salah sehingga perlu dikonfirmasi) filsafat dan sastra adalah suatu kesatuan. Filsafat adalah pondasi dari sastra, sehingga tidak mungkin kita bersastra tanpa berfilsafat, karena rasa (sastrawi) tidak mungkin eksis tanpa pengetahuan filsafat yang radix. Pertanyaan selanjutnya, “kenapa muncul pertanyaan yang mengarahkan kita untuk memilih di antara ke duanya?”

    ReplyDelete
  28. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Filsafat itu artinya menjelaskan. Jadi terkadang untuk berfilsafat atau menjelaskan akan lebih dalam (intensif) dan lebih luas (ekstensif) jika digunakan bahasa-bahasa analog atau orang biasa menyebutnya bahasa sastra. Memahami bahasa analog berarti mencari makna disebalik (implisit) dari apa yang tertulis. Bahasa analog yang digunakan untuk menjelaskan dalam filsafat terkadang bersifat multiinterpretatif, yang terkadang membuat orang awam menjadi bingung.

    ReplyDelete
  29. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari tulisan di atas mengenai filsafat atau sastra. Keduanya nenurut saya, filsafat dan sastra, keduanya dapat berjalan secara bersamaan. Filsafat adalah hasil dari pemikiran atau perenungan manusia, sedangkan sastra dapat difungsikan sebagai sarana untuk mengkomunikasikan filsafat. Jadi, filsafat dapat disajikan dengan sastra, sedangkan sastra belum tentu mengandung suatu pemikiran atau perenungan yang mendalam. Sehingga keberadaan keduannya akan sangat apik jika bersama-sama. Sehingga kita mengetahui yang namanya bahasa analog yang ada dalam filsafat dan sastra yang indah jika dipadu padankan.

    ReplyDelete