Sep 20, 2013

Filsafat atau Sastra?




Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan sebuah pertanyaan dari Sdr Ahmad Mujahid;

Assalamu’aalikum Wr.Wb
Maaf bapak saya sebenarnya masih bingung apakah elegi ini sebuah refleksi dari pemahaman filsafat ataukah merefleksikan sebuah pemahaman tentang kesusastraan? Ataukah saya yang masih bingung batas kajian filsafat dengan batas kajian sastra, karena ketika saya membaca elegi ini ternyata dak jauh beda dengan ketika saya mengkaji sebuah ungkapan-ungkapan sastra. Karena dalam elegi ini saya di tuntut untuk bagaimana mengereti dan memahami kata-kata yang ada bukan melogikakan ini dengan pemahaman filsafati. Jadi tidak jauh beda dengan membaca karya sastra seoarang sastrawan. Ketika mendefinisikan filsafat itu sebagai sebuah berfikir reflek dan kritis serta bagaimana berfikir bijak, di elegi yang bapak buat ini tidak ada yang mencerminkan hal itu malah yang terjadi adalah sebuah tanggapan yang tidak mengarah kepada sebuah pemahaman filsafati atau tidak mengarah kepada tujuan belajar filsafat itu. Jadi, mohon bapak menjelaskan tentang filsafat itu sehingga bagaimana itu saya jadikan sebagai acuan atau ilmu untuk menanggapi elegi yang bapak tulis dan nantinya tanggapan saya bisa terarah.
Sekian

Jawaban Saya (Marsigit):

Obyek filsafat adalah segala yang ada dan yang mungkin ada.

Maka dalam perbincangan filsafat bisa saja kita mempelajari sastra, sastra bahasa atau bahasa itu sendiri.

Kajian filsafat bersifat intensif dan ekstensif.

Intensif itu artinya dalam sedalam-dalamnya. Ekstensif itu luas seluas-luasnya.

Terdapat tiga pilar dalam filsafat yaitu kajian ontologis, kajian epistemologis dan kajian aksiologis.

Dengan kajian ekstensif maka pemikiran filsafat menjangkan semua yang ada dan yang mungkin ada.

Maka filsafat dapat ditaruh didepan apapun yaitu di depan yang ada dan yang mungkin ada.

Dengan kajian intensif maka pemikiran filsafat akan menjangkau hakekat atau ontologisnya sampai kita tidak mampu lagi mempertanyakannya.

Untuk mempelajari filsafat kita dapat menggunakan bahasa analog.

Bahasa analog mampu mengungkap kualitas-kualitas subyek dan obyeknya hingga sampai tataran radix.

Bahasa analog juga sejalan dengan metode simplifikasi atau reduksi.

Metode reduksi adalah metode berpikir yang paling ampuh tetapi sekaligus paling berbahaya.

Sadar atau tak sadar, manusia itu pasti menggunakan metode reduksi karena secara hakikinya manusia itu memang bersifat reduktif.

Secara ontologis, maka yang ada dan yang mungkin ada itu hanya mempunyai 2 prinsip, yaitu prinsip identitas dan prinsip kontradiktif.

Maka. dengan obyek dan metode serta pilar yang ada maka tidak ada yang tersisa.

Bukan filsafat itu bukan sisa filsafat.

Tidak setuju filsafat itu bukan sisa filsafat.

Bahwa ketiadaan itu pun mungkin ada sebagai kajian filsafat.

Maka bukan filsafat itupun filsafat jadinya.

Tidak setuju filsafat itupun sedang berfilsafat jadinya.

Maka aku menemukan bahwa dirikupun ternyata adalah sebuah filsafat.

Jika sastra adalah khasanah bahasa maka akupun menemukan bahwa filsafat itupun ternyata adalah bahasa.

Jika engkau ingin mengetahui batas antara filsafat dan sastra bahasa, tentulah itu sangat baik.

Tetapi ternyata aku juga menemukan bahwa baik filsafat ataupun sastra bahasa itu ternyata keduanya adalah pikiranku.

Maka aku dapat sembunyikan filsafatku itu dalam sastra bahasaku.

Dan juga dapat aku sembunyikan bahasaku itu dalam filsafatku.

Jikalau engkau telah cukup jelas akan uraianku maka aku khawatir bahwa engkau telah termakan oleh jargonku.

Jika engkau masih ragu akan penjelasanku maka itulah sebenar-benar awal dari pengetahunmu.Namun ternyata saya menyadari bahwa diriku itu terbatas.

Agar saya mampu menggapai batas pikiranku maka akupun dapat menggunakan metode hermenitika, yaitu menterjemahkan dan diterjemahkan.

Tetapi aku kemudian menemukan bahwa dunia yang sedang aku pelajari itu ternyata sama persis seperti yang aku pikirkan.

Maka aku menyimpulkan bahwa filsafat itu tidak lain tidak bukan adalah pikiranku sendiri.

Namun tidaklah mudah aku menggapai pikiranku, karena aku menemukan bahwa setiap jengkal perjalanan pikiranku terdapat terminal-terminal pemberhentian tentang kejelasan pikiranku.

Maka kemudian aku juga menemukan bahwa sebenar-benar bahaya yang aku hadapi dalam berpikirku adalah jika aku tidak mau berpikir lagi.

Keadaan itulah yang kemudian dikatakan oleh banyak orang sebagai mitos dalam pikiranku.

Maka sebenar-benar berfilsafat adalah usaha terus menerus untuk menggapai logos dan menggapai bukan mitos.

Maka aku juga menemukan bahwa semua yang ada dan yang mungkin ada itu pada hakekatnya adalah cermin bagi diriku untuk dapat menangkap mitos-mitosku.

Maka apalah yang engkau maksud dengan pemahaman filsafat itu.

Jika engkau telah paham betul tentang hakekat pemahaman filsafat, maka akupun masih khawatir jangan-jangan itu juga salah satu mitos besarmu.

Maka marilah kita selalu saling terjemah dan menterjemahkan. Semoga kita semua mampu menggapai terang.

Amiin

Demikianlah jawaban saya semoga bermanfaat bagai para mahasiswa yang sedang belajar filsafat.

Amiin.

44 comments:

  1. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan elegi diatas saya mendapatkan pengetahuan baru bahwa filsafat dan sastra memiliki keterkaitan. Jika sastra diartikan sebagai bahasa maka filsafat juga merupakan bahasa. Bahasa dalam filsafat berarti bahasa pemikiran, bahasa pengetahuan seseorang. Ketidaktahuan seseorang mengenai filsafat dan juga sastra dapat dijadikan sebagai pengetahuan baru bagi seseorang. Rasa kepercayaan diri seseorang mengenai rasa tahu tentang filsafat dan sastra perlu ditelusuri lebih lanjut apakah benar itu adalah rasa tahu ataupuan hanya sekedar mitos belaka.

    ReplyDelete
  2. Febrian Luthfi
    13301241062
    Pendidikan Matemarika 2013

    Sebenar-benarnya filsafat adalah apa yang kamu pikirkan. Saat memikirkan filsafat sebagai sastra, maka filsafat itu sastra.

    ReplyDelete
  3. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Jika sastra adalah khasanah bahasa maka kita akan menemukan bahwa filsafat itupun ternyata adalah bahasa. Kita mungkin tak mampu mengetahui batas antara filsafat dan sastra bahasa. Namun sesungguhnya baik filsafat maupun sastra bahasa itu adalah pikiran kita. Maka aku dapat sembunyikan filsafat kita dalam sastra bahasa dan kita juga dapat menyembunyikan bahasa dalam filsafat kita. Sesungguhnya tidaklah mudah bagi kita menggapai pikiran, karena pikiran kita membutuhkan kejelasan. Kita belajar filsafat atau belajar sastra bahasa tanpa pengalaman hidup itu artinya "kosong"; sedangkan pengalaman hidup jika tidak difilsafatkan atau disastrakan berarti "buta" atau “bisu”.

    ReplyDelete
  4. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)
    Filsafat adalah olah pikir. kita berpikir mengenai sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Ketika kita sedang berpikir, sebenarnya saat itulah kita sedang berfilsafat. Filsafat memang hal yang sangat sulit untuk dipahami. Dan tentunya sudut pandang kitapun berpengaruh dalam memahami filsafat. Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda, sehingga setiap orangpun akan berbeda persepsi dalam memaknai filsafat dalam kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  5. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Sebelumnya saya ingin berterima kasih kepada Pak Prof. atas penjelasan mengenai refleksi dari pemahaman filfasat ini karena memang kajian filsafat jangkauannya sangat luas dan dalam.
    Terdapat beberapa kalimat yang menarik bagi saya, yaitu:
    “Bukan filsafat itu bukan sisa filsafat.
    Tidak setuju filsafat itu bukan sisa filsafat.
    Bahwa ketiadaan itu pun mungkin ada sebagai kajian filsafat.
    Maka bukan filsafat itupun filsafat jadinya.
    Tidak setuju filsafat itupun sedang berfilsafat jadinya.
    Maka aku menemukan bahwa dirikupun ternyata adalah sebuah filsafat.”
    Dari kalimat tersebut saya menyadari bahwa filsafat memang memiliki jangkauan yang luas dan dalam, bahkan ketika seseorang menganggap dirinya tidak setuju dengan filsafat malah justru termasuk sedang berfilsafat. Dan sesuatu yang tiada juga mungkin ada jika dikaji dalam kajian filsafat.

    ReplyDelete
  6. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih prof, sejujurnya saya pun merasa masih bingung ketika belajar berfilsafat. Saya sadar dengan pembatasan-pembatasan pikiran yang secara sadar dan tidak sadar saya lakukan ketika belajar berfilsafat. Menurut saya sastra adalah salah satu cara dalam mengkomunikasikan filsafat. Bagaimana kita bisa belajar memahami filsafat dengan sastra, dan sejujurnya saya tidak terlalu memahami batasan keduanya.

    ReplyDelete
  7. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Sebagaimana yang sering dikemukakan dalam pelajaran filsafat bahwa objek kajian filsafat sangat luas mencakup yang ada dan yang mungkin ada, dan sastra termasuk di dalamnya. Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan manusia, maka bahasa inilah yang dimanfaatkan sebagai media dalam menyampaikan gagasan dari para filsuf. Berbagai macam Bahasa pun digunakan hermeneutika, penganalogian, identitas dan kontradiksi serta masih banyak lagi. Mudah-mudahan kita mampu menginterpretasi dengan baik.

    ReplyDelete
  8. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Menurut saya bahasa-bahasa yang digunakan dalam banyak kajian filsafat yang Bapak sampaikan, banyak mengandung kalimat-kalimat perumpamaan yang bermakna konotatif. Dalam pelajaran sastra Indonesia, dikenal sebagai kalimat-kalimat bermajas, seperti majas hiperbola, litotes, eufimisme, alegori, dan lain-lain. Sehingga kita sebagai pembaca harus memahami 99% dari yang tersirat, bukan yang tersurat. Saya sendiri masih kesulitan memahami makna yang terkandung dalam postingan-postingan secara holistik, sehingga perlu adanya pengulangan atau repetisi dalam membaca postingan tersebut.

    ReplyDelete
  9. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Saya merasa filsafat pada dasarnya dekat dengan apa saja, tak terkecuali dengan sastra. Filsafat diungkapkan dengan sastra sangat menarik, bisa menjadi bahan renungan dan refleksi tanpa terasa dan paksaan. Karena menurut Hegel untuk mencari kebenaran yang hakiki, tidak ada cara lain selain dengan Refleksi.

    ReplyDelete
  10. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Memang benar bahwa filsafat adalah ilmu yang sangat luas. Di dalamnya, kita akan membahas hal yang ada dan yang mungkin ada. Jika dihitung, lebih dari 1 triliyun pangkat 1 triliyun jumlahnya. Bagaimana bisa? Ambil saja 1 contoh, misal filsafat warna biru, ada biru tua, biru muda, biru dongker, biru tosca, biru agak muda, biru agak tua, dan biru-biru lain.
    Terkadang filsafat juga hampir mirip dengan sastra karena ilmu filsafat akan terus berkembang sesuai dengan logika dan pola pikir manusia itu sendiri.
    Elegi itu tergantung oleh penulisnya. Itu merupakan hak bagi yang menulis elegi. Di sisi lain, Tuhan juga berhak untuk menyembunyikan pikiran seseorang melalui kata-kata. Intinya, pengetahuan kita sesungguhnya atas izin Allah.

    ReplyDelete
  11. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Pak. Filsafat adalah ilmu yang cakupannya sangat luas. Seperti yang bapak kemukakan di atas bahwa filsafat bisa diletakkan di depan apapun. Kita mengenal filsafat ilmu, filsafat matematika, filsafat pendidikan, dll. filsafat dapat digunakan dalam bersastra. Begitupun sebaliknya, sastra dapat digunakan dalam bersafat.

    ReplyDelete
  12. Junianto
    PM C
    17706251065

    Menurut pendapat saya dan berdasarkan elegi tersebut, filsafat dan sastra merupakan dua hal yang bisa saling melengkapi. Seperti kita tahu, filsafat merupakan sumber dari ilmu-ilmu yang lain. Dua hal tersebut sama-sama bersumber dari olah pikir kritis manusia. Filsafat mempunyai cabang yang sangat banyak. Sastra bisa dipandang sebagai filsafat dengan balutan unsur seni sehingga menciptakan keindahan.

    ReplyDelete
  13. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Sebagai penggemar ‘tarian kata’ (yang umum didefinisikan sebagai ‘sastra’), saya tertarik untuk membaca tulisan ini.
    Saya jadi belajar dan mencari beberapa istilah yang saya belum tahu maksudnya:
    - Kajian filsafat bersifat intensif (=sedalam-dalamnya) dan ekstensif (=seluas-luasnya).
    - Tiga pilar dalam filsafat, yaitu kajian ontologis, kajian epistemologis, dan kajian aksiologis.
    Ontologi: mengkaji tentang hakikat sesuatu (dalam konteks ilmu)
    Aksiologi: mengkaji tentang hakikat nilai dalam perspektif keilmuan
    Epistemologi: mengkaji tentang sumber, metode, sarana dan alat ilmu. Bagaimana ilmu pengetahuan harus dikonstruk atau didapatkan ilmuwan.
    (www.lyceum.id)
    - Secara ontologis, yang ada dan yang mungkin ada itu hanya mempunyai 2 prinsip, yaitu prinsip identitas dan prinsip kontradiktif
    - Bahasa analog, bahasa perbandingan, sesuatu yang disetarakan
    - Radix, dari akar
    - Metode simplifikasi, penyederhanaan, membuat sesuatu yang sulit menjadi lebih sederhana
    - Metode reduksi (yang Anda sebut sebagai metode yang paling ampuh sekaligus paling berbahaya), pengurangan, penyederhanaan hal yang rumit menjadi sederhana.
    Mohon masukan akan pengertian yang masih sempit dan dangkal ini. Terimakasih.

    ReplyDelete
  14. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Sebenar-benarnya filsafat adalah refleksi diri kita sendiri. Bagaimana diri kita menggunakan sastra, begitulah kita berfilsafat. Filsafat dan sastra memiliki interseksi yang tidak dapat dipisahkan seperti halnya dua sisi mata uang, sehingga keduanya saling melengkapi. Dalam berfilsafat bahasa yang digunakan yaitu bahasa analog, sehingga kita dituntut untuk dapat menerjemahkan dan diterjemahkan untuk menggapai batas fikiran kita. Baik sastra maupun filsafat keduanya merupakan refleksi dari pemikiran manusia.

    ReplyDelete
  15. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  16. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Setelah saya membaca saya belajar bahwa ternyata kajian filsafat sangat luas. Bahkan segala ilmu pengetahuan juga merupakan filsafat. Semua yang dipikirkan juga merupakan filsafat.
    Belajar filsafat berarti berpikir terus menerus dan menyadari kekurangan dan ketidaktahuan sehingga dapat melakukan refleksi untuk selalu memperbaiki diri.

    ReplyDelete
  17. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PM A 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Karena objek kajian filsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada, maka sastra dapat menjadi salah satu objek dari kajian filsafat. Sementara itu berfilsafat ialah terjemah menterjemahkan. Untuk saling terjemah dan menterjemahkan tentu filsafat juga memerlukan bahasa. Maka keduanya saling berkaitan. Tetapi kita tidak boleh berhenti pada suatu kesimpulan, karena ketika kita berhenti maka kita terjebak oleh mitos.

    ReplyDelete
  18. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Objek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada, hal ini menyatakan bahwa filsafat itu sangat luas. Filsafat adalah pikiran para filsuf, memahami filsafat berarti memahami para filsuf. Dan pikiran-pikiran itu tertuang kedalam suatu tulisan, dan tulisan itu memiliki bahasa. Bahasa erat kaitannya dengan sastra. Agar kita mampu menggapai batas pikiran kita maka dapat kita gunakan metode hermenitika yaitu menerjemahkan dan diterjemahkan.

    ReplyDelete
  19. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmunya. Sejujurnya, saya dan upaya saya belajar filsafat, di dalamnya terdapat kondisi yang sulit untuk saya ungkapkan. Saat membaca suatu elegi saya merasakan kebingungan, kemudian saya membaca elegi lainnya saya merasa memperoleh jawaban atas kebingungan saya sebelumnya. Akan tetapi, ketika saya membaca elegi yang lain lagi, ternyata kemantapan saya yang sebelumnya berubah menjadi kebingungan lagi. Benar-benar, belajar filsafat benar-benar mengaduk fikiran saya. Bahkan pada postingan ini, saya masih menjumpai kebingungan-kebingungan, karena memang manusia memiliki keterbatasan. Tapi saya akan tetap berusaha.

    Satu lagi, saya menjumpai banyak hal baru juga dari jawaban Prof Marsigit pada postingan di atas. Misal saja, “Maka aku dapat sembunyikan filsafatku itu dalam sastra bahasaku”. Benar-benar baru. Sampai komentar ini selesai saya tuliskan, saya masih berupaya keras memahai hal tersebut.

    Satu lagi (maaf), pada saat kuliah perdana dulu, Prof Marsigit pernah menyampaikan bahwa bahasa filsafat adalah bahasa analog. Apakah ini hubungan filsafat dengan sastra? Mohon pencerahannya. Terimakasih

    ReplyDelete
  20. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Filsafat itu sebenarnya adalah pikiran kita sendiri. Objek dari filsafat adalah semua yang ada dan yang mungkin ada. Dari bacaan di atas, saya mempunyai kesimpulan jika filsafat dan sastra itu sama. Kesimpulan saya didapat dari penggalan kalimat berikut "Jika sastra adalah khasanah bahasa maka akupun menemukan bahwa filsafat itupun ternyata adalah bahasa. Maka aku dapat sembunyikan filsafatku itu dalam sastra bahasaku. Dan juga dapat aku sembunyikan bahasaku itu dalam filsafatku."
    Filsafat dan sastra adalah salah satu mata rantai dalam lingkaran pendidikan bahasa dan sastra. Akan tetapi banyak hal yang belum dapat dipahami dengan baik oleh mahasiswa atau pemerhati bahasa dan sastra dalam ranah-ranah tersebut.

    ReplyDelete
  21. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs P.Mat B 2017

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Memang sangatlah luas jangakaun dari ilmu filsafat itu. Apalagi untuk saat ini, filsafat dinilai dari bahasa atau analitik. Hidup ini adalah bahasa, sehingga dari sebuah bahasa akan menampilkan dirimu sebenarnya dan sejauh apa kamu bisa bersilsafat akan ditinjau sejauh mana kita mampu berbahasa. Menunjukkan pikiran kita sendiri melalui bahasa, sehingga setiap penilaian pasti akan melalui sebuah bahasa. Manusia(diri sendiri) adalah sintesis, sementara diluar dari dirinya merupakan anti-tesis. Objek kajian ilmu Filsafat pun meliputi sesuatu yang ada yang mungkin ada, maka sastra bahasa juga termasuk dalam kajian ilmu filsafat, karena sastra bahasa adalah objek yang ada.

    ReplyDelete
  22. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Menurut saya antara filsafat dan sastra memiliki hubungan yang cukup erat, karena sastra bisa menjadi penguat bahasa dalam berfilsafat, karena objek filsafat sangat luas dalam mempelajari dari ada dan yang mungkin ada, maka diperlukan sastra sebagai pengolah bahasa dalam berfilsafat agar mempunyai makna tertentu baik tersirat maupun tersurat, agar lebih mudah dipahami oleh orang awam ataupun seorang akademisi.

    ReplyDelete
  23. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Filsafat dan satra adalah dua hal yang berhubungan dan tak bisa dipisahkan.Di dalam berfilsafat kita menemukan bahasa.Seperti kita mempelajari elegi-elegi dalam filsafat kita akan menemukan makna di balik kata atau yang disebut dengan makna yang tersembunyi.Di dalam filsafat kita menemukan berbagai gaya bahasa dan majas yang digunakan.

    ReplyDelete
  24. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Filsafat merupakan sesuatu yang berasal dari pikiran. Sejak sifat fikiran itu tidak terbatas, maka filsafat pun juga akan bisa menjangkau apa yang bisa dijangkau, akan bisa meraih apa yang bisa diraih, sungguh luar biasa. Begitu pula dengan sastra, karena sifat filsafat yang bisa menjangkau sastra mungkin seolah-olah filsafat seperti sastra atau sastra seperti filsafat. Atau sastra itu masuk ke dalam filsafat atau sebaliknya dan begitu pula.

    ReplyDelete
  25. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Dalam berfilsafat, instrument utama adalah berpikir. Pengalaman setiap orang berpengaruh dengan pemaknaannya terhadap suatu fenomena atau objek. Maka terus belajar dan berpikir adalah usaha yang paling logis untuk mencapai filsafat.

    ReplyDelete
  26. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    yang saya dapatkan dari perkuliahan, ini adalah zaman filsafat bahasa. Sastra menjadi sarana atau alat berfilsafat. Postingan di atas mengemukakan bahwa mungkin filsafat bersembunyi di balik sastra dan sastra mungkin bersembunyi dibalik filsafat. Dalam perkuliahan Bapak juga menyampaikan bahwa lewat elegi dengan bahasa yang lebih mudah dipahami diharapkan lebih banyak orang yang memahami filsafat. Terimakasih telah membuat kami sedikit lebih mengerti lagi lewat elegi yang telah Bapak post di blog ini.

    ReplyDelete
  27. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamualaikum wr.wb.
    Terimakasih banyak prof. Marsigit atas postingan di atas. Tepat sekali seperti yang saya rasakan. Setiap membaca elegi-elegi bapak, ataupun saat mendengar setiap kata dan kalimat yang keluar dari mulut bapak pada saat perkuliahan filsafat, saya juga merasa ini hanya sebuah permainan kata-kata. Saya merasa ini dunia sastra. Sepertinya sastra dan filsafat sangat berkaitan erat. Mungkin dapat diibaratkan seperti simbiosis mutualisme. Dalam filsafat, ilmu sastra seperti berkuasa di dalamnya, padahal sebenarnya itu adalah bahasa analog. Sedangkan dalam sastra, mungkin para sastrawan dahulu hingga sekarang dapat dikatakan seperti filsuf karena pemikirannya yang mirip dengan filfasat. Namun itu hanya mungkin, kemungkinan yang terbesit dalam pikiran saya. Sangat benar jika sastra adalah khasanah bahasa maka saya juga merasa bahwa filsafat ternyata adalah bahasa. Sebenar-benar diriku adalah bahasaku. Sehingga aku baru sadar juga kalau filsafatku adalah bahasaku. Terkadang saya juga berpikir, ketika saya merasa paham membaca sebuah elegi, saya hanya terjebak dalam mitos semata. Tidak ada kenyataan yang tampak setelah membaca elegi. Hanya sepintas di pikiran, tanpa mengerti lagi apa maksudnya dan bahkan mudah saya lupakan. Astaghfirullah, wallahu’alam bishowab, semoga Allah mempermudah saya memahami filsafat ini. amin.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  28. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Ulasan ini menyadarkan diri saya bahwa saya pernah mengalami termakan mitos jargon dan elegi yang telah Bapak tuliskan. Saya yang suka merasa paham namun itulah yang membuat saya menjadi tidak memahami hakekat filsafat itu sendiri. Alhamdulillah, Tuhan mengiring saya untuk berlaku pada sikap yang mampu membuat diri ini merasa kecil terhadap ilmu-ilmu yang ada, termasuk pula ilmu filsafat. Sangat bersyukur dan berterimakasih saya ucapkan kepada Bapak yang telah berperan dalam perubahan-perubahan pandangan saya terhadap suatu ilmu. Baiklah, saya akan terus berusaha untuk mempertahankan sikap ketidaktahuan saya yang mendalam pada suatu hal namun tidak membuat saya menghentikan langkah dalam mencari hal-hal yang tidak saya tahu.

    ReplyDelete
  29. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Dari penjelasan yang diberikan bapak mengenai pertanyaan yang dierikan, saya berfikir bahwa intinya hidup adalah filsafat, dimana kita hidup di dalam perbatasan untuk menerjemahkan maupun diterjemahkan. Karena pada hakikatnya filsafat itu bukan berkata mana yang salah maupun yang benar. Karena jika berkata mana yang benar maupun salah itu adalah ketentuan Tuhan. Saya mengartikan filsafat itu sebagai cara saya mengetahui diri saya dan metafisik dari diri saya dengan selalu melakukan hermeneutik terhadap sesuatu yang kita cari.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  30. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Dimana rumahmu? Rumahmu adalah bahasamu. Itu lah pertanyaan tanya jawab pertama kali yang saya rasakan di kelas pada saat itu. Karena filsafat adalah diriku sendiri, maka bahasa dan filsafat jelas berhubungan erat. Setiap bahasa memiliki arti yang tersirat maupun tersurat. Yang diperlukan pemahaman yang lebih bagi si pembaca. Menggunakan metode hermenetika untuk menggai logos dan bukan mitos sering ditawarkan dalam berfilsafat. Doa doa dan berdoa sembari membaca elegi untuk menggapai tujuan berfilsafat . serta baca baca dan baca untuk memahami pemahaman filsafat dan bukan hanya sekedar mitos belaka.

    ReplyDelete
  31. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Filsafat adalah pemikiran kita (sebenar-benarnya filsafat adalah olah pikir), sehingga dunia ini akan sama dengan apa yang kita pikirkan. Filsafat dan sastra tidak dapat dipisahkan karena untuk menjelaskan objeknya filsafat menggunakan bahasa analog. Objek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada, dibutuhkan sastra untuk menjelaskannya, karena yang ada dan yang mungkin ada didunia ini sangat banyak dan bahkan tidak terhitung banyaknya.

    ReplyDelete
  32. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  33. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Saya merasa sependapat dengan pertanyaan yang diutarakan oleh saudara ahmad mujahid bahwa elegi-elegi yang Prof Marsigit tulis maupun perkataan-perkataan Prof Marsigit selama kuliah tidak bisa dipahami secara mudah. Setiap kalimat yang muncul perlu dicerna secara mendalam dan diterjemahkan ke dalam Bahasa yang lebih mudah. Sebagaimana kita membaca tulisan-tulisan sastra yang juga tidak mudah dipahami. Pun terkadang saya juga merasa malu karena komentar-komentar, atau refleksi yang saya utarakan barangkali tidak nyambung dengan elegi yang Prof Marsigit tulis. Untuk itu saya secara pribadi memohon maaf yang sebesar-besarnya.

    ReplyDelete
  34. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Terimakasih pak atas postingannya, sedikit demi sedikit saya mulai paham konsep dasar dari filsafat yaitu berpikir, ketika kita berpikir berarti kita sedang berfilsat, jika yang kita pikirkan adalah ilmu, maka filsafatnya adalah filsafat ilmu, jika kita berpikir tentang alam maka filsafatnya adalah filsafat alam, dan seterusnya, begitu pula ketika kita berpikir tentang sastra maka itu juga filsafat, filsafatnya adalah filsafat sastra. Segala kegiatan berpikir adalah kegiatan filsafat baik yang dipikirkan obyek yang ada ataupun yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  35. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Berfilsafat merupakan mempelajari segala bidang ilmu secara intensif dan ekstensif. Salah satunya mengenai Ilmu bahasa, karena filsafat tidak dapat lepas dari bahasa. Bahasa yang dimaksud adalah bahasa yang digunakan oleh para filsuf yaitu bahasa analog. Bahasa juga merupakan bagian dari sastra, karena sastra menggunakan bahasa untuk berperan sebagai sarana pengungkapan dan penyampaian pesan dalam sastra. Sehingga filsafat dan sastra sama-sama menggunakan bahasa tersendiri untuk menyampaikan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada.

    ReplyDelete
  36. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Filsafat bisa diletakkan didepan apapun karena sebenar-benarnya filsafat yaitu berpikir, sehingga segala sesuatu yang ada berpikirnya maka bisa termasuk filsafat, seperti sastra. Filsafat itu sangat luas sehingga banyak sekali yang tercakup di dalamnya, bahkan tak terhingga banyaknya. Maka sebenar-benarnya filsafat adalah berusaha menggapai logos dengan cara tidak berhenti berpikir, supaya tidak termakan mitos.

    ReplyDelete
  37. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Saat kita mempelajari sesuatu, kita akan mendapatkan fakta bahwa kita tidak tahu apa-apa. Untuk itulah kita harus terus belajar. Di saat memahami berbagai elegi dalam blok Bapak, kita akan semakin menyadari bahwa terdapat banyak sekali terminal-terminal di dalam ilmu filsafat yang tidak dapat kita pelajari hanya dengan duduk di kelas mengikuti kuliah. Ada banyak sekali bacaan yang harus kita telaah untuk mendapatkan makna sebenarnya dari filsafat. Namun karena ilmu filsafat bersifat sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya, maka semakin dipelajari kita akan mengetahui bahwa kita tidak tahu. Maka makna sebenar-benarnya belajar filsafat adalah berpikir, karena sejauh apapun kajian filsafat, maka akan kembali direfleksikan ke diri kita sendiri. Siapakah filsuf yang kita jadikan panutan, maka itu adalah cerminan dari diri kita pula. Cara memahami filsafat tidak dapat diberikan dalam bentuk tips langkah-langkah 1,2,3 hingga seterusnya, namun sejauh apakah kita mampu berpikir dalam dimensi-dimensi yang tidak terbatas.

    ReplyDelete
  38. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017


    Pertanyaan dari mahasiswa diatas memang tidak diherankan lagi, karena memang seperti itu adanya. Banyak elegi-elegi yang telah di baca namun masih tidak mampu memahami seutuhnya maksud yang ingin disampaikan dalam elegi-elegi tersebut. Ternyata sastra dan filsafat memiliki hubungan yang saling terikat. Kedua-duanya merupakan bahasa. Jika mencari keterbatasan filsafat dan bahasa memang sangat sulit, karena seperti kata bapak Marsigit, kedua-kedua terdapat dalam pikiran. Maka mari mencoba memahami elegi-elegi yang telah ada sebaik dan semampu mungkin.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  39. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Filsafat dan sastra saling ada keterkaitan. Ilmu filsafat dijabarkan dengan kesastraan sehingga dapat dipahami oleh orang lain, karena jika filsafat hanya dipikirkan oleh seseorang yang sedang berpikir filsafat maka tidak akan bisa dipahami oleh orang lain. Jadi menurut saya sastra sebagai suatu media untuk mentransfer pemahaman filsafat kepada orang lain.

    ReplyDelete
  40. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Sebagai seseorang yang mempelajari filsafat, saya juga sering mengalami kebingungan pada bahasa yang digunakan dalam jabaran ilmu filsafat karena bahasa yang digunakan agak sedikit berbeda dengan bahasa yang saya pahami di kehidupan sehari-hari. Tapi itulah uniknya ilmu, semakin mempelajari maka akan semakin sadar bahwa semakin banyak yang belum diketahui.

    ReplyDelete
  41. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Filsafat dan sastra berasal dari pikiran sendiri. Karena saat berfilsafat kita akan berpikir dan menggunakan hasil abstraksi dari konsep dan pengetahuan sama halnya dengan sastra yang menggunakan cara berpikir untuk menyampaikan hasil pengetahuan yang diperoleh ke dalam kata-kata yang mudah untuk dipahami dan dimengerti agar tidak terjadi ambiguitas dalam memahami sastra tersebut.

    ReplyDelete
  42. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Filsafat adalah pola pikir. Maka sebenar-benar filsafat adalah diri sendiri. Diri sendiri yang menguraikan dan menjelaskan apa yang diri sendiri pikir tentang filsafat. Jika berpikir sastra adalah cara berfilsafat, maka filsafatmu adalah sastra. Bahasa dalam filsafat adalah bahasa analog. Bahasa analog adalah bahasa yang lebih tinggi dari perumpamaan, kiasan, dan konotatif.

    ReplyDelete
  43. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Berfilsafat tidak dapat dipisahkan dengan sastra. Filsafat adalah olah pikir maka untuk menyampaikan pikiran kita dibutuhkan sastra yaitu komunikasi. Komunikasi yang baik akan membuat orang memahami tentang pikiran kita. Di dalam proses komunikasi juga di butuhkan hermenitika yaitu terjemah dan menerjemahkan. Ini penting dilakukan agar orang dapat memahami apa yang kita pikirkan dan yang paling penting adalah kesadaran. Kesadaran bahwa filsafat itu ada di kehidupan sehari-hari dan kesadaran bahwa kita masih kurang dalam hal pengetahuan. Sebab jika kita sudah merasa pengetahuan yanb dimiliki tinggi, maka kita akan terjebak pada mitos. Padahal kita hidup harus menggapai logos.
    Terimakasih Bapak Marsigit atas ilmunya.

    ReplyDelete
  44. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Dari tulisan tersebut, hal yang saya pahami adalah bahwa objek filsafat itu luas meliputi ada dan yang mungkin ada sehingga kita tidak bisa membatasi kajian filsafat. Saya ingat pesan bapak bahwa dalam belajar filsafat hal yang terpenting adalah kita berpikir. Jadi berfilsafat adalah berpikir. Layaknya kita yang sedang membaca elegi-elegi dan berpikir untuk memahami dan mengomentari isi elegi tersebut. Ketika kita tidak mampu berpikir maka kita tidak mampu berfilsafat.

    ReplyDelete