Sep 20, 2013

Filsafat atau Sastra?




Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan sebuah pertanyaan dari Sdr Ahmad Mujahid;

Assalamu’aalikum Wr.Wb
Maaf bapak saya sebenarnya masih bingung apakah elegi ini sebuah refleksi dari pemahaman filsafat ataukah merefleksikan sebuah pemahaman tentang kesusastraan? Ataukah saya yang masih bingung batas kajian filsafat dengan batas kajian sastra, karena ketika saya membaca elegi ini ternyata dak jauh beda dengan ketika saya mengkaji sebuah ungkapan-ungkapan sastra. Karena dalam elegi ini saya di tuntut untuk bagaimana mengereti dan memahami kata-kata yang ada bukan melogikakan ini dengan pemahaman filsafati. Jadi tidak jauh beda dengan membaca karya sastra seoarang sastrawan. Ketika mendefinisikan filsafat itu sebagai sebuah berfikir reflek dan kritis serta bagaimana berfikir bijak, di elegi yang bapak buat ini tidak ada yang mencerminkan hal itu malah yang terjadi adalah sebuah tanggapan yang tidak mengarah kepada sebuah pemahaman filsafati atau tidak mengarah kepada tujuan belajar filsafat itu. Jadi, mohon bapak menjelaskan tentang filsafat itu sehingga bagaimana itu saya jadikan sebagai acuan atau ilmu untuk menanggapi elegi yang bapak tulis dan nantinya tanggapan saya bisa terarah.
Sekian

Jawaban Saya (Marsigit):

Obyek filsafat adalah segala yang ada dan yang mungkin ada.

Maka dalam perbincangan filsafat bisa saja kita mempelajari sastra, sastra bahasa atau bahasa itu sendiri.

Kajian filsafat bersifat intensif dan ekstensif.

Intensif itu artinya dalam sedalam-dalamnya. Ekstensif itu luas seluas-luasnya.

Terdapat tiga pilar dalam filsafat yaitu kajian ontologis, kajian epistemologis dan kajian aksiologis.

Dengan kajian ekstensif maka pemikiran filsafat menjangkan semua yang ada dan yang mungkin ada.

Maka filsafat dapat ditaruh didepan apapun yaitu di depan yang ada dan yang mungkin ada.

Dengan kajian intensif maka pemikiran filsafat akan menjangkau hakekat atau ontologisnya sampai kita tidak mampu lagi mempertanyakannya.

Untuk mempelajari filsafat kita dapat menggunakan bahasa analog.

Bahasa analog mampu mengungkap kualitas-kualitas subyek dan obyeknya hingga sampai tataran radix.

Bahasa analog juga sejalan dengan metode simplifikasi atau reduksi.

Metode reduksi adalah metode berpikir yang paling ampuh tetapi sekaligus paling berbahaya.

Sadar atau tak sadar, manusia itu pasti menggunakan metode reduksi karena secara hakikinya manusia itu memang bersifat reduktif.

Secara ontologis, maka yang ada dan yang mungkin ada itu hanya mempunyai 2 prinsip, yaitu prinsip identitas dan prinsip kontradiktif.

Maka. dengan obyek dan metode serta pilar yang ada maka tidak ada yang tersisa.

Bukan filsafat itu bukan sisa filsafat.

Tidak setuju filsafat itu bukan sisa filsafat.

Bahwa ketiadaan itu pun mungkin ada sebagai kajian filsafat.

Maka bukan filsafat itupun filsafat jadinya.

Tidak setuju filsafat itupun sedang berfilsafat jadinya.

Maka aku menemukan bahwa dirikupun ternyata adalah sebuah filsafat.

Jika sastra adalah khasanah bahasa maka akupun menemukan bahwa filsafat itupun ternyata adalah bahasa.

Jika engkau ingin mengetahui batas antara filsafat dan sastra bahasa, tentulah itu sangat baik.

Tetapi ternyata aku juga menemukan bahwa baik filsafat ataupun sastra bahasa itu ternyata keduanya adalah pikiranku.

Maka aku dapat sembunyikan filsafatku itu dalam sastra bahasaku.

Dan juga dapat aku sembunyikan bahasaku itu dalam filsafatku.

Jikalau engkau telah cukup jelas akan uraianku maka aku khawatir bahwa engkau telah termakan oleh jargonku.

Jika engkau masih ragu akan penjelasanku maka itulah sebenar-benar awal dari pengetahunmu.Namun ternyata saya menyadari bahwa diriku itu terbatas.

Agar saya mampu menggapai batas pikiranku maka akupun dapat menggunakan metode hermenitika, yaitu menterjemahkan dan diterjemahkan.

Tetapi aku kemudian menemukan bahwa dunia yang sedang aku pelajari itu ternyata sama persis seperti yang aku pikirkan.

Maka aku menyimpulkan bahwa filsafat itu tidak lain tidak bukan adalah pikiranku sendiri.

Namun tidaklah mudah aku menggapai pikiranku, karena aku menemukan bahwa setiap jengkal perjalanan pikiranku terdapat terminal-terminal pemberhentian tentang kejelasan pikiranku.

Maka kemudian aku juga menemukan bahwa sebenar-benar bahaya yang aku hadapi dalam berpikirku adalah jika aku tidak mau berpikir lagi.

Keadaan itulah yang kemudian dikatakan oleh banyak orang sebagai mitos dalam pikiranku.

Maka sebenar-benar berfilsafat adalah usaha terus menerus untuk menggapai logos dan menggapai bukan mitos.

Maka aku juga menemukan bahwa semua yang ada dan yang mungkin ada itu pada hakekatnya adalah cermin bagi diriku untuk dapat menangkap mitos-mitosku.

Maka apalah yang engkau maksud dengan pemahaman filsafat itu.

Jika engkau telah paham betul tentang hakekat pemahaman filsafat, maka akupun masih khawatir jangan-jangan itu juga salah satu mitos besarmu.

Maka marilah kita selalu saling terjemah dan menterjemahkan. Semoga kita semua mampu menggapai terang.

Amiin

Demikianlah jawaban saya semoga bermanfaat bagai para mahasiswa yang sedang belajar filsafat.

Amiin.

94 comments:

  1. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    terkadang saya berpikiran hampir sama dengan si penanya. apakah dengan saya membaca elegi-elegi ini berarti saya belajar filsafat? padahal yang saya baca adalah elegi yang berisi cerita-cerita bermakna. dan akhirnya saya menemukan elegi ini sebagai jawaban. terima kasih, Pak. seperti yang telah dituliskan, bapak dapat menyembunyikan sastra dalam filsafat, dan filsafat dalam sastra. sehingga keduanya saling menterjemahkan dan diterjemahkan. janganlah condong pada salah satu filsafat atau sastra saja, karena keduanya saling menyeimbangkan. semoaga kita selalu dapat berpikir jernih dan benar dalam segala perkataan perbuatan dan tindakan.

    ReplyDelete
  2. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Ketika kita membaca elegy, kadang kita berfikir bahwa kita sedang membaca karya sastra. Filsafat itu membuat kita berfikir secara intensif dan ekstensif. Belajar filsafat menggunakan bahasa analog, seperti pada elegi-elegi. Bahasa analog ini tingkatannya di atas bahasa sastra. Bahasa analog mampu mengungkap kualitas-kualitas subyek dan obyeknya hingga sampai tataran radix. Bahasa analog juga sejalan dengan metode simplifikasi atau reduksi. Misalnya ketika menyebutkan tentang hati, kadang bisa berarti perasaan, ataupun hati ini dianalogikan dengan spiritual.

    ReplyDelete
  3. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Dalam elegi-elegi memang ditulis menggunakan bahasa yang sekiranya seperti membaca sastra, namun juga sebagai bahasa analog yang dapat memudahkan kita menghubungkan dengan makna yang sesungguhnya. Memang tidak mudah untuk mendapatkan makna yang sebenarnya olehnya itu agar mendapatkan makna dari elegi kita tidak bisa hanya membaca saja tetapi dengan mendayakan olah pikir kita. karena olah pikir adalah berfilsafat dan tulisan-tulisan dalam elegi bersifat sastra maka dalam membaca elegi itu sebenarnya kita telah berfilsafat. Untuk itu dalam berfilsafat pun dimungkinkan sastra yang terkandung di dalamnya.

    ReplyDelete
  4. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Filsafat bersifat keragu-raguan dan samar. Pemaknaannya sangat luas dan susah untuk mencapai kebenarannya. Filsafat adalah minos, mintos adalah fisafat. Awalnya saya juga berpikir hal yang sama dengan pertanyaan pada artikel di atas, apakah filsafat itu hanya bermain kata-kata. Untuk menjawabnya, mungkin saya masih kurang paham dan ragu-ragu tetapi sedikit saya mencoba memahami dan memikirkan setiap elegi yang saya baca, bahwa filsafat itu adalah olah pikir untuk berpikir kritis, maka kegiatan yang saya lakukan ini adalah saya sedang berfilsafat dan sampai sejauh mana fisafat saya adalah sejauh bagaimana saya mampu menggunakan ilmu yang saya peroleh untuk refleksi diri. Sastra mengandung banyak aspek filsafat, begitu juga sebaliknya. Sastra dan filsafat bagaikan sisi mata uang, permukaan yang satu tidak bisa dipisahkan dengan permukaan lainnya. Sastra maupun filsafat merupakan suatu hasil refleksi penulis atas keberadaan manusia. Hanya saja, jika sastra merupakan refleksi evaluatif, filasafat merupakan refleksi kritis. Itulah salah satu perbedaan antara satra dan filsafat

    ReplyDelete
  5. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Filsafat bersifat keragu-raguan dan samar. Pemaknaannya sangat luas dan susah untuk mencapai kebenarannya. Filsafat adalah minos, mintos adalah fisafat. Awalnya saya juga berpikir hal yang sama dengan pertanyaan pada artikel di atas, apakah filsafat itu hanya bermain kata-kata. Untuk menjawabnya, mungkin saya masih kurang paham dan ragu-ragu tetapi sedikit saya mencoba memahami dan memikirkan setiap elegi yang saya baca, bahwa filsafat itu adalah olah pikir untuk berpikir kritis, maka kegiatan yang saya lakukan ini adalah saya sedang berfilsafat dan sampai sejauh mana fisafat saya adalah sejauh bagaimana saya mampu menggunakan ilmu yang saya peroleh untuk refleksi diri. Sastra mengandung banyak aspek filsafat, begitu juga sebaliknya. Sastra dan filsafat bagaikan sisi mata uang, permukaan yang satu tidak bisa dipisahkan dengan permukaan lainnya. Sastra maupun filsafat merupakan suatu hasil refleksi penulis atas keberadaan manusia. Hanya saja, jika sastra merupakan refleksi evaluatif, filasafat merupakan refleksi kritis. Itulah salah satu perbedaan antara satra dan filsafat

    ReplyDelete
  6. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Agar tak terjebak dalam mitos manusia harus senantiasa terjemah dan menerjemahkan. Hal ini merupakan cara untuk bersyukur yaitu dengan mendayagunakan pikiran. Dalam berpikir manusia harus secara terus-menerus. Karena terhenti nya pikiran karena malas adalah bagian dari mitos. Oleh karena itu penting untuk menjaga kelangsungan berpikir dan menerjemahkan.

    ReplyDelete
  7. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Filsafat mencakup hal apa saja di dunia ini, mencakup yang ada dan yang mungkin ada, termasuk sastra, bahasa, atau sastra bahasa. Filsafat adalah urusan menerjemahkan dan diterjemahkan. Manusia memiliki kemampuan yang terbatas. Oleh karenanya, manusia hanya bisa berikhtiar untuk menerjemahkan dan diterjemahkan, berikhtiar untuk mengintensifkan dan mengekstensifkan.

    ReplyDelete
  8. Woro Sophia Amirul Kusumawati
    14301241048
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Filsafat merupakan mencakup segala yang ada dan yang mungkin ada. Sedangkan sastra itu sendiri bagian dari Filsafat untuk memahami Filsafat. Sehingga Filsafat dan Sastra sama-sama penting. Apa yang kita utarakan mengenai filsafat sebenar-benarnya adalah sedang menggapai Filsafat. Untuk memahami apa itu Filsafat kita perlu saling terjemah dan menerjemah, agar tidak terjebak oleh mitos.

    ReplyDelete
  9. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Yang menghubungkan antara filsafat dan sastra ialah bahasa. Filsafat itu tidak lain dan tidak bukan adalah pikiranku sendiri sehingga batasan antara filsafat dan sastra mengenai objek yang ada dan yang mungkin ada terbatas dalam ruang dan waktu seseorang memperoleh ilmu pengetahuan. Dengan menggunakan metode hermenitika atau menterjemahkan dan diterjemahkan seseorang dapat menggapai batas pikiran. Dengan bahasa kita dapat saling berkomunikasi menyampaikan ide yang kita punyai sehingga tidak hanya dalam filsafat maupun sastra dalam kehidupanpun bahasa sangat penting.

    ReplyDelete
  10. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Menanggapi artikel di atas, saya berusaha mencari referensi mengenai flsafat dan menemukan sebagai berikut.
    Sejarah lahirnya filsafat adalah karena:
    1. Ketakjuban manusia
    2. Ketidakpuasan manusia
    3. Hasrat ingin bertanya
    4. Keingintahuan
    Faktor-faktor di atas merupakan sifat dasar manusia. Jadi, ketika kita berfilsafat, kita berpikir mengenai segala sesuatu, berbagai bidang. Filsafat tidak terbatas pada hal-hal yang ada, namun juga pada hal-hal yang mungkin ada. Ketidakpuasan dan hasrat ingin tahu manusia membuat manusia selalu mencari tahu tentang apa yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  11. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Belajar sebetulnya adalah proses menerjemahkan dan diterjemahkan. Belajar filsafat pak Marsigit, berarti selain belajar filsafat, juga belajar menterjemahkan elegi-eleginya. Elegi-elegi ini didesain dan dibentuk oleh pak Marsigit melalu hasil reduksi pengalaman-pengalaman dan pengetahuannya. Sehingga apa saja, entah spiritual, matematika, pendidikan matematika, lesson study, kurikulum, Immanuel Kant, dan sebagainya, bisa masuk dalam elegi-elegi pak Marsigit. Sedangkan filsafat adalah ilmu yang mempelajari semua yang ada maupun yang mungkin ada. Akhirnya elegi menjadi relevan juga dengan filsafat. Namun keterbatasan kita sebagai murid yang tidak dapat menterjemahkan semua maksud penyampaian elegi-elegi ini. Maka solusinya, jangan hanya berguru kepada pak Marsigit saja.

    ReplyDelete
  12. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Obyek filsafat adalah segala yang ada dan yang mungkin ada. Maka filsafat dapat ditaruh didepan apapun yaitu di depan yang ada dan yang mungkin ada. Maka dalam perbincangan filsafat bisa saja kita mempelajari sastra, sastra bahasa atau bahasa itu sendiri. Jika sastra adalah khasanah bahasa maka filsafat itupun ternyata adalah bahasa karena kajian filsafat bersifat intensif dan ekstensif.

    ReplyDelete
  13. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. filsafat memiliki tiga pilar utama yaitu ontologi, epistimologi dan aksiologi. Dalam aksiologi dibahas nilai-nilai estetika filsafat, yang termasuk didalamnya terdapat nilai estetika dalam sastra. Menurut saya Prof. Marsigit menggunkan media sastra untuk membuat kita, mahasiswa beliau, lebih mudah memahami filsafat.

    ReplyDelete
  14. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi-elegi yang ada dikemas dengan sastra, sehingga unsur estetika dan makna yang ada dalam elegi tersebut mudah dipahami, namun tentunya elegi tersebut dibuat berdasarkan filsafat.

    ReplyDelete
  15. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan elegi diatas saya mendapatkan pengetahuan baru bahwa filsafat dan sastra memiliki keterkaitan. Jika sastra diartikan sebagai bahasa maka filsafat juga merupakan bahasa. Bahasa dalam filsafat berarti bahasa pemikiran, bahasa pengetahuan seseorang. Ketidaktahuan seseorang mengenai filsafat dan juga sastra dapat dijadikan sebagai pengetahuan baru bagi seseorang. Rasa kepercayaan diri seseorang mengenai rasa tahu tentang filsafat dan sastra perlu ditelusuri lebih lanjut apakah benar itu adalah rasa tahu ataupuan hanya sekedar mitos belaka.

    ReplyDelete
  16. Febrian Luthfi
    13301241062
    Pendidikan Matemarika 2013

    Sebenar-benarnya filsafat adalah apa yang kamu pikirkan. Saat memikirkan filsafat sebagai sastra, maka filsafat itu sastra.

    ReplyDelete
  17. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Jika sastra adalah khasanah bahasa maka kita akan menemukan bahwa filsafat itupun ternyata adalah bahasa. Kita mungkin tak mampu mengetahui batas antara filsafat dan sastra bahasa. Namun sesungguhnya baik filsafat maupun sastra bahasa itu adalah pikiran kita. Maka aku dapat sembunyikan filsafat kita dalam sastra bahasa dan kita juga dapat menyembunyikan bahasa dalam filsafat kita. Sesungguhnya tidaklah mudah bagi kita menggapai pikiran, karena pikiran kita membutuhkan kejelasan. Kita belajar filsafat atau belajar sastra bahasa tanpa pengalaman hidup itu artinya "kosong"; sedangkan pengalaman hidup jika tidak difilsafatkan atau disastrakan berarti "buta" atau “bisu”.

    ReplyDelete
  18. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)
    Filsafat adalah olah pikir. kita berpikir mengenai sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Ketika kita sedang berpikir, sebenarnya saat itulah kita sedang berfilsafat. Filsafat memang hal yang sangat sulit untuk dipahami. Dan tentunya sudut pandang kitapun berpengaruh dalam memahami filsafat. Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda, sehingga setiap orangpun akan berbeda persepsi dalam memaknai filsafat dalam kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  19. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Sebelumnya saya ingin berterima kasih kepada Pak Prof. atas penjelasan mengenai refleksi dari pemahaman filfasat ini karena memang kajian filsafat jangkauannya sangat luas dan dalam.
    Terdapat beberapa kalimat yang menarik bagi saya, yaitu:
    “Bukan filsafat itu bukan sisa filsafat.
    Tidak setuju filsafat itu bukan sisa filsafat.
    Bahwa ketiadaan itu pun mungkin ada sebagai kajian filsafat.
    Maka bukan filsafat itupun filsafat jadinya.
    Tidak setuju filsafat itupun sedang berfilsafat jadinya.
    Maka aku menemukan bahwa dirikupun ternyata adalah sebuah filsafat.”
    Dari kalimat tersebut saya menyadari bahwa filsafat memang memiliki jangkauan yang luas dan dalam, bahkan ketika seseorang menganggap dirinya tidak setuju dengan filsafat malah justru termasuk sedang berfilsafat. Dan sesuatu yang tiada juga mungkin ada jika dikaji dalam kajian filsafat.

    ReplyDelete
  20. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih prof, sejujurnya saya pun merasa masih bingung ketika belajar berfilsafat. Saya sadar dengan pembatasan-pembatasan pikiran yang secara sadar dan tidak sadar saya lakukan ketika belajar berfilsafat. Menurut saya sastra adalah salah satu cara dalam mengkomunikasikan filsafat. Bagaimana kita bisa belajar memahami filsafat dengan sastra, dan sejujurnya saya tidak terlalu memahami batasan keduanya.

    ReplyDelete
  21. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Sebagaimana yang sering dikemukakan dalam pelajaran filsafat bahwa objek kajian filsafat sangat luas mencakup yang ada dan yang mungkin ada, dan sastra termasuk di dalamnya. Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan manusia, maka bahasa inilah yang dimanfaatkan sebagai media dalam menyampaikan gagasan dari para filsuf. Berbagai macam Bahasa pun digunakan hermeneutika, penganalogian, identitas dan kontradiksi serta masih banyak lagi. Mudah-mudahan kita mampu menginterpretasi dengan baik.

    ReplyDelete
  22. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Menurut saya bahasa-bahasa yang digunakan dalam banyak kajian filsafat yang Bapak sampaikan, banyak mengandung kalimat-kalimat perumpamaan yang bermakna konotatif. Dalam pelajaran sastra Indonesia, dikenal sebagai kalimat-kalimat bermajas, seperti majas hiperbola, litotes, eufimisme, alegori, dan lain-lain. Sehingga kita sebagai pembaca harus memahami 99% dari yang tersirat, bukan yang tersurat. Saya sendiri masih kesulitan memahami makna yang terkandung dalam postingan-postingan secara holistik, sehingga perlu adanya pengulangan atau repetisi dalam membaca postingan tersebut.

    ReplyDelete
  23. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Saya merasa filsafat pada dasarnya dekat dengan apa saja, tak terkecuali dengan sastra. Filsafat diungkapkan dengan sastra sangat menarik, bisa menjadi bahan renungan dan refleksi tanpa terasa dan paksaan. Karena menurut Hegel untuk mencari kebenaran yang hakiki, tidak ada cara lain selain dengan Refleksi.

    ReplyDelete
  24. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Memang benar bahwa filsafat adalah ilmu yang sangat luas. Di dalamnya, kita akan membahas hal yang ada dan yang mungkin ada. Jika dihitung, lebih dari 1 triliyun pangkat 1 triliyun jumlahnya. Bagaimana bisa? Ambil saja 1 contoh, misal filsafat warna biru, ada biru tua, biru muda, biru dongker, biru tosca, biru agak muda, biru agak tua, dan biru-biru lain.
    Terkadang filsafat juga hampir mirip dengan sastra karena ilmu filsafat akan terus berkembang sesuai dengan logika dan pola pikir manusia itu sendiri.
    Elegi itu tergantung oleh penulisnya. Itu merupakan hak bagi yang menulis elegi. Di sisi lain, Tuhan juga berhak untuk menyembunyikan pikiran seseorang melalui kata-kata. Intinya, pengetahuan kita sesungguhnya atas izin Allah.

    ReplyDelete
  25. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Pak. Filsafat adalah ilmu yang cakupannya sangat luas. Seperti yang bapak kemukakan di atas bahwa filsafat bisa diletakkan di depan apapun. Kita mengenal filsafat ilmu, filsafat matematika, filsafat pendidikan, dll. filsafat dapat digunakan dalam bersastra. Begitupun sebaliknya, sastra dapat digunakan dalam bersafat.

    ReplyDelete
  26. Junianto
    PM C
    17706251065

    Menurut pendapat saya dan berdasarkan elegi tersebut, filsafat dan sastra merupakan dua hal yang bisa saling melengkapi. Seperti kita tahu, filsafat merupakan sumber dari ilmu-ilmu yang lain. Dua hal tersebut sama-sama bersumber dari olah pikir kritis manusia. Filsafat mempunyai cabang yang sangat banyak. Sastra bisa dipandang sebagai filsafat dengan balutan unsur seni sehingga menciptakan keindahan.

    ReplyDelete
  27. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Sebagai penggemar ‘tarian kata’ (yang umum didefinisikan sebagai ‘sastra’), saya tertarik untuk membaca tulisan ini.
    Saya jadi belajar dan mencari beberapa istilah yang saya belum tahu maksudnya:
    - Kajian filsafat bersifat intensif (=sedalam-dalamnya) dan ekstensif (=seluas-luasnya).
    - Tiga pilar dalam filsafat, yaitu kajian ontologis, kajian epistemologis, dan kajian aksiologis.
    Ontologi: mengkaji tentang hakikat sesuatu (dalam konteks ilmu)
    Aksiologi: mengkaji tentang hakikat nilai dalam perspektif keilmuan
    Epistemologi: mengkaji tentang sumber, metode, sarana dan alat ilmu. Bagaimana ilmu pengetahuan harus dikonstruk atau didapatkan ilmuwan.
    (www.lyceum.id)
    - Secara ontologis, yang ada dan yang mungkin ada itu hanya mempunyai 2 prinsip, yaitu prinsip identitas dan prinsip kontradiktif
    - Bahasa analog, bahasa perbandingan, sesuatu yang disetarakan
    - Radix, dari akar
    - Metode simplifikasi, penyederhanaan, membuat sesuatu yang sulit menjadi lebih sederhana
    - Metode reduksi (yang Anda sebut sebagai metode yang paling ampuh sekaligus paling berbahaya), pengurangan, penyederhanaan hal yang rumit menjadi sederhana.
    Mohon masukan akan pengertian yang masih sempit dan dangkal ini. Terimakasih.

    ReplyDelete
  28. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Sebenar-benarnya filsafat adalah refleksi diri kita sendiri. Bagaimana diri kita menggunakan sastra, begitulah kita berfilsafat. Filsafat dan sastra memiliki interseksi yang tidak dapat dipisahkan seperti halnya dua sisi mata uang, sehingga keduanya saling melengkapi. Dalam berfilsafat bahasa yang digunakan yaitu bahasa analog, sehingga kita dituntut untuk dapat menerjemahkan dan diterjemahkan untuk menggapai batas fikiran kita. Baik sastra maupun filsafat keduanya merupakan refleksi dari pemikiran manusia.

    ReplyDelete
  29. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Setelah saya membaca saya belajar bahwa ternyata kajian filsafat sangat luas. Bahkan segala ilmu pengetahuan juga merupakan filsafat. Semua yang dipikirkan juga merupakan filsafat.
    Belajar filsafat berarti berpikir terus menerus dan menyadari kekurangan dan ketidaktahuan sehingga dapat melakukan refleksi untuk selalu memperbaiki diri.

    ReplyDelete
  30. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PM A 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Karena objek kajian filsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada, maka sastra dapat menjadi salah satu objek dari kajian filsafat. Sementara itu berfilsafat ialah terjemah menterjemahkan. Untuk saling terjemah dan menterjemahkan tentu filsafat juga memerlukan bahasa. Maka keduanya saling berkaitan. Tetapi kita tidak boleh berhenti pada suatu kesimpulan, karena ketika kita berhenti maka kita terjebak oleh mitos.

    ReplyDelete
  31. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Objek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada, hal ini menyatakan bahwa filsafat itu sangat luas. Filsafat adalah pikiran para filsuf, memahami filsafat berarti memahami para filsuf. Dan pikiran-pikiran itu tertuang kedalam suatu tulisan, dan tulisan itu memiliki bahasa. Bahasa erat kaitannya dengan sastra. Agar kita mampu menggapai batas pikiran kita maka dapat kita gunakan metode hermenitika yaitu menerjemahkan dan diterjemahkan.

    ReplyDelete
  32. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmunya. Sejujurnya, saya dan upaya saya belajar filsafat, di dalamnya terdapat kondisi yang sulit untuk saya ungkapkan. Saat membaca suatu elegi saya merasakan kebingungan, kemudian saya membaca elegi lainnya saya merasa memperoleh jawaban atas kebingungan saya sebelumnya. Akan tetapi, ketika saya membaca elegi yang lain lagi, ternyata kemantapan saya yang sebelumnya berubah menjadi kebingungan lagi. Benar-benar, belajar filsafat benar-benar mengaduk fikiran saya. Bahkan pada postingan ini, saya masih menjumpai kebingungan-kebingungan, karena memang manusia memiliki keterbatasan. Tapi saya akan tetap berusaha.

    Satu lagi, saya menjumpai banyak hal baru juga dari jawaban Prof Marsigit pada postingan di atas. Misal saja, “Maka aku dapat sembunyikan filsafatku itu dalam sastra bahasaku”. Benar-benar baru. Sampai komentar ini selesai saya tuliskan, saya masih berupaya keras memahai hal tersebut.

    Satu lagi (maaf), pada saat kuliah perdana dulu, Prof Marsigit pernah menyampaikan bahwa bahasa filsafat adalah bahasa analog. Apakah ini hubungan filsafat dengan sastra? Mohon pencerahannya. Terimakasih

    ReplyDelete
  33. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Filsafat itu sebenarnya adalah pikiran kita sendiri. Objek dari filsafat adalah semua yang ada dan yang mungkin ada. Dari bacaan di atas, saya mempunyai kesimpulan jika filsafat dan sastra itu sama. Kesimpulan saya didapat dari penggalan kalimat berikut "Jika sastra adalah khasanah bahasa maka akupun menemukan bahwa filsafat itupun ternyata adalah bahasa. Maka aku dapat sembunyikan filsafatku itu dalam sastra bahasaku. Dan juga dapat aku sembunyikan bahasaku itu dalam filsafatku."
    Filsafat dan sastra adalah salah satu mata rantai dalam lingkaran pendidikan bahasa dan sastra. Akan tetapi banyak hal yang belum dapat dipahami dengan baik oleh mahasiswa atau pemerhati bahasa dan sastra dalam ranah-ranah tersebut.

    ReplyDelete
  34. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs P.Mat B 2017

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Memang sangatlah luas jangakaun dari ilmu filsafat itu. Apalagi untuk saat ini, filsafat dinilai dari bahasa atau analitik. Hidup ini adalah bahasa, sehingga dari sebuah bahasa akan menampilkan dirimu sebenarnya dan sejauh apa kamu bisa bersilsafat akan ditinjau sejauh mana kita mampu berbahasa. Menunjukkan pikiran kita sendiri melalui bahasa, sehingga setiap penilaian pasti akan melalui sebuah bahasa. Manusia(diri sendiri) adalah sintesis, sementara diluar dari dirinya merupakan anti-tesis. Objek kajian ilmu Filsafat pun meliputi sesuatu yang ada yang mungkin ada, maka sastra bahasa juga termasuk dalam kajian ilmu filsafat, karena sastra bahasa adalah objek yang ada.

    ReplyDelete
  35. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Menurut saya antara filsafat dan sastra memiliki hubungan yang cukup erat, karena sastra bisa menjadi penguat bahasa dalam berfilsafat, karena objek filsafat sangat luas dalam mempelajari dari ada dan yang mungkin ada, maka diperlukan sastra sebagai pengolah bahasa dalam berfilsafat agar mempunyai makna tertentu baik tersirat maupun tersurat, agar lebih mudah dipahami oleh orang awam ataupun seorang akademisi.

    ReplyDelete
  36. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Filsafat dan satra adalah dua hal yang berhubungan dan tak bisa dipisahkan.Di dalam berfilsafat kita menemukan bahasa.Seperti kita mempelajari elegi-elegi dalam filsafat kita akan menemukan makna di balik kata atau yang disebut dengan makna yang tersembunyi.Di dalam filsafat kita menemukan berbagai gaya bahasa dan majas yang digunakan.

    ReplyDelete
  37. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Filsafat merupakan sesuatu yang berasal dari pikiran. Sejak sifat fikiran itu tidak terbatas, maka filsafat pun juga akan bisa menjangkau apa yang bisa dijangkau, akan bisa meraih apa yang bisa diraih, sungguh luar biasa. Begitu pula dengan sastra, karena sifat filsafat yang bisa menjangkau sastra mungkin seolah-olah filsafat seperti sastra atau sastra seperti filsafat. Atau sastra itu masuk ke dalam filsafat atau sebaliknya dan begitu pula.

    ReplyDelete
  38. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Dalam berfilsafat, instrument utama adalah berpikir. Pengalaman setiap orang berpengaruh dengan pemaknaannya terhadap suatu fenomena atau objek. Maka terus belajar dan berpikir adalah usaha yang paling logis untuk mencapai filsafat.

    ReplyDelete
  39. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    yang saya dapatkan dari perkuliahan, ini adalah zaman filsafat bahasa. Sastra menjadi sarana atau alat berfilsafat. Postingan di atas mengemukakan bahwa mungkin filsafat bersembunyi di balik sastra dan sastra mungkin bersembunyi dibalik filsafat. Dalam perkuliahan Bapak juga menyampaikan bahwa lewat elegi dengan bahasa yang lebih mudah dipahami diharapkan lebih banyak orang yang memahami filsafat. Terimakasih telah membuat kami sedikit lebih mengerti lagi lewat elegi yang telah Bapak post di blog ini.

    ReplyDelete
  40. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamualaikum wr.wb.
    Terimakasih banyak prof. Marsigit atas postingan di atas. Tepat sekali seperti yang saya rasakan. Setiap membaca elegi-elegi bapak, ataupun saat mendengar setiap kata dan kalimat yang keluar dari mulut bapak pada saat perkuliahan filsafat, saya juga merasa ini hanya sebuah permainan kata-kata. Saya merasa ini dunia sastra. Sepertinya sastra dan filsafat sangat berkaitan erat. Mungkin dapat diibaratkan seperti simbiosis mutualisme. Dalam filsafat, ilmu sastra seperti berkuasa di dalamnya, padahal sebenarnya itu adalah bahasa analog. Sedangkan dalam sastra, mungkin para sastrawan dahulu hingga sekarang dapat dikatakan seperti filsuf karena pemikirannya yang mirip dengan filfasat. Namun itu hanya mungkin, kemungkinan yang terbesit dalam pikiran saya. Sangat benar jika sastra adalah khasanah bahasa maka saya juga merasa bahwa filsafat ternyata adalah bahasa. Sebenar-benar diriku adalah bahasaku. Sehingga aku baru sadar juga kalau filsafatku adalah bahasaku. Terkadang saya juga berpikir, ketika saya merasa paham membaca sebuah elegi, saya hanya terjebak dalam mitos semata. Tidak ada kenyataan yang tampak setelah membaca elegi. Hanya sepintas di pikiran, tanpa mengerti lagi apa maksudnya dan bahkan mudah saya lupakan. Astaghfirullah, wallahu’alam bishowab, semoga Allah mempermudah saya memahami filsafat ini. amin.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  41. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Ulasan ini menyadarkan diri saya bahwa saya pernah mengalami termakan mitos jargon dan elegi yang telah Bapak tuliskan. Saya yang suka merasa paham namun itulah yang membuat saya menjadi tidak memahami hakekat filsafat itu sendiri. Alhamdulillah, Tuhan mengiring saya untuk berlaku pada sikap yang mampu membuat diri ini merasa kecil terhadap ilmu-ilmu yang ada, termasuk pula ilmu filsafat. Sangat bersyukur dan berterimakasih saya ucapkan kepada Bapak yang telah berperan dalam perubahan-perubahan pandangan saya terhadap suatu ilmu. Baiklah, saya akan terus berusaha untuk mempertahankan sikap ketidaktahuan saya yang mendalam pada suatu hal namun tidak membuat saya menghentikan langkah dalam mencari hal-hal yang tidak saya tahu.

    ReplyDelete
  42. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Dari penjelasan yang diberikan bapak mengenai pertanyaan yang dierikan, saya berfikir bahwa intinya hidup adalah filsafat, dimana kita hidup di dalam perbatasan untuk menerjemahkan maupun diterjemahkan. Karena pada hakikatnya filsafat itu bukan berkata mana yang salah maupun yang benar. Karena jika berkata mana yang benar maupun salah itu adalah ketentuan Tuhan. Saya mengartikan filsafat itu sebagai cara saya mengetahui diri saya dan metafisik dari diri saya dengan selalu melakukan hermeneutik terhadap sesuatu yang kita cari.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  43. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Dimana rumahmu? Rumahmu adalah bahasamu. Itu lah pertanyaan tanya jawab pertama kali yang saya rasakan di kelas pada saat itu. Karena filsafat adalah diriku sendiri, maka bahasa dan filsafat jelas berhubungan erat. Setiap bahasa memiliki arti yang tersirat maupun tersurat. Yang diperlukan pemahaman yang lebih bagi si pembaca. Menggunakan metode hermenetika untuk menggai logos dan bukan mitos sering ditawarkan dalam berfilsafat. Doa doa dan berdoa sembari membaca elegi untuk menggapai tujuan berfilsafat . serta baca baca dan baca untuk memahami pemahaman filsafat dan bukan hanya sekedar mitos belaka.

    ReplyDelete
  44. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Filsafat adalah pemikiran kita (sebenar-benarnya filsafat adalah olah pikir), sehingga dunia ini akan sama dengan apa yang kita pikirkan. Filsafat dan sastra tidak dapat dipisahkan karena untuk menjelaskan objeknya filsafat menggunakan bahasa analog. Objek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada, dibutuhkan sastra untuk menjelaskannya, karena yang ada dan yang mungkin ada didunia ini sangat banyak dan bahkan tidak terhitung banyaknya.

    ReplyDelete
  45. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Saya merasa sependapat dengan pertanyaan yang diutarakan oleh saudara ahmad mujahid bahwa elegi-elegi yang Prof Marsigit tulis maupun perkataan-perkataan Prof Marsigit selama kuliah tidak bisa dipahami secara mudah. Setiap kalimat yang muncul perlu dicerna secara mendalam dan diterjemahkan ke dalam Bahasa yang lebih mudah. Sebagaimana kita membaca tulisan-tulisan sastra yang juga tidak mudah dipahami. Pun terkadang saya juga merasa malu karena komentar-komentar, atau refleksi yang saya utarakan barangkali tidak nyambung dengan elegi yang Prof Marsigit tulis. Untuk itu saya secara pribadi memohon maaf yang sebesar-besarnya.

    ReplyDelete
  46. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Terimakasih pak atas postingannya, sedikit demi sedikit saya mulai paham konsep dasar dari filsafat yaitu berpikir, ketika kita berpikir berarti kita sedang berfilsat, jika yang kita pikirkan adalah ilmu, maka filsafatnya adalah filsafat ilmu, jika kita berpikir tentang alam maka filsafatnya adalah filsafat alam, dan seterusnya, begitu pula ketika kita berpikir tentang sastra maka itu juga filsafat, filsafatnya adalah filsafat sastra. Segala kegiatan berpikir adalah kegiatan filsafat baik yang dipikirkan obyek yang ada ataupun yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  47. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Berfilsafat merupakan mempelajari segala bidang ilmu secara intensif dan ekstensif. Salah satunya mengenai Ilmu bahasa, karena filsafat tidak dapat lepas dari bahasa. Bahasa yang dimaksud adalah bahasa yang digunakan oleh para filsuf yaitu bahasa analog. Bahasa juga merupakan bagian dari sastra, karena sastra menggunakan bahasa untuk berperan sebagai sarana pengungkapan dan penyampaian pesan dalam sastra. Sehingga filsafat dan sastra sama-sama menggunakan bahasa tersendiri untuk menyampaikan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada.

    ReplyDelete
  48. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Filsafat bisa diletakkan didepan apapun karena sebenar-benarnya filsafat yaitu berpikir, sehingga segala sesuatu yang ada berpikirnya maka bisa termasuk filsafat, seperti sastra. Filsafat itu sangat luas sehingga banyak sekali yang tercakup di dalamnya, bahkan tak terhingga banyaknya. Maka sebenar-benarnya filsafat adalah berusaha menggapai logos dengan cara tidak berhenti berpikir, supaya tidak termakan mitos.

    ReplyDelete
  49. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Saat kita mempelajari sesuatu, kita akan mendapatkan fakta bahwa kita tidak tahu apa-apa. Untuk itulah kita harus terus belajar. Di saat memahami berbagai elegi dalam blok Bapak, kita akan semakin menyadari bahwa terdapat banyak sekali terminal-terminal di dalam ilmu filsafat yang tidak dapat kita pelajari hanya dengan duduk di kelas mengikuti kuliah. Ada banyak sekali bacaan yang harus kita telaah untuk mendapatkan makna sebenarnya dari filsafat. Namun karena ilmu filsafat bersifat sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya, maka semakin dipelajari kita akan mengetahui bahwa kita tidak tahu. Maka makna sebenar-benarnya belajar filsafat adalah berpikir, karena sejauh apapun kajian filsafat, maka akan kembali direfleksikan ke diri kita sendiri. Siapakah filsuf yang kita jadikan panutan, maka itu adalah cerminan dari diri kita pula. Cara memahami filsafat tidak dapat diberikan dalam bentuk tips langkah-langkah 1,2,3 hingga seterusnya, namun sejauh apakah kita mampu berpikir dalam dimensi-dimensi yang tidak terbatas.

    ReplyDelete
  50. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017


    Pertanyaan dari mahasiswa diatas memang tidak diherankan lagi, karena memang seperti itu adanya. Banyak elegi-elegi yang telah di baca namun masih tidak mampu memahami seutuhnya maksud yang ingin disampaikan dalam elegi-elegi tersebut. Ternyata sastra dan filsafat memiliki hubungan yang saling terikat. Kedua-duanya merupakan bahasa. Jika mencari keterbatasan filsafat dan bahasa memang sangat sulit, karena seperti kata bapak Marsigit, kedua-kedua terdapat dalam pikiran. Maka mari mencoba memahami elegi-elegi yang telah ada sebaik dan semampu mungkin.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  51. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Filsafat dan sastra saling ada keterkaitan. Ilmu filsafat dijabarkan dengan kesastraan sehingga dapat dipahami oleh orang lain, karena jika filsafat hanya dipikirkan oleh seseorang yang sedang berpikir filsafat maka tidak akan bisa dipahami oleh orang lain. Jadi menurut saya sastra sebagai suatu media untuk mentransfer pemahaman filsafat kepada orang lain.

    ReplyDelete
  52. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Sebagai seseorang yang mempelajari filsafat, saya juga sering mengalami kebingungan pada bahasa yang digunakan dalam jabaran ilmu filsafat karena bahasa yang digunakan agak sedikit berbeda dengan bahasa yang saya pahami di kehidupan sehari-hari. Tapi itulah uniknya ilmu, semakin mempelajari maka akan semakin sadar bahwa semakin banyak yang belum diketahui.

    ReplyDelete
  53. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Filsafat dan sastra berasal dari pikiran sendiri. Karena saat berfilsafat kita akan berpikir dan menggunakan hasil abstraksi dari konsep dan pengetahuan sama halnya dengan sastra yang menggunakan cara berpikir untuk menyampaikan hasil pengetahuan yang diperoleh ke dalam kata-kata yang mudah untuk dipahami dan dimengerti agar tidak terjadi ambiguitas dalam memahami sastra tersebut.

    ReplyDelete
  54. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Filsafat adalah pola pikir. Maka sebenar-benar filsafat adalah diri sendiri. Diri sendiri yang menguraikan dan menjelaskan apa yang diri sendiri pikir tentang filsafat. Jika berpikir sastra adalah cara berfilsafat, maka filsafatmu adalah sastra. Bahasa dalam filsafat adalah bahasa analog. Bahasa analog adalah bahasa yang lebih tinggi dari perumpamaan, kiasan, dan konotatif.

    ReplyDelete
  55. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Berfilsafat tidak dapat dipisahkan dengan sastra. Filsafat adalah olah pikir maka untuk menyampaikan pikiran kita dibutuhkan sastra yaitu komunikasi. Komunikasi yang baik akan membuat orang memahami tentang pikiran kita. Di dalam proses komunikasi juga di butuhkan hermenitika yaitu terjemah dan menerjemahkan. Ini penting dilakukan agar orang dapat memahami apa yang kita pikirkan dan yang paling penting adalah kesadaran. Kesadaran bahwa filsafat itu ada di kehidupan sehari-hari dan kesadaran bahwa kita masih kurang dalam hal pengetahuan. Sebab jika kita sudah merasa pengetahuan yanb dimiliki tinggi, maka kita akan terjebak pada mitos. Padahal kita hidup harus menggapai logos.
    Terimakasih Bapak Marsigit atas ilmunya.

    ReplyDelete
  56. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Dari tulisan tersebut, hal yang saya pahami adalah bahwa objek filsafat itu luas meliputi ada dan yang mungkin ada sehingga kita tidak bisa membatasi kajian filsafat. Saya ingat pesan bapak bahwa dalam belajar filsafat hal yang terpenting adalah kita berpikir. Jadi berfilsafat adalah berpikir. Layaknya kita yang sedang membaca elegi-elegi dan berpikir untuk memahami dan mengomentari isi elegi tersebut. Ketika kita tidak mampu berpikir maka kita tidak mampu berfilsafat.

    ReplyDelete
  57. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Kajian filsafat itu begitu luas dan mendalam, serta obyek kajiannya itu menyangkut semua yang ada dan yang mungkin ada. Hal itu menyebabkan filsafat dekat dengan semua hal, termasuk sastra. Sastra bahasa merupakan salah satu alat bagi para filsuf untuk memungkapkan pikirannya. Sejatinya apa yang ada dipikiran para kita tidak dapat ditunjukkan persis seperti apa yang ada di pikirannya, namun dapat diungkapkan atau dianalogikan melalui sebuah sastra bahasa. Terimakasih

    ReplyDelete
  58. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Sebenar-benar manusia itu tidak akan benar-benar memahami hakekat sesuatu, termasuk filsafat. Karena manusia itu bersifat terbatas. Jika seseorang mengatakan ia telah memahami maka bisa jadi ia telah terjabak dalam mitos dan kesombongan. Maka yang dapat dilakukan manusia adalah berusaha dan terus mencoba untuk memahami. Maka upaya untuk memahami adalah dengan membaca, berpikir kritis, dan bertanya. Semoga kita senantiasa dilindungi dari mitos dan kesombongan. Amin.

    ReplyDelete
  59. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  60. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  61. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Jelas dalam hal ini filsafat lebih dipilih karena tidak hanya sebatas kata kata namun memiliki kedalam makna disetiap bahasnya itulah filsafat.

    ReplyDelete
  62. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Kajian filsafat dan sastra memiliki perbedaan. Filsafat mempelajari pemikiran para filsuf namun hal ini berbeda dengan sastra. Namun perbedaan kajian tersebut bukan berarti memisahkan keduanya. Karena sebenar-benar filsafat adalah bahasa sastra. Filsafat berusaha memudahkan hal yang susah. Maka untuk memahami keduanya lebih baik kita harus terus belajar agat tidak termakan oleh mitos. Dan dengan terus belajar, pola pikir kita akan berkembangkan. Dan disanalah filsafat, yaitu tentang pemikiranmu.

    ReplyDelete
  63. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Sejauh ini saya memandang gaya pembelajaran yang bapak Marsigit terapkan sebagai sebuah terobosan dalam proses transfer ilmu dari dosen ke mahasiswa. Memahami filsafat dengan gaya sastra melalui elegi-elegi yang didalamnya dimunculkan berbagai tokoh dengan karakter dan sifat yang akan mendekatkan kita pada sebuah pemahaman yang interprtasinya akan sangat beragam, semuanya bergantung pada refleksi masing-masing kita. Sebagaimana membaca sebuah novel, penulis bisa saja menuliskan “Ani sedang berada di sebuah pulau yang indah.” Interpretasi dari kalimat pulau yang indah bagi pembaca sangat beragam bergantung pada imaji masing-masing.

    ReplyDelete
  64. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Seperti yang kita tahu bahwa filsafat ialah memikirkan hal sedalam mungkin, bahkan yang tidak pernah dipikirkan oleh orang pada umumnya sekalipun dan objeknya adalah yang ada dan mungkin ada. Untuk mengungkapkan hasil olah fikir tersebut tentu kita membutuhkan bahasa (sastra) agar apa yang difikirkan dapat disampaikan dan diketahui oleh orang lain. Dengan demikian, filsafat dan sastra(bahasa) tidak dapat dipisahkan. Filsafat memerlukan sastra untuk mengungkapkan hasil olah fikir dan sastra membutuhkan filsafat untuk menghasilkan olah fikir yang nanti akan menjadi sebuah karya.

    ReplyDelete
  65. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Filsafat dan sastra merupakan dua hal yang berbeda namun tetap berkaitan. Keduanya berada dalam ruang lingkup dunia manusia meskipun objek-objek kajiannya mungkin berbeda. Filsafat merupakan olah pikir, begitu pula sastra yang merupakan hasil dari pemikiran. Kita dapat berfilsafat dalam sastra seperti beberapa contoh artikel yang bapak muat dalam blog ini. Kita dapat menyampaikan filsafat melalui sastra atau kita dapat bersastra dalam berfilsafat karena keduanya dapat saling berhubungan.

    ReplyDelete
  66. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Sesungguhnya artikel ini menjelaskan tentang apa itu filsafat dan bagaimana kita memperlajari tentang filsafat. Saya sendiri sejujurnya baru sebatas memahmai dari kata-kata dan belum benar paham. Obyek filsafat adalah semua yang ada dan mungkin ada yang dikaji secara meluas dan mendalam oleh karena itu semua yang ada dan yang mungkin ada bisa ditambahi predikat filsafat di depannya. Namun yang membuat saya bingun adalah jika saya paham maka saya telah terjebak mitos, namun apakah pemahaman itu sebenarnya bisa dicapai, lalu sampai dimana kita akan terus mencoba memahami dan belajar, yang dapat saya simpulkan dari semua pertanyaan saya adalah bahwa belajar harusnya menjadi kegiatan sepanjang hayat maka belajar tiada hentinya dan dengan belajar kita akan memperoleh oengetahuan baru dan juga pertanyaan baru

    ReplyDelete
  67. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Menanggapi hal ini, filsafat dan sastra bisa dianggap sebagai sebagai suatu kesatuan yang bersatu maupun kesatuan yang terpisah, hal ini ditinjau dari sudut pandang mana yang digunakan. Kita kenal istilah filsafat sastra yakni filsafatnya sastra atau definisi sastra dari segi filsafat, sedangkan dalam berfilsafat kita memerlukan bahasa sebagai lantaran, sedangkan bahasa dan sastra ialah dua hal yang terintegrasi, sehingga sudut pandang mana yang kita gunakan harus dijelaskan terlebih dahulu sebelum kita menjudge sesuatu. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  68. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Terimakasih prof, semakin tercerahkan, bahwa filsafat memang bersifat intensif dan ektensif. Menjangkau seluruh disiplin ilmu, bahkan sastra ataupun bahasa. Melebihi itu memang fisafat bersifat ontologis, epistomologis, filsafat bisa didepan sastra sebagai kajian. Bahasa sastra jugamerupakan kajian filsafat.

    ReplyDelete
  69. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Saya pernah membaca elegi Prof. Marsigit. Suatu kaum tak akan berkembang jika bahasa mereka tidak berkembang. Dari situ saya maknai bahwa peran bahasa sangatlah penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Lalu apa hubungannya dengan sastra? Sastra merupakan bagian dari bahasa. Prof. Marsigit melalui elegi nya menawarkan metode baru agar mahasiswa lebih mudah memahami filsafat, bahkan beliau selalu menugaskan mahasiswa nya untuk memberi komentar pada elegi yang beliau tulis, tidak lain agar mahasiswa belajar akan filsafat. Jika dilihat secara bahasa maka elegi Prof. termasuk kedalam kategori sastra karena didalamnya terdapat instruksi, pedoman, dan bahasa. Tapi lebih mendalam dalam elegi tersebut tersurat dan tersirat akan makna filsafat.

    ReplyDelete
  70. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Elegi-elegi ini ditulis dengan bahasa analog sehingga memang membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk memahaminya. Menurut pendapat saya penyampaian filsafat dengan menggunakan elegi malah lebih menarik dari pada menjelaskan teori-teori filsafat menurut para filsuf secara gamblang. Elegi memang cukup sulit dipahami namun isinya mencakup teori filsafat, sejarah filsafat, maupun berfilsafat secara langsung,sehingga tanpa kita sadari, kita telah berfilsafat dan mengethaui teori-teori filsafat. Menurut saya elegi lebih efektif daripada pengajaran biasa dengan banyaknya teori yang ada

    ReplyDelete
  71. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Di awal-awal membaca elegi saya juga merasa bahwa elegi itu seperti cerita atau cerpen dalam bentuk dialog, sehingga saya juga merasa bahwa elegi itu lebuh seperti sastra daripada filsafat. Namun seperti yang telah diungkapkan pada portingan-postingan lainnya bahwa filsafat itu iala bahasamu, sedangkan sastra juga bahasa seseorang untuk mengungkapkan keindahan kata-katanya.

    Menurut saya filsafat di dalam elegi atau artikel blog Pak Marsigit ini sengaja dibungkus dengan sastra agar siapapun yang membaca tidak merasa kontennya terlau tinggi. Hal tersebut agar filsafat yang disampaikan lebih muda untuk dipahami. Namun sesungguhnya paham yang dimaksud di sini belum sepenuhnya paham. Justru berbahaya apabila kita merasa telah benar-benar paham dengan filsafat. Karena akan mengakibatkan kita enggan membaca filsafat lagi. Maka dari itu fungsinya bungkus atau wadah sasrta dalam setiap elegi dalam blog ini iala sebagai hiburan agar kita tida bosan membacanya.

    ReplyDelete
  72. Latifah Fitriasari
    PM C

    Filsafat dan sastra adalah salah satu mata rantai dalam lingkaran pendidikan bahasa dan sastra. Akan tetapi banyak hal yang belum dapat dipahami dengan baik oleh mahasiswa atau pemerhati bahasa dan sastra dalam ranah-ranah tersebut. Hubungan sastra dan filsafat laksana dua sisi mata uang; permukaan yang satu tidak dapat dipisahkan dari permukaan yang lainnya; bersifat komplementer, saling melengkapi. Hal semacam ini muncul karena beberapa sebab, tentu saja. Pertama, karena gagal melihat hubungan antara sastra dengan filsafat. Kedua, karena dalam benak penanya masih terdapat pengotak-kotakan ilmu, seolah satu ilmu dengan ilmu lain tidak ada hubungan apapun.

    ReplyDelete
  73. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam mempelajari filsafat sama dengan memperlajari objek yang ada dan yang mungkin ada. Sehingga jika kita mempelajari filsafat maka sama hal nya kita memperlajari objek apapun yang melingkupi ada dan yang mungkin ada. Termasuk dengan sastra, objek sastra pun juga termasuk kedalam objek dan yang mungkin ada. Sehingga sastra tidak luput dipelajari dalam filsafat.

    ReplyDelete
  74. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Objek dari filsafat adalah yang ada dan mungkin ada dan kajian dari filsafat itu sendiri mulai material, formal, normatif hingga spiritual. Sehingga bahasa atau sastra yang ada di ranah formal pun menjadi bagian dari kajian filsafat. Bahkan dalam penjelasan Bapak pada materi narasi besar dunia, filsafat saat ini adalah filsafat bahasa Sebenar-benarnya hidupku adalah bahasa, dan diriku adalah bahasa itu sendiri, karena segala objek filsafat dapat dijelaskan melalui bahasa, dan dengan bahasa pun sifat plural, sifat kontradiksi dari objek filsafat di dunia nyata pun mampu disebutkan. Sekian dan terima kasih
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  75. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Objek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada, hal ini menyatakan bahwa filsafat begitu luas. Filsafat adalah pikiran para filsuf, memahami filsafat sama dengan memahami pikiran para filsuf, dan pikiran-pikiran itu tertuang ke dalam suatu tulisan dan tulisan itu memiliki bahasa. Bahasa erat kaitannya dengan sastra. Agar kita mampu menggapai batas pikiran kita, maka dapat kita gunakan metode hermenitika yaitu menterjemahkan dan diterjemahkan

    ReplyDelete
  76. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Sastra dan filsafat adalah dua hal yang merupakan refleksi seseorang atas keberadaan manusia. Menurut referensi lain yang saya baca, bedanya jika sastra merupakan refleksi evaluatif, maka filsafat merupakan refleksi kritis. Apa yang diungkapkan filsafat adalah catatan kritis yang diawali dan diakhiri dengan pertanyaan radikal yang menyangkut hakikat.

    ReplyDelete
  77. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Dari elegi ini, maka jelas bahwa antara filsafat dan sastra ada hubungannya. Di dalam filsafat terdapat sastra. Karena dalam menjelaskan segala objek pikir yang ada dan yang mungkin ada dibutuhkan bahasa. Dengan gaya bahasa yang berbeda-beda dan digunakan oleh orang yang berbeda-beda akan menghasilkan penafsiran yang berbeda-beda pula. Maka hidup adalah hermeneutika, yaitu terjemah dan menerjemahkan guna memperoleh penafsiran dan penerangan tadi.

    ReplyDelete
  78. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Salut untuk Prof dalam merefleksikan pemikirannya yang tertuang dalam tulisan-tulisan filsafat ini dimana segala macam ilmu berkumpul menjadi satu untuk menyiratkan dan menyuratkan suatu makna melalui pendekatan berbagai macam bahasa hermeneutika, penganalogian, identitas dan kontradiksi serta masih banyak lagi. Mudah-mudahan dikemudian hari akan ada mahasiswa yang dapat mengikuti dan meneruskan jejak kefilsafatan Bapak.

    ReplyDelete
  79. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Untuk dapat memahami objek filsafat, maka kita dapat melakukan suatu reduksi pandangan, misalnya untuk memandang seorang guru, kita tidak perlu melihatnya ia seorang laki-laki atau perempuan. Namun kita melihatnya sebagai seorang pendidik dan bagaimana cara ia mengajarkan dengan metode yang bervariasi.

    ReplyDelete
  80. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Baik filsafat maupun sastra semuanya memiliki peranan yang sanagat penting dalam kehidupan. Bahkan keduanya juga saling memiliki keterkaitan satu sama lain. Filsafat mencakup semua yang ada dan yang mungkin ada. Filsafat merupakan bahasa atau sastra dan bahasa juga merupakan obyek dari filsafat. namun yang terpenting, jangan sampai kita salah dalam memperlakukan keduanya. Salah menempatkan pada ruang dan waktunya, sehingga hanya mitos yang akan terjadi.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  81. Eka Luthfiana Lathhifah
    17709251062
    PPs PMat C

    hidup adalah bahasa. filsafat adalah pikiran, filsafat adalah bahasa. filsafat dan sastra itu mirip, smama namun beda, sama-sama diutarakan dengan bahasa, dalam memahaminya pun sulit, kita harus mampu menembus ruang dan waktu bahasa yang digunakan.

    ReplyDelete
  82. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Apa itu filsafat dan apa itu sastra, tetapi ternyata menurut elegi ini filsafat dan satra adalah pikiran kita, filsafat adalah bahasa kita, filsafat dan sastra adalah diri kita. untuk dapat memahaminya maka kita harus dapat memahami diri kita. Simple Logic.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  83. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. filsafat memiliki tiga pilar utama yaitu ontologi, epistimologi dan aksiologi. Dalam aksiologi dibahas nilai-nilai estetika filsafat, yang termasuk didalamnya terdapat nilai estetika dalam sastra. Menurut saya Prof. Marsigit menggunkan media sastra untuk membuat kita, mahasiswa beliau, lebih mudah memahami filsafat.

    ReplyDelete
  84. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Filsafat atau sastra? Pertanyaan tersebut membuat saya bingung dan ingin bertanya “apakah filsafat dan sastra berbeda?” karena seingatku (ingatanku ini bias salah sehingga perlu dikonfirmasi) filsafat dan sastra adalah suatu kesatuan. Filsafat adalah pondasi dari sastra, sehingga tidak mungkin kita bersastra tanpa berfilsafat, karena rasa (sastrawi) tidak mungkin eksis tanpa pengetahuan filsafat yang radix. Pertanyaan selanjutnya, “kenapa muncul pertanyaan yang mengarahkan kita untuk memilih di antara ke duanya?”

    ReplyDelete
  85. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Filsafat itu artinya menjelaskan. Jadi terkadang untuk berfilsafat atau menjelaskan akan lebih dalam (intensif) dan lebih luas (ekstensif) jika digunakan bahasa-bahasa analog atau orang biasa menyebutnya bahasa sastra. Memahami bahasa analog berarti mencari makna disebalik (implisit) dari apa yang tertulis. Bahasa analog yang digunakan untuk menjelaskan dalam filsafat terkadang bersifat multiinterpretatif, yang terkadang membuat orang awam menjadi bingung.

    ReplyDelete
  86. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari tulisan di atas mengenai filsafat atau sastra. Keduanya nenurut saya, filsafat dan sastra, keduanya dapat berjalan secara bersamaan. Filsafat adalah hasil dari pemikiran atau perenungan manusia, sedangkan sastra dapat difungsikan sebagai sarana untuk mengkomunikasikan filsafat. Jadi, filsafat dapat disajikan dengan sastra, sedangkan sastra belum tentu mengandung suatu pemikiran atau perenungan yang mendalam. Sehingga keberadaan keduannya akan sangat apik jika bersama-sama. Sehingga kita mengetahui yang namanya bahasa analog yang ada dalam filsafat dan sastra yang indah jika dipadu padankan.

    ReplyDelete
  87. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Filsafat dan sastra keduanya saling berhubungan. Filsafat memikirkan sesuatu secara mendalam sedangkan sastra adalah cara untuk menuangkan hasil dari pemikirn secara filsafat. Obyek dari filsafat adalah sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Antara filsafat dan juga sastra akan menjadi baik jika saling dipadukan

    ReplyDelete
  88. Woro Alma Manfaati
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241002

    Filsafat sangatlah berbeda dengan sastra namun saling berkaitan. Filsafat mempelajari mengenai pemikiran para filsuf, haltersebut berbeda dengan sastra. Namun, sebenarnya filsafat adalah bahasa sastra dan merupakan olah pikir. Seperti artikel yang Prof muat, kita dapat berfilsafat melalui sastra atau bersastra dalm filsafat.

    ReplyDelete
  89. Alman Kresna Aji
    15301241022
    S1 Pendidikan Matematika 2015
    Sastra maupun filsafat adalah dua hal yang berbeda akan tetapi bisa menyatukan. Maksudnya, walaupun mereka berbeda, mereka saling melengkapi untuk memberikan suatu informasi kepada manusia. Pad dasarnya, filsafat merupakan suatu ilmu dari pola pikir para filsuf dimana ilmu tersebut di transfer ke semua penjuru dengan menggunakan bahasa atau sastra. Jelas, ada perbedaan diantara mereka, akan tetapi dari perbedaan tersebut bisa memunculkan suatu kesatuan yang memberikan suatu manfaat jika diantara keduanya saling bisa berintegrasi secara bersama-sama.

    ReplyDelete
  90. Rina Musannadah
    15301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Pada dasarnya filsafat dan sastra merupakan hal yang berbeda. Objek filsafat merupakan segala hal yang ada dan yang mungkin ada. Maka sastra termasuk di dalamnya.
    Selain itu, filsafat merupakan apa yang kita pikirkan. Ketika kita memikirkan filsafat sebagai sastra, maka jadilah filsafat itu sastra.

    ReplyDelete
  91. Dini Arrum Putri
    18709251003
    S2 P Math A 2018

    Dari tulisan di atas, saya jadi lebih ingin tahu, apa perbedaan antara elegi dan filsafat? Apakah keduanya saling berkaitan atau jusrtu berbeda namun memiliki jargonnya masing-masing? Selain itu. Filsafat dan sastra juga merupakan bahasa yabg sama-sama dimengerti di samping saya bukan orang bahasa. Namun saya harap jika saya mengenal filsafat lebih dalam, kebingungan saya akan terjawab. Terimakasih pak tulisannya.

    ReplyDelete