Sep 20, 2013

Elegi Seorang Guru Menggapai Kesempatan




Oleh: Marsigit
Guru menggapai kesempatan berada di persimpangan jalan:

Di persimpangan jalan inilah aku mempunyai kesempatan, tetapi ketika datang kesempatan itu ternyata dia bersifat jamak. Ada kesempataku berbelok ke kiri, ke kanan, serong kiri, serong kanan, berbalik tetapi juga bisa terus jalan lurus. Anehnya, ada pula kesempatanku untuk ragu-ragu bahkan diam doing nothing. Maka satu-satunya kepastian adalah bahwa aku mempunyai kesempatan memilih. Itulah harga yang selama ini aku cari dan aku perjuangkan. Tetapi ingin aku katakan bahwa tidak memilih pun merupakan kesempatanku. Aku sangat gembira dengan kesempatan ini. Tetapi di tengah euporia ku maka aku mulai bertanya apakah sebenar-benar kesempatan itu? Untuk itulah maka aku ingin bertanya. Tetapi bertanya kepada siapakah aku ini?

Orang tua berambut putih datang menghampirinya:
Muridku, kau telah memanggilku. Ada apakah gerangan?

Guru menggapai kesempatan:
Aku belum bertanya kenapa kau sudah datang?

Orang tua berambut putih:
Bukankah kalimatmu terakhir adalah suatu pertanyaan. Dan sesuai janjiku, dikarenakan sifat hakikiku, bahwa aku akan selalu datang pada setiap pertanyaan dari manapun, oleh siapapun dan tentang apapun.

Guru menggapai kesempatan:
Oh iya, terimakasih atas peringatanmu. Guru, dapatkah kau menjelaskan kepadaku apa sebenar-benar kesempatan itu?

Orang tua berambut putih:
Kesempatan adalah kemerdekaan. Kesempatan adalah potensi sekaligus fakta. Maka sebenar-benar hidup adalah kesempatan. Jikalau seseorang sudah tidak mempunyai kesempatan maka tiadalah dia dapat dikatakan sebagai hidup. Maka jikalau kamu menginginkan tetap hidup maka gapailah kesempatan itu.

Guru menggapai kesempatan:
Lalu apa relevansinya kesempatan itu dengan tugasku sebagai guru

Orang tua berambut putih:
Hidupmu adalah karena hidupnya orang lain. Jika tiadalah orang lain hidup disekitarmu, maka siapakah yang akan mengatakan bahwa dirimu hidup. Oleh karena itu maka wajib hukumnya bahwa engkau sebagai guru harus selalu menghidup-hidupkan murid-muridmu. Murid-muridmu yang hidup itulah yang akan menyanyikan bahwa dirimu juga hidup. Maka sebenar-benar hidup adalah hidup dan saling menghidupkan.

Guru menggapai kesempatan:
Hebat nian kau guru. Aku bertanya tentang kesempatan mengapa engkau sampai pada penjelasan tentang hidup?

Orang tua berambut putih:
Jika engkau telah benar-benar hidup dan telah benar-benar hidup dan menghidupkan, maka tiadalah sesuatu di dunia ini yang tidak kait berkait. Maka kesempatan itu sebenarnya adalah hidup dan hidup itu adalah kesempatan. Semua yang ada di dunia itu kait berkait, dan itu adalah karena pikiranmu yang hidup. Maka jikalau engkau ingin melihat dunia, maka tengoklah ke dalam pikiranmu, karena dunia itu persis seperti apa yang engkau pikirkan.

Guru menggapai kesempatan:
Hebat nian kau guru. Aku bertanya tentang kesempatan mengapa engkau sampai pada penjelasan tentang dunia dan pikiran.

Orang tua berambut putih:
Baiklah aku kembali akan menjelaskan tentang kesempatan. Kesempatan itu adalah keadaan. Kesempatan itu adalah sifat. Kesempatan adalah keadaan di mana suatu sifat tidak tertutup oleh sifat yang lain. Jika suatu sifat menutup sifat yang lain, maka sifat yang menutup dikatakan “menentukan” dan sifat yang tertutup dikatakan “ditentukan”.

Guru menggapai kesempatan:
Lalu apa relevansinya sifat menentukan dan sifat ditentukan dengan tugasku sebagai guru.

Orang tua berambut putih:
Menentukan dan ditentukan itu adalah hubungan kuasa yang satu dengan tidak kuasa yang lain. Bukankah sudah pernah aku katakan bahwa guru itu kuasa terhadap muridnya, di sadari atau tidak disadari, disengaja atau tidak disengaja. Maka guru itu adalah kuasa untuk menutup sifat murid-muridnya. Sedangkan murid-muridnya tidak kuasa untuk menghindar dari sifat menutup gurunya. Maka sebenar-benar orang yang paling berbahaya di dunia ini adalah mereka yang sangat menikmati kegiatannya menutipi sifat-sifat yang lainnya. Maka engkau adalah guru yang sangat berbahaya bagi murid-muridmu jika engkau sangat menikmati kegiatanmu menutupi sifat murid-muridmu. Maka sebenar-benarnya tidak hidup adalah jika sifat-sifatnya tertutup oleh sifat yang lain.

Guru menggapai kesempatan:
Mohon guru, mohon guru, yang ini diteruskan lebih detail karena menurut saya sangat penting.

Orang tua berambut putih:
Guru yang baik adalah guru yang mampu hidup dan menghidup-hidupkan murid-muridnya. Maka janganlah sekali-kali keberadaanmu dan kegiatanmu sebagai guru menutup sifat-sifat murid-muridmu. Karena sifat yang tertutup itulah sebenar-benar tiada kesempatan.

Guru menggapai kesempatan:
Baik guru, di sini saya mulai antusias karena saya merasa sangat cocok dengan persoalan saya sebagai guru. Kemudian saya ingin bertanya lagi, bilamana dan bagaimana saya dikatakan menutup sifat murid-muridku.

Orang tua berambut putih:
Pertanyaan yang hebat. Itu adalah pertanyaan dari seorang yang cerdas. Ciri-ciri guru menutup sifat-sifat murid-muridnya adalah jika dia secara sepihak mendiskripsikan ciri-cirinya. Jika kau katakan muridmu sebagai malas, padahal dia belum tentu malas, maka yang demikian itu engkau telah menutupi sifatnya. Jika engkau katakan bahwa muridmu bodoh, padahal belum tentu dia bodoh, maka yang demikian itu telah menutupi sifatnya. Ketika kamu bicara sementara muridmu mendengar, maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika kamu bekerja sementara muridmu melihat, maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika kamu bertanya sementara muridmu berusaha menjawab maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika kamu berinisiatif sementara muridmu menunggu, itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika kamu menyuruh sementara muridmu melaksanakannya maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika kamu menilai prestasi siswamu maka itu adalah kejadian lain dari kegiatanmu menutupi sifat-sifatnya. Maka adalah sungguh berdosalah bagi orang-orang yang gemar menutupi sifat orang lain, karena yang demikian dampaknya begitu besar bagi murid-muridnya. Bahkan aku bisa katakan bahwa menutupi sifat itu tidak lain tidak bukan adalah pembunuhan secara perlahan-lahan.

Guru menggapai kesempatan:
Sebentar guru, jikalau sebaliknya, maksudku justeru yang melakukan atau yang menutui sifat itu siwa, yaitu siswa menutupi sifat gurunya, bukankah itu sama dosanya.

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar hakekat kesempatan, hakekat sifat dan hakekat kuasa. Sifat-sifat dari orang berkuasa adalah lain pula sifatnya dengan sifat-sifat orang yang tidak atau kurang berkuasa. Jikalau muridmu bicara dan kamu mendengarkan, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu bertanya dan engkau menjawab, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu berinisiatif dan engkau menunggu, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu melakukan kegiatan sementara engkau menontonnya, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Demikian seterusnya. Jadi sifat memberi kesempatan dan sifat menutup sifat, adalah berbeda-beda sifatnya sesuai domisilinya, apakah dalam orang yang berkuasa atau dalam orang yang dikuasai.

Guru menggapai kesempatan:
Kenapa engkau sebut aku sebagai guru menggapai kesempatan. Padahal sesuai dengan uraiannya mestinya aku lebih tepat kalau kau sebut sebagai guru memberi kesempatan.

Orang tua berambut putih:
Itulah ujianku terhadap dirimu. Kalau itu adalah engkau sendiri yang mengatakan maka baiklah untuk dirimu. Tetapi jikalau aku yang mengatakan maka tidak baiklah untuk dirimu. Mengapa? Karena dengan demikian aku telah menutupi sifatmu.

Guru menggapai kesempatan:
Ah guru, mohon maaf, bukankah guru telah berbuat kontradiktif, ambivalensi atau bertentangan di dalam guru sendiri. Di dalam Agama itu disebut sebagai munafik. Bagaimana menurutmu?

Orang tua berambut putih:
Benar ucapanmu. Sampai di sini aku merasa terharu walau mungkin kamu tidak demikian. mengapa karena engkau semakin pandai saja. Sampai di sinilah aku akan katakan sesuatu yang tidak bisa aku katakan sebelumnya.

Guru menggapai kesempatan:
Apa itu guru? Tolong jelaskan. Au menjadi penasaran dibuatnya.

Orang tua berambut putih:
Benar ucapanmu. Ketika aku berbicara panjang lebar kepadamu, maka aku sedang dalam proses menutipi sifat-sifatmu. Padahal aku sedang berbicara memberi kesempatan. Jadi aku tidak bisa memberi kesempatan tanpa menutupi sifat-sifatmu. Maka aku tidak bisa terhindar dari pertentangan dalam diriku. Jikalau engkau sensitif dan peka maka dapat aku katakan “pertentangan” itulah sebenar-benar hakekat diriku.

Guru menggapai kesempatan:
Oh guru mengapa demikian. Mengapa aku capai-capai mengikutimu ternyata engkau hanyalah sebuah kontradiksi. Oh Tuhan ampunilah aku, ya Tuhan. Guru macam apalah engkau ini. Kenapa engkau mengajariku banyak hal padahal engkau sendiri adalah kontradiksi. Aku sudah tidak bisa lagi menangis. Air mataku sudah kering. Lalu aku harus bagaimana?

Orang tua berambut putih:
Tenang dan sabarlah. Karena ciri-ciri orang cerdas adalah jika dia bisa mengendalikan secara proporsional perasaannya.

Guru menggapai kesempatan:
Saya harus sabar bagaiman guru? Bukankah selama ini kau telah menipuku. Menipuku secara besar-besaran. Maka tiadalah ampun bagimu, wahai guruku.

Orang tua berambut putih:
Padahal apa yang akan aku katakan justeru lebih berat dari itu. Sudah saya katakan berkali-kali bahwa diriku tidak lain tidak bukan adalah pengetahuanmu. Telah terbukti bahwa diriku tidak bisa terhindar dari pertentangan, maka dapat aku katakan bahwa bahwa sebenar-benar ilmumu itu adalah pertentangan atau kontradiksi. Tiadalah suatu ilmu tanpa kontradiksi, karena jika tidak ada kontradiksi maka itu berarti berlaku hukum identitas. tetapi dengan hukum identitas kita tidak akan mendapat ilmu apa-apa. Karena A adalah A itulah hukum identitas. “Aku” adalah “Aku” itu juga hukum identitas. Ketahuilah bahwa kalimat “Saya adalah guru” itu sebenar-benar kontradiktif dalam filsafat. Mengapa? Itu adalah kontradiktif dan tetap kontradiktif sampai engkau dapat membuktikan bahwa “Saya” itu identik atau persis saama dengan “guru”. Padahal kita tahu bahwa “saya” tidaklah sama dengan “guru”. “saya” mempunyai sifat-sifat yang berlainan dengan “guru”. Demikian pula bahwa “2+3=5” adalah juga kontradiktif secara filsafati mengapa, karena sebenar-benar bahwa “2+3” belumlah sama dengan “5” sebelum engkau mampu membuktikannya.

Guru menggapai kesempatan:
Wahai guru, aku belum bisa menerima penjelasanmu itu. Karena guruku yang lain mengatakan “Jagalah hatimu dan jangan sampai ada pertentangan di situ. Jika terdapat satu saja pertentangan di hatimu, maka itu pertanda syaitan duduk di situ”. Kalau begitu apakah engkau sedang mengajarkan ilmunya syaitan kepadaku guru?

Orang tua berambut putih:
Benar pertanyaanmu dan benar pula ucapan gurumu yang lain itu. Sedari awal yang aku bicarakan adalah tentang dirimu dan diriku. Berkali-kali aku katakan bahwa diriku adalah ilmumu. Ilmumu adalah pikiranmu. Jadi sebenar-benar aku adalah pikiranmu. Jadi konradiksiku adalah kontradiksi dalam pikiranmu. Barang siapa ingin memperoleh ilmu dalam pikirannya, maka bersiaplah dia menemukan kontradiksi-kontradiksi itu.

Guru menggapai kesempatan:
Terus bagaimana dengan hatiku ini guru?

Orang tua barambut putih:
Hatimu adalah jiwamu. Hatimu adalah hidupmu. Hidupmu tidak lain tidak bukan adalah hatimu. Maka barang siapa baik hatinya maka baik pula hidupnya. Dan barang siapa buruk hatinya maka buruk pula hidupnya. Sebenar-benar hatimu itu adalah satu, yaitu rakhmat Nya. Maka hatimu tidak lain tidak bukan adalah ibadahmu. Sebenar-benar hatimu adalah doa-mu. Jadi tiadalah pertentangan dan keragua-raguan di sana. Barang siapa membiarkan adanya pertentangan dan keragu-raguan di hati maka syaitan lah yang akan menghuni hatinya. Maka dengan tegas aku katakan jagalah hatimu jangan sampai ada pertentangan ataupun kontradiksi.

Guru menggapai kesempatan:
Hah.. itulah sebenar-benar ilmuku guru. Oh Tuhan ampunilah segala dosaku. Aku telah berbuat durhaka kepada guruku. Kenapa guruku yang begitu hebat telah aku sumpah serapah. Manusia macam apakah aku ini ya Tuhan. Kiranya engkau cabut nyawaku sebagai tebusannya, maka ikhlaslah aku. Wahai guruku, sudilah engkau memaafkan diriku, dan sudilah aku masih tetap bersamamu.

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar ilmu. Itulah sebenar-benar rakhmat. Yaitu jikalau engkau menyadari kelemahanmu dan selalu mohon ampun ke hadlirat Nya. Maka sebenar-benar Filsafat itu adalah refleksi. Refleksi itu artinya melihat diri sendiri. Belumlah engkau dikatakan belajar filsafat jika engkau belum mampu melihat dirimu sendiri. Padahal syarat untuk mampu melihat diri adalah tidak sombong dalam dirimu.  Tidak sombong artinya ikhlas dalam hatimu dan jernih dalam pikirmu. Ikhlas dalam hatimu adalah mensyukuri setiap hal sebagai Rakhmat Nya. Jernih dalam pikirmu adalah terbebas dari prejudice, buruk sangka, atau negatif thinking. Maka untuk menggapai kesempatan, belajar dan selalu belajarlah, membaca dan selalu membacalah, bertanya dan selalu bertanyalah, berdoa dan selalu berdoalah. Ikutilah kuliah filsafat dan bacalah elegi-elegi tanpa prasyarat apapun. Inilah salahsatu kesempatan itu. Maka raihlah kesempatan itu. Tetapi janganlah salah paham karena sebenar-benar guru menggapai kesempatan adalah jika dia dapat selalu hidup dan menghidupkan murid-muridnya. Maka sebenar-benar guru menggapai kesempatan adalah jika murid-muridnya sebenar-benar menggapai kesempatan pula. Maka sebenar-benar hidup adalah memberi dan diberi kesempatan. Amien.

32 comments:

  1. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027
    Dari elegi ini saya dapat mengambil pelajaran bahwasanya untuk menggapai kesempatan kita harus menyadari keberadaannya dan mampu menerjemahkannya. Kesempatan tidak selamanya harus dicari, namun juga bisa diciptakan. Sebagai seorang guru atau dosen salah satu perannya adalah harus mampu memfasilitasi siswa untuk menggapai kesempatannya, yakni kesempatan untuk belajar, kesempatan untuk mengembangkan potensi dan bakatnya secara optimal, kesempatan untuk menjadi lebih baik dan bermanfaat, dsb. Dalam hal ini sudah barang tentu guru harus bersikap demokratis dan kreatif.

    ReplyDelete
  2. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Seorang guru memiliki kuasa akan siswa-siswanya. Maka itulah ujian bagi seorang guru. Dengan kuasa yang dimiliki guru ia dapat menutup sifat-sifat siswanya dengan hanya menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan, melakukan apa yang ingin ia lakukan. Tetapi seorang guru juga dapat memilih menggapai kesempatan dengan mendengarkan keinginan siswanya, memeberikan kesempatan kepada siswanya untuk membangun pengetahuan. Karena itulah seorang guru menggapai kesempatan adalah ketika seorang guru yang senantiasa belajar, membaca, bertanya, dan berdoa agar ia dapat memberikan kesempatan kepada siswanya untuk membangun pengetahuannya sendiri.

    ReplyDelete
  3. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017



    Hidup adalah kesempatan. Selagi kita hidup maka kita masih mempunyai kesempatan. Selain mempunyai kesempatan kita juga dapat memberikan kesempatan bagi mereka yang lain yang hidup. Dalam hal ini misalkan menjadi seorang guru. Guru yang baik adalah guru yang percaya pada siswanya sehingga sang guru memberikan kesempatan bagi siswanya untuk mengeksplorasi diri. Guru yang baik adalah guru yang memberikan kesempatan bagi siswanya untuk menghubungkan pengetahuan yang didapatkannya dengan prior knowledgenya. Selain itu guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri. Jadi guru tidak otoriter dengan mengharuskan siswa agar mempunyai pola pikir yang sama dengan guru. Penyeragaman pola pikir dalam belajar membuat kreativitas siswa terkungkung. Maka sangat penting bagi guru untuk menghidupkan siswanya dengan memberikan kesempatan. Terimakasih.

    ReplyDelete
  4. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    guru adalah aktor dalam pembelajaran. Gurulah yang menentukan bagaimana jalannya proses pembelajaran. Sebagaimana seyogyanya manusia yang tidak pernah luput dari kesalahan maka begitu pula guru. Oleh karena itu guru hendaklah melakukan evaluasi terhadap pembelajaraanya. Salah satu langkah guru dalam melaukan evaluasi dan meningkatkan kualitas pembelajarannya yiatu dengan melakukan PTK. Dengan penelitian yang ada, guru dapat semakin memahami karakter dan pola pikir siswanya sehingga guru dapat merancangkan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswanya untuk mengkonstruksi pengetahuan dan mengembangkan kreativitasnya.

    ReplyDelete
  5. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Saya tertarik pada bagian di mana orang tua berambut putih mengatakan bahwa jika engkau telah benar – benar hidup dan telah benar – benar hidup dan menghidupkan, maka tiadalah sesuatu di dunia yang tidak saling terkait. Saya setuju dengan itu. dunia adalah semacam hubungan sebab akibat di mana kausa primanya adalah Tuhan yang Maha kuasa. Lihatlah bagaimana hidup kita di masa lalu akan menentukan hidup kita dimasa kini. Dan juga hidup kita di hari ini akan bekaitan dengan kehidupan dimasa mendatang. Itu baru mengkaitkan waktu yang terjadi dalam hidup kita. Bagaimana bila kita mulai mengkaitkannya dengan orang lain. Tentu saja akan jalin sebuah benang merah besar yang saling terkait satu sama lain.

    ReplyDelete
  6. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Elegi guru menggapai kesempatan ini sontak mengingatkan saya pada sabda baginda Rasulullah SAW. terkait memanfatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Tersebutlah lima perkara sebelum lima perkara, yakni gunakanlah masa muda mu sebelum datang masa tuamu, gunakan masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, gunakan masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, gunakan masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan gunakan hidupmu sebelum kematianmu. Maka sesungguhnya kesempatan merupakan salah satu anugerah terindaah yang diberikan oleh Allah SWT. Sebenar-benarnya orang sukses adalah orang yang pandai dalam menggunakan kesempatannya.

    ReplyDelete
  7. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Kita dapat memanfaatkan kesempatan yang datang apabila kita sadar bahwa seseungguhnya kesempatan itu ada, tinggal bagaimana kita memilihnya. Kesempatan itu bisa datang dari mana saja dan kapan saja. Bahkan hidup itu merupakan kesempatan. Kita tinggal memilih kesempatan mana yang akan diambil. Berbagai kesempatan itu akan datang dan berhati-hatilah dalam memilihnya. Pikiran dan hati yang jernih dapat membantu kita dalam mengambil keputusan terhadap kesempatan-kesempatan yang hadir dalam hidup kita.

    ReplyDelete
  8. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Setiap yang bernafas atau bahkan setiap ciptaan memiliki kesempatannya sendiri-sendiri. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa kesempatan hanya sekali, sehingga kita tidak boleh mengabaikannya dan mempergunakannya dengan sebaik-baiknya. Namun bukankah sebenarnya kesempatan tidak datang hanya sekali namun mereka datang berkali-kali dengan muka yang berbeda? Dalam proses pembelajaran, alangkah bijaksananya seorang guru yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa,tidak hanya kesempatan bertanya, namun kesempatan berbicara, kesempatan mendengarkan,kesempatan memahami dan seterusnya. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  9. Siswa yang memiliki kesempatan yang luas akan semakin luas pula perkembangan mereka, namun hal tersebut tentu memiliki banyak faktor, diantaranya tidak hanya faktor guru mereka namun bergantung pada siswa itu sendiri apakah mereka memberikan kesempatan berkembang kepada diri mereka sendiri dengan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang dibuka oleh gurunya, sehingga sebenar-benar jalan untuk emnggapai tujuan pendidikan ialah dengan cara saling menyadari, memberikan dan menggunakan kesempatan yang ada di depannya atau di samping atau bahkan di belakang mereka dengan sebaik-beiknya. wallahu a'lam

    ReplyDelete
  10. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Ada ungkapan, kesempatan tidak datang dua kali. Ada benarnya juga, tetapi lebih banyak tidak benarnya. Kesempatan datang berkali-kali dan sangat banyak. Kesempatan menciptakan ruang dan waktu yang longgar. Nah tinggal kita mau memilih yang mana diantara kesempatan yang banyak tersebut ? menentukan pilihan pada kesempatan adalah juga menciptakan kesempatan tu sendiri.

    ReplyDelete
  11. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Sebagai seorang pendidik, atau guru kita dapat memanfaatkan kesemptan kita sebagai guru dengan memilih untuk mendidik siswa. Pendidikan dari seorang guru akan memberikan kesempaan kehidupan bagi siswa, begitu juga sebaliknya. Guru tanpa ada siswa maka tiadalah kesempatan untuk menjadi guru, hidup saja tidak. SIswa tanpa guru juga tidak punya kesempatan hidup, karena akan hilang arah dalam menentukan pilihan pada kesemptan yang ada.

    ReplyDelete
  12. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Selama jiwa masih melekat pada raga maka segala kesempatan akan datang kepada kita. Sejak kita membuka mata dipagi haripun banyak kesempatan sudah menghampiri kita, tinggal kita mau atau tidak mengambil kesempatan itu. Pepetah bahwa kesempatan hanya datang satu kali memang benar untuk suatu keadaan tertentu, karena mungkin itu hanya ada satu kali pada hidup kita. Namun kesempatan itu akan selalu datang walaupun dalam bentuk yang berbeda-beda. Ambil lah kesempatan yang sesuai dengan hati nurani kita seperti yang Prof. Marsigit sampaikan. Pikirkan apa yang kita lakukan dan lakukan apa yang kita pikirkan.

    ReplyDelete
  13. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    P mat A

    Menjadi seorang guru adalah sebuah kesempatan untuk mengambil peran dalam bidang pendidikan. Kesempatan langka ini layaknya dimanfaatkan sebaik mungkin untuk membangun pendidikan di Indonesia. Guru memiliki kuasa untuk mendidik siswanya untuk dibimbing dan diarahkan. Ibarat siswa adalah selembar kertas putih guru memiliki wewenang untuk mewarnai kertas tersebut. Caranya boleh dengan mewarnai langsung sesuka hati atau justru meminta siswa untuk mewarnainya sendiri. Meskipun sama-sama akan terwarnai tetapi hasil lukisan yang diperoleh tentu berbeda.

    ReplyDelete
  14. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    P Mat A

    2. Menyambung komentar sebelumnya, bahwa dengan meminta siswa untuk mewarnai kertasnya masing-masing seorang guru akan mendapatkan berbagai macam gambar atau hasil karya. Mengingat banyaknya kemungkinan gambar yang akan tercipta maka guru berperan untuk mengarahkan dan memberikan petunjuk gambar-gambar apa saja yang boleh dilukis, sehingga hasil yang diperoleh tidak menyimpang terlalu jauh. Dengan demikian dicapailah hasil karya yang sesuai dengan tema namun tetap beragam sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa.

    ReplyDelete
  15. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Seorang guru memiliki peranan penting dalam pelaksanaan pendidikan. Seorang guru memiliki kesempatan untuk menentukan hasil atau output seorang siswa dalam belajar. Ada kesempatan untuk mengabaikan siswanya. Ada kesempatan untuk memperhatikan siswanya. Ada kesempatan untuk mengekang siswanya. Ada pula kesempatan untuk memfasilitasi siswanya dalam membangun pengetahuan. Yang terpenting ialah bagaimana guru tersebut memilih kesempatan yang tepat dalam pelaksanaan pembelajaran. Karena pilihan ada di tangan guru itu sendiri dan kesempatannya sangat bebas untuk ingin memilih yang mana.

    Guru yang baik hendanya memilih kesempatan agar siswanya mampu berkembang dan membangun pengetahuannya sendiri dengan rasa senag tanpa adanya tekanan. Tentu saja hal ini membutuhkan strategi atau metode pembelajaran yang sesuai dengan materi dan karakteristik siswa tersebut. Lagi-lagi terdapat banyak sekali kesempatan memilih berbagai macam metode pembelajaran. Guru seharusnya mampu memilih metode yang terbaik diantara metode-metode yang ada untuk diterapkan pada kegiatan pembelajarannya.

    ReplyDelete
  16. Latifah Fitriasari
    PM C

    Pada kegiatan pembelajran, maka memberi kesempatan adalah diwujudkan dengan melakukan pembelajaran yang inovatif, maka siswa akan memperoleh kesempatan dari guru untuk menyampaikan pendapat atau ide-idenya. Sehingga guru yang benar adalah guru yang tidak merusak sifat-sifat dasar dari murid-muridnya. Maka dariitu sebenar-benar guru menggapai kesempatan adalah jika dia dapat selalu hidup dan menghidupkan murid-muridnya.Maka sebenar-benar guru menggapai kesempatan adalah jika murid-muridnya sebenar-benar menggapai kesempatan pula.

    ReplyDelete
  17. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Untuk menggapi kesempatan , kita perlu menyadari kelemahan dan kelebihan kita. Dengan mengetahui kelemahan dan kelebihan kita, maka kita mampu melihat kesempatan mana yang baik untuk kita. Tak lupa selalu memohon ampun kepada Allah unutk segala dosa dosa kita sehingga kita dimudahkan unutk menggapai kesempatan tersebut.

    ReplyDelete
  18. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Subhanallah, banyak ilmu yang kita dapatkan dari elegi ini. Setelah membaca elegi ini, kita menjadi merefleksikan diri kita sebegai guru, apakah selama ini kita sudah tidak belaku adil/dosa pada siswa-siswa kita, apakah selama pbm mtk kita selalu menutupi sifat-sifanya, sudahkah kita memberikan mereka kesempatan. Kesempatan menunjukkkan keberadaan dan bahwa manusia itu hidup. Seorang guru tidak boleh menjatuhi sifat pada siswanya bahwasanya dia itu bodoh, dan malas, karena itu berarti gurunya sedang tidak belaku adil padanya, sedang tidak memberikan kesempatan padanya. Bahkan dalam elegi ini juga seibutkan ketika guru menjelasakan sedangkan murid mendengarkan itu juga berarti guru sedang tidak memberikan kesempatan pada siswa. Dalam pbm mtk siswa haruslah diberi kesempatan, kesempatan untuk berkembang, membangun pengetahuannya, misalnya dengan memberikan kesempatan yang berbicara adalah siswanya sedangkan guru mendengarkan. Sekian dan Terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  19. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Setelah membaca elegi ini, saya dapat menyimpulkan bahwa setiap manusia pasti memiliki kesempatan. Dalam setiap kesempatan itu pasti ada sebuah pilihan. Kita diberi beberapa pilihan untuk kita pilih sebagai kelanjutan apa yang akan kita capai. Baik buruknya kesempatan yang kita dapat itu sesuai dengan pilihan yang kita pilih untuk dijalani. Oleh karena itu, kita harus pintar-pintar untuk menentukan pilihan agar kesempatan yang kita peroleh tidak akan sia-sia

    ReplyDelete
  20. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMAT C 2017

    Hidup adalah kesempatan. Hidup haruslah digunakan untuk menggapai kesempatan. Guru haruslah dapat hidup dan menghidupkan muridnya artinya guru harus mau memberikan kesempatan kepada muridnya. Guru tidak boleh untuk menutupi sifat-sifat yang dimiliki oleh murid dengan cara memberikan julukan atau kata-kata buruk kepada murid seperti kamu itu bodoh dan sebagainya. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan pada murid. Murid dibiarkan untuk mengungkapkan gagasan-gagasannya, murid diberi kan kesempatan untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Jika guru masih sebagai subyek dalam pembelajaran, itu tandanya guru masih belum memberikan kesempatan pada murid-muridnya. Murid hendaknya dijadikan subyek dalam pembelajaran.

    ReplyDelete
  21. Anisa Safitri
    17701251038
    PEPB

    Elegi guru memberikan kesempatan. Tersirat bahwa kata kesempatan tersebut berkonotasi positif. Kesempatan itu adalah semangat, kesempatan bertanya, menjawab, motivasi, materi pembelajaran, pola pikir visioner dan hal positif lainnya termasuk hikmah pengalaman seorang guru. Guru yang berhasil menggapai kesempatan adalah guru yang mampu mentransfer seluruh kesempatan tersebut kepada murid sehingga sang murid juga menerima kesempatan dan bisa menerapkan serta mengkonstruksikan hidup mereka di masa yang akan datang. Guru mengarahkan dan menggiring murid untuk belajar dan memanfaatkan kesempatan tersebut.Guru yang memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk mengemukakan pendapat atau memberikan kesempatan untuk bertanya dan lain sebagainya yang dimaksudkan untuk meningkatan pengetahuan dalam belajar adalah guru yang dapat menggapai kesempatan. kesempatan dapat menyebabkan perubahan menuju yang lebih baik, pemberian kesempatan merupakan halyang baik untuk mendorong siswa menggngkapn gagasannya. guru akan melruskan jika pendapat siswa belum tepat dan guru dapat menambahkan gagasan siswa yang kurang lengkap.

    ReplyDelete
  22. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Tugas guru tidak hanya menyampaikan informasi kepada peserta didik, tetapi harus menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar (facilitate of learning) kepada seluruh peserta didik, agar mereka dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan, gembira, penuh semangat, tidak cemas, dan berani mengemukakan pendapat secara terbuka.

    ReplyDelete
  23. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi seorang guru menggapai kesempatan menjelaskan tentang kesempatan yang dimiliki oleh seorang guru. Sebenar-benar guru menggapai kesempatan adalah jika ia dapat hidupp dan menghidupkan murid-muridnya. Sebenar-benar hidup adala memberi dan diberi kesempatan. Guru mengajar hendaknya selalu memberikan kesempatan kepada muridnya untuk belajar, untuk mengungkapkan pendapatnya, dan memberikan kesempatan untuk bermimpi

    ReplyDelete
  24. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Kesempatan merupakan salah satu anugerah terindah yang diberikan oleh Allah SWT. Orang yang sukses adalah orang yang pandai dalam menggunakan kesempatannya. Bahkan agama menyuruh kita untuk menggunakan kesempatan sebaik-baiknya, gunakanlah kesehatanmu sebelum sakitmu, gunakanlah kayamu untuk beramal sebelum datang miskinmu, gunakanlah masa mudamu untuk beramal sebanyak-banyaknya sebelum tuamu, gunakanlah waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu. Agama sudah menyatakan hal tersebut secara jelas dan gamblang.

    ReplyDelete
  25. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Tugas guru adalah memfasilitasi pembelajaran peserta didik bukan melabeli peserta didik dengan stigma bodoh, malas, pintar, rajin, dan sebagainya. Guru menggapai kesempatan adalah jika dia dapat selalu hidup dan menghidupkan murid-muridnya. Menghidupkan muridnya dengan ilmu, dengan pengetahuan, dengan membantu murid-muridnya menggapai kesempatan dan peluang hidup yang lebih baik.

    ReplyDelete
  26. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Berdasarkan elegi ini saya mengambil pelajaran bahwa guru sebaiknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dan membangun pengetahuannya. Bukan malah mendominasi dan menganggap siswa tidak mampu. Menerapkan pembelajaran student centered memerlukan kesadaran dan kesabaran dari guru. Memfasilitasi siswa memerlukan kemampuan khusus agar pembelajaran berjalan semestinya.

    ReplyDelete
  27. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Sesuai dengan tugas dalam mata kuliah Filsafat Ilmu ini, Prof. selalu menginginkan kita untuk membuat refleksi perkuliaha. Hal tersebut dimaksudkan untuk memaknai isi perkuliahan yang telah disampaikan kemudian dianalisis apa maknanya. Implikasikan dengan yang telah kita lakukan selama ini. Apakah kita masih angkuh dan sombong dengan apa yang telah kita miliki atau sudah ikhlas dalam hati dan jernih pikiran. Hanya kita sendiri yang dapat menjawabnya.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  28. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Melanjutkan komentar saya sebelumya, jika setelah kita melakukan refleksi atau penilaian terhadap diri sendiri maka menjadi lebih baiklah yang harus kita lakukan dan terus upayakan. Jika kita masih merasa angkuh dan sombong, segeralah menghapus sifat-sifat tersebut dan bertaubatlah. Jika kita merasa telah ikhlas dalam hati dan jernih pikiran, maka pertahankan dan terus perbaikilah. Komentar ini saya tujukan termasuk kepada saya sendiri juga agar tidak angkuh dan sombong dalam bersikap, bertindak, maupun berucap.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  29. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    setiap manusia pasti mempunyai kesempatan dalam beberapa hal yang berbeda. dalam kalimat "Guru yang baik adalah guru yang mampu hidup dan menghidup-hidupkan murid-muridnya. Maka janganlah sekali-kali keberadaanmu dan kegiatanmu sebagai guru menutup sifat-sifat murid-muridmu. Karena sifat yang tertutup itulah sebenar-benar tiada kesempatan" saya mengartikan bahwa sebagai guru hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplor pengetahuan mere, ide, mereka, pemikiran mereka, jangan hanya terpaku pada pengetahuan yang dimilikinya.

    ReplyDelete
  30. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa guru itu perlu diberi kesempatan dan memberi kesempatan. Guru perlu diberi kesempatan untuk belajar dan berkembang agar dapat melakukan inovasi dalam pembelajaran untuk membentu siswa. Guru perlu memberi kesempatan kepada siswa untuk mengutaran pendapat dan keinginannya dalam pembelajaran matematika di kelas.

    ReplyDelete
  31. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Saya adalah salah-satu orang yang tidak setuju dengan kalimat “kesempatan hanya dating satu kali”. Bagi saya, kalimat tersebut terlalu mereduksi dinamika kehidupan dan saya pikir Tuhan terlalu pelit jika hanya memberikan satu kesempatan kepada hambanya. Oleh karena itu, saya percaya bahwa Tuhan akan selalu memberikan kesempatan bagi hambanya yang selalu berdoa dan berusaha serta mempercayai bahwa Allah selalu memberikan ujian tidak melebihi batas kemampuan hambanya. Bukan hanya dalam profesi mengajar (guru), kesempatan akan selalu dating berkali-kali untuk mereka yang mengharap ridho dari yang maha kuasa. Aamiin!

    ReplyDelete
  32. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Guru sudah selayaknya memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya kepada siswa-siswanya. Kesempatan itu antara lain kesempatan untuk bertanya, kesempatan untuk membangun pengetahuannya sendiri, kesempatan untuk belajar secara berkelompok, dan sebagainya. Oleh karena itu, proses pembelajaran yang student centered sangat ditekankan saat ini. Guru tidak lagi mendominasi di kelas, melainkan memberikan banyak kesempatan bagi siswa untuk bereksplorasi.

    ReplyDelete