Sep 20, 2013

Elegi Seorang Guru Menggapai Kesempatan




Oleh: Marsigit
Guru menggapai kesempatan berada di persimpangan jalan:

Di persimpangan jalan inilah aku mempunyai kesempatan, tetapi ketika datang kesempatan itu ternyata dia bersifat jamak. Ada kesempataku berbelok ke kiri, ke kanan, serong kiri, serong kanan, berbalik tetapi juga bisa terus jalan lurus. Anehnya, ada pula kesempatanku untuk ragu-ragu bahkan diam doing nothing. Maka satu-satunya kepastian adalah bahwa aku mempunyai kesempatan memilih. Itulah harga yang selama ini aku cari dan aku perjuangkan. Tetapi ingin aku katakan bahwa tidak memilih pun merupakan kesempatanku. Aku sangat gembira dengan kesempatan ini. Tetapi di tengah euporia ku maka aku mulai bertanya apakah sebenar-benar kesempatan itu? Untuk itulah maka aku ingin bertanya. Tetapi bertanya kepada siapakah aku ini?

Orang tua berambut putih datang menghampirinya:
Muridku, kau telah memanggilku. Ada apakah gerangan?

Guru menggapai kesempatan:
Aku belum bertanya kenapa kau sudah datang?

Orang tua berambut putih:
Bukankah kalimatmu terakhir adalah suatu pertanyaan. Dan sesuai janjiku, dikarenakan sifat hakikiku, bahwa aku akan selalu datang pada setiap pertanyaan dari manapun, oleh siapapun dan tentang apapun.

Guru menggapai kesempatan:
Oh iya, terimakasih atas peringatanmu. Guru, dapatkah kau menjelaskan kepadaku apa sebenar-benar kesempatan itu?

Orang tua berambut putih:
Kesempatan adalah kemerdekaan. Kesempatan adalah potensi sekaligus fakta. Maka sebenar-benar hidup adalah kesempatan. Jikalau seseorang sudah tidak mempunyai kesempatan maka tiadalah dia dapat dikatakan sebagai hidup. Maka jikalau kamu menginginkan tetap hidup maka gapailah kesempatan itu.

Guru menggapai kesempatan:
Lalu apa relevansinya kesempatan itu dengan tugasku sebagai guru

Orang tua berambut putih:
Hidupmu adalah karena hidupnya orang lain. Jika tiadalah orang lain hidup disekitarmu, maka siapakah yang akan mengatakan bahwa dirimu hidup. Oleh karena itu maka wajib hukumnya bahwa engkau sebagai guru harus selalu menghidup-hidupkan murid-muridmu. Murid-muridmu yang hidup itulah yang akan menyanyikan bahwa dirimu juga hidup. Maka sebenar-benar hidup adalah hidup dan saling menghidupkan.

Guru menggapai kesempatan:
Hebat nian kau guru. Aku bertanya tentang kesempatan mengapa engkau sampai pada penjelasan tentang hidup?

Orang tua berambut putih:
Jika engkau telah benar-benar hidup dan telah benar-benar hidup dan menghidupkan, maka tiadalah sesuatu di dunia ini yang tidak kait berkait. Maka kesempatan itu sebenarnya adalah hidup dan hidup itu adalah kesempatan. Semua yang ada di dunia itu kait berkait, dan itu adalah karena pikiranmu yang hidup. Maka jikalau engkau ingin melihat dunia, maka tengoklah ke dalam pikiranmu, karena dunia itu persis seperti apa yang engkau pikirkan.

Guru menggapai kesempatan:
Hebat nian kau guru. Aku bertanya tentang kesempatan mengapa engkau sampai pada penjelasan tentang dunia dan pikiran.

Orang tua berambut putih:
Baiklah aku kembali akan menjelaskan tentang kesempatan. Kesempatan itu adalah keadaan. Kesempatan itu adalah sifat. Kesempatan adalah keadaan di mana suatu sifat tidak tertutup oleh sifat yang lain. Jika suatu sifat menutup sifat yang lain, maka sifat yang menutup dikatakan “menentukan” dan sifat yang tertutup dikatakan “ditentukan”.

Guru menggapai kesempatan:
Lalu apa relevansinya sifat menentukan dan sifat ditentukan dengan tugasku sebagai guru.

Orang tua berambut putih:
Menentukan dan ditentukan itu adalah hubungan kuasa yang satu dengan tidak kuasa yang lain. Bukankah sudah pernah aku katakan bahwa guru itu kuasa terhadap muridnya, di sadari atau tidak disadari, disengaja atau tidak disengaja. Maka guru itu adalah kuasa untuk menutup sifat murid-muridnya. Sedangkan murid-muridnya tidak kuasa untuk menghindar dari sifat menutup gurunya. Maka sebenar-benar orang yang paling berbahaya di dunia ini adalah mereka yang sangat menikmati kegiatannya menutipi sifat-sifat yang lainnya. Maka engkau adalah guru yang sangat berbahaya bagi murid-muridmu jika engkau sangat menikmati kegiatanmu menutupi sifat murid-muridmu. Maka sebenar-benarnya tidak hidup adalah jika sifat-sifatnya tertutup oleh sifat yang lain.

Guru menggapai kesempatan:
Mohon guru, mohon guru, yang ini diteruskan lebih detail karena menurut saya sangat penting.

Orang tua berambut putih:
Guru yang baik adalah guru yang mampu hidup dan menghidup-hidupkan murid-muridnya. Maka janganlah sekali-kali keberadaanmu dan kegiatanmu sebagai guru menutup sifat-sifat murid-muridmu. Karena sifat yang tertutup itulah sebenar-benar tiada kesempatan.

Guru menggapai kesempatan:
Baik guru, di sini saya mulai antusias karena saya merasa sangat cocok dengan persoalan saya sebagai guru. Kemudian saya ingin bertanya lagi, bilamana dan bagaimana saya dikatakan menutup sifat murid-muridku.

Orang tua berambut putih:
Pertanyaan yang hebat. Itu adalah pertanyaan dari seorang yang cerdas. Ciri-ciri guru menutup sifat-sifat murid-muridnya adalah jika dia secara sepihak mendiskripsikan ciri-cirinya. Jika kau katakan muridmu sebagai malas, padahal dia belum tentu malas, maka yang demikian itu engkau telah menutupi sifatnya. Jika engkau katakan bahwa muridmu bodoh, padahal belum tentu dia bodoh, maka yang demikian itu telah menutupi sifatnya. Ketika kamu bicara sementara muridmu mendengar, maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika kamu bekerja sementara muridmu melihat, maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika kamu bertanya sementara muridmu berusaha menjawab maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika kamu berinisiatif sementara muridmu menunggu, itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika kamu menyuruh sementara muridmu melaksanakannya maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika kamu menilai prestasi siswamu maka itu adalah kejadian lain dari kegiatanmu menutupi sifat-sifatnya. Maka adalah sungguh berdosalah bagi orang-orang yang gemar menutupi sifat orang lain, karena yang demikian dampaknya begitu besar bagi murid-muridnya. Bahkan aku bisa katakan bahwa menutupi sifat itu tidak lain tidak bukan adalah pembunuhan secara perlahan-lahan.

Guru menggapai kesempatan:
Sebentar guru, jikalau sebaliknya, maksudku justeru yang melakukan atau yang menutui sifat itu siwa, yaitu siswa menutupi sifat gurunya, bukankah itu sama dosanya.

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar hakekat kesempatan, hakekat sifat dan hakekat kuasa. Sifat-sifat dari orang berkuasa adalah lain pula sifatnya dengan sifat-sifat orang yang tidak atau kurang berkuasa. Jikalau muridmu bicara dan kamu mendengarkan, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu bertanya dan engkau menjawab, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu berinisiatif dan engkau menunggu, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu melakukan kegiatan sementara engkau menontonnya, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Demikian seterusnya. Jadi sifat memberi kesempatan dan sifat menutup sifat, adalah berbeda-beda sifatnya sesuai domisilinya, apakah dalam orang yang berkuasa atau dalam orang yang dikuasai.

Guru menggapai kesempatan:
Kenapa engkau sebut aku sebagai guru menggapai kesempatan. Padahal sesuai dengan uraiannya mestinya aku lebih tepat kalau kau sebut sebagai guru memberi kesempatan.

Orang tua berambut putih:
Itulah ujianku terhadap dirimu. Kalau itu adalah engkau sendiri yang mengatakan maka baiklah untuk dirimu. Tetapi jikalau aku yang mengatakan maka tidak baiklah untuk dirimu. Mengapa? Karena dengan demikian aku telah menutupi sifatmu.

Guru menggapai kesempatan:
Ah guru, mohon maaf, bukankah guru telah berbuat kontradiktif, ambivalensi atau bertentangan di dalam guru sendiri. Di dalam Agama itu disebut sebagai munafik. Bagaimana menurutmu?

Orang tua berambut putih:
Benar ucapanmu. Sampai di sini aku merasa terharu walau mungkin kamu tidak demikian. mengapa karena engkau semakin pandai saja. Sampai di sinilah aku akan katakan sesuatu yang tidak bisa aku katakan sebelumnya.

Guru menggapai kesempatan:
Apa itu guru? Tolong jelaskan. Au menjadi penasaran dibuatnya.

Orang tua berambut putih:
Benar ucapanmu. Ketika aku berbicara panjang lebar kepadamu, maka aku sedang dalam proses menutipi sifat-sifatmu. Padahal aku sedang berbicara memberi kesempatan. Jadi aku tidak bisa memberi kesempatan tanpa menutupi sifat-sifatmu. Maka aku tidak bisa terhindar dari pertentangan dalam diriku. Jikalau engkau sensitif dan peka maka dapat aku katakan “pertentangan” itulah sebenar-benar hakekat diriku.

Guru menggapai kesempatan:
Oh guru mengapa demikian. Mengapa aku capai-capai mengikutimu ternyata engkau hanyalah sebuah kontradiksi. Oh Tuhan ampunilah aku, ya Tuhan. Guru macam apalah engkau ini. Kenapa engkau mengajariku banyak hal padahal engkau sendiri adalah kontradiksi. Aku sudah tidak bisa lagi menangis. Air mataku sudah kering. Lalu aku harus bagaimana?

Orang tua berambut putih:
Tenang dan sabarlah. Karena ciri-ciri orang cerdas adalah jika dia bisa mengendalikan secara proporsional perasaannya.

Guru menggapai kesempatan:
Saya harus sabar bagaiman guru? Bukankah selama ini kau telah menipuku. Menipuku secara besar-besaran. Maka tiadalah ampun bagimu, wahai guruku.

Orang tua berambut putih:
Padahal apa yang akan aku katakan justeru lebih berat dari itu. Sudah saya katakan berkali-kali bahwa diriku tidak lain tidak bukan adalah pengetahuanmu. Telah terbukti bahwa diriku tidak bisa terhindar dari pertentangan, maka dapat aku katakan bahwa bahwa sebenar-benar ilmumu itu adalah pertentangan atau kontradiksi. Tiadalah suatu ilmu tanpa kontradiksi, karena jika tidak ada kontradiksi maka itu berarti berlaku hukum identitas. tetapi dengan hukum identitas kita tidak akan mendapat ilmu apa-apa. Karena A adalah A itulah hukum identitas. “Aku” adalah “Aku” itu juga hukum identitas. Ketahuilah bahwa kalimat “Saya adalah guru” itu sebenar-benar kontradiktif dalam filsafat. Mengapa? Itu adalah kontradiktif dan tetap kontradiktif sampai engkau dapat membuktikan bahwa “Saya” itu identik atau persis saama dengan “guru”. Padahal kita tahu bahwa “saya” tidaklah sama dengan “guru”. “saya” mempunyai sifat-sifat yang berlainan dengan “guru”. Demikian pula bahwa “2+3=5” adalah juga kontradiktif secara filsafati mengapa, karena sebenar-benar bahwa “2+3” belumlah sama dengan “5” sebelum engkau mampu membuktikannya.

Guru menggapai kesempatan:
Wahai guru, aku belum bisa menerima penjelasanmu itu. Karena guruku yang lain mengatakan “Jagalah hatimu dan jangan sampai ada pertentangan di situ. Jika terdapat satu saja pertentangan di hatimu, maka itu pertanda syaitan duduk di situ”. Kalau begitu apakah engkau sedang mengajarkan ilmunya syaitan kepadaku guru?

Orang tua berambut putih:
Benar pertanyaanmu dan benar pula ucapan gurumu yang lain itu. Sedari awal yang aku bicarakan adalah tentang dirimu dan diriku. Berkali-kali aku katakan bahwa diriku adalah ilmumu. Ilmumu adalah pikiranmu. Jadi sebenar-benar aku adalah pikiranmu. Jadi konradiksiku adalah kontradiksi dalam pikiranmu. Barang siapa ingin memperoleh ilmu dalam pikirannya, maka bersiaplah dia menemukan kontradiksi-kontradiksi itu.

Guru menggapai kesempatan:
Terus bagaimana dengan hatiku ini guru?

Orang tua barambut putih:
Hatimu adalah jiwamu. Hatimu adalah hidupmu. Hidupmu tidak lain tidak bukan adalah hatimu. Maka barang siapa baik hatinya maka baik pula hidupnya. Dan barang siapa buruk hatinya maka buruk pula hidupnya. Sebenar-benar hatimu itu adalah satu, yaitu rakhmat Nya. Maka hatimu tidak lain tidak bukan adalah ibadahmu. Sebenar-benar hatimu adalah doa-mu. Jadi tiadalah pertentangan dan keragua-raguan di sana. Barang siapa membiarkan adanya pertentangan dan keragu-raguan di hati maka syaitan lah yang akan menghuni hatinya. Maka dengan tegas aku katakan jagalah hatimu jangan sampai ada pertentangan ataupun kontradiksi.

Guru menggapai kesempatan:
Hah.. itulah sebenar-benar ilmuku guru. Oh Tuhan ampunilah segala dosaku. Aku telah berbuat durhaka kepada guruku. Kenapa guruku yang begitu hebat telah aku sumpah serapah. Manusia macam apakah aku ini ya Tuhan. Kiranya engkau cabut nyawaku sebagai tebusannya, maka ikhlaslah aku. Wahai guruku, sudilah engkau memaafkan diriku, dan sudilah aku masih tetap bersamamu.

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar ilmu. Itulah sebenar-benar rakhmat. Yaitu jikalau engkau menyadari kelemahanmu dan selalu mohon ampun ke hadlirat Nya. Maka sebenar-benar Filsafat itu adalah refleksi. Refleksi itu artinya melihat diri sendiri. Belumlah engkau dikatakan belajar filsafat jika engkau belum mampu melihat dirimu sendiri. Padahal syarat untuk mampu melihat diri adalah tidak sombong dalam dirimu.  Tidak sombong artinya ikhlas dalam hatimu dan jernih dalam pikirmu. Ikhlas dalam hatimu adalah mensyukuri setiap hal sebagai Rakhmat Nya. Jernih dalam pikirmu adalah terbebas dari prejudice, buruk sangka, atau negatif thinking. Maka untuk menggapai kesempatan, belajar dan selalu belajarlah, membaca dan selalu membacalah, bertanya dan selalu bertanyalah, berdoa dan selalu berdoalah. Ikutilah kuliah filsafat dan bacalah elegi-elegi tanpa prasyarat apapun. Inilah salahsatu kesempatan itu. Maka raihlah kesempatan itu. Tetapi janganlah salah paham karena sebenar-benar guru menggapai kesempatan adalah jika dia dapat selalu hidup dan menghidupkan murid-muridnya. Maka sebenar-benar guru menggapai kesempatan adalah jika murid-muridnya sebenar-benar menggapai kesempatan pula. Maka sebenar-benar hidup adalah memberi dan diberi kesempatan. Amien.

49 comments:

  1. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari elegi tersebut saya mengetahui bahwa kesempatan adalah kemerdekaan. Maka sebenar-benar hidup adalah kesempatan. Seseorang yang tidak mempunyai kesempatan boleh dikatakan tidaklah lagi hidup. Seorang guru yang baik adalah guru yang mampu menghidupkan muridnya, selain itu juga memberi kesempatan kepada murid dalam kegiatan belajar untuk dapat mengajukan pertanyaan, menyampaikan pendapat, menyimpulkan, dan lain-lain. Janganlah sekali-kali menutupi kesempatan murid karena berarti menutupi sifat-sifat murid.

    ReplyDelete
  2. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Ciri-ciri guru yang menutupi sifat-sifat murid adalah jika seorang guru secara sepihak mendeskripsikan ciri-ciri, seperti mengatakan malas, bodoh. Ketika murid hanya mendengarkan, melihat, menjawab pertanyaan, menunggu, melaksanakan perintah guru, dan lain-lain sedangkan guru aktif dalam kegiatan pembelajaran maka guru tidak memberi kesempatan kepada murid. Itulah sebenar-benar menutupi sifat murid.

    ReplyDelete
  3. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tugas guru sesuai dengan kurikulum 2013 adalah "to facilitate of learning", memfasilitasi siswa agar mudah dalam belajar, bukan hanya menceramahi atau mengajar peserta didik, kita memerlukan guru yang demokratis dan terbuka. Diharapkan siwa bisa berpikir kritis dalam pembelajaran matematika.

    ReplyDelete
  4. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Kesempatan adalah keadaan di mana suatu sifat tidak tertutup oleh sifat yang lain. Jika suatu sifat menutup sifat yang lain, maka sifat yang menutup dikatakan “menentukan” dan sifat yang tertutup dikatakan ditentukan”.Menentukan dan ditentukan itu adalah hubungan kuasa yang satu dengan tidak kuasa yang lain. Seorang guru itu kuasa terhadap muridnya, di sadari atau tidak disadari, disengaja atau tidak disengaja. Maka guru itu adalah kuasa untuk menutup sifat murid-muridnya. Sedangkan murid-muridnya tidak kuasa untuk menghindar dari sifat menutup gurunya. Maka sebagai guru harus memberikan kesempatan kepada murid untuk menggapai kesempatan. Sebaliknya murid juga harus berusaha memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh guru.

    ReplyDelete
  5. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Keberhasilan pembelajaran tidak jauh dari peran guru. Bahkan guru sangat menentukan berhasil-tidaknya peserta didik belajar. Dan apabila modal dasar bagi peserta didik itu sudah ada maka dapat digunakan untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang siap beradaptasi, menghadapi berbagai kemungkinan dan memasuki era globalisasi ini.

    ReplyDelete
  6. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menjadi seorang guru itu tak mudah dan tidak sulit tetapi harus benar-benar bisa menempatkan dirinya menjadi seorang guru. Guru yang benar adalah guru yang tidak merusak sifat-sifat dasar dari murid-muridnya. Dengan begitu guru tersebut akan menjadi guru terbuka yang dizaman aneh ini sangatlah langka keberadaannya. Guru selayaknya mengembangkan mereka menjadi pribadi yang lebih aktif dan inovatif.

    ReplyDelete
  7. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    Pendidikan Matematika 2013

    Kesempatana dalah jalan terbuka masuknya sifat yang mungkin, hilangnya kesempatan adalah tertutupnya sifat yang mungkin masuk ke dalamnya. Memaknai kesempatan mempunyai ruang dan waktu serta mempunyai batasan pada obyek tertentu. Dalam konteks pembelajaran siswa dan murid memberikan pilihan siswa untuk berfikir dan menemukan ide dan mengembangkannya maka itu sebenarnya memberi kesempatan kepada murid. Dalam konteks kehidupan dari segi kontradiktif maka tatkala seorang menutup sifat kebaikan selagi hidup maka sejatinya ia sedang memberikan ketentuan/ menentukan pilihan untuk hancur.

    ReplyDelete
  8. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam mempelajari filsafat hendaknya jangan berlaku sombong karena jika berlaku sombong maka seseorang tidak dapat melakukan refleksi diri sehingga orang tersebut tidak benar-benar mengetahui dirinya sendiri. Padahal filsafat adalah ilmu diri sendiri, ilmu yang menunjukkan pikiran diri sendiri. Oleh karena itu jika berlaku sombong maka orang tersebut tidak dapat memahami filsafat dengan sebenar-benar filsafat. Semoga kita selalu dijauhkan dari sifat sombong dan semoga sifat iklhas selalu tertanam dalam pikiran kita agar hidup kita menjadi lebih tenang, tentram dan damai.

    ReplyDelete
  9. Jeanete Nenabu
    PPS Pmat D (15709251004)
    Kesempatan adalah keadaan di mana suatu sifat tidak tertutup oleh sifat yang lain. Jika suatu sifat menutup sifat yang lain, maka sifat yang menutup dikatakan “menentukan” dan sifat yang tertutup dikatakan “ditentukan”. Seperti halnya seorang guru yang suka menutupi sifat muridnya dengan tidak meberikan kesempatan kepada muridnya untuk mengembangkan ilmunya dengan jalannya sendiri. Karena yang semacam itu dapat dikatakan pembunuhan karakter, padahal niat awal membangun karakter namun cara yang digunakan adalah cara membunuh karajter. Semoga kelak jika menjadi guru kita terhindar dari upaya pembunuhan karakter murid dan diberi rahmat-Nya agar senantiasa mampu meberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan ilmunya.

    ReplyDelete
  10. Jeanete Nenabu
    PPS Pmat D (15709251004)
    Dalam hidup ini, ada banyak kesempatan yang dapat kita pilih, bahkan ketika kita tidak memilih itu adalah sebuah kesempatan pilihan. Dalam kaitannya dengan seorang guru, memiliki peranan yang sangat penting dalam proses belajar mengajar di kelas. Hendaknya guru dapat menciptakan pembelajaran yang kreatif, dan bermakna. Pembelajaran yang berpusat pada siswa, artinya siswa diberikan kesempatan untuk mengkonstruk pengetahuannya, dan juga siswa selalu aktif di dalam proses pembelajaran. Guru harus benar-benar memainkan peranannya sehingga siswa dapat berhasil dan meraih prestasi di kelas. Karena salah satu tolak ukur keberhasilan guru dalam mengajar dan mentransfer pengetahuannya, dilihat dari berhasil atau tidaknya anak didik tersebut.

    ReplyDelete
  11. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    sebenar-benarnya hidup adalah memiliki kesempatan dan memberikan kesempatan. sebagai seorang guru, kita harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengonstruksi pengetahuannya sendiri. dan sebagai seorang guru, kita harus mampu untuk menghidupkan murid yaitu dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk aktif dalam memperoleh pengetahuan mereka.

    ReplyDelete
  12. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B 2017

    "Guru yang baik adalah guru yang mampu hidup dan menghidup-hidupkan murid-muridnya. Maka janganlah sekali-kali keberadaanmu dan kegiatanmu sebagai guru menutup sifat-sifat murid-muridmu. Karena sifat yang tertutup itulah sebenar-benar tiada kesempatan." Saya sangat setuju dengan tulisan tersebut. Saya menagkap bahwa sebenar-benarnya guru adalah yang memberikan kesempatan kepada muridnya. Tetapi muncul kebingungan dalam diri saya ketika masuk pada bacaan bahwa " Ketika kamu bicara sementara muridmu mendengar, maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya." Saya pun mulai tenggelam dalam kekontradiktifan. Kontradiktif. Rupanya saya perlu untuk melakukan refleksi diri

    ReplyDelete
  13. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    S2 PM A

    Dengan membaca dan mencari makna dari elegi ini kita dapat mengerti bahwa pentingnya saling memberi kesempatan dalam mengajarkan sesuatu kepada orang lain, khususnya bagi seorang guru ataupun seorang calon guru. Guru yang baik adalah guru yang tidak menutup sifat-sifat muridnya dan selalu melakukan refleksi terhadap sikapnya.

    ReplyDelete
  14. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Bismillahirrohmaanirrohiim.
    Assalamulaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Elegi ini mengingatkan saya pada sabda Nabiullah Rasulullah SAW. terkait memanfatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Tersebutlah lima perkara sebelum lima perkara, yakni gunakanlah masa muda mu sebelum datang masa tuamu, gunakan masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, gunakan masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, gunakan masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan gunakan hidupmu sebelum kematianmu. Maka sesungguhnya kesempatan merupakan salah satu anugerah terindaah yang diberikan oleh Allah SWT. Sesungguhnya orang sukses adalah orang yang pandai dalam menggunakan kesempatannya.

    ReplyDelete
  15. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak.
    Postingan tersebut mengingatkan saya bahwa tindakan-tindakan yang pada awalnya bertujuan untuk memfasilitasi siswa belajar justru dapat membunuh sifat siswa ketika guru tidak mengetahuinya. Hal yang dapat saya pelajari adalah bahwa menjadi seorang guru harus berhati-hati dalam bertindak terhadap siswanya. Menjadi seorang guru harus mampu hidup dan menghidupkan siswa-siswanya.
    Saya bersyukur diberi kesempatan untuk membaca bacaan-bacaan yang dapat mengingatkan saya akan banyak hal dalam hidup. Terimakasih Pak.

    ReplyDelete
  16. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini saya menarik kesimpulan bahwa guru sebaiknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dan membangun pengetahuannya. Bukan malah mendominasi dan menganggap siswa tidak mampu. Menerapkan pembelajaran student centered memerlukan kesadaran dan kesabaran dari guru. Memfasilitasi siswa memerlukan kemampuan khusus agar pembelajaran berjalan semestinya.

    ReplyDelete
  17. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari Elegi ini hal yang bisa saya pahami adalah, sebagai guru kita harus memberikan kesempatan kepada siswa. Sifat tertutup artinya tidak ada kesempatan, artinya dengan menutup sifat-sifat siswa kita mengurangi kesempatan siswa, jika kita menutup semua sifat siswa artinya siswa tidak punya kesempatan. Akan tetapi tidaklah bisa guru memberikan kesempatan kepada siswa tanpa menutup sifat siswa. Demikianlah hidup itu memang kontradiksi, Ilmu adalah di dapat dari kontradiksi-kontradiksi semacam ini. Akan tetapi jangan sampai kontradiksi terjadi di dalam hati, nurani dan iman.

    ReplyDelete
  18. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Sebagai seorang guru, sangat jelas bahwa ia tidak boleh menutupi ruang gerak siswanya. Sebagai seorang guru, ia harus memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya kepada siswa agar siswa tersebut berkembang menuju kesuksesannya. Adalah suatu kebahagiaan bagi guru jika siswanya sukses dan itu karena didikannya. Konteks menutup dan memberikan kesempatan bukan hanya untuk guru dan siswa saja, tetapi juga di kehidupan nyata. Sebagai pribadi yang baik, kita tidak boleh menutup cahaya orang lain hanya untuk membuat diri kita bercahaya. Artinya, untuk menuju sukses kita tidak boleh menutup kesempatan orang lain hanya untuk membuat diri kita sukses. Sebagai pribadi yang baik, kita harus menggandeng orang-orang di sekitar kita untuk maju bersama.

    ReplyDelete
  19. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada elegi ini“Sebenar-benar guru menggapai kesempatan adalah jika dia dapat selalu hidup dan menghidupkan murid-muridnya”. Dari pernyataan tersebut tersirat nilai-nilai kebijaksanaan yang luar biasa. Begitu besar tanggup jawab yang besar dari seorang guru. Dikatakan disana adalah “murid-muridnya”, yang berarti jamak, tidak hanya satu. Jadi bisa dibayangkan betapa luar biasanya menjadi seorang guru itu. Membimbing siswanya supaya dapat berkembang menjadi pribadi yang semakin dewasa. Menghidupkan murid-muridnya itu berarti guru menransfer ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya agar muridnya kelak dapat hidup dengan menggunakan ilmu pengetahuan yang telah diberikan guru.

    ReplyDelete
  20. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingan elegi yang sangat menginspirasi, Prof. Terkadang kita sebagai guru mengupayakan segala hal untuk mencerdaskan siswa namun jika salah sedikit, kita justru bisa mematikan sifat mereka. Sebaik-baik guru menggapai kesempatan adalah guru yang memilih untuk lebih banyak mendengarkan siswanya, guru yang tidak mendominasi kelas, melainkan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk mengkonstruk pengetahuannya.

    ReplyDelete
  21. Junianto
    PM C
    17706251065

    Kesempatan adalah kemerdekaan. Seperti yang Prof jelaskan dalam elegi ini. Kesempatan adalah kemerdekaan yang sebenarnya semua orang punya kemerdekaan itu, tetapi yang menjadi masalah adalah kita sering tidak menyadari adanya kesempatan itu. Saya juga sepakat dengan yang Prof sampaikan bahwa semua di kehidupan ini saling berkaitan satu sama lain. Guru dan murid juga sangat berkaitan erat. Guru memfasilitasi siswa dalam belajar dan membiarkan murid berkreasi untuk membangun pengetahuan mereka. Tidak sepantasnya guru menghakimi siswa dengan sebutan bodoh, malas, nakal, dll. Setiap anak itu unik, mereka punya kelebihan masing-masing dan tugas guru memfasilitasi mereka dalam mengembangkan bakatnya.

    ReplyDelete
  22. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Saya akan mengutip satu kalimat dari postingan ini, yaitu “Kesempatan adalah keadaan di mana suatu sifat tidak tertutup oleh sifat yang lain.” Kalimat ini saya resapi kemudian saya paham bahwa saat seseorang diberi beberapa pilihan, hanya ada satu pilihan yang diambilnya, dengan demikian pilihan-pilihan yang tidak terpilih bukanlah kesempatan, karena sudah tertutup oleh sifat “tidak terpilih”.
    Jika pemahaman ini saya terapkan dalam pengajaran (dengan saya sebagai guru matematika), maka yang saya pahami adalah begini: setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk memahami kompetensi, mendapatkan LKS, mendapatkan ilmu, mendapatkan perhatian dari guru, juga kesempatan yang sama untuk dijawab pertanyaannya.
    Jika seorang guru mendominasi kelas dan membiarkan muridnya hanya memperhatikan dan mendengarkan saja, maka seorang guru itu telah menutupi sifat siswanya. Dengan kata lain, si guru tidak memberikan kesempatan kepada siswa. Sedangkan jika seorang guru membiarkan siswanya berbicara dan berpendapat, merefleksikan pembelajaran, maka bukan berarti siswa tersebut menutupi sifat gurunya. Karena pada dasarnya pembelajaran yang dilaksanakan atas dasar kebutuhan siswa dan untuk siswa.
    Namun dalam memberikan kesempatan, seperti yang terjadi antara orangtua berambut putih dengan guru menggapai kesempatan, seorang guru tentu menemukan kontradiksi dalam dirinya sendiri. Ketika ia berbicara bahwa ia memberikan kesempatan untuk bertanya/berpendapat untuk siswanya, ia telah menutupi sifat siswanya, yaitu dengan sedikit “memaksa” siswa untuk bertanya.

    ReplyDelete
  23. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Kesempatan adalah suatu keadaan yang dimana kita mempunyai pilihan. Dan sejatinya hidup adalah suatu kesempatan untuk memilih. Sehingga sejatinya siapapun yang hidup pasti memiliki kesempatan. Termasuk guru, juga memiliki kesempatan. Guru memiliki kesempatan menjadi fasilitator untuk siswanya atau tidak, bisa menggunakan metode yang beragan dll ini adalah kesempatan. Guru yang memberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan, bertanya dan menemukan pengetahuannya. Guru yang tidak menutupi siswa dengan sifat-sifatnya. Sehingga, guru menggapai kesempatan adalah jika dia dapat selalu hidup dan menghidupkan murid-muridnya. Semoga kita dapat menggunakan kesempatan itu dengan sebaik baiknya dengan memberikan manfaat dan kebaikan. Jadi orang dapat memanfaatkan kesempatan dengan baik yaitu orang yang mampu menghidupkan orang dan mampu menempatkan dirinya pada ruang dan waktu yang tepat.

    ReplyDelete
  24. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Guru yang menggapai kesempatan ialah guru yang dapat memberikan kesempatan kepada siswa-siswanya. Bukan guru yang banyak menjelaskan sementara siswa hanya mendengarkan, bukan guru yang bertanya sementara siswa hanya menjawab, bukan pula guru yang memberi perintah sementara siswa hanya melaksanakan perintah, dsb. Karena itu hanya akan membunuh kemandirian dan pola pikir siswa. Sebaliknya, siswa harus diberikan kesempatan yang seluas-luasnya agar dapat membangun pengetahuannya sendiri.

    ReplyDelete
  25. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Elegi guru memberikan kesempatan. Tersirat bahwa kata kesempatan tersebut berkonotasi positif. Kesempatan itu adalah semangat, kesempatan bertanya, menjawab, motivasi, materi pembelajaran, pola pikir visioner dan hal positif lainnya termasuk hikmah pengalaman seorang guru. Guru yang berhasil menggapai kesempatan adalah guru yang mampu mentransfer seluruh kesempatan tersebut kepada murid sehingga sang murid juga menerima kesempatan dan bisa menerapkan serta mengkonstruksikan hidup mereka di masa yang akan datang. Guru mengarahkan dan menggiring murid untuk belajar dan memanfaatkan kesempatan tersebut. Kesempatan yang diberikan oleh guru akan menjadikan siswa berani berinovasi sesuaipikiran sehingga siswa dapat lebih percaya diri dan juga lebih aktif dalam kelas. Jika kita membrikan kesempatan pada orag lain,maka suatu saat kita kan diberikan kesempatan orang lain. membri kesempatan seperti halnya hidup yang saling memberi dan diberi, siapa yng akan berbuat baik pada orang maka kebaikannya juga akan kembali ke diri kita sendiri, begitupun sebaliknya.

    ReplyDelete
  26. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Sebenar-benar hidup adalah memberi dan diberi kesempatan. Hal yang sama juga terjadi dalam miniature kehidupan seperti sekolah. Interaksi antara guru dan murid adalah memberi dan diberi kesempatan sehingga guru dapat hidup dan menghidupkan murid-muridnya. Seorang guru seharusnya memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar dengan sebaik baiknya, yakni belajar dengan membangun sendiri pengetahuannya berdasarkan pemahaman dan pengalaman sebelumnya. Begitupun dengan guru yang seharusnya diberi kesempatan untuk membantu muridnya dalam membangun pengetahuannya. Hingga terciptalah hidup yang sebenar-benarnya dalam kelas. Masing-masing punya kesempatan untuk memberi dan diberi.

    ReplyDelete
  27. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Di dalam kehidupan kita banyak menemukan sebuah pilihan-pilihan hidup yang membuat kita berhenti sejenak dan berpikir untuk mengambil jalan hidup yang tepat untuk diambil. Dan tidak sedikit yang menjatuhkan pilihan untuk diam dan tidak mengambil kesempatan tersebut sehingga tidak ada yang bisa ia dapatkan. Sehingga, ambil kesempatan itu dan senantiasa lakukan refleksi. Ketiaka memang kita mengambil pilihan yang salah, tidak ada kata terlambat dan malu untuk memperbaiki. Refleksikan dan perbaiki. Maka kita tidak akan menjadi orang yang merugi.

    ReplyDelete
  28. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Sebenar-benarnya hidup adalah kesempatan.Kesempatan untuk memilih.Kesempatan memilih hidup.Apapun pilhan hidup kita itulah yang terbaik buat kita.Sebaiknya-baiknya ksesmpatan adalah ketika meluangkan waktu bermanfaat buat orang lain.Hidup adalah saling mengikat satu dengan yang lain.Karena kita tak bisa hidup sendiri tanpa orang lain.Seperti yang digambarkan oleh elegi di atas hubungan antara guru dan murid “Guru yang dengan ikhlas mendengarkan muridnya, begitupun sebaliknya siswa yang dengan ikhlas mendengarkan penjelasan gurunya, dua hal yang berkesinambungan”.

    ReplyDelete
  29. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  30. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi seorang guru menggapai kesempatan ini saya memahami bahwa sebagai seorang guru, hendaklah memberi kesempatan kepada siswanya untuk berkembang, tidak membatasi ruang gerak siswa dalam berkarya dan berinovasi. Bukan menjadi sebaliknya, guru membatasi kesempatan siswa dengan menganggap siswa tidak mampu berkarya dan mendominasi dengan membatasi cara berpikir siswa.
    Dan hikmah dari elegi ini tidak hanya dalam hubungan antara guru dan siswanya, tetapi juga dapat dilihat dari kehidupan sehari-hari. Bahwa dalam hubungan bermasyarakat janganlah kita menutupi kesempatan orang lain, hanya untuk menunjukkan kehebatan kita. Karena yang sebenar-benar hidup itu adalah saling memberi dan diberi kesempatan.

    ReplyDelete
  31. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Elegi yang menarik sebagai bahan refleksi tentang pendidikan. Hal yang patut dihindari oleh guru adalah memberi ‘label’, karena pemberian ‘label’ adalah sekaligus menutup potensi lain yang dimiliki siswa. Guru yang baik adalah memberikan kesempatan pada siswa, kesempatan adalah kemerdekaan bagi potensi anak.

    ReplyDelete
  32. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Hidup adalah kesempatan, kesempatan untuk memilih. Apapun yang kita pilih akan berdampak pada diri kita sendiri, dan juga lingkungan kita. Memaknai kalimat: "Hidupmu adalah karena hidupnya orang lain." sebagai kehidupan yang berdampak, maka kita harus berhati-hati dalam memilih. Pilihan kita sedikit banyak juga akan memiliki pengaruh untuk kehidupan orang lain secara sadar maupun tak sadar. Kita hidup untuk menghidupkan orang lain, maka sadarlah pula bahwa orang lain juga hidup dan memiliki kesempatan yang sama seperti kita untuk memilih.
    Satu hal yang semakin saya yakini selama saya berusaha memahami filsafat: "Sebenar-benar filsafat adalah refleksi. Refleksi itu artinya melihat diri sendiri. Belumlah engkau dikatakan belajar filsafat jika engkau belum mampu melihat dirimu sendiri."
    Saya sungguh amat bersyukur saya memiliki kesempatan untuk belajar filsafat, yang membuat saya semakin menyadari diri dari refleksi. Saya tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini dan memilih terus berusaha memahami filsafat dalam refleksi-refleksi diri.

    ReplyDelete
  33. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Saat ini saya dihadapkan dengan berbagai pilihan. Perlahan-lahan saya mencoba untuk menentukan pilihan, seperti belajar dan membaca elegi-elegi dan bahasan yang lainnya. Kesempatan yang ada saat ini merupakan kesempatan yang begitu berharga.

    ReplyDelete
  34. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Guru yang baik adalah guru yang mampu hidup dan menghidupkan murid-muridnya, hidup disini bisa kita maknai dengan berfikir bahwa setiap individu memiliki cara pikir dan pemikiran yang berbeda. Guru yang menggapai kesempatan yaitu guru yang mampu memberikan kesempatan maupun kebebasan kepada siswa-siswanya untuk menumbuhkan maupun membangun pengetahuannya sendiri, memfasilitasi siswa serta memberi kesempatan terbuka untuk siswa mengeksplore pengetahuan akan lebih baik dibandingkan memberi pengetahuan yang sifatnya sangat terbatas dan hal itu tidak menutup kemuningkinan secara tidak sadar dapat menutupi sifat siswa.

    ReplyDelete
  35. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    terimakasih atas kesempatan membaca elegi elegi yang ada diblog bapak ini. benar ada nya pak jika manusia itu harus diberi kesempatan untuk dapat memperdalam ilmu dan merubah dirinya sendiri ke arah yang lebih baik.
    tak beda dengan murid. guru pun harus memberikan kesempatan kepada murid untuk mengeksplor ilmunya lebih jauh. saya sangat terkesan dengan kata-kata orang tua berjenggot putih. ia mengatakan bahwasannya sebenar-benar hidup adalah memberi dan diberi kesempatan. karna hidup itu harus seimbang. dan tidak lupa pula bahwa yang sebenar-benarnya yang mengatur kehidupan adalah Allah Sang Maha Pencipta.

    ReplyDelete
  36. Bulan nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Kesempatan adalah kemerdekaan. Seseorang diatas hidup jika ia mendapatkan kesempatan. Kesempatan yang ada harus dimanfaatkan dengan baik, dan kita tidak boleh menutup kesempatan dirisendiri, apalagi menutup kesempatan orang lain. Yang dikatakan menutup kesempatan orang lain, misalnya seorang guru memberikan sebutan kepada siswanya bahwa dia seorang yang pemalas, bodoh dan sebagainya. Pada saat inilah secara tidak sadar bahwa guru tersebut telah menutup kesempatan dia untuk membangun keinginan serta kepercayaan dirinya bahwa ia bukanlah orang yang demikian, sehingga ia menjadi lebih malas dalam belajar, dan menganggap dirinya sebagaimana sebutan gurunya tadi. Oleh karena itu sebagai seorang guru, berhati-hatilah dalam bertindak, karena kita tidak tau dititik mana kita akan menjadi inspirasi bahkan penghalang bagi orang lain.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  37. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Tidak ada hal lain yang disyukuri kecuali diberi kesempatan untuk membagikan ilmu kita kepada orang lain. Sering kali orang yang membagikan ilmu mereka disebut sebagai seorang guru. Oleh karena itu menjadi guru merupakan sebuah keuntungan bagi kita semua. Saya ingat bahwa membagikan ilmu kepada orang lain itu wajib. Sampai-sampai saking wajibnya membagikan ilmu, kita diperintahkan untuk menyampaikan apa yang kita ketahui walaupun dalam satu kata. Hal ini berarti betapa pentingnya ilmu bagi kalangan manusia. Jika kita diberikan kesempatan, maka kita gunakan itu semua sebaik-baiknya. Karena jika kesempatan tersebut tidak dilakukan dengan baik, maka akan sulit kita mendapatkan kesempatan lain seperti yang kita peroleh sekarang ini. Oleh karena itu mengabaikan sebuah kesempatan itu rugi bagi kita sebagai seorang guru. Kuncunya hanya bersyukur atas apa yang diberikan dan dipilihkan oleh Tuhan kita.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  38. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Kesempatan bersifat bebas. Bebas untuk dimiliki maupun dilepas. Guru itu dewanya murid. Janganlah memaksa kehendak murid dengan mendekte sifat-sifat yang ada. Melainkan memberikan kesempatan untuk memilih bagaimana yang ia inginkan. Dan guru membantu dan memberikan saran sebagai fasilitator. Karena kesempatan itu milik semua orang. Kesempatan itu bebas untuk milih dan tidak memilih. Pada masa sekarang banyak guru yang berakhir menutup nutupi bakat siswa tanpa mengeksplor pengetahuan dasar yang sudah dimiliki. Guru hanyalah manusia yang tak lepas dari kesalahan, maka dari itu cepat;ah merefleksikan diri dan memohon ampun kepada Allah.

    ReplyDelete
  39. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Hidup penuh dengan pilihan, yang mana yang akan diambil itu terserah yang akan menjalaninya. Demikian dengan kesempatan, ada banyak pilihan didalamnya. Sebagai seorang guru, hendaknya mampu mengembil pilihan yang pas dalam setiap kesempatan. Karena berawal dari itulah guru dapat memfasilitasi siswa dengan baik.

    ReplyDelete
  40. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Elegi seorang guru menggapai kesempatan ini merupakan sebuah tulisan yang sangat pas dibaca untuk pendidik maupun calon pendidik, seperti guru atau dosen dan tidak menutup profesi yang lain. Dengan membaca elegi ini kita menjadi paham dan kemudian akan bertindak lebih hati-hati dalam melakukan suatu hal kepada muridnya. Bahwasanya kita perlu berhati-hati dalam bertindak agar aktivitas pembelajaran yang kita lakukan merupakan sebuah aktivitas memberikan kesempatan kepada murid untuk berkembang. Bila kita tidak berhati-hati, maka pembelajaran yang kita lakukan justru bermakna menutupi sifat yang ada pada murid, bahkan ekstrimnya kita melakukan pembunuhan sifat pada murid. Padahal kita tau bahwa setiap orang memiliki sifat-sifatnya tersendiri yang berbeda dengan orang lain

    ReplyDelete
  41. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  42. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillahirrohmanirrohim, terimakasih banyak prof. Marsigit atas artikel di atas. Sedikit banyak setidaknya pembaca seperti saya calon guru atau dosen, terbuka dan terketuk pintu hatinya bahwa penting bagi kita untuk memposisikan kita dan murid kita dalam proses pembelajaran. Kita harus lebih kreatif dan hati-hati agar setiap pembelajaran yang kita lakukan tidak mengurungkan semangat dan menutup kesempatan murid kita untuk berkembang. Menggapai kesempatan dapat kita maknai sebagai dua konteks, kesempatan untuk guru dalam mendidik dan kesempatan bagi siswa sebagai terdidik. Potensi memilih dan menggapai kesempatan bagi guru merupakan hal yang kompleks dan harus diputuskan secara seksama, karena subjek yang terkena dampaknya salah satunya adalah murid. sedangkan menggapai kesempatan bagi siswa berupa memberi kesempatan dan tidak menutup sifat si siswa seperti sifat ingin tahu, sifat penasaran, sifat ingin berkembang, sifat ingin bertanya, dan lain sebagainya dengan berbagai keformalan dalam pembelajaran. Jadi benar bahwa sifat memberi kesempatan dan sifat menutup sifat, adalah berbeda-beda sifatnya sesuai domisili dalam ruang dan waktunya, tergantung konteks dan konten apa yang sedang terjadi. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  43. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Guru yang baik adalah guru yang memberikan kesempatan pada murid-muridnya, bukan yang menggunakan kekuasaannya untuk mengambil kesempatan menutupi sifat dari murid-muridnya. Namun terkadang guru tidak menyadari bahwa dia sedang menutupi sifat muridnya. Proses pembelajaran yang dianggap baik oleh guru terkadang malah menutup sifat muridnya. Inilah letak permasalahan utama dari sistem pendidikan yang membuat pendidikan tidak dapat berkembang.

    ReplyDelete
  44. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Kesempatan berarti kita bebas memilih. Pilihan tentu ada yang baik dan buruk sesuai ruang dan waktunya. Pepatah mengatakan kesempatan tidak datang dua kali. Jadi kalau seseorang mendapat kesempatan (baik) maka harus segera diambil. Kesempatan berarti tidak mempengaruhi dan tidak dipengaruhi, tidak tertutup dan tidak menutupi, tidak menghalangi dan tidak dihalangi, berarti merdeka.

    ReplyDelete
  45. Dewi Saputri
    17001251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.

    "Siswa yang kreatif berasal dari guru-guru yang kreatif" satu kalimat yang pernah saya baca dibuku psikologi pendidikan. Guru-guru yang kreatif adalah guru-guru yang selalu membrikan kesempatan kepada siswanya untuk lebih banyak mencari informasi mengenai suatu ilmu yang dipelajari daripada hanya menerima informasi dari yang guru berikan. Tetapi hal ini sangat jarang dilakukan oleh guru-guru kepada siswanya. Guru hanya ingin cepat menyelesaiakn suatu materi ketimbang memikirkan bagaimana cara nya mengajar dengan tidak menetupi sifat yang ada pada muridnya. Dengan apa yang saya baca dibuku psikologi pendidikan ditambah dengan membaca elegi ini, sangat bermanfaat sekali untuk saya sebagi calon tenaga pengajar untuk mempelajari bagaimana menjadi tenaga pengajar yang baik dan kreatif.

    ReplyDelete
  46. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Tanpa kita sadari, hampir setiap langkah kehidupan kita adalah sebuah kesempatan. Kesempatan datang dengan memberikan waktu berpikir yang singkat hingga panjang. Akibatnya pun ada yang dapat dilihat langsung, ada pula yang membutuhkan waktu lama. Contoh sederhana apabila kita hendak menyebrang, kita mengambil keputusan untuk melangkah karena melalui berbagai pertimbangan yang kita proses secara cepat. Ketika mulai melangkah menyeberang, tujuan kita adalah sampai di seberang. Apabila kita salah memperkirakan, maka kita bisa saja terjatuh atau tertabrak. Apabila kita sampai dengan selamat, maka tujuan kita terpenuhi. Menjadi guru merupakan pilihan yang seharusnya dibarengi dengan ketulusan hati. Bukan pahlawan tanpa tanda jasa, namun tujuan sebagai guru adalah memberikan ilmu yang kita miliki. Tentunya, menjadi guru bukan sekedar mengisi waktu jam pelajaran, memberi ujian, mengisi nilai rapor. Banyak hal yang harus diperhatikan agar kesempatan yang diberikan untuk menjadi guru tidaklah sia-sia. Walau terlihat sepele, tapi ketahuilah bahwa banyak orang di luar sana yang ingin menjadi guru, namun tidak memiliki kesempatan.

    ReplyDelete
  47. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Kesempatan terbaik yang dimiliki oleh guru terhadap muridnya adalah kesempatan untuk bisa mengubah masa depan bangsa dari mendidik murid-muridnya dengan segala kemampuan yang dimilikinya dan hati yang ikhlas. Profesi lain belum tentu memiliki kesempatan sebaik ini.

    ReplyDelete
  48. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Setiap hari manusia selalu menemukan kesempatan baru selama hayat masih dikandung badan, contohnya seperti apabila kita belum melakukan yang terbaik di hari kemarin, maka bisa diperbaiki di hari ini supaya lebih baik. Secerdas-cerdasnya seseorang selain bisa menempatkan dirinya secara proporsional adalah juga bisa memanfaatkan kesempatan yang ia miliki.

    ReplyDelete
  49. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Kesempatan berkaitan dengan belajar. Belajar berhubungan dengan membaca. Membaca harus ikhlas hati dan pikir. Kesempatan tidak datang begitu saja, kita harus menggapainya. Manusia hidup selalu di hadapkan pada beberapa kesempatan dan harus bisa memilihnya. Setiap orang memiliki kesempatan yang berbeda, tergantung ilmu yang dimilikinya. Semakin banyak ilmu yang dimiliki makam semakim banyak pula kesempatan yang ia miliki. Namun, ketika kesombongan muncul maka hilang pula kesempatan itu. Oleh karena itu, ketika kita diberika kesempatan harus digunakan sebaik mungkin, dijalani dengan ikhlas, dan hindari kesombong serta selalu berserah kepada Tuhan sebab semua yang ada dan yang mungkin ada adalah kehendak Tuhan.

    ReplyDelete