Sep 20, 2013

Elegi Seorang Guru Menggapai Kesempatan




Oleh: Marsigit
Guru menggapai kesempatan berada di persimpangan jalan:

Di persimpangan jalan inilah aku mempunyai kesempatan, tetapi ketika datang kesempatan itu ternyata dia bersifat jamak. Ada kesempataku berbelok ke kiri, ke kanan, serong kiri, serong kanan, berbalik tetapi juga bisa terus jalan lurus. Anehnya, ada pula kesempatanku untuk ragu-ragu bahkan diam doing nothing. Maka satu-satunya kepastian adalah bahwa aku mempunyai kesempatan memilih. Itulah harga yang selama ini aku cari dan aku perjuangkan. Tetapi ingin aku katakan bahwa tidak memilih pun merupakan kesempatanku. Aku sangat gembira dengan kesempatan ini. Tetapi di tengah euporia ku maka aku mulai bertanya apakah sebenar-benar kesempatan itu? Untuk itulah maka aku ingin bertanya. Tetapi bertanya kepada siapakah aku ini?

Orang tua berambut putih datang menghampirinya:
Muridku, kau telah memanggilku. Ada apakah gerangan?

Guru menggapai kesempatan:
Aku belum bertanya kenapa kau sudah datang?

Orang tua berambut putih:
Bukankah kalimatmu terakhir adalah suatu pertanyaan. Dan sesuai janjiku, dikarenakan sifat hakikiku, bahwa aku akan selalu datang pada setiap pertanyaan dari manapun, oleh siapapun dan tentang apapun.

Guru menggapai kesempatan:
Oh iya, terimakasih atas peringatanmu. Guru, dapatkah kau menjelaskan kepadaku apa sebenar-benar kesempatan itu?

Orang tua berambut putih:
Kesempatan adalah kemerdekaan. Kesempatan adalah potensi sekaligus fakta. Maka sebenar-benar hidup adalah kesempatan. Jikalau seseorang sudah tidak mempunyai kesempatan maka tiadalah dia dapat dikatakan sebagai hidup. Maka jikalau kamu menginginkan tetap hidup maka gapailah kesempatan itu.

Guru menggapai kesempatan:
Lalu apa relevansinya kesempatan itu dengan tugasku sebagai guru

Orang tua berambut putih:
Hidupmu adalah karena hidupnya orang lain. Jika tiadalah orang lain hidup disekitarmu, maka siapakah yang akan mengatakan bahwa dirimu hidup. Oleh karena itu maka wajib hukumnya bahwa engkau sebagai guru harus selalu menghidup-hidupkan murid-muridmu. Murid-muridmu yang hidup itulah yang akan menyanyikan bahwa dirimu juga hidup. Maka sebenar-benar hidup adalah hidup dan saling menghidupkan.

Guru menggapai kesempatan:
Hebat nian kau guru. Aku bertanya tentang kesempatan mengapa engkau sampai pada penjelasan tentang hidup?

Orang tua berambut putih:
Jika engkau telah benar-benar hidup dan telah benar-benar hidup dan menghidupkan, maka tiadalah sesuatu di dunia ini yang tidak kait berkait. Maka kesempatan itu sebenarnya adalah hidup dan hidup itu adalah kesempatan. Semua yang ada di dunia itu kait berkait, dan itu adalah karena pikiranmu yang hidup. Maka jikalau engkau ingin melihat dunia, maka tengoklah ke dalam pikiranmu, karena dunia itu persis seperti apa yang engkau pikirkan.

Guru menggapai kesempatan:
Hebat nian kau guru. Aku bertanya tentang kesempatan mengapa engkau sampai pada penjelasan tentang dunia dan pikiran.

Orang tua berambut putih:
Baiklah aku kembali akan menjelaskan tentang kesempatan. Kesempatan itu adalah keadaan. Kesempatan itu adalah sifat. Kesempatan adalah keadaan di mana suatu sifat tidak tertutup oleh sifat yang lain. Jika suatu sifat menutup sifat yang lain, maka sifat yang menutup dikatakan “menentukan” dan sifat yang tertutup dikatakan “ditentukan”.

Guru menggapai kesempatan:
Lalu apa relevansinya sifat menentukan dan sifat ditentukan dengan tugasku sebagai guru.

Orang tua berambut putih:
Menentukan dan ditentukan itu adalah hubungan kuasa yang satu dengan tidak kuasa yang lain. Bukankah sudah pernah aku katakan bahwa guru itu kuasa terhadap muridnya, di sadari atau tidak disadari, disengaja atau tidak disengaja. Maka guru itu adalah kuasa untuk menutup sifat murid-muridnya. Sedangkan murid-muridnya tidak kuasa untuk menghindar dari sifat menutup gurunya. Maka sebenar-benar orang yang paling berbahaya di dunia ini adalah mereka yang sangat menikmati kegiatannya menutipi sifat-sifat yang lainnya. Maka engkau adalah guru yang sangat berbahaya bagi murid-muridmu jika engkau sangat menikmati kegiatanmu menutupi sifat murid-muridmu. Maka sebenar-benarnya tidak hidup adalah jika sifat-sifatnya tertutup oleh sifat yang lain.

Guru menggapai kesempatan:
Mohon guru, mohon guru, yang ini diteruskan lebih detail karena menurut saya sangat penting.

Orang tua berambut putih:
Guru yang baik adalah guru yang mampu hidup dan menghidup-hidupkan murid-muridnya. Maka janganlah sekali-kali keberadaanmu dan kegiatanmu sebagai guru menutup sifat-sifat murid-muridmu. Karena sifat yang tertutup itulah sebenar-benar tiada kesempatan.

Guru menggapai kesempatan:
Baik guru, di sini saya mulai antusias karena saya merasa sangat cocok dengan persoalan saya sebagai guru. Kemudian saya ingin bertanya lagi, bilamana dan bagaimana saya dikatakan menutup sifat murid-muridku.

Orang tua berambut putih:
Pertanyaan yang hebat. Itu adalah pertanyaan dari seorang yang cerdas. Ciri-ciri guru menutup sifat-sifat murid-muridnya adalah jika dia secara sepihak mendiskripsikan ciri-cirinya. Jika kau katakan muridmu sebagai malas, padahal dia belum tentu malas, maka yang demikian itu engkau telah menutupi sifatnya. Jika engkau katakan bahwa muridmu bodoh, padahal belum tentu dia bodoh, maka yang demikian itu telah menutupi sifatnya. Ketika kamu bicara sementara muridmu mendengar, maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika kamu bekerja sementara muridmu melihat, maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika kamu bertanya sementara muridmu berusaha menjawab maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika kamu berinisiatif sementara muridmu menunggu, itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika kamu menyuruh sementara muridmu melaksanakannya maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika kamu menilai prestasi siswamu maka itu adalah kejadian lain dari kegiatanmu menutupi sifat-sifatnya. Maka adalah sungguh berdosalah bagi orang-orang yang gemar menutupi sifat orang lain, karena yang demikian dampaknya begitu besar bagi murid-muridnya. Bahkan aku bisa katakan bahwa menutupi sifat itu tidak lain tidak bukan adalah pembunuhan secara perlahan-lahan.

Guru menggapai kesempatan:
Sebentar guru, jikalau sebaliknya, maksudku justeru yang melakukan atau yang menutui sifat itu siwa, yaitu siswa menutupi sifat gurunya, bukankah itu sama dosanya.

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar hakekat kesempatan, hakekat sifat dan hakekat kuasa. Sifat-sifat dari orang berkuasa adalah lain pula sifatnya dengan sifat-sifat orang yang tidak atau kurang berkuasa. Jikalau muridmu bicara dan kamu mendengarkan, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu bertanya dan engkau menjawab, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu berinisiatif dan engkau menunggu, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu melakukan kegiatan sementara engkau menontonnya, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Demikian seterusnya. Jadi sifat memberi kesempatan dan sifat menutup sifat, adalah berbeda-beda sifatnya sesuai domisilinya, apakah dalam orang yang berkuasa atau dalam orang yang dikuasai.

Guru menggapai kesempatan:
Kenapa engkau sebut aku sebagai guru menggapai kesempatan. Padahal sesuai dengan uraiannya mestinya aku lebih tepat kalau kau sebut sebagai guru memberi kesempatan.

Orang tua berambut putih:
Itulah ujianku terhadap dirimu. Kalau itu adalah engkau sendiri yang mengatakan maka baiklah untuk dirimu. Tetapi jikalau aku yang mengatakan maka tidak baiklah untuk dirimu. Mengapa? Karena dengan demikian aku telah menutupi sifatmu.

Guru menggapai kesempatan:
Ah guru, mohon maaf, bukankah guru telah berbuat kontradiktif, ambivalensi atau bertentangan di dalam guru sendiri. Di dalam Agama itu disebut sebagai munafik. Bagaimana menurutmu?

Orang tua berambut putih:
Benar ucapanmu. Sampai di sini aku merasa terharu walau mungkin kamu tidak demikian. mengapa karena engkau semakin pandai saja. Sampai di sinilah aku akan katakan sesuatu yang tidak bisa aku katakan sebelumnya.

Guru menggapai kesempatan:
Apa itu guru? Tolong jelaskan. Au menjadi penasaran dibuatnya.

Orang tua berambut putih:
Benar ucapanmu. Ketika aku berbicara panjang lebar kepadamu, maka aku sedang dalam proses menutipi sifat-sifatmu. Padahal aku sedang berbicara memberi kesempatan. Jadi aku tidak bisa memberi kesempatan tanpa menutupi sifat-sifatmu. Maka aku tidak bisa terhindar dari pertentangan dalam diriku. Jikalau engkau sensitif dan peka maka dapat aku katakan “pertentangan” itulah sebenar-benar hakekat diriku.

Guru menggapai kesempatan:
Oh guru mengapa demikian. Mengapa aku capai-capai mengikutimu ternyata engkau hanyalah sebuah kontradiksi. Oh Tuhan ampunilah aku, ya Tuhan. Guru macam apalah engkau ini. Kenapa engkau mengajariku banyak hal padahal engkau sendiri adalah kontradiksi. Aku sudah tidak bisa lagi menangis. Air mataku sudah kering. Lalu aku harus bagaimana?

Orang tua berambut putih:
Tenang dan sabarlah. Karena ciri-ciri orang cerdas adalah jika dia bisa mengendalikan secara proporsional perasaannya.

Guru menggapai kesempatan:
Saya harus sabar bagaiman guru? Bukankah selama ini kau telah menipuku. Menipuku secara besar-besaran. Maka tiadalah ampun bagimu, wahai guruku.

Orang tua berambut putih:
Padahal apa yang akan aku katakan justeru lebih berat dari itu. Sudah saya katakan berkali-kali bahwa diriku tidak lain tidak bukan adalah pengetahuanmu. Telah terbukti bahwa diriku tidak bisa terhindar dari pertentangan, maka dapat aku katakan bahwa bahwa sebenar-benar ilmumu itu adalah pertentangan atau kontradiksi. Tiadalah suatu ilmu tanpa kontradiksi, karena jika tidak ada kontradiksi maka itu berarti berlaku hukum identitas. tetapi dengan hukum identitas kita tidak akan mendapat ilmu apa-apa. Karena A adalah A itulah hukum identitas. “Aku” adalah “Aku” itu juga hukum identitas. Ketahuilah bahwa kalimat “Saya adalah guru” itu sebenar-benar kontradiktif dalam filsafat. Mengapa? Itu adalah kontradiktif dan tetap kontradiktif sampai engkau dapat membuktikan bahwa “Saya” itu identik atau persis saama dengan “guru”. Padahal kita tahu bahwa “saya” tidaklah sama dengan “guru”. “saya” mempunyai sifat-sifat yang berlainan dengan “guru”. Demikian pula bahwa “2+3=5” adalah juga kontradiktif secara filsafati mengapa, karena sebenar-benar bahwa “2+3” belumlah sama dengan “5” sebelum engkau mampu membuktikannya.

Guru menggapai kesempatan:
Wahai guru, aku belum bisa menerima penjelasanmu itu. Karena guruku yang lain mengatakan “Jagalah hatimu dan jangan sampai ada pertentangan di situ. Jika terdapat satu saja pertentangan di hatimu, maka itu pertanda syaitan duduk di situ”. Kalau begitu apakah engkau sedang mengajarkan ilmunya syaitan kepadaku guru?

Orang tua berambut putih:
Benar pertanyaanmu dan benar pula ucapan gurumu yang lain itu. Sedari awal yang aku bicarakan adalah tentang dirimu dan diriku. Berkali-kali aku katakan bahwa diriku adalah ilmumu. Ilmumu adalah pikiranmu. Jadi sebenar-benar aku adalah pikiranmu. Jadi konradiksiku adalah kontradiksi dalam pikiranmu. Barang siapa ingin memperoleh ilmu dalam pikirannya, maka bersiaplah dia menemukan kontradiksi-kontradiksi itu.

Guru menggapai kesempatan:
Terus bagaimana dengan hatiku ini guru?

Orang tua barambut putih:
Hatimu adalah jiwamu. Hatimu adalah hidupmu. Hidupmu tidak lain tidak bukan adalah hatimu. Maka barang siapa baik hatinya maka baik pula hidupnya. Dan barang siapa buruk hatinya maka buruk pula hidupnya. Sebenar-benar hatimu itu adalah satu, yaitu rakhmat Nya. Maka hatimu tidak lain tidak bukan adalah ibadahmu. Sebenar-benar hatimu adalah doa-mu. Jadi tiadalah pertentangan dan keragua-raguan di sana. Barang siapa membiarkan adanya pertentangan dan keragu-raguan di hati maka syaitan lah yang akan menghuni hatinya. Maka dengan tegas aku katakan jagalah hatimu jangan sampai ada pertentangan ataupun kontradiksi.

Guru menggapai kesempatan:
Hah.. itulah sebenar-benar ilmuku guru. Oh Tuhan ampunilah segala dosaku. Aku telah berbuat durhaka kepada guruku. Kenapa guruku yang begitu hebat telah aku sumpah serapah. Manusia macam apakah aku ini ya Tuhan. Kiranya engkau cabut nyawaku sebagai tebusannya, maka ikhlaslah aku. Wahai guruku, sudilah engkau memaafkan diriku, dan sudilah aku masih tetap bersamamu.

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar ilmu. Itulah sebenar-benar rakhmat. Yaitu jikalau engkau menyadari kelemahanmu dan selalu mohon ampun ke hadlirat Nya. Maka sebenar-benar Filsafat itu adalah refleksi. Refleksi itu artinya melihat diri sendiri. Belumlah engkau dikatakan belajar filsafat jika engkau belum mampu melihat dirimu sendiri. Padahal syarat untuk mampu melihat diri adalah tidak sombong dalam dirimu.  Tidak sombong artinya ikhlas dalam hatimu dan jernih dalam pikirmu. Ikhlas dalam hatimu adalah mensyukuri setiap hal sebagai Rakhmat Nya. Jernih dalam pikirmu adalah terbebas dari prejudice, buruk sangka, atau negatif thinking. Maka untuk menggapai kesempatan, belajar dan selalu belajarlah, membaca dan selalu membacalah, bertanya dan selalu bertanyalah, berdoa dan selalu berdoalah. Ikutilah kuliah filsafat dan bacalah elegi-elegi tanpa prasyarat apapun. Inilah salahsatu kesempatan itu. Maka raihlah kesempatan itu. Tetapi janganlah salah paham karena sebenar-benar guru menggapai kesempatan adalah jika dia dapat selalu hidup dan menghidupkan murid-muridnya. Maka sebenar-benar guru menggapai kesempatan adalah jika murid-muridnya sebenar-benar menggapai kesempatan pula. Maka sebenar-benar hidup adalah memberi dan diberi kesempatan. Amien.

39 comments:

  1. Falenthino Sampouw
    18709251006
    S2 Pendidikan Matematika

    Selamat sore, Prof.
    Murid adalah subjek yang harus guru hidupkan. Murid adalah pribadi yang bebas dengan keberadaannya dan sifat-sifatnya. Murid tak berkuasa pada guru. Namun dengan kuasanya, guru mestinya tidak menggunakan itu sebagai potensi menutupi sifat-sifat muridnya. Siswa berpendapat tidak berarti ia melanggar kuasa guru, murid memberikan kritikan tidak berarti ia melanggar kuasa guru, namun itulah sesungguhnya kesempatan yang diberikan oleh kuasa guru. Kuasa guru berpotensi untuk menghidupkan muridnya, yaitu dengan memberikannya kesempatan dalam mengonstruksi pengetahuannya.
    Terima kasih, Prof.

    ReplyDelete
  2. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Hidup itu adalah kesempatan. Kesempatan memilih, kesempatan tidak memilih, kesempatan menjadi guru, kesempatan menjadi dosen, kesempatan lolos CPNS, dan lain sebagainya. Sesungguhnya kehidupan ini adalah kesempatan. Guru mempunyai kesempatan untuk mengajar, mendidik, menutupi sifat-sifat muridnya, menutupi sifat-sifat dirinya sendiri, dan lain-lain. Kesempatan tersebut harus dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya. Hal ini merupakan sudut pandang guru dalam menggapai kesempatan. Jika ada siswa yang bertanya berarti guru telah memberikan kesempatan padanya. Jika siswa maju untuk mengerjakan tugas, berarti guru telah memberi kesempatan padanya untuk maju. Jika siswa ribut di kelas dan guru diam saja hal ini juga dikarenakan guru memberikan kesempatan kepada siswanya. Namun hal ini jika menurut pandangan orang lain, maka guru menggapai kesempatan, bukan memberi kesempatan. Dan masih banyak yang lainnya. Hal ini merupakan sudut pandang guru memberi kesempatan. Raihlah kesempatan yang ada. Sebenar-benarnya guru menggapai kesempatan adalah jika murid-muridnya menggapai kesempatan pula.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  3. Erma Zelfiana Surni
    18709251009
    S2. P.Matematika A 2018

    Assalamualaikum Wr. Wb
    Setiap manusia, setiap anak diberkahi sebuah potensi dan kreativitas dalam dirinya. Potensi dan kreativitas itu berbeda-beda setiap orang tergantung pada kesempatan mengembangkan potensi dan kreativitas tersebut.
    Jika hidup itu adalah memberi dan mendapatkan kesempatan maka saya akan berbicara tentang hidupnya guru dan hidupnya siswa. Hidup guru itu jika MEMBERI kesempatan kepada para siswa untuk mengembangkan potensi dan kreativitas dalam dirinya, Hidupnya guru juga jika MENDAPAT kesempatan melihat muridnya berkreasi, berpendapat, berkolaborasi dalam pembelajaran. Hidupnya siswa itu jika MENDAPAT kesempatan dalam berkreasi dalam pembelajaran dan jika MEMBERI kesempatan kepada gurunya untuk melatih dan meninjau perkembangan potensi dan kreativitas yang mereka tampilkan.

    Maka sebenar benar hidupnya pembelajaran itu adalah interaksi antara keduanya (memberi dan mendapat kesempatan, baik guru maupun siswa). Sebenar-benar hidupnya guru ialah dia sendiri yang memilih. Jika memilih untuk tidak memberikan kesempatan pada siswanya maka dia tidak akan mendapatkan kesempatan dari siswanya. Berbicara panjang lebar didepan siswa tanpa MEMBERI kesempatan kepada siswa itu bukanlah MENDAPAT kesempatan melainkan berkuasa. Jadi perlu dibedakan oleh guru antara MENDAPAT kesempatan dengan BERKUASA.

    ReplyDelete
  4. Sebagai guru yang baik harus memberikan ruang pada siswa untuk dapat berkembang secara total, sesuai dengan potensinya. Akan tetapi yang saya bingungkan dari elegi ini adalah kenapa menutupi sifat siswa menjadi pokok masalah? Lalu bagaimana jika terdapat siswa pendiam yang kurang aktif? Seandainya dibiarkan dalam sifatnya maka siswa tersebut akan tetap pasif. Mohon maaf atas keterbatasan kemampuan interpretasi saya Prof.

    ReplyDelete
  5. Septia Ayu Pratiwi
    18709251029
    S2 Pendidikan Matematika B

    Guru dan siswa sama-sama berhak mendapatkan kesempatan. Namun kesempatan antara guru dan siswa itu berbeda. Memberi merupakan salah satu kesempatan yang diberikan guru kepada siswa. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya, untuk mengeksplore pengetahuannya, untuk menunjukkan bakatnya, dan guru membiarkan siswa untuk berinisiatif. Hal-hal seperti itu bukan serati sfiat-sifat murid yang menutui sifat-sifat guru melainkan guru memberikan ruang dan waktunya supaya siswa dapat megembangkan diri. Sedangkan menggunakan merupakan kesempatan bagi siswa. Siswa menggunakan ruang, pikiran, dan waktunya untuk melakukan hal-hal yang dpat mengembangkan dirinya dengan bantuan oleh gurunya. Siswa merupakan objek, baik antara guru dan siswa harus saling bekerjasama untuk menciptakan kesempatan dalam pembelajaran untuk mewujudkan pendidikan yang efektif dan optimal.

    ReplyDelete
  6. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    1) Dari kata “kesempatan” saja banyak sekali cerita di baliknya. Cerita sedih, senang, marah, galau, dan sebagainya. Kesempatan bila di dalam cerita percintaan, seperti cintailah selagi ada kesempatan, maksudnya buka hatimu untuk mencintai selagi bisa untuk mencintai sebelum tidak bisa mencintai. Kesempatan jarang sekali terulang bila tidak pas timingnya, pas tidak pasnya timing harus dimanfaatkan kesempatan itu, baik buruk kesempatan bila tidak diambil mana bisa tahu bagaimana wujudnya. Jadi sebaik-baik kesempatan tetaplah kesempatan yang tidak bisa dipunyai orang lain karena kesempatan datang memilih orang yang disukainya. Bila terlewat kesempatan untuk diambil, maka hilang pula kesempatan untuk sempat merasakan kesempatan itu.

    ReplyDelete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Kesempatan dalam dunia pendidikan, apa lagi dikaitkan dengan para pendidiknya yaitu “Guru” maka akan semakin elegan kesempatan itu. Maksudnya, kesempatan dalam mendidik siswa, mendidik orang-orang yang membutuhkan untuk di didik. Siswa juga bermacam-macam tipenya sehingga kesempatan guru semakin besar untuk menggapai kesempatan yang tidak didapat oleh yang bukan guru. Orang-orang yang membutuhkan didikan guru juga memberikan kesempatan pada guru untuk lebih mengembangkan ilmu yang tidak hanya melulu untuk siswa tetapi juga untuk orang-orang umum.

    ReplyDelete
  9. Elsa Apriska
    18709251005
    S2 PM A 2018

    Guru sebagai seseorang yang dianggap memiliki kuasa kepada muridnya jangan sampai malah menutup sifat-sifat yang dimiliki siswanya. Setiap siswa itu memiliki potensi masing-masing yang sangat bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang luar biasa dengan kesempatan dan pendampingan yang baik oleh guru. Seperti yang ada di elegi ini bahwa kesempatan adalah keadaan dimana satu sifat tidak menutupi sifat lain. Karena apabila satu sifat menutupi sifat lain maka sifat yang menutupi disebut "menentukan" dan yang tertutupi disebut "ditentukan". Begitu juga peran guru dalam memberdayakan potensi dari setiap murid. Guru bukan menentukan bagaimana siswa seharusnya, tapi membantu siswa untuk bisa mengembangkan potensi yang ia miliki.

    ReplyDelete
  10. Rindang Maaris Aadzaar
    18709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Dari percakapan diatas, ada kalimat yang sangat saya senangi yaitu "Hidupmu adalah karena hidupnya orang lain. Jika tiadalah orang lain hidup disekitarmu, maka siapakah yang akan mengatakan bahwa dirimu hidup". Hal tersebut sangat menyentuh untuk guru bahwa sejatinya murid tidak ada artinya tanpa guru dan guru juga demikian. Guru tanpa arti tanpa ada muridnya. Jika tidak ada siapapun yang mau mendapatkan ilmu, maka sengsaralah guru tersebut.
    Guru yang baik juga akan merasa bingung bagaimana untuk menyalurkan semua ilmu-ilmu yang dimilikinya. Tidak ada guru yang pelit ilmu dan guru selalu ingin membagi ilmunya. Apakah ilmu akan berkurang? Tidak. Pasti akan terus bertambah sesuai dengan pembelajaran disetiap waktu.
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  11. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PPs UNY PM A 2018

    Hidup adalah pilihan demikian juga dengan kesempatan. Kesempatan dimanfaatkan tergantung dari pilihan kita. Dalam kaitannya dengan seorang guru, memiliki peranan yang sangat penting dalam proses belajar mengajar di kelas. Guru memiliki kuasa untuk dapat menciptakan pembelajaran yang kreatif, dan bermakna. Pembelajaran yang berpusat pada siswa, artinya siswa diberikan kesempatan untuk mengkonstruk pengetahuannya, dan juga siswa selalu aktif di dalam proses pembelajaran. Guru harus benar-benar memainkan peranannya sehingga siswa dapat berhasil dan meraih prestasi di kelas. Siswa pun sebagai subjek yang belajar hendaknya diberikan kuasa oleh guru untuk dapat mengkonstruk pemikirannya sendiri karena salah satu tolak ukur keberhasilan guru dalam mengajar dan mentransfer pengetahuannya, dilihat dari berhasil atau tidaknya anak didik tersebut.

    ReplyDelete
  12. Rosi anista
    18709251040
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr wb
    Kehidupan erat kaitannya dengan sebuah kesempatan. Dalam setiap aspek kehidupan sebagai manusia kita harus melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan karena sesuatu yang datang atau terjadi sekarang belum tentu akan terjadi di masa depan. Kesempatan menjadikan kita untuk menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Tanpa terkeuali sebagai seorang, misalnya saat mengawali pembelajaran suatu materi matematika, tentunya hal yang penting harus diperhatikan seorang guru adalah bagaimanan menanamkan konsep yang baik dalam benak siswa, karena seiring dengan berjalannya waktu kesempatan tersebut tidak akan terulang untuk kedua kalinya.

    ReplyDelete
  13. Amalia Nur Rachman
    18709251042
    S2 Pendidikan Matematika B UNY 2018

    Sebagai calon guru, kita dapat menggapai kesempatan yang diperuntukkan bagi peserta didik. Seorang pendidik sejatinya dapat memberikan kesempatan untuk belajar lebih banyak, mengeksplorasi potensi siswa dan mendorong siswa untuk aktif agar siswa memiliki kompetensi yang lebih. Tentu hal tersebut dicapai setelah guru dapat memahami karakteristik siswa. Diharapkan dengan kesempatan yang diberikan ke siswa, guru juga belajar untuk mengelola dan meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa

    ReplyDelete
  14. Deden Hidayat
    18709251032
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Kesempatan merupakan hal yang harus ada dalam proses pembelajaran. Kesempatan perlu dihadirkan seorang guru dalam suatu pembelajaran. Misalnya siswa diberikan suatu kesempatan untuk mengonsturk pemahamannya sendiri melalu sebuah aktivitas, untuk menanyakan apa yang belum dipahaminya dan memberikan siswa kesempatan untuk meningkatkan potensi yang dimilikinya. Pemberian kesempatan yang diberikan oleh guru pada siswa bertujuan agar siswa mampu mengembangkan kemampuan yang dimilikinya secara optimal.

    ReplyDelete
  15. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006
    PEP S3

    Filsafat adalah refleksi. Refleksi adalah melihat dari dalam diri sendiri. Melihat kekruangan dan kelebihan sendiri tanpa mempedulikan kelebihan dan kekurangan orang lain. Engkau dikatakan belum mempelajari filsafat jika tidak mampu merefleksi diri sendiri. Oleh karena itu, dari artikel di atas dapat disimpulkan bahwa sebenar-benar filsafat adalah refleksi diri.

    ReplyDelete
  16. Fabri Hidayatullah
    18709251028
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Guru yang menggapai kesempatan ialah guru yang dapat memberikan kesempatan kepada siswa-siswanya. Bukan guru yang banyak menjelaskan sementara siswa hanya mendengarkan, bukan guru yang bertanya sementara siswa hanya menjawab, bukan pula guru yang memberi perintah sementara siswa hanya melaksanakan perintah, dsb. Karena itu hanya akan membunuh kemandirian dan pola pikir siswa. Sebaliknya, siswa harus diberikan kesempatan yang seluas-luasnya agar dapat membangun pengetahuannya sendiri.

    ReplyDelete
  17. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  18. Totok Victor Didik Saputro
    18709251002
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Selamat malam Prof.
    Kesempatan adalah bagian dari hidup. Menjalani hidup artinya akan banyak memperoleh kesempatan-kesempatan. Kesempatan ini muncul dari adanya kesesuain pikiran dan hati kita sehingga ingin diwujudkan dengan tindakan. Setiap kesempatan memerlukan pilihan. Pilihan adalah cara untuk memanfaatkan kesempatan yang ada. Kesempatan dapat muncul dengan sendirinya dan juga dapat kita ciptakan. Oleh karena itu, janganlah pernah sia-siakan kesempatan yang engkau peroleh, tetapi berusahalah memanfaatkannya. Di lain sisi, bersyukurlah apabila engkau mampu menciptakan kesempatan itu. Artinya spesiallah dirimu. Terima kasih.

    ReplyDelete
  19. SUHERMI
    18709251007
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA A

    Kesempatan adalah waktu yang diberikan pada kita untuk memilih. Proses hidup yang kita lalui merupakan penggalan-penggalan dari kesempatan yang kita ambil. Sebagai guru, kesempatan yang diberikan kepada kita dalam mendidik kita pergunakan sebaik-baiknya untuk menghidupkan siswa dalam belajar. Semoga kita masih diberi kesempatan untuk menjadi pendidik yang terbaik.

    ReplyDelete
  20. Surya Shofiyana Sukarman
    18709251017
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Seorang guru dapat dikatakan berhasil menggapai kesempatan apabila beliau berhasil membuat para muridnya hidup. Hidup dalam artian para siswa bebas mengekspresikan apa yang mereka tahu, apa yang mereka pahami, bebas bertanya apabila mereka benar-benar tidak tahu akan suatu hal. Guru yang baik adalah guru yang tidak memaksakan kehendaknya kepada murid, tidak kembuat siswa terbebani dan terkekang dalam kuasa guru. Guru dan siswa berjalan beriringan tanpa ada pembatas yang berarti, guru sebagai fasilitator yang membantu kesulitan siswa dan siswa sendiri ditempatkan sebagai subjek pembelajaran yang dominan di kelas.

    ReplyDelete
  21. Herlingga Putuwita Nanmumpuni
    18709251033
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Kesempatan adalah peluang. Berdasarkan elegi di atas telah disampaikan bahwa sebenar-benar guru menggapai kesempatan adalah jika dia dapat selalu hidup dan menghidupkan murid-muridnya. Maka sebenar-benar guru menggapai kesempatan adalah jika murid-muridnya sebenar-benar menggapai kesempatan pula. Maka sebenar-benar hidup adalah memberi dan diberi kesempatan.Memberi kesempatan kepada murid-murid di kelas dapat dilakukan seorang guru melalui cara memberikan banyak pengalaman belajar bagi mereka. Memilih dan mencobakan model pembelajaran yang beragam untuk memberikan siswa pengalaman dalam belajar.

    ReplyDelete
  22. Diana Prastiwi
    18709251004
    S2 P. Mat A 2018

    Dala elegi guru memberikan kesempatan tersebut tersirat bahwa kesempatan tersebut berkonotasi positif. Kesempatan itu adalah semangat, kesempatan bertanya, menjawab, motivasi, materi pembelajaran, pola pikir visioner dan hal positif lainnya termasuk hikmah pengalaman seorang guru.

    ReplyDelete
  23. Diana Prastiwi
    18709250114
    S2 P. Mat A 2018

    Guru menggapai kesempatan dapat diartika bahwa guru yang berhasil menggapai kesempatan adalah guru yang mampu mentransfer seluruh kesempatan tersebut kepada murid sehingga sang murid juga menerima kesempatan dan bisa menerapkan serta mengkonstruksikan hidup mereka di masa yang akan datang. Guru mengarahkan dan menggiring murid untuk belajar dan memanfaatkan kesempatan tersebut.Guru yang memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk mengemukakan pendapat atau memberikan kesempatan untuk bertanya dan lain sebagainya yang dimaksudkan untuk meningkatan pengetahuan dalam belajar adalah guru yang dapat menggapai kesempatan. kesempatan dapat menyebabkan perubahan menuju yang lebih baik, pemberian kesempatan merupakan halyang baik untuk mendorong siswa menggngkapn gagasannya. guru akan melruskan jika pendapat siswa belum tepat dan guru dapat menambahkan gagasan siswa yang kurang lengkap.

    ReplyDelete
  24. Eka Puspita Sari
    18709251035
    S2 PM B 2018

    Kesempatan adalah kemerdekaan, kesempatan adalah potensi sekaligus fakta. Maka sebenar-benar hidup adalah kesempatan, yaitu kesempatan masih berada didunia. Jika telah mati ia tetap memiliki kesempatan, kesempatan dialam yang terpisah dengan sebelumnya walaupun kesempatannya didunia telah habis. Setiap detik kita dihadapkan oleh kesempatan, kesempatan untuk membuka mata atau tidak, untuk tetap bernafas atau tidak, kesempatan untuk diam atau bergerak. Jika tidak ada kesempatan maka berakhirlah kehidupan didunia. Seorang gurupun memiliki berbagai macam kesempatan, apakah mentransfer ilmu kepada siswa, menfasilitasi siswa untuk belajar, mendengarkan siswa, mencaci siswa, meremehkan siswa, menghargai siswa dan kesempatan-kesempatan lain yang mungkin dapat dipilih. Bukan tidak mungkin kita dihadapkan pada keadaan tanpa sadar memilih sebuah kesempatan yang dampaknya amat berarti bagi sekitar. Jika seorang guru, kesempatan menutupi sifat siswanya mungkin.

    ReplyDelete
  25. Eka Puspita Sari
    18709251035
    S2 PM B 2018

    Guru meutupi siswa siswanya adalah keadaan dimana secara sepihak seorang guru mengatakan bahwa muridnya tidak cerdas padahal belum tentu tidak cerdas dan mungkin saja cerdas. Ketika seorang guru berbicara dan murid mendengarkan maka ia disebut menutupi sifat muridnya, namun tidak berlaku sebaliknya saat guru mendengarkan muridnya berbicara maka itu tidak dapat dikatakan seorang siswa menutupi sifat gurunya malah justru hal tersebut berarti seorang guru sedang memberikan kesempatan kepada siswanya. Namun, dalam proses belajar mengajar guru tidak lepas dari berbicara dan siswa pasti mendengarkan. Ternyata dalam memberikan kesempatan terhadang kita harus menutupi sifat siswa terlebih dari agar siswa tersebut mengerti bahwa ia memiliki kesempatan untuk mengerti lebih banyak lagi dan memahami lebih banyak lagi. Begitulah kehidupan, memberi dan menerima ksempatan.

    ReplyDelete
  26. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Manusai maupun makhluk hidup di muka bumi mempunyai kesempatan berbeda-beda tergantung pencapaian yang dilakukan masing-masing manusia. Katanya kesempatan tidak datang dua kali oleh karena itu setiap ada kesempatan ikuti saja alurnya sehingga akan menuntun pada jalan yang ternyata kita inginkan maupun yang tidak kita inginkan tetapi mempunyai dampak baik bagi orang terdekat kita. Guru juga tidak mempunyai kesempatan bila telah menyia-nyiakan kesempatan yang datang, misalnya menolak kesempatan untuk mengajar di sekolah yang tidak diinginkan, padahal itu merupakan kewajiban guru karena memang guru ada untuk membagikan ilmu. Hal yang disia-siakan guru tersebut adalah bisa jadi di sekolah yang ditolak tersebut ada kegiatan atau rejeki yang sebenarnya dinantikan guru tersebut selama ini. Sehingga, apapun kesempatan yang datang lebih baik dicoba saja untuk dilakukan.

    ReplyDelete
  27. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Seperti apa yang sudah pernah saya sampaikan dalam komen sebelumnya, bahwa menurut saya, orang yang paling berbahaya di muka bumi adalah orang yang berilmu dan berkuasa, namun tidak memiliki hati nurani. Orang berkuasa akan cenderung menggunakan kekuasaannya di atas objek yang dikuasai disbanding memberi kesempatan kepada objek-objek yang dikuasai tersebut. Menggunakan kekuasaan secara semenan-mena demi kemudahan atau keuntungan pribadi adalah serendah-rendahnya manusia, sementara memberi kesempatan kepada objek yang dikuasai adalah setinggi-tingginya manusia. Oleh karena itu, semoga kita termasuk orang-orang yang berkuasa dan mampu memberi kesempatan kepada objek-objek yang kita kuasai. Terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dita Aldila Krisma
      18709251012
      PPs Pendidikan Matematika A 2018

      Ya semoga saja begitu. Menjadi subjek yang tahu akan ruang dan waktu. Memberi kesempatan kepada objek untuk mengembangkan potensinya. Objek tidak selalu menjadi yang diatur namun diarahkan, dikendalikan, dipantau, tanpa menutupi sifat-sifat objek. Sudah menajdi kewajiban subjek untuk mengelola objek dan memberi makna pada subjek sendiri dan objek.

      Delete
  28. Dita Aldila Krisma
    18709251012
    PPs Pendidikan Matematika A 2018

    Guru memiliki kendali untuk menguasai murid tapi bukan berarti harus memberikan sifat determinism kepada murid. Guru mempunyai hak untuk mengelola keals tapi bukan berarti harus menutup potensi siswa. Tidak akan hilang kuasa seorang guru meski ia memberi kesempatan kepada siswa untuk mendengarkan, bertanya, berinisiatif, dan aktivitas lainnya. Pun kita harus menjadi guru yang cerdas yaitu bisa mengendalikan perasaan.

    ReplyDelete
  29. Hasmiwati
    18709251023
    S2 Pend.Matematika B 2018

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    "Tidak sombong artinya ikhlas dalam hatimu dan jernih dalam pikirmu. Ikhlas dalam hatimu adalah mensyukuri setiap hal sebagai Rakhmat Nya. Jernih dalam pikirmu adalah terbebas dari prejudice, buruk sangka, atau negatif thinking" Dua hal tersebut sangatlah penting untuk dijadikan dasar sebagai pengendali diri kita. Karena dengan memperhatikan dan melaksanakan hal tersebut akan mempermudah kita dalam menggapai kesempatan.

    ReplyDelete
  30. Hasmiwati
    18709251023
    S2 Pend.Matematika B 2018

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Menurut hemat saya, tugas guru tidak hanya menyampaikan informasi kepada peserta didik, tetapi harus menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar (facilitate of learning) kepada seluruh peserta didik, agar mereka dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan, gembira, penuh semangat, tidak cemas, dan berani mengemukakan pendapat secara terbuka. Tugas guru yang paling utama adalah "to facilitate of learning" (memberi kemudahan belajar), bukan hanya menceramahi atau mengajar peserta didik, kita memerlukan guru yang demokratis, jujur dan terbuka, serta siap dikritik oleh peserta didiknya. Guru merupakan faktor penting yang besar pengaruhnya terhadap keberhasilan pembelajaran, bahkan sangat menentukan berhasil-tidaknya peserta didik belajar. Dan apabila modal dasar bagi peserta didik itu sudah ada maka dapat digunakan untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang siap beradaptasi, menghadapi berbagai kemungkinan dan memasuki era globalisasi yang penuh berbagai tantangan.

    ReplyDelete
  31. Hasmiwati
    18709251023
    S2 Pend.Matematika B 2018

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Hidup adalah kesempatan. Hidup haruslah digunakan untuk menggapai kesempatan. Guru haruslah dapat hidup dan menghidupkan muridnya artinya guru harus mau memberikan kesempatan kepada muridnya. Guru tidak boleh untuk menutupi sifat-sifat yang dimiliki oleh murid dengan cara memberikan julukan atau kata-kata buruk kepada murid seperti kamu itu bodoh dan sebagainya. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan pada murid. Murid dibiarkan untuk mengungkapkan gagasan-gagasannya, murid diberi kan kesempatan untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Jika guru masih sebagai subyek dalam pembelajaran, itu tandanya guru masih belum memeberikan kesempatan pada murid-muridnya. Murid hendaknya dijadikan subyek dalam pembelajaran.

    ReplyDelete
  32. Hasmiwati
    18709251023
    S2 Pend.Matematika B 2018

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Hakekat dari kesempatan adalah kemerdekaan. Kesempatan adalah potensi sekaligus fakta. Maka sebenar-benar hidup adalah kesempatan. Belajar, membaca, bertanya dan berdoa. Inilah sebenar-benarnya kesempatan itu. Jadi sebenar-benar guru menggapai kesempatan adalah jika dia dapat selalu hidup dan menghidupkan murid-muridnya. Maka sebenar-benar guru menggapai kesempatan adalah jika murid-muridnya sebenar-benar menggapai kesempatan pula, maka sebenar-benar hidup adalah memberi dan diberi kesempatan. Manusia berusaha untuk memberi dan diberi kesempatan. Hidup adalah kesempatan, kesempatan untuk memberi kebebasan pada orang lain dan kebebasan untuk diberi kesempatan orang lain.

    ReplyDelete
  33. Darwis Cahyo Nugroho
    18709251038
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamualaikum wr.wb
    Setiap siswa dikaruniai sebuah potensi, bakat dan kreativitas dalam dirinya. Potensi, bakat dan kreativitas itu berbeda-beda setiap siswa tergantung pada kesempatan mengembangkan potensi, bakat dan kreativitas tersebut.
    Jika hidup adalah memberi dan mendapatkan kesempatan maka hidup seorang guru adalah memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengembangkan potensi dan kreativitas dalam dirinya, Hidup seorang guru juga dapat kesempatan melihat muridnya berkreasi dalam pembelajaran. Hidup siswa adalah mendapat kesempatan dalam berkreasi dalam pembelajaran dan memberi kesempatan kepada guru untuk melatih perkembangan potensi dan kreativitas yang mereka miliki.

    ReplyDelete
  34. Darwis Cahyo Nugroho
    18709251038
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamualaikum wr.wb
    Sebenar-benar pembelajaran itu adalah interaksi antara keduanya (memberi dan mendapat) baik guru maupun siswa. Sebenar-benar hidup seorang guru adalah orang tersebutlah yang memilih. Jika memilih untuk tidak memberikan kesempatan pada siswanya maka dia tidak akan mendapatkan kesempatan dari siswanya. Menjelaskan panjang lebar didepan siswa tanpa memberi kesempatan kepada siswa itu bukanlah memberi kesempatan melainkan berkuasa. Jadi perlu dibedakan oleh guru antara memberi kesempatan dengan penguasa

    ReplyDelete
  35. Kartianom
    18701261001
    S3 PEP 2018

    Seorang guru telah diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi siswa-siswanya. Jangan sampai kesempatan yang telah diberikan dan dipercayakan kepada seorang guru disia-siakan dengan menutup sifat-sifat yang ada pada diri siswa. Tidak ada siswa yang malas, tidak ada siswa yang bodoh. Guru harus sering merefleksikan diri sendiri.

    ReplyDelete
  36. hendra b.
    18701261008
    PEP S3 2018

    sebenar-benar hidup adalah kesempatan. Kesempatan yang diberikan ini jika tidak dibekali dengan ilmu maka kesempatan akan berganti makna. Mumpung masih hidup mari bersenang-senang, mari berpestapora, mari brbuat kenakalan. Tetapi jika dibarengi ilmu maka akan berpikir bahwa mari menggunakan kesempatan yang sedikit ini sebaikmungkin dengan berbauta baik dengan sesama, memperbanyak amal pahala, mari membersihkan hati dari hal-hal yang tidak baik. seperti pesan orangtua berambut putih bahwa Hatimu adalah jiwamu. Hatimu adalah hidupmu. Hidupmu tidak lain tidak bukan adalah hatimu. Maka barang siapa baik hatinya maka baik pula hidupnya.

    ReplyDelete
  37. Sintha Sih Dewanti
    18701261013
    PPs S3 PEP UNY

    Menanggapi perkataan Orang tua berambut putih bahwa “Kesempatan adalah kemerdekaan. Kesempatan adalah potensi sekaligus fakta. Maka sebenar-benar hidup adalah kesempatan.” Saya sependapat dengan hal ini, bahwa kesempatan belum tentu datang untuk kedua kalinya. Kita tetap perlu memikirkannya sebelum mengambil keputusan. Tetapi terlalu banyak berpikir, menyebabkan seseorang tidak berani mengambil keputusan. Terkadang kita larut dalam kondisi ini, sehingga akan menjadi orang yang peragu yang tidak berani mengambil resiko, dan cenderung untuk tinggal di zona kenyaman dan keamanan. Oleh karena itu mengambil keputusan harus cermat dan tepat berdasarkan keyakinan bahwa keputusan tersebut adalah yang terbaik.

    ReplyDelete
  38. Yoga Prasetya
    18709251011
    S2 Pendidikan Matematika UNY 2018 A
    Kesempatan merupakan suatu hal yang harus kita pilih dalam menjalani hidup ini. Kesempatan datang setiap waktu saat kita tak pernah menduga kesempatan itu datang. Begitu juga dalam proses pembelajaran, kesempatan selalu ada pada ruang dan waktu tertentu. Seorang guru memiliki kesempatan untuk memberikan wadah berupa teori dan ilmu kepada para siswanya artinya guru menjadi fasilitator. Begitu juga dengan seorang siswa yang memiliki kesempatan untuk belajar dan mengasah kemampuannya. Kesempatan itu dapat terjadi dimana saja dan oleh siapa saja tinggal kita mau ambil kesempatan itu atau meninggalkannya.

    ReplyDelete