Sep 20, 2013

Elegi Seorang Guru Menggapai Kesempatan




Oleh: Marsigit
Guru menggapai kesempatan berada di persimpangan jalan:

Di persimpangan jalan inilah aku mempunyai kesempatan, tetapi ketika datang kesempatan itu ternyata dia bersifat jamak. Ada kesempataku berbelok ke kiri, ke kanan, serong kiri, serong kanan, berbalik tetapi juga bisa terus jalan lurus. Anehnya, ada pula kesempatanku untuk ragu-ragu bahkan diam doing nothing. Maka satu-satunya kepastian adalah bahwa aku mempunyai kesempatan memilih. Itulah harga yang selama ini aku cari dan aku perjuangkan. Tetapi ingin aku katakan bahwa tidak memilih pun merupakan kesempatanku. Aku sangat gembira dengan kesempatan ini. Tetapi di tengah euporia ku maka aku mulai bertanya apakah sebenar-benar kesempatan itu? Untuk itulah maka aku ingin bertanya. Tetapi bertanya kepada siapakah aku ini?

Orang tua berambut putih datang menghampirinya:
Muridku, kau telah memanggilku. Ada apakah gerangan?

Guru menggapai kesempatan:
Aku belum bertanya kenapa kau sudah datang?

Orang tua berambut putih:
Bukankah kalimatmu terakhir adalah suatu pertanyaan. Dan sesuai janjiku, dikarenakan sifat hakikiku, bahwa aku akan selalu datang pada setiap pertanyaan dari manapun, oleh siapapun dan tentang apapun.

Guru menggapai kesempatan:
Oh iya, terimakasih atas peringatanmu. Guru, dapatkah kau menjelaskan kepadaku apa sebenar-benar kesempatan itu?

Orang tua berambut putih:
Kesempatan adalah kemerdekaan. Kesempatan adalah potensi sekaligus fakta. Maka sebenar-benar hidup adalah kesempatan. Jikalau seseorang sudah tidak mempunyai kesempatan maka tiadalah dia dapat dikatakan sebagai hidup. Maka jikalau kamu menginginkan tetap hidup maka gapailah kesempatan itu.

Guru menggapai kesempatan:
Lalu apa relevansinya kesempatan itu dengan tugasku sebagai guru

Orang tua berambut putih:
Hidupmu adalah karena hidupnya orang lain. Jika tiadalah orang lain hidup disekitarmu, maka siapakah yang akan mengatakan bahwa dirimu hidup. Oleh karena itu maka wajib hukumnya bahwa engkau sebagai guru harus selalu menghidup-hidupkan murid-muridmu. Murid-muridmu yang hidup itulah yang akan menyanyikan bahwa dirimu juga hidup. Maka sebenar-benar hidup adalah hidup dan saling menghidupkan.

Guru menggapai kesempatan:
Hebat nian kau guru. Aku bertanya tentang kesempatan mengapa engkau sampai pada penjelasan tentang hidup?

Orang tua berambut putih:
Jika engkau telah benar-benar hidup dan telah benar-benar hidup dan menghidupkan, maka tiadalah sesuatu di dunia ini yang tidak kait berkait. Maka kesempatan itu sebenarnya adalah hidup dan hidup itu adalah kesempatan. Semua yang ada di dunia itu kait berkait, dan itu adalah karena pikiranmu yang hidup. Maka jikalau engkau ingin melihat dunia, maka tengoklah ke dalam pikiranmu, karena dunia itu persis seperti apa yang engkau pikirkan.

Guru menggapai kesempatan:
Hebat nian kau guru. Aku bertanya tentang kesempatan mengapa engkau sampai pada penjelasan tentang dunia dan pikiran.

Orang tua berambut putih:
Baiklah aku kembali akan menjelaskan tentang kesempatan. Kesempatan itu adalah keadaan. Kesempatan itu adalah sifat. Kesempatan adalah keadaan di mana suatu sifat tidak tertutup oleh sifat yang lain. Jika suatu sifat menutup sifat yang lain, maka sifat yang menutup dikatakan “menentukan” dan sifat yang tertutup dikatakan “ditentukan”.

Guru menggapai kesempatan:
Lalu apa relevansinya sifat menentukan dan sifat ditentukan dengan tugasku sebagai guru.

Orang tua berambut putih:
Menentukan dan ditentukan itu adalah hubungan kuasa yang satu dengan tidak kuasa yang lain. Bukankah sudah pernah aku katakan bahwa guru itu kuasa terhadap muridnya, di sadari atau tidak disadari, disengaja atau tidak disengaja. Maka guru itu adalah kuasa untuk menutup sifat murid-muridnya. Sedangkan murid-muridnya tidak kuasa untuk menghindar dari sifat menutup gurunya. Maka sebenar-benar orang yang paling berbahaya di dunia ini adalah mereka yang sangat menikmati kegiatannya menutipi sifat-sifat yang lainnya. Maka engkau adalah guru yang sangat berbahaya bagi murid-muridmu jika engkau sangat menikmati kegiatanmu menutupi sifat murid-muridmu. Maka sebenar-benarnya tidak hidup adalah jika sifat-sifatnya tertutup oleh sifat yang lain.

Guru menggapai kesempatan:
Mohon guru, mohon guru, yang ini diteruskan lebih detail karena menurut saya sangat penting.

Orang tua berambut putih:
Guru yang baik adalah guru yang mampu hidup dan menghidup-hidupkan murid-muridnya. Maka janganlah sekali-kali keberadaanmu dan kegiatanmu sebagai guru menutup sifat-sifat murid-muridmu. Karena sifat yang tertutup itulah sebenar-benar tiada kesempatan.

Guru menggapai kesempatan:
Baik guru, di sini saya mulai antusias karena saya merasa sangat cocok dengan persoalan saya sebagai guru. Kemudian saya ingin bertanya lagi, bilamana dan bagaimana saya dikatakan menutup sifat murid-muridku.

Orang tua berambut putih:
Pertanyaan yang hebat. Itu adalah pertanyaan dari seorang yang cerdas. Ciri-ciri guru menutup sifat-sifat murid-muridnya adalah jika dia secara sepihak mendiskripsikan ciri-cirinya. Jika kau katakan muridmu sebagai malas, padahal dia belum tentu malas, maka yang demikian itu engkau telah menutupi sifatnya. Jika engkau katakan bahwa muridmu bodoh, padahal belum tentu dia bodoh, maka yang demikian itu telah menutupi sifatnya. Ketika kamu bicara sementara muridmu mendengar, maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika kamu bekerja sementara muridmu melihat, maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika kamu bertanya sementara muridmu berusaha menjawab maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika kamu berinisiatif sementara muridmu menunggu, itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika kamu menyuruh sementara muridmu melaksanakannya maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika kamu menilai prestasi siswamu maka itu adalah kejadian lain dari kegiatanmu menutupi sifat-sifatnya. Maka adalah sungguh berdosalah bagi orang-orang yang gemar menutupi sifat orang lain, karena yang demikian dampaknya begitu besar bagi murid-muridnya. Bahkan aku bisa katakan bahwa menutupi sifat itu tidak lain tidak bukan adalah pembunuhan secara perlahan-lahan.

Guru menggapai kesempatan:
Sebentar guru, jikalau sebaliknya, maksudku justeru yang melakukan atau yang menutui sifat itu siwa, yaitu siswa menutupi sifat gurunya, bukankah itu sama dosanya.

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar hakekat kesempatan, hakekat sifat dan hakekat kuasa. Sifat-sifat dari orang berkuasa adalah lain pula sifatnya dengan sifat-sifat orang yang tidak atau kurang berkuasa. Jikalau muridmu bicara dan kamu mendengarkan, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu bertanya dan engkau menjawab, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu berinisiatif dan engkau menunggu, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu melakukan kegiatan sementara engkau menontonnya, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Demikian seterusnya. Jadi sifat memberi kesempatan dan sifat menutup sifat, adalah berbeda-beda sifatnya sesuai domisilinya, apakah dalam orang yang berkuasa atau dalam orang yang dikuasai.

Guru menggapai kesempatan:
Kenapa engkau sebut aku sebagai guru menggapai kesempatan. Padahal sesuai dengan uraiannya mestinya aku lebih tepat kalau kau sebut sebagai guru memberi kesempatan.

Orang tua berambut putih:
Itulah ujianku terhadap dirimu. Kalau itu adalah engkau sendiri yang mengatakan maka baiklah untuk dirimu. Tetapi jikalau aku yang mengatakan maka tidak baiklah untuk dirimu. Mengapa? Karena dengan demikian aku telah menutupi sifatmu.

Guru menggapai kesempatan:
Ah guru, mohon maaf, bukankah guru telah berbuat kontradiktif, ambivalensi atau bertentangan di dalam guru sendiri. Di dalam Agama itu disebut sebagai munafik. Bagaimana menurutmu?

Orang tua berambut putih:
Benar ucapanmu. Sampai di sini aku merasa terharu walau mungkin kamu tidak demikian. mengapa karena engkau semakin pandai saja. Sampai di sinilah aku akan katakan sesuatu yang tidak bisa aku katakan sebelumnya.

Guru menggapai kesempatan:
Apa itu guru? Tolong jelaskan. Au menjadi penasaran dibuatnya.

Orang tua berambut putih:
Benar ucapanmu. Ketika aku berbicara panjang lebar kepadamu, maka aku sedang dalam proses menutipi sifat-sifatmu. Padahal aku sedang berbicara memberi kesempatan. Jadi aku tidak bisa memberi kesempatan tanpa menutupi sifat-sifatmu. Maka aku tidak bisa terhindar dari pertentangan dalam diriku. Jikalau engkau sensitif dan peka maka dapat aku katakan “pertentangan” itulah sebenar-benar hakekat diriku.

Guru menggapai kesempatan:
Oh guru mengapa demikian. Mengapa aku capai-capai mengikutimu ternyata engkau hanyalah sebuah kontradiksi. Oh Tuhan ampunilah aku, ya Tuhan. Guru macam apalah engkau ini. Kenapa engkau mengajariku banyak hal padahal engkau sendiri adalah kontradiksi. Aku sudah tidak bisa lagi menangis. Air mataku sudah kering. Lalu aku harus bagaimana?

Orang tua berambut putih:
Tenang dan sabarlah. Karena ciri-ciri orang cerdas adalah jika dia bisa mengendalikan secara proporsional perasaannya.

Guru menggapai kesempatan:
Saya harus sabar bagaiman guru? Bukankah selama ini kau telah menipuku. Menipuku secara besar-besaran. Maka tiadalah ampun bagimu, wahai guruku.

Orang tua berambut putih:
Padahal apa yang akan aku katakan justeru lebih berat dari itu. Sudah saya katakan berkali-kali bahwa diriku tidak lain tidak bukan adalah pengetahuanmu. Telah terbukti bahwa diriku tidak bisa terhindar dari pertentangan, maka dapat aku katakan bahwa bahwa sebenar-benar ilmumu itu adalah pertentangan atau kontradiksi. Tiadalah suatu ilmu tanpa kontradiksi, karena jika tidak ada kontradiksi maka itu berarti berlaku hukum identitas. tetapi dengan hukum identitas kita tidak akan mendapat ilmu apa-apa. Karena A adalah A itulah hukum identitas. “Aku” adalah “Aku” itu juga hukum identitas. Ketahuilah bahwa kalimat “Saya adalah guru” itu sebenar-benar kontradiktif dalam filsafat. Mengapa? Itu adalah kontradiktif dan tetap kontradiktif sampai engkau dapat membuktikan bahwa “Saya” itu identik atau persis saama dengan “guru”. Padahal kita tahu bahwa “saya” tidaklah sama dengan “guru”. “saya” mempunyai sifat-sifat yang berlainan dengan “guru”. Demikian pula bahwa “2+3=5” adalah juga kontradiktif secara filsafati mengapa, karena sebenar-benar bahwa “2+3” belumlah sama dengan “5” sebelum engkau mampu membuktikannya.

Guru menggapai kesempatan:
Wahai guru, aku belum bisa menerima penjelasanmu itu. Karena guruku yang lain mengatakan “Jagalah hatimu dan jangan sampai ada pertentangan di situ. Jika terdapat satu saja pertentangan di hatimu, maka itu pertanda syaitan duduk di situ”. Kalau begitu apakah engkau sedang mengajarkan ilmunya syaitan kepadaku guru?

Orang tua berambut putih:
Benar pertanyaanmu dan benar pula ucapan gurumu yang lain itu. Sedari awal yang aku bicarakan adalah tentang dirimu dan diriku. Berkali-kali aku katakan bahwa diriku adalah ilmumu. Ilmumu adalah pikiranmu. Jadi sebenar-benar aku adalah pikiranmu. Jadi konradiksiku adalah kontradiksi dalam pikiranmu. Barang siapa ingin memperoleh ilmu dalam pikirannya, maka bersiaplah dia menemukan kontradiksi-kontradiksi itu.

Guru menggapai kesempatan:
Terus bagaimana dengan hatiku ini guru?

Orang tua barambut putih:
Hatimu adalah jiwamu. Hatimu adalah hidupmu. Hidupmu tidak lain tidak bukan adalah hatimu. Maka barang siapa baik hatinya maka baik pula hidupnya. Dan barang siapa buruk hatinya maka buruk pula hidupnya. Sebenar-benar hatimu itu adalah satu, yaitu rakhmat Nya. Maka hatimu tidak lain tidak bukan adalah ibadahmu. Sebenar-benar hatimu adalah doa-mu. Jadi tiadalah pertentangan dan keragua-raguan di sana. Barang siapa membiarkan adanya pertentangan dan keragu-raguan di hati maka syaitan lah yang akan menghuni hatinya. Maka dengan tegas aku katakan jagalah hatimu jangan sampai ada pertentangan ataupun kontradiksi.

Guru menggapai kesempatan:
Hah.. itulah sebenar-benar ilmuku guru. Oh Tuhan ampunilah segala dosaku. Aku telah berbuat durhaka kepada guruku. Kenapa guruku yang begitu hebat telah aku sumpah serapah. Manusia macam apakah aku ini ya Tuhan. Kiranya engkau cabut nyawaku sebagai tebusannya, maka ikhlaslah aku. Wahai guruku, sudilah engkau memaafkan diriku, dan sudilah aku masih tetap bersamamu.

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar ilmu. Itulah sebenar-benar rakhmat. Yaitu jikalau engkau menyadari kelemahanmu dan selalu mohon ampun ke hadlirat Nya. Maka sebenar-benar Filsafat itu adalah refleksi. Refleksi itu artinya melihat diri sendiri. Belumlah engkau dikatakan belajar filsafat jika engkau belum mampu melihat dirimu sendiri. Padahal syarat untuk mampu melihat diri adalah tidak sombong dalam dirimu.  Tidak sombong artinya ikhlas dalam hatimu dan jernih dalam pikirmu. Ikhlas dalam hatimu adalah mensyukuri setiap hal sebagai Rakhmat Nya. Jernih dalam pikirmu adalah terbebas dari prejudice, buruk sangka, atau negatif thinking. Maka untuk menggapai kesempatan, belajar dan selalu belajarlah, membaca dan selalu membacalah, bertanya dan selalu bertanyalah, berdoa dan selalu berdoalah. Ikutilah kuliah filsafat dan bacalah elegi-elegi tanpa prasyarat apapun. Inilah salahsatu kesempatan itu. Maka raihlah kesempatan itu. Tetapi janganlah salah paham karena sebenar-benar guru menggapai kesempatan adalah jika dia dapat selalu hidup dan menghidupkan murid-muridnya. Maka sebenar-benar guru menggapai kesempatan adalah jika murid-muridnya sebenar-benar menggapai kesempatan pula. Maka sebenar-benar hidup adalah memberi dan diberi kesempatan. Amien.

12 comments:

  1. Lana Sugiarti
    16709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Elegi tersebut memberi pelajaran kepada saya bahwa sebagai guru hars selalu menghidupkan murid – murid. Murid – murid yang hidup itulah yang akan membuat guru juga hidup. Maka harus saling menghidupkan. Hidup adalah suatu kesempatan. Ada banyak kesempatan untuk menghidupkan. Tinggal kembali lagi ke masing – masing pribadi, apakah akan memanfaatkan kesempatan itu atau tidak.

    ReplyDelete
  2. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Kesempatan akan selalu datang di setiap kehidupan seseorang, begitu pula ketika belajar. Setiap proses belajar itu berarti siswa diberi kesempatan untuk memperoleh pengetahuan yang diajarkan. dan guru dalam hal ini perlu memberikan kesempatan kepada siswa memilih cara belajar, cara menyalurkan informasi yang guru berikan dan cara menyimpulkan pengetahuan yang ia dapat. Selayaknya guru hanya menjadi fasilitator bagi siswa dalam memanfaatkan kesempatan tersebut.

    ReplyDelete
  3. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Saya menyukai bagian di mana orang tua berambut putih mengatakan bahwa jika engkau telah benar – benar hidup dan telah benar – benar hidup dan menghidupkan, maka tiadalah sesuatu di dunia yang tidak saling terkait. Saya setuju dengan itu. dunia adalah semacam hubungan sebab akibat di mana kausa primanya adalah Tuhan yang Maha kuasa. Lihatlah bagaimana hidup kita di masa lalu akan menentukan hidup kita dimasa kini. Dan juga hidup kita di hari ini akan bekaitan dengan kehidupan dimasa mendatang.
    Itu baru mengkaitkan waktu yang terjadi dalam hidup kita. Bagaimana bila kita mulai mengkaitkannya dengan orang lain. Tentu saja akan jalin sebuah benang merah besar yang saling terkait satu sama lain.

    ReplyDelete
  4. Wahyu Berti Rahmantiwi
    16709251045
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Elegi seorang guru menggapai kesempatan membahas mengenai kesempatan merupakan kemerdekaan dan sebuah potensi. Orang yang mempunyai kesempatan maka ia dikatakan hidup, dengan demikian seorang guru harusnya dapat menghidupkan siswanya dalam pembelajaran agar siswa mempunyai kemampuan komunikasi. Komunikasi memberikan kesempatan bagi siswa dalam menyampaikan ide dan gagasannya mengenai suatu materi pembelajaran. Komunikasi tercipta ketika guru menggunakan model pembelajaran yang bervariasi dan yang lebih mengutamakan partisipasi siswa dalam pembelajaran.

    ReplyDelete
  5. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Setiap orang pasti punya hak untuk menggapai kesempatan, maka jangan sia-siakan kesempatan karena tidak datang untuk kedua kalinya. Dalam hali ini guru untuk menggapai kesempatan sangat terbuka lebar akantetapi itu semua tergantung niatnya yaitu adanya kemauan dan kemampuan. Keduanya tidak dapat terpisahkan. Oleh karena itu, hidupilah hidup untuk menghidupi hidup.

    ReplyDelete
  6. Anisa Wahyu Nur Khasanah
    14301241010
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Garis besar yang dapat saya ambil dari elegi ini adalah sebagai pendidik hendaknya jangan menutup sifat-sifat murid. Ciri-ciri menutup sifat-sifat murid adalah guru bertanya murid menjawab, guru menyuruh murid melakukan, guru berbicara murid mendengarkan, dll. Sebagai fasilitator, hendaknya memfasilitasi murid. Biarkan murid mengkronstruksi pengetahuannya sendiri.

    ReplyDelete
  7. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Kesempatan akan selalu datang di setiap kehidupan manusia, tapi tergantung bagaimana ia memanfaatkan kesempatan tersebut, begitu pula ketika kegiatan pembelajaran. Guru yang menggapai kesempatan adalah guru yang selalu hidup dan menghidupkan muridnya. Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk bertanya, menemukan, mengembangkan pikiran mereka, mengembangkan ide-ide, intuisi, melakukan suatu kegiatan untuk menemukan suatu konsep, mengamati suatu masalah, mencoba menyelesaikan suatu masalah, dll. Guru sebaiknya memberikan kesempatan-kesempatan tersebut kepada siswa dalam rangka memfasilitasi mereka dalam mengkonstruk pengetahuannya. Selain itu, guru menggapai kesempatan juga adalah guru yang inovatif dan kreatif, ia mengembangkan LKS, media pembelajaran yang bervariasi, interaksi, sumber belajar dan menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi untuk memfasilitasi siswa membangun pengetahuannya.

    ReplyDelete
  8. Azizah Pusparini
    14301244012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Guru yang baik adalah guru yang mampu hidup dan menghidupkan murid-muridnya. Di mana guru senantiasa memberikan kesempatan kepada siswa dan siswa sebenar-benarnya menggapai kesempatan. Dan hakikat hidup adalah member dan diberi kesempatan.
    Pada postingan ini saya termotivasi dengan tulisan Bapak yaitu “untuk menggapai kesempatan, belajar dan belajarlah, membaca dan selalu membacalah, bertanya dan selalu bertanyalah, berdoa dan selalu berdoalah”

    ReplyDelete
  9. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Berdasarkan elegi diatas bahwa, kesempatan itu adalah kemerdekaan. Kesempatan adalah potensi sekaligus fakta. Maka sebenar-benar hidup adalah kesempatan. Jikalau seseorang sudah tidak mempunyai kesempatan maka tiadalah dia dapat dikatakan sebagai hidup. Dengan adanya kesempatan kita bisa memperbaiki diri kita sendiri, sehingga menajdi pribadi yang lebih baik lagi dari pada sebelumnya, dalam menjalani kehidupan selalau ada kesempatan yanag mana banayk orang menyepelikan kesempatan itu, sehingga kesempatan yang mereka punya tidak mereka gunakan, padahal jika kita diberikan kesempatan maka pergunakan kesempatan itu sebaik mungkin, akrena kesempatan tidak akan datang dua kali.

    ReplyDelete
  10. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Pada komen kali ini saya mengingatkan sebuah pepatah yang tak asing bagi kita yaitu Segala kebaikan akan berbuah kebaikan pula. Begitulah gambaran seorang guru yang dengan ikhlas mengabdikan ilmunya untuk beribadah kepada Tuhan. Karena betapa beruntungnya seorang guru yang dengan ilmunya dapat melahirkan ilmuwan yang taat kepada Tuhannya. Oleh karena itu kita sebagai guru harus benar-benar dalam mengajarkan ilmu kepada siswa meskipun dengan sifat-sifat yang kontradiksi. karena Tiadalah suatu ilmu tanpa kontradiksi.

    ReplyDelete
  11. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Kesempatan adalah waktu luang untuk seseorang. Setiap manusia pasti memiliki kesempatan karena hidup ini sebenarnya adalah kesempatan. Namun, kesempatan bisa berakhir sehingga kita tidak boleh menyia-nyiakannya. Lakukan hal terbaik ketika kesempatan datang kepada kita. Sebagai guru, pencapaian kesempatan barulah dirasa ketika siswanya menyambut dengan ikhlas kesempatan yang diberikan gurunya kepada kita. Sungguh makna kesempatan sangat luas jika kita mau berpikir. Sedangkan sebagai siswa, ikhlas belajar, membaca, bertanya dan berdoa adalah upaya menghargai kesempatan yang Tuhan anugerahkan kepada mereka.

    ReplyDelete
  12. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Ternyata selama ini secara tidak sadar banyak guru yang telah menutupi sifat-sifat muridnya, tidak memberi kesempatan pada muridnya dan cenderung mengajar sesuai kehendaknya sendiri. Tulisan ini menjadi pengingat bagi pembaca khususnya calon guru, bahwa guru haruslah dapat menghidupkan murid-muridnya, yaitu memberi kesempatan bagi mereka untuk bicara, bertanya, membangun pengetahuan dan menjadikannya aktif di kelas. Guru tidak perlu mendominasi, cukuplah mengambil peran sebagai fasilitator bagi para siswa agar mereka tepat dalam membangun konsep dalam benak pikirannya.

    ReplyDelete