Sep 20, 2013

Jargon Kebaikan dan Keburukan




Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah. Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia. Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon keburukan dan jargon kebaikan. Wahai jargon keburukan dan jargon kebaikan dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon keburukan kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon kebaikan kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?

Jargon keburukan:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon keburukan. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. Barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada kebaikan agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para kebaikan tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.

Jargon kebaikan:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon kebaikan. Saya menyadari bahwa jargon para keburukan itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada keburukan agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para keburukan.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon keburukan. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon keburukan:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon keburukan. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi kebaikan pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada kebaikan. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada kebaikan maka kedudukanku sebagai keburukan akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi keburukan yang kuat, yaitu sebenar-benar keburukan. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai keburukan sejati maka aku harus mengelola semua kebaikan sedemikian rupa sehingga semua kebaikanku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar kebaikan selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para kebaikan. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para kebaikan. Dari pada jargon kebaikan menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon keburukan, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para mu menyampaikan kepadaku.

Jargon keburukan :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon keburukan. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai kebaikan. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, di tetapkan sebagai keburukan. Ketika aku menjadi keburukan maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai kebaikan. Maka setelah aku menjadi keburukan aku mulai kehilangan jargon kebaikan, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon keburukan. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai keburukan, maka aku telah mengembangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Kekuasaanku sebagai keburukan itu mengalir melalui jargon-jargonku. Maka demi menjaga statusku sebagai keburukan terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para kebaikan. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai keburukan. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon keburukan. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon keburukan, agar dapat mengendalikan jargon-jargon kebaikan.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon kebaikan. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon kebaikan:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon kebaikan. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para keburukan. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada keburukan. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada keburukan maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu ingin terbebas sepenuhnya dari jargon-jargon keburukan. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para keburukan. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai kebaikan sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para keburukan. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para keburukan. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para keburukan. Tetapi apalah dayaku sebagai kebaikan. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap ingin terbebas dari para jargon keburukan.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon kebaikan, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para mu menyampaikan kepadaku.

Jargon kebaikan :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon kebaikan. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai kebaikan. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku bertemu dengan jargon keburukan. Ketika aku bertemu denganjargon keburukan, aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai kebaikan. Maka setelah aku bertemu dengan jargon keburukan aku mulai kehilangan jargon kebaikan, dan kemudian mulailah aku merasa akan di dominasi oleh jargon keburukan. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai yang kebaikan hakiki, maka aku telah mengembangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan jargon keburukan itu mengalir melalui jargon-jargon nya. Maka demi menjaga statusku sebagai kebaikan sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para keburukan, agar aku selamat dari cengkeraman para jargon keburukan. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai kebaikan. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon kebaikan . Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon kebaikan , agar aku bisa berlindung dari ancaman jargon para keburukan.

Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Keburukan memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai keburukan, sedangkan kebaikan memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana keburukan itu merupakan ujian bagi kebaikan. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan. Wahai para kebaikan, menterjemahkan dan diterjemahkanlah agar engkau mampu mengenali jargon-jargon keburukan. Aku ingin memperingatkan para keburukan, bolehlah engkau menggoda dan mengganggu para kebaikan, tetapi jangan sekali-sekali dan berani-berani engkau menggoda para kebaikan yang selalu ingat dan beriman kepada Tuhan YME. Aku juga ingin mengingatkan para kebaikan agar ta’aruf dan tawadu’ dalam menegakkan kebaikan. Maka semua jargon keburukan niscaya akan hilang lenyap dikarenakan oleh keikhlasan para kebaikan. Amien.

14 comments:

  1. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Kebaikan dan keburukan merupakan hal yang pasti ada di dunia ini. Karena segala sesuatu itu diciptakan secara berpasang-pasangan. Di dalam diri setiap manusia pun juga pasti akan ada sisi baik dan sisi buruknya. Dan keduanya mungkin pernah mendominasi hati manusia, entah jargon baik atau buruk kah. Namun, jika kita ingin menjadi insan yang lebih baik, kita juga hendaknya mengetahui hal-hal yang buruk. Mengapa demikian? Agar supaya kita dapat menghindarinya. Bayangkan saja bagaimana jika kita hanya mempelajari tentang kebaikan, niscaya kita akan lebih mudah terperosok kedalam hal yang buruk dari pada orang yang mempelajari tentang keduanya. Dengan mengetahui baik dan buruk, berarti kita sudah dapat membedakan perbuatan baik dan buruk dan kita juga dapat mengontrolnya. Tetapi setiap orang pasti menginginkan selalu berbuat kebaikan karena pada dasarnya hati manusia itu murni sehingga jika dia akan melakukan keburukan maka akan ada suatu pertengkaran kecil di dalam lubuk hatinya yang menjadikan orang itu gelisah. Kecuali bagi orang-orang yang telah membiarkan keburukan merajai dirinya. Dialah sebenar-benar orang yang sangat merugi.

    ReplyDelete
  2. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Assalamualaikum wr. . wb.
    Kebaikan dan keburukan tidak bisa saling menutupi bahkan cenderung keburukan lebih dominan jika disatukan. Manusia akan lebih banyak melihat dari sisi keburukannya dari pada kebaikannya. Pengertiannya tentang kebaikan atau keburukan berhenti pada konsep sementara perbuatan yang dilakukan sama sekali tidak diilhami oleh pengertiannya tentang kebaikan atau keburukan. Pengetahuan merupakan aspek kognitif sedangkan pengenalan sudah menyentuh aspek afektif. Pengetahuan seseorang tentang sesuatu belum tentu memotivisir tingkahlaku yang mendukung pengetahuannya, tetapi orang yang mengenal tentang sesuatu, kalau tidak melakukan sesuatu yang sejalan dengan pengenalannya, sekurang-kurangnya ia simpati atau empati terhadapnya.

    ReplyDelete
  3. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2
    Allah SWT telah menciptakan segala sesuatunya dengan berpasang-pasangan seperti malam dan siang, laki-perempuan, kaya-miskin, termasuk kebaikan dan keburukan. Namun semua ini Allah ciptakan ada hikmah di balik semua itu, karenNya tidak menciptakan dengan main-main dan sia-sia. Dalam diri manusia tidak terlepas dari dua sisi yaitu kebaikan dan keburukan. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang dianugerahkan dengan akal, kita mempunyai pilihan untuk mengikuti sisi kebaikan kita atau menuruti hawa nafsu (keburukan). Tetapi perlu kita ingat bahwa semua ada konsekuensinya. Kalau kita menebar kebaikan maka tentunya kita juga akan menuai kebaikan, begitupun sebaliknya kalau keburukan yang kita lakukan maka keburukan pula yang akan kita dapatkan. Jadi kembali lagi kepada diri kita masing-masing. Tetapi saya yakin sebagai manusia yang beragama dan berilmu tentunya kita semua selalu mengharapkan kebaikan dan diberi kekuatan untuk menghadapi keburukan.

    ReplyDelete
  4. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Jargon Kebaikan dan keburukan, setelah saya membaca tulisan dari professor, saya dapat memetik sedikit hal tentang kebaikan dan keburukan. Menurut saya, kebaikan yang ada pada diri kita itu seharusnya sebaiknya jangan sekali-sekali dipamerkan kepada oranglain. Biarlah oranglain itu sendiri yang menilainya. Percuma saja jika kita melakukan kebaikan, namun kita dengan bangga menyebutkan kalau diri kita itu orang baik. Maka jika kita melakukan hal yang seperti itu, dimata yang Maha Kuasa dan Maha melihat, kita itu adalah orang yang buruk. Dan seandainya kita di posisi seperti itu, cepatlah memohon ampun kepada Allah Sang pemberi maaf.

    ReplyDelete
  5. Lana Sugiarti
    16709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Kebaikan dan keburukan selalu ada dalam kehidupan ini. keduanya sama – sama mempunyai jargon. Sebagai ciptaan Tuhan maka hendaknya kita menjauhi segala keburukan dan mendekat kepada kebaikan. Hendaknya saling tolong menolong dalam hidup ini agar dapat menambah kebaikan, dan semoga kita semua jangan menambah keburukan dengan berprasangka buruk dengan orang lain, tetapi menambah kebaikan dengan segala perbuatan baik, tingkah laku dan tutur kata yang baik pula.

    ReplyDelete
  6. ARNY HADA INDA
    16709251079
    P-MAT D 2016 (S2)
    Ada orang yang memiliki pengertian yang lengkap tentang kebaikan dan keburukan. Ia bisa menerangkan dengan lancar segi-segi dan kriteria-kriteria yang berhubungan dengan kebaikan atau keburukan itu. Tetapi pengertiannnya itu tidak mengantarnya pada perbuatan kongkrit. Pengertiannya tentang kebaikan atau keburukan berhenti pada konsep, sementara perbuatan yang dilakukan sama sekali tidak diilhami oleh pengertiannya tentang kebaikan atau keburukan. Model orang seperti ini biasanya terdapat pada orang intelek yang jahat atau penjahat yang jenius. Keburukan dan kebaikan tidak bisa saling menutupi bahkan cenderung keburukan lebih dominan jika disatukan. Jadi kebaikan seseorang yang banyak bisa hancur oleh sekali perbuatan yang salah tetapi keburukan sebesar apapun tidak bisa hilang oleh satu perbuatan baik.

    ReplyDelete
  7. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Di dunia ini ada hal baik dan ada hal buruk. Melakukan hal baik tentu memiliki alasana, dan berbuat buruk pun memiliki alasan untuk mempertahankannya. Orang yang baik adalah orang yang bisa membela kebenaran dan berani berargumen dengan jargon – jargon yang dimiliki oleh keburukan.

    ReplyDelete
  8. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Baik dan buruk ada dalam hati setiap insan. Jika ingin mengetahuinya maka tengoklah hatinya. Apabila segumpal daging itu baik maka baik pula lainnya, namun apabila segumpal daging itu buruk maka buruk pula lainnya, dan segumpal daging itu ialah hati.

    ReplyDelete
  9. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Jargon Kebaikan dan keburukan, setelah saya membaca tulisan dari professor, saya dapat memetik beberapa hal tentang kebaikan dan keburukan. Menurut saya, kebaikan yang ada pada diri kita itu seharusnya sebaiknya jangan sekali-sekali dipamerkan kepada oranglain. Biarlah oranglain itu sendiri yang menilainya. Percuma saja jika kita melakukan kebaikan, namun kita dengan bangga menyebutkan kalau diri kita itu orang baik. Maka jika kita melakukan hal yang seperti itu, di mata yang Maha Kuasa dan Maha melihat, kita itu adalah orang yang buruk. Dan seandainya kita di posisi seperti itu, cepatlah memohon ampun kepada Allah Sang pemberi maaf. Untuk itu, sebagai makhluk yang diciptakan olehNya, kita tidak akan lepas ke[ada hal-hal yang baik dan yang buruk. Maka, seharusnya kita berusaha untuk melakukan hal-hal yang baik, agar hidup kita selamat dunia dan akhirat. Aamiin.

    ReplyDelete
  10. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    Sebenarnya pada hakikatnya boleh saja keburukan menggoda kebaikan. Dengan begitu si kebaikan akan belajar bagaimana berpegang teguh dengan apa yang ia yakini. Dari hal ini dia akan terbiasa untuk tetap kuat walau ada bisikkan yang buruk.

    ReplyDelete
  11. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Keburukan dan kebaikan adalah dua hal yang pasti ada dalam diri manusia. Tidak ada manusia yang sempurna. Hal yang dapat kita lakukan adalah memperkecil keburukan yang ada pada diri kita dan memperbanyak amalan baik kita. Memang tidak mudah, namun hal ini memang harus kita laksanakan. Semoga kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Amin.

    ReplyDelete
  12. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Tuhan telah menciptakan semuanya, termasuk kebaikan dan keburukan. Segala yang telah tercipta yang asalnya dari Allah SWT sudah barang tentu memiliki tujuan dan maksud tertentu. Begitupun dengan keburukan, walaupun yang namanya keburukan semua orang tidak menginginkannya namun keburukan ini dapat menguji kualitas kebaikan seseorang. Karena keburukan adalah ujian bagi kebaikan. Supaya kita menghindarkan diri dari keburukan adalah dengan selalu ingat dan beriman kepada Allah. Dimana ketika sesorang tetap tawaduk dalam menegakkan kebaikan maka keburukan akan hilang selamanya.

    ReplyDelete
  13. Anisa Wahyu Nur Khasanah
    14301241010
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Di dunia ini tak lepas dengan adanya kebaikan dan keburukan. Dua hal itu memang tidak dapat dipisahkan. Jika hanya ada kebaikan saja, maka dunia akan hampa. Sedangkan jika ada keburukan saja dunia akan rusuh. Tapi dengan adanya 2 hal itu dunia menjadi berwarna, tergantung bagaimana kita menikapinya. Akankah terpengaruh dengan keburukan atau istiqomah dengan kebaikan.

    ReplyDelete
  14. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Manusia selagi masih hidup di dunia bersifat kontradiktif. Salah satunya yaitu terdapat keburukan dan kebaikan. Sesungguhnya manusia hidup didunia ingin dengan jargon-jargon kebaikan, tetapi tidak dipungkiri jargon keburukan hadir untuk menguji manusia. Hal tersebut merupakan cara Allah SWT menguji ketaqwaanan umat-Nya. Jargon keburukan dapat dihindari dengan cara melakukan jargon kebaikan secara ikhlas.

    ReplyDelete