Sep 20, 2013

Jargon Kebaikan dan Keburukan




Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah. Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia. Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon keburukan dan jargon kebaikan. Wahai jargon keburukan dan jargon kebaikan dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon keburukan kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon kebaikan kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?

Jargon keburukan:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon keburukan. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. Barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada kebaikan agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para kebaikan tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.

Jargon kebaikan:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon kebaikan. Saya menyadari bahwa jargon para keburukan itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada keburukan agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para keburukan.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon keburukan. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon keburukan:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon keburukan. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi kebaikan pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada kebaikan. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada kebaikan maka kedudukanku sebagai keburukan akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi keburukan yang kuat, yaitu sebenar-benar keburukan. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai keburukan sejati maka aku harus mengelola semua kebaikan sedemikian rupa sehingga semua kebaikanku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar kebaikan selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para kebaikan. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para kebaikan. Dari pada jargon kebaikan menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon keburukan, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para mu menyampaikan kepadaku.

Jargon keburukan :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon keburukan. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai kebaikan. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, di tetapkan sebagai keburukan. Ketika aku menjadi keburukan maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai kebaikan. Maka setelah aku menjadi keburukan aku mulai kehilangan jargon kebaikan, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon keburukan. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai keburukan, maka aku telah mengembangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Kekuasaanku sebagai keburukan itu mengalir melalui jargon-jargonku. Maka demi menjaga statusku sebagai keburukan terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para kebaikan. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai keburukan. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon keburukan. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon keburukan, agar dapat mengendalikan jargon-jargon kebaikan.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon kebaikan. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon kebaikan:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon kebaikan. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para keburukan. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada keburukan. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada keburukan maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu ingin terbebas sepenuhnya dari jargon-jargon keburukan. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para keburukan. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai kebaikan sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para keburukan. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para keburukan. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para keburukan. Tetapi apalah dayaku sebagai kebaikan. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap ingin terbebas dari para jargon keburukan.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon kebaikan, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para mu menyampaikan kepadaku.

Jargon kebaikan :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon kebaikan. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai kebaikan. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku bertemu dengan jargon keburukan. Ketika aku bertemu denganjargon keburukan, aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai kebaikan. Maka setelah aku bertemu dengan jargon keburukan aku mulai kehilangan jargon kebaikan, dan kemudian mulailah aku merasa akan di dominasi oleh jargon keburukan. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai yang kebaikan hakiki, maka aku telah mengembangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan jargon keburukan itu mengalir melalui jargon-jargon nya. Maka demi menjaga statusku sebagai kebaikan sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para keburukan, agar aku selamat dari cengkeraman para jargon keburukan. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai kebaikan. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon kebaikan . Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon kebaikan , agar aku bisa berlindung dari ancaman jargon para keburukan.

Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Keburukan memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai keburukan, sedangkan kebaikan memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana keburukan itu merupakan ujian bagi kebaikan. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan. Wahai para kebaikan, menterjemahkan dan diterjemahkanlah agar engkau mampu mengenali jargon-jargon keburukan. Aku ingin memperingatkan para keburukan, bolehlah engkau menggoda dan mengganggu para kebaikan, tetapi jangan sekali-sekali dan berani-berani engkau menggoda para kebaikan yang selalu ingat dan beriman kepada Tuhan YME. Aku juga ingin mengingatkan para kebaikan agar ta’aruf dan tawadu’ dalam menegakkan kebaikan. Maka semua jargon keburukan niscaya akan hilang lenyap dikarenakan oleh keikhlasan para kebaikan. Amien.

35 comments:

  1. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Kebaikan dan keburukan merupakan dua hal yang saling kontradiktif. Dalam hal ini, kedua-duanya membutuhkan jargon. Keburukan memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukan sebagai keburukan, sedangkan kebaikan memerlukan jargon untuk melindungi dirinya.

    ReplyDelete
  2. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Semua yang ada dan mungkin ada memerlukan jargon. Keburukan memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai keburukan, sedangkan kebaikan memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Tuhan telah menciptakan segalanya dengan ke-Maha Sempurna-Nya termasuk menciptakan suasana di mana keburukan itu merupakan ujian bagi kebaikan. Kita sebagai manusia harus lah mampu memahami jargon kebaikan dan keburukan. Jargon keburukan mampu menggoda dan mengganggu kita, namun sungguh jargon keburukan akan musnah jika kita selalu ingat kepada Tuhan, beriman kepada-Nya dan selalu menegakkan jargon kebaikan dengan penuh keikhlasan.

    ReplyDelete
  3. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Kebaikan dan keburukan, hal inilah yang selalui mewarnai hidup kita. Dalam keseharian hidup kita, tentunya kita dihadapkan dengan sesuatu hal yang baik dan yang buruk. Semuanya itu tergantung ruang dan waktunya. Setiap kita pasti mendambakan kebaikan dalam menjalani hidup. Tapi tak dapat dipungkiri kita juga bahkan sering mengalami keburukan. Dan tentunya keburukan-keburukan yang sering kita alami itu merupakan cobaan dan ujian bagi kita, bagaimana kita bisa menghadapi cobaan-cobaan tersebut. Hendaknya kita selalu mendekatkan diri kepada Tuhan dengan selalu memanjatkan doa kepadaNya, agar kita terhindar dari segala macam bentuk cobaan, dan memohon agar kebaikan selalu menghampiri kita.

    ReplyDelete
  4. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak.
    Keburukan memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mengganggu bahkan melemahkan kebaikan. Banyak hal yang mengancam kebaikan berubah menjadi keburukan. Hal yang bisa dilakukan agar tetap teguh dalam kebaikan adalah selalu memohon perlindungan dari Allah SWT.

    ReplyDelete
  5. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, godaan keburukan begitu besar, biasanya seseorang akan lebih mudah melakukan sebuah hal buruk, untuk itulah diperlukannya benteng kebaikan dalam diri agar tidak melakukan sebuah keburukan. Menyadari bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak sempurna yang tentu saja pernah melakukan sebuah kesalahan, hal ini adalah wujud ketika kita sudah membentengi diri dengan kebaikan kita masih dimungkinkan untuk melakukan sebuah keburukan bagaimana jika kita tidak membentengi diri, tentu akan lebih parah lagi. Berserah diri pada Allah, selalu mengingat bahwa Allah Maha Mengetahui diharapkan mampu meminimalisir keburukan dari diri seseorang.

    ReplyDelete
  6. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dalam jargon ini menunjukkan bahwa kebaikan dan keburukan itu memang ada. Mereka hidup berdampingan, tapi tidak bisa bersatu. Namun, yang paling utama haruslah kebaikan. Dan keburukan ada untuk ujian bagi kebaikan. Di jelaskan juga bila ada proses di mana seseorang mengalami degredasi yang mana seseorang yang tadinya dalam kebaikan lama-lama akan terseret juga ke dalam keburukan. Ada pula yang masih menggunakan topeng kebaikan.
    Kebaikan dan keburukan ada itu sudah sunnatullahnya. Lalu yang perlu dilakukan yaitu dengan menerjemahkan dan diterjemahkan. Menerjemahkan apa yang termasuk kebaikan sehingga dapat melakukannya, menerjemahkan keburukan sehingga tau apa saja macamnya, sehingga dapat terhindar dari keburukan itu. Jadi,yang bisa dilakukan agar tetap dalam kebaikan yaitu ikhlas dan taat pada kebaikan pada keimanan.

    ReplyDelete
  7. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini, saya teringat dengan pemikiran Blaise Pascal bahwa sejatinya manusia sebagai makhluk yang nista sekaligus luhur. Karenannya manusia adalah makhluk yang membutuhkan Allah. Dalam diri manusia senantiasa terjadi perang batiniah antara akal budi melawan nafsu-nfsu. Yang satu ingin melenyapkan nafsu-nafsu sehingga menjadi dewa, yang lain ingin melenyapkan akal-budi sehingga menjadi binatang, akan tetapi itu tak akan pernah terjadi. Nafsu-nafsu selalu ada pada manusia, dan akal budi juga selalu ada pada manusia. Sehingga kita perlu mendekatkan diri kepada Allah dengan iman dan ketakwaan kita, agar kita tidak dikuasai oleh cinta diri akan kepentingan diri yang buta.

    ReplyDelete
  8. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Ulasan ini begitu menarik saat dibaca. Saya menjadi belajar lebih dalam bahwa kebaikan yang disertai dengan keimanan kepada Allah SWT tidak ada yang dapat menggodanya, namun mampu melenyapkan keburukan. Keburukan akan selalu menyertai kebaikan dengan tujuan sebagai ujian bagi setiap individu. Menurut saya, saat seseorang ingin melakukan suatu kebaikan sejatinya akan banyak godaan dan hal-hal yang dapat menghalangi perbuatan baik tersebut. Semoga setiap kebaikan yang dilakukan disertai dengan keihklasan dan rendah hati. Saya menjadi teringat satu perumpamaan ini "saat tangan kanan memberi, tangan kiri tidak boleh tahu". Perumpamaan ini menjadi motivasi bagi diri saya agar dapat tawadu' saat melakukan suatu kebaikan.

    ReplyDelete
  9. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. Tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada manusia yang bebas dari dosa. Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan keburukan. Semuanya manusia karena memang manusia memang makhluk yang senantiasa khilaf dan lupa. Namun ampunan Allah SWT sangatlah luas. Seperti yang dikatakan Nouman Ali Khan "Tidak masalah seberapa kotornya dirimu, pintu Allah selalu terbuka. Tidak masalah apa yang terjadi padamu, pintu Allah selalu terbuka," Namun karena pintu ampunan Allah yang sangat luas semoga tidak menjadikan hamba yang menganggap remeh dosa karena berpikir kita akan diampuni. Sebaliknya kita harusnya berusaha menambah amal kebaikan kita tiap harinya.

    ReplyDelete
  10. ARINA HUSNA ZAINI
    PEP S2 B 17701251024

    Assalamualaikum wr.Wb
    terima kasih sebelumnya atas bacaannya diatas prof. Jika boleh berpendapat, jargon keburukan dan kebaikan merupakan dua unsur yang ada dikehidupan dan terlebih pada diri manusia. Dimana manusia memiliki sisi keburukan dan kebaikan. manusia memiliki power untuk menampakkan kebaikannya oleh karena itu ia memiliki jargon guna melakukan kebaikan dan guna menutupi keburukannya dia memiliki jargon keburukan dengan powr menutupi keburukannya. Oleh karena itulah, manusia di sebut dalam pepatah arab Al-Insanu Mahalul Khoto wan Nisyan (manusia tempat salah dan lupa). Dengan adanya jargon Keburukan tentunya ada pihak yang dirugikan oleh karena itu jaron keburukan tidak akan kekal dalam kemenangan, maka dari itu sepertinya di katakan pak tua "Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana keburukan itu merupakan ujian bagi kebaikan. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan" keburukan dapat lemah dan mengakui kesalahan lewat Taubah dan pastinya ada seseorang ataupun hidayah untuk menuju jalan Nya. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  11. Junianto
    PM C
    17706251065

    Kebaikan dan keburukan merupakan dua hal yang saling bertolak belakang. Kebaikan merupakan hal positif yang akan mengantarkan kepada kita pada hal-hal yang positif, sedangkan keburukan adalah sebaliknya. Kedua hal ini akan saling mempertahankan dirinya masing-masing dan mereka harus saling mengenal. Kebaikan harus mengenal keburukan agar tidak terjerumus, karena kebaikan tidak akan terpengaruh keburukan manakala kebaikan taat pada Tuhan YME. Jargon keburukan akan selalu berperang degan jargon kebaikan, namun jargon kebaikanlah yang akan menang. Dan selalu ada batas yang jelas antara keduanya, tetapi sebagai manusia yang lemah tentu tidak mudah untuk mencari batas-batasnya.

    ReplyDelete
  12. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Kebaikan dan keburukan itu adalah sesuatu yang pasti terjadi setiap waktu. Kalau sesorang melakukan kebaikan, akan mendapat pahala. Kalau sesorang melakukan keburukan akan mendapat dosa. Namun baik dan buruk saat ini bersifat ‘relatif’ menurut kepentingan pribadi atau kelompok saja. Baik dan buruk kini bukan lagi bersandar pada ketentuan Tuhan (Allah SWT). Oleh karena itu, kita perlu mengkaji lebih jauh mengenai kebaikan dan keburukan berdasarkan yang dituntunkan oleh Tuhan (Allah SWT) dalam kitab suci.

    ReplyDelete
  13. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Satu kali lagi, saya menemukan pesan bahwa hidup adalah menterjemahkan dan diterjemahkan. Dengan begitu kita akan semakin menyadari bagaimana kita berada. Selain itu, di akhir percakapan ini semakin membawa saya betapa "hati" adalah sebenar-benar pengendali. Hanya Alloh yang Maha Penolong dan Maha Segala-galanya.

    ReplyDelete
  14. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Perbuatan itu ada yang baik dan ada pula yang buruk. Keduanya saling berkontradiksi. Kita sebagai manusia yang berakal harus dapat membedakan antara perbuatan yang baik dan yang buruk. Agar senantiasa berbuat baik dan dijauhkan dari perbuatan buruk, kita harus banyak-banyak berdoa kepada Allah SWT.
    Manusia tidak akan lepas dari kebaikan dan keburukannya. Baiknya seseorang belum tentu dia tidak berbuat jahat. Buruknya seseorang belum tentu dia tidak melakukan yang baik. Kebaikan dan keburukan bukanlah sesuatu yang mutlak. Kebaikan takut akan menjadi suatu keburukan, tapi untuk menuju suatu kebaikan, keburukan harus berani

    ReplyDelete
  15. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Di dunia ini akan selalu ada kebaikan dan keburukan. Keburukan diciptakan untuk menguji kebaikan. Godaan dan ujiannya sangat kuat. Maka agar terhindar dari godaan keburukan, manusia harus mengetahui seluk beluk dari keburukan itu sendiri. Kemudian elegi ini juga mengingatkan kita untuk senantiasa berta’aruf dan bertawadu’ dalam menegakkan kebaikan. Karena kebaikan yang selalu bersandar dan beriman pada Allah SWT tidak akan mudah tergoda oleh keburukan. Sehebat apapun keburukan itu, jika kebaikannya kuat maka tidak akan mudah terpengaruh.

    ReplyDelete
  16. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Manusia sejak lahir sudah dihadapkan oleh berbagai pilihan kehidupan, apakah mau berada pada jalur kejujuran atau kebohongan, kepandaian atau kebodohan, kebaikan atau keburukan, dll. Maka dari itu manusia dituntut untuk menentukan jalan hidupnya sendiri mau ke arah mana dia membawa diri dan langkah kakinya, Sebaik-baiknya hidup adalah ketika melangkah dan melakukan sebuah tindakan dilandasi dengan hati dan akal pikiran serta dibimbing oleh kereligiusan terhadap ridhonya tuhan.

    ReplyDelete
  17. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Beberapa hal di dunia ini diciptakan untuk berpasangan, ada siang dan malam, ada laki-laki dan perempuan, ada kanan dan kiri, ada baik dan buruk, ada jujur dan dusta, dan lain-lainnya. Sudah jelas bahwa Dzat yang Maha Pencipta tidak menciptakan sesuatu itu sedemikian rupa tanpa suatu alasan. Sebagai seorang manusia kita harus bisa memilih dan memilah dalam menentukan sebuah pilihan hidup. Ketika dihadapkan dengan pilhan baik atau buruk, maka setiap manusia akan memiliki pilihannya masing-masing. Itulah keistimewaan manusia yang diciptakan dengan nafsu sehingga dapat tergelincir di dunia keburukan. Tidak seperti malaikat yang memiliki jiwa yang suci sehingga tidak memiliki kecenderungan untuk berbuat keburukan. Mari kita menjadi insan yang baik dan ikhlas sehingga bisa mendapatkan Surga yang selalu berpasangan dengan Neraka untuk orang yang memilih keburukan.

    ReplyDelete
  18. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.
    Jargon kebaikan dan jargon keburukan adalah dua sifat l yang melekat pada diri manusia.Manusia tidak bisa menghindar dari kedua jargon ini.Manusia tak dapat luput dari kesalahan.Tapi dari kesalahan manusia dapat belajar menjadi benar untuk berpotensi menjadi baik.Ketika manusia mengedepankan nasfsunya dibandingkan akalnya maka derajatnya lebih rendah dibandingkan syaitan, dan ketika lebih mengedepankan akalnya dibandingkan nafsunya maka derajatnya lebih tinggi dibandingkan malaikat.Maka perlu pengawasan diri dengan berserah diri kepada Allah dengan banyak berdoa dan mengingat-Nya.

    ReplyDelete
  19. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Berdasarkan beberapa artikel tentang jargon, izinkan saya untuk kembali merefleksikan yang saya tangkap dari artikel ini. Saya memahami bahwa setiap fenomena semesta berpasang-pasangan. Dalam hidup ada siang dan ada malam, ada suka dan ada duka, ada kekalahan da nada kemenangan. Jika dimaknai secara positif sebagai sebuah dualitas yang diartikan keduanya saling berpasangan, saling melengkapi, saling sinergis, asih dan asuh maka hal itu akan memberikan manfaat dan menguntungkan tidak hanya bagi kedua objek tersebut namun juga alam semesta.

    Namun, jika dimaknai secara negatif, pasti kedua unsur itu dapat digambarkan sebagai hal yang bertolak belakang, berbenturan, berlawanan satu dengan yang lainnya hingga menimbulkan petaka pagi semesta. Di sinilah kita sebagai umat manusia yang diberikan akal dan pikiran oleh Tuhan untuk memilih, cakrawala berpikir seperti apa yang baik bagi semesta.

    ReplyDelete
  20. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  21. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Kebaikan dan keburukan adalah dua hal yang saling berlawanan namun tidak dapat dipisahkan. Setiap manusia kodratnya tidak sempurna dan pasti pernah berbuat keburukan dan sebagai manusia pula kita senantiasa berusaha untuk selalu berbuat kebaikan. Pintu ampunan Allah terbuka begitu luas nya bagia siapa sa yang ingin memohon ampun atas segal keburukan yang telah dilakukan.

    ReplyDelete
  22. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Terima kasih Pak Prof. atas postingannya. Dari elegi ini saya memahami bahwa di dunia ini akan selalu ada yang namanya kebaikan dan keburukan. Dan kita sebagai manusia tidak akan terlepas dari kebaikan dan keburukan ini. Sebagaimana yang Pak Prof. jelaskan bahwa keburukan memang diciptakan Tuhan untuk menguji kebaikan. Kebaikan dan keburukan itu hadir berdampingan. Satu sama lain selalu hadir dalam kehidupan manusia. Bisa saja sekarang seseorang tergolong dalam kebaikan, namun karena sesuatu hal ia mengalami kegoyahan hingga mencapai titik keburukan.
    Maka yang perlu dilakukan adalah saling terjemah menerjemahkan antara kebaikan dan keburukan. Terjemahkanlah masing-masing kebaikan dan keburukan agar kita lebih mengenalinya. Dan selalulah berlindung, memohon kepada Allah SWT agar terhindar dari keburukan dan selalu di anugerahi kebaikan-kebaikan-Nya.

    ReplyDelete
  23. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Sebenar-benarnya hidup adalah kebaikan dan keburukan. Kehidupan kita tidak akan lepas dari kedua hal tersebut.. keduanya saling bertolak belakang. Tetapi, dari kedua hal tersebut yang paling berpeluang untuk dilakukan adalah keburukan. Ini merupakan ujian untuk diri kita. Maka kita harus memiliki kemampuan untuk mengendalikan sisi buruk itu. Dengan melakukan aktivitas yang baik dan produktif, rajin beribadah serta menempatkan diri kita pada lingkungan yang baik adalah cara untuk menekan perilaku buruk itu. Itulah mengapa ada pepatah mengatakan bahwa, temanmu adalah cerminan dirimu. Sehingga untuk terlepas dari keburukan maka bergaulah dengan orang yang memiliki kepribadian baik.

    ReplyDelete
  24. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Selama ini masing-masing hal yang saling kontraditif memiliki jargonnya masing-masing. Dimana antar jargon masing-masing ingin menunjukkan siapa yang terkuat. Jika diumpamakan, jargon merupakan keyakinan diri. Keyakinan diri yang kuat dan tidak mau menerima keyakinan orang lain. dalam hal keyakinan. Dalam jargon kebaikan dan keburukan saya mengambil kesimpulan yang berbeda. Antara kebaikan dan keburukan memiliki sifat kontradiktif. Jadi, adanya keburukan karena tidak adanya kebaikan di dalam diri individu. Jika kita ingin selalu mengada kebaikan dalam diri kita, sebaiknya kita meniadakan keburukan dalam diri kita dengan cara selalu melakukan apa yang menjadi ketentuannya. Namun, jargon kebaikan juga memiliki pernyakit yang akan gampang dipengaruhi oleh jargon keburukan yaitu sifat takabbur dan sifat merendahkan yang lainnya. Oleh akrena itu jagalah selalu diri kita dari sifat takabbur dan merendahkan yang lainnya agar terjauh dari jargon keburukan.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  25. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Kebaikan dan keburukan yang saling berkaitan. Tidak ada yang bisa dikatakan si baik, jika tidak ada si buruk. Ya, salah satunya adalah menerjemahkan dan diterjemahkan. Untuk memahami keduanya, maka kenalilah jargon keburukan dan kebaikan. Tapi ingat, pondasi kita adalah spiritual yaitu sekali lagi doa doa dan berdoa kepada Allah. Allah Maha Tahu mana yang baik dan buruk bagi makhluknya. Manusia diciptakan mempunyai akal dan nafsunya. Akal dan nafsu juga harus dijalankan secara bebarengan untuk mencapai logos. Ya perlu elegi ikhlas untuk menambah keikhlasan kita. Seperti kesimpulan pada elegi ini, niscaya jargon keburukan akan menghilang karena keikhlasan kebaikan. Amiin.

    ReplyDelete
  26. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Dari elegi ini kita melihat pada bagian akhir bahwa orang tua berambut putih mengatakan bahwa “bolehlah engkau menggoda dan mengganggu para kebaikan, tetapi jangan sekali-sekali dan berani-berani engkau menggoda para kebaikan yang selalu ingat dan beriman kepada Tuhan YME”. Dari sini kita melihat bahwa keburukan akan senantiasa menggoda dan mengganggu kita dalam setiap kesempatan sampai akhir zaman nanti. Dan hal ini juga sudah mendapatkan restu dari Allah yang telah dituangkan dalam firman-firmanNya yang diabadikan dalam Al Quran. Di tulisan ini kita juga melihat bahwa orang tua berambut putih memberikan pengingatan kepada para kebaikan agar senantiasa ta’aruf dan tawadu’ dalam menegakkan kebaikan. Dengan begitu jargon keburukan niscaya akan hilang lenyap dikarenakan oleh keikhlasan para kebaikan. Dari sini kita melihat bahwa bila kita ingin selamat dari godaan dan gangguan dari keburukan adalah dengan senantiasa ta’aruf, tawadhu’ dan ikhlas dalam menegakkan kebaikan.

    ReplyDelete
  27. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamualaikum wr.wb.
    Terimakasih prof. Marsigit atas artikel di atas. Jargon keburukan akan selalu berusaha menguasai jiwa dan raga manusia. Ketika manusia tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya, maka jargon keburukan akan senang dan merasa menang, karena telah melenakan manusia. Begitu juga dengan jargon kebaikan. Disisi lain jargon kebaikan juga berusaha mempengaruhi manusia agar tetap pada jalan yang benar dan wajar. Manusia sendiri harus mampu mengendalikan dan mengontrol eksistensi jargon kebaikan dan jargon keburukan. Sesuaikanlah mereka pada ruang dan waktunya. Sadarlah jika jargon keburukan mulai menyelimuti hati dan pikiran, maka berhati-hatilah agar terhindar dari segala mitos. Berdoalah kepada Allah agar selalu didekatkan dan dikuasai oleh jargon kebaikan. Kita tahu, bahwa Allah menciptakan segala sesuatu nya selalu berpasangan, ada tesis adapula antitesis, ada logo ada pula mitos, maka ada kebaikan pun adapula keburukan. Sebaik-baik manusia ketika dia selalu ingat akan Allah, dan mampu menguasai diri dengan kebaikan. Ujian bagi kebaikan adalah keburukan, oleh karena itu kenalilah gejala dan sadarkanlah diri dan hatimu terhindar dari segala keburukan. Amin.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  28. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Adanya keburukan berawal dari kebaikan yang entah bagaiamana bisa berubah menjadi keburukan. Mungkin karena hatinya tidak dilandasi dengan spiritual, sehingga hatinya mudah tergoda oleh syaitan. Jika hatinya sudah dikuasi oleh keburukan, maka sifat-sifat keburukan akan bersarang di dalam jiwanya dan mengalir begitu saja seolah-olah dirinya baik-baik saja. Padahal sebenar-benar orang yang hati dan sikapnya didomisili keburukan adalah mereka yang terkena penyakit. Ketika keburukan sudah bersarang lama di dalam tubuh, maka keburukan akan bersembunyi dibalik kebaikan, dan itulah yang merasa diri seseorang tidak memiliki penyakit hati padahal hatinya sedang dikuasai oleh keburukan. Maka kita harus pandai –pandai mengenali mana kebaikan dan mana keburukan dan selalu ingat apa yang diperintahkan oleh Allah SWT, kerjakan apa yang diperintahkan Allah (kebaikan) dan tinggalkan apa yang dilarang Allah (keburukan).

    ReplyDelete
  29. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Kebaikan dan keburukan adalah dua hal yang berbeda, namun keduanya sama-sama relatif. Suatu hal yang dianggap kebaikan belum tentu dianggap baik pula oleh orang lain, begitu juga dengan keburukan. Maka diperlukan keikhlasan hati dan keikhlasan fikir sehingga mampu menghadapi kebaikan dan keburukan yang ada sesuai dengan porsinya.

    ReplyDelete
  30. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Menilai baik buruknya sesuatu sifat bukanlah hal yang sembarangan karena dalam menilai suatu kita harus memiliki perbandingannya, atau bisa dikatakan untuk menilai suatu tesis kita harus mengetahui anti-tesisnya. Oleh karena itu untuk dapat menilai mana yang baik kita harus mengetahui mana yang buruk begitupun sebaliknya. Sedangkan dasar untuk menentukan kebaikan atau keburukan bisa dari berbagai sumber, seperti kitab suci, untuk hal-hal yang berkaitan dengan agama atau kepercayaan, kemudian Undang-Undang dan Pancasila, untuk hal-hal yang berkaitan dengan hukum ketatanegaraan, atau tradisi atau adat istiadat bisa juga digunakan sebagai dasar penentuan kebaikan atau keburukan untuk hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat.

    ReplyDelete
  31. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Secara sunatullah, di dunia ini ada kebaikan dan keburukan. Tidak bisa dikatakan sesuatu itu buruk jika tidak ada pembanding sesuatu yang baik. Tidak bisa dikatakan sesuatu itu baik jika tidak ada pembanding sesuatu yang buruk. Kebaikan mencoba mempengaruhi keburukan. Keburukan mencoba mempengaruhi kaebaikan. Menurut Ali bin Abi Thalib, keburukan yang terorganisir bisa mengalahkan kaebaikan yang tidak terorganisir. Kebaikan kadang menang kadang kalah, keburukan kadang menang kadang kalah. Namun pada akhirnya kebaikanlah yang akan menang, maka dari itu berbuatlah yang ikhlas, karena kemenangan itu pasti ada dan mungkin ada.

    ReplyDelete
  32. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Ketakutan jargon kebaikan yang merasa terancam dengan dominasi yang mulai ditunjukkan oleh jargon keburukan adalah salah satu gambaran polemik kehidupan saat ini. Keburukan mulai dianggap baik dan lebih menarik dibandingkan dengan kebaikan. Media lebih tertarik mengungkapkan keburukan karena rating akan baik, wakil rakyat melakukan manipulasi-manipulasi agar terlihat baik, maka semakin lama hakikat kebaikan mulai tercampur dengan keburukan yang tersembunyi. Kita harus mampu membuat jalur pemisah yang jelas antara kebaikan dan keburukan, agar jargon keburukan tidak mendominasi kehidupan kita.

    ReplyDelete
  33. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Keburukan dan kebaikan bagaikan dua sisi koin yang saling berkaitan. Sebagai manusia yang jauh dari kesempurnaan maka sangat wajar bahwa seringnya kita berprilaku buruk, baik itu secara sadar ataupun tidak. Namun demikian, setiap diri individu memiliki sisi kebaikan, hanya saja terkadang kebaikan itu telah tertimbun dalam hati karena banyaknya tumpukan dosa yang telah dilakukan. Misalnya dosa yang sering dilakukan adalah bersikap sombong atas hal yang mampu kita lakukan, terkadang kita tidak menyadarinya. Oleh karena itu marilah memohon ampun atas setiap keburukan yang telah kita lakukan.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  34. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Manusia memiliki sisi kebaikan dan keburukan. Keburukan memang dapat melemahkan kebaikan bahkan menghilangkannya. Tetapi keburukan pun diperlukan dalam kehidupan. Seandainya keburukan tidak ada, maka bagaimana kita dapat menemukakan kebaikan? Keburukan juga merupakan ujian bagi kebaikan, apakah baik masih tetap baik jika buruk datang menghampiri. Cara menghilangkan keburukan dari dalam diri adalah dengan berbuat kebaikan dengan ikhlas.

    ReplyDelete
  35. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Manusia hidup di dunia pasti akan dihadapkan dengan kabaikan dan keburukan. Bagaimana yang lebih dominasi diantara dua jargon tersebut tergantung pilihan manusia. Namun, jargon keburukan akan selalu mengganggu kepribadian manusia sebab kabaikan dan keburukan itu berhubungan dengan kepribadian setiap manusia. Ketika jargon kebaikan kuat maka jargon keburukam juga akan kuat untuk menggoda kepribadian manusia. Namun, ketika jargon kebaikam lemah, maka hidup manusia akan dikuasai oleh jargon keburukan. Cara utama agat kuat melawan jargon keburukan adalah dengan mendekatan diri kepada Tuhan dan itu juga salah satu cara untuk meningkatkan kekuatan jargon kebaika .

    ReplyDelete