Sep 20, 2013

Jargon Pertengkaran Standar dan Proses




Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, standar itu proses dan proses itu standar,...dst. Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia.

Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon standar dan jargon proses. Wahai jargon standar dan jargon proses dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon standar kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon proses kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Tetapi aku melihat pertengkaran yang sangat tidak adil. Standar terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi proses. Sedangkan proses kelihatannya tak berbekal apapun. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?

Jargon standar:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon standar. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. Barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada proses agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para proses tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.

Jargon proses:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon proses. Saya menyadari bahwa jargon para standar itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada standar agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para standar. Ketahuilah tiadalah standar itu jika tidak ada proses. Maka tolonglah wahai orang tua berambut putih agar aku bisa melarikan diri dari cengkeraman jargon standar.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon standar. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon standar:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon standar. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi proses pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada proses. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada proses maka kedudukanku sebagai standar akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi standar yang kuat, yaitu sebear-benar standar. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai standar sejati maka aku harus mengelola semua proses sedemikian rupa sehingga semua prosesku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar proses selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para proses. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para proses. Dari pada jargon proses menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon standar, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para prosesmu menyampaikan kepadaku.

Jargon standar terbaik :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon standar terbaik. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai proses. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai terbaik. Ketika aku menjadi terbaik maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai proses. Maka setelah aku menjadi terbaik aku mulai kehilangan jargon proses, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon terbaik. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai terbaik, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai proses itu harus jujur, sebagai proses itu harus peduli, sebagai proses harus patuh, sebagai proses harus bijak. Begitu aku menemukan para prosesku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai terbaik. kekuasaanku sebagai terbaik itu mengalir melalui jargon-jargonku: sebagai terbaik itu harus jujur, sebagai terbaik itu harus peduli, sebagai terbaik itu harus patuh, sebagai terbaik itu harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: terbaik harus terhormat, terbaik harus wibawa, jangan tampakkan kelemahanmu, tutupilah kesalahanmu..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai terbaik adalah: berbohong demi kebaikan, tidak adil demi keadilan, menghukum demi membebaskan..dst. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai terbaik terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para proses. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai terbaik. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon standar terbaik. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon standar terbaik, agar diketahui oleh para proses-prosesku. Seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya aku manfaatkan untuk memproduksi jargon-jargonku.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon proses. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon proses:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon proses. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para standar. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada standar. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada standar maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu tergantung sepenuhnya oleh standar-standarku. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para standar. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai proses sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para standar. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para standar. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para standar. Tetapi apalah dayaku sebagai proses. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap menjadi prosesnya para jargon standar.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon proses, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para prosesmu menyampaikan kepadaku.

Jargon proses tertindas :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon proses tertindas. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai proses. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku diharapka mempunyai standar terbaik . Ketika aku diharapkan mempunyai standar terbaik aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai proses tertindas. Maka setelah aku mempunyai standar terbaik aku mulai kehilangan jargon proses, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon standar terbaik. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai proses yang hakiki, maka aku telah mengembangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai proses itu harus jujur, sebagai proses itu harus peduli, sebagai proses harus patuh, sebagai proses harus bijak. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan standar terbaik itu mengalir melalui jargon-jargon : sebagai standar terbaik itu memang harus jujur, sebagai standar terbaik itu memang harus peduli, sebagai standar terbaik itu memang harus patuh, sebagai standar terbaik itu memang harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa standar terbaik tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: standar terbaik harus melindungi proses, standar terbaik harus menolong proses, dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai proses adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya status itu, gur terbaik itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: semua manusia itu pada hakekatnya sama saja, maka demi menjaga statusku sebagai proses sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para standar. Agar aku selamat dari penindasan para jargon standar. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai proses. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon proses. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon proses, agar aku bisa berlindung dari ancaman para standar. Tetapi aku ternyata tidak bisa menggunakan seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku. Jangankan memproduksi jargon, untuk menghindar dari jargon standar saja, saya kerepotan ketika saya berada di forum-forum itu.

Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Standar memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai standar, sedangkan proses memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana standar dan proses dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan. Wahai engkau para standar dan proses saling menterjemahkan dan diterjemahkanlah agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sana, standar itu adalah proses, dan proses itu adalah standar. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Saya ingin memperingatkan standar, janganlah engkau berlaku sombong dan sok kuasa terhadap proses itu. Tiadalah sebenar-benar standar sejati bagimu. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.

33 comments:

  1. Tulisan yang menginspirasi menceritakan pergulatan antara jargon standar dan proses. Jargon standar ada karena setiap hal memerlukan dasar pijakan dalam menentukan setiap hal, sementara jargon proses ada karena adanya standar, perjalanan dari menggapai jargon standar. Tak dapat dipungkiri bahwa yang mesti diistimewakan adalah hanya melihat jargon standar karena keduanya jargon standard an proses saling terhubung satu-sama lain.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  2. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Manusia itu tempat salah dan khilaf. Maka sudah seharusnya kita menyadarinya dan tidak takut meminta maaf ketika berbuat salah dan memaafkan ketika orang lain berbuat kesalahan. Tetapi di zaman ini banyak kita saksikan bahwa manusia menggunakan topeng untuk menutupi kesalahannya dengan dalih berbohong demi kebaikan, berbuat buruk demi sesuatu yang baik. Padahal sebenar-benar yang dilakukannya adalah hanya untuk menutupi kesalahannya. Hal ini karena adanya standar-standar yang dibuat oleh manusia sendiri yang justru membuatnya bersembunyi dibalik topeng.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Manusia hidup berdampingan. Tak ada satu orangpun yang tidak membutuhkan orang lain. Maka hendaklah sikap saling mengargai dipupuk. Kita juga harus menyadari bahwa setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing maka dari keduanyalah manusia diarah untuk saling melengkapi dan tolong menolong. Jangan hanya mementingkan kepertingan pribadi. Maka untuk dapat mencapai harmonisasi kehidupan di tengah perbedaan yang ada kita harus saling menterjemahkan dan diterjemahkan.

    ReplyDelete
  5. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Saya memandang sebuah persamaan antara jargon pertengkaran subjek dan objek sebelumnya dengan jargon pertengakaran standard dan proses ini. Semuanya adalah jargon. Semuanya memerlukan kemampuan kita dalam berhermeneutika tentang kehidupan. Dalam hal ini saya menangkap bahwa antara A dan B memiliki batasan masing-masing sehingga perlu ada sinergi yang baik antar keduanya, antara subjek dan objek, antara pemimpin dan yang dipimpin, antara standar yang telah di tentukan dan proses yang berjalan. Idealnya kita ingin semuanya berjalan harmonis, tidak ada konflik. Jika ada, kita harus kembali belajar memaknai apa yang terjadi. Menyerahkannya pada sang maha menentukan, Allah SWT.

    ReplyDelete
  6. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Standar dalam pendidikan memuat kompetensi-kompetensi yang harus dicapai siswa dalam jenjang pendidikan tertentu. Sedangkan proses sendiri merupakan alur yang ditempuh dalam pembelajaran. Sangat disayangkan ketika seorang guru hanya memperhatikan bagaimana menyelesaikan standar pendidiknan tetapi mengabaikan proses pembelajaran yang ditempuh siswa. Hal ini mengakibatkan siswa hanya mengejar hasil yang baik tetapi melupakan proses yang kedepannya (ketika menempuh pendidikan selanjutnya) proses ini mempunyai kedudukan lebih penting.

    ReplyDelete
  7. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Kadang ada kesenjangan antara standard an proses. Karena memang keduanya memiliki jargon sendiri – sendiri. Tetapi Tuhan menciptakan kebijaksanaan. Salinglah memahami satu sama lain. Jangan menilai sesuatu dari sisi negatifnya, jangan pula menilai secara parsial. Oleh karena itu, selalu lah peka dan mau mendengar sekitar

    ReplyDelete
  8. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dalam elegi ini dibahas bahwa standar dan proses memeiliki jargonnya sendiri-sendiri. Dan menurut saya standar dan proses ini haruslah ada tidak bisa hanya satu saka. harus berjalan beriringan agar seimbang. kemudian dalam memehaminya untuk dapat berdampingan maka perlu yang namanya menerjemahkan dan diterjemahkan.
    Standar dan proses ini haruslah ada misal dalam pembelajaran. jika hanya ada standar maka dalam pelaksanakaannya akan menunjukkan sifat yang tidak baik dan sombong, maka dibutuhkan yang namanya proses untuk menggapai standar tersebut sehingga perlahan pelaksanaan akan berjalan dengan semestinnya.

    ReplyDelete
  9. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Standar dan proses merupakan dua hal yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Standar tidak akan ada nilainya jika tidak ada proses dan proses tidak akan berjalan jika tidak ada standar. Standar akan menjadi dasar bagi jalannya sebuah proses dan proses akan berjalan sesuai dengan standar yang ada. Sehingga, wajarlah jika standar dan proses memiliki jargonnya masing-masing agar tetap ada. Memang Tuhan merupakan dzat yang Maha Besar, semua yang diciptakan di dunia ini tidak ada celanya, saling berpasangan, melengkapi, dan sebaik-baik penciptaan.

    ReplyDelete
  10. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Baik standar maupun proses seharusnya menjadi tolok ukur yang tidak dibeda-bedakan dalam kehidupan. Karena tidak ada sangkalan bahwa standar membutuhkan proses dan sebaliknya proses pun membutuhkan standar sebagai patokan, maupun panduannya. Sehingga baik standar maupun proses haruslah dipertimbangkan secara masak dan proporsional dalam setiap dimensi kehidupan. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  11. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Di perbatasan, dua hal terkadang menjadi suatu sebab akibat yang saling berhubungan. Sama dengan kasus standar dan proses ini, standar tentunya disusun melalui tahap pengamatan proses kemudian memilih yang terbaik untuk dijadikan standar dan proses yang belum baik tentunya harus mengikuti standar terbaik yang telah ditetapka. Namun dalam perjalanan waktu tentunya akan ditemu standar yang nyatanya memiliki kekurangan dan proses yang tidak dapat mencapai standar yang ditentuka. Dengan kelemahan masing-masing keduanya saling memiliki jargon untuk menutupi. Dengan melihat kondisi ini ini kita harus mampu merefleksi diri bahwa hidup itu berhermenetika, kita tidak bisa terpaku pada satu titik saja, namun terus berproses dalam perjalanan hermenitika dan saling menerjemahkan dan diterjemahkan.

    ReplyDelete
  12. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Standar dan proses merupakan dua hal yang saling berkaitan dan keduanya juga saling menerjemahkan dan diterjemahkan. Standar menjadi patokan pelaksanaan suatu hal. Proses dianggap sebagai rangkaian pencapaian pelaksanaan suatu hal. Apapun yang terjadi pasti melalui suatu proses, dan proses yang ada pasti juga memiliki standar. Suatu proses yang dijalankan tanpa standar akan gamang, tidak tahu arah tujuannya. Sedangkan suatu standar tanpa adanya proses tidak akan dapat terlaksana. Keduanya adalah hal yang bersinergi dan saling melengkapi.

    ReplyDelete
  13. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Elegi ini menceritakan tentang sikap ego-masing-masing, baik standar maupun proses. Standar memiliki ego bahwa jargon tertinggi adalah dirinya, tidak boleh ada yag memiliki jargon selain dirinya. Standar memiliki ukuran pasti dan tidak boleh terbantahkan. Sedangkan Proses memiliki ego tersendiri, dia juga mengklaim memiliki jargon, dia yang mengendalikan dan memunculkan adanya standar.Maka tentu pertengkaran ini tidak akan selesai jika tidak dikompromikan antara standard an proses.

    ReplyDelete
  14. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Jika dibumikan,sebagai contoh, dalam pedidikan kita mengenal adanya standar yang harus dipenuhi oleh anggota pendidikan, standar ditentukan berdasarkan rencana proses yang dikehendaki. Oleh karena itu, antara standard an proses harus berjalan beriringan, mengawasi dan mngoreksi satu sama lain, bukan mempertahankan ego masing-masing.

    ReplyDelete
  15. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Untuk mengapai suatu hal maka kita harus berproses terlebih dahulu. Tapi proses tidak sembarang proses, proses yang seperti apakah yang akan semakin mendekatkan pada tujuan. Sebuah standart tak akan bermakna ketika tak ada proses yang terjadi. Ia hanya akan menjadi sebuah jargon tak bermakna. Lalu dimana hubungan nya? Ketika ingin meggapai tujuan maka proses kita minimal sesuai standar yang telah ada. Atau proses yang kita lakukan harus dipikir dan dipersiapkan masak-masak sesuai standar tertentu. Jadi wajar ketika standar dan proses memiliki jargonya guna mempertahankan keadaan mereka.

    ReplyDelete
  16. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Jargon di sini dapat diartikan sebagai mengenai stadar dan proses. Dalam dunia pendidikan tedapat yang namanya standar proses yang dituang dalam Peraturan Pemerintah tentang kurikulum dan pelasanaan pendidikan di sekolah. Standar iala aturan tertulis yang berlau bagi semua objeknya dengan tujuan mencapai kuaitas dan kuantitas tertentu di dalam pendidikan. Sedangkan proses ialah bagaimana guru, kepala sekolah, orang tua dan yang bertanggungjawab dalam mendidik siswa melaksanakan pembelajarannya.

    Sering terjadi pertentangan antara standar atau peraturan dnegan proses atau apa yang seharusnya dilakukan oleh guru dalam mengajar. Misalnya, menurut peraturan siswa kelas 4 harus sudah menguasai perkalian dan pembagian pada akhir semester sedangkan ada siswa yang sulit menguasai materi perkalian dan pembagian. Seharusnya proses yang dilaukan iala siswa dibimbing dengan perlahan dan dengan metode yang menyenangkan, namun karena tuntutan peraturan, maka mau tida mau siswa dibuat mengerti perkalian dan pembagian secara instan. Sehingga proses belajar yang terjadi tida sesuai dengan peraturan atau standar yang tertulis.

    ReplyDelete
  17. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Dalam kehidupan, standar adalah proses dan proses adalah standar. Untuk mencapai suatu standar tertentu harus melewai sebuah proses yang sesuai dengan standar-standar yang berlaku atau sudah ditetapkan sebelumnya. Keduanya tidak dapat dipisahkan karena masing-masing ada keterkaitan. Jargon merasa bahwa jargonlah yang paling benar dan proses juga merasa bahwa proseslah yang paling benar. Namun kuasa Tuhan adalah yang paling benar.

    ReplyDelete
  18. Latifah Fitriasari
    PM C

    Jargon adalah istilah khusus yang diciptakan dan dipakai dalam bidang keilmuan, profesi, kegiatan atau kelompok tertentu. Dapat diketahui bahwa semuanya yang ada di dunia ini pastinya memerlukan jargon. Standar memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai standar dan proses memerlukan jargon untuk melindungi dirinya. Standar dan Proses adalah dua hal yang saling terkait, Jika standar adalah subyeknya maka Proses adalah predikatnya. Standar menjadi patokan pelaksanaan suatu hal. Proses dianggap sebagai rangkaian pencapaian pelaksanaan suatu hal. Jadi standar dan proses saling berkesinambungan satu sama lain.

    ReplyDelete
  19. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam elegi ini, standard an proses harus jalan beriringan. Mereka harus saling menerjemahkan dan diterjemahkan. Tidak hanya standard an proses. Seseorang jika ingin mengenal orang lain pun juga harus menerjemahkan dan diterjemahkan sehingga kedua orang tersebut dapat saling memahami satu dan lainnya. Saling menghargai dan tidak berlaku sombong merupakan sikap sejati yang diperlukan untuk saling memahami.

    ReplyDelete
  20. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Standar dan Proses adalah dua hal yang saling terikat satu sama lain. Standar tidak akan terbentuk jika tidak ada proses, sedangkan proses itu sendiri tidak ada terjadi jika tidak ada strandarnya. Seperti hal nya dalam pendidikan, guru tidak boleh hanya berorientasi pada standar dan melupakan/mengabaikan proses, karena jika itu yang dilakukan oleh guru maka itu berarti pembelajaran yang terjadi pun hanya karena ambisi guru, yaitu agar siswa-siswanya memenuhi standar yang telah ditetapkan. Padahal tujuan pembelajaran tidak hanya bergantung pada standar, namun juga pada proses, apalah artinya ilmu jika tujuannya hanya untuk mengejar nilai yang terbaik tanpa tau makna dari ilmu yang kita peroleh itu. Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  21. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Jargon proses dan jargon standar sebenarnya adalah kedua hal yang berkaitan satu sama lain. Jargon standar adalah sebuah tujuan pencapaian akhir dari pembelajaran, apa yang harus di capai oleh siswa. Sedangkan jargon proses adalah proses dalam usaha mencapai standar yang dipenuhi itu. Kedua hal itu adalah hal yang sangat terkait. Jika suatu proses yang berjalan dengan baik maka akan tercipta pencapaian standar yang baik pula. sehingga kita harus berproses yang baik dalam pembelajaran agar kita bisa mencapai standar yang harus terpenuhi.

    ReplyDelete
  22. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Sebagai sebuah standar tentunya memerlukan proses. Menjalankan suatu proses yang memiliki standar maka akan menghasilkan suatu output yang berstandar pula. Proses dan standar bukanlah sesuatu yang dapat dipisahkan. Hal ini dikarenakan untuk menjadi sebuah standar, maka butuh proses yang terstandarkan pula. Suatu anomali jika standar ingin menghancurkan jargon-jargon para proses, dimana dulunya standar juga merupakan suatu proses terlebih dahulu.

    ReplyDelete
  23. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dalam setiap proses maka diperlukan suatu standar agar proses dapat menghasilkan suatu produk yang terstandarisasi. Sebagai contoh, terkadang para manufakturer menurunkan standar produksi mereka demi menekan biaya produksi yang terlampau mahal. Padahal dengan begitu standar mereka akan semakin menurun, dimana menurunnya standar akan menyebabkan menurunnya kualitas. Jika kualitas menurun maka menurun pula orang yang akan membeli produk mereka sehingga dalam hal ini menyebabkan pelanggan semakin sedikit.

    ReplyDelete
  24. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  25. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Dari pertengkaran yang terjadi antara standar dan proses, maka diperlukan hermeneutika, untuk saling terjemah dan menerjemahkan. Artinya standar tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya proses. Begitupun sebaliknya, darimana adanya proses kalau jika tidak ada standarnya. Maka diperlukan standar yang dijadikan sebagai pedoman atau landasan. Misalnya dalam dunia pendidikan, adanya standar yang berisi kompetensi-kompetensi apa yang harus dicapai siswa dalam rangka mencapai tujuan pendidikan, sedangkan proses adalah jalannya proses pembelajaran tersebut.

    ReplyDelete
  26. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Dalam pendidikan terdapat suatu standar dan juga proses, dalam prakteknya standar ini menjadi acuan untuk melaksanakan proses, akan tetapi sering sekali standar itu menjadi suatu penghalang dalam hal proses, dengan adanya standar maka terdapat batasan-batasan yang akan mempengaruhi proses. Misalkan saja seorang guru yang sangat patuh terhadap standar sehingga tidak dapat melakukan sebuah inovasi dalam prosesnya karena dibatasi oleh standar tersebut.

    ReplyDelete
  27. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan keberadaan orang lain sepanjang hidupnya. Adalah hal yang salah apabila manusia saling bermusuhan dengan yang lain. Kaya butuh miskin, Sehat butuh sakit, dan Pintar butuh bodoh. Tidak akan disebut kaya tanpa adanya orang miskin, tidak akan disebut sehat tanpa adanya sakit, tidak akan disebut pintar tanpa ada orang yang bodoh. Maka dari itu hidup perlu berhermenetika untuk saling menerjemah dan diterjemahkan.

    ReplyDelete
  28. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Standar dan proses saling terkait dan bergantung satu sama lainnya, keduanya sama pentingnya dan tidak dapat berdiri sendiri. bila hanya ada standar namun tidak ada proses maka tidak lah berguna standar itu, begitupula bila proses tanpa didasari oleh suatu standar diibaratkan seperti seseorang yang melakukan perjalanan namun tidak tau kemana arah dan tujuannya dan tidak menutup kemungkinan untuk tersesat diperjalanan tersebut. Maka, dalam hal itu standar yang dibuat haruslah benar-benar penuh pemikiran dan pertimbangan bagaimana proses nantinya sehingga tidak terkesan muluk-muluk namun tetap sebagaimana mestinya. Standar yang memahami proses dan proses yang mengerti standar, hermenitika.

    ReplyDelete
  29. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Berdasarkan jargon pertengkaran standar dan isi yang saya baca di atas, saya memandang ada sebuah persamaan antara jargon pertengkaran subjek dan objek sebelumnya dengan jargon pertengakaran standard dan proses ini. Standar dan proses adalah dua hal yang saling terkait. Apapun yang terjadi pasti melalui suatu proses dan proses yang ada pasti juga memiliki standar. Standar ada untuk mengatur proses, karena dalam pelaksanaan proses standar adalah pantauannya. Jadi ntara standar dan proses harus memiliki sinergis yang baik.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  30. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    standar dan proses merupakan suatu hal yang saling berhubungan. standar merupakan suatu ukuran yang harus dicapai, sedangkan proses merupakan alur yang ditempuh untuk mencapai suatu standar yang telah ditentukan.

    ReplyDelete
  31. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. standar dan proses itu merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Segala yang ada dan mungkin ada itu berproses untuk dapat memenuhi standar tertentu. Standar dan proses memiliki sifat-sifat serta jargon-jargonnya sendiri-sendiri. keduanya bekerja sama untuk memperoleh hasil yang maksimal.

    ReplyDelete
  32. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Apapun yang terjadi pasti melalui suatu proses, dan proses yang ada pasti juga memiliki standar. Standar ada untuk mengatur proses, karena dalam pelaksanaan proses standar adalah pantauannya. Jadi seharusnya antara standar dan proses harus sinergis. Standar dan Proses adalah dua hal yang saling terkait, Jika standar adalah subyeknya maka Proses adalah predikatnya.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  33. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Tulisan ini merupakan refleksi dari suatu realita dalam kehidupan yang sering memperlihatkan ketidakharmonisan dalam manajemen hidup di mana sering kita menjumpai proses kehidupan yang tidak ditopang oleh prinsip hidup (standar hidup) sehingga menciptakan output kehidupan yang tidak layak. Begitupun sebaliknya, sering kita jumpai proses kehidupan yang stagnan hanya pada hal-hal prinsipil sehingga kita mengabaikan kenyataan hidup. Padahal, agama telah mengajarkan kita untuk menyeimbangkan aspek rohani dan aspek jasmani dalam menjalani hidup. Bahkan dalam kajian kebijakan, kegagalan kebijakan seringkali terjadi karena ketidaksesuaian antara proses input (standar) dan proses (implementasi) yang akan berimplikasi pada output dan outcome (hasil).

    ReplyDelete