Sep 20, 2013

Jargon Pertengkaran Standar dan Proses




Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, standar itu proses dan proses itu standar,...dst. Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia.

Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon standar dan jargon proses. Wahai jargon standar dan jargon proses dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon standar kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon proses kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Tetapi aku melihat pertengkaran yang sangat tidak adil. Standar terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi proses. Sedangkan proses kelihatannya tak berbekal apapun. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?

Jargon standar:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon standar. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. Barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada proses agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para proses tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.

Jargon proses:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon proses. Saya menyadari bahwa jargon para standar itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada standar agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para standar. Ketahuilah tiadalah standar itu jika tidak ada proses. Maka tolonglah wahai orang tua berambut putih agar aku bisa melarikan diri dari cengkeraman jargon standar.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon standar. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon standar:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon standar. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi proses pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada proses. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada proses maka kedudukanku sebagai standar akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi standar yang kuat, yaitu sebear-benar standar. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai standar sejati maka aku harus mengelola semua proses sedemikian rupa sehingga semua prosesku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar proses selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para proses. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para proses. Dari pada jargon proses menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon standar, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para prosesmu menyampaikan kepadaku.

Jargon standar terbaik :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon standar terbaik. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai proses. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai terbaik. Ketika aku menjadi terbaik maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai proses. Maka setelah aku menjadi terbaik aku mulai kehilangan jargon proses, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon terbaik. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai terbaik, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai proses itu harus jujur, sebagai proses itu harus peduli, sebagai proses harus patuh, sebagai proses harus bijak. Begitu aku menemukan para prosesku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai terbaik. kekuasaanku sebagai terbaik itu mengalir melalui jargon-jargonku: sebagai terbaik itu harus jujur, sebagai terbaik itu harus peduli, sebagai terbaik itu harus patuh, sebagai terbaik itu harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: terbaik harus terhormat, terbaik harus wibawa, jangan tampakkan kelemahanmu, tutupilah kesalahanmu..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai terbaik adalah: berbohong demi kebaikan, tidak adil demi keadilan, menghukum demi membebaskan..dst. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai terbaik terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para proses. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai terbaik. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon standar terbaik. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon standar terbaik, agar diketahui oleh para proses-prosesku. Seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya aku manfaatkan untuk memproduksi jargon-jargonku.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon proses. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon proses:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon proses. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para standar. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada standar. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada standar maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu tergantung sepenuhnya oleh standar-standarku. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para standar. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai proses sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para standar. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para standar. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para standar. Tetapi apalah dayaku sebagai proses. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap menjadi prosesnya para jargon standar.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon proses, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para prosesmu menyampaikan kepadaku.

Jargon proses tertindas :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon proses tertindas. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai proses. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku diharapka mempunyai standar terbaik . Ketika aku diharapkan mempunyai standar terbaik aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai proses tertindas. Maka setelah aku mempunyai standar terbaik aku mulai kehilangan jargon proses, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon standar terbaik. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai proses yang hakiki, maka aku telah mengembangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai proses itu harus jujur, sebagai proses itu harus peduli, sebagai proses harus patuh, sebagai proses harus bijak. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan standar terbaik itu mengalir melalui jargon-jargon : sebagai standar terbaik itu memang harus jujur, sebagai standar terbaik itu memang harus peduli, sebagai standar terbaik itu memang harus patuh, sebagai standar terbaik itu memang harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa standar terbaik tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: standar terbaik harus melindungi proses, standar terbaik harus menolong proses, dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai proses adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya status itu, gur terbaik itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: semua manusia itu pada hakekatnya sama saja, maka demi menjaga statusku sebagai proses sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para standar. Agar aku selamat dari penindasan para jargon standar. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai proses. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon proses. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon proses, agar aku bisa berlindung dari ancaman para standar. Tetapi aku ternyata tidak bisa menggunakan seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku. Jangankan memproduksi jargon, untuk menghindar dari jargon standar saja, saya kerepotan ketika saya berada di forum-forum itu.

Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Standar memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai standar, sedangkan proses memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana standar dan proses dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan. Wahai engkau para standar dan proses saling menterjemahkan dan diterjemahkanlah agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sana, standar itu adalah proses, dan proses itu adalah standar. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Saya ingin memperingatkan standar, janganlah engkau berlaku sombong dan sok kuasa terhadap proses itu. Tiadalah sebenar-benar standar sejati bagimu. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.

22 comments:

  1. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Baik standar ataupun proses, keduanya saling berhubungan erat dan harusnya saling melengkapi satu sama lain. Jika kita ingin mencapai standar tertentu, maka kita juga akan melalui berberapa proses untuk mencapainya. Proses yang baik juga akan menghasilkan sebuah standar yang baik pula. Namun, hal itu tidaklah berlaku sebaliknya, standar yang baik belum tentu prosesnya juga baik. Nah, inilah yang sebenarnya menjadi permasalahan. Jika standar yang ditetapkan begitu tinggi, maka proses sudah tidak menjadi hal yang penting lagi. Misalnya ketika seorang guru menetapkan nilai tinggi untuk kelulusan mata pelajaran tertentu, maka siswa mau tidak mau harus memenuhinya, tetapi ada hal yang terlupakan yaitu apakah standar yang tinggi tersebut telah sesuai dengan kemampuan siswa? Hal inilah yang harus diperhatikan betul, karena jika kemampuan siswa tidak memenuhi standar yang ada, maka siswa akan melakukan segala cara asalkan dia dapat mencapai nilai yang tinggi, entah itu mencontek teman atau buku dll. Situasi tersebut yang biasanya menjadikan proses tidaklah penting lagi. Padahal proses itu adalah hal yang terpenting. Proses mengajarkan kepada kita banyak hal, diantaranya yaitu mengajarkan kejujuran, ketelitian, kesabaran dan masih banyak lagi karakter yang dapat dipelajari melalui sebuah proses. Segala sesuatu itu membutuhkan proses, terutama dalam kehidupan manusia. Proses tersebut lah yang mengajarkan banyak hal dalam kehidupan, proses yang akan membentuk karakter seseorang, proses jugalah yang dapat menentukan kualitas sebuah standar. Oleh karena itu, tetapkanlah sebuah standar yang sesuai dengan kemampuan yang kita miliki sehingga prosesnya dapat kita lalui dengan baik dan dapat mencapai standar yang baik pula. Semoga kita menjadi orang-orang yang selalu berada di jalan yang benar. Aamiiin.

    ReplyDelete
  2. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Assalamualaikum wr. . wb.
    Standar dan Proses adalah dua hal yang saling berkaitan, Standar menjadi patokan pelaksanaan suatu hal sedangkan proses dianggap sebagai rangkaian pencapaian pelaksanaan suatu hal. Apapun yang terjadi pasti melalui suatu proses dan proses yang ada pasti juga memiliki standar. Standar ada untuk mengatur proses karena dalam pelaksanaan proses standar adalah pantauannya. Jadi seharusnya antara standar dan proses harus sinergisjJadi standar dan proses saling berkesinambungan satu sama lain saling melengkapi satu sama lain.

    ReplyDelete
  3. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Berdasarkan elegi di atas ada dua hal yang saling berkaitan satu sama lain yaitu standar dan proses. Standar dapat diartikan sebagai kriteria atau patokan dalam pelaksanaan kegiatan atau untuk mencapai sesuatu. Sedangkan proses adalah segala sesuatu yang dilakukan dalam pelaksanaan kegiatan atau untuk mencapai sesuatu tersebut. Tapi perlu diingat bahwa dalam pelaksanaan proses untuk mencapai standar tersebut, proses itu harus jujur, proses itu harus peduli, proses harus patuh, proses harus bijak. Sehingga proses harus sesuai dengan aturan yang ada, karena aturan yang berlaku pada proses juga merupakan tolak ukur sesuatu itu memenuhi standar.

    ReplyDelete
  4. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika Kelas D

    Antara standar dan proses adalah dua hal yang saling terkait. Seharusnya antara standar dan proses harus sejalan. Standar dijasikan sebagai patokan atau dasar dalam pelaksanaan suatu hal. Sedangkan proses dianggap sebagai rangkaian pencapaian dalam pelaksanaan suatu hal. Jadi standar dan proses saling berkesinambungan satu sama lain, saling melengkapi satu sama lain. Untuk mencapai standar yang terbaik haruslah melalui proses yang jujur, adil dan bijak.

    ReplyDelete
  5. Lana Sugiarti
    16709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Dari elegi diatas, standar dan proses saling terkait. Apapun yang terjadi dalam hal – hal ada kaitannya antara standar dan proses. Hal – hal yang terjadi akan melalui suatu proses, dan suatu proses pastilah memiliki standar. Standar ada untuk mengatur suatu proses, karena dalam pelaksanaan suatu proses yang merupakana pantauannya adalah standar. Sehingga antara standar dan proses ada sinergi yang kuat. Keduanya harus berjalan bersama, tidak akan mencapai hal yang baik jika salah satunya berperan dengan sangat dominan.

    ReplyDelete
  6. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Kadang ada kesenjangan antara standard an proses. Karena memang keduanya memiliki jargon sendiri – sendiri. Tetapi Tuhan menciptakan kebijaksanaan. Salinglah memahami satu sama lain. Jangan menilai sesuatu dari sisi negatifnya, jangan pula menilai secara parsial. Oleh karena itu, selalu lah peka dan mau mendengar sekitar.

    ReplyDelete
  7. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    standar dan proses sebenarnya saling berkaitan. standar merupakan patokan batas yang perlu kita capai. sedangkan proses merupakan hal yang harus kita jalani agar standar itu tercapai. dalam hal ini menjadi suatu padu yang tak mungkin dipisahkan. jadi bersabarlah dalam menjalani sebuah proses, sampai pada standar itu dapat kita raih,

    ReplyDelete
  8. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Untuk menggapai standar perlu adanya proses, namun seringkali terjadi kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Untuk menggapai sesuatu diperlukan usaha (proses) dan doa, selebihnya masalah hasil serahkan pada Alloh. Insya Alloh hasil tidak mengkhianati usaha. Alloh lebih tahu apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.

    ReplyDelete
  9. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Standard dan proses adalah dua hal yang saling berkaitan satu sama lain. Jargon standar dengan kelebihannya dapat menunjukkan standar terbaiknya namun tidak terlas dari kekurangan yang brusaha dia tutupi dari orang lain. Sama halnya jargon proses yang juga mempunyai kelebihan dengan proses terbaiknya tapi tetap tidak luput dari kekurangan yang tidak ingin diketahui orang lain. bayangkan ketika standard dan proses menyatu jadi satu tentu akan menjadi suatu yang luar biasa hebat.

    ReplyDelete
  10. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Standar dan proses adalah dua hal yang saling melengkapi. Mereka tidak dapat bergerak sendiri-sendiri tetapi memang keduanya memerlukan jargon masing-masing untuk mempertahankan kedudukan dan melindungi diri. Apapun yang terjadi pasti melalui suatu proses, dan proses yang ada pasti juga memiliki standar. Jika antara standar dan proses dapat saling terjemah dan menerjemahkan, maka keduanya dapat saling memahami peran dan tujuan dari masing-masing. Jadi seharusnya antara standar dan proses harus sinergis dan beriringan.

    ReplyDelete
  11. Anisa Wahyu Nur Khasanah
    14301241010
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Yang dapat saya ambil dari “Jargon Pertengkaran Standar dan Proses” diatas adalah standar memerlukan proses dan proses memerlukan standar. Kedua hal tersebut saling berkaitan dan saling membutuhkan. Namun dengan segala kekurangan yang saya memiliki, saya belum dapat memaknai “jargon” yang terdapat pada cerita di atas.

    ReplyDelete
  12. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Standar dan proses merupakan dua aspek yang saling berhubungan. Proses merupakan hal yang sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar. Dimana pembelajaran yang ingin diterapkan saat ini lebih mementingkan proses daripada hasil berbeda dengan pembelajaran saat dulu. Proses atau rincian kegiatan dalam pencapaian tujuan kegiatan belajar mengajar menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Menetapkan standar dalam pelaksanan proses menjadikan proses lebih terarah dan seragam. Namun standar ini tidak semestinya malah menjadi tembok pembatas gerakan dalam proses itu sendiri. Artinya, jika ada suatu yang harus dimodifikasi atau diperbaiki dalam pelaksanaanya hendaknya bukan malah dibatasi oleh standar yang ada. Karena proses memiliki fleksibilitas yang tinggi dalam praktinya jika kita memahami dengan baik. Melainkan standar ini dijadikan acuan bagi guru sehingga pembelajaran yang dilakukan lebih terarah sehingga memungkinkan pembelajaran menjadi lebih efektif.

    ReplyDelete
  13. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Sejatinya jargon yang dimiliki oleh standard an proses memiliki fungsi untuk menentukan sejauh mana kedudukan keduanya untuk saling melengkapi. Standard dan proses sudah seharusnya saling berkaitan dan bersesuaian. Ketika kita memiliki standar sebagai patokan, maka pelaksanaan proses sebagai tindakan harus berpedoman pada standar itu, begitu juga sebaliknya. Layaknya dalam pendidikan, maka ada yang namanya standar proses pendidikan. Ini jelas tertuang dalam Permendikbud No. 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.

    ReplyDelete

  14. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D

    Kita tahu bahwa jargon adlaah semboyan atau hak ku. Berdasarkan elegi diatas bahwa kita sebagai manusia yang memiliki jargon jangan lah sampai dengan jargon itu kita menjadi sobong akan kejargonan kita. Setiap orang memang memiliki jargon masing-masing akan tetapi dengan jargon jargon itulah jangan sampai membuat kita merasa besar diri bahwa kita memang yang paling kuasa atas jargon tersebut. Sama seperti standar dan proses, yang mana keduanya harus berjalan bersamaan, tidak bisa standar dan proses itu berjalan masing-masing, walaupun dengan jargon mereka masing-masing, mereka berdua harus selalu bersama.

    ReplyDelete
  15. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Standar dan Proses ini diibaratkan seperti kedua pasangan, Jika standar adalah subyeknya maka Proses adalah predikatnya. Apapun yang terjadi pasti melalui suatu proses, dan proses yang ada pasti juga memiliki standar. Standar ada untuk mengatur proses, karena dalam pelaksanaan proses standar adalah pantauannya. Jadi standar dan proses harus saling melengkapi satu sama lain.

    ReplyDelete
  16. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Standar dan Proses adalah dua hal yang saling terkait, Jika standar adalah subyeknya maka Proses adalah predikatnya. Apapun yang terjadi pasti melalui suatu proses, dan proses yang ada pasti juga memiliki standar. Standar ada untuk mengatur proses, karena dalam pelaksanaan proses standar adalah pantauannya. Jadi seharusnya antara standar dan proses harus sinergis.

    ReplyDelete
  17. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Jargon dan standar tidaklah dapat dipisahkan. Standar adalah tujuan kriteria minimum pencapaian suatu hal. Proses merupakan bagaimana untuk mencapai standar tersebut. Dengan standar yang baik dan proses yang baik, maka akan tercipta suatu yang baik pula. Namun jika salah satunya tidaklah suatu kebaikan maka suda dapat dipastikan hasil akhirnya adalah suatu keburukan.

    ReplyDelete
  18. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Standar dan proses itu hal yang penting. Standar menjadi acuan atau patokan. Sedangkan proses itu merupakan rangakaian pelaksanaan dari pembelajaran atau langkah-langkah. Ketika dalam pembelajaran memiliki standar maka proses akan mengikuti standar yang diharapkan. Jadi standar merupakan subyek bagi proses sedangkan proses adalah obyek dari standar. Kedua hal ini harus seimbang, tanpa standar maka proses menjadi hal tidak berguna karena tidak mempunyai tujuan yang akan dicapai.

    ReplyDelete
  19. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Jargon pertengkaran standar dan Proses. Dalam tulisan diatas disampaikan bahwa seringkali standar menguasai dan sewenang wenang tanpa memperhatikan proses. Padahal proses tak kalah penting dengan standar. Seperti yang tertulis pada tulisan di atas bahwa solusi dari masalah ini adalah saling menerjemahkan dan diterjemahkan. standar dan proses dapat saling berdampingan, karena sesungguhnya standar itu proses, dan proses itu standar.

    ReplyDelete
  20. Untuk mencapai standar diperlukan proses. Dalam berproses kita membutuhkan standar agar proses kita terarah. Oleh karena itu, keduanya harus saling menghormati dan menghargai, standar dan proses tidak dapat dipisahkan. Standar dan proses merupakan dua kegiatan yang saling terkait dan saling melengkapi. Standar dan proses jangan diadu dengan mengatakan Standar yang lebih baik atau Proses yang lebih baik. Suatu sistem dapat berjalan karena kerjasama dari komponen-komponennya bukan karena pentingnya suatu komponen. Jika sudah mengatakan komponennya yang lebih penting maka kesombongan telah masuk kedalam dirinya. Dengan kesombongan maka akan hancurlah apa yang dibangun atau diusahakannya.

    ReplyDelete
  21. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Proses pembelajaran tradisional lebih cenderung berpusat pada guru, sehingga sering disebut kegiatan belajar-mengajar. Pada umumnya pembelajaran tradisional menggunakan cara-cara sederhana, yaitu dengan ceramah. Penggunaan metode ceramah dalam pembelajaran secara terus menerus justru dapat membuat peserta didik menjadi bosan, sehingga materi yang disampaikan guru tidak dapat diserap oleh siswa secara optimal. Standar proses pendidikan berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran yang berarti dalam standar proses pembelajaran berlangsung. Penyusunan standar proses pendidikan diperlukan untuk menentukan kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru sebagai upaya ketercapaian standar kompetensi lulusan. Dengan demikian, standar proses dapat dijadikan pedoman oleh setiap guru dalam pengelolaan proses pembelajaran serta menentukan komponen-komponen yang dapat mempengaruhi pendidikan.

    ReplyDelete
  22. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Jargon adalah istilah khusus yang dipergunakan di bidang kehidupan (lingkungan) tertentu. Jargon biasanya tidak dipahami oleh orang dari bidang kehidupan yang lain. Dalam hal ini, istilah Standar dan proses adalah dua istilah yang saling melengkapi. Proses adalah tahapan-tahapan yang dilalui siswa untuk mencapai tujuan pembelajarannya sedangkan standar sendiri merupakan pedoman proses amau dibawa ke arah manakah pembelajaran yang berlangsung. Mereka tidak dapat bergerak sendiri-sendiri tetapi memang keduanya memerlukan jargon masing-masing untuk mempertahankan kedudukan dan melindungi diri. Disisi lain, jika telah ditetapkan standar, maka dia tidak akan pernah tercapai tanpa adanya proses. Standar menjadi patokan pelaksanaan suatu hal. Proses dianggap sebagai rangkaian pencapaian pelaksanaan suatu hal. Jadi standar dan proses saling berkesinambungan satu sama lain.

    ReplyDelete