Sep 20, 2013

Jargon Pertengkaran Standar dan Proses




Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, standar itu proses dan proses itu standar,...dst. Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia.

Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon standar dan jargon proses. Wahai jargon standar dan jargon proses dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon standar kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon proses kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Tetapi aku melihat pertengkaran yang sangat tidak adil. Standar terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi proses. Sedangkan proses kelihatannya tak berbekal apapun. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?

Jargon standar:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon standar. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. Barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada proses agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para proses tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.

Jargon proses:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon proses. Saya menyadari bahwa jargon para standar itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada standar agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para standar. Ketahuilah tiadalah standar itu jika tidak ada proses. Maka tolonglah wahai orang tua berambut putih agar aku bisa melarikan diri dari cengkeraman jargon standar.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon standar. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon standar:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon standar. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi proses pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada proses. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada proses maka kedudukanku sebagai standar akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi standar yang kuat, yaitu sebear-benar standar. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai standar sejati maka aku harus mengelola semua proses sedemikian rupa sehingga semua prosesku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar proses selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para proses. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para proses. Dari pada jargon proses menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon standar, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para prosesmu menyampaikan kepadaku.

Jargon standar terbaik :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon standar terbaik. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai proses. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai terbaik. Ketika aku menjadi terbaik maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai proses. Maka setelah aku menjadi terbaik aku mulai kehilangan jargon proses, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon terbaik. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai terbaik, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai proses itu harus jujur, sebagai proses itu harus peduli, sebagai proses harus patuh, sebagai proses harus bijak. Begitu aku menemukan para prosesku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai terbaik. kekuasaanku sebagai terbaik itu mengalir melalui jargon-jargonku: sebagai terbaik itu harus jujur, sebagai terbaik itu harus peduli, sebagai terbaik itu harus patuh, sebagai terbaik itu harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: terbaik harus terhormat, terbaik harus wibawa, jangan tampakkan kelemahanmu, tutupilah kesalahanmu..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai terbaik adalah: berbohong demi kebaikan, tidak adil demi keadilan, menghukum demi membebaskan..dst. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai terbaik terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para proses. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai terbaik. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon standar terbaik. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon standar terbaik, agar diketahui oleh para proses-prosesku. Seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya aku manfaatkan untuk memproduksi jargon-jargonku.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon proses. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon proses:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon proses. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para standar. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada standar. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada standar maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu tergantung sepenuhnya oleh standar-standarku. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para standar. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai proses sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para standar. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para standar. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para standar. Tetapi apalah dayaku sebagai proses. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap menjadi prosesnya para jargon standar.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon proses, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para prosesmu menyampaikan kepadaku.

Jargon proses tertindas :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon proses tertindas. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai proses. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku diharapka mempunyai standar terbaik . Ketika aku diharapkan mempunyai standar terbaik aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai proses tertindas. Maka setelah aku mempunyai standar terbaik aku mulai kehilangan jargon proses, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon standar terbaik. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai proses yang hakiki, maka aku telah mengembangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai proses itu harus jujur, sebagai proses itu harus peduli, sebagai proses harus patuh, sebagai proses harus bijak. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan standar terbaik itu mengalir melalui jargon-jargon : sebagai standar terbaik itu memang harus jujur, sebagai standar terbaik itu memang harus peduli, sebagai standar terbaik itu memang harus patuh, sebagai standar terbaik itu memang harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa standar terbaik tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: standar terbaik harus melindungi proses, standar terbaik harus menolong proses, dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai proses adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya status itu, gur terbaik itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: semua manusia itu pada hakekatnya sama saja, maka demi menjaga statusku sebagai proses sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para standar. Agar aku selamat dari penindasan para jargon standar. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai proses. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon proses. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon proses, agar aku bisa berlindung dari ancaman para standar. Tetapi aku ternyata tidak bisa menggunakan seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku. Jangankan memproduksi jargon, untuk menghindar dari jargon standar saja, saya kerepotan ketika saya berada di forum-forum itu.

Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Standar memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai standar, sedangkan proses memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana standar dan proses dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan. Wahai engkau para standar dan proses saling menterjemahkan dan diterjemahkanlah agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sana, standar itu adalah proses, dan proses itu adalah standar. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Saya ingin memperingatkan standar, janganlah engkau berlaku sombong dan sok kuasa terhadap proses itu. Tiadalah sebenar-benar standar sejati bagimu. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.

31 comments:

  1. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Standard dan proses sebaiknya bisa menterjemahkan dan diterjemahkan sehingga dapat saling memahami jargon masing-masing. Standar ada untuk mengatur proses, karena dalam pelaksanaan proses standar adalah pantauannya. Intinya, antara standar dan proses harus saling bekerja sama.


    ReplyDelete
  2. Elli susilawati
    16709251073
    Standar dan proses itu hal yang tdk dapat terpisahkan. Standar menjadi acuan atau patokan. Sedangkan proses itu merupakan rangkaian pelaksanaan dari pembelajaran atau langkah-langkah. Ketika dalam pembelajaran memiliki standar maka proses akan mengikuti standar yang diharapkan. Jadi standar mengikuti subyek bagi proses sedangkan proses adalah obyek dari standar.

    ReplyDelete
  3. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Jargon proses dan jargon standar sebenarnya adalah kedua hal yang berkaitan satu sama lain. Jargon standar adalah sebuah tujuan pencapaian akhir dari pembelajaran, apa yang harus di capai oleh siswa. Sedangkan jargon proses adalah proses dalam usaha mencapai standar yang dipenuhi itu. Kedua hal itu adalah hal yang sangat terkait. Jika suatu proses yang berjalan dengan baik maka akan tercipta pencapaian standar yang baik pula. sehingga kita harus berproses yang baik dalm pembelajaran agar kita bisa mencapai standar yang harus terpenuhi.

    ReplyDelete
  4. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Standar dan proses adalah dua hal yang mempunyai keterkaitan. Salah satu contoh keterkaitannya yaitu dalam bidang Pendidikan, standar sebagai bentuk atau wujud dasar dalam Pendidikan dan proses adalah langkah-langkah atau tahap-tahap menuju pencapaian yang telah distandarkan. Dalam sesuatu hal standar dan proses adalah dua hal yang saling terkait dan jangan sampai terlewatkan. Selain itu standar dan proses harus menerjemahkan dan diterjemahkan agar keterkaitan dari keduanya dapat terlihat dengan jelas.

    ReplyDelete
  5. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)
    Standar adalah proses. Proses itu adalah standar. Untuk memperoleh standar yang baik maka butuh proses yang baik pula. Begitupun suatu proses yang baik dapat menghasilkan standar yang baik pula. Jadi standar dan proses tidak dapat dipisahkan. Maka dalam kehidupan kita, sebaiknya kita harus melakukan proses yang terbaik sehingga menggapai standar yang kita inginkan dengan baik pula.

    ReplyDelete
  6. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Standar memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai standar, sedangkan proses memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Sehingga baik standar dan proses akan memerlukan jargon. Tuhan telah menciptakan segalanya dengan ke-Maha Sempurna-Nya termasuk menciptakan standar dan proses hidup berdampingan bersama jargon-jargonnya. Maka baik standar maupun proses saling menterjemahkan dan diterjemahkanlah agar saling memahami jargon masing-masing. Maka semua jargon kita itu akan lenyap diperbatasan pikiran kita masing-masing. Oleh karena itu jangan lah kita bertindak melebihi batas. Jika kita telah tergolong dalam kategori standar, maka janganlah kita berlaku sombong dengan berkuasa semena-mena terhadapat sebuah proses.

    ReplyDelete
  7. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B 2017

    "Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan." Standar penting sebagai acuan. Proses pun penting karena terkait action yang sesungguhnya. Menurut saya, sebaik-baiknya proses adalah dapat mencapai standar. Akan tetapi sebaik-baiknya hidup ada pada prosesnya. Rupanya saya perlu melakukan refleksi diri. Terimakasih, postingan ini sekali lagi memotivasi saya untuk melakukan refleksi

    ReplyDelete
  8. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Menurut pemahaman saya, standar dan proses itu saling berhubungan satu sama lain. Dalam pembelajaran, tentu terdapat suatu standar yaitu standar kompetensi pada masing-masing mata pelajaran. Standar kompetensi tersebut akan dicapai melalui suatu proses-proses pembelajaran. Tetapi terkadang standar kompetensi yang dirancang pemerintah terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan realita di lapangan, sehingga menyulitkan proses pembelajaran. Pemerintah menyamaratakan standar pada masing-masing sekolah di Indonesia, padahal proses pembelajaran di sekolah pelosok dan yang di kota besar sungguh teramat jauh berbeda.

    ReplyDelete
  9. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Sesungguhnya standar dan Proses adalah dua hal yang saling terkait, Jika standar adalah subyeknya maka Proses adalah predikatnya. Segala sesuatu pasti melalui suatu proses, dan proses yang ada pasti juga memiliki standar. Standar ada untuk mengatur proses, karena dalam pelaksanaan proses standar adalah pantauannya.

    ReplyDelete
  10. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari tulisan ini saya memahami bahwa standar dan proses itu barat dua sisi mata uang, saling melekat dan tidak terpisah satu dengan yang lainnya. Dalam proses benar bahwa kita harus memperhatikan standar, sedangkan dalam menentukan standar kita juga harus melihat prosesnya.

    ReplyDelete
  11. Junianto
    PM C
    17706251065

    Dari elegi tersebut, bisa diambil beberapa kesimpulan bahwa standar dan proses merupakan dua hal yang tidak dapat di pisahkan. Standar merupakan acuan/ tujuan/ patokan yang akan dicapai, sedangkan proses adalah langkah-langkah dalam pencapaiannya. Keduanya haruslah
    disusun dengan baik, karena standar baik tanpa proses yang baik juga tidak menghasilkan sesuatu yang baik, begitu pula sebaliknya. Hal ini dimaksudkan agar kita tidak menilai sesuatu hanya berdasarkan hasilnya saja, tetapi standard an prosen untuk mencapai tujuan terkadang jauh lebih penting daripada hasil.

    ReplyDelete
  12. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PM A 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Standard dan proses merupakan dua hal yang saling berkaitan. Masing-masing mempunyai peran tersendiri dan keduanya akan semakin baik bila saling mendukung. Standar menjadi tujuan dari proses, sedangkan proses digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menetapkan standar. Bahkan pada batas tertentu, proses adalah standar dan standar adalah proses. Untuk mencapai standar yang terbaik, hendaknya juga melalui proses-proses yang terbaik, dengan demikian standard dan proses dapat saling mendukung untuk mencapai tujuan yang baik.

    ReplyDelete
  13. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    standar dan proses sebenarnya adalah sesuatu yang saling bersinergi dan tidak pisah terpisah satu sama lain sampai kapanpun. Adanya standar itu akibat kita berproses, berproses, melakukan yang terbaik sehingga sampai disuatu titik terbaik dan dinamakan sebagai sebuah standar atau dapat dikatakan bahawa suatu proses yang baik mencapai standart yang baik dalam pencapaiannya. Takkan ada proses tanpa standar, takkan ada standar tanpa berproses. Standar adalah wadah/patokan/garis batas. Sedangkan proses adalah jalannya, isinya atau yang melewatinya. Mereka saling membutuhkan dan tidak boleh ada yang sombong, semua harus ikhlas. Standart dan proses bagikan romeo dan juliet yang tidak dapat dipisahkan, karena standar yang baik tidak dapat di capai dengan proses yang tidak baik, sehingga keduanya adalah saling berkaitan. Sebagai manusia senantiasa melakukan proses yang baik dalam hidup intuk mencapai standar yang baik.

    ReplyDelete
  14. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Standar dan proses merupakan dua hal yang saling berkaitan. Baik standar maupun proses memiliki jargon masing-masing. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana standar dan proses dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Yang perlu dilakukan hanyalah mereka saling melengkapi satu sama lain. Tidak boleh ada yang merasa sombong atas jargonnya masing-masing.

    Standar menjadi patokan pelaksanaan suatu hal. Proses dianggap sebagai rangkaian pencapaian pelaksanaan suatu hal. Jadi standar dan proses saling berkesinambungan satu sama lain. Saling melengkapi satu sama lain. Ketika terjadi suatu proses tanpa adanya standar menjadikan ketidakjelasan arahnya.

    ReplyDelete
  15. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Bagi saya pribadi suatu standar dan proses kedua-duanya hal yang sangat penting. Standar merupakan proporsi yang menjadi acuan pencapaian pada suatu proses. Saat seseorang merasa kebingungan untuk menjalani proses yang ditempuh maka standarlah yang akan menjadi titik balik sebagai pengendali dari tindakan atau langkah selanjutnya yang akan diambil. Penting untuk menyelaraskan antara standar dengan proses agar tindakan yang dilakukan mampu berjalan secara terarah. Contohnya, saat seseorang memiliki impian dan target dalam pencapaian prestasi akademik yang baik dan lulus dengan tepat waktu, maka proses yang dilakukan adalah belajar dengan giat dan aktivitas perkuliahan dijadikan sebagai prioritas utama.

    ReplyDelete
  16. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Berdasarkan tulisan di atas saya memahami bahwa antara standar dan proses tidak dapat dipisahkan antara satu dan lainnya. Keduanya saling terikat dan tidak dapat dipisahkan. Dalam mencapai suatu standar, diperlukan yang namanya proses. Dan setiap proses pasti memiliki standar tersendiri. Untuk itu, bebaskan batas antara keduanya agar mencapai standar dan proses terbaik.

    ReplyDelete
  17. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Sebenar-benar hidup adalah menerjemahkan dan diterjemahkan. Proses itu standar dan standar itu proses, memang tidak bisa dipungkiri di dalam kehidupan kita kita merindukan sesuatu yang sesuai dengan hakikatnya atau sesuatu yang standar. Sesuatu yang sesuai dengan idealita atau tujuan yang ingin dicapai, tetapi tidak jarang sesuatu yang ingin dicapai tersebut tidak sesuai dengan realita yang ada. Sehinga ada kesenjangan disitu. Oleh karena itu kita harus selalu merefleksikan diri kita dengan senantiasa mengevaluasi dan memperbaiki diri untuk menjadi manusia yang lebih baik. Amiin.

    ReplyDelete
  18. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamaualaikum wr wb.Setelah membacanya, Antara jargon standar dan jargon proses saling mengklaim dirinya memiliki kelebihan masing-masing.Tapi setelah melihat kelanjutan ceritanya,masing-masing jargon standar dan jargon proses menyadari bahwa keduanya memiliki sisi kelemahan dan kekurangan .Dan keduanya mengakui bahwa tidak bisa ada tanpa adanya satu sama lain.Ini menandakan bahwa standar dan proses adalah dua hal yang saling berhubungan.

    ReplyDelete
  19. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Batas-batas jargon hanyalah wujud keterbatasan dari pemikiran itu sendiri. Standar tentu memiliki jargon yang kokoh agar mencapai tujuan, namun proses juga harus diakui memiliki jargon untuk memperkuat standar. Maka tidak bertemunya standard an proses adalah tidak bertemunya pemikiran, ia hanya bertemu dengan istilah.

    ReplyDelete
  20. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Antara standat dan prosess sering kali diperdebatkan ketika memberikan sebuah penilaian kepada seseorang. Banyak sekali orang yang non-kependidikan hanya melihat standar yang diberikan tanpa melihat proses. sedangkan banyak sekalai mereka yang mengabaikan standar dengan men-Tuhan-kan proses adalah satu-satunya nilai yang dapat diberikan kepada seseorang. Jika kita lihat, antara standar dan proses seharusnya memang berjalan sama-sama untuk memberikan nilai yang obyektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Jangan hanya melihat standar sebagai acuan begitu juga proses. maka sebenar-benarnya nilai yang diberikan adalah nilai yang mengacu pada standar yang diberikan dengan cara melihat proses yang telah dilakukan
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  21. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Standar dan proses memiliki hubungan yang sangat erat dan saling mempengaruhi satu sama lainnya. Menurut saya, standar merupakan puncaknya tujuan yang digubakan sebagai patokan dalam berproses. Proses itu penting, karena kita menjalaninya setiap hari. Mengapa harus ada standar? Sebenar-benar sifat manusia itu tergantung dengan ruang dan waktu. Mereka harus memiliki tujuan untuk dicapai ketika berproses. Dalam berproses, mitos menjadi tantangan. Maka standarlah yang harus diingat. Maka dari itu proses dan standar harus sejalan dan saling berkesinambungan dan menjadi terarah. Allah itu maha bijaksana dan adil.

    ReplyDelete
  22. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Standar dan proses adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keberadaan standar melalui proses dan didalam prosespun terdiri dari standar, meskipun keduanya memiliki sifat yang berbeda dan bahkan saling bertentangan. Sebaik-baiknya hidup adalah ketika manusia tidak berusaha untuk meniadakan salah satu antara standar dan proses. Standar dan proses harusnya berjalan beriringan.

    ReplyDelete
  23. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Saya sepakat dengan apa yang Prof Marsigit utarakan pada bagian akhir di elegi ini bahwa jargon standar maupun jargon proses dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Kedua jargon tersebut, baik jargon standar ataupun jargon proses sama-sama penting dan sama-sama penting. kita tidak bisa memilih salah satu dan meninggalkan yang lainnya, atau mengunggulkan salah satu dan merendahkan salah satunya lagi. Misalnya dalam pembelajaran di sekolah atau di kelas, kita tidak hanya berorientasi pada jargon standar yang misalnya bisa diwakili dengan tingkat ketuntasan siswa. Tapi kita juga memperhatikan jargon prosesnya. Atau dengan bahasa yang lebih sederhana, kita memang mengharapkan siswa tuntas 100% namun proses menuju ketuntasan itu juga harus diperhatikan

    ReplyDelete
  24. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamualaikum wr.wb.
    Terimakasih banyak prof. Marsigit atas artikel di atas. Seperti halnya para subjek, ternyata jargon para standar juga merasa berkuasa atas segalanya. Ia merasa harus diperhatikan, harus dipatuhi, dan harus dituruti. Mereka tidak rela jika mereka disepelekan, tidak ikhlas jika dihiraukan, dan tidak diterima jika dipatuhi. Padahal jargon proses juga memiliki hak untuk berbicara dan menikmati hidup. Ketika rangkaian proses tidak semudah membalikkan telapak tangan, untuk mencapai standar pun harus melewati dan melalui tahapan dan waktu yang tidak sebentar. Apalagi ketika proses mengalami hambatan dan rintangan ditengah perjuangannya, standarpun tidak pantas dan tidak boleh berlaku sonbong dan memaksakan kehendak. Benar sekali bahwa jargon standar dilarang untuk berkuasa atas proses. Karena segala yang terjadi pada proses merupakan bentuk ikhtiar dan usaha untuk mencapai standar. Namun jargon standar juga harus tahu diri, jikalau jargon proses merasa kesulitan atau bahkan tidak mampu mampu seperti jargon standar, itulah takdir Allah. Wallahu’alam bishowab.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  25. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Standar dan proses tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling tergantung. Standar saja tanpa proses hanyalah ide tanpa realitas. Proses saja tanpa standar juga tak terarah, Tak jelas tujuannya. Keduanya perlu ada Dan berjalan beriringan, bukan yang satu berkuasa atas yang lain.

    ReplyDelete
  26. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B


    Standard dan proses sama-sama memiliki peran yang penting dalam membangun sebuah sistem, jargon-jargon dari standard pasti memiliki proses dan jargon-jargon dari proses harus mencapai atau memiliki standard, jadi antara standard dan proses, keduanya saling melengkapi satu sama lain, untuk menciptakan sebuah sistem yang ideal. Karena sebuah sistem tanpa standard tidak akan memiliki pencapaian dan sebuah sistem tanpa proses juga tidak akan memiliki pencapaian, sehingga antara standard dan proses, keduanya harus ada dan saling melengkapi dalam sebuah sistem.

    ReplyDelete
  27. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Sebenar-benar hidup adalah berhermeneutika, saling terjemah dan menterjemahkan supaya satu sama lain saling memahami dan tidak merasa unggung dibandingkan dengan yang lainnya. Standar dan proses itu berkaitan satu sama lain, standar tidak akan berarti jika tanpa proses, begitupun proses tak akan berarti jika tanpa adanya standar. Dalam menjalankan sesuatu kita berarti berproses melakukan sesuatu tersebut, untuk mengetahui sejauh mana proses yang kita jalankan kita membutuhkan standar. Maka, janganlah saling menutupi kekurangan disebalik proses maupun standar, tetapi saling melengkapilah satu sama lain.

    ReplyDelete
  28. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Sekarang banyak media massa yang digunakan untuk berkuasa dan mempertahankan kekuasaan. Bahkan ada media yang terang-terangan mendukung penguasa tertentu, dengan berbagai macam cara. Cara yang dilakukan bisa dengan memblow up kegiatan penguasa, membela penguasa yang terkena masalah hukum, menayangkan eksklusif aktifitas penguasa baik tingkat nasional maupun nasional, sementara itu juga menayangkan kelemahan lawan penguasa. Sedangkan yang di bawah tekanan penguasa berusaha sekuat tenaga untuk bisa juga di blow up di media massa, memang sih di blow up tapi sering di puntir. Maka waspada adalah kunci utama.

    ReplyDelete
  29. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Sesuatu yang harus selalu diingat adalah kehidupan berjalan tanpa kita sadari. Kita akan terus berubah dari waktu ke waktu. Sesaat setelah kita meraih logos maka tak lama kemudian akan menjadi mitos. Standar dan proses adalah salah satu bentuk dari sistem yang tumpang tindih di dalam hidup kita. Cara menyeimbangkannya adalah senantiasa berhermeneutika, karena kehidupan kita sejatinya adalah kegiatan yang terus berulang setiap hari, namun dengan makna yang berbeda-beda. Apabila kita terus konsisten menterjemahkan dan diterjemahkan, maka kita secara tidak langsung akan terus berpikir, sehingga tidak akan terjerat dalam kurungan mitos. Jika kita menetapkan standar sebagai sesuatu yang harus kita penuhi untuk diakui, maka prosesnya harus sesuai. Jika kita mengingkan suatu proses yang sederhana, maka kita hanya akan mencapai standar yang rendah. Sebaliknya, dengan proses yang baik maka kita berani memantapkan standar yang tinggi pula. Keduanya tak bisa dipisahkan.

    ReplyDelete
  30. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Standar dan proses merupakan dua hal yang saling terkait. Bahkan dapat dikatakan tidak ada sekat diantara kedua hal tersebut. Standar merupakan acuan dalam terlaksananya suatu proses. Oleh karena itu dalam melalakukan suatu kegiatan standar dan proses tercapainya tujuan kegiatan harus sangat diperhatikan. Maka sebenar-benarnya standar dan proses merupakan terjemah dan menterjemahkan.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  31. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Standar dan proses merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahakan. Mereka saling berkaitan dan melengkapi. Tiadalah standar tercpai jika proses mencapainya tidak diperhatikan dan tiadalah proses jika tidak memiliki standar. Ketika kita akan mencapai suatu hal, janganlah instan. Namun kita harus mau melalui prosesnya, agar kita lebih paham dan mengerti dengan keadaan. Seperti ketika seorang guru matematika akan mengajarkan rumus baru. Janganlah langsung memberikan rumus kepada siswa. Namun, ajak siswa berproses untuk menemukam rumus tersebut. Di dapam proses menemukan rumus diperlukan terjemah dan menerjemahkam antara guru matematika dan siswa.

    ReplyDelete