Sep 20, 2013

Elegi Pemberontakan Para Etik dan Estetika




Elegi ini dibuat sebagai Sintesis terhadap dua Elegi sebelumnya yaitu: Elegi Mengubah Mitos menjadi Logos, dan Elegi Pemberontakan Para Mitos.

Elegi Pemberontakan Para Etik dan Estetika

Oleh Marsigit

Etik dan Estetika:
Hemmm...diam saja, tidak tahan. Mau bicara, maka banyak orang yang akan mempertanyakanku. Terlalu banyak bicara nanti saya dikira tidak Etik dan tidak punya Estetika. Gimana ya...?

Orang Tua Berambut Putih:
Wahai Etik dan Estetika. Sebenar-benar hidupku adalah antara Diam dan Bicara.

Etik dan Estetika:
Wahai Orang Tua Berambut Putih, masih tetap konsisten juga engkau itu. Engkau berjanji akan selalu muncul pada setiap pertanyaan? Ya aku menyadari itulah hakekat Ilmu; dia selalu dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan. Tetapi jika engkau datang padahal tidak diundang, apakah engkau mempunyai Etik dan Estetika?

Orang Tua Berambut Putih:
Aku adalah hakekat, maka aku meliputi semua yang ada dan yang mungkin ada, dalam Ruang dan Waktunya. Oleh karena itu kehadiranku tidak memerlukan undangan umum. Undangan khususku adalah pada setiap pertanyaan. Engkau tampak Sombong. Mentang-mentang mendapat julukan Etik dan Estetika, maka selalu saja semuanya diukur dengan Etik dan Estetika. Lagi pula engkau tampak berbondong-bondong mau ke mana?

Etik dan Estetika:
Aku ingin memberontak kepada Bagawat.

Orang Tua Berambut Putih:
Lho apa masalahnya?

Etik dan Estetika:
Aku ingin mengingatkan kesombongan Bagawat. Mentang-mentang sebagai Bagawat, dia selalu main klaim saja. Aku juga melihat besarnya Ego dan Determinist pada diri Bagawat. Emangnya gampang menuduh Mitos adalah Syaitan. Emangnya gampang mengubah Mitos menjadi Logos. Nyuruh-nyuruh orang mengetahui hakekat dari yang ada dan yang mungkin ada. Apakah pantas seorang anak kecil, jikapun dibelajarkan oleh orang tuanya, mengetahui segala hal. Jangankan mengetahui segala hal; mengetahui sedikit hal saja dia harus berkonsultasi dulu dengan saya, yaitu Etik dan Estetika.

Bagawat:
Aku melihat Orang Tua Berambut Putih menghilang begitu saja, ada apa ini. O..rupanya ada orang Emosi. Jika seseorang sudah terkena Emosi maka hilanglah segala macam Ilmu dan Kebijakannya. Wahai Etik dan Estetika, apakah Etis dan Estetis jika engkau marah-marah begitu, padahal yang engkau marahi tidak ada di depanmu?

Etik dan Estetika:
Woh...Bagawat ada di situ. Panjang umur engkau. Aku memang sedang marah kepadamu.

Bagawat:
Aku tahu engkau sedang marah kepadaku; dan aku pun tahu semua pembicaraanmu.

Etik dan Estetika:
Lho kalau begitu engkau itu tidak Etis dan tidak mempunyai Estetika, mengintip pembicaraan orang lain.

Bagawat:
Aku tahu semuanya itu dari guruku Orang Tua Berambut Putih. Baiklah, silahkan sampaikan protesmu kepadaku, aku akan berusaha mendengarkan secara Etis dan Estetik.

Etik dan Estetika:
Waha..memang sombong engkau. Wahai Bagawat, jika engkau tidak punya Etik dan Estetika; atau paling tidak engkau kurang Etik dan Estetika, maka lepaskan saja gelarmu sebagai Bagawat.

Bagawat:
Dengan keikhlasanku, perkenankanlah aku memohon maaf pada dirimu. Bukannya aku sengaja melalaikan dirimu, tetapi semuanya terjadi karena Keterbatasanku, keterbatasan Waktu, dan keterbatasan Ruang; sehingga pembicaraanku dengan Cantraka baru-baru ini hanyalah berkutat pada Mitos, Logos, Mitos, Logos, ...dst. Dan tidak menyertakan dirimu. Maaf nggih maaf.

Etik dan Estetika:
Hemm...jika tidak aku maafkan maka kontradiksi; karena aku dianggap tidak Etis dan tidak mempunyai Estetika.

Bagawat:
Wahai Etik dan Estetika, kenapa engkau seperti orang bingung?

Etik dan Estetika:
Hemm...aku jadi bingung betul ni. Gimana ya? Jika ada orang minta maaf kepadaku, padahal menurutku dia tidak atau belum atau kurang mempunyai Etik dan Estetika aku jadi bingung. Apakah keburukan itu mempunyai Etik dan Estetika. Apakah ada Etika dan Estetikanya korupsi, mencuri, berbohong atau bahkan berbuat dosa?

Orang Tua Berambut Putih:
Tidaklah mudah menggapai Etik dan Estetika itu.Wahai Etik dan estetika, kelihatannya engkau bingung, terdiam seribu bahasa?

Etik dan Estetika:
Oh ..Orang Tua Berambut Puti siapakah diriku itu? Jika sedikit saja engkau tinggalkan, maka aku tidak berdaya. Aku bingung. Tolong sadarkan aku kembali. Siapakah Etik dan siapakah Estetik.

Orang Tua Berambut Putih:
Wah rupanya memang rentan jika Etik dan Estetik mengajak diskusi; apalagi yang diajak diskusi sang Bagawat. Etik dan Estetika cenderung emosional. Benar nih, engkau tidak tahu siapa hakekat dirimu itu?

Etik dan Estetika:
Benar

Bagawat:
Luar biasa.

Orang Tua Berambut Putih:
Apanya yang luar biasa Bagawat?

Bagawat:
Jika kita telah mengakui bahwa kita memang tidak tahu hakiki diri kita, bukankah itu merupakan Etik dan Estetika tertinggi?

Orang Tua Berambut Putih:
Amin. Cerdas engkau Bagawat. Tetapi aku kasihan kepada Etik dan Estetika. Baiklah. Akan aku jawab pertanyaanya itu.

Orang Tua Berambut Putih:
Sederhana saja. Atau menggunakan bahasa orang awam juga bisa. Etik adalah mengenai Benar dan Salah, sedangkan Estetika adalah mengenai Baik dan Buruk (atau Keindahan).

Etik dan Estetika:
Kemudian...secara filosofis..apakah definisi Etik dan Estetika itu?

Orang Tua Berambut Putih:
Ooo..jika engkau ingin membaca referensi tentang Etik dan Estetika, bisa baca atau konek berikut:

Etik:

Estetika:

Etik dan Estetika:
Alhamdulillah...terang benderang pengetahuanku tentang Etik dan Estetik. Wahai Bagawat, mentang-mentang ilmumu tinggi, maka jawablah pertanyanku ini.

Bagawat:
Silahkan

Etik dan Estetika:
Apakah ada Kebaikan untuk hal-hal yang Salah? Dan apakah ada Keburukan untuk hal yang Benar?

Bagawat:
Hemm...wah pertanyaanmu kok sulit. Mentang-mentang telah mendapat pencerahan dari Orang Tua Berambut Putih, lalu nantang-nantang  saya. Wah kok gimana ya?

Orang Tua Berambut Putih:
Wahai Bagawat...pertanyaan itulah yang merupakan sumber perselisihan antara engkau dengan Etik dan Estetika. Secara Epistemologis adalah Salah jika bertindak tanpa mengetahui hakekat atau pengertian dari apa yang dilakukan. Tetapi secara Etik dan Estetika, adalah Bijaksana atau Baik-baik saja jika Anak Kecil bertindak sesuai dengan Petunjuk atau Arahan dari Orang Tuanya, walau dia tidak atau belum mengetahui konsepnya. Engkau sebagai Orang Dewasa pun terkena hukumnya, yaitu tidaklah selalu harus bahwa engkau selalu mengetahui hakekat segala yang ada dan yang mungkin ada, misal urusan Tetanggamu atau urusan pribadi orang lain. 

Etik dan Estetika:
Lalu bagaimana...apakah ada Keburukan untuk hal yang Benar?

Bagawat:
Adalah Benar, jika aku memperkarakan ke Polisi, Tetanggaku yang punya pohon Bambu dan menimpa atap rumahku. Tetapi mungkin itu merupakan hal yang Buruk. Lebih Baik jika aku komunikasikan saja hal tersebut kepada Tetanggaku yang punya pohon Bambu itu. Bukankah demikian Orang Tua Berambut Putih?

Orang Tua Berambut Putih:
Betul sekali Bagawat. Wahai Etik dan Estetika, jika pertanyaanmu sudah aku jawab, lalu apa masalahnya sehingga engkau tampak belum begitu Ikhlas kepada Bagawat. Padahal aku mendengar bahwa sang Bagawat sudah minta maaf.

Etik dan Estetika:
Kenapa ketika membahas Mitos dan Logos, sang Bagawat tidak Etis dan tidak mempunyai Estetika, misal mengklaim bahwa Mitos adalah Syaitan begitu saja.

Orang Tua Berambut Putih:
Oooo...dengan ini aku tegaskan bahwa sebenar-benar Etik dan Estetika adalah Dasar, Payung, Pendahulu dan Penghujung dari Mitos dan Logos. Tidaklah yang Ada dan yang Mungkin Ada terbebas dari Etik dan Estetika. Dasarilah, dampingilah dan payungilah setiap Logosmu itu dengan Etik dan Estetika, agar memberi ke Baik kan bagi dirimu. Setinggi-tinggi Logos tidaklah mampu mengetahui semua relung Etik dan Estetika. Kemudian gunakanlah Etik dan Estetika untuk mengubah Mitos-mitosmu menjadi Logos-logosmu. Maka cari dan temukanlah Etik dan Estetika menggunakan Logosmu. Mereka itu bersemayam di dalam Hati Sanubarimu masing-masing. Etik dan Estetika tertinggi adalah Etik dan Estetika Absolut yaitu Etik dan Estetika Nya Allah SWT. Manusia hanya mampu berusaha menggapainya saja. Maka berdoa dan berdoalah memohon petunjuk Nya, agar engkau semua diberi kecerdasan Hati dan Pikir. Amin

Bagawat:
Selamat Etik dan Estetika atas keberhasilan pemberontakanmu. Mohon maaf dan selamat berjuang. Amin.

Etik dan Estetika:
Terimakasih. Amin.





30 comments:

  1. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Etik dan estetika sebenarnya hamper tidak berbeda. Etik membahas tentang tingkah laku perbuatan manusia (baik dan buruk). Estetika membahas indah atau tidaknya sesuatu. Estetika secara luas meliputi banyak hal, seperti watak yang indah, ilmu yang indah, dan kebijakan yang indah. Alangkah baiknya jika etik dan estetika yang baik tercermin dalam diri pribadi masing-masing.

    ReplyDelete
  2. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)


    Etik berkaitan dengan dengan sesuatu yang dianggap benar dan salah, sedangkan estetika berkaitan dengan sesuatu yang dianggap baik atau buruk. Dengan etik dan estetika ini akan menuntun kita melangkah ke arah yang benar atau salah dan baik atau buruk. Kita sebagai manusia, hanya bisa berusaha menggapai etik dan estetika tersebut, karena sesungguhnya etik dan estetika yang absolut itu hanyalah milik Tuhan YME.

    ReplyDelete
  3. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)
    Setiap logos yang kita punya hendaklah dasari dengan Etik dan Estetika, agar memberikan kebaikan bagi kita, mengubah mitos-mitos menjadi Logos-logos. Kita tak perlu mencari Etik dan Estetika terlalu jauh, karena sesungguhnya sebenar-benar Etik dan Estetika itu bersemayam di dalam Hati Sanubari kita masing-masing. Setinggi-tinggi Etik dan Estetika adalah Etik dan Estetika Absolut yaitu Etik dan Estetika Tuhan Yang Maha Esa dan manusia takkan mampu mencapai setinggi-tingginya Etik dan Estetika tersebut. Manusia hanya mampu berusaha menggapainya saja. Maka berusaha dan berdoalah memohon petunjuk Nya, semoga kita senantiasa diberikan hati yang jernih dan kecerdasan pikir.

    ReplyDelete
  4. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Saya sangat setuju dengan statement orang tua berambut putih bahwa Etik dan Estetika tertinggi absolut adalah Etik dan Estetika-Nya Allah SWT. Sifat-sifat Allah tidak ada yang bisa menandinginya. Semua aturan dan seni keindahan yang Allah tuliskan sungguh maha dahsyat. Hal ini tidak sebanding dengan pola aturan manusia yang terkadang cenderung menyeleweng dari aturan yang telah ditetapkan. Lain halnya dengan aturan Allah yang bersifat kekal dan Maha Berkehendak atas kehidupan makhluk-Nya. Saya menjadi teringat akan statement ini "Hitung-hitungan manusia berbeda dengan hitung-hitungan Allah SWT". Allah akan memberikan sesuatu di luar dugaan hamba-Nya.

    ReplyDelete
  5. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Etika dan Estetika adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam melakukan sesuatu, sebab Etika melihat sisi benar dan salahnya sedang estetika terkait baik dan buruknya. Dalam beretika kita harus berestetika begitu pun sebaliknya. Kita harus menempatkan etik dan estetika sesuai pada tempatnya. Saya percaya bahwa, kita juga harus mempertimbangkan efek manfaat dan mudharat nya, dari pada selalu berjuang pada etik dan estetika. Karena jangan sampai selalu bertumpu pada etik dan estetika namun malah banyak mudharatnya.

    ReplyDelete
  6. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sepemahaman kami (saya) estetika merupakan ilmu membahas bagaimana keindahan bisa terbentuk, dan bagaimana supaya dapat merasakannya, dan etika adalah yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Dari elegi ini saya memahami bahwa dalam melakukan segalah hal kami harus memperhatikan etika dan estetika akan tetapi jangan mengutamakan etika dan estetika karena standar etika dan estetika itu subjektif dan bisa berubah. Satu-satunya etika dan estetika yang absolut adalah etika dan estetika yang ditetapkan oleh Tuhan YME, yang dalam hal ini sudah tertulis didalam kitab suci yang kami imani.

    ReplyDelete
  7. Junianto
    PM C
    17706251065

    Mitos dan logos merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Etik dan estetika bisa dijadikan sarana untuk mengubah mitos sehingga menjadi logos. Namun, etik dan estetika bisa dicari hanya dengan menggunakan logos-logos. Etik dan estetika tertinggi hanyalah milik Allah SWT, Tuhan yang telah menciptakan alam seisinya. Maka dari itu, Tuhan harus selalu dilibatkan dalam pencarian etik dan estetika dengan senantiasa memohon petunjuk dan ridho-Nya.

    ReplyDelete
  8. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas sharingnya, Prof. Seperti yang diuraikan pada elegi di atas bahwa segala sesuatu dalam kehidupan ini tidak hanya lah tentang logos atau ilmu pengetahuan. Diperlukan etika, yaitu ukuran benar salahnya sesuatu, serta estetika, yaitu ukuran indah tidaknya sesuatu. Namun yang perlu diingat bahwa tidak ada alat ukur yang paten untuk etika dan estetika. Sifatnya relatif dan subjektif tergantung orang yang menilainya.

    ReplyDelete
  9. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Etik dan estetika. Sebuah hal yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia. Etik memiliki kecenderungan berbicara tentang sesuatu yang benar dan salah, kemudian estetika memiliki kecenderungan berbicara tentang baik dan buruk. Yang benar belum tentu baik, dan yang baik belum tentu benar, begitu pula sebaliknya. Kita tidak boleh sombong karena pemilik etik dan estetika yang absolut hanyalah Allah SWT.

    ReplyDelete
  10. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakaish Prof atas ilmunya. Postingan yang sangat menarik dan bermanfaat bagi diri saya. Saya melihat pesan-pesan pada postingan ini lewat pernyataan orang tua berambut putih:

    “Oooo...dengan ini aku tegaskan bahwa sebenar-benar Etik dan Estetika adalah Dasar, Payung, Pendahulu dan Penghujung dari Mitos dan Logos. Tidaklah yang Ada dan yang Mungkin Ada terbebas dari Etik dan Estetika. Dasarilah, dampingilah dan payungilah setiap Logosmu itu dengan Etik dan Estetika, agar memberi ke Baik kan bagi dirimu. Setinggi-tinggi Logos tidaklah mampu mengetahui semua relung Etik dan Estetika. Kemudian gunakanlah Etik dan Estetika untuk mengubah Mitos-mitosmu menjadi Logos-logosmu. Maka cari dan temukanlah Etik dan Estetika menggunakan Logosmu. Mereka itu bersemayam di dalam Hati Sanubarimu masing-masing. Etik dan Estetika tertinggi adalah Etik dan Estetika Absolut yaitu Etik dan Estetika Nya Allah SWT. Manusia hanya mampu berusaha menggapainya saja. Maka berdoa dan berdoalah memohon petunjuk Nya, agar engkau semua diberi kecerdasan Hati dan Pikir. Amin”

    Saya setuju bahwa tidak akan yang bisa terbebas dari etik dan estetik. Oleh karena itu dala menggapai logos, sudah wajib jika etik dan estetika menyertai. Poin kedua, saya sangat setuju dengan pendapat orang tua berambut putih bahwa etik dan estetik tertinggi adalah etik dan estetikaNya Allah. Yang benar dan salah, yang baik dan buruk “yang pener” adalah yang ditetapkan oleh Allah SWT.

    ReplyDelete
  11. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas tulisan di atas. Percakapan yang menarik ketika kita membicarakan tentang etik dan estetika dimana sebagian orang tidak mampu menempatkan keduanya secara tepat. Sangat setuju dengan apa yang dikatakan orang tua berambut putih bahwa "Etik adalah mengenai Benar dan Salah, sedangkan Estetika adalah mengenai Baik dan Buruk (atau Keindahan). Secara Epistemologis adalah Salah jika bertindak tanpa mengetahui hakekat atau pengertian dari apa yang dilakukan. Tetapi secara Etik dan Estetika, adalah Bijaksana atau Baik-baik saja jika Anak Kecil bertindak sesuai dengan Petunjuk atau Arahan dari Orang Tuanya, walau dia tidak atau belum mengetahui konsepnya. Engkau sebagai Orang Dewasa pun terkena hukumnya, yaitu tidaklah selalu harus bahwa engkau selalu mengetahui hakekat segala yang ada dan yang mungkin ada, misal urusan Tetanggamu atau urusan pribadi orang lain." mungkin hanya sesederhana itu yang dapat saya pahami. dengan demikian manusia hendaklah mampu mencerminkan etik dan estetika nya didalam kehidupan bermasyarakat agar mitos yang ada dalam pikiran kita perlahan terkikis dan menggapai logos. Meski pada dasarnya Etik dan Estetika tertinggi adalah Etik dan Estetika Absolut yaitu Etik dan Estetika Nya Allah SWT, namun kita wajib berusaha untuk mencapai dan menggapai nya dengan diiringi doa dan harapan agar selalu mendapat petunjuk dan tuntunanNya.

    ReplyDelete
  12. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi pemberontakan para etik dan estetika menjelaskan tentang pengertian dalam arti filsafat tentang keduanya. Seperti yang kita ketahui bahwa etk adalah membahas terkait yang benar dan salah, sedangkan estetika adalah terkait dengan baik dan buruk, dan estetika lebih mengarah pada keindahan. Keindahan itu merupakan seni, sehingga estetika terkait pula dengan seni, sedangkan stik terkait dengan moral, dan dalam spiritual moral berarti akhlak.

    ReplyDelete
  13. Indah Purnama Sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Ilmu tidak akan datang jika diri kita dalam keadaan emosi. baru saya sadar ketika marah yang mengang kendali kita adalah setan dan ilmu itu suci tidak mungkin setan bisa mendatangkan ilmu. jika ingin ilmu datang maka jangan pernah memainkan emosi walaupun emosi juga termasuk kedalam hakikat manusia. namun redamla sebisa mungkin karna usaha juga termasuk hakikat manusia.
    "Etik adalah mengenai Benar dan Salah, sedangkan Estetika adalah mengenai Baik dan Buruk (atau Keindahan)"lalu jika ingin menggapai etik dan estetika kita harus menggunakan akal logika. jadi bisa kita bisa mengubah mitos menjadi logos. dan tidak lupa merendah diri kepada allah suapaya dikasi kecerdasan dalam pikiran dan hati. silahkan utak atik pikiran namun jangan dengan hati. karena hati manusia erat kaitanya dengan Tuhan dan dalam aqidah kita harus tegas tidak boleh bingung.
    jadi kesimpulan yang saya dapat adalah berpikir lah dengan pikiran kita, ubah lah mitos di diri kita menjadi logos lalu tetaplah kita bertawakkal kepada Allah.karena Ia yang maha pemberi ilmu dan penggerak hati dan pikiran manusia.

    ReplyDelete
  14. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Secara umum, etik adalah berkaitan dengan yang benar dan yang salah sedangkan estetika berkaitan dengan keindahan atau baik dan buruk. Baik-buruk, benar-salah tersebut relatif terhadap ruang dan waktu. Keempat unsur tersebut dapat berkombinasi menjadi yang “baik dan benar”, “buruk dan salah”, “baik tetapi salah”, “buruk tetapi benar”, “salah tetapi baik”, dan “benar tetapi buruk”. Maka yang baik tidak selalu benar, yang benar tidak selalu baik, dan seterusnya. Sementara itu, segala yang ada dan yang mungkin ada memiliki etik dan estetika. Maka inilah pentingnya filsafat sehingga kita dapat menempatkan etik dan estetika pada ruang dan waktu yang sesuai.

    ReplyDelete
  15. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terima kasih Pak
    Dengan membaca saya belajar tentang etik dan estetika yaitu tentang baik buruk dan tentang benar salah. Dalam hidup ini ternyata yang baik tetapi salah dan yang buruk tetapi benar itu ada. Semua itu ada karena etik dan estetika manusia bersifat relatif. Sedangkan yang absolut adalah etik dan estetika Tuhan. Agar dapat melakukan perbuatan sesuai ruang dan waktu serta tidak bertentangan dengan etik dan estetika hendaknya selalu belajar dan berusaha serta memohon ridho Tuhan.

    ReplyDelete
  16. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Elegi Pemberontakan Para Etik dan Estetika
    Assalamualaikum wr wb
    Sebelumnya, terimaksih banyak Pak Prof
    Mambaca sampai akhir kesimpulannya, bahwa elegi ini memberikan suntikan nasehat sebagaimana yang diungkapkan oleh Orang tua berambut putih bahwa etik dan estetika adalah pondasi , payung dalam membangun mitos dan logos.Kita diharapkan melandasi logos dengan etik dan estetika, agar memberikan kebaikan pada diri kita.Dan setinggi-tingginya etik dan estetika adalah etik dan estetikanya Allah SWT yang sifatnya absolut.

    ReplyDelete
  17. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Berdasarkan elegi pemberontakan para etik dan estetika ini saya memahami bahwa segala sesuatu yang ada di dalam kehidupan ini tidak terbebas dari etik dan estetika. Seperti halnya dalam menggapai logos atau logika, hendaknya disertai dengan etik dan estetika agar kebaikan selalu mengiringi. Begitu juga dalam mengubah mitos menjadi logos, ikut sertakanlah etik dan estetika. Namun yang perlu diingat adalah bahwa etik dan estetika yang hakiki hanyalah miliki Allah SWT semata, sedangkan manusia hanya mampu berusaha untuk menggapainya. Oleh karena itu, senantiasalah berdoa dan memohon petunjuk kepada-Nya agar diberikan kecerdasan dalam menggunakan etik dan estetika.

    ReplyDelete
  18. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Estik berkaitan dengan nilai benar atau salah sedangkan estetika berkatitan dengan baik dan buruk (keindahan). Tidak selamanya kesalahan itu merupakan hal yang buruk dan tidak selamanya juga kebenaran itu ialah hal yang baik. Semuanya bergantung dengan ruang dan waktunya. Selalu ada hal yang bisa kita petik dari suatu kesalahan ataupun kebenaran. Oleh karena itu, bijaklah dalam menjalani kehidupan, karena sebenar-benarnya orang yang bijak ialah sesuai dengan ruang dan waktunya. Sehingga dengan kebijakan, kita dapat menilai apakah suatu kebenaran atau kesalahan yang kita lakukan merupakan hal yang baik atau bahkan merupakan hal yang buruk. Karena etik dan estetika yang sebenarnya hanya milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  19. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Manusia tidak akan terlepas dari etik dan estika dalam menemba ilmu untuk menggapai logos dan terhindar dari mitos. Pemilik etik dan estetika hanyalah Allah semata dan kita hanya dapat berusaha untuk menggapainya saya. Jangan berputus asa, karena seiring waktu kita dapat memahai hekekat etik dan estitika dalam kehidupan yang lebih tinggi dimensinya. Karena saat ini kita hanya perlu untuk belajar dari pengalaman, dan membaca pengalaman dari orang lain. Etik dan estetika akan erat hubungannya dalam kehidupan sosial kita. Berpikir sederhana tanpa mementingkan ego serta memahami orang lain serta meredam emosi untuk menjadikan salah satu upaya dalam menggapai etik dan estetika.

    ReplyDelete
  20. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Ada begitu banyak pelajaran dari elegi ini. Namun saya terkaget ketika orang tua berambut putih tiba-tiba meninggalkan dialog tanpa pamit sebelumnya. Perginya orang tua berambut putih ini ditafsirkan oleh begawat sebagai hilangnya ilmu ketika kita sedang marah atau penuh emosi. Benar rasanya, ketika kita sedang dikuasai oleh amarah dan emosi, maka seolah-olah pengetahuan atau ilmu yang kita punya terkesan hilang. Akhirnya tiap kita marah kita tidak bisa lagi berfikir jernih, tidak bisa lagi memanfaatkan ilmu yang kita miliki, dan justru pertimbangan=pertimbangan kita lebih banyak menggunakan emosi saja.

    ReplyDelete
  21. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Elegi ini menjawab kebingungan saya atas ungkapan Pak Marsigit bahwa ilmu yang paling tinggi untuk orang Jawa adalah sopan santun.
    Di dalam elegi ini terungkap bahwa etik dan estetika adalah payungnya logos dan mitos.
    Pengetahuan tanpa etik dan estetika bisa berbahaya. Kesombongan manusia dapat menghancurkan dunia.
    Trimakasih Pak... Saya akan mengingat untuk selalu memandang etik dan estetika dari setiap logos dan mitos, dalam mengajar maupun keseharian.

    ReplyDelete
  22. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Etik dan estetika adalah dua hal yang berbeda, etik mengenai benar dan salah, sedangkan estetika mengenai baik buruk. Baik etik maupun estetika dapat kita temuakan dalam diri kita. Etik dan estetika positif akan ada saat kita melakukan hal-hal yang positif, etik dan estetika negatif ada saat kita melakukan hal-hal yang negatif. Keduanya, etik dan estetika yang baik tergantung dari manusianya, bagaimana menggunakannya sesuai dengan tempat dan keadaannya.

    ReplyDelete
  23. Dewi saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr.Wb

    Etik dan estetika adalah dua hal yag berbeda tetapi tetap selalu bergandengan. Dimana didalm hidup kita akan selalu ada benar dan salah maupun baik dan buruk. Yang mana benar belum tentu baik dan salah belum tentu buruk. Kita juga harus mendasari pengetahuan kita dengan etik dan estetika sehingga pengetahuan yang didapatkan dapat dimanfaatkan dengan baik bukan untuk sebuah kesombongan yang hanya dapat merugikan banyak hal.

    ReplyDelete
  24. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Sebelumnya saya juga mengalami kesulitan dalam pemakaian kedua kata ini, kadang saya memilih untuk tidak menggunakannya dan mengganti dengan kata lain saja. Etik dan estetika ternyata sangat berperan dalam menjaga keharmonisan hidup. Dengan etik, kita memiliki kemampuan untuk menjaga diri dari melakukan apa yang tidak patut sesuai dengan aturan yang berlaku. Melalui estetika, kita bisa mengapresiasi kehidupan dengan menerapkan keindahan-keindahan sehingga hidup tidak monoton. Namun jika emosi sudah campur tangan dalam mengambil keputusan, serinkgali kita mengabaikan etik dan estetika dan memberikan kesempatan pada emosi untuk mengambil alih, sehingga mulai terjadi ketidakharmonisan dalam hidup. Semoga kita slalu dilindungi Allah SWT agar bersikap bijak dalam segala sesuatu yang kita lakukan.

    ReplyDelete
  25. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Etik dan setetika merupakan suatu kesatuan yang memang harus dimiliki oleh seseorang. Seseorang yang memiliki etik dan estetika cenderung menghormati sesama. Mereka tidak pernah mengacuhkan orang lain maupun peraturan orang lain. Mereka menghormati apa yang dijadikan pedoman oleh orang lain. mereka tahu kapan dan bagaimana menghormati orang lain. Seperti biasa, dalam melakukan suatu hal, orang yang memiliki etik dan estetika tinggi memiliki penyakit yang tidak baik yaitu sifat sombong. Penyakit tersebut ada juga bagia mereka yang menganggap diri mereka memiliki etik dan estetika yang bagus. Mereka merendahkan orang lain. oleh karena itu, semoga kita senantiasa dilindungi dari sifat yang memang manusia tidak boleh memilikinya. Sifat dimana hanya Tuhanlah yang boleh memilikinya, yaitu sifat sombong.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  26. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Etik dan estetika merupakan 2 hal yang membuat diri seseorang dihormati/tidak dihormati, dihargai/tidak dihargai, diteladani/tidak diteladani, dll. Kita harus selalu berbuat sesuai dengan etik dan estetika. Kita tidak boleh sering-sering menyebut orang lain tidak beretik dan estetika, namun ada baiknya kita introspeksi diri kita sendiri apakah segala tingkah laku dan perbuatan sudah sesuai dengan etik dan estetika. Etik dan estetika erat kaitannya dengan hati.

    ReplyDelete
  27. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B
    Etik dan estetika adalah salah satu sifat yang melekat padw manusia. Etik dan estetika absolut hanya milik Tuhan. Kita sebagai ciptaannya hanya bisa berusaha untuk selalu menjalankam segala perintahnya. Jangan pernah menilai orang lain berdasarksn etik dan estetika karena penilaian kita terlalu subyektif. Yang bisa menilai kita hanyalah sang pencipta. Etik dan estetika memiliki batasan dari negatif dan positif. Etik dan estetila positif dapat kita capai ketika yang kita lakukan untuk setiap kegidupan ini positif, begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, kita seharusnya berusaha, berserah, dsn bersyukur di setiap kehidupam ini.

    ReplyDelete
  28. Junianto
    17709251065
    PM C

    Etik dan estetika seyogyanya memang berjalan beriringan, meskipun terkadang bisa dipisahkan. Meskipun demikian, ketika dua hal ini dipisahkan maka akan ada sesuatu yang kurang lazim atau bahkan terkadang kurang di terima di lingkungan masyarakat. Maka dari itu, ketika kita akan menilai sesuatu benar atau salah (etik) maka perlu dipertimbangkan juga bagaimana dampaknya, apakah baik atau buruk (estetika).

    ReplyDelete
  29. Junianto
    17709251065
    PM C

    Etik dan estetika seyogyanya memang berjalan beriringan, meskipun terkadang bisa dipisahkan. Meskipun demikian, ketika dua hal ini dipisahkan maka akan ada sesuatu yang kurang lazim atau bahkan terkadang kurang di terima di lingkungan masyarakat. Maka dari itu, ketika kita akan menilai sesuatu benar atau salah (etik) maka perlu dipertimbangkan juga bagaimana dampaknya, apakah baik atau buruk (estetika).

    ReplyDelete
  30. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Etik dan estetika merupakan dua hal yang hampir sama, namun tetap berbeda. Kesamaannya terletak pada unsur kebaikan didalamnya. Etik berkatan dengan yang baik dan buruk, maka segala sesuatu mempunyai etik dan estetikanya (nilai keindahan) tergantung cara kita menilai dan memandang hal tersebut. Maka jadilah manusia yang bijaksana dalam berbuat dan berpendapat.

    Demikian, terimakasih

    ReplyDelete