Sep 20, 2013

Elegi Pemberontakan Stigma




Oleh Marsigit

Rakata:
Wah gawat benar situasinya. Aku tidak suka keadaan yang demikian. Terlalu benar perilaku si Ahilu. Semua orang memperbincangkannya. Masa tega-teganya dia ... bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Lebih dari itu Dia itu ternyata antadiri. Padahal selama ini aku telah menjamakannya, aku telah memberikan semua fasalutasnya. Ah kalau begitu aku sedang melihat pemberontakan yang dilakukan oleh Ahilu. Hemmm...wahai Pampilu apa saranmu tenang keadaan yang demikian.

Pampilu:
Wahai Rakata, engkau adalah pemimpinku dan pemimpin bagi semuanya. Gejalanya memang merajalela sampai dimana-mana. Tetapi aku melihat ini bukan pemberontakan. Mengapa? Kalau pemberontakan maka gejalanya bersifat sistematis dan menuju ke suatu arah serta ada penumpukan kuasa di sana. Aku melihat ini hanyalah sebuah stigma. Tetapi karena begitu hebatnya stigma maka memang gejalanya sampai kemana-mana. Hal demikian tidaklah secara langsung mempengaruhi kekuasaanmu. Melainkan memberikan kesempatan kepada dirimu untuk bercermin diri atas pengelolaan kekuasaanmu. Maka saya mohon bertindak bijaksanalah.

Rakata:
Wahai Pampilu, bukankah sebetulnya ini tanggung jawabmu. Aku sebetulnya bisa ambil sikap menunggu, yaitu menunggu tindakanmu terhadap Ahilu.

Pampilu:
Wahai Rakata, dari keadaan yang demikian kira-kira hal-hal apa sajakah yang menyebabkan dirimu merasa tidak nyaman.

Rakata:
Wahai Pampilu, ketahuilah jika benar apa yang engkau katakan bahwa ini bukan pemberontakan tetapi hanya sekedar stigma, maka ketahuilah bahwa aku tidak suka terhadap semua apa yang dipikirkan dan dikerjakan oleh Ahilu. Apa yang dia kerjakan itu semua bersifat kontradiksi terhadap tujuan luhur yang telah kita sepakati bersama. Menurut informasi, kenapa tega-teganya si Ahilu bersikap anohi terhadapku. Dia juga menunjukkan cara berpikir yang asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Lebih dari itu Dia itu ternyata antadiri. Padahal selama ini aku telah menjamakannya, aku telah memberikan semua fasalutasnya.

Pampilu:
Wahai Rakata, maafkan diriku. Menurutku engkau juga sudah termakan oleh stigma. Maka hati-hatilah.
Rakata:
Wahai Pampilu, coba jelaskan, menurutmu stigma itu apa, dari mana dan bagaimana ciri-cirinya?

Pampilu:
Stigma itu keadaan yang tidak disukai oleh keadaan baik. Artinya secara relatif stigma itu pada umumnya dianggap sebagai keadaan yang tidak baik. Sedangkan asalnya bisa berasal dari subyek atau obyek. Awal mulanya bisa bersifat aktif bisa bersifat pasif. Tetapi stigma itu mempunyai daya dan kekuatan yaitu mampu menyentuh semua subyek dan semua obyek. Maka stigma itu mempunyai sifat-sifat universal. Oleh karena itu begitu dia itu muncul maka dia itu adalah urusan banyak orang, termasuk urusan dirimu. Namun stigma itu mempunyai subyek dan mempunyai obyeknya. Sebagian besar orang akan bersukaria menyambut kedatangan stigma, bukan karena memperoleh kebaikan darinya, tetapi karena sebagian orang itu merasa mendapat kenikmatan dengan adanya stigma itu.

Rakata:
Wahai Pampilu, lalu bagaimana aku harus bersikap terhadap stigma ini dimana subyeknya adalah Ahilu?

Pampilu:
Wahai Rakata. Yang anda perlu hati-hati adalah sifat dan pelaku stigma. Stigma itu mempunyai ciri-ciri yang sangat fleksibel dimana pelakunya bisa berganti setiap saat dan dia bisa menembus ruang dan waktu. Maka jika engkau tidak hati-hati, maka dirimu juga akan terancam menjadi pelaku dari stigma itu.

Rakata:
Konkritnya bagaimana?

Pampilu:
Dalam menghadapi stigma, maka engkau harus memperhatikan subyeknya. Tetapi engkau tidak bisa menggunakan metode tunggal dalam mendekati subyeknya. Mengapa? Karena subyeknya selalu berganti-ganti dalam dimensi ruang dan waktu. Maka cara terbai bagimu adalah engkau perlu mengembangkan metode dinamis dalam ruang dan waktu pula untuk menghadapi variasi subyek stigma.

Rakata:
Hemmm...benar apa katamu. Ternyata setelah aku renungkan aku tidak bisa menggunakan cara tertentu. Jika aku hadapi langsung maka subyek stigma ternyata lenyap dari pandanganku. Jika aku berusaha menghancurkan subyek stigma maka aku juga terkena karena sebagian dari stigmanya telah memakan diriku. Ketika aku gunakan kekuasaanku mana kekuasaan subyek stigma adalah ternata kekuasaanku, artinya aku sama dengan menghancurkan diriku sendiri.
Wah ternyata aku mengalami kebingungan. Terus bagaimana ini Pampilu?

Pampilu:
Kita tunggu dan amati saja bagaiman kiprah dari stigma itu untuk periode berikutnya. Ada kalanya ternyata suatu waktu kita perlu berlndung di balik ruang dan waktu. Maka untuk saat ini aku hanya bisa menyaranan kepada engkau untuk berlindunglah di balik ruang dan waktu dalam menghadapi subyek dari stigma yaitu Ahilu.

Rakata:
Baik, aku setuju dengan saranmu.

28 comments:

  1. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A

    Stigma adalah berbagai pandangan orang yang menilai diri kita negatif, perbuatan kita negatif hingga pemikiran kita negatif. Hampir setiap hari kita bisa mendapatkan stigma. Stigma bisa datang dari siapa pun sekalipun itu dari orang terdekat kita. Stigma datang tanpa mau mengetahui fakta dibaliknya. Telah dijelaskan bahwa stigma dapat berganti subjeknya dan dapat menembus ruang dan waktu. Oleh karena itu dalam menanggapi stigma kita bisa jadikan stigma sebagai motivasi dan cara memaknai hidup. Apabila stigma itu tidak benar adanya dalam diri kita maka jadikan stigma menjadi penyemangat untuk membuktikannya. Stigma akan lenyap pada ruang dan waktu yang tepat. Maka yang bisa kita lakukan hanya berusaha dan bersabar .

    ReplyDelete
  2. Ady Ferdian Noor
    DikDas S3 / 18706261004

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Stigma merupakan dan bukan merupakan budaya, gender, dan ras yang memiliki pola pikir yang berbeda secara pengetahuan. Budaya hasil dari kebiasaan selama dia memasuki ruang dan waktu begitu juga gender dan ras hasil dari ciptaan Sang Maha Esa selama mereka bisa memasuki ruang dan waktu yang tepat.Pemberontak itu muncul bisa dari benturan budaya, perbedaan gender, dan ras tetapi semua dapat dikelola dengan baik apabila kita mampu berpikir rasional dan logika tidak apriori sesuai ruang dan waktu yang tepat artinya berpikir cerdas dan berdo'a. Masalah selalu ada dan akan berusaha untuk membuat gaduh, berpola pikir yang sistematis akan menghasilkan solusi sesuai ruang dan waktu, doakan apa yang dipikirkan, doakan apa yang dikerjakan dan doakan apa yang dipikirkan dan dikerjakan..aamiin. Terima kasih.

    ReplyDelete
  3. Janu Arlinwibowo
    18701261012
    PEP 2018

    Keadaan ada yang baik dan ada yang buruk. Stigma merupakan suatu yang selalu bertentangan dengan hal yang baik. Namun sebenarnya baik dan buruk adalah relatif, tergantung dari sudut pandang mana kita melihat. Stigma sebenarnya merupakan bagian dari kehidupan dimana dia juga tidak seharunya dilenyapkan. Hal bijak yang seharusnya dilakukan adalah mengarahkanya secara bijaksana, mengarah pada kebaikan. Ketika dalam kondiri yang rapuh dimana power negatif stigma tidak dapat kita bendung, alangkah baiknya kita sementara waktu berlindung di balik ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  4. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Stigma pada dasarnya dianggap sebagai keadaan yang tidak baik. Pelaku stigma bisa berganti setiap saat dan dapat menembus ruang dan waktu. Kita harus selalu berhati-hati, karena jika kita lengah maka kita bisa menjadi pelaku stigma. Orang yang sudah terlena dengan kedudukannya dan dia melupakan kewajibannya berarti ia sudah menjadi pelaku stigma. Dimana ia akan melakukan keburukan yang dapat merugikan orang lain. Stigma memberontak dengan cara yang halus. Mengajak orang pada perbuatan buruk dengan cara memberikannya banyak kebahagiaan agar seseorang tersebut terlena dan menjadi salah satu pelaku stigma. Oleh karena itu, jangan sampai kita lalai dan mudah tergiur dengan kebahagiaan yang semu.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  5. Septia Ayu Pratiwi
    18709251029
    S2 Pendidikan Matematika B

    “Stigma itu keadaan yang tidak disukai oleh keadaan baik. Artinya secara relatif stigma itu pada umumnya dianggap sebagai keadaan yang tidak baik. Sedangkan asalnya bisa berasal dari subyek atau obyek. Awal mulanya bisa bersifat aktif bisa bersifat pasif. Tetapi stigma itu mempunyai daya dan kekuatan yaitu mampu menyentuh semua subyek dan semua obyek. Maka stigma itu mempunyai sifat-sifat universal.”
    Stigma adalah pemikiran yang tidak baik, yaitu menduga-duga, memperkiran tanpa adanya bukti otentik. Stigma dapat menjadi sebuat fitnah, gossip, dan hoax jika tidak dibuktikan kebenarannya. stigma dapat juga menghancurkan diri sendiri jika dilakukan secara terus menerus dan tidak segera ditangani dengan baik.
    Elegi pemberontakan stigma diatas merupakan upaya memberantas stigma yang sering terjadi yang terlebih dahulu dilakukan melalui diri sendiri. Menghancurkan stigma yang buruk memerlukan metode khusu-khusus berdasarkan stigma yang berkembang di suatu masyarakat. Semoga Allah SWT selalu menghindarkan kita dari stigma-stigma buruk orang lain. Amiin…

    ReplyDelete
  6. Erma Zelfiana Surni
    18709251009
    S2. P.Matematika A 2018

    Assalamualaikum Wr. Wb
    Stigma membawa kenikmatan bagi pelakunya namun kinikmatan disini bukanlah kenikmatan yang sesungguhnya melainkan kenikmatan semu yang dibawa oleh syaitan. Karena pada dasarnya mencari-cari kesalahan dan aspek negatif orang lain itu memang merupakan suatu kenikmatan yang dibawa oleh hasutan syaitan. Maka siapa yang terjerumus dalam kenimatan syaitan masuklah ia dalam perangkap syaitan. Maka pelaku stigma itu ialah penikmat perangkap syaitan. Satu-satunya cara keluar dari perangkap stigma itu ialah ikhtiar dalam hati dan pikir. Kritis dalam berpikir, bernurani dalam menyikapi.

    Disaat sekarang ini, dengan adanya perkembangan iptek dan cepatnya arus persebaran informasi jika tidak ditanggapi dengan berpikir kritis dan bernurani, manusia akan sangat mudah sekali untuk terjerumus kedalam perangkap stigma. Maka untuk saat sekarang ini kita harus cerdas menyaring berbagai informasi.

    ReplyDelete
  7. Falenthino Sampouw
    18709251006
    S2 Pendidikan Matematika

    Selamat siang, Prof.
    Saat kita melawan sebuah keburukan kita mestinyapun berhati-hati. Mengapa? Karena bisa jadi kita pun bermain dengan stigma di dalamnya. Kita menyatakan bahwa sesuatu itu buruk, sebanarnya kita sedang memberikan cap atau melabelkan sesuatu dengan kata buruk. Maka kitapun bermain dengan stigma. Padahal, dalam keadaannya subjek ataupun objek itu bergantung pada ruang dan waktunya masing-masing. Artinya objek dan subjek dapat berubah dalam kedudukannya. Sangat berhati-hati dengan stigma.
    Terima kasih, Prof.

    ReplyDelete
  8. Rindang Maaris Aadzaar
    18709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Benar dengan apa yang dikatakan oleh Pampilu bahwa kita tidak boleh termakan oleh stigma. Bisa saja tanoa kita sadari, kita bisa termakan oleh stigma akibat dari mempercayai isu-isu yang berada karena sulit sekali membedakan bahwa hal-hal yang ada itu termasuk stigma atau tidak. Apalagi dari sifat stigma yang fleksibel. COntoh sederhana dari termakan stigma adalah saat seseorang mulai termakan oleh isu hingga dia mulai termakan oleh stigma dan berubah menjadi orang-orang yang seolah-olah ingin menguasai dunia dengan jalan yang tidak benar.
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  9. Elsa Apriska
    18709251005
    S2 PM A 2018

    Stigma adalah pikiran yang tidak baik dimana biasanya bernilai negatif. Stigma yang merupakan gejala bahasa bisa juga diartikan sebagai melabelkan orang lain. Yang menjadi berbahaya adalah ketika stigma yang ditujukan kepada seseorang itu tidak benar. Sangat penting untuk berhati-hati dalam menjatuhkan stigma. Karena kesalahan melabelkan sesutau kepada seseorang bisa menjadi "kiamat" bagi orang tersebut. Apalagi dengan pekermbangan zaman dan tekhnologi saat ini. Jika tidak berhati-hati dan meiliki pengetahuan serta pengalaman yang cukup bisa saja kita terjebak atau mempercayai stigma yang salah tersebut.

    ReplyDelete
  10. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Stigma adalah pandangan buruk tentang suatu hal. Stigma erat kaitannya dengan desas-desus, gossip, dan berita-berita bohong. Meskipun stigma cenderung mengarah pada hal-hal negative, namun terkadang pihak-pihak tertentu sengaja menyusun stigma untuk tujuan-tujuan tertentu. Di jaman modern seperti sekarang ini, stigma sangat mudah berkembang. Jika tidak dilandasi dengan hati dan pikiran yang jernih maka bisa jadi manusia kan mudah terkena jebakan stigma. Atau barang kali justru tanpa disadari telah menjadi bagian dari penyebar stigma. Oleh karena itu, manusia memang sebaiknya senantiasa berpikir kritis dan menggunakan hati nurani dalam setiap tindakan agar terhindar dari jebakan stigma.

    ReplyDelete
  11. Amalia Nur Rachman
    18709251042
    S2 Pendidikan Matematika B UNY 2018

    Sebenarnya stigma tidak hanya bersifat negative saja, namun terdapat stigma yang positif. Ketika mendengar istilah stigma maka kita akan cenderung memaknainya dengan stigma yang negative. Stigma merupakan bagian dari diri kita sendiri. Jadi tugas kita adalah mengubah stigma yang negative menjadi stigma positif. Walaupun hal ini bersifat relative terhadap subyek stigma dan pemikiran kita sendiri yang mudah berubah ubah bergantung pada ruang dan waktu

    ReplyDelete
  12. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006
    PEP S3

    Saya sepakat bahwa ketika kita tidak berhati-hati bisa saja kita menjadi subjek dari stigma tersebut. Oleh karena itu, kita harus menggunakan metode yang fleksibel. Mengapa fleksibel? Karena subjek stigma akan berganti-ganti sehingga kita perlu pendekatan yang berbeda pula untuk menghadapi stigma.

    ReplyDelete
  13. Fabri Hidayatullah
    18709251028
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Stigma dapat muncul dalam bentuk yang berbeda-beda. Sebagian orang terjebak oleh stigma karena mendapatkan kenikmatan, bukan karena mendapatkan kebaikan darinya. Oleh karena itu, sebagai manusia kita harus hati-hati setiap menghadapi sesuatu hal. Jangan sampai kebahagiaan yang kita raih hanyalah kebahagian palsu yang datang dari stigma. Maka hanya atas pertolongan Allah manusia dapat selamat.

    ReplyDelete
  14. Samsul Arifin / 18701261007 / S3 PEP 2018

    Stigma merupakan keadaan yang tidak baik, ciri negative yang menempel pada diri manusia..Stigma muncul karena adanya sifat dan perlikau manusia yang tidak baik dan tidak sesuai norma..Manusia harus menyadari stigma yang ada, yang akan muncul, dan stigma yang ada jauh sebelumnya terhadap dirinya. Stigma yang melekatnya seharusnya menjadi setiap orang untuk bias mengendalikannya dan memanfaatkan setiap Stigma yang muncul sebagai pengarah diri manusia untuk selalu berbuat baik sesuai norma yang berlaku.

    ReplyDelete
  15. Rosi Anista
    18709251040
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr wb
    Banyak orang yang hidup dalam naungan stigma yang berakibat hidup selalu terkekang oleh stigma dan bagaikan hidup dalam penjara. Sesungguhnya sangat nikmat bila kita selalu berdampingan dengan stigma sehingga kita bisa memaknai hidup kita secara mudah. Memang sangat rumit bila dipikirkan namun itulah stigma. Stigma akan datang tanpa mau mengetahui fakta dibaliknya. Stigma orang-orang akan muncul tanpa ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

    ReplyDelete
  16. Totok Victor Didik Saputro
    18709251002
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Selamat malam Prof.
    Sebenar-benarnya hal baik menurut pandangan stigma dapat berarti keburukan. Itu hakekat memandang stigma. Stigma dapat berlawanan dengan stigma yang lainnya. Artinya adanya pemberontakan satu sama lainnya. Hal ini terjadi karena tidaklah berjalan seiring dengan ruang dan waktu yang dimiliki oleh stigma itu. Sebenar-benarnya stigma negatif ini tetaplah mereka memerlukan ruang dan waktu yang sama sehingga stigma ini juga mampu menemukan jati diri stigma yang sesuai dengan ruang dan waktunya. Terima kasih.

    ReplyDelete
  17. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PPs UNY PM A 2018

    Stigma adalah suatu keadaan yang tidak menyukai keadaan baik. Menurut pendapat saya sesuatu dianggap baik atau tidak baik tergantung dari cara pandang masing-masing orang. Hal yang dianggap baik oleh satu orang belum tentu baik oleh orang lain.

    ReplyDelete
  18. SUHERMI
    18709251007
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA A.

    Stigma sebagai sikap tidak menyukai keadaan yang baik. Keadaan yang baik atau tidak tergantung pada bagaimana persepsi kita memandangnya. Stigma bisa terjadi di mana saja dan menimpa siapa saja, termasuk di lingkungan sekolah dan terjadi pada siswa. https://news.detik.com/berita/2402128/ini-15-bentuk-diskriminasi-sekolah-terhadap-siswa-versi-kpai. Bagaimana mengatasi stigma yang menimpa siswa tersebut, perlu mendapat penanganan dari berbagai pihak terkait.

    ReplyDelete
  19. Surya Shofiyana Sukarman
    18709251017
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Dari elegi di atas saya mendapati bahwa dalam hidup ini kita harus berhati-hati, karena stigma negatif dapat muncul kapan saja dan dalam bentuk yang berbeda-beda. Jangan sampai kita ikut terseret di dalamnya. Oleh karena itu, hidup dijaman sekarang dimana seringnya bermunculan stigma-stigma maka kita jangan mudah langsung percaya, kita sebagai manusia harus berpikir kritis dalam menanggapi setiap permasalahan dan selalu mencari ataupun mengecek kebenaran yang ada dan juga selalu memohon perlindungan dari Tuhan agar terhindar dari stigma negatif.

    ReplyDelete
  20. Herlingga Putuwita Nanmumpuni
    18709251033
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Stigma adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya, stigma juga dimaknai sebagai berbagai pandangan orang yang menilai diri kita negatif, hal yang kita lakukan negatif sampai pemikiran kita negatif. Sebenarnya hamir setiap hari kita menerima stigma. Bisa dari teman, tetangga, orang lewat atau bahkan dari keluarga dan orang tua kita sendiri. Sedangkan asal stigma bisa berasal dari subyek atau obyek. Awal mulanya bisa bersifat aktif bisa bersifat pasif. Tetapi stigma itu mempunyai daya dan kekuatan yaitu mampu menyentuh semua subyek dan semua obyek. Oleh karenanya stigma yang muncul maka akan menjadi urusan banyak orang.

    ReplyDelete
  21. Eka Puspita Sari
    18709251035
    S2 PM B 2018

    Pada dasarnya stigma itu adalah keadaan yang tidak disukai oleh keadaan baik. Artinya secara relatif stigma itu pada umumnya dianggap sebagai keadaan yang tidak baik. Pampili juga mengatakan bahwa perlu berhati-hati terhadap stigma karena stigma dapat menembus ruang dan waktu serta dapat berganti-ganti subjek, maka jika tidak berhati-hati maka diri sendiri dapat menjadi stigma pula. Berdasarkan hal tersebut dapat saya simpulkan bahwa stigma adalah keadaan dimana keadaan tersebut berpengaruh sangat buruk, jika tidak mampu melawan maka akan terancam menjadi bagian dari stigma. Contohnya, misalnya sebuah sifat malas, setiap orang harus melawan dan menghindari sifat malas tersebut, jika tidak maka kita akan menjadi bagian dari kemalasan tersebut. Maka malas dalam hal ini saya anggap sebagai stigma, kemalasan dapat bertindak dalam berbagai hal, misalnya handphone. Handphone dapat membuat seorang mahasiswa terlena hingga malas mengerjakan tugas-tugasnya sebagi mahasiswa dan mungkin melupakan tugasnya sebagai seorang hamba yang mempunyai kewajiban terhadap Sang Pencipta nya. Stigma atau sifat malas dapat menjelma menjadi apapun yang mungkin dapat berpotensi menggoyahkan pertahanan dirinya. Maka senantiasalah berlindung kepada Allah dari gangguan dan godaan stigma, agar jangan sampai diri kita menjadi bagian dari stigma tersebut.

    ReplyDelete
  22. Deden Hidayat
    18709251032
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Stigma merupakan suatu keadaan yang tidak baik. Stigma dapat muncul dari segala aspek dalam kehidupan kita. Mudah percaya pada sebuah isu atau gosip tanpa mengetahui kebenarannya merupakan tanda bahwa kita sudah termakan oleh sebuah stigma yang ada dalam masyarakat. hal yang harus kita lakukan adalah berhati-hati, jangan sampai kita mudah dimasuki oleh sebuah stigma dalam pikiran kita. berpikir secara jernih dan dibarengi hati yang jernih juga adalah cara kita agar tidak mudah dimasuki oleh sebuah stigma.

    ReplyDelete
  23. 140. Nur Afni
    18709251027
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    Rakata sempat merasa gawat dengan hadirnya stigma. Namun ada beberapa istilah yang digunakan rakata yang menarik namun belum dapat saya pahami maksudnya seperti bersikap anohi, berpikir asonga, bertindak arisa, berbuat asopi, berkata aconget, sedang antari, bersama ajodi, belum adatinga, cenderung asoal, antadiri, dan fasalutasnya. Dibalik kekhawatiran rakata ada pampilu yang berusaha untuk menenangkan dan membantu rakata agar berpikir dengan tenang bahwa ia hanya berada dalam pengaruh stigma. Stigma dapat begitu hebat hingga -menimbulkan gejala dimana-dimana. Namun sebenarnya tidak secara langsung mempengaruhi kekuasaan rakata. Tetapi rakata merasa terancam karena mengira itu adalah pemberontakan. terimkasih

    ReplyDelete
  24. Dita Aldila Krisma
    18709251012
    PPs Pendidikan Matematika A 2018

    Suatu stigma bisa menimbulkan dampak yang besar. Pengaruh stigma pun bisa terus kuat karena para subjek yang baik terkadang tidak sadar bahwa ia telah menjadi pelaku stigma, maka ia sudah termakan stigma. Kehati-hatian hendaknya senantiasa dipegang dalam ruang dan waktu agar tidak termakan stigma yang bisa berubah kedudukannya.

    ReplyDelete
  25. Kartianom
    18701261001
    S3 PEP 2018

    Dari elegi di atas saya mendapati bahwa dalam kehidupan kita harus sangat berhati-hati dengan stigma negatif. Jangan sampai kita ikut terseret di dalamnya. Untuk itu kita perlu mengatur diri agar tidak ikut terlibat. Selain itu selalu memohon perlindungan dari Tuhan agar terhindar dari stigma negatif.

    ReplyDelete
  26. hendra b.
    18701261008
    PEP S3 2018

    Stigma itu keadaan yang tidak disukai oleh keadaan baik. Artinya secara relatif stigma itu pada umumnya dianggap sebagai keadaan yang tidak baik. Sedangkan asalnya bisa berasal dari subyek atau obyek. Awal mulanya bisa bersifat aktif bisa bersifat pasif. Tetapi stigma itu mempunyai daya dan kekuatan yaitu mampu menyentuh semua subyek dan semua obyek. Maka stigma itu mempunyai sifat-sifat universal

    ReplyDelete
  27. Sintha Sih Dewanti
    18701261013
    PPs S3 PEP UNY

    Dalam tulisan di atas dijelaskan bahwa “Dalam menghadapi stigma, maka engkau harus memperhatikan subyeknya. Tetapi engkau tidak bisa menggunakan metode tunggal dalam mendekati subyeknya.” Saya setuju dengan pendapat ini. Stigma mungkin memang merupakan bagian dari diri dan tantangan hidup yang harus kita hadapi. Ketika kita berhadapan dengan stigma, segalanya mungkin memang terasa sulit. Memiliki sistem pengingat atau rangkaian kata-kata tertentu di dalam pikiran dapat membantu untuk kembali memfokuskan perhatian dari hal-hal yang sebelumnya mengganggu kita. Dalam mengelola pikiran, kita harus memperhatikan apakah pikiran itu kebanyakan bersifat positif atau negatif. Jika tidak dapat menerima diri sendiri, maka orang lain juga akan lebih kesulitan untuk menerima kita.

    ReplyDelete