Sep 20, 2013

Elegi Pemberontakan Stigma




Oleh Marsigit

Rakata:
Wah gawat benar situasinya. Aku tidak suka keadaan yang demikian. Terlalu benar perilaku si Ahilu. Semua orang memperbincangkannya. Masa tega-teganya dia ... bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Lebih dari itu Dia itu ternyata antadiri. Padahal selama ini aku telah menjamakannya, aku telah memberikan semua fasalutasnya. Ah kalau begitu aku sedang melihat pemberontakan yang dilakukan oleh Ahilu. Hemmm...wahai Pampilu apa saranmu tenang keadaan yang demikian.

Pampilu:
Wahai Rakata, engkau adalah pemimpinku dan pemimpin bagi semuanya. Gejalanya memang merajalela sampai dimana-mana. Tetapi aku melihat ini bukan pemberontakan. Mengapa? Kalau pemberontakan maka gejalanya bersifat sistematis dan menuju ke suatu arah serta ada penumpukan kuasa di sana. Aku melihat ini hanyalah sebuah stigma. Tetapi karena begitu hebatnya stigma maka memang gejalanya sampai kemana-mana. Hal demikian tidaklah secara langsung mempengaruhi kekuasaanmu. Melainkan memberikan kesempatan kepada dirimu untuk bercermin diri atas pengelolaan kekuasaanmu. Maka saya mohon bertindak bijaksanalah.

Rakata:
Wahai Pampilu, bukankah sebetulnya ini tanggung jawabmu. Aku sebetulnya bisa ambil sikap menunggu, yaitu menunggu tindakanmu terhadap Ahilu.

Pampilu:
Wahai Rakata, dari keadaan yang demikian kira-kira hal-hal apa sajakah yang menyebabkan dirimu merasa tidak nyaman.

Rakata:
Wahai Pampilu, ketahuilah jika benar apa yang engkau katakan bahwa ini bukan pemberontakan tetapi hanya sekedar stigma, maka ketahuilah bahwa aku tidak suka terhadap semua apa yang dipikirkan dan dikerjakan oleh Ahilu. Apa yang dia kerjakan itu semua bersifat kontradiksi terhadap tujuan luhur yang telah kita sepakati bersama. Menurut informasi, kenapa tega-teganya si Ahilu bersikap anohi terhadapku. Dia juga menunjukkan cara berpikir yang asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Lebih dari itu Dia itu ternyata antadiri. Padahal selama ini aku telah menjamakannya, aku telah memberikan semua fasalutasnya.

Pampilu:
Wahai Rakata, maafkan diriku. Menurutku engkau juga sudah termakan oleh stigma. Maka hati-hatilah.
Rakata:
Wahai Pampilu, coba jelaskan, menurutmu stigma itu apa, dari mana dan bagaimana ciri-cirinya?

Pampilu:
Stigma itu keadaan yang tidak disukai oleh keadaan baik. Artinya secara relatif stigma itu pada umumnya dianggap sebagai keadaan yang tidak baik. Sedangkan asalnya bisa berasal dari subyek atau obyek. Awal mulanya bisa bersifat aktif bisa bersifat pasif. Tetapi stigma itu mempunyai daya dan kekuatan yaitu mampu menyentuh semua subyek dan semua obyek. Maka stigma itu mempunyai sifat-sifat universal. Oleh karena itu begitu dia itu muncul maka dia itu adalah urusan banyak orang, termasuk urusan dirimu. Namun stigma itu mempunyai subyek dan mempunyai obyeknya. Sebagian besar orang akan bersukaria menyambut kedatangan stigma, bukan karena memperoleh kebaikan darinya, tetapi karena sebagian orang itu merasa mendapat kenikmatan dengan adanya stigma itu.

Rakata:
Wahai Pampilu, lalu bagaimana aku harus bersikap terhadap stigma ini dimana subyeknya adalah Ahilu?

Pampilu:
Wahai Rakata. Yang anda perlu hati-hati adalah sifat dan pelaku stigma. Stigma itu mempunyai ciri-ciri yang sangat fleksibel dimana pelakunya bisa berganti setiap saat dan dia bisa menembus ruang dan waktu. Maka jika engkau tidak hati-hati, maka dirimu juga akan terancam menjadi pelaku dari stigma itu.

Rakata:
Konkritnya bagaimana?

Pampilu:
Dalam menghadapi stigma, maka engkau harus memperhatikan subyeknya. Tetapi engkau tidak bisa menggunakan metode tunggal dalam mendekati subyeknya. Mengapa? Karena subyeknya selalu berganti-ganti dalam dimensi ruang dan waktu. Maka cara terbai bagimu adalah engkau perlu mengembangkan metode dinamis dalam ruang dan waktu pula untuk menghadapi variasi subyek stigma.

Rakata:
Hemmm...benar apa katamu. Ternyata setelah aku renungkan aku tidak bisa menggunakan cara tertentu. Jika aku hadapi langsung maka subyek stigma ternyata lenyap dari pandanganku. Jika aku berusaha menghancurkan subyek stigma maka aku juga terkena karena sebagian dari stigmanya telah memakan diriku. Ketika aku gunakan kekuasaanku mana kekuasaan subyek stigma adalah ternata kekuasaanku, artinya aku sama dengan menghancurkan diriku sendiri.
Wah ternyata aku mengalami kebingungan. Terus bagaimana ini Pampilu?

Pampilu:
Kita tunggu dan amati saja bagaiman kiprah dari stigma itu untuk periode berikutnya. Ada kalanya ternyata suatu waktu kita perlu berlndung di balik ruang dan waktu. Maka untuk saat ini aku hanya bisa menyaranan kepada engkau untuk berlindunglah di balik ruang dan waktu dalam menghadapi subyek dari stigma yaitu Ahilu.

Rakata:
Baik, aku setuju dengan saranmu.

5 comments:

  1. Calva Ananta Dominikus Matutina
    13301241061
    Pendidikan Matematika I 2013

    Stigma yang menempel pada diri seorang manusia memberikan ruang pada mitos untuk menggerogoti diri manusia itu sendiri. Manusia dengan pandangannya sendiri termakan stigma tanpa perlu berusaha memandang dari sudut pandang yang lainnya. Dengan berlakku seperti itu, manusia tersebut akan dengan mudah termakan mitos.

    ReplyDelete
  2. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs S2 PEP B 2016

    Bahwa stigma itu sendiri merupakan prasangka. Dunia ini memang telah diliputi oleh banyak stigma. Merupakan kodrat manusia untuk selalu berprasangka, itu karena manusia memiliki kecenderunga untuk berhati-hati dan melindungi diri. Namun stigma itu bisa saj bersifat negatif, dimana stigma itu ditujukan pada orang lain sehingga bisa mencelakai orang lain, dan ketika kita telah merugikan dan menzalimi orang lain krena prasangka kita, maka saat itu pula kita telah termakan oleh stigma. Amak selayaknyalah kita berusaha untuk mengarahkan stigma agar tidak terperangkap pada stigma negatif.

    ReplyDelete
  3. Faqih Mu'tashimbillah
    12313244030
    Pendidikan Matematika Internasioal

    Elegi diatas memberitahukan bahwa stigma yang ada adalah keadaan yang buruk atau negatif. Banyak yang terlena oleh stigma stigma yang ada. Begitu pula sudut pandang juga mempengaruhi stigma. Ada banyak metode dalam mengalahkan stigma, salah satunya berpikir kritis serta jangan lupa untuk selalu mohon perlindungan dari sang Pencipta.

    ReplyDelete
  4. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Stigma adalah sebuah prasangka buruk atau memberikan penilaian negative terhadap suatu hal, misalnya sebagai manusia yang masih sangat kental dengan sifat duniawi kita sering membicarakan hal yang buruk atau memberikan penilaian yang buruk terhadap seseorang walaupun kita masih belum mengetahui secara pasti tentang kebenarannya dan tanpa disadari kita telah menjadikan hal tersebut sebagai objek stigma. Karena itu senantiasalah berusaha berpikir positif dalam menjalani kehidupan ini agar kita dapat meminimalisir kehadiran stigma-stigma dalam kehidupan kita.

    ReplyDelete
  5. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Mengutip kalimat dalam elegi di atas “Stigma itu keadaan yang tidak disukai oleh keadaan baik. Artinya secara relatif stigma itu pada umumnya dianggap sebagai keadaan yang tidak baik”.
    Lebih lanjut dipaparkan, “Dalam menghadapi stigma, maka engkau harus memperhatikan subyeknya. Tetapi engkau tidak bisa menggunakan metode tunggal dalam mendekati subyeknya. Mengapa? Karena subyeknya selalu berganti-ganti dalam dimensi ruang dan waktu”.

    Maka, stigma adalah sesuatu yang melekat yang secara umum terproses dalam pikiran kita sebagai sesuatu yang “tidak baik”. Namun, dalam menilai stigma, kita tidak dapat menggunakan metode “tunggal”, karena selalu ada dua sisi dalam setiap hal. Nilailah dari dua sisi, baik dan buruk sellau ada hanya terkadang ada yang tampak lebih dominan.

    ReplyDelete


Note: Only a member of this blog may post a comment.