Sep 20, 2013

Elegi Pemberontakan Stigma




Oleh Marsigit

Rakata:
Wah gawat benar situasinya. Aku tidak suka keadaan yang demikian. Terlalu benar perilaku si Ahilu. Semua orang memperbincangkannya. Masa tega-teganya dia ... bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Lebih dari itu Dia itu ternyata antadiri. Padahal selama ini aku telah menjamakannya, aku telah memberikan semua fasalutasnya. Ah kalau begitu aku sedang melihat pemberontakan yang dilakukan oleh Ahilu. Hemmm...wahai Pampilu apa saranmu tenang keadaan yang demikian.

Pampilu:
Wahai Rakata, engkau adalah pemimpinku dan pemimpin bagi semuanya. Gejalanya memang merajalela sampai dimana-mana. Tetapi aku melihat ini bukan pemberontakan. Mengapa? Kalau pemberontakan maka gejalanya bersifat sistematis dan menuju ke suatu arah serta ada penumpukan kuasa di sana. Aku melihat ini hanyalah sebuah stigma. Tetapi karena begitu hebatnya stigma maka memang gejalanya sampai kemana-mana. Hal demikian tidaklah secara langsung mempengaruhi kekuasaanmu. Melainkan memberikan kesempatan kepada dirimu untuk bercermin diri atas pengelolaan kekuasaanmu. Maka saya mohon bertindak bijaksanalah.

Rakata:
Wahai Pampilu, bukankah sebetulnya ini tanggung jawabmu. Aku sebetulnya bisa ambil sikap menunggu, yaitu menunggu tindakanmu terhadap Ahilu.

Pampilu:
Wahai Rakata, dari keadaan yang demikian kira-kira hal-hal apa sajakah yang menyebabkan dirimu merasa tidak nyaman.

Rakata:
Wahai Pampilu, ketahuilah jika benar apa yang engkau katakan bahwa ini bukan pemberontakan tetapi hanya sekedar stigma, maka ketahuilah bahwa aku tidak suka terhadap semua apa yang dipikirkan dan dikerjakan oleh Ahilu. Apa yang dia kerjakan itu semua bersifat kontradiksi terhadap tujuan luhur yang telah kita sepakati bersama. Menurut informasi, kenapa tega-teganya si Ahilu bersikap anohi terhadapku. Dia juga menunjukkan cara berpikir yang asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Lebih dari itu Dia itu ternyata antadiri. Padahal selama ini aku telah menjamakannya, aku telah memberikan semua fasalutasnya.

Pampilu:
Wahai Rakata, maafkan diriku. Menurutku engkau juga sudah termakan oleh stigma. Maka hati-hatilah.
Rakata:
Wahai Pampilu, coba jelaskan, menurutmu stigma itu apa, dari mana dan bagaimana ciri-cirinya?

Pampilu:
Stigma itu keadaan yang tidak disukai oleh keadaan baik. Artinya secara relatif stigma itu pada umumnya dianggap sebagai keadaan yang tidak baik. Sedangkan asalnya bisa berasal dari subyek atau obyek. Awal mulanya bisa bersifat aktif bisa bersifat pasif. Tetapi stigma itu mempunyai daya dan kekuatan yaitu mampu menyentuh semua subyek dan semua obyek. Maka stigma itu mempunyai sifat-sifat universal. Oleh karena itu begitu dia itu muncul maka dia itu adalah urusan banyak orang, termasuk urusan dirimu. Namun stigma itu mempunyai subyek dan mempunyai obyeknya. Sebagian besar orang akan bersukaria menyambut kedatangan stigma, bukan karena memperoleh kebaikan darinya, tetapi karena sebagian orang itu merasa mendapat kenikmatan dengan adanya stigma itu.

Rakata:
Wahai Pampilu, lalu bagaimana aku harus bersikap terhadap stigma ini dimana subyeknya adalah Ahilu?

Pampilu:
Wahai Rakata. Yang anda perlu hati-hati adalah sifat dan pelaku stigma. Stigma itu mempunyai ciri-ciri yang sangat fleksibel dimana pelakunya bisa berganti setiap saat dan dia bisa menembus ruang dan waktu. Maka jika engkau tidak hati-hati, maka dirimu juga akan terancam menjadi pelaku dari stigma itu.

Rakata:
Konkritnya bagaimana?

Pampilu:
Dalam menghadapi stigma, maka engkau harus memperhatikan subyeknya. Tetapi engkau tidak bisa menggunakan metode tunggal dalam mendekati subyeknya. Mengapa? Karena subyeknya selalu berganti-ganti dalam dimensi ruang dan waktu. Maka cara terbai bagimu adalah engkau perlu mengembangkan metode dinamis dalam ruang dan waktu pula untuk menghadapi variasi subyek stigma.

Rakata:
Hemmm...benar apa katamu. Ternyata setelah aku renungkan aku tidak bisa menggunakan cara tertentu. Jika aku hadapi langsung maka subyek stigma ternyata lenyap dari pandanganku. Jika aku berusaha menghancurkan subyek stigma maka aku juga terkena karena sebagian dari stigmanya telah memakan diriku. Ketika aku gunakan kekuasaanku mana kekuasaan subyek stigma adalah ternata kekuasaanku, artinya aku sama dengan menghancurkan diriku sendiri.
Wah ternyata aku mengalami kebingungan. Terus bagaimana ini Pampilu?

Pampilu:
Kita tunggu dan amati saja bagaiman kiprah dari stigma itu untuk periode berikutnya. Ada kalanya ternyata suatu waktu kita perlu berlndung di balik ruang dan waktu. Maka untuk saat ini aku hanya bisa menyaranan kepada engkau untuk berlindunglah di balik ruang dan waktu dalam menghadapi subyek dari stigma yaitu Ahilu.

Rakata:
Baik, aku setuju dengan saranmu.

74 comments:

  1. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Stigma adalah sikap atau sifat yang ada pada diri kita yang membawa ke hal yang negatif. Stigma dapat mempengaruhi cara berpikir seseorang. Penyakit hati adalah pemicu utama seseorang terbelunggu akan stigma. Penyakit hati tersebut seperti kesombongan, keserakahan, iri, dengki, dsb. Agar terhindar dari stigma, kita harus ikhlas, selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT, menggunakan hati sebagai komandan, dan senantiasa beristighfar memohon ampunan-Nya, semoga kita dapat terhindar dari penyakit-penyakit hati.

    ReplyDelete
  2. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Masyarakat cenderung menerakan stigma tertentu pada golongan orang tertentu. Orang yang pernah menginap di hotel prodeo atau lembaga pemasyarakatan, misalnya, tak ayal mendapatkan stigma negatif dan cenderung disingkiri. Tidak sedikit narapidana yang kesulitan berbaur kembali dengan masyarakat ketika masa hukumannya usai. Akibatnya, alih-alih kembali bermasyarakat secara wajar, mereka malah kembali terjerumus ke dalam dunia kriminal. Karena sesungguhnya pada masa transisi ini 'penghukuman' atas kehidupan mereka terasa lebih berat lagi dibandingkan saat masih berada dalam penjara. Karena semua mata kan memandang dengan curiga pada mereka, alhasil akan sangat sulit bagi mereka untuk mndapatkan pekerjaan lagi. Padahal anak dan keluarga butuh dinafkahi. Untuk mencegah mereka kembali pada dunia lamanya, maka sangat dibutuhkan 'pendampingan' pada masa ini. Bahkan tak sedikit yang sudah tertolak dari keluarganya sehingga tidak ada tempat untuk kembali.

    ReplyDelete
  3. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Dalam elegi sebelumnya, salah satu tokoh mengatakan, “Siapapun yang menjadi penghalang diriku maka dia aku anggap musuh. Maka dengan segenap cara, cara baik, cara buruk, cara licik, adu domba, peperangan, fitnah, apapun akan aku tempuh demi mewujudkan cita-citaku. Tidaklah boleh ada yang lain yang lebih dari diriku”. Sehingga dapat dikatakan bahwa stigma itu masih tentang sesuatu yang negatif, cenderung kepada nafsu-nafsu buruk. Bagaimana kita menyikapi stigma adalah lebih baik jika kita menghindari hal itu karena menggunjing orang lain itu merupakan hal yang tidak baik apalagi jika kabar itu bukanlah suatu kebenaran atau bahkan aib dari orang lain. Stigma telah terpinggirkan oleh orang-orang yang skeptis karena baunya tidak memiliki sedikit pun benih negatif dan positif. Dan dari mana pandangan ini berasal? Apakah memikirkan sudut pandang lain? Apakah ada tindakan mementingkan diri sendiri? Mari kita membuat banyak pemikiran sebelum menilai apapun. Pelajarannya sangat berharga jika kita bisa melihat dari sudut yang berbeda.

    ReplyDelete
  4. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Dalam menghadapi/melawan stigma, kita tidak bisa menggunakan satu cara. Caranya adalah dengan kita mengembangkan metode dinamis dalam ruang dan waktu karena stigma sangatlah bervariasi caranya untuk berusaha masuk ke dalam diri/hati kita. Untuk terhindar dari stigma, manusia hendaknya selalu mendekatkan diri pada Allah agar selalu dijauhkan dari stigma.

    ReplyDelete
  5. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Elegi pemberontakan stigma menceritakan mengenai Rakata yang tidak setuju dengan Ahilu karena sikap, cara pikir, tindak tanduk dan perkataan Ahilu yang kurang sepadan dengan pemikiran Rakata. Dan jika belajar dari stigma-stigma yang ada maka seseorang akan mendapatkan pelajaran bahwa memberikan kesempatan kepada orang lain untuk merefleksi diri atas pengelolaan kekuasaan dan bertindak bijaksana yang telah dilakukannya.

    ReplyDelete
  6. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Stigma memiliki arti sikap atau sifat negatif. Stigma biasanya dilekatkan dengan kata lain, yang menyebabkan kata tersebut dianggap negatif. Karena sifatnya yang negatif, membuat keadaan atau perasaan baik menjadi terganggu. Meskipun demikian, ada hal atau suatu yang baik, namun dilekatkan dengan stigma negatif. Misalnya orang yang bekerja sebagai pembersih jalan, biasanya orang tua meletakkan stigma yang negatif kepada pekerja tersebut saat berbicara dengan anaknya. Misalnya, “nak, kalau kamu tidak belajar dengan baik, nanti kamu kerjanya kayak orang itu lho”. Padahal membersihkan jalan adalah perbuatan yang mulia. Coba kalau tidak ada pekerja pembersih jalan. Jalanan jadi kotor. Tidak selamanya stigma itu dimunculkan oleh objek yang diamati, namun bisa juga dimunculkan oleh stigma dari orang yang mengamati.

    ReplyDelete
  7. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. stigma itu melekat pada yang ada dan yang mungkin ada. Stigma itu dapat bersifat postif maupun negatif. Stigma terjadi karena adanya fitnah. Stigma itu tidak disukai oleh kebaikan. Stigma harus disikapi dengan bijaksana, dengan hati dan pikiran yang bersih.

    ReplyDelete
  8. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi pemberontakan stigma.
    Yang saya dapat dari membaca elegi ini adalah ketika ada stigma buruk ditujukan pada diri kita, jadikan hal itu sebagai momentum untuk kembali melakukan refleksi diri, bercermin pada diri sendiri apakah selama ini perilaku kita sudah terpuji atau belum. Selain itu, kita perlu menyikapi stigma dengan bijaksana seraya tetap memohon pertolongan Tuhan.

    ReplyDelete
  9. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setiap manusia memiliki kekurangannya masing-masing, orang-orang menilai tersebut sebagai suatu stigma terhadap kita, maka dari itu untuk menjauhkan dari stigma tersebut diperlukan suatu tekad yang kuat yaitu meningkatkan presatsi kita, berlomba dalam kebaikan.

    ReplyDelete
  10. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Stigma yang dianggap sebagai sesuatu yang tidak baik sudah tersebar dimana-mana dalam kehidupan sehari-hari kita. Stigma ini dapat menembus ruang dan waktu yang bersifat fleksibel dan cenderung merugikan lingkungan di sekitar kita. Stigma ini juga dapat dimiliki setiap orang. Stigma yang dimiliki setiap orang berbeda-beda tingkatannya. Oleh karena itulah hendaknya kita mewaspadai adanya stigma yaitu sesuatu yang tidak baik dalam diri kita.

    ReplyDelete
  11. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)
    Melalui elegi ini diketahui bahwa stigma merupakan perbuatan yang tidak disukai oleh keadaan baik. Berhati-hatilah dengan stigma karena stigma mampu menguasai dan menghancurkan diri kita. Agar kita terhindar dari stigma, kita harus bersikap tenang dan sabar dalam menghadapi situasi apapun yang terjadi, senantiasalah berdoa kepada Tuhan YME, sang juruselamat umat manusia.

    ReplyDelete
  12. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Sebaik-baik stigma maka hukumnya akan tetap buruk juga. Sesungguhnya stigma adalah pikiran tidak kritis dan hati tidak bersih atau tidak ikhlas. Jika kita berusaha menghancurkan subyek stigma maka kita juga akan terkena akibatnya, karena sebagian dari stigma tersebut telah memakan diri kita. Maka hindarilah diri kita dari stigma tersebut. Stigma akan datang tanpa mau mengetahui fakta dibaliknya, maka untuk menghindari para stigma adalah dengan selalu berpikir kritis dan berhati bersih atau ikhlas. Ketika kita gunakan kekuasaan kita maka kekuasaan subyek stigma adalah ternyata kekuasaan kita, artinya kita sama dengan menghancurkan diri kita sendiri. Oleh karena itu kita harus berusaha dan bekerja menjalankan kekuasaan kita dengan menggunakan kecerdasan pikiran dan menggunakan hati nurani yang ikhlas sembari berdoa agar terbebas dari stigma. Stigma selalu bertentangan dengan keadaan kita, maka waspadalah kita terhadap subyek stigma-stigma. Hindarilah subyek stigma dengan berlindung di balik ruang dan waktu dan senantiasa menjaga pikiran kita dan menjaga hati kita agar selalu ikhlas. Semoga kita terhindar dari stigma-stigma tersebut.

    ReplyDelete
  13. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamu Alaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Perihal melawan stigma pertama kita harus berdamai dengan stigma itu sendiri dengan tidak memikirkannya. Lalu kita harus menunjukkan bagaimana diri kita yang sebenarnya kepada orang-orang yang memiliki stigma terhadap kita. Kita harus membiarkan semua stigma yang ada untuk diri kita dengan tujuan bahwa apa yang kita lakukan insya Allah akan membuahkan hasil dan dari hasil itu bisa menjadi kekuatan kita untuk melawan stigma sehingga orang yang memiliki stigma kepada kita tahu kebenaran dari stigma yang ditujukan pada kita. semoga kita selalu menuju pada apa yang disebut kebaikan.

    ReplyDelete
  14. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini saya mendapati bahwa dalam menghadapi stigma dalam masyarakat kita harus hati-hati. Perlu berbagai macam sudut pandang dalam memandang dan mengantisipasi stigma tersebut. Untuk memperluas sudut pandang kita harus banyak dan belajar sehingga kita mampu berada pada ruang dan waktu yang tepat untuk menghadapi stigma tersebut.

    ReplyDelete
  15. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Saya dapat merefleksikan bahwa stigma sesungguhnya adalah keadaan yang tidak baik. Memang stigma yang ada muncul karena prasangka buruk, baik dari objek maupun subjek. Untuk menghindari stigma buruk, kita perlu mengetahui keadaan yang sebenarnya, berpikir jernih, dan berhati ikhlas.

    ReplyDelete
  16. Junianto
    PM C
    17706251065
    Stigma merupakan hal yang perlu kita waspadai, karena ini bisa mengarahkan kepada dua hal yang bertentangan, positif atau negatif, baik, atau buruk, benar atau salah, dsb. Pemikiran-pemikiran orang lain juga perlu kita waspadai karena ini juga akan berpengaruh pada stigma kita. Maka dari itu, agar manusia tidak terjebak dalam stigma negatif hendaknya manusia mengomunikasikan antara hati dan pikiran agar sejalan dan terarah. Cerdas secara akal tidak cukup untuk menjadi orang baik, karena hanya akan digunakan untuk memperdaya orang lain. Begitu juga cerdas hati saja juga tidak cukup, maka keduanya harus bersinergi dan saling menyeimbangkan.

    ReplyDelete
  17. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Inilah yang menakutkan

    "Karena subyeknya selalu berganti-ganti dalam dimensi ruang dan waktu"

    Menakutkan, bukan? Bisa jadi kita melihat orang lain atau suatu sistem terkena stigam, bisa jadi pula kita lah yang digenggam dan diremet met oleh si stigma.

    Maka, ada kalanya kita harus berlindung, ".....Ada kalanya ternyata suatu waktu kita perlu berlndung di balik ruang dan waktu"

    ReplyDelete
  18. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Stigma merupakan sebuah kondisi dimana setiap manusia memiliki pandangan yang kurang baik terhadap seseorang/sesuatu/benda/sifat/hakikat dari subyek/obyek. Kita harus menjauhkan dari dari stigma karena itu akan membuat kita selalu berprasangka negatif terhadap suatu obyek tertentu. Termasuk kepada siswa kita saat kita menjadi seorang pendidik, selalu berpikir positiflah kepada mereka untuk mengembangkan kreativitas siswa.

    ReplyDelete
  19. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PM A 2107
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Stigma dapat muncul dalam bentuk yang berbeda-beda. Sebagian orang terjebak oleh stigma karena mendapatkan kenikmatan, bukan karena mendapatkan kebaikan darinya. Oleh karena itu, sebagai manusia kita harus hati-hati setiap menghadapi sesuatu hal. Jangan sampai kebahagiaan yang kita raih hanyalah kebahagian palsu yang datang dari stigma. Maka hanya atas pertolongan Allah manusia dapat selamat.

    ReplyDelete
  20. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Telah banyak stigma-stigma yang mempengaruhi cara berpikir kita. Seharusnya kita dapat berpikir secara ikhlas, tetapi dengan adanya stigma ini, kita menjadi berpikir secara terpaksa. Padahal, berpikir secara terpaksa ini tidak akan mengahsilkan ilmu yang bermanfaat.
    “Stigma itu keadaan yang tidak disukai oleh keadaan baik”. Tidak selamanya keadaan baik itu baik dan keadaan tidak baik itu tidak baik. Semua itu terikat oleh ruang dan waktu. Ketika siswa menganggap bahwa pelajaran matematika merupakan pelajaran yang menyeramkan, seiring berjalannya waktu siswa mulai terkesima betapa menyenangkannya belajar matematika. Dengan adanya teori-teori pembelajaran yang mulai digunakan oleh para guru yang menyebabkan keadaan yang tidak baik menjadi baik.

    ReplyDelete
  21. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Seteleh membaca elegi di atas, pada paragraf pertama ada banyak kata yang belum saya mengerti seperti besikap anohi,berpikir asonga, bertindak arisa, berbuat asopi, dan kata asoal. Saya ingin bertanya,apakah makna dari beberapa kata tersebut?Mohon pencerahannya Pak Prof.Terimakasih banyak sebelumnya.

    ReplyDelete
  22. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi pemberontakan stigma saya memahami bahwa stigma adalah suatu kondisi atau keadaan yang tidak baik. Untuk itu ketika menghadapi stigma, kita perlu berhati-hati agar tidak salah langkah dalam menyikapinya. Dibutuhkan pemikiran yang luas dan cara pandang yang berbeda dalam menghadapi stigma. Janganlah gegabah dalam mengambil tindakan karena bisa saja tindakan tersebut akan merugikan diri sendiri dan bahkan orang lain. Maka, perbanyaklah membaca, perluas wawasan sehingga tidak salah langkah ketika menghadapi stigma.

    ReplyDelete
  23. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Stigma lahir dalam Rahim kompleksitas, saat dipikirkan menjadi objek ia sangat susah untuk dikenali. Namun, keberadaan Stigma memang mengkahwatirkan dan dampak dari kehadirannya sangat nyata dan dapat kita rasakan.

    ReplyDelete
  24. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Percakapan awal yang membuat guyon diri ini dengan kata-kata yang begitu unik. Menurut saya ulasan ini begitu menyeramkan, yang mana stigma itu sendiri dapat berganti-ganti dan bahkan dapat sewaktu-waktu menghinggap dalam diri seseorang. Bahkan bisa saja pada diri ini. Sungguh menyeramkan bukan. Semoga Tuhan selalu memberikan perlindungan-Nya pada diri ini. Terima kasih Prof untuk ulasan ini.

    ReplyDelete
  25. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Begitu bahayanya stigma bagi diri kita maupun orang lain sehingga jika memang stigma sudah menguasai diri seseorang maka tidak akan tumbuh adanya rasa toleransi dan kepercayaan kepada orang lain. jika memang stigma sesalu dipelihara dan selalu diberikan umpan berupa selalu mempercayainya sehingga stigma yang ada pada diri seseorang menjadi semakin kuat dan semakin besar, maka akan terdapat perpecahan yang luar biasa antara individu. Semoga kita selalu terjaga oleh stigma yang kemungkinan akan membuat diri kita ragu terhadap orang lain. Aaamiiiin
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  26. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Pembahasan yang unik mengenai stigma. Stigma marupakan kondisi dimana orang memiliki pandangan buruk kepada seuatu. Hal yang menakutkan juga disampaikan dalam elegi ini bahwa stigma itu bisa berganti-ganti dan mudah merasuk pada diri sendiri. Takutnya jikalau pikiran menjadi kacau dan menjalar ke hati. Maka, elegi ini memberi saran kepada kita untuk kadang kalanya kita perlu untuk berdiam diri dengan berefleksi dibalik ruang dan waktu. Sekali lagi, doa doa dan terus berdoa kepada Allah.

    ReplyDelete
  27. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Stigma dapat menyesatkan manusia yang menganggap bahwa stigma memberikan kenikmatan hidup. Untuk melawan stigma manusia haruslah mempunyai ikhlas pikir dan iklas hati agar stigma-stigma baru tidak bermunculan. Kita juga dapat menggunakan beberapa metode untuk melawan stigma karena subjek stigma dapat berganti-ganti sesuai ruang dan waktu. Namun tentunya dengan kita selalu mendekatkan diri kepada Allah maka semakin kita akan terhintar dari hal-hal buruk. Seperti halnya dalam elegi ini bahwa dalam hidup, seharusnya kita senantiasa selalu do`a, do`a dan do`a kepada Allah.

    ReplyDelete
  28. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Setelah membaca elegi pemberontakan stigma ini, kita jadi tau apa definisi dari stigma dan bagaimana cara ia bekerja. Dengan mengetahui perkara ini, kita patut berhati-hati, karena stigma mempunyai ciri yang sangat fleksibel dimana pelakunya bisa berganti ganti setiap saat dan bahkan mampu menembus ruang dan waktu. Oleh karena itu, kita tidak bisa menghadapi stigma dengan menggunakan metode tunggal, melainkan kita harus menggunakan metode yang dinamis dalam ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  29. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Menurut pampilu Stigma adalah keadaan yang tidak disukai oleh keadaan baik. Artinya secara relatif stigma itu pada umumnya dianggap sebagai keadaan yang tidak baik. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia, Stigma /stig·ma/ adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya; tanda: anak itu menjadi betul-betul nakal karena diberi stigma nakal oleh orang sekelilingnya. Jadi dapat dikatakan bahwa Stigma lahir dari lingkungan sekitar tempat tinggal seseorang.

    ReplyDelete
  30. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Saat membaca ucapan Rakata, saya kira ini bahasanya setengah sastra (elegi menggapai sastra), ternyata hanya di awalnya saja, hehehe maaf Pak sudah menduga-duga. Mungkin cara yang dapat dilakukan untuk menentukan langka yang tepat dalam menghadapai stigma adalah selalu melandasi hati dengan spiritual, selalu dekat dengan Allah, maka hati akan dapat membedakan mana hal yang baik dan mana hal yang tidak baik. Karena stigma itu dianggap sebagai keadaan yang tidak baik, maka apakah stigma itu termasuk mitos? Ataukah teman syaitan?

    ReplyDelete
  31. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Stigma merupakan keadaan yang tidak disukai keadaan baik. Namun sitgma bisa berupa kenikmatan yang tentunya tidak baik pada akhirnya. Kita semua harus waspada dengan stigma, waspada dengan pergaulan, karena jika kita salah bergaul, maka bisa saja kita terkena stigma yang mungkin tidak kita sadari. Seperti pepatah mengatakan seseorang yang dekat dengan penjual minyak wangi maka akan terkena wanginya, begitu juga jika dekat dengan penjual arang maka muka kita bisa kena arang. Jadi berhati-hatilah mencari teman dalam bergaul.

    ReplyDelete
  32. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Bersifat waspada dan aware terhadap stigma yang mungkin saja telah mulai merasuki diri kita adalah hal yang sangat penting. Mungkin tanpa kita sadari saat ini di pikiran kita telah tertanam berbagai macam stigma-stigma. Namun bagian dari pikiran kita tentunya tidak mengkategorikan sitgma tesebut ke dalam stigma, karena manusia selalu menganggap pikirannya benar. Maka sesungguhnya kita harus tetap berada dalam lindungan Allah SWT agar terjauh dari sifat mudah mengadopsi stigma.

    ReplyDelete
  33. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Dalam kehidupan ini terdapat dua keadaan yang saling terkait, yaitu keadaan baik dan keadaan buruk. Kedua sisi tersebut menempati ruang dan waktunya masing-masing. Namun tanpa disadari keadaan buruk selalu ingin meneunjukkan keluasannya dalam kehidupan. Salah satunya melalui pemberontakan. Pada dasarnya pemberontakan merupakan wujud ketidakpuasan yang dirasakan oleh seseorang ataupun suatu kelompok. Oleh karenanya sebagai seorang pemimpin, maka ia harus mampu berlaku seadil-adilnya, guna mencegah keadaan buruk terjadi.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  34. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Merasa yang paling benar merupakan salah satu keegoisan dan kesombongan dari manusia. Karena manusia akan cenderung tidak mau mendengarnkan dan mencari ilmu dari orang lain, padahal ilmu yang kita miliki tidaklah seberapa banyak. Bahkan bisa saja ilmu yang kita miliki lebih sedikit dari ilmu anak dibawah umur kita. Sehingga dibutukan subjek stigma yang merupakan kekuasaan diri sendiri dengan cara berpikir sebelum bertindak dan selalu berpikir positif merupakan tindakan bijaksana.

    ReplyDelete
  35. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Hidup adalah pilihan. Pilihan menentukan hidup kita. Stigma bisa berada di dalam diri kita dan dapat menghancurkan kita. Kita belajar dengan tujuan bisa menembus ruang dan waktu. Namun, ada kalanya kita harus berhenti pada suatu ruang dan waktu tertentu. Itu bukan berarti kita putus asa di dalam suatu keadaan. Namun, kita menunggu waktu yang tepat untuk keluar dari ruang dan waktu yang menjebak diri kita. Pilihan yang diambil harus selalu diserahkan sesuai dengan kehendakNya.

    ReplyDelete
  36. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Stigma adalah hal yang tidak baik dan sangat patut untuk dihindari. Memberikan dan atau menerima stigma begitu saja tanpa menguji kebenarannya sesungguhnya adalah hal yang tidak etis. Untuk itu, marilah kita senantiasa untuk menelaah, mengkaji, dan menguji. Stigma mudah berkembang di masyarakat jika mereka hanya menerima begitu saja suatu informasi, pernyataan, berita yang berkembang tanpa berfikir secara kritis dan analitis terhadapnya. Jangan heran jika stigma yang berkembang, membuat masyarakat mudah di adu domba dan dipecahbelah.

    ReplyDelete
  37. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Berdasarkan yang saya baca pada artikel di atas, stigma pada dasarnya tidak disukai oleh hal yang bersifat baik. Terkadang stigma berkembang dan sudah mengendap dalam diri kita. Saat berpikiran untuk melakukan hal yang baik maka stigma akan muncul sebagai suatu pemberontak yang membuat pemikiran untuk melakukan hal buruk muncul. Tetapi pada akhirnya akan tergantung dengan keyakinan diri masing-masing. Apakah memiliki ilmu atau keimanan yang kuat sehingga tidak terpengaruh oleh stigma.

    ReplyDelete
  38. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Maaf pak, ada kata-kata yang sulit saya pahami disini, apa yang dimaksud dengan bersikap anohi, berpikir asonga, bertindak arisa, berbuat asopi, berkata acongaet, sedang antari, bersama ajodi, belum adatinga,cenderung asoal, dan semua fasalutasnya? Saya juga tidak dapat memyimpulkan maksud elegi ini dan konteksnya dimana. Mengapa harus berlindung terhadap ruang dan waktu dalam menghadapi subyek dari stigma?

    ReplyDelete
  39. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Stigma dapat diartikan sebagai sesuatu yang tidak baik. Terdadang kita tidak menyadari bahwa diri kita telah termakan oleh stigma karena terperdaya oleh kenikmatan yang diberikan stigma. Ketika kita ingin menghadapi stigma terkadang stigma menjadi tidak nampak karena kita merasa menikmatinya. Karena itulah kita harus berhati-hati dengan stigma. Kita harus senantiasa memohon perlindungan kepada Allah SWT supaya terhindat dari stigma.

    ReplyDelete
  40. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  41. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    In the book, Kant reverse statement of the empirical, that is all experience must be consistent with the knowledge. In the book Kant seeks to unite rationalism and empirism.
    Kant also tried to restore metaphysics. I think the book is very good, and contains a remarkable opinion, as well as a philosophy book that I think would be a bit difficult to understand because it contains some foreign language to me.

    ReplyDelete
  42. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Stigma yang tumbuh dengan sangat mudah akan berkembang luas. Herannya kabar negatif tentang seseorang selalu meroket dalam masyarakat. Dari mulut ke mulut hingga meluas. Dan subyek stigma tidak hanya satu orang namun terus berganti dalam dimensi ruang dan waktu maka setiap orang mempunyai potensi menjadi korban stigma. Stigma yang berkembang tentu akan mempengaruhi persepsi orang lain terhadap subyek stigma. Tidak jarang orang yang menunjukkan kekesalannya hanya dengan mendengar stigma yang berkembang. Maka untuk mencegah hal tersebut seorang pemimpin jangan ikut termakan stigma namun atasilah masalah ini dengan kepala dingin sehingga didapatkan jalan keluar yang bijaksana.

    ReplyDelete
  43. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Stigma adalah berbagai pandangan orang yang menilai diri kita negatif, hal yang kita lakukan negatif sampai pemikiran kita negatif. Sebenarnya hamir setiap hari kita menerima stigma. Bisa dari teman, tetangga, orang lewat atau bahkan dari keluarga dan orang tua kita sendiri. Stigma bisa juga kita anggap sebagai peremehan diri kita oleh orang lain. Stigma bisa menjadi percikan semangat hidup kita bila kita memahami arti hidup ini, namun banyak orang yang menjadikan stigma sebagai penghambat hidup kita. Banyak orang yang hidup dalam naungan stigma yang berakibat hidup selalu terkekang oleh stigma dan bagaikan hidup dalam penjara. Sesungguhnya sangat nikmat bila kita selalu berdampingan dengan stigma sehingga kita bisa memaknai hidup kita secara mudah

    ReplyDelete
  44. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Menjadi pribadi yang baik tidak lah mudah jika diambil dari sudut pandang orang disekita kita. Mengharapkan orang lain untuk tidak memiliki stigma negative kepada kita adalah sesuatu yang bukan kemampuan kita. Banyak sekali hal – hal negatif yang bersarang diseliling kita. Tapi menjadi pribadi yang baik bisa diusahakan dengan selalu membersihkan hati dan pikiran.

    ReplyDelete
  45. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Stigma merupakan pandangan orang lain terhadap kita dan bisasanya bersifat negatif. Sesungguhnya, sebaik apapun kita bertingkah laku dan bersikap di masyarakat, tetap akan ada yang tidak suka sehingga menyebarkan stigma-stigma sehingga orang lain pun terpengaruh dengan stigma-stigma tersebut. Dengan demikian, jalanilah hidup ini dengan apa adanya, jadilah diri sendiri dan bermanfaat bagi orang lain karena itu akan memudahkan kita dalam menjalani hidup ini.

    ReplyDelete
  46. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Kita tidak bisa selalu menyenangkan semua orang, ada kalanya seseorang tidak menyukai kita sehingga memandang kita dengan stigma negatif. Stigma yang berkepanjangan akan menyebar luas dan dapat menciptakan hoax atau bahkan hate speech, ditambah dengan kemajuan IPTEK yang sangat pesat. Hoax dan hate speech merupakan fenomena yang berbahaya karena dapat menyebabkan kerugian moril dan depresi. Kita harus dapat memfilter informasi-informasi yang diterima untuk menghindari hal-hal tersebut.

    ReplyDelete
  47. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Dalam memberi pandangan terhadap sikap dan perilaku serta keputusan orang lain tentunya kita tidak boleh menjudge dari salah satu sudut pandang saja, kita juga harus memperhatikan subyek dan obyek yang sedang kita nilai. Karena jika kita tidak berhati-hati maka kita akan memunculkan stigma yang bisa saja kebenarannya tidak dapat dibuktikan hingga ika akan menimbulkan isu-isu, gosip-gosip, serta fitnah-fitnah yang dapat merugikan orang lain, maka sudah sepantasnya kita harus makin bijaksana dalam menilai sesuatu.

    ReplyDelete
  48. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Menghadapi pemberontakan memerlukan strategi matang dan perbekalan yang cukup. Begitu pula dalam kehidupan ini kita layaknya dan seharusnya berhati-hati agar jangan sampai mtermakan stigma yang keluar dari perkataan atau perbuatan kita atau keadaan yang kita temui. Bismillah,wallahu a'lam

    ReplyDelete
  49. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Sebagai pembahasan dalam elegi pemberontakan stigma, bahwasanya memang benar stigma selalu memberontak. Di awal kemunculannya juga stigma terbentuk karena adanya pemberontakan hati, logos, pikiran yang melampaui batas-batas yang ditentukan. Stigma selalu melekat pada amarah, kesombongan, dengki, dsb. Mereka memberontak dalam diri setiap manusia untuk keluar dan mempengaruhi orang lain agar ikut stigma marah, sombong, dan dngki

    ReplyDelete
  50. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Kita sebaai manusia biasa, tentu tidak lepas dari berbagai macam stigma yang telah disebutkan. Maka tugas kita adalah meredam pemberontakan stigma yang muncul, dikontradiksikan dengan sikap baik, atau menafikkan stigma yang muncul. Sebenarnya pemberontakan stigma akan terhenti dengan sendiri nya jika kita tidak menanggapinya, stigma akan lemah dan hancur dengan sendirinya

    ReplyDelete
  51. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Stigma adalah keadaan yang tidak disukai oleh keadaan baik. Stigma sendiri merupakan permainan sebuah pikiran, hanya karena suatu stigma mampu membuat hal yang baik menjadi buruk. Oleh karena itu, dalam menghadapi pemberontakan stigma kita harus berhati-hati dan senatiasa rendah diri namun disertai metode-metode yang visioner. Stigma itu bersemayam pada pikiran atau otak kita. ketika menghadapi pemberontakan ini, sebaiknya tidak terburu-buru mengambil suatu keputusan, konsultasikan dengan hati nurani kita apakah keputusan yang kita ambil sudah sesuai apa belum.

    ReplyDelete
  52. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Saya setuju dengan perkataan Pampilu, bahwa kita harus berhati - hati dengan sifat dan pelaku stigma. Stigma itu mempunyai ciri-ciri yang sangat fleksibel dimana pelakunya bisa berganti setiap saat serta tidak konsisten. Apabila kita hidup hanya tergantung dan sudah termakan oleh stigma, kita akan terus menjadi bayang-bayang dari si pelaku stigma tersebut. Sebenarnya kita mampu mengendalikan diri agar tidak hidup dalam kendali orang lain. Oleh karena itu, dalam menghadapi pemberontakan stigma kita perlu menguatkan niat dan tekad yang bulat agar stigma itu hilang dengan sendirinya tanpa berbuntut panjang sampai kapanpun. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  53. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Stigma yang dimaksud dalam elegi ini berasal dari stigma yang telah diceritakan pada elegi sebelumnya. Stigma merupakan pikiran negatif terhadap seseorang atau sekelompok orang. Maka stigma yang mulai mengenai seseorang dapat berakibat fatal karena dapat juga menular pada subjek yang dikenai tersebut. subjek tersebut bisa saja ikut termakan stigma. Sehingga stigma itu tida ada matinya. Jalan keluarnya ialah berdiam diri apabila terkena stigma atau kita menjadi subjek stigma. Karena jika kita membalas justru kita akan ikut termakan stigma dan akan menghancurkan diri sendiri.

    Dalam bahasa awam, stigma dapat diartikan sebagai gossip atau fitnah. Yaitu ujaran kebencian atau pikiran negatif seseorang atau sekelompok kepada orang lain atau kelompok lain. Jika kita menjadi subjek fitnah atau hoax maka kita jangan sampai membalas orang yang memfitnah kita dengan menjelekkannya. Apabila kita membalasnya, maka sesungguhnya kita juga sedang menjelekkan orang lain, sekaipun dia yang memulai. Maka sikap pertama yang kita ambil ialah diam dan jangan membalas.

    ReplyDelete
  54. Latifah Fitriasari
    PM C

    Stigma masih berbau tentang hal yang negatif. Selanjutnya bagaimana kita menyikapi stigma bisa dengan menghindari hal itu karena mengghibah orang lain adalah hal yang tidak baik apalagi hal tersebut tidak benar sesuai fakta atau kenyataan yang ada danakan menimbulkan fitnah. Kita tau sendiri bahwa fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan. Dan fitnah itu adalah orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri. Jika dalam pembelajaran ketika siswa menganggap bahwa pelajaran matematika merupakan pelajaran yang menyeramkan, seiring berjalannya waktu dia akan merasa bahwa matematika ternyata mudah hanya karena dia kurang berlatih dan belajar untuk memahmi matematika itu sendiri.

    ReplyDelete
  55. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi ini saya memahami bahwa stigma merupakan keadaan yang berkebalikan dengan kebaikan artinya secara relatif stigma itu dianggap sebagai keadaan yang tidak baik. Sedangkan asalnya bisa berasal dari subyek atau obyek. Sehingga kita sebagai orang yang berusaha merefleksikan hidup maka berusaha menghindari stigma ini. karena ciri-cirinya sangat bisa menyesuaikan dengan ruang dan waktunya juga, bisa jadi kita menjadi pelaku stigma. Sehingga yang perlu kita lakukan yaitu bersikap dinamis artinya memahami ruang dan waktu. Selalu berkembang dan tidak berhenti.

    ReplyDelete
  56. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam elegi ini diceritakan bagaimana memhadapi stigma. Dikatakan bahwa unutk mengahadapi stigma harus memperhatikan subjeknya. Tidak bisa digunakan cara tertentu, bukan pula menggunakan metode tunggal untuk mendekati subjeknya. Untuk menghadapi stigma, diperlukan ruang dan waktu. Dengan demikan akan lenyap dengan sendirinya sesuai dengan berjalannya ruang dan waktu tersebut.

    ReplyDelete
  57. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Stigma adalah sesuatu yang tidak baik, ketika kita memiliki pandangan yang tidak baik terhadap seseorang maka itu berarti kita sudah termakan oleh stigma itu sendiri. Dari elegi ini kita menjadi mengetahui bahwa stigma itu dapat terjadi dimanapun, kapanpun, dan siapapun, tiada batasan orang terkena stigma. Bahkan orang yang berilmu sekali pun bisa termakan oleh stigma. Oleh karena itu kita harus mewaspadai diri dari stigma, dengan cara menggunakan ilmu dan ibadah itu sendiri, selalu berlindung kepadaNya, berbuat sesuai dengan ruang dan waktunya, serta menggunakan ilmu dan ibadah sebagai filter kehidupan. Sekian dan Terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  58. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    “Stigma itu keadaan yang tidak disukai oleh keadaan baik”. Tidak selamanya keadaan baik itu baik dan keadaan tidak baik itu tidak baik. Semua itu terikat oleh ruang dan waktu. Ketika siswa menganggap bahwa pelajaran matematika merupakan pelajaran yang menyeramkan, seiring berjalannya waktu siswa mulai terkesima betapa menyenangkannya belajar matematika. Dengan adanya teori-teori pembelajaran yang mulai digunakan oleh para guru yang menyebabkan keadaan yang tidak baik menjadi baik.

    ReplyDelete
  59. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Memerangi stigma memang hal yang sulit. Ketika seseorang sudah menjadi subyek stigma maka dia akan menjadikan orang lain menjadi subyek juga dan begiru seterusnya. Pada era digital seperti zaman sekarang, stigma mudah sekali menyebar dengan cepat. Subyek stigma tidak lagi menyebar stigma dengan mulut, bahkan dengan jari saja stigma-stigma dapat menyebar ke berbagai penjuru tanpa terhalang jarak.

    ReplyDelete
  60. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Stigma adalah keadaan yang tidak disukai oleh keadaan baik. Tidak selamanya keadaan baik itu baik dan keadaan tidak baik itu tidak baik. Semua itu terikat oleh ruang dan waktu. Ketika siswa menganggap bahwa pelajaran matematika merupakan pelajaran yang menyeramkan, seiring berjalannya waktu apabila guru menyajikan materi dengan baik dan dengan cara yang menyenengkan makan stigma siswa mengenai matematika pun dapat diubah.

    ReplyDelete
  61. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    “Stigma itu keadaan yang tidak disukai oleh keadaan baik”. Tidak selamanya keadaan baik itu baik dan keadaan tidak baik itu tidak baik. Semua itu terikat oleh ruang dan waktu. Ketika siswa menganggap bahwa pelajaran matematika merupakan pelajaran yang menyeramkan, seiring berjalannya waktu siswa mulai terkesima betapa menyenangkannya belajar matematika. Dengan adanya teori-teori pembelajaran yang mulai digunakan oleh para guru yang menyebabkan keadaan yang tidak baik menjadi baik.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  62. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    stigma merupakan sesuatu yang tidak baik, pandangan orang lain yang tidak baik terhadap diri kita. dalam menghadapi stigma kita adalah dengan mengendalikan diri kita dengan sebaik-baiknya agar tidak terpengaruh oleh stigma-stigma yang diberikan kepada kita. buktikan bahwa stigma yang mereka berikan itu salah, tidak sesuai dengan diri kita.

    ReplyDelete
  63. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Subjek stigma merupakan kekuasaan diri sendiri. Berpikir sebelum bertindak dan selalu berpikir positif merupakan tindakan bijaksana. Jangan pernah memaksakan pemikiran yang menurut kita benar karena ilmu yang kita miliki tidak seberapa.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  64. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. stigma itu melekat pada yang ada dan yang mungkin ada. Stigma itu dapat bersifat postif maupun negatif. Stigma terjadi karena adanya fitnah. Stigma itu tidak disukai oleh kebaikan. Stigma harus disikapi dengan bijaksana, dengan hati dan pikiran yang bersih.

    ReplyDelete
  65. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Banyak hal di dunia ini yang mengandung manfaat dan kebaikan, namun karena pelakunya yang tidak bisa berlaku bijak, maka menjadi berlaku hal sebaliknya, yaitu menjadi sesuatu yang tidak bermanfaat dan tidak mengandung kebaikan. Mungkin itu juga yang dinamakan stigma, bersifat fleksibel, ditentukan oleh sifat dan pelakunya. Namun tidak pernah ada yang sia-sia selama kita bisa menyikapinya dengan bijak. Kita bisa mengambil berbagai macam hikmah dari setiap keadaan, baik itu keadaan yang baik maupun yang buruk.

    ReplyDelete
  66. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Jika stigma yang dimaksud dalam elegi ini adalah ciri negative yang menempel pada pribadi seseorang, maka pemberontakan ini adalah pemberontakan melawan para anti-stigma. Dalam kehidupan nyata, banyak kita menemui stigma-stigma yang diberikan kepada golongan tertentu demi tujuan penaklukan. Stigma hanya dapat dilawan dengan gerakan pengetahuan, sebab stigma adalah manifestasi dari ketidaktahuan yang membabibuta.

    ReplyDelete
  67. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Hal yang bisa saya pelajari dari elegi ini adalah dengan adanya stigma, seseorang bisa bercermin, bisa melihat ke dalam dirinya apakah memang benar stigma yang ditujukan kepadanya ataukah tidak. Stigma merupakan kesempatan seseorang untuk dapat merefleksikan diri, untuk memperbaiki dirinya jika memang telah dirasa menyimpang/ telah melakukan hal yang tidak baik. stigma membuat seseorang yang terkena stigma itu terpengaruh. Pengaruh itu bisa kearah negatif, bisa positif. Jika ke arah positif akan membuat ia memperbaiki diri. Jika ke arah negatif, akan membuat ia juga menebar stigma-stigma lain.

    ReplyDelete
  68. Stigma cenderung atau bahkan mengarah ke keadaan negatif. Dalam elegi kerajaan stigma, dan contoh senjata-senjata stigma adalah gosip, isu, fitnah, dll. Dari paragraf diatas disebutkan bahwa kedatangan stigma disenangi, bukan karena kebaikannya, tetapi kenikmatannya. Sesungguhnya kenikmatan yang dimaksud adalah melihat yang terkena stigma susah atau bisa juga nikmat karena merasa dirinya lebih baik daripada yang terkena stigma. Stigma itu mempunyai ciri-ciri yang sangat fleksibel dimana pelakunya bisa berganti setiap saat dan dia bisa menembus ruang dan waktu. Maka jika engkau tidak hati-hati, maka dirimu juga akan terancam menjadi pelaku dari stigma itu. Dan akan serba salah jika kita berusaha menghadapi stigma-stigma itu. Oleh karena itu, solusi terbaik saat ini adalah berlindung di balik ruang dan waktu dalam menghadapi subyek dari stigma yaitu Ahilu.

    ReplyDelete
  69. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Stigma itu melekat pada pada sesuatu yang nyata dan juga yang tidak nyata. Stigma ini harus disikapi dengan baik karena stigma yang dialami ada yang bersifat positif maupun ada yang bersifat negatif.

    ReplyDelete
  70. Woro Alma Manfaati
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241002

    Stigma yang ada pada masyarakat sangatlah mudah untuk berkembang, apalagi dengan bantuan teknologi yang semakin canggih. Namun, herannya terkadang stigma negatif sangatlah mudah tersebar daripada stigma positif dan stigma yang berkembang tentunya dapat mempengaruhi persepsi orang lainnya. Sebagai orang yang berilmu hendaknya harus berfikir cerdas, agar nantinya tidak termakan hoax. Sebab hoax sangatlah berbahaya apalagi teruntuk orang yang dirugikan.

    ReplyDelete
  71. Alman Kresna Aji
    15301241022
    S1 Pendidikan Matematika 2015
    Pada dasarnya stigma merupakan suatu hal negatif yang ada di diri individu yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Sehingga, sebaik-baiknya suatu hal yang telah kita perbuat pasti ada sesuatu yang tidak suka dengan perilaku kita sehingga menyebarkan stigma-stigma tentang kita untuk menebarkan suatu kebencian. Seseorang dalam melakukan sesuatu pasti ada yang pro maupun kontra. Walaupun adanya sesuatu yang pro dan kontra dengan apa yang kita lakukan, kita tidak boleh menjadikan itu sebagai batasan kita. Tetap jalani hidup ini, selama apa yang kita lakukan ini menjadi suatu kebermanfaatan bagi orang lain, menurut saya itu sesuatu yang kontra dengan hal yang kita lakukan bukanlah suatu alasan untuk tidak melakukannya karena apa yang kita lakukan bukanlah suatu hal yang salah apabila kita tidak menyalahi suatu aturan.

    ReplyDelete
  72. Alfiani Indah P S
    15301241027
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Setiap manusia memiliki kekurangannya masing-masing. Kekurangan ini terkadang dijadikan orang lain sebagai alat untuk menjatuhkan kita, menghilangkan rasa percaya diri. Tentu saja perilaku ini bermula dari iri atau penyakit hati lainnya. Hal yang harus kita lakukan adalah jangan terpengaruh dengan stigma negatif, cukup dijadikan introspeksi dan selalu berusaha memperbaiki diri.

    ReplyDelete
  73. Rina Musannadah
    15301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Setiap manusia memiliki kekurangan masing-masing. Hal ini terkadang memunculkan pandangan negatif orang lain, sehingga muncullah stigma negatif. Stigma negatif sangat mudah berkembang di masyarakat. Salah satu cara mengatasi berkembangnya stigma-stigma tersebut, hendaknya kita sebagai orang berilmu tidak mudah termakan stigma-stigama yang ada.

    ReplyDelete