Sep 20, 2013

Elegi Pemberontakan Stigma




Oleh Marsigit

Rakata:
Wah gawat benar situasinya. Aku tidak suka keadaan yang demikian. Terlalu benar perilaku si Ahilu. Semua orang memperbincangkannya. Masa tega-teganya dia ... bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Lebih dari itu Dia itu ternyata antadiri. Padahal selama ini aku telah menjamakannya, aku telah memberikan semua fasalutasnya. Ah kalau begitu aku sedang melihat pemberontakan yang dilakukan oleh Ahilu. Hemmm...wahai Pampilu apa saranmu tenang keadaan yang demikian.

Pampilu:
Wahai Rakata, engkau adalah pemimpinku dan pemimpin bagi semuanya. Gejalanya memang merajalela sampai dimana-mana. Tetapi aku melihat ini bukan pemberontakan. Mengapa? Kalau pemberontakan maka gejalanya bersifat sistematis dan menuju ke suatu arah serta ada penumpukan kuasa di sana. Aku melihat ini hanyalah sebuah stigma. Tetapi karena begitu hebatnya stigma maka memang gejalanya sampai kemana-mana. Hal demikian tidaklah secara langsung mempengaruhi kekuasaanmu. Melainkan memberikan kesempatan kepada dirimu untuk bercermin diri atas pengelolaan kekuasaanmu. Maka saya mohon bertindak bijaksanalah.

Rakata:
Wahai Pampilu, bukankah sebetulnya ini tanggung jawabmu. Aku sebetulnya bisa ambil sikap menunggu, yaitu menunggu tindakanmu terhadap Ahilu.

Pampilu:
Wahai Rakata, dari keadaan yang demikian kira-kira hal-hal apa sajakah yang menyebabkan dirimu merasa tidak nyaman.

Rakata:
Wahai Pampilu, ketahuilah jika benar apa yang engkau katakan bahwa ini bukan pemberontakan tetapi hanya sekedar stigma, maka ketahuilah bahwa aku tidak suka terhadap semua apa yang dipikirkan dan dikerjakan oleh Ahilu. Apa yang dia kerjakan itu semua bersifat kontradiksi terhadap tujuan luhur yang telah kita sepakati bersama. Menurut informasi, kenapa tega-teganya si Ahilu bersikap anohi terhadapku. Dia juga menunjukkan cara berpikir yang asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Lebih dari itu Dia itu ternyata antadiri. Padahal selama ini aku telah menjamakannya, aku telah memberikan semua fasalutasnya.

Pampilu:
Wahai Rakata, maafkan diriku. Menurutku engkau juga sudah termakan oleh stigma. Maka hati-hatilah.
Rakata:
Wahai Pampilu, coba jelaskan, menurutmu stigma itu apa, dari mana dan bagaimana ciri-cirinya?

Pampilu:
Stigma itu keadaan yang tidak disukai oleh keadaan baik. Artinya secara relatif stigma itu pada umumnya dianggap sebagai keadaan yang tidak baik. Sedangkan asalnya bisa berasal dari subyek atau obyek. Awal mulanya bisa bersifat aktif bisa bersifat pasif. Tetapi stigma itu mempunyai daya dan kekuatan yaitu mampu menyentuh semua subyek dan semua obyek. Maka stigma itu mempunyai sifat-sifat universal. Oleh karena itu begitu dia itu muncul maka dia itu adalah urusan banyak orang, termasuk urusan dirimu. Namun stigma itu mempunyai subyek dan mempunyai obyeknya. Sebagian besar orang akan bersukaria menyambut kedatangan stigma, bukan karena memperoleh kebaikan darinya, tetapi karena sebagian orang itu merasa mendapat kenikmatan dengan adanya stigma itu.

Rakata:
Wahai Pampilu, lalu bagaimana aku harus bersikap terhadap stigma ini dimana subyeknya adalah Ahilu?

Pampilu:
Wahai Rakata. Yang anda perlu hati-hati adalah sifat dan pelaku stigma. Stigma itu mempunyai ciri-ciri yang sangat fleksibel dimana pelakunya bisa berganti setiap saat dan dia bisa menembus ruang dan waktu. Maka jika engkau tidak hati-hati, maka dirimu juga akan terancam menjadi pelaku dari stigma itu.

Rakata:
Konkritnya bagaimana?

Pampilu:
Dalam menghadapi stigma, maka engkau harus memperhatikan subyeknya. Tetapi engkau tidak bisa menggunakan metode tunggal dalam mendekati subyeknya. Mengapa? Karena subyeknya selalu berganti-ganti dalam dimensi ruang dan waktu. Maka cara terbai bagimu adalah engkau perlu mengembangkan metode dinamis dalam ruang dan waktu pula untuk menghadapi variasi subyek stigma.

Rakata:
Hemmm...benar apa katamu. Ternyata setelah aku renungkan aku tidak bisa menggunakan cara tertentu. Jika aku hadapi langsung maka subyek stigma ternyata lenyap dari pandanganku. Jika aku berusaha menghancurkan subyek stigma maka aku juga terkena karena sebagian dari stigmanya telah memakan diriku. Ketika aku gunakan kekuasaanku mana kekuasaan subyek stigma adalah ternata kekuasaanku, artinya aku sama dengan menghancurkan diriku sendiri.
Wah ternyata aku mengalami kebingungan. Terus bagaimana ini Pampilu?

Pampilu:
Kita tunggu dan amati saja bagaiman kiprah dari stigma itu untuk periode berikutnya. Ada kalanya ternyata suatu waktu kita perlu berlndung di balik ruang dan waktu. Maka untuk saat ini aku hanya bisa menyaranan kepada engkau untuk berlindunglah di balik ruang dan waktu dalam menghadapi subyek dari stigma yaitu Ahilu.

Rakata:
Baik, aku setuju dengan saranmu.

28 comments:

  1. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Stigma yang dianggap sebagai sesuatu yang tidak baik sudah tersebar dimana-mana dalam kehidupan sehari-hari kita. Stigma ini dapat menembus ruang dan waktu yang bersifat fleksibel dan cenderung merugikan lingkungan di sekitar kita. Stigma ini juga dapat dimiliki setiap orang. Stigma yang dimiliki setiap orang berbeda-beda tingkatannya. Oleh karena itulah hendaknya kita mewaspadai adanya stigma yaitu sesuatu yang tidak baik dalam diri kita.

    ReplyDelete
  2. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)
    Melalui elegi ini diketahui bahwa stigma merupakan perbuatan yang tidak disukai oleh keadaan baik. Berhati-hatilah dengan stigma karena stigma mampu menguasai dan menghancurkan diri kita. Agar kita terhindar dari stigma, kita harus bersikap tenang dan sabar dalam menghadapi situasi apapun yang terjadi, senantiasalah berdoa kepada Tuhan YME, sang juruselamat umat manusia.

    ReplyDelete
  3. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Sebaik-baik stigma maka hukumnya akan tetap buruk juga. Sesungguhnya stigma adalah pikiran tidak kritis dan hati tidak bersih atau tidak ikhlas. Jika kita berusaha menghancurkan subyek stigma maka kita juga akan terkena akibatnya, karena sebagian dari stigma tersebut telah memakan diri kita. Maka hindarilah diri kita dari stigma tersebut. Stigma akan datang tanpa mau mengetahui fakta dibaliknya, maka untuk menghindari para stigma adalah dengan selalu berpikir kritis dan berhati bersih atau ikhlas. Ketika kita gunakan kekuasaan kita maka kekuasaan subyek stigma adalah ternyata kekuasaan kita, artinya kita sama dengan menghancurkan diri kita sendiri. Oleh karena itu kita harus berusaha dan bekerja menjalankan kekuasaan kita dengan menggunakan kecerdasan pikiran dan menggunakan hati nurani yang ikhlas sembari berdoa agar terbebas dari stigma. Stigma selalu bertentangan dengan keadaan kita, maka waspadalah kita terhadap subyek stigma-stigma. Hindarilah subyek stigma dengan berlindung di balik ruang dan waktu dan senantiasa menjaga pikiran kita dan menjaga hati kita agar selalu ikhlas. Semoga kita terhindar dari stigma-stigma tersebut.

    ReplyDelete
  4. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamu Alaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Perihal melawan stigma pertama kita harus berdamai dengan stigma itu sendiri dengan tidak memikirkannya. Lalu kita harus menunjukkan bagaimana diri kita yang sebenarnya kepada orang-orang yang memiliki stigma terhadap kita. Kita harus membiarkan semua stigma yang ada untuk diri kita dengan tujuan bahwa apa yang kita lakukan insya Allah akan membuahkan hasil dan dari hasil itu bisa menjadi kekuatan kita untuk melawan stigma sehingga orang yang memiliki stigma kepada kita tahu kebenaran dari stigma yang ditujukan pada kita. semoga kita selalu menuju pada apa yang disebut kebaikan.

    ReplyDelete
  5. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini saya mendapati bahwa dalam menghadapi stigma dalam masyarakat kita harus hati-hati. Perlu berbagai macam sudut pandang dalam memandang dan mengantisipasi stigma tersebut. Untuk memperluas sudut pandang kita harus banyak dan belajar sehingga kita mampu berada pada ruang dan waktu yang tepat untuk menghadapi stigma tersebut.

    ReplyDelete
  6. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Saya dapat merefleksikan bahwa stigma sesungguhnya adalah keadaan yang tidak baik. Memang stigma yang ada muncul karena prasangka buruk, baik dari objek maupun subjek. Untuk menghindari stigma buruk, kita perlu mengetahui keadaan yang sebenarnya, berpikir jernih, dan berhati ikhlas.

    ReplyDelete
  7. Junianto
    PM C
    17706251065
    Stigma merupakan hal yang perlu kita waspadai, karena ini bisa mengarahkan kepada dua hal yang bertentangan, positif atau negatif, baik, atau buruk, benar atau salah, dsb. Pemikiran-pemikiran orang lain juga perlu kita waspadai karena ini juga akan berpengaruh pada stigma kita. Maka dari itu, agar manusia tidak terjebak dalam stigma negatif hendaknya manusia mengomunikasikan antara hati dan pikiran agar sejalan dan terarah. Cerdas secara akal tidak cukup untuk menjadi orang baik, karena hanya akan digunakan untuk memperdaya orang lain. Begitu juga cerdas hati saja juga tidak cukup, maka keduanya harus bersinergi dan saling menyeimbangkan.

    ReplyDelete
  8. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Inilah yang menakutkan

    "Karena subyeknya selalu berganti-ganti dalam dimensi ruang dan waktu"

    Menakutkan, bukan? Bisa jadi kita melihat orang lain atau suatu sistem terkena stigam, bisa jadi pula kita lah yang digenggam dan diremet met oleh si stigma.

    Maka, ada kalanya kita harus berlindung, ".....Ada kalanya ternyata suatu waktu kita perlu berlndung di balik ruang dan waktu"

    ReplyDelete
  9. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Stigma merupakan sebuah kondisi dimana setiap manusia memiliki pandangan yang kurang baik terhadap seseorang/sesuatu/benda/sifat/hakikat dari subyek/obyek. Kita harus menjauhkan dari dari stigma karena itu akan membuat kita selalu berprasangka negatif terhadap suatu obyek tertentu. Termasuk kepada siswa kita saat kita menjadi seorang pendidik, selalu berpikir positiflah kepada mereka untuk mengembangkan kreativitas siswa.

    ReplyDelete
  10. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PM A 2107
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Stigma dapat muncul dalam bentuk yang berbeda-beda. Sebagian orang terjebak oleh stigma karena mendapatkan kenikmatan, bukan karena mendapatkan kebaikan darinya. Oleh karena itu, sebagai manusia kita harus hati-hati setiap menghadapi sesuatu hal. Jangan sampai kebahagiaan yang kita raih hanyalah kebahagian palsu yang datang dari stigma. Maka hanya atas pertolongan Allah manusia dapat selamat.

    ReplyDelete
  11. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Telah banyak stigma-stigma yang mempengaruhi cara berpikir kita. Seharusnya kita dapat berpikir secara ikhlas, tetapi dengan adanya stigma ini, kita menjadi berpikir secara terpaksa. Padahal, berpikir secara terpaksa ini tidak akan mengahsilkan ilmu yang bermanfaat.
    “Stigma itu keadaan yang tidak disukai oleh keadaan baik”. Tidak selamanya keadaan baik itu baik dan keadaan tidak baik itu tidak baik. Semua itu terikat oleh ruang dan waktu. Ketika siswa menganggap bahwa pelajaran matematika merupakan pelajaran yang menyeramkan, seiring berjalannya waktu siswa mulai terkesima betapa menyenangkannya belajar matematika. Dengan adanya teori-teori pembelajaran yang mulai digunakan oleh para guru yang menyebabkan keadaan yang tidak baik menjadi baik.

    ReplyDelete
  12. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Seteleh membaca elegi di atas, pada paragraf pertama ada banyak kata yang belum saya mengerti seperti besikap anohi,berpikir asonga, bertindak arisa, berbuat asopi, dan kata asoal. Saya ingin bertanya,apakah makna dari beberapa kata tersebut?Mohon pencerahannya Pak Prof.Terimakasih banyak sebelumnya.

    ReplyDelete
  13. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi pemberontakan stigma saya memahami bahwa stigma adalah suatu kondisi atau keadaan yang tidak baik. Untuk itu ketika menghadapi stigma, kita perlu berhati-hati agar tidak salah langkah dalam menyikapinya. Dibutuhkan pemikiran yang luas dan cara pandang yang berbeda dalam menghadapi stigma. Janganlah gegabah dalam mengambil tindakan karena bisa saja tindakan tersebut akan merugikan diri sendiri dan bahkan orang lain. Maka, perbanyaklah membaca, perluas wawasan sehingga tidak salah langkah ketika menghadapi stigma.

    ReplyDelete
  14. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Stigma lahir dalam Rahim kompleksitas, saat dipikirkan menjadi objek ia sangat susah untuk dikenali. Namun, keberadaan Stigma memang mengkahwatirkan dan dampak dari kehadirannya sangat nyata dan dapat kita rasakan.

    ReplyDelete
  15. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Percakapan awal yang membuat guyon diri ini dengan kata-kata yang begitu unik. Menurut saya ulasan ini begitu menyeramkan, yang mana stigma itu sendiri dapat berganti-ganti dan bahkan dapat sewaktu-waktu menghinggap dalam diri seseorang. Bahkan bisa saja pada diri ini. Sungguh menyeramkan bukan. Semoga Tuhan selalu memberikan perlindungan-Nya pada diri ini. Terima kasih Prof untuk ulasan ini.

    ReplyDelete
  16. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Begitu bahayanya stigma bagi diri kita maupun orang lain sehingga jika memang stigma sudah menguasai diri seseorang maka tidak akan tumbuh adanya rasa toleransi dan kepercayaan kepada orang lain. jika memang stigma sesalu dipelihara dan selalu diberikan umpan berupa selalu mempercayainya sehingga stigma yang ada pada diri seseorang menjadi semakin kuat dan semakin besar, maka akan terdapat perpecahan yang luar biasa antara individu. Semoga kita selalu terjaga oleh stigma yang kemungkinan akan membuat diri kita ragu terhadap orang lain. Aaamiiiin
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  17. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Pembahasan yang unik mengenai stigma. Stigma marupakan kondisi dimana orang memiliki pandangan buruk kepada seuatu. Hal yang menakutkan juga disampaikan dalam elegi ini bahwa stigma itu bisa berganti-ganti dan mudah merasuk pada diri sendiri. Takutnya jikalau pikiran menjadi kacau dan menjalar ke hati. Maka, elegi ini memberi saran kepada kita untuk kadang kalanya kita perlu untuk berdiam diri dengan berefleksi dibalik ruang dan waktu. Sekali lagi, doa doa dan terus berdoa kepada Allah.

    ReplyDelete
  18. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Stigma dapat menyesatkan manusia yang menganggap bahwa stigma memberikan kenikmatan hidup. Untuk melawan stigma manusia haruslah mempunyai ikhlas pikir dan iklas hati agar stigma-stigma baru tidak bermunculan. Kita juga dapat menggunakan beberapa metode untuk melawan stigma karena subjek stigma dapat berganti-ganti sesuai ruang dan waktu. Namun tentunya dengan kita selalu mendekatkan diri kepada Allah maka semakin kita akan terhintar dari hal-hal buruk. Seperti halnya dalam elegi ini bahwa dalam hidup, seharusnya kita senantiasa selalu do`a, do`a dan do`a kepada Allah.

    ReplyDelete
  19. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Setelah membaca elegi pemberontakan stigma ini, kita jadi tau apa definisi dari stigma dan bagaimana cara ia bekerja. Dengan mengetahui perkara ini, kita patut berhati-hati, karena stigma mempunyai ciri yang sangat fleksibel dimana pelakunya bisa berganti ganti setiap saat dan bahkan mampu menembus ruang dan waktu. Oleh karena itu, kita tidak bisa menghadapi stigma dengan menggunakan metode tunggal, melainkan kita harus menggunakan metode yang dinamis dalam ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  20. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Menurut pampilu Stigma adalah keadaan yang tidak disukai oleh keadaan baik. Artinya secara relatif stigma itu pada umumnya dianggap sebagai keadaan yang tidak baik. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia, Stigma /stig·ma/ adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya; tanda: anak itu menjadi betul-betul nakal karena diberi stigma nakal oleh orang sekelilingnya. Jadi dapat dikatakan bahwa Stigma lahir dari lingkungan sekitar tempat tinggal seseorang.

    ReplyDelete
  21. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Saat membaca ucapan Rakata, saya kira ini bahasanya setengah sastra (elegi menggapai sastra), ternyata hanya di awalnya saja, hehehe maaf Pak sudah menduga-duga. Mungkin cara yang dapat dilakukan untuk menentukan langka yang tepat dalam menghadapai stigma adalah selalu melandasi hati dengan spiritual, selalu dekat dengan Allah, maka hati akan dapat membedakan mana hal yang baik dan mana hal yang tidak baik. Karena stigma itu dianggap sebagai keadaan yang tidak baik, maka apakah stigma itu termasuk mitos? Ataukah teman syaitan?

    ReplyDelete
  22. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Stigma merupakan keadaan yang tidak disukai keadaan baik. Namun sitgma bisa berupa kenikmatan yang tentunya tidak baik pada akhirnya. Kita semua harus waspada dengan stigma, waspada dengan pergaulan, karena jika kita salah bergaul, maka bisa saja kita terkena stigma yang mungkin tidak kita sadari. Seperti pepatah mengatakan seseorang yang dekat dengan penjual minyak wangi maka akan terkena wanginya, begitu juga jika dekat dengan penjual arang maka muka kita bisa kena arang. Jadi berhati-hatilah mencari teman dalam bergaul.

    ReplyDelete
  23. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Bersifat waspada dan aware terhadap stigma yang mungkin saja telah mulai merasuki diri kita adalah hal yang sangat penting. Mungkin tanpa kita sadari saat ini di pikiran kita telah tertanam berbagai macam stigma-stigma. Namun bagian dari pikiran kita tentunya tidak mengkategorikan sitgma tesebut ke dalam stigma, karena manusia selalu menganggap pikirannya benar. Maka sesungguhnya kita harus tetap berada dalam lindungan Allah SWT agar terjauh dari sifat mudah mengadopsi stigma.

    ReplyDelete
  24. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Dalam kehidupan ini terdapat dua keadaan yang saling terkait, yaitu keadaan baik dan keadaan buruk. Kedua sisi tersebut menempati ruang dan waktunya masing-masing. Namun tanpa disadari keadaan buruk selalu ingin meneunjukkan keluasannya dalam kehidupan. Salah satunya melalui pemberontakan. Pada dasarnya pemberontakan merupakan wujud ketidakpuasan yang dirasakan oleh seseorang ataupun suatu kelompok. Oleh karenanya sebagai seorang pemimpin, maka ia harus mampu berlaku seadil-adilnya, guna mencegah keadaan buruk terjadi.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  25. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Merasa yang paling benar merupakan salah satu keegoisan dan kesombongan dari manusia. Karena manusia akan cenderung tidak mau mendengarnkan dan mencari ilmu dari orang lain, padahal ilmu yang kita miliki tidaklah seberapa banyak. Bahkan bisa saja ilmu yang kita miliki lebih sedikit dari ilmu anak dibawah umur kita. Sehingga dibutukan subjek stigma yang merupakan kekuasaan diri sendiri dengan cara berpikir sebelum bertindak dan selalu berpikir positif merupakan tindakan bijaksana.

    ReplyDelete
  26. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Hidup adalah pilihan. Pilihan menentukan hidup kita. Stigma bisa berada di dalam diri kita dan dapat menghancurkan kita. Kita belajar dengan tujuan bisa menembus ruang dan waktu. Namun, ada kalanya kita harus berhenti pada suatu ruang dan waktu tertentu. Itu bukan berarti kita putus asa di dalam suatu keadaan. Namun, kita menunggu waktu yang tepat untuk keluar dari ruang dan waktu yang menjebak diri kita. Pilihan yang diambil harus selalu diserahkan sesuai dengan kehendakNya.

    ReplyDelete
  27. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Stigma adalah hal yang tidak baik dan sangat patut untuk dihindari. Memberikan dan atau menerima stigma begitu saja tanpa menguji kebenarannya sesungguhnya adalah hal yang tidak etis. Untuk itu, marilah kita senantiasa untuk menelaah, mengkaji, dan menguji. Stigma mudah berkembang di masyarakat jika mereka hanya menerima begitu saja suatu informasi, pernyataan, berita yang berkembang tanpa berfikir secara kritis dan analitis terhadapnya. Jangan heran jika stigma yang berkembang, membuat masyarakat mudah di adu domba dan dipecahbelah.

    ReplyDelete
  28. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Berdasarkan yang saya baca pada artikel di atas, stigma pada dasarnya tidak disukai oleh hal yang bersifat baik. Terkadang stigma berkembang dan sudah mengendap dalam diri kita. Saat berpikiran untuk melakukan hal yang baik maka stigma akan muncul sebagai suatu pemberontak yang membuat pemikiran untuk melakukan hal buruk muncul. Tetapi pada akhirnya akan tergantung dengan keyakinan diri masing-masing. Apakah memiliki ilmu atau keimanan yang kuat sehingga tidak terpengaruh oleh stigma.

    ReplyDelete