Sep 20, 2013

Elegi Menggapai Diri




Oleh Marsigit

Monolog diriku:
Setelah membaca banyak elegi, aku menjadi tidak yakin terhadap diriku sendiri, siapakah diriku itu sebenarnya?

Orang tua berambut putih datang:
Sebenar-benar dirimu itu, terserah ruangmu
Sebenar-benar dirimu itu, terserah waktumu
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pengakuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah aktivitasmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah tujuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pergaulanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah mimpimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah bahasamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pertanyaanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kinerjamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah persepsimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah doamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah ikhtiarmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kejujuranmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah komitmenmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah rencanamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah faktamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah potensimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah motivasimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pengalamanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah ketrampilanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah sikapmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pengetahuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kesalahanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah relativemu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah absolutmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah dimensimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pertanyaanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah ikhlasmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah keraguanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kepastianmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah daya kritismu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah bacanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kemerdekaanmu
Sebenar-benar dirimu itu, terserah bisnismu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kuasamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah penterjemahanmu
Sebenar-benar dirimu itu, terserah khusyukmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah obyekmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah subyekmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah sifatmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah relasimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah bukumu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah keputusanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah tanggungjawabmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah wadahmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah isimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah harmonimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah putaranmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah lintasanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah amal perbuatanmu
Sebenar-benar dirimu itu, terserah..dst.

Diriku:
Jadi kalau begitu....

Orang tua berambut putih:
Inilah kesaksianku, bahwa sebenar-benar dirimu itu bersifat terbuka, selagi engkau belum menunjuk dirimu. Engkau bisa mendefinisikan dirimu sebagai apapun, atau sama sekali engkau bisa mendefinisikan dirimu sebagai bukan apapun. Namun begitu engkau telah menunjuk dirimu, maka tertutuplah dirimu itu.

Diriku:
Kalau begitu siapakah diriku itu?

Orang tua berambut putih:
Jika engkau belum juga jelas, maka akan aku jelaskan. Sebenar-benar dirimu adalah satu, atau dua, atau banyak, atau semuanya dari berikut ini:
Sebenar-benar dirimu itu, adalah ruangmu
Sebenar-benar dirimu itu, adalah waktumu
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pengakuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah aktivitasmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah tujuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pergaulanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah mimpimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah bahasamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pertanyaanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kinerjamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah persepsimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah doamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah ikhtiarmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kejujuranmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah komitmenmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah rencanamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah faktamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah potensimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah motivasimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pengalamanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah ketrampilanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah sikapmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pengetahuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kesalahanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah relativemu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah absolutmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah dimensimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pertanyaanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah ikhlasmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah keraguanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kepastianmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah daya kritismu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah bacanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kemerdekaanmu
Sebenar-benar dirimu itu, adalah bisnismu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kuasamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah penterjemahanmu
Sebenar-benar dirimu itu, adalah khusyukmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah obyekmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah subyekmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah sifatmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah relasimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah bukumu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah keputusanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah tanggungjawabmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah wadahmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah isimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah harmonimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah putaranmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah lintasanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah amal perbuatanmu
Sebenar-benar dirimu itu, adalah..dst.

36 comments:

  1. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bercermin dan lihatlah pada cermin maka kamu akan menemukan pantulan diri mu pantulan fisikmu. Lihatlah bagaimana teman-temanmu memperlakukanmu, lihatlah sikap dan akhlak jodohmu maka kamu akan tahu cerminan dirimu.

    ReplyDelete
  2. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ketika kamu bersama sosok yang membanggakan dengan akhlaknya dengan keimananya, tersenyumlah karena cerminmu membahagiakan menentramkan jiwa. Tapi tentu bukanlah hal yang mudah untuk mendapatkan itu semua, perlu untuk memperbaiki diri dengan benar-benar tulus ikhlas dan perjuangan.

    ReplyDelete
  3. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pencarian jati diri terus masih beranjut hingga kita menemukan kebahagiaan yang sejati ketentraman hati yang hakiki. Mencari makna dalam hidup dan mendapatkan tujuan kekal berada di dunia.

    ReplyDelete
  4. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)
    Elegi ini mengandung makna diri kita sebenarnya. Maka cintailah diri kita, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Yakinlah bahwa segala yang terjadi pada diri kita merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  5. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Sebenar-benar dirik kita itu bersifat terbuka, selagi kita belum menunjuk diri kita. Pada hakekatnya manusia terbatas dalam segala hal. Karena keterbatasan manusia tersebut, maka manusia hanya mampu memikirkan sebagian saja dari yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena itu manusia dibekali Tuhan dengan metode berpikir reduksi. Sepanjang hidupnya, manusia menggunakan metode reduksi untuk terbebas dari jebakan ruang dan waktu. Sebenar-benar metode reduksi adalah sesuai ruang, waktu dan peruntukkannya. Manusia tak akan pernah bisa menggapai lengkap, karena sebenar-benar lengkap adalah lengkap absolut. Lengkap absolut adalah kelengkapan yang hanya dimiliki Tuhan YME.

    ReplyDelete
  6. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    menggapai diri bukanlah perkara yang mudah. seringkali kita salah menilai diri sendiri. selagi kita belum mennunjuk siapa diri kita, maka kita akan senantiasa selalu bersifat kontradiktif. maka menurut saya, kita perlu untuk menunjuk siapa diri kita, sebagai dasar bagi kita untuk melangkah dalam menjejaki kehidupan ini. dan tentu kita harus konsisten terhadap apa pilihan kita.

    ReplyDelete
  7. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini, saya berusaha menyimpulkan, bahwa aku atau diriku adalah bersifat relatif. Aku yang masih berkembang, atau aku yang telah membatasi diriku. Aku yang terus mencari, atau aku yang merasa cukup dengan keadaan. Aku yang terus menggali, atau aku yang sudah cukup dengan penemuan. Aku yang tahu dan sadar akan ketahuanku, atau aku yang tidak tahu akan ketidaktahuanku.

    ReplyDelete
  8. Muhammad Kamaluddin
    PPs PM B 2017
    17709251022

    Elegi Menggapai Diri ini memberikan pelajaran bahwa diri kita bersifat tidak pasti dan dapat terus berubah-ubah tergantung ruang dan waktu sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki. Diri kita dua tahun yang lalu, tentu berbeda dengan diri kita saat ini. Selama kita masih mau membuka diri untuk terus berproses, mengembangkan diri, memperluas wawasan, memperbaiki sikap, meningkatkan keimanan, dan sebagainya, maka diri kita akan selalu berkembang dan akan selalu berubah.

    ReplyDelete
  9. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Elegi menggapai diri memamarpakan tentang keakuan. bahwa aku adalah aku. bahwa diriku adalah diriku. aku memiliki sudut pandang yang hanya aku saja yang tahu, tidak orang lain, tidak dengan mereka, tidak pula dengan dia. Hanya aku dan Tuhan yang tahu. Perbuatanku, pola pikirku, perbuatanku, sifatku, watakku, batasanku, ketakutanku, semua bergantung padaku. Bahwa diri ini harus sadar akan kebutuhan pengembangan diri. Bahwa diri yang baik adalah dia yang senantiasa merasa kurang dan mau memperbaiki kekurangannya. bahwa diri pada esok hari harus lebih baik dari sekaran

    ReplyDelete
  10. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Diri kita ini sebenarnya bisa menjadi siapa saja. Maksud dari bisa menjadi siapa saja adalah kita bebas dalam berpikir dan berpendapat. Tetapi harus bergantung pada norma yang berlaku ditempat kita berada. Karena bebas dalam pikiran, maksudnya setiap orang boleh berpendapat sesuai dengan keinginannya. Jika kita menuntut diri untuk sama dengan oranglain, maka itu melanggar kodrat sebagai individu itu sendiri, oleh karena itu biarkan setiap individu itu berkembang menjadi apa yang diinginkan. Tetapi haruslah berkembang ke arah yang lebih baik. Dari elegi ini juga mengingatkan kita agar selalu percara diri untuk tetap menjadi diri sendiri.

    ReplyDelete
  11. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dalam belajar filsafat,kita akan mengetahui bahwa sebenar-benarnya diri kita dapat didefinisikan dengan banyak hal sebanyak hal yang kita ketahui, bahkan kita pun dapat tidak mendefinisikan diri kita,berarti artinya kita ini bersifat tertutup. Maka sebaik-baik orang yaitu yang mau terbuka untuk belajar mendefinisikan dirinya terhadap situasi, lingkungan dan keadaannya.

    ReplyDelete
  12. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas sharingnya, Pak. Dari elegi ini saya dapat menyimpulkan bahwa manusia memiliki sifat yang relatif agar manusia dapat terus belajar, mengembangkan diri dan pengetahuannya, tidak kemudian berhenti di satu titik dan merasa puas dengan apa yang dimiliki sekarang. Saat manusia berhenti belajar dan mengembangkan diri, saat itulah dirinya tak berarti lagi.

    ReplyDelete
  13. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Pada hakikatnya setiap orang itu berbeda, baik dari sifat, fisik, hobi, selera, pemikiran, dan lain sebagainya. Bahkan sepasang kembar identikpun pasti memiliki berbagai perbedaan. Begitulah Allah SWT dengan kuasanya menciptakan para makhluknya dengan beraneka ragam. Perbedaan itulah yang mewajibkan kita untuk saling menghargai, menghormati, dan toleransi.

    ReplyDelete
  14. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini saya memahami bahwa hakekat seseorang adalah segala predikat yang melekat pada seseorang tersebut, dan predikat tersebut bisa berubah sesuai dengan ruang dan waktu yang dilalui oleh subjek tersebut.

    ReplyDelete
  15. Junianto
    PM C
    17706251065

    Memahami diri sendiri merupakan hal mutlak harus dilakukan setiap orang demi tercapainya kebahagiaan hidup. Diri kitalah yang paling tahu diri kita sendiri, karena sebenar-benar diri adalah sesuai dengan ruang dan waktu. Jadi, bagaimana kita membatasi dan mendefinisikan diri kita sangat tergantung pada keterbuakaan kita dan bagaimana kita bias menembus ruang dan waktu. Diri kita sejam yang lalu bias sangat berbeda dengan diri kita sejam kemudian karena sudah berada dalam dimensi ruang dan waktu yang berbeda.

    ReplyDelete
  16. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Sejatinya manusia merupakan makhluk yang kompleks, kompleks dengan sifatnya maupun kompleks dengan hubungan dan masalah-masalah yang dihadapi. Banyak sekali pilihan-pilihan hidup manusia untuk menggapai hakikat dirinya sebagai seorang insan yang hidup dan dihidupkan di dunia ini. Meskipun 10% dari kehidupan kita adalah takdir, tetapi 90% ditentukan oleh usaha manusia, ditentukan bagaimana manusia mengeluarkan peluh untuk menggapai hakikat kehidupannya masing-masing. Jadi, semua kembali kepada diri kita, jadilah manusia yang berguna bagi orang lain dan bagi semesta.

    ReplyDelete
  17. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmunya. Sebelum saya berkomentar tentang postingan di atas. Terlebih dahulu saya menyampaikan rasa setuju saya dengan yang ini, “Setelah membaca banyak elegi, aku menjadi tidak yakin terhadap diriku sendiri, siapakah diriku itu sebenarnya?”. Benar-benar monolog diriku. Iya, setelah membaca beberapa elegy, muncul pertanyaan pada diri saya, siapa saya sebenarnya.

    Kemudian setelah membaca postingan ini hingga akhir, saya melihat bahwa diri saya yang sebenarnya adalah sekuat apa kita berproses. Jadi sesungguhnya kita belumlah mencapai keadaan diri kita yang “sebenarnya”. Karena ketika kita memberikan pernyataan bahwa kita telah menemukan diri kita yang “sebenarnya”, maka dengan itu kita menyudahi proses dalam diri kita. Kita berhenti menyadari keberadaan ruang dan waktu dalam hidup kita, kita berhenti mengajukan pertanyaan-pertanyaan, kita berhenti memahami konsep wadah dan isi, dan seterusnya.

    ReplyDelete
  18. Indah Purnama Sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Postingan ini sangat tepat dibaca untuk kita yang masih mencari jati diri. di perkuliahan bapak pernah mengatakan output yang dihasilkan dalam filsafat iala tau menjadi bingung namun bingung itu lah sebenarbenarnya pikiran. saya sangat setuju pak.
    namun lain hal nya ketika saat ini, ketika saya mulai membaca blog bapak dari tulisan ke tulisan. beberapa hari ini saya mulai menerap kan kebiasaan kebiasaan yang baik dan dilakukan secara teratur atau konsisten dalam kehidupan saya (insyaallah) dan itu terinspirasi dari postingan bapak tentang orang jepang. lalu saya rasakan manfaatnya.
    kali ini ketika saya membaca postingan bapak saya semakin memahami apakah diri saya. siapa diri saya. dan kebenaran saya adalah saya, kesalahan saya adalah saya, kekalahan saya adalah saya, kemenangan saya adalah saya, ruang dan waktu saya adalah saya, yang mana yang saya tangkap adalah apapun yang saya hasilkan dulu sekarang atau nanti itulah yang saya kerjakan. saya adalah apa yang saya buat.

    ReplyDelete
  19. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Prof sering mengakatakan 'kakkan habis engkau menjelaskan tentang diriku, bahkan sampai seribu pangkat seribu pangkat seribu'.
    Setiap diri ditentukan oleh subyeknya. Maksudnya ialah bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berusaha menjadikan diri seperti apa yang diinginkan. Manusia dapat memilih bermilyar-milyar sifat meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Masing-masing dapat memilih untuk berusaha menjadi orang yang baik, jujur, bijak, dsb atau justru sebaliknya. Semua itu dipengaruhi oleh lingkungan, kebiasaan, bacaan, dan berbagai aktivitas lain, serta yang paling berpengaruh ialah pegangan hidup kita masing-masing.

    ReplyDelete
  20. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Setiap manusia lahir telah memiliki garis-garis kecil, hanya saja tergantung dari kita memilih untuk menebalkan garis-garis yang mana. Garis itulah sifat, karakter, potensi, ruang dan waktu kita. Hanya saja kita mau kemana? Jawabannya adalah pilihan, kita sendiri yang memilih ingin menjadi apa, ingin dikenal seperti apa atau ingin dipersepsikan seperti apa.

    ReplyDelete
  21. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb
    Sebelumnya ,terimakasih banyak pak Prof , elegi ini menyiratkan bahwa diri memberikan pendefinisian yang banyak.Karena diri yang kita lihat selama ini hanyalah hasil dari persepsi sebuah pikiran yang berupa fisik saja.Yang pada hakikatnya di balik diri itu ada banyak diri -diri yang lain.

    ReplyDelete
  22. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Sebenar-benar dirimu adalah dirimu sendiri. Setiap manusia berhak memilih untuk menjadi manusia seperti apa. Ketika saat ini manusia yang begini, detik selanjutnya manusia masih punya waktu untuk memilih menjadi yang begitu. Tiap detik adalah kesempatan untuk memilih. Kamulah yang memilih gambaran dirimu sendiri dalam ruang dan waktu, karena itu sebenar-benarnya dirimu adalah dirimu sesuai dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  23. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Berdasarkan elegi menggapai diri ini saya memahami bahwa setiap orang pada dasarnya berbeda-beda, tergantung dengan sifat yang melekat pada dirinya. Namun bukan berarti sifat tersebut bersifat hakiki terhadap orang yang bersangkutan. Ia dapat merubah dengan syarat seseorang mampu merubahnya, menembus ruang dan waktu yang ada.

    ReplyDelete
  24. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Terkadang kita sanngat mudah menilai orang laing apalagi menilai kekurangannya namun kita tidak bisa menilai akan kekurangan diri sendiri. Sangat mudah untuk mengkritik orang lain tapi tidak dengan mengintrospeksi diri sendiri.

    ReplyDelete
  25. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas artikel di atas. Saya sangat setuju dengan segala perkataan orang tua berambut putih. Sebenar-benar diriku adalah terserah. Terserah seperti apa aku, dimana aku, kapan aku, berapapun aku, bagaimana aku, mengapa aku, sedang apa aku, mau apa aku, dan segalanya tentang aku. Semuanya bergantung pada ruang dan waktu selama kita hidup. Banyak sekali yang dapat saya lakukan untuk menunjuk diri saya bahkan hingga tak terhingga sekaligus. Itulah hebatnya kuasa Tuhan, kita bersifat terbuka dan bebas memilih. Yap, lagi-lagi karena diri saya sangatlah banyak, maka itulah potensi. Dengan adanya kita yang berpotensi, sedang satu Potensi saja dapat menjadi potensi yang lain, maka itulah yang dinamakan mengada. Kita bisa Bisa mengada karena memiliki kesempatan untuk memilih. Jika kita tidak bisa memilih, jadilah kita bersifat tertutup. Kita mampu memilih banyak dan bebas semaunya, jadilah kita bersifat terbuka. Kurang lebih seperti itu pemahaman saya. Wallahualam bishowab.

    ReplyDelete
  26. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Dirimu yang dulu tentulah bukan dirimu yang sekarang. Karena yang dulu kamu begitu, dan sekarang kamu begini. Makhluk ciptaan Allah itu semua terpengaruh oleh ruang dan waktunya. Apa dirimu sekarang adalah cerminan dari masa lalu juga. Bagi saya, bagaimana dirimu yang sekarang? Jawababnya mungkin diriku yang dulu atau mungkin kontradiksi dari yang dulu. Karena Allah kita menjadi terpilih untuk suatu hal dan kita juga bisa memilih diriku yang besok ingin seperti apa. Apakah saya termakan mitos? Ya tentu iya atau ya tentu tidak. Berhak untuk menggapai logos dan menciptakan apa diri kita dan bagaimana ruang dan waktu yang dapat mempengaruhi kita. Kita yang tentukan dan kta pula yang akan kena imbasnya. Karena waktu dan ruang tidak akan bisa kembali ke belakang dan akan terus melaju kedepan. Gunakan waktu dan ruangmu sebaik mungkin untuk menggapai diri.

    ReplyDelete
  27. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Dari elegi ini saya mendapatkan pelajaran bahwa sebenar-benar diri kita adalah banyak. Diriku bukanlah satu, namun dua, tiga dan seterusnya. Jumlahnya tak terbatas. Dari yang ada sampai yang mungkin ada. Atau dengan Bahasa lain adalah bersifat terbuka, artinya kita bisa menjadi segala sesuatu yang mungkin.

    ReplyDelete
  28. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Menggapai diri... Mudah diucapkan Dan dituliskan, namun sulit digapai. Diri in ingin menggapai menjadi diri yang baik, namun godaan selalu besar.
    Terimakasih until elegi ini, mengingatkan saya untuk selalu mengundang Tuhan masuk dalam diri, agar senantiasa menyadari diri untuk menggapai yang baik.

    ReplyDelete
  29. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Pemikiran dan perbuatan seseorang adalah cerminan bagaimana diri orang tersebut. Pemikiran seseorang tidak jarang akan menjadi perbuatan orang tersebut. Mengenali diri dan menggali potensi diri sangatlah dibutuhkan, karena dengan mengenali potensi diri maka akan lebih mudah untuk mengembangkannya, sehingga seseorang tersebut tidak akan selamanya tersesat.

    ReplyDelete
  30. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Memahami diri sendiri adalah proses yang tidak akan pernah berhenti, karena belum sempat kita menjelaskan siapa kita maka kita telah berubah dari tadi menjadi sekarang. Terus menerus berubah hingga kita tidak bisa mengingat seluruh pikiran dan perasaan yang pernah terlintas. Siapakah diri kita sebenarnya, apakah tujuan kita, mengapa kita berada disini, kemana kita akan melangkah, seluruh pertanyaan yang diajukan kepada diri sendiri adalah pertanyaan yang paling sulit dijawab. Benar adanya bahwa manusia lebih gampang menilai orang lain bahkan mencela kekurangannya tanpa menyadari kekurangan dan kelemahan diri sendiri yang mungkin saja jauh lebih buruk. Bersyukur atas apa yang dimiliki adalah salah satu cara agar kita mengenal keterbatasan dan kelemahan diri kita sendiri. Berdoa adalah salah satu upaya agar diri kita tidak pernah berubah menjadi apa yang tidak kita sukai.

    ReplyDelete
  31. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Jangan pernah sekali-kali menganggap diri kita merupakan sesuatu yang tunggal. Karena memang hal tersebut yang akan membuat diri kita tidak akan berkembang dan hanya akan menjadi bagian dari para patung filsafat yang hanya diam saja tanpa bergerak sedikitpun sehingga ilmu mereka sangatlah dangkal dan cepat memberikan argumen yang kurang tepat. Diri kita semua merupakan apa yang dipandang oleh orang lain, namun pandangan mereka tidak bisa dipaksakan sesuai dengan keinginan kita sendiri. Hal ini lah yang membuat diri kita selalu berkembang karena kita selalu berfikir dan berfikir karena pandangan dari orang lain itu.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  32. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Menarik sekali bahwa manusia diciptakan dengan memiliki potensi yang beragam. Satu orang pun bisa mempunyai banyak potensi. Jangan kita memutuskan satu potensi saja yang ada pada diri kita. Kita harus sadar bahwa potensi kita bisa berkembang dan bertambah, kita harus fleksibel terhadap potensi kita. Diri seseorang sesuai dengan apa yang dipersepsikan orang tersebut.

    ReplyDelete
  33. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Diriku dalam elegi ini bersifat relatif. Hal itu karena sebenar-benarnya diriku adalah tidak pasti. Diriku itu tergantung oleh ruang dan waktu. Diriku yang kemarin, tidaklah sama seperti diriku yang sekarang. Sehingga diriku itu selalu berubah. Begitulah manusia, manusia itu akan selalu berubah dan berkembang selama manusia itu masih mampu berpikir. Oleh karena itu, marilah merubah diri selalu menjadi yang lebih baik dengan meningkatkan ilmu, iman dan taqwa. Terimakasih

    ReplyDelete
  34. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Menurut pandangan orang diri kita satu. Ini bisa terjadi karna mereka hanya melihat dari fenomena. Namun, jika kita melihat dari sudut pandang lainnya. Diri kita itu ada lebih dari semilyar sampai kira tidak bisa menyebutkannya. Hal ini disebabkan manusia memiliki banyak sifat dan tiap harinyz sifat manusia bisa berubah. Selain dilihat dari sifat, manusia setiap harinya juga melakukan kegiatan dan kegiatan yang dilakukan tidak sama dari hari sebelumnya.

    ReplyDelete
  35. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Sebenar-benarnya seseorang adalah sifat-sifat yang melekat pada orang tersebut. Sifat-sifat tersebut bersifat open-ended tergantung dari mana sudut pandang yang diambil. Maka sebagai manusia yang terus saja berubah, sebaiknya kita berusaha untuk mengoptimalkan potensi yang ada pada diri kita. Sebaiknya kita tidak terlalu membatasi potensi diri dan terlalu idealistik. Dengan demikian, kita akan terus berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  36. Junianto
    17709251065
    PM C

    Membenahi sesuatu, melakukan kebaikan-kebaikan sebaiknya dimulai dari diri kita sendiri. Ketika kita bisa memulai itu semua, maka ada kemungkinan orang lain akan mencontoh dan melakukan hal yang sama pula. Tetapi sebelum melakukan itu, maka perlu kita pahami dahulu siapa diri kita, apa posisi kita, apa amanah kita. Bagaimana mungkin kita bisa melakukan sesuatu dengan baik jika kita belum paham siapa kita sebenarnya. Dari artikel ini juga menyiratkan bahwa diri kita sangatlah kompleks dan sangat bergantung ruang dan waktu.

    ReplyDelete