Sep 20, 2013

Elegi Menggapai Diri




Oleh Marsigit

Monolog diriku:
Setelah membaca banyak elegi, aku menjadi tidak yakin terhadap diriku sendiri, siapakah diriku itu sebenarnya?

Orang tua berambut putih datang:
Sebenar-benar dirimu itu, terserah ruangmu
Sebenar-benar dirimu itu, terserah waktumu
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pengakuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah aktivitasmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah tujuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pergaulanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah mimpimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah bahasamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pertanyaanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kinerjamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah persepsimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah doamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah ikhtiarmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kejujuranmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah komitmenmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah rencanamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah faktamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah potensimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah motivasimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pengalamanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah ketrampilanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah sikapmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pengetahuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kesalahanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah relativemu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah absolutmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah dimensimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pertanyaanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah ikhlasmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah keraguanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kepastianmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah daya kritismu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah bacanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kemerdekaanmu
Sebenar-benar dirimu itu, terserah bisnismu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kuasamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah penterjemahanmu
Sebenar-benar dirimu itu, terserah khusyukmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah obyekmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah subyekmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah sifatmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah relasimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah bukumu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah keputusanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah tanggungjawabmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah wadahmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah isimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah harmonimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah putaranmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah lintasanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah amal perbuatanmu
Sebenar-benar dirimu itu, terserah..dst.

Diriku:
Jadi kalau begitu....

Orang tua berambut putih:
Inilah kesaksianku, bahwa sebenar-benar dirimu itu bersifat terbuka, selagi engkau belum menunjuk dirimu. Engkau bisa mendefinisikan dirimu sebagai apapun, atau sama sekali engkau bisa mendefinisikan dirimu sebagai bukan apapun. Namun begitu engkau telah menunjuk dirimu, maka tertutuplah dirimu itu.

Diriku:
Kalau begitu siapakah diriku itu?

Orang tua berambut putih:
Jika engkau belum juga jelas, maka akan aku jelaskan. Sebenar-benar dirimu adalah satu, atau dua, atau banyak, atau semuanya dari berikut ini:
Sebenar-benar dirimu itu, adalah ruangmu
Sebenar-benar dirimu itu, adalah waktumu
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pengakuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah aktivitasmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah tujuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pergaulanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah mimpimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah bahasamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pertanyaanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kinerjamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah persepsimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah doamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah ikhtiarmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kejujuranmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah komitmenmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah rencanamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah faktamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah potensimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah motivasimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pengalamanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah ketrampilanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah sikapmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pengetahuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kesalahanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah relativemu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah absolutmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah dimensimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pertanyaanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah ikhlasmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah keraguanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kepastianmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah daya kritismu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah bacanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kemerdekaanmu
Sebenar-benar dirimu itu, adalah bisnismu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kuasamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah penterjemahanmu
Sebenar-benar dirimu itu, adalah khusyukmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah obyekmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah subyekmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah sifatmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah relasimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah bukumu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah keputusanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah tanggungjawabmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah wadahmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah isimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah harmonimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah putaranmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah lintasanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah amal perbuatanmu
Sebenar-benar dirimu itu, adalah..dst.

87 comments:

  1. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Berusaha memahami diri sendiri sama halnya dengan memaknai seperti apa wajah kita. Menggapai diri dan menggapai wajah mempunyai kesamaan, yaitu terserah kita, bisa menjadi apapun yang kita mau. Karena kita adalah dewa dari diri dan wajah. Kita bisa baik, kita bisa juga buruk, kita bisa dermawan, kita bisa juga serakah. Saat kita menginginkan diri sendiri menjadi baik, jadikanlah orang-orang bijak sebagai panutannya. Nabi dan Rosul adalah panutan tepat. Sebagai seorang pendidik tentunya menjadi hal penting untuk dapat menempatkan diri. Bagaimana ketika pendidik berada di dalam kelas, bagaimana ketika pendidik berada di luar lingkungan sekolah, bagaimana pendidik bergaul dengan siswa, sesama pendidik, dan masyarakat.

    ReplyDelete
  2. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Elegi menggapai diri. Menilai diri sendiri terkadang memang lebih sulit dari menilai orang lain. Ada tak terhingga definisi tentang siapa diri kita selagi kita belum meunjuk siapa kita.Kita bisa menunjuk sebagai apapun yang kita mau, namun kita harus berusaha obyektif dan benar benar merefleksi diri agar selanjutnya apa yang kita kenali dapat menjadi langkah perbaikan mwnjadi pribadi yang lebih baik lagi. Atau jika dalam pembelajaran agar pembelajaran yang kita lakukan dapat kita perbaiki dan perbaiki lagi.

    ReplyDelete
  3. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Setiap orang dalam hidup adalah berada dalam proses untuk memahami dirinya sendiri. Orang yang telah memahami dirinya dan memahami apa sebenarnya kedudukannya, maka dia telah memahami siapa Tuhannya. Menggapai diri tidaklah mudah, perlu proses dan pembelajaran yang panjang. terkadang beberapa orang kesulitan untuk memahami dirinya sendiri, tetapi haruslah tetap untuk berusaha memahaminya, karena pemahaman tentang diri akan membuat kita sadar, tidak lalai, dan tidak dholim terhadap diri kita sendiri, lingkungan sekitar, serta hal-hal yang berhubungan dengan diri kita.

    ReplyDelete
  4. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Siapa diriku yang sebenarnya?
    Sebenar-benarnya diri kita adalah sesuai ruang dan waktu pada suatu keadaan yang ada dan mungkin ada. Diriku yang dulu bukanlah diriku yang sekarang, diriku yang kemarin bukanlah diriku yang sekarang, diriku yang satu menit yang lalu bukanlah diriku yang sekarang. Maka, diperlukan perenungan yang mendalam untuk memahami siapa diri kita. Dan bahkan untuk melengkapi jawaban akan kepahaman tentang diri kita diperlukan tanggapan dari orang-orang di sekitar kita juga. Dapat dipastikan setiap jawaban dari teman kita pasti berbeda-beda. Oleh karenanya, diriku adalah berbeda-beda.

    ReplyDelete
  5. Siapakah diri ini? Kita mungkin mengatakan hal-hla yang baik tentang diri kita tetapi sulit bagi kita untuk menjelaskan diri ini secara rinci. Menyebutkan yang baik dan menghilangkan yang jelek akan menjadi diri yang kurang baik. Manusia sangat terbatas dan manusia yang jauh dari kesempurnaan, karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. Hidup adalah perjalanan untuk menggapai diri, dari mitos menjadi logos. Menjadi logos yang tahu batas-batasannya agar tidak terperangkap menjadi mitos. Tidak ada yang layak kita sombongkan dari diri kita, karena segala sesuatu yang kita miliki adalah milik Tuhan yang Tuhan anugerahkan bagi kita.

    ReplyDelete
  6. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Sebenar-benarnya diri kita bersifat terbuka maksudnya setiap manusia mempunyai bermilyar-milyar sifat, tidak akan ada habisnya bila sifat itu diuraikan. Kita bisa mendefinisikan diri kita seperti apapun semau kita. Jadi pada akhirnya, kita tidak bisa mendefinisikan secara pasti apa dan bagaimana itu diri kita. Oleh karena itu, sangat sulit untuk menggapai diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  7. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Elegi menggapai diri mengenai potensi yang ada dalam diri individu yang bergantung pada apa aktivitas yang dilakukan, apa bahasa yang digunakan dan lain sebagainya. Dan sebenar-benar dirimu adalah sikapmu. Saya sangat setuju, seseorang akan di hargai atau bahkan di acuhkan dalam masyarakat bergantung dengan sikap seseorang dalam bertindak dan bertutur kata. Semakin orang itu menghargai orang lain, maka akan terjadi timbal balik yang sama yaitu ia juga akan dihargai. Dan sebaliknya jika ia tidak menjaga sikapnya maka ia tidak akan pernah dihargai oleh orang lain.

    ReplyDelete
  8. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Masih banyak manusia yang belum bisa mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya sehingga dia tidak tahu tujuan hidupnya. Kalaulah seseorang itu mengetahui akan dirinya maka tidak akan ada yang namanya mabuk-mabukkan, merokok dan segala sesuatu yang akan menyakiti dirinya. Sehingga tugas pendidik adalah bagaimana pendidik itu bisa menyampaikan ilmunya kepada siswa sehingga siswa bisa menggapai dirinya.

    ReplyDelete
  9. Taufan Adi Pradana
    13301241059
    Pendidikan Matematika A 2013

    Jadi sebenar-benarnya diriku itu adalah terserah pada diriku, jika diriku melakukan hal yang baik, maka diriku juga akan mendapatnya balasan yang baik, itu juga berlaku sebaliknya jika kita melakukan hal yang buruk maka akan mendapatkan balasan yang buruk pula.
    terimakasih

    ReplyDelete
  10. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Siapakah diri? Diri adalah yang akan bertanggungjawab diakhirat nanti. Bukan tubuh ini, bukan pula ruh ini. Tubuh dan ruh ini hanyalah pinjaman yang suatu saat harus dikembalikan kepada pemiliknya. Diri ini bukan pula wajah. Wajah ini adalah pikiran orang yang melihatnya. Hakikat wajah ini adalah cerminan dari pikiran dan perasaan diri.

    ReplyDelete
  11. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Manusia itu memiliki berjuta-juta bahkan bermiliyar-miliar sifat yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Mengenal diri kita sendiri, mengenal hakekat diri kita, sebenar - benar diri kita, tidak akan pernah bisa didefinisikan dengan pasti. Diri kita adalah kita sendiri yang menentukan. Menggapai dirinya dengan cara lebih mengetahui dan mengenal siapa dirinya yang sebenarnya.

    ReplyDelete
  12. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa siapa diriku adalah diriku sendiri. diriku itu berbeda dengan orang lain. Diriku itu ruang dan waktuku yang berbeda dengan ruang dan wktumu. Aku adalah aku yang bukan kamu dan berbeda dari mereka. Aku tidak dapat disamakan dengan dirimu ataupun mereka.

    ReplyDelete
  13. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Diriku adalah diriku, dirimu tidak tahu semua kelemahan yang ada pada diriku, hanya diriku yang tahu semua tentang diriku, maka kesadaran diri sangat penting untuk menutupi kelemahan sehingga menjadi individu yang lebih baik.

    ReplyDelete
  14. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bercermin dan lihatlah pada cermin maka kamu akan menemukan pantulan diri mu pantulan fisikmu. Lihatlah bagaimana teman-temanmu memperlakukanmu, lihatlah sikap dan akhlak jodohmu maka kamu akan tahu cerminan dirimu.

    ReplyDelete
  15. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ketika kamu bersama sosok yang membanggakan dengan akhlaknya dengan keimananya, tersenyumlah karena cerminmu membahagiakan menentramkan jiwa. Tapi tentu bukanlah hal yang mudah untuk mendapatkan itu semua, perlu untuk memperbaiki diri dengan benar-benar tulus ikhlas dan perjuangan.

    ReplyDelete
  16. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pencarian jati diri terus masih beranjut hingga kita menemukan kebahagiaan yang sejati ketentraman hati yang hakiki. Mencari makna dalam hidup dan mendapatkan tujuan kekal berada di dunia.

    ReplyDelete
  17. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)
    Elegi ini mengandung makna diri kita sebenarnya. Maka cintailah diri kita, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Yakinlah bahwa segala yang terjadi pada diri kita merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  18. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Sebenar-benar dirik kita itu bersifat terbuka, selagi kita belum menunjuk diri kita. Pada hakekatnya manusia terbatas dalam segala hal. Karena keterbatasan manusia tersebut, maka manusia hanya mampu memikirkan sebagian saja dari yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena itu manusia dibekali Tuhan dengan metode berpikir reduksi. Sepanjang hidupnya, manusia menggunakan metode reduksi untuk terbebas dari jebakan ruang dan waktu. Sebenar-benar metode reduksi adalah sesuai ruang, waktu dan peruntukkannya. Manusia tak akan pernah bisa menggapai lengkap, karena sebenar-benar lengkap adalah lengkap absolut. Lengkap absolut adalah kelengkapan yang hanya dimiliki Tuhan YME.

    ReplyDelete
  19. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    menggapai diri bukanlah perkara yang mudah. seringkali kita salah menilai diri sendiri. selagi kita belum mennunjuk siapa diri kita, maka kita akan senantiasa selalu bersifat kontradiktif. maka menurut saya, kita perlu untuk menunjuk siapa diri kita, sebagai dasar bagi kita untuk melangkah dalam menjejaki kehidupan ini. dan tentu kita harus konsisten terhadap apa pilihan kita.

    ReplyDelete
  20. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini, saya berusaha menyimpulkan, bahwa aku atau diriku adalah bersifat relatif. Aku yang masih berkembang, atau aku yang telah membatasi diriku. Aku yang terus mencari, atau aku yang merasa cukup dengan keadaan. Aku yang terus menggali, atau aku yang sudah cukup dengan penemuan. Aku yang tahu dan sadar akan ketahuanku, atau aku yang tidak tahu akan ketidaktahuanku.

    ReplyDelete
  21. Muhammad Kamaluddin
    PPs PM B 2017
    17709251022

    Elegi Menggapai Diri ini memberikan pelajaran bahwa diri kita bersifat tidak pasti dan dapat terus berubah-ubah tergantung ruang dan waktu sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki. Diri kita dua tahun yang lalu, tentu berbeda dengan diri kita saat ini. Selama kita masih mau membuka diri untuk terus berproses, mengembangkan diri, memperluas wawasan, memperbaiki sikap, meningkatkan keimanan, dan sebagainya, maka diri kita akan selalu berkembang dan akan selalu berubah.

    ReplyDelete
  22. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Elegi menggapai diri memamarpakan tentang keakuan. bahwa aku adalah aku. bahwa diriku adalah diriku. aku memiliki sudut pandang yang hanya aku saja yang tahu, tidak orang lain, tidak dengan mereka, tidak pula dengan dia. Hanya aku dan Tuhan yang tahu. Perbuatanku, pola pikirku, perbuatanku, sifatku, watakku, batasanku, ketakutanku, semua bergantung padaku. Bahwa diri ini harus sadar akan kebutuhan pengembangan diri. Bahwa diri yang baik adalah dia yang senantiasa merasa kurang dan mau memperbaiki kekurangannya. bahwa diri pada esok hari harus lebih baik dari sekaran

    ReplyDelete
  23. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Diri kita ini sebenarnya bisa menjadi siapa saja. Maksud dari bisa menjadi siapa saja adalah kita bebas dalam berpikir dan berpendapat. Tetapi harus bergantung pada norma yang berlaku ditempat kita berada. Karena bebas dalam pikiran, maksudnya setiap orang boleh berpendapat sesuai dengan keinginannya. Jika kita menuntut diri untuk sama dengan oranglain, maka itu melanggar kodrat sebagai individu itu sendiri, oleh karena itu biarkan setiap individu itu berkembang menjadi apa yang diinginkan. Tetapi haruslah berkembang ke arah yang lebih baik. Dari elegi ini juga mengingatkan kita agar selalu percara diri untuk tetap menjadi diri sendiri.

    ReplyDelete
  24. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dalam belajar filsafat,kita akan mengetahui bahwa sebenar-benarnya diri kita dapat didefinisikan dengan banyak hal sebanyak hal yang kita ketahui, bahkan kita pun dapat tidak mendefinisikan diri kita,berarti artinya kita ini bersifat tertutup. Maka sebaik-baik orang yaitu yang mau terbuka untuk belajar mendefinisikan dirinya terhadap situasi, lingkungan dan keadaannya.

    ReplyDelete
  25. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas sharingnya, Pak. Dari elegi ini saya dapat menyimpulkan bahwa manusia memiliki sifat yang relatif agar manusia dapat terus belajar, mengembangkan diri dan pengetahuannya, tidak kemudian berhenti di satu titik dan merasa puas dengan apa yang dimiliki sekarang. Saat manusia berhenti belajar dan mengembangkan diri, saat itulah dirinya tak berarti lagi.

    ReplyDelete
  26. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Pada hakikatnya setiap orang itu berbeda, baik dari sifat, fisik, hobi, selera, pemikiran, dan lain sebagainya. Bahkan sepasang kembar identikpun pasti memiliki berbagai perbedaan. Begitulah Allah SWT dengan kuasanya menciptakan para makhluknya dengan beraneka ragam. Perbedaan itulah yang mewajibkan kita untuk saling menghargai, menghormati, dan toleransi.

    ReplyDelete
  27. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini saya memahami bahwa hakekat seseorang adalah segala predikat yang melekat pada seseorang tersebut, dan predikat tersebut bisa berubah sesuai dengan ruang dan waktu yang dilalui oleh subjek tersebut.

    ReplyDelete
  28. Junianto
    PM C
    17706251065

    Memahami diri sendiri merupakan hal mutlak harus dilakukan setiap orang demi tercapainya kebahagiaan hidup. Diri kitalah yang paling tahu diri kita sendiri, karena sebenar-benar diri adalah sesuai dengan ruang dan waktu. Jadi, bagaimana kita membatasi dan mendefinisikan diri kita sangat tergantung pada keterbuakaan kita dan bagaimana kita bias menembus ruang dan waktu. Diri kita sejam yang lalu bias sangat berbeda dengan diri kita sejam kemudian karena sudah berada dalam dimensi ruang dan waktu yang berbeda.

    ReplyDelete
  29. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Sejatinya manusia merupakan makhluk yang kompleks, kompleks dengan sifatnya maupun kompleks dengan hubungan dan masalah-masalah yang dihadapi. Banyak sekali pilihan-pilihan hidup manusia untuk menggapai hakikat dirinya sebagai seorang insan yang hidup dan dihidupkan di dunia ini. Meskipun 10% dari kehidupan kita adalah takdir, tetapi 90% ditentukan oleh usaha manusia, ditentukan bagaimana manusia mengeluarkan peluh untuk menggapai hakikat kehidupannya masing-masing. Jadi, semua kembali kepada diri kita, jadilah manusia yang berguna bagi orang lain dan bagi semesta.

    ReplyDelete
  30. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmunya. Sebelum saya berkomentar tentang postingan di atas. Terlebih dahulu saya menyampaikan rasa setuju saya dengan yang ini, “Setelah membaca banyak elegi, aku menjadi tidak yakin terhadap diriku sendiri, siapakah diriku itu sebenarnya?”. Benar-benar monolog diriku. Iya, setelah membaca beberapa elegy, muncul pertanyaan pada diri saya, siapa saya sebenarnya.

    Kemudian setelah membaca postingan ini hingga akhir, saya melihat bahwa diri saya yang sebenarnya adalah sekuat apa kita berproses. Jadi sesungguhnya kita belumlah mencapai keadaan diri kita yang “sebenarnya”. Karena ketika kita memberikan pernyataan bahwa kita telah menemukan diri kita yang “sebenarnya”, maka dengan itu kita menyudahi proses dalam diri kita. Kita berhenti menyadari keberadaan ruang dan waktu dalam hidup kita, kita berhenti mengajukan pertanyaan-pertanyaan, kita berhenti memahami konsep wadah dan isi, dan seterusnya.

    ReplyDelete
  31. Indah Purnama Sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Postingan ini sangat tepat dibaca untuk kita yang masih mencari jati diri. di perkuliahan bapak pernah mengatakan output yang dihasilkan dalam filsafat iala tau menjadi bingung namun bingung itu lah sebenarbenarnya pikiran. saya sangat setuju pak.
    namun lain hal nya ketika saat ini, ketika saya mulai membaca blog bapak dari tulisan ke tulisan. beberapa hari ini saya mulai menerap kan kebiasaan kebiasaan yang baik dan dilakukan secara teratur atau konsisten dalam kehidupan saya (insyaallah) dan itu terinspirasi dari postingan bapak tentang orang jepang. lalu saya rasakan manfaatnya.
    kali ini ketika saya membaca postingan bapak saya semakin memahami apakah diri saya. siapa diri saya. dan kebenaran saya adalah saya, kesalahan saya adalah saya, kekalahan saya adalah saya, kemenangan saya adalah saya, ruang dan waktu saya adalah saya, yang mana yang saya tangkap adalah apapun yang saya hasilkan dulu sekarang atau nanti itulah yang saya kerjakan. saya adalah apa yang saya buat.

    ReplyDelete
  32. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Prof sering mengakatakan 'kakkan habis engkau menjelaskan tentang diriku, bahkan sampai seribu pangkat seribu pangkat seribu'.
    Setiap diri ditentukan oleh subyeknya. Maksudnya ialah bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berusaha menjadikan diri seperti apa yang diinginkan. Manusia dapat memilih bermilyar-milyar sifat meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Masing-masing dapat memilih untuk berusaha menjadi orang yang baik, jujur, bijak, dsb atau justru sebaliknya. Semua itu dipengaruhi oleh lingkungan, kebiasaan, bacaan, dan berbagai aktivitas lain, serta yang paling berpengaruh ialah pegangan hidup kita masing-masing.

    ReplyDelete
  33. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Setiap manusia lahir telah memiliki garis-garis kecil, hanya saja tergantung dari kita memilih untuk menebalkan garis-garis yang mana. Garis itulah sifat, karakter, potensi, ruang dan waktu kita. Hanya saja kita mau kemana? Jawabannya adalah pilihan, kita sendiri yang memilih ingin menjadi apa, ingin dikenal seperti apa atau ingin dipersepsikan seperti apa.

    ReplyDelete
  34. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb
    Sebelumnya ,terimakasih banyak pak Prof , elegi ini menyiratkan bahwa diri memberikan pendefinisian yang banyak.Karena diri yang kita lihat selama ini hanyalah hasil dari persepsi sebuah pikiran yang berupa fisik saja.Yang pada hakikatnya di balik diri itu ada banyak diri -diri yang lain.

    ReplyDelete
  35. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Sebenar-benar dirimu adalah dirimu sendiri. Setiap manusia berhak memilih untuk menjadi manusia seperti apa. Ketika saat ini manusia yang begini, detik selanjutnya manusia masih punya waktu untuk memilih menjadi yang begitu. Tiap detik adalah kesempatan untuk memilih. Kamulah yang memilih gambaran dirimu sendiri dalam ruang dan waktu, karena itu sebenar-benarnya dirimu adalah dirimu sesuai dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  36. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Berdasarkan elegi menggapai diri ini saya memahami bahwa setiap orang pada dasarnya berbeda-beda, tergantung dengan sifat yang melekat pada dirinya. Namun bukan berarti sifat tersebut bersifat hakiki terhadap orang yang bersangkutan. Ia dapat merubah dengan syarat seseorang mampu merubahnya, menembus ruang dan waktu yang ada.

    ReplyDelete
  37. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Terkadang kita sanngat mudah menilai orang laing apalagi menilai kekurangannya namun kita tidak bisa menilai akan kekurangan diri sendiri. Sangat mudah untuk mengkritik orang lain tapi tidak dengan mengintrospeksi diri sendiri.

    ReplyDelete
  38. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas artikel di atas. Saya sangat setuju dengan segala perkataan orang tua berambut putih. Sebenar-benar diriku adalah terserah. Terserah seperti apa aku, dimana aku, kapan aku, berapapun aku, bagaimana aku, mengapa aku, sedang apa aku, mau apa aku, dan segalanya tentang aku. Semuanya bergantung pada ruang dan waktu selama kita hidup. Banyak sekali yang dapat saya lakukan untuk menunjuk diri saya bahkan hingga tak terhingga sekaligus. Itulah hebatnya kuasa Tuhan, kita bersifat terbuka dan bebas memilih. Yap, lagi-lagi karena diri saya sangatlah banyak, maka itulah potensi. Dengan adanya kita yang berpotensi, sedang satu Potensi saja dapat menjadi potensi yang lain, maka itulah yang dinamakan mengada. Kita bisa Bisa mengada karena memiliki kesempatan untuk memilih. Jika kita tidak bisa memilih, jadilah kita bersifat tertutup. Kita mampu memilih banyak dan bebas semaunya, jadilah kita bersifat terbuka. Kurang lebih seperti itu pemahaman saya. Wallahualam bishowab.

    ReplyDelete
  39. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Dirimu yang dulu tentulah bukan dirimu yang sekarang. Karena yang dulu kamu begitu, dan sekarang kamu begini. Makhluk ciptaan Allah itu semua terpengaruh oleh ruang dan waktunya. Apa dirimu sekarang adalah cerminan dari masa lalu juga. Bagi saya, bagaimana dirimu yang sekarang? Jawababnya mungkin diriku yang dulu atau mungkin kontradiksi dari yang dulu. Karena Allah kita menjadi terpilih untuk suatu hal dan kita juga bisa memilih diriku yang besok ingin seperti apa. Apakah saya termakan mitos? Ya tentu iya atau ya tentu tidak. Berhak untuk menggapai logos dan menciptakan apa diri kita dan bagaimana ruang dan waktu yang dapat mempengaruhi kita. Kita yang tentukan dan kta pula yang akan kena imbasnya. Karena waktu dan ruang tidak akan bisa kembali ke belakang dan akan terus melaju kedepan. Gunakan waktu dan ruangmu sebaik mungkin untuk menggapai diri.

    ReplyDelete
  40. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Dari elegi ini saya mendapatkan pelajaran bahwa sebenar-benar diri kita adalah banyak. Diriku bukanlah satu, namun dua, tiga dan seterusnya. Jumlahnya tak terbatas. Dari yang ada sampai yang mungkin ada. Atau dengan Bahasa lain adalah bersifat terbuka, artinya kita bisa menjadi segala sesuatu yang mungkin.

    ReplyDelete
  41. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Menggapai diri... Mudah diucapkan Dan dituliskan, namun sulit digapai. Diri in ingin menggapai menjadi diri yang baik, namun godaan selalu besar.
    Terimakasih until elegi ini, mengingatkan saya untuk selalu mengundang Tuhan masuk dalam diri, agar senantiasa menyadari diri untuk menggapai yang baik.

    ReplyDelete
  42. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Pemikiran dan perbuatan seseorang adalah cerminan bagaimana diri orang tersebut. Pemikiran seseorang tidak jarang akan menjadi perbuatan orang tersebut. Mengenali diri dan menggali potensi diri sangatlah dibutuhkan, karena dengan mengenali potensi diri maka akan lebih mudah untuk mengembangkannya, sehingga seseorang tersebut tidak akan selamanya tersesat.

    ReplyDelete
  43. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Memahami diri sendiri adalah proses yang tidak akan pernah berhenti, karena belum sempat kita menjelaskan siapa kita maka kita telah berubah dari tadi menjadi sekarang. Terus menerus berubah hingga kita tidak bisa mengingat seluruh pikiran dan perasaan yang pernah terlintas. Siapakah diri kita sebenarnya, apakah tujuan kita, mengapa kita berada disini, kemana kita akan melangkah, seluruh pertanyaan yang diajukan kepada diri sendiri adalah pertanyaan yang paling sulit dijawab. Benar adanya bahwa manusia lebih gampang menilai orang lain bahkan mencela kekurangannya tanpa menyadari kekurangan dan kelemahan diri sendiri yang mungkin saja jauh lebih buruk. Bersyukur atas apa yang dimiliki adalah salah satu cara agar kita mengenal keterbatasan dan kelemahan diri kita sendiri. Berdoa adalah salah satu upaya agar diri kita tidak pernah berubah menjadi apa yang tidak kita sukai.

    ReplyDelete
  44. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Jangan pernah sekali-kali menganggap diri kita merupakan sesuatu yang tunggal. Karena memang hal tersebut yang akan membuat diri kita tidak akan berkembang dan hanya akan menjadi bagian dari para patung filsafat yang hanya diam saja tanpa bergerak sedikitpun sehingga ilmu mereka sangatlah dangkal dan cepat memberikan argumen yang kurang tepat. Diri kita semua merupakan apa yang dipandang oleh orang lain, namun pandangan mereka tidak bisa dipaksakan sesuai dengan keinginan kita sendiri. Hal ini lah yang membuat diri kita selalu berkembang karena kita selalu berfikir dan berfikir karena pandangan dari orang lain itu.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  45. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Menarik sekali bahwa manusia diciptakan dengan memiliki potensi yang beragam. Satu orang pun bisa mempunyai banyak potensi. Jangan kita memutuskan satu potensi saja yang ada pada diri kita. Kita harus sadar bahwa potensi kita bisa berkembang dan bertambah, kita harus fleksibel terhadap potensi kita. Diri seseorang sesuai dengan apa yang dipersepsikan orang tersebut.

    ReplyDelete
  46. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Diriku dalam elegi ini bersifat relatif. Hal itu karena sebenar-benarnya diriku adalah tidak pasti. Diriku itu tergantung oleh ruang dan waktu. Diriku yang kemarin, tidaklah sama seperti diriku yang sekarang. Sehingga diriku itu selalu berubah. Begitulah manusia, manusia itu akan selalu berubah dan berkembang selama manusia itu masih mampu berpikir. Oleh karena itu, marilah merubah diri selalu menjadi yang lebih baik dengan meningkatkan ilmu, iman dan taqwa. Terimakasih

    ReplyDelete
  47. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Menurut pandangan orang diri kita satu. Ini bisa terjadi karna mereka hanya melihat dari fenomena. Namun, jika kita melihat dari sudut pandang lainnya. Diri kita itu ada lebih dari semilyar sampai kira tidak bisa menyebutkannya. Hal ini disebabkan manusia memiliki banyak sifat dan tiap harinyz sifat manusia bisa berubah. Selain dilihat dari sifat, manusia setiap harinya juga melakukan kegiatan dan kegiatan yang dilakukan tidak sama dari hari sebelumnya.

    ReplyDelete
  48. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Sebenar-benarnya seseorang adalah sifat-sifat yang melekat pada orang tersebut. Sifat-sifat tersebut bersifat open-ended tergantung dari mana sudut pandang yang diambil. Maka sebagai manusia yang terus saja berubah, sebaiknya kita berusaha untuk mengoptimalkan potensi yang ada pada diri kita. Sebaiknya kita tidak terlalu membatasi potensi diri dan terlalu idealistik. Dengan demikian, kita akan terus berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  49. Junianto
    17709251065
    PM C

    Membenahi sesuatu, melakukan kebaikan-kebaikan sebaiknya dimulai dari diri kita sendiri. Ketika kita bisa memulai itu semua, maka ada kemungkinan orang lain akan mencontoh dan melakukan hal yang sama pula. Tetapi sebelum melakukan itu, maka perlu kita pahami dahulu siapa diri kita, apa posisi kita, apa amanah kita. Bagaimana mungkin kita bisa melakukan sesuatu dengan baik jika kita belum paham siapa kita sebenarnya. Dari artikel ini juga menyiratkan bahwa diri kita sangatlah kompleks dan sangat bergantung ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  50. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Sebenar-benarnya diri adalah cara kita memandang diri sendiri. Karena manusia telah diciptakan dengan potensi-potensi yang ada. Tergantung kita memilih di jalan yang baik ataukah berbelok ke jalan yang buruk. Namun sebenarnya segala potensi itu telah ada, hanya apakah di tertimbun oleh kemalasan, kesombongan ataupun keburukan lainnya. Maka kenalilah dirimu sendiri, maka kamu akan mampu mengenali zat tuhannya.

    Demikian, terimakasih

    ReplyDelete
  51. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Diri melekat dengan sifat-sifatnya. Sifat-sifat diri sangat banyak, sebanyak kita mendefinisikannya. Namun, jika kita telah mengklaim bahwa diri kita adalah satu, maka sifat-sifat lain akan tertutupi. Oleh karena itu, jangan hanya terpaku pada salah satu sifat diri karena masih banyak sifat diri lain yang kita punyai. Jika kita memiliki kekurangan di satu hal, pasti ada kelebihan pada hal yang lain. Kita juga harus yakin, bahwa Tuhan senantiasa memberikan berbagai potensi kelebihan diantara banyak kekurangan yang dimiliki manusia.

    ReplyDelete
  52. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Semakin banyak saya membaca elegi, semakin merasa penasaran untuk membaca elegi selanjutnya. Pun ada beberapa elegi yang tidak saya mengerti, namun untuk elegi yang menyangkut pengembangan diri (psikologi) dan spiritual insya allah ckup bisa saya pahami pak. Dari tulisan bapak ini berhubungan dengan tulisan yang saya baca sebelumnya yaitu elegi menggapai wajah. Kita bisa mengenali diri kita, menentukan kita mau menjadi manusia yang seperti apa. Menurut saya hidup itu adalah pilihan. Semuanya ada antitesisnya, baik vs buruk, bijak vs tidak bijaksana dan sebagainya. Seperti yang bapak tuliskan bahwa sebenar-benarnya dirimu adalah ruangmu, waktumu, aktivitasmu, dsb, tinggal kita jalani dengan baik jangan sampai menjadi hamba yang (selalu) merugi karena menyia-nyiakan waktu untuk memperbaiki diri.

    ReplyDelete
  53. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Setiap manusia diberi kesempatan untuk memilih. Maka kita sendirilah yang dapat memilih siapa diri kita. Kita sendiri yang dapat menentukan pilihan kita. Kita yang memutuskan langkah kita menuju masa depan. Kita yang tahu potensi diri kita. Kita sendiri yang tau kejujuran kita. Kita yang tau keikhlasan kita. Kita yang tahu keburukan serta kebaikan diri kita. Maka kita sendiri yang menentukan akankah keberadaan kita di dunia ini akan memberikan manfaat bagi orang lain atau memberikan keburukan bagi orang lain. Karena sebenar- benar hidup adalah pilihan dan kita sendiri yang dapat memilih pilihan apa yang akan kita jalani. Dan dalam memilih kita harus ingat bahwa apa-apa yang kita pilih di dunia akan kita pertanggungjawabkan di akhirat. Semoga kita senantiasa diberi petunjuk untuk memilih jalan kebenaran. Amin.

    ReplyDelete
  54. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  55. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Sesungguhnya kita sedang berada di perbatasan. yang membedakan yang satu dan yang lain adalah keputusan. Sebagaimana konsep kehidupan, dipilih dan memilih. Maka bagaimana dirimu adalah keputusanmu. Bagaimana dirimu adalah pilihanmu. Dan sebenar-benar dirimu adalah ilmumu. Perbuatanmu, perkataanmu, interaksimu adalah bayangan dari pemikiranmu. Dengan demikian bukalah diri terhadap sesuatu yang positif agar ilmu terus berkembang dan kebaikan semakin melengkapi.

    ReplyDelete
  56. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Menggapai diri adalah sebuah proses. Siapa diri kita sesungguhnya bukanlah hal pasti, sebab kita akan selalu berubah dan perubahan itu abadi melekat pada diri kita. Setiap orang harus selalu berusaha merubah diri agar tidak terjebak mitos. Berubah diri menuju arah yang lebih baik tentunya agar mampu menjadi manusia yang lebih bijak, lebih baik, dan lebih bermanfaat. Oleh sebab itu kita harus senantiasa belajar, menempa diri dengan latihan dan pengalaman, merasa haus dan lapar akan ilmu dan pengetahuan, sehingga kita tidak akan pernah terjebak dalam zona nyaman. Karena sebenar-benar zona nyaman itu adalah jebakan mitos yang membuat manusia tidak berkembang.

    ReplyDelete
  57. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Diri kita meliputi segala hal yang berhubungan dengan jiwa dan raga kita. Ketika kita membuka diri kita, maka kita akan mampu memahaminya. Namun ketika kita menutup diri kita, kita tidak akan mengetahui siapa diri kita yang sebenarnya. Untuk dapat memahami diri kita, kita juga memerlukan bantuan dari lingkungan dan orang-orang yang berada di sekitar kita.

    ReplyDelete
  58. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Sebenar benarnya aku adalah .... , Sebenar-benarnya aku adalah...., Sebenar-benarnya aku adalah ....., Dan masih banyak aku aku aku yang lain ..... . Allah SWT di gambarkan memiliki 99 jamaliyah yang dapat kita contoh untuk diterapkan pada kehidupan dunia. Selain sifat jamaliyah ada juga sifat jalaliyah. Itulah semua karunia dari Tuhan yang maha esa. Melihat aku aku aku yang beranekaragam sungguh terbersit perasaan sangat senang, karena kehidupan di dunia ini sangatlah kompleks, berhubungan dengan 2 orang kembar sekalipun akan tetap berbeda. Yang membedakan diri kita adalah bagaimana menpatkan aku adalah siapa pada posisi bagaimana, dimana, dengan siapa, dan kapan waktunya.

    ReplyDelete
  59. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Sebenar-benar dirimu adalah dirimu. Untuk mengetahui siapa dirimu maka ketahuailah apa yang dalam dirimu. Dirimu adalah potensimua, maka galilah potensi dalam dirimu yang menjadikan identitas bagi dirimu. Dirimu adalah pengetahuanmu, maka sedalam dan seluas apa pengetahuanmu akan menunjukkan siapa dan bagaimana dirimu. Dirimu adalah amal perbuatanmu, maka amal perbuatan yang kamu lakukan menujukkan derajatmu di mata Allah, dst. Maka sebenar-benar dirimu adalah pilihanmu untuk dirimu sendiri.

    ReplyDelete
  60. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Kita dapat mendefinisikan diri kita sebagai apapun. Kita juga dapat mendefinisikan diri kita sebagai bukan apapun. Kunci utamanya adalah kenalilah dirimu terlebih dahulu. Mau dibawa kemana dirimu itu. Hidup itu pilihan. Kita hidup untuk memilih. Segala yang ada di dunia merupakan pilihan, dan pilihan itulah yang akan menentukan diri kita.

    ReplyDelete
  61. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Obyek dari filsafat adalah segala hal yang ada dan yang mungkin ada, maka setiap yang ada yang mungkin ada dapat ditambahi predikat filsafat di depannya, termasuk diri kita. Diri kita termasuk obyek filsafat, maka dapat dikaji secara intrinsik dan ekstrinsik, oleh sebab itulah diri kita memiliki banyak sifat-sifat yang tak terhingga adanya. Apabila kita menunjuk satu sifat saja, maka tertutuplah diri kita, oleh karena itu menjadi diri kita sejatinya terus berhermenetika dengan aktivitas diterjemahkan dan menerjemahkan. Semoga dalam kegiatan bersilaturahmi tersebut kita mampu menempatkan diri hingga mampu mengelola sifat-sifat kita memelihara sifat baik dan mengurangi sifat buruk.

    ReplyDelete
  62. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Segala hal berkaitan dengan diri, maka sesungguhnya diri sendiri yang berkuasa. Tuhan sudah memberikan berbagai potensi untuk mengenali diri, menentukan pilihan diri, dan berkuasa atas diri sendiri. Maka sebenar-benar diri adalah keputusan diri, keputusan diri didapat dari merenung, berpikir, refleksi pengalaman, lingkungan.

    ReplyDelete
  63. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Diri kita mampu belajar dan terbuka dari segala hal, diri kita yang dimanefestisikan pikiran kita mampu menerima dan belajar segala hal. Sebelum menentukan pilihan mana yang di ambil maka pelajari dan terima semua hal, sesungguhnya diri akan berpikir dan menyeleksi siapa diri sebenarnya. Begitupun proses diri dalam belajar, harus terbuka dan tidak terkungkung oleh ideentitas diri semu, karena belajar memerlukan keihklasan dan keterbukaan

    ReplyDelete
  64. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Sebenar-benar diriku adalah apa yang aku pikirkan, aku rasakan dan aku lakukan. Jangankan orang lain, bahkan diri kita sendiri pun belum tentu mampu memahami diri sendiri. Yang dapat kita lakukan ialah berusaha membentuk diri sebaik-baiknya dengan cara berpikir, merasakan dan berperilau yang baik. Hal tersebut dapat dilakukan selama kita tidak malas dan ikhlas dalam menjalaninya. Untuk menjadi mahasiswa yang pandai maka perlu banyak membaca. Untuk menjadi guru yang baik maka perlu banyak membaca. Untuk menjadi hamba yang taat maka perlu banyak membaca. Intinya, belajarlah terus sepanjang hayat agar diri yang terbentuk merupakan diri yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

    ReplyDelete
  65. Latifah Fitriasari
    PM C

    Sangat tidak mudah untuk menemukan siapa diri kita yang sebenarnya. Kita hanya bisa mengenal secara tertulis saja, tanpa tahu yang tersirat di dalamnya. Sebagai salah satu contoh saya jabarkan, tentunya kita tahu siapa nama kita, artinya ketika orang memanggil kita, itulah diri kita. Jika Aku adalah diriku dan sebaliknya diriku adalah Aku, mengapa tidak sedikit dari kita yang menolak diriku sebagai aku. Aku adalah aku, aku bukan dirimu, aku bukan orang lain yang tak kukenal. aku adalah yang paling mengenal dan memahami diriku. aku tidak ingin menjadi dirimu.

    ReplyDelete
  66. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Menggapai diri atau menemukan jati diri kita yang sebenarnya bukanlah perkara mudah dan dapat ditemukan dalam waktu yang dingkat, maka diri kita ialah terserah apapun selama kita belum menunjuk apakah kita sebenarnya. Dalam pencarian diri ini kita akan dihadapkan pada berbagai rintangan, yang akan memberikan sedikit kecondongan kemanakah kita akan melabuhkan jati diri kita. Namun kecondongan tersebut akan terus berubah selama kita belum menemukan prinsip memilih diri yang tepat, dan sebaik-baik pembimbing dan pengarah kita ialah Tuhan YME. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  67. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Proses pendidikan yang diadakan akan membantu kita untuk mencapai diri kita. Adapun kita yang masih dalam proses menuju diri, maka perlu bimbingan dan arahan orang lain yang telah menempuh proses yang saat ini kita tempuh, maka dengan proses terjemah dan menerjemahkan yang terjadi dalam proses belajar mengajar kita akan dididik dan diarahkan menuju diri kita. Jikapun tidak, maka proses tersebut hendaklah dievaluasi, mungkin ada elemen yang tidak bekerja sesuai dengan porsinya. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  68. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam elegi ini memiliki maksdu bahwa untuk mengapai dir, kita memerlukan banyak hal unutk diketahui, antara lain adalah ruang dan waktu. Dengan mengetahui ruang dan waktu dimana kita berada akan mampu mengenali diri kita, seberapa jauh kita mengenal lingkungan dan sebapa tangap kita dengan waktu yang telah kita habiskan. Sehingga kita mampu menggunakan lingkunga dan waktu unutk hal yang bermanfaat.

    ReplyDelete
  69. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi ini menjelaskan tentang arti siapa diri kita sebenarnya. Sebenar-benarnya diri kita adalah bergantung dengan sifat-sifat dan perbuatan yang kita lakukan. Kita memiliki berbagai sifat yang dapat mencerminkan siapa kita. Diantara sifat-sifat itu terdapat yang baik dan yang buruk. Siapa diri kita tergantung mana sifat yang kita kembangkan apakah sifat baik atau sifat buruk, oleh karena itu hendaknya selalu bijak dalam melakukan segala perbuatan karena hal demikian dapat mempengaruhi siapa diri kita sebenarnya.

    ReplyDelete
  70. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Bercermin dan lihatlah pada cermin maka kamu akan menemukan pantulan diri mu pantulan fisikmu. Lihatlah bagaimana teman-temanmu memperlakukanmu, lihatlah sikap dan akhlak jodohmu maka kamu akan tahu cerminan dirimu. Ketika kamu bersama sosok yang membanggakan dengan akhlaknya dengan keimanannya, tersenyumlah karena cerminmu membahagiakan menentramkan jiwa. Tapi tentu bukanlah hal yang mudah untuk mendapatkan itu semua, perlu untuk memperbaiki diri dengan benar-benar tulus ikhlas dan perjuangan.

    ReplyDelete
  71. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Siapakah diri kita tergantung dimana ruang lingkup pembicaraannya, tergantung dimana kita menempatkan diri dalam suatu keadaan, ruang dan waktu. Dimana dalam penempatan diri kita tersebut tentunya mengandung konsekuensi yang harus kita terima, kita ingin di cap orang lain sebagai apa tergantung pandai-pandainya kita dalam menempatkan diri di dalam ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  72. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dalam hal ini kita bebas untuk menentukan nasib sendiri, kemerdekaan dalam menentukan kemana tujuan hidup yang akan dicapai. Namun ingat janganlah kita lupa berdoa kepada Tuhan karena sebenar-benar perbuatan itu jika mendapat ridho dari Tuhan. Oleh karena itu dalam melakukan sesuatu untuk menggapai tujuan maka yang dituju adalah ridho Tuhan. Maka ingat ridho Tuhan yang paling utama.

    ReplyDelete
  73. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Manusia adalah potensi, dia bisa menjadi apa saja sesuai dengan keputusuan yang dipilihnya. Potensi yang ada didalam manusia pun tidak terhingga jumlahnya, dan siapakah dirinya akan bergantung dari potensi apa dan bagaimana dia mengembangkan dan memuncullkannya. Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  74. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Siapa diri kita itu tergantung amal perbuatan diri kita sendiri. Kita bebas mendefinisikan siapa diri kita yang sebenarnya. Diri kita yang sekarang pasti akan berbeda dengan diri kita dimasa mendatang. Semua tergantung dari sudut pandang mana kita mendefinisikan diri kita sendiri. Jadi, siapa diri kita sebenarnya tergantung kita sendiri yang mendefinisikannya

    ReplyDelete
  75. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Berdasarkan elegi ini saya memahami bahwa aku atau diriku adalah bersifat relatif. Aku yang masih berkembang, atau aku yang telah membatasi diriku. Aku yang terus mencari, atau aku yang merasa cukup dengan keadaan. Aku yang terus menggali, atau aku yang sudah cukup dengan penemuan. Aku yang tahu dan sadar akan ketahuanku, atau aku yang tidak tahu akan ketidaktahuanku

    ReplyDelete
  76. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Dari elegi menggapai diri di atas dapat diketahui bahwa diri kita memiliki sifat terbuka. Seringkali kita bertanya siapa diri kita. Sebenarnya siapakah diri kita itu hanya mampu dijawab oleh diri kita sendiri pula. Karena kejujuran hati manusia hanyalah manusia itu yang tahu. Sering juga disebut God Spot. Manusia lain tidak akan tahu apa isi hati manusia lain, kecuali Tuhan Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Mau dibawa ke arah mana diri kita itu tergantung diri masing-masing mau membawa ke mana. Semuanya kita sendiri yang menentukan. Namun pada hakikatnya segala keputusan ada di tangan Allah, maka berdoalah dengan niat ikhlas agar Allah senantiasa memberikan yang terbaik untuk kita.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  77. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    menurut saya menggapai wajah dan menggapai diri merupakan hal yang mirip, sama-sama usaha untuk menggali dan lebih mengenali diri kita sendiri. kita menjadi seperti apa itu merupakan pilihan kita, bersifat terbuka, namun kita yang harus bisa membatasi diri kita terhadap sesuatu, jangan lengah dan jangan terbuai oleh bayangan-bayangan dunia. terdapat dua pegangan yang dapat kita pegang agar kita mendapatkan kesejahteraan di dunia dan akhirat yaitu Al-Qur'an dan sunnah Rasul

    ReplyDelete
  78. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa siapa diriku adalah diriku sendiri. diriku itu berbeda dengan orang lain. Diriku itu ruang dan waktuku yang berbeda dengan ruang dan wktumu. Aku adalah aku yang bukan kamu dan berbeda dari mereka. Aku tidak dapat disamakan dengan dirimu ataupun mereka.

    ReplyDelete
  79. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Ilmu akan bermanfaat bagi diri kita apabila dengan ilmu yang kita miliki tidak menjadikan kita lupa diri dan sombong, tetapi sebaliknya, yaitu menjadikan diri kita lebih bersyukur dan Ikhlas dalam menjalani hidup. Nilai diri seseorang ditentukan oleh ilmu yang bermanfaat, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dewi Thufaila
      17709251054
      Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

      Assalamualaikum.wr.wb
      Nilai diri seseorang ditentukan oleh ilmu yang bermanfaat, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. Ilmu akan bermanfaat bagi orang lain apabila dengan ilmu itu kita bisa membaur, berkontribusi secara aktif, dan tidak sekedar menjadi obyek di manapun kita berada.
      Wassalamualaikum.wr.wb

      Delete
  80. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Menurut saya, menggapai ada sama saja dengan menggapai diri. Diri adalah sesuatu yang tersebunyi. Memberikannya keadaan adalah keniscayaan bagi diri. Oleh karena itu saya akan menggunakan komentar yang sama dari komentar pada elegi menggapai ada. Sesungguhnya kita hidup di dunia ini tidak hanya sebatas hidup, tetapi juga mengada. Mengada dalam arti bahwa, setiap manusia membutuhkan pendidikan untuk megembangkan potensi kemanusiaannya. Dengan kata lain, pendidikan adalah satu-satunya cara untuk menggapai ada. Menggapai ada merupakan manifestasi dari tugas manusia sebagai wakil Tuhan di bumi. Wallahu a’lam bishawab.

    ReplyDelete
  81. Febriana Putri Hutami
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241007

    Dari elegi tersebut, saya mendapati bahwa kita dapat menentuka seperti apa pun diri kita. Bahkan kita dapat menentukan diri kita tidak sebagai apa pun. Itu semua terserah diri kita masing-masing. Dalam menentukan seperti apakah diri kita, yang paling mendasar adalah harus mengerti mau dibentuk seperti apa diri kita. Baik atau buruk diri yang terbentuk itu adalah pilihan. Karena pada hakekatnya hidup adalah pilihan.

    ReplyDelete
  82. Siti Nur Fatimah
    15301241045
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Berdasarkan elegi tersebut saya memahami bahwasannya diri kita itu bersifat relatif, bersifat terbuka. Tergantung bagaimana kita yang menentukannya sendiri. Yang tahu sebenarnya diri kita itu yaa diri sendiri pula.

    ReplyDelete
  83. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Elegi ini menjelaskan tentang bagaimana definisi dari diri. Banyak sekali definisi dari diri, karena sebenar-benar diri bersifat terbuka. Karena bersifat terbuka maka definisi dari diri tergantung bagaimana sesorang itu mendefinisikan dirinya.

    ReplyDelete
  84. Alfiani Indah P S
    15301241027
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Diri kita adalah diri kita dalam hal apapun. Diri kita bersifat dinamis, bersifat relatif. Kita berhak dan bebas menentukan seperti apa diri kita ini. Kita harus selalu berbenah diri agar diri kita ini menjadi sebaik-baiknya diri kita.

    ReplyDelete
  85. Monica Ansella
    15301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Jati diri seseorang ditentukan oleh ruang, waktu, pengakuan, aktivitas, pergaulan, mimpi, bahasa, pertanyaan, dll. seperti yang sudah diungkapkan pada elegi di atas. Hal ini menandakan bahwa seseorang terus menerus berubah. Arah perubahannya ditentukan oleh orang itu sendiri. Jika kita memilih untuk berubah ke arah yang lebih baik, maka kita pun dapat menjadi diri yang lebih baik. Sebaliknya, jika kita memilih untuk berubah ke arah yang lebih buruk, maka kita pun akan memiliki jati diri yang buruk. Kalau begitu aku akan menetap seperti ini saja, tidak ada yang akan aku ubah. Jika kita lebih memilih untuk tidak berubah, berarti kita dalam posisi berhenti. Padahal posisi berhenti ini sama saja kita mati, mati karena kita menjadi mitos belaka.

    ReplyDelete
  86. Rina Musannadah
    15301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2015
    Menilai diri sendiri memang lebih sulit daripada menilai orang lain. Hal ini karena diri kita adalah diri kita sendiri. Kita berhak menentukan perubahan yang ada dalam diri kita, ke arah positif ataupun negatif. Namun, hendaknya kita selalu berbenah diri agar perubahan-perubahan yang kita lewati senantiasa menuju ke arah yang lebih positif.

    ReplyDelete