Sep 20, 2013

Jargon Pertengkaran Tradisional dan Inovatif




Jargon Pertengkaran Tradisional dan Inovatif

Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, tradisional itu inovatif dan inovatif itu tradisional,...dst. Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia. Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon tradisional dan jargon inovatif. Wahai jargon tradisional dan jargon inovatif dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon tradisional kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon inovatif kelihatannya demikian juga. Aku betul-betul melihat pertengkaran yang sangat seru. Tradisional terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi inovatif. Sedangkan inovatif juga terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi tradisional. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?

Jargon tradisional:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon tradisional. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada inovatif agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para inovatif tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.

Jargon inovatif:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon inovatif. Saya menyadari bahwa jargon para tradisional itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada tradisional agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para tradisional. Ketahuilah tiadalah tradisional itu tanpa inovatif. Maka tolonglah wahai orang tua berambut putih agar aku bisa bergaul dengan tradisional.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon tradisional. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon tradisional:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon tradisional. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi inovatif pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada inovatif. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada inovatif maka kedudukanku sebagai tradisional akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi tradisional yang kuat, yaitu sebenar-benar tradisional. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai tradisional sejati maka aku harus mengelola semua tradisi sedemikian rupa sehingga semua tradisiku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar inovatif tidak pernah menggangguku. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para inovatif. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para inovatif. Dari pada jargon inovatif menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon tradisional, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para anggotamu menyampaikan kepadaku.

Jargon guru tradisional :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon guru tradisional senior. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai guru tradisional. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai guru inovatif. Ketika aku menjadi terpilih sebagai guru inovatif maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai guru tradisional. Maka setelah aku menjadi guru inovatif aku mulai kehilangan jargon guru tradisional, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon guru inovatif. Namun demikian aku sebetulnya belum siap untuk menjadi guru inovatif. Uku lebih suka menjadi guru tradisional. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai guru tradisional, maka aku telah mengembangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: guru itu tidak perlu repot-repot, rpp itu kewajiban yang memberatkan, metode mengajar cukup ceramah, ..dst. Begitu aku menemukan para siswaku itu tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai guru tradisional. Kekuasaanku sebagai guru tradisional itu mengalir melalui jargon-jargonku: siswa itu harus rajin, siswa itu harus menurut, siswa itu harus giat, siswa itu harus menghafal, ..dst. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: guru itu manusia biasa, belajar itu memerlukan biaya, mengajarku tak ada yang mengawasi, buat apa meneliti,..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai guru tradisional adalah: inilah bisaku, inilah kemampuanku. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai guru tradisional aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para guru inovatif. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai guru tradisional. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon guru tradisional. Maka aku kurang seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya itu hanya mengganggu ketenangan jargon-jargonku.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon inovatif. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon inovatif:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon inovatif. Jikalau aku terbebas dari segala kecurigaan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya sedang berusaha mendekati para tradisional. Hal ini tidaklah off the record, sampaikanlah kepada guru tradisional. Karena jika engkau katakan hal ini kepada guru tradisional maka mungkin mereka akan memahami inovatif. Padahal segenap jiwa ragaku itu betul-betul ikhlas untuk membantu guru tradisional. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala macam kekolotan. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai guru inovatif maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat mendekati guru tradisional. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para tradisional. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para tradisional. Tetapi apalah dayaku sebagai inovatif. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap ingin menjadi menghadap para jargon guru tradisional.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon guru inovatif, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.

Jargon guru inovatif :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon guru inovatif. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai guru tradisional. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku mempunyai kesempatan melakukan inovasi metode pembelaaranku . Ketika aku memperoleh julukan sebagai guru inovatif aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai guru tradisional. Maka setelah aku mempunyai kesempatan melakukan inovatif aku mulai kehilangan jargon guru tradisional, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon guru inovatif. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai guru inovatif yang hakiki, maka aku telah mengembangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: guru inovatif itu harus jujur, guru inovatif itu harus peduli, guru inovatif itu harus kreatif, guru inovatif itu harus meneliti, guru inovatif itu harus selalu belajar, guru inovatif itu harus melayani kebutuhan belajar siswa, guru inovatif itu harus mengikuti perkembangan jaman, ...dst. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara pengaruh para guru tradisional itu masih tetap mengalir melalui jargon-jargon nya: tak perlulah sok inovatif, inovatif itu asing bagiku, tradisional itu gak apa apa yang penting kompak, ..dst. Tetapi begitu aku menemukan bahwa guru tradisional tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonnya yang lain: tradisional itu melestarikan, tradisional itu budaya, tradisional itu sakral, tradisional itu bentengnya kebiasaan, ...dst.
Maka jargon yang paling populer bagi para guru tradisional adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya inovasi, inovasi itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Sebagai guru inovatif aku juga menghasilkan jargon populer berikutnya:
mengajar itu totalitas, profesiku adalah guru, hidupku semata-mata aku abdikan pada murid-muridku. Tetapi akupun tidak bisa menutupi kelemahan-kelemahanku. Maka terpaksa aku menjaga statusku sebagai guru inovatif menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para guru tradisional. Agar aku selamat dari pencemoohan para jargon tradisional. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai guru inovatif. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon guru inovatif. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon guru inovatif, agar aku bisa mengajak para guru tradisional untuk melakukan inovasi. Maka aku gembira sekali jika aku mempunyai kesempatan mengikuti seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku.

Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Guru tradisional memerlukan jargon untuk mempertahankan dirinya, sedangkan guru inovatif memerlukan jargon untuk mengajak inovasi para guru tradisional. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana guru tradisional dan guru inovatif dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan. Wahai engkau para guru tradisional dan guru inovatif, terjemah dan saling menterjemahkanlah agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sana, tradisional itu adalah inovatif, dan inovatif itu adalah tradisional. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Saya ingin memperingatkan tradisional, janganlah engkau berlaku sombong dan sok kuasa mempertahankan tradisimu. Ingatlah bahwa di luar sana banyak kejadian memerlukan inovasimu. Saya juga ingin memperingatkan para guru inovatif, janganlah engkau bertindak ceroboh. Dekatilah para guru tradisional itu dengan cara-cara empati. Tiadalah sebenar-benar tradisional sejati bagimu. Dan juga tiadalah sebenar-benar inovatif bagimu. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.

35 comments:

  1. Tulisan yang menginspirasi. Bahwa adanya perdebatan antara inovatif dan tradisional. Pada dasarnya kedua jargon memiliki kedudukannya tersendiri. Jargon tradisional pun tidak dapat ditinggalkan, karena nila-nilai yang terdapat padanya juga ada benarnya. Jargon inovatif hanya berusaha untuk menciptakan suasana yang lebih baik, bukan untuk memberatkan, namun agar lebih baik lagi dalam keadaannya. Keduanya jargon tradisional dan inovatif dapat berjalan beriringan sesuai ruang dan waktu nya, tak perlulah memperdepatkan kedua jargon tersebut.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  2. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Antara yang tradisional dan yang inovatif tidak perlu ada pertentangan, karena sebenar-benar yang tradisional bisa jadi dulu adalah sebuah inovatif dan yang inovatif bisa jadi suatu saat akan menjadi tradisional. Karena itulag seorang guru harus dapat berbuat bijak menghadapi tradisional dan inovatif. Seorang guru harus menjadi inovatif dalam mengembangkan berbagai metode pembelajaran, media, alat penilaian, dan sebagainya. Tetapi seorang guru juga harus tetap memegang teguh nilai tradisional yakni mengajarkan siswa-siswanya untuk berperilaku sopan santun kepada yang lebih tua, memegang norma yang berlaku.

    ReplyDelete
  3. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Tidak semua yang tradisional itu buruk, selalu ada kebaikan dibaliknya. Selalu ada nilai-nilai yang masih dapat diambil pelajaran. Ketrampilan berinovasi dalam kehidupan tentu sangat penting, namun dalam mengembangkan inovasi kita harus juga memperhatikan yang tradisional. Apa-apa saja yang masih relevan. Namun yang tradisional juga harus membuka diri, tidak sombong dan tidak tertutup atas kemajuan sehingga tidak termakan mitos. Keduanya sama-sama memiliki kebaikan dan dapat saling melengkapi.

    ReplyDelete
  4. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Pembelajaran inovatif merupakan perbaikan dari pembelajaran tradisional, yang salah satunya dari pembelajaran berpusat pada guru menjadi berpusat pada murid. Pembelajarn inovatif ini yang diharapkan oleh pemerintah. Setiap siswa berberan penting dalam pembelajaran dan guru hanya sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Melalui postingan ini juga terlihat bahwa perkuliahan dikelas ini telah menerapkan pembelajaran yang inovatif dengan cara menerima pendapat dari mahasiswa.

    ReplyDelete
  5. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Sesuatu yang tidak mudah bagi guru yang sudah terbiasa dengan pembelajaran tradisional untuk beralih ke pembelajaran inovatif. Namun guru harus bersikap terbuka terhadap perubahan yang ada, jika tidak sama saja guru membiarkan diri terperangkap dalam ruang dan waktu yang salah. Bahwa perkembangan zaman semakin menuntut lahirnya siswa yang kritis dan kreatif dan semua itu akan sulit digapai melalui pembelajaran tradisional. Dengan demikian, guru secara perlahan harus segera beralih kepada pembelajaran yang inovatif namun bukan berarti meninggalkan tradisional sepenuhnya karena seyogyanya masih ada hal-hal postif yang dapat kita ambil dari pembelajaran tradisional.

    ReplyDelete
  6. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Elegi diatas mengingatkan saya bahwa tiada tradisional yang sejati dan tak ada kesejatian pada yang inovatif. Kesemuanya memiliki batasan, bergantung pada ruang dan waktunya. Ada hal baik yang tetap harus di pertahankan dari ketradisionalannya menjadi sesuatu yang inovatif dan terus berkembang sesuai kebutuhan zaman. Hal yang dibutuhkan dalam konflik semacam ini adalah memahami dan dipahami, sehingga tercipta sinergi yang baik antara yang harus di pertahankan dan yang harus dikembangkan demi menjawab tantangan zaman.

    ReplyDelete
  7. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh


    Perbedaan selalu ada. Karakeristik guru pun berbeda – beda. Masing – masing karakteristik memiliki prinsip sendiri – sendiri. Tiap prinsip mempunyai alasan yang menguatkan keberadaan prinsip tersebut. Tuhan maha adil. Mereka dapat hidup berdampingan satu sama lainnya. Agar bisa akur keduanya harus saling memahami dan mengerti

    ReplyDelete
  8. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  9. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Yang biasa kita sebut sebagai tradisional tidak bukan adalah sebuah inovasi. Hanya saja ia telah mencapai batasan ruang dan waktu. Selama dunia ini masih berotasi dan berevolusi maka akan muncul tradisional-tradisonal yang baru atau kita kenal dengan nama inovasi. Tanpa menghilangkan tapi inovasi ini juga berawal dari tradisional. Inilah yang seharusnya manusia lakukan senantiasa berinovasi agar hidupnya tidak berubah menjadi MITOS.
    Pada dunia pendidikan, saya tertarik dengan tulisan Prof. yang menyajikan 2 sudut pandangan guru tradisional dan guru inovatif. Terbukanya era pendidikan mengharuskan guru harus menyadari bahwa kebutuhan siswa saat ini sudah berbeda. Kemampuan, potensi, standar yang siswa miliki tidak lah sama. Sehingga prinsip kemampuan berbeda, waktu sama, proses sama hasil sama harus di ubah menjadi kemampuan berbeda, waktu sama, proses berbeda, hasil pun berbeda.

    ReplyDelete
  10. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Baik tradisional maupun inovatif memiliki empat tersendiri dengan dimensi ruang dan waktu tersendiri. seiring perkembangan zaman memang inovatif adalah sesuatu yang mutlak ada, karena tiadalah yang tidak akan pernah berubah melainkan perubahan itu sendiri, sehingga inovatif kita budayakan tanpa meninggalkan tradisional. AMbil contoh dalam pembelajaran matematika, inovasi pembelajaran seperti media, metode pembelajaran patut untuk diterapkan dalam pembelajaran di kelas, namun tetap saja nilai-nilai karakter yang telah dihayati sejak dulu tetap diajarkan dan disisipkan alam pembelajaran. wallahu a'lam

    ReplyDelete
  11. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Tradisional dan Inovatif memiliki tujuannya masing-masing yang disesuaikan terhadap ruang dan waktunya. Dengan semakin berkembangnya kemajuan IPTEK, guru-guru diharapkan dapat membuat inovasi-inovasi di bidang pendidikan agar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Melakukan pembelajaran inovatif bukan berarti harus meninggalkan yang tradisional. Ada beberapa hal tradisional yang masih dapat diterapkan atau digabungkan dengan hal-hal inovatif. Seperti pemberian apersepsi dan motivasi dalam pembelajaran. Kedua hal itu perlu guru lakukan sebagai trigger bagi siswa-siswanya. Jadi, tradisional dan inovatif adalah dua hal yang dapat saling melengkapi.

    ReplyDelete
  12. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Semakin dunia perkembangan, maka jargon perkembangan akan selalu muncul. Dulu biasa hanya naik kuda atau unta, sekarang bisa naik kijang atau panter. Zaman berkembang, bukan saatnya lagi mempertentangkan antara tradisional dan inovatif, tiadalah inovatif tanpa tradisional, dan tiadalah tradisional tanpa inovatif, ini hanya masalah sifat penamaan. Maka sebenar jargon adalah sesuai perkembangan berpikir. Baik tradisional maupun inovatif harus saling memahami dan menghargai. Sebenar-benar tradisional adalah inovatif itu sendiri.

    ReplyDelete
  13. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Terkait dunia pendidikan, sudah semestinya antara guru tradisional dan guru inovatif saling memahami pikiran masing-masing. Terkadang guru inovatif memiliki stigma negative terhadap guru tradisional; malas,gaji buta, tidak professional, dsb. Stigma ini dsadari oleh subjek stigma dan merasa enjoy juga karena guru tradisional memiliki stigma; yang penting mengajar, kerja, tidak korupsi, tidak neko-neko. Pertentangan ini diperparah dengan system pendidikan yang semakin mengkompori keduanya. Maka memang benar, setiap tesis pasti ada anti-tesis, dan sebenar tesis adalah anti tesis itu sendiri. Maka saling berkompromi dan bekerjasama, saling menasehati akan memperkokoh kerjasama dalam dunia pengajaran.

    ReplyDelete
  14. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Tradisional dan inovatif itu saling berhubungan, karena yang menjadi tradisional itu adalah yang awalnya sebuah inovatif dari guru. Sama seperti kesimpulan pada elegi jargon standar dan proses, maka dalam menaggapai pertentangan jargon tradisional dan inovatif tentunya semua elemen harus berhermenetika karena sejatinya diantara keduanya saling diterjemahkan dan menerjemahkan.

    ReplyDelete
  15. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Dari membaca elegi di atas menurut saya kesimpulannya ialah kedua metede pembelajaran baik tradisional maupun inovatif sama-sama diperlukan dama kegiatan pembelajaran. Contoh pembelajaran menggunakan metode tradisiona ialah ceramah berisi materi pelajaran yaitu guru sebagai pusat sumber belajar. Hal tersebut baik dilaukan ketika materi yang diajarkan memang materi baru dan merupakan materi abstrak yang akan sulit dipahami siswa tanpa penjelasan rinci dari gurunya.

    Sedangkan contoh metode pembelajaran yang inovatif ialah metode kooperatif yang melibatkan aktifitas siswa dan siswa sebagai pusat atau subjek belajar. Metode ini baik digunakan ketika mempelajari materi yang memiliki kaitan denganmateri sebelumnya atau membutuhkan prior knowledge yang memang suda diperoleh siswa sebelumnya. Karena dengan demikian siswa dapat membangun sendiri jaringan pengetahuannya sehingga imlu baru yang terbentuk lebih bermakna dan tertanam kuat di daam pikirannya. Hendaknya sebagai seorang guru kita dapat menentukan penggunaan metode tradisional maupun inovatif dengan tepat dan bijaksana sesuai dengan karakteristik siswa dan materi yang disampaikan.

    ReplyDelete
  16. Latifah Fitriasari
    PM C

    Tradisional dan inovatif memiliki tujuan masing-masing yang intinya membuat siswa mengalami proses belajar. Pembelajaran tradisional adalah pembelajaran yang masih terikat dengan tradisi. Penganut pembelajaran tradisional adalah guru yang tidak suka melakukan inovasi karena menurutnya inovasi tidak menghargai budaya yang ada. Dalam pembelajaran, apabila suatu sisi pembelajaran merasa bahwa dialah yang paling inovatif maka itu adalah kesombongan. Tradisional mempertahankan diri untuk menjaga eksistensinya karena takut akan perubahan yaitu inovatif. Maka sang tradisional membuat jargon-jargonnya sebagai topeng.

    ReplyDelete
  17. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Pada metode pengajaran tradisional lebih cenderung ke objectoriented seperti buku, text book, konsep, dan lain-lain, sedangkan pada metode pengajaran inovatif cenderung ke subject oriented (subjeknya adalah siswa), tentang bagaimana siswa berpikir, bagaimana siwa menemukan, bagaimana siswa memecahkan masalah, dan lain-lain. Pembelajaran yang inovatif masih dikembangkan sampai saat ini tujuannya adalah untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas pembelajaran.

    ReplyDelete
  18. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Inovasi ialah penemuan ide, gagasan, alat, barang, dan lain-lain yang baru guna memecahkan suatu masalah atau mencapai tujuan tertentu. Inovasi pendidikan ialah suatu perubahan yang baru, dan kualitatif berbeda dari hal yang sebelumnya, serta sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan guna mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan.

    ReplyDelete
  19. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam elegi ini diperoleh informasi bahwa setiap pembelajran tradisional maupun inovativ memiliki perjargon masing masing. Jargon tersebut saling mendukung pihak masing masing pula. Unutk adanya harmoni antara yang tradisional dan inovatif diperlukan sikap saling menerjemahkan dan menerjemahkan. Hal ini diperlukan unutk memahami jargon masing masing dan tidak saling menjatuhkan.

    ReplyDelete
  20. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Setelah membaca elegi pertengkaran antara jargon tradisional dan jargon inovatif, saya dapat menyimpulkan bahwa antara jargon tradisional dan inovatif keduanya sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Akan tetapi, jika keduanya dapat berjalan seimbang, maka semua jargon itu akan lenyap diperbatasan pikirannya masing-masing

    ReplyDelete
  21. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Zaman sekarang ini, sekolah-sekolah lebih membutuhkan guru yang mengajar dengan metode yang inovatif. Hal ini dikarenakan metode inovatif itu memperlakukan siswa sebagai subjek pembelajaran, bukan sebagai objek seperti ketika guru tradisional memperlakukannya. Siswa dituntut untuk lebih aktif ketika pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, sebaiknya para guru tradisional juga diharapkan dapat mempelajari cara mengajar guru inovatif. Memang tidak mudah merubah cara mengajar kita dari tradisional menuju inovatif, akan tetapi apabila kita berlatih, lama kelamaan akan terbiasa juga. Dengan adanya perubahan mengajar dari tradisional menuju inovatif akan membuat pendidikan di Indonesia semakin maju dan menjadi lebih baik lagi

    ReplyDelete
  22. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Elegi di atas bercerita tentang guru tradisional dan guru inovatif yang mesing-masing ingin mempertahankan jargonnya. Guru tradisional mempertahankan jargonnya demi eksistensinya. Sedangkan guru inovatif mencoba mempertahankan jarginnya untuk dapat mengajak guru tradisional agar ikut berkembang. Sebenarnya kedua jargon mereka itu dapat saling menterjemahkan dan diterjemahkan. Tidak dapat dipungkiri metode pembelajaran tradisional seperti ceramah terkadang memang efektif untuk pembelajaran tertentu. Sementara itu pembelajaran yang inovatif juga sangat diperlukan mengingat terus berkembangnya kebutuhan pendidikan masa kini. Jadi, sebenarnya mereka dapat berjalan beriringan. Dan tidak perlu menyombongkan diri dengan jargonnya masing-masing.

    ReplyDelete
  23. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Keberadaan jargon inovatif akan selalu terancam oleh jargon tradisional. Padahal jargon tradisional tidaklah selalu sesuai dengan perkembagan zaman karena perkembangan selalu bersifat dinamis sehingga para guru haruslah ber jargon inovatif, meskipun nantinya banyak mendapat protes dari para jargon guru tradisional dimana menurut mereka hal-hal baru merupakan sesuatu yang aneh. Hal tersebut banyak terjadi di dunia pendidikan kita. Jargon inovatif haruslah selalu dikembangkan agar pembelajaran sesuai dengan berkembangnya zaman yang selalu bersifat dinamis.

    ReplyDelete
  24. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Untuk mengubah jargon tradisional menjadi sebuah jargon inovatif akan menghadapi tantangan yang kuat dari para mitos karena kebanyakan jargon tradisional telah mengakar secara kuat dan revolusi besar-besaranlah yang dapat mengubah jargon tradisional menjadi jargon inovatif. Begitu pula dengan strategi mengajar, dimana seorang guru harus berani berubah dari cara mengajar yang tradsional menjadi cara mengajar yang inovatif.

    ReplyDelete
  25. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Perdebatan mana yang lebih unggul diantara tradisional dan inovatif sudah lama terjadi. Namun melalui elegi ini tadi, tergambar bahwa ternyata tradisional dan inovatif itu memiliki kedudukannya masing-masing. Tradisional tidak boleh terlalu membentengi/membatasi dirinya karena dia pun memerlukan keinovatifan dalam menghadapi zaman yang semakin maju. dan inovatif pun harus lebih rendah hati masuk ke dalam tradisional. Sebagai contohnya para guru-guru tradisional seharusnya tidak begitu saja membentengi dirinya dengan metode-metode belajarnya, karena pada zaman saat ini yang dibutuhkan oleh siswa adalah pbm yang kontruktivis maka guru tradisional pun harus membuka dirinya pada keinovatifan pbm, dan pbm inovatif pun jgn langsung begitu saja diberikan kepada guru tradisional, harus diberikan bertahap dan perlahan, serta secara bijak. Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  26. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Tidak ada yang seratus persen tradisional dan tidak ada yang seratus persen inovatif. Inovatif memerlukan tradisional dan begitu juga tradisional memerlukan inovatif. Hidup adalah perkara tentang menerjemahkan dan diterjemahkan. Bukankah kita menentukan defifinisi inovatif karena kita juga telah mendefinisikan tradisional.

    ReplyDelete
  27. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Saya ingin berpendapat mengenai inovatif dan tradisional. Saat ini guru dituntut untuk lebih inovatif dalam proses pembelajaran, karena perkembangan jaman menyebabkan siswa-siswa membutuhkan cara belajar yang lebih sesuai. Siswa biasanya mudah bosan jika menggunakan metode ceramah saja. Inovasi-inovasi yang dilakukan bukan berarti merusak nilai tradisional namun lebih kepada penyesuaian terhadap tuntutan kebutuhan

    ReplyDelete
  28. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Pertengkaran antara tradisional dan inovatif sebenarnya tidak perlu terjadi. Mereka berdua sebenarnya saling berkaitan satu sama lain. Saling ketergantungan. Tradisonal berasal dari bahasa latin yaitu “Traditum” yang memiliki makna Transmitted yaitu pewarisan sesuatu dari sutu generasi ke generasi berikutnya. Sedangkan kata modern berasal dari bahasa latin “ Modo” = cara dan “ Ernus” = masa kini. Keduanya memerlukan identitasnya masing-masing. Guru tradisional memerlukan jargon untuk mempertahankan dirinya, sedangkan guru inovatif memerlukan jargon untuk mengajak inovasi para guru tradisional. Sehingga semuanya berjalan secara beriringan.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  29. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.Mat B

    Menurut saya guru tradisional (yang menggunakan cara-cara tradisional dalam mengajar) memerlukan inovasi, karena hanya mereka yang terjebak mitos yang merasa telah cukup ilmu, yang tidak mau belajar mengembangkan cara mengajarnya, sedangkan guru yang inovatif tidak harus menyerang guru tradisional dengan terlalu membanggakan metode inovatif mereka. mereka tidak boleh lupa bahwa mereka dulu dididik oleh guru-guru tradisional juga yang banyak berjasa pada mereka. sehingga benar bahwa guru inovatif perlu melakukan pendekatan terhadap guru tradisional.

    ReplyDelete
  30. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    tradisional dan inovatif memiliki karakteristik yang berbeda. tedapat kelebihan dan kekurangan masing-masing. dalam pembelajaran guru didituntut untuk dapat terus berinovasi. baik pembelajaran tradisional maupun pembelajaran inovatif sama-sama memiliki tujuan untuk memaksimalkan siswa untuk memahami suatu materi.

    ReplyDelete
  31. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. tradisional dan inovatif itu memiliki sifat-sifat dan jargon-jargonnya sendiri untuk memntapkan keberadaanya. Dalm dunia peendidikan, pembelajaran yang tradisional itu yang masih berpusat pada guru dengan metode transfer knowledge. Sendangkan pembelajaran yang inovatif itu pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan memanfaatkan berbagai media pembelajaran yang ada dan memanfaatkan lingkungan sebagai tempat dan sumber belajar.

    ReplyDelete
  32. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Merasa bahwa dialah yang paling inovatif maka itu adalah kesombongan, karena bisa saja ia sebenarnya masih tradisional oleh inovasi pembelajaran yang lebih inovatif. Begitu juga dengan pembelajaran inovatif di atasnya ini juga tidak berhak mengklaim dirinya ke posisi inovasi yang terinovatif. Melakukan improvisasi ke arah yang lebih baik merupakan penginovasian pembelajaran yang sesungguhnya. Menterjemahkan dan senantiasa diterjemahkan akan sangat membantu penyempurnaan ilmu yang tidak akan pernah sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT, namun kita bisa mendekati kesempurnaan itu.

    ReplyDelete
  33. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Saya tidka sepakat dengan pertengkaran antara tradisional dan inovatif. Keduanya seharusnya disintesakan, sebab tidak semua hal yang sifatnya tradisionil itu tidak berguna, dan tidak semua inovasi itu bermanfaat. Untuk menghindari pertengkaran itu, kita harus berada dalam posisi yang moderat yaitu mempertahankan tradisi yang masih relevan dan bermanfaat bagi kehidupan dan membuang tradisi yang memiliki banyak mudarot, mengambil inovasi yang relevan dengan tradisi dan bermanfaat bagi kemanusiaan, serta membuang inovasi yang memiliki banyak mudarot. Ini semacam mendaiman dua entitas yang dianggap berlawanan.

    ReplyDelete
  34. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Tradisional dan inovatif itu akan baik jika saling berkolaborasi dan saling mendukung. Metode ceramah yang tradisional tidak selamanya berdampak buruk bagi siswa. Disamping itu, metode cooperative learning yang dianggap innovative tidak selamanya berdampak baik pada siswa. Masing-masing metode mengajar tradisional dan innovative memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing. Keduanya harus saling mendukung satu sama lain. Keduanya bisa diterapkan secara selang-seling atau bervariasi dalam pembelajaran di kelas.

    ReplyDelete
  35. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari jargon di atas saya mengambil beberapa hikmah yang bisa diambil. Yaitu Pertengkaran antara tradisional dan inovatif dalam elegi di atas menggambarkan realita yang terjadi saat ini, terkhusus dalam dunia pendidikan. Ada guru tradisional dan guru inovatif. Keduanya memiliki jargonnya masing-masing. Guru tradisional memerlukan jargon untuk mempertahankan eksistensinya, sedangkan guru inovatif menggunakan jargonnya untuk mengajak para guru tradisional untuk berinovasi. Keduanya dapat berjalan secara bersama-sama dengan saling menerjemahkan dan diterjemahkan. Sehingga, sangat perlu disadari bahwa inovasi adalah sesuatu yang dibutuhkan yaitu dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang mengikuti perkembangan zaman dan perkembangan iptek juga.

    ReplyDelete