Sep 20, 2013

Jargon Pertengkaran Tradisional dan Inovatif




Jargon Pertengkaran Tradisional dan Inovatif

Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, tradisional itu inovatif dan inovatif itu tradisional,...dst. Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia. Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon tradisional dan jargon inovatif. Wahai jargon tradisional dan jargon inovatif dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon tradisional kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon inovatif kelihatannya demikian juga. Aku betul-betul melihat pertengkaran yang sangat seru. Tradisional terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi inovatif. Sedangkan inovatif juga terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi tradisional. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?

Jargon tradisional:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon tradisional. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada inovatif agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para inovatif tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.

Jargon inovatif:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon inovatif. Saya menyadari bahwa jargon para tradisional itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada tradisional agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para tradisional. Ketahuilah tiadalah tradisional itu tanpa inovatif. Maka tolonglah wahai orang tua berambut putih agar aku bisa bergaul dengan tradisional.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon tradisional. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon tradisional:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon tradisional. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi inovatif pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada inovatif. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada inovatif maka kedudukanku sebagai tradisional akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi tradisional yang kuat, yaitu sebenar-benar tradisional. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai tradisional sejati maka aku harus mengelola semua tradisi sedemikian rupa sehingga semua tradisiku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar inovatif tidak pernah menggangguku. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para inovatif. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para inovatif. Dari pada jargon inovatif menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon tradisional, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para anggotamu menyampaikan kepadaku.

Jargon guru tradisional :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon guru tradisional senior. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai guru tradisional. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai guru inovatif. Ketika aku menjadi terpilih sebagai guru inovatif maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai guru tradisional. Maka setelah aku menjadi guru inovatif aku mulai kehilangan jargon guru tradisional, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon guru inovatif. Namun demikian aku sebetulnya belum siap untuk menjadi guru inovatif. Uku lebih suka menjadi guru tradisional. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai guru tradisional, maka aku telah mengembangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: guru itu tidak perlu repot-repot, rpp itu kewajiban yang memberatkan, metode mengajar cukup ceramah, ..dst. Begitu aku menemukan para siswaku itu tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai guru tradisional. Kekuasaanku sebagai guru tradisional itu mengalir melalui jargon-jargonku: siswa itu harus rajin, siswa itu harus menurut, siswa itu harus giat, siswa itu harus menghafal, ..dst. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: guru itu manusia biasa, belajar itu memerlukan biaya, mengajarku tak ada yang mengawasi, buat apa meneliti,..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai guru tradisional adalah: inilah bisaku, inilah kemampuanku. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai guru tradisional aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para guru inovatif. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai guru tradisional. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon guru tradisional. Maka aku kurang seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya itu hanya mengganggu ketenangan jargon-jargonku.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon inovatif. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon inovatif:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon inovatif. Jikalau aku terbebas dari segala kecurigaan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya sedang berusaha mendekati para tradisional. Hal ini tidaklah off the record, sampaikanlah kepada guru tradisional. Karena jika engkau katakan hal ini kepada guru tradisional maka mungkin mereka akan memahami inovatif. Padahal segenap jiwa ragaku itu betul-betul ikhlas untuk membantu guru tradisional. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala macam kekolotan. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai guru inovatif maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat mendekati guru tradisional. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para tradisional. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para tradisional. Tetapi apalah dayaku sebagai inovatif. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap ingin menjadi menghadap para jargon guru tradisional.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon guru inovatif, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.

Jargon guru inovatif :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon guru inovatif. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai guru tradisional. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku mempunyai kesempatan melakukan inovasi metode pembelaaranku . Ketika aku memperoleh julukan sebagai guru inovatif aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai guru tradisional. Maka setelah aku mempunyai kesempatan melakukan inovatif aku mulai kehilangan jargon guru tradisional, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon guru inovatif. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai guru inovatif yang hakiki, maka aku telah mengembangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: guru inovatif itu harus jujur, guru inovatif itu harus peduli, guru inovatif itu harus kreatif, guru inovatif itu harus meneliti, guru inovatif itu harus selalu belajar, guru inovatif itu harus melayani kebutuhan belajar siswa, guru inovatif itu harus mengikuti perkembangan jaman, ...dst. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara pengaruh para guru tradisional itu masih tetap mengalir melalui jargon-jargon nya: tak perlulah sok inovatif, inovatif itu asing bagiku, tradisional itu gak apa apa yang penting kompak, ..dst. Tetapi begitu aku menemukan bahwa guru tradisional tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonnya yang lain: tradisional itu melestarikan, tradisional itu budaya, tradisional itu sakral, tradisional itu bentengnya kebiasaan, ...dst.
Maka jargon yang paling populer bagi para guru tradisional adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya inovasi, inovasi itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Sebagai guru inovatif aku juga menghasilkan jargon populer berikutnya:
mengajar itu totalitas, profesiku adalah guru, hidupku semata-mata aku abdikan pada murid-muridku. Tetapi akupun tidak bisa menutupi kelemahan-kelemahanku. Maka terpaksa aku menjaga statusku sebagai guru inovatif menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para guru tradisional. Agar aku selamat dari pencemoohan para jargon tradisional. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai guru inovatif. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon guru inovatif. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon guru inovatif, agar aku bisa mengajak para guru tradisional untuk melakukan inovasi. Maka aku gembira sekali jika aku mempunyai kesempatan mengikuti seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku.

Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Guru tradisional memerlukan jargon untuk mempertahankan dirinya, sedangkan guru inovatif memerlukan jargon untuk mengajak inovasi para guru tradisional. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana guru tradisional dan guru inovatif dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan. Wahai engkau para guru tradisional dan guru inovatif, terjemah dan saling menterjemahkanlah agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sana, tradisional itu adalah inovatif, dan inovatif itu adalah tradisional. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Saya ingin memperingatkan tradisional, janganlah engkau berlaku sombong dan sok kuasa mempertahankan tradisimu. Ingatlah bahwa di luar sana banyak kejadian memerlukan inovasimu. Saya juga ingin memperingatkan para guru inovatif, janganlah engkau bertindak ceroboh. Dekatilah para guru tradisional itu dengan cara-cara empati. Tiadalah sebenar-benar tradisional sejati bagimu. Dan juga tiadalah sebenar-benar inovatif bagimu. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.

14 comments:

  1. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Tradisional dan Inovatif merupakan dua hal yang sangat berbeda. Tradisional lebih menyukai tentang sesuatu yang telah lama digunakan dan mungkin telah mendarah daging dan tidak menyukai perubahan. Sedangkan Inovatif merupakan sesuatu yang bersifat baru dan sangat menyukai perubahan. Keduanya memang saling bertentangan, tetapi jika kita dapat memadukannya dan menempatkannya sesuai dengan ruang dan waktu maka hidup kita akan labih berwarna. Bagaimana caranya? Yaitu kita harus pandai-pandai memilih apa yang harus diperbaharui dan harus dipertahankan di dalam kehidupan kita. Di era power now seperti ini, kita telah menjumpai banyak sekali hal yang berubah di dalam diri bangsa Indonesia, hampir semua aspek. Hingga aspek-aspek kehidupan yang seharusnya tidak berubah menjadi berubah karena telah tercemari oleh aspek kehidupan bangsa lain. Aspek apakah itu? Ya, karakter kita, budaya bangsa kita, mulai dari sopan santun, tata krama, bahasa, nasionalisme. Perilaku yang seharusnya menjadi ciri dari bangsa kita telah berubah. Itulah contoh hal yang sifatnya tradisional yang harus dipertahankan. Lalu, bagaimana dengan Inovatif? Apa yang dapat kita perbaharui di dalam kehidupan kita, didalam diri kita? Yaitu pemikiran kita, pemikiran kita harus tetap maju sesuai dengan perkembangan zaman. Seiring dengan perkembangan zaman, kita juga harus mempunyai ide-ide baru untuk terus berkreasi. Dengan memadukan kedua unsur tradisional dan inovatif, kita dapat menjadi bangsa yang maju dan berkarakter.

    ReplyDelete
  2. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Assalamualaikum wr. . wb.
    Dari elegi diatas saya ingin menggambarkan kisah tentang inovatif dan tradisional dalam dunia pengetahuan. Pengetahuan adalah penangkapan terhadap serangkaian fakta konsep yang berda diluar diri manusia pengetahuan yang dimiliki manusia dikembangkan oleh manusia itu sendiri manusia menciptakan atau membangun pengetahuan dengan cara memberi arti dan memahami pengalamannya. Jika dihubungkan dengan dunia tradisonal, pada proses pembelajaran, guru sebagai pemberi pengetahuan kepada siswa, sedangkan pada dunia inovatif, guru hanyalah sebagai fasilitator yang mengantarkan siswa untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuannya. Dua perbedaan dengan dampak yang signifikan besar dalam hasil yang akan dicapai

    ReplyDelete
  3. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Pada elegi di atas yang mengistilakan “jargon tradisional dan inovatif”, yang dapat saya pahami adalah mengenai pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Jargon tradisional ibaratkan pembelajaran yang terlaksana dalam kelas masih berpusat kepada guru, di mana siswa hanya sebagai objek dalam kelas yang hanya menerima ilmu dari guru tanpa terlibat secara langsung dan aktif di dalam kelas. Metode ataupun strategi yang dilakukan oleh guru tentunya pembelajaran yang sifatnya tradisional seperti pembelajaran langsung dengan metode ceramah. Tetapi seiring perkembangan zaman, pembelajaran tradisional sudah kurang tepat lagi untuk saat sekarang ini. Pembelajaran inovatif lah yang lebih dibutuhkan oleh siswa, di mana mereka dapat terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran sehingga mereka dapat mengeluarkan pendapatnya, mengksplor pengetahuannya. Apalagi pembelajaran inovatif sesuai dengan K13 yang telah berjalan di Indonesia.

    ReplyDelete
  4. Lana Sugiarti
    16709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Pembelajaran tradisional mungkin masih dilakukan sampai saat ini. Perlu adanya perubahan pembelajaran dari tradisional ke modern yang lebih inovatif agar pembelajaran dapat meningkat lebih baik. Guru masih bersifat tradisional biasanya menjadikan siswanya sebagai obyek dalam pembelajaran. Sedangkan guru yang inovatif selalu menjadikan siswanya sebagai subyek dalam pembelajaran. Pembelajaran selalu memberikan kesempatan siswa untuk aktif dan lebih menggali kemampuannya. Selain itu juga ada berbagai macam metode pembelajaran dan medianya yang mendorong siswa untuk semangat dan tidak jenuh dalam mengikuti pelajaran.

    ReplyDelete
  5. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Menyinggung mengenai Tradisional dan Inovatif, kedua hal ini bagus dan cocok untuk digunakan metode mengajar. Orang zaman dahulu cenderung menggunakan cara tradisional untuk menyampaikan materi. Sehingga guru terkesan lebih berkuasa akan ilmunya. Seiring perkembangan zaman dan IPTEK, metode tradisional sudah tidak relevan dan mulai diperbaiki serta dikembangkan agar metode pembelajaran lebih menarik. Metode inovatif inilah yang perlu adanya karena akan memahami keinginan siswa untuk belajar.

    ReplyDelete
  6. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Perbedaan selalu ada. Karakeristik guru pun berbeda – beda. Masing – masing karakteristik memiliki prinsip sendiri – sendiri. Tiap prinsip mempunyai alasan yang menguatkan keberadaan prinsip tersebut. Tuhan maha adil. Mereka dapat hidup berdampingan satu sama lainnya. Agar bisa akur keduanya harus saling memahami dan mengerti.

    ReplyDelete
  7. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Hidup tiadalah yang tidak terlepas dari suatu yang beda, karena dengan perbedaan menjadikan hidup itu lebih berwarna. Kita dapat memaknai baik secara ekstensif maupun intensif. Perubahan dari tradisional ke arah yang lebih inovatif, kreatif, dan kritis merupakan sebuah pilihan dalam hidup agar hidup tidak membosankan namun menyenangkan karena adanya hal baru tersebut serta adanya suatu pilihan.

    ReplyDelete
  8. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Jika bisa memilih maka saya akan berupaya menjadi guru yang inovatif, dunia pembelajaran tradisional hendaknya kita tinggal karena tidak sejalan dengan arah perkembangan dunia saat ini. Sudah selayaknya guru menjadi seorang yang inovatif dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru dengan pembelajaran tradisional tidak sepenuhnya salah, yang salah adalah ketidakadaan kemauan mereka untuk berkembang ke arah yang lebih inovatif.

    ReplyDelete
  9. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Tradisional atau inovatif, keduanya bagus dan cocok diterapkan dalam pembelajaran. Semua itu tergantung ruang dan waktunya. Orang zaman dahulu cenderung menggunakan cara tradisional dalam menyampaikan materi. Sehingga peran guru lebih dominan atau teacher center, guru merupakan pemberi pengetahuan kepada siswa, tetapi hasilnya mampu menghasilkan orang-orang yang berpendidikan, aparatur pemerintah, jaksa, dokter, guru, dsb. Sedangkan sekarang, apakah cocok jika menggunakan cara tradisional dalam menyampaikan materi?. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, semuanya disesuaikan dengan ruang dan waktunya. Sekarang ini, IPTEK berkembang pesat, sehingga pembelajaran inovatif yang lebih cocok diterapkan. Pembelajaran yang student center, siswa membangun sendiri pengetahuannya dengan fasilitasi dari guru. Bukan hanya pembelajarannya saja, guru pun juga harus inovatif. Dalam artian, guru menggunakan metode pembelajaran, media, sumber, teknologi, interaksi dalam pembelajaran yang bervariasi, guru yang terbuka terhadap pembaruan, guru yang selalu belajar dan terbuka akan saran dan kritik untuk meningkatkan kualitas diri dan pembelajaran, guru yang suka melakukan penelitian, dsb.

    ReplyDelete
  10. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    menurut saya dalam hal ini tradisional dan inovatif itu berhubungan erat sekali. bagi saya inovatif merupakan pemekaran dari tradisional. dapat dikatakan juga bahwa inovatif itu merupakan tradisional yang berevolusi. hanya saja evolusi yang berkembang dikarenakan pengaruh yang ada pada ruang dan waktu yang seiring dengan perkembangan zaman. jadi tradisional yang tetap stay dengan caranya tidak bisa untuk digunakan terus menerus.

    ReplyDelete
  11. Anisa Wahyu Nur Khasanah
    14301241010
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam kurikulum 2013, guru dituntut menjadi pendidik yang inovatif karena pembelajaran berpusat pada siswa, bukan lagi berpusat pada guru sehingga disaran penggunaan model ceramah sudah mulai dikurangi bahkan ditinggalkan. Dari tulisan Prof. Marsigit yang berjudul “Jargon Pertengkaran Tradisional dan Inovatif” diketahui bahwa guru inovatif adalah guru yang jujur, peduli, kreatif, meneliti, selalu beljar, memfasilitasi siswa, mengikuti perkembangan jaman, menggunakan berbagai metode pembelajaran yang inovatif, dll.

    ReplyDelete
  12. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Inovatif dan tradidional merupakan dua kata yang saling kontradiksi. Berbicara tentang inovatif dengan kata dasar inovasi maka setiap yang ada memerlukan dan perlu melakukan inovasi. Tidak terkecuali untuk dunia pendidikan. Inovasi berupa perubahan paradigma pendidikan dibutuhkan dalam dunia pendidikan guna memenuhi kebutuhan pendidikan yang menyesuaikan pada perkembangan zaman. Perubahan yang dimaksud ini tentunya perubahan yang memiliki tujuan yang bermanfaat. Elemen yang sangat dituntut untuk bersifat inovatif adalah guru yaitu dalam merancang pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa. Guru yang masih memegang cara tradisional mungkin memiliki alasan tersendiri, sehingga masih teguh dengan prinsipnya. Namun, alangkah baiknya jika guru inovatif mampu memberikan pemahaman dengan cara terbaik kepada guru tradisional sehingga terjadi perubahan sesuai dengan yang diharpkan. Tentunya apapun kendala yang mengakibatkan guru mempertahankan cara tradisional hendaknya menjadi PR bersama untuk dipecahkan.

    ReplyDelete
  13. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sebaik-baiknya pembelajaran adalah segala sesuatu yang mampu memberikan manfaat kepada subjeknya. Pembelajarana tradisional maupun pembelajaran inovatif keduanya saling memberikan dampak yang akan berpengaruh pada proses pembelajaran. Pembelajaran tradisional yang kokoh mempertahankan kekolotannya saja hanya akan memperburuk keadaan yang semakin maju ini. Pembelajaran inovatif juga perlu belajar dari pembelajaran tradisional, sehingga keduanya saling berkolaborasi untuk menciptakan pembelajaran yang sesungguhnya.

    ReplyDelete
  14. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sudah menjadi tugas guru menjadikan siswa dari yang belum tahu menjadi tahu. Guru mempunyai peran yang besar, dan berhak menentukan proses pembelajaran seperti apa yang dikehendakinya di kelas, khususnya dalam proses belajar mengajar. Pembelajaran tradisional memang sudah dikenal cukup lama dan digunakan sejak dulu. Namun seiring berjalannya waktu dan kemajun zaman, diperlukan suatu inovasi baru dalam pembelajaran di kelas. Guru tidak lagi hanya perlu ceramah di depan kelas, sedangkan siswa memperhatikan atau malah justru asik sendiri, tetapi perlu memberi kesempatan pada siswa untuk belajar sendiri, membangun pengetahuannya sendiri. Baik secara tradisional maupun inovatif, keduanya haruslah dapat saling mendukung, ada kalanya guru perlu membimbing dan menjelaskan tapi pada batasnya, dan biarkan siswa aktif dalam pembelajaran.

    ReplyDelete