Sep 20, 2013

Jargon Pertengkaran Tradisional dan Inovatif




Jargon Pertengkaran Tradisional dan Inovatif

Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, tradisional itu inovatif dan inovatif itu tradisional,...dst. Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia. Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon tradisional dan jargon inovatif. Wahai jargon tradisional dan jargon inovatif dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon tradisional kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon inovatif kelihatannya demikian juga. Aku betul-betul melihat pertengkaran yang sangat seru. Tradisional terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi inovatif. Sedangkan inovatif juga terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi tradisional. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?

Jargon tradisional:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon tradisional. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada inovatif agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para inovatif tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.

Jargon inovatif:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon inovatif. Saya menyadari bahwa jargon para tradisional itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada tradisional agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para tradisional. Ketahuilah tiadalah tradisional itu tanpa inovatif. Maka tolonglah wahai orang tua berambut putih agar aku bisa bergaul dengan tradisional.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon tradisional. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon tradisional:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon tradisional. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi inovatif pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada inovatif. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada inovatif maka kedudukanku sebagai tradisional akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi tradisional yang kuat, yaitu sebenar-benar tradisional. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai tradisional sejati maka aku harus mengelola semua tradisi sedemikian rupa sehingga semua tradisiku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar inovatif tidak pernah menggangguku. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para inovatif. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para inovatif. Dari pada jargon inovatif menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon tradisional, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para anggotamu menyampaikan kepadaku.

Jargon guru tradisional :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon guru tradisional senior. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai guru tradisional. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai guru inovatif. Ketika aku menjadi terpilih sebagai guru inovatif maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai guru tradisional. Maka setelah aku menjadi guru inovatif aku mulai kehilangan jargon guru tradisional, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon guru inovatif. Namun demikian aku sebetulnya belum siap untuk menjadi guru inovatif. Uku lebih suka menjadi guru tradisional. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai guru tradisional, maka aku telah mengembangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: guru itu tidak perlu repot-repot, rpp itu kewajiban yang memberatkan, metode mengajar cukup ceramah, ..dst. Begitu aku menemukan para siswaku itu tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai guru tradisional. Kekuasaanku sebagai guru tradisional itu mengalir melalui jargon-jargonku: siswa itu harus rajin, siswa itu harus menurut, siswa itu harus giat, siswa itu harus menghafal, ..dst. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: guru itu manusia biasa, belajar itu memerlukan biaya, mengajarku tak ada yang mengawasi, buat apa meneliti,..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai guru tradisional adalah: inilah bisaku, inilah kemampuanku. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai guru tradisional aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para guru inovatif. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai guru tradisional. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon guru tradisional. Maka aku kurang seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya itu hanya mengganggu ketenangan jargon-jargonku.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon inovatif. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon inovatif:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon inovatif. Jikalau aku terbebas dari segala kecurigaan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya sedang berusaha mendekati para tradisional. Hal ini tidaklah off the record, sampaikanlah kepada guru tradisional. Karena jika engkau katakan hal ini kepada guru tradisional maka mungkin mereka akan memahami inovatif. Padahal segenap jiwa ragaku itu betul-betul ikhlas untuk membantu guru tradisional. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala macam kekolotan. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai guru inovatif maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat mendekati guru tradisional. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para tradisional. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para tradisional. Tetapi apalah dayaku sebagai inovatif. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap ingin menjadi menghadap para jargon guru tradisional.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon guru inovatif, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.

Jargon guru inovatif :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon guru inovatif. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai guru tradisional. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku mempunyai kesempatan melakukan inovasi metode pembelaaranku . Ketika aku memperoleh julukan sebagai guru inovatif aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai guru tradisional. Maka setelah aku mempunyai kesempatan melakukan inovatif aku mulai kehilangan jargon guru tradisional, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon guru inovatif. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai guru inovatif yang hakiki, maka aku telah mengembangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: guru inovatif itu harus jujur, guru inovatif itu harus peduli, guru inovatif itu harus kreatif, guru inovatif itu harus meneliti, guru inovatif itu harus selalu belajar, guru inovatif itu harus melayani kebutuhan belajar siswa, guru inovatif itu harus mengikuti perkembangan jaman, ...dst. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara pengaruh para guru tradisional itu masih tetap mengalir melalui jargon-jargon nya: tak perlulah sok inovatif, inovatif itu asing bagiku, tradisional itu gak apa apa yang penting kompak, ..dst. Tetapi begitu aku menemukan bahwa guru tradisional tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonnya yang lain: tradisional itu melestarikan, tradisional itu budaya, tradisional itu sakral, tradisional itu bentengnya kebiasaan, ...dst.
Maka jargon yang paling populer bagi para guru tradisional adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya inovasi, inovasi itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Sebagai guru inovatif aku juga menghasilkan jargon populer berikutnya:
mengajar itu totalitas, profesiku adalah guru, hidupku semata-mata aku abdikan pada murid-muridku. Tetapi akupun tidak bisa menutupi kelemahan-kelemahanku. Maka terpaksa aku menjaga statusku sebagai guru inovatif menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para guru tradisional. Agar aku selamat dari pencemoohan para jargon tradisional. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai guru inovatif. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon guru inovatif. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon guru inovatif, agar aku bisa mengajak para guru tradisional untuk melakukan inovasi. Maka aku gembira sekali jika aku mempunyai kesempatan mengikuti seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku.

Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Guru tradisional memerlukan jargon untuk mempertahankan dirinya, sedangkan guru inovatif memerlukan jargon untuk mengajak inovasi para guru tradisional. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana guru tradisional dan guru inovatif dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan. Wahai engkau para guru tradisional dan guru inovatif, terjemah dan saling menterjemahkanlah agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sana, tradisional itu adalah inovatif, dan inovatif itu adalah tradisional. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Saya ingin memperingatkan tradisional, janganlah engkau berlaku sombong dan sok kuasa mempertahankan tradisimu. Ingatlah bahwa di luar sana banyak kejadian memerlukan inovasimu. Saya juga ingin memperingatkan para guru inovatif, janganlah engkau bertindak ceroboh. Dekatilah para guru tradisional itu dengan cara-cara empati. Tiadalah sebenar-benar tradisional sejati bagimu. Dan juga tiadalah sebenar-benar inovatif bagimu. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.

36 comments:

  1. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Menurut saya mengenai pembelajaran tradisional dengan pembelajaran inovatif adalah suatu hal yang berbeda. apalagi kurikulum 2013 yang digunakan saat ini adalah sangat dominan menerapkan pembelajaran inovatif. namun pada hakekatnya menurut saya bahwa pembelajaran tradisional juga masih tetap bisa digunakan, semuanya tergantung kebutuhan di dalam sebuah kelas tertentu.

    ReplyDelete
  2. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    Pendidikan Matematika 2013

    Berfikir inovatif adalah jalan pembuka tradisional baru. Tidak ada pembelajaran tradisional manakala tak pernah ada inovatif. Hanya saja ruang dan waktu yang membagi ke dalam level-level yang berbeda. Sehingga konklusi dalam inovatif dan tradisional adalah tradisional adalah inovatif, dan inovatif adalah tradisional. Dalam tataran kehidupan Berfikir inovatif sangatlah diperlukan untuk mengembangkan hal positif dan kualitas suatu hal. namun yang menjadi pegangan adalah pembelajaran tradisional. Yang tak lain adalah Pengalaman. Maka harsu senantiasa melihat tradisional dalam mengembangkan inovatif.

    ReplyDelete
  3. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Guru tradisional dan guru inovatif memiliki perbedaan yang terletak pada bagaimana cara mereka mengajar dan apa saja perangkat yang mereka gunakan. Guru tradisional akan memberikan pembelajaran dengan metode ekspositori atau metode ceramah. Dengan metode ini guru memberikan semua informasi terkait topik mata pelajaran yang dibahas pada hari itu kepada siswa yang diajarkan. Guru tradisional memposisikan diri sebagai pusat dari pembelajaran hal ini tentu saja dapat menyebabkan interaksi, sifat sosial, tingkat kreatifitas dan kemampuan mengkonstruk sendiri pengetahuan siswa menjadi tidak dapat dilakukan. Guru tradisional dalam proses pembelajaran akan menyebabkan siswa kurang termotivasi, sehingga siswa menjadi pasif dan hanya mendengarkan apa yang disampaikan guru di saat proses pembelajaran berlangsung.

    ReplyDelete
  4. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Guru inovatif akan menerapkan metode inovatif dan pembelajaran yang bervariasi untuk meningkatkan tingkat motivasi siswa. Guru inovatif memposisika diri hanya sebagai fasilitator dan motivator yang berperan sebagai pemberi fasilitas kepada siswanya, sehingga siswa dapat mengkonstruk pengetahuannya sendiri. Guru inovatif akan membawa proses pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan lebih interaktif, sehingga selain tingkat keaktifan dan kekreatifan siswa di kelas dapat ditingkatkan, aktivitas sosial juga dapat dilakukan

    ReplyDelete
  5. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)
    Tradisional dan inovatif mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk mencapai kebaikan. Namun keduanya pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu keduanya harus saling melengkapi satu sama lain.

    ReplyDelete
  6. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Guru tradisional memerlukan jargon untuk mempertahankan dirinya, sedangkan guru inovatif memerlukan jargon untuk mengajak inovasi para guru tradisional. Sesungguhnya Tuhan telah menciptakan segalanya dengan ke-Maha Sempurna-Nya termasuk menciptakan guru tradisional dan guru inovatif hidup berdampingan bersama jargon-jargonnya. Maka guru tradisional dan guru inovatif hendaklah saling menterjemahkanlah agar dapat saling memahami jargon masing-masing. Maka semua jargon itu akan lenyap diperbatasan pikiran kita masing-masing. Jika kita sebagai guru tradisional, maka janganlah kita berlaku sombong dan tetap mempertahankan tradisi kita karena sesungguhnya di luar sana banyak kejadian memerlukan inovasi kita untuk lebih melejitkan prestasi murid-murid agar mampu mengimbangi teknologi yang makin hari makin berkembang. Jika kita berperan sebagai guru inovatif, maka janganlah kita bertindak ceroboh. Hendaklah kita dengan penuh kesabaran dan keikhlasan mendekati guru tradisional agar bersedia menciptakan inovasi baru demi kemajuan pendidikan.

    ReplyDelete
  7. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    pertengkaran tradisional dan inovatif. seringkali dalam masyakarat menginginkan budaya tradisional untuk selalu dilestarikan. namun disini menurut saya, tradisional perlu untuk diganti dengan sesuatu yang inovatif tergantung pada konteksnya. jaman selalu berubah, sehingga untuk menyeimbangkan dengan perubahan itu, kita perlu sesuatu yang baru yaitu suatu inovasi

    ReplyDelete
  8. Nama: Tri Wulaningrum
    Nim: 17701251032
    Prodi/Kelas: PEP S2/ B
    Angkatan: 2017

    Sangat mengagumi (tulisan di atas). Ironi kehidupan guru saat ini diwakilkan oleh deretan kata kata yang indah dan agak rumit untuk saya pahami. Tulisan di atas memotivasi saya untuk belajar dua hal, yaitu belajar konten dalam tulisan ini dan belajar cara penyampaian konten melalui tulisan ini. Apapun itu, kekaguman saya semakin bertambah ketika mata dan otak sampai kepada baris bacaan "Wahai engkau para guru tradisional dan guru inovatif, terjemah dan saling menterjemahkanlah agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing." Pesan moral yang indah dan cerdas. Karena memang itulah yang dibutuhkan, saling mengerti, bukan lagi mengedepankan idealisme pribadi. Salam

    ReplyDelete
  9. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak.
    Untuk mengikuti perkembangan zaman yang semakin cepat. Guru hendaknya melakukan inovasi-inovasi dalam pembelajaran. Hal tersebut dimaksudkan agar semua siswa dengan berbagai macam karakter dapat terfasilitasi dengan baik. Selain itu, guru hendaknya juga menyadari bahwa tujuan utama seorang guru adalah memfasilitasi seluruh siswanya belajar.

    ReplyDelete
  10. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Pada kondisi saat ini, cara mengajar tradisional atau guru hanya mentransfer pengetahuan kepada siswa tidak cocok lagi untuk diterapkan dalam proses pembelajaran di sekolah. Menurut teori belajar, proses pembelajaran yang baik adalah proses pembelajaran dimana siswa mengkonstruk pengetahuannya sendiri dengan bimbingan guru. Oleh karena itu, perlu dilakukan pembelajaran-pembelajaran inovatif agar proses pembelajaran berpusat pada siswa. Pembelajaran inovatif harus disesuaikan dengan keadaan di sekolah, jangan terlalu memaksakan bahwa pembelajaran yang inovatif harus yang mahal, karena dengan begitu, pembelajaran inovatif malah akan menjadi beban. Akan tetapi, kita tidak juga tidak boleh meninggalkan semua hal-hal yang bersifat tradisional, karena di dalam hal-hal yang bersifat tradisional terdapat budaya, kesakralan, dan kebiasaan asli daerah atau negara kita sendiri.

    ReplyDelete
  11. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, saya ingin berpendapat mengenai inovatif dan tradisional. Saat ini guru dituntut untuk lebih inovati f dalam proses pembelajaran, karena seiring dengan perkembangan jaman, siswa-siswa membutuhkan cara belajar yang lebih sesuai. Siswa biasanya akan bosan jika diberi materi hanya dengan ceramah saja. Inovasi-inovasi yang dilakukan bukan berarti merusak nilai tradisional namun lebih kepada penyesuaian terhadap tuntutan kebutuhan.

    ReplyDelete
  12. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Menurut saya, guru dikatakan tradisional jika ia masih menggunakan cara-cara lama dalam mengajar. Guru tradisional lebih menggunakan metode klasikal yang ‘teacher centered’ dalam mengajar di kelas. Guru inovatif adalah guru yang mampu mengembangkan berbagai variasi metode pengajaran. Guru inovatif memberikan kesempatan siswanya untuk mengkonstruk pengetahuannya dengan metode-metode tersebut. Guru juga dikatakan inovatif ketika ia dapat memanfaatkan teknologi informasi dalam pembelajaran.

    Sebenarnya sudah sejak dahulu, banyak guru yang sudah tergolong dalam kategori guru inovatif. Justru di era sekarang ini masih banyak guru-guru yang sebenarnya masih tergolong tradisional. Walau sudah banyak referensi metode-metode pengajaran terbaru, mereka masih menerapkan metode klasikal, yang melulu menerangkan di depan kelas. Hal ini dikarenakan tuntutan kurikulum 2013 yang semakin berat dan padat, serta mengejar nilai Ujian Nasional.

    ReplyDelete
  13. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Keberadaan jargon inovatif akan selalu terancam oleh jargon tradisional. Padahal jargon tradisional tidak lagi sesuai dengan perkembagan zaman, karena perkembangan selalu bersifat dinamis sehingga para guru haruslah ber-jargon inovatif, meskipun nantinya banyak mendapat protes dari para jargon guru tradisional dimana menurut mereka hal-hal baru merupakan sesuatu yang aneh. Hal tersebut banyak terjadi disekeliling kita utamanya dalam dunia pendidikan. sesuatau yang inovatif haruslah selalu dikembangkan agar pembelajaran sesuai dengan perkembangan.

    ReplyDelete
  14. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini hal yang saya pelajari adalah kebijaksanaan dalam menghadapi perubahan dan kemajuan jaman pada profesi guru. Dari elegi ini tergambar bahwa ada penolakan dari tradisional terhadap inovasi, dan inovasi terhadap tradisional. Padahal jika direnungkan, taka akan ada inovasi tanpa tradisional, dan sesungguhnya tradisional adalah inovasi dari tradisional sebelumnya. Sesungguhnya tidak ada yang tetap didunia ini kecuali satu yang tetap, yaitu dunia selalu berubah. Tentunya kebijaksanaan dalam menghadapi perubahan itu lah yang penting, terkadang kita memerlukan cara baru ketika cara-cara lama tidak mampu untuk menyelesaikan masalah, terkadang juga cara-cara tradisional lebih efektif dalam mengatasi masalah-masalah dengan kondisi tertentu.

    ReplyDelete
  15. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas sharingnya, Prof. Memang benar bahwa guru tidak bisa mempertahankan egonya untuk tetap menerapkan pembelajaran tradisional yang berpusat pada guru di mana peran siswa pasif karena hanya 'menerima' pengetahuan yang diajarkan oleh guru. Seiring perkembangan zaman dan teknologi, sudah selayaknya guru perlahan-lahan bergerak menuju pembelajaran yang inovatif di mana siswa adalah pusatnya dan siswa dapat berperan aktif dalam 'mengkonstruk' konsep, ide dan pengetahuannya sendiri sehingga pembelajaran lebih berkesan dan membekas dalam benak siswa.

    ReplyDelete
  16. Junianto
    PM C
    17706251065

    Saya sepakat dengan elegi yang mengatakan bahwa semakin kita belajar maka justrue kita akan merasa semakin banyak hal yang belum kita tahu. Rasanya kita semakin haus dengan ilmu. Ketika mendapat pengetahuan baru, pasti kita menginginkan ilmu yang lain. Jargon tradisional dan modern tentu memiliki karakteristik yang berbeda. Tidak semua hal tradisional itu dinilai buruk dan tidak semua inovatif juga dinilai baik. Jika kita hubungkan dengan pendidik, kita harus pandai dalam memanfaatkan dua hal ini. Keduanya punya kelebihan masing-masing, maka kita harus menggunakan sesuai dengan porsinya. Jadi, tidak ada alas an bagi kita untuk sombong, baik sebagai manusia modern maupun tradisional. Karena, di atas langit masih ada langit, ilmu juga tidak akan pernah habis untuk dipelajari.

    ReplyDelete
  17. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PM A 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Pembelajaran tradisional dan inovatif memiliki alasan untuk eksistensinya masing-masing. Maka sebaiknya keduanya saling terjemah menterjemahkan. Pembelajaran tradisional seringkali memerlukan inovasi untuk menyesuaikan perubahan zaman. Harapannya segala inovasi yang dilakukan lebih dinamis, sesuai dengan apa yang dibutuhan siswa. Sementara itu, pembelajaran inovasi tidak bisa serta merta mengubah pembelajaran tradisional begitu saja karena perubahan tersebut memerlukan proses yang tidak mudah. Banyak sekali masalah yang perlu dicari solusinya dalam mengembangkan pembelajaran yang inovatif.

    ReplyDelete
  18. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Menurut saya saat guru inovatif dan tradisional dapat saling berkolaborasi akan sangat apik sekali. Kedua metode tersebut juga dapat saling berdiri sendiri sesuai dengan kebutuhan dan ruang lingkupnya. Adakalanya yang inovasi mendominasi, begitu juga sebaliknya. Bagi saya pribadi, selagi masih berjalan dalam satu koridor yang sama, tidak ada salahnya untuk memberikan tampilan yang terbaik dan berupaya semaksimal mungkin. Meskipun masih ada kekurangan yang menyertai di dalam masing-masing metode yang dijalankan. Satu hal yang perlu digarisbawahi, menurut saya saat kita menampilkan sesuatu yang berbeda dari yang lainnya bukan berarti kita berada dalam jalur yang salah. Penting pula untuk tidak saling menjatuhkan satu sama lain.
    Think smart!

    ReplyDelete
  19. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  20. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Bahasan yang cukup relevan dan menarik ketika kita bicarakan pada masa sekarang, dimana masa-masa guru tradisional sudah seharusnya mulai diganti dengan guru inovatif. Sehingga yang terjadi bukanlah guru menerangkan tetapi siswa belajar. Yang terjadi bukanlah guru menganggap siswa sebagai tong kosong yang akan diisi dengan pengetahuan, tetapi guru menganggap siswa sebagai benih yang siap untuk tumbuh dan berkembang menjadi pohon yang berbuah.

    ReplyDelete
  21. Tetapi ingat semua itu butuh proses, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kita harus melakukannya dengan cara yang bijak, bukan dengan suatu paksaan. Jika kita memaksakan sesuatu tanpa sebuah persiapan yang jelas maka yang terjadi adalah disaster yang akan menimpa siswa dan dunianya. Oleh karena itu perlulah persiapan untuk menyonsong itu semua, perlulah latihan-latihan, perlulah seminar, perlulah workshop, dan perlu senantiasa belajar dari manapun, bisa dari teman, keluarga, buku, jurnal, dan bahan belajar lainnya. Rajinlah belajar, cintailah belajar karena dari situ kita akan belajar mencintai.

    ReplyDelete
  22. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb
    Elegi ini memiliki kesamaan dari elegi sebelumnya yaitu mengenai jargon standar dan jargon proses meski dilukiskan dengan tokoh yang berbeda.Hal yang bisa dipetik dari elegi tersebut bahwa Tuhan menciptakan sesuatu berpasang-pasangan.Jadi sangat sulit untuk melangkah sendiri, butuh hubungan timbal balik satu dengan yang lain aga dapat melengkapi layaknya tradisional dan inovatif.Rasa keakuan dalam diri perlu dihindari supaya tidak menimbulkan perpecahan.

    ReplyDelete
  23. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Hal yang dapat saya pahami dari elegi di atas adalah tradisional mempertahankan egonya tentang hak atas jargon, sementara inovatif mempertahankan kesombongannya tentang hak atas jargon. Yang luput dari perhatian kedua unsur tersebut adalah jembatan, dialog, yang menghasilkan pertukaran pemikiran dan gagasan. Hal inilah yang sering luput dari perhatian saya ketika melihat suatu masalah, saya terlalu sibuk mengurusi dua pertentangan tapi sering luput untuk membangun jembatan atas kedua pertentangan tersebut. Filsafat mengajarkan kita tidak hanya untuk berpikir, namun adil sejak dalam pikiran.

    ReplyDelete
  24. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Berdasarkan elegi di atas, saya memahami bahwa antara pembelajaran tradisional dengan pembelajaran inovatif mempunyai alasan untuk mempertahankan keberadaannya masing-masing. Seperti yang Pak Prof. sampaikan bahwa antara guru tradisional dan guru inovatif hendaknya saling terjemah menterjemahkan agar memahami perannya masing-masing. Pembelajaran tradisonal hendaknya melakukan inovasi sesuai dengan perkembangan zaman. Janganlah selalu menerapkan tradisi dengan berbagai macam alasan karena pembelajaran juga memerlukan inovasi sesuai dengan kebutuhan zaman dan kebutuhan siswa. Dan bagi pembelajaran inovatif, janganlah bertindak gegabah dengan melakukan berbagai inovasi tanpa melakukan tinjauan yang mendalam. Karena mengubah pembelajaran tradisional ke pembelajaran inovatif bukanlah sesuatu yang mudah.

    ReplyDelete
  25. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Perkembangan zaman yang begitu pesat dewasa ini menuntut inovasi-inovasi segala aspek, agar dapat mengikuti perkembangan zaman hidup di era serba modern dengan banyak tantangan yang akan dihadapi oleh generasi mendatang menjadi latarbelakang perlunya inovasi baru dikembangkan, begitu pula dalam bidang pendidikan. Proses pembelajaran yang diharapkan diterapkan saat ini adalah pembelajaran inovatif dengan paradigma siswa sebagai pusat dari pembelajaran dan guru diharapkan untuk membuat inovasi-inovasi belajar yang mendukung serta memfasilitasi siswa membangun pengetahuan dan mengembangkan keterampilan mereka. Pembelajaran inovatif dinilai lebih baik, namun bukan berarti pembelajaran tradisional dianggap buruk. Pada dasarnya kedua jenis pembelajaran tersebut memiliki tujuan yang sama baiknya hanya saja untuk memenuhi tantangan masa kini yang akan dihadapi siswa “generasi penerus bangsa” pembelajaran tradisional dirasa belum cukup, itulah kenapa pembelajaran inovatif perlu dilaksanakan.

    ReplyDelete
  26. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Membaca elegi ini saya memberikan kesimpulan yang hampir sama dengan perseteruan antara jargon standar dan jargon proses. namun, dalam hal ini saya menggaris bawahi tentang kata tradisional. Saya mengambil tradisional disini adalah memiliki perilaku yang sederhana sesuai dengan ajaran yang diberikan [ada lingkungan mereka. Jadi disini antara tradisional harus beriringan dengan inovasi-inovasi baru agar tidak membosankan. Karena jika kita mempertahankan tradisional tanpa adanya inovasi maka dalam waktu yang dekat akan cepat membosankan. Begitu juga dengan inovasi yang diberikan jangan lah menghilangkan ketradisionalan yang telah diberikan sebelumnya. Karena tradisional disini tidaklah boleh dihilangkan namun juga tidak boleh dipertahankan dengan kondisi yang sama.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  27. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Adanya jargon inovatif karena adanya jargon tradisional. Tidaklah keduanya saling menjtuhkan. Karena benar keduanya jaya di era yang berbeda dengan tuntukan zaman yang berbeda pula. Janganlah bertengkar dan membingungkan mana yang lebih baik. Dan menurut saya mana yang lebih baik? Kembali alagi, keduanya baik di eranya. Era sekarang, guru dituntut untuk meningkatkan dimensi yang lebih tinggi dimana harus berinovasi untuk mencapai suatu standar pendidikan yang tentu berbeda dengan masa yang dulu. Saling mengambil hikmah dari jargon tradisional untuk menciptakan sebuha jargon inovatif yang lebih baik. Bukan bertujuan untuk menjadi yang terbaik, tapi untuk selalu berevaluasi diri serta mengikuti arus globalisasi yang dengan mudahnya masuk pada suatu bangsa.

    ReplyDelete
  28. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Terimakasih atas tulisannya pak.
    Perkembangan sangat diperlukan dalam kehidupan, seperti halnya dengan kurikulum. Secara berkala Indonesia mengganti kurikulum untuk tujuan yang lebih baik. Dengan kurikulum yang semakin baik, pembelajaranpun akan berkembang menjadi lebih baik pula, sehingga tujuan belajar dapat tercapai dan siswa akan dengan mudah menyerap setiap materi pelajaran yang nantinya akan sangat berguna dalam kehidupannya.

    ReplyDelete
  29. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Saya sepakat dengan apa yang Prof Marsigit tulis di bagian akhir dari tulisan ini bahwa guru tradisional dan guru inovatif dapat hidup bersama-sama dengan masing-masing jargonnya. Dalam dunia pendidikan, kita memahami bahwa generasi anak didik sekarang tidaklah sama dengan generasi anak didik 10 tahun yang lalu. Generasi sekarang sudah melibatkan teknologi dalam setiap aktivitasnya, termasuk dalam belajar. Sehingga inovasi-inovasi perlu dilakukan untuk mengimbangi perubahan karakter anak didik ini. Namun, pengembangan inovasi-inovasi ini tidak serta merta kita kemudian meninggalkan jargon tradisional. Karena bagaimanapun juga jargon tradisional tetap memiliki peran yang tidak bisa digantikan oleh jargon inovatif. Akar masa lalu, sejarah, latar belakang, nilai-nilai, adalah bagian jargon tradisional yang harus dijaga.

    ReplyDelete
  30. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Bismillah, terimakasih banyak prof. Marsigit atas ulasan di atas. Seperti yang pernah saya baca pada elegi jargon para subjek, standar, dan guru, ternyata jargon para tradisional juga tidak jauh berbeda karakternya dengan mereka semua. Para jargon tradisional hanya ingin eksistensi mereka tidak pudar ditelan jaman, kreativitas dan keunikan mereka tidak boleh dikalahkan, ciri khas mereka tidak boleh diganti apapun bentuknya. Padahal, dengan adanya jargon inovatif, semakin menunjukkan adanya usaha menggapai logos, tingkat berpikir semakin kreatif karena dari yang telah ada ia coba untuk dimodifikasi. Namun begitulah keegoisan para jargon tradisional, mereka ingin terus dikenal dan sukai sepanjang abad. Mereka tidak mau melek akan kecanggihan dan kemajuan berpikir jaman kontemporer seperti saat ini. Padahal, para jargon inovatif hanya ingin memodifikasi bentuk tradisional menjadi lebih unik, kreatif, dan menarik tanpa menghilangkan identitas dari para jargon tradisional tersebut. Saya setuju bahwa, janganlah sampai para jargon tradisional menutup diri dan sombong hanya karena ingin mempertahankan tradisimu. Sedangkan, semakin tua bumi, harusnya semakin para jargon inovasi yang bergerak melakukan pembaharuan yang relevan namun tetap menghormati para tradisional. Sungguh, tidak ada yang pantas dan berhak sombong dan berkuasa selain Allah swt. Wallahu’alam bishowab.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  31. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Adanya guru inovatif karena adanya guru tradisional, adanya guru tradisional berkembang menjadi adanya guru inovatif. Begitupun suatu pembelajaran modern, adanya pembelajaran modern karena didahului adanya pembelajaran secara tradisional, dan adanya pembelajaran tradisional berkembang menuju suatu yang inovatif menjadi pembelajaran yang modern. Masing-masing pembelajaran baik tradisional maupun modern memiliki keunggulan dan kejayaannya masing-masing pada massanya. Maka adanya pembelajaran modern saat ini karena mengadopsi dari pembelajaran tradisional yang telah dirancang sedemikian rupa sehingga menjadi lebih inovvatif.

    ReplyDelete
  32. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Dalam menilai suatu kita harus memiliki perbandingannya, atau bisa dikatakan untuk menilai suatu tesis kita harus mengetahui anti-tesisnya, sama halnya tradisional dan inovatif, kita mengetahui metode mengajar tradisional karena sudah ada metode mengajar yang inovatif, begitupun sebaliknya kita bisa mengatakan bahwa metode mengajar yang kita gunakan adalah metode inovatif karena berbeda dengan metode sebelumnya yang kemudian kita sebut dengan metode tradisional. Metode mengajar yang sekarang kita anggap inovatif tidak lagi disebut inovatif apabila terus menerus digunakan dengan skema yang sama dan kemudian akan lahir lagi metode inovatif yang baru, sehingga metode yang kita sebut metode inovatif sekarang akan menjadi metode tradisional, karena sudah menjadi tradisi yang selalu digunakan dan sudah ditemukannya metode inovasi terbaru.

    ReplyDelete
  33. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Kuncinya adalah terjemah dan menterjemahkan, bisa diartikan pula saling melengkapi. Sebagai contoh guru tradisional bisa mengkolaborasikan dengan pembelajaran yang inovatif, begitu juga guru inovatif juga bisa mengkolaborasikan metode pembelajarannya dengan pembelajaran tradisional. Ini seperti tokoh filsafat Imanuel Kant yang menelurkan filsafat kritisme. Kant mengambil yang baik dari rasionalisme dan juga mengambil yang baik dari empirisme, kemudian berada ditengah-tengah mereka.

    ReplyDelete
  34. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dalam dunia pendidikan, pembelajaran tradisional dan inovatif masih menjadi kajian yang mendalam. Adanya pembelajaran inovatif juga tak lepas dari evaluasi terhadap pelaksanaan pembelajaran tradisional. Dengan tidak bermaksud melenyapkan, perkembangan ilmu pendidikan mencoba membawa sistem pendidikan menjadi lebih maju dan mengikuti perkembangan zaman, Dalam pembelajaran tradisional, pembelajaran sudah dapat dilaksanakan hanya dengan syarat adanya siswa dan guru, serta bantuan buku dan papan tulis. Inovatif tak harus selalu bertentangan 100% dengan tradisional. Akan pendidikan harus tetap ada, yaitu interaksi antara guru dan murid dalam mencapai tujuan bersama. Inovatif berarti menambahkan bumbu-bumbu sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik, apakah melalui media atau model-model yang diterapkan.

    ReplyDelete
  35. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Manusia terus melakukan inovasi-inovasi baru dalam kehidupan guna menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Maka sebagai manusia yang hidup pada zaman tersebut kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap segala perubahan harus dilakukan. Begitu juga dalam proses belajar mengajar. Sebagai calon pendidik, kita harus mampu melahirkan inovasi-inovasi baru dalam pendidikan, khususnya dalam pengajaran agar apa yang kita ajarkan serta metode yang kita gunakan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan peserta didik saat ini. Sehingga tuntutan keterampilan hidup dizaman modern ini dapat terpenuhi.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  36. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Saat ini didalam penerapan kurikulm 2013 guru dituntut menggunakan pembelajaran inovatif. Namun, pada kenyataannya dilapangan status guru menggunakan pembelajaran inovatif tetapi prakteknya tetap menggunakan pembelajaran tradisional. Hal itu hanya digunakan sebagai syarat administrasi saja. Hal ini disebabkan, pembelajaran tradisional sudah lama diterapkan di Satuan Pendidikan Negara Indonesia sehingga sudah menjadi budaya guru di Negara Indonesia. Oleh karena itu diperlukan perubahan yang bertahap dan pelan-pelan agar bisa mencapai pembelajaran inovatif. Di dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman diperlukan pemikiran-pemikiran yang inovatif. Pemikiran inovatif akan muncul dengan cara berfikir kritis. Perlunya pembelajaran inovatif adalah melatih anak untuk berfikir kritis, sebab pemikiran yang berasal dari diri sendiri akan lebih bermakna dan anak bisa lebih memahami.

    ReplyDelete