Sep 20, 2013

Elegi Jebakan Filsafat




Oleh Marsigit

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan:
Aku adalah jebakan. Sesungguhnya aku adalah jebakan filsafat. Sesuai dengan hakekat filsafat, maka aku sangatlah halus, lembut dan tersembunyi. Hanya orang-orang tertentu aku perkenankan untuk menemuiku. Itupun dengan syarat-syaratnya yang sangat ketat.

Subyek:
Aku belum jelas siapakah engkau. Jika engkau jebakan filsafat maka apakah ciri-cimu itu?

Jebakan:
Aku adalah jebakan. Aku dapat sebutkan bahwa tempat tinggalku adalah pada batas dimensimu. Fungsiku adalah untuk menaikkan dimensimu. Sedangkan diriku itu beraneka ragam. Ragamku sebanyak batas dimensimu. Maka aku terdiri dari Jebakan1, Jebakan2, Jebakan3,... dst.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan kesadaran:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai kesadaranmu, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan kesadaranmu. Sebenar-benar kesadaran adalah dirimu yang terjaga. Maka agar engkau memahami sesuatu engkau harus letakkan kesadaranmu pada obyek yang akan engkau sadari. Kesadaranmu itu bersifat merdeka. Maka sebenar-benar ilmu itu memerlukan kesadaranmu. Jika engkau melupakan akan hal demikian maka itulah bahwa keadaanmu itu sudah masuk ke dalam perangkap kesadaranmu. Itulah jebakan kesadaranmu. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak dalam jebakan kesadaran adalah engkau berpura-pura sadar padahal engkau belum menyadarinya.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Keikhlasan:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai keikhlasan maka sebenar-benar diriku adalah jebakan keikhlasanmu. Setinggi-tinggi hatimu adalah ikhlasmu. Maka tempat tinggalku adalah di dalam hatimu. Aku adalah bersih tak bersyarat. Keikhlasanmu adalah merdeka. . Maka sebenar-benar ilmu itu memerlukan keikhlasanmu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan keikhlasan. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak dalam jebakan keikhlasan adalah engkau berpura-pura ikhlas, padahal engkau sebetulnya tidak ikhlas.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Perhatian:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai perhatian, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan perhatian. Sebenar perhatian itu memerlukan kesadaran dan keikhlasan. Bergabungnya parhatian, kesadaran dan keikhlasan merupakan langkah untuk menerima sesuatu sebagai hal yang memang patut diterima. Segala macam ilmumu itulah memerlukan perhatianmu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan perhatian. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan perhatian adalah engkau berpura-pura memerhatikan, padahal engkau sebetulnya tidak memperhatikan.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Minat:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai minat maka sebenar-benar diriku adalah jebakan minat. Minatmu itu terdiri dari penerimaanmu, responmu dan sikap postitifmu. Sebenar-benar ilmumu itulah memerlukan minatmu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan minat. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan minat adalah engkau berpura-pura berminat, padahal engkau sebetulnya tidak berminat.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Pengertian:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai pengertian, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan pengertian. Pengertianmu itu engkau bangun berdasarkan minatmu dan penilaianmu terhadap ilmu. Maka sebenar-benar pengertianmu itulah akan membangun ilmumu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan pengertian. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan pengertian adalah engkau berpura-pura mengerti, padahal engkau sebetulnya tidak mengerti.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Sikap:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai sikap, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan sikap. Sikapmu itu engkau bangun berdasarkan pengertian dan penilaianmu terhadap ilmu. Maka sebenar-benar sikapmu itulah akan menentukan ilmumu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan sikap. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan sikap adalah engkau berpura-pura bersikap, padahal engkau sebetulnya tidak bersikap.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Karakter:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai karakter, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan karakter. Karaktermu itu engkau bangun berdasarkan sikap dan penilaianmu. Maka sebenar-benar karaktermu itulah akan menentukan ilmumu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan karakter. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan karakter adalah engkau berpura-pura berkarakter, padahal engkau sebetulnya belum berkarakter.

Subyek:
Wahai orang tua berambut putih. Apalah sebenarnya yang dimaksud dengan jebakan filsafat itu?

Orang tua berambut putih:
Jebakan filsafat adalah lawan dari keadaan dimana seharusnya engkau berada. Yang telah disebut tadi itu hanyalah sebagian dari jebakan yang ada. Jebakan yang lain masih banyak misalnya: jebakan disiplin, jebakan kejujuran, jebakan kebaikkan, jebakan tanggung jawab, jebakan kepatuhan. Ketahuilah bahwa dari semua itu dapat aku katakan bahwa sebenar-benar jebakan adalah jebakan ruang dan waktu.

107 comments:

  1. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi Jebakan filsafat. Menarik sekali ketika membaca judul tersebut. Ternyata dalam elegi ini disampaikan bahwasanya sebenar-benar jebakan adalah jebakan ruang dan waktu. Makksudnya sesungguhnya dalam hidup ini kita seringkali.mengalami jebakan ini. jebakan kejujuran, jebakan kedisiplinan dll. Segala yang berlawanan dengan yang seharusnya. Ciri-cirinya adalah apabila kita berpura-pura tentang sesuatu padahal tidak. Berpura-pura sayang padahal tidak, berpura-pura peduli padahal tidak, berpura-pura mengerti padahal tidak. Ya, kemunafikan semacam itulah ciri-ciri darinterjebaknya kita dalam jebakan filsafat. Marilah kita berusaha untuk selalu jujur terhadap diri sendiri maupun orang lain.

    ReplyDelete
  2. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Didalam sebuah perjalanan hidup kita selalu mempunyai masalah jadi dalam menjalaninya kita harus sangat berhati-hati dan selalu pantang menyerah dalam berusaha untuk tidak melakukan hal yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan. Di dunia ini juga terdapat banyak sekali jebakan-jebakan yang siap menerka kita. Jebakan bisa berasal dari dalam diri kita dan dari luar diri. Kita harus bisa menghindari jebakan dengan menggunakan akal yang sehat dan hati yang bersih, pikiran dan hati harus berada dalam kesadaran. Kita juga harus bersifat ikhlas, selalu berikhtiar serta menyerahkan segala sesuatu hasilnya hanya pada ALLAH SWT

    ReplyDelete
  3. Filsafat bagi orang yang belum memahami dan mempelajari tampak seperti permainan kata-kata atau bahasa. Berbeda dengan orang-orang yang benar-benar mencari kebenaran atau kebajikan. Orang baik kadang tidak akan menyebut dirinya baik karena itu ada sedikit kesombongan. Sama seperti berfilsafat, orang yang sedang mencari kebenaran menggunakan metode filsafat tetapi dia sendiri tidak menyebut dirinya berfilsafat. Filsafat bukan permainan kata-kata atau bahasa, filsafat adalah pencarian kebenaran dan kebajikan, mengungkap disebalik sesuatu.

    ReplyDelete
  4. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Elegi jebakan filsafat ini menyatakan bahwa jebakan filsafat adalah lawan dari keadaan dimana seharusnya kita berada. Jebakan filsafat sekiranya tanpa kita sadari terkadang juga kita ada didalamnya. Sama halnya seperti jebakan kesadaran, ketika kita menyadari bahwa mencari logos harus dilakukan sebagai kebutuhan namun pada dasarnya kita mencari logos tidak sebagai kebutuhan namun sebagai keterpaksaan sebab kita memiliki tujuan tertentu atas pencarian logos itu. Selanjutnya dapat berupa jebakan keikhlasan, yaitu ketika telah merasa ikhlas akan setiap hal yang kita lakukan namun pada dasarnya kita belum ikhlas dan hanya berpura-pura ikhlas dan didalam hati masih menaruh rasa tidak senang dan terbebani.

    ReplyDelete
  5. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Jebakan dalam filsafat merupakan jebakan dalam memahami dan mempelajari pemikiran tentang yang ada dan mungkin ada dalam ruang dan waktu. Berpikirnya manusia dalam berfilsafat adalah jebakan sendiri bagi pemikirannya. Seperti contoh, jebakan berpikir dimana seharusnya kita berpikir akan tetapi kita tidak berpikir atau pura-pura berpikir. Jebakan merupakan hal yang membuat suatu hal yang ada menjadi mungkin ada atau sebaliknya. Jebakan ada dimana-mana. Bisa ada di hati dan pikiran. Tidak ada yang sebenar-benarnya bisa lepas dari jebakan tersebut. Setiap orang hanya bisa berusaha untuk tidak terjebak dalam jebakan itu. Maka, Jebakan yang sebenarnya adalah jebakan ruang dan waktu. Seseorang akan masuk dalam jebakan itu kalau dia tidak bisa memaknai hakikat ruang dan waktu yang ada dalam dirinya.

    ReplyDelete
  6. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Sebenar-benarnya jebakan adalah ruang dan waktu. Dalam filsafat tidak ada yang paling benar dan paling salah. Sesuatu hal dipandang benar jika suatu hal tersebut dipandang dalam ruang dan waktu yang sesuai, namun sesuatu hal dipandang salah jika suatu hal tersebut dipandang dalam ruang dan waktu yang salah. Oleh karenanya kita harus berhati-hati dengan filsafat, kita harus mampu menyesuaikan dengan ruang dan waktu agar tidak terkena jebakan filsafat.

    ReplyDelete
  7. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Jebakan berada dalam kesadaran manusia. Seperti pura-pura sadar padahal belum menyadarinya atau sebaliknya pura-pura belum sadar padahal sudah menyadarinya. Jebakan filsafat merupakan lawan dari keadaan dimana seharusnya manusia berada. Jebakan bisa saja terjadi sewaktu-waktu dan dimana saja manusia bertidak dan berucap, jebakan seperti pada keikhlasa, kedisiplinan, perhatian dan lain sebagainya. Dengan demikian agar kita mengurangi kemungkinan mengalami jebakan maka kita harus hati-hati dalam bertindak dan berucap.

    ReplyDelete
  8. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Elegi jebakan filsafat menjelaskan bahwa kita terjebak di dalam kepura-puraan dari diri kita sendiri. Hanya diri kita sendirilah yang memahami apa kita lakukan dan rasakan. Hanya kita sendirilah yang mengetahui apa yang terjadi dalam diri kita. Karena orang lain pun tidak dapat menejlaskan siapa kita. Mungkin mereka bisa menyebutkan sebagian kecil dari kita, namun masih ada semilyar pangkat semilyar yang tidak bisa mereka sebutkan dari kita. Namun, karena terjebak di dalam kepura-puraan itulah seseorang lantas pandai membongi diri sendiri. Ia berpura-pura sadar padahal belum menyadarinya, berpura-pura tahu padahal belum mengetahuinya, berpura-pura ikhlas akan tetapi sesungguhnya hati ini belum mampu untuk ikhlas. Melalui elegi jebakan filsafat ini, saya belajar tentang kejujuran diri. Tak perlu lah menyembunyikan kelemahan atau kekurangan yang kita miliki hanya demi terlihat dan dianggap hebat oleh orang lain. Jadilah dirimu sendiri, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, inilah aku yang apa adanya.

    ReplyDelete
  9. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Dari elegi ini, saya sederhanakan bahwa jebakan filsafat adalah berpura-pura. Ada banyak kepura-puraan yang mungkin terjadi. Sehingga ada banyak jebakan filsafat. Berpura-pura adalah hal yang buruk sekaligus hal yang baik. Namun, lebih cenderung menjadi hal yang buruk. Berpura-pura itu butuh energi lebih. Karena selain menyembunyikan hal yang sebenarnya, berpura-pura juga menjadi hal yang tidak sebenarnya. Oleh karena itu, berpura-pura bisa merugikan diri sendiri dan orang lain.

    ReplyDelete
  10. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Jebakan yang sebenarnya itu terdapat pada diri sendiri. Hanya diri sendiri yang sebenarnya mampu untuk mengendalikan jebakan itu. Mengendalikan untuk membiarkan jebakan itu terus menjebak atau membuat jebakan itu hilang sedikit demi sedikit. Tidak menjadi diri sendiri dan berpura-pura seperti orang lain hanya demi kepentingan tertentu sejatinya itulah jebakan yang sebenarnya.

    ReplyDelete
  11. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Hidup selalu dipenuhi dengan jebakan. Berfilsafat juga begitu. Filsafat memiliki banyak jebakan. Dan semua jebakan tersebut justru berasal dari diri kita sendiri. Ada jebakan keikhlasan, yang terjadi ketika kita berpura-pura ikhlas, padahal sesungguhnya tidak ikhlas. Ada juga jebakan pengertian, yang terjadi ketika kita berpura-pura mengerti, padahal sesungguhnya sama sekali tidak mengerti. Masih banyak jebakan-jebakan lain, seperti jebakan sikap, jebakan karakter, jebakan kejujuran, dan lain sebagainya. Semoga kita tidak terperangkap ke dalam jebakan-jebakan tersebut.

    ReplyDelete
  12. Tahtalia
    14301241031
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Jebakan itu berasal dari diri kita sendiri. Dalam menggapai ilmu diperlukan kesadaran dan keikhlasan. Kesadaran dalam menggapai ilmu akan membimbing kita dalam melangkah, sementara keikhlasan akan membuat langkah kita terasa ringan dalam menggapai ilmu dan menghadapi tantangan yang ada.

    ReplyDelete
  13. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Yang dapat saya pahami dalam Elegi Jebakan Filsafat tersebut adalah bahwa dalam hidup ini selalu ada yang namanya jebakan. Di mana sebenar benar jebakan adalah dalam diri kita sendiri. Jebakan itu berupa kepura-puraan yang timbul dari dalam diri sendiri. Hal tersebut pun yang dapat mengetahuinya hanya diri kita sendiri, itupun saat kita benar-benar membuka kesadaran dari diri kita.

    ReplyDelete
  14. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada bagian dialog jebakan kesadaran pada Elegi Jebakan Filsafat di atas, dapat dipahami bahwa untuk membangun ilmu atau ilmu pengetahuan haruslah dengan penuh kesadaran, tidak mungkin kita menuntut ilmu secara tidak sadar, karena ilmu tersebut tidak akan diterima oleh pikiran kita jika tidak dengan kesadaran. Dan jika kita merasa penuh kesadaran tetapi sebenarnya tidak, itulah jebakan kesadaran.

    ReplyDelete
  15. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada bagian dialog jebakan keikhlasan pada Elegi Jebakan Filsafat di atas, dapat dipahami bahwa kita harus selalu ikhlas dalam melakukan apapun, termasuk pula dalam menuntut ilmu. Ikhlas adalah tingkatan tertinggi yang dicapai hati, ibadah jika dilakukan dengan ikhlas akan mendapatkan pahala, maka menuntut ilmu pun jika dilakukan dengan ikhlas akan mendapatkan hasil yang maksimal. Jika kita berpura-pura ikhlas, padahal sebenarnya tidak, kita tetap tidak akan mendapatkan apapun, dan itulah jebakan keikhlasan.

    ReplyDelete
  16. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada bagian dialog jebakan perhatian pada Elegi Jebakan Filsafat di atas, dapat dipahami bahwa selain harus dengan penuh kesadaran dan ikhlas, harus juga untuk penuh perhatian. Jika sudah dilakukan dengan penuh kesadaran, sudah ikhlas, tetapi tidak memperhatikan ketika ilmu tersebut disampaikan, maka tetap tidak akan mendapatkan apapun, ilmu tidak akan diterima oleh pikiran. Maka, seharusnya ada 3 aspek, kesadaran, keikhlasan, dan perhatian.

    ReplyDelete
  17. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada Elegi Jebakan Filsafat di atas, saya memahami bahwa yang diperlukan​ ketika kita menuntut ilmu selain tiga aspek yang harus ada (kesadaran, keikhlasan, dan perhatian) adalah perlu adanya minat, pengertian, sikap, karakter, dan masih banyak lagi seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan segala hal yang baik-baik lainnya.

    ReplyDelete
  18. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa untuk mempelajari filsafat itu diperlukan hati dan pikiran yang ikhlas. Jika hati dan pikiran tidak benar-benar ikhlas mempelajari filsafat maka akan terjebak dan terjerumusa dalam jebakan filsafat. Menurut saya jebakan filsafat itu sebenarnya datangnya dari diri sendiri, misalnya seperi disebutkan diatas tentang jebakan minat. Mungkin lisan berkata bahwa kita berminat belajar, tapi kadang hati belum tentu memiliki pemikiran yang sama.

    ReplyDelete
  19. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan Elegi Jebakan Filsafat, sebenarnya jebakan tersebut terletak pada diri kita sendiri, maka dari itu refleksi diri terhadap apa yang telah dilakukan sangat penting, kesadaran diri kita yang akan menyelamatkan kita dari jebakan yang membelenggu hati kita.

    ReplyDelete
  20. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Terkadang saat kita berada dalam zona nyaman, kita sudah merasa puas dan senang. Namun jika kita terus-terusan tidak menyadarinya, kita akan masuk dalam mitos. Kita harus berusaha keras untuk keluar dari zona nyaman, karena jika kita tidak mau berusaha untuk keluar dari zona nyaman kita, lama kelamaan kita akan malas. Dengan seperti itu kita akan menjadi malas. Kita tidak sepantasnya mau selamanya berada dalam zona nyaman, dengan hal seperti itu kita akan menolah untuk berkembang lagi.

    ReplyDelete
  21. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan elegi diatas, saya menyadari bahwa filsafat sebagai salah satu ilmu yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari kita dipenuhi dengan jebakan-jebakan. Baik jebakan itu berasal dari dalam pikiran diri sendiri ataupun berasal dari luar pikiran kita. Jebakan dalam filsafat menyebabkan apa yang perlu kita sadari sebenarnya adalah apa yang tidak perlu kita sadari begitupun sebaliknya. Makna kesadaran dalam filsafat pun mengandung jebakan-jebakan dimana kita merasa sudah sadar dan paham dalam mengetahui sesuatu hal, akan tetapi apa yang kita pahami sebenarnya bukanlah makna paham yang sebenarnya.

    ReplyDelete
  22. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Jebakan filsafat adalah lawan dari keadaan dimana seharusnya engkau berada. Tempat tinggal jebakan filsafat adalah pada batas dimensi kita. Ada beraneka ragam jebakan filsafat, ragam tersebut sebanyak batas dimensi kita. Sesungguhnya sebenar-benar jebakan adalah jebakan ruang dan waktu. Jebakan filsafat berfungsi untuk menaikkan dimensi kita. Kita bisa meningkatkan dimensi kita dengan selalu menuntut ilmu dunia dan akhirat. Ilmu itu lah yang dapat kita jadikan penerang untuk menghindari jebakan filsafat. Sehingga jika kita berhasil melalui jebakan tersebut maka akan naik lah dimensi kita. Namun sungguh itu bukan hal yang mudah. Oleh karena itu kita hendaknya berusaha dengan sungguh-sungguh dan senantiasa memohon doa pada-Nya agar mampu melewati jebakan tersebut dan dapat meningkatkan dimensi kita

    ReplyDelete
  23. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamulaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Terima kasih Prof atas elegi yang sangat inspiratif ini. Jebakan filsafat ini sungguh sangat berbahaya jika kita tidak mampu keluar dari belenggunya. Caranya simple, jujur. jangan memaksa diri kita untuk melakukan suatu kebohongan karena kita akan terus terjebak dan menyebabkan pengetahuan kita tidak berkembang. Semisal ada sesuatu yang tidak disukai namun tetap kita memaksakan diri untuk menyukainya maka hal tersebut dapat menyiksa diri kita sendiri. Selain itu, hal lain yang harus kita pahami agar terhindar dari jebakan filsafat terutama jebakan ruang dan waktu adalah memahami sebenar-benarnya ruang dan waktu tempat kita berada. Namun melepaskan diri dari jebakan-jebakan ini memang tidaklah mudah mengingat manusia adalah makhluk yang tidak sempurna.

    ReplyDelete
  24. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 1770121032
    PEP S2 B 2017

    Postingan di atas memberikan penyadaran pada diri saya pribadi. Di mana dalam menggapai suatu ilmu, seringkali kita terjebak pada jebakan filsafat yang sungguh banyak dan beranak-pinak. Misal saja belajar dengan memaksakan diri, tidak dengan ikhlas, merasa dikejar kejar oleh suatu hal. Baru saya sadari ternyata itu jebakan. Bahkan saya terjebak, kemarin saya mengira mungkin saja saya yang sering kali merasa dikejar-kejar tugas adalah motivasi saya untuk belajar lebih giat, ternyata itu jebakan. Bisa saja saya memberikan balasan postingan bapak yang satu ini dengan judul "Aku yang Terjebak".

    ReplyDelete
  25. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak.
    Dalam menggapai ilmu banyak tantangan yang harus dihadapi. Tantangan tersebut bisa berasal dari luar atau dari dalam diri setiap manusia.
    Dari postingan Bapak, saya memperoleh pengetahuan tentang berbagai macam jebakan dalam filsafat yang dapat menghalangi manusia menggapai ilmu. Untuk meminimalisir terjebaknya manusia dalam menggapai ilmu diperlukan kesadaran, keikhlasan, kejujuran, rendah hati.

    ReplyDelete
  26. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini saya tersadar tentang pentingnya keteguhan diri ketika belajar. Karena dalam belajar kita akan menemukan kesulitan-kesulitan yang sebenarnya itu adalah jebakan. Perlunya keikhlasan dalam meningkatkan ilmu agar ketika menemukan masalah kita tidak merasa kesulitan, namun menyadari dan ikhlas bahwa itu adalah proses dalam belajar

    ReplyDelete
  27. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Setelah membaca ini, hal yang saya dapati adalah saya merasa selama ini ternyata terjebak. Saya terjebak oleh mindset saya sendiri, yang menyatakan harus begini dan harus begitu. Untuk saai ini telah saya pahami sebenar-benar kebenaran pikiran itu adalah bebas, melihat dari segala aspek. Memandang setiap oposisi-oposisi, dan kontradiksi-kontradiksi karena sebenar-benar hidup adalah mengalami kontradiksi-kontradiksi.

    ReplyDelete
  28. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Jebakan filsafat berisi pandangan-pandangan yang dapat mengecoh pemikiran kita. Yang kita anggap benar, ternyata bukan itu jawabannya. Pemikiran manusia itu berbeda-beda, sehingga dalam mengartikan segala sesuatu satu dengan yang lain juga berbeda. Terkadang pemikiran kita benar terkadang juga salah. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam memikirkan sesuatu dan dalam bertindak, karena tindakanmu kadang dirasa tidak tepat bagi oranglain.

    ReplyDelete
  29. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Prof. Dunia ini penuh dengan jebakan. Terkadang manusia ingin terlihat ikhlas padahal sebenarnya mereka tidak ikhlas, ingin terlihat bijaksana padahal mereka hanya berpura-pura,dst. Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak berpura-pura dan terhindar dari jebakan-jebakan yang ada di dunia ini.

    ReplyDelete
  30. Junianto
    17709251065
    PM C

    Setiap tindakan yang dilakukan manusia pasti punya konsekuensi. Ada perbuatan baiuk dan ada perbuatan buruk. Inilah yang dinamakan jebakan filsafat. Dalam diri manusia terdapat hati nurani yang akan selalu mengingatkan manusia tentang perbuatan baik. Jika manusia melakukan perbuatan buruk, maka hati nurani pasti akan berkata bahwa itu tidak baik, begitu pula sebaliknya. Kalau manusia mau menuruti hati nurani, maka perbuatannya akan baik.

    ReplyDelete
  31. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Dalam hidup, seseorang akan terjebak oleh berbagai hal jika ia tidak benar-benar memahami makna hidup. Jebakan tersebut dapat berupa jebakan keikhlasan, jebakan perhatian, jebakan pengertian, jebakan sifat, dan sebagainya.
    Misalkan jebakan keikhlasan. Seseorang menyatakan “aku ikhlas jika membantu mengajar di daerah 3T tanpa dibayar” lalu keikhlasan itu akan hangus seiring dengan kata-kata yang baru saja dinyatakannya. Karena mana ada orang ikhlas yang menyatakan ikhlas pada manusia? Bahkan menyatakan ikhlas kepada diri sendiri dan Tuhan saja masih belum tentu benar-benar ikhlas.
    Misalkan lagi jebakan sifat. Seorang guru menilai bahwa sifat murid A sangat tidak sopan dan kasar. Padahal sesungguhnya guru tersebut lah yang telah bersikap tidak sopan dan kasar, dengan cara melabeli siswanya dengan label tidak sopan dan kasar.
    Begitulah jebakan fisafat bekerja dalam hidup seseorang. Maka sebaik-baiknya orang yang lolos dari jebakan adalah orang yang menjaga lisannya dan menjauhi sifat sombong, angkuh, dan ingin dipuji.

    ReplyDelete
  32. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Begitu mudahnya kita terjebak oleh jebakan filsafat yang hakekatnya sangat lembut, halus, dan tersembunyi. Apakah itu dikarenakan dari salah satu hakekatnya yang halus, sehingga begitu mudahnya kita terperangkap kedalam jebakannya?. Jebakan-jebakan filsafat yang sudah dipaparkan di atas sepertinya sudah seringkali saya rasakan tetapi saya baru mengetahui ternyata selama ini saya terjebak. Jebakan yang seringkali saya lihat dan saya sadari yaitu jebakan duniawi. Contohnya manusia yang terobsesi untuk mengejar kesenangan dunia, mereka tidak menyadari tipu daya dunia yang mereka alami, bahkan mereka sampai lupa akan kehidupan yang lebih kekal dari pada kehidupan di dunia, mereka rela melakukan segala macam cara apa pun demi kekayaan, kemakmuran, dan kesenangan hidup mereka. Padahal itu semua hanyalah kesenangan yang dapat dirasakan sesaat saja.
    Sebenarnya jebakan mengantarkan kita pada posisi yang kita paksakan nyaman tetapi sebenarnya tidak nyaman sama sekali, bahkan bisa jadi itu malah menadi sebuah beban yang tidak tahu bagaimana cara mengatasinya karena kita diam di dalam perangkapnya.

    ReplyDelete
  33. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Berdasarkan uraian Bapak di atas, menyiratkan pesan bahwa kita harus berhati-hati dalam setiap jebakan kehidupan. Siswa di sekolah mengejar nilai Ujian Nasional setinggi-tingginya tanpa menghiraukan apakah mereka curang, mencontek, mendapat bocoran dan lain-lain, sejatinya mereka telah terjebak pada hakikat pendidikan. Dengan bangga mereka “berpura-pura” menunjukkan nilai UN nya yang tinggi, namun menyembunyikan dalam-dalam kegiatan curangnya seperi mencontek, dapat bocoran, dll. Mereka berpura-pura bangga mendapatkan nilai 98 atau 100 dalam mapel matematika, padahal dalam hatinya sangat membenci matematika. Sering tidak sadar kita terjebak dalam hal seperti ini. Untuk itu dalam aktivitas belajar diperlukan suatu keikhlasan dan kesadaran bahwa kita benar-benar haus akan ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  34. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Jebakan-jebakan filsafat sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, hanya saja tidak sedikit dari kita yang tidak menyadarinya. Kita dapat dikatakan terjerumus ke dalam sebuah jebakan atau perangkap tersebut mana kala kita menganggap dan merasa apa yang sebenarnya tidak ada dalam diri kita. Sebagai contoh kita menganggap seolah-olah diri kita ikhlas padahal sesungguhnya kita belum mencapai keikhlasan tersebut, seolah-olah baik padahal kita belum mampu menjadi yang sebenar-benarnya baik, seolah-olah taat padahal masih belum mencapai ketaatan yang sesungguhnya, dsb.

    ReplyDelete
  35. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Setiap seseorang merasa telah berhasil menggapai sesuatu, saat itulah ia sedang berada di dalam jebakan. Tidak ada seorang pun yang dapat menggapai ikhlas, jujur, kesadaran, pemahaman, pengertian, dan semua meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Yang sesungguhnya ialah manusia hanya berusaha untuk menggapai itu semua. Dengan demikian, perlu adanya refleksi diri terhadap pikiran, sikap, dan tindakan agar senantiasa terhindar dari berbagai dimensi jebakan.

    ReplyDelete
  36. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi jebakan filsafat menjelaskan tentang bagaimana kita sering terjebak akan sesuatu yang baik namun ternyata buruk. Salah satu yang dimaksud disini adalah terjebak dalam jebakan kesadaran yaitu ketika kita pura-pura sadar padahal kita belum menyadarinya. Maka hendaknya agar kita dapat menyadari seauatu maka kita harus merefleksikan diri kita dan harus meletakkan kesadatan terhadap objek yang akan kita sadari. Kesadaran itu bersifat merdeka sehingga sebenar-senarnya ilmu itu memerlukan kesadaran kita.

    ReplyDelete
  37. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Artikel yang sangat menarik, jebakan-jebakan yang ada sebenarnya sangat menantang untuk dihadapi dan diselesaikan. Jika kita berhasil menyelesaikannya saya yakin diri kita akan menjadi pribadi yang sopan dan santun terhadap ruang dan waktu. Dan dengan demikian maka masalah-masalah tersebut atau jebakan-jebakan itu akan bisa dihadapi. Menurut pendapat saya salah satu cara menghadapi jebakan itu adalah jangan berlaku sombong dan jujurlah terhadap diri sendiri. Sombong akan menyebabkan kita tidak dapat mengontrol apa yang seharusnya kita butuhkan dan hanya ingin apa yang kita inginkan. Sedangkan jujur pada diri sendiri akan membuat kita sadar apakah kita sudah ikhlas sudah memperhatikan atau belum. Terima kasih.

    ReplyDelete
  38. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Tulisan ini memberikan wejangan nasehat”bahwa ketika ingin meraih segala sesuatu harus diikutsertakan dengan kesadaran, niat yang ikhlas, dan perhatian.Salah satunya yaitu meraih ilmu.Ilmu akan terpatri dalam diri seorang jika di dalam menuntutnya ada rasa keikhlasan.Dan segala sikap keterpura-puraan pada akhirnya akan mengundang kekecewaan.Dengan niat ikhlas yang sulit terasa mudah, yang berat terasa ringan.Dan semua yang dikerjakan dapat diterima dengan lapang dada.

    ReplyDelete
  39. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Terima kasih Pak Prof. atas tulisan elegi jebakan filsafat ini. Dari saya menyadari bahwa di dunia ini penuh akan jebakan karena jebakan filsafat itu adalah suatu keadaan yang merupakan lawan dari yang seharusnya ada. Tanpa disadari, jebakan ini sebenarnya sangat berbahaya. Untuk itu, selalulah waspada, selalu sadar terhadap apa yang terjadi sehingga kita dapat terhindar dari jebakan-jebakan yang ada didunia ini.

    ReplyDelete
  40. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Berfilsafat banyak menemukan kita ke dalam ruang-ruang yang penuh jebakan. Bilik-bilik jebakan itu wujudnya manipulatif, terkadang kita masuk ke dalam jebakan dimensi, terkadang kita masuk ke dalam jebakan metafisik. Mengindari jebakan kemungkinan bisa dilakukan jika kita dapat menembus ruang dan waktu. Namun, saya rasa penyataan saya tersebut terjebak ke dalam jebakan pikiran saya sendiri.

    ReplyDelete
  41. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Jebakan filsafat adalah ketika kita merasa sudah cukup mengerti dan berhenti mendalami filsafat dalam bentuk refleksi diri. Berpura-pura memahami, berpura-pura melakukan refleksi diri, tetapi masih tetap angkuh dan bersombong diri. Saya sadar saya terkadang masih terjebak dalam jebakan seperti itu. Tetapi karena jebakan hanya masalah ruang dan waktu, bukan tidak mungkin kita berusaha keluar dari jebakan tersebut dan mencoba melangkah ke depan dengan waspada agar tidak jatuh ke jebakan lain atau bahkan jebakan yang sama.

    ReplyDelete
  42. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Terimakasih atas ilmu yang sudah bapak berikan melalui postingan elegi jebakan filsafat ini pak.
    dari postingan ini saya dapat mengambil pelajaran adalah kepura-puraan itu adalah jebakan yang ada dalam diri kita sendiri. kepura-puraan berarti kita membohongi diri kita sendiri. ketidakjujuran adalah hal yang paling tidak patut dilakukan oleh para pencari ilmu. maka dari itu ikhlaslah dalam melakukan segala sesuatu sehingga hasil yang didapatkan pun juga menjadi berkah dan berguna bagi sang pencari ilmu itu sendiri.

    ReplyDelete
  43. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Kesimpulan yang dapat saya ambil dari ulasan ini adalah sebenar-benar hidup sejatinya penuh dengan jebakan. Saya juga termasuk di dalam jebakan itu. Menurut saya jebakan itu juga tidak dapat dihindari oleh manusia karena berkaitan dengan ruang dan waktu. Apakah jebakan filsafat dapat dipandang sebagai sesuatu yang bersifat positif? Apa yang dapat dilakukan saat diri ini terjebak dalam jebakan filsafat? Saya berharap Bapak dapat membantu saya untuk menemukan jawabannya. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak.

    ReplyDelete
  44. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Jebakan merupakan hal yang memang harus ada di dunia ini. Itulah yang membuat dunia ini seimbang. Jika tidak ada jebakan di dalamnya, mau bagaimana kehidupan manusia di dunia ini? Tidak lain dan tidak bukan mereka akan hidup lurus-lurus saja tanpa adanya rintangan apapun. Dalam segala hal dalam hidup kita, kehati-hatian kita terhadap jebakan sangatlah penting. Segala sesuatu itu sulit untuk dilakukan tanpa melewati jebakan. Namun, dengan melewati jebakan itu kita akan perlahan mengetahui dan belajar untuk menghindari jebakan itu. Kita senantiasa berdoa untuk selalu terhindar dari jebakan yang memang tidak bisa kita bedakan oleh subyektifitas kita. Introspeksi diri merupakan hal yang baik dilakukan setiap kali guna terhindar dari jebakan yang telah kita lalui sebelumnya.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  45. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillahirrohmanirrohim.
    Terimakasih banyak prof. Marsigit atas artikel di atas. Pentingnya ‘kesadaran’ pada diri kita dalam setiap gerak langkah kita beraktivitas merupakan hal yang tidak dapat ditampik lagi. Arah dan jalur pemikiran filsafat yang kadang menjebak, membuat kita untuk wajib berkomitmen agar memiliki landasan spiritual yang kuat sebelum mempelajarinya dan tidak setengah-setengah dalam memahaminya. Mungkin saya termasuk pemula yang belum seutuhnya mengerti tentang filsafat. Namun, sering sekali orang mengatakan jika kita belajar filsafat hendaknya kita tetap membentengi diri dan pikiran kita agar tidak terjebak dalam kehakikatan ilmu filsafat. Keikhlasan hati kita juga dipertanyakan, apakah kita hanya terjebak ikhlas dalam belajar filsafat atau tidak. Perhatian kita pun juga menjadi pertanyaan, apakah kita benar-benar memerhatikan saat mempelajari filsafat atau hanya pura-pura. Sulitnya fokus dan memusatkan perhatian pada filsafat mungkin tidak hanya terjadi pada seorang pemula seperti saya namun juga orang lain. Tapi saya yakin, berangkat dari keterpaksaan justru dapat membangun keikhlasan, sikap, dan karakteristik yang akan terbentuk dari proses yang tak terduga dan tidak menutup kemungkinan dapat merasuk pada jiwa dan pikirannya untuk melangsungkan kehidupan di depan. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  46. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Jebakan filsafat seperti yang dikatakan dalam elegi diatas adalah suatu keadaan yang berlawanan dari keberadaanmu yang seharusnya. Jadi setiap saat kita bisa saja berada dalam jebakan filsafat. Tergantung niat dan kesungguhan yang kita lakukan. Karen atidak dapat dipungkiri saat ini kita banyak berada dalam keadaan kepura-puraan yang menjadikan kita terjebak dalam filsafat. Elegi diatas mengajarkan kepada kita bahwa hidup ini harus lurus, jangan hanya dalam kepura-puraan, karena apapun yang kita lakukan dan pikirkan itulah cerminan dari dalam diri kita yang sebenarnya.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  47. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Definisi jebakan dalam konteks pandangan menurut filsafat adalah berpura-pura terhadap “sesuatu” namun sebenarnya/kenyataannya adalah sebaliknya, sesungguhnya tidak ada satupun keberkahan yang kita peroleh dari kepura-puraan, kepalsuan dan ketidakjujuran. Ada banyak jebakan yang akan kita temui dalam kehidupan sehari-hari kita oleh karena itu perlu kita jaga diri kita agar terhindar dari berbagai jebakan tersebut selalu mengingat Allah SWT dan berusahalah menjadi diri sendiri.

    ReplyDelete
  48. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Sebelum saya membaca isi dari elegi tersebut dan hanya baru membaca judul postingannya, saya bertanya-tanya apakah saya terjebak dalam menunut ilmu filsafat? Dan iya. Jebakan jebakan itu berasal dari diri sendiri yang benar adanya dan tujuannya sebagai pengahalang dalam berfilsafat. Bukan penghalang yang negatif, melainkan bertujuan untuk menaikan dimensi kita. Berrefleksi diri membuat kita bertambah dimensi. Sadar secara sadar bahwa kesombongan itu ada dimana-mana. Sungguh ini bukan hal mudah untuk mengendalikannya. Kembali lagi, doa doa dan berdoa kepada Allah untuk meminta ampunan atas kesalahan yang kita miliki.

    ReplyDelete
  49. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Elegi jebakan filsafat ini menunjukkan pada kita bahwa di depan sesuatu disitu berdiri jebakan. Jebakan pun berarti seuatu, sehingga di depan jebakan selalu ada jebakan. Di depan jebakan ada jebakan kesadaran, kemudian ada jebakan keikhlasan, ada jebakan perhatian, ada jebakan minat, ada jebakan pengertian, ada jebakan sikap, ada jebakan karakter. Dan masih ada jebakan yang lain lagi

    ReplyDelete
  50. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Jebakan merupakan suatu hal yang membuat yang ada menjadi yang mungkin ada atau sebaliknya. Jebakan dalam filsafat merupakan jebakan dalam memahami, mempelajari pemikiran tentang yang ada dan mungkin ada dalam ruang dan waktu. Berpikirnya manusia dalam berfilsafat adalah jebakan sendiri bagi pemikirannya. Agar terhindar dari jebakan filsafat terutama jebakan ruang dan waktu kita harus memahami sebenar-benarnya ruang dan waktu tempat kita berada.

    ReplyDelete
  51. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Saya mengutip pernyataan orang tua berambut putih yang mengatakan "Jebakan filsafat adalah lawan dari keadaan dimana seharusnya engkau berada". Dari beberapa contoh jebakan filsafat yang dipaparkan diatas membuat saya menyadari bahwa saya sering kali berada dalam jebakan, beberapa diantaranya yang sering saya alami adalah jebakan kesukaan (berpura-pura suka padahal tidak suka), jebakan ketegangan (berpura-pura tenang padahal tidak tenang), jebakan kesegaran (berpura-pura tegar padahal tidak tegar) dan banyak lagi jebakan yang sering saya alami, namun disini saya ingin bertanya mengenai jebakan keikhlasan, ketika kita berusaha ikhlas (belum ikhlas) tetapi bukan pura-pura ikhlas apakah itu termasuk jebakan keikhlasan atau tidak ? Atau itu hanya fase menggapai ikhlas ? Mohon penjelasannya pak. Terimakasih.

    ReplyDelete
  52. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Terkadang kita merasa sadar walaupun sebenarnya tidak sadar. Jebakan sebenarnya adalah jebakan ruang dan waktu. Seringkali kita berpura-pura namun kenyataannya tidak. Namun pura-pura ini bisa baik bisa buruk tergantung ruang dan waktunya. Kalau berpura-pura untuk menipu orang lain tentu tidak baik. Namun di dalam dunia politik berpura-pura adalah hal yang lumrah, misal berpura-pura mendukung parpol tertentu, namun dikesempatan lain, jika menguntungkan maka pindah mendukung parpol lain.

    ReplyDelete
  53. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Jebakan-jebakan yang halus dan tersembunyi di dalam hati manusia sesungguhnya merupakan bagian dari dirinya. Pikiran dan perasaan yang tidak baik adalah bagian busuk di dalam hati yang seharusnya tidak akan mengganggup penilaian kita terhadap sesuatu ataupun seseorang. Namun apabila kita memilih untuk menggunakannya, maka jebakan tersebut akan semakin jelas adanya dan menutupi pikiran-pikiran baik yang kita miliki. Setiap orang memiliki kelemahan, dan setiap orang memiliki potensi untuk berbuat jahat. Namun setiap orang juga berhak membuat pilihan-pilihan dalam hidupnya. Manusia memiliki akal, perasaan, dan pikiran sehingga ketiganya harus berjalan beriringan dengan sokongan spiritual yang kuat agar tidak tergoda dengan jebakan. Seburuk-buruknya kita adalah di saat kita merasa sudah menjadi orang baik, ikhlas, alim, dan lainnya namun sebenarnya untuk menggapai level ikhlas yang sesungguhnya kita pun tidak pernah tahu.

    ReplyDelete
  54. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Jebakan filsafat selalu ada di sekitar kita, di setiap langkah kita, dan di dalam diri kita sendiri. Kita hidup harus bisa menembus ruang dan waktu, sebab jika kita sudah terjebak dalam suatu ruang untuk waktu yang lama, kit akan merasa sulit untuk bangkit. Padahal hidup ini harus terus berjalan dan harus terus di lalui. Jebakam di buat agar kita dapat menaikkan dimensi kita kelevel yang lebih tinggi. Namun, kita juga jangan sampai melupakan Tuhan. Kita harus selalu mendekatkan diri dan berserah kepadaNya serta selalu bersyukur atas semua yang telah Dia berikan. Kita juga harus selalu ikhlas dalam menjalani hidup ini. Terimakasih Bapak Marsigit atas ilmunya.

    ReplyDelete
  55. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Jebakan, ternyata dalam hidup ini dipenuhi oleh berbagai jebakan. Seringkali kita bertindak dalam kepura-puran agar dipandang baik oleh orang lain, ataupun untuk membuat diri kita sendiri nyaman. Setelah membaca elegi ini, saya menyadari bahwa kepura-puraan yang selama ini kita lakukan merupakan sebuah jebakan. Kita selama ini telah banyak terjebak oleh ikhlas, sikap, minat dll. Oleh karena itu, selalu perbaiki niat dan terus berikhtiar agar tidak terjebak dalam jebakan. Terimakasih.

    ReplyDelete
  56. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    ternyata banyak sekali jebakan dalam hidup ini, ketika kita berpura-pura maka itulah sebenar-benarnya kita telah masuk ke dalam jebakan. semuanya butuh kehati-hatian agar kita tidak termasuk ke dalam orang yang merugi terkena jebakan-jebakan yang sebenarnya bisa kita hindari.

    ReplyDelete
  57. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Didalam jebakan filsafat banyak sekali macam-macam jebakan didalmnya. Yang dapat saya pahami dalam elagi ini bahwa, segala sesuatu yang kita lakukan pasti ada hal-hal yang membuat kita menyimpang dari apa yang telah dilakukan, dan penyimpangan itu lah yang disebut jebakan, dimana jebakan selalu ada disetiap apapun yang kita geluti. Akan tetapi jika kita tidak jujur dengan apa yang digeluti, maka kita sudah terperangakp dalam jebakan tersebut.

    ReplyDelete
  58. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)


    Berdasarkan postingan tersebut dapat disimpulkan bahwa sering kali kita terjebak oleh pikiran dan perilaku kita sendiri. Saya akan mencoba membahas kalimat Bapak mengenai jebakan karakter, saya setuju bahwa karakter dibangun berdasarkan sikap dan penilaian dan karakter juga dapat menentukan ilmu. Pencarian ilmu dengan cara karakter yang benar akan mendapatkan dan memperoleh ilmu yang benar, sedangkan penggapaian ilmu pengetahuan disertai pencapaian ilmu tersebut dengan karakter yang buruk akan menyebabkan ilmu yang kita peroleh juga akan menjadikan kita menjadi karakter yang buruk. Contohnya saat sedang ulangan maka siswa yang terbiasa mencontek maka siswa akan terbiasa untuk mengambil hak orang lain dan dia akan mengalami karakter melakukan apa saja untuk menggapai sesuatu sehingga hal tersebut akan memungkinkan pada saat dewasa dia akan mudah melakukan karakter buruk.

    ReplyDelete
  59. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Seseorang yang telah terjebak oleh jebakan filsafat hanya akan merasa walaupun sesungguhnya tidak. Tetapi sebenar-benar manusia hanya bisa mencoba, berikhtiar, dan berusaha. Manusia hanya dapat berusaha untuk ikhlas, tetapi pada kenyataannya manusia sulit untuk menjadi benar-benar ikhlas. Karena itulah sebagai manusia kita harus senantiasa berusaha tetapi tidak boleh merasa sudah karena perasaan sudah itulah yang membuah kita berhenti berusaha dan malah terjebak dalam jebakan filsafat. Semoga kita senantiasa dilindungi oleh Allah SWT dari segala jebakan syaitan. Amin.

    ReplyDelete
  60. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Di dunia ini banyak sekali jebakan-jebakan yang siap menerka kita. Jebakan bisa berasal dari dalam diri kita dan dari luar diri. Kita harus bisa menghindari jebakan dengan menggunakan akal yang sehat dan hati yang bersih. Jadi agar kita tidak terjebak kita harus bersifat ikhlas, selalu berikhtiar serta menyerahkan segala sesuatu hasilnya hanya pada ALLAH SWT.

    ReplyDelete
  61. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Belajar filsafat mempunyai dua potensi, yaitu potensi berkembang atau potensi menurun. Salah satu contohnya, filsafat memiliki banyak aliran. Jika kita dapat memahami aliran-aliran tersebut dalam kesadaran maka akan meningkatkan pemahaman kita sedangkan sebaliknya jika kita tidak mampu memahaminya karena ketidaksadaran maka akan menjerumuskan kita kepada sesuatu yang terperangkap dalam ruang dan waktu yang salah. Maka dalam belajar filsafat butuh persiapan yaitu berupa kesadaran penuh karena sesungguhnya pemikiran kita berada dalam kesadaran.

    ReplyDelete
  62. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Sebagian besar manusia telah terkena jebakan filsafat karena jebakan tersebut bersifat halus dan lembut. Hanya orang-orang yang sadar sepenuhnya akan ruang dan waktu yang dapat meminimalisir jebakan filsafat. Oleh karena itu kita harus waspada dan selalu menjaga pikiran dan hati kita untuk selalu berpikir positif sehingga dapat terindar dari jebakan filsafat. Selain pikiran dan hati, sikap juga perlu dijaga. Berhati-hatilah dalam bersikap, karena sikap dari seseorang merupakan cermin dari hati orang tersebut. Oleh karena itu marilah kita berlomba-lomba untuk bersikap baik dalam keadaan apapun, di manapun berada, dan kepada siapapun itu. Hal ini merupakan salah satu cara untuk menghindari jebakan filsafat.

    ReplyDelete
  63. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Jebakan filsafat ini sungguh sangat berbahaya jika kita tidak mampu keluar dari belenggunya. Caranya simple, jujur. jangan memaksa diri kita untuk melakukan suatu kebohongan karena kita akan terus terjebak dan menyebabkan pengetahuan kita tidak berkembang. Semisal ada sesuatu yang tidak disukai namun tetap kita memaksakan diri untuk menyukainya maka hal tersebut dapat menyiksa diri kita sendiri. Selain itu, hal lain yang harus kita pahami agar terhindar dari jebakan filsafat terutama jebakan ruang dan waktu adalah memahami sebenar-benarnya ruang dan waktu tempat kita berada.

    ReplyDelete
  64. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Jebakan ialah hal yang membuat suatu hal yang ada menjadi mungkin ada atau sebaliknya. Subyek merupakan sesuatu hal yang dapat dijadikan tujuan dalam jebakan, ialah: jebakan kesadaran, keikhlasan, perhatian, minat, pengertian, sikap, karakter, disiplin, kejujuran, kebaikan, tanggung jawab, kepatuhan, dan sebenar-benar jebakan adalah jebakan ruang dan waktu. Jebakan dalam filsafat merupakan jebakan dalam memahami dan mempelajari pemikiran tentang yang ada dan mungkin ada dalam ruang dan waktu. Dalam berpikirnya manusia dalam berfilsafat adalah jebakan sendiri bagi pemikirannya. Sebagai contoh, jebakan berpikir dimana seharusnya kita berpikir akan tetapi kita tidak berpikir atau pura-pura berpikir.

    ReplyDelete
  65. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Mempelajari filsafat penuh dengan jebakan, namun sebenarnya jebakan ada dimana-mana. Jebakan ilmu pengetahuan ada saat kita belajar, jebakan kehidupan muncul selama kita masih bernafas. Seperti diilustrasikan dalam dialog tersebut, banyak sekali jebakan di dunia ini, sedangkan kita seharusnya melabuhkan apa yang kita lakukan menuju spiritual dan keikhlasan. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  66. Keikhlasan mengharuskan telah menguasai kesabaran dalam rangka menguasainya. Orang yang ikhlas harus melewati dimensi kesabaran agar dapat bermuara pada keikhlasan. Orang yang ikhlas tentulah orang yang sabar, namun orang yang bersabar belum tentu ikhlas. Hal ini didasarkan pada ranah spiritual yang mengajarkan hirakri menuju keikhlasan ialah sabar dan pasrah atau tawakkal menyerahkan segala urusan kepada Tuhan YME.Walahu a'lam

    ReplyDelete
  67. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Dalam mempelajari filsafat, akan sangat berbahaya apabila kita tidak menggunakan hati dan pikiran dengan benar. Potensi-potensi jebakan itu dapat muncul kapan saja dan dimana saja. Apabila sudah terkena jebakan, bahkan pikiran kita sendiri akan sulit terlepas. Gunakanlah hati dan pikiran yang ikhlas, sesuai ruang dan waktu agar kita dapat melihat jebakan-jebakan itu atau sesuatu yang berpotensi menjadi jebakan nantinya.

    ReplyDelete
  68. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Jika jebakan filsafat itu halus, maka tentu kita sebagai logos sangat kesulitan menyadarinya. Sadar akan jebakan filsafat sebenarnya sudah mengetahui dan mengenali jebakan itu. Kesadaran adalah syarat untuk mengetahui jebakan filsafat secara umum. Sadar bahwa ilmu kita sudah mumpuni, adalah jebakan filsafat itu sendiri, yang membuat kita berlaku sombong dan angkuh.

    ReplyDelete
  69. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dari elegi ini juga, banyak sekali jebakan jebakan filsafat yang mungkin tak terhitung jumlahnya, karena meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Jebakan Kemalasan, ketika seorang sadar bahwa dirinya sudah rajin, mengerjakan sesuatu dengan semangat, maka ia bisa terkena jebakan kemalasan. Setelah sadar rajin, ia merasa untuk bersantai dan bermalas-malas an.

    ReplyDelete
  70. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Jebakan dalam elegi ini memili mana sesuatu yang menipu diri kita sendiri bahwa kita merasa telah melaukan suatu hal padahal sesungguhnya kita belum melakukannya. Salah satu jebakan yang amat berbahaya ialah jebakan keikhlasan. Bahwa seseorang merasa telah ikhlas dalam menjalani suatu kegiatan atau menghadai suatu kejadian, tetapi sesungguhnya orang tersebut belum ikhlas.

    Salah satu indikator bahwa kita terkena jebakan keikhlasan ketika belajar atau mencari ilmu ialah kita merasa terbebani dan tidak merdeka saat membaca, mendengarkan atau menjalani ativitas pembelajaran. Maka, hal tersebut dapat menghambat masuknya ilmu pengetahuan ke dalam diri kita. akan sia-sia belaka waktu yang kita habisnkan untuk membaca, mendengarkan dan melaukan kegiatan pembelajaran tersebut apabila dilakukan dengan tidak ikhlas. Semoga kita selalu terhindar dari jebakan keikhlasan baik dalam hati maupun dalam pikiran.

    ReplyDelete
  71. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Sangat tidak mudah untuk memahami ilmu itu. Dimulai dari kesadaran akan adanya ilmu, kesadaran untuk memahaminya. Salah satunya adalah jebakan keikhlasan. Karena keiklasan itu sangatlah halus, lembut dan tersembunyi pada batas sebuah dimensi. Selain ketidakikhlasan jebakan filsafat ini sangat banyak macamnya, antara lain ketidaksadaran, tidak perhatian, tidak berminat, tidak punya sikap, tidak berkarakter, tidak disiplin, tidak amanah dan masih banyak lagi.

    ReplyDelete
  72. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Jebakan filsafat itu ragamnya sangat banyak, jika jebakan filsafat sangat halus maka kita akan kesulitan untuk menyadari apakah kita benar-benar sadar atau kita telah terjebak dalam filsafat. Seperti perasaan kita yang telah ikhlas dalam melaksanakan hal, namun ketika kita merasa seperti demikian justru kita telah masuk kedalam jebakan filsafat. Maka dari itu, agar kita tidak masuk dalam jebakan filsafat kita harus senantiasa menyandarkan apa yang telah kita lakukan pada Allah SWT dan tawakal terhadap apa yang kita lakukan.

    ReplyDelete
  73. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dimanapun kita berada, kita harus sadar akan keadaan, sadar yang dimaksud adalah terjaga dengan apa yang ada dilingkunga kita. Dengan terjaga, kita akan mampu menganli jebakan jebankan ruang dan waktu. Dengan mengetahuinya maka kita akan mampu menghadapainya. Tak lupa selalu meminta perlindungan dan pertolongan kepada yang maha kuasa, semoga kita tidak terjerumus kedalam jebakan yang telah ada.

    ReplyDelete
  74. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dalam menuntut ilmu itu sebenarnya ada beberapa yang perlu disiapkan yang pertama yaitu kesadaran. Kesadaran akan pentingnya ilmu itu sendiri, kesadaran yaitu terjaga. Kemudian diperlukan pula keikhlasan dalam mencari ilmu itu. kemudian ada pula perhatian, pengertian, sikap, dan karakter yang benar dalam menuntut ilmu. Karena sejatinya dalam menuntut ilmu ada tantangan berkenaan dengan syarat-yarat diatas yaitu berupa jebakan yang sekakan menyerupai, namun sejatinya bukan, maka perlu diwaspadai hal ini agar dalam menuntut ilmu ini benar-benar bisa sepenuh hati.

    ReplyDelete
  75. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Dengan filsafat manusia mampu menyadari sebatas apa kemampuannya, menyadari seperti apa dirinya, karena hidup manusia itu penuh dengan kontrakdisi maka apa yang terlihat/nampak diluar belum tentu mampu menggambarkan/menunjukkan bagaimana dirinya. Tetapi filsafat bagaikan 2 sisi mata uang, disatu sisi dia mampu menjadikan manusia rendah hati, namun disisi lain dapat menjadi boomerang karena ketika terjebak didalamnya/gagal memahami makna yang sebenarnya ada didalamnya, berpura-pura mengerti padahal sebaliknya maka yang muncul nantinya adalah kesombongan. Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  76. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B 2017

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Elegi ini sepertinya menggambarkan tentang betapa kita harus berhati-hati dalam mempelajari filsafat. Saya sering mendengar dalam kuliah filsafat oleh Bapak Prof Marsigit adalah silahkan kacaukan pikiranmu tetapi jangan sampai kacau hatimu. Hal ini yang selalu diingatkan oleh Bapak Prof Marsigit bahwa ketika belajar filsafat hati kita harus kuat terutama cerdas spiritual, karena jika salah dalam mempelajarinya bisa saja kita berbelok arah dari jalan yang lurus.

    ReplyDelete
  77. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Zaman sekarang ini, telah banyak orang yang terkena jebakan filsafat. Saya sendiri pun juga merasakannya. Terkadang kita merasa mengetahui berbagai hal, padahal sebenarnya banyak hal yang belum kita ketahui. Sebagian jebakan yang telah dijelaskan di atas membuat saya sadar jika saya sering mendapat jebakan filsafat. Misalnya saja ketika dosen menerangkan tentang sebuah teorema, kemudian dosen bertanya apakah sudah mengerti, dan saya menjawab sudah mengerti padahal masih kebingungan. Dari sini dapat disimpulkan bahwa saya telah terkena jebakan pengertian. Memang banyak yang tidak menyadari bahwa mereka telah terkena jebakan filsafat. Oleh karena itu, sebaiknya kita harus jujur pada diri sendiri maupun orang lain, jangan sampai kita mengatakan lawan dari keadaan dimana seharusnya kita berada

    ReplyDelete
  78. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Jebakan ada dimana-mana. Bisa ada di hati dan di pikiran. Tidak ada yang sebenar-benarnya bisa lepas dari jebakan tersebut. Setiap orang hanya bisa berusaha untuk tidak terjebak dalam jebakan itu. Jebakan yang sebenarnya adalah jebakan ruang dan waktu. Seseorang akan masuk dalam jebakan itu kalau dia tidak bisa memaknai hakikat ruang dan waktu yang ada dalam dirinya. Menurut saya untuk mencoba tidak terjebak, kita harus selalu berusaha untuk memaknai segala sesuatu yang kita pikirkan dengan sebenar-benar ruang dan waktu yang kita miliki, sebenar-benar dimensi yang akan dicapai. Ketika ada ketidaksesuaian antara apa yang ingin dicapai dengan ruang dan waktu yang sesuai, maka sebenar-benarnya kita telah terjebak

    ReplyDelete
  79. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Jebakan filsafat merupakan jebakan ruang dan waktu. Merasa telah melaui ruang dan waktu namun sebenarnya belum benar-benar melaluinya. Hal ini yang mungkin merangkum semua jebakan-jebakan yang ada. Mulai dari jebakan pengertian, sikap, kejurjuran, keikhlasan, dan sebagainya.
    Bahwa orang-orang yang rugi adalah orang yang terjebak ruang dan waktu. Ada pula yang mengatakan bahwa, orang orang yang merugi adalah orang yang tidak lebih baik dari hari yang kemarin. Hal ini meunjukkan bahwa jebakan ruang dan waktu itu sebenar-benarnya ada dan harus dihindari.

    ReplyDelete
  80. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Filsafat bisa dibangun dengan logika dan pengalaman. Jebakan filsafat itu adalah apabila dalam mempelajari filsafat hanya untuk ikut – ikutan dan mencari nilai saja, filsafat tidak dipelajari dengan baik dan lengkap, dan membacanya hanya separuh–separuh saja sehingga tidak menemukan manfaat dan barokah dari yang dipelajarinya.

    ReplyDelete
  81. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi jebakan filsafat menjelaskan tentang bagaimana kita sering terjebak akan sesuatu yang baik namun ternyata buruk. Salah satu terjebak yang dimaksud disini adalah terjebak dalam jebakan kesadaran yaitu ketika kita berpura-pura sadar padahal kita belum menyadarinya. Maka hendaknya agar kita memahami sesuatu itu maka kita harus meletakkan kesadaran terhadap objek yang akan kita sadari. Kesadaran itu bersifat merdeka sehingga sebenar-benar ilmu itu memerlukan kesadaran kita.

    ReplyDelete
  82. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi jebakan filsafat menjelaskan tentang bagaimana kita sering terjebak akan sesuatu yang baik namun ternyata buruk. Salah satu terjebak yang dimaksud disini adalah terjebak dalam jebakan kesadaran yaitu ketika kita berpura-pura sadar padahal kita belum menyadarinya. Maka hendaknya agar kita memahami sesuatu itu maka kita harus meletakkan kesadaran terhadap objek yang akan kita sadari. Kesadaran itu bersifat merdeka sehingga sebenar-benar ilmu itu memerlukan kesadaran kita.

    ReplyDelete
  83. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi jebakan filsafat menjelaskan tentang bagaimana kita sering terjebak akan sesuatu yang baik namun ternyata buruk. Salah satu terjebak yang dimaksud disini adalah terjebak dalam jebakan kesadaran yaitu ketika kita berpura-pura sadar padahal kita belum menyadarinya. Maka hendaknya agar kita memahami sesuatu itu maka kita harus meletakkan kesadaran terhadap objek yang akan kita sadari. Kesadaran itu bersifat merdeka sehingga sebenar-benar ilmu itu memerlukan kesadaran kita.

    ReplyDelete
  84. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Jebakan merupakan suatu batu ujian untuk kita agar dapat naik ke level pemikiran dan pengetahuan tahap selanjutnya. Dimana dalam menggapai ilmu itu membutuhkan rasa keingintahuan dan rasa tidak cepat puas. Sehingga ketika memperoleh ilmu itu kita akan terus berkarya. Janganlah kita ingin dibilang pintar oleh seseorang sehingga kita pura-pura mengerti akan suatu hal padahal kita pada dasarnya tidak tahu sama sekali. Janganlah kita membohongi diri sendiri atas keadaan yang sedang kita alami. Katakanlah belum bisa jika memang kita belum mampu.

    ReplyDelete
  85. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Untuk dapat lepas dari jebakan filsafat sebenarnya tidaklah terlalu rumit, yang diperlukan adalah kejujuran. Dimana kejujuran itu ditujukan untuk diri kita sendiri, misalnya janganlah kita membohongi hati kita sendiri, bilang dimulut suka padahal sebenarnya tidak suka. Sehingga ketika kita telah terlanjur terjebak akan suatu keadaan yang kita anggap suka padahal tidak kita sukai, maka hal itu justru akan menyiksa diri kita sendiri. Oleh karena itu janganlah kita terbiasa membohongi diri kita sendiri agar tidak terjerumus kedalam jebakan filsafat

    ReplyDelete
  86. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Berdasarkan elegi ini saya tersadar tentang pentingnya keteguhan diri ketika belajar. Karena dalam belajar kita akan menemukan kesulitan-kesulitan yang sebenarnya itu adalah jebakan. Perlunya keikhlasan dalam meningkatkan ilmu agar ketika menemukan masalah kita tidak merasa kesulitan, namun menyadari dan ikhlas bahwa itu adalah proses dalam belajar.

    ReplyDelete
  87. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Membaca elegi jebakan filsafat ini sama halnya kita melakukan suatu tindakan atau perasaan tidak sesuai dengan ruang dan waktunya. Atau kepura-puraan yang dimunculnya. Sesuai elegi di atas misalnya oang yang berbohong tetapi ia mengatakan bahwa ia jujur. Jika suatu saat ketahuan maka hidupnyala yang akan hancur. Setiap langkah dalam menjalami hidupnya maka ia akan sulit dipercaya oleh orang lain. Karena kepura-puraanlah yang selalu menyelimuti dirinya padahal orang lain tidak suka dengan orang yang pura-pura apalagi pura-pura jujur padahal berbohong.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  88. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    dari elegi ini kita tahu bahwa terdapat jebakan dimana-mana, kita harus waspada dan teru sadar tetap dijalan yang benar agar dapat terhindar dari jebakan tersebut. jika suatu saat jatuh masuk kedalam lubang jebakan, maka bangunlah, jadikan itu sebagai pelajaran dan pengalaman, selanjutnya jangan sampai jatuh pada lubang yang sama

    ReplyDelete
  89. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    jebakan merupakan salah satu ujian kekonsistenan kita terhadap sesuatu, dalam Islam telah diberikan dua pedoman hidup atau pegangan yang menjamin keselamatan kita di dunia dan akhirat yaitu al-Qur'an dan sunnah Rasul

    ReplyDelete
  90. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa untuk mempelajari filsafat itu diperlukan hati dan pikiran yang ikhlas. Jika hati dan pikiran tidak benar-benar ikhlas mempelajari filsafat maka akan terjebak dan terjerumusa dalam jebakan filsafat. Menurut saya jebakan filsafat itu sebenarnya datangnya dari diri sendiri, misalnya seperi disebutkan diatas tentang jebakan minat. Mungkin lisan berkata bahwa kita berminat belajar, tapi kadang hati belum tentu memiliki pemikiran yang sama.

    ReplyDelete
  91. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Menurut saya, jebakan filsafat adalah kesombongan. Ada banyak orang mengaku telah menuntaskan filsafat dengan nada kesombongan bahwa seolah-olah belajar filsafat adalah ihwal saling ajang pamer pengetahuan. Kesombongan adalah sebenar-benarnya perangkap filsafat yang sebenarnya membunuh hakikat filsafat itu sendiri. Alih-alih mencapai suatu kebijaksanaan hidup yang menciptakan kerendahan hati, kesombongan sebagai perangkap filsafat justru menanamkan penyakit dalam hati dan pikiran. Semoga Allah selalu menjaga kita dari sikap kesombongan. Aamiin!!

    ReplyDelete
  92. Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika

    Artikel yang sangat menarik, jebakan-jebakan yang ada sebenarnya sangat menantang untuk dihadapi dan diselesaikan. Jika kita berhasil menyelesaikannya saya yakin diri kita akan menjadi pribadi yang sopan dan santun terhadap ruang dan waktu. Dan dengan demikian maka masalah-masalah tersebut atau jebakan-jebakan itu akan bisa dihadapi. Menurut pendapat saya salah satu cara menghadapi jebakan itu adalah jangan berlaku sombong dan jujurlah terhadap diri sendiri. Sombong akan menyebabkan kita tidak dapat mengontrol apa yang seharusnya kita butuhkan dan hanya ingin apa yang kita inginkan. Sedangkan jujur pada diri sendiri akan membuat kita sadar apakah kita sudah ikhlas sudah memperhatikan atau belum. Terima kasih.

    ReplyDelete
  93. Siti Efiana
    15301241029
    S1- Pend.Mat I 2015

    Terima kasih atas eleginya, Prof. Saya akan merangkum artikel ini. Jebakan filsafat adalah lawan dari keadaan dimana seharusnya engkau berada. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak dalam jebakan kesadaran adalah engkau berpura-pura sadar padahal engkau belum menyadarinya. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak dalam jebakan keikhlasan adalah engkau berpura-pura ikhlas, padahal engkau sebetulnya tidak ikhlas. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan perhatian adalah engkau berpura-pura memerhatikan, padahal engkau sebetulnya tidak memperhatikan. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan minat adalah engkau berpura-pura berminat, padahal engkau sebetulnya tidak berminat. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan pengertian adalah engkau berpura-pura mengerti, padahal engkau sebetulnya tidak mengerti. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan sikap adalah engkau berpura-pura bersikap, padahal engkau sebetulnya tidak bersikap. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan karakter adalah engkau berpura-pura berkarakter, padahal engkau sebetulnya belum berkarakter. Sehingga dapat disimpulkan bahwa manusia harus hati-hati pada jebakan filsafat ini, jangan merasa berpura-pura bisa jika sebenarnya tidak bisa. Tidak masalah jika kita belum bisa akan suatu hal karena hal tersebut akan menuntut kita untuk terus belajar.

    ReplyDelete
  94. Febriana Putri Hutami
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241007

    Dari elegi jebakan filsafat ini, saya mendapati bahwa jebakan itu adalah sutu kepura-puraan, suatu yang membuat tidak merdeka, dan lawan dari keadaan dimana kita berada. Jebakan yang benar-benar nyata adalah jebakan ruang dan waktu. Contoh jebakan adalah, jebakan kebaikan, dimana seseorang tersebut hanya berpura-pura baik, padahal pada nyatanya tidak berbuat kebaikan yang benar-benar tindakan kebaikan.

    ReplyDelete
  95. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Jebakan itu halus dan lembut dan tersembunyi. Banyak sekali jenis jebakan dalam kehidupan yang tidak disadari maka perlunya kehati-hatian dalam melihat apa yang terjadi dalam kehidupan ini. Orang yang mamapu menembus dimensi ruang waktu dan mampu memehaminya maka orang itu mampu melihat jebakan filsafat yang ada. Fungsi dari jebakan adalah muntuk meningkatakan dimensi kehidupan.

    ReplyDelete
  96. Raudhah Nur Pratiwi (15301244009)
    S1- Pend. Matematika A 2015

    Bismillah,
    Elegi ini menggambarkan bahwa dunia ini dipenuhi oleh jebakan-jebakan yang jumlahnya tak terhitung. Tidak ada orang yang bisa terlepas dari jerat jebakan secara cuma-cuma. Agar terhindar dari jebakan-jebakan itu kita harus senantiasa menambah ilmu pengetahuan agar dapat membedakan mana yang jebakan mana yang bukan, mana yang baik mana yang buru. Dan tidak lupa selalu memohon kepada Allah Ta’ala agar senantiasa dalam perlindungan-Nya.

    ReplyDelete
  97. Fitria Restu Astuti
    15301241040
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Dalam tulisan ini dikatakan bahwa jebakan filsafat adalah lawan dari keadaan dimana seharusnya engkau berada. Jebakan filsafat dapat membuat diri kita tidak berkembang. Kita akan senantiasa mampu melakukan suatu hal akan tetapi realitanya kita hanya berpura-pura mampu melakukan hal itu. Maka kita harus berhati-hati pada jebakan filsafat ini. Menurut saya jebakan filsafat ini mirip dengan apa yang dsebut sebagai zona nyaman yang membuat seseorang hanya berjalan di tempat dan tidak bergerak maju memenuhi perubahan. Sesungguhnya jebakan filsafat adalah jebakan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  98. Nur'aini Habibah Sa'diyyah
    15301241044
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Artikel yang menarik, ternyata jebakan banyak macamnya. Hanya sebagian orang yang dapat merasakan jebakan. Banyak sekali jebakan yang sesungguhnya sering dirasakan setiap manusia, namun manusia terkadang tidak menyadarinya. Seperti jebakan keikhlasan, banyak yang mengaku telah ikhlas, tapi ternyata belum ikhlas. Menurut saya, jebakan ini seperti ketika bilang iya namun sebenarnya tidak. Jebakan filsafat adalah lawan dari keadaan dimana seharusnya engkau berada. Jebakan filsafat dapat dilihat dari kesombongan dan kejujuran. Berbuatlah jujur dan tidak sombong terhadap apapun dan siapapun, termasuk diri sendiri. Seperti dalam artikel ini pula, sebenar-benar jebakan adalah jebakan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  99. Almaida Alvi Zahrotunnisa
    15301241046
    Pendidikan Matematika A 2015
    Dunia ini dipenuhi oleh jebakan. Jebakan itu halus dan lembut dan tersembunyi. Karenanya kita harus senantiasa berhati-hati agar tidak terjebak. Berhasil menghindari jebakan akan meningkatkan tingkatan dalam hidup kita.

    ReplyDelete
  100. Isykarima Nur S
    15301241032
    S1 Pend. Matematika A 2015

    Dari sini saya tahu bahwa jebakan adalah suatu yang tidak nyata atau kepura-puraan, sesuatu yang membuat tidak merdeka. Jebakan yang nyata adalah jebakan ruang dan waktu.
    Salah satu contoh jebakan adalah, jebakan kebaikan dimana orang tersebut hanya berpura-pura berbuat baik, namun tidak berbuat baik yang sebenar-benarnya.

    ReplyDelete
  101. Woro Alma Manfaati
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241002

    Banyak orang yang mempelajari filsafat dan terkena jebakan filsafat. Terdapat banyak aliran dalam filsafat yang sifatnya menjebak atau meningkatkan pemahaman, hal ini tergantung bagaimana orang yang mempelajarinya. Dapat bersifat menjebak jika tidak mampu memahaminya karena ketidaksadarannya sehingga terperangkap dalam ruang dan waktu. Sedangkan bersifat meningkatkan pemahaman jika dalam mempelajarinya dengan penuh kesadaran.

    ReplyDelete
  102. Alman Kresna Aji
    15301241022
    S1 Pendidikan Matematika 2015
    Elegi dalam filsfat itu sangat lembut dan halus. Kunci dalam menghindari atatu meminimalisir dari terkena jebakan tersebut adalah dengan kesadaran pada diri seseorang. Apabila kita tidak menyadari maka kita tidak akan menemukan jebakan tersebut. Jika kita tidak menemukan jebakan tersebut, maka kita tidak bisa menghadapi jebakan tersebut. Oleh karena itu, penting adanya kita memiliki suatu kesadaran dalam mempelajari suatu filsafat.

    ReplyDelete
  103. Muhammad Labib Hidayaturrohman
    15301241023
    Pendidikan Matematika 2015

    Sebelumnya terimakasih pak atas ilmu yang bapak berikan. Saya semakin tau sifat dan ciri ciri dari jebakan yang bapak maksud, seperti jebakan ikhlas dan lain lain. Kita sebagai manusia tidak boleh merasa tinggi karena akan terkena jebakan jebakan tersebut misalnya sudah merasa baik, merasa dirinya ikhlas dan lain lain. Pada dasarnya yang dapat menentukan hal tersebut hanyalah Allah SWT dan kita sebagai manusia hanya bisa berusaha sebaik mungkin. Kita harus mengenali berbagai ciri ciri jebakan agak kita tidak terjebak di dalamnya. Oleh karena itu penting bagi kita mempelajari ilmu sampai sedalam dalamnya, sampai ke akar akarnya. Terimakasih

    ReplyDelete
  104. Rina Musannadah
    15301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Elegi ini mengingatkan bahwa dalam dunia ini penuh dengan jebakan. Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa jebakan itu lembut dan halus, sehingga kita patut berhati-hati agar dapat terhindar dari jebakan. Dan sebenar-benarnya jebakan adalah jebakan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  105. Kristanti
    15301241041
    Pendidikan Matematika A 2015

    Dalam mempelajari filsafat atau dalam setiap mencari ilmu, manusia itu harus hati-hati, karena akan selalu ada jebakan, misalnya jika kita terkena jebakan maka saat kita mempelajari filsafat maka kita merasa sudah tau banyak hal, padahal jika kita terus belajar dan mencari ilmu maka masih banyak sekali ilmu di luar sana yang kita belum pelajari. Oleh karenanya, dalam mempelajari filsafat kita harus selalu sadar dan selalu berdo’a kepada Allah SWT.

    ReplyDelete