Sep 20, 2013

Elegi Jebakan Filsafat




Oleh Marsigit

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan:
Aku adalah jebakan. Sesungguhnya aku adalah jebakan filsafat. Sesuai dengan hakekat filsafat, maka aku sangatlah halus, lembut dan tersembunyi. Hanya orang-orang tertentu aku perkenankan untuk menemuiku. Itupun dengan syarat-syaratnya yang sangat ketat.

Subyek:
Aku belum jelas siapakah engkau. Jika engkau jebakan filsafat maka apakah ciri-cimu itu?

Jebakan:
Aku adalah jebakan. Aku dapat sebutkan bahwa tempat tinggalku adalah pada batas dimensimu. Fungsiku adalah untuk menaikkan dimensimu. Sedangkan diriku itu beraneka ragam. Ragamku sebanyak batas dimensimu. Maka aku terdiri dari Jebakan1, Jebakan2, Jebakan3,... dst.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan kesadaran:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai kesadaranmu, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan kesadaranmu. Sebenar-benar kesadaran adalah dirimu yang terjaga. Maka agar engkau memahami sesuatu engkau harus letakkan kesadaranmu pada obyek yang akan engkau sadari. Kesadaranmu itu bersifat merdeka. Maka sebenar-benar ilmu itu memerlukan kesadaranmu. Jika engkau melupakan akan hal demikian maka itulah bahwa keadaanmu itu sudah masuk ke dalam perangkap kesadaranmu. Itulah jebakan kesadaranmu. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak dalam jebakan kesadaran adalah engkau berpura-pura sadar padahal engkau belum menyadarinya.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Keikhlasan:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai keikhlasan maka sebenar-benar diriku adalah jebakan keikhlasanmu. Setinggi-tinggi hatimu adalah ikhlasmu. Maka tempat tinggalku adalah di dalam hatimu. Aku adalah bersih tak bersyarat. Keikhlasanmu adalah merdeka. . Maka sebenar-benar ilmu itu memerlukan keikhlasanmu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan keikhlasan. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak dalam jebakan keikhlasan adalah engkau berpura-pura ikhlas, padahal engkau sebetulnya tidak ikhlas.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Perhatian:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai perhatian, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan perhatian. Sebenar perhatian itu memerlukan kesadaran dan keikhlasan. Bergabungnya parhatian, kesadaran dan keikhlasan merupakan langkah untuk menerima sesuatu sebagai hal yang memang patut diterima. Segala macam ilmumu itulah memerlukan perhatianmu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan perhatian. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan perhatian adalah engkau berpura-pura memerhatikan, padahal engkau sebetulnya tidak memperhatikan.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Minat:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai minat maka sebenar-benar diriku adalah jebakan minat. Minatmu itu terdiri dari penerimaanmu, responmu dan sikap postitifmu. Sebenar-benar ilmumu itulah memerlukan minatmu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan minat. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan minat adalah engkau berpura-pura berminat, padahal engkau sebetulnya tidak berminat.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Pengertian:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai pengertian, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan pengertian. Pengertianmu itu engkau bangun berdasarkan minatmu dan penilaianmu terhadap ilmu. Maka sebenar-benar pengertianmu itulah akan membangun ilmumu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan pengertian. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan pengertian adalah engkau berpura-pura mengerti, padahal engkau sebetulnya tidak mengerti.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Sikap:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai sikap, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan sikap. Sikapmu itu engkau bangun berdasarkan pengertian dan penilaianmu terhadap ilmu. Maka sebenar-benar sikapmu itulah akan menentukan ilmumu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan sikap. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan sikap adalah engkau berpura-pura bersikap, padahal engkau sebetulnya tidak bersikap.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Karakter:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai karakter, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan karakter. Karaktermu itu engkau bangun berdasarkan sikap dan penilaianmu. Maka sebenar-benar karaktermu itulah akan menentukan ilmumu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan karakter. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan karakter adalah engkau berpura-pura berkarakter, padahal engkau sebetulnya belum berkarakter.

Subyek:
Wahai orang tua berambut putih. Apalah sebenarnya yang dimaksud dengan jebakan filsafat itu?

Orang tua berambut putih:
Jebakan filsafat adalah lawan dari keadaan dimana seharusnya engkau berada. Yang telah disebut tadi itu hanyalah sebagian dari jebakan yang ada. Jebakan yang lain masih banyak misalnya: jebakan disiplin, jebakan kejujuran, jebakan kebaikkan, jebakan tanggung jawab, jebakan kepatuhan. Ketahuilah bahwa dari semua itu dapat aku katakan bahwa sebenar-benar jebakan adalah jebakan ruang dan waktu.

40 comments:

  1. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Terkadang saat kita berada dalam zona nyaman, kita sudah merasa puas dan senang. Namun jika kita terus-terusan tidak menyadarinya, kita akan masuk dalam mitos. Kita harus berusaha keras untuk keluar dari zona nyaman, karena jika kita tidak mau berusaha untuk keluar dari zona nyaman kita, lama kelamaan kita akan malas. Dengan seperti itu kita akan menjadi malas. Kita tidak sepantasnya mau selamanya berada dalam zona nyaman, dengan hal seperti itu kita akan menolah untuk berkembang lagi.

    ReplyDelete
  2. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan elegi diatas, saya menyadari bahwa filsafat sebagai salah satu ilmu yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari kita dipenuhi dengan jebakan-jebakan. Baik jebakan itu berasal dari dalam pikiran diri sendiri ataupun berasal dari luar pikiran kita. Jebakan dalam filsafat menyebabkan apa yang perlu kita sadari sebenarnya adalah apa yang tidak perlu kita sadari begitupun sebaliknya. Makna kesadaran dalam filsafat pun mengandung jebakan-jebakan dimana kita merasa sudah sadar dan paham dalam mengetahui sesuatu hal, akan tetapi apa yang kita pahami sebenarnya bukanlah makna paham yang sebenarnya.

    ReplyDelete
  3. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Jebakan filsafat adalah lawan dari keadaan dimana seharusnya engkau berada. Tempat tinggal jebakan filsafat adalah pada batas dimensi kita. Ada beraneka ragam jebakan filsafat, ragam tersebut sebanyak batas dimensi kita. Sesungguhnya sebenar-benar jebakan adalah jebakan ruang dan waktu. Jebakan filsafat berfungsi untuk menaikkan dimensi kita. Kita bisa meningkatkan dimensi kita dengan selalu menuntut ilmu dunia dan akhirat. Ilmu itu lah yang dapat kita jadikan penerang untuk menghindari jebakan filsafat. Sehingga jika kita berhasil melalui jebakan tersebut maka akan naik lah dimensi kita. Namun sungguh itu bukan hal yang mudah. Oleh karena itu kita hendaknya berusaha dengan sungguh-sungguh dan senantiasa memohon doa pada-Nya agar mampu melewati jebakan tersebut dan dapat meningkatkan dimensi kita

    ReplyDelete
  4. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamulaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Terima kasih Prof atas elegi yang sangat inspiratif ini. Jebakan filsafat ini sungguh sangat berbahaya jika kita tidak mampu keluar dari belenggunya. Caranya simple, jujur. jangan memaksa diri kita untuk melakukan suatu kebohongan karena kita akan terus terjebak dan menyebabkan pengetahuan kita tidak berkembang. Semisal ada sesuatu yang tidak disukai namun tetap kita memaksakan diri untuk menyukainya maka hal tersebut dapat menyiksa diri kita sendiri. Selain itu, hal lain yang harus kita pahami agar terhindar dari jebakan filsafat terutama jebakan ruang dan waktu adalah memahami sebenar-benarnya ruang dan waktu tempat kita berada. Namun melepaskan diri dari jebakan-jebakan ini memang tidaklah mudah mengingat manusia adalah makhluk yang tidak sempurna.

    ReplyDelete
  5. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 1770121032
    PEP S2 B 2017

    Postingan di atas memberikan penyadaran pada diri saya pribadi. Di mana dalam menggapai suatu ilmu, seringkali kita terjebak pada jebakan filsafat yang sungguh banyak dan beranak-pinak. Misal saja belajar dengan memaksakan diri, tidak dengan ikhlas, merasa dikejar kejar oleh suatu hal. Baru saya sadari ternyata itu jebakan. Bahkan saya terjebak, kemarin saya mengira mungkin saja saya yang sering kali merasa dikejar-kejar tugas adalah motivasi saya untuk belajar lebih giat, ternyata itu jebakan. Bisa saja saya memberikan balasan postingan bapak yang satu ini dengan judul "Aku yang Terjebak".

    ReplyDelete
  6. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak.
    Dalam menggapai ilmu banyak tantangan yang harus dihadapi. Tantangan tersebut bisa berasal dari luar atau dari dalam diri setiap manusia.
    Dari postingan Bapak, saya memperoleh pengetahuan tentang berbagai macam jebakan dalam filsafat yang dapat menghalangi manusia menggapai ilmu. Untuk meminimalisir terjebaknya manusia dalam menggapai ilmu diperlukan kesadaran, keikhlasan, kejujuran, rendah hati.

    ReplyDelete
  7. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini saya tersadar tentang pentingnya keteguhan diri ketika belajar. Karena dalam belajar kita akan menemukan kesulitan-kesulitan yang sebenarnya itu adalah jebakan. Perlunya keikhlasan dalam meningkatkan ilmu agar ketika menemukan masalah kita tidak merasa kesulitan, namun menyadari dan ikhlas bahwa itu adalah proses dalam belajar

    ReplyDelete
  8. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Setelah membaca ini, hal yang saya dapati adalah saya merasa selama ini ternyata terjebak. Saya terjebak oleh mindset saya sendiri, yang menyatakan harus begini dan harus begitu. Untuk saai ini telah saya pahami sebenar-benar kebenaran pikiran itu adalah bebas, melihat dari segala aspek. Memandang setiap oposisi-oposisi, dan kontradiksi-kontradiksi karena sebenar-benar hidup adalah mengalami kontradiksi-kontradiksi.

    ReplyDelete
  9. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Jebakan filsafat berisi pandangan-pandangan yang dapat mengecoh pemikiran kita. Yang kita anggap benar, ternyata bukan itu jawabannya. Pemikiran manusia itu berbeda-beda, sehingga dalam mengartikan segala sesuatu satu dengan yang lain juga berbeda. Terkadang pemikiran kita benar terkadang juga salah. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam memikirkan sesuatu dan dalam bertindak, karena tindakanmu kadang dirasa tidak tepat bagi oranglain.

    ReplyDelete
  10. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Prof. Dunia ini penuh dengan jebakan. Terkadang manusia ingin terlihat ikhlas padahal sebenarnya mereka tidak ikhlas, ingin terlihat bijaksana padahal mereka hanya berpura-pura,dst. Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak berpura-pura dan terhindar dari jebakan-jebakan yang ada di dunia ini.

    ReplyDelete
  11. Junianto
    17709251065
    PM C

    Setiap tindakan yang dilakukan manusia pasti punya konsekuensi. Ada perbuatan baiuk dan ada perbuatan buruk. Inilah yang dinamakan jebakan filsafat. Dalam diri manusia terdapat hati nurani yang akan selalu mengingatkan manusia tentang perbuatan baik. Jika manusia melakukan perbuatan buruk, maka hati nurani pasti akan berkata bahwa itu tidak baik, begitu pula sebaliknya. Kalau manusia mau menuruti hati nurani, maka perbuatannya akan baik.

    ReplyDelete
  12. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Dalam hidup, seseorang akan terjebak oleh berbagai hal jika ia tidak benar-benar memahami makna hidup. Jebakan tersebut dapat berupa jebakan keikhlasan, jebakan perhatian, jebakan pengertian, jebakan sifat, dan sebagainya.
    Misalkan jebakan keikhlasan. Seseorang menyatakan “aku ikhlas jika membantu mengajar di daerah 3T tanpa dibayar” lalu keikhlasan itu akan hangus seiring dengan kata-kata yang baru saja dinyatakannya. Karena mana ada orang ikhlas yang menyatakan ikhlas pada manusia? Bahkan menyatakan ikhlas kepada diri sendiri dan Tuhan saja masih belum tentu benar-benar ikhlas.
    Misalkan lagi jebakan sifat. Seorang guru menilai bahwa sifat murid A sangat tidak sopan dan kasar. Padahal sesungguhnya guru tersebut lah yang telah bersikap tidak sopan dan kasar, dengan cara melabeli siswanya dengan label tidak sopan dan kasar.
    Begitulah jebakan fisafat bekerja dalam hidup seseorang. Maka sebaik-baiknya orang yang lolos dari jebakan adalah orang yang menjaga lisannya dan menjauhi sifat sombong, angkuh, dan ingin dipuji.

    ReplyDelete
  13. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Begitu mudahnya kita terjebak oleh jebakan filsafat yang hakekatnya sangat lembut, halus, dan tersembunyi. Apakah itu dikarenakan dari salah satu hakekatnya yang halus, sehingga begitu mudahnya kita terperangkap kedalam jebakannya?. Jebakan-jebakan filsafat yang sudah dipaparkan di atas sepertinya sudah seringkali saya rasakan tetapi saya baru mengetahui ternyata selama ini saya terjebak. Jebakan yang seringkali saya lihat dan saya sadari yaitu jebakan duniawi. Contohnya manusia yang terobsesi untuk mengejar kesenangan dunia, mereka tidak menyadari tipu daya dunia yang mereka alami, bahkan mereka sampai lupa akan kehidupan yang lebih kekal dari pada kehidupan di dunia, mereka rela melakukan segala macam cara apa pun demi kekayaan, kemakmuran, dan kesenangan hidup mereka. Padahal itu semua hanyalah kesenangan yang dapat dirasakan sesaat saja.
    Sebenarnya jebakan mengantarkan kita pada posisi yang kita paksakan nyaman tetapi sebenarnya tidak nyaman sama sekali, bahkan bisa jadi itu malah menadi sebuah beban yang tidak tahu bagaimana cara mengatasinya karena kita diam di dalam perangkapnya.

    ReplyDelete
  14. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Berdasarkan uraian Bapak di atas, menyiratkan pesan bahwa kita harus berhati-hati dalam setiap jebakan kehidupan. Siswa di sekolah mengejar nilai Ujian Nasional setinggi-tingginya tanpa menghiraukan apakah mereka curang, mencontek, mendapat bocoran dan lain-lain, sejatinya mereka telah terjebak pada hakikat pendidikan. Dengan bangga mereka “berpura-pura” menunjukkan nilai UN nya yang tinggi, namun menyembunyikan dalam-dalam kegiatan curangnya seperi mencontek, dapat bocoran, dll. Mereka berpura-pura bangga mendapatkan nilai 98 atau 100 dalam mapel matematika, padahal dalam hatinya sangat membenci matematika. Sering tidak sadar kita terjebak dalam hal seperti ini. Untuk itu dalam aktivitas belajar diperlukan suatu keikhlasan dan kesadaran bahwa kita benar-benar haus akan ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  15. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Jebakan-jebakan filsafat sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, hanya saja tidak sedikit dari kita yang tidak menyadarinya. Kita dapat dikatakan terjerumus ke dalam sebuah jebakan atau perangkap tersebut mana kala kita menganggap dan merasa apa yang sebenarnya tidak ada dalam diri kita. Sebagai contoh kita menganggap seolah-olah diri kita ikhlas padahal sesungguhnya kita belum mencapai keikhlasan tersebut, seolah-olah baik padahal kita belum mampu menjadi yang sebenar-benarnya baik, seolah-olah taat padahal masih belum mencapai ketaatan yang sesungguhnya, dsb.

    ReplyDelete
  16. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Setiap seseorang merasa telah berhasil menggapai sesuatu, saat itulah ia sedang berada di dalam jebakan. Tidak ada seorang pun yang dapat menggapai ikhlas, jujur, kesadaran, pemahaman, pengertian, dan semua meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Yang sesungguhnya ialah manusia hanya berusaha untuk menggapai itu semua. Dengan demikian, perlu adanya refleksi diri terhadap pikiran, sikap, dan tindakan agar senantiasa terhindar dari berbagai dimensi jebakan.

    ReplyDelete
  17. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi jebakan filsafat menjelaskan tentang bagaimana kita sering terjebak akan sesuatu yang baik namun ternyata buruk. Salah satu yang dimaksud disini adalah terjebak dalam jebakan kesadaran yaitu ketika kita pura-pura sadar padahal kita belum menyadarinya. Maka hendaknya agar kita dapat menyadari seauatu maka kita harus merefleksikan diri kita dan harus meletakkan kesadatan terhadap objek yang akan kita sadari. Kesadaran itu bersifat merdeka sehingga sebenar-senarnya ilmu itu memerlukan kesadaran kita.

    ReplyDelete
  18. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Artikel yang sangat menarik, jebakan-jebakan yang ada sebenarnya sangat menantang untuk dihadapi dan diselesaikan. Jika kita berhasil menyelesaikannya saya yakin diri kita akan menjadi pribadi yang sopan dan santun terhadap ruang dan waktu. Dan dengan demikian maka masalah-masalah tersebut atau jebakan-jebakan itu akan bisa dihadapi. Menurut pendapat saya salah satu cara menghadapi jebakan itu adalah jangan berlaku sombong dan jujurlah terhadap diri sendiri. Sombong akan menyebabkan kita tidak dapat mengontrol apa yang seharusnya kita butuhkan dan hanya ingin apa yang kita inginkan. Sedangkan jujur pada diri sendiri akan membuat kita sadar apakah kita sudah ikhlas sudah memperhatikan atau belum. Terima kasih.

    ReplyDelete
  19. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Tulisan ini memberikan wejangan nasehat”bahwa ketika ingin meraih segala sesuatu harus diikutsertakan dengan kesadaran, niat yang ikhlas, dan perhatian.Salah satunya yaitu meraih ilmu.Ilmu akan terpatri dalam diri seorang jika di dalam menuntutnya ada rasa keikhlasan.Dan segala sikap keterpura-puraan pada akhirnya akan mengundang kekecewaan.Dengan niat ikhlas yang sulit terasa mudah, yang berat terasa ringan.Dan semua yang dikerjakan dapat diterima dengan lapang dada.

    ReplyDelete
  20. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Terima kasih Pak Prof. atas tulisan elegi jebakan filsafat ini. Dari saya menyadari bahwa di dunia ini penuh akan jebakan karena jebakan filsafat itu adalah suatu keadaan yang merupakan lawan dari yang seharusnya ada. Tanpa disadari, jebakan ini sebenarnya sangat berbahaya. Untuk itu, selalulah waspada, selalu sadar terhadap apa yang terjadi sehingga kita dapat terhindar dari jebakan-jebakan yang ada didunia ini.

    ReplyDelete
  21. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Berfilsafat banyak menemukan kita ke dalam ruang-ruang yang penuh jebakan. Bilik-bilik jebakan itu wujudnya manipulatif, terkadang kita masuk ke dalam jebakan dimensi, terkadang kita masuk ke dalam jebakan metafisik. Mengindari jebakan kemungkinan bisa dilakukan jika kita dapat menembus ruang dan waktu. Namun, saya rasa penyataan saya tersebut terjebak ke dalam jebakan pikiran saya sendiri.

    ReplyDelete
  22. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Jebakan filsafat adalah ketika kita merasa sudah cukup mengerti dan berhenti mendalami filsafat dalam bentuk refleksi diri. Berpura-pura memahami, berpura-pura melakukan refleksi diri, tetapi masih tetap angkuh dan bersombong diri. Saya sadar saya terkadang masih terjebak dalam jebakan seperti itu. Tetapi karena jebakan hanya masalah ruang dan waktu, bukan tidak mungkin kita berusaha keluar dari jebakan tersebut dan mencoba melangkah ke depan dengan waspada agar tidak jatuh ke jebakan lain atau bahkan jebakan yang sama.

    ReplyDelete
  23. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Terimakasih atas ilmu yang sudah bapak berikan melalui postingan elegi jebakan filsafat ini pak.
    dari postingan ini saya dapat mengambil pelajaran adalah kepura-puraan itu adalah jebakan yang ada dalam diri kita sendiri. kepura-puraan berarti kita membohongi diri kita sendiri. ketidakjujuran adalah hal yang paling tidak patut dilakukan oleh para pencari ilmu. maka dari itu ikhlaslah dalam melakukan segala sesuatu sehingga hasil yang didapatkan pun juga menjadi berkah dan berguna bagi sang pencari ilmu itu sendiri.

    ReplyDelete
  24. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Kesimpulan yang dapat saya ambil dari ulasan ini adalah sebenar-benar hidup sejatinya penuh dengan jebakan. Saya juga termasuk di dalam jebakan itu. Menurut saya jebakan itu juga tidak dapat dihindari oleh manusia karena berkaitan dengan ruang dan waktu. Apakah jebakan filsafat dapat dipandang sebagai sesuatu yang bersifat positif? Apa yang dapat dilakukan saat diri ini terjebak dalam jebakan filsafat? Saya berharap Bapak dapat membantu saya untuk menemukan jawabannya. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak.

    ReplyDelete
  25. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Jebakan merupakan hal yang memang harus ada di dunia ini. Itulah yang membuat dunia ini seimbang. Jika tidak ada jebakan di dalamnya, mau bagaimana kehidupan manusia di dunia ini? Tidak lain dan tidak bukan mereka akan hidup lurus-lurus saja tanpa adanya rintangan apapun. Dalam segala hal dalam hidup kita, kehati-hatian kita terhadap jebakan sangatlah penting. Segala sesuatu itu sulit untuk dilakukan tanpa melewati jebakan. Namun, dengan melewati jebakan itu kita akan perlahan mengetahui dan belajar untuk menghindari jebakan itu. Kita senantiasa berdoa untuk selalu terhindar dari jebakan yang memang tidak bisa kita bedakan oleh subyektifitas kita. Introspeksi diri merupakan hal yang baik dilakukan setiap kali guna terhindar dari jebakan yang telah kita lalui sebelumnya.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  26. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillahirrohmanirrohim.
    Terimakasih banyak prof. Marsigit atas artikel di atas. Pentingnya ‘kesadaran’ pada diri kita dalam setiap gerak langkah kita beraktivitas merupakan hal yang tidak dapat ditampik lagi. Arah dan jalur pemikiran filsafat yang kadang menjebak, membuat kita untuk wajib berkomitmen agar memiliki landasan spiritual yang kuat sebelum mempelajarinya dan tidak setengah-setengah dalam memahaminya. Mungkin saya termasuk pemula yang belum seutuhnya mengerti tentang filsafat. Namun, sering sekali orang mengatakan jika kita belajar filsafat hendaknya kita tetap membentengi diri dan pikiran kita agar tidak terjebak dalam kehakikatan ilmu filsafat. Keikhlasan hati kita juga dipertanyakan, apakah kita hanya terjebak ikhlas dalam belajar filsafat atau tidak. Perhatian kita pun juga menjadi pertanyaan, apakah kita benar-benar memerhatikan saat mempelajari filsafat atau hanya pura-pura. Sulitnya fokus dan memusatkan perhatian pada filsafat mungkin tidak hanya terjadi pada seorang pemula seperti saya namun juga orang lain. Tapi saya yakin, berangkat dari keterpaksaan justru dapat membangun keikhlasan, sikap, dan karakteristik yang akan terbentuk dari proses yang tak terduga dan tidak menutup kemungkinan dapat merasuk pada jiwa dan pikirannya untuk melangsungkan kehidupan di depan. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  27. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Jebakan filsafat seperti yang dikatakan dalam elegi diatas adalah suatu keadaan yang berlawanan dari keberadaanmu yang seharusnya. Jadi setiap saat kita bisa saja berada dalam jebakan filsafat. Tergantung niat dan kesungguhan yang kita lakukan. Karen atidak dapat dipungkiri saat ini kita banyak berada dalam keadaan kepura-puraan yang menjadikan kita terjebak dalam filsafat. Elegi diatas mengajarkan kepada kita bahwa hidup ini harus lurus, jangan hanya dalam kepura-puraan, karena apapun yang kita lakukan dan pikirkan itulah cerminan dari dalam diri kita yang sebenarnya.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  28. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Definisi jebakan dalam konteks pandangan menurut filsafat adalah berpura-pura terhadap “sesuatu” namun sebenarnya/kenyataannya adalah sebaliknya, sesungguhnya tidak ada satupun keberkahan yang kita peroleh dari kepura-puraan, kepalsuan dan ketidakjujuran. Ada banyak jebakan yang akan kita temui dalam kehidupan sehari-hari kita oleh karena itu perlu kita jaga diri kita agar terhindar dari berbagai jebakan tersebut selalu mengingat Allah SWT dan berusahalah menjadi diri sendiri.

    ReplyDelete
  29. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Sebelum saya membaca isi dari elegi tersebut dan hanya baru membaca judul postingannya, saya bertanya-tanya apakah saya terjebak dalam menunut ilmu filsafat? Dan iya. Jebakan jebakan itu berasal dari diri sendiri yang benar adanya dan tujuannya sebagai pengahalang dalam berfilsafat. Bukan penghalang yang negatif, melainkan bertujuan untuk menaikan dimensi kita. Berrefleksi diri membuat kita bertambah dimensi. Sadar secara sadar bahwa kesombongan itu ada dimana-mana. Sungguh ini bukan hal mudah untuk mengendalikannya. Kembali lagi, doa doa dan berdoa kepada Allah untuk meminta ampunan atas kesalahan yang kita miliki.

    ReplyDelete
  30. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  31. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Elegi jebakan filsafat ini menunjukkan pada kita bahwa di depan sesuatu disitu berdiri jebakan. Jebakan pun berarti seuatu, sehingga di depan jebakan selalu ada jebakan. Di depan jebakan ada jebakan kesadaran, kemudian ada jebakan keikhlasan, ada jebakan perhatian, ada jebakan minat, ada jebakan pengertian, ada jebakan sikap, ada jebakan karakter. Dan masih ada jebakan yang lain lagi

    ReplyDelete
  32. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Jebakan merupakan suatu hal yang membuat yang ada menjadi yang mungkin ada atau sebaliknya. Jebakan dalam filsafat merupakan jebakan dalam memahami, mempelajari pemikiran tentang yang ada dan mungkin ada dalam ruang dan waktu. Berpikirnya manusia dalam berfilsafat adalah jebakan sendiri bagi pemikirannya. Agar terhindar dari jebakan filsafat terutama jebakan ruang dan waktu kita harus memahami sebenar-benarnya ruang dan waktu tempat kita berada.

    ReplyDelete
  33. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Saya mengutip pernyataan orang tua berambut putih yang mengatakan "Jebakan filsafat adalah lawan dari keadaan dimana seharusnya engkau berada". Dari beberapa contoh jebakan filsafat yang dipaparkan diatas membuat saya menyadari bahwa saya sering kali berada dalam jebakan, beberapa diantaranya yang sering saya alami adalah jebakan kesukaan (berpura-pura suka padahal tidak suka), jebakan ketegangan (berpura-pura tenang padahal tidak tenang), jebakan kesegaran (berpura-pura tegar padahal tidak tegar) dan banyak lagi jebakan yang sering saya alami, namun disini saya ingin bertanya mengenai jebakan keikhlasan, ketika kita berusaha ikhlas (belum ikhlas) tetapi bukan pura-pura ikhlas apakah itu termasuk jebakan keikhlasan atau tidak ? Atau itu hanya fase menggapai ikhlas ? Mohon penjelasannya pak. Terimakasih.

    ReplyDelete
  34. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Terkadang kita merasa sadar walaupun sebenarnya tidak sadar. Jebakan sebenarnya adalah jebakan ruang dan waktu. Seringkali kita berpura-pura namun kenyataannya tidak. Namun pura-pura ini bisa baik bisa buruk tergantung ruang dan waktunya. Kalau berpura-pura untuk menipu orang lain tentu tidak baik. Namun di dalam dunia politik berpura-pura adalah hal yang lumrah, misal berpura-pura mendukung parpol tertentu, namun dikesempatan lain, jika menguntungkan maka pindah mendukung parpol lain.

    ReplyDelete
  35. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Jebakan-jebakan yang halus dan tersembunyi di dalam hati manusia sesungguhnya merupakan bagian dari dirinya. Pikiran dan perasaan yang tidak baik adalah bagian busuk di dalam hati yang seharusnya tidak akan mengganggup penilaian kita terhadap sesuatu ataupun seseorang. Namun apabila kita memilih untuk menggunakannya, maka jebakan tersebut akan semakin jelas adanya dan menutupi pikiran-pikiran baik yang kita miliki. Setiap orang memiliki kelemahan, dan setiap orang memiliki potensi untuk berbuat jahat. Namun setiap orang juga berhak membuat pilihan-pilihan dalam hidupnya. Manusia memiliki akal, perasaan, dan pikiran sehingga ketiganya harus berjalan beriringan dengan sokongan spiritual yang kuat agar tidak tergoda dengan jebakan. Seburuk-buruknya kita adalah di saat kita merasa sudah menjadi orang baik, ikhlas, alim, dan lainnya namun sebenarnya untuk menggapai level ikhlas yang sesungguhnya kita pun tidak pernah tahu.

    ReplyDelete
  36. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Jebakan filsafat selalu ada di sekitar kita, di setiap langkah kita, dan di dalam diri kita sendiri. Kita hidup harus bisa menembus ruang dan waktu, sebab jika kita sudah terjebak dalam suatu ruang untuk waktu yang lama, kit akan merasa sulit untuk bangkit. Padahal hidup ini harus terus berjalan dan harus terus di lalui. Jebakam di buat agar kita dapat menaikkan dimensi kita kelevel yang lebih tinggi. Namun, kita juga jangan sampai melupakan Tuhan. Kita harus selalu mendekatkan diri dan berserah kepadaNya serta selalu bersyukur atas semua yang telah Dia berikan. Kita juga harus selalu ikhlas dalam menjalani hidup ini. Terimakasih Bapak Marsigit atas ilmunya.

    ReplyDelete
  37. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Jebakan, ternyata dalam hidup ini dipenuhi oleh berbagai jebakan. Seringkali kita bertindak dalam kepura-puran agar dipandang baik oleh orang lain, ataupun untuk membuat diri kita sendiri nyaman. Setelah membaca elegi ini, saya menyadari bahwa kepura-puraan yang selama ini kita lakukan merupakan sebuah jebakan. Kita selama ini telah banyak terjebak oleh ikhlas, sikap, minat dll. Oleh karena itu, selalu perbaiki niat dan terus berikhtiar agar tidak terjebak dalam jebakan. Terimakasih.

    ReplyDelete
  38. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    ternyata banyak sekali jebakan dalam hidup ini, ketika kita berpura-pura maka itulah sebenar-benarnya kita telah masuk ke dalam jebakan. semuanya butuh kehati-hatian agar kita tidak termasuk ke dalam orang yang merugi terkena jebakan-jebakan yang sebenarnya bisa kita hindari.

    ReplyDelete
  39. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Didalam jebakan filsafat banyak sekali macam-macam jebakan didalmnya. Yang dapat saya pahami dalam elagi ini bahwa, segala sesuatu yang kita lakukan pasti ada hal-hal yang membuat kita menyimpang dari apa yang telah dilakukan, dan penyimpangan itu lah yang disebut jebakan, dimana jebakan selalu ada disetiap apapun yang kita geluti. Akan tetapi jika kita tidak jujur dengan apa yang digeluti, maka kita sudah terperangakp dalam jebakan tersebut.

    ReplyDelete