Sep 20, 2013

Elegi Jebakan Filsafat




Oleh Marsigit

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan:
Aku adalah jebakan. Sesungguhnya aku adalah jebakan filsafat. Sesuai dengan hakekat filsafat, maka aku sangatlah halus, lembut dan tersembunyi. Hanya orang-orang tertentu aku perkenankan untuk menemuiku. Itupun dengan syarat-syaratnya yang sangat ketat.

Subyek:
Aku belum jelas siapakah engkau. Jika engkau jebakan filsafat maka apakah ciri-cimu itu?

Jebakan:
Aku adalah jebakan. Aku dapat sebutkan bahwa tempat tinggalku adalah pada batas dimensimu. Fungsiku adalah untuk menaikkan dimensimu. Sedangkan diriku itu beraneka ragam. Ragamku sebanyak batas dimensimu. Maka aku terdiri dari Jebakan1, Jebakan2, Jebakan3,... dst.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan kesadaran:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai kesadaranmu, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan kesadaranmu. Sebenar-benar kesadaran adalah dirimu yang terjaga. Maka agar engkau memahami sesuatu engkau harus letakkan kesadaranmu pada obyek yang akan engkau sadari. Kesadaranmu itu bersifat merdeka. Maka sebenar-benar ilmu itu memerlukan kesadaranmu. Jika engkau melupakan akan hal demikian maka itulah bahwa keadaanmu itu sudah masuk ke dalam perangkap kesadaranmu. Itulah jebakan kesadaranmu. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak dalam jebakan kesadaran adalah engkau berpura-pura sadar padahal engkau belum menyadarinya.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Keikhlasan:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai keikhlasan maka sebenar-benar diriku adalah jebakan keikhlasanmu. Setinggi-tinggi hatimu adalah ikhlasmu. Maka tempat tinggalku adalah di dalam hatimu. Aku adalah bersih tak bersyarat. Keikhlasanmu adalah merdeka. . Maka sebenar-benar ilmu itu memerlukan keikhlasanmu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan keikhlasan. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak dalam jebakan keikhlasan adalah engkau berpura-pura ikhlas, padahal engkau sebetulnya tidak ikhlas.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Perhatian:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai perhatian, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan perhatian. Sebenar perhatian itu memerlukan kesadaran dan keikhlasan. Bergabungnya parhatian, kesadaran dan keikhlasan merupakan langkah untuk menerima sesuatu sebagai hal yang memang patut diterima. Segala macam ilmumu itulah memerlukan perhatianmu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan perhatian. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan perhatian adalah engkau berpura-pura memerhatikan, padahal engkau sebetulnya tidak memperhatikan.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Minat:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai minat maka sebenar-benar diriku adalah jebakan minat. Minatmu itu terdiri dari penerimaanmu, responmu dan sikap postitifmu. Sebenar-benar ilmumu itulah memerlukan minatmu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan minat. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan minat adalah engkau berpura-pura berminat, padahal engkau sebetulnya tidak berminat.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Pengertian:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai pengertian, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan pengertian. Pengertianmu itu engkau bangun berdasarkan minatmu dan penilaianmu terhadap ilmu. Maka sebenar-benar pengertianmu itulah akan membangun ilmumu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan pengertian. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan pengertian adalah engkau berpura-pura mengerti, padahal engkau sebetulnya tidak mengerti.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Sikap:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai sikap, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan sikap. Sikapmu itu engkau bangun berdasarkan pengertian dan penilaianmu terhadap ilmu. Maka sebenar-benar sikapmu itulah akan menentukan ilmumu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan sikap. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan sikap adalah engkau berpura-pura bersikap, padahal engkau sebetulnya tidak bersikap.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Karakter:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai karakter, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan karakter. Karaktermu itu engkau bangun berdasarkan sikap dan penilaianmu. Maka sebenar-benar karaktermu itulah akan menentukan ilmumu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan karakter. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan karakter adalah engkau berpura-pura berkarakter, padahal engkau sebetulnya belum berkarakter.

Subyek:
Wahai orang tua berambut putih. Apalah sebenarnya yang dimaksud dengan jebakan filsafat itu?

Orang tua berambut putih:
Jebakan filsafat adalah lawan dari keadaan dimana seharusnya engkau berada. Yang telah disebut tadi itu hanyalah sebagian dari jebakan yang ada. Jebakan yang lain masih banyak misalnya: jebakan disiplin, jebakan kejujuran, jebakan kebaikkan, jebakan tanggung jawab, jebakan kepatuhan. Ketahuilah bahwa dari semua itu dapat aku katakan bahwa sebenar-benar jebakan adalah jebakan ruang dan waktu.

46 comments:

  1. Lana Sugiarti
    16709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Seseorang akan masuk dalam jebakan jika tidak bisa memaknai hakikat ruang dan waktu yang ada dalam dirinya. Ketika akan terjebak hendaknya melihat kedalam diri dan segera mengambil tindakan karena ketika terjebak sesuatu maka sebenar – benar diri adalah jebakan sesuatu itu. Jika sudah terjebak kedalam sesuatu itu maka akan berpura – pura seperti sesuatu itu padahal tidak seperti itu. Setiap orang hanya bisa berusaha untuk tidak terjebak dalam jebakan itu dan berusaha untuk ikhlas dalam menghadapi jebakan – jebakan.

    ReplyDelete
  2. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari judulnya saja saya tertarik membacanya karena dalam fikiran saya apakah memang ada kita jebakan-jebakan dalam berfilsafat. Berdasarkan kisah elegi diatas terdapat beberapa macam jebakan dalam berfilsafat. Salah satunya adalah jebakan kesadaran, dalam mencari ilmu hal yang penting adalah kesadaran. Kesadaran ketika kita telah memahaminya atau belum memahaminya. Kita berpura-pura sadar, padahal kita tidak menyadarinya. Jebakan lainnya adalah jebakan keikhlasan. Kita ikhlas akan suatu hal, tetapi kita selalu membicarakan keikhlasan kita tersebut. Pada akhirnya kita hanya terjebak oleh keikhlasa. Kita berpura-pura ikhlas, padahal hati kita tidak ikhlas. Semoga kedepannya kita tidak terjebak tentang apa yang ada di dalam kisah elegi ini.

    ReplyDelete
  3. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Jebakan sebenrnya selalu ada disekitar kita bahwkan ada didalam tubuh kita sendiri, jebakan kejujuran, jebakan kabaikan, dan jebakan lainnya. Sama hal nya jebakan dalam arti sebenarnya bahwa jika kita terjebak dengan jebakan-jebakan yang ada maka kita akan mengalami kekalahan. Jebakan yang ada hendaknya kita lawan dengan kiat yang berlandaskan spritual. Jebakan filsafat bisa saja mengantarkan kita ke mitos yang gelap, yang nampak indah di filsafat belum tentu dalam keadaaan sebenarnya. oleh karena itu meningkatkan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT adalah cara agar kita dapat terhindar dari jebakan-jebakan yang ada khususnya jebakan filsafat.

    ReplyDelete
  4. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Sebenar-benar jebakan adalah jebakan ruang dan waktu. Terdapat banyak sekali jenis jebakan di dunia ini. Salah satunya adalah jebakan filsafat. Jebakan filsafat itu artinya tidak ikhlas, tidak sungguh-sungguh, palsu, menipu, pura-pura, dsb. Maka jika engkau mempelajari filsafat hanya untuk mengejar nilai, itu adalah jebakan filsafat. Jika para guru peserta pelatihan, kemudian enggan melaksanakan hasil-hasil pelatihan setelah selesai pelatihan, itu adalah jebakan filsafat. Jika engkau pura-pura disiplin maka itu jebakan filsafat. Oleh karena itu, kita harus selalu meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT, semoga kita dapat terhindar dari jebakan ruang dan waktu dalam hidup ini.

    ReplyDelete
  5. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Dalam hidup pasti ada jebakan, oleh karena itu harus berhati-hati dalam meniti hidup. Dari yang ada dan yang mungkin ada harus waspada dimana segala sesuatunya dilakukan dengan keikhlasan hanya mengharap ridho-Nya. Selain itu, teruslah berpikir agar tidak terjebak dalam mitos. Jadi, sebagai manusia yang dibekali dengan akal dan hati, segala sesuatunya harus dipikirkan dan dilaksanakan dengan ikhlas.

    ReplyDelete
  6. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    berdasarkan nasehat terakhir, bahwa jebakan filsafat adalah lawan dari keadaan dimana seharusnya kita berada. Ketahuilah bahwa dari semua itu dapat dikatakan bahwa sebenar-benar jebakan adalah jebakan ruang dan waktu. karena waktu luang membuat kita terlena dan tidak mempersiapkan apa yang seharusnya kita persiapakan dari sekarang. sedangkan ruang membuat kita terlena dengan adanya comfort zone.

    ReplyDelete

  7. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Dalam berfilsafat kita juga harus berhati-hati, dalam elegi diatas juga jebakan itu bersifat halus, lembut, dan dapat bersembunyi sehingga kita akan mudah terkecoh dengan jebakan itu kalau kita tidak memiliki pengetahuan dan pemeikiran. Jebakan juga bermacam-macam, ada jebakan keilkhlasan, kesadaran,penilian, minat,pengertian, sikap, karakter. Sehingga kita hafrus berhati hati pada saat kita berada disan, diman saat kita berada di keilkhlasan maka disana pasti ada jebakannya.

    ReplyDelete
  8. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Jebakan itu kita yang ciptakan, kita yang melakukan, dan kita yang mengerjakan. Kalau diri kita tidak mau terjebak maka berhati-hatilah dengan diri kita sendiri. Segala sesuatu yang kita kerjakan lakukanlah dengan hati yang ikhlas, maka kita tidak akan terjebak dengan kebohongan diri sendiri. Sebelum kita melakukan segala sesuatu yang ingin kita kerjakan hendaknya kita itu sadar dan ingat bahwa kita diikuti oleh tanggung jawab maka insha Allah pikiran akan fokus dengan hati yang ikhlas. Contohnya kita sebagai mahasiswa harus mengetahui kewajiban kita adalah mencari tahu suatu ilmu bukan hanya sekedar mengejar nilai A. Ketika kita fokus pada mengejar nilai maka kita akan terjebak oleh kebohongan diri sendiri.

    ReplyDelete
  9. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Jebakan merupakan hal yang membuat sesuatu hal yang ada menjadi mungkin ada atau sebaliknya. Subjek merupakan sesuatu hal yang dijadikan tujuan dalam jebakan, yaitu: jebakan keikhlasan hati, perhatian, pola pikir, dan jebakan lainnya. Namun sebenar-benar jebakan adalah jebakan ruang dan waktu. Sedangkan jebakan dalam filsafat adalah jebakan dalam memahami ruang dan waktu. Berpikir dalam filsafat merupakan jebakan sendiri bagi pemikirnya, misalnya jebakan berpikir pada ruang dan waktu yang seharusnya kita berpikir namus sebaliknya kita tidak berpikir pada ruang dan waktu itu.

    ReplyDelete
  10. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016.

    Istilah jebakan sama artinya dengan perangkap. Jebakan filsafat adalah lawan dari keadaan dimana seharusnya engkau berada. Memang terkadang kita menjudge kita adalah A padahal kita tidak benar-benar A. Kita merasa bahwa kita bersifat B padahal kita tidak benar-benar bersifat B. Yang menjadi miris adalah jika kita merasa kita sudah mengetahui sesuatu padahal kita tidak benar-benar mengetahui sesuatu itu. Semoga kita semua dijauhkan dari jebakan filsafat semacam itu.

    ReplyDelete
  11. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Sebenar – benarnya jebakan adalah diri ini. Jebakan dari kesadaran pikiran, kesadaran jiwa, kesadaran emosi, kesadaran keingin, kesadaran kemampuan. Jika semua kesadaran terkontrol dengan baik dan di bawah kendali kita sebagai manusia yang taat akan segala perintahNya niscaya semua jalannya kehidupan akan berjalan dengan baik pada akhirnya dan terhindar dari segala jebakan duniawi.

    ReplyDelete
  12. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Setelah saya membaca lagi elegi Bapak, saya jadi mengerti bahwa sejak awal kita ada di dunia, kita memang sudah masuk dalam jebakan tersebut.
    Tapi sesuai fungsinya untuk menaikkan dimensi, artinya jebakan tersebut adalah proses belajar kita untuk menjadi lebih dewasa.
    Ketika seseorang menyadari bahwa ia sudah masuk dalam jebakan, maka ia akan belajar untuk keluar dari jebakan tersebut dan belajar untuk tidak masuk dalam jebakan tersebut lagi.

    ReplyDelete
  13. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047
    Sebenar-benarnyanya jebakan filsafat adalah kemunafikan kita. Berpura-pura sadar, ikhlas, memperhatikan, mengerti, bersikap, berkarakter, padahal sebenarnya tidak. Untuk mencegah hal tersebut, maka sebisa mungkin kita harus berbuat jujur. Jika belum paham haruslah jujur kalau belum paham dan berusaha memahami. Jika belum ikhlas, jangan berpura-pura ikhlas, teruslah berusaha menggapai ikhlas. Jika belum sadar, jangan berpura-pura sadar, tetapi berusahalah untuk sadar.

    ReplyDelete
  14. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016

    seperti yang dijelaskan di awal elegi, bahwa fungsi jebakan adalah untuk menaikkan dimensi. seperti, jika kita akan menaiki dimensi yang lebih tinggi, pasti akan menemui hambatan yaitu berputar-putar pada ujung batas dimensi kita. situasi ini yang disebut dengan jebakan. kita menyadari keberadaan atau level kita, dan berusaha untuk naik ke level selanjutnya. namun yang terjadi kita hanya malah berputar-puter saja. maka kita disebut sudah jatuh dalam jebakan. jebakan adalah menyamarkan kondisi, dan mengelabui kesadaran kita. sehingga jebakan dapat menghambat dalam melakukan pergerakan yang sebenarnya menuju dimensi yang lebih tinggi.

    ReplyDelete
  15. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi Jebakan filsafat. Menarik sekali ketika membaca judul tersebut. Ternyata dalam elegi ini disampaikan bahwasanya sebenar-benar jebakan adalah jebakan ruang dan waktu. Makksudnya sesungguhnya dalam hidup ini kita seringkali.mengalami jebakan ini. jebakan kejujuran, jebakan kedisiplinan dll. Segala yang berlawanan dengan yang seharusnya. Ciri-cirinya adalah apabila kita berpura-pura tentang sesuatu padahal tidak. Berpura-pura sayang padahal tidak, berpura-pura peduli padahal tidak, berpura-pura mengerti padahal tidak. Ya, kemunafikan semacam itulah ciri-ciri darinterjebaknya kita dalam jebakan filsafat. Marilah kita berusaha untuk selalu jujur terhadap diri sendiri maupun orang lain.

    ReplyDelete
  16. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Didalam sebuah perjalanan hidup kita selalu mempunyai masalah jadi dalam menjalaninya kita harus sangat berhati-hati dan selalu pantang menyerah dalam berusaha untuk tidak melakukan hal yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan. Di dunia ini juga terdapat banyak sekali jebakan-jebakan yang siap menerka kita. Jebakan bisa berasal dari dalam diri kita dan dari luar diri. Kita harus bisa menghindari jebakan dengan menggunakan akal yang sehat dan hati yang bersih, pikiran dan hati harus berada dalam kesadaran. Kita juga harus bersifat ikhlas, selalu berikhtiar serta menyerahkan segala sesuatu hasilnya hanya pada ALLAH SWT

    ReplyDelete
  17. Filsafat bagi orang yang belum memahami dan mempelajari tampak seperti permainan kata-kata atau bahasa. Berbeda dengan orang-orang yang benar-benar mencari kebenaran atau kebajikan. Orang baik kadang tidak akan menyebut dirinya baik karena itu ada sedikit kesombongan. Sama seperti berfilsafat, orang yang sedang mencari kebenaran menggunakan metode filsafat tetapi dia sendiri tidak menyebut dirinya berfilsafat. Filsafat bukan permainan kata-kata atau bahasa, filsafat adalah pencarian kebenaran dan kebajikan, mengungkap disebalik sesuatu.

    ReplyDelete
  18. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Elegi jebakan filsafat ini menyatakan bahwa jebakan filsafat adalah lawan dari keadaan dimana seharusnya kita berada. Jebakan filsafat sekiranya tanpa kita sadari terkadang juga kita ada didalamnya. Sama halnya seperti jebakan kesadaran, ketika kita menyadari bahwa mencari logos harus dilakukan sebagai kebutuhan namun pada dasarnya kita mencari logos tidak sebagai kebutuhan namun sebagai keterpaksaan sebab kita memiliki tujuan tertentu atas pencarian logos itu. Selanjutnya dapat berupa jebakan keikhlasan, yaitu ketika telah merasa ikhlas akan setiap hal yang kita lakukan namun pada dasarnya kita belum ikhlas dan hanya berpura-pura ikhlas dan didalam hati masih menaruh rasa tidak senang dan terbebani.

    ReplyDelete
  19. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Jebakan dalam filsafat merupakan jebakan dalam memahami dan mempelajari pemikiran tentang yang ada dan mungkin ada dalam ruang dan waktu. Berpikirnya manusia dalam berfilsafat adalah jebakan sendiri bagi pemikirannya. Seperti contoh, jebakan berpikir dimana seharusnya kita berpikir akan tetapi kita tidak berpikir atau pura-pura berpikir. Jebakan merupakan hal yang membuat suatu hal yang ada menjadi mungkin ada atau sebaliknya. Jebakan ada dimana-mana. Bisa ada di hati dan pikiran. Tidak ada yang sebenar-benarnya bisa lepas dari jebakan tersebut. Setiap orang hanya bisa berusaha untuk tidak terjebak dalam jebakan itu. Maka, Jebakan yang sebenarnya adalah jebakan ruang dan waktu. Seseorang akan masuk dalam jebakan itu kalau dia tidak bisa memaknai hakikat ruang dan waktu yang ada dalam dirinya.

    ReplyDelete
  20. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Sebenar-benarnya jebakan adalah ruang dan waktu. Dalam filsafat tidak ada yang paling benar dan paling salah. Sesuatu hal dipandang benar jika suatu hal tersebut dipandang dalam ruang dan waktu yang sesuai, namun sesuatu hal dipandang salah jika suatu hal tersebut dipandang dalam ruang dan waktu yang salah. Oleh karenanya kita harus berhati-hati dengan filsafat, kita harus mampu menyesuaikan dengan ruang dan waktu agar tidak terkena jebakan filsafat.

    ReplyDelete
  21. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Jebakan berada dalam kesadaran manusia. Seperti pura-pura sadar padahal belum menyadarinya atau sebaliknya pura-pura belum sadar padahal sudah menyadarinya. Jebakan filsafat merupakan lawan dari keadaan dimana seharusnya manusia berada. Jebakan bisa saja terjadi sewaktu-waktu dan dimana saja manusia bertidak dan berucap, jebakan seperti pada keikhlasa, kedisiplinan, perhatian dan lain sebagainya. Dengan demikian agar kita mengurangi kemungkinan mengalami jebakan maka kita harus hati-hati dalam bertindak dan berucap.

    ReplyDelete
  22. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Elegi jebakan filsafat menjelaskan bahwa kita terjebak di dalam kepura-puraan dari diri kita sendiri. Hanya diri kita sendirilah yang memahami apa kita lakukan dan rasakan. Hanya kita sendirilah yang mengetahui apa yang terjadi dalam diri kita. Karena orang lain pun tidak dapat menejlaskan siapa kita. Mungkin mereka bisa menyebutkan sebagian kecil dari kita, namun masih ada semilyar pangkat semilyar yang tidak bisa mereka sebutkan dari kita. Namun, karena terjebak di dalam kepura-puraan itulah seseorang lantas pandai membongi diri sendiri. Ia berpura-pura sadar padahal belum menyadarinya, berpura-pura tahu padahal belum mengetahuinya, berpura-pura ikhlas akan tetapi sesungguhnya hati ini belum mampu untuk ikhlas. Melalui elegi jebakan filsafat ini, saya belajar tentang kejujuran diri. Tak perlu lah menyembunyikan kelemahan atau kekurangan yang kita miliki hanya demi terlihat dan dianggap hebat oleh orang lain. Jadilah dirimu sendiri, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, inilah aku yang apa adanya.

    ReplyDelete
  23. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Dari elegi ini, saya sederhanakan bahwa jebakan filsafat adalah berpura-pura. Ada banyak kepura-puraan yang mungkin terjadi. Sehingga ada banyak jebakan filsafat. Berpura-pura adalah hal yang buruk sekaligus hal yang baik. Namun, lebih cenderung menjadi hal yang buruk. Berpura-pura itu butuh energi lebih. Karena selain menyembunyikan hal yang sebenarnya, berpura-pura juga menjadi hal yang tidak sebenarnya. Oleh karena itu, berpura-pura bisa merugikan diri sendiri dan orang lain.

    ReplyDelete
  24. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Jebakan yang sebenarnya itu terdapat pada diri sendiri. Hanya diri sendiri yang sebenarnya mampu untuk mengendalikan jebakan itu. Mengendalikan untuk membiarkan jebakan itu terus menjebak atau membuat jebakan itu hilang sedikit demi sedikit. Tidak menjadi diri sendiri dan berpura-pura seperti orang lain hanya demi kepentingan tertentu sejatinya itulah jebakan yang sebenarnya.

    ReplyDelete
  25. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Hidup selalu dipenuhi dengan jebakan. Berfilsafat juga begitu. Filsafat memiliki banyak jebakan. Dan semua jebakan tersebut justru berasal dari diri kita sendiri. Ada jebakan keikhlasan, yang terjadi ketika kita berpura-pura ikhlas, padahal sesungguhnya tidak ikhlas. Ada juga jebakan pengertian, yang terjadi ketika kita berpura-pura mengerti, padahal sesungguhnya sama sekali tidak mengerti. Masih banyak jebakan-jebakan lain, seperti jebakan sikap, jebakan karakter, jebakan kejujuran, dan lain sebagainya. Semoga kita tidak terperangkap ke dalam jebakan-jebakan tersebut.

    ReplyDelete
  26. Tahtalia
    14301241031
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Jebakan itu berasal dari diri kita sendiri. Dalam menggapai ilmu diperlukan kesadaran dan keikhlasan. Kesadaran dalam menggapai ilmu akan membimbing kita dalam melangkah, sementara keikhlasan akan membuat langkah kita terasa ringan dalam menggapai ilmu dan menghadapi tantangan yang ada.

    ReplyDelete
  27. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Yang dapat saya pahami dalam Elegi Jebakan Filsafat tersebut adalah bahwa dalam hidup ini selalu ada yang namanya jebakan. Di mana sebenar benar jebakan adalah dalam diri kita sendiri. Jebakan itu berupa kepura-puraan yang timbul dari dalam diri sendiri. Hal tersebut pun yang dapat mengetahuinya hanya diri kita sendiri, itupun saat kita benar-benar membuka kesadaran dari diri kita.

    ReplyDelete
  28. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada bagian dialog jebakan kesadaran pada Elegi Jebakan Filsafat di atas, dapat dipahami bahwa untuk membangun ilmu atau ilmu pengetahuan haruslah dengan penuh kesadaran, tidak mungkin kita menuntut ilmu secara tidak sadar, karena ilmu tersebut tidak akan diterima oleh pikiran kita jika tidak dengan kesadaran. Dan jika kita merasa penuh kesadaran tetapi sebenarnya tidak, itulah jebakan kesadaran.

    ReplyDelete
  29. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada bagian dialog jebakan keikhlasan pada Elegi Jebakan Filsafat di atas, dapat dipahami bahwa kita harus selalu ikhlas dalam melakukan apapun, termasuk pula dalam menuntut ilmu. Ikhlas adalah tingkatan tertinggi yang dicapai hati, ibadah jika dilakukan dengan ikhlas akan mendapatkan pahala, maka menuntut ilmu pun jika dilakukan dengan ikhlas akan mendapatkan hasil yang maksimal. Jika kita berpura-pura ikhlas, padahal sebenarnya tidak, kita tetap tidak akan mendapatkan apapun, dan itulah jebakan keikhlasan.

    ReplyDelete
  30. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada bagian dialog jebakan perhatian pada Elegi Jebakan Filsafat di atas, dapat dipahami bahwa selain harus dengan penuh kesadaran dan ikhlas, harus juga untuk penuh perhatian. Jika sudah dilakukan dengan penuh kesadaran, sudah ikhlas, tetapi tidak memperhatikan ketika ilmu tersebut disampaikan, maka tetap tidak akan mendapatkan apapun, ilmu tidak akan diterima oleh pikiran. Maka, seharusnya ada 3 aspek, kesadaran, keikhlasan, dan perhatian.

    ReplyDelete
  31. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada Elegi Jebakan Filsafat di atas, saya memahami bahwa yang diperlukan​ ketika kita menuntut ilmu selain tiga aspek yang harus ada (kesadaran, keikhlasan, dan perhatian) adalah perlu adanya minat, pengertian, sikap, karakter, dan masih banyak lagi seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan segala hal yang baik-baik lainnya.

    ReplyDelete
  32. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa untuk mempelajari filsafat itu diperlukan hati dan pikiran yang ikhlas. Jika hati dan pikiran tidak benar-benar ikhlas mempelajari filsafat maka akan terjebak dan terjerumusa dalam jebakan filsafat. Menurut saya jebakan filsafat itu sebenarnya datangnya dari diri sendiri, misalnya seperi disebutkan diatas tentang jebakan minat. Mungkin lisan berkata bahwa kita berminat belajar, tapi kadang hati belum tentu memiliki pemikiran yang sama.

    ReplyDelete
  33. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan Elegi Jebakan Filsafat, sebenarnya jebakan tersebut terletak pada diri kita sendiri, maka dari itu refleksi diri terhadap apa yang telah dilakukan sangat penting, kesadaran diri kita yang akan menyelamatkan kita dari jebakan yang membelenggu hati kita.

    ReplyDelete
  34. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D
    Kita sering masuk ke dalam jebakan-jebkan yang ada. Kita sering tidak menyadari banyak hal atau berpura-pura menyadari. Untuk lebih menyadari diperlukan sifat dan sikap yanh ikhlas sehingga kita senantiasa menyadari apapun yang ada di dalam/sekitar kita.

    ReplyDelete
  35. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam mencari ilmu haruslah sadar pada hakekatnya manusia itu dengan ikhlas mencari ilmu. Sehingga dalam berfilsafat ada yang disebut dengan jebakan kesadaran, namun pengertiannya sedikit berbeda yaitu sadar atas ilmu yang dipelajari apakah sudah tahu atau belum. Memanglah jebakannya sangat dalam karena keduanya menyadarkan bahwa ilmu yang kita tahu semakin kita tahu bahwa kita tahu bahwa banyak sekali ilmu yang diluar sana yang belum kita tahu. Sehingga dengan kesadaran itupula manusia haruslah terus-terus mencari ilmu, mencari dengan ikhlas.

    ReplyDelete
  36. Sefti Lailatifah
    14301241040
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Jebakan akan selalu ada didalam diri kita yang tak terbatas ruang dan waktu. Jebakan itu sendiri ada berbagai macam bentuk nya. Dan jebakan tidak hanya satu melainkan banyak tak terhingga.

    ReplyDelete
  37. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saat kita melakukan sesuatu yang kelihatannya baik tetapi ternyata hanya pura-pura, tidak ikhlas, itulah salah satu jebakan filsafat. Terlihat baik tetapi ada hal lain di baliknya. Melakukan sesuatu dengan ikhlas adalah ibadah dan mendapatkan pahala. Akan tetapi jika penuh pura-pura akan sia-sia apa yang dilakukan.

    ReplyDelete
  38. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut Eligi Jebakan Filsafat, jebakan-jebakan ini ada dalam diri kita sendiri. Tergantung apakah kita menyadari jebakan-jebakan ini atau tidak. Kalau hanya menyadari mungkin masih berisifat pura-pura. Lebih baiknya jika sadar maka melakukan refleksi diri untuk bisa memahami jebakan-jebakan ini sehingga bisa terhindar dari mereka untuk bisa menaikkan dimensi kita.

    ReplyDelete
  39. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Jebakan keikhlasan, jebakan kesadaran, jebakan perhatian merupakan lawan dari posisi yang seharusnya kita berada. Saat kita ingin ikhlas pasti menemui jebakan keikhlasan, Ketika ingin sadar pasti menemui jebakan kesadaran. Dan saat inigin melakukan perhatian pasti menemui jebakan perhatian. Yang pastinya kita harus bisa melewati jebakan-jebaka tersebut dengan selamat.

    ReplyDelete
  40. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dimanapun dan kapanpun selalu berhadapan dengan jebakan. Ada jebakan perhatian, jebakan keihlasan, dan banyak lagi yang lainnya. Jebakan ini yang membuat kita harus tahu batas dimensi kita. Sampai mana kita harus melangkah dan sampai dimana kita harus berhenti agar tidak terjebak dalam jebakan yang bisa jadi kita sendiri yang membuatnya.

    ReplyDelete
  41. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi jebakan filsafat membicarakan tentang menggapai kesadaran, keikhlasan, perhatian, minat dll. Kesadaran bersifat merdeka. Ciri-ciri orang terjebak dalam jebakan kesadaran adalah orang berpura-pura sadar padahal belum menyadarinya. Sedangkan orang yang terjebak dalam jebakan keikhlasan adalah orang yang berpura-pura ikhlas, padahal sebenarnya tidak ikhlas. Semoga kita bukan termasuk orang yang terjebak dalam kesadaran, keikhlasan dll.

    ReplyDelete
  42. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Dalam kehidupan ini, kita pasti akan menghadapi banyak jebakan baik dimanapun kapanpun dan siapapun. Kita harus selalu fokus dan teliti dalam setiap perbuatan agar kita tidak terjebak ke dalam jebakan itu. Dari bacaan ini, kita tahu bahwa dimanapun dan kapanpun selalu berhadapan dengan jebakan.

    ReplyDelete
  43. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sesungguhnya jebakan yang dimaksud adalah ruang dan waktu. Waktu bisa diibaratkan dengan pedang, jika kita tidak pandai memainkannya, maka ia akan memotong tanganmu.

    ReplyDelete
  44. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Terkadang saat kita berada dalam zona nyaman, kita sudah merasa puas dan senang. Namun jika kita terus-terusan tidak menyadarinya, kita akan masuk dalam mitos. Kita harus berusaha keras untuk keluar dari zona nyaman, karena jika kita tidak mau berusaha untuk keluar dari zona nyaman kita, lama kelamaan kita akan malas. Dengan seperti itu kita akan menjadi malas. Kita tidak sepantasnya mau selamanya berada dalam zona nyaman, dengan hal seperti itu kita akan menolah untuk berkembang lagi.

    ReplyDelete
  45. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan elegi diatas, saya menyadari bahwa filsafat sebagai salah satu ilmu yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari kita dipenuhi dengan jebakan-jebakan. Baik jebakan itu berasal dari dalam pikiran diri sendiri ataupun berasal dari luar pikiran kita. Jebakan dalam filsafat menyebabkan apa yang perlu kita sadari sebenarnya adalah apa yang tidak perlu kita sadari begitupun sebaliknya. Makna kesadaran dalam filsafat pun mengandung jebakan-jebakan dimana kita merasa sudah sadar dan paham dalam mengetahui sesuatu hal, akan tetapi apa yang kita pahami sebenarnya bukanlah makna paham yang sebenarnya.

    ReplyDelete
  46. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Jebakan filsafat adalah lawan dari keadaan dimana seharusnya engkau berada. Tempat tinggal jebakan filsafat adalah pada batas dimensi kita. Ada beraneka ragam jebakan filsafat, ragam tersebut sebanyak batas dimensi kita. Sesungguhnya sebenar-benar jebakan adalah jebakan ruang dan waktu. Jebakan filsafat berfungsi untuk menaikkan dimensi kita. Kita bisa meningkatkan dimensi kita dengan selalu menuntut ilmu dunia dan akhirat. Ilmu itu lah yang dapat kita jadikan penerang untuk menghindari jebakan filsafat. Sehingga jika kita berhasil melalui jebakan tersebut maka akan naik lah dimensi kita. Namun sungguh itu bukan hal yang mudah. Oleh karena itu kita hendaknya berusaha dengan sungguh-sungguh dan senantiasa memohon doa pada-Nya agar mampu melewati jebakan tersebut dan dapat meningkatkan dimensi kita

    ReplyDelete