Sep 20, 2013

Elegi Jebakan Filsafat




Oleh Marsigit

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan:
Aku adalah jebakan. Sesungguhnya aku adalah jebakan filsafat. Sesuai dengan hakekat filsafat, maka aku sangatlah halus, lembut dan tersembunyi. Hanya orang-orang tertentu aku perkenankan untuk menemuiku. Itupun dengan syarat-syaratnya yang sangat ketat.

Subyek:
Aku belum jelas siapakah engkau. Jika engkau jebakan filsafat maka apakah ciri-cimu itu?

Jebakan:
Aku adalah jebakan. Aku dapat sebutkan bahwa tempat tinggalku adalah pada batas dimensimu. Fungsiku adalah untuk menaikkan dimensimu. Sedangkan diriku itu beraneka ragam. Ragamku sebanyak batas dimensimu. Maka aku terdiri dari Jebakan1, Jebakan2, Jebakan3,... dst.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan kesadaran:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai kesadaranmu, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan kesadaranmu. Sebenar-benar kesadaran adalah dirimu yang terjaga. Maka agar engkau memahami sesuatu engkau harus letakkan kesadaranmu pada obyek yang akan engkau sadari. Kesadaranmu itu bersifat merdeka. Maka sebenar-benar ilmu itu memerlukan kesadaranmu. Jika engkau melupakan akan hal demikian maka itulah bahwa keadaanmu itu sudah masuk ke dalam perangkap kesadaranmu. Itulah jebakan kesadaranmu. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak dalam jebakan kesadaran adalah engkau berpura-pura sadar padahal engkau belum menyadarinya.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Keikhlasan:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai keikhlasan maka sebenar-benar diriku adalah jebakan keikhlasanmu. Setinggi-tinggi hatimu adalah ikhlasmu. Maka tempat tinggalku adalah di dalam hatimu. Aku adalah bersih tak bersyarat. Keikhlasanmu adalah merdeka. . Maka sebenar-benar ilmu itu memerlukan keikhlasanmu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan keikhlasan. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak dalam jebakan keikhlasan adalah engkau berpura-pura ikhlas, padahal engkau sebetulnya tidak ikhlas.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Perhatian:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai perhatian, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan perhatian. Sebenar perhatian itu memerlukan kesadaran dan keikhlasan. Bergabungnya parhatian, kesadaran dan keikhlasan merupakan langkah untuk menerima sesuatu sebagai hal yang memang patut diterima. Segala macam ilmumu itulah memerlukan perhatianmu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan perhatian. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan perhatian adalah engkau berpura-pura memerhatikan, padahal engkau sebetulnya tidak memperhatikan.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Minat:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai minat maka sebenar-benar diriku adalah jebakan minat. Minatmu itu terdiri dari penerimaanmu, responmu dan sikap postitifmu. Sebenar-benar ilmumu itulah memerlukan minatmu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan minat. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan minat adalah engkau berpura-pura berminat, padahal engkau sebetulnya tidak berminat.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Pengertian:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai pengertian, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan pengertian. Pengertianmu itu engkau bangun berdasarkan minatmu dan penilaianmu terhadap ilmu. Maka sebenar-benar pengertianmu itulah akan membangun ilmumu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan pengertian. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan pengertian adalah engkau berpura-pura mengerti, padahal engkau sebetulnya tidak mengerti.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Sikap:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai sikap, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan sikap. Sikapmu itu engkau bangun berdasarkan pengertian dan penilaianmu terhadap ilmu. Maka sebenar-benar sikapmu itulah akan menentukan ilmumu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan sikap. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan sikap adalah engkau berpura-pura bersikap, padahal engkau sebetulnya tidak bersikap.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Karakter:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai karakter, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan karakter. Karaktermu itu engkau bangun berdasarkan sikap dan penilaianmu. Maka sebenar-benar karaktermu itulah akan menentukan ilmumu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan karakter. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan karakter adalah engkau berpura-pura berkarakter, padahal engkau sebetulnya belum berkarakter.

Subyek:
Wahai orang tua berambut putih. Apalah sebenarnya yang dimaksud dengan jebakan filsafat itu?

Orang tua berambut putih:
Jebakan filsafat adalah lawan dari keadaan dimana seharusnya engkau berada. Yang telah disebut tadi itu hanyalah sebagian dari jebakan yang ada. Jebakan yang lain masih banyak misalnya: jebakan disiplin, jebakan kejujuran, jebakan kebaikkan, jebakan tanggung jawab, jebakan kepatuhan. Ketahuilah bahwa dari semua itu dapat aku katakan bahwa sebenar-benar jebakan adalah jebakan ruang dan waktu.

32 comments:

  1. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Seseorang yang telah terjebak oleh jebakan filsafat hanya akan merasa walaupun sesungguhnya tidak. Tetapi sebenar-benar manusia hanya bisa mencoba, berikhtiar, dan berusaha. Manusia hanya dapat berusaha untuk ikhlas, tetapi pada kenyataannya manusia sulit untuk menjadi benar-benar ikhlas. Karena itulah sebagai manusia kita harus senantiasa berusaha tetapi tidak boleh merasa sudah karena perasaan sudah itulah yang membuah kita berhenti berusaha dan malah terjebak dalam jebakan filsafat. Semoga kita senantiasa dilindungi oleh Allah SWT dari segala jebakan syaitan. Amin.

    ReplyDelete
  2. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Di dunia ini banyak sekali jebakan-jebakan yang siap menerka kita. Jebakan bisa berasal dari dalam diri kita dan dari luar diri. Kita harus bisa menghindari jebakan dengan menggunakan akal yang sehat dan hati yang bersih. Jadi agar kita tidak terjebak kita harus bersifat ikhlas, selalu berikhtiar serta menyerahkan segala sesuatu hasilnya hanya pada ALLAH SWT.

    ReplyDelete
  3. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Belajar filsafat mempunyai dua potensi, yaitu potensi berkembang atau potensi menurun. Salah satu contohnya, filsafat memiliki banyak aliran. Jika kita dapat memahami aliran-aliran tersebut dalam kesadaran maka akan meningkatkan pemahaman kita sedangkan sebaliknya jika kita tidak mampu memahaminya karena ketidaksadaran maka akan menjerumuskan kita kepada sesuatu yang terperangkap dalam ruang dan waktu yang salah. Maka dalam belajar filsafat butuh persiapan yaitu berupa kesadaran penuh karena sesungguhnya pemikiran kita berada dalam kesadaran.

    ReplyDelete
  4. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Sebagian besar manusia telah terkena jebakan filsafat karena jebakan tersebut bersifat halus dan lembut. Hanya orang-orang yang sadar sepenuhnya akan ruang dan waktu yang dapat meminimalisir jebakan filsafat. Oleh karena itu kita harus waspada dan selalu menjaga pikiran dan hati kita untuk selalu berpikir positif sehingga dapat terindar dari jebakan filsafat. Selain pikiran dan hati, sikap juga perlu dijaga. Berhati-hatilah dalam bersikap, karena sikap dari seseorang merupakan cermin dari hati orang tersebut. Oleh karena itu marilah kita berlomba-lomba untuk bersikap baik dalam keadaan apapun, di manapun berada, dan kepada siapapun itu. Hal ini merupakan salah satu cara untuk menghindari jebakan filsafat.

    ReplyDelete
  5. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Jebakan filsafat ini sungguh sangat berbahaya jika kita tidak mampu keluar dari belenggunya. Caranya simple, jujur. jangan memaksa diri kita untuk melakukan suatu kebohongan karena kita akan terus terjebak dan menyebabkan pengetahuan kita tidak berkembang. Semisal ada sesuatu yang tidak disukai namun tetap kita memaksakan diri untuk menyukainya maka hal tersebut dapat menyiksa diri kita sendiri. Selain itu, hal lain yang harus kita pahami agar terhindar dari jebakan filsafat terutama jebakan ruang dan waktu adalah memahami sebenar-benarnya ruang dan waktu tempat kita berada.

    ReplyDelete
  6. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Jebakan ialah hal yang membuat suatu hal yang ada menjadi mungkin ada atau sebaliknya. Subyek merupakan sesuatu hal yang dapat dijadikan tujuan dalam jebakan, ialah: jebakan kesadaran, keikhlasan, perhatian, minat, pengertian, sikap, karakter, disiplin, kejujuran, kebaikan, tanggung jawab, kepatuhan, dan sebenar-benar jebakan adalah jebakan ruang dan waktu. Jebakan dalam filsafat merupakan jebakan dalam memahami dan mempelajari pemikiran tentang yang ada dan mungkin ada dalam ruang dan waktu. Dalam berpikirnya manusia dalam berfilsafat adalah jebakan sendiri bagi pemikirannya. Sebagai contoh, jebakan berpikir dimana seharusnya kita berpikir akan tetapi kita tidak berpikir atau pura-pura berpikir.

    ReplyDelete
  7. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Mempelajari filsafat penuh dengan jebakan, namun sebenarnya jebakan ada dimana-mana. Jebakan ilmu pengetahuan ada saat kita belajar, jebakan kehidupan muncul selama kita masih bernafas. Seperti diilustrasikan dalam dialog tersebut, banyak sekali jebakan di dunia ini, sedangkan kita seharusnya melabuhkan apa yang kita lakukan menuju spiritual dan keikhlasan. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  8. Keikhlasan mengharuskan telah menguasai kesabaran dalam rangka menguasainya. Orang yang ikhlas harus melewati dimensi kesabaran agar dapat bermuara pada keikhlasan. Orang yang ikhlas tentulah orang yang sabar, namun orang yang bersabar belum tentu ikhlas. Hal ini didasarkan pada ranah spiritual yang mengajarkan hirakri menuju keikhlasan ialah sabar dan pasrah atau tawakkal menyerahkan segala urusan kepada Tuhan YME.Walahu a'lam

    ReplyDelete
  9. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Dalam mempelajari filsafat, akan sangat berbahaya apabila kita tidak menggunakan hati dan pikiran dengan benar. Potensi-potensi jebakan itu dapat muncul kapan saja dan dimana saja. Apabila sudah terkena jebakan, bahkan pikiran kita sendiri akan sulit terlepas. Gunakanlah hati dan pikiran yang ikhlas, sesuai ruang dan waktu agar kita dapat melihat jebakan-jebakan itu atau sesuatu yang berpotensi menjadi jebakan nantinya.

    ReplyDelete
  10. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Jika jebakan filsafat itu halus, maka tentu kita sebagai logos sangat kesulitan menyadarinya. Sadar akan jebakan filsafat sebenarnya sudah mengetahui dan mengenali jebakan itu. Kesadaran adalah syarat untuk mengetahui jebakan filsafat secara umum. Sadar bahwa ilmu kita sudah mumpuni, adalah jebakan filsafat itu sendiri, yang membuat kita berlaku sombong dan angkuh.

    ReplyDelete
  11. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dari elegi ini juga, banyak sekali jebakan jebakan filsafat yang mungkin tak terhitung jumlahnya, karena meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Jebakan Kemalasan, ketika seorang sadar bahwa dirinya sudah rajin, mengerjakan sesuatu dengan semangat, maka ia bisa terkena jebakan kemalasan. Setelah sadar rajin, ia merasa untuk bersantai dan bermalas-malas an.

    ReplyDelete
  12. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Jebakan dalam elegi ini memili mana sesuatu yang menipu diri kita sendiri bahwa kita merasa telah melaukan suatu hal padahal sesungguhnya kita belum melakukannya. Salah satu jebakan yang amat berbahaya ialah jebakan keikhlasan. Bahwa seseorang merasa telah ikhlas dalam menjalani suatu kegiatan atau menghadai suatu kejadian, tetapi sesungguhnya orang tersebut belum ikhlas.

    Salah satu indikator bahwa kita terkena jebakan keikhlasan ketika belajar atau mencari ilmu ialah kita merasa terbebani dan tidak merdeka saat membaca, mendengarkan atau menjalani ativitas pembelajaran. Maka, hal tersebut dapat menghambat masuknya ilmu pengetahuan ke dalam diri kita. akan sia-sia belaka waktu yang kita habisnkan untuk membaca, mendengarkan dan melaukan kegiatan pembelajaran tersebut apabila dilakukan dengan tidak ikhlas. Semoga kita selalu terhindar dari jebakan keikhlasan baik dalam hati maupun dalam pikiran.

    ReplyDelete
  13. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Sangat tidak mudah untuk memahami ilmu itu. Dimulai dari kesadaran akan adanya ilmu, kesadaran untuk memahaminya. Salah satunya adalah jebakan keikhlasan. Karena keiklasan itu sangatlah halus, lembut dan tersembunyi pada batas sebuah dimensi. Selain ketidakikhlasan jebakan filsafat ini sangat banyak macamnya, antara lain ketidaksadaran, tidak perhatian, tidak berminat, tidak punya sikap, tidak berkarakter, tidak disiplin, tidak amanah dan masih banyak lagi.

    ReplyDelete
  14. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Jebakan filsafat itu ragamnya sangat banyak, jika jebakan filsafat sangat halus maka kita akan kesulitan untuk menyadari apakah kita benar-benar sadar atau kita telah terjebak dalam filsafat. Seperti perasaan kita yang telah ikhlas dalam melaksanakan hal, namun ketika kita merasa seperti demikian justru kita telah masuk kedalam jebakan filsafat. Maka dari itu, agar kita tidak masuk dalam jebakan filsafat kita harus senantiasa menyandarkan apa yang telah kita lakukan pada Allah SWT dan tawakal terhadap apa yang kita lakukan.

    ReplyDelete
  15. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dimanapun kita berada, kita harus sadar akan keadaan, sadar yang dimaksud adalah terjaga dengan apa yang ada dilingkunga kita. Dengan terjaga, kita akan mampu menganli jebakan jebankan ruang dan waktu. Dengan mengetahuinya maka kita akan mampu menghadapainya. Tak lupa selalu meminta perlindungan dan pertolongan kepada yang maha kuasa, semoga kita tidak terjerumus kedalam jebakan yang telah ada.

    ReplyDelete
  16. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dalam menuntut ilmu itu sebenarnya ada beberapa yang perlu disiapkan yang pertama yaitu kesadaran. Kesadaran akan pentingnya ilmu itu sendiri, kesadaran yaitu terjaga. Kemudian diperlukan pula keikhlasan dalam mencari ilmu itu. kemudian ada pula perhatian, pengertian, sikap, dan karakter yang benar dalam menuntut ilmu. Karena sejatinya dalam menuntut ilmu ada tantangan berkenaan dengan syarat-yarat diatas yaitu berupa jebakan yang sekakan menyerupai, namun sejatinya bukan, maka perlu diwaspadai hal ini agar dalam menuntut ilmu ini benar-benar bisa sepenuh hati.

    ReplyDelete
  17. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Dengan filsafat manusia mampu menyadari sebatas apa kemampuannya, menyadari seperti apa dirinya, karena hidup manusia itu penuh dengan kontrakdisi maka apa yang terlihat/nampak diluar belum tentu mampu menggambarkan/menunjukkan bagaimana dirinya. Tetapi filsafat bagaikan 2 sisi mata uang, disatu sisi dia mampu menjadikan manusia rendah hati, namun disisi lain dapat menjadi boomerang karena ketika terjebak didalamnya/gagal memahami makna yang sebenarnya ada didalamnya, berpura-pura mengerti padahal sebaliknya maka yang muncul nantinya adalah kesombongan. Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  18. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B 2017

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Elegi ini sepertinya menggambarkan tentang betapa kita harus berhati-hati dalam mempelajari filsafat. Saya sering mendengar dalam kuliah filsafat oleh Bapak Prof Marsigit adalah silahkan kacaukan pikiranmu tetapi jangan sampai kacau hatimu. Hal ini yang selalu diingatkan oleh Bapak Prof Marsigit bahwa ketika belajar filsafat hati kita harus kuat terutama cerdas spiritual, karena jika salah dalam mempelajarinya bisa saja kita berbelok arah dari jalan yang lurus.

    ReplyDelete
  19. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Zaman sekarang ini, telah banyak orang yang terkena jebakan filsafat. Saya sendiri pun juga merasakannya. Terkadang kita merasa mengetahui berbagai hal, padahal sebenarnya banyak hal yang belum kita ketahui. Sebagian jebakan yang telah dijelaskan di atas membuat saya sadar jika saya sering mendapat jebakan filsafat. Misalnya saja ketika dosen menerangkan tentang sebuah teorema, kemudian dosen bertanya apakah sudah mengerti, dan saya menjawab sudah mengerti padahal masih kebingungan. Dari sini dapat disimpulkan bahwa saya telah terkena jebakan pengertian. Memang banyak yang tidak menyadari bahwa mereka telah terkena jebakan filsafat. Oleh karena itu, sebaiknya kita harus jujur pada diri sendiri maupun orang lain, jangan sampai kita mengatakan lawan dari keadaan dimana seharusnya kita berada

    ReplyDelete
  20. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Jebakan ada dimana-mana. Bisa ada di hati dan di pikiran. Tidak ada yang sebenar-benarnya bisa lepas dari jebakan tersebut. Setiap orang hanya bisa berusaha untuk tidak terjebak dalam jebakan itu. Jebakan yang sebenarnya adalah jebakan ruang dan waktu. Seseorang akan masuk dalam jebakan itu kalau dia tidak bisa memaknai hakikat ruang dan waktu yang ada dalam dirinya. Menurut saya untuk mencoba tidak terjebak, kita harus selalu berusaha untuk memaknai segala sesuatu yang kita pikirkan dengan sebenar-benar ruang dan waktu yang kita miliki, sebenar-benar dimensi yang akan dicapai. Ketika ada ketidaksesuaian antara apa yang ingin dicapai dengan ruang dan waktu yang sesuai, maka sebenar-benarnya kita telah terjebak

    ReplyDelete
  21. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Jebakan filsafat merupakan jebakan ruang dan waktu. Merasa telah melaui ruang dan waktu namun sebenarnya belum benar-benar melaluinya. Hal ini yang mungkin merangkum semua jebakan-jebakan yang ada. Mulai dari jebakan pengertian, sikap, kejurjuran, keikhlasan, dan sebagainya.
    Bahwa orang-orang yang rugi adalah orang yang terjebak ruang dan waktu. Ada pula yang mengatakan bahwa, orang orang yang merugi adalah orang yang tidak lebih baik dari hari yang kemarin. Hal ini meunjukkan bahwa jebakan ruang dan waktu itu sebenar-benarnya ada dan harus dihindari.

    ReplyDelete
  22. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Filsafat bisa dibangun dengan logika dan pengalaman. Jebakan filsafat itu adalah apabila dalam mempelajari filsafat hanya untuk ikut – ikutan dan mencari nilai saja, filsafat tidak dipelajari dengan baik dan lengkap, dan membacanya hanya separuh–separuh saja sehingga tidak menemukan manfaat dan barokah dari yang dipelajarinya.

    ReplyDelete
  23. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi jebakan filsafat menjelaskan tentang bagaimana kita sering terjebak akan sesuatu yang baik namun ternyata buruk. Salah satu terjebak yang dimaksud disini adalah terjebak dalam jebakan kesadaran yaitu ketika kita berpura-pura sadar padahal kita belum menyadarinya. Maka hendaknya agar kita memahami sesuatu itu maka kita harus meletakkan kesadaran terhadap objek yang akan kita sadari. Kesadaran itu bersifat merdeka sehingga sebenar-benar ilmu itu memerlukan kesadaran kita.

    ReplyDelete
  24. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Jebakan merupakan suatu batu ujian untuk kita agar dapat naik ke level pemikiran dan pengetahuan tahap selanjutnya. Dimana dalam menggapai ilmu itu membutuhkan rasa keingintahuan dan rasa tidak cepat puas. Sehingga ketika memperoleh ilmu itu kita akan terus berkarya. Janganlah kita ingin dibilang pintar oleh seseorang sehingga kita pura-pura mengerti akan suatu hal padahal kita pada dasarnya tidak tahu sama sekali. Janganlah kita membohongi diri sendiri atas keadaan yang sedang kita alami. Katakanlah belum bisa jika memang kita belum mampu.

    ReplyDelete
  25. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Untuk dapat lepas dari jebakan filsafat sebenarnya tidaklah terlalu rumit, yang diperlukan adalah kejujuran. Dimana kejujuran itu ditujukan untuk diri kita sendiri, misalnya janganlah kita membohongi hati kita sendiri, bilang dimulut suka padahal sebenarnya tidak suka. Sehingga ketika kita telah terlanjur terjebak akan suatu keadaan yang kita anggap suka padahal tidak kita sukai, maka hal itu justru akan menyiksa diri kita sendiri. Oleh karena itu janganlah kita terbiasa membohongi diri kita sendiri agar tidak terjerumus kedalam jebakan filsafat

    ReplyDelete
  26. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Berdasarkan elegi ini saya tersadar tentang pentingnya keteguhan diri ketika belajar. Karena dalam belajar kita akan menemukan kesulitan-kesulitan yang sebenarnya itu adalah jebakan. Perlunya keikhlasan dalam meningkatkan ilmu agar ketika menemukan masalah kita tidak merasa kesulitan, namun menyadari dan ikhlas bahwa itu adalah proses dalam belajar.

    ReplyDelete
  27. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Membaca elegi jebakan filsafat ini sama halnya kita melakukan suatu tindakan atau perasaan tidak sesuai dengan ruang dan waktunya. Atau kepura-puraan yang dimunculnya. Sesuai elegi di atas misalnya oang yang berbohong tetapi ia mengatakan bahwa ia jujur. Jika suatu saat ketahuan maka hidupnyala yang akan hancur. Setiap langkah dalam menjalami hidupnya maka ia akan sulit dipercaya oleh orang lain. Karena kepura-puraanlah yang selalu menyelimuti dirinya padahal orang lain tidak suka dengan orang yang pura-pura apalagi pura-pura jujur padahal berbohong.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  28. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    dari elegi ini kita tahu bahwa terdapat jebakan dimana-mana, kita harus waspada dan teru sadar tetap dijalan yang benar agar dapat terhindar dari jebakan tersebut. jika suatu saat jatuh masuk kedalam lubang jebakan, maka bangunlah, jadikan itu sebagai pelajaran dan pengalaman, selanjutnya jangan sampai jatuh pada lubang yang sama

    ReplyDelete
  29. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    jebakan merupakan salah satu ujian kekonsistenan kita terhadap sesuatu, dalam Islam telah diberikan dua pedoman hidup atau pegangan yang menjamin keselamatan kita di dunia dan akhirat yaitu al-Qur'an dan sunnah Rasul

    ReplyDelete
  30. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa untuk mempelajari filsafat itu diperlukan hati dan pikiran yang ikhlas. Jika hati dan pikiran tidak benar-benar ikhlas mempelajari filsafat maka akan terjebak dan terjerumusa dalam jebakan filsafat. Menurut saya jebakan filsafat itu sebenarnya datangnya dari diri sendiri, misalnya seperi disebutkan diatas tentang jebakan minat. Mungkin lisan berkata bahwa kita berminat belajar, tapi kadang hati belum tentu memiliki pemikiran yang sama.

    ReplyDelete
  31. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Menurut saya, jebakan filsafat adalah kesombongan. Ada banyak orang mengaku telah menuntaskan filsafat dengan nada kesombongan bahwa seolah-olah belajar filsafat adalah ihwal saling ajang pamer pengetahuan. Kesombongan adalah sebenar-benarnya perangkap filsafat yang sebenarnya membunuh hakikat filsafat itu sendiri. Alih-alih mencapai suatu kebijaksanaan hidup yang menciptakan kerendahan hati, kesombongan sebagai perangkap filsafat justru menanamkan penyakit dalam hati dan pikiran. Semoga Allah selalu menjaga kita dari sikap kesombongan. Aamiin!!

    ReplyDelete
  32. Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika

    Artikel yang sangat menarik, jebakan-jebakan yang ada sebenarnya sangat menantang untuk dihadapi dan diselesaikan. Jika kita berhasil menyelesaikannya saya yakin diri kita akan menjadi pribadi yang sopan dan santun terhadap ruang dan waktu. Dan dengan demikian maka masalah-masalah tersebut atau jebakan-jebakan itu akan bisa dihadapi. Menurut pendapat saya salah satu cara menghadapi jebakan itu adalah jangan berlaku sombong dan jujurlah terhadap diri sendiri. Sombong akan menyebabkan kita tidak dapat mengontrol apa yang seharusnya kita butuhkan dan hanya ingin apa yang kita inginkan. Sedangkan jujur pada diri sendiri akan membuat kita sadar apakah kita sudah ikhlas sudah memperhatikan atau belum. Terima kasih.

    ReplyDelete