Sep 20, 2013

Elegi Pemberontakan Para Logos




Oleh Marsigit

Hati:
Aku sedang menyaksikan para logos mulai beraktivitas. Beberapa diantara mereka beraktivitas sesuai batas-batasnya, tetapi aku melihat sebagian diantara mereka mulai melampaui batas-batasnya. Aku ingin mengetahui apa sebetulnya yang terjadi pada logos-logos itu. Wahai para logos, apakah yang terjadi pada dirimu sehingga engkau kelihatan gelisah serta ada diantara engkau malah beraktivitas melampaui batas-batasmu.

Logos1:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah dirimu. Maka engkaulah, yaitu engkau hati, sebenar-benar merupakan tantanganku. Aku merasa tertantang untuk mengetahui semua relung hatiku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti hatiku. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos2:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah irrasional. Maka irrasional adalah sebenar-benar merupakan tantanganku. Aku merasa tertantang untuk mengetahui semua yang irrasional, walaupun aku tahu bahwa irrasional itu tidak rasional. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang irrasional. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos3:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah ghaib. Maka ghaib adalah sebenar-benar merupakan tantanganku. Ketika aku menginginkan bertemu dengan ghaib maka dia itu tidak mau memunculkan diri. Padahal aku ingin mengetahui semuanya tentang yang ghaib itu.Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti yang ghaib. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos4:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah mimpi. Maka engkaulah mimpi itulah sebenar-benar merupakan tantanganku. Aku ingin mengetahui semua mimpi. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti mimpiku. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos5:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah awal. Maka awal sebenar-benar merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti awal. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos6:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah akhir. Maka akhir itulah sebenar-benar merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang akhir. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos7:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya jauh tak hingga. Maka jauh tak hingga merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang jauh tak hingga. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos8:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya dekat tak hingga. Maka dekat tak hingga merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti dekat tak hingga. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos9:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah diriku . Maka diriku merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang diriku sendiri. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos10:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah noumena . Maka noumena merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang noumena. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.
Logos11:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah dibalik penampakan. Maka dibalik penampakan merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang dibalik penampakan. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos 12:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah nasib. Maka nasib merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang nasib. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos13:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah arwah. Maka arwah merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang arwah. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Hati:
Cukup...cukup. Wahai para logos. Rupa-rupanya engkau semua telah lancang terhadapku. Engkau telah menyalah gunakan kepercayaanku terhadapmu. Bahkan sebagian darimu telah melakukan hal-hal di luar batas-batasmu. Maka sebenar-benar dirimu semua aku kutuk. Terkutuklah engkau semua. Engkau semua sebenar-benarnya bukanlah logos. Engkau semua adalah mitos-mitos. Ketahuilah bahwa hatiku selalu waspada mengamati gerak-gerikmu. Engkau semua telah menjelma menjadi mitos, dikarenakan kesombonganmu akan gelarmu selama ini sebagai logos. Aku benar-benar menyesal telah memanjakanmu semua. Maka sekali lagi, tidak adalah logos-logos itu di hadapanku. Yang ada di hadapanku semua itu adalah mitos.mitos. Dengarkanlah wahai semua mitos-mitos, lihatlah diriku. Aku sekarang ini sedang marah besar terhadapmu semua. Dan sekaranglah saatnya aku harus mengambil sikap tegas terhadapmu. Maka enyahlah semua dari hadapanku. Aku tidak sudi bergaul dan berkomunikasi denganmu. Enyahlah...enyahlah segera.

Para mitos (jelmaan logos):
Wahaha..haha. Ketahuilah engkau yang mengaku sebagai hatiku. Kuman disebarang lautan tampak, sedangkan gajah di pelupuk mata tidaklah tampak. Aku juga tidak lagi mempercayaimu. Ketahuilah bahwa engkau juga telah membuktikan di hadapanku, bahwa engkau itu sebenarnya bukanlah hatiku yang sebenarnya. Dengan kemarahanmu itu, maka telah masuklah ke dalam dirimu seekor syaitan. Maka tiadalah dirimu itu, kecuali sebuah hati yang telah berubah menjadi seekor syaitan. Maka dengarkanlah wahai syaitan. “Dengarkanlah wahai syaitan, lihatlah diriku. Aku sekarang ini sedang marah besar terhadapmu semua. Dan sekaranglah saatnya aku harus mengambil sikap tegas terhadapmu. Maka enyahlah engkau dari hadapanku. Aku tidak sudi bergaul dan berkomunikasi denganmu. Enyahlah...enyahlah segera”.
Wahaha..haha. Kenapa engkau kelihatan pucat pasi, padahal kalimatku yang terakhir itu hanya pura-pura. Aku sebetulnya hanya menirukan gayamu saja. Maka munafiklah engkau syaitan. Wahai syaitan, ketahuilah bahwa tidaklah pada tempatnya bahwa syaitan itu bermusuhan dengan mitos-mitos. Menurutku, antara syaitan dengan mitos itu pastilah harus bekerja sama. Maka renungkanlah. Renungkanlah kembali sebelum engkau menyesal dikemudian hari.

Syaitan (jelmaan hati):
Wah ..maafkan wahai para mitos. Aku tidak menyangka kalau telah bertemu dengan sahabat sejatiku. Engkau para mitos itu adalah sahabat sejatiku. Maka tiadalah aku akan bertindak semena-mena terhadap dirimu itu. Sekali lagi maafkanlah.

Akar rumput:
Aku sedang menyaksikan kejadian luar biasa. Ada orang tengah sombongnya berjalan di muka bumi. Setelah aku amati, ternyata dia adalah para mitos dan sahabatnya, syaitan. Ya Tuhan, ampunilah diriku. Ampunilah dosa-dosa orang yang telah berbuat dhalim di muka dunia ini. Tiadalah daya upayaku, kecuali hanyalah diri Mu yang mampu menghancurkan syaitan-syaitan itu.

Syaitan dan mitos:
Oauit...kenapa kakiku ini. Aneh pula kakiku ini. Tidak ada sebab, kenapa kakiku kemasukkan duri. Ak lihat jalannya lurus dan bersih. Oauit...terasa sakit sekali. Wahai mitos, kenapa kaki kita kemasukkan duri dan dari mana duri itu?

Mitos:
Maafkanlah syaitan, aku sekarang bukan menjadi logos lagi. Aku telah engkau kutuk menjadi mitos. Maka aku tidak lagi bisa berpikir kritis. Maka maafkanlah aku. Karena aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Aku merasa malu sekali mengapa hanya persoalan sepele seperti ini aku tidak bisa memikirkan. Kenapa aku tidak tahu asal usul duri ini. Padahal sebelum engkau kutuk aku telah sesumbar dan menantang dan memberontak terhadap hati bahwa aku ingin menantang semuanya yang ada dan yang mungkin ada sampai batas pikiranku. Sekali lagi maafkan aku. Aku tidak akan mengulangi perbuatanku lagi. Aku betul-betul menyesal telah berbuat dholim di muka bumi ini. Maka wahai hatiku maafkanlah diriku.

Hati (setelah syaitan menghilang):
Iba rasa hatiku wahai saudaraku. Wahai engkau logos-logosku. Aku telah menyaksikan engkau telah kembali menghampiriku. Ingin menitikkan air mata rasanya diriku itu melihat engkau semua telah menyadari kesalahan-kesalahanmu. Demikian pula aku. Mohon maafkanlah diriku, karena aku juga telah terbawa emosi sehingga aku sempat dihampiri syaitan. Aku juga menyesal telah mengutukmu. Maka sebetul-betulnya hatiku adalah doaku, sedangkan hatiku itu adalah teman bagi logos-logosku yang mengetahui batas-batasnya. Marilah kita kembali menetapkan iman dan taqwa kita kepada Tuhan YME, dengan senantiasa selalu berdoa dan mohon ampun atas segala dosa-dosa kita. Semoga Tuhan mengabulkan semua doa-doa kami. Amien.

Orang tua berambut putih:
Aku telah menyaksikan semua kejadianmu itu. Aku ingin katakan bahwa aku tidak bisa berkata. Kalimat kontradiksiku itu merupakan lambang bagi kehadiranku, yaitu bahwa aku hadir walaupun tidak engkau panggil. Maka renungkanlah.

88 comments:

  1. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016

    logos mempunyai kemerdekaan untuk berpikir kritis dan berkembang sesuai kebaikan dan mannfaatnya. namun terkadang ada logos yang melampaui batas sehingga dia lupa hakekat dari dirinya sendiri. karena lupa tersebut, secara tidak sadar dia telah menjadi mitos. jika logos diumpamakan sebagai logika / rasional, maka penyeimbangnya adalah hati. jika logos telah melenceng dari tugas dia yang sebenarnya, maka tugas hati untuk meluruskannya kembali. namun hati juga dapat diganggu oleh syaitan. sehingga dia tidak lagi melaksanakan tugasnya untuk meluruskan logos, namun malah menjadi teman karib mitos. karena semua inilah, maka logos dan hati harus sama-sama waspada, saling instropeksi dan menetapkan iman serta meminta perlindungan dari Yang Maha Kuasa untuk selalu dituntun pada jalan yang benar dan tidak melenceng dari tugas-tugas aslinya.

    ReplyDelete
  2. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Perlu kita ketahui ilmu yang kita miliki harus tetap berda di hati kita atau masih berda pada lingkungan hati. Ilmu itu tidak boleh melebihi hati karena nanti bisa sombong. dan sombong itu perbuatan syetan. Kita juga jangan memandang kesalahan orang lain saja tetapi kita perlu mengoreksi dulu pada diri kita.

    ReplyDelete
  3. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi pemberontakan para logos. Selalu, judul judul elegi ini membuat pembaca penasaran apa yang disampaikan didalamnya. Dari apa yang saya pahami dari elegi ini, kita seringkali telah mengetahui segalanya, bersikap sombong dan angkuh, yang mana itu akan membuat apa yang seharusnya baik menjadi tidak. Dalam elegi ini diumpamakan logos yang menjelma sebagai mitos karena kesombongannya. Begitu pula hati. Seringkali dipenuhi rasa marah, dan jauh dari sabar, membuat apa yang seharusnya suci menjadi ternoda. dalam tulisan ini diumpamakan hati yang menjelma syaitan.
    Maka dari itu sebagai manusia sudah seharusnya kita menjauhi sikap sombong dan angkuh terhadap ilmu yang kita punya, yg sangat sedikit itu, serta kita harus menata hati, dan menjauhkannya dari amarah yang hanya akan menodai kesuciannya. Senantiasa refleksi diri dan terus memperbaiki diri agar kita terhindar dari sikap-sikap diatas.

    ReplyDelete
  4. Belajar filsafat berarti ingin merubah dari mitos menuju logos. Mitos berarti pencapaian yang telah selesai, percaya saja tanpa dipikirkan. Logos adalah percaya tapi dengan dipikirkan lebih dahulu. Mitos dan logos keduanya berperan dalam hidup kita. Keduanya akan ada, kadang bertentangan dan saling mengalahkan. Logos membantu dalam menemukan kebenaran, tetapi kita membutuhkan hati yang bersih dalam menggunakannya. Karena logos bisa menjadi mitos karena kesombongan dan tanpa hati yang bersih ada di dalamnya. Logos dan mitos seperti dua sisi mata uang, dari keadaan logos dapat menjadi keadaan mitos jika telah berpuas diri.

    ReplyDelete
  5. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Konflik di hati sering kita alami, terutama saat kita menghadapi masalah. Dalam situasi seperti itu untuk berpikir jernih seperti logos dengan hati yang keras, apalagi saat hati kita dipengaruhi oleh mitos dan setan. Karena itu sebagai orang beriman maka jangan lupa sholat dan serahkan kepada Allah Swt Tuhan Yang Maha Kuasa agar hati kita selalu terjaga, apalagi di saat krisis menghadapi masalah. Elegi pemberotakan para logos ini mengajarkan kita untuk tidak berperilaku sombong dengan apa yang dimiliki didunia ini terutama logos atau ilmu. Ilmu yang dimiliki bukan untuk di pamerkan tapi untuk diajarkan. Berperilaku sombong pada ilmu justru akan menjadikan ilmu tidak memiliki arti bagi diri kita.

    ReplyDelete
  6. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Manusia dikaruniai hati dan pikiran (logos). Jika logos berbuat tanpa batas bahkan tak semestinya ingin mengetahui apa isi di setiap relung hati maka logos itu akan menjelma menjadi mitos. Karena tak semua isi hati manusia dapat dipikirkan. Begitupun hati jika sedang dalam keadaan amarah maka gugur dari fitrahnya dan dibawah komando syaitan. Sehingga penting untuk menjaga fitrah tersebut agar logos tetaplah logos dan hati tak terpengaruh syaitan.

    ReplyDelete
  7. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Logos adalah pemikiran rasional yang kita gunakan dalam memikirkan sesuatu. Jika logos dibiarkan berkerja tanpa hati, logos akan merasa lelah dan dia akan menyombongkan apa yang telah dia lakukan, logos akan puas dengan apa yang dia lakukan karena merasa sudah melakukan banyak hal, dan berhenti untuk menambah ilmunya. Oleh karenanya, dalam berkegiatan, kita haruslah memakai logika dan hati secara bersama dan sinkron, agar apa yang kita lakukan menjadi berkah dan kita tidak akan pernah lelah dalam mencari ilmu karena dilandasi oleh hati yang tulus ikhlas.

    ReplyDelete
  8. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Elegi pemberontakan para logos menunjukkan adanya gejolak antara hati dan pikiran yang tidak sejalan. Semakin kita belajar untuk menggapai ilmu kita tidak boleh angkuh atau sombong karena hal yang demikian sangat dibenci oleh Allah. Untuk dapat menyeimbangkan hati dan pikiran kita, kita perlahan-lahan harus menyingkirkan penyakit-penyakit hati terlebih dahulu baru ilmu yang akan kita pelajari akan masuk di dalam pikiran dan hati kita. Jadi, jangan pernah tinggi hati akan ilmu yang telah kita peroleh.

    ReplyDelete
  9. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Elegi Pemberontakan Para Logos mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menyelaraskan pikiran dengan hati. Apa yang ada di pikiran kita seyogyanya sesuai dengan apa kata hati kita. Misalnya, dalam pikiran kita tertanam bahwa matematika adalah fenomena di sekitar kita, maka dalam hati kita tertanam pula keyakinan akan kegunaan dari matematika dan sikap untuk menghargai matematika itu sendiri. Segala sesuatu yang baik bersumber dari pemikiran dan hati yang baik pula. Dengan pikiran dan hati nuraninya manusia bisa memilih pilihan manakah yang terbaik bagi hidupnya, bagi masa depannya.

    ReplyDelete
  10. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Elegi pemberontakan para logos ini sebetulnya menceritakan tentang usaha-usaha yang menuntut penghargaan. Padahal tuntutan penghargaan itu telah menghilangkan keikhlasan dalam hatinya. Sehingga disitulah peluang setan untuk menjerumuskan usaha-usaha tersebut yang sebelumnya baik, menjadi hal yang sia-sia. Oleh karena itu, dalam melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat, ucapkan lah bismillah dan minta lah pertolongan dan perlindungan Allah dari godaan setan. Sehingga langkah kita dituntun, hati kita menjadi ikhlas, dan pikiran kita tenang.

    ReplyDelete
  11. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Pada bagian pembuka dari elegi tersebut hati berkata bahwa banyak logo yang beraktifitas sesuai dan tidak sesuai bidangnya. Hal itu menunjukan bahwa pada dasarnya sebuah logo tidak bisa hanya beraktifitas dalam satu ruang lingkup saja tanpa adanya campur tangan dari logos-logos lain.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  12. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Pendapat para logos dalam elegi diatas menunjukan beragamnya tantangan yang dihadapi masing-masing logos sesuai dengan ranahnya. Ini memotivasi kita untuk semakin kuat dalam mencari ilmu, karena masing-masing ilmu memiliki tantangan dan rintangannya masing-masing.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  13. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Pada bagian penutup elegi tersebut, orang tua berambut putih menyebutkan bahwa dia akan hadir entah dipanggil ataupun tidak dipanggil. Hal ini berarti bahwa ilmu pengetahuan itu akan selalu ada entah diminta ada ataupun tidak.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  14. Tahtalia
    14301241031
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Ilmu yang ada dalam diri janganlah menjadikan kita sombong dan mengeraskan hati kita. Seharusnya dengan ilmu yang kita miliki menambah rasa syukur kepada Tuhan atas nikmat yang diberikan-Nya dan kita gunakan untuk beribadah kepada-Nya.

    ReplyDelete
  15. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa logos melakukan pemberontakan dengan cara menyombongkan hasil dari perjuangannya. Jangan sampai terlena akan logos, sebaiknya selalu mendengarkan apa kata hati juga. Senantiasa bekerja dengan hati dan pikiran yang bersih dan ikhlas agar tidak terjerumus.

    ReplyDelete
  16. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi ini berkisah tentang perdebatan logos dengan hati. Logos berarti pengetahuan. Ketika manusia merasa telah menguasai banyak pengetahuan (logos), ia cenderung merasa ingin mengetahui segalanya. Manusia menjadi ingin mengerti tentang hati, irasional, ghaib, dan sebagainya. Manusia pun menjadi sombong sehingga hatinya tidak bersih lagi. Oleh sebab itu, walau kita telah banyak belajar berbagai pengetahuan, alangkah baiknya bila kita selalu rendah hati. Kita pun harus selalu mengingat bahwa segala ilmu adalah berasal dari Tuhan dan segala pertolongan adalah bersumber dari-Nya. Dengan demikian, tidak terjadi pemberontakan para logos dengan hati.

    ReplyDelete
  17. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    elegi di atas memberikan pandangan bahwa bagaimana kita bisa istiqamah terhadap apa yang telah kita lakukan. istiqamah menjadi seorang guru, artinya kita siap terhadap tantangan yang terjadi di depan sehingga niat kita tidak goyah akibatnya kita sebagai calon guru akan terus meningkatkan kualitas kompetensi kita atau profesionalisme kita sebagai guru.

    ReplyDelete
  18. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Menggambarkan pengetahuan/pikiran manusia (logos) yang memang sulit untuk memahami isi hati. Dimana saat logos memberontak dan sombong, ia akan berubah menjadi mitos. Karena sekali lagi pikiran manusia itu terbatas. Juga hati dan perasaan kita perlulah berjalan selaras dengan apa yang kita pikirkan. Karena seyogyanya hati dan pikiran manusia itu selaras dan saling bekerja sama untuk mencapai target dan tujuan hidup.

    ReplyDelete
  19. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Selalu mengganggap remeh orang lain dan merasa menjadi yang paling tinggi. Itulah tanda-tanda hati yang sombong. Semua gelar semua harta yang dipunya hanyalah fatamorgana di dunia. Itu tidak ada apa-apanya dipandang di akhirat nanti jika tidak bisa menggunakan gelar dan harta di dunia dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya.

    ReplyDelete
  20. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Berdasarkan elegi yang dipaparkan diatas, saya menyimpulkan bahwa hati adalah sesuatu yang sulit dipahami oleh seseorang, bahkan logos (pemikiran) sendiri tidak dapat mencapai pemahaman mengenai hati seseorang. Akan tetapi, logos dengan ilmu yang dipahaminya dapat menggapai mitos dan membuktikan apakah itu suatu kebenaran atau kesalahan. Akan tetapi dalam memahami suatu ilmu pengetahuan seperti logos janganlah melampaui batas-batas kehendak-Nya. Semoga dengan pembelajaran mengenai elegi ini kita dijauhkan dari segala sesuatu yang melampai batas, karena sesungguhnya segala sesuatu yang melebihi batasnya bukanlah sesuatu yang baik.

    ReplyDelete
  21. Jeanete Nenabu
    PPS Pmat D (15709251004)

    Elegi ini menjelaskan kepada kita bahwa ilmu pengetahuan itu tidak ada batasnya. Janganlah kita belajar hanya sebatas untuk menemukan sesuatu yang kita cari. Kita harus terus belajar, agar semakin banyak ilmu yang kita peroleh. Semakin kita belajar tentunya memperkaya ilmu yang kita miliki. Janganlah kita merasa puas akan ilmu yang kita miliki saat ini, janganlah kita bangga akan kemampuan kita, dan kita menyombongkan diri dan menganggap remeh dengan orang lain. Sesungguhnya dibalik kelebihan yang kita miliki tentunya kita juga memiliki kekurangannya. Dan kita perlu berhubungan baik dengan orang lain (sesama) untuk dapat melengkapi kekurangan kita.

    ReplyDelete
  22. Jeanete Nenabu
    PPS Pmat D (15709251004)

    Musuh terbesar bagi para logos adalah mitos. Mitos yang tak terbukti kebenarannya akan menjadi virus yang berbahaya yang mengarah kepada kekeliruan dan menjauhkan kita dari kebenaran. Sehingga kita harus senantiasa menghindari musuh besar kita yaitu mitos. Kita harus berikhtiar mencari kebenaran dan berdoa agar dijauhkan dari mitos yang menyesatkan. Semakin dekat dengan tuhan maka kita akan dibimbing dalam keikhlasan. Itulah setinggi-tinggi tujuan hidup, dihampiri rakhmat-Nya. Sebenar-benar ilmu adalah hati dan sebenar-benar hidup juga adalah hati. Hati yang seperti apa? Tentunya hati yang penuh ikhlas, mempunyai iman, dan selalu bertaqwa pada-Nya. Sebetul-betulnya hati kita adalah doa-doa kita, sedangkan hati kita adalah teman bagi logos-logos kita yang mengetahui batas-batasnya. Semoga kita senantiasa memohon pada-Nya agar hati kita selalu dihuni keikhlasan dan mendapat lindungan dari Allah dari kejahatan mitos dan setan.

    ReplyDelete
  23. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Seperti yang Bapak Marsigit katakan pada perkuliahan pertama, bahwa dalam belajar filsafat itu boleh bingung di pikiran, tetapi tidak boleh bingung di hati.Terkadang pikiran kita berfilsafat sampai kelewat batas, sehingga dapat menggoyahkan, mengkacaukan, bahkan merusak hati sanubari. Di saat itulah syaitan dengan mudah masuk ke hati dan mengendalikannya. Oleh karena itu, marilah senantiasa meminta petunjuk serta selalu mendekatkan diri pada Allah SWT.

    ReplyDelete
  24. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini saya menyimpulkan bahwa ketika kita merasa cukup dengan ilmu maka akan timbul kesombongan dalam diri kita. Kesombongan mematikan hati dan juga membuat kita mudah puas akan ketercapaian pengetahuan kita. Perlunya kesinambungan antara pikiran dan hati dalam belajar agar tidak mudah merasa puas. Kontrol hati dan pikiran agar terus belajar dan terus merasa kurang ilmu harus ditanamkan dalam diri.

    ReplyDelete
  25. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamu Alaikum Warohmatullah wabarokatuh.
    Terkadang pertanyaan ini muncul dalam diri kita, apa yang salah pada pikiran dan hati yang sering tak harmonis. Saya mendapat sedikit pencerahan dari elegi ini. Betapa seringnya hati dan pikiran kita berkecamuk dan tak ingin mengalah satu sama lain. Hal yang harus di camkan bahwa pikiran haruslah memiliki batas dan hati haruslah bersih dari segala bentuk kesombongan. Sehingga jika pergolakan itu kembali terjadi ada rasa ikhlas yang akan muncul hingga kita akan bebas dari pengaruh keduanya.

    ReplyDelete
  26. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari Elegi ini kembali kami (saya) teringat kutipan kata dari Rene Descartes bahwa “Pikiran-pikiran yang agung mampu melakukan baik kesesatan-kesesatan agung maupun kebajikan-kebajikan agung”. Merupakan pilihan seseorang memilih mengutamakan hati atau pikiran. Bagi saya sebelum menentukan sejauh mana saya bisa berfikir, saya tetapkan Iman dan agama saya sebagai batas sejauh mana pikiran saya bisa melangkah. Saya teringat dengan pemikiran Blaise Pascal bahwa manusia sebagai makhluk yang membutuhkan Allah (Tuhan). Dalam pandangannya manusia itu sebagai makhluk yang nista sekaligus makhluk yang luhur. (Hardiman, 2007:61). Dalam pandangannya dalam pikiran manusia selalu ada perang batin yaitu akal-budi melawan nafsu-nafsu, di mana akal-budi selalu berusaha menghapuskan nafsu-nafsu dan sebaliknya, tetapi itu tidak akan pernah terjadi (salah satu diantaranya terhapus).

    ReplyDelete
  27. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Pak. Kembali saya tersadar bahwa tidaklah pantas kita berbangga diri dengan ilmu yang kita punya. Ketika kita merasa cukup dan berbangga diri dengan ilmu kita, kita akan terkena penyakit hati, yaitu sombong. Sikap sombong ini hanya akan membuat hati kita jadi busuk serta otak jadi dangkal. Oleh karena itu, kita harus senantiasa mawas diri untuk terus belajar dan merefleksi.

    ReplyDelete
  28. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Pelajaran yang dapat saya ambil dari “Elegi Pemberontakan Para Logos” bahwa terkadang dalam hati terdapat kontradiksi. Maka agar hati dapat berpikir kritis dan menghasilkan perbuatan baik perlunya menetapkan iman kembali dan taqwa kita kepada Allah, dengan senantiasa selalu berdoa dan mohon ampun atas segala dosa-dosa kita. Tak lupa untuk melakukan instropeksi diri agar menyadari kesalahan-kesalahan kita.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  29. Junianto
    PM C
    17706251065

    Apa yang kita lakukan hendaknya selalu kita padukan antara pikiran dan hati nurani. Pikiran yang akan membawa perbuatan ke arah logika, sedangkan hati nurani akan membawa perbuatan kita kepada kebenaran. Jika kita hanya mengandalkan salah satu, tentu perbuatan kita tidak akan sejalan dengan apa yang seharusnya kita lakukan. Tidak perlu sombong ketika kita telah melakukan kebaikan atau kebenaran karena tidak ada yang abadi di dunia ini, apalagi cma sebagai manusia. Terkadang berbuat benar, terkadang berbuat salah sudah merupakan hal wajar.

    ReplyDelete
  30. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Hati merupakan sebuah organ yang sangat luar biasa perannya dalam kehidupan setiap insan. Ketika organ tersebut baik, maka baik juga setiap pikiran maupun perbuatan dari insan tersebut. Pepatah mengatakan dalamnya lautan dapat diukur tetapi dalamnya hati tiada tahu, itu merupakan sebuah kiasan bahawa hati memiliki sebuah kekuatan yang luar biasa. Nalar otak kita tidak mampu menembus nalar hati kita. Karena sejatinya dimensi berpikir otak kita tidak mampu menjangkau dimensi hati kita merasa, begitu pula sebaliknya. Mari kita selalu menjadi hamba yang bersyukur kepada-Nya.

    ReplyDelete
  31. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Elegi ini mengingatkan kita untuk tidak melampaui batas. Ilmu yang kita miliki tidak akan mampu memikirkan hal-hal yang berada pada ranah hati, seperti hal-hal gaib, takdir, noumena, dan segala yang menjadi ketentuan Allah. Sehebat apapun pikiran yang kita miliki, kita tidak akan pernah bisa sampai berpikir ke sana. Tidaklah pantas bagi manusia untuk bersikap sombong, seolah-oleh bisa menguasai semuanya. Karena sebenar-benarnya ilmu yang disombongkan terancam berubah menjadi mitos. Maka, ketika sesuatu tidak dapat lagi dipikirkan melalui logika, kembalikan kepada hati yang bersih dengan senantiasa menghadap Allah SWT.

    ReplyDelete
  32. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Perbedaan pendapat dan pertentangan dari semua orang haruslah dihargai. Tidak hanya itu akan tetapi kebingungan akibat banyak yang kita pikirkan harus dihadapi dengan bijak dan benar. Dengan demikian akan banyak yang berubah menjadi positif dikehidupan kita. Mungkin berdoa kepada Allah SWT adalah salah satu cara mengurangi konflik yang terjadi di dalam kehidupan kita. Dengan berdoa maka Allah akan memberikan jalan keluar yang terbaik. Mungkin hanya itulah yang bisa kita lakukan. Dalam mencari ilmu memang harus ikhlas hati, ikhlas pikir, suci dalam pikiran perkataan dan perbuatan, selalu berikhtiar, dan tidak lupa berdoa.

    ReplyDelete
  33. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Pikiran dan hati adalah dua hal penting dalam memahami filsafat.Sebaik-baik filsafat adalah berpikir.Sebagaimana yang diungkapkan Descartes bahwa “Saya berpikir, karena itu saya ada” orang dapat hidup karena berpikir.Senada dengan pendapat tersebut ,ada ulama yang mengatakan bahwa”mayat hidup yang berjalan” maksudnya karena orang tidak berzikir. Yang pastinya di dalam berpikir jangan sampai lepas kendali. Dan untuk menyeimbangkan itu adalah hati.Maka tetapkan hati sebagai landasan pikiran.

    ReplyDelete
  34. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi ini saya menyadari bahwa sebagai manusia janganlah berbangga atas ilmu yang telah dimiliki. Karena jika hati telah merasa bangga terhadap apa yang dimiliki, maka yang timbul nantinya hanyalah kesombongan. Kesombongan atas apa yang telah dicapai dan dikuasai sehingga hati merasa telah memiliki segalanya. Namun tanpa disadari apa yang dikuasai tersebut bahkan masih jauh dari kebenaran. Sikap sombong ini akan hanya akan membuat manusia berpikir dangkal. Untuk itu, senantiasalah berlindung kepada Allah dan selalu intropeksi diri agar terhindar dari penyakit hati ini.

    ReplyDelete
  35. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Terkadang kesombongan pikiran untuk menabrak segala batas hati bahkan hingga melampaui hati menyebabkan para mitos semakin dekat. Mitos adalah kesombongan. Jika logos sombong akan ilmu-ilmunya maka sesungguhnya ia tidak melahirkan ilmu, namun mitos.

    ReplyDelete
  36. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Pikiran dan hati hendaknya berjalan bersama-sama. Ketika pikiran melakukan kerjanya sendiri, maka tak ada yang mengingatkannya akan kesombongan. Tak sadar ia bahwa pikirannya adalah pemberian dari Sang Empunya Kehidupan. Hanya hati yang dapat meredam kesombongan dan menyadarkan manusia bahwa dirinya bukanlah apa-apa. Di sanalah benar bahwa sekacau-kacau pikiran, tetapi jangan kita kacau hati.

    ReplyDelete
  37. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B

    terimakasih pak atas ilmu yang telah bapak berikan melalui postingan elegi pemberontakan para logos ini.
    sombong adalah alasan syaitan dikeluarkan dari surga. ia membangkang tidak mau disuruh tunduk kepada adam yang tercipta dari tanah. maka jika ada sombong terdapat didalam diri manusia maka celakalah manusia tersebut. tidak berkah ilmunya dimata Allah SWT, bahkan di dalam hadis dikatakan "Tidak akan masuk sorga orang yang di dalam hatinya ada sifat sombong walaupun hanya sebesar atom.”
    maka sentasialah kita berdoa kepada Allah SWT agar ilmu yang kita dapat berkah dan diri kita sendiri jauh dari sifat sombong yang celaka dan keji tersebut.

    ReplyDelete
  38. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak selamanya bisa difikirkan dnegan logika kita. Ada saatnya memang fikiran harus menyerah dan mempersilahkan harti yang bekerja dalam mengetahui sesuatu. Sesuatu yang ghaib memang bukan ranahnya logika untuk berfikir. Logika hanya bisa berfikir apa yang memang sudah pasti ada di dunia ini. Dalam QS. Al Baqoroh 3 disebutkan mengenai sesuatu yang ghaib. Sesuatu yang ghaib sebenarnya bukan untuk difikirkan, namun untuk diimani. Disinilah logika tidak bisa ikut campur. Walaupun meamng untuk menuju pemahaman tentang yang ghaib itu memerlukan logika, namun logika tidak berperan untuk memikirkan hal yang ghaib. Logika hanya memikirkan sesuatu yang nyata untuk memperoleh keyakinan hati terhadap sesuatu yang gahib atau yang tidak bisa difikirkan oleh logika.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  39. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Dari pemberontakan para logos yang merupakan sebenarnya adalah mitos diatas terlihat bahwa semua merasakan telah melakukan semua hal dan kekuatan semakin berlimpah. Kesombongan yang telah tercipta menjadikan mereka dikutuk. Padahal kesombongan adalah temannya syaitan. Oleh karena itu mohon ampunlah kepada Tuhan atas segala dosa dan kesombongan yang telah kita lakukan, agar hati ini kembali bersih dan tidak menjadi sarang syaitan. Amin.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  40. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Ulasan ini membuat saya dapat menyadari bahwa diri saya sendiri memiliki keterbatasan dalam berpikir. Pemaksaan dalam berpikir juga akan menimbulkan kesia-siaan. Saya belajar melalui ulasan ini terkait ada hal-hal yang tidak perlu diketahui namun memang ada dalam kehidupan. Layaknya meyakini keberadaan makhluk ghaib. Tentunya, Allah juga yang mengetahui sepenuhnya atas makhluk ciptaan-Nya.

    ReplyDelete
  41. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Hati merupakan tantang terberat manusia. Allah menyiptakan manusia dengan hati yang sama. Tetapi manusialah yang merubah itu sesuai ruang dan waktu. Seperti yang sering disampaikan, ketika pikiran kacau, jangan sampai hati kita juga kacau. Cepatlah beristigfar. Semua orang memiliki tantang tersendiri. Karena manusia memiliki hawa nafsu yang berbeda-beda. Letakkan hati kita dengan proporsi sendiri-sendiri sesuai dengan kebutuhan. Rendah hati, tinggi hati pada proporsi yang tepat. Janganlah sombong karena kita hanya ciptaan Allah yang akan kembali kepada Nya. Teguhkan dasar pondasi kita agar hati kita tidak goyah. Sekali lagi, doa doa, dan berdoa semoga Allah mengampuni kesalahan kita.

    ReplyDelete
  42. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Ketika muncul kesombongan, merasa sudah jelas dengan suatu hal sehingga tidak lagi mau memikirkan dan memutuskan untuk berhenti berpikir, saat itulah logos berubah menjadi mitos. Hati pun demikian, bisa menjadi sarang para syaitan apabila hati mulai tidak ikhlas dan penuh dengan kesombongan. Oleh karena itu, kita seharusnya selalu menjauh dari kesombongan karena tidak akan ada manfaat darinya.

    ReplyDelete
  43. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Membaca elegi pemberontakan para logos ini mengingatkan kita supaya senantiasa menjaga diri kita agar tidak dihinggapi sifat sombong. Dari elegi ini kita melihat bahwa para logos yang dihinggapi dengan kesombongan akhirnya berubah menjadi mitos. Yang mana setelah menjadi mitos, ilmu-ilmu yang dahulu dikuasainya pun menjadi hilang. Elegi ini sangat cocok disampaikan kepada para mahasiswa, para penuntut ilmu, jangan sampai statusnya sebagai penuntut ilmu membuat ia sudah merasa tahu, membuat ia merasa bisa menguasai semua ilmu dan berlaku sombong atas ilmu yang ia kuasai tersebut.

    ReplyDelete
  44. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Kesombongan yang dimiliki Logos membuat derajatnya jatuh menjadi mitos sehingga dia tidak bisa lagi memikirkan obyek dan menghasilkan sebuah ilmu, dan kemurkaan hati membuat dia dirasuki syaitan, sehingga tidak bisa memutuskan suatu permasalahan secara jernih tanpa pengaruh syaitan. Ini memberikan pelajaran berharga bagi kita semua bahwa sepintar apapun kita, jangan pernah berlaku sombong, karena dengan berlaku sombong itu menunjukkan betapa bodohnya kita.

    ReplyDelete
  45. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Manusia pada dasarnya mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi terhadap suatu hal. Dengan rasa keingintahuan itu, maka di dunia ini muncul inovasi-inovasi terbaru. Misalnya manusia bisa mendarat di bulan , tentu dulu diawali dengan keingintahuan. Namun ada sesuatu yang memang manusia tidak dapat mengetahuinya walaupun sudah berusaha. Misalnya tentang yang gaib, tentang Tuhan, mereka hanya bisa meyakini saja. Namun berkeyakinan tanpa tahu wujud yang diyakini tidak termasuk mitos. Karena seberapapun manusia berilmupengetahuan, ilmu pengetahuan mereka terbatas, sehingga jangan menyombongkan keilmuan yang dimilikinya. Karena sebenar-benar yang berilmu pengetahuan adalah Tuhan YME.

    ReplyDelete
  46. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Memang benar bahwa ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang infinite. Baru saja muncul teori dari seorang ilmuwan, pasti ilmuwan lain sudah bersiap untuk membantah atau mengembagkannya lebih lanjut. Namun mempelajari ilmu ada batas dan kodratnya, karena pada level-level tertentu banyak hal yang tidak dapat disentuh oleh logika dan penelitian pada ilmuwan. Ada hal yang hanya dapat kita percayai tanpa dapat menunjukkan bukti. Namun bukan berarti kita sama sekali tidak berpikir untuk maju dan hanya tinggal dengan mitos. Jika kita terus meyakini bahwa ilmu kita telah cukup maka kita telah mengurung diri sendiri di dalam ruang gelap bersama mitos.

    ReplyDelete
  47. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Hidup harus selalu berfikir. Seperti yang sering dikatakan oleh Bapak Marsigit bahwa filsafat adalah olah pikir. Kesombongan adalah akhir dari segalanya. Jangan pernah sampai menganggap bahwa kita adalah seorang yang paling pintar. Ketika itu sudah berada dalam pikiran kita, maka kita akan berada dalam ruang gelap dan berhentinya waktu. Ketika berada pada titik kesombongan maka kita enggan untuk berfikir dan itu menjadi mitos. Oleh karena itu, ketika kita berfikir harus juga diimbangi dengan keikhalasan hati, agar tidak di ganggu syaitan sehingga kita percaya pada mitos.

    ReplyDelete
  48. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    logika/pikiran yang tidak berfondamen pada nilai spiritual akan melamapui batas sehingga menyebabkan ketidakberfungsian logika itu sendiri atau dengan kata lain menjelma menjadi mitos.
    begitu juga dengan hati, jika tidak mampu memngendalikan hati maka hati tersebut bisa dihuni oleh syaitan. A’udzu billahi minasy syaithooninir rojiim, aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

    ReplyDelete
  49. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Semua berawal dari kesombongan, yaitu kesombongan para logos, mereka sudah merasa dapat mengalahkan mitos-mitos yang ada, padahal dari kesombongan merekalah awal dari mitos para logos tersebut. Begitupula dengan hati, sebenarnya hatilah yang beperan untuk dapat membatasi pikiran para logos ketika sudah melampaui batas, akan tetapi hati juga tidak dapat menahan dirinya dari godaan syetan. Maka dari situlah awal dari kekacauan hati. Logos dan hati sebenarnya haruslah dapat sejalan, sehingga logos dan mitos dapat menggunakan perannya dengan baik.

    ReplyDelete
  50. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Dari postingan di atas dapat kita lihat bahwa sebenar-benarnya logos ialah mitos jika memiliki sifat sombong dan merasa lebih baik dari yang lain. Mitos akan hadir jika diri sudah merasa cukup sehingga tidak mau berusaha lagi menembus ruang dan waktu. Mitos akan membuat diri terperangkap dalam ruang dan waktu yang gelap. Oleh karena itu, teruslah bergerak menembus ruang dan waktu dan rendah hatilah agar terhindar dari mitos yang selalu membayangi.

    ReplyDelete
  51. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Elegi ini menegaskan betapa bahaya sifat sombong dan melampaui batas, sehingga dapat mengubah logos menjadi mitos. Digambarkan betapa logos memberontok karena merasa telah melakukan berbagai usaha dan perjuangan yang tidak main-main, memiliki kekuatan yang besar, memiliki ilmu yang tinggi, dan banyak hal yang telah mereka kuasai, namun kenapa masih ada saja hal-hal yang tidak mampu mereka taklukkan. Inilah sebenar-benar kesombongan, tidak mau memahami bahwa ada keterbatasan dalam diri, setinggi dan sebesar apapun ilmu dan kekuatan yang kita miliki, akan selalu ada yang lebih tinggi dan lebih besar, ada hal-hal yang memang tidak mampu kita kuasai sepenuhnya. Maka dari itu, kunci untuk tetap menjadi logos adalah dengan tetap rendah hati dan tidak sombong atas apa yang kita miliki, serta melakukan segala sesuatu dengan tidak melampaui batas.

    ReplyDelete
  52. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Elegi ini mengingatkan kita untuk senantiasa rendah hati, sebanyak apapun ilmu yang kita miliki sejatinya itu hanya sebagian kecil disbanding luasnya ilmu yang ada. Kita sebagai manusia harus menyadari bahwa meskipun banyak yang telah kita ketahui tetapi tidak semua kita ketahui maka kita harus menghindari diri dari sifat sombong agar logos yang kita miliki tidak berubah menjadi mitos. Sebagai seorang manusia kita juga harus menghindari sifat marah karena sebenar-benar sifat marah telah mengubah hati menjadi syaitan. Astaghfirullah. Semoga kita senantiasa dijauhkan dari sifat sombong dan marah. Amin.

    ReplyDelete
  53. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Kepada orang yang berilmu tidak sepantasnya terlalu bangga dengan ilmu yang dimilikinya. Karena pasti akan ada yang lebih tinggi ilmunya. Terlalu bangga akan kemampuan sendiri hanya akan membuat diri kita terjebak ke dalam lubang kesombongan. Dimana sombong merupakan sifat turunan dari syaitan. Jika kita tak ingin memiliki sifat syaitan maka akan lebih baik kita menjaga hati kita agar tetap jernih. Hati yang jernih adalah hati yang terbebas dari godaan syaitan. Maka agar ilmu yang kita miliki membawa keberkahan bagi kita, agar ilmu yang kita miliki tidak membuat kita terjebak dalam jeratan kesombongan, kita harus tetap mendekatkan diri pada Allah. Meminta ridho Allah agar hati kita selalu terjaga. Amin.

    ReplyDelete
  54. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Segala yang ada dan yang mungkin ada dapat berpotensi menjadi logos dan mitos. Keduanya sama-sama menjadi sumber berpikir bagi manusia, namun dampak dari keduanya sangatlah berbeda. Logos akan meningkatkan taraf hidup manusia sedangkan mitos akan menjerumuskan manusia sehingga terperangkap dalam ruang dan waktu yang salah. Logos dapat berubah menjadi mitos. Saat kita merasa cukup dengan pengetahuan sehingga kita enggan dalam berpikir maka kita dapat terjerumus dalam mitos. Saat terjerumus menjadi mitos, hati kita mulai menjadi incaran utama syeitan. Maka tiadalah cara terhindar dari mitos selain tidak pernah berhenti berpikir (belajar) dan tidak mudah puas, serta senantiasa memohon petunjuk Tuhan sang maha kuasa.

    ReplyDelete
  55. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Hal yang tersulit adalah mengalahkan hawa nafsu diri sendiri. Untuk menggapai sebuah kesuksesan ada banyak tantangan yang kita harus lalui dan lewati. Namun justru tantangan yang datang dari diri sendiri itulah yang lebih sulit, tantangan mengalahkan mimpi, tantangan mengalahkan hawa nafsu. Hal-hal tersebutlah yang sering dimanfaatkan oleh syaitan untuk membawa para makhluk kedalam suatu kesombongan. Oleh karena itu selalulah berdoa memohon perlindungan kepada Allah SWT agar hati kita terhindar dari bisikan syaitan yang terkutuk. Amin

    ReplyDelete
  56. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Pemberontakan pada diri seseorang terjadi ketika apa yang kita pikirkan tidak sesuai dengan hati nurani kita sendiri. Hati sebagai jembatan yang dapat menetralkan pemberontakan, namun hati juga dapat terpengaruh oleh pemberontakan itu. Oleh karena itu kita harus menjaga hati kita agar dapat menuntun pikiran kita sesuai dengan jalan yang benar.

    ReplyDelete
  57. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Dari elegi pemberontakan para logos, saya dapat memahami bahwa seseungguhnya dalam berpikir haruslah ada batasan. Batasan-batasannya adalah iman dan takwa (keyakinan). Ada hal-hal yang seharusnya tidak kita pikirkan tapi cukup kita rasakan dan kita yakini dalam hati. Bila kita paksakan keluar batas, akan terjadi kontradiksi-kontradiksi yang dapat melemahkan kepercayaan kita. Gunakanlah hati dan pikiran yang ikhlas agar kita tidak terjebak mitos.

    ReplyDelete
  58. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. dari membaca elegi diatasa saya menrefleksi bahwa jangan menyombongkan apa yang telah kita raih. Para logos pada elegi menyampaikan apa-apa saja yang telah mereka raih selama ini kepada hati, seolah berlomba-lomba siapa yang paling hebat. Dari situ diambil pelajaran agar senantiasa menjauhi bisikan syetan agar tidak menjadi manusia yang sombong, gunakan hati dan pikiran untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk.

    ReplyDelete
  59. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    logos di sini ialah perumpamaan ilmu pengetahuan, namun pemberontakan para logos ini menyingkap kebenaran yang terselubung di bawah nama mereka. Logos pun masih memiliki kelemahan dan titik yang tidak mampu mereka capai, namun demikian logos sebenarnya haruis dapat mengatasi semua hal tersebut berkaitan dengan tugas mereka sebagai para logos. Saat mereka menentang kelemahan mereka, maka logos tersebut akan berubah menjadi mitos. sedangkan pertentangan logos tersebut dialamatkan kepada hati yang dinilai meremehkan dan menganggap logos memiliki kelemahan tersebut. Dari elegi ini, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa seorang yang berilmu tidak serta merta menguasai apa yang ada secara instan, melainkan mereka pun memiliki batas yang masih harus dikaburkan dengan mempertebal logos mereka sendiri, jika semuanya dipersoalkan dan dipertentangkan maka tak lain ilmu tersebut ialah mitos belaka. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  60. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Berdasarkan elegi di atas pula hati tidaklah benar jika meremehkan dan menganggap enteng sesuatu. bahkan hati yang menyombongkan dirinya atau kemampuannya tidak lain ialah hati yang tak murni lagi (Syaitan). Hati di sini merupakan hatio yang jernih tanpa dendam, tanpa kesombongan dan sebagainya. Adapun pada akhir elegi baik mitos (jelmaan para logos) dan syaitan (jelmaan hati) dapat memperoleh posisi awal mereka sebagai logos dan hati dengan melakukan pertaubatan dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Hal ini berlaku pula untuk kita, ,kemaksiatan yang kita lakukan akan menurunkanderajat kita baik derajat sebagai manusia maupun derajat sebagai hamba Allah, sedangkan yang dapat mengembalikan ke posisi semula ialah pertaubatan yang murni karena Tuhan. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  61. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dari elegi tersebut, saya dapat pahami bahwa logos yang melampaui batas bukan lagi disebut logos. Logos yang melampaui batas jika dilihat adalah logos yang sudah mencampuri ranah lain dengan penuh kesombongan, merasa paling benar, dan tidak mau mengalah. Logos yang melampaui batas ini akan menjelma menjadi sebuah mitos. Yang artinya sudah tidak ada lagi ilmu yang dapat diperoleh dari jelmaan logos tersebut. Kesombongan akan meruntuhkan diri sendiri.

    ReplyDelete
  62. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Begitu pula hati yang dipenuhi dengan amarah, emosi, dan kesombongan, juga bukanlah hati lagi, tetapi telah dirasuki napsu syaiton. Maka sebenar-benar hati yang penuh kesombongan adalah syaiton. Syaiton dan mitos selalu berteman, saling bekerjasama untuk menjatuhkan diri seseorang. Maka berdoalah kepada Tuhan agar kita semua dijauhkan dari sifat sombong dan amarah. Aamiin.

    ReplyDelete
  63. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Berdasarkan elegi pemberontakan para logos, logos merupakan ilmu pengetahuan suatu subjek. Dapat dipahami dari elegi ini bahwa suatu kesombongan akan menyebabkan kita berubah menjadi mitos. Hal ini terjadi pada logos, ketika ia telah bersifat sombong berusaha mencampurkan hal-hal diluar logos dengan merasa paling benar maka saat itu pula para logos berubah menjadi para mitos. Begitu pula dengan hati, hati yang hakikatnya memiliki sifat bersih namun jika telah dirasuki syaitan maka akan berubah menjadi kesombongan dan merasa paling benar akan segala hal. Namun ada titik pertaubatan hati dan logos yaitu ketika mereka menyerahkan masalah mereka kepada Allah SWT dan tidak melakukan perbuatan yang sama.

    ReplyDelete
  64. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Batas antara mitos dan logos itu tipis sekali. Logos bisa berubah menjadi mitos ketika telah ada angkuh di dalamnya, angkuh untuk memikirkan segala hal. Padahal pkiran kita memiliki batas. Ada pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak bisa kita jawab, yang hanya Allah yang Maha tahu yang dapat menjawabnya. Hati juga bisa menjadi syaitan saat ada amarah di dalamnya. Jadi hati haruslah dijaga kesuciannya, dijaga dari amarah agar mampu memberikan yang terbaik, logos dijaga dari keangkuhan agar bisa memberikan ilmu yang bermanfaat di dunia dan di akhirat

    ReplyDelete
  65. Latifah Fitriasari
    PM C

    Elegi yang menceritakan pertengkaran antara logos dan hati. Dimana keegoan dari masing-masingnya dimunculkan. Berpikir (berlogika ) haruslah ada batasan. Batasan nya adalah iman dan takwa (keyakinan). Karena ada hal-hal yang seharusnya tidak kita pikirkan tapi kita rasakan dan kita yakini dalam hati. Ontologi Logos-logos yang dengan segala kekurangan dan keterbatasan ingin menggapai banyak hal meski tanpa disadari membuatnya melakukan banyak hal. Tantangan-tantangan yang dirasakan menuntut pengakuan untuk mewujudkannya.

    ReplyDelete
  66. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Pada elegi ini menunjukkan bahwa terkadang antara hati dan juga pikiran itu tidak dapat menyatu. Bahkan antara hati dan pikiran kadang menjadi bertentangan. Batas antara hati dan pikiran kita adalah kesombongan. Apabila kita telah berada dalam kesombongan maka kita tidak akan dapat melihat lagi kebenaran. Sehingga disinilah fungsi filsafat yang akan membantu kita untuk dapat berfikir secara logis, kritis dan sistematis.

    ReplyDelete
  67. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Kitaharus menjaga ego kita dalam keseharian. Dengan ego yang terjaga maka logos kita tidak beruabh menjadi mitos. Ego yang berupa sifat sombong dan melapaui batas itu merupakan salah satu cikal bakal logos berubah menjadi mitos. Semoga kita terhindar dari sifat sombong dan melampaui batas sehingga menjadi pribadi yang kecukupan selalu bersyukur setiap saat.

    ReplyDelete
  68. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Dari elegi ini kita menjadi menyadari bahwa ketika kita ingin melampaui semua batas akal dan pikiran kita maka itu artinya menjadi sombong, karena itu berarti kita menganggap bahwa kita itu tidak terbatas/sempurna atau merasa bisa menjelaskan semua yang ada dan mungkin ada di dunia. Padahal manusia adalah makhluk yang terbatas, dia hanya mampu memikirkan sebagian sifat dari yang ada dan mungkin ada. Jangan hanya karena mampu menyebutkan banyak sifatnya (berilmu) maka merasa dialah yang sempurna/yang berilmu/maha tau. Kesempurnaan hanya milik Tuhan YME, hanya Tuhan lah yang maha mengetahui, ketika sampai pada kuasa Tuhan maka pikiran/ilmu kita berhenti, tidak usah diotak-atik. Sekian dan Terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  69. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Dalam elegi ini menunjukkan bahwa kadang antara hati dan pikiran itu tidak dapat menyatu. Bahkan antara hati dan pikiran kadang menjadi bertentangan. Batas antara hati dan pikiran kita adalah kesombongan. Bila kita telah berada dalam kesombongan maka kita tidak akan dapat melihat lagi kebenaran. Sehingga di sinilah fungsi filsafat yang akan membantu kita untuk dapat berfikir secara logis, kritis dan sistematis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
  70. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Logos dan mitos merupakan dua hal yang selalu berjalan mengiringi perjalanan hidup setiap orang. Keduanya berusaha saling mengalahkan. Logos selalu berusaha mengalahkan para mitos, sebaliknya mitos selalu berusaha keras mempengaruhi para logos agar masuk menjadi anggotanya.
    Pemberontakan para logos dalam elegi ini menggambarkan seorang yang berilmu tetapi tidak menggunakan hatinya. Mereka dengan sombong mengatakan telah banyak berjuang mengalahkan para mitos, dan akan terus berjuang untuk menundukkan semua yang ada dan yang mungkin ada yang dianggap menjadi tantangannya, sekalipun itu di luar batas pikirannya. Kondisi inilah yang akan membuat para logos terjerumus masuk menjadi anggota para mitos. Inilah sebenar-benarnya usaha para mitos untuk mengajak para logos menjadi anggotanya.

    ReplyDelete
  71. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Sebenar-benarnya logos adalah yang tahu akan batasan-batasannya. Logos yang dicampuri dengan kesombongan maka tidak bisa kagi disebut dengan logos. Itu disebut dengan mitos. Oleh sebab itu, sebagai manusia yang berilmu bukan berarti bisa menyombongkan diri, karena di atas langit masih ada langit. Dan kesombongan itu hanya akan menunjukkan bahwa ilmu yang dimiliki hanyalah sebuah mitos.

    ReplyDelete
  72. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Sebenar-benar musuh dari logos adalah mitos. Mitos akan berujung pada kesombongan, sedangkan logos akan meningkatkan kualitas hidup manusia. ketika kita terjerumus ke dalam mitos, maka hati kita menjadi mangsa syaitan yang selalu akan menggoda umat manusia, agar terjerumus ke dalam kegelapan. Oleh karena itu terangilah diri dengan ilmu pengetahuan dengan belajar dan terus belajar.

    ReplyDelete
  73. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Hal yang tersulit adalah mengalahkan hawa nafsu diri sendiri. Untuk menggapai sebuah kesuksesan ada banyak tantangan yang kita harus lalui dan lewati. Namun justru tantangan yang datang dari diri sendiri itulah yang lebih sulit: tantangan mengalahkan mimpi, tantangan mengalahkan hawa nafsu. Hal-hal tersebutlah yang sering dimanfaatkan oleh syaitan untuk membawa para makhluk ke dalam suatu kesombongan. Oleh karena itu selalulah berdoa memohon perlindungan kepada Allah SWT agar hati kita terhindar dari bisikan syaitan yang terkutuk.

    ReplyDelete
  74. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Hasil pikiran yang disertai dengan hati dalah sebaik baik pikiran. Sehingga, hati adalah teman bagi para logos. Logos adalah bagaimana kita selalu berpikir untuk mencari suatu kebenaran diatas kebenaran.
    Logos akan kalah dengan mitos, jika kita sudah tidak mau berpikir dan terpengaruh oleh setan. Dengan pengaruh setan, hati dan pikiran dapat menjadi tidak jernih sehingga mitos dapat menguasai diri.
    Logos akan selalu mencari kebenaran, sehingga untuk menjadilogos kita harus senantiasa berdo'a agar dijauhkan dari bisikan setan dan selalu dijaga kejernihan hatinya pada saat mengalami ujian yang berat sekalipun.

    ReplyDelete
  75. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Elegi ini membuat saya berkaca-kaca ketika membacanya. Ketika syaitan mulai merasuk ke dalam diri. Mengabaikan God Spot atau perasaan yang yang telah Allah berikan sebagai petunjuk hidup kita. Mengikuti hawa nafsu, mengabaikan logika. Maka bersyukurlah ketika Allah masih mengembalikan logika-logika kita, perasaan-perasaan kita. Logika yang dikembalikan melalui pikiran, perasaan yang dikembalikan melalui hati. Itu artinya Allah masih sayang dengan kita, tak ingin kita tersesat sehingga menuntun kita kembali kejalanNya, jalan yang Ia ridhai untuk menggapai JannahNya. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu mendapatkan ridhaNya. Aamiin
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  76. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    elegi ini memberikan pelajaran kepada kita untuk tidak menyombongkan apa yang kita lakukan dan apa yang kita miliki, kita sebagai makhluk kecil ciptaan Tuhan hendaknya punya rasa rendah hati dan rasa syukur, jangan sampai kesombongan menguasai kita. karena celakalah kita jika telah dikuasai oleh sifat sombong. tidaklah ada yang pantas kita sombongkan, karena semua yang kita miliki merupakan titipan dari Allah SWT.

    ReplyDelete
  77. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa logos melakukan pemberontakan dengan cara menyombongkan hasil dari perjuangannya. Jangan sampai terlena akan logos, sebaiknya selalu mendengarkan apa kata hati juga. Senantiasa bekerja dengan hati dan pikiran yang bersih dan ikhlas agar tidak terjerumus.

    ReplyDelete
  78. Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika

    Perbedaan pendapat dan pertentangan dari semua orang haruslah dihargai. Tidak hanya itu akan tetapi kebingungan akibat banyak yang kita pikirkan harus dihadapi dengan bijak dan benar. Dengan demikian akan banyak yang berubah menjadi positif dikehidupan kita. Mungkin berdoa kepada Allah SWT adalah salah satu cara mengurangi konflik yang terjadi di dalam kehidupan kita. Dengan berdoa maka Allah akan memberikan jalan keluar yang terbaik. Mungkin hanya itulah yang bisa kita lakukan. Dalam mencari ilmu memang harus ikhlas hati, ikhlas pikir, suci dalam pikiran perkataan dan perbuatan, selalu berikhtiar, dan tidak lupa berdoa.

    ReplyDelete
  79. Siti Efiana
    15301241029
    S1- Pend.Mat I 2015

    Elegi ini kembali menyadarkan kita bahwa sombong itu akan berakibat buruk. Kemudian, sebagai manusia kita tidak boleh sombong walaupun telah memiliki banyak ilmu, karena sesungguhnya ilmu Allah itu sangat luas dan kita mungkin hanya memiliki sedikit di antaranya. Seharusnya kita bertingkah laku seperti kata pepatah, padi yang semakin berisi akan semakin merunduk, yang artinya dengan semakin banyak ilmu yang kita miliki, kita seharusnya semakin rendah hati.

    ReplyDelete
  80. Siti Nur Fatimah
    15301241045
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Elegi tersebut mengajarkan bahwsannya kita tidak boleh sombong atas ilmu atau apapun yang kita miliki. Kita harus menyelaraskan pikiran dan hati kita. Jangan sampai kita terjerumus pada kesombongan. Kita harus tetap rendah hati sebanyak apapun sesuatu atapun ilmu yang kita miliki. Karena semua itu hanyalah titipan Allah.

    ReplyDelete
  81. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Dalam elegi ini saya memahami bahwa janganlah sombong terhadap apa yang dimiliki dan senantiasa rendah hati karena apa yang dimiliki saat ini hanyalahh sebagai pemberian dari Allah yang nantinya dimintai pertanggung jawabna di akhirat.

    ReplyDelete
  82. Fitria Restu Astuti
    15301241040
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Dari artikel ini saya mendapatkan suatu pencerahan yaitu ketika kita merasa kita sudah berilmu maka sesungguhnya kita benar-benar belum menemukan apa itu ilmu yang sebenarnya. Seperti logos yang berubah menjadi mitos karena kesombongannya. Oleh karena itu hendaklah kita menuntut ilmu diimbangi dengan akhlak yang mulia. Hal ini agar kita senantiasa terhindar dari kata sombong atas sedikit ilmu yang kita miliki. Dengan demikian kita akan terus berkembang dan berusaha mempelajari hal-hal yang baru. Karena pada dasarnya pendidikan itu dinamis bukan sesuatu yang stagnan.

    ReplyDelete
  83. Isykarima Nur S
    15301241032
    S1 Pend. Matematika A 2015

    Yang saya dapatkan adalah kita tidak boleh sombong seberapa banyak ilmu yang kita miliki. Karena sejatinya akal yang kita miliki hanyalah titipan Allah swt dan bisa kapan saja di ambil oleh Allah. Sombong bisa dikatakan adalah sifat alamiah manusia namun tentu kita dapat menghindarinya atau membuangnya.

    ReplyDelete
  84. Woro Alma Manfaati
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241002

    Elegi diatas memberikan pembelajaran bahwa janganlah terlalu bangga dengan ilmu yang dimiliki, karena sebenarnya masih ada yang lebih berilmu tinggi. Sifat bangga yang berlebihan dapat menjadika kesombongan, sehingga dapat mengubah logos menjadi mitos. Agar tidak memiliki rasa sombong, kunci utamanya adalah tetap menjadi logos yaitu dengan selalu rendah hati dan tidak sombong atas apa yang kita miliki dan tidaklah melakukan suatu hal dengan tidak melampaui batas.

    ReplyDelete
  85. Alman Kresna Aji
    15301241022
    S1 Pendidikan Matematika 2015
    Saya menangkap dari elegi ini, dijelaskan bahwa kesombongan logos telah merubah dirinya menjadi sebuah mitos. Hal ini menunjukan bahwa bahayanya memiliki sifat sombong. Jika kita sombong akan sesuatu, kita tidak akan pernah menyadari bahwa ada kekurangan di dalam diri kita, masih ada batasan-batasan dari diri kita, serta melupakan bahwa ilmu yang ada di dunia ini hanyalah sekecil-kecilnya ilmu dari sejatinya ilmu sedangkan ilmu yang sejati adalah sang pemilik ilmu. Oleh karena itu, jangan ada serta jangan pelihara bibit kesombongan, tetepi peliharalah bibit rendah hati karena semakin kita berilmu seharusnya kita semakin menunduk

    ReplyDelete
  86. Rina Musannadah
    15301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Elegi pemberontakan para logos, judul yang menarik dan cukup membuat penasaran dengan apa yang terjadi antara para logos sehingga terjadinya pemberontakan. Dalam elegi ini dijelaskan bahwa segala sesuatu hal yang diselimuti oleh amarah dan kesombongan serta segala sesuatu yang bernilai negatif akan memunculkan hal yang tidak baik. Seperti halnya logos yang sombong akan menjelma menjadi mitos. Pun hati yang penuh dengan amarah akan menjelma menjadi syaithan.

    ReplyDelete