Sep 20, 2013

Elegi Pemberontakan Para Logos




Oleh Marsigit

Hati:
Aku sedang menyaksikan para logos mulai beraktivitas. Beberapa diantara mereka beraktivitas sesuai batas-batasnya, tetapi aku melihat sebagian diantara mereka mulai melampaui batas-batasnya. Aku ingin mengetahui apa sebetulnya yang terjadi pada logos-logos itu. Wahai para logos, apakah yang terjadi pada dirimu sehingga engkau kelihatan gelisah serta ada diantara engkau malah beraktivitas melampaui batas-batasmu.

Logos1:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah dirimu. Maka engkaulah, yaitu engkau hati, sebenar-benar merupakan tantanganku. Aku merasa tertantang untuk mengetahui semua relung hatiku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti hatiku. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos2:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah irrasional. Maka irrasional adalah sebenar-benar merupakan tantanganku. Aku merasa tertantang untuk mengetahui semua yang irrasional, walaupun aku tahu bahwa irrasional itu tidak rasional. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang irrasional. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos3:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah ghaib. Maka ghaib adalah sebenar-benar merupakan tantanganku. Ketika aku menginginkan bertemu dengan ghaib maka dia itu tidak mau memunculkan diri. Padahal aku ingin mengetahui semuanya tentang yang ghaib itu.Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti yang ghaib. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos4:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah mimpi. Maka engkaulah mimpi itulah sebenar-benar merupakan tantanganku. Aku ingin mengetahui semua mimpi. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti mimpiku. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos5:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah awal. Maka awal sebenar-benar merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti awal. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos6:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah akhir. Maka akhir itulah sebenar-benar merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang akhir. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos7:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya jauh tak hingga. Maka jauh tak hingga merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang jauh tak hingga. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos8:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya dekat tak hingga. Maka dekat tak hingga merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti dekat tak hingga. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos9:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah diriku . Maka diriku merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang diriku sendiri. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos10:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah noumena . Maka noumena merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang noumena. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.
Logos11:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah dibalik penampakan. Maka dibalik penampakan merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang dibalik penampakan. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos 12:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah nasib. Maka nasib merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang nasib. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos13:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah arwah. Maka arwah merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang arwah. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Hati:
Cukup...cukup. Wahai para logos. Rupa-rupanya engkau semua telah lancang terhadapku. Engkau telah menyalah gunakan kepercayaanku terhadapmu. Bahkan sebagian darimu telah melakukan hal-hal di luar batas-batasmu. Maka sebenar-benar dirimu semua aku kutuk. Terkutuklah engkau semua. Engkau semua sebenar-benarnya bukanlah logos. Engkau semua adalah mitos-mitos. Ketahuilah bahwa hatiku selalu waspada mengamati gerak-gerikmu. Engkau semua telah menjelma menjadi mitos, dikarenakan kesombonganmu akan gelarmu selama ini sebagai logos. Aku benar-benar menyesal telah memanjakanmu semua. Maka sekali lagi, tidak adalah logos-logos itu di hadapanku. Yang ada di hadapanku semua itu adalah mitos.mitos. Dengarkanlah wahai semua mitos-mitos, lihatlah diriku. Aku sekarang ini sedang marah besar terhadapmu semua. Dan sekaranglah saatnya aku harus mengambil sikap tegas terhadapmu. Maka enyahlah semua dari hadapanku. Aku tidak sudi bergaul dan berkomunikasi denganmu. Enyahlah...enyahlah segera.

Para mitos (jelmaan logos):
Wahaha..haha. Ketahuilah engkau yang mengaku sebagai hatiku. Kuman disebarang lautan tampak, sedangkan gajah di pelupuk mata tidaklah tampak. Aku juga tidak lagi mempercayaimu. Ketahuilah bahwa engkau juga telah membuktikan di hadapanku, bahwa engkau itu sebenarnya bukanlah hatiku yang sebenarnya. Dengan kemarahanmu itu, maka telah masuklah ke dalam dirimu seekor syaitan. Maka tiadalah dirimu itu, kecuali sebuah hati yang telah berubah menjadi seekor syaitan. Maka dengarkanlah wahai syaitan. “Dengarkanlah wahai syaitan, lihatlah diriku. Aku sekarang ini sedang marah besar terhadapmu semua. Dan sekaranglah saatnya aku harus mengambil sikap tegas terhadapmu. Maka enyahlah engkau dari hadapanku. Aku tidak sudi bergaul dan berkomunikasi denganmu. Enyahlah...enyahlah segera”.
Wahaha..haha. Kenapa engkau kelihatan pucat pasi, padahal kalimatku yang terakhir itu hanya pura-pura. Aku sebetulnya hanya menirukan gayamu saja. Maka munafiklah engkau syaitan. Wahai syaitan, ketahuilah bahwa tidaklah pada tempatnya bahwa syaitan itu bermusuhan dengan mitos-mitos. Menurutku, antara syaitan dengan mitos itu pastilah harus bekerja sama. Maka renungkanlah. Renungkanlah kembali sebelum engkau menyesal dikemudian hari.

Syaitan (jelmaan hati):
Wah ..maafkan wahai para mitos. Aku tidak menyangka kalau telah bertemu dengan sahabat sejatiku. Engkau para mitos itu adalah sahabat sejatiku. Maka tiadalah aku akan bertindak semena-mena terhadap dirimu itu. Sekali lagi maafkanlah.

Akar rumput:
Aku sedang menyaksikan kejadian luar biasa. Ada orang tengah sombongnya berjalan di muka bumi. Setelah aku amati, ternyata dia adalah para mitos dan sahabatnya, syaitan. Ya Tuhan, ampunilah diriku. Ampunilah dosa-dosa orang yang telah berbuat dhalim di muka dunia ini. Tiadalah daya upayaku, kecuali hanyalah diri Mu yang mampu menghancurkan syaitan-syaitan itu.

Syaitan dan mitos:
Oauit...kenapa kakiku ini. Aneh pula kakiku ini. Tidak ada sebab, kenapa kakiku kemasukkan duri. Ak lihat jalannya lurus dan bersih. Oauit...terasa sakit sekali. Wahai mitos, kenapa kaki kita kemasukkan duri dan dari mana duri itu?

Mitos:
Maafkanlah syaitan, aku sekarang bukan menjadi logos lagi. Aku telah engkau kutuk menjadi mitos. Maka aku tidak lagi bisa berpikir kritis. Maka maafkanlah aku. Karena aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Aku merasa malu sekali mengapa hanya persoalan sepele seperti ini aku tidak bisa memikirkan. Kenapa aku tidak tahu asal usul duri ini. Padahal sebelum engkau kutuk aku telah sesumbar dan menantang dan memberontak terhadap hati bahwa aku ingin menantang semuanya yang ada dan yang mungkin ada sampai batas pikiranku. Sekali lagi maafkan aku. Aku tidak akan mengulangi perbuatanku lagi. Aku betul-betul menyesal telah berbuat dholim di muka bumi ini. Maka wahai hatiku maafkanlah diriku.

Hati (setelah syaitan menghilang):
Iba rasa hatiku wahai saudaraku. Wahai engkau logos-logosku. Aku telah menyaksikan engkau telah kembali menghampiriku. Ingin menitikkan air mata rasanya diriku itu melihat engkau semua telah menyadari kesalahan-kesalahanmu. Demikian pula aku. Mohon maafkanlah diriku, karena aku juga telah terbawa emosi sehingga aku sempat dihampiri syaitan. Aku juga menyesal telah mengutukmu. Maka sebetul-betulnya hatiku adalah doaku, sedangkan hatiku itu adalah teman bagi logos-logosku yang mengetahui batas-batasnya. Marilah kita kembali menetapkan iman dan taqwa kita kepada Tuhan YME, dengan senantiasa selalu berdoa dan mohon ampun atas segala dosa-dosa kita. Semoga Tuhan mengabulkan semua doa-doa kami. Amien.

Orang tua berambut putih:
Aku telah menyaksikan semua kejadianmu itu. Aku ingin katakan bahwa aku tidak bisa berkata. Kalimat kontradiksiku itu merupakan lambang bagi kehadiranku, yaitu bahwa aku hadir walaupun tidak engkau panggil. Maka renungkanlah.

32 comments:

  1. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Selalu mengganggap remeh orang lain dan merasa menjadi yang paling tinggi. Itulah tanda-tanda hati yang sombong. Semua gelar semua harta yang dipunya hanyalah fatamorgana di dunia. Itu tidak ada apa-apanya dipandang di akhirat nanti jika tidak bisa menggunakan gelar dan harta di dunia dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya.

    ReplyDelete
  2. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Berdasarkan elegi yang dipaparkan diatas, saya menyimpulkan bahwa hati adalah sesuatu yang sulit dipahami oleh seseorang, bahkan logos (pemikiran) sendiri tidak dapat mencapai pemahaman mengenai hati seseorang. Akan tetapi, logos dengan ilmu yang dipahaminya dapat menggapai mitos dan membuktikan apakah itu suatu kebenaran atau kesalahan. Akan tetapi dalam memahami suatu ilmu pengetahuan seperti logos janganlah melampaui batas-batas kehendak-Nya. Semoga dengan pembelajaran mengenai elegi ini kita dijauhkan dari segala sesuatu yang melampai batas, karena sesungguhnya segala sesuatu yang melebihi batasnya bukanlah sesuatu yang baik.

    ReplyDelete
  3. Jeanete Nenabu
    PPS Pmat D (15709251004)

    Elegi ini menjelaskan kepada kita bahwa ilmu pengetahuan itu tidak ada batasnya. Janganlah kita belajar hanya sebatas untuk menemukan sesuatu yang kita cari. Kita harus terus belajar, agar semakin banyak ilmu yang kita peroleh. Semakin kita belajar tentunya memperkaya ilmu yang kita miliki. Janganlah kita merasa puas akan ilmu yang kita miliki saat ini, janganlah kita bangga akan kemampuan kita, dan kita menyombongkan diri dan menganggap remeh dengan orang lain. Sesungguhnya dibalik kelebihan yang kita miliki tentunya kita juga memiliki kekurangannya. Dan kita perlu berhubungan baik dengan orang lain (sesama) untuk dapat melengkapi kekurangan kita.

    ReplyDelete
  4. Jeanete Nenabu
    PPS Pmat D (15709251004)

    Musuh terbesar bagi para logos adalah mitos. Mitos yang tak terbukti kebenarannya akan menjadi virus yang berbahaya yang mengarah kepada kekeliruan dan menjauhkan kita dari kebenaran. Sehingga kita harus senantiasa menghindari musuh besar kita yaitu mitos. Kita harus berikhtiar mencari kebenaran dan berdoa agar dijauhkan dari mitos yang menyesatkan. Semakin dekat dengan tuhan maka kita akan dibimbing dalam keikhlasan. Itulah setinggi-tinggi tujuan hidup, dihampiri rakhmat-Nya. Sebenar-benar ilmu adalah hati dan sebenar-benar hidup juga adalah hati. Hati yang seperti apa? Tentunya hati yang penuh ikhlas, mempunyai iman, dan selalu bertaqwa pada-Nya. Sebetul-betulnya hati kita adalah doa-doa kita, sedangkan hati kita adalah teman bagi logos-logos kita yang mengetahui batas-batasnya. Semoga kita senantiasa memohon pada-Nya agar hati kita selalu dihuni keikhlasan dan mendapat lindungan dari Allah dari kejahatan mitos dan setan.

    ReplyDelete
  5. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Seperti yang Bapak Marsigit katakan pada perkuliahan pertama, bahwa dalam belajar filsafat itu boleh bingung di pikiran, tetapi tidak boleh bingung di hati.Terkadang pikiran kita berfilsafat sampai kelewat batas, sehingga dapat menggoyahkan, mengkacaukan, bahkan merusak hati sanubari. Di saat itulah syaitan dengan mudah masuk ke hati dan mengendalikannya. Oleh karena itu, marilah senantiasa meminta petunjuk serta selalu mendekatkan diri pada Allah SWT.

    ReplyDelete
  6. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini saya menyimpulkan bahwa ketika kita merasa cukup dengan ilmu maka akan timbul kesombongan dalam diri kita. Kesombongan mematikan hati dan juga membuat kita mudah puas akan ketercapaian pengetahuan kita. Perlunya kesinambungan antara pikiran dan hati dalam belajar agar tidak mudah merasa puas. Kontrol hati dan pikiran agar terus belajar dan terus merasa kurang ilmu harus ditanamkan dalam diri.

    ReplyDelete
  7. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamu Alaikum Warohmatullah wabarokatuh.
    Terkadang pertanyaan ini muncul dalam diri kita, apa yang salah pada pikiran dan hati yang sering tak harmonis. Saya mendapat sedikit pencerahan dari elegi ini. Betapa seringnya hati dan pikiran kita berkecamuk dan tak ingin mengalah satu sama lain. Hal yang harus di camkan bahwa pikiran haruslah memiliki batas dan hati haruslah bersih dari segala bentuk kesombongan. Sehingga jika pergolakan itu kembali terjadi ada rasa ikhlas yang akan muncul hingga kita akan bebas dari pengaruh keduanya.

    ReplyDelete
  8. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari Elegi ini kembali kami (saya) teringat kutipan kata dari Rene Descartes bahwa “Pikiran-pikiran yang agung mampu melakukan baik kesesatan-kesesatan agung maupun kebajikan-kebajikan agung”. Merupakan pilihan seseorang memilih mengutamakan hati atau pikiran. Bagi saya sebelum menentukan sejauh mana saya bisa berfikir, saya tetapkan Iman dan agama saya sebagai batas sejauh mana pikiran saya bisa melangkah. Saya teringat dengan pemikiran Blaise Pascal bahwa manusia sebagai makhluk yang membutuhkan Allah (Tuhan). Dalam pandangannya manusia itu sebagai makhluk yang nista sekaligus makhluk yang luhur. (Hardiman, 2007:61). Dalam pandangannya dalam pikiran manusia selalu ada perang batin yaitu akal-budi melawan nafsu-nafsu, di mana akal-budi selalu berusaha menghapuskan nafsu-nafsu dan sebaliknya, tetapi itu tidak akan pernah terjadi (salah satu diantaranya terhapus).

    ReplyDelete
  9. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Pak. Kembali saya tersadar bahwa tidaklah pantas kita berbangga diri dengan ilmu yang kita punya. Ketika kita merasa cukup dan berbangga diri dengan ilmu kita, kita akan terkena penyakit hati, yaitu sombong. Sikap sombong ini hanya akan membuat hati kita jadi busuk serta otak jadi dangkal. Oleh karena itu, kita harus senantiasa mawas diri untuk terus belajar dan merefleksi.

    ReplyDelete
  10. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Pelajaran yang dapat saya ambil dari “Elegi Pemberontakan Para Logos” bahwa terkadang dalam hati terdapat kontradiksi. Maka agar hati dapat berpikir kritis dan menghasilkan perbuatan baik perlunya menetapkan iman kembali dan taqwa kita kepada Allah, dengan senantiasa selalu berdoa dan mohon ampun atas segala dosa-dosa kita. Tak lupa untuk melakukan instropeksi diri agar menyadari kesalahan-kesalahan kita.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  11. Junianto
    PM C
    17706251065

    Apa yang kita lakukan hendaknya selalu kita padukan antara pikiran dan hati nurani. Pikiran yang akan membawa perbuatan ke arah logika, sedangkan hati nurani akan membawa perbuatan kita kepada kebenaran. Jika kita hanya mengandalkan salah satu, tentu perbuatan kita tidak akan sejalan dengan apa yang seharusnya kita lakukan. Tidak perlu sombong ketika kita telah melakukan kebaikan atau kebenaran karena tidak ada yang abadi di dunia ini, apalagi cma sebagai manusia. Terkadang berbuat benar, terkadang berbuat salah sudah merupakan hal wajar.

    ReplyDelete
  12. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Hati merupakan sebuah organ yang sangat luar biasa perannya dalam kehidupan setiap insan. Ketika organ tersebut baik, maka baik juga setiap pikiran maupun perbuatan dari insan tersebut. Pepatah mengatakan dalamnya lautan dapat diukur tetapi dalamnya hati tiada tahu, itu merupakan sebuah kiasan bahawa hati memiliki sebuah kekuatan yang luar biasa. Nalar otak kita tidak mampu menembus nalar hati kita. Karena sejatinya dimensi berpikir otak kita tidak mampu menjangkau dimensi hati kita merasa, begitu pula sebaliknya. Mari kita selalu menjadi hamba yang bersyukur kepada-Nya.

    ReplyDelete
  13. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Elegi ini mengingatkan kita untuk tidak melampaui batas. Ilmu yang kita miliki tidak akan mampu memikirkan hal-hal yang berada pada ranah hati, seperti hal-hal gaib, takdir, noumena, dan segala yang menjadi ketentuan Allah. Sehebat apapun pikiran yang kita miliki, kita tidak akan pernah bisa sampai berpikir ke sana. Tidaklah pantas bagi manusia untuk bersikap sombong, seolah-oleh bisa menguasai semuanya. Karena sebenar-benarnya ilmu yang disombongkan terancam berubah menjadi mitos. Maka, ketika sesuatu tidak dapat lagi dipikirkan melalui logika, kembalikan kepada hati yang bersih dengan senantiasa menghadap Allah SWT.

    ReplyDelete
  14. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Perbedaan pendapat dan pertentangan dari semua orang haruslah dihargai. Tidak hanya itu akan tetapi kebingungan akibat banyak yang kita pikirkan harus dihadapi dengan bijak dan benar. Dengan demikian akan banyak yang berubah menjadi positif dikehidupan kita. Mungkin berdoa kepada Allah SWT adalah salah satu cara mengurangi konflik yang terjadi di dalam kehidupan kita. Dengan berdoa maka Allah akan memberikan jalan keluar yang terbaik. Mungkin hanya itulah yang bisa kita lakukan. Dalam mencari ilmu memang harus ikhlas hati, ikhlas pikir, suci dalam pikiran perkataan dan perbuatan, selalu berikhtiar, dan tidak lupa berdoa.

    ReplyDelete
  15. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Pikiran dan hati adalah dua hal penting dalam memahami filsafat.Sebaik-baik filsafat adalah berpikir.Sebagaimana yang diungkapkan Descartes bahwa “Saya berpikir, karena itu saya ada” orang dapat hidup karena berpikir.Senada dengan pendapat tersebut ,ada ulama yang mengatakan bahwa”mayat hidup yang berjalan” maksudnya karena orang tidak berzikir. Yang pastinya di dalam berpikir jangan sampai lepas kendali. Dan untuk menyeimbangkan itu adalah hati.Maka tetapkan hati sebagai landasan pikiran.

    ReplyDelete
  16. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi ini saya menyadari bahwa sebagai manusia janganlah berbangga atas ilmu yang telah dimiliki. Karena jika hati telah merasa bangga terhadap apa yang dimiliki, maka yang timbul nantinya hanyalah kesombongan. Kesombongan atas apa yang telah dicapai dan dikuasai sehingga hati merasa telah memiliki segalanya. Namun tanpa disadari apa yang dikuasai tersebut bahkan masih jauh dari kebenaran. Sikap sombong ini akan hanya akan membuat manusia berpikir dangkal. Untuk itu, senantiasalah berlindung kepada Allah dan selalu intropeksi diri agar terhindar dari penyakit hati ini.

    ReplyDelete
  17. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Terkadang kesombongan pikiran untuk menabrak segala batas hati bahkan hingga melampaui hati menyebabkan para mitos semakin dekat. Mitos adalah kesombongan. Jika logos sombong akan ilmu-ilmunya maka sesungguhnya ia tidak melahirkan ilmu, namun mitos.

    ReplyDelete
  18. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Pikiran dan hati hendaknya berjalan bersama-sama. Ketika pikiran melakukan kerjanya sendiri, maka tak ada yang mengingatkannya akan kesombongan. Tak sadar ia bahwa pikirannya adalah pemberian dari Sang Empunya Kehidupan. Hanya hati yang dapat meredam kesombongan dan menyadarkan manusia bahwa dirinya bukanlah apa-apa. Di sanalah benar bahwa sekacau-kacau pikiran, tetapi jangan kita kacau hati.

    ReplyDelete
  19. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B

    terimakasih pak atas ilmu yang telah bapak berikan melalui postingan elegi pemberontakan para logos ini.
    sombong adalah alasan syaitan dikeluarkan dari surga. ia membangkang tidak mau disuruh tunduk kepada adam yang tercipta dari tanah. maka jika ada sombong terdapat didalam diri manusia maka celakalah manusia tersebut. tidak berkah ilmunya dimata Allah SWT, bahkan di dalam hadis dikatakan "Tidak akan masuk sorga orang yang di dalam hatinya ada sifat sombong walaupun hanya sebesar atom.”
    maka sentasialah kita berdoa kepada Allah SWT agar ilmu yang kita dapat berkah dan diri kita sendiri jauh dari sifat sombong yang celaka dan keji tersebut.

    ReplyDelete
  20. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak selamanya bisa difikirkan dnegan logika kita. Ada saatnya memang fikiran harus menyerah dan mempersilahkan harti yang bekerja dalam mengetahui sesuatu. Sesuatu yang ghaib memang bukan ranahnya logika untuk berfikir. Logika hanya bisa berfikir apa yang memang sudah pasti ada di dunia ini. Dalam QS. Al Baqoroh 3 disebutkan mengenai sesuatu yang ghaib. Sesuatu yang ghaib sebenarnya bukan untuk difikirkan, namun untuk diimani. Disinilah logika tidak bisa ikut campur. Walaupun meamng untuk menuju pemahaman tentang yang ghaib itu memerlukan logika, namun logika tidak berperan untuk memikirkan hal yang ghaib. Logika hanya memikirkan sesuatu yang nyata untuk memperoleh keyakinan hati terhadap sesuatu yang gahib atau yang tidak bisa difikirkan oleh logika.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  21. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Dari pemberontakan para logos yang merupakan sebenarnya adalah mitos diatas terlihat bahwa semua merasakan telah melakukan semua hal dan kekuatan semakin berlimpah. Kesombongan yang telah tercipta menjadikan mereka dikutuk. Padahal kesombongan adalah temannya syaitan. Oleh karena itu mohon ampunlah kepada Tuhan atas segala dosa dan kesombongan yang telah kita lakukan, agar hati ini kembali bersih dan tidak menjadi sarang syaitan. Amin.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  22. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Ulasan ini membuat saya dapat menyadari bahwa diri saya sendiri memiliki keterbatasan dalam berpikir. Pemaksaan dalam berpikir juga akan menimbulkan kesia-siaan. Saya belajar melalui ulasan ini terkait ada hal-hal yang tidak perlu diketahui namun memang ada dalam kehidupan. Layaknya meyakini keberadaan makhluk ghaib. Tentunya, Allah juga yang mengetahui sepenuhnya atas makhluk ciptaan-Nya.

    ReplyDelete
  23. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Hati merupakan tantang terberat manusia. Allah menyiptakan manusia dengan hati yang sama. Tetapi manusialah yang merubah itu sesuai ruang dan waktu. Seperti yang sering disampaikan, ketika pikiran kacau, jangan sampai hati kita juga kacau. Cepatlah beristigfar. Semua orang memiliki tantang tersendiri. Karena manusia memiliki hawa nafsu yang berbeda-beda. Letakkan hati kita dengan proporsi sendiri-sendiri sesuai dengan kebutuhan. Rendah hati, tinggi hati pada proporsi yang tepat. Janganlah sombong karena kita hanya ciptaan Allah yang akan kembali kepada Nya. Teguhkan dasar pondasi kita agar hati kita tidak goyah. Sekali lagi, doa doa, dan berdoa semoga Allah mengampuni kesalahan kita.

    ReplyDelete
  24. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Ketika muncul kesombongan, merasa sudah jelas dengan suatu hal sehingga tidak lagi mau memikirkan dan memutuskan untuk berhenti berpikir, saat itulah logos berubah menjadi mitos. Hati pun demikian, bisa menjadi sarang para syaitan apabila hati mulai tidak ikhlas dan penuh dengan kesombongan. Oleh karena itu, kita seharusnya selalu menjauh dari kesombongan karena tidak akan ada manfaat darinya.

    ReplyDelete
  25. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Membaca elegi pemberontakan para logos ini mengingatkan kita supaya senantiasa menjaga diri kita agar tidak dihinggapi sifat sombong. Dari elegi ini kita melihat bahwa para logos yang dihinggapi dengan kesombongan akhirnya berubah menjadi mitos. Yang mana setelah menjadi mitos, ilmu-ilmu yang dahulu dikuasainya pun menjadi hilang. Elegi ini sangat cocok disampaikan kepada para mahasiswa, para penuntut ilmu, jangan sampai statusnya sebagai penuntut ilmu membuat ia sudah merasa tahu, membuat ia merasa bisa menguasai semua ilmu dan berlaku sombong atas ilmu yang ia kuasai tersebut.

    ReplyDelete
  26. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Kesombongan yang dimiliki Logos membuat derajatnya jatuh menjadi mitos sehingga dia tidak bisa lagi memikirkan obyek dan menghasilkan sebuah ilmu, dan kemurkaan hati membuat dia dirasuki syaitan, sehingga tidak bisa memutuskan suatu permasalahan secara jernih tanpa pengaruh syaitan. Ini memberikan pelajaran berharga bagi kita semua bahwa sepintar apapun kita, jangan pernah berlaku sombong, karena dengan berlaku sombong itu menunjukkan betapa bodohnya kita.

    ReplyDelete
  27. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Manusia pada dasarnya mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi terhadap suatu hal. Dengan rasa keingintahuan itu, maka di dunia ini muncul inovasi-inovasi terbaru. Misalnya manusia bisa mendarat di bulan , tentu dulu diawali dengan keingintahuan. Namun ada sesuatu yang memang manusia tidak dapat mengetahuinya walaupun sudah berusaha. Misalnya tentang yang gaib, tentang Tuhan, mereka hanya bisa meyakini saja. Namun berkeyakinan tanpa tahu wujud yang diyakini tidak termasuk mitos. Karena seberapapun manusia berilmupengetahuan, ilmu pengetahuan mereka terbatas, sehingga jangan menyombongkan keilmuan yang dimilikinya. Karena sebenar-benar yang berilmu pengetahuan adalah Tuhan YME.

    ReplyDelete
  28. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Memang benar bahwa ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang infinite. Baru saja muncul teori dari seorang ilmuwan, pasti ilmuwan lain sudah bersiap untuk membantah atau mengembagkannya lebih lanjut. Namun mempelajari ilmu ada batas dan kodratnya, karena pada level-level tertentu banyak hal yang tidak dapat disentuh oleh logika dan penelitian pada ilmuwan. Ada hal yang hanya dapat kita percayai tanpa dapat menunjukkan bukti. Namun bukan berarti kita sama sekali tidak berpikir untuk maju dan hanya tinggal dengan mitos. Jika kita terus meyakini bahwa ilmu kita telah cukup maka kita telah mengurung diri sendiri di dalam ruang gelap bersama mitos.

    ReplyDelete
  29. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  30. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Hidup harus selalu berfikir. Seperti yang sering dikatakan oleh Bapak Marsigit bahwa filsafat adalah olah pikir. Kesombongan adalah akhir dari segalanya. Jangan pernah sampai menganggap bahwa kita adalah seorang yang paling pintar. Ketika itu sudah berada dalam pikiran kita, maka kita akan berada dalam ruang gelap dan berhentinya waktu. Ketika berada pada titik kesombongan maka kita enggan untuk berfikir dan itu menjadi mitos. Oleh karena itu, ketika kita berfikir harus juga diimbangi dengan keikhalasan hati, agar tidak di ganggu syaitan sehingga kita percaya pada mitos.

    ReplyDelete
  31. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    logika/pikiran yang tidak berfondamen pada nilai spiritual akan melamapui batas sehingga menyebabkan ketidakberfungsian logika itu sendiri atau dengan kata lain menjelma menjadi mitos.
    begitu juga dengan hati, jika tidak mampu memngendalikan hati maka hati tersebut bisa dihuni oleh syaitan. A’udzu billahi minasy syaithooninir rojiim, aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

    ReplyDelete
  32. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Semua berawal dari kesombongan, yaitu kesombongan para logos, mereka sudah merasa dapat mengalahkan mitos-mitos yang ada, padahal dari kesombongan merekalah awal dari mitos para logos tersebut. Begitupula dengan hati, sebenarnya hatilah yang beperan untuk dapat membatasi pikiran para logos ketika sudah melampaui batas, akan tetapi hati juga tidak dapat menahan dirinya dari godaan syetan. Maka dari situlah awal dari kekacauan hati. Logos dan hati sebenarnya haruslah dapat sejalan, sehingga logos dan mitos dapat menggunakan perannya dengan baik.

    ReplyDelete