Sep 20, 2013

Elegi Pemberontakan Para Logos




Oleh Marsigit

Hati:
Aku sedang menyaksikan para logos mulai beraktivitas. Beberapa diantara mereka beraktivitas sesuai batas-batasnya, tetapi aku melihat sebagian diantara mereka mulai melampaui batas-batasnya. Aku ingin mengetahui apa sebetulnya yang terjadi pada logos-logos itu. Wahai para logos, apakah yang terjadi pada dirimu sehingga engkau kelihatan gelisah serta ada diantara engkau malah beraktivitas melampaui batas-batasmu.

Logos1:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah dirimu. Maka engkaulah, yaitu engkau hati, sebenar-benar merupakan tantanganku. Aku merasa tertantang untuk mengetahui semua relung hatiku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti hatiku. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos2:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah irrasional. Maka irrasional adalah sebenar-benar merupakan tantanganku. Aku merasa tertantang untuk mengetahui semua yang irrasional, walaupun aku tahu bahwa irrasional itu tidak rasional. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang irrasional. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos3:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah ghaib. Maka ghaib adalah sebenar-benar merupakan tantanganku. Ketika aku menginginkan bertemu dengan ghaib maka dia itu tidak mau memunculkan diri. Padahal aku ingin mengetahui semuanya tentang yang ghaib itu.Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti yang ghaib. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos4:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah mimpi. Maka engkaulah mimpi itulah sebenar-benar merupakan tantanganku. Aku ingin mengetahui semua mimpi. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti mimpiku. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos5:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah awal. Maka awal sebenar-benar merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti awal. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos6:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah akhir. Maka akhir itulah sebenar-benar merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang akhir. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos7:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya jauh tak hingga. Maka jauh tak hingga merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang jauh tak hingga. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos8:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya dekat tak hingga. Maka dekat tak hingga merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti dekat tak hingga. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos9:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah diriku . Maka diriku merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang diriku sendiri. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos10:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah noumena . Maka noumena merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang noumena. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.
Logos11:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah dibalik penampakan. Maka dibalik penampakan merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang dibalik penampakan. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos 12:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah nasib. Maka nasib merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang nasib. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos13:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah arwah. Maka arwah merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang arwah. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Hati:
Cukup...cukup. Wahai para logos. Rupa-rupanya engkau semua telah lancang terhadapku. Engkau telah menyalah gunakan kepercayaanku terhadapmu. Bahkan sebagian darimu telah melakukan hal-hal di luar batas-batasmu. Maka sebenar-benar dirimu semua aku kutuk. Terkutuklah engkau semua. Engkau semua sebenar-benarnya bukanlah logos. Engkau semua adalah mitos-mitos. Ketahuilah bahwa hatiku selalu waspada mengamati gerak-gerikmu. Engkau semua telah menjelma menjadi mitos, dikarenakan kesombonganmu akan gelarmu selama ini sebagai logos. Aku benar-benar menyesal telah memanjakanmu semua. Maka sekali lagi, tidak adalah logos-logos itu di hadapanku. Yang ada di hadapanku semua itu adalah mitos.mitos. Dengarkanlah wahai semua mitos-mitos, lihatlah diriku. Aku sekarang ini sedang marah besar terhadapmu semua. Dan sekaranglah saatnya aku harus mengambil sikap tegas terhadapmu. Maka enyahlah semua dari hadapanku. Aku tidak sudi bergaul dan berkomunikasi denganmu. Enyahlah...enyahlah segera.

Para mitos (jelmaan logos):
Wahaha..haha. Ketahuilah engkau yang mengaku sebagai hatiku. Kuman disebarang lautan tampak, sedangkan gajah di pelupuk mata tidaklah tampak. Aku juga tidak lagi mempercayaimu. Ketahuilah bahwa engkau juga telah membuktikan di hadapanku, bahwa engkau itu sebenarnya bukanlah hatiku yang sebenarnya. Dengan kemarahanmu itu, maka telah masuklah ke dalam dirimu seekor syaitan. Maka tiadalah dirimu itu, kecuali sebuah hati yang telah berubah menjadi seekor syaitan. Maka dengarkanlah wahai syaitan. “Dengarkanlah wahai syaitan, lihatlah diriku. Aku sekarang ini sedang marah besar terhadapmu semua. Dan sekaranglah saatnya aku harus mengambil sikap tegas terhadapmu. Maka enyahlah engkau dari hadapanku. Aku tidak sudi bergaul dan berkomunikasi denganmu. Enyahlah...enyahlah segera”.
Wahaha..haha. Kenapa engkau kelihatan pucat pasi, padahal kalimatku yang terakhir itu hanya pura-pura. Aku sebetulnya hanya menirukan gayamu saja. Maka munafiklah engkau syaitan. Wahai syaitan, ketahuilah bahwa tidaklah pada tempatnya bahwa syaitan itu bermusuhan dengan mitos-mitos. Menurutku, antara syaitan dengan mitos itu pastilah harus bekerja sama. Maka renungkanlah. Renungkanlah kembali sebelum engkau menyesal dikemudian hari.

Syaitan (jelmaan hati):
Wah ..maafkan wahai para mitos. Aku tidak menyangka kalau telah bertemu dengan sahabat sejatiku. Engkau para mitos itu adalah sahabat sejatiku. Maka tiadalah aku akan bertindak semena-mena terhadap dirimu itu. Sekali lagi maafkanlah.

Akar rumput:
Aku sedang menyaksikan kejadian luar biasa. Ada orang tengah sombongnya berjalan di muka bumi. Setelah aku amati, ternyata dia adalah para mitos dan sahabatnya, syaitan. Ya Tuhan, ampunilah diriku. Ampunilah dosa-dosa orang yang telah berbuat dhalim di muka dunia ini. Tiadalah daya upayaku, kecuali hanyalah diri Mu yang mampu menghancurkan syaitan-syaitan itu.

Syaitan dan mitos:
Oauit...kenapa kakiku ini. Aneh pula kakiku ini. Tidak ada sebab, kenapa kakiku kemasukkan duri. Ak lihat jalannya lurus dan bersih. Oauit...terasa sakit sekali. Wahai mitos, kenapa kaki kita kemasukkan duri dan dari mana duri itu?

Mitos:
Maafkanlah syaitan, aku sekarang bukan menjadi logos lagi. Aku telah engkau kutuk menjadi mitos. Maka aku tidak lagi bisa berpikir kritis. Maka maafkanlah aku. Karena aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Aku merasa malu sekali mengapa hanya persoalan sepele seperti ini aku tidak bisa memikirkan. Kenapa aku tidak tahu asal usul duri ini. Padahal sebelum engkau kutuk aku telah sesumbar dan menantang dan memberontak terhadap hati bahwa aku ingin menantang semuanya yang ada dan yang mungkin ada sampai batas pikiranku. Sekali lagi maafkan aku. Aku tidak akan mengulangi perbuatanku lagi. Aku betul-betul menyesal telah berbuat dholim di muka bumi ini. Maka wahai hatiku maafkanlah diriku.

Hati (setelah syaitan menghilang):
Iba rasa hatiku wahai saudaraku. Wahai engkau logos-logosku. Aku telah menyaksikan engkau telah kembali menghampiriku. Ingin menitikkan air mata rasanya diriku itu melihat engkau semua telah menyadari kesalahan-kesalahanmu. Demikian pula aku. Mohon maafkanlah diriku, karena aku juga telah terbawa emosi sehingga aku sempat dihampiri syaitan. Aku juga menyesal telah mengutukmu. Maka sebetul-betulnya hatiku adalah doaku, sedangkan hatiku itu adalah teman bagi logos-logosku yang mengetahui batas-batasnya. Marilah kita kembali menetapkan iman dan taqwa kita kepada Tuhan YME, dengan senantiasa selalu berdoa dan mohon ampun atas segala dosa-dosa kita. Semoga Tuhan mengabulkan semua doa-doa kami. Amien.

Orang tua berambut putih:
Aku telah menyaksikan semua kejadianmu itu. Aku ingin katakan bahwa aku tidak bisa berkata. Kalimat kontradiksiku itu merupakan lambang bagi kehadiranku, yaitu bahwa aku hadir walaupun tidak engkau panggil. Maka renungkanlah.

30 comments:

  1. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Dari postingan di atas dapat kita lihat bahwa sebenar-benarnya logos ialah mitos jika memiliki sifat sombong dan merasa lebih baik dari yang lain. Mitos akan hadir jika diri sudah merasa cukup sehingga tidak mau berusaha lagi menembus ruang dan waktu. Mitos akan membuat diri terperangkap dalam ruang dan waktu yang gelap. Oleh karena itu, teruslah bergerak menembus ruang dan waktu dan rendah hatilah agar terhindar dari mitos yang selalu membayangi.

    ReplyDelete
  2. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Elegi ini menegaskan betapa bahaya sifat sombong dan melampaui batas, sehingga dapat mengubah logos menjadi mitos. Digambarkan betapa logos memberontok karena merasa telah melakukan berbagai usaha dan perjuangan yang tidak main-main, memiliki kekuatan yang besar, memiliki ilmu yang tinggi, dan banyak hal yang telah mereka kuasai, namun kenapa masih ada saja hal-hal yang tidak mampu mereka taklukkan. Inilah sebenar-benar kesombongan, tidak mau memahami bahwa ada keterbatasan dalam diri, setinggi dan sebesar apapun ilmu dan kekuatan yang kita miliki, akan selalu ada yang lebih tinggi dan lebih besar, ada hal-hal yang memang tidak mampu kita kuasai sepenuhnya. Maka dari itu, kunci untuk tetap menjadi logos adalah dengan tetap rendah hati dan tidak sombong atas apa yang kita miliki, serta melakukan segala sesuatu dengan tidak melampaui batas.

    ReplyDelete
  3. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Elegi ini mengingatkan kita untuk senantiasa rendah hati, sebanyak apapun ilmu yang kita miliki sejatinya itu hanya sebagian kecil disbanding luasnya ilmu yang ada. Kita sebagai manusia harus menyadari bahwa meskipun banyak yang telah kita ketahui tetapi tidak semua kita ketahui maka kita harus menghindari diri dari sifat sombong agar logos yang kita miliki tidak berubah menjadi mitos. Sebagai seorang manusia kita juga harus menghindari sifat marah karena sebenar-benar sifat marah telah mengubah hati menjadi syaitan. Astaghfirullah. Semoga kita senantiasa dijauhkan dari sifat sombong dan marah. Amin.

    ReplyDelete
  4. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Kepada orang yang berilmu tidak sepantasnya terlalu bangga dengan ilmu yang dimilikinya. Karena pasti akan ada yang lebih tinggi ilmunya. Terlalu bangga akan kemampuan sendiri hanya akan membuat diri kita terjebak ke dalam lubang kesombongan. Dimana sombong merupakan sifat turunan dari syaitan. Jika kita tak ingin memiliki sifat syaitan maka akan lebih baik kita menjaga hati kita agar tetap jernih. Hati yang jernih adalah hati yang terbebas dari godaan syaitan. Maka agar ilmu yang kita miliki membawa keberkahan bagi kita, agar ilmu yang kita miliki tidak membuat kita terjebak dalam jeratan kesombongan, kita harus tetap mendekatkan diri pada Allah. Meminta ridho Allah agar hati kita selalu terjaga. Amin.

    ReplyDelete
  5. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Segala yang ada dan yang mungkin ada dapat berpotensi menjadi logos dan mitos. Keduanya sama-sama menjadi sumber berpikir bagi manusia, namun dampak dari keduanya sangatlah berbeda. Logos akan meningkatkan taraf hidup manusia sedangkan mitos akan menjerumuskan manusia sehingga terperangkap dalam ruang dan waktu yang salah. Logos dapat berubah menjadi mitos. Saat kita merasa cukup dengan pengetahuan sehingga kita enggan dalam berpikir maka kita dapat terjerumus dalam mitos. Saat terjerumus menjadi mitos, hati kita mulai menjadi incaran utama syeitan. Maka tiadalah cara terhindar dari mitos selain tidak pernah berhenti berpikir (belajar) dan tidak mudah puas, serta senantiasa memohon petunjuk Tuhan sang maha kuasa.

    ReplyDelete
  6. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Hal yang tersulit adalah mengalahkan hawa nafsu diri sendiri. Untuk menggapai sebuah kesuksesan ada banyak tantangan yang kita harus lalui dan lewati. Namun justru tantangan yang datang dari diri sendiri itulah yang lebih sulit, tantangan mengalahkan mimpi, tantangan mengalahkan hawa nafsu. Hal-hal tersebutlah yang sering dimanfaatkan oleh syaitan untuk membawa para makhluk kedalam suatu kesombongan. Oleh karena itu selalulah berdoa memohon perlindungan kepada Allah SWT agar hati kita terhindar dari bisikan syaitan yang terkutuk. Amin

    ReplyDelete
  7. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Pemberontakan pada diri seseorang terjadi ketika apa yang kita pikirkan tidak sesuai dengan hati nurani kita sendiri. Hati sebagai jembatan yang dapat menetralkan pemberontakan, namun hati juga dapat terpengaruh oleh pemberontakan itu. Oleh karena itu kita harus menjaga hati kita agar dapat menuntun pikiran kita sesuai dengan jalan yang benar.

    ReplyDelete
  8. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Dari elegi pemberontakan para logos, saya dapat memahami bahwa seseungguhnya dalam berpikir haruslah ada batasan. Batasan-batasannya adalah iman dan takwa (keyakinan). Ada hal-hal yang seharusnya tidak kita pikirkan tapi cukup kita rasakan dan kita yakini dalam hati. Bila kita paksakan keluar batas, akan terjadi kontradiksi-kontradiksi yang dapat melemahkan kepercayaan kita. Gunakanlah hati dan pikiran yang ikhlas agar kita tidak terjebak mitos.

    ReplyDelete
  9. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. dari membaca elegi diatasa saya menrefleksi bahwa jangan menyombongkan apa yang telah kita raih. Para logos pada elegi menyampaikan apa-apa saja yang telah mereka raih selama ini kepada hati, seolah berlomba-lomba siapa yang paling hebat. Dari situ diambil pelajaran agar senantiasa menjauhi bisikan syetan agar tidak menjadi manusia yang sombong, gunakan hati dan pikiran untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk.

    ReplyDelete
  10. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    logos di sini ialah perumpamaan ilmu pengetahuan, namun pemberontakan para logos ini menyingkap kebenaran yang terselubung di bawah nama mereka. Logos pun masih memiliki kelemahan dan titik yang tidak mampu mereka capai, namun demikian logos sebenarnya haruis dapat mengatasi semua hal tersebut berkaitan dengan tugas mereka sebagai para logos. Saat mereka menentang kelemahan mereka, maka logos tersebut akan berubah menjadi mitos. sedangkan pertentangan logos tersebut dialamatkan kepada hati yang dinilai meremehkan dan menganggap logos memiliki kelemahan tersebut. Dari elegi ini, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa seorang yang berilmu tidak serta merta menguasai apa yang ada secara instan, melainkan mereka pun memiliki batas yang masih harus dikaburkan dengan mempertebal logos mereka sendiri, jika semuanya dipersoalkan dan dipertentangkan maka tak lain ilmu tersebut ialah mitos belaka. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  11. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Berdasarkan elegi di atas pula hati tidaklah benar jika meremehkan dan menganggap enteng sesuatu. bahkan hati yang menyombongkan dirinya atau kemampuannya tidak lain ialah hati yang tak murni lagi (Syaitan). Hati di sini merupakan hatio yang jernih tanpa dendam, tanpa kesombongan dan sebagainya. Adapun pada akhir elegi baik mitos (jelmaan para logos) dan syaitan (jelmaan hati) dapat memperoleh posisi awal mereka sebagai logos dan hati dengan melakukan pertaubatan dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Hal ini berlaku pula untuk kita, ,kemaksiatan yang kita lakukan akan menurunkanderajat kita baik derajat sebagai manusia maupun derajat sebagai hamba Allah, sedangkan yang dapat mengembalikan ke posisi semula ialah pertaubatan yang murni karena Tuhan. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  12. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dari elegi tersebut, saya dapat pahami bahwa logos yang melampaui batas bukan lagi disebut logos. Logos yang melampaui batas jika dilihat adalah logos yang sudah mencampuri ranah lain dengan penuh kesombongan, merasa paling benar, dan tidak mau mengalah. Logos yang melampaui batas ini akan menjelma menjadi sebuah mitos. Yang artinya sudah tidak ada lagi ilmu yang dapat diperoleh dari jelmaan logos tersebut. Kesombongan akan meruntuhkan diri sendiri.

    ReplyDelete
  13. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Begitu pula hati yang dipenuhi dengan amarah, emosi, dan kesombongan, juga bukanlah hati lagi, tetapi telah dirasuki napsu syaiton. Maka sebenar-benar hati yang penuh kesombongan adalah syaiton. Syaiton dan mitos selalu berteman, saling bekerjasama untuk menjatuhkan diri seseorang. Maka berdoalah kepada Tuhan agar kita semua dijauhkan dari sifat sombong dan amarah. Aamiin.

    ReplyDelete
  14. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Berdasarkan elegi pemberontakan para logos, logos merupakan ilmu pengetahuan suatu subjek. Dapat dipahami dari elegi ini bahwa suatu kesombongan akan menyebabkan kita berubah menjadi mitos. Hal ini terjadi pada logos, ketika ia telah bersifat sombong berusaha mencampurkan hal-hal diluar logos dengan merasa paling benar maka saat itu pula para logos berubah menjadi para mitos. Begitu pula dengan hati, hati yang hakikatnya memiliki sifat bersih namun jika telah dirasuki syaitan maka akan berubah menjadi kesombongan dan merasa paling benar akan segala hal. Namun ada titik pertaubatan hati dan logos yaitu ketika mereka menyerahkan masalah mereka kepada Allah SWT dan tidak melakukan perbuatan yang sama.

    ReplyDelete
  15. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Batas antara mitos dan logos itu tipis sekali. Logos bisa berubah menjadi mitos ketika telah ada angkuh di dalamnya, angkuh untuk memikirkan segala hal. Padahal pkiran kita memiliki batas. Ada pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak bisa kita jawab, yang hanya Allah yang Maha tahu yang dapat menjawabnya. Hati juga bisa menjadi syaitan saat ada amarah di dalamnya. Jadi hati haruslah dijaga kesuciannya, dijaga dari amarah agar mampu memberikan yang terbaik, logos dijaga dari keangkuhan agar bisa memberikan ilmu yang bermanfaat di dunia dan di akhirat

    ReplyDelete
  16. Latifah Fitriasari
    PM C

    Elegi yang menceritakan pertengkaran antara logos dan hati. Dimana keegoan dari masing-masingnya dimunculkan. Berpikir (berlogika ) haruslah ada batasan. Batasan nya adalah iman dan takwa (keyakinan). Karena ada hal-hal yang seharusnya tidak kita pikirkan tapi kita rasakan dan kita yakini dalam hati. Ontologi Logos-logos yang dengan segala kekurangan dan keterbatasan ingin menggapai banyak hal meski tanpa disadari membuatnya melakukan banyak hal. Tantangan-tantangan yang dirasakan menuntut pengakuan untuk mewujudkannya.

    ReplyDelete
  17. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Pada elegi ini menunjukkan bahwa terkadang antara hati dan juga pikiran itu tidak dapat menyatu. Bahkan antara hati dan pikiran kadang menjadi bertentangan. Batas antara hati dan pikiran kita adalah kesombongan. Apabila kita telah berada dalam kesombongan maka kita tidak akan dapat melihat lagi kebenaran. Sehingga disinilah fungsi filsafat yang akan membantu kita untuk dapat berfikir secara logis, kritis dan sistematis.

    ReplyDelete
  18. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Kitaharus menjaga ego kita dalam keseharian. Dengan ego yang terjaga maka logos kita tidak beruabh menjadi mitos. Ego yang berupa sifat sombong dan melapaui batas itu merupakan salah satu cikal bakal logos berubah menjadi mitos. Semoga kita terhindar dari sifat sombong dan melampaui batas sehingga menjadi pribadi yang kecukupan selalu bersyukur setiap saat.

    ReplyDelete
  19. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Dari elegi ini kita menjadi menyadari bahwa ketika kita ingin melampaui semua batas akal dan pikiran kita maka itu artinya menjadi sombong, karena itu berarti kita menganggap bahwa kita itu tidak terbatas/sempurna atau merasa bisa menjelaskan semua yang ada dan mungkin ada di dunia. Padahal manusia adalah makhluk yang terbatas, dia hanya mampu memikirkan sebagian sifat dari yang ada dan mungkin ada. Jangan hanya karena mampu menyebutkan banyak sifatnya (berilmu) maka merasa dialah yang sempurna/yang berilmu/maha tau. Kesempurnaan hanya milik Tuhan YME, hanya Tuhan lah yang maha mengetahui, ketika sampai pada kuasa Tuhan maka pikiran/ilmu kita berhenti, tidak usah diotak-atik. Sekian dan Terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  20. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Dalam elegi ini menunjukkan bahwa kadang antara hati dan pikiran itu tidak dapat menyatu. Bahkan antara hati dan pikiran kadang menjadi bertentangan. Batas antara hati dan pikiran kita adalah kesombongan. Bila kita telah berada dalam kesombongan maka kita tidak akan dapat melihat lagi kebenaran. Sehingga di sinilah fungsi filsafat yang akan membantu kita untuk dapat berfikir secara logis, kritis dan sistematis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
  21. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Logos dan mitos merupakan dua hal yang selalu berjalan mengiringi perjalanan hidup setiap orang. Keduanya berusaha saling mengalahkan. Logos selalu berusaha mengalahkan para mitos, sebaliknya mitos selalu berusaha keras mempengaruhi para logos agar masuk menjadi anggotanya.
    Pemberontakan para logos dalam elegi ini menggambarkan seorang yang berilmu tetapi tidak menggunakan hatinya. Mereka dengan sombong mengatakan telah banyak berjuang mengalahkan para mitos, dan akan terus berjuang untuk menundukkan semua yang ada dan yang mungkin ada yang dianggap menjadi tantangannya, sekalipun itu di luar batas pikirannya. Kondisi inilah yang akan membuat para logos terjerumus masuk menjadi anggota para mitos. Inilah sebenar-benarnya usaha para mitos untuk mengajak para logos menjadi anggotanya.

    ReplyDelete
  22. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Sebenar-benarnya logos adalah yang tahu akan batasan-batasannya. Logos yang dicampuri dengan kesombongan maka tidak bisa kagi disebut dengan logos. Itu disebut dengan mitos. Oleh sebab itu, sebagai manusia yang berilmu bukan berarti bisa menyombongkan diri, karena di atas langit masih ada langit. Dan kesombongan itu hanya akan menunjukkan bahwa ilmu yang dimiliki hanyalah sebuah mitos.

    ReplyDelete
  23. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Sebenar-benar musuh dari logos adalah mitos. Mitos akan berujung pada kesombongan, sedangkan logos akan meningkatkan kualitas hidup manusia. ketika kita terjerumus ke dalam mitos, maka hati kita menjadi mangsa syaitan yang selalu akan menggoda umat manusia, agar terjerumus ke dalam kegelapan. Oleh karena itu terangilah diri dengan ilmu pengetahuan dengan belajar dan terus belajar.

    ReplyDelete
  24. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Hal yang tersulit adalah mengalahkan hawa nafsu diri sendiri. Untuk menggapai sebuah kesuksesan ada banyak tantangan yang kita harus lalui dan lewati. Namun justru tantangan yang datang dari diri sendiri itulah yang lebih sulit: tantangan mengalahkan mimpi, tantangan mengalahkan hawa nafsu. Hal-hal tersebutlah yang sering dimanfaatkan oleh syaitan untuk membawa para makhluk ke dalam suatu kesombongan. Oleh karena itu selalulah berdoa memohon perlindungan kepada Allah SWT agar hati kita terhindar dari bisikan syaitan yang terkutuk.

    ReplyDelete
  25. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Hasil pikiran yang disertai dengan hati dalah sebaik baik pikiran. Sehingga, hati adalah teman bagi para logos. Logos adalah bagaimana kita selalu berpikir untuk mencari suatu kebenaran diatas kebenaran.
    Logos akan kalah dengan mitos, jika kita sudah tidak mau berpikir dan terpengaruh oleh setan. Dengan pengaruh setan, hati dan pikiran dapat menjadi tidak jernih sehingga mitos dapat menguasai diri.
    Logos akan selalu mencari kebenaran, sehingga untuk menjadilogos kita harus senantiasa berdo'a agar dijauhkan dari bisikan setan dan selalu dijaga kejernihan hatinya pada saat mengalami ujian yang berat sekalipun.

    ReplyDelete
  26. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Elegi ini membuat saya berkaca-kaca ketika membacanya. Ketika syaitan mulai merasuk ke dalam diri. Mengabaikan God Spot atau perasaan yang yang telah Allah berikan sebagai petunjuk hidup kita. Mengikuti hawa nafsu, mengabaikan logika. Maka bersyukurlah ketika Allah masih mengembalikan logika-logika kita, perasaan-perasaan kita. Logika yang dikembalikan melalui pikiran, perasaan yang dikembalikan melalui hati. Itu artinya Allah masih sayang dengan kita, tak ingin kita tersesat sehingga menuntun kita kembali kejalanNya, jalan yang Ia ridhai untuk menggapai JannahNya. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu mendapatkan ridhaNya. Aamiin
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  27. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    elegi ini memberikan pelajaran kepada kita untuk tidak menyombongkan apa yang kita lakukan dan apa yang kita miliki, kita sebagai makhluk kecil ciptaan Tuhan hendaknya punya rasa rendah hati dan rasa syukur, jangan sampai kesombongan menguasai kita. karena celakalah kita jika telah dikuasai oleh sifat sombong. tidaklah ada yang pantas kita sombongkan, karena semua yang kita miliki merupakan titipan dari Allah SWT.

    ReplyDelete
  28. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa logos melakukan pemberontakan dengan cara menyombongkan hasil dari perjuangannya. Jangan sampai terlena akan logos, sebaiknya selalu mendengarkan apa kata hati juga. Senantiasa bekerja dengan hati dan pikiran yang bersih dan ikhlas agar tidak terjerumus.

    ReplyDelete
  29. Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika

    Perbedaan pendapat dan pertentangan dari semua orang haruslah dihargai. Tidak hanya itu akan tetapi kebingungan akibat banyak yang kita pikirkan harus dihadapi dengan bijak dan benar. Dengan demikian akan banyak yang berubah menjadi positif dikehidupan kita. Mungkin berdoa kepada Allah SWT adalah salah satu cara mengurangi konflik yang terjadi di dalam kehidupan kita. Dengan berdoa maka Allah akan memberikan jalan keluar yang terbaik. Mungkin hanya itulah yang bisa kita lakukan. Dalam mencari ilmu memang harus ikhlas hati, ikhlas pikir, suci dalam pikiran perkataan dan perbuatan, selalu berikhtiar, dan tidak lupa berdoa.

    ReplyDelete