Sep 20, 2013

Jargon Pertengkaran antara Subyek dan Obyek




Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, subyek itu obyek dan obyek itu subyek,...dst. Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia. Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon subyek dan jargon obyek. Wahai jargon subyek dan jargon obyek dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon subyek kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon obyek kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?

Jargon subyek:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon subyek. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada obyek agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para obyek tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.

Jargon obyek:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon obyek. Saya menyadari bahwa jargon para subyek itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada subyek agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para subyek. Ketahuilah tiadalah subyek itu jika tidak ada obyek.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon subyek. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon subyek:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon subyek. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi obyek pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada obyek. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada obyek maka kedudukanku sebagai subyek akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi subyek yang kuat, yaitu sebear-benar subyek. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai subyek sejati maka aku harus mengelola semua obyek sedemikian rupa sehingga semua obyekku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar obyek selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para obyek. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para obyek. Dari pada jargon obyek menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon subyek, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para anggotamu menyampaikan kepadaku.

Jargon subyek ketua :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon subyek ketua. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai anggota. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai ketua. Ketika aku menjadi ketua maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai anggota. Maka setelah aku menjadi ketua aku mulai kehilangan jargon anggota, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon ketua. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai ketua, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai anggota itu harus jujur, sebagai anggota itu harus peduli, sebagai anggota harus patuh, sebagai anggota harus bijak. Begitu aku menemukan para anggotaku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai ketua. kekuasaanku sebagai ketua itu mengalir melalui jargon-jargonku: sebagai ketua itu harus jujur, sebagai ketua itu harus peduli, sebagai ketua itu harus adil, sebagai ketua itu harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: ketua harus terhormat, ketua harus wibawa, jangan tampakkan kelemahanmu, tutupilah kesalahanmu..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai ketua adalah: berbohong demi kebaikan, tidak adil demi keadilan, menghukum demi membebaskan..dst. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai ketua terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para obyek. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai ketua. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon subyek ketua. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon subyek ketua, agar diketahui oleh para obyek-obyekku. Seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya aku manfaatkan untuk memproduksi jargon-jargonku.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon obyek. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon obyek:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon obyek. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para subyek. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada subyek. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada subyek maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu tergantung sepenuhnya oleh subyek-subyekku. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para subyek. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai obyek sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para subyek. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para subyek. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para subyek. Tetapi aplah dayaku sebagai obyek. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap menjadi obyeknya para jargon subyek.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon obyek, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para anggotamu menyampaikan kepadaku.

Jargon obyek anggota :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon obyek anggota. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai anggota. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku mempunyai ketua baru. Ketika aku mempunyai ketua baru aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai anggota. Maka setelah aku mempunyai ketua aku mulai kehilangan jargon anggota, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon ketua. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai anggota yang hakiki, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai anggota itu harus jujur, sebagai anggota itu harus peduli, sebagai anggota harus patuh, sebagai anggota harus bijak. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan ketuaku itu mengalir melalui jargon-jargon ketua: sebagai ketua itu memang harus jujur, sebagai ketua itu memang harus peduli, sebagai ketua itu memang harus patuh, sebagai ketua itu memang harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa ketuaku tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: ketua harus melindungi anggota, ketua harus menolong anggota, dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai anggota adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya status itu, ketua itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: semua manusia itu tidak pada hakekatnya sama saja, maka demi menjaga statusku sebagai anggota sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para subyek. Agar aku selamat dari penindasan para jargon subyek. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai anggota. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon obyek anggota. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon obyek anggota, agar aku bisa berlindung dari ancaman para subyek. Aku ternyata tidak bisa menggunakan seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku. Jangankan memproduksi jargon, untuk menghindar dari jargon subyek saja kerepotan ketika saya berada di forum-forum itu.

Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Subyek memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai subyek, sedangkan obyek memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuha itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana subyek dan obyek dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan wahai engkau para subyek dan obyek agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sama subyek itu adalah obyek, dan obyek itu adalah subyek. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Dengan ini aku peringatkan kepada subyek. Janganlah engkau bertindak melebihi batas. Tiadalah manusia itu pernah menjadi subyek sejati. Sebenar-benar subyek absolut adalah Tuhan YME. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.

61 comments:

  1. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika

    subyek dan obyek adalah kesatuan yang sama sama memiliki jargon. menerjemahkan dan diterjemahkan. jargon subyek dan obyek akan lenyap dengan pikiran karena absolut adalah Allah SWT.

    ReplyDelete
  2. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Subjek dan objek itu sebetulnya objek dan subjek. Bisa pula menjadi subjek dan subjek. Bisa pula menjadi objek dan objek. Tergantung berapa jumlahnya, dan dalam konteks apa. Saya adalah subjek bagi saya yang berkomentar. Objek komentar saya adalah tulisan pak Marsigit. Saya dan komentar saya adalah objek bagi pak Marsigit. Sehingga tidak akan ada subjek, bila tidak ada objek. Begitu pula tidak ada objek, bila tidak ada subjek.

    ReplyDelete
  3. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Pada dasarnya suatu subyek itu dapat berubah menjadi obyek begitupun sebaliknya. Karena antara subyek dan obyek itu sangat berkaitan satu sama lainnya. Dimana keduanya saling melengkapi dan membutuhkan. Sebenarnya kita tidak perlu berdebat karena hanya akan membuang - buang waktu saja dan akan memperpanjang permasalahan alangkah baiknya bila saling memberikan masukan. Kita ketahui bahwa antara subyek dan obyek saling berhubungan dalam melakukan suatu kegiatan. Tanpa adanya obyek, peran subyek menjadi hampa karena tidak ada sesuatu yang dituju. Begitu juga sebaliknya jika tidak ada subyek, maka siapa lagi yang bertugas menjadi pemimpin atau pemberi arahan. Tim yang baik terlahir ketika mereka sepaham untuk tujuan bersama (golongan) bukan untuk kepentingan pribadi.

    ReplyDelete
  4. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas sya merefleksi bahwa objek dan subjek memiliki kedudukan masing-masing dan saling berhubungan. Objek dan subjek itu memiliki hubungan menterjemahkan dan diterjemahkan. Jika salah satu dari objek maupun subjek berdiri sendiri maka mereka akan kehilangan makna.

    ReplyDelete
  5. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Antara subyek dan obyek, keduanya ada untuk saling melengkapi. Subyek memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya, sedangkan obyek memerlukan jargon untuk melindungi dirinya. Keduanya dapat hidup saling berdampingan dengan damai seandainya dapat saling memahami satu sama lain. Tak lupa pula untuk senantiasa mengembalikan segala urusan kepada Allah, karena sebenar-benarnya jargon adalah miliki-Nya.

    ReplyDelete
  6. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Ternyata antara subyek dan obyek sama-sama memerlukan jargon. Subyek memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai subyek, sedangkan obyek memerlukan jargon untuk melindungi dirinya. Allah SWT maha bijaksana sehingga menciptakan makhluknya untuk saling berdampingan. Demikian juga dengan subyek dan obyek dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya.

    ReplyDelete
  7. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Jargon pertengkaran antara subyek dan obyek banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Masing-masing subyek dan obyek memiliki kepentingan yang berbeda. Agar keduanya bisa bekerjasama tentu dibutuhkan saling pengertian dan hormat menghormati antara subyek dan objek sehingga bisa memunculkan sinergi yang positif. Baik subyek maupun obyek tentunya sama-sama saling membutuhkan untuk saling melengkapi.

    ReplyDelete
  8. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Subyek memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai subyek, sedangkan obyek memerlukan jargon untuk melindungi dirinya. Tuhan telah menciptakan segalanya dengan ke-Maha Sempurna-Nya termasuk menciptakan subyek dan obyek hidup berdampingan bersama jargon-jargonnya. Maka kita sebagai makhluk-Nya haruslah mampu memahami jargon kita masing-masing. Maka semua jargon kita itu akan lenyap diperbatasan pikiran kita masing-masing. Maka jangan lah kita bertindak melebihi batas. Sesungguhnya tak ada manusia yang pernah menjadi subyek sejati karena sebenar-benar subyek absolut adalah Tuhan YME dan sesungguhnya sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.

    ReplyDelete
  9. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Setelah membaca ini, hal yang saya dapati yaitu subyek memliki obyek, sebenar-benarnya subyek adalah Allah SWT, Dia-lah subyek absolut. Manusia pada keadaan tertentu bisa saja sebagai subyek tetapi hal itu tidak akan bersifat mutlak, hanya sementara waktu saja. Subyek memerlukan pembenaran diri bahwa dia adalah subyek. Sebagai manusia kita harus arif dan bijaksana sebagai seorang subyek, karena sifat kita sebagai subyek tidak akan abadi.

    ReplyDelete
  10. Junianto
    PM C
    17706251065

    Dapat saya pahami bahwa baik subjek maupun objek, keduanya memiliki jargon untuk meningkatkan eksistensinya masing-masing. Subjek memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukan sedangkan objek memerlukan jargon untuk melindungi dirinya. Keduanya bisa berjalan seimbang jika dibarengi dengan solusi yang baik yaitu menterjemahkan dan diterjemahkan (saling memahami). Seprti dalam artikel Prof yang lainnya bahwa segala sesuatu harus ditempatkan sesuai proporsinya, seimbang dan penuh tagging jawab. Jangan sampai subjektivitas lebih dominan daripada objektivitas.

    ReplyDelete
  11. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Saya mempelajari bahwa manusia memiliki kapasitas yang terbatas. Bahkan mitos manusia itu sendiri adalah subyek dan objek. Saya menjadi teringat pertemuan di kelas saat tes jawab singkat, ada pertanyaan siapa musuh anda? Jawabannya adalah mitos. Saya menjadi sadar bahwa antara subjek dan objek dapat dijadikan sebagai teman dalam hidup ataupun sebaliknya. Ini juga membuat manusia lebih mewaspadai segala sesuatu yang ada di sekitarnya baik itu sesamanya, dirinya sendiri, atau objek lainnya.

    ReplyDelete
  12. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Adanya subyek dan obyek saling berkaitan. Ada obyek karena adanya subyek, demikian pula ada subyek karena ada obyek. Di waktu yang lain, mungkin saja subyek dikatakan menjadi obyek dari subyek yang lain, dan obyek dikatakan sebagai subyek dari obyek yang lain. Misalnya saja guru, guru dapat bertindak sebagai subyek dan juga sekaligus sebagai obyek. Namun disini bukan berarti subyek berkuasa terhadap obyek. Kedudukan subyek dan obyek sama-sama pentingnya, tergantung pada dimensi ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  13. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamaualaikum wr wb.
    Tuhan menciptakan sesuatu berpasang-pasangan.Seperti standar sepaket dengan proses,kebaikan bergandengan dengan keburukan, subyek bergandegan dengan obyek.Tujuannya tiada lain untuk saling menguatkan dan mengisi hal yang kurang.Sehingga dapat hidup berdamai dengan jargonnya masing-masing karena subyek dan objek memiliki jargon.

    ReplyDelete
  14. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Baik objek maupun subjek pada hakikatnya adalah saling membutuhkan. Kehadiran objek didasari oleh keberadaan subjek, kehadiran subjek didasari keberadaan objek. Dua hal tersebut memiliki kedudukan yang setara atas jargon.

    ReplyDelete
  15. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Berdasarkan elegi di atas, saya memahami bahwa antara subyek dengan objek memerlukan usaha untuk mempertahankan keberadaannya masing-masing. Namun sebenarnya, antara subyek dengan objek dapat berjalan beriringan, dengan syarat saling terjemah menerjemahkan agar memahami fungsi dan kedudukannya masing-masing dalam kehidupan.
    Maka sebagai manusia hendaknya benar-benar memahami dengan baik jika berada pada posisi sebagai subyek, menyikapinya dengan bijaksana dan jangan bertindak melebihi batas. Karena sebenar-benar subyek sejati itu hanyalah Allah SWT.

    ReplyDelete
  16. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmu yang benar-benar bermanfaat ini
    Mohon ijin, apakah ulasan di atas tentang hermeneutika? Berbicara tentang hermeneutika, ada satu statement pada salah satu elegi yang diposting melalui blog ini yang membuat saya selalu mengingatnya, yaitu hidup ini terjemah dan diterjemahkan, maka kita juga harus ikhlas diterjemahkan (maaf, mungkin kalimatnya tidak sama persis seperti ini). Statement tersebut membuat saya pribadi berupaya menjadi orang yang bisa menerima pendapat orang dan tidak mudah menghakimi orang lain. Ya, saya belajar untuk itu, karena melalui elegi-elegi yang saya baca saya dituntun untuk bisa menjadi seperti itu. Saya menemui hukum identitas, saya juga bertemu hukum kontradiktif. Betapa kita harus saling mengerti dan memahami.

    ReplyDelete
  17. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Terima kasih atas tulisannya Prof Marsigit
    Dari tulisan ini kita melihat bahwa subjek dan objek adalah saling berkaitan dan membutuhkan. Subyek memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai subyek, sedangkan obyek memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Hal ini menjadi penguat bahwasanya Tuhan YME sebagai Sang Pencipta telah menciptakan segala sesuatunya secara bijaksana, adil dan semuanya memiliki manfaatnya masing-masing

    ReplyDelete
  18. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas postingan di atas. Peran dan eksistensi jargon subjek hanya takut terkalahkan oleh objek. Dia sombong, dan pernuh rasa kekuasaan. Dia egois, namun pada akhirnya dia sadar diri. Sedangkan jargon objek, merasalah dirinya takut dan tertekan dengan adanya jargon subjek. Dia begitu rendah hati dan tahu diri. Dia tidak mampu mendeklarasikan dan memproduksi berbagai jargon-jargonnya karena medianya telah dikuasai jargon subjek. Pengibaratan yang cukup membingungkan sebenarnya bagi saya. Namun, yang dapat saya tangkap adalah manusia tidak akan mampu menguasai segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada, apalagi dengan cara dan alat yang tidak adil, culas, penuh keserakahan, egois dan penuh kepercayaan dirinya. Namun, andai saja manusia itu sadar, bahwa disisi lain nafsu buruk nya itu terhadap bisikan malaikat yang mampu menuntu dia menjadi manusia yang lebih baik, bijak, rendah hati, jujur, adil dan berbuat kebaikan lainnya. Maka janganlah manusia itu berbuat melebihi batas dan memaksakan kehendak, karena sebenar-benar penguasa hanyalah Allah swt. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  19. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Semakin kita memperdalam suatu ilmu, maka tidak akan ada ujungnya ilmu itu. Maka dari itu mencari ilmu pun tidak dibatasi. Ya, saling terjemah dan diterjemahkan merupakan kunci untuk hidup harmonis. Antara subyek maupun obyek memerlukna jargonnya masing-masing untuk mempertahankan apa yang ingi dipertahankan. Merek pun tidak sadar bahwa subyek dan obyek memiliki hubungan bukan? Rasa egois yang sedang menyelimuti percakapan tersebut tanpa “mengaca” terlebih dahulu tentang apa yang dimiliki dan dibutuhkan dirinya. Allah Maha Tahu dan Bijaksana.

    ReplyDelete
  20. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Walaupun berfungsi sama, namun jargon subjek berbeda dengan jargon objek. Ini memberikan pelajaran bahwa segala sesuatu didunia ini berbeda dan seharusnya kita saling menghargai perbedaan yang ada. Untuk ketercapaian suatu hal, diperlukan segala sesuatu yang sesuai termasuk subjek dan objek yang sesuai dengan ketercapaian yang ingin diraih.

    ReplyDelete
  21. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    setiap orang mempunyai hak dan kewajiban berbeda-beda dalam berbagai hal. Misalnya dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Tugas masing-masing adalah menghargai hak dan kewajiban orang lain. Tidak mengganggu hak dan kewajiban orang lain. Namun kalau mau membantu orang lain untuk mendapatkan hak dan kewajibannya sah-sah saja. Jika setiap hak dan kewajiban seseorang terpenuhi maka dunia akan damai.

    ReplyDelete
  22. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Walau sudah jelas keduanya saling membutuhkan, tak jarang sifat ingin lebih unggul muncul. Jargon subyek merasa tanpa dirinya, jargon obyek akan binasa. Begitu pula sebaliknya. Tanpa disadari, keduanya akan binasa jika saling mereduksi. Maha besar Allah SWT menciptakan sebuah kehidupan yang tak pernah runtuh hingga kiamat yang dijanjikan suatu hari nanti, karena apabila pertengkaran seperti ini terjadi antara jargon obyek dan subyek, terjadi pula pada mitos dan logos, maka dunia akan hancur karena sifat saling ingin menjatuhkan. Kehidupan kita telah diatur sedemikian rupa sehingga bisa berjalan berkesinambungan dan berhermeneutika dalam ruang dan waktu, jargon obyek maupun subyek hendaknya berjalan berdampingan sebagai anggota jargon.

    ReplyDelete
  23. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Adanya obyek ternyatta dipengaruhi adanya subjek. Serta adanya subjek dipengaruhi oleh adanya objek. Antara subjek dan objek saling berhubungan satu sama lainnya. Jika tidak ada objek maka tidak ada subjek. Dalam hal ini, pra subjek sebenarnya ingin memberikan jargon yang tepat bagi diri mereka sendiri. Sebenar-benarnya jargon mereka adalah megabaikan jargon objek. Sebenar benarnya jargon objek juga mengabaikan jargon subjek. Namun jika dilihat, jarhon dari keduanya saling mempengaruhi satu sama lain. antara objek dan subjek memiliki sifat kontradiktif. Namun dari sifat kontradiktif tersebut, mereka saling mebutuhkan satu sama lain untuk menggambarkan keadaan mereka di ruang dan waktu ini.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  24. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Tuhan telah menciptakan segala sesuatu memenuhi tempat dan kedudukannya. oleh karena itu perlu diperhatikan batasan-batasan yang dimiliki. agar segala kedamaiannya dapat terjaga. seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa jargon dan subjek memiliki kedudukannya masing-masing. keduanya juga memiliki jargon yang kedudukannya sebagai penguat akan posisi masing-masing. namun keduanya juga tetap pada batasannya.

    demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  25. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Pada dasarnya Tuhan sudah menciptakan sesuai dengan porsinya, kedudukannya, dan posisinya. Jangan sampai melewati porsi yang telah ditentukan karena akan membuat perpecahan. Setiap porsi memiliki batasan dan batasan tersebut harus dipatuhi demi kenyamanan bersama. Seperti hal nya subyek dan obyek yang memiliki batasan masing-masing. Namun keduanya juga memiliki upaya untuk memperkuat dirinya agar tidak terpengaruh hal lain. Oleh karena itu, seliranya kita memiliki rasa saling menghormati satu dengan yang lain agar tercapai persatuan.

    ReplyDelete
  26. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Dari tulisan tersebut, hal yang dapat saya simpulkan adalah bahwa dalam hidup ini kita harus mengetahui posisi kita, jangan mendominasi, merasa berkuasa, padahal kekuasaan yang hakiki adalah hanya milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  27. Muhammad Kamaluddin
    17709251027
    PMB PPs UNY 2017

    Manusia diciptakan dalam kondisi yang tidak benar-benar sempurna. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Setiap orang mempunyai cara tersendiri untuk menunjukkan kelebihannya dan memiliki pertahanan diri masing-masing untuk menutupi kekurangannya. Oleh sebab itu, sudah sepantasnya bagi kita untuk bertindak bijak dan melakukan segala sesuatu sesuai dengan aturan Tuhan. Diantaranya dengan menghargai orang lain dan saling bertoleransi, tidak saling menyombongkan kelebihan yang kita miliki, serta tidak merendahkan orang lain.

    ReplyDelete
  28. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Dari tulisan tersebut, hal yang dapat saya ambil adalah bahwa dalam hidup ini kita tidak boleh sombong, merasa paling berkuasa, dan semena-mena, karena ingatlah bahwa kekuasaan yang mutlak itu hanya milik Allah.

    ReplyDelete
  29. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Subyek dan Obyek masing-masing saling melengkapi. Subyek tanpa obyek maka akan kacau menentukan sasaranya. Begitupula obyek tanpa subyek akan kacu pelakunya. Oleh karena itu, suyek dan obyek harus menguasai jargonya masing-masing. Sehinga mereka dapat sadar, dengan fungsingnya masing-masing sebagai subyek dan obyek. Janganlah subyek dan obyek melepesakan jargonnya. Namun kita sebagai manusia haruslah mengingat dan menyakini, bahwa sebenar-benarnya subyek atau penguasa yang absolut adalah subyek Tuhan. Terimakasih

    ReplyDelete
  30. Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    Tulisan bapak mengenai jargon di atas sungguh menginspirasi. Dalam kehidupan manusia selalu mencari / mengali ilmu tentang kehidupan manusia itu sendiri. Semakin mencari, terkadang manusia semakin tidak mengerti mengenai kehidupan manusia itu sendiri. Setiap obyek – subyek memerlukan jargon untuk mempertahankan keberadaannya dalam kehidupan manusia itu sendiri. Terdapat batasan diantara jargon subyek dan obyek itu sendiri oleh pikiran manusia itu sendiri. Maka sesungguhnya yang sebenar-benarnya dari semua subyek dari jargon adalah Allah SWT.

    ReplyDelete
  31. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B
    Setelah membaca elegi jargon pertengkaran antara subyek dan obyek hal yang dapat saya pahami adalah bahwa segala macam objek dan subjek yang ada di dunia ini memiliki jargonnya masing-masing. Terkadang dari setiap jargon-jargon tersebut memiliki perbedaan atau ketidaksesuaian antara yang satu dengan yang lainnya. Jargon tersebut berguna untuk menjelaskan karakteristik sesuatu dari suatu hal di dunia ini, dan jargon yang dimiliki seseorang atau suatu obyek maupun subyek tidak akan sama dengan jargon lainnya. Namun, setinggi-tingginya jargon yang dimiliki oleh setiap yang ada di dunia ini tidaklah akan bisa melebihi batas dari yang memiliki dan yang berkuasa atas kehidupan ini.

    ReplyDelete
  32. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Subyek dan obyek merupakan dua hal yang saling melengkapi. Subyek tidak akan ada jika tanpa obyek, obyek pun juga tidak akan ada jika tanpa subyek. Subyek menguasai obyek dan obyek dikuasai oleh subyek. Subyek membutuhkan jargon untuk memantapkan dirinya sebagai subyek, begitu juga dengan obyek membutuhkan jargon untuk melindungi dirinya sebagai obyek. Setiap yang ada dan mungkin ada relatif kedudukannya, bisa sebagai obyek bisa pula sebagai subyek. Oleh karen itu, jadilah sebaik-baik subyek maupun obyek sesuai dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  33. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Subyek dan obyek sebenarnya merupakan sua hal yang tidak dapat terpisahkan. Subyek memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai subyek. Obyek memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ada batas dimana subjek adalah objek. Subjek tidak boleh berlaku semena- mena terhadap para objek. Karena tiadalah manusia bisa menjadi subjek sejati, ada kalanya manusia akan menjadi objek. Maka tidaklah pantas jika ketika menjadi subjek manusia bersikap sombong.

    ReplyDelete
  34. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Sifat manusia yang terbatas sesuai kemampuannya. Pada suatu saat bisa dianggap menguntungkan subyek dan disisi lain merugikan subyek yang lain. Penilaian sesorang terhadap sesuatu itu bisa sama namun tak menutup kemungkinan juga berbeda tergantung dari keadaan, peran dan fungsi sesuatu tersebut terhadap orang yang menilainya.

    ReplyDelete
  35. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Antara subyek dan obyek ada hubungan yang menurut saya tak dapat dipisahkan. Keduanya saling berpengaruh dan mempengaruhi. Oleh sebab itu, subyek sebagai yang berkuasa atas obyek seyogyanya mampu memberikan kebaikan-kebaikan kepada si obyek. Demikian pula obyek sebagai yang dikenai tindakan seharusnya dapat lebih bisa memposisikan diri agar mampu mendapat kebaikan yang optimal. Miasalnya saja dalam proses pembelajaran di kelas. Guru (subjek) sebagai pengelola dan pengatur pembelajaran perlu memperhatikan kondisi siswa. Siswa (objek) yang telah mempunyai bekal pengetahuan dan kemampuan awal tentu tidak begitu saja menerima apa yang diajarkan oleh guru. Guru perlu mencari metode pembelajaran yang tepat agar siswa dapat belajar dengan baik.

    ReplyDelete
  36. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Elegi ini senada dengan elegi pertengkaran antara standard dan proses. Keduanya mengingatkan kita untuk berhemenetika dalam kehidupan yaitu menterjemahkan dan diterjemahkan. Jangan biarkan kita selalu ingin diakui namun tidak mengakui. Jangan pula kita bertindak di luar batas karena sesungguhnya itu akan mengancam kita menjadi mitos dan berada dalam kesombongan. Oleh karena itu, kita bisa saling memahami kedudukan masing-masing sehingga antara keduanya dapat saling hidup berdampingan.

    ReplyDelete
  37. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Tak ada kesejatian yang melekat pada manusia sebagai subyek, pun manusia sebagai objek. Masing-masing terhalang oleh sebuah garis yang disebut batasan. Hal yang perlu dilakukan adalah bagaimana memahami dan dipahami atas setiap yang ada dan mungkin ada. Sehingga rasa syukur akan selalu terpatri sebagai hamba yang terus mengharap keridhoan-Nya.

    ReplyDelete
  38. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Masing – masing objek dan subjek memilki jargon sendiri – sendiri. Oleh karena itu kunci agar bisa berdampingan dengan damai, adalah selalu terjemah dan menterjemahkan. Bau perpecahan di Indonesia saat ini mulai semakin menyebar. Dari mulai perpecahan akibat berbeda sekolahan hingga mengakibatkan tawuran antar pelajar, tawuran akibat beda klub sepakbola yang didukung, hingga perpecahan akibat politik. Semoga kita senantiasa terhindar dari perpecahan.

    ReplyDelete
  39. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Untuk membangun suatu kalimat yang bermakna (hidup) maka suatu subjek dan objek harus di sandingkan. Jargon subjek sebagai suatu yang dominan tidak lantas harus menggunakan jargon-jargon yang tidak baik seperti berbohong, bertopeng, atau yang sekarang lebih ramai dibicarakan yaitu jargon pencitraan. Bertindaklah sesuai keadaan yang sebenarnya, tidak perlu membuat jargon-jargon yang bertentangan dengan jargon yang dibangun diawal seperti jargon subjek jujur, peduli, adil, bijaksana. Jargon objek sebagai aspek tambahan yang tak dapat dipisahkan senantiasa dengan kerendahan mereka berusaha mempertahankan eksistensinya dengan segala jargon jargon mereka seperti jargon peduli, patuh, jujur. Dan itu membuat mereka tetap bertahan walau posisi mereka di bawah bayang-bayang jargon subjek.

    ReplyDelete
  40. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Subjek dan objek adalah dua hal yang saling berdampingan dan berkaitan. Subjek akan jauh bermakna apabila memiliki objek dan begitu pula sebaliknya. Keduanya saling menerjemahkan dan diterjemahkan. Mereka ada dan mengada, karena itulah masing-masing memiliki jargon. Jargon sebaiknya digunakan dalam hal-hal positif dan bukan hanya sekedar kedok atau kamuflase.

    ReplyDelete
  41. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Membaca elegi ini mengingatkan saya pada konsep subyektif dan obyektif dalam dunia penelitian (Research), kuantitatif yang kental dengan obyektivitasnya dan kualitatif yang terkenal dengan subyektifitas sebagai kelemahannya. Namun dibalik itu semua, terdapat poin positif di setiap jargon. dan kesemuanya itu ada untuk melengkapi semesta raya ini, karenasecara spiritual Tuhan telah menciptakn segala sesuatu dengan berpasng-pasangan sehingga tiadalah subyek tanpa obyek dan obyek pun tidak lengkap tanpa adanya subyek. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  42. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Ketahuilah bahwa sebenarnya tidak ada pertengkarran, yang ada adalah saling memahi kedudukan masing-masing, tidak melampaui batas. Subejk dan objek memiliki kedudukan masing-masing dan tentunya saling mengadakan. Subjek memiliki jargon sendiri dan objekpun demikian, harmoni terjadi jika terjadi komunikasi antara subjek dan objek.

    ReplyDelete
  43. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Siswa sebagai subjek belajar memiliki jargon sendiri, jargon untuk mampu menguasai objek. Objek belajar siswa bisa berbagai macam, salah satunya objek matematika. Matematika sendiri mempunyai banyak bagian objek yang bisa dipelajari ole siswa. Sehingga sebenar-benar subjek adalah mampu memahami objek dengan baik, memperlakukannya dengan baik, dan menggunakannya dengan baik

    ReplyDelete
  44. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Menelaah kesimpulan yang diutarakan oleh orang tua berambut putih bahwa subyek dan obyek telah memiliki kedudukan sendiri-sendiri dalam kehidupan ini, serta dalam mencapai kedamaian antara subyek dan obyek ialah dengen membaca dan belajar, dengan demikian kita melatih diri kita untuk dapat menempatkan segala sesuatu di tempatnya dengan benar. Serta Tuhan yang menciptakan semesta ini menciptakannya dengan hikmah yang tak terukur dalamnya serta segala sesuatu telah dibagi tempat dan takdirnya serta masih dapat berubah seiring doa dan ikhtiarnya. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  45. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Subyek dan obyek merupakan dua hal yang saling melengkapi satu sama lain, bahkan jika tidak ada salah satunya maka tidak akan ada pula satu yang lainnya. Namun sesuai dengan penjelasan dalam artikel dan dihubungkan dengan kenyataan maka subyek yang kacau akan bertindak semena-mena terhadap obyeknya dengan jargon-jargon subyek yang telah dibuat. Hal ini dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari misal, seorang siswa yang kacau pikirannya akan menuliskan tugas-tugas tanpa membaca referensi terlebih dahulu hingga dia telah bertindak semena-mena terhadap obyeknya.

    ReplyDelete
  46. Latifah Fitriasari
    PM C

    Subyek digambarkan sebagai ketua dan obyek digambarkan sebagai anggota. Ketua dan anggota memiliki perannya masing-masing dan keduanya saling membutuhkan. Ada simbol pemimpin dan anggota. Jadi masalahnya apa yang ada di elegi ini adalah hanya seperti dalam kehidupan. Dalam hal ini juga dapat dilihat dalam kenyataan bahwa ada seorang pemimpin yang sangat arogan, tidak mengayomi anggotanya, dan berlaku dengan sewenang-wenang. Sehingga ia memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai standar dan proses memerlukan jargon untuk melindungi dirinya.

    ReplyDelete
  47. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Setelah membaca dialog di atas, hasil dari pemikiran saya bahwa yang disebut subyek ialah pemimpin atau penguasa, sedangkan oyek adala bawahan atau anggota, bisa juga sebagai suatu karya yang dihasilkan oleh subyek. Dalam kehidupan sehari-hari kekuasaan pemimpin tentu lebih dominan dari pada anggota. Hal ini akan berdampak baik apabila dalam memimpin dilakukan dengan penuh rasa tanggungjawab dan amanah. Namun akan menjadi buruk apabila pemimpin memiliki sifat otoriter dan serakah sehingga mendominasi dan menindas anggotanya. Begitu pula sebaliknya, seorang anggota memiliki tanggungjawab untuk mengikuti perintah ketua atau pemimpinnya. Apabila pemimpin itu baik maka patut untuk diikuti, tetapi jika pemimpin itu tida baik maka kita tidak boleh berdiam diri dan mengikuti perbuatan tida baik tersebut. kita dalam kehidupan bermasyarakat pasti berperan sebagai subyek maupun obyek. Marila kita menjadi subyek dan atau obyek yang sesuai dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  48. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Sejatinya segala sesuatu itu memiliki jargon baik subjek dan objek. Namun terdapat perbedaan dimana sebenarnya yang namanya subjek itu cenderung memiliki berbagai macam sifat yaitu ia adil, patuh, jujur, namun juga dilain pihak memiliki sifat terhormat, harus wibawa, jangan tampakkan kelemahanmu, tutupilah kesalahanmu, yang dilain pihak akan menimbulkan sifat – sifat yang tidak baik. Kemudian jargon obyek pun memiliki sifat yaitu melindungi, menolong, dan cenderung tertindas sehingga berupaya bagaimanapun untuk terhindar dari subyek yang tidak baik.
    Ini dapat diibaratkan subyek yang guru sewenang-wenagng dan murid sebagai obyek yang pasrah. Namun sejatinya diperbatasan sana sejatinya subyek adalah obyek dan obyek adalah subyek.

    ReplyDelete
  49. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Subjek dan objek memiliki kedudukan yang berbeda. Setiap subjek dan objek memiliki macam macam jenisnya. Mereka saling memiliki jaragon yang saling menguatkan kedudukannya. Maka solusi untuk menengahi hal ini adalah dengan saling memahami dengan cara saling menerjemahkan dan diterjemahkan. Dengan begitu subjek dan objek akan saling menguatkan.

    ReplyDelete
  50. ILania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Baik subjek maupun objek sama-sama berhak memiliki jargon masing-masing. Seharusnya subjek dan objek harus saling memiliki keterkaitan. Mereka harus berjalan seimbang dan saling melengkapi. Objek bukanlah apa-apa jika tidak ada subjek, begitu pun sebaliknya, subjek bukanlah apa-apa jika tidak ada objek. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana subyek dan obyek dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan agar objek dan subjek saling memahami jargonnya masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sama subyek itu adalah obyek, dan obyek itu adalah subyek

    ReplyDelete
  51. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Ternyata antara subyek dan obyek sama-sama memerlukan jargon. Subyek memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai subyek, sedangkan obyek memerlukan jargon untuk melindungi dirinya. Allah SWT maha bijaksana sehingga menciptakan makhluknya untuk saling berdampingan. Demikian juga dengan subyek dan obyek dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya.

    ReplyDelete
  52. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Sebagai subyek ataupun obyek adalah tergantung dimana ruang dan waktu kita berada, ada kalanya kita menjadi subyek dan ada kalanya kita menjadi obyek. Kita memiliki semua jargon subyek jika kita menjadi subyek dan kita memiliki semua jargon obyek ketika kita menjadi obyek. Oleh karenanya pandai-pandailah dalam menempatkan diri. Harus mengerti dimana saat ini ruang dan waktu kita berada.

    ReplyDelete
  53. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Subjek selalu menggunakan jargonnya untuk mengancam kedudukan obyek, sedangkan obyek selalu terancam kedudukannya oleh para subyek. Dalam hal ini subyek hendaknya tidak selalu berpikir bahwa dialah yang terhebat dan berkuasa atas obyek. Padahal subyek dan obyek hanya masalah penempatan raung dan waktu saja. Ada kalanya subyek suatu saat nanti akan menjadi obyek, hal itu terjadi ketika para subyek berubah menjadi daksa. Oleh karena, itu bagi subyek tidak boleh terlalu sombong. Kehidupan ini berputar bagai roda, kadang diatas dan kadang pula di bawah.

    ReplyDelete
  54. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Jargon pertengkaran antara subjek dan objek menjelaskan bahwa dalam hidup kita akan saling membutuhkan seperti halnya subjek yang membutuhkan objek dan objek yang membutuhkan subjek. Tidak hanya dalam filsafat, terkait dengan kehidupan sehari-hari kita menjadi guru karena kita memiliki siswa, dan seseorang menjadi siswa karena mereka memiliki gur, dan banyak lagi contohnya. Pada dasarnya bahwa kita akan saling membutuhkan satu sama lain, apalagi kita sebagai makhluk sosial, yang tidak bisa hidup sendiri meski sehebat apapun kita akan selalu membutuhkan orang lain.

    ReplyDelete
  55. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Tuhan menciptakan segala sesuatu di muka bumi itu memiliki makna dan maksud nya masing-masing, sesuai dengan ruang dan waktunya. Objek bertugas untuk melengkapi subjek, namun suatu saat pada ruang dan waktunya objek pun dapat menjadi subjek. Namun janganlah karena kita sudah berhasil menjadi pengada/subjek itu maka kita berlaku sombong karena subjek sejati hanyalah Tuhan YME. Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  56. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Setelah membaca jargon tersebut, dapat saya pahami bahwa setiap manusia diciptakan dengan keunikannya masing-masing oleh Allah SWT. Karena itulah yang menyebabkan adanya keberagaman dalam kehidupan. Setiap individu atau pun kelompok memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Selain itu, setiap dari mereka pasti memiliki kepentingan dan tujuan masing-masing. Kepentingan dan tujuan itu bisa saja berbeda atau tidak berbeda dengan individu atau kelompok yang lainnya. Maka solusi yang terbaik adalah berupaya untuk saling menerjemahkan dan diterjemahkan. Upaya saling menghargai dan menghormati kepentingan sesama.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  57. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Selain itu, membangun sikap tenggang rasa di atas perbedaan-perbedaan juga perlu. Bila tidak ada sikap-sikap tersebut maka akan banyak tindakan atau perilaku yang akan berpotensi menyebabkan kekacauan. Apalagi adanya jargon-jargon khusus dari para pemilik jargon yang merupakan salah satu wujud keunikan masing-masing si empunya jargon. Bila tidak ada sikap saling memahami maka jargon-jargon tersebut akan membuat kerusuhan atau kekacauan. Karena antara satu jargon dengan jargon lainnya dimungkinkan sangat berlawanan prinsipnya dan memiliki ambisinya masing-masing. Kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan di atas keberagaman memanglah sangat diperlukan sebagai wahana untuk mewujudkan keharmonisan hidup bersama.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  58. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    subyek dan obyek merupakan sesuatu yang saling berkaitan. keduanya dihubungkan oleh jargon. jargon peting untuk memunculkan obyek, karena jika tidak ada jargon maka obyek tidak dapat muncul. jenting bagi subyek karena tidak lengkap jika yang dilakukan subyek tidak ada obyeknya.

    ReplyDelete
  59. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas sya merefleksi bahwa objek dan subjek memiliki kedudukan masing-masing dan saling berhubungan. Objek dan subjek itu memiliki hubungan menterjemahkan dan diterjemahkan. Jika salah satu dari objek maupun subjek berdiri sendiri maka mereka akan kehilangan makna.

    ReplyDelete
  60. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Subyek dan juga obyek keduanya memiliki jargon sendiri sendiri. Subyek tmembutuhkan obyek untuk melengkapinya agar menjadi lengkap. Sedangkan obyek membutuhkan subyek untuk memperkuat kedudukannnya sebagai subyek. Masing-masing dari kedua itu memiliki jargon sendiri-sendiri.

    ReplyDelete
  61. Woro Alma Manfaati
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241002

    Obyek dan subyek merupakan dua hal yang saling berkaitan. Subyek memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukan sebagai subyek, sedangkan obyek memerlukan jargon untuk melindungi dirinya. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika obyek dan subyek saling menerjemahkan. Sebab sesungguhnya subyek itu adalah obyek dan obyek adalah subyek. Sebagai manusia itu tidak akan pernah menjadi subyek sejati, hanya Allah lah sebenar-benarnya subyek absolut.

    ReplyDelete