Sep 20, 2013

Jargon Pertengkaran antara Subyek dan Obyek




Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, subyek itu obyek dan obyek itu subyek,...dst. Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia. Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon subyek dan jargon obyek. Wahai jargon subyek dan jargon obyek dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon subyek kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon obyek kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?

Jargon subyek:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon subyek. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada obyek agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para obyek tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.

Jargon obyek:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon obyek. Saya menyadari bahwa jargon para subyek itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada subyek agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para subyek. Ketahuilah tiadalah subyek itu jika tidak ada obyek.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon subyek. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon subyek:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon subyek. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi obyek pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada obyek. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada obyek maka kedudukanku sebagai subyek akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi subyek yang kuat, yaitu sebear-benar subyek. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai subyek sejati maka aku harus mengelola semua obyek sedemikian rupa sehingga semua obyekku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar obyek selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para obyek. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para obyek. Dari pada jargon obyek menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon subyek, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para anggotamu menyampaikan kepadaku.

Jargon subyek ketua :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon subyek ketua. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai anggota. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai ketua. Ketika aku menjadi ketua maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai anggota. Maka setelah aku menjadi ketua aku mulai kehilangan jargon anggota, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon ketua. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai ketua, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai anggota itu harus jujur, sebagai anggota itu harus peduli, sebagai anggota harus patuh, sebagai anggota harus bijak. Begitu aku menemukan para anggotaku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai ketua. kekuasaanku sebagai ketua itu mengalir melalui jargon-jargonku: sebagai ketua itu harus jujur, sebagai ketua itu harus peduli, sebagai ketua itu harus adil, sebagai ketua itu harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: ketua harus terhormat, ketua harus wibawa, jangan tampakkan kelemahanmu, tutupilah kesalahanmu..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai ketua adalah: berbohong demi kebaikan, tidak adil demi keadilan, menghukum demi membebaskan..dst. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai ketua terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para obyek. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai ketua. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon subyek ketua. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon subyek ketua, agar diketahui oleh para obyek-obyekku. Seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya aku manfaatkan untuk memproduksi jargon-jargonku.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon obyek. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon obyek:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon obyek. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para subyek. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada subyek. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada subyek maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu tergantung sepenuhnya oleh subyek-subyekku. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para subyek. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai obyek sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para subyek. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para subyek. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para subyek. Tetapi aplah dayaku sebagai obyek. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap menjadi obyeknya para jargon subyek.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon obyek, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para anggotamu menyampaikan kepadaku.

Jargon obyek anggota :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon obyek anggota. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai anggota. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku mempunyai ketua baru. Ketika aku mempunyai ketua baru aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai anggota. Maka setelah aku mempunyai ketua aku mulai kehilangan jargon anggota, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon ketua. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai anggota yang hakiki, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai anggota itu harus jujur, sebagai anggota itu harus peduli, sebagai anggota harus patuh, sebagai anggota harus bijak. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan ketuaku itu mengalir melalui jargon-jargon ketua: sebagai ketua itu memang harus jujur, sebagai ketua itu memang harus peduli, sebagai ketua itu memang harus patuh, sebagai ketua itu memang harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa ketuaku tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: ketua harus melindungi anggota, ketua harus menolong anggota, dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai anggota adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya status itu, ketua itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: semua manusia itu tidak pada hakekatnya sama saja, maka demi menjaga statusku sebagai anggota sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para subyek. Agar aku selamat dari penindasan para jargon subyek. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai anggota. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon obyek anggota. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon obyek anggota, agar aku bisa berlindung dari ancaman para subyek. Aku ternyata tidak bisa menggunakan seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku. Jangankan memproduksi jargon, untuk menghindar dari jargon subyek saja kerepotan ketika saya berada di forum-forum itu.

Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Subyek memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai subyek, sedangkan obyek memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuha itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana subyek dan obyek dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan wahai engkau para subyek dan obyek agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sama subyek itu adalah obyek, dan obyek itu adalah subyek. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Dengan ini aku peringatkan kepada subyek. Janganlah engkau bertindak melebihi batas. Tiadalah manusia itu pernah menjadi subyek sejati. Sebenar-benar subyek absolut adalah Tuhan YME. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.

25 comments:

  1. Janu Arlinwibowo
    18701261012
    PEP 2018

    Pada hakikatnya hidup ini telah didesain indah oleh Maha Pencipta. Kehidupan telah diatur sehingga menghasilkan untaian bagian secara harmoni. Semua dari tiap bagian memiliki porsi dan bagian masing-masing. Yang menjadi masalah adalah sikap menanggapi keberadaan. Terkadang ego mendominasi sehingga pikiran-pikiran negative mendorong untuk bertingkah tidak bijaksana.

    ReplyDelete
  2. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Jargon diperlukan oleh semuanya. Jargon diperlukan oleh subyek dan jargon juga diperlukan oleh obyek. Subyek tidak boleh semena-mena dan menganggap bahwa jargon hanyalah miliknya, karena obyek juga berhak untuk memiliki jargon juga. Subyek memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai subyek, sedangkan obyek memerlukan jargon untuk melindungi dirinya. Sesungguhnya subyek dan obyek bisa hidup bersama. Misalnya saja ketika sedang membuat sebuah kalimat akan ada subyek dan obyek sebagai penjelasnya. Walaupun sebuah kalimat bisa saja tanpa adanya obyek, tetapi sesungguhnya degan adanya obyek dapat lebih membantu memperjelas dari kalimat tersebut. Hal ini bukan berarti subyek dapat semena-mena terhadap obyek, tapi mereka juga harus saling melengkapi dan memperjelas satu dengan yang lainnya.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  3. Falenthino Sampouw
    18709251006
    S2 Pendidikan Matematika

    Selamat siang, Prof.
    Objek dan subjek pada prinsipnya adalah penting dan tak bisa dipisahkan. Mereka sudah dijodohkan dan mereka pun saling menterjemahkan dan saling diterjemahkan. Dalam penggunaannya sesuatu itu bisa menjadi subyek dan juga bisa menjadi objek. Misalnya diri saya sendiri, saya adalah subyek ketika saya menjadi pelaku dalam suatu aktivitas berpikir. Namun, saya bisa menjadi obyek ketika saya menjadi bahan yang dipikirkan oleh orang lain. Menjadi obyek dan subjek adalah ditinjau dari kedudukannya. Sehingga masing-masing mereka tak perlu jargon yang terlalu dominan satu terhadap yang lain.
    Terima kasih, Prof.

    ReplyDelete
  4. Rindang Maaris Aadzaar
    18709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Segala sesuatu memerlukan jargon. Sebagai subyek, subyek memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai subyek. Sebagai obyek, obyek memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai obyek. Tuhan yang maha adil dan bijaksana juga menciptakan subyek dan obyek agar bisa hidup bersama-sama berdasarkan jargon-jargonnya masing-masing. Setiap jargon akan lenyap diperbatasan pikiran masing-masing. Hal ini menjadi peringatan kepada subyek agar tidak bertindak melebihi batas karena tidak akan subyek menjadi subyek sejati jika bukan dari kuasa Tuhan YME.
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  5. Septia Ayu Pratiwi
    18709251029
    S2 Pendidikan Matematika B

    Subjek dan objek merupakan dua hal yang berbeda tetapi saling berhubungan. Subjek membutuhkan objek, dan sebaliknya objek membutuhkan subjek. Akan tetapi seringkali salah dipahami bahwa subjek adalah kuasa dari objek. Masing-masing dari subjek dan objek mempunyai tempatnya sendiri-sendiri. Sehingga keduanya membutuhkan jargonnya masing-masing. Seperti diuraikan diatas bahwa subjek merupakan pelaku dan objek adalah yang diberikan perlakuan. Ketika pelaku tidak memiliki objek perlakuan maka ia dikatakan tidak mempunyai tindakan, begitu juga dengan objek jika tidak memiliki subjek perlakuan maka ia tidak memiliki perlakuan. Jargon subjek dan objek memiliki batasannya masing-masing, sehingga keduanya tidak dapat saling melampaui satu sama lain.

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  7. Amalia Nur Rachman
    18709251042
    S2 Pendidikan Matematika B UNY 2018

    Antara subyek dan obyek sangat erat kaitannya namun mempunyai jargon yang tidak harus sama. Jargon subyek diperlukan untuk mengukuhkan kedudukannya sebagai subyek. Sedangkan jargon obyek diperlukan untuk menjaga kedudukan dirinya sendiri. Banyak contoh yang dapat kita ambil antara subyek dan obyek tersebut. Walaupun subyek dan obyek mempunyai jargon yang berbeda secara relatif maka antara perbedaan tersebut, obyek dan subyek akan dapat saling melengkapi satu sama lain

    ReplyDelete
  8. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Subjek dan objek merupakan dua hal yang saling berkaitan. Subjek adalah pelaku yang melakukan suatu tindakan, sementara objek adalah pihak yang dikenai suatu tindakan. Sehingga subjek dan objek mempunyai kedudukan masing-masing dan keduanya saling berkaitan tidak dapat dipisahkan. Dalam kehidupan, subjek identic dengan pihak yang berkuasa, sedangkan objek identic dengan pihak yang lemah. Namun, tidak selamanya objek akan menjadi objek, dan tidak selamanya pula subjek akan menjadi subjek. Karena di dunia ini tidaklah ada subjek sejati. Oleh karena itu sebagai manusia kita harus bijaksana dalam bertindak dan menempatkan diri. Baik itu sebagai subjek maupun sebagai objek.

    ReplyDelete
  9. Samsul Arifin / 18701261007 / S3 PEP 2018

    Walaupun berperan berbeda,subjek dan objek merupakan dua hal yang tercipta untuk berpasangan dan saling melangkapi. Tidak ada subyek klau tidak ada obyek..Subyek membutuhkan obyek, dan sebaliknya obyek membutuhkan subyek. Jadi tidak ada yang saling menguasai atau berkedudukan lebih tinggi.Keduanya mempunyai peran dan tempatnya sendiri-sendiri dengan jargonnya sendiri-sendiri pula. Jargon keduanya mempunyai batasan masing-masing, sehingga tidak akan tumpang tindih dan harus saling melengkapi diantara suyek dan obyek tersebut.

    ReplyDelete
  10. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006
    PEP S3


    Jargon akan hilang di batas pikiranmu. Apakah ini menandakan bahwa jargon akan hilang jika kita membatasi pikiran, Prof?

    ReplyDelete
  11. Fabri Hidayatullah
    18709251028
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Adanya subyek dan obyek saling berkaitan. Ada obyek karena adanya subyek, demikian pula ada subyek karena ada obyek. Di waktu yang lain, mungkin saja subyek dikatakan menjadi obyek dari subyek yang lain, dan obyek dikatakan sebagai subyek dari obyek yang lain. Misalnya saja guru, guru dapat bertindak sebagai subyek dan juga sekaligus sebagai obyek. Namun disini bukan berarti subyek berkuasa terhadap obyek. Kedudukan subyek dan obyek sama-sama pentingnya, tergantung pada dimensi ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  12. Rosi Anista
    18709251040
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr wb
    Tuhan menciptakan semua yang ada di bumi berpasang-pasangan, tanpa terkecuali seperti ada objek pasti ada subjek. Subjek dan objek adalah dua hal yang sudah saling melengkapi. Keduanya mempunyai keistimewaan masing-masing tanpa harus menutupi keistimewaan dari masing-masing lainnya.

    ReplyDelete
  13. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PPs UNY PM A 2018

    Jargon pertengkaran subjek dan objek banyak terjadi dalam kehidupan kita. Pertengkaran terjadi karena ada perbedaan kepentingan. Sehingga untuk dapat bekerja sama maka dibutuhkan saling pengertian antar subjek dan objek. Saling pengertian akan menciptakan kondisi yang sinergi dan positif karena subjek dan objek adalah dua hal yang saling membutuhkan dan saling melengkapi.

    ReplyDelete
  14. Totok Victor Didik Saputro
    18709251002
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Selamat pagi Prof.
    Subjek dan objek adalah dua hal yang saling melengkapi. Objek diperlukan oleh subjek begitu pula sebaliknya. Pertengkaran antara keduanya dapat terjadi karena sifat iri dan egois yang dimiliki keduanya. Pertengkaran ini menciptakan mitos baru yang terus berkembang sehingga menjadi mitos-mitos lainnya. Hal ini sangatlah berbahaya bagi subjek dan objek. Hal ini dapat terjadi karena subjek dan objek belum mampu mengenal satu sama lain dan memposisikan diri tidak pada ruang dan waktunya. Terima kasih.

    ReplyDelete
  15. SUHERMI
    18709251007
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA A

    Subjek dan objek saling berhubungan karena adanya kepentingan. Pertengkaran terjadi karena adanya perbedaan kepentingan antara kedua pihak. Saling memahami dan bertindak sesuai dengan posisi masing-masing akan menciptakan keharmonisan antara subjek dan objek.

    ReplyDelete
  16. Herlingga Putuwita Nanmumpuni
    18709251033
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Subyek dan obyek memiliki hubungan, keduanya mungkin akan sulit untuk dipisahkan satu sama lain. Subyek dan obeyek adalah dua hal yang berkaitan. Subyek adalah hal yang diterangkan atau dikatakan sebagai pelaku atas suatu kejadian. Subyek akan selalu menimpakan sifat-sifat kepada obyeknya. Obyek adalah hal, perkara, atau orang yang menjadi pokok pembicaraan. Dapat pula dikatakan keduanya bisa dikatakan saling menjatuhkan sifat satu sama lainnya.

    ReplyDelete
  17. Surya Shofiyana Sukarman
    18709251017
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Subjek dan objek mempunyai jargonnya sendiri-sendiri. Dimana jargon pada subjek digunakan untuk memantapkan diri sedangkan jargon pada objek untuk melindungi para objek. Namun, sering kali subyek sering bersifat egois dengan memaksakan jargonnya kepada obyek. Perlu disadari bahwa obyek juga memiliki jargon. Namun jargon dari para obyek sering kali diacuhkan karena kesombongan para subyek. Sesungguhya subjek dan objek itu saling terkait dan saling melengkapi, karena keduanya saling menerjemahkan dan diterjemahkan.

    ReplyDelete
  18. Elsa Apriska
    18709215005
    S2 PM A 2018

    Subjek dan objek keduanya adalah hal yang tak dapat dipisahkan. Subjek memerlukan objek begitu pula objek memerlukan subjek. Dan antara subjek dan objel keduanya juga memerlukan jargon. Dari elegi di atas saya memahami bahwa untuk mempertahankan keberadaanya para subjek membuat jargon-jargon yang terkadang tidak sesuai dengan dirinya yang akhirnya mereka terjebak dalam mitos. Hal inilah yang menyebabkan pertengkaran para subjek dan para objek. Oleh karena itu untuk menghidndari pertengkaran itu diperlukan jargon-jargon yang saling sesuai untuk keduanya.

    ReplyDelete
  19. Nur Afni
    18709251027
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    Para jargon subjek dan jargon objek tidaklah harus saling bedebat. Karena keduanya mempunyai makna untuk menerjemahkan dan diterjemahkan. Jargon subjek untuk menerjemahkan sifat dari subjek sedangkan subjek dapat menerjemahkan jargon. Begitupun dengan jargon objek. Namun keduanya mempunyai batasan masing-masing. Fungsinya untuk menjaga, melindungi dan mempertahankan diri baik sebagai diterjemahkan ataupun menerjemahkan. Keduanya adalah kuasa dari Tuhan yang maha esa yang tidak dapat diganggu gugat. terimakasih

    ReplyDelete
  20. Dita Aldila Krisma
    18709251012
    PPs Pendidikan Matematika A 2018

    Baik subjek maupun objek, masing-masing memiliki fungsi dan makna. Dirasa tidak perlu memilih mengunggulkan salah satu diantaranya karena subjek dapat menjadi objek dan objek bisa menjadi subjek. Bagaimana subjek dapat melakukan suatu hal tanpa adanya objek? Dan bagaimana objek dapat menjadi bermakna bila tidak ada objek? Keduanya diciptakan agar bisa bersinergi dan berguna.

    ReplyDelete
  21. Deden Hidayat
    18709251032
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Subjek dan objek merupakan dua hal yang saling berhubungan. Objek adalah sesuatu yang dikenai pekerjaan oleh sebuah subjek. Untuk dapat memahami satu dengan yang lainnya sebuah subjek maupun objek harus saling menerjemahkan. Hal tersebut bertujuan agar subjek dan objek dapat hidup bersama-sama dalam jargon masing-masing.

    ReplyDelete
  22. Hasmiwati
    18709251023
    S2 Pend.Matematika B 2018

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Menarik sekali artikel “Jargon Pertengkaran antara Subyek dan Obyek”. Dari artikel diatas yang dapat saya pahami bahwasannya dalam hidup ini semuanya mempunyai kebalikan. Ada baik ada buruk, ada tua ada muda, ada senang ada sedih, dan lain sebagainya. Begitu pula dengan subjek dan objek. Subjek dan objek saling berkaitan antara keduanya. Subjek dapat menjadi objek dan objek dapat pula menjadi subjek. Sama halnya dengan perilaku dan tindakan kita. Apa yang kita lakukan itu adalah pilihan karena pada dasarnya hidup ini adalah pilihan.

    ReplyDelete
  23. Hasmiwati
    18709251023
    S2 Pend.Matematika B 2018

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Artikel di atas membahas tentang subyek dan obyek. Subyek digambarkan sebagai ketua dan obyek digambarkan sebagai anggota. Ketua dan anggota memiliki perannya masing-masing dan keduanya saling membutuhkan. Tidak akan ada ketua tanpa anggota dan tidak akan ada anggota tanpa ketua. Dalam melakukan suatu pekerjaan, ketua membutuhkan anggota, begitu pula anggota membutuhkan ketua, sehingga keduanya harus bekerja sama agar dapat mencapai hasil yang optimal.

    ReplyDelete
  24. Hendra b
    18701261008
    PEP S3 2018

    pertengakaran terjadi karena adanya sedikit ketidak slelarasan jargon subyek dan jargon obyek dalam memahami dirinya sendiri. Manusia adalah makhlus sosial yang tentunya membutuhkan orang lain tak ada yang tunggal di dunia ini kecuali Allah swt. Maka jargon obyek dan jargon subyek dibalik pertengkarannya sesungguhnya mereka bisa hidup secara berdampingan dalam mewujudkan perdamaian dunia, terkhsus pada bagian perkembangan ilmu.

    ReplyDelete
  25. Sintha Sih Dewanti
    18701261013
    PPs S3 PEP UNY

    Subjek dan objek merupakan dua hal yang berbeda tetapi keduanya saling berhubungan dan saling membutuhkan. Subjek membutuhkan objek, begitu sebaliknya objek membutuhkan subjek. Dalam tulisan ini disebutkan bahwa “Subyek memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai subyek, sedangkan obyek memerlukan jargon untuk melindungi dirinya”. Berpikir merupakan subjek dari filsafat akan tetapi tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Subjek filsafat adalah seseorang yang berpikir atau memikirkan hakekat sesuatu dengan sungguh dan mendalam. Objek filsafat dapat berwujud suatu barang atau dapat juga subjek itu sendiri. Misalnya “saya” berpikir tentang diri saya sendiri maka objeknya adalah subjek itu sendiri.

    ReplyDelete