Sep 20, 2013

Elegi Jejaring Stigma




Oleh Marsigit

Awama:
Haha..hehe..haha..hehe. Ternyata nikmat itu tidak harus karena makan, minum atau uang.

Praktika:
Wahai Awama, bolehkah aku tahu apa yang menyebabkan engkau merasa nikmat bukan karena makan, minum atau uang.

Awama:
Kata orang sekarang lagi banyak stigma.

Praktika:
Apakah stigma itu?

Awama:
Aku sendiri tidak tahu. Tetapi kata orang yang membuat aku merasa nikmat itu disebut sebagai stigma.

Awama dan Pratika:
Wahai Cantraka, dapatkah engkau menjelaskan apakah yang disebut sebagai stigma itu?

Cantraka:
Kenapa engkau bertanya perihal itu kepadaku?

Awama dan Pratika:
Bukankah namamu itu Cantraka. Dari namamu saja aku bisa menebak bahwa engkau adalah seorang yang suka mencari hakekat. Maka jika engkau berkenan berikanlah penjelasan kepadaku kenapa pula banyak orang sekarang bicara perihal stigma?

Cantraka:
Sebetulnya apa yang terjadi pada dirimu, sehingga engkau bertanya perihal yang demikian? Wahai Awama apakah yang membuatmu gembira sekarang ini, coba ceritakan kepadaku?

Awama:
Aku tidak tahu apakah aku gembira atau tidak. Yang jelas aku bersemangat.

Cantraka:
Kenapa engkau bersemangat?

Awama:
Begini, tetapi ini rahasia. Jangan dikatakan kepada siapapun. Katanya itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Dst..dst...pokoknya asyik dheh.

Cantraka:
lalu kenapa engkau bersemangat.

Awama:
Lho la iya ta. Kan semua orang ingin tahu. Jadi termasuk aku pun ingin tahu. Jika aku tahu, kan jadi banyak orang ingin bertanya kepadaku. Bukankah ditanya banyak orang itu menjadi hak istimewa yang banyak dicari orang?

Pratika:
Wahai Awama, engkau sedang bicara apa dengan Cantraka. Kenapa bicaramu cenderung ngegosip? Bolehlah aku ikut mengetahuinya?

Awama:
Itulah buktinya wahai Cantraka, maka selama aku simpan pengetahuanku itu maka telah terbukti bahwa Pratika pun selalu mengejar-kejar diriku. Dia ingin selalu bertanya kepadaku. Bukankah hal demikian membuatku gembira. Itulah kenikmatanku dengan tanpa makan, minum atau dibayar dengan uang. Tetapi kenapa ada orang mengatakan bahwa diriku itu sedang termakan stigma? Sementara ada orang lain mengatakan baha stigma itu adalah sesuatu yang tidak baik?Jadi pikiran dan hatiku agak ragu apakah sebetulnya aku gembira, bersemangat atau gelisah? Maka jika boleh aku ingin bertanya kepadamu wahai Cantraka.

Cantraka:
Jikalau aku menjadi kamu wahai Awama, maka kemudian akupun mempunyai cukup alasan untuk kemudian mengatakan bahwa aku gembira dan bersemangat dan kemudian merasakan kenikmatan dikarenakan engkau bertanya kepada diriku.

Cantraka:
Wahai Pratika, aku sebetulnya enggan menjawab pertanyaanmu. Jangankan menjawab pertanyaanmu, mengulangi apa yang dikatakan oleh Awama saja aku enggan. Bukankah engkau tadi mendengar bahwa Awama telah mengabarkan bahwa itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal.

Pratika:
Wahai Canraka, janganlah engkau mengaku sebagai cantraka karena engkau itu sebetulnya juga sama saja dengan banyak orang. Engkau juga sama saja dengan Awama, karena engkau telah juga mengatakan bahwa itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal.

Cantraka:
Wahai Pratika, maafkanlah daku aku tadi tidak menyadari bahwa aku juga telah mengatakan seperti apa yang diwartakan oleh Awama. Berarti menurut banyak orang aku juga sudah terkena stigma. Padahal ketahuilah bahwa seluruh hidupku itu aku tujukan bahwa aku selalu terbebas dari stigma. Tetapi bukankah engkau juga telah mengatakan seperti apa yang diwartakan oleh Awama itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Berarti engkau juga sudah termakan stigma.

Awama dan Pratika:
Wahai Cantraka, dari pada kita mutar-mutar, jelaskan saja kepadaku apakah artinya stigma itu? Tetapi aku ragu jika engkau menjawabnya. Aku ragu apakah engkau bisa menjawabnya. Karena engkau sendiri ternyata juga telah terkena stigma.

Cantraka:
Betul juga apa yang engkau ragukan. Pengetahuanku tentang stigma ternyata lain dengan perkataanku tentang stigma. Pengetahuanku tentang stigma ternyata lain dengan sikapku tentang stigma. Tetapi baiklah, aku mempunyai teman yang bernama Candraka. Dia itu mempunyai pengetahuan yang selalu lebih dalam dan lebih luas dariku. Lagi pula dia belum terkena stigma.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai Candraka, bolehkah engkau menjelaskan kepadaku apa artinya stigma. Konon menurut beberapa orang aku bertiga ini sedang terkena stigma.

Candraka:
Wahai Awama, Pratika dan Candraka, dengarkan dulu. Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku ingin menyampaikan khabar kepadamu. Katanya itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Lho..lho..lho...ternyata Candraka telah tahu ta? .. bahwa itu.. si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Wahai Candraka..bagaimana engkau tahu perihal berita itu? Berarti engkau juga telah terkena stigma.

Candraka:
Au tidak peduli aku itu terkena stigma atau bukan, tetapi aku merasakan kenikmatanku mendengar semua pertanyaanku. Dengan pengetahuanku perihal ini ternyata engkau bertiga berbondhong-bondhong berusaha bertanya kepadaku. Itulah kenikmatanku. Tetapi tidak hanya itu saja. Kenikmatanku semakin bertambah karena aku itu sebetulnya tidak suka dengan Ahilu. Maka entah salah entah benar, apapun yang terjadi maka berita ini tentu akan merugikan Ahilu. Hal yang demikian ternyata telah menambah semangatku. Ketahuilah bahwa aku juga telah menyebarkan berita-berita ini kepada orang-orang yang bukan sembarang orang. Ketahuilah bahwa Pampilu juga telah mengetahui berita ini.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Wah..wah..gawat...dari pada kita terjebak di sini..ayo kita pergi saja.

Candraka:
Hai engkau bertiga, mau kemanakah engkau itu? Engkau tidak kuasa seenaknya pergi begitu saja tanpa seijinku. Ketahuilah bahwa kita semua berada dibawah kekuasaan Pampilu. Terserah kepada Pampilu akan bertindak apa terhadap kita. Pampilu juga betulbetul telah mengatahui si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Tetapi di atas Pampilu kita masih mempunyai Rakata sebagai penguasa kita. Aku tidak tahu apakah Rakata telah mengetahui hal yang demikian itu. Tetapi aku ragu jika mengatakan hal yang demikian kepada Rakata, karena mengetahui dan tidak mengetahui bagai Rakata, maka sikap dan perbuatannya dapat menentukan hidup matinya kita semua.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai Candraka, lalu bagaimana sikap kita?

Candraka:
Aku juga bingung. Jika aku sampaikan kepada Rakata maka keadaanya bisa runyam. Maka tunggulah aku ingin bertanya saja kepada sang Bagawat di Kutarunggu. Wahai sang Bagawat, berikanlah kepadaku dan kepada teman-temanku apa yang dimaksud dengan stigma, lalu bagaimana kita sebaiknya menghadapi stigma.

Bagawat:
Wahai muridku semua. Ketahuilah bahwa stigma itu adalah untaian langit dan bumi. Jikalahu itu perihal langit maka itulah hatiku. Jika perihal bumi maka itulah pikiranku. Maka sebenar-benar stigma adalah untaian pikiran dan hatiku.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai guru, aku belum jelas perihal penjelasanmu itu?

Bagawat:
Ketahuilah sebenar-benar hidup adalah stigma dan sebenar-benar stigma adalah hidup. Tiadalah hidup itu sebenar-benar baik bagi semua orang, maka sebenar-benar baik bagi hidup semua orang hanyalah milik sang Kuasa.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai guru, aku belum jelas perihal penjelasanmu itu?

Bagawat:
Jika engkau belum juga jelas perihal penjelasanku maka itu semata-mata dikarenakan dimensimu. Ketahuilah hidup yang satu bisa menjadi stigma yang lain. Maka bagi sipelaku atau si subyek stigma, bukanlah stigma itu berlaku bagi dirinya. Jika aku definisikan stigma sebagai sifat yang tidak baik, bukankah manusia itu mempunyai ukurannya sendiri bagi kebaikkannya. Kebaikan seseorang bisa menjadi keburukan orang lain. Maka dengan sekejap, yang engkau rasakan sebagai stigma belumlah tentu itu merupakan stigma bagi orang lain.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Bagaimanakah apakah sebaiknya semua orang-orang perlu mengetahui stigma itu?

Bagawat:
Pengetahuan tentang stigma itu sesuai dengan peruntukkannya. Jika itu membawa mudhlarat kepadamu maka sebaiknya engkau tidak perlu terlalu bersemangat untuk mengetahuinya. Maka aku tidak terlalu setuju dengan pendapat si Awama bahwa stigma itu memberi nikmat. Tidaklah perlu bagai seseorang sama dalam memikirkan stigma dengan perkatannya dan perbuatannya.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Lalu bagaimana kita bersikap menghadapi stigma?

Bagawat:
Urakanlah stigma itu ke dalam 2 (dua) unsur utamanya, yaitu pikiran dan hatinya. Berpikir kritislah menghadapi stigma dan bernuranilah dalam menyikapinya.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Apa untungnya mengetahui stigma?

Bagawat:
Untungnya mengetahui stigma adalah agar engkau mengerti sopan santun. Karena stigma itu adalah pengetahuan tentang sebagian hidup dan masyarakatmu. Jika engkau mengetahui hal yang demikian maka engkau dikatakan mempunyai pengetahuan. Dengan pengetahuanmu itulah maka engkau dapat bersopan santun.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Apa ruginya mengetahui stigma?

Bagawat:
Ruginya mengetahui stigma adalah merugikan si subyek dalam stigma.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Apa bahayanya mengetahui stigma.

Bagawat:
Bahayanya mengetahui stigma adalah jika engkau adalah orang yang berkuasa terhadap si subyek stigma. Karena kekuasaanmu itulah maka engkau dapat mencelakakan sipelaku stigma, padahal yang demikian itu belumlah tentu benar adanya.

6 comments:

  1. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 PMC 2017

    Stigma, stigma dan stigma. Semua tergantung kepada bagaimana manusia dalam menyikapinya. Ketika manusia bisa lebih bijak dalam menyikapi semakin banyak ia mengetahui stigma maka akan menjadi sebuah pembelajaran dalam kehidupannya sehingga ia senantiaasa menjadi insan yang lebih baik.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Kita tau bahwasannya Stigma yang diperoleh setiap orang berbeda. Stigma bisa menjadi hal yang baik jika kita hanya menjadikannya sebagai pengetahuan saja dan mampu mengambil hikmah baiknya sehingga kita bisa menyikapi terhadap permasalhan yang ada dalam kehidupan. Berfilsafat memang sejatinya mampu membuat hati kita menjadi tenang, itu akan terjadi jika hati kita bersih dalam berfilsafat. Tetapi ketika hati kita sudah kotor, semua akan mudah untuk menjadi rusak.

    ReplyDelete
  4. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamu Alaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Wahai, betapa hidup ini penuh dengan stigma. Stigma-stigma tersebut berseliweran menyapa hari-hari kita. Baik dan buruknya bergantunglah pada siapa yang menemuinya. Stigma sesungguhnya ada dalam diri kita sendiri. terletak antara hati dan pikiran kita. di sini dibutuhkan kemampuan kita dalam mengiolahnya agar hati dan pikiran kita mencapai mufakat dalam menghadapi stigma. Karena sekali lagi baik dan buruknya kita menghadapi stigma ini bergantung dari hasil olah pikir dan rasa kita. semoga Allah senantiasa melindungi kita dari segala bentuk keburukan. Aamiin.

    ReplyDelete
  5. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini hal yang saya pelajari adalah kebijaksanaan dalam menghadapi stigma. Stigma muncul itu karena penilaian lingkungan, dan penilaian lingkungan itu muncul dari informasi yang beredar dan di sandingkan dengan nilai-nilai yang berlaku di lingkungan. Salah satu manfaat kita mengetahui/mempelajari stigma yang beredar di masyarakat adalah kita bisa mengetahui nilai-nilai yang beredar di masyarakat sehingga kita bisa menyesuaikan diri dengan nilai-nilai tersebut, akan tetapi hal buruk bisa terjadi pada orang yang melekat dengan stigma tersebut.

    ReplyDelete
  6. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. Seperti yang kita tahu, stigma adalah pencitraan buruk terhadap seseorang karena suatu faktor, misalnya lingkungan. Maka berbahayalah bagi kita jika termasuk golongan yang memasang stigma pada orang lain padahal belum pasti kebenarannya.

    ReplyDelete