Sep 20, 2013

Elegi Jejaring Stigma




Oleh Marsigit

Awama:
Haha..hehe..haha..hehe. Ternyata nikmat itu tidak harus karena makan, minum atau uang.

Praktika:
Wahai Awama, bolehkah aku tahu apa yang menyebabkan engkau merasa nikmat bukan karena makan, minum atau uang.

Awama:
Kata orang sekarang lagi banyak stigma.

Praktika:
Apakah stigma itu?

Awama:
Aku sendiri tidak tahu. Tetapi kata orang yang membuat aku merasa nikmat itu disebut sebagai stigma.

Awama dan Pratika:
Wahai Cantraka, dapatkah engkau menjelaskan apakah yang disebut sebagai stigma itu?

Cantraka:
Kenapa engkau bertanya perihal itu kepadaku?

Awama dan Pratika:
Bukankah namamu itu Cantraka. Dari namamu saja aku bisa menebak bahwa engkau adalah seorang yang suka mencari hakekat. Maka jika engkau berkenan berikanlah penjelasan kepadaku kenapa pula banyak orang sekarang bicara perihal stigma?

Cantraka:
Sebetulnya apa yang terjadi pada dirimu, sehingga engkau bertanya perihal yang demikian? Wahai Awama apakah yang membuatmu gembira sekarang ini, coba ceritakan kepadaku?

Awama:
Aku tidak tahu apakah aku gembira atau tidak. Yang jelas aku bersemangat.

Cantraka:
Kenapa engkau bersemangat?

Awama:
Begini, tetapi ini rahasia. Jangan dikatakan kepada siapapun. Katanya itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Dst..dst...pokoknya asyik dheh.

Cantraka:
lalu kenapa engkau bersemangat.

Awama:
Lho la iya ta. Kan semua orang ingin tahu. Jadi termasuk aku pun ingin tahu. Jika aku tahu, kan jadi banyak orang ingin bertanya kepadaku. Bukankah ditanya banyak orang itu menjadi hak istimewa yang banyak dicari orang?

Pratika:
Wahai Awama, engkau sedang bicara apa dengan Cantraka. Kenapa bicaramu cenderung ngegosip? Bolehlah aku ikut mengetahuinya?

Awama:
Itulah buktinya wahai Cantraka, maka selama aku simpan pengetahuanku itu maka telah terbukti bahwa Pratika pun selalu mengejar-kejar diriku. Dia ingin selalu bertanya kepadaku. Bukankah hal demikian membuatku gembira. Itulah kenikmatanku dengan tanpa makan, minum atau dibayar dengan uang. Tetapi kenapa ada orang mengatakan bahwa diriku itu sedang termakan stigma? Sementara ada orang lain mengatakan baha stigma itu adalah sesuatu yang tidak baik?Jadi pikiran dan hatiku agak ragu apakah sebetulnya aku gembira, bersemangat atau gelisah? Maka jika boleh aku ingin bertanya kepadamu wahai Cantraka.

Cantraka:
Jikalau aku menjadi kamu wahai Awama, maka kemudian akupun mempunyai cukup alasan untuk kemudian mengatakan bahwa aku gembira dan bersemangat dan kemudian merasakan kenikmatan dikarenakan engkau bertanya kepada diriku.

Cantraka:
Wahai Pratika, aku sebetulnya enggan menjawab pertanyaanmu. Jangankan menjawab pertanyaanmu, mengulangi apa yang dikatakan oleh Awama saja aku enggan. Bukankah engkau tadi mendengar bahwa Awama telah mengabarkan bahwa itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal.

Pratika:
Wahai Canraka, janganlah engkau mengaku sebagai cantraka karena engkau itu sebetulnya juga sama saja dengan banyak orang. Engkau juga sama saja dengan Awama, karena engkau telah juga mengatakan bahwa itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal.

Cantraka:
Wahai Pratika, maafkanlah daku aku tadi tidak menyadari bahwa aku juga telah mengatakan seperti apa yang diwartakan oleh Awama. Berarti menurut banyak orang aku juga sudah terkena stigma. Padahal ketahuilah bahwa seluruh hidupku itu aku tujukan bahwa aku selalu terbebas dari stigma. Tetapi bukankah engkau juga telah mengatakan seperti apa yang diwartakan oleh Awama itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Berarti engkau juga sudah termakan stigma.

Awama dan Pratika:
Wahai Cantraka, dari pada kita mutar-mutar, jelaskan saja kepadaku apakah artinya stigma itu? Tetapi aku ragu jika engkau menjawabnya. Aku ragu apakah engkau bisa menjawabnya. Karena engkau sendiri ternyata juga telah terkena stigma.

Cantraka:
Betul juga apa yang engkau ragukan. Pengetahuanku tentang stigma ternyata lain dengan perkataanku tentang stigma. Pengetahuanku tentang stigma ternyata lain dengan sikapku tentang stigma. Tetapi baiklah, aku mempunyai teman yang bernama Candraka. Dia itu mempunyai pengetahuan yang selalu lebih dalam dan lebih luas dariku. Lagi pula dia belum terkena stigma.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai Candraka, bolehkah engkau menjelaskan kepadaku apa artinya stigma. Konon menurut beberapa orang aku bertiga ini sedang terkena stigma.

Candraka:
Wahai Awama, Pratika dan Candraka, dengarkan dulu. Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku ingin menyampaikan khabar kepadamu. Katanya itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Lho..lho..lho...ternyata Candraka telah tahu ta? .. bahwa itu.. si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Wahai Candraka..bagaimana engkau tahu perihal berita itu? Berarti engkau juga telah terkena stigma.

Candraka:
Au tidak peduli aku itu terkena stigma atau bukan, tetapi aku merasakan kenikmatanku mendengar semua pertanyaanku. Dengan pengetahuanku perihal ini ternyata engkau bertiga berbondhong-bondhong berusaha bertanya kepadaku. Itulah kenikmatanku. Tetapi tidak hanya itu saja. Kenikmatanku semakin bertambah karena aku itu sebetulnya tidak suka dengan Ahilu. Maka entah salah entah benar, apapun yang terjadi maka berita ini tentu akan merugikan Ahilu. Hal yang demikian ternyata telah menambah semangatku. Ketahuilah bahwa aku juga telah menyebarkan berita-berita ini kepada orang-orang yang bukan sembarang orang. Ketahuilah bahwa Pampilu juga telah mengetahui berita ini.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Wah..wah..gawat...dari pada kita terjebak di sini..ayo kita pergi saja.

Candraka:
Hai engkau bertiga, mau kemanakah engkau itu? Engkau tidak kuasa seenaknya pergi begitu saja tanpa seijinku. Ketahuilah bahwa kita semua berada dibawah kekuasaan Pampilu. Terserah kepada Pampilu akan bertindak apa terhadap kita. Pampilu juga betulbetul telah mengatahui si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Tetapi di atas Pampilu kita masih mempunyai Rakata sebagai penguasa kita. Aku tidak tahu apakah Rakata telah mengetahui hal yang demikian itu. Tetapi aku ragu jika mengatakan hal yang demikian kepada Rakata, karena mengetahui dan tidak mengetahui bagai Rakata, maka sikap dan perbuatannya dapat menentukan hidup matinya kita semua.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai Candraka, lalu bagaimana sikap kita?

Candraka:
Aku juga bingung. Jika aku sampaikan kepada Rakata maka keadaanya bisa runyam. Maka tunggulah aku ingin bertanya saja kepada sang Bagawat di Kutarunggu. Wahai sang Bagawat, berikanlah kepadaku dan kepada teman-temanku apa yang dimaksud dengan stigma, lalu bagaimana kita sebaiknya menghadapi stigma.

Bagawat:
Wahai muridku semua. Ketahuilah bahwa stigma itu adalah untaian langit dan bumi. Jikalahu itu perihal langit maka itulah hatiku. Jika perihal bumi maka itulah pikiranku. Maka sebenar-benar stigma adalah untaian pikiran dan hatiku.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai guru, aku belum jelas perihal penjelasanmu itu?

Bagawat:
Ketahuilah sebenar-benar hidup adalah stigma dan sebenar-benar stigma adalah hidup. Tiadalah hidup itu sebenar-benar baik bagi semua orang, maka sebenar-benar baik bagi hidup semua orang hanyalah milik sang Kuasa.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai guru, aku belum jelas perihal penjelasanmu itu?

Bagawat:
Jika engkau belum juga jelas perihal penjelasanku maka itu semata-mata dikarenakan dimensimu. Ketahuilah hidup yang satu bisa menjadi stigma yang lain. Maka bagi sipelaku atau si subyek stigma, bukanlah stigma itu berlaku bagi dirinya. Jika aku definisikan stigma sebagai sifat yang tidak baik, bukankah manusia itu mempunyai ukurannya sendiri bagi kebaikkannya. Kebaikan seseorang bisa menjadi keburukan orang lain. Maka dengan sekejap, yang engkau rasakan sebagai stigma belumlah tentu itu merupakan stigma bagi orang lain.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Bagaimanakah apakah sebaiknya semua orang-orang perlu mengetahui stigma itu?

Bagawat:
Pengetahuan tentang stigma itu sesuai dengan peruntukkannya. Jika itu membawa mudhlarat kepadamu maka sebaiknya engkau tidak perlu terlalu bersemangat untuk mengetahuinya. Maka aku tidak terlalu setuju dengan pendapat si Awama bahwa stigma itu memberi nikmat. Tidaklah perlu bagai seseorang sama dalam memikirkan stigma dengan perkatannya dan perbuatannya.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Lalu bagaimana kita bersikap menghadapi stigma?

Bagawat:
Urakanlah stigma itu ke dalam 2 (dua) unsur utamanya, yaitu pikiran dan hatinya. Berpikir kritislah menghadapi stigma dan bernuranilah dalam menyikapinya.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Apa untungnya mengetahui stigma?

Bagawat:
Untungnya mengetahui stigma adalah agar engkau mengerti sopan santun. Karena stigma itu adalah pengetahuan tentang sebagian hidup dan masyarakatmu. Jika engkau mengetahui hal yang demikian maka engkau dikatakan mempunyai pengetahuan. Dengan pengetahuanmu itulah maka engkau dapat bersopan santun.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Apa ruginya mengetahui stigma?

Bagawat:
Ruginya mengetahui stigma adalah merugikan si subyek dalam stigma.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Apa bahayanya mengetahui stigma.

Bagawat:
Bahayanya mengetahui stigma adalah jika engkau adalah orang yang berkuasa terhadap si subyek stigma. Karena kekuasaanmu itulah maka engkau dapat mencelakakan sipelaku stigma, padahal yang demikian itu belumlah tentu benar adanya.

29 comments:

  1. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A

    Stigma adalah pandangan negatif terhadap orang lain. Stigma adalah sebenar-benarnya hidup dan sebenar-benarnya hidup adalah stigma. Dari elegi ini bagaimana manusia dalam hidup bisa menanggapi stigma adalah mengetahui stigma sesuai peruntukannya. Ketika stigma itu membawa mudlarat maka tidak perlu terlalu memahaminya. Dalam menghadapi stigma gunakan pikiran dan hati. Berpikir kritis dalam menanggapi stigma dan bernuranilah dalam menyikapinya. Karena ketika manusia merasa stigma itu untuk dirinya maka akan ada dua hal yang terjadi. Pertama, manusia akan termakan oleh stigama sehingga akan menjadi penghambat dalam hidupnya karena dia tidak bisa menggunakan pikiran dan hatinya dalam menghadapi stigma. Kedua, stigma akan menjadi motivasi bagi dirinya. Dia akan berusaha menunjukan bahwa stigama yang melekat pada dirinya adalah tidak benar. Sehingga dia akan terus berusaha menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dita Aldila Krisma
      18709251012
      PPs Pendidikan Matematika A 2018

      Stigma jelas mempengaruhi berlangsungnya kehidupan, Stigma menjadikan subjek atau objek didiskualifikasi dari kehidupan sosial, mereka mengalami stigmatisasi individu. Aspek-aspek yang mempengaruhi stigma (sosial) diantaranya nilai-nilai sosial, factor structural, apek budaya, dan harga diri.

      Delete
  2. Ady Ferdian Noor
    DikDas S3 / 18706261004

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Hidup manusia selalu bergelut dengan pikiran dan hati. Pikiran dan hati adalah stigma. Stigma memunculkan pandangan bahwa apa yang di stigma kan yaitu hal-hal yang negatif. Hal-hal yang negatif selalu dicari-cari orang untuk menstigma orang itu sendiri. Tetapi ingat, hidup itu hanya milik Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan akan menilai kita dari bagaimana cara berpikir kita bisa menanggapi stigma berdasarkan hati nurani. Stigma yang menimbulkan ketidakbaikkan jauhi lah karena akan berdampak tidak baik juga bagi perkembangan dirimu. Tetapi tetaplah berdo'a agar kita selalu terhindar dari stigma orang lain tentang dirimu. Stigma merupakan pengetahuan tentang hidup dan sosial kemasyarakatanmu. Stigma dapat dimanfaatkan orang yang berkuasa apabila dia ingin menguasaimu. Logika dan rasional serta berdo'a agar stigma tersebut malah menjadi cermin diri untuk lebih baik lagi. Terima kasih.

    ReplyDelete
  3. Janu Arlinwibowo
    18701261012
    PEP 2018

    Dalam suatu kehidupan pasti mengenal baik dan buruk. Sedangkan nilai dari suatu kebaikan atapun keburukan adalah relatif, tergantung siapa yang menilainya. Penilaian bergantung dari sudut pandang individu yang melihatnya. Begitu pula dengan stigma dimana didefinisikan sebagai hal yang tidak baik. Ketidakbaikan suatu stigma tentu tidak berlaku secara universal karena pandangan tiap individu berbeda. Dalam hal ini yang perlu dilakukan adalah menanggapinya dengan bijak, ketika stigma memberikan pengaruh buruk maka jauhi tapi ketika tidak jangan dijadikan masalah.

    ReplyDelete
  4. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Sebenar-benar hidup adalah stigma dan sebenar-benar stigma adalah hidup. Tiadalah stigma yang bisa memberikan kebahagiaan bagi semua orang namun bisa juga memberikan penderitaan bagi orang lain. Apa yang menurut kita baik belum tentu menurut orang lain baik. apa yang membuat kita bahagia belum tentu membuat oang lain lain bahagia. Misalnya saja para koruptor. Mereka mengambil hak milik orang lain untuk menambah kekayaan dan bisa hidup bahagia. Banyak harta akan membuat hidupnya lebih mudah dan lebih baik, namun hal dapat merugikan orang lain. Orang yang dirugikan akan merasa teraniaya dan merasa tertindas. Apa yang seharusnya jadi miliknya tidak bisa menjadi dimilikinya. Hidup menjadi terasa tidak adil. Yang berbuat keburukan hidup bahagia sedangkan yang berbuat sesuatu yang baik malah teraniaya. Untuk itu, berpikir kritis dan bernuranilah agar dapat terhindar dari pengaruh stigma yang dapat merugikan orang lain.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

  6. Erma Zelfiana Surni
    18709251009
    S2. P.Matematika A 2018

    Assalamualaikum Wr. Wb
    Stigma merupakan persepsi negatif yang diberikan seseorang atau ditimpakan kepada orang lain sehingga apapun yang dilakukan dan apapun pemikiran orang tersebut dipandangnya negatif. Pada dasarnya stigma ini sangat susah bahkan bisa dikatakan tidak bisa lepas dari kehidupan manusia dikarenakan sifat pemikiran manusia yang terbatas dalam ketidakterbatan. Maksud dari terbatas dalam ketakterbatasan disini ialah terkadang manusia membatasi pemikiran dari pemikirannya yang tidak terbatas. Termakan oleh mitos-mitos baik mitos dari luar maupun mitos dari dalam dirinya sendiri dikarenakan ketidakmampuannya berikhtiar dalam hati dan pikirnya.
    Betapa berbahayanya stigma ini ketika ditimpakan kepada orang lain. Stigma sangat berpotensi besar membunuh karakter orang lain. Bisa dibayangkan orang yang jujur dan tidak pernah mencuri tiba tiba ditimpakan stigma, di cap sebagai pencuri betapa merupakan suatu penghinaan yang kekecewaannya bisa dibawanya sampai mati. Namun disisi lain adanya stigma justru membawa manfaat yaitu ketika stigma dijadikan latar belakang untuk memahami etika dan estetika dalam berperilaku dan bertindak. Tanpa stigma, orang akan seenaknya saja berbuat tidak berhati-hati dalam bertindak karena berpikir bahwa apapun yang dilakukannya termasuk perbuatan buruk sekalipun tidak akan mendapat cekaman stigma.
    Maka jadilah kita yang bijak dalam menggunakan stigma, ambil manfaatnya buang kemudaratannya.

    ReplyDelete
  7. Septia Ayu Pratiwi
    18709251029
    S2 Pendidikan Matematika B

    Stigma tidak akan pernah lepas dari kehidupan sehari-hari. Karena setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda-beda, maka stigma yang muncul di masyarakat pasti juga akan beragam. Stigma erat kaitannya dengan sesuatu yang negative. Stigma ini dapat berupa fitnah atau gossip yang digaungkan oleh seseorang kemudian dideterminkan kepada seseorang yang lain. Sehingga orang lain itu tersudut dengan adanya stigma masyarakt kepadanya. Bahkan ia bisa tersudut dan dikucilkan oleh masyarakatnya, jika mayoritas penduduk di sekitarnya percaya dengan stigma yang beredar. Hal tersebut sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup seseorang. Bahkan stigma tersebut dapat menyebabkan depresi yang berujung kematian. Meskipun begitu banyak orang yang lebih mempercayai stigma-stigma yang ada. Stigma tersebut memiliki kerugian terhadap objek dan pelaku stigma. Objek stigma merupakan korban dari praduga tak bersalah, yang mana ia akan merasa tersingkirkan dari lingkungannya. Mungkin ia juga akan merasakan tak punya harga di mata masyarakatnya meskipun sebenarnya ia tidak bersalah. Akan tetapi pembenaran dari si objek stigma tidak akan pernah mampu untuk menghapus stigma-stigma tentang dirinya. Sedangkan bagi si pelaku ia akan dikenai sanksi pidana dan sosial yang lebih berat dibandingkan si korban stigma atas pencemaran nama baik dan berita-berita yang tidak benar yang telah ia sebarkan. Oleh sebab itu, sebaiknya kita mulai berhusnudzon terhadap apa yang terjadi di sekitar kita karena dengan berstigma kita tidak akan pernah mendapatkan hal yang positif.

    ReplyDelete
  8. Falenthino Sampouw
    18709251006
    S2 Pendidikan Matematika

    Selamat malam, Prof.
    Stigma itu seperti halnya stempel yang diberikan pada suatu objek tertentu. Dengan stempel itu kita bahkan bisa berpresepsi tentang objek tersebut. Sangat berbahaya jika kita stigma yang bersifat negatif diberikan pada seseorang. Stigma yang kita buat tersebut bisa terus menyebar pada orang lain karena agen stigma yang merajalela dimana-mana. Akhirnya kitapun seakan mengontrol apersepsi orang berdasarkan stigma yang kita berikan. Betapa ngerinya hal ini terjadi dalam kehidupan seseorang.
    Terima kasih, Prof.

    ReplyDelete
  9. Rindang Maaris Aadzaar
    18709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Stigma pasti selalu akan ada dalam kehidupan sehari-hari dan sulit dihindari karena sifatnya yang fleksibel dan sulit diketahui bahwa hal yang kita hadapi adalah stigma. Stigma tentu saja harus dihindari dan untuk menghindarinya, seseorang harus tahu ciri-ciri stigma agar tidak mudah termakan stigma. Menghindari stigma sangat penting agar seseorang bisa menjadi orang yang lebih baik lagi dan terlihat sopan serta santun dari pada terlihat sebagai seseorang yang buruk yang ingin menguasai dunia dengan cara yang buruk.
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  10. Elsa Apriska
    18709251005
    S2 PM A 2018

    Stigma merupakan hal yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Saat seseorang sudah dikenai stigma, maka seakan-akan stigma itu menggambarkan orang tersebut, dan setiap orang akan berfikir mengenai orang tersebut sesuai stigma yang ditimpakan. Maka harus hati-hati dalam menjatuhkan stigma kepada orang lain. Dengan menjatuhkan stigma bisa menjadi pembunuhan karakter kepada seseorang. Bahkan pemberian stigma ini bisa terjadi tanpa kita sadari. Bahkan melalui ghibah pun stigma kepada seseorang bisa ditimpakan.

    ReplyDelete
  11. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Manusia memang cenderung senang berbicara dan senang mencari perhatian. Manusia cenderung senang jika dianggap penting. Yang patut dikhawatirkan adalah jika manusia terkena jebakan stigma. Senang membicarakan sesuatu di sana-sini, padahal belum jelas kebenarannya. Jebakan stigma barangkali serupa dengan hoax. Di jaman yang semakin maju seperti sekarang ini, informasi apa pun dapat sampai dari satu orang ke orang lain dengan sangat cepat. Namun jangan sampai kita asal mempercayai apa pun yang kita terima. Berfikir kritis dan menggunakan hati nurani dalam bertindak adalah jalan untuk terhindar dari hoax atau jebakan stigma.

    ReplyDelete
  12. Amalia Nur Rachman
    18709251042
    S2 Pendidikan Matematika B UNY 2018

    Sudut pandang dan pemikiran setiap orang pasti berbeda beda. Ketika kita menganggap sesuatu itu baik, belum tentu akan dianggap baik pula oleh orang lain. Semua ini bergantung pada stigma. Stigma dapat dimaknai sebagai suatu pandangan individu terhadap suatu hal yang bernilai positif maupun negative. Stigma muncul karena bekerjanya hati dan pikiran masing masing yang mengelola diri kita dengan cara yang berbeda setiap orangnya. Maka dari itu, dalam elegi jejaring stigma ini kita diajarkan untuk berpikir lebih jernih dan kritis serta menggunakan hati yang tulus ikhlas dalam menghadapi kehidupan

    ReplyDelete
  13. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006
    PEP S3


    Bahaya mengetahui stigma adalah ketika kita memiliki kekuasaan terhadap subjek stigma. Misalkan saja kita mengtetahui stigma dari siswa sedangkan kita adalah seorang guru. Sikap kita terhadap siswa akan berubah karena kita sudah mengetahui mengenai stigma. Untuk memastikan stigma tertentu, maka, kita harus melakukan penyelidikan lebih dalam sehingga kita tidak salah dalam menentukan sikap terhadap subjek stigma.

    ReplyDelete
  14. Fabri Hidayatullah
    18709251028
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Setelah saya membaca elegi ini, saya dapat melihat bahwa stigma itu relatif, bisa menjadi baik dan juga bisa menjadi buruk. Stigma bagi kita belum tentu merupakan stigma bagi orang lain. Sesuai dengan elegi ini, stigma dapat mengajarkan kita sopan santun terhadap ruang dan waktu. Namun, karena stigma ini sangat berbahaya bagi subyek dalam stigma, maka agar kita tidak terjebak dalam keburukan stigma, kita perlu menggunakan pikiran dan hati yang jernih sebagai petunjuk.

    ReplyDelete
  15. Rosi Anista
    18709251040
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr wb
    stigma erat kaitannya dalam kehidupan sosial atau hubungan manusia satu dengan yang lainnya. Stigma berupa anggapan masyarakat terhadap seseorang yang dianggap tercela padahal belum tentu kebenarannya. Sikap prasangka merupakan sikap yang cenderung emosional, tidak rasional.Akibat berprasangka maka hubungan dengan yang lain terganggu, terjadi ketegangan terus-menerus.

    ReplyDelete
  16. Totok Victor Didik Saputro
    18709251002
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Selamat pagi Prof.
    Perkembangan stigma yang diwujudkan oleh pelaku stigma layaknya virus. Virus menyebar dengan membelah diri sehingga melahirkan virus lainnya. Virus ini membangun jejaring baru dengan virus lainnya yang mempunya tujuan yang sama. Hal yang sama juga terjadi pada stigma. Stigma berkembang dan menghasilkan stigma baru yang mempunyai landasan pemikiran yang sama dengan stigma sebelumnya. Stigma inilah yang mempengaruhi pelaku stigma untuk selalu melahirkan stigma baru sehingga pelaku tersebut menimbulkan kebiasaan yang terus memproduksi stigma-stigma lainnya. Terima kasih.

    ReplyDelete
  17. SUHERMI
    18709251007
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA A

    Sudah menjadi kebiasaan manusia untuk senang berbicara. Dari berbicara tersebut, informasi beredar. Informasi tersebut ada yang benar dan ada yang tidak. Untuk informasi yang kurang benar atau tidak benar tersebut, muncullah stigma, atau sekarang lebih akrab dengan istilah hoax. Sebaiknya sekarang kita lebih berhati-hati ketika memperoleh informasi. Untuk lebih menggunakan daya berfikir dan hati nurani dalam menyerap suatu informasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dita Aldila Krisma
      18709251012
      PPs Pendidikan Matematika A 2018

      Stigma memang tidak bisa kita hindari karena kita terikat dengan ruang dan waktu. Sehingga berita hoax pun bisa mudah tersebar, namun ada upaya-upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah atau memiflter informasi mana berita asli dan mana berita bohong. Saying sekali bila kita termakan isu dan telah membuat stigma pada subjek atau objek tertentu. Cara-cara untuk mengidentifikasi berita diantaranya hati-hati dengan judul yang provokatif, cermat memahami isinya dan berpikir kritis, crosscheck dengan faktanya atau dengan sumber lain.

      Delete
  18. Surya Shofiyana Sukarman
    18709251017
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Stigma disini merupakan persepsi negatif seseorang. Setiap orang dapat terjerumus dalam stigm-stigma karena kurangnya pengetahuan dan kurangnya pemikiran terhadap asal stigma tersebut. Sehingga sebaik-baiknya seseorang adalah seseorang yang mampu berpikir kritis terhadap suatu stigma tanpa perlu terpengaruh lebih dulu. Berpikir kritis dan menggunakan hati nurani menjadi dasar untuk menghentikan jejaring dari stigma. Semoga kita tidak terjerumus dari dampak negatif adanya stigma itu. Amin ya Rabbal Alamin.

    ReplyDelete
  19. Herlingga Putuwita Nanmumpuni
    18709251033
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Stigma ialah berbagai pandangan orang yang menilai diri kita negatif, hal yang kita lakukan negatif sampai pemikiran kita negatif. Sebenarnya hampir setiap hari kita menerima stigma. Bisa dari teman, tetangga, orang lewat atau bahkan dari keluarga dan orang tua kita sendiri. Disebutkan pada elegi di atas bahwa mengetahui stigma memiliki keuntungan, kerugian, dan bahaya. Keuntungan mengetahui stigma ada kaitannya dengan sopan santun. Stigma itu adalah pengetahuan tentang sebagian hidup dan masyarakat. Jika kita mengetahui hal yang demikian maka kita dikatakan mempunyai pengetahuan dan dengan pengetahuan itulah maka kita dapat bersopan santun.

    ReplyDelete
  20. Deden Hidayat
    18709251032
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Stigma merupakan suatu pandangan negatif terhadap orang lain. Setiap orang memiliki stigma yang berbeda-beda terhadap orang lain. Stigma yang merupakan suatu pandangan negatif bisa menjadi hal yang baik bagi diri kita. Hal tersebut dapat terwujud jika kita mengambil suatu hikmah atau nilai-nilai dari stigma yang diberikan oleh orang lain sebagai wadah kita untuk memperbaiki diri. Oleh karena itu, kita harus memiliki pandangan bahwa tidak semua stigma bernilai negatif, karena negatif atau positifnya sesuatu tergantung dari pikiran kita.

    ReplyDelete
  21. Nur Afni
    18709251027
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    Stigma adalah sebuah pandangan negatif yang melekat pada diri seseorang. Penting juga untuk mengetahui stigma jika ada manfaatnya yaitu untuk mengerti sopan santun. Namun jika stigma tersebut lebih banyak ketidakmanfaatnya sebaiknya tidak perlu untuk dicari tahu dan dibahas karena stigma juga dapat merugikan pelaku yang menyandangnya yang kebenarannya belum tentu apalagi tidak benar-benar mengetahui kebenarannya. Olehnya stigma dapat dipandang sebagai manfaat dan juga bahaya. terimakasih

    ReplyDelete
  22. Dita Aldila Krisma
    18709251012
    PPs Pendidikan Matematika A 2018

    Hidup di zaman dimana informasi sangat mudah disebarluaskan dan tidak ketinggalan juga berita hoax pun mudah tersampaikan pada khalayak. Berita yang belum dapat dikonfirmasi kebenarannya dapat menimbulkan stigma terhadap subjek-subjek dan objek-objek tertentu. Bagaimana menderitanya subjek dan objek yang terkena stigma. Mereka menerima label atau cap dari sekililing padahal mereka belum tentu melakukan apa yang di tuduhkan.

    ReplyDelete
  23. Hasmiwati
    18709251023
    S2 Pend.Matematika B 2018

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Sebenar-benar hidup adalah stigma dan sebenar-benar stigma adalah hidup. Manusia tidak lepas dari kekurangan. Namun kekurangan itu tidaklah menjadi alasan untuk tidak bertindak dalam hal kebaikan. Kita sebagai manusia adalah milik sang pencipta yaitu Allah SWT. Dari elegi jejaring stigma tersebut dapat diketahui bahwa mengetahui stigma itu mempunyai keuntungan dan kerugiannya. Untungnya mengetahui stigma adalah agar engkau mengerti sopan santun. Karena stigma itu adalah pengetahuan tentang sebagian hidup dan masyarakat. Ruginya mengetahui stigma adalah merugikan si subyek dalam stigma.

    ReplyDelete
  24. Hasmiwati
    18709251023
    S2 Pend.Matematika B 2018

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Elegi Jejaring Stigma Stigma dikaitkan dengan hal-hal yang negatif. Apabila manusia terkena hal-hal yang negatif, maka dia dianggap terkena stigma. Seseorang yang telah terkena stigma maka dia akan diliputi oleh hawa nafsu yang negatif.

    ReplyDelete
  25. Kartianom
    18701261001
    S3 PEP 2018

    Setiap orang mempunya pandangan masihng-masing terhadap perilaku orang yang lain. Bisa jadi kita melihat seseorang dengan stigma negatif yang ada pada dirinya. Dan kita menjudge orang tersebut sebagai orang yang buruk. Padahal kita belum sepenuhnya mengenal orang tersebut. Apa yang kita lihat belum tentu hal yang sebenarnya terjadi. Untuk itu perlulah kita menjaga hati dari prasangka-prasangka buruk terhadap orang lain.

    ReplyDelete
  26. Hendra B.
    18701261008
    PEP S3 2018

    stigma itu membahayakan bagi pelaku, sehingga penting mengetahui stigma karena dari stigmalah kita belajar tentang sopan santun.

    ReplyDelete
  27. Sintha Sih Dewanti
    18701261013
    PPs S3 PEP UNY

    Dituliskan bahwa “Ketahuilah hidup yang satu bisa menjadi stigma yang lain. Maka bagi sipelaku atau si subyek stigma, bukanlah stigma itu berlaku bagi dirinya. Jika aku definisikan stigma sebagai sifat yang tidak baik, bukankah manusia itu mempunyai ukurannya sendiri bagi kebaikkannya. Kebaikan seseorang bisa menjadi keburukan orang lain.” Hal ini memang benar karena setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda terhadap suatu hal. Faktor utama yang membuat setiap orang mempersepsikan sesuatu secara berbeda-beda ialah pengalaman masa lalu. Misalnya pola asuh orang tua, budaya, dan letak geografis di mana seseorang tinggal dapat memengaruhi persepsi seseorang. Membangun jejaring stigma dapat diawali dari apa yang dipikirkan seseorang ketika menerima rangsangan, sedangkan pikiran seseorang secara umum terbentuk dari pengalaman masa lalunya.

    ReplyDelete