Sep 20, 2013

Elegi Jejaring Stigma




Oleh Marsigit

Awama:
Haha..hehe..haha..hehe. Ternyata nikmat itu tidak harus karena makan, minum atau uang.

Praktika:
Wahai Awama, bolehkah aku tahu apa yang menyebabkan engkau merasa nikmat bukan karena makan, minum atau uang.

Awama:
Kata orang sekarang lagi banyak stigma.

Praktika:
Apakah stigma itu?

Awama:
Aku sendiri tidak tahu. Tetapi kata orang yang membuat aku merasa nikmat itu disebut sebagai stigma.

Awama dan Pratika:
Wahai Cantraka, dapatkah engkau menjelaskan apakah yang disebut sebagai stigma itu?

Cantraka:
Kenapa engkau bertanya perihal itu kepadaku?

Awama dan Pratika:
Bukankah namamu itu Cantraka. Dari namamu saja aku bisa menebak bahwa engkau adalah seorang yang suka mencari hakekat. Maka jika engkau berkenan berikanlah penjelasan kepadaku kenapa pula banyak orang sekarang bicara perihal stigma?

Cantraka:
Sebetulnya apa yang terjadi pada dirimu, sehingga engkau bertanya perihal yang demikian? Wahai Awama apakah yang membuatmu gembira sekarang ini, coba ceritakan kepadaku?

Awama:
Aku tidak tahu apakah aku gembira atau tidak. Yang jelas aku bersemangat.

Cantraka:
Kenapa engkau bersemangat?

Awama:
Begini, tetapi ini rahasia. Jangan dikatakan kepada siapapun. Katanya itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Dst..dst...pokoknya asyik dheh.

Cantraka:
lalu kenapa engkau bersemangat.

Awama:
Lho la iya ta. Kan semua orang ingin tahu. Jadi termasuk aku pun ingin tahu. Jika aku tahu, kan jadi banyak orang ingin bertanya kepadaku. Bukankah ditanya banyak orang itu menjadi hak istimewa yang banyak dicari orang?

Pratika:
Wahai Awama, engkau sedang bicara apa dengan Cantraka. Kenapa bicaramu cenderung ngegosip? Bolehlah aku ikut mengetahuinya?

Awama:
Itulah buktinya wahai Cantraka, maka selama aku simpan pengetahuanku itu maka telah terbukti bahwa Pratika pun selalu mengejar-kejar diriku. Dia ingin selalu bertanya kepadaku. Bukankah hal demikian membuatku gembira. Itulah kenikmatanku dengan tanpa makan, minum atau dibayar dengan uang. Tetapi kenapa ada orang mengatakan bahwa diriku itu sedang termakan stigma? Sementara ada orang lain mengatakan baha stigma itu adalah sesuatu yang tidak baik?Jadi pikiran dan hatiku agak ragu apakah sebetulnya aku gembira, bersemangat atau gelisah? Maka jika boleh aku ingin bertanya kepadamu wahai Cantraka.

Cantraka:
Jikalau aku menjadi kamu wahai Awama, maka kemudian akupun mempunyai cukup alasan untuk kemudian mengatakan bahwa aku gembira dan bersemangat dan kemudian merasakan kenikmatan dikarenakan engkau bertanya kepada diriku.

Cantraka:
Wahai Pratika, aku sebetulnya enggan menjawab pertanyaanmu. Jangankan menjawab pertanyaanmu, mengulangi apa yang dikatakan oleh Awama saja aku enggan. Bukankah engkau tadi mendengar bahwa Awama telah mengabarkan bahwa itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal.

Pratika:
Wahai Canraka, janganlah engkau mengaku sebagai cantraka karena engkau itu sebetulnya juga sama saja dengan banyak orang. Engkau juga sama saja dengan Awama, karena engkau telah juga mengatakan bahwa itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal.

Cantraka:
Wahai Pratika, maafkanlah daku aku tadi tidak menyadari bahwa aku juga telah mengatakan seperti apa yang diwartakan oleh Awama. Berarti menurut banyak orang aku juga sudah terkena stigma. Padahal ketahuilah bahwa seluruh hidupku itu aku tujukan bahwa aku selalu terbebas dari stigma. Tetapi bukankah engkau juga telah mengatakan seperti apa yang diwartakan oleh Awama itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Berarti engkau juga sudah termakan stigma.

Awama dan Pratika:
Wahai Cantraka, dari pada kita mutar-mutar, jelaskan saja kepadaku apakah artinya stigma itu? Tetapi aku ragu jika engkau menjawabnya. Aku ragu apakah engkau bisa menjawabnya. Karena engkau sendiri ternyata juga telah terkena stigma.

Cantraka:
Betul juga apa yang engkau ragukan. Pengetahuanku tentang stigma ternyata lain dengan perkataanku tentang stigma. Pengetahuanku tentang stigma ternyata lain dengan sikapku tentang stigma. Tetapi baiklah, aku mempunyai teman yang bernama Candraka. Dia itu mempunyai pengetahuan yang selalu lebih dalam dan lebih luas dariku. Lagi pula dia belum terkena stigma.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai Candraka, bolehkah engkau menjelaskan kepadaku apa artinya stigma. Konon menurut beberapa orang aku bertiga ini sedang terkena stigma.

Candraka:
Wahai Awama, Pratika dan Candraka, dengarkan dulu. Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku ingin menyampaikan khabar kepadamu. Katanya itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Lho..lho..lho...ternyata Candraka telah tahu ta? .. bahwa itu.. si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Wahai Candraka..bagaimana engkau tahu perihal berita itu? Berarti engkau juga telah terkena stigma.

Candraka:
Au tidak peduli aku itu terkena stigma atau bukan, tetapi aku merasakan kenikmatanku mendengar semua pertanyaanku. Dengan pengetahuanku perihal ini ternyata engkau bertiga berbondhong-bondhong berusaha bertanya kepadaku. Itulah kenikmatanku. Tetapi tidak hanya itu saja. Kenikmatanku semakin bertambah karena aku itu sebetulnya tidak suka dengan Ahilu. Maka entah salah entah benar, apapun yang terjadi maka berita ini tentu akan merugikan Ahilu. Hal yang demikian ternyata telah menambah semangatku. Ketahuilah bahwa aku juga telah menyebarkan berita-berita ini kepada orang-orang yang bukan sembarang orang. Ketahuilah bahwa Pampilu juga telah mengetahui berita ini.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Wah..wah..gawat...dari pada kita terjebak di sini..ayo kita pergi saja.

Candraka:
Hai engkau bertiga, mau kemanakah engkau itu? Engkau tidak kuasa seenaknya pergi begitu saja tanpa seijinku. Ketahuilah bahwa kita semua berada dibawah kekuasaan Pampilu. Terserah kepada Pampilu akan bertindak apa terhadap kita. Pampilu juga betulbetul telah mengatahui si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Tetapi di atas Pampilu kita masih mempunyai Rakata sebagai penguasa kita. Aku tidak tahu apakah Rakata telah mengetahui hal yang demikian itu. Tetapi aku ragu jika mengatakan hal yang demikian kepada Rakata, karena mengetahui dan tidak mengetahui bagai Rakata, maka sikap dan perbuatannya dapat menentukan hidup matinya kita semua.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai Candraka, lalu bagaimana sikap kita?

Candraka:
Aku juga bingung. Jika aku sampaikan kepada Rakata maka keadaanya bisa runyam. Maka tunggulah aku ingin bertanya saja kepada sang Bagawat di Kutarunggu. Wahai sang Bagawat, berikanlah kepadaku dan kepada teman-temanku apa yang dimaksud dengan stigma, lalu bagaimana kita sebaiknya menghadapi stigma.

Bagawat:
Wahai muridku semua. Ketahuilah bahwa stigma itu adalah untaian langit dan bumi. Jikalahu itu perihal langit maka itulah hatiku. Jika perihal bumi maka itulah pikiranku. Maka sebenar-benar stigma adalah untaian pikiran dan hatiku.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai guru, aku belum jelas perihal penjelasanmu itu?

Bagawat:
Ketahuilah sebenar-benar hidup adalah stigma dan sebenar-benar stigma adalah hidup. Tiadalah hidup itu sebenar-benar baik bagi semua orang, maka sebenar-benar baik bagi hidup semua orang hanyalah milik sang Kuasa.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai guru, aku belum jelas perihal penjelasanmu itu?

Bagawat:
Jika engkau belum juga jelas perihal penjelasanku maka itu semata-mata dikarenakan dimensimu. Ketahuilah hidup yang satu bisa menjadi stigma yang lain. Maka bagi sipelaku atau si subyek stigma, bukanlah stigma itu berlaku bagi dirinya. Jika aku definisikan stigma sebagai sifat yang tidak baik, bukankah manusia itu mempunyai ukurannya sendiri bagi kebaikkannya. Kebaikan seseorang bisa menjadi keburukan orang lain. Maka dengan sekejap, yang engkau rasakan sebagai stigma belumlah tentu itu merupakan stigma bagi orang lain.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Bagaimanakah apakah sebaiknya semua orang-orang perlu mengetahui stigma itu?

Bagawat:
Pengetahuan tentang stigma itu sesuai dengan peruntukkannya. Jika itu membawa mudhlarat kepadamu maka sebaiknya engkau tidak perlu terlalu bersemangat untuk mengetahuinya. Maka aku tidak terlalu setuju dengan pendapat si Awama bahwa stigma itu memberi nikmat. Tidaklah perlu bagai seseorang sama dalam memikirkan stigma dengan perkatannya dan perbuatannya.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Lalu bagaimana kita bersikap menghadapi stigma?

Bagawat:
Urakanlah stigma itu ke dalam 2 (dua) unsur utamanya, yaitu pikiran dan hatinya. Berpikir kritislah menghadapi stigma dan bernuranilah dalam menyikapinya.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Apa untungnya mengetahui stigma?

Bagawat:
Untungnya mengetahui stigma adalah agar engkau mengerti sopan santun. Karena stigma itu adalah pengetahuan tentang sebagian hidup dan masyarakatmu. Jika engkau mengetahui hal yang demikian maka engkau dikatakan mempunyai pengetahuan. Dengan pengetahuanmu itulah maka engkau dapat bersopan santun.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Apa ruginya mengetahui stigma?

Bagawat:
Ruginya mengetahui stigma adalah merugikan si subyek dalam stigma.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Apa bahayanya mengetahui stigma.

Bagawat:
Bahayanya mengetahui stigma adalah jika engkau adalah orang yang berkuasa terhadap si subyek stigma. Karena kekuasaanmu itulah maka engkau dapat mencelakakan sipelaku stigma, padahal yang demikian itu belumlah tentu benar adanya.

69 comments:

  1. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Stigma bisa berpindah-pindah. Bahkan orang yang merasa sedang memperhatikan stigma tidak selamanya aman dari stigma. Bisa saja yang diperhatikannya bukanlah stigma yang sebenarnya. Bisa saja stigma adalah dirinya sendiri. Oleh karena itu, memperhatikan secara langsung saja tidak aman dari stigma, apa lagi mendengarkan dari orang lain perihal stigma. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6].

    ReplyDelete
  2. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa stigma merupakan kenikmatan yang merupakan hasil dari untaian pemikiran dan hati. Stigma harus ditanggapi secara hati-hati baik secara positif maupun secara negatif. Stigma harus dikritisi dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih.

    ReplyDelete
  3. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Yang saya dapat usai membaca elegi jejaring stigma ini adalah stigma negatif telah menyebar luas. Banyak orang yang telah terjerat ke dalamnya. Kita perlu berhati-hati dalam menghadapi stigma. Kita perlu berpikir kristis dan tetap berhati nurani.

    ReplyDelete
  4. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika 2016

    Sebenar-benar hidup adalah stigma dan sebenar-benar stigma adalah hidup. Manusia tidak lepas dari kekurangan. Namun kekurangan itu tidaklah menjadi alasan untuk tidak bertindak dalam hal kebaikan. Kita sebagai manusia adalah milik sang pencipta yaitu Allah SWT. Dari elegi jejaring stigma tersebut dapat diketahui bahwa mengetahui stigma itu mempunyai keuntungan dan kerugiannya. Adapun keuntungnya mengetahui stigma adalah agar engkau mengerti sopan santun. Karena stigma itu adalah pengetahuan tentang sebagian hidup dan masyarakat. Sedangkan ruginya mengetahui stigma adalah merugikan si subyek dalam stigma.

    ReplyDelete
  5. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Stigma merupakan persepsi negatif orang terhadap kita, bagaimana menutupi stigma tersebut agar tidak menyebar atau berekspansi yang menimbulkan pandangan-pandangan negatif baru orang lain terhadap kita yaitu dengan menyelaraskan hati dan pikiran kita untuk tetap berpikir kritis dan positif. keikhlasan hati terhadap setiap langkah yang kita lakukan menjadikan hasil yang positif dan dapat terjauh dari pandangan-pandangan negatif orang terhadap kita.

    ReplyDelete
  6. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Sesuatu itu dapat berkuasa sebagai stigma jika dia merupakan dewa dari para daksa. Jika ia dewa dari para daksa, maka tentunya dia sanggup menjatuhkan sifat apa saja terhadap para daksanya. Sehingga dalam hal ini kita tentunya harus dapat memahami dan mengerti kekuasaan para DEWA atas DAKSA. Sepertihalnya seorang kakak yang meerupakan dewa bagi adiknya. Dimana adiknya baginya merupakan kontradiksi-kontradiksi, namun bagi adek kakaknya merupakan idelaisme baginya.

    ReplyDelete
  7. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Stigma selalu hadir dalam kehidupan di lingkungan sekitar kita. Stigma cenderung bersifat negative akan tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa stigma juga dapat bersifat positif, hal ini berdasarkan dari mana dan bagimana sudut pandang kita melihat. Stigma negative dapat dengan cepat menyebar luas ke dalam kehidupan kita bila dibandingkan dengan stigma positif. Stiga yang bersifat negative dapat merugikan bahkan membawa bencana baik bagi diri sendiri maupun di lingkungan sekitar. Stigma yang bersifat negative jika sudah menyebar luas dalam diri seseorang dapat memperdayakan si pemilik stigma tersebut, sehingga pemilik stigma dikuasai oleh stigma itu sendiri, hal ini tentu saja memberikan efek negative baik bagi diri sendiri maupuan lingkungan di sekitar

    ReplyDelete
  8. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Stigma selalu ada dalam kehidupan kita. Stigma yang baik bagi kita, belum tentu baik menurut orang lain, begitupun sebaliknya. Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihannya, namun tidak menjadi alasan untuk melakukan kebaikan dalam hidup ini. Berpikir kritislah menghadapi stigma dan bernuranilah dalam menyikapinya. Belajarlah untuk mengetahui stigma, agar kitapun mengerti sopan santun.

    ReplyDelete
  9. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Sebaik-baik stigma maka hukumnya akan tetap buruk juga. Sesungguhnya stigma adalah pikiran tidak kritis dan hati tidak bersih atau tidak ikhlas. Stigma selalu bertentangan dengan keadaan kita, maka waspadalah kita terhadap stigma-stigma. Sebaik-baik stigma maka hukumnya akan tetap buruk juga. Bahayanya mengetahui stigma adalah jika kita adalah orang yang berkuasa terhadap subyek stigma. Karena kekuasaan kita itulah maka kita dapat semena-mena mencelakakan pelaku stigma, padahal sesungguhnya apa yang kita ketahui belumlah tentu benar. Karena sesungguhnya stigma akan datang tanpa mau mengetahui fakta dibaliknya, maka untuk menghindari stigma kita perlu menggunakan pikiran kritis kita dan hati penuh keikhlasan. Oleh karena itu kita harus berusaha dan bekerjalah dengan menggunakan kecerdasan pikiran dan menggunakan hati nurani yang ikhlas sembari berdoa agar terbebas dari stigma.

    ReplyDelete
  10. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 PMC 2017

    Stigma, stigma dan stigma. Semua tergantung kepada bagaimana manusia dalam menyikapinya. Ketika manusia bisa lebih bijak dalam menyikapi semakin banyak ia mengetahui stigma maka akan menjadi sebuah pembelajaran dalam kehidupannya sehingga ia senantiaasa menjadi insan yang lebih baik.

    ReplyDelete
  11. Kita tau bahwasannya Stigma yang diperoleh setiap orang berbeda. Stigma bisa menjadi hal yang baik jika kita hanya menjadikannya sebagai pengetahuan saja dan mampu mengambil hikmah baiknya sehingga kita bisa menyikapi terhadap permasalhan yang ada dalam kehidupan. Berfilsafat memang sejatinya mampu membuat hati kita menjadi tenang, itu akan terjadi jika hati kita bersih dalam berfilsafat. Tetapi ketika hati kita sudah kotor, semua akan mudah untuk menjadi rusak.

    ReplyDelete
  12. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamu Alaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Wahai, betapa hidup ini penuh dengan stigma. Stigma-stigma tersebut berseliweran menyapa hari-hari kita. Baik dan buruknya bergantunglah pada siapa yang menemuinya. Stigma sesungguhnya ada dalam diri kita sendiri. terletak antara hati dan pikiran kita. di sini dibutuhkan kemampuan kita dalam mengiolahnya agar hati dan pikiran kita mencapai mufakat dalam menghadapi stigma. Karena sekali lagi baik dan buruknya kita menghadapi stigma ini bergantung dari hasil olah pikir dan rasa kita. semoga Allah senantiasa melindungi kita dari segala bentuk keburukan. Aamiin.

    ReplyDelete
  13. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini hal yang saya pelajari adalah kebijaksanaan dalam menghadapi stigma. Stigma muncul itu karena penilaian lingkungan, dan penilaian lingkungan itu muncul dari informasi yang beredar dan di sandingkan dengan nilai-nilai yang berlaku di lingkungan. Salah satu manfaat kita mengetahui/mempelajari stigma yang beredar di masyarakat adalah kita bisa mengetahui nilai-nilai yang beredar di masyarakat sehingga kita bisa menyesuaikan diri dengan nilai-nilai tersebut, akan tetapi hal buruk bisa terjadi pada orang yang melekat dengan stigma tersebut.

    ReplyDelete
  14. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. Seperti yang kita tahu, stigma adalah pencitraan buruk terhadap seseorang karena suatu faktor, misalnya lingkungan. Maka berbahayalah bagi kita jika termasuk golongan yang memasang stigma pada orang lain padahal belum pasti kebenarannya.

    ReplyDelete
  15. Junianto
    PM C
    17706251065

    Melalui elegi tersebut, sepemahaman saya adalah stigma merupakan suatu hal yang sulit didefinisikan atau bisa dikatakan bahwa setiap individu mempunyai pemahaman yang berbeda tentang stigma. Saya juga sepakat bahwa kenikmatan tidaklah harus karena makan dan minum, namun menuntut ilmu dan memahami ilmu juga merupakan sebuah kenikmatan yang tidak terhingga. Mengenai stigma, pada elegi ini tidak dijelaskan dengan gamblang apa stigma itu sebenarnya, namun proses dalam mencari tahu tentang stigma lah yang diceritakan. Dari hal ini, bisa diambil nilai bahwa proses mendapatkan ilmu juga merupakan sebuah nikmat.

    ReplyDelete
  16. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Adalah kesombonganku. Kataku kalau boleh jujur, sebelum sampai pada elegi ini, sudah beberapa kali aku berbincang dengan elegi-elegi stigma yang lain. Bahkan jika kau percaya, stigmaraja pernah ku datangi rumahnya dan tentu sudah kubaca dengan segala keterbatasanku. Ternyata, keterbatasanku malah membawaku pada kesombongan, yaitu menyimpulkan sesuatu sesuka daku. Ya, benar-benar sebelum sampai pada postingan ini, stigmaadalah buru, adalah jelek, adalah tidak baik di manapun itu. Ternyata tidak selamanya begitu. "Stigma" buruk di situ bukan berarti buruk di sini. Maka inilah salah satunya yang mengantarkanku saat ini:

    "Jika engkau belum juga jelas perihal penjelasanku maka itu semata-mata dikarenakan dimensimu. Ketahuilah hidup yang satu bisa menjadi stigma yang lain. Maka bagi sipelaku atau si subyek stigma, bukanlah stigma itu berlaku bagi dirinya. Jika aku definisikan stigma sebagai sifat yang tidak baik, bukankah manusia itu mempunyai ukurannya sendiri bagi kebaikkannya. Kebaikan seseorang bisa menjadi keburukan orang lain. Maka dengan sekejap, yang engkau rasakan sebagai stigma belumlah tentu itu merupakan stigma bagi orang lain"

    ReplyDelete
  17. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PM A 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Setelah saya membaca elegi ini, saya dapat melihat bahwa stigma itu relatif, bisa menjadi baik dan juga bisa menjadi buruk. Stigma bagi kita belum tentu merupakan stigma bagi orang lain. Sesuai dengan elegi ini, stigma dapat mengajarkan kita sopan santun terhadap ruang dan waktu. Namun, karena stigma ini sangat berbahaya bagi subyek dalam stigma, maka agar kita tidak terjebak dalam keburukan stigma, kita perlu menggunakan pikiran dan hati yang jernih sebagai petunjuk.

    ReplyDelete
  18. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Stigma bagi seseorang belum tentu merupakan stigma bagi orang lain. Sebenar-benar hidup adalah stigma dan sebenar-benar stigma adalah hidup. Stigma bisa menjadi hal yang baik jika kita hanya menjadikannya sebagai pengetahuan kita dan mampu mengambil hikmah ataupun nilai baik sehingga kita bisa menjadi orang yang sopan terhadap pengalaman hidup orang lain. Namun yang terjadi kebanyakan pada kehidupan kita adalah stigma menjadi sesautu yang buruk karena kita terus menggunjingkannya.

    ReplyDelete
  19. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Dalam kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari stigma. Stigma ada yang membawa manfaat adapula yang membawa kerugian. Berdasarkan hal tersebut manusia hendaknya dapat bijaksana dalam menghadapi stigma. Berusaha mengetahui stigma yang bermanfaat untuk menambah pengetahuan tentang cara hidup yang sesuai dengan norma masyarakat. Selanjutnya menghindari stigma yang membawa pengaruh buruk untuk diri sendiri dan orang lain. Misalnya tentang keburukan orang lain, keburukan orang lain yang belum tentu kebenarannya tidak perlu untuk diketahui dan dibicarakan secara berlebihan apalagi merasakan kenikmatan untuk mengetahuinya.

    ReplyDelete
  20. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi jejaring stigma ini saya memahami bahwa dalam kehidupan ini memang tidak terlepas dari stigma-stigma, baik itu stigma orang lain terhadap kita maupun stigma kita terhadap orang lain. Stigma itu muncul dari penilaian orang lain terhadap kita maupun penilaian kita terhadap orang lain, yang kemudian beredar ditengah-tengah lingkungan. Untuk itu bijaksanalah dalam menghadapi stigma, karena bisa saja merugikan si subjek stigma, padahal stigma yang berredar itu belumlah benar adanya. Maka ketika menghadapi stigma, jangan langsung ditelan mentah-mentah. Kritislah terhadap stigma tersebut dan bernuranilah dalam menyikapinya.

    ReplyDelete
  21. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.
    Nikmat tidak hanya berupa kebahagiaan dan kesenanngan.Sebagaimana yang dipaparkan pada elegi tersebut nikmat juga dapat berupa sebuah rasa penasaran terhadap keingintahuan mengetahui sesuatu.Sehingga dari rasa ingin tahu tersebut memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang pada akhirnya menemukan jawaban.Bahwa stigma adalah hati dan pikiran.Boleh saja yang menurut kita baik dalam bertindak dan berpikir, tapi bisa buruk menurut kacamata orang lain.

    ReplyDelete
  22. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Hal yang paling berbahaya bagi keharmonisasian semesta adalah perselingkuhan antara kekuasaan dengan stigma. Banyak orang salah menggunakan stigma, bahkan stigma kerap digunakan sebagai senjata yang ampuh untuk melanggengkan kekuasaan. Jika jadi penguasa, cukup berikan stigma kepada oposisi maka kekuasaan akan aman. Maka, kita harus hati-hati dalam menggunakan stigma apalagi terpengaruh ke dalam arus stigma.

    ReplyDelete
  23. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Ternyata apa yang kita pikir nikmat belum tentu orang lain juga mengatakan hal yang sama. Begitu juga dengan yang dirasakan orang lain nikmat belum tentu kita juga merasakan kenikmatan yang sama. Maka sebenarnya nikmat adalah berdasarkan pada diri sendiri. Namun, apakah kita pernah berfikir kenikmatan yang hakiki itu seperti apa? Kalau menurut pandangan dari sisi saya pribadi, yang namanya kenikmatan yang kita peroleh dapat dikatakan sebagai kenikmatan yang hakiki adalah ketika kenikmatan tersebut tidak memberikan dampak negatif terhadap orang lain. Namun, jika kita merasakan kenikmatan dengan memberikan dampak negatif kepada orang lain, maka sebenar-benarnya nikmat itu adalah fana. TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  24. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Sebelum membaca elegi ini, saya sebelumnya juga sudah mendatpatkan sedikit pengetahuan dari elegi-elegi stigma yang lain. Tentu kata stigma tidaklah asing bagi kita. Sering kali kita mendengarkan stigma hingga dengan mudahnya kita juga termakan stigma itu dan secara tidak sadar ternyata stigma itu membahayakan subyek stigma itu. Sungguh jahat sekali kita. Menurut saya, benar adanya dari kesimpulan elegi ini. Perlu mengetahui stigma tetapi bagi saya janganlah menjudge si subyek dan stigma tersebut. Jadikanlah stigma sebagai tambahan pengetahuan di kehidupan sehari-hari dan janganlah mudah termakan oleh stigma. Masa kini, manusia hanya menerka-nerka saja tanpa adanya bukti. Sesungguhnya Allah Maha Tahu.

    ReplyDelete
  25. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Setiap manusia mempunyai standar yang berbeda-beda. Sesuatu yang dianggap stigma oleh seseorang, belum tentu dianggap stigma pula oleh orang lain. Oleh karena itu, dalam menghadapi stigma diperlukan pola pikir kritis dan hati yang jernih. Karena jika tidak demikian bisa jadi kita salah dalam menghakimi stigma, padahal mungkin belum tentu itu stigma.

    ReplyDelete
  26. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Saya belum bisa memahami mengenai makna stigma. Namun ada satu pesan dari Prof Marsigit yang saya kira relevan untuk diaplikasikan dimanapun, yaitu “berpikir kritislah dalam menyikapi stigma dan bernuranilah dalam menyikapinya”. Dalam menyikapi segala sesuatu kita perlu mengedepankan pikiran dan hati dalam menilainya, tidak hanya dengan emosi saja, atau hanya dengan pikiran saja dan mengesampingkan factor hati.

    ReplyDelete
  27. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Pak atas ilmu yang diberikan melalui postingan ini.
    Sebelum membaca ulasan di atas, saya beranggapan bahwa stigma cenderung bersifat negatif. Ternyata informasi yang saya peroleh juga dapat bersifat positif dari stigma itu sendiri. Bahkan dalam hidup, saya juga tidak dapat menghindari stigma itu sendiri. Satu hal yang dapat saya cermati bahwa hidup bukanlah berfokus pada keingintahuan tentang orang lain melainkan bagaimana menggali lebih dalam diri sendiri. Namun, bagaimana awalnya saya dapat memberikan penilaian yang positif dari stigma yang ada?

    ReplyDelete
  28. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Lagi-lagi saya mengalami kesulitan dalam memahami elegi karena bahasanya yang susah dicerna oleh pikiran saya. Segala sesuatu itu memiliki sisi baik dan tidak baiknya, begitu pun stigma, stigma memiliki sisi baik dan sisi tidak baik. Oleh karena itu dalam menghadapi stigma diperlukan pikiran yang kritis dan harus disikapi dengan hati nurani. Sebab dalam mengetahui stigma memiliki keuntungan, kerugian, bahkan ada juga bahayanya. Semuanya itu bergantung bagaimana pikiran dan hati kita, jika kita mengetahui bahayanya stigma, kita akan mudah mengetahui ruginya dari mengetahui stigma. Rugi disini bukan rugi kepada kita, melainkan merugikan si subjek stigma.

    ReplyDelete
  29. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Stigma merupakan keadaan yang tidak disukai keadaan baik. Namun stigma yang dianggap buruk, bisa jadi dianggap baik orang lain. Misalnya stigma bahwa merokok itu tidak baik, bisa mengganggu kesehatan diri sendiri dan orang lain. Namun bagi si subyek perokok, mereka beranggapan bahwa merokok itu baik, karena menjadi mudah bergaul di masyarakat dan juga hitung-hitung membantu pemerintah, karena pajak rokok sangat tinggi. Jadi dalam menghadapi stigma kita bisa mempergunakan dua senjata yaitu hati dan pikiran.

    ReplyDelete
  30. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Elegi ini menunjukkan bahaya jika kita tidak bersikap bijak dalam menyikapi suatu hasutan dan sugesti yang diberikan. Keputusan kita untuk menganggap sesuatu itu buruk dapat berakibat fatal bagi seseorang, dan kebalikanya. Semoga kita dihindari dari sifat determinis tanpa fondamen yang kuat karena stigma yang bersarang dalam diri kita dapat menghancurkan diri kita dan orang lain.

    ReplyDelete
  31. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Stigma berkaitan dengan suatu keadaan yang tidak baik. Namun manusia yang emmepunyai kemampuan untuk menerjemahkan suatu hal, memiliki perdapat berbeda terhadap baik buruknya sesuatu. Serta ukuran baik buruknya seseorang itu berbeda-beda. Karena bisa saja hal yang buruk buruk bagi seseorang merupakan hal yang baik bagi orang lain, begitu juga sebaliknya. Semuanya tergantung pada kemampuan seseorang itu menterjemahkan hal yang sedang terjadi. Dan kemampuan tersebut berdasarkan ilmu yang diperolehnya.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  32. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Dalam masyarakat selalu ada sebuah stigma. Stigma dalam masyarakat ada dua macam, yaitu stigma positif dan stigma negatif. Stigma negatif cenderung lebih mudah menyebar di kalangan masyarakat. Mengetahui stigma memiliki keuntungan ataupun kerugian. Saat mengetahui stigma yang terbangun dalam masyarakat kita dapat berpikir kritis dan merasakannya dengan hati, sehingga kita dapat menyesuaikan diri dalam masyarakat. Namun jangan sampai kita termakan oleh sebuah stigma negatif karena akan merugikan diri kita sendiri maupun lingkungan sekitar. Terimaksih.

    ReplyDelete
  33. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Stigma ada di kehidupan kita dan berkaitan dengan kahidupan kita sehari-hari. Stigma ada yang positif dan negatif. Anggapan stigma setiap manusia berbeda dan tidak bisa sama. Stigma yang kita anggap positif belum tentu dianggap positif juga orang lain, begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, kita harus selalu berhati-hati dalam hidup bermasyarakat agar tidak melukai perasaam orang lain.

    ReplyDelete
  34. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Terkadang kita tidak menyadari bahwa kita sedang termakan oleh stigma. Ketika kita mencari tahu kebenaran tentang suatu berita, terkadang kita justru ikut membicarakan subjek yang diberitakan sehingga kita menjadi ikut termakan stigma. Maka untuk menghadapi stigma kita harus berpikir kritis dan bernurani dalam menyikapinya. Ketika terdapat suatu berita yang belum jelas kebenarannya, kita harus dapat berpikir kritis dan tidak asal mempercayai berita tersebut. Kita juga harus bernurani dalam menyikapinya agar tidak merugikan subjek yang dibicarakan dalam berita tersebut.

    ReplyDelete
  35. Muhammad Kamaluddin
    17709251027
    PMB PPs 2017

    Mengetahui stigma adalah hal yang penting, hanya agar kita dapat sopan dan satun terhadap ruang dan waktu. Namun mengetahui stigma juga dapat menjadi bahaya, jika kita tidak dapat menangkapnya dengan bijak. Apa yang seseorang persepsikan salah terhadap sesuatu, belum tentu salah menurut yang lain. Bahkan apa yang dianggap benar, justru salah menurut orang lain. Maka dari itu, dalam memahami stigma kita harus mampu berpikir kritis memandangnya dari berbagai sudut persepsi dan menggunakan nurani untuk melihatnya.

    ReplyDelete
  36. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online, stigma adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya.
    Dunia digambarkan dengan kerajaan stigma. Seseorang yang telah terkena stigma, segala sesuatunya akan dipenuhi dengan hawa nafsu dan pada akhirnya membuat manusia menghalalkan segala cara untuk mencapai sesuatu yang diinginkan. Stigma membuat manusia tidak mampu membedakan baik dan buruk, benar dan salah, serta membuat manusia lupa tentang tujuan hidup yang sesungguhnya.

    ReplyDelete
  37. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Penerapan stigma sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Istilah stigma yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari adalah menggosip/menggunjing. Dan herannya perbuatan ini malah membuat senang para yang membuat stigma. Padahal sesungguhnya hal ini adalah hal negatif yang dapat menyebabkan mitos dan berteman dengan syeitan, serta hal ini tentunya akan merugikan subyek stigma karena pandangan lingkungan akan dirinya berada dalam kategori buruk. Harusnya jika kita mendengar suatu kabar komfirmasi dulu kebenarannya sehingga tidak menimbulkan fitnah.

    ReplyDelete
  38. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Dalam elegi ini bahwa yang dimaksud denganstigma adalah mitos. Ketika orang mengetahui berita atau isu yang tersebar, tentu orng tersebut akan bangga dan akan merasa bahwa diriya tahu segalanya. Dia lebih senang ketika orang lain menanyakan perihal mitos tersebut kepadanya, karena orang tersebut ibaat menjadi guru. Akan tetapi sebenarya, mitos yang beredar belum tentu benar, jadi tidak seharusnya kita menyebarkan mitos tersebut, apalagi merasa bangga karena tahu tentang mitos tersebut. Semoga kita bisa menjaga diri untuk tidak terkena jejaring mitos atau jejaring stigma.

    ReplyDelete
  39. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Baik buruknya suatu stigma tergantung bagaimana cara orang tersebut berpandangan. Maka dalam hal ini sangat dibutuhkan pikiran yang sangat kritis dimana kita bisa mengetahui hal yang manfaat dan hal yang mudharat dari suatu stigma. Sehingga bahaya dan kerugian dapat direduksi sekecil mungkin

    ReplyDelete
  40. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Stigma merupakan pandangan orang lain terhadap kita dan bisasanya bersifat negatif. Jika ditelaah lebih lanjut lagi, maka stigma ini muaranya ialah memandang orang lain negatif atau tidak baik. Padahal sesungguhnya, memandang orang lain dengan pandangan negatif akan mengotori hati dan pikiran. Hati dan pikiran yang kotor akan menghambat proses dalam menuntut ilmu atau bertindak. Dengan demikian, seyogyanyalah kita menjauhkan stigma ini dari kehidupan kita ini.

    ReplyDelete
  41. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Segala sesuatu yang merentang antara hati dan pikiran ialah stigma. Oleh karena itu, dalam kehiduapn ini kita harus dapat menyikapi stigma dengan baik, layaknya seseorang memiliki hak yng sama untuk berprasangka baik maupun berprasangka buruk, maka sebaik-baik stigma ialah yang maenuntun seseorang menuju hikmah dan hakekat dari kehidupan ini. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  42. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Pada jaman sekarang ini, filsafatnya adalah filsafat bahasa , maka akan makin sering kita temui stigma dalam kehidupan sehari-hari semaki mudah menyebar jaringnya melalui media sosial. Stigma sering berwujud sebuah gosip atau sekarang biasa disebut berita hoax, kita harus berhati-hati dalam menerima, mengolah, dan meneruskan informasi, tentunya agar subyek yang ada dalam stigma tidak dirugikan oleh perbuatan stigma, karena seperti yang disampaikan dalam artikel ini, dengan mengetahui stigma artinya kita mengetahui sebahagian hidup orang lain yang belum tentu kebenarannya dan harus kita tanggapi dengan berpikir kritis dan disesauikan dengan hati nurani kita.

    ReplyDelete
  43. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Stigma memang menarik untuk dibahas, terlihat dari beberapa artikel dalam blog ini yang bahasannya berupa stigma. Sebagai makhluk yang hidup saling berdampingan, komunikasi yang terjalin tidak terhindarkan, entah secara langsung maupun tidak langsung. Pandangan orang-orang dapat menjadi stigma karena pengaruh dari komunikasi-komunikasi yang terjalin ini. Stigma bagi seseorang belum tentu merupakan stigma bagi orang lain. Oleh karena itu, tidak seharusnya kita langsung menjudge seseorang hanya berdasarkan apa yang tampak tanpa mengetahui kebenarannya. Hal ini akan menjadikan fitnah, dan kita tahu bahwa fitnah itu ibaratnya lebih kejam daripada pembunuhan.

    ReplyDelete
  44. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Dalam menjalani hidup, tentu kita akan selalu berhubungan dengan makhluk lain. Bisa komunikasi, transaksi, sharing, bisnis dsb. Sebagai bawaan dasar kita memiliki akal dan pikiran untuk menilai sesuatu, terkadang penilaian kita hanya berdasar informasi orang lain, ada yang kita dapat dari membaca buku, ada yang informasi dari guru, informasi dari dosen, dsb. Tidak selalu informasi tersebut sepenuhnya benar. Adakalanya seorang informan menambah atau mengurangi informasi agar informasi yang beredar bisa sesuai keinginannya walaupun sebetulnya itu kurang tepat.

    ReplyDelete
  45. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Bersifat halus dan lembut, bahkan ttidak terasa, itulah stigma. Mengetahui stigma membuat kita menajdi orang yang beradab, berderajat. Stigma sering menghinggapi setiap orang karena jaringnya yang begitu ekstensif, melebaar jauh kesemua aspek sikap dan perilaku. Stigma bukan berarti menjadi tabu untuk dibahas, tetapi menjadi pelajaran pada diri untuk mengerti adab dalam social.

    ReplyDelete
  46. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Saya setuju dengan perkataan sang Bagawat. Menurut yang saya pahami tentang istilah stigma, stigma adalah anggapan dari orang, statement/ pernyataan dari orang lain yang menempel untuk diri kita. Stigma dari orang lain bisa dalam bentuk positif maupun negatif, maka dari itu h=kita harus pintar-pintar dalam menyikapinya. Keuntungan mengetahui stigma adalah agar kita mengerti sopan santun dan rendah hati. Stigma adalah gambaran pengetahuan yang kita miliki tentang hidup dan masyarata sehingga apabila kita mengetahui hal yang demikian maka engkau dikatakan mempunyai pengetahuan. Dengan pengetahuanmu itulah maka engkau dapat bersopan santun dan rendah hati. Stigma menjadi motivasi dan pelajaran pribadi untuk menjadi diri yang lebih baik. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  47. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Jejaring stigma di sini ialah jaringan penyebaran pikiran negative atau fitna atau hoax yang sangat menyebar dan cepat dalam penyebarannya. Sesuatu yang buruk sesungguhnya dari godaan setan dan hawa nafsu, maka sudah menjadi alamiah jika seseorang menyukai yang buruk, sala satunya stigma. Begitu stigma muncul maka penyebarannya akan cepat terjadi. Orang yang ditulari stigma akan merasa senang telah memperoleh stigma dan merasa bangga karena dapat menularkan kepada orang lain.

    Contoh stigma di sisni ialah gossip. Ketika seseorang yang termakan hawa nafsu dan bisiskan setan mendapatkan gossip tentang seseorang, maka ia menjadi ingin tau dan senang apabila tela mengetahui gosipnya. Kemudian ia sangat bersemangat untuk menyebarluaskan karena ada kepuasan tersendiri jika mampu menjadi slah satu sumber gosip. Perilaku seperti ini di zaman modern sudah dianggap tidak tabu karena terbungkus oleh wadah entertainment atau hiburan. Berbagai stigma atau gosip dis ebar secara global melakui TV dan media social yang dapat dengan mudah diases atau ditularkan kepada banya orang. Semoga kita terhindar dari jejaring stigma ini agar tida termakan dan ikut menyebarluaskannya.

    ReplyDelete
  48. Latifah Fitriasari
    PM C

    Perlu adanya sabar dan ikhlas supaya jika ada hal yang ditemukan tidak sesuai harapan. Sebenar-benar hidup adalah stigma dan sebenar-benar stigma adalah hidup. Manusia tidak lepas dari kekurangan. Namun kekurangan itu tidaklah menjadi alasan untuk tidak bertindak dalam hal kebaikan. Positif dan negatif merupakan dampak dari berbagai kegiatan yang kita lakukan selama ini. Berpikir positif akan menghasilkan hal yang bermanfaat dan berpikir negaitf akan menghasilkan hal yang merugikan bagi diri sendiri.

    ReplyDelete
  49. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas saya memahami beberapa hikmah yaitu berkaitan dengan stigma. Stigma adalah kehidupan itu sendiri ia bisa menjadi mudhorot dalam kehidupan. Karena stigma itu adalah pengetahuan tentang hidup dan masyarakat. Stigma terdiri dari 2 (dua) unsur utamanya, yaitu pikiran dan hatinya. Terdapat pesan yang mendalam pula yaitu agar menggunakan pikitan dan hati dengan seimbang sebagaimana disampaikan dalam elegi dengan ungkapan ”Berpikir kritislah menghadapi stigma dan bernuranilah dalam menyikapinya”. Stigma merugikan si pelaku stigma itu sendiri. Dan dapat dilihat jika semua orang sejatinya memiliki petensi tersebut namun lagi-lagi bagaimana mengendalikannya. Sejatinya stigma dalam kehidupan juga telah menjadi kehidupan maka yang perlu diperhatikan yaitu sikap-sikap kita dalam menyikapi kehidupan itu sendiri dengan sesuai dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  50. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Memang tidak mudah menyingkirkan stigma yang telanjur melekat. Manusia cenderung melihat sisi buruknya saja. Tetapi ada beberapa cara, mengurangi stigma. Banyak orang yang hidup dalam naungan stigma yang berakibat hidup selalu terkekang oleh stigma dan bagaikan hidup dalam penjara. Memang sangat rumit bila dipikirkan namun itulah stigma. Stigma akan datang tanpa mau mengetahui fakta di baliknya. Stigma orang-orang akan muncul tanpa ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

    ReplyDelete
  51. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Manusia tidak bisa menghindari sisi buruk muncul dalam dirinya bahkan manusia yang dianggap soleh dan solehahpun, seperti halnya sifat munafik. Seringkali apa yang dirasakan dalam hati tidak sesuai dengan apa yang dilakukan. Maka sedikit integritas yang ada didalam diri manusia tersebut. Mengapa sisi buruk hadir didalam diri manusia, hal ini dikarenakan keadaan menutup logika dan nurani manusia.

    ReplyDelete
  52. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam elegi ini diceritakan bahwa mengetahui stigma yang beredar dimasyarakat dapat memilki keuntungan tersendiri. Dengan mengetahui stigma yang beredar, maka seseorng memiliki pengetahuan yang berada disebagain hidup masyarakatnya. Dari situlah seseorang mampu mendapatkan pengetahuan. Dari pengetahuna yang didapat inilah seseorang tersebu mampu berlaku sopan dan santu.

    ReplyDelete
  53. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Sebenar-benar hidup adalah stigma dan sebenar-benar stigma adalah hidup. Manusia tidak lepas dari kekurangan. Namun kekurangan itu tidaklah menjadi alasan untuk tidak bertindak dalam hal kebaikan. Kita sebagai manusia adalah milik sang pencipta yaitu Allah SWT.
    Dari elegi jejaring stigma tersebut dapat diketahui bahwa mengetahui stigma itu mempunyai keuntungan dan kerugiannya.
    Untungnya mengetahui stigma adalah agar engkau mengerti sopan santun. Karena stigma itu adalah pengetahuan tentang sebagian hidup dan masyarakat. Ruginya mengetahui stigma adalah merugikan si subyek dalam stigma.

    ReplyDelete
  54. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Baik buruknya suatu stigma tergantung bagaimana cara orang tersebut berpandangan. Maka dalam hal ini sangat dibutuhkan pikiran yang sangat kritis dimana kita bisa mengetahui hal yang manfaat dan hal yang mudharat dari suatu stigma. Sehingga bahaya dan kerugian dapat direduksi sekecil mungkin.

    ReplyDelete
  55. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Pada zaman saat ini dimana dunia semakin maju dan canggih, begitu banyak informasi yang tidak jelas asal usunya bertebaran, hal ini pun membuat stigma ada dimanapun dan kapanpun sehingga dapat terjadi kepada siapa saja. Bahkan orang yang sudah terkena stigma pun mungkin tidak menyadari bahwa dia sudah terkena stigma. Karena stigma adalah untaian pikiran dan hati maka kedua hal itu lah yang dapat digunakan untuk melawan stigma. Berpikir terlebih dahulu atau menjadi kritis terhadap isu, ataupun gossip-gosip yang bertebaran jangan hanya menerimanya begitu saja. Dan bernuranilah dalam menyikapinya, atau dengan kata ketika dalam menyikapi stigma yang sudah terpasang dalam diri kita adalah dengan bertawakal kepadaNya, dan menyikapinya dengan bijak. Sehingga bukan kerugianlah yang akan diperoleh dari adanya stigma tersebut, melainkan untungnya. Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  56. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Dalam kamus besar bahsa Indonesia stigma didefinisikan sebagai ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Berstigma dapat disamakan dengan berprasangka buruk. Allah melarang kita untuk berprasangka dengan orang lain. Karena diri sendiri pun kita tidak mampu memahami seluruhnya apalagi diri orang lain yang hanya kita tau sebagian kecil perilakunya.

    ReplyDelete
  57. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Stigma adalah persepsi negatif akan sesuatu hal. Hampir setiap saat kita mendapatkan atau menemui stigma. Stigma bisa menjadi hal yang bak atau buruk tergantung bagaimana kita menyikapinya. Stigma bisa menjadi hal yang baik jika kita mampu menggunakannya sebagai pengetahuan kita dan mampu mengambil hikmah dibalik stigma tersebut sehingga kita bisa menjadi orang yang sopan. Namun di kehidupan sehari-hari, kebanyakan stigma menjadi sesuatu yang buruk karena kita terus menggunjingkannya dan mengikuti stigma tersebut.

    ReplyDelete
  58. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Setiap orang memiliki stigma yang berbeda-beda. Stigma bagi seseorang belum tentu merupakan stigma bagi orang lain. Sebenar-benar hidup adalah stigma dan sebenar-benar stigma adalah hidup. Stigma seringkali diidentikkan dngan pandangan negatif. Stigma bisa menjadi hal yang baik jika kita hanya menjadikannya sebagai pengetahuan kita dan mampu mengambil hikmah ataupun nilai baik sehingga kita bisa menjadi orang yang sopan terhadap pengalaman hidup orang lain. Namun yang terjadi kebanyakan pada kehidupan kita adalah stigma menjadi sesuatu yang buruk karena kita terus menggunjingkannya. Maka kita sendiri yang menentukan kemana stigma itu akan kita bawa. Positif atau negatifkah yang akan kita pilih.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  59. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Melanjutkan komentar saya sebelumnya, dari elegi jejaring stigma tersebut dapat diketahui bahwa mengetahui stigma memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannyanya mengetahui stigma adalah agar engkau mengerti sopan santun. Karena stigma itu adalah pengetahuan tentang sebagian hidup dan masyarakat. Kelemahannya, mengetahui stigma adalah merugikan si subyek dalam stigma. Sebenar-benar hidup adalah stigma dan sebenar-benar stigma adalah hidup. Manusia tidak lepas dari kekurangan. Namun kekurangan itu bukanlah menjadi alasan untuk tidak bertingkah-laku dalam hal kebaikan. Kita sebagai manusia adalah milik sang pencipta yaitu Allah SWT.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  60. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    kekuatan stigma sangat luar biasa, stigma mampu meciptakan rasa kepuasan dalam diri seseorang. itu terjadi jika stigma yang ia ciptakan menjadi populer dan dipercaya oleh masyarakat luas. kebanyakan stigma yang ditimbulkan merupakan merupakan stigma negatif, yang dapat merugikan subyek dari stigma tersebut.

    ReplyDelete
  61. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa stigma merupakan kenikmatan yang merupakan hasil dari untaian pemikiran dan hati. Stigma harus ditanggapi secara hati-hati baik secara positif maupun secara negatif. Stigma harus dikritisi dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih.

    ReplyDelete
  62. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Nilai kebaikan dan keburukan bagi setiap orang akan sangat berbeda-berbeda, tergantung dimensinya. Sesuatu yang baik bagi seseorang, belum tentu akan bernilai baik juga bagi orang yang lainnya. Namun, jadilah manusia yang memiliki banyak pengetahuan dan ilmu serta mampu memanfaatkannya secara bijak supaya mampu menyikapi kehidupan ini dengan sopan santun dan bijak.

    ReplyDelete
  63. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Jejaring stigma adalah symbol bahwa stigma adalah entitas yang kompleks. masalah yang kompleks hanya dapat diselesaikan dengan solusi yang kompleks. Seperti yang telah saya jelaskan, stigma hanya dapat ditumpas dengan gerakan ilmu pengetahuan. Gerakan pemberontakan para logos. Stigma harus dihancurkan dari ke akar-akarnya..

    ReplyDelete
  64. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pikiran itu untuk memikirkan, menganalisis, dan lain-lain. Tetapi hati merasakan apakah itu baik dan buruk melalui pikiran untuk memikirkan dan menganalisis. Jadi hati dan pikiran itu saling terkait dalam menentukan mana yang baik dan buruk. Tindakan negatif akan berdampak selain berdampak pada oranglain juga berdampak bagi diri sendiri. Oleh karena itu untuk mengurangi tindakan negatif, seharusnya mematuhi norma-norma yang berlaku, adat istiadatnya, dan aturan yang berlaku.

    ReplyDelete
  65. Febriana Putri Hutami
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241007

    Stigma itu seperti pikiran orang lain terhadap suatu hal, nah stigma antara satu orang dengan orang lain itu bisa berbeda. Jejaring stigma yang dibahas disini adalah jejaring stigma negatif karena yang dicontohkan adalah gosip. Gosip itu dapat merugikan subjek stigma. Selain itu sebenarnya yang melakukan stigma negatif itu sudah merugikan dirinya sendiri maupun orang lain dengan meracuni pikiran dan persaannya dengan stigma negatif. Padahal dalam agama pun gosip itu diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Sehingga harus menghindari gosip terlebih hindarilah menyebarkan gosip, yang mana gosip itu dapat berubah menjadi fitnah.

    ReplyDelete
  66. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Stigma adalah suatu yang membuat seseorang merasa nikmat akan apa yang sedang dikerjakan. Nikmat disini bukan nikmat yang karena kelezatan ataupun makan dan minum. Akan tetapi nikmat disini atas apa yang didapatkan sebagai anugerah dari Allah. Contohnya nikmat sehat, nikmat bekerja dan juga kenikmatan lainnya.

    ReplyDelete
  67. Woro Alma Manfaati
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241002

    Stigma merupakan buah pemikiran orang lain terhadap suatu hal. Dalam elegi diatas disampaikan bahwa stigma yang ada dalam masayarakat merupakan stigma yang menguntungkan bagi pihak tertentu. Saat ini banyak stigma-stigma negatif yang tersebar di masyarakat. Oleh karena itu, sebagai generasi cerdas hendaknya jangan langsung menerima stigma dengan begitu saja karena bisa jadi stigma tersebut adalah hoax belaka.

    ReplyDelete
  68. Alman Kresna Aji
    15301241022
    S1 Pendidikan Matematika 2015
    Stigma adalah suatu prasangka buruk dari seseorang karena pengaruh dari lingkungannya. Stigma tidak selalu bernilai negatif, kita bisa memandang stigma menjadi suatu hal yang positif. Karena, apabila kita mempelajari stigma dan memahami stigma maka kita bisa memahami pola kehidupan di dalam lingkungan masyarakat. Dengan kita memahami stigma, kita bisa belajar menjadi lebih sopan da santun dalam kehidupan bermasyarakat.

    ReplyDelete