Sep 20, 2013

Elegi Jejaring Stigma




Oleh Marsigit

Awama:
Haha..hehe..haha..hehe. Ternyata nikmat itu tidak harus karena makan, minum atau uang.

Praktika:
Wahai Awama, bolehkah aku tahu apa yang menyebabkan engkau merasa nikmat bukan karena makan, minum atau uang.

Awama:
Kata orang sekarang lagi banyak stigma.

Praktika:
Apakah stigma itu?

Awama:
Aku sendiri tidak tahu. Tetapi kata orang yang membuat aku merasa nikmat itu disebut sebagai stigma.

Awama dan Pratika:
Wahai Cantraka, dapatkah engkau menjelaskan apakah yang disebut sebagai stigma itu?

Cantraka:
Kenapa engkau bertanya perihal itu kepadaku?

Awama dan Pratika:
Bukankah namamu itu Cantraka. Dari namamu saja aku bisa menebak bahwa engkau adalah seorang yang suka mencari hakekat. Maka jika engkau berkenan berikanlah penjelasan kepadaku kenapa pula banyak orang sekarang bicara perihal stigma?

Cantraka:
Sebetulnya apa yang terjadi pada dirimu, sehingga engkau bertanya perihal yang demikian? Wahai Awama apakah yang membuatmu gembira sekarang ini, coba ceritakan kepadaku?

Awama:
Aku tidak tahu apakah aku gembira atau tidak. Yang jelas aku bersemangat.

Cantraka:
Kenapa engkau bersemangat?

Awama:
Begini, tetapi ini rahasia. Jangan dikatakan kepada siapapun. Katanya itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Dst..dst...pokoknya asyik dheh.

Cantraka:
lalu kenapa engkau bersemangat.

Awama:
Lho la iya ta. Kan semua orang ingin tahu. Jadi termasuk aku pun ingin tahu. Jika aku tahu, kan jadi banyak orang ingin bertanya kepadaku. Bukankah ditanya banyak orang itu menjadi hak istimewa yang banyak dicari orang?

Pratika:
Wahai Awama, engkau sedang bicara apa dengan Cantraka. Kenapa bicaramu cenderung ngegosip? Bolehlah aku ikut mengetahuinya?

Awama:
Itulah buktinya wahai Cantraka, maka selama aku simpan pengetahuanku itu maka telah terbukti bahwa Pratika pun selalu mengejar-kejar diriku. Dia ingin selalu bertanya kepadaku. Bukankah hal demikian membuatku gembira. Itulah kenikmatanku dengan tanpa makan, minum atau dibayar dengan uang. Tetapi kenapa ada orang mengatakan bahwa diriku itu sedang termakan stigma? Sementara ada orang lain mengatakan baha stigma itu adalah sesuatu yang tidak baik?Jadi pikiran dan hatiku agak ragu apakah sebetulnya aku gembira, bersemangat atau gelisah? Maka jika boleh aku ingin bertanya kepadamu wahai Cantraka.

Cantraka:
Jikalau aku menjadi kamu wahai Awama, maka kemudian akupun mempunyai cukup alasan untuk kemudian mengatakan bahwa aku gembira dan bersemangat dan kemudian merasakan kenikmatan dikarenakan engkau bertanya kepada diriku.

Cantraka:
Wahai Pratika, aku sebetulnya enggan menjawab pertanyaanmu. Jangankan menjawab pertanyaanmu, mengulangi apa yang dikatakan oleh Awama saja aku enggan. Bukankah engkau tadi mendengar bahwa Awama telah mengabarkan bahwa itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal.

Pratika:
Wahai Canraka, janganlah engkau mengaku sebagai cantraka karena engkau itu sebetulnya juga sama saja dengan banyak orang. Engkau juga sama saja dengan Awama, karena engkau telah juga mengatakan bahwa itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal.

Cantraka:
Wahai Pratika, maafkanlah daku aku tadi tidak menyadari bahwa aku juga telah mengatakan seperti apa yang diwartakan oleh Awama. Berarti menurut banyak orang aku juga sudah terkena stigma. Padahal ketahuilah bahwa seluruh hidupku itu aku tujukan bahwa aku selalu terbebas dari stigma. Tetapi bukankah engkau juga telah mengatakan seperti apa yang diwartakan oleh Awama itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Berarti engkau juga sudah termakan stigma.

Awama dan Pratika:
Wahai Cantraka, dari pada kita mutar-mutar, jelaskan saja kepadaku apakah artinya stigma itu? Tetapi aku ragu jika engkau menjawabnya. Aku ragu apakah engkau bisa menjawabnya. Karena engkau sendiri ternyata juga telah terkena stigma.

Cantraka:
Betul juga apa yang engkau ragukan. Pengetahuanku tentang stigma ternyata lain dengan perkataanku tentang stigma. Pengetahuanku tentang stigma ternyata lain dengan sikapku tentang stigma. Tetapi baiklah, aku mempunyai teman yang bernama Candraka. Dia itu mempunyai pengetahuan yang selalu lebih dalam dan lebih luas dariku. Lagi pula dia belum terkena stigma.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai Candraka, bolehkah engkau menjelaskan kepadaku apa artinya stigma. Konon menurut beberapa orang aku bertiga ini sedang terkena stigma.

Candraka:
Wahai Awama, Pratika dan Candraka, dengarkan dulu. Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku ingin menyampaikan khabar kepadamu. Katanya itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Lho..lho..lho...ternyata Candraka telah tahu ta? .. bahwa itu.. si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Wahai Candraka..bagaimana engkau tahu perihal berita itu? Berarti engkau juga telah terkena stigma.

Candraka:
Au tidak peduli aku itu terkena stigma atau bukan, tetapi aku merasakan kenikmatanku mendengar semua pertanyaanku. Dengan pengetahuanku perihal ini ternyata engkau bertiga berbondhong-bondhong berusaha bertanya kepadaku. Itulah kenikmatanku. Tetapi tidak hanya itu saja. Kenikmatanku semakin bertambah karena aku itu sebetulnya tidak suka dengan Ahilu. Maka entah salah entah benar, apapun yang terjadi maka berita ini tentu akan merugikan Ahilu. Hal yang demikian ternyata telah menambah semangatku. Ketahuilah bahwa aku juga telah menyebarkan berita-berita ini kepada orang-orang yang bukan sembarang orang. Ketahuilah bahwa Pampilu juga telah mengetahui berita ini.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Wah..wah..gawat...dari pada kita terjebak di sini..ayo kita pergi saja.

Candraka:
Hai engkau bertiga, mau kemanakah engkau itu? Engkau tidak kuasa seenaknya pergi begitu saja tanpa seijinku. Ketahuilah bahwa kita semua berada dibawah kekuasaan Pampilu. Terserah kepada Pampilu akan bertindak apa terhadap kita. Pampilu juga betulbetul telah mengatahui si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Tetapi di atas Pampilu kita masih mempunyai Rakata sebagai penguasa kita. Aku tidak tahu apakah Rakata telah mengetahui hal yang demikian itu. Tetapi aku ragu jika mengatakan hal yang demikian kepada Rakata, karena mengetahui dan tidak mengetahui bagai Rakata, maka sikap dan perbuatannya dapat menentukan hidup matinya kita semua.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai Candraka, lalu bagaimana sikap kita?

Candraka:
Aku juga bingung. Jika aku sampaikan kepada Rakata maka keadaanya bisa runyam. Maka tunggulah aku ingin bertanya saja kepada sang Bagawat di Kutarunggu. Wahai sang Bagawat, berikanlah kepadaku dan kepada teman-temanku apa yang dimaksud dengan stigma, lalu bagaimana kita sebaiknya menghadapi stigma.

Bagawat:
Wahai muridku semua. Ketahuilah bahwa stigma itu adalah untaian langit dan bumi. Jikalahu itu perihal langit maka itulah hatiku. Jika perihal bumi maka itulah pikiranku. Maka sebenar-benar stigma adalah untaian pikiran dan hatiku.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai guru, aku belum jelas perihal penjelasanmu itu?

Bagawat:
Ketahuilah sebenar-benar hidup adalah stigma dan sebenar-benar stigma adalah hidup. Tiadalah hidup itu sebenar-benar baik bagi semua orang, maka sebenar-benar baik bagi hidup semua orang hanyalah milik sang Kuasa.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai guru, aku belum jelas perihal penjelasanmu itu?

Bagawat:
Jika engkau belum juga jelas perihal penjelasanku maka itu semata-mata dikarenakan dimensimu. Ketahuilah hidup yang satu bisa menjadi stigma yang lain. Maka bagi sipelaku atau si subyek stigma, bukanlah stigma itu berlaku bagi dirinya. Jika aku definisikan stigma sebagai sifat yang tidak baik, bukankah manusia itu mempunyai ukurannya sendiri bagi kebaikkannya. Kebaikan seseorang bisa menjadi keburukan orang lain. Maka dengan sekejap, yang engkau rasakan sebagai stigma belumlah tentu itu merupakan stigma bagi orang lain.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Bagaimanakah apakah sebaiknya semua orang-orang perlu mengetahui stigma itu?

Bagawat:
Pengetahuan tentang stigma itu sesuai dengan peruntukkannya. Jika itu membawa mudhlarat kepadamu maka sebaiknya engkau tidak perlu terlalu bersemangat untuk mengetahuinya. Maka aku tidak terlalu setuju dengan pendapat si Awama bahwa stigma itu memberi nikmat. Tidaklah perlu bagai seseorang sama dalam memikirkan stigma dengan perkatannya dan perbuatannya.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Lalu bagaimana kita bersikap menghadapi stigma?

Bagawat:
Urakanlah stigma itu ke dalam 2 (dua) unsur utamanya, yaitu pikiran dan hatinya. Berpikir kritislah menghadapi stigma dan bernuranilah dalam menyikapinya.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Apa untungnya mengetahui stigma?

Bagawat:
Untungnya mengetahui stigma adalah agar engkau mengerti sopan santun. Karena stigma itu adalah pengetahuan tentang sebagian hidup dan masyarakatmu. Jika engkau mengetahui hal yang demikian maka engkau dikatakan mempunyai pengetahuan. Dengan pengetahuanmu itulah maka engkau dapat bersopan santun.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Apa ruginya mengetahui stigma?

Bagawat:
Ruginya mengetahui stigma adalah merugikan si subyek dalam stigma.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Apa bahayanya mengetahui stigma.

Bagawat:
Bahayanya mengetahui stigma adalah jika engkau adalah orang yang berkuasa terhadap si subyek stigma. Karena kekuasaanmu itulah maka engkau dapat mencelakakan sipelaku stigma, padahal yang demikian itu belumlah tentu benar adanya.

36 comments:

  1. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Stigma telah memberikan sebuah kenikmatan kepada setiap orang yang terjerat olehnya. Karena kenikmatan yang dirasakan inilah sehingga dapat dengan mudah menyebar luas yang berakibat pada terbentuknya sebuah jejaring stigma yang menjerat banyak orang. Stigma memang lebih cenderung kepada hal-hal negatif. Namun demikian kita harus tetap mempelajarinya karena dengan itu kita dapat membedakan hal-hal baik dan yang buruk. Memang baik dan buruk bagi setiap orang itu berbeda tingkatannya karena hati dan pikiran manusia juga berbeda-beda. Namun ketahuilah bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan itu hanya Allah yang lebih mengetahui kebaikan mana yang diterima dan keburukan mana yang termaafkan. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam bertindak.

    ReplyDelete
  2. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Berdasarkan memahami kisah elegi di atas, saya mengartikan bahwa stigma adalah untaian pikiran dan hati. Dalam menyikapi stigma kita harus dapat berpikir kritis dan menggunakan hati yang bersih dan bernurani. Mengetahui stigma memiliki dampak positif dan negative tergantung bagaimana kita menyikapinya. Oleh karena itu, karena stigma yang melekat dalam diri seseorang itu belum tentu benar dan belum tentu salah kita harus dapat menyikapinya dengan pikiran dan hati yang jernih serta selalu bisa membuat segala sesuatu hal menjadi pelajaran hidup kita.

    ReplyDelete
  3. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2
    Pada elegi sebelumnya telas dijelaskan bahwa stigma dalam kehidupan pada dasarnya terbagi atas dua, yaitu stigma positif dan stigma negatif. Tetapi pada umumnya kita hanya mengenal stigma yang lebih mengarah kepada hal-hal yang sifatnya negatif. Stigma negatif ini kadang menjadi perdebatan dalam kehidupan manusia, apalagi mereka yang tidak bisa saling menghargai satu sama lain, bahkan kadang merusak hubungan silahturahmi manusia. sulit untuk menghindari adanya stigma negatif ini, namun dengan bisa mengandalkan hati dan pikiran yang jernih, kita bisa meminimalkan adanya stigma negatif ini.

    ReplyDelete
  4. Lana Sugiarti
    16709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Darai elegi diatas, saya memahami bahwa sebenar – benar hidup adalah stigma, dan sebenar – benar stigma adalah hidup. Stigma mempunyai keuntungan dan kerugiannya. Keuntungannya misalnya agar mengerti tentang sopan santun dalam kehidupan ini. tetapi kerugiannya yaitu pada subyek dalam stigma tersebut. Stigma akan menjadi baik apabila menjadikannya sebagai pengetahuan kita dan akan menjadi buruk karena selalu mengungkapkan hal negatif dari stigma tersebut.

    ReplyDelete
  5. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Stigma itu adalah nikmat, namun nikmat itu memiliki ragam/jejaring yang belum tentu semuanya baik. Sepandai-pandainya manusia ialah yang mampu memilih yang baik dan terbaik dalam suatu pilihan/keputusan karena yang baik pun belum tentu yang terbaik. Selain itu sandarkan hati dan pikiranmu pada Sang Pencipta serta memohon petunjuk-Nya.

    ReplyDelete
  6. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Secara harfiah, stigma cenderung menilai diri kita negatif dengan hal-hal yang dilakukan oleh kita juga adalah hal-hal negatif. Kita merasa diremehkan oleh orang lain. Meskipun kita tidak melakukan hal-hal yang salah. Biarkanlah orang berkata. Seperti kata pujangga “anjing menggonggong khalifa berlalu”. Jadi jangan terlalu di gubris orang berkata apa. Jadilah diri kita sendiri. Jadikan diri kita sebagai seorang yang benar. Kita perlihatkan bahwa diri kita itu benar. Kita liatkan hasilnya kepada mereka. Jadi, sekarang bebaskanlah diri kita, nikmati hidup kita, pergilah kemanapun sesuka hati kita, berkaryalah sebanyak mungkin sesuai diri kita dan jangan sekali memikirkan stigma. Jadikanlah stigma sahabat hidup kita. Hidup kita hanya sekali maka dari itu raihlah apa yang kita inginkan dan jangan mau hidup dalam naungan stigma karena itu adalah penjara kita yang akan meringkus kita kapanpun itu. Agar tujuan hidup kita untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat bisa tercapai.

    ReplyDelete
  7. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Stigma ini memang sudah melekat pada kehidupan pribadi dan sosial kita, namun perlu diketahui bahwa stigma tidak selalu bermakna negatif tetapi stigma juga bisa bermakna positif. Stigma bagi seseorang belum tentu merupakan stigma bagi orang lain. Sebenar-benar hidup adalah stigma dan sebenar-benar stigma dalah hidup. Stigma bisa menjadi hal yang baik jika kita hanya menjadikannya sebagai pengetahuan dan mampu mengambil hikmahnya sehingga kita bisa menjadi orang yang sopan dan menghargai pengalaman hidup orang lain, dan sebaliknya akan bermakna negatif apabila kita tidak bisa berlaku demikian.

    ReplyDelete
  8. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Elegi ini menyatakan bahwa stigma banyak berkembang di masyarakat saat ini. Stigma merupakan salah satu kenikmatan tang dapat dirasakan saat ini,walaupun demikian kita tidak boleh serta merta langsung menerimanya apa adanya tanpa menelaah stigma tersebut terlebih dahulu. Seperti yang dikatakan dalam elegi ini, bahwa dalam menggunakan stigma, kita harus menyertakan pikiran yang kritis dan hati yang bersih. Kita harus bijak, jikalau stigma tersebut hanya mendatangkan dampak negatif, maka lebih baik kita tinggalkan. Namun, kita ketahui bahwa semua hal yang ada di bumi ini jika kita pikirkan dengan baik pasti memiliki manfaat. Contohnya, dari stigma kita bisa belajar sopan santun. Sedangkan juga telah dijelaskan juga tentang bahaya mengetahui stigma bagi orang yang berkuasa terhadap subyek stigma kerana yang memiliki kekuasaan tersebut memiliki wewenang untuk menghentikan atau tidak si pelaku itu. Yang mana kita juga belum tahu tentang kebenarannya.

    ReplyDelete
  9. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Jejaring yang dimaksud disini adalah ragam stigma yang tidak semuanya baik. Kebaikan seseorang bisa menjadi keburukan orang lain. Maka dengan sekejap, yang engkau rasakan sebagai stigma belumlah tentu itu merupakan stigma bagi orang lain. Seringkali seseorang sangat bersemangat membicarakan orang lain. Entah apa yang dilakukan seseorang itu baik atau buruk, ketika menjadi perbincangan yang disampaikan kepada orang lain bisa jadi menjadi boomerang. Semoga kita senantiasa dijauhkan dari jejaring stigma yang menyesatkan ini.

    ReplyDelete
  10. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D

    Sebagai mana yang telah dijelaskan di beberapa elegi sebelumnya bahwa setiap manusia akan selalu mmepunyai sifat stigma yang mana sifat yang selalu meremehkan orang lain. Dimana sifat itu selalau negatif, kita selalau nge gosip kalau dalam bahasa sekarang. Walaupun demikian bahwa kita selalau di omongkan biarlah mereka bercuap-cuap dengan banyak sehingga cuap-cuap mereka akan membuat mereka bosan, sehingga “anjing menggonggong khalifa berlalu”.

    ReplyDelete
  11. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Stigma sebisa mungkin untuk dihindari. Jika tidak memiliki kontrol tidak mudah baginya untuk membawamu arah yang negative. Oleh karena itu bermain dengan stigma harus memiliki kesadaran sepanjang waktu. jika berlebihan mengikuti rangkaian stigma tersebut, kalian dapat memberhentikan diri. Oleh karena itu jangan banyak bermain dengan stigma.

    ReplyDelete
  12. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Stigma bagi seseorang belum tentu merupakan stigma bagi orang lain. Sebenar-benar hidup adalah stigma dan sebenar-benar stigma adalah hidup. Stigma bisa menjadi hal yang baik jika kita hanya menjadikannya sebagai pengetahuan kita dan mampu mengambil hikmah ataupun nilai baik sehingga kita bisa menjadi orang yang sopan terhadap pengalaman hidup orang lain. Namun yang terjadi kebanyakan pada kehidupan kita adalah stigma menjadi sesautu yang buruk karena kita terus menggunjingkannya.

    ReplyDelete
  13. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Stigma secara umum mencirikan hal-hal yang bersifat negatif, namun stiga juga bisa bersifat positif. Itu semua tergantung pada cara pandang kita. saat kita berada pada stigma negatif, maka kita pun akan menjadi negatif, namun jika kita tidak mau tenggelam dalam stigma negatif, maka kita harus merubah cara pandang kita sehingga stigma tersebut berubah menjadi stigma positif. Karena dengan stigma positif akan membuat kita menjadi seseorang yang berpikiran positif.

    ReplyDelete
  14. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Stigma adalah sikap atau sifat yang ada pada diri kita yang membawa ke hal yang negatif. Stigma yang negatif itu muncul pada diri manusia melalui penyakit-penyakit hati yang sangat berbahaya. Oleh karena itu, berpikir kritis sangatlah diperlukan disini. Seseorang yang telah terkena stigma maka dia akan diliputi oleh hawa nafsu yang negatif. Sehingga ia terkadang menghalalkan segala cara demi memenuhi hawa nafsunya, bahkan merugikan orang lain. Oleh karena itu, inilah gunanya kita selalu menuntut ilmu, mengasah kemampuan berpikir kritis, menggunakan hati sebagai komandan, selalu meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT, dan selalu ikhlas agar kita tidak mudah termakan stigma yang negatif.

    ReplyDelete
  15. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Stigma secara bahasa merupakan ciri negatif yang menempel pada seseorang. Ada peribahasa mengatakan ‘titik diseberang tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak.’ Mungkin kita seringnya lebih tertarik pada stigma dari orang lain. pengetahuan kita tentang stigma sesuatu hendaknya dapat diposisikan di tempat yang tepat. Sehingga tidak menimbulkan kerusakan dan kerugian pada beberapa pihak yang berkaitan dengan stigma tersebut. Jika mengetahui stigma dapat membawa mudharat atau bahaya maka lebih baik kita tidak mengetahuinya.

    ReplyDelete
  16. Stigma diartikan sebagai sifat negatif pada diri seseorang karena pengaruh lingkungan. Stigma telah membuat jejaring dengan orang-orang yang tidak mampu menahan diri untuk menerima dan menyebar stigma. Agar kita tidak masuk dalam jejaring stigma kita harus mampu melakukan penyaringan, kita harus berpikir kritis menghadapi stigma dengan tidak serta merta menerimanya, dan kita harus menggunakan hati nurani kita saat dihadapkan dengan stigma. Hati yang iklas dan pikiran yang jernih adalah filter yang ampuh untuk menyaring stigma. Kita harus menahan diri untuk tidak menjatuhkan stigma pada sesorang agar stigma tidak dapat berkembang.

    ReplyDelete
  17. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Stigma memiliki dampak buruk. Menurut World Health Organization (WHO), ada sekitar 800 ribu kasus bunuh diri terjadi akibat adanya stigma yang dilekatkan pada mereka. Stigma juga dapat membuat korbannya merasa rendah diri dan cenderung tertutup karena merasa dirinya tidak diterima oleh masyarakat. Pada akhirnya, stigma akan mencipta diskriminasi. Menurut saya, stigma yang terus dibiarkan langgeng terjadi di masyarakat akan semakin memperburuk keadaan; pelaku stigma semakin membabi buta, sedangkan korban semakin menderita karena tak diterima. Kita semua harus menghentikan stigma-stigma yang ada di masyarakat jika kita semua mengaku pro kesetaraan dan keberagaman. Selain peningkatan kesadaran melalui kampanye terkait keburukan stigma, perlu adanya langkah yang komprehensif untuk mengajarkan kepada masyarakat bahwa stigma sudah seharusnya dihentikan.

    ReplyDelete
  18. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Jejaring Stigma Stigma berkaitan dengan hal-hal yang negatif. Dalam elegi sebelumnya, Stigma adalah sifat pada diri seorang yang lebih cendrung membawa ke hal yang negatif. Stigma tidak selamanya tidak dikatakan membawa ke hal yang negatif, misalkan sebuah ambisius, jika stigma tersebut pada penguasa atau pemimpin yang menginginkan kekuasaan tanp kesejahteraan maka akan membawa ke hal yang negatif, tetapi jika pada seorang peserta didik dan berambisi untuk belajar maka itu tidaklah hal yang negatif. Dalam elegi sebelumnya, salah satu tokoh mengatakan, “Siapapun yang menjadi penghalang diriku maka dia aku anggap musuh. Maka dengan segenap cara, cara baik, cara buruk, cara licik, adu domba, peperangan, fitnah, apapun akan aku tempuh demi mewujudkan cita-citaku. Tidaklah boleh ada yang lain yang lebih dari diriku”. Maka itulah stigma.

    ReplyDelete
  19. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Senang dalam keraguan itulah stigma. Ragu karena ketidakjelasan penyebabnya. Bahkan ragu apakah kesenangannya dibenarkan atau disalahkan adanya. Kadang tak ingin terjebak stigma tapi tanpa tersadar stigma datang dengan sendirinya menebar keraguan-keraguan itu.

    ReplyDelete
  20. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Stigma akan selalu datang di dalam kehidupan kita dan mencoba memasuki diri kita. Cara licik, adu domba, fitnah akan dilakukan oleh syaitan untuk menyebarkan stigma ini, agar manusia terkontaminasi oleh hal-hal buruk. Untuk terhindar dari stigma, manusia hendaknya selalu mendekatkan diri pada Allah agar selalu dijauhkan dari gangguan syaitan. Jika melakukan sesuatu, manusia juga hendaknya melakukan dengan pikiran yang kritis dan hati yang tulus ikhlas agar hatinya tidak dapat dimasuki hal-hal buruk seperti stigma.

    ReplyDelete
  21. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Stigma dapat diartikan sebagai pandangan seseorang terhadap sesuatu baik yang bernilai positif maupun negatif. Unsur dari stigma sendiri adalah hati dan pikiran yang berfungsi sebagai alat kontrol bagi diri manusia. Sebenar-benarnya stigma adalah stigmamu sendiri yang sesuai dengan ruang dan waktunya. Sesuatu yang menurut orang baik, belum tentu akan dianggap baik oleh orang lain. Oleh karena itu, pandai-pandailah untuk mengkolaborasikan pemikiran kritis dan hati nurani untuk menyikapi apa yang terjadi di dalam hidup. Meskipun yang sebenar-benarnya stigma adalah stigmamu sendiri menurut ruang dan waktunya, namun itu hanya untukmu saja, belum tentu untuk orang lain,karena tentu akan berbeda ruang dan waktunya dengan orang lain. Dan kamu juga tidak boleh menyalahkan stigma orang lain, karena stigma orang lain adalah benar jika sesuai dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  22. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Stigma merupakan untaian langit dna bumi, langit mengenai apa yang ada di hati dan hal yang mengenai bumi mengenai pikiran. Dengan berpikir kritis kita dapat menghadapi stigma dan dengan nurani kita dapat menyikapinya. Inilah yang ada dalam hidup kita, kita harus selalu berpikir dengan hati dan pikiran jernih agar apa saja yang kita jalani dalam hidup semuanya bermanfaat dan barokah.

    ReplyDelete
  23. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Stigma bisa berpindah-pindah. Bahkan orang yang merasa sedang memperhatikan stigma tidak selamanya aman dari stigma. Bisa saja yang diperhatikannya bukanlah stigma yang sebenarnya. Bisa saja stigma adalah dirinya sendiri. Oleh karena itu, memperhatikan secara langsung saja tidak aman dari stigma, apa lagi mendengarkan dari orang lain perihal stigma. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6].

    ReplyDelete
  24. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa stigma merupakan kenikmatan yang merupakan hasil dari untaian pemikiran dan hati. Stigma harus ditanggapi secara hati-hati baik secara positif maupun secara negatif. Stigma harus dikritisi dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih.

    ReplyDelete
  25. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Yang saya dapat usai membaca elegi jejaring stigma ini adalah stigma negatif telah menyebar luas. Banyak orang yang telah terjerat ke dalamnya. Kita perlu berhati-hati dalam menghadapi stigma. Kita perlu berpikir kristis dan tetap berhati nurani.

    ReplyDelete
  26. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika 2016

    Sebenar-benar hidup adalah stigma dan sebenar-benar stigma adalah hidup. Manusia tidak lepas dari kekurangan. Namun kekurangan itu tidaklah menjadi alasan untuk tidak bertindak dalam hal kebaikan. Kita sebagai manusia adalah milik sang pencipta yaitu Allah SWT. Dari elegi jejaring stigma tersebut dapat diketahui bahwa mengetahui stigma itu mempunyai keuntungan dan kerugiannya. Adapun keuntungnya mengetahui stigma adalah agar engkau mengerti sopan santun. Karena stigma itu adalah pengetahuan tentang sebagian hidup dan masyarakat. Sedangkan ruginya mengetahui stigma adalah merugikan si subyek dalam stigma.

    ReplyDelete
  27. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Stigma merupakan persepsi negatif orang terhadap kita, bagaimana menutupi stigma tersebut agar tidak menyebar atau berekspansi yang menimbulkan pandangan-pandangan negatif baru orang lain terhadap kita yaitu dengan menyelaraskan hati dan pikiran kita untuk tetap berpikir kritis dan positif. keikhlasan hati terhadap setiap langkah yang kita lakukan menjadikan hasil yang positif dan dapat terjauh dari pandangan-pandangan negatif orang terhadap kita.

    ReplyDelete
  28. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Sesuatu itu dapat berkuasa sebagai stigma jika dia merupakan dewa dari para daksa. Jika ia dewa dari para daksa, maka tentunya dia sanggup menjatuhkan sifat apa saja terhadap para daksanya. Sehingga dalam hal ini kita tentunya harus dapat memahami dan mengerti kekuasaan para DEWA atas DAKSA. Sepertihalnya seorang kakak yang meerupakan dewa bagi adiknya. Dimana adiknya baginya merupakan kontradiksi-kontradiksi, namun bagi adek kakaknya merupakan idelaisme baginya.

    ReplyDelete
  29. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam berpikir keritis memanglah godaannya itu adalh prasangka atau prejudice atau dalam hal ini para stigma. Stigma dapat memberikan kenikmatan atas manusia yang terjerat olehnya. Namun kenikmatan stigma adalah kerguan dalam berpikir, karena ketidak jelasn dirinya. Sehingga manusia dalam melakukan segala sesuatu haruslah dengan perlindungan Allah dengan cara berdoa meminta perlindunganNya agar telepas dari segala prasangka dan para stigma.

    ReplyDelete
  30. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Meskipun stigma identik dengan hal atau perilaku yang negatif, tetapi stigma itu akan tetap berada pada pandangan masing-masing individu. Namun dengan mempelajari stigma, kita dapat melihat sopan santun kita dan pengetahuan kita tentang kehidupan dan masyarakat. Bukan berarti negatif kemudian tidak kita pelajari ilmu dan maknanya, melainkan dapat kita ambil hikmahnya

    ReplyDelete
  31. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Stigma adalah pengetahuan tentang sebagian hidup dan masyarakatmu. Mempelajari stigma adalah agar mengerti tentang sopan santun. Jika telah mengetahui tentang stigma berarti telah mempunyai pengetahuan, sehingga dengan pengetahuan yang dimiliki itulah maka kita dapat bersopan santun.

    ReplyDelete
  32. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Hal yang dapat saya petik dari tulisan di atas adalah yang nikmat itu tidak hanya makan dan minum. Hari-hari yang kita lalui dengan semangat juga sesuatu yang nikmat yang perlu disyukuri. Kita dapat banyak bertanya dan belajar juga nikmat.

    ReplyDelete
  33. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Jejaring stigma mendekatkan kita pada hal-hal yang semakin buruk. Jika kita tidak segera beranjak dari stigma-stigma tersebut akan menyebabkan kita semakin terjerumus ke dalamnya. Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa untuk berserah diri dan meminta pertolongan kepada sang pencipta.

    ReplyDelete
  34. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Stigma selalu hadir dalam kehidupan di lingkungan sekitar kita. Stigma cenderung bersifat negative akan tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa stigma juga dapat bersifat positif, hal ini berdasarkan dari mana dan bagimana sudut pandang kita melihat. Stigma negative dapat dengan cepat menyebar luas ke dalam kehidupan kita bila dibandingkan dengan stigma positif. Stiga yang bersifat negative dapat merugikan bahkan membawa bencana baik bagi diri sendiri maupun di lingkungan sekitar. Stigma yang bersifat negative jika sudah menyebar luas dalam diri seseorang dapat memperdayakan si pemilik stigma tersebut, sehingga pemilik stigma dikuasai oleh stigma itu sendiri, hal ini tentu saja memberikan efek negative baik bagi diri sendiri maupuan lingkungan di sekitar

    ReplyDelete
  35. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Stigma selalu ada dalam kehidupan kita. Stigma yang baik bagi kita, belum tentu baik menurut orang lain, begitupun sebaliknya. Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihannya, namun tidak menjadi alasan untuk melakukan kebaikan dalam hidup ini. Berpikir kritislah menghadapi stigma dan bernuranilah dalam menyikapinya. Belajarlah untuk mengetahui stigma, agar kitapun mengerti sopan santun.

    ReplyDelete
  36. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Sebaik-baik stigma maka hukumnya akan tetap buruk juga. Sesungguhnya stigma adalah pikiran tidak kritis dan hati tidak bersih atau tidak ikhlas. Stigma selalu bertentangan dengan keadaan kita, maka waspadalah kita terhadap stigma-stigma. Sebaik-baik stigma maka hukumnya akan tetap buruk juga. Bahayanya mengetahui stigma adalah jika kita adalah orang yang berkuasa terhadap subyek stigma. Karena kekuasaan kita itulah maka kita dapat semena-mena mencelakakan pelaku stigma, padahal sesungguhnya apa yang kita ketahui belumlah tentu benar. Karena sesungguhnya stigma akan datang tanpa mau mengetahui fakta dibaliknya, maka untuk menghindari stigma kita perlu menggunakan pikiran kritis kita dan hati penuh keikhlasan. Oleh karena itu kita harus berusaha dan bekerjalah dengan menggunakan kecerdasan pikiran dan menggunakan hati nurani yang ikhlas sembari berdoa agar terbebas dari stigma.

    ReplyDelete