Sep 20, 2013

Elegi Jejaring Stigma




Oleh Marsigit

Awama:
Haha..hehe..haha..hehe. Ternyata nikmat itu tidak harus karena makan, minum atau uang.

Praktika:
Wahai Awama, bolehkah aku tahu apa yang menyebabkan engkau merasa nikmat bukan karena makan, minum atau uang.

Awama:
Kata orang sekarang lagi banyak stigma.

Praktika:
Apakah stigma itu?

Awama:
Aku sendiri tidak tahu. Tetapi kata orang yang membuat aku merasa nikmat itu disebut sebagai stigma.

Awama dan Pratika:
Wahai Cantraka, dapatkah engkau menjelaskan apakah yang disebut sebagai stigma itu?

Cantraka:
Kenapa engkau bertanya perihal itu kepadaku?

Awama dan Pratika:
Bukankah namamu itu Cantraka. Dari namamu saja aku bisa menebak bahwa engkau adalah seorang yang suka mencari hakekat. Maka jika engkau berkenan berikanlah penjelasan kepadaku kenapa pula banyak orang sekarang bicara perihal stigma?

Cantraka:
Sebetulnya apa yang terjadi pada dirimu, sehingga engkau bertanya perihal yang demikian? Wahai Awama apakah yang membuatmu gembira sekarang ini, coba ceritakan kepadaku?

Awama:
Aku tidak tahu apakah aku gembira atau tidak. Yang jelas aku bersemangat.

Cantraka:
Kenapa engkau bersemangat?

Awama:
Begini, tetapi ini rahasia. Jangan dikatakan kepada siapapun. Katanya itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Dst..dst...pokoknya asyik dheh.

Cantraka:
lalu kenapa engkau bersemangat.

Awama:
Lho la iya ta. Kan semua orang ingin tahu. Jadi termasuk aku pun ingin tahu. Jika aku tahu, kan jadi banyak orang ingin bertanya kepadaku. Bukankah ditanya banyak orang itu menjadi hak istimewa yang banyak dicari orang?

Pratika:
Wahai Awama, engkau sedang bicara apa dengan Cantraka. Kenapa bicaramu cenderung ngegosip? Bolehlah aku ikut mengetahuinya?

Awama:
Itulah buktinya wahai Cantraka, maka selama aku simpan pengetahuanku itu maka telah terbukti bahwa Pratika pun selalu mengejar-kejar diriku. Dia ingin selalu bertanya kepadaku. Bukankah hal demikian membuatku gembira. Itulah kenikmatanku dengan tanpa makan, minum atau dibayar dengan uang. Tetapi kenapa ada orang mengatakan bahwa diriku itu sedang termakan stigma? Sementara ada orang lain mengatakan baha stigma itu adalah sesuatu yang tidak baik?Jadi pikiran dan hatiku agak ragu apakah sebetulnya aku gembira, bersemangat atau gelisah? Maka jika boleh aku ingin bertanya kepadamu wahai Cantraka.

Cantraka:
Jikalau aku menjadi kamu wahai Awama, maka kemudian akupun mempunyai cukup alasan untuk kemudian mengatakan bahwa aku gembira dan bersemangat dan kemudian merasakan kenikmatan dikarenakan engkau bertanya kepada diriku.

Cantraka:
Wahai Pratika, aku sebetulnya enggan menjawab pertanyaanmu. Jangankan menjawab pertanyaanmu, mengulangi apa yang dikatakan oleh Awama saja aku enggan. Bukankah engkau tadi mendengar bahwa Awama telah mengabarkan bahwa itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal.

Pratika:
Wahai Canraka, janganlah engkau mengaku sebagai cantraka karena engkau itu sebetulnya juga sama saja dengan banyak orang. Engkau juga sama saja dengan Awama, karena engkau telah juga mengatakan bahwa itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal.

Cantraka:
Wahai Pratika, maafkanlah daku aku tadi tidak menyadari bahwa aku juga telah mengatakan seperti apa yang diwartakan oleh Awama. Berarti menurut banyak orang aku juga sudah terkena stigma. Padahal ketahuilah bahwa seluruh hidupku itu aku tujukan bahwa aku selalu terbebas dari stigma. Tetapi bukankah engkau juga telah mengatakan seperti apa yang diwartakan oleh Awama itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Berarti engkau juga sudah termakan stigma.

Awama dan Pratika:
Wahai Cantraka, dari pada kita mutar-mutar, jelaskan saja kepadaku apakah artinya stigma itu? Tetapi aku ragu jika engkau menjawabnya. Aku ragu apakah engkau bisa menjawabnya. Karena engkau sendiri ternyata juga telah terkena stigma.

Cantraka:
Betul juga apa yang engkau ragukan. Pengetahuanku tentang stigma ternyata lain dengan perkataanku tentang stigma. Pengetahuanku tentang stigma ternyata lain dengan sikapku tentang stigma. Tetapi baiklah, aku mempunyai teman yang bernama Candraka. Dia itu mempunyai pengetahuan yang selalu lebih dalam dan lebih luas dariku. Lagi pula dia belum terkena stigma.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai Candraka, bolehkah engkau menjelaskan kepadaku apa artinya stigma. Konon menurut beberapa orang aku bertiga ini sedang terkena stigma.

Candraka:
Wahai Awama, Pratika dan Candraka, dengarkan dulu. Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku ingin menyampaikan khabar kepadamu. Katanya itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Lho..lho..lho...ternyata Candraka telah tahu ta? .. bahwa itu.. si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Wahai Candraka..bagaimana engkau tahu perihal berita itu? Berarti engkau juga telah terkena stigma.

Candraka:
Au tidak peduli aku itu terkena stigma atau bukan, tetapi aku merasakan kenikmatanku mendengar semua pertanyaanku. Dengan pengetahuanku perihal ini ternyata engkau bertiga berbondhong-bondhong berusaha bertanya kepadaku. Itulah kenikmatanku. Tetapi tidak hanya itu saja. Kenikmatanku semakin bertambah karena aku itu sebetulnya tidak suka dengan Ahilu. Maka entah salah entah benar, apapun yang terjadi maka berita ini tentu akan merugikan Ahilu. Hal yang demikian ternyata telah menambah semangatku. Ketahuilah bahwa aku juga telah menyebarkan berita-berita ini kepada orang-orang yang bukan sembarang orang. Ketahuilah bahwa Pampilu juga telah mengetahui berita ini.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Wah..wah..gawat...dari pada kita terjebak di sini..ayo kita pergi saja.

Candraka:
Hai engkau bertiga, mau kemanakah engkau itu? Engkau tidak kuasa seenaknya pergi begitu saja tanpa seijinku. Ketahuilah bahwa kita semua berada dibawah kekuasaan Pampilu. Terserah kepada Pampilu akan bertindak apa terhadap kita. Pampilu juga betulbetul telah mengatahui si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Tetapi di atas Pampilu kita masih mempunyai Rakata sebagai penguasa kita. Aku tidak tahu apakah Rakata telah mengetahui hal yang demikian itu. Tetapi aku ragu jika mengatakan hal yang demikian kepada Rakata, karena mengetahui dan tidak mengetahui bagai Rakata, maka sikap dan perbuatannya dapat menentukan hidup matinya kita semua.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai Candraka, lalu bagaimana sikap kita?

Candraka:
Aku juga bingung. Jika aku sampaikan kepada Rakata maka keadaanya bisa runyam. Maka tunggulah aku ingin bertanya saja kepada sang Bagawat di Kutarunggu. Wahai sang Bagawat, berikanlah kepadaku dan kepada teman-temanku apa yang dimaksud dengan stigma, lalu bagaimana kita sebaiknya menghadapi stigma.

Bagawat:
Wahai muridku semua. Ketahuilah bahwa stigma itu adalah untaian langit dan bumi. Jikalahu itu perihal langit maka itulah hatiku. Jika perihal bumi maka itulah pikiranku. Maka sebenar-benar stigma adalah untaian pikiran dan hatiku.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai guru, aku belum jelas perihal penjelasanmu itu?

Bagawat:
Ketahuilah sebenar-benar hidup adalah stigma dan sebenar-benar stigma adalah hidup. Tiadalah hidup itu sebenar-benar baik bagi semua orang, maka sebenar-benar baik bagi hidup semua orang hanyalah milik sang Kuasa.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai guru, aku belum jelas perihal penjelasanmu itu?

Bagawat:
Jika engkau belum juga jelas perihal penjelasanku maka itu semata-mata dikarenakan dimensimu. Ketahuilah hidup yang satu bisa menjadi stigma yang lain. Maka bagi sipelaku atau si subyek stigma, bukanlah stigma itu berlaku bagi dirinya. Jika aku definisikan stigma sebagai sifat yang tidak baik, bukankah manusia itu mempunyai ukurannya sendiri bagi kebaikkannya. Kebaikan seseorang bisa menjadi keburukan orang lain. Maka dengan sekejap, yang engkau rasakan sebagai stigma belumlah tentu itu merupakan stigma bagi orang lain.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Bagaimanakah apakah sebaiknya semua orang-orang perlu mengetahui stigma itu?

Bagawat:
Pengetahuan tentang stigma itu sesuai dengan peruntukkannya. Jika itu membawa mudhlarat kepadamu maka sebaiknya engkau tidak perlu terlalu bersemangat untuk mengetahuinya. Maka aku tidak terlalu setuju dengan pendapat si Awama bahwa stigma itu memberi nikmat. Tidaklah perlu bagai seseorang sama dalam memikirkan stigma dengan perkatannya dan perbuatannya.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Lalu bagaimana kita bersikap menghadapi stigma?

Bagawat:
Urakanlah stigma itu ke dalam 2 (dua) unsur utamanya, yaitu pikiran dan hatinya. Berpikir kritislah menghadapi stigma dan bernuranilah dalam menyikapinya.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Apa untungnya mengetahui stigma?

Bagawat:
Untungnya mengetahui stigma adalah agar engkau mengerti sopan santun. Karena stigma itu adalah pengetahuan tentang sebagian hidup dan masyarakatmu. Jika engkau mengetahui hal yang demikian maka engkau dikatakan mempunyai pengetahuan. Dengan pengetahuanmu itulah maka engkau dapat bersopan santun.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Apa ruginya mengetahui stigma?

Bagawat:
Ruginya mengetahui stigma adalah merugikan si subyek dalam stigma.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Apa bahayanya mengetahui stigma.

Bagawat:
Bahayanya mengetahui stigma adalah jika engkau adalah orang yang berkuasa terhadap si subyek stigma. Karena kekuasaanmu itulah maka engkau dapat mencelakakan sipelaku stigma, padahal yang demikian itu belumlah tentu benar adanya.

28 comments:

  1. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Stigma selalu hadir dalam kehidupan di lingkungan sekitar kita. Stigma cenderung bersifat negative akan tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa stigma juga dapat bersifat positif, hal ini berdasarkan dari mana dan bagimana sudut pandang kita melihat. Stigma negative dapat dengan cepat menyebar luas ke dalam kehidupan kita bila dibandingkan dengan stigma positif. Stiga yang bersifat negative dapat merugikan bahkan membawa bencana baik bagi diri sendiri maupun di lingkungan sekitar. Stigma yang bersifat negative jika sudah menyebar luas dalam diri seseorang dapat memperdayakan si pemilik stigma tersebut, sehingga pemilik stigma dikuasai oleh stigma itu sendiri, hal ini tentu saja memberikan efek negative baik bagi diri sendiri maupuan lingkungan di sekitar

    ReplyDelete
  2. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Stigma selalu ada dalam kehidupan kita. Stigma yang baik bagi kita, belum tentu baik menurut orang lain, begitupun sebaliknya. Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihannya, namun tidak menjadi alasan untuk melakukan kebaikan dalam hidup ini. Berpikir kritislah menghadapi stigma dan bernuranilah dalam menyikapinya. Belajarlah untuk mengetahui stigma, agar kitapun mengerti sopan santun.

    ReplyDelete
  3. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Sebaik-baik stigma maka hukumnya akan tetap buruk juga. Sesungguhnya stigma adalah pikiran tidak kritis dan hati tidak bersih atau tidak ikhlas. Stigma selalu bertentangan dengan keadaan kita, maka waspadalah kita terhadap stigma-stigma. Sebaik-baik stigma maka hukumnya akan tetap buruk juga. Bahayanya mengetahui stigma adalah jika kita adalah orang yang berkuasa terhadap subyek stigma. Karena kekuasaan kita itulah maka kita dapat semena-mena mencelakakan pelaku stigma, padahal sesungguhnya apa yang kita ketahui belumlah tentu benar. Karena sesungguhnya stigma akan datang tanpa mau mengetahui fakta dibaliknya, maka untuk menghindari stigma kita perlu menggunakan pikiran kritis kita dan hati penuh keikhlasan. Oleh karena itu kita harus berusaha dan bekerjalah dengan menggunakan kecerdasan pikiran dan menggunakan hati nurani yang ikhlas sembari berdoa agar terbebas dari stigma.

    ReplyDelete
  4. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 PMC 2017

    Stigma, stigma dan stigma. Semua tergantung kepada bagaimana manusia dalam menyikapinya. Ketika manusia bisa lebih bijak dalam menyikapi semakin banyak ia mengetahui stigma maka akan menjadi sebuah pembelajaran dalam kehidupannya sehingga ia senantiaasa menjadi insan yang lebih baik.

    ReplyDelete
  5. Kita tau bahwasannya Stigma yang diperoleh setiap orang berbeda. Stigma bisa menjadi hal yang baik jika kita hanya menjadikannya sebagai pengetahuan saja dan mampu mengambil hikmah baiknya sehingga kita bisa menyikapi terhadap permasalhan yang ada dalam kehidupan. Berfilsafat memang sejatinya mampu membuat hati kita menjadi tenang, itu akan terjadi jika hati kita bersih dalam berfilsafat. Tetapi ketika hati kita sudah kotor, semua akan mudah untuk menjadi rusak.

    ReplyDelete
  6. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamu Alaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Wahai, betapa hidup ini penuh dengan stigma. Stigma-stigma tersebut berseliweran menyapa hari-hari kita. Baik dan buruknya bergantunglah pada siapa yang menemuinya. Stigma sesungguhnya ada dalam diri kita sendiri. terletak antara hati dan pikiran kita. di sini dibutuhkan kemampuan kita dalam mengiolahnya agar hati dan pikiran kita mencapai mufakat dalam menghadapi stigma. Karena sekali lagi baik dan buruknya kita menghadapi stigma ini bergantung dari hasil olah pikir dan rasa kita. semoga Allah senantiasa melindungi kita dari segala bentuk keburukan. Aamiin.

    ReplyDelete
  7. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini hal yang saya pelajari adalah kebijaksanaan dalam menghadapi stigma. Stigma muncul itu karena penilaian lingkungan, dan penilaian lingkungan itu muncul dari informasi yang beredar dan di sandingkan dengan nilai-nilai yang berlaku di lingkungan. Salah satu manfaat kita mengetahui/mempelajari stigma yang beredar di masyarakat adalah kita bisa mengetahui nilai-nilai yang beredar di masyarakat sehingga kita bisa menyesuaikan diri dengan nilai-nilai tersebut, akan tetapi hal buruk bisa terjadi pada orang yang melekat dengan stigma tersebut.

    ReplyDelete
  8. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. Seperti yang kita tahu, stigma adalah pencitraan buruk terhadap seseorang karena suatu faktor, misalnya lingkungan. Maka berbahayalah bagi kita jika termasuk golongan yang memasang stigma pada orang lain padahal belum pasti kebenarannya.

    ReplyDelete
  9. Junianto
    PM C
    17706251065

    Melalui elegi tersebut, sepemahaman saya adalah stigma merupakan suatu hal yang sulit didefinisikan atau bisa dikatakan bahwa setiap individu mempunyai pemahaman yang berbeda tentang stigma. Saya juga sepakat bahwa kenikmatan tidaklah harus karena makan dan minum, namun menuntut ilmu dan memahami ilmu juga merupakan sebuah kenikmatan yang tidak terhingga. Mengenai stigma, pada elegi ini tidak dijelaskan dengan gamblang apa stigma itu sebenarnya, namun proses dalam mencari tahu tentang stigma lah yang diceritakan. Dari hal ini, bisa diambil nilai bahwa proses mendapatkan ilmu juga merupakan sebuah nikmat.

    ReplyDelete
  10. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Adalah kesombonganku. Kataku kalau boleh jujur, sebelum sampai pada elegi ini, sudah beberapa kali aku berbincang dengan elegi-elegi stigma yang lain. Bahkan jika kau percaya, stigmaraja pernah ku datangi rumahnya dan tentu sudah kubaca dengan segala keterbatasanku. Ternyata, keterbatasanku malah membawaku pada kesombongan, yaitu menyimpulkan sesuatu sesuka daku. Ya, benar-benar sebelum sampai pada postingan ini, stigmaadalah buru, adalah jelek, adalah tidak baik di manapun itu. Ternyata tidak selamanya begitu. "Stigma" buruk di situ bukan berarti buruk di sini. Maka inilah salah satunya yang mengantarkanku saat ini:

    "Jika engkau belum juga jelas perihal penjelasanku maka itu semata-mata dikarenakan dimensimu. Ketahuilah hidup yang satu bisa menjadi stigma yang lain. Maka bagi sipelaku atau si subyek stigma, bukanlah stigma itu berlaku bagi dirinya. Jika aku definisikan stigma sebagai sifat yang tidak baik, bukankah manusia itu mempunyai ukurannya sendiri bagi kebaikkannya. Kebaikan seseorang bisa menjadi keburukan orang lain. Maka dengan sekejap, yang engkau rasakan sebagai stigma belumlah tentu itu merupakan stigma bagi orang lain"

    ReplyDelete
  11. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PM A 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Setelah saya membaca elegi ini, saya dapat melihat bahwa stigma itu relatif, bisa menjadi baik dan juga bisa menjadi buruk. Stigma bagi kita belum tentu merupakan stigma bagi orang lain. Sesuai dengan elegi ini, stigma dapat mengajarkan kita sopan santun terhadap ruang dan waktu. Namun, karena stigma ini sangat berbahaya bagi subyek dalam stigma, maka agar kita tidak terjebak dalam keburukan stigma, kita perlu menggunakan pikiran dan hati yang jernih sebagai petunjuk.

    ReplyDelete
  12. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Stigma bagi seseorang belum tentu merupakan stigma bagi orang lain. Sebenar-benar hidup adalah stigma dan sebenar-benar stigma adalah hidup. Stigma bisa menjadi hal yang baik jika kita hanya menjadikannya sebagai pengetahuan kita dan mampu mengambil hikmah ataupun nilai baik sehingga kita bisa menjadi orang yang sopan terhadap pengalaman hidup orang lain. Namun yang terjadi kebanyakan pada kehidupan kita adalah stigma menjadi sesautu yang buruk karena kita terus menggunjingkannya.

    ReplyDelete
  13. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Dalam kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari stigma. Stigma ada yang membawa manfaat adapula yang membawa kerugian. Berdasarkan hal tersebut manusia hendaknya dapat bijaksana dalam menghadapi stigma. Berusaha mengetahui stigma yang bermanfaat untuk menambah pengetahuan tentang cara hidup yang sesuai dengan norma masyarakat. Selanjutnya menghindari stigma yang membawa pengaruh buruk untuk diri sendiri dan orang lain. Misalnya tentang keburukan orang lain, keburukan orang lain yang belum tentu kebenarannya tidak perlu untuk diketahui dan dibicarakan secara berlebihan apalagi merasakan kenikmatan untuk mengetahuinya.

    ReplyDelete
  14. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi jejaring stigma ini saya memahami bahwa dalam kehidupan ini memang tidak terlepas dari stigma-stigma, baik itu stigma orang lain terhadap kita maupun stigma kita terhadap orang lain. Stigma itu muncul dari penilaian orang lain terhadap kita maupun penilaian kita terhadap orang lain, yang kemudian beredar ditengah-tengah lingkungan. Untuk itu bijaksanalah dalam menghadapi stigma, karena bisa saja merugikan si subjek stigma, padahal stigma yang berredar itu belumlah benar adanya. Maka ketika menghadapi stigma, jangan langsung ditelan mentah-mentah. Kritislah terhadap stigma tersebut dan bernuranilah dalam menyikapinya.

    ReplyDelete
  15. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.
    Nikmat tidak hanya berupa kebahagiaan dan kesenanngan.Sebagaimana yang dipaparkan pada elegi tersebut nikmat juga dapat berupa sebuah rasa penasaran terhadap keingintahuan mengetahui sesuatu.Sehingga dari rasa ingin tahu tersebut memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang pada akhirnya menemukan jawaban.Bahwa stigma adalah hati dan pikiran.Boleh saja yang menurut kita baik dalam bertindak dan berpikir, tapi bisa buruk menurut kacamata orang lain.

    ReplyDelete
  16. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Hal yang paling berbahaya bagi keharmonisasian semesta adalah perselingkuhan antara kekuasaan dengan stigma. Banyak orang salah menggunakan stigma, bahkan stigma kerap digunakan sebagai senjata yang ampuh untuk melanggengkan kekuasaan. Jika jadi penguasa, cukup berikan stigma kepada oposisi maka kekuasaan akan aman. Maka, kita harus hati-hati dalam menggunakan stigma apalagi terpengaruh ke dalam arus stigma.

    ReplyDelete
  17. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Ternyata apa yang kita pikir nikmat belum tentu orang lain juga mengatakan hal yang sama. Begitu juga dengan yang dirasakan orang lain nikmat belum tentu kita juga merasakan kenikmatan yang sama. Maka sebenarnya nikmat adalah berdasarkan pada diri sendiri. Namun, apakah kita pernah berfikir kenikmatan yang hakiki itu seperti apa? Kalau menurut pandangan dari sisi saya pribadi, yang namanya kenikmatan yang kita peroleh dapat dikatakan sebagai kenikmatan yang hakiki adalah ketika kenikmatan tersebut tidak memberikan dampak negatif terhadap orang lain. Namun, jika kita merasakan kenikmatan dengan memberikan dampak negatif kepada orang lain, maka sebenar-benarnya nikmat itu adalah fana. TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  18. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Sebelum membaca elegi ini, saya sebelumnya juga sudah mendatpatkan sedikit pengetahuan dari elegi-elegi stigma yang lain. Tentu kata stigma tidaklah asing bagi kita. Sering kali kita mendengarkan stigma hingga dengan mudahnya kita juga termakan stigma itu dan secara tidak sadar ternyata stigma itu membahayakan subyek stigma itu. Sungguh jahat sekali kita. Menurut saya, benar adanya dari kesimpulan elegi ini. Perlu mengetahui stigma tetapi bagi saya janganlah menjudge si subyek dan stigma tersebut. Jadikanlah stigma sebagai tambahan pengetahuan di kehidupan sehari-hari dan janganlah mudah termakan oleh stigma. Masa kini, manusia hanya menerka-nerka saja tanpa adanya bukti. Sesungguhnya Allah Maha Tahu.

    ReplyDelete
  19. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Setiap manusia mempunyai standar yang berbeda-beda. Sesuatu yang dianggap stigma oleh seseorang, belum tentu dianggap stigma pula oleh orang lain. Oleh karena itu, dalam menghadapi stigma diperlukan pola pikir kritis dan hati yang jernih. Karena jika tidak demikian bisa jadi kita salah dalam menghakimi stigma, padahal mungkin belum tentu itu stigma.

    ReplyDelete
  20. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Saya belum bisa memahami mengenai makna stigma. Namun ada satu pesan dari Prof Marsigit yang saya kira relevan untuk diaplikasikan dimanapun, yaitu “berpikir kritislah dalam menyikapi stigma dan bernuranilah dalam menyikapinya”. Dalam menyikapi segala sesuatu kita perlu mengedepankan pikiran dan hati dalam menilainya, tidak hanya dengan emosi saja, atau hanya dengan pikiran saja dan mengesampingkan factor hati.

    ReplyDelete
  21. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Pak atas ilmu yang diberikan melalui postingan ini.
    Sebelum membaca ulasan di atas, saya beranggapan bahwa stigma cenderung bersifat negatif. Ternyata informasi yang saya peroleh juga dapat bersifat positif dari stigma itu sendiri. Bahkan dalam hidup, saya juga tidak dapat menghindari stigma itu sendiri. Satu hal yang dapat saya cermati bahwa hidup bukanlah berfokus pada keingintahuan tentang orang lain melainkan bagaimana menggali lebih dalam diri sendiri. Namun, bagaimana awalnya saya dapat memberikan penilaian yang positif dari stigma yang ada?

    ReplyDelete
  22. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Lagi-lagi saya mengalami kesulitan dalam memahami elegi karena bahasanya yang susah dicerna oleh pikiran saya. Segala sesuatu itu memiliki sisi baik dan tidak baiknya, begitu pun stigma, stigma memiliki sisi baik dan sisi tidak baik. Oleh karena itu dalam menghadapi stigma diperlukan pikiran yang kritis dan harus disikapi dengan hati nurani. Sebab dalam mengetahui stigma memiliki keuntungan, kerugian, bahkan ada juga bahayanya. Semuanya itu bergantung bagaimana pikiran dan hati kita, jika kita mengetahui bahayanya stigma, kita akan mudah mengetahui ruginya dari mengetahui stigma. Rugi disini bukan rugi kepada kita, melainkan merugikan si subjek stigma.

    ReplyDelete
  23. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Stigma merupakan keadaan yang tidak disukai keadaan baik. Namun stigma yang dianggap buruk, bisa jadi dianggap baik orang lain. Misalnya stigma bahwa merokok itu tidak baik, bisa mengganggu kesehatan diri sendiri dan orang lain. Namun bagi si subyek perokok, mereka beranggapan bahwa merokok itu baik, karena menjadi mudah bergaul di masyarakat dan juga hitung-hitung membantu pemerintah, karena pajak rokok sangat tinggi. Jadi dalam menghadapi stigma kita bisa mempergunakan dua senjata yaitu hati dan pikiran.

    ReplyDelete
  24. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Elegi ini menunjukkan bahaya jika kita tidak bersikap bijak dalam menyikapi suatu hasutan dan sugesti yang diberikan. Keputusan kita untuk menganggap sesuatu itu buruk dapat berakibat fatal bagi seseorang, dan kebalikanya. Semoga kita dihindari dari sifat determinis tanpa fondamen yang kuat karena stigma yang bersarang dalam diri kita dapat menghancurkan diri kita dan orang lain.

    ReplyDelete
  25. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Stigma berkaitan dengan suatu keadaan yang tidak baik. Namun manusia yang emmepunyai kemampuan untuk menerjemahkan suatu hal, memiliki perdapat berbeda terhadap baik buruknya sesuatu. Serta ukuran baik buruknya seseorang itu berbeda-beda. Karena bisa saja hal yang buruk buruk bagi seseorang merupakan hal yang baik bagi orang lain, begitu juga sebaliknya. Semuanya tergantung pada kemampuan seseorang itu menterjemahkan hal yang sedang terjadi. Dan kemampuan tersebut berdasarkan ilmu yang diperolehnya.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  26. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Dalam masyarakat selalu ada sebuah stigma. Stigma dalam masyarakat ada dua macam, yaitu stigma positif dan stigma negatif. Stigma negatif cenderung lebih mudah menyebar di kalangan masyarakat. Mengetahui stigma memiliki keuntungan ataupun kerugian. Saat mengetahui stigma yang terbangun dalam masyarakat kita dapat berpikir kritis dan merasakannya dengan hati, sehingga kita dapat menyesuaikan diri dalam masyarakat. Namun jangan sampai kita termakan oleh sebuah stigma negatif karena akan merugikan diri kita sendiri maupun lingkungan sekitar. Terimaksih.

    ReplyDelete
  27. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Stigma ada di kehidupan kita dan berkaitan dengan kahidupan kita sehari-hari. Stigma ada yang positif dan negatif. Anggapan stigma setiap manusia berbeda dan tidak bisa sama. Stigma yang kita anggap positif belum tentu dianggap positif juga orang lain, begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, kita harus selalu berhati-hati dalam hidup bermasyarakat agar tidak melukai perasaam orang lain.

    ReplyDelete