Sep 20, 2013

Elegi Jejaring Stigma




Oleh Marsigit

Awama:
Haha..hehe..haha..hehe. Ternyata nikmat itu tidak harus karena makan, minum atau uang.

Praktika:
Wahai Awama, bolehkah aku tahu apa yang menyebabkan engkau merasa nikmat bukan karena makan, minum atau uang.

Awama:
Kata orang sekarang lagi banyak stigma.

Praktika:
Apakah stigma itu?

Awama:
Aku sendiri tidak tahu. Tetapi kata orang yang membuat aku merasa nikmat itu disebut sebagai stigma.

Awama dan Pratika:
Wahai Cantraka, dapatkah engkau menjelaskan apakah yang disebut sebagai stigma itu?

Cantraka:
Kenapa engkau bertanya perihal itu kepadaku?

Awama dan Pratika:
Bukankah namamu itu Cantraka. Dari namamu saja aku bisa menebak bahwa engkau adalah seorang yang suka mencari hakekat. Maka jika engkau berkenan berikanlah penjelasan kepadaku kenapa pula banyak orang sekarang bicara perihal stigma?

Cantraka:
Sebetulnya apa yang terjadi pada dirimu, sehingga engkau bertanya perihal yang demikian? Wahai Awama apakah yang membuatmu gembira sekarang ini, coba ceritakan kepadaku?

Awama:
Aku tidak tahu apakah aku gembira atau tidak. Yang jelas aku bersemangat.

Cantraka:
Kenapa engkau bersemangat?

Awama:
Begini, tetapi ini rahasia. Jangan dikatakan kepada siapapun. Katanya itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Dst..dst...pokoknya asyik dheh.

Cantraka:
lalu kenapa engkau bersemangat.

Awama:
Lho la iya ta. Kan semua orang ingin tahu. Jadi termasuk aku pun ingin tahu. Jika aku tahu, kan jadi banyak orang ingin bertanya kepadaku. Bukankah ditanya banyak orang itu menjadi hak istimewa yang banyak dicari orang?

Pratika:
Wahai Awama, engkau sedang bicara apa dengan Cantraka. Kenapa bicaramu cenderung ngegosip? Bolehlah aku ikut mengetahuinya?

Awama:
Itulah buktinya wahai Cantraka, maka selama aku simpan pengetahuanku itu maka telah terbukti bahwa Pratika pun selalu mengejar-kejar diriku. Dia ingin selalu bertanya kepadaku. Bukankah hal demikian membuatku gembira. Itulah kenikmatanku dengan tanpa makan, minum atau dibayar dengan uang. Tetapi kenapa ada orang mengatakan bahwa diriku itu sedang termakan stigma? Sementara ada orang lain mengatakan baha stigma itu adalah sesuatu yang tidak baik?Jadi pikiran dan hatiku agak ragu apakah sebetulnya aku gembira, bersemangat atau gelisah? Maka jika boleh aku ingin bertanya kepadamu wahai Cantraka.

Cantraka:
Jikalau aku menjadi kamu wahai Awama, maka kemudian akupun mempunyai cukup alasan untuk kemudian mengatakan bahwa aku gembira dan bersemangat dan kemudian merasakan kenikmatan dikarenakan engkau bertanya kepada diriku.

Cantraka:
Wahai Pratika, aku sebetulnya enggan menjawab pertanyaanmu. Jangankan menjawab pertanyaanmu, mengulangi apa yang dikatakan oleh Awama saja aku enggan. Bukankah engkau tadi mendengar bahwa Awama telah mengabarkan bahwa itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal.

Pratika:
Wahai Canraka, janganlah engkau mengaku sebagai cantraka karena engkau itu sebetulnya juga sama saja dengan banyak orang. Engkau juga sama saja dengan Awama, karena engkau telah juga mengatakan bahwa itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal.

Cantraka:
Wahai Pratika, maafkanlah daku aku tadi tidak menyadari bahwa aku juga telah mengatakan seperti apa yang diwartakan oleh Awama. Berarti menurut banyak orang aku juga sudah terkena stigma. Padahal ketahuilah bahwa seluruh hidupku itu aku tujukan bahwa aku selalu terbebas dari stigma. Tetapi bukankah engkau juga telah mengatakan seperti apa yang diwartakan oleh Awama itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Berarti engkau juga sudah termakan stigma.

Awama dan Pratika:
Wahai Cantraka, dari pada kita mutar-mutar, jelaskan saja kepadaku apakah artinya stigma itu? Tetapi aku ragu jika engkau menjawabnya. Aku ragu apakah engkau bisa menjawabnya. Karena engkau sendiri ternyata juga telah terkena stigma.

Cantraka:
Betul juga apa yang engkau ragukan. Pengetahuanku tentang stigma ternyata lain dengan perkataanku tentang stigma. Pengetahuanku tentang stigma ternyata lain dengan sikapku tentang stigma. Tetapi baiklah, aku mempunyai teman yang bernama Candraka. Dia itu mempunyai pengetahuan yang selalu lebih dalam dan lebih luas dariku. Lagi pula dia belum terkena stigma.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai Candraka, bolehkah engkau menjelaskan kepadaku apa artinya stigma. Konon menurut beberapa orang aku bertiga ini sedang terkena stigma.

Candraka:
Wahai Awama, Pratika dan Candraka, dengarkan dulu. Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku ingin menyampaikan khabar kepadamu. Katanya itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Lho..lho..lho...ternyata Candraka telah tahu ta? .. bahwa itu.. si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Wahai Candraka..bagaimana engkau tahu perihal berita itu? Berarti engkau juga telah terkena stigma.

Candraka:
Au tidak peduli aku itu terkena stigma atau bukan, tetapi aku merasakan kenikmatanku mendengar semua pertanyaanku. Dengan pengetahuanku perihal ini ternyata engkau bertiga berbondhong-bondhong berusaha bertanya kepadaku. Itulah kenikmatanku. Tetapi tidak hanya itu saja. Kenikmatanku semakin bertambah karena aku itu sebetulnya tidak suka dengan Ahilu. Maka entah salah entah benar, apapun yang terjadi maka berita ini tentu akan merugikan Ahilu. Hal yang demikian ternyata telah menambah semangatku. Ketahuilah bahwa aku juga telah menyebarkan berita-berita ini kepada orang-orang yang bukan sembarang orang. Ketahuilah bahwa Pampilu juga telah mengetahui berita ini.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Wah..wah..gawat...dari pada kita terjebak di sini..ayo kita pergi saja.

Candraka:
Hai engkau bertiga, mau kemanakah engkau itu? Engkau tidak kuasa seenaknya pergi begitu saja tanpa seijinku. Ketahuilah bahwa kita semua berada dibawah kekuasaan Pampilu. Terserah kepada Pampilu akan bertindak apa terhadap kita. Pampilu juga betulbetul telah mengatahui si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Tetapi di atas Pampilu kita masih mempunyai Rakata sebagai penguasa kita. Aku tidak tahu apakah Rakata telah mengetahui hal yang demikian itu. Tetapi aku ragu jika mengatakan hal yang demikian kepada Rakata, karena mengetahui dan tidak mengetahui bagai Rakata, maka sikap dan perbuatannya dapat menentukan hidup matinya kita semua.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai Candraka, lalu bagaimana sikap kita?

Candraka:
Aku juga bingung. Jika aku sampaikan kepada Rakata maka keadaanya bisa runyam. Maka tunggulah aku ingin bertanya saja kepada sang Bagawat di Kutarunggu. Wahai sang Bagawat, berikanlah kepadaku dan kepada teman-temanku apa yang dimaksud dengan stigma, lalu bagaimana kita sebaiknya menghadapi stigma.

Bagawat:
Wahai muridku semua. Ketahuilah bahwa stigma itu adalah untaian langit dan bumi. Jikalahu itu perihal langit maka itulah hatiku. Jika perihal bumi maka itulah pikiranku. Maka sebenar-benar stigma adalah untaian pikiran dan hatiku.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai guru, aku belum jelas perihal penjelasanmu itu?

Bagawat:
Ketahuilah sebenar-benar hidup adalah stigma dan sebenar-benar stigma adalah hidup. Tiadalah hidup itu sebenar-benar baik bagi semua orang, maka sebenar-benar baik bagi hidup semua orang hanyalah milik sang Kuasa.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai guru, aku belum jelas perihal penjelasanmu itu?

Bagawat:
Jika engkau belum juga jelas perihal penjelasanku maka itu semata-mata dikarenakan dimensimu. Ketahuilah hidup yang satu bisa menjadi stigma yang lain. Maka bagi sipelaku atau si subyek stigma, bukanlah stigma itu berlaku bagi dirinya. Jika aku definisikan stigma sebagai sifat yang tidak baik, bukankah manusia itu mempunyai ukurannya sendiri bagi kebaikkannya. Kebaikan seseorang bisa menjadi keburukan orang lain. Maka dengan sekejap, yang engkau rasakan sebagai stigma belumlah tentu itu merupakan stigma bagi orang lain.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Bagaimanakah apakah sebaiknya semua orang-orang perlu mengetahui stigma itu?

Bagawat:
Pengetahuan tentang stigma itu sesuai dengan peruntukkannya. Jika itu membawa mudhlarat kepadamu maka sebaiknya engkau tidak perlu terlalu bersemangat untuk mengetahuinya. Maka aku tidak terlalu setuju dengan pendapat si Awama bahwa stigma itu memberi nikmat. Tidaklah perlu bagai seseorang sama dalam memikirkan stigma dengan perkatannya dan perbuatannya.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Lalu bagaimana kita bersikap menghadapi stigma?

Bagawat:
Urakanlah stigma itu ke dalam 2 (dua) unsur utamanya, yaitu pikiran dan hatinya. Berpikir kritislah menghadapi stigma dan bernuranilah dalam menyikapinya.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Apa untungnya mengetahui stigma?

Bagawat:
Untungnya mengetahui stigma adalah agar engkau mengerti sopan santun. Karena stigma itu adalah pengetahuan tentang sebagian hidup dan masyarakatmu. Jika engkau mengetahui hal yang demikian maka engkau dikatakan mempunyai pengetahuan. Dengan pengetahuanmu itulah maka engkau dapat bersopan santun.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Apa ruginya mengetahui stigma?

Bagawat:
Ruginya mengetahui stigma adalah merugikan si subyek dalam stigma.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Apa bahayanya mengetahui stigma.

Bagawat:
Bahayanya mengetahui stigma adalah jika engkau adalah orang yang berkuasa terhadap si subyek stigma. Karena kekuasaanmu itulah maka engkau dapat mencelakakan sipelaku stigma, padahal yang demikian itu belumlah tentu benar adanya.

31 comments:

  1. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Terkadang kita tidak menyadari bahwa kita sedang termakan oleh stigma. Ketika kita mencari tahu kebenaran tentang suatu berita, terkadang kita justru ikut membicarakan subjek yang diberitakan sehingga kita menjadi ikut termakan stigma. Maka untuk menghadapi stigma kita harus berpikir kritis dan bernurani dalam menyikapinya. Ketika terdapat suatu berita yang belum jelas kebenarannya, kita harus dapat berpikir kritis dan tidak asal mempercayai berita tersebut. Kita juga harus bernurani dalam menyikapinya agar tidak merugikan subjek yang dibicarakan dalam berita tersebut.

    ReplyDelete
  2. Muhammad Kamaluddin
    17709251027
    PMB PPs 2017

    Mengetahui stigma adalah hal yang penting, hanya agar kita dapat sopan dan satun terhadap ruang dan waktu. Namun mengetahui stigma juga dapat menjadi bahaya, jika kita tidak dapat menangkapnya dengan bijak. Apa yang seseorang persepsikan salah terhadap sesuatu, belum tentu salah menurut yang lain. Bahkan apa yang dianggap benar, justru salah menurut orang lain. Maka dari itu, dalam memahami stigma kita harus mampu berpikir kritis memandangnya dari berbagai sudut persepsi dan menggunakan nurani untuk melihatnya.

    ReplyDelete
  3. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online, stigma adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya.
    Dunia digambarkan dengan kerajaan stigma. Seseorang yang telah terkena stigma, segala sesuatunya akan dipenuhi dengan hawa nafsu dan pada akhirnya membuat manusia menghalalkan segala cara untuk mencapai sesuatu yang diinginkan. Stigma membuat manusia tidak mampu membedakan baik dan buruk, benar dan salah, serta membuat manusia lupa tentang tujuan hidup yang sesungguhnya.

    ReplyDelete
  4. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Penerapan stigma sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Istilah stigma yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari adalah menggosip/menggunjing. Dan herannya perbuatan ini malah membuat senang para yang membuat stigma. Padahal sesungguhnya hal ini adalah hal negatif yang dapat menyebabkan mitos dan berteman dengan syeitan, serta hal ini tentunya akan merugikan subyek stigma karena pandangan lingkungan akan dirinya berada dalam kategori buruk. Harusnya jika kita mendengar suatu kabar komfirmasi dulu kebenarannya sehingga tidak menimbulkan fitnah.

    ReplyDelete
  5. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Dalam elegi ini bahwa yang dimaksud denganstigma adalah mitos. Ketika orang mengetahui berita atau isu yang tersebar, tentu orng tersebut akan bangga dan akan merasa bahwa diriya tahu segalanya. Dia lebih senang ketika orang lain menanyakan perihal mitos tersebut kepadanya, karena orang tersebut ibaat menjadi guru. Akan tetapi sebenarya, mitos yang beredar belum tentu benar, jadi tidak seharusnya kita menyebarkan mitos tersebut, apalagi merasa bangga karena tahu tentang mitos tersebut. Semoga kita bisa menjaga diri untuk tidak terkena jejaring mitos atau jejaring stigma.

    ReplyDelete
  6. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Baik buruknya suatu stigma tergantung bagaimana cara orang tersebut berpandangan. Maka dalam hal ini sangat dibutuhkan pikiran yang sangat kritis dimana kita bisa mengetahui hal yang manfaat dan hal yang mudharat dari suatu stigma. Sehingga bahaya dan kerugian dapat direduksi sekecil mungkin

    ReplyDelete
  7. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Stigma merupakan pandangan orang lain terhadap kita dan bisasanya bersifat negatif. Jika ditelaah lebih lanjut lagi, maka stigma ini muaranya ialah memandang orang lain negatif atau tidak baik. Padahal sesungguhnya, memandang orang lain dengan pandangan negatif akan mengotori hati dan pikiran. Hati dan pikiran yang kotor akan menghambat proses dalam menuntut ilmu atau bertindak. Dengan demikian, seyogyanyalah kita menjauhkan stigma ini dari kehidupan kita ini.

    ReplyDelete
  8. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Segala sesuatu yang merentang antara hati dan pikiran ialah stigma. Oleh karena itu, dalam kehiduapn ini kita harus dapat menyikapi stigma dengan baik, layaknya seseorang memiliki hak yng sama untuk berprasangka baik maupun berprasangka buruk, maka sebaik-baik stigma ialah yang maenuntun seseorang menuju hikmah dan hakekat dari kehidupan ini. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  9. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Pada jaman sekarang ini, filsafatnya adalah filsafat bahasa , maka akan makin sering kita temui stigma dalam kehidupan sehari-hari semaki mudah menyebar jaringnya melalui media sosial. Stigma sering berwujud sebuah gosip atau sekarang biasa disebut berita hoax, kita harus berhati-hati dalam menerima, mengolah, dan meneruskan informasi, tentunya agar subyek yang ada dalam stigma tidak dirugikan oleh perbuatan stigma, karena seperti yang disampaikan dalam artikel ini, dengan mengetahui stigma artinya kita mengetahui sebahagian hidup orang lain yang belum tentu kebenarannya dan harus kita tanggapi dengan berpikir kritis dan disesauikan dengan hati nurani kita.

    ReplyDelete
  10. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Stigma memang menarik untuk dibahas, terlihat dari beberapa artikel dalam blog ini yang bahasannya berupa stigma. Sebagai makhluk yang hidup saling berdampingan, komunikasi yang terjalin tidak terhindarkan, entah secara langsung maupun tidak langsung. Pandangan orang-orang dapat menjadi stigma karena pengaruh dari komunikasi-komunikasi yang terjalin ini. Stigma bagi seseorang belum tentu merupakan stigma bagi orang lain. Oleh karena itu, tidak seharusnya kita langsung menjudge seseorang hanya berdasarkan apa yang tampak tanpa mengetahui kebenarannya. Hal ini akan menjadikan fitnah, dan kita tahu bahwa fitnah itu ibaratnya lebih kejam daripada pembunuhan.

    ReplyDelete
  11. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Dalam menjalani hidup, tentu kita akan selalu berhubungan dengan makhluk lain. Bisa komunikasi, transaksi, sharing, bisnis dsb. Sebagai bawaan dasar kita memiliki akal dan pikiran untuk menilai sesuatu, terkadang penilaian kita hanya berdasar informasi orang lain, ada yang kita dapat dari membaca buku, ada yang informasi dari guru, informasi dari dosen, dsb. Tidak selalu informasi tersebut sepenuhnya benar. Adakalanya seorang informan menambah atau mengurangi informasi agar informasi yang beredar bisa sesuai keinginannya walaupun sebetulnya itu kurang tepat.

    ReplyDelete
  12. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Bersifat halus dan lembut, bahkan ttidak terasa, itulah stigma. Mengetahui stigma membuat kita menajdi orang yang beradab, berderajat. Stigma sering menghinggapi setiap orang karena jaringnya yang begitu ekstensif, melebaar jauh kesemua aspek sikap dan perilaku. Stigma bukan berarti menjadi tabu untuk dibahas, tetapi menjadi pelajaran pada diri untuk mengerti adab dalam social.

    ReplyDelete
  13. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Saya setuju dengan perkataan sang Bagawat. Menurut yang saya pahami tentang istilah stigma, stigma adalah anggapan dari orang, statement/ pernyataan dari orang lain yang menempel untuk diri kita. Stigma dari orang lain bisa dalam bentuk positif maupun negatif, maka dari itu h=kita harus pintar-pintar dalam menyikapinya. Keuntungan mengetahui stigma adalah agar kita mengerti sopan santun dan rendah hati. Stigma adalah gambaran pengetahuan yang kita miliki tentang hidup dan masyarata sehingga apabila kita mengetahui hal yang demikian maka engkau dikatakan mempunyai pengetahuan. Dengan pengetahuanmu itulah maka engkau dapat bersopan santun dan rendah hati. Stigma menjadi motivasi dan pelajaran pribadi untuk menjadi diri yang lebih baik. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  14. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Jejaring stigma di sini ialah jaringan penyebaran pikiran negative atau fitna atau hoax yang sangat menyebar dan cepat dalam penyebarannya. Sesuatu yang buruk sesungguhnya dari godaan setan dan hawa nafsu, maka sudah menjadi alamiah jika seseorang menyukai yang buruk, sala satunya stigma. Begitu stigma muncul maka penyebarannya akan cepat terjadi. Orang yang ditulari stigma akan merasa senang telah memperoleh stigma dan merasa bangga karena dapat menularkan kepada orang lain.

    Contoh stigma di sisni ialah gossip. Ketika seseorang yang termakan hawa nafsu dan bisiskan setan mendapatkan gossip tentang seseorang, maka ia menjadi ingin tau dan senang apabila tela mengetahui gosipnya. Kemudian ia sangat bersemangat untuk menyebarluaskan karena ada kepuasan tersendiri jika mampu menjadi slah satu sumber gosip. Perilaku seperti ini di zaman modern sudah dianggap tidak tabu karena terbungkus oleh wadah entertainment atau hiburan. Berbagai stigma atau gosip dis ebar secara global melakui TV dan media social yang dapat dengan mudah diases atau ditularkan kepada banya orang. Semoga kita terhindar dari jejaring stigma ini agar tida termakan dan ikut menyebarluaskannya.

    ReplyDelete
  15. Latifah Fitriasari
    PM C

    Perlu adanya sabar dan ikhlas supaya jika ada hal yang ditemukan tidak sesuai harapan. Sebenar-benar hidup adalah stigma dan sebenar-benar stigma adalah hidup. Manusia tidak lepas dari kekurangan. Namun kekurangan itu tidaklah menjadi alasan untuk tidak bertindak dalam hal kebaikan. Positif dan negatif merupakan dampak dari berbagai kegiatan yang kita lakukan selama ini. Berpikir positif akan menghasilkan hal yang bermanfaat dan berpikir negaitf akan menghasilkan hal yang merugikan bagi diri sendiri.

    ReplyDelete
  16. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas saya memahami beberapa hikmah yaitu berkaitan dengan stigma. Stigma adalah kehidupan itu sendiri ia bisa menjadi mudhorot dalam kehidupan. Karena stigma itu adalah pengetahuan tentang hidup dan masyarakat. Stigma terdiri dari 2 (dua) unsur utamanya, yaitu pikiran dan hatinya. Terdapat pesan yang mendalam pula yaitu agar menggunakan pikitan dan hati dengan seimbang sebagaimana disampaikan dalam elegi dengan ungkapan ”Berpikir kritislah menghadapi stigma dan bernuranilah dalam menyikapinya”. Stigma merugikan si pelaku stigma itu sendiri. Dan dapat dilihat jika semua orang sejatinya memiliki petensi tersebut namun lagi-lagi bagaimana mengendalikannya. Sejatinya stigma dalam kehidupan juga telah menjadi kehidupan maka yang perlu diperhatikan yaitu sikap-sikap kita dalam menyikapi kehidupan itu sendiri dengan sesuai dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  17. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Memang tidak mudah menyingkirkan stigma yang telanjur melekat. Manusia cenderung melihat sisi buruknya saja. Tetapi ada beberapa cara, mengurangi stigma. Banyak orang yang hidup dalam naungan stigma yang berakibat hidup selalu terkekang oleh stigma dan bagaikan hidup dalam penjara. Memang sangat rumit bila dipikirkan namun itulah stigma. Stigma akan datang tanpa mau mengetahui fakta di baliknya. Stigma orang-orang akan muncul tanpa ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

    ReplyDelete
  18. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Manusia tidak bisa menghindari sisi buruk muncul dalam dirinya bahkan manusia yang dianggap soleh dan solehahpun, seperti halnya sifat munafik. Seringkali apa yang dirasakan dalam hati tidak sesuai dengan apa yang dilakukan. Maka sedikit integritas yang ada didalam diri manusia tersebut. Mengapa sisi buruk hadir didalam diri manusia, hal ini dikarenakan keadaan menutup logika dan nurani manusia.

    ReplyDelete
  19. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam elegi ini diceritakan bahwa mengetahui stigma yang beredar dimasyarakat dapat memilki keuntungan tersendiri. Dengan mengetahui stigma yang beredar, maka seseorng memiliki pengetahuan yang berada disebagain hidup masyarakatnya. Dari situlah seseorang mampu mendapatkan pengetahuan. Dari pengetahuna yang didapat inilah seseorang tersebu mampu berlaku sopan dan santu.

    ReplyDelete
  20. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Sebenar-benar hidup adalah stigma dan sebenar-benar stigma adalah hidup. Manusia tidak lepas dari kekurangan. Namun kekurangan itu tidaklah menjadi alasan untuk tidak bertindak dalam hal kebaikan. Kita sebagai manusia adalah milik sang pencipta yaitu Allah SWT.
    Dari elegi jejaring stigma tersebut dapat diketahui bahwa mengetahui stigma itu mempunyai keuntungan dan kerugiannya.
    Untungnya mengetahui stigma adalah agar engkau mengerti sopan santun. Karena stigma itu adalah pengetahuan tentang sebagian hidup dan masyarakat. Ruginya mengetahui stigma adalah merugikan si subyek dalam stigma.

    ReplyDelete
  21. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Baik buruknya suatu stigma tergantung bagaimana cara orang tersebut berpandangan. Maka dalam hal ini sangat dibutuhkan pikiran yang sangat kritis dimana kita bisa mengetahui hal yang manfaat dan hal yang mudharat dari suatu stigma. Sehingga bahaya dan kerugian dapat direduksi sekecil mungkin.

    ReplyDelete
  22. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Pada zaman saat ini dimana dunia semakin maju dan canggih, begitu banyak informasi yang tidak jelas asal usunya bertebaran, hal ini pun membuat stigma ada dimanapun dan kapanpun sehingga dapat terjadi kepada siapa saja. Bahkan orang yang sudah terkena stigma pun mungkin tidak menyadari bahwa dia sudah terkena stigma. Karena stigma adalah untaian pikiran dan hati maka kedua hal itu lah yang dapat digunakan untuk melawan stigma. Berpikir terlebih dahulu atau menjadi kritis terhadap isu, ataupun gossip-gosip yang bertebaran jangan hanya menerimanya begitu saja. Dan bernuranilah dalam menyikapinya, atau dengan kata ketika dalam menyikapi stigma yang sudah terpasang dalam diri kita adalah dengan bertawakal kepadaNya, dan menyikapinya dengan bijak. Sehingga bukan kerugianlah yang akan diperoleh dari adanya stigma tersebut, melainkan untungnya. Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  23. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Dalam kamus besar bahsa Indonesia stigma didefinisikan sebagai ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Berstigma dapat disamakan dengan berprasangka buruk. Allah melarang kita untuk berprasangka dengan orang lain. Karena diri sendiri pun kita tidak mampu memahami seluruhnya apalagi diri orang lain yang hanya kita tau sebagian kecil perilakunya.

    ReplyDelete
  24. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Stigma adalah persepsi negatif akan sesuatu hal. Hampir setiap saat kita mendapatkan atau menemui stigma. Stigma bisa menjadi hal yang bak atau buruk tergantung bagaimana kita menyikapinya. Stigma bisa menjadi hal yang baik jika kita mampu menggunakannya sebagai pengetahuan kita dan mampu mengambil hikmah dibalik stigma tersebut sehingga kita bisa menjadi orang yang sopan. Namun di kehidupan sehari-hari, kebanyakan stigma menjadi sesuatu yang buruk karena kita terus menggunjingkannya dan mengikuti stigma tersebut.

    ReplyDelete
  25. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Setiap orang memiliki stigma yang berbeda-beda. Stigma bagi seseorang belum tentu merupakan stigma bagi orang lain. Sebenar-benar hidup adalah stigma dan sebenar-benar stigma adalah hidup. Stigma seringkali diidentikkan dngan pandangan negatif. Stigma bisa menjadi hal yang baik jika kita hanya menjadikannya sebagai pengetahuan kita dan mampu mengambil hikmah ataupun nilai baik sehingga kita bisa menjadi orang yang sopan terhadap pengalaman hidup orang lain. Namun yang terjadi kebanyakan pada kehidupan kita adalah stigma menjadi sesuatu yang buruk karena kita terus menggunjingkannya. Maka kita sendiri yang menentukan kemana stigma itu akan kita bawa. Positif atau negatifkah yang akan kita pilih.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  26. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Melanjutkan komentar saya sebelumnya, dari elegi jejaring stigma tersebut dapat diketahui bahwa mengetahui stigma memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannyanya mengetahui stigma adalah agar engkau mengerti sopan santun. Karena stigma itu adalah pengetahuan tentang sebagian hidup dan masyarakat. Kelemahannya, mengetahui stigma adalah merugikan si subyek dalam stigma. Sebenar-benar hidup adalah stigma dan sebenar-benar stigma adalah hidup. Manusia tidak lepas dari kekurangan. Namun kekurangan itu bukanlah menjadi alasan untuk tidak bertingkah-laku dalam hal kebaikan. Kita sebagai manusia adalah milik sang pencipta yaitu Allah SWT.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  27. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    kekuatan stigma sangat luar biasa, stigma mampu meciptakan rasa kepuasan dalam diri seseorang. itu terjadi jika stigma yang ia ciptakan menjadi populer dan dipercaya oleh masyarakat luas. kebanyakan stigma yang ditimbulkan merupakan merupakan stigma negatif, yang dapat merugikan subyek dari stigma tersebut.

    ReplyDelete
  28. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa stigma merupakan kenikmatan yang merupakan hasil dari untaian pemikiran dan hati. Stigma harus ditanggapi secara hati-hati baik secara positif maupun secara negatif. Stigma harus dikritisi dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih.

    ReplyDelete
  29. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Nilai kebaikan dan keburukan bagi setiap orang akan sangat berbeda-berbeda, tergantung dimensinya. Sesuatu yang baik bagi seseorang, belum tentu akan bernilai baik juga bagi orang yang lainnya. Namun, jadilah manusia yang memiliki banyak pengetahuan dan ilmu serta mampu memanfaatkannya secara bijak supaya mampu menyikapi kehidupan ini dengan sopan santun dan bijak.

    ReplyDelete
  30. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Jejaring stigma adalah symbol bahwa stigma adalah entitas yang kompleks. masalah yang kompleks hanya dapat diselesaikan dengan solusi yang kompleks. Seperti yang telah saya jelaskan, stigma hanya dapat ditumpas dengan gerakan ilmu pengetahuan. Gerakan pemberontakan para logos. Stigma harus dihancurkan dari ke akar-akarnya..

    ReplyDelete
  31. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pikiran itu untuk memikirkan, menganalisis, dan lain-lain. Tetapi hati merasakan apakah itu baik dan buruk melalui pikiran untuk memikirkan dan menganalisis. Jadi hati dan pikiran itu saling terkait dalam menentukan mana yang baik dan buruk. Tindakan negatif akan berdampak selain berdampak pada oranglain juga berdampak bagi diri sendiri. Oleh karena itu untuk mengurangi tindakan negatif, seharusnya mematuhi norma-norma yang berlaku, adat istiadatnya, dan aturan yang berlaku.

    ReplyDelete