Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 21: Menggapai Ramai




Oleh Marsigit

Suara1:
Aku adalah suara1. Aku diucapkan dengan sepenuh dayaku oleh subyekku. Suaraku terdengar keras sampai kemana-mana. Seluruh kampung bahkan mendengar suaraku, karena aku menggunakan pengeras suara. Terasa begitu dekat jarak antara bibirku dan kampungku. Tetapi aku merasa bahwa suaraku tidak dapat menggapai kecamatanku. Kecamatanku terlalu luas untuk mendengar suaraku, bahkan ketika aku telah menggunakan pengeras suara sekalipun. Aku mendengar suaraku begitu jelas di dalam telingaku.

Suara2:
Aku adalah suara2. Aku diucapkan dengan sepenuh dayaku oleh subyekku. Suaraku terdengar keras sampai kemana-mana. Seluruh kelas mendengar suaraku, tetapi kelas lain tidak mendengar suaraku, karena aku tidak pakai pengeras suara.Terasa begitu dekat jarak antara bibirku dan kelasku. Aku mendengar suaraku begitu jelas di dalam telingaku.

Suara3:
Aku adalah suara3. Aku diucapkan dengan sepenuh dayaku oleh subyekku. Tiadalah orang di luar diriku mendengar suaraku, karena aku menutup bibirku. Aku tidak mendengar suaraku di dalam telingaku. Tetapi aku mendengar suaraku di dalam mulutku.

Suara4:
Aku adalah suara4. Aku diucapkan dengan sepenuh dayaku oleh subyekku. Tiadalah orang di luar diriku mendengar suaraku, karena aku menutup bibirku. Aku juga menutup mulutku. Aku tidak mendengar suaraku di dalam telingaku. Aku juga tidak mendengar suaraku di dalam mulutku. tetapi aku mendengar suaraku di leherku.

Suara5:
Aku adalah suara5. Aku diucapkan dengan sepenuh dayaku oleh subyekku. Tiadalah orang di luar diriku mendengar suaraku, karena aku menutup bibirku. Aku juga menutup mulutku. Aku juga menutup leherku. Aku tidak mendengar suaraku di dalam telingaku. Aku juga tidak mendengar suaraku di dalam mulutku. Aku juga tidak mendengar suaraku di leherku. Tetapi aku mendengar suaraku di dadaku. Jika aku sebut dadaku sebagai hatiku maka aku mendengar suara di hatiku. Aku mendengar suaraku di hatiku yang satu.

Suara6:
Aku adalah suara6. Aku diucapkan dengan sepenuh dayaku oleh subyekku. Tiadalah orang di luar diriku mendengar suaraku, karena aku menutup bibirku. Aku juga menutup mulutku. Aku juga menutup leherku. Aku tidak menggunakan hanya hatiku yang satu. Aku tidak mendengar suaraku di dalam telingaku. Aku juga tidak mendengar suaraku di dalam mulutku. Aku juga tidak mendengar suaraku di leherku. Aku juga tidak mendengar suaraku di hatiku yang satu. Tetapi aku mendengar suaraku di dadaku sebelah kiri, sebelah tengah dan sebelah kanan. Jika aku sebut dadaku sebelah kiri, sebelah tengah dan sebelah kanan sebagai hatiku maka aku mendengar suara di tiga tempat hatiku. Aku mendengar suaraku di hatiku yang tiga.

Suara7:
Aku adalah suara7. Aku diucapkan dengan sepenuh dayaku oleh subyekku. Tiadalah orang di luar diriku mendengar suaraku, karena aku menutup bibirku. Aku juga menutup mulutku. Aku juga menutup leherku. Aku tidak menggunakan hanya hatiku yang satu. Aku tidak hanya menggunakan hatiku yang tiga. Tetapi aku menggunakan seluruh tubuhku sebagai hatiku. Anehnya aku mulai mendengar suaraku di dalam telingaku. Aku juga juga mulai mendengar suaraku di dalam mulutku. Aku juga mulai mendengar suaraku di leherku. Aku juga mulai mendengar suaraku di hatiku yang satu. Aku juga mulai mendengar suaraku di hatiku yang tiga. Tetapi aku juga mendengar suaraku di seluruh tubuhku. Jika aku sebut seluruh tubuhku sebagai hatiku maka aku mendengar suaraku di semua hatiku. Aku mendengar suaraku di hatiku yang tersebar di seluruh tubuhku.

Suara8:
Aku adalah suara8. Aku diucapkan dengan sepenuh dayaku oleh subyekku. Tiadalah orang di luar diriku mendengar suaraku, karena aku menutup bibirku. Aku juga menutup mulutku. Aku juga menutup leherku. Aku tidak menggunakan hanya hatiku yang satu. Aku tidak hanya menggunakan hatiku yang tiga. Aku tidak hanya menggunakan seluruh tubuhku sebagai hatiku. Tetapi aku juga menggunakan seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku sebagai hatiku. Anehnya aku mulai mendengar suaraku di dalam telingaku. Aku juga juga mulai mendengar suaraku di dalam mulutku. Aku juga mulai mendengar suaraku di leherku. Aku juga mulai mendengar suaraku di hatiku yang satu. Aku juga mulai mendengar suaraku di hatiku yang tiga. Aku tidak hanya mendengar suaraku di seluruh tubuhku. Tetapi aku mendengar suaraku di seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku. Jika aku sebut seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku adalah hatiku maka aku mendengar suaraku di semua hatiku. Aku mendengar suaraku di hatiku yang tersebar di seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku.

Suara9:
Padahal aku tahu suara apakah yang aku ucapkan itu. Itulah setinggi-tinggi ucapanku yaitu menyebut nama Tuhanku. Maka ketika aku menyebut nama Tuhan ku dengan segenap daya, upaya, jiwa dan ragaku, aku mendengar suara yang ramai membahanaluar biasa. Suara itu terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubuhku tetapi suara itu juga aku dengar di seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku. Maka aku merasa menemukan dunia dan di luar duniaku penuh dengan suara yang memanggil nama Tuhan ku. Ya Allah ya Robbi, ampunilah segala dosa-dosaku. Tiadalah sesuatu kecuali kuasa dan rakhmat Mu. Amien.

31 comments:

  1. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sesunggungnya suara yang paling tinggi derajatnya adalah suara ketika menyebut namaNya. Berdzikir, berdzikir, dan berdzikirlah, maka kita akan menjumpai ketenangan hati dan pikiran. Ketenangan itulah yang akan membawa kita kepada kebaikan.

    ReplyDelete
  2. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sebaik-baik dan setingi-tinggi suara hati kita ialah yang menyebut nama-Nya, menyebut nama Allah. Saat setiap orang bungkam dan menutup mulutnya, tak ada satu orang lain pun yang tahu apa yang sedang ia pikirkan atau ucapkan dalam hati. Kita juga memiliki banyak kesempatan saat menutup mulut, yang dapat dimanfaatka dengan sebaik-baiknya, dengan senantiasa menyebut nama Allah (dengan berdzikir).
    Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang merugi. Aamiin.

    ReplyDelete
  3. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017
    Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Ramai itu lawan kata dari sepi, jika pada elegi menggapai sepi, mengartikan kata sepi dengan doa yang khusyuk, kata ramai dalam konteks ini adalah ramainya hati dan pikiran kita dengan seruan nama Allah SWT. Tidak jauh dari dzikir, ramai ini dapat terimplementasikan melalui ucapan syukur, istighfar, dan lafadz-lafadz yang mengandung nama Allah. Semakin ramai hati dan pikiran kita dengan menyebut nama-Nya, maka kemudian kita akan semakin merasa dekat dengan-Nya.

    ReplyDelete
  4. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Tiadalah ucapan yang lebih tinggi ketika seorang makhluk menyebut nama Tuhan-Nya Allah SWT yang menguasai seluruh arsy dan hari pembalasan. Meskipun kita tidak menyebutnya secara keras, namun ketika kita menyebutnya dengan ikhlas dan penuh rasa rendah diri di depan-Nya, maka justru derajat kita yang akan di angkat oleh-Nya. Karena Allah SWT tidak memandang pangkat, golongan atau jabatan, tetapi memandang dari tingkat ketaqwaan kita kepada-Nya. Seluruh alam dalam setiap detik, dan setiap waktu selalu menyebut nama Allah SWT, namun cara mereka dalam menyebut nama Allah berbeda-beda, tumbuhan, hewan pun pada hakekatnya selalu berzikir dan menyebut nama Allah SWT, namun cara memiliki cara yang berbeda dengan yang dipahami oleh manusia.

    ReplyDelete
  5. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dalam elegi ini saya belajar. Bahwa dimanapun kita berada, walaupun lingkungan hening, mulut tak berbicara, hati tak berbicara, namun lingkungan dan segala hal yang ada di sekeliling kita ini sejatinya sedang bertasbih pada Allah. Bertasbih yang kita tidak bisa mengenal bahasanya. Layaknya hewan dan tumbuhan semua bertasbih pada Allah.
    Sehingga sebagai hamba yang diberikan banyak kenikmatan kita dapat senantiasa bertasbih dan berdzikir pada Allah SWT.

    ReplyDelete
  6. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A 2017

    Ramai yang dimaksudkan dalam elegi ini adalah banyaknya suara yang diperdengarkan. Namun sebenar-benar ramai yang disukai oleh Allah adalah selalu menyerukan nama-Nya. Mengucapkan dengan bibir, dihayati dalam hati dan diamalkan dalam perbuatan. Salah satunya dengan berdzikir, menyebut nama Allah di setiap perbuatan kita, akan membuat kita merasa semakin dekat kepada Sang Maha Pencipta, Allah SWT.

    ReplyDelete
  7. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Sebaik-baiknya ucapanku adalah menyerukan nama Allah SWT. Senantiasa berdzikir membuat kita dapat merasakan ramai. Ramai disini bukan kegaduhan, tapi saat dimana kita terasa dipenuhi dengan kalimat-kalimat yang menyerukan nama Allah, dalam diam kita dapat merasa ramai, karena dimensi dari ramai disini berbeda dengan kebisingan yang didengar oleh telinga.

    ReplyDelete
  8. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU
    Dalam elegi ini saya belajar. Bahwa dimanapun kita berada, walaupun lingkungan hening, mulut tak berbicara, hati tak berbicara, namun lingkungan dan segala hal yang ada di sekeliling kita ini sejatinya sedang bertasbih pada Allah. Bertasbih yang kita tidak bisa mengenal bahasanya. Layaknya hewan dan tumbuhan semua bertasbih pada Allah. Sehingga sebagai hamba yang diberikan banyak kenikmatan kita dapat senantiasa bertasbih dan berdzikir pada Allah SWT.

    ReplyDelete
  9. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini, kami memahami bahwa dengan bersuara dengan cara apapun dan bantuan alat apapun pasti memiliki batasan jangkauan daru suara tersebut. Akan tetapi ketika kita dalam sepi merenung dan bersuara dalam hati yang paling dalam, kita bersuara dengan segala kerendahan hati dan keikhlasan, kita berdzikir menyebut nama Allah, maka kita akan merasakan bahwa semesta alam pun bertasbih menyebut nama Allah.

    ReplyDelete
  10. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi menggapai ramai menjelaskan bahwa suara yang paling indah dan berartiadalah ketika kita menyebut nama Allah SWT. Menyebut nama Allah SWT adalah dengan cara berdzikir, selalu mengingat Allah. Selain itu berdoa sebelum melakukan segala sesuatu adalah salah satu mengingat Allah SWT, karena dengan kita mengingat Allah SWT maka kita akan diberikan rahmat serta hidayahNya.

    ReplyDelete
  11. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Elegi Menggapai Ramai..
    Asma Allah memang sangat luarbiasa. Di dunia ini banyak aktivitas yang dilakukan untuk menagagungkan nama-Nya. Salah satunya dengan mengumandangkan Adzan. Berdasarkan sumber yang saya baca ternyata di bumi yang senantiasa berputar ini dengan perbedaan waktu antar daerah, Adzan senantiasa berkumandang di muka bumi ini tanpa berhenti. Baru selesai adzan di daerah ini, lanjut di daerah sebelah baratnya, lanjut lagi di sebelah baratnya. Belum selesai adzan Dzuhur di negara ini, sudah terdengar Adzan Ashar di negara lain. Subhanallah, Maha Besar Allah dengan segala Penciptaan-Nya.

    ReplyDelete
  12. Junianto
    PM C
    17709251065

    Dari elegi di atas, saya sepakat bahwa setinggi-tinggi ucapan adalah ucapan mengagungkan nama-Nya. Tiada ucapan yang lebih tinggi dan bermakna kecuali itu. Ucapan yang hanya ada di dalam hati pun begitu bermakna ketika manusia menyebut nama Tuhannya. Ucapan yang dilisankan dalam bentuk dzikir dan doa yang kita panjatkan mampu menggetarkan langit dan seisinya manakala didasari dengan penuh keikhlasan.

    ReplyDelete
  13. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Ramai berasal dari suara. Suara gaduh, bising, maupun suara yang tidak terdengar oleh telinga. Allah swt menciptakan manusia lengkap dengan alat pendengarnya, yaitu telinga. Telinga manusia dapat mendengarkan suara yang jauh maupun dekat, suara kencang mauoun kecil. Tapi tetap saja ada batas pendengaran yang dimiliki oleh manusia. Telinga hanya mampu menerima suara dari luar saja. Ada batas maksimal dan minimal yang dapat didengarkan manusia. Ketika suara itu maksimal, maka pendengarannya akan bergetar dan bisa jadi terganggu. Ketika suara itu minimal, maka pendengarannya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari sumber suara tersebut.

    ReplyDelete
  14. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Suara-suara sekeras apapun, diucapkan dengan pengeras suara sebaik apapun, akan tetap kalah jika dibanding dengan suara-suara yang menyebut nama Allah SWT. Sebaik-baik ucapan dan suara adalah ucapan dan suara yang menyebut dan mengingat nama Allah SWT. Untuk menyebut nama Allah SWT, tidak diperlukan suara yang sangat keras dan lantang, dengan suara di dalam hati pun, Allah maha tahu. Asalkan kita ikhlas hati dan ikhlas pikir ketika menyebut dan mengingat nama Allah SWT

    ReplyDelete
  15. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmu yang dibagikan. Pada elegi ini saya melihat adanya fase dalam kehidupan. Di mana kita selalu memiliki kesempatan untuk meningkatkan kedudukan (ilmu dan kedewasaan) yang kita miliki. Elegi ritual ikhlas 21: menggapai ramai, saya juga melihat usaha meminimalisir keegoisan. Maksut saya, kita memiliki kesempatan untuk meningkatkan kepekaan kita, maka sudah sewajarnya kita berusaha. Maka alangkah lebih baik jika kita berusaha menjadi orang yang mampu mendengarkan dan memahami diri sendiri dan lingkungan kita.

    Ucapan, ucapan yang akan menggetarkan dunia dan seisinya adalah rintihan seorang hamba menyebut Tuhannya. Maka marilah kita senantiasa menyebut nama Allah di setiap sadar kita.

    ReplyDelete
  16. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Pada dasarnya semua doa yang kita panjatkan mungkin adalah yang dimaksud dalam elegi yang pak marsigit tulis ini. doa tidak perlu terdengar keras sampi ke daerah-daerah yang jauh akan tetapi cukup kita dan Allah saja yang tau. Allah Maha Mendengar. jadi semua yang kita ucapkan pasti akan di dengar oleh Allah SWT. selain itu kita juga harus berikhtiar untuk segala sesuatu yang manjadi doa kita.
    selain itu saya juga menangkap maksud lain dari elegi ini yaitu pengetahuan yang kita kuasai hanyalah sedikit dari semua pengetahuan yang ada, jadi kita jangan sombong. apa yang bisa kita lakukan juga tidak akan bisa membuat semuanya menjadi milik kita, seperti berteriak yang tetap membuat kita tidak bisa memperdengarkan suara kita ke seluruh tempat di jagad raya.

    ReplyDelete
  17. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Menurut saya, suara yang dimaksud dalam kalimat "suara itu terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubuhku tetapi suara itu juga aku dengar di seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku" adalah do'a dan dzikir. Do'a dan dzikir yang kita lantunkan meskipun hanya di dalam hati akan didengar oleh Allah SWT karena Allah Maha Mendengar. Tidak hanya do'a dan dzikir, apa saja yang kita ucapkan di dalam hati akan di dengar oleh Allah SWT. Berbeda ketika kita berbicara dengan manusia, untuk berbicara dengan manusia lainnya kita harus mengeluarkan suara agar perkataan kita didengar dan dimengerti oleh mereka. Bahkan dalam situasi mengobrol atau berdiskusi kelompok, suara tersebut terdengar ramai. Jika tidak bisa mengeleluarkan suara, maka kita bisa menggunakan bahasa isyarat dan itu memerlukan kemampuan yang lebih dalam memahami artinya. Karena itu tadi, manusia terbatas kemampuannya.

    ReplyDelete
  18. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Suara berdimensi dan berhierarki sehingga meliputi berbagai macam suara. Namun, setinggi-tingginya suara ialah untuk menyebut nama Allah SWT. Seluruh anggota badan, bahkan seluruh alam semesta bertasbih menyerukan nama Tuhan. Secara tidak langsung, elegi ini mengajak para pembaca untuk selalu mendekatkan diri pada Allah dengan senantiasa berdzikir dan berdoa, memohon ampunan dan perlindungan-Nya.

    ReplyDelete
  19. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Seluruh anggota badan dalan tubuh ini adalah ciptaan Allah. Seluruh ciptaan Allah pasti setiap detiknya menyebut asma Allah, jangankan anggota badan, batu pun sesungguhnya selalu berdzikir menyebut asma Allah. Seluruh dunia ini sesungguhnya begitu ramai mengagungkan nama Allah, mulai dari adzan, ceramah, sholawatan, tahlilan, marhabanan, tilawah, dll. Sungguh ramainya lingkungan dan diri kita. Ramai atas segala kebesaran Nya. Hingga dunia ini dan luar dunia ini saling bersaut satu sama lain memanggil nama Allah SWT.

    ReplyDelete
  20. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimaksaih banyak Pak prof
    Menyelami makna di balik elegi ini saya mengalami kesulitan,namun setelah melihat endingnya, perihal menggapai ramai yaitu ketika menyebut nama Tuhan dengan melibatkan segala usaha,daya ,jiwa dan raga.Yang pada akhirnya mendengar suara yang ramai.Dan hal demikian tidak terjadi secara spontan begitu saja melainkan dengan takdir dan Kuasa-NyaTuhan.

    ReplyDelete
  21. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Terima kasih Pak, melalui elegi ini saya memahami sejatinya Tuhan Maha Ada. Maaf, sesuai keyakinan saya bahwa Tuhan dapat memenuhi dan meresapi seluruh semesta dan berada dimana-mana, tidak terpengaruh dan tidak berubah dan tidak ada tempat yang kosong bagi-Nya karena Tuhan memenuhi segalanya. Tuhan ada di dalam suara frekuensi yang super tinggi, hingga Tuhan ada di suara yang paling kecil, yaitu lubuk hati manusia. beliau ada di dalam dan di luar ciptaan-Nya.

    ReplyDelete
  22. Assalamualikum Wr. Wb. Jika keramaian diartikan sebagai situasi di mana terdapat orang-orang dengan jumlah tak terhitung di satu tempat dengan berbagai macam interaksi, maka paradoks keramaian itu nyata adanya, sebab dalam satu kondisi tertentu, seorang terkadang merasa sepi di dalam sebuah keramaian. Saya tidak tahu apakah itu hanya manipulasi perasaan atau adakah bentuk keramaian di luar dari pengertian sebelumnya.

    ReplyDelete
  23. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi ini saya memahami bahwa dalam menjalani kehidupan, disegala aktivitas dan kesibukannya, seorang hamba hendaklah selalu menyeru dan menyebut nama Allah SWT. Menyebut nama Allah SWT yang dimaksud adalah dengan selalu berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT, memohon ampunan serta petunjuk-Nya. Karena memang setinggi-tingginya suara adalah suara untuk menyebut nama Allah SWT. Sehingga secara tidak langsung, melalui elegi ini mengingatkan kepada kita untuk senantiasa bertasbih dengan segala daya dan upaya yang ada dan dengan hati yang ikhlas semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT.

    ReplyDelete
  24. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Bahasa doa adalah Bahasa kepasrahan. Sehingga dalam berdoa kita harus dalam kepasrahan total. Hati kita pasrah, pikiran kita pasrah, mulut kita pasrah, tangan kita pasrah, semuanya kita pasrahkan. Kepasrahan total ini melambangkan ketundukan kita pada Tuhan kita. bila kita berdoa tapi pikiran kita tidak yakin, pikiran kita tidak pasrah, maka doa kita tidak benar-benar melambangkan kepasrahan kita. masih ada unsur kesombongan yang bersemayam disana.

    ReplyDelete
  25. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    ramai adalah lawan kata dari sepi. ramai bisa berarti kegaduhan, keributan dan bisa saja keributan tersebut terdapat didalam pikiran manusia itu sendiri. jika sepi ialah khusyuk. maka kegaduhan pikiran ialah selalu senantiasa mengingat akan nama-nama Allah. tidak pernah putus dalam berdzikir serta selalu berdoa dalam keadaan apapun. jika sepi ialah diam maka ramai adalah bentuk ketidakdiaman. kutub sisi yang berlawanan namun saling mengikat.

    ReplyDelete
  26. Dewi Saputri
    12201251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Suatu proses yang membuat kita paham mengenai suatu kebesaran Tuhan ketika hanya menyebut namaNya. Sungguh Tuhan itu adalah Allah SWT. Pencipta seluruh alam semesta besrta isinya. Manusia diciptakan hanya bertujuan untuk beribadah kepadanya, salah satunya melalui do'a dan dzikir-dzikir kita kepadaNya. Agar kita tidak termasuk hamba-hambaNya yang sombong karena kita memng lah tidak pantas untuk kesombongan itu sebabb manusia hanyalah seperti sebutir debu ketika jagad raya ini diguncangkan atas kuasa Allah.

    ReplyDelete
  27. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Ada banyak suara di lingkungan ku. Suaraku pun Ada. Mana yang mestinya aku dengar? Dalam keramaian, semoga hati tetap tenang Dan dapat mendengar suara Tuhan di sana.

    ReplyDelete
  28. Kartika Pramudita
    17701251021
    S2 PEP B

    Pada elegi ini yang saya pahami adalah menggambarkan keadaan orang yang sedang berdoa, berzikir kepada Allah SWT. Hal yang akan digapai ketika seseorang dalam keadaan berdoa adalah doa yang khusyuk. Doa yang khusyuk diucapkan dengan hati dan dengan merendahkan seluruh diri dihadapan Allah SWT. Doa yang khusyuk dan diucapkan di dalam hati dan hanya mengingat Allah SWT akan terdengar oleh seluruh tubuh sampai bergetar.

    ReplyDelete
  29. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Melalui elegi ini saya memahami bahwa pada saat seseorang khusyuk berdzikir dan berdoa dengan kerendahan dan keikhlasan hati, maka pada saat itu tidak ada jarak antara ia dan Allah SWT. Dalam kekhusyukan hingga terkadang meneteskan air mata, mungkin orang tersebut sedang berteriak di dalam hatinya memuja dan memuji Allah SWT. Kita tidak akan pernah tahu berapa tingginya derajat doa seseorang karena doanya adalah hubungan antara ia dan Allah saja. Sejatinya seluruh ciptaan Allah di dunia senantiasa berdzikir kepada Allah, tentunya dengan cara nya masing-masing.

    ReplyDelete
  30. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Elegi yang membuat saya untuk mencoba mengeluarkan suara dari lubuk hati. Saya menyadari terkadang saya suka membuat keramaian di dalam diri. Saya suka mengajak diri berbicara menghadap ke cermin dan mengungkapkan perasaan saya dalam hati. Hal ini yang membuat saya merasakan suatu dorongan positif yang terpancarkan dari dalam tubuh. Sampai suasana yang ramai di dalam membuat saya tersenyum bahkan meneteskan air mata. Setelah itu saya merasa lega. Saya menyadari bahwa sebaik-baik berdoa adalah saat hati mampu mengalirkan getaran pada seluruh tubuh. Hati jugalah berfungsi sebagai penghubung atas organ tubuh lainnya.

    ReplyDelete
  31. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Allah maha mendengar dan maha mengetahui. Bagian tubuh yang bisa mendengar tidak hanya telinga, hatipun bisa mendengar. Mendengarnya hati adalah ketika bergetar karena mendengar asma Allah, berdzikir kepada Allah, melihat fenomena kebesaran Allah, merasakan betapa dekatnya Allah dalam diri kita. Dalam berdoa kita tidak dianjurkan berdoa keras-keras kecuali kondisi tertentu, karena Allah maha mendengar, maka doa didalam hati kitapun pasti akan didengarNya.

    ReplyDelete