Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 24: Menggapai Doa dan Ikhtiar




Oleh Marsigit

Cantraka:
Untuk kali ini aku sangat serius Bagawat. Tolong bantulah aku kenapa permohonanku belum dikabulkan? Padahal aku sudah berdoa. Dan doa ku itu banyak sekali.

Bagawat:
Engkau punya permohonan apa?

Cantraka:
Aku ingin jadi Bagawat.

Bagawat:
Menurut teorinya, suatu cita-cita itu dapat diraih dengan dua cara yang saling bersinergis, yaitu berdoa dan ikhtiar.

Cantraka:
Wah..terus terang untuk soal doa, aku hobinya. InsyaAllah, kapanpun dan dimanapun aku selalu berdoa. Tetapi urusan ikhtiar...inilah yang repot buatku.

Bagawat:
Lho kenapa kamu susah melakukan ikhtiar?

Cantraka:
Bukankah Bagawat tahu bahwa ikhtiar itu memerlukan banyak hal. Ikhtiar itu perlu tenaga, pikiran, perasaan, kerja keras, biaya, resiko, pengetahuan, waktu, dan fasilitas. Sedangkan kalau doa kan tinggal lantunkan saja...beres. Apakah bisa hidupku itu hanya mengandalkan nasib atau takdir saja atau doa saja, dan tak perlu ikhtiar segala?

Bagawat:
Ketahuilah Cantraka, orang yang hanya mengandalkan hidupnya dari Takdir, itu disebut kaum Fatal. Dan orang yang tidak percaya kepada Doa, yaitu hanya mengandalkan ikhtiar saja, itu disebut kamu Vital. Maka dapat aku katakan bahwa sebenar-benar hidup adalah dinamika interaktif antara dua kutub Fatalisme dan Vitalisme.

Cantraka:
Lho apa ruginya menjadi kaum Fatal. Lantas seperti apa contohnya?

Bagawat:
Taruhlah HP mu di tepi jalan dan tinggalkan untuk sementara waktu. Jika kemudian engkau menemukan bahwa HP mu itu hilang karena diambil orang maka sudah suratan takdir bahwa HP mu hilang.

Cantraka:
Lho jangan...HP baru ...canggih lagi. Tidak ...tidak...aku tidak mau kehilangan HP baruku secara sia-sia. Maka agar HP ku tidak hilang bahkan dia itupun aku kasih tali dan selalu aku ikatkan ke leherku.

Bagawat:
Itu namanya ikhtiar.

Cantraka:
Lho ikhtiar yang mana?

Bagawat:
Ya mengikatkan HP mu ke lehermu itulah ikhtiarmu agar HP barumu tidak hilang.

Cantraka:
O...gitu ya? Apa masih ada contoh yang lain?

Bagawat:
Contoh yang lain ya banyak sekali dan meliputi semua yang ada dan yang mungkin ada. Putus asa, patah semangat, loyo, tak bergairah, nrima ing pandum padahal bisa berusaha, tak mau memanfaatkan kesempatan, tak mau menambah ilmu, tidak mau bersilaturakhim, merasa puas dengan pencapaian sementara, ambil jalan singkat, hantam kromo, tak mau berkorban, tak mau kerja keras, apatis, pasif, menyerah sebelum bertanding ..... itu semua bentuk-bentuk Fatalisme.

Cantraka:
Apakah juga contohnya dari bentuk Vitalisme itu?

Bagawat:
Sombong, congkak, merasa bisa mengatur dunia, tertutup, menepuk dada, mengabaikan sekitar, eksploitatif, monopoli, arogan, menang sendiri, pendekatan kekuatan atau kekuasaan, otoriter, mendominasi, melupakan masa lalu, materialisme, pragmatisme, korupsi, nepotisme, kolusi, membanggakan overdosis teknologi, mafia, zionis, hitler, marxis, hedonisme, utilitarian, eksplorasi tak peduli dampak, kapitalis, komunis, parsialisme, reductionisme, bersenang-senang, cinta harta, senang dipuja, ambisius overdosis, terlalu kenyang, terlalu banyak tidur....semua itu adalah bentuk-bentuk Vitalisme.

Cantraka:
Tetapi begini Bagawat, suatu ketika aku sudah berikhtiar seratus persen. Ketika itu aku akan menghadapi Ujian Akhir. Setiap malam aku belajar, membaca buku, mengerjakan soal, mengerjakan PR, ...wah pokoknya luar biasa ikhtiarku. Tetapi apa hasil? E...ternyata aku tidak lulus. Aku kecewa bukan main. Ternyata ikhtiarku itu sia-sia belaka?

Bagawat:
Itu namanya Takdir.

Cantraka:
Lho Takdir gimana? Bukankah aku telah berusaha sekuat tenaga, tetapi tetap tidak lulus? Lantas ...apakah yang disebut Takdir itu?

Bagawat:
Ya Takdirmu itu memang belum lulus. Semua yang telah terjadi itulah Takdir. Maka sebaik-sebaik peristiwa atau kejadian adalah peristiwa atau kejadian yang telah terjadi. Mengapa? Karena itulah sebuah Takdir. Bukankah engkau dalam Agamamu dianjurkan agar beriman kepada Takdir?

Cantraka:
Wah aku bingung Bagawat? Lantas aku harus bagaimana? Berdoa belum jaminan, sementara berikhtiar juga sama saja. Kalau begitu apakah Tuhan itu tidak adil terhadap diriku?

Bagawat:
Hai Cantraka...jangan lancang ucapanmu itu. Bertobatlah segera. Istigfarlah..istigfarlah. Tuhan itu Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Mendengar dan Maha Pengampun.

Cantraka:
Apakah Tuhan mendengar semua doa-doaku? Apakah Tuhan mengetahui semua ikhtiarku? Apakah Tuhan mengasihaniku?

Bagawat:
Tuhan itu Maha Kuasa, maka tiadalah sesuatu halpun di dunia ini tidak terpantau oleh Nya. Sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa Tuhan itu mengetahui doa-doamu, mengetahui ikhtiar-ikhtiarmu dan mengasihanimu. Tuhan itu mempunyai rencananya sendiri terhadap umatnya. Maka bertaubatlah dan berdoa dengan ikhlas memohon ampun kepada Allah SWT. Astagfirullah Al Adzim 5 x. Al Fatihah 1 x, Al Ikhlas 3 x. Amin

Cantraka:
Astagfirullah Al Adzim 5 x. Al Fatihah 1 x, Al Ikhlas 3 x. Amin. Wahai Bagawat ...berapa kali aku harus berdoa agar permintaanku dikabulkan oleh Tuhan?

Bagawat:
Bermilyar-milyar kali engkau lantunkan doamu jika engkau belum ikhlas dan Tuhan tidak rida, maka belumlah dikabulkan permintaanmu itu.

Cantraka:
Ikhlas? Apa itu Ikhlas? Apakah selama ini saya belum Ikhlas?

Bagawat:
Itulah dimensi doa. Tiadalah seseorang itu dapat menunjuk dirinya sebagai sudah Ikhlas. Itulah semata-mata kekuasaan Nya.

Cantraka:
Lantas...bagaimana agar saya bisa Ikhlas?

Bagawat:
Dunia dan akhirat itu punya gurunya masing-masing. Itulah pentingnya ikhtiar mencari orang yang ahli atau guru dibidangnya. Tingkatkanlah dimensi spiritualmu dengan cara mengaji, membaca al Kitab, dan mempelajari tata cara ibadah yang benar, berjuang di jalan Allah, mengikuti pengajian, jamaah masjid, shalat malam, berpuasa, dzikir, i’tikaf atau tinggal di masjid, dan bertanya atau berkonsultasi kepada ustad, kyai, atau alim ulama bagaimana beribadah dan berdoa secara ikhlas itu. Pilar dari kesemuanya itu adalah laksanakan semua perintah Tuhan dan tinggalkan semua larangan Nya dengan berpedoman pada Al Qur’an dan sunah Rosul. Maka buanglah jauh-jauh kesombonganmu itu. Buanglah jauh-jauh ke “AKU” anmu di depan hadapan Nya. Mohon ampunlah selalu atas dosa-dosa. Berikanlah apa saja yang paling dicintai sekalipun semata-mata karena Allah. Dermakanlah harta di jalan Allah. Dan lawanlah diri sendiri jika perlu semata-mata karena mengharap ridha Allah. Berserah dirilah keharibaan Nya. Jika Allah SWT rida, maka segala-galanya. Tetapi jika belum rida, maka segala-galanya pula.

Cantraka:
Amin..amin..amin... Tetapi wahai Bagawat ...kenapa aku melihat engkau berkata yang terakhir sambil meneteskan air mata dan gemetaran?

Bagawat:
Sungguh semua kata-kataku itu aku tujukan kepada diriku sendiri. Jika hal yang demikian itu bermanfaat juga bagimu, maka aku hanya bisa memanjatkan puji syukur ke hadlirat Allah SWT. Marilah kita berlomba-lomba dalam doa dan ikhtiar. Amin.

9 comments:

  1. Naja Nusaibah
    13301241042
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Setiap manusia pasti memiliki keinginan atau cita-cita. Tentunya untuk mendapatkan atau mewujudkan hal tersebut kita melakukan usaha. Usaha yang kita lakukan secara fisik itulah yan disebut denan ikhtiar. Sedangkan permohonan yang kita panjatkan kepada Tuhan YME agar usaha kita berhasil itulah yang diebut doa. Ikhtiar dan doa adalah dua hal yang erat hubungannya dengan keinginan seseorang dalam mencapai suatu hal. Jika manusia yang beriman hanya mengandalkan doa tanpa berusaha maka itu bisa disebut malas karena enggan merubah nasibnya sendiri. Sebaliknya, jika seseorang hanya berusaha saja tanpa berdoa maka ia bisa dikatakan sombong karena merasa tidak membutuhkan campur tangan Tuhan dalam kehidupannya. Padahal segala sesuatu tidak akan tetjadi tanpa seizin Allah SWT.

    ReplyDelete
  2. Naja Nusaibah
    13301241042
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Oleh karena itu hendaknya seseorang yang memiliki keinginan mengusahakannya dengan ikhtiar yang diiringi doa atau disebut dengan tawakal. Kewajiban kita adalah berusaha semaksimal mungkin dalam proses mendapatkan yang kita harapkan. Selanjutnya berdoa dengan ikhlas kepada Allah SWT agar diberikan hasil yang terbaik sesuai dengan apa yang kita usahakan. Tuhan maha mengetahui segala yang ada di bumi ini sekalipun hal yang sangat kecil. Sehingga ikhtiar sekecilapapun yang kita lakukan pasti disaksikan oleh Allah SWT. Dan doa yang hanya diucapkan dalam hati pun pasti didengar olehNya. Marilah kita berikhtiar dengan sungguh sungguh dan berdoa dengan ikhlas pada setiap kegiatan yang kita lakukan.

    ReplyDelete
  3. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Menurut teorinya, suatu cita-cita itu dapat diraih dengan dua cara yang saling bersinergis, yaitu berdoa dan ikhtiar.” Tidak cukup kita mencapai hal yang kita inginkan hanya berdoa, tidak cukup kita mencapai hal yang kita inginkan hanya ikhtiar. Dalam berikhtiar, jangan lupa untuk berdoa. Setelah berikhtiar-pun juga iringi dengan doa, doa memohon hasil yang terbaik bagi kita. Dan berupaya ikhlas menerima hasil yang akan diputuskan oleh Allah SWT.

    ReplyDelete
  4. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY


    “Ketahuilah Cantraka, orang yang hanya mengandalkan hidupnya dari Takdir, itu disebut kaum Fatal. Dan orang yang tidak percaya kepada Doa, yaitu hanya mengandalkan ikhtiar saja, itu disebut kamu Vital. Maka dapat aku katakan bahwa sebenar-benar hidup adalah dinamika interaktif antara dua kutub Fatalisme dan Vitalisme.” Trimakasih Prof. Marsigit telah mengingatkan kita untuk selalu menjalankan doa dan ikhtar.

    ReplyDelete
  5. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Tidak ada keinginan untuk berupaya melakukan ikhtiar merupakan bentuk fatalisme. Ingin mempelajari dan lulus Filsafat, tapi tidak membaca blog Prof.Marsigit yang berisi ilmu-ilmu filsafat, maka merupakan bentuk fatalisme. Semoga saya bisa memanfaatkan setiap kesempatan untuk dapat belajar filsafat melalui blog Prof.Marsigit.

    ReplyDelete
  6. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Dalam berdoa yang harus kita upayakan adalah ikhlas dan hanya dengan tujuan mendapat ridho Allah SWT. Semoga kita tergolong menjadi orang yang ikhlas dalam berdoa, amiiiiin.

    ReplyDelete
  7. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    “Tiadalah seseorang itu dapat menunjuk dirinya sebagai sudah Ikhlas.” Ikhlas hanya diketahui oleh Allah SWT, bahkan diri kitapun tidak tau yang kita lakukan adalah suatu keikhlasan atau tidak, maka orang yang mengatakan bahwa dia sudah ikhlas, justru itu tanda bahwa orang tersebut belum ikhlas.

    ReplyDelete
  8. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY


    Menurut saya, dalam melakukan sesuatu cukup diniatkan untuk mendapat ridho dari Allah SWT, tanpa di”penggalih” lagi dan diingat-ingat lagi apa yang telah kita lakukan

    ReplyDelete
  9. Nanang Ade Putra Yaman
    16709251025
    PPs PM B 2016

    Assalamualaikum

    Fatalism dan vitalisme sebagaimana dijelaskan dan dicontohkan elegi diatas kiranya telah banyak menjangkiti kita dalam praktek kehidupan sehari-hari, tidak terkecuali kita sebagai subyek pembelajar. Banyak diantara kita yang menganggap tantangan dan kesulitan yang dihadapai dalam belajar sebagai sebuah pintu yang dianggap mustahil untuk dibuka. Kegiatan menelusuri suatu pengetahuan secara mendalam dan meluas hendaknya menjadi ciri dari hakekat seorang subyek pembelajar. Sulit bukan berarti tidak bisa hanya perlu usaha yang lebih misalnya memperbanyak membaca, memperbanyak referensi dan lainnya.
    .




    ReplyDelete


Note: Only a member of this blog may post a comment.