Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 17 : Para Bagawat Berlomba Menjunjung Langit




Oleh Marsigit

Paralogos:

Wahai Transenden...tiada yang lebih asyik dari pada melihat kiprah para Bagawat. Kenapa para Bagawat itu menempati kedudukan istimewa. Kenapa sumua orang sangat menaruh perhatian kepada kiprahnya para Bagawat?

Transenden:
Wahai Paralogos..benar apa katamu. Mengapa para Bagawat itu menempati kedudukan istimewa? Karena tidak ¬mudah untuk memperoleh kedudukan dan status sebagai seorang Bagawat itu. Bagawat itu adalah perjuangan panjang. Bagawat itu adalah akumulasi pengalaman dan hidup. Bagawat adalah amanah pengemban ilmu tinggi. Bagawat adalah tanggung jawab dan previlage. Bagawat adalah nilai moral. Bagawat adalah hak prerogatif. Bagawat adalah ikhtiar prima. Bagawat adalah ketentuan dan takdir. Bagawat adalah penentu nasib. Bagawat adalah merah hijaunya masyarakat dan bangsanya. Bagawat adalah etik dan estetika. Bagawat adalah konsistensi dan komitmen. Bagawat adalah panutan dan pembimbing. Bagawat itu formal yang normatif. Bagawat itu normatif yang formal. Bagawat itu doa dan harapan. Bagawat itu mandiri dan sistemik. Bagawat itu hidup dan menghidupkan. Bagawat itu metafisik. Bagawat itu filsafat. Begawat itu mengatasi Ilmu Bidang. Bagawat itu Orang Tua Berambut Putih. Bagawat itu logos. Bagawat itu phenomenologi. Begawat itu hermenitika. Begawat itu tidak hanya kualitas primer, tetapi kualitas sekunder, tertier, kuarter, dst. Begawat itu tidak hanya dimensi satu, tetapi dimensi dua, dimensi tiga dan dimensi empat. Bagawat itu tidak hanya pengalaman tetapi para logos. Bagawat tidak hanya bertanya tetapi memutuskan. Begawat tidak hanya sintetik tetapi analitik. Begawat tidak hanya a posteriori tetapi juga a priori. Bagawat tidak hanya intrinsik, tetapi juga ekstrinsik dan sistemik. Bagawat tidak hanya dulu, sekarang dan yang akan datang, tetapi Bagawat itu adalah dulu yang sekarang, sekarang yang akan datang, dan yang akan datang sekarang. Bagawat tidak hanya local genious tetapi means of global. Begawat tidak hanya diam tetapi action. Begawat tidak hanya action tetapi diam. Begawat tidak hanya mencari tetapi memberi. Begawat tidak hanya praktek tetapi berterori. Bagawat tidak hanya berteori tetapi praktek. Bagawat tidak hanya internal tetapi eksternal. Bagawat tidak hanya potensi tetapi faktual. Begawat tidak hanya wacana tetapi fungsi kontrol. Bagawat tidak hanya yang ada tetapi yang mungkin ada. Bagawat tidak hanya yang terbatas tetapi yang terbatas.

Paralogos:
Wah...wah...banyak sekali pegertian bagawat itu? Kenapa engkau dapat mendefinisikan Bagawat dengan banyak sekali pengertian?

Transenden:

Kata-kataku dan kalimatku tidak akan cukup untuk mendefinisikan apa itu Bagawat. Kenapa? Karena Bagawat itu tidak hanya dunia tetapi juga akhirat. Bagawat itu tidak hanya kata-kata, tetapi juga pikiran dan hati. Tiadalah kata-kataku itu mampu menjelaskan semua pikiran dan hatiku.

Paralogos:

Singkat kata dapatkah anda sebutkan siapa yang disebut Bagawat itu?

Transenden:
Bagawat adalah semua yang merasa memperoleh dan diberi amanah untuk mengemban ilmu. Dia bisa Kepala Rumah Tangga, bisa Kepala Desa, bisa Camat, bisa Presiden, bisa Guru, bisa Rektor, bisa Dosen, bisa Profesor, bisa Menteri...yaitu semua yang merasa sebagai pengemban dan pengembang ilmu serta mengimplementasikannya.

Paralogos:

Wahai transenden...apa kemudian rencanamu setelah orang banyak mengetahui apa itu Bagawat?

Transenden:
Tidak engkau rasakan. Tidak pula dirasakan oleh Bagawat. Tidak pula dirasakan oleh Cantraka, Rakata dan Cemani. Tidak pula dirasakan oleh semua warga. Sebenar-benar yang terjadi adalah kita selalu sedang menyaksikan Perlombaan Menjunjung Langit khusus bagi para Bagawat. Marilah kita mendengar, melihat dan mengikuti apa kata fenomena tantang perlombaan ini.

Bagawat Plagiat:
Aku betul-betul gerah dengan pernyataan Tranbsenden ini: “ Ilmuwan PLAGIAT adalah Ilmuwan yang tidak mengenal dirinya sebagai Ilmuwan ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA? Guru yang memalsukan PAK adalah guru yang tidak mampu mengenal dirinya sebagai Guru ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal dirinya sebagai Guru MENGADA dan Guru PENGADA. Kegiatan memalsukan karya tulis apakah itu oleh seorang Ilmuwan Plagiat dan memalsukan PAK oleh seorang guru adalah kegiatan memalsukan dirinya sebagai MENGADA. Itulah peran dan jasa Ruang dan Waktu yang tidak akan pernah lalai mencatat segala perbuatan manusia, bahwa sebenar-benar keber ADA annya adalah SAKSI bagi MENGADA nya. Tidak hanya itu, maka segala YANG ADA dan YANG MUNGKIN ADA juga menjadi SAKSI bagi keber ADA annya dan ke MENGADA nya”.
Hemm...aku sudah terlanjur menyandang gelar Sang Bagawat. Satu sisi aku harus menunjukan formalku untuk Mengada, sisi lain aku tidak mempunyai Ekstrinsik apalagi Sistemik. Hemm...aku sebetulnya sangat marah dengan Sang Penguasaku. Karena Ekstrinsik dan Sistemik itu di luar kemampuanku. Itu adalah urusan Lembaga, Departemen dan Negaraku. Itu adalah urusan Political Will sang Penguasa Negaraku. Tetapi bagaimana sementara Sang Penguasa Negaraku itu belum berdimensi Bagawat Sistemik. Padahal para Bagawat Sistemik Transinternasional betul-betul mengharapkan diriku bisa menjadi anggotanya. Wah kalau begitu memang aku dipaksa harus bermain sandiwara. Waha ...ini ada referensi tentang Ada dari Bagawat Sistemik Transinternasional. Mumpung teman-temanku sedang terlena, mumpung semua masyarakatku tidak menyadarinya, maka akan aku ambil saja Referensi ini sebagai karyaku. Gamblinglah diriku. Jika mujur maka makmur, tetapi jika tidak mujur yah..terpaksa memperoleh gelar Bagawat Plagiat itu pilihan tak terhindarkan.

Bagawat Main Paksa:

Aku betul-betul gerah dengan pernyataan Tranbsenden ini: “O...oo Sang Bagawat, dengan kegiatanmu main paksa, maka ada beberapa kesalahan yang telah engkau lakukan. Kesalahan pertama, engkau menganggap dirimu sabagai satu-satunya Bagawat, padahal selain dirimu itu ada tak terhingga jumlahnya para Bagawat. Kesalahan kedua, engkau telah melakukan KEGIATAN MAIN PAKSA. Ketahuilah bahwa tiadalah sebenar-benar hakekatnya seorang Bagawat itu melakukan KEGIATAN MAIN PAKSA. Kegiatan MAIN PAKSA itu hanya dilakukan oleh mereka yang berdimensi lebih rendah dari dirimu, yaitu oleh PARA SUBYEK FORMAL DAN PARA SUBYEK MATERIAL. Ketahuilah bahwa sebenar-benar Bagawat itu mempunyai DIMENSI NORMATIF DAN DIMENSI SPIRITUAL. Kesalahan ketiga, engkau ternyata telah menganjurkan kepada orang lain untuk juga MELAKUKAN KEGIATAN MAIN PAKSA. Anjuranmu itu adalah kesalahanmu yang lebih besar lagi karena engkau telah melibatkan orang lain dalam kesalahanmu”.
Hemm...aku sudah terlanjur menyandang gelar Sang Bagawat. Satu sisi aku harus menunjukan formalku untuk Mengada, sisi lain aku tidak mempunyai Ekstrinsik apalagi Sistemik. Hemm...aku sebetulnya sangat marah dengan Sang Penguasaku. Karena Ekstrinsik dan Sistemik itu di luar kemampuanku. Itu adalah urusan Lembaga, Departemen dan Negaraku. Itu adalah urusan Political Will sang Penguasa Negaraku. Tetapi bagaimana sementara Sang Penguasa Negaraku itu belum berdimensi Bagawat Sistemik. Padahal para Bagawat Sistemik Transinternasional betul-betul mengharapkan diriku bisa menjadi anggotanya. Wah kalau begitu memang aku dipaksa harus bermain sandiwara. Waha ...ini ada Konferensi bagaimana Membangun Karakter, dimana menunjuk diriku sebagai nara sumber. Mumpung teman-temanku sedang terlena, mumpung semua masyarakatku tidak menyadarinya, maka akan aku tampilkan saja semua pikiran dan kebijakan instantku, tak usah repot-repot, tak usah studi komparasi, tak usah penelitian, tak usah baca referensi tambahan, dont care lah dengan semuanya. Toh kedudukanku sebagai Bagawat itu adalah sebenar-benar referensi bagi mereka. Mahai semua peserta konferensi dengarkanlah wejanganku ini: Gunakan Tiga Sa untuk Membentuk Karakter itu. Pertama, PAKSALAH, kedua Buat TERPAKSA, dan ketiga Buat BIASA.

Bagawat Ilmu Bidang dan Bagawat Penguasa Lembaga:
Walaupun aku tahu ini bertentangan dengan nuraniku, karena tidak cocok dengan rasional asal-usulku menjadi Begawat Ilmu Bidang. Tetapi bukankah Lembagaku ini sangat membutuhkanku. Apa tahunya Cantraka, Rakata dan Cemani itu? Aku sangat mengerti tabiat rakyat dan bangsaku. Mereka belum tahu bedanya Bagawat Ilmu Bidang dan Bagawat Penguasa Lembaga. Karakter rakyat dan bangsaku menganggap Bagawat Penguasa Lembaga tentu Bagawat Ilmu Bidang. Maka hanya Bagawat bodoh saja yang tidak mau merebut Bagawat Penguasa Lembaga. Aku juga akan PAKSA diriku bisa menggabungkan Bagawat Ilmu Bidang dan Bagawat Penguasa Lembaga. Jika demikian maka aku akan dapat menyatukan antara Ilmuku dan Kebijakanku. Itulah setinggi-tinggi nikmat hidupku yaitu ketika aku dapat menyatukan Ilmuku dan Kebijakanku, aku dapat menyatukan Teori dan Praktiku, aku dapat menyatukan semua tujuanku dan tujuan rakyatku, dan semua terangkum dalam diriku. Maka aku akan menemukan bahwa semua aspek kehidupanku adalah kebijakanku adalah aspek hidup mereka. Kata-kataku, batuk dan bersinku itu adalah kebijakanku.

Bagawat Transnasional:

Hidup terkadang harus melawan hati nurani. Hemm...aku telah mencapai kedudukan sebagai Begawat Ilmu Bidang. Satu sisi aku harus menunjukan formalku untuk Mengada dalam Ilmu Bidang, sisi lain aku tidak mempunyai Ekstrinsik apalagi Sistemik untuk mengada dalam Ilmu Bidang. Hemm...aku sebetulnya sangat marah dengan Sang Penguasaku. Karena Ekstrinsik dan Sistemik itu di luar kemampuanku. Itu adalah urusan Lembaga, Departemen dan Negaraku. Itu adalah urusan Political Will sang Penguasa Negaraku. Tetapi bagaimana sementara Sang Penguasa Negaraku itu belum berdimensi Bagawat Sistemik. Padahal para Bagawat Sistemik Transinternasional betul-betul mengharapkan diriku bisa menjadi anggotanya. Wah kalau begitu memang aku dipaksa harus bermain sandiwara. Waha ...ini ada ada Proyek Nasional. Mumpung teman-temanku sedang terlena, mumpung semua masyarakatku tidak menyadarinya, maka akan aku ambil Proyek nasional ini. Negaraku ternyata cukup menghibur diriku dengan tawaran memegang Proyek Nasional. Akan aku laksanakan tugasku sebagai Bagawat Birokrat Nasional. Dengarkanlah titah-titahku. Wahai peserta Rakor yang berbahagia, pertama mari kita hormat dulu kepada Pelaksana Teknis Admninistrasi, walaupun dia bukan Bagawat tetapi berkat dia maka kegiatan ini berjalan. Kedua mari kita taruh hormat kepada Perwakilan Bagawat transinternasional. Tentu mereka datang karena melihat kita mempunyai dan mampu memproduksi madu buat mereka. Hemm dengarkan semua Bagawat Ilmu Bidang...engkau itu tidak ada apa-apanya didepan Pelaksana Teknis Administrasi. Jangan pula engkau mentang-mentang di sini. Jangan pula engkau bicara Bagawat di sini. Jika engkau tidak dapat uang saku, tamat pula riwayatmu. Wahai Tuan Bagawat Transinternasional..sungguh mulia engkau jika berkenan me Refresh dan men Charger semua Bagawat Ku di seluruh negeri ini ke hadapanmu. Tiadalah daya dan upayaku dihadapanmu kecuali pengakuan totalku bahwa semua Bagawatku itu tidak ada apa-apanya di hadapanmu. Maka dengan demikian aku juga berserah diri semua rakyat dan bangsaku di haribaanmu untuk menerima semua titah-titahmu. Maka aku sangat menyambut gembira Program Rechargingmu bagi bangsaku. Itulah semata-mata pengakuan tulus dan tergantungku kepadamu. Aku terimakasih atas kepercayaanmu mengangkat diriku sebagai Bagawat Cabang Proyek Transinternasional. Hanya dengan demikianlah aku mampu menghidupi diriku. Dari pada menunggu kesadaran penguasaku. dari pada menuruti hati nurani, lebih baik aku bersikap realistis menyesuaikan dengan apa kepentingan dan kebutuhanku. Maka segeralah kemari mumpung rakyatku semua belum meyadarinya. Tenanglah bahwa semua Bagawat Tinggi, Panglima bagawat di negeri ini sudah terhipnotis semua dikarenalan silaunya dan anggunnya penampilanmu itu.

Paralogos:

Oh..oh...cukup-cukup...wahai Transenden. Aku tidak kuasa menyaksikan perilaku para Bagawat kita. Hati dan jangtungku terasa akan meledak. Aku tak kuasa menahan tangisku. Oh...Bagawat..Bagawat.. bangsaku. Kenapa engkau bernasib tragis seperti ini. Lebih tragis lagi karena engkau tidak menyadari ketragisanmu. Wahai Transenden...keadaan demikian itu salah siapa?

Transenden:

Itulah perbuatan dajal. Dajal itu begitu halus, lembut dan tersembunyi. Bahkan yang mengaku para Bagawat saja banyak yang tidak menyadarinya. Itulah dimensi bangsamu. Ini bukan disebabkan oleh karena kejadian sesaat. Ini dikarenakan oleh perjalanan bagsa ini yang telah lama mengabaikan ruang dan waktu. Bangsa ini telah lama mengabaikan kesempatan yang ada. Bangsa ini telah lama mengabaikan potensi yang ada. Maka aku sedang menyaksikan bahwa bangsamu itu sedang dikuasai para dajal. Akibatnya adalah dimana-mana terjadi dilema, kontradiksi, kemunafikan, penyelewengan, korupsi, nepotisme, anomali, kong kalingkong. Maka aku nyatakan “Tiadalah sebenar-benar Bagawat dari bangsamu itu mampu menjunjung langit”. Semua Bagawat yang ada masih terisolasi pada kediriannya masing-masing. Sementara sang Penguasa para Bagawat itu sudah terkena jeratan sistemik dari dajal transinternasional. Bagawat Plagiat, Bagawat Main Paksa, Bagawat Korupsi, Bagawat Ambivalen, Bagawat Menentang Hati Nurani, Bagawat Sekedar Wadah, Bagawat Sekedar Formal, ...itu semua adalah produk-produk sekarang dan yang akan datang dari masyarakatmu yang sedang sekaratul maut digerogoti oleh Dajal Transinternasional melalui belalai-belalai neolismenya. Hanya keajaiban dan Pemimpin Bangsa yang dapat melihat 200 tahun ke depan akan mampu menyelamatkan Bangsamu itu.


33 comments:

  1. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Mengutip kalimat terakhir dari Transenden “Tiadalah sebenar-benar Bagawat dari bangsamu itu mampu menjunjung langit”. ini menyimpulkan bahwa setiap jabatan yang didalam terdapat kakuasaan memliki kecendrungan untuk memanfaatkan kekuasaaan tersebut. ini mungkin terjadi pada setiap orang yang memiliki kuasa, kecendrungan mengikuti nafsu pribadi selalu ada dan ketika seseorang mengikuti nafsu tersebut disitulah dia terjerumus kedalam godaan syaiton.

    ReplyDelete
  2. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Begawat yang berlomba menjunjung langit. Disini saya mengambil kesimpulan bahwa, begawat itu adalah seseorang yang mengemban sesuatu kewajiban dan memiliki kekuasaan sesuai porsinya masing-masing. Ya ketika kita mendapatkan kedudukan seperti itu terkadang kita merasa bingung dan bimbang. Benar, kita harus paksalah, terpaksa, dan terbiasan. Sebagian orang kalau tidak dipaksakan untuk mengemban sesuatu hal, pastilah ia akan stagnan pada posisi yang nyaman. Terkadang, kita juga harus dipaksa dari zona nyaman untuk dapat terbiasa melalui yang lebih sulit dari sebelumnya.

    ReplyDelete
  3. Sesungguhnya tidak ada manusia yang berada di atasnya manusia lain, karena saat manusia itu merasa telah merasa memiliki kekuasaan telah mampu menjunjung langit, maka sesunguhnya ada manusia lain yang memiliki kekuasaan lebih dari manusia itu. Maka sesungguhnya kekuasaan tertinggi itu tidak ada diantara manusia, melainkan Allah SWT, dan kedudukan manusia tertinggi di bumi adalah manusia yang bisa Ikhlas dengan hatinya.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  4. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Menjadi seorang bagawat dapat menjadi ujian dan anugrah. Jikalau kita menyadari memperoleh dan diberi amanah untuk mengemban ilmu itu adalah suatu anugerah dan berkah, serta harus disikapi dengan bijak, maka tiada kesombonganlah yang keluar dari padanya. Bahkan, ia akan jadikan sebagai ladang beramal, sehingga ia akan sungguh-sungguh dalam menjalankannya. Namun jika menjadi seorang bagawat justru menjerumuskannya kepada kesombongan, kesemena-menaan, keotoriteran, dan ketinggi hatian, maka tentu perilaku dan tindakan yang akan termcermin padanya adalah seorang pemimpin yang haus akan kekuasaan dan akan berlaku tidak adil dalam aplikasinya, meski dengan cara-cara yang halus dan tidak tampak. Jika hanya ingin menunjukkan keformalan dari sebuah jabatan, maka apakah ia akan memimpin dengan sepenuh hati dan pasti bertanggung jawab atas semua yang telah dikerjakannya selama memimpin. Nah itulah yang dikhawatirkan, hanya karena sebuah jabatan, hati nurani dapat menjadi taruhan. Begitulah salah satu bentuk tanda-tanda akhir jaman tiba, akan ada perilaku-perilaku dajjal yang begitu halus lembut dan tersembunyi, padahal ia menyesatkan. Sehingga marilah kita sama-sama berdoa supaya kita mampu menjauhkan diri dari sang Penguasa para Bagawat itu sudah terkena jeratan sistemik dari dajal transinternasional seperti bagawat plagiat, bagawat main paksa, bagawat korupsi, bagawat ambivalen, bagawat menentang hati nurani, bagawat sekedar wadah, bagawat sekedar formal, dan lain sebagainya. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  5. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Manusia memang lebih cenderung mengurusi orang lain dari pada dirinya sendiri, sehingga kadang dia tidak menyadari potensi yang sebenarnya dia memiliki. Padahal manusia diciptakan dengan potensi yang beragam dan setiap orang memiliiki cirinya masing-masing. Karena terdapat manusia yang kurang mengetahui potensi yang dimiliki maka dia tidak memiliki kepercayaan diri atas kemampuannya, sehingga sering terjadi proses plagiat. Bahkan plagiat kini sering identik dengn akademisi, berita terbaru juga ada yang menyatakan doktor yang melakukan kejahatan intelektual tersebut. Menurut saya hal ini disebabkan karena mereka kurang ikhlas dalam berpikir, maksudnya ketika mereka ikhlas dengan pikirannya maka dia hanya akan menggunakan pikirannya dalam bentuk tulisan bukan pikiran orang lain.

    ReplyDelete
  6. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Pemimpin adalah sosok yang ditugaskan menjaga dan melaksanakan amanah yang diberikan. Pemimpin memiliki tanggungjawab yang besar atas dirinya dan orang lain. Jadilah pemimpin yang jujur dan mampu menjaga amanah yang diberikan dengan baik. Tidak menyalahgunakan kekuasaannya, dan tidak melenceng dari amanah yang diembannya. Sesungguhnya setiap perbuatan yang kita lakukan di dunia ini akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak, walaupun sekecil apapun.

    ReplyDelete
  7. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Mind set dan semua tindakan yang kita lakukan mencerminkan kebijaksanaan kita dan kesemuanya itu dapat memberikan banyak dampak, tidak hanya bagi kita tetapi juga untuk orang lain.
    Untuk menjadi pemimpin kita harus mampu mengendalikan diri. Pemimpin adalah sosok paling penting dalam masyarakat. Tanggung jawab seorang pemimpin adalah tanggung jawab dunia dan akhirat. Pemimpin harus melaksanakan tanggung jawab mereka sesuai amanat yang dipercayakan dengan sebaik-baik.

    ReplyDelete
  8. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Saat ini, yang terlihat oleh rakyat adalah banyak sekali keburukan-keburukan para begawat sebagai seorang yang ditinggikan. Padahal sebagai yang ditinggikan seharusnya mampu menjadi sosok yang bijak dalam memimpin. Namun tentunya ia harus rela melepas semua kesombongannya dan menumbuhkan keikhlasan dalam jiwanya. Menguasai hawa nafsu dan pikirannya, bukan justru sebaliknya.
    Untuk menjadi pemimpin yang baik bagi suatu kaum atau bangsa, seseorang harus terlebih dulu mampu memimpin dirinya sendiri. Menjadi penyelaras dan pengendali hati, pikiran, dan nafsu. Menyatukan ketiganya dalam kebaikan secara beriringan. Menaunginnya dengan lantunan doa dan dzikir yang tak henti. Sehingga ia dapat menjadi bijak dalam menentukan langkah mana yang akan diambil agar sesuai dengan aturan Tuhan. Jika itu sudah dapat dilakukan, maka barulah ia akan mampu menjadi pemimpin yang baik bagi orang lain.

    ReplyDelete
  9. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Dari elegi ini, kita bisa tahu bahwa Bagawat adalah semua yang merasa memperoleh dan diberi amanah untuk mengemban ilmu. begawat tidak hanya mengenai duniawi saja namun juga akhirat. Oleh karena itu, diperlukan hati dan pikiran yang jernih untuk menggapainya. Selain itu, diperlukan jga niat yang tulus dan ikhtiyar yang kuat agar menggapai niali akhirat.

    ReplyDelete
  10. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Pada dasarnya kita semua adalah begawat karena kita semua diseru untuk menuntut ilmu, mengejar logos. Bagaimana kita memaknai perjalanan adalah pilihan masing-masing. Namun disetiap perjalanan, disetiap pekerjaan, kita akan selalu berada dalam bujuk rayu syetan. maka sangat berbahaya jika orang niatnya berhasil dikelabuhi setan. Mereka tidak akan memperdulikan orang lain namun malah hanya berusaha bagaimana untuk mengumpulkan keuntungan sebesar-besar untuk diri sendiri. Dengan demikian, tanamkan ikhlas hati dan jernih pikiran di setiap langkah agar tidak terbawa godaan untuk keburukan.

    ReplyDelete
  11. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Mohon dikoreksi apabila terdapat refleksi saya yang salah Prof. Dari apa yang saya baca dari elegi begawat merupakan seorang pemimpin, yang diberi amanah. Pemimpin hendaknya memahami apa yang harus dipimpinnya, tapi kenyataannya beberapa pemimpin yang diberi kekuasaan tidak memahami ilmu dibidangnya. Sikap bertanngung jawab dan kesesuaian antara bidang dan lembaga yang dipimpin perlu dimiliki seorang pemimpin. Wassalamualaikum

    ReplyDelete
  12. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Menjadi seorang pemimpin merupakan amanah yang tidak mudah untuk dilakukan, tanggung jawab yang diembankan besar dan banyak godaan yang datang. Setidaknya, sebelum memimpin sesuatu yang besar, kita harus dapat memimpin diri sendiri terlebih dahulu. Semua orang mungkin bisa menjadi pemimpin, namun tidak semua orang bisa menjadi pemimpin yang adil dan amanah, baik untuk urusan dunia maupun untuk urusan keagamaan. Seorang pemimpin hendaknya menjalankan tugas dengan ikhlas agar dalam menjalaninya penuh dengan tanggung jawab, amanah dan adil serta tidak berlaku dzalim.

    ReplyDelete
  13. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Di Indonesia sebenarnya banyak sekali para begawat seperti ilmuan, guru, dosen, presiden, pejabat Negara, dan lain-lain. Namun banyak yang sudah lupa akan tujuannya menjadi bagawat. Banyak yang terjerumus ke dalam arus dajal seperti korupsi, kolusi, serta kemunafikan. Banyak juga yang telah terjerumus dalam jeratan sistemik tanpa mereka sadari. Oleh sebab itu, sebagai generasi muda kita harus menjaga hati kita agar selalu bersih sehingga tidak melupakan tujuan awal kita untuk memajukan bangsa Indonesia dengan cara yang baik.

    ReplyDelete
  14. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017.

    Setelah membaca artikel di atas, saya melihat bahwa terdapat banyak definisi tentang begawat. Sehingga dapat saya simpulkan bahwa begawat adalah seseorang yang membawa sebuah amanah. Amanah untuk menjadi pemimpin, amanah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, amanah untuk menyampaikan ilmu pengetahuan. Bengawat adalah orang yang istimewa, karena untuk mendapatkan gelar begawat harus dengna usaha yang keras. Tetapi, yang membuat sedih adalah beberapa begawat telah melakukan hal buruk seperti plagiat.

    ReplyDelete
  15. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Begawat meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia, ahirat, hati, pikiran, perbuatan dan segala macam yang diberi amanah untuk mengemban ilmu. Begawat yang menjunjung langit artinya seorang pengemban ilmu yang menggunakan kekuasaan atau jabatannya untuk mencerdaskan atau membangun pendidikan di masyarakatnya.

    Salah satu contoh begawat dalam dunia nyata ialah seorang guru. seorang guru ialah pengemban ilmu kepada siswa-siswanya. Dalam rangkaian usahanya ada yang baik dan ada yang disalahgunakan. Salah satu penyalahgunaan kekuasaan seorang guru iala memaksakan kehendaknya terhadap siswanya dalam kegiatan pembelajaran. Guru mengajar hanya sesuai keinginanya tanpa memahami kebutuhan dan keinginan siswanya. Contohnya, guru hanya ingin siswanya bisa menghapal berbagai macam rumus agar nilai ulangannya bagus. Tetapi siswa menginginkan pembelajaran yang menyenangkan dan ilmu yang berkesan. Semoga kita dalam mengemban ilmu terhindar dari perilaku penyalahgunaan kekuasaan.

    ReplyDelete
  16. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Begaawat dalam elegi ini sebagai seorang yang diberi amanah untuk menyandang ilmu, dosen, guru, penentu kebijakan,ilmuwan. Karena kedudukannya sebagai penyandang ilmu, maka tidak mudah mencapai statusnya, bahkan setelah mencapai statusnya, tidak mudah pula mempertahankannya.Sungguh ironis banyak para begawat yang tidak menyadari bahwa status begawatnya sudah hilang sejak dia melakukan banyak kecurangan dan kesalahan selama menyandang status begawat.

    ReplyDelete
  17. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Kebanyakan begawat yang tidak mampu mempertahankan statusnya sebagai begawat termakan oleh hadiah dari lomba menjunjung langit. Hadiah dari lomba ini sangat menarik dan sangat menjanjikan. Begawat yang bermental lembek akan menempuh cara curang untuk memenangkan lomba ini, demi mengejar hadiahnya. Sungguh tragis, penjajahan yang selama berabad-abad masih menyisakan kebodohan, bahkan di kalangan begawat bangsa ini.

    ReplyDelete
  18. Latifah Fitriasari
    PM C

    Sekarang ini, sudah sangat sedikit orang yang mempunyai ciri-ciri seorang pemimpin yang baik didalam organisasi maupun badan-bandan usaha, bisnis, dan pemerintahan. Untuk itu maka sangat penting bagi para remaja-remaja mulai membiasakan diri untuk belajar menjadi seorang pemimpin yang bijaksana. Sungguh berat tugas para begawat. Mereka memiliki tanggung jawab yang beraneka ragam dan harus dilaksanakan demi kepentingan bangsa dan negara. seorang pemimpin yang mempunyai keahlian diagnosis, dan selalu meluangkan waktu dan mencurahkan perhatian dalam upaya untuk menegakkan keadilan. Tetapi seseorang yang tidak memiliki jiwa pemimpin didalam dirinya akan menghadapi dilema-dilema didalam dirinya untuk membedakan kepentingan pribadinya dan kepentingan yang lebih besar dalam arti positif yang seluas-luasnya.

    ReplyDelete
  19. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Hidup di masa sekarang ini harus mampu melawan hati nurani. Hal ini dikarenakan banyak orang yang manyamar menjadi orang yang kesusahan unutk meminta belas kasihan terhadap orang lain, padahal orang tersbut kecupukan. Atau bisa juga banyak orang yang malakukan praktik menipu, yang mana penipu tersebut berpenampilan seperti orang baik. Maka kita perlu berpikir yang rasional dalam bertindak. Namun ketika kejadian yang tidak mengenakkan datang kepada kita, kita perlu ikhlas dalam melewatinya. Bersabat bahwa ujian Allah tersebut unutk menguatkan kita.

    ReplyDelete
  20. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Menjadi seorang pengemban amanah tidaklah mudah, mungkin semua orang bisa saja dititipi amanah, namun tidak semua orang bisa bertanggung jawab dengan amanah yang diemban. Sebenar-benar orang yang bersifat amanah ialah baginda Rosul,sedangkan amanahnya para manusia biasa tentu tidak semurni nabi. AManah berarti menyampaikan apa adanya tanpa menambahi tanpa mengurangi, sedangnkan sifat khilaf, salah, dan lupa yang melekat pada manusia menjadi salah satu faktor untuk menambah atau mengurangkan amanah yang dipikul, maka menjaga amanah perlu diimbangi dengan meminta perlindungan Allah SWT. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  21. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Dajjal dalam spiritual digambarkan sebagai sesosok manusia yang memiliki satu mata dan terdapat tulisan "ka-fa-ra" di dahinya yang menandakan ialah yang akan menggiring manusia menuju kekafiran, benar bahwa dajjal bersifat lembut, mengajak menusia dengan lembut dan licik dengan tipu daya sehingga manusia akan terpincut dan tergiur untuk mengikuti jejaknya, adapun yang dapat memeranginya ialah nabi Isa yang akan turun esok menjelang hari kiamat. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  22. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Suatu amanah yang diemban seseorang adalah buah dari kerja kerasnya masing-masing. Namun, terkadang suatu amanah yang begitu mulia jatuh kepada orang yang salah. Seorang lurah, camat, guru, dosen, rektor, profesor, menteri, atau pengemban amanah mulia lainnya sesungguhnya begitu besar jasa yang mereka dapat miliki. Karena semua tanggung jawab itu bergerak untuk kemaslahatan bersama. Sebaik-baiknya orang adalah yang memberikan manfaat kepada orang lain. Para pengemban amanah seperti yang tersebut di atas adalah orang-orang yang mampu memberikan manfaat kepada orang lain melalui tanggung jawab pekerjaannya. dengan syarat, semua tanggung jawab itu dilakukan dengan baik, sesuai aturan, dan dalam koridor yang benar. Tidak lah etis bila bekerja hanya untuk mencari nama atau eksistensi diri. Sehingga kesuksesan pekerjaan ditempuh melalui jalan-jalan yang salah, jalan pintas, atau jalan keburukan. Padahal, amal jariyyah melalui pelaksanaan amanah mulia sebagai seorang pemimpin atau pendidik itu sangat besar sekali kesempatan untuk diraih oleh mereka yang diberikan tanggung jawab itu. Sungguh sangat sia-sia bila sebuah pekerjaan mulia dinodai dengan langkah atau tindakan kerja yang tidak sesuai norma dan etika.

    ReplyDelete
  23. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Semua orang memiliki amanah untuk mengemban ilmu. Tetapi ada saja manusia yang lalai untuk menjalankan amanahnya dengan baik. Setiap orang dapat juga disebut sebagai begawat yang juga mengemban amanah itu. Amanah untuk memperbanyak ilmu yang bermanfaat, Sehingga dapat menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain dan juga bagi dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  24. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Begawat adalah seseorang yang diberi amanah untuk menempati suatu jabatan atau kekuasaan, misalnya para pejabat, para pejabat dapat menjadi pejabat karena dia menerima amanah dari rakyat-rakyatnya. Karena jabatan yang diperoleh itu merupakan amanah maka seharusnya para pejabat itu pun melaksanakan apa yang telah diamanahkan kepada mereka, namun apa yang terjadi saat ini semuanya sudah memakai topeng kemunafikan, apa yang ia janjikan dulu tidak dapat dia laksanakan. Mereka sudah terlena dengan jabatan dan kekuasaan yang dimilikinya sehingga melupakan darimana datangnya jabatan dan kekuasaanya yang mereka miliki tersebut. Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  25. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.Mat B

    memang benar bahwa kebanyakan dari kita (bahkan mungkin saya sendiri) tidak menyadari tentang dajal yang disebutkan di atas. untuk itulah kita perlu lebih banyak membaca agar mendapatkan informasi penting, apalagi yang menyangkut negara tercinta tempat kita tinggal. kita memerlukan pemimpin yang peka, yang cinta pada negaranya, yang berusaha melindungi rakyatnya dari jeratan dajal tersebut.

    ReplyDelete
  26. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Sangat besar tanggung jawab yang harus dipikul seorang pemimpin. Selain itu, para pemimpin juga harus mempertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT pada nantinya. Seperti juga manusia yang ditugaskan menjadi pemimpin atau khalifah di muka bumi ini, semua yang kita lakukan harus dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta nantinya

    ReplyDelete
  27. Junianto
    PM C
    17709251065

    Bagawat bisa saya pahami sebagai seseorang yang berilmu dna mendapat amanah akan suatu hal. Menjadi seorang bagawat tentu bukan hal yang mudah karena membutuhkan perjalanan yang panjang dan perjuangan yang besar. Tidak ada orang besar/ suskes yang secara instan, tetapi perjuangan besar dan kegagalan demi kegagalan pasti pernah ia rasakan. Terkadang manusia hanya melihat kesusksesan orang lain saja tanpa tahu seberapa besar usaha dibalik kesusksesannya dan seberapa banyak kegagalan yang pernah ia alami. Amanah yang diemban seorang bagawat juga bukanlah hal ringan tetapi karena bagawat adalah orang yang berilmu dan bijak maka diyakini ia adalah yang mampu mengemban amanah tersebut.

    ReplyDelete
  28. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    "Hidup terkadang harus melawan hati nurani", disini menurut saya, pemikiran semacam ini lah yang menimbulkan penyelewengan dalam hal tanggung jawab yang dilakukan oleh banyak pihak, seperti guru yang memalsukan PAK dst, bekerja dan memegang tanggung jawab, seharusnya disertai dengan mengontrol diri dengan hati nurani yang dimiliki. Tidak digunakannya hati nurani dapat berdampak besar, diharapkan manusia dapat menggunakan hati nurani untuk mengontrol diri agar tetap di jalan yang benar.

    ReplyDelete
  29. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    menjadi seorang pemimpin berarti dia dipercaya untuk diberi amanah dan tangggungjawab. menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah, banyak hambatan dan godaan. dalam memimpin harus memiliki hati yang kuat terhadap godaan, jangan sampai tergodan dan akhirnya menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.

    ReplyDelete
  30. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Setiap manusia memiliki tanggung jawab masing-masing. Semakin besar tanggung jawab yang ia emban, maka semakin besar pula resiko yang harus ia hadapi serta semakin tinggi pula derajat yang ia peroleh. Demikian juga dengan hawa nafsu, semakin tinggi derajat seseorang, semakin besar pula hawa nafsu yang dimiliki oleh orang tersebut. Agar tanggung jawab yang diemban itu memiliki nilai ibadah dan berbarokah, maka harus mengalahkan hawa nafsu yang ia miliki. Sebaliknya, jika ia hanyut oleh hawa nafsunya, tanggung jawab yang ia emban akan menjadi bumerang baginya dan tentunya tidak akan memberikan manfaat bagi orang lain.

    ReplyDelete
  31. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Wah membahas Plagiat. Plagiat itu ya orangnya tak ikhlas Prof., menurut saya. Mengambil milik orang lain untuk dijadikan miliknya. Apa iya ia ikhlas? Ya tak bisa. Tak bersyukur itu Prof. Miliknya sendiri saja tak ia hargai. Tak ikhlas menerima pemberian Tuhan untuknya berupa akal budi. Tak menggunakan budinya dengan baik itu mah.

    ReplyDelete
  32. Pratama Wahyu Purnama
    17709251033

    Bangsa ini telah lama mengabaikan kesempatan yang ada. Bangsa ini telah lama mengabaikan potensi yang ada. Maka aku sedang menyaksikan bahwa bangsamu itu sedang dikuasai para dajal. Akibatnya adalah dimana-mana terjadi dilema, kontradiksi, kemunafikan, penyelewengan, korupsi, nepotisme, anomali, kong kalingkong. Maka aku nyatakan “Tiadalah sebenar-benar Bagawat dari bangsamu itu mampu menjunjung langit”.

    ReplyDelete
  33. Pratama Wahyu Purnama
    17709251033

    Kita sebagai warga negara janganlah berhenti mengharapkan bantuan dari Allah SWT. karena tiadalah dari kita yang mampu menjunjung langit. Allah Maha Besar. tak ada gunanya kita menyombongkan diri atas apa yang telah kita miliki didunia. Semoga kita menjadi manusia yang dapat selalu bersyukur.

    ReplyDelete