Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 17 : Para Bagawat Berlomba Menjunjung Langit




Oleh Marsigit

Paralogos:

Wahai Transenden...tiada yang lebih asyik dari pada melihat kiprah para Bagawat. Kenapa para Bagawat itu menempati kedudukan istimewa. Kenapa sumua orang sangat menaruh perhatian kepada kiprahnya para Bagawat?

Transenden:
Wahai Paralogos..benar apa katamu. Mengapa para Bagawat itu menempati kedudukan istimewa? Karena tidak ¬mudah untuk memperoleh kedudukan dan status sebagai seorang Bagawat itu. Bagawat itu adalah perjuangan panjang. Bagawat itu adalah akumulasi pengalaman dan hidup. Bagawat adalah amanah pengemban ilmu tinggi. Bagawat adalah tanggung jawab dan previlage. Bagawat adalah nilai moral. Bagawat adalah hak prerogatif. Bagawat adalah ikhtiar prima. Bagawat adalah ketentuan dan takdir. Bagawat adalah penentu nasib. Bagawat adalah merah hijaunya masyarakat dan bangsanya. Bagawat adalah etik dan estetika. Bagawat adalah konsistensi dan komitmen. Bagawat adalah panutan dan pembimbing. Bagawat itu formal yang normatif. Bagawat itu normatif yang formal. Bagawat itu doa dan harapan. Bagawat itu mandiri dan sistemik. Bagawat itu hidup dan menghidupkan. Bagawat itu metafisik. Bagawat itu filsafat. Begawat itu mengatasi Ilmu Bidang. Bagawat itu Orang Tua Berambut Putih. Bagawat itu logos. Bagawat itu phenomenologi. Begawat itu hermenitika. Begawat itu tidak hanya kualitas primer, tetapi kualitas sekunder, tertier, kuarter, dst. Begawat itu tidak hanya dimensi satu, tetapi dimensi dua, dimensi tiga dan dimensi empat. Bagawat itu tidak hanya pengalaman tetapi para logos. Bagawat tidak hanya bertanya tetapi memutuskan. Begawat tidak hanya sintetik tetapi analitik. Begawat tidak hanya a posteriori tetapi juga a priori. Bagawat tidak hanya intrinsik, tetapi juga ekstrinsik dan sistemik. Bagawat tidak hanya dulu, sekarang dan yang akan datang, tetapi Bagawat itu adalah dulu yang sekarang, sekarang yang akan datang, dan yang akan datang sekarang. Bagawat tidak hanya local genious tetapi means of global. Begawat tidak hanya diam tetapi action. Begawat tidak hanya action tetapi diam. Begawat tidak hanya mencari tetapi memberi. Begawat tidak hanya praktek tetapi berterori. Bagawat tidak hanya berteori tetapi praktek. Bagawat tidak hanya internal tetapi eksternal. Bagawat tidak hanya potensi tetapi faktual. Begawat tidak hanya wacana tetapi fungsi kontrol. Bagawat tidak hanya yang ada tetapi yang mungkin ada. Bagawat tidak hanya yang terbatas tetapi yang terbatas.

Paralogos:
Wah...wah...banyak sekali pegertian bagawat itu? Kenapa engkau dapat mendefinisikan Bagawat dengan banyak sekali pengertian?

Transenden:

Kata-kataku dan kalimatku tidak akan cukup untuk mendefinisikan apa itu Bagawat. Kenapa? Karena Bagawat itu tidak hanya dunia tetapi juga akhirat. Bagawat itu tidak hanya kata-kata, tetapi juga pikiran dan hati. Tiadalah kata-kataku itu mampu menjelaskan semua pikiran dan hatiku.

Paralogos:

Singkat kata dapatkah anda sebutkan siapa yang disebut Bagawat itu?

Transenden:
Bagawat adalah semua yang merasa memperoleh dan diberi amanah untuk mengemban ilmu. Dia bisa Kepala Rumah Tangga, bisa Kepala Desa, bisa Camat, bisa Presiden, bisa Guru, bisa Rektor, bisa Dosen, bisa Profesor, bisa Menteri...yaitu semua yang merasa sebagai pengemban dan pengembang ilmu serta mengimplementasikannya.

Paralogos:

Wahai transenden...apa kemudian rencanamu setelah orang banyak mengetahui apa itu Bagawat?

Transenden:
Tidak engkau rasakan. Tidak pula dirasakan oleh Bagawat. Tidak pula dirasakan oleh Cantraka, Rakata dan Cemani. Tidak pula dirasakan oleh semua warga. Sebenar-benar yang terjadi adalah kita selalu sedang menyaksikan Perlombaan Menjunjung Langit khusus bagi para Bagawat. Marilah kita mendengar, melihat dan mengikuti apa kata fenomena tantang perlombaan ini.

Bagawat Plagiat:
Aku betul-betul gerah dengan pernyataan Tranbsenden ini: “ Ilmuwan PLAGIAT adalah Ilmuwan yang tidak mengenal dirinya sebagai Ilmuwan ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA? Guru yang memalsukan PAK adalah guru yang tidak mampu mengenal dirinya sebagai Guru ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal dirinya sebagai Guru MENGADA dan Guru PENGADA. Kegiatan memalsukan karya tulis apakah itu oleh seorang Ilmuwan Plagiat dan memalsukan PAK oleh seorang guru adalah kegiatan memalsukan dirinya sebagai MENGADA. Itulah peran dan jasa Ruang dan Waktu yang tidak akan pernah lalai mencatat segala perbuatan manusia, bahwa sebenar-benar keber ADA annya adalah SAKSI bagi MENGADA nya. Tidak hanya itu, maka segala YANG ADA dan YANG MUNGKIN ADA juga menjadi SAKSI bagi keber ADA annya dan ke MENGADA nya”.
Hemm...aku sudah terlanjur menyandang gelar Sang Bagawat. Satu sisi aku harus menunjukan formalku untuk Mengada, sisi lain aku tidak mempunyai Ekstrinsik apalagi Sistemik. Hemm...aku sebetulnya sangat marah dengan Sang Penguasaku. Karena Ekstrinsik dan Sistemik itu di luar kemampuanku. Itu adalah urusan Lembaga, Departemen dan Negaraku. Itu adalah urusan Political Will sang Penguasa Negaraku. Tetapi bagaimana sementara Sang Penguasa Negaraku itu belum berdimensi Bagawat Sistemik. Padahal para Bagawat Sistemik Transinternasional betul-betul mengharapkan diriku bisa menjadi anggotanya. Wah kalau begitu memang aku dipaksa harus bermain sandiwara. Waha ...ini ada referensi tentang Ada dari Bagawat Sistemik Transinternasional. Mumpung teman-temanku sedang terlena, mumpung semua masyarakatku tidak menyadarinya, maka akan aku ambil saja Referensi ini sebagai karyaku. Gamblinglah diriku. Jika mujur maka makmur, tetapi jika tidak mujur yah..terpaksa memperoleh gelar Bagawat Plagiat itu pilihan tak terhindarkan.

Bagawat Main Paksa:

Aku betul-betul gerah dengan pernyataan Tranbsenden ini: “O...oo Sang Bagawat, dengan kegiatanmu main paksa, maka ada beberapa kesalahan yang telah engkau lakukan. Kesalahan pertama, engkau menganggap dirimu sabagai satu-satunya Bagawat, padahal selain dirimu itu ada tak terhingga jumlahnya para Bagawat. Kesalahan kedua, engkau telah melakukan KEGIATAN MAIN PAKSA. Ketahuilah bahwa tiadalah sebenar-benar hakekatnya seorang Bagawat itu melakukan KEGIATAN MAIN PAKSA. Kegiatan MAIN PAKSA itu hanya dilakukan oleh mereka yang berdimensi lebih rendah dari dirimu, yaitu oleh PARA SUBYEK FORMAL DAN PARA SUBYEK MATERIAL. Ketahuilah bahwa sebenar-benar Bagawat itu mempunyai DIMENSI NORMATIF DAN DIMENSI SPIRITUAL. Kesalahan ketiga, engkau ternyata telah menganjurkan kepada orang lain untuk juga MELAKUKAN KEGIATAN MAIN PAKSA. Anjuranmu itu adalah kesalahanmu yang lebih besar lagi karena engkau telah melibatkan orang lain dalam kesalahanmu”.
Hemm...aku sudah terlanjur menyandang gelar Sang Bagawat. Satu sisi aku harus menunjukan formalku untuk Mengada, sisi lain aku tidak mempunyai Ekstrinsik apalagi Sistemik. Hemm...aku sebetulnya sangat marah dengan Sang Penguasaku. Karena Ekstrinsik dan Sistemik itu di luar kemampuanku. Itu adalah urusan Lembaga, Departemen dan Negaraku. Itu adalah urusan Political Will sang Penguasa Negaraku. Tetapi bagaimana sementara Sang Penguasa Negaraku itu belum berdimensi Bagawat Sistemik. Padahal para Bagawat Sistemik Transinternasional betul-betul mengharapkan diriku bisa menjadi anggotanya. Wah kalau begitu memang aku dipaksa harus bermain sandiwara. Waha ...ini ada Konferensi bagaimana Membangun Karakter, dimana menunjuk diriku sebagai nara sumber. Mumpung teman-temanku sedang terlena, mumpung semua masyarakatku tidak menyadarinya, maka akan aku tampilkan saja semua pikiran dan kebijakan instantku, tak usah repot-repot, tak usah studi komparasi, tak usah penelitian, tak usah baca referensi tambahan, dont care lah dengan semuanya. Toh kedudukanku sebagai Bagawat itu adalah sebenar-benar referensi bagi mereka. Mahai semua peserta konferensi dengarkanlah wejanganku ini: Gunakan Tiga Sa untuk Membentuk Karakter itu. Pertama, PAKSALAH, kedua Buat TERPAKSA, dan ketiga Buat BIASA.

Bagawat Ilmu Bidang dan Bagawat Penguasa Lembaga:
Walaupun aku tahu ini bertentangan dengan nuraniku, karena tidak cocok dengan rasional asal-usulku menjadi Begawat Ilmu Bidang. Tetapi bukankah Lembagaku ini sangat membutuhkanku. Apa tahunya Cantraka, Rakata dan Cemani itu? Aku sangat mengerti tabiat rakyat dan bangsaku. Mereka belum tahu bedanya Bagawat Ilmu Bidang dan Bagawat Penguasa Lembaga. Karakter rakyat dan bangsaku menganggap Bagawat Penguasa Lembaga tentu Bagawat Ilmu Bidang. Maka hanya Bagawat bodoh saja yang tidak mau merebut Bagawat Penguasa Lembaga. Aku juga akan PAKSA diriku bisa menggabungkan Bagawat Ilmu Bidang dan Bagawat Penguasa Lembaga. Jika demikian maka aku akan dapat menyatukan antara Ilmuku dan Kebijakanku. Itulah setinggi-tinggi nikmat hidupku yaitu ketika aku dapat menyatukan Ilmuku dan Kebijakanku, aku dapat menyatukan Teori dan Praktiku, aku dapat menyatukan semua tujuanku dan tujuan rakyatku, dan semua terangkum dalam diriku. Maka aku akan menemukan bahwa semua aspek kehidupanku adalah kebijakanku adalah aspek hidup mereka. Kata-kataku, batuk dan bersinku itu adalah kebijakanku.

Bagawat Transnasional:

Hidup terkadang harus melawan hati nurani. Hemm...aku telah mencapai kedudukan sebagai Begawat Ilmu Bidang. Satu sisi aku harus menunjukan formalku untuk Mengada dalam Ilmu Bidang, sisi lain aku tidak mempunyai Ekstrinsik apalagi Sistemik untuk mengada dalam Ilmu Bidang. Hemm...aku sebetulnya sangat marah dengan Sang Penguasaku. Karena Ekstrinsik dan Sistemik itu di luar kemampuanku. Itu adalah urusan Lembaga, Departemen dan Negaraku. Itu adalah urusan Political Will sang Penguasa Negaraku. Tetapi bagaimana sementara Sang Penguasa Negaraku itu belum berdimensi Bagawat Sistemik. Padahal para Bagawat Sistemik Transinternasional betul-betul mengharapkan diriku bisa menjadi anggotanya. Wah kalau begitu memang aku dipaksa harus bermain sandiwara. Waha ...ini ada ada Proyek Nasional. Mumpung teman-temanku sedang terlena, mumpung semua masyarakatku tidak menyadarinya, maka akan aku ambil Proyek nasional ini. Negaraku ternyata cukup menghibur diriku dengan tawaran memegang Proyek Nasional. Akan aku laksanakan tugasku sebagai Bagawat Birokrat Nasional. Dengarkanlah titah-titahku. Wahai peserta Rakor yang berbahagia, pertama mari kita hormat dulu kepada Pelaksana Teknis Admninistrasi, walaupun dia bukan Bagawat tetapi berkat dia maka kegiatan ini berjalan. Kedua mari kita taruh hormat kepada Perwakilan Bagawat transinternasional. Tentu mereka datang karena melihat kita mempunyai dan mampu memproduksi madu buat mereka. Hemm dengarkan semua Bagawat Ilmu Bidang...engkau itu tidak ada apa-apanya didepan Pelaksana Teknis Administrasi. Jangan pula engkau mentang-mentang di sini. Jangan pula engkau bicara Bagawat di sini. Jika engkau tidak dapat uang saku, tamat pula riwayatmu. Wahai Tuan Bagawat Transinternasional..sungguh mulia engkau jika berkenan me Refresh dan men Charger semua Bagawat Ku di seluruh negeri ini ke hadapanmu. Tiadalah daya dan upayaku dihadapanmu kecuali pengakuan totalku bahwa semua Bagawatku itu tidak ada apa-apanya di hadapanmu. Maka dengan demikian aku juga berserah diri semua rakyat dan bangsaku di haribaanmu untuk menerima semua titah-titahmu. Maka aku sangat menyambut gembira Program Rechargingmu bagi bangsaku. Itulah semata-mata pengakuan tulus dan tergantungku kepadamu. Aku terimakasih atas kepercayaanmu mengangkat diriku sebagai Bagawat Cabang Proyek Transinternasional. Hanya dengan demikianlah aku mampu menghidupi diriku. Dari pada menunggu kesadaran penguasaku. dari pada menuruti hati nurani, lebih baik aku bersikap realistis menyesuaikan dengan apa kepentingan dan kebutuhanku. Maka segeralah kemari mumpung rakyatku semua belum meyadarinya. Tenanglah bahwa semua Bagawat Tinggi, Panglima bagawat di negeri ini sudah terhipnotis semua dikarenalan silaunya dan anggunnya penampilanmu itu.

Paralogos:

Oh..oh...cukup-cukup...wahai Transenden. Aku tidak kuasa menyaksikan perilaku para Bagawat kita. Hati dan jangtungku terasa akan meledak. Aku tak kuasa menahan tangisku. Oh...Bagawat..Bagawat.. bangsaku. Kenapa engkau bernasib tragis seperti ini. Lebih tragis lagi karena engkau tidak menyadari ketragisanmu. Wahai Transenden...keadaan demikian itu salah siapa?

Transenden:

Itulah perbuatan dajal. Dajal itu begitu halus, lembut dan tersembunyi. Bahkan yang mengaku para Bagawat saja banyak yang tidak menyadarinya. Itulah dimensi bangsamu. Ini bukan disebabkan oleh karena kejadian sesaat. Ini dikarenakan oleh perjalanan bagsa ini yang telah lama mengabaikan ruang dan waktu. Bangsa ini telah lama mengabaikan kesempatan yang ada. Bangsa ini telah lama mengabaikan potensi yang ada. Maka aku sedang menyaksikan bahwa bangsamu itu sedang dikuasai para dajal. Akibatnya adalah dimana-mana terjadi dilema, kontradiksi, kemunafikan, penyelewengan, korupsi, nepotisme, anomali, kong kalingkong. Maka aku nyatakan “Tiadalah sebenar-benar Bagawat dari bangsamu itu mampu menjunjung langit”. Semua Bagawat yang ada masih terisolasi pada kediriannya masing-masing. Sementara sang Penguasa para Bagawat itu sudah terkena jeratan sistemik dari dajal transinternasional. Bagawat Plagiat, Bagawat Main Paksa, Bagawat Korupsi, Bagawat Ambivalen, Bagawat Menentang Hati Nurani, Bagawat Sekedar Wadah, Bagawat Sekedar Formal, ...itu semua adalah produk-produk sekarang dan yang akan datang dari masyarakatmu yang sedang sekaratul maut digerogoti oleh Dajal Transinternasional melalui belalai-belalai neolismenya. Hanya keajaiban dan Pemimpin Bangsa yang dapat melihat 200 tahun ke depan akan mampu menyelamatkan Bangsamu itu.


34 comments:

  1. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Begawat adalah pengemban amanah sementara, pada saatnya para begawat akan meninggalkan kedudukannya.

    ReplyDelete
  2. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Para Begawat hendaknya menjaga amanah yang ia emban dan melaksanakannya dengan penuh integritas dan tanggungjawab.

    ReplyDelete
  3. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Tanggungjawab para Begawat tidak hanya kepada masyakat dan si Penguasa Negeri, tapi juga kepada yang Sang Maha Pemberi Amanah.

    ReplyDelete
  4. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Tanggungjawab Begawat tidak hanya di dunia, akan tetapi juga akan mempertanggungjawabkannya di akherat kelak.

    ReplyDelete
  5. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Adanya begawat karena adanya masyarakat, maka kedudukan istimewa Begawat ada karena masyarakat memberinya perhatian yang istimewa.

    ReplyDelete
  6. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Etika paling utama bagi para Begawat adalah tanggung jawab. Semua orang yang hidup di muka bumi ini bisa disebut begawat. Karenanya, sebagai begawat, mereka semua memikul tanggung jawab, sekurang-kurangnya terhadap dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  7. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Seorang suami adalah begawat dan bertanggung jawab atas istrinya.

    ReplyDelete
  8. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Seorang bapak adalah begawat dan bertangung jawab kepada anak-anaknya.

    ReplyDelete
  9. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Seorang majikan adalah Begawat dan bertanggung jawab kepada pekerjanya

    ReplyDelete
  10. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Seorang atasan adalah begawat dan bertanggung jawab kepada bawahannya

    ReplyDelete
  11. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Seorang presiden, bupati, gubernur adalah Para Begawat dan bertanggung jawab kepada rakyat yang dipimpinnya.

    ReplyDelete
  12. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Tanggung jawab Begawat bukan semata-mata bermakna hanya melaksanakan tugas tanpa menyisakan dampak (hasil) bagi yang dipimpin.

    ReplyDelete
  13. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Tanggung jawab Bagawat lebih berarti upaya untuk mewujudkan kesejahteraan bagi pihak yang dipimpin.

    ReplyDelete
  14. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Begawat ibarat pengembala, ia harus merawat, memberi makan dan mencarikan tempat berteduh binatang gembalanya. Seorang penggembala bertanggung jawab untuk mensejahterakan binatang gembalanya.

    ReplyDelete
  15. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Karena hakekat begawat adalah tanggung jawab dan wujud tanggung jawab adalah kesejahteraan.

    ReplyDelete
  16. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Orang tua bertanggungjawab tidak hanya sekedar memberi makan anak-anaknya tetapi juga memenuhi standar gizi serta kebutuhan pendidikannya

    ReplyDelete
  17. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Seorang majikan tidak hanya sekedar memberikan upah pekerjanya sesuai standar ump (upah minimun provinsi), tapi juga harus memelihara kesejahteraan jiwanya.

    ReplyDelete
  18. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Seorang presiden buka “pemerintah” saja, namun juga harus ada upaya serius untuk mengangkat rakyatnya dari jurang kemiskinan menuju kesejahteraan.

    ReplyDelete
  19. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Tanggung jawab seorang presiden harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil dan kaum papa, bukannya berpihak pada konglomerat dan teman-teman dekat.

    ReplyDelete
  20. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Begawat memikul seribu harapan, ia tumpuhan hajat hidup masyarakatnya.

    ReplyDelete
  21. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Begawat memiliki berjuta struktur, berjuta dimensi dan berjuta karakter. Mungkin ada

    ReplyDelete
  22. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    begawat yang baik, amanah, jujur, tanggungjawab, memperjuangkan masyarakatnya dengan ikhlas tanpa pamrih.

    ReplyDelete
  23. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Begawat yang baik dapat mewarnai masyarakatnya dengan kebaikannya dan berusaha menyingkirkan keburukannya.

    ReplyDelete
  24. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Begawat yang amanah dapat mewarnai masyarakat dengan membangun rasa saling percaya dan menjaga kepercayaan itu.

    ReplyDelete
  25. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Begawat yang jujur akan mengajarkan dan membuktikan kepada masyarakat tentang kejujuran.

    ReplyDelete
  26. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Begawat yang tanggungjawab akan mengemban amanah sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya.

    ReplyDelete
  27. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Bagawat yang ihlas akan menunaikan tanggungjawabnya tanpa pamrih, semata-mata untuk beribadah mencapai ridlo Sang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  28. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Kejujuran adalah modal yang paling mendasar bagi begawat. Tanpa kejujuran, kepemimpinan ibarat bangunan tanpa fondasi, dari luar nampak megah namun di dalamnya rapuh dan tak bisa bertahan lama.

    ReplyDelete
  29. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Bila tidak didasarkan atas kejujuran orang-orang yang terlibat di dalam sistem Kebegawatan, maka akan mengancam pelaksanaan tugas dan tanggungjawab kebegawatannya.

    ReplyDelete
  30. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Kejujuran Begawat tidak bisa hanya mengandalakan pada satu posisi Begawat saja, akan tetapi semua komponen Kebegawatan yang terlibat di dalamnya.

    ReplyDelete
  31. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Sistem Kebegawatan akan rapuh jika diisi dengan para Begawat yang mengabaikan kejujuran.

    ReplyDelete
  32. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Seorang Begawat harus memberikan suri tauladan yang baik kepada masyarakatnya.

    ReplyDelete
  33. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Suri tauladan ini harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan-kebijakan atau keputusan-keputusan yang mendukung kesejahteraan rakyatnya.

    ReplyDelete
  34. SHALEH/PEP/2016/A
    16701261010
    Begawat yang menipu dan melukai hati rakyat akan terancam oleh tipuan dan perbuatannya sendiri, ia akan terjebak ruang gelap tipuan dan perbuatannya itu.

    ReplyDelete


Note: Only a member of this blog may post a comment.