Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 17 : Para Bagawat Berlomba Menjunjung Langit




Oleh Marsigit

Paralogos:

Wahai Transenden...tiada yang lebih asyik dari pada melihat kiprah para Bagawat. Kenapa para Bagawat itu menempati kedudukan istimewa. Kenapa sumua orang sangat menaruh perhatian kepada kiprahnya para Bagawat?

Transenden:
Wahai Paralogos..benar apa katamu. Mengapa para Bagawat itu menempati kedudukan istimewa? Karena tidak ¬mudah untuk memperoleh kedudukan dan status sebagai seorang Bagawat itu. Bagawat itu adalah perjuangan panjang. Bagawat itu adalah akumulasi pengalaman dan hidup. Bagawat adalah amanah pengemban ilmu tinggi. Bagawat adalah tanggung jawab dan previlage. Bagawat adalah nilai moral. Bagawat adalah hak prerogatif. Bagawat adalah ikhtiar prima. Bagawat adalah ketentuan dan takdir. Bagawat adalah penentu nasib. Bagawat adalah merah hijaunya masyarakat dan bangsanya. Bagawat adalah etik dan estetika. Bagawat adalah konsistensi dan komitmen. Bagawat adalah panutan dan pembimbing. Bagawat itu formal yang normatif. Bagawat itu normatif yang formal. Bagawat itu doa dan harapan. Bagawat itu mandiri dan sistemik. Bagawat itu hidup dan menghidupkan. Bagawat itu metafisik. Bagawat itu filsafat. Begawat itu mengatasi Ilmu Bidang. Bagawat itu Orang Tua Berambut Putih. Bagawat itu logos. Bagawat itu phenomenologi. Begawat itu hermenitika. Begawat itu tidak hanya kualitas primer, tetapi kualitas sekunder, tertier, kuarter, dst. Begawat itu tidak hanya dimensi satu, tetapi dimensi dua, dimensi tiga dan dimensi empat. Bagawat itu tidak hanya pengalaman tetapi para logos. Bagawat tidak hanya bertanya tetapi memutuskan. Begawat tidak hanya sintetik tetapi analitik. Begawat tidak hanya a posteriori tetapi juga a priori. Bagawat tidak hanya intrinsik, tetapi juga ekstrinsik dan sistemik. Bagawat tidak hanya dulu, sekarang dan yang akan datang, tetapi Bagawat itu adalah dulu yang sekarang, sekarang yang akan datang, dan yang akan datang sekarang. Bagawat tidak hanya local genious tetapi means of global. Begawat tidak hanya diam tetapi action. Begawat tidak hanya action tetapi diam. Begawat tidak hanya mencari tetapi memberi. Begawat tidak hanya praktek tetapi berterori. Bagawat tidak hanya berteori tetapi praktek. Bagawat tidak hanya internal tetapi eksternal. Bagawat tidak hanya potensi tetapi faktual. Begawat tidak hanya wacana tetapi fungsi kontrol. Bagawat tidak hanya yang ada tetapi yang mungkin ada. Bagawat tidak hanya yang terbatas tetapi yang terbatas.

Paralogos:
Wah...wah...banyak sekali pegertian bagawat itu? Kenapa engkau dapat mendefinisikan Bagawat dengan banyak sekali pengertian?

Transenden:

Kata-kataku dan kalimatku tidak akan cukup untuk mendefinisikan apa itu Bagawat. Kenapa? Karena Bagawat itu tidak hanya dunia tetapi juga akhirat. Bagawat itu tidak hanya kata-kata, tetapi juga pikiran dan hati. Tiadalah kata-kataku itu mampu menjelaskan semua pikiran dan hatiku.

Paralogos:

Singkat kata dapatkah anda sebutkan siapa yang disebut Bagawat itu?

Transenden:
Bagawat adalah semua yang merasa memperoleh dan diberi amanah untuk mengemban ilmu. Dia bisa Kepala Rumah Tangga, bisa Kepala Desa, bisa Camat, bisa Presiden, bisa Guru, bisa Rektor, bisa Dosen, bisa Profesor, bisa Menteri...yaitu semua yang merasa sebagai pengemban dan pengembang ilmu serta mengimplementasikannya.

Paralogos:

Wahai transenden...apa kemudian rencanamu setelah orang banyak mengetahui apa itu Bagawat?

Transenden:
Tidak engkau rasakan. Tidak pula dirasakan oleh Bagawat. Tidak pula dirasakan oleh Cantraka, Rakata dan Cemani. Tidak pula dirasakan oleh semua warga. Sebenar-benar yang terjadi adalah kita selalu sedang menyaksikan Perlombaan Menjunjung Langit khusus bagi para Bagawat. Marilah kita mendengar, melihat dan mengikuti apa kata fenomena tantang perlombaan ini.

Bagawat Plagiat:
Aku betul-betul gerah dengan pernyataan Tranbsenden ini: “ Ilmuwan PLAGIAT adalah Ilmuwan yang tidak mengenal dirinya sebagai Ilmuwan ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA? Guru yang memalsukan PAK adalah guru yang tidak mampu mengenal dirinya sebagai Guru ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal dirinya sebagai Guru MENGADA dan Guru PENGADA. Kegiatan memalsukan karya tulis apakah itu oleh seorang Ilmuwan Plagiat dan memalsukan PAK oleh seorang guru adalah kegiatan memalsukan dirinya sebagai MENGADA. Itulah peran dan jasa Ruang dan Waktu yang tidak akan pernah lalai mencatat segala perbuatan manusia, bahwa sebenar-benar keber ADA annya adalah SAKSI bagi MENGADA nya. Tidak hanya itu, maka segala YANG ADA dan YANG MUNGKIN ADA juga menjadi SAKSI bagi keber ADA annya dan ke MENGADA nya”.
Hemm...aku sudah terlanjur menyandang gelar Sang Bagawat. Satu sisi aku harus menunjukan formalku untuk Mengada, sisi lain aku tidak mempunyai Ekstrinsik apalagi Sistemik. Hemm...aku sebetulnya sangat marah dengan Sang Penguasaku. Karena Ekstrinsik dan Sistemik itu di luar kemampuanku. Itu adalah urusan Lembaga, Departemen dan Negaraku. Itu adalah urusan Political Will sang Penguasa Negaraku. Tetapi bagaimana sementara Sang Penguasa Negaraku itu belum berdimensi Bagawat Sistemik. Padahal para Bagawat Sistemik Transinternasional betul-betul mengharapkan diriku bisa menjadi anggotanya. Wah kalau begitu memang aku dipaksa harus bermain sandiwara. Waha ...ini ada referensi tentang Ada dari Bagawat Sistemik Transinternasional. Mumpung teman-temanku sedang terlena, mumpung semua masyarakatku tidak menyadarinya, maka akan aku ambil saja Referensi ini sebagai karyaku. Gamblinglah diriku. Jika mujur maka makmur, tetapi jika tidak mujur yah..terpaksa memperoleh gelar Bagawat Plagiat itu pilihan tak terhindarkan.

Bagawat Main Paksa:

Aku betul-betul gerah dengan pernyataan Tranbsenden ini: “O...oo Sang Bagawat, dengan kegiatanmu main paksa, maka ada beberapa kesalahan yang telah engkau lakukan. Kesalahan pertama, engkau menganggap dirimu sabagai satu-satunya Bagawat, padahal selain dirimu itu ada tak terhingga jumlahnya para Bagawat. Kesalahan kedua, engkau telah melakukan KEGIATAN MAIN PAKSA. Ketahuilah bahwa tiadalah sebenar-benar hakekatnya seorang Bagawat itu melakukan KEGIATAN MAIN PAKSA. Kegiatan MAIN PAKSA itu hanya dilakukan oleh mereka yang berdimensi lebih rendah dari dirimu, yaitu oleh PARA SUBYEK FORMAL DAN PARA SUBYEK MATERIAL. Ketahuilah bahwa sebenar-benar Bagawat itu mempunyai DIMENSI NORMATIF DAN DIMENSI SPIRITUAL. Kesalahan ketiga, engkau ternyata telah menganjurkan kepada orang lain untuk juga MELAKUKAN KEGIATAN MAIN PAKSA. Anjuranmu itu adalah kesalahanmu yang lebih besar lagi karena engkau telah melibatkan orang lain dalam kesalahanmu”.
Hemm...aku sudah terlanjur menyandang gelar Sang Bagawat. Satu sisi aku harus menunjukan formalku untuk Mengada, sisi lain aku tidak mempunyai Ekstrinsik apalagi Sistemik. Hemm...aku sebetulnya sangat marah dengan Sang Penguasaku. Karena Ekstrinsik dan Sistemik itu di luar kemampuanku. Itu adalah urusan Lembaga, Departemen dan Negaraku. Itu adalah urusan Political Will sang Penguasa Negaraku. Tetapi bagaimana sementara Sang Penguasa Negaraku itu belum berdimensi Bagawat Sistemik. Padahal para Bagawat Sistemik Transinternasional betul-betul mengharapkan diriku bisa menjadi anggotanya. Wah kalau begitu memang aku dipaksa harus bermain sandiwara. Waha ...ini ada Konferensi bagaimana Membangun Karakter, dimana menunjuk diriku sebagai nara sumber. Mumpung teman-temanku sedang terlena, mumpung semua masyarakatku tidak menyadarinya, maka akan aku tampilkan saja semua pikiran dan kebijakan instantku, tak usah repot-repot, tak usah studi komparasi, tak usah penelitian, tak usah baca referensi tambahan, dont care lah dengan semuanya. Toh kedudukanku sebagai Bagawat itu adalah sebenar-benar referensi bagi mereka. Mahai semua peserta konferensi dengarkanlah wejanganku ini: Gunakan Tiga Sa untuk Membentuk Karakter itu. Pertama, PAKSALAH, kedua Buat TERPAKSA, dan ketiga Buat BIASA.

Bagawat Ilmu Bidang dan Bagawat Penguasa Lembaga:
Walaupun aku tahu ini bertentangan dengan nuraniku, karena tidak cocok dengan rasional asal-usulku menjadi Begawat Ilmu Bidang. Tetapi bukankah Lembagaku ini sangat membutuhkanku. Apa tahunya Cantraka, Rakata dan Cemani itu? Aku sangat mengerti tabiat rakyat dan bangsaku. Mereka belum tahu bedanya Bagawat Ilmu Bidang dan Bagawat Penguasa Lembaga. Karakter rakyat dan bangsaku menganggap Bagawat Penguasa Lembaga tentu Bagawat Ilmu Bidang. Maka hanya Bagawat bodoh saja yang tidak mau merebut Bagawat Penguasa Lembaga. Aku juga akan PAKSA diriku bisa menggabungkan Bagawat Ilmu Bidang dan Bagawat Penguasa Lembaga. Jika demikian maka aku akan dapat menyatukan antara Ilmuku dan Kebijakanku. Itulah setinggi-tinggi nikmat hidupku yaitu ketika aku dapat menyatukan Ilmuku dan Kebijakanku, aku dapat menyatukan Teori dan Praktiku, aku dapat menyatukan semua tujuanku dan tujuan rakyatku, dan semua terangkum dalam diriku. Maka aku akan menemukan bahwa semua aspek kehidupanku adalah kebijakanku adalah aspek hidup mereka. Kata-kataku, batuk dan bersinku itu adalah kebijakanku.

Bagawat Transnasional:

Hidup terkadang harus melawan hati nurani. Hemm...aku telah mencapai kedudukan sebagai Begawat Ilmu Bidang. Satu sisi aku harus menunjukan formalku untuk Mengada dalam Ilmu Bidang, sisi lain aku tidak mempunyai Ekstrinsik apalagi Sistemik untuk mengada dalam Ilmu Bidang. Hemm...aku sebetulnya sangat marah dengan Sang Penguasaku. Karena Ekstrinsik dan Sistemik itu di luar kemampuanku. Itu adalah urusan Lembaga, Departemen dan Negaraku. Itu adalah urusan Political Will sang Penguasa Negaraku. Tetapi bagaimana sementara Sang Penguasa Negaraku itu belum berdimensi Bagawat Sistemik. Padahal para Bagawat Sistemik Transinternasional betul-betul mengharapkan diriku bisa menjadi anggotanya. Wah kalau begitu memang aku dipaksa harus bermain sandiwara. Waha ...ini ada ada Proyek Nasional. Mumpung teman-temanku sedang terlena, mumpung semua masyarakatku tidak menyadarinya, maka akan aku ambil Proyek nasional ini. Negaraku ternyata cukup menghibur diriku dengan tawaran memegang Proyek Nasional. Akan aku laksanakan tugasku sebagai Bagawat Birokrat Nasional. Dengarkanlah titah-titahku. Wahai peserta Rakor yang berbahagia, pertama mari kita hormat dulu kepada Pelaksana Teknis Admninistrasi, walaupun dia bukan Bagawat tetapi berkat dia maka kegiatan ini berjalan. Kedua mari kita taruh hormat kepada Perwakilan Bagawat transinternasional. Tentu mereka datang karena melihat kita mempunyai dan mampu memproduksi madu buat mereka. Hemm dengarkan semua Bagawat Ilmu Bidang...engkau itu tidak ada apa-apanya didepan Pelaksana Teknis Administrasi. Jangan pula engkau mentang-mentang di sini. Jangan pula engkau bicara Bagawat di sini. Jika engkau tidak dapat uang saku, tamat pula riwayatmu. Wahai Tuan Bagawat Transinternasional..sungguh mulia engkau jika berkenan me Refresh dan men Charger semua Bagawat Ku di seluruh negeri ini ke hadapanmu. Tiadalah daya dan upayaku dihadapanmu kecuali pengakuan totalku bahwa semua Bagawatku itu tidak ada apa-apanya di hadapanmu. Maka dengan demikian aku juga berserah diri semua rakyat dan bangsaku di haribaanmu untuk menerima semua titah-titahmu. Maka aku sangat menyambut gembira Program Rechargingmu bagi bangsaku. Itulah semata-mata pengakuan tulus dan tergantungku kepadamu. Aku terimakasih atas kepercayaanmu mengangkat diriku sebagai Bagawat Cabang Proyek Transinternasional. Hanya dengan demikianlah aku mampu menghidupi diriku. Dari pada menunggu kesadaran penguasaku. dari pada menuruti hati nurani, lebih baik aku bersikap realistis menyesuaikan dengan apa kepentingan dan kebutuhanku. Maka segeralah kemari mumpung rakyatku semua belum meyadarinya. Tenanglah bahwa semua Bagawat Tinggi, Panglima bagawat di negeri ini sudah terhipnotis semua dikarenalan silaunya dan anggunnya penampilanmu itu.

Paralogos:

Oh..oh...cukup-cukup...wahai Transenden. Aku tidak kuasa menyaksikan perilaku para Bagawat kita. Hati dan jangtungku terasa akan meledak. Aku tak kuasa menahan tangisku. Oh...Bagawat..Bagawat.. bangsaku. Kenapa engkau bernasib tragis seperti ini. Lebih tragis lagi karena engkau tidak menyadari ketragisanmu. Wahai Transenden...keadaan demikian itu salah siapa?

Transenden:

Itulah perbuatan dajal. Dajal itu begitu halus, lembut dan tersembunyi. Bahkan yang mengaku para Bagawat saja banyak yang tidak menyadarinya. Itulah dimensi bangsamu. Ini bukan disebabkan oleh karena kejadian sesaat. Ini dikarenakan oleh perjalanan bagsa ini yang telah lama mengabaikan ruang dan waktu. Bangsa ini telah lama mengabaikan kesempatan yang ada. Bangsa ini telah lama mengabaikan potensi yang ada. Maka aku sedang menyaksikan bahwa bangsamu itu sedang dikuasai para dajal. Akibatnya adalah dimana-mana terjadi dilema, kontradiksi, kemunafikan, penyelewengan, korupsi, nepotisme, anomali, kong kalingkong. Maka aku nyatakan “Tiadalah sebenar-benar Bagawat dari bangsamu itu mampu menjunjung langit”. Semua Bagawat yang ada masih terisolasi pada kediriannya masing-masing. Sementara sang Penguasa para Bagawat itu sudah terkena jeratan sistemik dari dajal transinternasional. Bagawat Plagiat, Bagawat Main Paksa, Bagawat Korupsi, Bagawat Ambivalen, Bagawat Menentang Hati Nurani, Bagawat Sekedar Wadah, Bagawat Sekedar Formal, ...itu semua adalah produk-produk sekarang dan yang akan datang dari masyarakatmu yang sedang sekaratul maut digerogoti oleh Dajal Transinternasional melalui belalai-belalai neolismenya. Hanya keajaiban dan Pemimpin Bangsa yang dapat melihat 200 tahun ke depan akan mampu menyelamatkan Bangsamu itu.


30 comments:

  1. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada dasarnya setiap orang adalah pemimpin, yaitu pemimpin untuk dirinya sendiri. Setiap orang harus mampu mengendalikan hawa nafsu diri sendiri agar mampu melangkah ke arah kebaikan. Namun ketika kita telah memimpin orang lain, itu bukanlah perkara yang mudah. Kita harus mampu mengayomi orang-orang yang kita pimpin dengan tetap berlaku adil terhadap semuanya.

    ReplyDelete
  2. Apa yang ada di dunia ini dapat pandang dari dua sisi yaitu sisi baik (kebenaran) dan sisi buruk (salah). Begitupun dengan manusia, ada manusia baik dan manusia buruk. Begitupun dengan jabatan yang dimiliki oleh manusia, misal guru maka ada guru yang baik dan guru yang buruk, ada siswa yang baik dan siswa yang buruk, begitupun dengan bagawat maka ada bagawat baik dan bagawat baik. Apa yang harus dilakukan oleh kita adalah selalu berusaha berada pada sisi kebaikan atau kebenaran, menjadi manusia yang baik sehingga amanah yang diberikan kepada kita dilakukan dengan sebaik-baiknya, menjadi guru yang baik, siswa yang baik, pemimpin yang baik dst.

    ReplyDelete
  3. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Banyak para petinggi di negeri ini menyalahgunakan wewenang dan kekuasaannya untuk memperkaya diri sendiri, bahkan seolah-olah kejahatan yang mereka lakukan itu bersifat sistematis, terstruktur dan massif. Sehingga untuk membuktikan kejahatan yang mereka lakukan harus membuka beratus-ratus pintu terlebih dahulu. Semoga pemimpin kita ke depannya dapat melihat secara visioner, mau di bawa dan di arahkan kemana bangsa kita ini.

    ReplyDelete
  4. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dalam elegi ini disampaikan bahwa Begawat memiliki banyak sekali definisi, sebanyak apa yang ada. Begawat adalah semua orang yang mempunyai amanah dan mengemban ilmu atau memiliki ilmu. Dalam hal ini manusia adalah makhluk yang memiliki amanah yaitu sebagai khalifah di bumi, untuk menjaga keseimbangan di bumi. Sehingga pada dasarnya menurut saya setiap manusia berpotensi menjadi Begawat.
    Untuk menjadi Begawat yang bersahaja maka diperlukan kemampuan memahami ruang dan waktu. Menjadi Begawat adalah suatu amanah untuk menjadikan bangsa dan negeri ini menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  5. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak.
    Tanggung jawab yang semakin besar akan diiringi pula dengan godaan yang semakin kuat. Terkadang manusia tidak sadar akan godaan tersebut sehingga pada akhirnya lalai akan tanggungjawabnya.
    Hal yang bisa dilakukan sebelum mengemban tanggung jawab yang semakin besar adalah memperkokoh pondasi spiritual dan menambah pengalaman, pikiran, dan wawasan untuk melengkapi pondasi tersebut.

    ReplyDelete
  6. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A 2017

    Dari elegi ritual ikhlas 17 di atas dapat kita ketahui bahwa ada beberapa karakter bagawat yaitu Bagawat Plagiat, Bagawat Main Paksa, Bagawat Korupsi, Bagawat Ambivalen, Bagawat Menentang Hati Nurani, Bagawat Sekedar Wadah, Bagawat Sekedar Formal. Sebagai seorang bagawat yang memiliki ilmu hendaklah selalu belajar agar ilmu tersebut berguna dan bermanfaat bagi diri sendiri mupun orang lain. Karena sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat kepada yang lainnya.

    ReplyDelete
  7. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih prof, pada elegi ini saya menemukam suatu hal yang menarik, yaitu "Hidup terkadang harus melawan hati nurani", disini menurut saya, pemikiran semacam ini lah yang menimbulkan banyaknya penyelewengan tanggung jawab yang dilakukan oleh banyak pihak, seperti guru yang memalsukan PAK dst, bekerja dan memegang tanggung jawab, seharusnya disertai dengan mengontrol diri dengan hati nurani yang dimiliki. Tidak digunakannya hati nurani dapat berdampak besar, diharapkan manusia dapat menggunakan hati nurani untuk mengontrol diri agar tetap di japan yang benar.

    ReplyDelete
  8. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini, kami memahami predikat bagawat adalah suatu amanah, seseorang yang menyandang “bagawat” sesungguhnya memikul beban tanggung jawab yang besar. Untuk itu, untuk mendapatkan predikat begawat perlu perjuangan, perlu pembelajaran yang berkesinambungan tanpa henti, perlu banyak melakukan sesuatu dan merefleksikannya sehingga banyak pengalaman-pengalaman hidup yan bermakna. Akan tetapi ternyata ada orang-orang yang terlanjur berpredikat sebagai begawat ternyata tidak sanggup memikul beban dan tanggung jawab sebagai begawat, dalam elegi ini di ilustrasikan sebagai begawat plagiat, begawat main paksa, begawat transnasional.

    ReplyDelete
  9. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Begawat adalah semua yang merasa memperoleh dan diberi amanah untuk mengemban ilmu. Untuk menjalankan amanah perlu prinsip yang kuat dan rasa tanggung jawab. Semakin tinggi ilmu semakin besar amanah yang diperoleh dan secara tidak langsung berimbas pada semakin besar pula tanggung jawab yang diterima, sehingga tidak tertutup kemungkinan terbuka peluang bagi “begawat” menyalahgunakan amanah tersebut, selalu ada godaan dalam prosesnya. Untuk itu disinilah peran hati nurani diperlukan sebagai pengendalian diri serta selalulah mengingat Allah SWT untuk setiap perbuatan.

    ReplyDelete
  10. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Mungkin satu hal yang paling berat di dunia ini bukan besi, bukan baja, bukan roket. Akan tetapi yang paling berat di dunia ini adalah amanah. Amanah yang diemban atau disematkan kepada kita harus kita jaga dan kita laksanakan sebagaimana mestinya. Sebagai seorang pemimpin yang mendapatkan amanah, kita harus menjadi seseorang yang berperilaku positif. Harus menghilangkan berbagai macam sifat negatif mulai dari Plagiat, Korupsi, Pemaksaan dan tindakan negatif lainnya yang sekarang marak dilakukan oleh pemimpin di negeri ini. astaghfirullah. Kita sebagai kawula muda harus merubah itu sendiri, minimal kita merubah dari diri kita sendiri untuk Indonesia lebih baik.

    ReplyDelete
  11. Junianto
    PM C
    17709251065

    Dari artikel di atas, sedikit yang bisa saya pahami adalah bahwa menjadi Bagawat itu bukanlah hal yang mudah. Menjadi Bagawat memerlukan perjalanan panjang, penuh dengan perjuangan dan pengorbanan. Karena Bagawat adalah semua yang merasa memperoleh dan diberi amanah untuk mengemban ilmu. Dia bisa siapapun, asalkan mampu dan memenuhi kriteria tersebut. Tentunya semua mengandung resiko karena semakin tinggi ilmu seseorang maka semakin tinggi pula godaan dan cobaanya. Maka dari itu,tidak heran jika banyak orang yang cerdas tetapi justru meninggalkan Tuhan bahkan menjadi orang atheis.

    ReplyDelete
  12. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Pada elegi ini, begawat adalah manusia yang mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai khalifah di bumi. Manusia yang diberi amanah untuk mengemban ilmu dan mengaplikasikannya dalam kehidupan. Tiap manusiamempunyai kecenderungan masing-masing. Ada yang belajar soal hukum dan politik, kesehatan, ekonomi, teknik, science, dan disiplin ilmu lainnya. Ilmu yang telah dipelajari akan menjadi bekal masa depannya. Ada yang jadi pengacara, dokter, pebisnis, dan lainnya. Mereka yang telah berilmu saling berlomba untuk menjadi yang terbaik di bidangnya masing-masing. Sehingga terbentuklah suatu tatanan negara. Ada yang jadi Presiden di tingkat pusat pemerintah sampai ketua RT di tengah-tengah masyarakatnya. Diantara presiden dan RT terdapat pelaku kepentingan yang lain. Para pengemban amanah itu ada yang jujur dan juga sebaliknya

    ReplyDelete
  13. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Tragis. Benar-benar tragis. Betapa tidak. Tragisnya kita tidak menyadari ketragisan pada diri kita. Agak terkaget-kaget sebetulnya, sejauh ini saya begitu kagum dengan kehadiran para begawat yang selalu datang di setiap pertanyaan. Tapi kali ini kenapa saya dihadapkan pada begawat-begawat yang sedang tergoda syaitan. Ya memang syaitan lembut dan halus bujuk rayunya. Tapi kenapa harus begawat? Kenapa mereka yang saya kagumi? Ah benar-benar saya harus menemui elegi selanjutnya. Saya harus dapat kepastian tentang begawat-begawat yang ku kagumi sekemarin ini.

    ReplyDelete
  14. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Pemimpin itu sesungguhnya adalah sebuah amanah. Tetapi, banyak orang yang tidak mampu mengemban amanah tetapi memaksakan kehendak untuk menjadi seorang pemimpin demi memuaskan egonya semata. Hal inilah yang menyebabkan kekacauan sebuah bangsa. Mereka berkuasa seenaknya sendiri. Memaksakan keahlian yang sebenarnya bukanlah bidangnya. Sehingga mereka melakukan perbuatan-perbuatan tercela seperti plagiarism dan main paksa.
    Salah satu cara agar kita terhindar dari perilaku buruk yang dicontohkan dalam elegi di atas, yaitu menjadi prmimpin yang tidak bertanggung jawab adalah dengan cara meningkatkan iman dan taqwa kita. Banyak-banyak berdoa dan bersyukur kepada Allah SWT. Semoga kita terlindung dari godaan dajjal yang dapat mempengaruhi kita untuk berprilaku buruk.

    ReplyDelete
  15. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.Bahwa sebagai seorang pemimpin harusnya tahu posisi kedudukannya dengan menjalankan amanah yang dipegangnya dengan sebaik mungkin. Seorang pemimpin harus bisa mengayomi masyarakatnya. Mari mulailah belajar menjadi seorang pemimpin, belajarlah dari hal yang kecil seperti menjadi pemimpin diri sendiri.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  16. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas sharingnya, Prof. Setiap manusia telah diberikan amanat oleh Allah menjadi seorang pemimpin, paling tidak pemimpin untuk dirinya sendiri yaitu menuntun dirinya agar tidak mengikuti hawa nafsu belaka. Apalagi yang diberikan amanah untuk memimpin rumah tangga, sekolah, perusahaan, negara, dll. Nasib yang dipimpin sangat ditentukan oleh orang yang memimpinnya. Kita telah diperlihatkan daerah atau bangsa hancur karena ulah pemimpinnya yang tidak bertanggung jawab dan amanah. Semoga kita dianugerahkan pemimpin yang amanah dan tidak menyia-nyiakan kepercayaan rakyatnya.

    ReplyDelete
  17. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Di elegi ini dijelaskan bahwa bagawat adalah semua orang yang merasa memperoleh dan diberi amanah untuk mengemban ilmu. Tidak mudah untuk mencapai derajat bagawat, perlu waktu yang panjang dan usaha yang keras. Akan tetapi, perlu ditekankan bahwa sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang bermanfaat. Oleh karena itu, berusahalah untuk menjadi orang yang selalu menuntut ilmu kemudian gunakan imu tersebut untuk kemaslahatan umat seperti yang dilakukan oleh para bagawat.

    ReplyDelete
  18. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Begawat merupakan semua orang yang merasa bahwa dirinya memperoleh dan diberi amanah untuk mengemban ilmu. Idealnya, seorang bagawat berusaha untuk menjunjung langit, yaitu mengemban ilmu, mengembangkan ilmu, serta mengimplementasikannya. Menjadi bagawat memang tidak mudah, karena mengemban ilmu merupakan amanah yang akan diminta pertanggungjawabannya di dunia dan di akhirat nanti. Padahal godaan untuk melakukan pengembangan ilmu dengan cara-cara yang tidak benar akan terus menerus mengalir. Maka menjadi seorang bagawat harus dapat menempatkan dirinya dalam ruang dan waktu yang tepat, agar tidak terjebak pada hal-hal yang tercela seperti korupsi, penyelewengan, kongkalikong, dsb.

    ReplyDelete
  19. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Setiap orang tentu memikul amanah masing - masing sesuai dengan kemampuannya. Semakin tinggi ilmu dan kemampuan seseorang, apapun yang melekat padanya juga akan menyesuaikan dengan apa yang ia miliki, termasuk amanah. Orang yang memiliki ilmu tinggi sebagaimana begawat tentunya memikul beban amanah yang lebih berat. Namun perlu diingat bahwa Tuhan tidak akan membebani seseorang diluar kemampuannya. Dengan dasar itu, tentu kita harus yakin bahwa kita mampu menerima dan melaksanakannya. Seberat apapun amanah itu jika dilandasi dengan keikhlasan dan rasa tanggung jawab tentunya akan tetap dapat dilaksanakan dengan sebaik - baiknya tanpa harus menyimpang dari jalan kebenaran. Misalnya jika amanan itu adalah sebuah ilmu, maka hendaklah di salurkan kepada yang lain dan di amalkan untuk kebaikan. Bukan untuk dimiliki sendiri yang akhirnya hanya akan menyebabkan kesombongan.

    ReplyDelete
  20. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Membaca elegi ini jadi teringat nasihat Pak Marsigit pada elegi ritual ikhlas 12 mengenai wasiat Muhammad Nurikhlas kepada Para Cantraka dalam meretas sejarah peradaban manusia. Dalam elegi itu kita sebagai generasi penerus bangsa dianjurkan untuk memanfaatkan ruang dan waktu dengan sebaik-baiknya, mengambil kesempatan yang ada untuk kemajuan bangsa. Itu semua dapat dicapai dengan menggunakan akal, pikiran, dan potensi kita digunakan semaksimal mungkin. Para penguasa bangsa tak pernah henti-hentinya berebut mengunggulkan individualisme demi kepentingan pribadi, sehingga satu sama lain berebut menjadi yang terbaik tanpa dilandasi dengan spiritual. Tidak masalah jika berebut menjadi yang paling unggul tetapi membawa kedamaian dan kemajuan bangsa.

    ReplyDelete
  21. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb

    Terimakasih banyak Pak prof
    Menyedihkan melihat begawat-begawat yang diumpamakan dalam elegi tersebut.Kesadaran menjalankan amanah telah hilang ditelan kekuasaan.Tidak ada yang namanya potensi, atau professionalitas semua berbaur asas kepentingan.Amanah telah bertolak belakang dengan kodratnya. Harga diri tergadaikan hanya gara-gara meraih kekuasaan.Dan kekuasaan telah disandakan pada sandaran yang salah. Maaf, jika tidak salah memahami begitulah kondisi begawat yang ada di negeri ini seperti yang dikiaskan dalam elegi tersebut.

    ReplyDelete
  22. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Saya menyadari belum sepenuhnya mampu untuk mengemban amanah yang Allah berikan untuk diri saya. Terkadang hak-hak atas tubuh saya sendiri saja belum saya penuhi secara optimal. Layaknya mata yang harus diistirahatkan dalam waktu yang cukup, tangan yang terkadang memberi namun masih terucap dalam mulut, mulut yang terkadang suka lepas dalam berbicara dan sebagainya. Saya berharap dapat diberi kesadaran oleh Allah atas tindakan tragis yang cenderung tidak disadari saat melakukannya. Terima kasih Pak, sedikit ulasan ini membuka pandangan saya pentingnya berpikir sebelum bertindak dan melatih niat dalam beribadah kepada Allah.

    ReplyDelete
  23. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada dasarnya tidak ada pekerjaan yang mudah dan paling nyaman. Kadang kita merasa terlalu sulit dengan pekerjaan kita, padahal di luar sana masih ada orang yang lebih mengalami kesulitan daripada kita. Jadi, seberat apapun tugas kita, lakukanlah dengan hati yang ikhlas, dan jangan lupa bersyukur karena di luar sana masih ada orang yang lebih kesulitan dari kita. Disamping masalah yang besar pasti identik dengan besarnya ilmu yang akan kita dapat nanti. Begitu juga seorang pemimpin, pemimpin sebaiknya menjalankan amanah-amanah yang diberikan dengan dengan baik.

    ReplyDelete
  24. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi ritual ikhlas 17 ini saya menemukan bahwa banyak sekali defenisi Bagawat, yaitu merentang dari yang ada dan yang mungkin ada. Bagawat itu sebenarnya adalah semua yang merasa mengemban dan memperoleh ilmu dan kemudian mengimplementasikan ilmu yang telah diperolehnya tersebut. Namun, sifat masing-masing manusia pasti berbeda-beda. Seperti halnya yang diibaratkan dalam elegi diatas, terdapat Bagawat Plagiat, Bagawat Main Paksa, Bagawat Ilmu Bidang, Bagawat Penguasa Lembaga, dsb. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa sikap dan cara pandang masing-masing orang terhadap apa yang telah dimilikinya berbeda-beda. Untuk itu, agar menjadi seorang Bagawat yang bersahaja hendaklah kita selalu amanah terhadap apa yang telah diberikan kepada kita, baik itu ilmu, jabatan, dll. Serta selalu memahami peran terhadap perkembangan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  25. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Bhagawat adalah simbol dari pengetahuan dan kebijaksanaan. Segala nilai, etika dan konsep luhur semesta ada di hati para bhagawat. Hanya saja terkadang kekuasaan dengan mudah memberi label kepada seseorang sebagai Bhagawat yang sejatinya tidak memahami nilai-nilai luhur, tidak mengerti tentang ilmu semesta dan tidak memiliki tujuan untuk menjunjung langit. Bhagawat-Bhagawat yang dilabeli oleh penguasa tidak bijak akan menghasilkan Bhagawat yang tidak lebih dari seorang sales, yang menjual langit demi kepentingan duniawi. Semoga saja para Bhagawat dengan kemurnian akan pengetahuan dan kebijaksanaan berniat untuk reinkarnasi dan menyelamatkan semesta dari Bhagawat Sales, Bhagawat Plagiat, Bhagawat Main Paksa dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  26. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Negeri ini terlalu banyak dan terlalu lama dikendalikan oleh orang-orang yang egois, orang-orang yang tidak amanah, orang-orang yang tidak takut pada Tuhannya. Sehingga permasalahan-permasalahan yang terjadi telah mengakar dan menjadi sebuah sistem. Mari kita berdoa agar Allah senantiasa menjaga negeri kita dan menjadikan diri kita sebagai pemimpin-pemimpin yang Allah ridhai, yang kelak bisa mensejahterakan negeri ini.

    ReplyDelete
  27. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Kekuasaan yang tidak dapat dikendalikan akan membuat kita menjadi seseorang yang tidak amanah. Untuk saat ini saya hanya dapat bero'a untuk keselamatan negeri ini agar dapat terselamatkan dari orang-oarang yang lepas kendali ats kekuassaanya, sehingga lupa dengan amanah yang seharusnya mereka pegang.

    ReplyDelete
  28. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Saya rasanya ikut marah Dan tidak tahan dengan kenyataan perilaku para bagawat dalam elegi ini. Makin jelas bagi saya mengapa harus menanggalkan segala atribut pangkat jabatan untuk dapat menggapai iklas. Sebab rupanya memang di situ godaan besar bercokol. Menggunakan segala Cara untuk mempertahankan pangkat Dan jabatan.
    Semoga Kita terhindar dari Hal Hal sedemikian.

    ReplyDelete
  29. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Seseorang yang telah diberikan amanah untuk mengemban tugas atau menduduki suatu jabatan adalah orang-orang yang diberikan tanggung jawab lebih besar daripada orang-orang di bawahnya. Sebenarnya, mereka harus menyadari semakin tinggi posisi mereka di bumi maka semakin banyak godaan untuk jauh dari surga. Namun dengan ancaman yang begitu dahsyat dan tanggung jawab yang begitu beratnya, masih banyak orang yang rela melakukan apa saja demi mendapatkan jabatan yang tinggi. Bahkan tak jarang yang melakukan dosa besar hanya demi meraih suatu posisi. Sesungguhnya mereka tidak tahu bahwa bahaya godaan syaiton yang dahsyat sedang menanti mereka. Bersyukurlah bagi siapa yang tetap rendah hati dan tawakkal kepada Allah ketika sedang berada di puncak kesuksesan.

    ReplyDelete
  30. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Zaman now untuk merubah segala macam kebijakan adalah dengan cara menjadi orang yang membuat kebijakan. Kenapa seperti itu, agar segala konsep yang ada dipikiran kita untuk memajukan pendidikan maupun aspek lain di negara bisa di dengar dan dapat terealisasi. Karena suatu perubahan dapat terjadi apabila kita bisa menjadi pemimpin di dalam melakukan perubahan tersebut, namun kita harus menjadi pemimpin yang berlandaskan Iman dan Taqwa kepada Allah swt.

    ReplyDelete