Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 36: Menggapai Tidak Risau




Oleh Marsigit

Subyek:
Wahai para risau, aku sebetulnya enggan melihatmu, tetapi engkau selalu mengikutiku. Engkau seperti fatamorgana, kadang jelas kadang menghilang. Tetapi yang aku tidak suka denganmu, karena kedatanganmu dan kepergianmu selalu saja tidak seijin denganku. Sehingga aku merasa kewalahan mengendalikan dirimu. Kadang-kadang aku bahkan menjadi bulan-bulananmu. Dari pada aku bersikap memusuhimu, maka sekarang aku ingin berkoalisi denganmu. Aku ijinkan engkau semua untuk mengajukan proposalmu. Jika itu mungkin, maka aku akan menindaklanjuti proposalmu itu. Tetapi untuk menanggapi proposalmu semua aku telah mengangkat dewan pertimbangan, tidak lain tidak bukan adalah si orang tua berambut putih.

Risau hati:
Wahai subyek, aku adalah risau hatimu. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau sakit:
Wahai subyek, aku adalah risau sakit. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau akan menderita sakit. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau miskin:
Wahai subyek, aku adalah risau miskin. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau akan menjadi miskin. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau lupa:
Wahai subyek, aku adalah risau lupa. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau akan melupakan beberapa hal. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak memperoleh pekerjaan:
Wahai subyek, aku adalah risau pekerjaan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau karena tidak mendapat pekerjaan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.


Risau tidak punya teman:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak punya teman. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak mempunyai teman dan kehilangan teman. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau bersifat buruk:
Wahai subyek, aku adalah risau bersifat buruk. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau mempunyai sifat buruk. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau reputasi buruk:
Wahai subyek, aku adalah risau reputasi buruk. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau mempunyai reputasi buruk. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak memiliki:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak memiliki. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak memiliki sesuatu benda atau yang lainnya. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau inkompeten:
Wahai subyek, aku adalah risau inkompeten. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau dianggap inkompeten terhadap pekerjaanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tak lazim:
Wahai subyek, aku adalah risau tak lazim. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau dianggap aneh atau tak lazim. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau berbuat dosa:
Wahai subyek, aku adalah risau berbuat dosa. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau telah melakukan dosa-dosa. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau iri hati:
Wahai subyek, aku adalah risau iri hati. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau karena iri hati terhadap teman-temanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak adil:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak adil. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau diperlakukan tidak adil atau melakukan ketidak adilan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau harga diri:
Wahai subyek, aku adalah risau harga diri. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau karena terancam harga dirimu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau kebutuhan:
Wahai subyek, aku adalah risau kebutuhan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat memenuhi kebutuhanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak berperan:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak berperan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat berperan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak mendapat hak:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak mendapat hak. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak mendapat hak. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau wan-prestasi:
Wahai subyek, aku adalah risau wan-prestasi. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat mencapai atau memperoleh prestasimu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau kematian:
Wahai subyek, aku adalah risau kematian. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau oleh datangnya kematianmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak bisa mengurus milik:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak bisa mengurus milik. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak bisa mengurus semua milikmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak mendapat pengakuan:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak mendapat pengakuan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak mendapat pengakuan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau menyongsong masa depan:
Wahai subyek, aku adalah risau menyongsong masa depan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat memperoleh masa depanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau kehilangan milik:
Wahai subyek, aku adalah risau kehilangan milik. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau kehilangan milikmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Subyek:
Wahai orang tua berambut putih. Bagaimana aku bisa menanggapi dan menindaklanjuti semua kerisauan tersebut?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah subyek, bahwa aku sendiri juga mempunyai kerisauan. Aku selalu merasa risau jangan-jangan aku tidak mempunyai ilmu, atau kekurangan ilmu, atau kehilangan ilmu. Maka sebaik-baik solusi menurutku adalah selalu berusaha atau ikhtiar dan berdoa agar ikhtiar kita itu dikabulkan. Disamping itu kita juga harus pandai-pandai bersyukur atas karunia dan nikmat yang telah dilimpahkan oleh Tuhan YME. Tiadalah daya dan upaya manusia itu. Maka manusia itu sesungguhnya tidaklah mampu menghilangkan segala kerisauannya, kecuali atas pertolongan Nya. Amien.

48 comments:

  1. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Keriasauan atau kegelisahan itu timbul karena kita memikirkan sesuatu bertentangan dengan akal logika seseorang, yang dapat menimbulkan tindakan-tindakan bodoh yang keluar dari pikiran kita. Hal ini mengakibatkan kita menjadi stres dan bukan tidak mungkin akan mencari jalan untuk menghilangkannya dengan cara-cara yang tidak baik. Oleh karena itu, cara yang dapat dilakukan antara lain selalu berserah diri dan berpasrah kepada Allah Swt sambil berdoa memohon petunjukNya agar diberi ketenangan dan jalan keluarnya.

    ReplyDelete
  2. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Saya ingin membagikan sebuah ungkapan atau elegi mengenai risau ini.

    Salam kenal, namaku risau
    sedang simpang siur di ibu kota
    berkeliling kesana kemari
    diiringi desas-desus manusia tak berakhlak
    manusia tak berbudi
    manusia yang seenaknya sendiri

    Salam kenal, namaku risau
    ingin terbang ke angkasa pikir tiap insan
    lalu membuat mereka mabuk kata-kata tak beralasan
    hingga akhirnya kubiarkan mereka tenggelam dalam semerawut karya sang penguasa

    Hah, sudahlah jangan memicu kerisauan dan tetaplah berdoa.

    ReplyDelete
  3. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika Kelas D

    Setiap manusia pasti pernah mengalami risau. Risau itu datangnya dari dalam diri manusia dan yang membuatnya adalah manusia itu sendiri. Terkadang risau memberikan dampak yang negatif bagi manusia misalnya kurang bersyukur atas nikmat yang diberi Allah SWT. Apabila hati kita ikhlas, insyaAllah hati kita pun tidak merasa risau. Sehingga untuk menghindari rasa risau, kita senantiasa selalu berikhtiar dan berdoa agar apa yang kita usahakan itu dapat dikabulkan oleh Allah SWT.

    ReplyDelete
  4. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Kerisauan merupakan pandangan negatif seseorang terhadap sesuatu baik itu kepada diri sendiri maupun di luar diri sendiri. Dimana risau dapat muncul karena ada kekhawatiran akan sesuatu sehingga memunculkan rasa cemas yang amat dalam hati atau dengan kata lain adanya perasaan pesimis dalam diri. Kemudian risau yang berlebihan tentunya akan membahayakan diri manusia itu sendiri karena dapat menekan pikiran dan menimbulkan stres. Dan agar rasa risau dapat hilang dalam diri kita adalah dengan mendekatkan diri dan mengingat Allah SWT. Allah telah memperjelas dalam firman-Nya: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’du:28). Dari firmanNya menunjukkan bahwa seharusnya kita senantiasa mendekatkan diri kepadaNya dimana dan kapan pun serta dalam kondisi apapun.

    ReplyDelete
  5. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. dari elegi menggapai tak risau ini saya merefleksikan bahwa semua orang tentu memiliki kerisauan, dan tentu saja kerisauan setiap orang berbeda-beda sebagaiman dijelaskan dalam elegi. Perasaan rasau muncuk karena seseorang tidak yakin. Rasa risau dapat dimanfaatkan seseorang untuk menambah rasa percayanya. Jangan kalah dengan risau, ubah rasa risau itu untuk memacu diri menjadi lebih baik. Berikhtiar dan berdoa agar menajdi lebih baik perlu dilakukan agar rasa risau itu hilang.

    ReplyDelete
  6. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Risau itu datang ketika seseorang tidak bisa menguasai dirinya, tidak mampu melakukan sesuatu pekerjaan yang menjadi kewajibannya. Risau datang dan pergi saat seseorang tidak bisa mengendalikan akal dan pikirannya. Risau begitu sadis menghantui hati manusia, risau bsa datang dan pergi begitu saja, manusia begitu ketakutan ketika menghadapi yang seharusnya menjadi kewajibannya itulah risau. Jika berbicara tentang risau tidak ada habisnya karena risau begitu dekat dengan manusia yang tidak mengenal kata usaha tetapi akan jauh jika manusia sellau mempersiapkan diri sebaik-baiknya, bagi manusia yang sudah mempersiapkan segala sesuatu yang menjadi kewajibannya. Karena sesungguhnya sifat risau dan amarah akan hilang ketika manusia sudah berhadapan dengan penciptanya. Rasa takut, gelisah akan mampu dikendalikan dengan mudah oleh hati nurani manusia dibawah alam sadarnya. Jangan sampai perasaan risau menghampiri kita bekali diri dengan kesiapan menghadapi kewajiban dan tetap bertaqka kepada tuhan yang maha esa. Ammin allahumma ammin..

    ReplyDelete
  7. Assalamualaikum..
    Sebetulnya risau adalah tipu daya syaitan. Agar dihindarkan dari risau, minta lah perlindungan kepada Allah Subhanallahu wa Ta'ala. Ada banyak macam doa untuk dihindarkan dari rasa galau, khawatir, atau risau. Salah satunya adalah “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari murka-Nya, siksa-Nya, dari kejahatan hamba-hamba-Nya, dari godaan para syaitan dan dari kedatangan mereka kepadaku.”
    Setelah berdoa meminta perlindungan Allah, maka selanjutnya adalah berusaha memperkuat hati agar tidak mudah disusupi rasa risau. Dengan banyak beristighfar atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Kemudian mengidentifikasi sumber rasa risau yang muncul. Kemudian mensyukuri apa yang sudah dimiliki dan yakin bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

    Ahmad Bahauddin
    16709251058 PM C 2016
    Pendidikan Pascasarjana S2 UNY

    ReplyDelete
  8. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Risau, mungkin saat ini lebih dikenal dengan “galau” oleh kalangan anak muda. Risau merupakan salah satu penyakit hati yang kadang tidak kita sadari. Untuk menghindarkan diri dari penyakit risau kita harus mendekatkan diri kepada-Nya, terus berpositif thinking terhadap apa saja yang telah kita dapatkan.

    ReplyDelete
  9. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Risau pastilah pernah dialami dalam diri setiap orang manusia, entah siapa pun orangnya. Jika kita mengalami hal tersebut, sebaiknya yang kita lakukan adalah selalu berdoa dan tetap terus berjuang, sehingga hal yang kita perjuangkan dapat tercapai dengan seijin Tuhan. sehingga hal-hal yang membuat risau akan hilang dengan sendirinya. Namun tetaplah, semua hal yang dilakukan dengan landasan keikhlasan, karena ikhlas juga yang bisa membuat kerisauan itu hilang.

    ReplyDelete
  10. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Assalamualaikum wr. . wb.
    Dalam kehidupan ini manusia pasti pernah merasa risau, hampir sama dengan penyakit hati lainnya yang sering menghinggapi manusia kapan saja dan di mana saja, begitu pula dengan risau. Risau ini dapat mengganggu hati dan pikiran manusia. Namun agar tidak larut dalam kerisauan yang menyesatkan maka manusia harus senantiasa menjaga dan mengolah hati agar tetap bersih dan berpikir positif sehingga dapat menjalani kontradiksi-kontradiksi dalam hidupnya dengan ikhlas.

    ReplyDelete
  11. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Kita sebagai manusia sering kali merasa risau pada diri kita. saya sendiri sering mengalami kerisauan. Dan saya setuju dengan elegi ini, dimana solusi dari kerisauan kita adalah berikhtiar dan berdoa. Tak lupa bersyukur atas nikmat yang telah kita terima dari Allah SWT karena tentunya Allah telah menentukan apa yang terbaik untuk kita. Amin...

    ReplyDelete
  12. Manusia kadang tidak bisa lepas dari rasa risau. Kerisauan tiap orang bisa jadi berbeda. Risau mengenai kehidupannya seperti keluarga, teman, pendidikan, ekonomi, lingkungan. Dalam menghadapi kerisauan ada yang menggunakan pengetahuannya secara keduniaan, ada dari sisi spiritual. Kerisauan harus dihadap dari sisi pikiran dan spiritual. Dengan ikhtiar untuk mengatasi kerisauan dan dengan doa agar diberi petunjuk.

    ReplyDelete
  13. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Sebenar-benar risau adalah tipu daya syaitan. Risau adalah perasaan yang sering dialami manusia yang selalu berpikir negatif, tidak ikhlas melakukan dalam aktivitas, berusaha setengah-setengah atau tidak totalitas, tidak bersyukur atas rahmat dan karunia dari Allah SWT, jarang berdoa, dsb. Manusia tidaklah mampu menghilangkan kerisauannya kecuali atas perlolongan Allah SWT. Sehingga untuk mengobati dan menghindari rasa risau, kita harus selalu berikhtiar dan berdo’a agar apa yang kita usahakan itu dapat dikabulkan oleh Allah SWT. Kita pun harus selalu ikhlas dan bersyukur atas apa yang dikaruniakan untuk kita. Karena Allah SWT mengetahui apa yang terbaik untuk hamba Nya.

    ReplyDelete
  14. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Setiap individu memiliki kerisauan nya masing-masing, saya memiliki kerisauan, presiden mempunyai kerisauan, orang kaya memiliki kerisauan, orang miskin begitu pula, tidak ada satupun yang tidak memiliki kerisauan. Untuk menghilangkan kerisauan ini hanya dapat dilakuukan dengan ikhtiar dan berdoa agar ikhtiar kita dikabulkan oleh Allah SWT. Selain itu dari elegi diatas disarankan untuk selalu bersyukur atas apa yang kita terima sebagai karunia oleh Allah SWT.

    ReplyDelete
  15. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Kerisauan sebenarnya berasal dari diri kita sendiri. Jangan membuat diri risau dengan apakah kita adalah orang yang lebih baik atau lebih buruk dibanding orang lain. Seperti contohnya sejak di dalam kandungan, Allah telah menentukan rezeki bagi masing-masing umatnya dengan porsinya masing- masing. Tidak perlu iri dan dengki jika orang lain rezekinya lebih banyak daripada kita, jika kamu merasa iri itu artinya kita belum bersyukur dan masih risau tidak akan kebagian rezeki.

    ReplyDelete
  16. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Setiap manusia pasti pernah merasakan risau. Hal yang wajar dialami manusia. Namun, jika diri ini mengalami kerisauan yang terus menerus dan berkepanjangan, risau akan hal yang akan terjadi esok, hendaknya kita tidak begitu saja tenggelam dalam kerisauan. Tetap berusaha, berikhtiar dan berdoa agar usaha yang sudah kita lakukan dapat menghasilkan hasil yang memuaskan dan kita dijauhkan dari kerisauan. Kita juga harus mensyukuri apa yang telah Allah beri ke kita. Insya Allah rasa risau akan jauh dari kita.

    ReplyDelete
  17. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Berdasarkan elegi tersebut bahwa risau adalah rasa di dalam hati yang mana apabila kita memiliki rasa risau maka kita menjalani kehidupan ini selalu ada rasa tidak ikhlasnya karena rasa risau itu selalau ada. sehingga untuk menggapai ikhlas itu juga harus menghilangkan rasa risau itu.

    ReplyDelete
  18. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Setiap manusia pasti memiliki kerisauan terhadap dirinya sendiri. Kerisauan itu datang karena ada harapan – harapan yang semuanya tak dapat dicapai. Kerisauan itu datang karena ada hal – hal yang datang namun tak ingin diterima oleh hati dan pikiran. Oleh karena itu kerisauan dapat diatasi dengan ikhtiar dan doa kepada Sang Pencipta.

    ReplyDelete
  19. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Tak bisa dipungkiri bahwa manusia mengalami kerisauan dalam hidupnya. Mungkin istilah yang sedang trend saat ini adalah galau. Risau melanda manusia ketika ada hal – hal yang ingin dicpai tetapi memerlukan banyak pertimbangan dan merasa kurang yakin akan apa yang akan/telah dilakukan. Risau membawa kepada perasaan gelisah dan tidak tenang, bahkan mengganggu pikiran dan aktifitas yang sedang dilakukan. Yang mampu mengatasi kerisauan itu adalah Tuhan. Maka ketika mengalami kerisauan apa pun itu cara yang terbaik adalah dengan terus berdoa dan memohon pertolongan Tuhan dalam menghadapi kerisauan yang mebuat resah diri.

    ReplyDelete
  20. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Risau memiliki makna kegelisahan atau kekhawatiran dalam hidup dikarenakan sesuatu hal. Penyebab risau ini bisa bermacam-macam dan relatif berbeda pada setiap orang. Ada risau iri hati, risau berbuat dosa, risau miskin, risau sakit, risau harga diri, risau kebutuhan dan masih banyak yang lainnya. Kita sebagai manusia harus menyadari bahwa risau dalam diri dapat diobati hanya dengan pertolongan Allah SWT dan mendekatkan diri kepada-Nya. Perasaan risau juga mungkin muncul karena kita kurang pandai dalam mensyukuri nikmat-Nya. Maka kita harus selalu berusaha atau ikhtiar dan berdoa agar ikhtiar kita itu dikabulkan. Disamping itu kita juga harus pandai-pandai bersyukur atas karunia dan nikmat yang telah dilimpahkan oleh Tuhan YME.

    ReplyDelete
  21. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Risau merupakan bentuk dari perasaan manusia dengan keadaan sesorang merasa tidak tenang dan takut akan suatu yang akan terjadi pada dirinya. Setiap insan memiliki kecenderungan menjadi risau karena manusia merupakan makhluk yang terbatas dan memiliki kekurangan. Kita tentu takut tentang apa yang akan terjadi ke depan, karena kita benar-benar tidak bisa mengetahuinya. Tentulah perasaan ini memiliki manfaat dan kerugian. Ketika takut kita belum menjadi orang baik maka tentu kita akan berusaha menjadi lebih baik, namun untuk perasaan risau yang negatif seperti takut miskin, kehilangan, tidak mendapat rezeki/uang maka seharusnya sifat ini kita jauhkan dari diri kita.

    ReplyDelete
  22. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Menurut saya dan banyak orang juga yang mengatakan bahwa orang yang beriman serta memahami tujuan hidup di dunia ini adalah ibadah karena Allah SWT dengan iman yang sebenar-benarnya maka ia tidak akan pernah merasakan hal ini. Karena ketika ia sudah mulai merasakan perasaan yang tidak tenang atau takut ia akan segera ingat tentang ketentuan Allah. Maka kita harus menjadi orang yang pandai bersyukur, selalu berusaha melakukan yang terbaik, dan mencintai Allah ta ala barulah kemudian mencintai yang lainnya. Seperti, uang, jabatan/kedudukan, rumah, dan lain sebagainya. Dengan demikian, kita bisa menggapai tidak risau, Insha Allah.

    ReplyDelete
  23. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Risau karena kebimbangan hati/keraguan dalam hati sehingga menimbulkan kegelisahan yang diakibatkan oleh bisikan setan di dalam kalbu. Ketidaknyamanan hal tersebut diakibatkan kurangnya kita dalam mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, mendekatkan diri hendaknya dilakukan secara kaffah serta dengan tulus ikhlas seraya memohon ridho-Nya.

    ReplyDelete
  24. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Solusi terbaik untuk masalah risau adalah dengan terus berikhtiar dan berdo'a, serta terus bersyukur atas apa yang dikaruniakan oleh Allah SWT. Risau itu adalah masalah hati, dan sangat sukar untuk dihilangkan. Maka untuk masalah hati ini tentu dengan memohon pertolongan Allah SWT kita berharap dapat meminimalisir kerisauan dalam hati kita. Tetap berhuznudzon kepada Allah dengan setiap apa yang sudah ditetapkan, agar risau hati tidak begitu menggerogoti hati kita.

    ReplyDelete
  25. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Menurut orangtua berambut putih solusi agar tidak risau adalah dengan terus menerus berikhtiar dan berdoa, selain itu juga harus banyak banyak bersyukur karena tanpa ras syukur kita akan selalu disertai dengan rasa gelisah dan kekurangan. tidak ada yang bisa menghilangkan rasa risau di hati selain tuhan

    ReplyDelete
  26. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Semua orang tentu pernah risau. Karena sebenarnya risau adalah sifat alamiah yang ada pada diri manusia karena dasarnya manusia itu berpikir. Risau menandakan adanya pikiran. Namun risau yang berlebihan tidak baik pula, karena akan mendatangkan penyakit dan kotoran di hati sehingga serigkali kita tidak mampu berpikir jernih ketika risau itu datang. Untuk menghilangkan kerisauan ini hendaklah seorang hamba memohon kepada Sang Pemilik Hati. Karena Allah adalah sebaik-baik tempat meminta ketenangan.

    ReplyDelete
  27. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Risau bisa datang tanpa disadari dalam segala aspek kehidupan. Jika hanya menuruti risau maka manusia akan masuk dalam jebakan setan. Risau atau gundah sebenarnya tidak jauh berbeda dengan rasa khawatir. Menurut saya risau tempatnya juga batas antara pikiran dan hati. Setiap manusia pasti pernah merasakan risau karena manusia hidup selalu berpikir, dalam setiap proses berpikirnya manusia akan mempertimbangkannya dengan hati. Dalam menimbang-nimbang tersebut seringkali manusia merasa risau. Untuk mengobati diri dari risau, kuncinya adalah doa. Tentunya untuk berdoa diperlukan hati yang bersih dan berserah diri kepada Allah, tidak berputus asa, tetap berikhtiar, kemudian bertawakkal kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  28. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Risau adalah perasaan dimana kita mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi, perasaan yang membuat hati kita tidak tenang. Manusia selalau memiliki kerisauan di dalam hatinya, memiliki ketakutan di dalam hatinya. Maka sebaik-baik solusi untuk menghilangkan risau adalah dengan selalu berusaha dan berdoa agar segala hal yang membuat kita risau menjadi hilang. Kita juga harus meyakini bahwa ada Allah Sang Maha Pengatur dan Maha Berkehendak. Jadi kita tak perlu lagi risau, karena apapun yang terjadi itu adalah kehendak Allah dan Allah sebaik-baiknya pemberi keputusan. Sebagai penyeimbang, kita juga harus selalu bersyukur atas apa yang kita miliki, karena dengan bersyukur maka akan tenang dan bahagia hati dan diri kita.

    ReplyDelete
  29. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi di atas menguraikan tentang larangan membudidayakan penyakit hati dan pikiran yang telah mewabah, khususnya di kalangan remaja. Penyakit hati dan pikiran yang sedang populer saat ini, yaitu risau (putus asa) atau sering kita sebut dengan ‘galau’. Risau merupakan suatu perbuatan yang merugikan diri sendiri. Sebab risau dapat menghilangkan rasa semangat, harapan, keinginan, sehingga mengakibatkan penderita akan terpenjara dalam keputusasaan dan berujung pada penyesalan.

    ReplyDelete
  30. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Risau juga dapat dikatakan sebagai perbuatan zalim. Allah swt berfirman dalam surat Yusuf ayat 87 “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. Ayat tersebut jelas mengingatkan kita untuk menghindari rasa ‘galau’. Untuk menanggulangi penyakit ‘galau’ dalam kehidupan kita, tentunya kita harus selalu bersemangat dalam hal apapun, entah itu pada hal yang mudah atau hal-hal yang sekiranya sulit untuk dihadapi. Oleh karena itu, buang jauh-jauh penyakit tersebut dan tanamkan rasa semangat dalam benak kita. Galau...NO...Semangat...YES.

    ReplyDelete
  31. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Kerisauan hati muncul akibat tidak adanya keseimbanagn antara harapan dari hati, pikiran dan kenyataan yang ada. Hidup yang kita jalani penuh dengan tantangan, ketika masalah yang ada harus segera diselesaikan, jangan dihindari dan memperbaikinya. Solusi dari semua itu ialah kita harus selalu berusaha dan berdo’a serta bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT agar apa yang kita mohon kepada Allah segera dikabulkan.

    ReplyDelete
  32. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Kerisauan hanyalah dirasakan oleh hati. Risaunya hati berarti adanya ketidak cocokan antara pikiran dan hati. Risau hati adalah penyakit hati. Penyakit hati penyembuhnya hanyalah dengan mengembalikan diri pada sang Ilahi. mendekatkan diri pada Allah SWT dan memasrahkan hidup atas kehendakNya membuat hati tak lagi risau, karena pikiran dan hati sudah ikhlas pada dunia.

    ReplyDelete
  33. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Kerisauan atau kegelisahan timbul ketika kita memikirakan sesuatu yang menimbulkan ketakutan dalam hati kita. Terkadang kegelisaha itu baik adanya, agar kita senantiasa berwaspada akan segala sesuatu, namun, terkadang kegelisahan itu tidak baik contohnya saat sebenarnya tidak perlu. Namun, jika terlalu sering dipupuk, yang ada bukanlah baik, yang ada hanyalah stress yang akan membebani kita sendiri. Namun, hal yang harus kita waspadai adalah saat kita mencari ketenangan di tempat yang salah.

    ReplyDelete
  34. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Tidak seorangpun didunia ini yang tidak pernah mengalami kerisauan. Kegelisahan, kerisauan, ketakutan, hanya akan menjadi hal yang buruk jika tidak dihadapi akar permasalahannya seharusnya kita tidak lari saat kegelisahan tu datang tetapi merefleksikan diri dan menghadapi sumber permasalahannya. Kita akan dapat menyeselaikan segala sesuatu dengan bantuan Tuhan oleh karena itu, berserah dan terus berdoa pada Tuhan, memiliki hati yang ikhlas selalu akan membantu kita dalam menghilangkan kerisauan atau kegelisahan tersebut.

    ReplyDelete
  35. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)

    Berdasarkan elegi tersebut yang dapat saya pahami adalah setiap manusia pasti memiliki kekhawatiran masing-masing yang berbeda antara orang yang satu dengan lainnya. Kerisauan itu bisa datang karena cobaan yang diberikan kepadanya, namun sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang mampu mengatasi kerisauannya sehingga mampu berkarya tanpa memikirkan berlarut-larut sehingga membuatnya stagnan tidak berkembang

    ReplyDelete
  36. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Manusia yang di dalam hatinya terdapat sifat dengki, akan selalu merasa risau, resah dan gundah karena hati dan fikirannya senantiasa diliputi keinginan untuk berbuat negatif terhadap orang lain, celakanya sifat dengki ini tanpa disadari salah satu penyebab kegagalan,dalam setiap ingin meningkatkan/menambah rezeki. Dengan adanya sifat dengki maka dengan sendirinya akan tertanam dalam hati yang bersangkutan sifat benci yang merupakan racun bagi kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Dengan demikian, apabila sifat dengki itu dipelihara maka akan membahayakan baik bagi dirinya maupun bagi orang lain.

    ReplyDelete
  37. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi ritual ikhlas 36. Elegi ini menyampaikan pada kita bahwasanya didalam hidup manusia selalu memiliki kerisauan, entah risau miskin, risau gagal, risau tidak memiliki dll. Risau dalam hal ini sering disebut oleh kawula muda dengaj istilah galau. Sejatinya menurut islam kerisauan ini merupakan penyakit hati. Ketika kita risau artinya kita tidak menyerahkan hidup kita pada Allah, artinya kita belum sadar bahwa hidup ini untuk Allah, dan menurut kehendak Allah.

    ReplyDelete
  38. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi ini sangat cocok digunakan sebagai renungan. Kita yang masih sering merisaukan hal hal dalam hidup kita, coba tengok hati kita, sudahkah menyerahkan segalanya kepada Allah. Bukankah Allah tau yang terbaik untuk hamba Nya, dan kita tak tau apa apa. Yang oerlu kita lakukan adalah berdoa dan berikhtiar sebaik mungkin kemudian menyerahkan segalanya pada Allah. Sejatinya kerisauan dalam diri kita hanyaa akan hilang atas pertolonganNya.

    ReplyDelete
  39. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Sesungguhnya risau mu adalah dosamu. Kamu akan merasa risau apabila melakukan perbuatan yang buruk baik itu terhadap orang lain maupun terhadap diri sendiri. Namun risau ini hanya untuk hati yang jujur. Mengapa? Karena orang yang munafik tidak lagi mengenal dosa maupun tidak. Mati terhadap rasa risau. Semoga kita dijauhkan dari orang munafik. Amin

    ReplyDelete
  40. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setiap orang pasti pernah mengalami kerisauan. Sebagai manusia yang bisa kita lakuakan adalah melakukan ikhtiar semaksimal mungkin dalam setiap kesempatan. Selain itu kita juga perlu berdoa kepada Allah agar diberikan kemudahan dan ikhtiar kita dapat berhasil. Selain itu kita perlu bersyukur, karena Allah akan menambah nikmat orangyang bersyukur. Sebenarnya jika kita sudah berikhtiar dan berdoa kita sudah tidak perlu risau karena setelah berikhtiar dan berdoa maka kita tinggal bertawakal dan bersyukur akan pemberian Allah. Sesungguhnya segala sesuatu itu sudah diatur Allah, yang penting kita sudah ikhtiar dan berdoa.

    ReplyDelete
  41. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setiap manusia di dunia ini pasti pernah memiliki dan mengalami risau dalam hatinya. Risau bisa diartikan sebagai kekhawatiran dan rasa hati yang tidak nyaman. Agar terhindar dari risau, maka kita harus menguatkan iman kita kepada Allah SWT, selalu berikhtiar atau berusaha, berdoa dan memohon petunjuk dan ampunan kepada Allah SWT, serta bersyukur atas nikmat dan karunia yang telah Allah berikan kepada kita.

    ReplyDelete
  42. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Risau merupakan bentuk dari kekhawatiran terhadap apa yang telah dilakukannya kurang memuaskan. Kembali lagi kepada niatnya jika niatnya ikhlas dan percaya diri terhadap apa yang telah dilakukan maka kerisauan tidak akan terjadi, Apabila dalam kegiatan kita risau, kuncinya adalah berdoa berserah diri memohon pertolongan kepada Allah, serta bertawakkallah

    ReplyDelete
  43. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sudah hakekatnya manusia untuk risau terhadap segala yang dilakukannya dan yang dimilikinya. Namun janganlah terus risau karena semua yang dimiki manusia adalah milik Allahy, dan semua yang dilakukan oleh manusia sudah ditakdirkan oleh Allah. Maka dalam menanggapai kerisauan ini janganlah memandang dunia namun memandang akherat dan iklas dalam menajalankan setiap kegiatan.

    ReplyDelete
  44. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Didalam hati kita pasti sering terjadi hal hal yang tidak kita ingin kan , seperti rasa jenuh, risau, tak bersemangat danlain lain, sebenarnya rasa itu bisa kita kendalikan karena rasa itu ada dalam diri kita, selalu ikhlas terhadap apa yang sudah terjadi, berserah diri kepada Allah dan terus berdoa agar selalu terlindung dari rasa negative dalam hati kita.

    ReplyDelete
  45. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kerisauan yang dialami oleh manusia bermacam-macam bentuknya, namun cara menanggapi dan menindaklanjuti nya adalah dengan berusaha dan berdoa. Disamping itu, perlu bersyukur atas karunia dan nikmat yang Tuhan berikan. Tiadalah manusia yang mampu menghilangkan semua kerisauannya, melainkan atas pertolongan-Nya

    ReplyDelete
  46. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Memang tidak ada manusia yang tidak memiliki kerisauan, hanya saja ada manusia yang mampu membatasi dan mengurangi kerisauannya dengan beberapa cara diatas. Karena kerisauan adalah bentuk atau wujud bahwa manusia memiliki perasaan dan hati yang merasakan hal-hal diluar pikirannya

    ReplyDelete
  47. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Manusia pasti akan selalu dilanda kerisauan, kerisauan manusia sejalan dengan kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan manusia itu sendiri. Manusia risau apabila apa yang ia harapkan dan butuhkan tidak terjadi atau tidak ia dapatkan. Manusia tidak akan pernah terlepas dari kerisauan selama manusia itu masih selalu mengharapkan imbalan dari segala apa yang ia kerjakan atau lakukan. Berdoalah dan memohon pertolongan kepada Allah SWT karena manusia tidak akan pernah bisa melepaskan dirinya sendiri dari kerisauan tanpa bantuan dari Allah SWT sang Maha Kuasa atas segala-galanya.

    ReplyDelete
  48. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Semakin banyak atau semakin tinggi pangkat seseorang. Perasaan risau akan semakin tinggi pula. Dia akan risau terhadap apa yang ia miliki, dia khawatir bahwa akan terjadi sesuatu terhadap apa yang ia miliki saat ini sehingga apa yang ia miliki itu bisa saja sewaktu-waktu akan menghilang. Berbeda halnya dengan orang yang memang tidak memiliki apa-apa, kerisauan yang ia rasakan tidak akan sebesar orang yang memiliki banyak hal. Maka senantialah kita selalu bersyukur terhadap apa yang kita miliki, tidak peduli itu banyaka atau sedikit, kita harus tetap mensyukurinya karena setiap apa yang kita miliki sesungguhnya adalah pemberian dari Allah SWT. Janganlah bersedih atau mengeluh akan keadaan kita yang tidak lebih banyak dari orang lain dan janganlah kita kufur terhadap apa yang kita miliki karena lebih banyak dari orang lain.

    ReplyDelete