Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 36: Menggapai Tidak Risau




Oleh Marsigit

Subyek:
Wahai para risau, aku sebetulnya enggan melihatmu, tetapi engkau selalu mengikutiku. Engkau seperti fatamorgana, kadang jelas kadang menghilang. Tetapi yang aku tidak suka denganmu, karena kedatanganmu dan kepergianmu selalu saja tidak seijin denganku. Sehingga aku merasa kewalahan mengendalikan dirimu. Kadang-kadang aku bahkan menjadi bulan-bulananmu. Dari pada aku bersikap memusuhimu, maka sekarang aku ingin berkoalisi denganmu. Aku ijinkan engkau semua untuk mengajukan proposalmu. Jika itu mungkin, maka aku akan menindaklanjuti proposalmu itu. Tetapi untuk menanggapi proposalmu semua aku telah mengangkat dewan pertimbangan, tidak lain tidak bukan adalah si orang tua berambut putih.

Risau hati:
Wahai subyek, aku adalah risau hatimu. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau sakit:
Wahai subyek, aku adalah risau sakit. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau akan menderita sakit. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau miskin:
Wahai subyek, aku adalah risau miskin. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau akan menjadi miskin. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau lupa:
Wahai subyek, aku adalah risau lupa. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau akan melupakan beberapa hal. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak memperoleh pekerjaan:
Wahai subyek, aku adalah risau pekerjaan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau karena tidak mendapat pekerjaan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.


Risau tidak punya teman:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak punya teman. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak mempunyai teman dan kehilangan teman. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau bersifat buruk:
Wahai subyek, aku adalah risau bersifat buruk. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau mempunyai sifat buruk. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau reputasi buruk:
Wahai subyek, aku adalah risau reputasi buruk. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau mempunyai reputasi buruk. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak memiliki:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak memiliki. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak memiliki sesuatu benda atau yang lainnya. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau inkompeten:
Wahai subyek, aku adalah risau inkompeten. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau dianggap inkompeten terhadap pekerjaanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tak lazim:
Wahai subyek, aku adalah risau tak lazim. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau dianggap aneh atau tak lazim. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau berbuat dosa:
Wahai subyek, aku adalah risau berbuat dosa. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau telah melakukan dosa-dosa. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau iri hati:
Wahai subyek, aku adalah risau iri hati. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau karena iri hati terhadap teman-temanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak adil:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak adil. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau diperlakukan tidak adil atau melakukan ketidak adilan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau harga diri:
Wahai subyek, aku adalah risau harga diri. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau karena terancam harga dirimu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau kebutuhan:
Wahai subyek, aku adalah risau kebutuhan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat memenuhi kebutuhanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak berperan:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak berperan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat berperan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak mendapat hak:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak mendapat hak. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak mendapat hak. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau wan-prestasi:
Wahai subyek, aku adalah risau wan-prestasi. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat mencapai atau memperoleh prestasimu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau kematian:
Wahai subyek, aku adalah risau kematian. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau oleh datangnya kematianmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak bisa mengurus milik:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak bisa mengurus milik. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak bisa mengurus semua milikmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak mendapat pengakuan:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak mendapat pengakuan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak mendapat pengakuan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau menyongsong masa depan:
Wahai subyek, aku adalah risau menyongsong masa depan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat memperoleh masa depanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau kehilangan milik:
Wahai subyek, aku adalah risau kehilangan milik. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau kehilangan milikmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Subyek:
Wahai orang tua berambut putih. Bagaimana aku bisa menanggapi dan menindaklanjuti semua kerisauan tersebut?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah subyek, bahwa aku sendiri juga mempunyai kerisauan. Aku selalu merasa risau jangan-jangan aku tidak mempunyai ilmu, atau kekurangan ilmu, atau kehilangan ilmu. Maka sebaik-baik solusi menurutku adalah selalu berusaha atau ikhtiar dan berdoa agar ikhtiar kita itu dikabulkan. Disamping itu kita juga harus pandai-pandai bersyukur atas karunia dan nikmat yang telah dilimpahkan oleh Tuhan YME. Tiadalah daya dan upaya manusia itu. Maka manusia itu sesungguhnya tidaklah mampu menghilangkan segala kerisauannya, kecuali atas pertolongan Nya. Amien.

93 comments:

  1. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Solusi terbaik untuk masalah risau adalah dengan terus berikhtiar dan berdo'a, serta terus bersyukur atas apa yang dikaruniakan oleh Allah SWT. Risau itu adalah masalah hati, dan sangat sukar untuk dihilangkan. Maka untuk masalah hati ini tentu dengan memohon pertolongan Allah SWT kita berharap dapat meminimalisir kerisauan dalam hati kita. Tetap berhuznudzon kepada Allah dengan setiap apa yang sudah ditetapkan, agar risau hati tidak begitu menggerogoti hati kita.

    ReplyDelete
  2. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Menurut orangtua berambut putih solusi agar tidak risau adalah dengan terus menerus berikhtiar dan berdoa, selain itu juga harus banyak banyak bersyukur karena tanpa ras syukur kita akan selalu disertai dengan rasa gelisah dan kekurangan. tidak ada yang bisa menghilangkan rasa risau di hati selain tuhan

    ReplyDelete
  3. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Semua orang tentu pernah risau. Karena sebenarnya risau adalah sifat alamiah yang ada pada diri manusia karena dasarnya manusia itu berpikir. Risau menandakan adanya pikiran. Namun risau yang berlebihan tidak baik pula, karena akan mendatangkan penyakit dan kotoran di hati sehingga serigkali kita tidak mampu berpikir jernih ketika risau itu datang. Untuk menghilangkan kerisauan ini hendaklah seorang hamba memohon kepada Sang Pemilik Hati. Karena Allah adalah sebaik-baik tempat meminta ketenangan.

    ReplyDelete
  4. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Risau bisa datang tanpa disadari dalam segala aspek kehidupan. Jika hanya menuruti risau maka manusia akan masuk dalam jebakan setan. Risau atau gundah sebenarnya tidak jauh berbeda dengan rasa khawatir. Menurut saya risau tempatnya juga batas antara pikiran dan hati. Setiap manusia pasti pernah merasakan risau karena manusia hidup selalu berpikir, dalam setiap proses berpikirnya manusia akan mempertimbangkannya dengan hati. Dalam menimbang-nimbang tersebut seringkali manusia merasa risau. Untuk mengobati diri dari risau, kuncinya adalah doa. Tentunya untuk berdoa diperlukan hati yang bersih dan berserah diri kepada Allah, tidak berputus asa, tetap berikhtiar, kemudian bertawakkal kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  5. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Risau adalah perasaan dimana kita mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi, perasaan yang membuat hati kita tidak tenang. Manusia selalau memiliki kerisauan di dalam hatinya, memiliki ketakutan di dalam hatinya. Maka sebaik-baik solusi untuk menghilangkan risau adalah dengan selalu berusaha dan berdoa agar segala hal yang membuat kita risau menjadi hilang. Kita juga harus meyakini bahwa ada Allah Sang Maha Pengatur dan Maha Berkehendak. Jadi kita tak perlu lagi risau, karena apapun yang terjadi itu adalah kehendak Allah dan Allah sebaik-baiknya pemberi keputusan. Sebagai penyeimbang, kita juga harus selalu bersyukur atas apa yang kita miliki, karena dengan bersyukur maka akan tenang dan bahagia hati dan diri kita.

    ReplyDelete
  6. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi di atas menguraikan tentang larangan membudidayakan penyakit hati dan pikiran yang telah mewabah, khususnya di kalangan remaja. Penyakit hati dan pikiran yang sedang populer saat ini, yaitu risau (putus asa) atau sering kita sebut dengan ‘galau’. Risau merupakan suatu perbuatan yang merugikan diri sendiri. Sebab risau dapat menghilangkan rasa semangat, harapan, keinginan, sehingga mengakibatkan penderita akan terpenjara dalam keputusasaan dan berujung pada penyesalan.

    ReplyDelete
  7. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Risau juga dapat dikatakan sebagai perbuatan zalim. Allah swt berfirman dalam surat Yusuf ayat 87 “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. Ayat tersebut jelas mengingatkan kita untuk menghindari rasa ‘galau’. Untuk menanggulangi penyakit ‘galau’ dalam kehidupan kita, tentunya kita harus selalu bersemangat dalam hal apapun, entah itu pada hal yang mudah atau hal-hal yang sekiranya sulit untuk dihadapi. Oleh karena itu, buang jauh-jauh penyakit tersebut dan tanamkan rasa semangat dalam benak kita. Galau...NO...Semangat...YES.

    ReplyDelete
  8. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Kerisauan hati muncul akibat tidak adanya keseimbanagn antara harapan dari hati, pikiran dan kenyataan yang ada. Hidup yang kita jalani penuh dengan tantangan, ketika masalah yang ada harus segera diselesaikan, jangan dihindari dan memperbaikinya. Solusi dari semua itu ialah kita harus selalu berusaha dan berdo’a serta bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT agar apa yang kita mohon kepada Allah segera dikabulkan.

    ReplyDelete
  9. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Kerisauan hanyalah dirasakan oleh hati. Risaunya hati berarti adanya ketidak cocokan antara pikiran dan hati. Risau hati adalah penyakit hati. Penyakit hati penyembuhnya hanyalah dengan mengembalikan diri pada sang Ilahi. mendekatkan diri pada Allah SWT dan memasrahkan hidup atas kehendakNya membuat hati tak lagi risau, karena pikiran dan hati sudah ikhlas pada dunia.

    ReplyDelete
  10. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Kerisauan atau kegelisahan timbul ketika kita memikirakan sesuatu yang menimbulkan ketakutan dalam hati kita. Terkadang kegelisaha itu baik adanya, agar kita senantiasa berwaspada akan segala sesuatu, namun, terkadang kegelisahan itu tidak baik contohnya saat sebenarnya tidak perlu. Namun, jika terlalu sering dipupuk, yang ada bukanlah baik, yang ada hanyalah stress yang akan membebani kita sendiri. Namun, hal yang harus kita waspadai adalah saat kita mencari ketenangan di tempat yang salah.

    ReplyDelete
  11. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Tidak seorangpun didunia ini yang tidak pernah mengalami kerisauan. Kegelisahan, kerisauan, ketakutan, hanya akan menjadi hal yang buruk jika tidak dihadapi akar permasalahannya seharusnya kita tidak lari saat kegelisahan tu datang tetapi merefleksikan diri dan menghadapi sumber permasalahannya. Kita akan dapat menyeselaikan segala sesuatu dengan bantuan Tuhan oleh karena itu, berserah dan terus berdoa pada Tuhan, memiliki hati yang ikhlas selalu akan membantu kita dalam menghilangkan kerisauan atau kegelisahan tersebut.

    ReplyDelete
  12. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)

    Berdasarkan elegi tersebut yang dapat saya pahami adalah setiap manusia pasti memiliki kekhawatiran masing-masing yang berbeda antara orang yang satu dengan lainnya. Kerisauan itu bisa datang karena cobaan yang diberikan kepadanya, namun sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang mampu mengatasi kerisauannya sehingga mampu berkarya tanpa memikirkan berlarut-larut sehingga membuatnya stagnan tidak berkembang

    ReplyDelete
  13. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Manusia yang di dalam hatinya terdapat sifat dengki, akan selalu merasa risau, resah dan gundah karena hati dan fikirannya senantiasa diliputi keinginan untuk berbuat negatif terhadap orang lain, celakanya sifat dengki ini tanpa disadari salah satu penyebab kegagalan,dalam setiap ingin meningkatkan/menambah rezeki. Dengan adanya sifat dengki maka dengan sendirinya akan tertanam dalam hati yang bersangkutan sifat benci yang merupakan racun bagi kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Dengan demikian, apabila sifat dengki itu dipelihara maka akan membahayakan baik bagi dirinya maupun bagi orang lain.

    ReplyDelete
  14. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi ritual ikhlas 36. Elegi ini menyampaikan pada kita bahwasanya didalam hidup manusia selalu memiliki kerisauan, entah risau miskin, risau gagal, risau tidak memiliki dll. Risau dalam hal ini sering disebut oleh kawula muda dengaj istilah galau. Sejatinya menurut islam kerisauan ini merupakan penyakit hati. Ketika kita risau artinya kita tidak menyerahkan hidup kita pada Allah, artinya kita belum sadar bahwa hidup ini untuk Allah, dan menurut kehendak Allah.

    ReplyDelete
  15. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi ini sangat cocok digunakan sebagai renungan. Kita yang masih sering merisaukan hal hal dalam hidup kita, coba tengok hati kita, sudahkah menyerahkan segalanya kepada Allah. Bukankah Allah tau yang terbaik untuk hamba Nya, dan kita tak tau apa apa. Yang oerlu kita lakukan adalah berdoa dan berikhtiar sebaik mungkin kemudian menyerahkan segalanya pada Allah. Sejatinya kerisauan dalam diri kita hanyaa akan hilang atas pertolonganNya.

    ReplyDelete
  16. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Sesungguhnya risau mu adalah dosamu. Kamu akan merasa risau apabila melakukan perbuatan yang buruk baik itu terhadap orang lain maupun terhadap diri sendiri. Namun risau ini hanya untuk hati yang jujur. Mengapa? Karena orang yang munafik tidak lagi mengenal dosa maupun tidak. Mati terhadap rasa risau. Semoga kita dijauhkan dari orang munafik. Amin

    ReplyDelete
  17. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setiap orang pasti pernah mengalami kerisauan. Sebagai manusia yang bisa kita lakuakan adalah melakukan ikhtiar semaksimal mungkin dalam setiap kesempatan. Selain itu kita juga perlu berdoa kepada Allah agar diberikan kemudahan dan ikhtiar kita dapat berhasil. Selain itu kita perlu bersyukur, karena Allah akan menambah nikmat orangyang bersyukur. Sebenarnya jika kita sudah berikhtiar dan berdoa kita sudah tidak perlu risau karena setelah berikhtiar dan berdoa maka kita tinggal bertawakal dan bersyukur akan pemberian Allah. Sesungguhnya segala sesuatu itu sudah diatur Allah, yang penting kita sudah ikhtiar dan berdoa.

    ReplyDelete
  18. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setiap manusia di dunia ini pasti pernah memiliki dan mengalami risau dalam hatinya. Risau bisa diartikan sebagai kekhawatiran dan rasa hati yang tidak nyaman. Agar terhindar dari risau, maka kita harus menguatkan iman kita kepada Allah SWT, selalu berikhtiar atau berusaha, berdoa dan memohon petunjuk dan ampunan kepada Allah SWT, serta bersyukur atas nikmat dan karunia yang telah Allah berikan kepada kita.

    ReplyDelete
  19. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Manusia pasti akan selalu dilanda kerisauan, kerisauan manusia sejalan dengan kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan manusia itu sendiri. Manusia risau apabila apa yang ia harapkan dan butuhkan tidak terjadi atau tidak ia dapatkan. Manusia tidak akan pernah terlepas dari kerisauan selama manusia itu masih selalu mengharapkan imbalan dari segala apa yang ia kerjakan atau lakukan. Berdoalah dan memohon pertolongan kepada Allah SWT karena manusia tidak akan pernah bisa melepaskan dirinya sendiri dari kerisauan tanpa bantuan dari Allah SWT sang Maha Kuasa atas segala-galanya.

    ReplyDelete
  20. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Semakin banyak atau semakin tinggi pangkat seseorang. Perasaan risau akan semakin tinggi pula. Dia akan risau terhadap apa yang ia miliki, dia khawatir bahwa akan terjadi sesuatu terhadap apa yang ia miliki saat ini sehingga apa yang ia miliki itu bisa saja sewaktu-waktu akan menghilang. Berbeda halnya dengan orang yang memang tidak memiliki apa-apa, kerisauan yang ia rasakan tidak akan sebesar orang yang memiliki banyak hal. Maka senantialah kita selalu bersyukur terhadap apa yang kita miliki, tidak peduli itu banyaka atau sedikit, kita harus tetap mensyukurinya karena setiap apa yang kita miliki sesungguhnya adalah pemberian dari Allah SWT. Janganlah bersedih atau mengeluh akan keadaan kita yang tidak lebih banyak dari orang lain dan janganlah kita kufur terhadap apa yang kita miliki karena lebih banyak dari orang lain.

    ReplyDelete
  21. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Perasaan risau pasti datang pada diri kita. Ada risau hati, risau sakit, risau miskin, risau lupa, risau tidak memeperoleh pekerjaan, risau tidak punya teman, risau bersifat buruk, risau reputasi buruk, risautidak memiliki, risau inkompeten, risau tak lazim, risau berbuat dosa, risau iri hati, risau tidak adil, risau harga diri, risau kebutuhan, risau tidak berperan, risau tidak mendapat hak, risau wan-prestasi, risau kematian, risau tidak bisa mengurus milik, risau tidak mendapat pengakuan, risau menyongsong masa depan, dan risau kehilangan milik. Risau-risau tersebut ada dalam diri kita dan tidak akan mampu kita hilangkan. Yang dapat kita lakukan adalah menekan perasaan risau agar tidak menjadi penghambat kita dalam beraktifitas. Karena risau dapat datang kapan saja tanpa diduga-duga, ketika kita tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika berdoa sekalipun hati kita bisa menjadi risau.
    Dari risau-risau pada elegi ini ada beberapa risau justru bermanfaat bagi kita. Salah satunya risau berbuat dosa. Hal tersebut menandakan bahwa hati kita masih berfungsi. Kita takut berbuat dosa sehingga kita harus menghindariperbuatan dosa. Sama halnya dengan risau risau yang lain. Risau akan bermanfaat jika kita berusaha menekan dan menemukan solusi baik untuk mengatasi risau tersebut. Jika risau tidak punya teman maka banyak bergaul dengan orang orang baik. Jika risau menyongsong masa depan maka persiapkanlah masa depan secara matang sejak saat ini, jika risau kematian maka carilah bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Dan sebagainya. Dengan berusaha untuk tidak risau maka risau-risau tersebut akan berubah dari hl yang merugikan menjadi bermanfaat bagi kita untuk semakin memperbaiki diri.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  22. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Risau merupakan perilaku yang muncul dari asumsi negatif yang datang dari pikiran sebagai bentuk dari perwujudan kekhawatiran seseorang akan kekurangan, ketidakmampuan, dan ketidakberdayaaan dirinya.
    Kerisauan hati bila disadari, dipandang secara positif, serta dijadikan motivasi perubahan diri, hal ini akan membawa diri kita menjadi pribadi yang lebih baik. sebaliknya, jika kerisauan ini ditanggapi secara negatif akan menjadikan diri kita menjadi pribadi yang rendah diri, berpandangan sempit terhadap dunia hingga jatuh pada keterpurukan kerisauan yang tak pernah ada habisnya.

    ReplyDelete
  23. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak.
    Banyak sekali hal-hal yang membuat manusia merasa risau. Dalam hidup ini manusia tidak mampu terhindar dari kerisauan. Namun, tidak harus risau untuk menghindari kerisauan. Yang terpenting adalah tindak lanjut dari segala kerisauan. Apabila risau belum mendapatkan ilmu maka tindak lanjut yang dilakukan adalah belajar dan berusaha. Selain itu juga diimbangi dengan refleksi dan doa untuk memohon ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  24. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Betul sekali bahwa diri kita selalu merasa risau dan galau. Namun jangan sampai kegalauan itu menghalangi ikhtiar kita. Bagaimana caranya, yakni dengan selalu berdoa sebelum melakukan ikhtiar, selalu mengikutsertakan Allah dalam setiap usaha dan ikhtiar yang kita lakukan. Insha Allah dengan selalu mengikutsertakan Allah dalam setiap usaha yang kita lakukan, maka apapun hasilnya yang keluar nanti itu baik hasilnya baik ataupun buruk maka hal itu merupakan takdir dan kehendak Allah, berarti itulah yang terbaik untuk kita. Sehingga rasa risau yang ada dalam diri kita dapat dikendalikan.

    ReplyDelete
  25. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini, pelajaran yang kami dapat adalah manusia hidup senantiasa dilingkupi oleh kerisauan atau kekhawatiran. Satu-satunya cara untuk mengatasi atau menghadapi kerisauan itu adalah senantiasa berjuang/berikhtiar dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan berjuang dan berdoa kepada-Nya dengan penuh keikhlasan dan kepasrahan kepada-Nya, niscaya akan menjauhkan pikiran dan hati seseorang dari kekhawatiran. Semoga kita senantiasa menjadi manusia yang bertakwa dan bertawakal. Amin.

    ReplyDelete
  26. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih prof, menurut saya risau adalah sifat yang manusiawi, tergantung sisi mana seseorang menempatkan risaunya. Seringkali risau menjadikan kita gundah dan tidak trnang mengerjakan segala sesuatu, tapi terkadang risau juga menjadikan kita termotivasi. Misalnya risau akan kurangnya ilmu yang kita milik, hal ini memotivasi kita untuk belajar dan berusaha. Sesungguhnya menghilangkan risau adalah untuk menjaga ketenangan hati dalam mengerjakan segala sesuatu.

    ReplyDelete
  27. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Manusia tidak bisa dilepaskan dari sesuatu yang dinamakan risau. Risau muncul karena pikiran dan hati kita yang tidak yakin atau ragu akan suatu hal. selalu muncul dalam pikiran kita, apakah aku bisa? kalau tidak bisa bagaimana? apa yang akan terjadi? dan lain-lain. hal tersebut membuat kita semakin risau tak karuan.

    ReplyDelete
  28. Sebagai seorang guru mungkin kita akan risau tidak bisa membelajarkan materi dengan baik, risau murid kita tidak paham, risau jika diberikan pertanyaan yang tidak bisa dijawab, risau tidak naik pangkat dan risau-risau yang lainnya. Untuk itu marilah senantiasa kita mendekatkan diri di hadapan-Nya agar hati kita menjadi lebih tenang, karena segala sesuatu di dunia ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

    ReplyDelete
  29. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Manusia memang tidak pernah terlepas dari rasa risau, baik risau hati, risau sakit, risau miskin, risau lupa, risau iri hati, risau tidak adil, risau harga diri, risau kebutuhan, dan para risau lainnya. Namun rasa risau tersebut sebenarnya juga diperlukan oleh manusia dalam kondisi tertentu, seperti yang disebutkan dari elegi di atas yaitu risau berbuat dosa, dan risau kematian. Risau dalam berbuat dosa mengarahkan kita kepada rasa takut akan berbuat dosa, sehingga kita selalu ingin menjauhi hal-hal yang dapat menimbulkan dosa. Sama halnya dengan risau berbuat dosa, risau terhadap kematian juga merupakan risau yang bermanfaat bagi kita. Dengan adanya risau kematian maka akan mengingatkan kita akan rasa sakitnya jika kematian datang menjemput kita. Untuk itu sudah sepatutnya kita mempersiapkan diri dengan memohon ampun atas segala dosa yang pernah dilakukan dahulu, memperbaiki ibadah yang dikerjakan mulai dari sekarang dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, karena kematian tidak mengenal waktu dan usia setiap orang yang akan didatanginya.

    ReplyDelete
  30. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Berdasarkan elegi di atas, kita memperoleh ilmu sebagai wahana untuk memperluas pengetahuan kita. Dalam elegi ini, diuraikan tentang bagaimana untuk terhindar dari risau. Terdapat berbagai macam jenis-jenis risau, seperti Risau hati, Risau sakit, Risau miskin, Risau lupa, Risau tidak memperoleh pekerjaan, Risau tidak punya teman, Risau bersifat buruk, Risau reputasi buruk, dll. Dari hal tersebut, perlu ditekankan bahwa risau merupakan sesuatu yang ada pada diri manusia entah dalam tingkat rendah maupun tinggi. Namun, sebagai seorang manusia kita harus bersyukur terhadap nikmat Allah, dan selalu berusaha atau ikhtiar, berdoa agar ikhtiar kita itu dikabulkan.

    ReplyDelete
  31. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas uaraian yang sangat bermanfaat ini. Risau, benar-benar tidak terduga kehadirannya. Elegi ini memberikan ilmu yang sangat bermanfaat bagi diri ini. Membaca risau satu demi satu risau. Di setiap titik akhir kalimat, kepala ini dibikin mengangguk-angguk seraya berkata “benar juga, sering juga saya begitu, sehat nggak sih saya ini”. Iya benar, saya sampai bertanya pada diri saya sendiri terkait “kesehatan”. Karena memang benar-benar risau ini membuat kaget bukan kepalang, tiba-tiba betul kedatangannya. Saya sependapat dengan saudari Putri Solekhah jika ternyata risau bisa berdampak positif dan negatif. Oleh karena itu ialah doa, syukur, dan permohonan ampun kepada Tuhan yang akan membawa kita pada risau yang positif.

    ReplyDelete
  32. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Dengan membaca elegi di atas saya mendapat pemahaman bahwa rasa risau di dalam pikiran manusia itu bersifat alamiah. Artinya semakin banyak harta dan semakin tinggi pangkat seseorang maka perasaan risau akan lebih menghantui pribadi tersebut. Maka dari itu sebenar-benarnya hidup adalah mancapai ridhonya allah swt, karena dengan mencapai ridhonya allah maka kita akan bersifat ikhlas terhadap takdir dan jalan kehidupan kita yang telah di tentukan oleh-Nya. Dengan adanya rasa ikhlas dan diiringi rasa sabar maka hidup kita akan terasa lebih tenang.

    ReplyDelete
  33. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Setiap manusia pasti pernah merasakan kerisauan. Seperti yang telah dijelaskan pada elegi di atas, risau hadir ketika kita merasa takut apabila yang kita ikhtiarkan atau harapkan tidak tercapai atau terwujud. Sebenarnya, jika kita sudah berusaha dengan maksimal dan melakukan apa yang kita bisa dengan sebaik-baiknya serta diiringi dengan do'a, maka tidak perlu risau. Apa yang terjadi itulah takdir dan itulah yang terbaik bagi kita dari Allah. Apa yang kita suka belum tentu baik bagi Allah dan apa yang kita tidak suka mungkin itulah yang terbaik menurut Allah. Maka, berbaik sangkalah kepada Allah agar risau itu tidak memenuhi hati kita.

    ReplyDelete
  34. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Di dalam menjalani kehidupan, perasaan risau akan selalu menghampiri dan juga pergi. Kerisauan tersebut dapat bermacam-macam tergantung pada apa yang kita takuti agar tidak terjadi. Mulai dari anak-anak hingga tumbuh menjadi dewasa hingga semumur hidup, segala macam bentuk kerisauan tersebut datang begitu saja ditengah aktivitas maupun disaat tidak beraktivitas. Kerisauan tersebut mengganggu pikiran bahkan sampai hati. Manusia tidak akan mampu menghindari kerisauan-kerisauan tersebut tanpa pertolongan Allah SWT. Maka hendaknya senantiasa berikhtiar, berdoa, kemudian ikhlas bertawakal menyerahkan ketetapan hanya kepada-Nya dan mensyukuri apa yang menjadi ketetapan-Nya.

    ReplyDelete
  35. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Risau. Awal dari risau adalah kekhawatiran akan semua hal yang ada pada hidupnya. Risau membuat hati gelisah, tidak nyaman, selalu resah. Maka, pasrahkan segala ikhtiar kepada Allah, biarkan Allah yang mencukupkan segala hidup kita, syukuri segala hal yang ada dan yang mungkin ada, nikmati segala pemberian Allah, hadapi segala ujian dan cobaan Allah dengan sabar dan ikhlas. Untuk itu teruslah berdoa berdoa berdoa, ikhtiar ikhtiar ikhtiar, berusaha berusaha berusaha, bersyukur bersyukur bersyukur, insya Allah, Allah akan memberikan pertolongan kepada kita. Amin.

    ReplyDelete
  36. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof
    Apa yang dikatakan pada elegi di atas juga terjadi pada diri saya.Setiap harinya, kecemasan , kekhawatiran dan risau agaknya senang menari- nari dalam diri ini. Duhai Allah,,, ampuni hamba.
    Untuk mengatasi kerisauan, kata kuncinya dalam elegi di atas adalah dengan beriktiar dan berdoa.Senantiasa selalu mengingat Allah. Semoga Allah SWT memudahkan jalan, meringankan beban dari segala urusan kita.

    ReplyDelete
  37. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. Risau adalah telah menjadi bagian dari sifat dasar manusia dan hal itu sangatlah wajar. Tidak ada manusia yang tidak pernah merasa risau. Namun hal itu bisa kita atasi dengan banyak-banyak mengingat Allah SWT yaitu senantiasa berdzikir. Insya Allah hati akan terasa tentram. Selain itu senantiasalah berdoa memohon ampunan dari Yang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  38. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Karena manusia itu sifat, sifat itu dapat berubah-ubah. sedangkan risau itu juga sifat. Risau itu intuisi perasaan manusia. Risau menunjukkan ada sesuatu hal yang kita khawatirkan sehingga membuat hati tidak tenang dan pikiran menjadi kacau. Banyak faktor penyebabnya, tetapi ada cara untuk mencegahnya. Cara mencegahnya yaitu dengan selalu ikhlas dan selalu ikhtiar, berdoa kepada Allah, selalu meminta perlindungan kepada Allah, karena sesungguhnya kacaunya hati adalah godaan setan. Jadi, agar Allah selalu memberikan perlindungan dan membuat kita menjadi tenteram maka kita harus selalu berdoa kepada-Nya.

    ReplyDelete
  39. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Perasaan risau merupakan rasa yang sangat manusiawi. Setiap manusia memiliki rasa risau mereka tersendiri. Rasa risau hadir dengan berbagai wujud sesuai dengan konteks dan sejauh mana kekacauan hati manusia. Salah satu cara untuk mengindari kerisauan adalah dengan berdoa dan merefleksikan diri. Melalui hal tersebut kerisauan semakin menjauh dan hilang.

    ReplyDelete
  40. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum wr. Wb.

    Rasa risau dalam diri seseorang kerap menghampiri bahkan disetiap apa yang dipirkan akan terbsit rasa risau. Kemungkinan rasa risau yang dimiliki akan timbul ketika kita tidak dapat berserah diri kepada ALlah, mungkin juga rasa risau itu muncul kurangnya rasa syukur kita kepada Allah SWt. Dengan selalu mendekatklan diri kepada ALalh semoga rasa risau tidak kerap menghampiri didalam diri kita. Aamiin.

    ReplyDelete
  41. Kartika Kirana
    17701261039
    S2 PEP B

    Yah, saya tersadar bahwa ternyata banyak hal dirisaukan manusia yang hidup di dunia ini. Risau itu menggelisahkan dan membuat manusia lalu mencoba melindungi dirinya dengan berbagai cara. Dan secara tak sadar saya pun juga sedang berusaha mengamankan diriku agar jika apa yang aku risaukan itu terjadi, maka aku akan selamat. Itu bentuk usaha agar aku menggapai tidak risauku. Tapi itu pun tak cukup. Doa-doa tetap terus kepada Allah. Sebab Allah yang mengatur segalanya.

    ReplyDelete
  42. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Secara psikologis, risau atau dapat disebut dengan khawatir merupakan indikator atau gejala dari kecemasan. Meski khawatir adalah suatu hal yang wajar dialami oleh manusia, namun ini tidaklah baik jika sudah berlebihan. Seseorang cenderung tidak menyadari apa yang dilakukan saat dalam keadaan cemas. Perlu diberi intervensi kognitif. Dengan intervensi yang diberikan dapat meminimalisir tingkat kecemasan seseorang. Seseorang dapat juga mengetahui penyebab dari rasa khawatir tersebut dan cenderung dapat mempertimbangkan apakah sesuatu yang dikhawatirkan memang patut untuk dikhawatirkan atau tidak.

    Jika kembali pada filsafat, rasa risau dapat berada pada berbagai struktur dan dimensi. Ada yang berfokus pada material, seperti risau miskin, risau sakit, risau tidak dapat mengurus hak milik dan sebagainya. Kemudian, ada pula yang berfokus pada spiritual seperti hati, kematian dan sebagainya. Untuk mengembalikan pada keadaan yang sesuai dengan kondisinya maka membersihkan hati terlebih dahulu. Sebaik-baik jalan keluar bagi hati yang kotor adalah berdoa. Mengembalikan semua yang ada di dunia kepada Allah.

    ReplyDelete
  43. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi ritual ikhlas 36 ini, saya memahami bahwa setiap manusia dalam melaksanakan segala aktivitasnya akan selalu diikuti rasa risau. Seperti yang Pak. Prof jabarkan diatas, yaitu risau hati, risau sakit, risau miskin, risau lupa, risau tidak mendapat pekerjaan, dan risau-risau lainnya.
    Meskipun demikian, janganlah takut akan kerisauan itu. Solusi terbaik adalah dengan mengembalikannya semua kepada Allah SWT sebaik-baik penolong, dengan bersyukur atas apa yang telah diberikan-Nya, selalu berikhtiar dan memohon doa agar apa yang telah diikhtiarkan dikabulkan oleh Allah SWT.

    ReplyDelete
  44. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    PPs Pend. Matematika 2017 Kelas C

    Kerisauan selalu menjadi beban dalam hidup manusia. Semakin banyak pencapaiannya, semakin besar pula kerisauannya. Macam-macam alternatif manusia untuk menghilangkan kerisauan. Mulai dari tidur hingga mabuk-mabukan agar tidak teringat akan kerisauannya. Namun kita sering lupa bahwa jawaban dari segala kerisauan hanya kuasa Allah SWT. Maka sebaik2nya usaha yang dilakukan adalah mengadu dan memohon kepada Allah, perbanyak dzikir, dan amalan-amalan lainnya. Semoga kita terhindar dari perbuatan-perbuatan yang dibenci Allah hanya karena hati sedang risau. Ingatlah bahwa Allah Maha Pemberi, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

    ReplyDelete
  45. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    setiap manusia pasti pernah meraskan kerisauan. kerisauan terjadi ketika kita menemukan kenyataan tidak sesuai dengan yang kita harapkan. begitulah yang saya pahami dari elegi diatas. namun jangan lah kita lupa Allah sebaik-baik pemberi takdir. Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan karena yang kita inginkan belum tentu yang kita butuhkan.

    ReplyDelete
  46. Junianto
    17709251065
    PM C

    Risau atau khawatir akan sesuatu hal merupakan salah satu sifat alamiah manusia. Manusia bisa mengatasi maupun membiarkan kerisauan tetap ada pada dirinya. Namun, manusia juga memiliki sifat dasar selalu ingin tenang, damai, bahagia dan terhindar dari rasa khawatir. Maka dari itu, untuk menghilangkan kerisauan manusia hendaknya selalu bersyukur kepada Tuhannya, ikhtiar, tawakal dan istiqomah dalam niat dan usaha. Selain itu, berdzikir, berdoa sembari memohon ampun atas dosa juga merupakan salah satu cara yang paling ampuh untuk menghilangkan rasa khawatir.

    ReplyDelete
  47. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Risau bisa bermakna baik dan bermakna tidak baik sesuai dengan ruang dan waktunya. Karena sebenar-benarnya hidup seseorang adalah antara risau dan tidak risau. Contoh risau yang baik adalah risau karena tadi malam kecapaian sehingga telat bangun dan tidak bisa menunaikan sholat malam. Sedangkan risau yang tidak baik adalah risau karea takut rejekinya seret. Padahal Allah sudah memberikan porsi rejeki pada kita masing-masing. Tinggal kita mau mensyukurinya atau tidak. Cara mensyukuri rejeki adalah dengan memanfaatkan rejeki itu dalam kebaikan. Baik bagi dirinya dan baik bagi orang di sekitarnya.

    ReplyDelete
  48. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Risau atau khawatir terhadap sesuatu adalah hal yang sangat tidak bermanfaat. Merasa risau, khawatir atau cemas tidak akan merubah apapun dalam hidup. Risau hanya akan membuat kita merasa galau, sedih, nelangsa, dan sebagainya. Maka kita tidak boleh merasa risau, yang kita dapat lakukan adalah terus berikhtiar dan berharap hanya kepadaNya. Bukankah ada Allah yang mengatur segala urusan kita?

    ReplyDelete
  49. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Tak dapat dipungkiri setiap manusia pasti merasakan risau dalam hidupnya entah dalam skala yang besar maupun kecil. Kerisauan ada karena keragu-raguan, ketidakyakinan tentang apa yang dikerjakan maka untuk menghapuskan kerisauan maka kita perlu pertolongan dari Allah dengan melakukan segala usaha seperti yang dikatakan orang tua berambut putih yakni berpikir dengan positif, ikhtiar seraya berdoa memohon ampun kepada Allah SWT dan yang tak kalah penting yaitu menyukuri nikmat yang telah diberikan Allah SWT entah sekecil apapun nikmat itu. Terima Kasih

    ReplyDelete
  50. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Tidak dipungkiri bahwa manusia hidup selalu dihantui dengan rasa "risau". Seperti yang dijelaskan pada elegi ini risau bisa berupa bermacam-macam salah satunya adalah risau hati. Cara yang paling tepat untuk menangani rasa risau adalah berdoa, berusaha, ikhlas, dan selalu bersyukur. Contohnya,kita dilanca risau sakit, maka kita harus berusah untuk tidak sakit dengam cara olah raga dan berdoa agar diberikan kekuatan fisik selain itu kita juga harus bersyukur dengan keadaan kita saat ini yang masih sehat. Terkadang kits lupa akan rasa syukur, sehingga saat kita diberi cobaan kita baru ingat dengan Tuhan.

    ReplyDelete
  51. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Kembalikan lagi kepada Allah. semua itu asalnya dari Allah. lihatlah hati dan pikiran kita. Kita masih punya Allah, perlukah kita risau? Jika kita sudah berusaha maka langkah terakhir adalah ikhlas akan suatu yang sudah dikehendaki Allah. Asal kita bersyukur atas nikmat Allah yang sudah diberikan, maka tidaklah perlu kita risau hati dan pikiran. Karena setan akan terus tanpa henti menggoda kita untuk hanya sekedar menggoda atau bahkan menjerumuskan kita ke dalam zona gelap. Syukur dalam berbagai hal dan janganlah sombong apabila Allah mengabulkan apa yang kita inginkan.

    ReplyDelete
  52. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Risau atau gelisah yaitu suatu keadaan dimana hati merasa tidak tenang karena sesuatu hal. Risau dapat menjangkiti siapa saja, entah mereka orang kaya atau miskin, berilmu atau tidak, siapa saja, diamanapun dan kapanpun. Tidak ada yang tahu kapan rasa itu singgah dalam diri seseorang. Tapi dapat dipastikan ketika seseorang jauh dari Tuhan-Nya, maka perasaan itu akan muncul. Risau karena hal yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi

    ReplyDelete
  53. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Kerisauan atau kehawatiran bisa datang kapan saja, dan darimana saja. namun umumnya rasa risau bersumber dari nafsu duniawi. rasa risau atau hawatir sebaiknya kita tinggalkan terutama dalam perkara beribadah. dalam sebuah hadits disebutkan : Dari Abu Muhammad al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kesayangannya Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Aku telah hafal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu’.” (HR at-Tirmidzi dan an-Nasâ`i. At-Tirmidzi berkata,“Hadits ini hadits shahih). semoga kita terhindar dari keraguraguan. Amin.

    ReplyDelete
  54. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Hati meruapakan salah satu anugerah Allah swt yang tidak bisa dinilai harganya. Dengan hati, kita mampu merasakan suka dan duka. Dengan hati, kita dapat merasakan perasaan orang lain. Hati merupakan keajaiban sang illahi yang senantiasa membimbing manusia pada cahaya-cahaya kebenaran. Allah swt telah menciptakan dan menganugerahkan hati bagi manusia sebagai salah satu perangkat kehidupan yang sangat vital yang akan membantu melihat dan mendengar perintah Allah swt. Namun, kita juga mengetahui bahwa segala sesuatu itu ada, tiada, terjadi, dan tidak terjadi hanya karena Allah swt. Dari sana, kita juga tahu bahwa Allah telah menciptakan penyakit, dan Allah sajalah yang memiliki penawarnya. Dan satu-satunya penawar yang paling efektif dan tidak bertentangan dengan syariat Islam untuk menangkal atau mengobati penyakit gelisah adalah dengan cara selalu mengingat Allah swt.

    ReplyDelete
  55. Dalam perjalanan mencapai tujuannya manusia, selalu dipenuhi oleh banyak godaan, seperti halnya dalam elegi yang bapak tulis di atas yakni risau. Banyak hal dalam kehidupan yang menjadikan manusia risau misalnya risau sakit, miskin, lupa, pekerjaan, dan hal lainnya. Namun sesungguhnya perasaan itu muncul dari godaan sakit. Tidak perlulah segala hal kita risaukan, cukuplah jalani saja harimu dengan benar pada hari ini, masa depan biarlah Allah yang mengatur, manusia hanya wajib berdoa dan terus berusaha.


    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  56. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Obat yang paling ampuh untuk menghilangkan kerisauan adalah berdoa kepada Allah SWT, berserah diri kepadanya, memohon petunjuk agar diberikan hati yang tenang. Sesungguhnya kerisauan dapat menghasilkan hal yang positif ketika risau itu membuat kita berikhtiar untuk maju. Semoga kita semua berada dalam lindungan-Nya. Aamiin allahumma aamiin.

    ReplyDelete
  57. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)


    Gelisah atau risau dapat terjadi apabila sesuatu berada di ketidakpastian yang kita inginkan belum mengetahui apakah hal yang kita inginkan sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Wajar bagi manusia memiliki sifat risau, yang membedakan adalah bagaimana manusia mengelola rasa risau tersebut agar tidak menjadi media yang menjadikan manusia tidak menggantungkan kepada Tuhan. Sehingga menurut saya, cara terbaik dalam menghilangkan risau adalah dengan keyakinan bahwa semua yang terjadi di dunia ini sudah ada yang mengatur, manusia hanya menjalankan kehidupan di dunia ini, dengan mengikhlaskan apa yang akan terjadi kita tidak mungkin akan mengalami kerisauan.

    ReplyDelete
  58. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Risau adalah suatu perasaan yang menurut saya satu rumpun dengan gelisah, galau, atau cemas. Seperti yang diuraikan di atas, bahwa risau datang dan pergi tanpa seijin orang yang bersangkutan. Semua orang yang hidup di dunia ini pasti pernah merasakan risau. Risau terjadi karena respon terhadap suatu masalah. Risau biasanya diikuti dengan ketakutan-ketakutan akan masalah yang dihadapi. Misalnya risau ketika akan menghadapi UN, risau tidak mampu membayar SPP sekolah, risau tidak bisa matematika, dan risau-risau lainnya. Risau ini dapat diatasi dengan ikhlas. Ikhlas tentu melibatkan hati. Selain itu risau juga bisa dihindari dengan pikiran yang kritis dan bersih. Mendekatkan diri pada Allah SWT juga salah satu cara untuk menjauhkan diri dari kerisauan-kerisauan kita.

    ReplyDelete
  59. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Kerisauan merupakan salah satu pengaruh syetan yang wajib kita antisipasi. Kalau kita makhluk yang beriman, tidak pantas lah kita untuk merasa risau karena segala yang terjadi dalam hidup sudah ada yang mengaturnya. Risau pada hati, risau takut miskin, risau akan sakit, risau takut lupa, risau takut apabila tidak memperoleh pekerjaan, dan berbagai macam risau yang sebenarnya mampu kita kendalikan. Sesekali waktu risau datang memang dapat menjadikan kita sebagai motivasi dan was-was terhadap apa-apa yang akan terjadi. Namun jika hidup kita selalu diselimuti dengan kerisauan, rasanya kita sudah seperti makhluk tak berTuhan yang takut akan segalanya. Pasrahkan saja dengan apa yang terjadi dan apa yang kita terima dalam hidup ini, karena sesungguhnya kita hidup sudah dalam skenario terbaikNya. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  60. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Kerisauan dalam diri kita sebenarnya tidaklah jauh dari kurangnya rasa syukur kita atas apa yang telah kita lakukan. Selain itu, kurangnya kita berserah diri kepada sang Kholiq. Karena pada dasarnya ketika seseorang itu selalu menyerahkan apapun kepada Alloh SWT, akan membuat kerisauan dalam diri kita semakin berkurang. Oleh karena itu, selalu bertawakkal lah kepada Alloh SWT dan selalu bersyukur atas apa yang diberikan oleh-Nya.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  61. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Dalam elegi ritual ikhlas 36: menggapai tidak risau ini bahwa perasaan risau dapat disebabkan karena rasa kurang bersyukur terhadap apa yang diperoleh atau apa yang terjadi dan dapat juga disebabkan karena ketidakharmonian antara hati dan pikiran seseorang, oleh karena itu untuk menggapai tidak risau hendaklah kita selalu bersyukur atas apa yang kita miliki dan yang terjadi karena semuanya pasti atas kehendak Allah, dan sejalankan hati dan pikiran yang disertai dengan pikiran yang positif dan hati yang ikhlas.

    ReplyDelete
  62. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Kerisauan sangatlah mungkin bisa dirasakan oleh siapapun, bedanya bagaimana masing-masing dari kita menghadapi kerisauan tersebut. Yang terbaik dalam menghadapi risau itu adalah dengan selalu berikhtiar diiringi dengan doa, dan tidak lupa sudah semestinya kita selalu bersyukur atas nikmat-Nya. Sehingga dengan ikhtiar dan doa yang telah kita lakukan semoga mampu meghilangkan risau berkat pertolongan-Nya. Amin.

    ReplyDelete
  63. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Risau merupakan perasaan gelisah, takut, khawatir akan hal hal buruk yang akan menimpa kita. Terdapat bnyak sekali risau yang sering kita rasakan. Mengapa risau ini muncul ? Persaaan risau muncul tidak lain karena sifat manusia yang tidak optimis akan kehidupan di masa depan, ia merasa bahwa hal-hal yang ia inginkan akan sulit ia dapatkan. Inilah ciri2 jika syaitan telah berhasil menggoda manusia dimana setelah ia risau makan akan menjadi manusia yang berputus asa. Hal atau cara yang dilakukan guna menanggulangi kerisauan adalah dengan senantiasa bersyukur atas Rahmat yang Allah SWT berikan. Dengan bersyukur makan hidup akan menjadi tenang, tentram, dan damai. Kemudian senantiasa berdoa dan berikhtiar agar Allah SWT selalu meridhoi jalan yang kita pilih.

    ReplyDelete
  64. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Khawatir terbentuk karena orang-orang yang membuatnya, khawatir adalah penyakit jantung dan jiwa. Manusia sebenarnya merasa khawatir karena mereka kurang bersyukur atas semua nikmat yang Allah berikan kepadanya.
    Jika kita tergantung semua urusan hidupnya kepada Allah, dan pasti kita tidak akan pernah merasa kecewa. Karena mereka selalu berpikir positif bahwa apa yang terjadi dalam hidup mereka adalah kehendak Allah dan merupakan yang terbaik. Allah memberikan masalah bagi manusia karena Allah sangat mengasihi manusia.

    ReplyDelete
  65. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Perasaan risau seringkali muncul dalam hati manusia. Perasaan tersebut terkadang dapat mengganggu kedamaian kehidupan seseorang, seperti risau miskin, risau malas, risau lupa, risau tak memiliki, risau bersifat buruk. Cara untuk menghilangkan risau adalah sering2 berdzikir dan mengingat Allah. Namun terkadang risau dapat bersifat baik, misal seseorang merasa risau satelah melakukan keburukan. Nah itu dapat menjadi jalan untuk bertaubat dan menyesali perbuatannya.

    ReplyDelete
  66. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Kerisauan adalah sebuah hal yang wajar menghinggapi diri manusia. Menurut saya kerisauan yang sesuai porsinya dapat bermanfaat bagi manusia yang digunakan sebagai motivasi untuk menuju kearah yang lebih baik. Namun saat keriasuan sudah tidak dapat dikelola lagi, keriasuan akan menjerumuskan manusia kedalam kegelapan. Misalnya saja siswa A risau besuk akan ujian matematika, jika risau itu masih dalam porsi yang wajar maka risau akan menjadi motivasi siswa untuk belajar karena merasa belum bisa. Namun saat riasu itu berlebihan dan siswa tidak mampu mengontrolnya maka siswa A tadi malah akan menjauhi matematika bahkan dia sengaja bolos agar tidak ikut ujian matematika. Oleh karena itu, risau itu hal yang wajar pada diri manusia. Namun harus dikelola dengan baik salah satunya dengan berikhtiar untuk menjadi lebih baik dan selalu berdoa memohon lindungan dariNya. Terimakasih

    ReplyDelete
  67. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. dari elegi menggapai tak risau ini saya merefleksikan bahwa semua orang tentu memiliki kerisauan, dan tentu saja kerisauan setiap orang berbeda-beda sebagaiman dijelaskan dalam elegi. Perasaan risau muncul karena seseorang tidak yakin. Rasa risau dapat dimanfaatkan seseorang untuk menambah rasa percayanya. Jangan kalah dengan risau, ubah rasa risau itu untuk memacu diri menjadi lebih baik. Berikhtiar dan berdoa agar menajdi lebih baik perlu dilakukan agar rasa risau itu hilang.

    ReplyDelete
  68. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Risau adalah suatu keadaan perasaan yang dirasakan seseorang jika berada dalam kekhawatiran. Risau, mungkin saat ini lebih dikenal dengan “galau” oleh kalangan anak muda. Risau merupakan salah satu penyakit hati yang kadang tidak kita sadari. Untuk menghindarkan diri dari penyakit risau kita harus mendekatkan diri kepada-Nya, terus berpositif thinking terhadap apa saja yang telah kita dapatkan.

    ReplyDelete
  69. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Tiadalah manusia yang tidak memiliki kerisauan. Namun kerisauan itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah hilang. Risau dapat lahir karena berbagai hal. Karena risau adalah bgaian dari sifat alamiah yang ada pada diri manusia karena dasarnya manusia itu berpikir. Hilangpun kerisauan yang satu akan muncul kerisauan yang lain. Maka tiadalah jalan selain pandai mengendalikannya. Dan tiada pulalah jangan terbaik dalam mengendalikannya selain mengoptimalkan ikhtiar dan tawakal kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  70. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Manusia seringkali mengalami kerisauan hati. Sama dengan kekawatiran, risau terletak pada perbatasan anatara hati dan pikiran. Maka dari itu untuk mengatsi risau, kita harus mensinergikan antara hati dan pikiran kita. Selalu berpikir jernih dan positif, dibarengi dengan hati yang bersih penuh keyakinan dan doa kepada Allah. Kuncinya adalah bersihkan hati dari segala yang mengotorinya, dari dosa-dosa yang membuat noktah hitam di dalamnya, yakni dengan senantiasa beristigfar dan mohon ampun, serta menyinarinya dengan lantunan dzikir dan doa.

    ReplyDelete
  71. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Risau adalah perasaan hati yang seharusnya tidak ada pada diri kita. Ada berbagai macam jenis risau, seperti yang telah disebutkan dalam elegi ini bahwa ada risau hati, risau akan adanya rasa sakit, risau jika miskin, risau lupa, risau yang lain-lain hingga semilyar pangkat semilyar aku menyebutkannya tidak akan selesai aku menyebutkannya. Namun perasaan ini memeng ada, maka yang perlu kita lakukan yaitu untuk mengarahkan menahan dan menjaga rasa risau ini agar tak berlebihan. Sehingga yang terpenting yaitu senantiasa meminta pertolongan Allah Ta’ala untuk menetapkan hati dan perasaan kita agar berada ditempat yang benar.

    ReplyDelete
  72. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Tambahan sedikit terkait hal di atas. Perasaan risau ini seharusnya bisa dialihkan untuk menjadi rasa optimis. Dari kata optimis ini maka akan ada usaha aktif dari subyeknya untuk menjadi lebih baik dan baik lagi. Optimis berarti pula suatu ikhtiar usaha, ada usaha didalamnya. Ini sama halnya dengan rasa semangat. Yang perlu kita mintakan yaitu agar kita senatiasa istiqomah dalam kebaikan.

    ReplyDelete

  73. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Setelah membaca artikel di atas, beberapa moral value yang dapat saya ambil adalah bahwa manusia selalu meras risau tentang hal-hal yang telah mereka lakukan. Banyak hal yang menjadi penyebab kenapa mereka merasa risau, seperti yang telah ditulis pada artikel di atas. Kita harus mulai terbiasa untuk berpikir positif agar risau itu tidak sering datang. Kita harus terus berjuang dan berdoa kepada Allah dan kita juga harus selalu mensyukuri segala hal yang telah kita miliki. kkarena bersyukur itu adalah hal yang membawa kebahagiaan kepada kita serta jangan lupa utnuk selalu melakukan segala hal dengan keikhlasan.

    ReplyDelete
  74. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Perasaan risau pasti datang pada diri kita. Ada risau hati, risau sakit, risau miskin, risau lupa, risau tidak memeperoleh pekerjaan, risau tidak punya teman, risau bersifat buruk, risau reputasi buruk, risautidak memiliki, risau inkompeten, risau tak lazim, risau berbuat dosa, risau iri hati, risau tidak adil, risau harga diri, risau kebutuhan, risau tidak berperan, risau tidak mendapat hak, risau wan-prestasi, risau kematian, risau tidak bisa mengurus milik, risau tidak mendapat pengakuan, risau menyongsong masa depan, dan risau kehilangan milik. Risau-risau tersebut ada dalam diri kita dan tidak akan mampu kita hilangkan. Yang dapat kita lakukan adalah menekan perasaan risau agar tidak menjadi penghambat kita dalam beraktifitas. Karena risau dapat datang kapan saja tanpa diduga-duga, ketika kita tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika berdoa sekalipun hati kita bisa menjadi risau.

    ReplyDelete
  75. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Bismillah, sebenar-benar risau adalah bisikan syaiton. Kerisauan adalah ketidakmampuan hati dan piker dalam memahami semua yang sudah didapat. Risau akan masadepan, risau akan ilmu yang dimiliki, risau akan miskin, dsb. Dari banyak risau tersebut, sangat merisaukan dan membuat hati serta piker tidak tentram. Untuk menghilangkan risau tersebut tentu dengan ikhlas dan ikhtiar yang sungguh-sungguh

    ReplyDelete
  76. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dari postingan tersebut juga dapat suatu ilmu, bahwa risau bisa dihilangkan dengan selalu berpikir positif, ikhlas, dan usha sungguh dalam segala hal. Meningkatkan keyakinan dan ibadah kepada Allah juga dapat menghilangkan kerisauan, dengan mengikuti segala aturan yang telah ditetapkann-Nya.

    ReplyDelete
  77. Latifah Fitriasari
    PM C

    Hati bisa membuat manusia merasakan kedamaian dan kasih sayang dalam hidup ini, namun tak jarang pula dengan hati manusia juga merasakan kegelisahan luar biasa sehingga pikiran tak bisa tenang dan tidak bisa tidur. Sebaik-baiknya orang adalah mereka yang selalu mencari ilmu untuk bekal di dunia dan akhirat. Ilmu yang kita miliki sebaiknya dimanfaatkan dan dibagikan orang lain agar berguna bagi sesama. Tetapi orang yang selalu ingat dan bertawakal pada Allah insya Allah tidak akan mengalami rasa cemas dan gelisah berlebihan dalam menghadapi berbagai macam kehidupan.

    ReplyDelete
  78. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Wajarlah jika manusia memiliki rasa risau. Manusia tidaklah bisa terlepas dari rasa risau. Tetapi kita harus dapat mengendalikan rasa risau yang dimiliki. Kita harus yakin dengan kehendak Allah SWT. Kita harus senantiasa berusaha dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah SWT. Kita harus yakin bahwa dalam setiap cobaan yang Allah berikan pastilah ada hikmah yang dapat kita ambil. Kita harus yakin bahwa sebaik-baik rencana adalah rencana milik Allah SWT, bahwa inilah sebaik-baik skenario bagi kita.

    ReplyDelete
  79. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Hal terbaik yang bisa dilakukan dalam menghadapi kerisauan adalah dengan melakukan ikhtiar, berusaha sebaik-baiknya dan berdoa sebelum kerisauan itu datang. Dengan melakukan ikhtiar atau usaha yang sebaik-baiknya maka kita tidak perlu khawatir menghadapi rasa risau, karena kita sudah melakukan usaha yang sebaik-baiknya, dan mengenai hasilnya kita kembalikan pada Allah melalui doa-doa yang kita lantunkan.

    ReplyDelete
  80. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Risau seakan tidak dapat dipisahkan dalam diri seseorang. Setiap orang pasti pernah merasakan yang namanya risau meskipun dalam hal yang berbeda-beda dan beragam. Perasaan ini selalu datang ketika seseorang mengalami keraguan dan kekhawatiran dalam melakukan sesuatu. dalam elegi ini, solusi yang paling baik untuk menghindari perasaan risau adalah selalu berusaha atau berikhtiar dan berdoa agar ikhtiar kita itu dikabulkan. Dalam elegi ini, dijelaskan bahwa solusi yang paling baik untuk menghindari perasaan risau adalah selalu berusaha atau berikhtiar dan berdoa agar ikhtiar kita dikabulkan. Kita juga harus senantiasa berpikir positif dan selalu ikhlas serta mensyukuri apa yang terjadi pada kita.

    ReplyDelete
  81. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Riasu merupakan perassan gelisah tidak tenang yang menggagu pribadi seseorang. Jika kita ingi menghentikan perasaan risau ini, maka diperlukan ikhtiar dan berdoa agar ikhtiar ikhlas kita dikabulkan oleh Allah SWT. Karena manusia tidak mampu menghilangkan rasa risau itu dengan tanpa bantuan Tuhan YME

    ReplyDelete
  82. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Risau atu kegundahan melanda siapapun yang tengah menjalankan suatu hal dengan kurangnya iman dan makna. Iman berarti percaya yang kemudian akan menuntunorang tersebut untuk bertingkah laku atau berperilaku sesuai syariat agama yang dianutnya serta menyerahkan semua hasilnya kepada Allah. Sedangkan makna memiliki arti hikmah yang kita peroleh dari sesuatu yang kita laksanakan tersebut. Bukankah sebaik-baik manusia ialah yang dapat mengambil hikmah dari apa yang dialaminya? Allahu a'lam

    ReplyDelete
  83. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Risau dapat menuntun seseorang menuju keragu-raguan, sedangkan ada astu riwayat yang mengatakan bahwa keragu-raguan muncul dari setan. Jika kita melaksanakan sembahyang (salat) kemudian kita lupa atau ragu-ragu didalam shalat kita, maka kita diharuskan untuk melakukan sujud sahwai, yakni sujud yang dilakukan ketika seseorang ingat atas kelalaiannya dan bersujud serta memuji bahwa Allahlah yang maha tidak tidur dan tidak pernah lupa. Sedangkan orang yang lalai dalam shalatnya ialah orang yang mendustakan agamanya. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  84. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Risau merupakan salah satu penyakit. Hampir sama dengan penyakit hati lainnya yang sering menghinggapi manusia kapan saja dan di mana saja, begitu pula dengan risau. Risau ini dapat mengganggu hati dan pikiran manusia. Jadi, manusia memerlukan usaha untuk mengendalikan risau yang menghinggapi hatinya. Usaha yang perlu dilakukan tidak lain adalah dengan berdoa dan berikhtiar kepada Allah SWT. Karena berdoa dan berikhtiar merupakan usaha yang paling dasar dan wajib dilakukan kita sebagai manusia.

    ReplyDelete
  85. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Jika hati kita ikhlas atas segala apa yang diberikan oleh Allah sebagai takdir kita, InsyaAllah hidup kita akan jauh lebih tenteram dan damai. Pada hakekatnya, manusia mudah sekali diserang risau. Risau tidak memperoleh sesuatu, risau akan sakit, risau akan terkena musibah, risau tidak memperoleh kebahagiaan, risau tidak memperoleh pekerjaan, hingga risau akan kematian. Siapapun pasti akan terkena risau. Namun, sebaik-baik cara untuk menghilangkan risau adalah tawakal atau berserah kepada selain berusaha.

    ReplyDelete
  86. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Risau bersembunyi di dalam hati manusia. Risau adalah rasa gelisah, yang mengganggu ketentraman hati, dan rasa ini muncul karena tidak menghargai apa yang telah ditakdirkan oleh Nya. Tidak ada manusia yang tidak memiliki kerisaun maka tiada pula manusia yang menghindari darinya. Maka untuk mengatasinya hanya dengan meminta bantuan kepada Tuhan YME, melalui bersyukur dan berdoa.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  87. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Setiap manusia pasti memiliki kerisauan. Bedanya ada manusia yang terperangkap dalam kerisauan itu dan ada pula yang dapat mengatasi kerisauan tersebut. Salah satu cara mengatasi kerisauan adalah dengan selalu berprasangka baik pada Sang Pencipta, Allah SWT. Allah tidak akan menguji hamba-Nya diluar kemampuannya. Kemudian, dzikir kepada Allah juga salah satu yang ampuh untuk mengatasi risau.

    ReplyDelete
  88. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.Mat B

    Manusia berpotensi untuk risau. karena perasaan risau atau gelisah itu memang diciptakan oleh Allah berpasangan dengan ketenangan. maka jika kita mendapati hati kita mulai risau dengan berbagai hal yang dapat merusak hati kita, maka segeralah kita memohon perlindungan kepada Allah, karena risau yang berkepanjangan bisa jadi karena bisikan syaitan. bahkan kesedihan yang berkepanjangan juga dikarenakan syaitan.

    ReplyDelete
  89. Assalamualaikum Wr. Wb. Risau berarti kita memaknai suatu masalah sebagai beban kehidupan dan sedikit melibatkan Allah dalam masalah tersebut. Untuk menggapai tidak risau dibutuhkan keikhlasan, kesabaran, dan menjadikan masalah hidup sebagai pelajaran hidup. Menggapai tidak riasu berarti menyadari bahwa setiap masalah adalah ujian yang diberikan oleh Allah kepada kita untuk meningkatkan derajat hidup kita. Sesungguhnya Allah tidak akan memebrikan musibah melebihi batas kemampuan hambanya. Semoga kita tetap dalam lindungannya. Aamiin!!

    ReplyDelete
  90. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Sesunggguhnya tidak ada manusia di dunia ini yang tidak mempunyai rasa risau. Namun rasa risau ini bisa kita arahkan ke arah yang positif seperti merasa risau akan ibadah yang tidak bertambah maka kita akan termotivasi untuk memperbaiki diri dengan lebih memperbanyak ibadah lagi.

    ReplyDelete
  91. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Tidak ada seorangpun yang tidak pernah merasa risau. Kerisauan datang ketika kita merasa takut apa yang kita rencanakan, apa yang kita inginkan dan harapkan tidak akan berjalan sesuai dengan rencana. Namun kerisauan tidak akan hilang begitu saja. Berikhtiarlah sebaik mungkin dan berdoa. Tentang takdir yang terjadi, bertawakallah. Selalu bersyukur atas setiap ketentuan yang Allah gariskan terhadap perjalanan kita. Bersyukur adalah salah satu cara bahwa kita selalu berpikir positif terhadap segala ketentuan Allah. Kerisauan datang dari dalam hati, dan yang mampu memberikan kedamaian hati hanyalah dengan berdoa kepada Allah.

    ReplyDelete
  92. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Risau adalah suatu kewajaran yang dirasakan oleh manusia. Kerisauan-kerisauan tersebut seperti: siswa risau saat akan menempuh ujian nasional, mahasiswa risau saat akan ujian akhir atau ujian skrpsi, para guru risau saat akan dilakukan supervisi, bahkan ibu hamil risau saat mendekati hari-hari kelahiran anaknya. Untuk meminimalisir risau adalah dengan menguatkan ibadah dan ikhtiar tentunya. Ibadah termasuk doa diimbangi dengan ikhtiar yang kuat akan menguatkan iman (mendekatkan diri pada Allah SWT) dan menambah keyakinan sehingga perasaan risau dapat dikurangi.

    ReplyDelete
  93. Siti Nur Fatimah
    15301241045
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Seringkali manusia merasakan risau. Hal itu dikarenakan ketakutan terhadap ketidaktercapaian hal-hal yang sudah kita rencanakan atau tidak berjalan dengan lancar. Risau karena hal-hal yang sudah kita targetkan ternayata tidak tercapai dan sebagainya. Oleh karena itu kita harus selalu bertawakal dan berdoa kepada Allah. Kita harus yakin bahwa Allah pasti akan memberikan yang terbaik untuk kita. Allah lebih mengetahui hal-hal yang tidak kita ketahui.

    ReplyDelete