Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 36: Menggapai Tidak Risau




Oleh Marsigit

Subyek:
Wahai para risau, aku sebetulnya enggan melihatmu, tetapi engkau selalu mengikutiku. Engkau seperti fatamorgana, kadang jelas kadang menghilang. Tetapi yang aku tidak suka denganmu, karena kedatanganmu dan kepergianmu selalu saja tidak seijin denganku. Sehingga aku merasa kewalahan mengendalikan dirimu. Kadang-kadang aku bahkan menjadi bulan-bulananmu. Dari pada aku bersikap memusuhimu, maka sekarang aku ingin berkoalisi denganmu. Aku ijinkan engkau semua untuk mengajukan proposalmu. Jika itu mungkin, maka aku akan menindaklanjuti proposalmu itu. Tetapi untuk menanggapi proposalmu semua aku telah mengangkat dewan pertimbangan, tidak lain tidak bukan adalah si orang tua berambut putih.

Risau hati:
Wahai subyek, aku adalah risau hatimu. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau sakit:
Wahai subyek, aku adalah risau sakit. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau akan menderita sakit. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau miskin:
Wahai subyek, aku adalah risau miskin. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau akan menjadi miskin. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau lupa:
Wahai subyek, aku adalah risau lupa. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau akan melupakan beberapa hal. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak memperoleh pekerjaan:
Wahai subyek, aku adalah risau pekerjaan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau karena tidak mendapat pekerjaan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.


Risau tidak punya teman:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak punya teman. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak mempunyai teman dan kehilangan teman. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau bersifat buruk:
Wahai subyek, aku adalah risau bersifat buruk. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau mempunyai sifat buruk. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau reputasi buruk:
Wahai subyek, aku adalah risau reputasi buruk. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau mempunyai reputasi buruk. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak memiliki:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak memiliki. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak memiliki sesuatu benda atau yang lainnya. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau inkompeten:
Wahai subyek, aku adalah risau inkompeten. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau dianggap inkompeten terhadap pekerjaanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tak lazim:
Wahai subyek, aku adalah risau tak lazim. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau dianggap aneh atau tak lazim. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau berbuat dosa:
Wahai subyek, aku adalah risau berbuat dosa. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau telah melakukan dosa-dosa. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau iri hati:
Wahai subyek, aku adalah risau iri hati. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau karena iri hati terhadap teman-temanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak adil:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak adil. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau diperlakukan tidak adil atau melakukan ketidak adilan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau harga diri:
Wahai subyek, aku adalah risau harga diri. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau karena terancam harga dirimu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau kebutuhan:
Wahai subyek, aku adalah risau kebutuhan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat memenuhi kebutuhanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak berperan:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak berperan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat berperan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak mendapat hak:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak mendapat hak. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak mendapat hak. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau wan-prestasi:
Wahai subyek, aku adalah risau wan-prestasi. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat mencapai atau memperoleh prestasimu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau kematian:
Wahai subyek, aku adalah risau kematian. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau oleh datangnya kematianmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak bisa mengurus milik:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak bisa mengurus milik. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak bisa mengurus semua milikmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak mendapat pengakuan:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak mendapat pengakuan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak mendapat pengakuan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau menyongsong masa depan:
Wahai subyek, aku adalah risau menyongsong masa depan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat memperoleh masa depanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau kehilangan milik:
Wahai subyek, aku adalah risau kehilangan milik. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau kehilangan milikmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Subyek:
Wahai orang tua berambut putih. Bagaimana aku bisa menanggapi dan menindaklanjuti semua kerisauan tersebut?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah subyek, bahwa aku sendiri juga mempunyai kerisauan. Aku selalu merasa risau jangan-jangan aku tidak mempunyai ilmu, atau kekurangan ilmu, atau kehilangan ilmu. Maka sebaik-baik solusi menurutku adalah selalu berusaha atau ikhtiar dan berdoa agar ikhtiar kita itu dikabulkan. Disamping itu kita juga harus pandai-pandai bersyukur atas karunia dan nikmat yang telah dilimpahkan oleh Tuhan YME. Tiadalah daya dan upaya manusia itu. Maka manusia itu sesungguhnya tidaklah mampu menghilangkan segala kerisauannya, kecuali atas pertolongan Nya. Amien.

39 comments:

  1. Erma Zelfiana Surni
    18709251009
    S2. P.Matematika A 2018

    Assalamualaikum Wr. Wb
    Sudah menjadi kodratnya manusia selalu risau apalagi ditengah perlak perlik kehidupan saat ini dibersamai oleh sifat manusia yang tidak pernah merasa puas. Hanya saja ada yang bisa mengendalikan perasaan risau itu dan ada yang tidak bisa. Menurut saya risau pada dasarnya obatnya hanya butuh yakin dan dekat denganNya. Adanya perbedaan dalam hal mengatasi kerisauan tergantung dari tingkat yakin dan kedekatan dengan-Nya. Ada yang risau hilang jabatan,kehilangan harta itu karena memudarnya keyakinan pada Tuhan hingga lupa bahwa ada Tuhan penentu tertinggi dalam hidupnya. Takut gagal dalam usahanya, itu karena dia terlalu banyak ikut campur dalam perkara Tuhan.

    Sedikit berbicara pengalaman seseorang si A yang sudah berusaha mati-matian untuk bisa lulus beasiswa. Begitu selesai tahap seleksi beasiswa dia terus risau akan gagal karena merasa kurang maksimal menjawab pertanyaan dari interviewer. Ini menunjukkan dia terlalu banyak ikut campur dalam perkara Tuhan. Saat pengumuman dia dinyatakan TIDAK lulus, akhirnya dia pun kecewa, bingung, resah, dan risau tingkat dewa memikirkan bagaimana dia harus melanjutkan kuliah sementara orang tuanya tidak memiliki simpanan lagi. Dia menyerah, berputus asa, hilang harap dalam memperoleh beasiswa, dan lemah dalam yakinNya.
    Namun beberapa bulan kemudian dia kembali menerima pesan E-mail dari beasiswa yang sama dan dinyatakan LULUS. Status yang sebelumnya TIDAK LULUS akhirnya berganti menjadi LULUS. Cek percek ternyata ada tambahan kuota dalam beasiswa tersebut dan dia termasuk salah satunya. Alhamdulillah hari ini 16 November 2018 dia akan hadir dalam penandatanganan kontrak penerima beasiswa.

    Dari pengalaman ini, kita bisa belajar bahwa terkadang manusia terlalu banyak merisaukan hal-hal yang sudah bukan menjadi bagian dari urusannya. Manusia kodratnya hanya bisa berusaha dan berdo'a, selebihnya serahkan kepada Yang Maha Kuasa. Dialah Sang Maha pembolak balik keadaan. Tiadalah yang bisa menandingi kuasaNya. Dia yang cukup berkata "Kun Fayakun" terjadi, maka terjadilah.

    ReplyDelete
  2. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PM A PPs UNY 2018
    Kerisauan adalah perasaan cemas berlebihan karena adanya stimulus imajinatif ketika kita memikirkan sesuatu hal. kerisauan muncul karena adanya ketakukan dan kecemasan akan sebab dan akibat yang nantinya akan terjadi ketika kita akan,sedang dan telah melakukan sesuatu. perasaan risau hanya dapat dihindari dengan cara berdoa yang berarti menyerahkan diri dan pikiran dalam kuasa Tuhan sehingga kita aman di dalamNya.

    ReplyDelete
  3. Elsa Apriska
    18709251005
    S2 PM A 2018

    Risau sepertinya sudah menjadi perasaan yang pasti ada pada diri manusia. Biasanya risau ini disebabkan oleh rasa takut bahwa keinginan atau sesuatu yang diharapkan tidak tercapai. Menjadi sifat yang buruk apabila perasaan risau ini terlalu berlebihan. Misalkan risau terhadap masa depan. Jika yang dilakukan hanya memikirkan dan merisaukan tanpa ada ikhtiar tentu ini semua akan sia-sia. Perasaan risau inipun bisa menjadi baik seperti risau terhadap dosa yang diperbuat. Maka salah cara terbaik adalah berdoa dan berikhtiar agar doa kita dikabulkan.

    ReplyDelete
  4. Nani Maryani
    18709251008
    S2 Pendidikan Matematika (A) 2018
    Assalamu'alaikum Wr.Wb.

    Satu-satunya obat agar tidak merasa risau adalah bersyukur, selalu bersyukur atas setiap hal-hal kecil ataupun besar yang Allah anugerahkan kepada kita, yang tanpa kita sadari dengan hal-hal tersebut hidup kita menjadi bermakna dan bermanfaat bagi sesama. Manusia yang terus-menerus merasa risau dalam hidupnya adalah manusia yang tidak percaya dengan kekuasaan Allah SWT. Kita risau besok tidak bisa makan saja berarti kita sudah salah sangka dan tidak percaya Allah, tidak percaya bahwa Allah sudah mengatur semua sebaik-baiknya untuk kita dan untuk hidup kita.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb

    ReplyDelete
  5. Luthfannisa Afif Nabila
    18709251031
    S2 Pendidikan Matematika B 2018
    Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.
    Kalau kata lagunya Letto “kau datang dan pergi oh begitu saja, semua ku terima apa adanya” Seperti itulah risau datang dan pergi dalam kehidupan kita. Kita hanya bisa menerima keadaan itu dengan mengendalikan diri tanpa membuat orang lain merasa risau juga. Risau itu wajar, namun jangan berlarut-larut dan berlebihan. Risau itu tidak bisa dihilangkan, namun dikurangi. Cara kita mengurangi risau kita sendiri itu ya diri kita sendiri. Buang jauh pikiran-pikiran negatif yang membuat hati risau. Mintalah pertolongan kepada Allah, dan berikhtiarlah. Insya Allah hatimu akan tenang.
    Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

    ReplyDelete
  6. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Risau akan hal yang tidak diinginkan merupakan keadaan dimana semua orang pasti akan merasakannya. Hal ini merupakan perasaan yang manusiawi. Namun perasaan risau jangan sampai membuat kita menjadi takut untuk melakukan hal-hal yang lainnya karena belum tentu apa yang kita risaukan benar-benar terjadi. Oleh karena itu, kita harus terus berusaha dan berdoa supaya usaha kita dikabulkan. Namun kita jangan lupa juga bahwa kita harus senantiasa bersyukur kepada Allah, karena kita tidak akan bisa melakukan apapun tanpa ijin dari-Nya termasuk menghilangkan kerisauan dalam diri sendiri.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  7. Deden Hidayat
    18709251032
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Risau dapat tumbuh dari berbagai hal dalam kehidupan kita, seperti risau karena sakit, miskin, lupa, tidak punya teman dan yang lainnya. Risau terjadi karena tidak sinkronnya antara hati dan pikiran. Selain itu risau juga bisa tumbuh ketika kita kurang bersyukur dengan apa yang telah diberikan oleh Allah SWT. Maka untuk menghilangkan kerisauan dalam diri, maka kita harus selalu berusaha mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Ikhtiar dan berdoa secara terus-menerus yang dapat kita lakukan untuk mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  8. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Keadaan hati, jiwa, pikiran tidak tenang dikarenakan perasaan risau. Kejadian-kejadian yang janggal, kejadian yang berdampak negatif kepada kita, kejadian yang kurang memuaskan, dll merupakan faktor munculnya risau dalam diri. Kurang bersyukur, kurang menikmati hal yang diperolehnya juga termasuk penyebab munculnya risau. Sehingga, hindari perkara-perkara seperti itu dan tetap elegan menjalani hidup, memberikan efek positif bagi orang lain dan orang lain tersebut akan menganggap kita energi positifnya.

    ReplyDelete
  9. Surya Shofiyana Sukarman
    18709251017
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Setiap orang pasti pernah merasakan kerisauan. Manusia memang kodratnya memiliki banyak kekurangan. Risau dalam hati dapat disebabkan oleh rasa khawatir ataupun keraguan dalam hati kita. Ilmu di dunia tidak akan pernah habisnya selama kita masih hidup, kita yang memiliki banyak kekurangan tidak akan mampu menguasai semua ilmu tersebut. Hal itu merupakan ketetapan darri Allah SWT. Sebagai manusia kita hanya bisa berencana, namun segala keputusan dan ketetapan ada ditangan-Nya, kita hanya perlu berikhtiar, beroa, berhusnudzon dan ikhlas dengan ketetapan-Nya serta bersyukur atas semua peberian-Nya, insyaAllah akan menjauhkan kita dari kerisauan.

    ReplyDelete
  10. Janu Arlinwibowo
    18701261012
    PEP 2018

    Risau adalah kebingungan yang saringkali membuat langkah berat. Kerisauan hampir selalu melekat dalam hati manusia. Risau membuat apa yang dikerjakan serba tidak optimal karena selalu membayangkan hal lain yang tidak sesuai dengan rencana. Kerisauan akan membuat manusia cenderung kea rah skeptic. Dalam menanggapinya, kerisauan harus dikelola dengan baik, untuk menghasilkan hal positif. Mendekatkan diri pada Alloh dan mengimani qadha dan qadar adalah caranya dengan selalu memanjatkan doa untuk kebaikan kita.

    ReplyDelete
  11. Rindang Maaris Aadzaar
    18709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Semua orang pasti pernah merasa risau. Seperti risau karena kematian, risau karena penyakit, risau karena menunggu hasil ujian, dan risau karena hal-hal yang lainnya. Untuk mencegah atau menangani hati agar tidak risau, bila melakukan beberapa hal seperti contohnya lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Lakukan sholat dan berdoa kepada Allah akan membantu hati merasa tenang dan tidak akan risau lagi karena syaitan-syaitan yang ada di hati tidak akan ada lagi selama hati bisa terus dijaga agat terus ikhlas
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  12. Amalia Nur Rachman
    18709251042
    S2 Pendidikan Matematika B UNY 2018

    Kerisauan pasti ada dalam diri kita masing masing. Tak dapat kita pungkiri dan tidak dapat kita prediksi bagaimana kerisauan itu muncul. Yang kita harapkan adalah terhindar dari risau yang negative. Maka dari itu, berdoa merupakan salah satu cara untuk menghindarkan kerisauan dalam diri kita. Tidak lupa juga bahwa kita harus selalu bersyukur atas segala berkah dan rahmat yang Allah berikan, yang akan mendatangkan kedamaian dalam hati untuk menhindarkan risau dalam hati

    ReplyDelete
  13. Jefri Mailool
    PPs S3 PEP 18701261002

    Tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang merasakan bahwa perjalanan hidupnya 'datar-datar' saja. pasti merasakan ada fluktuasi keadaan hidup. ada susah, ada senang, merasa kecewa, merasa sedih, merasa dihargai, merasa dimanfaatkan, dan lain sebagainya termasuk merasa risau. keadaan risau atau cemas dapat muncul kapan saja dalam hidup ini. Hanyalah berdoa, selalu bersyukur,dan berserah kepada kehendak Tuhan membuat hidup ini ada kedamaian.

    ReplyDelete
  14. Septia Ayu Pratiwi
    18709251029
    S2 pendidikan matematika 2018

    Selama ini banyak kerisauan yang kita rasakan. Kita merasa risau jika memikirkan harga diri,derajat,harta benda, lingkungan sekitar, inkompeten, iri hati, lupa, tidak memiliki dan lain sebagainya. Allah SWT menciptakan manusia di bumi ini dengan takarannya masing-masing. Sehingga antara manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda, ia memiliki kelebihan dan kekurangnnya sendiri. Oleh sebab itu sesungguhnya manusia tidak perlu risau terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain. Yang perlu kita risaukan adalah ketika kita merasa banyak sekali dosa, kurang berbuat baik, tidak punya ilmu, merasa jauh dari Allah dan lain sebagainya. Karena dengan begitu Allah akan murka jika kita tidak merasa risau, cemas dan khawatir terhadap kesalahan-kesalahan kita. Allah Maha Pengampun,maka marilah kita memohon ampun atas kesalahan kita dan selalu bersyukur terhadap nikmat yang telah diberikan kepada kita.

    ReplyDelete
  15. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006
    PEP S3

    Ada tiga kunci kehidupan yang bisa kita peroleh dari artikel di atas yaitu ikhtiar, doa, dan syukur. Di dalam kehidupan, dalam menghadapi apapun maka kita harus melakukan ikhtiar terhadap sesuatu, kemudian berdoa, dan juga bersyukur. Ketika kita sudah melakukan tiga hal tersebut, maka kita akan dijauhkan dari rasa risau.

    ReplyDelete
  16. Diana Prastiwi
    18709251004
    S2 P.Mat A 2018

    Risau atau gelisah datangnya dari hati. Risau merupakan keadaan dimana hati merasa tidak tenang karena sesuatu hal. Risau dapat menjangkiti siapa saja, entah mereka orang kaya atau miskin, berilmu atau tidak, siapa saja, diamanapun dan kapanpun. Tidak ada yang tahu kapan rasa itu singgah dalam diri seseorang. Tapi dapat dipastikan ketika seseorang jauh dari Tuhan-Nya, maka perasaan itu akan muncul. Risau karena hal yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi.

    ReplyDelete
  17. Atin Argianti
    18709251001
    PPs PM A 2018
    Manusia yang diberi hati dan pikiran pasti akan ada godaan. Godaan tersebut salah satunya kerisauan. Kerisauan yang menyerang hati dan pikiran akan menyebabkan mitos-mitos dalam pikiran. Untuk itu, manusia harus selalu bersyukur dengan apa yang dimilikinya karena kerisauan muncul karena kita tidak dapat bersyukur dengan apa yang ada. Sebelum bersyukur, pasti aka nada ikhtiar dan doa untuk pelengkapnya. Dan kerisauan akan hilang jika diri kita sendiri yang mengendalikannya agar tidak memandang ke atas terus.

    ReplyDelete
  18. Sintha Sih Dewanti
    18701261013
    PPs S3 PEP UNY

    Manusia merupakan makhluk yang rapuh dan bisa dirundung kerisauan kapan saja. Setiap orang bisa saja dirundung kerisauan yang membuat hati tidak tenang. Banyak alasan yang membuat hati menjadi risau. Kebanyakan tentunya karena urusan duniawi. Hal semacam ini bisa membuat seseorang kepikiran yang membuat menjadi khawatir, resah dan gelisah dan bisa berakibat pada munculnya stress pada pikiran. Akan tetapi selain doa, ada yang dapat menakhlukan kerisauan, yaitu ilmu. Ilmu dapat menundukkan seluruh makhluk Allah yang ada di muka bumi ini. Dengan ilmu pula kita bisa memimpin dunia, bahkan memimpin seluruh makhluk Allah.

    ReplyDelete
  19. Eka Puspita Sari
    18709251035
    S2 PM B 2018

    Risau adalah keadaan hati yang tidak menentu, keadaan hati yang mengkhawatirkan banyak hal.
    Mungkin jaman sekarang banyak yang menyebutnya dengan galau. Galau atau risau hanya akan mengurangi produktivitas diri, karna saat risau tubuh diam dan hanya memikirkan kerisauan itu, atau mungkin jika tetap dipaksakan untuk melakukan sesuatu hanyalah menghasilkan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan, mungkin saja apa yang kita lakukan akan selalu salah.
    Salah satu cara menghilangkan risau adalah memohon pertolongan sang segala-galanya. Berdoalah kepada Allah agar dihindarkan atau dihilangkan risaunya.

    ReplyDelete
  20. Herlingga Putuwita Nanmumpuni
    18709251033
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Setiap manusia yang hidup pastilah memiliki kerisauan tersendiri dalam dirinya. Sebaik-baik solusi adalah selalu berusaha atau ikhtiar dan berdoa agar ikhtiar kita itu dikabulkan. Disamping itu kita juga harus pandai-pandai bersyukur atas karunia dan nikmat yang telah dilimpahkan Allah. Tiadalah daya dan upaya manusia itu. Maka manusia itu sesungguhnya tidaklah mampu menghilangkan segala kerisauannya, kecuali atas pertolongan Allah.

    ReplyDelete
  21. Rosi Anista
    18709251040
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr wb
    Kerisauan seringkali kita rasakan saat kita berdekatan dengan yang namanya suatu kegagalan. Kegagalan dan kesulitan bukan untuk diratapi dan menjadikan diri kita terlihat pantas untuk dikasihani. Pada akhirnya dlam hidup, suatu kerisauan tersebut dapat hilang denga sendirinya berikut dengan kedewasaan kita dalam menyikapi permasalahan dan juga senantiasa mengingat Allah SWT.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Umi Arismawati
      18709251037
      S2 Pendidikan Matematika B 2018

      Assalamu'alaikum, Wr. Wb.
      Memang benar bahwa kadang Kerisauan seringkali kita rasakan saat kita berdekatan dengan yang namanya suatu kegagalan. Sebagai manusia memang tida ingin jika apa yang sudah kita usahakan menjadi gagal. Akan tetapi kembali lagi bahwa semua keputusan hanya pada Allah SWT dan kita manusia hanya berusaha dan berikhtiar. Untuk itu marilah kita berserah diri dan tawakal kepada Allah SWT.

      Delete
  22. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Dunia memang penuh dengan ketidakpastian. Oleh karena itu, pantas jika manusia selalu diliputi oleh kerisauan dalam menjalani kehidupan. Manusia tidak akan pernah mampu menentukan nasibnya sendiri. Karena segala yang terjadi merupakan ketentuan dari Allah. Tugas manusia adalah berusaha atau berikhtiar semampunya dan semaksimal mungkin, sementara masalah hasilnya seperti apa merupakan kuasa Allah. Oleh karena itu, cara untuk menenangkan hati agar tidak risau adalah berusaha semaksimal mungkin dengan disertai doa dan tawakal kepada Allah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Umi Arismawati
      18709251037
      S2 Pendidikan Matematika B 2018

      Assalamu'alaikum, Wr. Wb.
      Duni memang sangat tidak pasti. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berikhtiar. Tentang hasilnya kita hanya bisamenyerahkannya kepada Allah SWT. Karena itu kita dapat selalu berdoa, tawakal dan berserah diri kepada Allah untuk apa yang telah kita usahakan.

      Delete
  23. Fabri Hidayatullah
    18709251028
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Di dalam menjalani kehidupan, perasaan risau akan selalu menghampiri dan juga pergi. Kerisauan tersebut dapat bermacam-macam tergantung pada apa yang kita takuti agar tidak terjadi. Mulai dari anak-anak hingga tumbuh menjadi dewasa hingga semumur hidup, segala macam bentuk kerisauan tersebut datang begitu saja ditengah aktivitas maupun disaat tidak beraktivitas. Kerisauan tersebut mengganggu pikiran bahkan sampai hati. Manusia tidak akan mampu menghindari kerisauan-kerisauan tersebut tanpa pertolongan Allah SWT. Maka hendaknya senantiasa berikhtiar, berdoa, kemudian ikhlas bertawakal menyerahkan ketetapan hanya kepada-Nya dan mensyukuri apa yang menjadi ketetapan-Nya.

    ReplyDelete
  24. Nur Afni
    18709251027
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    Setiap orang merasakan risau didalam hatinya karena merasa masih banyak kekurangan. Hal tersebut juga dapat memotivasi untuk meningkatkan ikhtiar dan doa agar kerisauan tersebut tidak lagi ada. Cara untuk menghilangkan risau salah satunya adalah dengan bersyukur atas limpahan rahmat dan karunianya. Dan yakinlah bahwa pertolongan Allah itu dekat.percaya bahwa Allah selalu bersama kita. terimakasih

    ReplyDelete
  25. Umi Arismawati
    18709251037
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamu'alaikum, Wr. Wb.
    Setiap manusia ditakdirkan mempunyai rasa risau dan pastinya pernah mengalami risau. Rasa risau selalu mengikuti manusia walaupun terkadang muncul terkadang tidak. Risau dapat muncul karena beberapa sebab yaitu risau karena miskin, risau karena reputasi buruk, risau karena tidak mempunyai ilmu, risau karena kehilangan milik, risau karena menyongsong masa depan, dan lain – lain. Rasa risau yang berlebihan tentunya sangat tidak baik dan mengganggu. Yang dapat kita lakukan adalah selalu berserah diri kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  26. Umi Arismawati
    18709251037
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamu'alaikum, Wr. Wb.
    Dengan cara selalu berikhtiar atau berusaha, berdoa kepada Allah SWT agar usaha atau ikhtiar yang telah kita lakukan itu terkabul, bersyukur atas nikmat dan karuni yang telah Allah berikan kepada kita maka rasa risau itu akan hilang atas kehendak dan pertolongan dari Allah SWT. Setelah berusaha dan berikhtiar, kita dapat berserah diri dan bertawakal kepada Allah SWT. Maka dari itu,kita hendaknya senantiasa memohon pertolongan kepada Allah .

    ReplyDelete
  27. Samsul Arifin / 18701261007 / S3 PEP 2018

    Risau dapat datang dan pergi dalam kehidupan. Datang dan perginya risau tidak dapat terprediksi karena risau adalah sebuah perasaan yang berakar pada pemikiran kita sendiri. Apabila kita berpikir negative akan hal yang belum terjadi, maka disaat itulah perasaan risau datang. Perasaan risau yang dapat datang dan pergi dapat diantisipasi dengan bersyukur. Bersyukur dapat menjadi upaya preventif terhadap kerisauan dikarenakan dengan bersyukur maka kita akan lebih memaknai setiap detail nikmat yang kita dapat.

    ReplyDelete
  28. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Jaman sekarang sudah tidak asing dengan istilah galau, karena anak-anak muda yang mendeklarasikan istilah itu. Kata lainnya mungkin lebih syahdu risau, mereka mengartikan galau adalah bentuk kesedihan yang amat mendalam sehingga menimbulkan kesepian dalam diri dan hati dan pikiran yang dianggapnya tidak akan ada apa-apa nya lagi bila tanpa seseorang itu. Itu hanya kicauan sesaat, karena mereka bisa saja langsung move on ketika bertemu dengan orang baru. Sesungguhnya untuk menghindari kerisauan yang sesaat itu hanya dengan sadar diri akan apa yang telah mereka lakukan dan bagaimana mereka mengatasinya. Mereka bisa melakukan konsultasi dengan orang yang lebih dewasa yang tentunya bayak pengalaman agar bisa mengarahkan ke arah yang baik.

    ReplyDelete
  29. Dita Aldila Krisma
    18709251012
    PPs Pendidikan Matematika A 2018

    Kerisauan menununjukkan pada hal-hal yang memnjadikan pikiran dan hati tidak tenang. Risau digambarkan terhadap sesuatu yang negative yang sehingga menimbulkan ketidak tenangan dalam mengahdapi sesuatu. Rasa risau bisa muncul kemungkinan karena kurangnya ilmu, kehilangan ilmu atau bahkan tidak memiliki ilmu dalam menghadapi sesuatu. Kita harus banyak-banyak berdoa kepada Allah SWT memohon agar diberiketenangan hati.

    ReplyDelete
  30. Erma Zelfiana Surni
    18709251009
    S2. P.Matematika A 2018

    Assalamualaikum Wr. Wb
    Belajar filsafat adalah usahamu menggapai ikhlas dalam pikirmu. Hal tersebut menandakan bahwa dalam proses mempelajari filsafat itu adalah bagian dari usaha kita menggapai pikiran ikhlas seseorang karena ikhlas berpikir artinya ikhlas berilmu.

    ReplyDelete
  31. M. Ikhsan Ghozali
    19701261003
    PEP S3 2019

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Risau dan khawatir melekat dalam diri manusia. Ihtiar, berdo'a, dan tawakkal secara ikhlas dan penuh kesungguhan berharap ridho dari Allah SWT sehingga tidak menjadi beban. Semoga kita senantiasa terus mendekatkan diri kepada Allah, berharap ampunan dan lindungan-Nya. Aamiin.
    Demikian yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf dan terima kasih.
    Wassalamu'alaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  32. Jupriyanto
    19706261006
    Pendidikan Dasar, S3

    Assalamualaikum wrb. wb.
    Ketidakmampuan manusia dalam mengontrol diri membuat dirinya gundah, galau, dan risau. Manusia merasa paling buruk, paling tidak kompeten, berbanding terbalik pada kodrat manusia sebagi makhluk Tuhan yang diciptakan sempurna dibandingkan makhluk Tuhan lainnya. Khusnudzon kepada Tuhan dan berpasrah kepadaNya merupakan jalan untuk menghilangkan kegaduhan hati manusia.
    Mohon maaf atas segala kesalahan.
    Wassalamualaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  33. Khintoko Intan Permatasari
    19701251020
    PEP A S2 2019

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Dalam elegi ini, dijelaskan mengenai bagaimana kita terhindar dari risau. Risau merupakan salah satu penyakit yang dapat mengganggu hati dan pikiran manusia. Jadi, manusia memerlukan usaha untuk mengendalikan risau yang menghinggapi hatinya. Usaha yang perlu dilakukan tidak lain adalah dengan berdoa dan berikhtiar kepada Allah SWT. Karena berdoa dan berikhtiar merupakan usaha yang paling dasar dan wajib dilakukan kita sebagai manusia. Disamping itu kita juga harus pandai-pandai bersyukur atas karunia dan nikmat yang telah dilimpahkan oleh Allah SWT. Tiadalah daya dan upaya manusia itu. Maka manusia itu sesungguhnya tidaklah mampu menghilangkan segala kerisauannya, kecuali atas pertolongan-Nya. Amiin.

    ReplyDelete
  34. Hidayatul wafiroh
    19701251010
    S2 PEP A 2019

    Kerisauan atau rasa risau akan selalu ada dalam diri seseorang. Rasa tersebut akan datang dan pergi tanpa seijin kita. Rasa tersebut mampu membuat kita putus asa dan menyerah dalam berbagai hal dan keadaan. Rasa risau yang terus dibiarkan dalam diri kita, akan membawa kita pada segala hal yang tidak baik. Selalu berusaha (ikhtiar) dan tawakal kepada Allah. Selalu bersyukur atas nikmat dan karunia Allah. Sesungguhnya manusia tidak dapat melepaskan rasa risau tanpa pertolongan Allah.

    ReplyDelete
  35. Mira Amalia Yudhanti
    19701251014
    S2 PEP A

    Setiap manusia pasti memiliki kekhawatiran dalam kehidupannya. Solusi dari semua kekhawatiran ini adalah selalu berusaha dan berdoa. Selain itu kita harus senantiasa bersyukur atas semua yang diberikan Allah SWT kepada kita. Kekhawatiran memang selalu datang dan pergi sesuka mereka, Oleh karena itu, kita harus selalu berdoa kepada Allah SWT agar terhindar dari kecemasan-kecemasan itu.

    ReplyDelete
  36. Sekar Hidayatun Najakh
    19701251007
    S2 PEP A 2019

    Assalamualaykum wr wb...
    Di dalam diri manusia sejatinya adalah hati yang bersih, murni dan suci. Risau atau khawatir menjelma menjadi ragu yang berada di perbatasan antara hati dan pikiran. Risau seakan membenggu, menghambat lalu lintas perbatasan tersebut. Risau tercipta dari kesalahan atau dosa yang terlanjur diperbuat. Maka untuk memutus belenggu risau adalah memohon ampun dan petunjuk dari Allah Swt, Tuhan Yang Maha Esa. Agar kiranya, lalu lintas antara hati dan pikiran tidak lagi terhambat... terciptalah rasa yakin, aman, dan damai di dalam diri.

    Terimakasih Prof.

    ReplyDelete
  37. Ardhya Handayani
    19701251015
    S2 PEP 2019 A

    Perasaan risau merupakan perasaan cemas , dan tidak tentram. Risau dapat muncul setiap saat pada diri manusia. Lalu apakah ada seseorang yang tidak merasakan kerisauan dalam dirinya? Sepertinya tidak, semua orang psati memiliki kerisauan atau kegelisahannya masing -masing. Pastilah berbeda kerisauan ayah dengan anak, atau peguusaha dengan guru. Dalam elegi ini dinyatakan bahwa untuk menghadai kerisauan adalah dengan berusaha, berdoa, lalu memasrahkan diri kepada Allah SWT. Selain itu kita harus selalu bersyukur atau segala hal yang diberikan oleh Allah SWT.

    ReplyDelete