Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 36: Menggapai Tidak Risau




Oleh Marsigit

Subyek:
Wahai para risau, aku sebetulnya enggan melihatmu, tetapi engkau selalu mengikutiku. Engkau seperti fatamorgana, kadang jelas kadang menghilang. Tetapi yang aku tidak suka denganmu, karena kedatanganmu dan kepergianmu selalu saja tidak seijin denganku. Sehingga aku merasa kewalahan mengendalikan dirimu. Kadang-kadang aku bahkan menjadi bulan-bulananmu. Dari pada aku bersikap memusuhimu, maka sekarang aku ingin berkoalisi denganmu. Aku ijinkan engkau semua untuk mengajukan proposalmu. Jika itu mungkin, maka aku akan menindaklanjuti proposalmu itu. Tetapi untuk menanggapi proposalmu semua aku telah mengangkat dewan pertimbangan, tidak lain tidak bukan adalah si orang tua berambut putih.

Risau hati:
Wahai subyek, aku adalah risau hatimu. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau sakit:
Wahai subyek, aku adalah risau sakit. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau akan menderita sakit. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau miskin:
Wahai subyek, aku adalah risau miskin. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau akan menjadi miskin. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau lupa:
Wahai subyek, aku adalah risau lupa. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau akan melupakan beberapa hal. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak memperoleh pekerjaan:
Wahai subyek, aku adalah risau pekerjaan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau karena tidak mendapat pekerjaan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.


Risau tidak punya teman:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak punya teman. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak mempunyai teman dan kehilangan teman. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau bersifat buruk:
Wahai subyek, aku adalah risau bersifat buruk. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau mempunyai sifat buruk. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau reputasi buruk:
Wahai subyek, aku adalah risau reputasi buruk. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau mempunyai reputasi buruk. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak memiliki:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak memiliki. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak memiliki sesuatu benda atau yang lainnya. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau inkompeten:
Wahai subyek, aku adalah risau inkompeten. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau dianggap inkompeten terhadap pekerjaanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tak lazim:
Wahai subyek, aku adalah risau tak lazim. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau dianggap aneh atau tak lazim. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau berbuat dosa:
Wahai subyek, aku adalah risau berbuat dosa. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau telah melakukan dosa-dosa. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau iri hati:
Wahai subyek, aku adalah risau iri hati. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau karena iri hati terhadap teman-temanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak adil:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak adil. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau diperlakukan tidak adil atau melakukan ketidak adilan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau harga diri:
Wahai subyek, aku adalah risau harga diri. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau karena terancam harga dirimu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau kebutuhan:
Wahai subyek, aku adalah risau kebutuhan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat memenuhi kebutuhanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak berperan:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak berperan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat berperan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak mendapat hak:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak mendapat hak. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak mendapat hak. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau wan-prestasi:
Wahai subyek, aku adalah risau wan-prestasi. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat mencapai atau memperoleh prestasimu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau kematian:
Wahai subyek, aku adalah risau kematian. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau oleh datangnya kematianmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak bisa mengurus milik:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak bisa mengurus milik. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak bisa mengurus semua milikmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak mendapat pengakuan:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak mendapat pengakuan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak mendapat pengakuan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau menyongsong masa depan:
Wahai subyek, aku adalah risau menyongsong masa depan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat memperoleh masa depanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau kehilangan milik:
Wahai subyek, aku adalah risau kehilangan milik. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau kehilangan milikmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Subyek:
Wahai orang tua berambut putih. Bagaimana aku bisa menanggapi dan menindaklanjuti semua kerisauan tersebut?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah subyek, bahwa aku sendiri juga mempunyai kerisauan. Aku selalu merasa risau jangan-jangan aku tidak mempunyai ilmu, atau kekurangan ilmu, atau kehilangan ilmu. Maka sebaik-baik solusi menurutku adalah selalu berusaha atau ikhtiar dan berdoa agar ikhtiar kita itu dikabulkan. Disamping itu kita juga harus pandai-pandai bersyukur atas karunia dan nikmat yang telah dilimpahkan oleh Tuhan YME. Tiadalah daya dan upaya manusia itu. Maka manusia itu sesungguhnya tidaklah mampu menghilangkan segala kerisauannya, kecuali atas pertolongan Nya. Amien.

43 comments:

  1. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Tak dapat dipungkiri setiap manusia pasti merasakan risau dalam hidupnya entah dalam skala yang besar maupun kecil. Kerisauan ada karena keragu-raguan, ketidakyakinan tentang apa yang dikerjakan maka untuk menghapuskan kerisauan maka kita perlu pertolongan dari Allah dengan melakukan segala usaha seperti yang dikatakan orang tua berambut putih yakni berpikir dengan positif, ikhtiar seraya berdoa memohon ampun kepada Allah SWT dan yang tak kalah penting yaitu menyukuri nikmat yang telah diberikan Allah SWT entah sekecil apapun nikmat itu. Terima Kasih

    ReplyDelete
  2. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Tidak dipungkiri bahwa manusia hidup selalu dihantui dengan rasa "risau". Seperti yang dijelaskan pada elegi ini risau bisa berupa bermacam-macam salah satunya adalah risau hati. Cara yang paling tepat untuk menangani rasa risau adalah berdoa, berusaha, ikhlas, dan selalu bersyukur. Contohnya,kita dilanca risau sakit, maka kita harus berusah untuk tidak sakit dengam cara olah raga dan berdoa agar diberikan kekuatan fisik selain itu kita juga harus bersyukur dengan keadaan kita saat ini yang masih sehat. Terkadang kits lupa akan rasa syukur, sehingga saat kita diberi cobaan kita baru ingat dengan Tuhan.

    ReplyDelete
  3. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Kembalikan lagi kepada Allah. semua itu asalnya dari Allah. lihatlah hati dan pikiran kita. Kita masih punya Allah, perlukah kita risau? Jika kita sudah berusaha maka langkah terakhir adalah ikhlas akan suatu yang sudah dikehendaki Allah. Asal kita bersyukur atas nikmat Allah yang sudah diberikan, maka tidaklah perlu kita risau hati dan pikiran. Karena setan akan terus tanpa henti menggoda kita untuk hanya sekedar menggoda atau bahkan menjerumuskan kita ke dalam zona gelap. Syukur dalam berbagai hal dan janganlah sombong apabila Allah mengabulkan apa yang kita inginkan.

    ReplyDelete
  4. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Risau atau gelisah yaitu suatu keadaan dimana hati merasa tidak tenang karena sesuatu hal. Risau dapat menjangkiti siapa saja, entah mereka orang kaya atau miskin, berilmu atau tidak, siapa saja, diamanapun dan kapanpun. Tidak ada yang tahu kapan rasa itu singgah dalam diri seseorang. Tapi dapat dipastikan ketika seseorang jauh dari Tuhan-Nya, maka perasaan itu akan muncul. Risau karena hal yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi

    ReplyDelete
  5. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Kerisauan atau kehawatiran bisa datang kapan saja, dan darimana saja. namun umumnya rasa risau bersumber dari nafsu duniawi. rasa risau atau hawatir sebaiknya kita tinggalkan terutama dalam perkara beribadah. dalam sebuah hadits disebutkan : Dari Abu Muhammad al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kesayangannya Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Aku telah hafal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu’.” (HR at-Tirmidzi dan an-Nasâ`i. At-Tirmidzi berkata,“Hadits ini hadits shahih). semoga kita terhindar dari keraguraguan. Amin.

    ReplyDelete
  6. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Hati meruapakan salah satu anugerah Allah swt yang tidak bisa dinilai harganya. Dengan hati, kita mampu merasakan suka dan duka. Dengan hati, kita dapat merasakan perasaan orang lain. Hati merupakan keajaiban sang illahi yang senantiasa membimbing manusia pada cahaya-cahaya kebenaran. Allah swt telah menciptakan dan menganugerahkan hati bagi manusia sebagai salah satu perangkat kehidupan yang sangat vital yang akan membantu melihat dan mendengar perintah Allah swt. Namun, kita juga mengetahui bahwa segala sesuatu itu ada, tiada, terjadi, dan tidak terjadi hanya karena Allah swt. Dari sana, kita juga tahu bahwa Allah telah menciptakan penyakit, dan Allah sajalah yang memiliki penawarnya. Dan satu-satunya penawar yang paling efektif dan tidak bertentangan dengan syariat Islam untuk menangkal atau mengobati penyakit gelisah adalah dengan cara selalu mengingat Allah swt.

    ReplyDelete
  7. Dalam perjalanan mencapai tujuannya manusia, selalu dipenuhi oleh banyak godaan, seperti halnya dalam elegi yang bapak tulis di atas yakni risau. Banyak hal dalam kehidupan yang menjadikan manusia risau misalnya risau sakit, miskin, lupa, pekerjaan, dan hal lainnya. Namun sesungguhnya perasaan itu muncul dari godaan sakit. Tidak perlulah segala hal kita risaukan, cukuplah jalani saja harimu dengan benar pada hari ini, masa depan biarlah Allah yang mengatur, manusia hanya wajib berdoa dan terus berusaha.


    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  8. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Obat yang paling ampuh untuk menghilangkan kerisauan adalah berdoa kepada Allah SWT, berserah diri kepadanya, memohon petunjuk agar diberikan hati yang tenang. Sesungguhnya kerisauan dapat menghasilkan hal yang positif ketika risau itu membuat kita berikhtiar untuk maju. Semoga kita semua berada dalam lindungan-Nya. Aamiin allahumma aamiin.

    ReplyDelete
  9. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)


    Gelisah atau risau dapat terjadi apabila sesuatu berada di ketidakpastian yang kita inginkan belum mengetahui apakah hal yang kita inginkan sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Wajar bagi manusia memiliki sifat risau, yang membedakan adalah bagaimana manusia mengelola rasa risau tersebut agar tidak menjadi media yang menjadikan manusia tidak menggantungkan kepada Tuhan. Sehingga menurut saya, cara terbaik dalam menghilangkan risau adalah dengan keyakinan bahwa semua yang terjadi di dunia ini sudah ada yang mengatur, manusia hanya menjalankan kehidupan di dunia ini, dengan mengikhlaskan apa yang akan terjadi kita tidak mungkin akan mengalami kerisauan.

    ReplyDelete
  10. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Risau adalah suatu perasaan yang menurut saya satu rumpun dengan gelisah, galau, atau cemas. Seperti yang diuraikan di atas, bahwa risau datang dan pergi tanpa seijin orang yang bersangkutan. Semua orang yang hidup di dunia ini pasti pernah merasakan risau. Risau terjadi karena respon terhadap suatu masalah. Risau biasanya diikuti dengan ketakutan-ketakutan akan masalah yang dihadapi. Misalnya risau ketika akan menghadapi UN, risau tidak mampu membayar SPP sekolah, risau tidak bisa matematika, dan risau-risau lainnya. Risau ini dapat diatasi dengan ikhlas. Ikhlas tentu melibatkan hati. Selain itu risau juga bisa dihindari dengan pikiran yang kritis dan bersih. Mendekatkan diri pada Allah SWT juga salah satu cara untuk menjauhkan diri dari kerisauan-kerisauan kita.

    ReplyDelete
  11. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Kerisauan merupakan salah satu pengaruh syetan yang wajib kita antisipasi. Kalau kita makhluk yang beriman, tidak pantas lah kita untuk merasa risau karena segala yang terjadi dalam hidup sudah ada yang mengaturnya. Risau pada hati, risau takut miskin, risau akan sakit, risau takut lupa, risau takut apabila tidak memperoleh pekerjaan, dan berbagai macam risau yang sebenarnya mampu kita kendalikan. Sesekali waktu risau datang memang dapat menjadikan kita sebagai motivasi dan was-was terhadap apa-apa yang akan terjadi. Namun jika hidup kita selalu diselimuti dengan kerisauan, rasanya kita sudah seperti makhluk tak berTuhan yang takut akan segalanya. Pasrahkan saja dengan apa yang terjadi dan apa yang kita terima dalam hidup ini, karena sesungguhnya kita hidup sudah dalam skenario terbaikNya. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  12. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Kerisauan dalam diri kita sebenarnya tidaklah jauh dari kurangnya rasa syukur kita atas apa yang telah kita lakukan. Selain itu, kurangnya kita berserah diri kepada sang Kholiq. Karena pada dasarnya ketika seseorang itu selalu menyerahkan apapun kepada Alloh SWT, akan membuat kerisauan dalam diri kita semakin berkurang. Oleh karena itu, selalu bertawakkal lah kepada Alloh SWT dan selalu bersyukur atas apa yang diberikan oleh-Nya.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  13. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Kerisauan sangatlah mungkin bisa dirasakan oleh siapapun, bedanya bagaimana masing-masing dari kita menghadapi kerisauan tersebut. Yang terbaik dalam menghadapi risau itu adalah dengan selalu berikhtiar diiringi dengan doa, dan tidak lupa sudah semestinya kita selalu bersyukur atas nikmat-Nya. Sehingga dengan ikhtiar dan doa yang telah kita lakukan semoga mampu meghilangkan risau berkat pertolongan-Nya. Amin.

    ReplyDelete
  14. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Risau merupakan perasaan gelisah, takut, khawatir akan hal hal buruk yang akan menimpa kita. Terdapat bnyak sekali risau yang sering kita rasakan. Mengapa risau ini muncul ? Persaaan risau muncul tidak lain karena sifat manusia yang tidak optimis akan kehidupan di masa depan, ia merasa bahwa hal-hal yang ia inginkan akan sulit ia dapatkan. Inilah ciri2 jika syaitan telah berhasil menggoda manusia dimana setelah ia risau makan akan menjadi manusia yang berputus asa. Hal atau cara yang dilakukan guna menanggulangi kerisauan adalah dengan senantiasa bersyukur atas Rahmat yang Allah SWT berikan. Dengan bersyukur makan hidup akan menjadi tenang, tentram, dan damai. Kemudian senantiasa berdoa dan berikhtiar agar Allah SWT selalu meridhoi jalan yang kita pilih.

    ReplyDelete
  15. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Khawatir terbentuk karena orang-orang yang membuatnya, khawatir adalah penyakit jantung dan jiwa. Manusia sebenarnya merasa khawatir karena mereka kurang bersyukur atas semua nikmat yang Allah berikan kepadanya.
    Jika kita tergantung semua urusan hidupnya kepada Allah, dan pasti kita tidak akan pernah merasa kecewa. Karena mereka selalu berpikir positif bahwa apa yang terjadi dalam hidup mereka adalah kehendak Allah dan merupakan yang terbaik. Allah memberikan masalah bagi manusia karena Allah sangat mengasihi manusia.

    ReplyDelete
  16. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Perasaan risau seringkali muncul dalam hati manusia. Perasaan tersebut terkadang dapat mengganggu kedamaian kehidupan seseorang, seperti risau miskin, risau malas, risau lupa, risau tak memiliki, risau bersifat buruk. Cara untuk menghilangkan risau adalah sering2 berdzikir dan mengingat Allah. Namun terkadang risau dapat bersifat baik, misal seseorang merasa risau satelah melakukan keburukan. Nah itu dapat menjadi jalan untuk bertaubat dan menyesali perbuatannya.

    ReplyDelete
  17. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Kerisauan adalah sebuah hal yang wajar menghinggapi diri manusia. Menurut saya kerisauan yang sesuai porsinya dapat bermanfaat bagi manusia yang digunakan sebagai motivasi untuk menuju kearah yang lebih baik. Namun saat keriasuan sudah tidak dapat dikelola lagi, keriasuan akan menjerumuskan manusia kedalam kegelapan. Misalnya saja siswa A risau besuk akan ujian matematika, jika risau itu masih dalam porsi yang wajar maka risau akan menjadi motivasi siswa untuk belajar karena merasa belum bisa. Namun saat riasu itu berlebihan dan siswa tidak mampu mengontrolnya maka siswa A tadi malah akan menjauhi matematika bahkan dia sengaja bolos agar tidak ikut ujian matematika. Oleh karena itu, risau itu hal yang wajar pada diri manusia. Namun harus dikelola dengan baik salah satunya dengan berikhtiar untuk menjadi lebih baik dan selalu berdoa memohon lindungan dariNya. Terimakasih

    ReplyDelete
  18. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. dari elegi menggapai tak risau ini saya merefleksikan bahwa semua orang tentu memiliki kerisauan, dan tentu saja kerisauan setiap orang berbeda-beda sebagaiman dijelaskan dalam elegi. Perasaan risau muncul karena seseorang tidak yakin. Rasa risau dapat dimanfaatkan seseorang untuk menambah rasa percayanya. Jangan kalah dengan risau, ubah rasa risau itu untuk memacu diri menjadi lebih baik. Berikhtiar dan berdoa agar menajdi lebih baik perlu dilakukan agar rasa risau itu hilang.

    ReplyDelete
  19. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Risau adalah suatu keadaan perasaan yang dirasakan seseorang jika berada dalam kekhawatiran. Risau, mungkin saat ini lebih dikenal dengan “galau” oleh kalangan anak muda. Risau merupakan salah satu penyakit hati yang kadang tidak kita sadari. Untuk menghindarkan diri dari penyakit risau kita harus mendekatkan diri kepada-Nya, terus berpositif thinking terhadap apa saja yang telah kita dapatkan.

    ReplyDelete
  20. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Tiadalah manusia yang tidak memiliki kerisauan. Namun kerisauan itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah hilang. Risau dapat lahir karena berbagai hal. Karena risau adalah bgaian dari sifat alamiah yang ada pada diri manusia karena dasarnya manusia itu berpikir. Hilangpun kerisauan yang satu akan muncul kerisauan yang lain. Maka tiadalah jalan selain pandai mengendalikannya. Dan tiada pulalah jangan terbaik dalam mengendalikannya selain mengoptimalkan ikhtiar dan tawakal kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  21. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Manusia seringkali mengalami kerisauan hati. Sama dengan kekawatiran, risau terletak pada perbatasan anatara hati dan pikiran. Maka dari itu untuk mengatsi risau, kita harus mensinergikan antara hati dan pikiran kita. Selalu berpikir jernih dan positif, dibarengi dengan hati yang bersih penuh keyakinan dan doa kepada Allah. Kuncinya adalah bersihkan hati dari segala yang mengotorinya, dari dosa-dosa yang membuat noktah hitam di dalamnya, yakni dengan senantiasa beristigfar dan mohon ampun, serta menyinarinya dengan lantunan dzikir dan doa.

    ReplyDelete
  22. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Risau adalah perasaan hati yang seharusnya tidak ada pada diri kita. Ada berbagai macam jenis risau, seperti yang telah disebutkan dalam elegi ini bahwa ada risau hati, risau akan adanya rasa sakit, risau jika miskin, risau lupa, risau yang lain-lain hingga semilyar pangkat semilyar aku menyebutkannya tidak akan selesai aku menyebutkannya. Namun perasaan ini memeng ada, maka yang perlu kita lakukan yaitu untuk mengarahkan menahan dan menjaga rasa risau ini agar tak berlebihan. Sehingga yang terpenting yaitu senantiasa meminta pertolongan Allah Ta’ala untuk menetapkan hati dan perasaan kita agar berada ditempat yang benar.

    ReplyDelete
  23. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Tambahan sedikit terkait hal di atas. Perasaan risau ini seharusnya bisa dialihkan untuk menjadi rasa optimis. Dari kata optimis ini maka akan ada usaha aktif dari subyeknya untuk menjadi lebih baik dan baik lagi. Optimis berarti pula suatu ikhtiar usaha, ada usaha didalamnya. Ini sama halnya dengan rasa semangat. Yang perlu kita mintakan yaitu agar kita senatiasa istiqomah dalam kebaikan.

    ReplyDelete

  24. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Setelah membaca artikel di atas, beberapa moral value yang dapat saya ambil adalah bahwa manusia selalu meras risau tentang hal-hal yang telah mereka lakukan. Banyak hal yang menjadi penyebab kenapa mereka merasa risau, seperti yang telah ditulis pada artikel di atas. Kita harus mulai terbiasa untuk berpikir positif agar risau itu tidak sering datang. Kita harus terus berjuang dan berdoa kepada Allah dan kita juga harus selalu mensyukuri segala hal yang telah kita miliki. kkarena bersyukur itu adalah hal yang membawa kebahagiaan kepada kita serta jangan lupa utnuk selalu melakukan segala hal dengan keikhlasan.

    ReplyDelete
  25. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Perasaan risau pasti datang pada diri kita. Ada risau hati, risau sakit, risau miskin, risau lupa, risau tidak memeperoleh pekerjaan, risau tidak punya teman, risau bersifat buruk, risau reputasi buruk, risautidak memiliki, risau inkompeten, risau tak lazim, risau berbuat dosa, risau iri hati, risau tidak adil, risau harga diri, risau kebutuhan, risau tidak berperan, risau tidak mendapat hak, risau wan-prestasi, risau kematian, risau tidak bisa mengurus milik, risau tidak mendapat pengakuan, risau menyongsong masa depan, dan risau kehilangan milik. Risau-risau tersebut ada dalam diri kita dan tidak akan mampu kita hilangkan. Yang dapat kita lakukan adalah menekan perasaan risau agar tidak menjadi penghambat kita dalam beraktifitas. Karena risau dapat datang kapan saja tanpa diduga-duga, ketika kita tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika berdoa sekalipun hati kita bisa menjadi risau.

    ReplyDelete
  26. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Bismillah, sebenar-benar risau adalah bisikan syaiton. Kerisauan adalah ketidakmampuan hati dan piker dalam memahami semua yang sudah didapat. Risau akan masadepan, risau akan ilmu yang dimiliki, risau akan miskin, dsb. Dari banyak risau tersebut, sangat merisaukan dan membuat hati serta piker tidak tentram. Untuk menghilangkan risau tersebut tentu dengan ikhlas dan ikhtiar yang sungguh-sungguh

    ReplyDelete
  27. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dari postingan tersebut juga dapat suatu ilmu, bahwa risau bisa dihilangkan dengan selalu berpikir positif, ikhlas, dan usha sungguh dalam segala hal. Meningkatkan keyakinan dan ibadah kepada Allah juga dapat menghilangkan kerisauan, dengan mengikuti segala aturan yang telah ditetapkann-Nya.

    ReplyDelete
  28. Latifah Fitriasari
    PM C

    Hati bisa membuat manusia merasakan kedamaian dan kasih sayang dalam hidup ini, namun tak jarang pula dengan hati manusia juga merasakan kegelisahan luar biasa sehingga pikiran tak bisa tenang dan tidak bisa tidur. Sebaik-baiknya orang adalah mereka yang selalu mencari ilmu untuk bekal di dunia dan akhirat. Ilmu yang kita miliki sebaiknya dimanfaatkan dan dibagikan orang lain agar berguna bagi sesama. Tetapi orang yang selalu ingat dan bertawakal pada Allah insya Allah tidak akan mengalami rasa cemas dan gelisah berlebihan dalam menghadapi berbagai macam kehidupan.

    ReplyDelete
  29. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Wajarlah jika manusia memiliki rasa risau. Manusia tidaklah bisa terlepas dari rasa risau. Tetapi kita harus dapat mengendalikan rasa risau yang dimiliki. Kita harus yakin dengan kehendak Allah SWT. Kita harus senantiasa berusaha dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah SWT. Kita harus yakin bahwa dalam setiap cobaan yang Allah berikan pastilah ada hikmah yang dapat kita ambil. Kita harus yakin bahwa sebaik-baik rencana adalah rencana milik Allah SWT, bahwa inilah sebaik-baik skenario bagi kita.

    ReplyDelete
  30. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Hal terbaik yang bisa dilakukan dalam menghadapi kerisauan adalah dengan melakukan ikhtiar, berusaha sebaik-baiknya dan berdoa sebelum kerisauan itu datang. Dengan melakukan ikhtiar atau usaha yang sebaik-baiknya maka kita tidak perlu khawatir menghadapi rasa risau, karena kita sudah melakukan usaha yang sebaik-baiknya, dan mengenai hasilnya kita kembalikan pada Allah melalui doa-doa yang kita lantunkan.

    ReplyDelete
  31. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Risau seakan tidak dapat dipisahkan dalam diri seseorang. Setiap orang pasti pernah merasakan yang namanya risau meskipun dalam hal yang berbeda-beda dan beragam. Perasaan ini selalu datang ketika seseorang mengalami keraguan dan kekhawatiran dalam melakukan sesuatu. dalam elegi ini, solusi yang paling baik untuk menghindari perasaan risau adalah selalu berusaha atau berikhtiar dan berdoa agar ikhtiar kita itu dikabulkan. Dalam elegi ini, dijelaskan bahwa solusi yang paling baik untuk menghindari perasaan risau adalah selalu berusaha atau berikhtiar dan berdoa agar ikhtiar kita dikabulkan. Kita juga harus senantiasa berpikir positif dan selalu ikhlas serta mensyukuri apa yang terjadi pada kita.

    ReplyDelete
  32. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Riasu merupakan perassan gelisah tidak tenang yang menggagu pribadi seseorang. Jika kita ingi menghentikan perasaan risau ini, maka diperlukan ikhtiar dan berdoa agar ikhtiar ikhlas kita dikabulkan oleh Allah SWT. Karena manusia tidak mampu menghilangkan rasa risau itu dengan tanpa bantuan Tuhan YME

    ReplyDelete
  33. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Risau atu kegundahan melanda siapapun yang tengah menjalankan suatu hal dengan kurangnya iman dan makna. Iman berarti percaya yang kemudian akan menuntunorang tersebut untuk bertingkah laku atau berperilaku sesuai syariat agama yang dianutnya serta menyerahkan semua hasilnya kepada Allah. Sedangkan makna memiliki arti hikmah yang kita peroleh dari sesuatu yang kita laksanakan tersebut. Bukankah sebaik-baik manusia ialah yang dapat mengambil hikmah dari apa yang dialaminya? Allahu a'lam

    ReplyDelete
  34. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Risau dapat menuntun seseorang menuju keragu-raguan, sedangkan ada astu riwayat yang mengatakan bahwa keragu-raguan muncul dari setan. Jika kita melaksanakan sembahyang (salat) kemudian kita lupa atau ragu-ragu didalam shalat kita, maka kita diharuskan untuk melakukan sujud sahwai, yakni sujud yang dilakukan ketika seseorang ingat atas kelalaiannya dan bersujud serta memuji bahwa Allahlah yang maha tidak tidur dan tidak pernah lupa. Sedangkan orang yang lalai dalam shalatnya ialah orang yang mendustakan agamanya. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  35. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Risau merupakan salah satu penyakit. Hampir sama dengan penyakit hati lainnya yang sering menghinggapi manusia kapan saja dan di mana saja, begitu pula dengan risau. Risau ini dapat mengganggu hati dan pikiran manusia. Jadi, manusia memerlukan usaha untuk mengendalikan risau yang menghinggapi hatinya. Usaha yang perlu dilakukan tidak lain adalah dengan berdoa dan berikhtiar kepada Allah SWT. Karena berdoa dan berikhtiar merupakan usaha yang paling dasar dan wajib dilakukan kita sebagai manusia.

    ReplyDelete
  36. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Jika hati kita ikhlas atas segala apa yang diberikan oleh Allah sebagai takdir kita, InsyaAllah hidup kita akan jauh lebih tenteram dan damai. Pada hakekatnya, manusia mudah sekali diserang risau. Risau tidak memperoleh sesuatu, risau akan sakit, risau akan terkena musibah, risau tidak memperoleh kebahagiaan, risau tidak memperoleh pekerjaan, hingga risau akan kematian. Siapapun pasti akan terkena risau. Namun, sebaik-baik cara untuk menghilangkan risau adalah tawakal atau berserah kepada selain berusaha.

    ReplyDelete
  37. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Risau bersembunyi di dalam hati manusia. Risau adalah rasa gelisah, yang mengganggu ketentraman hati, dan rasa ini muncul karena tidak menghargai apa yang telah ditakdirkan oleh Nya. Tidak ada manusia yang tidak memiliki kerisaun maka tiada pula manusia yang menghindari darinya. Maka untuk mengatasinya hanya dengan meminta bantuan kepada Tuhan YME, melalui bersyukur dan berdoa.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  38. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Setiap manusia pasti memiliki kerisauan. Bedanya ada manusia yang terperangkap dalam kerisauan itu dan ada pula yang dapat mengatasi kerisauan tersebut. Salah satu cara mengatasi kerisauan adalah dengan selalu berprasangka baik pada Sang Pencipta, Allah SWT. Allah tidak akan menguji hamba-Nya diluar kemampuannya. Kemudian, dzikir kepada Allah juga salah satu yang ampuh untuk mengatasi risau.

    ReplyDelete
  39. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.Mat B

    Manusia berpotensi untuk risau. karena perasaan risau atau gelisah itu memang diciptakan oleh Allah berpasangan dengan ketenangan. maka jika kita mendapati hati kita mulai risau dengan berbagai hal yang dapat merusak hati kita, maka segeralah kita memohon perlindungan kepada Allah, karena risau yang berkepanjangan bisa jadi karena bisikan syaitan. bahkan kesedihan yang berkepanjangan juga dikarenakan syaitan.

    ReplyDelete
  40. Assalamualaikum Wr. Wb. Risau berarti kita memaknai suatu masalah sebagai beban kehidupan dan sedikit melibatkan Allah dalam masalah tersebut. Untuk menggapai tidak risau dibutuhkan keikhlasan, kesabaran, dan menjadikan masalah hidup sebagai pelajaran hidup. Menggapai tidak riasu berarti menyadari bahwa setiap masalah adalah ujian yang diberikan oleh Allah kepada kita untuk meningkatkan derajat hidup kita. Sesungguhnya Allah tidak akan memebrikan musibah melebihi batas kemampuan hambanya. Semoga kita tetap dalam lindungannya. Aamiin!!

    ReplyDelete
  41. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Sesunggguhnya tidak ada manusia di dunia ini yang tidak mempunyai rasa risau. Namun rasa risau ini bisa kita arahkan ke arah yang positif seperti merasa risau akan ibadah yang tidak bertambah maka kita akan termotivasi untuk memperbaiki diri dengan lebih memperbanyak ibadah lagi.

    ReplyDelete
  42. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Tidak ada seorangpun yang tidak pernah merasa risau. Kerisauan datang ketika kita merasa takut apa yang kita rencanakan, apa yang kita inginkan dan harapkan tidak akan berjalan sesuai dengan rencana. Namun kerisauan tidak akan hilang begitu saja. Berikhtiarlah sebaik mungkin dan berdoa. Tentang takdir yang terjadi, bertawakallah. Selalu bersyukur atas setiap ketentuan yang Allah gariskan terhadap perjalanan kita. Bersyukur adalah salah satu cara bahwa kita selalu berpikir positif terhadap segala ketentuan Allah. Kerisauan datang dari dalam hati, dan yang mampu memberikan kedamaian hati hanyalah dengan berdoa kepada Allah.

    ReplyDelete
  43. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Risau adalah suatu kewajaran yang dirasakan oleh manusia. Kerisauan-kerisauan tersebut seperti: siswa risau saat akan menempuh ujian nasional, mahasiswa risau saat akan ujian akhir atau ujian skrpsi, para guru risau saat akan dilakukan supervisi, bahkan ibu hamil risau saat mendekati hari-hari kelahiran anaknya. Untuk meminimalisir risau adalah dengan menguatkan ibadah dan ikhtiar tentunya. Ibadah termasuk doa diimbangi dengan ikhtiar yang kuat akan menguatkan iman (mendekatkan diri pada Allah SWT) dan menambah keyakinan sehingga perasaan risau dapat dikurangi.

    ReplyDelete