Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 36: Menggapai Tidak Risau




Oleh Marsigit

Subyek:
Wahai para risau, aku sebetulnya enggan melihatmu, tetapi engkau selalu mengikutiku. Engkau seperti fatamorgana, kadang jelas kadang menghilang. Tetapi yang aku tidak suka denganmu, karena kedatanganmu dan kepergianmu selalu saja tidak seijin denganku. Sehingga aku merasa kewalahan mengendalikan dirimu. Kadang-kadang aku bahkan menjadi bulan-bulananmu. Dari pada aku bersikap memusuhimu, maka sekarang aku ingin berkoalisi denganmu. Aku ijinkan engkau semua untuk mengajukan proposalmu. Jika itu mungkin, maka aku akan menindaklanjuti proposalmu itu. Tetapi untuk menanggapi proposalmu semua aku telah mengangkat dewan pertimbangan, tidak lain tidak bukan adalah si orang tua berambut putih.

Risau hati:
Wahai subyek, aku adalah risau hatimu. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau sakit:
Wahai subyek, aku adalah risau sakit. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau akan menderita sakit. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau miskin:
Wahai subyek, aku adalah risau miskin. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau akan menjadi miskin. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau lupa:
Wahai subyek, aku adalah risau lupa. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau akan melupakan beberapa hal. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak memperoleh pekerjaan:
Wahai subyek, aku adalah risau pekerjaan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau karena tidak mendapat pekerjaan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.


Risau tidak punya teman:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak punya teman. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak mempunyai teman dan kehilangan teman. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau bersifat buruk:
Wahai subyek, aku adalah risau bersifat buruk. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau mempunyai sifat buruk. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau reputasi buruk:
Wahai subyek, aku adalah risau reputasi buruk. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau mempunyai reputasi buruk. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak memiliki:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak memiliki. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak memiliki sesuatu benda atau yang lainnya. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau inkompeten:
Wahai subyek, aku adalah risau inkompeten. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau dianggap inkompeten terhadap pekerjaanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tak lazim:
Wahai subyek, aku adalah risau tak lazim. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau dianggap aneh atau tak lazim. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau berbuat dosa:
Wahai subyek, aku adalah risau berbuat dosa. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau telah melakukan dosa-dosa. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau iri hati:
Wahai subyek, aku adalah risau iri hati. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau karena iri hati terhadap teman-temanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak adil:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak adil. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau diperlakukan tidak adil atau melakukan ketidak adilan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau harga diri:
Wahai subyek, aku adalah risau harga diri. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau karena terancam harga dirimu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau kebutuhan:
Wahai subyek, aku adalah risau kebutuhan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat memenuhi kebutuhanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak berperan:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak berperan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat berperan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak mendapat hak:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak mendapat hak. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak mendapat hak. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau wan-prestasi:
Wahai subyek, aku adalah risau wan-prestasi. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat mencapai atau memperoleh prestasimu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau kematian:
Wahai subyek, aku adalah risau kematian. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau oleh datangnya kematianmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak bisa mengurus milik:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak bisa mengurus milik. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak bisa mengurus semua milikmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak mendapat pengakuan:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak mendapat pengakuan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak mendapat pengakuan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau menyongsong masa depan:
Wahai subyek, aku adalah risau menyongsong masa depan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat memperoleh masa depanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau kehilangan milik:
Wahai subyek, aku adalah risau kehilangan milik. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau kehilangan milikmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Subyek:
Wahai orang tua berambut putih. Bagaimana aku bisa menanggapi dan menindaklanjuti semua kerisauan tersebut?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah subyek, bahwa aku sendiri juga mempunyai kerisauan. Aku selalu merasa risau jangan-jangan aku tidak mempunyai ilmu, atau kekurangan ilmu, atau kehilangan ilmu. Maka sebaik-baik solusi menurutku adalah selalu berusaha atau ikhtiar dan berdoa agar ikhtiar kita itu dikabulkan. Disamping itu kita juga harus pandai-pandai bersyukur atas karunia dan nikmat yang telah dilimpahkan oleh Tuhan YME. Tiadalah daya dan upaya manusia itu. Maka manusia itu sesungguhnya tidaklah mampu menghilangkan segala kerisauannya, kecuali atas pertolongan Nya. Amien.

27 comments:

  1. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Manusia pasti akan selalu dilanda kerisauan, kerisauan manusia sejalan dengan kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan manusia itu sendiri. Manusia risau apabila apa yang ia harapkan dan butuhkan tidak terjadi atau tidak ia dapatkan. Manusia tidak akan pernah terlepas dari kerisauan selama manusia itu masih selalu mengharapkan imbalan dari segala apa yang ia kerjakan atau lakukan. Berdoalah dan memohon pertolongan kepada Allah SWT karena manusia tidak akan pernah bisa melepaskan dirinya sendiri dari kerisauan tanpa bantuan dari Allah SWT sang Maha Kuasa atas segala-galanya.

    ReplyDelete
  2. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Semakin banyak atau semakin tinggi pangkat seseorang. Perasaan risau akan semakin tinggi pula. Dia akan risau terhadap apa yang ia miliki, dia khawatir bahwa akan terjadi sesuatu terhadap apa yang ia miliki saat ini sehingga apa yang ia miliki itu bisa saja sewaktu-waktu akan menghilang. Berbeda halnya dengan orang yang memang tidak memiliki apa-apa, kerisauan yang ia rasakan tidak akan sebesar orang yang memiliki banyak hal. Maka senantialah kita selalu bersyukur terhadap apa yang kita miliki, tidak peduli itu banyaka atau sedikit, kita harus tetap mensyukurinya karena setiap apa yang kita miliki sesungguhnya adalah pemberian dari Allah SWT. Janganlah bersedih atau mengeluh akan keadaan kita yang tidak lebih banyak dari orang lain dan janganlah kita kufur terhadap apa yang kita miliki karena lebih banyak dari orang lain.

    ReplyDelete
  3. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Perasaan risau pasti datang pada diri kita. Ada risau hati, risau sakit, risau miskin, risau lupa, risau tidak memeperoleh pekerjaan, risau tidak punya teman, risau bersifat buruk, risau reputasi buruk, risautidak memiliki, risau inkompeten, risau tak lazim, risau berbuat dosa, risau iri hati, risau tidak adil, risau harga diri, risau kebutuhan, risau tidak berperan, risau tidak mendapat hak, risau wan-prestasi, risau kematian, risau tidak bisa mengurus milik, risau tidak mendapat pengakuan, risau menyongsong masa depan, dan risau kehilangan milik. Risau-risau tersebut ada dalam diri kita dan tidak akan mampu kita hilangkan. Yang dapat kita lakukan adalah menekan perasaan risau agar tidak menjadi penghambat kita dalam beraktifitas. Karena risau dapat datang kapan saja tanpa diduga-duga, ketika kita tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika berdoa sekalipun hati kita bisa menjadi risau.
    Dari risau-risau pada elegi ini ada beberapa risau justru bermanfaat bagi kita. Salah satunya risau berbuat dosa. Hal tersebut menandakan bahwa hati kita masih berfungsi. Kita takut berbuat dosa sehingga kita harus menghindariperbuatan dosa. Sama halnya dengan risau risau yang lain. Risau akan bermanfaat jika kita berusaha menekan dan menemukan solusi baik untuk mengatasi risau tersebut. Jika risau tidak punya teman maka banyak bergaul dengan orang orang baik. Jika risau menyongsong masa depan maka persiapkanlah masa depan secara matang sejak saat ini, jika risau kematian maka carilah bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Dan sebagainya. Dengan berusaha untuk tidak risau maka risau-risau tersebut akan berubah dari hl yang merugikan menjadi bermanfaat bagi kita untuk semakin memperbaiki diri.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  4. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Risau merupakan perilaku yang muncul dari asumsi negatif yang datang dari pikiran sebagai bentuk dari perwujudan kekhawatiran seseorang akan kekurangan, ketidakmampuan, dan ketidakberdayaaan dirinya.
    Kerisauan hati bila disadari, dipandang secara positif, serta dijadikan motivasi perubahan diri, hal ini akan membawa diri kita menjadi pribadi yang lebih baik. sebaliknya, jika kerisauan ini ditanggapi secara negatif akan menjadikan diri kita menjadi pribadi yang rendah diri, berpandangan sempit terhadap dunia hingga jatuh pada keterpurukan kerisauan yang tak pernah ada habisnya.

    ReplyDelete
  5. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak.
    Banyak sekali hal-hal yang membuat manusia merasa risau. Dalam hidup ini manusia tidak mampu terhindar dari kerisauan. Namun, tidak harus risau untuk menghindari kerisauan. Yang terpenting adalah tindak lanjut dari segala kerisauan. Apabila risau belum mendapatkan ilmu maka tindak lanjut yang dilakukan adalah belajar dan berusaha. Selain itu juga diimbangi dengan refleksi dan doa untuk memohon ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  6. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Betul sekali bahwa diri kita selalu merasa risau dan galau. Namun jangan sampai kegalauan itu menghalangi ikhtiar kita. Bagaimana caranya, yakni dengan selalu berdoa sebelum melakukan ikhtiar, selalu mengikutsertakan Allah dalam setiap usaha dan ikhtiar yang kita lakukan. Insha Allah dengan selalu mengikutsertakan Allah dalam setiap usaha yang kita lakukan, maka apapun hasilnya yang keluar nanti itu baik hasilnya baik ataupun buruk maka hal itu merupakan takdir dan kehendak Allah, berarti itulah yang terbaik untuk kita. Sehingga rasa risau yang ada dalam diri kita dapat dikendalikan.

    ReplyDelete
  7. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini, pelajaran yang kami dapat adalah manusia hidup senantiasa dilingkupi oleh kerisauan atau kekhawatiran. Satu-satunya cara untuk mengatasi atau menghadapi kerisauan itu adalah senantiasa berjuang/berikhtiar dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan berjuang dan berdoa kepada-Nya dengan penuh keikhlasan dan kepasrahan kepada-Nya, niscaya akan menjauhkan pikiran dan hati seseorang dari kekhawatiran. Semoga kita senantiasa menjadi manusia yang bertakwa dan bertawakal. Amin.

    ReplyDelete
  8. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih prof, menurut saya risau adalah sifat yang manusiawi, tergantung sisi mana seseorang menempatkan risaunya. Seringkali risau menjadikan kita gundah dan tidak trnang mengerjakan segala sesuatu, tapi terkadang risau juga menjadikan kita termotivasi. Misalnya risau akan kurangnya ilmu yang kita milik, hal ini memotivasi kita untuk belajar dan berusaha. Sesungguhnya menghilangkan risau adalah untuk menjaga ketenangan hati dalam mengerjakan segala sesuatu.

    ReplyDelete
  9. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Manusia tidak bisa dilepaskan dari sesuatu yang dinamakan risau. Risau muncul karena pikiran dan hati kita yang tidak yakin atau ragu akan suatu hal. selalu muncul dalam pikiran kita, apakah aku bisa? kalau tidak bisa bagaimana? apa yang akan terjadi? dan lain-lain. hal tersebut membuat kita semakin risau tak karuan.

    ReplyDelete
  10. Sebagai seorang guru mungkin kita akan risau tidak bisa membelajarkan materi dengan baik, risau murid kita tidak paham, risau jika diberikan pertanyaan yang tidak bisa dijawab, risau tidak naik pangkat dan risau-risau yang lainnya. Untuk itu marilah senantiasa kita mendekatkan diri di hadapan-Nya agar hati kita menjadi lebih tenang, karena segala sesuatu di dunia ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

    ReplyDelete
  11. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Manusia memang tidak pernah terlepas dari rasa risau, baik risau hati, risau sakit, risau miskin, risau lupa, risau iri hati, risau tidak adil, risau harga diri, risau kebutuhan, dan para risau lainnya. Namun rasa risau tersebut sebenarnya juga diperlukan oleh manusia dalam kondisi tertentu, seperti yang disebutkan dari elegi di atas yaitu risau berbuat dosa, dan risau kematian. Risau dalam berbuat dosa mengarahkan kita kepada rasa takut akan berbuat dosa, sehingga kita selalu ingin menjauhi hal-hal yang dapat menimbulkan dosa. Sama halnya dengan risau berbuat dosa, risau terhadap kematian juga merupakan risau yang bermanfaat bagi kita. Dengan adanya risau kematian maka akan mengingatkan kita akan rasa sakitnya jika kematian datang menjemput kita. Untuk itu sudah sepatutnya kita mempersiapkan diri dengan memohon ampun atas segala dosa yang pernah dilakukan dahulu, memperbaiki ibadah yang dikerjakan mulai dari sekarang dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, karena kematian tidak mengenal waktu dan usia setiap orang yang akan didatanginya.

    ReplyDelete
  12. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Berdasarkan elegi di atas, kita memperoleh ilmu sebagai wahana untuk memperluas pengetahuan kita. Dalam elegi ini, diuraikan tentang bagaimana untuk terhindar dari risau. Terdapat berbagai macam jenis-jenis risau, seperti Risau hati, Risau sakit, Risau miskin, Risau lupa, Risau tidak memperoleh pekerjaan, Risau tidak punya teman, Risau bersifat buruk, Risau reputasi buruk, dll. Dari hal tersebut, perlu ditekankan bahwa risau merupakan sesuatu yang ada pada diri manusia entah dalam tingkat rendah maupun tinggi. Namun, sebagai seorang manusia kita harus bersyukur terhadap nikmat Allah, dan selalu berusaha atau ikhtiar, berdoa agar ikhtiar kita itu dikabulkan.

    ReplyDelete
  13. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas uaraian yang sangat bermanfaat ini. Risau, benar-benar tidak terduga kehadirannya. Elegi ini memberikan ilmu yang sangat bermanfaat bagi diri ini. Membaca risau satu demi satu risau. Di setiap titik akhir kalimat, kepala ini dibikin mengangguk-angguk seraya berkata “benar juga, sering juga saya begitu, sehat nggak sih saya ini”. Iya benar, saya sampai bertanya pada diri saya sendiri terkait “kesehatan”. Karena memang benar-benar risau ini membuat kaget bukan kepalang, tiba-tiba betul kedatangannya. Saya sependapat dengan saudari Putri Solekhah jika ternyata risau bisa berdampak positif dan negatif. Oleh karena itu ialah doa, syukur, dan permohonan ampun kepada Tuhan yang akan membawa kita pada risau yang positif.

    ReplyDelete
  14. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Dengan membaca elegi di atas saya mendapat pemahaman bahwa rasa risau di dalam pikiran manusia itu bersifat alamiah. Artinya semakin banyak harta dan semakin tinggi pangkat seseorang maka perasaan risau akan lebih menghantui pribadi tersebut. Maka dari itu sebenar-benarnya hidup adalah mancapai ridhonya allah swt, karena dengan mencapai ridhonya allah maka kita akan bersifat ikhlas terhadap takdir dan jalan kehidupan kita yang telah di tentukan oleh-Nya. Dengan adanya rasa ikhlas dan diiringi rasa sabar maka hidup kita akan terasa lebih tenang.

    ReplyDelete
  15. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Setiap manusia pasti pernah merasakan kerisauan. Seperti yang telah dijelaskan pada elegi di atas, risau hadir ketika kita merasa takut apabila yang kita ikhtiarkan atau harapkan tidak tercapai atau terwujud. Sebenarnya, jika kita sudah berusaha dengan maksimal dan melakukan apa yang kita bisa dengan sebaik-baiknya serta diiringi dengan do'a, maka tidak perlu risau. Apa yang terjadi itulah takdir dan itulah yang terbaik bagi kita dari Allah. Apa yang kita suka belum tentu baik bagi Allah dan apa yang kita tidak suka mungkin itulah yang terbaik menurut Allah. Maka, berbaik sangkalah kepada Allah agar risau itu tidak memenuhi hati kita.

    ReplyDelete
  16. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Di dalam menjalani kehidupan, perasaan risau akan selalu menghampiri dan juga pergi. Kerisauan tersebut dapat bermacam-macam tergantung pada apa yang kita takuti agar tidak terjadi. Mulai dari anak-anak hingga tumbuh menjadi dewasa hingga semumur hidup, segala macam bentuk kerisauan tersebut datang begitu saja ditengah aktivitas maupun disaat tidak beraktivitas. Kerisauan tersebut mengganggu pikiran bahkan sampai hati. Manusia tidak akan mampu menghindari kerisauan-kerisauan tersebut tanpa pertolongan Allah SWT. Maka hendaknya senantiasa berikhtiar, berdoa, kemudian ikhlas bertawakal menyerahkan ketetapan hanya kepada-Nya dan mensyukuri apa yang menjadi ketetapan-Nya.

    ReplyDelete
  17. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Risau. Awal dari risau adalah kekhawatiran akan semua hal yang ada pada hidupnya. Risau membuat hati gelisah, tidak nyaman, selalu resah. Maka, pasrahkan segala ikhtiar kepada Allah, biarkan Allah yang mencukupkan segala hidup kita, syukuri segala hal yang ada dan yang mungkin ada, nikmati segala pemberian Allah, hadapi segala ujian dan cobaan Allah dengan sabar dan ikhlas. Untuk itu teruslah berdoa berdoa berdoa, ikhtiar ikhtiar ikhtiar, berusaha berusaha berusaha, bersyukur bersyukur bersyukur, insya Allah, Allah akan memberikan pertolongan kepada kita. Amin.

    ReplyDelete
  18. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof
    Apa yang dikatakan pada elegi di atas juga terjadi pada diri saya.Setiap harinya, kecemasan , kekhawatiran dan risau agaknya senang menari- nari dalam diri ini. Duhai Allah,,, ampuni hamba.
    Untuk mengatasi kerisauan, kata kuncinya dalam elegi di atas adalah dengan beriktiar dan berdoa.Senantiasa selalu mengingat Allah. Semoga Allah SWT memudahkan jalan, meringankan beban dari segala urusan kita.

    ReplyDelete
  19. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. Risau adalah telah menjadi bagian dari sifat dasar manusia dan hal itu sangatlah wajar. Tidak ada manusia yang tidak pernah merasa risau. Namun hal itu bisa kita atasi dengan banyak-banyak mengingat Allah SWT yaitu senantiasa berdzikir. Insya Allah hati akan terasa tentram. Selain itu senantiasalah berdoa memohon ampunan dari Yang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  20. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Karena manusia itu sifat, sifat itu dapat berubah-ubah. sedangkan risau itu juga sifat. Risau itu intuisi perasaan manusia. Risau menunjukkan ada sesuatu hal yang kita khawatirkan sehingga membuat hati tidak tenang dan pikiran menjadi kacau. Banyak faktor penyebabnya, tetapi ada cara untuk mencegahnya. Cara mencegahnya yaitu dengan selalu ikhlas dan selalu ikhtiar, berdoa kepada Allah, selalu meminta perlindungan kepada Allah, karena sesungguhnya kacaunya hati adalah godaan setan. Jadi, agar Allah selalu memberikan perlindungan dan membuat kita menjadi tenteram maka kita harus selalu berdoa kepada-Nya.

    ReplyDelete
  21. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Perasaan risau merupakan rasa yang sangat manusiawi. Setiap manusia memiliki rasa risau mereka tersendiri. Rasa risau hadir dengan berbagai wujud sesuai dengan konteks dan sejauh mana kekacauan hati manusia. Salah satu cara untuk mengindari kerisauan adalah dengan berdoa dan merefleksikan diri. Melalui hal tersebut kerisauan semakin menjauh dan hilang.

    ReplyDelete
  22. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum wr. Wb.

    Rasa risau dalam diri seseorang kerap menghampiri bahkan disetiap apa yang dipirkan akan terbsit rasa risau. Kemungkinan rasa risau yang dimiliki akan timbul ketika kita tidak dapat berserah diri kepada ALlah, mungkin juga rasa risau itu muncul kurangnya rasa syukur kita kepada Allah SWt. Dengan selalu mendekatklan diri kepada ALalh semoga rasa risau tidak kerap menghampiri didalam diri kita. Aamiin.

    ReplyDelete
  23. Kartika Kirana
    17701261039
    S2 PEP B

    Yah, saya tersadar bahwa ternyata banyak hal dirisaukan manusia yang hidup di dunia ini. Risau itu menggelisahkan dan membuat manusia lalu mencoba melindungi dirinya dengan berbagai cara. Dan secara tak sadar saya pun juga sedang berusaha mengamankan diriku agar jika apa yang aku risaukan itu terjadi, maka aku akan selamat. Itu bentuk usaha agar aku menggapai tidak risauku. Tapi itu pun tak cukup. Doa-doa tetap terus kepada Allah. Sebab Allah yang mengatur segalanya.

    ReplyDelete
  24. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Secara psikologis, risau atau dapat disebut dengan khawatir merupakan indikator atau gejala dari kecemasan. Meski khawatir adalah suatu hal yang wajar dialami oleh manusia, namun ini tidaklah baik jika sudah berlebihan. Seseorang cenderung tidak menyadari apa yang dilakukan saat dalam keadaan cemas. Perlu diberi intervensi kognitif. Dengan intervensi yang diberikan dapat meminimalisir tingkat kecemasan seseorang. Seseorang dapat juga mengetahui penyebab dari rasa khawatir tersebut dan cenderung dapat mempertimbangkan apakah sesuatu yang dikhawatirkan memang patut untuk dikhawatirkan atau tidak.

    Jika kembali pada filsafat, rasa risau dapat berada pada berbagai struktur dan dimensi. Ada yang berfokus pada material, seperti risau miskin, risau sakit, risau tidak dapat mengurus hak milik dan sebagainya. Kemudian, ada pula yang berfokus pada spiritual seperti hati, kematian dan sebagainya. Untuk mengembalikan pada keadaan yang sesuai dengan kondisinya maka membersihkan hati terlebih dahulu. Sebaik-baik jalan keluar bagi hati yang kotor adalah berdoa. Mengembalikan semua yang ada di dunia kepada Allah.

    ReplyDelete
  25. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi ritual ikhlas 36 ini, saya memahami bahwa setiap manusia dalam melaksanakan segala aktivitasnya akan selalu diikuti rasa risau. Seperti yang Pak. Prof jabarkan diatas, yaitu risau hati, risau sakit, risau miskin, risau lupa, risau tidak mendapat pekerjaan, dan risau-risau lainnya.
    Meskipun demikian, janganlah takut akan kerisauan itu. Solusi terbaik adalah dengan mengembalikannya semua kepada Allah SWT sebaik-baik penolong, dengan bersyukur atas apa yang telah diberikan-Nya, selalu berikhtiar dan memohon doa agar apa yang telah diikhtiarkan dikabulkan oleh Allah SWT.

    ReplyDelete
  26. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    PPs Pend. Matematika 2017 Kelas C

    Kerisauan selalu menjadi beban dalam hidup manusia. Semakin banyak pencapaiannya, semakin besar pula kerisauannya. Macam-macam alternatif manusia untuk menghilangkan kerisauan. Mulai dari tidur hingga mabuk-mabukan agar tidak teringat akan kerisauannya. Namun kita sering lupa bahwa jawaban dari segala kerisauan hanya kuasa Allah SWT. Maka sebaik2nya usaha yang dilakukan adalah mengadu dan memohon kepada Allah, perbanyak dzikir, dan amalan-amalan lainnya. Semoga kita terhindar dari perbuatan-perbuatan yang dibenci Allah hanya karena hati sedang risau. Ingatlah bahwa Allah Maha Pemberi, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

    ReplyDelete
  27. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    setiap manusia pasti pernah meraskan kerisauan. kerisauan terjadi ketika kita menemukan kenyataan tidak sesuai dengan yang kita harapkan. begitulah yang saya pahami dari elegi diatas. namun jangan lah kita lupa Allah sebaik-baik pemberi takdir. Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan karena yang kita inginkan belum tentu yang kita butuhkan.

    ReplyDelete