Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 36: Menggapai Tidak Risau




Oleh Marsigit

Subyek:
Wahai para risau, aku sebetulnya enggan melihatmu, tetapi engkau selalu mengikutiku. Engkau seperti fatamorgana, kadang jelas kadang menghilang. Tetapi yang aku tidak suka denganmu, karena kedatanganmu dan kepergianmu selalu saja tidak seijin denganku. Sehingga aku merasa kewalahan mengendalikan dirimu. Kadang-kadang aku bahkan menjadi bulan-bulananmu. Dari pada aku bersikap memusuhimu, maka sekarang aku ingin berkoalisi denganmu. Aku ijinkan engkau semua untuk mengajukan proposalmu. Jika itu mungkin, maka aku akan menindaklanjuti proposalmu itu. Tetapi untuk menanggapi proposalmu semua aku telah mengangkat dewan pertimbangan, tidak lain tidak bukan adalah si orang tua berambut putih.

Risau hati:
Wahai subyek, aku adalah risau hatimu. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau sakit:
Wahai subyek, aku adalah risau sakit. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau akan menderita sakit. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau miskin:
Wahai subyek, aku adalah risau miskin. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau akan menjadi miskin. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau lupa:
Wahai subyek, aku adalah risau lupa. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau akan melupakan beberapa hal. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak memperoleh pekerjaan:
Wahai subyek, aku adalah risau pekerjaan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau karena tidak mendapat pekerjaan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.


Risau tidak punya teman:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak punya teman. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak mempunyai teman dan kehilangan teman. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau bersifat buruk:
Wahai subyek, aku adalah risau bersifat buruk. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau mempunyai sifat buruk. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau reputasi buruk:
Wahai subyek, aku adalah risau reputasi buruk. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau mempunyai reputasi buruk. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak memiliki:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak memiliki. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak memiliki sesuatu benda atau yang lainnya. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau inkompeten:
Wahai subyek, aku adalah risau inkompeten. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau dianggap inkompeten terhadap pekerjaanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tak lazim:
Wahai subyek, aku adalah risau tak lazim. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau dianggap aneh atau tak lazim. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau berbuat dosa:
Wahai subyek, aku adalah risau berbuat dosa. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau telah melakukan dosa-dosa. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau iri hati:
Wahai subyek, aku adalah risau iri hati. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau karena iri hati terhadap teman-temanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak adil:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak adil. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau diperlakukan tidak adil atau melakukan ketidak adilan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau harga diri:
Wahai subyek, aku adalah risau harga diri. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau karena terancam harga dirimu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau kebutuhan:
Wahai subyek, aku adalah risau kebutuhan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat memenuhi kebutuhanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak berperan:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak berperan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat berperan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak mendapat hak:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak mendapat hak. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak mendapat hak. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau wan-prestasi:
Wahai subyek, aku adalah risau wan-prestasi. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat mencapai atau memperoleh prestasimu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau kematian:
Wahai subyek, aku adalah risau kematian. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau oleh datangnya kematianmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak bisa mengurus milik:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak bisa mengurus milik. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak bisa mengurus semua milikmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak mendapat pengakuan:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak mendapat pengakuan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak mendapat pengakuan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau menyongsong masa depan:
Wahai subyek, aku adalah risau menyongsong masa depan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat memperoleh masa depanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau kehilangan milik:
Wahai subyek, aku adalah risau kehilangan milik. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau kehilangan milikmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Subyek:
Wahai orang tua berambut putih. Bagaimana aku bisa menanggapi dan menindaklanjuti semua kerisauan tersebut?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah subyek, bahwa aku sendiri juga mempunyai kerisauan. Aku selalu merasa risau jangan-jangan aku tidak mempunyai ilmu, atau kekurangan ilmu, atau kehilangan ilmu. Maka sebaik-baik solusi menurutku adalah selalu berusaha atau ikhtiar dan berdoa agar ikhtiar kita itu dikabulkan. Disamping itu kita juga harus pandai-pandai bersyukur atas karunia dan nikmat yang telah dilimpahkan oleh Tuhan YME. Tiadalah daya dan upaya manusia itu. Maka manusia itu sesungguhnya tidaklah mampu menghilangkan segala kerisauannya, kecuali atas pertolongan Nya. Amien.

27 comments:

  1. Naja Nusaibah
    13301241042
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Perasaan risau pasti datang pada diri kita. Ada risau hati, risau sakit, risau miskin, risau lupa, risau tidak memeperoleh pekerjaan, risau tidak punya teman, risau bersifat buruk, risau reputasi buruk, risautidak memiliki, risau inkompeten, risau tak lazim, risau berbuat dosa, risau iri hati, risau tidak adil, risau harga diri, risau kebutuhan, risau tidak berperan, risau tidak mendapat hak, risau wan-prestasi, risau kematian, risau tidak bisa mengurus milik, risau tidak mendapat pengakuan, risau menyongsong masa depan, dan risau kehilangan milik. Risau-risau tersebut ada dalam diri kita dan tidak akan mampu kita hilangkan. Yang dapat kita lakukan adalah menekan perasaan risau agar tidak menjadi penghambat kita dalam beraktifitas. Karena risau dapat datang kapan saja tanpa diduga-duga, ketika kita tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika berdoa sekalipun hati kita bisa menjadi risau.

    ReplyDelete
  2. Naja Nusaibah
    13301241042
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Dari risau-risau pada elegi ini ada beberapa risau justru bermanfaat bagi kita. Salah satunya risau berbuat dosa. Hal tersebut menandakan bahwa hati kita masih berfungsi. Kita takut berbuat dosa sehingga kita harus menghindariperbuatan dosa. Sama halnya dengan risau risau yang lain. Risau akan bermanfaat jika kita berusaha menekan dan menemukan solusi baik untuk mengatasi risau tersebut. Jika risau tidak punya teman maka banyak bergaul dengan orang orang baik.

    ReplyDelete
  3. Naja Nusaibah
    13301241042
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Jika risau menyongsong masa depan maka persiapkanlah masa depan secara matang sejak saat ini, jika risau kematian maka carilah bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Dan sebagainya. Dengan berusaha untuk tidak risau maka risau-risau tersebut akan berubah dari hl yang merugikan menjadi bermanfaat bagi kita untuk semakin memperbaiki diri.

    ReplyDelete
  4. Naja Nusaibah
    13301241042
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Pikiran ikhlas dalam filsafat ternyata adalah filsafat itu sendiri. Mempelajari fisafat adalah sebuah keikhlasan. Belajar filsafat berarti munculnya pertanyaan pertanyaan tentang filsafat itu sendiri. Sedangkan tidak mungkin seseorang memproduksi pertanyaan jika dia tidak ikhlas. Maka pertanyaaan dari “Apakah sesungguhnya ikhlas pikir itu?” juga merupakan suatu ikhlas pikir. Selama kita hidup kita akan selalu bertanya tentang banyak hal, sedangkan bertanya itu adalah awal dari ilmu. Jadi agar kita dapat memperoleh ilmu terlebih dahulu kita harus ikhlas pikir. Jika ada yang membaca komen ini dan bertanya dalam hati apa maksudnya, maka itulah calon ilmu yang sedang dalam bentuk pertanyaan, dan itulah ikhlas pikir.

    ReplyDelete
  5. Naja Nusaibah
    13301241042
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Jangan ragu-ragu untuk memproduksi pertanyaan karena pertanyaan adalah landasan dari filsafat. Salah satutanda bahwa kita sedang belajar filsafat adalah munculnya pertanyaan-pertanyaan di dalam pikiran kita. Jika kita ikhlas memikirkannya maka pertanyaan tersebt akan berubah menjadi ilmu.

    ReplyDelete
  6. Naja Nusaibah
    13301241042
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Maka sebenar-benar seseorang yang sedang belajar filsafat maka ia akan meraskan kebingungan dan kekacauan di dalam pikirannya karena banyaknya pertanyaan-pertanyaan mengenai fisafat itu.

    ReplyDelete
  7. Naja Nusaibah
    13301241042
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Maka sekacau-kacaunya pikiran kita maka kita harus ikhlas memikirkannya agar kacaunya pikir tidak menjalar ke kacau hati. Karena kacau pkir akan menjadi ilmu sedangkan kacau hati akan menjadi penyakit hati.

    ReplyDelete
  8. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Risau berpotensi ada dan mengada dalam diri seseorang karena manusia dibekali oleh akal dan pikiran yang membedakan diri manusia dengan makhluk Tuhan lainnya. Akan tetapi risau dapat ditekan keberadaannya dengan ikhlas, bersyukur, tawakal kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  9. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Risau hati akan terus membayangi setiap manusia selagi manusia tersebut masih memiliki perasaan. Risau datang dan pergi tanpa seijin dari pemilik hati. Itulah salah satu kemampuan risau.

    ReplyDelete
  10. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Ketika manusia tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika berdoa sekalipun maka hati manusia bisa menjadi risau. Maka, sebenar-benar hal yang dapat dilakukan oleh manusia untuk menekan risau hati adalah bersyukur dan ikhlas memperoleh ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  11. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Risau sakit datang dan pergi tanpa seijin yang memiliki raga. Sakit sesungguhnya adalah nikmat yang diberikan oleh Tuhan kepada kita, nikmat untuk meningkatkan rasa syukur dan ikhlas kita, dan nikmat untuk menyadarkan diri kita sendiri bahwa kita tidak bisa melakukan apapun tanpa kehendak-Nya.

    ReplyDelete
  12. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Maka sebenar-benar hal yang dapat dilakukan oleh manusia untuk menekan risau sakit adalah dengan berikhtiar menjaga kesehatan, mensyukuri dan ikhlas menerima segala keputuan Allah SWT.

    ReplyDelete
  13. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Risau miskin datang dan pergi tanpa seijin dari insan yang memiliki raga dan jiwa. Risau miskin akan muncul pada diri seseorang yang belum menguatkan rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  14. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Saat rasa syukur itu telah terbangun maka seperti apapun keadaan dan kenyataan yang ada dihadapannya akan selalu diterima dengan lapang dada dan tentu masih melihat nilai-nilai lebih dari nikmat yang diterimanya. Oleh karena itu untuk menekan risau miskin dapat diupayakan dengan meningkatkan rasa syukur kita kepada Allah SWT atas segala sesuatu yang diberikan-Nya kepada kita.

    ReplyDelete
  15. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Risau lupa datang dan pergi tanpa seijinmu. Risau lupa akan membayangi orang-orang yang terbelenggu oleh mitos-mitos dalam ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  16. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Lupa akan terkikis oleh bergeraknya mitos ke pintu logos. Ilmu-ilmu yang telah diterima tidak hanya terdiam dan mengendap dalam pikiran tetapi terus dikembangkan dan dibangun, maka lupa akan sedikit berkurang karena kita yang mengkontruksi ilmu dalam ruang dan waktu kita sendiri.

    ReplyDelete
  17. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Menurut saya, khtiar dan doa adalah kunci untuk membelenggu risau lupa yang hinggap dalam hati maupun pikiran manusia.

    ReplyDelete
  18. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Risau pekerjaan datang dan pergi tanpa seijin dari manusia. Risau pekerjaan ini akan banyak menghinggapi pikiran dari alumnus-alumnus baru maupun orang yang telah bekerja. Alumni yang baru saja lulus tentu mengharapkan segera memperoleh pekerjaan, dan momen-momen inilah yang menghadirkan risau pekerjaan.

    ReplyDelete
  19. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Menurut saya risau pekerjaan juga dapat diminimalisir dengan berikhtiar, doa, dan ikhlas dalam menerima segala keputusan Allah SWT tentang pekerjaan itu sendiri.

    ReplyDelete
  20. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY


    Risau tidak punya teman, datang dan pergi tanpa seijinmu. Risau ini dapat dihalau dengan berupaya untuk membuka diri dengan lingkungan sekitar. Dengan kita mampu memahami lingkungan sekitar kita, maka kita akan berupaya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut (yang didalamnya juga terdapat komunitas tertentu). Selain itu juga diupayakan untuk memperbanyak doa agar kita selalu diberikan petunjuk Tuhan YME dalam bergaul dengan orang lain.

    ReplyDelete
  21. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Risau bersifat buruk, juga sering menghinggapi hati dan pikiran manusia. Karena sayang dan cintanya kepada Tuhan yang Maha Esa, manusia sampai risau dengan apa yang telah dia lakukan termasuk dalam sifat yang buruk atau sifat yang baik.

    ReplyDelete
  22. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Manusia hanya dapat berupaya melakukan hal-hal yang baik semaksimal mungkin, dan Allah yang menentukan segalanya. Oleh karena itu tawakal kepada Allah SWT juga harus terus dilakukan.

    ReplyDelete
  23. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Risau inkompeten, tidak hanya menjadi keresahan dari diri manusia itu sendiri, dalam dunia pendidikan, risau ini juga menghinggapi pikiran dari para guru, dosen, maupun pemimpin dari institusi pendidikan. Kompeten dan tidaknya peserta didik bergantung dari arah dan tujuan pendidikan yang diselenggarakan oleh institusi pendidikan itu sendiri.

    ReplyDelete
  24. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Risau Inkompeten ditekan dengan berbagai ikhtiar yang dilakukan oleh manusia itu sendiri, upaya untuk menguasai kompetensi-kompetensi yang belum dimiliki, dan terus berdoa kepada Allah agar kompetensi yang telah dikuasai dapat dijaga dan dapat bermanfaat untuk kepentingan umat.

    ReplyDelete
  25. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Risau kematian datang dan pergi tanpa seijin manusia, risau ini dapat dihalau dengan berikhtiar melakukan amal ibadah-amal ibadah yang ditetapkan oleh Agama, dan menjauhi larangan Allah SWT, selain itu juga selalu bersyukur dan ikhlas menerima segala keputusan Allah SWT, karena keputusan-Nya lah jalan terbaik bagi setiap insan manusia.

    ReplyDelete
  26. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Maka sebaik-baik solusi menurut Orang Tua berambut putih adalah selalu berusaha atau ikhtiar dan berdoa agar ikhtiar kita itu dikabulkan. Disamping itu kita juga harus pandai-pandai bersyukur atas karunia dan nikmat yang telah dilimpahkan oleh Tuhan YME.

    ReplyDelete
  27. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Tiadalah daya dan upaya manusia itu. Maka manusia itu sesungguhnya tidaklah mampu menghilangkan segala kerisauannya, kecuali atas pertolongan Nya. Amien.

    ReplyDelete


Note: Only a member of this blog may post a comment.