Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 15: Melawan Hawa Nafsu




Oleh Marsigit

Cantraka:

Wahai Sang Bagawat Gugah, busana, tampilan dan bicaramu tidak seperti biasanya, walaupun aku masih melihat bahwa engkau adalah Sang bagawat Selatan guruku itu. Aku melihat sekarang engkau lebih percaya diri, lebih bijaksana dan lebih banyak pengetahuanmu.

Bagawat Gugah:
Wahai Cantraka ...manusia itu diwajibkan berikhtiar selama hidupnya, seraya berdoa terus menerus. Itulah sebenar-benar dimensi kehidupan.

Cantraka:
Oh kalau begitu aku sangat senang karena guruku juga selalu belajar, sehingga tidak akan kehabisan ilmu dalam mendidik para Cantraka.

Bagawat Gugah:
Jangan dikira orang mau meninggal juga tidak perlu belajar. Setidaknya dia perlu belajar bagaimana meninggal dunia secara khusnul chotimah. Jika dia sudah tidak bisa lagi berdoa atau doanya tidak lancar, maka orang yang masih sehatlah yang menuntun dan mengajarinya.

Cantraka:
Ooo..begitu. Baiklah Sang Bagawat..bolehkah aku ingin mengajukan pertanyaan kepadamu? Sebetulnya apakah pokok persoalan yang engkau hadapi itu sehingga engkau baru-baru ini tampak kacau, gelisah, poligami, beristeri baru Sang Dewi Madream...dst..dst? Apakah pelajaran yang dapat aku petik dari peristiwa yang menimpa pada dirimu itu?

Bagawat Gugah:
Itulah sebenar-benar permainan metafisik spiritual transenden.

Cantraka:
Ah...lagi-lagi engkau mulai berfilsafat. Apa yang engkau maksud sebagai permainan metafisik spiritual transenden?

Bagawat Gugah:
Metafisik spiritual transenden itu suatu keadaan interaktif antara ikhtiar dan takdir, dunia akhirat, amal dan ilmu dalam bingkau doa.

Cantraka:
Wahah...penjelasanmu itu membuat aku lebih bingung lagi. Dapatkah engkau memberikan salah satu contohnya?

Bagawat Gugah:
Ciri-ciri dari permainan metafisik spiritual transenden adalah munculnya fatamorgana pada setiap diri orang dan pada semua orang yang terlibat.

Cantraka:
Menurut banyak orang, banyak versi menggambarkan perihal persoalanmu itu. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa persoalanmu itu persoalan nafsu, persoalan kuasa, persoalan ilmu, persoalan cinta, persoalan doa, persoalan poligami, persoalan ikhlas, persoalan ikhtiar, persoalan amal, persoalan, dunia, persoalan akhirat, dan persoalan takdir.

Bagawat Gugah:
Semua yang ada dan yang mungkin ada adalah semua uraiannya jika kalimatmu itu engkau teruskan.

Cantraka:
Baik saya akan tanyakan satu perkara saja. Apaah persoalanmu itu juga berkaitan dengan Nafsu? Jika memang berkaitan dengan Nafsu, apakah kemudian yang disebut dengan Nafsu itu?

Bagawat Gugah:
Silahkan baca elegi Serial Dewi Madream seluruhnya, kemudian simpulkan apakah persoalanku itu berkait dengan Nafsu atau tidak. Berbicara perihal Nafsu, maka tidak adalah penghalang yang paling besar yang menghalangi jalan menuju Allah, selain hawa Nafsi itu.

Cantraka:
Mohon dijelaskan lebih lanjut perihal Hawa Nafsu itu?

Bagawat Gugah:
Hawa Nafsu itu meliputi keinginan-keinginan diri seseorang. Setiap manusia mempunyai potensi untuk mencapai keinginan-keinginan. Banyak keingainan manusia meiputi keinginan naluriah, keinginan jasmani, keinginan sekusualitas, keinginan memiliki, keinginan cinta, keinginan keindahan, keinginan pikir, keinginan hati, keinginan intrinsik, keinginan ekstrinsik, keinginan sistemik, keinginan motivatif, keinginan, harga diri, keinginan lahir, keinginan bathin, keinginan aktualisasi diri, keinginan penghargaan, keinginan diri, keinginan keluarga, keinginan kelompok, keinginann langsung, keinginan tak langsung, keinginan bawah sadar, keinginan sadar, keinginan tahta, keinginan kuasa, keinginan harta, keinginan baik, keinginan buruk, keinginan doa, keinginan ikhlas, keinginan senang, keinginan makan-minum, keinginan diperhatikan, keinginan diistimewakan, keinginan dicintai, keinginan memberi, keinginan dianggap penting, dsb.

Cantraka:
Wah...wah...ternyata yang namanya Hawa Nafsu itu banyak sekali. Apakah dari sekian banyak keinginan itu dapat diringkas saja?

Bagawat Gugah:
Pertama, apa yang disebut sebagai Hawa Nafsu Kebinatangan. Hawa Nafsu Kebinatangan inilah yang mendorong manusia untuk memperoleh keinginan lahiriah dan kenikmatan seksualitas. Kedua, yang disebut sebagai Hawa Nafsu Binatang Buas. Hawa Nafsu Binatang Buas inilah yang menyebabkan manusia suka menyerang orang lain, membenci orang lain, menghancurkan orang lain, iri, dengki, bahkil, dst. Ketiga, yang disebut Nafsu Syaitoniah. Nafsu Syaitoniah inilah yang mendorong manusia untuk membenarkan semua kejahatan yang dia lakukan. Nafsu Syaitoniah ini berusaha mencari dalih untuk memaafkan perbuatan-perbuatan dosa manusia.

Cantraka:
Wah..bagaimana jika semua Nafsu itu kok jelek. Apakah saya tidak boleh mempunyai Nafsu?

Bagawat Gugah:
Semua Nafsu yang telah aku jelaskan itu adalah nafsu-nafsu yang bersifat buruk. Ketahuilah bahwa Allah SWT telah menganugerahkan kepada manusia Quwattun Rabbaniyyah, yaitu hawa nafsu dari unsur-unsurnya malaikat dan unsur-unsurnya Tuhan. Nafsu Quwattun Rabbaniyah inilah yang berdomisili di dalam hati ikhlas dan pikiran kritis setiap manusia. Maka ikhlasnya hatimu dan kritisnya pikirmu itu dapat mengendalikan semua Nafsu-nafsu Burukmu.

Cantraka:
Bagaimanakah bisa Quwattun Rabbaniyah itu mampu mengendalikan dan mengalahkan Nafsu Binatang, Nafsu Binatang Buas dan Nafsu Syaitoniah?

Bagawat:
Tetapkanlah ikhlas hatimu dan akal sehat diatas semua Nafsu-nafsi buruk itu, niscaya jika Allah SWT mengabulkan maka engkau dapat megendalikannya. Amiin.

3 comments:

  1. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Ada dua pelajaran yang dapat saya petik dari bacaan di atas.
    • Umur bukan batasan dalam menuntut ilmu, belajar tidak memandang usia. Sebagaimana istilah yang seringkali kita dengar “ belajar sepanjang hayat”.
    • Pengetahuan tentang hawa nafsu, ada nafsu buruk dan ada nafsu quwattun rabbaniyyah. Hawa nafsu ini berawal dari “keinginan”. Sebagai manusia yang pada hakikatnya kita dipenuhi dengan banyak keinginan, hanya saja tinggal kita memilah milih keinginan mana yang harus kita ikuti. Tetapkan hati yang ikhlas adalah kuncinya.
    Terima kasih untuk postingan bapak yang begitu bermanfaat.

    ReplyDelete
  2. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B 2017

    Pembahasan ini sungguh memotivasi saya untuk terus belajar. Semakin tinggi ilmu seseorang juga masih dituntut untuk terus belajar. Banyak hal-hal yang dapat digali. Bagian ini sangat menarik bagi saya dan mengingatkan saya bahwa di atas langit masih ada langit. Haus dengan ilmu pengetahuan itu penting. Ketika paham dengan satu pengetahuan namun tidak berhenti sampai di situ saja. Belajar dan terus belajar. Esensinya adalah kita dianjurkan untuk melakukan hal-hal yang positif agar dapat mengendalikan hal-hal yang negatif.

    ReplyDelete
  3. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A 2017

    Hawa nafsu banyak macamnya, baik maupun buruk. Manusia yang kuat adalah pribadi yang dapat melawan hawa nafsu kebinatangannya. untuk mengatasi nafsu jelek tersebut maka gunakanlah akal yang telah diberikan Allah SWT. kepada kita. Untuk memenuhi semua keinginannya maka sudah sepatutnya kita dengan bersungguh-sungguh dan hati yang ikhlas untuk dalam mencapainya.

    ReplyDelete