Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 41: Balas Dendam Syaitan Terhadap Matematikawan




Menurut saya Elegi yang satu ini tidak kalah pentingnya untuk dibaca, untuk mengimbangi penjelajahan filsafat kita. Untuk itu sengaja saya postingkan lagi di bagian teratas. Selamat membaca.

Oleh Marsigit

Syaitan:
Hemmm...jangan dikira aku lari dan pergi ...berarti aku sudah kalah dan menyerah. Inilah kesempatan yang aku tunggu-tunggu. Kelihatannya sang Matematikawan akan menjalankan ibadah. Tau rasa lho. Wahai Matematikawan yang telah berhasil mengusirku. Jangan panggil aku Syaitan jika aku tidak bisa selalu menggodamu. Disaat engkau akan beribadah inilah aku akan buktikan kemampuanku bahwa aku bisa menyusupi dirimu. Aku tidak hanya bisa menyusupi badanmu tetapi aku akan menyusup hingga pikiranmu.


Matematikawan:
Tiadalah semua urusan matematikaku dapat aku selesaikan sepenuhnya. Padahal belumlah seberapa aku mampu memecahkan persoalan-persoalan matematika. Walau demikian aku merasa sudah saatnya aku beribadah, karena itu adalah kewajibanku sebagai sorang yang beriman.

Syaitan:
Wahai matematikawan...ternyata engkau tidak menyadari bahwa aku sudah berada di dalam pikiranmu. Dengarkanlah bisikanku pelan-pelan....wahai matematikawan. Ibadah itu urusan gampang. Bukankah akan engkau pertaruhkan namamu jika engkau belum mampu menyelesaikan matematika-matematika itu?

Matematikawan:
Iya ya...memang benar. Itulah sebenar-benar ambisiku...yaitu ingin menjadi matematikawan hebat. Tetapi hatiku mengatakan bahwa saatnya juga aku harus melantunkan doa-doaku.

Syaitan:
Dengarkanlah bisikanku pelan-pelan...wahai matematikawan...itulah juga tantanganmu bahwa engkau juga harus mampu memecahkan misteri doa? Bukankah engkau sudah terkenal mengusir syaitan dengan kemampuan matematikamu. Sekarang buktikan bahwa engkau pun mampu mengungkap misteri doa?

Matematikawan:
Hemmm...benar juga apa bisikan pikiranku. Apa ya yang disebut dengan doa? Mengapa mesti manusia itu berdoa? Bagaimana manusia itu dapat berdoa?

Syaitan:
Uhihhh...aku sedikit berhasil nih. Akan aku beri sedikit keraguan dalam pikiran dan hatimu wahai matematikawan.

Matematikawan:
Tetapi aku sedikit ragu-ragu...apakah aku mampu menggunakan matematikaku untuk memecahkan misteri doa itu?

Syaitan:
Uhihhh...lumayan...sudah mulai ragu-ragu kamu. Akan aku bisikan lagi dengarkanlah...bukankah engkau ingin menjadi matematikawan sejati? Maka buktikanlah bahwa dengan matematikamu itu engkau mampu memecahkan segala misteri dunia dan akhirat?

Matematikawan:
Hemmm...aku sudah kondang terkenal mampu mengusir Syaitan dengan matematikaku. Bagaimana ya aku mampu memecahkan misteri doa?

Syaitan:
Ya...gunakan saja sifat-sifat matematikamu dan logikamu semaksimal mungkin...misalnya dengan bertanya mengapa doa harus diucapkan tiga kali atau lima kali atau tujuh kali atau duapuluh tujuh kali atau seribu kali? Gitu aja kok repot.

Matematikawan:
Lho lha iya...benar juga bisikan pikiranku itu. Apa alasannya doa harus diucapkan tiga kali atau lima kali atau tujuh kali atau duapuluh tujuh kali atau seribu kali? Hemm...terimakasih bisikan pikiranku ...engkau telah menyadarkan akan tantangan matematiku untuk memecahkan misteri doa. Apa bedanya doa sedikit dan doa banyak? Tetapi jika aku terlalu asyik dan sibuk mengitung banyaknya doa...maka nanti saya jadi nggak sempat berdoa?

Syaitan:
Oh...gampang...masalah sepele...Tuhan kan maha pemurah dan pemaaf. Doa itu kan bisa diringkas. Tidaklah berbeda berdoa banyak dan sedikit itu. Tidaklah berbeda doa diucapkan tiga kali atau lima kali atau tujuh kali atau duapuluh tujuh kali atau seribu kali.

Matematikawan:
Hai bisikan yang ada dalam pikiranku...jika tidaklah berbeda doa diucapkan tiga kali atau lima kali atau tujuh kali atau duapuluh tujuh kali atau seribu kali...maka apa bedanya antara berdoa dan tak berdoa?

Syaitan:
Lho...katanya engkau mengaku matematikawan hebat. Jawab dulu dhong sebelum aku beri solusinya?

Matematikawan:
Wah...agak sulit.

Syaitan:
Ah...masa iya sulit? Bukankah engkau juga mengaku sebagai matematikawan yang mempunyai banyak pengalaman hidup, banyak metode ilmiah, metode kuantitatif maupun empiris. Gunakanlah itu semua untuk menjawab perbedaan antara berdoa dan tidak berdoa?

Matematikawan:
Hemmm...aku ...cerdas juga wahai bisikan pikiran. Aku memang agak sulit menemukan bukti yang signifikan bahwa berdoa dan tidak berdoa itu berbeda.

Syaitan:
Lha...ya iya ta? Bukankah dalam matematika engkau juga mempunyai cara pembuktian terbalik?

Matematikawan:
Wah..lha ini..yang aku cari...artinya aku justeru menemukan banyak orang-orang yang tidak berdoa itu hidupnya sukses. Sedangkan aku juga banyak menemukan bahwa orang yang banyak berdoa malah hidupnya tidak sukses.

Syaitan:
Uhiiihhiiihhh....mulai kena engkau. Akan aku tunjukkan kelihaianku bahwa aku mampu menggodamu dengan kekuatan matematikamu. Jangan mentang-mentang engkau menuduhku sombong. Aku juga akan menggunakan kesombonganmu yaitu kebanggaanmu merasa sebagai matematikawan hebat...untuk menjerumuskanmu. Terus dengarkanlah bisikanku ini...

Matematikawan:
Lho...hatika kok agak merasa gelisah setelah aku mempersoalkan doa?

Syaitan:
Tak usah gelisah...mantapkan saja logikamu itu. Ingat nama baikmu akan engkau pertaruhkan jika engkau tidak mampu membedakan tidak berdoa dengan berdoa!

Matematikawan:
Baiklah bisikan pikiranku...berdasarkan pengalaman empirisku maka aku sulit menemukan perbedaan yang signifikan antara tidak berdoa dan berdoa. Maka aku menyimpulkan bahwa tidak berdoa dengan berdoa itu pada hakekatnya sama saja.

Syaitan:
Horeeeee....horeeeeee...horeeeeee....

Bagawat:
Oh...Matematikawan....istigfarlah...istigfarlah...mohon ampunlah ...mohon ampunlah kepada Allah SWT!

Matematikawan:
Lho...ada apa gerangan sang Bagawat menghampiriku?

Bagawat:
Oh...waspadalah sang Matematikawan! Hati-hati dengan pengembaraan pikiranmu itu? Syaitan sangatlah lembut dalam menggodamu.

Matematikawan:
Wahai sang Bagawat...janganlah engkau mengukur-ukur kemampuanku ini. Bukankah engkau mengetahui aku itu sudah terkenal sebagai matematikawan ulung? Silahkan engkau bertanya tentang matematika yang tinggi sekalipun maka aku akan berusaha menjawabnya. Jangankan urusan matematika...urusan dunia, akhirat dan urusan doa saja sudah aku pecahkan misterinya.

Bagawat:
Oh...Tuhanku maafkanlah diriku, maafkanlah guru-guruku, maafkanlah murid-muridku ..maafkanlah Matematikawan ini....atas segala dosa dan kelancangannya. Atas segala kekufurannya, atas segala kesombongannya sehingga mereka mudah digelincirkan oleh Syaitan yang terkutuk itu.

Matematikawan:
Wahai sang Bagawat ...engkau komat-kamit itu sedang melantunkan apa? Silahkan tantang aku dengan pertanyaan-pertanyaanmu?

Bagawat:
Baiklah sang Matematikawan...karena ini adalah permintaanmu maka aku hanya ingin bertanya satu hal saja. Pertanyaanku adalah “Biasa Tidak Biasa” itu Biasa atau Tidak Biasa?

Matematikawan:
Woh...hah pertanyaan sepele kayak gitu kok ditanyakan. Ya jelas Biasa.

Bagawat:
Biasa ngapain?

Matematikawan:
Ya biasa Tidak Biasa.

Bagawat:
Artinya?

Matematikawan:
Artinya...ya ...entar...artinya ya....oh ...lha ...kok....lho gimana ini...artinya ya....lha kok...lha...

Bagawat:
Wahai Matematikawan...ayo jawablah dengan tegas apakah jawabanmu itu?

Matematikawan:
Artinya...ya ...entar...artinya ya....oh ...lha ...kok....lho gimana ini...artinya ya....lha kok...lha...

Bagawat:
Wahai Matematikawan...ayo jawablah dengan tegas apakah jawabanmu itu?

Matematikawan:
Biasa Tidak Biasa itu artinya ya Tidak Biasa.

Bagawat:
Ehem...ehem...

Matematikawan:
Oh...oh ...sang Bagawat kenapa telah terjadi kontradiktif dalam jawabanku itu. Oh maafkanlah diriku. Ternyata pikiranku tidak mampu menjawab pertanyaanmu yang sepele itu. Malu...malu... aku malu...Oh..Tuhanku ampunilah dosaku.

Bagawat:
Amiinnn...amin...amin...

Matematikawan:
Lho kenapa amiin... oh bingung aku ...kenapa aku juga tadi telah berdoa? Oh sang bagawat tolonglah diriku. Aku sudah menyerah...aku bertaubat...tolonglah aku.

Bagawat:
Itulah sebenar-benar yang terjadi bahwa dirimu dikarenakan kesombonganmu maka Syaitan telah menyusup ke dalam pikiranmu. Syaitan berusaha mempengaruhi pikiranmu agar seakan-akan engkau mampu memikirkan segala yang ada dan yang mungkin ada baik di dunia maupun di akhirat menggunakan matematikamu. Padahal kenyataannya aku telah membuktikan bahwa pikiranmu itu bersifat terbatas walaupun engkau telah memperoleh julukan matematika ulung sekalipun. Sungguh bahwa tidak berdoa itu sangatlah berbeda dengan berdoa. Maka berdoalah dan mohon ampunlah kehadlirat Allah SWT. Semoga Allah SWT selalu membimbing dan meridloi para matematikawan.

Amiin

9 comments:

  1. Naja Nusaibah
    13301241042
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Kesombongan adalah hal yang telah menjerumuskan syaitan sehingga ia diusir dari syurga. Kesombongan adalah dosa pertama kali yang terjadi di muka bumiini. Kesombongan itu juga yang dapat membuat kita mengikuti jalan syaitan. Oleh karena itu berhati-hatilah kita agar terhindar dari kesombongan. Jangan sampai kita merasa denagn ilmu yang kita miliki mampu memikirkan segala hal termasuk doa.

    ReplyDelete
  2. Naja Nusaibah
    13301241042
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Urusan dunia dan akhirat itu berbeda. Artinya kita mampu memikirkan segala urusan di dunia ini menggunakan logika yang ada di pikiran kita. Tetapi kita tidak boleh sombong dan ingin memikirkan urusan akhirat dengan logika juga. Pikiran dan logika kita tidak akan sanggup untuk memikirkannya, sebaliknya kita akan terjerumus oleh godaan syaitan dan lupa untuk beribadah.

    ReplyDelete
  3. Syaitan itu sangatlah lembut dalam menggoda. Manusia sering tidak sadar bahwa ia termakan godan syaitan karena kesombongannya. Syaitan juga memiliki banyak cara untuk enggoda manusia. Ia akan menggoda setiap manusia yang hendak beribadah dengan seribu cara yang ada. Bahkan jika seribu cara itu gagal ada seribu cara lainnya. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan sifat sombong yang ada pada diri manusia.Naja Nusaibah
    13301241042
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    ReplyDelete
  4. Naja Nusaibah
    13301241042
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Jika seseorang merasa ilmunya telah banyak, derajatnya telah tinggi, dan merasa populer, maka orang tersebut akan merasa sombong dan menganggap remeh doa. Ia menjadi malas beribadah karena merasa dirinya telah hebat. Ia merasa bahwa berdoa dan tidak berdoa itu sama saja. Tentunya hal ini adalah kesalahan yang sangat besar. Karena manusia tidak hanya hidup di dunia saja melainkan alam akhirat menunggu kita kelak. Sebaliknya, hidup di dunia ini amatlah singkat waktunya. Maka janganlah kita sombong sehingga termakan godaan syaitan.

    ReplyDelete
  5. Ida Siti Mahsunah
    13301244004
    Pendidikan Matematika I 2013

    Syaitan, sifatnya dan pekerjaannya adalah menggoda manusia. Ia menggoda manusia dari berbagai penjuru. Godaannya bersifat melalaikan dan melenakan. Godaannya menawarkan kenikmatan yang fana. Membawa manusia menuju lubang kegelapan.

    ReplyDelete
  6. Ida Siti Mahsunah
    13301244004
    Pendidikan Matematika I 2013

    Keraguan adalah sifat syaitan. Ia bisikkan keraguan itu pada manusia saat manusia akan melakukan amal dan ibadah. Saat manusia akan berbuat kebaikan, syaitan akan membisikkan keraguan adalam hati dan pikiran manusia. Sehingga yang awalnya manusia yakin bisa menjadi ragu. Dan ketika manusia mulai ragu, berbahagialah syaitan.

    ReplyDelete
  7. Ida Siti Mahsunah
    13301244004
    Pendidikan Matematika I 2013

    Tidak semua hal itu dapat engkau pikirkan dengan logikamu. Karena pikiranmu itu ada batasannya. Tidak semua dapat engkau pikirkan. Jika Allah memerintahkan suatu hal yang menurutmu tidak sesuai dengan logikamu, bukan berarti perintah itu salah. Melainkan itu menunjukkan bahwa logika pikiranmu mempunyai batasan.

    ReplyDelete
  8. Ida Siti Mahsunah
    13301244004
    Pendidikan Matematika I 2013

    Janganlah ada kesombongan dalam diri ini. Ketika engkau adalah seorang berilmu, kesombongan yang ada dalam dirimu merupakan celah syaitan untuk menyusup ke dalam pikiranmu. Ia berusaha mempengaruhi pikiranmu agara seakan-akan engkau mampu memikirkan segala yang ada dan yang mungkin ada. Padahal ketahuilah, bahwa pikiranmu itu terbatas, walaupun engkau adalah seorang ilmuwan.

    ReplyDelete
  9. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Dalam setiap langkah, baik pikiran, ucapan maupun perbuatan manusia ternyata pasti ada 2 sisi yang saling berlawanan selalu menyertai sebelum dilaksanakan. Saat kita mau berpikir tentang sesuatu, akan mengucapkan sesuatu atau akan melakukan sesuatu perbuatan, maka di satu sisi ada bisikan yang sifatnya baik dan mendukung ( bila apa yang terpikir itu baik ) serta menolak ( apabila yang terpikir itu buruk ). Di sisi yang lain ada bisikan yang sifatnya jelek dan menolak ( bila yang terpikir itu baik ) dan mendukung ( bila yang terpikir itu sifatnya jelek ). Maka kita harus bisa memilah - milah, mana bisikan yang baik dan yang seharusnya kita lakukan. Jangan sampai kita salah memilih yang buruk dan tidak seharusnya kita lakukan. Kesalahan dalam memilih akan bermuara pada konsekuensi yang tidak kita inginkan.

    ReplyDelete


Note: Only a member of this blog may post a comment.