Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 41: Balas Dendam Syaitan Terhadap Matematikawan




Menurut saya Elegi yang satu ini tidak kalah pentingnya untuk dibaca, untuk mengimbangi penjelajahan filsafat kita. Untuk itu sengaja saya postingkan lagi di bagian teratas. Selamat membaca.

Oleh Marsigit

Syaitan:
Hemmm...jangan dikira aku lari dan pergi ...berarti aku sudah kalah dan menyerah. Inilah kesempatan yang aku tunggu-tunggu. Kelihatannya sang Matematikawan akan menjalankan ibadah. Tau rasa lho. Wahai Matematikawan yang telah berhasil mengusirku. Jangan panggil aku Syaitan jika aku tidak bisa selalu menggodamu. Disaat engkau akan beribadah inilah aku akan buktikan kemampuanku bahwa aku bisa menyusupi dirimu. Aku tidak hanya bisa menyusupi badanmu tetapi aku akan menyusup hingga pikiranmu.


Matematikawan:
Tiadalah semua urusan matematikaku dapat aku selesaikan sepenuhnya. Padahal belumlah seberapa aku mampu memecahkan persoalan-persoalan matematika. Walau demikian aku merasa sudah saatnya aku beribadah, karena itu adalah kewajibanku sebagai sorang yang beriman.

Syaitan:
Wahai matematikawan...ternyata engkau tidak menyadari bahwa aku sudah berada di dalam pikiranmu. Dengarkanlah bisikanku pelan-pelan....wahai matematikawan. Ibadah itu urusan gampang. Bukankah akan engkau pertaruhkan namamu jika engkau belum mampu menyelesaikan matematika-matematika itu?

Matematikawan:
Iya ya...memang benar. Itulah sebenar-benar ambisiku...yaitu ingin menjadi matematikawan hebat. Tetapi hatiku mengatakan bahwa saatnya juga aku harus melantunkan doa-doaku.

Syaitan:
Dengarkanlah bisikanku pelan-pelan...wahai matematikawan...itulah juga tantanganmu bahwa engkau juga harus mampu memecahkan misteri doa? Bukankah engkau sudah terkenal mengusir syaitan dengan kemampuan matematikamu. Sekarang buktikan bahwa engkau pun mampu mengungkap misteri doa?

Matematikawan:
Hemmm...benar juga apa bisikan pikiranku. Apa ya yang disebut dengan doa? Mengapa mesti manusia itu berdoa? Bagaimana manusia itu dapat berdoa?

Syaitan:
Uhihhh...aku sedikit berhasil nih. Akan aku beri sedikit keraguan dalam pikiran dan hatimu wahai matematikawan.

Matematikawan:
Tetapi aku sedikit ragu-ragu...apakah aku mampu menggunakan matematikaku untuk memecahkan misteri doa itu?

Syaitan:
Uhihhh...lumayan...sudah mulai ragu-ragu kamu. Akan aku bisikan lagi dengarkanlah...bukankah engkau ingin menjadi matematikawan sejati? Maka buktikanlah bahwa dengan matematikamu itu engkau mampu memecahkan segala misteri dunia dan akhirat?

Matematikawan:
Hemmm...aku sudah kondang terkenal mampu mengusir Syaitan dengan matematikaku. Bagaimana ya aku mampu memecahkan misteri doa?

Syaitan:
Ya...gunakan saja sifat-sifat matematikamu dan logikamu semaksimal mungkin...misalnya dengan bertanya mengapa doa harus diucapkan tiga kali atau lima kali atau tujuh kali atau duapuluh tujuh kali atau seribu kali? Gitu aja kok repot.

Matematikawan:
Lho lha iya...benar juga bisikan pikiranku itu. Apa alasannya doa harus diucapkan tiga kali atau lima kali atau tujuh kali atau duapuluh tujuh kali atau seribu kali? Hemm...terimakasih bisikan pikiranku ...engkau telah menyadarkan akan tantangan matematiku untuk memecahkan misteri doa. Apa bedanya doa sedikit dan doa banyak? Tetapi jika aku terlalu asyik dan sibuk mengitung banyaknya doa...maka nanti saya jadi nggak sempat berdoa?

Syaitan:
Oh...gampang...masalah sepele...Tuhan kan maha pemurah dan pemaaf. Doa itu kan bisa diringkas. Tidaklah berbeda berdoa banyak dan sedikit itu. Tidaklah berbeda doa diucapkan tiga kali atau lima kali atau tujuh kali atau duapuluh tujuh kali atau seribu kali.

Matematikawan:
Hai bisikan yang ada dalam pikiranku...jika tidaklah berbeda doa diucapkan tiga kali atau lima kali atau tujuh kali atau duapuluh tujuh kali atau seribu kali...maka apa bedanya antara berdoa dan tak berdoa?

Syaitan:
Lho...katanya engkau mengaku matematikawan hebat. Jawab dulu dhong sebelum aku beri solusinya?

Matematikawan:
Wah...agak sulit.

Syaitan:
Ah...masa iya sulit? Bukankah engkau juga mengaku sebagai matematikawan yang mempunyai banyak pengalaman hidup, banyak metode ilmiah, metode kuantitatif maupun empiris. Gunakanlah itu semua untuk menjawab perbedaan antara berdoa dan tidak berdoa?

Matematikawan:
Hemmm...aku ...cerdas juga wahai bisikan pikiran. Aku memang agak sulit menemukan bukti yang signifikan bahwa berdoa dan tidak berdoa itu berbeda.

Syaitan:
Lha...ya iya ta? Bukankah dalam matematika engkau juga mempunyai cara pembuktian terbalik?

Matematikawan:
Wah..lha ini..yang aku cari...artinya aku justeru menemukan banyak orang-orang yang tidak berdoa itu hidupnya sukses. Sedangkan aku juga banyak menemukan bahwa orang yang banyak berdoa malah hidupnya tidak sukses.

Syaitan:
Uhiiihhiiihhh....mulai kena engkau. Akan aku tunjukkan kelihaianku bahwa aku mampu menggodamu dengan kekuatan matematikamu. Jangan mentang-mentang engkau menuduhku sombong. Aku juga akan menggunakan kesombonganmu yaitu kebanggaanmu merasa sebagai matematikawan hebat...untuk menjerumuskanmu. Terus dengarkanlah bisikanku ini...

Matematikawan:
Lho...hatika kok agak merasa gelisah setelah aku mempersoalkan doa?

Syaitan:
Tak usah gelisah...mantapkan saja logikamu itu. Ingat nama baikmu akan engkau pertaruhkan jika engkau tidak mampu membedakan tidak berdoa dengan berdoa!

Matematikawan:
Baiklah bisikan pikiranku...berdasarkan pengalaman empirisku maka aku sulit menemukan perbedaan yang signifikan antara tidak berdoa dan berdoa. Maka aku menyimpulkan bahwa tidak berdoa dengan berdoa itu pada hakekatnya sama saja.

Syaitan:
Horeeeee....horeeeeee...horeeeeee....

Bagawat:
Oh...Matematikawan....istigfarlah...istigfarlah...mohon ampunlah ...mohon ampunlah kepada Allah SWT!

Matematikawan:
Lho...ada apa gerangan sang Bagawat menghampiriku?

Bagawat:
Oh...waspadalah sang Matematikawan! Hati-hati dengan pengembaraan pikiranmu itu? Syaitan sangatlah lembut dalam menggodamu.

Matematikawan:
Wahai sang Bagawat...janganlah engkau mengukur-ukur kemampuanku ini. Bukankah engkau mengetahui aku itu sudah terkenal sebagai matematikawan ulung? Silahkan engkau bertanya tentang matematika yang tinggi sekalipun maka aku akan berusaha menjawabnya. Jangankan urusan matematika...urusan dunia, akhirat dan urusan doa saja sudah aku pecahkan misterinya.

Bagawat:
Oh...Tuhanku maafkanlah diriku, maafkanlah guru-guruku, maafkanlah murid-muridku ..maafkanlah Matematikawan ini....atas segala dosa dan kelancangannya. Atas segala kekufurannya, atas segala kesombongannya sehingga mereka mudah digelincirkan oleh Syaitan yang terkutuk itu.

Matematikawan:
Wahai sang Bagawat ...engkau komat-kamit itu sedang melantunkan apa? Silahkan tantang aku dengan pertanyaan-pertanyaanmu?

Bagawat:
Baiklah sang Matematikawan...karena ini adalah permintaanmu maka aku hanya ingin bertanya satu hal saja. Pertanyaanku adalah “Biasa Tidak Biasa” itu Biasa atau Tidak Biasa?

Matematikawan:
Woh...hah pertanyaan sepele kayak gitu kok ditanyakan. Ya jelas Biasa.

Bagawat:
Biasa ngapain?

Matematikawan:
Ya biasa Tidak Biasa.

Bagawat:
Artinya?

Matematikawan:
Artinya...ya ...entar...artinya ya....oh ...lha ...kok....lho gimana ini...artinya ya....lha kok...lha...

Bagawat:
Wahai Matematikawan...ayo jawablah dengan tegas apakah jawabanmu itu?

Matematikawan:
Artinya...ya ...entar...artinya ya....oh ...lha ...kok....lho gimana ini...artinya ya....lha kok...lha...

Bagawat:
Wahai Matematikawan...ayo jawablah dengan tegas apakah jawabanmu itu?

Matematikawan:
Biasa Tidak Biasa itu artinya ya Tidak Biasa.

Bagawat:
Ehem...ehem...

Matematikawan:
Oh...oh ...sang Bagawat kenapa telah terjadi kontradiktif dalam jawabanku itu. Oh maafkanlah diriku. Ternyata pikiranku tidak mampu menjawab pertanyaanmu yang sepele itu. Malu...malu... aku malu...Oh..Tuhanku ampunilah dosaku.

Bagawat:
Amiinnn...amin...amin...

Matematikawan:
Lho kenapa amiin... oh bingung aku ...kenapa aku juga tadi telah berdoa? Oh sang bagawat tolonglah diriku. Aku sudah menyerah...aku bertaubat...tolonglah aku.

Bagawat:
Itulah sebenar-benar yang terjadi bahwa dirimu dikarenakan kesombonganmu maka Syaitan telah menyusup ke dalam pikiranmu. Syaitan berusaha mempengaruhi pikiranmu agar seakan-akan engkau mampu memikirkan segala yang ada dan yang mungkin ada baik di dunia maupun di akhirat menggunakan matematikamu. Padahal kenyataannya aku telah membuktikan bahwa pikiranmu itu bersifat terbatas walaupun engkau telah memperoleh julukan matematika ulung sekalipun. Sungguh bahwa tidak berdoa itu sangatlah berbeda dengan berdoa. Maka berdoalah dan mohon ampunlah kehadlirat Allah SWT. Semoga Allah SWT selalu membimbing dan meridloi para matematikawan.

Amiin

44 comments:

  1. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Elegi ini mengajarkan bahwa setinggi-tingginya ilmu yang kita miliki tidak menjamin syaitan menjauh dari kehidupan kita. Justru malah sebaliknya semakin tinggi ilmu yang kita miliki semakim banyak godaan yang akan menjatuhkan kita. Oleh karena itu, jangan sampai kita meninggalkan atau menjauhkan diri kita dari Allah yaitu dengan meninggalkan doa. Sebab doa merupakan salah satu alat komunikasi kepada Tuhan. Selain itu, kita harus selalu bersyukur dengan keadaan atau posisi yang telah kita capai atau miliki.

    ReplyDelete
  2. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Syaitan memang selalu menggoda manusia. mencari titik-titik kelemahan manusia hingga tak terasa manusia telah terjerumus dalam bujuk rayunya. Dari percakapan matematikan dan syaitan diketahui bahwa selain syaitan yang mencoba mencari kesempatan menggoda matematikawan, disisi lain matematikawan berada pada kesombongan atas segala pikirannya, sehingga dengan miudah syaitan dapat mengelabuhinya. Oleh karena itu, sedikit saja marilah kita lepaskan diri dari segala kesombongan, riya’, khibir dan teman-temannya sebagai salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta berdoa memohon ampun dan meminta pertolongan agar dijauhkan dari tipu daya syaitan karena syaitan tidak akan pernah berhenti menggoda umat manusia.Terima Kasih

    ReplyDelete
  3. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Setan itu tidak akan berhenti mengganggu manusia. Selama kita berdo’a dan berdzikir, niscaya Allah akan melindungi kita dari godaan setan. Tanpa kita sadari, dalam menuntut ilmu pun kita masih terjebak akan godaan setan. “eh bentar lagi deh, nangung” itu sering sekali kita tak sadar mengucapkannya. Bukankah ilmu yang paling tinggi adalah untuk meraih tujuan yang kekal yaitu akhiratnya Allah? sungguh setan kali ini menang merasuki hati dan pikiran kita.

    ReplyDelete
  4. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Kita sering kali melogikakan ibadah hingga kita lupa untuk beribadah disanalah tanpa kita sadari syaitan berhasil masuk kedalam diri kita. Melogikakan ibadah mungkin dapat meningkatkan keimanan kita karna dapat mengetahui keagungan Allah SWT. Namun kita harus memiliki batasan, ibadah tidak hanya sekedar logika ilmiah akan tetapi lebih dari itu, berkaitan dengan keyakinan dan keimanan yang bersifat Spiritual.

    ReplyDelete
  5. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Ilmu pengetahuan adalah anugerah dari Allah SWT yang wajib kita syukuri dan dipergunakan sebaik mungkin untuk hal-hal yang bermanfaat. Tidak ada salahnya jika seseorang menggilai ilmu matematika sehingga ingin mencurahkan waktunya untuk memperdalam ilmu. Tetapi menjalankan perintah Allah adalah hal yang berbeda yang tak bisa dicampurkan dengan hal-hal bersifat duniawi. Ketika datang masanya untuk beribadah, maka seorang presiden sekalipun harus meninggalkan segala urusannya. Matematikawan adalah manusia, dan seluruh manusia merupakan makhluk ciptaan Allah. Berdoa bagi matematikawan dan berdoa bagi buruh bangunan sama derajatnya, smua bergantung pada keikhlasan hati masing-masing. Maka tidak ada ilmu duniawi yang patut kita sandingkan dengan iman kepada Allah SWT

    ReplyDelete
  6. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Sungguh luar biasa gambaran yang diberikan di elegi ini bahwasanya orang berilmu sekalipun tidam lepas dari godaan syaiton. Beruntunglah jika masih ada orang yang selalu mengingatkan kita akan kesalahan yang kita buat. Ada hal-hal yang memang diluar batas kemampuan kita untuk berpikir, jangan sampai pikiran kita menyesatkan kita dan menjauhkan kita dari Allah Swt. Perbanyak berdoa. Hanya kepada Allah lah kita meminta pertolongan.

    ReplyDelete
  7. Menjadi seorang yang memiliki ilmu matematika, yang mana manusia terebut pastilah berfikir bahwa dia sudah sebaik-baiknya memiliki pikir matematika, sudah sangat cerdas dalam memodelkan fenomena yang ada di bumi dengan matematika, maka disinlah syeitan mengendap-endap menyusup dalam pikir akan memiliki segala ilmu tentang dunia. Marilah kita berdoa bahwa dalam setiap pikir kita akan ilmu tidak ada diboncengi oleh syaitan.


    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  8. Anisa Safitri
    1770125038
    PEP B

    Elegi kali ini bercerita tentang balas dendam syaitan terhadap matematikawan yang kala itu membuat setan seolah tidak menyeramkan baginya. Syaitan mempermainkan pikiran dan perasaan matematikawan agar ia sombong atas segala ilmu yang ia punya. Syaitan menjerumuskan matematikawan dengan mempertanyakan makna doa dan tidak berdoa. Dengan mengandalkan akalnya, sang matematikawan tidak dapat menemukan perbedaan antara orang yang berdoa dan orang yang tidak berdoa. Sebab ada orang yang berdoa terus tapi hidupnya susah tapi ada orang yang tidak berdoa tapi hidupnya susah. Karena terlalu sombong, sang matematikawan tidak menyadari bahwa sebenarnya pikirannya lah yang terbatas. Tidak semua hal bisa dijelaskan dengan logika dan akal yang terbatas ini, kita butuh iman sebagai pelengkap terbatasnya pikiran kita. Karena disadari atau tidak pikiran manusia itu hanya sedikit sekali ibarat satu tetes air diatas samudra, sehingga manusia tidak layak untuk menyombongkan diiri atas apa yang dimilikinya dari suatu pengetahuan didunia, sehingga butuh iman atau pecaya bahwa semesta ini sudah ada yang mengaturnya.

    ReplyDelete
  9. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi semua makhluk Allah swt. Bahkan jika diniatkan karena Allah swt maka dapat bernilai ibadah yang berpahala. Namun jika ilmu telah sampai pada pikiran dan kita sombong akan adanya, itulah sebenar-benar godaan syaitan yang paling nyata. Syaitan berusaha mempengaruhi pikiranmu agar seakan-akan engkau mampu memikirkan segala yang ada dan yang mungkin ada baik di dunia maupun di akhirat menggunakan ilmu yang kita punya. Maka selalu iringilah dengan berdoa di setiap kita melangkah menjemput ilmu. Karena, tiadalah guna kita sombong dan takabur atas ilmu yang kita punya, sedangkan yang patut sombong di dunia hanya Sang Pemilik Ilmu, Allah swt. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  10. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  11. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Kita semua sebagai para ahli dalam bidang masing-masing seringkali lupa siapa diri kita. Kita mengabaikan sesuatu yang menjadi rutinitas kita dan merupakan hal yang wajib. Dari sini, saya mengambil kesimpulan bahwa tidak hanya matematikawan saja yang sering lalai untuk melakukan ibadah. Namun, mereka yang ahli dalam ilmu agama juga melakukannya. Hal ini didasari oleh sifat sombong karena memiliki ilmu yang di atas rata-rata. Semoga kita semua dijauhkan dari sifat sombong atas segala ilmu yang kita berikan.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  12. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Elegi ini membahas mengenai keterbatasan manusia dalam berpikir. Namun manusia sering tidak menyadari keterbatasan tersebut sehingga mereka sering mengaitkan logikanya yang tidak sampai dan terbatas tersebut untuk memikirkan hal yang tidak akan pernah dicapai oleh manusia atas segala anugrah yang telah diberikan oleh Tuhan, seperti halnya saat manusia berbuat baik maka akan dibalas berkali lipat dari kebaikan yang telah dilakukannya. Namun saat seorang manusia sudah berniat untuk berbuat kejahatan dan dia tidak jadi melakukannya maka hal tersebut tidak akan dihitung sebagai kejahatan. Apabila dihitung secara matematis maka kedua contoh ini sama sekali berbeda dengan perhitungan matematika manusia selama ini. Namun inilah keterbatasan manusia dan membuktikan bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

    ReplyDelete
  13. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Manusia adalah makhluk yang tidak sempurna di atas kesempurnaan yang diberikan Allah SWT, namun manusia tidak pantas untuk menyombongkan diri, karena kemampuan manusia tetap terbatas, meski seorang matematikawan sekalipun. Semoga kita tetap menjadi orang yang rendah hati agar Syaitan tidak menyusup ke dalam pikiran kita dan mempengaruhi kita kepada hal-hal yang tidak baik dan akan merugikan diri kita sendirisemoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT dari godaan saitan yang terkutuk.. aamiinnn.

    ReplyDelete
  14. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Mengartikan dendam, adalah salah satu proses berfilsafat, pengembaraan pikiran. Dalam berfilsafat, kita harus menempatkan spiritualitas di atas filsafat. Dendam merupakan kekecewaan yang tak terbendung yang membuat kita ingin membalasnya pada pelakunya. Dendam adalah proses berfilsafat jika kita dapat meniadakan dendam tersebut.

    ReplyDelete
  15. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Syaitan. Itulah “idola” (musuh) manusia yang sangat nyata yang akan mengajak manusia kedalam neraka jahanam. Pada dasarnya manusia merupakan makhluk yang dianugerahi dengan penuh kelembutan, kasih sayang, kesabaran, kedamaian, keindahan, keramahan, kedermawanan, keibaan, suka menolong sesama, tetapi karena syaitan muncul maka muncul pula sifat kesombongan, dengki, iri, hasad dan penyakit hati yang lain. Syaitan atas izin Allah SWT dapat menggoda manusia melalui bnyak hal, dapat melalui hari, pikiran, raga, orang lain, saudara, bahkan keluarga. Sungguh godaan syaitan amat berat bagi orang yang tidak memiliki iman dan taqwa kepada Allah SWT di dalam dirinya. Senantiasa menghilangkan penyakit hati dan bersyukur dapat digunakan untuk melawan godaan syaitan yang terkutuk.

    ReplyDelete
  16. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Belajar matematika sangat penting. karena kita bisa menjawab banyak masalah diseluruh kami dengan matematika.
    Dalam mempelajari segala hal hendaknya tidak dengan kesombongan. Karena Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. Sebagus apapun manusia, pasti mempunyai kekurangan. Menerima kritik dan saran dari lainnya adalah benar yang dapat digunakan untuk perbaikan diri.
    Dalam menjalakan segala hal haruslah didampingi dengan doa. Berdoa adalah wujud komunikasi intens antara manusia dengan Tuhan-Nya. Berdoa adalah aspek spiritual. Berdoa adalah untuk menunjukkan bahwa mengimani sesuatu yang hakiki yang tak bisa dijelaskan dengan akal pikiran manusia secerdas apapun itu.
    Dengan keseimbangan antara belajar dan berdoa akan menghasilkan kolaborasi yang lebih pas jika dibandingkan dengan hanya belajar saja. Dengan demikian maka rasa sombong akan menghilang dan manfaat belajar akan semakin terasa.

    ReplyDelete
  17. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Syaitan ditugaskan untuk menggoda dan menghasut manusi ketika di bumi. Sebagai manusia, kta perlu untuk hati-hati dan waspada terhadap godaan syaitan melalui ibadah dan berdoa. Manusia yang berilmu pun masih saja dihasut oleh syaitan yaitu melalui hati yang riya' atau sombong, padahal sombong itu sifat yang sangat tercela. Sifat yang pertama kali menjadikan syaitan masuk neraka karena tidak mau bersujud pada nabi Adam. Intinya, dalam mencari ilmu, niat lah yang ikhlas, berdoa dan ikhtiyar yang sungguh-sungguh. JAga hati adar tidak sampai memiliki perasaan sombong.

    ReplyDelete
  18. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. dari elegi diatas, saya mengambil pelajaran bahwa jangan pernah sombong. Jangan sombong karena ilmu kita. Jangan pernah mencoba menghitung berapa pahala yang didapat dari suatu ibadah. Jangan mencoba menghitung amalan kita dengan ilmu duniawi. Mungkin ilmu duniawi kita sudah tinggi, tapi jika seseorang mengandalakan ilmu duniawi itu, dan terlalu menggaung-agungkannya bisa jadi seseorang malah akan berpaling dari Tuhannya. Ia menjadi sombong dan tidak sadar bahwa dunia ini diciptakan oleh Tuhan dan semua ilmu hakikatnya juga milik Tuhan. Bisikan setan nyata adanya, bisa jadi dalam bentuk ilmu yang terlalu tinggi.

    ReplyDelete
  19. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Kesombongan adalah salah satu penyakit hati. Setiap orang memiliki kesombongan pada tingkat yang berbeda-beda. Pengetahuan yang disertai kesombongan tidak akan memiliki manfaat. Salah satu obat dari kesombongan adalahkeimanan. Ilmu tanpa iman akan sia-sia. Percuma jika seseorang berilmu tinggi tetapi lemah imannya, ilmu yang akan digunakan tersebut tidak akan memberikan manfaat. Dan juga yang tidak boleh dilupakan adalah harus selalu bersyukur atas ilmu yang kita peroleh.

    ReplyDelete
  20. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Ketinggian sebuah ilmu tidak menjamin seseorang terjauh dari perangkap syaitan. Dengan ilmu yang tinggi dan tidak diimbangi dengan doa kepada Allah, maka syaitan semakin mudah menguasai orang tersebut. Ilmu itu sebenarnya adalah ujian dari Allah. Saat kita beranggapan bahwa orang yang tidak berdoapun banyak memiliki ilmu yang tinggi dan harta yang melimpah, lalu mengapa kita harus berdoa. Pemikiran itu, artinya kita telah terjebak dalam kesombongan. Sebenaranya yang tidak berdoa dan memiliki harta yang banyak itu bukan indikasi dia dicintai oleh Allah. Seperti misalanya saat kita memberi pengemis uang, apakah itu tandanya kita menyayanginya?. Memberi itu tidak selalu mencintai. Sehingga Ilmu dan harta bagi orang yang yang tidak berdoa itu merupakan salah satu ujian dari Allah. Terimaksih

    ReplyDelete
  21. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Tiadalah kata lelah bagi syeitan dalam menggoda manusia. Baik orang awam maupun orang berilmu, semua menjadi sasaran bagi syeitan. Sebagaimana gambaran pada elegi ini. syeitan selalu menghalangi seseorang untuk beribadah dengan mempengaruhi manusia dengan urusan dunia. Target-target, mimpi, harapan manusia dijadikan kendaraan bagi syeitan untuk membuat mereka tetap terlena sehingga menunda-nunda hingga akhirnya lupa dengan ibadah. Maka tiadalah jalan bagi manusia untuk menghindari syeitan selain meletakkan urusan akhirat pada perioritas pertama serta senantiasa selalu mohon ampunan dan petunjuk dari Tuhan YME.

    ReplyDelete
  22. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Semakin manusia memiliki drajad yang tinggi semakin gencar pula setan akan menggodanya. Termasuk perihal derajad keilmuan. Ilmu yang berkah adalah ilmu yang senantiasa menjadikan seseorang semakin dekat dengan Tuhannya, bukan justru yang semakin menjauhkan. Tantangan orang berilmu, termasuk matematikawan, adalah ambisi untuk semakin banyak belajar ilmu, disinilah setan mengambil kesempatan. Karena jika ambisi ini salah digunakan, seorang yang berilmu ini justru akan terjebak ke dalam godaan setan yang sesat. Dengan ambisinya yang besar bukan tidak mungkin ia justru akan berlaku semena-mena dan sombong jika tidak berhati-hati, ia terlalu berambisi atas tujuannya sehingga melalikan ibadahnya. Maka dari itu, dalam menuntut ilmu kita harus selalu menyertainya dengan doa-doa mohon petunjuk agar senantiasa dilindungi dan dikuatkan dari godaan setan.

    ReplyDelete
  23. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas saya belajar beberapa nilai. Yang pertama berkaitan dengan berpikir positif, mengambil hikmah walaupun itu dari suatu kejadian yang tidak baik. Misalkan dari sikap setan yang pantang menyerah ini, maka kita haruslah lebih pantang menyerah lagi dalam melakukan kebaikan. Jika ibarat kata dia yang jelas-jelas masuk neraka saja pantang menyerah, maka seharusnya sebagai manusia yang ada harapan dan memang selayaknya tempat kembali kita adalah surga maka kita haruslah lebih semangat lagi, lebih pantang menyerah lagi. Selanjutnya, yaitu berkaitan dengan kemampuan manusia untuk berpikir. Melalui matematika, melalui pikiran maka bisa seseorang itu beriman atau tidak. Ketika seseorang sombong akan matematika dan pikirannya maka terjerumuslah ia dalam godaan setan. Bahaya selaki. Sehingga perlu dan penting dalam menggunakan matematika dan pikiran itu disertai doa. Memohon perlindungan dari Allah. Semoga kita selalu dan senantiasa diberi perlindungan oleh Allah SWT.

    ReplyDelete
  24. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Salah satu upaya syaitan selain menghadirkan sifat keragu-raguan pada diri manusia adalah juga menghasut manusia agar bersantai-santai atau menunda-nunda pekerjaan yang seharusnya bisa segera diselesaikan. Kemudian juga kesombongan adalah salah satu hal yang muncul pada diri manusia yang merasa tinggi dan merasa bisa dibandingkan dengan orang lain. Padahal semua orang di hadapan Tuhan adalah sama, yang membedakan hanyalah ketakwaannya.

    ReplyDelete

  25. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Menurut saya artikel diatas sangat memukau. Tetapi kemudian saya merasa takut, karena mungkin saya pun pernah bersikap seperti sang matematikawan. Jadi kita harus sering-sering merefleksi diri dan memohon ampunan kepada Allah atas segala kesalahan-kesalahan kita, karena kesombongna-kesombongan kita, kelalaian-kelalaian kita, tentang kewajiban-kewajiban kita kepada Allah yang terlewat. Artikel di atas membuat saya tersadar bagaiman kesombongan dapat menggiring kita ke jalan yang salah. Kita harus berhati-hati dengan ilmu yang kita miliki, karena semakin tinggi ilmu yang kita miliki, maka semakin besar kemungkinan untuk membawa kesombongan pada diri kita.

    ReplyDelete
  26. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Matematikawan identic dengan berlogika, bernalar, bahkan bisa jadi ibadah pun dilogika. Sampai syaiton pun bisa melupakan dia dari beribadah saking sibuknya dia berlogika, menyelesaikan masalah matematis yang tak kunjung selesai. Dengan demikian syaiton sudah berhasil membalas dendamnya. Selain itu, dengan menganggap diri mampu menyelesaiakan seluruh masalah matematika, maka setan telah berhasil menanamkan sikap sombong pada sang matematikawan

    ReplyDelete
  27. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dari elegi ini bisa kita ambil hikmah juga bahwa kesombongan adalah pangkal dari segala kehancuran diri. Syaaiton merusak diri seseorang melalui kesombongan yang ditanamkan dalam pikiran manusia. Sungguh tiada lah manusia yang sempurna secara berpikir, matematikawan sekaliipun belum tentu mampu menyelesaiakan seluruh persoalan matematika, meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka kita harus ikhlas dan merendah diri kepada Allah agar pikiran kita tidak dirasuki oleh syaiton.

    ReplyDelete
  28. Latifah Fitriasari
    PM C

    Sebagai pakarnya dalam soal menipu dan memperdaya, setan menjadikan manusia antusias dan sangat semangat melakukan amalan-amalan yang buruk. Sungguh pandai setan menghiasi keburukan. Sebagian besar manusia tidaklah mempunyai ilmu kecuali ilmu tentang dunia, dan segala yang terkait dengannya. Mereka sangat pandai dengan hal tersebut, namun lalai dalam masalah-masalah agama mereka dan apa yang bisa memberikan manfaat bagi akhirat mereka. Oleh sebab itu, posisi sebagai musuh yang nyata ini perlu mendapat penekanan karena dengan kelihaiannya maka Syaithon bisa masuk ke dalam berbagai posisi sehingga manusia sering tidak memahami

    ReplyDelete
  29. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Kesombongan adalah hal yang telah menjerumuskan syaitan sehingga ia diusir dari syurga. Kesombongan adalah dosa pertama kali yang terjadi di muka bumiini. Kesombongan itu juga yang dapat membuat kita mengikuti jalan syaitan. Oleh karena itu berhati-hatilah kita agar terhindar dari kesombongan. Jangan sampai kita merasa denagn ilmu yang kita miliki mampu memikirkan segala hal termasuk doa. Urusan dunia dan akhirat itu berbeda. Artinya kita mampu memikirkan segala urusan di dunia ini menggunakan logika yang ada di pikiran kita. Tetapi kita tidak boleh sombong dan ingin memikirkan urusan akhirat dengan logika juga. Pikiran dan logika kita tidak akan sanggup untuk memikirkannya, sebaliknya kita akan terjerumus oleh godaan syaitan dan lupa untuk beribadah.

    ReplyDelete
  30. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Syaitan itu sangatlah lembut dalam menggoda. Manusia sering tidak sadar bahwa ia termakan godan syaitan karena kesombongannya. Syaitan juga memiliki banyak cara untuk enggoda manusia. Ia akan menggoda setiap manusia yang hendak beribadah dengan seribu cara yang ada. Bahkan jika seribu cara itu gagal ada seribu cara lainnya. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan sifat sombong yang ada pada diri manusia. Jika seseorang merasa ilmunya telah banyak, derajatnya telah tinggi, dan merasa populer, maka orang tersebut akan merasa sombong dan menganggap remeh doa. Ia menjadi malas beribadah karena merasa dirinya telah hebat. Ia merasa bahwa berdoa dan tidak berdoa itu sama saja. Tentunya hal ini adalah kesalahan yang sangat besar. Karena manusia tidak hanya hidup di dunia saja melainkan alam akhirat menunggu kita kelak. Sebaliknya, hidup di dunia ini amatlah singkat waktunya. Maka janganlah kita sombong sehingga termakan godaan syaitan.

    ReplyDelete
  31. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Tugas setan memang untuk menggoda manusia sampai hari kiamat tiba. Ia tidak akan berhenti, ia akan melakukan segala cara untuk mencapai tujuannya. Bila setan gagal membujuk manusia untuk mengingkari Tuhannya, setan akan mencari cara lain yang lebih lembut, seperti misalnya menanamkan keragu-raguan. Begitulah cara setan bekerja, sehingga kita perlu berhati-hati. Urusan keyakinan bukanlah domain dari pikiran. Tapi ia adalah domain hati. Sebagaimana rasa cinta, saying, ia tidak bisa di logika, namun bisa dirasakan. Kuncinya adalah dengan mentaati perintah Tuhan, melaksanakan perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Kita hanya perlu melaksanakannya saja.

    ReplyDelete
  32. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Begitu hebatnya syaitan dalam mempengaruhi manusia untuk ingkat terhadap Tuhannya. Salah satu upaya syaitan untuk menggelincirkan manusia ialah dengan bisikan bahwa banyak orang-orang yang tidak berdoa hidupnya sukses sedangkan yang berdoa hidupnya tidak sukse. Maka kita pun harus dapat memahami makna kesuksesan. Bahwa kesuksesan bukan hanya tentang harta duniawi. Sebanyak apapun harta yang kita miliki jika tidak barakah maka kehidupan kita tidak akan tenang. Sedangkan orang yang memiliki harta yang sedikit jka diluputi dengan rasa syukur maka hartanya akan berkah dan berkecukupan serta hidupnya akan tenang. Maka kita harus menjadikan akhirat sebagai tolak ukur kesuksesan.

    ReplyDelete
  33. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Godaan syaitan pada manusia sangat beragam. Godaan syaitan dapat masuk dari berbagi pintu yang ada pada hati dan pikiran manusia. Ketika manusia bersikap sombong, berarti setan berhasil membuka dan masuk melalui salah satu pintu yang ada pada diri manusia. Kesombongan ini akan membuat seseorang merasa bahwa dirinyalah yang paling hebat. Sungguh betapa berbahayanya godaan syaitan itu.Oleh karena itu, agar kita terhindar dari godaan syaitan, maka kita harus senantiasa berdoa dan memohon perlindungan kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  34. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Berhati-hatilah dengan bisikan setan yang lembut. Kita terkadang tidak tahu jika pikiran kita adalah pikiran yang dipengaruhi oleh setan. Satu hal yang dapat menyebabkan hal tersebut terjadi adalah rasa sombong yang dimiliki. Kita akan mendapatkan godaan lebih besar dari setan ketikan kita sudah dapat dibanggakan dengan kemampuan ataupun apa yang kita miliki. Karena itu mari kita senantiasa memohon ampun kepada Tuhan agar selalu terbebas dari bisikan dan pengarus setan dan senantiasa menghindari sifat sombong.

    ReplyDelete
  35. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Orang berilmu ketika dia beranggapan bahwa dia telah mampu memikirkan semuaobjek baik yang ada dan yang mungkin ada, aka nada kemungkinan dia terpengaruhi oleh syaitan. Yaitu akan terkena perilaku sombong. Pdahal tidak semua objek yang ada dan yang mungkin ada di dunia mapun diakhirat ini dapat dijangkau oleh pikiran manusia yang terbatas akalnya. Beristigfirlah kita semua akan semua kesombingan yang pernah kita lakukan.

    ReplyDelete
  36. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    wajib bagi kita untuk memahami bahwa tidak semua dapat dijabarkan dan dielaborasikan hanya dengan logika, karena ada konsep-konsep tertentu yang hanya dapat dijawab secara spiritual. Jika dalam matematika, semakin mengurangkan dari suatu kumpulan maka kumpulan tersebut akan semakin sedikit, sedangkan dalam konsep sedekah, semakin banyak kita mengeluarkan sedekah maka akan semakin banyak pula apa yang kita miliki. Konsep ini tidak dapat dijelaskan dengan matematika saja, malinkan melalui perantaan spiritual yang menyatakan bahwa "Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan allah ialah seperti tujuh bakal biji yang darinya akan tumbuh tujuh tanaman yang dari setiap tanaman pula akan mengasilkan tujuh buah dan seterusnya." Maka jelaslah bahwa sedekah tidak akan membuat kita miskin, biidznillah, Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  37. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Berdoa tidak akan direntang oleh matematika, maka jika seseorang bersikeras menjabarkannya secara matematis maka ia akan semakin mendekat dengan kekufuran. Doa ialah senjata yang kita miliki untuk bertarung dengan dunia yang semakin tidak karuab. Jika kita memiliki banyk senjata maka peluang kemenangan kita akan meningkat pula. Sehingga konsep matematika yang cocok untuk menafsirkan konsep doa ialah konsep tersebut. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  38. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Pada dasarnya, semua hal yang ada di dunia ini bermula dari mitos dan logos. Mitios adalah pengetahuan yang berkembang di masyarakat sejak dulu, sehingga seringkali terbawa hingga saat ini yang kadang-kadang pengetahuannya tidak rasional. Mitos adalah tradisi lisan yang terbentuk di suatu masyarakat. Mitos adalah kesombongan yang ditunjukkan manusia dalam segala kehidupannya terutama dalam ibadah. Meskipun manusia modern sudah mulai meninggalkan mitos, namun tidak sepenuhnya bisa terlepas dari mitos. Ketergantungan ini ditunjukkan dengan masih beredarnya perilaku mistis, terutama saat manusia menghadapi dengan kesulitan yang diluar jangkauan kekuatannya.Dalam kondisi seperti ini, maka mitos mengalami desakralisasi. Hal ini dikarenakan manusia modern mulai memiliki pola pikir yang rasionalistis, meskipun tidak semua fenomena kehidupan tidak dipahami oleh rasio manusia. Nah, ketika mitos semakin membelenggu pola pikir kita maka akan mengakibatkan hal yang kurang baik. Karena pikiran kita dikendalikan oleh mitos sehingga merujuk pada kesombongan. Dengan demikian syaitan akan mengendalikan pikiran kita yang berakibat pada perbuatan dosa. Maka hal yang perlu kita lakukan adalah selalu mendekatkan dan berserah diri kepada Allah agar selalu dilindungi dari hal buruk.

    ReplyDelete
  39. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Setelah membaca elegi ini, saya mendapatkan sebuah cerita tentang balas dendam syaitan terhadap matematikawan yang kala itu membuat setan seolah tidak menyeramkan baginya. Syaitan mempermainkan pikiran dan perasaan matematikawan agar ia sombong atas segala ilmu yang ia punya. Syaitan menjerumuskan matematikawan dengan mempertanyakan makna doa dan tidak berdoa. Dengan mengandalkan akalnya, sang matematikawan tidak dapat menemukan perbedaan antara orang yang berdoa dan orang yang tidak berdoa. Sebab ada orang yang berdoa terus tapi hidupnya susah tapi ada orang yang tidak berdoa tapi hidupnya susah. Karena terlalu sombong, sang matematikawan tidak menyadari bahwa sebenarnya pikirannya lah yang terbatas.

    ReplyDelete
  40. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Syaitan akan menggoda siapapun, semua makhluk ciptaan Tuhan untuk merusak derajat keikhlasan, keimananan, dan keilmuannya. Seorang matematikawan yang pintar berolah pikir, yang pandai memecahkan permasalahan-permasalahan dunia, yang menyadari manusia terbatas pun masih bisa mendapat godaan syaitan. Syaitan menyusup ke dalam pemikirannya. Pikiran yang merupakan senjata utama matematikawan pun dapat menjadi senjata makan tuan jika sudah dirasuki oleh syaitan. sehingga menjadi senjata yang akan menurunlah derajat keikhlasan, keimananan, dan keilmuannya.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  41. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Di atas langit masih ada langit. Sebanyak apapun kita belajar, masih banya hal yang perlu dipelajari. Tak ada hal yang menjadi alasan untuk sombong. Kesombongan sangat mudah untuk menyusupi hati manusia. Maka jangan pernah lalai terhadap godaan syaitan yang selalu berusaha menyeret kita kedalam kesombongan.

    ReplyDelete
  42. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.Mat B

    kita sebagai manusia memiliki keterbatasan pikiran. ada hal-hal yang tidak sanggup dicapai oleh pikiran kita, dan tidak patut untuk dipertanyakan oleh pikiran kita.
    membaca elegi di atas membuat saya membayangkan bagaimana sesungguhnya syaitan selama ini menggoda kita tanpa kita sadari, dan yang kita kira adalah pikiran kita sendiri.

    ReplyDelete
  43. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Dimensi spiritual merupakan dimensi tertinggi yang harus dipegang teguh oleh setiap manusia yang beriman, tak terkecuali pada ilmuan sekalipun. Sesungguhnya syaitan selalu mempunyai cara untuk menipu daya manusia dengan rayuan yang dapat menyesatkan manusia. Syaitan seringkali mendorong manusia berpikir hanya dengan logika yang akhirnya bermuara pada munculnya keraguan akan ranah spiritualnya. Sejatinya antara logika dan spiritual adalah dua hal yang berbeda. Logika menggunakan pola pikir, sedangkan spiritual menggunakan hati, yang kadang sulit untuk dijelaskan dengan logika. Maka jika kita akan menjadi seorang ilmuwan, jadilah ilmuwan yang bijak. Ilmuwan yang santun akan ruang dan waktu. Dan jangan sampai apapun itu menggerogoti pondasi spiritual kita.

    ReplyDelete
  44. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dalam menjalani kehidupan, haruslah ada keseimbangan, antara urusan dunia dan akhirat. Berdoa dan beribadah tanpa memikirkan urusan dunia bukanlah hal yang baik, karena di dalam duniamu juga banyak sekali ladang bagi datangnya pahala. Memikirkan dunia dan mengabaikan urusan akhirat tentu sangatlah merugi karena kita tidak selamanya hidup di dunia, namun akhiratlah tempat yang kekal. Dalam memahami urusan agama, urusan hati, urusan perasaan, kita tidak bisa menggunakan olah pikir namun juga membutuhkan olah rasa. Janganlah sekalipun kita merasa sombong, karena kesombongan merupakan jalan masuk bagi syaitan ke dalam hati kita.

    ReplyDelete