Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 22: Perkelahian Keburukan dan Kebaikan




Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Wah gawat situasinya. Samar-samar aku melihat di kejauhan ada perkelahian antara jargon keburukan dan jargon kebaikan. Perkelahian kelihatannya sangat seru. Masing-masing menggunakan dan menyerang dengan jargon-jargonnya.


Keburukan:

Wahai para kebaikan, bagaimana engkau bisa meraih kehormatanmu di dunia dan akhirat? Bagaimana pula engkau mendapatkan ilmu dunia dan akhirat? Sedangkan aku, lihatlah. Aku akan sikat habis semua kesempatan di dunia agar aku memperoleh kehormatanku dan ilmuku. Sedangkan akhirat, belumlah jelas bagiku. Aku hanya berpikir dan bertindak kepada hal-hal yang jelas-jelas saja. Naiflah bagi engkau itu yang selalu tidak jelas akan perilakumu itu.

Kebaikan:
Wahai jargon keburukan. Kenalkanlah diriku. Menyangkut kabaikanku, aku enggan menganggap diriku sebagai jargon. Mengapa? Karena kebaikanku itu sebagian besar berdomisili di dalam hatiku. Padahal engkau tahu bahwa hatiku itu bukanlah jargon-jargonku, melainkan dia itu adalah keyakinanku. Maka untuk menjawab dan membantah semua pemikiranmu, aku tidak akan menggunakan jargon-jargonku....Ketahuilah sesungguhnya..:“Barang siapa masuk ke kubur tanpa membawa bekal, tak ubahnya menyeberang laut tanpa perahu” (Abu Bakar ra). “Kehormatan dunia didukung oleh harta, sedang kehormatan akhirat didukung oleh amal saleh” (Umar Ibn Khatab ra)
“Perhatian kepada dunia menggelapkan hati, sedangkan perhatian kepada akhirat meneranginya” (Utsman Ibn Affan ra). “Barang siapa mencari ilmu, maka sorga akan mencarinya; dan barang siapa mengejar dosa, maka neraka akan mengejarnya” (Ali Ibn Abi Thalib)


Keburukan:
Waha..sombong amat engkau itu. Aku tidak peduli engkau menggunakan jargon atau bukan jargon. Bagiku sama saja. Semua itu adalah jargon-jargonmu. Tetapi sebaik apapun ucapanmu itu aku tidak akan mendengarkannya.

Kebaikan:
Dasar keburukan ya tetap buruk. Satu-satunya sifatmu yang tidak termaafkan adalah kesombonganmu.Ketahuilah..“Semua dosa yang bersumber dari syahwat, masih ada harapan akan diampuni Tuhan. Tapi dosa yang bersumber dari kesombongan tidak akan ada harapan untuk diampuni. Pembangkangan iblis terhadap Allah SWT bersumber dari kesombongannya, sedangkan tergelincirnya Adam bersumber dari syahwatnya”(Sufyan Tsauri)

Jargon keburukan:

Wahai kebaikan...rupanya engkau sudah mulai bicara dosa-dosa. Gajah dipelupuk mata tidak tampak, sedangkan kuman di seberang lautan itu tampak jelas.

Kebaikan:
Ketahuilah wahai keburukan...“Barang siapa berbuat dosa sambil tertawa, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka dalam keadaan menangis. Barang siapa berbuat taat sambil menangis, maka Allah akan memasukkannya ke dalam sorga dalam keadaan tertawa gembira”(Zahid)

Jargon keburukan:
Ah..itu kan kalau dosanya besar-besar. Sedangkan menurut perasaanku, jikalau ada dosa pada diriku, dosaku itu masih kecil-kecil.

Kebaikan:
Wahai keburukan...jangan kau anggap dosa kecil itu sepele, karena daripadanya akan berkembang dosa-dosa besar.Ketahuilah...“Bukan dosa kecil lagi jika dilakukan terus menerus, dan bukan dosa besar jika diikuti istigfar”(Muhammad SAW)

Keburukan:

Ah..wahai kebaikan. Engkau itu memang munafik. Mana mungkin engkau itu terbebas dari segala nafsu, syahwat, dosa, sombong dan melakukan yang khalal-khalal?

Kebaikan:
Aku melihat ada peningkatan pada dirimu. Sekarang engkau tidak lagi bersembunyi di balik jargon-jargonmu. Pertanda bahwa engkau tidak lagi menggunakan jargon di depan namamu. Tetapi ketahuilah bahwa celakalah orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai penguasa dan akalnya sebagai tawanannya. Sedangkan aku melihat hal yang demikian itu ada pada dirimu. Barang siapa meninggalkan dosa-dosa, hatinya akan menjadi lembut, dan barang siapa meninggalkan yang haram dan hanya makan yang halal saja, maka pikirannya akan menjadi bening. Allah telah berfirman kepada Nabi-nabinya:”patuhilah segala hal yang Aku perintahkan kepadamu dan janganlah engkau durhaka terhadap nasehat-nasehat-Ku”

Keburukan:
Aku mengakui telah melepas jargon-jargonku. Karena engkau mulai mengetahui siapa diriku, buat apa aku bersembunyi di balik jargon-jargonku itu. Dasar engkau selalu membenciku. Pertanyaan pertanyaanku selalu engkau bantah dengan peraturan-peraturan. Dasar engkau itu sok idealis.

Kebaikan:
Baiklah wahai keburukan. Sekarang yang ada tinggalah engkau dan diriku. Ketahuilah..
“Kasih sayang yang utuh kepada orang lain merupakan separuh akal. Pertanyaan yang baik merupakan separuh ilmu. Dan peraturann yang baik merupakan separuh kehidupan”(Umar ra)

Keburukan:
Wahai kebaikan..kelihatannya engkau itu berbicara seakan-akan hanya dirimu yang akan selamat dan hanya diriku yang akan tidak selamat. Sombong amat engkau itu!

Kebaikan:
Wahai keburukan, ketahuilah...“Ada tiga hal yang menyelamatkan manusia dan ada tiga hal lainnya yang akan membinasakannya. Tiga hal yang menyelamatkan manusia yaitu: takut kepada Allah baik dalam keadaan sepi sendirian maupun di hadapan orang banyak; hidup sederhana baik diwaktu miskin maupun kaya; bersikap adil baik di waktu senang maupun marah. Sedangkan tiga perkara yang membinasakan yaitu: kikir yang keterlaluan; hawa nafsu yang diturut; dan kagum pada diri sendiri”(Muhammad SAW)

Keburukan:
Wahai kebaikan. Aku lihat engkau itu barlagak santun.

Kebaikan:
Wahai keburukan, ketahuilah...“Barang siapa tak punya sopan santun, berarti ia tak berilmu. Barang siapa tidak memiliki kesabaran berarti ia tidak beragama”(Hasan al-Basri)

Keburukan:
Wahai kebaikan..menurutku engkau terlalu banyak bicara. Engkau tidak memberi kesempatan kepadaku untuk membantah. Kelihatannya engkau itu bisa hidup sendiri tanpa diriku.

Kebaikan:
Wahai keburukan..“Berilah kesempatan kepada siapa yang engkau kehendaki, niscaya engkau menjadi pemimpinnya. Tadahkan tanganmu kepada siapa yang engkau kehendaki, niscaya engkau menjadi tawanannya. Cukupkan dirimu tanpa membutuhkan orang lain, niscaya engkau menjadi tandingannya”(Ali Karramallahu wajhah)

Keburukan:

Wahai kebaikan, apakah engkau tidak butuh harta dan kemuliaan dunia? Padahal untuk meraihnya itu haruslah berbekal imu. Bukankah engkau tahu bahwa ilmuku itu telah cukup untuk itu.

Kebaikan:
Wahai keburukan...barang siapa hanya mengandalkan kecerdasan akalnya, ia akan sesat. Barang siapa merasa kaya dengan hartanya, maka hartanya akan terasa sedikit. Barang siapa merasa mulia karena dukungan makhluk, maka ia sebenarnya hina.

Keburukan:

Bolehkah aku mengetahui sifat-sifatmu?

Kebaikan:

Ada empat hal yang merupakan diriku sebagai kebaikan: pertama, sifat malu pada laki-laki itu baik, tetapi sifat malu pada perempuan itu lebih baik; kedua, sifat adil pada setiap orang itu baik, tetapi sikap adil dari seorang pemimpin itu lebih baik; ketiga, orang tua bertaubat itu baik, tetapi orang muda bertaubat itu lebih baik; keempat, sifat pemurah orang kaya itu baik, tetapi sifat pemurah orang miskin itu lebih baik.

Keburukan:
Ah..itu kan menurutmu. Menurutku mungkin bisa lain. Tetapi, apakah engkau bisa menyebut ciri-ciriku?

Kebaikan:
Ada empat hal yang merupakan dirimu sebagai keburukan: pertama, dosa yang diperbuat oleh orang muda itu buruk, tetapi dosa yang diperbuat orang tua itu lebih buruk lagi; kedua, sibuk urusan dunia oleh orang bodoh itu buruk, tetapi lebih buruk lagi sibuk urusan dunia oleh orang pintar; ketiga, malas beribadah bagi orang bodoh itu buruk, tetapi lebih buruk lagi malas bagi orang pintar; keempat, sombongnya orang kaya itu buruk, tetapi lebih buruk lagi sombongnya orang miskin.

Keburukan:
Ah..kamu itu sok pintar. Memangnya hanya engkau orang yang paling berilmu, beramal, dan bijak.

Kebaikan:
Wahai keburukan, ketahuilah...“Ilmu itu petujuk amal. Filsafat itu gudangnya ilmu. Akal adalah penuntun kebajikan. Hawa nafsu itu tempat bercokolnya dosa. Harta merupakan kebanggaan orang congkak. Dan dunia itu ladangnya akhirat”(Yahya Ibn Muad)

Keburukan:

Baiklah kebaikan..aku akan mengujimu. Jika engkau bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku maka aku akan mempertimbangkan kebaikan-kebaikanmu. Pertanyaan-pertanyaanku adalah: apa yang lebih berat dari langit?, apa yang lebih luas dari bumi?, apa yang lebih keras dari batu?, apa yang lebih panas dari neraka?, dan apa yang lebih berbisa dari pada racun?

Kebaikan:

Wahai keburukan, ketahuilah...“Membohongi masyarakat itu lebih berat dibanding langit. Kebenaran itu lebih luas dari langit. Hati seorang munafik itu lebih keras dibanding batu. Pemimpin yang zhalim itu lebih panas dibanding neraka. Dan adu domba itu lebih berbisa dibanding racun”(Ali Karramallahu wajhah)

Keburukan mulai bimbang:

Wah kebaikan..aku mulai ragu dengan sikapku. Setelah engkau katakan bahwa hati seorang munafik itu lebih keras dari batu, maka aku merasa disambar petir di siang hari bolong. Jangan-jangan aku ini termasuk golongan orang munafik. Aku mulai merasa tidak pede bicara dengan engkau. Apakah memang engkau itu betul-betul kebaikan. Apakah kebaikanmu itu memang betul-betul engkau. Apakah sebetul-betul kebaikan itulah yang engkau maksud sebagai bukan jargon. Aku mulai terasa berat dalam hatiku. Aku mulai terasa haru dalam hatiku. Tubuhku mulai bergetar. Kenapa selama ini aku selalu mengandalkan jargon-jargonku untuk memantapkan kedudukanku. Padahal menghadapi kebaikan sejati ternyata aku tidak dapat mengandalkan jargon-jargonku. Wahai kebaikan perhatikanlah diriku. Apakah aku sudah tampak seperti orang bertaubat. Bolehkah engkau memberi kesempatan bagi diriku untuk meneteskan air mataku. Hih....hih....Jika aku ingin bertaubat bagaimanakah caranya? Bolehkah aku memohon kepada dirimu? Janganlah selalu sebut aku sebagai keburukan. Aku ingin engkau menyebutku sebagai kebaikan pula. Oh Tuhan ampunilah dosa-dosaku, ampunilah keburukanku ini.

Kebaikan:
Wahai keburukan yang mulai sadar akan kebaikan. Artinya engkau itu adalah setengah baik, sebelum aku betul-betul mengetahui bahwa engkau betul-betul baik. Ketahuilah, bahwa tidaklah mudah orang bertaubat itu. Ada syarat-syaratnya orang bertaubat: membaca istighfar, menyesal dalam hati, melepaskan diri dari perbuatan maksiat, berjanji tidak akan mengulangi dosa-dosa, mencintai akhirat, gemar belajar dan beribadah.

Kebaikan baru:
Wahai kebaikan saya bertekad akan menjalani syarat-syaratmu itu, maka bagaimanakah kemudian keadaanku?

Kebaikan:

Wahai kebaikan baru, bacalah:Dengan nama Tuhan yang Maha Pengasih lagi Penyayang; Maha suci Tuhan yang ‘arasy-Nya berada di langit; Maha Suci Tuhan yang kerajaan dan kekusaan-Nya ada di bumi; Maha Suci Tuhan yang agama-Nya berada di muka bumi; Maha Suci Tuhan yang ruh-Nya merata di ruang semesta; Maha Suci Tuhan yang kekuasaan-Nya ada di Neraka; Maha Suci Tuhan yang mengetahui rahasia dalam kandungan; Maha Suci Dzat yang memutuskan siska kubur; Maha Suci Tuhan yang membangun langit tanpa tiang; Maha Suci Tuhan yang menempatkan bumi; Maha Suci Tuhan yang tidak ada tempat bersandar dan tempat kembali kecuali hanya kepada-Nya. Amien..amien..amien.

Kebaikan baru:
Dengan nama Tuhan yang Maha Pengasih lagi Penyayang; Maha suci Tuhan yang ‘arasy-Nya berada di langit; Maha Suci Tuhan yang kerajaan dan kekusaan-Nya ada di bumi; Maha Suci Tuhan yang agama-Nya berada di muka bumi; Maha Suci Tuhan yang ruh-Nya merata di ruang semesta; Maha Suci Tuhan yang kekuasaan-Nya ada di Neraka; Maha Suci Tuhan yang mengetahui rahasia dalam kandungan; Maha Suci Dzat yang memutuskan siska kubur; Maha Suci Tuhan yang membangun langit tanpa tiang; Maha Suci Tuhan yang menempatkan bumi; Maha Suci Tuhan yang tidak ada tempat bersandar dan tempat kembali kecuali hanya kepada-Nya. Amien..amien..amien.

Orang tua berambut putih:

Saya telah menyaksikan dan merasakan Tuhan telah menurunkan rakhmat dan hidayah Nya buat kita semua. Alhamdullilah.Amien..amien..amien.

Referensi:
Ibnu Hajar al-'Asqalani, 1986, "Untaian Hikmah: Percikan Ucapan Nabi Muhammad SAW, Sahabat, Mujahid dan Guru-guru Sufi", Bandung: Penerbit Pustaka

10 comments:

  1. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Dalam kehidupan, terdapat baik dan buruk yang saling bertentangan di antara kita. Baik dan buruk adalah dua hal yang sangat berbeda. Dan untuk mengetahuinya, ada empat hal yang dianggap baik dan empat yang dianggap sebagai keburukan. Namun, tidak peduli bagaimana dosa yang kita lakukan ketika kita berada di keburukan kecil, kita harus segera bertobat kepada Allah SWT. Dan hal pertobatan orang istighfar, menyesal dalam hati, untuk melepaskan diri dari tindakan amoral, berjanji untuk tidak mengulangi dosa, cinta akhirat, bersemangat untuk belajar dan beribadah.

    ReplyDelete
  2. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika Kelas D

    “Ada tiga hal yang menyelamatkan manusia dan ada tiga hal lainnya yang akan membinasakannya. Tiga hal yang menyelamatkan manusia yaitu: takut kepada Allah baik dalam keadaan sepi sendirian maupun di hadapan orang banyak; hidup sederhana baik diwaktu miskin maupun kaya; bersikap adil baik di waktu senang maupun marah. Sedangkan tiga perkara yang membinasakan yaitu: kikir yang keterlaluan; hawa nafsu yang diturut; dan kagum pada diri sendiri”. Dalam diri manusia memiliki sisi kebaikan dan keburukan yang berbeda antar masing-masing individu. Kebaikan yang kita lakukan dengan ikhlas akan memberikan pahala sedangkan perbuatan buruk akan menghasilkan dosa. Sebagai umat beragama sebaiknya kita melakukan hal-hal baik baik kepada siapapun sesuai ajaran agama, agar kita memperoleh ridha-Nya. Serta kita dilarang memiliki sifat sombong dengan apa yang kita miliki, karena itu akan menjadi dosa bagi diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  3. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. kebaikan dan keburukan sudah fitrahnya pasti ada dalam diri manusia. Keburukan tidak akan selamanya ada di dalam hati manusia jika kebaikan mampu mengetuk hati itu. Keburukan mau dan mampu berubah jika kebaikan bersedia menuntun keburukan menuju kebaikan. Allah SWT selalu menerima taubatnya seseorang jika orang tersebut bersungguh-sungguh dalam taubatnya dan tidak ada kata terlambat untuk bertaubat. Wassalamualaikum

    ReplyDelete
  4. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Dalam kehidupan di dunia semuanya mempunyai hubungan sebab akibat. Begitu pula degan sifat atau perilaku yang kita kerjakan. Apabila keburukan yang kita lakukan maka keburukan pula yang akan kita dapat di dunia lebih-lebih di akhirat, begitu pun sebaliknya apabila kebaikan yang kita lakukan maka kebaikan pula yang akan kita tuai. Namun demikian sebagai manusia yang sifatnya pelupa, kita tentunya tidak terlepas dari keburukan atau melakukan perbuatan dosa. Yang dapat kita lakukan adalah senantiasa berikhtiar dan berdoa agar kita selalu diberi kekuatan untuk menghindarinya. Tapi apabila kita telah melakukan perbuatan dosa tersebut, maka kita harus cepat bertobat sungguh-sungguh dan ikhlas dan berjanji tidak akan melakukannya lagi.

    ReplyDelete
  5. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Berbicara tentang keburukan maka kita juga sangat akrab dengan kebaikan. Begitulah hidup ini, tidak bisa kita elakkan dari perilaku baik dan buruk. Namun bila kita cermati, maka kebaikan iru selalu memberikan petunjuk untuk menjaugi diri dari keburukan. Tanpa kita sadari, kita sering berpikir apakah sesuatu yang akan kita kerjakan itu baik atau buruk maka dari situ kebaikan selalu membisikkan kita bahwa pekerjaan itu baik dan mendorong kita untuk melakukannya namun kdang pikiran manusia terperangkap oleh keburukan yang menganjurkan kita untuk melakukan keburukan. Namun, jauh dari lubuk hati yang paling dalam kebaikan telah memberikan petunjuk yang benar tetapi sering kali kita mengingkarinya.
    Semoga kita bisa kembali ke jalan yang benar dan mendapat ridho dari Allah SWT. Aamiiin....

    ReplyDelete
  6. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Keburukan adalah sesuatu hal yang pasti dan wajar terjadi di dalam kehidupan, namun hal paling penting dalam hidup ini adalah bagaimana merubah keburukan itu menjadi sebuah kebaikan. Hal-hal tersebut juga sebaiknya diikuti dengan keikhlasan dalam hati dlam melaksanakan perintah Tuhan YME agar lebih baik lagi, dan kita sebagai manusia bisa selalu dalam kebaikan-kebaikan.

    ReplyDelete
  7. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Keburukan dan kebaikan adalah dua hal yang pasti ada dalam diri manusia. Tidak ada manusia yang sempurna. Hal yang dapat kita lakukan adalah memperkecil keburukan yang ada pada diri kita dan memperbanyak amalan baik kita. Memang tidak mudah, namun hal ini memang harus kita laksanakan. Semoga kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Amin.

    ReplyDelete
  8. Kebaikan dan keburukan akan selalu berperang untuk mendapatkan kekuasaan. Peperangan yang bertempat dihati manusia, pikiran manusia, tindakan manusia, atau antara manusia yang baik dan buruk. Keburukan memberikan kesenangan dan kebahagian di dunia yang semu. Sedang kebaikan memberikan kebahagiaan yang hakiki. Keburukan akan mengasilkan dosa-dosa yang menjerumuskan manusia pada neraka yang memakar sedang kebaikan akan memperoleh pahala yang akan meningkatkan dan memasukkan manusia dalam surga yang penuh kenikmatan. Jangan mau tertipu oleh keburukan yang dibisikan oleh syetan. Syetan adalah musuh yang sama. Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk.

    ReplyDelete
  9. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Semua yang ada di dunia ini adalah Allah telah menciptakan berlawanan. Ada siang ada malam, ada pria ada wanita, dan lain sebagainya yang berlawanan. Maka jika ada kebaikan maka Allah juga menciptakan keburukan. Namun untuk kebaikan dan keburukan ini semata manusia lah yang memperbuatnya. Tergantung bagaiman tujuan hidup manusia itu. Hidup di dunia ini sesungguhnya cuma ada dua pilihan, Surga atau Neraka. Mudah sekali untuk memilih kedua tujan hidup tersebut. Jika ingin surga, maka kita harus selalu di dalam kebaikan. Sedangkan jika ingin neraka, maka kita tinggal pilih untuk selalu berbuat keburukan.
    Keburukan yang dapat meuntun orang masuk kedalam neraka jika tidak segera bertaubat adalah kesombongan, hawa nafsu yang ditururut, serta orang yang kikir sekali. Sedangkan kebaikan yang akan membawa manusia menuju surga adalah selalu takut kepada Allah dengan mengerjakan perintah dan menjauhi larangannya, hidup sederhana, dan bersikap adil. Jadi sekarang manusia tinggal memilih, segera bertaubat jika merasa bersalah dan hidup dalam keburukan dan selalu berbuat baik agar bisa masuk surga, atau selalu dalam keburukannya dan tidak mau bertaubat sehingga ia masuk ke dalam neraka, naudzubillah.

    ReplyDelete
  10. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Assalamualaikum wr. . wb.
    Keburukan dan kebaikan adalah suatu keniscayaan hidup, jika kita bisa memilih apakah keburukan ataukah kebaikan yang akan kita lalui, tentunya kebanyakan kita cenderung memilih kebaikan saja. kebaikan seolah akan lebih ringan kita jalani, dari pada bayang keburukan yang menakutkan Sebenarnya kedua hal ini terus membuat kita bersyukur atas nikmat hidup yang Allah berikan kepada kita.

    ReplyDelete