Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 22: Perkelahian Keburukan dan Kebaikan




Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Wah gawat situasinya. Samar-samar aku melihat di kejauhan ada perkelahian antara jargon keburukan dan jargon kebaikan. Perkelahian kelihatannya sangat seru. Masing-masing menggunakan dan menyerang dengan jargon-jargonnya.


Keburukan:

Wahai para kebaikan, bagaimana engkau bisa meraih kehormatanmu di dunia dan akhirat? Bagaimana pula engkau mendapatkan ilmu dunia dan akhirat? Sedangkan aku, lihatlah. Aku akan sikat habis semua kesempatan di dunia agar aku memperoleh kehormatanku dan ilmuku. Sedangkan akhirat, belumlah jelas bagiku. Aku hanya berpikir dan bertindak kepada hal-hal yang jelas-jelas saja. Naiflah bagi engkau itu yang selalu tidak jelas akan perilakumu itu.

Kebaikan:
Wahai jargon keburukan. Kenalkanlah diriku. Menyangkut kabaikanku, aku enggan menganggap diriku sebagai jargon. Mengapa? Karena kebaikanku itu sebagian besar berdomisili di dalam hatiku. Padahal engkau tahu bahwa hatiku itu bukanlah jargon-jargonku, melainkan dia itu adalah keyakinanku. Maka untuk menjawab dan membantah semua pemikiranmu, aku tidak akan menggunakan jargon-jargonku....Ketahuilah sesungguhnya..:“Barang siapa masuk ke kubur tanpa membawa bekal, tak ubahnya menyeberang laut tanpa perahu” (Abu Bakar ra). “Kehormatan dunia didukung oleh harta, sedang kehormatan akhirat didukung oleh amal saleh” (Umar Ibn Khatab ra)
“Perhatian kepada dunia menggelapkan hati, sedangkan perhatian kepada akhirat meneranginya” (Utsman Ibn Affan ra). “Barang siapa mencari ilmu, maka sorga akan mencarinya; dan barang siapa mengejar dosa, maka neraka akan mengejarnya” (Ali Ibn Abi Thalib)


Keburukan:
Waha..sombong amat engkau itu. Aku tidak peduli engkau menggunakan jargon atau bukan jargon. Bagiku sama saja. Semua itu adalah jargon-jargonmu. Tetapi sebaik apapun ucapanmu itu aku tidak akan mendengarkannya.

Kebaikan:
Dasar keburukan ya tetap buruk. Satu-satunya sifatmu yang tidak termaafkan adalah kesombonganmu.Ketahuilah..“Semua dosa yang bersumber dari syahwat, masih ada harapan akan diampuni Tuhan. Tapi dosa yang bersumber dari kesombongan tidak akan ada harapan untuk diampuni. Pembangkangan iblis terhadap Allah SWT bersumber dari kesombongannya, sedangkan tergelincirnya Adam bersumber dari syahwatnya”(Sufyan Tsauri)

Jargon keburukan:

Wahai kebaikan...rupanya engkau sudah mulai bicara dosa-dosa. Gajah dipelupuk mata tidak tampak, sedangkan kuman di seberang lautan itu tampak jelas.

Kebaikan:
Ketahuilah wahai keburukan...“Barang siapa berbuat dosa sambil tertawa, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka dalam keadaan menangis. Barang siapa berbuat taat sambil menangis, maka Allah akan memasukkannya ke dalam sorga dalam keadaan tertawa gembira”(Zahid)

Jargon keburukan:
Ah..itu kan kalau dosanya besar-besar. Sedangkan menurut perasaanku, jikalau ada dosa pada diriku, dosaku itu masih kecil-kecil.

Kebaikan:
Wahai keburukan...jangan kau anggap dosa kecil itu sepele, karena daripadanya akan berkembang dosa-dosa besar.Ketahuilah...“Bukan dosa kecil lagi jika dilakukan terus menerus, dan bukan dosa besar jika diikuti istigfar”(Muhammad SAW)

Keburukan:

Ah..wahai kebaikan. Engkau itu memang munafik. Mana mungkin engkau itu terbebas dari segala nafsu, syahwat, dosa, sombong dan melakukan yang khalal-khalal?

Kebaikan:
Aku melihat ada peningkatan pada dirimu. Sekarang engkau tidak lagi bersembunyi di balik jargon-jargonmu. Pertanda bahwa engkau tidak lagi menggunakan jargon di depan namamu. Tetapi ketahuilah bahwa celakalah orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai penguasa dan akalnya sebagai tawanannya. Sedangkan aku melihat hal yang demikian itu ada pada dirimu. Barang siapa meninggalkan dosa-dosa, hatinya akan menjadi lembut, dan barang siapa meninggalkan yang haram dan hanya makan yang halal saja, maka pikirannya akan menjadi bening. Allah telah berfirman kepada Nabi-nabinya:”patuhilah segala hal yang Aku perintahkan kepadamu dan janganlah engkau durhaka terhadap nasehat-nasehat-Ku”

Keburukan:
Aku mengakui telah melepas jargon-jargonku. Karena engkau mulai mengetahui siapa diriku, buat apa aku bersembunyi di balik jargon-jargonku itu. Dasar engkau selalu membenciku. Pertanyaan pertanyaanku selalu engkau bantah dengan peraturan-peraturan. Dasar engkau itu sok idealis.

Kebaikan:
Baiklah wahai keburukan. Sekarang yang ada tinggalah engkau dan diriku. Ketahuilah..
“Kasih sayang yang utuh kepada orang lain merupakan separuh akal. Pertanyaan yang baik merupakan separuh ilmu. Dan peraturann yang baik merupakan separuh kehidupan”(Umar ra)

Keburukan:
Wahai kebaikan..kelihatannya engkau itu berbicara seakan-akan hanya dirimu yang akan selamat dan hanya diriku yang akan tidak selamat. Sombong amat engkau itu!

Kebaikan:
Wahai keburukan, ketahuilah...“Ada tiga hal yang menyelamatkan manusia dan ada tiga hal lainnya yang akan membinasakannya. Tiga hal yang menyelamatkan manusia yaitu: takut kepada Allah baik dalam keadaan sepi sendirian maupun di hadapan orang banyak; hidup sederhana baik diwaktu miskin maupun kaya; bersikap adil baik di waktu senang maupun marah. Sedangkan tiga perkara yang membinasakan yaitu: kikir yang keterlaluan; hawa nafsu yang diturut; dan kagum pada diri sendiri”(Muhammad SAW)

Keburukan:
Wahai kebaikan. Aku lihat engkau itu barlagak santun.

Kebaikan:
Wahai keburukan, ketahuilah...“Barang siapa tak punya sopan santun, berarti ia tak berilmu. Barang siapa tidak memiliki kesabaran berarti ia tidak beragama”(Hasan al-Basri)

Keburukan:
Wahai kebaikan..menurutku engkau terlalu banyak bicara. Engkau tidak memberi kesempatan kepadaku untuk membantah. Kelihatannya engkau itu bisa hidup sendiri tanpa diriku.

Kebaikan:
Wahai keburukan..“Berilah kesempatan kepada siapa yang engkau kehendaki, niscaya engkau menjadi pemimpinnya. Tadahkan tanganmu kepada siapa yang engkau kehendaki, niscaya engkau menjadi tawanannya. Cukupkan dirimu tanpa membutuhkan orang lain, niscaya engkau menjadi tandingannya”(Ali Karramallahu wajhah)

Keburukan:

Wahai kebaikan, apakah engkau tidak butuh harta dan kemuliaan dunia? Padahal untuk meraihnya itu haruslah berbekal imu. Bukankah engkau tahu bahwa ilmuku itu telah cukup untuk itu.

Kebaikan:
Wahai keburukan...barang siapa hanya mengandalkan kecerdasan akalnya, ia akan sesat. Barang siapa merasa kaya dengan hartanya, maka hartanya akan terasa sedikit. Barang siapa merasa mulia karena dukungan makhluk, maka ia sebenarnya hina.

Keburukan:

Bolehkah aku mengetahui sifat-sifatmu?

Kebaikan:

Ada empat hal yang merupakan diriku sebagai kebaikan: pertama, sifat malu pada laki-laki itu baik, tetapi sifat malu pada perempuan itu lebih baik; kedua, sifat adil pada setiap orang itu baik, tetapi sikap adil dari seorang pemimpin itu lebih baik; ketiga, orang tua bertaubat itu baik, tetapi orang muda bertaubat itu lebih baik; keempat, sifat pemurah orang kaya itu baik, tetapi sifat pemurah orang miskin itu lebih baik.

Keburukan:
Ah..itu kan menurutmu. Menurutku mungkin bisa lain. Tetapi, apakah engkau bisa menyebut ciri-ciriku?

Kebaikan:
Ada empat hal yang merupakan dirimu sebagai keburukan: pertama, dosa yang diperbuat oleh orang muda itu buruk, tetapi dosa yang diperbuat orang tua itu lebih buruk lagi; kedua, sibuk urusan dunia oleh orang bodoh itu buruk, tetapi lebih buruk lagi sibuk urusan dunia oleh orang pintar; ketiga, malas beribadah bagi orang bodoh itu buruk, tetapi lebih buruk lagi malas bagi orang pintar; keempat, sombongnya orang kaya itu buruk, tetapi lebih buruk lagi sombongnya orang miskin.

Keburukan:
Ah..kamu itu sok pintar. Memangnya hanya engkau orang yang paling berilmu, beramal, dan bijak.

Kebaikan:
Wahai keburukan, ketahuilah...“Ilmu itu petujuk amal. Filsafat itu gudangnya ilmu. Akal adalah penuntun kebajikan. Hawa nafsu itu tempat bercokolnya dosa. Harta merupakan kebanggaan orang congkak. Dan dunia itu ladangnya akhirat”(Yahya Ibn Muad)

Keburukan:

Baiklah kebaikan..aku akan mengujimu. Jika engkau bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku maka aku akan mempertimbangkan kebaikan-kebaikanmu. Pertanyaan-pertanyaanku adalah: apa yang lebih berat dari langit?, apa yang lebih luas dari bumi?, apa yang lebih keras dari batu?, apa yang lebih panas dari neraka?, dan apa yang lebih berbisa dari pada racun?

Kebaikan:

Wahai keburukan, ketahuilah...“Membohongi masyarakat itu lebih berat dibanding langit. Kebenaran itu lebih luas dari langit. Hati seorang munafik itu lebih keras dibanding batu. Pemimpin yang zhalim itu lebih panas dibanding neraka. Dan adu domba itu lebih berbisa dibanding racun”(Ali Karramallahu wajhah)

Keburukan mulai bimbang:

Wah kebaikan..aku mulai ragu dengan sikapku. Setelah engkau katakan bahwa hati seorang munafik itu lebih keras dari batu, maka aku merasa disambar petir di siang hari bolong. Jangan-jangan aku ini termasuk golongan orang munafik. Aku mulai merasa tidak pede bicara dengan engkau. Apakah memang engkau itu betul-betul kebaikan. Apakah kebaikanmu itu memang betul-betul engkau. Apakah sebetul-betul kebaikan itulah yang engkau maksud sebagai bukan jargon. Aku mulai terasa berat dalam hatiku. Aku mulai terasa haru dalam hatiku. Tubuhku mulai bergetar. Kenapa selama ini aku selalu mengandalkan jargon-jargonku untuk memantapkan kedudukanku. Padahal menghadapi kebaikan sejati ternyata aku tidak dapat mengandalkan jargon-jargonku. Wahai kebaikan perhatikanlah diriku. Apakah aku sudah tampak seperti orang bertaubat. Bolehkah engkau memberi kesempatan bagi diriku untuk meneteskan air mataku. Hih....hih....Jika aku ingin bertaubat bagaimanakah caranya? Bolehkah aku memohon kepada dirimu? Janganlah selalu sebut aku sebagai keburukan. Aku ingin engkau menyebutku sebagai kebaikan pula. Oh Tuhan ampunilah dosa-dosaku, ampunilah keburukanku ini.

Kebaikan:
Wahai keburukan yang mulai sadar akan kebaikan. Artinya engkau itu adalah setengah baik, sebelum aku betul-betul mengetahui bahwa engkau betul-betul baik. Ketahuilah, bahwa tidaklah mudah orang bertaubat itu. Ada syarat-syaratnya orang bertaubat: membaca istighfar, menyesal dalam hati, melepaskan diri dari perbuatan maksiat, berjanji tidak akan mengulangi dosa-dosa, mencintai akhirat, gemar belajar dan beribadah.

Kebaikan baru:
Wahai kebaikan saya bertekad akan menjalani syarat-syaratmu itu, maka bagaimanakah kemudian keadaanku?

Kebaikan:

Wahai kebaikan baru, bacalah:Dengan nama Tuhan yang Maha Pengasih lagi Penyayang; Maha suci Tuhan yang ‘arasy-Nya berada di langit; Maha Suci Tuhan yang kerajaan dan kekusaan-Nya ada di bumi; Maha Suci Tuhan yang agama-Nya berada di muka bumi; Maha Suci Tuhan yang ruh-Nya merata di ruang semesta; Maha Suci Tuhan yang kekuasaan-Nya ada di Neraka; Maha Suci Tuhan yang mengetahui rahasia dalam kandungan; Maha Suci Dzat yang memutuskan siska kubur; Maha Suci Tuhan yang membangun langit tanpa tiang; Maha Suci Tuhan yang menempatkan bumi; Maha Suci Tuhan yang tidak ada tempat bersandar dan tempat kembali kecuali hanya kepada-Nya. Amien..amien..amien.

Kebaikan baru:
Dengan nama Tuhan yang Maha Pengasih lagi Penyayang; Maha suci Tuhan yang ‘arasy-Nya berada di langit; Maha Suci Tuhan yang kerajaan dan kekusaan-Nya ada di bumi; Maha Suci Tuhan yang agama-Nya berada di muka bumi; Maha Suci Tuhan yang ruh-Nya merata di ruang semesta; Maha Suci Tuhan yang kekuasaan-Nya ada di Neraka; Maha Suci Tuhan yang mengetahui rahasia dalam kandungan; Maha Suci Dzat yang memutuskan siska kubur; Maha Suci Tuhan yang membangun langit tanpa tiang; Maha Suci Tuhan yang menempatkan bumi; Maha Suci Tuhan yang tidak ada tempat bersandar dan tempat kembali kecuali hanya kepada-Nya. Amien..amien..amien.

Orang tua berambut putih:

Saya telah menyaksikan dan merasakan Tuhan telah menurunkan rakhmat dan hidayah Nya buat kita semua. Alhamdullilah.Amien..amien..amien.

Referensi:
Ibnu Hajar al-'Asqalani, 1986, "Untaian Hikmah: Percikan Ucapan Nabi Muhammad SAW, Sahabat, Mujahid dan Guru-guru Sufi", Bandung: Penerbit Pustaka

32 comments:

  1. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kebaikan dan keburukan akan selalu berjalan berdampingan. Sama halnya dengan benar dan salah, jika ada kebaikan pasti ada keburukan pula. Keduanya akan selalu mempengaruhi pikiran kita. Jika hati tidak mampu mengendalikan keduanya, bisa jadi kita akan selalu melakukan keburukan. Oleh karenanya jangan pernah berhenti untuk meminta pertolongan dan ampunan dariNya.

    ReplyDelete
  2. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Allah menciptakan sifat keburukan yang bertentangan denga kebaikan, sementara manusia diberi akal yang dapat digunakan untuk berpikir dan hati yang dapat digunakan untuk merasa. Saat kita melakukan suatu keburukan, semoga kita lantas menyadari dan bertaubat kepada Allah dengan membaca istighfar, menyesali dalaam hati, tidak lagi mengulangi keburukannya, memperbanyak ibadah, dan semoga Allah meidhoi juga senantiasa menuntun kita ke jalan-Nya yang lurus.

    ReplyDelete
  3. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Setelah membaca artikel di atas saya merasa terharu, ternyata sikap saya masih banyak yang jauh dari kebaikan. Ampunilah dosa-dosa hambamu ini ya Allah. Sesungguhnya kepintaran dan harta juga merupakan batu ujian bagi makhluk Allah, mereka dapat membawa kita berada di surga ataupun neraka. Jika kepintara digunakan untuk menyibukkan dunia dan melupakan ibadah, maka kepintaran akan menjerumuskan kita ke neraka, begitu pula dengan harta kekayaan, jika kita kaya namun kikir, maka itu juga akan menjerumuskan kita ke neraka. Oleh karena itu mari kita isi masa muda kita dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Mari kita perbanyak istighfar dan bertaubat akan kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan agar dosa-dosa kita dapat diampuni oleh Allah SWT. Ampunilah dosa-dosa kami Ya Allah. Amin

    ReplyDelete
  4. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dalam elegi ini saya belajar bahwa kebaikan dan keburukan adalah dua hal yang berbeda. Menjadi baik adalah kewajiban seorang hamba sebagai rasa syukur padaNya. Dan ketika seseorang yang awalnya berada pada keburukan hendaknya ia segera melalui suatu proses yang disebut taubat. Proses ini lah yang akan menghantarkannya kepada kebaikan.
    Dimana berbuat taubat ini mempunyai syarat yaitu membaca istighfar, menyesal dalam hati, melepaskan diri dari perbuatan maksiat, berjanji tidak akan mengulangi dosa-dosa, mencintai akhirat, gemar belajar dan beribadah.
    Semoga kita menjadi oang yang senantiasa di jalan kebaikan.

    ReplyDelete
  5. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A 2017

    Dari elegi ritual ikhlas 22 ini menyadarkan kita bahwa jika kita berada dalam keburukan maka tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri untuk mencapai kebaikan. Bertaubat dengan sebenar-benar taubat (taubat nasuhah) yaitu dengan syarat-syarat: membaca istighfar, menyesal dalam hati, melepaskan diri dari perbuatan maksiat, berjanji tidak akan mengulangi dosa-dosa, mencintai akhirat, gemar belajar dan beribadah. “sesungguhnya bersama kesulitan pasti ada kemudah” (Al-Insyirah). Oleh karena itu, untuk memperoleh predikat kebaikan pada diri jangan lah berputus asa, selalu istiqamah di jalan Allah dan mengharapkan ridho dari-Nya, karena hanya kepada Allah lah satu-satunya tempat berharap.

    ReplyDelete
  6. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    "Celakalah orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai penguasa dan akalnya sebagai tawanannya" terkadang kita sebagai manusia masih hidup dengan dipenuhi nafsu kita, yang tanpa sadar kita berusaha untuk selalu penuhi. Menjadi pribadi yang mawas diri harus kita usahakan agar tidak serta merta menjadi budak nafsu. Hidup di dunia haruslah menjadikan kita sosok yang mau berlomba-lomba dalam kebaikan. Semoga kita senantiasa diberikan hidayah agar istiqamah dalam iman Islam kita.

    ReplyDelete
  7. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dalam elegi ini saya belajar bahwa kebaikan dan keburukan adalah dua hal yang berbeda. Menjadi baik adalah kewajiban seorang hamba sebagai rasa syukur padaNya. Menjadi baik pun dari awalnya buruk melalui suatu proses yang disebut taubat.
    Dimana berbuat taubat ini mempunyai syarat yaitu membaca istighfar, menyesal dalam hati, melepaskan diri dari perbuatan maksiat, berjanji tidak akan mengulangi dosa-dosa, mencintai akhirat, gemar belajar dan beribadah.
    Semoga kita menjadi oang yang senantiasa di jalan kebaikan

    ReplyDelete
  8. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak.
    Kebaikan dan keburukan merupakan sifat yang ada pada manusia. Keburukan seringkali menawarkan cara mudah untuk menuju kesenangan duniawi. Seseorang terkadang tidak menyadari bahwa keburukan ada pada dirinya. Agar terhindar dari keburukan atau melakukan tindakan buruk dengan cara selalu melakukan refleksi diri atas apa yang telah dilakukan. Kemudian memohon ampunan Allah SWT.

    ReplyDelete
  9. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini, pesan yang kami dapatkan adalah pemikiran Blaise Pascal (1623-1662), Pascal memandang manusia sebagai makhluk yang membutuhkan Allah (Tuhan). Dalam pandangannya manusia itu sebagai makhluk yang nista sekaligus makhluk yang luhur. (Hardiman, 2007:61). Dalam pandangannya dalam pikiran manusia selalu ada perang batin yaitu akal-budi melawan nafsu-nafsu, di mana akal-budi selalu berusaha menghapuskan nafsu-nafsu dan sebaliknya, tetapi itu tidak akan pernah terjadi (salah satu diantaranya terhapus). Dalam elegi ini tergambar bahwa yang memenangkan pertempuran adalah akal-budi (kebaikan), akan tetapi tidak sedikit pula manusia-manusia yang akal budi-nya (kebaikan) tersingkirkan oleh nafsu-nasu (keburukan). Semoga kita senantiasa mendapatkan hidayah dari Allah agar kita bisa menempatkan segala kebaikan di atas keburukan. Amin.

    ReplyDelete
  10. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Kebaikan dan keburukan ada disetiap diri manusia. Sebaik-baik manusia pasti pernah melakukan keburukkan. Kita hidup di dunia untuk berlomba-lomba dalam kebaikan,karena kebaikkan yang kita lakukan nantinya sebagai timbangan ataupenentu apakah kita layak memasuki surga atau neraka. Salah satu keburukkan yang kita terkadang tidak menyadarinya adalah sifat sombong. Kita sering kali bersifat sombong dengan tidak pernah berdoa kepada Allah SWT. Dan untuk menghindari sifat sombong yang demikianlah seharusnya kita senantiasa mengingat Allah SWT.

    ReplyDelete
  11. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Manusia lahir dengan fitrah untuk menuju ke arah kebaikan, namun karena hawa nafsu dan godaan yang melanda manusia bisa terjerumus ke dalam jurang perbuatan ke arah keburukan. Dengan sifat hati yang mudah terbolak-balik, kita sebagai manusia harus mampu untuk menjaga hati kita agar senantiasa menuju ke arah kebaikan. Karena sejatinya keburukan itu merupakan kebaikan yang sedang lalai. Jadi fitrahnya semua manusia itu berasal dari Syurga dan akan kembali ke Syurga, Amiin.

    ReplyDelete
  12. Junianto
    PM C
    17709251065

    Dua hal yang sangat bertolak belakang, kebaikan dan keburukan. Di dunia yang fana, dua hal itu selalu berdampingan. Dimana ada kebaikan, pasti ada pula keburukan yang senantiasa mempengaruhinya. Terkadang hal itu membuat kebaikan menjadi samar-samar dan keburukan nampak begitu jelas. Seperti halnya seribu kebaikan yang pernah dilakukan seseorang akan terhapus oleh keburukan yang dilakukan sekali. Seperti perumpamaan bahwa setitik noda hitam pada kain putih yang panjang akan lebih diperhatikan daripada luasnya kainputih tersebut. Apalagi sekarang batas antara kebaikan dan keburukan sepertinya sangat sulit ditemukan sehingga yang buruk bisa saja nampak baik dan yang baik nampak buruk. Peran spiritual sangat penting untuk membedakan kedua hal tersebut.

    ReplyDelete
  13. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Manusia diciptakan tidaklah sebagai makhluk yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah swt. Penciptaan manusia diiringi dengan dua sifat dasar. Sifat tersebut adalah sifat baik dan buruk. Dalam perjalanan hidup, dua sifat ini akan senantiasa menyertai kehidupan manusia. Seperti halnya uang logam yang memiliki dua sisi. Dadu yang memiliki dua warna yaitu hitam dan putih. Itulah perumpamaan sifat dasar manusia. Dalam perjalanannya, dua sifat itu akan selalu mengalami benturan, pertengkaran, dan berusaha untuk menjadi nomor saatu dalam diri manusia. Saling tarik menarik untuk menunjukkan mana yang lebih unggul. Fitrah dasar manusia adalah senantiasa berbuat baik. Apapun yang dilakukan akan menuju pada kebaikan. Islam menjaga fitrah manusia untuk selalu baik dan melawan keburukan. Keburukan hanya akan menjerumuskan manusia dalam kehidupan yang jauh dari cahaya Ilahi.

    ReplyDelete
  14. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.mat C 2017

    Setiap manusia pasti pernah berbuat baik dan berbuat buruk. Sebenar-benarnya orang yang baik adalah dia yang akan selalu bertaubat ketika dia menyadari telah berbuat buruk. Sebenar-benarnya orang yang buruk adalah dia yang sadar berlaku buruk, tetapi tidak mau bertaubat bahkan malah terus-terusan mengulangi perbuatan buruk tersebut. Oleh karena itu, agar kita selalu menjadi orang baik, kita harus banyak-banyak berdoa dan bertaubat. Ada syarat-syaratnya orang bertaubat, yaitu membaca istighfar, menyesal dalam hati, melepaskan diri dari perbuatan maksiat, berjanji tidak akan mengulangi dosa-dosa, mencintai akhirat, gemar belajar dan beribadah.

    ReplyDelete
  15. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih, terbawa haru saya oleh elegi ini. Kebaikan dan keburukan. Pertama, saya melihat bahwa keburukan memanglah sifat syaiton. Keburukan adalah lawan dari kebaikan. Tragisnya, lebih seramnya, keburukan ini ditambah-tambah istananya dengan kesombongan kesombongan keberadaannya. Sisi keburukan manusia membuat kita berusaha mempertahankannya dengan membenarkan hal-hal buruk. Hikmah yang dapat saya ambil dari elegi ini ialah pintu taubat selalu terbuka senantiasa. Bahkan keburukan, kita tidak berhak menghakiminya. Karena keburukan bisa jadi menjelma sebagai kebaikan baru.

    ReplyDelete
  16. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Kesombongan merupakan sumber dari keburukan, hidup dengan mementingkan logika melebihi nurani, mengingkari kebenaran dari suatu kebaikan mampu menutup mata hati seseorang. Namun, tidak menutup kemungkinan bagi seseorang untuk mnyadari kesalahan, kekurangan, dan kekhilafan yang pernah diperbuat dengan bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah SWT, sesungguhnya Allah maha pengampun dosa dan penerima taubat bagi hambanya yang ingin berubah (kearah kebaikan) dan kembali kejalan yang diridhoi oleh Nya.

    ReplyDelete
  17. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  18. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Saat membaca ulasan ini saya merasa terus diingatkan untuk menjadi orang yang selalu rendah hati. Terima kasih saya ucapkan kepada Bapak yang telah bersedia berbagi postingan yang amat menarik dan memiliki esensi yang sangat bermanfaat. Setelah melalui proses belajar filsafat di kelas, saya juga menjadi tahu bahwa salah satu yang dimiliki oleh manusia adalah sifat. Sifat tersebut ada yang baik dan buruk. Bagi saya, setiap kebaikan yang dilakukan sejatinya datangnya dari Allah SWT. Sebaliknya, sifat keburukan datangnya dari Syaithon. Manusia sebagai insan yang lemah sangat dituntut untuk terus memohon ampun saat memiliki sifat buruk di dalam dirinya, seperti sombong, iri, dengki, dan lainnya. Bahkan, terkadang saat melakukan hal yang baik juga dapat menimbulkan sifat riya. Perlu disadari bahwa segala hal yang dilakukan baik itu kebaikan ataupun keburukan hendaknya disertai dengan permohonan ampunan. Hal ini dikarenakan manusia tidak mampu mengendalikan sepenuhnya atas tindakan yang telah dilakukan. Penting pula untuk menyadari bahwa ada Kuasa Tuhan lebih berkuasa atas segalanya.

    ReplyDelete
  19. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Elegi yang sangat apik. Elegi yang sangat terstruktur dimana kebaikan selalu mempunyai jawaban atas apa yang dipertanyakan oleh keburukan. Saya baru membaca pesan ini dan sangat mengena sekali di hati, bahwa "Semua dosa yang bersumber dari syahwat, masih ada harapan akan diampuni Tuhan. Tapi dosa yang bersumber dari kesombongan tidak akan ada harapan untuk diampuni". Betapa bahayanya sifat sombong. Kata Allah tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya ada sifat sombong walau sekecil apapun Sifat sombong akan membuat diri tidak mau belajar lagi dan menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya. Oleh karena itu, jauilah sifat sombong karena itu sumber dari segala keburukan.

    ReplyDelete
  20. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Selama hidup, kebaikan sekaligus keburukan akan selalu dilakukan. Keburukan merupakan segala hal yang mengandung dosa, baik kecil maupun besar. Sementara kebaikan adalah bekal bagi kehidupan di akhirat nanti. Segala kebaikan maupun keburukan akan diperhitungkan di akhirat nanti. Oleh karena itu, meskipun manusia tidak akan luput dari kesalahan, Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk bertaubat, menyesali perbuatannya, memohon ampun, berjanji tidak mengulangi, dan juga meningkatkan kualitas ibadah. Maka sebaik-baik keburukan adalah yang berubah menjadi kebaikan.

    ReplyDelete
  21. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Allah mencipatakan segalanya berpasang-pasangan. Surga dan neraka. Dunia dan akhirat. Fatal dan fital. A priori dan a posteriori. logos dan mitos. Analitik dan sintetik. Begitupun kebaikan dan keburukan. Semuanya tergantungan pilihan kita. Jika hati dan pikiran kita mendapatkan rahmat dan hidayah Allah dan kita bertekad untuk berubah dan menjauhi hal yang tidak seharusnya kita lakukan/kita dekati/ kita lihat/ kita dengar, dll, maka segala keburukan yang ada dalam diri kita akan berubah dengan sendirinya menajdi kebaikan baru dengan izin Allah.

    ReplyDelete
  22. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof
    Suguhan diialog yang sangat menarik, pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan dijawab dengan lugas berdasarkan dalil-dalli yang ada.Betapa jargon keburukan kewalahan dalam melakukan pembelaan dan pengejewantahan terhadap jawaban yang diberikan yang pada akhirnya membuat ia tersungkur dan menyadari kesalahannya
    Kebaikan dan keburukan adalah dua sisi yang melekat pada diri manusia.Tidak bisa dipungkiri akan hal itu.Tugas kita adalah bagaimana meminimalisir terjadinya keburukan dengan mengikutsertakan kebaikan.Dalam elegi ini, kita dingatkan untuk segera menjemput hidayah selagi kita masih memiliki waktu dan kesempatan.Sebab Kesempatan itu memiliki peluang yang tebatas.

    ReplyDelete
  23. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada dasarnya sesuatu yang baik dan buruk itu bersifat relatif. Tidak ada manusia yang sempurna, setiap manusia pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Setiap manusia pasti pernah berbuat kebaikan dan keburukan. Ya karena manusia itu sifat. Sifat itu dapat berubah. Manusia itu dapat berubah. Keimanannya naik turun. Kadang keimanannya naik yaitu selalu berbuat kebaikan dan selalu mengingat Allah, tetapi kadang keimanannya turun sehingga berbuat kejahatan dan keburukan. Tentu dengan keburukannya itu manusia tak lepas dari dosa. Jika kita dapat bertaubat dan mau menghindari perbuatan buruk dan selalu mengingat Allah, maka Allah akan selalu memberikan rahmat kepada kita.

    ReplyDelete
  24. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Kebaikan dan keburukan merupakan hal yang selalu ada di muka bumi. Bahkan jika salah satunya lenyap, maka semesta akan kehilangan keseimbangan. Seperti contoh apabila ada api tanpa ada air, tentu dunia telah mengalami kehancuran. Hanya saja, dalam memandang baik dan buruk, kita (manusia) tidak bisa hanya melihat dari perspektif hitam putih. Saya rasa, kebaikan tidak selamanya baik. Seperti: ketika kita sebagai wartawan ingin mengambil sebuah moment pembunuhan dalam demonstrasi, tentu sebagai wartawan, ia memiliki tugas mengambil gambar, secara profesionalitas ia bisa dikatakan sebagai wartawan yang baik karena berhasil menciptakan moment langka suatu kejadian. Namun, dari segi kemanusiaan tentunya hal tersebut merupakan hal yang buruk. Dari titik inilah kita dapat memahami bahwa baik atau buruk, bukanlah hal yang patut dijadikan satu kebenaran tunggal. Justru baik dan buruk akan selalu benar jika sesuai ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  25. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Segala yang ada di dunia ini telah diatur oleh Allah SWT termasuk menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Seperti pada elegi di atas bahwa Allah SWT telah menciptakan keburukan dan kebaikan sekaligus. Antara kebaikan dan keburukan memang suatu hal yang saling bertolak belakang, dan selama manusia hidup di dunia ini pasti terdapat kebaikan dan keburukan. Menjadi baik merupakan sebuah keharusan bagi manusia. Namun jika terdapat suatu keadaan dimana seorang manusia mengalami keburukan, bukan berarti ia akan menjadi buruk selamanya. Jika ia berkeinginan untuk berubah menjadi baik, dengan niat ikhlas semata-mata karena Allah SWT maka tidak ada kata terlambat baginya. Proses menuju kebaikan inilah yang disebut dengan taubat. Taubat berarti benar-benar menyadari kesalahan dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Dan seperti yang terdapat pada elegi diatas, terdapat beberapa syarat taubat, yaitu membaca istighfar, menyesal dalam hati, melepaskan diri dari perbuatan maksiat, berjanji tidak akan mengulangi dosa-dosa, mencintai akhirat, gemar belajar dan beribadah. Semoga kita selalu termasuk kedalam golongan orang-orang yang berada di jalan kebaikan.

    ReplyDelete
  26. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Terimakasih prof. Marsigit atas artikel di atas. Menarik rupanya ketika kita menyaksikan perkelahian antara keburukan dan kebaikan. Seolah si keburukan tidak merasa salah, dosa, takut, cemas, karena kecenderungannya lebih memilih sibuk akan urusan duniawi. Terkadang manusia berada dalam garis ambang, itulah mungkin pengibaratannya. Ia goyah dan ragu akan memenangkan si keburukan atau si kebaikan. Tidak hanya tentang perilaku, namun sikap, sifat, perkataan, dan segala yang ada dan yang mungkin ada seringkali dihadapkan pada pilihan yang ia bingung memilihnya. Namun, banyak orang mengatakan bahwa “ikutilah kata hatimu”, karena sesuatu yang berangkat dari hati berarti itulah keyakinan yang harus dijalani dan landasan untuk mengambil segala keputusan. Memenagkan kebaikan mudahlah semudah membalikkan telapak tangan, namun alangkah baiknya ketika seseorang berhasil memilih kebaikan sebagai jalan hidupnya, segala keburukan perlahan akan pudar dan mengurungkan niatnya untuk muncul. Tentu semuanya Allah yang menggerakkan, sehingga jangan lah sampai kita sombong untuk tidak memohon petunjuk dan perlindungan dariNya di setiap langkah kita. Wallahu’alam bishowab.
    Wassalamu’alaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  27. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Begitu banyak pelajaran yang bisa diambil dari elegi ini. Namun pengetahuan tentang 4 kebaikan yang tertulis dalam elegi ini menurut saya relevan dengan kondisi saya sekarang. Dimana salah satu dari 4 kebaikan itu adalah orang tua bertaubat itu baik, namun anak muda yang bertaubat itu lebih baik. Orang tua yang bertaubat itu barangkali terhitung wajar, karena ia merasa sudah dekat dengan kematian. Sehingga ia mulai memikirkan kematian dan menyiapkan bekalnya. Namun bagi anak muda yang bertaubat, yang sudah memikirkan kematian dan menyiapkan bekal untuk menghadapinya maka itu adalah sebuah kebaikan yang luar biasa karena ia termasuk ke dalam golongan orang yang cerdas. Sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang sering mengingat mati dan menyiapkan untuk kematiannya.

    ReplyDelete
  28. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Allah selalu menciptakan semua hal dalam berpasang-pasangan. begitu juga kebaikan dan keburukan diciptakan. mereka diciptakan secara bersamaan supaya orang-orang didunia atau kita sebagai orang yang telah diberi akal dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. semoga kita semua menjadi orang-orang yang dapat membedakan yang mana yang baik dan buruk dan senantiasa mengerjakan kebaikan dalam setiap kesempatan.

    ReplyDelete
  29. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Manusia diberikan sifat-sifat oleh Allah yang selalu bergandengan tetapi sifat tersebut mempunyai tujuan yang bertolak belakang. Salah satunya kebaikan dan keburukan. Dua sifat yang selalu ada pada diri manusia tetapi sifat itu dihadirkan untuk dipilih, dan pilihan tersebut yang menentukan kualitas kita dihadapan Allah. Keburukan, sifat yang jelas berasal dari syaitan tersebut membuat manusia tidak beriman kepada Allah karena itulah memang tujuan syaitan membuat anak cucu adam meninggalkan keimanannya. Kebaikan, adalaah sifat yang datangnya dari malaikat dan Allah, dimana kebaikan juga tidak terlepas dari godaan syaitan akan tetapi bekal ilmu yang kuat mengenai ke Tauhidan, syaitan pun perlahan-lahan lelah untuk menggodanya, sehingga kebaiakn dapat dengan baik mempertahankan keimanannya. Semoga kebaikan adalah hal dominan yang ada pada diri kita, dan semoga keburukan pelan-pelan dpat kita tinggalkan. Aaminn.

    ReplyDelete
  30. Kartika Kirana
    17701251039
    PEP S2 B

    Membaca elegi ini, saya bertanya-tanya, mengapa kebaikan pada akhirnya menang dalam perkelahian ini. Dapatkah keburukan menang? Di dunia ini lebih mudah keburukan menang daripada kebaikan. Mulai dari bangun pagi sajalah... Rasa enggan karena masih lebih nyaman tidur lebih besar dan lebih mudah menang daripada terbangun dan berdoa. Pergi ke tempat-tempat hiburan lebih banyak dipilih daripada pergi ke tempat ibadah.
    Nampaknya memang harus belajar ikhlas dulu agar kebaikan selalu menang dalam hati kita. Godaan dunia ini terlalu besar dan terlalu indah untuk dilewatkan jika hati tidak ikhlas.

    ReplyDelete
  31. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Subhanallah, elegi ini membuat saya memahami satu hal yang luar biasa, tentang betapa berbahayanya kesombongan pada diri kita. Kesombongan adalah salah satu keburukan yang tidak dapat diampuni oleh Allah, melebihi keburukan karena syahwat. Astaghfirullah.. Saya tidak tahu kapan dan sudah berapa kali terbesit perasaan sombong di dalam hati. Sombong karena merasa menjadi yang terbaik, sombong karena mendapatkan sesuatu yang tidak dimiliki orang lain, bahkan contoh sederhananya adalah pamer akan sesuatu yang baru. Sungguh kesombongan bisa membimbing kita menuju neraka. Semoga kita semua dapat terhindar dari sifat sombong walau sekecil batu kerikil.

    ReplyDelete
  32. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027
    Kebaikan dan keburukan adalah sesuatu yang sangat relatif terhadap ruang dan waktu. Seseorang bisa saja dikatakan memiliki keburukan di masa sekarang, namun bisa saja ia akan menjadi seseorang dengan penuh kebaikan di waktu yang akan datang. Demikian pula sebaliknya, seseorang yang selalu berbuat baik, masih memiliki potensi untuk melakukan keburukan dimasa yang akan datang. Kebaikan dan keburukan bisa sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi lingkungan dimana seseorang berinteraksi, Oleh sebab itu, sebaik - baik hidup adalah membangun lingkungan yang baik dengan komunikasi yang baik, serta saling nasihat menasihati dalam hal kebaikan

    ReplyDelete