Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 35: Cendekia yang ber Nurani




Oleh Marsigit

Bagawat:

Waha..semakin banyak saja peserta lomba Menjunjung Langit. Walaupun aku telah melihat banyak di antara mereka berjatuhan. Tetapi sebagaian besar mampu juga bangun kembali dan melanjutkan perlombaan. Itulah hebatnya manusia. Tuhan telah memberi dan melimpahkan karunia kepadanya, sehingga mereka selalu diberi kekuatan untuk selalu berikhtiar. Iba rasa hatiku. Tetapi ada sesuatu yang ternyata menjadi pemikiran buat diriku, yaitu bagaimana aku bisa menjelaskan kepada peserta lomba perihal pencapaian-pencapaiannya. Mengingat di antara mereka yang banyak itu, mereka mempunyai persepsi, pikiran dan perasaan yang berbeda-beda. Wahai Sang Rakata, kelihatannya ada sesuatu yang ingin engkau tanyakan?



Rakata:
Yang mulia Bagawat, mohon ampun atas kelancanganku. Bolehkah aku mengetahui siapa saja diantara pengikutku yang lulus mampu menjunjung langit? Dan siapa pula yang tidak lulus? Jikalau diantara pengikutku ada yang tidak lulus, kira-kira apa penyebabnya? Aku juga ingin tahu, dalam perlombaan Menjunjung Langit itu apakah pemenangnya bersifat tunggal atau jamak?

Bagawat:
Hemm..Sang Rakata muridku yang gagah perkasa. Ketahuilah bahwa pemenang perlombaan Menjunjung Langit itu bisa bersifat tunggal, dual, tripel atau jamak. Sedangkan pemenangnya adalah siapa saja yang berhati ikhlas dan mampu berpikir kritis. Ketahuilah bahwa berhati ikhlas dan berpikir kritis itu terikat oleh ruang dan waktu, artinya dia itu bisa berupa titik atau simpul potensi, berupa garis atau bidang vitalitas, atau berupa ruang interaksi dinamis antara potensi dan vitalitas dalam waktunya.

Rakata:
Ampun yang mulia, sulit kiranya aku memahami apa yang baru saja engkau jelaskan? Hemm..kalau begitu apa ya kira-kira kriteria bagi mereka yang dianggap gagal?

Bagawat:

Wahai Sang Rakata...aku mengerti apa yang sedang engkau pikirkan. Ketahuilah bahwa ruang dan waktu itulah tempatnya hatimu menunjukkan keikhlasanmu dan tempatnya pikiranmu menunjukkan keikhlasanmu. Sedangkan hubungan antara dirimu dengan ruang dan waktu tiadalah bersifat tetap bagi predikat-predikatnya dan bersifat tetap bagi predikat-predikat yang lain.

Rakata:
Ampun yang mulia...bukannya aku bertambah jelas perihal keteranganmu itu, melainkan aku malah bertambah bingung.

Bagawat:
Dirimu yang selalu berubah dalam ruang dan waktu itulah penyebab dari ketidakmampuanmu menunjuk dirimu. Tetapi bahwa hatimu dan pikiranmu itu selalu berada dalam ruang dan waktu itulah suatu ketetapan yang bersifat tetap untuk menjamin doa-doa dan ikhtiarmu. Kongkritnya adalah bahwa manusia itu tidak dapat mengaku dirinya sebagai telah berhati ikhlas dan telah berpikir kritis.

Rakata:
Lho..kalau begitu..bagaimana kita bisa mengetahui pencapaian-pencapaian doa-doa, pikiran dan ikhtiar kita?

Bagawat:
Itulah perlunya penilaian dari orang lain. Tetapi sehebat-hebat orang menilai maka dia tidak bisa melepaskan diri dari ruang dan waktunya, artinya dia tidak bisa terbebas dari subyektivitasnya. Maka sebenar-benar penilaian absolut itu datangnya dari Allah SWT.

Rakata:
Wahai Sang Bagawat...tadinya saya berpikir Allah SWT itu hanya meperhatikan keikhlasan manusia saja, sedangkan pikiran manusia itu sifatnya mandiri.

Bagawat:
Jangankan pikiran manusia, semua perbuatan manusia itu sesungguhnya tidak bisa lepas dari kekuasaan Nya.

Rakata:
Sang Bagawat...bolehkah aku mengetahui lebih rinci tentang ciri-ciri orang yang mampu atau yang tidak mampu menjunjung langit itu?

Bagawat:
Bahkan dirimu setiap saat dapat terancam kegagalan, walaupun setiap saat mempunyai harapan. Kegagalanmu disebabkan oleh karena kesadaranmu, tetapi keberhasilanmu juga ditentukan oleh kesadaranmu pula. Sedangkan doa-doa mu itulah yang mengangkat dimensimu di luar kesadaranmu. Pada saat engkau lantunkan keberhasilanmu, maka saat itulah kegagalanmu siap menjemputmu. Pada saat engkau menyadari keikhlasanmu, maka saat itulah ketidakikhlasanmu siap menjemputmu. Jangankan engkau bertanya kepada banyak orang, jika engkau mampu bertanya kepada diri sendiri maka engkau dapat mengetahui bahwa kegagalan dan keberhasilanmu selalu siap mengikuti dirimu dalam ruang dan waktumu. Maka tiadalah sebenar-benar dirimu itu ikhlas dan berpikir kritis, melainkan dirimu hanya selalu berusaha menggapainya. Ketahuilah bahwa sebenar-benar ikhlas dan berpikir kritis absolut itu hanyalah milik Nya. Maka tiadalah ada manusia dimuka bumi ini yang sebenar-benar mampu menjunjung langit itu, kecuali atas kehendak Nya.

Rakata:
Jikalau manusia itu tidak mampu mencapai ikhlas dan berpikir absolut, mengapa engkau mengadakan perlombaan Menjunjung Langit?

Bagawat:
Itulah yang namanya ikhtiar. Aku dapat katakan bahwa ikhlas dan pikiran kritismu itu tidak lain tidak bukan adalah ikhtiar hati dan pikiranmu. Barang siapa berhenti berikhtiar dalam hati dan dalam pikirannya maka dia akan terancam dimangsa oleh mitos-mitosnya sendiri. Itulah yang disebut bernurani dan cendekia. Bernurani itu adalah ikhlas dalam hatimu dan cendekia itu adalah kritis dalam pikiranmu.

Rakata:

Hemm..terimakasih Sang Bagawat..padhang terawangan. Kalau begitu bernurani dan cendekia itu ternyata melekat pada diri kita masing-masing dalam ruang dan waktu kita masing-masing pula. Hemm..bolehkah Sang Bagawat aku masih bertanya tentang satu hal, yaitu apa yang dimaksud dengan mandiri?

Bagawat:
Seperti yang sudah saya jelaskan di muka. Ikhtiar manusia itu mentrasformir potensi hati dan pikirannya kedalam ruang dan waktu interaksi dinamis antara potensi-potensinya dengan vitalitas-vitalitasnya. Ruang dan waktu interaksi dinamis itu bisa berupa titik, garis, bidang atau bahkan ruang itu sendiri.

Rakata:
Wahai Sang Bagawat...saya hanya bertanya tentang mandiri..kenapa penjelasanmu malah bertambah rumit?

Bagawat:

Di dalam ruang dan waktu interaksi dinamis itulah manusia mampu merasakan, menyadari dan memikirkan dirinya dan bukan dirinya. Tetapi keadaan demikian bersifat timbal balik dengan lingkungannya. Di dalam ruang interaksi dinamis itu pula manusia harus bersedia menjadi obyek perasaan, obyek kesadaran dan obyek pikiran bagi yang lainnya. Jika ruang dan waktu kemudian diintensifkan dan diekstensikan, maka itulah yang terjadi bahwa manusia sedang melakukan hijrah dari satu titik ke titik yang lainnya untuk mentransformir doa-doa dalam hatinya serta kritis dalam pikirannya untuk memperoleh vitalitas-vitalitasnya. Ketahuilah bahwa jika ruang dan waktu diintensifkan dan diekstensifkan lagi maka vitalitas-vitalitas itu tidak lain adalah juga potensi-potensinya.

Rakata:
Apa hubungannya antara potensi, vitalitas, ruang dan waktu dengan mandiri?

Bagawat:
Wahai Sang Rakata yang gagah dan perkasa, sabarlah. Dalam ruang dan waktu interaksi dinamis itu, jika manusia terjaga hati dan pikirannya, maka ada 3 (tiga) kemampuan yang segera diperolehnya. Dia akan bisa merasakan, menyadari, memikirkan, dan menjalani fenomena mendatar, meruncing dan mengembang.

Rakata:
Apa pula fenomena mendatar, meruncing dan mengembang itu?

Bagawat:
Fenomena mendatar itulah kebiasaanmu, itulah aturan-aturanmu, itulah kodrat dan takdir yang telah ditetapkan baik dari dalam dirimu maupun dari luar dirimu. Fenomena meruncing itulah perasaanmu, itulah kesadaranmu, itulah pikiranmu, itulah ikhtiarmu untuk mengungkap segala misteri kehidupan dirimu dan lingkunganmu. Sedangkan fenomena mengembang itulah perolehanmu, akibat-akibatmu, pencapaianmu, prestasimu, pergaulanmu, keluargamu, teman-temanmu, masyarakatmu. Ketiga fenomena itulah sebenar-benar pilar dalam hidupmu. Itulah hidupmu. Janganlah mengaku-aku sebagai manusia mandiri jikalau engkau belum memahami dan mengimplementasikannya.

Rakata:
Oh..Sang Bagawat...ampunilah kebodohan diriku ini. Badanku terasa gemetar setelah mendengar uraianmu semua. Sungguh tiadalah aku merasakan keperkasaanku itu di hadapanmu itu. Perkenankanlah aku ingin meneteskan air mata dan melantunkan doa syukur atas karunia ini.

Bagawat:
Wahai Sang Rakata..bangunlah. Bukanlah sesuatu yang kebetulan engkau datang di hadapanku itu. Tiadalah orang lain selain dirimu dan diriku ada di sini. Aku pun tidak melihat para cantraka ada di depanku. Apa artinya? Artinya adalah tiadalah ada kata akhir perlombaan Menjunjung Langit itu. Kemampuanmu datang dihadapanku sekarang ini, adalah bukti bahwa dengan keikhlasanmu itu, engkau telah konsisten tetap berpikir kritis seraya mengembang tanggungjawab dan kewajiban-kewajibanmu. Tidak hanya itu, aku juga melihat bahwa engkau telah mampu mentransformir dirimu ke dalam ruang dan waktu interaksi dinamis yang tidak hanya engkau peruntukkan bagi dirimu, tetapi juga bagi yang lainnya. Secara sadar maupun tidak sadar engkau telah mengakomodir tidak hanya dirimu tetapi juga diri yang lain aspek-aspek kehidupan bernurani, cendekia dan mandiri. Jika ruang dan waktu yang lampau aku telah menunjuk sementara seorang Cantraka sebagai pemenangnya, maka sekarang aku telah menunjuk dirimu sebagai pemenang sementara. Teruskanlah perjuanganmu karena di atas pundakmulah banyak nasib di luar dirimu tergantung pada dirimu. Itulah sebenar-benar manusia cemani. Tetapi waspadalah terhadap mitos-mitosmu. Begitu engkau menyadari keikhlasanmu dan pikiran kritismu maka mitos-mitosmu itu siap menerkammu. Maka istighfar dan berdoalah mohon ampun dan bimbingan ke hadhlirat Allah SWT. Amiin.

20 comments:

  1. Naja Nusaibah
    13301241042
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Ikhlas dan berpikir kritis adalah kunci dari elegi ini. Seperti pada elegi menjunjung langit yang sebelumnya, bahwa sesungguhnya tidak ada yang benar benar mampu menjunjung langit melainkan berusaha menggapainya. Seperti sebuah ilmu yang sangat luas dan tidak akan pernah mampu dimiliki oleh manusia, tetapi kita hanya berusaha menggapainya. Dalam menggapai atau menuntut ilmu diperlukan keikhlasan dan berpikir kritis. Allah SWT sang pemilik ilmu tidak hanya menilai seseorang dari hatinya saja atau dari keikhlasannya saja. Tetapi dari pikirannya untuk berpikir kritis.

    ReplyDelete
  2. Naja Nusaibah
    13301241042
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Manusia tidak akan mampu mengukur keikhlasan dirinya sendiri melainkan hanya rasa tidak ikhlasnya. Artinya tidak ada orang yang benar-benar ikhlas lalu mengatakan dirinya ikhlas. Yang seperti itu berarti ia belum ikhlas. Ikhlas bukan diukur oleh diri sendiri melainkan orang lain. Begitu pula dengan berpikir kritis, kita tidak bisa hanya diam dan mengukur diri sendiri seberapa kita berpikir kritis. Karena berpikir kritis berarti memahami dan mengimplementasikannya ke dalam lingkungan dan kehidupan sosial.

    ReplyDelete
  3. Naja Nusaibah
    13301241042
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Tetaplah menuntut ilmu dan selalu berusaha untuk ikhlas dan berpikir kritis. Jangan berpikir seberapa banyak ilmu yang kita gapai, seberapa iklhas hati kita, atau seberapa kita berpikir kritis karena akan merusak perjuangan kita dalam menggapai ilmu.

    ReplyDelete
  4. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Hal yang dapat saya tangkap adalah keikhlasan hanya ditunjukkan dalam hati manusia dan yang mengetahui hanyalah Sang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  5. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Hati dan pikiran kita dalam ruang dan waktu masing-masing hanya dapat berubah-ubah tingkatnya untuk predikat-predikat yang ada. Sebagai contoh, saya memikikirkan ingin berbagi dengan si-A, maka pikiran ingin berbagi dengan si-B tidak ada saat itu dalam pikiran saya, hal ini berarti berbagi dengan si-A tetap dalam diriku sedangkan berbagi dengan si-B tiadalah bersifat tetap dalam diriku.

    ReplyDelete
  6. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Hubungan antara diriku dengan ruang dan waktu tentu memiliki keterbatasan kemampuan yang telah di tetapkan Oleh yang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  7. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Karena ikhlas hanya ada di dalam hati dan hanya diketahui oleh Allah SWT. Saat kita menyebutkan bahwa kita telah ikhlas justru saat itulah keikhlasan kita telah gugur bersama dengan kesombongan kita sendiri.

    ReplyDelete
  8. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Untuk ikhlas-pun membutuhkan ikhtiar yaitu ikhtiar untuk membersihkan dan mensucikan hati kita. Hati dan pikiran harus ditempa latihan di setiap harinya karena dengan kebiasaan untuk melatih hati ikhlas dan melatih pikiran dapat berpikir kritis akan dapat membangun dunia kita masing-masing sebagai bekal menuju ke alam yang berikutnya.

    ReplyDelete
  9. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Untuk mengetahui pencapaian-pencapaian doa-doa, pikiran dan ikhtiar kita diperlukan penilaian dari orang lain. Tetapi sehebat-hebat orang menilai maka dia tidak bisa melepaskan diri dari ruang dan waktunya, artinya dia tidak bisa terbebas dari subyektivitasnya.

    ReplyDelete
  10. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Orang lain juga memiliki penilaian terhadap diri mereka masing-masing, subjektivitas itu akan muncul salah satunya adalah dengan membandingkan pencapaian pada diri mereka.

    ReplyDelete
  11. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Maka sebenar-benar penilaian absolut itu datangnya dari Allah SWT.

    ReplyDelete
  12. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Jangankan pikiran manusia, semua perbuatan manusia itu sesungguhnya tidak bisa lepas dari kekuasaan Nya. Karena Allah SWT maha Berkuasa dan Berkehendak.

    ReplyDelete
  13. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Pikiran dan perbuatan manusia ada karena kehendak dan kuasa-Nya, maka setiap kita bisa berpikir dan berbuat suatu kebaikan jangan lupakan untuk selalu bersyukur kepada-Nya.

    ReplyDelete
  14. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Tiadalah daya dan upaya yang bisa kita lakukan kecuali tanpa campur tangan dari Ilahi Robbi.

    ReplyDelete
  15. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY


    Bahkan dirimu setiap saat dapat terancam kegagalan, walaupun setiap saat mempunyai harapan.

    ReplyDelete
  16. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Kegagalanmu disebabkan oleh karena kesadaranmu, tetapi keberhasilanmu juga ditentukan oleh kesadaranmu pula. Sedangkan doa-doa mu itulah yang mengangkat dimensimu di luar kesadaranmu. Pada saat engkau lantunkan keberhasilanmu, maka saat itulah kegagalanmu siap menjemputmu.

    ReplyDelete
  17. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY


    Terkadang manusia merasa keberhasilannya adalah akhir dari segalanya, merasa tidak perlu usaha yang lain lagi karena sudah merasa gagah. Akan tetapi saat itulah yang harus diwaspadai oleh manusia, karena saat-saat itulah usaha yang dilakukan saat itu tidak semaksimal dengan usaha yang dilakukan saat akan mencapai keberhasilan pertama

    ReplyDelete
  18. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Maka sebenar-benar keberhasilan adalah saat kita mampu meningkatkan diri dari usaha sebelumnya ke usaha selanjutnya.

    ReplyDelete
  19. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Maka membangun nurani dan kecendekiaan itu bergantung dari ruang dan waktu kita masing-masing. Akan dibawa kemana diri ini, ditentukan oleh pikiran dan hati masing-masing melalui ikhtiar yang sungguh-sungguh. Dan yang terpenting adalah bergantung dari doa untuk mendapatkan ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  20. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Semoga kita bisa menjadi insan yang mampu merangkai kemampuan-kemampuan itu dalam ruang dan waktu kita masing-masing.

    ReplyDelete


Note: Only a member of this blog may post a comment.