Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 35: Cendekia yang ber Nurani




Oleh Marsigit

Bagawat:

Waha..semakin banyak saja peserta lomba Menjunjung Langit. Walaupun aku telah melihat banyak di antara mereka berjatuhan. Tetapi sebagaian besar mampu juga bangun kembali dan melanjutkan perlombaan. Itulah hebatnya manusia. Tuhan telah memberi dan melimpahkan karunia kepadanya, sehingga mereka selalu diberi kekuatan untuk selalu berikhtiar. Iba rasa hatiku. Tetapi ada sesuatu yang ternyata menjadi pemikiran buat diriku, yaitu bagaimana aku bisa menjelaskan kepada peserta lomba perihal pencapaian-pencapaiannya. Mengingat di antara mereka yang banyak itu, mereka mempunyai persepsi, pikiran dan perasaan yang berbeda-beda. Wahai Sang Rakata, kelihatannya ada sesuatu yang ingin engkau tanyakan?



Rakata:
Yang mulia Bagawat, mohon ampun atas kelancanganku. Bolehkah aku mengetahui siapa saja diantara pengikutku yang lulus mampu menjunjung langit? Dan siapa pula yang tidak lulus? Jikalau diantara pengikutku ada yang tidak lulus, kira-kira apa penyebabnya? Aku juga ingin tahu, dalam perlombaan Menjunjung Langit itu apakah pemenangnya bersifat tunggal atau jamak?

Bagawat:
Hemm..Sang Rakata muridku yang gagah perkasa. Ketahuilah bahwa pemenang perlombaan Menjunjung Langit itu bisa bersifat tunggal, dual, tripel atau jamak. Sedangkan pemenangnya adalah siapa saja yang berhati ikhlas dan mampu berpikir kritis. Ketahuilah bahwa berhati ikhlas dan berpikir kritis itu terikat oleh ruang dan waktu, artinya dia itu bisa berupa titik atau simpul potensi, berupa garis atau bidang vitalitas, atau berupa ruang interaksi dinamis antara potensi dan vitalitas dalam waktunya.

Rakata:
Ampun yang mulia, sulit kiranya aku memahami apa yang baru saja engkau jelaskan? Hemm..kalau begitu apa ya kira-kira kriteria bagi mereka yang dianggap gagal?

Bagawat:

Wahai Sang Rakata...aku mengerti apa yang sedang engkau pikirkan. Ketahuilah bahwa ruang dan waktu itulah tempatnya hatimu menunjukkan keikhlasanmu dan tempatnya pikiranmu menunjukkan keikhlasanmu. Sedangkan hubungan antara dirimu dengan ruang dan waktu tiadalah bersifat tetap bagi predikat-predikatnya dan bersifat tetap bagi predikat-predikat yang lain.

Rakata:
Ampun yang mulia...bukannya aku bertambah jelas perihal keteranganmu itu, melainkan aku malah bertambah bingung.

Bagawat:
Dirimu yang selalu berubah dalam ruang dan waktu itulah penyebab dari ketidakmampuanmu menunjuk dirimu. Tetapi bahwa hatimu dan pikiranmu itu selalu berada dalam ruang dan waktu itulah suatu ketetapan yang bersifat tetap untuk menjamin doa-doa dan ikhtiarmu. Kongkritnya adalah bahwa manusia itu tidak dapat mengaku dirinya sebagai telah berhati ikhlas dan telah berpikir kritis.

Rakata:
Lho..kalau begitu..bagaimana kita bisa mengetahui pencapaian-pencapaian doa-doa, pikiran dan ikhtiar kita?

Bagawat:
Itulah perlunya penilaian dari orang lain. Tetapi sehebat-hebat orang menilai maka dia tidak bisa melepaskan diri dari ruang dan waktunya, artinya dia tidak bisa terbebas dari subyektivitasnya. Maka sebenar-benar penilaian absolut itu datangnya dari Allah SWT.

Rakata:
Wahai Sang Bagawat...tadinya saya berpikir Allah SWT itu hanya meperhatikan keikhlasan manusia saja, sedangkan pikiran manusia itu sifatnya mandiri.

Bagawat:
Jangankan pikiran manusia, semua perbuatan manusia itu sesungguhnya tidak bisa lepas dari kekuasaan Nya.

Rakata:
Sang Bagawat...bolehkah aku mengetahui lebih rinci tentang ciri-ciri orang yang mampu atau yang tidak mampu menjunjung langit itu?

Bagawat:
Bahkan dirimu setiap saat dapat terancam kegagalan, walaupun setiap saat mempunyai harapan. Kegagalanmu disebabkan oleh karena kesadaranmu, tetapi keberhasilanmu juga ditentukan oleh kesadaranmu pula. Sedangkan doa-doa mu itulah yang mengangkat dimensimu di luar kesadaranmu. Pada saat engkau lantunkan keberhasilanmu, maka saat itulah kegagalanmu siap menjemputmu. Pada saat engkau menyadari keikhlasanmu, maka saat itulah ketidakikhlasanmu siap menjemputmu. Jangankan engkau bertanya kepada banyak orang, jika engkau mampu bertanya kepada diri sendiri maka engkau dapat mengetahui bahwa kegagalan dan keberhasilanmu selalu siap mengikuti dirimu dalam ruang dan waktumu. Maka tiadalah sebenar-benar dirimu itu ikhlas dan berpikir kritis, melainkan dirimu hanya selalu berusaha menggapainya. Ketahuilah bahwa sebenar-benar ikhlas dan berpikir kritis absolut itu hanyalah milik Nya. Maka tiadalah ada manusia dimuka bumi ini yang sebenar-benar mampu menjunjung langit itu, kecuali atas kehendak Nya.

Rakata:
Jikalau manusia itu tidak mampu mencapai ikhlas dan berpikir absolut, mengapa engkau mengadakan perlombaan Menjunjung Langit?

Bagawat:
Itulah yang namanya ikhtiar. Aku dapat katakan bahwa ikhlas dan pikiran kritismu itu tidak lain tidak bukan adalah ikhtiar hati dan pikiranmu. Barang siapa berhenti berikhtiar dalam hati dan dalam pikirannya maka dia akan terancam dimangsa oleh mitos-mitosnya sendiri. Itulah yang disebut bernurani dan cendekia. Bernurani itu adalah ikhlas dalam hatimu dan cendekia itu adalah kritis dalam pikiranmu.

Rakata:

Hemm..terimakasih Sang Bagawat..padhang terawangan. Kalau begitu bernurani dan cendekia itu ternyata melekat pada diri kita masing-masing dalam ruang dan waktu kita masing-masing pula. Hemm..bolehkah Sang Bagawat aku masih bertanya tentang satu hal, yaitu apa yang dimaksud dengan mandiri?

Bagawat:
Seperti yang sudah saya jelaskan di muka. Ikhtiar manusia itu mentrasformir potensi hati dan pikirannya kedalam ruang dan waktu interaksi dinamis antara potensi-potensinya dengan vitalitas-vitalitasnya. Ruang dan waktu interaksi dinamis itu bisa berupa titik, garis, bidang atau bahkan ruang itu sendiri.

Rakata:
Wahai Sang Bagawat...saya hanya bertanya tentang mandiri..kenapa penjelasanmu malah bertambah rumit?

Bagawat:

Di dalam ruang dan waktu interaksi dinamis itulah manusia mampu merasakan, menyadari dan memikirkan dirinya dan bukan dirinya. Tetapi keadaan demikian bersifat timbal balik dengan lingkungannya. Di dalam ruang interaksi dinamis itu pula manusia harus bersedia menjadi obyek perasaan, obyek kesadaran dan obyek pikiran bagi yang lainnya. Jika ruang dan waktu kemudian diintensifkan dan diekstensikan, maka itulah yang terjadi bahwa manusia sedang melakukan hijrah dari satu titik ke titik yang lainnya untuk mentransformir doa-doa dalam hatinya serta kritis dalam pikirannya untuk memperoleh vitalitas-vitalitasnya. Ketahuilah bahwa jika ruang dan waktu diintensifkan dan diekstensifkan lagi maka vitalitas-vitalitas itu tidak lain adalah juga potensi-potensinya.

Rakata:
Apa hubungannya antara potensi, vitalitas, ruang dan waktu dengan mandiri?

Bagawat:
Wahai Sang Rakata yang gagah dan perkasa, sabarlah. Dalam ruang dan waktu interaksi dinamis itu, jika manusia terjaga hati dan pikirannya, maka ada 3 (tiga) kemampuan yang segera diperolehnya. Dia akan bisa merasakan, menyadari, memikirkan, dan menjalani fenomena mendatar, meruncing dan mengembang.

Rakata:
Apa pula fenomena mendatar, meruncing dan mengembang itu?

Bagawat:
Fenomena mendatar itulah kebiasaanmu, itulah aturan-aturanmu, itulah kodrat dan takdir yang telah ditetapkan baik dari dalam dirimu maupun dari luar dirimu. Fenomena meruncing itulah perasaanmu, itulah kesadaranmu, itulah pikiranmu, itulah ikhtiarmu untuk mengungkap segala misteri kehidupan dirimu dan lingkunganmu. Sedangkan fenomena mengembang itulah perolehanmu, akibat-akibatmu, pencapaianmu, prestasimu, pergaulanmu, keluargamu, teman-temanmu, masyarakatmu. Ketiga fenomena itulah sebenar-benar pilar dalam hidupmu. Itulah hidupmu. Janganlah mengaku-aku sebagai manusia mandiri jikalau engkau belum memahami dan mengimplementasikannya.

Rakata:
Oh..Sang Bagawat...ampunilah kebodohan diriku ini. Badanku terasa gemetar setelah mendengar uraianmu semua. Sungguh tiadalah aku merasakan keperkasaanku itu di hadapanmu itu. Perkenankanlah aku ingin meneteskan air mata dan melantunkan doa syukur atas karunia ini.

Bagawat:
Wahai Sang Rakata..bangunlah. Bukanlah sesuatu yang kebetulan engkau datang di hadapanku itu. Tiadalah orang lain selain dirimu dan diriku ada di sini. Aku pun tidak melihat para cantraka ada di depanku. Apa artinya? Artinya adalah tiadalah ada kata akhir perlombaan Menjunjung Langit itu. Kemampuanmu datang dihadapanku sekarang ini, adalah bukti bahwa dengan keikhlasanmu itu, engkau telah konsisten tetap berpikir kritis seraya mengembang tanggungjawab dan kewajiban-kewajibanmu. Tidak hanya itu, aku juga melihat bahwa engkau telah mampu mentransformir dirimu ke dalam ruang dan waktu interaksi dinamis yang tidak hanya engkau peruntukkan bagi dirimu, tetapi juga bagi yang lainnya. Secara sadar maupun tidak sadar engkau telah mengakomodir tidak hanya dirimu tetapi juga diri yang lain aspek-aspek kehidupan bernurani, cendekia dan mandiri. Jika ruang dan waktu yang lampau aku telah menunjuk sementara seorang Cantraka sebagai pemenangnya, maka sekarang aku telah menunjuk dirimu sebagai pemenang sementara. Teruskanlah perjuanganmu karena di atas pundakmulah banyak nasib di luar dirimu tergantung pada dirimu. Itulah sebenar-benar manusia cemani. Tetapi waspadalah terhadap mitos-mitosmu. Begitu engkau menyadari keikhlasanmu dan pikiran kritismu maka mitos-mitosmu itu siap menerkammu. Maka istighfar dan berdoalah mohon ampun dan bimbingan ke hadhlirat Allah SWT. Amiin.

48 comments:

  1. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Tanpa hati nurani, kita akan benar-benar kehilangan arah. Jika digunakan dengan sepatutnya, hati nurani dapat membantu kita menemukan jalan yang benar dalam kehidupan dan tetap berada dalam jalan tersebut. Hati nurani dapat menuntun kita untuk mengambil keputusan yang baik atau memperingatkan kita untuk tidak mengambil keputusan yang tidak baik. Setelah itu, hati nurani bisa menenangkan hati kita karena pilihan yang kita buat itu bijaksana atau menghukum kita sehingga batin kita tertekan karena pilihan kita tidak baik.

    ReplyDelete
  2. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika Kelas D

    Sebagai manusia, dalam menjalani kehidupan ini, kita hanya dapat berikhtiar dan berdo’a kepada Allah SWT, sedangkan yang menghendaki dan memutuskannya hanya Allah SWT semata. Tak ada segala sesuatu yang dapat terjadi kecuali atas kehendak dan izin Allah SWT. Dalam berikhtiar kita diharuskan untuk selalu ikhlas dan berpikir kritis. Oleh karena itu, manusia diberikan akal dan pikiran untuk senantiasa berpikir bagaimana menjadikan hidupnya lebih baik dan selalu berusaha menuju jalan kebajikan semata-mata untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT.

    ReplyDelete
  3. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Salah satu keistimewaan dalam penciptaan manusia adalah dibekalinya akal, nafsu dan hati. Dan semua itu Allah bekali supaya manusia mampu menjalankan tugasnya sebagai hambah dan khalifah di permukaan bumi. Manusia diberikan kesempatan mengembangkan segala potensi yang dimilikinya. Selain itu, manusia juga diwajibkan untuk selalu berikhtiar menunjukkan kemampuannya, demi mencapai keberhasilan di dunia lebih-lebih keberhasilan di akhirat kelak. Tapi tolok ukur keberhasilan atau kegagalan juga dinilai dari doa-doa kita, karena Apa yang kita minta belum tentu Allah langsung mengabulkannya, karena Dia lah yang maha tahu apa yang terbaik untuk kita. Yang menjadi pemenang adalah manusia yang berhati ikhlas, taat kepada aturan-aturan-Nya dan selalu menggunakan potensinya untuk menjadi manusia yang lebih baik sehingga akan memberikan manfaat dalam kehidupannya. Oleh karena itu, untuk menggapai kemenangan maka kita sebagai manusia semestinya memaksimalkan akal, nafsu dan hati yang kita miliki sesuai dengan tuntutan serta aturanNya.

    ReplyDelete
  4. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. pemenangnya ialah yang ikhlas dan mampu berpikir kritis. Untuk mencapai kemenangan itu diperlukan ikhtiar, manusia perlu berusaha agar menjadi pemenang. Pemenang sejati merupakan orang berusaha dengan kesungguhan hati, yang mau ikhlas berusaha, dan yang kritis dalam menacri jalan menuju kemenangan. Semoga saya menjadi salah satu pemenang itu, aamiin

    ReplyDelete
  5. Assalamualaikum.

    Hati yang ikhlas dan mampu berpikir kritis merupakan faktor utama untuk menentukan apakah mahasiswa dapat dinyatakan lulus dari mata kuliah yang dibimbing oleh pak Marsigit. Hati ikhlas dan berpikir kritis itu haruslah sesuai dengan ruang dan waktu. Namun kapan kita bisa dinyatakan memiliki hati yang ikhlas dan mampu berpikir kritis? Hal tersebut sangat sulit untuk diidentifikasi. Kita tidak bisa menyadari kapan kita sudah ikhlas dan kritis. Jika kita menyadari bahwa kita sudah ikhlas dan sudah kritis, maka sejatinya kita belum ikhlas dan belum kritis. Oleh karena itu, kita hanya bisa menggapainya. Usaha menggapai hati yang ikhlas dan berpikir kritis itu disebut ikhtiar. Sedangkan usaha harus disertai doa agar mendapatkan bimbingan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

    Ahmad Bahauddin
    16709251058
    Pendidikan Pascasarjana UNY S2 Angkatan 2016 Kelas C

    ReplyDelete
  6. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Sejatinya manusia diberikan akal dan pikiran hanya untuk melaksanakan ihtiar dan ikhlas, tanpa mengetahui sejauh mana ikhlas akan mampu membawa manusia kearah hidup yang lebih baik. Ikhtiar dan ikhlas tidak bisa dipisahkan dalam diri manusia, setiap lantunan doa yang dipanjatkan manusia untuk sang maha sempurna , selalu menyelipkan ikhtiar dan ikhlas atas apa yang belum dan sudah diberikan oleh-Nya. Semoga sebagai pribadi manusia yang terus belajar untuk lebih baik selalu diberikan keikhlasan yang melimpah dan selalu menyelipkan ikhtiar disela doa..ammin ya raabal alamin..

    ReplyDelete
  7. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Cendekia adalah saat kita kritis dalam pikiran kita, dalam memikirkan sesuatu secara kritis maka dapat dikatakan bahwa kita bisa berpikir secara cendekia. Dalam berpikir secara cendekia yang kita lakukan secara ikhlas dalam hati maka itulah sebenarnya cendekia yang bernurani. Hal-hal tersebut yang baik dilakukan secara beriringan. Hal-hal yang cendekia dan ikhlas tersebut yang bisa membuat kita selalu berpikir secara positif.

    ReplyDelete
  8. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Assalamualaikum wr. . wb.
    Setiap makhluk hidup diciptakan oleh Allah dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing, dengan kelebihan yang dimilikinya seseorang dituntut untuk selalu berusaha dan bekerja dalam kebajikan kita harus terus berusaha mencoba dan mencoba ketika melakukan sesuatu atau mewujudkan sesuatu sampai kesuksesan itu dapat kita raih. seseorang yang mampu mencapai kesuksesan adalah orang yang memiliki hati yang ikhlas serta mampu dan mau berpikir kritis.

    ReplyDelete
  9. Manusia cendekia dapat meningkatkan dan mengembangkan segala pengetahuan yang ada di dunia. Menghasilkan manusia yang cendekia merupakan salah satu misi dari diadakan lembaga pendidikan. Tetapi dengan mnejadi cendekia saja tidak cukup harus dibarengi dengan hati yang bernurani. Nurani dapat membimbing pada arah yang menuju pada kemaslahatan. Cendekia berhubungan dengan akan atau pikiran sedang nurani berhubungan dengan hati. Manusia harus seimbang antara hati dan pikirannya. Kehidupan yang madani diwujudkan dengan adanya keseimbangan antara hati dan pikiran, keseimbangan cendekia dengan nurani.

    ReplyDelete
  10. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Menjadi seorang yang Cendekia dan bernurani berarti kita harus mencoba untuk kritis di dalam pikiran sekaligus selau ikhlas di dalam hati akan segala sesuatu yang kita jalani dalam menggapai logos. Selalu melakukan proses berpikir apa pun dan dalam hal apapun seraya selalu menuntut ilmu tiada hentinya hingga akhir hayat kita. Namun, dalam hidup ini, berikhtiar untuk mencari ilmu saja tidak akan cukup, manusia juga harus berdoa dan menggunakan hatinya karena pikiran manusia terbatas. Selain harus menggunakan pikiran dan hati, ilmu juga harus dapat dimanfaatkan di dalam kehidupan sehingga nantinya kita menjadi cendekia juga menjaid cendekia yang diteladani dan di hormati.

    ReplyDelete
  11. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari elegi ritual ikhlas kali ini saya memperoleh pemahaman bahwa dalam melakukan usaha agar dapat menjunjung langit maka kita harus bernurani dan cendekia. Bernurani adalah ikhlas dalam hati dan cendekia adalah kritis dalam pikiran. Pada elegi ini diceritakan bahwa pemenang dari perlombaan menjunjung langit adalah mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritis. Dari segi spiritual, sebenar-benarnya ikhlas dan berpikir kritis yang absolut itu milik Allah. Kita sebagai manusia hanya dapat berusaha untuk mampu menggapai ikhlas dan berpikir kritis tersebut. Kita sebagai mahasiswa UNY sangat beruntung karena cendekia merupakan salah satu visi universitas. Oleh karena itu kita terus aplikasikan cendekia ini saat berada dalam kehidupan bermasyarakat.

    ReplyDelete
  12. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Cendekia yang bernurani berarti dalam berikhtiar, kita diharuskan untuk selalu dengan hati yang ikhlas dan berpikir kritis. Dalam menjalani kehidupan ini, diperlukan ikhtiar dan doa yang secara terus menerus, dan tidak lupa juga dalam melakukan segala sesuatu untuk menggapai ridha Allah SWT haruslah dengan hati yang bersih, karena hati yang bersih tersebut akan melahirkan pikiran yang jernih. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang terbaik buat kita.

    ReplyDelete
  13. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Bernurani di sini adalah keikhlasan dalam hati sedangkan yang dimaksud dengan cendikia adalah kritis dalam pikiran. Dalam menjalani hidup ini ataupun untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, diperlukan ikhtiar dan doa yang dilakukan sungguh-sungguh dan kontinu kepada Allah SWT, hati yang bersih, ikhlas, berpikir jernih dan berpikir kritis. Serta lakukanlah segala sesuatu hanya untuk menggapai ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  14. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Kemampuan manusia memang berbeda-beda. Namun setiap manusia bisa menggunakan kemampuannya untuk mendapatkan sesuatu. Hanya saja yang membedakan adalah keikhlasan. Setiap manusia dituntut untuk selalu berusaha dan berikhtiar, walaupun pasti apa yang dilakukan manusia tidaklah sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah. Selain berusaha dan berikhtiar, harus dibarengi dengan keikhlasan, berpikir kritis dan doa, tetapi tentu keikhlasan, berpikir kritis dan doa tersebut cukup kita dan Allah yang tau. Manusia tidak bisa menunjuk dirinya sebagai manusia yang ikhlas, berpikir kritis dan khusyuk dalam berdoa karena penilaian manusia bersifat subyektif.

    ReplyDelete
  15. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Dari elegi ritual ikhlas 35 itu dapat kita maksudkan bahwa dengan ikhlas maka kita akan memenangkan kehidupan ini, karena dengan berbekal ikhlas kita menjadi pribadi yang akan selalu berbuat baik. Dengan kita memiliki nurani maka kita bisa menjadi pribadia yang baik untuk bangsa dan kita sendiri.

    ReplyDelete
  16. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Didalam keberhasilan terdapat kesadaran. Begitu pula lah dengan kegagalan, Namun dalam kegagalan masih terdapat secercah harapan. Harapan tersebut datang dari doa yang bersungguh – sungguh memohon pertolongan dari Sang Khalik. Dilain waktu juga disertai dengan ikhtiar yang pantang mundur. Ikhtiar yang dilakukan dengan hati dan pikiran.

    ReplyDelete
  17. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Pemenang perlombaaan menjunjung langit adalah orang yang berhati ikhlas dan berpikir kritis. Namun orang yang mengatakan dirinya berhati ikhlas atau berpikir kritis malah menunjukkan bahwa dirinya tidak ikhlas atau berpikir kritis. Yang dapat mengukur keikhlasan seseorang hanyalah Allah SWT. Namun sebenar-benar ikhlas dan berpikir absolut hanyalah meilik Allah, manusia hanya dapat berusaha menggapainya. Manusia berusaha menggapai hati yang ikhlas dan pikiran yang kritis dalam usahanya untuk terhindar dari mitos.

    ReplyDelete
  18. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Dalam elegi tersebut saya dapat memaknai bahwa pemenang adalah mereka yang berhati ikhlas dan mampu berpikir kritis. Berpikir kritis terikat oleh ruang dan waktu oleh karena itu manusia tidak dapat menyimpulan bahwa dirinya sudah benar – benar baik atau buruk karena yang dapat menilai itu semua adalah Tuhan. Maka penting untuk terus mohon penyertaan dan bimbingan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan dan setiap perbuatan yang kita lakukan agar berkenan kepada Tuhan dan dapat mengendalikan diri dari perbuatan – perbuatan yang dapat menjauhan diri dari Tuhan.

    ReplyDelete
  19. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    ELegi ini mengungkapkan bahwa menjadi seorang cendekia berarti dia yang selalu berupaya untuk berpikir kritis dalam menggapai pengetahuan, dan menghilangkan mitos-mitos. Tetapi berpikir kritis tidaklah cukup, karena keikhlasan dalam berpikir itu yang menjadikan seorang cendekia ber nurani. Namun, perlu kehati-hatian dalam berpikir kritis dan ikhlas, karena begitu kita menyadarinya, maka sebenarnya kita terancam oleh mitos-mitos itu.

    ReplyDelete
  20. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Cendekia yang berarti kritis dan cerdas. Bernurani yang berarti ikhlas dalam hati dan pikiran. Oleh karena itu, dalam setiap berpikir hendaknya didasari dengan keikhlasan hati dan pikiran. Karena dengan cendekia saja tidaklah cukup tanpa didasari nurani serta keikhlasan seperti surah Al-Ikhlas yang di dalamnya tanpa menyebut kata ikhlas. Derajat keikhlasan hanyalah Alloh Yang Maha Tahu.

    ReplyDelete
  21. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Seperti pepatah yang mengatakan bahwa “Agama tanpa ilmu buta, ilmu tanpa agama lumpuh”. Artinya, ilmu dan iman harus berjalan beriringan dan seimbang. Ilmu yang baik harus dibarengi dengan iman yang baik pula agar ilmunya tidak dimanfaatkan untuk hal buruk. Iman pun juga harus dibarengi dengan ilmu agar yang yang dibagikan kepada orang lain sesuai dengan ilmunya, agar ilmu yang disampaikan tidak keliru.

    ReplyDelete
  22. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Itulah yang namanya ikhtiar. aku dapat katakan bahwa ikhlas dan pikiran kritismu itu tidak lain tidak bukan adalah ikhtiar hati dan pikiranmu. Barang siapa berhenti berikhtiar dalam hati dan dalam pikiranya maka dia akan terancam dimangsa oleh mitos-mitosnya sendiri. itulah yang disebut bernurani dan cendekia. Bernurani itu adalah ikhlas dalam hatimu dan cendekia itu adalah kritis dalam pikiranmu.

    kutipan diatas sudah mencakup seluruh hal yang diperlukan dalam proses pembelajaran dikelas, dimana siswa seharusnya memang benar-benar ikhlas mencari pengetahuan dan adanya sifat kritis saat menerima pengetahuan. guru sebagai fasilitator lah yang bertanggung jawab menumbuhkan karakter tersebut pada siswa sehingga terjadi pembelajaran yang bermakna.

    ReplyDelete
  23. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Ketika kita membicarakan siapa yang mampu menjunjung langit maka jawabannya adalah orang yang memiliki hati yang ikhlas dan bersifat kritis. Orang yang mampu mengemban tugas dan kewajiban dengan baik. Tidak hanya itu, orang tersebut mampu mentransformir diri pada ruang dan waktu sehingga bermanfaat bagi orang banyak.

    ReplyDelete
  24. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Untuk menggapai cendekia bernurani hendaknya tetap berusaha untuk tetap berpikiran kritis dan senantiasa ikhlas dalam hati agar segala yang dilakukan terlepas dari kesombongan atas setiap pencapaian. Untuk itu, harus tetap berikhtiar dan berdoa, berikhtiar agar dapat berpikiran kritis dengan senantiasa mengekstensi dan intensifkan pikiran, dan berdoa agar hati selalu dekat denganNya untuk dapat ikhlas dalam melakukan segala sesuatu di jalanNya tetap mengharap ridhoNya.

    ReplyDelete
  25. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Ikhtiar dan doa itu sepaket termasuk ketika mencari ilmu. Mencari ilmu tidak semata-mata untuk mendapat ilmu tetapi juga untuk dikembangkan dan dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Manusia diberi kelebihan berupa akal pikiran dan hati. Pikiran digunakan untuk memikirkan ilmu, dan hati digunakan untuk menyadari, merasakan. Pikiran dan hati harus digunakan secara sinergis. Semua manusia memiliki kesempatan untuk menggunakan pikiran dan hati, namun hanya sedikit yang menyadari bahwa sesungguhnya manusia tidak akan pernah merugi jika dapat menggunakan pikiran untuk berpikir kritis serta menggunakan hati dalam keadaan jernih. Semua hal yang dilakukan tersebut hendaklah dilakukan secara ikhlas. Jika kita menganggap diri kita sudah ikhlas, tetapi masih ada di ruang hati yang paling dalam keinginan yang lain, itu artinya kita belum ikhlas, walau dalam prakteknya kita tidak mengharapkan balasan. Maka berusahalah menjadi manusia yang selalu berpikir kritis serta berhati jernih secara ikhlas.

    ReplyDelete
  26. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Sebagai orang yang berilmu mari kita gunakan rumus padi, semakin berisi maka semakin merunduk. Hal tersebut mengajarkan kepada kita untuk tidak sombong atas ilmu yang kita miliki. Karena sebanyak apapun ilmu kita, pasti ada yang lebih banyak dari kita. Oleh sebab itu, bertambahnya ilmu juga harus diiring dengan tajamnya hati nurani. Tajam dalam artian ikhlas dan lemah lembut. Semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang sombong, dan semoga kita selalu dapat menjaga kerendahan dan kelembutan hati nurani kita dalam kehidupan sehari-hari, dalam mencari dan mengamalkan ilmu kita.

    ReplyDelete
  27. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Elegi di atas sungguh memberikan siraman rohani. Elegi di atas menjelaskan tentang penyebab keberhasilan dan kegagalan bisa terjadi. “Pada saat engkau lantunkan keberhasilanmu, maka saat itulah kegagalanmu siap menjemputmu. Pada saat engkau menyadari keikhlasanmu, maka saat itulah ketidakikhlasanmu siap menjemputmu.” Kata-kata tersebut memotivasi kita untuk senantiasa berikhtiar dengan ikhlas dan jangan memandang keberhasilan sebagai keutamaannya.

    ReplyDelete
  28. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Manusia yang terjaga hati dan pikirannya, maka ia memiliki tiga kemampuan, yaitu merasakan, menyadari, memikirkan, dan menjalani fenomena mendatar, meruncing dan mengembang. Ketiga kemampuan tersebut hendaknya kita selaraskan dan kita implementasikan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kita jangan lelah dalam berusaha. Tanamkan dalam benak kita bahwa Allah swt sayang kepada umat-umatNya dan akan memberikan yang terbaik untuk kita semua. Iringi setiap langkah dan usaha kita dengan berdoa kepada Allah swt.

    ReplyDelete
  29. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  30. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    4 hal yang perlu dilakukan manusia dibumi agar selamat dalam menggapai ridhoNya yaitu Do'a Usaha Ikhtiar dan Tawakal. Manusia berdo'a atas segala usaha yang telah dilakukan dan terus berikhtiar lalu bertawakal kepada Allah. Serahkan skembali segala urusan di bumi pada sang pencipta bumi.

    ReplyDelete
  31. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Perlombaan menjunjung langit hanya akan dimenangkan oleh seseorang yang mempunyai hati ikhlas dan mampu berpikiran kritis yang terikat oleh ruang dan waktu yang membawa seseorang itu untuk berikhtiar kepada Allah SWT. Ikhlas dalam hati disebut dengan bernurani sedangkan kritis dalam pikiran disebut cendekia. Dengan demkian agar dapat berpikir kritis dibutuhkan pengalaman, pengetahuan dan pemikiran yang jernih.

    ReplyDelete
  32. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dalam menjalani kehidupan, setiiap manusia dianugerahkan suara penuntun dari Tuhan yang disebut hati nurani. Hati nurani membantu kita berjalan kea rah yang benar, menuntun kita mengambil keputusan atau memperingatkan kita saat mengambil keputusan yang salah. Peka terhadap hati nurani kita merupakan hal yang wajib kita manusia latih setiap hari sehingga kita tidak tertipu dengan suara-suara lain yang mengarahkan kita ke jalan yang salah.

    ReplyDelete
  33. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dalam menggapai ilmu, hendaknya bukan hanya pikiran yang berjalan, tetapi hati nurani kita pun kita dengar. Ikhlas hati dan ikhlas pikir merupakan jalan untuk menggapai ilmu dan tidak menjadi sombong akan pencapaian kita tetapi ma uterus belajar. Sebagian orang gagal karena tidak mampu ikhlas dalam memanfaatkan ruang dan waktunya, melakukan sesuatu dengan setengah hati tanpa dilandasi keikhlasan dan berpikir kritis. Keberhasilan dan kegagalan kita ditentukan oleh kesadaran kita, sejauh mana kita sadar untuk memanfaatkan segala kesempatan yang ada dalam ruang dan waktu. Oleh karena itu, berusahalah untuk dapat menggapai apa yang kita impikan dengan ikhlas, beriktiar dan sepenuh hati memohon penyertaan Tuhan YME.

    ReplyDelete
  34. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Tuhan menganugerahkan akal budi dan pikiran kepada manusia agar dapat digunakan secara bijaksana. Meraih ilmu setinggi-tingginya seharusnya disertai dengan menggapai hati yang murni dan ikhlas dan hendaknya kita memanfaatkan ilmu pengetahuan yang kita miliki untuk bisa berbagi kepada orang lain.

    ReplyDelete
  35. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Hati nurani adalah penghayatan tentang baik atau buruk berhubungan dengan tingkah laku konkret kita. Hati nurani memerintahkan atau melarang kita melakukan sesuatu kini dan di sini. Ia tidak berbicara tentang yang umum, melainkan tentang situasi yang sangat konkret. Misalnya seorang situasi seorang hakim ketika terdakwa hendak menyuapnya. Hati nurani berkait erat dengan kenyataan bahwa manusia memunyai kesadaran. Hanya manusia yang memunyai kesadaran. Hewan tidak. Kesadaran berarti kesanggupan mengenal diri sendiri dan karena itu berefleksi tentang dirinya. Manusia bukan hanya melihat pohon di kejauhan sana, melainkan menyadari bahwa dialah yang melihatnya. Dalam diri manusia terjadi semacam penggandaan: ia bisa kembali kepada dirinya sendiri. Manusia bisa menjadi subjek yang mengamati juga sebagai objek yang diamati.

    ReplyDelete
  36. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Hati nurani bersifat personal, artinya selalu berkaitan erat dengan pribadi bersangkutan. Hati nurani hanya berbicara tentang dirinya, dan tidak memberikan penilaian tentang perbuatan orang lain. Kita bisa memberikan pertimbangan kepada orang lain, tetapi integritas kita tidak akan merasa diperkosa bila orang lain melakukan perbuatan yang menurut kita tidak baik. Hati nurani juga bersifat adipersonal, melebihi pribadi, transenden, seolah-olah ia merupakan instansi di atas kita. Terhadap hati nurani, kita seakan-akan hanya menjadi pendengar, membuka diri terhadap suatu yang datang dari luar. Dalam hal ini, hati nurani sering juga diistilahkan suara hati, kata hati, suara batin, bahkan suara Tuhan. Hati nurani berkait dengan rasio, karena hati nurani memberikan penilaian. Namun keputusan yang diberikan hati nurani biasanya langsung, bersifat intuitif, seakan-akan tidak melalui argumentasi atau penalaran rasional. Tapi sebenarnya penalaran rasional itu bisa ditelusuri dengan jelas, terutama hati nurani yang bersifat prospektif.

    ReplyDelete
  37. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi ritual ikhlas 35. Dalam elegi ini teedapat kalimat yang sangat menarik dan juga cantik menurut saya, yaitu Bahkan dirimu setiap saat dapat terancam kegagalan, walaupun setiap saat mempunyai harapan. Kegagalanmu disebabkan oleh karena kesadaranmu, tetapi keberhasilanmu juga ditentukan oleh kesadaranmu pula. Sedangkan doa-doa mu itulah yang mengangkat dimensimu di luar kesadaranmu. Pada saat engkau lantunkan keberhasilanmu, maka saat itulah kegagalanmu siap menjemputmu. Pada saat engkau menyadari keikhlasanmu, maka saat itulah ketidakikhlasanmu siap menjemputmu. Dari sana, pembaca diingatkan untuk ikhlas dan tidak sombong dengan cara tidak membanggakan apa yang diberikan dan apa yang sudah diraih.

    ReplyDelete
  38. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam elegi ini tersemat makna bahwa menggunakan pikiran dan hati haruslah seimbang selaras dan beriringan untuk bisa menanamkan jiwa ikhlas dan juga senantiasa berpikir kritis. menggunakan pikiran untuk terus menggali apa yang belum diketahui, menjaga hati agar istiqomah dalam keikhlasan dan terhindar dari riya atau semacamnya.

    ReplyDelete
  39. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Berhati ikhlas dan berpikir kritis hal yang sangat penting yang harus dimiliki oleh seseorang. Mungkin kita dapat memiliki semua itu dengan segala usaha keras yang dilakukan, namun tidak sepenuhnya, masih dapat dikatakan relatif dan menyesuaikan ruang dan waktu. Namun ikhlas dan berpikir kritis mutlak sepenuhnya hanya milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  40. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Yang dapat saya pahami dari elegi di atas adalah yang dimaksud bernurani di sini adalah keikhlasan dalam hati sedangkan yang dimaksud dengan cendikia adalah kritis dalam pikiran. Untuk dapat menjujung langit seseorang haruslah bernurani dan cendikia. Namun manusia tidak dapat berfikir kritis dan bernurani secara absolut, karena hanya Allah yang dapat berfikir kritis dan berhati ikhlas secara absolut. Namun manusia hendaklah berikhtiar untuk berfikir kritis dan berhati ikhlas.

    ReplyDelete
  41. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  42. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menjunjung langit diibaratkan dengan menimba ilmu. Oleh karena itu, seseorang yang mampu menjunjung langit selain atas izin dan ridho Allah SWT, dapat dilakukan dengan usahanya yaitu seseorang yang mampu berpikir kritis dan ikhlas hati. Ikhlas hati dan pikiran dapat ditunjukkan melalui ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  43. Sumandri
    16709251072
    S2 pendidikan Matematika 2016

    Yang dapat saya pahami dari elegi di atas adalah yang dimaksud bernurani di sini adalah keikhlasan dalam hati sedangkan yang dimaksud dengan cendikia adalah kritis dalam pikiran. Untuk dapat menjujung langit seseorang haruslah bernurani dan cendikia. Namun manusia tidak dapat berfikir kritis dan bernurani secara absolut, karena hanya Allah yang dapat berfikir kritis dan berhati ikhlas secara absolut. Namun manusia hendaklah berikhtiar untuk berfikir kritis dan berhati ikhlas.

    ReplyDelete
  44. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Keselarasan hati dan pikiran penting bagi setiap insan dalam bertindak. Cendikia atau berpikir kritis senantiasa didasari dengan hati yang ikhlas dan iman yang kokoh. Jadi ketika kita berikhtiar maka selalu diselipkan doa memohon ridha Allah SWT.

    ReplyDelete
  45. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tanpa hati manusia akan melalangbuana hilang arah tujuan dari pikiran-pikirannya. Jadi dalam berpikir ada perlunya mengandalkan hati nurani untuk memperkokoh arah tujuan dan berdoa diberi perunjuk oleh Allah atas jalan yang benar dan lindunganNya. Maka dalam menggapai langit juga demikian janganlah sampai berusaha melangkahi batas manusia karena memang ada objek yang tidak dapat dipikirkan oleh manusia tentang keberadaannya. Sehingga berdoa dan beiktiar merupakan tugas manusia untuk mencapai kebahagiaan di Akherat.

    ReplyDelete
  46. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam mencapai sutatu tujuan kita harus memiliki bekal yang cukup yaitu hati dan pikiran yang jernih. Namun ternyata ada tingkatan yang lebih tinggi dari hat yang bersih atau ikhlas yaitu hati yang bernurani. Begitu pula dengan pikiran yang jernih, masih terhadap tingkatan lagi yaitu cendekia. Dengan tingkatan yang lebih tinggi itu pun untuk menjunjung langit tidaklah cukup. Hanyalah orang – orang yang benar – benar berikhtiar serta selalu mempertanggungjawabkan apa yang telah dia kerjakan.

    ReplyDelete
  47. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Manusia-manusia yang dapat menjunjung langit atau menegakkan prinsip-prinsip kebenaran dan kebajikan adalah manusia yang senantiasa ikhlas dan berpikir kritis. Dengan keiikhlasan manusia benar-benar melakukan segala perbuatan dan amalan-amalah hanya demi mengharapkan ridho Allah SWT. Amalan-amalan yang dilakukan adalah amalan-amalan yang mengandung kebaikan-kebaikan bagi dirinya dan umat manusia. Pikiran kritisnya akan menghindarkannya dari bujuk rayu dan tipu muslihat syaitan yang senantiasa mengajak manusia ke dalam kemaksiatan. Keikhlasan yang dimiliki manusia tidak dapat ditunjukkan secara langsung oleh manusia itu sendiri dengan menyebut bahwa dirinya ikhlas, karena sesungguhnya orang yang mengaku dirinya ikhlas, hanya akan menghilangkan keikhlasan yang ada di dalam dirinya.

    ReplyDelete