Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 35: Cendekia yang ber Nurani




Oleh Marsigit

Bagawat:

Waha..semakin banyak saja peserta lomba Menjunjung Langit. Walaupun aku telah melihat banyak di antara mereka berjatuhan. Tetapi sebagaian besar mampu juga bangun kembali dan melanjutkan perlombaan. Itulah hebatnya manusia. Tuhan telah memberi dan melimpahkan karunia kepadanya, sehingga mereka selalu diberi kekuatan untuk selalu berikhtiar. Iba rasa hatiku. Tetapi ada sesuatu yang ternyata menjadi pemikiran buat diriku, yaitu bagaimana aku bisa menjelaskan kepada peserta lomba perihal pencapaian-pencapaiannya. Mengingat di antara mereka yang banyak itu, mereka mempunyai persepsi, pikiran dan perasaan yang berbeda-beda. Wahai Sang Rakata, kelihatannya ada sesuatu yang ingin engkau tanyakan?



Rakata:
Yang mulia Bagawat, mohon ampun atas kelancanganku. Bolehkah aku mengetahui siapa saja diantara pengikutku yang lulus mampu menjunjung langit? Dan siapa pula yang tidak lulus? Jikalau diantara pengikutku ada yang tidak lulus, kira-kira apa penyebabnya? Aku juga ingin tahu, dalam perlombaan Menjunjung Langit itu apakah pemenangnya bersifat tunggal atau jamak?

Bagawat:
Hemm..Sang Rakata muridku yang gagah perkasa. Ketahuilah bahwa pemenang perlombaan Menjunjung Langit itu bisa bersifat tunggal, dual, tripel atau jamak. Sedangkan pemenangnya adalah siapa saja yang berhati ikhlas dan mampu berpikir kritis. Ketahuilah bahwa berhati ikhlas dan berpikir kritis itu terikat oleh ruang dan waktu, artinya dia itu bisa berupa titik atau simpul potensi, berupa garis atau bidang vitalitas, atau berupa ruang interaksi dinamis antara potensi dan vitalitas dalam waktunya.

Rakata:
Ampun yang mulia, sulit kiranya aku memahami apa yang baru saja engkau jelaskan? Hemm..kalau begitu apa ya kira-kira kriteria bagi mereka yang dianggap gagal?

Bagawat:

Wahai Sang Rakata...aku mengerti apa yang sedang engkau pikirkan. Ketahuilah bahwa ruang dan waktu itulah tempatnya hatimu menunjukkan keikhlasanmu dan tempatnya pikiranmu menunjukkan keikhlasanmu. Sedangkan hubungan antara dirimu dengan ruang dan waktu tiadalah bersifat tetap bagi predikat-predikatnya dan bersifat tetap bagi predikat-predikat yang lain.

Rakata:
Ampun yang mulia...bukannya aku bertambah jelas perihal keteranganmu itu, melainkan aku malah bertambah bingung.

Bagawat:
Dirimu yang selalu berubah dalam ruang dan waktu itulah penyebab dari ketidakmampuanmu menunjuk dirimu. Tetapi bahwa hatimu dan pikiranmu itu selalu berada dalam ruang dan waktu itulah suatu ketetapan yang bersifat tetap untuk menjamin doa-doa dan ikhtiarmu. Kongkritnya adalah bahwa manusia itu tidak dapat mengaku dirinya sebagai telah berhati ikhlas dan telah berpikir kritis.

Rakata:
Lho..kalau begitu..bagaimana kita bisa mengetahui pencapaian-pencapaian doa-doa, pikiran dan ikhtiar kita?

Bagawat:
Itulah perlunya penilaian dari orang lain. Tetapi sehebat-hebat orang menilai maka dia tidak bisa melepaskan diri dari ruang dan waktunya, artinya dia tidak bisa terbebas dari subyektivitasnya. Maka sebenar-benar penilaian absolut itu datangnya dari Allah SWT.

Rakata:
Wahai Sang Bagawat...tadinya saya berpikir Allah SWT itu hanya meperhatikan keikhlasan manusia saja, sedangkan pikiran manusia itu sifatnya mandiri.

Bagawat:
Jangankan pikiran manusia, semua perbuatan manusia itu sesungguhnya tidak bisa lepas dari kekuasaan Nya.

Rakata:
Sang Bagawat...bolehkah aku mengetahui lebih rinci tentang ciri-ciri orang yang mampu atau yang tidak mampu menjunjung langit itu?

Bagawat:
Bahkan dirimu setiap saat dapat terancam kegagalan, walaupun setiap saat mempunyai harapan. Kegagalanmu disebabkan oleh karena kesadaranmu, tetapi keberhasilanmu juga ditentukan oleh kesadaranmu pula. Sedangkan doa-doa mu itulah yang mengangkat dimensimu di luar kesadaranmu. Pada saat engkau lantunkan keberhasilanmu, maka saat itulah kegagalanmu siap menjemputmu. Pada saat engkau menyadari keikhlasanmu, maka saat itulah ketidakikhlasanmu siap menjemputmu. Jangankan engkau bertanya kepada banyak orang, jika engkau mampu bertanya kepada diri sendiri maka engkau dapat mengetahui bahwa kegagalan dan keberhasilanmu selalu siap mengikuti dirimu dalam ruang dan waktumu. Maka tiadalah sebenar-benar dirimu itu ikhlas dan berpikir kritis, melainkan dirimu hanya selalu berusaha menggapainya. Ketahuilah bahwa sebenar-benar ikhlas dan berpikir kritis absolut itu hanyalah milik Nya. Maka tiadalah ada manusia dimuka bumi ini yang sebenar-benar mampu menjunjung langit itu, kecuali atas kehendak Nya.

Rakata:
Jikalau manusia itu tidak mampu mencapai ikhlas dan berpikir absolut, mengapa engkau mengadakan perlombaan Menjunjung Langit?

Bagawat:
Itulah yang namanya ikhtiar. Aku dapat katakan bahwa ikhlas dan pikiran kritismu itu tidak lain tidak bukan adalah ikhtiar hati dan pikiranmu. Barang siapa berhenti berikhtiar dalam hati dan dalam pikirannya maka dia akan terancam dimangsa oleh mitos-mitosnya sendiri. Itulah yang disebut bernurani dan cendekia. Bernurani itu adalah ikhlas dalam hatimu dan cendekia itu adalah kritis dalam pikiranmu.

Rakata:

Hemm..terimakasih Sang Bagawat..padhang terawangan. Kalau begitu bernurani dan cendekia itu ternyata melekat pada diri kita masing-masing dalam ruang dan waktu kita masing-masing pula. Hemm..bolehkah Sang Bagawat aku masih bertanya tentang satu hal, yaitu apa yang dimaksud dengan mandiri?

Bagawat:
Seperti yang sudah saya jelaskan di muka. Ikhtiar manusia itu mentrasformir potensi hati dan pikirannya kedalam ruang dan waktu interaksi dinamis antara potensi-potensinya dengan vitalitas-vitalitasnya. Ruang dan waktu interaksi dinamis itu bisa berupa titik, garis, bidang atau bahkan ruang itu sendiri.

Rakata:
Wahai Sang Bagawat...saya hanya bertanya tentang mandiri..kenapa penjelasanmu malah bertambah rumit?

Bagawat:

Di dalam ruang dan waktu interaksi dinamis itulah manusia mampu merasakan, menyadari dan memikirkan dirinya dan bukan dirinya. Tetapi keadaan demikian bersifat timbal balik dengan lingkungannya. Di dalam ruang interaksi dinamis itu pula manusia harus bersedia menjadi obyek perasaan, obyek kesadaran dan obyek pikiran bagi yang lainnya. Jika ruang dan waktu kemudian diintensifkan dan diekstensikan, maka itulah yang terjadi bahwa manusia sedang melakukan hijrah dari satu titik ke titik yang lainnya untuk mentransformir doa-doa dalam hatinya serta kritis dalam pikirannya untuk memperoleh vitalitas-vitalitasnya. Ketahuilah bahwa jika ruang dan waktu diintensifkan dan diekstensifkan lagi maka vitalitas-vitalitas itu tidak lain adalah juga potensi-potensinya.

Rakata:
Apa hubungannya antara potensi, vitalitas, ruang dan waktu dengan mandiri?

Bagawat:
Wahai Sang Rakata yang gagah dan perkasa, sabarlah. Dalam ruang dan waktu interaksi dinamis itu, jika manusia terjaga hati dan pikirannya, maka ada 3 (tiga) kemampuan yang segera diperolehnya. Dia akan bisa merasakan, menyadari, memikirkan, dan menjalani fenomena mendatar, meruncing dan mengembang.

Rakata:
Apa pula fenomena mendatar, meruncing dan mengembang itu?

Bagawat:
Fenomena mendatar itulah kebiasaanmu, itulah aturan-aturanmu, itulah kodrat dan takdir yang telah ditetapkan baik dari dalam dirimu maupun dari luar dirimu. Fenomena meruncing itulah perasaanmu, itulah kesadaranmu, itulah pikiranmu, itulah ikhtiarmu untuk mengungkap segala misteri kehidupan dirimu dan lingkunganmu. Sedangkan fenomena mengembang itulah perolehanmu, akibat-akibatmu, pencapaianmu, prestasimu, pergaulanmu, keluargamu, teman-temanmu, masyarakatmu. Ketiga fenomena itulah sebenar-benar pilar dalam hidupmu. Itulah hidupmu. Janganlah mengaku-aku sebagai manusia mandiri jikalau engkau belum memahami dan mengimplementasikannya.

Rakata:
Oh..Sang Bagawat...ampunilah kebodohan diriku ini. Badanku terasa gemetar setelah mendengar uraianmu semua. Sungguh tiadalah aku merasakan keperkasaanku itu di hadapanmu itu. Perkenankanlah aku ingin meneteskan air mata dan melantunkan doa syukur atas karunia ini.

Bagawat:
Wahai Sang Rakata..bangunlah. Bukanlah sesuatu yang kebetulan engkau datang di hadapanku itu. Tiadalah orang lain selain dirimu dan diriku ada di sini. Aku pun tidak melihat para cantraka ada di depanku. Apa artinya? Artinya adalah tiadalah ada kata akhir perlombaan Menjunjung Langit itu. Kemampuanmu datang dihadapanku sekarang ini, adalah bukti bahwa dengan keikhlasanmu itu, engkau telah konsisten tetap berpikir kritis seraya mengembang tanggungjawab dan kewajiban-kewajibanmu. Tidak hanya itu, aku juga melihat bahwa engkau telah mampu mentransformir dirimu ke dalam ruang dan waktu interaksi dinamis yang tidak hanya engkau peruntukkan bagi dirimu, tetapi juga bagi yang lainnya. Secara sadar maupun tidak sadar engkau telah mengakomodir tidak hanya dirimu tetapi juga diri yang lain aspek-aspek kehidupan bernurani, cendekia dan mandiri. Jika ruang dan waktu yang lampau aku telah menunjuk sementara seorang Cantraka sebagai pemenangnya, maka sekarang aku telah menunjuk dirimu sebagai pemenang sementara. Teruskanlah perjuanganmu karena di atas pundakmulah banyak nasib di luar dirimu tergantung pada dirimu. Itulah sebenar-benar manusia cemani. Tetapi waspadalah terhadap mitos-mitosmu. Begitu engkau menyadari keikhlasanmu dan pikiran kritismu maka mitos-mitosmu itu siap menerkammu. Maka istighfar dan berdoalah mohon ampun dan bimbingan ke hadhlirat Allah SWT. Amiin.

30 comments:

  1. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Manusia-manusia yang dapat menjunjung langit atau menegakkan prinsip-prinsip kebenaran dan kebajikan adalah manusia yang senantiasa ikhlas dan berpikir kritis. Dengan keiikhlasan manusia benar-benar melakukan segala perbuatan dan amalan-amalah hanya demi mengharapkan ridho Allah SWT. Amalan-amalan yang dilakukan adalah amalan-amalan yang mengandung kebaikan-kebaikan bagi dirinya dan umat manusia. Pikiran kritisnya akan menghindarkannya dari bujuk rayu dan tipu muslihat syaitan yang senantiasa mengajak manusia ke dalam kemaksiatan. Keikhlasan yang dimiliki manusia tidak dapat ditunjukkan secara langsung oleh manusia itu sendiri dengan menyebut bahwa dirinya ikhlas, karena sesungguhnya orang yang mengaku dirinya ikhlas, hanya akan menghilangkan keikhlasan yang ada di dalam dirinya.

    ReplyDelete
  2. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Ikhlas dan berpikir kritis adalah kunci dari elegi ini. Seperti pada elegi menjunjung langit yang sebelumnya, bahwa sesungguhnya tidak ada yang benar benar mampu menjunjung langit melainkan berusaha menggapainya. Seperti sebuah ilmu yang sangat luas dan tidak akan pernah mampu dimiliki oleh manusia, tetapi kita hanya berusaha menggapainya. Dalam menggapai atau menuntut ilmu diperlukan keikhlasan dan berpikir kritis. Allah SWT sang pemilik ilmu tidak hanya menilai seseorang dari hatinya saja atau dari keikhlasannya saja. Tetapi dari pikirannya untuk berpikir kritis.
    Manusia tidak akan mampu mengukur keikhlasan dirinya sendiri melainkan hanya rasa tidak ikhlasnya. Artinya tidak ada orang yang benar-benar ikhlas lalu mengatakan dirinya ikhlas. Yang seperti itu berarti ia belum ikhlas. Ikhlas bukan diukur oleh diri sendiri melainkan orang lain. Begitu pula dengan berpikir kritis, kita tidak bisa hanya diam dan mengukur diri sendiri seberapa kita berpikir kritis. Karena berpikir kritis berarti memahami dan mengimplementasikannya ke dalam lingkungan dan kehidupan sosial. Tetaplah menuntut ilmu dan selalu berusaha untuk ikhlas dan berpikir kritis. Jangan berpikir seberapa banyak ilmu yang kita gapai, seberapa iklhas hati kita, atau seberapa kita berpikir kritis karena akan merusak perjuangan kita dalam menggapai ilmu.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  3. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasij prof, dari elegi ini saya mendapat pelajaran bahwa menjadi oramg yang cerdas atau cendekia, kita tidak diperbolehkam merasa sombong ataupun puas dengan pencapaian ini. Karena tiada orang yang cerdas jika dia merasa cerdas karena kesombongan ini juga akan mematikan pikirnya begitu juga denhan ikhlas, ikhlas bukan untuk diucapkan, tiada orang yang ikhlas jika dia masih mengucspkan ikhlas ikhlas adalah urusan hati. Bukan untuk berpikir bahwa kita ikhlas. Okhlas dalam cendekia dan cendekia yang diikuti ikhlas. Menjadi pribadi yang cendekia dan bisa membangun keikhlasan sangatlah penting, selalu berusaha dan belajar serta berlomba-lombalah dalam kebaikan.

    ReplyDelete
  4. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Manusia wajib berdoa dan berikhtiar. Lakukan apa yang mampu kamu lakukan, sedangkan bagian mu yang tidak engkau mampu maka serahkan hal itu kepada Allah SWT. Karena dengan doa itu, maka hal yang tak mungkin bisa saja menjadi menjadi mungkin. Oleh karena itu selalulah menyertakan Allah SWT di dalam setiap usaha yang kita lakukan. Perbanyaklah beristighfar karena sesungguhnya dosa-dosa kita menjadi penghalang terkabulkannya doa-doa kita. Astaghfirullahaladzim.

    ReplyDelete
  5. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Setelah saya membaca, saya belajar tentang makna cendekia yaitu kritis dalam berpikir dan makna nurani yaitu ikhlas dalam hati. Cendekia dan bernurani adalah dua hal yang harus dicapai dalam hidup ini. Meskipun sebenar-benar manusia tidak dapat mencapai cendekia dan bernurani yang mutlak. Namun, harus terus dan terus berusaha menggapainya.

    ReplyDelete
  6. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini, pelajaran yang kami dapat adalah bernurani itu ikhlas secara hati, dan bercendekia itu ikhlas secara pikiran. Dalam berikhtiar kita harus senantiasa memiliki hati yang ikhlas dan pikiran yang ikhlas pula, dan ketika dalam hati kita menyatakan bahwa kita sudah ikhlas, sesungguhnya pada saat itu kita belum ikhlas. Ikhlas itu adalah sesuatu yang senantiasa terus kita perjuangkan, akan tetapi kita tak akan pernah mendapatkan rasa keikhlasan itu sendiri. Semoga kita senantiasa menjadi orang yang selalu berjuang untuk menggapai keikhlasan. Amin.

    ReplyDelete
  7. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Pemenang adalah ia yang mampu bertahan di dalam kondisi yang sangat sulit sekalipun. Di dalam kehidupan kita sering kita jumpai kawan-kawan kita yang berputus asa atas apa yang diberikan oleh Tuhan, padahal itu merupakan sebuah ujian yang bilamana ia bisa melewatinya maka akan menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi. Untuk itu tetaplah bersabar dan bertawakal atas apa yang kita hadapi di dunia ini, niscaya kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, Amiin.

    ReplyDelete
  8. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Dari elegi ritual ikhlas ini mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang bernurani adalah dengan hati yang ikhlas, sedangkan bercendekia adalah dengan berpikir kritis. Jadi kunci untuk menggapai cendekia yang bernurani adalah berhati ikhlas dan berpikiran kritis. Dengan selalu berikhtiar, agar segala pencapaian terlepas dari sifat kesombongan dan dengan berdoa agar hati selalu dekat dengan Allah agar perbuatan yang dilakukan tidak terlepas dari segala aturan-Nya. Sehingga pada akhirnya segala sesuatu hanya serahkan kepada Allah untuk dapat ikhlas dalam melakukan segala sesuatu di jalan-Nya serta tetap mengharap ridhoNya.

    ReplyDelete
  9. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Elegi di atas membahas tentang peserta lomba perihal pencapaian-pencapaiannya. Di dalam elegi itu dijelaskan bahwa dalam perlombaan Menjunjung Langit itu pemenangnya bisa bersifat tunggal, dual, tripel atau jamak. Namun perlu digaris bawahi bahwa pemenangnya adalah siapa saja yang berhati ikhlas dan mampu berpikir kritis. Dan orang yang berhati ikhlas dan berpikir kritis itu terikat oleh ruang dan waktu, yang mempunyai makna bahwa dia dapat berupa titik atau simpul potensi, berupa garis atau bidang vitalitas, atau berupa ruang interaksi dinamis antara potensi dan vitalitas dalam waktunya. Ruang dan waktu merupakan suatu hal yang terikat di dalamnya karena ruang dan waktu itulah tempatnya hatimu menunjukkan keikhlasanmu dan tempatnya pikiranmu menunjukkan keikhlasanmu yang mempunyai sifat tetap yang menjamin doa dan ikhtiar. Namun yang mempunyai keikhlasan dan mampu berpikir kritis itu hanyalah Allah, sehingga kita sebagai manusia hanya dapat berusaha untuk ikhlas dan dapat berpikir kritis.

    ReplyDelete
  10. Tri Wulaningrum
    17701241052
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmu yang diberikan. Sebelum sampai pada pendapat saya terkait elegy di atas, ijinkanlah saya sedikit bercerita. Belajar filsafat membuat saya menemui kebingungan-kebingungan. Alhamdulilah, Allah memberikan ijin dan kesempatan kepada saya untuk belajar memecah kebingungan tersebut. Satu waktu, saya merasa kebingungan saya pada suatu elegi, terjawab pada elegy lainnya, tetapi ketika menjumpai elegy berikutnya saya kembali berhadapan dengan kebingungan. Sungguh pernyataan seperti ini sudah pernah saya utarakan pada komentar sebelumnya. Akan tetapi, maafkanlah diri ini yang serba terbatas, yang berkali-kali tidak bisa membawa diri ini pada suatu pemahaman. Berfilsafat, membaca elegy, ya… terkadang membuat saya kehilangan kata-kata, sangat berhati-hati dalam komentar. Mohon ijin bercerita, pada awal saya diberi kesempatan membaca blog ini, saya membaca dan langsung mempublish komentar atau pendapat saya. Lain dengan yang sekarang, saya menjadi lebih berhati-hati, sekali lagi saya takut salah menafsirkan. Kali ini tidak langsung berani mempublish, ya.. saya baca blog ini, saya ketik komentar ataupun pendapat maupun tanggapan pada file Microsoft word, saya simpan, saya baca kembali, setelah itu barulah saya berani mempublishnya. Bismillah, mungkin inilah cara yang diberikan Tuhan kepada saya dalam menuntut ilmu.

    Saya rasa, keadaan saya saat ini hampir mirip dengan elegy di atas. Sepenangkapan saya, elegi ini menyiratkan bahwa ilmu tiadalah berhenti. Oleh karenanya, marilah kita senantiasa mencari. Tentu terdapat halangan dalam mencapainya, bisa jadi kesombongan. Ikhtiar, ikhlas, dan berfikir kritis. Keadaannya, semakin banyak kita mengatakan bahwa diri kita ikhlas, maka belumlah ikhlas kita ini. Semakin yakin kita pada suatu hal, maka akan membuat kita berhenti memikirkannya. Maka bisa jadi pula bukan logos yang kita gapai, melainkan mitos. Tiadalah jawara pada perlombaan yang tiada pernah usai.

    ReplyDelete
  11. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Manusia diberikan amanah oleh Allah swt sebagai khalifah di bumi. Mengatur dan menjaganya. Mencari dan mengaplikan ilmu pengetahuan yang telah didapatkan. Ilmu saja tidaklah cukup sebagai bekal menjalani kehidupan. Diperlukan juga doa dan kedekatan sebagai manusia kepada Tuhan-Nya. Ikhlas menjalankan amanah juga diperlukan. Karena sejatinya menerima amanah dengan hati lapang akan lebih mempermudah jalannya.Apapun yang dilakukan manusia tidak dapat lepas dari kekuasaan Allah swt. Usahayang dilakukan manusia apabila Allah tidak meridhoi, maka tetap akan sia-sia saja. Oleh karenanya jangan pernah meremehkan kekuasaan Allah swt. Jangan menjadi manusia yang sombong. Karena manusia tidak akan ada di bumi kalau bukan karena kehendak dan kekuasaan Allah swt.

    ReplyDelete
  12. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dalam kehidupan ini memang dalam kenyataannya banyak sekali ujian dan rintangannya. Ketika seseorang ingin menuntut ilmu misalnya maka banyak yang jatuh namun banyak juga yang bisa bangkit kembali. Karena dalam diri-diri mereka ada niat dan usaha yang selalu dilakukan, ikhtiar. Adapun orang yang akan sukses dalam kehidupannya yaitu yang ikhlas dan yang mampu berpikir kritis. Tak terikat oleh ruang dan waktu namun ia bisa menempatkan dirinya sesuai ruang dan waktunya. Semoga kita bisa menjadi cendikia yang senantiasa ber nurani.

    ReplyDelete
  13. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Setelah membaca elegi ini, saya menyadari bahwa sebenar-benar ikhlas itu tidaklah ada, karena sebenar-benar ikhlas hanya milik Allah SWT. Sebenar-benar ikhlas tidaklah ada, yang ada hanya ikhtiar atau usaha manusia untuk menjadi ikhlas. Sebenar-benar ikhlas tidaklah ada karena ketika manusia mengatakan bahwa ia ikhlas maka sebenarnya ia tidaklah ikhlas, karena sebenar-benar ikhlas tidak perlu untuk dikatakan. Sebenar-benar ikhlas tidaklah ada karena keikhlasan yang ada pada manusia itu datangnya dari Allah SWT, tidak akan ada ikhlas jika bukan Allah yang mengaruniakannya. Sekali lagi, manusia hanya mampu berikhtiar. Maka,ikhtiarlah dalam menggapai ikhlas.

    ReplyDelete
  14. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Cendekia yang bernurani berarti kritis di dalam pikiran sekaligus ikhlas di dalam hati. Tidak ada kata selesai dalam menggunakan pikiran dan mencari ilmu karena sesungguhnya manusia tidak akan pernah menggapai ilmu, yang ada hanyalah berikhtiar. Namun, dalam hidup ini, berikhtiar untuk mencari ilmu saja tidak akan cukup, manusia juga harus berdoa dan menggunakan hatinya karena pikiran manusia terbatas. Selain harus menggunakan pikiran dan hati, ilmu juga harus dapat dimanfaatkan di dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  15. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Ikhlas dalam hati dan kritis dalam pikiran itulah sebenar-benar cendekia yang bernurani. Sedangkan mandiri itu dia yang mampu merasakan, menyadari, memikirkan dan menjalani kebiasaan, kesadaran, dan pencapaiannya. Pencapaian itu semua belumlah berarti jika kita tidak bisa menempatkan sesuai dengan ruang dan waktunya dan tidak bisa bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain. karena jika tidak kita salurkan pikiran kritis yang ada pada diri kita, kita akan mudah terkena penyakit hati (sombong), dan itulah sebenar-benar kesempatan mitos masuk kedalam pikiran. Untuk itu, tidak bosan dan jang berhenti berdoa seraya meminta perlindungan Nya.

    ReplyDelete
  16. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof
    Elegi di atas mengajarkan kepada kita untuk ikhlas dan berpikir kritis dalam meraih sesuatu.Tidaklah seseorang yang ikhlas itu mengakui dirinya , sebab kalau hal yang demikian terjadi secara tidak sadar dia telah menampakkan ketidak ikhlasannya.Sebenar-benarnya ikhlas adalah bukanlah sebuah pengakuan.Ikhlas itu yang tersembunyi.
    Segala yang sesuatu ada dalam genggaman-Nya.Hanya Alllah SWT yang memiliki rasa Ikhlasan dan berpikir kritis yang absolut.Hadirnya elegi tersebut juga mengingatkan kita untuk terus dan terus beriktiar dan berdoa hingga kita selalu diberikan jalan dalam menitih langkah-langkah kita.

    ReplyDelete
  17. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. Sebenar-benar manusia adalah yang cendekia sekaligus memiliki hati nurani. Cendekiawan yang tidak berhati nurani akan menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuannya selama hal itu masuk akal baginya. Oleh karena itu kita butuh pengendali tingkah laku kita, yaitu hati nurani.

    ReplyDelete
  18. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Saya ikut menjadi semangat saat membaca percakapan di atas. Terima kasih Prof untuk ilmu yang sudah diberikan. Saya mencermati isi yang ada di dalamnya, yaitu tidaklah hina saat seseorang menganggap dirinya bodoh. Menurut saya, ketika seseorang menyadari akan ketidakmampuannya, ia juga akan mendorong dirinya untuk mencari tahu hal-hal yang tidak diketahui sebelumnya. Saya sendiri juga masih terus melatih diri untuk menerima bahwa saya tidak tahu akan segala hal dan masih banyak lagi hal-hal yang harus saya cari tahu.

    ReplyDelete
  19. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  20. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada elegi ini, menuntut ilmu dengan hati yang ikhlas akan membuat kita menjadi berhasil. Selain dengan hati yang ikhlas juga dengan berpikir sesuai ruang dan waktunya. Dan sekarang kita perlu untuk introspeksi diri apakah kita sudah ikhlas apa belum dalam menuntut ilmu. Karena pada dasarnya kita sendiri yang tahu apakah hati kita sudah ikhlas atau belum. Sedangkan orang lain hanya bisa tahu karena dari indera mereka, misalnya dari melihat kita berperilaku. Tetapi sungguh yang paling mengetahui diri kita adalah kita sendiri dan Allah SWT. Oleh karena itu kita harus ikhlas hati dan pikiran dalam menuntut ilmu agar kelak ilmu itu dapat berguna dan bermanfaat karena Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmupengetahuan.

    ReplyDelete
  21. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    keikhlasan dan berpikir kritis haruslah dilakukan berdampingan dan secara terus menerus. Namun bersikap ikhlas dan berikir kritis juga harus memperhatikan ruang dan waktu. Selain itu, sikap ikhlas dan berpikir kritis hendaknya dilaksanakan secara konsisten, karena sikap ikhlas dan berpikir kritis tidaklah berdampak hanya bagi diri sendiri, melainkan bagi peradaban.

    ReplyDelete
  22. Dewi saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr.Wb

    Saya mengambil pelajaran dari elegi ini bahwa kita harus menanamkan ke ikhlasan dan berpikir kritis didalam kehidupan. DImana keikhlasan berasal dari hati dan melakukan segalanya karena Allah SWT. sehingga akan terhindar dari sifat sombong. Berpikir kritis menunjukkan seseorang yang haus akan ilmu dan tidak mudah berputus asa. Sehingga orang-orang yang berpikir kritis tidak mudah terjebak dalam mitos. Dengan tertanamaknnya keikhlasan dan berpikir kritis maka apa yang mereka pikirkan tetap terarahkan dan mempunyai batas-batasannya, yaitu tetap selalu berada dijalan Allah SWT.

    ReplyDelete
  23. Kartika Kirana
    17701261039
    S2 PEP B

    Saya semakin menyadari, tidak bisa manusia ini berlaku sombong. Setiap peristiwa keberhasilan, akan dibayangi kegagalan juga. Manusia hanya mampu berusaha, terus berusaha. Dengan demikian pun, hidup dijalani dengan lebih tenang, sebab keikhlasan itu akan membawa bawa rasa damai dan tenang. Namun juga manusia tetap selalu perlu waspada. Damai itu pun senantiasa harus diusahakan.

    ReplyDelete
  24. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  25. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi ritual ikhlas 35 ini, saya memahami bahwa seseorang disebut sebagai seorang yang cendikia adalah mereka yang ikhlas dalam menjalani apapun yang dikerjakannya. Tidak hanya ikhlas, namun ikhlas yang juga disertai berpikir kritis. Namun jika ditelusuri lebih lanjut, sebenarnya rasa ikhlas dan berpikir kritisnya seseorang tidak akan bersifat absolut, karena absolut itu hanyalah milik Allah SWT. Akan tetapi, sebagai manusia musti berusaha untuk ikhlas dan berpikir kritis dimana hal itu merupakan suatu ikhtiar baginya.
    Maka selalulah berikhtiar dan diiringi dengan doa, memohon petunjuk dan ampunan-Nya, agar selalu berada dalam keridhaan Allah SWT.

    ReplyDelete
  26. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    PPs Pend. Matematika 2017 Kelas C

    Dalam beribadah, kita menyerahkan segala sesuatunya pada Allah. Seberapa tinggikah nilai ikhtiar, keikhlasan, dan doa kita bukanlah menjadi hal yang seharusnya kita pikirkan. Jika kita beribadah hanya untuk memperoleh penilaian seseorang terhadap kita, maka kita telah salah dalam niat. Allah Maha Adil, maka hanya Allah yg berhak dan mampu menilai kita. Beribadahlah sebaik2nya hanya karena dan kepada Allah SWT, dan biarkanlah Allah memutuskan apa yang hndak diberikannya kepada kita.

    ReplyDelete
  27. Indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Terimakasih prof.. dari elegi ini saya belajar bahwa ternyata ada korelasi antara berfikir kritis dan keikhlasan. makna cendekia yaitu kritis dalam berpikir dan makna nurani yaitu ikhlas dalam hati. cendekia dan nurani adalah hal sangat diperlukan dalam kehidupan kita didunia ini. agar kita semua menjadi orang-orang yang selalu berfikir kritis dan ikhlas dalam mengerjakan sesuatu atau memberikan inovasi-inovasi di dalam pekerjaan yang kita geluti masing-masing.

    ReplyDelete
  28. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    elegi yang sangat menyentuh hati prof. dari bagawat saya belajar bahwasannya apapun yang kita lakukan jangan pernah lupakan Allah dalam setiap kegiatan. jika mitos-mitos atau pikiran buruk menyerang maka segeralah beristighfar kepada Allah SWT. karena hanya kepadaNya laha sebaik-baiknya tempat meminta perlindungan.

    ReplyDelete
  29. Junianto
    17709251065
    PM C

    Sebenar-benar pemenang adalah mereka yang ikhlas dalam melaksanakan tugas dan amanahnya. Ikhlas hati dan ikhlas pikir yang sering Prof sampaikan menjadi kunci juga dalam pencapaiannya. Kekonsistenan seseorang dalam mengemban dan melaksanakan amanah juga bisa menjadi salah satu indikator bahwa ia ikhlas dalam melaksanakannya. Menjadi insan yang taqwa mandiri dan cendekia merupakan dambaan setiap manusia. Namun, perlu perjuangan dan kerja keras dalam mencapainya karena memang mencapai sesuatu yang mulia itu tidak mudah.

    ReplyDelete
  30. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Dalam beramal kita dianjurkan agar jangan sampai ingin mendapatkan penilaian orang lain. Penilaian yang hakiki adalah penilaian dari Allah semata. Jika mengharap penilaian orang lain maka kita bisa terjerumus ke dalam sifat riya. Riya' bisa berarti sebuah kesombongan, dan kesombongan merupakan sifat setan. Maka dari itu kita harus senantiasa ikhlas dalam beramal dengan niat mendapat ridhi dari Nya.

    ReplyDelete