Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 35: Cendekia yang ber Nurani




Oleh Marsigit

Bagawat:

Waha..semakin banyak saja peserta lomba Menjunjung Langit. Walaupun aku telah melihat banyak di antara mereka berjatuhan. Tetapi sebagaian besar mampu juga bangun kembali dan melanjutkan perlombaan. Itulah hebatnya manusia. Tuhan telah memberi dan melimpahkan karunia kepadanya, sehingga mereka selalu diberi kekuatan untuk selalu berikhtiar. Iba rasa hatiku. Tetapi ada sesuatu yang ternyata menjadi pemikiran buat diriku, yaitu bagaimana aku bisa menjelaskan kepada peserta lomba perihal pencapaian-pencapaiannya. Mengingat di antara mereka yang banyak itu, mereka mempunyai persepsi, pikiran dan perasaan yang berbeda-beda. Wahai Sang Rakata, kelihatannya ada sesuatu yang ingin engkau tanyakan?



Rakata:
Yang mulia Bagawat, mohon ampun atas kelancanganku. Bolehkah aku mengetahui siapa saja diantara pengikutku yang lulus mampu menjunjung langit? Dan siapa pula yang tidak lulus? Jikalau diantara pengikutku ada yang tidak lulus, kira-kira apa penyebabnya? Aku juga ingin tahu, dalam perlombaan Menjunjung Langit itu apakah pemenangnya bersifat tunggal atau jamak?

Bagawat:
Hemm..Sang Rakata muridku yang gagah perkasa. Ketahuilah bahwa pemenang perlombaan Menjunjung Langit itu bisa bersifat tunggal, dual, tripel atau jamak. Sedangkan pemenangnya adalah siapa saja yang berhati ikhlas dan mampu berpikir kritis. Ketahuilah bahwa berhati ikhlas dan berpikir kritis itu terikat oleh ruang dan waktu, artinya dia itu bisa berupa titik atau simpul potensi, berupa garis atau bidang vitalitas, atau berupa ruang interaksi dinamis antara potensi dan vitalitas dalam waktunya.

Rakata:
Ampun yang mulia, sulit kiranya aku memahami apa yang baru saja engkau jelaskan? Hemm..kalau begitu apa ya kira-kira kriteria bagi mereka yang dianggap gagal?

Bagawat:

Wahai Sang Rakata...aku mengerti apa yang sedang engkau pikirkan. Ketahuilah bahwa ruang dan waktu itulah tempatnya hatimu menunjukkan keikhlasanmu dan tempatnya pikiranmu menunjukkan keikhlasanmu. Sedangkan hubungan antara dirimu dengan ruang dan waktu tiadalah bersifat tetap bagi predikat-predikatnya dan bersifat tetap bagi predikat-predikat yang lain.

Rakata:
Ampun yang mulia...bukannya aku bertambah jelas perihal keteranganmu itu, melainkan aku malah bertambah bingung.

Bagawat:
Dirimu yang selalu berubah dalam ruang dan waktu itulah penyebab dari ketidakmampuanmu menunjuk dirimu. Tetapi bahwa hatimu dan pikiranmu itu selalu berada dalam ruang dan waktu itulah suatu ketetapan yang bersifat tetap untuk menjamin doa-doa dan ikhtiarmu. Kongkritnya adalah bahwa manusia itu tidak dapat mengaku dirinya sebagai telah berhati ikhlas dan telah berpikir kritis.

Rakata:
Lho..kalau begitu..bagaimana kita bisa mengetahui pencapaian-pencapaian doa-doa, pikiran dan ikhtiar kita?

Bagawat:
Itulah perlunya penilaian dari orang lain. Tetapi sehebat-hebat orang menilai maka dia tidak bisa melepaskan diri dari ruang dan waktunya, artinya dia tidak bisa terbebas dari subyektivitasnya. Maka sebenar-benar penilaian absolut itu datangnya dari Allah SWT.

Rakata:
Wahai Sang Bagawat...tadinya saya berpikir Allah SWT itu hanya meperhatikan keikhlasan manusia saja, sedangkan pikiran manusia itu sifatnya mandiri.

Bagawat:
Jangankan pikiran manusia, semua perbuatan manusia itu sesungguhnya tidak bisa lepas dari kekuasaan Nya.

Rakata:
Sang Bagawat...bolehkah aku mengetahui lebih rinci tentang ciri-ciri orang yang mampu atau yang tidak mampu menjunjung langit itu?

Bagawat:
Bahkan dirimu setiap saat dapat terancam kegagalan, walaupun setiap saat mempunyai harapan. Kegagalanmu disebabkan oleh karena kesadaranmu, tetapi keberhasilanmu juga ditentukan oleh kesadaranmu pula. Sedangkan doa-doa mu itulah yang mengangkat dimensimu di luar kesadaranmu. Pada saat engkau lantunkan keberhasilanmu, maka saat itulah kegagalanmu siap menjemputmu. Pada saat engkau menyadari keikhlasanmu, maka saat itulah ketidakikhlasanmu siap menjemputmu. Jangankan engkau bertanya kepada banyak orang, jika engkau mampu bertanya kepada diri sendiri maka engkau dapat mengetahui bahwa kegagalan dan keberhasilanmu selalu siap mengikuti dirimu dalam ruang dan waktumu. Maka tiadalah sebenar-benar dirimu itu ikhlas dan berpikir kritis, melainkan dirimu hanya selalu berusaha menggapainya. Ketahuilah bahwa sebenar-benar ikhlas dan berpikir kritis absolut itu hanyalah milik Nya. Maka tiadalah ada manusia dimuka bumi ini yang sebenar-benar mampu menjunjung langit itu, kecuali atas kehendak Nya.

Rakata:
Jikalau manusia itu tidak mampu mencapai ikhlas dan berpikir absolut, mengapa engkau mengadakan perlombaan Menjunjung Langit?

Bagawat:
Itulah yang namanya ikhtiar. Aku dapat katakan bahwa ikhlas dan pikiran kritismu itu tidak lain tidak bukan adalah ikhtiar hati dan pikiranmu. Barang siapa berhenti berikhtiar dalam hati dan dalam pikirannya maka dia akan terancam dimangsa oleh mitos-mitosnya sendiri. Itulah yang disebut bernurani dan cendekia. Bernurani itu adalah ikhlas dalam hatimu dan cendekia itu adalah kritis dalam pikiranmu.

Rakata:

Hemm..terimakasih Sang Bagawat..padhang terawangan. Kalau begitu bernurani dan cendekia itu ternyata melekat pada diri kita masing-masing dalam ruang dan waktu kita masing-masing pula. Hemm..bolehkah Sang Bagawat aku masih bertanya tentang satu hal, yaitu apa yang dimaksud dengan mandiri?

Bagawat:
Seperti yang sudah saya jelaskan di muka. Ikhtiar manusia itu mentrasformir potensi hati dan pikirannya kedalam ruang dan waktu interaksi dinamis antara potensi-potensinya dengan vitalitas-vitalitasnya. Ruang dan waktu interaksi dinamis itu bisa berupa titik, garis, bidang atau bahkan ruang itu sendiri.

Rakata:
Wahai Sang Bagawat...saya hanya bertanya tentang mandiri..kenapa penjelasanmu malah bertambah rumit?

Bagawat:

Di dalam ruang dan waktu interaksi dinamis itulah manusia mampu merasakan, menyadari dan memikirkan dirinya dan bukan dirinya. Tetapi keadaan demikian bersifat timbal balik dengan lingkungannya. Di dalam ruang interaksi dinamis itu pula manusia harus bersedia menjadi obyek perasaan, obyek kesadaran dan obyek pikiran bagi yang lainnya. Jika ruang dan waktu kemudian diintensifkan dan diekstensikan, maka itulah yang terjadi bahwa manusia sedang melakukan hijrah dari satu titik ke titik yang lainnya untuk mentransformir doa-doa dalam hatinya serta kritis dalam pikirannya untuk memperoleh vitalitas-vitalitasnya. Ketahuilah bahwa jika ruang dan waktu diintensifkan dan diekstensifkan lagi maka vitalitas-vitalitas itu tidak lain adalah juga potensi-potensinya.

Rakata:
Apa hubungannya antara potensi, vitalitas, ruang dan waktu dengan mandiri?

Bagawat:
Wahai Sang Rakata yang gagah dan perkasa, sabarlah. Dalam ruang dan waktu interaksi dinamis itu, jika manusia terjaga hati dan pikirannya, maka ada 3 (tiga) kemampuan yang segera diperolehnya. Dia akan bisa merasakan, menyadari, memikirkan, dan menjalani fenomena mendatar, meruncing dan mengembang.

Rakata:
Apa pula fenomena mendatar, meruncing dan mengembang itu?

Bagawat:
Fenomena mendatar itulah kebiasaanmu, itulah aturan-aturanmu, itulah kodrat dan takdir yang telah ditetapkan baik dari dalam dirimu maupun dari luar dirimu. Fenomena meruncing itulah perasaanmu, itulah kesadaranmu, itulah pikiranmu, itulah ikhtiarmu untuk mengungkap segala misteri kehidupan dirimu dan lingkunganmu. Sedangkan fenomena mengembang itulah perolehanmu, akibat-akibatmu, pencapaianmu, prestasimu, pergaulanmu, keluargamu, teman-temanmu, masyarakatmu. Ketiga fenomena itulah sebenar-benar pilar dalam hidupmu. Itulah hidupmu. Janganlah mengaku-aku sebagai manusia mandiri jikalau engkau belum memahami dan mengimplementasikannya.

Rakata:
Oh..Sang Bagawat...ampunilah kebodohan diriku ini. Badanku terasa gemetar setelah mendengar uraianmu semua. Sungguh tiadalah aku merasakan keperkasaanku itu di hadapanmu itu. Perkenankanlah aku ingin meneteskan air mata dan melantunkan doa syukur atas karunia ini.

Bagawat:
Wahai Sang Rakata..bangunlah. Bukanlah sesuatu yang kebetulan engkau datang di hadapanku itu. Tiadalah orang lain selain dirimu dan diriku ada di sini. Aku pun tidak melihat para cantraka ada di depanku. Apa artinya? Artinya adalah tiadalah ada kata akhir perlombaan Menjunjung Langit itu. Kemampuanmu datang dihadapanku sekarang ini, adalah bukti bahwa dengan keikhlasanmu itu, engkau telah konsisten tetap berpikir kritis seraya mengembang tanggungjawab dan kewajiban-kewajibanmu. Tidak hanya itu, aku juga melihat bahwa engkau telah mampu mentransformir dirimu ke dalam ruang dan waktu interaksi dinamis yang tidak hanya engkau peruntukkan bagi dirimu, tetapi juga bagi yang lainnya. Secara sadar maupun tidak sadar engkau telah mengakomodir tidak hanya dirimu tetapi juga diri yang lain aspek-aspek kehidupan bernurani, cendekia dan mandiri. Jika ruang dan waktu yang lampau aku telah menunjuk sementara seorang Cantraka sebagai pemenangnya, maka sekarang aku telah menunjuk dirimu sebagai pemenang sementara. Teruskanlah perjuanganmu karena di atas pundakmulah banyak nasib di luar dirimu tergantung pada dirimu. Itulah sebenar-benar manusia cemani. Tetapi waspadalah terhadap mitos-mitosmu. Begitu engkau menyadari keikhlasanmu dan pikiran kritismu maka mitos-mitosmu itu siap menerkammu. Maka istighfar dan berdoalah mohon ampun dan bimbingan ke hadhlirat Allah SWT. Amiin.

40 comments:

  1. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Menjunjung langit merupakan proses manusia menuntut ilmu yakni mempertahankan apa yang telah diperoleh dan terus berusaha mencari dan terus mencari tenatng segala yang belum diketahui. Oleh karena itu, pemenang dari perlombaan menjunjung langit bisa tunggal, dual, tripel maupun banyak karena setiap manusia berhak untuk menjunjung langit hal ini juga sesui yang dikatakan begawat. Menjunjung langit tidak cukup mengandalkan pikiran namun kita harus mengambarakan pikiran untuk berpikir kritis dan bernurani yaitu ikhlas dalam hati. Keiklasan dalam hati akan membuahkan ketawadukan, rendah hati dan meruntuhkan kesombongan, serta menjauhkan kita dari maksiat karena menjunjung langit diperlukan kesucian jiwa dan raga. Semoga kita selalu terjaga dalam kebaikan . Amien. Terima Kasih

    ReplyDelete
  2. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Elegi ini mengajarkan kita untuk mecapai ilmu yang sesungguhnya adalah dengan mengkombinasikan antara berfikit kritis dan ikhlas. Ikhlas akan membuat kita untuk selalu dan mau untuk menggapai ilmu. Sebab terkadang kita akan merasa putus asa saat akan menggapau ilmu. Agar kita tidak terjebak dalam mitos maka kita harus selalu berpikir kritis. Kita juga jangan sampai terjatuh dengan kepemilikan kekuasaan. Jika kita sudah diberikan amanah untuk mendapatkan posisi, maka gunakan dengan bijak sebab sekecil-kecilnya kita bertindak pasti akam berpengaruh kepada orang lain. Maka kita harus selalu menjaga tindakan kita agar tidak merugikan orang lain.

    ReplyDelete
  3. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Mengemban sesuatu kedudukan atau kewajiban dalam memperdalam maupun mengembangkan ilmu nya perlu disertai sifat ikhlas dan kritis. Menurut saya, ikhlas disini adalah ikhlas secara terbuka menerima ilmu dan masukan dari berbagai lingkungan yang bertujuan untuk memberikan kita ilmu yang lebih dan memberikan masukan agar lebih baik kedepannya. Kritis disini adalah berusaha berpikir luas dan dalam dalam menyikapi suatu hal yang ada disekitarnya. Maka, jangan lah bersifat sombong dalam menjunjung langit, bisa saja tak kuasa engkau menahan beratnya langit tersebut. Dan seperti apakah bahayanya apabila langit itu runtuh? Semoga Allah senantiasa melindungi kita. Amiin.

    ReplyDelete
  4. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Manusia yang memiliki ilmu tapi jauh dari Tuhan-Nya, sama halnyatak ada tujuan hidup yang hendak dicapainya. Oleh karenanya sejalan antara dunia dan akhir sangatlah diperlukan. Menggunakan sebaik mungkin akal dan pikiran yang telah diberikan Allah swt untuk berpikir dan melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain. Jadilah manusia yang berilmu pengetahuan dan tahu hakikat dirinya sebagai khalifah di bumi. Senantiasa melantunkan doa dan ikhtiar semaksimal mungkin. Selebihnya menyerahkan semua pada Allah swt untuk mengurusnya. Manusia yang telah mampu mengakomodir dirinya sendiri, ilmu pengetahuan yang telah didapatkan, memohon ampunan dan berserah diri pada Allah swt, serta mengaplikasikan untuk sendiri dan orang lain, maka dapat dikatakan bahwa mereka telah menjadi insane yang bernurani, cendeki, dan mandiri. InsyaAllah.

    ReplyDelete
  5. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Elegi ini merupakan lanjutan dari elegi ritual ikhlas 26 : perlombaan menjunjung langit. jika sebelumnya cantraka dengan keihklasan dan pemikiran kritisnya ditunjuk sebagai pemenang sementara dalam perlombaan menjunjung langit, dalam elegi ini yang ditunjuk sebagi pemenag semertara perlombaan menjunjung langit adalah rakata, karena pikiran krits dan keikhlasanya serta kemampuanya mentransformir dirinya ke dalam ruang dan waktu interaksi dinamis yang tidak hanya engkau peruntukkan bagi diri sendiri, tetapi juga bagi yang lainnya. ini menunjukan bahwa kita tidak selalu berada diata atas sebagai pemenang atau sebagai orang yang paling pintar, ada suatu kondisi dimana kita berada dibawah atau kondidsi dimana kita harus mendengarkar orang lain karena dia lebih pintar pada bagian tersebut.

    ReplyDelete
  6. Dalam proses nya manusia mengikuti perlombaan menjunjung langit banyak yang berjatuhan. Artinya banyka manusia yang berputus asa dalam menggapai tujuan untuk dapat menjunjung langit. Kurangnya ilmu dank e-engganan untuk terus mencari bekal ilmu merupakan suatu penghalang bagi manusia tersebut. Semoga kita bisa tetap istiqomah dalam perjlaan menuju tujuan manusia yaitu ridho Allah.


    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  7. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Untuk mencapai kebrehasilan kita harus berikhtiar dengan ikhlas. Ikhtiar juga harus diiringi dengan doa agar mendapat ridho Allah SWT. Kisah di elegi ini dapat diibaratkan sebagai perlombaan dalam menuntut ilmu, banyak yang berjatuhan/mundur, hanya orang-orang kuatlah yang bisa melanjutkan perjuangan.

    ReplyDelete
  8. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)


    Dari elegi ini hal yang dapat saya simpulkan adalah bahwa cendikia yang dimaksud di sini adalah yang dapat mengolah hati dan pikirannya disertai dengan harti yang ikhlas. Namun dalam perjalanan menjadi cendikia tersebut maka akan mengalami rintangan-rintangan yang akan membuat kita menjadi cendikia yang lemah bahkan akan merusak kecendikiaan kita. Berdasarkan hal yang pernah saya pelajari sesuagtu yang baik tidak akan hilang apabila kita sebarkan dan aplikasikan kepada orang lain, sehingga kecendikiaan kita akan lebih bermanfaat bagi orang lain, seperti halnya ilmu yang akan membuat kita semakin kaya ilmu apabila kita membagikan kepada orang lain.

    ReplyDelete
  9. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Menjadi cendekiawan yang bernurani, ternyata membutuhkan keikhlasan dalam hati dan pikiran. Kompetisi menjadi ajang yang penting bagi para cendekiawan, karena dengan hal ini mereka akan lebih dikenal dan bangga terhadap ilmu dan kemampuan yang mereka miliki. Namun, harusnya mereka juga merasa takut apakah mereka sudah menjadi cendekiawan yang berhati ikhlas dan mampu berpikir kritis atau belum.hati dan pikiran selalu berada pada ruang dan waktunya sehingga ia menjamin segala doa dan ikhtiar yang dilakukan. Jelasnya, jika kita berhati ikhlas dan mampu berpikir kritis maka kita dapat menjadi seorang cendekiawan yang bernurani, berilmunya ikhlas karena Allah, berpikirnya tulus untuk tujuan dan cita-cita hidup yang baik. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  10. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Orang yang cerdas fikiran saja tidak akan mampu membuat perubahan yang hakiki dalam kehidupan di dunia ini. Mereka yang cerdas dalam perkara agama (hati) saja juga tidak akan memberikan perubahan yang hakiki di akhirat ini. Karena pada dasarnya keseimbangan antara fikiran dan hati sangatlah penting untuk memberikan perubahan yang hakiki untuk Dunia ini. Oleh karena itu, ketika kita menjadi orang yang dianggap pintar, maka senantiasa kita menghadirkan hati kita dalam menerimanya. Karena ketika hati ikut berbicara, maka akan ada keselarasan dalam hidup yang memberikan perubahan yang hakiki pada lingkungan.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  11. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Berdasarkan postingan di atas terdapat kata “Teruskanlah perjuanganmu karena di atas pundakmulah banyak nasib di luar dirimu tergantung pada dirimu. sebenar-benar itulah manusia cendekia yang bernurani ” dan dapat disimpulkan bahwannya kita harus terus dan terus berjuang, jangan pernah puas untuk menggapai pengetahuan,karena dengan berjuang dapat sebagai cara kita dalam mensyukuri nikmat Allah SWT, namun kita harus selalu ingat kepadaNYA sang pemilik alam dan sekitarnya.

    ReplyDelete
  12. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Terima kasih Prof. atas elegi nya. Elegi ini menurut saya lanjutan dari elegi sebelumnya yaitu perlombaan menjunjung langit. Setelah pada elegi sebelumnya Cantraka memenangkan lomba menjunjung langit lantaran cantraka merasa tidak lah mampu melakukan perlombaan itu serta pikiran kritis yang ia miliki. Pada elegi ini muncul Rataka, murid gagah perkasa yang juga berusaha memahami lomba menjunjung langit secara keseluruhan. Rataka mulai memahami perlombaan tserbut setelah berkonsultasi dengan orang berambut putih, dimana ratakan mendapat wejangan jika persaaan ikhlasmu akan muncul mka saat itulah ikhlas yang kamu miliki sirna. Maksudnya yaitu ketika kita melakukan suatu pekerjaan kemudian kita berusaha merasakan bahwa kita telah ikhlas, maka syaitan akan masuk ke tubuh kita guna mengooda sehingga persaan ikhlas kita itu menjadi ketidakikhlasan.

    ReplyDelete
  13. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Manusia memiliki berbagai potensi yang dapat membuat diri mereka mencapai tujuannya. Terjaga hati dan pikiran manusia, maka ia akan memiliki tiga kemampuan yaitu, merasa, menyadari, berpikir. Ketiga fenomena tersebut harus selaras.
    Dan, jangan takut untuk berjuang karena dengan perjuangan kita dapat menggunakan dan menunjukkan potensi yang dimiliki secara optimal. Dengan kesabaran, ketulusan, dan melakukan hal-hal tanpa prasangka. Namun, tolok ukur keberhasilan dan kegagalan juga dinilai dari doa – doa yang kita panjatkan, karena segala sesuatu adalah kehendak-Nya. Pada akhirnya, yang akan menjadi pemenang adalah mereka yang berhati ikhlas dan selalu menggunakan potensinya dengan baik.

    ReplyDelete
  14. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Elegi ini mencerminkan kondisi manusia saat ini. Bnayk sekali orang yang berlomba-lomba untuk mencapai kesuksesan duniawi dari pada ukhrowi. HAl itu dapat dilihat dari degradasi moral yang terjadi. Banyak sekali orang tua yang bangga memiliki anak pintar tanpa dilandasi akhlak yang baik. Padahal sebaik-baiknya manusia adalah yang baik akal dan akhlaknya sehingga ia dapat menyeimbangkan proses kehidupannya sendiri dan sekitarnya.

    ReplyDelete
  15. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Cendekia yang benurani. Membaca elegi ini saya memahami bahwa untuk meningkatkan dimensi kita sebagai manusia kita harus beikhtiar dengan ikhlas. Manusia yang mampu berikhtiar dengan ikhlas itu adalah ciri – ciri manusia yang meningkat dimensinya. Sehingga manusia yang memiliki derajat yang tinggi itulah disebut sebagai manusia yang cendekia yang bernurani. Cendekia maksudnya disini adalah memiliki pikiran yang kritis sedangkan bernurani adalah memiliki keikhlasan dalam hatinya. Salah satu tolak ukur tingginya derajat manusia itu adalah ketika dia mampu bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan bermanfaat bagi sekitarnya. Terimaksih

    ReplyDelete
  16. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. pemenangnya ialah yang ikhlas dan mampu berpikir kritis. Untuk mencapai kemenangan itu diperlukan ikhtiar, manusia perlu berusaha agar menjadi pemenang. Pemenang sejati merupakan orang berusaha dengan kesungguhan hati, yang mau ikhlas berusaha, dan yang kritis dalam menacri jalan menuju kemenangan. Semoga saya menjadi salah satu pemenang itu, aamiin

    ReplyDelete
  17. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Seseorang yang dapat menjunjung langit adalah mereka yang menyadari akan kekurangan dirinya dan dengan kerendahan hati serta pikiran yang kritis, mereka terus mencari kebenaran ilmu pengetahuan. Itulah sebebar-benar insan cendekia yang bernurani. Kesadaran akan kekurangan ilmu merupakan langkah mereka agar tidak termakan oleh mitos dan terperangkap dalam ruang dan waktu yang salah. Di samping itu, mereka senantiasa memohon petunjuk dari Tuhan YME agar tidak tenggelam dalam hati dan pikiran yang tidak ikhlas.

    ReplyDelete
  18. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Manusia diciptakan dengan bekal akal pikiran dan hati. Keduanya tentu bukan tanpa alasan. Hati dan pikiran menjadi modal penting bagi kehidupan manusia di muka bumi sebagai khalifah. Pikiran dapat digunakan untuk memikirkan ilmu pengetahuan, dan hati digunakan untuk menyadari dan merasakan. Pikiran dan hati harus digunakan secara beriringan dan bersinergi. Semua manusia memiliki kesempatan yang sama untuk menggunakan pikiran dan hati, namun hanya sedikit yang menyadari bahwa sesungguhnya manusia tidak akan pernah merugi jika dapat menggunakan pikiran untuk berpikir logis dan kritis serta menggunakan hati dalam keadaan jernih. Semua hal yang dilakukan tersebut hendaklah dilakukan secara ikhlas. Dengan pikiran dan hati yang bersinergi dalam keikhlasan dan kesucian, maka akan membuahkan kebaikan.

    ReplyDelete
  19. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Pemenang perlombaaan menjunjung langit adalah orang yang berhati ikhlas dan berpikir kritis. Namun orang yang mengatakan dirinya berhati ikhlas atau berpikir kritis malah menunjukkan bahwa dirinya tidak ikhlas atau berpikir kritis. Yang dapat mengukur keikhlasan seseorang hanyalah Allah SWT. Namun sebenar-benar ikhlas dan berpikir absolut hanyalah Desemberlik Allah, manusia hanya dapat berusaha menggapainya. Manusia berusaha menggapai hati yang ikhlas dan pikiran yang kritis dalam usahanya untuk terhindar dari mitos

    ReplyDelete
  20. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Hal yang saya peroleh setelah membaca artike di atas adalah bahwa kita jangna mudah putus asa dan menyerah, kita harus terus berusaha, mencoba dan mencoba ketika melakukan sesuatu atau mewujudkan sesuatu sampai kesuksesan itu dapat kita raih. seseorang yang mampu mencapai kesuksesan adalah orang yang memiliki hati yang ikhlas serta mampu dan mau berpikir kritis. Keikhlasan dan ketulusan hati juga pikiran. Mencapai kesuksesan tentunya harus dilalui dengan melewati segala rintangan yang menghadang, tapi itulah pengalaman terbaik dalam mencapai kesuksesan, proses ikhtiar, berdoa, tawakal itulah yang paling berharga dari sebuah perjalanan.

    ReplyDelete
  21. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Ikhlas dan berpikir kritis adalah kunci dari elegi ini. Seperti pada elegi menjunjung langit yang sebelumnya, bahwa sesungguhnya tidak ada yang benar benar mampu menjunjung langit melainkan berusaha menggapainya. Seperti sebuah ilmu yang sangat luas dan tidak akan pernah mampu dimiliki oleh manusia, tetapi kita hanya berusaha menggapainya. Dalam menggapai atau menuntut ilmu diperlukan keikhlasan dan berpikir kritis. Allah SWT sang pemilik ilmu tidak hanya menilai seseorang dari hatinya saja atau dari keikhlasannya saja. Tetapi dari pikirannya untuk berpikir kritis.

    ReplyDelete
  22. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Ilmu yang benar-benar ilmu adalah yang dilandaasi dasar ikhlas dan dari hasil olah piker yang krtis. Proses menjaganya diibaratkan seperti menjunjung langit, yang luas hamper tak terbtas, djinjing beersama-sama orang yang memiliki keikhlasan dalam ilmunya. Ini lah sebenar-benar yang membangun peradaban diri, masyarakat, dan bangsa.

    ReplyDelete
  23. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dari elegi ini bisa kita ambil hikmah juga, bahwa segala ilmu adalah milik Allah Swt. Sesungguhnya Allah hanya akan memberikan ilmunya kepada orang yang ikhlas hatinya, begitupun ikhlas pikirnya. Ikhlas hati ditandai dengan tulusnya mencari ilmu, tidak terpaksa dan dipaksa. Ikhlas piker ditandai dengan kritisnya pikiran terhadap segala hal yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  24. Latifah Fitriasari
    PM C

    Kita harus memiliki sikap seperti batu karang yang kokoh sekalipun dipukul ombak, bahkan sanggup menenteramkan amarah ombak dan gelombang itu. Jangan pernah putus asa, karena harapan masih tetap ada, bila ada kesempatan sekecil apapun juga, maju terus dan tetap semangat. Urusan kita dalam kehidupan bukanlah untuk melampaui orang lain, tetapi untuk melampaui diri sendiri, untuk memecahkan rekor kita sendiri, dan untuk melampaui hari kemarin dengan hari ini. Dengan begitu tanpa terasa segala ujian dalam bentuk apapun pasti bisa kita lalui dengan mudah asalkan kita tidak mudah menyerah.

    ReplyDelete
  25. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Tiadalah kata akhir perlombaan menjunjung langit karena sebenar-benar menggapai ilmu tidak akan pernah usai. Ilmu di dunia ini begitu luas, sebanyak apapun ilmu yang dimiliki seorang manusia hanyalah setitik dari begitu luasnya ilmu yang ada di dunia. Diatas langit pastilah masih ada langit. Ilmu manusia tidak akan pernah sanggup menggapai ilmu Allah SWT. Maka tiadalah akhir perlombaan menjunjung langit.

    ReplyDelete
  26. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Menjaga keihklasan memang hal yang sulit. Mencapai keikhlasan saja sudah sulit. Menjaganya lebih sulit lagi. Kadang kita merasa kita telah ikhlas dalam melakukan suatu hal, namun disaat itulah sebenarnya ketidak ikhlasan datang untuk mengusir keikhlasan pergi dari diri kita. hal seperti ini sering kali terjadi tanpa kita menyadarinya.

    ReplyDelete
  27. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Pemenang lomba menjunjung langit ialah siapa saja yang berhati ikhlas dan mampu berpikir kritis. Setiap orang memiliki pola pikir yang berbeda. Akan tetapi, apabila mampu berpikir secara kritis, masalah yang mereka hadapi tentu akan semakin sederhana dan mudah dicari solusinya. itulah salah satu kegunaan akal dan pikiran yang telah Allah SWT karuniakan kepada kita, maka gunakanlah dengan sebaik-baiknya. Berhati ikhlas adalah orang yang menjalankan segala sesuatunya atas nama Allah SWT dan menjalankan semua perinytah-Nya serta menjauhi semua larangan-Nya.

    ReplyDelete
  28. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Ketika kita ikhlas melakukan sesuatu hal, maka akan berdampak besar kepada hasil yang akan dicapai. Hasil tersebut akan membuat kita tetap berpikir kritis serta bertanggung jawab terhadap tugas yang telah diamanahkan kepada kita. Namun janganlah kita cepat merasa puas atau nanti aka nada para mitos yang mendatangi kita. Semoga kita selalu berhati hati dalam bertindak.

    ReplyDelete
  29. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Semakin dalam elegi ikhlas ini memberikan gambaran bahwa memang keikhlasan dikai saja rumit, dan dilakukan lebih rumit lagi. Atau hanya oemikiran saya yang masih terkurung dalam tempurung saja. Keikhlasan memiliki dimensi yang tidak mudah untuk dicapai, namun tidak mustahil pula. Adapun keikhlasan akan bersarang pada hati yang bersih tanpa sifat sombong, tamak dan riya'. Semoga kita senantiasa dapat belajar menjadi yang lebih baik lagi. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  30. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Melalui proses terjemah menerjemahkan seseorang digodok untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi tanpa mengulangi kesalahan yang sama dan diarahkan untuk tidak terjembab kedalam lubang yang biasa menyita korban. Proses belajar tidak akan bernilai jika tidak diamalkan, layaknya pohon tanpa buah. Menjadi seorang pebelajar yang beernurani diantaranya tidak melakukan tindak kecurangan dlam bentuk apapun, belajar memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin serta mengharamkan tindakan plagiasi minimal untuk dirinya sendiri, karena tindakan tersebut ialah tindakan tidak terpuji yang dapat menurunkan derjat kita baik dimata manusia maupun di hadapanNya. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  31. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Setiap manusia diciptakan oleh Allah dengan perbedaan antara satu sama lain. Manusia berlomba-lomba untuk mendapatkan hal apa yang mereka inginkan. Hal yang dianjurkan di dunia ini adalah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Tentu semua itu hendaknya diiringi dengan rasa tulus ikhlas di dalam pelaksanaannya. Hal ini guna mendapatkan ridha dari Allah. Keikhlasan seseorang itu tidak dapat dinilai dari diri sendiri. Perlu adanya penilaian dari orang lain. Namun tetap saja terkadang penilaian orang lain itu bersifat subjektif. Dengan demikian, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Kebahagiaan dengan kesedihan, keberhasilan dengan kegagalan, harapan dengan kenyataan, usaha dengan hasil, semua itu beriringan dan selalu terkait. Manusia hanya dapat merencanakan segala sesuatu, namun hanya Allah yang mengizinkan terlaksana atau tidaknya rencana-rencana manusia di bumi ini. Hal ini karena sifat Allah Yang Maha Berkehendak. Di dalam artikel disebutkan bahwa manusia yang terjaga hati dan pikirannya, maka ia memiliki tiga kemampuan, yaitu merasakan, menyadari, memikirkan, dan menjalani fenomena mendatar, meruncing dan mengembang. Hendaknya ketiga kemampuan tersebut dapat kita terapkan di dalam kehidupan sehari-hari. Tak lupa untuk kita selalu berdoa dan memohon ampun kepada-Nya agar mendapatkan kemudahan dalam menjalani hidup.

    ReplyDelete
  32. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Ketika kita bersiap untuk meraih keberhasilan, maka saat itulah kita juga harus bersiap untuk menghadapi kegagalan. Pada saat engkau menyadari keikhlasanmu, maka saat itulah ketidakikhlasanmu siap menjemputmu. tidak usah memikirkan apa yang sudah kita lakukan karena Allah yang menilai diri kita. tidak usah memikrikan berapa banyak pahala yang terkumpul dan dosa. Allah akan membalas semua kebaikan kita, tetapi ingat bahwa Allah juga akan membalas kesalahan-kesalahan kita. Beristigfarlah dan memohon ampunanNya.

    ReplyDelete
  33. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Manusia selama di dunia pasti terikat dengan ruang dan waktu, maka manusia tidak akan terlepas dari subjektivitas. Manusia tidak akan bisa mencapai keikhlasan dan pikiran yang absolu karena itu hanya milik Tuhan YME. Walaupun manusia itu menyatakan bahwa dia sudah berhati ikhlas dan berpikir kritis maka belum tentu itu yang terjadi, karena itu hanya berdasrkan penilaiannya saja, penilaian orang lain bahkan Tuhan akan berbeda dengannya. Sehingga janganlah kita sudah merasa berhati ikhlas dan berpikir kritis maka ketika itu yang terjadi justru sebaliknya.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  34. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Allah yaang akan menentukan jawaban atas segala usaha yang telah kita lakukan untuk mencapai sesuatu. Yang perlu kita lakukan sebagai manusia adalah selalu berusaha keras dan optimal untuk menggapai semua harapan. Tentu saja semua usaha itu harus diiringi dengan keikhlasan dan terus-menerus dilakukan tanpa putus asa.

    ReplyDelete
  35. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.Mat B

    Sebagai seorang cendikia, kita dituntut agar dapat menyalurkan dan mengamalkan ilmu yang kita peroleh untuk kebaikan dunia, bukan hanya untuk kepentingan kita sendiri, dan juga tuntutan untuk menjadi cendikia yang bernurani. karena melalui para cendekia, dapat muncul ide-ide brillian yang dapat mengubah dunia menjadi lebih baik atau bahkan ide-ide yang mengubah dunia menjadi lebih buruk. maka disinilah peran penting dari para cendikia yang bernurani, agar dapat membantu menjaga dunia ini untuk tidak menjadi lebih buruk.

    ReplyDelete
  36. Assalamualaikum Wr. Wb. Terima kasih, pak. Dari elegi ini saya dapat sedikit memahami kenapa dalam slogan UNY cendekia harus didahului dengan takwa dan mandiri, sebab cendekia tidak bias berdiri sendiri tanpa ada landasan moril sebagai basisnya. Dalam kehidupan ini, banyak kita temui para cendekia-cendekia yang mengkhianati kemanusiaan. Oleh karena itu untuk menjadi kaum cendekia yang bernurani maka kita tidak bias lepas dari nilai-nilai ilahiah sebagai sumber moralitas kita sebagai makhluk berketuhanan. Dengan kata lain, takwa, mandiri, cendekia adalah tujuan sejati dari perjalan hidup kita.

    ReplyDelete
  37. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Dari elegi diatas yang perlu digaris bawahi adalah pemenang adalah siapa saja yang berhati ikhlas dan mampu berpikir kritis. Dan orang yang berhati ikhlas dan berpikir kritis itu terikat akanoleh ruang dan waktu, yang mempunyai makna bahwa dia dapat berupa titik atau simpul potensi, berupa garis atau bidang vitalitas, atau berupa ruang interaksi dinamis antara potensi dan vitalitas dalam waktunya.

    ReplyDelete
  38. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Cendikia yang bernurani, keberhasilan menjunjung langit tidak diperoleh tanpa keikhlasan. ikhlas berpikir, ikhlas berusaha, ikhlas menerima, ikhlas memberi. Cendikia ber Nurani menerima dengan segala keikhlasan kegagalan dan kesuksesannya. Kesuksesan memerlukan proses dan tentunya pasti akan menemui banyak rintangan dan cobaan. Jangan mudah meyerah dan berputus asa, selalu berikhtiar dan berdoa, serta bertawakkal dengan penuh keihklasan di segala perbuatan.

    ReplyDelete
  39. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Assalamualaikum wr wb
    Sebenar-benarnya ilmu adalah barokah. Jadi ilmu itu harus berhati nurani, harus dilaksanakan, dan berdasarkan konteksnya. Tapi manusia tidak bisa hidup jika tidak punya arwah, sukma dan jiwa sejati. Karena kita masing-masing membangun hidup masing-masing maka kita harus berdamai. Keberadaan kita ditunjukkan oleh mengada kita.

    ReplyDelete
  40. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dua kutub yang berlawanan akan selalu hadir untuk saling mengikuti. Ketika keberhasilan datang, akan ada kegagalan yg mengintai. Ketika keikhlasan datang, ketidakikhlasan mengintai dibaliknya untuk mencari celah akan kehadirannya. Dalam menggapai ilmu, dibutuhkan hati yang ikhlas dan kemampuan berpikir kritis, karena orang yang berhati sombong hanya akan mengalami kegagalan dalam menggapai hakikat ilmu. Sedangkan setinggi-tingginya kedudukan ilmu adalah ilmu yang bermanfaat. Dan bukanlah orang tersebut ikhlas jika dia mengaku-ngaku ikhlas. Orang yang mengaku berilmu bukanlah orang yang berilmu.

    ReplyDelete