Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 35: Cendekia yang ber Nurani




Oleh Marsigit

Bagawat:

Waha..semakin banyak saja peserta lomba Menjunjung Langit. Walaupun aku telah melihat banyak di antara mereka berjatuhan. Tetapi sebagaian besar mampu juga bangun kembali dan melanjutkan perlombaan. Itulah hebatnya manusia. Tuhan telah memberi dan melimpahkan karunia kepadanya, sehingga mereka selalu diberi kekuatan untuk selalu berikhtiar. Iba rasa hatiku. Tetapi ada sesuatu yang ternyata menjadi pemikiran buat diriku, yaitu bagaimana aku bisa menjelaskan kepada peserta lomba perihal pencapaian-pencapaiannya. Mengingat di antara mereka yang banyak itu, mereka mempunyai persepsi, pikiran dan perasaan yang berbeda-beda. Wahai Sang Rakata, kelihatannya ada sesuatu yang ingin engkau tanyakan?



Rakata:
Yang mulia Bagawat, mohon ampun atas kelancanganku. Bolehkah aku mengetahui siapa saja diantara pengikutku yang lulus mampu menjunjung langit? Dan siapa pula yang tidak lulus? Jikalau diantara pengikutku ada yang tidak lulus, kira-kira apa penyebabnya? Aku juga ingin tahu, dalam perlombaan Menjunjung Langit itu apakah pemenangnya bersifat tunggal atau jamak?

Bagawat:
Hemm..Sang Rakata muridku yang gagah perkasa. Ketahuilah bahwa pemenang perlombaan Menjunjung Langit itu bisa bersifat tunggal, dual, tripel atau jamak. Sedangkan pemenangnya adalah siapa saja yang berhati ikhlas dan mampu berpikir kritis. Ketahuilah bahwa berhati ikhlas dan berpikir kritis itu terikat oleh ruang dan waktu, artinya dia itu bisa berupa titik atau simpul potensi, berupa garis atau bidang vitalitas, atau berupa ruang interaksi dinamis antara potensi dan vitalitas dalam waktunya.

Rakata:
Ampun yang mulia, sulit kiranya aku memahami apa yang baru saja engkau jelaskan? Hemm..kalau begitu apa ya kira-kira kriteria bagi mereka yang dianggap gagal?

Bagawat:

Wahai Sang Rakata...aku mengerti apa yang sedang engkau pikirkan. Ketahuilah bahwa ruang dan waktu itulah tempatnya hatimu menunjukkan keikhlasanmu dan tempatnya pikiranmu menunjukkan keikhlasanmu. Sedangkan hubungan antara dirimu dengan ruang dan waktu tiadalah bersifat tetap bagi predikat-predikatnya dan bersifat tetap bagi predikat-predikat yang lain.

Rakata:
Ampun yang mulia...bukannya aku bertambah jelas perihal keteranganmu itu, melainkan aku malah bertambah bingung.

Bagawat:
Dirimu yang selalu berubah dalam ruang dan waktu itulah penyebab dari ketidakmampuanmu menunjuk dirimu. Tetapi bahwa hatimu dan pikiranmu itu selalu berada dalam ruang dan waktu itulah suatu ketetapan yang bersifat tetap untuk menjamin doa-doa dan ikhtiarmu. Kongkritnya adalah bahwa manusia itu tidak dapat mengaku dirinya sebagai telah berhati ikhlas dan telah berpikir kritis.

Rakata:
Lho..kalau begitu..bagaimana kita bisa mengetahui pencapaian-pencapaian doa-doa, pikiran dan ikhtiar kita?

Bagawat:
Itulah perlunya penilaian dari orang lain. Tetapi sehebat-hebat orang menilai maka dia tidak bisa melepaskan diri dari ruang dan waktunya, artinya dia tidak bisa terbebas dari subyektivitasnya. Maka sebenar-benar penilaian absolut itu datangnya dari Allah SWT.

Rakata:
Wahai Sang Bagawat...tadinya saya berpikir Allah SWT itu hanya meperhatikan keikhlasan manusia saja, sedangkan pikiran manusia itu sifatnya mandiri.

Bagawat:
Jangankan pikiran manusia, semua perbuatan manusia itu sesungguhnya tidak bisa lepas dari kekuasaan Nya.

Rakata:
Sang Bagawat...bolehkah aku mengetahui lebih rinci tentang ciri-ciri orang yang mampu atau yang tidak mampu menjunjung langit itu?

Bagawat:
Bahkan dirimu setiap saat dapat terancam kegagalan, walaupun setiap saat mempunyai harapan. Kegagalanmu disebabkan oleh karena kesadaranmu, tetapi keberhasilanmu juga ditentukan oleh kesadaranmu pula. Sedangkan doa-doa mu itulah yang mengangkat dimensimu di luar kesadaranmu. Pada saat engkau lantunkan keberhasilanmu, maka saat itulah kegagalanmu siap menjemputmu. Pada saat engkau menyadari keikhlasanmu, maka saat itulah ketidakikhlasanmu siap menjemputmu. Jangankan engkau bertanya kepada banyak orang, jika engkau mampu bertanya kepada diri sendiri maka engkau dapat mengetahui bahwa kegagalan dan keberhasilanmu selalu siap mengikuti dirimu dalam ruang dan waktumu. Maka tiadalah sebenar-benar dirimu itu ikhlas dan berpikir kritis, melainkan dirimu hanya selalu berusaha menggapainya. Ketahuilah bahwa sebenar-benar ikhlas dan berpikir kritis absolut itu hanyalah milik Nya. Maka tiadalah ada manusia dimuka bumi ini yang sebenar-benar mampu menjunjung langit itu, kecuali atas kehendak Nya.

Rakata:
Jikalau manusia itu tidak mampu mencapai ikhlas dan berpikir absolut, mengapa engkau mengadakan perlombaan Menjunjung Langit?

Bagawat:
Itulah yang namanya ikhtiar. Aku dapat katakan bahwa ikhlas dan pikiran kritismu itu tidak lain tidak bukan adalah ikhtiar hati dan pikiranmu. Barang siapa berhenti berikhtiar dalam hati dan dalam pikirannya maka dia akan terancam dimangsa oleh mitos-mitosnya sendiri. Itulah yang disebut bernurani dan cendekia. Bernurani itu adalah ikhlas dalam hatimu dan cendekia itu adalah kritis dalam pikiranmu.

Rakata:

Hemm..terimakasih Sang Bagawat..padhang terawangan. Kalau begitu bernurani dan cendekia itu ternyata melekat pada diri kita masing-masing dalam ruang dan waktu kita masing-masing pula. Hemm..bolehkah Sang Bagawat aku masih bertanya tentang satu hal, yaitu apa yang dimaksud dengan mandiri?

Bagawat:
Seperti yang sudah saya jelaskan di muka. Ikhtiar manusia itu mentrasformir potensi hati dan pikirannya kedalam ruang dan waktu interaksi dinamis antara potensi-potensinya dengan vitalitas-vitalitasnya. Ruang dan waktu interaksi dinamis itu bisa berupa titik, garis, bidang atau bahkan ruang itu sendiri.

Rakata:
Wahai Sang Bagawat...saya hanya bertanya tentang mandiri..kenapa penjelasanmu malah bertambah rumit?

Bagawat:

Di dalam ruang dan waktu interaksi dinamis itulah manusia mampu merasakan, menyadari dan memikirkan dirinya dan bukan dirinya. Tetapi keadaan demikian bersifat timbal balik dengan lingkungannya. Di dalam ruang interaksi dinamis itu pula manusia harus bersedia menjadi obyek perasaan, obyek kesadaran dan obyek pikiran bagi yang lainnya. Jika ruang dan waktu kemudian diintensifkan dan diekstensikan, maka itulah yang terjadi bahwa manusia sedang melakukan hijrah dari satu titik ke titik yang lainnya untuk mentransformir doa-doa dalam hatinya serta kritis dalam pikirannya untuk memperoleh vitalitas-vitalitasnya. Ketahuilah bahwa jika ruang dan waktu diintensifkan dan diekstensifkan lagi maka vitalitas-vitalitas itu tidak lain adalah juga potensi-potensinya.

Rakata:
Apa hubungannya antara potensi, vitalitas, ruang dan waktu dengan mandiri?

Bagawat:
Wahai Sang Rakata yang gagah dan perkasa, sabarlah. Dalam ruang dan waktu interaksi dinamis itu, jika manusia terjaga hati dan pikirannya, maka ada 3 (tiga) kemampuan yang segera diperolehnya. Dia akan bisa merasakan, menyadari, memikirkan, dan menjalani fenomena mendatar, meruncing dan mengembang.

Rakata:
Apa pula fenomena mendatar, meruncing dan mengembang itu?

Bagawat:
Fenomena mendatar itulah kebiasaanmu, itulah aturan-aturanmu, itulah kodrat dan takdir yang telah ditetapkan baik dari dalam dirimu maupun dari luar dirimu. Fenomena meruncing itulah perasaanmu, itulah kesadaranmu, itulah pikiranmu, itulah ikhtiarmu untuk mengungkap segala misteri kehidupan dirimu dan lingkunganmu. Sedangkan fenomena mengembang itulah perolehanmu, akibat-akibatmu, pencapaianmu, prestasimu, pergaulanmu, keluargamu, teman-temanmu, masyarakatmu. Ketiga fenomena itulah sebenar-benar pilar dalam hidupmu. Itulah hidupmu. Janganlah mengaku-aku sebagai manusia mandiri jikalau engkau belum memahami dan mengimplementasikannya.

Rakata:
Oh..Sang Bagawat...ampunilah kebodohan diriku ini. Badanku terasa gemetar setelah mendengar uraianmu semua. Sungguh tiadalah aku merasakan keperkasaanku itu di hadapanmu itu. Perkenankanlah aku ingin meneteskan air mata dan melantunkan doa syukur atas karunia ini.

Bagawat:
Wahai Sang Rakata..bangunlah. Bukanlah sesuatu yang kebetulan engkau datang di hadapanku itu. Tiadalah orang lain selain dirimu dan diriku ada di sini. Aku pun tidak melihat para cantraka ada di depanku. Apa artinya? Artinya adalah tiadalah ada kata akhir perlombaan Menjunjung Langit itu. Kemampuanmu datang dihadapanku sekarang ini, adalah bukti bahwa dengan keikhlasanmu itu, engkau telah konsisten tetap berpikir kritis seraya mengembang tanggungjawab dan kewajiban-kewajibanmu. Tidak hanya itu, aku juga melihat bahwa engkau telah mampu mentransformir dirimu ke dalam ruang dan waktu interaksi dinamis yang tidak hanya engkau peruntukkan bagi dirimu, tetapi juga bagi yang lainnya. Secara sadar maupun tidak sadar engkau telah mengakomodir tidak hanya dirimu tetapi juga diri yang lain aspek-aspek kehidupan bernurani, cendekia dan mandiri. Jika ruang dan waktu yang lampau aku telah menunjuk sementara seorang Cantraka sebagai pemenangnya, maka sekarang aku telah menunjuk dirimu sebagai pemenang sementara. Teruskanlah perjuanganmu karena di atas pundakmulah banyak nasib di luar dirimu tergantung pada dirimu. Itulah sebenar-benar manusia cemani. Tetapi waspadalah terhadap mitos-mitosmu. Begitu engkau menyadari keikhlasanmu dan pikiran kritismu maka mitos-mitosmu itu siap menerkammu. Maka istighfar dan berdoalah mohon ampun dan bimbingan ke hadhlirat Allah SWT. Amiin.

99 comments:

  1. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Seperti pepatah yang mengatakan bahwa “Agama tanpa ilmu buta, ilmu tanpa agama lumpuh”. Artinya, ilmu dan iman harus berjalan beriringan dan seimbang. Ilmu yang baik harus dibarengi dengan iman yang baik pula agar ilmunya tidak dimanfaatkan untuk hal buruk. Iman pun juga harus dibarengi dengan ilmu agar yang yang dibagikan kepada orang lain sesuai dengan ilmunya, agar ilmu yang disampaikan tidak keliru.

    ReplyDelete
  2. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Itulah yang namanya ikhtiar. aku dapat katakan bahwa ikhlas dan pikiran kritismu itu tidak lain tidak bukan adalah ikhtiar hati dan pikiranmu. Barang siapa berhenti berikhtiar dalam hati dan dalam pikiranya maka dia akan terancam dimangsa oleh mitos-mitosnya sendiri. itulah yang disebut bernurani dan cendekia. Bernurani itu adalah ikhlas dalam hatimu dan cendekia itu adalah kritis dalam pikiranmu.

    kutipan diatas sudah mencakup seluruh hal yang diperlukan dalam proses pembelajaran dikelas, dimana siswa seharusnya memang benar-benar ikhlas mencari pengetahuan dan adanya sifat kritis saat menerima pengetahuan. guru sebagai fasilitator lah yang bertanggung jawab menumbuhkan karakter tersebut pada siswa sehingga terjadi pembelajaran yang bermakna.

    ReplyDelete
  3. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Ketika kita membicarakan siapa yang mampu menjunjung langit maka jawabannya adalah orang yang memiliki hati yang ikhlas dan bersifat kritis. Orang yang mampu mengemban tugas dan kewajiban dengan baik. Tidak hanya itu, orang tersebut mampu mentransformir diri pada ruang dan waktu sehingga bermanfaat bagi orang banyak.

    ReplyDelete
  4. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Untuk menggapai cendekia bernurani hendaknya tetap berusaha untuk tetap berpikiran kritis dan senantiasa ikhlas dalam hati agar segala yang dilakukan terlepas dari kesombongan atas setiap pencapaian. Untuk itu, harus tetap berikhtiar dan berdoa, berikhtiar agar dapat berpikiran kritis dengan senantiasa mengekstensi dan intensifkan pikiran, dan berdoa agar hati selalu dekat denganNya untuk dapat ikhlas dalam melakukan segala sesuatu di jalanNya tetap mengharap ridhoNya.

    ReplyDelete
  5. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Ikhtiar dan doa itu sepaket termasuk ketika mencari ilmu. Mencari ilmu tidak semata-mata untuk mendapat ilmu tetapi juga untuk dikembangkan dan dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Manusia diberi kelebihan berupa akal pikiran dan hati. Pikiran digunakan untuk memikirkan ilmu, dan hati digunakan untuk menyadari, merasakan. Pikiran dan hati harus digunakan secara sinergis. Semua manusia memiliki kesempatan untuk menggunakan pikiran dan hati, namun hanya sedikit yang menyadari bahwa sesungguhnya manusia tidak akan pernah merugi jika dapat menggunakan pikiran untuk berpikir kritis serta menggunakan hati dalam keadaan jernih. Semua hal yang dilakukan tersebut hendaklah dilakukan secara ikhlas. Jika kita menganggap diri kita sudah ikhlas, tetapi masih ada di ruang hati yang paling dalam keinginan yang lain, itu artinya kita belum ikhlas, walau dalam prakteknya kita tidak mengharapkan balasan. Maka berusahalah menjadi manusia yang selalu berpikir kritis serta berhati jernih secara ikhlas.

    ReplyDelete
  6. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Sebagai orang yang berilmu mari kita gunakan rumus padi, semakin berisi maka semakin merunduk. Hal tersebut mengajarkan kepada kita untuk tidak sombong atas ilmu yang kita miliki. Karena sebanyak apapun ilmu kita, pasti ada yang lebih banyak dari kita. Oleh sebab itu, bertambahnya ilmu juga harus diiring dengan tajamnya hati nurani. Tajam dalam artian ikhlas dan lemah lembut. Semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang sombong, dan semoga kita selalu dapat menjaga kerendahan dan kelembutan hati nurani kita dalam kehidupan sehari-hari, dalam mencari dan mengamalkan ilmu kita.

    ReplyDelete
  7. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Elegi di atas sungguh memberikan siraman rohani. Elegi di atas menjelaskan tentang penyebab keberhasilan dan kegagalan bisa terjadi. “Pada saat engkau lantunkan keberhasilanmu, maka saat itulah kegagalanmu siap menjemputmu. Pada saat engkau menyadari keikhlasanmu, maka saat itulah ketidakikhlasanmu siap menjemputmu.” Kata-kata tersebut memotivasi kita untuk senantiasa berikhtiar dengan ikhlas dan jangan memandang keberhasilan sebagai keutamaannya.

    ReplyDelete
  8. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Manusia yang terjaga hati dan pikirannya, maka ia memiliki tiga kemampuan, yaitu merasakan, menyadari, memikirkan, dan menjalani fenomena mendatar, meruncing dan mengembang. Ketiga kemampuan tersebut hendaknya kita selaraskan dan kita implementasikan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kita jangan lelah dalam berusaha. Tanamkan dalam benak kita bahwa Allah swt sayang kepada umat-umatNya dan akan memberikan yang terbaik untuk kita semua. Iringi setiap langkah dan usaha kita dengan berdoa kepada Allah swt.

    ReplyDelete
  9. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    4 hal yang perlu dilakukan manusia dibumi agar selamat dalam menggapai ridhoNya yaitu Do'a Usaha Ikhtiar dan Tawakal. Manusia berdo'a atas segala usaha yang telah dilakukan dan terus berikhtiar lalu bertawakal kepada Allah. Serahkan skembali segala urusan di bumi pada sang pencipta bumi.

    ReplyDelete
  10. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Perlombaan menjunjung langit hanya akan dimenangkan oleh seseorang yang mempunyai hati ikhlas dan mampu berpikiran kritis yang terikat oleh ruang dan waktu yang membawa seseorang itu untuk berikhtiar kepada Allah SWT. Ikhlas dalam hati disebut dengan bernurani sedangkan kritis dalam pikiran disebut cendekia. Dengan demkian agar dapat berpikir kritis dibutuhkan pengalaman, pengetahuan dan pemikiran yang jernih.

    ReplyDelete
  11. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dalam menjalani kehidupan, setiiap manusia dianugerahkan suara penuntun dari Tuhan yang disebut hati nurani. Hati nurani membantu kita berjalan kea rah yang benar, menuntun kita mengambil keputusan atau memperingatkan kita saat mengambil keputusan yang salah. Peka terhadap hati nurani kita merupakan hal yang wajib kita manusia latih setiap hari sehingga kita tidak tertipu dengan suara-suara lain yang mengarahkan kita ke jalan yang salah.

    ReplyDelete
  12. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dalam menggapai ilmu, hendaknya bukan hanya pikiran yang berjalan, tetapi hati nurani kita pun kita dengar. Ikhlas hati dan ikhlas pikir merupakan jalan untuk menggapai ilmu dan tidak menjadi sombong akan pencapaian kita tetapi ma uterus belajar. Sebagian orang gagal karena tidak mampu ikhlas dalam memanfaatkan ruang dan waktunya, melakukan sesuatu dengan setengah hati tanpa dilandasi keikhlasan dan berpikir kritis. Keberhasilan dan kegagalan kita ditentukan oleh kesadaran kita, sejauh mana kita sadar untuk memanfaatkan segala kesempatan yang ada dalam ruang dan waktu. Oleh karena itu, berusahalah untuk dapat menggapai apa yang kita impikan dengan ikhlas, beriktiar dan sepenuh hati memohon penyertaan Tuhan YME.

    ReplyDelete
  13. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Tuhan menganugerahkan akal budi dan pikiran kepada manusia agar dapat digunakan secara bijaksana. Meraih ilmu setinggi-tingginya seharusnya disertai dengan menggapai hati yang murni dan ikhlas dan hendaknya kita memanfaatkan ilmu pengetahuan yang kita miliki untuk bisa berbagi kepada orang lain.

    ReplyDelete
  14. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Hati nurani adalah penghayatan tentang baik atau buruk berhubungan dengan tingkah laku konkret kita. Hati nurani memerintahkan atau melarang kita melakukan sesuatu kini dan di sini. Ia tidak berbicara tentang yang umum, melainkan tentang situasi yang sangat konkret. Misalnya seorang situasi seorang hakim ketika terdakwa hendak menyuapnya. Hati nurani berkait erat dengan kenyataan bahwa manusia memunyai kesadaran. Hanya manusia yang memunyai kesadaran. Hewan tidak. Kesadaran berarti kesanggupan mengenal diri sendiri dan karena itu berefleksi tentang dirinya. Manusia bukan hanya melihat pohon di kejauhan sana, melainkan menyadari bahwa dialah yang melihatnya. Dalam diri manusia terjadi semacam penggandaan: ia bisa kembali kepada dirinya sendiri. Manusia bisa menjadi subjek yang mengamati juga sebagai objek yang diamati.

    ReplyDelete
  15. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Hati nurani bersifat personal, artinya selalu berkaitan erat dengan pribadi bersangkutan. Hati nurani hanya berbicara tentang dirinya, dan tidak memberikan penilaian tentang perbuatan orang lain. Kita bisa memberikan pertimbangan kepada orang lain, tetapi integritas kita tidak akan merasa diperkosa bila orang lain melakukan perbuatan yang menurut kita tidak baik. Hati nurani juga bersifat adipersonal, melebihi pribadi, transenden, seolah-olah ia merupakan instansi di atas kita. Terhadap hati nurani, kita seakan-akan hanya menjadi pendengar, membuka diri terhadap suatu yang datang dari luar. Dalam hal ini, hati nurani sering juga diistilahkan suara hati, kata hati, suara batin, bahkan suara Tuhan. Hati nurani berkait dengan rasio, karena hati nurani memberikan penilaian. Namun keputusan yang diberikan hati nurani biasanya langsung, bersifat intuitif, seakan-akan tidak melalui argumentasi atau penalaran rasional. Tapi sebenarnya penalaran rasional itu bisa ditelusuri dengan jelas, terutama hati nurani yang bersifat prospektif.

    ReplyDelete
  16. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi ritual ikhlas 35. Dalam elegi ini teedapat kalimat yang sangat menarik dan juga cantik menurut saya, yaitu Bahkan dirimu setiap saat dapat terancam kegagalan, walaupun setiap saat mempunyai harapan. Kegagalanmu disebabkan oleh karena kesadaranmu, tetapi keberhasilanmu juga ditentukan oleh kesadaranmu pula. Sedangkan doa-doa mu itulah yang mengangkat dimensimu di luar kesadaranmu. Pada saat engkau lantunkan keberhasilanmu, maka saat itulah kegagalanmu siap menjemputmu. Pada saat engkau menyadari keikhlasanmu, maka saat itulah ketidakikhlasanmu siap menjemputmu. Dari sana, pembaca diingatkan untuk ikhlas dan tidak sombong dengan cara tidak membanggakan apa yang diberikan dan apa yang sudah diraih.

    ReplyDelete
  17. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam elegi ini tersemat makna bahwa menggunakan pikiran dan hati haruslah seimbang selaras dan beriringan untuk bisa menanamkan jiwa ikhlas dan juga senantiasa berpikir kritis. menggunakan pikiran untuk terus menggali apa yang belum diketahui, menjaga hati agar istiqomah dalam keikhlasan dan terhindar dari riya atau semacamnya.

    ReplyDelete
  18. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Berhati ikhlas dan berpikir kritis hal yang sangat penting yang harus dimiliki oleh seseorang. Mungkin kita dapat memiliki semua itu dengan segala usaha keras yang dilakukan, namun tidak sepenuhnya, masih dapat dikatakan relatif dan menyesuaikan ruang dan waktu. Namun ikhlas dan berpikir kritis mutlak sepenuhnya hanya milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  19. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Yang dapat saya pahami dari elegi di atas adalah yang dimaksud bernurani di sini adalah keikhlasan dalam hati sedangkan yang dimaksud dengan cendikia adalah kritis dalam pikiran. Untuk dapat menjujung langit seseorang haruslah bernurani dan cendikia. Namun manusia tidak dapat berfikir kritis dan bernurani secara absolut, karena hanya Allah yang dapat berfikir kritis dan berhati ikhlas secara absolut. Namun manusia hendaklah berikhtiar untuk berfikir kritis dan berhati ikhlas.

    ReplyDelete
  20. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menjunjung langit diibaratkan dengan menimba ilmu. Oleh karena itu, seseorang yang mampu menjunjung langit selain atas izin dan ridho Allah SWT, dapat dilakukan dengan usahanya yaitu seseorang yang mampu berpikir kritis dan ikhlas hati. Ikhlas hati dan pikiran dapat ditunjukkan melalui ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  21. Sumandri
    16709251072
    S2 pendidikan Matematika 2016

    Yang dapat saya pahami dari elegi di atas adalah yang dimaksud bernurani di sini adalah keikhlasan dalam hati sedangkan yang dimaksud dengan cendikia adalah kritis dalam pikiran. Untuk dapat menjujung langit seseorang haruslah bernurani dan cendikia. Namun manusia tidak dapat berfikir kritis dan bernurani secara absolut, karena hanya Allah yang dapat berfikir kritis dan berhati ikhlas secara absolut. Namun manusia hendaklah berikhtiar untuk berfikir kritis dan berhati ikhlas.

    ReplyDelete
  22. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Manusia-manusia yang dapat menjunjung langit atau menegakkan prinsip-prinsip kebenaran dan kebajikan adalah manusia yang senantiasa ikhlas dan berpikir kritis. Dengan keiikhlasan manusia benar-benar melakukan segala perbuatan dan amalan-amalah hanya demi mengharapkan ridho Allah SWT. Amalan-amalan yang dilakukan adalah amalan-amalan yang mengandung kebaikan-kebaikan bagi dirinya dan umat manusia. Pikiran kritisnya akan menghindarkannya dari bujuk rayu dan tipu muslihat syaitan yang senantiasa mengajak manusia ke dalam kemaksiatan. Keikhlasan yang dimiliki manusia tidak dapat ditunjukkan secara langsung oleh manusia itu sendiri dengan menyebut bahwa dirinya ikhlas, karena sesungguhnya orang yang mengaku dirinya ikhlas, hanya akan menghilangkan keikhlasan yang ada di dalam dirinya.

    ReplyDelete
  23. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Ikhlas dan berpikir kritis adalah kunci dari elegi ini. Seperti pada elegi menjunjung langit yang sebelumnya, bahwa sesungguhnya tidak ada yang benar benar mampu menjunjung langit melainkan berusaha menggapainya. Seperti sebuah ilmu yang sangat luas dan tidak akan pernah mampu dimiliki oleh manusia, tetapi kita hanya berusaha menggapainya. Dalam menggapai atau menuntut ilmu diperlukan keikhlasan dan berpikir kritis. Allah SWT sang pemilik ilmu tidak hanya menilai seseorang dari hatinya saja atau dari keikhlasannya saja. Tetapi dari pikirannya untuk berpikir kritis.
    Manusia tidak akan mampu mengukur keikhlasan dirinya sendiri melainkan hanya rasa tidak ikhlasnya. Artinya tidak ada orang yang benar-benar ikhlas lalu mengatakan dirinya ikhlas. Yang seperti itu berarti ia belum ikhlas. Ikhlas bukan diukur oleh diri sendiri melainkan orang lain. Begitu pula dengan berpikir kritis, kita tidak bisa hanya diam dan mengukur diri sendiri seberapa kita berpikir kritis. Karena berpikir kritis berarti memahami dan mengimplementasikannya ke dalam lingkungan dan kehidupan sosial. Tetaplah menuntut ilmu dan selalu berusaha untuk ikhlas dan berpikir kritis. Jangan berpikir seberapa banyak ilmu yang kita gapai, seberapa iklhas hati kita, atau seberapa kita berpikir kritis karena akan merusak perjuangan kita dalam menggapai ilmu.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  24. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasij prof, dari elegi ini saya mendapat pelajaran bahwa menjadi oramg yang cerdas atau cendekia, kita tidak diperbolehkam merasa sombong ataupun puas dengan pencapaian ini. Karena tiada orang yang cerdas jika dia merasa cerdas karena kesombongan ini juga akan mematikan pikirnya begitu juga denhan ikhlas, ikhlas bukan untuk diucapkan, tiada orang yang ikhlas jika dia masih mengucspkan ikhlas ikhlas adalah urusan hati. Bukan untuk berpikir bahwa kita ikhlas. Okhlas dalam cendekia dan cendekia yang diikuti ikhlas. Menjadi pribadi yang cendekia dan bisa membangun keikhlasan sangatlah penting, selalu berusaha dan belajar serta berlomba-lombalah dalam kebaikan.

    ReplyDelete
  25. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Manusia wajib berdoa dan berikhtiar. Lakukan apa yang mampu kamu lakukan, sedangkan bagian mu yang tidak engkau mampu maka serahkan hal itu kepada Allah SWT. Karena dengan doa itu, maka hal yang tak mungkin bisa saja menjadi menjadi mungkin. Oleh karena itu selalulah menyertakan Allah SWT di dalam setiap usaha yang kita lakukan. Perbanyaklah beristighfar karena sesungguhnya dosa-dosa kita menjadi penghalang terkabulkannya doa-doa kita. Astaghfirullahaladzim.

    ReplyDelete
  26. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Setelah saya membaca, saya belajar tentang makna cendekia yaitu kritis dalam berpikir dan makna nurani yaitu ikhlas dalam hati. Cendekia dan bernurani adalah dua hal yang harus dicapai dalam hidup ini. Meskipun sebenar-benar manusia tidak dapat mencapai cendekia dan bernurani yang mutlak. Namun, harus terus dan terus berusaha menggapainya.

    ReplyDelete
  27. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini, pelajaran yang kami dapat adalah bernurani itu ikhlas secara hati, dan bercendekia itu ikhlas secara pikiran. Dalam berikhtiar kita harus senantiasa memiliki hati yang ikhlas dan pikiran yang ikhlas pula, dan ketika dalam hati kita menyatakan bahwa kita sudah ikhlas, sesungguhnya pada saat itu kita belum ikhlas. Ikhlas itu adalah sesuatu yang senantiasa terus kita perjuangkan, akan tetapi kita tak akan pernah mendapatkan rasa keikhlasan itu sendiri. Semoga kita senantiasa menjadi orang yang selalu berjuang untuk menggapai keikhlasan. Amin.

    ReplyDelete
  28. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Pemenang adalah ia yang mampu bertahan di dalam kondisi yang sangat sulit sekalipun. Di dalam kehidupan kita sering kita jumpai kawan-kawan kita yang berputus asa atas apa yang diberikan oleh Tuhan, padahal itu merupakan sebuah ujian yang bilamana ia bisa melewatinya maka akan menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi. Untuk itu tetaplah bersabar dan bertawakal atas apa yang kita hadapi di dunia ini, niscaya kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, Amiin.

    ReplyDelete
  29. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Dari elegi ritual ikhlas ini mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang bernurani adalah dengan hati yang ikhlas, sedangkan bercendekia adalah dengan berpikir kritis. Jadi kunci untuk menggapai cendekia yang bernurani adalah berhati ikhlas dan berpikiran kritis. Dengan selalu berikhtiar, agar segala pencapaian terlepas dari sifat kesombongan dan dengan berdoa agar hati selalu dekat dengan Allah agar perbuatan yang dilakukan tidak terlepas dari segala aturan-Nya. Sehingga pada akhirnya segala sesuatu hanya serahkan kepada Allah untuk dapat ikhlas dalam melakukan segala sesuatu di jalan-Nya serta tetap mengharap ridhoNya.

    ReplyDelete
  30. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Elegi di atas membahas tentang peserta lomba perihal pencapaian-pencapaiannya. Di dalam elegi itu dijelaskan bahwa dalam perlombaan Menjunjung Langit itu pemenangnya bisa bersifat tunggal, dual, tripel atau jamak. Namun perlu digaris bawahi bahwa pemenangnya adalah siapa saja yang berhati ikhlas dan mampu berpikir kritis. Dan orang yang berhati ikhlas dan berpikir kritis itu terikat oleh ruang dan waktu, yang mempunyai makna bahwa dia dapat berupa titik atau simpul potensi, berupa garis atau bidang vitalitas, atau berupa ruang interaksi dinamis antara potensi dan vitalitas dalam waktunya. Ruang dan waktu merupakan suatu hal yang terikat di dalamnya karena ruang dan waktu itulah tempatnya hatimu menunjukkan keikhlasanmu dan tempatnya pikiranmu menunjukkan keikhlasanmu yang mempunyai sifat tetap yang menjamin doa dan ikhtiar. Namun yang mempunyai keikhlasan dan mampu berpikir kritis itu hanyalah Allah, sehingga kita sebagai manusia hanya dapat berusaha untuk ikhlas dan dapat berpikir kritis.

    ReplyDelete
  31. Tri Wulaningrum
    17701241052
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmu yang diberikan. Sebelum sampai pada pendapat saya terkait elegy di atas, ijinkanlah saya sedikit bercerita. Belajar filsafat membuat saya menemui kebingungan-kebingungan. Alhamdulilah, Allah memberikan ijin dan kesempatan kepada saya untuk belajar memecah kebingungan tersebut. Satu waktu, saya merasa kebingungan saya pada suatu elegi, terjawab pada elegy lainnya, tetapi ketika menjumpai elegy berikutnya saya kembali berhadapan dengan kebingungan. Sungguh pernyataan seperti ini sudah pernah saya utarakan pada komentar sebelumnya. Akan tetapi, maafkanlah diri ini yang serba terbatas, yang berkali-kali tidak bisa membawa diri ini pada suatu pemahaman. Berfilsafat, membaca elegy, ya… terkadang membuat saya kehilangan kata-kata, sangat berhati-hati dalam komentar. Mohon ijin bercerita, pada awal saya diberi kesempatan membaca blog ini, saya membaca dan langsung mempublish komentar atau pendapat saya. Lain dengan yang sekarang, saya menjadi lebih berhati-hati, sekali lagi saya takut salah menafsirkan. Kali ini tidak langsung berani mempublish, ya.. saya baca blog ini, saya ketik komentar ataupun pendapat maupun tanggapan pada file Microsoft word, saya simpan, saya baca kembali, setelah itu barulah saya berani mempublishnya. Bismillah, mungkin inilah cara yang diberikan Tuhan kepada saya dalam menuntut ilmu.

    Saya rasa, keadaan saya saat ini hampir mirip dengan elegy di atas. Sepenangkapan saya, elegi ini menyiratkan bahwa ilmu tiadalah berhenti. Oleh karenanya, marilah kita senantiasa mencari. Tentu terdapat halangan dalam mencapainya, bisa jadi kesombongan. Ikhtiar, ikhlas, dan berfikir kritis. Keadaannya, semakin banyak kita mengatakan bahwa diri kita ikhlas, maka belumlah ikhlas kita ini. Semakin yakin kita pada suatu hal, maka akan membuat kita berhenti memikirkannya. Maka bisa jadi pula bukan logos yang kita gapai, melainkan mitos. Tiadalah jawara pada perlombaan yang tiada pernah usai.

    ReplyDelete
  32. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Manusia diberikan amanah oleh Allah swt sebagai khalifah di bumi. Mengatur dan menjaganya. Mencari dan mengaplikan ilmu pengetahuan yang telah didapatkan. Ilmu saja tidaklah cukup sebagai bekal menjalani kehidupan. Diperlukan juga doa dan kedekatan sebagai manusia kepada Tuhan-Nya. Ikhlas menjalankan amanah juga diperlukan. Karena sejatinya menerima amanah dengan hati lapang akan lebih mempermudah jalannya.Apapun yang dilakukan manusia tidak dapat lepas dari kekuasaan Allah swt. Usahayang dilakukan manusia apabila Allah tidak meridhoi, maka tetap akan sia-sia saja. Oleh karenanya jangan pernah meremehkan kekuasaan Allah swt. Jangan menjadi manusia yang sombong. Karena manusia tidak akan ada di bumi kalau bukan karena kehendak dan kekuasaan Allah swt.

    ReplyDelete
  33. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dalam kehidupan ini memang dalam kenyataannya banyak sekali ujian dan rintangannya. Ketika seseorang ingin menuntut ilmu misalnya maka banyak yang jatuh namun banyak juga yang bisa bangkit kembali. Karena dalam diri-diri mereka ada niat dan usaha yang selalu dilakukan, ikhtiar. Adapun orang yang akan sukses dalam kehidupannya yaitu yang ikhlas dan yang mampu berpikir kritis. Tak terikat oleh ruang dan waktu namun ia bisa menempatkan dirinya sesuai ruang dan waktunya. Semoga kita bisa menjadi cendikia yang senantiasa ber nurani.

    ReplyDelete
  34. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Setelah membaca elegi ini, saya menyadari bahwa sebenar-benar ikhlas itu tidaklah ada, karena sebenar-benar ikhlas hanya milik Allah SWT. Sebenar-benar ikhlas tidaklah ada, yang ada hanya ikhtiar atau usaha manusia untuk menjadi ikhlas. Sebenar-benar ikhlas tidaklah ada karena ketika manusia mengatakan bahwa ia ikhlas maka sebenarnya ia tidaklah ikhlas, karena sebenar-benar ikhlas tidak perlu untuk dikatakan. Sebenar-benar ikhlas tidaklah ada karena keikhlasan yang ada pada manusia itu datangnya dari Allah SWT, tidak akan ada ikhlas jika bukan Allah yang mengaruniakannya. Sekali lagi, manusia hanya mampu berikhtiar. Maka,ikhtiarlah dalam menggapai ikhlas.

    ReplyDelete
  35. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Cendekia yang bernurani berarti kritis di dalam pikiran sekaligus ikhlas di dalam hati. Tidak ada kata selesai dalam menggunakan pikiran dan mencari ilmu karena sesungguhnya manusia tidak akan pernah menggapai ilmu, yang ada hanyalah berikhtiar. Namun, dalam hidup ini, berikhtiar untuk mencari ilmu saja tidak akan cukup, manusia juga harus berdoa dan menggunakan hatinya karena pikiran manusia terbatas. Selain harus menggunakan pikiran dan hati, ilmu juga harus dapat dimanfaatkan di dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  36. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Ikhlas dalam hati dan kritis dalam pikiran itulah sebenar-benar cendekia yang bernurani. Sedangkan mandiri itu dia yang mampu merasakan, menyadari, memikirkan dan menjalani kebiasaan, kesadaran, dan pencapaiannya. Pencapaian itu semua belumlah berarti jika kita tidak bisa menempatkan sesuai dengan ruang dan waktunya dan tidak bisa bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain. karena jika tidak kita salurkan pikiran kritis yang ada pada diri kita, kita akan mudah terkena penyakit hati (sombong), dan itulah sebenar-benar kesempatan mitos masuk kedalam pikiran. Untuk itu, tidak bosan dan jang berhenti berdoa seraya meminta perlindungan Nya.

    ReplyDelete
  37. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof
    Elegi di atas mengajarkan kepada kita untuk ikhlas dan berpikir kritis dalam meraih sesuatu.Tidaklah seseorang yang ikhlas itu mengakui dirinya , sebab kalau hal yang demikian terjadi secara tidak sadar dia telah menampakkan ketidak ikhlasannya.Sebenar-benarnya ikhlas adalah bukanlah sebuah pengakuan.Ikhlas itu yang tersembunyi.
    Segala yang sesuatu ada dalam genggaman-Nya.Hanya Alllah SWT yang memiliki rasa Ikhlasan dan berpikir kritis yang absolut.Hadirnya elegi tersebut juga mengingatkan kita untuk terus dan terus beriktiar dan berdoa hingga kita selalu diberikan jalan dalam menitih langkah-langkah kita.

    ReplyDelete
  38. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. Sebenar-benar manusia adalah yang cendekia sekaligus memiliki hati nurani. Cendekiawan yang tidak berhati nurani akan menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuannya selama hal itu masuk akal baginya. Oleh karena itu kita butuh pengendali tingkah laku kita, yaitu hati nurani.

    ReplyDelete
  39. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Saya ikut menjadi semangat saat membaca percakapan di atas. Terima kasih Prof untuk ilmu yang sudah diberikan. Saya mencermati isi yang ada di dalamnya, yaitu tidaklah hina saat seseorang menganggap dirinya bodoh. Menurut saya, ketika seseorang menyadari akan ketidakmampuannya, ia juga akan mendorong dirinya untuk mencari tahu hal-hal yang tidak diketahui sebelumnya. Saya sendiri juga masih terus melatih diri untuk menerima bahwa saya tidak tahu akan segala hal dan masih banyak lagi hal-hal yang harus saya cari tahu.

    ReplyDelete
  40. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada elegi ini, menuntut ilmu dengan hati yang ikhlas akan membuat kita menjadi berhasil. Selain dengan hati yang ikhlas juga dengan berpikir sesuai ruang dan waktunya. Dan sekarang kita perlu untuk introspeksi diri apakah kita sudah ikhlas apa belum dalam menuntut ilmu. Karena pada dasarnya kita sendiri yang tahu apakah hati kita sudah ikhlas atau belum. Sedangkan orang lain hanya bisa tahu karena dari indera mereka, misalnya dari melihat kita berperilaku. Tetapi sungguh yang paling mengetahui diri kita adalah kita sendiri dan Allah SWT. Oleh karena itu kita harus ikhlas hati dan pikiran dalam menuntut ilmu agar kelak ilmu itu dapat berguna dan bermanfaat karena Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmupengetahuan.

    ReplyDelete
  41. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    keikhlasan dan berpikir kritis haruslah dilakukan berdampingan dan secara terus menerus. Namun bersikap ikhlas dan berikir kritis juga harus memperhatikan ruang dan waktu. Selain itu, sikap ikhlas dan berpikir kritis hendaknya dilaksanakan secara konsisten, karena sikap ikhlas dan berpikir kritis tidaklah berdampak hanya bagi diri sendiri, melainkan bagi peradaban.

    ReplyDelete
  42. Dewi saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr.Wb

    Saya mengambil pelajaran dari elegi ini bahwa kita harus menanamkan ke ikhlasan dan berpikir kritis didalam kehidupan. DImana keikhlasan berasal dari hati dan melakukan segalanya karena Allah SWT. sehingga akan terhindar dari sifat sombong. Berpikir kritis menunjukkan seseorang yang haus akan ilmu dan tidak mudah berputus asa. Sehingga orang-orang yang berpikir kritis tidak mudah terjebak dalam mitos. Dengan tertanamaknnya keikhlasan dan berpikir kritis maka apa yang mereka pikirkan tetap terarahkan dan mempunyai batas-batasannya, yaitu tetap selalu berada dijalan Allah SWT.

    ReplyDelete
  43. Kartika Kirana
    17701261039
    S2 PEP B

    Saya semakin menyadari, tidak bisa manusia ini berlaku sombong. Setiap peristiwa keberhasilan, akan dibayangi kegagalan juga. Manusia hanya mampu berusaha, terus berusaha. Dengan demikian pun, hidup dijalani dengan lebih tenang, sebab keikhlasan itu akan membawa bawa rasa damai dan tenang. Namun juga manusia tetap selalu perlu waspada. Damai itu pun senantiasa harus diusahakan.

    ReplyDelete
  44. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi ritual ikhlas 35 ini, saya memahami bahwa seseorang disebut sebagai seorang yang cendikia adalah mereka yang ikhlas dalam menjalani apapun yang dikerjakannya. Tidak hanya ikhlas, namun ikhlas yang juga disertai berpikir kritis. Namun jika ditelusuri lebih lanjut, sebenarnya rasa ikhlas dan berpikir kritisnya seseorang tidak akan bersifat absolut, karena absolut itu hanyalah milik Allah SWT. Akan tetapi, sebagai manusia musti berusaha untuk ikhlas dan berpikir kritis dimana hal itu merupakan suatu ikhtiar baginya.
    Maka selalulah berikhtiar dan diiringi dengan doa, memohon petunjuk dan ampunan-Nya, agar selalu berada dalam keridhaan Allah SWT.

    ReplyDelete
  45. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    PPs Pend. Matematika 2017 Kelas C

    Dalam beribadah, kita menyerahkan segala sesuatunya pada Allah. Seberapa tinggikah nilai ikhtiar, keikhlasan, dan doa kita bukanlah menjadi hal yang seharusnya kita pikirkan. Jika kita beribadah hanya untuk memperoleh penilaian seseorang terhadap kita, maka kita telah salah dalam niat. Allah Maha Adil, maka hanya Allah yg berhak dan mampu menilai kita. Beribadahlah sebaik2nya hanya karena dan kepada Allah SWT, dan biarkanlah Allah memutuskan apa yang hndak diberikannya kepada kita.

    ReplyDelete
  46. Indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Terimakasih prof.. dari elegi ini saya belajar bahwa ternyata ada korelasi antara berfikir kritis dan keikhlasan. makna cendekia yaitu kritis dalam berpikir dan makna nurani yaitu ikhlas dalam hati. cendekia dan nurani adalah hal sangat diperlukan dalam kehidupan kita didunia ini. agar kita semua menjadi orang-orang yang selalu berfikir kritis dan ikhlas dalam mengerjakan sesuatu atau memberikan inovasi-inovasi di dalam pekerjaan yang kita geluti masing-masing.

    ReplyDelete
  47. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    elegi yang sangat menyentuh hati prof. dari bagawat saya belajar bahwasannya apapun yang kita lakukan jangan pernah lupakan Allah dalam setiap kegiatan. jika mitos-mitos atau pikiran buruk menyerang maka segeralah beristighfar kepada Allah SWT. karena hanya kepadaNya laha sebaik-baiknya tempat meminta perlindungan.

    ReplyDelete
  48. Junianto
    17709251065
    PM C

    Sebenar-benar pemenang adalah mereka yang ikhlas dalam melaksanakan tugas dan amanahnya. Ikhlas hati dan ikhlas pikir yang sering Prof sampaikan menjadi kunci juga dalam pencapaiannya. Kekonsistenan seseorang dalam mengemban dan melaksanakan amanah juga bisa menjadi salah satu indikator bahwa ia ikhlas dalam melaksanakannya. Menjadi insan yang taqwa mandiri dan cendekia merupakan dambaan setiap manusia. Namun, perlu perjuangan dan kerja keras dalam mencapainya karena memang mencapai sesuatu yang mulia itu tidak mudah.

    ReplyDelete
  49. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Dalam beramal kita dianjurkan agar jangan sampai ingin mendapatkan penilaian orang lain. Penilaian yang hakiki adalah penilaian dari Allah semata. Jika mengharap penilaian orang lain maka kita bisa terjerumus ke dalam sifat riya. Riya' bisa berarti sebuah kesombongan, dan kesombongan merupakan sifat setan. Maka dari itu kita harus senantiasa ikhlas dalam beramal dengan niat mendapat ridhi dari Nya.

    ReplyDelete
  50. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Melalui elegi ini saya belajar bahwa menjadi cendekia tidaklah tepat disebut sebagai orang pintar, melainkan orang yang berpikir kritis. Banyak orang cendekia tetapi tidak benurani. Kritis dalam pemikiran tetapi mendzolimi orang lain. Hati yang ikhlas adalah kunci untuk memiliki nurani. Manusia tidak dapat mengklaim dirinya cendekia dan bernurani, Allah lah yang akan menilai siapa sebenarnya diri, manusia hanya dapat berikhtiar menggapai insan yang cendekia dan bernurani.

    ReplyDelete
  51. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Menjunjung langit merupakan proses manusia menuntut ilmu yakni mempertahankan apa yang telah diperoleh dan terus berusaha mencari dan terus mencari tenatng segala yang belum diketahui. Oleh karena itu, pemenang dari perlombaan menjunjung langit bisa tunggal, dual, tripel maupun banyak karena setiap manusia berhak untuk menjunjung langit hal ini juga sesui yang dikatakan begawat. Menjunjung langit tidak cukup mengandalkan pikiran namun kita harus mengambarakan pikiran untuk berpikir kritis dan bernurani yaitu ikhlas dalam hati. Keiklasan dalam hati akan membuahkan ketawadukan, rendah hati dan meruntuhkan kesombongan, serta menjauhkan kita dari maksiat karena menjunjung langit diperlukan kesucian jiwa dan raga. Semoga kita selalu terjaga dalam kebaikan . Amien. Terima Kasih

    ReplyDelete
  52. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Elegi ini mengajarkan kita untuk mecapai ilmu yang sesungguhnya adalah dengan mengkombinasikan antara berfikit kritis dan ikhlas. Ikhlas akan membuat kita untuk selalu dan mau untuk menggapai ilmu. Sebab terkadang kita akan merasa putus asa saat akan menggapau ilmu. Agar kita tidak terjebak dalam mitos maka kita harus selalu berpikir kritis. Kita juga jangan sampai terjatuh dengan kepemilikan kekuasaan. Jika kita sudah diberikan amanah untuk mendapatkan posisi, maka gunakan dengan bijak sebab sekecil-kecilnya kita bertindak pasti akam berpengaruh kepada orang lain. Maka kita harus selalu menjaga tindakan kita agar tidak merugikan orang lain.

    ReplyDelete
  53. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Mengemban sesuatu kedudukan atau kewajiban dalam memperdalam maupun mengembangkan ilmu nya perlu disertai sifat ikhlas dan kritis. Menurut saya, ikhlas disini adalah ikhlas secara terbuka menerima ilmu dan masukan dari berbagai lingkungan yang bertujuan untuk memberikan kita ilmu yang lebih dan memberikan masukan agar lebih baik kedepannya. Kritis disini adalah berusaha berpikir luas dan dalam dalam menyikapi suatu hal yang ada disekitarnya. Maka, jangan lah bersifat sombong dalam menjunjung langit, bisa saja tak kuasa engkau menahan beratnya langit tersebut. Dan seperti apakah bahayanya apabila langit itu runtuh? Semoga Allah senantiasa melindungi kita. Amiin.

    ReplyDelete
  54. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Manusia yang memiliki ilmu tapi jauh dari Tuhan-Nya, sama halnyatak ada tujuan hidup yang hendak dicapainya. Oleh karenanya sejalan antara dunia dan akhir sangatlah diperlukan. Menggunakan sebaik mungkin akal dan pikiran yang telah diberikan Allah swt untuk berpikir dan melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain. Jadilah manusia yang berilmu pengetahuan dan tahu hakikat dirinya sebagai khalifah di bumi. Senantiasa melantunkan doa dan ikhtiar semaksimal mungkin. Selebihnya menyerahkan semua pada Allah swt untuk mengurusnya. Manusia yang telah mampu mengakomodir dirinya sendiri, ilmu pengetahuan yang telah didapatkan, memohon ampunan dan berserah diri pada Allah swt, serta mengaplikasikan untuk sendiri dan orang lain, maka dapat dikatakan bahwa mereka telah menjadi insane yang bernurani, cendeki, dan mandiri. InsyaAllah.

    ReplyDelete
  55. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Elegi ini merupakan lanjutan dari elegi ritual ikhlas 26 : perlombaan menjunjung langit. jika sebelumnya cantraka dengan keihklasan dan pemikiran kritisnya ditunjuk sebagai pemenang sementara dalam perlombaan menjunjung langit, dalam elegi ini yang ditunjuk sebagi pemenag semertara perlombaan menjunjung langit adalah rakata, karena pikiran krits dan keikhlasanya serta kemampuanya mentransformir dirinya ke dalam ruang dan waktu interaksi dinamis yang tidak hanya engkau peruntukkan bagi diri sendiri, tetapi juga bagi yang lainnya. ini menunjukan bahwa kita tidak selalu berada diata atas sebagai pemenang atau sebagai orang yang paling pintar, ada suatu kondisi dimana kita berada dibawah atau kondidsi dimana kita harus mendengarkar orang lain karena dia lebih pintar pada bagian tersebut.

    ReplyDelete
  56. Dalam proses nya manusia mengikuti perlombaan menjunjung langit banyak yang berjatuhan. Artinya banyka manusia yang berputus asa dalam menggapai tujuan untuk dapat menjunjung langit. Kurangnya ilmu dank e-engganan untuk terus mencari bekal ilmu merupakan suatu penghalang bagi manusia tersebut. Semoga kita bisa tetap istiqomah dalam perjlaan menuju tujuan manusia yaitu ridho Allah.


    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  57. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Untuk mencapai kebrehasilan kita harus berikhtiar dengan ikhlas. Ikhtiar juga harus diiringi dengan doa agar mendapat ridho Allah SWT. Kisah di elegi ini dapat diibaratkan sebagai perlombaan dalam menuntut ilmu, banyak yang berjatuhan/mundur, hanya orang-orang kuatlah yang bisa melanjutkan perjuangan.

    ReplyDelete
  58. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)


    Dari elegi ini hal yang dapat saya simpulkan adalah bahwa cendikia yang dimaksud di sini adalah yang dapat mengolah hati dan pikirannya disertai dengan harti yang ikhlas. Namun dalam perjalanan menjadi cendikia tersebut maka akan mengalami rintangan-rintangan yang akan membuat kita menjadi cendikia yang lemah bahkan akan merusak kecendikiaan kita. Berdasarkan hal yang pernah saya pelajari sesuagtu yang baik tidak akan hilang apabila kita sebarkan dan aplikasikan kepada orang lain, sehingga kecendikiaan kita akan lebih bermanfaat bagi orang lain, seperti halnya ilmu yang akan membuat kita semakin kaya ilmu apabila kita membagikan kepada orang lain.

    ReplyDelete
  59. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Menjadi cendekiawan yang bernurani, ternyata membutuhkan keikhlasan dalam hati dan pikiran. Kompetisi menjadi ajang yang penting bagi para cendekiawan, karena dengan hal ini mereka akan lebih dikenal dan bangga terhadap ilmu dan kemampuan yang mereka miliki. Namun, harusnya mereka juga merasa takut apakah mereka sudah menjadi cendekiawan yang berhati ikhlas dan mampu berpikir kritis atau belum.hati dan pikiran selalu berada pada ruang dan waktunya sehingga ia menjamin segala doa dan ikhtiar yang dilakukan. Jelasnya, jika kita berhati ikhlas dan mampu berpikir kritis maka kita dapat menjadi seorang cendekiawan yang bernurani, berilmunya ikhlas karena Allah, berpikirnya tulus untuk tujuan dan cita-cita hidup yang baik. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  60. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Orang yang cerdas fikiran saja tidak akan mampu membuat perubahan yang hakiki dalam kehidupan di dunia ini. Mereka yang cerdas dalam perkara agama (hati) saja juga tidak akan memberikan perubahan yang hakiki di akhirat ini. Karena pada dasarnya keseimbangan antara fikiran dan hati sangatlah penting untuk memberikan perubahan yang hakiki untuk Dunia ini. Oleh karena itu, ketika kita menjadi orang yang dianggap pintar, maka senantiasa kita menghadirkan hati kita dalam menerimanya. Karena ketika hati ikut berbicara, maka akan ada keselarasan dalam hidup yang memberikan perubahan yang hakiki pada lingkungan.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  61. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Berdasarkan postingan di atas terdapat kata “Teruskanlah perjuanganmu karena di atas pundakmulah banyak nasib di luar dirimu tergantung pada dirimu. sebenar-benar itulah manusia cendekia yang bernurani ” dan dapat disimpulkan bahwannya kita harus terus dan terus berjuang, jangan pernah puas untuk menggapai pengetahuan,karena dengan berjuang dapat sebagai cara kita dalam mensyukuri nikmat Allah SWT, namun kita harus selalu ingat kepadaNYA sang pemilik alam dan sekitarnya.

    ReplyDelete
  62. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Terima kasih Prof. atas elegi nya. Elegi ini menurut saya lanjutan dari elegi sebelumnya yaitu perlombaan menjunjung langit. Setelah pada elegi sebelumnya Cantraka memenangkan lomba menjunjung langit lantaran cantraka merasa tidak lah mampu melakukan perlombaan itu serta pikiran kritis yang ia miliki. Pada elegi ini muncul Rataka, murid gagah perkasa yang juga berusaha memahami lomba menjunjung langit secara keseluruhan. Rataka mulai memahami perlombaan tserbut setelah berkonsultasi dengan orang berambut putih, dimana ratakan mendapat wejangan jika persaaan ikhlasmu akan muncul mka saat itulah ikhlas yang kamu miliki sirna. Maksudnya yaitu ketika kita melakukan suatu pekerjaan kemudian kita berusaha merasakan bahwa kita telah ikhlas, maka syaitan akan masuk ke tubuh kita guna mengooda sehingga persaan ikhlas kita itu menjadi ketidakikhlasan.

    ReplyDelete
  63. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Manusia memiliki berbagai potensi yang dapat membuat diri mereka mencapai tujuannya. Terjaga hati dan pikiran manusia, maka ia akan memiliki tiga kemampuan yaitu, merasa, menyadari, berpikir. Ketiga fenomena tersebut harus selaras.
    Dan, jangan takut untuk berjuang karena dengan perjuangan kita dapat menggunakan dan menunjukkan potensi yang dimiliki secara optimal. Dengan kesabaran, ketulusan, dan melakukan hal-hal tanpa prasangka. Namun, tolok ukur keberhasilan dan kegagalan juga dinilai dari doa – doa yang kita panjatkan, karena segala sesuatu adalah kehendak-Nya. Pada akhirnya, yang akan menjadi pemenang adalah mereka yang berhati ikhlas dan selalu menggunakan potensinya dengan baik.

    ReplyDelete
  64. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Elegi ini mencerminkan kondisi manusia saat ini. Bnayk sekali orang yang berlomba-lomba untuk mencapai kesuksesan duniawi dari pada ukhrowi. HAl itu dapat dilihat dari degradasi moral yang terjadi. Banyak sekali orang tua yang bangga memiliki anak pintar tanpa dilandasi akhlak yang baik. Padahal sebaik-baiknya manusia adalah yang baik akal dan akhlaknya sehingga ia dapat menyeimbangkan proses kehidupannya sendiri dan sekitarnya.

    ReplyDelete
  65. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Cendekia yang benurani. Membaca elegi ini saya memahami bahwa untuk meningkatkan dimensi kita sebagai manusia kita harus beikhtiar dengan ikhlas. Manusia yang mampu berikhtiar dengan ikhlas itu adalah ciri – ciri manusia yang meningkat dimensinya. Sehingga manusia yang memiliki derajat yang tinggi itulah disebut sebagai manusia yang cendekia yang bernurani. Cendekia maksudnya disini adalah memiliki pikiran yang kritis sedangkan bernurani adalah memiliki keikhlasan dalam hatinya. Salah satu tolak ukur tingginya derajat manusia itu adalah ketika dia mampu bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan bermanfaat bagi sekitarnya. Terimaksih

    ReplyDelete
  66. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. pemenangnya ialah yang ikhlas dan mampu berpikir kritis. Untuk mencapai kemenangan itu diperlukan ikhtiar, manusia perlu berusaha agar menjadi pemenang. Pemenang sejati merupakan orang berusaha dengan kesungguhan hati, yang mau ikhlas berusaha, dan yang kritis dalam menacri jalan menuju kemenangan. Semoga saya menjadi salah satu pemenang itu, aamiin

    ReplyDelete
  67. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Seseorang yang dapat menjunjung langit adalah mereka yang menyadari akan kekurangan dirinya dan dengan kerendahan hati serta pikiran yang kritis, mereka terus mencari kebenaran ilmu pengetahuan. Itulah sebebar-benar insan cendekia yang bernurani. Kesadaran akan kekurangan ilmu merupakan langkah mereka agar tidak termakan oleh mitos dan terperangkap dalam ruang dan waktu yang salah. Di samping itu, mereka senantiasa memohon petunjuk dari Tuhan YME agar tidak tenggelam dalam hati dan pikiran yang tidak ikhlas.

    ReplyDelete
  68. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Manusia diciptakan dengan bekal akal pikiran dan hati. Keduanya tentu bukan tanpa alasan. Hati dan pikiran menjadi modal penting bagi kehidupan manusia di muka bumi sebagai khalifah. Pikiran dapat digunakan untuk memikirkan ilmu pengetahuan, dan hati digunakan untuk menyadari dan merasakan. Pikiran dan hati harus digunakan secara beriringan dan bersinergi. Semua manusia memiliki kesempatan yang sama untuk menggunakan pikiran dan hati, namun hanya sedikit yang menyadari bahwa sesungguhnya manusia tidak akan pernah merugi jika dapat menggunakan pikiran untuk berpikir logis dan kritis serta menggunakan hati dalam keadaan jernih. Semua hal yang dilakukan tersebut hendaklah dilakukan secara ikhlas. Dengan pikiran dan hati yang bersinergi dalam keikhlasan dan kesucian, maka akan membuahkan kebaikan.

    ReplyDelete
  69. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Pemenang perlombaaan menjunjung langit adalah orang yang berhati ikhlas dan berpikir kritis. Namun orang yang mengatakan dirinya berhati ikhlas atau berpikir kritis malah menunjukkan bahwa dirinya tidak ikhlas atau berpikir kritis. Yang dapat mengukur keikhlasan seseorang hanyalah Allah SWT. Namun sebenar-benar ikhlas dan berpikir absolut hanyalah Desemberlik Allah, manusia hanya dapat berusaha menggapainya. Manusia berusaha menggapai hati yang ikhlas dan pikiran yang kritis dalam usahanya untuk terhindar dari mitos

    ReplyDelete
  70. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Hal yang saya peroleh setelah membaca artike di atas adalah bahwa kita jangna mudah putus asa dan menyerah, kita harus terus berusaha, mencoba dan mencoba ketika melakukan sesuatu atau mewujudkan sesuatu sampai kesuksesan itu dapat kita raih. seseorang yang mampu mencapai kesuksesan adalah orang yang memiliki hati yang ikhlas serta mampu dan mau berpikir kritis. Keikhlasan dan ketulusan hati juga pikiran. Mencapai kesuksesan tentunya harus dilalui dengan melewati segala rintangan yang menghadang, tapi itulah pengalaman terbaik dalam mencapai kesuksesan, proses ikhtiar, berdoa, tawakal itulah yang paling berharga dari sebuah perjalanan.

    ReplyDelete
  71. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Ikhlas dan berpikir kritis adalah kunci dari elegi ini. Seperti pada elegi menjunjung langit yang sebelumnya, bahwa sesungguhnya tidak ada yang benar benar mampu menjunjung langit melainkan berusaha menggapainya. Seperti sebuah ilmu yang sangat luas dan tidak akan pernah mampu dimiliki oleh manusia, tetapi kita hanya berusaha menggapainya. Dalam menggapai atau menuntut ilmu diperlukan keikhlasan dan berpikir kritis. Allah SWT sang pemilik ilmu tidak hanya menilai seseorang dari hatinya saja atau dari keikhlasannya saja. Tetapi dari pikirannya untuk berpikir kritis.

    ReplyDelete
  72. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Ilmu yang benar-benar ilmu adalah yang dilandaasi dasar ikhlas dan dari hasil olah piker yang krtis. Proses menjaganya diibaratkan seperti menjunjung langit, yang luas hamper tak terbtas, djinjing beersama-sama orang yang memiliki keikhlasan dalam ilmunya. Ini lah sebenar-benar yang membangun peradaban diri, masyarakat, dan bangsa.

    ReplyDelete
  73. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dari elegi ini bisa kita ambil hikmah juga, bahwa segala ilmu adalah milik Allah Swt. Sesungguhnya Allah hanya akan memberikan ilmunya kepada orang yang ikhlas hatinya, begitupun ikhlas pikirnya. Ikhlas hati ditandai dengan tulusnya mencari ilmu, tidak terpaksa dan dipaksa. Ikhlas piker ditandai dengan kritisnya pikiran terhadap segala hal yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  74. Latifah Fitriasari
    PM C

    Kita harus memiliki sikap seperti batu karang yang kokoh sekalipun dipukul ombak, bahkan sanggup menenteramkan amarah ombak dan gelombang itu. Jangan pernah putus asa, karena harapan masih tetap ada, bila ada kesempatan sekecil apapun juga, maju terus dan tetap semangat. Urusan kita dalam kehidupan bukanlah untuk melampaui orang lain, tetapi untuk melampaui diri sendiri, untuk memecahkan rekor kita sendiri, dan untuk melampaui hari kemarin dengan hari ini. Dengan begitu tanpa terasa segala ujian dalam bentuk apapun pasti bisa kita lalui dengan mudah asalkan kita tidak mudah menyerah.

    ReplyDelete
  75. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Tiadalah kata akhir perlombaan menjunjung langit karena sebenar-benar menggapai ilmu tidak akan pernah usai. Ilmu di dunia ini begitu luas, sebanyak apapun ilmu yang dimiliki seorang manusia hanyalah setitik dari begitu luasnya ilmu yang ada di dunia. Diatas langit pastilah masih ada langit. Ilmu manusia tidak akan pernah sanggup menggapai ilmu Allah SWT. Maka tiadalah akhir perlombaan menjunjung langit.

    ReplyDelete
  76. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Menjaga keihklasan memang hal yang sulit. Mencapai keikhlasan saja sudah sulit. Menjaganya lebih sulit lagi. Kadang kita merasa kita telah ikhlas dalam melakukan suatu hal, namun disaat itulah sebenarnya ketidak ikhlasan datang untuk mengusir keikhlasan pergi dari diri kita. hal seperti ini sering kali terjadi tanpa kita menyadarinya.

    ReplyDelete
  77. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Pemenang lomba menjunjung langit ialah siapa saja yang berhati ikhlas dan mampu berpikir kritis. Setiap orang memiliki pola pikir yang berbeda. Akan tetapi, apabila mampu berpikir secara kritis, masalah yang mereka hadapi tentu akan semakin sederhana dan mudah dicari solusinya. itulah salah satu kegunaan akal dan pikiran yang telah Allah SWT karuniakan kepada kita, maka gunakanlah dengan sebaik-baiknya. Berhati ikhlas adalah orang yang menjalankan segala sesuatunya atas nama Allah SWT dan menjalankan semua perinytah-Nya serta menjauhi semua larangan-Nya.

    ReplyDelete
  78. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Ketika kita ikhlas melakukan sesuatu hal, maka akan berdampak besar kepada hasil yang akan dicapai. Hasil tersebut akan membuat kita tetap berpikir kritis serta bertanggung jawab terhadap tugas yang telah diamanahkan kepada kita. Namun janganlah kita cepat merasa puas atau nanti aka nada para mitos yang mendatangi kita. Semoga kita selalu berhati hati dalam bertindak.

    ReplyDelete
  79. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Semakin dalam elegi ikhlas ini memberikan gambaran bahwa memang keikhlasan dikai saja rumit, dan dilakukan lebih rumit lagi. Atau hanya oemikiran saya yang masih terkurung dalam tempurung saja. Keikhlasan memiliki dimensi yang tidak mudah untuk dicapai, namun tidak mustahil pula. Adapun keikhlasan akan bersarang pada hati yang bersih tanpa sifat sombong, tamak dan riya'. Semoga kita senantiasa dapat belajar menjadi yang lebih baik lagi. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  80. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Melalui proses terjemah menerjemahkan seseorang digodok untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi tanpa mengulangi kesalahan yang sama dan diarahkan untuk tidak terjembab kedalam lubang yang biasa menyita korban. Proses belajar tidak akan bernilai jika tidak diamalkan, layaknya pohon tanpa buah. Menjadi seorang pebelajar yang beernurani diantaranya tidak melakukan tindak kecurangan dlam bentuk apapun, belajar memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin serta mengharamkan tindakan plagiasi minimal untuk dirinya sendiri, karena tindakan tersebut ialah tindakan tidak terpuji yang dapat menurunkan derjat kita baik dimata manusia maupun di hadapanNya. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  81. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Setiap manusia diciptakan oleh Allah dengan perbedaan antara satu sama lain. Manusia berlomba-lomba untuk mendapatkan hal apa yang mereka inginkan. Hal yang dianjurkan di dunia ini adalah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Tentu semua itu hendaknya diiringi dengan rasa tulus ikhlas di dalam pelaksanaannya. Hal ini guna mendapatkan ridha dari Allah. Keikhlasan seseorang itu tidak dapat dinilai dari diri sendiri. Perlu adanya penilaian dari orang lain. Namun tetap saja terkadang penilaian orang lain itu bersifat subjektif. Dengan demikian, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Kebahagiaan dengan kesedihan, keberhasilan dengan kegagalan, harapan dengan kenyataan, usaha dengan hasil, semua itu beriringan dan selalu terkait. Manusia hanya dapat merencanakan segala sesuatu, namun hanya Allah yang mengizinkan terlaksana atau tidaknya rencana-rencana manusia di bumi ini. Hal ini karena sifat Allah Yang Maha Berkehendak. Di dalam artikel disebutkan bahwa manusia yang terjaga hati dan pikirannya, maka ia memiliki tiga kemampuan, yaitu merasakan, menyadari, memikirkan, dan menjalani fenomena mendatar, meruncing dan mengembang. Hendaknya ketiga kemampuan tersebut dapat kita terapkan di dalam kehidupan sehari-hari. Tak lupa untuk kita selalu berdoa dan memohon ampun kepada-Nya agar mendapatkan kemudahan dalam menjalani hidup.

    ReplyDelete
  82. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Ketika kita bersiap untuk meraih keberhasilan, maka saat itulah kita juga harus bersiap untuk menghadapi kegagalan. Pada saat engkau menyadari keikhlasanmu, maka saat itulah ketidakikhlasanmu siap menjemputmu. tidak usah memikirkan apa yang sudah kita lakukan karena Allah yang menilai diri kita. tidak usah memikrikan berapa banyak pahala yang terkumpul dan dosa. Allah akan membalas semua kebaikan kita, tetapi ingat bahwa Allah juga akan membalas kesalahan-kesalahan kita. Beristigfarlah dan memohon ampunanNya.

    ReplyDelete
  83. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Manusia selama di dunia pasti terikat dengan ruang dan waktu, maka manusia tidak akan terlepas dari subjektivitas. Manusia tidak akan bisa mencapai keikhlasan dan pikiran yang absolu karena itu hanya milik Tuhan YME. Walaupun manusia itu menyatakan bahwa dia sudah berhati ikhlas dan berpikir kritis maka belum tentu itu yang terjadi, karena itu hanya berdasrkan penilaiannya saja, penilaian orang lain bahkan Tuhan akan berbeda dengannya. Sehingga janganlah kita sudah merasa berhati ikhlas dan berpikir kritis maka ketika itu yang terjadi justru sebaliknya.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  84. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Allah yaang akan menentukan jawaban atas segala usaha yang telah kita lakukan untuk mencapai sesuatu. Yang perlu kita lakukan sebagai manusia adalah selalu berusaha keras dan optimal untuk menggapai semua harapan. Tentu saja semua usaha itu harus diiringi dengan keikhlasan dan terus-menerus dilakukan tanpa putus asa.

    ReplyDelete
  85. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.Mat B

    Sebagai seorang cendikia, kita dituntut agar dapat menyalurkan dan mengamalkan ilmu yang kita peroleh untuk kebaikan dunia, bukan hanya untuk kepentingan kita sendiri, dan juga tuntutan untuk menjadi cendikia yang bernurani. karena melalui para cendekia, dapat muncul ide-ide brillian yang dapat mengubah dunia menjadi lebih baik atau bahkan ide-ide yang mengubah dunia menjadi lebih buruk. maka disinilah peran penting dari para cendikia yang bernurani, agar dapat membantu menjaga dunia ini untuk tidak menjadi lebih buruk.

    ReplyDelete
  86. Assalamualaikum Wr. Wb. Terima kasih, pak. Dari elegi ini saya dapat sedikit memahami kenapa dalam slogan UNY cendekia harus didahului dengan takwa dan mandiri, sebab cendekia tidak bias berdiri sendiri tanpa ada landasan moril sebagai basisnya. Dalam kehidupan ini, banyak kita temui para cendekia-cendekia yang mengkhianati kemanusiaan. Oleh karena itu untuk menjadi kaum cendekia yang bernurani maka kita tidak bias lepas dari nilai-nilai ilahiah sebagai sumber moralitas kita sebagai makhluk berketuhanan. Dengan kata lain, takwa, mandiri, cendekia adalah tujuan sejati dari perjalan hidup kita.

    ReplyDelete
  87. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Dari elegi diatas yang perlu digaris bawahi adalah pemenang adalah siapa saja yang berhati ikhlas dan mampu berpikir kritis. Dan orang yang berhati ikhlas dan berpikir kritis itu terikat akanoleh ruang dan waktu, yang mempunyai makna bahwa dia dapat berupa titik atau simpul potensi, berupa garis atau bidang vitalitas, atau berupa ruang interaksi dinamis antara potensi dan vitalitas dalam waktunya.

    ReplyDelete
  88. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Cendikia yang bernurani, keberhasilan menjunjung langit tidak diperoleh tanpa keikhlasan. ikhlas berpikir, ikhlas berusaha, ikhlas menerima, ikhlas memberi. Cendikia ber Nurani menerima dengan segala keikhlasan kegagalan dan kesuksesannya. Kesuksesan memerlukan proses dan tentunya pasti akan menemui banyak rintangan dan cobaan. Jangan mudah meyerah dan berputus asa, selalu berikhtiar dan berdoa, serta bertawakkal dengan penuh keihklasan di segala perbuatan.

    ReplyDelete
  89. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Assalamualaikum wr wb
    Sebenar-benarnya ilmu adalah barokah. Jadi ilmu itu harus berhati nurani, harus dilaksanakan, dan berdasarkan konteksnya. Tapi manusia tidak bisa hidup jika tidak punya arwah, sukma dan jiwa sejati. Karena kita masing-masing membangun hidup masing-masing maka kita harus berdamai. Keberadaan kita ditunjukkan oleh mengada kita.

    ReplyDelete
  90. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dua kutub yang berlawanan akan selalu hadir untuk saling mengikuti. Ketika keberhasilan datang, akan ada kegagalan yg mengintai. Ketika keikhlasan datang, ketidakikhlasan mengintai dibaliknya untuk mencari celah akan kehadirannya. Dalam menggapai ilmu, dibutuhkan hati yang ikhlas dan kemampuan berpikir kritis, karena orang yang berhati sombong hanya akan mengalami kegagalan dalam menggapai hakikat ilmu. Sedangkan setinggi-tingginya kedudukan ilmu adalah ilmu yang bermanfaat. Dan bukanlah orang tersebut ikhlas jika dia mengaku-ngaku ikhlas. Orang yang mengaku berilmu bukanlah orang yang berilmu.

    ReplyDelete
  91. Siti Nur Fatimah
    15301241045
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Sebagai seoarang cendekia atau seoarang yang berilmu sudah seharusnya kita mengamalkan atau membagikan ilmu yang kita peroleh. Agar ilmu yang kita peroleh bermanfaat untuk orang lain. Ilmu itu bukan untuk kepentingan sendiri apalagi untuk membodohi orang lain. Oleh karena itu disinilah peran dari cendekia yang bernurani yang dapat membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

    ReplyDelete
  92. Alman Kresna Aji
    15301241022
    S1 Pendidikan Matematika 2015
    Dari elegi ini saya mengerti bahwa untuk mencapai suatu ilmu perlu adanya kemampuan berpikir kritis dan juga keihklasan. Hal ini dikarenakan, ketika kita merasa ikhlas, kita tidak pernah merasa cukup dan tidak pernah merasa sombong. Dengan adanya ikhlas, muncul kerendahan hati dalam seorang individu untuk mau belajar dari siapapun. Tidak pernah memandang jabatan, derajat, serta kekayaan dari orang lain. Sehingga kecendekiaan adalah kemampuan dalam mengolah hati dan pikiran untuk menciptakan suatu keikhlasan lahir dan batin.

    ReplyDelete
  93. Okta Islamiati
    15301241019
    S1 Pendidikan Matemati I 2015

    Elegi diatas menekankan bahwa berpikir kritis dan ikhlas tidak dapat diukur. Kedua hal tersebut tergantung dari sudut pandang masing-masing. Namun, berpikir kritis dan ikhlas dapat kita capai dengan tidak merasa putus asa dan terus mencoba. Karena dalam kehidupan ini kita dapat berulangkali gagal dan kegagalan tersebut dikarenakan diri kita sendiri. Maka cara terbaiknya adalah dengan memiliki sifat pantang menyerah dan qanaah.

    ReplyDelete
  94. Alfiani Indah P S
    15301241027
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Dari elegi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagai manusia, kita harus selalu berpikir kritis dan ikhlas. Dan sebenar-benarnya berpikir kritis dan ikhlas ini adalah seberapa besar usaha kita untuk menggapainya. Kedua hal ini membuat kita selalu bertanya, selalu mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Tidak hanya mencari, tapi juga membagi.

    ReplyDelete